P. 1
makalah filariasis

makalah filariasis

|Views: 394|Likes:

More info:

Published by: Putriani Kekey Irawan on Feb 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Filariasis adalah penyakit menular (Penyakit Kaki Gajah) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survei laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena vektornya tersebar luas.

WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020). Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan massal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun di lokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes, dan Armigeres yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah.

1

BAB II PEMICU

Seorang perempuan, berusia 35 tahun tinggal di daerah Langkat datang ke Poliklinik Penyakit Dalam RS Adam Malik dengan keluhan bengkak pada kaki sebelah kiri mulai dari pangkal paha sampai mata kaki. Hal ini dialami sejak 2 bulan yang lalu, awalnya berupa pembengkakan pada mata kaki kiri, teraba keras dan nyeri. Keluhan lain adalah batuk dan sesak nafas dan sudah mendapat pengobatan tetapi tidak sembuh. Ada beberapa orang di sekitar tempat tinggal pasien yang mempunyai keluhan yang sama. Pada pemeriksaan fisik diperoleh : kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/70 mmHg, denyut nadi 90 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit. Pada ektremitas inferior sinistra diperoleh non pitting oedem (+), nyeri tekan (+), hiperemis, (+), dan makula hiperpigmentasi (+). Pada auskultasi terdengar wheezing pada kedua lapangan paru. Apa yang terjadi pada pasien tersebut?

2

trombosit 423.80%. netrofil segmen 20%. basofil 4%.000/mm3 Hitung jenis: eosinofil 20%. ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan. netrofil batang 40%. Leukosit 9530/mm3.BAB III MORE INFO Laboratorium : Hb 10. Ht 36.8 g/dL . monosit 1% Diperoleh parasit mikrofilaria inti tubuh teratur. 3 . limfosit 15%.

filariasis merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pada beberapa tahun belakangan terjadi peningkatan kasus limfatik filariasis di daerah perkotaan ( urban lymphatic filariasis) yang disebabkan oleh peningkatan populasi penderita di perkotaan akibat urbanisasi dan tersedianya vektor di daerah tersebut. Australia. Filariasis limfatik merupakan penyebab utama dari kecacatan didaerah endemic sehingga merupakan masalah kesehatan masyarakat utama. yaitu yang menimbulkan kelainan pada saluran limfe (filariasis limfatik) dan jaringan subkutis (filariasis subkutan).1 Filariasis 4. Penyakit ini tidak dijumpai lagi di Amerika Utara. sebanyak 875 orang telah positif terjangkit filariasis. hingga November 2008. Brugia malayi dan Brugia timori sedangkan filariasis subkutan disebabkan oleh Onchorcercia spp. parasit ini termasuk kedalam superfamili Filaroidea. etiologi. family onchorcercidae.dengan penyebab utama W. Di Indonesia. dan epidemiologi filariasis Filariasis adalah suatu penyakit yang sering pada daerah subtropik dan tropik. diantaranya adalah anak usia dibawah 15 tahun. bahkan 420 orang di antaranya termasuk penderita kronik.1 Defenisi. Filariasis limfatik ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp. Culex spp. Jepang. Aedes spp.. dan Mansonia spp. Filariasis limfatik yang disebabkan oleh W. bancrofti dan 15 juta oleh Brugia spp.bancrofti disebut juga sebagai Bancroftian filariasis dan yang disebabkan oleh Brugia malayi disebut sebagai Malayan filariasis. Penyebab utama filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti.bancrofti.Pada tahun 1997.. 4 . diperkirakan paling tidak 128 juta orang terinfeksi. Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing yang menyerang jaringan viscera.BAB IV PEMBAHASAN 4. dan di beberapa negara termasuk China. terdapat dua golongan filariasis. Di Jawa Barat. Menurut lokasi kelainan yang ditimbulkan. disebabkan oleh parasit nematoda pada pembuluh limfe seperti Wuchereria Bancrofti. 115 juta oleh W.1.

Yaman. Simuliu Jaringan ikat Kulit Darah Calabar Sweeling Onchorcerca valvulus Afrika. timori dengan B. malayi adalah warna selubung dari B. Perbedaan B. malayi dapat dilihat pada tabel di bawah. timori 3:1. Nyamuk dan Tenggara Saluran limfe Darah Limfangitis Elefantiasis Brugia timori Di beberapa pulau di Indonesia Nyamuk Saluran limfe Darah Limfangitis Elefantiasis Loa-loa Afrika Tengah dan Chrysops Barat spp. Spesies Penyebaran Vektor Tempat hidup cacing dewasa Wuchereria bancrofti Negara Tropis Nyamuk Saluran limfe Tempat hidup filariasis dan Manifestasi klinis utama mikrofilar ia Darah Limfangitis Elefantiasis Hidrokel Brugia malayi AsiaSelatan. malayi berwarna pink. Perbedaan antara W. timori adalah biru.Timur.Tabel dibawah menunjukkan berbagai karakteristik penyebab manifestasi klinis utama yang ditimbulkannya. nodula. Amerika dan Selatan Kulit Dermatitis.lesi mata Tengah m spp. 5 . sedangkan B. malayi 2:1. selain itu terdapat pada cephalic space dimana B. sedangkan B.bancrofti dan B.

pada saat tersebut mikrofilaria berada di jaringan pembuluh darah paru. ekstremitas atas ( saluran limfe aksila ). beberapa jam setelah masuk kedalam darah.1.000 per hari. dapat lebih dari 10. Melalui kopulasi. terutama di saluran limfe ekstremitas bawah ( inguinal dan obturator ).2 Daur hidup filariasis Larva infektif ( larva stadium 3 ) ditularkan ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. larva berubah menjadi stadium 4 yang kemudian bergerak menuju kelenjar limfe. Pada saat siang hari hanya sedikit atau bahkan tidak ditemukan mikrofilaremia. cacing betina mengeluarkan larva stadium 1 (bentuk embrionik/mikrofilaria ) dalam jumlah banyak.bancrofti ditambah dengan saluran limfe di daerah genital laki-laki ( epididimidis. korda spermatikus ). Mikrofilaria masuk ke dalam sirkulasi darah mungkin melalui duktus thoracicus.4. namun diduga sebagai 6 . Sekitar 9 bulan kemudian larva ini berubah menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Penyebab periodisitas nokturnal ini belum diketahui. cacing dewasa ini terutama tinggal di saluran limfe aferens. testis. dan untuk W. mikrofilaremia ini terutama sering ditemukan pada malam hari antara tengah malam sampai jam 6 pagi.

Edema non pitting. tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila tungkai diangkat. Selain itu.4 Gejala klinis filariasis Manifestasi gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik dengan konsekuensi limfangitis dan limfadenitis. Diduga pula pH darah yang lebih rendah saat malam hari berperan dalam terjadinya periodisitas nokturnal.1. 4. 4. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal (reversibel) bila tungkai diangkat. Perjalanan penyakit berbatas kurang jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya. tetapi bila diurutkan dari masa inkubasi dapat dibagi menjadi: 1. dan dalam tubuh nyamuk larva mengalami pertumbuhan menjadi larva stadium 2 dan kemudian larva stadium 3 dalam waktu 10 ± 12 hari. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit (elephantiasis). saat timbul mikrofilaremia pada malam hari. Masa prepaten 7 . Tingkat 2. Tingkat 4. yaitu: Tingkat 1.1. Cacing dewasa dapat hidup sampai 20 tahun dalam tubuh manusia. Limfedema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat. Dalam proses perjalanan penyakit. pada saat itu pula kebanyakan vektor menggigit manusia. kulit menjadi tebal. filariasis bermula dengan limfangitis dan limfadenitis akut berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik. juga oleh reaksi hipersensitivitas dengan gejala klinis yang disebut occult filariasis.bentuk adaptasi ekologi lokal.3 Klasifikasi filariasis Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai. rata-rata sekitar 5 tahun (lihat lampiran 1). Tingkat 3. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila tungkai diangkat. Darah yang mengandung mikrofilaria dihisap nyamuk.

Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. sedangkan limfadenitis masih dapat terjadi. Penderita tidak mampu bekerja selama beberapa hari. Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini. sering terjadi setelah bekerja keras. 2. Serangan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Limfadenitis inguinal atau aksila. Hanya sebagian dari penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik. memecah. Gejala klinik akut Gejala klinik akut menunjukkan limfadenitis dan limfangitis yang disertai panas dan malaise. Filariasis bancrofti Pada filariasis yang disebabkan Wuchereria bancrofti pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis. Masa inkubasi Merupakan masa antara masuknya larva infektif hingga munculnya gejala klinis yang biasanya berkisar antara 8-16 bulan. 8 . Serangan dapat terjadi 12 kali dalam satu tahun sampai beberapa kali perbulan. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang asimtomatik baik mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri. setelah 3 minggu hingga 3 bulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses. sering bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 3-15 hari. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograd. membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas. Gejala kronis ini menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani keluarganya. dan sering terjadi limfedema pada pergelangan kaki dan kaki.Merupakan masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia yang memerlukan waktu kira-kira 37 bulan. Penderita dengan gejala klinis akut dapat mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik. epididimitis dan orchitis. 4. 3. Gejala menahun Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Filariasis brugia Pada filariasis yang disebabkan Brugia malayi dan Brugia timori limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal. dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua kemudian menunjukkan gejala klinis.

tungkai bawah. Penyakit paru bersifat restriktif dan kadang obstruktif. chyluria. sehingga pada suatu daerah endemik dapat terlihat individu dengan berbagai bentuk status klinik. tetapi pada beberapa penderita menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan. Mikrofilaremik asimtomatik 4.Tropical Pulmonary Eosinofilia Bentuk ini terjadi karena hipersensitivitas sistem imun penderita terhadap mikrofilaria. dengan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Dapat dijumpai adanya peningkatan kadar antibodi spesifik antifilaria yang sangat tinggi. Filariasis brugia Elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan bawah. 9 . Dapat ditemukan keadaan hipereosinofilia. Mikrofilaremik simtomatik 5. IgE yang tinggi terhadap mikrofilaria. OCCULT FILARIASIS .Filariasis bancrofti Keadaan yang sering dijumpai adalah hidrokel. Beberapa keadaan klinis lain seperti arthritis. Amikrofilaremik asimtomatik 2. Gejala klinik menahun hidrokel. tenosynovitis. Chyluria dapat terjadi tanpa keluhan. Ukuran pembesaran ektremitas umumnya tidak melebihi 2 kali ukuran asalnya. skrotum. Di dalam cairan hidrokel dapat ditemukan mikrofilaria. Gejala biasanya cepat menghilang dengan pemberian dietilkarbamasin sitrat (DEC). Dari perjalanan penyakitnya filariasis menunjukkan spektrum luas dalam manifestasi kliniknya. Amikrofilaremik simtomatik 3. fibrosis endomiokardial. gejala limfadenopati serta asma bronkial. elefantiasis. vulva atau buah dada. yaitu: 1. glomerulonephritis kadang-kadang merupakan manifestasi klinis dari occult filariasis. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai atas.

IL 6.sum tulang sehingga terjadi eosinofilia yang berakibat meningkatnya mediator proinflamatori dan sitokin juga akan merangsang ekspansi sel B klonal dan meningkatkan produksi IgE. Parasit yang mati akan mengaktifkan reaksi inflam dan granulomatosa. Sitokin . menebalnya dinding pembuluh limfe.1. Proses penyembuhan akan meninggalkan pembuluh limfe yang dilatasi.5 Patofisiologi filariasis Parasit memasuki sirkulasi saat nyamuk menghisap darah lalu parasit akan menuju pembuluh limfa dan nodus limfa. fibrosis. Cacing dewasa akan menghasilkan produk ± produk yang akan menyebabkan dilaasi dari pembuluh limfa sehingga terjadi disfungsi katup yang berakibat aliran limfa retrograde. Diagnosis Parasitologik Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada pemeriksaan darah kapiler jari pada malam hari. gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd. 4. Pemeriksaan dapat 10 . Diagnosis Klinik Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Hal ini menyebabkan terjadi ekstravasasi cairan limfa ke interstisial yang akan menyebabkan perjalanan yang kronis. limfadenitis berulang dan gejala menahun. Akibat dari aliran retrograde tersebut maka akan terbentuk limfedema. Adanya eosinofilia dan meningkatnya mediator inflamasi maka akan menyebabkan reaksi granulomatosa untuk membunuh parasit dan terjadi kematian parasit. IgE yang terbentuk akan berikatan dengan parasit sehingga melepaskan mediator inflamasi sehingga timbul demam. dan kerusakan struktur. Pada keadaan amikrofilaremik. Diagnosis klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic Disease Rate).sitokin ini akan menstimulasi sum. Perubahan larva stadium 3 menjadi parasit dewasa menyebabkan antigen parasit mengaktifkan sel T terutama sel Th2 sehingga melepaskan sitokin seperti IL 1.6 Diagnosa dan Pemeriksaan filariasis 1. Di pembuluh limfa terjadi perubahan dari larva stadium 3 menjadi parasit dewasa. TNF . 2.4.1.

4. Radiodiagnosis Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerakgerak (filarial dance sign). Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan mikrofilaremia W. antibodi monoklonal terhadap O. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan species cacing filaria. occult filariasis.0003 Kasus 10. maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.dilakukan siang hari.000/ mm mm 11 . ekskresi dan sekresi parasit tersebut. tidak membedakan infeksi dini dan infeksi lama.80 % 3 9530/ mm 3 normal normal 11. Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel dengan radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik.000/mm 3 150-450 x 10 / 3 423. amikrofilaremia dengan gejala menahun.8 g/dl 36. Diagnosis Immunologi Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten. 3. Gib 13. 30 menit setelah diberi DEC 100 mg. Interpretasi more info lihat tabel di bawah ini Nilai Normal Hb Ht Leukosit Trombosit 12-16 g/dl 37-47 % 4. Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia. inkubasi. bancrofti di Papua New Guinea. sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. sekalipun pada penderita yang mikrofilaremia asimtomatik.

maka kemungkinan adalah limfedema. tidak berinti. maka kemungkinan adalah limfedema. dan seluruh tubuh transparan W. Jika lambat maka kemungkinan adalah oleh venous hypertension dan 12 . Jika kurang dari 40 detik maka hipoalbuminemia yang dapat disebabkan oleh penurunan sintesis protein atau peningkatan kehilangan protein. Diftel Eosinofil Basofil Neutrofil Batang Neutrofil Segmen Limfosit Monosit Nilai Normal 1-3 0-1 2-6 50-70 20-40 2-8 Kasus 20 4 40 20 15 1 4. Jika pitting dan tender. bancrofti. Jika pitting dan tender.Parasit Mikrofilaria : inti tubuh teratur. dan malignancy. Jika lebih dari 40 detik maka normoalbuminemia yang dapat disebabkan oleh venous hypertension dan identifikasi apakah ada peningkatan tekanan vena leher. Selain itu. maka kemungkinan adalah trombosis. lihat apakah kurang dari 40 detik atau lebih dari 40 detik. Jika edema unilateral maka lihat apakah nonpitting dan nontender? Jika ya.7 Diagnosa banding filariasis Pasien yang datang dengan pitting edema. perlu kita ketahui apakah edema unilateral atau bilateral. perlu diketahui apakah nonpitting dan nontender? Jika ya. kista Baker. dan akut selulitis.1. Bilateral edema. infeksi streptokokkus yang berulang.lihat apakah cepat atau lambat. obstruksi oleh filariasis. Jika ada maka systemic venous hypertension (cardiac diseases) dan jika tidak maka venous insufficiency atau obstruction. ujung ekor uncinng.

Reaksi samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama. muntah dan serangan asma. hilang spontan setelah beberapa hari sampai 13 . diagnosa banding dari filariasis adalah hernia inguinalis. pusing.identifikasi apakah ada peningkatan tekanan vena leher. anoreksia. bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. limfedema transien. abses. tidak ada resistensi obat. Reaksi lokal dengan atau tanpa demam. Selain itu. Feature TPE Lofller¶s Chronic syndrome eosinophilic pneumonia Rare often Rare often Allergic aspergill osis oftenOft en oftenOft en highHig h highHig h Absent Absent Vasculitis syndrome Absent often Low Idiopathic hypereosin ofilia Absent Often High Drug allergy Absent Often Moderate Other helminthic infections possible Variable Variable Wheezing often Systemic syndrome Eosinofil level IgE level often High Moderate Moderate To high Moderate ? High To high Low to Low to high moderate moderate Absent Absent Absent Absent Absent Absent Moderate To high possible possible Filarial High antibodies DEC present response ? ? Absent Absent 4. kelemahan. tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara. kiluria. Diagnosa banding untuk TPE. baik untuk filariasis bancrofti maupun brugia. Obat ini ampuh. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama. persendian. Jika ada maka kemungkinan penurunan sintesis protein atau peningkatan kehilangan protein. Jika ada maka edema jantung. Jika tidak maka venous hypertension atau occlusion. funikulitis dan epididimitis. Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam. hematuria transien. hilang spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. sakit pada berbagai bagian tubuh. alergi.1. berupa limfadenitis. ulserasi. aman dan murah. hidrokel. berupa sakit kepala. Jika cepat maka apakah ada penurunan protein. knobs. pembesaran ekstremitas.8 Penatalaksanaan filariasis Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh. lihat tabel di bawah.

Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg berat badan selama 23 minggu. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0% 2. ekstremitas digerakkan secara teratur untuk melancarkan aliran. DEC tidak diberikan pada anak berumur kurang dari 2 tahun. memakai alas kaki. sedangkan untuk filariasis brugia diberikan 5 mg/kg berat badan selama 10 hari. Pada filariasis bancrofti. dan terapi nutrisi rendah lemak. maka diharapkan dapat dikembangkan penggunaan obat lain (seperti Ivermectin) yang tidak/kurang memberi efek samping sehingga lebih mudah diterima oleh penderita. Pengobatan diberikan peroral sesudah makan malam. diserap cepat. chyluria dan elephantiasis dini.beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita dengan gejala klinis. pencucian dengan sabun dan air. pengikatan di daerah pembendungan untuk mengurangi edema. menjaga kebersihan kuku. tinggi protein dan asupan cairan tinggi Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan. gejala akut. Pengobatan nonfarmako pada filariasis adalah istirahat di tempat tidur. Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan mikrofilaremia. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh Puskesmas dengan tujuan: 1. peninggian tungkai. atau diberikan tiap minggu atau tiap bulan. Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari sebanyak 6 mg/kg berat badan. ibu hamil/menyusui. dan penderita sakit berat atau dalam keadaan lemah. mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam. mengobati luka kecil dengan krim antiseptik atau antibiotik. Elephantiasis dan hidrokel memerlukan penanganan ahli bedah. perawatan kaki. dengan cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmisi oleh vektor. limfedema. dan diekskresi melalui air kemih. Karena reaksi samping DEC sering menyebabkan penderita menghentikan pengobatan. Menurunkan microfilarial (mf) rate menjadi < 5% 3. dekompresi bedah. Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis brugia. Sering diperlukan pengobatan lebih dari 1 kali untuk mendapatkan penyembuhan sempurna. Mempertahankan Chronic Disease Rate (CDR) 14 . Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan obat simtomatik. DEC tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. sehingga dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai dicapai dosis total standar.

Dosis bertahap Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun. pariwisata dan perbatasan Kegiatan pemberantasan meliputi pengobatan. pemberantasan nyamuk dan penyuluhan. Anopheles : residual indoor spraying b. yang akan menurunkan ADR dan mf rate. seminggu sekali selama 40 minggu. Pengobatan merupakan kegiatan utama dalam pemberantasan filariasis. dan untuk filariasis brugia selama 10 hari.92". untuk filariasis bancrofti selama 15 hari. Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan menggunakan DEC ada beberapa cara yaitu dosis standard. Pelaksanaan melalui peran serta masyarakat dengan prinsip dasa wisma. Dosis standar Dosis tunggal 5 mg/kg berat badan. Pengobatan massal dilakukan bila ADR > 0%. Left . Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas: 1. sedangkan pengobatan selektif dilakukan bila ADR = 0%. Penduduk dengan usia kurang dari 2 tahun. 2. Di suatu daerah yang diperkirakan endemik filariasis.Sasaran pemberantasan adalah daerah endemis lama yang potensial masih ada penularan dan daerah endemis baru. Pemberantasan nyamuk dewasa a. Dengan prioritas sasaran ditujukan pada: 1. perlu diselenggarakan suatu surveilans epidemiologis. disusul 5 mg/kg berat badan pada hari 5-12 untuk filariasis bancrofti dan pada hari 5-17 untuk filariasis brugia. 1/2 tablet untuk usia < 10 tahun. 1. hamil. Daerah endemis lama dengan mf rate > 5% 2. Aedes : aerial spraying 15 Formatted: Tab stops: 4. DEC diberikan setelah makan dan dalam keadaan istirahat. dan 1/2 tablet untuk usia kurang dari 10 tahun. menyusui dan sakit berat ditunda pengobatannya. Pada daerah tersebut 10% dari penduduknya perlu diperiksa untuk menentukan Acute Disease Rate dan mf rate. dan mf rate < 5%. Dianjurkan Puskesmas menggunakan dosis rendah yang mampu menurunkan mf rate sampai < 1%. Dosis rendah Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun. Daerah endemis lama dan baru yang merupakan daerah pembangunan. dan mf rate > 5%. 3. transmigrasi. dosis bertahap dan dosis rendah.

bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.2. Culex : minyak tanah c. Pada kasus ± kasus lanjut terutama dengan edema tungkai.1. dengan melakukan pemeriksaan vektor dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria. Pemberantasan jentik nyamuk a. 4. prognosis baik terutama bila pasien pindah dari daerah endemik. Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun. 16 . Pengawasan daerah endemik tersebut dapat dilakukan dengan pemberian obat. mengeringkan rawa dan saluran air 3. prognosis lebih buruk. serta pemberantasan vektornya. Anopheles : Abate 1% b. Menggunakan kawat nyamuk/kelambu b. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan.9 Prognosis filariasis Pada kasus ± kasus dini dan sedang. Mencegah gigitan nyamuk a. dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera memeriksakan diri ke Puskesmas. Menggunakan repellent Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan filariasis. Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk daerah endemis.

Akibat dari aliran retrograde tersebut maka akan terbentuk limfedema. pada kasus ini. Bagaimana patofisiologi terjadinya limfedema? Cacing dewasa akan menghasilkan produk ± produk yang akan menyebabkan dilaasi dari pembuluh limfa sehingga terjadi disfungsi katup yang berakibat aliran limfa retrograde. maka dikatakan bahwa semua obat filaria masih belum terbukti aman bagi ibu hamil. apakah pasien sudah dapat didiagnosa dengan TPE? Ya .bancrofti bisa terdapat pada seluruh pembuluh limfe sedangkan Brugia malayi hanya terbatas pada lutut ke bawah? Belum ada penelitian yang menerangkan mengapa hal itu dapat terjadi. obat apa yang aman bagi ibu hamil dengan filariasis? Berdasarkan penjelasan dari pakar. Mengapa W. 17 . Pada kasus. Semua tahap penelitian hanya pada hewan. karena berdasarkan gejala klinis dan adanya pemeriksaan yang menunjukkan adanya eosinofilia.BAB V ULASAN Ada beberapa hal masih belum jelas dalam hal.

bancrofti 18 .BAB VI KESIMPULAN OS mengalami filariasis tingkat 3 dan TPE yang disebabkan oleh W.

Filariasis ± aspek klinis. 2010].dpd. Brad. 2007.pdf.pdf. Chairufatah. Available from: http://www.ac.org/downloads/PDF%20Downloads%20for%20websi te/Edema. 2009.htm.ugm. Jakarta: Pusat Penelitian Penyakit Menular. Life cycle of W. Anonim. [Accessed 3 November 2010]. Available from: http://www. 19 . Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI Marty. [Accessed 3 November 2010]. Filariasis dan Faktor ± Faktor yang Berkaitan dengan Kejadian Filariasis di Desa Bitahan Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan.cdc. 2009. CDC. Filariasis.42:84:437-444 Kurniawan Liliana. bancrofti. Aileen M. Available from: http://www.id/files/Abst_(3775-H2007).physicianeducation.ac.DAFTAR PUSTAKA Anawalt.id/category/12- parasitologi. WHO Weekly Epidemiological Record . Filariasis (penyakit).infeksi.Edema. pengobatan dan pemberantasannya. 2009.gov/dpdx/HTML/Frames/AF/Filariasis/body_Filariasis_w_bancr ofti.fk.medscape. [Accessed 3 November 2010]. [Accessed 3 November Munir Misbakhul. Available from: http://emedicine.com/article/1109642-overview.html?download=92. Filariasis. diagnosis. [Accessed 3 November 2010]. Global Programme to Eliminate Lymphatic Filariasis.com/. Available from: http://arc.undip. Alex. Available from: http://www. [Accessed 3 November 2010].

Herdiman T. Parasitologi Kedokteran edisi ke-3. Idrus Alwi.1767-1770.35-44. 2007. Aru W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III edisi IV. Ilahude. Bambang Setiyohadi. Herry D. Felix dan Agnes Kurniawan. Sudoyo.Partono. 2006. Wuchereria bancrofti. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Srisasi Gandahusada. . Filariasis. dan Wita pribadi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.dkk. 20 . Pohan.

and C. They develop in 21 . darlingi. farauti. bitaeniorhynchus. polynesiensis. M. funestus. A. koliensis. A. A. pseudotitillans. A. annulirostris. punctulatus and A. arabinensis. bellator. uniformis). Anopheles (A. During a blood meal. bancroftii. C. juxtamansonia). and A. A. pseudoscutellaris. rotumae. vigilax). A. A.LAMPIRAN Daur Hidup W. A. Coquillettidia (C. A. A. C. bancrofti Different species of the following genera of mosquitoes are vectors of W. aegypti. A. A. A. Aedes (A. wellcomei). where they penetrate into the bite wound . merus. Mansonia (M. cooki. scapularis. A. an infected mosquito introduces third-stage filarial larvae onto the skin of the human host. aquasalis. melas. A. A. A. bancrofti filariasis depending on geographical distribution. gambiae. quinquefasciatus. kochi. Among them are: Culex (C. pipiens).

30 mm in diameter. except the South Pacific microfilariae which have the absence of marked periodicity.24 to 0. . The female worms measure 80 to 100 mm in length and 0.1 mm. which are sheathed and have nocturnal periodicity. the microfilariae lose their sheaths and some of them work their way through the wall of the proventriculus and cardiac portion of the mosquito's midgut and reach the thoracic muscles microfilariae develop into first-stage larvae third-stage infective larvae . The third-stage infective larvae migrate and can infect . A After ingestion. while the males measure about 40 mm by . Adults produce microfilariae measuring 244 to 296 m by 7. There the and subsequently into .adults that commonly reside in the lymphatics . The microfilariae migrate into lymph and blood channels moving actively through lymph and blood mosquito ingests the microfilariae during a blood meal .5 to 10 m. through the hemocoel to the mosquito's prosbocis another human when the mosquito takes a blood meal 22 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->