OLEH

:

KELOMPOK I (SATU)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 2012

ANGGOTA KELOMPOK I Andrea Ariel Rondonuwu (101015041) .

Makalah ini telah kami susun sebaik-baiknya. kiranya dapat bermanfaat bagi pembaca dimana untuk mempermudah dan memperluas pemahaman tentang kultur jaringan khususnya Inseminasi Buatan. kami mengharap kritik dan saran yang membangun.KATA PENGANTAR Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas segala kekurangan dan ketidak sempurnaan penyusunan bahan makalah ini. Manado. yang telah memberikan kekuatan dan kesabaran untuk menyelesaikan dalam penyusunan makalah ini. Februari 2012 Kelompok Penyusun INSEMINASI BUATAN . Akhir kata kiranya makalah ini bisa digunakan sebaik-baiknya.

Adapun tujuan dari inseminasi buatan adalah sebagai suatu cara untuk mendapatkan keturunan bagi pasutri yang belum mendapat keturunan. penilaian. II. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. inseminasi. penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen. Sophia Kleegman dari Amerika Serikat adalah salah satu perintis yang menggunakan inseminasi buatan dengan sperma suami ataupun sperma donor untuk kasus infertilitas. . gangguan pada saluran reproduksi dan rendahnya kadar progesterone. maka definisi tentang inseminasi buatan adalah memasukkan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin wanita dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alami. Pengertian Dan Tujuan Inseminasi Buatan Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar.I. Sedangkan pada pria berupa abnormalitas spermatozoa kriptorkhid. penampungan. karsa dan daya cipta yang dimiliki. dan penentuan hasil inseminasi pada manusia dan hewan. Pada wanita kendala ini dapat berupa hipofungsi ovarium. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa. tetapi tidak semua pasangan dapat melakukan proses reproduksi secara normal. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan). Sebagian kecil diantaranya memiliki berbagai kendala yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki keturunan. Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dikembangkan adalah inseminasi buatan. pengenceran. Namun perkembangan lebih lanjut dari inseminasi buatan tidak hanya mencangkup memasukkan semen ke dalam saluran reproduksi wanita. tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan sperma. Inseminasi buatan pertama kali dilakukan pada manusia dengan menggunakan sperma dari suami telah dilakukan secara intravagina pada tahun 1700 di Inggris. Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen. Mengapa inseminasi buatan dilakukan? Hadirnya seorang anak merupakan tanda dari cinta kasih pasangan suami istri. pencatatan. Berdasarkan pengertian di atas.

azoospermia dan rendahnya kadar testosteron. Teknik DIPI (Direct Intraperitoneal Insemination) Teknik DIPI telah dilakukan sejak awal tahun 1986. Jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit leukemia. Sebagai contoh kasus: Di Colorado Amerika Serikat pasangan Jack dan Lisa melakukan program inseminasi. sedangkan untuk teknik DIPI dimasukkan ke dalam peritoneal. Teknik DIPI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan langsung ke peritoneal (rongga peritoneum). III. Teknik IUI dan DIPI dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut bivalve speculum. Sumber Sperma . yaitu suatu alat yang berbentuk seperti selang dan mempunyai 2 cabang. Selain untuk memperoleh keturunan. 2. Setelah inseminasi selesai dilakukan. bukan semata-mata untuk mendapatkan keturunan tetapi karena memerlukan donor bagi putrinya Molly yang berusia 6 tahun yang menderita penyakit fanconi anemia. Satu-satunya pengobatan adalah melakukan pencangkokan sumsum tulang dari saudara sekandung. faktor kesehatan juga merupakan fokus utama penerapan teknologi reproduksi. tetapi masalahnya Molly anak tunggal. Yang dimaksud inseminasi disini diterapkan untuk mendapatkan anak yang bebas dari penyakit fanconi anemia agar dapat diambil darahnya sehingga diharapkan akan dapat merangsang sumsum tulang belakang Molly untuk memproduksi darah. Jumlah sperma yang disalurkan/diinjeksikan kurang lebih sebanyak 0. orang yang mendapatkan perlakuan inseminasi tersebut harus dalam posisi terlentang selama 10–15 menit. yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sumsum tulang belakang sebagai penghasil darah. IV. Teknik IUI (Intrauterine Insemination) Teknik IUI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan melalui leher rahim hingga ke lubang uterine (rahim). dimana salah satu ujungnya sebagai tempat untuk memasukkan/menyalurkan sperma dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam saluran leher rahim untuk teknik IUI.5–2 ml.Teknik Inseminasi 1.

teknik “Swim-up” standar atau “Gradient Percoll” digunakan untuk persiapan penggunaan larutan garam seimbang Earle atau Medi. Penderma sperma harus melakukan tes kesehatan terlebih dahulu seperti tipe darah.5 ml medium. golongan darah. Sesudah diinkubasi. Sebab-sebab utama kegagalan AIH adalah jumlah sperma suami kurang banyak atau bentuk dan pergerakannya tidak normal.Ada 2 jenis sumber sperma yaitu: 1. Dari sperma suami Inseminasi yang menggunakan air mani suami hanya boleh dilakukan jika jumlah spermanya rendah atau suami mengidap suatu penyakit. Cult dan disentrifugekan sebanyak 500 g selama 20 menit. Pada teknik Percoll.5 atau 1 ml medium dan digunakan untuk inseminasi. Penyiapan sperma Sperma dikumpulkan dengan cara masturbasi. Cult IVF medium. VI. pellet dipisahkan dalam 2. Pellet sperma kemudian dipisahkan dalam 0. keduanya dilengkapi dengan serum albumin manusia. Analisis Kualitas Sperma . V. Tingkat keberhasilan AIH hanya berkisar 10-20 %. lapisan media yang berisi sperma motile dikumpulkan dengan hati-hati dan digunakan untuk inseminasi. Setelah dicairkan dan dilakukan analisa awal sperma. kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril setelah 2-4 hari tidak melakukan hubungan seksual. tes IQ. dengan hati-hati pellet dilapisi dengan medium dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37º C. penyakit keturunan. Tingkat keberhasilan Inseminasi AID adalah 60-70 %. 2. sperma dilapiskan pada Gradient Percoll yang berisi media Medi. Sesudah memisahkan supernatannya. 90 % dari pellet kemudian dipisahkan dalam 6 ml media dan disentrifugekan lagi sebanyak 500 g selama 10 menit. dan bebas dari infeksi penyakit menular. sampel sperma disentrifugekan sebanyak 400 g selama 15 menit. Sperma penderma Inseminasi ini dilakukan jika suami tidak bisa memproduksi sperma atau azoospermia atau pihak suami mengidap penyakit kongenital yang dapat diwariskan kepada keturunannya. Dalam teknik Swim-up. kemudian disentrifuge lagi. Supernatannya dibuang. latar belakang status physikologi.

Kesalahan pada saat injeksi sperma.Dampak Inseminasi Buatan . maka pembuahan akan terhambat. VIII.000 sel sperma. para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan yang menentukan. Uji Biokimia. Akan tetapi. selain faktor sel sperma yang secara genetik tidak sehat.000-100. Otomatisasi. Di bawah mikroskop. dimana sel yang paling kuat dan sehat adalah yang menang. hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur. antara 50. menjadi cukup besar.Resiko Injeksi Sperma Dalam pembuahan normal. sehingga bisa diperoleh kualitas sperma yang benar-benar baik. berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin. Penialain Mikroskopis. merupakan salah satu faktor kerusakan genetika. Jadi bukan dengan sistem seleksi alamiah. Belakangan ini. Uji Imunologi. Prosedur ART. kerusakan genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Selama enzim akrosom belum terurai. enzim akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam sel telur. Simpan Beku Sperma. Penetapan kualitas ekstern di dasarkan pada hasil evaluasi sampel yang sama yang dievaluasi di beberapa laboratorium.Pemeriksaan Laboratorium Analisis Sperma dilakukan untuk mengetahui kualitas sperma. VII. Penilaian Makroskopik. yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom. Selain itu prosedur injeksi sperma memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur. resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat. Dalam proses pembuahan secara alamiah. Sementara dalam proses inseminasi buatan. dengan tahapan-tahapan: Pengambilan sampel. Sementara dalam inseminasi buatan. berlomba membuahi 1 sel telur. para petugas labolatorium dapat memisahkan mana sel sperma yang kelihatannya sehat dan tidak sehat. sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium. Dengan cara itu. Uji mikrobiologi. dengan injeksi sperma. Secara alamiah. Dalam pembuahan normal. sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama akrosom berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur.

memunculkan masalah etis. Cacat bawaan yang paling sering muncul antara lain bibir sumbing. kegagalan jantung. Apakah tidak lebih baik bila biaya tersebut digunakan untuk didermakan kepada panti asuhan sebelum mereka mengangkat seorang anak dari panti asuhan tersebut? . Selain itu persoalan tentang bagaimana cara mendapatkan sperma. terbukanya kanal tulang belakang. apakah boleh digunakan masturbasi? Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk inseminasi buatan. Penyebab dari munculnya cacat bawaan adalah kesalahan prosedur injeksi sperma ke dalam sel telur. Tetapi ada juga yang mempersoalkan tentang inseminasi buatan ini. Akan tetapi. bahwasanya anak yang diperoleh dengan cara inseminasi sebenarnya bukanlah anak dari dari suami istri itu sendiri. dengan cara ini resiko mendapatkan sel sperma yang secara genetik tidak sehat menjadi cukup besar. Karena itu juga muncul problem hukum tentang ayah yang benar dari anak tersebut dan problem physikologis dalam diri anak di kemudian hari bila ingin tahu tentang ayahnya yang sebenarnya. Hal ini di kemukakan oleh sebagian pakar agama baik dari Islam. sering pula teknologi yang kita hasilkan itu memberikan efek samping yang memberikan dampak negatif. ginjal. Seperti diketahui kemampuan berpikir dan bernalar membuat manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. jika kedua belah pihak setuju untuk melakukan inseminasi. walaupun prosedurnya sudah benar. Dan yang lebih penting dilakukan oleh pasangan yang sah. dan kelenjar pankreas. sehingga menghasilkan manusia yang lebih berkualitas. Hal ini bisa terjadi karena satu sel sperma yang dipilih untuk digunakan pada inseminasi buatan belum tentu sehat. Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesarbesarnya. Dari pendapat yang pro dan kontra. diantaranya: Bagaimana Inseminasi buatan dapat dibenarkan? Inseminasi buatan dapat dibenarkan atau diijinkan bila dilakukan dengan alasan kesehatan dan pengobatan atau untuk meningkatkan nilai genetik. sekitar 11 juta. Kristen maupun Yahudi. Oleh sebab itu ada beberapa orang yang pro dan kontra terhadap teknologi tersebut. bayi dari hasil inseminasi buatan dapat memiliki resiko cacat bawaan lebih besar daripada dibandingkan pada bayi normal. down sindrom.Keberhasilan inseminasi buatan tergantung tenaga ahli di labolatorium. karena dapat membantu pasangan suami istri yang tidak bisa memperoleh keturunan. melainkan dari orang lain yang identitasnya biasanya disembunyikan. ternyata juga menimbulkan masalah karena terlalu mahal.

Segi Sosial Posisi anak menjadi kurang jelas dalam tatanan masyarakat. Bolehkah anak yang dilahirkan AID mewarisi harta “ayah” juga dalam hal lain-lain yang berkaitan dengan pewarisan. misalnya antar anak dengan bapak atau dengan ibu atau bisa saja antar saudara sehingga besar kemungkinan akan lahir generasi cacat akibat inbreeding. Hal ini dianggap etis karena sperma yang digunakan berasal dari suaminya sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah sosial. akibatnya status anak menjadi tidak jelas. Selain itu juga. terutama bila sperma yang digunakan berasal dari bank sperma atau sel sperma yang digunakan berasal dari pendonor. Benar-Salahkah Inseminasi Buatan? Segi Agama Dalam hukum Islam tidak menerima cara pengobatan ini dan tidak boleh menerima anak yang dilahirkan sebagai anak yang sah. Tetapi kedudukan di negara Indonesia masih belum jelas. Allah adalah kreator terbaik. yang mana inseminasi benih penderma dilakukan dengan giatnya. Bolehkah “ayah” yaitu suami yang memiliki gangguan reproduksi dapat diterima sebagai walinya? Selain masalah agama juga muncul soal hukum dalam pembagian harat. Lain halnya dengan kasus seorang janda yang ditinggal mati suaminya. dengan alasan ingin mempunyai keturunan dari seseorang yang diidolakannya seperti artis dan tokoh terkenal. dan dia ingin mempunyai anak dari sperma beku suaminya. Alasan lain dari sekelompok agamawan menolak teknologi reproduksi ini karena mereka meyakini bahwa kegiatan tersebut sama artinya bertentangan dengan ajaran Tuhan yang merupakan Sang Pencipta. Manusia dapat saja melakukan campur tangan dalam pekerjaannya termasuk pada awal perkembangan embrio untuk meningkatkan kesehatan atau untuk meningkatkan ruang terjadinya kehamilan. karena status anak yang dilahirkan merupakan anak kandung sendiri.B. namun perlu diingat Allah adalah Sang pemberi hidup. Di negara barat. mereka atasi masalah Undang-Undang dengan menjalani proses “adopsi” secara sah. di kemudian hari mungkin saja terjadi perkawinan antar keluarga dekat tanpa di sengaja. Kasus tersebut . Kasus lainnya adalah seorang wanita ingin mempunyai anak dengan inseminasi tetapi tanpa menikah. apalagi jika anak yang dilakukan perempuan karena nantinya akan mempersoalkan siapa walinya jika anak tersebut menikah.

Segi Hukum Dilihat dari segi hukum pendonor sperma melanggar hukum. karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Sikap etis timbul dilihat dari sikap pendonor sperma yang telah memberikan spermanya kepada pasangan lesbian. karena berusaha untuk membantu pasangan tersebut untuk mempunyai anak. karena sperma yang diperoleh sama halnya dari sperma pendonor. sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi. Contoh kasus pada bulan Juni 2002. Swedia menjatuhkan hukuman kepada laki-laki yang mengaku sebagai pendonor sperma kepada pasangan lesbian yang akhirnya bercerai. sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dengan demikian maka inseminasi buatan harus berlandaskan nilai etika tertentu. Selain itu juga akan ada pandangan negatif kepada wanita itu sendiri dari masyarakat sekitar. karena telah menuntut pertanggungjawaban kepada pendonor sperma yang mengaku sebagai ayahnya untuk memberikan tunjangan hidup bagi ke-3 anak hasil inseminasi spermanya. sehingga akan menyebabkan persoalan dalam masyarakat seperti status anak yang tidak jelas. INSEMINASI BUATAN PADA HEWAN .5 juta perbulan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi.akan menimbulkan sikap tidak etis. Dalam kasus ini akan timbul sikap etis dan tidak etis. Etika diperlukan untuk menentukan arah perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis. Sedangkan sikap tidak etis muncul dari pasangan lesbian yang bercerai. sebesar 2. pengadilan di Stockholm. Dan diberi sanksi untuk memberi tunjangan terhadap 3 orang anak hasil inseminasi spermanya. karena telah mempunyai anak tanpa menikah dan belum bersuami.

Hanya yang kualitas baik yang dapat diproses lebih lanjut. LD dan konsentrasi. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama.Kerugian IB - - IV. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan.I. apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil.Keuntungan Inseminasi Buatan (IB) III. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik. motilitas. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia). Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding). Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur. Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test). Tujuan Inseminasi Buatan Memperbaiki mutu genetika ternak. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. . II. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati.Penampungan Semen Dapat dilakukan 1-3 x /minggu Harus terampil dalam menyiapkan alat penampung (vagina buatan) dan terampil dalam menampung semen Evaluasi kualitas semen : gerakan massa. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan.

karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka.5% 18 jam sesudah birahi : 28% 24 jam sesudah birahi : 12% Faktor .- Pengenceran dan pengawetan Pengawetan : semen beku atau semen cair (chilled semen) V. Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi. Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban.Faktor . bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain. Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli. Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi. karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. Waktu Melakukan Inseminasi Buatan (IB) Pada waktu di Inseminasi Buatan (IB) ternak harus dalam keadaan birahi.5% 12 jam sesudah birahi : 32.Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina.Faktor Penyebab Rendahnya Kehamilan VI. Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara: . Petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi.Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa). adalah dengan memberi cat diatas ekor. VII.Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut : . perkiraannya adalah : permulaan birahi : 44% pertengahan birahi : 82% akhir birahi : 75% 6 jam sesudah birahi : 62. . Inseminator kurang / tidak terampil. Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi.faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah.

VIII.Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut: . ekor diikat .Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan 'posisi ke empat'. dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih .Sapi tidak dalam keadaan bunting. Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam .Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum.Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw .Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit.Laksanakan penyuntikan hormon kedua dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama. . .Setelah dithawing. selama 7-18 detik.Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB) maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu .. bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi.Kemudian straw dimasukkan dalam gun.Petugas Inseminasi Buatan (IB) memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum .Laksanakan penyuntikan hormon pertama. straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue.Air dengan suhu badan 37 oC. Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua. pastikan bahwa :Sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia). apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu . . hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix).Dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya . . Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. .Dibawah air yang mengalir.

Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan.. KESIMPULAN .

Inseminasi buatan adalah memasukkan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin wanita dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alami. penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen. inseminasi. pencatatan. dan penentuan hasil inseminasi pada manusia dan hewan. tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan sperma. penampungan. Namun perkembangan lebih lanjut dari inseminasi buatan tidak hanya mencangkup memasukkan semen ke dalam saluran reproduksi wanita. DAFTAR PUSTAKA . Adapun tujuan dari inseminasi buatan adalah sebagai suatu cara untuk mendapatkan keturunan bagi pasutri yang belum mendapat keturunan. penilaian. pengenceran.

2. Y.. Acta Eur Fertill. Intrauterine pregnancy following low-dose gonadotropin ovulation induction and direct intraperitoneal insemination for severe cervical stenosis. J. 9-12. 14. I. K. M. 1988. D. Rihani. T. Hum reprod 1999. L.. Itoh. Misao. 1997.& Tamaya. et all. Yogyakarta. A. and Gianpiero.. A. P. 11:189-192. Beno. & Bakir. Kanisius. Shannon. BMC Pregnancy childbirth. 1995. 44. Direct intraperitoneal insemination and controlled ovarian hyperstimulation in subfertile couples. 1990. Barciulli. G. T. Ben Marzouk. Moral dan masalahnya. Bots.. BPK Gunung Mulia. Hadiwardoyo. SOBOTTA Atlas Anatomi Manusia. A.Anttila. 1984. Levi D`Ancona. Verkuyl. Penttila. CH. Our experience with direct intraperitoneal insemination (DIPI) as a treatment for infertile couples. R. Bioteknologi Dan Bioetika. Nakanishi. (2002). S. 24:133-134. Pengantar Bioetika. F. Jakarta. E.. Ben Rhouma. 2000. RS. Gynecol Obstet Invest. Tiemessen. MF. & Suikkari. Sills. 1647-1649. S. E. 21:251-256. J Assist Repro Genet. Clin Exp Obstet Gynecol. Jakarta. Jakarta. 1994. Direct intraperitoneal insemination in ovarian hyperstimulation cycles included with gonadoptropin-releasing hormone agonist. TA. JL: Direct intraperitoneal insemination compared to intrauterine insemination in supperovulation cycles: a randomized crossover study. R. Etika Kristen Seksuil. Kanisius. Ricci. 1990. & Evers. M. peters. P. AM. 149-152. Jakarta . Wanandi. M.Gramedia Pustaka Utama. Successful pregnancy after in vitro fertilization and transmyometrial embryo transfer in a pacient with congenital atresia of cervix: case report. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful