PENGEMBANGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI PADA SISTEM BUDIDAYA BAWANG MERAH (Kajian pengendalian Spodoptera exigua Hubn.

melalui pengelolaan habitat ) Tarmizi1), Siti Rasminah, Yogi Sugito dan Gatot Mudjiono2) 1) Fakultas Pertanin UNRAM 2) Fakultas Pertanian UNIBRAW ABSTRAK
Bawang merah merupakan salah satu komoditi potensial untuk agribisnis industrial pedesaan di NTB, meskipun luas areal tanam dari tahun ketahun cendrung menurun disebabkan seriusnya kendala biologi yang berdampak pada tingginya biaya produksi. Hal ini kemudian membentuk karakter agroekosistem konvensional (convensional agroecosystem) dimana dalam mempertahankan produksi rata-rata tinggi sangat tergantung pada teknologi agrokimia serta alterntif manipulasi sistem budidaya yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil. Inovasi teknologi budidaya tanaman yang kondusif akan memberi dampak positif terhadap keberlanjutan industrial pedesaan, baik dari aspek ekologi dan ekonomi maupun budaya. Ketidak sesuaian teknologi yang ditawarkan acapkali justru menimbulkan masalah baru yang lebih rumit bagi petani. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah tersusunnya ”Standar Prosedur Operasional (SOP)” budidaya bawang merah yang berbasis ekologi (karakteristik agroekosistem Pulau Lombok) guna menunjang program pertanian berkelanjutan. Target khusus yang ingin dicapai adalah meningkatnya komunitas fauna pada areal budidaya bawang merah yang secara alami mampu untuk menstimulasi fungsi pengendalian hayati. Metode yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut yaitu menerapkan budidaya Bawang merah dengan pengelolaan input energi internal melalui penerapan PHT. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok , petak percobaan terbagi dalam set-set petak perlakuan. Perlakuan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor tipe Pola Tanam (Pt) , terdiri dari: Pt1 ( Padi – Padi – Bawang merah monokultur), Pt-2 ( Padi – Legum – Bawang Merah polikultur ); faktor tipe Teknologi Budidaya (Tb) terdiri dari:Tb-1 (Aplikasi Konsep PHT), Tb-2 (Cara Konvensional). Penelitian menggunakan metode eksplorasi , yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah di petak-petak percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pola tanam Padi-Legum-Bawang, memiliki tingkat keragaman banyak yang lebih tinggi dengan intensitas gangguan Hama S. exigua Hubn. yang lebih rendah. Keberadan predator generalis secara konsisten di dua musim tanam adalah dari kelompok Coleoptera, Arachnida , Odonata dan Orthoptera.. Kata kunci : Bawang merah, agribisnis, industrial pedesaan, karakteristik agroekosistem

PENDAHULUAN Bawang merah merupakan salah satu komoditi penting sayuran dataran rendah, yang memiliki peranan yang berarti dalam turut meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah di Indonesia. Bawang merah dengan multifungsinya yakni sebagai rempah seperti bumbu masak, bahan ramuan obat tradisional, sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral-mineral penting bagi kesehatan tubuh, telah menempatkan posisinya sebagai komoditi strategis. Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu sentra produksi untuk wilayah Indonesia bagian timur, dengan luas areal mencapai 9986 ha yang tersebar di hampir seluruh kabupaten (Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat, SP. II A. 2004). Adanya berbagai faktor kendala dalam pengembangan maka produksi ratarata baru mencapai 3,71-5 ton/ha , masih tergolong rendah dibanding dengan potensi produksi Nasional antara 7,4 -10,9 ton/ha umbi kering . Hama Spodopera exigua Hubn, masih merupakan organisme pengganggu yang menimbulkan kerugian pada petani bawang di Pulau Lombok. Terjadi peningkatan luas serangan dari 792,05 ha tahun 2002 menjadi 1034,45 ha tahun 2004 dan turun menjadi 536,15 ha tahun 2005, dengan tingkat serangan mencapai 65%. Dalam keadaan khusus, pada sistem pengendalian yang kurang intensif kerugian bisa melampaui 65% bahkan gagal panen. Untuk mengatasi masalah tersebut oleh petani dilakukan pengendalian yang lebih banyak mengandalkan cara kimiawi (insektisida) karena adanya kepastian hasil dan efektif. Meskipun pada kenyataannya pengendalian kimia sering tidak mampu menyelesaikan permasalahan seperti yang diharapkan. Rendahnya produksi bawang merah dan berkesinambungannya gangguan hama S. exigua Hubn di Pulau Lombok diduga sebagai pengaruh penerapan teknologi budidaya yang tidak mampu lagi memberi lingkungan fisik , kimia dan biotik yang kondusif bagi pertumbuhan optimal bawang merah, sebagai akibat tingginya suplai agrochemikal dari luar usahatani yang telah menimbulkan instabilitas dalam ekosistem budidaya. Teknologi ini telah membentuk agroekosistem konvesianal (convensional agroekosystem) dimana dalam mempertahankan produksi rata-rata tinggi sangat tergantung dari masukan bahan kimia pertanian serta

Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Ketidak bijakan dalam penerapan teknologi ini. seharusnya merupakan landasan utama untuk menyusun strategi pengendalian gangguan hama dan penyakit dalam praktek budidaya (Brown. dan hama menjadi wabah hanya pada tingkat populasi dimana faktor biotik dan abiotik tidak mampu menghalangi perkembangannya. 1975. 1. cabe rawit. Asumsi dasar adanya gangguan hama adalah tidak harmonisnya hubungan faktor serangga. Swift and Anderson (1993) mengemukakan bahwa keragaman merupakan prinsip lingkungan yang dapat diterapkan dalam kerangka perlindungan tanaman. terdiri dari: Pt. Disamping itu Magurran (1988) mengemukakan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peluang yang besar untuk menstabilkan komunitas serangga dalam suatu agroekosistem dengan cara merancang komposisi tanaman yang mendukung populasi musuh alami. secara konsepsual tidak memihak pada azas-azas ekologi yang berkelanjutan atau berada di luar pemahaman ekologi. petak percobaan terbagi dalam set-set petak perlakuan. Tidak terkecuali hal ini telah terjadi pada kawasan sentra produksi bawang merah di Pulau Lombok. 1996). maka diperlukan inventarisasi teknologi pertanian alternatif yang mampu mempertahankan dan menjamin keanekaragaman serta meningkatkan produksi dengan dampak lingkungan seminimal mungkin. inang dan lingkungan. Altieri dan Nichols (2004) mengemukakan bahwa derajat management ekosistem dan praktek budidaya akan berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama. dan penanganan secara parsial atau cara tunggal justru akan memperlemah komponen yang lain. Altieri dan Letoumeau. mampu mengkonservasi dan mempertahankan produktivitas lahan. kedelai varietas Wilis. seperti budidaya tunggal (monokultur) telah menjadi pilihan sebagian besar petani. terdiri dari: Tb-1 : Aplikasi Konsep PHT Tb-2 : Cara Konvensional .1 : Padi – Padi – Bawang Merah Pt-2 : Padi – Legum – Bawang Merah 2. 1983 dalam Sutanto 2002). pupuk organik (siap pakai) dan anorganik ZA. Perlakuan terdiri dari dua faktor. Perubahan salah satu faktor akan memberi makna terhadap faktor lain dan berkontribusi pada derajat gangguan hama (Price. TSP dan KCL (untuk petak kontrol cara konvensional). Faktor tipe pola tanam (Pt). BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan adalah Bawang merah varietas Ampenan.alternatif manipulasi sistem yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil dalam satuan waktu dan luas. Faktor tipe teknologi budidaya dan pengendalian (Tb). Keragaman adalah fungsi kesetabilan. Adanya gangguan hama sesungguhnya merupakan ekspresi tidak terjadinya hubungan yang harmonis antara satu atau lebih faktor yang ada dalam agroekosistem itu. Teknologi pengendalian secara kimia dan pola tanam yang diterapkan. telah menimbulkan masalah lingkungan yang lebih rumit. dan jerami padi untuk mulsa. alkohol dan larutan deterjen 0. Kunci untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan adalah mengubah sistem pertanian konvensional yang memiliki ketergantungan kuat pada masukan energi dari luar usahatani. penurunan keseimbangan biologi agroekosistem karena terjadinya resistensi. kontaminasi terhadap tanaman pokok itu sendiri. interaksi dan saling ketergantungan antara komponen ekosistem. Hasil penelitian berbasis agroekosistem menunjukkan bahwa keragaman dapat digunakan untuk memperbaiki pengendalian hama dan penyakit (Altieri and Letourneau. Dalam suatu ekosistem alami. Andow. Hubungan timbal balik antar berbagai komponen biotik dan abiotik yang terjadi di dalam agroekosistem. yang memiliki arti dalam meningkatkan kesetabilan dan keberlanjutan ekosistem. fungsi pengaturan yang terjadi merupakan produk keragaman. Rich. 1991.1% yang ditambahkan gliserin (untuk pengawetan spesimen terkoleksi). 1985. padi Ciherang baru (IR64). 1984. yaitu ekosistem yang berbasis pada keragaman. 2002). resurgensi dan terbunuhnya organisme non target. Schowalter 1996 dan Mudjiono. 1982 dalam Sutanto. menuju ke sistem pertanian yang mampu mengembangkan dan mengkonservasi bekerjanya komponen-komponen ekosistem baik fisik maupun biotik secara internal.

25 m x 10 m. Masing-masing percobaan di ulang 5 (lima) kali. yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah di petak-petak percobaan. Pada petak percobaan legum cara konvensional kacang hijau ditanam dengan jarak 40 cm x 15 cm. Tanah diolah satu kali kemudian di petak dengan ukuran 10 m x 10 m. C organik 14. Pupuk TSP dengan SP-36 75 kg per hektar diberikan bersamaan dengan saat pemberian urea awal.21%. 1/3 dosis diberikan satu minggu setelah tanam dan 1/3 satu bulan setelah tanam. diolah sebanyak satu kali dan secara bersamaan diberikan pupuk organik dosis 4 ton per hektar berkadar N total 1. Petak perlakuan masing-masing berukuran 10 m x 10 m. sedangkan cara konvensional adalah adaptasi cara petani (penggunaan pupuk anorganik dan pestisida untuk pengelolaan hama). Paket PHT meliputi pengolahan tanah minimum. exigua Hubn.90%. di awal pertumbuhan bawang merah mengingat kepekaan bawang merah terhadap gangguan S. .45%. Pengambilan sampel menggunakan metode nisbi. Pengamatan terhadap keragaan komunitas fauna (Arthropoda parasitoid dan predator) dilakukan satu minggu setelah tanam. Penelitian tahap kedua Penelitian dilakukan pada musim tanam padi periode Februari-Mei 2007. Konsep PHT diterapkan dengan format yang sama seperti pada penelitian tahap pertama. N-NO3 0. exigua Hubn.Penelitian menggunakan metode eksplorasi.19% (N-organik 0. P2O5 3. penggunaan pupuk organik dan pengendalian alami dalam pengelolaan hama. C/N ratio 15:1. Pengelolaan habitat pada penelitian tahap 2 merupakan lanjutan dari pengelolaan habitat pada penelitian tahap 1 dengan penambahan pola tanam legum (kacang hijau) yang di tanam dengan jarak 40cm x 15cm. hal ini dimaksudkan untuk memberi efek ”trapping” dan ”repellent” terhadap musuh alami dan hama S. Sedangkan pada cara konvensional sebelum tanam diberikan pupuk urea 1/3 (satu pertiga) dari dosis 245 kg per hektar. Penelitian tahap pertama. Di antara bawang pada jarak 40 cm di tanam satu pohon cabe rawit dalam satu baris dengan jarak tanam 40 cm.92%. Penelitian dilakukan pada musim tanam padi periode Oktober – januari 2006. Penelitian tahap ketiga Penelitian dilakukan pada musim tanam palawija periode Juni-September 2007. Pelaksanaan Penelitian 1. Untuk metode nisbi alat perangkap (trapping) dilatakkan secara menyebar pada titik-titik dan perpotongan garis diagonal pada setiap petak perlakuan. dengan interval waktu 5 hari. Dalam setiap petak selanjutnya dibuat guludan dengan ukuran 1.63% dan kadar air 19.86%. 3.06%). Tanaman percobaan ditata dalam polikultur antara Bawang merah varietas Ampenan dengan jarak tanam 15 cm x 20 cm sebanyak satu bibit perlubang. Tanaman cabe dan kedelai di tanam 1 bulan lebih awal dari tanaman bawang. 2. K2O 0. Pada sisi guludan (melingkar mengikuti bentuk guludan) ditanam kedelai sebanyak 2 benih perlubang. pupuk urea dosis 50 kg per hektar dan pupuk TSP dengan SP-36 dosis 75 kg per hektar diberikan secara bersamaan pada saat tanam. N-NH4 0.

Kubah) Predator (kunang-kunang) Hama Predator Predator (nyamuk) Scavenger (lalat buah) Scavenger (Ll. Hexapoda Coleoptera Diptera Dermaptera Glomerida Homoptera Hymenoptera Hemiptera Lepidoptera Odonata Orthoptera Thysnoptera . tanah) Predator (Kmb. No. rumah) Parasitoid Predator (cocopet) Scavenger Hama (hama putih) Hama Hama Hama Predator (Semut Hitam) Parasitoid Predator (Semut merah) Predator Parasitoid Hama Hama Hama Hama Hama Hama (serangga noctural) Hama Polinator Pemangsa Hama Hama Predator (capung) Hama (belalang hijau) Hama (jangkrik) Hama (gangsir) Hama (jangkrik tanah) Hama (belalang coklat) Hama (jangkrik kecil) Scavenger Hama dan predator Thrips tabaci (hama pada bawang merah) 3. 1. Keanekaragaman Komunitas Fauna di Petak PHT Berbasis LEISA.HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Macan) Predator (Kmb. Diplopoda Glomerida Polydesmida Spirobolida Collembola Suku Linyphidae Oxyopidae Salticidae Tetranychidae Trombiculidae Glomeridae Polydesmidae Spirobolidae Hypogasturidae Isotomidae Onychiuridae Sminthuridae Carabidae Cicindelidae Coccinellidae Lampyridae Agromyzidae Asilidae Culcidae Drosophilidae Muscidae Tachinidae Carcinophoridae Glomeridae Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Flatidae Formicinae Ichneumonidae Myrmicinae Spesidae Trichogramatidae Reduviidae Pentatomidae Coreidae Alydidae Rhopalidae Noctuidae Pyralidae Spingidae Cordullidae Cyrtacanthacridinae Gryllinae Gryllotalpidae Nemobinae Oedopodinae Tridactylidae Merothripidae Phlaeothripidae Thripidae Status/Fungsi Predator Predator Predator Predator Predator (tungau) Scavenger Scavenger Scavenger (Kaki seribu) Scavenger Scavenger Scavenger Scavenger Predator (Kmb. Kelas Arachnida Bangsa Araneae Acari 2.

Penerapan tatatanam polikultur pada cara PHT mampu menghadirkan keanekaragaman komunitas fauna dengan keragaman jenis musuh alami yang lebih tinggi.27 % dan pada petak konvensional 23. POLIKULTUR dengan mengkombinasikan beberapa komoditi mamiliki potensi menciptakan keragaman fauna dengan jaring makanan yang lebih komplek. 2002). terkait dengan itu Altieri dan Nichols (2004) memberi gambaran tentang pengaruh managemen ekosistem terhadap keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama. 1. Macan) Predator (Kmb.43% . termasuk menstimulasi kehadiram pengendali hayati (Alltieri dan Nicholls . tanah) Predator (Kmb. tetapi lebih banyak memanfaatkan kekuatan alam dalam proses budidaya. Keanekaragaman Komunitas Fauna di Petak Konvensional Sampai pada Minggu ke Empat Penelitian Tahap 3. monokultur . Kemudian . Kubah) Hama Predator Predator (nyamuk) Scavenger (lalat buah) Scavenger (Ll. Oleh karena itu untuk menuju sistem pengendalian hama berkelanjutan kedua konsep tersebut di atas dapat dirancang menjadi suatu pola pengelolaan serangg hama. No.Tabel 2. Sebaliknya dengan pengelolaan habitat melalui diversivikasi seperti policultur. 2004). rotasi tanaman. dengan memanfaatkan secara maksimal cahaya. penggunaan pupuk kimia dan pestisida akan menurunkan keanekaragaman pengendali alami dan peningkatan populasi penyebab hama dan penyakit. LEISA adalah suatu konsep budidaya yang berhajat meminimasi masukan energi agrokemikal dari luar usahatani. mampu meningkatkan keanekaragaman spesies pengendali alami dan menurunkan kepadatan populasi hama dan penyakit. Kelas Arachnida Bangsa Araneae Suku Linyphidae Oxyopidae Salticidae Glomeridae Polydesmidae Carabidae Cicindelidae Coccinellidae Agromyzidae Asilidae Culcidae Drosophilidae Muscidae Tachinidae Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Flatidae Formicinae Ichneumonidae Myrmicinae Spesidae Trichogramatidae Reduviidae Pentatomidae Coreidae Noctuidae Pyralidae Cordullidae Cyrtacanthacridinae Gryllinae Nemobinae Oedopodinae Phlaeothripidae Thripidae Status/Fungsi Predator Predator Predator Scavenger Scavenger Predator (Kmb. 3. Diplopoda Hexapoda Glomerida Polydesmida Coleoptera Diptera Homoptera Hymenoptera Hemiptera Lepidoptera Odonata Orthoptera Thysnoptera Pada petak PHT terdapat 46 suku sedangkan pada petak konvensional 32 suku dengan Tingkat kerusakan rata-rata pada petak PHT 12. praktek budidaya secara konvensional seperti pengolahan tanah yang intensif. air dan bahan organik baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan yang telah mati (Sutanto. rumah) Parasitoid Hama (hama putih) Hama Hama Hama Predator (Semut Hitam) Parasitoid Predator (Semut merah) Predator Prasitoid Pemangsa Hama Hama Hama (serangga noctural) Hama Predator (capung) Hama (belalang hijau) Hama (jangkrik) Hama (jangkrik tanah) Hama (belalang coklat) Thrips tabaci (hama pada bawang merah) 2. pemulsaan dan penanaman pagar tanaman diikuti oleh managemen pupuk organik yang baik serta pengolahan tanah minimum dan praktis (mengikuti konsep LEISA).

Pelestarian Keragaman Hayati.A. 1996. J.D. Van Der Werf. 186 p Haryaksono.P. Nyrop. Toronto.F. Aldo Leopod dalam Singh (2004) mengemukakan sesuatu adalah benar ketika dia memelihara integritas . John Wiley & Sons. KESIMPULAN 1. J. penggunaan penutup tanah. Nicholls. 180 p Brown. Eksistensi musuh alami generalis dari musim kemusim berpengaruh positif terhadap tingkat gangguan hama utama bawang merah Spodoptera exigua Hubn. A. 1988.El Moity.. Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. P. Azis. Karena adanya persaingan dengan gulma dan pemberian pupuk kandang. Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan. 1980.V. Principles of Plant Infection.London. Ekologi serangga. A. H. Akademic Press New York. Oleh karena itu bagaimana menarik perhatian dan memelihara musuh alami dalam praktek usahatani merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan habitat. hilangnya serangga dan burung predator karena kurangnya habitat. Pengaturan pola dan tatatanam mampu membangun kenekaragaman komunitas fauna dan menstimulasi bekerjanya pengendalian alami. Princeton. Anwar. New York. UK at University Press. 1996. Press etching Pty Ltd. IPB.. R. New York. Mujiono. E. and M. seperti pergeseran inang serangga dari tumbuhan ke tanaman pertanian. dimana di dalamnya terjadi interaksi berbagai faktor termasuk antar berbagai jenis tanaman. Price. 2000.S. Messenger . Bogor. 10 p Binns. F. 2000. Arachnida . and W. Nawangsih.I. menjaga kesuburan tanah dan reservoir air. 1997. Analyses in Insect Ecology and Management.511 p . Brisbane. Kerr. Van Der. Makalah Palsafah Sain.A. Shatla. Parbery. DAFTAR PUSTAKA Abd.H.N.R. 1981. melalui pengaturan tanaman yang memiliki polen yang menarik serangga. 168 p Plank. M. New jersey. Iowa State University Press/Ames. 2. Inceton University Press. Ecological diversity and Its Measurement. Sydney. The Theoritical Basis for Development Practical Decision Guaides. A. J. Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Pola tanam padi-Legum dan penerapan konsep PHT berbasis LEISA dapat menjaga eksistensi musuh alami generalis potensial terutama dari bangsa Coleoptera. Cambrige. Sampling and Monitoring in Crop Protection. 3. Phytophathologiche Zeitschrift 100 p Altieri.D. M. Odonata dan Orthoptera. 179 P. 132 p __________ 1998. stabilitas dan keindahan dari mahluk hidup. Biological Control. CABI Publishing. Food Products Press. Jakarta. Farmscaping memeliki cara pandang baru terhadap lahan pertanian sebagai habitat alam dan bahwa lahan itu adalah suatu organisme. A.. Berkurangnya keragaman tanaman dapat mempengaruhi usahatani dalam berbagai tingkat. Dent. A. 80 p Magurran.P. Method in Ecological and Agricultural Entomology. P 1-107.Singh (2004) secara teknis memperkenalkan istilah Farmscaping untuk pengelolaan usahatani yang bertujuan meningkatkan dan mengatur keanekaragaman atau biodiversity guna memelihara keberadaan organisme yang menguntungkan . And M. P.W. L. 1975. 236 p. 1975. Tesis S-2 UGM. Intext Educational Publishers.R. Biological Control of White Rot Disease of Onion (Sclerotium cepivorum) by Trichoderma harzianum . S. pengaturan tanaman pelindung. 1983. and C.. Walton. 279 p Bosch. Insect Ecology. Hubungan Timbal Balik Serangga-Tumbuhan. Zeiss. Morgan and I. 93p Pedigo. R.P. 387 p. Plant Protection. G. Periode kritis bawang merah (Allium ascalonicum) . 2004. 1989. Biodiversity and Pest Management in Agroecosystems. 1973. D. A.E.

exigua Hubn. A. pada Sentra Produksi Bawang Merah Lombok Timur. National Academy Press. 56-57 Srimuliani. 2004.D.Schowalter. di Sentra Produksi Bawang Merah Lombok. Untung. Studi Beberapa Cultivar Cabe Sebagai ”Insect Repellent” Terhadap Hama S. Insectt Ecology an Ecosystem Approach. 2000. Bandung. exigua Hubn. Simposium Entomologi. 52p. The Canadian Organic Grower. 2003. Identifikasi Parasitoid Telur Hama S. Tarmizi. Malang. 91p. G. exigua Hubn. Penggunaan Kelompok Telur Sebagai Dasar Penilaian Ambang Ekonomi Hama S. 13p Wilson. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. . (Lep:Noctuidae) pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L. Av. Mudjiono dan M. 483 P. Sudomo. K.M. Biodiversity.ca. F. Supeno dan Tarmizi. Pengelolaan Serangga Secara Berkelanjutan. San Diego.C. Unibraw. www. 1999. Iswati.Pertanian Universitas Mataram.O.. Santoso. 521 p. Peter.). P. Tesis Magister .M. T. 1996.cog. 61p. 1997. Academic Press. Singh. E. .Wirasyamsi dan R. Fak. Tarmizi. (2000). B. Farming With Nature in Mind. Wasington D. Farmscaping.