P. 1
Leadership, Gaya, Aktivitas Dan Ketrampilan Memimpin

Leadership, Gaya, Aktivitas Dan Ketrampilan Memimpin

|Views: 1,033|Likes:
Published by faturasia
Leadership, Gaya, Aktivitas Dan Ketrampilan Memimpin, tin agustina karnawati & rasyid latuconsina
Leadership, Gaya, Aktivitas Dan Ketrampilan Memimpin, tin agustina karnawati & rasyid latuconsina

More info:

Published by: faturasia on Feb 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

LEADERSHIP, GAYA, AKTIVITAS DAN KETRAMPILAN MEMIMPIN Oleh : Tin Agustina Karnawati *) A. Rasyid Latuconsina *) Abstraksi Pemimpin dan kepemimpinan seharusnya dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan kita, baik dimulai dari komunitas atau kelompok organisasi paling kecil yaitu keluarga, lingkungan kerja, organisasi bisnis atau social bahkan pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemimpin yang berhasil dan ideal adalah mereka yang mampu membuat dirinya berubah serta membuat perubahan pada gaya kepemimpinan dan lingkungan pekerjaan, perusahaan serta orang-orangnya. Gaya kepemimpinan adalah suatu cara para pemimpin mempengaruhi pengikutnya memiliki implikasi praktis dalam menerapkan kepemimpinan. Peran seorang manajer atau pemimpin dapat ditinjau dari apa yang sesungguhnya dikerjakan para pemimpin dalam peran interpersonal dan informasional dan pengambilan keputusan. Aktivitas pemimpin adalah apa yang para pemimpin laukan dalam pekerjaan harian mereka, seperti dalam aktivitas komunikasi,manajemen tradisional, manajemen sumber daya manusia serta jaringan. Ketrampilan dan tehnik kepemimpinan digambarkan tentang bagaimana para pemimpin menjadi efektif yang harus diimbangi oleh ketrampilan personal dan interpersonal. Kata Kunci : Pemimpin, Kepemimpinan, Gaya Kepemimpinan, Peran Manajer, Aktivitas pemimpin , tehnik dan ketrampilan memimpin. *) Dosen STIE ASIA Malang Pendahuluan Dalam praktek sehari-hari, pemimpin dan kepemimpinan seharusnya dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan kita, dimulai dari komunitas atau kelompok organisasi paling kecil yaitu keluarga, kemudian diterapkan dalam lingkungan kerja sehari-hari, perusahaan atau organisasi bisnis, social dan kemasyarakatan bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Leader dan Leadership istilah yang pada saat ini dalam prakteknya mengalami banyak perubahan dan penyempurnaan. Seperti diungkapkan beberapa tokoh penting yaitu John C Maxwell (Managers’Scope, 2006) bahwa kepemimpinan adalah pengaruh, dan kemampuan memperoleh pengikut, dan menjadi seorang yang diikuti orang lain dengan senang hati dan penuh keyakinan. Stephen P Robbins mendefinisikan sebagai “ The ability to influence a group toward the achievement of goals” ( Seorang pemimpin dituntut memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, mempunyai orang/tim yang dipimpin, serta adanya pencapaian tujuan secara keseluruhan). James Riady , pimpinan Lippo Group, menyatakan bahwa memimpin keluarga adalah salah satu ukuran utama kesuksesan seseorang di dalam memimpin organisasi yang lebih besar seperti perusahaan atau bidang kemasyarakatan lain.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

26

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Tips yang disampaikan Dr Reinhard Zielgler, pemimpin harus mampu memberdayakan setiap anak buah yang dipimpinnya sehingga mengerti tentang tujuan yang diinginkan perusahaan, cara yang diperlukan untuk bisa mewujudkannya dan komitmen dari setiap bawahan adalah dengan selalu melibatkan partisipasi aktif dari setiap karyawan dengan mengajukan pertanyaan yang mengacu pada model pendekatan yang manusiawi. Eric G Stephan & R Wayne Pace dalam “ Powerful Leadership How to Unleash the Potential on Other and Simplify Your Own Life (2002) mengatakan bahwa melakukan perubahan harus mengingat dua hal yaitu pola (mind set ) yang berubah dan hambatan pribadi untuk berubah. Dikemukakan 7 (tujuh) hal yang dapat dilakukan agar pemimpin sukses yaitu: 1. Biarkan para karyawan atau bawahan memimpin, intinya menuntut kesediaan para pemimpin menghentikan kebiasaan memberi perintah atau petunjuk secara ‘one way communication’ terutama tentang siapa dan bagaimana mengerjakan segala sesuatu. 2. Ciptakan suasana kerja yang kondusif, pemimpin harus mampu menciptakan suasana kerja kondusif sehingga muncul kreatifitas, inovasi serta rasa senang tanpa adanya situasi atau keadaan yang menekan dalam bekerja. 3. Ubahlah paradigma “boss into cohort”, pemimpin akan diterima lebih baik bila mereka mampu menempatkan diri sebagai bagian dari tim ( be the part of team). 4. Laksanakan model partisipasi 4E, yaitu : a) Envisioning (ciptakan gambar menarik tentang cita-cita perusahaan yang akan dicapai), b) Enabling (bekali para bawahan), c) Energizing ( berikan motivasi berkesinambungan), d) Ensuring ( berikan kepastian dan keyakinan dalam perencanaan dan implementasinya ) ( Nadler dan Tushman, 1990) 5. Hentikan kritik/ kemarahan, berikan pujian dan arahan/petunjuk, kuncinya memanusiakan setiap orang, agar semangat dan motivasi kerja akan selalu terjaga. 6. Pilih dan lakukan jalan yang mulia, jangan sampai hilang hati nurani dalam memimpin, dengan mengedepankan etika, nilai moral dan perbuatan. 7. Selalu berdiri serta berada di jalan yang damai, bagaimanapun kacaunya keadaan internal perusahaan serta ketidakpastian ekternal, pemimpin harus mampu menunjukkan kepemimpinannya termasuk menjernihkan hati dan pikiran dan kualitas serta profeionalitas tindakan yang dijalankan. Dari tips diatas dapat disimpulkan bahwa pemimpin yang berhasil dan ideal adalah mereka yang mampu membuat dirinya berubah serta membuat perubahan pada gaya kepemimpinan dan lingkungan pekerjaan, perusahaan serta orang-orangnya. Gaya Kepemimpinan Perbedaan gaya, aktivitas dan ketrampilan secara sederhana ditunjukkan melalui ‘cara’ pemimpin mempengaruhi pengikutnya. Peran dan aktivitas merupakan ‘apa’ yang pemimpin lakukan, dan ketrampilan berurusan dengan ‘bagaimana’ pemimpin dapat menjadi efektif. Pada umumnya ada 5 (lima) peran kepemimpinan kunci yaitu: a) visi strategi untuk memotivasi dan menginspirasi, b) memberdayakan karyawan c) membagi pengetahuan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

27

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

internal, d) mengumpulkan dan menggabungkan informasi eksternal, e) menantang status quo dan memperbolehkan kreativitas. Sebagaimana pada perusahaan yang menghadapi tuntutan tehnologi dan kemajuan zaman, maka perusahaan kecilpun bergeser dari focus local ke global, dengan mengikuti arah pasar, mencari inovasi, terbuka, intens pada kualitas pelaksanaan dan mencari network lebih luas. Sehingga jenis pemimpin dan gaya mereka memimpin mengalami bentuk tren baru dalam kehidupan organisasional. 1) Implikasi gaya kepemimpinan Klasik. Studi Hawthorne diinterpretasikan memiliki ‘gaya kepengawasan’, begitu pula studi Douglas Mc Gregor dengan teori X merupakan ‘gaya otoriter’ dan teori Y merupakan ‘gaya humanistic’.Studi Michigan menemukan bahwa penyelia yang berorientasi karyawan lebih efektif daripada yang berorientasi karyawan. Studi Ohio State menunjukkan factor pertimbangan (mendukung gaya) dan struktur inisiatif (gaya suportif). Teori Kontingensi Fiedler merupakan gaya kepemimpinan yang mengarahkan, mendukung, partisipatif dan berorientasi pada prestasi. . Schmidt dan Tannenbaum (dalam Luthans,2006) merangkum Kontinum Gaya Kepemimpinan dari studi Klasik dan Teori kepemimpinan sebagai berikut, Berpusat pada Bos Berpusat pada Karyawan Teori X Teori Y Otokratik Demokratik Orientasi Produksi Orientasi Karyawan Tertutup Umum Mengawali struktur Konsiderasi Dikendalikan Tugas Hubungan manusia Direktif Suportif Direktif Partisipatif Dalam kombinasi 5 (lima) gaya Blake dan Mouton dipidentifikasi sebagai a) 1,1 adalah gaya “improverished”, b) 9,9 adalah gaya “terbaik”c)5,5 adalah gaya “middle of the roader”d) 1,9 adalah gaya country club dan e) 9,1 adalah gaya Task Manager. Demikian juga dari teori Hersey dan Blanchard, diidentifikasi dua gaya utama, yaitu 1) Task Style yang mana tugas anggota dijelaskan pemimpin tentang kapan, dimana serta bagaimana mereka mengerjakan 2) Relationship style di mana pemimpin dan anggota memiliki hubungan dekat ada keterbukaan komunikasi dan dukungan psikologis dan emosional. Dari sisi ditentukan oleh tiga criteria yaitu a) tingkat prestasi motivasi, b) kesediaan bertanggungjawab dan c) banyaknya pendidikan atau pengalaman.Dengan menyesuaikan situasi maka dapat diringkas 4 (empat ) gaya dasar yaitu: 1) Telling style, merupakan gaya tugas-tinggi hubungan rendah akan efektif bila pengikut berada di tingkat kedewasaan sangat rendah. 2) Selling style, merupakan gaya tugas tinggi hubungan tinggi akan efektif bila kedewasaan pengikut rendah. 3) Participating style, merupakan gaya tugas rendah hubungan tinggi akan efektif bila kedewasaan pengikut tinggi. 4) Delegating style merupakan gaya tugas rendah hubungan rendah akan efektif bila kedewasaan pengikut sangat tinggi.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

28

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Secara keseluruhan pendekatan gaya situasional memiliki nilai dalam pelatihan dan pengembangan kerja, tetapi pendekatan klasik tidak banyak manfaat untuk mengidentifikasi efektifitas kepemimpinan. 2) Implikasi gaya kepemimpinan Modern. Pemimpin Karismatik dan transformasional lebih memiliki gaya inspirasional dan visioner. Hasil penelitian pada Kepemimpinan transformasional memiliki efek signifikan terhadap kinerja Sebagaimana ditemukan oleh House dan Podsakoff (1994) sebanyak 10 pendekatan perilaku kepemimpinan mengacu pada teori modern ( Karismatik dan Transformasional ), yaitu : 1. Vision, yaitu visi ideologis yang sesuai dengan nilai-nilai para pengikut yang mendeskripsikan masa depan lebih baik di mana pengikut memiliki kebenaran moral. 2. Gairah dan pengorbanan diri sendiri, yang menunjukkan gairah kuat dan keyakinan kebenaran visi mereka, sehingga rela berkorban untuk itu. 3. Percaya diri, determinasi dan ketekunan, pada pencapaian visi dan menantang status quo yang mungkin merugikan mereka. 4. Membangun citra diri, terutama dihadapan bawahan harus kompeten, kredibel, dan dapat dipercaya. 5. Model peran, yang disebabkan oleh pengikut yang menyamakan diri dengan nilai-nilai model peran yang dianggap positif. 6. Representasi eksternal, yang berlaku sebagai pembicara dan secara simbolik merepresentasikan organisasi kepada pihak eksternal. 7. Harapan dan percaya terhadap pengikut, yang mana pemimpin menunjukkan harapan kinerja tinggi kepada pengikut mereka dan sangat percaya kemampuan pengikut untuk memenuhinya. 8. Selektif menggerakkan motif, yang merupakan relevansi terhadap kesuksesan mencapai visi dan misi. 9. Menyelaraskan diri dengan perubahan, dengan mengacu pada hubungan individual dan orientasi pemimpin pada kepentingan, nilai , kepercayaan pengikut, aktivitas, tujuan dan ideology pemimpin yang saling melengkapi. 10. Komunikasi inspirasional, dengan cerita segar, slogan, symbol dan seremoni. Sepuluh pendekatan diatas pada hakikatnya bukan gaya yang spesifik, tetapi menjelaskan gaya pemimpin yang akhir-akhir ini paling efektif. Bahkan terbukti bahwa gaya pemimpin adalah formulasi dan implementasi strategi dan memainkan peran penting pada kreativitas anggota, tim, emosi dan kinerja . Peran Kepemimpinan Mintzberg mengajukan tiga jenis peran manajerial yaitu: a) Peran interpersonal yang muncul sebagai otoritas resmi yang mengacu pada hubungan manajer dan lainnya, yang dibedakan dalam peran pemimpin bayangan sebagai symbol organisasi dan tugas seremonial, peran pemimpin yang memotivasi dan mendorong bawahan mencapai tujuan organisasi, peran penghubung yang berinteraksi dengan orang lain diluar unit kerja mereka.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

29

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

b) Peran informasional yang menghabiskan waktu untuk memberi dan menerima informasi, dibedakan dalam peran monitor untuk mengamati dan mengawasi bawahan dan lingkungan, sebagai disseminator yang mendistribusi informasi dan sebagai pembicara pada pihak luar organisasi. c) Peran pengambilan keputusan, dibedakan sebagai peran kewirausahaan yang memulai perkembangan proyek, sebagai pengendali gangguan terutama saat terjadi krisis seperti pemberontakan dan pemogokan laryawan, sebagai alokator sumber daya dan negotiator terhadap penyelesaian keluhan tertentu. Peran manajerial yang dikemukakan Mintzberg diatas dapat digunakan mendeskripsikan apa yang dikerjakan oleh pemimpin / manajer . Dalam penelitian yang menghubungkan kinerja dengan tiga peran manajer ditemukan bahwa pemimpin dengan kompleksitas perilaku tinggi yang punya kemampuan berperan ganda menghasilkan kinerja paling baik, terutama berhubungan dengan kinerja bisnis seperti pertumbuhan, inovasi dan efektivitas organisasi. Aktivitas Pemimpin Yang Sukses Aktivitas pemimpin berkaitan erat dengan studi dan identifikasi peran mereka. Ada pertanyaan awal seperti : a) Apa sesungguhnya yang dikerjakan manajer? b) Apa sesungguhnya yang dikerjakan oleh manajer yang sukses? c)Apa sesungguhnya yang dikerjakan manajer yang efektif? Pertanyaan tersebut dapat memberikan pengertian dan deskripsi spesifik tentang aktivitas manajer . APA SESUNGGUHNYA YANG DIKERJAKAN MANAJER? Dari penelitian / studi pada 44 aktivitas manajer di semua tingkat di beberapa jenis organisasi di Midwest, maka ditemukan diskriptor perilaku secara empiris dapat disederhanakan menjadi: 1. KOMUNIKASI, yang rutin dalam bentuk menjawab, menerima dan menyebarkan informasi melalui telpon, surat, menyampaikan hasil rapat, membaca laporan, menulis memo/laporan, pembukuan rutin dan tugas umum. 2. MANAJEMEN TRADISIONAL, seperti melakukan perencanaan, pengambilan keputusan dan pengawasan. Dalam bentuk seperti penjadwalan tugas, instruksi rutin, mengembangkan prosedur, memeriksa pekerjaan, melaksanakan pemeliharaan, dsb. 3. MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA, yang memuat perilaku memotivasi, mendisiplinkan, mengelola konflik, memberi saran, mendengar keluhan, mengembangkan deskripsi pekerjaan, dsb. 4. JARINGAN, yang mencakup bersosialisasi dan berinteraksi dengan luar, bahkan termasuk perbincangan tidak formal seperti lelucon, gossip, mengeluh, mengomel, menghadiri undangan dsb.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

30

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Dari observasi ditemukan bahwa 1/3 waktu untuk aktivitas komunikasi rutin, 1/3 untuk manajemen tradisional, dan 1/5 untuk aktivitas sumber daya manusia dan 1/5 untuk aktivitas jaringan. Analisis tersebut dengan sample besar memberi jawaban cukup meyakinkan terhadap apa yang dilakukan manajer, meskipun perubahan lingkungan seperti tehnologi informasi dan komunikasi berubah dalam era globalisasi pasti akan mempengaruhi cakupan, dan mempengaruhi kecepatan komunikasi dan pembuatan keputusan namun aktivitas yang diidentifikasi masih tetap relevan dan valid. APA SESUNGGUHNYA YANG DILAKUKAN MANAJER YANG SUKSES? Kesuksesan ditentukan oleh kecepatan promosi dalam organisasi. Indeks kesuksesan pada sample studi dihitung dengan membagi tingkat manajer dalam organisasi mereka masing-masing dengan masa jabatan mereka. Jenis analisis yang berhubungan dan kontibusi besar pada kesuksesan adalah jaringan. Sedangkan aktivitas manajemen sumber daya manusia mempunyai kontribusi relative paling sedikit. APA SESUNGGUHNYA YANG DILAKUKAN MANAJER YANG EFEKTIF? Indikator dalam melihat efektivitas ditinjau dari criteria utama seperti a) menyelesaikan pekerjaan dengan standar kuantitas dan kualitas kinerja yang tinggi, dan b) menyelesaikan pekerjaan melalui manusia yang memerlukan kepuasan dan komitmen. Dari penelitian ditemukan bahwa komunikasi dan aktivitas manajemen sumber daya manusia memberikan kontribusi yang relative lebih besar terhadap efektivitas manajer, dan aktivitas manajemen tradisional terutama aktivitas jaringan memberi kontribusi yang relative sedikit. Jadi jika efektivitas didefinisikan sebagai kuantitas dan kualitas kinerja yang dirasakan pada unit manajer dan kepuasan serta komitmen anggota kelompok kerjanya, maka kontribusi relative yang terbesar terhadap efektivitas kepemimpinan berasal dari aktivitas yang berorientasi pada manusia, komunikasi dan manajemen sumber daya manusia. Ketrampilan Kepemimpinan Ketrampilan kepemimpinan berkaitan erat dengan bagaimana pemimpin berperilaku dan bertindak secara efektif. Ada banyak daftar tentang ketrampilan pemimpin yang disarankan untuk membangun di dalam ekonomi global. 1) Fleksibilitas budaya, dalam lingkup internasional ketrampilan mengacu pada kepekaan budaya dan sensitivitas, yang menuntut kemampuan mengamati nilai perbedaan dalam organisasi mereka . 2) Ketrampilan komunikasi, baik dalam bentuk oral, tertulis dan non verbal. 3) Ketrampilan HRD, karena SDM merupakan bagian penting dalam efektivitas kepemimpinan, maka pemimpin harus mengembangkan iklim pembelajaran, program pelatihan, transfer informasi, konseling, perubahan organisasi dan adaptasi. 4) Kreativitas, yang memberi keunggulan kompetitif pada pasar global saat ini. Pemimpin tidak hanya memiliki kreativitas, tetapi harus mendorong kreativitas dan membantu orang-orang agar kreatif. 5) Manajemen Pribadi dari pembelajaran, yang menuntut pemimpin selalu terus menerus mempelajari pengetahuan baru terutama dipicu kenyataan era globalisasi.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

31

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Sedangkan Whetten dan Cameron ( 1991) menemukan 10 ketrampilan yang paling sering diidentifikasi: 1. Komunikasi verbal ( termasuk mendengarkan) 2. Manajemen waktu dan stress 3. Mengelola keputusan pribadi 4. Mengenali, mendefinisi dan menyelesaikan masalah 5. Memotivasi dan mempengaruhi orang lain 6. Mendelegasi 7. Menentukan tujuan dan mengartikulasi sebuah visi 8. Kepekaan pribadi 9. Pembentukan tim 10. Manajemen Konflik Selanjutnya diringkas dalam 3 (tiga) karakteristik sebagai berikut: a. Ketrampilan berhubungan dengan PERILAKU, karena bukan cirri/ sifat dan gaya.Tetapi lebih mencakup tindakan yang dilakukan pemimpin dan menghasilkan akibat tertentu. b. Ketrampilan terlihat bertentangan yang tidak sepenuhnya mudah atau sulit diarahkan. Yang tidak berorientasi pada tim kerja maupun hubungan interpersonal secara eksklusif. c. Ketrampilan saling melengkapi yang dengan kata lain pemimpin efektif memiliki banyak ketrampilan. Dari latar belakang tersebut dikembangkan model untuk ketrampilan personal dan interpersonal yaitu: 1. Model ketrampilan Personal

Mengelola stress :  Menyesuaikan diri dengan stressor  Mengelola waktu  Mendelegasikan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

32

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Mengembangkan Kesadaran diri  Menentukan nilai dan prioritas  Mengidentifikasi gaya kognitif  Menilai sikap terhadap perubahan Memecahkan masalah secara kreatif:  Menggunakan pendekatan rasional  Menggunakan pendekatan kreatif  Membantu perkembangan inovasi pada orang lain 2) Ketrampilan Interpersonal

Mendapatkan kekuasaan dan pengaruh:  Mendapat kuasa  Melatih pengaruh  Memberdayakan orang lain Berkomunikasi secara suportif  Membimbing  Konseling  Mendengarkan Mengelola konflik:  Mengidentifikasi penyebab  Memilih strategi paling tepat  Menyelesaikan konfrontasi Memotivasi orang lain:  Mendiagnosis kinerja rendah  Menciptakan lingkungan yang memotivasi  Menghargai prestasi Tehnik kepemimpinan yang cocok untuk situasi dan kondisi berbeda ( Harvard Business Review, 2006)

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

33

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Ada 6 tehnik kepemimpinan yang efektif dalam situasi yang berubah-ubah, 1. DIRECTIVE , yang membutuhkan sikap “command” dan “control” yang mana pemimpin memberitau kepada stafnya apa yang harus dilakukan, kapan dan apa yang terjadi jika instruksi tidak dijalankan. Tehnik ini cocok bila saat krisis atau kinerja karyawan kurang baik. Namun sisi negatifnya dapat mematikan kreatifitas dan inisiatif. 2. VISIONARY , yang sebenarnya adalah otoriter, tetapi pemimpin menantang bawahannya dengan memberikan wewenang sesuai strategi dan arah organisasi secara umum. Pemimpin mendapat dukungan bawahan dan komitmen karyawan meningkat, saat stress rendah digunakan “high personalized power” dan stress pada tingkat sedang-tinggi digunakan “ high socialized power drive”. 3. AFFILIATIVE, yang mengutamakan karyawan dan kebutuhan emosional atas pekerjaannya. Yang biasanya tidak suka konflik, dan tehnik ini efektif saat karyawan sedang krisis ataupun PHK, tipe ini efektif bila kombinasi dengan Visionary, Participative atau coaching. 4. PARTICIPATIVE, yang kooperatif dan demokratis. Pemimpin mengikutsertakan orang lain pada proses pengambilan keputusan. Sangat cocok untuk membentuk kepercayaan dan kerjasama, terutama bila tim berkompetensi tinggi. 5. PACESETTING, yang membutuhkan ‘leading by example dan personal heroic” akan efektif pada jangka pendek karena dalam jangka panjang terjadi demoralisasi karyawan. 6. COACHING, yang memerlukan eksekutif dalam mengembangkan professional jangka panjang dan membimbing karyawan. Selain 6 tehnik diatas juga diidentifikasi 6 (enam) factor perilaku pemimpin yang memberikan kontribusi pada kinerja yang mempengaruhi kondisi di tempat kerja, sebagai berikut: 1. FLEXIBILITY, mencerminkan persepsi karyawan tentang peraturan dan prosedur, dan sejauh mana ide karyawan dapat diterima, dalam kondisi kinerja dan fleksibilitas tinggi. 2. RESPONSIBILITY, dilihat dari sejauhmana karyawan dapat bekerja tanpa harus meminta petunjuk dari atasannya. 3. STANDARDS, sejauhmana perusahaan menekankan kesempurnaan dengan target yang ditetapkan yang diharapkan pemimpin dapat dicapai karyawan. Standar dapat meningkatkan rasa percaya diri karyawan terutama bila mereka mampu memenuhi tantangan perusahaan. 4. REWARDS mencerminkan apakah orang merasa mendapat umpan balik yang biasa atau obyektif, dan digaji sesuai umpan balik yang didapat, terutama sangat penting adalah umpan balik yang khusus berhubungan dengan kinerjanya. 5. CLARITY yang menunjukkan apakah karyawan mengerti apa yang diharapkan perusahaan dari mereka dan sejauhmana jerih payah mereka berhubungan dengan tujuan organisasi. 6. TEAM COMMITMENT, mengukur sejauhmana karyawan bangga menjadi bagian dari tim atau organisasi dan setiap orang bekerja dengan tujuan yang sama.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

34

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Kondisi kerja dengan standar tinggi, clarity dan team commitment dengan gap hanya satu factor akan membentuk tim sangat kuat. Sedangkan kondisi tanpa gap signifikan pada standar, clarity atau team commitment dan gap di dua factor lain, masih dapat memotivasi karyawan. Jika terdapat lebih banyak gap dengan kondisi kerja biasa saja maka karyawan menjadi ‘demotivasi’, dalam keadaan seperti ini karyawan hanya melakukan pekerjaan yang diminta dan kinerja menurun. Kesimpulan Istilah leader dan leadership merupakan istilah yang sebenarnya dapat diterapkan pada kehidupan keseharian kita, lingkup masyarakat , perusahaan bahkan suatu Negara. Banyak pendapat yang dikemukakan oleh para pelaku bisnis dan pakar manajemen, juga tips tentang pemimpin yang berhasil dan ideal, yang intinya mereka yang mampu membuat dirinya berubah serta membuat perubahan pada gaya kepemimpinan dan lingkungan pekerjaan, perusahaan serta orang-orangnya. Gaya kepemimpinan adalah suatu cara para pemimpin mempengaruhi pengikutnya, dan dalam pembahasan diatas gaya kepemimpinan dipelajari dari penelitian yang berpijak pada teori klasik dan modern, yang masih memiliki implikasi praktis dalam menerapkan kepemimpinan. Peran seorang manajer atau pemimpin dapat ditinjau dari hasil observasi Henry Mintzberg terhadap apa yang sesungguhnya dikerjakan para pemimpin, dapat diidentifikasi peran interpersonal (pemimpin bayangan, pemimpin dan penghubung),dan peran informasional (pengusaha, pengendali gangguan, pengalokasi SD dan negosiator) . Aktivitas pemimpin adalah apa yang para pemimpin laukan dalam pekerjaan harian mereka, dalam tulisan Luthans “ Real Managers Study” mengatakan bahwa manajer menghabiskan sepertiga waktunya dalam aktivitas komunikasi, sepertiga lagi untuk aktivitas manajemen tradisional, dan seperlima untuk aktivitas manajemen sumber daya manusia serta seperlima lagi untuk aktivitas jaringan. Analisis pada studi keberhasilan atau kesuksesan seorang pemimpin , ditemukan bahwa jaringan memiliki kontribusi terbesar, sedangkan aktivitas MSDM relative paling kecil. Sebaliknya analisis pada pemimpin yang efektif yang memiliki pengikut yang puas dan percaya serta berkinerja tinggi, justru dikontribusi paling besar oleh komunikasi dan aktivitas MSDM , dan aktivitas jaringan paling rendah. Ketrampilan dan tehnik kepemimpinan digambarkan tentang bagaimana para pemimpin menjadi efektif, diidentifikasi dalam banyak hal seperti fleksibilitas, budaya, komunikasi, HRD, kreativitas, manajemen pribadi dan pembelajaran , namun harus diimbangi oleh ketrampilan personal dan interpersonal sesuai pendapat Whetten dan Cameron akan sangat berguna dan cukup komprehensif.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

35

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 1 No. 3. Agustus 2007

Daftar Pustaka
David A Whetten dan Kim S Cameron, 1991, Developing Management Skills, Harper Collins, New York. Fred Luthans, 2006, Perilaku Organisasi, Andi, Yogyakarta. David A Nadler dan Michael L Tushman, 1990, Beyond the Charismatic Leader : Leadership and Organizational Change, California Management Review. Robert House dan Philip M Podsakoff, 1994, Leadership Effectiveness: Past Perspectives and Future Directions for Research, dalam Organizational Behavior :The State of the Science Jerald Greenberg. Managers’Scope, Edisi 07 XVI Juli 2006, tentang artikel “Fleksibilitas Memimpin Agar Kerja Kondusif”, PT Inti Serasi Cipta, Jakarta. Managers’Scope edisi 10, November 2003, tentang artikel “Leader and Leadership” , PT Inti Serasi Cipta, Jakarta.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->