Peraturan Perundang-undangan Perundangdi Bidang Distribusi Obat

Oleh S.MURTJANA

Disampaikan pada Pelatihan CDOB di PALU 4- s/d 8 Juni 2005

Materi
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Pedoman CDOB Perizinan Sarana Distribusi Sanksi Peraturan Pedagang Eceran Obat Peraturan Registrasi dan Praktek Bidan Ketentuan yang berhubungan dengan ketenagaan Farmasi ‡ Otonomi Daerah dan Pengawasan Obat dan Makanan

Keputusan Kepala Badan POM No. HK. 00.05.3.2522 Tahun 2003 Tentang Penerapan Pedoman Cara Distribusi Obat Yang Baik

ASPEK CDOB
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Personalia; Bangunan; Penyimpanan obat; Pengadaan dan penyaluran obat; Dokumentasi; Penarikan kembali dan penerimaan kembali obat.

Perizinan Sarana Distribusi
‡ Apotik ² PP No. 26 Tahun 1965 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 25 tahun 1980 jo. Permenkes No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik sebagaimana telah diubah dengan Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 ‡ Pedagang Eceran Obat ² Permenkes No. 167/Kab/B.VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat sebagaimana telah diubah dengan Kepmenkes No. 1331/Menkes/SK/X/2002

245/Menkes/SK/V/1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi ‡ PBF ² Permenkes No. PO. 1191/Menkes/SK/IX/2002 ‡ PBBBF ² Permenkes No. 918/Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi sebagaimana telah diubah dengan Kepmenkes No. 1191/Menkes/SK/IX/2002 jo.01.02569 tahun 1995 tentang Persyaratan teknis Pedagang Besar Bahan Baku Farmasi .Perizinan Sarana Distribusi ‡ Industri Farmasi ² SK Menkes No.2. KepDirjenPOM No. 918/Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi sebagaimana telah diubah dengan Kepmenkes No.01.

KETENAGAAN (Penanggung Jawab) ‡ Industri Farmasi (Obat Jadi dan BBO) ² Wajib mempekerjakan secara tetap sekurang-kurangnya 2 (dua) Apoteker WNI masing-masing sebagai Penjab Produksi dan Penjab Pengawasan Mutu Pasal 10 ayat (2) ‡ PBF ² Wajib memiliki AA atau Apoteker Penjab yg bekerja penuh dan yg mempunyai SIK Pasal 5 huruf c jo Pasal 6 ayat (1) ‡ PBBBF ² Wajib mempunyai Penjab seoarang Apoteker yang mempunyai SIK .

KETENAGAAN (Penanggung Jawab) ‡ Apotik ² Pengelolaan apotik menjadi tugas dan tanggung jawab seorang apoteker ‡ Pedagang Eceran Obat ² Setiap Pedagang Eceran Obat wajib mempekerjakan seorang AA sebagai penanggung jawab teknis farmasi .

² Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan. ² Akademi Analis Farmasi dan Makanan Jurusan Analis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Asisten Apoteker (KEPMENKES NO. . 679/MENKES/SK/V/2003) ‡ Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan yang berijazah: ² Sekolah AsistenApoteker/Sekolah Menengah Farmasi.

PENGERTIAN TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) PEDAGANG BESAR BAHAN BAKU OBAT PEDAGANG BESAR FARMASI OBAT JADI PT KOPERASI BENTUK BADAN USAHA pel.insp.2004 / tp .obat / 05 .dist.

2004 / tp .obat / 05 .dist.insp.PENGERTIAN TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) PEDAGANG BESAR BAHAN BAKU OBAT PEDAGANG BESAR FARMASI OBAT JADI BAHAN BAKU OBAT OBAT JAD I PERBEKALAN FARMASI BAHAN BERKHASIAT BAHAN PENOLONG PRODUK BIOLOGI * OBAT NARKOTIKA ** KOMODITI pel.

dist.D. BANGUNAN .2004 / tp . MAKMIN. OBAT HEWAN ( VETERINARY ). KOSMETIKA . KOMODITI . ADMINISTRASI .insp.GUDANG & KELENGKAPANNYA > GUDANG DINGIN (TERMOMETER DIKALIBRASI ) > PALET > PEMADAM API (MASIH VALID) 3.R. .obat / 05 .APOTEKER BEKERJA PENUH 2.PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) 1.BAHAN PENOLONG > S.BAHAN BERKHASIAT ( ACTIVE PHARMACEUTICAL INGREDIENTS ± API ) > INDUSTRI : FARMASI.LABORATORIUM & KELENGKAPANNYA . PENANGGUNGJAWAB .A TERMASUK PABRIK OBAT TRADISIONAL PEDAGANG BESAR BAHAN BAKU OBAT PARTAI ECERAN ** TENDER REGULER pel.

.2004 / tp . PERBEKALAN FARMASI KECUALI JAMU YANG BERASAL DARI SIMPLISIA.1. KOMODITI .SETIDAKNYA AA YG BEKERJA PENUH 2. PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) PEDAGANG BESAR FARMASI OBAT JADI PARTAI TENDER REGULER pel. PENANGGUNGJAWAB .PENYALURAN OBAT NARKOTIKA HANYA OLEH PT.OBAT.PENYALURAN OBAT PSIKOTROPIKA HARUS DILAPORKAN KE BADAN POM.R.GUDANG & KELENGKAPANNYA > GUDANG DINGIN ( BILA PERLU ) > PALET > PEMADAM API (MASIH VALID) 3. BANGUNAN . KIMIA FARMA. . ADMINISTRASI .dist.obat / 05 .insp.

2004 / tp . .PENDISTRIBUSIAN OBAT PSIKOTROPIKA DAN NARKOTIKA HARUS DILAPORKAN.PENYALURAN OBAT KERAS HANYA KPD PIHAK YANG BERWENANG MENERIMANYA.PENYIMPANAN VAKSIN HRS MEMENUHI KETENTUAN ³COLD CHAIN´. PEDAGANG BESAR FARMASI ( PBF ) PEDAGANG BESAR FARMASI OBAT JADI PARTAI TENDER REGULER pel.dist.PBF TIDAK DILARANG MENJUAL OBAT KELUAR PROVINSI.obat / 05 . . 4.TETAP MEMPERTAHANKAN PRINSIP ³QUALITY ASSURANCE´. KECUALI UNTUK OBAT NARKOTIKA..insp.OBAT JADI DIJUAL DALAM KEMASAN ASLI ( BUKAN ECERAN ). . LAIN-LAIN . .

SANKSI ‡ SANKSI ADMINISTRATIF ‡ SANKSI PIDANA .

jika terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu. dan kemanfaatan.SANKSI ADMINISTRATIF ‡ Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini Pasal 77  Dapat berupa pencabutan izin usaha. atau izin lain yang diberikan.  Larangan mengedarkan untuk sementara waktu. Pasal 72 PP 72/1998 . izin edar.  Perintah pemusnahan.  Pencabutan sementara atau pencabutan tetap izin usaha industri. keamanan. atau izin lain yang diberikan (Penjelasan Pasal 77) ‡ Tindakan Administratif dapat berupa:  Peringatan secara tertulis. dan atau  Perintah untuk menarik produk yang tidak memenuhi persyaratan mutu. keamanan. dan kemanfaatan.

SANKSI ADMINISTRATIF ‡ Industri Farmasi ² Peringatan Secara Tertulis ² Pembekuan Izin Usaha Industri Farmasi ² Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi ‡ PBF ² Peringatan Secara Tertulis ² Pembekuan Izin Usaha PBF ² Pencabutan Izin Usaha PBF ‡ Apotik ² Peringatan Secara Tertulis ² Pembekuan Izin Apotik ² Pencabutan Izin Apotik ‡ Toko Obat .

5/1997 tentang Psikotropika ‡ UU No. 22/1997 tentang Narkotika ‡ UU No. 72/1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan . 23/1992 tentang Kesehatan ‡ UU No. 1949 No.SANKSI PIDANA ‡ Ordonansi Obat Keras (St. 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP) ‡ UU No. 419) ‡ UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen ‡ PP No.

Mereka yg berdagang bertentangan dg peraturan-peraturan yg dikeluarkan oleh Sec. 4. St. Pasal 7 ayat (6) atau Pasal 9 ayat (1) dan (3). e. dan 5. d. Mereka yg melanggar peraturan-peraturan larangan yg dimaksudkan dalam Pasal 3. . Mereka yg berdagang bertentangan dg ketentuan-ketentuan pada Pasal 8 ayat (1).ORDONANSI OBAT KERAS Hukuman penjara setinggi-tingginya 6 bulan atau denda setinggi-tingginya 5000 gulden dikenakan kepada: a. b. f. Pedagang Kecil yg diakui yg berdagang berlawanan dg ayat-ayat khusus yg ditentukan pada surat izinnya atau bertentangan dg peraturan umum yg dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5). Pedagang Besar yg diakui yg berdagang bertentangan dg syaratsyarat yg dimaksudkan dalam Pasal 7 ayat (4). sesuai dg Pasal 8 ayat (2). V. c. Mereka yg tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam Pasal 6 ayat (7).

dan menyembunyikan hal itu. menawarkan atau menyerahkan barang makanan. diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. . minuman atau obat-obatan itu dipalsu. minuman atau obatobatan yang diketahui bahwa itu dipalsu. (2) Bahan makanan. jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena sudah dicampur dengan sesuatu bahan lain.KUHP Pasal 386 (1) Barang siapa menjual.

.000.UU No.00 (tiga ratus juta rupiah) Pasal 80 ayat (4) huruf b.000. 23 Tahun 1992  Barang siapa dengan sengaja memproduksi dan atau mengedarkan sediaan farmasi berupa obat atau bahan obat yang tidak memenuhi syarat Farmakope Indonesia dan atau buku standar lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1). dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 300.  Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan obat harus memenuhi syarat Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya Pasal 40 ayat (1).

 Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar Pasal 41 ayat (1).UU No. .000. dipidana dengan penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 140. 23 Tahun 1992  Barang siapa dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan tanpa izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1).00 (seratus empat puluh juta rupiah) Pasal 81 ayat (2) huruf c.000.

dan pelayanan sediaan farmasi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu Pasal 63 . 23 Tahun 1992 ‡ Barang siapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja melakukan pekerjaan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 100. produksi.00 (seratus juta rupiah) Pasal 82 huruf d ‡ Pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan.UU No. distribusi.000.000.

000.00 (lima belas juta rupiah) Pasal 84 angka 5 ‡ Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum Pasal 58 ayat (1) ‡ Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin Pasal 59 ayat (1) . 23 Tahun 1992 ‡ Barang siapa menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) atau tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 15.UU No.000.

obat tradisonal. ‡ Pasal 13 ayat (2) ² Pelaku usaha dilarang menawarkan. alat kesehatan. mempromosikan atau mengiklankan obat. suplemen makanan.UU Perlindungan Konsumen ‡ Pasal 8 ayat (3) ² Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak. dan jasa pelayanan kesehatan dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau jasa lain. . dengan atau tanpa memberikan informasi yang benar. cacat atau bekas dan tercemar.

UU Perlindungan Konsumen ‡ Sanksi Pidana ‡ Pelaku usaha yg melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8.000.000. «. Pasal 13 ayat (2).00 (dua miliar rupiah) . « dipidana dg pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.

419) ‡Permenkes No. 1331/Menkes/SK/X2002 tentang Perubahan Atas Permenkes RI No.VII/72 tentang Pedagang Eceran Obat . 167/Kab/B. 167/Kab/B.Peraturan Per-UU-an Per-UUPedagang Eceran Obat ‡Pasal 6 Ordonansi Obat Keras (St.VII/72 tentang Pedagang Eceran Obat ‡Kepmenkes No. 1949 No.

Surat Penugasan. . dan SIK AA ²Surat Pernyataan kesediaan bekerja AA sebagai penanggung jawab teknis.Perizinan Pedagang Eceran Obat Pemberian izin Pedagang Eceran Obat dilaksanakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ‡Permohonan izin disertai : ²Alamat dan denah tempat usaha ²Nama dan alamat pemohon ²Nama dan alamat AA ²Foto-copy Ijazah.

atau PBF.Pedagang Eceran Obat ‡Harus memasang papan nama ´Toko Obat Berijinµ tidak menerima resep dokter. . pabrik obat. membungkus atau membungkus kembali obat. ‡Tidak boleh memasang nama yang sama atau menyamai nama apotik. ‡Dilarang membuat obat. ‡Dilarang menerima dan melayani resep dokter.

(Pasal 17 ayat 2) ‡Bidan berwenang untuk pemberian obat-obatan terbatas. melalui lembaran permintaan obat sesuai dg Lampiran VII. (Pasal 26 huruf q) . (Pasal 13) ‡Obat-obatan yg dapat digunakan dalam praktek sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI.Permenkes No. 572/Menkes/Per/VI/1996 tentang Registrasi dan Praktek Bidan ‡Bidan yg menjalankan praktek perorangan harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB).

(Pasal 26 huruf q) . (Pasal 13) ‡Obat-obatan yg dapat digunakan dalam praktek sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI. (Pasal 17 ayat 2) ‡Bidan berwenang untuk pemberian obat-obatan terbatas. 572/Menkes/Per/VI/1996 tentang Registrasi dan Praktek Bidan ‡Bidan yg menjalankan praktek perorangan harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB).Permenkes No. melalui lembaran permintaan obat sesuai dg Lampiran VII.

Anti kejang 10. Antipiretika 8. Koagulantia 9. Utero tonika 7.Obat luka . Roborantia 2.Glyserin 11. Immunisasi 3. Cairan infus 12. Antibiotika 6. Anafilaktik syock 4.Lampiran VI Jenis Obat 1. Sedativa 5.

....................... .................. Berat Badan: ...... (..........................(Alamat) ..(Nama) ...... ....... dalam rangka pemberian pelayanan kebidanan mohon kepada Apoteker dapat memberikan kepada ................... (Nama Pasien). 19 Yang bertanda tangan dibawah ini Bidan .................................(Nama Kota) SIP No........................................ Obat-obatan sebagai berikut: Demikian atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih..................... Umur: .................................................... .....) Tanda-tangan .................Lampiran VII LEMBARAN PERMINTAAN OBAT Bidan ..

‡ Ketentuan yang berhubungan dengan ketenagaan Farmasi KepMenkes Nomor 1322/Menkes/SK/X/1993 Tentanag Perubahan atas Permenkes Nomor: 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan Tata Cara Pemberian Izin Apotik .

²Memiliki Surat Izin dari Menteri. ²Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi APA di Apotik lain. . ²Memenuhi persyaratan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai Apoteker. : ²Ijasahnya telah terdaftar pada Depkes.Pasal 5 ‡APA harus memenuhi persyaratan sbb.

. harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan Menteri.Pasal 12 Apoteker berkewajiban menyediakan. ‡Sediaan Farmasi yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan. menyimpan dan menyerahkan Sediaan Farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin.

Pasal 15 ayat (2) ‡Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang ditulis didalam resep dengan obat paten .

SIA atas nama Apoteker bersangkutan dicabut.Pasal 19 ayat (5) ‡Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya > 2 tahun secara terus menerus. .

OTONOMI DAERAH DAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN .

Susunan Organisasi. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom ‡Keppres 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ‡PP No. terkahir dengan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2005 ‡Keppres 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah. 22 Tahum 1999 tentang Pemerintahan Daerah ‡UU No. terkahir dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2005 .OTONOMI DAERAH dan PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN ‡UU No. Fungsi. Kewenangan. Tugas.

22/1999 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 7 Kewenangan Daerah meliputi kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. kecuali: ‡Kewenangan dalam bidang politik luar negeri ‡Kewenangan dalam bidang pertahanan keamanan ‡Kewenangan dalam bidang peradilan ‡Kewenangan dalam bidang moneter dan fiskal ‡Kewenangan dalam bidang agama ‡Kewenangan dalam bidang lain.UU No. .

b. c. pertahanan. d. moneter dan fiskal nasional. yustisi.UU No. politik luar negeri. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 10 ayat (3) Urusan pemerintahan yg menjadi urusan Pemerintah Pusat meliputi: a. agama . keamanan. e. dan f.

UU No. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. Pemerintah dapat: a. . Menugaskan sebagian urusan kepada Pemerintahan Daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. b. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 10 ayat (5) Dalam urusan pemerintahan yg menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). atau c.

Bidang Pendidikan dan Kebudayaan 12. Bidang Penanaman Modal 8. Bidang Sosial 13. Bidang Kepariwisataan 9. Bidang Kehutanan dan Perkebunan 5. Bidang Pertambangan dan Energi 4. Bidang Perkoperasian 7. Bidang Kelautan 3. Bidang Penataan Ruang . Bidang Ketenagakerjaan 10. Bidang Kesehatan 11. Bidang Pertanian 2.KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM BIDANG LAIN (PP 25 Tahun 2000) 1. Bidang Perindustrian dan Perdagangan 6.

Bidang Perimbangan Keuangan 22.Bidang Olah Raga 24.KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM BIDANG LAIN (PP 25 Tahun 2000) 14. Bidang Politik Dalam Negeri dan Administrasi Publik 20. Bidang Pekerjaan Umum 17.Bidang Pengembangan Otonomi Daerah 21. Bidang Perhubungan 18.Bidang Kependudukan 23.Bidang Penerangan .Bidang Hukum dan Perundang-undangan 25. Bidang Permukiman 16. Bidang Pertanahan 15. Bidang Lingkungan Hidup 19.

pengembangan dan pengawasan tanaman obat ‡Penetapan pedoman penapisan. dan standar etika penelitian kesehatan . pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan. konservasi.KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM BIDANG KESEHATAN ‡Penetapan standar nilai gizi dan pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi ‡Penetapan pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan ‡Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan ‡Penetapan pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan ‡Penetapan pedoman penggunaan.

penyakit menular dan kejadian luar biasa ‡Penyediaan obat esensial tertentu dan obat untuk pelayanan kesehatan dasar sangat esensial (buffer stock nasional) .KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM BIDANG KESEHATAN ‡Pemberian izin dan pengawasan peredaran obat serta pengawasan industri farma ‡Penerapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu untuk makanan dan penetapan pedoman pengawasan peredaran makanan ‡Penetapan kebijakan sistem perijinan pemeliharaan kesehatan masyarakat ‡Survailans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah.

Susunan Organisasi. .Keppres 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Tugas. Fungsi. ‡Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro. Mempunyai kewenangan: ‡Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya. Kewenangan. Dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen Badan POM Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan ketentuan PUU yang berlaku.

‡Penetapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu untuk makanan dan penetapan pedoman pengawasan peredaran obat dan makanan. Kewenangan. dan pengawasan tanaman obat. Tugas. Susunan Organisasi. Dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen ‡Penetapan sistem informasi di bidangnya.Keppres 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Fungsi. pengembangan. . ‡Penetapan pedoman penggunaan konservasi. ‡Pemberian izin dan pengawasan peredaran obat serta pengawasan industri farmasi.

Keppres 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen ‡ Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Napza ‡ Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional. dan Produk Komplemen ‡ Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya . Kosmetik.

* Terima Kasih .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful