P. 1
Resume Pekerjaan Pilecap

Resume Pekerjaan Pilecap

|Views: 278|Likes:
Published by Eka Aditio
Tugas PKL
Tugas PKL

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Eka Aditio on Feb 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2014

pdf

text

original

RESUME PEKERJAAN PILECAP P.

25 UTARA
A. Material yang digunakan :

1. Tulangan baja ulir D16 2. Tulangan baja ulir D25 3. Tulangan baja ulir D 32 4. Beton K 125 (bo) Fc 10 Mpa 5. Beton K 350 6. Multiplek tebal ± 2 cm 7. Balok kayu ± 5/10 8. Kawat bendrat 9. Paku
B. Peralatan yang digunakan :

1. Tang 2. Kakatua 3. Genset 4. Pompa air 5. Pompa lumpur 6. Palu 7. Ruskam dan jidar
C. Pelaksanaan Pekerjaan : 1. Plotkan koordinat pilecap ke lokasi dan buat garis tanda pembobokan dengan

dimensi pilecap rencana 10 × 7.5 × 2.5 m.
2. Bobok lokasi pilecap sesuai dengan dimensi rencana, lebihkan ukuran

pembobokan di tiap panjang,lebar dan tinggi sebesar ± 50 cm.
3. Cutting borepile untuk mengambil stek (tulangan sisa borepile) dan sisakan

satu borepile yang tidak di bobok untuk dilakukan tes PDA (daya dukung tiang).
4. Pelaksanaan tes PDA. 5. Pembobokan borepile sisa. 6. Buat bekisting pilecap disisi/dinding pilecap berupa turap yang terdiri dari

papan multiplek dengan tebal ± 2 cm yang ditahan oleh kayu kaso (balok) yang disusun sedemikian rupa.

7. Pembuatan lantai kerja dengan menggunakan beton K125 dengan tebal 10 cm. 8. Penulangan di mulai dari bawah dengan tulangan vertikal dan horizontal D32-

150 mm sebanyak 2 lapis dan menerus keatas hingga kolom awal (disesuaikan dengan gambar rencana).
9. Pembersihan lumpur dan air dilokasi yang akan dicor. 10. Pengecoran dilaksanakan dengan mutu beton K350. 11. Pekerjaan finishing dan pembersihan lokasi.

D. Hambatan :
1. Hujan yang membuat lokasi pelaksanaan pilecap P-25 utara menjadi tergenang

oleh air sehingga pekerjaan penulangan terhambat oleh adanya air. 2. Adanya pipa air baku yang melintang didalam pilecap. E. Solusi :
1. Di dalam pilecap terdapat pompa yang aktif menyedot air dan dialiri ke tangki

penampungan air sehingga para pekerja dapat melakukan pekerjaan penulangan kembali. 2. Lokasi pilecap agak dipindah sehingga pipa air bakunya terletak agak di pinggir dan penulangannya dibuat khusus pipa air baku guna melindungi pipa air baku tersebut.
F. Flowchart Pembuatan Pilecap P.25 U :

Plot koordinat pilecap sesuai dengan rencana

Pembobokan lokasi

Test PDA

Pembuatan Bekisting

Pekerjaan Penulangan

Pekerjaan Pengecoran

Pekerjaan Finishing dan Pembersihan Lokasi

G. Dokumentasi

TAHAPAN PEMASANGAN BEKISTING PILECAP P.25 U
A. Material yang digunakan :

1. Tulangan baja ulir D16 2. Tulangan baja ulir D25 3. Tulangan baja ulir D32
4. Kawat bendrat

B. Alat yang digunakan: 1. Tang 2. Kakatua C. Pelaksanaan Pekerjaan :
1. Pasang tulangan tipe B1 dengan diameter tulangan D32 dan dipasang sejarak

150 mm.
2. Pasang tulangan B2 dengan diameter tulangan D32 dan dipasang sejarak 150

mm. Tulangan ini dipasang tegak lurus dengan B1.
3. Pasang tulangan type B3 dengan diameter tulangan D32 dan dipasang sejarak

150 mm. Tulangan ini dipasang tegak lurus dengan B4.
4. Pasang tulangan tipe B4 dengan diameter tulangan D32 dan di pasang sejarak

150 mm. Tulangan ini di pasang tegak lurus dengan B3. 5. Pasang tulangan CA2 dengan diameter tulangan D25 dengan jarak 200mm. Tulangan ini di letakkan dibawah pipa air baku. Pasang tulangan tipe P dengan diameter tulangan D25 dengan jarak 200 mm. Tulangan ini diletakkan diatas dan dibawah pipa air baku serta 4 sisi yang mengelilingi pipa air baku.
6. Pasang tulangan T1 dengan diameter tulangan D 32 dan dipasang sejarak 150

mm. Setiap pemasanga tulangangan T1 sekaligus di pasang tulangan F1 dengan diameter tulangan D 16 dengan jarak 150 mm, lakukan pemasangan tulangan ini berulang-ulang. Setelah F1 dipasang,pasang tulangan F2 tegak lurus dengan F1 diameter 16 dan jarak 150 mm. 7. Pasang tulangan S yang dipasang tegak lurus dengan tulangan P1 dan berada di dinding pilecap,tulangan ini berdiameter D 32 sejarak 150 mm.
8. Pasang tulangan CA1 dengan diameter tulangan D 25 dan jaraknya 1000 mm

kemudian pasang tulangan type K dengan diameter tulangan D25 dan berjarak 300 mm.

9. Pasang tulangan T2 yang berada dibawah tulangan T1, tulangan ini

berdiameter 32 sejarak 150 mm. 10. Kemudian rangkai tulangan kolom tahap 1.
D. Hambatan dan Solusi :

Hujan yang membuat lokasi pengerjaan pilecap terendam air sehingga proses pemompaan harus dilakukan terus menerus agar lokasi kembali kering.
E. Dokumentasi :

TAHAPAN PEMASANGAN PERANCAH PIER Y (P.16 & P.17)
PIER 16
A. Material yang digunakan :

Lantai kerja : 1. Peri GT – 24 (type 390) 2. Peri GT – 24 (TYPE 270) 3. Expention splice 4. Hook strap 5. Double hook strap 6. Head plate 7. Pin 8. Bolt and nut M 16 9. Cross strap 10. Cup piece 11. SRZ 239 12. PD 8 150 dan 200 13. Cross brace 150/150 dan 150/200 14. Frame connector 15. Spindel 16. Base plate PD 8 Formwork : 1. GHP 2. Base plate for RSS 3. Kickers AV 1 dan AV 3 4. RSS II dan III 5. SRZ 117,170,239,361 6. Peri GT 300 dan 240 7. Vario coupling 8. Corner coupling 9. Wedge K 10. Articulate coupling 11. KDP

12. Hook strap 13. Wedge KZ 14. Head plate 15. Bolt and nut M 16 16. Cross strap 17. Scaffold bracket GB.80 B. Tahapan Pemasangan :
1. Survei lokasi lapangan untuk lokasi Lantai Kerja dan beri tanda.

2. Pasang base plat di titik-titik yang akan dipasang PD 8 dan dirikan pd 8 diatasnya sekaligus pasangkan cross brace pada PD 8. 3. PD 8 disusun 3 tingkat dengan spesifikasi PD 8 ditingkat pertama yaitu PD 8 200,ditingkat kedua PD 8 200 dan PD 8 ditingkat 3 150.
4. Setelas seluruh PD 8 disusun,beri perkuatan berupa skur horizontal maupun

diagonal untuk memperkokoh berdirinya PD 8.perkuatan ini berupa pipa galvanis dengan diameter tertentu yang di kunci menggunakan swivel,setelah itu pasang SRZ 239 di sepanjang section Y,diletakkan di ujung-ujung section X sepanjang section Y.susun peri GT-24 type 270 sepanjang dan berpotongan dengan SRZ 239.susun SRZ 239 sepanjang section X dengan jarak yang telah di tentukan,kembali susun peri GT-24 type 390 berpotongan dengan SRZ 239 sepanjang section X. 5. Untuk menyambungkan peri dengan SRZ digunakan hook strap. Kemudian beri multiplek diatas peri sebagai landasan untuk pekerja dan landasan bagi perancah pier Y. 6. Sebelumnya telah dibuat bekisting dari susunan kayu-kayu dan multiplek yang disesuaikan dengan bentuk pier Y. Pembuatan bekisting ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1)

Bekisting untuk dinding lurus :

Multiplek yang telah disiapkan sebagai acuan untuk dinding lurus, siapkan susunan peri yang telah ditahan dengan SRZ secara berpotongan dengan posisi peri di bawah SRZ.Gabungan peri dengan SRZ dikunci dengan menggunakan hookstrap dan double hookstrap.Setiap sambungan SRZ diberi coupling, dapat berupa vario coupling untuk posisi sambungan yang lurus,corner coupling untuk posisi sambungan

yang siku, dan articulate coupling untuk posisi sambungan yang fleksibel, bisa lurus bisa siku ataupun bersudut. 2) Bekisting untuk perancah Y : Tahapan yang dilakukan sebenarnya sama dengan bekisting untuk dinding lurus, tetapi bentuk acuannya yang berbeda yaitu melengkung. Untuk menahan lengkungan acuan pier Y, diberi penahan berupa kayukayu dan peri yang ditahan juga dengan scaffolding dan pengaku. Tahapan lainnya sama yaitu dengan menggunakan peri dan SRZ yang dikunci dengan hookstrap. 7. Angkut bekisting tersebut ke lokasi yang akan dicor, setelah disetting beri perancah untuk menahan acuan tersebut dengan RSS II dan III yang telah di sambung dengan Base plate for RSS di bagian bawah dan GHP di bagian ujung dan di tengah ditahan oleh kickers. Buat penahan di sekeliling acuan dengan alat yang sama. PIER 17 Pada pier 17 ini digunakan sistem roro shoring, yaitu suatu sistem yang menggunakan badan jalan sebagai dudukan sistem.
A. Material yang digunakan :

Formwork : 1. GHP 2. Base plate for RS 3. Kickers AV 1 dan AV 3 4. RSS II dan III 5. SRZ 117,170,239,361 6. Peri GT 300 dan 240 7. Vario coupling 8. Corner coupling 9. Wedge K 10. Articulate coupling 11. KDP 12. Hook strap 13. Wedge KZ

14. Head plate 15. Bolt and nut M 16 16. Cross strap 17. Scaffold bracket GB.80 18. Tube section 19. Long beam dan cross beam
B. Tahapan pemasangan :

1. Survei lokasi lapangan untuk lokasi Lantai Kerja dan beri tanda di badan jalan yang akan didirikan dudukan bekisting. 2. Letakkan blok beton dengan dimensi 80 x 70 x 170 sebagai dudukan bekisting di dalam tanda. Blok beton ini dipasang hanya pada dudukan sistem di badan jalan. 3. Letakkan pula di atasnya susunan balok-balok kayu yang sebelumnya dialasi dengan multiplek ( dimensi balok katu 4/8 ). Jumlah lapisa yang dibuat sebagai dudukan bergantunga pada ketinggian/elevasi yangdibutuhkan atau sesuai dengan hasil survey. 4. Setelah itu, dirikan tube section di atas 2 blok beton di tiap badan jalan yang sebelumnya telah dialasi oleh base plate khusus untuk tube section. Kemudian rangkai pipa-pipa galvanis yang diikat dengan swivel.Rangkaian pipa galvanis ini disesuaikan dengan gambar kerja dan kondisi aktual saat di lapangan. 5. Tube section digunakan untuk menhan langsung H beam yang berupa long beam dan cross beam.dengan posisi cross beam berada di atas tube section, setelah itu dia atas cross beam diletakkan 5 buah long beam yang menghubungkan ujung ke ujung penahan bekisting. Ikat sedemikian rupa H beam dengan pengaku ataupun tulangan baja utuk menjaga kekuatannya. 6. Untuk sistem yang berada di tengah,prosedur sistem sama dengan yang ada di badan jalan, hanya saja di bagian tengah ini tiadak diberi blok beton di bagian bawahnya. 7. Setelah sistem di bawah H beam disusun pasang SRZ 239 di sepanjang section Y,diletakkan di ujung-ujung section X sepanjang section Y.susun peri GT-24 type 270 sepanjang dan berpotongan dengan SRZ 239.susun SRZ 239

sepanjang section X dengan jarak yang telah di tentukan,kembali susun peri GT-24 type 390 berpotongan dengan SRZ 239 sepanjang section X 8. Pasang PD 8 untuk diatas lantai kerja sebanyak 2 tingkat untuk nantinya membantu menahan bekisting pier Y. Untuk menjaga keamanan pengguna jalan maka antara penyangga roro shoring di kanan ke tengah dan tengah ke kiri diberi safety net sebagai pengaman. 9. Sebelumnya telah dibuat bekisting dari susunan kayu-kayu dan multiplek yang disesuaikan dengan bentuk pier Y. Pembuatan bekisting ini dapat digambarkan sebagai berikut : 1) Bekisting untuk dinding lurus: Multiplek yang telah disiapkan sebagai acuan untuk dinding lurus, siapkan susunan peri yang telah ditahan dengan SRZ secara berpotongan dengan posisi peri di bawah SRZ.Gabungan peri dengan SRZ dikunci dengan menggunakan hookstrap dan double hookstrap.Setiap sambungan SRZ diberi coupling, dapat berupa vario coupling untuk posisi sambungan yang lurus,corner coupling untuk posisi sambungan yang siku, dan articulate coupling untuk posisi sambungan yang fleksibel, bisa lurus bisa siku ataupun bersudut. 2) Bekisting untuk perancah Y : Tahapan yang dilakukan sebenarnya sama dengan bekisting untuk dinding lurus, tetapi bentuk acuannya yang berbeda yaitu melengkung. Untuk menahan lengkungan acuan pier Y, diberi penahan berupa kayukayu dan peri yang ditahan juga dengan scaffolding dan pengaku. Tahapan lainnya sama yaitu dengan menggunakan peri dan SRZ yang dikunci dengan hookstrap. 10. Angkut bekisting tersebut ke lokasi yang akan dicor, setelah disetting beri perancah untuk menahan acuan tersebut dengan RSS II dan III yang telah di sambung dengan Base plate for RSS di bagian bawah dan GHP di bagian ujung dan di tengah ditahan oleh kickers. Buat penahan di sekeliling acuan dengan alat yang sama.

Hambatan dan Solusi Dalam pekerjaan pemasangan bekisting unuk pier Y di P15 sampai P17 memiliki hambatan yaitu cuaca, hujan membuat pekerjaan menjadi terhambat karena potensi bahaya pengerjaan di ketinggian dalam kondisi hujan sangatlah tinggi. Sehingga pekerjaan dihentikan dan dilanjutkan di lain waktu. Sistem K3L per Lingkup
1. Tangan dan kaki terluka pada saat pemasangan bekisting.

Langkah penanganan : • Memakai APD (Sarung Tangan dan Safety Boots).
• Merapikan segala material bekas di suatu tempat. • Pastikan perkuatan bekisting cukup kuat. 2. Jatuh dari ketinggian pada saat pemasangan bekisting.

Langkah penanganan :
• Memakai APD (Body Harness). • Pengamanan pada tangga atau pijakan untuk pemasangan.

3. Alat terjatuh pada saat bekerja di ketinggian. Langkah penanganan : • Diikatkan pada tubuh pekerja dengan menggunakan tali. • Penggunaan Safety Net. 4. Bekisting tertabrak kendaraan yang melintas karena penggunaan sistem Roro Shoring. Langkah penanganan :
• Pemasangan rambu lalu lintas dan traffic cone yang jelas

K3 aktual di lapangan : Para pekerja banyak yang tidak menggunakan APD lengkap (helm, rompi, body harness), housekeeping juga perlu dicermati karena banyak sekali material-material berbahaya seperti potongan tulangan, sampah sisa pekerjaan yang berserakan sehingga beresiko menimbulkan bahaya dan mengganggu kenyamanan bekerja.

Tahapan Pemasangan Perancah Pier Y

KONSULTASI DENGAN KONSULTAN

SURVEY LOKASI PENDIRIAN BEKISTING (BERIKUT ELEVASI)

PENDIRIAN PD 8 SEBAGAI TEMPAT LANTAI KERJA

INSTALL LANTAI KERJA DENGAN PERI DAN SRZ DAN BERI MULTIPLEK UNTUK PIJAKAN

SIAPKAN ACUAN PIER Y YANG TELAH DISUSUN SEBELUMNYA (DINDING LURUS DAN LENGKUNG)

NAIKKAN ACUAN KE ATAS

BERI PENGAKU BAGI ACUAN SEBAGAI PERKUATAN

PEKERJAAN PENGECORAN

Dokumentasi

TAHAPAN PENGUKURAN ( SURVEYING )
A. Peralatan yang digunakan :
1. Alat ukur Total Station

2. Tripod 3. Rambu ukur 4. Meteran 5. Prisma
B. Metode atau tahapan pengukuran (dari awal pengerjaan proyek jalan layang non tol

Kampung Melayu – Tanah Abang) : 1. Telah ditentukan titik BM WK1 (bench mark) utama berjumlah 2 titik di dekat P 39 dan satu lagi BM (WK2) dengan jarak tertentu kearah down (posisi selatan). 2. Berdasarkan 2 titik tersebut di mulai membuat titik-titik baru dengan cara polygon dimulai dari arah selatan ketimur utara dan barat dan ditutup di BM awal (polygon tertutup). 3. Untuk menentukan letak koordinat as pier dilapangan survey dari titik terdekat hingga mendapatkan koordinat yang tepat. Setelah mendapat as pier beri tanda. 4. Setelah itu ke pekerjaan selanjutnya per pier yaitu penentuan koordinat borepile,elevasi awal hingga kedalaman yang akan dibor (setting out) 5. Setelah posisi telah didapat ,dilakukan join survey dengan konsultan untuk mengecek hasil setting out yang telah dilakukan surveyor.

6. Pelaksanaan kegiatan pengeboran dilakukan setelah survey bersama konsultan telah oke. 7. Untuk pekerjaan lainnya memiliki prosedur yang sama yaitu setting out,join survey dengan konsultan dan pelaksanaan setelah pemberian tanda ubtuk acuan pelaksanaan.
C. Hambatan :

Hambatan yang seringkali ditemukan dilapangan saat pelaksanaan survey adalah kendala cuaca yaitu hujan sehingga pekerjaan menjadi terhenti.

D. Solusi :

Menghentikan pekerjaan dan melanjutkannya di waktu yang tepat (cuaca yang mendukung).
E. Contoh Flowchart Surveying Bore Pile :

Buat titik BM baru dengan sistem polygon

Tentukan titik as pier berdasarkan koordinat Beri tanda di lapangan

OK Tentukan titik-titik koordinat di lapangan untuk borepile

Tidak OK

Joint survey dengan konsultan Pelaksanaan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->