PENGEMBANGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI PADA SISTEM BUDIDAYA BAWANG MERAH (Kajian pengendalian Spodoptera exigua Hubn.

melalui pengelolaan habitat ) Tarmizi1), Siti Rasminah, Yogi Sugito dan Gatot Mudjiono2) 1) Fakultas Pertanin UNRAM 2) Fakultas Pertanian UNIBRAW ABSTRAK
Bawang merah merupakan salah satu komoditi potensial untuk agribisnis industrial pedesaan di NTB, meskipun luas areal tanam dari tahun ketahun cendrung menurun disebabkan seriusnya kendala biologi yang berdampak pada tingginya biaya produksi. Hal ini kemudian membentuk karakter agroekosistem konvensional (convensional agroecosystem) dimana dalam mempertahankan produksi rata-rata tinggi sangat tergantung pada teknologi agrokimia serta alterntif manipulasi sistem budidaya yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil. Inovasi teknologi budidaya tanaman yang kondusif akan memberi dampak positif terhadap keberlanjutan industrial pedesaan, baik dari aspek ekologi dan ekonomi maupun budaya. Ketidak sesuaian teknologi yang ditawarkan acapkali justru menimbulkan masalah baru yang lebih rumit bagi petani. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah tersusunnya ”Standar Prosedur Operasional (SOP)” budidaya bawang merah yang berbasis ekologi (karakteristik agroekosistem Pulau Lombok) guna menunjang program pertanian berkelanjutan. Target khusus yang ingin dicapai adalah meningkatnya komunitas fauna pada areal budidaya bawang merah yang secara alami mampu untuk menstimulasi fungsi pengendalian hayati. Metode yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut yaitu menerapkan budidaya Bawang merah dengan pengelolaan input energi internal melalui penerapan PHT. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok , petak percobaan terbagi dalam set-set petak perlakuan. Perlakuan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor tipe Pola Tanam (Pt) , terdiri dari: Pt1 ( Padi – Padi – Bawang merah monokultur), Pt-2 ( Padi – Legum – Bawang Merah polikultur ); faktor tipe Teknologi Budidaya (Tb) terdiri dari:Tb-1 (Aplikasi Konsep PHT), Tb-2 (Cara Konvensional). Penelitian menggunakan metode eksplorasi , yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah di petak-petak percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pola tanam Padi-Legum-Bawang, memiliki tingkat keragaman banyak yang lebih tinggi dengan intensitas gangguan Hama S. exigua Hubn. yang lebih rendah. Keberadan predator generalis secara konsisten di dua musim tanam adalah dari kelompok Coleoptera, Arachnida , Odonata dan Orthoptera.. Kata kunci : Bawang merah, agribisnis, industrial pedesaan, karakteristik agroekosistem

PENDAHULUAN Bawang merah merupakan salah satu komoditi penting sayuran dataran rendah, yang memiliki peranan yang berarti dalam turut meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah di Indonesia. Bawang merah dengan multifungsinya yakni sebagai rempah seperti bumbu masak, bahan ramuan obat tradisional, sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral-mineral penting bagi kesehatan tubuh, telah menempatkan posisinya sebagai komoditi strategis. Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu sentra produksi untuk wilayah Indonesia bagian timur, dengan luas areal mencapai 9986 ha yang tersebar di hampir seluruh kabupaten (Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat, SP. II A. 2004). Adanya berbagai faktor kendala dalam pengembangan maka produksi ratarata baru mencapai 3,71-5 ton/ha , masih tergolong rendah dibanding dengan potensi produksi Nasional antara 7,4 -10,9 ton/ha umbi kering . Hama Spodopera exigua Hubn, masih merupakan organisme pengganggu yang menimbulkan kerugian pada petani bawang di Pulau Lombok. Terjadi peningkatan luas serangan dari 792,05 ha tahun 2002 menjadi 1034,45 ha tahun 2004 dan turun menjadi 536,15 ha tahun 2005, dengan tingkat serangan mencapai 65%. Dalam keadaan khusus, pada sistem pengendalian yang kurang intensif kerugian bisa melampaui 65% bahkan gagal panen. Untuk mengatasi masalah tersebut oleh petani dilakukan pengendalian yang lebih banyak mengandalkan cara kimiawi (insektisida) karena adanya kepastian hasil dan efektif. Meskipun pada kenyataannya pengendalian kimia sering tidak mampu menyelesaikan permasalahan seperti yang diharapkan. Rendahnya produksi bawang merah dan berkesinambungannya gangguan hama S. exigua Hubn di Pulau Lombok diduga sebagai pengaruh penerapan teknologi budidaya yang tidak mampu lagi memberi lingkungan fisik , kimia dan biotik yang kondusif bagi pertumbuhan optimal bawang merah, sebagai akibat tingginya suplai agrochemikal dari luar usahatani yang telah menimbulkan instabilitas dalam ekosistem budidaya. Teknologi ini telah membentuk agroekosistem konvesianal (convensional agroekosystem) dimana dalam mempertahankan produksi rata-rata tinggi sangat tergantung dari masukan bahan kimia pertanian serta

inang dan lingkungan.alternatif manipulasi sistem yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil dalam satuan waktu dan luas. cabe rawit. seharusnya merupakan landasan utama untuk menyusun strategi pengendalian gangguan hama dan penyakit dalam praktek budidaya (Brown. 1. Disamping itu Magurran (1988) mengemukakan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peluang yang besar untuk menstabilkan komunitas serangga dalam suatu agroekosistem dengan cara merancang komposisi tanaman yang mendukung populasi musuh alami. padi Ciherang baru (IR64). 1991. Swift and Anderson (1993) mengemukakan bahwa keragaman merupakan prinsip lingkungan yang dapat diterapkan dalam kerangka perlindungan tanaman. Kunci untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan adalah mengubah sistem pertanian konvensional yang memiliki ketergantungan kuat pada masukan energi dari luar usahatani. yang memiliki arti dalam meningkatkan kesetabilan dan keberlanjutan ekosistem. 1996). Hubungan timbal balik antar berbagai komponen biotik dan abiotik yang terjadi di dalam agroekosistem.1 : Padi – Padi – Bawang Merah Pt-2 : Padi – Legum – Bawang Merah 2. Tidak terkecuali hal ini telah terjadi pada kawasan sentra produksi bawang merah di Pulau Lombok.1% yang ditambahkan gliserin (untuk pengawetan spesimen terkoleksi). Asumsi dasar adanya gangguan hama adalah tidak harmonisnya hubungan faktor serangga. 1984. 1982 dalam Sutanto. Altieri dan Letoumeau. Faktor tipe pola tanam (Pt). terdiri dari: Tb-1 : Aplikasi Konsep PHT Tb-2 : Cara Konvensional . dan penanganan secara parsial atau cara tunggal justru akan memperlemah komponen yang lain. Andow. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. maka diperlukan inventarisasi teknologi pertanian alternatif yang mampu mempertahankan dan menjamin keanekaragaman serta meningkatkan produksi dengan dampak lingkungan seminimal mungkin. dan jerami padi untuk mulsa. Faktor tipe teknologi budidaya dan pengendalian (Tb). Adanya gangguan hama sesungguhnya merupakan ekspresi tidak terjadinya hubungan yang harmonis antara satu atau lebih faktor yang ada dalam agroekosistem itu. menuju ke sistem pertanian yang mampu mengembangkan dan mengkonservasi bekerjanya komponen-komponen ekosistem baik fisik maupun biotik secara internal. 1983 dalam Sutanto 2002). terdiri dari: Pt. telah menimbulkan masalah lingkungan yang lebih rumit. mampu mengkonservasi dan mempertahankan produktivitas lahan. Dalam suatu ekosistem alami. Rich. 2002). Perubahan salah satu faktor akan memberi makna terhadap faktor lain dan berkontribusi pada derajat gangguan hama (Price. kontaminasi terhadap tanaman pokok itu sendiri. fungsi pengaturan yang terjadi merupakan produk keragaman. Schowalter 1996 dan Mudjiono. petak percobaan terbagi dalam set-set petak perlakuan. seperti budidaya tunggal (monokultur) telah menjadi pilihan sebagian besar petani. TSP dan KCL (untuk petak kontrol cara konvensional). interaksi dan saling ketergantungan antara komponen ekosistem. kedelai varietas Wilis. secara konsepsual tidak memihak pada azas-azas ekologi yang berkelanjutan atau berada di luar pemahaman ekologi. Keragaman adalah fungsi kesetabilan. dan hama menjadi wabah hanya pada tingkat populasi dimana faktor biotik dan abiotik tidak mampu menghalangi perkembangannya. resurgensi dan terbunuhnya organisme non target. 1975. Teknologi pengendalian secara kimia dan pola tanam yang diterapkan. pupuk organik (siap pakai) dan anorganik ZA. Perlakuan terdiri dari dua faktor. alkohol dan larutan deterjen 0. Hasil penelitian berbasis agroekosistem menunjukkan bahwa keragaman dapat digunakan untuk memperbaiki pengendalian hama dan penyakit (Altieri and Letourneau. BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan adalah Bawang merah varietas Ampenan. penurunan keseimbangan biologi agroekosistem karena terjadinya resistensi. Ketidak bijakan dalam penerapan teknologi ini. 1985. yaitu ekosistem yang berbasis pada keragaman. Altieri dan Nichols (2004) mengemukakan bahwa derajat management ekosistem dan praktek budidaya akan berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama.

Penelitian tahap ketiga Penelitian dilakukan pada musim tanam palawija periode Juni-September 2007.25 m x 10 m. K2O 0. N-NO3 0. exigua Hubn.19% (N-organik 0. dengan interval waktu 5 hari.63% dan kadar air 19. di awal pertumbuhan bawang merah mengingat kepekaan bawang merah terhadap gangguan S. Pupuk TSP dengan SP-36 75 kg per hektar diberikan bersamaan dengan saat pemberian urea awal. Petak perlakuan masing-masing berukuran 10 m x 10 m.45%. sedangkan cara konvensional adalah adaptasi cara petani (penggunaan pupuk anorganik dan pestisida untuk pengelolaan hama). Pelaksanaan Penelitian 1. Konsep PHT diterapkan dengan format yang sama seperti pada penelitian tahap pertama. diolah sebanyak satu kali dan secara bersamaan diberikan pupuk organik dosis 4 ton per hektar berkadar N total 1.06%). 3. Di antara bawang pada jarak 40 cm di tanam satu pohon cabe rawit dalam satu baris dengan jarak tanam 40 cm. 2. Tanaman cabe dan kedelai di tanam 1 bulan lebih awal dari tanaman bawang. . Pada sisi guludan (melingkar mengikuti bentuk guludan) ditanam kedelai sebanyak 2 benih perlubang. Masing-masing percobaan di ulang 5 (lima) kali.Penelitian menggunakan metode eksplorasi.92%. exigua Hubn. yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah di petak-petak percobaan. Pengambilan sampel menggunakan metode nisbi. Pengelolaan habitat pada penelitian tahap 2 merupakan lanjutan dari pengelolaan habitat pada penelitian tahap 1 dengan penambahan pola tanam legum (kacang hijau) yang di tanam dengan jarak 40cm x 15cm. Pada petak percobaan legum cara konvensional kacang hijau ditanam dengan jarak 40 cm x 15 cm.90%. Untuk metode nisbi alat perangkap (trapping) dilatakkan secara menyebar pada titik-titik dan perpotongan garis diagonal pada setiap petak perlakuan. Dalam setiap petak selanjutnya dibuat guludan dengan ukuran 1. Penelitian dilakukan pada musim tanam padi periode Oktober – januari 2006.86%. Pengamatan terhadap keragaan komunitas fauna (Arthropoda parasitoid dan predator) dilakukan satu minggu setelah tanam. 1/3 dosis diberikan satu minggu setelah tanam dan 1/3 satu bulan setelah tanam. Tanaman percobaan ditata dalam polikultur antara Bawang merah varietas Ampenan dengan jarak tanam 15 cm x 20 cm sebanyak satu bibit perlubang. C organik 14. Paket PHT meliputi pengolahan tanah minimum. Tanah diolah satu kali kemudian di petak dengan ukuran 10 m x 10 m.21%. hal ini dimaksudkan untuk memberi efek ”trapping” dan ”repellent” terhadap musuh alami dan hama S. penggunaan pupuk organik dan pengendalian alami dalam pengelolaan hama. Penelitian tahap kedua Penelitian dilakukan pada musim tanam padi periode Februari-Mei 2007. N-NH4 0. pupuk urea dosis 50 kg per hektar dan pupuk TSP dengan SP-36 dosis 75 kg per hektar diberikan secara bersamaan pada saat tanam. Sedangkan pada cara konvensional sebelum tanam diberikan pupuk urea 1/3 (satu pertiga) dari dosis 245 kg per hektar. C/N ratio 15:1. Penelitian tahap pertama. P2O5 3.

rumah) Parasitoid Predator (cocopet) Scavenger Hama (hama putih) Hama Hama Hama Predator (Semut Hitam) Parasitoid Predator (Semut merah) Predator Parasitoid Hama Hama Hama Hama Hama Hama (serangga noctural) Hama Polinator Pemangsa Hama Hama Predator (capung) Hama (belalang hijau) Hama (jangkrik) Hama (gangsir) Hama (jangkrik tanah) Hama (belalang coklat) Hama (jangkrik kecil) Scavenger Hama dan predator Thrips tabaci (hama pada bawang merah) 3. Diplopoda Glomerida Polydesmida Spirobolida Collembola Suku Linyphidae Oxyopidae Salticidae Tetranychidae Trombiculidae Glomeridae Polydesmidae Spirobolidae Hypogasturidae Isotomidae Onychiuridae Sminthuridae Carabidae Cicindelidae Coccinellidae Lampyridae Agromyzidae Asilidae Culcidae Drosophilidae Muscidae Tachinidae Carcinophoridae Glomeridae Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Flatidae Formicinae Ichneumonidae Myrmicinae Spesidae Trichogramatidae Reduviidae Pentatomidae Coreidae Alydidae Rhopalidae Noctuidae Pyralidae Spingidae Cordullidae Cyrtacanthacridinae Gryllinae Gryllotalpidae Nemobinae Oedopodinae Tridactylidae Merothripidae Phlaeothripidae Thripidae Status/Fungsi Predator Predator Predator Predator Predator (tungau) Scavenger Scavenger Scavenger (Kaki seribu) Scavenger Scavenger Scavenger Scavenger Predator (Kmb. Kubah) Predator (kunang-kunang) Hama Predator Predator (nyamuk) Scavenger (lalat buah) Scavenger (Ll. Kelas Arachnida Bangsa Araneae Acari 2. Hexapoda Coleoptera Diptera Dermaptera Glomerida Homoptera Hymenoptera Hemiptera Lepidoptera Odonata Orthoptera Thysnoptera . tanah) Predator (Kmb. Keanekaragaman Komunitas Fauna di Petak PHT Berbasis LEISA. 1. No.HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Macan) Predator (Kmb.

LEISA adalah suatu konsep budidaya yang berhajat meminimasi masukan energi agrokemikal dari luar usahatani. mampu meningkatkan keanekaragaman spesies pengendali alami dan menurunkan kepadatan populasi hama dan penyakit. No. tetapi lebih banyak memanfaatkan kekuatan alam dalam proses budidaya. termasuk menstimulasi kehadiram pengendali hayati (Alltieri dan Nicholls . tanah) Predator (Kmb. rumah) Parasitoid Hama (hama putih) Hama Hama Hama Predator (Semut Hitam) Parasitoid Predator (Semut merah) Predator Prasitoid Pemangsa Hama Hama Hama (serangga noctural) Hama Predator (capung) Hama (belalang hijau) Hama (jangkrik) Hama (jangkrik tanah) Hama (belalang coklat) Thrips tabaci (hama pada bawang merah) 2. penggunaan pupuk kimia dan pestisida akan menurunkan keanekaragaman pengendali alami dan peningkatan populasi penyebab hama dan penyakit. air dan bahan organik baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan yang telah mati (Sutanto. Keanekaragaman Komunitas Fauna di Petak Konvensional Sampai pada Minggu ke Empat Penelitian Tahap 3. Diplopoda Hexapoda Glomerida Polydesmida Coleoptera Diptera Homoptera Hymenoptera Hemiptera Lepidoptera Odonata Orthoptera Thysnoptera Pada petak PHT terdapat 46 suku sedangkan pada petak konvensional 32 suku dengan Tingkat kerusakan rata-rata pada petak PHT 12.27 % dan pada petak konvensional 23. Kubah) Hama Predator Predator (nyamuk) Scavenger (lalat buah) Scavenger (Ll. rotasi tanaman. monokultur . terkait dengan itu Altieri dan Nichols (2004) memberi gambaran tentang pengaruh managemen ekosistem terhadap keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama. 2002). Sebaliknya dengan pengelolaan habitat melalui diversivikasi seperti policultur. 2004). POLIKULTUR dengan mengkombinasikan beberapa komoditi mamiliki potensi menciptakan keragaman fauna dengan jaring makanan yang lebih komplek. Oleh karena itu untuk menuju sistem pengendalian hama berkelanjutan kedua konsep tersebut di atas dapat dirancang menjadi suatu pola pengelolaan serangg hama. praktek budidaya secara konvensional seperti pengolahan tanah yang intensif. Penerapan tatatanam polikultur pada cara PHT mampu menghadirkan keanekaragaman komunitas fauna dengan keragaman jenis musuh alami yang lebih tinggi. 3. pemulsaan dan penanaman pagar tanaman diikuti oleh managemen pupuk organik yang baik serta pengolahan tanah minimum dan praktis (mengikuti konsep LEISA). Kemudian . dengan memanfaatkan secara maksimal cahaya.Tabel 2. 1.43% . Macan) Predator (Kmb. Kelas Arachnida Bangsa Araneae Suku Linyphidae Oxyopidae Salticidae Glomeridae Polydesmidae Carabidae Cicindelidae Coccinellidae Agromyzidae Asilidae Culcidae Drosophilidae Muscidae Tachinidae Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Flatidae Formicinae Ichneumonidae Myrmicinae Spesidae Trichogramatidae Reduviidae Pentatomidae Coreidae Noctuidae Pyralidae Cordullidae Cyrtacanthacridinae Gryllinae Nemobinae Oedopodinae Phlaeothripidae Thripidae Status/Fungsi Predator Predator Predator Scavenger Scavenger Predator (Kmb.

179 P. R. Shatla. Walton. Sydney. A. A. Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Principles of Plant Infection. Plant Protection. and C. 1988. Cambrige. hilangnya serangga dan burung predator karena kurangnya habitat. Biodiversity and Pest Management in Agroecosystems.A. New York. 236 p. A.P. Inceton University Press. Azis. 10 p Binns. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan. 2000. M.R. 1980. 93p Pedigo.F. Periode kritis bawang merah (Allium ascalonicum) . Van Der. 1996. Kerr. Bogor. 180 p Brown. E. Anwar.Singh (2004) secara teknis memperkenalkan istilah Farmscaping untuk pengelolaan usahatani yang bertujuan meningkatkan dan mengatur keanekaragaman atau biodiversity guna memelihara keberadaan organisme yang menguntungkan .H. Analyses in Insect Ecology and Management. Insect Ecology. Karena adanya persaingan dengan gulma dan pemberian pupuk kandang. Princeton. Pengaturan pola dan tatatanam mampu membangun kenekaragaman komunitas fauna dan menstimulasi bekerjanya pengendalian alami. M. 1989. Pola tanam padi-Legum dan penerapan konsep PHT berbasis LEISA dapat menjaga eksistensi musuh alami generalis potensial terutama dari bangsa Coleoptera.N. 2000. seperti pergeseran inang serangga dari tumbuhan ke tanaman pertanian. 387 p. Morgan and I.A. stabilitas dan keindahan dari mahluk hidup. Oleh karena itu bagaimana menarik perhatian dan memelihara musuh alami dalam praktek usahatani merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan habitat. 279 p Bosch. pengaturan tanaman pelindung. Price. Nicholls. Nawangsih. Biological Control. F. and W. melalui pengaturan tanaman yang memiliki polen yang menarik serangga.I. Sampling and Monitoring in Crop Protection. Phytophathologiche Zeitschrift 100 p Altieri. penggunaan penutup tanah. Jakarta.P. Hubungan Timbal Balik Serangga-Tumbuhan.London. 1973. KESIMPULAN 1. menjaga kesuburan tanah dan reservoir air.. A. J. John Wiley & Sons. Farmscaping memeliki cara pandang baru terhadap lahan pertanian sebagai habitat alam dan bahwa lahan itu adalah suatu organisme. P 1-107. Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. J.El Moity. UK at University Press.. A. S. 186 p Haryaksono. dimana di dalamnya terjadi interaksi berbagai faktor termasuk antar berbagai jenis tanaman. Eksistensi musuh alami generalis dari musim kemusim berpengaruh positif terhadap tingkat gangguan hama utama bawang merah Spodoptera exigua Hubn. New jersey. R. Ecological diversity and Its Measurement. Mujiono. A. Tesis S-2 UGM. Method in Ecological and Agricultural Entomology. Biological Control of White Rot Disease of Onion (Sclerotium cepivorum) by Trichoderma harzianum . 80 p Magurran. 2004. Intext Educational Publishers. Toronto. D. Press etching Pty Ltd. Makalah Palsafah Sain.E. Iowa State University Press/Ames.V. 1996. P.511 p . DAFTAR PUSTAKA Abd. Akademic Press New York.. 132 p __________ 1998.S. Van Der Werf.. New York. And M. H. Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. 1981. G. Odonata dan Orthoptera. Aldo Leopod dalam Singh (2004) mengemukakan sesuatu adalah benar ketika dia memelihara integritas . The Theoritical Basis for Development Practical Decision Guaides. Food Products Press.W.D. Dent. Nyrop.R. 3. P. Messenger . L. IPB. 2. Parbery. Berkurangnya keragaman tanaman dapat mempengaruhi usahatani dalam berbagai tingkat. Arachnida .P. 168 p Plank. J. 1975. and M. Zeiss. 1997. Brisbane. 1975. Pelestarian Keragaman Hayati. CABI Publishing. 1983. Ekologi serangga.D.

Academic Press. E.M. Fak. 1999.D. 52p. Tarmizi. A.). San Diego. 2004. Identifikasi Parasitoid Telur Hama S. Sudomo. 483 P. Mudjiono dan M. exigua Hubn. 61p. (2000). Unibraw.cog. Tarmizi. 91p. B. K. www. Bandung. 56-57 Srimuliani. Insectt Ecology an Ecosystem Approach.M. 1997.Wirasyamsi dan R. Tesis Magister .ca. Untung..C. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. F. . 521 p. Peter. Studi Beberapa Cultivar Cabe Sebagai ”Insect Repellent” Terhadap Hama S. The Canadian Organic Grower. Wasington D. Iswati. exigua Hubn. Supeno dan Tarmizi. Singh. T. Farming With Nature in Mind. pada Sentra Produksi Bawang Merah Lombok Timur. Av. P. 1996. Santoso. Biodiversity.O. di Sentra Produksi Bawang Merah Lombok. National Academy Press. exigua Hubn. 13p Wilson.Schowalter. Simposium Entomologi. Penggunaan Kelompok Telur Sebagai Dasar Penilaian Ambang Ekonomi Hama S. 2003.Pertanian Universitas Mataram. . 2000. G. Pengelolaan Serangga Secara Berkelanjutan. (Lep:Noctuidae) pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L. Malang. Farmscaping.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful