P. 1
Laporan Penelitian Kualitatif Pendidikan Karakter

Laporan Penelitian Kualitatif Pendidikan Karakter

|Views: 4,563|Likes:
Published by Erny Fiany Syah

More info:

Published by: Erny Fiany Syah on Feb 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2016

pdf

text

original

LAPORAN PENELITIAN

PROFIL KARAKTER SISWA KELAS XI IPS SMAN 1 CILEGON DILIHAT DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

Diajukan sebagai penyelesaian UAS mata kuliah Orientasi Baru Pembelajaran Program Studi Magister Pendidikan

Oleh: ERNY FIANY SYAH NIM: 2321110053

UNIVERSITAS SULTAN AGUNG TIRTAYASA
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN KONSENTRASI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN BANTEN

JULI 2011

1

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................... I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ««««««««««««««««««««.. ........................................................................ ......................................................................... ««««««««««««««««««««.. ......................................................................... 3 5 5 5 6 1 2

B. Pertanyaan Penelitian C. Tujuan Penelitian D. Batasan Istilah

E. Manfaat Penelitian II. KAJIAN PUSTAKA

A. Matematika SMA ««««««....................................................... B. Karakter Siswa «««««................................................................ C. Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa ..........................................

7 9 9

D. Kemampuan Matematika «««««««««««......................... 10 III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian .................................................................................... 11 B. Subjek Penelitian ................................................................................. 11 C. Prosedur Pengumpulan Data ««««................................................ 13 D. Prosedur Pengembangan Instrumen Pendukung ««.......................... 13 E. Proses Validasi «««........................................................................ 14 F. Prosedur Analisis Data ........................................................................ 14 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil «««««.«««««««................................... 16 B. Pembahasan ....................................................................................... 20 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ....................................................................................... 22 B. Saran .................................................................................................. 23 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 24

LAMPIRAN ................................................................................................. 25

2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Di samping itu, berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini makin mendorong semangat dan upaya pemerintah untuk memprioritaskan pendidikan karakter sebagai dasar pembangunan pendidikan. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin,toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya. Pembisaan itu bukan hanya mengajarkan (aspek kognitif) mana yang benar dan salah, akan tetapi juga mampu merasakan (aspek afektif) nilai yang baik dan tidak baik serta bersedia melakukannya (aspek psikomotorik) dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu ditumbuhkembangkan peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi pencerminan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan yang besar sebagai pusat pembudayaan melalui pengembangan budaya sekolah (school culture). Standar Isi Kurikulum (Peraturan Menteri no. 22 tahun 2006) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran matematika pada jenjang SMA adalah : 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
3

4) Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram. atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Tujuan pembelajaran tersebut menekankan pada pemahaman konsep, penalaran, pemecahan masalah, komunikasi, maupun sikap saling menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, seperti memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika. Dari tujuan pembelajaran tersebut jelas tersirat dan tersurat akan pendidikan karakter. Hal ini harus benar-benar menjadi perhatian agar dengan tujuan pembelajaran matematika tidak hanya tercapai kompetensinya saja tapi karakternya pun tercapai. Kompetensi membuat seseorang bisa melakukan tugasnya dengan baik, namun karakterlah yang membuatnya bertekat mencapai yang terbaik. Meningkatnya kompetensi manusia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dengan sendirinya disertai peningkatan kebajikan yang ada di hati. Kompetensi yang tidak disertai kebajikan cenderung akan membawa umat manusia ke keadaan yang mengancam kualitas kehidupannya bahkan keberadaannya. Oleh karena itu, adalah suatu hal yang sangat mendesak untuk menegakkan kembali pendidikan karakter, termasuk pendidikan karakter di sekolah. Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru menunjukkan bahwa selalu terdapat siswa yang tidak dapat memenuhi skor rata-rata minimal yang ditetapkan dalam pembelajaran matematika. Hal ini dapat menjadi indikasi masih ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi matematika . Siswa yang telah memiliki sejumlah pengetahuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah, sering tidak cukup mampu menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan hal-hal baru atau masalah yang belum akrab dengan dirinya. Selain itu, belum terbinanya sikap belajar yang positif dan mandiri akan berimplikasi bagi rendahnya kemampuan matematika siswa. Karena kemampuan matematika siswa sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar matematika, maka bila berhadapan dengan hasil belajar matematika sejumlah siswa yang tidak dipilih secara khusus berdasarkan kecerdasannya, maka di antara mereka pasti terdapat siswa yang pandai, sedang dan lemah. Peneliti ingin menggambarkan karakter siswa yang berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah.

4

Kemampuan-kemampuan siswa tersebut tidak dapat digambarkan secara jelas karena proses berpikir siswa adalah sesuatu yang kasat mata. Seorang guru tidak dapat melihat langsung kemampuan matematika siswa melalui proses berpikir yang sedang terjadi pada seorang siswa saat dihadapkan pada sejumlah pertanyaan, tetapi dapat mengetahui kemampuan itu dari nilai hasil belajar matematika. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai profil karakter siswa dilihat dari kemampuan matematika melalui pendidikan karakter. B. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah maka pertanyaan penelitian ini secara umum adalah ³Bagaimana profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan kemampuan matematika melalui pendidikan karakter ?´. Adapun pertanyaan penelitian secara khusus adalah : 1) Bagaimana profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan kemampuan matematika tinggi melalui pendidikan karakter ?. 2) Bagaimana profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan kemampuan matematika sedang melalui pendidikan karakter ?. 3) Bagaimana profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan kemampuan matematika rendah melalui pendidikan karakter ?.

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan kemampuan matematika melalui pendidikan karakter .

D. Batasan Istilah Agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam penelitian ini, perlu ditegaskan beberapa batasan istilah sebagai berikut : 1. Profil adalah suatu deskripsi verbal dan visual dengan grafik atau diagram yang menggambarkan tingkat kemampuan matematika siswa.
2. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari

hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. (Kementerian Pendidikan
Nasional, Balitbang puskur,2010; 3). 5

3. Kemampuan matematika adalah kecakapan matematika siswa yang dilihat dari skor ratarata ulangan harian selama satu semester. 4. Pendidikan karakter adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. (Kementerian Pendidikan Nasional, Balitbang puskur, 2010:13).

E. Manfaat Penelitian Sementara manfaat yang diharapkan adalah 1. Bagi guru : - Sebagai bahan masukan dalam penerapan cara mengajarkan dengan mengunakan pendidikan karakter - Dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran matematika berbasis pendidikan karakter. 2. Bagi Siswa : - Dapat Meningkatkan kadar pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. - Mendapatkan pengalaman belajar karakter terutama karakter teliti, kreatif, pantang menyerah dan rasa ingin tahu. 3. Bagi Sekolah Sebagai informasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan mengunakan pendidikan karakter.

6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Beberapa hal yang akan dibahas dalam bab ini adalah tinjauan tentang ruang lingkup matematika SMA, karakter siswa, pendidikan karakter , kemampuan matematika siswa. A. Matematika SMA Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat dibidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi dimasa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan berkerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Seperti yang telah diungkapkan dalam peraturan Menteri no 22 tahun 2006 tentang tujuan pembelajaran matematika yang menenjukkan betapa penting peranan pengajaran matematika dalam upaya mengantarkan dan mewujudkan peserta didik menjadi manusia yang mampu bertahan hidup dalam masyarakat modern dan bertekhnologi maju, saat ini dan masa yang akan datang. Salah satu bekal yang perlu disampaikan kepada siswa agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat yang semakin modern adalah kemampuan matematika yang akan diperoleh siswa dengan baik apabila dalam pembelajaran terjadi komunikasi antara guru dan siswa maupun antar siswa yang merangsang terciptanya partisipasi. Siswa diberi kesempatan untuk memahami suatu konsep matematika dari hasil berbagi ide antar siswa. Guru dapat merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa memperoleh pendidikan karakter merupakan hal yang perlu mendapat prioritas bagi kemajuan guru dan siswa oleh karena itu perlu dikembangkan strategi pembelajaran matematika melalui pendidikan karakter dikelas.

7

Pendidikan budaya dan karakter bangsa dapat merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup nilai teliti , kreatif, pantang menyerah dan rasa ingin tahu. (Kementerian Pendidikan Nasional, Balitbang puskur,2010; 51). Standar Isi Kurikulum (Peraturan Menteri no. 22 tahun 2006) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran matematika pada jenjang SMA adalah : 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram. atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Karena kemampuan siswa sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar, maka bila berhadapan dengan hasil belajar sejumlah siswa yang tidak dipilih secara khusus berdasarkan kecerdasannya, maka di antara mereka pasti terdapat siswa yang pandai, sedang dan lemah. Peneliti ingin menggambarkan kemampuan siswa yang berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Bagaimana profil karakter siswa berdasarkan kemampuan matematika melalui pendidikan karakter ?. Kemampuan-kemampuan siswa tersebut tidak dapat digambarkan secara jelas karena proses berpikir siswa adalah sesuatu yang kasat mata. Seorang guru tidak dapat melihat langsung kemampuan matematika siswa melalui proses berpikir yang sedang terjadi pada seorang siswa saat dihadapkan pada sejumlah pertanyaan, tetapi dapat mengetahui itu dari kualitas respons-respons yang diberikan, termasuk kemampuan siswa dalam merespons soal matematika.

8

B. Karakter Siswa Secara umum karakter dikaitkan dengan sifat khas atau istimewa atau ketaatan moral, atau pola tingkah laku seseorang. Karakter baik dimanifestasikan dalam kebiasaan baik di kehidupan sehari-hari : pikiran baik, hati baik, dan tingkah laku baik. Berkarakter baik berarti mengetahui yang baik, mencintai kebaikan, dan melakukan yang baik. Karakter bersifat memancar dari dalam ke luar (inside-out). Artinya, kebiasaan baik tersebut dilakukan bukan atas permintaan atau tekanan dari orang lain melainkan atas kesadaran dan kemauan sendiri. Telaah mengenai karakter hampir selalu dikaitkan dengan konsep kebajikan. Kebajikan adalah karakteristik utama pada manusia dan masyarakat yang sangat dihargai oleh para filsuf dan rohaniawan dari berbagai agama. Konsep tentang kebajikan dan karakter bisa ditemukan dalam berbagai budaya dan agama di dunia. Ada berbagai klasifikasi mengenai karakter yang dituntut pada mata pelajaran matematika jenjang SMA, yaitu 1. Teliti : Bekerja secara teratur, rinci ,tertib , cermat, rapi serta selalu mengecek ulang segala pekerjaan yang telah dilakukan. 2. Kreatif : memikirkan cara baru dan produktif dalam mengkonsepsikan dan melakukan sesuatu; termasuk di dalamnya, namun tak terbatas hanya pada, prestasi artistik. 3. Pandang menyerah : Terus mencoba , berusaha dengan gigih dalam mempertahankan pendapat yang berkaitan dengan sesuatu. 4. Rasa ingin tahu : minat mencari kebaruan, keterbukaan terhadap pengalaman baru; menaruh perhatian pada hal-hal atau pengalaman baru; melihat berbagai hal atau topik sebagai hal-hal menarik; menjelajah dan berusaha menemukan sesuatu.

C. Pendidikan Karakter Pengalaman sejarah bangsa Indonesia sendiri menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia tercapai karena pejuang kemerdekaan berhasil melakukan pendidikan yang bisa membangkitkan kualitas mental yang sangat baik pada bangsa kita yang dinamakan karakter, seperti kepercayaan diri, kegigihan, keberanian, kerelaan berkorban, dan rasa persatuan dalam kebinekaan. Kesejahteraan suatu bangsa di tentukan oleh karakter warga negaranya. (Tim Pakar Pendidikan Jati Diri Bangsa, 2011: 24).
Prof . Suyanto Ph.D dalam ³Urgensi Pendidikan Karakter ³ menyatakan bahwa

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi
9

cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Dengan terobosan kurikulum yang demikian, nilai dan karakter yang dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia.

D. Kemampuan Matematika Siswa Katagori kemampuan siswa sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar. Bila dihadapkan dengan sejumlah siswa maka diantara mereka terdapat siswa yang pandai, sedang dan lemah, dimana sebagian besar mereka memiliki intelegensi sedang ± sedang saja (normal). Dengan demikian dari sekelompok siswa tersebut, sejumlah siswa berbakat yang ada berada di atas kelompok sedang yang jumlahnya sama dengan siswa yang tidak berbakat yang ada di bawah kelompok sedang. Dengan mengunakan nilai rata-rata hasil belajar siswa , guru dapat mengetahui tingkat kemampuan matematika siswa. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki strategi belajar mengajar yang dilakukan seorang guru. Pengaruh hipotetik dapat diduga. Apabila guru berhasil menciptakan suasana dan proses pembelajaran melalui pendidikan karakter yang mengembirakan dan memotivasi siswa, semangat belajar siswa akan naik. Kondisi ini tentunya akan meningkatkan kemampuan siswa sehingga siswa berpeluang untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi daripada sebelumnya ketika mereka tidak teliti, tidak kreatif, cepat putus asa dan kurangnya rasa ingin tahu.

10

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Pembahasannya meliputi jenis penelitian, subjek penelitian, prosedur pengumpulan data, proses pengembangan instrumen pendukung dan prosedur analisis data.

A. Jenis Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon dilihat dari kemampuan matematikanya melalui pendidikan karakter. Siswa tersebut digolongkan menurut kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah kemudian diberi kuesioner tentang nilai-nilai karekter yang dituntut untuk pelajaran

matematika jenjang SMA dan dianalisis secara mendalam dengan mengunakan peta nilai pendidikan karakter yang meliputi nilai: teliti, kreatif, pantang menyerah dan rasa ingin tahu. Hasil kuesioner untuk masing-masing kemampuan matematika siswa dikatagorikan menjadi: Belum Tampak (BT), Mulai Tampak (MT), Mulai Berkembang (MB) dan Membudaya (MK). Oleh karena itu, penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif yang

bersifat eksploratif karena dalam menentukan profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon ini berlatar alamiah dengan instrumen utama peneliti sendiri dengan menggali data sebanyak-banyaknya dari tiap subyek yang terpilih.

B. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS yang berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah yang telah mempelajari kompetensi dasar ± kompetensi dasar pada semester 3. Siswa kelas XI IPS dipilih sebagai subyek, karena siswa kelas XI IPS telah memiliki kemampuan matematika awal yang cukup memadai. Dalam penelitian ini, peneliti mengelompokkan subyek berdasarkan kemampuan matematika, sehingga hasil penelitian ini dapat menggambarkan karakter siswa. Teknik pemilihan subyek dilakukan dengan melihat kemampuan matematika berdasarkan rata-rata nilai hasil belajar siswa. Subyek yang berkemampuan matematika Tinggi (T) adalah siswa memiliki rata-rata nilai hasil belajar matematika siswa lebih dari sama dengan 80. Subyek yang berkemampuan matematika Sedang (S) adalah siswa memiliki rata-rata nilai hasil belajar matematika siswa lebih dari sama dengan 6,5 dan
11

kurang dari 80. Subyek yang berkemampuan matematika Rendah (R) adalah siswa yang memiliki rata-rata nilai hasil belajar matematika siswa kurang dari 6,5. Pemilihan subyek dalam penelitian ini dilakukan dua tahap yaitu berdasarkan rata-rata nilai hasil belajar matematika pada semester 3 tahun pelajaran 2010/2011 dan berdasarkan pada nilai yang mendekati pada rata-rata nilai kelompok. Dari 55 siswa kelas XI IPS, dilakukan pemilihan calon subyek tanpa melihat siswa secara pribadi (subyktif) tetapi murni berdasarkan kelompok kemampuan matematika. Pada tahap ini siswa

dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu yang berkemampuan matematika Tinggi, Sedang dan Rendah. Diperoleh 7 siswa kelompok kemampuan tingggi (T) dengan nilai rata-rata kelompok 83, 18 siswa kelompok kemampuan Sedang (S) dengan nilai rata-rata kelompok 69, dan 30 siswa kelompok kemampuan Rendah (R) dengan nilai rata-rata kelompok 51. Tahap kedua dipilih satu siswa yang mewakili masing-masing kelompok yaitu dengan kode identifikasi KMT, KMS dan KMR berdasarkan pada siswa yang mempunyai nilai yang paling mendekati rata-rata kelompok kemampuannya. Alur pemilihan subyek penelitian dapat dilihat pada diagram berikut : Mulai

Pilih Siswa Sesuai Dengan Batasan Subyek

Penetapan kelompok kemampuan matematika siswa

Penetapan Satu siswa Wakil untuk setiap kelompok kemampuan matematika

Berhenti

12

C. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah salah satu langkah utama dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa pengumpulan data peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan setting alamiah. Jenis sumber data primer yaitu data langsung dari sumber data dan data sekunder yaitu data diperoleh dari dokumentasi. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan mengunakan beberapa metode, yakni metode dokumentasi dan metode kuesioner. 1. Metode dokumentasi Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh daftar nama siswa kelas XI IPS dan rata-rata nilai hasil belajar matematika selama satu semester, digunakan untuk menggolongkan subyek penelitian. Tujuan peneliti mengambil data melalui dokumendokumen tersebut, peneliti ingin mendapatkan data mengenai kemampuan matematika siswa. 2. Metode Kuesioner Metode kuesioner digunakan untuk mengetahui karakter siswa berkenaan dengan nilai
pendidikan budaya dan karakter bangsa berdasarkan mata pelajaran matematika untuk jenjang SMA ada empat tata nilai yaitu teliti, kreatif, pantang menyerah dan rasa ingin tahu. Kuesioner dilakukan secara individu. Dari hasil kuesioner berdasarkan kelompok siswa berkemampuan matematika Tinggi, Sedang dan Rendah akan dikategorikan karakter siswa dalam katagori Belum Terlihat (BT):1-2, Mulai terlihat (MT): 3, Mulai Berkembang (MB): 4 dan Membudaya (MK): 5.

D. Prosedur Pengembangan Instrumen Peneliti Intrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri yang didukung paket nilai hasil belajar matematika siswa, paket kuesioner yang berkenaan dengan karakter siswa. Paket nilai hasil belajar matematika siswa terdiri dari nilai hasil belajar matematika siswa selama satu semester. Paket kuesioner yang berkenaan dengan karakter siswa yang terdiri dari karekter teliti, kreatif, pantang menyerah dan rasa ingin tahu.

13

E. Prosedur Analisis Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono,2010:89) Sebelum data dianalisis, data perlu diperiksa keabsahannya, salah satu teknik yang digunakan adalah triangulasi data. Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu lain dari luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini digunakan triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. (Sugiyono,2010:85). Alasannya karena peneliti ingin membandingkan data penemuan dengan beberapa teknik pengumpulan data dan membandingkan dua sumber dalam satu kelompok dengan metode yang sama. Data kuantitatif , yang diperoleh dari dokumentasi nilai hasil belajar matematika siswa, dianalisis berdasarkan kemampuan matematika siswa. Sedangkan data kualitatif, berupa pemberian kuesioner karakter siswa, dianalisis dengan analisis deskriptif, karena dalam penelitian ini akan didapat data karakter siswa menurut kelompok kemampuan matematika siswa.

F. Pengujian Kredibilitas Data Dalam penelitian ini pengujian kredibitas data penelitian dilakukan dengan cara : 1. Meningkatkan ketekunan Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara peneliti membaca seluruh cacatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka wawasan oeneliti akan
14

semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak. 2. Triangulasi Triangulasi yang digunakan dalam pengumpulan data adalah triangulasi waktu. Hal ini dikarenakan waktu pengumpulan data tersebut tidaksama disesuaikan dengan jadwal pertemuan dalam KBM. 3. Diskusi teman sejawat Diskusi teman sejawat dilakukan dengan mendiskusikan hasil penelitian yang masih bersifat sementara kepada teman-teman mahasiswa S2. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan dan saran. Pertanyaan yang berkenaan dengan data yang belum bisa terjawab, maka peneliti kembali ke lapangan untuk mencarikan jawabannya. Dengan demikian data menjadi semakin lengkap.

15

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. ANALISIS HASIL PENELITIAN 1. ANALISIS KARAKTER SISWA KEMAMPUAN TINGGI (KMT) Siswa KMT ini mempunyai nilai rata-rata matematika 84 dan nomor responden 24. Sedangkan hasil pengisian kuesionernya adalah sbb:

16

Berdasarkan jawaban respon yang diberikan siswa KMT di atas level kreatif nya dalam taraf sedang mendekati nilai tiga karena ia memilih posisi netral serta tingkat penerapannya ke aspek kehidupan relatif kecil.Untuk respon rasa ingin tahu sangat tinggi mendekati angka lima artinya sudah menjadi kebiasaan dan budayanya. Sedangkan semangat pantang menyerahnya mulai berkembang menjadi karakternya. Kesimpulan karakter siswa KMT ini untuk nilai kreatif adalah dalam level Mulai tampak (MT), nilai rasa ingin tahu dalam level Sudah Membudaya(MK) (, nilai teliti dalam level Mulai Berkembang(MB), dan nilai pantang menyerah dalam level Mulai Berkembang(MB)

2. ANALISIS KARAKTER SISWA KEMAMPUAN SEDANG (KMS) Siswa KMS ini mempunyai nilai rata-rata matematika 69 dan nomor responden 5. Sedangkan hasil pengisian kuesionernya adalah sbb:

17

Berdasarkan jawaban respon yang diberikan siswa KMS di atas level kreatif nya dalam taraf mendekati tinggi mendekati nilai empat karena ia memilih posisi setuju serta tingkat penerapannya ke aspek kehidupan relatif bagus (1).Untuk respon rasa ingin tahu menekati tinggi mendekati angka empat artinya mulai menjadi kebiasaan dan budayanya dan nilai telitiya 4 atinya mulai menjadi kebiasaan. Sedangkan semangat pantang menyerahnya mulai berkembang menjadi karakternya. Kesimpulan karakter siswa KMS ini untuk nilai kreatif adalah dalam level Mulai Berkembang (MB), nilai rasa ingin tahu dalam level Mulai Berkembang (MB) , nilai teliti dalam level Mulai Berkembang(MB), dan nilai pantang menyerah dalam level Mulai Berkembang(MB)

18

3. ANALISIS KARAKTER SISWA KEMAMPUAN RENDAH (KMR) Siswa KMR ini mempunyai nilai rata-rata matematika 52 dan nomor responden 11. Sedangkan hasil pengisian kuesionernya adalah sbb:

19

Berdasarkan jawaban respon yang diberikan siswa KMR di atas level kreatif nya dalam taraf kurang mendekati nilai dua serta tingkat penerapannya ke aspek kehidupan relatif tidak ada.Untuk respon rasa ingin tahu sangat tinggi mendekati angka tiga artinya mulai terlihat menjadi kebiasaan dan budayanya dan nilai telitinya tiga berarti mulai terlihat. Sedangkan semangat pantang menyerahnya karakternya. Kesimpulan karakter siswa KMR ini untuk nilai kreatif adalah dalam level Mulai Terlihat (MT), nilai rasa ingin tahu dalam level Mulai Terlihat(MT) , nilai teliti dalam level Mulai Terlihat(MT), dan nilai pantang menyerah dalam level Mulai Berkembang(MB) mulai berkembang menjadi

B. PEMBAHASAN 1. Profil Karakter Siswa Profil karakter siswa adalah suatu deskripsi verbal dan visual dengan grafik atau diagram yang menggambarkan karakter siswa yaitu watak, tabiat, akhlak, atau

kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Pada pembelajaran matematika tingkat SMA karakter yang dituntut adalah 1.teliti, 2.kreatif, 3.pantang menyerah dan 4.rasa ingin tahu. Penilaian yang dilakukan adalah mengunakan katagori belum tampak (BT), mulai tampak(MT), mulai berkembang(MB) dan membudaya (MK). 2. Kemampuan Matematika Katagori kemampuan siswa sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar. Bila dihadapkan dengan sejumlah siswa maka diantara mereka terdapat siswa yang pandai, sedang dan lemah, dimana sebagian besar mereka memiliki intelegensi sedang ± sedang saja (normal). Dengan demikian dari sekelompok siswa tersebut, sejumlah siswa berbakat yang ada berada di atas kelompok sedang yang jumlahnya sama dengan siswa yang tidak berbakat yang ada di bawah kelompok sedang. Dengan mengunakan nilai rata-rata hasil belajar siswa , guru dapat mengetahui tingkat kemampuan matematika siswa. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki strategi belajar mengajar yang dilakukan seorang guru.
20

Penilaian terhadap hasil belajar siswa dapat berfungsi meningkatkan kegiatan belajar sehingga dapat diharapkan memperbaiki hasil belajar. Disamping itu, penilaian juga mengacu ke proses belajarnya. Yang dinilai dalam proses belajar itu adalah bagaimana berpikir langkah-langkah berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Apabila langkah berpikirnya dalam menyelesaikan masalah benar, menunjukkan proses belajarnya benar. Dengan demikian, apabila hasil penilaian menunjukkan proses belajar baik, maka hasil belajarnya pun, walaupun, misalnya pada langkah terakhir dalam menyelesaikan masalah hasil akhirnya salah.

3. Hubungan antara karakter siswa dengan kemampuan matematika Apabila guru berhasil menciptakan suasana dan proses pembelajaran melalui pendidikan karakter yang mengembirakan dan memotivasi siswa, semangat belajar siswa akan naik. Kondisi ini tentunya akan meningkatkan kemampuan siswa sehingga siswa berpeluang untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi daripada sebelumnya ketika mereka tidak teliti, tidak kreatif, cepat putus asa dan kurangnya rasa ingin tahu.

21

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis kualitatif berdasarkan kemampuan matematika melalui pendidikan karakter maka profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon dapat disimpulkan bahwa profil karakter berada dalam rentang level mulai tampak, mulai berkembang dan sudah membudaya. Adapun profil karakter berdasarkan tingkat kemampuan matematikanya adalah sbb: 1) Profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan Kemampuan Matematika Tinggi melalui pendidikan karakter (KMT). Karakter siswa KMT ini untuk nilai Kreatif adalah dalam level Mulai tampak (MT), nilai Rasa Ingin Tahu dalam level Sudah Membudaya(MK) , nilai Teliti dalam level Mulai Berkembang(MB), dan nilai Pantang Menyerah dalam level Mulai Berkembang(MB). 2) Profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan Kemampuan Matematika Sedang melalui pendidikan karakter (KMS). Karakter siswa KMS untuk nilai Kreatif adalah dalam level Mulai Berkembang (MB), nilai Rasa Ingin Tahu dalam level Mulai Berkembang (MB) , nilai Teliti dalam level Mulai Berkembang(MB), dan nilai Pantang Menyerah dalam level Mulai Berkembang(MB) 3) Profil karakter siswa kelas XI IPS SMAN 1 Cilegon berdasarkan Kemampuan Matematika Rendah melalui pendidikan karakter (KMR). Karakter siswa KMR untuk nilai Kreatif adalah dalam level Mulai Tampak (MT), nilai Rasa Ingin Tahu dalam level Mulai Tampak(MT) , nilai Teliti dalam level Mulai Tampak(MT), dan nilai Pantang Menyerah dalam level Mulai Berkembang(MB)

22

B. SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti menyarankan sebagai berikut: 1) Menggunakan hasil penelitian ini untuk menambah pengetahuan guru mengenai profil karakter siswa yang diajarnya. 2) Menggunakan hasil penelitian ini untuk mengembangkan rencara pelaksaaan pembelajaran matematika yang berbasis pada pendidikan budaya dan karakter bangsa . 3) Menggunakan hasil penelitian ini untuk mengembangkan perangkat dan media pembelajaran mata pelajaran matematika melalui pendidikan karakter . 4) Peneliti lain dapat menyempurnakan dengan penelitian serupa dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan penelitian ini.

23

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Bungin, Burhan. 2009. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana. Bungin, Burhan. 2008. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers. Hidayatullah, M.Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka. Moleong, Lexy. 2005. PMetodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Percetakan Rosdakarya. Mulyana, Yoyo dkk. 2011. Pendidikan Karakter Di Sekolah dari Gagasan ke Tindakan, Seri Pendidikan Karakter Yayasan Jati Diri Bangsa. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo. Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit ALFABETA. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian kualitatif kuantitatif dan R&B. Bandung: Penerbit ALFABETA. Widiyanto,Ibnu. 2008. Pointers Metodologi Penelitian. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Winarti, Titi Wahyu. 2011. Profil Kemampuan Pemecahan Masalah Aljabar Berdasarkan Taksonomi SOLO Siswa Kelas VIII Dilihat dari Perbedaan Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender. Surabaya: Tesis, tidak dipublikasikan.

24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->