P. 1
Analisis Pengaruh Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Terhadap Kelainan

Analisis Pengaruh Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Terhadap Kelainan

|Views: 103|Likes:
Published by dr_fakieh351

More info:

Published by: dr_fakieh351 on Feb 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2012

pdf

text

original

ANALISIS PENGARUH KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA trhdp KELAINAN UMUM REFRAKSI KARYAWAN DI PT.

INDOKORES PURBALINGGA TESIS

Oleh : MOCHAMAD ANSORI P2CC10009

PENDAHULUAN ‡ Latar Belakang Kesehatan & keselamatan kerja (K3) merupakan salah satu persyaratan utk meningkatkan produktifitas karyawan, disamping itu K3 adalah hak asasi setiap tenaga kerja. Di era globalisasi & pasar bebas Asean Free Trade Agement (AFTA) & World Trade Organization (WTO) serta Asia Pasific Economic Community (APEC) yg akan berlaku thn 2020, & utk memenangkan persaingan bebas ternyata kesehatan & keselamatan kerja jg menjadi salah satu persyaratan yg hrs dipenuhi oleh industri di Indonesia.

‡ Angka kelainan refraksi & kebutaan di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan prevalensi 1.5 % & tertinggi dibandingkan dengan angka kebutaan di negara negara regional Asia Tenggara seperti Bangladesh sebesar 1 %, India sebesar 0.7 %, & Thailand 0.3 % ‡ Dari hasil Survei Depertemen Kesehatan Republik Indonesia yg dilakukan di 8 provinsi (Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan & Nusa Tenggara Barat) thn 1996 ditemukan kelainan refraksi sebesar 24.71% & menempati urutan pertama dlm 10 penyakit mata terbesar di Indonesia

‡ Kelainan refraksi (0,14%) merupakan penyebab utama kebutaan ke tiga setelah katarak (0,78%) & glaukoma (0,20%). Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab kebutaan yg mudah dideteksi, diobati & dievaluasi dengan pemberian kacamata, namun demikian kelainan refraksi menjadi masalah serius jika tdk cepat ditanggulangi. ‡ Ada beberapa jenis pekerjaan yg cenderung menggunakan akomodasi mata secara berlebihan (terus menerus), terutama pekerjaan yg membutuhkan penglihatan dengan jarak dekat. Jika hal ini berlangsung lama maka akan menimbulkan kelelahan mata (Asthenopia) yg berlanjut pd gangguan penglihatan yg permanen seperti kelainan refraksi

Indokores pbg .‡ Perumusan Masalah PT. bergerak dibidang pembuatan WIG atau rambut palsu. akibatnya para pekerja mengalami kelelahan mata & ini akan selalu terjadi selama karyawan bekerja di PT tersebut.Indokores pbg merupakan perusahaan yg memiliki karyawan dengan jumlah 3200 orang terdiri dari 3000 pekerja wanita & 200 pekerja pria. Oleh karena itu peneliti tertarik utk menganalisis faktor-faktor kesehatan & keselamatan kerja trhdp kelainan umum refraksi pd karyawan di PT. dimana karyawannya dituntut utk bekerja sangat teliti dlm memasang helai demi helai rambut & mata dipaksa selalu melihat dengan jarak dekat (kurang dari 30 cm).

Indokores pbg .Tujuan Penelitian Tujuan umun : ‡ Menganalisis pengaruh kesehatan & keselamatan kerja trhdp kelainan umum refraksi pd karyawan di PT.

.Indokores pbg diharapkan hasil penelitian ini menjadi masukan bagi manajemen kesehatan & keselamatan kerja dlm rangka peningkatan kesehatan & keselamatan kerja karyawan trhdp kelainan umum refraksi. jarak pan&g. upah. lama kerja. trhdp kelainan umum refraksi. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan tentang hubungan antara usia.Manfaat Penelitian ‡ Praktis Bagi PT. ‡ Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dlm penerapan teori tentang kesehatan & keselamatan kerja.

upah. utk mengetahui kelainan umum refraksi yg merupakan variabel tergantung digunakan kartu snellen. . Sedangkan utk mengetahui variabel bebas yg terdiri dari jarak pandang.‡ Pembatasan Penelitian Penelitian ini memfokuskan kajian pd kelainan umum refraksi pd karyawan PT. usia. lama kerja.Indokores pbg.

‡ Salah satu dari manfaat program kesehatan kerja adalah utk menumbuhkan motivasi kerja pd para pekerja karena dengan sistem keselamatan kerja yg bagus maka para pekerja akan lebih merasa aman dlm bekerja yg nantinya akan memotivasi diri utk bekerja lebih giat sesuai &gan keselamatan kerja. & setiap tempat atau unit-unit kerja mempunyai sistem & cara yg berbeda-beda dlm penanganan tentang keselamatan kerja yg disesuaikan dengan tingkat keamanan & keselamatan yg menjadi resiko kerja. .TELAAH PUSTAKA & PENGEMBANGAN MODEL PENELITIAN Telaah Pustaka ‡ Kesehatan & keselamatan kerja merupakan hak dari setiap pekerja yg hrs dipenuhi oleh setiap perusahaan karena pd dasarnya manusia selalu menginginkan dlm keadaan sehat & selamat dimanapun berada bahkan jg tempat kerja. jadi sistem keselamatan kerja bs menjadi jembatan perantara antara perusahaan dengan pekerja dlm meningkatkan motivasi kerja yg pd akhirnya sangatlah berpengaruh pd tingkat produktivitas pekerja. tempat dimana seorang menjalankan tugas & kewajibanya.

Keselamatan & Kerja. ‡ Kerja Dengan bekerja pd situasi & kondisi yg baik serta memperhatikan keselamatan kerja maka akan tercipta situasi kerja yg kondusif & harmonis yg nantinya akan meningkatkan produktifitas kerja. rohani maupun lingkungan yg sehat. . ‡ Kesehatan Setiap pekerja hrs bekerja dlm kondisi & situasi yg sehat baik sehat jasmani. seorang pekerja hrs melakukan tindakan yg sesuai dengan keselamatan dirinya agar terhindar dari kecelakaan kerja.Tiga unsur pokok dlm K3 adalah Kesehatan. ‡ Keselamatan dlm setiap melakukan aktivitas kerja.

sinar sejajar yg dating dari obyek terletak jauh tak terhingga dibiaskan dibelakang retina ‡ Astigmatisma Adalah keadaan dimana sinar sejajar tdk dibiaskan secara seimbang pd seluruh meridian.sehingga sinar sejajar yg datang dibiaskan didepan retina.Kelainan refraksi umum ‡ Miopia adalah suatu keadaan mata yg mempunyai kekutan pembiasan sinar yg berlebihan. . ‡ Mata hipermetropia mempunyai kekuatan refraksi yg lemah.

‡ Hasil dari penelitian Indah (2010) di dapatkan bahwa jarak kerja kurang dari 30 cm lebih beresiko 2. Penelitian lain pd berbagai jenis kerja jarak dekat jg menunjukkan hal yg sama ‡ H1 : Jarak berpengaruh positif trhdp kelainan refraksi karyawan di PT.Indokores pbg.Pengembangan Model Penelitian ‡ Lingkungan yg mempengaruhi regulasi pertumbuhan mata atau kelaian refraksi antara lain adalah nearwork (kerja jarak dekat).14 kali terkena kelainan refraksi pd penjahit sepatu dibandingakan dengan jarak kerja lebih dari 30 cm. ‡ Hal ini sesuai dengan pernyataan dari US National Academy of Sciences yg menyatakan bahwa mengerjakan kerja jarak dekat menempatkan seseorang pd risiko miopia. . Beberapa penelitian telah melaporkan prevalensi miopia yg tinggi di kalangan pekerja dengan jenis pekerjaan jarak dekat antara lain penelitian oleh Simensen.

bs dikatakan semua pekerja mempunyai lama kerja yg sama jumlah jam kerja per harinya. Mungkin hal ini jg dipengaruhi oleh jenis kerja jarak dekat yg dilakukan. karena kisarannya sangat sempit. yaitu 6. yaitu pd saat membaca terdapat komponen saccadic mata yg mempengaruhi kerja otot mata.‡ dlm penelitian Indah (2010) ini lama kerja tdk berhubungan bermakna dengan miopia.2 jam. sehingga kelelahan mata lebih cepat timbul & risiko timbulnya miopia lebih besar ‡ H2 : lama kerja berpengaruh positif trhdp kelainan refraksi karyawan di PT.Indokores pbg .8-7. ‡ Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yg dilakukan oleh Kinge trhdp mahasiswa teknik yg menemukan hubungan bermakna antara lama membaca & kerja jarak dekat lain dengan risiko terjadinya miopia. sehingga hasil uji statistik tdk menunjukkan kemaknaan.

‡ Hasil dari penelitian Indah (2010) di dapatkan bahwa Usia kurang dari 30 thn lebih beresiko 1.Indokores pbg.04 kali terkena kelainan refraksi dibandingakan dengan usia lebih dari 30 thn pd penjahit sepatu. ‡ H3 : Usia berpengaruh positif trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. .

‡ H4 : Upah positif berpengaruh trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. ‡ Sumber biaya kesehatan jg mempengaruhi perilaku sehat seseorang.‡ Tingkat penghasilan yg dimiliki mempunyai pengaruh yg kuat pd perilaku. . seseorang yg memiliki asuransi kesehatan lebih sering memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa kesehatannya telah dijamin oleh pihak asuransi. Pekerjaan merupakan suatu aktivitas yg biasanya dilakukan oleh kepala keluarga utk mendapatkan suatu penghasilan dlm memenuhi kebutuhannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan & penghasilan diharapkan seseorang akan memiliki perilaku yg baik pula.Indokores pbg.

jamsostek & asuransi dari kantor/ swasta) utk membayar RS. jamkesmas. Ini berarti masyarakat telah memahami & mempergunakan asuransi dlm pembiayaan perawatan rumah sakit. . ‡ H5 : jamsostek berpengaruh positif trhdp kelainan refraksi karyawan di PT.‡ Sekitar 64% masyarakat menggunakan asuransi kesehatan (askin. askes. Sesuai dengan pernyataan bahwa seseorang yg memiliki asuransi kesehatan lebih sering memeriksakan kesehatan dirinya ke dokter karena telah dijamin sepenuhnya oleh pihak asuransi. Sebagian besar masyarakat berpendapatan rendah sangat memanfaatkan dengan baik asuransi kesehatan sebagai sumber biaya berobat.Indokores pbg.

‡ Derajat kesehatan masyarakat miskin yg msh rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses trhdp pelayanan kesehatan. daya jangkau pelayanan operasi yg msh rendah. ketersediaan tenaga & fasilitas kesehatan mata yg msh terbatas.Indokores pbg. melalui pelaksanaan kebijakan program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin ‡ H6 : tanggungan dlm keluarga berpengaruh positif trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. sejak thn 2005 telah diupayakan utk mengatasi hambatan & kendala tersebut. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tdk adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. . tingginya biaya operasi. Penjaminan akses penduduk miskin trhdp pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dlm UUD 1945. kurangnya pengetahuan masyarakat.

. ‡ Metode penelitian Pendekatan yg digunakan dlm penelitian ini adalah metode survey.METODE PENELITIAN & TEKNIK ANALISIS DATA Metode Penelitian ‡ Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif & asosiatif. ‡ Sasaran penelitian Sasaran penelitian adalah karyawan PT.Indokores pbg.

Indokores pbg.‡ Cara pengambilan data Pengambilan data penelitian pasien menggunakan instumen penelitian berupa kuesioner dengan jawaban pilihan dlm bentuk pernyataan & jawaban tertutup. Daftar pertanyaan diajukan & diisi oleh karyawan di PT. & dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan dengan menggunakan kartu snellen .

Indokores pbg yg diperoleh dari Profil PT. ‡ Data sekunder Data sekunder merupakan data yg tdk secara langsung diperoleh dari sumbernya.Indokores pbg thn 2010.Indokores pbg.Sumbar data ‡ Data primer Data primer dlm penelitian ini diperoleh melalui kuesioner hasil wawancara & pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen & pemeriksaan refraksi karyawandi PT. tetapi melalui pihak kedua. Data sekunder dlm penelitian ini mempergunakan data gambaran umum PT. laporan studi pustaka & dari penelitian sebelumnya .

dgn koefisien reliabilitas Alfa Cronbach .Kriteria penerimaan ‡ Uji Validitas : utk mengetahui apakah alat ukur yg dipakai valid. dgn analisis product moment ‡ Uji Reliabilitas : utk mengetahui apakah alat ukur yg dipakai reliabel.

‡ Analisis bivariat dilakukan utk mendapatkan informasi hubungan antara variabel bebas & variabel tergantung. pd penelitian ini variabel bebas & tergantung menggunakan skala pengukuran nominal.05 . Deteksi normalitas : menggunakan uji Kolmogorov-Smornov dengan data dikatakan normal jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0.‡ Normalitas : sebuah model regresi yg variabel dependen & independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tdk. Data dianalisis dengan menggunakan Chi Square test pd tingkat kepercayaan 95% & batas kemaknaan 0.05 (5%) ‡ Analisis univariat digunakan utk memperoleh gambaran setiap variabel & disajikan dlm bentuk tabel distribusi frekuensi utk mengetahui variasi serta besar proporsi penyebarannya.

HASIL & PEMBAHASAN Hasil Penelitian ‡ Analisis Univariat Data yg diperoleh menunjukkan bahwa berdasarkan usia responden keseluruhan responden berjenis kelamin perempuan & tdk ada yg memakai kacamata sebelum menjadi karyawan. 68 orang lulusan SLTP & 21 orang dengan latar belakang pendidikan SMA. 68 orang berusia antara 26 35 thn & 24 orang berusia antara 16 25 thn. Berdasarkan usia respoden diketahui bahwa terdapat 28 orang yg berusia antara 36 45 thn. . Terdapat 31 orang tamatan SD.

berdasarkan lama kerja responden terdapat 85 orang yg telah bekerja lebih dari 5 thn & 35 orang dengan masa kerja kurang dari 5 thn. 600. 850.000 & 48 orang dengan upah lebih dari Rp.000 Rp.‡ terdapat 32 orang yg pd saat bekerja jarak antara mata dengan obyek kurang dari 30 cm & 88 orang yg saat bekerja jarak mata dengan obyek lebih dari 30 cm. ‡ Berdasarkan tingkat upah responden terdapat 24 orang dengan upah antara Rp. terdapat 85 orang yg terdaftar sebagai anggota jamsostek & 35 orang yg tdk.000. 48 orang dengan upah antara Rp.000 Rp. ‡ Data yg diperoleh menunjukkan terdapat 32 orang yg bekerja sebagai tulang punggung keluarga & 88 orang yg tdk. 850. se&gkan berdasarkan kelainan refraksi terdapat 29 orang yg mengalami kelainan refraksi & 91 orang yg tdk mengalami kelainan refraksi.000. 651. 450. .

44 maka keseluruhan item penelitian dinyatakan valid & reliable utk digunakan sebagai alat pengumpul data .444 dengan nilai alpha cronbach lebih besar dari 0.‡ Uji Validitas & Reliabilitas Hasil pengujian menunjukkan bahwa keseluruhan item pertanyaan kuesioner penelitian memiliki nilai rhitung lebih besar dari rtabel 0.

011) se&gkan nilai X2tabel sebesar 3. se&gkan dari 88 orang yg jarak mata benda lebih dari 30 cm terdapat 16 orang yg mengalami kelainan refraksi & 72 orang yg tdk. .Analisis Bivariat ‡ Uji hipotesis pertama Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 32 orang yg jarak mata benda kurang dari 30 cm terdapat 13 orang yg mengalami kelainan refraksi & 19 orang yg tdk. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tdk ada kolom dengan nilai harapan (expected count) kurang dari 5 maka uji chisquare layak dipergunakan.450 (p = 0. hasil perhitungan menunjukkan nilai X2 = 6.84 dengan demikian nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara jarak mata benda dengan kejadian kelainan refraksi.

se&gkan dari 35 orang dengan lama kerja kurang dari 5 thn terdapat 4 orang yg mengalami kelainan refraksi & 31orang yg tdk.036) se&gkan nilai X2tabel sebesar 3.‡ Uji hipotesis kedua Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 orang dengan lama lebih dari 5 thn terdapat 25 orang yg mengalami kelainan refraksi & 60 orang yg tdk.84 dengan demikian nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara lama kerja dengan kejadian kelainan refraksi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tdk ada kolom dengan nilai harapan (expected count) kurang dari 5 maka uji chi-square layak dipergunakan. . hasil perhitungan menunjukkan nilai X2 = 4.375 (p = 0.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa tdk ada kolom dengan nilai harapan (expected count) kurang dari 5 maka uji chisquare layak dipergunakan.99 dengan demikian nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara usia dengan kejadian kelainan refraksi. hasil perhitungan menunjukkan nilai X2 = 6.739 (p = 0.‡ Uji hipotesis ketiga Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28 orang yg berusia antara 36 45 terdapat 9 orang yg mengalami kelainan refraksi & 19 orang yg tdk.034) se&gkan nilai X2tabel sebesar 5. . dari 68 orang yg berusia antara 26 35 thn terdapat 19 orang yg mengalami kelainan refraksi & 49 orang yg tdk se&gkan dari 24 orang yg berusia antara 16 25 thn terdapat 1 orang yg mengalami kelainan refraksi & 23 orang yg tdk.

003) se&gkan nilai X2tabel sebesar 5. 850. 600.000 sampai dengan Rp.000 terdapat 13 orang yg mengalami kelainan refraksi & 35 orang yg tdk.‡ Uji hipotesis keempat Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24 orang dengan upah antara Rp.000 terdapat 11 orang yg mengalami kelainan refraksi & 13 orang yg tdk. .000 terdapat 5 orang yg mengalami kelainan refraksi & 43 orang yg tdk se&gkan dari 48 orang dengan upah upah lebih dari Rp. 850. 450. dari 48 orang dengan upah antara Rp. hasil perhitungan menunjukkan nilai X2 = 11. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tdk ada kolom dengan nilai harapan (expected count) kurang dari 5 maka uji chisquare layak dipergunakan.000 Rp.99 dengan demikian nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara upah dengan kejadian kelainan refraksi.322 (p = 0. 651.

se&gkan dari 35 orang non jamsostek terdapat 14 orang yg mengalami kelainan refraksi & 21orang yg tdk.‡ Uji hipotesis kelima Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 orang yg menjadi anggota jamsostek terdapat 15 orang yg mengalami kelainan refraksi & 70 orang yg tdk.009) se&gkan nilai X2tabel sebesar 3.759 (p = 0. .84 dengan demikian nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara jamsostek dengan kejadian kelainan refraksi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tdk ada kolom dengan nilai harapan (expected count) kurang dari 5 maka uji chi-square layak dipergunakan. hasil perhitungan menunjukkan nilai X2 = 6.

se&gkan dari 88 orang yg bukan tulang punggung keluarga terdapat 17 orang yg mengalami kelainan refraksi & 71orang yg tdk. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tdk ada kolom dengan nilai harapan (expected count) kurang dari 5 maka uji chi-square layak dipergunakan. hasil perhitungan menunjukkan nilai X2 = 4.040) se&gkan nilai X2tabel sebesar 3.233 (p = 0.‡ Uji hipotesis keenam Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 32 orang dengan yg menjadi tulang punggung keluarga terdapat 12 orang yg mengalami kelainan refraksi & 20 orang yg tdk.84 dengan demikian nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara tulang punggung keluarga dengan kejadian kelainan refraksi .

2 jam.87. komputer.Pembahasan ‡ Jarak berpengaruh trhdp kelainan refraksi Jarak pan&g berpengaruh trhdp kelainan refraksi. sehingga hasil uji statistik tdk menunjukkan kemaknaan. adanya kemajuan teknologi & telekomunikasi. seperti televisi. video game & pekerjaan. Hasil pengujian chi-square bahwa nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara jarak mata benda dengan kejadian kelainan refraksi. karena kisarannya sangat sempit. yaitu 6. . Salah satu faktor yg berpengaruh dlm perkembangan kelainan refraksi adalah aktivitas melihat dekat atau nearwork. dlm penelitian Indah (2010) lama kerja tdk berhubungan bermakna dengan kelainan refraksi. secara tdk langsung jg akan meningkatkan aktivitas melihat dekat. bs dikatakan semua pekerja mempunyai lama kerja yg sama jumlah jam kerja per harinya. Sehingga hipotesis pertama diterima.

‡ Lama kerja berpengaruh trhdp kelainan refraksi Lama kerja berpengaruh trhdp kelainan refraksi. rata-rata lama melakukan aktivitas jarak dekat setelah 4 jam kerja jarak dekat yg terus-menerus per hari dapat menyebabkan kelaian refraksi. . Sehingga hipotesis kedua diterima. Hasil pengujian chi-square bahwa nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara lama kerja dengan kejadian kelainan refraksi.

Setiap 1 jam melihat benda dengan jarak dekat dapat berpengaruh trhdp meningkatnya derajat kelaian refraksi hingga 24 % . sehingga titik fokus baygan yg dibentuk jatuh semakin jauh didepan retina. Hal ini menyebabkan sumbu bola mata semakin memanjang.pd saat melihat benda dengan jarak yg dekat dlm waktu yg lama menyebabkan bola mata mendapat tekanan otot yg berkepanjangan. sehingga derajat kelainan refraksi yg diderita akan bertambah.

pd pasien dengan kelainan refraksi sebaiknya diberikan kacamata yg memberikan pengihatan maksimal. Sehingga hipotesis ketiga diterima. Dengan melumpuhkan otot akomodasi maka pasien akan mendapatkan koreksi kacamata pd saat mata tersebut beristirahat.04 kali terkena kelainan refraksi dibandingakan dengan usia lebih dari 30 thn pd penjahit sepatu . Hal ini dilakukan utk memberikan istirahat pd mata.‡ Usia berpengaruh trhdp kelainan refraksi Usia berpengaruh trhdp kelainan refraksi. Hasil pengujian chi-square bahwa nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara usia dengan kejadian kelainan refraksi. Hasil dari penelitian Indah (2010) dapatkan bahwa Usia kurang dari 30 thn lebih beresiko 1.

‡ Upah berpengaruh trhdp kelainan refraksi Upah berpengaruh trhdp kelainan refraksi. karena obat modern sulit dijangkau & keterbatasan pendapatan masyarakat. Tingkat penghasilan yg dimiliki mempunyai pengaruh yg kuat pd perilaku. Penelitian Darubekti (2001) menyatakan bahwa masyarakat desa lebih mendahulukan obat tradisional utk mengobati keluhan-keluhan ringan. Pekerjaan merupakan suatu aktivitas yg biasanya dilakukan oleh kepala keluarga utk mendapatkan suatu penghasilan dlm memenuhi kebutuhannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan & penghasilan diharapkan seseorang akan memiliki perilaku yg baik pula. .

Sehingga hipotesis keempat diterima ‡ Sumber biaya kesehatan jg mempengaruhi perilaku sehat seseorang. seseorang yg memiliki asuransi kesehatan lebih sering memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa kesehatannya telah dijamin oleh pihak asuransi. .‡ Hasil pengujian chi-square bahwa nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara upah dengan kejadian kelainan refraksi.

Sehingga hipotesis kelima diterima. disebabkan prosedur dlm menggunakan asuransi kesehatan yg dinggap terlalu rumit & mereka lebih memilih berobat dengan &a pribadi. Ini berarti masyarakat telah memahami & mempergunakan asuransi dlm pembiayaan perawatan rumah sakit. . Sekitar 64% masyarakat menggunakan asuransi kesehatan (askin. jamkesmas. askes. Di sisi lain orang yg memiliki asuransi tetapi mereka tdk pernah menggunakan asuransi tersebut.‡ Jamsostek berpengaruh trhdp kelaian refraksi Jamsostek berpengaruh trhdp kelaian refraksi. Hasil pengujian chi-square bahwa nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara jamsostek dengan kejadian kelainan refraksi. jamsostek & asuransi dari kantor/ swasta) utk membayar RS. Sesuai dengan pernyataan bahwa seseorang yg memiliki asuransi kesehatan lebih sering memeriksakan kesehatan dirinya ke dokter karena telah dijamin sepenuhnya oleh pihak asuransi. Sebagian besar masyarakat berpendapatan rendah sangat memanfaatkan dengan baik asuransi kesehatan sebagai sumber biaya berobat.

Sehingga hipotesis keenam diterima. tingginya biaya operasi. . melalui pelaksanaan kebijakan program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin. Derajat kesehatan masyarakat miskin yg msh rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses trhdp pelayanan kesehatan. daya jangkau pelayanan operasi yg msh rendah. sejak thn 2005 telah diupayakan utk mengatasi hambatan & kendala tersebut. kurangnya pengetahuan masyarakat. ketersediaan tenaga & fasilitas kesehatan mata yg msh terbatas Hasil pengujian chi-square bahwa nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel maka dinyatakan terdapat hubungan yg signifikan antara tanggungan dlm keluarga dengan kejadian kelainan refraksi. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tdk adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal.‡ Tanggungan dlm keluarga berpengaruh trhdp kelainan refraksi Tanggungan dlm keluarga berpengaruh trhdp kelainan refraksi. Penjaminan asuransi kesehatan penduduk miskin trhdp pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dlm UUD 1945.

INDOKORES pbg . INDOKORES pbg ‡ Terdapat pengaruh positif variabel jamsostek trhdp kelainan refraksi karyawan di PT.KESIMPULAN & SARAN Kesimpulan ‡ Terdapat pengaruh positif variabel jarak pan&g trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. INDOKORES pbg ‡ Terdapat pengaruh positif variabel tanggungan dlm keluarga trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. INDOKORES pbg ‡ Terdapat pengaruh positif variabel upah trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. INDOKORES pbg ‡ Terdapat pengaruh positif variabel lama kerja trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. INDOKORES pbg ‡ Terdapat pengaruh positif variabel usia trhdp kelainan refraksi karyawan di PT.

INDOKORES pbg. karwayan perlu mengistirahatkan mata sekitar 15 menit ‡ Usia trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. INDOKORES pbg. INDOKORES pbg sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepd karyawan bahwa tiap 2 jam setelah melihat benda dekat. .Saran ‡ Jarak pan&g trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. sehingga perusahaan perlu memberikan perhatian kepd karyawan utk memeriksaan kesehatan mata secara rutin. sehingga hendaknya jarak pan&g karyawan dengan benda lebih dari 30 cm dlm bekerja ‡ Lama kerja trhdp kelainan refraksi karyawan di PT.

sehingga perusahaan sehrsnya memberikan himbauan kepd karyawannya utk ikut berpartisipasi dlm keluarga berencana. sehingga hendaknya seluruh karyawan yg berada di PT. INDOKORES pbg . sehingga seharunya perusahaan bs memberikan upah perbulan menurut UMR (Upah Minimum Regional) ‡ Jamsostek berpengaruh trhdp kelainan refraksi di PT. INDOKORES diikutkan dlm asuransi jamsostek. . INDOKORES pbg .‡ Upah berpengaruh trhdp kelainan refraksi karyawan di PT. ‡ Tanggungan dlm keluarga berpengaruh trhdp kelainan refraksi di PT. INDOKORES pbg .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->