P. 1
teori partisipasi

teori partisipasi

|Views: 1,809|Likes:

More info:

Published by: Adika Sang Pangerand on Feb 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2013

pdf

text

original

Teori Partisipasi Dalam menjalani kehidupan, manusia mempunyai beberapa kebutuhan seperti kebutuhan biologis, kebutuhan sosial, kebutuhan

cita-cita dan lain-lain. Di samping itu mereka juga mempunyai berbagai keinginan yang selalu mereka usahakan guna memuaskan apa yang mereka butuhkan. Psikolog mengatakan bahwa individu mempunyai berbagai keinginan yang tidak terhingga. Keinginan ini belum pernah dapat terpenuhi sepenuhnya. Kenyataan yang ada hanya memperlihatkan bahwa kebutuhan yang pertama menjadi penting sampai dapat dipenuhi. Setelah itu akan muncul kebutuhan kedua, ketiga dan seterusnya. Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut, setiap individu selalu akan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat (live of society) ataupun kehidupan berkelompok (live of group). Partisipasi merupakan “setiap proses identifikasi atau menjadi peserta, suatu proses komunikasi atau kegiatan berasama dalam suatu situasi sosial tertentu” (Soerjono Soekanto 1993: 355). Partisipasi itu terdiri dari beberapa jenis diantaranya partisipasi sosial dan partisipasi politik. Partisipasi sosial merupakan derajat partisipasi individu dalam kehidupan sosial. Berikut adalah beberapa definisi mengenai konsep teori partisipasi politik

Maka secara umum. 2. terorganisasi atau spontan. 3. Partisipasi jenis ini bisa bersifat individual atau kolektif. ikut dalam kampanye atau menjadi anggota partai politik dan lain-lain. partisipasi politik adalah keterlibatan warga dalam segala tahapan kebijakan. “partisipasi politik dipahami sebagai keikutsertaan masyarakat dalam aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh kelompok dalam kehidupan sosial dan politik”. . mulai dari pembuatan keputusan sampai dengan penilaian keputusan termasuk juga peluang untuk ikut serta dalam pelaksanan keputusan. atau tidak efektif. Hontington dan Joan Nelson . Partisipasi politik adalah kegiatan warga negara yang bertindak secara pribadi-pribadi dan dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah. 1994 : 6). “Partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalm kehidupan politik yaitu dengan jalan memilih pimpinan negara secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah”(Wikipedia). Partisipasi Politik di Negara Berkembang. Kegiatan warga negara dalam partisipasi politik dapat berupa pemberian suara. (Wikipedia).1. “Partisipasi politik adalah kegiatan warga (private citizen) yang bertujuan mempengaruhi keputusan oleh pemerintah”( Samuel P. mantap atau sportif.

pikiran. atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK. 1984 : 140) “Partisipasi adalah keikutsertaan. Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. 1993 : 23) 5. pelaksanaan. Memahami Ilmu Politik. “Partisipasi politik adalah keikutsertaan warga negara biasa menentukan segala keputusan yang menyangkut atau dalam mempengaruhi kehidupannya”. dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya.4. partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu.1995).” (Michael Rush dan Phillip Althoff . mulai dari tahap sosialisasi. Pengantar Sosiologi dan Politik. 2007) (Theodorson dalam Mardikanto. “Partisipasi politik adalah keterlibatan individu sampai pada bermacam-macam tingkatan di dalam sistem politik. perencanaan. 1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian sehari-hari. partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil . (Ramlan Surbekti. peranserta atau keterlibatan yang berkitan dengan keadaaan lahiriahnya” (Sastropoetro. Oleh karena itu.

mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan. yang dalam hal ini “tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan” (Berlo. (Conyers. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnya partisipasi dapat didekati dengan beragam pendekatan disiplin keilmuan.1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting.bagian dalam kegiatan masyarakatnya. kebutuhan. dan sikap masyarakata. 2003) adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi. tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal. Soemarto. partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responses atas rangsangan-rangsangan yang diberikan. karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka. 1961). Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara . pelaksanaan. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi. Partisipasi masyarakat merutut (Hetifah Sj. di luar pekerjaan atau profesinya sendiri. Menurut konsep proses pendidikan. alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya.

yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” oleh sebab itu kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat juga disebabkan karena sudah adanya campur tangan dari pihak penguasa. Partisipasi Pasif / manipulatif dengan karakteristik masyrakat diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi.karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia. I. . Partisipasi Informatif memilki kararkteristik dimana menjawab tidak pertanyaan-pertanyaan untuk penelitian. terlibat dan masyarakat masyarakat diberikesempatan mempengaruhi proses penelitian dan akuarasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat. Tipologi Partisipasi Penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat serngkali terhambat oleh persepsi yang kurang tepat. pengumuman sepihak oleh pelkasan proyek yanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran. Berikut adalah macam tipologi partisipasi masyarakat 1. 2.

dan para profesional tidak berkewajiban untuk mengajukan pandangan masyarakat (sebagi masukan) atau tindak lanjut 4. Partisipasi Fungsional memiliki karakteristik masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek. Partisipasi interaktif memiliki ciri dimana masyarakat berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan penguatan kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan . Masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembelajan atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan asyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatankegiatan setelah intensif dihentikan.3. 6. Partisipasi intensif memiliki karakteristik masyarakat memberikan korbanan atau jasanya untuk memperolh imbalan berupa intensif/upah. tidak ada peluang pembutsn keputusan bersama. pembentukan kelompok biasanya setelah ada keptusankeputusan utama yang di sepakati. 5. pada tahap awal masyarakat tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan kemandiriannya. Partisipasi konsultatif dengan karateristik masyaakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi.

setiap program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan) keputusan-keputusan merek. Self mobilization (mandiri) memiliki karakter masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebabas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilainiloai yang mereka miliki. partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang . Karena itu. 7. sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegitan. Masyarakat mengambangkan kontak dengan lembaga-lemabaga lain untuk mendapatkan bantuanbantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan.sisteatis. yang dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada dan atau digunakan II. Tahap-Tahap Partisipasi Uraian dari masing-masing tahapan partisipasi adalah sebagai berikut : a) Tahap partisipasi dalam pengambilan keputusan Pada umumnya.

maksud dan target. sistem perencanaan harus didesain sesuai dengan respon masyarakat. Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih di dalam sistem lingkungannya. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal dari atas umumnya amat mendalam. orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan tujuan. . Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. peranan masyarakat sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan menanggung kehidupan mereka. bukan hanya karena keterlibatan mereka yang begitu esensial dalam meraih komitmen. b) Tahap partisipasi dalam perencanaan kegiatan Slamet (1993) membedakan ada tingkatan partisipasi yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan. Dalam tahap perencanaan. 2001). Oleh karena keadaan ini.memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat atau di tingkat lokal (Mardikanto. partisipasi dalam tahap pelaksanaan. Oleh sebab itu. partisipasi dalam tahap pemanfaatan.

uang tunai. dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan diterima oleh warga yang bersangkutan (Mardikanto. 1993). lapisan yang ada di atasnya (yang umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan. Di lain pihak. tidak dituntut sumbangannya secara proposional.tetapi karena masyarakatlah yang mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis atasan (Slamet. 2001). c) Tahap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan Partisipasi masyarakat dalam pembangunan. partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja. tetapi juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. . Bukan saja agar tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan. Karena itu. seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak (yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di dalam kegiatan pembangunan. d) Tahap partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi kegiatankegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan.

meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.Dalam hal ini. Partisipasi spontan. yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman. e) Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan. pengaruh. 2001). merupakan unsur terpenting yang sering terlupakan. pemanfaaatan hasil pembangunan akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam setiap program pembangunan yang akan datang (Mardikanto. partisipasi masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan (Mardikanto. 2001). Di samping itu. dorongan) dari luar. III. Partisipasi terinduksi.Tingkat Kesukarelaan Partisipasi Tingkat kesukarelaan Partisipasi menurut Dusseldorp (1981) membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaan sebagai berikut: 1. . penghayatan. dan keyakinannya sendiri 2. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan merupakan tujuan utama. yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan.

yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan. yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya. Jika tidak berperanserta. nilai-nilai. Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi . 5. sangat ditentukan oleh 3 (tiga) unsur pokok.3. IV. Partisipasi tertekan oleh kebiasaan. untuk berpartisipas 2. yaitu: 1. Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi. yaitu peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari khawatir akan tersisih atau dikucilkan peraturan/ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan. Adanya kemauan yang diberikan kepada masyarakat. atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. 4. Partisipasi tertekan oleh peraturan. atau peranserta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan. masyarakatnya. Syarat tumbuh partisipasi Syarat tumbuh partisipasi Margono Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Adanya kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi 3.

Kemauan Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan. 3) Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas sendiri. 5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya b. dan tercapainya tujuan pembangunan. Tumbuh dan berkembangnya kemauan berpartisipasi sedikitnya diperlukan sikap-sikap yang: 1) Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan. 4) Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah. dorongan atau tekanan dari pihak luar). Kemampuan Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah: . 2) Sikap terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya. kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi adalah sebagai berikut a.Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkut kemauan.

2) Kesempatan untuk memperoleh informasi. Kesempatan Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat dipengaruhi oleh: 1) Kemauan politik dari penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan. c. 3) Kesempatan untuk memobilisasi dan memanfaatkan sumberdaya.1) Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah. Lebih lanjut Robbins (1998) menyatakan pada hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. 3) Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya lain yang dimiliki Robbins (1998) kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. 2) Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. .

perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. Karena itu setiap hubungan atau interaksi antara orang luar dengan masyarakat sasaran yang sifatnya asimetris (seperti: menggurui. Dengan dimikian. akan tetapi harus mampu menjadikan warga masyarakatnya menjadi lebih kreatif. serta dalam menggerakkan dan mengembangkan masyarakat memelihara partisipasi pembangunan. akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan orang-orang dalam untuk . Sementara Mardikanto (1994) menyatakan bahwa pembangunan yang partisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk mencapai perbaikan kesejahteraan masyarakat (secara material). hak yang tidak sama dalam berbicara. serta mekanisme yang menindas) tidak boleh terjadi.4) Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi tepat guna. setiap pelaksanaan aksi tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke dalam masrakat sasaran. termasuk untuk memperoleh dan mempergunakan peraturan. 5) Kesempatan untuk berorganisasi. 6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan.

Sebaliknya. Sebab. sering merupakan faktor pendorong tumbuhnya menentukan Syarat Tumbuh dan kemauan.2003). belum merupakan jaminan bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. Mardikanto (2003) menjelaskan beberapa kesempatan yang dimaksud adalah kemauan politik dari penguasa untuk melibatkan masyarakat dalam pembagunan. monitoring dan evaluasi. kesempatan dan kemampuan yang cukup. pemeliharaan. baik dalam pengambilan kepu-tusan perencanaan. (Mardikanto. Berkembangnya Partisipasi Masyarakat Kemauan untuk berpartisipasi merupakan kunci utama bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. dan pemanfaatan . jika mereka sendiri tidak memiliki kemauan untuk (turut) membangun. adanya kemauan akan mendorong seseorang untuk meningkatkan kemam-puan dan aktif memburu serta memanfaatkan setiap kesempatan.merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam masyarakatnya sendiri. Mardikanto (2003) menjelaskan adanya kesempatan yang diberikan. dan kemauan akan sangat kemampuannya. pelaksanaan.

Selain hal tersebut terdapat kesempatankesempatan yang lain diantaranya kesempatan untuk memperoleh informasi pembangunan. dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat (Mardikanto. penunjangnya). Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi yang tepat (termasuk Kesempatan peralatan untuk perlengkapan berorganisasi. Kemampuan untuk menemukan dan memahami kesempatan-kesempatan untuk membangun. sejak di tingkat pusat sampai di jajaran birokrasi yang paling bawah. perijinan. dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. dan Kesempatan mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan. . termasuk untuk memperoleh dan menggunakan peraturan.2003). jika masyarakatnya tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi. Adanya kesempatan-kesempatan yang disediakan untuk menggerakkkan partisipasi masyarakat akan tidak banyak berarti.pembangunan. kesempatan memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya (alam dan manusia) untuk pelaksanaan pembangunan. Mardikanto (2003) menjelaskan yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah : 1. menggerakkan.

dan adanya yang kepercayaan diberikan "pemerintah" kepada masyarakatnya untuk terlibat secara . Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan sumberdaya dan kesempatan (peluang) lain yang tersedia secara Yadav dalam Mardikanto optimal. partisipasi berkembangnya proses dalam pembangunan.atau pengetahuan tentang peluang untuk membangun (memperbaiki mutu hidupnya). yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. kegiatan. dan partisipasi dalam pemanfaatan Tumbuh masyarakat menunjukkan kesempatan dan hasil pembangunan. (1994) mengemukakan adanya empat macam kegiatan yang menunjukkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu : partisipasi dalam pengambilan pelaksanaan keputusan. Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan. partisipasi partisipasi dalam dalam pemantauan dan evaluasi. 2. 3.

aktif di dalam proses pembangunan. pelaksanaan. tumbuh dan berkembangnya memberikan (aparat) partisipasi adanya bahwa masyarakat. 2001). pengakuan indikasi pemerintah masyarakat bukanlah sekedar obyek atau penikmat subyek hasil atau pembangunan. Artinya. . melainkan yang pelaku pembangunan memiliki kemauan dan kemampuan yang dapat diandalkan sejak perencanaan. dan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan (Mardikanto. pengawasan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->