ILMU RIJALUL HADITS

ILMU RIJALUL HADITS TA¶ RIEF ILMU RIJALIL HADITS Ilmu Rijalil Hadits adalah salah satu dari ilmu-ilmu hadits yang sangat penting. Ilmu hadits, melengkapi sanad dan matan. Orang-orang sanad itulah perawih-perawih hadits. Maka merekalah pokok pembicaraan ilmu Rijalul Hadits yang merupakan salah satu dari dua tepi ilmu hadits. Lantataran inilah para ulama sangat mementingkan ilmu ini. Ilmu Rijalul hadis terbagi atas dua ilmu yang besar: 1. Ilmu Tarikhir Ruwah : Ilmu sejarah perawi-perawi hadits. 2. Ilmu jahri wat Ta¶dil : Ilmu yang menerangkan adil tidaknya perawi hadits. Maka Ilmu Tarikhir Ruwah ialah : ³ ilmu yang mengenalkan kepada kita perawi-perawi hadits dari segi mereka meriwayatkan hadits. Maka ilmu ini menerangkan keadaan-keadaan perawi, hari kelahirannya, kewafatannya, guru-gurunya, masa mulai mendengar hadits dan orangorang yang meriwayatkan hadits dari padanya, negrinya, tempat kediamannya, perlawatan-perlawatnnya, sejarah kedatangannya ketempat-tempat yang dikunjungi dan segala yang berhubungan dengan urusan hadits´. Ilmu ini lahir bersama-sama dengan lahirnya periwayatan hadits dalam islam. Para ulama sangat mementingkannya supaya mereka mengetahui keadaan perawi-perawi sanad. Mereka menanyakan tentang umur perawi, tempat kediamannya, sejarah mereka belajar, sebagai mana mereka menanyakan tentang peribadi perawi sendiri agar mereka mengetahui tentang kemustahilannya dan kemunqathii¶annya, tentang kemarfu¶annya dan kemauqufannya. Memang sejarahlah senjata yang ampuh untuk menghadapi para pendusta. Sufyan Ats Tsauri berkata : ³ tatkala para perawi telah mempergunakan kedustaan, kamipun mempergunakan sejarah´ Dengan kesungguhan para ulama dalam mengahadapi sejarah para perawi, terkumpullah suatu perbendaharaan besar yang menerangkan sejarah para perawi hadits, kekayaan itu mereka simpan dalam hasil-hasil karya mereka. Maka ada yang menulis tentang hal sahabat dan segala sangkut pautnya, tentang bilangan hadits-hadits mereka dan perawi-perawinya. Di waktu memancar mata hari pembukuan ilmu, lahirlah aneka karangan yang menerangkan berita-berita sahabat dan tabi¶in, tabi¶it tabi¶in dan orang-orang yang sesudah mereka. Berbagai macam jalan yang ditempuh para pengarang sejarah perawi hadits. Ada yang mengarang sejarah para perawi, thabaqat demi thabaqat, yakni orang-orang semasa, kemudian orang-orang semasa pula. Diantara kiatab yang paling tua yang menulis sejarah perawi thabaqat demi thabaqat, ialah kitab At Thabaqat Al Kubra, karya Muhammad ibn Sa¶ad (168-230 H). dan Thabaqatur Ruwah karangan Khalifah ibn Khayyath Al-ashfari (240H). Diantara mereka, ada yang mensyarahkan menurut athun perawi, dari tahun demi tahun. Di dalamnya diterangkan tahun wafat para perawi, disamping menerangkan keadaan beritanya.

Adz Dzahabi dalam kitabnya´ Tarikhul Islam menempuh jalan ini´. Di antara mereka, ada yang menyusun sejarah perawi menurut huruf abjad. Macam inilah yang mudah kita pelajari. Diantara kitab yang paling tua yang sampai kepada kita ialah : At Tarikhul Kabir Karya Al Imam Muhammad ibn islmail Al bukhari (194- 256 H). di dalamnya disebutkan lebih kurang 40.000 biografi pria dan wanita. Kitab yang paling mengumpulkan biografi perwai-perawi hadits ialah: Kitab Tahdzieb, karya Al Hafidh ibnu Hajar Al Asqalany (773-853 H). Al Hafidh Abu Muhammad Abdu Ghani ibn Abdul Wahid Al Maqdasi (514-600 H). menyusun sebuah kitab yang dinamakan Al Kamal fi Asmair Rijal. Kemudian kitab itu dibersihkan oleh Al Hafidh Yusuf ibn Abdur Rahman Al Mizzi (654- 742 H). dengan diberi tambahan-tambahan dan ditertibkan menurut huruf abjad, kitabnya dinamakan Tahdzibul Kamal fi Rijal yang selesai disusun pada tahun 712 H. Kemudian Ibnu Hajar Al Asqalani meringkaskan kitab itu dengan sebuah kitab yang dinamakan Taqribut Tahdzib fi Asmal Rijal. Ada pula yang menyusun menurut negeri perawi hadits. Pengarannya menjelaskan ulama-ulama negerinya dan ulama-ulama yang datang ke negri itu. Dan terkadang-kadang diterangkan pula orang yag meriwayatkan hadits dari ulamaulama itu. Kebanyakan mereka menyebutkan keutamaan negeri ulama-ulamanya dibuat sejarah, kemudian mereka menyebut sahabat-sahabat yang berada di negeri itu, atau berkediaman di negara itu. Kemudian barulah diterangkan ualama-ulama lain menurut huruf abjad. Di antara kitab yang paling tua dalam bidang ini ialah, ialah Tarikh Naisabur, karangan Al Hakim(321405 H) dan Tarikh Baghdad karya Ahmad ibn Ali Al Baghdadi yang terkenal dengan nama Al khatib Al Baghdadi ( 392-463 H) sebuah kitab yang baik. Di dalamya terdapat sejumlah 7831 biografi dan tarikh Dimasyqa, karya Ibnu Asakir ( 499-571). Ada para ahli hadits yang menyusun kitab-kitab yang menerangkan nama-nama perawi, kunyah dan Iaqab dan kebangsaan mereka. Ada pula yang menulis nama-nama yang mu¶talif dan mukh¶talif, perawi-perawi yang bersaudara, sahabat-sahabat yang panjang umur, demikian pula para tabi¶in dan lainnya. Ada pula yang menulis nama-nama yang hamper sama. Diantara kitab yang paling tua yang menerangkan nama dan kun-yah, ialah Al Asma Wal Kuna, karya Ali ibn Abdullah Al madini (161-234 H). kitab yang paling padat isinya dalam bidang ini ialah Al Kuna Wal Asma karangan Muhammad ibn Ahmad Ad Daulabi (234-320 H) dan kitab Al Ikmal, karya Ibn Nakula Al Baghdadi (421-486 H). Kiatab yang paling padat isinya dalam bidang nama yang hampir-hampir sama, ialah Al Musytabah fi Asmair Rijal, karya Adz Dzahabi (673-740 H). sedangkan kitab yang paling padat isinya tentang laqab-laqab para perawi ialah Nushatul Alhab fil Al Qab, karya Al¶Asqalani (733-852 H). Kitab yang paling besar dalam bidang silsilah keturunan para perawi, ialah kitab Al Ansab, karya Tajul Islam Abdu Karim ibn Muhammad As San¶ni (506-562 H). dan kitab Al Lubab, karya Ali ibn Muhammad Asy Syaibani Al Jazari (555-630 H). para ulama tidak saja meriwayatkan sejarah perawi perawi lelaki, bahkan meriwayatkan juga sejarah perawi-perawi wanita yang telah menjadi pengembang-pengembang hadits, seperti Aisyah dan isteri-isteri nabi lainnya, serta sahabat-sahabat wanita. Muhammad ibn Sa¶ad (168-230 H) menspesialkan jilid terakhir dari kitabnya untuk perawiperawi wanita, sungguh usaha ulama-ulama kita dalam bidang ini mengagumkan

2. [2]Menurut istilah ahli hadits. lalu Nampaklah keadilannya dan diterimalah riwayatnya´. antara yang diterima dengan yang ditolak. kedlabithan dan kepercayaan´. Maka ilmu jarwi wat Ta¶dil ialah: ³ ilmu yang membahas keadaan-keadaan perawi dari segi terima. ada yang menanamkan Tarikhur Ruwah. 3. ialah: ³mendhahirkan sesuatu cacat yang karenanya ditolak riwayatnya´ ³Mensifatkan para perawih dengan sifat-sifat yang menyebabkan dilemahkan riwayatnya atau tidak diterima´. Menurut uruf ahli hadits. ada yang menanamkan Wafayyatur Ruwah. Karena itu terimalah kesaksiaannya dan riwayatnya apabila sempurna keahliannya meriwayatkan hadits.[4] Ilmu ini salah satu yang terpenting dan tinggi benar nilaiya. menurut bahasa lughah bermakna melakukan badan yang karenanya mengalirkan darah. sedangkan ta¶jieb = mengaibkan. dan ada yang menanamkan At Tawarikh Wafiyyyat. tolak riwayatnya´. bulugh.benar. karenanya gugurlah riwayatnya dipandang lemah´. bahwasanya dia itu adalah dalam keadaan lurus´. yaitu : islam. Apabila dikatakan: hakim menjarahkan saksi maka maknanya : hakim menolak kesaksian saksi. TA¶RIEF TAJRIEH Tajrieh menurut lughat.[1] Ilmu ini ada yang menanamkan Ilmu Tarikh. Adil menurut lughah : ³suatu yang dirasakan oleh diri. ILMU JARHI WAT TA¶DIL 1. karena dengan dialah dapat dibedakan antara yang shahih dengan yang saqim. Orang yang dipandang adil adalah : orang yang diterima kesaksiannya.[3] Menurut istilah adalah: ³ orang yang tidak nampak dalam urusan keagamaannya dan muruahnya sesuatu yang mencederakan keadilan dan muruhnya´. adalah keadilan dan dlabath. bermakna tasyqieq= melakukan. TA¶DIL ta'dil menurut lughat adalah taswiyah ( menyamakan) sedangkan menurut istilah ialah ³ mensfatkan perawi dengan sfat-sifat yang menetapkan kebersihannya dari pada kesalahan-kesalahannya. . Menurut uruf ahlil hadis ialah ³ mengakui keadilan seseorang. TA¶RIEF JARHI Jarah. ³Nampak suatu sifat pada perawi yang merusak keadilannya atau mencederakan hafadhannya.

4. Dan perkataan. Tiap-tiap ibarat yang masuk kepadanya fi¶il tafdlil dan yang menyerupai fi¶il tafdil yang menunjukan kepada mubalaghah. lafadh yang pertama. hingga mengetahui siapa yang lebih hafal. ³ Si Anu orang yang paling kuat hafalannya dan keadilannya´. ³ dan siapa yang sama si anu´. 1. Al Hafidh ibnu Hajar menjadikan 6 martabat bagi Ta¶dil dan 6 martabat bagi tajrieh. Kepercayaan. B. yaitu seperti kata ulam hadits : 1. Karena itu para ulama menanyakan tentang keadaan para perawi. 3. Tiap-tiap ibarat yang menunjukan kepada derajat perawi. Demikianlah ilmu ini tumbuh bersama-sama dengan tumbunya periwayatan dalam islam. lebih kuat ingatan. PERTUMBUHAN ILMU JARHI WAT TA¶DIL Ilmu ini tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan dalam islam. kuat hafalan. Para ulama menerangkan catatan-catatan para perawi yang memang tercatat. ³Kepadanyalah kesusahan´. lebih lama menyertai guru. A. karena untuk mengetahui hadits-hadits yang shahih perlu mengetahui keadaan perawi-perawinya secara yang memungkinkan ahli ilmu menetapkan kebenaran perawi atau kedustaannya hingga dapatlah mereka nenbedakan antara yang diterima dan ditolak. baik lafadh yang kedua itu. ³ si polan ditanya tentang keadaannya ³ Martabat inilah yang dipandang paling tinggi dari martabat yang lain. meneliti kehidupan ilmiah mereka. An Nawawi memasukan ke dalam martabat ini perkataan: ³ tak ada sesorang yanga lebih kuat dari padanya´. LAFADH-LAFADH TA¶DIL Para ulama hadits telah menempatkan lafadh-lafadh ta¶dil dalam beberapa martabat[5]. 2.mengingat timbilnya hukum-hukum yang berbeda-beda dari pada tingkatan Jarah dan Ta¶dil ini. mengetahui segala keadaan mereka. .³ Si anu orang yang paling kepercayaan´. makin menunjukan maksud seperti dikatakan . Adz Dzahabi dan Al¶Iraqi menjsdiksn 5 martabat. 5. Ibnu Abi Hatim. dua kali atau lebih. dengan mengulangiulangi lafadh yang menunjukan kepada keadilan. Ibnush Shalah dan An Nawawi menjadikan 4 martabat. 2.kepercayaan Kepercayaan. dan makin banyak diulang-ulang kalimat itu. ataupun yang semakna dengan lafadh yang pertama.

si polan tak ada cacattan padanya 5. Ibnu Uyainah mengatakan. bahwa telah diceritakan kepadanya oleh Amer ibn Dienar dan beliau seorang tsiqah Sembilan kali Ibn Uyainah kata tsiqah. kokoh ingatan dan tidak pula menunjukkan kepada benar dan amanah. Si polan seorang syaikh 4. seperti perkataan : ³ Si polan adalah orang yang dapat dipandang benar´ Masuk kedalam martabat ini. ditulis haditsnya lalu diselidiki apakah orang itu kuat ingatan. teguh hafalan. dengan sesuatu lafadh yang member pengertian. bahwa perawi itu kokoh ingatannya. perkataanya menjadi hujjah. Di antaranya perkataan Ibnu Sa¶id dalam thabaqat terhadap syu¶bah : ³Kepercayaan. seperti 1. Ibarat yang menunjukan kepada derajat perawi dengan sifat yang tidak member pengertian bahwa dia. Si polan orang yang teguh hati dan lidah 2. E. bahwa dia itu orang yang kokoh ingtannya. Si polan teguh dan bagus riwayatnya 3. si polan orang yang sangat benar 2.Penghafal hadits dan orang yang perkataannya jadi hujjah. seperti dikatakan 1. perkataan : 1. si polan tak ada padanya cacat 4. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat para perawi dengan suatu lafald yang tidak memberi pengertian. atau tidak. si polan orang pilihan Diterangkan oleh ibnu Abi Hatim bahwa perawi yang dikaitkan demikian terhadap dirinya. Si polan kepercayaan 4. Si polan seorang yang teguh hafalannya 6. C. Si polan hijjah D. Ibarat yang menunjukan kepada derajat perawi. Si polan yang pertengahan 3. Si polan orang yang diriwayatkan dari padanya 2. Si polan penghafal hadits 5. orang yang terpelihara. Si polan seorang yang pertengahan dan seorang syaikh . si polan boleh dipegang perkataanya 3. pemelihara hadis.

dia seorang benar insya allah 2. ditulis dengan tidak dinadharkan lagi. apabila dikumpulkan antara lafadh shaduuq dengan lafadh yang menunjukan kepada lemah seperti : 1.5. orang yang benar berubah akal diakhir umurnya Hadist-hadits orang yang tersebut ini. Si polan sesorang yang didekati hadisnya. tiga martabat yang pertama. 6. saya harap dia orang yang dapat diterima 3. dengan ahli bid¶ah. madzhab Qadariyah. seperti dikatakan: 1. ditulis haditsnya untuk dinadharkan. ditulis untuk I¶tibar dan nadhar. Ahmad dan Al bukhari. Diterima syahadat terhadap penetapan-penetapan tersebut dengan akuan seorang yang mengetahui sebab-sebab tazkiyah (ta¶dil). Si polan seorang yang baik haditsnya 6. Murjiyah dan lain-lain sebagainya. orang benar yang sering silap 5. Seperti dikatakan : ³ dia menganut madhzab Syi¶ah. Si polan seorang yang mendekati haditsnya 7. Si polan seorang yang indah haditsnya 8. orang benar. HUKUM JARH Al imam An Nawawi dalam muqaddamah Syarah Muslim mengatakan bahwa telah sepakat para ulama membolehkan mencatat para perawi lantaran hal itu diperlukan untuk .[6] Makna muqarrab adalah radie¶un = buruk. Tiga martabat yang ke dua. F. tapi berwaham 3. Tegasnya. buruk hafalannya 2. atau menunjukan bahwa perawi itu tidak teguh mempunyai sifat-sifat itu. seperti Asy Syafi¶I. 9. kemudian diiringinya dengan perkataan ³ jiak dikehendaki allah´. oarng benar. Dan dimasukkan pula kedalam martabat ini. Diterangkan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani bahwa masuk kedalam martabat ini. si polan orang yang sedikit salih Al Hafidh ibnu Hajar Al Asqalani menambah lagi dengan perkataan : ³Yang dierima´ Golongan ini ditulis haditsnya untuk dinadharkan. mensifatkan perawi. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan sesuatu lafadh dari lafadhlafadh yang telah lalu. Si polan seorang yang shahih haditsnya Di sini perlu ditegaskan bahwa Al Bulqini berpendapat. Muqaribul Hadits ( dengan mengkasrahkan raa) dipakai lafadh ta¶dil sedangkan muqarabul hadits ( dengan mengghafathahkan raa) dipakai buat lafadh tajrih. yang banyak waham 4.orang yang benar.

tetapi tidak terlalu merekankan. ialah mensifatkan perawi dengan ibarat yang menunjukkan kepada sangat dusta dalam mewadla¶kan hadits. Seorang yang paling banyak membuat hadits palsu 3.dil bermatabat. Dia seorang yang banyak memalsukan hadits 3. Ulama-ulam dan tokoh-tokoh utama membuat yang demikian. atau dengan kedua-duanya seperti : 1. Si polan seorang yang biasa 6. tidak di I¶tibarkan haditsnya 8. Si polan. MARTABAT-MARTABAT TAJRIEH Sebagaimana ta.memelihara agama. Si polan seorang yang paling dusta 2. Si polan orang yang tidak di I¶tibarkannya 7. Si polan para ulam meninggalkannya . Dia tiang tonggak dusta 5. Si anu tertuduh memalsukan hadits 3. bahkan dipandang suatu nasehat yang harus kita lakukan demi kepentingan agama. begitu juga tajrieh. Si polan seorang yang tidak diacuhkan 10. Si polan seorang yang gugur 5. Seburuk-buruk lafadh-lafadh tajrih. Dia dajjal pengrusak 2. memakai kata-kata yang menunjukkan kepada tercela perawi. Kepadanya puncak pembuatan hadits palsu 4. Kesatu. Hal ini tidak dipandang upa. Si polan padanya ada peninjauan 4. Si anu terdutuh berdusta 2.[7] 7. atau mensifatkanny dengan sifat yang kurang buruknya dari dusta dan memalsukan hadits seperti: 1. Si polan para ulama berdiam diri tentang halnya 9. Dia seorang yang sangat pendusta Kedua mensifatkan perawi dengan salah satu sifat dusta dan memalsukan hadits. Dia sumber dusta Kedua memakai kata-kata atau istilah : 1. Si polan oaring yang di tinggalkan 11. Si polan orang yang ditinggalkan haditsnya 12.

Si polan bukan orang kepercayaan Ketiga memakai sebutan-sebutan yang dibawah ini : 1. yakni sekali membawa hadits munkar dan sekali dia membawa ma¶ruf 7. Si polan pada haditsnya ada pembicaraan 6. Si polan tidak menyamai apa-apa Keempat memakai sebutan-sebutan yang dibawah ini : 1.13. Si polan orang yang ditolak 6. Si polan diingkar dan diakui. Si polan orang yang dicampak haditsnya 4. Si polan tidak dipandang apa-apa 9. Si polan padanya ada perselisihan 8. Si polan orang yang dicampak 3. Si polan orang yang ditolak haditsnya 8. Si polan para ulama membuang haditsnya 2. Si polan dla¶if 6. Si polan pada haditsnya ada kelemahan 4. Si polan diperkatakan ulama 9. Si polan para ulama menolak haditsnya 7. Si polan para ulama melemahkannya Kelima memakai sebutan-sebutan yang dibawah ini : 1. Si polan mempunyai kelemahan . Si polan padanya ada pembicaraan 5. Si polan bolak-balik haditsnya 4. Si polan munkar hadits 3. Si polan tidak diambil hujjah dengan dia 2. Si polan dicecat ulama 10. Si polan lemah 5. Si polan padanya ada kelemahan 3. Si polan dilemahkan 2. Si polan dla¶if sekali 5.

[8] . maka hadits tersebut di tulis untuk dinadharkan. atau mutatabi.[3] . Si polan lembut haditsnya 14. Si polan tidak ada artinya 19. Si polan bukan pegangan 18. Si polan bukan hujjah 15. Si polan buruk hafalannya 12.Pengertian. Si polan bukan orang tidak diridlai 21. Si polan tidak kukuh 17. Si polantidak sama dengan kuat itu 20. artinya sama-sama tsiqoh. Si polan tidak kuat 16. Sedangkan secara terminology mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang menurut akal dan kebiasaan mustahil sepakat untuk berdusta[2]. Definisi Mutawatir secara etimology berasal dari kata tawatara yang berarti beruntun. yakni beriring-iringan antara satu dengan lainnya tanpa ada jarak[1]. a. Pembagian. Si polan saya tidak ketahui buruknya 22. Si polan saya harap tak ada buruknya Golongan ini ditulis haditsnya I¶tibar. maka dikatakn laiyinul= orang yang lembut haditsnya. Syarat-yarat. Ibnu Abie Hatim mengatakan bahwa: ³ orang yang lembut haditsnya´. Mulai dari perawi yang pertama hingga terakhir memiliki kesamaan sifat.11. Si polan lembut 13. dan Contoh Hadist Mutawatir. Sementara menurut Nur-Addin hadist mutawatir adalah hadist yang di riwayatkan oleh orang banyak yang terhindar dari kesepakatan mereka untuk berdusta sejak awal sanad sampai akhir sanad dengan didasarkan pada panca indra. Golongan ini paling dekat kepada ta¶dil. Hadits Kuantitas Pembagian Hadist Ditinjau Dari Aspek Kuantitas Sanad Mutawatir dan Ahad 1.

sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa jumlahnya minimal lima orang. ada juga yang mengatakan minimal empat puluh orang. meskipun al-Syafii.Konsep mutawatir ini baru secara difinitif dikemukakan oleh al-Baghdadi. Ada yang minimal sepuluh orang. Dan pendapat inilah yang diikuti oleh banyak ahli hadis. sejak dalam thabaqat(lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. ada yang tujuh puluh orang. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada. Pembagian Hadist Mutawatir . kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir. dan yang terakhir berpendapat minimal tiga ratus tiga belas orang laki-laki dan dua orang perempuan. ulama sebelumnya sudah mengisyaratkan dengan istilah khabar ammah . Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits. dapat memberikan keyakinan terhadap apa yang diberitakan dan mestahil mereka sepakat untuk berdusta. Sedangkan menurut ulama yang menetapkan jumlah tertentu mereka masih berselisih mengenai jumlahnya. Syarat-syarat hadits mutawatir Para ulama berbeda pendapat dalam membicarakan hadist mutawatir. Menurut ulama yang tidak mensyaratkan jumlah tertententu mereka menegaskan bahwa yang penting dengan jumlah itu. seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah. belum dinamakan jama . susunan Imam As-Suyuti(911 H). maka dari itu wajib hukumnya untuk mengamalkan kandungan-kandungan yang ada pada hadis mutawatir. y Bedasarkan tanggapan panca indra: Bahwa berita yang mereka sampaikan harus benar-benar merupan hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. Kemudian menurut as-Syuyuti bahwa hadis yang layak disebut mutawatir yaitu paling rendah diriwayatkan oleh sepuluh orang. tetapi jumlahnya hanya sedikit. susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H) Para ulama sepakat bahwa hadis mutawatir adalah hujjah bagi kaum muslim. ada yang minimal dua belas orang. c. Menurutnya hadis mutawatir adalah suatu hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dengan jumlah tertentu yang menurut kebiasaan mustahil mendustakan kesaksiannya. ada yang dua puluh orang. Menurut ulama mutaakhirin dan ahli usul suatu hadist dapat ditetapkan sebagai hadist mutawatir bila memenuhi syarat-ayarat sebagai berikut: y Hadist mutawatir harus di riwayatkan oleh sejumlah besar perawi yamh membawah keyakinan bahwa mereka itu tidak sepakat untuk berbohong. Mengenai masalah ini para ulama perbeda pendapat ada yang menetapkan jumlah tertentu dan ada yang tidak menetapkannya. ada yang mengatakan harus empat rawi. b. sebab di bawah sepuluh masih dianggap satuan atau mufrad. y Seimbang jumlah para perawi. bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. seperti tertera dalam ayat-ayat yang menerangkan mengenai mula anah. Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir. seperti jumlah pasukan muslim pada waktu Perang Badar.

Mutawatir lafdzi Yaitu suatu hadits yang bunyi teks atau lafadl haditsnya sama antara satu riwayat dengan riwayatriwayat lainnya. menurut Ibnu Shalah yang di ikuti oleh Al-Nawawi bahwasanya sangat jarang dan sukar dikemukakan contohnya selain hadits Nabi: . Hal ini.1.

( ) Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku. bahkan menurut As-Syuyuti diriwayatkan lebih dari dua ratus sahabat. maka tempat tinggalnya adalah neraka . .( : . Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari enam puluh dua sahabat dengan teks yang sama.( ) ) .( : ..( ) ) .

membangun masjid karena Allah. Sedangkan menurut istilah adalah hadits yang jumlah perowinya tidak mencapai batasan minimal dari hadits mutawatir. Contoh: . maka hadits ahad adalah suatu berita yang disampaikan oleh satu orang. Pengertian.Qur an diturunkan atas tujuh huruf ( tujuh macam bacaan) Hadis ini diriwayatkan oleh dua puluh tujuh sahabat. 1. Pembagian beserta Contoh Hadist Ahad a. serta hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: ( ) Al. b. Hadits ini diriwayatkan oleh kurang lebih dari seratus perawi[4]. 2. Akan tetapi sebagian ulama meyakinkan pada kita bahwa di dalam hadits Nabi sendiri banyak hadits mutawatir. dan tentang keluarnya mata air dari jari-jari Nabi. Pembagian Hadist Ahad 1) Mashur Adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi atau lebih dan tidak sampai pada batasan mutawatir. semisal hadits yang menerangkan tentang terbelahnya rembulan. Contoh hadits ini adalah hadits yang menerangkan kesunnahan mengangkat tangan ketika berdoa. Mutawatir maknawi Adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang sama dalam artinya meskipun berbeda dalam bentuk redaksinya. isr a mi raj.Ada juga ulama yang menganggapnya bahwa hadits ini mustahil adanya. tentang mengusaf khuf. Definisi kata ahad berdasarkan segi bahasa berarti satu. mengenai syafaat.

2) Aziz . Muslim dan Tirmidzi) diriwayatkan tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan. hasan dan dhaif. Yang dimaksud dengan hadits masyhur sahih adalah hadits masyhur yang telah mencapai ketentuan-ketentuan hadits sahih baik pada sanad maupun matannya. begitu juga dikatakan dhoif jika tidak memenuhi ketentuan hadits sahih. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits masyhur hasan adalah apabila telah mencapai ketentuan hadits hasan. Hadtis masyhur ini ada yang berstatus sahih.( ) ( : ) ) ( Hadits tersebut sejak tingkatan pertama (sahabat) sampai ketingkat imam-imam yang membukukan hadtis (dalam hal ini adalah Bukhari.

 Hadis ghorib nisbi terjadi apabila penyandiriannya mengenai sifat atau keadaan tertentu dari seorang perawi. Sedangkan pengertiannya adalah hadits yang jumlah perowinya tidak kurang dari dua. sama dengan kekerabatan dengan nasab. Contoh : Artinya: kekerabatan dengan jalan memerdekakan.Dinamakan Aziz karena kelangkaan hadits ini. . hasan dan dhoif. Penyendirian seorang rawi seperti ini bisa terjadi berkaitan dengan keTsiqahan rawi atau mengenai tempat tinggal atau kota tertentu. Hadis aziz juga ada yang sahih. hasan dan dhaif tergantung pada terpenuhi atau tidaknya ketentuan ketentuan yang berkaitan dengan sahih. Contoh: ( ) ) ( Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari dua sahabat yakni Anas dan Abi Hurairoh. Hadits Ghorib terbagi menjadi dua: yaitu ghorib mutlaq dan ghorib nisbi.  Gorib mutlaq terjadi apabila penyendirian perawi hanya terdapat pada satu thabaqat. kuat ingatannya dan dapat dipercaya. Hadits ini diterima dari Nabi oleh Ibnu Umar dan dari Ibnu Umar hanya Abdullah bin Dinar saja yang meriwayatkanya. 3) Ghorib Adalah hadits yang diriwayatkan satu perowi saja. Sedangkan Abdulallah bin Dinar adalah seorang tabiin hafid. tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan .

Tida seorangpun dari perawi-perawi siqah yang meriwayatkan hadits tersebut selain dia sendiri. Ubaidillah. Peran al-Syahid Dalam Analisis Kuantitas Sanad Syahid adalah hadits yang rawinya diikuti oleh perawi lain yang menerima dari sahabat lain. Cara Mengukur Kemutawatiran Hadits Sebagai dasar sebuah hadits bisa dikategorikan mutawatir ataupun tidak adalah berdasarkan jumlah perawi pada tingkat shahabat yang meriwayatkan hadits tersebut. Adapun syahid ma nawi adalah hadits yang menguatkan ma na hadits bukan lafazdnya.Contoh hadis ghorib nisbi mengenai kesiqahan rawi: ( ) Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim. Jika hilal itu tidak jelas atas kalian. parameter hadits mutawatir yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah jumlah perawi di tingkat shahabat sebanyak sepuluh orang. Rasulullah. dengan matan yang menyerupai hadits baik dalam lafad dan ma nanya atau ma nanya saja. Abu Nadrah dan Said. Dumrah bin Said. 3. apabila suatu hadits diriwayatkan kurang dari sepuluh shahabat. yaitu syahid lafdzi dan syahid ma nawi. Contoh dari hadits ghorib nisbi berkenaan dengan kota atau tempat tinggal tertentu: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad Abu Al-Walid. Contoh: ( »: ( )« ) ( ) Satu bulan itu dua puluh sembilan hari. maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari . Syahid juga terbagi menjadi dua. Syahid lafdzi adalah hadits yang menguatkan matan hadits dari segi lafadz dan ma nanya. 4. Malik. maka bukan termasuk kategori hadits mutawatir. Qatadah. Pada rentetan sanad yang pertama Dumrah bin Said disifati sebagai muslim yang siqah. Sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Waqid AlLaisi. Dengan demikian. Semua rawi ini berasal dari Basrah dan tidak ada yang meriwayatkannya dari kota-kota lain. Janganlah kalian berpuasa sebelum kalian melihat hilal (bulan yang terlihat pada awal bulan) dan janganlah kalian berbuka sebelum kalian melihatnya pula. Hamman.

Sedangkan syahid ma nawi adalah apa yang diriwayatkan Bukhari dari jalur Syu bah dari Muhammad bin Ziad dari Abi Hurairah yang menggunakan lafadz.Kabir li Ar-Rafi. diantaranya:a .´ .Pengertian Hadits Shohih.´ 2. [1] Subhi Shalih. I b n u s h a l a h : ³Hadits shahih adalah hadits musnad yang sanadnya bersambung dengan diriwayatkan oleh orang yang adil. (Beirut:Dar Al-Ilm Li Al-Malayin)cet. Dar Al-Kutub . juz ll. sesuatu yan dis enangi oleh nafsu. [4] Umar Hasyim. Al-Misbah Al-Munir fi Garib Asy-Syarh Al.Iman al ± na wa wi ³Yaitu hadits hadits yang bersambung sanadnyadengan diriwayatkanoleh orang ± orang yang adil serta dhabith tanpa adanya syadz danillat. Ulum Al-Hadits Wa Mustholahuhu. Qowaid al-Ushul al-Hadis.´ Dari beberapa definisi diatas maka hadits shahih dapat did efinisikan sebagai berikut: ³Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabith dari yan semisal dari pertama hingga akhir tanpa syadz dan illat. Pengertian Hadits Shohih Menurut bahasa shahih yakni sehat lawan dari kata saqim (sakit). yang berartial ± jamal (baik). 1997.´ b. Sedangm e n u r u t i s t i l a h ( t e r m i n o l o g i ) a d a b e b e r a p a d e f i n i s i o l e h p a r a u l a m a . Hasan Dan Dhaif 1.Beirut. dhabith (kemampuanintelektual) dari oran yang adil dan dhabith pula hingga akhir sanad dantidak mengandung syadz dan illat. XXI [2] [3] Mudasir. A l k h a t h t h a b i : ³Hadits yang diketahui mekhrojnya dan para perawinya terkenal. diantaranya:a .Adapun syahid lafdzi adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Syafi i dari gurunya Malik dari Abdillah bin Dinar dari Abdillah bin Umar dengan lafazd . BAB IIPEMBAHASANE. Pustaka Setia. Ilmu Hadis. Menurut istilah terdapat beberapa definisi. Ahmad bin Muhammad Al Fayyumi. P e n g e r t i a n h ad i t s h as a n Menurut bahasa hasan adalah sifat musyabbihat dari al husn.

ibnu ishaq daria l ± t a y my . demikian itu hingga akhir sanadnyatanpa adanya syadz dan illat.´ T i n g k a t a n H a d i t s H a s a n Sebagaimana hadits shahih. tidak mengandung syadz yan menyalahihadits ± hadits shahih. menguji hafalan dan kekuatan ingatannya. T i n g k a t a n H a d i t s D h a i f Tingkatan hadits dhaif yan paling tinggi yaitu yang diriwayatkan darisahabat ya ng mendengar langsung kemudian dari sahabat ya ng melihat tapit i d a k da p a t m e n d e n ga r n y a . ³kalau saya tidak menjelaskan.kemudian dari orang yang mengutip dari setiap orang Latar Belakang Pentingnya Ilmu Al-Jarh wa At-ta'dil Para ulama sadar sepenuhnya bahwa menunjukkan aib (cacat) orang lain itu dilarang oleh agama akan tetapi jika Al-Jarh ( kritik) tidak dilakukan maka bahaya yang timbul akan lebih besar dan hadis nabi tidak dapat diselamatkan. S et el a h i t u ha d i t s ± ha d i t s ya n g ma s i h di p er s e l i s i h ka n µ u l a ma tentang keshahihan dan kehasanannya. hingga untuk itu mereka tempuh rihlah yang panjang. Kemudian seorang sufi menegurnya. dan kacau hafalannya.A t t i r m i d z i ³Hadits yang diriwayatkan dari dua arah (jalur). kemudian seseorang yang tinggal dengan gurunya. mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap para rawi yang pendusta. bagaimana mungkin dapat dipilah antara yang hak-dengan yang batil´. hadits hasan juga mempunyai tinkatan ± tingkatan sesuai dengan kualitas perawi dalam sanadnya. Tingkatan tertinggihadits hasan adalah hadits yan diriwayatkan oleh bahz bin hakim dari ayahnyadari kakeknya. bersambung sanadnya dengan tanpa berillat dan syadz disebut hadits shahih. Oleh karena itulah para ulama hadis memperhatikan ilmu ini dengan penuh perhatian dan mencurahkan segala pikirannya untuk menguasainya. yang lemah. dan para perawinyatidak ada yang tertuduh dusta. mengapa engkau berbuat ghibah (memperlihatkan aib orang lain). I b n u h a j a r ³Khabar ahad yang dinukilkan melalui perawi yang adil. bahkan kewajibannya karena kebutuhan yang mendesak akan ilmu ini. sempurnaingatannya. menanggung kesulitan yang besar. . k e m u d i a n hadits dari 2 orang pandai. 3 .´ Dari semua definisi di atas maka hadits hasan adalah : ³Hadits yang bersambung sanadnya dengan riwayat orang yang adil dankurang sempurna ke dhabitannya. Seandainya para tokoh kritikus rawi itu tidak mencurahkan segala perhatiaanya dalam masalah ini dengan meneliti keadilan para rawi. Al-Baghdadi mengutip penilaian Ibnul Mubarak atas kebohongan alma¶la ibn Hilal. namun bila kekuatan ingatannya kurang sempurnadisebut hasan lidzatih.´ c . µamir bin syu¶aib dari ayahnya dari kakeknya. seandainya b . k e m u di a n da r i s a ha b a t da r i 2 ma s a . ³Hai Abu Abdir Rahman. Merekapun ber'ijma akan validitasnya. Ibnul Mubarak menjawab.

ditekankan pada format aktivitis kritik. Sejarah Al-jarh wa at-ta'dil dimasa nabi Motif kritik pemberitaan hadist bercorak konfirmasi. Kritik bermotif klarifikasi.bukan usaha mereka. antara lain terbaca pada kronologis kejadian yang diriwayatkan oleh abu Buraidhah tentang seorang pria yang tertolak pinangannya untuk mempersunting wanita Banu Laits. Sejarah al-jarh wa at-ta'dil pada periode sahabat. Tradisi kritik esensi matan hadist dilingkungan sahabat. orangorang zindiq akan berkuasa. 2. tak luput dari reaksi umat untuk mengkritisnya. Kesalahan tidak disengaja. kurang tersosialisasinya aktifitas pencatatan hadist. selain menerapkan kaidah muqaronah antar riwayat berlaku juga kaidah mu'aradah. objek kritik. yakni penyelarasan dan mencari penjelasan lebih kongkrit. salah mempersepsi fakta. Loyalitas berkadar semu bisa mewarnai sikap sebagian sahabat beliau. 1. Faktor luar yang diduga memperbesar kelemahan tersebut adalah : Kelangkaan naskah penghimpun notasi hadist. dan kecenderungan pertimbangan hasilnya. Klarifikasi dan upaya memperoleh testimoni yang target akhirnya menhuji validitas keterpercayaan berita. yakni upaya menjaga kebenaran dan keabsahan berita. dan kekeliruan bentuk lain karena gangguan indra pengamatan adalah hal yang manusiawi. kebijakan kepemimpinan dan pilihan sikap pribadi dalam menjalani kehidupan. dan para dajjal akan bermunculan. Sejarah Timbulnya Ilmu Al-Jarh wa At ta'dil Kedudukan nabi sebagai public figur. Metode . Proses transfer (Pengoperan) informasi hadist dikalangan sesama sahabat nabi cukup berbekal kewaspadaan terhadap kadar akurasi pemberitaan. bertemu langsung dengan subjek narasumber berita serta melibatkan peran aktif pribadi nabi atau rasul SAW. Dan motif kritik pemberitaan (matan hadist) untuk tujuan esensi faktanya dilaksanakan dengan tekhnik investigasi (penyelidikan) dilokasi kejadian. Demikian pula setiap informasi mengenai tahapan pembinaan syari'ah versi hadist. Berikut ini disajikan gambaran singkat sejarah Al-Jarh wa at ta'dil. Kritik bermotif konfirmasi. terbuka asumsi untuk disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Skala kesalahan dalam proses pemberitaan hadist pada periode sahabat cepat terlokalisir dan tereleminir. E. karena adanya tradisi saling menegur dan mengingatkan. niscaya akan menjadi kacau balaulah urusan islam. kemudian motif kritik lain menyerupai upaya testmoni yakni mengusahakan kesaksian dan pembuktian atas sesuatu yang tersinyalir diperbuat oleh nabi SAW.

penilaian kritikus tentang integritas keagamaan atau indikasi tersangkut paham bid'ah. 1. Dapat disimpulkan bahwa metode kritik hadist pada periode sahabat ditekankan pada objek esensi matan hadist. Sedangkan metode mu'arodah merupakan pencocokan konsep yang menjadi muatan pokok setiap matan hadist. Biodata pribadi periwayat hadist yang ditelusuri meliputi: Data kelahiran dan wafatnya.Jarh wa ta'dil Para perawi yang meriwayatkan hadits bukanlah semuanya dalam satu derajat dari segi keadilannya.arodah. tempat tinggal.784 H) telah melibatkan 715 kritikus. Pasca kritik tidak muncul reaksi negatif.muqaronah merupakan perbandingan antar riwayat dari sesama sahabat. Tingkatan ±tingkatan Al. Jadi. Maka Allah menyingkap perbuatannya ini melalui tangan para ulama' yang sempurna pengetahuan mereka. Dengan demikian mekanisme kritik lebih didasarkan pada tujuan meluruskan pemberitaan yang mempertaruhkan nabi atu rasul dan mengkondisikan wawasan keislaman yang ta'at asas. Upaya mewaspadai hadist tersebut telah berlangsung pada periode kehidupan sahabat kecil. Tingkatan-tingkatan Al-Jarh a. hanya sekedar tawaquf (sadar) menerima kenyataan atau menerima koreksi pemberitaan. mobilitas dalam studi hadist. dan hafalan mereka. dan ada pula yang sering lupa dan salah padahal mereka orang yang 'adil dan amanah. 3. para ulama' menetapkan tingkatan Jarh dan Ta'dil. Sejrah Al-Jarh wa'at ta'dil pada periode muhaddisin Fakta pemalsuan hadist-hadist palsu membangkitkan kesadaran muhaddisin untuk melembagakan sanad sebagai alat kontrol periwayatan hadist sekaligus mencermati kecenderungan sikap keagamaan dan politik orang perorang yang menjadi mata rantai riwayat itu. yakni mereka yang masih berada di tengah-tengah umat hingga sekitar tahun 70-80 Hijriah. maka lahirlah kegiatan Jarh ta'dil (mencermati kecacatan pribadi perawi dan keterpujiannya). nama guru dan murid yang diasuh. Kegiatan Jarh ta'dil menurut pengamatan Al-Dzahabi (w.[3] G. Oleh karena itu. Tingkatan Pertama . agar tetap terpelihara keselarasan antar konsep dengan hadist lain dan dengan dalil syari'at yang lain. serta ada juga yang berdusta dalam hadits. ada yang kurang dalam hafalan dan ketepatan. Di antara mereka ada yang hafalannya sempurna. kedlabithannya. Dalam rangka mengimbangi pelembagaan sanad. kadar ketahanan hapalan dan bukti kepemilikan notasi hadist dan penetapan peringkat profesi kehadisannya. dengan kaidah muqaronah antar riwayat dan mu.

atau laisa bi tsiqah (bukan orang yang terpercaya). seperti : "Fulan tidak boleh dijadikan hujjah". atau dengan menggunakan wazan af'ala dengan menggunakan ungkapan-ungkapan seperti : "Fulan kepadanyalah puncak ketepatan dalam periwayatan" atau "Fulan yang paling tepat periwayatan dan ucapannya" atau Fulan orang yang paling kuat hafalan dan ingatannya". atau dajjal. atau "ia adalah puncak dalam kedustaan". (Dikecualikan untuk Ibnu ma'in bahwasannya ungkapan laisa bisyai-in sebagai petunjuk bahwa hadits perawi itu sedikit). dan ini yang paling rendah dalam tingkatan al-jarh seperti : layyinul-hadiits (lemah haditsnya). baik dengan lafadh maupun dengan makna. seperti : "Fulan orang yang paling pembohong". dan ini seburuk-buruk tingkatan. atau "mencuri hadits". atau laisa bi-syai-in (tidak ada apa-apanya). seperti : "Fulan dla'if jiddan (dla'if sekali)". Tingkatan ketiga Yang menunjukkan lemah sekali dan tidak boleh ditulis haditsnya. atau yadla' (dia memalsikan hadits). atau wadldla' (pemalsu hadits). atau "ia mempunyai hadits-hadits identitas/kondisinya). Tingkatan ke Enam Yang menunjukkan adanya dusta yang berlebihan. dan ketepatan periwayatannya. d. atau "tidak ditulis haditsnya". f. atau matruk (yang ditinggalkan). atau "dia rukun kedustaan". atau fiihi maqaal (dirinya diperbincangkan). atau "dla'if. yang munkar". Tingkatan Kedua Dengan menyebutkan sifat yang menguatkan ke-tsiqah-annya. atau "tidak halal periwayatan darinya". atau fiihi dla'fun (padanya ada kelemahan). e. atau yakdzib (dia berbohong). Tingkatan kedua Yang menunjukkan adanya pelemahan terhadap perawi dan tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Sedangkan tingkatan-tingkatan at-ta'dil adalah sebagai berikut: a.Yang menunjukkan adanya kelemahan. Tingkatan ke empat Yang menunjukkan tuduhan dusta atau pemalsua hadits. Tingkatan ke lima Yang menunjukkan sifat dusta atau pemalsu dan semacamnya. ke-'adil-annya. seperti : Fulan muttaham bil-kadzib (dituduh berdusta) atau "dituduh memalsukan hadits". Tingkatan Pertama Yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta'dil-an. b. b. seperti : . seperti : kadzdzab (tukang dusta). atau majhul (tidak diketahui c.

Khusus untuk Ibnu Ma'in kalimat laa ba'sa bihi adalah tsiqah (Ibnu Ma'in dikenal sebagai ahli hadits yang mutasyaddid. dengan tidak lengkap. 2. Kitab-kitab itu antara lain : 1. juz pertama kitab tersebut. atau tsiqatun-tsabt. atau yuktabu hadiitsuhu (ditulis haditsnya). atau tsiqah dan hafidh. ruwiya 'anhul-hadiits (diriwayatkan darinya hadits). mahalluhu ash-shidq (ia tempatnya kejujuran). seperti : Fulan Syaikh (fulan seorang syaikh). atau hasanul-hadiits (yang baik haditsnya). Naskah aslinya diketemukan di Darul Kutub Al Mishriyah. e. Kitab ini termasuk kitab yang pertama sampai kepada kita. yang masih berupa manuschrift (tulisan tangan) berada di darul kutub Adh-dahiriyyah. . atau hafidh. c. Tingkatan Kelima Yang tidak menunjukkan adanya pentsiqahan ataupun celaan. sehingga lafadh yang biasa saja bila ia ucapkan sudah cukup untuk menunjukkan ketsqahan perawi tersebut).tsiqatun-tsiqah. At-tsiqat. seperti : tsiqah. hanya terdiri satu jilid dan hanya menckup beberapa ratus orang rawi. Tingkatan Keempat Yang menunjukkan adanya ke-'adil-an dan kepercayaan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian. d. 3. karya Abu Hatim bin Hibban Al Busthi ( wafat tahun 304 H) perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban ini sangat mudah untuk mengadilkan seorang rawi karena itu hendaklah hati-hati terhadap penta'dilannya. tsabt. atau tsiqah dan terpercaya (ma'mun). Seperti : Shaduq. Para Pakar dan Kitab-kitabnya Para penulis kitab-kitab Al-Jarh wa ta'dil berbeda beda dalam menyusun bukubukunya sebagian ada yang kecil. seperti : Shalihul-Hadiits (haditsnya lumayan). atau laa ba'sa bihi (tidak mengapa dengannya). Tingkatan Keenam Isyarat yang mendekati celaan (jarh). Ma'mun (dipercaya). Ad-dluafa' karya Imam Muhammd bin Ismail Al-Bukhari (194-252 H) Kitb tersebut dicetak di Hindia pada tahun 320 H. Sebagian yang lain menyusunnya menjadi beberapa jilid besar-besar yang mencakup antara 10-20 ribu rijalu sanad. Ma'rifatur Rijal karya Yahya Ibnu Ma'in. f. Tingkatan Ketiga Yang menunjukkan adanya pentsiqahan tanpa adanya penguatan atas hal itu.[4] F.

6. Kitab yang sudah berulang kali dicetak ini dan cetakan yang terkhir di cetak di Mesir pada tahun 1325 H.[5] . 5. mencakup 10. Kitab itu terdiri dari 4 jilid besar-besar yang memuat 1850 orang rawi. Pada tahun 1373 H kitan itu dicetak di India menjadi 9 jilid.zarabi ( 673-748 H) kitab itu terdiri dari 3 jilid setiap rawi biarpun rawi tsiqah diterangkan dan dikemukakan hadisnya sebuah atau beberapa buah yang munkar atau gharib.4. Lisanul Mizan. Kitab itu memuat 14. Ia dicetak di Indiapada tahun 1329-1331 H dalam 6 jilid.907 orang rijalus sanad.343 orang rijalus sanad. Dan terdiri dari 3 jilid. Mizanul I'tidal karya Imam Syamsudin Muhammad Adz. karya Al-Hafidh ibnu Hajar Al-Atsqalani (773-852 H) sudah mencakup isi kitab mizanul i'tidal dengan beberapa tambahan yang penting. Al-Jarhu wa Ta'dil karya Abdurrahman bin Abi Hatim Ar razi (240-326 H) ini merupakan kitab jarh wa ta'dil yang terbesar yang sampai kepada kita dan ayng sangat besar kaidahnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful