makalah HUKUM PERBANKAN DAN JAMINAN SYARIAH PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH PERBANKAN SYARIAH

I. Latar Belakang Masalah Dari segi ontologi, tujuan pendirian bank-bank Islam di Indonesia maupun di seluruh dunia adalah mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, khususnya memungut riba dalam pinjam-meminjam. Ini berbeda dengan tujuan pendirian bank-bank konvensional, yaitu menyediakan pinjaman dengan menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan ke masyarakat yang membutuhkan. Dengan kata lain, bank konvensional adalah lembaga perantara keuangan. Tujuan lebih lanjut adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis dengan memanfaatkan simpanan masyarakat yang memiliki dana surplus setelah dikurangi konsumsi. Maka, dari segi aksiologi, bank syariah, yang semula disebut bank Islam, didirikan untuk menerapkan hukum Islam, sedangkan bank konvensional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Secara epistemologi, pengelolaan bank konvensional berpedoman pada manajemen perbankan. Akan tetapi, dalam bank syariah, manajemen perbankan harus mengikuti hukum-hukum syariah. Itu sebabnya bank syariah memiliki lembaga pengawasan, disebut Dewan Syariah, dibentuk oleh otoritas keagamaan, Majelis Ulama Indonesia atau di Malaysia, Dewan Ugama . Secara umum pengertian Bank Islam (Islamic Bank) adalah bank yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. Saat ini banyak istilah yang diberikan untuk menyebut entitas Bank Islam selain istilah Bank Islam itu sendiri, yakni Bank Tanpa Bunga (Interest-Free Bank), Bank Tanpa Riba (Lariba Bank), dan Bank Syari ah (Shari a Bank). Sebagaimana akan dibahas kemudian, di Indonesia secara teknis yuridis penyebutan Bank Islam mempergunakan istilah resmi Bank Syariah , atau yang secara lengkap disebut Bank Berdasarkan Prinsip Syariah . Undang-undang Perbankan Indonesia, yakni Undang-undang No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 (selanjutnya untuk kepentingan tulisan ini disingkat UUPI), membedakan bank berdasarkan kegiatan usahanya menjadi dua, yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Sebagaimana disebutkan dalam butir 13 Pasal 1 UUPI memberikan batasan pengertian prinsip syariah sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan Syariah, antara lain, pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak Bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina). Fungsi Bank Syariah secara garis besar tidak berbeda dengan bank konvensional, yakni sebagai lembaga intermediasi (intermediary institution) yang mengerahkan dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali

baik berupa jasa (fee-base income) maupun mark-up atau profit margin. Oleh karena itu. RUMUSAN MASALAH 1. Perlindungan Hukum Bagi Nasabah Debitur Bank Syariah Di Indonesia. Kaitannya dengan Perbankan Syariah undang-undang ini lebih memberikan angin segar bagi perkembangan perbankan syariah di Indonesia. II. serta bagi hasil (loss and profit sharing). Adanya bank syariah di samping bank konvensional menandakan dimulainya era baru dalam sistem .dana-dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya dalam bentuk fasilitas pembiayaan. UU ini menggunakan istilah bank dengan prinsip bagi hasil . Perbedaan pokoknya terletak dalam jenis keuntungan yang diambil bank dari transaksi-transaksi yang dilakukannya. karena undang-undang inilah yang secara tegas membedakan bank berdasarkan prinsip operasionalnya menjadi dua yaitu bank konvensional dan bank berdasarkan Prinsip Syariah.7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Untuk mengidentifikasi jenis bank syariah. posisi unik lainnya dari Bank Syariah dibandingkan dengan bank konvensional adalah diperbolehkannya Bank Syariah melakukan kegiatan-kegiatan usaha yang bersifat multi-finance dan perdagangan (trading). ijarah (sewa) atau ijarah wa iqtina (sewa beli) dan lain-lain. maka Bank Syariah dari apa yang disebut sebagai imbalan. PEMBAHASAN A. Primsip bagi hasil setelah mengalami perubahan dan dipertegas menjadi prinsip syariah . dipandang mengandung banyak sisi positif terutama sekali terhadap kedudukan nasabah debitur. Bagaimana perlindungan hukum bagi nasabah bank selaku konsumen ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen? III. Disamping dilibatkannya Hukum Islam dan pembebasan transaksi dari mekanisme bunga (interest free). Bila bank konvensional mendasarkan keuntungannya dari pengambilan bunga. melalui tulisan ini dicoba mengungkap perlindungan hukum bagi nasabah debitur bank syariah. Bank syariah sebagai sebuah sistem perbankan baru yang pada pokoknya mengacu pada ketentuanketentuan ekonomi dan perniagaan Syariah Islam. Hal ini berkenaan dengan sifat dasar transaksi Bank Syariah yang merupakan investasi dan jual beli serta sangat beragamnya pelaksanaan pembiayaan yang dapat dilakukan Bank Syariah. Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasar hokum islam antara bank dan pihak lain untuk penyaimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan uaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah Dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan diharapkan mampu menata kembali sektor perbankan yang mengalami goncangan akibat krisis dan lebih penting lagi diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan di negeri ini. landasan hukum operasional perbankan syariah pertama kali mendapatkan pengaturan melalui UU No. seperti pembiayaan dengan prinsip murabahah (jual beli). 2.

maka nasabah berpeluang mendapatkan keuntungan dari uang yang disimpannya sesuai dengan nisbah bagi hasil yang disepakati di awal akad dikalikan dengan keuntungan bank. unsur ketidakpastian (gharar). serta berpeluang mendapatkan bonus yang besarnya semata-mata berdasarkan kebijakan bank syariah yang bersangkutan. maka nasabah dapat mengambil uangnya sewaktu-waktu sejumlah yang ia simpan tanpa menanggung risiko akan kehilangan dananya. Nasabah yang berhubungan dengan bank syariah untuk memanfaatkan produk-produk yang ada di dalamnya dapat memanfaatkan produk sesuai dengan kebutuhan dan motif yang ada padanya. yaitu unsur perjudian (maisyir). maka bank dapat menawarkan produk berupa giro atau tabungan yang memakai prinsip titipan (wadiah). Untuk itu maka pihak bank syariah kaitannya dengan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat tinggal melihat atau menanyakan kepada nasabah apa motif dibaliknya. juga diperbolehkannya bank umum konvensional memberikan layanan syariah melalui mekanisme islamic window.hukum perbankan nasional. Dalam hal nasabah menginginkan faktor keamanan (safety). Hal ini berlaku baik pada produk penghimpunan dana (funding). tidak boleh dua-duanya atau dengan kata lain menganut single window. tabungan mudharabah. Melalui giro mudharabah. Sebagai gantinya dapat diterapkan akad-akad tradisional Islam atau yang lazim disebut prinsip syariah ke dalam produk perbankan dimaksud. maka bank dapat menawarkan kepadanya produk berupa giro. unsur suap-menyuap (rysiwah). di samping itu nasabah juga menanggung risiko kehilangan uangnya baik sebagian atau seluruhnya jika bank syariah yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam mengelola uang nasabah. Dalam ketentuan Pasal 1 angka 4 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 disebutkan bahwa: Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran . maupun produk di bidang jasa (fee based income product). Untuk dapat memberikan layanan syariah ini terlebih dahulu bank konvensional dimaksud harus mendirikan sebuah Unit Usaha Syariah (UUS) terlebih dahulu. produk penyaluran dana (lending). yakni era sistem perbankan ganda (dual bangking system). Namun apabila yang menjadi motif nasabah dalam menyimpan dana di bank syariah yang bersangkutan adalah dalam rangka mendapatkan keuntungan atau motif investasi. . Adapun yang membedakannya adalah bahwa pada produk yang ada di bank syariah tidak boleh mengandung unsur-unsur yang secara tegas dilarang dalam Islam. produk penyaluran dana (lending). atau deposito mudharabah. tabungan. unsur bunga (riba). yakni terdiri dari produk penghimpunan dana (funding). Dengan melihat pada definisi ini. Sementara itu. Dengan memilih giro wadiah atau tabungan wadiah. dan produk jasa (fee based product). maka tersimpul bahwa disamping adanya ketentuan yang membolehkan pembentukan bank syariah murni. Pada dasarnya produk yang ada pada perbankan syariah sama dengan produk yang ada pada perbankan konvensional. atau deposito berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah). untuk Bank Perkreditan Rakyat hanya dapat memberikan layanan secara konvensional atau secara syariah. dan unsur bathil.

Penerapan GCG merupakan wujud pertanggungjawaban bank syariah kepada masyarakat bahwa suatu bank syariah dikelola dengan baik. sedangkan pada pembiayaan salam/pembiayaan istishna barang yang menjadi obyek perjanjian belum ada sehingga perlu dipesan. Dengan demikian penerapan GCG merupakan suatu kebutuhan bagi setiap bank syariah. profesional dan hati-hati (prudent) . yakni: Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran . investor obligasi. yakni berupa pembiayaan ijarah atau pembiayaan ijarah muntahia bittamlik (dalam hal nasabah berkeinginan memiliki barang tersebut di akhir masa sewa). Adapun mengenai motif nasabah dalam memanfaatkan produk penyaluran dana yang ada di bank syariah dan produk yang sesuai untuk motif dimaksud. yakni pembiayaan qardh dan qardh al-hasan Ditinjau secara yuridis bank syariah bertanggung jawab kepada banyak pihak (stakeholders). 4. Nasabah yang hanya membutuhkan manfaat atas suatu barang. pemasok serta masyarakat dan lingkungan. Bank syariah apabila menemukan nasabah yang membutuhkan dana untuk suatu kegiatan usaha prospektif maka setelah melalui studi kelayakan (feasibility study) nasabah dimaksud bisa diberikan pembiayaan dengan s kim mudharabah dimana 100% (seratus persen) dana semata-mata berasal dari pihak bank. Sedangkan dalam hal bank syariah menemukan nasabah yang membutuhkan dana dalam rangka ekspansi usaha. yaitu sebagai berikut: 1. bank koresponden. maka tepat apabila bank syariah dimaksud setalah melakukan studi kelayakan (feasibility study) memberikan pembiayaan berdasarkan akad sewa-menyewa. Pihak dimaksud antara lain terdiri dari nasabah penabung. pegawai perseroan. yakni pembiayaan murabahah. pembiayaan salam. pemegang saham. Nasabah membutuhkan pinjaman uang karena ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi seperti untuk biaya pengobatan di rumah sakit atau keperluan membayar hutang. regulator. maka setelah melalui studi kelayakan (feasibility study). maka setelah melalui studi kelayakan (feasibility study) nasabah dimaksud bisa diberikan pembiayaan dengan skim musyarakah. yakni pihak bank dan nasabah sama-sama menyertakan modal finansial di dalamnya. Bank syariah apabila menemukan nasabah seperti ini. atau pembiayaan istishna. tepat jika padanya diberikan pembiayaan berdasarkan akan pinjam-meminjam. 2. 3. Nasabah membutuhkan dana untuk pengadaan barang konsumsi atau barang produksi. maka akan lebih tepat jika bank syariah dimaksud setelah melalui studi kelayakan (feasibility study) memberikan pembiayaan yang didasarkan pada akad jual beli. Bank syariah apabila menemukan nasabah yang membutuhkan dana untuk kepentingan membeli barang konsumsi maupun barang produksi. Bank syariah apabila menemukan nasabah yang berkeinginan menikmati manfaat atas suatu barang. Dengan pembiayaan murabahah berarti barang yang menjadi obyek perjanjian sudah ada.Hal ini terlihat pada pengertian Bank Perkreditan Rakyat yang tertuang dalam Pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998. Nasabah membutuhkan dana untuk suatu kegiatan usaha atau tambahan dana untuk ekspansi kegiatan usaha.

Keberatan-keberatan terhadap perjanjian standar antara lain adalah karena: (1) Isi dan syarat-syarat sudah dipersiapkan oleh salah satu pihak. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. karena baik bank selaku kreditur maupun nasabah debitur kedua-duanya saling membutuhkan dalam upaya mengembangkan usahanya masing-masing. Perjanjian kredit/pembiayaan dan perjanjian pembukaan rekening bank yang seharusnya dibuat berdasarkan kesepakatan para pihak.dengan tetap berupaya meningkatkan nilai pemegang saham (shareholder s value) tanpa mengabaikan kepentingan stakeholders lainnya. Adapun alasan penciptaan perjanjian standar adalah demi efisiensi. Adanya perlindungan hukum bagi nasabah selaku konsumen di bidang perbankan menjadi urgen. (3) Salah satu pihak secara ekonomis lebih kuat. karena alasan efisiensi diubah menjadi perjanjian yang sudah dibuat oleh pihak yang mempunyai posisi tawar (bargaining position) dalam hal ini adalah pihak bank. (4) Ada unsur terpaksa dalam menandatangani perjanjian. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. (2) Tidak mengetahui isi dan syarat-syarat perjanjian standar dan kalaupun tahu tidak mengetahui jangkauan akibat hukumnya. Sebelum disahkannya UUPK pada dasarnya telah ada beberapa peraturan perundang-undangan yang materinya melindungi kepentingan konsumen antara lain: Pasal 202-205 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Perlindungan Hukum Bagi Nasabah Bank Selaku Konsumen Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Karena undang-undang syariah tidak secara tegas mengatur perlindungan hukum bagi nasabahnya. Nasabah tidak mempunyai pilihan lain. kecuali menerima atau menolak perjanjian yang disodorkan oleh pihak bank (take it or leave it). Sebagaimana disebut di atas bahwa peraturan hukum yang memberikan perlindungan bagi nasabah selaku konsumen tidak hanya melalui bukan satu-satunya hukum yang mengatur tentang perlindungan konsumen di Indonesia. . Dalam memberikan perlindungan terhadap nasabah debitur perlu kiranya peraturan tentang perkreditan direalisir sehingga dapat dijadikan panduan dalam pemberian kredit. Pencantuman klausula-klausula dalam perjanjian kredit/pembiayaan pada bank sepatutnya merupakan upaya kemitraan. Di sisi lain pengadilan yang merupakan pihak ketiga dalam mengatasi perselisihan antara bank dengan nasabah debitur dapat menilai apakah upaya-upaya yang dilakukan oleh kedua belah pihak telah sesuai dengan yang disepakati dan tidak melanggar ketentuan perundang-undangan. dan sebagainya. Klausula yang demikian ketatnya didasari oleh sikap bank untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit/pembiayaan. Lahirnya UUPK diharapkan menjadi payung hukum (umbrella act) di bidang konsumen dengan tidak menutup kemungkinan terbentuknya peraturan perundangundangan lain yang materinya memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen. Ordonansi Bahan-bahan Berbahaya (1949). karena secara faktual kedudukan antara para pihak seringkali tidak seimbang. B.

e. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa. tambahan. f. h. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen. b. atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran. maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran. hak gadai. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen. antara lain adalah sebagai berikut: 1) Memberikan peringatan secukupnya kepada para nasabahnya akan adanya dan berlakunya klausula-klausula . menyatakan pengalihan tanggungjawab pelaku usaha. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan. melatarbelakangi substansi UUPK untuk memberikan pengaturan mengenai ketentuan pencantuman klausula baku. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh pihak bank untuk menghilangkan atau paling tidak meminimalisir terjadinya kerugian bagi nasabah karena memang harus dalam bentuk perjanjian standar. c. tambahan. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. 4. d. Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 dinyatakan batal demi hukum. lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya.Adanya kondisi demikian. lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya. Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila: a. Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas. Dari ketentuan dalam Pasal 18 dimaksud yang sangat terkait erat dan sering terjadi dalam perjanjian kredit/pembiayaan yang diberikan oleh bank adalah ketentuan pada ayat (1) huruf g. 3. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung. yakni bahwa bank menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru. 2. yaitu sebagai berikut: 1. Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan Undang-undang ini. Walaupun ketentuan mengenai klausula baku sudah diatur dalam UUPK. g. akan tetapi pada kenyataannya sering kali masih terjadi pelanggaran sehingga akan merugikan kepentingan nasabah.

Kepercayaan merupakan inti dari perbankan sehingga sebuah bank harus mampu menjaga kepercayaan dari para nasabahnya. . dan prinsip mengenal nasabah (know your costumer principle). untuk memberikan perlindungan hukum khususnya bagi nasabah deposan sebagaima tersebut di atas. maka dalam melaksanakan aktivitasnya bank harus melaksanakan prinsip-prinsip pengelolaan bank. serta pembukaan rekening di bank maka diharapkan akan lebih mengoptimalkan perlindungan hukum bagi nasabah. Pertama. Hukum sebagai alat rekayasa social (Law as a tool of social engineering) terlihat aktualisasinya di sini. 4) Memberikan kesempatan yang cukup bagi debitur untuk mengetahui isi perjanjian. akan tetapi lebih spesifik lagi pada peraturan perundang-undangan di bidang perbankan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 mengamanatkan dibentuknya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan mewajibkan setiap bank untuk menjamin dana masyarakat yang disimpan dalam bank yang bersangkutan. 3) Dirumuskan dalam kata-kata dan kalimat yang jelas. sehingga dapat meminimalisir dispute yang berkepanjangan di kemudian hari. perlindungan hukum bagi nasabah selaku konsumen di bidang perbankan. 7/7/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah dan PBI No.14 Kedua. Adapun yang menjadi fungsi dari lembaga ini adalah menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabiltas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. yaitu prinsip kepercayaan (fiduciary principle). prinsip kerahasiaan (confidential principle).penting dalam perjanjian. Di tataran undang-undang maupun PBI terdapat pengaturan dalam rangka untuk menjaga kepercayaan masyarakat kepada perbankan dan sekaligus dapat memberikan perlindungan hukum bagi nasabah. Dengan kerjasama yang baik antara pihak bank dengan nasabah. Karena bank merupakan lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha dengan menarik dana langsung dari masyarakat. Hal ini telah diatur melalui PBI No.13 Amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dimaksud telah direalisasikan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. prinsip kehati-hatian (prudential principle). Perlindungan Hukum Bagi Nasabah Bank Selaku Konsumen Ditinjau dari Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Perbankan Sebagaimana disebut di atas bahwa peraturan hukum yang memberikan perlindungan bagi nasabah selaku konsumen tidak hanya melalui UUPK. khususnya dalam hal adanya perjanjian standar mengenai kredit atau pembiayaan. 2) Pemberitahuan dilakukan sebelum atau pada saat penandatanganan perjanjian kredit/pembiayaan. khususnya dalam hal terjadi sengketa antara nasabah dengan bank. 8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan. A.

antara lain sebagai berikut: a) Kewajiban Bank untuk menyelesaikan Pengaduan mencakup kewajiban menyelesaikan Pengaduan yang diajukan secara lisan dan atau tertulis oleh Nasabah dan atau Perwakilan Nasabah. seperti adanya keterlibatan pihak ketiga diluar Bank dalam Transaksi Keuangan yang dilakukan Nasabah. penangangan dan penyelesaian pengaduan. termasuk yang diajukan oleh suatu lembaga. c) Terdapat hal-hal lain yang berada diluar kendali bank. b) Transaksi Keuangan yang diadukan oleh Nasabah dan atau Perwakilan Nasabah memerlukan penelitian khusus terhadap dokumen-dokumen Bank. Sesuai dengan Pasal 2 PBI No. Mengingat penyelesaian pengaduan nasabah oleh bank yang diatur dalam PBI Nomor 7/7/PBI/2005 tertanggal 20 Januari 2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah tidak selalu dapat memuaskan nasabah dan apabila tidak segera ditangani dapat mempengaruhi reputasi bank. mengurangi kepercayaan masyarakat pada lembaga perbankan dan merugikan hak-hak nasabah. yakni: a) Lembaga Mediasi perbankan independen yang dibentuk asosiasi perbankan b) Lembaga ini saat ini belum terbentuk. Dalam Pasal 10 PBI No. maka bank wajib menetapkan kebijakan dan memiliki prosedur tertulis tentang penerimaan pengaduan. serta pemantauan penanganan dan penyelesaian pengaduan. Mediasi (Perbankan) adalah proses penyelesaian Sengketa yang melibatkan mediator untuk membantu para pihak yang bersengketa guna mencapai penyelesaian dalam bentuk kesepakatan sukarela terhadap sebagian ataupun seluruh permasalahan yang disengketakan. (akan dibentuk selambat-lambatnya 31 Des 2007). kecuali terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan bank dapat memperpanjang jangka waktu. memiliki hak untuk mengajukan pengaduan. Ketentuan mengenai kebijakan dan prosedur tertulis dimaksud diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. sehingga fungsi Mediasi Perbankan untuk sementara dilaksanaan oleh Bank Indonesia. . 7/7/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah. 7/7/PBI/2005 disebutkan bahwa bank wajib menyelesaikan Pengaduan paling lambat 20 (dua puluh) hari kerja setelah tanggal penerimaan Pengaduan tertulis. 7/7/PBI/2005. b) Setiap Nasabah. dan atau bank lain yang menjadi Nasabah Bank tersebut. c) Pengajuan pengaduan dapat dilakukan oleh Perwakilan Nasabah yang bertindak untuk dan atas nama Nasabah berdasarkan surat kuasa khusus dari Nasabah. badan hukum. Pengaduan didefinisikan sebagai ungkapan ketidakpuasan Nasabah yang disebabkan oleh adanya potensi kerugian finansial pada Nasabah yang diduga karena kesalahan atau kelalaian Bank. yaitu: a) Kantor Bank yang menerima Pengaduan tidak sama dengan Kantor Bank tempat terjadinya permasalahan yang diadukan dan terdapat kendala komunikasi diantara kedua Kantor Bank tersebut. 8/5/PBI/2006.Dalam Pasal 1 angka 4 PBI No. 7/24/DPNP tertanggal 18 Juli 2005. termasuk walk-in customer. maka perlu dibentuk lembaga Mediasi yang khusus menangani sengketa perbankan.15 Adapun yang menjadi penyelenggara Mediasi Perbankan sebagaimana telah disebut dalam ketentuan Pasal 3 PBI No.

yaitu pihak bank. 8/14/DPNP tanggal 1 Juni 2006. maka diperlukan adanya kerja sama antar stake holder terkait. pemerintah. Bank wajib memenuhi panggilan Bank Indonesia. Proses Mediasi dilaksanakan setelah Nasabah atau Perwakilan Nasabah dan Bank menandatangani perjanjian Mediasi (agreement to mediate) yang memuat: a) Kesepakatan untuk memilih Mediasi sebagai alternatif penyelesaian Sengketa. Kesimpilan 1 . Syarat-syarat Pengajuan Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi Perbankan (Pasal 8 PBI No. yaitu sebagai berikut: a) Pengajuan penyelesaian Sengketa dalam rangka Mediasi perbankan kepada Bank Indonesia dilakukan oleh Nasabah atau Perwakilan Nasabah. Perjanjian kredityang biasanya standard contract. sebagian besar pasal-pasalnya hanya terkonsentrasi pada aspek kepentingan bank. e) Sengketa yang diajukan belum pernah diproses dalam Mediasi perbankan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia.Proses beracara dalam Mediasi Perbankan secara teknis diatur dalam PBI No. akhirnya memuncul kantanggung jawab minus dari pihak bank: Padahal beban bunga yang tinggi . tidakjarang nasabah debitur ditempatkan pada posisi yang sangat dilematis. 8/5/PBI/2006 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.10 tahun 1998. dan b) Persetujuan untuk patuh dan tunduk pada aturan Mediasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. ditemukan ketentuan mengenai perlindungan nasabah debitur dalam UU Perbankan No. dan f) Pengajuan penyelesaian Sengketa tidak melebihi 60 (enam puluh) hari kerja sejak tanggal surat hasil penyelesaian Pengaduan yang disampaikan Bank kepada Nasabah. Pemaparan di atas merupakan sebagian dari peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan sarana perlindungan bagi nasabah selaku konsumen di bidang perbankan. nasabah. c) Sengketa yang diajukan tidak sedang dalam proses atau belum pernah diputus oleh lembaga arbitrase atau peradilan. Jika proses mediasi telah selesai dilaksanakan. Dalam perjanjian kredit misalnya. maka pihak bank wajib mengikuti dan mentaati perjanjian Mediasi yang telah ditandatangani oleh Nasabah atau Perwakilan Nasabah dan Bank. sehingga kedudukan nasabah debitur sangat lemah biladitinjau dari hubungan kontraktual dengan bank. dan lembaga penyelesaian sengketa sesuai dengan kapasitas dan kewenangan masing-masing VI. d) Sengketa yang diajukan merupakan Sengketa keperdataan. b) Dalam hal Nasabah atau Perwakilan Nasabah mengajukan penyelesaian Sengketa kepada Bank Indonesia. b) Pernah diajukan upaya penyelesaiannya oleh Nasabah kepada Bank. 8/5/PBI/2006) a) Diajukan secara tertulis dengan disertai dokumen pendukung yang memadai. atau belum terdapat Kesepakatan yang difasilitasi oleh lembaga Mediasi lainnya. senantiasa membebani nasabah debitur dengan berbagai macam kewajiban hingga tanggung jawab atas resiko yang ditimbulkanselama perjanjian berlangsung ditimpakan kepada nasabah. Demi optimalnya peraturan perundangundang dimaksud.

Di samping itu juga adanya hak bagi nasabah untuk melakukan pengaduan nasabah. 2 . dan cepat. Dan sebagian produk-produk bank syariah masih mengadopsi istilah dari bank konvesional. murah.Posted by hsujiantoshmhmkn | Uncategorized . logo unair OLEH : H.SUJIANTO.MH. NIM : 030810460N MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 2009 Like Be the first to like this post. misalnya adanya kewajiban bagi bankuntuk menjadi anggota LPS sehingga dapat memberi perlindungan bagi nasabah deposan akan simpanannya. Perlindungan hukum bagi nasabah bank selaku konsumen ditinjau dari peraturan perundang-undangan di bidang perbankan. SH. serta menggunakan forum mediasi perbankan untuk mendapatkan penyelesaian sengketa di bidang perbankan secara sederhana.sudah cukupmembebani nasabah debitur. 17 July 2009 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful