P. 1
Geomigas Bitumen, Petroleum, Dan Natural Gas

Geomigas Bitumen, Petroleum, Dan Natural Gas

|Views: 116|Likes:

More info:

Published by: Romi Rarasta Romuzon on Feb 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2012

pdf

text

original

BITUMEN, PETROLEUM, DAN NATURAL GAS

Komposisi Bitumen dan Minyak
‡ Bitumen & Petroleum (crude oil) mengandung empat fraksi
Fraksi 1) HC jenuh Kelas Senyawa penting ‡ n-aklana ‡ Senyawa cabang = Isoprenoid ‡ Siklik = sterana, diterpana, triterpana ‡ HC Aromatik sederhana (ringan) : benzena dan toluena ‡ HC aromatik yang bebih berat dan HC naphthenoaromatik turunan dari sterana, diterpana, triterpana ‡ Senyawa kecil yang mengandung sulfur ‡ Fraksi ringan = molekul kecil sedang yang terdiri dari polars, NSO dan resin ‡ Senyawa Heteratom = porphyrin, fatty acid ‡ Molekul aromatik, kaya heteroatom ‡ Berat molekul sangat besar dapat 50.000 sehingga tidak larut oleh pelarut ringan (nephta)

2) HC aromatik

3) Senyawa NSO

4) Asphaltenes

Biomarker
‡ Dalam bitumen dan crude oil mengandung biomarker
± Biomarker = biological marker ± asal biological precursor molecules ± digunakan sebagai indikator organisme asal dari bitumen dan petroleum ± biomarker bukan index fossil

Biomarker
Biomarker n-alkana (> C22) n-alkana (C17, C22) Isoprenoid (< C20) Isoprenoid (> C20) Porphyrin Sterana Triterpana Diterpana Nophtheno aromatik besar Precursor Tumbuhan darat lilinan Lipid alga Klorofil Lipid atau klorofil dari alga hypersaline Klorofil Steroid Triterpenoid bakterial HC dalam resin tumbuhan Steroid, triterpenoid

Biomarker-Sterana
Konversi diagenetik dari C29 menjadi sterana (Mackenzie, & McKenzie, 1983 op.cit. Waples 1985)

Transformasi katagenetik sterana

Faktor yang mempengaruhi senyawa bitumen dan petroleum
‡ Biomarker =
± N-alkana :
‡ Asal tumbuhan dan lipid alga ‡ konsentrasi tinggi; ‡ katagenesis = membentuk senyawa panjang rantai seperti fatty acid dan alkohol; ‡ Asal tumbuhan dengan no atom karbon ganjil, misal C23, C25, C27, C29 dan C31 ‡ n-alkana alami hidrogenasi (reduksi) fatty acid rantai panjang dan alkohol yang memiliki no atom karbon genap; ‡ No atom C-genap = sedimen evaporit dan karbonat dengan input asal darat yang kecil serta kondisi diagenetik yang reduksi ‡ Mengukur dominasi C ganjil pada n-alkana dengan CPI (carbon preference index)

Distribusi n-alkana sedimen baru yang kaya material terestrial

Distribusi n-alkana ekstraksi batuan dari limestone (evaporite condition)

Faktor yang mempengaruhi senyawa bitumen dan petroleum
‡ Rumus CPI = CPI = C ganjil (C23-31) / C genap (C24-32) + C ganjil (C25-33) / C genap (C26-32) ‡ Jika =
± CPI = 1, maka jumlah atom C ganjil dan C genap sama ± CPI > 1, maka jumlah aton C ganjil dominan

± Porphyrin
‡ Asal klorofil ‡ Selama diagenesis, maka ion magnesium dari klorofil menjadi hilang selama diagenesis awal, namun diganti oleh Vanadyl (VO+2)

± Isoprenoid
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Asal klorofil (C16-18) sumber dari molekul Fitana (phytane) dan pristana (prystane) Isoprenoid punya 15 atom karbon C15 isoprenoid menggantikan C20 Rasio fitana/pristana indikator tingkatan oksigen dalam kondisi diagenesis, sehingga digunakan berasosiasi dengan lingkungan oksidasi

Faktor yang mempengaruhi senyawa bitumen dan petroleum
± Sterana
‡ Asal dari steroid (precursor) ‡ Diagenesis mengubah sterana (cyanobacteri atau blue-grean alga) menjadi HC sterana

± ± ± ±

Triterpana Diterpana Naphthenoaromatic Parameter lain (Sulfur)
‡ Kandungan sulfur pengaruh diagenetik ‡ Atas alasan ekonomi dan lingkungan, minyak bisa mengandung > 0,5% sulfur = sulfur tinggi; asal kerogen dengan sulfur tinggi ‡ Sulfur menyatu dengan kerogen terbentuk didalam sedimen non klastik yang terakumulasi pada reduksi sulfat anaerobik ‡ Kandungan sulfur rendah = lakustrin dan batuan klastik asal laut ‡ Kandungan sulfur tinggi = batuan laut euxinic atau anoxic

± Maturitas
‡ Mempengaruhi komposisi minyak ‡ Rasio S/N menurun, berarti kematangan meningkat

» Minyak lilinan (waxy oils) menjadi tidak lilinan
» API gravity meningkat Api Gravity = ukuran minyak dibandingkan dengan air; API grav > 10, maka mengambang diatas air (minyak ringan/lighter oils) >31,1 = light crude oil (CO); 22.3-31.1 = medium CO; <22,3 = heavy CO » Pour point (titik aliran) dan viscositas menurun » Fungsi dari waktu dan temperatur dalam reservoir T reservoir <80oC = minyak stabil tanpa memperhatikan panjang waktu didalam reservoir T reservoir >120oC = minyak akan normal bila baru masuk ke reservoir

± Transformasi Reservoir
‡ Cracking dan Deasphalting
± Cracking » Pembelahan molekul besar menjadi molekul kecil » Mengubah molekul berat menjadi lebih ringan

Transformasi Reservoir
± Deasphalting = akibat dari cracking » Molekul asphaltene menjadi kurang larut

‡ Biodegradasi dan water washing
± Water washing » Pelarutan komponen yang dapat larut pada crude oil didalam air yang kontak dengan minyak » Molekul HC terkecil dan benzena (HC aromatik) mudah larut » Dampak tidak besar karena kebanyakan HC memiliki kelarutan rendah terhadap air ± Biodegradasi » Proses transformasi dimana bakteri dapat merusak senyawa minyak » Bakteri campuran = aerobic dan anaerobic strain

Transformasi Reservoir
± Biodegradasi (lanjutan ) » Hanya bakteri aerobik yang menyerang HC » Bakteri anaerobik menghabiskan beberapa bagian yang merupakan byproduct yang teroksidasi hasil gangguan dari bakteri aerobik » Mengubah sifat fisik dari minyak » Berimplikasi keuangan negatif » Minyak terbiodegradasi parah tidak dapat diproduksi, misal Athabasca Tar sand di Alberta, Canada dan Minyak Orinoco di Venezuela

Transformasi Reservoir
± Biodegradasi (lanjutan ) » Kondisi pendukung = 1)kehadiran Oil-water inferface (organisme hidup dalam fase air) 2)Pasokan air meteorik yang membawa nutrisi dan oksigen terlarut 3)Temperatur < 80OC » » » » Dimulai ketika migrasi minyak, dimana oil-water interaction maksimal Terjadi dalam reservoir (kebanyakan) Terjadi perubahan sifat fisik dan kimia Bakteri mengganggu n-alkana konfigurasi rantai lurus, dimana enzim bakteri bekerja efisien, juga atraktif mengganggu rantai panjang, rantai alkil pada struktur siklik » Perubahan komposisi dengan meniadakan HC jenuh

Sifat Fisik dan Kimia Crude Oil akibat Biodegradasi

Pengaruh biodegradasi terhadap sifat crude oil secara fisika dan kimia

Sifat Fisik dan Kimia Crude Oil akibat Biodegradasi

Pengaruh biodegradasi terhadap sifat crude oil secara fisika dan kimia

Klasifikasi Crude Oli terbiodegradasi

‡ Minyak terbiodegradasi berbeda dengan minyak normal ‡ Terubah ~20% dari HC jenuh ‡ Proporsi NSO dan HC aromatik jadi meningkat ‡ Kandungan sulfur akan meningkat

Diagram Triangular memperlihatkan komposisi 636 Crude Oil

Petroleum vs bitumen
‡ Komposisi sama, jumlah berbeda ‡ Kandungan HC (jenuh + aromatik) ‡ Bitumen terubah menjadi minyak = Kehilangan senyawa NSO dalam kuantitas besar atau terubah menjadi HC ‡ Bitumen dipengaruhi litologi dari host rocks
± Batuan karbonat mengandung bitumen yang senyawa beragam (heterocompounds) lebih banyak, fraksi aromatik lebih banyak dan kandungan sulfur lebih tinggi dibandingkan dengan shale. ± Banyak dan distribusi senyawa dalam bitumen yang matang (mature bitumen) sukar dibedakan dengan crude oil, tapi sangat berbeda pada bitumen belum matang (immature bitumen)

Gas Alam
‡ Mengandung banyak senyawa berbeda, walaupun dalam trace quantities ‡ Komponen utama = HC ringan (metana melalui butana, CO2, H2S, dan N2) ‡ CO2 dan N2 berasosiasi dengan hot reservoir ‡ CO2 berasal dari oksidasi minyak dan gas melalui dekomposisi dari karbonat dan pengukuran carbon-isotope ‡ Nitrogen sebagai indikator level kematangan yang tinggi yang terbentuk pada fasa transformasi metagenik dari nitrogen organik dan ammonia yang diikat oleh minaral lempung ‡ Hidrogen sulfida (H2S) asal dari kerogen atau minyak dengan sulfur tinggi.

Gas Alam
‡ Biogenic gas =
± Terjadi pada kedalaman dangkal ± Pada kedalaman ribuan meter (dalam) diperoleh dry gas dan hanya mengandung jejak HC lebih berat dibanding metana ± Gas yang dihasilkan pertama kali adalah wet gas ± Pada kematangan yang meningkat, maka gas menjadi lebih kering sebagai hasil dari cracking dari HC berat menjadi metana. ± Gas secara isotopik lebih berat sebagai proses pembentukan gas ± Biogenic gas punya isotop lebih ringan dengan nilai 13C berkisar dari 600/00 hingga 90 o/oo ± Gas katagenesik berupa metana lebih berat (-50 o/oo hingga 30o/oo ± Metana terakhir l(metagenetik) lebih berat = -15o/oo.

Gas Alam
‡ Percampuran metana biogenik dan gas termal, biasanya pada reservoir dangkal ‡ Jarang terjadi destruksi bakterial pada gas, tapi dapat menyebabkan perubahan komposisi ‡ Gas terbiodegradasi adalah kering, karena banyak komponen berat lebih dahulu berpindah, sehingga menghasilkan

Gas Alam

Perubahan komposisi gas pada perjalanan pembentukan gas (Rice & Claypool, 1981 dalam Waples, 1985)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->