PENGEMBANGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI PADA SISTEM BUDIDAYA BAWANG MERAH (Kajian pengendalian Spodoptera exigua Hubn.

melalui pengelolaan habitat ) Tarmizi1), Siti Rasminah, Yogi Sugito dan Gatot Mudjiono2) 1) Fakultas Pertanin UNRAM 2) Fakultas Pertanian UNIBRAW ABSTRAK
Bawang merah merupakan salah satu komoditi potensial untuk agribisnis industrial pedesaan di NTB, meskipun luas areal tanam dari tahun ketahun cendrung menurun disebabkan seriusnya kendala biologi yang berdampak pada tingginya biaya produksi. Hal ini kemudian membentuk karakter agroekosistem konvensional (convensional agroecosystem) dimana dalam mempertahankan produksi rata-rata tinggi sangat tergantung pada teknologi agrokimia serta alterntif manipulasi sistem budidaya yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil. Inovasi teknologi budidaya tanaman yang kondusif akan memberi dampak positif terhadap keberlanjutan industrial pedesaan, baik dari aspek ekologi dan ekonomi maupun budaya. Ketidak sesuaian teknologi yang ditawarkan acapkali justru menimbulkan masalah baru yang lebih rumit bagi petani. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah tersusunnya ”Standar Prosedur Operasional (SOP)” budidaya bawang merah yang berbasis ekologi (karakteristik agroekosistem Pulau Lombok) guna menunjang program pertanian berkelanjutan. Target khusus yang ingin dicapai adalah meningkatnya komunitas fauna pada areal budidaya bawang merah yang secara alami mampu untuk menstimulasi fungsi pengendalian hayati. Metode yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut yaitu menerapkan budidaya Bawang merah dengan pengelolaan input energi internal melalui penerapan PHT. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok , petak percobaan terbagi dalam set-set petak perlakuan. Perlakuan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor tipe Pola Tanam (Pt) , terdiri dari: Pt1 ( Padi – Padi – Bawang merah monokultur), Pt-2 ( Padi – Legum – Bawang Merah polikultur ); faktor tipe Teknologi Budidaya (Tb) terdiri dari:Tb-1 (Aplikasi Konsep PHT), Tb-2 (Cara Konvensional). Penelitian menggunakan metode eksplorasi , yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah di petak-petak percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pola tanam Padi-Legum-Bawang, memiliki tingkat keragaman banyak yang lebih tinggi dengan intensitas gangguan Hama S. exigua Hubn. yang lebih rendah. Keberadan predator generalis secara konsisten di dua musim tanam adalah dari kelompok Coleoptera, Arachnida , Odonata dan Orthoptera.. Kata kunci : Bawang merah, agribisnis, industrial pedesaan, karakteristik agroekosistem

PENDAHULUAN Bawang merah merupakan salah satu komoditi penting sayuran dataran rendah, yang memiliki peranan yang berarti dalam turut meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah di Indonesia. Bawang merah dengan multifungsinya yakni sebagai rempah seperti bumbu masak, bahan ramuan obat tradisional, sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral-mineral penting bagi kesehatan tubuh, telah menempatkan posisinya sebagai komoditi strategis. Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu sentra produksi untuk wilayah Indonesia bagian timur, dengan luas areal mencapai 9986 ha yang tersebar di hampir seluruh kabupaten (Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat, SP. II A. 2004). Adanya berbagai faktor kendala dalam pengembangan maka produksi ratarata baru mencapai 3,71-5 ton/ha , masih tergolong rendah dibanding dengan potensi produksi Nasional antara 7,4 -10,9 ton/ha umbi kering . Hama Spodopera exigua Hubn, masih merupakan organisme pengganggu yang menimbulkan kerugian pada petani bawang di Pulau Lombok. Terjadi peningkatan luas serangan dari 792,05 ha tahun 2002 menjadi 1034,45 ha tahun 2004 dan turun menjadi 536,15 ha tahun 2005, dengan tingkat serangan mencapai 65%. Dalam keadaan khusus, pada sistem pengendalian yang kurang intensif kerugian bisa melampaui 65% bahkan gagal panen. Untuk mengatasi masalah tersebut oleh petani dilakukan pengendalian yang lebih banyak mengandalkan cara kimiawi (insektisida) karena adanya kepastian hasil dan efektif. Meskipun pada kenyataannya pengendalian kimia sering tidak mampu menyelesaikan permasalahan seperti yang diharapkan. Rendahnya produksi bawang merah dan berkesinambungannya gangguan hama S. exigua Hubn di Pulau Lombok diduga sebagai pengaruh penerapan teknologi budidaya yang tidak mampu lagi memberi lingkungan fisik , kimia dan biotik yang kondusif bagi pertumbuhan optimal bawang merah, sebagai akibat tingginya suplai agrochemikal dari luar usahatani yang telah menimbulkan instabilitas dalam ekosistem budidaya. Teknologi ini telah membentuk agroekosistem konvesianal (convensional agroekosystem) dimana dalam mempertahankan produksi rata-rata tinggi sangat tergantung dari masukan bahan kimia pertanian serta

alternatif manipulasi sistem yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil dalam satuan waktu dan luas. Schowalter 1996 dan Mudjiono.1% yang ditambahkan gliserin (untuk pengawetan spesimen terkoleksi). 1996). TSP dan KCL (untuk petak kontrol cara konvensional). seharusnya merupakan landasan utama untuk menyusun strategi pengendalian gangguan hama dan penyakit dalam praktek budidaya (Brown. Faktor tipe pola tanam (Pt). Perubahan salah satu faktor akan memberi makna terhadap faktor lain dan berkontribusi pada derajat gangguan hama (Price. resurgensi dan terbunuhnya organisme non target. inang dan lingkungan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. telah menimbulkan masalah lingkungan yang lebih rumit. Adanya gangguan hama sesungguhnya merupakan ekspresi tidak terjadinya hubungan yang harmonis antara satu atau lebih faktor yang ada dalam agroekosistem itu. Dalam suatu ekosistem alami. Hubungan timbal balik antar berbagai komponen biotik dan abiotik yang terjadi di dalam agroekosistem. cabe rawit. 1983 dalam Sutanto 2002). Swift and Anderson (1993) mengemukakan bahwa keragaman merupakan prinsip lingkungan yang dapat diterapkan dalam kerangka perlindungan tanaman. kedelai varietas Wilis. 1982 dalam Sutanto. interaksi dan saling ketergantungan antara komponen ekosistem. Asumsi dasar adanya gangguan hama adalah tidak harmonisnya hubungan faktor serangga. 1984. Hasil penelitian berbasis agroekosistem menunjukkan bahwa keragaman dapat digunakan untuk memperbaiki pengendalian hama dan penyakit (Altieri and Letourneau. seperti budidaya tunggal (monokultur) telah menjadi pilihan sebagian besar petani. BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan adalah Bawang merah varietas Ampenan. yang memiliki arti dalam meningkatkan kesetabilan dan keberlanjutan ekosistem. dan jerami padi untuk mulsa. Rich. Perlakuan terdiri dari dua faktor. petak percobaan terbagi dalam set-set petak perlakuan. terdiri dari: Tb-1 : Aplikasi Konsep PHT Tb-2 : Cara Konvensional . dan hama menjadi wabah hanya pada tingkat populasi dimana faktor biotik dan abiotik tidak mampu menghalangi perkembangannya. alkohol dan larutan deterjen 0.1 : Padi – Padi – Bawang Merah Pt-2 : Padi – Legum – Bawang Merah 2. Ketidak bijakan dalam penerapan teknologi ini. menuju ke sistem pertanian yang mampu mengembangkan dan mengkonservasi bekerjanya komponen-komponen ekosistem baik fisik maupun biotik secara internal. penurunan keseimbangan biologi agroekosistem karena terjadinya resistensi. 2002). Faktor tipe teknologi budidaya dan pengendalian (Tb). Teknologi pengendalian secara kimia dan pola tanam yang diterapkan. dan penanganan secara parsial atau cara tunggal justru akan memperlemah komponen yang lain. mampu mengkonservasi dan mempertahankan produktivitas lahan. Andow. Kunci untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan adalah mengubah sistem pertanian konvensional yang memiliki ketergantungan kuat pada masukan energi dari luar usahatani. yaitu ekosistem yang berbasis pada keragaman. 1975. maka diperlukan inventarisasi teknologi pertanian alternatif yang mampu mempertahankan dan menjamin keanekaragaman serta meningkatkan produksi dengan dampak lingkungan seminimal mungkin. secara konsepsual tidak memihak pada azas-azas ekologi yang berkelanjutan atau berada di luar pemahaman ekologi. Altieri dan Letoumeau. kontaminasi terhadap tanaman pokok itu sendiri. Keragaman adalah fungsi kesetabilan. Tidak terkecuali hal ini telah terjadi pada kawasan sentra produksi bawang merah di Pulau Lombok. 1. fungsi pengaturan yang terjadi merupakan produk keragaman. Altieri dan Nichols (2004) mengemukakan bahwa derajat management ekosistem dan praktek budidaya akan berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama. 1985. pupuk organik (siap pakai) dan anorganik ZA. terdiri dari: Pt. 1991. Disamping itu Magurran (1988) mengemukakan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peluang yang besar untuk menstabilkan komunitas serangga dalam suatu agroekosistem dengan cara merancang komposisi tanaman yang mendukung populasi musuh alami. padi Ciherang baru (IR64).

Tanaman cabe dan kedelai di tanam 1 bulan lebih awal dari tanaman bawang.45%. Di antara bawang pada jarak 40 cm di tanam satu pohon cabe rawit dalam satu baris dengan jarak tanam 40 cm. C organik 14. Pupuk TSP dengan SP-36 75 kg per hektar diberikan bersamaan dengan saat pemberian urea awal. pupuk urea dosis 50 kg per hektar dan pupuk TSP dengan SP-36 dosis 75 kg per hektar diberikan secara bersamaan pada saat tanam. Penelitian tahap pertama. 3. 1/3 dosis diberikan satu minggu setelah tanam dan 1/3 satu bulan setelah tanam. exigua Hubn.19% (N-organik 0.25 m x 10 m. exigua Hubn. hal ini dimaksudkan untuk memberi efek ”trapping” dan ”repellent” terhadap musuh alami dan hama S. Pengelolaan habitat pada penelitian tahap 2 merupakan lanjutan dari pengelolaan habitat pada penelitian tahap 1 dengan penambahan pola tanam legum (kacang hijau) yang di tanam dengan jarak 40cm x 15cm. Dalam setiap petak selanjutnya dibuat guludan dengan ukuran 1. sedangkan cara konvensional adalah adaptasi cara petani (penggunaan pupuk anorganik dan pestisida untuk pengelolaan hama). Penelitian tahap ketiga Penelitian dilakukan pada musim tanam palawija periode Juni-September 2007. N-NH4 0.86%.92%. Pengamatan terhadap keragaan komunitas fauna (Arthropoda parasitoid dan predator) dilakukan satu minggu setelah tanam. dengan interval waktu 5 hari. Pelaksanaan Penelitian 1. Penelitian tahap kedua Penelitian dilakukan pada musim tanam padi periode Februari-Mei 2007. . N-NO3 0.90%. diolah sebanyak satu kali dan secara bersamaan diberikan pupuk organik dosis 4 ton per hektar berkadar N total 1. Pada sisi guludan (melingkar mengikuti bentuk guludan) ditanam kedelai sebanyak 2 benih perlubang. Pada petak percobaan legum cara konvensional kacang hijau ditanam dengan jarak 40 cm x 15 cm. Penelitian dilakukan pada musim tanam padi periode Oktober – januari 2006. penggunaan pupuk organik dan pengendalian alami dalam pengelolaan hama. C/N ratio 15:1. Sedangkan pada cara konvensional sebelum tanam diberikan pupuk urea 1/3 (satu pertiga) dari dosis 245 kg per hektar. Paket PHT meliputi pengolahan tanah minimum.63% dan kadar air 19. Masing-masing percobaan di ulang 5 (lima) kali. Pengambilan sampel menggunakan metode nisbi. Petak perlakuan masing-masing berukuran 10 m x 10 m. Untuk metode nisbi alat perangkap (trapping) dilatakkan secara menyebar pada titik-titik dan perpotongan garis diagonal pada setiap petak perlakuan. Tanaman percobaan ditata dalam polikultur antara Bawang merah varietas Ampenan dengan jarak tanam 15 cm x 20 cm sebanyak satu bibit perlubang.Penelitian menggunakan metode eksplorasi. yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah di petak-petak percobaan. Konsep PHT diterapkan dengan format yang sama seperti pada penelitian tahap pertama. K2O 0. Tanah diolah satu kali kemudian di petak dengan ukuran 10 m x 10 m. 2.21%.06%). P2O5 3. di awal pertumbuhan bawang merah mengingat kepekaan bawang merah terhadap gangguan S.

Keanekaragaman Komunitas Fauna di Petak PHT Berbasis LEISA. Kubah) Predator (kunang-kunang) Hama Predator Predator (nyamuk) Scavenger (lalat buah) Scavenger (Ll. Hexapoda Coleoptera Diptera Dermaptera Glomerida Homoptera Hymenoptera Hemiptera Lepidoptera Odonata Orthoptera Thysnoptera . No.HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Macan) Predator (Kmb. tanah) Predator (Kmb. Diplopoda Glomerida Polydesmida Spirobolida Collembola Suku Linyphidae Oxyopidae Salticidae Tetranychidae Trombiculidae Glomeridae Polydesmidae Spirobolidae Hypogasturidae Isotomidae Onychiuridae Sminthuridae Carabidae Cicindelidae Coccinellidae Lampyridae Agromyzidae Asilidae Culcidae Drosophilidae Muscidae Tachinidae Carcinophoridae Glomeridae Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Flatidae Formicinae Ichneumonidae Myrmicinae Spesidae Trichogramatidae Reduviidae Pentatomidae Coreidae Alydidae Rhopalidae Noctuidae Pyralidae Spingidae Cordullidae Cyrtacanthacridinae Gryllinae Gryllotalpidae Nemobinae Oedopodinae Tridactylidae Merothripidae Phlaeothripidae Thripidae Status/Fungsi Predator Predator Predator Predator Predator (tungau) Scavenger Scavenger Scavenger (Kaki seribu) Scavenger Scavenger Scavenger Scavenger Predator (Kmb. Kelas Arachnida Bangsa Araneae Acari 2. 1. rumah) Parasitoid Predator (cocopet) Scavenger Hama (hama putih) Hama Hama Hama Predator (Semut Hitam) Parasitoid Predator (Semut merah) Predator Parasitoid Hama Hama Hama Hama Hama Hama (serangga noctural) Hama Polinator Pemangsa Hama Hama Predator (capung) Hama (belalang hijau) Hama (jangkrik) Hama (gangsir) Hama (jangkrik tanah) Hama (belalang coklat) Hama (jangkrik kecil) Scavenger Hama dan predator Thrips tabaci (hama pada bawang merah) 3.

praktek budidaya secara konvensional seperti pengolahan tanah yang intensif. Sebaliknya dengan pengelolaan habitat melalui diversivikasi seperti policultur. terkait dengan itu Altieri dan Nichols (2004) memberi gambaran tentang pengaruh managemen ekosistem terhadap keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama. Kemudian . dengan memanfaatkan secara maksimal cahaya. POLIKULTUR dengan mengkombinasikan beberapa komoditi mamiliki potensi menciptakan keragaman fauna dengan jaring makanan yang lebih komplek. monokultur . 2004). rumah) Parasitoid Hama (hama putih) Hama Hama Hama Predator (Semut Hitam) Parasitoid Predator (Semut merah) Predator Prasitoid Pemangsa Hama Hama Hama (serangga noctural) Hama Predator (capung) Hama (belalang hijau) Hama (jangkrik) Hama (jangkrik tanah) Hama (belalang coklat) Thrips tabaci (hama pada bawang merah) 2. rotasi tanaman. mampu meningkatkan keanekaragaman spesies pengendali alami dan menurunkan kepadatan populasi hama dan penyakit. LEISA adalah suatu konsep budidaya yang berhajat meminimasi masukan energi agrokemikal dari luar usahatani. 1. Penerapan tatatanam polikultur pada cara PHT mampu menghadirkan keanekaragaman komunitas fauna dengan keragaman jenis musuh alami yang lebih tinggi. Keanekaragaman Komunitas Fauna di Petak Konvensional Sampai pada Minggu ke Empat Penelitian Tahap 3. Macan) Predator (Kmb.27 % dan pada petak konvensional 23. termasuk menstimulasi kehadiram pengendali hayati (Alltieri dan Nicholls . penggunaan pupuk kimia dan pestisida akan menurunkan keanekaragaman pengendali alami dan peningkatan populasi penyebab hama dan penyakit. 2002). pemulsaan dan penanaman pagar tanaman diikuti oleh managemen pupuk organik yang baik serta pengolahan tanah minimum dan praktis (mengikuti konsep LEISA). 3. Kubah) Hama Predator Predator (nyamuk) Scavenger (lalat buah) Scavenger (Ll. No. air dan bahan organik baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan yang telah mati (Sutanto. Oleh karena itu untuk menuju sistem pengendalian hama berkelanjutan kedua konsep tersebut di atas dapat dirancang menjadi suatu pola pengelolaan serangg hama. tanah) Predator (Kmb. Diplopoda Hexapoda Glomerida Polydesmida Coleoptera Diptera Homoptera Hymenoptera Hemiptera Lepidoptera Odonata Orthoptera Thysnoptera Pada petak PHT terdapat 46 suku sedangkan pada petak konvensional 32 suku dengan Tingkat kerusakan rata-rata pada petak PHT 12. Kelas Arachnida Bangsa Araneae Suku Linyphidae Oxyopidae Salticidae Glomeridae Polydesmidae Carabidae Cicindelidae Coccinellidae Agromyzidae Asilidae Culcidae Drosophilidae Muscidae Tachinidae Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Flatidae Formicinae Ichneumonidae Myrmicinae Spesidae Trichogramatidae Reduviidae Pentatomidae Coreidae Noctuidae Pyralidae Cordullidae Cyrtacanthacridinae Gryllinae Nemobinae Oedopodinae Phlaeothripidae Thripidae Status/Fungsi Predator Predator Predator Scavenger Scavenger Predator (Kmb. tetapi lebih banyak memanfaatkan kekuatan alam dalam proses budidaya.43% .Tabel 2.

New York. 236 p. Jakarta. 80 p Magurran. Nawangsih. 279 p Bosch. M..Singh (2004) secara teknis memperkenalkan istilah Farmscaping untuk pengelolaan usahatani yang bertujuan meningkatkan dan mengatur keanekaragaman atau biodiversity guna memelihara keberadaan organisme yang menguntungkan . UK at University Press. Iowa State University Press/Ames. Periode kritis bawang merah (Allium ascalonicum) .F.511 p . Food Products Press. A. Odonata dan Orthoptera. CABI Publishing.R. Press etching Pty Ltd. 3. Shatla. Farmscaping memeliki cara pandang baru terhadap lahan pertanian sebagai habitat alam dan bahwa lahan itu adalah suatu organisme.R. A. New York. M.. Nyrop. and M. 1996. S.A. 1996.P. A. Parbery. Oleh karena itu bagaimana menarik perhatian dan memelihara musuh alami dalam praktek usahatani merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan habitat. A. pengaturan tanaman pelindung. L. 1988. John Wiley & Sons. 1973. Plant Protection. 1989. 132 p __________ 1998.E. J. The Theoritical Basis for Development Practical Decision Guaides. Pengaturan pola dan tatatanam mampu membangun kenekaragaman komunitas fauna dan menstimulasi bekerjanya pengendalian alami. 1997. Phytophathologiche Zeitschrift 100 p Altieri. Arachnida . Cambrige. 186 p Haryaksono. Van Der. menjaga kesuburan tanah dan reservoir air. Inceton University Press. 1981. dimana di dalamnya terjadi interaksi berbagai faktor termasuk antar berbagai jenis tanaman. 2. 180 p Brown. Zeiss. 387 p.S.N. Van Der Werf. R. Bogor. J. Biological Control. Berkurangnya keragaman tanaman dapat mempengaruhi usahatani dalam berbagai tingkat. 1980. hilangnya serangga dan burung predator karena kurangnya habitat. Nicholls. Pola tanam padi-Legum dan penerapan konsep PHT berbasis LEISA dapat menjaga eksistensi musuh alami generalis potensial terutama dari bangsa Coleoptera. Dent. Analyses in Insect Ecology and Management. Insect Ecology.El Moity. Ecological diversity and Its Measurement. Azis. J. 2004.P.H. Aldo Leopod dalam Singh (2004) mengemukakan sesuatu adalah benar ketika dia memelihara integritas . Mujiono.D.. Sampling and Monitoring in Crop Protection. A.London.I. Intext Educational Publishers. 179 P. Tesis S-2 UGM. Morgan and I.D. 1983. 10 p Binns.W. Principles of Plant Infection.V. melalui pengaturan tanaman yang memiliki polen yang menarik serangga. Price. And M. Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan. penggunaan penutup tanah. DAFTAR PUSTAKA Abd. Anwar. 93p Pedigo. D. Eksistensi musuh alami generalis dari musim kemusim berpengaruh positif terhadap tingkat gangguan hama utama bawang merah Spodoptera exigua Hubn. KESIMPULAN 1. Princeton. Ekologi serangga. Toronto. E.A. stabilitas dan keindahan dari mahluk hidup.. seperti pergeseran inang serangga dari tumbuhan ke tanaman pertanian. Makalah Palsafah Sain. New jersey. Hubungan Timbal Balik Serangga-Tumbuhan. Brisbane. Method in Ecological and Agricultural Entomology. R. Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. A. 168 p Plank. 1975. Biodiversity and Pest Management in Agroecosystems. G. and C. P 1-107. P. 2000. P. IPB. Sydney. F. 2000. 1975. Pelestarian Keragaman Hayati. H. Karena adanya persaingan dengan gulma dan pemberian pupuk kandang. Biological Control of White Rot Disease of Onion (Sclerotium cepivorum) by Trichoderma harzianum . Messenger . Kerr. Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.P. Walton. and W. Akademic Press New York.

G. Tarmizi. Supeno dan Tarmizi. 521 p.Pertanian Universitas Mataram. Bandung. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. 1999. (Lep:Noctuidae) pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.Wirasyamsi dan R. Pengelolaan Serangga Secara Berkelanjutan. A. The Canadian Organic Grower. B. Singh. exigua Hubn. exigua Hubn. 91p. Biodiversity. pada Sentra Produksi Bawang Merah Lombok Timur. 2000. 483 P. . www. Santoso.D. 2004. Untung. E. Tarmizi. 1997. .). Farming With Nature in Mind. Peter. Fak.O. Studi Beberapa Cultivar Cabe Sebagai ”Insect Repellent” Terhadap Hama S.M. Tesis Magister . F. K. 61p.ca.M. Insectt Ecology an Ecosystem Approach. Mudjiono dan M. Academic Press. (2000). P.cog..C. San Diego. Wasington D. 1996. Farmscaping. T. Penggunaan Kelompok Telur Sebagai Dasar Penilaian Ambang Ekonomi Hama S. Av. Malang. Simposium Entomologi. 56-57 Srimuliani. exigua Hubn. National Academy Press.Schowalter. 52p. Identifikasi Parasitoid Telur Hama S. Unibraw. Iswati. di Sentra Produksi Bawang Merah Lombok. 2003. 13p Wilson. Sudomo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful