ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PEMBANGUNAN PERIKANAN PESISIR MUARA KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Magister (S-2) Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai

Oleh

YUNANDAR
K4A005008

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2007

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PEMBANGUNAN PERIKANAN PESISIR MUARA KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

Nama Penulis NIM

: YUNANDAR : K4A005008

Tesis telah disetujui; Tanggal : 3 September 2007

Pembimbing I,

Pembimbing II,

(Prof.Dr.Ir. SUTRISNO ANGGORO, MS.)

( Dr. Ir. AGUS HARTOKO, MSc.)

Ketua Program Studi,

( Prof.Dr.Ir. SUTRISNO ANGGORO, MS.)

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PEMBANGUNAN PERIKANAN PESISIR MUARA KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

Dipersiapkan dan disusun oleh YUNANDAR K4A005008 Tesis telah dipertahankan di depan Tim Penguji ; Tanggal : 27 Agustus 2007

Ketua Tim Penguji,

Anggota Tim Penguji I,

(Prof.Dr.Ir. SUTRISNO ANGGORO, MS.)

(Ir. PINANDOYO, MSi.)

Sekretaris Tim Penguji,

Anggota Tim Penguji II,

(Dr. Ir. AGUS HARTOKO, MSc.)

(Ir. BAMBANG ARGO WIBOWO, MSi.)

Ketua Program Studi,

( Prof.Dr.Ir. SUTRISNO ANGGORO, MS.)

dan (c) menyusun alternatif pengelolaan zona pemanfaatan ruang pada kawasan perikanan pesisir Muara Kintap yang sesuai.ABSTRAKSI YUNANDAR. (b) menganalisis konfigurasi pemanfaatan ruang eksisting di kawasan perikanan pesisir Muara Kintap terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. Hasil penelitian didapatkan bahwa pemanfaatan ruang di dominasi tambak 36. NIM. Rencana Umum Tata Ruang Pesisir Tanah Laut serta kesesuaiannya berdasarkan perbedaan nilai skor dan Sistem Informasi Geografis.KEP. kesesuaian lahan dan keterkaitan antar kawasan. kawasan perikanan. kesesuaian ruang/lahan. ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PEMBANGUNAN PERIKANAN PESISIR MUARA KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT. K4A005008. . Metodologi yang digunakan adalah survei lapangan. sungai dan penyangga di Muara Kintap. Muara Kintap. KALIMANTAN SELATAN.59 hektar) dan terkecil pemukiman 2.34/Men/2002 terhadap kesesuaian peruntukan sebagai kawasan lindung. Kata-kata kunci : Pemanfaatan ruang. kimia air dan komponen biofisik keruangan menginformasikan daerah ini masih sesuai sebagai kawasan perikanan namun perlu di upayakan peningkatan perbaikan kualitas lingkungan dengan merevegetasi kembali fungsi sempadan pantai. Dibimbing oleh SUTRISNO ANGGORO dan AGUS HARTOKO. yang memadukan unsur penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis dengan skoring yang di dasarkan pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. pemanfaatan dan pelabuhan khusus.15 hektar). Kebijakan antara RTRW Kabupaten/Propinsi dan pemanfaatan ruang terkini tidak sesuai karena Pelabuhan Khusus dan Stokpile Batubara berada di kawasan perikanan pembangunan perikanan Muara Kintap.67% (1640. Analisis Sistem Informasi Geografis dengan persamaan algoritma spasial dan overlay terhadap komponen peta-peta tematik kondisi fisika. berdasarkan prioritas dan sistem dalam penggunaan ruang yang mengacu pada kelestarian sumberdaya pesisir.28% (102. Penelitian ini bertujuan untuk : (a) mengidentifikasi struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan perikanan pesisir Muara Kintap eksisting (yang telah ada).

Recently. water chemistry and spatial biophysics component informed that this region still suitable for fisheries coastal zone but need serious efforts to increase recovery environmental quality with revegetation green belt function of coastal.15 hectar). The results obtained that spatial use dominated by pond 36.34/Men/2002 for conservation suitability. river and buffer zona in Muara Kintap. Supervised by SUTRISNO ANGGORO and AGUS HARTOKO. land suitability and zone interrelatedness.67% (1640. based on priority and space use system in order to maintan coastal resources preservation. use and coal terminal zone. Muara Kintap . NIM. general land use plans of coastal zone in Tanah Laut and its suitability based on score differences and Geographic Information System (GIS).28% (102. (b) analyzed configuration of spatial use excisting on fisheries coastal zone Muara Kintap against land use plans of Province. Methods employed in this research was field survey that combained remote sensing and Geographic Information System (GIS) with scoring measurement refered on Ocean and Fishery Ministry Decision of Indonesian Republic No. K4A005008.KEP. and (c) arranged alternative suitable managemet of spatial use zone on fisheries coastal Muara Kintap. SOUTH KALIMANTAN. TANAH LAUT. space/land suitability. fisheries coastal zone. This research aimed to: (a) identified structure and spatial use pattern on fisheries coastal zone Muara Kintap excisting. THE SPACE USE ANALYSIS ON FISHERIES COASTAL ZONE MUARA KINTAP.ABSTRACT YUNANDAR. policy about spatial use among community group called as RTRW in regency or province not suitable because coal terminal and stockpile exist on fisheries coastal Muara Kintap. GIS analysis with spasial algorithm and overlay to component of tematical maps such as physics condition. Keywords: Space use.59 hectar) and settelment was minimal 2.

dan menyusun alternatif pengelolaan zona pemanfaatan ruang pada kawasan perikanan pesisir Muara Kintap yang sesuai.6 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang karena atas bimbingan-Nya. . Rencana Umum Tata Ruang Pesisir Tanah Laut serta kesesuaiannya berdasarkan perbedaan nilai skor dan Sistem Informasi Geografis. Direktur Program Pascasarjana Universitas Diponegoro yang telah memberikan kesempatan dan menerima penulis untuk meningkatkan kemampuan akademis pada Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan perikanan pesisir Muara Kintap eksisting dan menganalisis konfigurasi pemanfaatan ruang eksisting di kawasan perikanan pesisir Muara Kintap terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. Dalam menyelesaikan penulisan tesis ini. maka seluruh kegiatan proses penulisan Tesis dengan Judul “Analisis Pemanfaatan Ruang Di Kawasan Pembangunan Perikanan Pesisir Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan” dapat Penulis selesaikan dengan baik. kesesuaian lahan dan keterkaitan antar kawasan. berdasarkan prioritas dan sistem dalam penggunaan ruang yang mengacu pada kelestarian sumberdaya pesisir. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. penulis banyak mendapat bantuan dan perhatian dari berbagai pihak.

Agus Hartoko. SEAMEO BIOTROP Bogor yang telah menyediakan data citra landsat ETM 7+ untuk penelitian tesis ini. Pinandoyo.7 2. Prof. MSi selaku Tim Penguji yang telah memberikan masukan dan saran-saran perbaikan dalam penyempurnaan tesis ini. Sutrisno Anggoro. Rektor Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin yang telah membantu dan mendukung penulis baik moril dan materil dalam penulisan dan penelitian tesis. Kepala Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat beserta staf analis yang telah membantu analisis dalam penelitian ini. Ir. H. menuntun dan membantu dalam penyelesaian tesis ini. MSc selaku Pembimbing II yang dengan setia dan rela meluangkan waktu dan pikiran guna memberikan arahan dan pemikiranpemikiran yang konstruktif dalam menyelesaikan tesis ini. Dr. 3. Pimpinan BIOTROP Training and Information Centre (BTIC). 5. 8. 7. Dr. 6. MS selaku Ketua Program Magister Manajemen Sumberdaya Pantai sekaligus Pembimbing Utama yang telah mendorong. Ir. 4. Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Tanah Laut beserta jajarannya yang telah bekerjasama dalam memberikan data dan informasi selama kegiatan penelitian. Ir. . Bambang Argo Wibowo. MSi dan Ir.

Atas kerelaan semua piha dalam memberikan saran-saran perbaikan penulis sampaikan banyak terima kasih. baik dari sisi isi maupun teknis penulisan. Rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarja Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang yang telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Agustus 2007 Penulis. . 10. Semarang. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Harapan Penulis hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi upaya pembangunan yang berkelanjutan di lingkungan pesisir . oleh karena itu dengan rendah hati penulis bersedia menerima masukan pemikiran dalam rangka penyempurnaan. Rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam REGISTER Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang yang telah memberikan bantuan dan diskusi dalam analisis data spasial.8 9. Amin.

.................................... 8 BAB II....................4..................................... METODOLOGI PENELITIAN ..............1..................................9 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL......... Karakteristik Citra Landsat 7 ETM+ untuk Delineasi .4...................... ............................... 6 1....2......................................................................................6...................................................................................... Aplikasi GPS (Global Positioning System)......... 21 2. 38 3............... iv ABSTRACT.........................2............................................................ 1 1.................................................. Waktu dan Tempat Penelitian...... Masalah Penelitian....................................................................... .................3..................5............................. 1 1...........1................................. Zonasi / Mintakat Kawasan Pesisir ... Penataan dan Perencanaan Ruang ........................................................ 47 ..................................... 10 2. TINJAUAN PUSTAKA.. xiv BAB I......................... 33 3........................................................... Pendekatan Masalah ........................................ Analisis Data................ vi DAFTAR ISI..........4...................................... 31 3........... 8 1....................................3.........4..... Analisis Data Citra Satelit untuk Identifikasi Lahan........... 17 2...................... 35 3.................................................................................. Analisis Kesesuaian Biofisik (Biophysical Suitability) Pemanfaatan Ruang dan Skoring .................................................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN .........................2......2............... 38 3.......................................... Pengumpulan Data ............4................................................... Sistem Informasi Geografis .... Analisis Spasial (Spasial Analysis) .........1.........................................2 Analisis Identifikasi Lahan ...........................................................................................................................3.5............... Bahan Penelitian .......................4................................... Deskripsi Kegiatan Pembangunan Perikanan Muara Kintap.. 41 3...2........................................................ 13 2............................ iii RINGKASAN ................ 40 3........ Prosedur Penentuan Lokasi dan Pengambilan Sampel (Training Area)............................................... 31 3.3......................1....................... v KATA PENGANTAR ...........................................4............................ 5 1...................3.............. Pengambilan Sampel Lapangan dalam Training Area........ ii PENGESAHAN TIM PENGUJI ..4............................ Aplikasi Sistem Informasi Geografis Berbasis Tata Ruang di Pesisir ..... xi DAFTAR GAMBAR .................... 8 1..................................................................................... i PENGESAHAN PEMBIMBING .......................6........................................ 16 2............................4........................................................ 10 2................................................................................3......3. 24 BAB III.............. Latar Belakang ..... 34 3.........4................................... 38 3............ PENDAHULUAN ..................................... 31 3................. Kegunaan Penelitian ........... Alat Penelitian ...1........... 22 2...........1................. ix DAFTAR TABEL........................................ 19 2.............. Metode Penelitian ............3....................................................... Tujuan Penelitian . Pendekatan Pengelolaan Tata Ruang Kawasan Pesisir Terpadu ...............................

...................................... 66 4...............................2................ 129 BAB V.......................................... Saran................ 151 .................................................1............................................................. 66 4................... 121 4..................................... Kompatibilitas Pemanfaatan Ruang Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap... Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap Berdasarkan Parameter Biofisik Pelabuhan Khusus........................ Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap berdasarkan Parameter Biofisik Pemanfaatan .......................10 BAB IV..... HASIL DAN PEMBAHASAN ....... Alternatif Pengelolaan terhadap masing-masing Zona berdasarkan Kondisi Aktual .5..................... Analisis Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap berdasarkan Parameter Biofisik Lindung...7....................................5.......3................ Kesesuaian Pemanfaatan Ruang dan Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut ........................................ Alternatif Pengelolaan Zonasi Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap berdasarkan Kondisi Eksisting.........1...................................................... Deliniasi Wilayah Studi...1..........................3..................... Pemanfaatan dan Pelabuhan Khusus dengan Algoritma Spasial........................ 132 LAMPIRAN..........................2............ Pemanfaatan dan Pelsus ......................... Lokasi Titik Sampling .......................................... Kesesuaian Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap berdasarkan Overlay Pemanfaatan Ruang Eksisting.....4.5......................... 63 4....6.................. 50 4................. 114 4......... 50 4....... 138 DAFTAR RIWAYAT HIDUP... Identifikasi Pemanfaatan Ruang di Kawasan Perikanan Muara Kintap .................................................. Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap berdasarkan Parameter Biofisik Lindung .............................................. Analisis Kesesuaian Tata Guna Lahan Terkini terhadap Rencan Umum Tata Ruang Propinsi/Kabupaten............................................................ 63 4................. 124 4.................................3.1.......1.........2.................... Kesimpulan ................... KESIMPULAN DAN SARAN ............................... 130 5........................ 53 4. 55 4...... 75 4..................... 131 DAFTAR PUSTAKA .....................................................5.......................4............ Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap berdasarkan Overlay Parameter Biofisik Lindung.............................. 130 5..................1.............. RUTR dan Citra Landsat ETM 7+................. 61 4...............................7.......

.................. 6.......... 127 19.......... 2....... 122 18............ 3.......... Hasil Pengamatan dan Pengukuran Parameter Biofisik untuk Pelabuhan Khusus......................................... Pemanfaatan............................. 67 13........... Kegunaan serta Lokasi Analisis selama Penelitian. Lokasi Sampling berdasarkan GPS (Global Positioning System) . 5............ 119 17............... Pertanian... Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap berdasarkan Overlay Parameter Lindung............ 23 Produksi ikan berdasarkan jenis di Muara Kintap perbulan tahun 2006……..... 26 Alat..... KEP.............................. Evaluasi Hasil Penilaian Kesesuaian Pemanfaatan Ruang . Khusus dengan algoritma spasial..... 86 16....... 68 14.......... Interpretasi dan Identifikasi Daerah Studi berdasarkan Warna............................Jenis Mamalia yang terdapat di Wilayah Studi ........ Hasil Pengamatan dan Pengukuran Parameter Biofisik untuk Lindung.............................. 49 9........................ No................... Jenis ......................11 DAFTAR TABEL Nomor 1.......25 Jumlah alat tangkap operasional berdasarkan jenisnya tahun 2006......................34/MEN/2002……………. 32 Kesesuaian Biofisik untuk Penilaian Pemanfaatan Ruang berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan RI.. Hasil Pengamatan dan Pengukuran Zona Pemanfaatan (Pertambakan.... 50 10....... Jenis-Jenis Mangrove yang ditemukan ....42 8........... 7..... 129 ........................................ Luas Zonasi Alternatif di Kawasan Studi ..................... 9 Nama Gelombang dan Kisaran Panjang Gelombang Masing-Masing Saluran …23 Kegunaan dan Kisaran Panjang Gelombang Tiap band landsat ETM 7+…...... 60 12......................... 4...... Industri Perikanan dan Pemukiman)beserta Kesesuaiannya....... Metode.......... Halaman Jadual Kegiatan Penelitian .................... Pengelolaan Parameter Aktual menjadi Kondisi Potensial.... 58 11..........................................73 15................ Tekstur rata-rata nilai spektral/reflektansi di Pesisir Muara Kintap hasil cek lapangan dengan Citra RGB 432 ..................... Ikhtisar Pemanfaatan Ruang Muara Kintap berdasarkan Analisis Spasial dan Monografi Kecamatan 2006....

......... 90 19........ 74 16............................... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai H2S ................................. Peta Kawasan Lindung dan Rawan Bencana Pesisir Kintap Kabupaten Tanah Laut ........ 91 21....... Distribusi Ruang Muara Kintap berdasarkan Analisis Spasial hasil Penelitian ................ 71 15.... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Nitrat ............. 52 Tampilan Kenampakan Objek Studi di Pesisir Muara Kintap pada Citra Landsat ETM 7+ Gabungan band 4........................................................................ Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Suhu.. 99 28....... .. Peta Kesesuaian Kawasan Lindung di Wilayah Studi berdasarkan Aspek Biofisik......... 5......... 60 10............................56 7................................... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai pH ..... 91 20. Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi berdasarkan pH Tanah........................... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Oksigen Terlarut... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Curah Hujan .......................................... Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi berdasarkan Satuan Bentuk Lahan ................................................................ Halaman Alur Pendekatan Masalah Penelitian ...... 57 8... 60 9........... 7 Ilustrasi Kurva Karakteristik dari reflektansi tanaman dan air…………….3...............................62 11............................................. 99 ....... 92 22........ Tata Guna Lahan Terkini dan Citra Landsat ETM_7+.... 65 14................................................ Peta Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Muara Kintap dan sekitarnya berdasarkan Overlay RTRW................. Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi berdasarkan Zonasi Penyangga ......... 93 24.... 65 13.............................................. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Laut 2002-2012 (Perda No.......................................................... 98 27....... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Kecerahan..................... Distribusi Ruang Muara Kintap berdasarkan Monografi Kecamatan. 35 Cropping Data Citra Landsat ETM_7+ lokasi penelitian ........ 24 Peta Kawasan Studi Muara Kintap ........ Peta Tata Guna Lahan Terkini di Wilayah Studi berdasarkan update dan survei lapangan April 2007 ............................................................. 93 25......................... 92 23................................ Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi berdasarkan Daerah Banjir dan Genangan ....... Matrik Hubungan Kompatibilitas Antar Kegiatan.................... Bangunan Penahan Gelombang di Muara Kintap................................................................................................................................................................................12 DAFTAR GAMBAR Nomor 1................... 6..…………………..13/2004 dan No......... 4. 90 18..... 3................................ 51 Deliniasi Wilayah Studi Di Pesisir Muara Kintap ….................... 2................. 64 12.................................. 98 26..................9/2000) ................................... Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Salinitas ....................... Alokasi Pemanfaatan Ruang Muara Kintap........... 74 17.2 dan Kondisi Lapangan ....................

....... 104 31................................................... 113 38.. Tanaman Lahan Basah .. 113 37........ 106 34.................. Peta Kesesuaian Kawasan Industri Perikanan di Wilayah Studi berdasarkan Nilai Arus ............................................................. Fe...................... Peta Kesesuaian Kawasan Pelabuhan Khusus di Wilayah Studi berdasarkan Tinggi Gelombang.............................. 104 30.................. 128 ......................... 123 42....................... Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi berdasarkan Kepadatan Penduduk ........................... 120 41....... 112 36.......................... Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi berdasarkan Sempadan Pantai...................... Peta Kesesuaian Kawasan Industri Perikanan di Wilayah Studi berdasarkan Nilai DO dan BOD5 ..... Peta Kesesuaian Kawasan Industri Perikanan di Wilayah Studi berdasarkan Ruang Terbuka Hijau ................................. Peta Kesesuaian Kawasan Pelabuhan Khusus di Wilayah Studi berdasarkan Pencemaran (minyak lemak................................................................................. dan Keterkaitan Antar Kawasan .... Pelestarian....................................................... Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi berdasarkan Bencana Banjir ............................ Cr6+ dan Pb)........... 105 32........................................................................................................... Peta Alternatif Zonasi di Wilayah Pesisir Muara Kintap berdasarkan Algoritma Spasial Sistem Pemanfaatan Ruang.............................................Dinamika Pantai dan Pasang Surut............ Cd.. Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi berdasarkan Jarak Jalan (Aksesibilitas)...... Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi berdasarkan Jarak dari Pantai ........ 105 33................................................................ Peta Kesesuaian Kawasan Industri Perikanan di Wilayah Studi berdasarkan Tinggi Gelombang ....... 114 39................................13 Nomor Halaman 29.......................................................................................................... 112 35. 120 40................. Peta Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap berdasarkan Algoritma spasial ................ Peta Kesesuaian Kawasan Industri Perikanan di Wilayah Studi berdasarkan Daerah Banjir dan Genangan ....................................

pertambakan. 2005).006.1. Pemanfaatan ruang sebagai lokasi budidaya tersebut telah menimbulkan dampak pada terbatasnya ruang sebagai daerah lindung lokal yang berfungsi sebagai buffer zone dan buffer ekosistem antar kawasan.14 BAB I PENDAHULUAN 1. 2005) dari luas wilayah Muara Kintap sekitar 49 km2.93 hektar pada tahun 2005 dengan pertumbuhan 32.9/2000 dalam Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Selatan. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).23% per tahun yang bersifat sporadis (Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel. kondisi ini didukung dengan dibangunnya sarana dan prasarana yang menunjang sektor perikanan pesisir seperti pembangunan 17. data menyebutkan bahwa kondisi mangrove yang tersisa sebagai zona konservasi sempadan pantai dan sungai mengalami degradasi dari 500 hektar pada kondisi awal menjadi hanya seperlima atau sekitar 100 hektar yang masih baik (Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalsel. 2000). Latar Belakang Kawasan andalan perikanan Muara Kintap merupakan Kawasan Sentra Produksi (KSP) Tanah Laut dan Kotabaru yang dikembangkan sebagai kawasan prioritas bagi sektor perikanan laut dan tambak (Pasal 11 Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan No. 1 .3 km saluran irigasi untuk pengairan. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta fasilitas perikanan lainnya. Sebagai dampak dari kebijakan tersebut maka pembukaan tambak-tambak udang telah berkembang dan mengalami perluasan kawasan dari 912 hektar pada awal 1999 menjadi kurang lebih 1.

15 Pemanfaatan ruang yang lain di kawasan Muara Kintap berupa operasionalisasi kegiatan pelabuhan khusus sekaligus stokpile batubara oleh PT.34/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Departemen Kelautan dan Perikanan. Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. Pribumi Citra Megah Utama yang mengancam inlet air untuk pertambakan serta di bagian perbatasan desa Muara Kintap dan Pandan Sari terdapat PT. pada zona ini terdapat area-area yang merupakan zona . (2) zona pemanfaatan (kawasan budidaya) merupakan zona pemanfaatan yang dapat dilakukan secara intensif namun pertimbangan daya dukung lingkungan tetap merupakan syarat utama. Surya Kencana Jorong Mandiri di perairan sungai Kintap yang merupakan lokasi pemanfaatan kegiatan budidaya tambak dan di pesisir barat terdapat PT. Pemanfaatan ruang di kawasan pesisir Muara Kintap yang antagonis (dapat mematikan) salah satu kegiatan lainnya dan dapat mengurangi nilai pemanfaatan ekosistem baik secara ekonomis maupun ekologis apabila tidak dikelola secara benar. Terlebih lagi dengan perkembangan pemukiman yang memanfaatkan lindung lokal dan pertambakan sebagai areal baru sehingga pemanfaatan ruang di kawasan andalan perikanan semakin tumpang tindih dan tidak beraturan.KEP. 2002) maka suatu kawasan pesisir diharuskan memiliki: (1) zona konservasi merupakan zona perlindungan yang didalamnya terdapat zona preservasi dan penyangga dapat dimanfaatkan secara terbatas yang didasarkan atas pangaturan yang ketat bagi pemanfaatan ruang dan memuat zona rawan bencana pesisir. Dewata Utama.

Masih menurut peraturan tersebut kawasan yang sifatnya sebangun atau sinergis sifat pemanfaatannya di alokasikan pada ruang yang sama pula. sedangkan bagi pemanfaatan yang dapat mematikan (incompatible) antar pemanfaatan idealnya dipisahkan tersendiri sebagai zona hitam (berpotensi mematikan zona lain) atau apabila sudah eksis maka buffer zone wajib dikenakan sebagai syarat untuk operasional kawasan tersebut.700 hektar alokasi penggunaan lahan di kintap di dominasi sawah dengan jumlah 75. Faktor kendala dalam mewujudkan kawasan pesisir sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.9/2000 dan Peraturan Daerah Rencana Umum Tata Ruang Tanah Laut No. Penggunaan lahan di Kecamatan Kintap tahun 2005 (Bappeda Kabupaten Tanah Laut. 2006) menyebutkan bahwa 53. Faktor ketidak disiplinan pengguna pada tata ruang yang berakibat pada penyimpangan tata ruang di pesisir Muara Kintap dan faktor perencanaan yang berorientasi ekonomi (oriented economic) telah merubah rona Muara Kintap sebagai kawasan sentra produksi perikanan menjadi pelabuhan khusus pertambangan.13/2002 tidak ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah pesisir dan rencana aksi untuk mengamankan lingkungan ekosistem pesisir dan terkesan membiarkan pertumbuhan sektor pertambangan di kawasan yang dialokasikan sebagai kawasan perikanan pesisir.16 perlindungan setempat seperti sempadan sungai dan pantai dan (3) zona tertentu merupakan kawasan khusus untuk kawasan cepat berkembang.201 hektar (20.34/Men/2002 tersebut disebabkan regulasi atau kebijakan pada Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah No.Kep.60% dari luas .

Penelitian mengenai analisis pemanfataan ruang di kawasan andalan perikanan Muara Kintap dilakukan sebagai bahan evaluasi objektif mengenai tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang agar terjadi keseimbangan antara daya dukung ekosistem dan kemampuan ruang yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (sustainable).222 hektar yang sangat jauh berbeda dengan kondisi di lapangan. Analisis konfigurasi ruang belum dilakukan meliputi sejauhmana ruang-ruang tersebut berpotensi mematikan ruang lain dan berpotensi untuk tetap berkembang sebagaimana peruntukannya.17 wilayah). Tingkat kesesuaian dan alternatif pengelolaan dalam pemanfaatan ruang merupakan produk akhir dari penelitian ini karena melalui penilaian tersebut dapat menggambarkan kondisi kawasan andalan perikanan Muara Kintap secara objektif apakah masih tetap dapat dipertahankan atau dihilangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah revisi nantinya. Ketidak sesuaian data pemanfaatan ruang di Muara Kintap menyebabkan terjadi tumpang tindih pemanfaatan ruang.738 hektar dan 3. Data tersebut menyatakan bahwa lindung lokal dan tambak tetap dari tahun 2003 sampai 2005 berturut-turut sebesar 3. ketidak sinergisan yang dapat mematikan kawasan lain. serta ruangruang yang dapat dioptimalkan kembali sebagai zona lindung lokal. sedangkan pemukiman dan pemanfaatan untuk pelabuhan khusus batubara tidak dicantumkan. . Ketidaksesuaian pemanfaatan ruang disebabkan sampai ini belum dilakukan identifikasi pemanfaatan ruang-ruang eksisting di wilayah andalan perikanan Muara Kintap yang berpotensi memunculkan konflik antar ruang yang berbeda penggunaan.

namun kegiatan sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan upland di Muara Kintap juga mengakibatkan erosi dan sedimentasi yang dapat menurunkan nilai ekologis dan ekonomis di kawasan pesisir. Oleh karena itu upaya konservasi sangat diperlukan baik di sekitar DAS.18 1. pertanian. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dengan berbagai fasilitasnya. . upland maupun sekitar pesisir Muara Kintap. Hal ini berimplikasi pada keberlanjutan ekosistem dan sumberdaya yang idealnya berjalan secara sinergis. perkebunan dan pelabuhan khusus batubara juga perlu mendapat perhatian. 2002). maka permasalahan yang terdapat di wilayah penelitian dapat dirumuskan : 1. Berdasarkan uraian di atas. Masalah Penelitian Kawasan pesisir Kintap merupakan salah satu wilayah yang dikembangkan sebagai kawasan produksi perikanan pesisir (Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Adanya kesenjangan perencanaan dalam alokasi penetapan skala prioritas dalam pembangunan di pesisir Muara Kintap baik antar wilayah maupun sewilayah. Kawasan non perikanan seperti permukiman. Permasalahan pemanfaatan dan penataan ruang di pesisir. kawasan pendukung berupa industri processing (home industri) dan pasar tradisional setempat. tidak saja melibatkan kawasan perikanan dan non perikanan. hatchery.2. Menurut Hartoko (2004)a kawasan pesisir berbasis kegiatan perikanan seperti Muara Kintap yang terdiri dari kawasan pusat kegiatan utama perikanan berupa aktifitas pertambakan.

Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut dan Tata Guna Lahan Terkini dalam bentuk peta tematik serta data dari Dinas/Instansi yang relevan sebagai data sekunder dalam bentuk skoring. 3. Adapun kerangka pendekatan masalah dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk pendekatan masalah diilustrasikan sebagai berikut. 3. Adanya perubahan pola pemanfaatan ruang akibat pembangunan kawasan perikanan di pesisir Muara Kintap. Analisis data primer dan sekunder dengan atribut keruangan di-overlay untuk menentukan alternatif zona prioritas berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam rangka evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah yang ada. Penentuan konfigurasi pemanfaatan ruang di wilayah penelitian dengan survei di lapangan dan analisis data spasial. 2. kimia dan biologi.19 2. Pendekatan Masalah Pendekatan masalah dilakukan dengan cara : 1. 4. Analisis kelayakan biofisik (biophysical suitability) dengan metode skoring. Adanya ketidakdisiplinan pemanfaatan ruang yang berakibat pada penyimpangan tata ruang di pesisir Muara Kintap. 5. Analisis Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi. . Penyusunan data primer dan sekunder yang mendukung berupa data fisik.3. 1.

Peta Rupa Bumi Indonesia dan citra Landsat 7 ETM+ Peta-peta tematik Analisis Biofisik.13 tahun 2002 Training area wilayah studi dengan Landsat 7 ETM+ dengan model unsupervised classification Master Plan Kawasan Perikanan Terpadu Muara Kintap Identifikasi Pola Pemanfaatan Keruangan di Kawasan Pembangunan Perikanan Kintap dan pengecekan lapangan Atribut Keruangan Overlay antara : Peta Tata Guna Lahan Terkini.20 Kawasan Pesisir Kintap Kab. Alur Pendekatan masalah penelitian . Skoring dan Spasial Overlay antar Peta-peta tematik.9 tahun 2000 Kondisi Eksisting Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Pesisir Kabupaten Tanah Laut Peraturan daerah No.Peta Rupa Bumi Indonesia dan Citra Landsat 7 ETM+ dengan persamaan algoritma spasial Kesesuaian Pemanfaatan ruang di Wilayah studi Zona Prioritas (Kawasan Strategis) Gambar 1. Peta Tata Guna Lahan Terkini. Tanah Laut Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan Peraturan daerah No.

6. berdasarkan prioritas dan sistem dalam penggunaan ruang yang mengacu pada kelestarian sumberdaya pesisir. Berikut jadual lengkap penelitian. .21 1.4. 1. Kabupaten dan pengambilan kebijakan dalam pembangunan kawasan perikanan pesisir Muara Kintap. 2. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Daerah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. Rencana Umum Tata Ruang Pesisir Tanah Laut serta kesesuaiannya berdasarkan perbedaan nilai skor dan Sistem Informasi Geografis. 3. 1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan bulan Maret sampai April 2007 dengan lokasi penelitian desa Muara Kintap Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut. Mengidentifikasi struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan perikanan pesisir Muara Kintap eksisting (yang telah ada).5. Menyusun alternatif pengelolaan zona pemanfaatan ruang pada kawasan perikanan pesisir Muara Kintap yang sesuai. kesesuaian lahan dan keterkaitan antar kawasan. Menganalisis konfigurasi pemanfaatan ruang eksisting di kawasan perikanan pesisir Muara Kintap terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan : 1.

Penggandaan dan penjilidan Distribusi laporan Tesis .uji pendahuluan) Penyiapan rancangan penelitian. Jadual Kegiatan Penelitian KEGIATAN PERSIAPAN 1 Pebruari 2 3 4 1 Maret 2 3 4 1 April 2 3 4 Waktu (Bulan/Minggu) Mei 1 2 3 4 1 Juni 2 3 4 1 Juli 2 3 Studi Pendahuluan (pustaka. penyusunan dan konsultasi proposal penelitian Kolokium Perbaikan OPERASIONALISASI Pengadaan alat. pengukuran dan pengamatan lapangan Analisis data Penyusunan laporan dan konsultasi Seminar Perbaikan Ujian Perbaikan.22 Tabel 1. bahan perizinan Sampling.

kawasan wisata dan kawasan fasilitas umum yang dapat diartikan sebagai penatagunaan sumber alam (Haerumen. Untuk suatu daerah (provinsi dan kabupaten/kota). dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah. pertambakan.23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. baik direncanakan maupun tidak. umumnya merupakan luasan dari wilayah pesisir. Penataan dan Perencanaan Ruang Menurut Undang-Undang No. 10 . tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. perkebunan. Dengan demikian secara transparan dalam peta skala tertentu. Dengan demikian. Ruang laut sebagai wujud fisik dalam dimensi geografis. penataannya dapat dipandang sebagai suatu rangkaian proses perencanaan pengaturan tata ruang secara efektif dan efisien yang ditetapkan dan dikendalikan dengan fungsi utama untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Sedangkan tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. sawah. kewenangannya yang mencakup hingga 12 mil dari garis pantai. sesuai menurut kepentingannya dapat dilihat zonasi lahan menurut peruntukkannya. pemukiman. ruang lautan.26 Tahun 2007 pasal 1 tentang penataan ruang disebutkan bahwa ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan.1. 1996). pengaturan ruang laut daerah dapat dicakup dalam suatu kesatuan penataan ruang pesisir. Penataan ruang dimaksudkan untuk membenahi penggunaan lahan yang sedang berjalan dengan tujuan meningkatkan efisiensi sehingga keluaran yang diharapkan adalah yang terbaik dalam dimensi kurun waktu dan ruang tertentu. antara lain kehutanan. kawasan industri.

Rencana Tata Ruang Kelautan Nasional. Rencana Tata Ruang Pesisir & Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten.000. dengan skala peta rencana 1 : 250. perencanaan ruang adalah suatu proses penyusunan rencana tata ruang untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. serta mengikat semua pihak (Darwanto. 2.24 Secara umum. Formulasi konsep tata ruang berdasarkan unit areal konkrit. dan kualitas pemanfaatan ruang. merupakan kebijaksanaan perlindungan dan pemanfaatan ruang pesisir. Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Propinsi. serta sebagai koordinasi perencanaan antar kabupaten.000. laut dan pulau-pulau kecil wilayah propinsi sampai 12 mil. Menurut Departemen Kelautan Perikanan RI (2002) Rencana Tata Ruang Berdasarkan Hirarki Administratif terbagi atas : 1. fungsionalitas di antara fenomena dan subyektifitas dalam penentuan kriteria (Budiharsono. 2002). 3. pulaupulau kecil dan laut dalam wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dengan skala peta rencana 1 : 1.000. merupakan arahan penataan dan pemanfaatan ruang. khususnya pengembangan kawasan lindung/konservasi dan pemanfaatan ruang pesisir. 2000). merupakan rencana penataan dan pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi . Perencanaan tata ruang tersebut dilakukan melalui proses proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. manusia.

Rencana Tata Ruang Rinci/Detail Kawasan. dan terbagi atas: a. Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kota. merupakan rencana penataan dan pemanfaatan ruang sebagai dasar penetapan lokasi pemintakatan (zonasi) pesisir-laut-pulau-pulau kecil dalam wilayah kabupaten/kota rencana tata ruang ini merupakan kesatuan sinergis dengan rencana tata ruang daratan. rencana tata ruang ini merupakan satu kesatuan dengan rencana tata ruang daratan dengan skala peta rencana 1 : 100. . dengan skala peta rencana 1 : 50. serta kelayakan investasi dengan skala peta rencana 1: 1. dimensi massa bangunan/kegiatan. Pada kabupaten/kota yang relatif kecil dan mempunyai potensi kelautan cukup besar atau mempunyai permasalahan kompleks maka digunakan skala 1 : 50. sarana & prasana. atau lebih dari satu zona yang serasi dan sinergis. rencana detil kawasan yg akan dikelola berdasarkan kebutuhan pengelolaan dengan skala peta rencana 1 : 5. berisi rincian rencana tata letak.000. b. 6. dimana wilayah perencanaan dapat merupakan satu zona yang dominan. Rencana Tata Ruang antar Provinsi dalam Satu Pulau Besar (Regional Marine Planning).000. 4.25 penetapan lokasi pemintakatan (zonasi) pesisir dan laut dalam wilayah kabupaten atau kota. 5.000 sampai 1 : 10.000. rencana teknis/detil desain.000. merupakan bagian dari rencana tata ruang kabupaten/kota.000.

kepentingan masyarakat adat dan hak-hak ulayat. Rencana Tata Ruang Lintas Wilayah Berdasarkan ekobiologis dan keterpaduan harus melintas batas antar Kabupaten/Kota antar Propinsi. pendekatan bioekoregion spesifik lokal seperti (Hartoko. 2. serta kepentingan yang bersifat khusus. Pendekatan ketiga dilakukan melalui pengumpulan atribut informasi yang dapat digali dari persepsi masyarakat yang hidup di sekitar ekosistem tersebut.2. Oleh sebab itu kombinasi penggunaan data biogeofisik yang menggambarkan kondisi bioekoregion merupakan persyaratan yang dibutuhkan (necessary condition) dalam menetapkan zona-zona yang akan dipilih. dengan skala peta disesuaikan kebutuhan dalam perencanaan. Identifikasi kegiatan utama perikanan seperti perikanan demersal. 2004)b. Identifikasi wilayah spesifik yang dimiliki wilayah studi seperti muara yang di fungsikan sebagai kawasan utama dan pendukung untuk kegiatan apa saja. dengan skala peta rencana 1 : 500. Pendekatan Pengelolaan Tata Ruang Kawasan Pesisir Terpadu Penyusunan zonasi secara terpadu dilakukan melalui tiga pendekatan (Dahuri dkk. Kedua. Identifikasi sifat ekologis dan biota spesifik 3. 1.26 merupakan suatu koordinasi perencanaan antar provinsi pada setiap pulau besar ditinjau dari permasalahan setiap pulau mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.000. 2001). 2. terutama kontek historis . Pertama penyusunan rencana zonasi mempertimbangkan kebijakan pembangunan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. Batas wilayah perencanaan juga didasari karakter ekobiologis. 7.

Prinsip dasar dalam penyusunan tata ruang pesisir terpadu adalah bagaimana mendapatkan manfaat dari sumberdaya yang tersedia seoptimal mungkin dengan tidak mengabaikan kelestarian lingkungan (ekologi). 2001). laju pemanfaatan sumberdaya pesisir harus dilakukan kurang atau sama dengan laju regenerasi sumberdaya hayati atau laju inovasi untuk menemukan substitusi non-hayati. kelembagaan. disamping memperhatikan aspek ekonomi. pemanfaatan lahan untuk kawasan lindung dan konservasi harus mendapat perhatian khusus. dan pertahanan keamanan (Dahuri et.al.al. 2001).27 mengenai kejadian yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir dari masa lampau sampai saat ini. dengan tidak mengorbankan kelestarian sumberdaya pesisir di dalam memenuhi kebutuhan baik untuk generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang. Untuk itu. setelah kawasan ini terpenuhi baru ditentukan kawasan budidaya (Dahuri et. Untuk menjaga keseimbangan ekologi. sosial. Berdasarkan hal tersebut. Dalam hal ketidakmampuan manusia mengantisipasi dampak lingkungan di pesisir akibat berbagai aktivitas. Kelestarian Sumberdaya Pesisir Tujuan utama dari pengelolaan pesisir terpadu adalah untuk dapat dimanfaatkannya sumberdaya pesisir dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pelaksanaan pembangunan nasional. . maka setiap pemanfaatan harus dilakukan dengan hati-hati. maka penyusunan tata ruang mengacu kepada : 1.

Kesesuaian Lahan Aktivitas yang akan ditempatkan pada suatu ruang di kawasan pesisir harus memperhatikan kesesuaian antara kebutuhan (demand) dengan kemampuan lingkungan menyediakan sumberdaya (carrying capacity). Pendugaan kelayakan biofisik ini dilakukan dengan cara mendefinisikan persyaratan biofisik (biophysical requirements) setiap kegiatan pembangunan. Dengan mengacu kepada keseimbangan antara demand dan supply. Dengan cara ini dapatlah ditentukan kesesuaian penggunaan setiap unit (lokasi) kawasan pesisir (Sulasdi. 2006). kemudian dipetakan. Untuk itu penyusunan pemanfaatan kawasan pesisir dibuat sedemikian rupa sehingga kegiatan-kegiatan antar kawasan dapat saling menunjang dan memiliki keterkaitan dengan kawasan yang berbatasan. Keterkaitan Kawasan Interaksi antar beberapa aktivitas pada kawasan pesisir dengan kawasan daratan akan tercipta dan memungkinkan terjadinya perkembangan yang optimal antar unit-unit kawasan maupun dengan kawasan sekitarnya. Kesesuaian lahan tidak saja mengacu kepada kriteria biofisik semata.28 2. 3. 2001). maka akan dicapai suatu optimasi pemanfaatan ruang antara kepentingan masa kini. masa datang serta menghindari terjadinya konflik pemanfaatan ruang. maka kelayakan biofisik (biophysical suitability) di wilayah pesisir harus diidentifikasi lebih dahulu. . Agar dapat menempatkan berbagai kegiatan pembangunan di lokasi sesuai secara ekologis. tetapi juga meliputi kesesuaian secara sosial ekonomi (Rayes.

Pada kawasan pesisir pola perencanaan sangat dipengaruhi oleh pembagian zona-zona perlindungan yang sangat ketat hal ini disebabkan karakter wilayah pesisir yang sangat dinamik tapi rentan terhadap perubahan yang terjadi. secara garis besar wilayah pesisir dipilah menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Kep. Konsep Perencanaan Tata Ruang pesisir tidak dapat mengikuti sepenuhnya konsep daratan karena karakteristik ekobiologis dan prinsip dasar yang berbeda. 2002) : 1.3. Untuk keberlanjutan (sustainable). 3. kawasan cepat berkembang. kriteria tersebut merupakan dasar untuk mengidentifikasi zona (Departemen Kelautan dan Perikanan. .34/Men/2002 Tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (Departemen Kelautan dan Perikanan. Zona pemanfaatan (kawasan budidaya) merupakan zona pemanfaatan yang dapat dilakukan secara intensif namun pertimbangan daya dukung lingkungan tetap merupakan syarat utama. Zonasi / Mintakat Kawasan Pesisir Suatu zona adalah suatu kawasan yang memiliki kesamaan karakteristik fisik.29 2. dan ekonomi yang ditentukan berdasarkan kriteria tertentu untuk mengelompokkan kegiatan yang bersifat sinergis dan memilahnya dari kegiatan yang bertentangan. pada zona ini terdapat area-area yang merupakan zona perlindungan setempat seperti sempadan sungai dan pantai. Zona tertentu merupakan kawasan khusus untuk kegiatan pertahanan dan militer. 2003). biologi. Zona konservasi merupakan zona perlindungan yang didalamnya terdapat zona preservasi dan penyangga dapat dimanfaatkan secara terbatas yang didasarkan atas pangaturan yang ketat bagi pemanfaatan ruang. 2. ekologi.

kesempatan perluasan dengan ketersediaan ruang dan dalam sistem kelembagaan yang ada (Pirzan.30 Proses penyusunan tata ruang pesisir dan konfigurasi zonasi dapat dilakukan dengan teknik overlay (tumpang susun) peta-peta tematik yang memuat karakteristik biofisik wilayah pesisir dari setiap kegiatan pembangunan yang direncanakan dan peta penggunaan ruang pesisir saat ini (Tahir. perencanaan pemusatan kegiatan tertentu juga pengelompokkan wilayah tertentu untuk tujuan yang ditetapkan (Branch. Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengelola (input. 2000). manajemen. 2. 1998). Data grafis adalah data yang menggambarkan bentuk atau .4. permintaan akan alternatif produk dan penggunaan. Perencanaan penggunaan ruang merupakan kegiatan seleksi sebaran ruang untuk tujuan spesifik dengan memadukan informasi kesesuaian lahan. setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut sebagai data spasial bereferensi geografis seperti data jaringan jalan suatu kota. 2000). data distribusi lokasi pengambilan sampel (ESRI. proses dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis. Perencanaan tata ruang dimulai dari kegiatan evaluasi ruang yang mengidentifikasikan karakteristik dan menilainya untuk keperluan tipe wilayah tertentu secara spasial. 2002). Data SIG dapat dibagi menjadi dua macam yaitu data grafis dan data atribut/tabular.

al. 2002) ada 5 yaitu : . Menurut Dulbahri (2001) data SIG dan pengolahannya berdasarkan sumber masukan data dapat dibedakan atas : a. expert system dan decision support system serta penerapannya. 2003). b. model dan visualisasi data. pemrosesan dan penyajian data. sehingga fakta wilayah dapat disajikan dalam satu sistem berbasis komputer yang melibatkan ahli geografi. penyimpanan dan pengorganisasian data. Perbedaannya dengan Sistem Informasi lainnya: data dikaitkan dengan letak geografis. Masalah dalam pengembangan meliputi: cakupan. pendidikan. Karakteristik SIG merupakan suatu sistem hasil pengembangan perangkat keras dan perangkat lunak untuk tujuan pemetaan. Peta (bentuk non-dijital dan berbasis vektor) . cakupan luas. waktu pengumpulan relatif singkat.31 kenampakan objek di permukaan bumi sedangkan data atribut adalah data deskriptif yang menyatakan nilai dari data grafis tersebut (Nuarsa. 2005). multiresolusi. kualitas dan standar data. bisa multiband. transformasi data dan interaksi dengan pengguna (input query). dan multitemporal). informatika dan komputer. multisensor. c. dan terdiri dari data tekstual maupun grafik (Prahasta. struktur. Data inderaja hasil klasifikasi dan interpretasi (bentuk dijital dan berbasis raster. Data survei atau statistik dengan tahapan pengolahan pemasukan dan pembetulan data. Sedangkan cara memperoleh data/informasi geografis (Prabowo et. serta aplikasi terkait. koordinasi kelembagaan dan etika.

4. Survei lapangan: pengukuran fisik (land marks). politik. Berikut aplikasi SIG untuk kajian tata ruang di wilayah pesisir : . Pengambilan sampling secara sensus: dengan pendekatan kuesioner. contoh: kebakaran hutan. Penginderaan jauh (inderaja): merupakan ilmu dan seni untuk mendapatkan informasi suatu obyek. pengumpulan data secara nasional dan periodik (sensus jumlah penduduk. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Berbasis Tata Ruang di Pesisir Penelitian yang menggunakan SIG sebagai alat dalam mengkaji fenomena pemanfaatan ruang. Saat ini. wilayah atau fenomena yang diamati (Lillesand dan Kiefer. 4. wawancara dan pengamatan. gunung meletus. wilayah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dari sensor pengamat tanpa harus kontak langsung dengan obyek. 2. contoh: data curah hujan. 2.1. debit air sungai. Tracking: merupakan cara pengumpulan data dalam periode tertentu untuk tujuan pemantauan atau pengamatan perubahan. sensus kepemilikan tanah). pengambilan sampel (polusi air). 5. aplikasi SIG untuk studi tata ruang dapat dikombinasikan dengan penginderaan jauh baik yang sumber datanya berasal dari satelit maupun foto udara. kesesuaian lahan/ruang dan tata ruang di wilayah pesisir telah banyak dilakukan seiring dengan berkembangnya teknologi SIG. 1994). ekonomi dan budaya).32 1. pengumpulan data non-fisik (data sosial. 3. Statistik: merupakan metode pengumpulan data periodik/per-interval-waktu pada stasiun pengamatan dan analisis data geografi tersebut.

2000) mengenai evaluasi kesesuaian lahan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir. analisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik pemanfaatan ruang dalam pengelolaan sumberdaya pesisir. Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Manado. Sulawesi Utara (Sjafi’I Emmy et. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Di Kota Pasuruan Jawa Timur (Sugiarti et. mengetahui persepsi pemerintah. GIS dan PCA (Principal Component Analysis). Analisis Kesesuaian Lahan Dan Kebijakan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Balikpapan (Tahir et. 2002) mengenai analisis kesesuaian lahan wilayah pesisir Teluk Balikpapan bagi peruntukan budidaya tambak. Pendekatan Sel Sedimen (Sediment Cell) Acuan Penataan Ruang Wilayah Pesisir Menggunakan Penginderaan Jauh (Khakim et.al.al.al. swasta dan masyarakat berkaitan dengan penentuan prioritas penggunaan lahan. b. 2003) mengenai . 2001) mengenai pemanfaatan ruang wilayah pesisir Teluk Manado. penenuan prioritas penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan penyelesaian konflik pemanfaatan sumberdaya pesisir dengan metode SIG dan AHP (Analytical Hierarchy Process).33 a. industri dan konservasi pantai. d. pemukiman. mengetahui karakteristik sosial ekonomi dan budaya masyarakat pesisir dan analisis keterkaitan lingkungan biofisik dan lingkungan sosial ekonomi masyarakat dengan metode SWOT. c. konsistensi pemanfaatan ruang dan analisis konflik pemanfaatan ruang dalam wilayah pesisir dengan menggunakan metode Proses Hierarki Analitik (PHA) dan SIG.al.

sehingga biasanya alat ini hanya bekerja di ruang terbuka. Data yang berasal dari pengukuran di lapangan dengan GPS dapat di implementasikan dalam format berbasis SIG seperti penelitian yang pernah dilakukan pada : . e. Yang biasa kita sebut sebagai GPS merupakan alat penerima. Satelit GPS bekerja pada referensi waktu yang sangat teliti dan memancarkan data yang menunjukkan lokasi dan waktu pada saat itu. Aplikasi GPS (Global Positioning System) GPS merupakan singkatan dari Global Positioning System (Sistem Pencari Posisi Global). adalah suatu jaringan satelit yang secara terus menerus memancarkan sinyal radio dengan frekuensi yang sangat rendah. Development of Digital Multilayer Ecological Model for Padang Coastal Water (West Sumatra) (Agus Hartoko dan M. karena alat ini dapat memberikan nilai koordinat dimana ia digunakan maka keberadaan teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam penyedia data bagi SIG. 2. dalam hal ini Citra Landsat 7 ETM+ komposit 321 tahun 2002 meliputi daerah Pantai Utara Provinsi Jawa Tengah sebagai dasar penataan ruang di kawasan pesisir. data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor (Kuntjoro et. dengan syarat bahwa pandangan ke langit tidak boleh terhalang. Helmi.34 penentuan batas sel sedimen dari citra penginderaan jauh. 2006) mengenai pemaduan data SIG dan Penginderaan Jauh untuk perikanan di Indonesia.al. 2001).4. Alat penerima GPS secara pasif menerima sinyal ini.2.

kegunaan dan . semakin tinggi kemampuan sensor itu dalam membedakan obyek. Karakteristik Citra Landsat 7 ETM+ untuk Deleniasi Prinsip dasar deleniasi untuk batasan daerah studi menggunakan citra Landsat 7 ETM+ di dasarkan pada karakteristik spasial dan spektral yang dihasilkan dari interaksi pantulan gelombang elektromagnetik dengan objek sehingga menjadi suatu karakteristik/tampilan khusus berdasarkan panjang gelombang yang digunakan. b.5. saluran/band 6 sebesar 60 m dan band 8 sebesar 15 m (band 8 digunakan pada Landsat 7 ETM+). Resolusi spasial adalah daya pilah sensor yang diperlukan untuk bisa membedakan obyek-obyek yang ada dipermukaan bumi dengan istilah untuk resolusi spasial adalah medan pandang sesaat (Intantenous Field of View /IFOV) dengan saluran/band 1 sampai 5 dan 7 sebesar 30 meter x 30 meter. 2001) dihasilkan bahwa entry data dengan MS. Permasalahan dan Penanggulangannya (Widjaya.35 a. 2006) pemakaian MS. Excel aplikasi dengan SIG 2. Sifat. Karakteristik spasial ditandai dengan resolusi spasial yang digunakan sensor untuk mendeteksi obyek. Pembuatan Basis Data Spasial Pencemaran Sungai (Kasus Sungai Citarum) (Marganingrum dan Santoso. Semakin sempit kisaran (range) panjang gelombang yang digunakan maka. Excel yang di entry ke SIG. Karakteristik spektral terkait dengan panjang gelombang yang digunakan untuk mendeteksi obyek-obyek yang ada di permukaan bumi. Tabel 2 memberikan informasi nama gelombang dan kisaran panjang gelombang masing-masing saluran citra Landsat 7 ETM+. Zona Air Laut Pasang Kota Semarang.

55 – 1.52 0.55 – 1.0.63 – 0.52 . Tabel.60 Kegunaan Utama Penetrasi tubuh air. Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada saluran hijaun yang terletak pada 2 saluran penyerapan. Saluran /Band 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Gelombang Biru Hijau Merah Infra merah dekat Infra merah gelombang pendek Infra merah tengah Infra merah gelombang pendek Pankromatik Kisaran Panjang gelombang (µM) 0.4 – 12.78 – 0.75 10. Nama Gelombang dan Kisaran Panjang Gelombang Masing-Masing Saluran No.52 – 0.35 0.63 – 0.5 2. Kegunaan dan Kisaran Panjang Gelombang tiap Band Landsat ETM 7+ Saluran /Band 1 2 Kisaran Panjang Gelombang (µM) 0.90 1. analisis penggunaan lahan.09 – 2. Saluran yang peka terhadap biomassa vegetasi. memudahkan dalam pembedaan tanah dan tanaman serta lahan dan air. 1994 Tabel 3.76 – 0.35 Sumber : Lillesand dan Kiefer. juga teridentifikasi jenis tanaman.53 . Pengamatan ini dimaksudkan untuk membedakan jenis vegetasi dan membedakan tanaman sehat dan tidak sehat.69 0. Pembedaan vegetasi dan lahan.45 – 0.0. 3 0.75 10.36 ilustrasi band pada masing-masing citra Landsat 7 ETM + dijelaskan pada tabel 3 dan gambar 2. Saluran ini terletak pada salah 1 daerah penyerapan klorofil dan memudahkan untuk membedakan antara lahan terbuka terhadap lahan bervegetasi.52 0. kondisi kelembaban tanah.69 4 5 6 7 0. 2. Untuk membedakan formasi batuan dan pemetaan hidro termal (suhu permukaan) Klassifikasi vegetasi.50 2.9 Sumber : Lillesand dan Kiefer.40– 12.61 0. tanah dan vegetasi. 1994 . Saluran penting untuk perbedaan kandungan air pada tanaman. Saluran terpenting untuk membedakan jenis vegetasi.08 – 2.90 1. pembedaan kelembaban tanah dan keperluan yang berhubungan dengan gejala termal.45 – 0.

. sedangkan kawasan pembangunan perikanan terpadu berada di desa Muara Kintap (luas 49 km2). Ilustrasi Kurva Karakteristik dari reflektansi tanaman dan air (Sumber : Danoedoro.8 km2) (Biro Pusat Statistik Tanah Laut. Kabupaten Banjar pada bagian Utara.6. 2006).2 km2). Kabupaten Tanah Bumbu di bagian Timur. Pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan perikanan memberikan penghidupan yang cukup layak bagi mayoritas orang yang tinggal di sekitar pantai. dengan cara mengeksploitasi. 1996) 2. Kebun Raya (19. mayoritas penduduk bergantung dari kegiatan perikanan. Kintap (13 km2) dan Kintap Kecil (7. membudidaya. dan Laut Jawa pada bagian Selatan. Deskripsi Kegiatan Pembangunan Perikanan Muara Kintap Kawasan Kecamatan Kintap memiliki luas wilayah 537 Km2. 2. mengolah dan pemasaran produk-produk perikanan. terletak di daerah pesisir selatan Kabupaten Tanah Laut berbatasan dengan Kecamatan Jorong (Tanah Laut) pada bagian Barat. Desa Muara Kintap merupakan salah satu sentra perikanan di daerah Kabupaten Tanah Laut.37 Gambar.

990 670 16.580 420 5.980 1.200 200 1.055 80 4.500 3.200 650 2.500 220 263 180 1.000 4.074 1.600 1.620 5.020 130 180 20 5.005 Sumber: PPI Muara Kintap dalam Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Selatan 2005/2006 * Produksi dari budidaya tambak No.020 2.000 23.580 1.300 3.000 8 Selungsungan 270 1.300 120 270 4.200 6.900 3.000 20 54.897 25.641 ton dari 26 jenis yang 2 diantaranya merupakan produk budidaya tambak yang tercatat.600 800 23 Ubur-ubur 24 Udang Ribon 4.413 2.200 1. diikuti oleh ikan Tenggiri (Scomberomorus sp.200 2.620 30 550 40.008 1.500 1.800 4.000 15.000 2.193 720 25.200 1.615 2.340 25 999 280 5. Produksi Ikan Berdasarkan Jenisnya di Muara Kintap per Bulan Tahun 2006 (dalam Ton) JUMLAH JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP 1 Tenggiri 700 3.550 37.100 4.500 9.200 400 1.460 2.030 11 Layang 840 500 400 650 425 40 40 600 2.300 17 Udang Lobster 200 170 120 280 230 130 220 210 40 18 Udang Windu* 2.300 37.641 Dilihat dari jenis ikan yang tertangkap secara total.200 2.020 15.000 22 Udang PC 1.800 2 Tongkol 1.000 3. maka ikan Manyung/Otek (Arius thallasinus) merupakan ikan yang paling banyak tertangkap sebesar 24.09 %.104 405 205 104 1.300 2.020 520 2.520 441.580 1.320 2.775 100 1.030 250 120 700 620 205 200 60 4.550 2.100 2.200 3.700 4.550 1.680 4.837 10.210 19 Udang Brown 1.000 1.300 5. Kembung (Rastrelliger sp) 7.720 210 2.710 1.600 26.200 1.220 3.010 1.000 1.untuk penangkapan puncak produksi tertinggi di Nopember sebesar 54.500 4.835 300 1.020 600 2.400 1.000 1.010 185 150 3.615 23.500 6.000 2.273 ton didominasi Manyung/Otek (Arius thallasinus) 15.800 ton dan Udang Windu (Penaeus monodon) 5.38 Data PPI Muara Kintap dalam Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalsel (2006) produksi total ikan 441.470 1.025 3.273 DES JUMLAH 500 39.020 1.200 ton.200 625 420 320 1.300 6.080 8.420 25 1.200 3.200 30 38.300 500 520 420 220 620 410 710 21 Udang Yellow 2.020 3.100 3. disusul Desember dan Januari.200 ton.650 820 310 14 Hiu 40 600 340 405 260 540 240 300 1.) 8.400 7.41%.420 1.500 20 Udang White 2.200 3.34 % dan Kembung (Rastrelliger sp.050 10 Bambangan 2.705 8.100 1.500 900 9 Gulamah 2.985 25.005 12 Belanak 100 100 350 100 252 165 70 100 180 13 Kembung 6. JENIS IKAN OKT 5.020 1.846 40 2.050 3.521 46.620 5.150 3.050 15 Pari 140 80 200 16 Selar 600 60 1.200 48.325 800 2.100 350 420 320 30 320 260 7 Manyung/Otek 20.050 1.400 25.4. Tabel. .310 520 215 1.100 2.065 34.500 2.000 15.400 1.) 8.500 2.910 92.800 1.190 1.000 8.100 150 1.528 NOP 3.220 1.200 3.220 33.230 625 200 7.567 13.700 2.600 25 Kakap Merah 170 100 26 Bandeng* 20 30 80 100 70 60 55 45 40 JUMLAH 50.490 3.560 2.100 180 4.644 250 3.800 12.420 1.000 1.145 51.404 4.000 5.500 3 Kakap Putih 421 400 60 400 110 165 100 700 210 4 Bawal Putih 90 220 350 250 35 120 190 320 100 5 Bawal Hitam 20 180 60 130 20 120 20 6 Menangin 200 200 1.300 1.500 1.200 22. seperti ditampilkan tabel 4 berikut.100 1.

. Seperti ditampilkan tabel 5 berikut. purse seine dan pancing sedangkan alat tangkap bagan merupakan alat tangkap pasif yang dioperasikan terendah. baik alat tangkap aktif maupun pasif. Alat tangkap lampara dasar merupakan alat tangkap yang paling dominan dipergunakan oleh para nelayan di Muara Kintap. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 OKT 235 42 63 94 42 48 35 68 32 2 180 5 32 32 910 NOP 242 42 72 55 27 50 37 97 36 3 160 70 68 36 995 DES 231 42 75 92 42 52 40 120 36 2 172 68 30 34 1036 JUMLAH 2708 522 761 1124 540 612 463 827 364 239 1156 706 409 377 10808 Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa alat tangkap yang dominan beroperasi berupa lampara dasar berjumlah 158 unit di Januari dan tertinggi 242 unit (Nopember).39 Alat tangkap yang terdata di Muara kintap pada tahun 2006 berjumlah 10. rengge laut. Selain itu alat tangkap agungan juga banyak digunakan oleh nelayan dikhususkan untuk menangkap ikan kembung (Rastrelliger sp. Untuk perairan sekitar Muara kintap musim penangkapan ikan kembung ini berkisar antara bulan Nopember sampai April.) di perairan Kalimantan Selatan pada bulan September sampai April.808 unit terdiri dari berbagai jenis. Tabel 5. Alat tangkap ini digunakan untuk menangkap udang dan ikan-ikan rucah yang hidup didasar perairan dengan cara pengoperasian ditarik oleh kapal penangkap. Produksi Ikan berdasarkan Alat Tangkap yang Operasional per Bulan di Desa Muara Kintap Tahun 2006 JUMLAH (BUAH) JENIS ALAT JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP Lampara dasar 158 230 232 212 232 238 232 232 234 Trammel net 40 60 48 42 40 42 42 40 42 Purse Semu 65 68 62 60 60 58 58 62 58 Rengge laut 100 128 94 98 94 92 80 98 99 Rempa tasi 57 60 42 46 43 48 45 46 42 Rempa rapat 58 62 48 48 46 51 50 51 48 Rempa Lobster 30 46 37 34 33 35 37 37 62 Agungan 62 62 65 68 65 62 62 64 32 Sisie 32 32 37 32 30 30 30 32 5 Bagan 10 52 52 50 5 5 3 5 50 Pancing 92 72 91 84 89 92 40 46 38 Togo 48 15 7 8 52 92 98 95 148 Sair 28 72 12 28 25 23 35 30 26 Rempa pantai 26 48 18 32 25 28 36 32 30 JUMLAH 806 1007 845 842 839 896 848 870 914 Sumber: PPI Muara Kintap dalam Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Selatan 2005/2006 No.

petani tambak. pedagang ikan. Sedangkan jumlah perseorangan sebanyak 27 unit. kerupuk ikan (4 KUB) dan pembekuan kepiting rajungan.40 Purse seine juga dipergunakan oleh nelayan setempat karena efektitasnya yang tinggi dan hampir tidak mengenal musim penangkapan atau dengan kata lain alat tangkap ini dapat dioperasikan sepanjang tahun tergantung fishing groundnya saja. Adanya usaha penangkapan dan budidaya ikan menyebabkan tingginya hasil produksi perikanan Desa Muara Kintap dibandingkan dengan desa di sekitarnya.006. meliputi pengeringan ikan (12 buah) dan terasi udang (15 buah) (Biro Pusat Statistik Tanah Laut. Mobilitas alat tangkap ini biasanya tinggi. sehingga bisa melakukan operasi penangkapan baik diperairan Kalimantan Selatan maupun diperairan Kalimantan Tengah atau perairan Kalimantan Timur.93 ha tambak di Desa Muara Kintap. Sementara perkembangan tambak diperkirakan ± 1. Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani tambak sebesar 350 jiwa yang mengelola lahan . 2005). kerupuk. Penduduk Desa Muara Kintap umumnya bermata pencaharian yang erat hubungannya dengan sektor perikanan yaitu sebagai nelayan. ebi dan terasi yang dilakukan oleh industri pengolahan hasil perikanan skala kecil. dan pengolah hasil perikanan. Industri pengolahan yang tergabung dalam sebuah kelompok yang disebut Kelompok Usaha Bersama (KUB) terasi udang (3 KUB). Tambak-tambak yang sudah jadi umumnya terletak di bagian hilir (muara) Sungai Kintap sedangkan yang baru dibuka kebanyakan terletak di bagian hulu Sungai Kintap yang bersifat sporadis. Kelebihan produksi diolah oleh masyarakat menjadi hasil olahan berupa ikan asin kering.

Pertumbuhan petani yang mengusahakan tambak di Desa Muara Kintap sejalan dengan luas lahan yang dibuka menjadi areal pertambakan rakyat.24%).12%). .05%). Desa Kebun Raya. Banyak penduduk yang beralih pekerjaan dari nelayan menjadi petani tambak.93 hektar (BPS Tanah Laut. subsektor pekerjaan yang dominan adalah peternakan (30. dan menjelang tahun 1986 lahan tambak yang dibuka sudah cukup luas ± 500 ha. subsektor yang dominan adalah pertanian tanaman pangan (37. perkebunan/perladangan (38. dan peternakan (21.006. Hal tersebut menyebabkan Desa Muara Kintap merupakan daerah konsentrasi penduduk yang berprofesi sebagai petani tambak. 2005).62%). menyebabkan di awal tahun 80-an beberapa anggota masyarakat desa mulai membuka areal pertambakan meskipun dalam jumlah yang kecil. yaitu: a. Pertumbuhan yang cukup tinggi terjadi semenjak krisis moneter sekitar awal tahun 1998. maka usaha pertambakan ini mampu menghidupi ± 1. perikanan/kenelayanan (49. Desa Muara Kintap.56%).12%).400 jiwa. maka keberadaan usaha pertambakan di Desa Muara Kintap sebagai sumber pendapatan keluarga dan penyerapan tenaga kerja. Potensi lahan dan air yang luas dan cocok untuk usaha budidaya tambak. jasa perdagangan (5. dengan asumsi bahwa 1 orang petambak menanggung rata-rata 3 anggota keluarga.41 tambak seluas ± 1. Tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga kerja keluarga. b. saat harga udang di pasar internasional melonjak sangat tinggi. dan jasa komunikasi dan angkutan (9. Perekonomian kawasan studi Muara Kintap tercermin dari struktur mata pencaharian penduduknya yang berbeda antara desa satu dengan lainnya.38%).

. Fasilitas air bersih untuk umum terdapat 2 unit di Muara Kintap dan 1 unti fasilitas menara air terletak di dekat PPI bukan merupakan air yang layak untuk di konsumsi. menyatakan bahwa jumlah pemilik usaha perikanan sebanyak 187 orang (dengan jumlah kapal penangkap ikan sebanyak 187 buah). perkebunan/perladangan (13.44%). dan jasa/perdagangan (21.40%). jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik pada tahun 2005 sebanyak 2. peternakan (10.39%). d. dan sampan/perahu tak bermotor sebanyak 37 buah.87% dari total rumah tangga yang ada. TPI. maka subsektor yang menjadi andalan berupa subsektor perikanan/kenelayanan. atau sebesar 41. pertanian tanaman pangan. perkebunan/perladangan. tambak sebanyak 271 unit (tidak dijelaskan definisi unit untuk tambak tersebut). subsektor yang dominan berupa pertanian tanaman pangan (50.44%). subsektor yang dominan berupa pertanian tanaman pangan (65. Satu unit pangkalan pendaratan ikan (PPI). dan kantor pengelolanya serta lapangan penjemuran. Sedangkan subsektor jasa perdagangan dan jasa komunikasi serta angkutan merupakan subsektor yang berkembang akibat subsektor andalan tersebut. dan perikanan/kenelayanan (10.58%).50%). Dalam hal utilitas listrik. Sedangkan fasilitas yang dimiliki Di desa Muara Kintap berupa: a.42 c. Desa Kintap.10%). Dilihat dari struktur mata pencaharian tersebut. buruh penangkap ikan sebanyak 476 orang. perkebunan/perladangan (19.795 rumah tangga. Pabrik es. Desa Kintap Kecil. b. peternakan. Data Kecamatan Kintap (2006). terdiri dari dermaga.

Kantor kepala desa yang cukup representatif. kawasan budidaya ikan dan di bagian hulu sungai Kintap terdapat sawah dan perkebunan campuran. permukiman. di bagian lainnya terdiri dari sawah. Aktivitas eksploitasi hutan dan pengelolaan DAS yang kurang baik di daerah hulu menciptakan potensi erosi dan banjir serta siltasi atau kekeruhan air di daerah Muara Sungai Kintap. Pembangunan 2 pelabuhan batubara di sungai Kintap di sekitar pertambakan penduduk dan di pantai Desa Muara Kintap merupakan ancaman untuk kawasan ini. d. Kondisi tersebut diperburuk lagi oleh aktivitas pertambangan batubara yang selain dapat menimbulkan potensi menimbulkan pencemaran logam berat.43 c. Pemanfaatan ruang eksisting kawasan Muara Kintap di bagian pantai merupakan hutan rawa. sedikit hutan karet. . Babinsa dan Syahbandar pembantu. sedimentasi dan menurunkan keasaman perairan. Pos Airud. Pangkalan TNI-AL unit tugas Muara Kintap. f. sedangkan potensi pencemaran lainnya berupa buangan limbah pertanian dalam bentuk pestisida dan herbisida untuk pemberantasan hama dan penyakit yang masuk ke ekosistem sungai atau mangrove juga dapat mengganggu keseimbangan kedua ekosistem tersebut serta konversi hutan mangrove di zona hijau. e.

000 (sumber Bakosurtanal. Laporan Dinas/Instansi yang berhubungan dengan penelitian. 6.1150 16’42” BT (selengkapnya di tampilkan pada gambar 3) 2. 2007) 4.00 km2. Data citra Landsat 7 ETM+ 2006 yang telah di cropping sesuai lokasi penelitian (path/row : 117/63) dengan acqusition date 16 februari 2006 (sumber BTIC Biotrop Bogor).000 (sumber Bappeda Kalsel). Dokumen dan Peta Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut 20022012 skala 1:500. Peta Tata Guna Lahan Terkini skala 1:100. Ruang kawasan perikanan Muara Kintap dengan luas wilayah administratif sebesar 49. 5. Peta Rupabumi Indonesia lembar 1712-31 dan 1712-32 skala 1:50.44 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Dokumen dan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan 2000-2015 skala 1:100. 3. 7. 31 .2. secara geografis berada antara 030 52’08”. Alat Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini ditampilkan pada tabel 6 berikut. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1.030 55’05” LS dan 1150 13’45”. 3.1.000 (sumber Bappeda Kalsel/Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalsel).000 (sumber hasil penelitian. 2006).

Kegunaan serta Lokasi Analisis selama Penelitian Alat 1.4 & PC Komputer 6. Fe 15. Digitasi dan overlay Lapangan/ In situ Lapangan/ In situ Lapangan/ In situ Lab.Software Arcview GIS 3. Global Positioning System‘Garmin eTrex Summit 12 channel’ 2.3. Komputasi. Minyak dan lemak 14. Permodelan dan Sistem Informasi Geografis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Lapangan/In situ 0 0 /00 C ppm cm m/det Refraktometer Potensiometrik Termometer Potensiometrik Secchi disk Current meter Potensiometrik Colorimetrik dengan Spektrofotometer Colorimetrik dengan Spektrofotometer Titrasi Winkler Gravimetrik AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer) AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer) AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer) AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer) ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm Mengukur salinitas Mengukur pH perairan Mengukur suhu perairan Mengukur DO perairan Mengukur kecerahan perairan Mengukur kecepatan arus perairan Mengukur pH tanah Mengukur nitrat perairan Mengukur H2S perairan Mengukur BOD5 perairan Mengukur kandungan minyak dan lemak di perairan Mengukur kandungan Fe dalam perairan Mengukur kandungan Cd dalam perairan Mengukur kandungan Cr+6 dalam perairan Mengukur kandungan Pb dalam perairan Lapangan/In situ Lapangan/In situ Lapangan/In situ Laboratorium Kualitas Air Fak. Water Checker U-22 Horiba : . pH tanah 10.45 Tabel 6.DO meter 7. Kamera digital 4.Suhu . H2S 12. Cd 16. Arus 9. Rol meter 3.pH . Pb Satuan Derajat.Perikanan Unlam . Cr6+ 17. Tape recorder 5. Alat.Salinitas . Metode. Menit dan detik meter - Metode Analisis Tracking dan Marking Kegunaan Mengetahui koordinat lokasi pengamatan di lapangan Mengukur panjang dan lebar areal pengamatan Dokumentasi lokasi penelitian Mengetahui perkembangan lokasi penelitian Penentuan kesesuaian pemanfaatan ruang dan analisis spasial Lokasi Analisis Lapangan/ In situ Wawancara Deliniasi. Secchi disk 8. Er Mapper 6. BOD5 13. Nitrat (NO3-N) 11.

Cr6+ dan Pb) dan karakteristik pemanfaatan ruang serta komponen biofisik (vegetasi) menggunakan metode survei yaitu suatu metode penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang cukup banyak dalam jangka waktu tertentu (Nasution. Alternatif pengelolaan zona pemanfaatan ruang (prioritas) pada kawasan perikanan pesisir Muara Kintap yang terdiri dari zona lindung dan penyangga. pH. arus. pencemaran (BOD5. pH tanah) dan kimia perairan (DO. nitrat). kecerahan. zona pemanfaatan dan zona khusus.46 3. Fe. 2002) sehingga dihasilkan suatu model peta tematik. H2S. Metode Penelitian Penelitian ini memadukan analisis citra satelit Landsat 7 ETM+ dengan pengukuran langsung parameter fisik (salinitas. Menganalisis kesesuaian pemanfaatan ruang di kawasan pesisir Muara Kintap secara spasial dengan atribut/parameter biofisik yang telah ditetapkan serta kesesuaian terhadap Rencana Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut. b. . Peta tematik yang dihasilkan diolah berdasarkan nilai algoritma spasial untuk mencari kesesuaian pemanfaatan ruang di wilayah studi. suhu. Cd. minyak lemak. Untuk menjawab tujuan dari penelitian ini ditentukan variabel-varibel yang diukur dan dianalisis. Identifikasi keruangan eksisting penggunaan lahan di kawasan pesisir Muara Kintap. c.3. Adapun lingkup kajian dalam penelitian ini sebagai berikut : a.

60 % di kawasan pemanfaatan dan 30 % di kawasan pelabuhan khusus mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.KEP.47 3.00 km2.030 55’05” LS dan 1150 13’45”. . longitude. 2002) yang diproporsikan dengan jumlah sampling 10 % di kawasan lindung. Training area yang diambil berbentuk poligon tertutup yang diberi satu kelas informasi (tipe penggunan lahan tertentu) berupa nilai pixel antara 0-255.1150 16’42” BT yang merupakan kawasan lahan basah (wetlands). sehingga informasi mengenai penggunaan lahan dapat diketahui secara cepat dan mudah. Penentuan sampel dilakukan secara purposive random sampling (Nasution. Lokasi plot-plot sampel pengamatan lapangan dilakukan di daerah-daerah yang aksesibilitasnya tinggi dan dapat mewakili semua kelas yang ada. Penentuan lokasi sampel (training area) di lokasi studi dilakukan secara acak berdasarkan nilai spektral.34/MEN/2002 di lokasi studi yang diambil dalam sampel secara sengaja yang merupakan keterwakilan (representatif) terhadap populasi pola pemanfaatan ruang di kawasan tersebut. Setelah proses analisis dan klasifikasi citra satelit selesai.1. tekstur dan warna yang merepresentasikan karakteristik pola pemanfaatan ruang yang masih dipengaruhi sungai dan pesisir/laut yang mewakili lahan-lahan utama dan pendukung dari luas kawasan studi sebesar 4500 ha atau 45.3. hasilnya dicek di lapangan menggunakan bantuan GPS (Global Positioning System) yang hasilnya di record dengan format latitude. Prosedur Penentuan Lokasi dan Pengambilan Sampel (Training Area) Penelitian ini berada pada lokasi zona pemanfaatan kawasan pembangunan perikanan Muara Kintap dan sekitarnya antara 030 52’08”.

abrasi sedimentasi. pH. 3. Parameter fisik terdiri dari salinitas. minyak lemak.2. arus menggunakan current meter dan tinggi gelombang dengan papan berskala (tide pole). nitrat. H2S. sempadan pantai dan sungai. Pengambilan Sampel Lapangan dalam Training Area Stasiun atau lokasi pengambilan titik-titik sampel dilakukan dalam training area yang telah di validasi lapangan. BOD5. pemanfaatan 60% dan pelabuhan khusus 30% yang dilakukan pada saat penelitian berlangsung (musim kemarau). rob dan banjir). industri perikanan dan . Cd. Sumber informasi penunjang lainnya diperoleh dari penduduk sekitar mengenai kondisi lokasi pengamatan. kecerahan menggunakan secchi disk. Lindung/Konservasi Pengamatan dilakukan secara langsung di lokasi studi terhadap kondisi lindung alamiah (endemik).3.48 Traning area dan validasi lapangan ini digunakan sebagai data atribut pada analisis kesesuaian. Pemanfaatan dan Pelabuhan Khusus Pengukuran dilakukan secara langsung di lokasi studi (in situ) terhadap parameter fisik dan kimia kualitas air berupa : a. suhu menggunakan Water Checker U-22 Horiba. 1. mewakili proporsi sampel untuk parameterparameter lindung sebesar 10%. Cr6+ dan Pb dilakukan analisis di laboratorium dengan cara sampel air diambil di lokasi pertambakan. 2. Parameter kimia perairan terdiri dari DO. lindung buatan dan kawasan rawan bencana (intrusi. Fe. b. yang selanjutnya di dokumentasikan.

Prosedur analisis tersebut ditampilkan pada lampiran 6. Selanjutnya sampel dibawa ke laboratorium Fakultas Perikanan Unlam untuk dianalisis kandungan minyak lemak. Data dan informasi kualitas air pada musim penghujan sebagai data sekunder di dapatkan dari dokumen-dokumen dan laporan penelitian/studi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) untuk melengkapi penelitian ini. .. Sedangkan pengukuran kualitas tanah terhadap pH Tanah menggunakan pH meter. Cd. BOD5. Jarak jalan dan pantai untuk pemukiman dan tersedianya ruang terbuka hijau untuk industri perikanan.5 mL. Nitrat (NO3-N) dan H2S (Hutagalung et al. Kemudian botol tersebut dimasukkan ke dalam cool box agar sampel tidak mengalami perubahan. pasang surut dari Pelabuhan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III Banjarmasin. Ringkasan alat. Parameter curah hujan di dapatkan dari BMG Pelaihari.49 pelabuhan khusus batubara dengan menggunakan botol aqua volume 300 mL dan diawetkan dengan menambah larutan HNO3 pekat 65% sebanyak 0. Cr6+. Pb. satuan bentukan lahan dari dokumen Profil Kabupaten Tanah Laut. kepadatan penduduk dari Monografi Kecamatan Kintap (data sekunder). Fe. 1997). zona rawan bencana banjir dan genangan untuk pertanian. Pengamatan langsung dilakukan pada keberadaan zona penyangga. metode analisis dan kegunaan peralatan di tampilkan pada tabel 4.

3. Peta Kawasan Studi Muara Kintap .000 1 0 1 2 K m 1 0 1 2 K m Gambar.37 Skala 1 : 100.

Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan. Tahapan yang dilakukan sebagai berikut: 3. Data primer dan sekunder selanjutnya diolah.3 untuk dilakukan overlay dan algoritma skoring spasial untuk menentukan nilai kesesuaian pemanfaatan ruang dan alternatif zonasi di kawasan studi. Pengumpulan Data Data primer diperoleh dari hasil survei lapangan terhadap kondisi pemanfaatan ruang di kawasan studi terhadap komponen fisik. 3.4 dan arcview GIS 3. Data ini digunakan untuk identifikasi pemanfaatan ruang eksisting dan kesesuaiannya berdasarkan parameter biofisik di kawasan perikanan pesisir.3. Data sekunder berasal dari peta-peta tematik berupa Peta Rupabumi Indonesia (RBI) lembar 1712-31 dan 1712-32 dari Bakosurtanal.4.3.1 Analisis Data Citra Satelit Landsat 7 ETM + untuk Identifikasi Lahan Pengolahan data citra Landsat 7 ETM+ sebelum dilakukan proses analisis untuk identifikasi penggunaan/penutupan lahan dilakukan tahapan pra pengolahan citra yang terdiri : . pencemaran serta biofisik (vegetasi).38 3. kimia. Peta Tata Guna Lahan Terkini. Rencana Umum Tata Ruang Pesisir Kabupaten Tanah Laut dan data Dinas/Instansi yang relevan dengan penelitian ini. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan memperhatikan masukan dari data primer dan sekunder.4. digitasi dan dikoreksi geometrik dengan program ermapper 6.

untuk . Koreksi Geometrik Dilakukan dengan jalan transformasi koordinat yang memerlukan sejumlah titik kontrol di permukaan bumi yang dikenal dengan Ground Control Point (GCP) yang didasarkan pada titik koordinat lintang bujur sudah diketahui.4. Asumsi yang melandasi metode ini berupa proses koding digital oleh sensor. kemudian digabungkan sehingga dalam analisis dan klasifikasi citra telah mempertimbangkan masukan keterpisahan nilai spektral dan data informasi lapangan (hibrid classification). Analisis citra satelit Landsat 7 ETM+ untuk identifikasi lahan dan penggunaan/penutupan lahan dilakukan dengan integrasi metode pendekatan berdasarkan perbedaan nilai spektralnya menggunakan input data/informasi acuan yang dianggap benar (hasil pengamatan lapangan dan referensi peta). c. b. Citra Komposit Warna dan Pemotongan Citra (Cropping) Pemilihan kombinasi band ditentukan dengan melihat karakteristik panjang gelombang pada tiap band yang menampilkan nilai spektral utamanya untuk penutupan lahan/vegetasi sehingga di gunakan band 432. Cropping untuk membatasi wilayah studi dengan karakteristik wetland karena daerah studi terletak di lahan basah setelah di deleniasi dengan band 5 dan cek lapangan. Analisis dengan komputer mengggunakan paket program pengolah data citra Ermapper versi 6. Hasil kedua klasifikasi tersebut. Koreksi Radiometrik Dilakukan dengan metode penyesuaian histogram karena dari histogram dapat diketahui nilai digital terendah dan tertinggi data citra. objek yang memberikan respon spektral dengan ekstraksi nilai pixel menjadi 0 – 255.a.

Kemudian dilakukan validasi lapangan (ground truth) untuk mengecek kebenaran hasil analisis mencakup pengamatan pemanfaatan ruang di wilayah studi. yang dilakukan pertama kali adalah mendigitasi feature (suatu kenampakan tipe penggunaan lahan dominan atau vegetasi dominan) di layar monitor.proses analisis terlebih dahulu dibuat daerah-daerah contoh (training area) yang berisi informasi kelas-kelas penggunaan/penutupan lahan dengan metode unsupervised classification. Pembuatan training area. hasilnya perlu dicek dan disempurnakan berdasarkan data penggunaan lahan hasil pengamatan lapangan. Setiap training sample harus berbentuk poligon tertutup yang diberi satu kelas informasi (tipe penggunan lahan tertentu) berupa nilai pixel antara 0-255. Posisi geografis lokasi pengamatan ditentukan dengan me-record koordinat lokasi pengamatan di lapangan menggunakan GPS (Global Positioning System) dengan format latitude. 3.2. Data/informasi hasil pengamatan lapangan diolah dan di match dengan data citra satelit untuk sumber informasi utama dalam menyempurnakan hasil identifikasi pemanfaatan lahan. sehingga informasi mengenai penggunaan lahan dapat diketahui dan di monitor secara cepat dan mudah. Analisis Identifikasi Lahan Merupakan identifikasi lahan di wilayah studi berdasarkan training area dengan model unsupervised classification yang dibuat pada citra landsat 7 ETM+ yang dilakukan pengecekan lapangan dengan melihat peruntukan pemanfaatan . Outcome dari analisis ini berupa peta tata guna lahan terkini berdasarkan survei lapangan. Setelah proses analisis dan klasifikasi citra satelit selesai. longitude. klassifikasi dan basemap (Peta Rupa Bumi Indonesia tahun 2006) serta citra Landsat 7 ETM+.4.

Hazard safe requirement (persyaratan keamanan bencana) sebagai daerah rawan abrasi. Cultivitation requirement (persyaratan budidaya) sebagai pertambakan.34/MEN/2002 (Bab VII. 2. Kriteria Umum Perencanaan Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil) yang ditekankan pada : 1. Untuk pemukiman tidak berada di kawasan sempadan pantai.ruang dengan pemakaian atribut-atribut keruangan sebagai zonasi berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan RI No. peruntukan lahan bagi kegiatan pertanian dapat digunakan secara multifungsi seperti kegiatan pertanian dengan peternakan. pertanian dan pemukiman. tanaman pangan lahan basah dan aliran irigasi. Conservation requirement (persyaratan konservasi) sebagai sempadan pantai dan sungai. kimia air dan hidro-oceanografi. Untuk pertanian lahan pesisir yang dijadikan sebagai lahan pertanian merupakan lahan yang subur dan tidak tergantung dari pemberian pupuk organik buatan atau alam. KEP. . faktor-faktor fisik.Untuk pertambakan antara lain mempertimbangkan lokasi yang jauh dari pengaruh limbah industri. pertanian. pertambangan. 3. sedimentasi dan intrusi air laut. pelabuhan. kawasan pertambakan harus mempertimbangkan perbedaan pasang surut air laut yang ideal dan lokasi hanya mengalami sedikit tekanan perubahan lingkungan dan harus diproteksi dari usaha usaha lain selain pertambakan.

3. Analisis Kesesuaian Biofisik (Biophysical Suitability) Pemanfaatan Ruang dan Skoring Merupakan nilai informasi ekologis dari suatu ekosistem di suatu wilayah pemanfaatan di lokasi studi berupa keadaan dan kondisi terkini di lapangan.4. Pendugaan kelayakan biofisik ini dilakukan dengan cara mengidentifikasikan persyaratan biofisik (biophysical requirements) terhadap parameter lindung.3. pemanfaatan dan pelabuhan khusus dengan pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan berdasarkan tabel 7 yang kemudian di lakukan sistem skoring dengan model Sistem Informasi Geografis (SIG). .

0 . replantasi. replantasi.Tabel 7. Parameter Biofisik Penilaian Kesesuaian Pemanfaatan Ruang berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan RI. Tidak memiliki bangunan pelindung/perisai pantai (terasering. KEP.200 m dari titik pasang tertingi ke arah darat.34/MEN/2002 Peruntukan Kawasan Parameter Biofisik Angka *) Bobot* Skor (Angka x Bobot) 5 1 2 3 4 Kawasan Lindung (Konservasi) dengan Total Nilai Pembobotan 10% 2 2 Memiliki habitat spesifik/ Kawasan Alamiah endemik.200 m di kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. Lindung (Konservasi) Tidak memiliki habitat 0 spesifik/endemik.< 100 m dari titik pasang tertingi ke arah darat Sempadan Sungai 100 . tanggul penahan gelombang. Memiliki bangunan pelindung/perisai pantai (terasering.< 100 m di kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. sistem brojong dan tripod). 0 . No. Sempadan Pantai 100 . Terjadi intrusi air laut Intrusi air laut tidak ada Terjadi abrasi dan sedimentasi di pesisir wilayah studi Abrasi dan sedimentasi tidak ada di pesisir wilayah studi Mengalami rob (land subsidence) dan banjir Tidak terjadi rob (land subsidence) dan banjir 2 0 2 2 2 4 4 4 0 2 1 2 Buatan 0 Kawasan Rawan Bencana Pesisir 2 0 2 0 1 1 2 2 2 0 1 2 Lanjutan_________________ . sistem brojong dan tripod). tanggul penahan gelombang.

0 – 7.0 < 3 atau > 12 pH 7.5 26-28.03 – 0.0 – 7.9 0 – < 0.Peruntukan Kawasan Parameter Biofisik Angka *) Bobot * Skor (Angka x Bobot) 5 1 2 3 4 Kawasan Pemanfaatan dengan Total Nilai Pembobotan 60% Parameter Kualitas Air Salinitas 15 – 25 2 (0/00) 10 .03 > 3.2 > 0.1 – 0.31.35 1 < 10 atau > 35 Suhu Pertambakan (º C) 28.0 6.0 Kecerahan (cm) 30 – 40 41 – 60 dan 20-30 < 20 atau > 60 H2S (ppm) < 0.15 dan 25 .6-33 < 26 atau > 33 DO (ppm) 4.0 atau > 9.0-12.0 3.0-4.5 .2000 < 1000 atau > 3000 Lanjutan _______________ .5 dan 31.0 dan 7.5 < 6.6 – 9.2 Nitrat (NO3N) (ppm) Klimatologi 3 6 3 0 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 5 3 3 5 5 3 6 3 0 10 5 0 10 5 0 6 3 0 6 3 0 10 5 0 4 2 0 0.5 Curah hujan (mm/th) > 2000 – 3000 1000 .1 0.

Peruntukan Kawasan Parameter Biofisik Angka *) Bobot* 1 2 3 4 Skor (Angka x Bobot) 5 Memiliki kawasan vegetasi/penyangga antara lahan pertanian dengan aliran sungai sejauh ≥ 50 m Tidak memiliki kawasan vegetasi/penyangga antara lahan pertanian dengan aliran sungai sejauh< 50 m pH tanah 5. tanaman pangan lahan basah dan aliran irigasi.5 – 7.5 Satuan Beting Gisik bentuk Dataran Aluvial lahan Dataran Peneplain Tidak berada pada zonasi rawan bencana banjir dan genangan Berada pada zonasi rawan bencana banjir dan genangan Tidak terletak di kawasan sempadan pantai.0 – 5.4 dan 7.5 – 8 atas (0-30 cm) < 4.0 dan > 8. tanaman pangan lahan basah dan aliran irigasi Jarak dari < 200 jalan (m) 200 – 500 > 500 Jarak dari pantai (m) > 100 50 – 100 < 50 2 1 2 0 0 2 1 0 2 1 0 2 3 6 3 2 0 4 2 Pertanian 2 0 4 0 2 3 0 6 0 0 Pemukiman 2 1 0 2 1 0 3 6 3 0 3 6 3 0 Lanjutan _______________ . Berada di kawasan sempadan pantai.4 lapisan 4.

Berada di daerah bencana banjir.1 – 7.0 . abrasi.0 < 3 atau > 12 Tidak berada pada zonasi rawan bencana banjir dan genangan Industri Perikanan Berada pada zonasi rawan bencana banjir dan genangan Tinggi <1 gelombang 1-2 (m) >2 Tersedia Ruang Terbuka Hijau (RTH) selebar 500 m untuk membatasi kawasan industri dengan zona lain. erosi.5 (ppm) 3. abrasi.0 dan 7. akresi >2 1-2 <1 2 1 0 2 1 0 2 2 1 0 2 1 0 2 3 2 1 6 3 0 4 2 0 2 Arus (m/det) 0 2 1 0 3 0 6 3 0 4 2 0 4 2 0 2 Indikator Pencemaran Bahan Organik BOD5 < 3. erosi.5 .15 > 15 DO (ppm) 4.0 – 4.Peruntukan Kawasan Parameter Biofisik Angka *) Bobot* 1 2 3 4 Skor (Angka x Bobot) 5 Jarak dari pantai (m) > 100 50 – 100 < 50 Tingkat < 50 jiwa/ha kepadatan 50 – 100 jiwa/ha pemukiman > 100 jiwa/ha Daerah tanpa bencana banjir.0 3.12. akresi. Tidak tersedia ruang terbuka hijau selebar 500 m untuk membatasi kawasan industri dengan zona lain 2 2 1 0 2 1 0 2 2 1 0 4 2 0 2 0 0 Lanjutan _______________ .

*) Angka : 2 = Sangat Sesuai . KEP.01 > 0.03 Cd (ppm) Cr6+ (ppm) Pb (ppm) Pasang (m) suru > 0.Peruntukan Kawasan Parameter Biofisik Angka *) Bobot* Skor (Angka x Bobot) 5 1 2 3 4 Kawasan Pelabuhan Khusus dengan Total Nilai Pembobotan 30% 5 2 Tinggi <1 gelombang 1 (m) 1-2 >2 Dinamika Pantai Tidak berada di zona abrasi Berada di zona abrasi Tidak berada di zona sedimentasi Kawasan Pelabuhan Khusus Berada di sedimentasi Pencemaran Perairan Minyak da ≤5 lemak (ppm) >5 2+ Fe (ppm) ≤ 0. 1 = Sesuai dan 0 = Tidak Sesuai .01 > 0. Modifikasi Kepmen Kelautan dan Perikanan RI No.03 ≤ 0.01 > 0.01 ≤ 0.34/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil).01 1–4 >4 zona 0 2 0 2 0 2 0 2 0 2 0 2 0 2 0 2 0 4 3 3 3 2 2 4 10 5 0 8 0 8 0 6 0 6 0 6 0 6 0 4 0 4 0 4 Keterangan : * Nilai pembobotan dibuat berdasarkan asumsi alokasi zona prioritas dengan perbandingan 10 % : 60 % : 30 % dari Zona Lindung : Zona Pemanfaatan : Zona Khusus (Sumber.01 ≤ 0.

4. Overlay / tumpang susun antara data spasial sehingga dihasilkan suatu wilayah baru dengan karakteristik yang merupakan gabungan nilai antar data spasial berupa Peta Rupabumi Indonesia (RBI) lembar 1712-31 dan 1712-32 .4. Analisis Spasial (Spasial Analysis) Model analisis ini menggabungkan antara data spasial (peta) dengan hasil survei di lapangan untuk melihat keterkaitan/hubungan antara fenomena secara spasial dengan teknik yang digunakan : 1. 3. dimana untuk batasan wilayah studi di dasarkan pada karakteristik wetlands tersebut. 2.55 – 1. Peregisteran nilai-nilai dari hasil analisis citra Landsat 7 ETM+ dan survei di lapangan terhadap poligon-poligon pengamatan guna dilakukan proses overlay.Data skor yang telah di dapatkan dari hasil peta tematik di overlay masingmasing peruntukan terhadap peruntukan yang lain dengan melibatkan peta tata guna lahan terkini secara spasial melalui proses geoprocessing wizard bertujuan untuk menentukan evaluasi kesesuaian pemanfaatan ruang di tiap kawasan/zonasi dalam wilayah studi dengan persamaan (Bakosurtanal. 1996): Nilai Skor Zonasi = ∑ n i=1 Angka X Bobot 3.75 µm yang merupakan infra red dengan karakteristik menyerap kandungan air yang ada dalam tanah atau wetlands (lahan basah). Deliniasi spasial digunakan untuk mempelajari pola distribusi spasial dari suatu tipe data yang didapat dari titik-titik sampel dilapangan dan citra Landsat 7 ETM+ menggunakan band 5 dengan panjang gelombang 1.

pemafaatan. dengan tahapan : a. 2005) yang selanjutnya digunakan dalam perhitungan algoritma skoring spasial.3. d. pelabuhan khusus dan peta kesesuaian lahan. lindung. Reklasifikasi digunakan untuk penilaian ulang dan modifikasi nilai-nilai tematik untuk tiap piksel dari hasil analisis Nilai Skor Zonasi yang di dapat yang digunakan sebagai representasi nilai suatu zona/perwilayahan spasial (Nuarsa. 4. clip untuk memotong peta tata guna lahan terkini berdasarkan penggunaan lahan untuk lindung. e. union digunakan untuk menggabungkan poligon-poligon yang kurang sempurna hasil clip dan dissolve menjadi poligon yang sempurna. dissolve untuk meringkas atau menggabungkan antar kelas yang sama pada lindung. . pemanfaatan dan pelabuhan khusus yang dibuat terpisah sehingga nilai spasial dapat dianalisis lebih lanjut. intersection untuk melakukan overlay antar peta dengan tetap menyertakan atribut yang ada sehingga di dapatkan peta baru dan pengkelasan. b.dari Bakosurtanal sebagai basemap dengan survei lapangan (peta-peta tematik) dan klassifikasi terhadap peta tata guna lahan terkini serta citra Landsat 7 ETM+ menggunakan fasilitas geoprosessing wizard pada arc view 3. c. merger untuk menggabungkan theme tata guna lahan terkini. pemanfaatan dan pelabuhan khusus.

Evaluasi Hasil Penilaian Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Kriteria Tingkat Kesesuaian Sangat sesuai (Highly Suitable) untuk kawasan Pemanfaatan (S1) Nilai Keterangan > 80 – 100 Sesuai (Suitable) untuk kawasan Pemanfaatan (S2) ≥ 60 – 80 Tidak sesuai (Not Suitable) untuk kawasan Pemanfaatan (N) Sumber : Bakosurtanal (1996). 0 . khusus dan lain sebagainya. Daerah ini mendukung dan layak sebagai kawasan pemanfaatan namun perlu diperhatikan syarat-syarat tertentu apabila ingin dikembangkan sebagai kawasan yang sama.5. 2006) digunakan untuk menentukan 3 (tiga) nilai kelas dari pemanfaatan ruang di kawasan studi yaitu sangat sesuai (S1).< 60 Daerah ini mendukung/berpotensi dan sangat layak sebagai kawasan pemanfaatan dan tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan.Mungkin dapat dialokasikan untuk zonasi lindung. sesuai (S2) dan tidak sesuai (N) dengan persamaan : ∑ = (Skor lindung x 10 %) + (Skor Pemanfaatan x 60 %) + (Skor Khusus x 30 %) Outcome dari analisis ini berupa peta kesesuaian lahan dan peta alternatif zona pada kawasan perikanan pesisir Muara Kintap berdasarkan algoritma spasial yang mengacu pada kelestarian sumberdaya pesisir dan keterkaitan antar kawasan Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan berdasarkan kriteria Bakosurtanal (1996) seperti tabel 8 berikut. Daerah ini tidak mendukung dan tidak layak sebagai peruntukan kawasan pemanfaatan. . Tabel 8. Algoritma skoring spasial (Hartoko dan Helmi.

71 18.7 29.56 40.87 14. Sedangkan pada gambar 5 merupakan data citra yang menunjukkan deliniasi wilayah studi.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.79 18.1. Tabel 9 menunjukkan lokasi pengamatan beserta posisi di permukaan bumi dengan Global Positioning System (GPS) berformat latitudelongitude yang dilakukan secara purposive random sampling dalam training area yang menggambarkan keterwakilan kawasan lindung.85 37.62 42.85 32.8 48.0 45.6 7.06 43. Tabel. 9.72 54. Lokasi Sampling berdasarkan Global Positioning System (GPS) Lokasi Nama Desa Lokasi Sampling Derajat Latitude Menit Detik Derajat Longitude Menit Detik 1 2 3 4 5 6 7 Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Muara Kintap Pelabuhan Khusus Pertanian (Sawah) Tambak Pemukiman Pemukiman Tambak Industri Perikanan (pengolahan terasi dan ikan kering) Lindung Lokal Tambak baru Pelabuhan Khusus Pertanian (Sawah) Tambak Pemukiman Tambak Industri Perikanan rajungan Tambak Pelabuhan Khusus Tambak baru Lindung Lokal Pemukiman 3 3 3 3 3 3 3 53 52 53 54 54 54 54 19.01 27. pemanfaatan dan khusus.87 48.24 25. Lokasi Titik Sampling Hasil cropping data citra wilayah pesisir Kintap Kabupaten Tanah Laut yang telah disesuaikan dengan wilayah penelitian dapat dilihat pada gambar 4.97 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 15 14 14 15 15 15 15 15 14 12 14 14 14 28.22 3.06 33.23 57.43 32.59 17.91 22.85 18. 51 .54 55.83 15.13 38.47 9.14 24.39 Sumber : Hasil penelitian.64 3.99 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 53 54 52 52 52 54 54 54 53 55 54 54 54 59.32 23. April 2007.8 115 115 115 115 115 115 115 18 16 16 15 15 15 15 12.04 36.67 6.66 0.32 57.56 10.71 41.

52

Gambar 4. Cropping Data citra Landsat 7 ETM+ lokasi penelitian

53

Gambar 5. Deliniasi Wilayah Studi di Pesisir Muara Kintap

54

4.2. Deliniasi Wilayah Studi Deliniasi atau batasan ruang kawasan studi digunakan untuk memberikan batasan daerah penelitian dengan bantuan citra landsat 7 ETM+ bertujuan menyederhanakan dan memfokuskan daerah penelitian untuk memudahkan identifikasi dan analisis spasial. Batasan wilayah studi dengan bantuan citra landsat 7 ETM+ di dasarkan pada kenampakan atau karakteristik berupa sistem lahan yang memiliki warna hitam gelap dilihat dari nilai spektral ke-3 band yang di ujikan yaitu band 4, 5 dan 7 yang bertipe infrared karena ketiga band tersebut memiliki panjang gelombang dengan kisaran (range) tersempit sehingga memiliki kemampuan sensor dalam membedakan obyek. Tahapan deleniasi di lakukan dengan memproses masing-masing band 4, 5 dan 7 dengan tujuan melihat karakteristik atau pencirian yang di timbulkan sebagai reaksi penggunaan panjang gelombang dan nilai spektral yang ditampilkan. Band 4 dan 7 tidak menimbulkan pencirian khusus dibandingkan band 5 (λ=1.55 - 1.75 µm) merupakan mid-infrared pada landsat 7 ETM+ menampilkan suatu bentukan/karakteristik berupa kenampakan berwarna hitam gelap dan mengelompok daripada lokasi lain, merupakan tipe wetland (lahan basah) yang ditemukan di pesisir Kalimantan seperti ditampilkan gambar 5. Wetland merupakan lahan peralihan antara sistem daratan dan sistem perairan, dimana keadaan air terletak pada atau dekat permukaan atau merupakan lahan yang ditutupi perairan dangkal dan dapat dicirikan dengan paling tidak secara periodik ditumbuhi tanaman air, sebagian besar merupakan tanah tergenang dan jenuh air serta substrat bukan berupa tanah yang berkembang dengan baik

58 km atau 3.33 km atau 0. sawah dan kebun/tegalan dan lahan alamiah berupa kenampakan bentang alam seperti rawa-rawa atau hutan rawa. run off akibat aktivitas manusia di daratan yang menimbulkan sedimentasi di kawasan studi teridentifikasi di sekitar Muara sungai Kintap dengan jarak 1. dari data sekunder (lampiran 3) daerah ini masih memiliki kandungan salinitas 1 permil di duga akibat pengaruh debit air yang tinggi saat musim hujan dapat mengurangi nilai salinitas di daerah ini. 1996) yang dapat di interpretasikan dengan karakteristik spektral band 5 sebagai penentu delineasi di wilayah pesisir Muara Kintap.46 mil dengan menggunakan landsat 7 ETM+. .3. selanjutnya di simpan dalam bentuk data vektor dan raster yang dijadikan sebagai dasar digitasi dan analisis spasial pada arc view 3.55 dengan kondisi jenuh air atau tertutup air dangkal yang terdiri dari lahan buatan berupa pertambakan. mangrove dan lahan gambut bertipe pasang surut (Nirarita dan Endah. Batas ekologis lain ke arah laut yang dipengaruhi oleh proses-proses alamiah di darat seperti aliran air sungai. Deleniasi secara ekologis dilakukan dengan mengimplementasikan pengertian pesisir (Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003) dengan batas ke arah darat sebagai daerah yang terpengaruh intrusi (salinitas) ditemukan di lokasi 11 saat penelitian berjarak 5.82 mil yang dihitung berdasarkan data citra landsat 7 ETM + merupakan daerah pemukiman seperti ditampilkan pada gambar 5. Setelah di dapatkan batasan menurut pencirian yang ditampilkan band 5 maka dilakukan proses cropping sesuai dengan kenampakan tersebut dengan menggunakan standart formula untuk region pada paket program er mapper 6.4. sungai.

Dasar lain yang digunakan dapat berupa nilai reflektansi (nilai spektral/pixel) dari berbagai tipe penggunaan/penutupan di lokasi studi.3. biasanya petani tinggal di daerah permukiman yang dekat dengan lahan-lahan yang mereka garap dan kenampakan buatan berupa saluran irigasi. Identifikasi Pemanfataan Ruang di Kawasan Perikanan Muara Kintap Kombinasi band 432 digunakan untuk membantu menafsirkan citra satelit landsat ETM 7+ di lokasi studi karena kombinasi band ini secara visual mampu menginformasikan berbagai kenampakkan vegetasi baik alamiah dan budidaya yang dapat jelas dibedakan seperti ditampilkan tabel 10 dan gambar 6. Ruang budidaya pertambakan dalam pengelolaannya memerlukan aliran dan genangan air yang terdiri dari petakan-petakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan laut/pesisir atau muara. Pola sebaran ruang-ruang di lokasi studi berpusat di daerah muara dan menyebar di sepanjang aliran sungai Kintap. . Berdasarkan tampilan tekstur dan warna serta hasil ground check di lapangan terhadap kenampakan objek yang ada di citra maka penutupan lokasi studi di dominasi oleh aktivitas budidaya perikanan berupa pertambakan dan pertanian termasuk perkebunan.56 4. Ruang budidaya pertanian yang dalam pengelolaanya memerlukan genangan air dan perkebunan dicirikan dengan keseragaman/keteraturan vegetasi meskipun ladang ditanam kurang memenuhi tipikal tersebut. jaringan jalan sebagai sarana penunjang dalam produksi padi. Indikator lain yang dapat dipergunakan sebagai ciri atau indikasi keberadaan lahan budidaya seperti adanya kenampakan vegetasi baik mangrove maupun kebun campuran dan pekarangan/pemukiman (umumnya mengikuti pola aliran sungai atau memanjang di pesisir).

57 Gambar 6.3 dan 2 serta Kondisi Lapangan . Tampilan Kenampakan Objek Studi di Pesisir Muara Kintap pada Landsat 7 ETM+ Gabungan band 4.

Peta Tata Guna Lahan Terkini Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap berdasarkan update dan survei lapangan April 2007 .58 Gambar 7.

areal sempit. 10. cakupan luas. rata-rata nilai spektral/reflektansi di Pesisir Muara Kintap hasil cek lapangan dengan Citra RGB 432 Karakteristik Warna dan Tekstur Merah tua kehitaman berlokasi di daerah rawa umumnya ditemukan di estuaria atau sepanjang dataran pantai dipengaruhi oleh pasang surut dan memiliki tekstur yang halus sampai sedang Biru hingga hitam Kehitaman umumnya ditemukan di estuaria atau sepanjang dataran pantai dipengaruhi oleh pasang surut dan memiliki pola-pola tertentu Biru pucat hingga hijau keputihan. umumnya ditemukan sepanjang dataran aluvial tepi sungai. lokasi di daerah berawa dan terletak diantara dua sungai besar yang memiliki drainase nampak dengan warna merah hingga merah gelap dengan tekstur yang halus hingga kasar Kenampakan/ Teridentifikasi Hutan Mangrove Rata-rata nilai Reflektansi/ Spektral band 4 : 3 : 2 84 : 37 : 54 Keterangan 1 Air Tambak 17 : 67 : 80 30 : 45 : 56 2 Sawah tergenang Lahan terbuka (land clearing) untuk pelabuhan khusus batubara Desa Kebun Vegetasi Sekunder atau Belukar Rumput/Semak.67 %. kadangkala tercampur dengan belukar Merah kehitaman. umumnya membentuk batas yang tidak teratur Merah dengan tekstur sedang tidak memiliki batas secara alami. umumnya terdapat dekat sungai. (1640. Sawah Padang rumput /alang-alang Hutan rawa gambut 52 : 60 : 70 74 : 110 : 86 3 4 52 : 40 : 82 78 : 40 : 50 70 : 46 : 56 5 6 55 : 88 : 80 7 66 : 50 : 61 70 : 46 : 56 8 9 Sumber:Hasil penelitian. Tekstur. dengan batas tidak teratur Merah muda keabuan. Pemanfaatan ruang terbesar (gambar 8 dan 9 serta tabel 11) di lokasi studi sebagai pertambakan 36. jalan lama. April 2007.59 hektar). dan terdapat pantulan cerah Merah muda dengan tekstur agak halus. umumnya ditemukan diantara hutan alam dan vegetasi sekunder. Hasil analisis dan overlay data citra. Interpretasi dan Identifikasi Daerah Studi berdasarkan Warna. daerah tenggelam Merah keabuan. dengan tekstur halus. terletak pada dataran aluvial atau daerah rawa Hijau keputihan. catatan: nilai reflektansi/spektral citra terendah 0 (berwarna hitam/gelap) dan tertinggi 255 (berwarna putih).59 Tabel. survei lapangan dan peta rupabumi menghasilkan peta tata guna lahan dan penggunaan ruang seperti ditampilkan tabel 11 dan gambar 7. dengan tekstur halus. hutan rawa .

perkebunan dan semak/belukar disebabkan data kecamatan Kintap belum mencantumkan luasan untuk pelabuhan khusus batubara yang telah mengkonversi sebagian kawasan dan kawasan lain. 1999) seperti Pulau Nyamuk yang terancam pengkonversian lahan dengan di bukanya tambak di bagian utara pulau.85% (887.90 hektar) dari total luas wilayah sedangkan pemanfaataan ruang untuk pemukiman merupakan yang terkecil sebesar 2. Perbedaan luasan penggunaan lahan antara hasil analisis dan data kecamatan untuk pertanian.60 24. Tabel 11 menunjukkan perbedaan 247.76 hektar) dan pertanian 19.49%). . melindungi udang dari suhu tinggi dan menyediakan makanan yang lebih banyak bagi udang dan ikan (Dephutbun.33% (1088.15 hektar) yang merupakan gabungan industri perikanan dan pemukiman.59 hektar dari pertambakan yang mengindikasikan telah terjadi penambahan peruntukan. wilayah studi yang dijadikan lokasi studi memiliki kesamaan karakter/pencirian berupa lahan basah (wetlands) berupa lahan/tanah yang masih dipengaruhi oleh air berwarna hitam gelap dan dapat dibedakan dari band 5 pada landsat 7 ETM+.28% (102. sedangkan yang mengalami perubahan lain ditemukan pada pemukiman ± 14. perubahan tata guna lahan berada di barat sungai Kintap dengan mengkonversi hutan rawa/rawa-rawa sebagai lahan tambak baru dan di muara sungai telah berdiri pemukiman baru yang berdekatan dengan pertambakan.27 hektar (0. Potensi lindung lokal yang merupakan bagian hutan rawa merupakan daerah bervegetasi baik dan memiliki habitat endemik apabila di konversi sebagai tambak harus dengan sistem silvofisheries (mina hutan) sebesar 80% hutan dan 20% tambak dengan manfaat hutan memberi kesuburan kolam dan menjadi tempat pengasuhan.

43 1.79 21.88 1075.24 148.49 4.89 156.14 ha 44.74 km2 Prosentase 36.47 2.09 185.85 24.21 Prosentase 8. Kintap.15 887.49 2. Ikhtisar Pemanfaatan Ruang Muara Kintap berdasarkan Analisis Spasial dan Monografi Kecamatan Penggunaan Lahan Tambak Pemukiman Pertanian/ Kebun/ Tegalan Rawa Perkebunan Pelabuhan khusus Semak/ rumput/ belukar Luas Analisis Spasial (hektar) 1640.09 87. 2006 Gambar 9.1 6.23 3. 2007 Gambar 8.61 Tabel.33 9.27 187.67 2.34 1509 562. Distribusi Ruang Muara Kintap berdasarkan Monografi Kecamatan .76 413.00 km2 Prosentase 28.52 4900 ha 49.59 14.80 11.24 3. 11.47 0 5.28 19.31 4474.24 0.14 100 Monografi (hektar) 1393 87.90 1088.44 420.56 100 Selisih/beda hektar 247. April 2007.37 156.42 Sumber : Hasil Penelitian.49 1.95 30.26 0 272. Distribusi Ruang Muara Kintap berdasarkan Analisis Spasial Hasil Penelitian (2007) Distribusi Lahan M uara Kintap Sem ak/ rum put/ belukar Perkebunan 6% 11% Pelabuhan khusus 0% Tam bak 28% Pem ukim an 2% Pertanian/ Kebun /Tegalan 22% rawa 31% Sumber : Monografi Kec.59 102. Distribusi Ruang Muara Kintap Semak /rumput /belukar 4% Pelabuhan khusus 3% Perkebunan 9% Tambak 38% rawa 24% Pertanian/ Kebun /Tegalan 20% Pemukiman 2% Sumber : Analisis spasial dan hasil penelitian.

62 4. . Kawasan konservasi berupa lindung lokal dan sempadan sungai serta pantai dapat menurun fungsinya dengan keberadaan pertambakan.3. Kompatibilitas Pemanfaatan Ruang Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap Pemanfaatan ruang antar kegiatan di kawasan perikanan pesisir Muara Kintap dilihat dari matriks hubungan kompatibilitas (gambar 10) menunjukkan semua sektor kegiatan membawa potensi konflik terhadap kegiatan lain berupa limbah. Antar kegiatan pemanfaatan di kawasan perikanan Muara Kintap dapat merugikan antar kegiatan kecuali pertanian dengan pemukiman yang bersifat netral karena limbah pemukiman di dominasi bahan organik yang dapat terurai akibat proses dekomposisi dan detergen yang meningkatkan kandungan fosfor dan nitrogen sehingga terjadi eutrofikasi di kawasan lain (Supriharyono. 2007).1. pemukiman. perubahan fungsi ekologis dari suatu kegiatan dapat menurunkan nilai pemanfaatan kegiatan lain. Aktivitas pelabuhan khusus batubara di lokasi 11 berpengaruh besar terhadap ekosistem pertambakan karena tingkat kekeruhan yang tinggi saat musim hujan dengan curah hujan tinggi menurunkan kandungan oksigen terlarut perairan sehingga proses fotosintesis terhambat dan membawa dampak kematian pada biota akuatik khususnya ikan dengan menyelimuti sistem pernafasannya (insang). industri perikanan dan pelabuhan khusus batubara. Kegiatan-kegiatan di kawasan pembangunan perikanan Muara Kintap yang tidak kompatibel satu dengan yang lain menimbulkan dampak merugikan sehingga dalam implementasi di lapangan memerlukan pengelolaan baik secara ekologis dan kebijakan melalui revisi Rencana Tata Ruang Kabupaten dan Propinsi agar kawasan ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (sustainable).

Pertambakan. memperlambat aliran air permukaan dan melindungi kualitas massa air berupa vegetasi alamiah atau buatan dapat mereduksi dampak dari berbagai aktivitas yang tidak kompatibel bahkan cenderung antagonis di wilayah pembangunan perikanan pesisir Muara Kintap. Kawasan pelabuhan khusus batubara perlu di alokasikan ruang tersendiri dan harus memiliki vegetasi yang mampu mereduksi limbah yang dihasilkan. .Pelabuhan khusus batubara.Pertanian dan industri perikanan. Berikut zona penyangga prioritas: . . Matriks hubungan kompatibilitas antar kegiatan menggambarkan zonasi kegiatan yang di prioritaskan sebagai lokasi penyangga antar kegiatan di kawasan pembangunan perikanan pesisir Muara Kintap. pertambakan dan pertanian. 10. . pemukiman dan pertanian di semua lokasi pengamatan.63 Konsep zonasi penyangga sebagai daerah yang berfungsi menahan bahanbahan pencemar. menjebak sedimen. Konservasi (lindung lokal) Industri perikanan X Pemukiman X X Pertanian Perikanan budidaya (tambak) Pelabuhan khusus batubara X X 0 X X X X X Konservasi (lindung lokal) X Industri perikanan X X X Perikanan budidaya (tambak) Pelabuhan khusus batubara Pemukiman Pertanian Keterangan : X = kegiatan saling merugikan (konflik) . Matrik Hubungan Kompatibilitas Antar Kegiatan . 0 = normal Gambar.Industri perikanan dan pemukiman.

Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Tata Guna Lahan Terkini terhadap Rencana Umum Tata Ruang Propinsi/Kabupaten dan Citra Landsat 7 ETM+ Pemanfaatan ruang di kawasan perikanan pesisir Muara Kintap menurut Peraturan daerah No. Batulicin dan Sungai Loban yang termasuk wilayah Kabupaten Pulau Laut. 2002) dinyatakan Kecamatan Kintap merupakan salah satu Kawasan Sentra Produksi (KSP) Tanah Laut dan Kotabaru yang dikembangkan sebagai daerah perikanan laut.4. Faktanya berdasarkan overlay peta tematik tata guna lahan terkini yang merupakan hasil survei lapangan. kering dan pertambakan (gambar 12) yang termasuk kota orde IV dan dipertegas melalui Peraturan daerah Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut No.64 4. Rencana Umum Tata Ruang/Rencana Tata Ruang Wilayah dan citra landsat ETM 7+ daerah ini tidak hanya dimanfaatkan sebagaimana Peraturan daerah tersebut namun terdapat pula kegiatan lain yang bertentangan dengan ketentuan bahkan tidak di alokasikan di daerah tersebut berupa tiga kegiatan pelabuhan sekaligus stokpile batubara bahkan ada yang berdekatan langsung dengan kegiatan atau usaha budidaya pertambakan penduduk Muara Kintap yang merupakan kawasan pembangunan perikanan.9 tahun 2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan (lembar daerah Propinsi Kalimantan Selatan No. Satui.14 Tahun 2000) di pasal 11 c poin 3 (Pemda Kalsel. Masih menurut dokumen tersebut kawasan kecamatan Kintap ditetapkan juga sebagai daerah pertanian lahan basah. perikanan tambak dan peternakan sapi selain kecamatan Kusan Hilir. .13/2002 pasal 19 yang secara peraturan pemanfaatan ruang di kawasan ini sinergis.

1365.514 hektar (27. 2007 Gambar. 42% Pertanian Lahan Kering.13/2002 pasal 17 yang berlokasi di kecamatan Kintap karena daerah ini telah mengalami konversi sebagai areal pertambakan.054. 1901.208.52%) oleh PT. Teknik pembangunan untuk pemukiman termasuk industri perikanan dan tambak yang dibangun 0. pemukiman termasuk industri perikanan dan pelabuhan khusus batubara yang mampu mengeleminasi zonasi sempadan sungai dan pantai. Alokasi Pemanfaatan Ruang Muara Kintap Berkurangnya proporsi ruang sebagai daerah lindung sempadan sungai dan pantai dalam Peraturan daerah Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut No. Alokasi Pemanfaatan Ruang Muara Kintap Pertanian Lahan Basah.00%).887. 1208. Selengkapnya ditampilkan pada gambar 11 berikut. Surya Kencana Jorong Mandiri (SKJM) dan PT.514.167 hektar (30. lokasi 20 sebagai pemukiman dan lokasi 9 untuk pertambakan.5 meter dari sungai dan pantai Kintap mengabaikan sempadan sungai dan pantai sehingga degradasi menjadi semakin besar. 27% Lahan Tambak.65 Kawasan pelabuhan batubara mengambil proporsi ruang yang telah ditentukan melalui peta Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten sebagai kawasan pertanian lahan kering ± 1.117. 31% Sumber: Analisis Spasial dan Hasil Penelitian. 11. Pribumi Citra Megah Utama (PCMU) serta kawasan pertanian lahan basah 1. . Berdasarkan gambar 13 ketidaksesuaian fungsi ekologis sempadan ditemukan pada semua penggunaan lahan seperti lokasi 17 dan 1 sebagai pelabuhan khusus batubara.

66

Gambar. 12. Peta Muara Kintap dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Laut Tahun 2002-2012 (Perda No.13/2002 dan No.9/2000).

Gambar. 13. Peta Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Wilayah Muara Kintap Kab. Tanah Laut Berdasarkan Overlay RUTR Kabupaten/RTRW Propinsi; Tata Guna Lahan Terkini dan Citra Landsat 7 ETM+

67

4.5. Analisis Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap Berdasarkan Parameter Biofisik Lindung, Pemanfaatan dan Pelabuhan Khusus 4.5.1. Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap Berdasarkan Parameter Biofisik Lindung 1. Lindung alamiah Merupakan ekosistem mangrove sebagai sub sistem dari ekosistem pesisir di dalam ekosistem ini terdapat berbagai macam vegetasi diantaranya nipah

(Nypa fruticans), bakau (Rhizophora) dan api-api (Avicennia sp.). Selain memiliki komunitas tumbuhan, daerah mangrove tersebut menjadi habitat bagi bermacammacam satwa dari kelas rendah (avertebrata) sampai dengan yang kelas tinggi (vertebrata). Berdasarkan hasil survei di lapangan di lokasi 8 dan 19 merupakan ekosistem lindung alamiah yang sangat sesuai (gambar 15 dan tabel 14) karena di lokasi ini ditemukan spesies endemik yang berasosiasi dengan hutan bakau yaitu : a. Pada tajuk-tajuk pohon dapat dijumpai warik irangan (Macaca fascicularis) yang memakan daun-daun hutan bakau, khususnya daun yang masih bakau muda dari Rhizophora spp., burung elang (Haliastur indus), belibis (Dendrocygna arcuata) yang endemik di Kalimantan; b. Pada batang dan akar-akar napas dari pohon mangrove nampak dihuni oleh moluska atau kerang-kerangan kecil, dan larva-larva udang serta ikan; c. Di dalam dan dipermukaan tanah hidup berbagai jenis hewan avertebrata seperti keong, kepiting, dan sebagainya;

68

d. Di aliran air sering dijumpai biawak (Varanus salvator), ular, barang-barang, ikan gelodok, dan lain-lainnya. (selengkapnya di tampilkan pada tabel 12 berikut Tabel. 12. Jenis-jenis mamalia yang terdapat dalam wilayah studi
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Lokal Tikus Tupai Kelelawar Trenggiling Warik irangan Bajing tanah Barang barang Musang Babi hutan Nama Latin Suncus ater Tupaia gracilis Penthetor locasii Manis javanica Macaca fascicularis Lariscus insignis Lutra lutra Diplogale derbyanus Sus barbatus

Sumber : Hasil wawancara

Karakteristik ekologis yang berbeda ditemukan pada 2 lokasi ini, lokasi 18 merupakan habitat pantai berpasir terdapat di pantai utara desa Muara Kintap yang agak jauh serta terlindung dari pengaruh aliran muara sungai yang berlumpur. Bagian dari ekosistem tersebut merupakan pantai yang bersih dan sering dijadikan sebagai tempat yang strategis bagi nelayan sebagai lokasi fishing ground benih karena daerah ini merupakan spawning area dan nursery area untuk dan benihbenih udang (benur) dan bandeng (nener). Daerah ini bervegetasi cemara, kelapa dan tumbuhan perdu. Fauna yang umum menempati daerah tersebut berupa jenis kerang, ketam, dan moluska (siput). Lokasi 8 merupakan ekosistem hutan rawa yang terletak di wilayah desa Muara Kintap berupa delta yang terbentuk dari sedimentasi yang dinamakan Pulau Nyamuk dengan beberapa komunitas mangrove, daerah ini terancam dengan intensifnya usaha pembukaan lahan sebagai ekosistem binaan atau budidaya berupa pertambakan. Ekosistem ini cukup

April 2007. Sumber : Hasil Penelitian. Berikut data jenisjenis vegetasi mangrove yang teridentifikasi di Muara Kintap dan sekitarnya Tabel. 2. Terutama pada tingkat pancang. 13. Memperhatikan kondisi pertumbuhan secara keseluruhan hutan mangrove di lokasi studi menunjukkan kerusakan yang terjadi sangat parah. yaitu udang windu dan ikan bandeng.69 luas karena berada dalam suatu hamparan tambak yang dicirikan oleh adanya keseragaman fauna dan dalam jumlah besar. Sempadan pantai Kawasan bervegetasi tertentu sepanjang pantai memiliki manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik minimal 100 meter dari titik pasang laut tertinggi atau dari tebing pantai kearah darat. Hasil survei. Jenis-jenis mangrove yang ditemukan No 1 2 3 4 5 7 8 10 11 12 13 Nama Daerah Cemara * Api-api Bakau laki Bakau bini Rambai bogam Bintoro Buta-buta Dungun Waru lot Nyamplung Ketapang * Nama Botanis Casuarina equisetifolia Avicennia alba Rhizophora mucronata Rhizophora apiculata Sonneratia alba Carbera manghas Excoecaria agallocha Heritiera littoralis Thespesia populnea Calophyllum inophyllum Terminalia catappa Famili Casuarinaceae Acicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae Apocynaceae Eupherbiaceae Sterculiaceae Malvaceae Guttiferae Combretaceae *) Mangrove Asosiasi. kawasan yang dikategorikan sangat sesuai (tabel 14 dan gambar 15) disebabkan masih tinggi tingkat vegetasi terdapat di lokasi 19 yang merupakan sub sistem ekologi dengan karakteristik pantai berpasir yang berlokasi agak jauh di pantai . Pertumbuhan mangrove di Muara Kintap dan sekitarnya secara keseluruhan menunjukkan sangat kurang. akibat pembukaan dan perluasan tambak secara besar-besaran. tiang dan pohon.

Namun berdasarkan pengamatan di lapangan (tabel 14 dan gambar 16) kondisi vegetasi sepanjang bantaran muara sungai Kintap sudah tergolong jarang karena telah direklamasi menjadi lahan pertambakan. berkarakter pantai berpasir dan tidak cocok dijadikan lokasi tambak. Kawasan lindung sempadan sungai untuk sungai Kintap (kategori sungai besar) diambil jarak sejauh 100 meter dari tepi sungai dan kawasan lindung sempadan sungai kecil yang diambil jarak sejauh 50 meter merupakan zonasi perlindungan kawasan untuk sungai Kintap dan sekitarnya karena berperan penting bagi kelestarian lingkungan utamanya budidaya tambak. Daerah ini banyak ditemukan vegetasi cemara. 3. tetapi lokasi ini mulai terancam dengan pembukaan dan alih fungsi lahan untuk pemukiman. Para petambak membangun lahan tambaknya berbatasan langsung dengan sungai.70 utara desa Muara Kintap. kecuali di bagian hulu berupa daerah yang berdekatan dengan Rantau Bujur masih banyak ditemukan vegetasi nipah. kelapa dan tumbuhan perdu. yang jaraknya berkisar ± 2 sampai 10 meter. Bagian dari ekosistem tersebut merupakan pantai yang bersih dan sering dijadikan sebagai tempat strategis bagi nelayan untuk menangkap benihbenih udang (benur) dan bandeng (nener). terlindung dari pengaruh aliran muara sungai yang berlumpur dan diduga masih mempunyai kemampuan untuk memperlunak pengaruh-pengaruh lautan berupa hembusan angin laut dan gempuran gelombang ke arah daratan. Sempadan sungai Kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/ kanal/saluran irigasi primer dan mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. .

tetapi tidak terlalu melebar ke dalam atau tidak terlalu lebat vegetasi tumbuhan mangrovenya. bangunan ini berada di bagian timur dari Muara sungai Kintap dengan panjang sekitar 200 meter dibangun secara horizontal sejajar dengan pantai terbuat dari batu gunung dan kawat baja.71 Kondisi ini menyebabkan hilangnya kawasan lindung di sepanjang bantaran muara sungai Kintap. Tumbuhan nipah tersebut sangat tipis atau hanya satu sampai dua lapisan pohon nipah. 4. Lindung buatan Kawasan lindung buatan merupakan suatu sistem bangunan teknik pantai untuk mereduksi pengaruh hidrodinamika pantai. Lokasi 8 yang merupakan Pulau Nyamuk masih ditemukan vegetasi mangrove. Faktanya bangunan ini semakin menambah abrasi yang di duga kondisi ini sebagai akibat dari pengaruh arus transport sedimen menyusur pantai yang merusak bangunan seperti di tampilkan gambar 14 berikut. Berdasarkan hasil survei lapangan di lokasi studi (gambar 16) ditemukan tanggul untuk melindungi pantai dari abrasi dan melindungi aset utama jalan keluar masuk desa Muara Kintap. namun keberadaan pertambakan sudah tidak sesuai dengan sempadan sungai yang ditetapkan dalam peraturan sebagai kawasan lindung yang mestinya sejauh 100 meter dari tepian sungai besar dan 50 meter dari anak sungai kecil. sedangkan di belakangnya langsung terdapat lahan untuk pertambakan. . Kawasan pinggiran sungai Kintap dilihat dari arah sungai hampir seluruhnya di tumbuhi oleh nipah mulai dari muara sungai sampai ke hulu mendekati permukiman desa Kintap Kecil. Belum terlihat dampak visual dari tipisnya tumbuhan di pinggiran sungai ini.

72

Gambar 14. Bangunan Penahan Gelombang Desa Muara Kintap (Sumber. Penelitian, 2007)

5. Kawasan rawan bencana pesisir Bencana adalah rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia, dan/atau keduanya yang mengakibatkan korban manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana dan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat (Carter, 1991 dalam Robert J. Kodoatie et al, 2006). Oleh sebab itu perlu di identifikasi daerah rawan bencana pesisir untuk meminimalkan dampak yang terjadi pada wilayah studi. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan teridentifikasi daerah Muara Kintap memiliki empat zona rawan bencana pesisir (gambar 16) yaitu : a. Abrasi adalah proses pengikisan tanah/batuan oleh air, baik air laut yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan permukaan lereng/tebing pantai, yang terjadi di bagian timur dari muara sungai Kintap, mulai dari ujung pemukiman penduduk sampai dengan sungai tengah terjadi pengikisan tebing pantai yang terus berlanjut dan semakin mendekati badan jalan di pinggiran pantai. Pengikisan ini akan semakin besar pengaruhnya karena jarang terdapat

73

tumbuhan di sepanjang garis pantai tersebut walaupun di daerah ini telah di bangun tanggul penahan gelombang, di duga teknik pembuatan tanggul belum mengakomodir mekanisme hidrodinamika pantai. Secara ekologis kondisi ini mengakibatkan perubahan ekosistem, habitat dan diiringi dengan perubahan komunitas biota akuatik di kawasan tersebut. b. Intrusi air laut disebabkan penyusupan air laut kearah daratan melalui poripori batuan/tanah, pada skala besar dapat mengakibatkan terjadinya amblesan (land subsidence). Kasus intrusi air laut di kawasan ini cenderung disebabkan aktivitas pembangunan tambak beserta salurannya. Hampir semua lokasi telah mengalami intrusi sehingga untuk air bersih (keperluan minum) di supplai melalui kecamatan Kintap. Salah satu kasus intrusi yang ditemukan, saat masyarakat mencoba membangun saluran air untuk pengembangan tambak. Akibatnya lahan pertanian di kawasan tersebut dirembesi oleh air laut sehingga tidak produktif dan mematikan usaha pertanian (sawah) di kawasan tersebut. c. Sedimentasi/akresi adalah proses penimbunan massa pasir atau lempung pada daerah muara sungai dan daerah pantai (akresi), sedimentasi di kawasan Muara Kintap diakibatkan oleh transport sedimen dari ambang muara sungai Kintap. Namun, maraknya penambangan batubara dan tata guna lahan yang jelek di bagian upland serta kasus illegal logging pohon ulin memberi kontribusi terhadap sedimentasi yang tinggi di bagian estuari/muara sungai, sehingga setiap tahun dilakukan aktivitas pengerukan.

74

d. Banjir/genangan air disebabkan volume air yang terlalu banyak akibat curah hujan dan pasang naik air laut kondisi ini terjadi hampir di semua kawasan pemukiman dan industri perikanan. Sedangkan rob adalah banjir yang terjadi akibat pasang surut air laut menggenangi lahan/kawasan yang lebih rendah dari permukaan air laut rata-rata. Lama banjir dapat berlangsung berhari-hari, bahkan satu minggu terus menerus. Rob terjadi akibat perubahan penggunan lahan di kawasan pantai (reklamasi lahan), penurunan muka tanah (land subsidence), dan naiknya muka air laut rata-rata sebagai akibat efek pemanasan global. Namun masyarakat setempat telah mengantisipasi kondisi tersebut dengan membangun tipe-tipe bangunan panggung sehingga dampak dari banjir/rob tersebut tidak mengganggu aktifitas masyarakat setempat. Tabel. 14. Hasil Pengamatan dan Pengukuran Parameter Biofisik untuk Lindung
Lokasi 1
8

Desa 2
Muara Kintap Alamiah Sempadan pantai Sempadan sungai Buatan Rawan Bencana

Parameter 3
Memiliki < 100 m >100 m dan 50 m di kiri kanan sungai yang berada diluar pemukiman Tidak memiliki Intrusi Abrasi dan sedimentasi Rob dan banjir Memiliki >100 m < 100 m dan 50 m di kiri kanan sungai yang berada diluar pemukiman Tidak memiliki Intrusi Abrasi dan sedimentasi Rob dan banjir

Tingkat Kesesuaian 4
Sangat Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai

Skor 5
4 0 4 0 2 0 0 4 4 0 0 2 0 0

19

Muara Kintap Alamiah Sempadan pantai Sempadan sungai Buatan Rawan Bencana

Sumber : Hasil Penelitian, April 2007.

75

Gambar 15. Peta Kesesuaian Kawasan Lindung di Wilayah Muara Kintap dan sekitarnya Kab. Tanah Laut berdasarkan Aspek Biofisik (Alamiah, Sempadan Sungai, Sempadan Pantai, Buatan dan Rawan Bencana).

Gambar 16. Peta Kawasan Lindung dan Rawan Bencana Wilayah Pesisir Kintap Kabupaten Tanah Laut

14. 9.76 4. Salinitas Salinitas atau kadar garam merupakan kandungan dari berbagai garam terutama NaCl dalam air laut. salinitas yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan mengacaukan tekanan osmotik organisme sehingga dapat menyebabkan kematian. Kondisi ini disebabkan pada lokasi 3 dan 12 kedalaman perairan kurang dari 60 centimeter. Data sekunder di lampiran 3 menunjukkan nilai salinitas 10/00 saat musim penghujan di sekitar lokasi 11 dan 12 diduga pengaruh debit air yang besar di upland saat curah hujan tinggi sebagai penyebab penurunan nilai salinitas. . Pertambakan 1. Salinitas berpengaruh langsung terhadap metabolisme organisme. 16 dan 18 merupakan kondisi sangat sesuai disebabkan daerah-daerah ini berada di muara yang dipengaruhi langsung air laut dan sebagian lokasi rendah intervensi sungai dengan kandungan salinitas 16-24. lokasi 12 tidak terdapat vegetasi mangrove dan di lokasi tersebut terdapat sungai Kintap yang mengalir dan bermuara di desa Muara Kintap dengan lebar antara 30–80 meter sehingga menyebabkan terjadinya penurunan kadar garam di upland dan terakumulasi pada daerah sekitar muara yang rendah intervensi sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai salinitas pada tingkat sesuai hanya ditemui di lokasi 3 dan 12 desa Muara Kintap (tabel 15 dan gambar 17).5.50/00. Lokasi 6. Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap Berdasarkan Parameter Biofisik Pemanfaatan A.2.

.9. Menurut Purnomo (1992) nilai salinitas yang ideal untuk air tambak berkisar antara 15-180/00. Suhu Berdasarkan hasil pengukuran suhu permukaan di perairan tambak secara umum adalah 30.6. Pertumbuhan udang optimal ditambak diperlukan salinitas sebesar 15–260/00. 2. 1998). sebaliknya di salinitas 5-100/00 kultivan rentan terhadap penyakit.77 Air tambak bersumber dari air laut dan air tawar.0-31. bandeng akan mati pada kadar salinitas lebih dari 400/00 dan kurang dari 120/00. meskipun salinitas 30–450/00 masih mampu beradaptasi.14. sedangkan dari data sekunder kualitas air 2006 di lampiran 3 tidak ditemukan perbedaan suhu yang ekstrim saat musim hujan.70C.al. lebih lanjut Mudjiman (1992) untuk pertumbuhan bandeng sebagai organisme air payau adalah 15-250/00. dimana pada kisaran tersebut dapat dinyatakan bahwa di lokasi 3. Sedangkan menurut Murtidjo (2002) pemeliharaan bandeng dengan salinitas 35-400/00 masih dapat dilakukan namun pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan salinitas 15-250/00. Salinitas ini juga berpengaruh terhadap konsumsi oksigen oleh bandeng. Pada salinitas optimal energi yang digunakan untuk mengatur keseimbangan kepekatan cairan tubuh dan cukup rendah sehingga sebagian besar energi asal pakan dapat digunakan untuk pertumbuhan (Achmad et. maka ketersediaan kedua sumber air tersebut akan menentukan kelayakan nilai salinitas untuk tambak. dimana semakin tinggi salinitas maka semakin cepat pula konsumsi oksigen.16 dan 18 mempunyai nilai suhu permukaan yang lebih sesuai daripada lokasi 12 (gambar 18 dan tabel 15).

semakin tinggi suhu perairan mengakibatkan oksigen terlarut (DO) menurun. Kondisi ini disebabkan di lokasi tersebut masih terdapat vegetasi yang menaungi daerah pertambakan.78 Suhu permukaan yang baik untuk budidaya ikan bandeng dan udang windu di jumpai semua lokasi dengan kisaran suhu sebesar 290C-31. Akibat suhu yang tinggi bagi ikan bandeng adalah mempercepat laju metabolisme sehingga konsumsi oksigen meningkat yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan. menurunkan produktivitas primer atau mengurangi keberadaan tumbuh-tumbuhan. pada kisaran tersebut konsumsi oksigen mencapai 2.40C sebagai kondisi perairan yang sangat sesuai kecuali lokasi 3 dengan kondisi sesuai. . faktor kecerahan juga sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya suhu permukaan karena dengan rendahnya tingkat kecerahan menghalangi fotosintesis. Suhu juga mempengaruhi kelarutan oksigen dalam air. Nikolsky (1963) menyatakan bahwa suhu perairan yang terlalu tinggi berpengaruh terhadap perkembangan organisme perairan karena energi yang ada lebih banyak digunakan untuk mempertahankan hidup. sedangkan di beberapa lokasi lain vegetasi disekitar tambak sudah hampir tidak ditemui. sedangkan udang mengalami proses molting akibat respon terhadap kondisi suhu tadi. namun demikian pada suhu air 14oC – 40oC udang windu masih dapat hidup. Selain itu. Sedangkan Ahmad et.2 mg berat tubuh/jam. Menurut Sudarmo dan Ranoemihardjo (1995) suhu air optimum untuk pertumbuhan udang berkisar antara 26 oC – 32 oC.al (1998) menyatakan bahwa suhu optimal untuk ikan bandeng berkisar antara 27-290C. sedangkan kebutuhan oksigen terlarut oleh organisme perairan semakin meningkat.

Secara umum dapat dikatakan bahwa suhu di perairan tambak sepanjang Muara Kintap cukup optimal untuk pertumbuhan dan budidaya baik ikan bandeng maupun udang. apabila suhu permukaan terus menerus tinggi dalam waktu yang lama maka penguapan akan meningkat. 3.80 ppm (tabel 15) sedangkan peta kesesuaian perairan tambak berdasarkan nilai DO ditampilkan pada gambar 19. 1980). Salinitas dipengaruhi juga suhu permukaan. oksigen merupakan gas yang sangat vital untuk kelangsungan hidup ikan/udang yang dipelihara di tambak dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kadar unsur atau senyawa lain dalam ekosistem perairan.79 Suhu yang terlalu rendah membawa pengaruh pada lambatnya laju metabolisme dan fotosintesis (Raymont. DO Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut merupakan parameter kualitas air yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi kelayakan usaha budidaya perairan. Kelarutan oksigen di dalam air dalam jumlah tertentu mutlak diperlukan agar kelangsungan hidup ikan/udang yang dipelihara dapat dipertahankan. Hasil pengukuran DO di tambak Muara Kintap selama penelitian berkisar 4. Kandungan DO 5-6 ppm cukup optimal bagi pertumbuhan kultivan karena oksigen yang cukup berguna untuk pernafasan dan mencegah terbentuknya hidrogen sulfida dalam air Mudjiman (1992). Kandungan DO yang sangat sesuai di perairan tambak Muara Kintap ditemukan di semua lokasi yang merupakan daerah masih ditumbuhi vegetasi dan berbatasan langsung dengan perairan sungai dan laut sehingga suplai oksigen dari arus sungai dan laut melalui gelombang cukup tersedia untuk kehidupan kultivan.20-6. .

Peningkatan suhu. pH Kadar asam atau basa yang ada dalam larutan ditunjukkan dengan pH. 4. Kondisi ini berbeda saat musim hujan menurut data lampiran 3 kadar DO di lokasi studi Muara Kintap berkisar 3. melalui konsentrasi ion hidrogen (H+). sedangkan air yang mengandung konsentrasi oksigen rendah akan mempengaruhi kesehatan ikan yang hidup dalam perairan tersebut. kondisi ini di duga akibat tingginya curah hujan yang membawa muatan padatan tersuspensi yang besar dari daratan sehingga menyebabkan tingginya tingkat kekeruhan dan menurunkan kadar oksigen terlarut dalam perairan.4 ppm. Menurut Murtidjo (2002) pada kadar DO 2 ppm kultivan menunjukkan gejala abnormal.80 Lokasi lain kandungan DO lebih rendah karena banyaknya oksigen yang digunakan untuk proses metabolisme dan pembusukan bahan-bahan organik yang umum ditemukan di dalam tambak masyarakat yang dikelola secara tradisional.0-3. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah atau terlalu tinggi secara kronis belum mematikan namun akan mengganggu kesehatan sehingga menghambat pertumbuhan. maka ikan tidak mau makan dan tidak tumbuh dengan baik. salinitas dan bahan organik akan menurunkan kandungan oksigen terlarut di perairan. Bila konsentrasi di bawah 4 – 5 ppm. karena lebih mudah terserang parasit dan penyakit. ketersediaan ion H+ selalu dalam keadaan dinamis dengan air (H2O) yang membentuk suasana bagi kelangsungan semua . berenang di permukaan dan kadar 3-4 ppm walau tidak nampak dari tingkah laku namun hal ini berpengaruh terhadap pertumbuhan.

Nilai pH berkisar antara 0 – 14 dengan kondisi netral bernilai 7. < 6 menyebabkan pertumbuhan lambat.80 tergolong sangat sesuai dan sesuai dapat dilihat pada tabel 15 sedangkan peta kesesuaian tambak berdasarkan nilai pH dapat dilihat pada gambar 20. namun pengaruh arus pada sungai-sungai besar dapat membawa dampak pada nilai pH. Pescod (1973) mengungkapkan bahwa toleransi organisme perairan terhadap pH sangat bervariasi. Jenis-jenis ikan yang lebih peka. Menurut Brown (1957) hampir semua jenis ikan pada pH di bawah 4 dan di atas 9 tidak mampu bertahan hidup. alkalinitas dan berbagai anion atau kation serta jenis dan stadia organisme. tergantung faktor-faktor lain di antaranya kandungan oksigen terlarut. karena kondisi sebagian besar lahan mengandung tanah sulfat masam. Dilihat dari kisaran pH pada perairan tambak di lokasi studi berdasarkan hasil survei lapangan 6. sementara perairan di bawah pH 7 bersifat asam dan di atas 7 bersifat basa. 1984). .5 – 9 untuk kondisi yang baik bagi produksi ikan. Air yang mempunyai keasaman pada pH 4 dan kebasaan pada pH 11 merupakan titik kematian bagi ikan. Kondisi demikian umum terjadi pada berbagai lokasi di Kalimantan Selatan.90 – 7.81 reaksi kimia yang bersangkutan dengan masalah pencemaran air dan kehidupan makhluk air (Alaerts dan Santika. > 9 tingkat alkalis yang mematikan. Boyd and Lichkoppler (1986) memberikan kisaran 6. Data sekunder analisis kualitas air pada lampiran 3 saat musim penghujan 2006 menginformasikan nilai pH perairan menurun seiring dengan tingginya debit air. tidak mampu bertahan hidup pada pH di bawah 5 dan di atas 8. pH 5 merupakan tingkat keasaman yang mengakibatkan tidak ada reproduksi.

Hal ini menunjukkan pH di lokasi studi perairan Muara Kintap kurang optimal bagi kelangsungan hidup biota perairan seperti ikan dan udang serta kepiting. Pada kadar pH yang terlalu rendah dapat menghambat proses chitinisasi (pergantian kulit baru) karena kulit udang menjadi kropos dan lembek. kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan aktivitas fotosintesis. . Pada perairan alami.5 – 8. 5.5 baik untuk pemeliharaan ikan bandeng di tambak.5. termasuk di dalamnya pelabuhan khusus dan stockpile batubara. Di samping itu sebagian besar ikan dalam menentukan arah renang dan mencari makan menggunakan mata tertentu memerlukan kondisi kecerahan tertentu pula. seperti adanya kegiatan penambangan batubara. Kecerahan Kecerahan perairan menurut Parson and Strickland (1963) menunjukkan kemampuan cahaya menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. selain itu fitoplankton dapat tumbuh dengan baik pada kisaran tersebut. Derajat keasaman air atau sering dinyatakan dengan pH dapat berpengaruh langsung terhadap ikan/udang yang kita pelihara dalam tambak.82 Oleh karena itu lokasi pertambakan yang berada pada alur sungai sangat rawan terhadap dampak dari kegiatan yang memberikan pengaruh terhadap perubahan pH air. Pirzan (2000) menyatakan bahwa batas optimum pH bagi kelangsungan hidup udang dan ikan serta kepiting bakau adalah 7. Sedangkan pada pH berkisar antara 8-9 baik untuk pertumbuhan dan reproduksi organisme. hal ini juga dikemukakan oleh Anggoro (1983) bahwa pH 8.

sedangkan data sekunder kualitas air pada lampiran 3 menginformasikan kecerahan yang rendah. Menurut Cholik et al. . Kecerahan air ditentukan oleh partikel-partikel tersuspensi seperti tanah liat. selain itu kondisi ini menghambat penetrasi sinar matahari dan menyebabkan DO perairan juga relatif rendah apabila bacaan secchi kurang dari 30 cm sehingga mengakibatkan stress pada ikan dan udang (Boyd and Lichkoppler. baik berupa zat organik maupun anorganik dalam badan air. Akibat langsung oleh rendahnya nilai kecerahan adalah tertutupnya insang ikan oleh partikel lumpur. bakteri dan organisme mikro lainnya. kekeruhan serta kecerahan merupakan parameter yang saling berkaitan dan menjalin sebab-akibat.1986). Baik kecerahan maupun kekeruhan dipengaruhi oleh besarnya kandungan bahan koloid dan bahan yang berukuran lebih besar.83 Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan (gambar 21 dan tabel 15) pada umumnya nilai kecerahan di lokasi tambak Muara Kintap masih cukup sesuai untuk kegiatan budidaya. bahan organik. (1986) semakin dalam lapisan air yang dapat ditembus cahaya. Padatan terlarut. Kekeruhan akan meningkat sebanding kenaikan padatan terlarut dan padatan tersuspensi serta berbanding terbalik dengan tingkat kecerahan yang semakin menurun. hanya tambak di lokasi 12 yang berbatasan langsung dengan pelabuhan khusus batubara memiliki nilai kecerahan yang rendah diperkirakan merupakan dampak dari aktivitas pelabuhan di kawasan tersebut. semakin baik untuk kehidupan akuatik dan kecerahan perairan yang baik minimal 40 cm. padatan tersuspensi.

Toksisitas H2S tergantung pada pH air laut.dan H+ (Morgan and Stumm. Data kualitas air saat musim hujan tahun 2006 menunjukkan kisaran H2S masih ≤ 0. karena menurut Buwono (1993) kadar H2S yang dapat mengganggu keseimbangan udang adalah sebesar 0. Namun nilai tersebut dianggap masih belum membahayakan.84 kondisi arus yang bergerak di atas perairan dapat mengkikis dan mengaduk dasar perairan sehingga dapat menurunkan tingkat kecerahan. 2002). udang (Purnomo. Berdasarkan data di lapangan kadar H2S berkisar antara sesuai di lokasi 3 dan 6 (tabel 15 dan gambar 22) kondisi ini disebabkan pencucian pyrit oleh aliran permukaan yang bersumber dari pengikisan lapisan tanah atas baik oleh hujan maupun oleh aktivitas bahan-bahan organik yang tidak terdekomposisi dengan sempurna.001 ppm (lampiran 3). 1970) yang menyebabkan peningkatan derajat keasaman perairan. Tingkat kecerahan air yang masih baik bagi ikan (Murtidjo. 2000) berkisar antara 30-40 cm. Kandungan H2S yang terdeteksi di pada semua perairan berkisar antara 0.1 – 2. oksidasi pyrit akan menghasilkan Fe2+. Kadar gas yang cukup berbahaya bagi kehidupan organisme akuatik bila kelarutannya melampaui ambang batas adalah nitrit. Senyawa . Semakin rendah pH air laut semakin tinggi toksisitas H2S. 6. H2S Kandungan hidrogen sulfida (H2S) dalam air bersumber dari hasil perombakan secara anaerob bahan-bahan organik yang mengendap di dasar perairan oleh mikroorganisme. SO42. amoniak dan H2S.260 ppm.0.070 .1992) dan kepiting (Pirzan.0 ppm. Selain itu dapat pula berasal dari pencucian senyawa pyrite (FeS2) yang terdapat di sekitar sungai.

Hasil penelitian ditemukan kandungan nitrat berkisar antara 0. Hal tersebut diduga disebabkan banyaknya nitrat yang digunakan . Metabolisme dalam fitoplankton memerlukan nitrogen untuk sintesa protein.031-0.01 atau diatas 3.9-3.5 ppm sedangkan pada konsentrasi dibawah 0. kondisi ini tidak jauh berbeda saat musim hujan (lampiran 3). Sedangkan kadar yang tinggi pada daerah pelabuhan karena berkaitan dengan pengadukan oleh kapal-kapal. Nitrat mempunyai kecenderungan lebih tinggi pada daerah perairan bervegetasi nipah dan perairan laut dibandingkan daerah perairan sungai dan pertambakan.Nitrat (NO3-N) Nitrat dalam perairan berperan dalam pertumbuhan fitoplankton.85 ini merupakan hasil dekomposisi bahan organik yang tidak berlangsung sempurna.004 ppm (sesuai). dimana fitoplankton dapat tumbuh optimal pada kandungan nitrat sebesar 0. daerah pertambakan dan dekat pelabuhan lebih tinggi nilai nitrat dibandingkan daerah hulu sungai (lokasi 12). Wilayah bervegetasi mangrove. Hal tersebut disebabkan karena adanya kontribusi pupuk yang diberikan petambak dan dekomposisi bahan organik yang berasal dari hutan mangrove.090 ppm pada perairan tambak Muara Kintap yaitu sangat sesuai (tabel 15 dan gambar 23) kecuali di lokasi 12 sebesar 0. Bahan-bahan organik yang terdekomposisi tersebut umumnya berasal dari sisa-sisa pakan yang tidak termanfaatkan.5 ppm merupakan faktor pembatas bagi fitoplankton dan membahayakan pertumbuhan organisme perairan (Wardoyo.1982). enzim dan komponen klorofil a serta vitamin. 7.

Kekeruhan yang terjadi merupakan kontribusi ragam aktivitas dari bagian hulu daerah aliran sungai. Namun ada juga curah hujan yang rendah 1521 mm/th di tahun 2001. . Selain itu. akibat tingkat erosi dan debit air larian yang meningkat akibat kerusakan kawasan resapan air (catchment area) di upland. tinggi rendahnya curah hujan dapat membawa pengaruh pada metabolisme ikan bahkan dapat berdampak fatal seperti mortalitas atau paling tidak mengakibatkan hambatan pertumbuhan karena ikan mudah diserang penyakit dan parasit. Secara umum kadar nitrat tergolong mempunyai kriteria kesuburan sesuai sehingga cukup mendukung bagi peningkatan produktivitas primer di dalam perairan. Selama musim penghujan atau saat curah hujan tinggi daerah studi mengalami banjir dan membawa dampak pada pertambakan dan kualitas air setempat dengan rendahnya nilai kecerahan yang menandakan bahwa perairan setempat relatif keruh.86 oleh fitoplankton yang kemelimpahannya tinggi pada daerah muara sungai dan pertambakan. 8. Tinggi rendahnya curah hujan dapat mempengaruhi semua parameter diatas yang berakibat pada kondisi perairan dan biota di dalamnya bahkan dapat mendatangkan bencana jika tinggi curah hujan melampaui batas. Curah Hujan Berdasarkan data curah hujan dan hari hujan 1993 – 2002 (lampiran 2) maka daerah studi dapat dikategorikan sangat sesuai (tabel 15 dan gambar 24) untuk pertambakan karena memiliki jumlah curah hujan tahunan 2455 mm/th dengan 127 hari hujan di tahun 2006.

10 39 0.90 25 0.2 30.80 7.0 31.160 0.60 36 0. Hasil Pengamatan dan Pengukuran Zona Pemanfaatan (Tambak.0 5. Pertanian.003 0.4 4.30 42 0.170 0.070 2455 16.001 0.090 2455 13.5 29.004 2455 Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sangat Sesuai 3 6 10 5 3 3 10 4 6 6 10 5 6 3 10 4 6 6 10 10 6 6 10 4 3 3 10 5 3 6 5 4 Nilai Skor 1 2 3 Pertambakan 3 Muara Salinitas (0/00) Kintap Suhu (0C) DO (ppm) pH Kecerahan (cm) H2S (ppm) Nitrat (NO3-N) ppm Curah hujan (mm/th) 6 Muara Salinitas (0/00) Kintap Suhu (0C) DO (ppm) pH Kecerahan (cm) H2S (ppm) Nitrat (NO3-N) ppm Curah hujan (mm/th) 9 Muara Salinitas (0/00) Kintap Suhu (0C) DO (ppm) pH Kecerahan (cm) H2S (ppm) Nitrat (NO3-N) ppm Curah hujan (mm/th) 12 Muara Salinitas (0/00) Kintap Suhu (0C) DO (ppm) pH Kecerahan (cm) H2S (ppm) Nitrat (NO3-N) ppm Curah hujan (mm/th) .00 7.20 6. Industri Perikanan dan Pemukiman) beserta Tingkat Kesesuaiannya Lokasi/ Stasiun Desa Nilai Parameter Tingkat Kesesuaian 4 14.0 6.2 31.031 2455 24.80 7.7 4.87 Tabel 15.

0 DO (ppm) 5.0 Kintap Suhu (0C) 31.80 Kecerahan (cm) 33 H2S (ppm) 0.1 Kintap Suhu (0C) 31.00 pH 7.20 pH 7.006 Nitrat (NO3-N) ppm 0.2 Satuan btk-an lahan Dataran aluvial Daerah banjir dan Tidak genangan 6 6 10 10 6 6 10 4 6 6 10 10 6 6 10 4 6 6 10 10 6 6 10 4 2 3 2 4 Lanjutan ________________ .041 Curah hujan 2455 (mm/th) Pertanian 2 Muara Penyangga Ada Kintap pH tanah 4.060 Curah hujan 2455 (mm/th) 16 Muara Salinitas (0/00) 20.050 Curah hujan 2455 (mm/th) 18 Muara Salinitas (0/00) 24.80 Kecerahan (cm) 38 H2S (ppm) 0.88 Lanjutan ________________ Lokasi/ Stasiun Desa Nilai Parameter Tingkat Kesesuaian 4 Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Nilai Skor 1 2 3 Pertambakan 14 Muara Salinitas (0/00) 20.001 Nitrat (NO3-N) ppm 0.002 Nitrat (NO3-N) ppm 0.0 Kintap Suhu (0C) 29.5 DO (ppm) 6.30 pH 7.0 DO (ppm) 5.70 Kecerahan (cm) 40 H2S (ppm) 0.

5 Dataran aluvial Tidak Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Sangat Sesuai 2 3 2 4 6 2 2 0 4 0 6 2 2 0 4 2 6 Industri Perikanan 7 Muara Arus (m/det) 2.52 Tinggi gelombang (m) Ruang terbuka Ada hijau Pemukiman 4 Muara Tidak berada di Tidak Kintap sempadan pantai dan tanaman lahan basah Jarak dari jalan 200 – 500 (m) Jarak dari pantai > 100 (m) Kepadatan 84 penduduk (jiwa/ha) Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sesuai 3 6 2 .52 gelombang (m) Ruang terbuka Tidak hijau 15 Muara Arus (m/det) 2.7 Daerah banjir Berada dan genangan 0.7 Daerah banjir Berada dan genangan Tinggi 0.1 Kintap BOD5 (ppm) 12 DO (ppm) 3.89 Lokasi Desa Pengam atan 1 2 Pertanian 11 Muara Kintap Nilai Parameter Tingkat Kesesuaian 4 Nilai Skor 3 Penyangga pH tanah Satuan btk-an lahan Daerah banjir dan genangan Ada 4.1 Kintap BOD5 (ppm) 12 DO (ppm) 3.

abrasi dan akresi Muara Tidak berada di Kintap sempadan pantai dan tanaman lahan basah Jarak dari jalan (m) Jarak dari pantai (m) Tidak < 200 > 100 84 Berada Tidak > 500 > 100 Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Sesuai Sesuai Tidak Sesuai 6 6 6 2 0 6 0 6 2 0 0 0 3 2 0 13 20 Kepadatan penduduk 84 (jiwa/ha) Daerah banjir. abrasi dan akresi Berada Pemukiman 5 Muara Tidak berada di Kintap sempadan pantai dan tanaman lahan basah Jarak dari jalan (m) Jarak dari pantai (m) Kepadatan penduduk (jiwa/ha) Daerah banjir.100 Kepadatan penduduk 84 (jiwa/ha) Daerah banjir.90 Lanjutan_____________ Lokasi/ Stasiun 1 Desa Nilai Parameter Tingkat Kesesuaian 4 Tidak Sesuai Nilai Skor 0 2 3 Daerah banjir. abrasi Berada dan akresi Sumber : Hasil Penelitian. . April 2007. abrasi Berada dan akresi Muara Tidak berada di Berada Kintap sempadan pantai dan tanaman lahan basah Jarak dari jalan (m) > 500 Jarak dari pantai (m) 50 .

91 Gambar. Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Suhu . Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Salinitas Gambar. 18. 17.

19. Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Oksigen Terlarut Gambar. 20.92 Gambar. Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai pH .

Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Kecerahan Gambar.93 Gambar. 21. Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai H2S . 22.

23. Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Curah Hujan .94 Gambar. 24. Peta Kesesuaian Perairan Tambak berdasarkan Nilai Nitrat Gambar.

Kawasan penyangga yang ada merupakan vegetasi hutan rawa yang terdiri dari satu atau lebih jenis vegetasi alami. . selain itu sistem pengairan yang memasukkan air tawar yang berlebih akan menurunkan salinitas yang berakibat jenis-jenis juvenil udang yang memerlukan salinitas yang tinggi saat pembesaran akan mengalami mortalitas (Dahuri et. Kawasan Vegetasi/Penyangga Berdasarkan tabel 15 dan gambar 25 lokasi 2 dan 11 yang teridentifikasi sebagai kawasan pemanfaatan dengan peruntukan pertanian memiliki zona penyangga yang dikategorikan sangat sesuai.5) disebabkan daerah Sungai Kintap merupakan daerah berkarakter lahan gambut sehingga pembusukan dari daun dan akar kayu membawa dampak pada reaksi kemasaman (Barchia.95 B. pH tanah Pertukaran tanah oleh ion hidrogen membawa pengaruh terhadap pH tanah. di lokasi studi nilai pH yang rendah (≤ 4. Daerah penyangga tersebut merupakan kawasan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh penduduk setempat mengingat tenaga kerja dan pertumbuhan penduduk di Muara Kintap yang terbatas. 2. Secara ekologis daerah penyangga ini mutlak diperlukan meskipun nantinya dalam pengalokasiannya terbatas karena fungsi daerah ini sangat perlu sebagai zona pereduksi polutan akibat pertanian seperti pemberian pupuk dan pestisida yang mengakibatkan unsur nitrogen meningkat dan di perairan tambak dan sungai mengakibatkan eutrofikasi.al. Pertanian 1. 2004). 2006). Kawasan ini berfungsi untuk menahan bahan-bahan pencemar antar kawasan dan memperlambat aliran permukaan.

0 – 8. b.5 merupakan tanah asam.5 merupakan pH yang cukup netral dan pH asam akan berpengaruh sekali pada penghancuran bahan organik yang menjadi lambat dan juga menyatakan bahwa pH penting bagi tanah karena berfungsi untuk : a. sedangkan besi (Fe) dalam tanah sering menimbulkan masalah ferro (Fe2+) yang menyebabkan keracunan bagi tanaman. 1990) pH pada permukaan tanah lebih tinggi daripada lapisan di bawahnya karena serasah yang mengalami dekomposisi pada permukaan lebih banyak sehingga tanah mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi menyebabkan sedimen tanah menjadi masam. Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara yang diserap oleh tanah. Hasil survei (tabel 15. gambar 26) menunjukkan kisaran pH tanah 4. Fe ²+ dan pH < 6. yang agak sulit dapat dikembangkan sebagai lokasi pertanian.0–4.2 – 4. Tanah sulfat masam merupakan nama umum yang diberikan pada tanah yang mengandung pirit.5. Tanah sulfat masam yang digali untuk dikonversi menjadi sawah menyebabkan pirit teroksidasi. Mempengaruhi perkembangan tanah Menurut (Ewusie.0 – 6.5 terjadi peningkatan Al ³+.96 Aktifitas mikroorganisme pengurai dalam proses dekomposisi serasah bekerja secara optimal dengan pH 6. Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun dan c. menyebabkan penurunan pH tanah dan meningkatkan kelarutan unsur-unsur toksik seperti besi dan alumunium. Kadar Al meningkat pada pH 4. . khusus dalam keadaan tergenang. Menurut Barchia (2006) merupakan kendala pengembangan pertanian tanaman tumbuh sehat di tanah gambut pada pH ≤ 4.5 akan terjadi kahat Mg.0 dan pada kisaran 6.

97 Kandungan fosfor pada tanah sulfat masam rendah dan ketersediannya karena terikat besi dan alumunium tanah. perendaman untuk melarutkan dan menetralisisr kemasaman atau menurunkan produksi kemasaman lanjut. 3. Namun masih sesuai untuk pertanian dengan terlebih dahulu memperbaiki kualitas lahan dengan cara remediasi atau dengan kata lain dikenal istilah lain reklamasi atau ameliorasi. Menurut Barchia (2006) dataran aluvial pantai merupakan hasil pengendapan bahan yang terbawa air laut bercampur dengan aluvium dari sungai . Tipikal dataran aluvial merupakan hasil pengendapan dari bahan aluvium yang terbawa oleh sungai Kintap dan meluap dikiri dan kanan sungai. Bahan sulfida pada endapan marin terbentuk karena adanya proses yang ditunjang oleh bakteri bersuasana reduksi dan kaya bahan organik dari pelapukan vegetasi kelompok mangrove. 2002) ditemukan bahwa satuan bentuk lahan di lokasi studi (tabel 15 dan gambar 27) merupakan dataran aluvial yang masih sesuai untuk budidaya pertanian walaupun masih memerlukan pengolahan dalam pemanfaatannya. menimalkan cadangan unsur-unsur toksik dalam tanah. dan pencucian untuk membuang hasil oksidasi dan. Remediasi adalah pengeringan tanah untuk mengoksidasi pirit. sehingga pemberian pupuk yang mengandung fosfor menjadi tidak efisien sebelum kemasamannya diperbaiki lebih dahulu. material aluvium sungai menutup endapan marin yang kaya dengan sulfida. Satuan bentuk lahan Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan dokumen rencana umum tata ruang kawasan pesisir Kabupaten Tanah Laut Tahun 2002-2012 (Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Selatan.

Tabanio dan Kintap.umur relatif muda. 4. tetapi banyak pula yang telah berubah penggunaan lahannya. Karakteristik sistem lahan terluapi air saat pasang air laut.98 (estuarin) yang diendapkan di pantai. dan sebelum dilakukan kegiatan budidaya kebanyakan merupakan wilayah hutan mangrove. Bahan penyusun endapan sungai yang menutup endapan estuarin. Debit air yang diatur atau diminimalkan . Sistem pertanian yang memanfaatkan aliran air tersebut dapat mengganggu pola sirkulasi air di pesisir. tingkat kesuburan tanah rendah. seperti untuk tambak. 2006). Air dimasukkan melalui kanal-kanal yang dibuat secara tradisional dan diatur melalui pintu-pintu air. dan banjir musiman. Bukan di zona rawan banjir dan genangan Hasil survei dan wawancara dengan penduduk menginformasikan bahwa lokasi pertanian bukan merupakan daerah banjir tergolong sangat sesuai (tabel 15 dan gambar 28) karena sistem pertanian setempat memanfaatkan pola aliran air atau sistem irigasi yang baik dengan memanfaatkan sungai Kintap sebagai sumber air sehingga air dapat dikontrol. salinitas tinggi dan pada beberapa tempat dari sebaran sistem lahan ini masih ada yang berupa hutan mangrove. Lapisan sulfat masam terdapat di kedalaman 51 – 75 cm (Barchia. tetapi pembentukan sulfida masih belum intensif. Relief datar (lereng < 2%). Tanah ratarata tidak matang. berdrainase terhambat. seperti sungai Barito. Penggunaan varitas padi yang sesuai dengan karakteristik lahan basah dimanfaatkan petani sebagai alternatif. drainase termasuk buruk. dan pada beberapa tempat lapisan gambut tipis menutupi bagian atas tanah. Bahan aluvial terutama diperoleh dari sungai-sungai besar yang ada di sekitar sistem lahan tersebut menyebar.

26. Gambar. Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut berdasarkan Zonasi Penyangga Gambar.al. Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut berdasarkan pH Tanah . Sebaliknya masukkan air tawar dari upland meningkat berpengaruh bagi juvenil udang saat pembesaran yang mengalami mortalitas tinggi di sekitar tambak yang berdekatan dengan lokasi pertanian (Dahuri et.99 untuk keperluan irigasi maka salinitas meningkat dan jangkauan intrusi semakin jauh ke hulu. 2004). 25.

100 Gambar. 27. 28. Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut berdasarkan Satuan Bentuk Lahan Gambar. Peta Kesesuaian Kawasan Pertanian di Wilayah Studi Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut berdasarkan Daerah Banjir dan Genangan .

Pemukiman yang berada di sempadan pantai rawan terhadap bencana pesisir selain kemampuan untuk evakuasi yang terbatas juga terbatasnya vegetasi mangrove sehingga lokasi ini mudah mengalami dampak langsung yang ditimbulkan oleh gelombang. Sedangkan bagi pemukiman di lahan basah membawa pengaruh pada hasil sampingan berupa limbah domestik yang akan mengurangi kesuburan bahkan cenderung mencemari kawasan tanaman pangan tersebut sehingga produksi yang diharapkan menjadi tidak optimal. Aksesibilitas dari jalan Pola pengembangan pemukiman di pesisir umumnya bersifat linear yang memanfaatkan sungai. Lokasi 20 (tabel 15 dan gambar 29) tergolong tidak layak karena berada di sempadan pantai yang kondisi mangrovenya sudah tidak optimal lagi sebagai pelindung pantai sehingga lokasi ini rawan terhadap bencana. 2.101 C. Pengaruh lain dari pemukiman yang berada di aliran irigasi membawa dampak pada kawasan pemanfaatan yang merupakan tujuan aliran seperti sawah dan tambak di Muara Kintap yang mendapatkan aliran air sehingga kualitas perairan menurun yang berpengaruh pada produktivitas yang ditandai dengan mudahnya varitas atau kultivan terserang hama dan penyakit. pantai dan jalan karena memudahkan dalam aksesibilitas dan perekonomian. Pemukiman 1. angin dan bencana pesisir akibat pengaruh lautan. garis pantai dan jalan untuk kemudahan aksesibilitas untuk . Bukan di zona sempadan pantai. tanaman pangan dan irigasi Kawasan pemukiman di lokasi studi berdasarkan hasil pengamatan di lapangan mengikuti pola aliran sungai.

Namun hanya lokasi 4 dalam relatif sangat sesuai dan 5 sesuai. pembagian ini di dasarkan pada jarak pemukiman terhadap jalan. pantai dan jalan untuk penyebaran pemukiman. Dengan kedekatan akses ke jalan membawa kemudahan pada evakuasi dan distribusi apabila terjadi bencana pesisir. Pola pemukiman lama berada di sekitar tempat pelelangan ikan atau ibukota desa Muara Kintap sedangkan pengembangan pemukiman baru berlokasi di sepanjang aliran sungai Kintap dan jalan satu-satunya yang menghubungkan antara Muara Kintap dan kota kecamatan. selain itu dekatnya pemukiman dengan jalan akan menghidupkan perekonomian karena biaya dan transportasi mudah ke pusat-pusat desa lain dan kecamatan Kintap. 2001) Situasi ini ditemui di kota-kota kecamatan di Kalimantan Selatan yang memanfaatkan potensi sungai. 3. Jarak terhadap pantai Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan jarak pemukiman dari pantai di Muara Kintap tergolong sangat sesuai (tabel 15 dan gambar 31) kecuali lokasi 20 dalam kategori sesuai karena daerah pemukiman berada di aliran sungai dan tidak berkembang di pesisir sehingga relatif aman dari bencana pesisir baik gelombang besar terutama saat terjadi badai sehingga kawasan permukiman tidak terancam tersapu gelombang maupun bencana abrasi dan akresi.al. . Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan (tabel 15 dan gambar 30) menginformasikan lokasi pemukiman di Muara Kintap berpola linear dengan pengembangan masih memanfaatkan aliran sungai di bagian hilir dan jalan.102 semua kegiatan disebabkan keterbatasan secara geografis wilayah tersebut (Koestoer et.

057 jiwa (Kecamatan Kintap. .103 Jarak pemukiman yang lebih dari 100 meter dari pantai dapat meminimalkan dari pengaruh pasang surut air laut.79 % dari luas wilayah dan lebih banyak di usahakan untuk budidaya tambak dan pertanian. Tingkat kepadatan dan distribusi penduduk yang rendah dan tidak merata membawa pengaruh terhadap alokasi penggunaan ruang karena kepadatan pemukiman terpusat di lokasi aktifitas ekonomi seperti pusat desa.al. 4. 2006) dalam kategori sesuai (tabel 15 dan gambar 32) dengan pola atau konfigurasi ruang untuk pemukiman linear dengan mengikuti aliran sungai dan jalan yang berpusat di ibukota desa Muara Kintap. Kondisi ini disebabkan kepadatan penduduk yang ada 83 jiwa/ha dengan jumlah 4. dimana pasang surut air laut sekitar 1 meter dapat mempengaruhi daratan berjarak sampai 1 kilometer dari tepi pantai. 2001) dan mengurangi fungsi-fungsi ekologis kawasan konservasi serta menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang berakibat daerah ini menjadi rawan bencana. Tingkat kepadatan penduduk Alokasi keruangan di kawasan Muara Kintap yang dimanfaatkan untuk pemukiman sebesar 1. kondisi ini mengakibatkan perkembangan kota terhambat (Koestoer et. Pola sebaran penduduk Muara Kintap ini di dasarkan pada kemudahan akses baik transportasi. perdagangan dan ke lokasi kerja.

erosi. Sistem bangunan rumah panggung dan bertingkat digunakan warga masyarakat setempat untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan di lokasi rawan banjir. Pengaruh hidrodinamika pantai berupa pasang surut. gelombang yang disebabkan perbedaan tekanan angin menyebabkan daerah muara mengalami akresi selain pengaruh dari upland sehingga mengganggu sistem transportasi pelayaran di muara terlebih lagi ada beberapa pemukiman di daerah ini yang tentunya membawa dampak pada pendangkalan alur. abrasi dan akresi Berdasarkan hasil penelitian lokasi pemukiman di Muara Kintap berada di kawasan rawan bencana dalam kategori tidak sesuai (tabel 15 dan gambar 33) karena daerah pemukiman berada di tepi aliran sungai Kintap sehingga pengaruh pasang surut dan curah hujan yang tinggi menggenangi daerah ini. pembukaan perkebunan yang mengakibatkan erosi lahan di upland saat curah hujan tinggi yang berdampak pada daerah pemukiman di estuari Muara Kintap. . Terlebih lagi system tata guna lahan di daerah upland yang buruk dengan aktivitas illegal logging. Bukan zona banjir. pertambangan batubara.104 5.

105 Gambar. Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Tanah Laut berdasarkan Jarak dari Jalan (Aksesibilitas) . 29. Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Tanah Laut berdasarkan Sempadan Pantai dan Tanaman Pangan Lahan Basah Gambar. 30.

Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Tanah Laut berdasarkan Tingkat Kepadatan Penduduk . Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Tanah Laut berdasarkan Jarak dari Pantai Gambar.106 Gambar. 32. 31.

namun apabila limbah tersebut merupakan limbah domestik cair maka prosesnya akan berlangsung cepat dan tidak menyebabkan . Kondisi perombakan limbah organik ditentukan oleh banyaknya limbah yang dibuang ke perairan. Arus Berdasarkan tabel 15 dan gambar 34 kondisi arus sangat sesuai di wilayah 7 dan 15 yang merupakan kawasan industri perikanan dan saat musim hujan arus lebih besar dibanding saat penelitian (lampiran 3). Tanah Laut berdasarkan Daerah Bencana Pesisir D. disamping itu arus dapat mencegah tertimbunnya bahan-bahan organik di tempattempat tertentu. Industri Perikanan 1. 33. Peta Kesesuaian Kawasan Pemukiman di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab.107 Gambar. Arus berperan penting di perairan mengalir karena dapat menentukan kualitas dan kuantitas endapan.

namun peran arus lebih besar di perairan tawar daripada di perairan laut dalam proses tersebut (Supriharyono. Terutama bagi golongan terakhir yang terdiri dari telur-telur dan burayak-burayak avertebrata dasar dan ikan-ikan. atau pH air yang tidak cocok bagi mikroba. kondisi ini berbeda dari data tahun 2006 yang masih dalam kisaran 8-9 ppm (lampiran 3). BOD5 Biochemical Oxygen Demand (BOD5). banyaknya material organik di perairan. baik holoplankton maupun meroplankton. menggambarkan banyaknya zat organik mudah terurai oleh kegiatan biokimia dalam suatu perairan. 2007). Manfaat dari arus dapat meningkatkan produktivitas primer di perairan dan dapat memindahkan limbah serta menurunkankecerahan kondisi ini menyebabkan rendahnya laju pertumbuhan tanaman air. . Berdasarkan hasil penelitian kandungan BOD5 yang berada pada keadaan sesuai (tabel 15 dan gambar 35) dengan nilai 12 ppm. Arus dapat menjadikan perairan pulih kembali tentunya dengan bantuan oksigen dan mikroorganisme pengurai yang dinamakan biodegradable. 2007).108 kondisi deplesi oksigen yang akan membahayakan ikan karena produk ini menghasilkan hidrogen sulfida dan methana (Supriharyono. 2. yakni banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan zat organik yang terdapat dalam air selama 5 hari. Arus juga memainkan peranan penting bagi penyebaran plankton. Terdeteksinya nilai BOD5 yang tinggi di lokasi industri perikanan ini menunjukkan kemungkinan adanya material dalam air yang bersifat racun dari proses industri.

Boyd and Lichkoppler (1986) memberikan kisaran konsentrasi oksigen dan pengaruhnya terhadap kehidupan ikan sebagai berikut. . a. DO Menurut Sugiharto (1987) oksigen terlarut (Dissolved Oxygen=DO) adalah banyaknya oksigen yang terlarut dalam air dan diukur dalam satuan bagian persejuta (ppm). maka ikan tidak mau makan dan tidak tumbuh dengan baik. Makin besar DO. karena lebih mudah terserang parasit dan penyakit. Mahida (1984) mengemukakan bahwa kebutuhan oksigen sangat berantai kegunaannya. sehingga menipiskan kandungan oksigen dalam perairan akan menghambat berbagai aktivitas dalam perairan tersebut dengan titik kritis pada perairan terjadi pada kisaran 3 . Bila konsentrasi di bawah 4 – 5 ppm. ikan kecil hanya bertahan hidup dalam waktu singkat. Menurut Purnomo (1992) BOD5 yang baik untuk ikan. < 3 ppm.7 ppm (tabel 15 gambar 35). Data penelitian menginformasikan bahwa kondisi DO di lokasi industri perikanan dalam kriteria sesuai sebesar 3. DO dipergunakan sebagai tanda derajat pengotoran limbah.109 Air dengan nilai BOD5 yang tinggi kurang baik untuk budidaya. 3. udang dan kepiting bakau berkembang adalah tidak lebih dari 6 ppm. keadaan ini mengindikasikan oksigen terlarut di lokasi perairan pada industri perikanan mengalami pengotoran yang tinggi juga data hasil pemantauan lingkungan pada oktober 2006 (lampiran 3).5 ppm. derajat pengotoran makin kecil. Air yang mengandung konsentrasi oksigen rendah akan mempengaruhi kesehatan ikan yang hidup dalam perairan tersebut.

4. . sehingga dapat menurunkan kemampuan biota tersebut untuk hidup normal dalam lingkungannya. Namun menurut pemilik lokasi. Sumber O2 terlarut dari perairan adalah udara di atasnya. Kebanyakan dapat hidup dalam keadaan kandungan O2 yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2 sama sekali. Bukan di zonasi rawan banjir dan genangan Berdasarkan hasil survei di lokasi industri perikanan (tabel 15 gambar 36) menginformasikan bahwa bangunan untuk industri berada di aliran sungai Kintap atau merupakan zona lindung sempadan sungai yang termasuk kategori layak. proses fotosintesis dan glikogen dari binatang itu sendiri. industri ini dibangun dengan mempertimbangkan kemudahan akses ke pasar dan pemasok (nelayan). karena pengaruh pasang yang tinggi dari laut dan pada kondisi curah hujan yang tinggi kawasan ini dapat tergenang. Tentunya pilihan lokasi di tepi sungai dengan mengkonversi kawasan sempadan sungai membawa akibat kawasan ini rawan terhadap bencana banjir. Oksigen terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun beberapa binatang dapat hidup tanpa O2 (anaerobik) sama sekali yang lain dapat hidup dalam keadaan aerobik.110 b. > 5 ppm kisaran yang diinginkan. Menurunnya kadar O2 terlarut dapat mengurangi efisiensi pengambilan O2 oleh biota laut. > 3 – 5 ppm ikan bertahan hidup tetapi pertumbuhannya lambat jika dibiarkan lama dan c.

Lokasi ini paling rendah mengalami gangguan sedimentasi/abrasi karena gelombang dapat menimbulkan nearshore current untuk pembentukan sedimentasi/abrasi (Dahuri et. Tinggi gelombang Berdasarkan hasil survei lapangan (tabel 15 dan gambar 37) tinggi gelombang di lokasi 7 dan 15 tergolong sangat sesuai. . Namun lokasi ini secara alamiah untuk dapat menanggulangi dampak limbah dari industri menjadi tidak efektif karena gelombang yang rendah dimana gelombang dapat mencampur gas atmosfir ke dalam permukaan air sehingga memulai proses pertukaran gas yang selanjutnya dapat digunakan untuk pembersihan badan air dari bahan organik pencemar tersebut. Model bangunan panggung sebagai cara adaptasi banjir dan pasang tinggi.al. namun kebutuhan akan air bersih tentunya kurang dan memanfaatkan sungai setempat untuk melakukan aktivitas industri pengolahan sehingga produk yang dihasilkan kurang hygenis dan limbah yang dihasilkan langsung di buang ke badan air. Kondisi ini membawa pengaruh pada keterlindungan lokasi dan keamanan dari gelombang laut yang dapat merusak infrastruktur industri. 5. 2004).111 Terlebih lagi rusaknya tata guna lahan di bagian hulu membawa air larian permukaan (run off) lebih cepat ke daerah hilir sehingga lokasi industri perikanan ini sering tergenang. Gelombang yang kurang dari 1 meter tersebut di karenakan lokasi industri ini tidak berada di muara/pantai yang berbatasan langsung dengan laut.

Berubahnya vegetasi di sempadan sungai pada lokasi pengamatan menyebabkan hilangnya fungsi ruang terbuka hijau sehingga tidak dapat mereduksi dampak dari aktivitas pencemaran di lokasi ini. Ruang Terbuka Hijau Pemanfaatan ruang terbuka hijau untuk membatasi dampak yang dihasilkan antar kegiatan yang berpotensi menimbulkan akibat negatif yang lebih besar dari kegiatan yang lain (Koestoer et.al.112 Gelombang yang datang akan menimbulkan arus sehingga dapat mereduksi limbah tersebut. kondisi ini menggambarkan bahwa potensi cemaran yang berasal dari limbah industri perikanan akan membawa dampak pada aktivitas pertambakan dan pemukiman serta aliran sungai Kintap. Ruang terbuka hijau berupa tanaman hijau atau tumbuh-tumbuhan secara alamiah ataupun budidaya tanaman dapat berupa sempadan. zona penyangga. hutan rawa dan areal perkebunan/persawahan. lokasi 7 tergolong tidak sesuai. . 2001). Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di lokasi 15 untuk industri perikanan memiliki ruang terbuka hijau selebar 500 meter (tabel 15 dan gambar 38) sehingga tergolong sangat sesuai. 6. namun apabila gelombang yang sampai dalam jumlah sedikit maka tidak akan mampu mereduksi limbah tersebut secara alamiah.

Peta Kesesuaian Kawasan Pemanfaatan Industri Perikanan di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Tanah Laut berdasarkan Nilai DO dan BOD5 . Peta Kesesuaian Kawasan Pemanfaatan Industri Perikanan di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. 34.113 Gambar. Tanah Laut berdasarkan Nilai Arus Gambar. 35.

36. Tanah Laut berdasarkan Daerah Banjir dan Genangan Gambar. Tanah Laut berdasarkan Tinggi Gelombang . Peta Kesesuaian Kawasan Pemanfaatan Industri Perikanan di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. 37.114 Gambar. Peta Kesesuaian Kawasan Pemanfaatan Industri Perikanan di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab.

Besar dan arah gelombang berpengaruh terhadap proses dinamika pantai. 38. Kesesuaian Pesisir Kawasan Perikanan Muara Kintap Berdasarkan Parameter Biofisik Pelabuhan Khusus 1. Kondisi ini cukup baik dalam aktivitas kepelabuhanan karena pengaruh .40 yang berada di sungai Kintap.85 yang berada di pesisir dan 0. sehingga arah angin di laut identik dengan arah gelombang. daya tahan struktur bangunan di pesisir.5.115 Gambar.3. kehidupan biota dan pelayaran. Tanah Laut berdasarkan Ruang Terbuka Hijau 4. Tinggi gelombang Gelombang laut merupakan reaksi permukaan air laut oleh seretan angin. Peta Kesesuaian Kawasan Pemanfaatan Industri Perikanan di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Gelombang harus diperhitungakan dalam setiap aktivitas di pesisir dan laut. Berdasarkan hasil pengukuran di lokasi pelabuhan khusus batubara (tabel 16 dan gambar 39) ditemukan bahwa ke-3 lokasi pengamatan tersebut sangat sesuai dengan kisaran 0.

Sedangkan mekanisme pembentukan abrasi dan sedimentasi pantai ditentukan oleh besarnya sudut datang gelombang yang menyusur pantai (longshore current) yang berpengaruh terhadap transportasi sedimen namun sedimen yang terangkut akan menimbulkan abrasi dan sedimentasi di region lain yang berkilometer jauhnya (Dahuri et.al. Pasang surut daerah pesisir Tanah Laut termasuk pesisir Muara Kintap . 2004). 2. Selain itu. 2004). matahari dan benda angkasa terhadap bumi. Besar kecilnya membawa pengaruh besar terhadap kesetimbangan hidrodinamika pantai. 2004). Mekanisme abrasi dan sedimentasi disebabkan sudut datang gelombang kecil atau gelombang yang datang kurang dari 1 meter utamanya di lokasi pelabuhan batubara maka terbentuk arus meretas pantai (rip current) dengan arah menjauhi pantai di samping terbentuknya arus menyusur pantai.al. 3. Dinamika pantai Abrasi dan sedimentasi yang merupakan sistem dinamika pantai tidak ditemukan di lokasi pelabuhan khusus batubara (tabel 16 dan gambar 39) karena mekanisme abrasi dan akresi di mulai dari gelombang yang mampu menimbulkan arus (Dahuri et.116 gelombang yang kecil akan memudahkan dalam proses bongkar muat material batubara dan penambatan tongkang. Pasang surut Pasang surut merupakan pergerakan permukaan air laut arah vertikal yang disebabkan pengaruh gaya tarik bulan. tinggi gelombang pada kondisi ini dapat memperlambat proses sedimentasi atau erosi pantai pada tipe pantai berpasir (Dahuri et.al.

58 meter saat dilakukan pengambilan sampel tanggal 16 april 2007. memiliki pola satu kali pasang dan satu kali surut. kandungan logam berat yang terakumulasi baik dalam massa air maupun sedimen akan terbawa dan berpindah tergantung dari kondisi pasang surut tersebut (Birowo dan Arief. 4.117 khususnya. 1983). Pencemaran perairan Hasil survei lapangan ditemukan nilai parameter pencemaran perairan di sekitar pelabuhan khusus batubara berada pada kategori tidak sesuai (tabel 16 dan gambar 40) karena nilai pencemaran yang didapatkan melebihi batas normal. kondisi ini telah terjadi sejak tahun 2006 (lampiran 3) untuk semua parameter yang diukur dalam penelitian ini telah mengalami kenaikan tingkat pencemaran walaupun saat itu sampling yang dilakukan waktu musim hujan. Namun dalam pengangkutan sedimen tadi. Masukan pencemaran batubara berasal dari aktivitas bongkar muat dari kapal tongkang (barge) ke kawasan penimbunan batubara (stockpile) . kondisi ini berpengaruh pada dinamika air sekitar pantai. Menurut data pasang surut pada lampiran 4 kondisi pasang surut sangat sesuai dengan nilai rata-rata 1. kondisi ini menginformasikan daerah tersebut memiliki tipe pasang surut tunggal atau pasang surut harian tunggal (diurnal tide). sedangkan tabel 16 dan gambar 39 menginformasikan kesesuaian lokasi untuk pelabuhan. Arus pasang surut yang terjadi akibat massa air tawar dan asin akan mengangkat sedimen berbutir halus (lempung) sehingga daerah tersebut berada dalam kondisi seimbang dimana antara sedimen yang dibawa ke laut dapat segera diangkut oleh ombak dan arus.

Selain itu faktor curah hujan langsung membawa jatuhan batubara dari conveyor belt dan tumpahan atau ceceran minyak dan lemak akibat aktivitas pengisian bahan bakar ke togboat. 1992).2 – 2 ppm. kebanyakan alga tumbuh baik bila kadar besi dalam air 0. pH air. Minyak dan lemak pada kisaran lebih dari 5 ppm mengakibatkan oksigen dari udara dapat terhalang masuk ke laut karena lapisan minyak sehingga nilai kandungan oksigen terlarut di lokasi studi menurun dan dapat mematikan organisme yang memerlukan oksigen cukup banyak untuk aktivitas hidupnya. Partikel batubara dengan berbagai ukuran di dalam air menyebabkan meningkatnya kadar total suspended solids yang dalam proses fisika dan kimiawi membawa penurunan kadar oksigen terlarut. Menurut Effendi (2004). biota-biota yang tergolong udang (crustacea) . Sedangkan unsur kimia Fe2+ (besi) berfungsi dalam produksi klorofil. Sedangkan untuk tambak udang kadar Fe2+ yang lebih dari 0. Selama proses tersebut berlangsung terjadi jatuhan partikel batubara ke dalam laut dan partikel debu batubara yang dihembuskan angin ke perairan laut dan air larian (run off) membawa partikel batubara yang sebagian kecil masuk ke perairan pantai. 2007). Cd. namun mempunyai efek racun pada kadar lebih tinggi dari 5 ppm.03 ppm sudah dapat mengganggu metabolisme udang (Purnomo. meningkatkan turbiditas dan kadar logam Fe. Cr+6 dan Pb sedangkan aktivitas ceceran bahan bakar hasil pengisian dan buangan air ballast menimbulkan pencemaran minyak (Supriharyono. Fe (besi) harus ada dalam bentuk dan kadar tertentu dalam air. Konsentrasi kelarutan Cd dalam badan air dapat membunuh biota perairan.118 menggunakan conveyor belt.

003-10 ppm (Supriharyono.119 akan mengalami kematian dalam selang waktu 24 . Masuknya bahan pencemar di dalam perairan akan membunuh organisme yang paling sensitif. biota-biota perairan seperti crustacea akan mengalami kematian setelah 245 jam bila pada badan perairan dimana biota itu berada terlarut Pb pada konsentrasi 2. Demikian seterusnya. Sedangkan Cr6+ (bervalensi 6) atau dikenal dengan chromate bagi organisme ikan Agonus cataphractus dapat menimbulkan daya racun pada 37 ppm (Supriharyono. Bila bahan pencemar terus naik. 2007) pada hydra laut (Eirena viridula) seperti di sekitar pelabuhan batubara ini.1984) dan 0. Senyawa dan ion-ion Pb yang telah masuk ke badan perairan dapat membunuh hydra laut (Eirena viridula) pada kisaran 1-10 ppm (Supriharyono. Hilangnya hewan-hewan herbivora ini akan mengganggu hewan-hewan karnivora (Hutagalung. organisme yang paling sensitif berikutnya akan mati. Pemasukan bahan pencemar ke lingkungan perairan dapat juga mengganggu siklus makanan. 1992). dan penambahan bahan pencemar terakhir akan membunuh moluska jenis filter feeder pemakan detritus. 1994) dan 0. Tumbuh-tumbuhan akan terbunuh oleh bahan cemaran. 2007) dan 0.005-0.001-1. .328 ppm untuk budidaya tambak udang (Purnomo.01 ppm tidak diperkenankan untuk budidaya udang (Purnomo.75-49 ppm (Hutagalung . 1992) serta 0.157 ppm untuk budidaya udang (Purnomo.15 ppm (Palar.1984). Matinnya tumbuh-tumbuhan ini mengakibatkan hewan herbivora tidak dapat hidup dalam waktu yang lama. 1992).504 jam bila dalam badan perairan biota ini hidup terlarut logam atau persenyawaan Cd pada rentang konsentrasi 0.013-0. 2007).

035 0. 28 0.Hasil Pengamatan dan Pengukuran Parameter untuk Biofisik Pelabuhan Khusus Lokasi 1 Desa Muara Kintap Parameter Tinggi gelombang 0.85 1.120 Tabel.59 Tidak terjadi Tidak terjadi 0 0 0 0 0 10 4 8 8 Pencemaran : Minyak & lemak (ppm) Fe2+ (ppm) Cd (ppm) Cr6+ (ppm) Pb (ppm) Sumber : Hasil Penelitian.40 1.59 Tidak terjadi Tidak terjadi 0 0 0 0 0 10 4 8 8 17 Muara Kintap Pencemaran : Minyak & lemak (ppm) Fe2+ (ppm) Cd (ppm) Cr6+ (ppm) Pb (ppm) Tinggi gelombang (m) Pasang surut (m) Dinamika Pantai : Abrasi Sedimentasi 15 0.04 0.221 0.011 0.82 (m) Pasang surut (m) 1.164 0 0 0 0 0 .024 0.04 0. April 2007 .633 0.166 0.018 0.02 0.292 0.59 Dinamika Pantai : Abrasi Sedimentasi Tidak terjadi Tidak terjadi Kesesuaian Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Skor 10 4 8 8 10 Muara Kintap Pencemaran : Minyak & lemak (ppm) Fe2+ (ppm) Cd (ppm) Cr6+ (ppm) Pb (ppm) Tinggi gelombang (m) Pasang surut (m) Dinamika Pantai : Abrasi Sedimentasi 25 0.16.

Pasang Surut Gambar. Fe.Tanah Laut berdasarkan Pencemaran (minyak lemak. Cr6+ dan Pb) . Peta Kesesuaian Pelabuhan Khusus di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab. Dinamika Pantai. Peta Kesesuaian Pelabuhan Khusus di Wilayah Studi Pesisir Muara Kintap Kab.121 Gambar. Tanah Laut berdasarkan Tinggi Gelombang. Cd. 40. 39.

Arti nilai 60 menunjukkan kondisi zonasi Muara Kintap yang dimanfaatkan sebagai kawasan pembangunan perikanan berada pada batas minimum. Oleh karena itu perlu upaya dan pengelolaan agar pemanfaatan ruang yang ada di wilayah Muara Kintap berada pada keadaan optimum guna mewujudkan Muara Kintap sebagai kawasan sentra perikanan yang sesuai dengan amanat Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi maupun Kabupaten. Kondisi ini menjadikan Muara Kintap sebagai daerah rawan bencana pesisir banjir .Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap berdasarkan Overlay Parameter Biofisik Lindung. Daerah yang merupakan pusat kegiatan perikanan dengan yuridiksi kawasan pembangunan perikanan radius 3. Terbatasnya mangrove sebagai buffer zona (zona penyangga) antar kawasan yang tidak sinergis (saling merugikan) membawa pengaruh terhadap menurunnya kualitas perairan dan lingkungan. Pemanfaatan dan Pelabuhan Khusus dengan Algoritma Spasial Hasil algoritma spasial secara umum dari data lapangan dalam bentuk peta tematik memberikan informasi di zona 1 dan 2 yang dibagi berdasarkan karakteristik aliran sungai berada pada kategori sesuai dengan kisaran skor 60.5 dan 7 kilometer dari pusat desa menginformasikan kawasan tersebut berada dalam tingkat tidak sesuai disebakan lokasi ruang yang dimanfaatkan berada di sempadan pantai dan sungai serta tidak memiliki vegetasi sebagai buffer zona. pemukiman dan industri perikanan serta aktivitas lain dengan tidak memperhatikan kualitas lingkungan melalui kegiatan konversi mangrove pada sempadan pantai dan sungai Kintap yang menimbulkan penurunan fungsi ruang di kawasan studi Muara Kintap. Faktor pembangunan tambak.6.122 4.

sedimentasi yang dapat menghambat jalur transportasi air dan abrasi yang mengancam satu-satunya akses jalan dari dan ke desa Muara Kintap. Tabel 17.1 Sesuai Sumber : Hasil Penelitian April 2007 dan Contoh perhitungan dengan model Algoritma Spasial pada lampiran 9. Kesesuaian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap Berdasarkan Overlay Parameter Lindung.5) ** fokus kegiatan perikanan Muara Kintap pada radius 7 km (nilai skor 56.7 Sesuai 60. Pemanfaatan dan Khusus dengan Algoritma Spasial Lokasi Zonasi Alokasi Ruang Skor Berdasarkan Algoritma Spasial Kriteria Kesesuaian 1 2 3 6* 4* 7 5* 8 10 11 12 20 9 18 17 19 16 14 15 13 I II Pelabuhan Khusus Pertanian(pemanfaatan) Tambak (pemanfaatan) Tambak (pemanfaatan) ** Pemukiman (pemanfaatan)** Pemukiman(pemanfaatan)** Industri perikanan (pemanfaatan)** Lindung** Pelabuhan Khusus Pertanian(pemanfaatan) Tambak (pemanfaatan) Pemukiman (pemanfaatan) Tambak (pemanfaatan) Tambak (pemanfaatan) Pelabuhan Khusus Lindung Tambak (pemanfaatan) Tambak (pemanfaatan) Industri perikanan * (pemanfaatan) Pemukiman (pemanfaatan) 62.123 dan rob bagi pemukiman dan tambak yang membawa kerugian. Keterangan * fokus kegiatan perikanan Muara Kintap pada radius 3.8) .5 km (nilai skor 41.

124 Gambar 41. Peta Kesesuaian Pemanfaatan Ruang & Fokus Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap berdasarkan Algoritma Spasial .

biologi. ekologi. Namun kondisi zonasi pemanfaatan berada pada batas minimum sehingga optimal. dengan mereduksi masukan atau komponen yang dapat mengurangi bahkan cenderung merusak kawasan ini melalui berbagai aktivitasnya. 2002) zona kawasan studi dapat dikelompokkan menurut kesamaan karakteristik fisik. Implementasi kebijakan telah di laksanakan dengan pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang sektor perikanan pesisir Muara Kintap.7.125 4. Menurut Kepmen Kelautan dan Perikanan Nomor Kep. Alternatif Pengelolaan Zonasi Kawasan Perikanan Pesisir Muara Kintap Berdasarkan Kondisi Eksisting. 2005). . Kesesuaian Pemanfaatan Ruang dan Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Tanah Laut Peran kawasan perikanan Muara Kintap yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kalimantan Selatan sebagai kawasan andalan perikanan yang merupakan jaringan Kawasan Sentra Produksi (KSP) Tanah Laut dan Kotabaru di prioritaskan dalam pengembangannya sebagai perikanan laut dan tambak (Pemerintah daerah Propinsi Kalimantan Selatan.34/Men/2002 tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Departemen Kelautan dan Perikanan. Berdasarkan hasil skoring dengan algoritma spasial untuk kawasan pemanfaatan perikanan dan fokus kegiatan Muara Kintap masih dalam kriteria sesuai. dan ekonomi yang ditentukan berdasarkan pengelompokkan kegiatan yang bersifat sinergis dan memilahnya dari kegiatan yang bertentangan dengan kriteria tertentu sehingga kawasan ini dapat mempertahankan nilai keberlanjutan (sustainable).

Secara ekologis untuk pengalokasian ruang baru sebagai kawasan pelabuhan khusus di Muara Kintap sudah tidak sesuai karena .09 hektar.272 hektar yang disajikan pada gambar 42. industri perikanan. Zona Pemanfaatan Perikanan merupakan kawasan atau zona yang dalam kegiatannya merupakan zona yang aktivitasnya sejenis atau dapat mendukung zona yang lain serta tidak menimbulkan masalah terhadap zona yang lain. Selain itu. Berfungsi sebagai zona utama untuk kegiatan perikanan dan kegiatan lain yang masih berhubungan atau saling mendukung antar pemanfaatan ruang yang merupakan sub zona dari kawasan perikanan itu sendiri. Dalam alokasinya zona ini terdiri dari 2 sub zona yaitu : a. Ruang untuk zona ini sebesar 156. b. pemukiman dan pertanian serta perkebunan dengan luas daratan sekitar 4. Zona ini terdiri dari kelompok kegiatan pertambakan. Zona Pemanfaatan (use zone).126 Secara umum menurut hasil penelitian berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan tersebut maka kawasan perikanan Muara Kintap dapat dikelompokkan pada 3 zonasi yang mewakili karakteristik pemanfaatan ruang di kawasan tersebut yaitu : 1. Zona Pemanfaatan Khusus merupakan kawasan atau zona yang dalam kegiatannya dapat menimbulkan dampak terhadap ruang yang lain sehingga perlu dilakukan upaya perlindungan terhadap ruang yang lain dengan mengatur penempatan zona ini pada ruang tertentu yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kegiatan tersebut. penempatan vegetasi sebagai zona penyangga antar kawasan harus diterapkan.

41 hektar untuk sungai seperti ditampilkan pada gambar 42 dan tabel 18 berikut. Terlebih lagi konflik petani dengan pihak pelabuhan khusus dengan menurunnya hasil budidaya tambak setelah kegiatan ini beroperasi.127 fungsi sempadan dan penyangga yang berkurang untuk mereduksi dampak kegiatan tersebut dan kelayakan untuk pembuatan pelabuhan khusus karena sebagian besar ruang di kawasan Muara Kintap telah berubah fungsi sebagai pertambakan. sedangkan lindung lokal yang lain berupa sempadan sungai dan pantai yang hampir luas penutupannya berkurang sehingga perlu di optimalkan kembali hingga sesuai dengan kriteria Kepmen Kelautan dan Perikanan dengan potensi 143. 3. Zona penyangga di kawasan studi. .07 hektar yang berada di lokasi 8 dan 19. alokasi penetapan ruangnya di distribusikan pada kegiatan pelabuhan batubara yang berpotensi mencemari daerah-daerah lainnya. Hampir semua pemanfaatan ruang yang rawan menimbulkan masalah antar zona yang lain belum memiliki penyangga. Zona Penyangga (buffer zone) Alokasi dan sebaran zona ini sangat diperlukan terutama pada daerah yang aktivitasnya berpotensi membawa dampak pada daerah lain sehingga nilai kawasan lain menjadi menurun bahkan tidak dapat difungsikan lagi. Sampai saat ini zonasi penyangga berupa vegetasi antara pelabuhan khusus batubara dan wilayah lain belum ada. Zona Lindung Fungsi zona lindung sebagai kawasan perlindungan lokal karena memiliki nilai atau habitat endemik.317 hektar untuk sempadan pantai dan 223. 2. Untuk kawasan lindung lokal di alokasikan ruang sebesar 46.

hutan rawa dan pelabuhan khusus kawasan belum batubara dan lokasi dimanfaatkan.317 37. kecuali Pulau Kebun/tegalan. . Pelabuhan khusus batubara Lindung . et al. Selain berperan secara ekologis fungsi penyangga sebagai sedimen trap (penjebak). dan lokasi pelabuhan khusus batubara. melindungi kualitas massa air serta menahan bahan-bahan pencemar dan memperlambat aliran permukaan (run off) sehingga bencana berupa sedimentasi dan meningkatknya kekeruhan di badan air dan tambak dapat dikurangi (Dahuri.128 hanya tambak dan pertanian yang memiliki kawasan penyangga namun di duga kawasan ini terbentuk karena belum dikonversi ke bentuk pemanfaatan lain. . Nyamuk. Industri Muara Kintap Perikanan. et al.07 223. memperlambat run off Sumber : Hasil Penelitian dan Analisis Spasial. Pertanian.feeding dan nursery ground Penyangga Sedimen trap. Berdasarkan analisis spasial kawasan penyangga di lokasi studi eksisting seluas 37.272 Fungsi Lokasi Pertambakan.6 meter ditambah 0. 11 dan 3 bahan-bahan cemaran dan serta 2 dan 1.324 hektar (gambar 42 dan tabel 18). melindungi Antara lokasi 10 kualitas massa air. 2004).lindung lokal -sempadan sungai -sempadan pantai 156. Tabel. menahan dan 12.324 Kawasan lindung lokal untuk konservasi habitat endemik dan daerah spawning. Pulau Nyamuk. 19 Bongkar batubara muat material Muara Kintap. 18. Lebar minimum zona penyangga sebesar 7.41 143. Luas Zonasi Alternatif di Kawasan Studi Zona Pemanfaatan Kawasan Perikanan Luas (Ha) 4. sepanjang aliran sungai dan pesisir pantai.6 meter untuk setiap 1% kemiringan lereng antara muka air dengan daerah hutan (Dahuri. April 2007. Perkebunan. 2. 2004).09 46.

Peta Alternatif Zona Wilayah Pesisir Muara Kintap berdasarkan Algoritma Spasial & Sistem Pemanfaatan Ruang. Kelestarian Kawasan .129 Daerah Penangkapan Juvenil udang Gambar 42.

Cr6+ dan Pb untuk penetralan limbah dan pembasahan batubara saat bongkar muat. terbuka hijau Revegetasi sesuai ketetapan perundangan untuk RTH industri. Parameter-parameter yang perlu diperhatikan dan menjadi dasar dalam pengelolaan ditunjukkan tabel 19 berikut. dan tanaman lahan basah Minyak dan lemak.1.130 4. Pengelolaan terhadap parameter aktual sebagai bagian dari solusi pengelolaan dengan meningkatan nilai-nilai dari parameter pemanfaatan. Pembuatan settling ponds Cd. . Tabel 19. Pengelolaan Parameter Aktual menjadi Kondisi Potensial No. Merupakan daerah Pendirian model rumah banjir. 13 dan 20 13. 5. Jenis Stasiun Kegiatan Kondisi Aktual berdasarkan Nilai Parameter Pengelolaan 7 Industri perikanan 15 Industri perikanan Pemukiman 4. 20 20 1.10 dan 17 Pemukiman Pemukiman Pelabuhan khusus .7. abrasi dan akresi dengan tipe panggung dan dapat relokasi ke jalan utama. lindung dan pelabuhan khusus agar ditemui sebagai kondisi yang potensial. Jarak dari jalan > 500 m Penyediaan transportasi lokal dan relokasi ke jalan utama. Berada di semp.pantai Relokasi ke jalan utama.Tidak memiliki ruang utama. Alternatif Pengelolaan Terhadap Masing-Masing Zona Berdasarkan Kondisi Aktual Upaya pengelolaan terhadap zonasi dalam lokasi-lokasi sampling di dasarkan pada nilai-nilai parameter aktual yang masih berada di tingkat kriteria tidak sesuai (tabel 15).Merupakan daerah Pendirian model rumah banjir dan genangan dengan tipe panggung dan dapat relokasi ke jalan . Merupakan daerah banjir Pendirian model rumah dan genangan dengan tipe panggung dan dapat relokasi ke jalan utama. Fe2+.

perbedaan sebesar 247. Pemanfaatan ruang Muara Kintap 4. selain pemukiman perubahan tersebut berada di barat sungai Kintap dengan mengkonversi hutan rawa/rawa-rawa dan lindung lokal.15 hektar) dari luas wilayah.7 .BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.9/2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten yang dialokasikan untuk pertanian lahan basah.59 hektar dari pertambakan mengindikasikan telah terjadi penambahan peruntukan.85% (887. Pemanfaatan ruang Muara Kintap eksisting tidak sesuai dengan Peraturan daerah No.09 hektar.28% (102.09 hektar yang merupakan ruang sebagai pelabuhan batubara. Pemanfaatan ruang terbesar Muara Kintap berdasarkan spasial untuk pertambakan 36.59 hektar) diikuti hutan rawa 24. 131 . 2.1-62.33% (1088.67 % (1640. kering dan tambak yang di dalamnya terdapat pelabuhan khusus dan stokpile batubara sebesar 156. Kesimpulan 1. tetapi perhitungan algoritma spasial secara umum di kawasan pembangunan perikanan tergolong sesuai dengan total skor 60.272 hektar sebagai kawasan perikanan (zona prioritas) dan pemanfaatan khusus sebesar 156.90 hektar) sedangkan pemanfaataan ruang untuk pemukiman yang terkecil sebesar 2.76 hektar) dan pertanian 19. 3. sungai serta penyangga 450.1.121 hektar sebagai alternatif zonasi untuk pengelolaan ruang di kawasan pembangunan perikanan Muara Kintap. sempadan pantai. lindung lokal.

Perlu peninjauan ulang terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Tanah Laut terhadap keberadaan kawasan sentra produksi perikanan (KSP) perikanan terpadu Muara Kintap.2.121 hektar sebagai upaya pengelolaan ruang yang berpotensi mematikan ruang lain di Muara Kintap agar meminimalkan konflik keruangan dan kembali mengoptimalkan kawasan pembangunan perikanan pesisir Muara Kintap. Saran 1. Perlu dikembangkan upaya revegetasi mangrove baik sebagai zona penyangga. 2. lindung lokal dan sempadan sebesar 450.5. .

Semarang. Alaerts. and Lichkoppler. Siri Tokwinas. In Introduction and Explanation Preager. Surabaya. Jakarta. Jakarta.Yakob. Budidaya Bandeng secara Intensif. D. Manajemen Budidaya Udang yang Baik dan Ramah Lingkungan di Daerah Mangrove. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Anggoro. Alabama. Biro Pusat Statistik. Pengembangan Prototipe Wilayah Pesisir dan Marina Kupang NTT.DAFTAR PUSTAKA Ahmad.. Jakarta..E. Auburn. Gambut Agroekosistem dan Transformasi Karbon. Jakarta. 1957. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tanah Laut. Publisher. Permasalahan Kesuburan Perairan bagi Peningkatan Produksi Ikan di Tambak. Pradnya Paramita. 1998.. 1996. Boyd. Regional Planning. Usaha Nasional. G. 133 . Biro Pusat Statistik Kabupaten Tanah Laut. 2002. 2006. Barchia.S. Yogyakarta. Jurnal Pewarta Oceana LON-LIPI. Pelaihari. Alih Bahasa Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan ISBN 971-8511-64-4. Tanah Laut Dalam Angka 2005/2006.. 2006. Pelaihari.. Jakarta. 2006. 1998. M. Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Laut. Upwelling atau Penaikan Massa Air. Birowo dan Arief. T. Brown. Ernawati dan M. F.C. Profil Kabupaten Tanah Laut Tahun 2005.R. 1983. 2 (3) 12-21. S. Gadjah Mada University Press. London. 2002.. 1983. Water Quality Management In Pond Fish Culture. Branch M. Budiharsono S. Balio. Muhammad F. Pusat Bina Aplikasi Inderaja dan SIG..J. Vol. New York Wespart Connection.. C. 1986.E.1984. S. Academic Press Inc.. Metode Penelitian Air. Penebar Swadaya.International Center for Aquaculture Agricultural Experiments Station Auburn University. Bakosurtanal. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. dan Santika. New York. The Physiology of Fishes Volume II.

2006. 2000. Jakarta. R. PT. GIS for School and Libraries Version 5.. Program Penginderaan Jauh untuk Sumberdaya dengan Pendekatan Interpretasi Citra dan Survei Terpadu. Pradnya Pratama. Yogyakarta. Darwanto. ESRI. Sistem Informasi Geografis. 2001. Jakarta. Environmental System Research Institute. 2002. Bandung. Penerbit Institut Teknologi Bandung. ADB-CRMP. Laut. Budidaya TambakMangrove Terpadu. Modul Sosialisasi Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sylvofishery. ________. Jakarta. J. Pengolahan Citra Digital. dan Nasional. dan M. . dan Pulau-Pulau Kecil Serta Hubungannya Antar Perencanaan Tingkat Kawasan Kabupaten. Hartoko. ________. Jakarta. Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu (Edisi Revisi). 2004. J.P. Mekanisme Pengelolaan Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir.Y.. Makalah pada Temu Pakar Penyusunan Konsep Tata Ruang Pesisir. Jakarta. 1990. 2003.Sitepu.Dahuri.. ________.J. 2004a. Universitas Gadjah Mada Fakultas Geografi (PUSPICS) UGM – Bakosurtanal. Departemen Kelautan dan Perikanan RI. MCRMP-ADB. S. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Banjarbaru. Laporan Proyek Asian Development Bank – Coastal Resources Management Project. P. Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Selatan.Ginting.. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Propinsi. Jakarta. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Dokumen Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Pesisir Kabupaten Tanah Laut Tahun 2002-2012. 2002. 2000. 1999. Edisi 2003. 2004b. Dulbahri. Ewusie. Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Selatan 2005/2006. A. Rais. Jakarta. Yogyakarta. Laporan Marine and Coastal Resource Management Project – Asian Development Bank. Pengantar Ekologi Tropika. 1996. Banjarmasin.. Danoedoro.

Kuntjoro W. Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Lingkungan Alam Wilayah Pesisir. R. 1996. 2003. Makalah Pengantar Falsafah Sains. H..H. Jakarta. 1988. Jakarta. Journal of Coastal Development Semarang. H. Gajah Mada University Press. Program Pascasarjana/S3. Effendi. 7 No. 2001. . 1997. S. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Pengaruh Iklim Terhadap Tanah Dan Tamanan. Kecamatan Kintap.9. Kartasapoetra.G. Dudy Darmawan. 1984. Jakarta. Pendekatan Sel Sedimen (Sediment Cell) Sebagai Acuan Penataan Ruang Wilayah Pesisir Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh. Kusuma.1-3 Oktober 2001. Kantor Menteri Lingkungan Hidup. Prosiding Himpunan Ahli Geofisika Indonesia. H. Kintap.H. Yogyakarta. Abidin. Sedimen dan Biota Buku 2. F. Riyono. Pemantauan Kondisi Udara Di Atas Gunung Api Batur dengan GPS. R. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kanisius. Metode Analisa Air Laut. Logam Berat dalam Lingkungan Laut. Kimata.P. 18-29.P. Vol. Setiapermana. Klimatologi. Institut Pertanian Bogor. 2006. Hutagalung. Koestoer. D. Tambunan. Vol IX No. Pertemuan Ilmiah Tahunan XXVI. Mipi A.Hartoko. M. Hasanuddin Z. 2006. Jakarta. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3660 Sekretariat Negara.Tanah Laut Kalimantan Selatan.. Jakarta. Lillesand Thomas M... No. Helmi. Hendrasto dan Oni K. A dan M.T. Development of Digital Multilayer Ecological Model for Padang Coastal Water (West Sumatra). Bina Aksara. A. Penerbit Universitas Indonesia Press. 2004. Jurnal Oseana LP30-LIPI Jakarta. Kiefer. Dimensi Keruangan Kota Teori dan Kasus. 1997. 7. H. Lembaran Negara RI Tahun 1990.44. Hutagalung. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Tarumingkeng dan Zahrial Coto.. Khakhim N. Suganda. P3O-LIPI. dan Ralph W. Jakarta. Budianto dan Sobirin.P.. Haerumen H. Yogyakarta. 10-18. Rudy C. 2001. Monografi Muara Kintap 2006.

8-16. 2000. AIT. Jurnal Teknik Lingkungan Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI. 1984. T. Canada. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri.D. 1992. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. 2002. Nirarita. Purnomo. and Strickland. di Perairan Pantai Timur Sulawesi Selatan. Yogyakarta. Elex Media Komputindo Gramedia. Parsons. A Practical Handbook of Seawater Analysis 2nd Edition Bull. Budidaya dan Pembenihan Bandeng. Jurnal Litbang Pertanian. Ekosistem Lahan Basah Indonesia. J. B. Nikolsky. 2002. Metode Research. 1963. Jakarta. Pelestarian Sumberdaya Kepiting Bakau Scylla sp.. 2003. Bogor Indonesia. Penerbit Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.. Pirzan A. Rajawali. C. Jakarta. C.3 untuk Pemula. M.Marganingrum D.B. 1963. Banjarmasin.. Jakarta. 2005. Central Research Institute For Fisheries. 19(2) 1827. Fish. Pemilihan Lokasi Tambak Udang Berwawasan Lingkungan. CH. Palar. Penebar Swadaya. Himpunan Lembaran Daerah/ Tambahan Lembaran Daerah Propinsi Kalimantan Selatan.. 2006. . Murtidjo. Nasution. Wetlands International – Indonesia Program Bogor. Mahida. dan Heru Santoso. 2002.V. Pembuatan Basis Data Spasial Pencemaran Sungai (Studi Kasus Sungai Citarum.N. Buku Panduan Untuk Guru dan Praktisi Pendidikan. Investigation of Rational Effluent and Stream Standard for Tropical Countries. PT Rineka Cipta. A. Penerbit PT. Academic press. Pescod. Mudjiman..A.R. A. 1994. 8. U.Bangkok.V.. Konsep – Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. H. Budidaya Bandeng di Tambak. Informatika Bandung. Jakarta. 1996. Penerbit Bumi Aksara. 1992. Prahasta E. Kanisius. New York. The Ecology of Fisheries.M. Endah. 1973. Nuarsa I Wayan. Vol. Biro Hukum Sekretariat Daerah Propinsi Kalimantan Selatan. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.. Jakarta. Menganalisis Data Spasial dengan ArcView GIS 3. Jakarta.

2005.Vol. 2006. No.68. Pengelolaan Bencana Terpadu. Udang Vannamei. Sekretariat Negara. Jakarta. Yogyakarta. Jakarta. Yogyakarta. GPS & Remote Sensing. Sulasdi W. Sudjarwadi. Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Manado. Dietriech G. 4 No. . 1-18. Sugiharto. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Penebar Swadaya seri Agribisnis. Vol.Anang. Vol. 2001. Pustaka Pelajar.H dan Dian A. Budidaya Udang. Sudarmo dan Ranoemihardjo. Teknik Sumber Daya Air. Sugiarti. Aspek Geodetik Dalam Pembangunan Wilayah Pesisir Dan Laut Secara Terpadu. Penerbit Swadaya. Prosiding Seminar Dampak Kenaikan Muka Air Laut Pada Kota-kota Pantai di Indonesia. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Di Kota Pasuruan Jawa Timur.2. Oxford. Yogyakarta. Bengen dan Iwan Gunawan. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. 1980. Bogor. Departement GIS Forest Watch Indonesia. Pergamon Press. 2007. Bandung. Undang-Undang No. Supriharyono. 1987. Dwi. Rubiyanto W. Kodoatie dan Roestam Sjarief. 3 No. Rayes L. 2001. Universitas Indonesia Press. Robert J.B. E.1. Republik Indonesia. Penerbit Andi. John Palapa dan H. Dietriech G. 2002. Yarsif Watampone. Jakarta. Pengaruh Rob Pada Permukiman Pantai Kota Semarang.I. 2001.Prabowo. Jakarta. PAU Ilmu Teknik UGM..1995. Ardiansyah. Jurnal Pesisir dan Lautan. 1987.S.N. 2000. Modul Pengenalan GIS. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah.1-18. Bengen dan Rokhmin Dahuri. Metode Inventarisasi Sumberdaya Lahan. Jurnal Surveying dan Geodesi.1-18. Plankton and Productivity in The Ocean. Jurnal Pesisir dan Lautan.J.G. 2007. Sjafi’I Emmy. Sarbidi..1.XI No. Lembaran Negara RI Tahun 2007. 2006. Raymont. Sulawesi Utara.

Bandung. Wardoyo. Perkembangan Permasalahan dan Usulan Penanggulangannya.3. 1982. Biotrop_Seameo.M. 2002. Aquatic Chemistry. Puslitbang Sumberdaya Air. Analisis Kesesuaian Lahan Dan Kebijakan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Balikpapan.. New York. W dan J. Vol..H. S.. Jurnal Pesisir dan Lautan. Laporan Penelitian Bidang Sumberdaya Air. Widjaya.J. Water Analysis Manual Tropical Aquatic Biology Program. Dietriech G. 1-16.Stumm. Bengen dan Setyo Budi Susilo. .T. Bogor. 1970. J. Morgan. Zona di bawah Muka Air Laut Pasang di Kota Semarang. Tahir A. 4 No.Wiley Interscience. 2001.

M. penulis melanjutkan pendidikan Strata-2 di Program Pascasarjana Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang sampai akhirnya melaksanakan penelitian untuk penyusunan tesis dengan judul Analisis Pemanfaatan Ruang di Kawasan Pembangunan Perikanan Pesisir Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut. Achmad Yani Km. 1 – 17 Kalimantan Selatan. Pada bulan Agustus 2005.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Banjarmasin pada tanggal 20 Agustus 1979. putra pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Syahminan. Penulis bekerja sebagai staf pengajar tetap pada Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru sejak tahun 2003. . Pendidikan dasar di selesaikan di SDN Jawa 2 Martapura pada tahun 1991. Pendidikan sarjana (S1) ditempuh di Universitas Lambung Mangkurat. Fakultas Perikanan pada program studi Manajemen Sumberdaya Perairan mulai tahun 1997 dan lulus tahun 2002 dengan mengambil judul skripsi Distribusi Makrozoobenthos di Dasar Saluran Air Sepanjang Jalan Jend.Kes Drs dan Ibu Arbainun. pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Martapura pada tahun 1994 dan pendidikan menengah atas di SMUN Martapura pada tahun 1997. Amd. Kalimantan Selatan.

8 126 5.Lampiran 2.6 Peb. 332 20 281 17 355 16 515 21 249 11 170 7 285 17 226 9 277 10 162 11 Maret 221 21 310 23 228 10 194 11 74 6 148 10 335 15 267 14 236 11 186 13 April 266 13 157 15 235 17 207 9 105 8 318 17 254 5 67 8 249 12 236 13 Mei 198 18 135 8 267 12 46 4 86 6 196 11 192 13 218 10 54 5 121 5 Agst Sep 2 1 40 3 198 81 11 6 55 69 6 5 267 123 23 14 17 102 3 7 159 64 9 4 6 43 1 4 15 98 2 5 Okt 130 5 12 1 137 6 263 18 204 13 295 15 222 12 140 9 203 11 Nop 168 17 143 16 565 15 292 17 162 4 299 16 387 14 153 12 342 18 175 13 Des 453 20 226 14 568 22 406 17 399 15 303 22 829 20 313 19 216 16 326 20 Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Pelaihari. 2007 .6 222.3 12.2 310 13 259. Tabulasi Curah Hujan dan Hari Hujan di Lokasi Studi Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Parameter Jan.1 168.6 10.1 11.0 11.2 14 280.9 11.9 235.4 8. CH 353 HH 17 CH 267 HH 20 CH 570 HH 17 CH 564 HH 18 CH 324 HH 14 CH 287 HH 10 CH 580 HH 20 CH 670 HH 18 CH 306 HH 9 CH 711 HH 18 Bulan Juni Juli 160 37 17 5 698 82 14 3 290 226 14 10 132 366 8 8 47 66 3 4 261 246 14 11 11 77 2 8 233 72 12 6 81 71 8 4 140 82 10 6 Jumlah Rerata 2320 154 2351 134 3720 156 3109 142 1512 71 2822 168 3364 139 2664 133 2021 107 2455 127 193.3 11.8 195.9 204.

2 26-32 Kep02/MenKLH/1/1988 17 6.9 0.036 1 0.045 - < 0.Kep02/MenKLH/1/1988 No data No data 8-5 No data No data 0.010 0.72 No No data 2.110 0. Kintap AL-1 : perairan laut 200 m dari pantai AS-2 : perairan hilir S.2 No data 30-49 Kep02/MenKLH/1/1988 6. Parameter 1 Suhu (°C) Tahun 2005 29.008 0.003 66.5 15 7. .320 Solid (ppm) 19 Fe (ppm) 0. Muara Kintap Kec.027 No data No data 0.035 No data No data 0.009 0.012 0.80 16 Minyak 0.01 Kep02/MenKLH/1/1988 Keterangan: Stasiun 1: sekitar pelsus Surya Kencana Jorong Mandiri (SKJM) dan S.003 30.01 Kep02/MenKLH/1/1988 0.13 3.014 0. Kintap Kec.01 Kep02/MenKLH/1/1988 0.020 16.028 ≤ 0.132 ≤ 0.48 9.66 20 668 0.45 No data 0.533 0. Kintap Stasiun 3: sekitar pelsus Dewata Utama (DU) Muara Kintap Kec.012 23.Lampiran 3.01 0.014 ≤ 0.6 30 31.9 31.012 0.012 0.018 0.01 0.01 Kep02/MenKLH/1/1988 0.012 +6 21 Cr (ppm) No data No data 22 Pb (ppm) 0. Kintap Stasiun 2: sekitar pelsus Pribumi Citra Megah Utama (PCMU) dan S.40 No data 8.14 12 324 143 0.001 0.045 20. SKJM dan PCMU dan DU yang diambil pada bulan oktober 2005 dan 2006. Tabulasi Data Kualitas Air Tahun 2006 di Kawasan Muara Kintap Stasiun Stasiun Stasiun Stasiun Stasiun AL-1 AS-2 1 2 3 No.034 <0.5.7 Baku Referensi Standar Tahun 2006(Lokasi UTM) mutu Tahun 0302641 0305276 0298151 2005 9571862 9571462 9564412 29.6-2 Kep02/MenKLH/1/1988 10 Salinitas (ppt) No data No data 0.3 0.8 data 5 Kedalaman(cm) No No data 267 data 6 NO2-N (ppm) 0.64 26 594 ≤ 40 Kep02/MenKLH/1/1988 ≤ 5 Kep02/MenKLH/1/1988 ≤ 25 Kep02/MenKLH/1/1988 15 COD (ppm) 17.124 1000 Kep02/MenKLH/1/1988 0.01 Lemak (ppm) 17 Total 37 15 Suspended S lid ( ) 18 Total Dissolved 9.73 4 Arus (m/det) No data 6.18 0.001 No data No data 0.172 0.03 0. Kintap Sumber :Dokumen AMDAL Pelsus PT.420 24.5 Kep02/MenKLH/1/1988 3.003 36.035 0.133 0.025 >0.001 ≤ 0.7 2 Kecerahan (cm) No data 3 pH 6.051Kep02/MenKLH/1/1988 0.01 Kep02/MenKLH/1/1988 0.019 0.069 7.014 7 DO (mg/L) 8 BOD(mg/L) 9 NO3-N (ppm) 11 P (ppm) 12 NH3-N (ppm) 13 H2S (ppm) 14 CO2 (ppm) No data No data No data No data 0.030 5 Kep02/MenKLH/1/1988 15-30 Kep02/MenKLH/1/1988 0.6 0.430 2.48 20 Cd (ppm) 0.022 0.90 13.

4 1.3 2.6 2.2 0.8 2.5 1.5 0.0 0.1 1.1 1.7 2.3 1.5 1.6 2.8 0.7 2.6 1.5 1.4 2.5 25 0.9 0.7 2.2 2.7 1.5 15 1.2 2.2 1.3 2.0 0.3 1.5 2.3 2.5 2.7 1.0 1.4 2.7 1.9 1.5 0.4 1.0 2.7 1.8 0.8 1.7 0.8 1.0 0.7 1.2 2.6 11 1.2 2.0 2.3 1.0 1.0 2.7 1.6 1.2 1.0 0.6 1.6 0.6 2.6 15 2.2 2.5 0.4 1.6 1.8 0.9 2.6 0.6 1.7 1.2 1.7 2.8 1.8 0.0 1.0 2.6 0.7 1.9 0.5 0.5 2.9 1.9 0.5 1.2 1.2 2.5 1.1 2.3 2.7 1.2 1.4 2.6 1.4 Lampiran 5.3 1.5 1.7 1.0 1.8 1.6 0.0 1.8 1.6 4 1.7 1.3 1.5 1.6 0.2 2.0 2.1 2.7 0.7 2.4 1.7 2.9 2.3 1.2 1.0 2.1 18 2.6 0.8 1.4 2.7 2.1 0.7 0.9 1.030 55’05” LS dan 1150 13’45”.8 1.9 2.6 1.4 1.9 1.2 1.6 0.6 2.1 1.0 1.4 1.9 0.8 2.5 1.6 1.1 2.0 1.4 1.6 1.2 1.3 2.3 2.7 1.7 1.3 2.0 2.4 0.8 2.3 2.7 0.3 2.7 1.8 1.7 1.4 1.3 2.3 1.8 1.8 1.7 0.0 1.8 1.0 1. 2006) 14 2.7 28 1.0 2.0 0.6 1.0 1.7 1.7 1.9 2.1 2.8 2.6 2.0 1.6 1.8 1.5 1.2 1.7 1.3 5 1.8 0.5 2.5 1.4 1.7 2.7 1.8 1.7 1.6 1.8 1.7 2.3 1.0 22 0.8 0.8 2.3 1.4 1.9 1.8 1.1 1.1 2.6 2.9 1.0 1.4 1.0 1.0 1.7 0.0 1.3 2.0 9 0.7 0.5 1.1 2.1 1.7 2.8 2.2 2.8 1.3 1.0 1.6 2.0 1.4 2.1 1.3 1.4 2.Lampiran 4.9 1.9 2.8 1.8 1.5 0.8 1.4 6 1.0 1.4 1.7 1.7 1.7 0.2 2.7 14 1.6 0.3 2.1 2.8 0.3 1.4 2.0 1.7 1.0 1.8 27 1.9 1.7 2.7 1.6 1.3 1.3 2.6 1.7 1.1 2.8 1.4 2.8 19 1.0 0.8 0.4 2.6 0.8 2.3 10 0.7 0.9 1.3 1.5 1.3 2.0 0.0 2.3 17 2.6 1.8 1.1 0.7 2.9 1.6 1.0 1.6 1.2 1.7 26 0.8 1.1 2.3 1.4 2.6 1.8 2.6 0.7 0.4 2.8 2.1 0.0 1.4 1.0 1.9 1.2 2.1 2.1 2.0 2.8 0.8 1.9 1.1 1.3 2.7 2.5 1. Pelindo III Banjarmasin.0 2.7 1.2 2.3 2.6 1.4 1.8 1.4 1.5 1.7 0.2 2.4 1.7 2.8 0.7 0.0 2.7 0.8 1.1 1.1 1.1 2.3 2.7 8 0.3 2.6 2.3 1.0 2.8 2.0 2.8 1.7 1.4 1.8 1.4 1.8 1.4 2.6 1.3 1.5 1.7 1.9 1.4 1.5 0.2 1.1 1.0 2.5 1.6 1.3 2.7 0.4 1.8 2.1 2.0 2.1 2.2 2.8 1.4 2.8 1.3 2.7 0.8 1.8 1.3 1.5 2.6 1.5 1.6 20 1.6 1.8 13 1.2 1.5 21 1.7 1.6 24 0.6 0.6 1.7 0.7 1.0 17 1.6 2.4 1.9 1.1 2.4 1.8 1.6 1.5 1.8 0.0 29 1.2 2.7 2.0 1.8 1.6 1.4 1.0 1.0 1.3 2.7 2.3 2.2 1.7 0.9 2.2 16 1.8 0.4 1.8 1.8 3 1.6 2.8 1.3 2.2 1.9 2.0 1.5 1.1 1.8 2.3 1.5 1.3 1.3 1.5 1.2 2. Dokumentasi Penelitian .0 1.3 1.8 1.3 2.6 1.6 1.8 1.8 0.6 1.8 2.5 0.9 2.9 1.8 1.1 2. Data Pasang Surut di Sungai dan Pesisir Kintap April 2006 Koordinat 030 52’08”.5 7 0.8 1.00 T/J* 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1.3 1.7 18 1.6 0.5 1.2 1.3 1.9 1.6 19 2.7 0.4 1.0 1.6 1.8 1.4 1.6 1.8 1.6 1.4 1.0 2.1 0.5 1.2 1.7 1.3 1.6 2.7 2.8 0.8 1.9 2.0 0.5 1.7 1.0 2.2 23 0.7 1.7 2.4 1.5 2.9 1.4 2.5 0.8 21 0.9 2.0 2 1.5 2.4 1.4 1.3 1.6 1.9 1.0 0.1150 16’42” BT Ketinggian dalam meter Bulan April 2006 Waktu : GMT + 07.7 1.1 2.4 2.4 1.2 2.3 1.4 1.6 2.7 1.8 1.3 1.9 1.4 2.8 2.7 0.4 1.9 1.8 1.2 2.2 1.7 1.6 20 1.6 1.6 2.3 2.1 2.7 0.4 1.6 2.5 1.9 0.3 1.1 1.7 0.9 1.8 1.8 1.2 2.8 1.7 1.1 1.0 1.3 1.4 2.8 1.4 1.8 1.6 1.6 2.8 1.1 2.7 1.7 1.4 1.9 1.3 1.9 1.9 1.3 1.5 0.1 1.8 1.1 2.6 1.9 1.1 1.9 1.3 2.2 1 1.0 1.6 2.8 0.0 0.0 0.1 2.1 1.7 0.5 2.4 0.8 0.6 2.2 1.6 1.2 1.5 2.0 2.3 2.6 0.6 1.5 16 2.8 12 1.8 1.8 1.6 0.9 1.9 1.7 1.3 2.4 1.7 1.3 1.5 1.6 1.6 0.1 1.1 1.8 1.3 1.3 30 Keterangan : *T/J : Tanggal/Jam (Sumber Data : PT.3 1.9 2.4 2.8 1.4 2.9 2.8 1.2 2.

Lokasi Pelabuhan Khusus Batubara yang bersebelahan dengan Tambak di Muara Kintap Pulau Nyamuk sebagai Kawasan Lindung Lokal Lahan Pertambakan di Sungai Kintap .

Tanah Laut .Analisis Kualitas Air di Perairan Tambak Desa Muara Kintap Analisis Kualitas Air dengan Water Checker U-22 Horiba di Perairan Tambak Desa Muara Kintap Analisis Kualitas Air dan Pengambilan Sampel Air di perairan tambak Desa Muara Kintap Pangkalan Pendaratan Ikan Desa Muara Kintap Kab.

Tugu Kawasan Pengembangan Perikanan Pesisir Desa Muara Kintap Kegiatan Transaksi Perikanan di Desa Muara Kintap .

Tipikal rumah lokal dan adaptasi terhadap rob dan banjir Sedimentasi di Muara Sungai Kintap Abrasi di Pesisir Jalan Utama ke Desa Muara Kintap .

8. . Kemudian fasa airnya dibuang. Prosedur Analisis Kandungan Fe. kemudian dikocok sebentar dan dibiarkan selama 1 jam. 10. 2.5-4. kemudian fasa airnya ditampung (catatan: fasa air ini digunakan untuk pembuatan larutan blanko laboratorium dan standard). Menambahkan larutan HNO3 pekat sebanyak 1. Larutan dibiarkan selama 5 menit agar kedua fasa terpisah. Menambahkan 19. Menambahkan NH4Cl atau HCl encer untuk mengatur pH agar pH larutan berkisar antara 3. Menambahkan pelarut MIBK sebanyak 25 mL. Memasukkan air suling bebas ion sebanyak 10 mL ke dalam corong pisah. 6. 3. 4. 9. 5.0 mL air suling bebas ion. Fasa airnya ditampung dan siap diukur dengan AAS. Larutan APDC dan NaDDC ditambahkan sebanyak 5 mL. Kemudian dikocok selama 20 detik dan dibiarkan hingga keduanya terpisah. kemudian dikocok selama 1 menit. Cr6+ dan Pb dalam Air 1. Mencampurkan penahan ditambahkan sebanyak 5 mL. kemudian dikocok selama 30 detik.Lampiran 6. Prosedur Analisis Kualitas Air A. dikocok dengan perlahan. 7. Cd.0 mL. Mengambil sampel air sebanyak 300 mL dimasukkan ke dalam corong pisah teflon.

5 dan untuk menjaga agar pH-nya konstan bias digunakan larutan penyangga (buffer) fosfat kemudian di titrasi secara langsung. . Menambahkan pada air sampel 2 ml larutan NaCl. kemudian masukkan ke dalam oven selama 30 menit. Menambahkan 0. dinginkan dalam eksikator selama 30 menit. Melihat hasilnya dengan pembacaan spektrofotometer C. pisahkan lapisan fraksi freon.5 ml larutan brusin asam sulfanilat.5 . ulangi langkah sampai diperoleh berat tetap.8. 2. D. Prosedur Analisis Kandungan Nitrat dan Sulfat (sebagai H2S) dalam Air 1. Menyiapkan contoh uji dengan ukuran 100 ml dan masukkan ke dalam corong pisah 100 ml dan menambahkan 1 ml HCL dan dikocok sebentar. kemudian timbang dengan neraca analitik. mengaduk perlahan dan memanaskan di atas air pada suhu tidak melebihi 950 C selama 20 menit kemudian mendinginkan. jika fraksi freon masih mengandung air tambahkan 1-2 g H2SO4 kemudian menyaring dengan serat kaca yang dibasahi Freon. Sampel air yang telah diawetkan dalam botol winkler dengan volume sebanyak 300 mL diencerkan dengan aquades yang telah mengalami demineralisasi. 5.B. Menambahkan 10 ml larutan H2SO4 dan mencampurnya hingga rata. 3. Menimbang labu destilasi yang sudah bersih dan bebaskan dari kontaminasi. Membilas botol uji dengan 30 ml Freon dan memasukkan ke dalam corong pemisah yang sudah diisi contoh uji kemudian menambahkan 30 ml freon lalu kocok kuat-kuat selama 2 menit. 4. Prosedur Analisis Kandungan BOD5 dalam Air 1. Mengambil contoh air sampel sebanyak 25 ml dan memasukkannya pada tabung reaksi. 3. 4. Prosedur Analisis Kandungan Minyak dan lemak dalam Air 1. Menampung freon ke dalam gelas piala 100 ml. biarkan selama 1-2 menit dan jika terbentuk emulsi goyangkan perlahan-lahan selama 5-10 menit. Derajat keasaman (pH) air pengencer biasanya berkisar antara 6. 2. mencampurkan perlahan dan memamsukkan ke dalam penangas air dingin.

DO (5 hari) }] ppm 3. sementara sampel yang lainnya diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C. baik untuk DO maupun BOD. diusahakan seminimal mungkin larutan sampai yang akan diperiksa tidak berkontak dengan udara bebas. Kadar BOD ditentukan dengan rumus : 5 X [ kadar { DO(0 hari) . selanjutnya setelah 5 hari diukur DO nya (DO 5 hari). .2. Pengukuran DO nya (DO 0 hari). Selama penentuan oksigen terlarut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful