P. 1
Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom

|Views: 676|Likes:
Published by nadiya_ae

More info:

Published by: nadiya_ae on Feb 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

Memahami Pengertian Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik Dalam dunia pendidikan, khususnya pada konsep pembelajaran dan evaluasi

pendidikan, kita sering mendengar istilah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Istilahistilah tersebut bahkan menjadi mainstream atau arus utama yang melandasi pelaksanaan pendidikan. Karena dalam pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut terkandung totalitas potensi subyek didik yang perlu dikembangkan. Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau faktor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Sejalan dengan pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut, kita juga mengenal istilah cipta, rasa, dan karsa yang dicetuskan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini juga mengakomodasi berbagai potensi anak didik. Baik menyangkut aspek cipta yang berhubungan dengan otak dan kecerdasan, aspek rasa yang berkaitan dengan emosi dan perasaan, serta karsa atau keinginan maupun ketrampilan yang lebih bersifat fisik. Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom. Pengertian kognitif afektif psikomotorik dalam Taksonomi Bloom ini membagi adanya 3 domain, ranah atau kawasan potensi manusia belajar. Dalam setiap ranah ini juga terbagi lagi ke dalam beberapa tingkatan yang lebih detail. Ketiga ranah itu meliputi : Ranah Kognitif Ranah atau kawasan ini merujuk potensi subyek belajar menyangkut kecerdasan atau intelektualitasnya, seperti pengetahuan yang dikuasai maupun cara berpikir. Dalam domain atau ranah ini, Bloom membaginya ke dalam dua bagian besar. Masing-masing adalah pengetahuan dan ketrampilan intelektual. Bagian pengetahuan mencakup kemampuan atau penguasaan terhadap pengertian atau definisi sesuatu, prinsip dasar, pola urutan, dan sebagainya. Sedangkan bagian ketrampilan intelektual diperinci lagi menjadi beberapa tingkatan, dari pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa, dan evaluasi. Semakin meningkat kemampuan seseorang memperlihatkan kecerdasannya yang semakin tinggi. Ranah Afektif Domain ini mencakup kemampuan menyangkut aspek perasaan dan emosi. Pada ranah ini juga terbagi dalam beberapa bagian yang meliputi aspek penerimaan terhadap lingkungannya, tanggapan atau respon terhadap lingkungan, penghargaan dalam bentuk ekspresi nilai terhadap sesuatu, mengorganisasikan berbagai nilai

Ranah Psikomotorik Ranah atau kawasan ini mencakup kemampuan yang menyangkut ketrampilan fisik dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu.untuk menemukan pemecahan. penyesuaian atau adaptasi. dan sebagainya. Pemahaman (comprehension) Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. serta aspek penciptaan gerakan baru sebagai hasil dari ketrampilannya. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah. b. meliputi persepsi terhadap panca indra. Kognitif Aspek kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir. . kesiapan untuk melakukan suatu gerakan fisik. serta karakteristik dari nilai-nilai yang menginternalisasi dalam diri. penguasaan dalam menjalankan mesin. Pengetahuan (knowledge) mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Aspek Kecerdasan Kognitif. respon terpimpin atau gerakan yang dilakukan berdasarkan trial and error ataupun berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Afektif. Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian : a. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman. c. seperti ketrampilan dalam bidang olah raga. Penerapan (application) Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Pada ranah ini juga terbagi dalam sejumlah aspek. mekanisme atau kecakapan melakukan sesuatu. menegtahui dan memecahkan masalah. dan Psikomotorik 1. respon motorik yang tampak atau terlihat. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

nilai hidup dan operasiasi siswa. Analisis (analysis) Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktorfaktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan. . Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas. menjadi peserta dan tertarik. 2. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu “Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan menggunakan kriteria eksternal”. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif. Sintesis (synthesis) Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Pemberian respon atau partisipasi (responding) Satu tingkat di atas penerimaan. bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain. Afektif Domain afektif atau intelektual adalah mengenai sikap. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai Introduktion Instruksional. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi. b. Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas. Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori : a.d. f. Evaluasi (evaluation) Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. minat. e. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran. emosi. Penerimaan (recerving) Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat.

kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka. Sikap selalu diarahkan pada objek. Variable-variabel di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna. d. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi. sosial dan emosi jiwa. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuantujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”. Peniruan terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. menolak atau tidak menghiraukan. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa: “Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. e. Karakterisasi / pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex) Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang.c. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu : a. Psikomotorik Domain psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik. 3. sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal.” Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Penilaian atau penentuan sikap (valung) Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima. . Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya. Organisasi (organization) Mengacu kepada penyatuan nilai.

Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik. afektif dan psikomotor. yang disisipkan dalam kegiatan pembelajaran yang utama yaitu pembelajaran kognitif atau pembelajaran psikomotor. Secara konseptual maupun emprik. Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan. Gerakannya dilakukan secara rutin. Meski demikian. . diyakini bahwa aspek afektif memegang peranan yang sangat penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja maupun kehidupan secara keseluruhan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum. gerakangerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. c. Artikulasi Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda. pembelajaran afektif justru lebih banyak dilakukan dan dikembangkan di luar kurikulum formal sekolah. Model Pembelajaran Afektif dan Psikomotor Model Pembelajaran Afektif (Sikap) dan Psikomotor Belajar dipandang sebagai upaya sadar seorang individu untuk memperoleh perubahan perilaku secara keseluruhan. yang dilaksanakan melalui berbagai bentuk pendekatan. Pengalamiahan Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. d. penampilan. di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik ini. Namun hingga saat ini dalam praktiknya. baik aspek kognitif. proses pembelajaran di sekolah tampaknya lebih cenderung menekankan pada pencapaian perubahan aspek kognitif (intelektual).b. Sementara. proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Salah satunya yang sangat populer adalah model pelatihan kepemimpinan ESQ ala Ari Ginanjar. pembelajaran yang secara khusus mengembangkan kemampuan afektif tampaknya masih kurang mendapat perhatian. Ketetapan memerlukan kecermatan. e. Kalaupun dilakukan mungkin hanya dijadikan sebagai efek pengiring (nurturant effect) atau menjadi hidden curriculum. Manipulasi Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan. strategi dan model pembelajaran tertentu. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

mengetahui dan merefleksikan pada tidakan seperti menjawab pertanyaan. disiplin. Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi: • menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi • meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai. lebih memperhatikan orang lain. Model pembentukan rasional Dalam kehidupannya. Psikomotor hanyalah sebuah sikap dan segala refleksinya. dan hidup secara harmonis dengan orang lain. Merujuk pada pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata (2005) akan dikemukakan beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan. lebih mudah berubah. Model Konsiderasi Manusia seringkali bersifat egoistis. protes dan melangkah kedepan untuk mengkritik seseorang. karena segi afektif sangat bersifat subjektif. • mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat . dan kemampuan mengendalikan diri. kerjasama. mementingkan. Sedangkan psikomotor hanya mengarah pada memahami. Ada beberapa model pemebelajaran afektif. komitmen. Siswa yang kemampuan psikomotornya rendah walaupun mempunya banyak gagasan dan ide namun tidak mampu mengutarakan ide tersebut dikarenakan dia terbiasa menuangkannya pada secarik kertas. kebutuhan dan kepentingan orang lain • siswa menuliskan responsnya masing-masing • siswa menganalisis respons siswa lain • mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya • meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri 2. percaya diri.Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab. Nilai juga bersifat multidimensional. 1. dan tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. bekerja sama. Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi. dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. buikan pada sikap. ada yang relatif dan ada yang absolut. menghargai pendapat orang lain. Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan keterampilan. sehingga mereka dapat bergaul. dan sibuk dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Langkah-langkah pembelajaran rasional: • menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atau penyimpangan tindakan • menghimpun informasi tambahan • menganalisis situasi dengan berpegang pada norma. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah. yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat. Hal-hal diatas menuntut penggunaan metode mengajar dan evaluasi hasil belajar yang berbeda dari mengajar segi kognitif dan keterampilan. prinsip atau ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat • mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya. orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. lebih memperhatikan. jujur. namun implementasinya masih kurang.

baik yang jelas atau terselubung. dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya • mengharagai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya • berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya. mengulanginya pada hal lainnya 4. . (4) perencanaan dan penentuan keputusan. guru memberikan klarifikasi. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Penggunaan model ini bertujuan. Langkah-langkah pembelajaran nondirekif: (1) menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas. Model nondirektif Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri.3. 5. sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai.guru menerima dan memberikan klarifikasi. • siswa menerapkan tindakan dalam segi lain. konvensi dan pasca konvensi. Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya. siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatankegiatan positif. disadari atau tidak. Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif • menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai • siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu. guru memberikan dorongan. yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya. Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai: • pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas. siswa merencanakan dan menentukan keputusan. Klarifikasi nilai Setiap orang memiliki sejumlah nilai. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya nilai. (3) pengembangan pemahaman (insight). • siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya. memunculkan dan merefleksikannya. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. siswa mendiskusikan masalah. • siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik. (2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan. (5) integrasi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif. Pengembangan moral kognitif Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai. agar para siswa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki.

dan melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya.(September 15 04 2009 — Wahidin) Pembelajaran yang efektif mempunyai karakteristik bagi siswa untuk melihat. serta mencatat apa yang kita pelajari. menemukan sendiri. maka munculah model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). mengukur pengetahuan dan ketrampilan siswa. Learning community atau masyarakat belajar. dan proses dan produk kedua-duanya dapat diukur. mengananalisis dan merumuskan teori. 50% dari yang kita lihat dan dengar. Inquiry 4. tugas-tugas yang konstektual dan relevan. Authentic assessment 6. Pemahaman yang mendalam diperoleh melalui pengalaman belajar yang bermakna. mendemonstrasikan. yaitu memungkin siswa berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain. bagaimana kita merasakan ide-ide baru. Untuk itu memenuhi tuntutan pembelajaran yang efektif. yaitu siswa belajar sedikit demi sedikit dari konteks terbatas kemudian siswa mengkonstuk (membangun) pemahamannya. bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri. baik perorangan maupun kelompok. 20% dari yang kita baca. dan selaras. yaitu mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu. digunakan untuk menilai dan melatih kemampuan siswa dalam berfikir kritis. Sifat pembelajaran ini siswa lebih sering mencoba. inspiratif. Constructivism 2. dan membangun konsep sendiri. Pemodelan (modeling). menilai dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. Karena hasil penelitian menyebutkan bahwa pengalaman belajar 10% diambil dari apa yang kita dengar. mendemostrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar. Model ini memungkin siswa untuk mengembangkan dan menggunakan ketrampilan berfikir kritis. Penemuan (Inquiry). Refleksi (reflection). 70% dari yang kita katakan. yaitu membahaskan gagaasan yang kita pikirkan. menelaah dan merespon terhadap kejadian. lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena. Modeling Konstruktivisme (Constructivism). bekerja sama. mendengarkan. . Learning community 5. inovatif dan discover (menemukan sendiri). menantang. Tujuh pilar CTL antara lain 1. merupakan cara-cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Reflection 7. yaitu siklus yang terdiri dari mengamati. Suasana pembelajaran yang efektif menurut PP 19 tahun 2005 SNP menyebutkan bahwa suasana belajar di kelas itu harus interaktif. 30% dari yang kita lihat. Questioning atau bertanya. Diawali dengan pengamatan. mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau pengalaman. Authentic assessment atau penilaian yang sebenarnya. Questioning 3. berani salah. dan 90% dari yang kita katakan dan lakukan. menyenangkan. bertanya. aktifitas dan pengalaman. Model pembelajaran CTL memungkinkan untuk lebih membentuk pemikiran anak usia 15 tahun ke bawah. mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi.

emosi. Dalam proses belajar mengajar agar didapatkan suatu hasil yang maksimal maka diperlukan suatu teknik pembelajaran yang efisien dan afektif sehingga tidak mengahabiskan waktu yang lama dan bertele-tele yang kadang hasilnya kurang memuaskan. dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik. Menurut Popham (1995). Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan. sikap. semangat persatuan. Sedangkan pembelajaran aktif menurut Hisyam Zaini. Untuk itu semua dalam merancang program pembelajaran. Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani (2007:xvi) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. kecepatan belajar. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini. atau nilai. namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. dan sebagainya. berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Andersen (1981) sependapat dengan Bloom bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir. rasa sosial. satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif. semangat nasionalisme. pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu. minat. apalagi untuk siswa didik yang mengikuti program akselerasi yang waktu belajarnya relatif lebih cepat dibanding dengan siswa didik yang duduk di kelas regular . dan perasaan. berbuat. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal.Dengan adanya pembelajaran dengan model CTL diharapkan siswa dapat belajar secara efektif dan menyenangkan sehingga dapat memenuhi standar kelulusan yang telah ditentukan oleh BSNP. Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar. tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif. dan hasil afektif. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->