DAFTAR PUSTAKA

1. Fessenden RJ & Fessenden JS, 1994, Organic Chemistry, 5th edition, Brooks/Cole

Publising Company Pasific Grove, California, 547
2. Mc Murry J, 2000, Organic Chemistry, 5th edition, Brooks/Cole Publising Company

Pasific Grove, USA, 916-917 3. Wertheim E, 1953, Practical Organic Chemistry with 23 illustration, The Blakiston Company inc., New York, Toronto, 71-72
4. Ralp.J. Fessenden, Joan S.Fessenden. Kimia Organik. Edisi 3. Airlangga. 1992.P42

1

DASAR TEORI
Iodoform adalah senyawa yang dibentuk dari reaksi antara iodin dengan etanol / aseton dan asetaldehida dalam suasana basa. Iodoform termasuk senyawa haloform selain kloroform dan bromoform. Haloform dapat terbentuk bila halogen direaksikan dengan senyawa metil keton. Sehingga halogenasi α dapat digunakan sebagai dasar uji iodoform untuk senyawa – senyawa metil keton. Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat dimana dalam keadaan panas larut dalam suatu pelarut tertentu, dalam keadaan dingin atau suhu kamar zat atau kristalnya akan terjadi. Iodoform adalah senyawa organoiodine dengan rumus C H I
3.

Sebuah kuning pucat,

kristal, zat mudah menguap, ia memiliki bau menembus dan analog dengan kloroform, rasanya manis. Hal ini kadang-kadang digunakan sebagai disinfektan . Iodoform berfungsi sebagai pemusnah baktei iodoform digunakan sebagai antiseptik terhadap luka-luka lecet, karena membebaskan I2 juga sebagai pencegah keluarnya nanah dan pencegah pertumbuhan bakteri. Iodoform pertama kali dipersiapkan oleh Georges Serrulas pada tahun 1822 dan formula molekul diidentifikasi oleh Jean-Baptiste Dumas pada tahun 1834. Hal ini disintesis dalam reaksi haloform oleh reaksi hidroksida dan natrium yodium dengan salah satu dari empat jenis senyawa organik: (i) metil keton : CH 3 COR, asetaldehida (CH 3 CHO), etanol (CH aril).
3

CH 2 OH), dan sekunder tertentu alkohol (CH 3 CHROH, dimana R adalah gugus alkil atau

 Sifat – sifat Iodoform
• Sifat Kimia Iodoform a. Kondensasi lipidine ethiodide dari alkil menghasilkan cis-( 1-ethylguinoline4-)-trimetinaiomine. b. Iodoform dan kalium poidat membentuk CL4 – (tetraidometane). c. Iodoform dapat di hidrogenasi di itomenasi (metilan iodida).
2

Bentuk berupa kristal kuning berkilauan. j. Memiliki bau yang khas. Iodoform bila direduksi dengan Na2As2O4 akan membentuk metilen iodida. • Sifat Fisika Iodoform a. e. i. c. I2. Iodoform bila direaksikan dengan dan NaOH akan menghasilkan warna merah ungu pada lapisan piridin. Sukar larut dalam air tapi mudah laut dalam akohol.d.00 gr/mil. Test larutan AgHO3 reaksi dengan larutan AgHO3 (argentum nitrat) tidak memberikan endapan kuning perak iodida (Agl). Jika iodoform di panaskan dalam satu tabung kering. e. k. h. Iodoform dapat di hidrolisis dengan kuat. Titik lebur 1190-1230 C. Komposisi C=3. Berguna dan acetor. Berat jenis 4. 3 d. f. setelah di panaskan sebentar. Terurai oleh pengaruh panas cahaya dan udara membentuk CO2. j. Tidak bereaksi dengan kolomel. f. H=6. i. Berat molekul 393. Bentuk bangun merupakan heksagonal dengan I sebagai pusatnya. H2O. g. Iodoform bila dipanaskan dengan campuran anilin dan larutan NOH alkoholat karbilamine membentuk isosianida. . b. CO.05g. akan timbul uap yang berwarna violet dari iodium. h. Mudah menguap (meyublim) pada suhu kamar. HgO.266. I=96.73.496. g.

tetapi merupakan pelarut efektif untuk senyawa organik. semua tidak larut dalam air. tidak berwarna.5 – 1% etanol (untuk mengikat bila terjadi fosgen). sangat bias. Senyawa kloroform adalah senyawa haloalkana yang mengikat tiga atom halogen klor (Cl) pada rantai C-nya. Pada suhu normal dan tekanan. Beberapa senyawa yang dapat 4 . Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan.l. Senyawa halokarbon seperti contohnya kloroform mudah dibuat. meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium atau industri. Hal ini disebut CHX3 atau haloform. Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius.  Kloroform Kloroform adalah nama umum triklorometana (CHCl3). Perlahan-lahan larut dalam petaoida atom. yang menghasilkan masing-masing bromoform (CHBr3) dan kloroform (CHCl3). namun mudah menguap. maka untuk mencegah terjadinya fosgen ini maka kloroform. disimpan dalam botol yang berwarna coklat yang terisi dan mengandung 0. Kloroform disebut juga haloform disebabkan karena brom dan klor juga bereaksi dengan metal keton. kloroform adalah cairan yang sangat mudah menguap. maka reaksi ini sering disebut reaksi haloform. sifat anestesi Its dicatat awal tahun 1847 oleh Marie-JeanPierre Flourens. jernih. metana berklorin dibuat melalui klorinasi metana. Kloroform (CHCl3). Hal ini ditemukan pada Juli 1831 oleh dokter Amerika Samuel Guthrie (1782-1848). tidak mudah terbakar. dan independen beberapa bulan kemudian oleh Prancis Eugène Soubeiran (1797-1859) dan Justus von Liebig (18031873) di Jerman. Dalam pembuatan atau pensintesaan kloroform perlu diperhatikan beberapa hal yaitu dengan adanya oksigen dari udara dan sinar matahari maka kloroform dapat teroksidasi dengan lambat menjadi fosgen (gas yang sangat beracun). Kloroform yang bernama dan kimia ditandai pada tahun 1834 oleh JeanBaptiste Dumas (1800-1884). berat. Senyawa kloroform dapat dibuat dengan bahan dasar berupa senyawa organik yang memiliki gugus metil (-CH3) yang terikat pada atom C karbonil atau atom C hidroksi yang direaksikan dengan pereaksi halogen (Cl2).

Tatanama 5 . Ikatan ganda gugus karbonil membedakan keton dari alkohol dan eter. karena itu harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan ke arah hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH atau dengan menambahkan bahan pengkompleks. etanol. Atom karbon yang berada di samping gugus karbonil dinamakan karbon-α.  Keton Keton bisa berarti gugus fungsi yang dikarakterisasikan oleh sebuah gugus karbonil (O=C) yang terhubung dengan dua atom karbon ataupun senyawa kimia yang mengandung gugus karbonil. 2-butanon. 2-butanol. Hidrogen yang melekat pada karbon ini dinamakan hidrogen-α. Keton yang paling sederhana adalah aseton (secara sistematis dinamakan 2-propanon). Keton memiliki rumus umum: Senyawa karbonil yang berikatan dengan dua karbon membedakan keton dari asam karboksilat. karena lasan inilah halogenasi kadang saja digunakan dalam laboratorium.0134 mol/L) pada 25 oC. Iod juga merupakan oksidator lemah. iod tidak bisa bereaksi sempurna.  Iod Iod merupakan zat padat yang sukar larut dalam air (0.membentuk kloroform dan senyawa haloform lainnya adalah etanol. Larutan iod merupakan larutan yang tidak stabil. propanon. 2-propanol. dan senyawa-senyawa beroksigen lainnya. sehingga hanya zat – zat yang merupakan reduktor kuat yang dapat di titrasi. Dengan keberadaan asam katalis. Halogenasi sering berjalan secara eksplosif dan hampir tanpa kecuali menghasilkan campuran produk. Sebagai oksidator lemah. ester. Reaksi dengan basa kuat menghasilkan enolat. namun sangat larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. keton mengalami tautomerisme keto-enol. amida. sehingga perlu di standarisasi berulang kali. aldehida.

Sifat-sifat fisika. Keasaman. Sebagai contoh. sehingga ia tidak akan membentuk ikatan hidrogen dengan dirinya sendiri. bergantung pada lingkungan kimiawi). seperti pada aseton dan benzofenon. 6 . dan bukannya donor. atau senyawa lain yang mengandung Cr(VI).Asetone. Sintesis. Keasaman relatif hidrogen-α sangatlah penting dalam reaksi enolisasi keton dan senyawa karbonil lainnya. Okso adalah tatanama IUPAC resmi untuk gugus fungsi keton. sehingga mengakibatkan senyawa keton polar. Sifat-sifat spektroskopi. Untuk senyawa-senyawa yang umum (terutama pada biokimia). Spektroskopi adalah salah satu cara yang penting untuk mengidentifikasi keton. Okso juga merujuk pada atom okesigen tunggal yang berkoordinasi dengan logam transisi (okso logam). Gugus karbonil akan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen. Keton dan aldehida akan menunjuukkan puncak yang signifikan pada spektroskopi inframerah di sekitar 1700 cm−1 (agak tinggi atau rendah. nama-nama tradisional digunakan. Hal ini disebabkan oleh stabilisasi resonansi ion enolat yang terbentuk ketika berdisosiasi. Hal ini membuat keton lebih mudah menguap daripada alkohol dan asam karboksilat. Ia merupakan akseptor ikatan hidrogen. kalium dikromat. Namun prefiks lainnya juga digunakan dalam berbeagai buku dan jurnal. Gugus karbonil bersifat polar. keto atau okso adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan gugus fungsi keton (juga dikenal dengan nama alkanon). sehingga keton larut dalam air. keton dinamakan dengan tatanama IUPAC dengan menggantikan sufiks -a pada alkana induk dengan -on. keton paling sederhana Secara umum. Proses ini memerlukan oksidator kuat seperto kalium permanganat. Alkohol dioksidasi dengan pemanasan refluks pada larutan asam. nama-nama ini dianggap sebagai nama IUPAC yang dipertahankan walaupun beberapa buku kimia menggunakan nama propanon. Terdapat beberapa metode untuk pembuatan keton dalam laboratorium: • Keton dapat dihasilkan dengan oksidasi alkohol sekunder. Hidrogen-α keton lebih asam (pKa ≈ 20) daripada hidrogen alkana biasa (pKa ≈ 50). Untuk keton yang umumnya dijumpai. 2-propanol dioksidasi menjadi aseton.

keton terbentuk dari tioester dengan sebuah senyawa organoseng. • • Keton juga bisa dihasilkan dari hidrolisi halida gem. Ini adalah bagian dari reaksi pelindung karbonil. • Keton aromatik dapat dibuat dengan reaksi Friedel-Crafts. Tautomerisme enol-keto enol yang dihasilkan akan menghasilkan keton. dan Sia2BH diperlukan apabila diinginkan aldehida. Keton juga dibuat dari reaksi asil klorida dengan senyawa organolitium atau senyawa organotembaga • • • • • Reaksi. Alkuna dapat diubah menjadi enol melalui reaksi hidrasi dengan keberadaan asam dan HgSO4. Pada penataan ulang Kornblum–DeLaMare keton dibuat dari peroksida dan basa. keton terbentuk dari hidrolisis garam dari senyawa nitro. Pada reaksi Nef. o o 7 . Pada siklisasi Ruzicka. Reaksi ini akan selalu menghasilkan keton. keton siklik dibuat dari asam dikarboksilat. o o o o Reaksi dengan anion alkuna terminal menghasilkan hidroksialkuna Reaksi dengan amonia atau amina primer menghasilkan imina dan air Reaksi dengan amina sekunder menghasilkan enamina dan air Reaksi dengan reagen Grignard menghasilkan magnesium alkoksida dan setelahnya alkohol tersier Reaksi dengan reagen organolitium juga menghasilkan alkohol tersier Reaksi dengan alkohol. reaksi Houben-Hoesch dan penataan ulang Fries. Keton terlibat dalam berbagai macam reaksi organik: • Adisi nukleofilik. menjadikan atom oksigen berikatan ganda dengan atom karbon. bahkan untuk alkuna terminal. Reaksi keton dengan nukleofil menghasilkan senyawa adisi karbonil tetrahedral. reaksi lebih jauh menghasilkan ketal dan air.H3C-CH(OH)-CH3 → H3C-CO-CH3 Dua atom hidrogen dilepas. Pada penggandengan Fukuyama. asam atau basa menghasilkan hemiketal dan air.

Kegunaan lainnya adalah sebagai pelarut dan zat antara dalam industri kimia. kemudian dengan air menghasilkan alkohol Reaksi enol dengan halogen menghasilkan haloketon-α Reaksi pada karbon-α keton dengan air berat menghasilkan keton-d berdeuterium Fragmentasi pada fotokimia reaksi Norrish Reaksi dengan halogen dan basa metil keton pada reaksi haloform Reaksi 1. Reaksi dengan ilida fosfonium pada reaksi Witting menghasilkan alkena Reaksi dengan air menghasilkan diol geminal Reaksi dengan tiol menghasilkan tioasetal Reaksi dengan hidrazina atau turunan hidrazina menghasilkan hidrazon Reaksi dengan logam hidrida menghasilkan logam alkoksida.  Rekristalisasi Rekristalisasi merupakan suatu pembentukan kristal kembali dari larutan atau leburan dari material yang ada. Sebenarnya rekristalisasi hanyalah sebuah proses lanjut dari kristalisasi. Apabila kristalisasi (dalam hal ini hasil kristalisasi) memuaskan rekristalisasi hanya bekerja apabila digunakan pada pelarut pada suhu kamar.4-aminodiketon menjadi oksazola dengan hidrasi pada sintesis RobinsonGabriel Reaksi aril alkil keton dengan sulfur dan amina menghasilkan amida pada reaksi Willgerodt • • • • • • • • • • • Aplikasi. reaksi ini dikenal sebagai reaksi Haller-Bauer (1909) • Adisi elektrofilik.o Reaksi RCOR' dengan natrium amida menghasilkan pembelahan dengan pembentukan amida RCONH2 dan alkana R'H. Keton sering digunakan pada parfum dan cat untuk menstabilisasi ramuan lainnya sehingga tidak berdegradasi dengan cepat. 1983) Langkah – langkah Rekristalisasi 8 . Hal ini bertujuan supaya zat tidak murni dapat menerobos kertas saring dan yang tertinggal hanyalah kristal murni. reaksi dengan sebuah elektrofil menghasilkan kation yang distabilisasi oleh resonansi. namun dapat lebih larut pada suhu yang lebih tinggi. (Fessenden.

 Proses Kristalisasi a. Melarutkan zat pada pelarut Melakukan filtrasi gravity Mengambil kristal zat terlarut Mengumpulkan kristal dengan filtrasi vacum Mengeringkan kristal (Fessenden. tidak bereaksi dengan zat yang akan dimurnikan. 1983)  Cara Memilih Pelarut yang Cocok untuk Proses Rekristalisasi adalah : a. Setelah dipanaskan maka solven menguap dan yang tertinggal hanya kristal. Pelarut yang dipilih sebaiknya hanya melarutkan zat – zat yang akan dimurnikan dalam keadaan panas. c. d. b. Pelarut yang digunakan sebaiknya memiliki titik didih rendah agar dapat mempermudah pengeringan kristal. Pendinginan Larutan yang akan dikristalkan didinginkan sampai terbentuk kristal pada larutan tersebut. Pendinginan dilakukan 2x yaitu pendinginan larutan panas sebelum penyaringan dan pendinginan sesudah penguapan. 3. . Penguapan Solvent Larutan yang dikristalkan merupakan senyawa campuran antara solven dan solut. b.1. Pada suhu saat larutan dimasukkan ke ruang vakum solven akan menguap dengan cepat dan penguaapan itu akan menyebabkan pendinginan secara adiabatis. Salting Out 9 Penguapan bertujuan untuk menghilangkan atau meminimalizir solvent atau zat pelarut sisa yang terdapat pada filtrat. Metode ini digunakan untuk zat yang kelarutan mengecil bila suhu diturunkan. 2. dimasukkan dalam tempat vakumyang mana tekanan total lebih rendah dari tekanan uap solvennya. c. 5. Evaporasi Adiabatis Metode ini digunakan dalam ruang vakum. Pelarut yang digunakan harus inert. sedangkan pengotornya tidak larut dalam pelarut tersebut. 4. larutan dipanaskan. Metode ini digunakan bila penurunan suhu tidak begitu mempengaruhi kelarutan zat pada pelarutnya.

Triiodometana digunakan sebagai sebuah antiseptik pada berbagai plaster tempel. maka dihasilkan alkohol sekunder. iodoform juga bisa dikenali dengan baunya yang sedikit mirip bau “obat”. (Cahyono. maka campuran mungkin perlu dipanaskan dengan sangat perlahan. tetapi semuanya memiliki sebuah gugus metil terikat pada karbon yang memiliki gugus -OH. Pengeluaran garam dari larutan dengan zat baru ke dalam larutan bertujuan menurunkan daya larut solven terhadap suhu pada pengatur tersebut. 1998) Reaksi Triiodometana (Iodoform) dengan Alkohol  Penggunaan larutan iodin hidroksida dan natrium hidroksida Larutan iodin dimasukkan ke dalam sedikit alkohol. Hasil positif dari reaksi adalah timbulnya endapan triiodometana (sebelumnya disebut iodoform) yang berwarna kuning pucat pasi – CHI3. CH3CH2OH. diikuti dengan larutan natrium hidroksida secukupnya untuk menghilangkan warna iodin. Selain berdasarkan warnanya.Prinsipnya adalah menambah suatu zat untuk mengurangi zat yang akan dikristalkan. 10 .  Hasil-hasil reaksi triiodometana (iodoform) Hasil positif – endapan kuning pucaat dari triiodometana (iodoform) – dapat diperoleh dari reaksi dengan alkohol yang mengandung kelompok gugus-gugus CH3CHOH-R. “R” bisa berupa sebuah atom hidrogen atau sebuah gugus hidrokarbon (misalnya. • Etanol merupakan satu-satunya alkohol primer yang menghasilkan reaksi triiodimetana (iodoform). Jika tidak ada yang terjadi pada kondisi dingin. maka akan dihasilkan alkohol etanol. sebuah gugus alkil). jika kedalam suatu larutan ditambah dengan zat elektrolit. • Jika “R” adalah sebuah gugus hidrokarbon. misalnya yang dipasang pada luka-luka kecil. Banyak alkohol sekunder yang dapat menghasilkan reaksi triiodometana. Jika “R” adalah hidrogen. Peningkatan harga k.

2 ml Alat : 11 . Tidak ada alkohol tersier yang dapat menghasilkan reaksi triiodometana (iodoform). TUJUAN  Memahami reaksi haloform  Memahami cara rekristalisasi dengan pelarut etanol dan air  Mendapatkan krital iodoform yang bewarna kuning ALAT dan BAHAN • Bahan :  Iodium  Aseton  NaOH  Etanol • : 5 gram : 6 ml + air 5 ml : 3.2 gram : 41.• Tidak ada alkohol tersier yang bisa mengandung gugus ini karena tidak ada alkohol tersier yang bisa memiliki sebuah atom hidrogen terikat pada karbon yang memiliki gugus -OH.

 Labu erlenmeyer  Gelas ukur  Gelas piala  Kaca arloji  Labu hisap  Corong gelas  Gelas ukur MEKANISME REAKSI • Mekanisme reaksi iodoform : 12 .

of 8N sodium hydroxide solution and 80cc. using small Buchner funnel. 13 . Add in small portions. Look carefully on the bottom of the flask for unattacked iodine.19). After 5 minutes collect the yellow precipitate. When sufficient sodium hydroxide solution has been added set the flask aside. and warm on the electric hot plate or the steam-bath. Florence flask place 10 g. In a 500 cc. nor any suggestion of brown color in the liquid. Directions. of acetone. If the flask becomes hot to the hand.). cool it at once with running water. No free iodine should be present at this time. and with constant shaking. of alcohol down the condenser (no flames within 6 ft. as much as is needed of a solutions made up of 20cc. Make a habit of preparing such abstracts for all experiments. of iodine and pour onto this 10g. Pour a few cc.Ion karboksilat iodoform (kuning) • Reaksi iodoform : Iod aseton tri iod asetat Iodoform Na_asetat PROSEDUR dan SKEMA KERJA • Prosedure PREPARATION OF IODOFORM Make a short abstract of these directions to use a guide while doing the work. shacking the flask at times. of water. Place filtrate at once in bottle labeled ” Iodoform filtrate ” wash the solid on the funnel with a little water. The compound is than to be dissolved in the smallest possible quantity of hot ethyl alcohol as follows: put the iodoform in a small flask arranged for refluxing (see Expt.

do not rely on the memory. Yield. Submit the product in a sample bottle. During the performance of this experiment the instructor will demonstrate the shape of iodoform crystals with the microscope. Any crystals remaining in place an identification slip in the desiccator. pf water.. Caution – do not inhale the vapor from the solution. p. then wait till it becomes hot to see whether enouh has been added to dissolve all ( there will always be a few shreds of filter paper. The best way to remove paper. 4. Put a sketch of the crystals in your report. Remove the crystals from the filter paper and spread them fresh. meanwhile stirring vigorously to completely precipitate the iodoform. then filter with the buchner funnel.. about 55%  Cara Kerja 14 . using a funnel previously warmed over the hot-plate or steambath. 18. the melting point and weight of the preparation will be determined after it is dry. etc. Cover the filtered solution and set aside to cool slowly. qt the laboratory period. In 15 minutes add about 25 cc. then filter the got solution through a fluted filter paper. Do not heat longer than necessary and avoid actual boiling if possible When enough solvent (about 40cc) has been added to dissolve all the iodoform at the boiling point of the solution. properly labeled ( see Expt.When t he mix is warm add a little more alcohol. additional solvent. which should not be mistaken for iodoform ). from the Buchner funnel is to hold it over a clean filter paper and blow gently through the stem. add about 20cc. dry piece of filter paper. Products in course of preparation should always be labeled. The end of the funnelstem should first be washed so that no chemicals can get on the lips. The bottom off the desiccator should contain granules of calcium chloride to a depth of about 15mm. Wash the crystals on the funnel with few drops of cold alcohol (cut off suction during the washing ). For directions for melting point determinations see Expt. etc. 46 ).

larutkan sampai 20ml. Jika labu panas. 5. disaring dengan corong buchner.4 garam NaOH. ditambahkan iodium sebanyak 10 gram sedikit demi sedikit sambil digoyang agar iodium larut (sebaiknya aseton diencerkan dengan air sama banyak).1. 4. 2.2 gram. 3. Setelah iodium habis bereaksi segera tambahkan aquades. kocok) Timbang NaOH 3. encerkan ad 50 ml 15 .  etanol   Dikeringkan di oven Ditimbang hasil dn tentukan titik lelehnya. Disaring dengan corong buchner. dicuci dengan beberapa tetes  Skema Kerja Masukkan aseton 6 ml dalam erlenmeyer + aquadem 5 ml Timbang Iodium 5 gram Iodium ditambahkan sedikit ke erlenmeyer (sumbat. Dilakukan rekristalisasi dengan etanol panas    Dimasukkan kristal iodium kedalam labu erlenmeyer Ditambahkan etanol Dipanakan di atas magnetic stirer sampai larut. dituang larutan NaOH kedalan erlenmeyer sambil dikocok teratur. kemudian larutkan dalam 20 ml aquadem. Dimasukkan 12 ml aseton kedalam erlenmeyer. jika belum larut semua ditambahakan lagi etanol panas dan panaskan lagi. didingankan dengan air kran . Ditimbang 6.

5 ml. kemudian dicuci dengan beberapa tetes etanol Dikeringkan di oven Timbang hasil dan tentukan titik lelehnya 16 . kocok Disaring dengan corong buchner.Tambahkan ad warna coklat hilang segera + air 125 ml Disaring dengan corong buchner Kristal iodium dalam erlenmeyer + etanol mendidih sedikit demi sedikit Dipanskan diatas magnetik stirrer sampai semua kristal larut Dinginkan + air 12.

GAMBAR PENGGUNAAN dan PEMASANGAN ALAT 17 .

58 gram : 0. Ketetapan Alam : 120oC 18 .5 gram : 0. Hasil teoritis Jumlah (dalam gram) Rendemen/ presentasi hasil 4.4% 1.58 ×100 % = 19. 3.5 2. 2.HASIL PRAKTIKUM • Hasil percobaan: : 2.

Kelarutan iodoform dalam etanol panas adalah 1 : 16. tetapi dalam keadaan dingin atau pada suhu kamar. Kemudian . Hal yang harus dihindari ialah jangan sampai terlalu banyak menambahkan NaOH sebab. dalam hal ini digunakan etanol panas. apabila terjadi panas. hal ini ditujukan untuk mengurangi penguapan aseton.Cara rekristalisasi dengan memanaskan pelarut. Apabila NaOH yang diberikan terlalu sedikit suasananya menjadi kurang basa akibatnya kristal yang terbentuk sedikit. 2. zat atau kristalnya akan terjadi. Oleh karena itu dalam percobaan ini setelah iodoform habis bereaksi harus segera ditambahakan air dengan tujuan supaya menyempurnakan kristal yang dihasilkan dan untuk mengencerkan NaOH yang mungkin berlebih dan untuk mencegah kecepatan terhidrolisisnya iodoform yang terbentuk. Kelarutan iodoform dalam etanol panas lebih tinggi dibandingkan etanol dingin. Dan juga dikarenakan pada daerah tropis aseton mudah menguap.3 ml etanol panas. sedangkan jika terlalu banyak dapat melarutkan iodoform. Etanol panas yang ditambahkan harus sedikit demi sedikit karena apabila berlebih akan menyebabkan kristal iodoform yang 19 . Fungsi dari penambahan NaOH adalah untuk menghasilkan kristal iodoform berwarna kuning. Namun. dapat menyebabkan panas. Kristal iodoform dilarutkan dalam etanol panas. NaOH berfungsi sebagai suasana basa. segera dinginkan dengan lap basah atau dengan mengalirkan air kran atau air es. Etanol dipanaskan di atas hot plate dengan Erlenmeyer yang ditutup dengan corong dan disumbat kapas karena sifat etanol yang mudah terbakar. Penggunaan labu dasar datar supaya dapat berdiri tanpa dipegang.5 gram iod ditambah 10 ml aseton dimasukkan ke dalam labu dasar datar. apabila etanol dalam keadaan dingin akan mengurangi kelarutan iodoform sehingga larutan yang terbentuk menjadi keruh. Sehingga pada praktikum kali ini membutuhkan 41. Iodoform yang habis bereaksi telah terbentuk kristal iodoform. Penambahan NaOH yang tidak tepat volumenya terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat menyebabkan kristal yang terbentuk kurang bagus.PEMBAHASAN Dalam percobaan ini pertama dilakukan pengenceran aseton dengan air. Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat dimana dalam keadaan panas larut dalam suatu pelarut tertentu. ditambahkan 20 ml NaOH sedikit demi sedikit (lewat corong pisah).

larut saat panas akan sulit mengendap atau mengkristal kembali dan menyebabkan larutan berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Setelah kering hasilnya ditimbang. Penambahan NaOH yang kurang tepat. Hasil praktikum yang didapat kurang dari hasil teoritis disebabkan karena berbagai faktor antara lain : • • Reaksi antara aseton dan iodoform kurang sempurna. Setelah itu dinginkan lalu menambahkan air dan segera disaring dengan corong buchner. Penimbangan bahan kurang tepat Penambahan etanol yang berlebihan pada saat pencampuran dengan kristal iodoform. hasil kristalnya terbentuk dikeringkan di dalam oven. • • DISKUSI 20 .

Sebagai pemberi suasana basa dalam reaksi iodoform. f. e.• Hasil Diskusi 1. Untuk menghasilkan kristal iodoform berwarna kuning. segera ditambahkan dengan sejumlah air? Iodium yang habis bereaksi akan ditandai dengan hilangnya warna coklat dalam larutan setelah ditambahkan larutan NaOH. Penimbangan dan pengukuran zat yang tidak tepat dan akurat. yang terhalogenasi dan membentuk ion Cl3 yang tidak stabil lalu akan segera membentuk CHI3 (iodoform). ditandai dengan perubahan warna larutan yang menjadi bewarna kecoklatan. triiodoaseton. 4. Sebagai zat penghilang warna iodin. e. Bagaimana pembuatan kloroform dan bromoform? 21 . Proses pelaksanaan kurang cepat. hal ini ditujukan untuk mengurangi penguapan aseton. Apa fungsi dari NaOH? a. Oksidator tersebut akan mengubah aseton menjadi Sebagai nukleofil yang menyerang atom karbonil sehingga membentuk keton c. c. Sebagai oksidator. 5. Reaksi antara aseton dan iodium tidak sempurna.hal ini Penambahan etanol yang terlalu banyak. 3. d. b. Mengapa aseton diencerkan dengan air? Pengenceran aseton dengan air. b. 2. sehingga volume aseton yang akan digunakan untuk proses reaksi tidak akan berkurang. Proses pemanasan terlalu lama sehingga membuat iodoform larut. d. Apa artinya setelah iodium habis bereaksi. iodoform tidak maksimal. Juga dikarenakan pada daerah tropis aseton mudah menguap. Penambahan aquadem yang dilakukan segera saat warna coklat hilang untuk mengurangi oksidasi iodium oleh cahaya dan supaya menyempurnakan kristal yang dihasilkan dan untuk mengencerkan NaOH yang mungkin berlebih dan untuk mencegah kecepatan terhidrolisisnya iodoform yang terbentuk. Faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan terbentuknya iodoform? a. sehingga pembentukan Suasana kurang basa.

hanya gugus halogen yang diganti.Pembuatan kloroform dan bromoform memiliki prinsip yang sama dengan pembuatan iodoform. Iodoform termasuk senyawa haloform selain kloroform dan bromoform. 22 . dan bromoform menggunakan gugus Br. Iodoform menggunakan gugus I. Reaksi: O + CH3 3 I2 OHH2O O C Cl3 O OH - CO - + CHI3 Iodoform O + CH3 3 Br2 OHH2O O C Br 3 OH - O CO - + CHBr3 Bromoform O + CH3 3 Cl2 OHH2O O C Cl O 3 OH - CO - + CHCl3 Kloroform KESIMPULAN 1. kloroform menggunakan gugus Cl.

tetapi dalam keadaan dingin atau suhu kamar zat / kristal tersebut akan terbentuk. TRI ENDAH FATMAWATI (1100095) 23 . Iodium yang sudah habis bereaksi ditandai dengan hilangnya warna coklat. 5. Gugus metil keton (aseton) yang direaksikan dengan iodium dalam suasana basa yang menghasilkan iodoform. 4. 3. dimana dalam keadaan panas zat padat tersebut larut. TANDA TANGAN PRAKTIKAN 1.2. Reaksi iodoform merupakan reaksi yang spesifik untuk gugus metil keton. Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat dengan cara mengkristalkan kembali dari cairan pelarut / campuran pelarut tertentu.

.....Ttd : .. 2......... 24 . EBRY RYANATA (1100112) Ttd : ..............