P. 1
Kalamsiasi v1n1 Mart 2008

Kalamsiasi v1n1 Mart 2008

|Views: 201|Likes:
Published by Totok Wahyu Abadi

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Totok Wahyu Abadi on Feb 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2014

pdf

text

original

KALAMSIASI

Jurnal Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara
Vol. 1, No. 1, Maret 2008

Daftar Isi
Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an” Di JTV: Studi Analisis Resepsi Pada Penonton JTV Maya Diah Nirwana Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan Kerja, Dan Motivasi Terhadap Kreativitas Kerja Pegawai Di Badan Kepegawaian Kabupaten Sidoarjo Isnaini Rodiyah Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Dalam Hukum Islam Dan Perundang-undangan Di Indonesia (Upaya Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa) Sam’un Kredibilitas Mahasiswa Kknt Sebagai Komunikator Dalam Pengaruhnya Terhadap Sikap Masyarakat Di Kecamatan Jabon Totok Wahyu Abadi Budaya Dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial Lusi Andriyani Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi Dalam Mewujudkan Reformasi Birokrasi Di Lingkungan Pemerintah Daerah S. Sangadji Politik, Demokratisasi Media, Dan Perwujudan Masyarakat Sipil Imam Sofyan Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007 Andik Afandi 1

17

33

43

55 69

81 89

i

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb. Pembaca yang budiman, Mengiringi awal tahun 2008 KALAMSIASI pada edisi bulan Maret ini kembali hadir kehadapan sidang pembaca. Berbagai masalah yang terjadi selama tahun 2007 dan bagaimana masalah tersebut dipecahkan sudah selayaknya menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi semua pihak untuk menghadapi tahuntahun berikutnya guna menyongsong masa depan yang lebih cerah. Kehidupan yang lebih baik di masa mendatang hanya dapat diraih dengan bekal semangat disertai dengan kemampuan belajar dari guru yang terbaik, yakni: pengalaman masa lalu. Sebagai media yang berfokus pada masalah-masalah komunikasi dan administrasi negara, Jurnal KALAMSIASI berinisiatif menyajikan berbagai pelajaran penting sebagai hasil olah pikir melalui pengalaman riset dan pemikiran dari beberapa penulis. Topik riset dan pemikiran tersebut berfokus pada sejumlah isu yang merentang mulai dari masalah kehidupan seharihari masyarakat yang membutuhkan solusi yakni tentang program acara televisi sebagaimana ditulis oleh Maya Diah Nirwana hingga masalah yang cukup mengundang perhatian yang cukup serius untuk dibahas seperti masalah budaya dan politik lokal serta reformasi birokrasi dan korupsi sebagaimana masing-masing dibahas oleh Imam Sofyan, Lusi Andriyani, S. Sangaji, dan Sami’un. Tidak cukup dengan topik-topik tersebut, Jurnal KALAMSIASI juga menambahkan berbagai topik yang berkaitan dengan kreatifitas Pegawai Negeri Sipil yang memegang peran vital dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan sebagaimana ditulis oleh Isnaini Rodiyah, peranan elit dalam pembangunan di suatu daerah seperti yang disajikan oleh Ainur Rochmaniah dkk, serta peranan mahasiswa dalam KKN seperti ditulis oleh Totok Wahyu Abadi. Hasil olah pikir penulis tersebut diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, khususnya sidang pembaca, guna memperoleh inspirasi untuk meraih masa depan yang lebih baik daripada masa lalu. Dengan demikian kehadrian Jurnal KALAMSIASI tidak sekadar menjadi bahan referensi dalam pewacanaan suatu isu dalam masyarakat, namun lebih daripada itu adalah sebagai bahan melakukan refleksi perilaku menuju perubahan yang lebih bermakna bagi kehidupan ummat manusia. Selamat membaca dan berkarya. Wassalamu’alaikum wr.wb.

Penyunting
ii

IDENTITAS LOKAL DALAM PROGRAM ACARA “CANGKRU’AN” DI JTV: STUDI ANALISIS RESEPSI PADA PENONTON JTV

Maya Diah Nirwana
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMSIDA, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 0318945444 Ext. 20, Fax. 031-8949333, e-mail: md_nirwana@yahoo.com)

ABSTRACT The aim of this research was study about reception of JTV audiences on any local identities found in the variety show of Cangkru’an on JTV. This study was a qualitative research with constructivism and was analyzed by descriptive analysis. Analysis unit in this study was individuals who stated qualitative narrations. Data in this study was collected by conducting Focus Group Discussion (FGD) in discussion room on Jl. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo on 23rd May 2005 since 18.30 till 20.00 WIB. This FGD was attended by ten participants who lived or worked in Surabaya. The method used in this research was reception analysis. Result of FGD showed that -according to JTV audiences- there were some local identities which showed the performance of typical “Suroboyoan” in the variety show of Cangkru’an on JTV. Local identities of Suroboyoan were showed by some identities as follows: the used of dialect Suroboyoan especially by Cangkru’an presenter (Cak Priyo Aljabbar); the used of Ngampelan costume, sarong, and udheng; musics of terbang jidor, kentrungan, and kenthongan; the presenced of local food of Suroboyoan as lontong balap, tahu thëk, tahu campur, pecel rice, mixed rice, negosari, and fried banana. The theme of Cangkru’an on the other hand showed slightly in connection with problems of local Suroboyoan as floods, fire, cleanliness, Suroboyo 2005, condemnation, and regional election. According to participants, settings of Cangkru’an an those typically Suroboyoan was ought to be descriptions of places at corners of Surabaya kampong like sidewalk, salesmen, village patrol, foodstalls, newspaper salesmen, transsexuals, disableds, and woman security guards. Keywords: Local identity; Cangkru’an; Reception analysis; JTV Audiences.

PENDAHULUAN
Globalisasi teknologi (informasi dan) komunikasi membuat manusia hidup dalam dunia yang tampaknya makin kecil,
1

apalagi setelah adanya teknologi komunikasi baru (misalnya e-mail dan www) yang sangat memudah-kan manusia memindahkan informasi melintasi batas-

2

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

batas dunia, bukan hanya dalam batas geografis, tetapi juga melintasi batas sosial maupun psikologis. Teknologi komunikasi telah membawa dunia manusia semakin dekat dengan kebersamaan, kedekatan secara fisik.
Telah terjadi global village karena teknologi membiarkan manusia mengalami kebudayaan yang lain, dan manusia tidak terpaku dalam kebudayaannya sendiri, sehingga mendorong manusia untuk mengembangkan relasi sosial yang semakin kompleks. (Marshall McLuhan dalam Liliweri, 2003:42)

kembali identitas-identitas lokal masyarakat dan adanya tuntutan pengakuan atas identitas lokal dan hak budaya lokal sekaligus membuktikan ada resistensi atas kecenderungan peminggiran, dominasi, dan homogenisasi global. Globalisasi sebagai proses deteritorialisasi dan mengglobalnya kebudayaan menyebabkan adanya upaya yang semakin intensif untuk mencari dan melakukan gerakan kembali ke identitas lokal (http:// w w w. p o l a r h o m e . c o m / p i p e r m a i l / nusantara/2002November/00068 html, diakses 4 Februari 2005) Perkembangan ‘pluralisme baru’ dalam skala global telah menciptakan ruang-ruang segmentasi (segmentation space) yang semakin kompleks, dengan ideologi-ideologi yang semakin berwarnawarni, salah satunya anti globalisasi. Gerakan ini merupakan upaya menyampaikan ekspresi lokalitas agar memperoleh tempat semestinya dalam ruang publik. Hal ini karena semakin mengglobal, maka manusia semakin rindu akan identitas lokalnya. Pernyataan ini didukung dengan adanya politik identitas yang menempatkan identitas/budaya lokal, etnisitas, ras, dan agama sebagai unit terkecil yang harus diper-juangkan untuk melawan universalisme pencerahan yang sering kali memang mengidap tendensi dominasi dan penaklukan Barat terhadap yang lain.

Dalam globalisasi, informasi dari satu belahan dunia dengan cepat disebarluaskan ke belahan dunia yang lain sehingga benar apa kata McLuhan dalam Liliweri (2003:43), sebagaimana pernah diramalkannya tahun 1962 dari Canada, bahwa dunia akan menjadi sebuah desa global, dan di sana ada kecenderungan umat manusia menafikan perbedaan budaya lalu ingin bersama-sama memandang dunia hanya dalam satu budaya, yakni budaya global. Munculnya globalisasi yang lepas kendali sebagai akibat era modern yang menindas budaya dan identitas lokal telah membuat dunia semakin terbuka, dan melahirkan aneka tuntutan perluas-an partisipasi dan pemberdayaan rakyat yang lebih besar. Fenomena ini juga diiringi oleh munculnya berbagai bentuk penegasan

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

3

Kerinduan terhadap munculnya kembali identitas lokal didasari oleh kesadaran masyarakat untuk menghargai dan melestarikan identitas lokalnya sendiri. Budaya massal dan ekonomi global yang dihasilkan era informasi berusaha menyatukan dunia menjadi McWorld (seperti adanya waralaba McDonald dan KFC). Kerinduan manusia untuk mencari identitas lokalnya juga disebabkan adanya kebijakan-kebijakan pemerintah pada masa Orde Baru yang mengabaikan kearifan-kearifan tradisional dan secara kultural, identitas masyarakat lokal atau masyarakat adat sudah lama mengalami “polusi”. UU Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan kebijakan yang telah memberikan pengakuan keragaman pada lokalitas, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya desentralisasi. Kedua UU yang muncul pada masa reformasi ini juga mencanangkan suatu kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting yaitu pelaksanaan otonomi daerah, yang salah satunya dapat dilihat dari sudut kultur, untuk lebih memperhatikan kekhususan suatu daerah, seperti geografi, keadaaan penduduk, kegiatan ekonomi, watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. Salah satu pelaksanaan otonomi daerah adalah dalam dunia penyiaran,

misalnya televisi yang merupakan ruang publik yang bisa berisi apapun yang dibutuhkan publik (Wardhana, 2001: 144). Televisi adalah medium raksasa yang setiap saat hadir sebagai ruang publik untuk menjadi cermin bagi siapapun yang menontonnya atau mendengarkannya. Televisi merupakan “alun-alun” demokrasi modern. Begitu besar dan begitu dahsyat dampak televisi bagi keberlangsungan kehidupan dan kebudayaan. Menonton televisi membentuk dan dibentuk oleh berbagai jenis identitas yang salah satunya adalah identitas lokal. Televisi adalah sumber bagi konstruksi identitas yang salah satunya adalah identitas lokal dan kompetensi budaya mereka untuk mendecode program dengan cara tertentu. Meski televisi bisa mengedarkan diskursus pada skala global, konsumsi, dan pemanfaatannya sebagai sumber bagi konstruksi identitas budaya selalu terjadi pada konteks lokal (Barker, 2000:289). Saat ini sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah dan adanya kebebasan pers, maka muncul stasiun televisi di daerah-daerah. Salah satunya adalah Jawa Timur Televisi (JTV) yang juga terkadang disebut dengan Jawa Pos Televisi. JTV sebagai televisi swasta regional Jawa Timur yang lebih menekankan pilihan kepada program dengan local content (90%) dan menggunakan bahasa

4

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

Suroboyoan, Malang, maupun Jawa Timuran di beberapa program acaranya (http://www. jtvrek.com /program.htm, diakses 1 Oktober 2004). Adanya globalisasi yang menghancurkan identitas lokal membuat manusia rindu pada jatidiri lokal. Namun kerinduan ini kini mulai mendapatkan penyaluran. Wajah dan hawa kampung halaman manusia kini telah berada di depan mata, di layar televisi lokal, seperti Cangkru’an yang ditayangkan oleh JTV. Cangkru’an adalah acara TV bermuatan lokal yang menggunakan nama khas lokal. Saat ini televisi lokal menjadi panggung bagi budaya lokal. Cangkru’an yang ditayangkan oleh JTV mempertahankan setting lokal, bahasa lokal Suroboyoan, dan pakaian khas Suroboyoan dalam beberapa tayangannya. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Rachmah Ida yang mengatakan, “TV lokal seperti JTV harus mampu menjaga lokalitasnya (Jawa Pos, 9 Januari 2005:40). Hal ini karena dalam era otonomi daerah, tiap daerah berhak mempromosikan dan menyuarakan ciri khas, identitas, dan budayanya sendiri yang dijamin oleh konstitusi. Munculnya JTV salah satunya memberikan kesempatan penggiat seni/budaya lokal untuk bisa tampil dalam mengisi acara, misalnya musik kentrungan, kidungan, dan menam-

pilkan setting lokal, pakaian, dan makanan khas setempat serta bahasa lokal Suroboyoan. JTV mempopulerkan bahasa Suroboyoan dalam program Pojok Kampung, Kuis RT/RW, Pojok Perkoro, dan Cangkru’an. Identitas lokal Surabaya sengaja ditampilkan dalam variety show Cangkru’an di JTV karena identitas lokal masyarakat Surabaya yang pernah kuat dan khas, kini dalam keadaan “kedodoran”, karena sarana atau wadah yang diperlukan guna berbudaya semakin hilang, terutama tempat masyarakat saling bertemu dan bersosialisasi (budaya cangkru’an) (Silas, 1996:421). Program acara Cangkru’an di JTV yang mengudara mulai 7 September 2003 dan ditayangkan setiap Minggu pukul 21.30-22.30 WIB menggunakan bahasa Suroboyoan sebagai salah satu sarana berkomunikasi dan menampilkan iden-titas lokal yang lain seperti musik, pakaian, makanan, dan setting lokal. Cangkru’an yang ditayangkan JTV menurut peneliti termasuk dalam program acara variety show. Hal ini karena dalam Cangkru’an selain topik yang dibicarakan presenter (cak Priyo Aljabbar) dengan pak RW (cak Suko Widodo), narasumber, dan penelepon interaktif dari penonton, juga diser tai lawak/komedi pendek dan pertunjukan musik. Gambaran acara ini

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

5

seperti yang diungkapkan oleh Wardhana (2001:214) mengenai pengertian variety show, yaitu: pertunjukan pusparagam. A variety show is a show with a variety of acts, often including music and comedy skits (http://www.fact-index.com/v/va/ variety_show.html, diakses 22 Oktober 2004). Salah satu manifestasi dari identitas lokal adalah adanya bahasa Suroboyoan yang ditampilkan dalam Cangkru’an di JTV. Tema-tema Cangkru’an di antaranya menampilkan persoalan lokal (yang mengandung unsur kedekatan/proximity) dengan penontonnya. Pernyataan ini sejalan dengan era postmodern yang saat ini sedang berlangsung. Orang postmodern adalah orang-orang yang anti kemapanan yaitu orang yang tidak ingin kemapanan sampai membuat seseorang/ masyarakat stagnan karena biasanya kalau seseorang/ kelompok sudah mapan akan merasa berpuas diri dan tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih dari yang sudah dicapai, and not pushing the limit. Jadi, anti kemapanan itu terus mendorong untuk dinamis dan kritis, bukannya stagnan, dan tidak terus-menerus terpaku pada keadaan yang sudah ada. Kekritisan ini juga mendorong seseorang untuk terus mempertimbangkan hal-hal yang dianggap masyarakat sebagai hal yang sudah established, dan bukannya cuma membeo.

Postmodern yang anti kemapanan inilah yang akhirnya mendobrak konsep globalisasi yang ingin mewujudkan monocultural sebab karakter orang-orang postmodern adalah: irony, the blurring of traditional boundaries, fluid identity, intertextuality, pastiche, appropriation, bricolage, hybridity, self-reflexivity, and self-referentiality (Shaunessy & Stadler, 2004:308). Munculnya postmodern menyebabkan masyarakat tidak apriori terhadap tayangan yang sifatnya lokal. Post-modern gives space again to the topic of local cultures (http://www.ideamagazine.net/en/ cont/csc 07001.htm, diakses 5 April 2005). Hal ini karena era postmodern membuat masyarakat terutama penikmat media membutuhkan tayangan beragam yang salah satunya tayangan lokal yang sesuai dengan identitasnya. Saat ini, kebebasan yang besar dalam mengakses media telah memberikan pengaruh besar dalam konstruksi identitas individu. Proses terjadi-nya pengaruh media terhadap konstruksi identitas seperti di bawah ini:
Bahwa individu secara aktif dan kreatif mencontoh simbol-simbol budaya, dongeng, dan ritual yang tersedia di media selama mereka membangun identitas diri mereka. Media memegang peranan penting dalam proses ini, karena dipandang sebagai sumber pilihan budaya yang tidak

6

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

menyusahkan. (Brown dalam Kellner, 1995:234)

meaning it is given by its ‘receivers’ under the specific conditions of reception. Menurut Hall (1980) dalam Mc Quail (1997:101), audience “decode” the meanings proposed by sources according to their own perspectives and wishes, although often within some shared framework of experience. Dari uraian di atas, penelitian ini ingin mengkaji bagaimana penerimaan penonton JTV terhadap adanya identitas lokal dalam variety show Cangkru’an di JTV, mengingat penonton JTV berasal dari berbagai latar belakang budaya dan etnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan penonton JTV terhadap identitas lokal yang terdapat dalam variety show Cangkru’an di JTV. Penerimaan ini nantinya akan dieksplor melalui pemikiran, persepsi, inferensi, dan perasaan penonton JTV terhadap identitas lokal dalam variety show tersebut. Manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan referensi bagi pihak produsen (baik production house maupun stasiun televisi komersial/swasta) mengenai penerimaan khalayak akan tayangan-nya. Hal ini lebih lanjut akan membantu produsen untuk memahami kepentingan dan keinginan khalayak sehingga nantinya mampu menghasilkan program acara yang kreatif (misalnya menampilkan identitas lokal melalui bahasa verbal, bahasa nonverbal,

Penelitian ini menggunakan reception analysis untuk mengetahui bagaimana penerimaan penonton JTV terhadap adanya identitas lokal dalam variety show Cangkru’an di JTV. Penonton Cangkru’an yang merupakan pencipta aktif makna dalam kaitannya dengan teks dan sebelumnya mereka membawa kompetensi budaya yang telah mereka dapatkan untuk dikemukakan dalam teks sehingga penonton yang terbentuk dengan cara yang berbeda akan mengerjakan makna yang berlainan. Dalam reception analysis, pemahaman selalu berasal dari posisi dan sudut pandang orang yang paham, yang tidak hanya melibatkan reproduksi makna tekstual namun juga produksi makna oleh pembacanya, namun dia tidak dapat memapankan makna, yang merupakan hasil dari interaksi antar teks dengan imajinasi pembacanya. Audience behavior menurut Mc Quail (1997:22) terbagi menjadi dua yaitu active audience dan passive audience. Pada prinsipnya, active audience provide more feedback for media communicators, and the rela-tionship between senders and receivers is more interactive. Dalam bukunya yang lain, Mc Quail (2002: 288) menjelaskan bahwa active audience meaning making of content yang artinya

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

7

dan setting yang mudah dipahami khalayaknya), inovatif (misalnya menggunakan metode terbaru dalam menyampaikan pesan), dan edukatif bagi khalayaknya (misalnya identitas lokal dalam program televisi perlu dilestarikan karena dapat memberikan pendidikan multikulturalisme).

di suatu tempat. Identitas lokal dalam Cangkru’an seperti bahasa, intonasi/aksen, musik/lagu, tema, makanan/ masakan, aktivitas cangkru’an, pakaian/ kostum/ asesoris, dan setting/ tempat lokal. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu yang mengeluarkan narasi-narasi kualitatif. Melalui wawancara saringan/ preliminary questions/ screening questionnare, peneliti mengambil partisipan yang memiliki heterogenitas dari segi status ekonomi, sosial, pendidikan, profesi/pekerjaan, jenis kelamin, asal daerah, lingkungan, religi, dan yang mengetahui atau sedikit mengetahui tentang identitas lokal Surabaya. Mereka yang memenuhi kriteria tersebut dipilih peneliti untuk diundang dalam FGD. Peneliti merekrut 10 partisipan, dengan 2 partisipan cadangan yang tinggal/bekerja di Surabaya. Hal ini karena menurut peneliti, Surabaya adalah kota metropolis sehingga masyarakatnya heterogen, ada penduduk asli dan ada penduduk urban. Menurut Widodo (2002:462), sebagai kota bandar, masyarakat penghuni Surabaya dari berbagai daerah sekitar, ditambah bangsa pendatang yaitu: Arab, Cina, serta India yang kemudian anak cucunya lahir di kota Surabaya.
“Arek Suroboyo itu bukan saja penduduk asli kota ini, tetapi siapapun orangnya yang menetap di kota ini dan mempunyai peranan penting di dalam

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Penggalian data yang bertujuan menggambarkan penerimaan penonton JTV terhadap identitas lokal dalam variety show Cangkru’an menyebabkan penelitian ini dapat dikategorikan ke dalam jenis penelitian deskriptif. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini masuk dalam ranah kajian studi khalayak. Metode reception analysis merupakan metode yang sesuai untuk diterapkan karena penelitian ini ingin mengkonstruk data valid akan penerimaan penonton JTV yang menjadi active meaning making terhadap adanya identitas lokal dalam variety show Cangkru’an di JTV. Isu/tema penelitian ini membahas identitas lokal, reception analysis, dan variety show Cangkru’an. Adapun pengertian identitas lokal adalah keadaan, sifat atau ciri-ciri khusus seseorang atau suatu benda

8

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

melestarikan budaya kota ini, itulah Arek Suroboyo. Tidak itu saja, ia juga memiliki peranan penting dalam hal pembangunan dan perkembangan kota, itulah Arek Suroboyo.” (Cak Roeslan dalam Widodo, 2002:463)

dilakukan, yang mencakup perubahan dalam daftar pertanyaan, karakteristik partisipan, frase, dan kata-kata deskriptif yang digunakan partisipan dalam mendiskusikan pertanyaan, antusiasme dari partisipan, bahasa tubuh sampai suasana diskusi secara keseluruhan. Data ditulis ulang secara verbatim. Ada 3 unsur pokok/ steps dalam reception analysis yang akan dilakukan peneliti sesuai pendapat Jensen (1993: 139), three main elements of this definition may be explicated in terms of the collection, analysis, and interpretation of reception data.

Data ini termasuk data primer berkaitan dengan penerimaan penonton JTV terhadap identitas lokal dalam variety show Cangkru’an di JTV. Penerimaan tersebut meliputi persepsi, pemikiran, preferensi, dan perasaan. Narasi-narasi kualitatif yang terkumpul nantinya akan dianalisis dan diinterpretasikan guna menjawab dirumuskan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Focus Group Discussion (FGD). Alasan peneliti menggunakan FGD karena FGD dapat menstimuli peserta sehingga memungkinkan adanya negosiasi makna, dan FGD memiliki kelebihankelebihan, yaitu: FGD dapat digunakan untuk mengumpulkan data awal tentang sebuah topik diskusi atau fenomena. FGD dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Dalam FGD dimungkinkan adanya fleksibilitas dalam desain pertanyaan. (disimpulkan peneliti dari Wimmer & Dominick, 2000:119-120). permasalahan yang

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan peneliti sebanyak 1 kali dengan 10 partisipan, yang dilakukan di ruang diskusi di Jl. Mojopahit No. 666B Sidoarjo maka terkumpul narasi-narasi kualitatif yang oleh peneliti kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Profil partisipan FGD adalah sebagai berikut: Partisipan A: pemuda, 20 tahun, lahir di Wonokromo-Surabaya, maha-siswa FISIP . Partisipan B: bapak, 32 tahun, bekerja di Surabaya, detailer. Partisipan C: laki-laki, 30 tahun, tinggal lebih dari 3 tahun di Surabaya, asal Bojonegoro, dosen.

Data yang didapatkan berupa narasi atau transkrip acara diskusi yang telah

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

9

-

Partisipan D: bapak, 50 tahun, lahir di Surabaya, pegawai swasta. Partisipan E: bapak, 55 tahun, tinggal di Perak-Surabaya, asal Lamongan, pemilik wartel.

terhadap identitas lokal dalam Cangkru’an. Topik-topik tersebut adalah Pengertian Cangkru’an menurut Partisipan, Tidak Semua yang Ada dalam Cangkru’an adalah Identitas Surabaya, Tema, Narasumber, Bahasa Suroboyoan, Obrolan Lucu, dan Segmen Interaktif merupakan Hal-hal yang Disukai Penonton Cangkru’an, Khas Cangkru’an: Nuansa Tradisional dengan Penggunaan Bahasa Suroboyoan, Identitas: Sesuatu yang Membedakan, Bahasa-bahasa yang Kurang Sesuai dalam Cangkru’an, Identitas Lokal yang Berkaitan dengan Musik Ditampilkan Kurang Maksimal dalam Cangkru’an, Tema Lokal Surabaya: Kejadian yang Ada di Surabaya, Penyajian Makanan Lokal dalam Cangkru’an Kurang Mencerminkan Suroboyoan, Pakaian Religi dalam Cangkru’an untuk Menunjukkan bahwa Orang Surabaya adalah Agamis, Setting Lokal: Dari Sepeda Kebo sampai Banci, dan Cangkru’an Perlu Menampilkan Identitas Surabaya Secara Total.

-

Partisipan F: bapak, 45 tahun, tinggal di Surabaya, asal Blitar, aktif dalam Ormas.

-

Partisipan G: bapak, 35 tahun, lahir di Surabaya, guru SLTA. Partisipan H: pemuda, 22 tahun, bekerja di Surabaya/karyawan pabrik, asal Pasuruan.

-

Partisipan I: bapak, 40 tahun, lahir di Pakis Gunung-Surabaya, PNS. Partisipan J: pemuda, 20 tahun, tinggal di Surabaya, sopir travel. Kendala dalam pelaksanaan FGD

adalah tidak hadirnya 4 partisipan perempuan, padahal sebelumnya mereka menyatakan bersedia hadir dalam diskusi. Sebelum diskusi, peneliti menayangkan ulang acara Cangkru’an selama 15 menit. Semua narasi yang dihasilkan dari FGD berasal dari partisipan dengan latar belakang yang beragam, yaitu dari segi status ekonomi, sosial, pendidikan, profesi/pekerjaan, asal daerah, dan lingkungan. Sebelumnya narasi-narasi tersebut dimasukkan ke dalam sub-sub topik untuk menjawab rumusan permasalahan, yaitu penerimaan penonton JTV

Pengertian Cangkru’an menurut Partisipan
Kebiasaan warga Surabaya yang masih ada sampai sekarang yaitu melakukan aktivitas Cangkru’an, dimana aktivitas ini oleh JTV diangkat dalam program acara Cangkru’an. Dari pernyata-

10

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

an partisipan FGD, dalam acara Cangkru’an di JTV ada setting gardu/pos jaga yang pada jaman dulu sampai sekarang merupakan tempat cangkru’an seperti dikatakan salah seorang partisipan. Tapi kegiatan cangkru’an dalam kehidupan masyarakat Surabaya sehari-hari tidak dilakukan di gardu saja, tapi bisa di pasar, di dekat orang akan naik dokar, di hotel, di rombong PKL, di dekat orang berjualan koran, warung, pojok kampung dengan main catur, dll. Hanya saja dalam kehidupan masyarakat sehari-hari cangkru’an tidak saja dilaksanakan pada malam hari, tetapi juga di siang atau sore hari seperti yang dinyatakan partisipan FGD.

memang menggunakan pakaian lokal Surabaya Ngampelan dan terkadang menggunakan udheng, dan bahasa Cak Priyo konsisten menggunakan bahasa Suroboyoan. Performance Suroboyoan juga ditunjukkan dengan penampilan Cak Heru yang dalam lawakan-lawakannya menggunakan bahasa dan pakaian Suroboyoan dengan sarung yang diselempangkan di pundaknya.

Tema, Nara Sumber, Bahasa Suroboyoan, Obrolan Lucu, dan Interaktif Merupakan Hal-hal yang Disukai Penonton Cangkru’an
Cangkru’an yang menampilkan pembahasan tentang sebuah tema dan diselingi dengan lawakan dan segmen interaktif ternyata di dalamnya ada hal yang disukai oleh penonton. Daya tarik Cangkru’an terlihat dari tema-tema lokal Suroboyo, misalnya bagaimana kemampuan Surabaya dalam memberikan pendidikan gratis bagi siswa SD-SMU, atau ketika Surabaya mengadakan Pilpres/ Pemilihan Presiden Langsung tahun 2004 lalu juga dibahas dalam Cangkru’an (sampai dua hari berturut-turut yaitu pada tanggal 4-5 April 2004), bagaimana kesiapan Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) dan KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kota Surabaya juga pernah

Tidak Semua yang Ada dalam Cangkru’an adalah Identitas Surabaya: Ikon Surabaya Lebih Banyak Ditunjukkan oleh Cak Priyo
Acara Cangkru’an di JTV menimbulkan pendapat yang beragam dari penontonnya. Dari pendapat partisipan FGD, diketahui bahwa tidak semua yang ada dalam Cangkru’an itu mencerminkan identitas Surabaya. Performance Suroboyoan dalam Cangkru’an bisa dilihat dari penampilan Cak Priyo seperti yang dikatakan salah seorang partisipan. Dari pendapat partisipan FGD, Cak Priyo

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

11

dibahas dalam Cangkru’an. Daya tarik Cangkru’an yang lain adalah adanya floor yang dilibatkan untuk diskusi yang berasal dari perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan swasta serta masyarakat di Surabaya dan sekitarnya.

hanya sesuatu yang membedakan. Padahal Webter’s New World Dictionary menyebutkan bahwa identitas juga bisa dilihat dari kesamaan, artinya identitas adalah kondisi/kenyataan tentang sesuatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain. Ketika partisipan FGD ditanya tentang pengertian identitas lokal dan apa saja jenis-jenisnya, ternyata jawaban partisipan FGD beragam. Misalnya pengertian identitas itu adalah didasarkan pada etnisitas seperti musik, pakaian, tempat, aksen/logat/intonasi, makanan, dan bahasa lokal. Tetapi partisipan FGD tidak ada yang menyebutkan bahwa identitas itu sebenarnya juga bisa dilihat dari status kelas sosial, agama, jenis kelamin, kecenderungan seksual, dan suku bangsa.

Khas Cangkru’an: Nuansa Tradisional dengan Penggunaan Bahasa Suroboyoan
Peneliti menyajikan hal-hal yang dianggap khas (teristimewa, tidak umum) oleh penonton Cangkru’an untuk mengetahui apa saja kekhasan yang ada dalam Cangkru’an, sehingga nantinya dapat diketahui identitas lokal apa saja yang ada dalam Cangkru’an. Dari pendapat partisipan FGD, ternyata yang dianggap khas dalam Cangkru’an adalah nuansa tradisional dengan penggunaan bahasa Suroboyoan.

Bahasa-bahasa yang Kurang Sesuai dalam Cangkru’an
Dalam penggunaan bahasa Suroboyoan masih ada beberapa kata yang kurang pas, misalnya bilang orang melahirkan dengan ndoboli, padahal ndoboli itu untuk ayam yang akan bertelur. Dari pendapat partisipan FGD, aksen/ intonasi dalam Cangkru’an ada yang khas misalnya Cak Priyo bilang Yo’ opo se? Aksen bahasa Suroboyoan yang digunakan dalam Cangkru’an penuh nuansa keakraban meski cara mengungkapkannya dengan nada ngeyel. Cak

Identitas: Sesuatu yang Membedakan
Karena penelitian ini mengenai identitas lokal, maka peneliti dalam pelaksanaan FGD juga menanyakan kepada partisipan mengenai apa pengertian identitas, identitas lokal, dan macammacam identitas lokal menurut partisipan. Dari pendapat partisipan FGD, peneliti mengintepretasikan bahwa yang disebutkan partisipan tentang identitas itu adalah

12

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

Kadaruslan, budayawan asli Surabaya dalam Sirikit (2005:4) yang mengatakan bahwa, “Aksen bahasa Suroboyoan itu bernuansa keakraban, keintiman, mengandung emosi, namun tetap melihat konteksnya, di mana, dan kapan akan digunakan”.

sebagai musik patrol pada malam hari atau pada waktu puasa untuk membangunkan umat muslim agar segera bangun untuk melakukan sahur. Hanya saja penyajian musik kentrungan dalam Cangkru’an kurang mencerminkan Suroboyoan, karena lagu yang ditampilkan harusnya lagu-lagu Islami, bukan lagu dangdutan seper ti banyak ditayangkan dalam episode-episode Cangkru’an.

Identitas Lokal yang Berkaitan dengan Musik Ditampilkan Kurang Maksimal dalam Cangkru’an
Musik/lagu merupakan salah satu jenis kesenian yang berupa bunyi-bunyian dengan ragam suara yang berirama. Dari pendapat partisipan FGD, maka musik lokal yang ada dalam Cangkru’an adalah kentrung yang sudah dimodifikasi, dan terkadang dicampur dengan ludruk garingan (tanpa menggu-nakan gamelan). Tentang tampilnya terbang jidor memang pernah ada dalam Cangkru’an. Lagu-lagu terbang jidor ini sama dengan lagu-lagu terbang jidor yang ada dalam kehidupan masyarakat Surabaya sehari-hari. Ketipung dan jidor yang ada dalam Cangkru’an dalam kehidupan masyarakat Surabaya sehari-hari juga dipakai untuk peralatan musik ludruk. Irama Cangkru’an ada yang menunjukkan identitas lokal Surabaya, misalnya jula-juli. Grup musik Sanggar Alang-Alang yang memakai kenthongan juga merupakan identitas lokal Surabaya sebab kenthongan ini dipakai

Tema Lokal Surabaya: Kejadian yang Ada di Surabaya
Dari pernyataan partisipan FGD yang menyebutkan bahwa tema Cangkru’an adalah lokal menurut JTV, bukan lokal Surabaya, peneliti menginterpretasikan bahwa dalam memilih tema untuk Cangkru’an, maka JTV menyelek-si tema aktual dalam sepekan, sebagai-mana ungkapan direktur JTV bahwa tema Cangkru’an yang dipilih adalah tema dalam sepekan yang paling banyak dibicarakan masyarakat, misalnya tentang Pilpres, maka Cangkru’an mengangkat Pilpres. Dari ucapan direktur JTV dapat diinterpretasikan bahwa tema yang dipilih dalam Cang-kru’an tidak hanya aktual di Surabaya saja tetapi juga di daerah lain. Hanya saja agar tema itu terlihat lokal Sura-baya, maka dilengkapi dengan kejadian yang ada di Surabaya. Contoh lain ten-tang kebersihan, penggusuran,

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

13

kebakar-an, banjir juga terjadi di daerah lain, hanya saja dalam Cangkru’an kejadian seperti ini lebih dikedepankan yang terjadi di Surabaya. Jadi tema Cangkru’an seperti ungkapan partisipan FGD sebenarnya adalah umum, hanya kasus-nya yang ada di Surabaya yang diangkat.

totalitas, mestinya nasi bungkus yang ada dalam meja Cangkru’an kalau untuk menunjukkan identitas lokal Suroboyoan seharusnya dipincuk dengan daun pisang atau daun Jati seperti yang diutarakan partisipan FGD. Tetapi isi nasi bungkus itu sudah merupakan makanan lokal Suroboyoan, seperti nasi campur dan nasi pecel lengkap dengan kulupan-nya (kangkung, kacang panjang, tauge, ditambah daun Kemangi) dan dilengkapi peyek yang terkadang hanya tepung goreng, tanpa ikan teri, kacang/kedelai. Menurut Widodo (2002:900), pecel merupakan salah satu makanan tradisional Surabaya yang tetap lestari hingga saat ini.

Penyajian Makanan Lokal dalam Cangkru’an Kurang Mencerminkan Suroboyoan
Cangkru’an di JTV juga menampilkan berbagai penganan, lauk pauk, dan kue-kue. Makanan tradisional yang pernah ditampilkan dalam Cangkru’an menurut partisipan FGD adalah tahu thëk, lonthong balap Wonokromo, nogosari, pisang goreng, tahu campur, nasi pecel/nasi campur, dan gethuk. Surabaya memang identik dengan lonthong balap Wonokromonya seperti yang dikemukakan partisipan FGD. Masakan ini dinamakan lonthong balap Wonokromo karena dulu di kawasan Wonokromo banyak sekali penjual lonthong balapnya. Makanan ini terdiri dari lontong, diberi cukulan/kulupan tauge dan lentho tetapi kuahnya menggunakan bumbu khusus. Sehabis makan lonthong balap biasanya ditambah dengan sate kerang dan es kelapa muda. Dalam menyajikan makanan lokalnya, acara Cangkru’an kurang melakukan

Pakaian Religi dalam Cangkru’an untuk Menunjukkan bahwa Orang Surabaya adalah Agamis
Pakaian/kostum/asesoris lokal dalam Cangkru’an menimbulkan penerimaan yang beragam di benak partisipan. Pakaian lokal yang diangkat dalam Cangkru’an menurut partisipan FGD adalah pakaian Ngampelan dengan jubah, topi yang ada pentulnya, sabuk, udheng, dan sarung. Pakaian Ngampel-an untuk menunjukkan meskipun masyarakat Surabaya hidup di metropolis, namun orangnya tetap agamis.

14

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

Setting Lokal: Dari Sepeda Kebo sampai Banci
Dari pendapat partisipan FGD, setting Cangkru’an yang menampilkan sepeda kebo, warung, ponten, telepon umum, penjual koran, orang main catur, PKL, waria (akronim wanita-pria) ¾yang dalam bahasa Suroboyoan dikenal dengan istilah banci, orang cacat, dan satpam perempuan adalah identitas lokal Surabaya. Hanya saja dalam kehidupan masyarakat Surabaya sehari-hari jarang yang melakukan cangkru’an di meja besar. Menurut partisipan, Cangkru’an yang menggunakan meja besar disebut dengan tamu-tamuan.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD), maka penonton JTV menerima bahwa tidak semua yang ada dalam Cangkru’an adalah identitas Surabaya. Ikon Surabaya menurut partisipan dapat dilihat dari penggunaan bahasa Suroboyoan terutama yang dilakukan oleh presenter Cangkru’an (Cak Priyo Aljabbar). Penerimaan partisipan terhadap Cangkru’an juga menyebutkan bahwa ada bahasa-bahasa yang kurang sesuai dalam Cangkru’an (misalnya menyebutkan orang melahirkan dengan ndoboli, padahal ndoboli itu untuk ayam yang akan bertelur). Partisipan ada yang menerima bahwa musik lokal ditampil-kan kurang maksimal dalam Cangkru’an (karena seharusnya musik kentrungan menampilkan lagu Islami, tapi dalam Cangkru’an kebanyakan menayangkan lagu dangdut). Partisipan FGD ada yang menerima bahwa dalam Cangkru’an ada tema lokal Surabaya, yaitu kejadian yang ada di Surabaya (seperti banjir, kebakaran, kebersihan, penggusuran, dan Pilkada), penyajian makanan lokal dalam Cangkru’an diterima partisipan kurang mencerminkan Suroboyoan karena nasi bungkusnya tidak dibungkus daun pisang (dipincuk) dan penyajian kopinya menurut partisipan mestinya menggunakan ceret (sejenis

Cangkru’an Perlu Menampilkan Identitas Surabaya secara Total
Partisipan FGD memberikan saran terhadap program acara Cangkru’an, misalnya Cangkru’an sekali-kali perlu diselingi dengan celetukan tentang babad/ sejarah Surabaya, tema lokal Surabaya perlu sering diangkat, setting Cangkru’an disesuaikan dengan tema yang sedang dibahas, kemasan Cangkru’an diganti sesuai kegiatan Cangkru’an yang dilakukan masyarakat Surabaya, misalnya perlu dilakukan survei terlebih dahulu agar produser Cangkru’an mengetahui identitas lokal Surabaya itu yang sebenarnya apa.

Maya Diah Nirwana, Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an di JTV

15

teko). Partisipan ada yang menerima bahwa ada beberapa makanan lokal dalam Cangkru’an (seperti lonthong balap, tahu thëk, tahu campur, nasi pecel, nasi campur, nogosari dan pisang goreng), namun menurut partisipan ada makanan lokal yang menjadi identitas Surabaya yang belum disajikan dalam Cangkru’an, yaitu semanggi Suraboyo dan rujak cingur. Pakaian pada program acara Cangkru’an ada yang diterima partisipan sebagai pakaian religi yaitu pakaian Ngampelan, sarung, topi djamino yang menurut partisipan menunjukkan bahwa orang Surabaya adalah agamis. Menurut partisipan penggunaan pakaian lokal Suroboyoan belum mencerminkan identitas Surabaya, karena sarung yang dikenakan presenter dan pelawak Cangkru’an, mestinya diikatkan di perutnya, bukan diselempangkan di lehernya. Partisipan juga ada yang menerima bahwa pakaian lokal dalam Cangkru’an ditunjukkan dengan udheng. Ada setting lokal dalam Cangkru’an yang diterima partisipan sebagai tempat di pojok-pojok kampung Surabaya seperti: PKL, gardu, warung, penjual koran, waria, orang cacat, dan satpam perempuan. Penerimaan partisi-pan terhadap setting meja besar yang ada dalam Cangkru’an menyebutkan bahwa hal demikian bukan setting Cangkru’an, tapi tamu-tamuan.

Karena itulah partisipan menyarankan, sebelum menayangkan identitas lokal Suro-boyoan, produser Cangkru’an perlu melakukan survei terlebih dahulu agar identitas Surabaya dapat ditampilkan secara total dalam Cangkru’an. Saran yang diberikan peneliti sebagai berikut: berada pada kajian studi khalayak yang mencoba untuk menjelaskan bagaimana khalayak dalam memaknai teks, reception analysis dengan metode FGD dianggap telah mampu digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana khalayak memaknai teks media. Namun peneliti menyarankan penggunaan metode etnografi sehingga peneliti dapat terjun langsung sebagai pengamat dalam menanggapi fenomenafenomena budaya yang menjadi latar belakang partisipan. Hasil penelitian ini disarankan peneliti untuk dijadikan masukan dan referensi bagi pihak produsen (baik production house maupun stasiun televisi komersial/swasta) mengenai penerimaan khalayak akan tayangan-nya. Hal ini lebih lanjut akan membantu produsen untuk memahami kepentingan dan keinginan khalayak sehingga nantinya mampu menghasilkan program acara yang kreatif (misalnya menampilkan identitas lokal melalui bahasa verbal, bahasa nonverbal, dan setting), inovatif (misalnya mengguna-

16

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 1 - 16

kan metode terbaru dalam menyampaikan pesan), dan edukatif bagi khalayaknya (program acara bermuatan identitas lokal perlu dilestarikan karena dapat memberikan pendidikan multikulturalisme).

Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. LKiS. Yogyakarta. Jawa Pos. 2005. TV Lokal Harus Pertahankan Lokalitas. 9 Januari 2005 McQuail, Dennis. 1997. Audience Analysis. Sage Publications. London. Nusantara, Gigih. 2002. (Nusantara) Globalisasi, Fundamentalisme, dan Tuntutan Demo-krasi. Online. http:/ /www. polarhome.com/piper mail/ nusantara/2002-November/ 000685.html, diakses 4 Februari 2005. PT. Jawa Pos Media Televisi. 2004. Programming Strategy. Online. http:/ /www.jtvrek.com/program.htm, diakses 1 Oktober 2004. Shaughnessy, Michael O. & Jane Stadler. 2004. Media and Society: an introduction. Second edition. Oxford University Press. Victoria, Australia. Wardhana, Veven Sp. 2001. Televisi dan Prasangka Budaya Massa. PT Media Lintas Inti Nusantara. Jakarta. Widodo, Imam Dukut. 2002. Soerabaia Tempo Doeloe. Dinas Pariwisata Kota Surabaya. Wimmer, Roger D & Dominick, Joseph R. 2000. Mass Media Research: An Introduction. Wadsworth Publishing Company. USA.

DAFTAR RUJUKAN
Barker, Chris. 2000. “Cultural Studies, Theory and Practice”. Terjemahan oleh Nurhadi. 2004. Cultural Studies, Teori dan Praktik. Kreasi Wacana. Yogyakarta. Burkhardt, Francois. 2005. Local Identity Today and Globalization. Online. http://www.ideamagazine.net/en/ cont/csc07001.htm, diakses 5 April 2005. Burkhardt, Francois. 2004. Variety Show. Online. http://www.fact-index.com/v/ va/variety_show.html, diakses 22 Oktober 2004. Jensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 1991. A Handbook of Qualitative Methodo-logies for Mass Communication Research. Routledge. London & New York. Kellner, Douglas. 1995. Media Culture, Cultural Studies, Identity and Politics between the Modern and the Postmodern. Routledge. London & New York.

PENGARUH NILAI KEBERSAMAAN BUDAYA LOKAL, LINGKUNGAN KERJA, DAN MOTIVASI TERHADAP KREATIVITAS KERJA PEGAWAI DI BADAN KEPEGAWAIAN KABUPATEN SIDOARJO

Isnaini Rodiyah
(Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP UMSIDA, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444, Fax. 031-8949333)

ABSTRACT The aim of the research is to identify and prove the influence of local culture togetherness value, motivation and work environment on employee work creativity of Local Government Personnel Office of Sidoarjo Regency. This study was explanative research, explaining causal relationship between variables by testing the hypothesis. Population in this study was all staffs in Local Government Personnel Office of Sidoarjo Regency as many as 51 individuals were taken as informan. Instrument used in this study was questionnaire. Measurement on the variables was elaborated in question item with score ranging from 0 to 4. Variables observed were exogen variable (W) Local culture togetherness value, endogen variables i.e., (X) Motivation, (Y) Work environment, (Z) Work creativity. Analysis applied using path analysis with simultan model, is to test the causality through empirical data test. Result proved that variable of local culture togetherness value has a significance influence on work environment by 0,000 (p < 0,05). Local culture togetherness value has a significance influence on motivation by 0,000 (p < 0,05). However, motivation have no influence on work creativity by 0,325 (p > 0.05). Another result show that work environment has a significance influence on work creativity by 0,002 (p < 0,05). Keywords: Local Culture Togetherness Value; Motivation; Work Environment; Work Creativity

PENDAHULUAN
Sejak tahun 2001 Pemerintah Republik Indonesia mulai mengimplementasikan kebijakan otonomi daerah

berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan

17

18

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

Antara Pusat dan Daerah yang selanjutnya diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Kebijakan ini telah membawa perubahan mendasar terhadap sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik. Dengan demikian maka kewenangan daerah menjadi lebih luas dan nyata dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Dalam pelaksanaan otonomi daerah, dengan tatanan pemerintahan yang desentralistis, sasaran utamanya adalah menciptakan daya saing yang tinggi pada masing-masing daerah. Masalah yang juga tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mengoptimalkan pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. Jika selama ini masalah-masalah tersebut kurang diperhatikan, maka pada era desentralisasi optimasi pelayanan yang diberikan tersebut merupakan momentum bagi pemerintah. Beranjak dari perubahan tatanan pemerintahan tersebut di atas, aparat pemerintah selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS) dituntut untuk selalu lebih giat dan bekerja keras serta mampu menciptakan ide, strategi dan prosedur baru yang dapat menyederhanakan segala kompleksitas permasalahan yang ada. Tuntutan tersebut terangkum dalam suatu konsep yang disebut kreatifitas kerja PNS. Kehadiran kreativitas individu sangat

dibutuhkan dalam setiap orga-nisasi karena kreativitas yang dimiliki individu berdampak positif bagi kelangsungan hidup organisasi. Moster dan Frijling (dalam Bake, 2004) menyatakan bahwa kreativitas menunjukkan peranan yang semakin meningkat dalam organisasi sebagai dasar bagi arus inovasi secara terus-menerus. Namun amat disayangkan oleh Guilford (dalam Munandar, 2002:6) bahwa penelitian di bidang kreativitas sangat kurang mendapat perhatian. Kerenanya penelitian ini dilakukan sebagai bentuk sumbangsih dalam khasanah pengembangan sumber daya manusia dalam menumbuhkan tingkat kreatifitas, khususnya di kalangan PNS. Pemikiran tersebut dapat pula dili-hat sebagai suatu fenomena di kalangan PNS sebagai aparat pemerintahan. Sebagai pusat kegiatan perangkat daerah di daerah yaitu Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, pemerintah Kabupaten Sidoarjo dituntut adanya daya kreativitas tinggi bagi setiap PNS yang bertugas di berbagai lembaga pemerintahan kabupaten. Salah satu lembaga vital yang ada di Pemerintah Kabupaten Sidoarjo adalah Badan Kepegawaian Daerah (BKD). BKD merupakan sebuah badan yang khusus mengurusi permasalahan-permasalahan yang menyangkut tentang PNS di daerah yang meliputi perencanaan,

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

19

pengadaan, pengembangan kualitas, penempatan, promosi, kesejahteraan, dan pemberhentian pegawai. Sebelum menjadi sebuah badan, BKD merupakan suatu lembaga pada tingkat bagian (Bagian Kepegawaian) pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo. Permasalahan yang dikeluhkan oleh PNS terhadap urusan kepegawaian di Bagian Kepegawaian di antaranya adalah mengenai lamanya penyelesaian urusan kepegawaian, prosedur yang berbelit-belit dan hirarkhi birokrasi yang terlalu panjang. Permasalahan ini disebabkan oleh situasi di mana Bagian Kepegawaian dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya harus mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku, sedangkan teknis pelaksanaannya berdasarkan petunjuk pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan. Kedudukan Bagian Kepegawaian yang berada di dalam Sekretariat Daerah mengakibatkan hampir semua keputusan dan kebijakan harus mendapat persetujuan dari Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo. Fenomena prosedur urusan yang berbelit tersebut tampaknya tidak berubah hingga bagian kepegawaian berubah status menjadi BKD (hasil wawancara pendahuluan dengan pejabat di BKD, Januari 2005). Fenomena legal-prosedural yang

didukung pula dengan kondisi pribadi pegawainya yang cenderung bermalasmalasan dalam bekerja, pulang lebih awal dari jam kerja, suka meninggalkan tempat kerja pada jam kerja, serta bersantai pada jam-jam kerja, mau bekerja keras jika ada uang tambahan.(hasil wawancara dengan pejabat di BKD Sidoarjo) menjadi kesempurnaan di bagian kepegawaian yang jauh dari kehidupan kreativitas kerja. Hal ini juga terjadi hampir di setiap institusi pemerintahan. Fenomena-fenomena tersebut akhirnya berdampak pada representasi citra “negatif” PNS yang lamban dalam menjalankan tugas, bekerja berdasarkan perintah, kurang berinisiatif dan mempunyai pola kerja yang monoton, serta tidak kreatif (lihat Kompas, 26 Maret 2005). Perubahan alih status dari sebuah bagian menjadi sebuah badan membuat BKD tidak hanya sebagai lembaga yang mandiri dalam menyelesaikan tugas tetapi juga memiliki otoritas/kewenangan yang lebih besar dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menyangkut seluruh PNS di Kabupaten Sidoarjo. BKD dituntut untuk mampu bersifat adaptif, kompetitif serta efektif dalam menjalankan tugas. Hal itu dapat terwujud dengan dukungan kualitas sumber daya manusia yang handal, mempunyai mental yang tinggi ser ta kreatif dalam bekerja (Farazmand, 2004).

20

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

Melihat adanya kesenjangan anta-ra tuntutan dan realitas kesiapan jajaran kepegawaian yang ada, pimpinan BKD pun mengupayakan untuk mengatasi kesenjangan yang ada. Langkah yang dilakukan adalah dengan mengadakan restrukturisasi, mengubah sistem kerja, mengadakan pendidikan dan pelatihan, mengirim pegawai untuk tugas belajar, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, membuat program PNS Award yang bertujuan memotivasi pegawai agar dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki pegawai, serta menciptakan hubungan kekeluargaan di luar hubungan kerja dengan suasana informal yang berlandaskan pada nilai kebersamaan (hasil wawancara pendahuluan dengan pejabat BKD, Januari 2005). Dalam penelitian ini kajian dibatasi pada variabel kreativitas kerja yang dipengaruhi oleh lingkungan kerja, motivasi dan nilai kebersamaan budaya lokal. Dipilihnya lingkungan kerja, motivasi serta nilai kebersamaan budaya lokal sebagai variabel pengaruh karena ditemukan indikasi di lapangan bahwa ada masalah pada variabel-variabel tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya interaksi antara pimpinan dan bawahan, adanya hubungan yang tidak harmonis antar pegawai baik dalam suasana formal (dalam menjalankan tugas) atau suasana

informal (di luar jam kerja), di samping itu pegawai lebih bersemangat dalam menjalankan pekerjaan jika ada uang tambahan. Penelitian ini mencoba melihat apakah variabel nilai kebersamaan budaya lokal, lingkungan kerja dan motivasi berpengaruh terhadap kreativitas kerja pegawai. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis secara jalur variabel nilai kebersamaan terhadap lingkungan kerja dan motivasi, serta likngkungan kerja dan motivasi terhadap kreativitas kerja. Adapun manfaat praktis penelitian ini diharapkan sebagai masukan bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo khususnya Badan Kepegawaian Daerah dalam upaya meningkatkan pengembangan sumber daya manusia melalui pengujian kreativitas pegawai.

Kreativitas Kerja
Harvey C. Lehman memberi pengertian kreativitas sebagai kemampuan menampilkan gagasan atau ide dan halhal baru serta merancang kembali gagasan serta hal-hal lama berikut menempatkannya ke dalam perspektif baru (http:// .www.hri.reference/general-3htm). Kreativitas dipahami sebagai produk, gagasan dan prosedur memenuhi dua syarat: Pertama, kebaruan dan keaslian. Kedua, secara potensial relevan untuk atau berguna bagi organisasi. Pendapat tersebut

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

21

diperkuat dengan pernyataan Amabile (dalam Dharma, 2004). Kreativitas memuat arti ultilitas potensial suatu produk, proses, dan gagasan yang dibuat, serta perilaku kreatif yang diperankan. Dari pendapat yang telah disebutkan tersebut, dapat ditarik sebuah batasan tentang kreativi-tas yang memuat tiga hal, yaitu: (1) Kemampuan menciptakan ide atau gagasan, (2) merealisasikan dalam ben-tuk hasil, dan (3) mempunyai hasil guna. Dengan mengacu pada beberapa teori tentang kreativitas dan disesuaikan dengan kondisi lapangan penelitian, dapatlah kiranya dipaparkan bahwa orang yang kreatif mempunyai ciri-ciri: 1. Memiliki rasa konsisten terhadap pekerjaan 2. Memiliki ketertarikan terhadap kompleksitas masalah 3. Mampu memandang situasi dengan banyak cara 4. Memiliki disiplin diri dalam kaitannya dengan pekerjaan 5. Mandiri dalam bekerja.

kajian tentang lingkungan kerja dalam penelitian ini dimaknai sebagai veriabel yang sama dengan iklim kerja. Iklim kerja dapat diartikan sebagai pola perilaku, sikap dan perasaan berulang yang mencirikan kehidupan kerja dalam organisasi. Hal ini menunjukkan arti bahwa konsep iklim dipahami sebagai persepsi individu terhadap kecenderungan perasaan, sikap dan perilaku orang di tempat kerja. Dalam hal ini Gibson (2001:102) mengatakan bahwa iklim organisasi adalah seperangkat prioritas lingkungan kerja yang dipersepsikan individu secara langsung atau tidak langsung yang dianggap sebagai faktor utama dalam mempengaruhi perilaku pegawai. Kirk L. Rogga (dalam Bake, 2004) menjelaskan adanya empat dimensi lingkungan kerja yang mendukung tumbuhnya kreativitas kerja, yakni: 1. Dukungan pimpinan 2. Dukungan antar pegawai 3. Dukungan antar unit, bagian, atau divisi Dukungan pimpinan yang segera dapat terbentuk melalui sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh setiap pimpinan dapat menjadi sumber motivasi bagi pegawai untuk berkreasi, atau malah sebaliknya. Pemahaman ini bukan hanya didasarkan pada kejelasan tujuan yang

Lingkungan Kerja
Faktor-faktor di luar individu atau juga disebut faktor organisasi yang berpengaruh terhadap kreativitas kerja adalah faktor lingkungan kerja. Lingkungan kerja dapat disebut sebagai iklim kerja (Saragih, 2004), karena itu dalam

22

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

akan dicapai, melainkan yang terpenting adalah bagaimana gaya komunikasi yang dibangun antara pimpinan dengan pegawai (tingkat keterbukaan satu sama lain dan dukungan pimpinan terhadap ideide yang dilahirkan oleh pegawai). Dukungan antar pegawai dapat diamati lewat adanya rasa saling mengerti dan memahami karakteristik antara pegawai yang satu dengan lainnya yang dicapai melalui komunikasi dan intensif antar pegawai, sehingga di antara mereka merasa menjadi bagian dari yang lainnya. Situasi seperti ini akan menciptakan kelompok kerja yang kohesif serta dapat menjadi sumber motivasi intrinsik bagi tumbuhnya kreativitas pegawai. Kerjasama antar unit atau bagian juga akan menciptakan kohesivitas kelompok kerja yang pada gilirannya akan terbentuk tim keja yang solid, satu unit terhadap unit kerja lainnya akan memberikan sinergi positif.

Teori motivasi diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu teori motivasi content, yang berhenti hanya pada sekedar pemuas kebutuhan dan setelah terpenuhi kebutuhan maka akan muncul kebutuhan lain yang juga harus terpenuhi. Yang kedua adalah teori motivasi proses, yang lebih memusatkan pada daya kognisi pegawai untuk mencapai sebuah harapan dalam mencapai tujuan. Dalam tulisan ini lebih menggunakan teori motivasi proses yang sebelumnya dikembangkan oleh Victor Vroom yang lebih dikenal dengan teori harapan (expectancy) (Luthans,1986: 211). Dalam perkembangan lebih lanjut teori harapan Victor Vroom ini dikembangkan oleh Perter & Lewler berdasarkan pada empat asumsi: 1. Orang mempunyai pilihan-pilihan antara berbagai hasil-keluaran yang secara potensial dapat mereka gunakan. Dengan perkataan lain, setiap hasil keluaran alternatif mempunyai harkat (valence = V), yang mengacu pada ketertarikan seseorang. Hasil keluaran alternatif, juga disebut tujuan-tujuan pribadi (personal goals), dapat disadari atau tidak disadari oleh bersangkutan. Jika disadari, maknanya serupa dengan penetapan tujuantujuan. Jika tidak disadarai, motivasi kerjanya lebih bercorak reaktif.

Motivasi
Secara umum motivasi diartikan sebagai suatu proses di mana kebutuhankebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah pada tercapainya tujuan tertentu. Tujuan yang, jika berhasil dicapai akan memuaskan atau memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut (Munandar, 2002: 55).

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

23

2. Orang mempunyai harapan-harapan tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa upaya (effort = E) mereka akan mengarah ke perilaku kinerja (performence = P) yang dituju. Ini diungkapkan sebagai harapan E – P . 3. Orang mempunyai harapan-harapan tentang kemungkinan bahwa hasilhasil keluaran (outcomes = O) tertentu akan diperoleh setelah kinerja (P) mereka. Ini diungkapkan dalam rumusan harapan P – O. 4. Dalam setiap situasi, tindakantindakan dan upaya yang berkaitan dengan tindakan-tindakan tadi yang dipilih seseorang untuk dilaksanakan ditentukan oleh harapan-harapan (E – P dan P – O) dan pilihan-pilihan , yang dipunyai orang pada saat itu. Inti dari teori harapan terletak pada kuatnya kecenderungan seseorang bertindak dengan cara tertentu tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tertentu dan pada daya tarik dari hasil itu bagi yang bersangkutan. Dalam dunia organisasi, kekuatan harapan yang dimiliki pegawai tergan-tung dari apa yang dipersepsikan pegawai terhadap organisasinya; jika nilai yang dibentuk organisasi mendukung terciptanya serta memberi peluang bagi pegawai untuk mengembangkan diri, maka hara-

pan yang dimiliki pegawai akan semakin kuat. Kondisi seperti ini akan menciptakan sebuah usaha yang luar biasa dari pegawai untuk berusaha mengeluarkan segala potensi yang ada serta berkreasi dalam bekerja untuk sebuah hasil yang optimal.

Nilai Kebersamaan Budaya Lokal
Menurut Geert Hofstede (dalam Likert, 1986:29) mengatakan nilai merupakan suatu kecenderungan luas untuk lebih menyukai atau memilih keadaankeadaan tertentu dibanding dengan yang lain. Nilai merupakan suatu perasaan yang mendalam yang dimiliki oleh anggota masyarakat yang akan sering menentukan perbuatan atau tindak-tanduk perilaku masyarakat. Dalam sebuah budaya, nilai dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai, makin besar komitmen mereka pada nilai-nilai itu dan makin kuat budaya tersebut, sehingga budaya yang kuat menimbulkan tingginya tingkta kebersamaan atau shareness (Tjahjono, 2003: 45). Menurut Sudikan (2001: 70) budaya lokal adalah suasana umum lokal yang merupakan perwujudan dari kegiatankegiatan kehidupan para warga, sesuatu bagian dari masyarakat majemuk yang

24

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

masyarakatnya terdiri lebih dari satu suku bangsa. Sehingga dengan demikian kegiatan-kegiatan kehidupan tersebut berlandaskan atas pranata-pranata sosial yang bersumber atas kebudayaankebudayaan suku bangsa yang berlaku setempat yang dalam beberapa hal dipengaruhi oleh kebudayaan nasional. Suasana umum lokal merupakan wadah bagi terjadinya interaksi di antara warga dari berbagai suku bangsa yang menjadi komponen dari masyarakat tersebut. Suasana umum lokal dapat didominasi oleh salah satu kebudayaan suku bangsa yang ada pada entitas setempat, tetapi dapat juga merupakan hasil paduan dari berbagai unsur kebudayaan suku bangsa yang ada yang tergantung pada corak hubungan kekuatan yang berlaku di antara suku-suku bangsa dalam masyarakat tersebut. Suasana umum lokal yang dipenuhi dengan berbagai karakteristik individu yang ada akan menumbuhkan warna baru dalam berperilaku, dan perilaku tersebut secara terus-menerus ada hingga menjadi sebuah kebiasaan, yang mana kebiasaan ini diinternalisasi serta diyakini secara bersama-sama yang selanjutnya disebut budaya lokal. Karakteristik individu-individu yang diwujudkan dalam bentuk perilaku dapat diklasifikasikan dalam tepe-tipe kelom-pok sosial. Tonnies (dalam Soekanto, 2002:

142) mengklasifikasikan kelompok sosial menjadi dua tipe, yaitu paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (gessellschaft). Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis. Tipe pagu-yuban ini mempunyai ciri-ciri pokok, yaitu: intimate (hubungan menyeluruh yang mesra), private (hubungan yang bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja, exlusive (hubungan tersebut hanyalah untuk kita saja dan tidak untuk orang-orang lain di luar kita. Paguyuban ini bisa dilihat pada kehidupan masyarakat di pedesaan. Patembayan (gessellschaft) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam fikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis. Bentuk gessellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal-balik, misalnya ikatan perdagangan, organisasi serta ikatan-ikatan yang berbentuk formal lainnya. Kehidupan dalam patembayan adalah public life, artinya hubungan yang

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

25

terjadi bersifat untuk semua orang, batasbatas antara “kami” dengan “bukan kami” sangat kabur. Nilai kebersamaan yang terdapat pada budaya setempat (lokal) diangkat dari perpaduan dari berbagai budaya yang ada. Jika ditinjau lagi dari uraian tentang budaya lokal yang telah dibahas sebelumnya, maka nilai kebersamaan yang ada di lingkungan BKD Sidoarjo adalah bentuk campuran antara paguyuban dan petembayan, karena hubungan yang terjalin di situ pada awalnya adalah didasarkan adanya ikatan kerja, namun perkembangan lebih lanjut karena adanya interaksi terus-menerus dalam bekerja sehingga timbul kesamaan pandang dan ikatan batin antar teman. Karena itu hubungan yang terjadi selanjutnya juga dalam bentuk paguyuban. Nilai kebersamaan memuat nilai kerukunan dan harmoni, di mana anggota diajarkan agar mempunyai kesediaan untuk saling memperingan beban dan kesadaran berbagi. Adanya jalinan hubungan persahabatan dan persaudaraan termasuk hubungan komunikasi dilakukan dalam suasana asih, asah dan asuh, yang seperti halnya dalam kehidupan kekeluargaan tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam demokrasi partisipatif, di mana setiap anggauta keluarga berkarya dengan “tepo sliro” dan

“rangsa rumangsa” dalam menunaikan hak-hak dan tugas-kewajibannya. Dengan demikian daya dan pekerti serta kegiatankegiatan manusia dalam masyarakat dapat terwujud dalam kegotong-royongan untuk “memayu-humaning bhawana”. (Setyodarmodjo.2000: 26). Walau dewasa ini dirasakan ada-nya pergeseran nilai budaya, namun semangat kebersamaan masih amat terasa dalam interaksi antar individu di lokasi setempat. Nilai kebersamaan ini dapat diperhatikan kehadirannya tidak hanya pada tingkatan dalam keluarga tetapi juga kehidupan masyarakat dari organisasi tingkat RT sampai tingkat pemerintahan. Secara teoretis nilai budaya dipersepsikan untuk selanjutnya diinternalisasi sebagai nilai pibadi. Di samping itu nilai budaya juga dipakai sebagai pijakan dalam menentukan sikap, niat dan perilaku. Proses seperti ini dapat dilihat dalam teori Fishbein & Ajzen (1991) sebagaimana gambar 1. Gambar 1 menjelaskan bahwa: Faktor latar belakang yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap keyakinan dalam berperilaku, keyakinan normatif, dan keyakinan pengontrol yang dimiliki individu. Ketiga keyakinan tersebut mempunyai derajat yang berbeda pada setiap individu. Hal tersebut tergantung seberapa kuat proses internalisasi dari masing-masing individu. Keyakinan dalam

26

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

berperilaku akan menghasilkan penilaian individu terhadap perilaku tertentu (sikap terhadap perilaku, bisa positif, netral, atau negatif). Keyakinan terhadap norma akan menghasilkan norma subyektif yaitu aturan dalam diri individu tentang apa yang pantas dilakukan atau tidak dilakukan. Keyakinan terhadap kontrol akan menghasilkan kontrol terhadap perilaku individu yang didasarkan pada persepsi orang lain, di mana individu mengalami sebuah proses dalam memutuskan perilakunya dengan mempertimbangkan persepsi orang lain sebagai kontrol. Ketiga proses yang terjadi dalam diri individu (sikap terhadap perilaku, norma subyektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan) tersebut akan menghasilkan niatan kuat

untuk berperilaku yang tentunya didukung dengan kontrol perilaku yang nyata dari individu Teori Fishbein & Ajzen di atas memberikan pemahaman bahwa perilaku terbentuk tergantung dari niat yang ada pada diri seseorang; dari niat positif akan terbentuk perilaku positif dan dari niat negatif akan juga terbentuk perilaku negatif.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi, yaitu menjelaskan hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis (hypotheses testing). Jenis penelitian ini juga ditujukan untuk menganalisis pengaruh suatu variabel terhadap variabel

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

27

lainnya. (Sugiono, 2004: 109). Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah kreativitas kerja, motivasi, lingkungan kerja, dan nilai budaya lokal. Kreativitas kerja sebagai variabel endogen (Z), sedangkan motivasi sebagai variabel endogen (X) dan lingkungan kerja sebagai variabel endogen (Y). Kedua variabel ini mempengaruhi kreativitas kerja. Sementara nilai budaya lokal sebagai variabel eksogen (W) yang mempengaruhi motivasi dan lingkungan kerja. Klasifikasi variabel didasarkan pada jenis analisis data yang dipergunakan. Penelitian ini menggunakan analisis jalur. Dalam analisis jalur, variabel diklasifikasikan dua macam yaitu variabel eksogen dan endogen. Populasi dalam penelitian ini adalah Pegawai Negeri Sipil Badan Kepagawaian Daerah Pemerintah kabupaten Sidoarjo yang seluruhnya berjumlah 51 orang. Pertimbangan menggunakan sampel total populasi, diharapkan untuk mendapatkan data yang representatif atau mewakili gambaran seluruh populasi. Maka studi ini adalah studi populasi. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi pertanyaan tertulis dengan alternatif jawaban yang telah tersedia berbentuk pilihan (close ended item). Sedangkan data dikumpulkan melalui observasi dan

wawancara langsung dengan responden (indepth interview). Skala yang dipergunakan adalah skala Likert dengan skor antara 0 sampai dengan 4. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur yang bertujuan untuk mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang didahului dengan variabel anteseden yang dapat dianalisis dengan menggunakan program AMOS 4.01. Selanjutnya untuk mengetahui diterima atau tidaknya hipotesis, dalam penelitian ini ditetapkan signifikansi pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dilihat dari tingkat pendidikan, komposisi pendidikan sarjana lebih banyak dari pendidikan SMA. Terdapat 13,70% (7 orang) lulus S2, 51,00% (26 orang) lulus S1, 5,90% (3 orang) lulus D2. sedangkan 29,40% (15 orang) lulus SMA. Bila dilihat berdasarkan jabatannya maka yang menjabat eselon III berjumlah 4 orang (7,84%), eselon IV berjumlah 10 orang (19,61%) dan staf (non eselon) berjumlah 37 orang (72,55%). Masa kerja pegawai di BKD Sidoarjo dari 0–5 tahun terdapat 19,61% (10 orang), 6–10 tahun terdapat 27,45% (14 orang), 11–15 tahun terdapat 31,37% (16), 16–20 tahun terdapat 9,80 % (5 orang), ≥ 21 tahun terdapat 11,77% (6 orang).

28

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

Hasil Pengujian Hipotesis
Gambar 2 memuat jalinan hubungan antar variabel, hipotesis-hipotesis dan hasil pengujiannya. Hipotesis 1 : Variabel nilai kebersamaan budaya lokal berpengaruh terhadap lingkungan kerja. Hubungan antara nilai kebersamaan budaya lokal dengan lingkungan kerja mempunyai critical ratio 10,894 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,000. Dengan demikian terdapat pengaruh nilai kebersamaan budaya lokal terhadap lingkungan kerja dengan koefisien strandardized sebesar 0,84. Dengan demikian apabila nilai kebersamaan berubah akan menyebabkan perubahan lingkungan kerja dengan arah

perubahan yang searah. Jika nilai kebersamaan meningkat maka lingkungan kerja juga akan meningkat, sebaliknya jika nilai kebersamaan menurun maka lingkungan kerja juga menurun. Hipotesis 2: Variabel nilai kebersamaan budaya lokal berpengaruh terha-dap motivasi. Hubungan antara nilai kebersamaan budaya lokal dengan motivasi mempunyai critical ratio 9,583 dengan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,000. Dengan demikian terdapat pengaruh nilai kebersamaan terhadap motivasi dengan koefisien standardized sebesar 0,808. Dengan demikian apabila nilai kebersamaan berubah akan menyebabkan perubahan motivasi dengan arah perubah-

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

29

an searah. Jika nilai kebersamaan meningkat maka motivasi juga akan meningkat, sebaliknya jika nilai keber-samaan menurun maka motivasi juga menurun. Hipotesis 3: Variabel motivasi berpengaruh terhadap kreativitas. Hubungan antara motivasi de-ngan kreativitas mempunyai critical ratio 0,325 dengan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,325. Dengan demikian motivasi tidak berpengaruh terhadap kreativitas kerja dengan koefisien standardized sebesar 0,153. Dengan demikian jika motivasi berubah maka tidak akan mengubah kreativitas kerja dengan arah perubahan yang tidak searah. Jika motivasi meningkat maka kreativitas kerja dalam kondisi tetap (tidak meningkat dan tidak menurun). Hipotesis 4: Variabel lingkungan kerja berpengaruh terhadap kreativitas. Hubungan antara lingkungan kerja mempunyai critical ratio 3,136 dengan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,002. Dengan demikian terdapat pengaruh positif lingkungan kerja terhadap kreativitas kerja dengan koefisien standardized sebesar 0,488. Dengan demikian apabila lingkungan kerja berubah maka menyebabkan perubahan kreativitas kerja dengan arah perubahan yang searah. Jika lingkungan kerja meningkat maka kreativitas kerja juga akan meningkat, sebalik-

nya jika lingkungan kerja menurun maka kreativitas kerja juga akan menurun.

Nilai Kebersamaan
Nilai kebersamaan budaya setempat yang diciptakan pimpinan BKD diinternalisasi dan mampu dipersepsikan dengan baik oleh pegawai sehingga ada kesatuan paham di antara para pegawai. Hubungan yang terjalin dengan baik di luar rutinitas kerja menjadi sebuah landasan kebersamaan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dalam menjalan-kan tugas sehari-hari mendapat dukungan baik dari pimpinan, teman kerja maupun dari unit kerja serta dukungan antar unit kerja. Nilai kebersamaan budaya lokal yang diciptakan pimpinan BKD untuk mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif sangat tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dinyatakan Adisubroto (1993: 17) bahwa nilai dapat digunakan untuk mengubah dan mempengaruhi orang lain. Selanjutnya pemahaman tersebut dapat dijelaskan melalui teori yang disampaikan Fihsbein & Ajzen (1991: 211) bahwa nilai sebagai lan-dasan individu dapat berfungsi dalam menentukan sikap, niat dan perilaku. Dari teori tersebut bisa dijelaskan bahwa keyakinan terhadap sebuah nilai akan dipersepsikan individu untuk diproses dalam menentukan sikap. Jika suatu nilai yang dipersepsikan positif

30

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

maka sikap yang keluar akan positif. Sikap inilah yang menentukan perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Nilai kebersamaan budaya lokal yang dibangun oleh pimpinan juga mampu menggerakkan motivasi kerja pegawai di BKD Kabupaten Sidoarjo. Sebagai sarana motivasi, nilai kebersa-maan yang diciptakan di luar rutinitas kerja dalam bentuk percakapan ringan (informal) pada saat jam istirahat atau saat-saat tertentu untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas kantor, atau kegiatan lain yaitu secara bersama-sama mengadakan rekreasi akan dapat membentuk jalinan yang akrab antar pegawai. Suasana ini akan menciptakan organisasi yang aman dan nyaman bagi pegawai. Dengan situasi seperti ini pegawai merasa mendapat perhatian serta dapat menggantungkan harapan pada organisasi. Dengan demikian pegawai akan lebih dapat berkonsentrasi dan memiliki semangat dalam menjalankan pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dinyatakan Kisni & Salis (2004: 51) bahwa nilai berfungsi sebagai sarana yang kuat untuk membentuk motivasi. Pengujian tersebut sangat rele-van jika dikaitkan dengan teori Fishbein & Ajzen (1991: 211) bahwa nilai yang diinternalisasi serta dipersepsikan individu membentuk keyakinan dalam menentukan sikap dan niat. Jika nilai sebagai stimu-

lus diinternalisasi dan dipersepsikan positif maka keyakinan dalam membentuk sikap dan niat akan positif sehingga perilaku yang terbentuk akan positif pula. Inti dari teori Fiesbien & Ajzen ini adalah bahwa perilaku individu tergantung pada niat yang ada pada masing-masing individu. Motivasi yang diberikan kapada pegawai tidak berpengaruh pada terwujudnya kreativitas kerja pegawai di BKD Kabupaten Sidoarjo. Hal ini dapat dijelaskan karena motivasi pegawai yang terbentuk disebabkan hanya oleh dorongan eksternal (motivasi ekstrinsik) serta belum adanya kesadaran pegawai tentang betapa pentingnya kreativitas kerja dalam menjalankan pekerjaan. Kreativitas akan muncul tidak hanya karena dorongan eksternal saja (motivasi ekstrinsik). Kreativitas akan terwujud jika pegawai sadar serta mempunyai keinginan yang kuat untuk bertindak secara kreatif dalam menjalankan aktivitasnya di kantor. Dengan demikian kesadaran diri itulah yang menjadi motivasi intrinsik bagi terwujudnya kreativitas kerja pegawai. Realitas ini sesuai dengan pendapat yang dinyatakan oleh Munandar (2002: 39) bahwa perwujudan kreativitas tidak hanya memerlukan dorongan eksternal (motivasi ekstrinsik) dari lingkungan dorongan melainkan juga dorongan internal (motivasi intrinsik).

Isnaini Rodiyah, Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan kerja dan Motivasi

31

Asumsi yang mendasari rendahnya pengaruh motivasi terhadap kreativitas kerja adalah adanya peraturan-peraturan legal dan prosedural yang bersifat mengikat pegawai. Dengan adanya ikatan ketat dari peraturan tersebut, pegawai merasa enggan untuk menciptakan ide-ide kreatifnya. Pegawai berpendapat bahwa kreativitas pada akhirnya akan berbenturan dengan aturan yang ada. Boleh jadi hasil penelitian ini mematahkan teori yang telah berkem-bang saat ini bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap kreativitas kerja walau hanya di lingkungan BKD Kabupaten Sidorajo, namun tidak selalu demikian ketika teori ini dibuktikan pada lokasi yang berbeda karena kondisi lokasi juga akan turut menentukan pembuktian sebuah teori. Dalam kajian di luar dunia ilmiah yang biasa disebut dunia ngilmu, di mana orang tidak saja diajak berpikir secara logika tapi bagaimana logika tersebut di bawa dalam alam rasa, maka kreativitas seseorang mungkin saja terwujud tanpa adanya motivasi. Hal ini dikarenakan dunia ngilmu mengajarkan bagaimana seseorang lebih mengenali diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan untuk selanjutnya diproses menjadi sebuah kekuatan dalam setiap aktifitasnya. Lingkungan kerja dalam konteks penelitian ini adalah dukungan dari

pimpinan, dari teman, dan dari unit kerja. Dukungan dari orang-orang sekelilingnya dapat diamati melalui interaksi yang terjalin antar pimpinan, pimpinan dengan bawahan, dan bawahan dengan bawahan, serta interaksi antar unit kerja. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dinyatakan Gilley & Mycunich (2000: 314) bahwa lingkungan kerja tercipta berdasarkan respek dan hubungan timbal-balik yang saling mendukung, berkolaborasi, dan adanya kerjasama. Lingkungan kerja yang demikian ini akan membangkitkan rasa memiliki di antara pegawai sehingga pegawai mampu beradaptasi dengan realitas dan tujuan bersama. Lingkungan kerja yang kondusif tersebut dapat menumbuhkan kreativitas kerja pegawai. Dari hasil penelitian para pakar yang tergabung dalam The Creative Problem Solving Group (Lihat: Saragih, 2004: 42) tentang lingkungan kerja dan kreativitas, menghasilkan suatu simpulan bahwa lingkungan kerja memegang peranan penting dalam menentukan kreativitas dan inovasi.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Beberapa simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: (a) nilai kebersamaan yang dibangun pimpinan BKD Sidoarjo berlandaskan pada

32

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 17 - 32

bodaya lokal mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan menjadi motivasi pegawai dalam bekerja, (b) lingkungan kerja yang kondusif juga berhasil menciptakan kerja kreatif para pegawai, (c) motivasi yang diberikan pimpinan belum mampu berpengaruh terhadap cara kerja yang kreatif bagi pegawai.

Dharma, S., 2004. Kreativitas sebagai Esensi dan Orientasi pengembangan SDM. Usahawan, 06(XXXIII): 29-36. Gibson, J. L., Ivancevich, J. M., & Donnelly Jr., J. H., 2001. Organisasi: Perilaku, Struktur dan Proses. Erlangga. Jakarta. Luecke, R., 2003. Managing Creativity and Innovation. Harvard Bussiness School. Harvard. Likert, R., 1986. Organisasi Manusia: Nilai dan Managemen. Penerbit Erlangga. Jakarta. Luthans, Fred., 1986. Organizational Bahavior. Tien Wah Press. Singapore. Munandar, U., 2004. Kreativitas dan Keberbakatan., Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Saragih, F. D., 2004. Iklim Organisasi Kreatif: Memahami Iklim Organisasi Sebagai Determinasi Kreativitas. Usahawan. 08(XXXIII): 37-49. Setyodarmodjo, S., 2000. Daya dan Pekerti Manusia sesuai Ajaran Jawa. Lembaga Javanologi. Surabaya. Soekanto, S., 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sudikan, S. Y., 2001. Metode Penelitian Kebudayaan. Citra Wacana. Surabaya. Tjahjono, H. K., 2003. Budaya Organisasi & Balance Scorecard, Dimensi dan Praktik. Unit Penerbitan FE Unmuh Yogyakarta, Yogyakarta. Wisnu, 1998. Inteligensi dan Kreativitas Anak. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Surabaya. Kompas, 26 maret 2005 http/www,hri. reference/general-3htm. Diakses Januari 2005.

Saran
Berdasarkan pada hasil penelitian ini, saran-saran yang bisa diberikan antara lain: a. Penelitian kreativitas pegawai dapat dikembangkan lagi dalam lingkup yang lebih luas terutama kreativitas pegawai pemerintah kabupaten di era otonomi daerah. b. Motivasi yang diberikan pimpinan seharusnya bukan hanya motivasi ekstrinsik saja tetapi yang lebih penting adalah pemberian motivasi secara intrinsik. c. Dalam menetapkan kebijakan pengangkatan pejabat hendaknya dilakukan tes kreativitas terlebih dahulu, dengan menggunakan tes tulis atau wawancara.

DAFTAR RUJUKAN
Bake, J., 2004. Pendekatan 4P kreatif: Pengertian dan Model pengukuran Kreativitas dan Inovasi. Usahawan, 04 (XXXIII): 51-56.

KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DALAM HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA (Upaya Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa)

Sam’un
(Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya)

ABSTRACT One of the serious problems encountered by Indonesia nowadays is corruption, collusion, and nepotism. It seems that the problem has become a way of life and entrenched of Indonesian societies. Even, it causes Indonesia becomes one of the corruptor countries in the world. Besides, it makes the government authority loses on societies view. The phenomena urge the nation elements to clean Indonesia from corruption, collusion, and nepotism. Hence, it is important to do some efforts to make the society aware of its risks. One of ways is to implant a concept of corruption, collusion, and nepotism law in Islamic perspective and Indonesian legislation to the societies. Hopefully, the society are be able to understand and aware, and also avoid the corruption, collusion, and nepotism. It is also expected to make the societies realize and guarantee their life order and the nationality peacefully with clean and authority government. Keywords: clean and authority; corruption, collusion, and nepotism; Islamic law, and Indonesian legislation.

PENDAHULUAN
Pemerintah yang bersih dan berwibawa merupakan dambaan semua orang, khususnya rakyat yang merupakan bagian komunitas tak terpisahkan dengan keberadaan suatu pemerintah(an). Sebagaimana dimaklumi bahwa keberadaan suatu

negara tidak lepas dari keberadaan rakyat sebagai komunitas yang diperintah dan pemerintah sebagai komunitas yang memerintah. Kedua komunitas ini harus terjalin hubungan yang mesra sehingga kehidupan suatu negara bisa terjamin ketentramannya. Rakyat memerlukan

33

34

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 33 - 42

perlindungan dari pemerintah dan pemerintah memerlukan loyalitas dan legalitas dari rakyat. Keduanya harus saling memberi dan mengisi karena manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial yang paling banyak memerlukan bantuan pihak lain dibanding makhluk-makhluk lainnya. Dalam praktik kehidupan bernegara, loyalitas rakyat biasanya ditentukan oleh kadar kewibawaan suatu pemerintahan. Semakin tinggi kewibawaan pemerintah maka semakin tinggi pula loyalitas rakyat. Dalam hal ini kewibawaan tentu bukan yang didasari atas keterpaksaan, namun kewibawaan yang tumbuh atas dasar kesadaran masyarakat. Kewibawaan seperti ini bisa muncul jika pemerintah melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan harapan dan kehendak rakyat yang antara lain adalah bersih dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Tulisan singkat ini akan mengetengahkan pembahasan mengenai Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dalam perspektif hukum Islam dan per-Undang-Undangan di Indonesia, sebagai upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

yang baku. Hal ini barangkali disebabkan adanya subyektivitas pandangan setiap orang terhadap istilah tersebut dengan cara pandang mereka masing-masing. Oleh karena itu dalam memahami istilah tersebut penulis mencoba untuk mengetengahkan batasan sesuai dengan issue yang berkembang di masyarakat dewasa ini. Sebagaimana yang kita maklumi, dalam era reformasi ini hampir semua orang menuntut agar pemerintah Indonesia bersih dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Tuntutan ini bergulir mulai dari tingkatan rakyat elit sampai dengan rakyat alit. Mulai dari pejabat yang belum pernah terlibat dalam kekuasaan pemerintah “prareformasi” sampai dengan pejabat atau mantan pejabat yang berstatus sebagai bunglon politik. Mereka semua menuntut agar pemerintah era reformasi ini bisa membersihkan praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sudah membudaya pada pemerintah era Orde Baru selama 32 tahun. Tuntutan ini tentu tidak semudah yang diucapkan, dan hal itu memerlukan waktu yang sangat panjang. Sekalipun demikian jika tuntutan itu bisa terpenuhi maka pemerintah yang bersih dan berwibawa akan terwujud di negeri ini. Dari uraian di atas, pemerintah yang bersih dan berwibawa adalah yang bebas dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Oleh karena itu dalam pembahasan

PEMERINTAH YANG BERSIH DAN BERWIBAWA
Batasan pemerintah yang bersih dan berwibawa secara konseptual masih sulit didapati penulis pada literatur-literatur

Sam’un, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam Hukum Islam

35

berikutnya penulis akan melihat tiga hal tersebut dari sudut pandang Islam dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

atau kedudukannya, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Badan. 3) Melakukan kejahatan yang tercantum dalam pasal-pasal 209, 210, 387, 388, 415 sampai dengan 420, 423, 425, dan 435 KUHP . 4) Perbuatan memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri seperti dimaksud dalam Pasal 2 dengan mengingat sesuatu kekuasaan atau sesuatu wewenang yang melekat pada jabatannya atau kedudukannya atau oleh si pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan itu. 5) Perbuatan pihak yang menerima pemberian atau janji yang diberikan kepadanya seperti yang tersebut dalam pasal 418 s/d. 420 KUHP tanpa , alasan yang wajar, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tidak melaporkan pemberian atau janji tersebut kepada yang berwajib. Dari paparan tersebut dapatlah dikonstruksikan bahwa korupsi itu adalah perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan karena jabatan dengan tujuan memperkaya dan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau

1. Pandangan Hukum Islam
Korupsi berasal dari Bahasa Latin’ “corruptio” atau “corruptus” yang kemudian muncul dalam hanyak bahasa Eropa seperti Inggris dan Perancis “corruption”, bahasa Belanda “corroptie”, yang selanjutnya muncul pula dalam perbendaharaan bahasa Indonesia: korupsi yang berarti gejala dimana para pejabat badan-badan negara menyalahgunakan jabatan mereka, sehingga memungkinkan terjadinya penyuapan, pemalsuan, serta berbagai ketidakberesan lainnya. Dari segi Yuridis teknis pengertian korupsi mencakup: 1) Dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu Badan, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan atau diketahui atau patut disangka oleh pelakunya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau pereko-nomian negara. 2) Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Badan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada pada seseorang karena jabatan

36

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 33 - 42

suatu badan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara. Dalam hal ini para ulama fiqh sepakat mengharamkan perbuatan korupsi tersebut karena bertentangan dengan maqashid al-syari’ah (tujuan hukum Islam). Sebagaimana yang kita maklum bahwa hukum Islam diturunkan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan manusia. Di antara kemaslahatan yang hendak diwujudkan dengan turunnya syari’at tersebut adalah terpeliharanya harta dari pemindahan hak milik yang tidak melalui prosedur hukum, dan dari pemanfaatannya yang tidak sesuai dengan kehendak syar’i. Oleh karena itu haramnya mencuri, merampas (termasuk korupsi), adalah untuk menjaga keamanan harta dari pemilikan yang tidak sah. Keharaman praktik korupsi ini dapat ditinjau dari hal-hal sebagai berikut: 1. Korupsi adalah perbuatan yang curang dan penipuan yang secara langsung merugikan keuangan negara. Dalam hal ini Allah SWT memberi peringatan agar kecurangan dan penipuan itu dihindari, sebagaimana firman-Nya pada surat Ali lmran ayat 161 sebagai berikut:
Artinya: “Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan

perang itu maka pada hari kiamat ia akan datang dengan membawa apa yang dikhianatinya itu. Kemudian tiaptiap orang akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan yang setimpal, dan mereka tidak dianiaya”.

Sekalipun ayat tersebut menyoroti masalah rampasan perang, namun secara umum dapat dikonotasikan kepada semua harta milik rakyat yang harus didistribusikan sesuai dengan hak-hak mereka masing-masing. Dalam hal ini Nabi SAW tidak pernah memanfaatkan jabatannya sebagai panglima perang untuk mengambil harta rampasan di luar dari ketentuan yang ada. Selain itu, ayat tersebut juga mengandung pengertian bahwa setiap perbuatan curang seperti korupsi akan diberi hukuman yang setimpal di hari kiamat. Hal ini memberi peringatan agar setiap pejabat tidak terlibat dalam praktik korupsi. Dalam kaitan ini Umar bin Abdul Aziz dengan nada yang keras menolak pemberian kalung emas oleh seorang pengawas “Baitul Mal” kepada puterinya karena hal itu dianggap sebagai pemberian yang tidak sah dan termasuk kategori korupsi. 2. Korupsi termasuk penyalahgunaan jabatan dan pengkhianatan amanah untuk memperkaya diri. Berkhianat terhadap amanah adalah perbuatan yang terlarang dalam Islam, sebagai-

Sam’un, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam Hukum Islam

37

mana dalam firman Allah SWT dalam surat al-Anfal ayat 27 sebagai berikut:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan jangan pula kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui hal itu”.

mengharamkan memperoleh serta membelanjakan harta korupsi tersebut. Kolusi berasal dari kata “collusion” yang berarti persekongkolan. Persekongkolan ini tentunya melibatkan dua orang atau lebih yang berakibat pada kerugian pihak lain di luar kelompok persekongkolan tersebut. Kolusi adalah kerjasama (persekongkolan) dengan maksud untuk melakukan penipuan atau mengelabui hak-hak seseorang atau untuk memperoleh sesuatu benda atau tujuan tertentu dengan cara melanggar hukum. Bila dilakukan untuk mendapat keuntungan yang dapat membawa kerugian langsung atau tidak langsung pada keuangan negara atau perekonomian negara, dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. Jadi biasanya praktik persekongkolan ini terjadi dengan memanfaatkan wewenang pejabat untuk memperoleh suatu keuntungan. Misalnya dalam praktik perekonomian atau peradilan. Dalam praktik perekonomian, seorang pejabat bisa meloloskan tender yang mestinya tidak layak, dan dalam praktik peradilan seorang hakim bisa meloloskan perkara yang mestinya tidak lolos. Kedua hal tersebut bisa terjadi karena adanya praktik kolusi. Praktik kolusi ini sangat bertentangan dengan prinsip keadilan yang harus ditegakkan dalam Islam. Oleh karena itu,

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa mengkhianati amanat seperti perbuatan korupsi adalah haram. Adapun penggunaan dan pemanfaatan harta hasil korupsi, para ulama juga sepakat mengharamkannya. Sebab pada prinsipnya harta itu bukanlah milik yang sah, melainkan milik orang yang diperoleh dengan cara terlarang. Dasar yang menguatkan pendapat mereka ini adalah firman Allah SWT surat al-Baqarah ayat 188 sebagai berikut:
Artinya : “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada Hakim supaya kamu mendapatkan sebagian kamu dari harta benda orang lain dengan (jalan) berbuat dosa padahal kamu mengetahui”.

Pada ayat ini terdapat larangan memakan harta orang lain yang diperoleh dengan cara yang batil termasuk korupsi. Dari uraian di atas jelaslah bahwa Islam melarang praktik korupsi dan

38

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 33 - 42

Islam tidak mentoleransi adanya praktik kolusi tersebut. Dalam sejarah Islam tercatat bahwa Khalifah Umar memenangkan gugatan seorang Yahudi terhadap Gubernur Mesir yang berbuat sewenangwenang terhadap Yahudi tersebut. Demikian pula sahabat Ali juga pernah diadili dengan seorang Yahudi dan berada pada pihak yang kalah. Masih banyak lagi cerita dalam Islam yang tidak pernah membeda-bedakan antara satu orang dengan yang lain. Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa andaikan Fatimah (putrinya) terlibat dalam pencurian maka beliau pasti memotong tangannya. Dari riwayat-riwayat ini jelas sekali bahwa Islam tidak mengenal praktik kolusi demi tegaknya keadilan. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam surat an-Nahl ayat 90 yang artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan”. Seriring dengan praktik kolusi ini biasanya disertai dengan suap-menyuap yang menurut Islam merupakan perbuatan terlaknat. Hal ini sesuai dengan penegasan Nabi SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad yang artinya: “Allah melaknat orang yang menyuap dan yang mendapat suap”. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Islam melarang praktik kolusi karena bertentangan dengan prinsip

keadilan. Berbeda halnya dengan nepotisme (berasal dari kata Latin nepos, neptis yang berarti cucu, keturunan, juga keponakan). Menurut pengertian istilah kata ini berarti kecenderungan untuk memberikan prioritas di luar ukuran kepada sanak kadang dalam hal pekerjaan, jabatan, pangkat di lingkungan birokrasi kekuasaan. Nepotisme menggambarkan adanya suatu pola hubungan yang bernuansa kedekatan rumpun keluarga (kerabat) yang berkaitan dengan suatu pola recruitmen yang tidak berdasar pada prinsip merit system dan fairness yang berhubungan dengan jabatan publik dan mempunyai makna pengangkatan langsung maupun tidak langsung atau pemberian pelimpahan kewenangan kepada kerabat dengan menggunakan pengaruhnya di dalam maupun di luar institusi kekuasaannya yang berhubungan dengan jabatan publik. Nepotisme, konsep yang berasal dari dunia Barat yang memang membatasi pada keluarga dekat, sebab budaya Barat mengenal sistem keluarga kecil (nuclear family). Tetapi dalam budaya Timur, khususnya Indonesia, yang dikenal adalah budaya keluarga besar (extended family). Dengan demikian, nepotisme tidak lagi dipahami secara genealogik, tetapi dipahami secara luas sehingga menimbulkan istilah koncoisme dan kroniisme. Karena

Sam’un, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam Hukum Islam

39

itu, tekanan dalam nepotisme tidak dilihat dari hubungan genealogi, tetapi lebih ditekankan kepada prosedur (merit system) dan fairness serta clearness. Artinya, tidak ada kecenderungan menyalahgunakan jabatan apabiIa ada seorang keponakan yang menjadi staf pamannya, asal tidak melanggar merit system, fairness, dan clearness tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikategorikan penyalahgunaan wewenang dan merupakan tindak korupsi. Ini disebabkan karena korupsi itu tidak hanya bermakna ekonomi, tetapi juga bisa berupa policy corruption (structural corruption). Jika ditelusuri dari lembaran sejarah Islam, pada zaman Nabi tidak pernah terjadi praktik nepotisme tersebut. Hal ini paling tidak bisa dibuktikan dengan praktik suksesi kepemimpinan Nabi SAW yang tidak melalui penunjukan oleh beliau kepada siapa pun, bahkan hal itu diserahkan sepenuhnya kepada para sahabat. Nepotisme ini sebenarnya tidak lepas dari praktik diskriminasi manusia yang dalam Islam tidak dibenarkan. Dalam hal ini Allah menegaskan pada surat AlHujurat ayat 13, yakni yang artinya:
“Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang lakiIaki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang

paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat di atas mengandung arti bahwa tidak ada perbedaan antara satu orang dengan yang lain kecuali dari segi ketaqwaannya. Oleh karena itu, semua manusia mempunyai hak sama dalam memperoleh kesempatan, jabatan, maupun pekerjaan sesuai dengan keahlian yang mereka miliki tanpa harus membedakan dari pihak keluarga maupun tidak. Dari sini jelas bahwa Islam tidak membenarkan praktik nepotisme.

2. Pandangan Perundangundangan di Indonesia a. Korupsi
Pada mulanya istilah korupsi di lndonesia bersifat umum, kemudian menjadi istilah hukum sejak dirumuskannya peraturan penguasa militer No. PRT/ PMJO61/l957 tentang Korupsi. Konsideran peraturan tersebut menyebutkan dan menimbang bahwa berhubung dengan tidak adanya kelancaran dalam usaha-usaha memberantas perbuatanperbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara yang oleh khalayak ramai dinamakan korupsi, perlu segera menetapkan tata kerja untuk dapat menerobos kemacetan dalam usaha memberantas korupsi.

40

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 33 - 42

Dari konsiderasi di atas dapat diketahui bahwa: 1) Korupsi merupakan perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara, dan 2) Korupsi adalah perbuatan yang membuat perekonomian negara menjadi macet. Karena itu, korupsi harus diberantas sebab bisa menghambat usaha kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara menyeluruh. Dalam konstitusi Indonesia, yakni UUD 1945 ketika sebelum mengalami proses amande-men, pada penjelasan atas Bab XIV Pasal 33 disebutkan tentang dasar demokrasi ekonomi, bahwa produksi dikerjakan oleh semua dan untuk semua, di bawah pimpinan atau pemilihan anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan dan bukan kemakmuran orang perorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan, demokrasi ekonomi, serta kemakmuran bagi segala orang. Dari penjelasan Pasal 33 UUD 1945 tersebut dapat diketahui bahwa perekonomian Indonesia harus dibangun atas dasar demokrasi yang hasilnya juga dirasakan bersama. Korupsi adalah tindakan yang mencari keuntungan pribadi dan merugikan rakyat banyak. Oleh karena itu, korupsi jelas-jelas bertentangan dengan UUD 1945. Di dalam UU Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi, pelaku tindak pidana korupsi ini dikenakan hukuman pidana yang berat, sebagaimana diatur dalam pasal 28: “Barang siapa melakukan tindak pidana korupsi yang dimaksud pasal 1 ayat (1) sub a, b, c, d, e dan ayat (2) UndangUndang ini, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun dan atau denda setinggi-tingginya Rp. 30 juta rupiah. Selain itu, kepada koruptor dapat dijatuhkan juga hukuman tambahan tersebut dalam pasal 34 sub a, b, dan c Undang-Undang ini. Selain hukuman tindak pidana korupsi ini, pelaku dapat dikenakan pidana sebagaimana termak-tub dalam pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 425, dan 435 KUHP Juga pasal 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, . 12, 13 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal-pasal tersebut bahkan kemudian diperluas dengan pengaturan mengenai pelarangan gratifikasi pada UU. Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU 31/ 1999. kedua UU tersebut meru-pakan pengejawantahan Tap MPR XI/MPR/1998 dan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

b. Kolusi
Sebagaimana yang telah diungkap-

Sam’un, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam Hukum Islam

41

kan pada uraian yang lalu bahwa kolusi merupakan persekongkolan antara dua orang atau lebih untuk memberi prioritas orang-orang tertentu dalam memperoleh hak dan kesempatan. Pemberian prioritas ini bisa terjadi antara lain karena didahului dengan suap-menyuap, hubungan teman akrab, atau hubungan atasan dan bawahan dalam suatu birokrasi. Dalam hal kesejahteraan sosial seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa bangsa Indonesia memperoleh hak yang sama. Oleh karena itu praktik kolusi tidak dibenarkan oleh UUD 1945. Selanjutnya dalam UUD 1945 Pasal 27 disebutkan bahwa, “segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Berikutnya pada Penjelasan Pasal 24 dan 25 sebelum UUD 1945 diamandemen disebutkan bahwa: “Kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam Undang-Undang tentang kedudukan para hakim. Konsiderasi dan Penjelasan Pasal 24, 25, dan 27 tersebut memberikan ketegasan bahwa warga negara Indonesia memperoleh hak yang sama dalam peradilan, sehingga diskriminasi antar mereka tidak

dibenarkan. Oleh karena itu hakim wajib memberlakukan hukum yang sama kepada mereka tanpa melihat suku, agama, dan kedudukannya. Dari sini jelaslah bahwa praktik pemberian prioritas kepada seseorang sebagaimana yang terjadi dalam kolusi adalah tindakan yang bertentangan dengan UUD 1945. Kolusi dapat dikategorikan sebagai korupsi -sebagaimana diterangkan di atas, sehingga hukuman pidana bagi pelaku korupsi dapat dikenakan terhadap pelaku kolusi, bahkan apabila didahului dengan suap-menyuap, maka hukuman tindak pidana suap dapat pula dijatuhkan bagi pelaku kolusi, sebagaimana diatur dalam pasal 2 dan 3 UU Nomor 3 Tahun 1971:
“Barang siapa menerima sesuatu atau janji, sedang ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, dipidana karena menerima suap dengan pidana penjara selamalamanya 3 (tiga) tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 15.000.000, (Lima Belas Juta Rupiah).

c. Nepotisme
Nepotisme seperti yang telah dijelaskan terdahulu adalah pemberian prioritas jabatan kepada orang-orang yang masih dalam lingkup keluarga. Jika dikaitkan

42

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 33 - 42

dengan praktik kolusi, nepotisme ini sebenarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Hanya saja kolusi obyeknya lebih luas, yang mencakup semua pemberian prioritas, sedangkan nepotisme dibatasi pada obyek jabatan dan lingkup keluarga. Jika demikian, dalam pembahasan Perundang-Undangan antara kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan, sehingga larangan kolusi menurut UUD 1945 berlaku pula pada larangan nepotisme. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nepotisme adalah perbuatan yang tidak dibenarkan menurut UUD 1945. Oleh karena nepotisme ini dapat dikategorikan sebagai kolusi dan korupsi maka ancaman hukuman bagi pelaku kolusi dan korupsi dapat dikenakan pada pelaku nepotisme ini.

nya menghendaki adanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan melarang praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

DAFTAR RUJUKAN
Al Mawardi. 1973. al-Alzkam al-Ahkam alShulthaniyah, Mesir: Musthafa alBabi al-Halabi Waauladuhu. Andi Hamzah. 1992. Delik-delik Tersebar di Luar KUHP Jakarta: PT. Pradnya Paramita. Dahlan, Abdul Aziz, (ed). 1997. Ensiklopedi Hukum Islam. Jilid III. Jakarta: Ichtiar Baron van Hoeve. Hassan Shadily, dkk. 1983. Ensiklopedi Indonesia. Jilid 1. Jakarta: Ichtiar Baron van Hoeve. Kansil, Suarif. 2003.Bersih dan Bebas KKN. Jakarta: Perca. Manan Hasyim, H. M. 1998. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (dalam Perspektif Hukum Pidana Islam), Makalah Seminar Fak. Syar’iah. Moelyatno. 1985. KUHP. Jakarta: PT Bina Aksara. Mulyadi, Lilik. 2000. Tindak Pidana Korupsi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Salim, Peter. 1986. The Contemporary English-Indonesia Dictionary. Jakarta: Modern English Press. Syadzali, Munawir. 1990. Islam dan Tata Negara. Jakarta: UI Press. UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi UUD ‘45 dengan Penjelasannya, Surabaya: Apollo, tth.

SIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Pemerintah yang bersih dan berwibawa adalah pemerintah yang bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. 2. Menurut pandangan Islam maupun Perundang-Undangan yang berlaku di Indonesia ¾ sejak berlakunya UUD 1945 hingga kemudian dilakukan amandemen atasnya serta UU terkait yang dibuat pasca reformasi ¾ kedua-

KREDIBILITAS MAHASISWA KKNT SEBAGAI KOMUNIKATOR DALAM PENGARUHNYA TERHADAP SIKAP MASYARAKAT DI KECAMATAN JABON

Totok Wahyu Abadi
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP-UMSIDA, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 0318945444, Fax. 031-8949333l.)

ABSTRACT The aim of the study is describing the implementation of KKNT program of Sidoarjo Muhammadiyah University students, explaining the students’ credibility and societies behavior toward the students, and knowing the impact of KKNT students’ credibility toward societies behavior in Kecamatan Jabon. The study has 122 respondents as a sample. The results of the study are as follows. First, the implementation of KKNT program in Kecamatan Jabon runs well although there are some problems encountered lack of societies supports to the KKNT students’ program. Second, the students have moderate credibility level as 75%. Third, the societies of Kecamatan Jabon receive the students of Sidoarjo Muhammadiyah University who take KKNT program. The acceptance level of societies toward the students is 82.16%. Fourth, the credibility of KKNT program of Sidoarjo Muhammadiyah University students has moderate significantly impact toward societies behavior. The significantly value can be seen from the coefficient value as 0.449. Keywords: students’ credibility and societies behavior.

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan pranata sosial yang berupaya membangun dan mengembangkan peradaban manusia ke arah yang lebih maju dan berkualitas. Untuk menciptakan manusia berkualitas, diperlukan komitmen yang kuat terhadap

etika global, keadilan, rasa hormat dan tanggung jawab kepada hak asasi manusia (Sakiko Fukuda dalam Djibril Diallo,1999). Sebagai usaha sadar dan teren-cana dalam mewujudkan manusia kamil, pendidikan harus mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara

43

44

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 43 - 54

aktif kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri, kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, nilai-nilai moral, serta keterampilan sosial. Kecuali itu, juga untuk menjadikan manusia yang mampu serta proaktif menjawab tantangan zaman yang serba berubah. Perubahan zaman telah menuntut manusia (peserta didik) untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial (Rambat N. Sasongko, 2000) untuk menghadapi kecenderungan kehidupan sosial yang semakin dinamis, kompetitif, dan kompleks. Nilai-nilai dan keterampilan sosial (the social values and skills) inilah yang dapat dijadikan sebagai sarana beradaptasi dengan masyarakatnya. Urgensi nilai-nilai dan keterampilan sosial tersebut tidak semata-mata terletak pada masa depan dengan segala ketidaktentuannya, melainkan sepanjang hidupnya manusia memerlukan nilai-nilai dan keterampilan tersebut sebagai standar dan instrumen utama membentuk masyarakat yang demokratis dan harmonis. Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KKNT) merupakan salah satu wujud implementasi keterampilan sosial yang dapat dijadikan sebagai sarana beradaptasi dengan masyarakat. Sebagai kegiatan intrakurikuler, KKNT ini harus dilakukan oleh peserta didik secara mandiri ataupun

bersama-sama. Meski sebagai perpaduan dharma pendidikan dan pengajaran, penelitian, seminar, dan pengabdian kepada masyarakat; KKNT bukanlah satusatunya kegiatan yang semata-mata mengaplikasikan salah satu disiplin ilmu melainkan harus menggunakan pendekatan multidisipliner. Ini dilakukan karena realitas menunjukkan bahwa masyarakat merupakan kehidupan sosial yang dinamis, kompetitif, dan kompleks. Namun demikian tidak berarti bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak cukup signifikan bila diimplementasikan di lokasi KKNT. Semangat pendekatan interdisipliner sangat penting dalam menghadapi kompleksitas masyarakat. Sedangkan pendidikan di bangku kuliah merupakan modal dasar dalam membedah berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Dengan bertitik tolak pada kegiatan action research maupun kegiatan social action, mahasiswa harus mampu menemukan permasalahan-permasalahan pokok serta mampu memberikan solusi yang menyentuh sampai pada kebutuhan mendasar masyarakat dengan menggali dan memanfaatkan potensi desa yang ada baik berupa tenaga, pikiran, materiil, maupun sumber daya alam. Dalam hal ini mahasiswa sebagai komunikator dan agen perubahan harus mampu berperan menjadi fasilitator dan pencipta kondisi

Totok Wahyu Abadi, Kreibilitas Mahasiswa KKNT Sebagai Komunikator

45

yang kondusif agar warga masyarakat bersedia melakukan kegiatan sesuai dengan program aksi sosial yang ditawarkan dan dijadwalkan. Serangkaian kegiatan pembekalan untuk mendukung pelaksanaan program KKNT seperti pembinaan, pendekatan, dan strategi KKNT diberikan kepada mahasiswa hingga berakhirnya pelaksanaan. Kesemuanya itu diberikan agar mahasiswa mampu beradaptasi dan diterima masyarakat desa tempat ber-KKN. Raven (1977: 156), Bell (1966: 112); dan Conant (1950: 74) dalam Rambat N. Sasongko (2000) menyebutkan bahwa bekal yang harus diberikan peserta didik (baca: mahasiswa) dalam pendidikan supaya mereka dapat diterima masyarakat adalah nilai-nilai dan keterampilan sosial. Nilai-nilai sosial ini sangat penting karena berfungsi sebagai acuan bertingkah laku terhadap sesamanya serta memperoleh hubung-an yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain. Selain hal itu, pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial tersebut merupakan hal yang harus dicapai oleh pendidikan umum, sebab anak didik merupakan makhluk sosial yang akan hidup di masyarakat. Berbagai gejala menunjukkan kenyataan di lapangan bahwa maha-siswa KKNT setelah berada di desa “tidak tahu” apa yang harus dilakukan. Terlebih lagi jika

lokasi KKNT tersebut termasuk desa yang sudah maju dan mapan perekonomian masyarakatnya. Dalam konteks ini, mahasiswa tekesan miskin pengabdian, kurang disiplin, kurang empati terhadap masalah-masalah sosial, kurang efektif berkomunikasi, dan kurang bijaksana dalam membuat keputusan. Begitu halnya dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang pernah dan tengah menjalankan KKNT di desa. Acapkali mereka kurang empati terhadap masalah-masalah sosial, kurang efektif berkomunikasi, sibuk bekerja, kurang disiplin, miskin program dan pengabdian, dan yang lebih ironis lagi adalah “tidak tahu” sesuatu yang harus diperbuat. “Ketidak-tahuan” itulah yang menyebabkan mahasiswa KKNT miskin program. Sehingga program unggulan mahasiswa KKNT lebih dominan pada seputar program papanisasi (?) dan acaraacara rutinitas perlombaan di bulan Agustus (pada bulan Agustus umumnya masya-rakat sedang melakukan berbagai acara terkait perayaan HUT proklamasi RI; di bulan inilah KKNT Umsida biasanya diselenggarakan). Sementara, program pembangunan berupa pencerahan kesadaran masyarakat tentang wawasan “lokamandala” atau lingkungan desa dan pemberdayaan ekonomi masyarakat masih “belum” banyak tersentuh.

46

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 43 - 54

Kasus penolakan mahasiswa KKNT Universitas Muhammadiyah Sidoarjo oleh tokoh masyarakat maupun oleh aparat desa di Desa Grabakan Kecamatan Krembung sekitar tahun 2001, di Desa Bangsri Kecamatan Sukodono tahun 2003, maupun di beberapa desa lain merupakan cermin ketidakmampuan mahasiswa dalam memahami dan mengelola berbagai permasalahan masyarakat desa maupun masyarakat perkotaan. Penolakan, sikap negatif, sikap tidak ikut berpartisipasi dalam membantu kegiatan mahasiswa KKNT turut mewarnai kecemasan mahasiswa di hampir setiap pelaksanaan KKNT. Kenyataan ini mencerminkan bahwa mahasiswa “kurang” mampu dalam mengembangkan nilai-nilai kultural yang berada di masyarakat yang notabene mayoritas nahdliyin serta kurang memiliki keterampilan sosial untuk beradaptasi dalam bermasyarakat. Inti permasalahan yang telah diuraikan sebagaimana pada latar belakang masalah di atas, adalah penerimaan masyarakat di lokasi KKNT yang “kurang” terbuka terhadap pelaksanaan KKNT oleh mahasiswa Universitas Muhammdaiyah Sidoarjo. Atas dasar tersebut, dirumuskan suatu masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimanakah kredibilitas mahasiswa KKNT Umsida sebagai komunikator dalam pengaruhnya terhadap sikap masyarakat di Kecamatan Jabon?

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: pelaksanaan program KKNT, kredibilitas mahasiswa UMSIDA sebagai komunikator program kerja KKNT di desa lokasi KKNT, sikap masyarakat terhadap mahasiswa KKN UMSIDA, serta mengetahui pengaruh kredibilitas mahasiswa KKN UMSIDA terhadap sikap masyarakat di Kecamatan Jabon.

KERANGKA BERPIKIR
Penelitian yang berjudul “Kredibilitas Mahasiswa KKNT UMSIDA sebagai Komunikator dalam Pengaruhnya terhadap Sikap Masyarakat Kecamatan Jabon” ini terdapat dua buah konsep utama, yaitu kredibilitas mahasiswa dan sikap masyarakat. Kredibilitas dapat dijelaskan sebagai seperangkat persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator. Menurut deVito, kredibilitas mempunyai lima dimensi yaitu: (1) competence, (2) character, (3) intention, (4) personality, (5) dynamism. Sikap sebagai konsep kedua dalam penelitian ini adalah organisasi pendapat dan keyakinan tentang suatu obyek atau situasi yang relatif ajeg yang disertai dengan perasaan tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau perilaku dalam tertentu yang dipilihnya (Walgito, 1994: 109). Sikap itu bisa positif atau negatif, mendukung ataupun tidak. Mendukung

Totok Wahyu Abadi, Kreibilitas Mahasiswa KKNT Sebagai Komunikator

47

atau tidaknya suatu masyarakat sebagai komunikan sangat bergantung pada efektivitas komunikasi. Selanjutnya, efektifitas komunikasi menurut deVito dapat ditentukan dari sikap: (1) keterbukaan, (2) empati, (3) perasaan positif, (4) memberi dukungan, (5) merasa seimbang terhadap makna pesan yang sama. Uraian kedua konsep dasar dalam penelitian ini menggunakan teori SMCRE dari Everet M. Rogers dan W. F Schoe. maker sebagai grand teorinya. SMCRE merupakan singkatan dari Source (sumber informasi), Message (pesan), Channel (sarana/saluran), Receiver (penerima/ komunikan), dan Effect (umpan balik). Pemakaian teori ini didasarkan pada kerangka pemikiran bahwa perubahan sikap masyarakat terletak pada masingmasing individu. Pesan pembangunan

partisipasi yang disampaikan oleh mahasiswa KKNT sebagai komunikator kepada masyarakat desa sebagai receiver, mungkin dapat diterima atau ditolak. Jika mahasiswa dalam komunikasinya dapat membangkitkan perhatian masyarakat desa, komunikasi dapat berlangsung. Sebaliknya komunikasi tidak akan berlangsung jika tidak dapat membangkitkan perhatian masyarakat desa. Dengan berlangsungnya komunikasi melalui tatap muka (channel), masyarakat akan mengerti pesan yang disampaikan oleh mahasiswa. Pengertian yang diperoleh akan berpengaruh terhadap kesediaan untuk mengubah sikap, motivasi, dan perilaku. Uraian kerangka pemikiran dalam pemakaian teori dapat dilihat pada paradigma penelitian berikut ini:

48

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 43 - 54

METODE PENELITIAN
Penelitian eksplanatif yang menggunakan metode pendekatan survei ini menggunakan populasi semua warga desa di tiga desa kecamatan Jabon, yaitu Desa Dukuh Sari, Desa Jemirahan, dan Desa Kedung Rejo. Penentuan jumlah sampel penelitian ini menggunakan selang kepercayaan 95% dan rentang kesalahan (presisi) sebesar 9%. Jumlah populasi di tiga desa tersebut untuk usia 17 tahun ke atas sebanyak 6.808 sehingga besar sampel yang diperoleh adalah 121,6 dan dibulatkan menjadi 122 orang, sekaligus sebagai responden. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobabilitas sampling dengan teknik Judgement Sampling (sampling pertimbangan). Jika subyektivitas dan pertimbangan peneliti adalah benar maka sampel yang dipilih tersebut akan dapat mencerminkan karakteristik populasi. Adapun desain analisis yang digunakan untuk mencari kredibilitas mahasiswa sebagai variabel X serta pengaruhnya terhadap sikap masyarakat (variabel Y) dalam penelitian adalah analisis korelasi Product Moment. Kemudian koefisien pengaruh/korelasi tersebut perlu diuji dengan menggunakan F-test. Tes ini digunakan untuk mengukur apakah koefisien dapat digeneralisasikan pada

tingkat populasi ataukah hanya berlaku untuk sampel yang berjumlah 122 orang.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara umum pelaksanaan prog-ram KKNT Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dapat dikategorikan menjadi lima bidang garap. Kelima bidang garap tersebut adalah: 1) pemahaman dan pengembangan hidup keagamaan, 2) pengembangan sosial budaya, 3) peningkatan sumber daya alam, 4) peningkatan etos kerja dan produktivitas masyarakat, dan 5) pengembangan teknologi tepat guna. Kelima program tersebut yang selama itu diimplemen-tasikan mahasiswa dalam ber-KKNT di Kecamatan Jabon.

Kredibilitas Mahasiswa
Berikut dipaparkan frekuensi secara keseluruhan nilai kredibilitas mahasiswa Umsida, seperti pada tabel 1. Tabel distribusi frekuensi ini menyatakan bahwa nilai terendah kredibilitas mahasiswa adalah 92 dan nilai tertinggi sebesar 158 yang terletak pada interval skor 152-163. Oleh karena nilai tertinggi kredibilitas mahasiswa sebesar 158 dan jumlah responden sebanyak 122, skor kriterium tertinggi kredibilitas mahasiswa adalah 158 x 122 = 19.276. Sementara itu, skor tertinggi perolehan data adalah 16.993. Nilai tersebut kemudian dibagi dengan

Totok Wahyu Abadi, Kreibilitas Mahasiswa KKNT Sebagai Komunikator

49

Tabel 1 : Distribusi Frekuensi Nilai Kredibilitas Mahasiswa No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nilai Interval 92 – 103 104 – 115 116 – 127 128 – 139 140 – 151 152 – 163 Total
Sumber: Pengolahan Data Tahun 2005

Frekuensi 8 25 45 31 10 3 122

Persen 6,56 20,49 36,89 25,41 8,19 2,46 100

skor kriterium tertinggi yaitu 16.993 : 19.276 = 0,88156 atau 88,16%. Dengan demikian, tingkat kredibilitas mahasiswa KKNT Umsida adalah tinggi dengan persentase sebesar 88,16% dan nilai ini lebih besar daripada nilai yang dihipotesiskan yaitu sebesar 75%. Hal ini mengisyaratkan bahwa kredibilitas mahasiswa KKNT Umsida dalam menjalankan program KKNT di Kecamatan Jabon dapat diterima. Artinya kredibilitas mahasiswa cukup tinggi baik secara parsial maupun menyeluruh. Proposisi ini telah terbuktikan pada uji statistik untuk satu sampel yaitu model Smirnov Kolmogorof. Hasil analisis menunjukkan angka nilai probabilitas untuk uji dua ekor (kanan-kiri) sebesar p (baca: probabilitas) = 0,990 lebih besar daripada taraf nyata 0,05. Sehingga dapat diartikan bahwa kredibilitas mahasiswa

KKNT UMSIDA telah mencapai 75% dapat diterima dan dapat diberlakukan secara keseluruhan populasi mahasiswa KKNT UMSIDA. Faktor kredibilitas merupakan faktor yang paling menonjol pada diri komunikator. Suatu pesan yang berisi informasi sebaik apapun akan menjadi kurang berarti atau bahkan tidak berarti sama sekali jika komunikator memiliki kemampuan maupun tingkat kepercayaan dalam menyampaikan sesuatu yang rendah. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu komunikasi dapat dinilai efektif apabila stimulus yang diberikan pengirim atau sumber berkaitan erat dengan rangsangan yang diterima dan dipahami oleh komunikan atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh deVito tentang karakteristik seseorang. Ia menyatakan

50

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 43 - 54

bahwa karakteristik seseorang dapat dilihat dari dimensi kredibilitasnya, yaitu kompetensi, karakter, intensi, kepribadian, dan dinamika. Kelima indikator kredibilitas itulah yang menentukan proses perubahan sikap seseorang melalui perhatian, pengertian, dan penerimaan terhadap isi pesan. Kualitas-kualitas tersebut membantu pembicara meningkatkan penerimaan pendengar atas pesan-pesannya. Dengan penerimaan pesan-pesan tersebut akan dapat membawa perubahan sikap dari negatif ke positif, dari tidak mendukung ke arah mendukung, dari tidak empati ke empati.

hingga sangat negatif, sangat mendukung sampai dengan sangat tidak mendukung, dan dari sangat memelhara keseimbangan sampai dengan sangat tidak memelihara keseimbangan. Untuk kategori jawaban yang sangat positif diberikan skor 5, positif diberi nilai 4, sedangkan untuk jawaban berkategori netral, negatif, dan sangat negatif masing-masing diberikan nilai 3, 2, dan 1. Tabel 2 menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap mahasiswa UMSIDA. Skor 5 merupakan nilai penerimaan masyarakat untuk kategori sangat menerima. Frekuensi jawaban sangat menerima sebesar 60 atau 41%. Sedangkan frekuensi 64 responden adalah untuk skor 4 berkategori “menerima”. Jawaban berkategori “biasa-biasa saja” dengan nilai 3 memiliki frekuensi 8 atau 6,6%. Sementara itu dukungan masyarakat terhadap keberhasilan program kerja KKNT yang dilaksanakan oleh mahasiswa adalah sangat terbuka (25,4%), sangat empati (21,3%), sangat positif (21,3%), sangat mendukung (28,7%), dan sangat memelihara keseimbangan (23%). Jawaban dengan skor empat dengan kategori terbuka berfrekuensi 79 atau 64,8%; kategori empati 63,1%; kategori positif 61,5%; kategori mendukung 59%, dan kategori memelihara keseimbangan sebesar 59,8%.

Penerimaan Masyarakat Desa
Skor penerimaan masyarakat (variabel Y) kepada mahasiswa KKNT Umsida diperoleh dari pilihan jawaban yang ditentukan. Untuk pertanyaan yang positif, kategori jawaban adalah 5 untuk jawaban sangat menerima, 4 untuk menerima, sedangkan untuk jawaban biasa-biasa saja, menolak, dan sangat menolak masing-masing diberi nilai 3, 2, dan 1. Begitu pula halnya dengan daya dukungan masyarakat terhadap keberhasilan program kerja mahasiswa KKT. Daya dukungan masyarakat diukur dengan skala sikap dari sangat terbuka hingga sangat tertutup, sangat empati hingga sangat tidak empati, sangat positif

Totok Wahyu Abadi, Kreibilitas Mahasiswa KKNT Sebagai Komunikator

51

Tabel 2: Penerimaan Masyarakat terhadap Mahasiswa KKNT Valid Persen 6,6 52,5 41,0 100,0 Kumulatif Persen 6,6 59,0 100,0

No. 1. 2. 3.

Nilai 3,00 4,00 5,00 Total

F 8 64 50 122

Persen 6,6 52,5 41,0 100,0

Sumber: Pengolahan Data Tahun 2005

Tabel 3 : Sikap Masyarakat Kecamatan Jabon
Sikap Terbuka F 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 Total 0 0 12 79 31 122 % 0 0 9,8 64,8 25,4 100,0 Menjaga keseimbangan F 0 0 12,3 59,0 28,7 100,0 0 1 20 73 28 122 % 0 ,8 16,4 59,8 23,0 100,0

Nilai

Positif F 0 0 19 77 26 122 % 0 0 15,6 63,1 21,3 100,0

Empati F 0 3 18 75 26 122 % 0 2,5 14,8 61,5 21,3 100,0

Mendukung F 0 0 15 72 35 122 %

Sumber: Pengolahan Data Tahun 2005

Skor 3 dengan jawaban biasa-biasa saja adalah 9,8% (lihat tabel 3). Responden yang memberikan jawaban dengan skor 2 terdapat pada item sikap tidak empati berfrekuensi tiga orang atau 2,5% dan sikap tidak memelihara keseimbangan sebesar 16,4%. Tabel 4 menunjukkan bahwa interval nilai sikap masyarakat kecamatan Jabon terhadap mahasiswa KKNT Umsida cukup bervariasi. Skor tertinggi sebanyak 25,41% yaitu pada interval nilai 27-30. Nilai ratarata berada pada interval nilai 23-26 yaitu

sebesar 55,74%. Sedangkan skor terendah untuk setiap orang adalah 18-22. Jadi, skor tertinggi untuk nilai sikap masyarakat adalah 30. Oleh karena jumlah responden sebanyak 122, skor tertinggi yang merupakan skor kriterium adalah 30 x 122 = 3660 (30 adalah nilai tertinggi dalam interval nilai dan 122 adalah jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini). Dengan demikian, sikap masyarakat Jabon terhadap mahasiswa KKNT Umsida sebesar 3024 : 3660 = 0,8262 (82,62%)

52

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 43 - 54

Tabel 4: Distribusi Frekuensi Nilai Sikap Masyarakat No 1. 2. 3. Nilai Interval 18 – 22 23 – 26 27 – 30 Total
Sumber : Data Tahun 2005

Frekuensi 23 68 31 122

Persen 18,85 55,74 25,41 100

atau lebih besar dari kriteria yang ditetapkan dalam hipotesis deskriptif, yaitu 75%. Penerimaan masyarakat Jabon terhadap mahasiswa KKNT Umsida yang telah mencapai 82,62% ini telah terbukti melalui uji Smirnov-Kolmogorov yang nilai probabilitasnya lebih kecil dari taraf signifikasi 0,05, yaitu 0,008. Ini merupakan indikator bahwa masyarakat Jabon menerima mahasiswa KKNT Umsida. Sementara itu, pengaruh kredibilitas terhadap sikap masyarakat menunjukkan kekuatan koefisien yang cukup, yaitu 0,499. Kekuatan pengaruh ini tidak hanya pada tataran sampel, tetapi telah mencapai tataran populasi. Pernyataan ini didukung hasil uji F yang menunjukkan angka 19,73. Angka ini lebih besar ketimbang angka dalam tabel F yaitu 4,78. Kenyataan ini , menun-jukkan bahwa mahasiswa memiliki kewibawaan atau kredibilitas, kemampuan, familiaritas, daya tarik baik pesan maupun fisik, serta keakraban hubungan

dengan masyarakat kecamatan Jabon secara keseluruhan.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, pelaksanaan program KKNT di Kecamatan Jabon berjalan dengan baik meski terdapat beberapa kendala berupa kurangnya dukungan khususnya aparat Desa Dukuhsari terhadap program kerja mahasiswa KKNT. Kedua, mahasiswa memiliki tingkat kredibilitas yang cukup, yaitu sebesar 75%. Kredibilitas tersebut amat ditentu-kan komunikatif tidaknya mahasiswa sebagai komunikator dalam penyampaian pesan berupa program kerja kepada masyarakat. Agar efektivitas komunikasi tersebut dapat tercapai, diperlukan adanya penyamaan persepsi dalam hal gerak, irama, serta langkah-langkah konkret dalam usaha mencapai tujuan bersama yaitu pem-

Totok Wahyu Abadi, Kreibilitas Mahasiswa KKNT Sebagai Komunikator

53

bangunan partisipatif. Sementara faktorfaktor lain yang tidak disebutkan dalam kajian ini juga turut berpengaruh. Ketiga, masyarakat kecamatan Jabon menerima mahasiswa KKNT UMSIDA dengan sikap terbuka, positif, empati, memberikan dukungan, dan senantiasa menjaga keseimbangan agar tidak terjadi konflik masyarakat-mahasiswa. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap mahasiswa KKNT UMSIDA sebesar 82,16%. Keempat, kredibilitas mahasiswa KKNT Umsida berpengaruh terhadap sikap masyarakat-yang secara kualitatifcukup signifikan. Besaran koefisien pengaruh tersebut yaitu 0,499.

kan wawasan -dalam pembekalan KKNTtentang teknologi tepat guna sesuai dengan kondisi masing-masing desa serta materi kewirausahaan yang tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga bersifat aplikatif. Ketiga, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan dan keahlian tentang teknologi tepat guna dan lebih intensif dalam berkomunikasi dengan masyarakat desa di lokasi KKNT Keempat, perlunya desa binaan bagi Umsida serta rumusan strategi pemberdayaan masyarakat yang lebih jitu. Hal ini perlu untuk kesinambungan antara program kerja mahasiswa KKNT antara tahun yang lalu dengan tahun-tahun berikutnya.

Saran
Berdasarkan simpulan yang telah disampaikan dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: Pertama, mahasiswa perlu memiliki inovasi dalam menggerakkan pembangunan partisipasi masyarakat dan program kerja KKNT. Untuk itu diperlukan kekompakkan bersama di antara mahasiswa dalam menjalankan programprogram pembangunan partisipatif serta senantiasa bekerja siang dan malam. Tidak hanya pada malam saja sementara siang hari kurang memiliki aktivitas. Kedua, mahasiswa perlu mendapat-

DAFTAR RUJUKAN
Dame, Joubert Mandri. 1998. “Pengaruh Kredibilitas Komunikator Terhadap Perilaku Produktif Kelompok Nelayan.” Thesis. Bandung: Universitas Padjadjaran (tidak diterbitkan). deVito, Joseph A. 1996. Komunikasi Antarmanusia. (Terjemahan). New York: Hunter Collage of the City University. Djibril Diallo, 1999. Laporan Pembangunan Manusia 1999. Effendy, Onong Uchjana. 2000. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Garna, K. Judistira. 1999. Teori-Teori Perubahan Sosial. Bandung: PPS Universitas Padjadjaran. Gerungan, W. A. 1991. Psikologi Sosial.

54

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 43 - 54

Bandung: Eresco. Hamijoyo, Santoso S. 2000. “Landasan Ilmiah Komunikasi: Sebuah Pengantar”. Mediator. (Jurnal Komunikasi). Bandung: Unisba. Vol.1, hal.6-9. Herawati, Yeyet. 1993. “Pengaruh Komunikasi Tatap Muka Pengambilan Keputusan Penggunaan MKET oleh PUS di Kabupaten Bandung.” Thesis. Bandung: Universitas Padjadjaran (tidak diterbitkan). Kaban, Ramon. 2004. “Kontribusi Credibility Communicator Ditinjau dari Aspek Charismatic and Positional Power dalam Konteks Pembangunan di Indonesia.” Jurnal Penelitian Media Massa. Surabaya: BPPI.Vol.8 No.13. Kerlinger, Fred N. 2000. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Krech, David. 1962. Individual in Society. Berkeley: University of California. Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Interpersona. Bandung: Citra Aditya Bhakti Liliweri, Alo. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Jakarta: Pustaka Pelajar LPM-Umsida. 2005. Pedoman Kuliah Kerja Nyata Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo. Sidoarjo: Umsida Press Marat. 1984. Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia. Mulyana, Deddy. 1993. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rahmat, Jalaludin. 1993. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Rosdakarya. Riduwan. 2003. Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta. Rogers, Everett. (ed).1985. Komunikasi dan Pembangunan: Perspektif Kritis. Jakarta: LP3ES. Ruslan, Rosady.2003. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: Rajagrafindo. Sasongko, Rambat N. 2001. “Pengembangan Nilai-Nilai dan Keterampilan Sosial Melalui Model Pembelajaran Aksi Sosial: Studi Eksperimental pada Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Bengkulu)” Sears, David O., dkk.1988. Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga. Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Wijaya, 2003. Statistika Non Parametrik (Aplikasi Porgram SPSS). Bandung: Alfabeta.

BUDAYA DAN POLITIK LOKAL: SEBUAH WACANA PASCAKOLONIAL

Lusi Andriyani
(Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP –UMSIDA, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. (031) 8945444, Fax. (031) 8949333

ABSTRACT The discourse of local government that supported by local democratic thinking has motivated the government to translate it into pragmatics level by issued local government regulations. The decentralization and local government regulations are developed from the centralistic government form into more decentralistic government form. The development of local politics through local government has been explained as life cycle to develop the power unity among other local powers to get an authority position and have a strong bargaining in national level. Hence, it is important to develop an active participation of society in supporting local government progress by concerning local politics culture, local politics party, local elite, and local identity as local power form or power unity to get strategic position in accordance with an effort for developing a democracy in local level. Keywords: local government, local politics, local politics culture, local politics party, local elite, local identity.

PENDAHULUAN
Pemikiran tentang otonomi daerah yang direpresentasikan melalui UU otonomi daerah telah mengalami perubah-an berkali-kali, mulai pada masa kolonial hingga masa kemerdekaan (pascakolonial). Selama masa kemerdekaan, perubahan yang dialami lebih disebab-kan pemerintah kurang memahami fenomena yang terjadi di Indonesia, terutama setelah

era reformasi. Pada dasarnya otonomi daerah disemangati oleh pemikiran mengenai demokrasi di tingkat lokal atau daerah, dengan maksud untuk meningkatkan partisipasi masyarakat secara langsung, dan pelak-sanaan pembangunan di Indonesia baik dari segi politik, ekonomi, sosial dan budaya akan dapat berjalan dengan (lebih) baik. Partisipasi aktif dari masyarakat lokal

55

56

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 55 - 67

merupakan upaya untuk mewujudkan civil society yang mampu memperkuat ide demokrasi yang diterapkan di Indonesia. Semangat menjalankan ide demokrasi dari pemikir-pemikir barat dan membangun kemandirian warga dengan sebutan civil society inilah yang mendorong pemerintah untuk menterjemahkan ide tersebut pada tataran pragmatis dengan mengeluarkan UU otonomi daerah dengan berbagai revisi sampai pada UU Nomor 32 Tahun 2004. Adapun penterjemahan pemikiran pemerintah dapat digambarkan melalui

Wacana otonomi daerah dan pembangunan politik lokal juga dipengaruhi oleh perubahan dramatis pada situasi ekonomi sebagai hasil dari krisis keuangan di Asia dan transisi dari rezim orde baru. Fenomena tersebut telah memberi-kan pengaruh penting pada upaya pemerintah Indonesia dalam membangun kebijakan otonomi regional atau otonomi daerah melalui beberapa regulasi kebijakan. Salah satunya dengan mengeluarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 sebagai undang-undang desentralisasi dan otonomi daerah yang

Lusi Andriani, Budaya dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial

57

diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2001 yang diikuti dengan otonomi khusus untuk Aceh dan Papua. Desentralisasi dan undang-undang otonomi khusus tersebut dikembangkan dari bentuk sentralisasi pemerintahan ke bentuk kewenangan pemerintahan lokal yang didasarkan pada rasa bertanggungjawab terhadap politik lokal di Indonesia. Dan telah menjadi hal penting dan dinamis sejak diterapkan otonomi daerah melalui UU Nomor 32 Tahun 2004, terutama yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah secara langsung. Hal ini merupakan jawaban atas sentralistik politik pada masa orde baru, dimana setiap kebijakan langsung berasal dari pusat. Selain faktor situasi ekonomi yaitu krisis keuangan di Asia, kesenjangan antara pusat dan daerah di dalam hal pembagian kekayaan merupakan faktor pendorong dicetuskannya otonomi daerah. Dalam perkembangannya, otonomi daerah telah memunculkan isu politik lokal sebagai implikasi dari pelaksanaan otonomi daerah. Ini dapat dilihat dari fenomena menguatnya politik identitas berdasarkan suku, ras dan agama dalam tindakan politik di antara para elit politik lokal serta partai-partai politik utama ditingkat lokal. Calon yang diusulkan untuk menjadi pemimpin daerah banyak yang diberi identitas baru

yaitu “Putra Daerah”, dengan tidak memperhatikan asal-usul atau latar belakang kelas sosial atau politiknya. Identitas suku yang digambarkan dengan “Putra Daerah” kerap berbaur dengan identitas agama, gender dan politik uang. Hal ini mengakibatkan terjadinya ketegangan politik yang dapat berkembang menjadi kekerasan politik. Karena itu peran serta masyarakat secara langsung sangat diperlukan dalam perebutan kekuasaan di tingkat lokal. Perjuangan politik di tingkat lokal juga harus dimaknai sebagai suatu matarantai untuk membangun jaringan atau kekuatan bersama di antara kekuatan lokal lainnya dalam upaya untuk memperoleh posisi kekuasaan dan mempunyai bargaining yang kuat di tingkat nasional. Karena itu perjuangan di tingkat lokal harus mengintegrasikan dirinya dalam perjuangan yang lebih besar dengan membangun partisipasi yang berwatak nasional. Partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah akan dapat terlaksana apabila tersedia ruang publik (public sphere) yang memadai. Implementasinya, demokrasi tidak hanya dipahami secara formalitas sebagai wujud kebebasan rakyat untuk menyampaikan aspirasinya, tetapi demokrasi juga harus direalisasikan. Ruang publik secara

58

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 55 - 67

politis merupakan wujud pemahaman baru mengenai bentuk kedaulatan rakyat yang diterapkan di dalam masyarakat yang semakin kompleks. Menurut Jurgen Habermas ruang publik terbentuk sebagai suatu kondisi komunikasi yang memungkinkan warga untuk membentuk opini dan kehendak bersama .

diperkirakan orang itu akan merasa aneh, canggung atau frustrasi apabila berada dalam lingkungan masyarakat yang kritis, yang sering mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik. Golongan elit yang strategis seperti para pemegang kekuasaan biasanya menjadi objek pengamatan tingkah-laku ini sebab peranan mereka biasanya amat menentukan meski tindakan politik mereka tidak selalu sejurus dengan iklim politik lingkungannya. Golongan elit strategis biasanya secara sadar memakai cara-cara yang tidak demokratis guna menyearahkan masyarakatnya untuk menuju tujuan yang dianut. Kemerosotan demokrati-sasi biasanya terjadi di sini walaupun mungkin terjadi kemajuan pada beberapa bidang seperti bidang ekonomi dan yang lainnya. Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada sikap dan tingkah-laku politik yang majemuk. Dari sinilah masalah-masalah biasanya bersumber karena golongan elit ini mempunyai rasa idealisme yang tinggi. Akan tetapi kadar idealisme yang tinggi itu sering tidak dilandasi oleh pengetahuan yang mantap tentang realita hidup masyarakat. Sedangkan masya-rakat yang hidup di dalam realita ini terbentur oleh tembok kenyataan hidup yang berbeda dengan idealisme yang diterapkan oleh golongan elit tersebut. Sebagai contoh,

1. Budaya Politik Lokal
Budaya berasal dari kata “buddayah” yang berarti akal, atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata “budi” dan “daya” yang apabila digabungkan menghasil-kan sintesis arti mendayakan budi, atau menggunakan akal budi tersebut. Bila melihat budaya dalam konteks politik, hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap dan pola bertingkah laku) yang terdapat di dalamnya. Sikap dan tingkah laku politik seseorang menjadi suatu objek penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. Contohnya ialah jika seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah-laku politik yang tahu menerima, menurut atau memberi perintah tanpa mempersoalkan atau memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalam perintah itu. Dapat

Lusi Andriani, Budaya dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial

59

seorang kepala pemerintahan yang mencanangkan program wajib belajar 9 tahun demi meningkatkan mutu pendidikan, namun pada aplikasinya anak-anak yang berada pada jenjang pendidikan dasar harus putus sekolah dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah karena tidak memiliki biaya. Hal ini berarti idealisme itu tidak diimplementasikan secara riil ke dalam masyarakat yang terlibat di bawah politiknya. Idealisme diakui memang penting. Tetapi sikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkah-laku politik yang egois dan mau menang sendiri. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah atas polemik ini. Politik lokal di Indonesia menjadi “seolah-olah” begitu penting dan dinamis seiring dengan penerapan UU Nomor 32 Tahun 2004 mengenai pemilihan kepala secara langsung. UU ini mulai dijalankan pada bulan Juni pada tahun 2005 yang ditandai dengan pemilihan kepala daerah langsung (pilkada pertama) di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Fenomena ini memberi gambaran bahwa otonomi daerah dan desentralisasi secara politik merupakan jawaban atas sentralisme politik orde baru, dimana setiap kebijakan yang menyangkut

ekonomi dan politik lokal disetir oleh pusat. Pelaksanaan otonomi daerah juga disebut sebagai cara pemerintah pusat untuk menjembatani konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

2. Partai Politik Lokal
Otonomi daerah yang tengah berjalan juga banyak memunculkan wacana mengenai partai politik lokal. Upaya membentuk partai politik lokal juga dipengaruhi adanya keinginan dari masyarakat daerah yang merasa kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat dalam berbagai macam segi baik ekonomi, sosial, maupun politik. Salah satu daerah yang menginginkan adanya partai politik lokal adalah Daerah Istimewa Aceh. Keinginan itu muncul seiring dengan upaya untuk pemulihan hak politik, hak ekonomi, dan hak sosial bagi anggota GAM. Ramainya pembi-caran terhadap keinginan GAM tidak hanya terbatas pada kemungkinan hadirnya partai politik lokal di Aceh, tetapi terjadinya efek domino terhadap daerah lain di Indonesia. Munculnya keinginan masyarakat untuk membentuk partai politik lokal bukanlah sesuatu yang ahistoris. Setidaknya hal itu didasari oleh pengalaman dengan adanya partai politik lokal dalam pemilihan umum tahun 1955. Menurut pandangan Herbert Feith fenomena

60

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 55 - 67

pemilihan umum tahun 1955 terdapat empat pembagian partai politik yang mendapatkan suara di DPR dan konstituante, yaitu: 1. Partai politik kategori kelompok besar 2. Partai politik kategori kelompok menengah 3. Partai politik kategori kelompok kecil yang meliputi kelompok nasional dan kelompok yang mencakup daerah. Kelompok terakhir inilah yang menurut Herbert Feith dikategorikan sebagai partai atau kelompok yang bersifat kedaerahan atau kesukuan. Partai politik dan kelompok yang bersifat kedaerahan pada pemilihan umum tahun 1955 antara lain Partai Rakyat Desa, Partai Rakyat Indonesia Merdeka, Gerakan Pilihan Sunda, Partai Tani Indonesia, Gerakan Banteng (Jawa Barat), Gerindra (Yogyakarta), Partai Persatuan Daya’ (Kalimantan Barat). Meski kahadiran partai politik dan kelompok lokal berdasarkan sejarah mempunyai dasar yang sangat kuat, namun dari sisi aspek ketatanegaran hal ini masih diperdebatkan dimana Undangundang Nomor 31 Tahun 2003 tentang Par tai Politik tidak memungkinkan munculnya partai politik lokal. Namun apabila dicermati lebih jauh lagi UUD 1945 pasal 28 mengamanatkan bahwa

kemerdekaan berserikat, berkumpul serta mengeluarkan pendapat melalui tulisan dan lisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Dari hal tersebut, maka salah satu sarana untuk mewujudkan kebebasan berserikat dan berkumpul adalah dengan membentuk partai politik. Dari gambaran tersebut, tidak cukup alasan untuk mengatakan bahwa UUD 1945 telah menutup ruang bagi kehadiran partai politik lokal. Sedangkan pasal 1 pada UU Nomor 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik menyatakan bahwa partai politik lokal adalah organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat dan negara melalui pemilihan umum. Pernyataan tersebut mengandung makna seperti yang dinyatakan oleh guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Ramlan Surbakti, bahwa partai politik merupakan representasi dari ide tentang negara dan masyarakat yang dicita-citakan oleh sekelompok warga negara yang diperjuangkan melalui pemilihan umum. Pembentukan partai politik mempunyai aturan tertentu. Setiap partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurangkurangnya 50 orang warga negara Republik Indonesia yang telah berusia 21

Lusi Andriani, Budaya dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial

61

tahun dengan akta notaris. Prasyarat tersebut tidaklah sulit bagi pembentukan partai politik lokal. Namun, kesulitan ada ketika partai politik harus didaftarkan pada Departemen Kehakiman dengan syarat harus mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya 50% dari jumlah provinsi, 50% dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan dan 25 persen dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota yang bersangkutan. Dengan syarat tersebut maka setiap partai politik harus mempunyai susunan kepengurusan tingkat nasional dan kepengurusan tingkat provinsi dengan sekurang-kurangnya setengah dari jumlah provinsi yang ada. Dari prasyarat di atas, maka keadaan partai politik lokal menjadi (nyaris) tidak mungkin untuk direalisasikan. Di sisi lain peluang membentuk partai politik lokal dapat dilakukan. Sebagai contoh Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Pada pasal 28 ayat 1 UU Nomor 21 Tahun 2001 dimaknai sebagai ruang bagi penduduk provinsi Papua untuk dapat membentuk partai politik. Namun semangat untuk membentuk partai politik lokal memudar dengan ketentuan dalam ayat 2 yang menegaskan bahwa tata cara pembentukan partai politik dan keikutsertaan

dalam pemilihan umum harus sesuai dengan peraturan peundang-undangan Nomor 32 Tahun 2002. Dari fenomena tersebut memberikan pemaknaan bahwa upaya untuk memperkecil ruang publik bagi munculnya partai politik lokal sengaja dibangun oleh kekuatan politik yang ada di tingkat pusat. Hal ini bertolak belakang dengan semangat desentralisasi yang dikembangkan pada saat ini dengan pelaksanaan otonomi daerah dimana kehadiran partai politik lokal diharapkan mampu menjaring aspirasi masyarakat lokal untuk dapat mengembangkan daerahnya secara mandiri tanpa harus dinegasikan oleh kepentingan pusat. Bagaimanapun juga kebutuhan masyarakat, baik secara kuantitas maupun secara kualitas akan mendorong masyarakat untuk mencari alternatif dalam mendapatkan apa yang semestinya diperoleh dari negara yaitu kesejah-teraan dan keadilan. Sehingga kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda telah menumbuhkan keberagaman dalam aktivitas partisipatif yang dilakukan.

3. Elit Lokal
Baik pada tingkat semangat maupun pada tingkat regulasi, aspek pemerintahan daerah sering mengalami perubahan kebijakan. Dengan dikeluarkannya UU

62

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 55 - 67

Nomor 5 Tahun 1974 tentang PokokPokok Pemerintahan di Daerah, telah menjadikan pusat sebagai titik sentral dan penentu gerak pemerintahan di daerah yang pada akhirnya sangat bertentangan dengan semangat demokrasi dan keadilan. Pada era reformasi yang sedang dimulai, dikeluarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang memberikan kewenangan luas kepada daerah untuk mengatur serta mengurus kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan prakarsa dan aspirasi masyarakat yang sejalan dengan semangat demokrasi. Sejalan dengan penerapan oto-nomi daerah, kebijakan tersebut banyak mengalami persoalan berkaitan dengan koordinasi antar daerah otonom tingkat provinsi dan kabupaten, munculnya rajaraja kecil ataupun elit lokal yang cenderung melakukan abuse of power yang mengabaikan nilai etik dalam berpolitik, sulit melakukan supervisi ke daerah otonom dan lain sebagainya. Dari fenomena tersebut, pemerintah merespon dengan mengeluarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Tujuan dikeluarkan

kedua UU tersebut adalah untuk mengurangi dampak negatif dan menambah manfaat positif dari otonomi daerah sebagai salah satu agenda utama reformasi. Pergolakan politik lokal merupakan fenomena baru setelah diterapkannya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Secara filosofis dikeluarkannya UU tersebut bertujuan untuk memberikan ruang demokrasi bagi masyarakat lokal untuk lebih berpartisipasi dalam proses politik. Upaya membangun ruang demokrasi yang sangat luas merupakan gagasan yang sangat apresiatif walaupun tidak semua gagasan yang dikembangkan dapat diterima seluruhnya oleh masyarakat umum. Namun secara sosiologis kehadiran UU Nomor 32 Tahun 2004 telah membawa ancaman yang begitu serius bagi masalah politik lokal, bahkan semakin rumit. Dengan fenomena tersebut demokrasi lokal akhirnya menjadi panggung pertarungan perebutan kekuasaan bagi elit lokal. Diakui atau tidak, pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung merupakan praktik perjuangan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh elit lokal, yang dengan atribut sebagai “Putra Daerah” semakin membangun optimisme bagi elit lokal untuk turut serta dalam pemilihan kepala daerah ataupun merebut

Lusi Andriani, Budaya dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial

63

kekuasaan yang strategis didaerahnya. Bahkan “Putra Daerah” sebagai atribut baru bagi elit lokal telah mampu menembus batas-batas budaya, melabrak sistem dan mengubur realitas sosial masyarakat yang masih tradisional, irasional, dan penuh dengan mitos politik dan sekaligus yang dibangun di atas multikulturalisme. Fenomena pilkada langsung merupakan wujud dari rasa kecewa dari masyarakat lokal atas rezim politik patrimonialisme yang telah dijalankan sebelumnya. Sehingga fenomena pilkada secara langsung telah meng-akibatkannya menjadi ajang perebutan, kolaborasi, permainan bahkan kegilaan serta ambisi bagi elit politik lokal dalam merebut kekuasaan. Contoh yang dapat dipaparkan adalah pelaksanaan pilkada langsung Bupati Kutai Kartanegara. Fenomena pilkada langsung tersebut merupakan bukti adanya praktik demokrasi liberal pertama di Indonesia. Fukuyama dalam tesisnya “The End of History and The Last Man” begitu optimis dengan gelombang liberalisme yang diakhiri dengan kemenangan Barat sebagai tontonan bagi masyarakat Indonesia belakangan ini. Perdebatan antara Herbert Feith dengan Harry J. Benda yang mempersoakan kegagalan praktik demokrasi liberal di Indonesia pasca kolonial sudah tidak layak lagi diajukan ke publik.

Akibat dari praktik liberalisme dalam pelaksanaan Pilkada secara langsung bukan berarti membawa peningkatan kualitas bagi praktik politik di Indonesia, melainkan justru dapat menimbulkan resistensi masyarakat terhadap praktik liberalisme yang dijalankan di Indonesia pada era Otonomi daerah. Di sisi lain para elit lokal banyak yang memanfaatkan situasi ini untuk membangun situasi yang resisten dalam pertarungan politiknya (merebut kekuasaan), sehingga melahirkan massa melawan massa dan massa melawan negara. Contoh riil yang dapat diambil adalah pelaksanaan Pilkada di Daerah Banten yang dibangun dari ketidakjujuran elit politik lokal yang memanfaatkan komunitas lokal untuk mengacaukan situasi politik, sehingga mengancam bangunan lokalitas masyarakat atau disebut dengan demokrasi komunitarian, dimana elit lokal memanfaatkan massa untuk membuat situasi menjadi kacau.

4. Identitas Lokal
Secara harfiah istilah identitas dapat dimaknai sebagai ciri khusus yang dimiliki oleh sesuatu yang membedakan antara satu dengan yang lain. Dalam kehidupan sosial modern identitas justru semakin punya peranan penting sebagai pola spesifikasi ataupun spesialisasi tertentu.

64

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 55 - 67

Namun banyak masyarakat yang masih ragu untuk memunculkan identitas sebagai karakteristik atau ciri khusus tersebut. Bahkan pada masyarakat Indonesia, proses identitas diri mengalami perjalanan yang unik. Identitas dapat dibagi ke dalam lima kategori: identitas gender (feminisme), identitas kedaerahan, identitas kelas sosial, identitas etnis, dan identitas religius. Pada masa orde baru identitas cenderung disembunyikan untuk melindungi diri dengan meniadakan simbol-simbol tertentu sebagai self identification. Misalya, upacara Imlek kecinaan, jilbab untuk kaum muslimah dan sebagainya yang notabene semua aktivitas tersebut merupakan simbol dari sebuah identitas. Bahkan dalam tataran praktis nilai-nilai yang telah dibangun masyarakat bertahun-tahun seolah-olah tercerabut dari akarnya dan tidak dapat berkembang. Hal ini juga ditunjukkan dalam kehidupan politik yang berkembang dengan sikap-sikap yang cende-rung manipulatif, korupsi, kolusi, tidak sportif dan brutal yang semuanya bertujuan untuk mempertahankan sebuah kekuasaan yang sedang berjalan. Namun seiring dengan perkembangan politik dan perubahan rezim, masyarakat mulai berani menunjukkan simbol-simbol identitas dalam kehidupan sehari-hari. Pola ini membangun konsep baru sebagai wacana di era reformasi

dengan sistem demokrasi dengan istilah “multikulturalisme”. Multikulturalisme berkembang seiring dengan wacana otonomi daerah yang membangun identitas lokal/kedaerahan. Multikultural merupakan tantangan yang mengedepankan sebuah kemajemukan dari nilainilai, mekanisme dan struktur sosial dalam bingkai human being. Dalam konteks tersebut multikultur dipandang sebagai bagian dari sejarah dan fakta yang dibangun atas dasar perbedaan geografis yang berpengaruh pada pola pemikiran masyarakat dan budaya masyarakat. Perbedaan geografis telah melahirkan dua pembelahan masyarakat secara vertikal yaitu masyarakat agraris dan maritim. Kedua masyarakat tersebut mempunyai pola pemikiran yang berbeda dimana masyarakat agraris cenderung statis sedangkan masyarakat maritim cenderung dinamis. Multikultur yang berkembang merupakan upaya untuk menjembatani perbedaan yang ada selama ini. Mengingat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya, etnis dan agama. Dengan wacana multikultur identitas lokal atau kedaerahan akan dapat berkembang dan diharapkan mampu menopang pembangunan daerah dalam bentuk modal sosial. Dalam konteks kekinian, multikultur bukanlah suatu nilai dan tatanan baru di

Lusi Andriani, Budaya dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial

65

negeri ini, karena ia adalah realitas sejarah bangsa Indonesia. Dengan semangat multikultur yang tengah dibangun seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, sangatlah penting dan relevan apabila memberikan hak dan ruang bagi budayabudaya lokal untuk lebih berkembang dan mengekspresikan dirinya yang berorientasi bagi pertumbuhan dalam konteks membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Tumbuhnya budaya lokal juga dipengaruhi oleh perkembangan globalisasi yang memunculkan fenomena paradoksal yaitu menguatnya karakter lokalitas. Dipandang dari pelaksanaan otonomi daerah, maka pengaruh yang ditimbulkan dari globalisasi tersebut dapat memberikan peluang bagi setiap daerah untuk menonjolkan kekhasanya sebagai potensi. Namun lokalitas juga perlu dipahami sebagai suatu ruang politik dimana seluruh orang yang ada dalam lokalitas tersebut (dengan identitas etnis, ras, agama dan kultur apapun) memiliki hak-hak politik yang sederajat.

dapat mencegah terjadinya kasus-kasus korupsi baru. Selama hampir 100 tahun anggota parlemen (council) patuh pada hukum nasional yang didesain untuk mengeliminasi praktik korupsi dan politik uang (money polotics). Pada dasarnya setiap anggota harus mendeklasrasikan “pecuniary interest”. Misalnya saja, jika anggota parlemen mempunyai kepemilikan properti, atau bisnis lain yang memungkinkannya untuk mempengaruhi suatu keputusan. Kepentingan-kepentingan itu harus didaftarkan, dan anggota parlemen yang bersangkutan tidak diperbolehkan mengikuti diskusi publik atau pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingannya tersebut. Sanksi atas ketidakpatuhan ini dapat berupa denda dan atau dipenjara, bahkan dapat didiskualifikasi keanggotaannya. Peraturan ini sukses dalam mengontol korupsi, namun lemah dalam kontrol terhadap kolusi atau nepotisme. Oleh karena itu, sejak 1990 asosiasi pemerintahan lokal beserta pemerintah pusat memelopori adanya sebuah voluntary code of counduct yang diadopsi secara menyeluruh oleh pemerintahan lokal dengan tanpa sanksi hukum yang signifikan. Beberapa kasus korupsi besar yang terjadi dalam Parlemen Nasional telah menimbulkan perhatian besar media dan

Pelaksanaan Pemerintahan Lokal di Inggris: Studi Kasus
Pemerintahanan lokal di Inggris selalu menyatakan bahwa mereka memiliki standar etika yang tinggi. Namun, dari waktu ke waktu etika yang dianut tidak

66

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 55 - 67

opini publik, yang mengarah pada pembentukan suatu Standar Komisi Nasional dalam kehidupan publik serta pembentukan peraturan-peraturan baru yang mencakup semua tingkatan pemerintahan termasuk pemerintahan lokal. Untuk pemerintahan lokal mengarah pada penerapan 10 prinsip, code of conduct yang baru dan sebuah Dewan Standar Nasional (National Standard Board). National Standard Board merupakan organisasi yang melakkukan pengawasan (supervisi) terhadap komite-komite lokal. Organisasi ini juga menerima dan memproses keberatan-keberatan mengenai pelanggaran terhadap code of conduct. Dalam kasus-kasus tersebut, setelah melakukan penyelidikan dan menganggap bahwa suatu kasus layak untuk diteruskan, maka komisi tersebut akan mendapat-kan keputusan (normal conclusion). Keputusan ini akan ditindaklanjuti oleh komite lokal yang berkepentingan.

karena semangat untuk lebih punya arti dan makna di tingkat nasional cenderung mengesampingkan kesejahteraan masyarakat lokal dan memicu konflik yang diprakarsai oleh elit politik lokal. Dengan kapasitas moralitas elit lokal yang rendah dan masih mengutamakan pencapaian kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan memupuk kekayaan memunculkan fenomena korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai budaya baru dalam kancah politik Indonesia. Dengan demikian budaya politik lokal yang dibangun berdasarkan pada kemampuan masyarakat lokal yang berdasarkan pada potensi lokal tidak akan dapat menjadi jawaban bagi pelaksanaan pembangunan. Begitu juga dengan identitas lokal yang mestinya sebagai social capital dan kebanggaan daerah yang diharapkan mampu mendukung potensi daerah ternyata belum dapat berjalan dengan optimal dan belum dapat dipahami sebagai fenomena multikultur. Dengan demikian jelas bahwa fenomena tersebut memberikan gambaran betapa rendahnya potensi sumberdaya manusia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

SIMPULAN DAN SARAN
Uraian mengenai pola pemikiran masyarakat Indonesia mengenai otonomi daerah sebagai implimentasi dari ide demokrasi telah memberikan gambaran bahwa pelaksanaan ide yang pragmatis dengan mengesampingkan sejarah akan memunculkan konflik-konflik lokal. Fenomene partai politik lokal yang muncul

DAFTAR RUJUKAN
Azzhari, dan Syafi’ie, Inu Kencana. 2005. Sistem Politik Indonesia. Bandung: PT Refika Aditama.

Lusi Andriani, Budaya dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial

67

Fukuyama, Fransis. 2005. Memperkuat Negara: Tata Pemerintahan dan Tata Dunia Abad 21. Jakarta: PT Gramedia Pustaka. Jimung, Martin. 2005. Politik Lokal dan Pemerintah Daerah Dalam Perspektif Otonomi Daerah. Yogyakar ta: Yayasan Pustaka Nusantara. ________2001. Pesta 65 tahun Romo Magnis, Etika Politik dalam Konteks Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Kuhn, Thomas. 2002. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Bandung: Rosda Karya. L. Layendecker. 1991. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan. Jakar ta: Gramedia Pustaka Utama. Widjaja, H. A. W. 2003. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Jakarta: PT Grafindo Persada. ________. 2005. Penyelenggaraan Otonomi di Indonesia: Dalam Rangka Sosialisasi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta: PT Grafindo Persada. Jurnal : Jurnal Governance, Volume 2 Nomor 6 April-Juni 2006, Lemlit Padjadjaran. Website : Anonim. “Keterlibatan Politik Akar Rumput”. www.google.com. 12 Agustus 2005.

————— “Introducing Good Local Government: The Indonesian Experience” www.wikipedia.com ————— “Pusat Pemberdayaan dan Pengembangan Otonomi Daerah.” www.wikipedia.com Alfian, M. “Balada Politik Lokal”. www.google.com Aryana, I Gusti Nyoman. “Mencari Identitas Nasional.” www.balipost.com Dirdjosanjoto, Pradjarta. “Merumuskan Konsep dan Praktek Partisipasi Warga dalam Pelayanan Publik” www.google.co.id Isra, Saldi. 2005. “Partai Politik Lokal”. www.tempointeraktif.com, Jum’at 22 Juli. Geertz, Clifford. “Wawancara Dengan Clifford Geertz.” www.uni-linz.ac.at Paramartha, Ngurah. “Politik Kebudayaan yang Memberi Ruang kepada Potensi Budaya Lokal?” www.google.com Suacana, I Wayan Gede. “Pematangan Budaya Politik dan Demokrasi”. www.balipost.com Sutoy, Tony Du. “Kode Etik Pemerintahan Lokal Inggris”. www.google.com Wilson. “Kaum Pergerakan dan Politik Lokal”. www.google.com

68

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 68

PENTINGNYA GRAND DESIGN REFORMASI BIROKRASI DALAM MEWUJUDKAN REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH

S. Sangadji
(Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. (031) 8945444, Fax. (031) 8949333)

ABSTRACT As like as government effort to do a set of reform programme, Bureaucracy to be one of attention from stakeholders to reformed as soon as possible. There’s not other choice for government except they take strategic efforts as soon as to do bureaucracy reform, including Local Government. Bureaucracy reform to be important for Regencies or Cities because their give public service. The old bureaucracy culture, that corrupt and they don’t have clear vision and mission, should be reformed. To reform bureaucracy, Local Government should have grand design of bureaucracy reform. With grand design of bureaucracy reform, Local Government can arrange the strategic of planning, implementation and evaluation of bureaucracy reform. Keywords: Grand Design, Bureaucracy Reform.

PENDAHULUAN
Berbicara mengenai reformasi birokrasi, pastilah tidak terlepas dari sejauhmana kesediaan aparat birokrat menerima perubahan. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut tuntutan masyarakat yang senantiasa berkembang, tetapi juga pengetahuan mengenai berbagai hal yang terjadi di luar lingkungan birokrasi, seperti perkembangan teknologi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa arus globalisasi saat ini berdampak pada makin meningkatnya ketidakpastian akibat perubahan faktor-faktor lingkung-an politik, ekonomi dan sosial yang sangat cepat; makin terintegrasinya ekonomi regional dan internasional, meningkatnya persaingan antar negara, antar swasta dan antara pemerintah dengan swasta. Di samping itu, pengaruh akibat revolusi

69

70

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 69 - 79

teknologi informasi berdampak pada meningkatnya tuntutan dan ekspektasi masyarakat pada pelayanan publik yang “faster, cheaper, and better” (lebih cepat, lebih murah dan makin baik). Demikian pula demokratisasi berdampak pada meningkatnya tuntutan akan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik, serta tuntutan akan transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja publik. Dampak globalisasi, demokratisasi dan desentralisasi tersebut menuntut peran birokrasi pemerintah dalam melaksanakan fungsi entrepreneurial, instrumental, dan katalis dalam penyelenggaraan pemerintahan umum dan pembangunan. Peran birokrasi di dalam pemerintahan adalah melakukan fungsi entrepreneurial, yakni fungsi yang memberikan inspirasi terhadap aparatur pemerintah untuk melakukan kegiatan-kegiatan inovatif yang bersifat non-rutin, dengan mengaktifkan sumber-sumber potensial dalam mencapai tujuan pemerintah. Fungsi tersebut memiliki karakter antara lain: (a) sensitif dan responsif terhadap peluang-peluang dan tantangan baru yang timbul sebagai akibat dari globalisasi, (b) tidak terpaku pada kegiatan-kegiatan rutin yang terkait dengan fungsi instrumental, tetapi mampu melakukan terobosan melalui pemikiran yang inovatif dan kreatif, (c) mempunyai wawasan yang futuristik

dan sistematik, (d) mampu mengoptimalkan sumber yang tersedia dengan menggeser sumber dari kegiatan yang berproduktivitas rendah menuju kegiatan yang berproduktivitas tinggi. Di samping itu, peran birokrasi adalah melakukan fungsi instrumental yakni fungsi yang menjabarkan per-aturan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan-kegiatan rutin untuk memproduksi jasa, pelayanan, komoditas, atau mewujudkan situasi tertentu. Peran birokrasi yang lain adalah melakukan fungsi katalis public interest yakni fungsi yang mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan publik dan mengintegrasikan serta mengimplementasikan kebijakan dan peraturan perundang-undangan secara benar. Pemerintah Daerah (Kebupaten/ Kota) yang merupakan tingkatan pemerintah yang paling bawah selalu berhadapan langsung dengan masyarakat. Segala tuntutan dan ekspektasi masyarakat akan selalu mewarnai pelaksanaan tugastugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan. Sehingga mau tidak mau Pemerintah Kabupaten/Kota harus lebih cepat me-reform institusinya. Agar reformasi birokrasi Pemerintah Kabupaten/Kota berjalan dengan baik, Pemerintah Daerah harus mempunyai agenda-agenda reformasi birokrasi yang

S. Sangadji, Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi

71

akan menjadi acuan (guidance) bagi semua stakeholder. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penulis termotivasi untuk mencoba mengkaji “Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi dalam Mewujudkan Reformasi Birokrasi di Lingkungan Pemerintah Daerah”.

bagaimana reformasi birokrasi itu (baik berdasarkan teoretis maupun pengalaman empiris). Kedua, pentingnya Grand Design reformasi birokrasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Potret Kondisi Birokrasi

METODE PENELITIAN
Kajian ini mencoba menginterpretasikan pentingnya suatu instrumen dalam menentukan keberhasilan suatu kebijakan. Sehingga pendekatan utama dalam penelitian ini adalah pendekatan deskrptif interpretatif. Interpretasi terhadap obyek penelitian (grand strategic dan reformasi birokrasi) didasarkan pada pe-ngalaman penulis yang melihat secara visual budaya kerja pemerintah daerah dalam melahirkan suatu kebijakan. Interpretasi penulis dalam kajian ini juga ditunjang dengan hasil studi komparatif penulis ke beberapa Pemerintah Kabupaten/Kota, antara lain: Kabupaten Malang, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sleman, Kota Cimahi, Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi. Daerahdaerah tersebut memiliki diversifikasi breakthrough inovasi masing-masing dalam menata birokrasinya. Terhadap hasil interpretasi itu, penulis mencoba mendeskripsikan 2 (dua) hal yang sekaligus merupakan ruang lingkup kajian ini, yaitu: pertama, apa dan

Pemerintah Daerah
Di masa reformasi, banyak yang optimis bahwa kinerja birokrasi di Indonesia akan semakin membaik. Hal ini diperkuat oleh adanya perubahan mendasar dalam administrasi publik (admi-nistrasi pemerintahan). Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 22 Tahun 1999 (telah diubah dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah), di mana pemerintah (pusat) hanya mengelola enam bidang saja, yaitu politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal dan agama dan beberapa bidang lainnya. Konsekuensinya tentu memberikan perubahan kelembagaan yang sangat berarti dalam konteks desentralisasi yang membawa implikasi baru dalam manajemen publik. Sistem pemerintahan yang desentralistis yang digulirkan sejak era reformasi merupakan angin segar dalam pelaksanaan birokrasi, terutama di daerah. Daerah dengan kewenangan dan tang-

72

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 69 - 79

gung jawab yang diembannya dapat merancang dan melaksanakan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kondisi geografis dan demografisnya. Hal ini juga mendorong bangkitnya prakarsa dan kreativitas pemerintah daerah bersamasama dengan masyarakat dan swasta untuk menciptakan kerjasama yang harmonis dalam rangka membangun pelyanan yang lebih baik. Namun di sisi lain, dalam pelaksanaan desentralisasi pemerintahan di era reformasi ini timbul penafsiran yang beragam dan bahkan kebablasan, sehingga terkesan menciptakan penguasa-penguasa dan raja-raja kecil di daerah. Artinya dalam pelaksanannya ada kecenderungan sebagian pemerintah daerah (Kabupaten/ Kota) menafsirkan bahwa mereka memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam mengurus rumah tangganya tanpa memperhatikan hubungan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Demikian pula tidak dapat dipungkiri, banyaknya posisi/jabatan di birokrasi diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dan ketrampilan yang sesuia dengan pekerjaananya. Hal tersebut terjadi karena lebih mengutamakan pengangkatan pada posisi di dalam jabatan struktural, yang lebih diutamakan karena ruang pangkat golongan atau karena senioritas, bukan base on competency.

Kondisi terus berlangsung pada era reformasi. Akibatnya dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya sering meyimpang atau terjadi penyalahgunaan kekuasaan yang pada akhirnya mendorong tumbuh suburnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam pengisian suatu jabatan tertentu. Tim Kajian Rencana Tindak Reformasi Birokrasi Bappenas, mengindentifikasi faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap kondisi rendahnya kemampuan melaksanakan standar kinerja birokrasi sebagaimana diharapkan, adalah: (i) Masih belum jelasnya standar kinerja yang dapat diukur untuk menentu-kan mutu output yang dihasilkan aparatur. (ii) Pengawasan sebagai bagian dari proses interaksi pembelajaran sekaligus memberikan wahana dijalankannya sistem sanksi dan penghargaan (reward and punishment) belum berjalan sebagaimana diharapkan. (iii) Kecenderungan lemahnya kompetensi terkait dengan penggunaan teknologi infor masi menuju egovernment merupakan salah satu tantangan dan kebutuhan. (iv) Hubungan dan komunikasi yang kurang terbuka di antara aparatur. (v) Masih banyaknya pejabat publik yang diberikan amanah memangku jabatan

S. Sangadji, Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi

73

tertentu berkecenderungan untuk memperkaya diri sendiri (vi) Program pendidikan dan pelatihan di lingkungan birokrasi, yang terkadang dilaksanakan sendiri oleh kelembagaan bersangkutan tidak kompetitif terkait dengan kebutuhan kompetensi yang diharapkan dari pelatihan; di samping adanya penentuan pelatihan tanpa melalui metode analisis diskrepansi kompetensi kerja yang baik (Padmowihardjo: 2004). Implikasinya adalah pelatihan dilaksanakan untuk formalitas saja.

maka gerakan pembaharuan birokrasi/ pemerintah dicanangkan di negara-negara maju tersebut, hingga dikenallah konsep Reinventing Government, Public Sector Reform, atau pun New Public Management. Ted Gaebler dan David Osborne (1992) dalam bukunya “Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming to the Public Sector” mengemukakan 10 prinsip yaitu sebagai berikut: 1. Catalyttic Government: Steering Rather Rowing; 2. Community-owned Government: Empowering Rather Than Serving; 3. Competitive Government: Injecting Competition into Service Delivery; 4. Mission-Driven Government: Transforming Rule-Driven Organizations; 5. Results-Oriented 6. Customer-Driven Not the Bureaucracy; 7. Enterprising Government: Earning Rather Than Spending; 8. Anticipatory Government: Preven-tion Rather Than Cure; 9. Decentralized Government: From Hierarchy to Participation and Teamwork; 10. Market-Oriented Government: Leveraging Change Through the Market; Government: Government: Funding Outcomes, Not Input; Meeting the Needs of the Customer,

2. Pengalaman Reformasi Birokrasi di Negara-negara Lain
Tuntutan reformasi birokrasi tidak hanya terjadi di Indonesia, di negaranegara lain pun mengalami hal yang sama walaupun pemicu tuntutan/kebutuhan tersebut berbeda. Di negara-negara yang telah maju, tuntutan tersebut timbul sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan akan kinerja birokrasi yang dianggap lamban, tidak fleksibel dan tidak visioner bahkan birokrasi dianggap sedang mengalami proses disfungsionalisasi birokrasi di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif baik di level pemerintah pusat maupun di level pemerintah daerah. Dengan adanya tuntutan tersebut

74

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 69 - 79

Negara-negara yang tergabung dalam OECD (Organization for Eco-nomic Cooperation and Development) (1996: 16) melakukan Langkah-langkah untuk mengadakan perubahan dalam birokrasinya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Decentralization of authority within governmental units and devolution of responsibilities to the lower levels of government; 2. A re-examination of what government should both do and pay for, what it should pay for but not do, and what it should neither do nor pay for; 3. Downsizing the public service and privatization and corporatization of activities; 4. Consideration of more cost-effective ways of delivering services, such as contracting out, market mechanisms and user charges; 5. Customer orientation, including explicit quality standards for public services; 6. Benchmarking performance and; 7. Reforms designed to simplif y regulation and reduce its costs. Sedangkan Inggris dalam melaksanakan reformasinya dengan istilah New Public Management yang menurut and measuring

Minogue mereka melakukan langkahlangkah sebagai berikut: 1. Restructuring of the public sector particularly through privatisation 2. The introduction of principles of competition, through privatization, market testing of internal govern-ment services and efficiency audits 3. Cost contrainment 4. Customer–contractor relationships rather than needs-based services 5. Focus on outcomes, outputs and results rather than inputs and processes 6. Accountability to the customer/ consumer, not the client/patient 7. A regulatory, hands-off role for the state with decentralization to autonomous entrepreneurial state agencies 8. Efficient, improved management based on performance appraisal and incentives (The British Council: 2002) Adapun negara Asia yang juga menerapkan Pembaharuan Pemerintah-an (Public Sector Reform) dan berhasil menyelamatkan negaranya dari keterpurukan yaitu Korea Selatan. Public Sector Reform di Korea bertujuan untuk mentransformasi pemerintahan menjadi lembaga yang kecil dan efisien yang mampu memperbaiki pelayanan kepada masyarakat. Untuk pencapaian tujuan ini pemerintah memperkenalkan prinsip

S. Sangadji, Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi

75

Market Oriented, Performance Oriented, dan Customer Oriented. Dalam melakukan proses Public Sector Reform di Korea dilakukan dalam dua tahapan yaitu: (1) Merampingkan besaran Pemerintah, mengurangi pemborosan dan inefisiensi, memfasilitasi pengalokasian sumber secara efisien, meningkatkan kreativitas, kewiraswastaan dan inisiatif di sektor swasta dengan mengecilkan sektor publik; (2) Pengembangan kemampuan Pemerintah dengan mening-katkan kualitas pelayanan. Hasil yang diperoleh dari dilakukannya Public Sector Reform di Korea Selatan yaitu: (a) Mengurangi jumlah pegawai mencapai 18,7% atau seba-nyak 131.082 pegawai selama 1998-2000 (negara lain USA 15% selama 6 tahun, Inggris 22% selama 11 tahun); (b) Pemerintah memprivatisasi 11 BUMN; (c) Meningkatkan akuntabilitas dengan menerapkan sistem administrasi kepegawaian yang baru; dan (d) Peningkatan kualitas pelayanan dengan pembentu-kan executive agencies yang memberikan otonomi anggaran dan manajemen personalia yang luas. Reformasi Birokrasi juga dilakukan negara-negara ASEAN antara lain di Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Di Singapura, reformasi birok-rasi dilakukan antara lain dengan meningkatkan kompetensi civil service agar mereka

mampu menjawab tantangan zaman dan lebih kompetitif di dunia internasional. Birokrasi di Malaysia lebih diorientasikan ke bisnis untuk menggantikan peran aktif birokrasi dalam pembangunan dan meredefinisikan perannya sebagai fasilitator dalam aktivitas sektor swasta. Di Thailand birokrasi lebih menempatkan dirinya sebagai katalisator untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi yang berperan sebagai pendukung dan bukannya pemimpin, begitu pula halnya di Filipina. Meski demikian, tidak semua negara berhasil melakukan perubahan birokrasi. Singapura dan Malaysia tergolong cukup efektif mewujudkan beberapa reformasi birokrasi, antara lain karena stabilitas politik dan kerja sama yang baik antara birokrasi dan pemimpin politik. Semen-tara itu, Indonesia, Thailand, dan Filipina kurang efektif dalam mewujudkan perubahan birokrasi karena dominannya aparat birokrasi dan adanya konflik atau kolusi antara birokrasi dan elite politik.

3. Tahapan Reformasi Birokrasi
Dalam lingkup pemerintah daerah upaya reformasi birokrasi telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, antara lain: Jembrana, Sragen, Kabupaten Sidoarjo, Tabanan, Pekanbaru, Sragen, Gorontalo, Sleman, Musi Banyuasin (MUBA), Kabupaten Malang, Sleman dan

76

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 69 - 79

Kota Bekasi. Reformasi yang dilakukan pemerintah daerah tersebut meliputi debirokratisasi dan inovasi pelayanan, reformasi pengelolaan keuangan, restrukturisasi kelembagaan perangkat daerah untuk lebih efisien, dll. Namun reformasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut bersifat case by case dan tidak komprehensif karena tidak memiliki satu desain reformasi birokrasi yang terkonsep dengan baik. Reformasi birokrasi dalam situasi dan kondisi birokrasi Indonesia yang sudah terbentuk dan memiliki nilai dan norma-norma serta kebiasaan-kebiasaan yang sudah melembaga, sehingga daya tolaknya terkadang lebih keras dari upaya perubahan yang dilakukan sehingga perubahannya pun tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan upaya yang keras, sistematis dan berkelanjutan. Dengan inspirasi dari prosesi kebijakan publik dan kaidah fungsi-fungsi manajemen maka dalam melakukan reformasi birokrasi setidaknya ada tiga tahapan besar yang harus dilakukan yaitu : (1) Tahapan Formulasi/Perencanaan. Reformasi birokrasi sebagai suatu proses perubahan terencana membutuhkan perencanaan yang matang. Tahapan perencanaan ini harus menghasilkan rencana reformasi (blueprint Reformasi Birokrasi). Dalam tahap ini,

dilakukan pemetaan permasalahan birokrasi (baik internal maupun eksternal). (2) Tahapan Implementasi Reformasi Birokrasi. Dengan adanya blueprint Reformasi Birokrasi maka pelaksanaan reformasi birokrasi yang akan dilaksanakan harus mengacu pada ketentuan-ketentuan tersebut. Pelaksanaan reformasi bisa dilakukan secara parsial oleh masing-masing SKPD (perangkat daerah) atau menyeluruh (setiap SKPD melaksanakan program yang sama). Untuk tetap menjaga kelangsungan reformasi, dimana pelaksanaan sering dihadapkan pada berbagai kendala baik yang bersifat internal maupun eksternal maka dibutuhkan adanya suatu tim pengendali atau pemantau yang memiliki kewenangan tertentu di bawah kendali langsung Bupati atau wakil Bupati. Pengendalian dimaksudkan untuk menjaga, mengoreksi dan meluruskan kembali apabila terjadi penyimpangan dari blueprint Reformasi Birokrasi yang telah ditentukan. (3) Tahapan Evaluasi. Tahapan evaluasi terhadap pelaksanaan reformasi birokrasi harus dilakukan secara terusmenerus dan berkesinambungan. Namun tidak tertutup kemungkinan dalam kondisi tertentu dapat pula

S. Sangadji, Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi

77

dilakukan evaluasi secara insidental di luar jadwal yang ditentukan. Evaluasi yang dilakukan dapat bersifat khusus yakni hanya membahas permasalahan

tertentu atau evaluasi yang bersifat menyeluruh yang mengevaluasi secara komprehensif upaya reformasi birokrasi yang telah dilaksanakan. Dengan

78

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 69 - 79

evaluasi dapat diketahui sejauh-mana upaya-upaya yang telah dilakukan dan sejauhmana upaya tersebut telah mencapai target-target yang telah ditentukan, permasalahan atau kendala yang dihadapi. Evaluasi dilakukan secara berkala dipimpin langsung oleh Bupati/Wakil Bupati dihadiri seluruh pimpinan SKPD dan Tim Reformasi Birokrasi. Hasil evaluasi akan menjadi bahan penyempurnaan bagi akselerasi reformasi Birokrasi. Ketiga tahapan tersebut dapat dijadikan referensi atau acuan grand design pelaksanaan reformasi birokrasi. Grand design reformasi birokrasi pemerintahan daerah harus dilegal-formalkan (minimal dengan Peraturan Kepala Daerah) sehingga akan mengikat semua SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan akan menjaga komitmen seluruh unsur pemerintah daerah (mulai dari pegawai, penjaga kantor sampai dengan pejabat eselon II) untuk melak-sanakan agendaagenda reformasi birokrasi yang tertuang dalam grand design. Agenda-agenda tersebut menjadi action plan reformasi birokrasi Pemerintah Daerah. Grand design Reformasi Birokrasi Pemerintah Daerah secara skematis, dapat dilihat pada gambar ilustrasi.

SIMPULAN DAN SARAN
Reformasi Birokrasi adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri, lambat atau cepat reformasi birokrasi harus dilakukan. Pemerintah daerah (Kabupaten/Kota) harus secara cepat menyesuaikan budaya kerjanya dengan kondisi perkembangan saat ini. Perubahan yang diharapkan tidak hanya perubahan mindset tetapi lebih penting perubahan perilaku (behavior) di semua aspek. Untuk itu perubahan harus di-manage oleh elitelit daerah. Panutan dan ketokohan di daerah harus di-create oleh pimpinan daerah sehingga semua birokrat di bawahnya dapat menjadikan pimpinanannya sebagai panutan dalam melakukan perubahan. Dengan demikian komitmen (untuk berubah) akan mudah terwujud. Agar komitmen untuk reform ini tetap dijaga kontinuitasnya, maka perubahan harus disusun dalam suatu grand design yang akan menjadi acuan bersama semua stakeholder.

DAFTAR RUJUKAN
Blau, Peter M. & Marshall W. Meyer, 2000, Alih bahasa oleh Slamet Rijanto, Birokrasi Dalam Masyarakat Modern, Prestasi Pustakaraya, Jakarta. Dawud, Joni, 2006, Reformasi Birokrasi di Indonesia, Makalah Seminar

S. Sangadji, Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi

79

Reformasi Birokrasi di Kabupaten Sidoarjo. Direktorat Aparatur Negara, Bappenas, 2004, Kajian Rencana Tindak Reformasi Birokras. Dwiyanto, Agus, 2005, Mewujudkan Good Governance melalui Pelayanan Publik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Flynn, Norman & Strehl Franz, 1996, Public Sector Management in Europe, Harvester Wheatsheaf: Prentice Hall ; Gafar, Abdul Karim, 2003, Kompelksitas Persoalan otonomi Daerah di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Mc Kewitt, David and Lawton, Allan, 1994, Public Sector Management, London: Sage Publication. Osborne, David dan Ted Gaebler, 1992, Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming to the Public Sector.

Osborne, David and Peter Plastrik, 1997, Banishing Bureaucracy: The Five Strategies for Reinventing Government. Pusat Kajian Kinerja Sumber Daya Aparatur, Lembaga Administrasi Negara, 2005, Reformasi Birokrasi, Jakarta. The British Council (http:// www.britishcouncil. org), 2002, Public Sector Reform in Britain.

UNDP, 1996, Process Consultation: Systemic Improvement of Public Sector Mana-gement, presented in the International Conference on Governance Innovation: Building the Government–Citizen. Manila: Business Partnership. UNDP 1998, Decentralized Governance , Monograph: Global Sampling of Expierience. Widodo, Joko, 2001, Good Governance, Akuntabilitas, dan Kontrol Birokrasi, Insan Cendekia, Surabaya.

80

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 80

POLITIK, DEMOKRATISASI MEDIA, DAN PERWUJUDAN MASYARAKAT SIPIL

Imam Sofyan
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jln. Mojopahit 666 B Sidoarjo, Telp. (031) 8945444, Faks. (031) 8949333, e-mail: imamsofyan@hotmail.com)

ABSTRACT In the process of democratic country as a place for creating good and democratic society can not avoid the political practice that gives priority to communal desire and media freedom as the most important prerequisites. The study is aimed at describing one relational perspective between politics and media; how the political practice should be performed and the role taken by media institution in forming good and democratic civil society. Keywords: moral politics, media democratization, public sphere, civil society.

PENDAHULUAN
Demokratisasi dalam setiap aspek kehidupan sebagai dampak sekaligus tuntutan dari proses perubahan politik yang tidak terelakkan, ditengarai berdampak positif maupun negatif bagi keberlangsungan dan perubahan tatanan masyarakat, terlebih bagi negara sedang berkembang, yang berada pada masa transisi menuju ke negara maju yang diinginkan, yang antara lain dicirikan dengan keterbukaan masyarakat. Sebuah negara yang dicita-citakan tersebut, diharapkan mampu memberi jaminan dan
81

pemenuhan bagi penyejahteraan masyarakatnya (welfare state). Mengidam-idamkan terwujudnya welfare state sebagai wadah bagi pewujudan masyarakat sipil pastilah membutuhkan proses politik yang memuliakan sekaligus mengutamakan kehendak publik. Tentunya proses ini tidak mudah mengingat negara sebagai institusi formal yang legitimate dalam menjalankan mekanisme politik pada kenyataannya tidak selalu netral, yang membuat politik menjadi tidak mulia lagi, penuh konflik dan sarat dengan berbagai kepentingan yang kurang mensejahterahkan masyarakat.

82

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 81 - 87

Sangat dimungkinkan keinginan menuju pembentukan masyarakat sipil dalam wadah negara maju tersebut menunjukkan indikasi positif apabila dilihat dari berbagai perubahan yang muncul seiring dengan terjadinya perubahan konstelasi politik global. Setidaknya ada tiga perubahan mendasar yang turut mengarahkan sekaligus menandai permulaan politik yang dapat dipandang bermuara pada pembentukan masyarakat sipil dengan berbagai implikasinya. Pertama, kecenderungan perubahan konstelasi politik nasional, dari pola bipolar ke pola multipolar. Kedua, menguatnya peran dan hubungan antara ketiga komponen, yakni institusi politik, organisasi media dan masyarakat. Ketiga, munculnya isu-isu baru sebagai konsekuensi logis dari menguatnya hubungan ketiga komponen tersebut, seperti hak partisipasi dan kompensasi politik yang mensejahterakan bagi warga negara, kebebasan pers bagi perwujudan demokrasi, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan pemerintahan sebagai prasyarat penciptaan clean government dan good governance, dan lain sebagainya. Mendasarkan pada pemikiran tersebut, perlu kiranya dikaji praktik politik dan peran media dalam pembangunan masyarakat sipil. Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan keterkaitan antara

politik dan media, dalam arti bagaimana politik tersebut diwujudkan, serta peran yang seharusnya dimainkan oleh institusi media dalam perwujudan masyarakat sipil, masyarakat yang mandiri secara politik, ekonomi, dan budaya dalam pencapaiannya menuju masyarakat yang lebih maju, adil, dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan bersama.

POLITIK MENYANTUNI MASYARAKAT
Pada dasarnya ide pembentukan negara adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Tugas negara adalah untuk memberikan “jaminan” kepada warganya dalam memperoleh kehidupan secara layak. Dari sinilah kemudian lahir konsep welfare state, yakni negara sejahtera yang dapat menjamin kebahagiaan hidup bagi rakyatnya. Negara wajib untuk melindungi, mendidik, dan membantu masyarakat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh masyarakat. Atas dasar itu, pengelola negara (pemerintah dengan seperangkat politiknya) merupakan public service yang bertugas untuk melayani kebutuhan masyarakat. Dalam konteks ini, negara menjadi jawaban fungsional terhadap segala permasalahan yang menimpa

Imam Sofyan, Politik, Demokratisasi Media dan Perwujudan Masyarakat Sipil

83

kehidupan masyarakat (Rumadi, 2000). Bagaimana konsep negara tersebut terwujudkan, tentunya bergantung pada praktik politik yang dijalankan oleh pengelola negara. Politik hanyalah merupakan seperangkat sistem yang dinamis, cara yang dapat dipilih dan ditentukan secara kolektif bentuknya guna pencapaian tujuan kehidupan dan kebaikan bersama yang diinginkan. Pada tataran ini, politik dituntut untuk bisa berpihak pada kebaikan umum, kebaikan untuk komunitas bersama yakni rakyat. Dan untuk pencapaian tersebut diperlukan sebuah kesadaran bersama untuk menempatkan politik dalam koridor etika dan moral. Aristoteles dalam konsepsi politiknya, pertama-tama mengkaitkan politik dengan etika. Etika muncul sebagai upaya pencarian tata moral, dan politik merupakan praksis penciptaan tata moral bagi kebaikan umum. Dalam catatannya, kebaikan umum tidak mungkin tercipta tanpa adanya virtus (keadilan, kebijaksanaan, solidaritas, dll.). Berbagai keutamaan tersebut dilihat bukan sebagai kualitas pribadi per individu, melainkan sebagai kualitas negara kota Yunani Kuno (polis). Suatu tindakan atau tatanan disebut adil bukan karena penetapan hukum, melainkan karena berupa keutamaan yang membawa kebaikan umum, yang berarti tata solidaritas dalam polis. Pemikiran

inilah yang diadopsi oleh Jean Jacques Rousseau sebagai dasar tata penciptaan negara republik. Dalam sejarah pemikiran politik, konsepsi tersebut dikenal sebagai tradisi civic virtue. Menurutnya, virtus menyangkut penyesuaian kehendak individual pada kehendak komunitas. Sumber moralitas bukanlah individu melainkan komunitas (Priyono, 2000). Berdasarkan pada refleksi pemikiran tersebut, politik di Indonesia diharapkan menjadi politik yang berlandaskan pada nilai-nilai kemasyarakatan. Politik moral yang menyantuni masyarakat dengan berbagai pluralitasnya sebagai kosekuensi masyarakat Indonesia yang serba majemuk. Dengan demikian, esensi politik pada masyarakat adalah upaya bersama untuk menegakkan keadilan (equality) dan kemerdekaan (freedom) dalam kebersamaan masyarakat. Dan selama masyarakat berupaya untuk meraih keadilan dan kemerdekaan secara bersama-sama, selama itu pulalah ia membutuhkan negara. Dalam konteks Indonesia, negara hubungannya dengan masyarakat tidaklah tepat apabila dipandang sebagai entitas yang berhadap-hadapan. Politik yang menyantuni pluralitas menjadi inheren dalam hubungan antara negara dengan demokrasi, dan kekuatan demokrasi yang terbesar berada di tangan dan merupakan kehendak masyarakat. Oleh karenanya

84

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 81 - 87

konsep civil society di Indonesia, selayaknya dipandang sebagai partner negara guna pencapaian tujuan bersama negara dan masyarakat.

berita yang mengandung unsur politik dan laporan mengenai peristiwa politik yang bermakna signifikan dalam membentuk pemahaman politik masyarakat. Bagaimana media seharusnya berperan dalam menunjang proses demokratisasi tersebut? Setidaknya ada lima fungsi media yang dapat dioperasikan dalam “tipe ideal” masyarakat demokratis, di antaranya yakni: 1. To inform. Bahwa media harus mampu menyajikan berbagai informasi kepada masyarakat secara terbuka sehubungan dengan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Dalam menjalankan fungsi ini, media dituntut untuk berperan sebagai pengawas dan pengamat lingkungan masyarakat. 2. To educate. Media diharapkan memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada masyarakat akan makna dan signifikansi dari “fakta”. Hal terpenting terkait dengan fungsi kedua ini adalah profesionalisme media dalam menjaga obyektifitas pemberitaan dan etika jurnalisme yang dijalankan. 3. Provide platform. Media harus mampu menyedikan platform bagi pengembangan wacana politik publik, memfasilitasi pembentukan opini publik. Termasuk di dalamnya penyediaan ruang publik bagi kemungkinan terciptanya konsensus demokrasi.

PERAN MEDIA DALAM PROSES DEMOKRATISASI
Tidak dipungkiri bahwa kebebasan media menjadi tolok ukur bagi pelaksanaan demokrasi suatu negara. Berbagai kriteria demokrasi seperti; tersedianya ruang publik bagi pertukaran pendapat, arus komunikasi dan informasi yang bebas, terciptanya wacana publik, semuanya terwadahi oleh media. Gabriel Almond menempatkan tingkat keterpaan media (media exposure) sebagai prasyarat utama bagi terciptanya demokratisasi masyarakat yang sehat, selain tingkat kehidupan sosial ekonomi, pendidikan, dan konteks budaya politik masyarakat setempat. Di samping itu, asumsi bahwa warga negara yang well informed dan penuh tanggungjawab merupakan salah satu pilar demokrasi, banyak melandasi penelitian keterlibatan media massa dalam pembangunan sistem politik yang demokratis. Sebagaimana Suryadi dalam artikelnya yang berujudul “Media Massa dan Sosialisasi Politik; Perspektif Teori Belajar Sosial” (ISKI, 1999), memaparkan keterlibatan media tersebut terbuktikan melalui perwujudannya dalam bentuk pemilihan

Imam Sofyan, Politik, Demokratisasi Media dan Perwujudan Masyarakat Sipil

85

4. To give publicity. Media harus memberikan ruang publikasi bagi pemerintah maupun institusi politik lainnya. Pada fungsi ini, opini publik di dalam mengubah realitas politik “obyektif” dapat berjalan secara efektif apabila aktifitas politik pemerintah berikut institusi-institusi politik lainnya diinformasikan secara transparan, dan masyarakat diberi ruang untuk mengaksesnya, sehingga tidak ada halangan bagi publik untuk turut andil dalam pengambilan keputusan dalam ruang diskursus politik yang terbuka. 5. To serve for the advocacy. Media dalam masyarakat demokratis diharapkan berfungsi sebagai saluran advocacy politik masyarakat. (Mc Nair, 1993: 21).

pemikiran awalnya yakni pemikiran Yunani Kuno hingga Eropa-Barat. Pertama, civil society yang diidentikkan dengan negara (state). Pemahaman ini dikembangkan oleh Aristoteles, Marcus Tullius Cicero, Thomas Hobbes, dan John Locke. Aristoteles tidak memakai istilah civil society, tetapi koinonie politike, yakni sebuah komunitas politik dimana warga negara terlibat secara langsung dalam pengambilan keputusan. Cicero, yang memakai istilah societas civilis, yakni sejumlah komunitas yang mendominasi sejumlah komunitas lainnya. Thomas Hobbes dan John Locke, memahami civil society sebagai tahap lanjutan dari evolusi masyarakat natural. Bagi Hobbes civil society dimaksudkan untuk meredam konflik dalam masyarakat sehingga tidak terjadi chaos. Sementera itu, John Locke memahaminya sebagai masyarakat bernegara yang didahului proses perjanjian sosial dalam mempertahankan perilaku etis masyarakat yang menghargai hak-hak kemanusiaan. Kedua, Penekanan makna civil society oleh Adam Ferguson (1767), yakni sebagai visi etis dalam kehidupan bermasyarakat untuk memelihara tanggung jawab sosial yang becirikan solidaritas sosial antar warga secara alamiah. Civil society dipahami sebagai bentuk perubahan masyarakat dari masyarakat primitif

GAGASAN PERWUJUDAN MASYARAKAT SIPIL
Dalam mengkaji relevansi politik dan peran media bagi pengembangan masyarakat sipil dalam konteks keIndonesiaan, setidaknya perlu melakukan peninjauan kembali terhadap perkembangan konsep civil society. Dalam studi pustaka yang dilakukan oleh Sazali (2002: 28-37), Noer (1997: 105), setidaknya terdapat lima model yang dapat ditelusuri secara ringkas mengenai gagasan civil society dari masa klasik hingga kontemporer, dalam tradisi

86

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 81 - 87

atau barbar menuju masyarakat bernegara yang beradab. Ferguson masih mengidentikkan civil society dengan negara, yang digambarkan sebagai sebuah bentuk tatanan politik yang melindungi dan memperadabkan pekerjaan-pekerjaan warganya. Ketiga, Thomas Paine (1791) yang mulai memaknai civil society dalam posisi diametral dengan negara. Paine memandangnya sebagai antitesis atas negara, masyarakatlah yang lebih mampu dan memiliki kekuatan kontrol atas negara. Menurutnya kekuasaan negara perlu dibatasi campur tangannya ke dalam wilayah civil society agar setiap individu di dalam masyarakat dapat saling berinteraksi secara kompetitif dan membangun solidaritas berdasarkan kepentingan timbal-balik beserta tujuan bersama. Keempat, George W. F Hegel (1770. 1831), mendorong mengembangkan konsep civil society yang subordinatif terhadap negara. Pandangan Hegel berkaitan erat dengan fenomena masyarakat bojuis Eropa yang pertumbuhannya ditandai oleh perjuangan untuk melepaskan diri dari dominasi negara. Civil society dinilai sebagai tempat berlangsungnya konflik pemenuhan kepentingan pribadi atau kelompok, terutama kepentingan ekonomi. Menurutnya civil society adalah entitas yang cenderung melumpuhkan diri sendiri dan karenanya memerlukan

santunan negara melalaui kontrol hukum, administrasi dan politik. Kelima, Alexis De Tocqueville, mengembangkan teori civil society sebagai entitas penyeimbang atas kekuatan negara. Gagasannya lebih menekankan pentingnya penciptaan asosiasi-asosiasi warga negara yang mandiri, agar dengan demikian penyalahgunaan kekuasaan oleh negara yang menindas warganya dapat dicegah. Menurutnya, civil society seharusnya tidak subordinatif terhadap negara, karena ia bersifat otonom dan memiliki kapasitas politik yang cukup tinggi sehingga mampu menjadi kekuatan pengimbang untuk menahan intervensi negara, dan pada saat yang sama mampu melahirkan kekuatan kritis reflektif untuk mengurangi derajat konflik dalam masyarakat sebagai proses formasi sosial modern. Model terakhir ini diperluas oleh Juergen Habermas dengan konsep “ruang publik yang bebas” (the free public sphere). Secara teoritis ruang publik dapat diartikan sebagai wilayah di mana masyarakat sebagai warga negara memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik. Ruang publik yang bebas merupakan syarat bagi penciptaan sebuah masyarakat politik; sebab secara normatif, setiap individu dalam posisi yang setara dapat melakukan transaksi wacana dan praktik politik secara sehat, tanpa adanya represi. Ruang

Imam Sofyan, Politik, Demokratisasi Media dan Perwujudan Masyarakat Sipil

87

publik yang bebas meru-pakan elemen utama dalam perjuangan mewujudkan civil society Sazali (2002: 38).

DAFTAR RUJUKAN
McNair, Brian. 1993. Introduction to Political Communication. Second edition. Routledge. London. Noer, Deliar. 1997. Pemikiran Politik di Negara Barat. Mizan. Bandung. Sazali. 2002. Muhammadiyah dan Masyarakat Madani; Independensi, Rasionalitas dan Pluralisme. Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah. Jakarta. Suryadi, Karim. (1999). Media Massa dan Sosialisasi Politik; Perspektif Teori Belajar Sosial. Jurnal ISKI edisi Komunikasi Politik. Vol. IV/ Oktober 1999. Priyono, Herry B. (2000). Jalan Ketiga Sebagai Utopia. Kompas, 28 Juni 2000. Rumadi. (2000). Melepas Gurita Negara. Kompas, 30 Maret 2000.

SIMPULAN DAN SARAN
Dengan demikian, perspektif politik dan media dalam upaya pembangunan civil society dapat terbentuk melalui model ruang publik Habermas. Dengan sistem politik yang terbuka, politik yang berpihak pada kepentingan masyarakat akan mampu menciptakan sistem media yang bebas sebagai perwujudan demokrasi. Media untuk selanjutnya dapat menjalankan perannya secara fungsional dalam menunjang proses demokratisasi dengan memberikan ruang publik yang bebas kepada masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat yang well informed, educated society berpeluang besar bagi penciptaan masyarakat sipil sebagaimana yang diharapkan tanpa harus vis a vis terhadap negara.

88

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 88

EVALUASI KEBIJAKAN ASKESKIN TAHUN 2007

Andik Afandi
(Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jln. Mojopahit 666 B Sidoarjo, Telp. (031) 8945444, Faks. (031) 8949333, e-mail: andikafandi405@yahoo.com)

ABSTRACT The public policy of Indonesian government called Health Insurance for The Poor (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Keluarga Miskin/JPKMM or Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin/Askeskin) is the policy with a good aim. But, the result of policy evaluation at 2007 compile a several weaknesses ¾from the policy formulation, policy communications, policy delivery, and policy implementation¾ that makes the policy ineffective. Keywords: Policy: program; Health Insurance for The Poor (Askeskin); policy target; poor household (RTM); member of poor household (ARTM); claim; effektive(ness); subsidy;

PENDAHULUAN
Diawali tahun 2005 diluncurkan kebijakan publik oleh pemerintah berupa Jaminan Penyelenggaraan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPKMM) atau sering pula disebut Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (ASKESKIN). Program tersebut merupakan program tahunan, dalam arti mengikuti siklus anggaran tahunan. Tahun 2007 merupakan tahun ketiga pelaksanaan program yang digawangi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes-RI) bekerjasama dengan Perse89

roan Terbatas (PT) Asuransi Kesehatan (Askes) Persero. Kebijakan ini bertujuan memberikan penjaminan ¾dalam batas tertentu¾ bagi diperolehnya pelayanan kesehatan untuk individu anggota masyarakat yang tergolong miskin yang tidak mamu membayar sendiri harga pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya.

Desain Kebijakan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes-RI) merupakan lembaga pemerintah yang merancang,

90

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 89 - 100

mengelola dan melaksanakan program JPKMM/ASKESKIN ini, dengan pendanaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni dalam dokumen anggaran yang disebut sebagai Dokumen Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Depkes. Dalam DIPA Depkes tersebut disediakan sejumlah dana anggaran yang berfungsi sebagai “tandon” atas kebutuhan klaim kebutuhan dana Askeskin. Dana tersebut akan dipergunakan untuk menutup kebutuhan Askeskin, sebagaimana yang ditagih oleh lembaga Rumah Sakit (RS) ¾baik negeri (pusat dan daerah provinsi atau kabupaten kota) maupun swasta¾ atas pembiayaan perawatan dan/atau pemeliharaan kesehatan bagi para anggota keluarga miskin. Tahun 2005 adalah saat ketika pemerintah melalui badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Pendataan Sosial Ekonomi yang dikenal sebagai PSE 2005, yang daripadanya dengan menggunakan indikator tertentu, scoring atas indikator tersebut dengan suatu pembobotan tertentu, yang menghasilkan suatu skor kumulatif atau suatu indeks, lalu dengan suatu angka treshold atau ambang batas tertentu kemudian ditentukan suatu rumah-tangga dinyatakan sebagai “miskin”. Dalam survai PSE tersebut unit analisis yang dipergunakan adalah rumahtangga, yakni sejumlah orang yang makan

dari satu dapur. Dengan demikian dalam suatu rumah-tangga tersebut dapat terdiri dari lebih dari 1 (satu) keluarga/kepala keluarga (KK). Data PSE 2005 ini memuat identitas (nama dan alamat) kepala rumah tangga miskin (RTM) disertai dengan jumlah anggota rumah-tangga (ART) miskin tersebut. Data PSE 2005 inilah yang dipergunakan ketika pemerintah meluncurkan program Bantuan/Subsidi Langsung Tunai B/SLT kepada masyarakat miskin atas kondisi tertekan mereka akibat adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM), yang sering disebut sebagai Program Khusus Pengurangan Subsidi BBM (PKPS-BBM). Data itu pula yang dijadikan acuan untuk menentukan sasaran penyaluran beras untuk masyarakat miskin (raskin), yakni penyaluran beras sejumlah 10kg per-RTM dengan harga khusus Rp1.000,00 per-kg. dengan BLT diharapkan masyarakat miskin akan tersangga dayabelinya, sementara dengan raskin diharapkan terkurangi beban pengeluarannya. BLT mencatat beberapa gejolak dalam realisasinya, khususnya berupa sejumlah protes di masyarakat yang merasa miskin tetapi tidak terkategori miskin berdasarkan kriteria PSE sehingga tidak memperoleh BLT. Sementara dalam pelaksanaan program Raskin, tercatat pola modifikasi

Andik Afandi, Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007

91

dalam

penyalurannya

¾biasanya

suatu Surat Keterangan “Tidak Mampu” (SKTM). Toleransi sebagaimana tahun 2005-2006 tidak diberikan lagi pada tahun 2007, sehingga masyarakat miskin yang di-cover oleh program Askeskin semata sebatas mereka yang tercantum pada data hasil PSE, yakni berjumlah 19,1 juta RTM atau 76,4 juta jiwa ARTM. Karena data PSE 2005 hanya memuat identitas Kepala RTM beserta jumlah (tanpa identitas) ARTnya, maka harus dilakukan survai ulang (identifikasi) untuk agar diperoleh kelengkapan data menyangkut identitas masingmasing ARTM tersebut. Selanjutnya kepada ARTM yang telah diketahui identitasnya tersebut ditetapkan daftar nama dan alamatnya dalam suatu Surat Keputusan (SK) Bupati/Walikota. Namanama yang tercantum dalam SK Bupati/ Walikota tersebut kemudian diproses penerbitan kartu individual kepesertaan Askeskin (dikenal dengan sebutan Kartu Askeskin) oleh Kantor Cabang PT Askes setempat. Kartu Askeskin tersebut yang kemudian menjadi “sarana penentu” seseorang untuk memperoleh pelayanan kesehatan gratis (Askeskin). Mekanisme yang harus dilalui dalam pemberian pelayanan kesehatan Askeskin tersebut ialah para pemegang kartu Askeskin yang menderita sakit harus menunjukkan kartu Askeskin untuk berobat ke Pusat Kesehatan Masyarakat

dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda)¾ misalnya berupa realokasi berdasarkan data yang dimodifikasi hingga penambahan jumlah penerima raskin dengan cara menambahkan rumah-tangga sasaran yang berimplikasi pada pengurangan jumlah beras yang diterima per RTM (kurang dari 10kg). Modifikasi dalam penyaluran raskin tersebut merupakan cara yang diambil antara lain untuk alasan mengurangi kemungkinan terjadinya gejolak, yang bisa terjadi karena keterbatasan akurasi data yang ada, yang boleh terjadi ketidakakuratan tersebut diakibatkan ketidakterusterangan penduduk miskin yang bersangkutan saat disurvai yang semula tidak tahu bahwa survai tadi berimplikasi pemberian subsidi. Data hasil PSE 2005 pula yang dipergunakan sebagai basis data penyelenggaraan Askeskin, yakni mereka yang adalah anggota RTM (ARTM) lah yang berhak memperoleh layanan kesehatan “gratis”, sejak diselenggarakan tahun 2005. Walaupun pada penyelenggaraan awalnya, yakni di tahun 2005 dan 2006 dapat ditolerir penambahan jumlah sasaran program Askeskin berdasarkan data lain yang dimiliki oleh Pemda atau pernyataan Kepala Desa/Lurah yang dikuatkan oleh Camat bahwa seseorang dinyatakan miskin yang dibuktikan oleh

92

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 89 - 100

(Puskesmas) setempat, yang kalau penanganannya cukup di Puskeskmas tersebut penderita langsung memperoleh penanganan dan pelayanan kesehatan. Apabila diperlukan penanganan lanjut, penderita dapat dirujuk ke umah Sakit (RS) umum atau khusus negeri (milik pemerintah pusat atau daerah) atau swasta tertentu. Keharusan untuk terlebih dahulu ke Puskesmas dikecualikan pada kasus darurat misalnya ibu hamil yang hendak melahirkan atau bagi pemegang kartu Askeskin yang mengalami kecelakaan, yang dapat langsung memperoleh pelayanan di instalasi pelayanan kesehatan dengan menunjukkan kartu Askeskinnya. Berdasarkan jumlah orang yang “dijamin” dalam program Askeskin tersebut Pemerintah Pusat melalui DIPA Depkes-RI menyalurkan dana JPKMM sejumlah indeks tertentu dikalikan jumlah ARTM di suatu wilayah kerja suatu Puskesmas secara reguler melalui Giro Pos, sebagai sumberdana bagi penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi ARTM di wilayah suatu Puskesmas. Puskesmas yang bersangkutan kemudian mempergunakan dana dimaksud dengan suatu rencana kerja yang disebut Plan of Action (POA) yang dibuat, yang dalam realisasinya akan diverifikasi oleh Kantor Cabang PT Askes setempat. Sedangkan untuk rumah sakit, dana DIPA Depkes diperolehnya dari

pengajuan klaim melalui (verifikasi) Kantor Cabang PT Askes setempat atas kebutuhan pembiayaan pelayanan kesehatan kepada ARTM yang ditanganinya. Verifikasi PT Askes bagi klaim RS diperlukan karena JPKMM menentukan suatu “cakupan” layanan tertentu/terbatas (limited) dalam kerangka Askeskin, baik menyangkut obat, formularium maupun tindakan medisnya dalam suatu pembakuan (standarisasi) tertentu.

PEMBAHASAN Implementasi Kebijakan
Secara umum, perihal penyelenggaraan JPKMM/Askeskin ini dituangkan dalam suatu Pedoman Pelaksanaan ¾yang akrab disebut sebagai Manlak¾ berupa Keputusan Menteri Kesehatan (Kep. Menkes), baik menyangkut kuota jumlah ARTM di suatu wilayah (Kabupaten/Kota, yang dapat dilakukan realokasi ataupun penyesuaian oleh Gubernur), penatalaksanaan pemberian pelayanan kesehatan, mekanisme pendanaan maupun hal evaluasi dan pengendalian. Untuk tahun 2007 Manlaknya adalah Kep. Menkes nomor 417/Menkes/SK/IV/2007 tanggal 10 April 2007, yang pencetakan dan distribusinya dilakukan oleh DepkesRI bekerjasama dengan PT Askes. Berbeda dengan penyelenggaraan program

Andik Afandi, Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007

93

Askeskin sebelum tahun 2007, pada penyelenggaraannya di tahun 2007 ini menyebutkan bahwa kepesertaan bersifat “mutlak” berbasiskan data PSE BPS tahun 2005 dan tidak “diperluas” bagi mereka yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Salah satu persoalan yang segera timbul terkait dengan kepesertaan adalah keinginan banyak orang yang merasa miskin tetapi tidak termasuk dalam kategori miskin versi data PSE 2005. Keadaan ini seperti pengulangan kejadian kisruh pembagian BLT karena banyak yang merasa berhak mendapatkan tetapi tidak mendapatkannya. Kondisi ini bukan sesuatu yang baru kali ini terjadi. Ketika Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) di tahun 1990-an melakukan pendataan Desa Miskin dan kemudian melansir hasilnya, banyak Gubernur, Bupati/Walikota saat itu yang “berang” ketika hasil survai tersebut menampilkan data begitu banyaknya Desa “Merah” ¾sebutan untuk desa berkategori miskin yang dalam pemetaannya ditandai dengan noktah/warna merah di wilayahnya. Para pejabat publik/ pemerintahan tersebut seperti kebakaran jenggot dan malu atas kondisi di wilayahnya. Namun ketika implikasi atas hasil survai desa miskin tersebut ternyata

adalah disalurkannya sejumlah dana bantuan berupa dana Instruksi Presiden (Inpres) Desa Tertinggal (IDT) yakni sebesar Rp20.000.000,00 per desa, maka sikap para pejabat publik tersebut seperti berbalik dan lebih berharap untuk sebanyak mungkin desa di wilayahnya yang dikategorikan sebagai desa miskin (sehingga lebih banyak desa di wilayahnya yang menerima IDT). Manlak Askeskin baru diterima di daerah (Pemda, Dinas Kesehatan, RS-RS, dan cabang-cabang PT. Askes) sekitar bulan Juli-Agustus 2007. Di dalam Manlak tersebut dilampirkan Surat Penunjukan Menkes-RI 1241/Menkes/SK/XI/2004 kepada PT. Askes sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk bekerjasama dalam program Askeskin ini. Untuk keseluruhan keterlibatan PT Askes dalam rangka program Askeskin ini, PT Askes berhak atas sejumlah Biaya Operasional (BOp) yakni sebesar 5% dari dana klaim yang ditanganinya.

Evaluasi Kebijakan
Kerjasama dengan pihak PT Askes dalam kerangka penyelenggaraan program Askeskin boleh jadi suatu upaya inisiasi pihak Pemerintah untuk nantinya akan menyelenggarakan JPKMM/Askeskin secara sistem asuransi penuh, bekerjasama dengan lembaga penyedia jasa asuransi

94

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 89 - 100

kesehatan (PT Askes atau lembaga lain). Untuk itu penyedia layanan kesehatan “dibiasakan” untuk mengalami proses verifikasi dalam pelaksanaan program. Namun demikian, dalam skema kebijakan Askeskin sebagaimana desain yang diuraikan di muka menimbulkan pertanyaan mengapa POA Puskesmas perlu memperoleh verifikasi PT Askes, apabila pengalokasian dananya bersifat “tetap (fix) dan tidak melalui PT Askes? Apalagi, PT Askes tidak memperoleh “imbalan” tertentu untuk aktifitas ini oleh karena dananyayang disebut dana kapitasi-disalurkan langsung dari Depkes ke puskesmaspuskesmas melalui Kantor Pos dan Giro, sehingga menimbulkan keraguan; apakah PT Askes sebagai badan usaha (bisnis) mau melakukannya dengan sukarela? Persoalan berikutnya berkaitan dengan keterlibatan PT Askes untuk memverifikasi klaim RS ke Depkes-RI. Agaknya hal ini terkait dengan mekanisme klaim yang memang dilakukan melalui PT Askes. Dalam kenyataannya, penunjukan PT Askes oleh Menkes lebih bersifat channelling kendati PT Askes sebenarnya adalah asuradur (penjamin). Terjadilah kelemahan dalam mekanisme pencairan dana klaim Askeskin. Kelambanan terjadi di birokrasi pencairan keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Depkeu. Sementara, Depkes

menuding kinerja PT Askes rendah. Hal ini merupakan salah satu kelemahan mendasar program, di mana PT Askes tidak bekerja sebagai provider. Dari dana DIPA Depkes 2007 yang semula disediakan sebesar Rp1,8 triliun dan ditambah Rp1,7 triliun (total Rp3,5 triliun), kinerja pencairannya adalah: pertama, sebesar Rp425 millyar (15 Maret 2007); kedua, sebesar Rp541 milyar (17 April 2007); ketiga, sebesar 454 milyar (7 Juni 2007); keempat, sebesar Rp280 milyar (17 Juli); kelima, sebesar Rp400 milyar (25 September 2007); keenam, sebesar Rp700 milyar (15 November 2007); ketujuh, sebesar Rp600 milyar (12 Desember 2007) (total sebesar Rp3,4 triliun, yang menyisakan kekurangan bayar klaim sebesar Rp1,131 triliun). Dana program tidak mencukupi, dan pencairan berlangsung lamban. Lambannya pencairan dana oleh PT Askes ini telah menimbulkan persoalan yang meluas, yakni kesulitan likuiditas RS-RS pelayanan Askeskin karena keterlambatan pencairan dana DIPA Depkes-RI kepada (atas klaim) mereka. Penalangan terpaksa dilakukan oleh RS-RS, yang oleh karenanya sangat mungkin menimbulkan “gangguan” dalam kinerja mereka secara umum, baik untuk melayani ARTM dalam kerangka Askeskin maupun untuk memberikan pelayanan kesehatan reguler mereka. Pada beberapa

Andik Afandi, Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007

95

kasus/RS, ekses kebijakan yang timbul ini sampai pada tingkat yang sangat mengganggu. Saat diterbitkannya Manlak yang tertanggal 10 April 2007 (dengan Kata Pengantar tertanggal Januari 2007) namun Manlak tersebut baru terdistribusi JuliAgustus 2007 merupakan persoalan tersendiri. Oleh karena terdapat selang waktu yang cukup panjang/lama padahal Manlak sebagai pedoman pelaksanaan kebijakan berlaku untuk 1 (satu) tahun yaitu 2007. dengan demikian efektifitas Manlak praktis kurang dari ½ tahun. Terkait saat terdistribusikannya Manlak tersebut menunjukkan bahwa dari segi policy delivery terdapat kelemahan mendasar. Oleh sebab efektifitas suatu kebijakan juga ditentukan oleh proses komunikasi kebijakan (Dunn, 1993), yang dalam hal ini berupa sosialisasi kebijakan baik kepada lembaga-lembaga terkait dengan pelaksanaan program maupun kepada masyarakat luas, khususnya ARTM yang menjadi sasaran kebijakan/program. Terlebih lagi kebijakan ini memerlukan persiapan-persiapan yang harus dilakukan khususnya proses pelengkapan data ARTM oleh pihak Pemda hingga penerbitan kartu peserta Askeskin oleh pihak PT Askes. Untuk kedua persiapan tersebut tentunya memerlukan waktu. Terkait dengan hal tersebut, waktu yang tersisa

kurang dari ½ tahun tersebut menjadi berkurang lagi. Maka yang terjadi adalah, dari 76,4 juta kartu Askeskin yang seharusnya dibuat, hanya berhasil dicetak dan didistribusikan sejumlah 41.124.541 kartu atau kurang dari 60% (Puskom Depkes 2008). Program sejenis Askeskin termasuk kategori program subsidi (subsidized program). Dalam hal ini subsidi berbentuk pengurangan/pembebasan biaya pelayanan kesehatan bagi ARTM sebagai sasaran kebijakan/program. Salah satu hal yang inheren dengan suatu program subsidi adalah menyangkut peluang/kemungkinan untuk terjadinya mis-subsidi (Stiglitz, 1988). Contoh paling nyata terjadinya missubsidi adalah kebijakan subsidi harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Sebelum keadaannya yang sekarang, di mana dilakukan pembedaan harga untuk masing-masing segmen konsumen BBM tertentu; misalnya BBM untuk industri, BBM untuk transportasi dan BBM untuk rumah-tangga; sebelumnya kebijakan/ program subsidi harga BBM dibuat dengan desain dasar adanya satu harga untuk satu jenis BBM untuk siapa pun konsumennya. Asumsi dasarnya adalah untuk mengurangi beban pengeluaran bagi masyarakat ekonomi lemah agar dapat melakukan aktivitasnya yang terkait dengan atau membutuhkan BBM; yakni

96

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 89 - 100

agar masyarakat miskin dapat memasak dengan menggunakan BBM minyak tanah sehari-harinya karena harga minyak tanah terjangkau bagi mereka, agar masyarakat pada umumnya dapat melakukan perjalanan karena ongkos transportasi terjangkau bagi mereka karena harga BBM yang rendah sehingga harga jual jasa transportasi pun relatif murah, juga agar masyarakat miskin tetap dapat mengkonsumsi produk industri karena pasar harga jual produk industri relatif terjangkau oleh karena ongkos produksi yang berasal dari komponen biaya BBM yang rendah. Pada kasus subsidi harga BBM, missubsidi terjadi antara lain oleh karena idealnya desain kebijakannya bersifat insentif dan disinsentif sehingga menghasilkan suatu “keseimbangan” tertentu (Gramlich, 1981). Keseimbangan tersebut yang gagal dicapai oleh karena makin mewah suatu kendaraan pasti lebih boros konsumsi BBM-nya. Dengan adanya kebijakan subsidi harga BBM maka dengan sendirinya penikmat akhir subsidi harga BBM justru adalah para pemilik mobil-mobil mewah atau pemilik banyak mobil karena konsumsi BBM perkapitanya yang justru tinggi/besar. Masih dalam hal transportasi, mis-subsidi juga terjadi pada kasus murahnya harga avtur (BBM pesawat terbang) yang berujung pada relatif murahnya harga jual jasa transportasi

udara. Memang, subsidi harga BBM yang berhasil memurahkan harga tiket pesawat membuat sebagian masyarakat yang semula tidak mampu menggunakan jasa transportasi udara menjadi mungkin untuk menggunakannya. Namun sebagian besar pengguna jasa transportasi udara umumnya adalah mereka yang memiliki dayabeli kuat sehingga justru mereka kebanyakanlah yang akhirnya lebih menikmati subsidi harga BBM. Pada kasus BBM industri, juga masih perlu ditelisik lebih jauh seberapa porsi BBM dalam total biaya produksi untuk masing-masing jenis industri; kuat dugaan efisiensi produksi bagi kenikmatan akhir para konsumen kelas bawah lebih tidak berarti dibanding yang dinikmati oleh segmen konsumen kelas menengah-atas; belum lagi efek negasinya berupa disinsentif bagi peningkatan dayasaing produksi dalam negeri. Pada kasus minyak tanah yang umumnya dipakai oleh kalangan rumah-tangga kecil barangkali pola subsidi harga ini menemukan ketepatan sasarannya; di samping subsidi harga solar yang banyak dipakai oleh nelayan tradisional untuk melakukan penangkapan ikan. Namun demikian missubsidi masih terjadi untuk kasus solar oleh karena kendaraan niaga banyak yang dipasarkan dalam 2 (dua) varian yakni bermesin berbahan bakar bensin/premium dan bermesin diesel berbahan bakar solar.

Andik Afandi, Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007

97

Pola yang kemudian muncul adalah bahwa kalangan menengah-atas melakukan aktifitasnya dengan cara sebagian besar kebutuhan transportasinya dipenuhinya dengan memiliki dan mengoperasikan kendaraan bermotor bermesin diesel berbahan bakar solar, karena mereka memang memiliki banyak mobil. Dalam kasus kebijakan berupa program Askeskin yang telah memberikan batasan bahwa sasarannya hanya terbatas kepada mereka yang terdaftar sebagai ARTM dan tidak diperbolehkannya penerbitan SKTM baru, telah secara khusus membatasi. Kelemahannya adalah terletak pada penggunaan basis data hasil PSE oleh BPS di tahun 2005, yang telah 2 (dua) tahun berselang, padahal data kemiskinan merupakan data dinamis, yang dapat berubah-ubah. Perubahan tersebut bisa menyangkut bertambahnya ARTM, perubahan status kemiskinan (yang semula miskin sekarang tidak miskin atau sebaliknya), atau pun terjadinya migrasi ARTM. Pembatasan sasaran program Askeskin hanya pada basis data PSE 2005 menimbulkan implikasi kemungkinan ketidaktepatan sasaran; yang dapat terjadi kepada mereka yang semula miskin tetapi kini tidak lagi miskin tetapi tetap berhak memperoleh layanan program Askeskin, dan dapat terjadi sebaliknya yakni atas mereka yang semula tidak miskin yang

kemudian jatuh miskin sehingga tidak tercover dalam program Askeskin. Namun, jangankan data dinamis kemiskinan, kelemahan komunikasi kebijakan dan penghantaran kebijakan (policy delivery) yang berakibat kurang dari 60% kuota peserta yang menerima kartu Askeskin. Kondisi tersebut menyebabkan ketentuan tidak diberlakukannya SKTM tidak dapat berlangsung, yang berarti penyalahgunaan berupa ketidaktepatan sasaran program tetap berlangsung. Tidak dapat diyakini bahwa kunjungan rawat jalan sejumlah 5.961.712 kunjungan dan kunjungan rawat inap sejumlah 1.916.198 kasus (Puskom Depkes) yang menjadi beban program Askeskin keseluruhannya tepat sasaran. Kelemahan dalam hal policy delivery juga menjadi kendala bagi keterlibatan Pemda untuk memberikan suplemen pendanaan bagi siapa pun sebagaimana yang dalam Manlak diungkapkan himbauan dan harapan agar siapa pun yang layak di-cover program Askeskin tetapi tidak terliput dalam data hasil PSE 2005 untuk di-cover melalui dukungan pendanaan Pemda, oleh sebab Pemda belum tentu menganggarkan dana dimaksud dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)-nya yang di pertengahan tahun 2007 pastilah sudah ditetapkan sebelumnya. K alau toh

98

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 89 - 100

akhirnya Pemda berkomitmen untuk mendukung program Askeskin untuk warga masyarakatnya yang belum tercover oleh program Askeskin nasional atau pun apabila dengan komitmen tinggi Pemda hendak memberikan cakupan (coverage) pelayanan lebih luas dari yang ditetapkan batasannya dalam/oleh program Askeskin nasional, maka Pemda baru berkesempatan melakukan penganggarannya melalui mekanisme Perubahan APBD yang biasanya di sekitar bulan September. Dengan demikian tetap saja implementasi program Askeskin terkendala oleh kesiapan pendanaannya.

diposisikan di-fait accomply dalam berbagai hal (dukungan pendanaan, pelengkapan data ARTM, dlsb.) mengindikasikan bahwa komunikasi kebijakannya dalam hal ini juga lemah. Untuk menghindari terjadinya hal yang demikian, atau setidaknya meminimalisir kemungkinan terjadinya, sesungguhnya dapat dibuat suatu mekanisme updating data yang didesain dapat dilakukan secara cepat di tingkat daerah melalui suatu kerjasama antara Pemda dengan BPS agar akurasinya dapat dipertanggungjawabkan. Kerjasama Pemda dengan BPS akan semakin memungkinkan mengingat peluang dilakukannya realokasi kuota ARTM oleh Gubernur antar Kabupaten/Kota akan terbantu oleh jejaring data BPS di daerah. Namun, sekali lagi, lemahnya policy delivery menimbulkan keterbatasan Pemda untuk melakukan hal ini, mengingat tanpa komunikasi awal yang cukup antara Pemerintah Pusat dengan Pemda maka aktifitas tersebut terkendala oleh ketiadaan alokasi anggaran daerah/ Pemda untuk kegiatan updating data dimaksud. Selanjutnya dengan dibuatnya kebijakan dalam tahun anggaran berjalan (bukan sebelumnya, atau setidaknya di awal) untuk kemudian di-deliver di per tengahan tahun anggaran

SIMPULAN DAN SARAN: CATATAN PENUTUP
Menilik dari adanya berbagai kelemahan kebijakan dalam program Askeskin, maka tidak keliru jika program ini dinilai sebagai kebijakan yang sekadar populis dalam penampilannya tetapi tidak dalam kinerjanya (Patton & Sawicki, 1986). Kelemahan terlihat semenjak policy formulation (Wahab, 1997), baik oleh karena keterlibatan Pemda yang demikian besar dalam implementasi program tidak dilakukan sejak awal, sehingga menghasilkan desain kebijakan yang kurang komprehensif untuk diimplementasikan (Goggin et al., 1990). Demikian pula keterlibatan Pemda yang cenderung

Andik Afandi, Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007

99

menimbulkan berbagai implikasi dan ketidaksiapan dalam mengimplementasikannya. Untuk ukuran (size) kebijakan sebesar seperti program Askeskin, seharusnya disadari bahwa kelemahan-kelemahan tersebut menimbulkan berbagai implikasi serius dan bersifat meluas. Keluhan sejumlah RS mengenai keterlambatan pencairan klaim demikian meluas dan keluhan masyarakat miskin sasaran program kebijakan Askeskin juga tak kalah banyaknya. Lambannya pencairan dana klaim yang menimbulkan ekses kebijakan yang serius tersebut sebenarnya berpeluang diatasi dengan pendekatan pihak DepkesRI dengan pihak Departemen Keuangan Republik Indonesia (Depkeu-RI) untuk agar dapatnya dilakukan terobosan perlakuan perbendaharaan agar proses pencairan dana anggaran DIPA Depkes memperoleh perlakuan khusus guna mempercepat dan mempermudah proses pencairannya. Apabila pendekatan dengan pihak Depkeu-RI ini dapat dilakukan, maka keterlibatan PT Askes dapat diminimalisir hanya pada aspek verifikasi tanpa proses klaim harus melaluinya, setidaknya untuk kasus RS-RS negeri. Oleh sebab, bagaimana pun prosesi klaim melalui PT Askes merupakan suatu birokrasi tersendiri, yang apabila dapat dilakukan secara langsung dari RS

kepada Depkes-RI akan meminimalisir aspek birokratis (Osborne & Gaebler, 1995). Dengan kinerja kebijakan sebagaimana diurai di atas, rasanya tidak sepenuhnya keliru apabila banyak kalangan yang skeptis terhadap kebijakan program Askeskin yang bertujuan mulia melindungi dan melayani masyarakat yang kurang beruntung ini, lagi-lagi seperti meneruskan tradisi bahwa masyarakat miskin masih tetap cenderung dijadikan obyek dan kemiskinan juga masih cenderung dijadikan sebagai sekadar komoditas politik ¾ untuk mendongkrak popularitas pemerintah(an). Sungguh ini sebuah aksi yang demikian sembrono dan tidak patut untuk diterus-teruskan, sehingga diperlukan langkah perbaikan dengan memper-baiki kualitas kebijakannya secara substansial dan signifikan (Islamy, 2002). Agar dengan demikian pelaksanaan lanjutnya di tahuntahun yang akan datang dapat diperbaiki sebagaimana hasil evaluasi kebijakan dimaksud (Weimer & Vining, 1989).

DAFTAR RUJUKAN
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (ASKESKIN) 2007. Jakar ta: Departemen Kesehatan RI.

100

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008, 89 - 100

Dunn, William N. 1993. Analisis Kebijakan Publik. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Gramlich, Edward M. 1981. Benefit-Cost Analysis of Government Programs. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall. Goggin, Malcolm L., Ann O’M Bowman, James P Lester, and Laurence J. . O’Toole, Jr. 1990. Implementation Theory and Practice: Toward a Third Generation. Glenview, Illinois: Scott, Foresman and Company. Islamy, M. Irfan. 2002. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara. Osborne, David, and Ted Gaebler, (penerjemah: Abdul Rosyid). 1995. Mewirausahakan Birokrasi. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.

Patton, Carl V., and David S. Sawicki. 1986 Basic Methods of Policy Analysis and Planning. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Stiglitz, Joseph E. 1988. Economics of the Public Sector. New York: W. W. Norton & Comany. Wahab, Solichin Abdul. 1997. Abalisis Kebijaksanaan: dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara. Weimer, David L., and Aidan R. Vining. 1989. Policy Analysis: Concepts and Practice. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

INDEKS PENULIS

A Abadi, Totok Wahyu Kredibilitas Mahasiswa Kknt Sebagai Komunikator Dalam Pengaruhnya Terhadap Sikap Masyarakat Di Kecamatan Jabon, 43 Afandi, Andik Evaluasi Kebijakan Askeskin Tahun 2007, 89 Andriyani, Lusi Budaya Dan Politik Lokal: Sebuah Wacana Pascakolonial, 55 N Nirwana, Maya Diah Identitas Lokal Dalam Program Acara “Cangkru’an” Di JTV: Studi Analisis Resepsi Pada Penonton JTV, 1 R Rodiyah, Isnaini Pengaruh Nilai Kebersamaan Budaya Lokal, Lingkungan Kerja, Dan Motivasi Terhadap Kreativitas Kerja Pegawai Di Badan Kepegawaian Kabupaten Sidoarjo, 17 S Sam’un Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Dalam Hukum Islam Dan Perundang-undangan Di Indonesia (Upaya Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa), 33 Sangadji, S. Pentingnya Grand Design Reformasi Birokrasi Dalam Mewujudkan Reformasi Birokrasi Di Lingkungan Pemerintah Daerah, 69 Sofyan, Imam Politik, Demokratisasi Media, Dan Perwujudan Masyarakat Sipil, 81

INDEKS SUBYEK

B Bureaucracy Reform C Cangkru’an Civil society Claim Clean and authority Collusion Corruption E Effektive(ness) G Grand Design H Health Insurance for The Poor (Askeskin) I Indonesian legislation Islamic law J JTV Audiences. L Local Culture Togetherness Value Local elite Local government Local identity

Local identity Local politics Local politics culture Local politics party M Media democratization Member of poor household (ARTM) Moral politics Motivation N Nepotism P Policy program Policy target Poor household (RTM) Public sphere R Reception analysis S Societies behavior Students’ credibility Subsidy W Work Creativity Work Environment

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->