P. 1
Semnas LS 2011 Makalah Biologi

Semnas LS 2011 Makalah Biologi

|Views: 1,419|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Feb 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4

PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENEMUKAN POTENSI MASALAH PEMBELAJARAN DALAM PERKULIAHAN MIKROTEACHING PADA MAHASISWA SEMESTER VI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI UMM (LESSON STUDY DILAKUKAN OLEH KELOMPOK DOSEN DAN KELOMPOK MAHASISWA LESSON STUDY DI PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI UMM DENGAN MENGAMBIL OBYEK MATA KULIAH MIKROTEACHING DI SEMESTER VI)

Iin Hindun, Sri Subekti, Sri Wahyuni
Universitas Muhammadiyah Malang e-mail: Iinhindunhindun@yahoo.co.id

Abstrak: Matakuliah microteaching menyediakan situasi berlangsungnya pembelajaran dan memungkinkan banyak ditemukan potensi masalah pembelajaran. Permasalahan yang ditemukan pada mahasiswa dalam menulis karya ilmiah pembelajaran adalah sulitnya menyusun latar belakang dan merumuskan masalah. Tujuan dari penulisan makalah adalah mendeskripsikan hasil implementasi lesson study dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa prodi pendidikan biologi semester VI dalam menemukan potensi masalah pembelajaran dalam perkuliahan microteaching. Telah dilaksanakan Lesson Study pada matakuiah microteaching pada semester genap tahun 2010/2011. Kegiatannya meliputi plan, do dan see, berlangsung dalam 4 (empat) siklus. Pada kegiatan plan, maka dosen dan mahasiswa membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara pribadi, dibahas secara bersamasama dengan teman mahasiswa dan dosen. Pada kegiatan DO mahasiswa melaksanakan proses pembelajaran peer teaching dan diobservasi oleh beberapa orang dosen dan mahasiswa. Pada kegiatan See, dilakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan dipimpin oleh moderator. Setelah melakukan see mahasiswa menulis temuan potensi masalah di lembar yang sudah disediakan. Data tentang temuan potensi masalah pembelajaran setelah dianalisis menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menemukan potensi masalah dari siklus ke siklus, meskipun temuannya masih dangkal. Dengan LS Mereka terkondisi untuk belajar dengan sunguhsungguh dan bertanggung jawab, tetapi dari temuan potensi masalah yang dimiliki mereka belum mampu mengembangkan menjadi latar belakang penelitian yang berkualitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa LS dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menemukan potensi masalah pembelajaran sebagai input utama untuk menyusun proposal PTK dan LS dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam membelajarkan menyusun proposal penelitian PTK, meskipun belum berkualitas. Kata kunci: Potensi Masalah, Mikroteaching, Lesson Study

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 1

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Program Studi Pendidikan Biologi (Prodi Biologi) adalah salah satu dari program studi yang ada di lingkungan JPMIPA FKIP UMM. Prodi Biologi dalam menyelenggarakan pendidikan memiliki tujuan: (1) Menghasilkan sarjana pendidikan biologi yang profesional, beriman, dan kompetitif yang mampu berkomunikasi dengan masyarakat pendidikan dan industry; (2) Menyelenggarakan pengembangan penelitian dibidang biologi dan pembelajarannya dengan metode tindakan kelas; (3) Menghasilkan dan menyebarluaskan IPTEKS dibidang biologi untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat; (4) Menjalin kerjasama (networking) dengan lembaga atau institusi terkait guna meningkatkan mutu lulusan. Mendukung perwujudan tujuan kedua yakni menyelenggarakan pengembangan penelitian dibidang biologi dan pembelajaran, mahasiswa diberi kesempatan menempuh beberapa mata kuliah yang mendukung kemampuan dalam melakukan penelitian diantaranya metodologi riset, seminar, serta mata kulaih lain yang terkait. Wujud akhir dari akumulasi pengetahuan tentang penelitian yang dimiliki mahasiswa ditulis kedalam bentuk karya ilmiah melalui penulisan skripsi. Menulis skripsi pada dasarnya sama dengan menulis karya ilmiah. Suatu karya bermakna ilmiah jika memiliki ciri-ciri ilmiah, dimana pengetahuan yang dibangun bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Untuk mendapatkan kebenaran yang ilmiah maka pengetahuan yang dibangun harus mengikuti prosedur atau proses ilmiah. Proses kegiatan ilmiah menurut Ritchie Calder dalam Suriasumantri (2001), dimulai ketika manusia mengamati sesuatu dan punya perhatian terhadap obyek tertentu. Perhatian tersebut dinamakan John Dewey sebagai suatu masalah yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita yang menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan bisa muncul karena ada kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Pertanyaan tersebut timbul disebabkan karena adanya kontak manusia dengan dunia empiris dan menimbulkan berbagai macam masalah. Menyadari adanya masalah maka proses kegiatan berfikir dimulai dan bermaksud untuk memecahkannya. Upaya memecahkan masalah secara ilmiah menggunakan alur berfikir yang tercakup dalam metode ilmiah yang dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap dalam kegiatan ilmiah. Menurut Suriasumantri (2001) Langkah tersebut meliputi:(1) Perumusan masalah, merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batasnya serta dapat diidentifikasi faktor yang terkait didalamnya; (2) Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan;(3) Perumusan hipotesis, merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan yang diajukan; (4) Pengujian hipotesis, merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta yang mendukung hipotesis atau tidak;(5) Penarikan kesimpulan, merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Berdasarkan hasil evaluasi penyelesaian tugas akhir mahasiswa, rata-rata penulisan akhir mahasiswa membutuhkan waktu kurang lebih 1,2 tahun. Rentangan waktu yang ada menunjukkan penyelesaian penulisan karya ilmiah yang terlalu lama karena menurut harapan, sebaiknya dapat diselesaikan sekitar 6-8 bulan. Berdasarkan hasil evaluasi penulisan proposal pada matakuliah seminar, pembina mata kuliah merasakan bahwa mahasiswa banyak yang masih kesulitan dalam menemukan judul dan merumuskan masalah. Berdasarkan pengalaman ketika membimbing mahasiswa dalam penulisan tugas akhir menyusun skripsi khususnya dalam penulisan penelitian tindakan kelas (PTK), pembimbing merasakan adanya kesulitan pada mahasiswa dalam mengembangkan latar belakang masalah. Kesulitan mahasiswa tersebut dibuktikan dari tulisan yang dituangkan untuk bisa menemukan masalah dan identifikasi masalah tidak didasarkan pada fakta/fenomena yang ada dalam pembelajaran. Ungkapan latar belakang masalah yang disusun masih banyak yang mendasarkan pada teori dan wawasan umum pendidikan. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa memiliki miskonsepsi dalam mengidentifikasi masalah. Kalaupun ada yang mendasarkan dari fenomena tetapi masih dangkal dan tidak fokus atau mendalam sehingga rumusan masalah yang diungkap banyak yang kurang mencerminkan ciri dari PTK. Dalam menulis judul juga masih banyak yang tidak mencerminkan PTK. Kadang-kadang mahasiswa berkeinginan menulis PTK tetapi yang ditulis bukan PTK melainkan Quasi eksperimen. Kadang-kadang ditemukan rencana penelitian PTK tetapi judulnya tidak mencerminkan PTK. Bahkan ada mahasiswa yang dalam penyelesaian tugas akhir menghindari PTK karena dinilai sulit. Dalam Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 2

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) melaksanakan pembimbingan untuk meluruskan miskonsepsi yang ada membutuhkan waktu dan tenaga tersendiri, hal ini dirasakan berat oleh pembimbing. Berdasarkan fakta tersebut perlu ada upaya yang bisa membantu melancarkan mahasiswa dalam menulis penyelesaian tugas akhir khususnya bagi mereka yang memilih penulisan tindakan kelas. Bentuk bantuan sangat diharapkan terutama upaya yang sifatnya bisa melatih mahasiswa bisa menemukan masalah dengan tepat sehingga bisa merumuskan masalahnya dengan benar sesuai ciri PTK serta menuangkan menjadi judul yang mencerminkan PTK. Ciri PTK diantaranya adalah pada bagian judul sudah menunjukkan tindakan yang dipilih, masalah yang diatasi, subyek dan seting tempat, Permasalahan mencerminkan kearah perbaikan pembelajaran (proses dan hasil), tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (proses dan hasil). Matakuliah microteaching adalah salah satu maka kuliah yang mendukung pada pencapaian tujuan prodi biologi. Mata Kuliah tersebut memiliki Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan target. Standar kompetensinya yaitu mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran dalam pembelajaran mikro dan penelitian berbasis pembelajaran, sedang Kompetensi Dasarnya yaitu mempraktikkan perencanaan dalam praktek pembelajaran, mempraktekkan 8 keterampilan dasar mengajar, mengembangkan sikap ilmiah, dengan Indikator sebagai berikut: (1)Mempraktekkan perangkat pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar di kelas mikro (peer teaching);(2) Mempraktekkan penggunaan metode dalam pengajaran mikro;(3) Mempraktekkan penggunaan media dan sumber belajar dalam pengajaran mikro;(4) Mempraktekkan penggunaan evaluasi pembelajaran dalam pengajaran mikro;(5) Mempraktikkan keterampilan membuka pelajaran dan menutup pelajaran;(6) Mempraktikkan keterampilan menjelaskan;(7) Mempraktikkan keterampilan bertanya;(8) Mempraktikkan keterampilan memberi penguatan;(9) Mempraktikkan keterampilan mengadakan variasi;(10) Mempraktikkan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil;(11) Mempraktikkan keterampilan mengajar perseorangan;(12) Mempraktikkan keterampilan mengelola kelas;(13) Mengidentifikasi potensi masalah di pembelajaran. Salah satu komponen dari standar kompetensi mata kuliah microteaching adalah mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran dalam penelitian berbasis pembelajaran didukung dengan kompetensi dasar mengembangkan sikap ilmiah, dengan Indikator Mengidentifikasi potensi masalah dalam pembelajaran. Matakuliah ini berpotensi dapat membantu mengatasi kesulitan mahasiswa dalam menyusun penulisan tugas akhir mahasiswa khususnya bagi mereka yang berminat menulis PTK . Matakuliah ini menyediakan sarana belajar melaksanakan proses pembelajaran layaknya yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dasar dan menengah namun terbatas dalam skala mikro yang ditempuh dengan teknik peer teaching. Hasil observasi terhadap praktek pembelajaran mikro oleh mahasiswa (sebagai guru pemula) menunjukkan banyaknya kesenjangan antara harapan dengan kenyataannya. Hal ini menunjukkan adanya potensi permasalahan dalam pembelajaran. Situasi semacam ini adalah sumber atau sarana belajar yang baik untuk menemukan potensi masalah pembelajaran sebagai dasar untuk menyusun PTK. Hasil belajar akan lebih bermakna jika pada saat belajar diikuti dengan sikap dan motivasi yang kuat, belajar dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Agar sikap, motivasi, kesungguhan belajar dan tanggung jawab dapat terjaga maka iklim belajar yang mengarah perlu di ciptakan. Lesson Study (LS) adalah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas yang saling membantu dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Tahap pelaksanaan lesson study meliputi perencanaan (plan), pelaksanaan (do) dan refleksi.(see). Kegiatan lesson study dilakukan oleh sekelompok dosen. Lesson study bisa juga dibelajarkan pada mahasiswa sebagai calon guru, karena pada dasarnya lesson study dilakukan secara berkala dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kompetensi dan keprofesionalan guru secara bertahap. Jika lesson study juga dilakukan oleh mahasiswa maka muncul istilah dalam lesson study ada lesson study, maksudnya dalam lesson study dosen ada lesson study mahasiswa. Kegiatan lesson study dalam pembelajaran, selain sebagai upaya mengaktifkan mahasiswa, juga berdampak pada dosen dapat melakukan review terhadap kinerjanya. Melalui lesson study dengan Plan, Do, See, memungkinkan pengembangan kemampuan akademik mahasiswa yang sungguh-sungguh dan menumbuhkan sikap lebih Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 3

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) berhati-hati dan bertanggung jawab dalam belajar karena dengan lesson study akan diobservasi dan direfleksi baik oleh mahasiswa observer maupun oleh dosen observer. Berdasarkan wawasan tersebut maka perlu diketahui kemampuan mahasiswa prodi pendidikan biologi semester VI dalam menemukan potensi masalah pembelajaran dalam perkuliahan microteaching. Dengan demikian maka menjadi tujuan dari penulisan makalah adalah mendeskripsikan hasil implementasi lesson study dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa prodi pendidikan biologi semester VI dalam menemukan potensi masalah pembelajaran dalam perkuliahan microteaching. METODE Untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu meningkatkan kemampuan mahasiswa prodi Pendidikan Biologi sesester VI dalam menemukan masalah pembelajaran dalam perkuliahan microteaching maka pembelajaran dilaksanakan dengan Lesson Study dengan tiga tahapan plan, do dan see. Ketiga tahapan tersebut dilaksanakan dalam 4 (empat) kali siklus perkuliahan LS. Kemampuan mahasiswa dalam menemukan masalah pembelajaran ini merupakan entry point dalam penyusunan penelitian pembelajaran atau PTK. Kemampuan mahasiswa dalam menemukan masalah pembelajaran ini pula yang menjadi focus dalam pelaksanaan pembelajaran microteaching yang dikelola melalui Lesson Study dua lapis. Artinya LS terhadap dosen pengampu matakuliah maupun LS terhadap guru model pada saat praktek pembelajaran microteaching. Pada LS yang dilaksanakan ditingkat mahasiswa maka yang bertindak sebagai guru modelnya adalah mahasiswa yang mendapatkan giliran bertugas menjadi guru, sedangkan observernya mahasiswa yang ditunjuk dan berjumlah 2 orang, sementara itu mahasiswa lainya bertindak sebagai siswa dalam pembelajaran peer teaching. Mahasiswa yang berperan sebagai observer adalah mahasiswa yang akan berperan menjadi guru model di jadwal perkuliahan berikutnya. Kegiatan lesson study oleh mahasiswa dikelola dan dijadwal sendiri oleh mahasiswa, jadwalnya berisi siapa sebagai guru model, siapa menjadi observer, kapan dia akan tampil jadwalnya diberikan ke Pembina matakuliah. Pemeranan sebagai guru model, observer, moderator dan notulis serta siswa dilakukan secara bergantian. Dengan teknik ini maka LS pada matakuliah microteaching ini dapat disebut sebagai lesson study dalam lesson study. Untuk mendapatkan bukti-bukti empirik terhadap focus kajian tersebut maka subyek yang dikaji sebagai sumber data adalah dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan LS untuk matakuliah microteaching. Dosen yang terlibat adalah Dra. Iin Hindun, M.Kes., Dra. Sri Wahyuni, M.Kes., dan Dra. Sri Subekti M.Pd. Lesson study pada matakuliah microteaching dirancang dalam 4 siklus atau putaran. Setiap putaran dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu : (1) perencanaan (plan) dalam menyusun teaching plan dan teaching materials, (2) melakukan perkuliahan berdasarkan SAP yang telah disusun (do) dan diobservasi oleh anggota tim Lesson Study dan observer lain, serta (3) melakukan diskusi refleksi berdasarkan hasil observasi (see). Pada tahapan plan, dilakukan pengkajian secara bersama sama terhadap teaching plan dan teaching material yang telah direncanakan yang meliputi silabus matakuliah, materi yang akan diajarkan, dosen model yang akan berperan, lembar kegiatan mahasiswa dan instrumen evaluasi yang diperlukan. Hasil pengkajian digunakan untuk perbaikan yang diperlukan terhadap rancangan pembelajaran yang disusun. Pada kegiatan peer teaching yang diperankan oleh mahasiswa, kegiatan plan untuk mempersiapkan silabus, RPP dan perangkatnya disiapkan oleh mahasiswa yang bertugas secara bergiliran. Pada tahapan pelaksanaan (do) dosen model melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang sudah mendapatkan pengkajian secara bersama dan perbaikan (revisi) sesuai dengan saran dan masukan. Sementara itu tim matakuliah bertindak sebagai observer (selain dosen model). Dalam melaksanakan observasi pelaksanaan pembelajaran, juga diundang dosen diluar kelompok matakuliah microteaching untuk ikut melakukan observasi pembelajaran. Observasi didasarkan pada lembar observasi terstándar yang sudah disiapkan. Observasi ditujukan terhadap aktivitas belajar mahasiswa selama perkuliahan baik yang positif maupun negatif. Untuk memperkuat hasil observasi juga dilakukan pendokumentasian melalui rekaman foto dan video (audio-visual). Dokumentasi ini dilakukan terhadap Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) perilaku dan kejadian yang umum maupun khusus selama proses pembelajaran dan berharga sebagai bukti authentik kejadian selama pembelajaran untuk memperkuat kegiatan refleksi. Pada saat yang bersamaan, LS di tingkat mahasiswa melaksanakan kegiatan do yang diperankan oleh guru model, dan mahasiswa lainnya berperan sebagai siswa atau menjadi observer. Tahapan Refleksi (see). Kegiatan refleksi dilakukan segera setelah pembelajaran selesai. Kegiatan ini diikuti seluruh observer dan dosen model dan dipimpin oleh seorang moderator serta dibantu seorang sekretaris. Pada kegiatan ini dilakukan diskusi terhadap peristiwa yang muncul dalam pembelajaran baik secara umum maupun khusus, positip maupun negatif namun bukan untuk memvonis dosen model. Aktivitas belajar siswa yang menjadi perhatian utama. Langkah yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah moderator memperkenalkan masing-masing hadirin yang mengikuti kegiatan refleksi dengan perannya masing masing, kemudian dosen model diminta menyampaikan terlebih dahulu persepsinya terhadap pembelajaran yang baru saja berlangsung. Berikutnya seluruh observer diminta menyampaikan hasil observasinya secara berurutan. Setelah semua observer menyampaikan komentarnya, maka langkah berikutnya adalah dosen model diminta memberikan tanggapan atas komentar observer. Semangat yang dibangun adalah untuk meningkatkan kinerja pembelajaran sebagaimana fokus masalah yang sudah direncanakan, bukan pada mencari kelemahan dosen model. Hasil refleksi ini kemudian digunakan untuk input bagi penyusunan perencanaan pembelajaran berikutnya. Pada LS yang dilakukan di tingkat mahasiswa, maka refleksi dilakukan segera setelah microteaching berakhir. Mahasiswa yang berperan sebagai guru model, bersama dengan observer melakukan refleksi dipimpin oleh moderator dan dibantu oleh seorang sekretaris yang diambil dari kalangan mahasiswa sendiri serta didampingi pembina mata kuliah yang akan berperan dalam merefleksi pembelajaran dan memberi penguatan. Teknik dan instrumentasi pengumpulan data. Data yang dikumpulkan meliputi data tentang kemampuan mahasiswa dalam menemukan permasalahan pembelajaran. Data ini diperoleh melalui catatan hasil observasi dan dokumentasi tertulis terhadap komentar mahasiswa selama melaksanakan observasi dan refleksi peerteaching serta portofolio temuan potensi masalah pembelajaran yang ditulis dalam lembar pengembangan sikap ilmiah serta pengembangan proposal PTK yang disusun mahasiswa berdasar temuan potensi masalah pada akhir perkuliahan. Dalam mendiskripsikan proses perkuliahan,teknik analisis data menggunakan analisis isi hasil observasi pada kegiatan do dan see yang dilaksanakan di tingkat dosen dan dan analisis isi hasil obsevasi pada kegiatan do dan see yang dilaksanakan di tingkat mahasiswa (peerteaching). Pada analisis isi ini maka dilakukan pengumpulan informasi, reduksi, verifikasi dan kesimpulan hasil. Untuk mendiskripsikan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menemukan potensi masalah digunakana analisis data secara deskriptif dengan menghitung persentase kemampuan mahasiswa dalam menuliskan potensi masalah pembelajaran selama peer teaching berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi pelaksanaan plan, do dan see untuk setiap materi yang digunakan dalam open lesson 1. Perencanaan Dosen model menyusun rencana pembelajaran (RPP) untuk siklus I (materi perencanaan pembelajaran). Sedangkan rencana pembelajaran untuk siklus II, III dan IV difokuskan pada ketrampilan mengajar dan kepekaan terhadap permasalahan pembelajaran. Sementara itu mahasiswa sebagai guru model pada siklus I mempersiapkan silabus, RPP, materi, media, dan perangkat evaluasi yang digunakan peer teaching. Pada siklus II kembali mahasiswa sebagai guru model menyiapkan RPP, materi, media, dan evaluasi untuk peer teaching berikutnya. Demikian seterusnya hingga siklus IV 2. Pelaksanaan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 5

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Siklus (putaran) I dosen model melaksanakan pembelajaran (do) dengan meminta 2 mahasiswa mempresentasikan RPP dan perangkatnya yang disiapkan mahasiswa. Dosen bersama mahasiswa melakukan pembahasan terhadap RPP dan perangkat yang telah dipresentasikan mahasiswa. Hal yang dibahas utamanya pada kesesuaian format RPP dengan standar penulisan yang berlaku, konsistensi standar kompetensi dengan kompetensi dasar, indikator dan tujuan. Kedalaman materi pembelajaran dan kemungkinan terjadinya miskonsepsi, media dan evaluasi yang direncanakan. Pada siklus II dosen model melaksanakan pembelajaran (do) dengan mempersilahkan mahasiswa untuk menempatkan diri dalam perannya masing masing yaitu sebagai guru model, sebagai observer, sebagai siswa, sebagai moderator dan sebagai notulis dan melaksanakan peerteaching. Pembina mengingatkan bahwa selama pembelajaran berlangsung ,semua mahasiswa diminta mencermati temuan masalah pembelajaran dan diakhir pembelajaran diminta menuliskan di lembar pengembangan sikap lmiah yang sudah disediakan. Mahasiswa yang berperan sebagai guru model melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP yang dipersiapkan. Mahasiswa lainnya bertindak sebagai observer dan melaksanakan pencacatan terhadap semua kejadian selama proses pembelajaran yang dibantu dengan lembar observasi LS. Situasi yang tercipta selama pembelajaran dengan LS menjadikan mahasiswa dan dosen melaksanakan pembelajaran dengan penuh tanggung jawab dan sunguh-sungguh. Setelah melaksanakan pembelajaran maka segera dilanjutkan dengan refleksi (see) yang dipimpin oleh moderator dan dibantu sekretaris. Pada saat refleksi ini mahasiswa yang berperan sebagai moderator mempersilahkan guru model untuk menyampaikan persepsinya selama pembelajaran. Setelah itu mahasiswa observer diminta memberikan ulasan dan terakhir Pembina matakuliah merefleksi pembelajaran guru model dan memberi penguatan. Dengan berakhirnya see, mahasiswa diminta melanjutkan kegiatan dengan menuliskan semua temuan potensi masalah selama pembelajaran pada saat itu dengan menuliskannya di lembar pengembangan sikap ilmiah. Setelah ditulis dikumpulkan di pembina matakuliah untuk direfleksi dan dikembalikan lagi ke mahasiswa pada pertemuan berikutnya. 3. Refleksi Refleksi yang dilakukan pada siklus I ditujukan untuk memperbaiki RPP baik dosen maupun mahasiswa. Refleksi pada siklus II, III dan IV dilakukan untuk mendiskusikan proses pembelajaran yang telah berlangsung dan mengupayakan peningkatan kualitas untuk siklus berikutnya sesuai dengan fokus masalah yang diangkat dalam lesson study matakuliah microteaching. Proses pelaksanaan refleksi mengikuti pedoman standart yang diberikan oleh Dirjen Dikti. Dipimpin oleh seorang moderator dan dibantu oleh sekretaris sidang. Dosen atau guru model diberi kesempatan terlebih dahulu untuk menyampaikan persepsinya selama proses pembelajaran, kemudian observer diminta menyampaikan hasil observasinya, dan dosen model diminta memberikan tanggapan kembali terhadap komentar yang diberikan oleh observer. 4. Data Kemampuan Mahasiswa Menemukan Potensi Masalah Pembelajaran dan Pembahasannya. Data kemampuan menemukan potensi masalah pembelajaran diperoleh sejak siklus II ketika dilangsungkan praktek pembelajaran pada tanggal 13 Mei 2011 oleh guru model yang diperankan 2 mahasiswa. Hasil identifikasi terhadap kemampuan menemukan masalah menunjukkan bahwa ada 94 statemen yang diungkapkan mahasiswa dari prkatek pembelajaran oleh 2 guru model. Statemen yang diungkapkan pada lembar pengembangan sikap ilmiah menunjukkan kekurangan guru dalam pembelajaran, antara lain : a. Tidak mengungkapkan tujuan pembelajaran, b. kurang menguasai materi, c, kurang memberikan balikan, d. kurang memotivasi siswa, e. proses pembelajaran belum optimal, f. guru mendominasi proses pembelajaran, g. kurang komunikasi dan masih banyak kekurangan lainnya. Statemen yang diungkap singkat-singkat saja dan tidak mendalam sampai mendiskripsikan penyebab munculnya potensi masalah. Beberapa statemen tidak mengarah pada kekurangan atau masalah dalam pembelajaran, tetapi mengarah pada memberikan penilaian terhadap guru model, misalnya mengomentari media dan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 6

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mengomentari proses pembelajaran dengan ungkapan pembelajarannya sudah baik, lancer atau komentar lain yang sejajar. Setelah dianalisis sortasi berdasarkan kategori potensinya sebagai masalah pembelajaran, maka diperoleh hasil dari 94 komponen yang bisa ditulis menunjukkan 61 statemen potensial sebagai masalah pembelajaran, sisanya 33 statemen tidak potensial. Prosentasi dari keduanya dapat dituliskan sebagai berikut: Tabel 1. Frekuensi dan Prosentase Statemen Sklus II
Kategori Statemen Potensial Sebagai Masalah Tidak Potensial Sebagai Masalah Jumlah Frekuensi 61 33 94 Prosentase (%) 65 35 100

Pada siklus III pembelajaran peerteaching dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2011 dengan menampilkan 2 guru model. Data tentang statemen masalah pembelajaran yang dituangkan di lembar pengembangan sikap ilmiah menunjukkan terjadinya perubahan proporsi antara statemen yang mengarah pada potensi masalah pembelajaran dengan statemen yang tidak mengarah pada potensi masalah pembelajaran. Dari 60 komponen yang bisa ditulis menunjukkan 45 statemen potensial sebagai masalah pembelajaran, sisanya 15 statemen tidak potensial. Frekuensi dan prosentasi kedua kategori tersebut dapat disajikan dalam Tabel 2 berikut: Tabel 2. Frekuensi dan Prosentase Statemen Siklus III
Kategori Statemen Potensial Sebagai Masalah Tidak Potensial Sebagai Masalah Jumlah Frekuensi 45 15 60 Prosentase (%) 75 25 100

Pada siklus IV pembelajaran peer teaching yang dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2011 dengan menampilkan 1 guru model dan mendapatkan pendampingan langsung dari DR. Ibrohim, MSi dari UM. Data tentang statemen masalah pembelajaran yang dituangkan di lembar pengembangan sikap ilmiah menunjukkan terjadinya perubahan proporsi antara statemen yang mengarah pada potensi masalah pembelajaran dengan statemen yang tidak mengarah pada potensi masalah pembelajaran. Dari 35 komponen yang bisa ditulis menunjukkan 27statemen potensial sebagai masalah pembelajaran, sisanya 8 statemen tidak potensial. Frekuensi dan prosentasi kedua kategori tersebut dapat disajikan dalam Tabel 3 berikut : Tabel 3. Frekuensi dan Prosentase Statemen Siklus IV
Kategori Statemen Potensial Sebagai Masalah Tidak Potensial Sebagai Masalah Jumlah Frekuensi 27 8 35 Prosentase (%) 77 23 100

Hasil pengumpulan data dan analisisnya menunjukkan bahwa kemampuan merumuskan masalah pembelajaran oleh mahasiswa peserta matakuliah mikroteaching dari siklus II ke siklus III dan siklus IV terjadi peningkatan. Terbukti bahwa pada siklus II prosentasi statemen yang termasuk dalam kategori potensial sebagai masalah pembelajaran meningkat dari 65%, meningkat ke 75% pada siklus III dan naik lagi menjadi 77% pada siklus IV.

5. Pengembangan Potensi Masalah Menjadi Proposal dan Pembahasannya Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 7

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dari statemen mahasiswa yang bermilai potensi sebagai masalah pembelajaran kemudian diminta untuk dikembangkan menjadi proposal PTK kususnya bagian awal yang menguraikan latara belakang masalah, rumusan masalah dan menentukan judul PTK nya. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa latar belakang yang didiskripsikan oleh mahasiswa tidak didukung oleh fakta fakta yang jelas dan terperinci yang ditemukan dari potensi masalah. Isi latar belakang yang dikembangkan mahasiswa masih didominasi oleh statemen teoritik dan wawasan pendidikan yang berkembang saat ini yang mengarah pada kondisi idial yang dicita-citakan saja. Alasan untuk menentukan tindakan juga tidak didasarkan pada fakta. Fakta yang ditulis mahasiswa pada temuan masalah pembelajaran memang cenderung kurang mendasar dan kurang jelas, dan hal itu sudah dianggap sebagai potensi masalah oleh mahasiswa. Ketajaman dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan tindakan sebagai solusinya menjadi tidak fokus. Hal seperti ini dijumpai hampir pada semua proposal yang dikembangkan oleh mahasiswa. Namun demikian, ketika menuliskan judul dan permasalahan, keduanya sudah mencerminkan kaidah penulisan judul dan rumusan masalah pada penelitian tindakan kelas kecuali ada beberapa yang memang belum mengarah ke PTK. Sebagai contoh proposal dengan judul: (1) Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Kooperatif Skript Melalui Media Fotonovela di SMA II Tarakan; (2) Peningkatan Hasil Belajar Biologi Melalui Peta Konsep Pada Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah IV Sidoarjo; (3) Peningkatan Minat Belajar Biologi Melalui Penerapan Media Asli sebagai Alat Bantu Pembelajaran Materi Keanekaragaman Hayati Pada Siswa Kelas X Semester II SMAN I Suboh Situbondo Tahun Ajaran 2011/2012. Dari judul I, II dan III Nampak bahwa latar belakang yang dikembangkan diambil dari tempat lain bukan dari temuan fakta di peerteaching. Diskripsi faktanya tidak mendalam. Latar belakang didiskripsikan hanya dari kajian teoritik, strategi pemecahanya tidak sesuai dengan focus masalah. Semua usulan tersebut faktanya diambil dari tempat lain dan tidak dikembangkan lebih terinci. Satu contoh penelitian dengan judul “Pembelajaran Model STAD dan TGT pada Matapelajaran Biologi ditinjau dari Keingintahuan dan Minat Belajar Siswa Kelas XI di SMAN II Batu”. Pada usulan ini judulnya sudah tidak sesuai dengan kaidah PTK, pada penulisan latar belakangnya juga tidak jelas karena tidak mendasarkan pada fakta di lapang. Rumusan masalah yang dikembangkan juga tidak sesuai dengan penelitian PTK, contoh masalah yang terungkap sebagai berikut: (1) Apakah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dan TGT terhadap prestasi belajar;(2) Apakah ada interaksi model pembelajaran kooperatif STAD dan TGT terhadap prestasi belajar. Dari hasil analisis terhadap keberhasilan mahasiswa dalam menemukan potensi masalah, menggambarkan bahwa meskipun mahasiswa sudah mampu menulis potensi masalah, dan kemampuan ini meningkat dari siklus ke siklus (dari 65% pada siklus II meningkat ke 75% pada siklus III dan naik lagi menjadi 77% pada siklus IV). Melalui implementasi lesson study, mereka berkesempatan belajar menemukan masalah pembelajaran untuk menyusun proposal penelitian PTK. Namun demikian mahasiswa peserta PPL I belum mampu mengembangkan menjadi latar belakang penelitian yang baik. Potensi masalah yang ditulis masih terasa dangkal dan tidak dicari sampai pada penyebab munculnya potensi masalah. Hal ini dimungkinkan karena mahasiswa belum banyak memahami tentang penelitian PTK dan bagaimana harus mengembangkan PTK. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari pelaksanaan Lesson Study pada matakuliah microteaching di Program Studi Pendidikan Biologi JPMIPA FKIP UMM dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Lessson Study dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menemukan potensi masalah pembelajaran sebagai input utama untuk menyusun proposal PTK.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 8

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 2. Lesson Study dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam membelajarkan menyusun proposal penelitian PTK, meskipun belum berkualitas, kususnya dalam menetapkan judul, latar belakang dan merumuskan masalah. Saran 1. Sehubungan dengan manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan Lesson Study pada perkuliahan microteaching maka perlu terus dikembangkan implementasinya untuk matakuliah PPL II. 2. Matakuliah diluar mikroteaching dan PPL II sangat disarankan untuk menerapkan lesson study agar terjadi pembinaan profesi secara serentak dan peningkatan kualitas proses dan hasil perkuliahan dapat segera menyebar dan lebih terasakan manfaatnya.
DAFTAR RUJUKAN Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2011, Pedoman Penulisan Makalah Lesson Study Untuk Seminar Exchange Experience, Dirjen Dikti, Kementrian Pendidikan Nasional, Jakarta. Ibrohim, 2011, Lesson Study untuk Meningkatkan Kompetensi Pendidik, Kualitas Pembelajaran dan Perkembangannya Di Indonesia, Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Lesson Study di UNTAD Palu, 28 Oktober 2011. Joharmawan, Ridwan. 2008. Reformasi Sekolah Melalui Kegiatan “lesson study” . Http://Ridwajoharmawan.wordpress.com. Di akses tanggal 16 April 2009. Kurikulum Akademik 2010-2011, Universitas Muhammadiyah Malang Mahmudin. 2008. Kompetensi Profesional Guru Indonesia. Http://mahmudin.wordpress.com. Di akses tanggal 17 April 2009. Mulyana, Slamet. 2008. Dampak Pendidikan dan Pelatihan Lesson Study Terhadap Guru-guru. Online. http://www.lpmpjabar.go.id. Di akses tanggal 20 April 2010. Permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, Bandung, Sinar Grafika Suriasumantri,J.S, 2001, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan Jakarta. Susilo, H. Bambang. 2008. Lesson Study Sebagai Alternatif Proses Pembelajaraan Kolaboratif Dan Kolegial Yang Bernilai Ganda. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Nangroe Aceh Darussalam Syafruddin Nurdin. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Ciputat Press. Jakarta. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2006. Bandung: Citra Umbara

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 9

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP-KONSEP BIOLOGI KELAS IX SEMESTER I SMP NEGERI 2 NEKAMESE DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN INQUIRY KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR

Darius Jentar
SMP NEGERI 2 NEKAMESE

Abstrak: Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMP Negeri 2 Nekamese senantiasa terus diupayakan baik melalui penelitian tindakan kelas maupun kegiatan lainnya. Salah satu kegiatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Nekamese yang termasuk baru adalah kegiatan Lesson Study. Mata pelajaran IPA-Biologi telah melaksanakan kegiatan Lesson Study sejak tahun 2010. berdasarkan pemantauan kegiatan Lesson Study di mata pelajaran Biologi yang selama ini dilakukan diperoleh dari teman-teman yang merupakan pengalaman berharga. Pengalaman yang dimaksud adalah (1) munculnya kemauan para guru untuk membuka kelas (Open class) dan menjadi guru model (2) keterbukaan pikiran dan menerima masukan pendapat dari teman sesejawat (kolaboratif) melalui kajian guru pembelajaran (3) adanya upaya untuk mencoba menggunakan strategi mengajar yang “baru” guna memperoleh balikan dari teman sejawat sehingga diperoleh pengalaman mengajar dengan yang lebih baik. (4) terbentuknya kelompok Lesson Study bagi para guru dilingkungan mata pelajaran Biologi. (5) meningkatkan kemampuan dan ketajaman para guru dalam mencermati dan menganalisis pembelajaran serta merefleksinya. (6) tersosialisasinya konsep dan penerapan lesson study bagi para guru dilingkungan mata pelajaran biologi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsepkonsep biologi kelas IX semester I SMP Negeri 2 Nekamese dengan menggunakan pendekatan inqury. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember 2010, dan dilakukan pada SMP Negeri 2 Nekamese kelas IX semester I mata pelajaran biologi. Tindakan yang diberikan berupa pendekatan Inquiry yang didalamnya tercakup kegiatan diskusi kelompok, demonstrasi, kegiatan laboratorium, lembaran kerja siswa, dalam mengajarkan konsep yang direncanakan. Aspek penilaian meliputi keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar. Hasil penelitian menunjukan adanya kenaikan yaitu keaktifan siswa mencapai (85,14%) dan hasil evaluasi mencapai (7,64). Ini berarti dengan menggunakan pendekatan Inquiri dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep biologi. Kata kunci: Pendekatan inquiry, Metode Eksperimen, Model Pembelajaran Koperatif

LATAR BELAKANG Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di SMP Negeri 2 Nekamese Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kiranya perlu disempurnakan proses belajar mengajar terutama pembelajaran IPA Biologi yang mempunyai kaitan langsung dengan pesatnya perkembangan IPTEK. Kenyataan sekarang ini sebagian besar siswa belum berhasil memahami konsep-konsep biologi maupun aplikasi konsep biologi dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 10

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Guru dalam menjalankan tugasnaya banyak menghadapi kendala, selain kurikulum sarat isi, sistem evaluasi lebih mempengaruhi cara guru menyampaikan materi pelajaran. Dalam penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiri siswa merasa sukar untuk melakukan kegiatan sesuai langkah-langkah dalam inquiry, antara lain : merumuskan masalah, membuat hipotesis, memecahkan masalah dan menarik kesimpulan. Selama ini pendekatan inquiry dilakukan dengan cara siswa hanya melaksanakan kegiatan pengumpulan data, sedangkan langkah-langkah lainnya dalam pendekatan inquiri dilakukan oleh guru. Keadaan ini belum mengembangkan keingintahuan siswa dan pemecahan masalah (Inquiry) terhadap keadaan sekitar, sehingga pemahaman konsep-konsep biologi dengan keterampilan prosesnya masih rendah, padahal dalam perkembangan IPTEK sangat diharapkan siswa mampu memecahkan masalah, berpikir logis, kritis, imajinatif, alternatif dan kreatif. Inquiry merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar didepan kelas. Disini peran guru hanya sebagai fasilitator dan pembimbing, diharapkan siswa/peserta didik banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru. Tahap-tahap inquiry dapat dilakukan dalam bentuk diskusi kelompok, karena dalam diskusi terjadi interaksi siswa dengan siswa secara optimal. Pada kegiatan diskusi dalam pendekatan inquiry ini, guru dapat mengarahkan kegiatankegiatan mental siswa sesuai dengan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan. Siswa lebih banyak terlibat dan mereka mendapatkan kesempatan untuk berpikir, agar dapat merumuskan jawaban-jawaban dari masalah-masalah yang disajikan, atau memberi pendapat dalam diskusi. Dalam hal ini siswa “dipaksa” untuk belajar menganalisis, mensintesis, mengevaluasi atau melakukan kegiatan mental lainnya. Ini merupakan pelatihan yang baik bagi siswa, untuk mengembangkan kemampuan memberi inquiry. Dalam pendekatan inquiri siswa diprogramkan agar selalu aktif, secara mental maupun secara fisik. Materi yang disajikan guru bukan diberitahukan, dan langsung diterima seluruhnya oleh siswa, tetapi diusahakan sedemikian rupa hingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka menemukan konsep-konsepyang direncanakan oleh guru. Disamping itu dengan inquiry mereka dapat melakukan proses-proses ilmiah atau metode ilmiah, yang akibatnya akan lebih menanamkan sikap ilmiah dengan baik. Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yang dapat dikemukakan sebagai berikut : (1). Dapat membentuk dan mengembangkan “Self-consept” pada diri siswa, sehingga siswa mengerti tentang konsep dan ide-ide lebih baik. (2). Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. (3). Mendorong siswa untuk berpikir inquiry dan merumuskan hipotesisinya sendiri. (4). Memberi kepuasan yang bersifat instrinsik. (5). Situasi proses belajar menjadi lebih bergairah. (6). Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan sendiri. (7). Dapat memberi waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi da mengakomodasi informasi. Dari uraian diatas maka penggunaan pendekatan inquiri dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa perlu diterapkan sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep biologi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembelajaran berbasis lesson study, pendekatan inquiri sangat banyak membantu siswa dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, imajinatif, alternatif, aktif, kreatif dan menyenangkan. Guru menjadi lebih dekat dengan siswa dengan cara memberikan arahan dan bimbingan perkelompok. Peran pendekatan inquiri dalam pelaksanaan lesson study lebih banyak berada dikegiatan DO karena dituntut lebih aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan lesson study ini tentu tidak akan terlaksana tanpa dukungan dari Bapak Kepala Sekolah, Bapak Zakarias Koen, S. Pd dan bantuan seluruh rekan-rekan guru terutama rekan guru serumpun, rekan guru kolaboratif, serta karyawan di SMP Negeri 2 Nekamese yang selalu siap membantu memperbanyak LKS. RUMUSAN MASALAH

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 11

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. 2. 3. 4. Berdasarkan uraian diatas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Apakah dengan pendekatan inquiry dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsepkonsep biologi ? Apakah dengan pendekatan inquiry dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran biologi? Apakah dengan pendekatan inquiry dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran biologi? Apakah dengan pendekatan inquiry dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa?

TUJUAN PENELITIAN Tujuan umum dari penelitian ini, untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsepkonsep biologi dalam kehidupan sehari-hari, di SMP Negeri 2 Nekamese, sehingga mendorong peningkatan hasil belajar IPA (Bilogi). Adapun tujuan khususnya adalah untuk meningkatkan kualitas proses belajar IPA (Biologi), dengan indikator sebagai berikut : 1. Minimal 85% siswa aktif dalam pembelajaran IPA Biologi pada materi alat Indera. 2. Minimal 85% memiliki tingkat penyelesaian standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) 67. 3. Sekurang-kurangnya 85% siswa memenuhi nilai KKM pada kelas IX D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian Lesson Study ini bagi siswa, guru dan sekolah adalah : 1. Bagi Siswa 1) Meningkatkan minat belajar siswa. 2) Meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran. 3) Mengembangkan hubungan antara pribadi yang positif. 4) Meningkatkan kemampuan belajar yang kritis dan aktif. 2. Bagi Guru 1) Meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran. 2) Meningkatkan pemahaman tentang proses pembelajaran. 3) Meningkatkan kualitas kinerja guru. 3. Bagi Sekolah Memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran IPA (Biologi) pada SMP Negeri 2 Nekamese khususnya, dan SMP lainnya di Kabupaten Kupang. Hasil Yang Diharapkan Adapun hasil yang diharapkan dari penelitian Lesson Study ini adalah : 1. Untuk Siswa 1) Siswa lebih aktif pada waktu KBM berlangsung. 2) Dapat mengembangkan daya pikir siswa. 3) Siswa yang lemah dapat dibantu oleh siswa yang lebih pandai, sehingga terjadi interaksi antara siswa. 4) Siswa terbiasa belajar mandiri. 5) Perhatian siswa terhadap pelajaran biologi meningkat. 6) Prestasi belajar biologi siswa meningkat. 2. Untuk Guru

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 12

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dapat memanfaatkan potensi siswa pandai sebagai nara sumber, untuk memotivasi siswa lain belajar sehingga hasil belajar keseluruhan siswa meningkat. METODE PENELITIAN Proses pembelajaran atau dengan pendekatan inquiry Langkah-langkah Lesson Study 1. Plan Guru-guru mata pelajaran serumpun mengisihkan waktu mengadakan pertemuan untuk mempersiapkan pelaksanaan Open class. Apa yang dii lakukan ini tanpa anggapan resmi baik itu sekedar air satu gelas ataupun untuk untuk penyediaan alat tulis. Open class dilakukan pada hari kamis, tanggal 12 Nopember 2010 jam pelajaran pertama dan kedua, kelas IX D dengan materi “Alat indera pada manusia dan hubungan dengan kesehatan”. Standar kompetensi I, yaitu : memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia. Kompetensi dasar 1.3 yaitu : mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungan dengan kesehatan. Adapun persiapan Open class yang telah disepakati oleh guru-guru mata pelajaran yang serumpun adalah : 1. Mengadakan diskusi dengan teman-teman guru serumpun mengenai permasalahan pelaksanaan Open class yang akan dilaksanakan. 2. Menyusun perangkat pembelajaran. 3. Menyusun lembaran kegiatan siswa (LKS) 4. Mempersiapkan prosedur monitoring, kolaboratif, kunjungan kelas. 5. Membentuk kelompok diskusi yang terdiri dari 4-5 orang siswa. RPP dan LKS yang dihasilkan terdapat pada lampiran. Para pengamat/observer yang di harapkan berpartisipasi dalam kegiatan do. 2. Do Apa yang telah kami rencanakan dalam langkah Plan, kami laksanakan pada hari jumat tanggal 12 Nopember 2010 jam pertama dan kedua pada kelas IX D dengan penyaji Bapak Darius Jentar, S.Si (guru mata pelajaran Biologi). Kegitan do dihadiri oleh beberapa guru mata pelajaran dan Kepala Seekolah. 3. See Pelaksanaan see berupa refleksi dan dilakukan pada hari itu juga setelah jam belajar mengajar berakhir dan siswa tidak pulang yaitu pukul 13.10. kegiatan refleksi dipimpin oleh moderator merangkap pengamat/observer Bapak Kepala Sekolah tidak dapat hadir sebagai moderator karena ada tugas yang harus diselesaikan. Observer lainnya adalah 3 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Keaktifan Siswa Dapat Dilihat Pada Tabel Dibawah ini: Tabel 1.Prosentase Keaktifan Siswa.
No Aspek yang dinilai Jumlah siswa/% keaktifan Cukup Aktif % aktif % Kurang aktif % Tidak aktif %

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 13

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
1 Dapat mengemukakan masalah yang akan diteliti Dapat membuat hipotesisi Aktif dalam melakukan pengamatan dan mengisi hasil pengamatan pada lembar LKS Aktif dalam kegiatan diskusi kelompok dan menjawab pertanyaan dalam LKS Aktif dalam kegiatan diskusi kelas Dapat mengambil kesimpulan Dapat menyusun laporan hasil kegiatan kerja kelompok % keaktifan 11 13 44 52 8 6 37 24 6 6 24 24 -

2 3

12

48

10

40

3

12

-

-

4

15

60

8

32

2

8

-

-

5 6 7

15 11 18 -

60 44 72 54,29

6 10 6 -

24 40 24 30,85

4 4 1 -

16 16 4 14,85

-

-

PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 1, pengamatan pada Open class ini menunjukkan hasil yang memuaskan, secara keseluruhan siswa/peserta didik sudah dapat mengemukakan pendapatnya sebagian besar siswa aktif melakukan percobaan, antara lain memukul kaleng yang berhubungan dengan organ pendengar, melihat sesuatu dengan organ mata, penciuman dengan organ penciuman (hidung), mengecap dengan organ lidah. Mereka nampaknya antusias dan senang dalam berdiskusi dengan teman-teman kelompok, dalam memecahkan persoalan yang ditemui serta dalam diskusi kelas tingkat keberhasilan pada Open class adalah 54,29% ± 30,85% = 85,14%. Pada Open class ini nampak sekali ada peningkatan karena kegiatannya dipusatkan pada alat indera dan siswa langsung melakukan eksperimen alat-alat indera pada manusia dan melihat langsung permasalahan yang ada untuk dapat didiskusikan dan dipecahkan. Inilah yang merangsang siswa untuk berpikir sehingga mereka aktif dalam melakukan kegiatan, tidak ada yang pasif. Hasil tes pada Open class ini menunjukan adanya Melalui pembelajaran berbasis Lesson study,pendekatan inquiry sangat banyak membantu siswa dalam memecahkan masalah ,berpikir kritis,imajinatif,alternatif, aktif,kreatif dan menyenangkan. Tercapainya peningkatan nilai baik dapat dilihat dari keaktifan siswa pada Tabel 1 dan pencapaian nilai hasil bajak di Tabel 2. Faktor-faktor yang berpengaruh yaitu siswa lebih aktif apabila ada percobaan atau eksperimen, karena sesuatu yang fakta atau nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keunggulan inquiry sesuai dengan kenyataan yaitu: Siswa mampu memecahkan masalah, berpikir logis, kritis, imajinatif , aletrnatif dan kreatif, sehingga dapat mengalikasikan konsep-konsep biologi dalam kehidupan sehari-hari. Hambatan dalam DO adalah masih ada beberapa siswa yang kurang dalam mengemukakan pendapatnya perlu dibimbing, dan diberi rasa percaya diri, sehingga dapat aktif sama seperti teman-temannya. Tabel 2. Daftar nilai siswa pada Open class
No 1 2 3 4 Nama Siswa A B C D Nilai Tes 7 8 6 6

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 14

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Rata-rata 8 8,5 7 9 7 7,5 6,5 8 8,5 8,5 7 6 8,5 8 7 8 8,5 8,5 8,5 8,5 7 7,64

PENUTUP Kesimpulan Dari kegiatan lesson study yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Dengan menggunakan teknik pendekatan inquiri dalam proses pembelajaran biologi. Karena siswa terlihat langsung dalam setiap kegiatan-kegiatan pembelajaran antara lain :  Dapat merumuskan masalah.  Dapat menetapkan hipotesisi.  Dapat mencari informasi, data dan faktor yang diperoleh dari hasil pengamatan, eksperimen atau buku yang diperlukan untuk membuktikan hipotesisi.  Dapat menganalisis data.  Dapat mengambil kesimpulan. 2. Dengan menggunakan teknik pendekatan inquiry dalam proses pembelajaran biologi pada siswa kelas IX D semester I, ternyata dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep biologi yang diajarkan terbukti dengan nilai rata-rata hasil tes yaitu 7,64 serta adanya kenaikan presentasi keaktifan siswa dalam kegiatan Open class 85,14% dari sebelumnya. Saran 1. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep biologi dengan menggunakan pendekatan inquiri hendaknya diajarkan pada kelas VII, VIII dan IX. 2. Pola Lesson study ini perlu ditindak lanjut dan pemerataan diseluruh sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 3. Guru sebagai ujung tombak bangsa perlu untuk selalu meningkatkan profesionalisme dibidangnya melalui kreativitasnya guru diharapkan menemukan berbagai strategi baru atau menggali pengetahuan baru demi kemajuan anak didiknya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 15

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kegiatan Lesson study di SMP Negeri 2 Nekamese baru awal kami laksanakan, baik guru model maupun pengamat (observer) yang terlibat belum pernah mengikuti pelatihan tentang Lesson study.

DAFTAR RUJUKAN DEPDIKBUD. Petunjuk Teknis Pengajaran DEPDIKBUD. 2003. Penelitian Tindakan Kelas DEPDIKBUD. 1997. Pedoman Penilaian Karya Tulis Ilmiah Dibidang Pendidikan DEPDIKNAS. 2008. Perencanaan Pembelajaran DEPDIKNAS. 2008. Strategi Belajar Mengajar Biologi DEPDIKNAS. 2008. Metode pembelajaran DEPDIKNAS. 2008. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas Enjag Takari R. 2008. Penelitian Tindakan Kelas.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 16

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGELOLA KELAS BAGI MAHASISWA JURUSAN BIOLOGI DI SMPN 13 MALANG MELALUI PPL BERBASIS LESSON STUDY

Avia Riza Dwi Kurnia
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

Abstrak: Dalam pelaksanaan PPL (praktek pengalaman lapangan) mahasiswa menjumpai berbagai macam tantangan. Salah satu tantangan yang ditemukan mahasiswa adalah sulitnya mengelola kelas dan memotivasi siswa agar giat belajar. Hal tersebut juga dialami oleh 4 mahasiswa Biologi yang PPL di SMPN 13 Malang. Penerapan lesson study bermanfaat sekali pada saat mahasiswa menjadi guru model salah satunya adalah mahasiswa dapat mengetahui kelemahan pembelajaran yang dilakukannya dan bagaimana cara memperbaikinya. Sedangkan manfaat menjadi observer adalah mahasiswa dapat melihat guru model mengelola kelas dan membelajarkan siswa-siswanya. Dapat diketahui pula masalah-masalah yang mungkin timbul selama kegiatan pembelajaran, penyebab timbulnya masalah serta alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Serta yang paling penting diketahui pula bagaimana cara atau usaha guru untuk mendorong siswa yang semula tidak aktif belajar menjadi belajar. Melalui lesson study mahasiswa dapat berbagi pengalaman untuk mengetahui karakter siswa dan mencari metode yang mampu memotivasi mereka belajar. Kata-kata kunci: mengelola kelas, motivasi belajar, lesson study di SMPN 13 Malang

Salah satu masalah yang selalu dialami praktikan atau mahasiswa praktek pengalaman lapangan (PPL) adalah sulitnya mengelola kelas. Pengertian pengelolaan kelas sendiri adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga kegiatan belajar dapat terlaksana seperti yang diharapkan. Suatu kondisi belajar yang optimal tercapai jika: (a) mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran dan (b) terjadi hubungan interpesonal yang baik antar guru dan anak didik, dan anak didik dengan anak didik. Sulitnya mengelola kelas juga dialami oleh mahasiswa PPL di SMPN 13 Malang. Berdasarkan informasi dari guru-guru, input yang masuk SMPN 13 adalah siswa yang golongan ekonominya menengah ke bawah dengan nilai UNASnya tidak begitu tinggi. Faktor ini mempengaruhi kondisi belajar di kelas. Sebagian besar siswa memiliki orang tua yang bekerja di bidang non formal misalnya pemilik toko atau pedagang. Seringkali waktu belajar siswa tersita untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Banyak orang tua siswa yang tidak memiliki kesadaran pentingnya belajar bagi anak. Menurut pengalaman guru-guru, mereka sudah mampu meramalkan tingkah laku belajar siswa berdasarkan input nilai UNAS yang sedang-sedang saja bahkan rendah. Siswa yang demikian biasanya menunjukkan kebiasaan belajar di kelas yang juga rendah.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 17

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kondisi siswa dan kebiasaan belajar yang demikian membuat membuat guru harus terus memotivasi siswa dengan berbagai cara. Motivasi dalam bentuk sikap oleh guru misalnya teguran ringan, keras, melakukan pengelolaan kelas dengan ketat, yakni terus mengontrol sikap siswa yang tidak belajar. Motivasi lain berupa penerapan berbagai metode pembelajaran. Motivasi sikap paling sering dilakukan di kelas VII, agar siswa terkondisi untuk belajar di kelas yang lebih tinggi tahun berikutnya. Dengan kata lain guru berusaha membentuk kebiasaan belajar di sekolah, dimana hal ini kurang diperhatikan oleh orang tua siswa. Kondisi siswa yang tersebut merupakan tantangan bagi 4 mahasiswa PPL dari Jurusan Biologi yakni Alifah Robitah, Ardian Andjar Pangestuti, Mega Oktalinda dan Rista Farida. Mengelola kelas dengan siswa yang normal saja sudah merupakan hal yang cukup sulit bagi praktikan, apalagi di kelas yang kondisi peserta didiknya demikian. Namun bukan berarti hal tersebut tidak dapat diatasi. Mahasiswa PPL MIPA melakukan 6 kali open class untuk jurusan yang serumpun. Lesson study bidang Biologi sendiri berlangsung 3 kali, 3 kali untuk Jurusan Fisika. Pada pelaksanaan lesson study di SMPN 13, ditemukan lesson learned yang sangat berharga bagi mahasiswa PPL. Ada saat-saat dimana aktivitas belajar siswanya tinggi. Sebelum menuju sekolah untuk PPL, di kampus juga dilakukan latihan microteaching yang biasanya disebut kegiatan PPL kampus. Pada akhir microteaching dilakukan plan bersama-sama, seluruh mahasiswa PPL dengan dosen pembimbing. Sesi plan dilakukan dengan sangat serius, kami sangat menyadari sempitnya waktu pada saat mereka berada di sekolah. Apalagi jika masing-masing mahasiswa praktikan mendapat satu kelas. Di beberapa sekolah ada juga mahasiswa yang mengajar di 2 kelas. Kami membahas semua RPP yang dibuat oleh mahasiswa. Saat itu kami semua merasa sangat bahagia karena bisa melakukan persiapan dengan sungguh-sungguh. Pada saat plan kami perlakukan semua RPP seolah-olah semua akan di-openclass-kan. RPP yang disusun yaitu materi fotosintesis yang masuk dalam KD mendeskripsikan proses perolehan nutrisi dan transformasi enegi pada tumbuhan hijau, materi gerak pada tumbuhan yang masuk KD memahami ciri-ciri makhluk hidup dan RPP pencemaran lingkungan yang masuk KD mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Untuk fotosintesis mahasiswa akan menerapkan praktikum Sachs dan Ingenhouz. Pada saat microteaching kami melakukan praktikum sebenarnya dan bekerja dengan serius. Topik tersebut juga akan diteliti untuk tugas akhir oleh salah satu mahasiswa PPL. Kesulitan yang kami alami saat itu adalah menentukan ada tidaknya amilum pada daun. Saat PPL kampus berakhir dan plan sudah dilaksanakan sebagai pembimbing kami berpesan agar mahasiswa melakukan percobaan sekali lagi. Kami ingin praktikum berjalan lancar. PELAKSANAAN LESSON STUDY DI SEKOLAH OPEN CLASS PERTAMA Telah dipaparkan sebelumnya bahwa mahasiswa Jurusan Biologi melakukan 3 kali open class, namun yang akan dijelaskan terperinci di sini adalah open class yang dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan. Open class yang pertama ini tidak dapat dihadiri oleh sesama mahasiswa Biologi karena jadwal mengajar yang bentrok. Selain itu jam belajar diperpendek dari 40’ menjadi 25’ untuk dipakai try out UNAS kelas IX. TAHAP PRENCANAAN (PLAN) Beberapa waktu setelah mahasiswa praktek mengajar di SMPN 13 Malang, kami bertemu untuk menyepakati waktu open class. Seminggu sebelum open class kami bertemu di kampus untuk pemantapan dengan melakukan plan kembali. RPP yang telah disusun kami bahas bersama. Pada saat itu RPP yang disusun mahasiswa sudah sangat baik. Untuk materi pencemaran lingkungan belajar bisa Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 18

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dipilih metode belajar di luar kelas, namun demikian hal ini tidak dilakukan mengingat sempitnya waktu. Kekurangannya hanya pada asesmen nontes yang kurang sempurna. Terutama asesmen yang menilai aktivitas belajar siswa dalam berbagai bentuk, seperti belajar kelompok, diskusi atau presentasi. Namun untuk materi fotosintesis semua aspek ditata dengan kesungguhan karena agar diteliti oleh mahasiswa. Pada saat itu fokus kami adalah bagaimana agar siswa termotivasi belajar dan tidak menyulitkan guru PPL. Diskusi kami waktu itu adalah untuk mencari berbagai solusi agar dapat meningkatkan pengelolaan kelas. Kebiasaan belajar yang rendah dan kurangnya perhatian terhadap guru PPL sangat menyulitkan mahasiswa. Misalnya belajar koperatif membuat mind map, hanya satu dua siswa yang bekerja dalam kelompok. Siswa lain beraktivitas di luar pelajaran, seperti berjalan-jalan di kelas, mengobrol dengan suara keras, main game dengan HP atau bergurau. Jika aktivitas belajar diases, tentu nilainya rendah. Namun demikian aktivitas belajar seperti tanya jawab merupakan hal yang menyenangkan bagi siswa. Sehingga guru PPL lebih suka mencatat aktivitas tersebut. TAHAP PELAKSANAAN (DO) Setting kelas pada waktu open class, satu meja ditempati 2 siswa dan ada 4 deret meja dari muka ke belakang. Observer akan mengawasi satu deret bangku, namun karena observer hanya ada 3 berarti satu satu observer harus mengawasi 2 deret bangku. Pada pertemuan tersebut siswa melakukan diskusi presentasi, dengan membawa mind map yang telah dibuat secara berkelompok pada pertemuan sebelumnya. Kelompok penyaji dengan topik pencemaran air maju ke depan dan mempresentasikan hasil kerjanya. Siswa lain menjadi peserta diskusi dan menanggapi presentasi penyaji
Materi Materi Pokok Sub materi : : Pengelolaan lingkungan untuk kelas VII semester 2 sumber-sumber pencemaran, perbedaan lingkungan alami dan tercemar, ciri-ciri air yang tercemar, penyebab pencemaran air, akibat pencemaran air dan contoh pencemaran air yang disebabkan oleh beberapa polutan. Pendekatan konstruktivis, model cooperative learning, metode diskusi presentasi menggunakan mind map Selasa, 5 April 2011 Alifa Robitah – mahasiswa Jur. Biologi UM Dosen pembimbing lapangan dan 2 mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia

Metode Pembelajaran Hari/tanggal Guru model Observer

: : : :

1. TAHAP REFLEKSI (SEE) Pada open class pertama ini tahap refleksi hari itu lebih mirip tahap mencurahkan isi hati oleh mahasiswa PPL kepada dosen pembimbing. Isi lembar observasi kami senada. Banyak sekali siswa yang tidak belajar. Berikut petikan lembar observasi pembelajaran dalam kegiatan lesson study pertama: A. APAKAH SEMUA SISWA BENAR-BENAR TELAH BELAJAR TENTANG TOPIK PEMBELAJARAN HARI INI? BAGAIMANA PROSES MEREKA BELAJAR?  Belum, masih terdapat beberapa siswa yang asyik dengan cerpen yang dibacanya seperti siswa yang bernama Ainul Fikri. Siswa yang bernama M. Subhan terlihat asyik dengan gambarnya. Lukman seringkali menguap karena mengantuk. Faishal asyik menggambar. Ivada dan AlQuriawati asyik berbincang-bincang. Belum semua siswa belajar pada hari ini. Ada siswa yang bermain dengan kuas, ada siswa yang berbicara sendiri, ada siswa yang sibuk menggambar dan bermain HP. Meskipun demikian ada juga siswa yang belajar, mereka memperhatikan kegiatan diskusi dengan mencoba mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan pada kegiatan diskusi.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 19

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)  Belum. Perwakilan kelompok tampil di depan kelas, tetapi sebagian audience masih asyik bermain sendiri. Misalnya M. Subhan asyik dengan cat dan gambarnya, A. Syaifullah ngobrol dengan Agung, Rosa dan Nur Anisa Mones asyik bermain-main dengan HP.

A. SISWA MANA YANG TIDAK DAPAT MENGIKUTI KEGIATAN PEMBELAJARAN PADA HARI INI?  Siswa yang tidak dapat mengikuti kegiatan adalah Ainul Fikri dan M. Subhan karena asyik dengan gambar dan cerpen yang dibaca. Saktio terlihat malas mengikuti pelajaran mungkin karena jam terakhir. Siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran secara sempurna hari ini adalah Lukman Arrahim, Khaerul Rijal, Faishal Akbar, Ifada, dan Al-Quriawati Siswa yang tidak dapat belajar adalah siswa yang jauh dari pantauan guru atau posisinya jauh dari guru dan kelompok penyaji (yaitu siswa yang tempat duduknya di pojok dan deretan kiri)

 

B. MENGAPA SISWA TERSEBUT TIDAK DAPAT BELAJAR DENGAN BAIK? MENURUT ANDA APA PENYEBABNYA DAN BAGAIMANA ALTERNATIVE SOLUSINYA MENURUT ANDA?  Siswa tidak dapat belajar dengan baik karena jauh dari pantauan guru, sehingga kurang mendapatkan perhatian. Selain itu, siswa sudah merasa lelah karena ini adalah jam pelajaran terakhir. Alternatif solusi: memberi pertanyaan atau memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan. Siswa tidak dapat belajar dengan baik karena guru belum berhasil mengkondisikan kelas secara baik, sehingga siswa belum terlibat aktif dalam pembelajaran hari ini. Seharusnya guru praktikan mengkondisikan kelas agar siswa tertarik mengikuti pelajaran dan merancang pembelajaran lebih baik lagi. Siswa tidak dapat belajar dengan baik karena guru kurang memotivasi kelas sehingga siswa terlihat ramai dan tidak memperhatikan presentasi.

C. BAGAIMANA USAHA GURU DALAM MENDORONG SISWA YANG TIDAK AKTIF UNTUK BELAJAR?    Mengajak siswa yang tidak aktif untuk berkomunikasi dan memberi dorongan agar siswa memberi tanggapan pada diskusi kelas Mendorong siswa aktif belajar Menenangkan kelas agar tidak ramai dan fokus pada kelompok yang sedang mempresentasikan hasil kerjanya.

D. PELAJARAN APA YANG DAPAT ANDA PETIK DARI PENGAMATAN PEMBELAJARAN HARI INI   Penguasaan kelas sangat penting dilakukan untuk menarik perhatian siswa Melakukan aktivitas yang menarik sehingga siswa termotivasi belajar, fokus dengan apa yang dikerjakan dan mengurangi intervensi guru PPL dalam proses belajar tersebut. Sehingga guru tidak terus menerus menghabiskan energi untuk membuat siswa tidak ramai.

Pada tahap refleksi mahasiswa PPL bercerita betapa sulitnya mengelola kelas dan memotivasi siswa agar tertarik pada proses pembelajaran. Praktek mengajar sedikit terbantu dengan kehadiran guru pamong yang sangat kooperatif dan bersedia menunggui mahasiswa mengajar. Guru pamong dengan sigap mengontrol siswa yang tidak fokus kepada pembelajaran. Kelaspun relatif lebih tenang jika ada guru mereka sendiri di dalam kelas. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 20

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada open class hari itu, dari 35 siswa hanya beberapa yang menunjukkan sikap fokus pada pembelajaran. Sebagian besar selalu membutuhkan intervensi guru untuk meluruskan perhatian siswa yang melenceng dari pembelajaran. Menurut guru kelas VII jika sejak kelas satu SMP kebiasaan belajar di sekolah sudah dibentuk, maka tahun berikutnya siswa jauh lebih tertib belajarnya. Jauh berbeda dengan kelas yang kurang mendapat perhatian dari guru. Tingkah laku siswa dalam kelas terutama kelas VII, memang sangat mengganggu proses pembelajaran. Bahkan siswa sama sekali tidak peduli pada kehadiran dosen pembimbing. Siswa tidak menghentikan aktivitas di luar belajar seperti bergurau, bicara dengan teman sebangku atau berjalanjalan dalam kelas. Menurut mahasiswa sekolah mereka sangat sering digunakan sebagai obyek penelitian selain itu setiap tahun selalu ada PPL dari beberapa universitas. Hal itu menyebabkan mereka “kebal” tidak peduli pada kehadiran orang luar. Di luar jam pelajaran mahasiswa juga sering berdialog dengan siswa untuk mencari tahu metode pembelajaran apa yang mereka sukai. Namun pencarian informasi ini tidak membuahkan hasil, karena siswa tidak dapat mengutarakan pendapatnya cara belajar seperti apa yang mereka sukai. Solusinya adalah memahami karakter peserta didik, terus mencari dan mengamati metode pembelajaran yang membuat siswa termotivasi belajar, saling berbagai pengalaman untuk kelancaran pembelajaran antar guru PPL dan membuat persiapan mengajar yang baik sehingga bayangan bagaimana proses pembelajaran akan dilangsungkan sudah terbentuk. OPEN CLASS KEDUA 1. TAHAP PERENCANAAN (PLAN) Untuk materi fotosintesis RPP sudah disusun pada saat PPL kampus. Namun kami tetap bertemu untuk melakukan plan. Plan dilakukan sebagai pemantapan saja. Pada open class kali ini akan dilakukan praktikum Sachs untuk menguji ada tidaknya amilum pada daun, sebagai hasil fotosintesis. Sambil praktikum siswa diminta mengisi LKS berdasarkan hasil pengamatan. 1. TAHAP PELAKSANAAN (DO)
Materi Materi Pokok Sub materi Metode Pembelajaran Hari/tanggal Guru model Observer : : : : : : Fotosintesis untuk kelas VIII semester 2 Pengertian fotosintesis dan tempat terjadinya fotosintesis, proses terjadinya fotosintesis & faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis Pendekatan kontekstual, metode praktikum dipadu dengan STAD Kamis, 7 April 2011 Mega Oktalinda – mahasiswa Jur. Biologi UM Dosen pembimbing lapangan, 3 mahasiswa jurusan Biologi dan 1 mahasiswa jurusan Fisika

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 21

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Pada saat pelaksaan pembelajaran, di setiap meja sudah disediakan alat praktikum, sedangkan daun yang ditutup almunium foil selama 24 jam dibawa oleh sendiri oleh siswa. Alkohol untuk merebus daun dan larutan lugol untuk indikator amilum pada daun disediakan di meja guru. Siswa akan melakukan praktikum dimana langkah kerjanya telah ditulis dalam LKS yang diberikan di setiap meja. Dalam LKS juga terdapat tabel hasil pengamatan dan pertanyaan yang memandu siswa untuk memahami materi. Meja praktikum berukuran panjang sehingga dapat ditempati satu kelompok yang terdiri dari 4 siswa. Deretan bangku kanan diawasi 2 observer, demikian pula deretan bangku kiri. Pada open class kali ini hanya dilakukan praktikum. Diskusi presentasi hasil pengamatan dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Begitu praktikum selesai langsung dilakukan refleksi. 1. Tahap Refleksi (See) Open class kali ini sangat melegakan bagi semua, baik dosen maupun mahasiswa PPL. Kali ini mahasiswa bisa merasakan mengajar dengan baik dan siswanya menikmati belajar. Memang masih ada siswa yang tidak belajar dan berjalan-jalan di kelas. Namun ternyata siswa tersebut hanya ingin tahu pekerjaan kelompok lain. Berikut petikan lembar observasi pada open class kedua: A. Apakah semua siswa benar-benar telah belajar tentang topik pembelajaran hari ini? Bagaimana proses mereka belajar? Hampir semua siswa (± 90 %) belajar pada topik pembelajaran ini. Seluruh siswa terlihat antusias dan asyik mengikuti kegiatan praktikum. B. Siswa mana yang tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari ini? Hampir semua siswa mengikuti kegiatan pembelajaran. Hanya saja ada kelompok siswa yang kurang serius dalam mengikuti/ melakukan praktikum, yaitu kelompok 7. C. Mengapa siswa tersebut tidak dapat belajar dengan baik? Menurut Anda apa penyebabnya dan bagaimana alternative solusinya menurut Anda? Siswa tersebut tidak dapat belajar karena bercanda dengan teman satu kelompok Alternatif solusi: Mendekati kelompok yang belum dapat belajar, kemudian memandu siswa untuk melanjutkan praktikum serta menanyai kesulitan yang dihadapi kelompok tersebut. D. Bagaimana usaha guru dalam mendorong siswa yang tidak aktif untuk belajar? Mendekati kelompok yang belum belajar kemudian membimbing/memandu siswa dalam kelompok tersebut untuk melanjutkan praktikum. E. Pelajaran berharga apa yang dapat Anda petik dari pengamatan pembelajaran hari ini? Apabila siswa diberikan suatu aktivitas yang jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya peralatan laboratorium, maka siswa tersebut akan belajar.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 22

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pelajaran hari itu berlangsung dengan baik, dalam refleksi kami mencatat beberapa lesson learned yang berharga, agar pengelolaan kelas lebih baik lagi: 1. Dalam kelompok pasti ada siswa yang pasif dan aktif. Hal ini normal terjadi. Bukan berarti siswa yang pasif tidak belajar, siswa tetap fokus pada kegiatan praktikum namun hanya melakukan pengamatan dan membaca LKS. Jika siswa yang tidak aktif itu selalu demikian dalam berbagai kegiatan pembelajaran harus sering diberi motivasi. Misalnya menunjuk siswa yang pasif untuk melakukan aktivitas praktikum yang bersifat motorik, bertanya atau maju ke depan. 2. Hampir semua siswa asyik dengan praktikum sehingga mengabaikan lembar pengamatan dan pertanyaan pada LKS. Guru harus sering mengingatkan agar siswa membagi tugas dalam praktikum. 3. Kerja guru menjadi sangat melelahkan jika praktikum, karena selalu ada kelompok yang bertanya atau butuh bantuan. Tidak ada asisten di SMP. Sebaiknya siswa diminta membaca langkahlangkah kerja sebelum praktikum dan dikenalkan dulu dengan peralatan sambil diberi pengarahan cara menggunakannya. 4. Pelajaran terpenting dari open class hari itu adalah siswa dapat juga fokus belajar dan menikmati belajar. Belajar dengan melakukan dan mengamati sangat menyenangkan bagi siswa. Apa yang dilaksanakan dalam pembelajaran sesuai dengan apa yang tertulis dalam standar isi (Permen No. 22 Th. 2006): Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. OPEN CLASS KETIGA Pada open class ketiga mahasiswa Biologi mengundang seluruh guru Biologi. Materi open class adalah fotosintesis dengan kegiatan pembelajaran praktikum Sachs dan Ingenhouz. Guru Biologi yang datang 3 orang ditambah satu guru Fisika. Guru-guru sebenarnya antusias mengikuti LS namun tidak semua dapat menghadiri karena jadwal yang bentrok atau ada kegiatan try out kelas IX. Mahasiswa Biologi juga menghadiri open class dari Jurusan Fisika dan Bahasa Indonesia. Banyak sekali lesson learned yang diperoleh pada saat mereka menghadiri open class dari jurusan atau fakultas lain, terutama dalam hal meningkatkan kemampuan mengelola kelas. Diantaranya ditulis oleh Ardian Andjar Pangestuti:  Ada beberapa hal yang bisa saya dapatkan selama menjadi observer salah satunya adalah dapat mengetahui kegiatan pengkondisian kelas yang dilakukan oleh guru praktikan lain. Berawal dari sini, saya dapat mengetahui apakah pengkondisian kelas yang demikian efektif bila diterapkan pada siswa yang saya ajar.  Selain itu diketahui pula cara guru untuk membelajarkan siswa-siswanya. Dapat diketahui pula masalah-masalah yang mungkin timbul selama kegiatan pembelajaran, penyebab timbulnya masalah serta alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut.  Serta yang paling penting diketahui pula bagaimana cara atau usaha guru untuk mendorong siswa yang semula tidak aktif belajar menjadi belajar. Sedangkan Alifa Robitah mendapatkan lesson learned sebagai berikut:  Kelebihan diadakannya PPL berbasis lesson study ini diantaranya adalah membuat kita sebagai guru praktikan lebih siap mengajar dengan adanya tahap plan bersama-sama. Selain itu ketika kita menjadi guru model kita jadi mengetahui kekurangan-kekurangan saat proses belajar mengajar berlangsung dari kegiatan see, sehingga hal tersebut dapat digunakan sebagai refleksi untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 23

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada saat menjadi observer dari kegiatan lesson study yang berbeda rumpun kita menjadi tahu lebih banyak bagaimana model pembelajaran lain yang mungkin belum diterapkan di kelas MIPA.  Dengan adanya open class dari jurusan lainnya dapat memperkaya pengetahuan kita tentang metode pembelajaran, pengkondisian kelas, pengalaman membuat dan menyusun perangkat pembelajaran, instrumen penilaian dan banyak hal lainnya.  KESIMPULAN Melalui lesson study mahasiswa mendapat banyak pengalaman berharga untuk memotivasi siswa agar aktif belajar. Lesson learned untuk mengatasi masalah tersebut antara lain:  Pada saat refleksi dapat diketahui kelemahan perangkat pembelajaran dan efektivitas kegiatan belajar mengajar yang telah berlangsung. Apakah langkah-langkah pembelajaran yang disusun dapat mengaktifkan siswa. Jika tidak mengapa dan apa solusinya.

Belajar memahami karakter siswa, mengetahui metode pembelajaran yang memotivasi siswa dengan mengamati kemudian merancang suatu pembelajaran yang mendorong siswa belajar. Pada open class kedua diketahui bahwa belajar dengan melakukan membuat siswa fokus belajar. Misalnya pembelajaran di laboratorium yang sangat menyenangkan bagi mereka.  Berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama mahasiswa jurusan lain dengan mengamati pembelajaran yang mereka laksanakan. Setiap bidang studi dan guru PPL memiliki cara yang unik untuk mengkondisikan agar siswa termotivasi dan siap belajar. DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S. 1986. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta: CV. Rajawali. Endang Dwi Ningsih. 2007. Resume Pengelolaan Kelas. Makalah untuk matakuliah Strategi Belajar Mengajar (SMB) Jurusan Biologi UM. Farida, Rista. 2011. Laporan Lesson Study dalam Kegiatan PPL Berbasis Lesson Study di SMPN 13 Malang. Laporan Kegiatan Lesson Study Mahasiswa PPL 2011. Malik, Abu Mutholib dkk. Peran Lesson Study dalam Meningkatkan Profesionalitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 2010. Prosiding Seminar Nasional Lesson Study 3 FMIPA Universitas Negeri Malang 9 Oktober 2010. Pangestuti, Ardian Andjar. 2011. Laporan Lesson Study dalam Kegiatan PPL Berbasis Lesson Study di SMPN 13 Malang. Laporan Kegiatan Lesson Study Mahasiswa PPL 2011. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendiknas. Pusma, Mega Oktalinda. 2011. Laporan Lesson Study dalam Kegiatan PPL Berbasis Lesson Study di SMPN 13 Malang. Laporan Kegiatan Lesson Study Mahasiswa PPL 2011. Robitah, Alifa. 2011. Laporan Lesson Study dalam Kegiatan PPL Berbasis Lesson Study di SMPN 13 Malang. Laporan Kegiatan Lesson Study Mahasiswa PPL 2011.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 24

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VII B SMP NEGERI 5 MALANG

Anindita Suliya Hangesti Mandra Kusuma 1) Herawati Susilo 2)
1) SMP Negeri 5 Malang. Email: luph_ditta@yahoo.com 2) Jurusan Biologi FMIPA UM. Email: herawati_susilo@yahoo.com

Abstrak: Pembelajaran berbasis Lesson Study merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Hal ini akan berdampak terhadap peningkatan motivasi belajar siswa selama proses pembelajaran. Peningkatan motivasi belajar diharapkan akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis Lesson Study untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 5 Malang. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, angket, dokumentasi dan tes tulis. Objek penelitian adalah siswa kelas VII B di SMP Negeri 5 Malang semester genap Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 42 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Mei 2011. Lokasi penelitian di SMP Negeri 5 Malang, Jl. W.R Supratman,12 Malang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan Lesson Study (plan, do, dan see), lembar observasi pembelajaran dalam kegiatan Lesson Study, lembar observasi motivasi belajar, angket motivasi siswa ARCS, angket respon siswa terhadap pelaksanaan Lesson Study, kamera digital dan soal tes tulis. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa implementasi pembelajaran berbasis Lesson Study dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 5 Malang dari 3,49 (cukup) menjadi 4,27 (baik). Selain itu, implementasi pembelajaran berbasis Lesson Study juga dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VII B SMP Negeri 5 Malang dari rerata 79,16 menjadi 83,62 dengan ketuntasan belajar dari 66,67% menjdi 83,62%. Saran dari penelitian ini adalah hendaknya Lesson Study dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dan keprofesionalan guru sehingga dapat memperbaiki dan mengoptimalkan pembelajaran. Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Lesson Study, Motivasi Belajar, Hasil Belajar.

Berdasarkan observasi yang dilakukan dan wawancara dengan guru bidang studi Biologi di SMPN 5 Malang, selama kegiatan belajar siswa kelas VII B SMPN 5 Malang terlihat bahwa motivasi belajar siswa kelas VII B SMPN 5 Malang tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat pada saat mengikuti pelajaran yaitu 1) tidak semua siswa antusias atau tertarik mengikuti kegiatan belajar biolgi di dalam kelas, 2) tidak semua siswa memperhatikan ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, 3) sebagian besar siswa tidak mau mendengarkan pendapat temannya, siswa asik berbicara dengan teman yang lain, 4) sebagian siswa lebih suka mendengar dan terkadang mencatat materi yang disampaikan guru, 5) siswa kurang aktif bertanya sehingga partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran bisa dikatakan masih rendah, bahkan ada juga siswa yang malas mengikuti pelajaran. Beberapa hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan metode

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 25

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajaran yang bersifat statis, sehingga siswa tidak tertarik pada pelajaran yang diberikan. Metode pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab. Kegiatan siswa juga lebih banyak mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) dari MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Metode kooperatif seperti STAD (Student Team Achievement Division) jarang digunakan. Hasil belajar siswa terutama aspek kognitif siswa yang dicapai selama ini secara umum masih kurang memuaskan. Ada sebagian siswa yang nilainya tidak mencapai SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 75, dan rata-rata nilai klasikal siswa juga masih kurang memuaskan. Berdasarkan nilai ulangan terakhir rata-rata nilai klasikal siswa adalah 78,68 dan siswa yang tuntas adalah 27. Berdasarkan penjabaran dan data tersebut sangat diperlukan sebuah proses pembelajaran yang selain mampu meningkatkan motivasi belajar siswa juga mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Guna memecahkan masalah tersebut, dipilihlah Lesson Study. Lesson Study dianggap dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif. Lesson Study perlu diimplementasikan karena Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar yaitu, (1) Lesson Study dilakukan dan didasarkan pada hasil sharing pengetahuan professional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru; (2) Lesson Study menekankan pada kualitas belajar siswa; (3) tujuan pembelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas; (4) Lesson Study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran karena berdasarkan pengalaman real di kelas; (5) Lesson Study akan menempatkan para guru sebagai peneliti pembelajaran (Ibrohim dan Syamsuri, 2010) Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: bagaimanakah implementasi pembelajaran berbasis Lesson Study dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII B SMPN 5 Malang? Tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah mengimplementasikan pembelajaran berbasis Lesson Study untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII B SMPN 5 Malang. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, 1) bagi guru antara lain; a) mendapat pengetahuan baru dan belajar tentang Lesson Study; b) dapat mengetahui kekurangan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga apabila kurang memberikan hasil yang optimal maka bisa dilakukan perbaikan untuk selanjutnya sehingga proses pembelajaran memiliki kualitas yang baik dan menambah wawasan baru untuk dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa; c) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif; d) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, di mana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya; e) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya; f) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya. 2) bagi pihak sekolah antara lain, a) penerapan Lesson Study di sekolah dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga input dari siswa menjadi lebih baik; b) terjalin kerjasama yang baik dari semua guru terutama dalam bidang studi yang sama. 3) bagi peneliti antara lain, a) sarana belajar untuk menerapkan pembelajaran berbasis Lesson Study; b) mengetahui kondisi kelas sehingga dapat ikut berupaya untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa melalui Lesson Study yang berkelanjutan; c) sebagai bekal yang baik dalam penerapan Lesson Study nantinya. METODE PENELITIAN Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan tindakan kepada subyek penelitian sebagai suatu proses pembelajaran. Ditinjau dari pelaksanaan penelitian, maka penelitian ini digolongkan dalam penelitian tindakan berbasis Lesson Study. Lesson Study merupakan suatu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran (Susilo, 2010). Penelitian ini dilaksanakan dalam 6 siklus. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan (plan), pelaksanaan (do) dan refleksi (see). Kegiatan dalam masing-masing tahapan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 26

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Perencanaan (Plan)    Penggalian Akademik Perencanaan pembelajaran Penyiapan Alat-alat

Pelaksanaan (Do)   Pelaksanaan pembelajaran Pengamatan oleh Rekan Sejawat

Refleksi (See)  Refleksi dengan teman sejawat

Gambar 1. Daur Lesson Study yang Terorientasi pada Praktik (Saito, 2005 dalam Ibrohim dan Syamsuri, 2007:4) Peneliti menjadi bagian dari grup Lesson Study yang meneliti research lesson. Sebagai bagian dari grup Lesson Study peneliti berkolaborasi dalam merumuskan masalah yang dihadapi oleh guru biologi berkaitan dengan pembelajaran yang telah maupun yang akan dilaksanakan, menetapkan materi yang akan dipilih untuk dibahas, menyusun RPP sekaligus menyiapkan modul dan media. Selain itu juga melakukan pengamatan selama kegiatan Lesson Study berlangsung sekaligus melakukan refleksi terhadap pelaksanaan Lesson Study dan merencanakan tahap-tahap berikutnya. Pelaksanaan Lesson Study 1. Plan Tahap perencanaan (Plan) bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dapat dilakukan secara sendirian. Pada tahap ini beberapa pendidik dapat berkolaborasi untuk memperkaya ide terkait dengan:  Menyusun RPP  Menyusun instrument  Menyiapkan media  Menyiapkan LKS  Menyiapkan sumber belajar Penyusunan beberapa hal di atas dilakukan secara kolaboratif oleh beberapa guru yang termasuk kelompok Lesson Study. 2. Do Tahap do ini dimaksudkan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan. Peneliti bertindak sebagai guru model sedangkan guru yang lain bertindak sebagai observer. Fokus pengamat diarahkan pada kegiatan belajar peserta didik dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen yang telah disepakati dalam tahap perencanaan, bukan pada guru yang sedang bertugas mengajar atau guru model.

1. See
Tahap refleksi ini dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Guru yang bertugas sebagai pengajar mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan dan pemikirannya mengenai pelaksanaan pembelajaran. Kesempatan berikutnya diberikan kepada guru yang bertugas sebagai pengamat. Selanjutnya pengamat dari luar juga mengemukakan apa lesson Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 27

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) learned yang dapat diperoleh dari pembelajaran yang baru berlangsung. Berdasarkan masukan dapat dirancang pembelajaran berikutnya yang lebih baik. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan teknik observasi, pembagian angket, dokumentasi proses pembelajaran, dan tes tulis. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi motivasi belajar, angket motivasi siswa ARCS, angket respon siswa terhadap pelaksanaan Lesson Study dan kamera digital. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN I. Motivasi Belajar Siswa a. Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa pada Saat Lesson Study. Motivasi belajar siswa menggunakan lembar observasi motivasi belajar siswa diamati oleh observer selama proses pembelajaran berlangsung. Data hasil analisis observasi motivasi siswa pada saat Lesson Study dapat dilihat pada Tabel 1. Ada tiga aspek yang ada di dalam lembar observasi motivasi yang digunakan yaitu keaktifan, keantusiasan dan keceriaan. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa secara keseluruhan terjadi peningkatan pada setiap tahap Lesson Study yang dilakukan. Peningkatan tersebut disebabkan oleh beberapa hal di antaranya metode pembelajaran yang digunakan. Metode yang menarik bagi siswa dapat meningkatkan keaktifan, keantusiasan dan keceriaan siswa di kelas. Tabel 1 . Data Hasil Analisis Lembar Observasi Motivasi Belajar Siswa Pada Saat Lesson Study di kelas VIIB SMP Negeri 5 Malang.
Siklus Lesson Study I II III IV V VI Aspek Motivasi Keaktifan (%) 48 68 72 76 84 92 Keantusiasan (%) 40 60 68 68 72 84 Keceriaan (%) 60 80 80 80 90 100 Nilai Motivasi Klasikal (%) 46,7 66,7 71,7 73 80 90

Peningkatan keaktifan merupakan indikator bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan, hal ini sesuai dengan pendapat Syah (1997) dalam Gamaliel (2007). Aspek kedua yaitu keantusiasan, dapat meningkat karena adanya pemberian perhatian yang lebih pada saat pembelajaran. Menurut Setjo (2004) perhatian merupakan aspek penting agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik. Berdasarkan hal ini maka dapat dikatakan bahwa keantusiasan juga merupakan aspek penting motivasi belajar. Dengan rasa antusias yang tinggi maka proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar, siswa selalu bertanya dan mencari tahu apabila ada hal yang tidak dimengerti. Pada aspek yang ketiga yaitu keceriaan, dapat dilihat berdasarkan raut wajah siswa yang terlihat berseri dan tidak mengantuk pada saat proses pembelajaran berlangsung. b. Angket Motivasi ARCS Data hasil angket motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah Lesson Study di SMPN 5 Malang dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 motivasi belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 5 Malang setelah pelaksanaan Lesson Study terjadi peningkatan sebesar 0,76, yang sebelumnya 3,49 (cukup) menjadi 4,27 (baik). Hal ini menandakan bahwa setelah dilakukan Lesson Study yang merupakan bagian dari kegiatan Lesson Study, terjadi peningkatan motivasi belajar siswa jika dibandingkan sebelum pelaksanaan Lesson Study. Selain itu kenaikan ini juga berarti bahwa kegiatan Lesson Study di SMP Negeri 5 Malang yang dilaksanakan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 28

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Tabel 2. Data Hasil Angket Motivasi Belajar Siswa Sebelum dan Setelah Pelaksanaan Lesson Study di kelas VII B SMP Negeri 5 Malang
Pelaksanaan Sebelum OL Aspek Motivasi Attention (A) Relevancy (R) Confidence (C) Satisfaction (S) Rata-rata Setelah OL Attention (A) Relevancy (R) Confidence (C) Satisfaction (S) Rata-rata Skor Motivasi 3,54 3,51 3,46 3,45 3,49 4,25 4,26 4,31 4,29 4,27 Kriteria Baik Baik Cukup Cukup Cukup Baik Baik Baik Baik Baik

Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan Lesson Study yang telah dijelaskan dalam paparan data dan temuan penelitian dapat diketahui bahwa nilai motivasi belajar mengalami kecenderungan meningkat setelah pelaksanaan Lesson Study. Untuk menjaga dan meningkatkan Attention (perhatian) siswa, guru melakukan hal-hal seperti berikut: menggunakan metode penyampaian yang bervariasi dalam proses pembelajaran seperti diskusi kelompok dan game, menggunakan media (audio dan visual) untuk melengkapi penyampaian materi pembelajaran, menggunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa. Hariyono (2010) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan perhatian siswa di dalam pembelajaran, guru perlu melakukan hal-hal seperti menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, menggunakan humor yang sesuai dalam pembelajaran, menggunakan media yang bervariasi seperti audio maupun visual. Pada awal pembelajaran guru selalu menyajikan fenomena atau masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa dengan tujuan agar siswa memiliki motivasi yang besar pada saat pembelajaran. Dengan motivasi pada kegiatan awal pembelajaran, maka perhatian siswa kepada pembelajaran selanjutnya juga akan tinggi. Dalam strategi peningkatan motivasi ARCS, membahas Relevancy atau keterkaitan. Relevancy adalah suatu kondisi yang menunjukkan hubungan antara motivasi belajar dengan kebutuhan dan kondisi siswa (Setjo, 2005). Motivasi yang paling efektif terhadap kegiatan pembelajaran apabila motivasi itu digugah secara berkelanjutan dari motivasi yang sudah ada dari pengalaman hidup siswa. Hal ini menguatkan bahwa peningkatan motivasi siswa selama pembelajaran diakibatkan penyajian masalah selama proses belajar mengajar berlangsung berasal dari fenomena kehidupan sehari-hari siswa (Setjo, 2005) Pada saat pembelajaran guru selalu berusaha menumbuhkan rasa percaya diri siswa yaitu dengan cara memberikan pujian jika siswa menjawab pertanyaan dan berpendapat dengan benar, guru tidak langsung menyalahkan ketika siswa menjawab pertanyaan salah maupun pendapat siswa kurang benar. Hariyono (2010) mengemukakan bahwa strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan confidence (kepercayaan diri) siswa salah satunya adalah berusaha menumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan menganggap siswa telah memahami konsep ini dengan baik serta menyebut kelemahan siswa sebagai hal-hal yang masih perlu dikembangkan sehingga siswa bisa belajar dengan baik dan tidak merasa rendah diri. II. Data Hasil Tes Tulis Siswa

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 29

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada hasil belajar kognitif yang diukur dengan tes dapat diketahui bahwa pada tes yang pertama jumlah siswa yang tuntas yaitu berjumlah 28 siswa dan pada tes kedua jumlah siswa yang tuntas adalah 35 siswa. Dari data tersebut pula dapat diketahui bahwa ada peningkatan jumlah ketuntasan siswa sebesar 16,66% dari yang semula 66,67% meningkat menjadi 83,33%. Rata-rata kelas dihitung dengan menjumlahkan semua nilai yang diperoleh siswa dibagi dengan jumlah siswa di kelas tersebut. Rata-rata nilai kelas yang diperoleh pada tes pertama adalah sebesar 79,16 sedangkan rata-rata nilai kelas yang diperoleh pada tes kedua adalah sebesar 83,62. Jika didasarkan pada batas kemampuan kognitif dikatakan tercapai jika minimal 85 siswa tuntas maka tes yang diperoleh selama penelitian di kelas VII B SMP Negeri 5 Malang belum mencapai batas minimal. Tetapi dengan adanya peningkatan tersebut maka kemungkinan besar jika pembelajaran Lesson Study terus dilaksanakan akan bisa meningkatkan hasil tes siswa. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, 1) Implementasi pembelajaran berbasis Lesson Study dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa kelas VII B SMP Negeri 5 Malang. 2) Implementasi pembelajaran berbasis Lesson Study dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VII B SMP Negeri 5 Malang. Saran dari penelitian ini adalah hendaknya Lesson Study dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dan keprofesionalan guru sehingga dapat memperbaiki dan mengoptimalkan pembelajaran. DAFTAR RUJUKAN
Gamaliel, F. X. 2007. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas VII SMP Dewantoro Purwosari Pasuruan. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM. Hariyono. 2010. Model ARCS Keller. (Online). http://www.hariyono.org/2010/10/model-arcs-keller.html. Diakses tanggal 23 Juni 2011. Ibrohim dan Syamsuri, I. 2010. Lesson Study: Sebagai Pola Alternatif untuk Meningkatkan Efektivitas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Calon Guru. Makalah disajikan dalam Workshop Pembimbingan PPL Berbasis Lesson Study di FMIPA UM, tanggal 28-29 Desember 2010. Malang: FMIPA UM. Setjo, S.A. 2005. Problem Based Learning dalam Pembelajaran Kontekstual Biologi. Malang: FMIPA UM. Susilo, H, 2010. Lesson Study Berbasis Sekolah: Guru Konservatif Menuju Guru Inovatif. Malang: Bayumedia Publishing.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 30

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN MODEL TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KONSEP KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP PESERTA DIDIK KELAS VII-A SMP NEGERI SATU ATAP MERJOSARI MALANG TAHUN PELAJARAN 2010-2011

Enny Sudarwaty
SMP Negeri Satu Atap Merjosari Kota Malang

Abstrak: Biologi dikenal sebagai mata pelajaran hafalan dan sulit, banyak peserta didik kurang berminat apabila sudah melibatkan bahasa latin di dalamnya. Pada semester satu 2010/2011 hasil belajar biologi pada kelas VII-A SMPN Satu Atap Merjosari rata-ratanya di bawah SKBM. Hal ini karena sebagian besar peserta didik pasif (malas membaca, kurang fokus, pekerjaan rumah tidak dikerjakan atau tidak dituntaskan, dalam diskusi kelompok/kelas kurang aktif) dan banyak peserta didik yang mengalihkan perhatian pada kegiatan lain seperti sering membuat keributan dan mengganggu teman. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dilakukan dalam dua siklus selama enam bulan, tepatnya bulan Januari sampai dengan Juni 2011. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar konsep klasifikasi makhluk hidup. Penerapan model Two Stay Two Stray pada siklus I menunjukkan adanya perubahan sikap dalam hal pembagian tugas masing-masing anggota kelompok, sebagian peserta didik membaca dan merangkum materi, hanya saja dalam hal mengisi tabel, mendiskusikan masalah dan menyampaikan materi pada anggota kelompok lain yang bertamu belum optimal dan beberapa kelompok belum bekerja tepat waktu, masih melibatkan peran pendidik dalam pembuatan tabel untuk presentasi kelompok serta belum banyak peserta didik yang bertanya/menanggapi masalah dengan benar. Penilaian selama proses belajar pada siklus 1 didapatkan hanya 19 dari 33 peserta didik bekerja secara aktif dengan ketuntasan 57,58%, dan rerata nilai proses dan hasil belajar 68,70 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 26 peserta didik dengan ketuntasan 78,78%, rerata nilai proses dan hasil belajar 73,54 serta didukung perubahan sikap selama diskusi kelompok/kelas lebih aktif, banyak peserta didik merangkum materi, bertanya dan menanggapi masalah, kelompok presentasi mempersiapkan tabel untuk diskusi kelas, menyampaikan materi pada kelompok lain yang bertamu dengan jelas dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan model Two Stay Two Stray (TSTS) dapat meningkatkan proses dan hasil belajar konsep klasifikasi makhluk hidup peserta didik kelas VII-A SMPN Satu Atap Merjosari Malang2010-2011. Kata kunci: Two Stay Two Stray, proses dan hasil belajar

Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia. Oleh karena itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai sesuatu yang utama dan penting termasuk Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dalam isi pembukaan UUD 1945 alinea IV, menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi sub sistem. Untuk itu, pemerintah telah memperkuat melalui kebijakan-kebijakan, seperti lahirnya Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003 serta Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dalam menentukan kriteria minimal sistem pendidikan. Pemerintah juga

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 31

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) telah menggulirkan Undang-Undang Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005 untuk mensiasati peningkatan mutu pendidikan, menjamin perluasan dan pemerataan akses, dengan menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global yang sangat diperlukan untuk pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah dan berkesinambungan. Sebagai bagian dari insan pendidik dan dalam upaya mendukung pemerintah meningkatkan mutu pendidikan, sudah seharusnya turut serta berperan memberdayakan pembelajaran sesuai dengan tujuan dan fungsinya serta melakukan perubahan kearah lebih baik melalui komunitas pembelajar. Menurut Nurhadi (2004) peran pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangat penting untuk menciptakan kehidupan manusia yang cerdas, damai, terbuka dan demokrasi sehingga dituntut adanya sistem pengajaran untuk menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik. Banyak terobosan dalam pemberdayaan pembelajaran seperti pengembangan input, proses dan output antara lain kurikulum, bahan ajar, media, sarana prasarana, pendidik strategi inovatif, pengelolaan kelas dan model pembelajaran. Mata pelajaran biologi merupakan salah satu unsur yang dapat memberikan kontribusi dalam ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Perbaikan pembelajaran terus menerus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi biologi, tetapi kenyataan yang dihadapi di lapangan adalah sebagian besar peserta didik pasif, malas membaca, kurang konsentrasi, mencari kegiatan lain seperti mengganggu teman pada saat pendidik menjelaskan konsep penting dan yang sering peneliti dengar dari peserta didik adalah menganggap pelajaran biologi (IPA) adalah pelajaran hafalan yang sulit, lebih-lebih bila mengaitkan bahasa latin di dalamnya. Berdasarkan nilai ulangan kenaikan kelas semester ganjil, sebanyak 35 % peserta didik kelas VII-A SMPN Satu Atap Merjosari, memperoleh nilai di bawah Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) dengan ketentuan SKBM biologi adalah 70. Melalui proses refleksi selama pembelajaran di semester ganjil pada kelas VII-A, didapatkan adanya kendala yang dihadapi seperti: penyampaian materi terlalu cepat, kurang melibatkan personal peserta didik dalam diskusi, proses pembelajaran monoton dan kurang menyenang apalagi pelaksanaannya pada jam terakhir selama 3 jam dan ditunjang sarana prasarana seperti buku penunjang yang dimiliki peserta didik dan sekolah sangat minim. Berkenaan dengan hal tersebut maka dicari alternatif jalan keluar agar peserta didik selama proses pembelajaran merasa nyaman, aktif, kreatif dan menyenangkan. Masing-masing peserta didik mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, lebih konsentrasi dalam menerima materi pelajaran maka pendidik memilih model pembelajaran Two Stay Two Stray (dua tinggal dua tamu) yang dimodifikasi sesuai jumlah peserta didik. Model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992 yaitu suatu teknik yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan informasi pada kelompok lain. Struktur TSTS yaitu dalam satu kelompok terdiri dari empat anggota peserta didik dengan pembagian tugas dua anggota pemberi informasi bagi tamunya dan dua anggota yang lain bertamu ke kelompok lain secara terpisah. Model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan pada kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan kelompok lain, di mana dalam satu kelompok terdiri dari empat peserta didik yang dua bertamu ke kelompok lain secara terpisah dan dua lainnya berperan memberi informasi pada tamu. Pembagian kelompok yang dilakukan di kelas VII-A SMPN Satu Atap Merjosari ini, disesuaikan dengan jumlah dan latar belakang kondisi peserta didik. Jumlah peserta didik kelas VII-A 33 orang, dibagi menjadi 6 kelompok (kelompok 1, 2, 3, 4, 5, dan 6) dan pemilihan kelompok dilakukan dengan cara pengambilan undian/lotere. Setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 6 anggota yang heterogen berdasarkan jenis kelamin, kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Pembagian peran masing-masing anggota dalam kelompok selama persiapan, pelaksanaan pembelajaran (diskusi kelompok, dikusi kelas dan presentasi) sampai dengan evaluasi, bertujuan agar setiap anggota memiliki tanggung jawab dan berperan aktif mendukung kelompoknya sehingga dalam evaluasi setiap anggota bisa mengerjakan secara mandiri dengan nilai tuntas. Selama persiapan sampai dengan pelaksanaan pembelajaran dilakukan pembagian peran berdasarkan kesepakatan antar anggota kelompok, ada yang mempersiapkan spidol, kertas karton untuk tabel, presentasi, menjawab soal LKPD/diskusi kelas, menulis jawaban di LKPD/papan tulis dan menyusun kesimpulan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 32

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dalam diskusi kelompok di sepakati 2 (dua) peserta didik sebagai tamu, siap mencatat informasi baru selama bertamu, menjelaskan pada anggota kelompoknya dan akan dipakai sebagai bahan presentasi. Peran anggota yang lain yaitu 3-4 peserta didik menunggu di tempat dan siap menyampaikan informasi hasil diskusinya/memberi penjelasan sampai paham. Setiap anggota dalam kelompok diharapkan aktif dan bisa mencarikan jalan keluar apabila ada kesulitan dalam diskusi. Pada siklus tindakan pertama didiskusikan dua konsep yaitu Monera dan Protozoa, kelompok 1-3 mendiskusikan LKPD konsep Protozoa dan kelompok 4-6 mendiskusikan LKPD Monera. Setelah itu kelompok 1 bertamu ke kelompok 4 dan sebaliknya, kelompok 2 bertamu ke kelompok 5 dan sebaliknya, dan kelompok 3 bertamu ke kelompok 6 dan sebaliknya. (kelompok 1-3 mendapat informasi konsep Monera dan kelompok 4-6 mendapat informasi konsep Protozoa). Pada siklus tindakan ke dua, tekniknya sama dengan tindakan pertama namun konsep materi yang dibahas adalah Alga dan Fungi. Menurut Lie (2004:60-61), langkah-langkah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) sebagai berikut: (a) Siswa bekerja sama dalam kelompok, beranggota empat (b) Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya bertamu ke kelompok lain, (c) Dua siswa yang tinggal dalam kelompok berperan membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka, (d) Kedua tamu mohon diri, kembali ke kelompok semula dan melaporkan temuan dari kelompok lain, (e) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka. Langkah in dapat diamati pada Gambar 1.

3 4 5 I 1 2 II

3 4 1

5 III 2

3 4 5 6 1 2

1

2

1

2

1

2

IV

3 4 5 6

V

3 4 5

VI

3 4 5 6

Keterangan:

1

2

= Sebagai tamu ke kelompok lain

3 4 5 6

= Pembagi hasil kerja dan informasi kepada kelompok lain

Gambar 1. Skema diskusi Model Two Stay Two Stray (dimodifikasi) Pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) yang dilaksanakan dalam penelitian ini, terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan Pada tahap ini, yang dilakukan peneliti adalah membuat desain pembelajaran, menyiapkan tugas dan membagi peserta didik menjadi enam kelompok heterogen dengan masing-masing anggota 5 sampai 6 peserta didik yang dipilih sesuai dengan jumlah dan latar belakang kondisi peserta didik. Setiap kelompok membagi peran sesuai kesepakatan anggota, antara lain: presentasi, mencatat hasil diskusi/pertanyaan diskusi kelas, menjawab pertanyaan, menyimpulkan tujuan, sebagai tamu ke kelompok lain, Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 33

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) menyampaikan informasi kepada tamu yang datang, mempersiapkan sarana diskusi seperti alat tulis dan pembuatan tabel diskusi untuk presentasi. Seluruh peserta didik mempersiapkan buku penunjang, catatan/ jurnal IPA dan alat-alat tulis. 2. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini, kegiatan awal yang dilaksanakan peneliti adalah masuk ke dalam kelas, mengucapkan salam, mengkondisikan/mengabsen peserta didik dan mengisi jurnal kelas serta mempersiapkan LKPD dan hand out. Peneliti menulis topik dan indikator, menyampaikan tujuan pembelajaran, membagikan hand out dan meminta peserta didik merangkum kata-kata penting beserta pengertiannya di buku catatan. Mengingatkan nama-nama anggota dan kelompoknya, menjelaskan langkah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dan mengingatkan peran masing-masing anggota dalam kelompok. 3. Kegiatan kelompok Peserta didik duduk sesuai denah kelompok, setiap kelompok menerima 2 LKPD (1 LKPD untuk didiskusikan kelompoknya, LKPD yang lain sementara disimpan untuk diberikan kepada tamu). Selanjutnya, salah satu anggota membacakan judul, tujuan LKPD dan mulai mendiskusikan isian tabel, kemudian menjawab pertanyaan bahan diskusi dan masing-masing anggota diminta mendukung keberhasilan kelompoknya. Setelah diskusi selesai, dua anggota bertamu ke kelompok lain menerima LKPD dan mendapat penjelasan hasil diskusi materi yang berbeda, sementara anggota yang tinggal bertugas memberikan LKPD dan penjelasan hasil kerja kelompoknya kepada tamu . Setelah mendapatkan penjelasan dan mencatat hasil informasi maka dua tamu tersebut mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing untuk mendiskusikan lagi materi yang diterimanya. Setiap kelompok mengumpulkan dua Lembar Kerja Peserta Didik hasil diskusi. 4. Kegiatan diskusi kelas Diawali dari salah satu kelompok 1, 2, dan 3 mendapat tugas mempresentasikan LKPD hasil bertamu. Agar berlaku adil, salah satu wakil masing-masing kelompok diminta mengambil undian/lotere, kelompok yang mendapat kesempatan presentasi mempersiapkan diri untuk menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dengan tahapan sebagai berikut: menempel isian tabel di papan tulis, menuliskan judul, tujuan, dan menjelaskan isian tabel dan jawaban bahan diskusi. Memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk bertanya/menanggapi hasil diskusi, mencatat pertanyaan dari kelompok lain di papan tulis, dan mencarikan jalan keluar atas pertanyaan kelompok lain dengan memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami. Sementara kegiatan yang dilakukan oleh kelompok lain adalah mempersiapkan pertanyaan, memperhatikan penjelasan, memberikan saran/pendapat, mencatat soal dan jawaban pertanyaan yang benar. Peneliti memberi arahan atau bimbingan jawaban bila ada kesalahan konsep/jawaban yang belum sempurna, mengamati dan mengevaluasi isian tabel serta memberikan catatan dan penguatan selama kegiatan diskusi kelas berlangsung. Manfaat Penelitian Model pembelajaran Two Stay Two Stray diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam proses dan hasil pembelajaran disekolah. Secara rinci manfaat penelitian adalah sebagai berikut: Bagi peserta didik, penerapan TSTS diharap meningkatkan proses dan hasil belajar dalam pembelajaran konsep klasifikasi makhluk hidup Bagi pendidik dan peneliti, penerapan TSTS diharap: a) meningkatkan pengalaman dan pengetahuan tentang pembelajaran kooperatif dengan berbagai model, salah satunya model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), b) dan menjadi bahan masukan dan perbaikan dalam mempersiapkan rencana pembelajaran agar lebih terampil dan kreatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bagi sekolah, penerapan TSTS diharap dapat membantu memecahkan permasalahan pembelajaran melalui berbagai model pembelajaran, meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah
METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena berdasarkan pengalaman pembelajaran semester gasal latar belakang peserta didik dalam hal Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 34

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) konsentrasi dan memahami konsep materi lambat, hasil belajar ulangan harian dan ulangan ken konsentrasi peneliti berupaya mengkaji lebih mendalam tentang penerapan pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) yang dapat membantu peserta didik meningkatkan proses dan hasil belajar dalam memahami konsep Monera, Protozoa, Alga dan Fungi. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research, dimana PTK terdapat tindakan-tindakan yang baik untuk perbaikan proses pembelajaran maupun peningkatan mutu pembelajaran di kelas (Kasbollah, dalam Chotimah 2006). PTK merupakan sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang dan bersifat reflektif untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran,. Selain itu PTK sebagai salah satu strategi penyelesaian masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi maupun menyelesaikan masalah. Desain penelitian mengacu pada model Kemmis dan M.C Taggart, 1990 yang terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi seperti diagram Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Tahapan dalam siklus Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Kemmis dan Mc Taggart, 1990:14,
dalam Susilo, 2009) HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

1. Tahap Pendahuluan Tahap pertama yang dikerjakan dalam penelitian ini adalah peneliti mendapat arahan dari Ibu Dra. Husnul Chotimah, M.Pd selaku kepala sekolah pada tanggal 5 Januari 2011. Pada tanggal 10 Januari 2011, peneliti menyampaikan proposal yang berisi judul, tujuan penelitian, model pembelajaran, subjek yang diteliti dan waktu penelitian. Setelah mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah, peneliti menyerahkan rancangan pembelajaran, pembagian kelompok secara heterogen berdasarkan jenis kelamin, kemampuan akademik dan denah tempat duduk kelompok, angket proses diskusi kelompok. Jumlah peserta didik kelas VII-A adalah 33 orang, terdiri dari 21 peserta didik laki-laki dan 12 peserta didik perempuan. Fokus ditekankan pada keberhasilan setiap anggota kelompok dalam diskusi karena mencerminkan keberhasilan kelompoknya dan nilai yang diperoleh secara individu dalam diskusi kelompok/ kelas, akan menjadi nilai kelompok. Pada kegiatan diskusi, setiap kelompok duduk sesuai denah dan pada saat bertamu membentuk pasangan yang sudah ditentukan, dengan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). Pengambilan data pada siklus tindakan pertama dilakukan pada tanggal 25 januari sampai dengan 23 Februari 2011 sesuai dengan jadwal pembelajaran, selama 4 kali pertemuan dengan waktu setiap pertemuan 3 x40 menit. Pelaksanaan remidi dilaksanakan di luar jam pembelajaran. 2. Paparan Data Tindakan a. Siklus I Siklus I dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 35

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1) Rencana Tindakan Wujud perencanaan kegiatan pada siklus I (Selasa, 25 Januari 2011) adalah: a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melaksanakan pembagian kelompok secara heterogen dengan membagi tugas masing-masing anggota kelompok juga pembagian denah tempat duduk pada saat diskusi kelompok. b. Menyiapkan Hand Out siklus 1 c. Menyusun Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) tentang Monera dan Protozoa d. Menyusun Kuis, bentuk soal uraian dengan penskorannya e. Menyiapkan soal ulangan harian siklus 1, bentuk soal pilihan ganda dengan penskorannya serta rubrik jawaban f. Peneliti memberi pengarahan kepada peserta didik tentang penerapan pembelajaran g. Two Stay Two Stray (TSTS) dan remidi dilaksanakan bagi peserta didik yang memperoleh nilai ulangan harian di bawah Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM). 2) Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus 1, wujud pelaksanaan tindakan pertemuan ke 1 (3x40 menit), hari Rabu tanggal 26 Januari 2011 adalah sebagai berikut: a. Peneliti sebagai pendidik masuk ruang kelas, mengucapkan salam, mengkondisikan peserta didik. mengabsen peserta didik dan menanda tangani jurnal kelas. b. Pendidik membuka pelajaran dengan pertanyaan apersepsi, menuliskan topik dan tujuan pembelajaran. c. Pendidik membagikan hand out Protozoa kepada kelompok 1,2 dan 3, sedangkan hand out Monera kepada kelompok 4,5 dan 6. Kemudian meminta seluruh peserta didik membaca dan merangkum katakata sulit disertai pengertiannya. d. Pendidik meminta peserta didik duduk sesuai kelompok dan denah duduk, kemudian membagikan dua LKPD dan meminta mengisi tabel serta bahan diskusi. Setelah itu dua anggota dari kelompok 1 bertamu ke kelompok 4, kelompok 2 bertamu ke kelompok 5 dan kelompok 3 bertamu ke kelompok 6 dan sebaliknya. e. Dua orang yang bertamu mendapat LKPD dan penjelasan materi yang berbeda, dan materi tersebut digunakan untuk presentasi. Kelompok yang mendapat materi LKPD Monera pada waktu bertamu mendapat penjelasan tentang materi Protozoa dan kelompok yang mendapat materi LKPD Protozoa pada waktu bertamu mendapat penjelasan tentang materi Monera. Kemudian materi yang didapat dari bertamu, dibawa ke kelompoknya dan didiskusikan lagi. f. Pendidik meminta seluruh kelompok mengumpulkan dua LKPD tentang Monera dan Protozoa . Kelompok 1, 2, dan 3 mempersiapkan tabel isian hasil diskusi untuk bahan presentasi pada pertemuan yang akan datang. Pada siklus I, pertemuan ke 2 (3x40 menit) hari Rabu, tanggal 2 Februari 2011 adalah sebagai berikut: Pendidik masuk kelas, mengucapkan salam, mengkondisikan peserta didik, mengabsen dan mengisi jurnal kelas. Kemudian membuka pelajaran dengan pertanyaan apersepsi, motivasi dan eksplorasi tentang konsep Monera Pendidik menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran. Meminta 3 perwakilan kelompok 1, 2, dan 3 mengambil undian/lotere untuk menentukan kelompok mana yang akan mempresentasikan hasil diskusinya. Sementara kelompok lain diberi kesempatan untuk mengoreksi isian tabel, bertanya, menyanggah dan memberi saran. Pendidik memberi penguatan berupa penghargaan nilai, pujian kepada kelompok yang presentasi, aktif bertanya, memberi saran dan masukan positif . Pendidik bersama peserta didik menyimpulkan tujuan pembelajaran LKPD Monera dan memberi PR mempelajari konsep Protozoa. Kelompok 4, 5 dan 6 diberi tugas mempersiapkan tabel isian hasil diskusi untuk presentasi pada pertemuan yang akan datang.

a.

b.

c. d.

Pada siklus 1 pertemuan ke 3 (3x40 menit) hari Rabu, tanggal 16 Februari 2011 adalah sebagai berikut: Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 36

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) a. Pendidik masuk ruang kelas, mengucapkan salam, mengkondisikan peserta didik, mengabsen dan menanda tangani jurnal kelas. b. Pendidik menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran. Kemudian memberi apersepsi, motivasi dan eksplorasi tentang konsep Protozoa. Kemudian meminta perwakilan kelompok 4, 5, dan 6 mengambil undian. Kelompok yang mendapat kesempatan mempresentasikan hasil diskusinya memasang tabel isian dan menyampaikan tujuan.Sementara kelompok lain diberi kesempatan mengoreksi, bertanya, menyanggah, menyempurnakan dan menyimpulkan hasil diskusi. c. Pendidik memberi arahan pada kelompok yang belum memahami konsep materi Protozoa serta memberi penguatan berupa nilai, pujian kepada peserta didik yang aktif dan berhasil menyelesaikan masalah pada diskusi kelas. d. Pendidik memberi kesempatan mencatat hasil diskusi kelas dan bertanya konsep yang belum dipahami. Bersama peserta didik meyimpulkan tujuan pembelajaran. e. Meminta seluruh peserta didik menutup buku catatan, hand out dan pembahasan LKPD, membagikan kuis Monera dan Protozoa, mengerjakan dan mengumpulkan f. Menutup pembelajaran dengan memberi PR membaca rangkuman, melengkapi catatan LKPD Monera dan Protozoa, untuk persiapan ulangan harian Pada siklus I pertemuan ke 4 hari Rabu, 23 Februari adalah sebagai berikut: a. Pendidik masuk ruang kelas mengucapkan salam, mengkondisikan peserta didik mengabsensi peserta didik dan menandatangani jurnal kelas. b. Pendidik memberi pertanyaan apersepsi, motivasi dan eksplorasi konsep materi Monera dan Protozoa. Memberi kesempatan bertanya tentang konsep yang belum dipahami dimulai dari konsep Monera. Meminta 5 peserta didik menulis pertanyaan di papan tulis dan 5 peserta didik lain menulis jawabannya c. Pendidik memberi penguatan, meluruskan konsep yang belum sempurna dan bersama peserta didik menarik kesimpulan dari tujuan pembelajaran konsep Monera d. Tahap ke dua peserta didik yang mengalami kesulitan tentang konsep Protozoa diminta menuliskan pertanyaan di papan tulis dan peserta didik yang lain diminta menjawab pertanyaan tersebut, bila bisa menjawab benar diberi penghargaan berupa sticker e. Pendidik meminta peserta didik menutup buku catatan, hand out dan LKPD serta membagi lembar soal ulangan harian konsep Monera dan Protozoa, dengan bentuk soal pilihan ganda. Peserta didik diminta mengerjakan soal dan mengumpulkan hasil pekerjaannya. f. Peserta didik diberi penjelasan, bila nilai ulangan harian yang baru saja dikerjakan belum memenuhi SKBM, maka harus mengikuti remidi di luar jam pelajaran. Pendidik mengingatkan tentang tugas pada pertemuan yang akan datang, memberi evaluasi tentang kegiatan diskusi kelompok maupun diskusi kelas pada pertemuan siklus tindakan pertama dan mengharapkan agar pertemuan siklus tindakan kedua lebih baik, lebih aktif dan siap mempresentasikan tugasnya. Peserta didik yang belum berkesempatan bertanya, atau menjawab pertanyaan dan berkontribusi pada diskusi kelompok harus aktif. g. Pendidik membagikan hand out untuk pertemuan yang akan datang tentang konsep materi Alga dan Fungi. Meminta peserta didik di rumah membaca, merangkum kata-kata penting dan mencari pengertiannya serta mencatat pada buku catatan/jurnal IPA. h. Pendidik juga mengingatkan tentang tata cara model pembelajaran Two Stay Two Stray yang akan dilaksanakan kembali pada pertemuan yang akan datang. Peserta didik yang bertamu dan memberi penjelasan pada tamu harus mempersiapkan diri dengan baik, mencatat ilmu yang diperoleh dengan benar. Pendidik mengakhiri pembelajaran dengan berdoa bersama, mengucap salam dan bersalaman. 3) Observasi dan Evaluasi Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti dan pengamat melakukan pengamatan pada kegiatan seluruh peserta didik dari awal sampai akhir pembelajaran. Pada proses pembelajaran siklus tindakan pertama aspek yang diamati meliputi kegiatan diskusi kelompok, diskusi kelas, presentasi lisan dan diakhiri dengan ulangan harian siklus 1.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 37

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 4) Refleksi Selama siklus tindakan pertama, ada beberapa catatan penting yang disampaikan dari hasil observasi dan evaluasi, antara lain: a. Ada beberapa anggota lebih aktif dan kreatif dalam diskusi kelompok serta memiliki kemampuan memimpin diskusi, sehinggga pada pertemuan siklus tindakan pertama kelompok tersebut mendapat nilai presentasi dan hasil diskusi LKPD baik. b. Kelompok yang bertamu lebih aktif bertanya, mencatat dan memahami konsep materi baru dan lebih mempersiapkan diri daripada kelompok yang tinggal (memberi penjelasan), sehingga pada siklus ke 2 perlu dilakukan pergantian tugas anggota kelompok c. Memerlukan perhatian khusus terhadap beberapa anggota karena pada saat diskusi kelompok dan diskusi kelas kurang fokus pada pembelajaran yang sedang dihadapi dan cenderung mengganggu anggota kelompok lain d. Pelaksanaan diskusi kelas cukup baik, setiap anggota dalam kelompok sudah merata dalam berpartisipasi memecahkan permasalahan, namun waktu yang dibutuhkan dalam persiapan diskusi kelas agak molor, karena kelompok yang presentasi tidak mempersiapkan tabel karton, anggota yang lain kurang menguasai konsep materi. Kegiatan pada siklus II, dilakukan sama seperti siklus I, tetapi materi yang dibahasmencakup konsep Alga dan Fungi. Tabel 1. Penilaian Proses dan Hasil Belajar Monera dan Protoz oa (Siklus 1)
Proses dan Hasil Belajar No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Nama Siswa Agil Denok Amalia Agung Nur Muhamad Agus Supriyanto Ahmad Fauzi Ahmad Imani Robbi Almas Rachmatul Alviantina Krisnasari Anggi Saputra Avida Maulidia Azmi Farah Dhia Bayu Indarto Bobby Surya Devi Khasanah Fajar Dharmala Ghifanny An Dinillah Hafid Pratama Hari Anggrenani Indra Setiawan Lisa Andhini M. Faris Zaky Maefin Indra Adityas Meidiyu Satya sekar Moch. Ifan Yulianto Moch. Wahyu Arianto Moh. Nur Reza Suadi Muh. Ainur Rahman Putri Anggun P Rico Hadi Hermawan Proses Belajar DKlP DKLS PL 80 65 60 60 70 75 75 65 70 60 70 60 70 70 70 70 75 65 60 75 70 75 70 70 70 65 70 75 85 65 70 65 75 75 70 65 75 60 65 60 75 70 70 60 80 60 60 70 70 70 70 70 65 70 70 70 80 70 70 60 75 75 75 70 85 70 70 70 75 70 70 80 80 65 75 70 70 80 70 70 75 70 70 65 Rerata Proses 82 67 67 65 73 75 73 65 77 63 68 63 75 70 70 70 78 63 65 72 70 75 70 70 70 68 70 70 Hasil Belajar LKPD I LKPD 2 KUIS 65 60 60 60 70 65 65 70 60 75 60 65 70 70 65 75 65 65 75 60 75 60 65 65 70 60 60 70 80 70 80 80 75 80 80 50 75 65 75 80 50 65 80 65 70 70 75 80 65 75 80 80 50 80 80 75 76 60 60 60 60 60 60 70 70 35 55 70 70 70 70 60 60 64 64 60 55 70 50 50 60 45 45 45 UH 70 65 53 55 65 75 70 68 73 58 60 53 73 73 75 68 68 70 50 73 65 73 60 60 60 53 50 53 Rerata Hasil 73 65 63 64 68 70 69 65 70 58 63 67 66 70 73 70 66 67 66 68 70 70 69 70 69 60 59 60 NA 78 66 65 65 71 73 71 65 73 61 66 65 71 70 72 70 72 65 66 70 70 73 70 70 70 64 65 65 v v v v v v v v v v v v Ketuntasan Ya Tdk

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 38

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
29 30 31 32 33 Riski Wahyu Pratama Romiawan Widodo Rudi Indriyono Sarah Tri Maulana Tuffaul Aini Rerata Tuntas 65 70 65 80 75 65 70 65 75 70 65 75 70 85 70 65 72 65 78 72 70.18 65 70 75 75 65 80 70 65 65 80 55 70 40 70 65 53 70 50 75 70 68 70 58 71 70 66,72 67 71 62 75 71 68,70 v v

Keterangan: Dklp : Diskusi Kelompok Dkls : Diskusi Kelas LKPD : Lembar Kegiatan Peserta Didik NA : Nilai Asli UH : Ulangan Harian

Tabel 2. Penilaian Proses dan Hasil Belajar Alga dan Fungi (siklus II)
Proses dan Hasil Belajar No Nama Siswa Agil Denok A Agung Nur M. Agus Supri Ahmad Fauzi A. Imani Robbi Almas Rachma Alviantina K Anggi Saputra Avida Maulidia Azmi Farah D Bayu Indarto Bobby Surya Devi Khasanah Fajar Dharma Ghifanny A. D Hafid Pratama Hari Anggre Indra Setiawan Lisa Andhini M. Faris Zaky Maefin Indra A Meidiyu S Moch. Ifan Y Moch. Wahyu Moh. Nur Reza Muh. Ainur R Putri Anggun P Rico Hadi H Riski Wahyu P Romiawan W Rudi Indriyono Sarah Tri M 85 65 75 75 70 80 85 75 80 75 80 65 80 80 80 75 80 65 75 70 70 80 70 65 70 75 80 80 75 80 70 80 Proses Belajar DKIP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 DKLS 90 70 65 65 65 80 75 75 75 75 70 65 75 80 80 75 75 60 80 70 75 80 75 75 75 70 80 75 70 80 70 90 PL 85 75 70 60 70 85 80 80 80 70 70 65 85 75 75 80 80 65 75 70 75 75 75 75 75 70 65 75 65 75 75 80 Rerata Proses Belajar 87 70 70 67 68 82 80 77 78 73 73 65 80 78 78 77 78 63 77 70 73 78 73 72 73 72 72 77 70 78 72 83 Hasil Belajar LKPD 3 75 65 70 70 65 60 75 85 70 80 65 60 85 85 60 80 65 60 85 70 80 65 60 65 85 70 70 65 65 85 80 80 LKPD 4 90 70 70 70 85 75 90 75 70 65 85 70 75 75 70 65 85 70 75 70 65 85 70 70 75 70 70 85 70 75 70 65 Kuis 100 72 64 44 68 76 72 64 76 56 65 68 88 72 72 76 76 60 76 76 76 80 76 72 72 64 56 70 60 84 70 80 UH 85 75 60 65 50 75 75 70 75 55 65 60 75 75 75 65 75 50 75 65 65 75 75 70 70 65 55 65 60 75 70 80 Rerata Hasil Belajar 88 71 66 62 71 72 78 74 73 64 70 65 81 77 71 72 75 60 78 70 71 76 70 71 76 67 63 70 64 79 70 81 NA Ya 88 71 68 65 71 77 79 76 76 68 72 65 81 78 75 75 77 62 78 70 72 77 72 72 75 70 68 74 67 79 71 82 v v v v v v v Tdk Ketuntasan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 39

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
33 Tuffaul Aini Rerata Tuntas 80 80 75 78 74,61 60 70 92 75 74 71,79 76 73,54

Keterangan: Dklp : Diskusi kelompok UH : Ulangan Harian Dkls : Diskusi Kelas NA : Nilai Asli LKPD : Lembar kegiatan Peserta Didik

Tabel 3. Perbandingan Persentase Ketuntasan Proses dan Hasil Belajar
Perbandingan ketuntasan Siklus I Siklus II Persentase (%) Proses Belajar Tuntas 21 29 Tidak Tuntas 12 4 Persentase (%) Hasil Belajar Tuntas 12 25 Tidak Tuntas 21 8

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi, catatan lapangan, dan evaluasi proses dan hasil belajar pada siklus I belum sesuai harapan. Secara klasikal terdapat 14 (42,42%) peserta didik yang belum tuntas dengan rerata nilai 68,70. Pada proses belajar sebanyak 12 (36,37%) peserta didik belum tuntas dan hasil belajar yang belum tuntas sebanyak 21 (63,63%) peserta didik. Rendahnya nilai pada siklus I disebabkan bahwa peserta didik belum sepenuhnya melaksanakan peran dalam diskusi kelompok/diskusi kelas, terutama peran sebagai tamu dan sebagai penerima tamu. Sebagai penerima tamu dituntut untuk mampu menyampaikan informasi materi hasil diskusi kelompoknya dan mampu menjawab pertanyaan apabila ada pertanyaan dari tamu yang mengalami kesulitan, sedangkan sebagai tamu juga harus memiliki kemampuan menggali informasi dari kelompok lain yang berbeda materinya serta dituntut menyampaikan materi baru tersebut pada anggota kelompoknya agar mengerti. Selain itu kerja sama antar anggota kelompok dalam pembagian tugas mengisi tabel LKPD sangat kurang dan cenderung individual sehingga waktu tidak cukup dan, hasil kerja isian tabel dan jawaban diskusi LKPD masih cukup banyak yang kosong. Pada pembelajaran siklus II, telah mengalami peningkatan proses dan hasil belajar peserta didik, walaupun belum seluruhnya tuntas. Secara klasikal ada 7 (21,22 %) peserta didik belum tuntas dengan nilai rerata kelasnya 73,54. Pada proses belajar terdapat 4 (12,10%) peserta didik yang belum tuntas, sedangkan hasil belajar yang belum tuntas sebanyak 8 (24,20%) peserta didik. Peserta didik yang belum tuntas tetap mengikuti remidi di luar jam pembelajaran. Peningkatan proses dan hasil belajar ini, terjadi karena peserta didik telah memahami peran masing-masing dalam kelompok, tugas membuat rangkuman konsep materi di rumah sangat membantu peserta didik untuk memahami isian tabel dan dalam menjawab diskusi, sehingga peserta didik yang berperan sebagai tamu atau penerima tamu sejak awal sudah menguasai materi. Pada siklus II peserta didik lebih antusias dan siap untuk menjelaskan pada tamu dan sebaliknya yang menjadi tamu juga siap bertanya bila kelompok yang didatangi belum selesai menjawab pertanyaan. Peserta didik lebih memiliki tanggung jawab terhadap proses pembelajaran, sehingga penentuan dua orang tamu dan dua orang penerima tamu dalam model pembelajaran TSTS memiliki peran penting dan apabila peserta didik yang diberi peran tersebut tidak mempersiapkan diri dengan baik maka akan merugikan kelompok. Oleh karena itu pada persiapan siklus II peneliti menyampaikan pada setiap kelompok untuk mempersiapkan materi dengan baik, bagi kelompok yang menunjuk anggotanya sebagai tamu dan penerima tamu memiliki, kognitif dan responnya terhadap konsep materi kurang bagus serta kurang konsentrasi maka perlu disarankan untuk diganti. Saran peneliti ditanggapi positif oleh beberapa kelompok dan bertukar peran dalam dikusi

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 40

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dapat meningkatkan proses dan hasil belajar konsep klasifikasi makhluk hidup peserta didik kelas VII-A SMPN Satu Atap Merjosari-Malang. Sebanyak 19 peserta didik (57,58%) dinyatakan tuntas melaksanakan proses dan hasil belajar pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 26 peserta didik (78,78%) .
SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan dapat diajukan saran-saran sebagai berikut. 1. Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dapat meningkatkan proses dan hasil belajar konsep klasifikasi makhluk hidup peserta didik kelas VII-A SMPN Satu Atap Merjosari-Malang sehingga dapat disarankan untuk diterapkan pada kelas dan konsep materi yang lain. 2. Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray, sebaiknya diimbangi dengan memberikan tugas merangkum konsep pembelajaran di rumah agar pada waktu bertukar kelompok sebagai tamu atau penerima tamu bisa berperan optimal menjelaskan materi pada tamu atau pada kelompoknya sendiri setelah menerima ilmu dari kelompok lain. 3. Penerapan model Two Stay Two Stray perlu memperhatikan pembagian peran anggota kelompok sebagai tamu dan penerima tamu. Hendaknya salah satu anggota yang dipilih untuk memegang peran tersebut memiliki kemampuan kognitif dan keterampilan lebih, agar dapat menerima/menyampaikan informasi materi dengan jelas.
DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Basuki, W. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Chotimah, Husnul. 2004. Pendekatan Kooperatif Strategi STAD sebagai Salah Satu Strategi Pembelajaran Kontekstual dalam Upaya Peningkatan Proses dan Hasil Belajar Biologi di Sekolah Menengah Umum. Makalah disajikan pada Seminar Nasional ”Exchange Experience” Kegiatan Piloting JICA-IMSTEP Peningkatan Kualitas Pembelajaran MIPA Kontekstual di FMIPA-UM, tanggal 28 Januari. Chotimah, Dwitasari. 2009. Strategi-Strategi Pembelajaran Untuk Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Surya Pena Gemilang Chotimah, H. 2008. Meningkatkan Hasil Belajar Biologi dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas X5 SMA Laboratorium Universitas Malang Melalui Model Pembelajaran Cooperatif Script. Malang: Laporan Penelitian Tindakan Kelas tidak diterbitkan SMA Laboratorium Universitas Malang Depdiknas. 2005. Model-Model Pembelajaran yang Efektif. Tersedia pada http://Findtoyou.com. Diakses pada tanggal 6 Januari 2011 Hanafiah, Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama Herdian. 2010. Teori-Teori Belajar (Piaget, Bruner, Vygotsky). Tersedia pada hhtp://herdy07.wordpress.com. Diakses pada tanggal 6 Januari 2011 Ibrahim, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Kadaryanto, dkk. 2006. Biologi 1 SMP Kelas VII. Jakarta: Yudhistira Khasanah, Uswatun. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Semester I SMP Negeri 10 Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang : FMIPA Universitas Malang Kunandar. 2009. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 41

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Kurniawati, R.2010. Penerapan Strategi Pembelajaran Think, Pair Share (TPS) pada Konsep Getaran Dan Gelombang untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII G SMP Negeri 3 Lawang Kabupaten Malang. Laporan Penelitian Tindakan Kelas tidak diterbitkan. Malang: SMPN 3 Lawang Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia Moleong, LJ. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyasa, Econ. 2003. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyasa, Econ. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung; PT Remaja Rosdakarya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta: Depdiknas Prasodjo, dkk. 2007. IPA 1 Terpadu Kelas VII. Jakarta: yudhistira Sudjana, N. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sudrajat, Akhmat. 2008. Lesson Study Untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran. Tersedia pada http://akhmatsudrajat.wordpress.com. Diakses pada tanggal 15 Januari 2011 Sugianto, teguh dan Ismawati. 2008. Imu Pengetahuan Alam Untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Susilo, Chotimah, Dwitasari.2009. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru dan Calon guru. Malang: Bayumedia Publishing Team MGMP IPA Kota Malang. 2009. LKS Biologi Kelas 7. Malang: Insan Mandiri Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. 2005. Bandung: Citra Umbara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2005 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2005. Jakarta: Depdiknas Winarsih, Ani, dkk. 2008. IPA Terpadu Untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Grasindo Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogjakarta: Penerbit Media Abadi

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 42

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PERBAIKAN PEMBELAJARAN MELALUI PPL BERBASIS LESSON STUDY BERDAMPAK PADA MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X DI SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Ike Safitri Agustina Herawati Susilo Eko Sri Sulasmi
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

Abstrak: PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) merupakan mata kuliah yang memberikan latihan keterampilan mengajar bagi mahasiswa program studi kependidikan. Kompetensi utama kegiatan PPL adalah agar mahasiswa menjadi calon tenaga pendidik yang profesional yang dicapai melalui pemberian pengalaman langsung di lapangan, untuk menciptakan tenaga pendidik yang professional LPTK mengagas pola PPL berbasis lesson study. Pengalaman PPL berbasis lesson study dilaksanakan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang di kelas X semester genap tahun ajaran 2010/2011. PPL berbasis lesson study dilakukan sebanyak 7 siklus, setiap siklus menggunakan tahapan Plan (Perencanaan), Do (Pelaksanaan), dan See (Refleksi). Implementasi PPL berbasis lesson study dapat meningkatkan kualitas mahasiswa dalam mengajar melalui perbaikan pembelajaran setiap kali akan melakukan open lesson. Setiap kali open lesson guru model mendapatkan beragam masukan seperti pemilihan strategi pembelajaran, media pembelajaran, penilaian pembelajaran, pengelolaan kelas dan solusi untuk mengatasi masalah di kelas. Perbaikan pembelajaran berdampak peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. Kesuksesan dalam memotivasi dan meningkatkan hasil belajar siswa akan menjadi faktor tercapainya kepuasan kerja dan kebanggaan profesinya sebagai pendidik. Kata kunci: Perbaikan Pembelajaran, PPL Berbasis LS, Motivasi Belajar, Hasil Belajar Biologi Siswa

PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) merupakan mata kuliah intrakurikuler dengan bobot 4 sks yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa program studi kependidikan untuk mengintegrasikan pengalaman belajar yang diperoleh di kampus dengan pengalaman langsung di sekolah. Tujuan PPL adalah mengembangkan kompetensi mahasiswa agar mahasiswa siap menjadi tenaga pendidik yang profesional. Pelaksanaan PPL diharapkan seorang calon guru mampu menjadi guru yang dapat mengembangkan kompetensi keprofesionalan guru, oleh sebab itu fakultas MIPA Universitas Negeri Malang menerapkan PPL berbasis Lesson Study. Implementasi PPL berbasis lesson study memberikan sumbangan yang sangat besar bagi mahasiswa sebagai calon pendidik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan. Pelaksanaan PPL berbasis lesson study, mahasiswa (guru model) dapat merencanakan kegiatan pembelajaran secara bersama (antara guru pamong, dosen pembimbing, dan rekan sejawat), menerapkan pembelajaran dan selama pembelajaran setiap observer mengamati siswa selanjutnya secara kolaboratif melakukan refleksi. Lesson study dilakukan dengan tiga tahapan yaitu perencanaan (Plan), pelaksanaan (Do), dan melihat kembali atau refleksi (See) yang dilakukan secara berulang (siklus). Tahap Plan dilakukan secara kolaboratif oleh beberapa orang guru yang termasuk dalam suatu kelompok lesson study untuk merencanakan pembelajaran di kelas. Tahap Do dimaksudkan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah direncanakan. Salah satu anggota kelompok berperan sebagai guru model dan anggota

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 43

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) kelompok lainnya berperan sebagai observer untuk mengamati aktivitas siswa. Tahap See adalah untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran yang akan diperbaiki pada pembelajaran selanjutnya baik pada kelas, materi dan guru model yang berbeda. Menurut Lewis dalam Ibrohim dan Syamsuri (2010:6) beberapa alasan lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa, karena a) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “Sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, b) penekanan mendasar suatu lesson study adalah siswa memiliki kualitas belajar, c) tujuan pelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, d) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan e) lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran. Menurut Hendayana, dkk. (2007:47) pada kegiatan lesson study guru memperoleh kesempatan untuk melakukan identifikasi masalah pembelajaran, mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan, memilih alternatif model pembelajaran yang akan digunakan, merancang rencana pembelajaran, mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih, melaksanakan pembelajaran, mengidentifikasi hal-hal penting yang terjadi dalam aktivitas belajar siswa di kelas, melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas, serta mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya.
TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, motivasi dan hasil belajar biologi siswa selama implementasi PPL berbasis lesson study di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang.
METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Tindakan yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah tahapan Plan, Do, dan See yang dilakukan secara berkesinambungan baik pada kelas, materi, dan guru model yang berbeda seperti pada Gambar 1. Pada saat open lesson yang berperan sebagai observer adalah mahasiswa biologi, mahasiswa selain jurusan biologi, guru pamong dan dosen pembimbing lapangan jika datang. Penelitian dilaksanakan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang yang beralamat di Jl. Bromo No. 16 Malang. Pengambilan data dilaksanakan di kelas X, yaitu X-5, X-6, X-7, dan X-8. Penelitian dilakukan selama tiga bulan sesuai dengan pelaksanaan PPL II, yaitu mulai bulan Februari s.d April 2011. Jabaran data dan sumber data penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Penjelasan Data, Sumber Data dan Instrumen Penelitian
No 1 2. 3. 4. Data Motivasi Belajar Hasil Belajar Pelaksanaan lesson study Refleksi siswa terhadap Pembelajaran Sumber data Siswa Siswa Tim lesson study Siswa Instrumen Angket motivasi belajar siswa Lembar Kerja Siswa, kuis dan tes hasil belajar Lembar Observasi pembelajaran dalam lesson study Angket siswa terhadap pembelajaran selama kegiatan lesson study.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 44

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 1. Siklus Pengkajian Pembelajaran dalam lesson study (Susilo, dkk., 2010:22)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Implementasi PPL berbasis lesson study dilaksanakan sebanyak 7 siklus di kelas X. Selama implementasi PPL berbasis lesson study terdapat dua mahasiswa praktikan yang bertugas sebagai guru model, yaitu Ike Safitri Agustina dan Kharis Setiawan. Ike Safitri Agustina bertugas sebagai guru model sebanyak 5 kali dan Kharis Setiawan bertugas sebagai guru model 2 kali. Pelaksanaan lesson study yang dilakukan oleh mahasiswa praktikan selama PPL berlangsung dapat dilihat pada Tabel 2. Daftar nama observer pada setiap open lesson dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 2. Pelaksanaan Lesson Study selama Melaksanakan PPL
Materi Kelas Guru Model Ike Safitri A. Ike Safitri A. Ike Safitri A. Ike Safitri A. Kharis Setiawan Ike Safitri A. Kharis Setiawan Plan 24 Februari 2011 28 Februari 2011 4 Maret 2011 8 Maret 2011 9 Maret 2011 28 Maret 2011 30 Maret 2011 Tanggal Pelaksanaan Do 28 Februari 2011 2 Maret 2011 7 Maret 2011 9 Maret 2011 9 Maret 2011 30 Maret 2011 31 Maret 2011 See 28 Februari 2011 4 Maret 2011 8 Maret 2011 9 Maret 2011 9 Maret 2011 30 Maret 2011 31 Maret 2011 Metode

Vermes (Platyhelminthe s, Nemathelminthe s, Annelida) Mollusca

X-8

TPSS (Think Pair Square Share) TPSS (Think Pair Square Share) Pengamatan dan diskusi kelompok Pengamatan dan diskusi kelompok. Pengamatan dan diskusi kelompok STAD dengan Pendekatan Kontekstual STAD dengan pendekatan Kontekstual

X-7 X-8 X-7 X-5

Arthropoda

X-7 X-6

Tabel 3. Daftar Nama Observer pada Setiap Open Lesson
Tanggal Open lesson 28 Februari 2011 Materi Vermes (Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida) Kelas X-8 Guru Model Ike Safitri A. Nama Observer Kharis Setiawan*, Dea Vindi Awalindah*, Evi Fatmawati, S.Pd**, Gea Elramada A., Agung wahyu Hidayat, Anis Sa’idah, dan Septa Agustina.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 45

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
2 Maret 2011 X-7 Ike Safitri A. Dr. Hj. Dahlia, M.S. ***, Dea Vindi Awalindah*, Elan Frido Rinda*, Kharis Setiawan*, Agung Setiaji, Rhizal Hartarto, Ahmad Subagiyono, dan Abidah Dr. Hj. Dahlia, M.S. ***, Dea Vindi Awalindah*, Elan Frido Rinda*, Kharis Setiawan*, Binti Afifah, Novita Indrayani S., dan Farid S. Dr. Hj. Dahlia, M.S. ***, Dea Vindi Awalindah*, Elan Frido Rinda*, Kharis Setiawan*, Abdul Rahman Sofyan, dan Ahmad Subagiyono. Elan Frido Rinda*, Ike Safitri Agustina*, Anis Surahman, dan Rihzal Hartarto. Dea Vindi Awalindah*, Kharis Setiawan*, Abidah, Agung Setiaji, dan Abdul Rahman Sofyan. Ike Safitri Agustina*, Dea Vindi Awalindah*, Evi Fatmawati, S.Pd**., C. Sri Murdo Yuwono, Femmy Kawuwung dan Nur Efendi.

7 Maret 2011

Mollusca

X-8

Ike Safitri A.

9 Maret 2011

X-7

Ike Safitri A.

9 Maret 2011 30 Maret 2011 Arthropoda

X-5 X-7

Kharis Setiawan Ike Safitri A.

31 Maret 2011

X-6

Kharis Setiawan

Keterangan: * ** *** Tidak ada tanda “*”

= Mahasiswa Biologi = Guru Pamong = Dosen Pembimbing Lapangan = Selain Mahasiswa Biologi

A. PERBAIKAN PEMBELAJARAN

1. Kegiatan Lesson Study Materi Vermes Kegiatan LS materi Vermes dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu di kelas X-8 dan selanjutnya diperbaiki di kelas X-7 (2 siklus lesson study). Kegiatan plan, do, dan see siklus 1 dapat dilihat pada Gambar 2. Selama melakukan pembelajaran yang berperan sebagai guru model adalah Ike Safitri Agustina. Di kelas X-8 pembelajaran berlangsung selama 2 JP dengan menggunakan metode TPSS (Think Pair Square Share). Kegiatan inti metode TPSS adalah guru model memberikan tugas kepada siswa untuk melengkapi tabel perbedaan ciri-ciri, cara reproduksi, cara hidup Vermes meliputi filum Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida. Berdasarkan hasil jawaban angket siswa secara umum dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode TPSS menarik untuk diikuti, tetapi perlu diberikan unsur permainan dagar pembelajaran lebih menyenangkan. Berdasarkan pengamatan observer pengelolaan kelas di kelas X-8 sudah cukup baik dan siswa mengerjakan seluruh tugas dengan baik, namun pelaksanaan TPSS di kelas X-8 perlu ditambah alokasi waktunya pada waktu Think dan untuk menghindari siswa saling mencontek pada tahap Think sebaiknya soal antar teman sebangku dibuat berbeda sehingga pada tahap Pair siswa benar-benar saling bertukar pendapat.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 46

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 2. Kegiatan Plan, Do, dan See Siklus 1 Berdasarkan masukan selama refleksi, tim lesson study merancang pembelajaran dengan metode yang sama (TPSS), namun lembar kerja siswa diganti dengan soal analisis, setiap bangku mendapatkan soal yang berbeda sehingga suasana saling membelajarkan antar siswa dapat tercipta, dan agar siswa lebih paham selama memberikan penguatan guru model menampilkan beberapa video mengenai perkembangbiakan Planaria, Nemathelminthes, dan Annelida. Rancangan pembelajaran baru diterapkan di kelas X-7 dengan alokasi 3 JP. Berdasarkan hasil pengamatan observer di kelas X-7 dapat disimpulkan bahwa siswa dapat belajar dengan baik dan dapat berdiskusi, namun waktu untuk Think perlu ditambah lagi agar tahap Pair, Square dan Share lebih efektif. Hasil refleksi selama pembelajaran materi Vermes akan digunakan untuk perbaikan pembelajaran materi Mollusca. 2. Kegiatan Lesson Study Materi Mollusca Kegiatan LS materi Mollusca dilakukan sebanyak 3 kali dengan metode pengamatan dan diskusi kelompok, yaitu di kelas X-8 diperbaiki di kelas X-7 dan selanjutnya metode tersebut digunakan lagi oleh guru model lain di kelas X-5 sebagai perbaikan setelah pembelajaran di kelas X-7 (3 siklus lesson study). Metode pengamatan dan diskusi kelompok dipilih agar siswa melakukan pengamatan langsung pada hewan amatan mengenai Mollusca dan siswa sudah ditugasi membaca terlebih dahulu dari rumah sebagai refleksi pertemuan sebelumnya agar siswa mempunyai bekal. Pembelajaran di kelas X-8 berlangsung selama 2 JP, selama pembelajaran siswa melakukan pengamatan dengan menggunakan satu hewan amatan yaitu bekicot/siput, sedangkan contoh hewan yang lain hanya diberikan gambar dan siswa melihat di slide saja. Berdasarkan hasil jawaban angket refleksi siswa secara umum dapat disimpulkan banyak siswa yang merasa takut dengan hewan amatan, namun siswa tetap mengatakan pembelajaran menarik karena bisa melakukan pengamatan secara langsung. Menurut hasil observasi, pada saat pembelajaran di kelas X-8 sangat ramai akibat waktu pengamatan yang cukup lama tetapi hewan amatan hanya satu dan siswa melakukan pengamatan dengan mencentang lembar kerja sesuai hasil pengamatan dan pertanyaan yang bersifat analisis belum begitu muncul. Berdasarkan hasil refleksi, pembelajaran selanjutnya guru merancang pembelajaran dengan setiap kelompok diberikan bahan amatan yang berbeda dari tiga kelas dalam filum Mollusca yaitu kelas Gastropoda, Cephalopoda, dan Pelecypoda, selain itu lembar kerja siswa juga diperbaiki dengan beberapa tambahan soal bersifat analisis dan beberapa soal bersifat melaporkan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 47

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Hasil refleksi pembelajaran di kelas X-8, selanjutnya diterapkan di kelas X-7. Di kelas X-7 kegiatan pembelajaran berlangsung selama 3 JP. Selama proses pembelajaran siswa melakukan pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan observer siswa sudah melakukan pengamatan dan diskusi dengan baik, selain itu observer juga menemukan ada kelompok yang menggunakan Hand Phone untuk Browsing sebagai sarana untuk mencari literatur selain buku paket. Menurut hasil jawaban angket siswa dapat disimpulkan siswa merasa pembelajaran dengan menggunakan model pengamatan menarik untuk diklakukan karena siswa dapat mengamati hewan topik Mollusca secara langsung. Perbaikan selanjutnya diterapkan di kelas X-5 oleh guru model yang berbeda. Berdasarkan pengamatan observer, siswa kelas X-5 antusias melakukan pengamatan karena pada pembelajaran sebelumnya kelas X-5 tidak pernah diajak melakukan praktikum sehingga kegiatan praktikum menjadi kegiatan yang manarik untuk dilakukan. Kegiatan pembelajaran di kelas X-5 dilakukan selama 2 JP sehingga semua langkah pembelajaran belum dapat dilaksanakan. Kegiatan pembelajaran berakhir sampai dengan presentasi kelompok, namun belum semua kelompok yang mewakili setiap bahan amatan maju di depan kelas. Kegiatan pembelajaran topik Mollusca tidak dapat dilanjutkan karena pada pertemuan selanjutnya siswa sudah menghadapi UTS, sehingga guru meminta siswa untuk setiap kelompok yang membahas bahan amatan yang berbeda harus memiliki hasil laporan kelompok hewan yang lain. Hasil pengamatan observer di kelas X-5 dapat disimpulkan pembelajaran dengan mengunakan metode pengamatan dapat menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa dan selama pembelajaran peran guru dalam membimbing siswa praktikum harus cukup tlaten, sehingga siswa menjadi termotivasi. Berdasarkan hasil jawaban angket siswa dapat disimpulkan pembelajaran dengan menngunakan cara pengamatan menarik untuk dilakukan, walaupun siswa masih ada yang tidak memegang hewan amatan secara langsung karena takut. 3. Kegiatan Lesson Study Materi Arthropoda Kegiatan LS materi Arthropoda dilakukan sebanyak 2 kali (2 siklus lesson study) menggunakan metode STAD dengan pendekatan kontekstual. Metode STAD dipilih karena memiliki langkah-langkah pembelajaran paling sederhana dibandingkan TPSS, sehingga siswa lebih mudah untuk belajar yang dipadukan dengan pengamatan langsung sehingga siswa lebih mudah memahami konsep dan terdapat unsur kompetisi karena siswa akan memperebutkan kelompok terbaik di kelas. Pembelajaran dilakukan di kelas X-7 oleh Ike Safitri Agustina yang berlangsung selama 3 JP. Berdasarkan pengamatan observer selama pembelajaran di kelas X-7, sebagian besar siswa dapat belajar dibuktikan dengan siswa dapat mengerjakan lembar kerja yang diberikan oleh guru dan selama pembelajaran siswa lebih termotivasi belajar karena adanya tes pada awal dan akhir pembelajaran ada penghargaan, namun hal yang perlu diperhatikan adalah teknis guru dalam mengelola kelas saat presentasi. Berdasarkan hasil jawaban angket siswa, secara umum disimpulkan pada materi Arthropoda siswa lebih banyak mengamati hewan sehingga siswa lebih tertarik, penasaran dan contoh hewan-hewan yang diamati mudah ditemukan siswa di kehidupan sehari-hari. Pembelajaran selanjutnya dilakukan di kelas X-6 dengan guru model yang berbeda, yaitu Kharis Setiawan. Rancangan pembelajaran yang diterapkan di kelas X-6 sama seperti di kelas X-7. Selama proses pembelaajaran banyak perwakilan kelompok yang tidak membawa bahan amatan yang ditugaskan oleh guru, sehingga setelah tes pada awal pembelajaran guru model merasa gugup. Setelah itu guru pamong meminta untuk setiap kelompok mengambil awetan basah di laboratorium. Berdasarkan hasil refleksi guru model, pada awal kegiatan guru model belum menjelaskan langkah-langkah pembelajaran, sehingga pada pertemuan selanjutnya guru model akan memperbaiki pembelajarannya. Menurut hasil pengamatan observer, secara umum siswa belajar namun ada siswa yang kehilangan konsentrasi saat presentasi klasikal dan guru model sudah berusaha untuk membimbing siswa saat diskusi degan mendatangi setiap kelompok dan menanyai kesulitan dalam kelompok. Pelajaran berharga yang didapat adalah pada saat proses pembelajaran berlangsung, kondisi kelas dapat berubah setiap saat sehingga sebagai guru harus dapat mengatasinya dan mengelola kelas dengan baik. Hasil refleksi di kelas X-6 akan dijadikan pengalaman untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya baik saat open lesson maupun tidak open lesson.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 48

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
B. DAMPAK PERBAIKAN PEMBELAJARAN TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA

Motivasi belajar siswa diambil dengan menggunakan angket motivasi belajar siswa berdasarkan model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction) untuk mengetahui motivasi belajar siswa sebelum dan selama pelaksanaan lesson study. Berikut ini data hasil angket motivasi belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rekapitulasi Data Hasil Angket Motivasi Belajar Siswa Kelas X-5, X-6, X-7, X-8 Sebelum dan Selama Pelaksanaan Lesson Study di SMA Laboratorium UM
Pelaksanaan LS Sebelum Aspek Motivasi Attention (A) Relevance (R) Confidence (C) Satisfaction (S) ∑ Motivasi Belajar Siswa Attention (A) Relevance (R) Confidence (C) Satisfaction (S) ∑ Motivasi Belajar Klasikal X-5 3.9 4.2 4.2 4.2 16.5 4.1 4.0 4.0 4.1 4.2 16.3 4.1 X-6 4.0 4.1 4.0 4.2 16.3 4.1 4.1 4.1 4.2 4.1 16.5 4.1 Kelas X-7 4.0 4.2 4.2 4.2 16.6 4.2 4.2 4.2 4.3 4.3 17 4.3 X-8 4.0 4.0 4.1 4.2 16.3 4.1 4.2 4.2 4.3 4.3 17 4.3

Selama

Berdasarkan Tabel 4 motivasi belajar siswa kelas X-5 dan X-6 yang hanya dilakukan satu open lesson tidak mengalami peningkatan dari sebelum dan selama lesson study. Di kelas X-8 dilakukan 2 open lesson mengalami peningkatan sebesar 0.1 dibandingkan sebelum pelaksanaan lesson study dan X-7 dilakukan 3 open lesson mengalami peningkatan sebesar 0.2 dibandingkan sebelum lesson study. Peningkatan motivasi belajar siswa terjadi karena perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh guru model berdasarkan hasil refleksi, sehingga semakin sering guru melakukan open lesson di suatu kelas maka guru akan lebih peka terhadap karakteristik dan kondisi kelas. Kepekaan guru terhadap karakteristik dan kondisi kelas akan memudahkan guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan siswanya, sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. Menurut Syamsuri dan Ibrohim (2008: 69—70) studi pembelajaran dilaksanakan tanpa henti untuk meningkatkan kepekaan guru terhadap siswa belajar dan memperbaiki proses pembelajaran di kelas nyata. Melalui studi pembelajaran guru dapat menerapkan berbagai pendekatan, metode dan media pembelajaran yang berorientasi pada siswa aktif, kreatif, dan saling membelajarkan (collaborative learning).
C. DAMPAK PERBAIKAN PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI

Selama implementasi PPL berbasis lesson study terdapat tiga materi yang dibelajarkan, yaitu Vermes, Mollusca, dan Arthropoda. Pada setiap materi yang dibelajarkan penilaian hasil belajar menggunakan LKS, kuis, dan tes. Rekapitulasi skor hasil belajar klasikal pada materi Vermes, Mollusca dan Arthropoda dapat dilihat pada Tabel 5, 6 dan 7. Tabel 5. Rekapitulasi Skor Hasil Belajar Klasikal pada Materi Vermes
Kelas X-8 X-7 Skor Rata-rata Kelas LKS Tes 79.0 69.0 79.3 77.4 Ketuntasan Belajar Tes Kognitif (%) 51.3 53.9 Kategori Ketuntasan Belajar Tes Kognitif Tidak Tuntas Tidak Tuntas

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 49

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel 6. Rekapitulasi Skor Hasil Belajar Klasikal pada Materi Mollusca
Kelas X-8 X-7 X-5 Skor Rata-rata Kelas LKS Tes 75.5 77.2 83.3 80.0 86.5 79.5 Ketuntasan Belajar Tes Kognitif (%) 71.8 74.4 76.9 Kategori Ketuntasan Belajar Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

Tabel 7. Rekapitulasi Skor Hasil Belajar Klasikal pada Materi Arthropoda
Kelas X-7 X-6 LKS 78.5 75.4 Skor Rata-rata Kelas Kuis Tes 88.7 81.8 86.8 78.8 Ketuntasan Belajar Tes Kognitif (%) 87.2 82.1 Kategori Ketuntasan Belajar Tuntas Tidak tuntas

Selama implementasi PPL berbasis lesson study dari tiga materi yang dibelajarkan, yaitu Vermes, Mollusca, dan Arthropoda. Ketuntasan belajar siswa paling tinggi adalah materi Arthropoda karena contoh hewan pada materi Arthropoda lebih mudah ditemukan oleh siswa di kehidupan sehari-hari, dibelajarkan pada akhir siklus selama kegiatan PPL berbasis Lesson Study sehingga metode dan media pembelajaran lebih bervariasi berdasarkan masukan pada siklus Lesson Study sebelumnya. Skor LKS di setiap kelas sebelum refleksi dan sesudah refleksi mengalami peningkatan karena guru merancang LKS yang lebih mudah dipahami oleh siswa. Ketuntasan belajar setiap kelas berbeda karena memang setiap kelas memiliki kemampuan akademis yang berbeda. Berdasarkan data Tabel 5, 6, dan 7 kelas yang dilakukan dua dan tiga open lesson hasil belajarnya mengalami peningkatan, namun pada kelas yang hanya dilakukan satu open lesson tidak terlihat peningkatannya. Semakin sering open lesson, beragam masukan yang didapatkan selama PPL berbasis LS berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
PENUTUP

Perbaikan pembelajaran selama Implementasi PPL berbasis lesson study dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru model dan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa, karena semakin sering guru model melakukan open lesson, semakin mudah guru model menentukan rancangan pembelajaran yang sesuai untuk peserta didiknya di suatu kelas. Sebaiknya kegiatan PPL berbasis Lesson Study dilakukan lebih dari dua Open Lesson agar kualitas pembelajaran lebih baik lagi dan dapat meningkatkan keprofesionalan mahasiswa sebagai calon guru.
DAFTAR RUJUKAN Agustina, Ike Safitri. 2011. Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X Selama Implemantasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson Study di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM. Hendayana, Sumar., Suryadi, Didi., Abdul Karim, Muchtar., Sukirman., Ariswan., Sutopo., Supriatna, Asep., Sutiman., Santoso., Imansyah, Harun., Paidi., Ibrohim., Sriyati, Siti., Permanasari, Anna., Hikmat., Nurjanah. & Joharmawan, Ridwan. 2006. Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMPSTEP-JICA). Bandung: UPI Press. Ibrohim & Syamsuri, Istamar. 2010. Lesson Study: Sebagai Pola alternatif untuk Meningkatkan Efektivitas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa calon Guru. Makalah disajikan dalam Workshop Lesson Study untuk Mahasiswa, Guru, dan Dosen FMIPA Universitas Negeri Malang Semester Genap, FMIPA UM, Malang, 28 Desember. Susanto, Pudyo. 2009. Buku Petunjuk Teknis Praktik Pengalaman Lapangan Bidang Studi Pendidikan Biologi. Malang: UPT PPL. Susilo, Herawati., Chotimah, Husnul., Sulistyawati, Kabut., Kartini, R., Ikhsan, Mohammad. & Heriningsih, Puspa Dwi. 2010. Lesson Study Berbasis MGMP Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru. Malang: Surya Pena Gemilang.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 50

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Syamsuri, Istamar & Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran) Model Pembinaan Pendidik secara Kolaboratif dan Berkelanjutan; dipetik dari Program SISTTEMS-JICA di Kabupaten pasuruan-Jawa Timur (2006-2008). Malang: UM Press. Tim UPT PPL. 2009. Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang. Malang: UPT PPL.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 51

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATAKULIAH TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH MELALUI PENERAPAN LESSON STUDY DI PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI IKIP PGRI MADIUN

Marheny Lukitasari
IKIP PGRI Madiun, Jl. Setia Budi 85 Madiun, Email: heny_mipaikip@yahoo.co.id

Abstrak: Pelaksanaan Lesson Study (LS) di Prodi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Madiun dilakukan
di kelas IIC angkatan tahun 2010/ 2011 pada mata kuliah Taksonomi Tumbuhan I. Kelas IIC merupakan kelas dengan kondisi mahasiswa yang pasif dengan hasil belajar rendah. Pelaksanaan LS bertujuan untuk mencari akar permasalahan dan solusi pemecahan secara tim sehingga mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar. LS dilakukan sebanyak 4, melalui siklus plan, do dan see oleh tim dosen dengan rumpun mata kuliah yang sama. Hasil LS menunjukkan bahwa kolaborasi dosen pada setiap siklusnya ternyata menjadikan peningkatan kualitas perkuliahan sehingga mampu memotivasi dan meningkatkan hasil belajar. Kata kunci: Lesson Study (LS), motivasi, hasil belajar, taksonomi tumbuhan rendah

Kurikulum dalam program studi Pendidikan Biologi memuat berbagai hal yang terkait dengan makhluk hidup, mekanisme serta interaksinya dengan lingkungan. Salah satu mata kuliah wajib dan termasuk dalam mata kuliah keahlian adalah mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah, dengan muatan 3 SKS yang diberikan secara tatap muka dengan didukung oleh kegiatan praktikum. Kesulitan yang dihadapi mahasiswa terkait dengan mata kuliah ini adalah melakukan proses klasifikasi dan menunjukkan nama ilmiah jenis tumbuhan yang ditemui melalui proses mendeskripsikan berdasarkan ciri tumbuhan dan cara perkembangbiakannya. Hal ini disebabkan dalam kegiatan perkuliahan metode verbalisme masih mendominasi dan selain itu juga kecermatan mahasiswa terhadap jenis tumbuhan yang diidentifikasi terkadang karena tingkat kemiripannya sangat tinggi menjadikan kebingungan untuk proses klasifikasinya. Evaluasi yang dilakukan selama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa kecenderungan tingkat penguasaan mahasiswa terhadap pokok bahasan yang terkait dengan pengantar dasar serta proses penamaan dan sistematika lebih baik dibandingkan dengan penguasaan terhadap pokok bahasan tentang proses klasifikasi berdasarkan ciri dan reproduksi. Kondisi ini terlihat dari beberapa kali dilakukan post tes untuk setiap pokok bahasan yang dilakukan. Nilai untuk soal awal yang mengeksplorasi ciri-ciri awal maka rata-ratanya memang selalu lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai soal berikutnya yang biasanya menanyakan tentang mekanisme atau proses siklus perkembangan. Bahkan lebih dari 75% mahasiswa ratarata prestasinya masih rendah dan perlu untuk ditingkatkan. Prodi Biologi IKIP PGRI Madiun meletakkan mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah pada semester II dengan mata kuliah prasarat sebelumnya adalah Biologi Umum. Tahun akademik 2010/ 2011, untuk semester II memiliki kelas pararel sebanyak 3 kelas yaitu IIA, IIB, dan IIC yang semuanya mendapatkan mata kuliah tersebut. Dari ketiga kelas tersebut, karakteristik kelas IIC merupakan kelas yang mayoritas mahasiswanya cenderung pasif saat proses perkuliahan berlangsung. Hal ini ditunjukkan apabila dosen mengajukan pertanyaan, hanya satu atau dua mahasiswa saja yang bersedia menjawab dan bahkan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 52

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) beberapakali tidak ada satupun mahasiswa yang menjawab pertanyaan stimuli dosen. Kondisi tersebut menjadikan prioritas untuk menjadikan kelas IIC dijadikan sebagai kelas yang perlu untuk diberikan treatmen sehingga mahasiswanya memiliki motivasi dan menunjukkan hasil belajar yang tinggi pada mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah. Mencermati kondisi tersebut, perlu dilakukan perubahan paradigma pembelajaran dari dosen yang biasa ‘memberikan’ menuju ke arah ‘pemberdayaan’ dengan tujuan utama agar mahasiswa memiliki kemampuan dan kesadaran atas kemampuannya serta mampu menggali potensi diri untuk meningkatkan motivasi. Untuk itu dibutuhkan koreksi, perhatian, serta evaluasi yang terus menerus dari dosen terhadap kondisi mahasiswa, sehingga dosen mampu mengembangkan dan menyampaikan materi yang ada pada kurikulum berbasis kebutuhan mahasiswa. Dengan demikian materi yang disampaikan akan mampu menyediakan model pedagogi yang mampu menampilkan aspek kemenarikan dalam kegiatan perkuliahan. Paradigma tersebut dapat berkembang dengan baik jika proses pembelajaran dalam perkuliahan dihasilkan oleh kerja tim yang memulai kegiatan dari perencanaan, pelaksanaan, diskusi, kolaborasi, serta refleksi secara berkesinambungan. Proses ini dikenal dengan metode Lesson Study (LS) yang memang bertujuan untuk mengakomodasi pengajar yang mengalami kesulitan dalam kelasnya. Motivasi merupakan kunci utama bagi mahasiswa untuk memulai aktivitas belajarnya. Dengan motivasi yang tinggi, maka mahasiswa akan menunjukkan perilaku untuk selalu memperjuangkan rasa ingin tahunya dengan belajar. Akbas, A., and Kan A., (2007) menyatakan bahwa motivasi merupakan sumber kekuatan yang akan membimbing perilaku siswa di sekolah dan menentukan kekuatan tindakan serta mempertahankannya dalam kondisi yang baik. Motivasi juga kekuatan pada seseorang yang akan mengarahkan pada tujuan yang pasti dan dibutuhkan untuk melakukan tindakan yang diperlukan pada kondisi tertentu, memberikan energi, dan menunjukkan perilaku yang akan menjadikan kemajuan pada tindakan. Lesson study (LS) yang merupakan proses kegiatan pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan membawa perbaikan pembelajaran yang dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar para guru. Lewis (2002) mendeskripsikan proses-proses tersebut sebagai langkah-langkah kolaborasi dengan pengajar untuk merencanakan (plan), mengamati (observe), dan melakukan refleksi (reflect) terhadap pembelajaran (lessons). Lebih lanjut, dinyatakan bahwa Lesson study adalah suatu proses yang kompleks, didukung oleh penataan tujuan secara kolaboratif, percermatan dalam pengumpulan data tentang belajar siswa, dan kesepakatan yang memberi peluang diskusi produktif tentang isu-isu sulit. LS hakikatnya merupakan aktivitas berkesinambungan yang memiliki implikasi praktis dalam pendidikan. Dosen yang sudah melaksanakan LS, akan memiliki kesempatan untuk mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta aktivitas mahasiswa. Hal ini disebabkan karena fokus LS diarahkan pada peningkatan pembelajaran melalui pengamatan terhadap aktivitas belajar mahasiswa. Pengamatan tersebut bertujuan untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan kegiatan belajar dan kegiatan berpikir mahasiswa, dan bukan pada kegiatan dosen. Oleh sebab itu, aktivitas LS sesungguhnya tidak menyalahkan dosen atau mengkritik kesalahan dosen sebagai guru. Di dalam LS, dosen perlu mencari bukti bahwa mahasiswa memang belajar, termotivasi, dan berkembang. Berdasarkan data yang dikumpulkan, maka dosen dapat melihat pembelajarannya melalui tanggapan mahasiswanya.
METODE

Lesson Study (LS) merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru, atau kelompok guru untuk mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama. Proses pelaksanaan diawali dengan melakukan perancangan proses pembelajaran secara bersama antara dosen yang berada pada satu rumpun perkuliahan dilanjutkan dengan menjadikan seorang dosen untuk melaksanakan pembelajaran di kelas. Beberapa dosen yang lain mengamati aktivitas belajar mahasiswa. Pengamatan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, kelompok dosen yang sudah melaksanakan plan dan do bersama berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang sudah dilakukan, merevisi, dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi. Siklus yang dilaksanakan untuk lesson study (LS) dapat dicermati dengan langkah sebagai berikut:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 53

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

DO
  Pelaksanaan pembelajaran Pengamatan oleh teman sejawat

PLAN
   Penggalian akademis Perencanaan pembelajaran Persiapan alat  

SEE
Refleksi dengan rekan Komentar dan diskusi

Gambar 1. Bagan pelaksanaan Lesson Study Secara keseluruhan, LS yang diterapkan pada mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah di kelas II C dilaksanakan sebanyak 4 kali dengan satu kali open lesson. Pelaksanaan perkuliahan berdasarkan rencana disesuaikan dengan pokok bahasan yang diberikan. Tahapan yang dilakukan sesuai dengan bagan diawali dengan Plan, dilanjutkan Do dan diakhiri dengan See sebagai bentuk refleksi.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Lesson Study di IKIP PGRI Madiun Hasil yang didapatkan selama pelaksanaan lesson study (LS) di prodi pendidikan Biologi IKIP PGRI mengikuti tiga tahapan utama yaitu plan, do, dan see. Ketiga tahapan tersebut secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Plan I Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan siswa secara efektif serta membangkitkan partisipasi mahasiswa. Dalam perencanaan, dosen model menyampaikan bahwa perkuliahan akan dilakukan dengan cara diskusi aktif. Dosen satu tim secara kolaboratif berbagi ide menyusun rancangan pembelajaran untuk menghasilkan cara-cara pengorganisasian bahan ajar, proses pembelajaran, dan menyiapkan alat bantu pembelajaran. Saat plan dilaksanakan ada beberapa masukan terkait dengan tujuan perkuliahan untuk lebih difokuskan dan juga penyusunan lembar kerja mahasiswa. Saran yang lain juga diberikan terkait dengan proses evaluasi yang akan dilakukan sebaiknya menitikberatkan pada tiga ranah, tetapi fokus pada satu atau dua hal terkait dengan pokok bahasan. Materi yang dibahas untuk Do I adalah aneka ragam tumbuhan rendah yang masuk klasifikasi schizophyta. 2. Do I Pelaksanaan Do dilakukan satu minggu setelah plan dilakukan dan diadakan perbaikan terhadap Rencana Pelaksanaan Perkuliahan (RPP) yang dihasilkan. Saat plan direncanakan untuk disusun lembar kerja berupa isian untuk mahasiswa, yang secara berkelompok mahasiswa akan melakukan diskusi untuk

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 54

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) melengkapi jawaban pada lembar kerja tersebut. Di akhir perkuliahan dilakukan diskusi klasikal untuk menyamakan persepsi dan konsep. 3. See I Refleksi pada pelaksanaan perkuliahan menunjukkan bahwa belum keseluruhan mahasiswa berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran. Pengamatan yang dilakukan secara kelompok menunjukkan beberapa mahasiswa hanya mengandalkan teman saat harus mengisi lembar kerja yang dibagikan. Konsentrasi mahasiswa juga naik turun ditunjukkan dengan beberapa kali tampak konsentrasi tetapi di saat yang lain hanya diam atau sekedar bercanda dengan teman satu kelompoknya. Kegiatan LS yang sudah dilaksanakan untuk periode pertama dilanjutkan dengan melaksanakan LS untuk pertemuan kedua. Jika perkuliahan pertama dilakukan dengan diskusi secara berkelompok, maka pada pertemuan kedua ini dilaksanakan dengan melakukan kegiatan praktikum di laboratorium. 1. Plan II Plan kedua dihasilkan Rencana Pelaksanaan Perkuliahan (RPP) dengan lembar kegiatan mahasiswa untuk membantu melakukan proses pengamatan saat praktikum. Metode yang diterapkan dalam perkuliahan adalah inkuiri terbimbing, dengan menjelaskan terlebih dahulu prosedur kerja yang akan dilakukan mahasiswa di laboratorium. Beberapa masukan tim dosen menjadikan perubahan RPP yaitu pada proses evaluasi yang sebaiknya menyusun rubrik untuk mengamati faktor psikomotor mahasiswa. Selain itu bentuk lembar kegiatan mahasiswa yang dipergunakan ditambahkan beberapa gambar untuk memudahkan mahasiswa saat harus membandingkan hasil yang didapatkan melalui pengamatan. Materi yang dibahas untuk Do II adalah tumbuhan yang masuk klasifikasi Thallophyta. 2. Do II Proses pelaksanaan (do) dilakukan sesuai dengan perencanaan yang disusun. Siswa dibentuk kelompok, kemudian dengan anggota kelompoknya mahasiswa melakukan proses pengamatan terhadap setiap spesimen yang sudah dibawa. Setelah proses praktikum selesai, maka mahasiswa menyampaikan hasil yang didapatkan dengan cara melaporkan secara singkat dan dilakukan proses diskusi secara klasikal. 3. See II Hasil refleksi yang dilakukan antara dosen model dan observer menunjukkan bahwa secara umum, di awal perkuliahan mahasiswa sudah mengalami peningkatan konsentrasi. Saat kegiatan praktikum dilaksanakan, nampak juga dalam satu kelompok selalu terdapat mahasiswa yang menggantungkan kerja pada mahasiswa yang lain. Keaktifan dosen dalam membimbing dengan cara langsung mendatangi kelompok memang membantu untuk kembali meningkatkan konsentrasi. Tetapi saat dosen meninggalkan kelompok tersebut, segera saja keaktifan mereka juga mengalami penurunan. Namun kondisi tersebut tidak dialami oleh semua mahasiswa karena masih nampak beberapa mahasiswa yang aktif dan melakukan pengamatan dengan penuh tanggungjawab. Secara umum saat dilakukan diskusi, terjadi proses interaksi dan komunikasi aktif dalam kelompok sehingga anggota kelompok tidak menggantungkan jawaban hanya kepada salah satu anggota kelompoknya saja. Demikian juga saat dilakukan diskusi kelas, dinamika kelas dapat dirasakan sehingga suasana diskusi berlangsung lebih baik dibandingkan dengan do I. Pertemuan dengan metode LS seperti yang sudah dilakukan sebelumnya dilanjutkan dengan pertemuan ketiga dengan mekanisme yang sama dan diuraikan sebagai berikut: 1. Plan III Kegiatan perkuliahan dengan metode LS yang ketiga pokok bahasannya adalah jamur. Seperti plan II, kegiatan praktikum akan dilakukan untuk memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dengan pengamatan. Mahasiswa diminta membawa berbagai jenis jamur secara berkelompok. Pelaksanaan praktikum dilakukan secara berkelompok sedangkan pengamatan dengan menggambar dilakukan secara individual. Pelaporan hasil pengamatan dilakukan berkelompok dan dilanjutkan dengan diskusi secara klasikal untuk penyamaan persepsi dan penguatan yang dilaksanakan di akhir perkuliahan. 2. Do III

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 55

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Sesuai dengan perencanaan, maka mahasiswa melakukan praktikum dengan kelompoknya masingmasing. Mahasiswa membuat preparat secara langsung dari bahan yang sudah dibawa dan hasil yang didapatkan digambar secara individual dan dilaporkan secara berkelompok. 3. See III Hasil See III yang dilakukan untuk kegiatan perkuliahan dilakukan oleh seluruh dosen yang menjadi observer. Dilaporkan bahwa konsentrasi mahasiswa mengalami kenaikan di awal perkuliahan, yaitu saat dosen menjelaskan prosedur kerja pelaksanaan praktikum. Saat pelaksanaan praktikum, konsentrasi dan motivasi mahasiswa relatif stabil. Secara aktif mahasiswa bekerja sama dengan anggota kelompok untuk mendapatkan preparat yang baik sehingga jelas dalam pengamatan dengan mikroskop. Meskipun demikian, tetap saja terdapat beberapa mahasiswa mengandalkan pekerjaan temannya saat harus mengisi buku gambar miliknya. Beberapa mahasiswa tersebut menjadi aktif kembali saat dosen mendatangi dan menanyakan hasil pekerjaan mereka. Dinamika kelas nampak kondusif dan terjaga selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan diskusi di akhir perkuliahan mampu meningkatkan kembali motivasi mahasiswa untuk memperhatikan proses perkuliahan. Beberapa mahasiswa yang melaporkan hasil pengamatannya memang memiliki keberanian, tetapi nampak bahwa dalam penyampaian tersebut rasa percaya diri masih kurang sehingga suara kurang keras dan nampak ragu-ragu. Selain itu gaya bahasa yang dipergunakan cenderung belum tertata dengan baik. Kegiatan LS untuk pertemuan ke 4 dilakukan dengan tahapan seperti sebelumnya. Proses perkuliahan direncanakan dengan model pembelajaran jigsaw untuk membantu melatih mahasiswa memiliki kemampuan menjelaskan kepada teman satu kelompoknya. 1. Plan IV Pokok bahasan yang akan diberikan untuk pertemuan ke 4 ini adalah tumbuhan yang masuk klasifikasi Pterydophyta atau tumbuhan paku. Penerapan model pembelajaran jigsaw diputuskan oleh tim dengan tujuan agar masing-masing mahasiswa memiliki tanggung jawab satu sub topik untuk dijelaskan kepada teman dalam anggota kelompoknya. Direncanakan untuk memudahkan masing-masing mahasiswa mempelajari materi yang harus dijelaskan kepada temannya, mereka diminta untuk meringkas dalam bentuk peta konsep. Tujuannya dengan peta konsep yang sudah dibuat akan membantu saat harus menjelaskan materi tersebut. Dengan metode jigsaw menggunakan peta konsep tersebut harapannya konsentrasi mahasiswa akan lebih fokus, selain itu mahasiswa juga berlatih untuk menyampaikan apa yang sudah dipelajari dengan gaya dan tata bahasa yang terstruktur dengan baik. 2. Do IV Sesuai dengan rencana, maka mahasiswa belajar dengan kelompoknya sesuai dengan topik yang sudah ditentukan. Untuk mengatur jalannya perkuliahan, maka waktu untuk masing-masing mahasiswa menjelaskan pada kelompoknya dikendalikan oleh dosen. Setelah semua mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan topik yang menjadi tanggungjawabnya dan dilakukan diskusi kelas untuk menyamakan persepsi. Diakhir perkuliahan dilakukan post tes untuk mengetahui prestasi belajar mahasiswa terhadap materi yang sudah disampaikan. 3. See IV Hasil refleksi pertemuan ke-4 ini menunjukkan bahwa hampir semua mahasiswa nampak aktif dalam menjelaskan topik yang menjadi tanggungjawabnya kepada teman dalam kelompok. Sedikit kelemahan adalah, bahwa beberapa mahasiswa kurang konsentrasi saat temannya menjelaskan karena dia belajar untuk topik yang menjadi tanggungjawabnya. Post tes yang dilakukan di akhir perkuliahan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan, meskipun dalam pengerjaannya beberapa mahasiswa mencoba untuk melihat hasil kerja temannya. Lesson Study yang dilaksanakan selama 4 siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari 3 kegiatan utama yaitu plan, do, dan see memberikan gambaran yang detail selama proses perkuliahan dilaksanakan. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 56

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Aktifitas mahasiswa sebagai obyek utama yang diamati menunjukkan terdapatnya peningkatan baik motivasi maupun hasil secara perlahan namun pasti. Dengan dilaksanakannya perkuliahan berbasis Lesson study (LS) akan terjadi suatu model (pola) pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian perkuliahan secara kolaboratif yang dilakukan oleh observer sehingga akan meningkatkan proses perkuliahan. Pelaksanaan lesson study dengan menerapkan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang dianggap efektif dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan faktual yang dihadapi dosen di kelas nyata mampu membangun situasi dan kondisi perkuliahan yang kondusif.

Lesson Study untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Mahasiswa LS yang dilaksanakan pada dasarnya tidak hanya memperhatikan perkuliahan untuk satu kali pertemuan atau satu pokok bahasan saja, melainkan bagaimana membelajarkan satu unit materi pokok dan bahkan satu mata kuliah secara utuh. Selain itu LS juga memperhatikan perkembangan mahasiswa dalam jangka panjang. Penting dilakukan oleh dosen bahwa ketika memilih bidang kajian akademis dan topik LS, maka dosen perlu untuk (a) menargetkan dalam mengatasi kelemahan siswa dalam belajar, (b) memilih topik yang bagi dosen dirasa sulit mengajarkannya, (c) memilih subjek terkini, misalnya aspek kebaharuan segi isi, teknologi, dan pendekatan pembelajaran, (d) memusatkan perhatian pada hal terpenting yang mendasar yang berpengaruh terhadap pembelajaran lainnya. Kelemahan yang dihadapi mahasiswa selama ini adalah masih belum optimalnya motivasi dalam perkuliahan. Kehadiran mahasiswa masih sebatas untuk melengkapi absensi tanpa memaknai materi perkuliahan dan tujuan yang ditetapkan. Proses perkuliahan yang dilakukan pada dasarnya adalah mengutamakan agar mahasiswa mampu mencapai tujuan perkuliahan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Untuk itu, dosen harus memiliki kompetensi sehingga mampu mengantarkan mahasiswa mencapai tujuan yang dimaksud. Dengan LS yang diterapkan maka banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh dosen. Dengan melaksanakan LS, dosen mampu mengidentifikasi dan mengorganisasi informasi apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang menjadi fokus kajian. Melalui LS dosen secara bersama-sama berkesempatan untuk memikirkan pengetahuan yang dianggap penting, hal apa saja yang belum diketahui, dan berusaha mencari informasi yang diperlukan untuk membelajarkan mahasiswa. Perkuliahan pertama dan kedua yang sudah dilakukan dengan LS menunjukkan bahwa kondisi perkuliahan masih belum menunjukkan peningkatan secara signifikan meskipun keaktifan mahasiswa mulai dirasakan. Ini disebabkan karena perubahan yang dilakukan dan direncanakan baru sebatas pada penetapan tujuan perkuliahan serta bentuk lembar kerja mahasiswa saja. Kegiatan praktikum dan diskusi masih belum mampu memotivasi mahasiswa dengan baik. Sebab utama dari hasil refleksi dinyatakan bahwa mahasiswa kurang memiliki minat dan motivasi belajar. Observer lain menyatakan bahwa mahasiswa nampaknya masih merasa kebingungan dengan berbagai istilah dan nama latin tumbuhan serta kelompok yang kurang heterogen. Terdapat kelompok mahasiswa yang semua anggotanya (3 mahasiswa) hanya pasif dan tidak peduli dengan kegiatan perkuliahan yang berlangsung. Pelaksanaan plan untuk perkuliahan ketiga dan keempat masih tetap direncanakan dengan menggunakan praktikum. Tim LS menyarankan agar kelompok yang sudah ada disusun ulang secara acak dengan memperhatikan kemampuan akademiknya. Selain itu untuk kelompok dengan sedikit anggota perlu ditambah anggota baru untuk meningkatkan situasi kerja dan berpikir kelompok tersebut. Perubahan yang dilakukan pada perkuliahan ketiga mulai dirasakan dampaknya, terutama situasi perkuliahan yang sudah tidak membosankan. Dapat dinyatakan bahwa mahasiswa mulai termotivasi dengan berbagai kombinasi dan cara mengajar yang dilaksanakan. Perhatian dosen yang dilakukan dengan membimbing dan mengontrol pekerjaan mahasiswa selama perkuliahan mampu membuat mahasiswa merasa dihargai atas apa yang sudah mereka lakukan. Kondisi ini sejalan dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan dosen selama kegiatan perkuliahan. Hasil yang didapatkan selama 4 siklus pelaksanaan LS menunjukkan bahwa mahasiswa mulai menyadari pentingnya pengetahuan yang didapatkan untuk menunjang kemampuan mereka. Melihat kondisi tersebut, nampak bahwa motivasi mahasiswa mengalami peningkatan mulai dari awal diterapkan LS sampai saat open lesson dilakukan. Faktor utama karena mahasiswa ikut aktif dalam perkuliahan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 57

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan cara diskusi sekaligus diberi kesempatan untuk mengemukakan masalah pembelajaran yang dialaminya. Hasil diskusi pada pengamatan yang dilakukan mendapati bahwa mahasiswa yang semula tidak aktif akhirnya terdorong untuk menyampaikan pendapatnya. Lembar kerja yang dirumuskan saat plan, sangat membantu mahasiswa dalam melakukan diskusi. Beberapa mahasiswa yang semula diam, karena terdorong rasa ingin tahu akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan atau justru menyampaikan pendapat dalam diskusi. Rasa ingin tahu yang mendominasi merupakan modal awal untuk meningkatkan motivasi. Mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu dan keyakinan akan kemampuan diri akhirnya akan mendorong motivasi dalam belajar. Kedua hal tersebut merupakan faktor yang penting dalam membangkitkan motivasi belajar secara efektif. Selain itu proses diskusi yang diatur dengan baik oleh dosen merupakan sarana untuk memberi kesempatan diskusi bagi semua mahasiswa. Proses ini membuat mahasiswa memahami kemampuan dirinya, sehingga bagi mahasiswa yang tidak mengerti akan segera menyampaikan dalam kelompoknya atau justru bertanya langsung kepada dosen. Motivasi yang meningkat ditunjukkan mahasiswa selama proses perkuliahan terutama di perkuliahan ke 3 dan ke 4. Pelibatan aktif mahasiswa serta bimbingan intensif dosen dengan cara selalu menanyakan hasil kerja mahasiswa menjadikan proses perkuliahan lebih dinamis. Mahasiswa nampak semakin percaya diri untuk mengemukakan apa yang ada dalam pikiran mereka terkait dengan topik yang dibahas tanpa takut salah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap situasi perkuliahan secara keseluruhan, karena dengan adanya mahasiswa yang sudah mau menyampaikan pendapatnya secara otomatis mahasiswa yang lain akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Hal ini sejalan yang disampaikan oleh Akbas, A., and Kan A., (2007) bahwa kenyataan dalam pembelajaran menunjukkan bahwa seringkali beberapa siswa akan memberikan partisipasi saat proses pembelajaran meskipun sebenarnya mereka mungkin juga mengalami kebingungan. Siswa akan cenderung mematuhi prinsip pembelajaran yang ditetapkan dan tanggungjawab sederhana untuk ikut aktif dalam pembelajaran. Bagaimanapun, harus dipersiapkan motivasi dan diberikan prioritas untuk motivasi saat pembelajaran diantara kewajiban guru dan sekolah. Itu adalah perbedaan prinsip diantara motivasi dan bukan motivasi untuk perilaku siswa. Perkuliahan ke-4 dengan menerapkan model pembelajaran jigsaw, nampak jelas mahasiswa sebenarnya memiliki potensi dan keinginan menjadi lebih maju. Sesi dimana mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan topik yang menjadi tanggungjawabnya untuk disampaikan kepada teman sekelompok dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dengan performa semaksimal yang mereka bisa, dengan percaya diri masing-masing mahasiswa menyampaikan hasil belajar yang sudah dipelajari sebelumnya. Hal ini menjadikan mahasiswa mengalami peningkatan rasa percaya diri, karena seluruh anggota kelompok memberikan kepercayaan untuk menjelaskan apa yang sudah dipelajarinya. Gambaran yang disampaikan menunjukkan bahwa LS yang dilakukan dapat memberi peluang kepada dosen untuk mengembangkan pengetahuan pedagogis secara optimal. Hal ini disebabkan karena melalui LS dosen secara terus menerus berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menerjemahkan kurikulum. Selain itu dengan pertanyaan yang diberikan dosen sebagai stimulus menjadikan mahasiswa memiliki kemampuan untuk menganalisis sekaligus berpikir kritis. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, dosen dapat secara terus menerus memikirkan bagaimana kualitas pertanyaan yang mampu dipecahkan oleh mahasiswa dalam perkuliahan. Pertanyaan bertingkat yang dilakukan tersebut diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk mempertahankan minat belajarnya secara konsisten. Memberikan pertanyaan yang dilakukan dosen sekaligus menjadikan dosen memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi secara terus menerus bentuk kualitas pertanyaan yang akan diberikan dalam perkuliahan. Dosen juga melakukan variasi dalam diskusi dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan apa yang dipikirkannya. Dengan demikian situasi perkuliahan mampu membangun keinginan mahasiswa untuk senantiasa memikirkan alasan logis bagi topik yang diperdebatkan. Semakin sering mahasiswa melakukan diskusi, maka motivasi mahasiswa juga akan meningkat dengan baik. Liu et al (2009) menyampaikan bahwa siswa yang pada hakikatnya memiliki motivasi untuk mengerjakan pekerjaan sekolahnya akan lebih memiliki keinginan untuk tinggal di sekolah, untuk menyelesaikan, juga untuk memahami konsep-konsep yang akan dipelajari, dan memiliki prestasi yang lebih baik dibanding

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 58

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan siswa yang hanya biasa saja dimana mahasiswa tersebut terbiasa mendapatkan motivasi secara eksternal. Plan yang dilakukan selama LS banyak memberikan masukan berdasarkan hasil see setiap kali perkuliahan. Perubahan dilakukan seringkali adalah dengan masukan untuk menerapkan model pembelajaran tertentu sehingga mahasiswa menjadi lebih aktif. Penggunaan model pembelajaran jigsaw, menunjukkan keaktifan mahasiswa meningkat dengan baik. Penggunaan model pembelajaran bervariasi didukung oleh Wall et al (2011) yang menjelaskan bahwa metode non tradisional pada instruksi yang disampaikan guru akan meningkatkan motivasi dan merupakan cara untuk menyampaikan materi yang akan meningkatkan persepsi siswa terhadap pembelajaran. Prestasi mahasiswa sebagai salah satu bagian dari hasil belajar yang diukur dengan post tes menunjukkan rata-rata kelas dengan kriteria cukup. Sekitar 75% mahasiswa mendapatkan nilai di atas 50, yang bisa diartikan bahwa topik yang disampaikan mampu diterima mahasiswa dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan LS sangat membantu dosen untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh kesulitan yang dihadapi mahasiswa. Dengan demikian maka dosen akan mampu mengambil langkah tepat bagi kesulitan yang dihadapi tersebut sehingga masalah yang ditemui dapat tertangani. Lesson study yang didesain dengan baik akan menghasilkan dosen yang prefesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study maka dosen akan dapat (1) menentukan tujuan, satuan pelajaran (unit lesson), dan perkuliahan yang efektif, (2) mengkaji dan meningkatkan proses perkuliahan yang bermanfaat bagi mahasiswa, (3) memperdalam pengetahuan tentang perkuliahan yang disajikan dosen, ( 4) menentukan tujuan jangka panjang yang akan dicapai, (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif, (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku mahasiswa, (7) mengembangkan pengetahuan tentang pembelajaran yang dapat diandalkan, (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakan berdasarkan pandangan mahasiswa dan koleganya (Karim, Muchtar A, 2006). Ketika seseorang termotivasi, pengelolaan dari ketertarikan akan terbentuk melalui perhatian, meningkatkan upaya, dan mencari jalan serta waktu yang dibutuhkan untuk merubah perilaku, lebih fokus dan setia pada subyek yang dipelajari, tidak menyerah mengerjakan sesuatu yang sulit pada dirinya, dan memiliki kekuatan serta ketegasan untuk mengerjakan sampai akhir dan mencari pemecahan masalah terhadap hal yang diamati. Hal ini merupakan suatu hal yang patut dipertimbangkan pada keseluruhan tanggungjawab yang akan mempengaruhi dan mencapai tingkatan akademik dan menekan kegelisahan pada diri siswa. Kesempatan untuk mengemukakan masalah pembelajaran yang dialami menumbuhkan motivasi pada diri mahasiswa. Sebab, dalam kegiatan pembelajaran dengan berbagai cara dan metode seperti yang sudah dirumuskan dalam plan akan menjadikan mahasiswa mampu berbagi pengalaman dan saling belajar sehingga terbentuk kegiatan saling belajar. Motivasi belajar akan meningkat apabila materi yang dipelajari dan kegiatan pembelajarannya dirasakan bermakna bagi dirinya. Kebermaknaan ini lazimnya terkait dengan bakat, minat, pengetahuan, dan tata nilai. Motivasi belajar merupakan faktor yang sangat berarti dalam peningkatan prestasi belajar yang diperoleh pada akhir pembelajaran. Daya nalar dosen saat melakukan plan meningkat ketika diberi kesempatan untuk mengemukakan masalah pembelajaran yang dialaminya. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kelompok. Dalam plan yang melibatkan dosen dengan bidang ilmu serumpun akan menyebabkan terjadinya interaksi tatap muka dengan frekuensi yang tinggi sehingga menyebabkan terjalinnya hubungan psikologis yang nyata, seperti saling rasa memiliki, rasa solidaritas, saling ketergantungan, adanya norma kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok. Hal ini memberikan keuntungan nyata, karena akan dihasilak suatu rencana proses perkuliahan yang akan mampu diterapkan dengan baik. Dosen menjadi mampu memahami akar permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswanya. Hasil kerja kelompok merupakan hasil sharing antar dosen dalam satu kelompok atau antar kelompok. Dosen yang memahami masalah pembelajaran yang sedang dibahas, memberikan penjelasan tentang hal tersebut kepada yang belum tahu. Dosen yang cepat memahami mengajari yang lamban, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya. Dengan kondisi yang demikian, maka tidak mustahil bila terjadi peningkatan daya nalar.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 59

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pembelajaran berbasis Lesson Study merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study yang diimplementasikan secara berkelanjutan menggunakan multistrategi berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar dan merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar. Adanya prinsip kolaboratif, kolegalitas dan mutual learning yang dibangun selama perkuliahan dengan Lesson Study akan meningkatkan kinerja dan keprofesionalan dosen, sehingga dapat memperbaiki dan mengoptimalkan proses perkuliahan. Hal ini akan berdampak terhadap peningkatan motivasi belajar mahasiswa selama proses perkuliahan. Peningkatan motivasi belajar tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar mahasiswa. Lewis et al (2006) menjelaskan bahwa LS merupakan suatu hal yang dapat dijalankan dalam proses pembelajaran seperti layaknya obat yang dapat dipergunakan mengatasi masalah lokal. Bagaimanapun, gambaran tentang LS tidak secara otomatis akan menunjukkan hasil perubahan karena akan banyak hal yang mempengaruhi. Sebagai contoh, kurikulum siswa dan standart pengetahuan guru juga patut dipertimbangkan standart memotivasi kedisiplinan dan diskusi proses pengajaran. Kompetisi lokal yang dapat ditempuh dan susunan mungkin akan membuat sangat sulit bagi guru untuk membangun dan meningkatkan komunikasi pada setting yang sama. LS adalah pemecahan dari keduanya yang akan tergantung dari pelaksanaan dan perencanaan untuk membangun pengetahuan dari guru atau dosen, komitmen bersama, serta sebagai sumber pengetahuan.
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang disampaikan terkait dengan pelaksanaan lesson study (LS) yang sudah dilakukan di program studi pendidikan Biologi IKIP PGRI Madiun dapat disimpulkan bahwa dengan LS maka dosen mampu mengidentifikasi masalah yang ditemui dalam proses perkuliahan yang dilaksanakan. Dengan demikian maka dosen secara kolaboratif mencari solusi permasalahan dan melaksanakannya pada kegiatan perkuliahan berikutnya. Hal ini menjadikan situasi perkuliahan lebih dinamis sehingga mampu memotivasi mahasiswa dan berdampak terhadap hasil belajarnya.
DAFTAR RUJUKAN Akbas, A., and Kan A., 2007. Affective Factors That Influence Chemistry Achievement (Motivation and Anxiety) and the Power of These Factors to Predict Chemestry Achievement-II. Journal of Science Education. Vol. 4.(http://www.tused.org) diakses 30 Oktober 2011. Ginsberg, M.B., and Wlodkowski. 2010. Professional Learning to Promote Motivation and Academic Performance among Diverse Adults. University of Washington-Seattle. (http://raymondwlodkowski.com) diakses 26 Oktober 2011. Liu W.C., Divaran, S., Peer J., Quek, C.L., Wong, F.L.A., and Williams, M.D.,. 2009. Project-Based Learning and Students’ Motivations: The Singapore Context. National Intitute of Education Nananyang Technological University. (http://www.aare.edu.au/04pap/liu04363.pdf) diakses 24 Oktober 2011. Lewis, C., Perry, R., and Murata, A. 2006. How Should Research Contribute to Instructional Improvement? The Case of Lesson Study. ProQuest Education Journals. Vol. 35. (http://www.gdece.nhcue.edu.tw) diakses 30 Oktober 2011. Lewis,C. 2002. Lesson Study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools. Inc. Muchtar, A. Karim. 2006. Apa, Mengapa, dan Bagaimana Lesson Study. Makalah disajikan pada Pelatihan Lesson Study Untuk Mengingkatkan Kompetensi Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP Bidang MIPA dan Bidang Studi lainnya Jenjang SMP/MTS dan SMA/MA Wilayah Indonesia Timur. Santyasa, I Wayan. 2009. Implementasi Lesson Study Dalam Pembelajaran. Makalah disajikan pada Seminar Implementasi Lesson Study dalam Pembelajaran bagi Guru di Kecamatan Nusa Penida. Universitas Pendidikan Ganesha. Wall, D., Dombroski, and Nillas L., 2011. Lesson Study: A Collaborative Process of Improving Instruction and Facilitating Students’ Motivation. Oral Presentation. The John Wesley Powell Student Research Conference.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 60

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN AKTIVITAS KOLABORATIF MAHASISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF PADA PERKULIAHAN EVOLUSI PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI PMIPA FKIP UNIVERSITAS JAMBI

Jodion Siburian
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi, E-mail: jdsiburian@gmail.com

Abstrak: Sering terjadi dalam kerja kelompok bahwa pekerjaan hanya dibebankan pada beberapa anggota saja. Anggota lainnya sering hanya menumpang dalam hasil kerja tersebut. Hal tersebut, menunjukkan kurangnya aktivitas kolaboratif dalam kelompok. Kurang inovatifnya model perkuliahan yang digunakan dapat merupakan salah satu pemicu kurangnya aktivitas kolaboratif dalam kelompok. Melalui kegiatan lesson study merupakan upaya yang bertujuan meningkatkan aktivitas kolaboratif kelompok. Melalui penerapan model pembelajaran inovatif, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif mahasiswa dan hasil belajarnya juga diharapkan dapat meningkat. Kegiatan dilaksanakan pada semester genap 2010/2011 melalui penerapan model pembelajaran model inovatif. Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah: perencanaan pembelajaran (plan), pelaksanaan pembelajaran (do), dan refleksi (see). Lesson study dilakukan 4 kali dengan model yang berbeda yaitu model Jigsaw, STAD, GI dan PBI. Topik: 1) Hukum-hukum yang melatar belakangi spesiasi dan seleksi alam, 2) Hukum-hukum yang melatar belakangi terjadinya favoured races, 3) Pemahaman evolusi dari aspek interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya dan 4) Dampak perkembangan IPTEK terhadap evolusi makhluk hidup, manusia dan teknologi. Implementasi model pembelajaran inovatif menunjukkan adanya peningkatan kerja kolaboratif antar mahasiswa, peningkatan kualitas pembelajaran, dapat mempercepat pelaksanaan perkuliahan dan efektivitas kegiatan belajar mengajar serta meningkatnya hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah evolusi pada Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi. Kata kunci: Aktivitas kolaboratif, Model pembejaran inovatif, Evolusi.

Sering terjadi dalam kerja kelompok bahwa pekerjaan hanya dibebankan pada beberapa anggota saja. Anggota lainnya sering hanya menumpang dalam hasil kerja tersebut. Hal tersebut, menunjukkan kurangnya aktivitas kolaboratif dalam kelompok. Kurang inovatifnya model perkuliahan yang digunakan dapat merupakan salah satu pemicu kurangnya aktivitas dalam kelompok. Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya (Lie, 2010: 32). Berdasarkan pengalaman kegiatan kuliah evolusi pada tahun sebelumnya, mayoritas menggunakan model pembelajaran konvensional, dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang minim. Suwarna, dkk (2005: 106) mengemukakan bahwa dalam metode ceramah, dosen berperan sebagai subyek penyampai informasi serta sebagai pusat perhatian. Dosen lebih banyak berbicara, sedangkan mahasiswa hanya mendengarkan atau mencatat hal-hal yang penting. Komunikasi yang terjadi cenderung satu arah (one way traffic communication). Karena itu, proses perkuliahan dapat membosankan dan kurang menarik bagi mahasiswa. Beberapa hal yang juga sering menjadi kendala dalam pembelajaran evolusi, adanya penjelasanpenjelasan evolusi dari segi filsafat dan agama. Makhluk hidup sering ditafsirkan sebagai suatu hal yang bertentangan dengan teori evolusi biologi. Melalui pembelajaran evolusi dalam perkuliahan, diharapkan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 61

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mahasiswa mampu memahami dan meluruskan konsep, anggapan, persepsi dan kesan lain yang mempertentangkan teori evolusi melalui pemahaman kerja secara kolaboratif melalui berbagai sumber dan teori yang dapat dikuasainya. Media yang digunakan selama proses pembelajaran kadang juga terbatas. Hal ini juga menyebabkan kesulitan mahasiswa untuk memahami materi, mengingat karakteristik materi yang dipelajari termasuk abstrak. Materi kuliah evolusi adalah mengenai manusia sebagai subjek dan sekaligus sebagai Objek (Prawaoto, 2009). Obyek yang dipelajari meliputi perubahan yang terjadi pada makhluk hidup dan lingkungan. Studi mengenai evolusi tidak hanya berkaitan dengan obyeknya tetapi juga berkaitan dengan proses dan faktor yang mempengaruhinya. Permasalahan yang telah dikemukakan, perlu segera diatasi agar perkuliahan lebih optimal Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah implementasi Lesson study. Melalui kegiatan lesson study diharapkan dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif mahasiswa. Agar bisa bekerja secara efektif, anggota perlu terlibat dan memiliki kerja kolaboratif yang saling membangun keberhasilan kelompok. Melalui kegiatan lesson study dengan penerapan model pembelajaran inovatif, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif mahasiswa dan hasil belajarnya. Berdasarkan teori kognitif–konstruktivis, bahwa mahasiswa harus membangun pengetahuan dalam benaknya dan menjadikannya menjadi miliknya. Dengan demikian melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif dan berkelanjutan dengan prinsip kolegalitas dan mutual learning diharapkan dapat membangun kualitas belajar mahasiswa. Melalui kegiatan lesson study, dapat menerapkan berbagai metode ataupun strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik (Hendayana, 2007: 10). Menurut Hollingsworth dan Gina (2008:8), siswa belajar secara aktif ketika mereka secara terus menerus terlibat dalam proses pembelajaran, baik secara mental ataupun fisik. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan suatu cara untuk membuat mahasiswa aktif belajar, sehingga dalam waktu singkat dapat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Menurut Silberman (2009:1), bahwa pembelajaran kooperatif dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Apakah dengan kegiatan Lesson study dengan melalui penerapan model pembelajaran inovatif dapat pada dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif mahasiswa Program Studi Biologi PMIPA FKIP Universitas Jambi pada tahun akademik 2010/2011?
METODE LESSON STUDY

Subjek atau kelas yang dipilih yang dikaji sebagai sumber data adalah mahasiswa reguler, semester 6 atau semester gasal 2010/2011 angkatan 2007 dan mahasiswa yang tertinggal dari angkatan 2006 dengan jumlah mahasiswa angkatan 2007 adalah 40 mahasiswa. Mata kuliah Evolusi, merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Pendidikan Biologi Semester 6 dan 8. Bobot mata kuliah evolusi 2 sks, sehingga pelaksanaan setiap pertemuan 2x50 menit. Model pembelajaran inovatif yang dipilih yaitu menggunakan variasi model dan diupayakan berbantuan media dengan jumlah 4 siklus. Setiap siklus berturut menggunakan model Jigsaw, STAD, GI dan PBI. Kegiatan Lesson study (LS) dilaksanakan dengan tiga tahapan. Tahapan tersebut meliputi perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see). Tahap awal dilakukan adalah pemilihan 4 topik. Topik terpilih yaitu: 1) Hukum-hukum yang melatar belakangi spesiasi dan seleksi alam, 2) Hukumhukum yang melatar belakangi terjadinya Favoured races, 3) Pemahaman evolusi dari aspek interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya (domestikasi, modifikasi dan variasi), dan 4) Dampak perkembangan IPTEK terhadap evolusi makhluk hidup, manusia dan teknologi. Santyasa (2009:8) mengemukakan alasan pemilihan topik dalam pelaksanaan Lesson study (LS) yaitu target dalam mengatasi kelemahan mahasiswa dalam belajar, topik yang bagi dosen sulit mengajarkannya, subjek terkini, misalnya aspek kebaharuan segi isi, teknologi, dan pendekatan pembelajaran, dan memusatkan perhatian pada hal terpenting yang mendasar yang berpengaruh terhadap pembelajaran lainnya

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 62

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tahap perencanaan (plan) yang pertama dilakukan untuk merencanakan pelaksanaan perkuliahan termasuk memperbaiki Rencana Pelaksanaan Perkuliahan (RPP) dan pembuatan Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM). RPP sebagai rambu-rambu pelaksanaan proses perkuliahan sangat perlu dibuat agar pelaksanaannya berjalan lancar. LKM dibuat untuk pegangan mahasiswa dalam melaksanakan diskusi memahami materi. LKM dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka sehingga lebih bermakna. Surachman (2001) menyatakan bahwa Lembar Kegiatan Mahasiswa yang bersifat terbuka (unstructured, unguided, free inquiry,free discovery) memberi makna adanya pemberian peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan daya nalarnya. Pembentukan kelompok perlu dilakukan setelah plan dengan faktor pertimbangannya adalah kemampuan atau pemahaman dasar evolusi setiap mahasiswa. Hal ini diantisipasi dengan pelaksanaan test general bagi mahasiswa. Kelompok disusun dengan komposisi jenis kelamin (putra-putri) dan tingkat pemahaman awal yang heterogen. Mahasiswa yang nilai test awal agak kurang didistribusikan ke berbagai kelompok dan disarankan untuk dijadikan koordinator kelompok bergantung pada kondisi kelompok. Inovasi tahap pelaksanaan (do) mengikuti skenario pembelajaran masing-masing variasi model pembelajaran. Topik 1 menggunakan model pembelajaran Jigsaw, topik 2 menggunakan model pembelajaran STAD, topik 3 dengan model GI dan topik 4 menggunakan model PBI. Data yang diambil adalah data kwalitatif (aspek aktivitas belajar, diperoleh menggunakan lembar pengamatan) dan data kwantitatif (data hasil belajar), diperoleh melalui tes yang diadakan setiap akhir siklus, menggunakan instrumen soal berbentuk objektif. Teknik pengumpulan data aktivitas menggunakan lembar observasi terbuka, dengan observer terdiri dari 4 orang sebagai tim lesson study. Observasi terutama ditujukan pada interaksi yang terjadi antar mahasiswa dalam kelompok, interaksi antar mahasiswa dalam diskusi kelompok dan kelas, interaksi model dengan mahasiswa selama proses pembelajaran, persentase mahasiswa aktif. Para observer tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi pada kegiatan yang dilakukan mahasiswa, sehingga tidak merasa terganggu dengan kehadiran para observer. Tahapan berikutnya dari kegiatan lesson study adalah See (Refleksi), peserta kegiatan refleksi adalah para observer yang berjumlah 4 orang. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif berdasarkan lembar pengamatan aktivitas selama proses pembelajaran. Sedangkan analisis hasil belajar mahasiswa berpedoman pada pola sesuai dengan penilaian nilai akhir perkuliahan dengan distribusi persentasi kelulusan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penerapan model pembelajaran inovatif pada perkuliahan evolusi pada Program Studi Pendidikan Biologi PMIPA FKIP Universitas Jambi memiliki dampak yang positif terhadap peningkatan aktivitas mahasiswa. Aktivitas yang tercatat observer terutama dalam memberikan jawaban, tanggapan, memberi pendapat pada saat proses pembelajaran berlangsung. Keaktifan siswa ditunjukkan dengan adanya perubahan sikap dan kerjasama dalam kelompok, yang lebih positif setelah diterapkannya model pembelajaran inovatif. Diperoleh peningkatan persentasi aktivitas mahasiswa yang mendukung peningkatan hasil belajar (Tabel 1) Berdasarkan hasil observasi, setiap siklus terlihat peningkatan aktivitas belajar mahasiswa pada siklus 1 adalah 3,2 , pada siklus 2 menjadi 3,4 dan siklus 3 dan 4 adalah 3,5 dan 3,6. Aktivitas tersebut tergolong sangat aktif. Gambaran aktivitas tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Tabel 1. Hasil pengamatan terhadap persentase aktivitas mahasiswa pada kegiatan Lesson study melalui penerapan model pembelajaran inovatif .
Aspek yang diamati dalam kegiatan pembelajaran Memperhatikan apa yang disampaikan Menjawab pertanyaan Bekerjasama dengan teman dalam menjawab soal/permasalahan / mengerjakan LKM 1 2,85 2,00 3,31 Siklus 2 3 2,62 2,62 2,15 2,08 3,62 3,62 4 2,62 2,08 3,69

No 1 2 3

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 63

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
4 5 6 7 8 9 Mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar Bertukar pendapat antar teman dalam kelompok Mengambil keputusan dari jawaban yang dianggap paling benar Mempresentasikan/menyebutkan jawaban di depan kelas Merespon jawaban teman Ketelitian, kecermatan, ketepatan, dan kecepatan dalam mengerjakan soal/permasalahan Rata-rata aktivitas Kelas 3,46 3,15 2,77 2,46 3,46 2,77 3,1 3,08 3,46 3,23 3,62 3,54 3,08 3,4 3,46 3,46 3,46 3,62 3,23 3,08 3,5 3,54 3,54 3,54 3,69 3,69 3,08 3,6

Grafik 1. Hasil pengamatan terhadap persentase aktivitas mahasiswa pada kegiatan Lesson study melalui penerapan model pembelajaran inovatif. Pelita (2009: 15, 36) mengemukakan bahwa alasan kegiatan kelompok yaitu bagi mahasiswa yang lambat dapat belajar lebih baik dengan bantuan mahasiswa yang cepat menangkap pelajaran. Mahasiswa yang cepat menangkap dan memperdalam pemahaman dapat memberi penjelasan subyek pada yang lambat. Seluruh mahasiswa dapat menyelesaikan permasalahan dengan mendengarkan dan memanfaatkan pemikiran dan gagasannya serta membangun hubungan yang lebih baik. Mulyasa (1996: 102-103) menyatakan bahwa kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidaknya 75% peserta didik (mahasiswa) terlibat aktif, baik secara fisik, mental maupun sosial dalam pembelajaran. Selain itu juga menunjukkan kegiatan belajar yang tinggi, semangat yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri mahasiswa seluruhnya atau setidaktidaknya 75%. Model perkuliahan yang digunakan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan, sehingga dengan adanya variasi model dimaksud maka keunggulan yang satu dapat menutupi kelemahan model yang lain. Model kooperatif diterapkan terutama bermakna sebagai suatu model activen learning di mana tugas-tugas diberikan kepada masing-masing kelompok untuk dibahas dengan kerjasama. Setiap anggota kelompok meharus memahami dan dapat menjelaskan kepada mahasiswanya. Setiap anggota kelompok ditugaskan mendiskusikan dan memahami materi yang diberikan dan berkewajiban mempresentasikan hasil diskusi dalam kelompoknya. Metode tanya jawab juga digunakan agar kelas menjadi lebih hidup dan lebih aktif, memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya, sehingga dosen mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh mahasiswa, serta komunikasi dan interaksi yang terjadi tidak hanya satu arah. Hasil refleksi (see) topik 1 menunjukkan bahwa mahasiswa sudah aktif mengikuti perkuliahan dan diskusi. Hambatan yang masih ditemui yaitu waktu perkuliahan belum optimal karena melebihi waktu seharusnya. Hal ini dapat diantisipasi yaitu presentasi dilaksanakan tanpa harus menampilkan semua kelompok. Presentasi dilakukan di akhir perkuliahan dengan tujuan agar terjadi pertukaran informasi antar kelompok. Materi kuliah evolusi merupakan materi yang menarik perhatian mahasiswa karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pertanyaan beragam dari mahasiswa pada akhir perkuliahan (sesi tanya jawab) merupakan salah satu indikator peningkatan kualitas perkuliahan dan tumbuhnya partisipasi

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 64

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) interaktif antar mahasiswa, bahkan di awal legiatan LS, cenderung mahasiswa saling berlomba untuk memberikan tanggapan maupun saran dan reaksi terhadap presentasi kelompok. Waktu pelaksanaan (do) topik 2 masih melebihi waktu yang sudah ditentukan. Hal ini disebabkan kesulitan mahasiwa dalam memperoleh sumber materi serta bahan dari textbook dalam bahasa Inggris. Textbook yang diberikan ke mahasiswa merupakan textbook Evolution 3rd.Ed. Strickberger, M.W. 2000. dan Ridley, M. 1993. Evolution. Blackwell Scientific Publications, Oxford London, Edinburgh, sehingga diharapkan informasi yang didapat lebih baik. LKM yang belum terjawab atau dikerjakan, diantisipasi dengan menggunakan buku-buku yang berbahasa Indonesia. Model juga memberi dorongan kepada setiap kelompok agar dapat menyelesaikan tugas dan menampilkan presentasi. Apabila terdapat kekurangan, diharapkan dapat diatasi dengan pemberian masukan dari kelompok lain yang mendapat topik sama dan dapat memahami lebih baik. Dengan cara ini mahasiswa saling menunjukkan kesulitan yang dialami dan memandu kelompok untuk mencapai kesimpulan dengan bantuan mahasiswa lain. LKM kemudian dikumpulkan karena presentasi juga tidak harus selalu dapat dipresentasikan masingmasing kelompok didepan kelas tetapi mengumpulkan LKM juga bisa dikatakan cukup. Pelita (2009: 39) mengemukakan bahwa presentasi tidak harus selalu berbentuk ucapan lisan di depan kelas. Pengumpulan Lembar Kegiatan serta menuliskan jawaban atau tabel rangkuman di papan tulis bisa dikatakan sudah cukup. Hambatan lain yang dihadapi pada do topik 2 adalah masih adanya di antara anggota kelompok yang tidak aktif mengikuti diskusi dengan model perkuliahan yang digunakan. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi terlebih dahulu yaitu mahasiswa yang hasil test general kurang, justru dijadikan koordinator kelompok, meski dalam praktienya masih ada anggota kelompok yang lebih mampu menjadi koordinator. Model juga sudah meminta yang presentasi adalah koordinator kelompok, tetapi kondisinya masih ada yang diwakilkan pada yang lebih mampu berkomunikasi. Pelita (2009: 39) menyatakan bahwa dosen juga harus mendorong siswa yang pasif dan pendiam untuk melakukan presentasi. Penilaian antar teman dilakukan untuk mengetahui inisiatif, kerjasama, keaktifan dan tanggungjawab masing-masing anggota dari sudut pandang anggota lain dalam kelompok tersebut. Hal ini juga diamati observer selama proses perkuliahan yang menunjukkan dan mencatat ada kelompok yang kurang berhasil mengkoordinasi kelompoknya dan justru cenderung pasif. Mahasiswa dengan nilai test awal lebih baik, cenderung memiliki nilai inisiatif, kerjasama, aktivitas, dan tanggung jawab lebih dibandingkan anggota kelompok lain. Pelaksanaan topik 3 dan 4 sudah tidak mengalami hambatan dalam hal waktu, karena di awal perkuliahan juga sudah makin ditegaskan untuk disiplin dalam menggunakan alokasi waktu. Mahasiswa aktif dalam perkuliahan, diskusi dan tanya jawab. Materi perkuliahan telah disiapkan dan mahasiswa sebelumnya sudah diminta membaca materinya terlebih dahulu. Model setelah memberi penjelasan di awal perkuliahan dan meminta mahasiswa berdiskusi bagian materi yang belum dipahami. Hasil diskusi kemudian memunculkan pertanyaan mengenai materi yang belum dimengerti sehingga dilakukan sesi tanya jawab. Sesi ini dilaksanakan dengan lancar dan mahasiswa aktif mengikutinya. Tahapan berikutnya dari kegiatan lesson study adalah See (Refleksi) dengan peserta adalah observer berjumlah 4 orang. Kegiatan refleksi dipimpin oleh seorang dosen dari Prodi Biologi. Model menyampaikan pada pembelajaran, ada perasaan grogi dengan kehadiran banyak observer. Model juga merasa kekurangan waktu untuk memberikan pemahaman konsep dan melaksanakan evaluasi. Observer secara bergantian menyampaikan kesannya terhadap pembelajaran yang mereka saksikan. Dari kegiatan refleksi terungkap beberapa tanggapan observer, yaitu secara umum pembelajaran berjalan sangat baik. Mahasiswa terlibat aktif dalam kelompok maupun diskusi kelas. Yang perlu ditambahkan adalah cara memberikan penghargaan terhadap mahasiswa dengan cara memberikan kesempatan menjawab atau menyampaikan hasil diskusi. Beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan adalah kemampuan mahasiswa dalam mengkomunikasikan hasil diskusi. Penggunaan model, perlu dikaji ulang untuk dapat diujicoba kembali untuk memberi kesempatan k ep a da model lebih lama dalam menanamkan konsep. Hal-hal yang disampaikan para observer menjadi masukan yang sangat berharga untuk model dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 65

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Akhir perkuliahan dilaksanakan rekap hasil belajar nahasiswa. Hasil belajar mahasiswa adalah mahasiswa yang mendapat nilai 80-100 dengan kriteria A (18); 75-79,99 kriteria B+ (17) dan 70-74,99 kriteria B (5). Nilai didominasi nilai A sejumlah 45%, nilai B+ sejumlah 42,5% dan nilai B sejumlah 12,5%, yang merupakan salah satu indikator bahwa materi sudah lebih dipahami oleh mahasiswa melalui penerapan model inovatif. Rata-rata nilai mahasiswa dalam kelas adalah 78 dengan kriteria B+. Demikian juga pada siklus 1, 2 dan 4 dengan rata rata 77, 79 dan 77 masing masing kategori B+. Sedangkan pada siklus 3 rata-rata hasil belajar siswa adalah 81 dengan kategori A. Tabel 2. Rata-rata hasil belajar mahasiswa pada kegiatan Lesson study melalui penerapan model pembelajaran inovatif
Nilai Mahasiswa Rata-rata Kelas Siklus 1 77 2 79 3 81 4 77 Rata-rata 78

Hasil refleksi dari ke-4 topik menunjukkan variasi model perkuliahan mendekatkan mahasiswa pada kemampuan belajar dengan model active learning, Masing masing mahasiswa, harus bertanggung jawab terhadap obyek yang dipelajari, kelompok dan dirinya sendiri. Penggunaan media dalam implementasi lesson study, menyebabkan mahasiswa berusaha untuk dapat memahami materi perkuliahan dengan baik. Briggs dalam Sudiman (1984: 6) berpendapat bahwa media merupakan segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar, oleh karena itu, kehadiran media dalam pembelajaran tidak mungkin diabaikan. Dalam proses pembelajaran, kehadiran media sangat penting terutama dalam menyajikan model berbasis kompetensi yang ingin dicapai (modelling). Implementasi lesson study pada mata kuliah evolusi menunjukkan adanya peningkatan kualitas perkuliahan baik dari segi proses maupun hasil. Cerbin & Kopp dalam Sudrajat (2008: 2) mengemukakan bahwa lesson study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk: 1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mahasiswa belajar dan dosen mengajar; 2) memperoleh hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan para dosen lainnya, di luar peserta lesson study; 3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. 4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang dosen dapat menimba pengetahuan dari dosen lainnya. Sedangkan Argawinata (2009: 1) menyatakan bahwa lesson study pada dasarnya melibatkan sekelompok orang yang melakukan perencanaan, implementasi, dan refleksi pasca pembelajaran secara bersama-sama sehingga membentuk suatu komunitas belajar yang secara sinergis diharapkan mampu menciptakan terobosan-terobosan baru dalam menciptakan pembelajaran inovatif. Dengan cara seperti ini, maka setiap anggota komunitas yang terlibat sangat potensial untuk mampu melakukan self-development sehingga memiliki kemandirian untuk berkembang bersama-sama dengan anggota komunitas belajar lainnya secara kolaboratif. Lesson study sangat efektif karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para model untuk dapat: 1) memikirkan secara lebih teliti tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada mahasiswa, 2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan perkuliahan untuk kepentingan masa depan mahasiswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berpikir mahasiswa, serta kegandrungan mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan, 3) mengkaji tentang halhal terbaik yang dapat digunakan dalam perkuliahan melalui belajar dari dosen lain (peserta atau partisipan lesson study), 4) belajar tentang isi atau materi perkuliahan dari dosen lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada mahasiswa, 5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan perkuliahan maupun selama berlangsungnya kegiatan perkuliahan, 6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para dosen bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan mahasiswa, dan 7) mengembangkan “the eyes to see students”, dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar mahasiswa bisa semakin detail dan jelas (Lewis (2004) dalam Sudrajat, 2008: 1) . Implementasi lesson study secara berkelanjutan akan mempercepat peningkatan profesionalisme dosen dalam pelaksanaan perkuliahan. Putra (2008: 1) menyatakan bahwa peningkatan keprofesionalan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 66

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dosen akan diikuti oleh peningkatan keefektifan kegiatan belajar mengajar dan secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Implementasi lesson study pada mata kuliah evolusi pada tahun ajaran 2010/2011 dilakukan dengan tahapan perencanaan pembelajaran (plan), pelaksanaan pembelajaran (do), dan refleksi (see), dan dapat berlangsung dengan baik. 2. Hasil lesson study menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kolaboratif peningkatan kualitas pembelajaran matakuliah evolusi melalui penerapan model pembelajaran inovatif Jigsaw, STAD, GI dan PBI. 3. Implementasi lesson study secara berkelanjutan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan perkuliahan, dan secara tidak langsung berdampak pada peningkatan mutu perkuliahan khususnya. Saran 1. Perlu dilakukan implementasi lesson study pada topik-topik mata kuliah evolusi selanjutnya maupun pada mata kuliah lainnya. 2. Observer perlu tidak hanya dari tim teaching tetapi juga dari dosen lain yang serumpun. 3. Diseminasi implementasi lesson study perlu dilakukan antar Prodi agar dapat saling sharing pengalaman dengan dosen lain yang juga dapat memberi pengalaman dan saran untuk perbaikan pelaksanaan perkuliahan.
DAFTAR RUJUKAN Argawinata, A. 2009. Bagaimana melaksanakan Lesson study. http:// www. lpmpjabar. go.id. Djamarah, S.B, 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha nasional. Djamarah, S.B. dan Aswan, Z. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hendayana, dkk. 2007. Lesson study suatu strategi untuk meningkatakan keprofesionalan pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA). UPI Press. Bandung. Hollingsworth, P dan Gina, L. 2008. Pembelajaran Aktif : Meningkatkan Keasyikan Kegiatan di Kelas. Jakarta: PT Indeks. Lie, A. 2010. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo. Mulyasa, E. 1996. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Remaja Rosda Karya, Bandung. Prawoto, Sudjoko dan Mariyam, S.S. 1998. Materi Pokok Evolusi. Universitas Terbuka. Jakarta. Putra, W.E., 2008. Peningkatan profesionalisme guru melalui Lesson study .lessonstudy.0308widarso.html. Ridley, M. 1993. Evolution. Blackwell Scientific Publications, Oxford London, Edinburgh. Sanjaya, W. 2009. Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Santyasa, I.W. 2009. Implementasi Lesson study dalam pembelajaran. Disajikan dalam Seminar Lesson study dalam pembelajaran bagi guru-guru TK, Sekolah Dasar, dan sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Nusa Penida. Silberman, M. 2009. Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yokyakarta: Yappendis. Strickberger, M.W. 2000. Evolution 3rd.Ed. Jones and Bartlett Publishers International, London. Sudiman, A. 1984. Media pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta Sudrajat, A. 2008. Lesson study untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. http:// www.lessonstudy.Blogwordpress.com. Surachman. 2001. Pengembangan bahan ajar. FMIPA UNY, Yogyakarta Suwarna. 2005. Pengajaran Mikro, pendekatan praktis menyiapkan pendidik profesional. Tiara Wacana, Yogyakarta Yamin, M. 2003. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Galang Persada Press.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 67

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Zaifbio. 2011. Model-Model Pembelajaran. http:// zaifbio.wordpress.com/2009/07/ 01/ model-model-pembelajaran/. Diakses tanggal 25 Januari 2011.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 68

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PERAN LESSON STUDY DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF PADA MATAKULIAH HISTOLOGI

Amy Tenzer, Nursasi Handayani, Umie Lestari, Titi Judani, Abdul Gofur
Jurusan Biologi FMIPA UM, amy_tenzer954@gmail.com

Abstrak: Untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar dan tidak optimalnya hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Histologi di Jurusan Biologi FMIPA UM, dilakukan kegiatan lesson study oleh seluruh pengampu matakuliah, dengan mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif. Strategi pembelajaran yang dipilih adalah cooperative script; self regulated learning; dan problem posing dan talking bottle. Hasil pelaksanaan lesson study menunjukkan bahwa lesson study berperan penting dalam 1) memungkinkan dosen untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang berkualitas; 2) memungkinkan para dosen untuk mengobservasi dan mengkaji pembelajaran secara cermat; 3) memungkinkan dosen untuk melihat keberhasilan pembelajarannya melalui mata orang lain; 4) memungkinkan dosen untuk memperkaya wawasan pembelajaran yang inovatif; 5) memungkinkan dosen untuk mengetahui kekurangannya dalam pembelajaran sehingga dapat memperbaiki diri; 6) memungkinkan dosen untuk memperdalam pengetahuan tentang materi pokok yang diajarkan; dan 7) meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif, yang berdampak pada peningkatan motivasi belajar mahasiswa. Dengan demikian pembelajaran berbasis lesson study perlu terus dikembangkan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Histologi. Kata Kunci: Lesson study, Strategi Pembelajaran Inovatif, Histologi.

Histologi (BIO 415) merupakan Matakuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang disajikan untuk mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA UM pada semester 3 (gasal), dengan bobot 3 sks/ 5 js. Standar kompetensi matakuliah ini adalah: 1) hard skill: memahami struktur histologi jaringan dan organ-organ yang membangun tubuh manusia, serta mampu menggunakan dan merawat mikroskop secara benar, 2) soft skill: mampu bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja dengan teliti, bekerja tepat waktu, menghargai pendapat orang lain. Perkuliahan Histologi terdiri atas teori dan praktikum. Pelaksanaan kegiatan perkuliahan teori dilakukan dengan metode ceramah, presentasi, diskusi dan pemberian tugas. Mahasiswa terlihat kurang serius dan kurang antusias mengikuti kegiatan perkuliahan. Hanya sekitar 40% mahasiswa yang aktif dalam presentasi makalah, maupun diskusi. Penyajian makalah dilakukan secara kurang serius, demikian pula ketika menjawab pertanyaan ataupun menanggapi materi yang disajikan; tidak tampak adanya kerjasama antar anggota kelompok. Ketika mengikuti penjelasan dosen yang disampaikan menggunakan LCD projector, hanya mahasiswa tertentu yang umumnya memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata, yang mau mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan dosen. Kegiatan praktikum Histologi berupa pengamatan preparat mikroskopis dengan panduan petunjuk praktikum dan Atlas Histologi, dan mahasiswa menggambar pengamatannya dalam buku gambar. Jumlah mikroskop, preparat, dan Atlas Histologi yang tersedia masih kurang optimal, sehingga seringkali mahasiswa tidak dapat menyelesaikan tugas pengamatannya ketika jam praktikum berakhir. Di samping Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 69

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) itu, metode praktikum yang tidak bervariasi membuat mahasiswa merasa bosan dan tidak bersemangat. Kondisi tersebut sesuai dengan pendapat Munir (2001), ada 7 hal yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa, yaitu: sistem pengajaran monoton, tidak banyak tantangan, tidak muncul variasi pengajaran, tidak adanya sikap kompetisi sesama siswa, belum cukupnya alat peraga, kurang adanya praktek di lapang, siswa belajar soal bukan belajar ilmu. Untuk mengatasi masalah kurangnya motivasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan Histologi, diperlukan peningkatan kualitas pembelajaran melalui pengimplementasian strategi pembelajaran inovatif, yaitu pembelajaran yang dikemas atas dorongan gagasan baru untuk melakukan langkah-langkah belajar dengan metode baru sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar (Suyatno, 2009). Salah satu alasan dipilihnya lesson study sebagai basis upaya peningkatan kualitas pembelajaran adalah karena lesson study yang di desain dengan baik akan menghasilkan dosen yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanaan lesson study para dosen dapat: 1) menentukan tujuan perkuliahan, satuan perkuliahan dan metode perkuliahan yang efektif; 2) mengkaji dan meningkatkan pembelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswa; 3) memperdalam pengetahuan tentang materi perkuliahan yang disajikan; 4) menentukan tujuan jangka panjang yang akan dicapai mahasiswa; 5) merencanakan perkuliahan secara kolaboratif; 6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku mahasiswa; 7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan 8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan mahasiswa dan koleganya (Lewis, 2002, dalam Ibrohim dan Syamsuri, 2010). Langkah awal yang diperlukan dalam aplikasi program lesson study adalah semangat keterbukaan dan semangat mengkritik diri sendiri dalam merancang, melaksanakan, dan merefleksi pembelajaran (Ibrohim dan Syamsuri, 2010). Upaya peningkatan kualitas pembelajaran Histologi dilakukan melalui pendekatan lesson study (LS). Pada hakikatnya lesson study merupakan aktivitas siklikal berkesinambungan yang memiliki implikasi praktis dalam pendidikan. Secara sederhana, lesson study diartikan sebagai suatu kegiatan pengkajian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh sekelompok guru guna meningkatkan kualitas pembelajarannya (Ibrohim dan Syamsuri, 2010). Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan, maka perlu diupayakan tentang bagaimana merancang dan mengimplementasikan pembelajaran inovatif dalam perkuliahan Histologi agar dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
PELAKSANAAN LESSON STUDY

Lesson Study dilakukan pada matakuliah Histologi pada semester sebanyak gasal 2011/2012 sebanyak tiga putaran, selama bulan September sampai Oktober 2011. Secara umum, lesson study pada ketiga putaran tersebut dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. Tahap plan: a) dosen model menyusun Satuan Acara Perkuliahan (SAP); b) RPP didiskusikan bersama sejawat pengampu matakuliah Histologi untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan. Tahap plan dilakukan seminggu sebelum pelaksanaan pembelajaran, untuk merancang sebuah pendekatan, metode, dan teknik-teknik tertentu yang dapat menciptakan kondisi pembelajaran kelas yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan, yang membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar. Tahap do: a) dosen pengampu secara bersama-sama menyiapkan media pembelajaran; b) dosen model melaksanakan pembelajaran sesuai rancangan yang telah dibuat secara kolaboratif pada tahap plan; dosen pengampu lainnya bertindak sebagai observer dengan fokus utama pada kegiatan belajar siswa. Tahap see: a) Salah satu dosen pengampu bertindak sebagai moderator yang mengatur jalannya diskusi; b) dosen model menyampaikan refleksi diri mengenai pembelajarannya; c) dosen pengampu menyampaikan hasil observasinya; d) seluruh dosen pengampu merumuskan lesson learned dari kegiatan pembelajaran yang baru dilaksanakan. Tahap see dilaksanakan pada hari yang sama dengan tahap do, dan bertujuan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pembelajaran yang baru dilakukan. Pembelajaran yang dilaksanakan dalam lesson study pada matakuliah Histologi di Jurusan Biologi FMIPA UM pada semester genap 2010/2011 tertera pada Tabel 1 berikut.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 70

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel 1. Daftar Pembelajaran Berbasis Lesson Study yang dilaksanakan pada Histologi di Jurusan Biologi FMIPA UM pada semester genap 2010/2011
LS keI II III Tanggal 15-9-2011 13-10-2011 17-10-2011 Dosen Model Dra. Nursasi Handayani, M.Si Dra. Amy Tenzer, M.S. Dra. Amy Tenzer, M.S. Topik Jaringan Otot dan Jaringan Saraf Sistem Pencernaan Digestive System Strategi Cooperative Script Self Regulated Learning Problem Posing & Talking Bottle

Pelaksanaan strategi Cooperative Script pada tahap Do di LS I diawali dengan kegiatan awal di mana cara satu minggu sebelum pembelajaran dosen telah memberi tugas pada setiap mahasiswa untuk membaca literatur mengenai Jaringan Otot dan Jaringan Saraf dan menjawab pertanyaan mengenai jaringan otot untuk mahasiswa bernomor presensi ganjil, dan mengenai jaringan saraf untuk mahasiswa bernomor presensi genap. Kemudian pada kegiatan inti Dosen menginstruksikan masing-masing kelompok untuk mendiskusikan jawaban pertanyaan yang telah mereka kerjakan sebelumnya. Dosen menginstruksikan setiap dua mahasiswa dengan kode yang berbeda untuk membentuk pasangan, kemudian meminta masingmasing saling memberi penjelasan mengenai materi yang telah dipelajarinya bersama kelompok besar. Dosen memimpin diskusi kelas melalui pengajuan beberapa pertanyaan (pertanyaan tentang sub topik A harus dijawab oleh mahasiswa berkode B, begitu juga sebaliknya), dan memberi kesempatan kepada mahasiswa lainnya untuk menanggapi jawaban temannya. Kegiatan akhir dilakukan dengan pemberian penguatan dan penarikan kesimpulan. Pelaksanaan SRL pada tahap Do di LS II dilakukan dengan kegiatan awal di mana satu minggu sebelum pembelajaran dosen telah memberi tugas pada setiap mahasiswa untuk membaca literatur dan membuat pertanyaan beserta jawaban (jumlah tidak dibatasi). Dosen membagi mahasiswa ke dalam kelompok dalam kegiatan inti. Dosen mengatur pelaksanaan turnamen (adu tanya jawab). Setiap sesi ada kelompok yang bertugas sebagai penanya, penjawab, dan juri. Terdapat 3 sesi turnamen, setiap kelompok pernah menjadi penanya, penjawab, dan juri. Setiap sesi berdurasi 15 menit, dengan 5 pertanyaan. Dosen mengumumkan nilai yang diperoleh masing-masing kelompok. Dosen mengumpulkan pertanyaanpertanyaan yang belum ditanyakan atau yang tidak dapat dijawab dengan benar oleh masing-masing kelompok dan memandu diskusi kelas untuk mencari jawabannya. Kegiatan inti diakhiri dengan penguatan dari dosen. Kemudian kegiatan akhir diisi dengan post-test. Pelaksanaan strategi pembelajaran Problem Posing dan Talking Bottle pada tahap Do di LS III diawali dengan kegiatan awal di mana satu minggu sebelum pembelajaran dosen telah memberi tugas pada setiap kelompok mahasiswa (ada 6 kelompok) untuk membaca literatur dan berdiskusi untuk membuat pertanyaan yang bersifat problematis beserta jawaban (jumlah tidak dibatasi) mengenai struktur histologi organ-organ penyusun sistem pencernaan manusia. Setiap pertanyaan harus ditulis dalam sehelai kertas kecil. Dosen telah mempersiapkan materi dalam bentuk Powerpoint dan dapat dipelajari mahasiswa secara online. Kemudian pada kegiatan inti dosen menginstruksikan kelompok-kelompok mahasiswa untuk saling bertukar pertanyaan. Dosen meminta mahasiswa duduk berkelompok, kemudian berdiskusi untuk menjawab pertanyaan yang diterimanya dari kelompok lain dalam waktu 15 menit. Setelah waktu 15 menit habis, dosen menginstruksikan mahasiswa untuk mengakhiri diskusi dan memasukkan pertanyaan yang belum atau didak bisa dijawab ke dalam botol plastik. Dosen mengundi kelompok yang harus mempresentasikan hasil diskusinya. Tahap selanjutnya adalah dosen memimpin permainan “talking bottle”. Dosen memutarkan sebuah musik dan meminta mahasiswa mengedarkan botol berisi pertanyaan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Ketika musik dimatikan, mahasiswa penerima botol harus membukanya, mengambil satu pertanyaan secara acak, dan menjawabnya. Demikian terjadi berulang kali. Dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa lainnya untuk menyempurnakan jawaban teman-nya. Dosen memberi pujian dan tambahan skor untuk mehasiswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Dosen memberi penguatan konsep untuk mengakhiri kegiatan inti. Kegiatan akhir hanya berupa pengambilan kesimpulan atas materi yang diberikan. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 71

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan pelaksanaan LS I, aspek positif yang dapat menjadi pelajaran berharga adalah strategi pembelajaran cooperative script dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Pemilihan anggota kelompok maupun pasangan yang dilakukan sendiri oleh mahasiswa membuat mereka merasa nyaman dan dapat mengikuti pembelajaran dengan aktif. Kegiatan peer tutoring dalam pembelajaran cooperative script dapat memacu mahasiswa untuk menguasai konsep, karena adanya tuntutan tanggungjawab untuk memberi penjelasan pada pasangannya dengan sebaikbaiknya. Masing-masing anggota kelompok LS dapat memperoleh pelajaran berharga melalui LS. Kemudian berdasarkan pelaksanaan LS II aspek positif yang dapat menjadi pelajaran berharga adalah tugas membuat pertanyaan yang bersifat problematis dalam strategi SRL dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. Dalam strategi pembelajaran SRL mahasiswa dapat menangkap konsep melalui kegiatan membaca referensi, membuat pertanyaan beserta jawabannya (sebagai tugas rumah), menjawab pertanyaan, mendengarkan jawaban dan menilai jawaban (dalam turnamen), dan menjawab pertanyaan dalam diskusi kelas. Adanya turnamen (adu tanya jawab) memotivasi mahasiswa untuk dapat mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya. Adanya pengumuman perolehan nilai turnamen dan penetapan kelompok terbaik dapat meningkatkan motivasi mahasiswa. Pemberian pos tes pada kegiatan akhir dapat membuat dosen mengetahui hasil belajar mahasiswa, dan mengetahui hubungan antara aktivitas mahasiswa dan hasil belajarnya. Masing-masing anggota kelompok LS dapat memperoleh pelajaran berharga melalui LS. Aspek positif dari pelaksanaan LS III yang cukup berharga untuk dicermati adalah pemberian tugas membaca literatur dan membuat pertanyaan sebelum pembelajaran membuat mahasiswa mempunyai bekal dan lebih siap siap untuk mengikuti pembelajaran. Tugas membuat pertanyaan yang bersifat problematis dalam strategi problem posing dan talking bottle dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. Strategi pembelajaran problem posing dan talking bottle membuat mahasiswa dapat menangkap konsep melalui kegiatan membaca referensi, membuat pertanyaan beserta jawabannya (sebagai tugas rumah), diskusi kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menjawab pertanyaan dalam permainan talking bottle, mendengarkan jawaban dan presentasi mahasiswa lainnya. Pembelajaran dengan strategi problem posing dan talking bottle berlangsung dalam suasana gembira dan bersemangat sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Pembelajaran ini menuntut mahasiswa untuk melakukan banyak aktivitas, dengan demikian dapat melatih dan mempertajam soft skillnya.
PEMBAHASAN

Pada abad pengetahuan, yaitu abad 21, diperlukan sumber daya manusia dengan kualitas tinggi yang memiliki keahlian, yaitu mampu bekerja sama, berpikir tingkat tinggi, kreatif, terampil, memahami berbagai budaya, mampu berkomunikasi, dan mampu belajar sepanjang hayat (life long learning) (Trilling and Hood, 1999, dalam Arnyana, 2006). Untuk itu, dosen selaku fasilitator dalam perkuliahan perlu selalu berkreasi untuk merancang pembelajaran yang inovatif, yaitu pembelajaran yang menggunakan ide atau teknik/metode yang baru untuk melakukan langkah-langkah belajar, sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar yang diinginkan. Telah dilakukan tiga putaran lesson study (LS) untuk merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran inovatif dalam matakuliah Histologi. Seperti dinyatakan oleh Lewis (2002, dalam Ibrohim dan Syamsuri, 2010), bahwa apabila seorang guru atau dosen ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara paling jelas untuk ditempuh adalah melakukan kolaborasi dengan guru atau dosen lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukannya. Adapun peran LS dalam pengembangan strategi pembelajaran inovatif dalam perkuliahan Histologi yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama, LS memungkinkan dosen pengampu matakuliah untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang berkualitas. Perancangan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif akan memunculkan masukan dan ide-ide positif dari para dosen lainnya, sehingga membuat rancangan pembelajaran lebih berkualitas. Kedua, LS memungkinkan para dosen untuk mengobservasi dan mengkaji pembelajaran secara cermat. Dosen dapat melalukan observasi secara objektif

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 72

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan tinjauan utama pada aktivitas siswa, selanjutnya menganalisis hasil observasinya dan menarik kesimpulan mengenai berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran yang telah dirancang. Peran Ketiga LS adalah memungkinkan dosen untuk melihat keberhasilan pembelajarannya melalui mata orang lain. Ada kalanya dosen kesulitan untuk menilai keberhasilan pembelajarannya sendiri, karena keterbatasan jangkauan pengamatannya terhadap aktivitas mahasiswa secara menyeluruh. Adanya observer dalam pembelajaran menjadi jalan keluar terhadap kesulitan dosen tersebut. Keempat, LS memungkinkan dosen untuk memperkaya wawasan pembelajaran yang inovatif. Melalui pengamatan pembelajaran yang dilakukannya, dosen memperoleh ilmu dan pengalaman berharga untuk diadopsi dan dikembangkan dalam pembelajaran di kelasnya sendiri. Misalnya bagaimana memotivasi mahasiswa melalui permainan yang menarik (seperti pada LS III), bagaimana mengaktifkan mahasiswa melalui diskusi dan presentasi (seperti pada LS I dan II), bagaimana cara memberi penjelasan yang baik dan dapat dimengerti mahasiswa mengenai aturan permainan suatu bentuk strategi pembelajaran inovatif (LS I – III). Peran Kelima LS adalah memungkinkan dosen untuk mengetahui kekurangannya dalam pembelajaran sehingga dapat memperbaiki diri. Melalui pengkajian pembelajaran pada tahap refleksi, dosen dapat mengetahui kelemahan pembelajaran yang telah dilakukannya, dan berupaya untuk meminimalis ataupun meniadakan kekurangan tersebut pada pembelajaran selanjutnya. Keenam, LS memungkinkan dosen untuk memperdalam pengetahuan tentang materi pokok yang diajarkan. Melalui sharing pengetahuan dalam tahap plan dan see, dan pengamatan pembelajaran dalam tahap do dosen dapat mempersiapkan materi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa. Sayangnya, tidak semua pengampu matakuliah Histologi dapat mengikuti seluruh kegiatan LS dengan tuntas, karena kesibukan mereka dalam mengajar atau kegiatan lainnya yang tidak bisa ditinggalkan. Dalam merancang pembelajaran inovatif, pengajar bebas berkreasi, bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya menurut situasi saat pembelajaran terjadi. Pengajar tidak perlu diharuskan mematuhi buku pintar tentang satu–satunya bimbingan teknis yang mengikat dan membelenggu kreativitasnya. Biarkan pengajar mencari sendiri cara yang dipandang terbaik dalam menyampaikan visi pembelajaran tersebut dan menguasai berbagai cara yang dipilihnya setiap saat (Suparman, dkk 2010). Untuk itu tim pengampu matakuliah Histologi Jurusan Biologi FMIPA UM mencoba merancang dan mengimplementasikan tiga macam strategi pembelajaran yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu cooperative script, self regulated learning, dan problem posing yang dipadu dengan talking bottle, untuk mencari pemecahan masalah berupa rendahnya motivasi belajar mahasiswa. Strategi cooperative script dipilih karena disamping dapat membangun suasana yang menyenangkan, strategi pembelajaran ini mengandung kegiatan peer tutoring yang dapat memacu mahasiswa untuk menguasai konsep, karena adanya tuntutan tanggungjawab untuk memberi penjelasan pada pasangannya dengan sebaik-baiknya. tugas membuat pertanyaan yang bersifat problematis dalam strategi SRL diharapkan dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. Dalam strategi pembelajaran SRL mahasiswa dapat menangkap konsep melalui kegiatan membaca referensi, membuat pertanyaan beserta jawabannya (sebagai tugas rumah), menjawab pertanyaan, mendengarkan jawaban dan menilai jawaban (dalam turnamen), dan menjawab pertanyaan dalam diskusi kelas. Tugas membuat pertanyaan yang bersifat problematis dalam strategi problem posing dan talking bottle dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. Dalam strategi pembelajaran problem posing dan talking bottle mahasiswa dapat menangkap konsep melalui kegiatan membaca referensi, membuat pertanyaan beserta jawabannya (sebagai tugas rumah), diskusi kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menjawab pertanyaan dalam permainan talking bottle, mendengarkan jawaban dan presentasi mahasiswa lainnya. Walaupun belum berhasil secara maksimal, tetapi pengimplementasian ketiga strategi pembelajaran inovatif di atas terlihat cukup mampu memotivasi mahasiswa, terlihat dari tingginya perhatian, minat, keaktifan, usaha, dan efisiensi kerja mahasiswa dalam setiap pembelajaran. Pada open class LS III yang menggunakan strategi pembelajaran problem posing dan talking bottle misalnya, hampir seluruh mahasiswa memperlihatkan kesiapan, keantusiasan dan keceriaan dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Uno (2010) bahwa salah satu teknik motivasi dalam pembelajaran dengan menggunakan permainan yang menarik, akan menyebabkan proses belajar menjadi bermakna secara

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 73

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) afektif dan emosional siswa. Di samping itu, pemberian tugas berupa pembuatan pertanyaan yang bersifat problematis dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yang merupakan salah satu komponen soft skill yang harus dicapai mahasiswa dalam perkuliahan Histologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamied (2010), bahwa pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu membuat siswa yang mempunyai kapasitas berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan masalah. Siswa yang seperti ini mampu memainkan penalaran yang jernih dalam proses memahami sesuatu dan piawai dalam mengambil pilihan dan membuat keputusan. Hal itu dimungkinkan karena pemahaman interkoneksi di antara sistem atau subsistem yang terkait dengan persoalan yang dihadapinya. Juga terlihat kemampuan mengidentifikasi dan menemukan pertanyaan tepat yang dapat mengarah ke pemecahan masalah secara lebih baik Peningkatan motivasi belajar mahasiswa merupakan hasil dari perbaikan yang dilakukan selama melaksanakan lesson study. Dengan demikian pembelajaran berbasis lesson study dalam matakuliah Histologi dapat meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif, yang berdampak pada peningkatan motivasi belajar mahasiswa.
PENUTUP

Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan, dapat diperoleh kesimpulan, yaitu 1) LS memungkinkan dosen pengampu matakuliah untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang berkualitas; 2) LS memungkinkan para dosen untuk mengobservasi dan mengkaji pembelajaran secara cermat; 3) LS memungkinkan dosen untuk melihat keberhasilan pembelajarannya melalui mata orang lain; 4) LS memungkinkan dosen untuk memperkaya wawasan pembelajaran yang inovatif; 5) LS memungkinkan dosen untuk mengetahui kekurangannya dalam pembelajaran sehingga dapat memperbaiki diri; 6) LS memungkinkan dosen untuk memperdalam pengetahuan tentang materi pokok yang diajarkan; 7) LS dapat meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif, yang berdampak pada peningkatan motivasi belajar mahasiswa. Saran Setelah melakukan dan mengkaji kegiatan lesson study dalam perkuliahan Histologi, disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1) Pembelajaran berbasis lesson study perlu terus dikembangkan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Histologi; 2) Diharapkan adanya kerelaan semua pengampu matakuliah untuk menjadi dosen model dalam lesson study untuk mendapatkan pengalaman yang lebih nyata; 3) Perlu dikembangkan strategi pembelajaran inovatif yang lain, agar pembelajaran menjadi lebih variatif, tidak membosankan, dan meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
DAFTAR RUJUKAN Arnyana, 2006. Pengaruh Penerapan Pembelajaran Inovatif pada Pelajaran Biologi terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja. No. 3 Th XXXIV Juli 2006: 496-515. Hamied, F.A. 2010. Model Pembelajaran Inovetif di Era Global. http://www.ispi.or.id/2010/05/07/38/ . Diakses 23 Oktober 2011 Ibrohim dan Syamsuri, S. 2010. Lesson Study Sebagai Pola Alternatif untuk Meningkatkan Efektivitas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Calon Guru. Makalah disajikan pada Workshop Pembimbingan PPL Berbasis Lesson Study di FMIPA UM Tanggal 28-29 Desember 2010. Munir, 2001. Kesan dan Harapan Masyarakat Terhadap Pembelajaran MIPA di Sekolah Dasar dan Menengah. Makalah disampaikan pada Semnas “Exchange Experience” Pembelajaran MIPA Pendidikan Dasar dan Menengah Dalam Era Otonomi Daerah. Depdiknas UM FMIPA. Suparman, A, Suratinah, Andayani, 2010. Strategi Pembelajaran Inovatif untuk Peningkatan Mutu Pendidikan: Suatu Tinjauan Konseptual dengan Pendekatan Teknologi Pendidikan. Online. (http://www.ilmupendidikan.net/2010/03/16/ strategi-pembelajaran-inovatif-untuk-peningkatan-mutu-

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 74

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
pendidikan-suatu-tinjauan-konseptual-dengan-pendekatan-teknologi-pendidikan.php). 2011 Suyatno, 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka Uno, H, 2006. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara. Diakses 23 Oktober

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 75

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR EMBRIOLOGI HEWAN MELALUI PENERAPAN LESSON STUDY

Cicilia Novi Primiani
Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN, Jl. Setiabudi 85 Madiun, E-mail: primianibiomipa@yahoo.co.id

Abstract: Matakuliah Embriologi Hewan menjadi lebih bermakna bagi mahasiswa apabila diperoleh dan dkembangkan melalui proses ilmiah. Keterampilan proses sains menekankan pada pembentukan keterampilan, memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikannya. Keterampilan diartikan sebagai kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan efektif. Keterlibatan tim dosen secara kolaboratif dalam kegiatan Lesson Study merupakan upaya yang dilakuka dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil temuan para observer, motivasi dan hasil belajar mahasiswa meningkat setelah proses pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses melalui Lesson Study Kata kunci: Lesson Study, keterampilan proses sains, Embriologi Hewan

Matakuliah Embriologi Hewan merupakan matakuliah keilmuan yang diberikan di semester V dengan Standar Kompetensi mahasiswa mampu mengerti, memahami, dan menjelaskan konsep dasar tentang proses pembentukan embrio vertebrata dan proses perkembanganya menjadi individu baru. Beradasarkan standar kompetensi tersebut proses pembelajaran Embriologi Hewan yang dilakukan di Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara student center. Meskipun demikian hasil belajar pada matakuliah Embriologi Hewan masih belum optimal. Hasil observasi terhadap motivasi belajar mahasiswa sekitar 50% saja mahasiswa yang mempunyai motivasi belajar. Hal ini ditunjukkan dengan belum semua mahasiswa mengerjakan tugas yang diberikan dosen pengampu matakuliah. Mahasiswa belum sepenuhnya terlibat aktif. Kegiatan eksperimen yang dilaksanakan belum mampu memotivasi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan rata-rata kelas nilai matakuliah Embriologi Hewan mencapai 63, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih belum memahami konsep perkuliahan Embriologi Hewan. Hasil wawancara yang dilakukan oleh dosen pengampu matakuliah kepada mahasiswa, menunjukkan bahwa mahasiswa sering tidak bersemangat dalam kegiatan pembelajaran, mereka juga sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep materi Embriologi Hewan. Sebenarnya materi pada matakuliah Embriologi Hewan merupakan materi-materi yang mengangkat permasalahan yang terjadi secara nyata, misalnya sebab-sebab infertilitas, tetapi mahasiswa kurang dapat menjelaskan bagaimanakah peran morfologi normal dan abnormal pada sel gamet. Hal ini mengakibatkan pemahaman konsep tentang infertilitas tidak dapat dimengerti oleh mahasiswa. Meskipun sebenarnya kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh dosen pengampu mata kuliah sudah cukup bervariasi antara lain dengan kegiatan diskusi, pembelajaran eksperimen di laboratorium, yang tidak hanya menggunakan pembelajaran ceramah di kelas saja, tetapi motivasi belajar mahasiswa masih belum optimal, sehingga hasil belajar mahasiswa selalu tidak memuaskan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 76

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan pengamatan dosen, mahasiswa yang melakukan kegiatan pembelajaran di laboratorium hanya bekerja secara mekanis. Mahasiswa kurang menghayati apa yang mereka lakukan, dan sering tidak tahu mengapa harus melakukan sesuatu, mengapa harus menggunakan senyawasenyawa tertentu. Selama kegiatan eksperimen di laboratorium, mahasiswa cenderung bekerja seperti robot, menjalankan langkah-langkah percobaan sebagaimana yang ditunjukkan pada buku petunjuk praktikum, apabila buku petunjuk praktikum tersebut tidak ada, maka mahasiswa tidak dapat melakukan kegiatan praktikum. Apabila ditanya berbagai permasalahan mendasar mengenai percobaan yang mereka lakukan, kebanyakan mahasiswa tidak dapat menjawabnya dengan baik. Mahasiswa belum mempersiapkan diri mempelajari konsep-konsep materi pada hari itu, sehingga pada saat pembelajaran di kelas, banyak mahasiswa yang mengalami kebingungan. Mahasiswa kurang mampu dalam mengkomunikasikan hasil observasi yang telah dilakukan. Hal ini terjadi karena mahasiswa belum dapat melakukan observasi dengan benar, permasalahan utama yang mendasari dalam kegiatan observasi tidak dapat mereka temukan. Kegiatan eksperimen yang dilakukan di laboratorium belum sepenuhnya melibatkan seluruh mahasiswa untuk bekerja secara aktif. Hasil observasi yang dilakukan oleh dosen, mahasiswa yang terlibat aktif dalam kegiatan eksperimen di laboratorium adalah 54%. Masih banyak mahasiswa yang tidak terlibat aktif dalam eksperimen, berbicara dengan teman sekelompok, atau membaca materi perkuliahan lain. Padahal sebenarnya pelaksanaan eksperimen bertujuan untuk menemukan konsep, dan melibatkan mahasiswa secara aktif sehingga akan didapatkan pemahaman konsep terhadap materi yang dipelajari melalui pengalaman langsung. Demikian juga pembelajaran yang dilakukan dengan diskusi, mahasiswa kurang dapat mengembangkan materi yang didiskusikan, kurang mampu menghubungkan antara konsep satu dengan yang lain, sehingga kegiatan diskusi kurang dapat berjalan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Mahasiswa yang terlibat diskusi dalam tiap kelompok belum sepenuhnya terlibat aktif dalam kegiatan diskusi. Apabila ada kelompok yang mempresentasikan, kelompok lain yang tidak presentasi cenderung diam. Seolah-olah kelompok yang tidak presentasi tidak bertanggung jawab atas materinya, sehingga tiap kelompok hanya bertanggung jawab terhadap materinya sendiri. Berdasarkan data dosen pengampu matakuliah, aktivitas diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa hanya 55% saja yang tergolong mahasiswa aktif. Keadaan demikian tentu saja tidak dapat mendukung pencapaian standar kompetensi yang diharapkan pada matakuliah Embriologi Hewan. Perkuliahan pada matakuliah Embriologi Hewan menuntut dosen untuk meningkatkan kualitas perkuliahan, dengan lebih mengaktifkan mahasiswa, mengoptimalkan keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan-kemampuan mendasar yang dimiliki dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga standar kompetensi matakuliah Embriologi Hewan dapat tercapai. Dengan kata lain, dosen dituntut untuk lebih professional dalam merencanakan, melaksanakan, dan menganalisis permasalahan yang ada. Salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut menggunakan pendekatan keterampilan proses sains melalui Lesson Study. Tujuan pembelajaran pada matakuliah Embriologi Hewan dengan pendekatan keterampilan proses adalah: (a) memotivasi mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam belajar, (b) memperjelas konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari mahasiswa, karena sebenarnya mahasiswa sendirilah yang mencari dan menemukan konsep tersebut, (c) mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, (d) mempersiapkan dan melatih mahasiswa dalam menghadapi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah, dan (e) mengembangkan sikap percaya diri, bertanggug jawab, dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi problematika kehidupan (Buku Pedoman Akademik Program Studi, Pend. Biologi IKIP PGRI MADIUN, 2010) Pendekatan pembelajaran proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan ketrampilan proses yang digunakan untuk mengungkap dan menemukan fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dilakukan oleh mahasiswa dalam proses pembelajaran (Haryono, 2006). Jadi, pendekatan keterampilan proses menekankan pada bagaimana mahasiswa belajar, bagaimana mengelola perolehannya, sehingga dipahami dan dapat dipakai sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya di masyarakat. Melalui pendekatan pembelajaran proses

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 77

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) diharapkan mahasiswa dapat mengalami sendiri tentang materi yang disampaikan dengan berinteraksi langsung dengan objek nyata atau sebenarnya sehingga mahasiswa dapat membuat kesimpulan sendiri. Lesson Study menjadi pilihan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta meningkatkan profesionalitas dosen, karena kegiatan ini melibatkan sekelompok dosen yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran. Dosen model bersama para observer yang bekerja dalam satu tim terlibat aktif untuk saling mendiskusikan pembelajaran yang diterapkan. Kegiatan ini merupakan strategi pembinaan profesi dosen secara terencana dan berkelanjutan melalui prinsip kolegialitas, mutual learning dan learning community. Dosen di Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN sudah sering mengikuti berbagai pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran, pelatihan penggunaan berbagai metode pembelajaran yang inovatif yang pernah diikuti oleh para dosen belum sepenuhnya memberikan hasil optimal terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Hal ini disebabkan pelatihan yang sering diikuti oleh dosen tidak berbasis masalah nyata di kelas, dan hasil pelatihan seringkali hanya berupa pengetahuan saja tidak ada tindaklanjutnya di kelas riil secara kontinyu dan berkelanjutan. Keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan belajar tidak terlepas dari peran serta dosen dalam mengembangkan pembelajarannya. Oleh karena itu, kegiatan Lesson Study yang dilaksanakan dalam pembelajaran Embriologi Hewan melibatkan sekelompok dosen Program Studi dengan bidang kajian matakuliah yang serumpun. Sekelompok dosen di Program Studi terlibat aktif dalam pengkajian pembelajaran mulai dari perencanaan, implementasi dan refleksi. Pendekatan keterampilan proses sains yang diterapkan dalam pembelajaran Embriologi Hewan melalui Lesson Study merupakan salah satu alteratif yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar matakuliah Embriologi Hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan melalui Lesson Study menjadi pilihan untuk meningkatkan motivasi mahasiswa karena dalam kegiatan ini diharapkan terjadi interaksi antara dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Lesson Study juga merupakan kegiatan untuk meningkatkan profesionalitas dosen. . Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan penelitian adalah meningkatkan motivasi belajar Embriologi Hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN dengan pendekatan keterampilan proses sains melalui Lesson Study. Manfaat penelitian ini mahasiswa mampu terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, mempunyai motivasi tinggi, sehingga mahasiswa mampu melaksanakan kinerja ilmiah yang meliputi pengamatan untuk merumuskan suatu permasalahan, merencanakan eksperimen, melakukan analisis data, dan mengkomunikasikan. Lesson Study yang diterapkan dalam pembelajaran Embriologi Hewan diharapkan dapat meningkatkan profesionalitas dosen yang dilakukan bersama dengan sekelompok dosen di Program Studi.
PELAKSANAAN LESSON STUDY

Kegiatan Lesson Study (LS) yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN pada semester gasal Tahun Akademik 2011/2012 merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri dari Plan (perencanaan), Do (pelaksanaan) dan See (refleksi) yang dilakukan sebanyak 4 kali kegiatan. Plan (perencanaan). Seluruh dosen di Program Studi berkumpul bersama untuk membahas kegiatan LS. Pembahasan dalam Plan dimulai dengan penentuan matakuliah/materi yang akan digunakan untuk open class. Materi yang ditentukan adalah materi-materi yang terdapat pada matakuliah Embriologi Hewan, yang meliputi sistem reproduksi, gametogenesis, dan morfologi sel gamet, dan tipe telur vertebrata. Selanjutnya ditentukan tanggal pelaksanaan LS, jumlah pertemuan perkuliahan yang akan dilaksanakan melalui LS selama 4 kali pertemuan. Sekelompok dosen di Program Studi membentuk kelompok dosen serumpun sesuai dengan bidang keahlian masing-masing yang terdiri dari 5 orang dalam satu tim. Pembahasan dalam Plan dilanjutkan dengan merencanakan pembelajaran dengan menyusun silabus, Rencana Mutu Pembelajaran (RMP), lembar kegiatan mahasiswa, bahan ajar, alat evaluasi, media/alat/bahan, lembar observasi yang diperlukan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 78

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Sekelompok dosen menentukan dosen model yang akan open class, dan terakhir menentukan moderator dan notulis. Do (pelaksanaan) kegiatan dilaksanakan oleh seorang dosen model yang melakukan open class. Kegiatan open class yang dilaksanakan oleh dosen model merupakan perkuliahan matakuliah Embriologi Hewan. Dosen lain sebagai tim LS sebagai observer, dalam hal ini observer terdiri dari 4 orang dosen. Para observer melakukan tugasnya dengan memfokuskan pengamatan pada aktivitas belajar mahasiswa. Pengamatan yang dilakukan oleh para observer menggunakan lembar observasi. See (refleksi) dilakukan setelah tahap do (pelaksanaan) dengan melibatkan dosen model dan semua observer. Refleksi dilakukan untuk mendiskusikan semua temuan yang telah berhasil maupun yang masih ada masalah. Hasil observasi digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan mahasiswa pada saat mengikuti pembelajaran, manganalisis penyebabnya dan mencari solusi penyelesaiannya. Diskusi yang dilaksanakan pada tahap refleksi ini membahas semua fakta yang terjadi pada saat kegiatan pembelajaran. Para observer dapat juga mengungkapkan adanya pelajaran berharga yang dapat diambil dari dosen model dan kegiatan pembelajaran. Refleksi dipimpin oleh seorang moderator, yang disertai notulis. Diskusi diawali dengan penyampaian ungkapan perasaan oleh dosen model ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran, komentar-komentar mengenai apa yang dialaminya. Selanjutnya moderator mempersilakan para observer untuk mengungkapkan hasil observasinya mengenai fakta, penyebab, dan alternatif penyelesaiannya. Berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan oleh dosen model dan para observer, selanjutnya tim LS menyusun kemabali RMP untuk dapat diterapkan pada kegiatan pembelajaran serupa dengan lebih baik. Pelaksanaan refleksi dilakukan dengan posisi tempat duduk berhadapan, masing-masing observer mencatat pengalaman berharga yang nantinya dapat diterapkan di kelasnya masing-masing. Hasil refleksi dikembangkan dalam perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai acuan untuk kegiatan pembelajaran berikutnya. Pelaksanaan plan-do-see dilakukan sebanyak 4 kali sesuai dengan jadwal kegiatan perkuliahan. Berdasarkan hasil diskusi satu tim, maka ada beberapa temuan sebagai berikut. Lesson Study 1 Plan 1 a. Kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan melalui pendekatan keterampilan proses sains, dengan metode eksperimen. Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap organ reproduksi berbagai hewan coba yaitu katak, mencit dan burung merpati. b. Masing-masing kelompok melakukan pembedahan terhadap hewan coba yang berbeda-beda, tetapi dalam pengamatan setiap kelompok berkewajiban untuk mengamati organ reproduksi pada semua hewan dengan cara berkeliling, dan kelompok yang bertugas membedah hewan coba bertanggung jawab memberikan penjelasan kepada kelompok lain. c. Instrumen penilaian yang digunakan untuk mengamati proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran melalui pendekatan keterampilan proses sains dengan penjabaran indikator tiap skor secara jelas. Alat dan bahan yang digunakan untuk eksperimen dicek terlebih dahulu sebelum pelaksanaan pembelajaran. Do 1 a. Hasil pengamatannya digambar pada kertas manila, tetapi tidak semua mahasiswa terlibat aktif dalam menggambar. Tidak semua mahasiswa berdiskusi pada saat menggambar hasil pengamatan. b. Suasana kelas menjadi sangat ramai setelah kegiatan tiap kelompok berkeliling pada kelompok lain untuk mengamati organ reproduksi hewan yang terdapat pada kelompok lain. c. Dosen model berkeliling dengan memberikan penjelasan pada masing-masing kelompok. See 1 a. Mahasiswa tampak kebingungan saat mengamati organ reproduksi yang organnya terlau kecil. Diskusi dengan teman sekelompok yang dilakukan sebagai upaa mahasiswa mengatasi kebingungannya ternyata belum dapat mengatasi permasalahannya. b. Kegiatan mahasiswa dapat berjalan sesuai dengan RMP yang telah disusun, mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, tiap kelompok mampu melakukan pembedahan dan pengamatan pada hewan cobanya masing-masing. Ada 4 orang mahasiswa yang belum Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 79

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) sepenuhnya terlibat aktif yaitu mahasiswa no 6, 13, 17, dan 21. Mereka tampaknya masih kebingungan pada saat pengamatan organ reproduksi pada hewan cobanya masing-masing. Mahasiswa no 6 dan 17 sering bertanya pada teman sekelompoknya. Tetapi mahasiswa no 13 dan 21 diam, tidak melakukan aktivitas. c. Dosen model juga mendekati pada mahasiswa no 6, 23, 27 dan 21 untuk menanyakan akivitas yang dilakukan. Setiap kali dosen model mendekati keempat mahasiswa tersebut, mereka seolah-olah melakukan aktivitas dengan membaca, mengamati, dan memegang hewan coba. d. Mahasiswa dengan no 2,4, dan 20 tidak berkonsentrasi pada saat kegiatan pembelajaran, hal ini ditunjukkan dengan bukti bahwa mahasiswa no 20 bermain HP dengan sms, mahasiswa no 2 dan 4 berbicara mengenai materi perkuliahan lain. e. Memberikan apersespsi pada awal kegiatan pembelajaran dengan lebih jelas, yang disertai dengan visualisasi gambar-gambar organ reproduksi secara jelas. Hal ini sebagai solusi dalam membantu pada saat pengamatan apabila organ reproduksi pada hewan coba tidak tampak . f. Agar mahasiswa terlibat aktif pada saat kegiatan inti, maka satu minggu sebelum pelaksanaan pembelajaran, dosen model memberitahukan untuk membaca materi dari satu sumber pustaka wajib, dan dapat ditambah dengan pustaka lainnya. Hal ini sebagai solusi alternatif pemecahan masalah kekurangpahaman mahasiswa pada saat kegiatan pembelajaran. g. Dosen model lebih mencermati lagi mahasiswa yang hanya berbicara sendiri dengan temannya dan sibuk melakukan aktivitas lain dengan cara mendekati pada mahasiswa tersebut. h. Untuk mengetahui kesiapan mahasiswa pada materi yang akan dipelajari, maka kegiatan tanya jawab pada kegiatan awal dapat dilakukan dengan lebih banyak peberian pertanyaan, sehingga dapat melibatkan peran aktif mahasiswa. i. Pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan pembelajaran bahwa dosen model selalu memberikan motivasi dengan cara mendekati berkeliling pada tiap kelompok. Lesson Study 2 Plan 2 a. Materi perkulihan gametogenesis merupakan materi abstrak, sehingga RMP yang disusun dengan pendekatan keterampilan proses sains melalui pembelajaran kooperatif, dengan penyusunan peta konsep. b. Pemberian apersepsi secara jelas dengan menggunakan berbagai macam gambar yang ditayangkan menggunakan LCD. c. Mahasiswa dibentuk kelompok secara heterogen, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. d. Bahan ajar wajib Heffner, L.J. & Schust, D.J. 2006. Sistem Reproduksi sebagai sumber bacaan utama mahasiswa, tetapi tidak menutup kemungkinan menggunakan referensi lain. Do 2 a. Mahasiswa membuat ringkasan tentang gametogenesis dan menuliskannya pada kertas folio, hasil rangkuman dibawa ke kelas untuk didiskusikan dengan teman sekelompoknya. b. Hasil diskusi dirangkum pada kertas manila dengan membuat peta konsep dan menggambar tahap-tahap gametogenesis. c. Tiap kelompok mempresentasikan diskusinya. d. Instrumen penilaian dibuat lengkap dengan penjabaran indikator penilaian pelaksanaan pembelajaran. e. Dosen model berkeliling pada tiap kelompok untuk menjelaskan secara intensif penyusunan peta konsep. See 2 a. Mahasiswa mengalami kebingungan dalam membuat peta konsep. Solusi sebagai alternatif pemecahan masalah adalah dosen model berkeliling pada tiap kelompok dengan memberikan penjelasan penyusunan peta konsep. Hal ini sudah dilakukan oleh dosen model pada saat mahasiswa terlihat diam ketika dosen model meminta mahasiswa membuat peta konsep. b. Mahasiswa no 15, 18, dan 27 selalu gelisah, merasa tidak nyaman, karena ruang kelas yang terlalu panas. Untuk mengatasi hal tersebut, pertemuan berikutnya menggunakan ruangan yang lebih luas.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 80

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) c. Mahasiswa no 10 tampak kebingungan ketika membandingan antara spermatogenesis dan oogenesis, tetapi mahasiswa tersebut hanya diam, tidak menanyakan kesulitannya kepada temannya. Alternatif pemecahan masalah tersebut sebaiknya dosen model mendekati mahasiswa tersebut untuk lebih memberikan motivasi dan perhatian. Bahan ajar diberikan satu minggu sebelum pelaksanaan pembelajaran, agar dapat dipelajari mahasiswa, dan membuat rangkuman. d. Usaha dosen dalam mengatasi kebingungan mahasiswa dalam pembuatan peta konsep adalah dengan berkeliling pada tiap kelompok sambil menjelaskan tugas yang harus dikerjakan mahasiswa. e. Pelajaran berharga yang dapat dipetik dalam kegiatan pembelajaran adalah adanya penggunaan media pembelajaran meskipun hanya menggunakan gambar yang dibuat pada kertas manila. Lesson Study 3 Plan 3 a. Materi perkuliahan pada kegiatan LS ke tiga adalah morfologi sel gamet, penyusunan RMP yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses sains. b. Mahasiswa mengamati morfologi sel gamet jantan dan betina dengan hewan coba mencit. Kegiatan merumuskan masalah, melakukan eksperimen, menganalisis data, dan menyimpulkan merupakan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan. c. Pelaksanaan kegiatan di laboratorium, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam eksperimen. d. Mahasiswa dibentuk kelompok pada saat kegiatan eksperimen. e. Kegiatan awal perkuliahan selain dengan memberikan apersepsi juga diberikan beberapa pertanyaan yang digunakan untuk tanya jawab sebagai langkah untuk mengetahui kesiapan mahasiswa. Do 3 a. Mahasiswa melakukan observasi terhadap organ reproduksi penghasil sel-sel gamet pada hewan coba yang telah dibedah. b. Mahasiswa melakukan eksperimen membuat preparat apus sel gamet. c. Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap sel-sel gamet dan menganalisis hasil pengamatan, selanjutnya tiap kelompok menuliskan hasil pengamatannya pada kertas manila. d. Dosen model berkeliling dengan memberikan penjelasan, motivasi, menanggapi beberapa masalah yang ditanyakan oleh mahasiswa. e. Mahasiswa mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas. See 3 a. Mahasiswa dapat melakukan langkah-langkah keterampilan proses dengan lebih rinci, mereka tidak mengalami kebingungan ketika harus mengamati organ reproduksi penghasil sel-sel gamet, melakukan eksperimen pembuatan preparat apus sel-sel gamet, mengamati morfologi sel-sel gamet, dan menganalisis data berdasarkan hasil pengamatan b. Tidak ada mahasiswa yang berbicara sendiri dengan temannya, bermain HP, atau mengerjakan pekerjaan lain. Semua mahasiswa dalam tiap kelompok memperhatikan penjelasan dosen, melakukan setiap langkah kegiatan dengan serius. c. Mahasiswa dengan no.14 mengalami kesulitan dalam menganalisis data berdasarkan pengamatan, hal ini tampak masih kebingungan saat diskusi dengan teman sekelompoknya. Mahasiswa tersebut terlihat diam, hanya melihat saja saat temannya berdiskusi. Solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah diberikan rangkuman/bahan ajar yang ringkas. d. Kelompok yang mengamati morfologi sel-sel gamet betina mengalami kesulitan menemukan sel-sel gamet. Hal ini diduga karena hewan coba yang digunakan adalah mencit dengan organ reproduksi yang cukup kecil, sehingga menyulitkan dalam pengamatan. Solusi sebagai alternatif pemecaha masalah adalah menggunakan hewan coba yang lebih besar, misalnya tikus putih. e. Kesulitan lain yang dijumpai oleh observer adalah mahasiswa belum lancar dalam membuat preparat apus. Mahasiswa masih ragu-ragu dalam meneteskan suspensi sperma dan ovum pada

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 81

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) gelas objek. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dosen model perlu menuntun mahasiswa dalam kegiatan eksperimen. f. Suspensi sperma dan ovum terlalu kental, sehingga preparat yang dihasilkan terlalu tebal, yang berakibat menyulitkan pengamatan. Tim dosen perlu merevisi petunjuk praktikum yang digunakan yang berkaitan dengan volume air dan pewarna yang digunakan dalam membuat suspense sperma/ovum. g. Dosen model banyak memberikan motivasi dan memberikan penjelasan ulang dan rinci pada setiap kelompok yang melakukan keagiatan mulai dari observasi, eksperimen, analisis data, dan menuliskan hasil pengamatan. h. Pelajaran berharga yang dapat diambil pada kegiatan ini adalah pendekatan keterampilan proses sains yang diterapkan pada matakuliah Embriologi Hewan memberikan kesempatan mahasiswa untuk dapat mengoptimalkan kognitif, sikap kerja sama, dan keterampilannya. Dosen model dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa. Lesson Study 4 Plan 4 a. Materi perkuliahan pada kegiatan LS ke empat adalah tipe-tipe telur pada vertebrata. Penyusunan RMP yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses sains dengan eksperimen. b. Tiap kelompok diwajibkan untuk membawa dua telur macam telur aves yang akan diamati. Telur katak sudah disediakan di laboratorium. c. Tiap mahasiswa diwajibkan membuat rangkuman materi yang ditulis pada kertas folio. d. Instrumen penilaian disusun berdasarkan indikator keterampilan proses sains. e. Kegiatan LS ke-4 ini merupakan kegiatan open class yang mengikutsertakan semua dosen di Fakultas sebagai observer. Observer yang terdiri dari dosen Fisika, Biologi dan Matematika masuk ke dalam laboratorium Biologi melakukan pengamatan menggunakan lembar pengamatan yang telah disiapkan. Do 4 a. Mahasiswa mengamati morfologi telur unggas yang dibawa masing-masing dari rumah (telur ayam, bebek, puyuh, dan angsa) dan telur katak yang sudah disediakan di laboratorium. b. Mahasiswa mendiskusikan pengamatannya dan menuliskan hasil diskusi pada kertas manila yang dibawanya dari rumah. c. Mahasiswa juga menggambar bagian-bagian telur, mewarnai bagian-bagian terlur dengan warna yang sama dengan preparat aslinya. d. Dosen model berkeliling memberi motivasi dan tuntunan kepada mahasiswa pada saat pengamatan, eksperimen, dan diskusi kelompok. e. Mahasiswa mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas. See 4 a. Kegiatan pembelajaran mengenai materi tipe-tipe telur unggas dan katak dapat berjalan baik, sesuai rencana pembelajaran. b. Mahasiswa no 14 dan 27 tidak optimal dalam diskusi, kadang-kadang mereka terlihat diam, tidak memberikan pendapatnya. Saat menulis/menggambar hasil pengamatannya, kedua mahasiswa tersebut tidak ikut terlibat, mereka terlihat diam saja. c. Dosen model sudah mendekati dan bertanya kepada mahasiswa tersebut, setiap didekati dosen model bertanya mengapa tidak ikut mengerjakan, kedua mahasiswa membuka-buka bukunya dan berpura-pura membacanya. Alternatif yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut, mahasiswa perlu mendapat perhatian serius dari dosen, perlu mencermati apakah ketidakaktifnya mahasiswa terjadi juga pada perkuliahan lain, sehingga mahasiswa perlu mendapat bimbingan dari dosen walinya. d. Pengamatan telur katak tidak semudah telur unggas, karena ukuran telur katak lebih kecil, sehingga harus dilihat menggunakan alat bantu kaca pembesar. Mahasiswa saling bergantian dalam mengamati.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 82

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) e. Kelompok 2 membuka laptopnya di meja praktikum, sehingga mengganggu pengamatan telur. Saat melulis/menggamabr di kertas manila, laptop tersebut masih dibukanya, sehingga menyulitkan mahasiswa menulis/menggambar di kertas manila. f. Mahasiswa dapat melakukan diskusi dengan baik. Tiap mahasiswa dalam kelompok terlibat aktif dalam mengemukankan pendapatnya. g. Hasil pengamatan dapat dipresentasikan dengan jelas, karena tiap kelompok memberikan warna sesuai dengan hasil pengamatannya, sehingga gambar yang dibuat pada kertas manila menjadi bagus. Tulisan yang disajikan pada keterangan gambar juga tampak jelas. h. Dosen model tekun dalam berkelilig mengamati dan menanyakan kesulitannya pada saat mahasiswa melakukan pengamatan, eksperimen, dan menuliskan hasil pengamatan. i. Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kegiatan ini adalah penggunaan media kontekstual, sehingga mahasiswa lebih tertarik dalam belajar, suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, mahsiswa antusias dalam belajar.
HASIL YANG DICAPAI SETELAH PELAKSANAAN LESSON STUDY

Lesson Study di Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN dilakukan melalui kolaborasi dengan tim dosen untuk merencanakan (plan), melaksanakan (do) dan refleksi (see) pada matakuliah Embriologi Hewan. Kegiatan LS ini merupakan suatu proses yang kompleks, didukung oleh penataan tujuan secara kolaboratif, pencermatan dalam pengumpulan data tentang bagaimana mahasiswa belajar Embriologi Hewan. Tim dosen yang terlibat dalam LS di Program Studi dapat melakukan proses pembelajarannya dengan baik, inovatif, produktif, karena LS yang dilakukan oleh tim dosen berlangsung secara siklik, berkelanjutan yang digunakan untuk meningkatkan profesionalisme dosen. Berdasarkan hasil temuan pada kegiatan LS yang dilaksanakan di Program Studi tim dosen terlibat aktif dalam kegiatan LS. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peran serta aktif tim dosen dalam melaksanakan LS mulai dari merencanakan pembelajaran, mengamati kegiatan pembelajaran, dan refleksi. Dosen yang terlibat dalam kegiatan LS meluangkan waktunya untuk keberhasilan pelaksanaan LS. Tim dosen saling belajar bersama, berbagi ide dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Rangkaian kegiatan LS diawaki dengan merencanakan pembelajaran (Plan), rencana pembelajaran disimulasikan pada tim dosen, untuk didiskusikan kelebihan dan kekurangannya. Rencana pembelajaran yang akan dilakukan terlebih dahulu didiskusikan oleh tim dosen. Semua dosen terlibat aktif dan tampak antusias dalam menyampaikan ide-idenya. Usulan, saran-saran untuk menyususn rencana pembelajaran dianalisis bersama dalam tim. Ketika dosen model melaksanakan pembelajaran (Do), dosen lain bertindak sebagai pengamat. Fokus pengamatan bukan pada dosen model tetapi pada aktivitas belajar mahasiswa. Dosen model terlihat canggung, kurang percaya diri pada saat perkuliahan awal. Mahasiswa juga terlihat kurang nyaman dalam belajar karena diamati oleh dosen lain. Para pengamat menggunakan instrumen pengamatan. Kegiatan refleksi dilakukan secara serius oleh tim dosen, yang diawali oleh dosen model mengemukakan kesan-kesan ketika melaksanakan pembelajaran. Dosen model sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, meskipun pada awalnya dosen model merasa canggung, kurang percaya diri, karena mengajar di kelas yang harus dilihat oleh beberapa observer. Tetapi setelah pelaksanaan open class beberapa kali, maka dosen model merasa lebih percaya diri dalam melaksanakan pembelajaran. Para observer memberikan tanggapan terkait dengan beberapa temuannya. Setiap kegiatan refleksi, masing-masing observer menyampaikan temuannya. Semakin banyak observer, semakin banyak pula temuan yang dapat didiskusikan oleh tim untuk mencari alternatif penyelesaiannya. Tiap observer menyampaikan temuannya dengan santun. Solusi penyelesaian masalah didiskusikan dosen, tetapi tidak mengkritik dosen model. Akhir kegiatan refleksi dilakukan penyusunan perangkat pembelajaran yang perlu diperbaiki untuk pembelajaran yang akan datang. Tiap observer menuliskan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 83

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pada buku catatannya masing-masing tentang pelajaran berharga yang dapat dipetik pada kegiatan tersebut. Sesuai dengan pendapat Lewis dalam Santyasa (2009) ada 8 peluang yang dapat diperoleh dosen apabila melaksanakan LS secara berkesinambungan, yaitu a) memikirkan dengan cermat mengenai tujuan pembelajaran, materi pokok, dan bidang studi, b) mengkaji dan mengembangkan pembelajaran terbaik yang dapat dikembangkan, c) memperdalam pengetahuan mengenai materi pokok yang diajarkan, d) memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan dicapai yang berkaitan dengan mahasiswa, e) merancang pembelajaran secara kolaboratif, f) mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta tingkah laku mahasiswa, g) mengembangkan pengetahuan pedagogis yang kuat penuh daya, dan h) melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata mahasiswa dan kolega. Implementasi LS pada matakuliah Embriologi sangat tepat dilakukan, karena ada beberapa materi yang sulit untuk dibelajarkan. Sebagian besar mahasiswa belum mengetahui materi secara mendalam. Misalnya pada materi gametogenesis, mahasiswa hanya mengenti bahwa gametogenesis terjadi di dalam testis atau ovarium. Tetapi mahasiswa belum mampu mengerti tahap-tahap gametogenesis. Peristiwa mitosis dan meiosis yang terjadi pada gametogenesis belum dipahami oleh mahasiswa. Berdasarkan materi yang cukup sulit inilah maka LS dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Tim dosen dapat mengkaji dan mengembangkan bahan ajar yang terbaik, hal ini dilakukannya dengan merevisi petunjuk praktikum Embriologi Hewan yang sudah ada. Meskipun tim dosen merupakan kelompok bidang keahlian yang tidak sama, tetapi tiap dosen dapat belajar untuk mendalami pengetahuan mengenai materi pokok yang dijarkan, mengidentifikasi dan mengorganisasi temuan-temuan dalam kegiatan pembelajaran yang diperlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran. Pembelajaran Embrologi Hewan dengan pendekatan keterampilan proses sains melalui LS merupakan hasil diskusi tim dosen, karena konsep matakuliah Embriologi Hewan menjadi lebih bermakna bagi mahasiswa apabila diperoleh dan dkembangkan melalui proses ilmiah. Keterampilan proses sains menekankan pada pembentukan keterampilan, memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikannya. Keterampilan dirtikan sebagai kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu termasuk kreativitas (Beyer dalam Haryono, 2006). Pendekatan keterampilan proses sains berarti perlakuan yang ditetapkan dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan daya pikir dan kreasi secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan.. Pendekatan keterampilan proses sains dalam pembelajaran Embriologi Hewan melaui implementasi Lesson Study.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Tim dosen yang secara terus menerus terlibat dalam merancang pembelajaran secara kolaboratif dapat melakukan pengkajian dan mengembangkan pembelajaran terbaik, mengakaji secara cermat cara dan proses belajar mahasiswa dapat memberikan hasil maksimal tehadap peningkatan motivasi dan hasil belajar mahasiswa Saran Berdasarkan temuan pada proses pembelajaran melalui implementasi Lesson Study pada Embriologi Hewan, banyak pelajaran berharga yang dapat juga dikembangkan pada matakuliah lain, dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 84

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Buku Pedoman Akademik Program Studi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI MADIUN. 2010 Haryono. 2006. Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Keterampilan Proses Sains. Jurnal Pendidikan Dasar 7 (1): 1-13 Santyasa, W.I. 2009. Implementasi Lesson Study dalam Pembelajaran. Makalah disampaikan dalam acara Seminar Implementasi Lesson Study dalam Pembelajaran bagi Guru-guru TK, SD, dan SMP di Kecamatan Nusa Penida, 24 Januari 2009.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 85

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

LSBS MATAPELAJARAN BIOLOGI KELAS VII SMP NEGERI 1 SUKOREJO PASURUAN

Yus Setriarini
SMPN 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan

Abstrak: Materi Mikroskop merupakan materi yang diajarkan kepada peserta didik kelas VII semester 1. Materi ini merupakan materi prasarat sebelum peserta didik mempelajari materi ciriciri makhluk hidup dan keanekaragaman makhluk hidup ataupun menuju materi pada tingkat yang lebih tinggi. Peserta didik harus dapat mengidentifikasi nama-nama bagian dan fungsi masingmasing bagian dari mikroskop. Dalam pembelajaran materi tersebut penulis mengalami beberapa hambatan antara lain: 1) kesulitan memilih metode yang tepat untuk materi, 2) kesulitan mencari gambar mikroskop sesuai dengan contoh mikroskop yang tersedia di sekolah 3) Terbatasnya jumlah dan jenis mikroskop yang tersedia sehingga hasil belajar peserta didik rendah. Metode TPS (Think Pair Share) merupakan metode yang dapat digunakan pada peserta didik untuk bermain sekaligus belajar. Metode TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi peserta didik waktu lebih banyak, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Pada kegiatan pembelajaran dengan metode TPS dengan LSBS yang diterapkan pada proses pemebelajaran tampak peserta didik mampu memenuhi kebutuhan intelektualnya dan mengembangkannya sebagai individu berpotensi, karena dalam proses pembelajaran lebih melibatkan peserta didik sebagai pemikir dari pada pengumpul pengetahuan. Dari aspek afektif yaitu bekerjasama, berinisiatif, penuh perhatian dan bekerja sistematis menunjukkan 79 % peserta didik mendapat nilai baik. Respons peserta didik secara umum tentang pembelajaran dengan metode TPS ini membuat mereka lebih senang belajar, dan bersemangat. Kata Kunci: LSBS, TPS, Biologi

Proses pembelajaran formal yang dilaksanakan saat ini dikembangkan berdasarkan strategi pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik. Strategi ini muncul berdasarkan premis yang umum diterima bahwa peserta didik akan belajar lebih efektif ketika mereka terlibat secara aktif dalam mengorganisasi dan menemukan hubungan antara informasi-informasi yang mereka pelajari daripada ketika mereka hanya menerima secara pasif pengetahuan yang diberikan oleh guru ketika mengajar. Harapannya adalah pembelajaran yang efektif ini akan menuntun peserta didik pada ketercapaian pemahaman yang mendalam mengenai isi pelajaran (Eggen dan Kauchak, 1996). Untuk mencapai pemahaman mendalam peserta didik mengenai pelajaran yang disampaikan, biasanya guru menghabiskan waktu lebih banyak dalam menyampaikan fakta dan konsep. Schafersman (1991) menganggap pembelajaran yang berpusat pada pengajaran fakta semata adalah pengajaran yang sia-sia dengan alasan fakta dan konsep yang dipelajari dalam suatu bidang ilmu akan berkembang setiap harinya, sehingga apa yang harus disampaikan pada peserta didik juga akan bertambah dengan sendirinya. Cara yang lebih efektif dalam pemberian pembelajaran adalah dengan mengajarkan pada peserta didik bagaimana berpikir, yakni bagaimana menggunakan fakta dan konsep yang diketahuinya untuk membangun satu ide baru. Sudrajat (2008) juga menyatakan bahwa Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 86

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) proses berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep dalam diri seseorang. Proses berpikir tidak dapat berkembang dengan sendirinya, melainkan harus selalu dilatih. Ini pula yang menjadi alasan pentingnya membelajarkan berpikir pada peserta didik di sekolah, karena proses berpikir harus dilatih (Sudrajat, 2008). Salah satu elemen berpikir yang saat ini dikembangkan adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini terutama dikembangkan pada peserta didik yang berada di kelas menengah (SMP-SMA). Seorang guru yang profesional dalam menjalankan tugasnya sehari–hari tidak hanya dituntut untuk mengajar dan mendidik saja. Terdapat tuntutan lain yang sangat penting dalam mengembangkan profesinya yaitu selalu mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang pelaksanaan tugasnya sehari– hari. Menurut Trisnaldi (2003) beberapa pertanyaan yang dapat digunakan sebagai acuan agar kita selalu mengembangkan diri antara lain: 1) Apakah materi yang saya sajikan dapat diterima oleh peserta didik dengan efisien? 2) Apakah metode yang saya gunakan sudah sesuai dengan karakteristik materi pelajaran yang saya berikan? 3) Apakah media yang saya gunakan dapat membantu peserta didik memahami materi yang saya sajikan? 4) Apakan saya sudah melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik? Dan seterusnya dan seterusnya. Semua pertanyaan di atas harus kita jawab. Salah satu cara untuk menjawabnya adalah dengan melakukan penelitian dan meningkatkan kreatifitas/ inovasi dalam pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar tugas seorang guru tidak hanya mengajar atau menyampaikan materi saja, tetapi juga bertugas menumbuhkan minat peserta didik, oleh karenanya dalam menyampaikan materi perlu dilakukan secara menarik. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan atau trend dari penyajian dengan metode ceramah ke arah penggunaaan banyak media pembelajaran/multi media (Suyanik, 2010). Dalam upaya peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) khususnya guru, Kabupaten Pasuruan bekerjasama dengan FMIPA-UM dalam proyek Sisttem-JICA mulai tahun 2006 mengkoordinir kegiatan pengembangan pendidikan, ke arah kualitas pendidikan yang lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional melalui kegiatan Lesson study. Lesson Study yang didesain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 2 ayat 1 menyatakan bahwa ”kedudukan” guru adalah sebagai tenaga “profesional”. Seseorang yang menyatakan dirinya profesional harus terus menerus meningkatkan layanan profesinya untuk meningkatkan kemaslahatan anak didiknya. Kegiatan Lesson Study diharapkan mampu melatih guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran dengan baik, melakukan pemantauan terhadap pembelajaranya dengan baik, serta mampu melakukan evaluasi/penilaian terhadap proses pembelajarannya.
LSBS DI SMPN 1 SUKOREJO

Lesson Study diartikan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Lesson study bukan metode atau strategi pembelajaran tetapi dalam kegiatan lesson study dapat diterapkan metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru. Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan, sekolah yang berstandar nasional (SSN) wajib untuk melaksanakan Lesson study berbasis sekolah. SMP Negeri 1 Sukorejo adalah salah satu sekolah yang berstandar nasional sehingga wajib mendukung program tersebut dengan melaksanakan kegiatan Lesson Study Berbasis SMPN 1 Sukorejo. Lesson Study Berbasis Sekolah telah dilaksanakan di SMPN 1 Sukorejo mulai tahun ajaran 2008/2009 hingga sekarang (2011/2012). Dalam program ini guru-guru SMPN 1 Sukorejo telah mendapatkan pengarahan, panduan, pelatihan dan juga pendampingan dari Kepala Bidang Pendidikan tentang kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan dan Fasilitator JICA dalam kegiatan Workshop Lesson Study Berbasis Sekolah di SMPN 1 Sukorejo. Atas komitmennya dalam melaksanakan LSBS,

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 87

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) maka SMPN 1 Sukorejo menjadi ‘wadah atau tempat belajar’ bagi pihak luar (guru, pengawas, dosen baik dari pulau Jawa sendiri maupun dari Luar pulau jawa). Dari tahun ke tahun implementasi Lesson Study di SMPN 1 Sukorejo mengalami perkembangan. Hal ini memberikan dampak positif bagi guruguru dan memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan pembelajaran khususnya di SMPN 1 Sukorejo (Setriarini, 2007). Sudrajat (2008) menyatakan bahwa proses berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep dalam diri seseorang. Proses berpikir peserta didik tidak dapat berkembang dengan sendirinya, melainkan harus selalu dilatih. Kegiatan pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik untuk mengembangkan kemampuan berpikir merupakan faktor yang sangat penting. Penggunaan pendekatan, strategi, motode, serta teknik pembelajaran yang tepat dan memang disengaja akan mampu menumbuh dan mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Guru yang profesional selalu melakukan perbaikan-perbaikan, yakni dalam hal: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam proses pembelajaran. Kegiatan Lesson Study diharapkan mampu melatih guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran dengan baik, melakukan pemantauan terhadap pembelajarannya dengan baik, mampu melakukan evaluasi/penilaian terhadap proses pembelajarannya serta memiliki kemampuan berpikir kritis sehingga mampu memecahkan segala kendala yang terjadi di sekitarnya. Lesson Study yang didesain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif.
LSBS MATAPELAJARAN BIOLOGI

Guru yang profesional selalu melakukan perbaikan-perbaikan, yakni dalam hal: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam proses pembelajaran. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See ( merefleksi). Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement). Selengkapnya langkah tiga tahapan yang telah dilaksanakan dalam Lesson Study berbasis sekolah sebagai berikut. 1. Perencanaan Perencanaan (Plan) bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan peserta didik dan berpusat pada peserta didik, bagaimana supaya peserta didik berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dilakukan sendirian tetapi dilakukan bersama, beberapa guru dapat kolaborasi atau guru-guru dan dosen dapat pula berkolaborasi untuk memperkaya ide-ide. Pada tahapan ini penulis menyusun RPP dan perangkatnya dibantu oleh teman-teman matapelajaran serumpun. RPP beserta perangkat lain termasuk di dalamnya LKPD disusun disesuaikan dengan karakteristik materi maupun karakteristik peserta didik. Materi yang dipilih saat open class pada semester gasal ini yaitu materi Mikroskop. Materi mikroskop merupakan materi yang biasa dianggap gampang-gampang susah oleh peserta didik. Peserta didik memberi julukan seperti itu dikarenakan materi ini terlihat mudah tetapi ternyata hasil belajar yang diharapkan masih rendah. Sedangkan metode yang dipilih yaitu kooperatif TPS. Metode TPS dipilih karena memiliki kelebihan antara lain: 1) peserta didik dilatih untuk bekerjasama dan mempertahankan pendapat, 2) semua peserta didik terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, dan 3) metode TPS merupakan suatu cara yang efektif di dalam berlatih diskusi bagi peserta didik (Chotimah, 2009). Selengkapnya RPP beserta perangkatnya dapat di lihat di bawah ini: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN(RPP) KD 5.3 Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester : SMP Negeri 1 Sukorejo : IPA (Biologi) : VII/ 1

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 88

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : 5. Mamahami gejala-gejala alam melalui pengamatan : 5.3 Menggunakan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan

I. Indikator 1. Menjelaskan fungsi mikroskop 2. Menyebutkan nama bagian-bagian mikroskop 3. Menunjukkan nama bagian-bagian mikroskop 4. Menyebutkan fungsi bagian-bagian mikroskop II. Materi Pembelajaran Materi pokok : Gejala Alam Sub materi : > mikroskop
Mikroskop

Perkembangan biologi didukung oleh penemuan peralatan yang digunakan para ahli. Misalnya, pada tahun 1600-an Antonie van Leeuwenhoek menemukan mikroskop. Mikroskop sangat penting dalam kerja ilmiah karena dengan mikroskop, ilmuwan dapat mengamati mikroorganisme dan bagianbagian organisme yang sangat kecil, misalnya sel dan jaringan. Saat ini orang telah menggunakan mikroskop elektron. Bagian-bagian mikroskop Sebelum menggunakan mikroskop, kamu harus mengetahui bagianbagiannya terlebih dahulu. Bagian-bagian mikroskop antara lain: penyangga, sistem penglihat, meja benda, cermin, kondensor dan diafragma. a. Penyangga Penyangga terdiri dari lengan mikroskop dan kaki mikroskop. Bagian ini memiliki fungsi sebagai berikut: Sebagai pengatur kedudukan mikroskop saat digunakan. b. Sistem penglihat Unit penglihat terdiri atas 2 jenis lensa yang terletak pada ujung atas dan bawah badan mikroskop yaitu lensa okuler dan lensa obyektif.  Lensa okuler : Letaknya dekat dengan mata pada saat mikroskop dipakai. Lensa ini berfungsi untuk memperbesar bayangan dari lensa obyektif  Lensa obyektif terletak berdekatan dengan obyek yang sedang diamati. Lensa ini berfungsi untuk memperbesar bayangan benda atau sediaan (preparat). Lensa ini terpasang pada cakram pemutar (revolver) yang dapat digerakkan sesuai dengan lensa obyektif yang diinginkan. c. Meja benda Berfungsi untuk tempat meletakkan sediaan (preparat) yang diamati. Meja benda dilengkapi dua alat penjepit untuk mempertahankan letak kaca obyak atau sediaan. Ditengah meja benda terdapat lubang masuknya sinar setelah melalui kondensor dan diafragma.

III. Pendekatan Pembelajaran: Kontekstual Model Pembelajaran : Kooperatif Metode Pembelajaran : Think Pair and Share (TPS)

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 89

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) IV. Langkah-langkah Pembelajaran Tujuan pembelajaran: Setelah mengikuti pembelajaran diharapkan peserta didik dapat: 1. Menjelaskan fungsi mikroskop 2. Menyebutkan nama bagian-bagian mikroskop 3. Menunjukkan nama bagian-bagian mikroskop 4. Menyebutkan fungsi bagian-bagian mikroskop

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 90

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Setelah berakhirnya pembelajaran ini diharapkan peserta didik mampu mengembangkan karakter: Santun, tekun, mandiri, percaya diri, jujur, cerdas, aktif/kreatif, bekerjasama
Kegiatan No. 1 Guru Peserta didik Karakter Yang dikembangkan Santun, cerdas, aktif, percaya diri

2

Kegiatan Awal (±10’)  Memotivasi peserta didik dengan  Menjawab pertanyaan guru mengajukan pertanyaan” pada (harapan guru, peserta didik pertemuan yang lalu kita telah menjawab ” ada dua yaitu mempelajari gejala alam, masih gejala alam biotik dan abiotik”) ingatkah kalian ada berapa gejala alam pada pembelajaran yang lalu?  Melanjutkan pertanyaan “apa  Menjawab pertanyaan guru yang dimaksud dengan gejala alam biotik dan juga abiotik? (harapan guru, peserta didik menjawab ” gejala alam biotik yang berkaitan dengan makhluk hidup & gejala alam abiotik yang berkaitan dengan benda mati (sesuai jawaban peserta didik)  Menuliskan topik yang akan  Menulis topik yang akan dipelajari yaitu “ Mikroskop” dipelajari  Menyebutkan tujuan pembelajaran yang harus dicapai  Menulis tujuan pembelajaran dalam belajar Kegiatan Inti (±65’) a. Eksplorasi  Mengeksplorasi pengetahuan  Menjawab pertanyaan guru awal peserta didik melalui (harapan guru, peserta didik pertanyaan “ dapatkah kita membuka berbagai sumber mengamati semua jenis makhluk belajar yang dimiliki dan hidup baik yang berukuran besar menjawab sesuai dengan maupun sangat kecil? pengetahuan masing-masing yang mereka miliki)  Mendengarkan penjelasan guru  Menjelaskan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran  Berkelompok sesuai pembagian  Membagi peserta didik menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 2- 4 orang  Menerima LKPD dan membaca  Membagikan LKPD pada setiap petunjuk yang ada peserta didik dan meminta membaca cara kerja/petunjuk kerja  Mendengarkan saran guru b. Elaborasi untuk mengerjakan LKPD  Memotivasi peserta didik untuk secara mandiri (tahap think mengerjakan LKPD dengan ±15’) berpikir secara individu atau  Mendiskusikan hasil jawaban mandiri LKPD dengan teman sebangku  Memotivasi peserta didik untuk (tahap pair ±15’) memikirkan kembali jawaban LKPD masing-masing dengan  Mendiskusikan jawaban teman sebangkunya LKPD dalam kelompok kecil  Memotivasi peserta didik untuk yang terdiri atas 4 orang (tahap membentuk kelompok kecil yang share ±20’) terdiri atas 4 orang untuk mendiskusikan dan memikirkan

Jujur, aktif, mandiri, tekun, cerdas/kreatif, bekerjasama, dan percaya diri

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 91

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
kembali hasil/jawaban LKPD  Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar dan harus percaya diri  Meminta agar setiap kelompok membuat rekap/laporan dari tugas yang dikerjakan  Meminta agar mempersiapkan diskusi kelas c. Konfirmasi  Meminta wakil kelompok mempresentasikan hasil tugasnya  Memberikan umpan balik posistif dan penguatan melalui berbagai sumber dalam bentuk lisan, tulisan setelah diskusi kelas  Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan  Membimbing peserta didik menyusun kesimpulan  Berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar, dan percaya diri  Menulis laporan hasil tugas.

bersiap untuk presentasi/ diskusi kelas

 

Presentasi dan diskusi kelas Mencatat penguatan yang diberikan oleh guru

Mendengarkan dan mencatat

Menyusun kesimpulan, mencatat kesimpulan

3

Kegiatan Akhir/Tindak Lanjut (±5’)  merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik  menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya yaitu mempelajari tentang cara penyimpanan & perawatan mikroskop

Tekun dan mandiri  Mendengarkan dan mencatat tugas yang diberikan

V. Media Pembelajaran Alat/Bahan : Alat tulis,LCD/OHP, LKPD Sumber Belajar : Syamsuri, dkk. 2007. IPA Biologi VII. Jakarta: Erlangga
Winarsih, dkk. 2008. IPA Terpadu untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: BSE

VI. Penilaian  Penilaian terhadap LKPD  Penilaian Proses Belajar Peserta Didik Mengetahui, Kepala Sekolah

Guru Bidang Studi

Drs.Widianto Eko, W. M.Pd NIP. 19590603 198303 1009

Yus Setriarini, M.Pd NIP. 19720129 200604 2010

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 92

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK KD 5.3

A. Tujuan : 1. Menjelaskan fungsi mikroskop 2. Menyebutkan nama bagian-bagian mikroskop 3. Menunjukkan nama bagian-bagian mikroskop 4. Menyebutkan fungsi bagian-bagian mikroskop B. Alat dan bahan :  Gambar mikroskop  Alat tulis  Kertas  Buku Biologi Kelas VII  LKPD C. Cara Kerja/Petunjuk Kerja 1. Perhatikan gambar mikroskop di bawah ini! 2. Jawablah pertanyaan secara mandiri ( 15 menit) 3. Berdiskusilah dengan teman sebangku (15 menit) 4. Bentuklah kelompok kecil terdiri atas 4 orang, berdiskusilah untuk menyelesaikan LKPD 5. Setelah selesai bersiaplah presentasi di depan kelas

D. Bahan Diskusi 1. Apakah fungsi dari mikroskop? 2. Sebutkan 2 jenis mikroskop berdasarkan sumber cahayanya? 3. Sebutkan nama bagian-bagian mikroskop sesuai dengan abjad yang ada! 4. Jelaskan pula fungsi bagian-bagian tersebut!

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 93

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Rubrik Jawaban LKPD KD 5.3
No 1 Jawaban Fungsi mikroskop yaitu untuk mengamati mikroorganisme dan bagian-bagian organisme yang sangat kecil, misalnya sel dan jaringan 2 jenis mikroskop berdasarkan sumber cahayanya:  Mikroskop cahaya: sumber cahaya dari cahaya lampu/matahari  Mikroskop elektron: sumber cahaya menggunakan elektron sebagai sumber pengganti cahaya Bagian-bagian mikroskop a. Lensa okuler b. Makrometer/sekrup pemutar kasar c. Lengan mikroskop/pegangan d. Cakram pemutar lensa/revolver e. Lensa obyektif f. Diafragma g. Penjepit/pemegang h. Pemutar kondensor Fungsi bagian mikroskop a. Untuk memperbesar bayangan dari lensa obyektif b. Alat pemutar kasar berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan badan mikroskop secara cepat c. Untuk memegang mikroskop d. Tempat menempelnya lensa obyektif e. Memperbesar bayangan benda / sediaan f. Mengatur cahaya sehingga cahaya dari cermin menuju ke sediaan yang diamati g. Mempertahankan alat obyek/sediaan h. Memusatkan cahaya sehingga cahaya dari cermin menuju kesediaan/preparat Total skor Skor yang diperoleh Nilai = Total skor maksimal (20) x 100 Skor 2

2

2

3

8

4

8

20

Nilai: ………….

Penilaian Proses Belajar Peserta Didik

Format Tabel Pengamatan Afektif
NAMA PESERTA DIDIK

PERILAKU
Nilai

NO/ KLP 1 2 3 dst

Bekerjasama

Berinisiatif

Penuh perhatian

Bekerja Sistematis

Keterangan

Keterangan: a. Nilai afektif diperoleh ketika peserta didik mengerjakan LKPD secara berkelompok  Kolom perilaku diisi sesuai dengan kriteria berikut:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 94

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. = sangat kurang 2. = kurang 3. = sedang 4. = baik 5. = amat baik  Nilai merupakan jumlah dari skor- skor tiap indikator perilaku  Keterangan diisi dengan kriteria berikut: 1) Nilai 18 – 20 berarti amat baik 2) Nilai 14 – 17 berarti baik 3) Nilai 10 – 13 berarti cukup 4) Nilai 6 – 9 berarti kurang 5) Nilai 0 – 5 berarti sangat kurang Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam perencanaan. Dalam perencaan telah disepakati siapa guru yang akan mengimplementasikan pembelajaran. Langkah ini bertujuan untuk menguji coba efektifitas metode pembelajaran yang telah dirancang. Sebelum pembelajaran dimulai sesuai dengan yang direncanakan sebaiknya dilakukan briefieng kepada para pengamat untuk menginformasikan kegiatan pembelajaran dan mengingatkan bahwa selama pembelajaran berlangsung pengamat tidak mengganggu kegiatan pembelajaran tetapi mengamati aktifitas peserta didik selama pembelajaran. Pada tahap pelaksanaan ini RPP dan perangkat yang sudah jadi diterapkan pada acara LSBS yang memang sudah terjadwal rutin tiap dua minggu sekali. Pada setiap kegiatan LSBS, beberapa guru baik guru matapelajaran yang serumpun maupun guru-guru matapelajaran lain bertindak sebagai observer untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Di awal pembelajaran guru melakukan motivasi dengan mengingatkan materi pelajaran sebelumnya yang berhubungan dengan pembelajaran yang akan dilakukan, terlihat peserta didik sudah mulai berkonsentrasi untuk menerima pelajaran. Saat masuk kegiatan inti guru membagikan LKPD pada peserta didik dimana 2 orang peserta didik hanya mendapatkan satu LKPD. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca petunjuk yang ada dan memberi kesempatan bertanya jika belum memahami petunjuk di LKPD. Setelah beberapa saat guru meminta peserta didik untuk mengerjakan bahan diskusi yang ada secara mandiri selama 10 menit. Kemudian mengerjakannya secara berpasangan dan terakhir mengerjakan secara berkelompok (4 orang). Pada tiap tahap baik Think, Pair, maupun tahap Share lembar jawaban dari peserta didik dikumpulkan. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat terus mengembangkan kemampuan berpikir dan dapat melaksanakan diskusi dengan lebih baik. Pada tahap think terlihat masih banyak peserta didik yang belum memahami bahan diskusi yang dikerjakan, ini terbukti dari lembar jawaban yang sudah dikumpulkan masih banyak terlihat kesalahan dalam pengerjaan. Pada tahap kedua yaitu tahap Pair aktivitas peserta didik dalam berdiskusi dengan teman sebangkunya terlihat sangat baik dalam menyelesaikan permasalahan di LKPD. Sedangkan pada tahap terakhir yaitu tahapan Share aktivitas peserta didik bertambah aktif dan dapat menyelesaikan permasalahan dengan lebih baik sehingga pada tahapan ini diharapkan hasilnya juga akan semakin optimal. Foto-Foto selama pembelajaran antara lain sebagai berikut. 2.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 95

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 1: Peserta Didik sedang dalam Proses Pembelajaran 3. Refleksi Setelah pembelajaran selesai dilakukan diskusi antara guru dan pengamat yang dipandu oleh guru yang bertindak sebagai moderator untuk membahas pembelajaran yang telah berlangsung. Seperti biasa guru mengawali kegiatan refleksi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan pembelajaran. Selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar dan lesson learnt dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas peserta didik. Tentunya, kritik dan saran untuk guru disampaikan secara bijak demi perbaikan pembelajaran. Dari hasil refleksi yang telah dilakukan didapatkan banyak masukan yang positif dan negatif dari pembelajaran yang telah berlangsung. Di antaranya banyak observer yang kagum dan tertarik dengan metode yang dipilih oleh guru pengajar yang mampu membangkitkan minat, aktivitas, dan perhatian peserta didik selalu pada materi pelajaran. Guru pengajar menguasai kelas dengan baik, hal ini dapat diketahui dari kemampuan guru untuk mengenal nama peserta didik hampir seluruhnya. Dengan mengenal peserta didik satu persatu akan lebih mendekatkan hubungan antara guru dengan peserta didiknya. Tapi ada beberapa juga masukan yang bersifat mengkritik (negatif) terhadap pembelajaran yang dilakukan misalnya: tidak setuju dengan penerapan metode-metode dalam pembelajaran, kritik yang disampaikan contoh sebagai berikut: materi pembelajaran yang disampaikan guru sebenarnya sangat mudah, dengan guru membuat/memilih metode TPS/metode-metode yang lain akan membuat peserta didik tambah kebingungan dan tidak menguasai materi yang diajarkan/metode yang diterapkan akan tambah mempersulit peserta didik dalam belajar. Masukan yang bernada positif maupun negatif harus kita terima dengan lapang dada, karena tidak ada pembelajaran yang sempurna. Kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran yang satu bisa diperbaiki pada pembelajaranpembelajaran yang berikutnya jika kita ingin meningkatkan kinerja dan keprofesioanalan kita dalam mencerdaskan anak bangsa. Dari hasil lembar observasi yang dilakukan selama pembelajaran didapatkan hasil aspek afektif yaitu bekerjasama, berinisiatif, penuh perhatian dan bekerja sistematis menunjukkan 79% peserta didik mendapat nilai baik. Respons peserta didik secara umum tentang pembelajaran dengan metode TPS ini membuat mereka lebih bersemangat, peserta didik lebih senang, lebih meningkatkan kemampuan berpikir, dan belajar menjadi lebih menarik.
PENUTUP

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, dalam hal ini guru, perlu diberi keleluasaan dan diharapkan mampu menyiapkan seluruh perangkat pembelajaran dengan baik, sesuai dengan kondisi objektif peserta didik dan sarana prasarana yang tersedia. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 96

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Mengingat Lesson Study sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran, diharapkan kegiatan ini dapat diimplementasikan di setiap sekolah, seperti LSBS yang sudah diterapkan di SMPN 1 Sukorejo. Diharapkan juga LSBS dilaksanakan pada setiap matapelajaran bukan hanya pada mata pelajaran MIPA sehingga tidak menimbulkan kecemburuan bagi guru matapelajaran lain serta menghapus image yang berkembang di masyarakat bahwa Lesson Study hanya cocok untuk matapelajaran MIPA saja tidak untuk matapelajaran lain.
DAFTAR RUJUKAN Chotimah, Chusnul. 2009. Strategi-Strategi Pembelajaran untuk PTK. Malang: Surya Pena Gemilang. Eggen, Paul D. dan D. P. Kauchak. 1996. Strategies for Teachers: Teaching Content and Thinking Skills. Allyn & Bacon: Boston, USA. pp: 1-55. Schafersman, S.D. 1991. An Introduction To Critical Thinking. http://www.proquestumi.com/pqdweb/critical_thinking, diakses tanggal 29 November 2008 Setriarini, Yus. 2009. Implementasi LSBS di SMP Negeri 1 Sukorejo. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Lessson Study di FMIPA-UM, Oktober 2009. Sudrajat, A. 2008. Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran. Artikel Diterbitkan Februari 22, 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Diakses 2 Desember 2008. Suyanik. 2010. Upaya Meningkatkan Kompetensi Siswa pada Materi Reproduksi Sel di SMA N 1 Bontang dengan Bermain Sambil Belajar Menggunakan Model Sel dan Puzle Mitosis – Meiosis. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Lessson Study di FMIPA-UM, 9 Oktober 2010. Trisnaldi, Cecep. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Padang: LPMP Padang

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 97

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENGARUH PENERAPAN PETA KONSEP MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN METAKOGNITIF, KEMAMPUAN BERPIKIR, DAN PEMAHAMAN KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP DARUL ULUM 1 JOMBANG

Mistianah 1). A.D. Corebima, Siti Zubaidah 2)
1)

Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang dan e-mail. ana13@yahoo.co.id, 2) zubaidah_2668@yahoo.com

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peta konsep melalui
pembelajaran kooperatif TPS terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep biologi siswa kelas VII di SMP Darul Ulum 1 Jombang. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan menggunakan desain control group pre test post test. Kelas VII 4 SMP Darul Ulum 1 Jombang digunakan sebagai kelas eksperimen dengan diberikan perlakuan pembelajaran menggunakan peta konsep melalui TPS, sedangkan kelas VII 3 digunakan sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran dengan metode konvensional. Kemampuan metakognitif yang dinilai dalam penelitian ini terdiri atas kesadaran metakognitif yang diukur dengan menggunakan inventori metakognitif dan keterampilan metakognitif yang diukur dengan menggunakan penilaian rubrik dan non rubrik. Kemampuan berpikir diukur dengan menggunakan penilaian rubrik dan non rubrik. Pemahaman konsep diukur dengan penilaian nonrubrik. Data hasil penelitian kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa dianalisis dengan menggunakan analisis kovarian (kovarian) dengan menggunakan program SPSS for windows 16.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep biologi siswa kelas eksperimen mengalami peningkatan dibandingkan dengan kelas kontrol. Peningkatan kemampuan metakognitif siswa diketahui dari hasil analisis nilai akhir tes menggunakan anakova sebagai berikut. Kesadaran metakognitif siswa kelas eksperimen meningkat sebesar 1,36% dan kelas kontrol mengalami penurunan 0,63%. Keterampilan metakognitif siswa kelas eksperimen meningkat 12,77% sedangkan kelas kontrol mengalami penurunan 10,56%. Kemampuan berpikir siswa kelas eksperimen meningkat 26,03% sedangkan pada kelas kontrol mengalami penurunan sebesar 3,41%. Pemahaman konsep siswa kelas eksperimen meningkat 39,39% sedangkan pada kelas kontrol mengalami peningkatan sebesar 27,42%. Penurunan kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif serta kemampuan berpikir siswa pada kelas kontrol diduga karena pembelajaran pada kelas kontrol kurang mampu memberdayakan ketiga unsur tersebut. Kata kunci: Peta konsep melalui TPS, kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, pemahaman konsep biologi.

Pendidikan merupakan faktor penting dalam menggerakkan roda pembangunan bangsa. Pendidikan yang berkualitas mampu mendorong terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 98

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Berpikir merupakan salah satu aspek penting yang harus dikembangkan dan diberdayakan. Susilo (2004) menyatakan bahwa upaya perbaikan kemampuan berpikir (penalaran) selama ini masih sangat kurang diperhatikan, padahal kemampuan berpikir memegang peranan besar dalam peningkatan kualitas individu. Pelaksanaan pembelajaran masih lebih didominasi metode konvensional di mana guru menjelaskan konsep kemudian dilanjutkan dengan latihan soal-soal. Model pembelajaran tersebut memberikan banyak informasi sehingga siswa belum didorong untuk menggunakan kemampuan berpikirnya. Kenyataan tersebut terjadi pada proses pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya. Berdasarkan pada hasil wawancara dengan guru biologi dan observasi kelas VII di SMP Darul Ulum 1 Jombang, didapati bahwa pemberdayaan kemampuan berpikir siswa masih kurang diperhatikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan siswa masih terbiasa selalu menerima materi dan informasi dari guru, siswa kurang mampu menggali pengetahuannya sendiri, siswa kurang mampu menghubungkan konsep-konsep dari pengetahuannya, siswa kurang berani dalam bertanya, menjawab dan menjelaskan ide-ide atau gagasan yang dimilikinya, siswa kesulitan dalam menyusun kesimpulan serta kesulitan dalam mencari hubungan antar-aspek dari suatu permasalahan. Selain kemampuan berpikir, salah satu hal yang masih belum diberdayakan dalam proses pembelajaran adalah kemampuan metakognitif. Kemampuan metakognitif merupakan kemampuan siswa untuk mengetahui dan memonitor proses berpikirnya sendiri. Menurut Slavin (1994) metakognitif adalah pengetahuan seseorang tentang belajar, pengetahuan tentang bagaimana belajar, dan memonitor perilaku belajar sendiri untuk menentukan kemajuan dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajar. Berdasarkan pada pernyataan ini dapat dicermati bila siswa telah memiliki kemampuan metakognitif yang cukup baik maka siswa akan dapat dengan mudah mengontrol proses belajarnya. Pada kenyataanya pemberdayaan kemampuan metakognitif juga masih sangat kurang diperhatikan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan mengenai kemampuan metakognitif itu sendiri masih sangat kurang. Pada proses pembelajaran di SMP Darul Ulum 1 Jombang, kemampuan metakognitif juga masih belum dikembangkan karena kurangnya pengetahuan tentang kemampuan metakognitif tersebut. Pada proses pembelajaran siswa belum mampu memonitor, mengevaluasi dan mengontrol kegiatan belajar yang dilakukan. Siswa belum memikirkan sendiri bagaimana cara belajar yang baik sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Kemampuan berpikir dan kemampuan metakognitif selanjutnya dapat mempengaruhi pemahaman konsep siswa. Pemahaman konsep berkaitan erat dengan kemampuan berpikir siswa. Siswa dengan kemampuan berpikir lebih tinggi akan memiliki pemahaman konsep yang lebih baik dari pada siswa dengan kemampuan berpikir lebih rendah. Siswa dengan kemampuan berpikir yang lebih baik akan lebih mudah mencerna materi yang sedang diajarkan sehingga akan memperoleh pemahaman konsep yang lebih mendalam. Selain itu faktor kemampuan metakognitif juga turut berperan dalam pemahaman konsep. Siswa yang memiliki kemampuan metakognitif yang baik akan dapat memfokuskan perhatian pada aspek-aspek penting sehingga pemahaman terhadap konsepkonsep penting dapat dioptimalkan. Kemampuan metakognitif membantu untuk memfokuskan perhatian pada informasi penting dan menyimpan dalam ingatan siswa. Jadi kemampuan metakognitif berperan dalam upaya menyadarkan siswa mengenai bagian-bagian penting yang harus dipahami dari suatu materi pelajaran. Upaya pengelolaan kemampuan berpikir, kemampuan metakognitif dan pemahaman konsep dapat dilakukan melalui strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang berpotensi untuk memberdayakan ketiganya adalah melalui peta konsep. Pembelajaran dengan menggunakan peta konsep memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah dapat meningkatkan taraf berpikir siswa karena peta konsep tersebut dapat menunjukkan bagaimana siswa berpikir, meningkatkan pemahaman konsep siswa, membantu siswa menyimpan informasi yang diperoleh dalam jangka waktu yang panjang dengan cara mengumpulkan konsep-konsep yang penting dari bagian yang dibaca atau

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 99

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dipelajari dan menemukan hubungan antara konsep-konsep itu, serta menggunakan informasi yang telah disimpan tersebut untuk dapat memecahkan berbagai masalah. Pada pelaksanaannya strategi pembelajaran peta konsep dapat diintegrasikan dengan pembelajaran kooperatif. Salah satu pembelajaran kooperatif yang dalam pelaksanaannya dapat digabungkan dengan peta konsep adalah Think Pair Share (TPS). Alasan penggabungan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS antara lain karena pembelajaran dengan peta konsep melalui strategi TPS diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa, pemahaman konsep siswa, meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan banyaknya informasi yang dapat diingat siswa, Pembelajaran TPS dapat mengembangkan kecakapan hidup sosial siswa. Selanjutnya diharapkan siswa mampu terarah pikirannya melalui konsep-konsep yang diasajikan dalam peta konsep, kemudian siswa akan lebih aktif karena keterlibatannya menggunakan strategi TPS. Pada akhirnya kemampuan berpikir, ketrampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa akan dapat terasah dengan baik. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Peta konsep melalui Pembelajaran Kooperatif Think Phair Share (TPS) terhadap Kemampuan Metakognitif, Kemampuan Berpikir dan Pemahaman Konsep Biologi Siswa SMP Darul Ulum 1 Jombang”.
METODE

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Darul 1 Ulum Jombang. Sampel dalam penelitian adalah siswa kelas VII-3 dan VII-4. Kelas VII-3 merupakan kelas yang dipakai sebagai kelas kontrol sementara kelas VII-4 dipakai sebagai kelas eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Darul Ulum 1 Jombang dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2011.Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian control group pre test post test. Tabel 1. Desain Penelitian
Rancangan Subjek Kelompok kontrol Kelompok eksperimen (Dikembangkan dari: Suryabrata, 2008) Pra Tes T1 T1 Perlakuan X1 X2 Pasca tes T2 T2

Keterangan: T1 : pelaksanaan tes awal T2 : pelaksanaan tes akhir X1 : strategi pembelajaran konvensional X2 : perlakuan eksperimen (strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share )

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share, sedangkan variabel terikat yaitu kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir dan pemahaman konsep. Data penelitian yang dikumpulkan ada empat data, yaitu data kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir dan pemahaman konsep. Data kesadaran metakognitif diukur melalui inventori kesadaran metakognitif. Data keterampilan metakognitif diperoleh dari skor perubahan jawaban dari tes awal dan tes akhir siswa per item. Data kemampuan berpikir diperoleh dari skor siswa melalui penilaian tes awal dan tes akhir dengan menggunakan penilaian rubrik dan non rubrik. Data pemahaman konsep siswa diperoleh dari penilaian pre tes dan post tes dengan menggunakan penilaian non rubrik. Semua data yang telah diperoleh, baik data kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir dan pemahaman konsep yang meliputi hasil penilaian awal maupun akhir sebelum dilakukan analisis maka dilakukan dulu uji prasyarat. Uji ini dilakukan untuk melihat distribusi dari data yang telah diperoleh yakni terdistribusi secara normal dan homogen atau tidak. Uji prasyarat yang digunakan adalah uji Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 100

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) normalitas dan uji homogenitas varian. Uji normalitas menggunakan uji One-Sample KolmogorovSmirnov. Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s Test of Equality of Error Variances. Data hasil penelitian kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa dianalisis dengan menggunakan analisis kovarian (kovarian) dengan menggunakan program SPSS for windows 16.00. Bila hasil analisis signifikan (variabel bebas berpengaruh pada variabel terikat) maka analisis dilanjutkan dengan uji lanjut. Signifikansi data yang dianalisis didasarkan pada hal-hal berikut ini. 1. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka hipotesis nol diterima, dan hipotesis penelitian ditolak 2. Jika nilai probabilitas < 0,05 maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian diterima
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Kesadaran Metakognitif Rerata nilai kesadaran metakognitif awal pada kelas eksperimen adalah sebesar 63,20 dan nilai kesadaran metakognitif akhir sebesar 64,06. Kenaikan rerata nilai kesadaran metakognitif yang dicapai pada kelas eksperimen adalah sebesar 1,36 %. Pada kelas kontrol rerata nilai kesadaran metakognitif awal siswa adalah sebesar 63,03 sedangkan kesadaran metakognitif akhirnya adalah 62,63. Dengan demikian dapat dilihat bahwa terjadi penurunan rerata nilai kesadaran metakognitif siswa pada kelas kontrol yaitu sebesar 0,63 %. Berdasarkan hasil perhitungan analisis data menunjukkan bahwa nilai probabilita strategi pembelajaran lebih dari 0,05 yakni sebesar 0,537. Dengan demikian hipotesis nol diterima dan hipotesis penelitian ditolak. Artinya tidak ada pengaruh strategi pembelajaran Peta konsep melalui TPS terhadap kesadaran metakognitif siswa. Keterampilan Metakognitif Hasil pengukuran skor keterampilan metakognitif pada kelas eksperimen dan kelas kontrol melalui pre tes dan post tes menunjukkan hasil yang berbeda. Rerata nilai keterampilan metakognitif awal pada kelas eksperimen adalah sebesar 42,74 dan nilai keterampilan metakognitif akhir sebesar 48,20. Kenaikan rerata nilai keterampilan metakognitif yang dicapai pada kelompok ini adalah sebesar 12,77 %. Pada kelas kontrol rerata nilai keterampilan metakognitif awal siswa adalah sebesar 46,77 sedangkan keterampilan metakognitif akhirnya adalah 41,83. Dengan demikian dapat dilihat bahwa terjadi penurunan rerata nilai keterampilan metakognitif siswa pada kelas kontrol yaitu sebesar 10,56 %. Berdasarkan pada hasil penghitungan uji Anakova yang tabel ringkasannya disebutkan di atas maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut. Nilai probabilitas strategi pembelajaran 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian diterima. Artinya strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa. Kemampuan Berpikir Rerata nilai kemampuan berpikir awal pada kelas eksperimen adalah sebesar 47,29 dan nilai kemampuan berpikir akhir sebesar 58,60. Kenaikan rerata nilai kemampuan berpikir yang dicapai pada kelompok ini adalah sebesar 26,03 %. Pada kelas kontrol rerata nilai kemampuan berpikir awal siswa adalah sebesar 56,97 sedangkan kemampuan berpikir akhirnya adalah 55,03. Dengan demikian dapat dilihat bahwa terjadi penurunan rerata nilai kemampuan berpikir siswa pada kelas kontrol yaitu sebesar 3,41 %. Nilai probabilitas strategi pembelajaran 0,042 kurang dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian diterima. Artinya ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir siswa.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 101

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pemahaman Konsep Data yang didapatkan menunjukkan perbedaan rerata nilai pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Rerata nilai pemahaman konsep awal pada siswa kelas eksperimen adalah sebesar 29,17 dan nilai pemahaman konsep akhir sebesar 40,66. Kenaikan rerata nilai pemahaman konsep yang dicapai pada kelompok ini adalah sebesar 39,39 %. Pada kelas kontrol rerata nilai pamahaman konsep awal siswa adalah sebesar 23,10 sedangkan pemahaman konsep akhirnya adalah 29,43. Dengan demikian dapat dilihat bahwa kenaikan rerata nilai pemahaman konsep siswa pada kelas kontrol ini sebesar 27,4 %. Nilai probabilitas strategi sebesar 0,004 atau kurang dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian diterima. Artinya ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap pemahaman konsep siswa. Berdasarkan perbandingan rerata terkoreksi tampak bahwa strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS memberikan pengaruh lebih tinggi dan berbeda nyata dengan strategi pembelajaran konvensional.

Grafik 1. Rata-rata Skor Kesadaran Metakognitif

Grafik 2. Rata-rata Skor Keterampilan Metakognitif

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 102

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Grafik 3. Rata-rata Skor Kemampuan Berpikir

Grafik 4. Rata-rata Skor Pemahaman Konsep

PEMBAHASAN

Kesadaran Metakognitif Hasil analisis data kesadaran metakognitif berdasarkan inventori metakognitif menunjukkan bahwa strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS tidak berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai probabilitas strategi 0,537 > 0,05. Dimungkinkan penggunaan inventori tampaknya tidak selalu efektif meskipun inventori ini telah diuji validitasnya. Ketidakefektifan tersebut bisa disebabkan oleh pada saat mengisi inventori kadang siswa terkesan asal dan tergesa-gesa dalam mengerjakan. Hal tersebut terlihat dari 52 butir pernyataan yang harus ditanggapi, semuaya dapat terjawab dalam kurun waktu yang sangat singkat. Bahkan dalam 15 menit ada siswa yang sudah selesai mengerjakan inventori tersebut. Siswa mungkin sulit memahami makna kalimat pada tiap butir pernyataan dan siswa tidak secara sadar mengbalikan pernyataan-pernyataan tersebut pada diri mereka sendiri serta cenderung mengunakan logika dalam menanggapi pernyataan pada inventori kesadaran metakognitif tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diprediksi bahwa pengisian inventori kebanyakan kurang sesuai dengan kondisi siswa yang sebenarnya. Kesadaran metakognitif siswa tidak dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang digunakan dalam hal ini strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Amnah (2009) yang mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan kesadaran metakognitif siswa di setiap strategi pembelajaran, yaitu strategi pembelajaran TPS+SM dan TPS. Pembelajaran dengan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS seharusnya menurut teori dapat meningkatkan kesadaran metakognitif siswa karena pada strategi pembelajaran ini memiliki beberapa kelebihan. Hasil tersebut tidak sejalan dengan kajian teori yang ada. Menurut teori peta konsep telah terbukti dapat meningkatkan kesadaran metakognitif, berdasarkan penelitian Daley

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 103

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) (2002) dalam Corebima (2006) yang melaporkan bagaimana dia menggunakan peta konsep untuk menolong para pebelajar dewasa menjadi lebih sadar dan memahami proses belajarnya. Metakognisi menunjuk kepada kecakapan pebelajar sadar dan memonitor proses pembelajarannya Peters, (2000) dalam Corebima (2006). Menurut Corebima (2006) peta konsep merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberdayakan kesadaran metakognitif. Strategi metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berpikir dan pembelajaran yang dilakukan. Apabila kesadaran ini terwujud maka seseorang dapat memulai pemikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Selain strategi peta konsep kesadaran metakognitif seharusnya juga dipengaruhi oleh pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif mendorong terjadinya interaksi sosial. Interaksi sosial yang terjadi ketika dilakukan pembelajaran dengan strategi pembelajaran kooperatif inilah yang mampu meningkatkan kesadaran metakognitif siswa. Strategi pembelajaran TPS memiliki sintaks berupa Think Pair Share. sintaks TPS yang seperti ini memberikan kesempatan yang lebih besar pada siswa untuk memonitor dirinya sendiri dan merancang pemikiran yang harus disampaikan kepada rekan kerjanya. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Puspitasari (2010) yang melaporkan bahwa siswa dengan strategi TPS+PBMP memberikan pengaruh 35,38% lebih rendah daripada siswa dengan strategi TPS pada kesadaran metakognitif siswa. Menurut Jones (2002) dalam Susilo (2005) proses berpikir individual pada tahap Think dapat terstruktur karena mengikuti proses tertentu sehingga membatasi kesempatan pikirannya melantur karena mereka harus berpikir yang nantinya hasil pemikiran ini akan dilaporkan ke mitranya atau teman pasangannya. Jadi pada tahap Think siswa telah dituntut untuk merancang hasil pemikiran yang akan dilaporkan kepada teman sebayanya, sehingga siswa sadar pada kemampuan kognitif dirinya sendiri. Keterampilan Metakognitif Pengaruh penerapan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS terhadap keterampilan metakognitif siswa diukur berdasarkan nilai pre tes dan post tes. Hasil keterampilan metakognitif berdasarkan nilai pre tes dan post tes menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai probabilitas strategi pembelajaran 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian diterima. Artinya strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa. Keterampilan metakognitif siswa dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang digunakan, dalam hal ini strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS. Pembelajaran dengan strategi peta konsep melalui TPS dapat meningkatkan keterampilan metakognitif siswa karena pada strategi pembelajaran ini memiliki beberapa kelebihan. Peta konsep telah terbukti dapat meningkatkan keterampilan metakognitif, berdasarkan penelitian Daley (2002) dalam Corebima (2006) yang melaporkan bagaimana dia menggunakan peta konsep untuk menolong para pebelajar dewasa menjadi lebih sadar dan memahami proses belajarnya. Menurut Corebima (2006) peta konsep merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberdayakan keterampilan metakognitif. Strategi metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berpikir dan pembelajaran yang dilakukan. Apabila kesadaran ini terwujud maka seseorang dapat memulai pemikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Novak menyatakan bahwa peta konsep mempunyai potensi membantu anak didik dalam mengonseptualisasi kembali (reconceptualise) materi. Peta konsep membawa anak didik belajar bermakna, yang merupakan suatu hasil integrasi informasi ke dalam kerangka konseptual yang lebih kompleks secara progresif. Pembuat peta konsep telah mencapai metakognisi, sehingga memudahkan mempelajari dan memahami pengetahuan dan dapat digunakan untuk memecahkan masalah baru (Okebukola 1992 dalam Lufri 2003).

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 104

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Selain strategi peta konsep keterampilan metakognitif juga dipengaruhi oleh pembelajaran kooperatif. Pada pembelajaran kooperatif pembelajaran dilaksanakan dengan setting kelompokkelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Habibah (2008) melaporkan bahwa strategi pembelajaran PBMP+TPS berpengaruh terhadap pemahaman konsep dan keterampilan metakognitif, yang menunjukkan bahwa keterampilan metakognitif siswa kelas eksperimen lebih tinggi 9,16% daripada kelas kontrol. Selain itu penelitian Amnah (2009) melaporkan bahwa strategi TPS+SM dan TPS menunjukkan potensi yang tertinggi dalam meningkatkan keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif. Selain itu, Wahyu (2010) melaporkan bahwa penerapan strategi pembelajaran TPS dan strategi pembelajaran TPS yang dipadukan PBMP berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa. Strategi pembelajaran TPS+PBMP mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 7,35% lebih tinggi dari strategi pembelajaran TPS dan mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 15,37% lebih tinggi daripada strategi pembelajaran konvensional, sedangkan strategi pembelajaran TPS mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 3,67% lebih tinggi dari strategi konvensional. Pembelajaran kooperatif mendorong terjadinya interaksi sosial. Interaksi sosial yang terjadi ketika dilakukan pembelajaran dengan strategi pembelajaran kooperatif inilah yang mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa. Pembelajaran TPS yang meliputi kegiatan Think, Pair dan Share merupakan pembelajaran kooperatif yang mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa karena di dalamnya mencakup kegiatan monitoring berpasangan akan menjadikan kesempatan untuk siswa berbicara dengan lainnya tentang proses berpikir mereka, hal tersebut merupakan proses dari merumuskan pikiran agar tersampaikan kepada orang lain yang mengacu pada pengembangan keterampilan metakognitif. Kemampuan Berpikir Berdasarkan pada analisis data yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS berpengaruh terhadap kemampuan berpikir siswa. Siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS memiliki kemampuan berpikir yang lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Pengaruh strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS tersebut sejalan dengan penelitian Chotimah (2004) yang melalui Penelitian Tindakan Kelas melaporkan bahwa peta konsep dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa SMA, serta meningkatkan persentase ketuntasan belajar. Keberhasilan peta konsep melalui TPS dalam meningkatkan kemampuan berpikir didasari oleh beberapa alasan. Alasan-alasan tersebut akan dikemukakan lebih lanjut sebagai berikut. Salah satu kelebihan strategi peta konsep antara lain adalah membantu untuk berpikir lebih dalam dengan ide siswa dan menjadikan para siswa mengerti benar akan pengetahuan yang diperolehnya. Peta konsep juga membantu menyediakan sebuah pemikiran untuk menghubungkan konsep pembelajaran. Pada pembelajaran dengan peta konsep, pebelajar membangun keterkaitan antara berbagai konsep bahan pembelajaran. Menurut Corebima (2006) para pebelajar dapat membangun keterkaitan-keterkaitan itu secara individual maupun secara berkelompok. Melalui peta konsep para pebelajar dapat membangun pemahaman yang bersifat konseptual, dan dengan demikian para pebelajar dapat mencapai hasil belajar kognitif atas, yaitu berpikir kreatif. Kemampuan berpikir siswa juga dipengaruhi pula oleh pembelajaran kooperatif. Salah satu keuntungan pembelajaran kooperatif adalah siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir tinggi dan berpikir kritis. Menurut Yuanita (2006) TPS merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang dapat membantu meningkatkan kemampuan penalaran siswa.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 105

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Hasil penelitian yang terkait pengaruh TPS terhadap kemampuan berpikir adalah penelitian Sriwedari (2011) yang melaporkan bahwa pembelajaran dengan strategi TPS berpengaruh nyata terhadap kemampuan berpikir kritis. Siswa yang belajar dengan strategi TPS memiliki rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis lebih tinggi dibanding siswa yang belajar dengan strategi STAD maupun konvensional. Hasil penelitian lain yang juga terkait pengaruh TPS terhadap kemampuan berpikir adalah penelitian Yuliarini (2006). Yuliarini melaporkan bahwa penerapan pembelajaran berpola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan melalui TPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa kelas VII C SMPN 1 Pujon. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Safitri (2008) juga menunjukkan bahwa strategi TPS meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar. Senada dengan penelitian Yuanita (2006) yang menyimpulkan bahwa strategi TPS meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi. Terkait pengaruh TPS terhadap kemampuan berpikir kritis Wahyu (2010) melaporkan bahwa penerapan strategi pembelajaran TPS dan strategi pembelajaran TPS dipadu PBMP berpengaruh terhadap kemampuan berpikir siswa. Strategi pembelajaran TPS+PBMP mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 15,56% lebih tinggi dari strategi pembelajaran TPS dan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 44,90% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional, sedangkan strategi pembelajaran TPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 25,47% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. Strategi pembelajaran TPS memiliki beberapa karakteristik sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Menurut Susilo (2005) strategi pembelajaran TPS membantu siswa untuk memusatkan pemikirannya pada pelajaran. Pada strategi pembelajaran ini seorang siswa dituntut untuk berpikir secara individu dan melaporkan hasil pemikirannya kepada pasangannya. Peta konsep melalui TPS bertujuan meningkatkan penguasaan akademik. Pada strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS siswa dituntut untuk berpikir sendiri dalam mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar siswa yang dilakukan pada tahap Think. Selanjutnya siswa dituntut untuk berpikir bersama rekan belajaranya pada tahap Pair dan Share. Dikarenakan siswa selalu dituntut untuk berpikir, maka dapat dipahami bahwa kemampuan berpikir siswa akan lebih meningkat. Pemahaman Konsep Berdasarkan pada data yang telah dianalisis diperoleh kesimpulan bahwa strategi pembelajaran berpengaruh terhadap pemahaman konsep siswa. Berdasarkan hasil perbandingan rerata terkoreksi dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan pengajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS memiliki pemahaman konsep yang lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Berpengaruhnya strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS terhadap pemahaman konsep tersebut sejalan dengan penelitian Mulyono (2005) yang menyimpulkan bahwa penggunaan peta konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep sejarah di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Penelitian lain yang sejalan adalah penelitian Fajaroh, dkk, (1999) yang melaporkan bahwa penggunaan peta konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep mol siswa kelas I SMU Laboratorium UM. Fajaroh, dkk menyatakan bahwa dengan pembuatan peta konsep, siswa lebih dapat mengidentifiksi konsep-konsep menemukan keterkaitan antar konsep, serta menyelesaikan soal-soal kimia yang relevan, motivasi belajar, keaktifan serta prestasi belajar siswa meningkat. Strategi pembelajaran peta konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa karena memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut antara lain yaitu peta konsep dapat digunakan untuk mengetahui penguasaan konsep-konsep pada siswa. Penguasaan konsep-konsep oleh Gagne yang disebut konsep prasyarat merupakan faktor penting dalam menunjang siswa agar sampai pada berpikir tingkat tinggi yakni pemecahan masalah. Kelebihan peta konsep yang lain adalah membantu siswa untuk mengidentifikasi konsep, membantu menyediakan sebuah pemikiran untuk menghubungkan konsep pembelajaran, membantu untuk berpikir lebih dalam dan menjadikan para siswa mengerti benar akan pengetahuan yang

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 106

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) diperolehnya, mengklasifikasi ide yang diperoleh siswa tentang sesuatu dalam bentuk kata-kata, membuat suatu struktur pemahaman dari bagaimana semua fakta-fakta dihubungkan dengan pengetahuan berikutnya, belajar bagaimana mengorganisasi sesuatu mulai dari informasi, fakta dan konsep ke dalam suatu konteks pemahaman, sehingga terbentuk pemahaman yang baik. Selain strategi peta konsep pembelajaran kooperatif yang digunakan juga berpengaruh terhadap pemahaman konsep siswa. TPS merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dapat membantu meningkatkan kemampuan penalaran siswa. Terkait pengaruh TPS terhadap pemahaman konsep siswa, Nurul (2008) mengungkapkan bahwa strategi pembelajaran PBMP+TPS mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa sebesar 14,46% lebih tinggi daripada siswa yang menjalani pembelajaran kelompok. Penelitian lain yang dilakukan Iqbal (2005) juga menunjukkan adanya perbedaan peningkatan pemahaman konsep yang signifikan antara kelas TPS dan kelas konvensional. Penelitian lain yang juga terkait pengaruh TPS terhadap pemahamn konsep siswa yaitu penelitian Vivilia (2006) yang menunjukkna bahwa dengan strategi TPS pemahaman konsep siswa berkemampuan akademik atas meningkat 85,93%, sedangkan siswa berkemampuan akademik bawah pemahaman konsepnya mengalami peningkatan sebesar 89,64%. Metode TPS memberikan kesempatan kepada siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling membantu satu sama lain. Adanya kesempatan untuk memikirkan materi dan kesempatan berdiskusi memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat memahami materi secara lebih baik. Pada strategi pembelajaran TPS ini aspek kerja sama antar siswa dalam rangka memahami konsep juga ditingkatkan karena strategi TPS mencakup kegiatan diskusi dengan teman pasangan dan teman sekelas. Pembelajaran kooperatif membawa siswa pada kondisi saling tergantung satu sama lain. Kondisi seperti ini akan mendorong siswa untuk dapat berperilaku sosial dengan lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu pembelajaran kooperatif juga akan meningkatkan aktivitas berpikir siswa karena dituntut untuk dapat bekerja sama dengan teman sebayanya dalam penyelesaian permasalahan pada kegiatan pembelajaran. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dengan demikian jalannya kegiatan dalam kelas lebih terarah sehingga pemahaman konsep yang menjadi inti kegiatan pembelajaran di dalam kelas dapat tercapai dengan lebih mudah. Pemahaman konsep berkaitan erat dengan kemampuan berpikir siswa. Siswa dengan kemampuan berpikir lebih tinggi akan memiliki pemahaman konsep yang lebih baik dari pada siswa dengan kemampuan berpikir lebih rendah. Siswa dengan kemampuan berpikir yang lebih baik akan lebih mudah mencerna materi yang sedang diajarkan sehingga akan memperoleh pemahaman konsep yang lebih mendalam. Faktor keterampilan metakognitif juga turut berperan dalam pemahaman konsep. Siswa yang memiliki keterampilan metakognitif yang baik akan dapat memfokuskan perhatian pada aspek-aspek penting sehingga pemahaman terhadap konsep-konsep penting dapat dioptimalkan. Keterampilan metakognitif membantu untuk memfokuskan perhatian pada informasi penting dan menyimpan dalam ingatan yang terkadang pemfokusan perhatian ini dapat dilakukan melalui permodelan. Jadi keterampilan metakognitif berperan dalam upaya menyadarkan siswa mengenai bagian-bagian penting yang harus dipahami dari suatu materi pelajaran. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan metakognitif yang meliputi kesadaran dan keterampilan metakognitif, kemampuan metakognitif dan pemahaman konsep saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang diperoleh. Dapat dilihat bahwa strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir dan pemahaman konsep. Hubungan antara keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir dan pemahaman konsep selanjutnya akan dijelaskan sebagai berikut. Penelitian yang terkait hubungan keterampilan metakognitif dengan kemampuan berpikir adalah penelitian Purwanto (2010) yang meneliti tentang hubungan keterampilan metakognitif dengan kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran berbasis proyek (PBE) kelas X SMA di Malang. Purwanto mengemukakan bahwa keterampilan metakognitif berhubungan dengan pemahaman konsep

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 107

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) terhadap materi yang sedang dipelajari. Keterampilan metakognitif yang tinggi menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang tinggi pula. Hal ini terkait dengan keterampilan metakognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa mampu mengatur dan mengontrol kegiatan belajarnya sendiri. Kegiatan mengontrol diri sendiri bisa memunculkan suatu pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa sendiri serta evaluasi terhadap diri siswa sendiri. Proses pencarian jawaban dari pertanyaan yang muncul dan evaluasi diri akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan metakognitif diikuti dengan peningkatan kemampuan berpikir yang selanjutnya juga akan diiringi dengan peningkatan pemahaman konsep siswa. Hasil penelitian tentang hubungan hubungan keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep telah diteliti oleh Atunashika (2010) yang meneliti tentang hubungan keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa laki-laki dan perempuan kelas IV SDN Penanggungan Malang pada pelajaran sains dengan strategi pembelajaran PBMP dan TPS. Atunashika menyatakan bahwa keterampilan metakognitif berhubungan dengan pemahaman konsep terhadap materi yang dipelajari. Keterampilan metakognitif yang tinggi menunjukkan pemahaman konsep yang tinggi pula. Hal tersebut tekait dengan kemampuan berpikir yang dapat membantu siswa agar lebih mudah menguasai, memahami, dan mengingat materi pelajaran dengan baik. Keterampilan metakognitif yang dimiliki siswa berhubungan dengan kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep materi yang sedang dipelajari. Keterampilan metakognitif yang tinggi akan membuat siswa mampu menyadari secara penuh kekurangan yang dimiliki sehingga mampu melalukan perbaikan-perbaikan demi mencapai tujuan belajar. Selanjutnya terkait hubungan antara pemahaman konsep dan kemampuan berpikir, Surachman (2010) menyimpulkan dalam hasil penelitiannya yang berjudul Hubungan pemahaman Konsep dan Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran berbasis Proyek Mata pelajaran Biologi kelas X Di Malang, bahwa terdapat hubungan kuat antara pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis dalam PBP dengan nilai keterandalan 73,4%. Surachman menyatakan bahwa memahami konsep yaitu melalui tahap yang dinamakan berpikir dan sebagai produknya adalah pemahaman konsep. Kemampuan seseorang untuk berpikir akan mempengaruhi pemahaman konsep. Pemahaman konsep siswa didapat dengan mengkonstruk pengetahuan yang dimiliki siswa sendiri. Siswa mengkonstruk pengetahuan tersebut melalui suatu proses yang disebut berpikir.
KESIMPULAN

1. Penerapan strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share tidak berpengaruh terhadap kesadaran metakognitif pada siswa kelas VII SMP Darul Ulum 1 Jombang. Namun strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan kesadaran metakognitif siswa sebesar 2,08% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. 2. Penerapan strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif pada siswa kelas VII SMP Darul Ulum 1 Jombang. Strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 18,44% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. 3. Penerapan strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share berpengaruh terhadap kemampuan berpikir pada siswa kelas VII SMP Darul Ulum 1 Jombang. Strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa sebesar 11,57% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. 4. Penerapan strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share berpengaruh terhadap pemahaman konsep biologi pada siswa kelas VII SMP Darul Ulum 1 Jombang. Strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa sebesar 24,76% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional.
DAFTAR RUJUKAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 108

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Amnah, S. 2009. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share, Jigsaw, Kombinasi dengan Strategi Metakognitif, dan Kemampuan Akademik Siswa terhadap Kesadaran Metakognitif, Keterampilan Metakognitif, dan Hasil Belajar Kognitif Siswa di SMAN Kota Pekanbaru Riau. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Atunashika, L. 2010. Hubungan Keterampilan Metakognitif dan Pemahaman Konsep Siswa Laki-Laki dan Perempuan Kelas IV SDN Penanggungan Malang pada Pelajaran Sains dengan Strategi Pembelajaran PBMP dan TPS. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Corebima, A.D. 2006. Pengertian Metakognisi. Makalah pada pelatihan strategi metakognitif pada pembelajaran Biologi untuk guru-guru Biologi SMA di kota Palangkaraya. 23 Agustus 2006. Chotimah, H. 2004. Penggunaan Peta Konsep dalam Tatanan Belajar Tuntas untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Konsep Sistem Ekskresi Siswa Kelas II SMA Laboratorium UM. Tesis tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Fajaroh, F., Kartini, R. & Mardiyanto, D. 1999. Penggunaan Peta Konsep untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mol Siswa Kelas I SMU Laboratorium IKIP Malang. Malang: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang. Habibah, K.N. 2008. Pengaruh Strategi Pembelajaran PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) + TPS (Think Pair Share) terhadap Kemampuan Berpikir, Keterampilan Metakognitif, dan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMPN 4 Malang pada Kemampuan Akademik Berbeda. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Iqbal, M. 2005. Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Teknik Think-Pair-Share terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Kelas I SMP pada Konsep Ekosistem. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Lufri. 2003. Pembelajaran Perkembangan Hewan Berbasis Problem Solving yang Diinterversi dengan Peta Konsep dan Pengaruhnya terhadap Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Mulyono, D.U. 2005. Upaya peningkatan pemahaman konsep sejarah melalui peta konsep siswa kelas II Laboratorium UM. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Nurul, K. 2008. Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran PBMP+TPS terhadap Keterampilan Metakognitif dan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII di SMPN 4 Malang dengan Kemampuan Akademik Berbeda. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Purwanto, I. 2010. Hubungan Keterampilan Metakognitif dan Kemampuan Berpikir Kritis pada Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) Kelas X SMAN di Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Puspitasari, S. 2010. Pengaruh Strategi Pembelajaran TPS dan TPSPBMP terhadap Kesadaran dan Keterampilan Metakognitif, serta Pemahaman Konsep pada Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Safitri, D.A.A. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Model TPS untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPS II SMAN I Boyolangu Tulungagung. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Sriwedari, T. 2011. Pengaruh Penerapan Pembelajaran Koperatif STAD dan TPS terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Keterampilan Proses, dan Hasil Belajar Kognitif Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Surachman, Y. 2010. Hubungan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Berbasis Proyek Mata Pelajaran Biologi Kelas X Di Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Susilo, H. 2005. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share. Makalah disajikan pada pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) pada pembelajaran dengan tema “Pemberdayaan Kemampuan Berpikir Selama Pembelajaran sebagai Langkah Strategis Implementasi Kurikulum 2004” bagi para guru dan mahasiswa sains biologi dalam rangka RUKK VA. 25 Juni 2005. Susilo, H., Corebima, A.D. & Ibrahim, M. 2004. Pengembangan Kemampuan Berpikir Siswa melalui Pembelajaran Kontekstual dalam Mata Pelajaran IPA/Biologi. UM: Laporan Kemajuan Hibah Penelitian Tim Pascasarjana-HPTP. Vivilia, N. 2006. Pengaruh Penerapan Pemberdayaan Berpikir melalui Pertanyaan (PBMP) dengan Metode Think Pair Share (TPS) terhadap Pencapaian Kecakapan Akademik dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII SMPN 11 Malang Berkemampuan Tinggi dan Rendah. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 109

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Wahyu, T.A. 2010. Pengaruh Strategi Pembelajaran TPS(Think Pair Share) dan TPS yang dipadu PBMP(Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) terhadap Keterampilan Metakognitif, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas VII SMP 2 Singosari. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang. Yuanita, A.R. 2006. Hubungan Antara Kemampuan Berpikir dan hasil Belajar pada Pembelajaran Biologi dengan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dan Think Pair Share (TPS) di SMPN 18 Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 110

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

IMPLEMENTASI LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMANFAATKAN SUMBER BELAJAR OLEH MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DAN HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 4 MALANG

Erni Purnasari 1) Herawati Susilo 2) Susriyati Mahanal 3)
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang 1) e-mail. erni.purnasari@yahoo.com 2) email. herawati_susilo@yahoo.com 3) email. mahanals@yahoo.com

Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan lesson study,
kemampuan memanfaatkan sumber belajar melalui implementasi lesson study oleh guru model mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM di SMA Negeri 4 Malang, serta perkembangan kemampuan memanfaatkan sumber belajar dalam hubungannya dengan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM angkatan 2007 yang melaksanakan PPL semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan jumlah mahasiswa 3 orang sebagai guru model. Penelitian dilakukan di kelas X-1, X-2, dan X-3 yang diamati oleh 3—5 orang observer. Hasil penelitian adalah keterlaksanaan implementasi lesson study dari tahap plan, do, dan see mengalami peningkatan dari lesson study ke-1 sampai ke9, kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh guru model mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM melalui implementasi lesson study dengan sub variabel kemampuan memilih dan menggunakan sumber belajar tergolong dalam kategori sangat baik, perkembangan kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh guru model mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM melalui implementasi lesson study dalam hubungannya dengan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Nilai rata-rata kelas ulangan harian Vermes mengalami peningkatan sebesar 37,7 untuk kelas X-1, 30,9 untuk kelas X-2, dan 36,8 untuk kelas X-3.

Kata kunci: lesson study, sumber belajar, guru model, hasil belajar Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan sehingga dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Harapannya, dengan berbagai upaya yang dilakukan mampu meningkatkan pembelajaran serta menjadikan para guru Indonesia sebagai profesional dalam bidang kependidikan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, terdapat satu kompetensi pedagogik yang menyatakan bahwa guru mata pelajaran diharapkan mampu menggunakan media pembelajaran

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 111

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dan sumber belajar yang relevan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh. Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu (Depdiknas, 2004). Penguasaan kemampuan calon guru atau guru dalam memilih dan menggunakan berbagai sumber belajar serta mengintegrasikannya ke dalam desain pembelajaran akan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pembelajaran biologi bisa lebih bermakna dan mudah dipahami jika sumber belajar yang digunakan relevan dan bervariasi. Sumber belajar bervariasi meliputi buku teks, situs internet, dan sumber belajar dari lingkungan sekitar (alam). Garfield (2006) menyatakan bahwa lesson study merupakan sebuah proses sistematis yang digunakan oleh para guru di Jepang untuk menguji keefektifan pembelajaran dalam rangka mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran. Hendayana, dkk (2006:10) menyatakan bahwa lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Stigler & Hiebert (1999) dalam Burroughs (2010) menyatakan jika mahasiswa calon guru dikenalkan dengan perencanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran secara kolaboratif maka para calon guru akan lebih siap melaksanakan perannya sebagai pengajar. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan lesson study sangat efektif dilakukan oleh para calon guru untuk meningkatkan kinerja serta keprofesionalannya. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, lesson study sudah pernah dilaksanakan di SMA Negeri 4 Malang pada saat praktik pengalaman lapangan (PPL) oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang. Namun lesson study yang diterapkan masih belum memenuhi kaidahkaidah yang sesungguhnya karena hanya dilaksanakan sekali sebagai tuntutan tugas dari pelaksanaan PPL. Selain itu, pembelajaran di SMA Negeri 4 Malang masih belum memanfaatkan sumber belajar secara optimal baik bahan, lingkungan maupun teknik sehingga masih ada siswa yang belum termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan lesson study, kemampuan memanfaatkan sumber belajar melalui implementasi lesson study oleh guru model mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM di SMA Negeri 4 Malang, serta perkembangan kemampuan memanfaatkan sumber belajar dalam hubungannya dengan hasil belajar siswa.
METODE

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM angkatan 2007 yang melaksanakan PPL semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan jumlah mahasiswa 3 orang sebagai guru model, siswa kelas X-1, X-2, dan X-3, serta 3—5 observer. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Malang yang terletak di Jalan Tugu Utara No. 1 Malang pada bulan Maret s.d April sebanyak 9 siklus lesson study dengan jadwal pelaksanaan dapat dilihat di Tabel 1. Penelitian dilakukan di kelas X-1, X-2, X-3, diamati oleh 3—5 orang observer di antaranya teman sejawat peneliti, guru bidang studi, serta dosen pembimbing. Data yang dikumpulkan berupa data keterlaksanaan lesson study, kemampuan memanfaatkan sumber belajar (kemampuan memilih dan menggunakan sumber belajar) dan perkembangan memanfaatkan sumber belajar kaitannya dengan hasil belajar. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar observasi, lembar penilaian, dan lembar angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi, paparan data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi data. Pada penelitian ini, setiap satu siklus (plan, do, dan see) tidak selalu dalam 1 plan, 1 do, dan 1 see, akan tetapi dalam penelitian ini memiliki variasi tahapan di tiap siklusnya antara lain 1 kali plan,

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 112

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1 kali do, dan 1 kali see. Ada pula 1 kali plan, 2 kali do, dan 1 kali see, dan 1 kali plan, 3 kali do, dan 1 kali see .
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keterlaksanaan Lesson Study oleh Guru Model Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM Keterlaksanaan lesson study untuk meningkatkan kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh guru model mahasiswa pendidikan Biologi merupakan gabungan skor rata-rata pada tahapan lesson study yaitu: 1) perencananaan (plan), 2) pelaksanaan (do), dan 3) refleksi (see) yang dilaksanakan oleh 3 mahasiswa pendidikan Biologi selama 9 siklus lesson study. Keterlaksanaan LS dilihat melalui pengamatan langsung dengan menggunakan lembar observasi tahap plan, do, dan see yang diisi oleh observer pada setiap pelaksanaan tahapan dalam LS. Sebaran keterlaksanaan LS oleh guru model mahasiswa Pendidikan Biologi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi Keterlaksanaan Lesson Study
No Tahapan Lesson Study 1 Perencanaan (plan) 2 Pelaksanaan (do) 3 Refleksi (see) Rata-rata Keterlaksanaan Skor Rata-rata Keterlaksanaan (%) 93,9 93,1 89,4 92,1 Kategori Sangat tinggi Sangat tinggi Tinggi Sangat tinggi

Tabel 1 menunjukkan bahwa keterlaksanaan langkah-langkah tahap plan, tahap do sangat tinggi dan tahap see tinggi sesuai dengan standar monitoring pada lembar observasi. Keterlaksanaan tahap plan mulai dari tahap plan awal hingga tahap plan akhir dalam penelitian ini tergolong sangat tinggi di mana indikator keterlaksanaannya didasarkan oleh kemampuan memanfaatkan sumber belajar. Beberapa indikator keterlaksanaannya antara lain tim LS merencanakan rencana pembelajaran dengan pemanfaatan sumber belajar berupa buku paket, bahan praktikum (cacing tanah, awetan basah), gambar dan video dari internet. Selain itu, tim LS juga mendiskusikan kesesuaian sumber belajar yang akan digunakan serta permasalahan-permasalahan yang sekiranya muncul ketika pembelajaran berlangsung. Meskipun tergolong sangat tinggi, pada tahap plan sangat dibutuhkan sebuah komitmen bersama salah satunya kesediaan komunitas belajar untuk hadir pada saat perencanaan (plan). Adanya kolaborasi antar mahasiswa calon guru dan guru mampu meningkatkan kinerja dalam menyusun sebuah rancangan pembelajaran yang lebih operasional berdasarkan pemikiran banyak orang. Keterlaksanaan tahap do sangat tinggi, guru model dalam hal ini mahasiswa calon guru semakin terampil dalam memanfaatkan sumber belajar yang relevan untuk siswa. Guru model cakap dalam memilih berbagai video tentang vermes sebagai ganti bahan amatan yang belum bisa didapatkan. Selain itu, guru model sudah aktif membimbing siswa untuk menggunakan sumber belajar yang tersedia (buku paket, bahan amatan). Adanya pengamatan oleh para observer dapat membantu guru model dalam memahami situasi kelas serta melaksanakan perbaikan di pembelajaran selanjutnya. Masing-masing guru model serta para observer saling berbagi pengalaman mengenai pembelajaran yang pernah dilakukan. Hal ini didukung oleh temuan dari Murata (Tanpa tahun) yang menyatakan bahwa dengan lesson study calon guru belajar untuk mendalami pemahaman tentang belajar dan membelajarkan serta satu aspek penting dalam lesson study yang bernilai yaitu kolaborasi. Tahap pelaksanaan (do) merupakan tahap di mana peran observer sangat diperlukan. Tahap pelaksanaan (do) akan berjalan dengan baik jika jumlah observer sebanding dengan jumlah kelompok siswa yang ada di kelas sehingga setiap observer dapat mengamati satu kelompok tertentu. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa setiap pengamat dapat mengamati satu kelompok tertentu, terutama Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 113

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bagi pengamat pemula. Akan tetapi, pengamat juga dapat mengamati siswa/kelompok lain sehingga dapat mengetahui kondisi dan situasi secara keseluruhan (Syamsuri dan Ibrohim, 2008:89). Keterlaksanaan tahap see tergolong dalam kategori tinggi, meskipun awalnya moderator tidak mengenalkan tim LS karena dianggap sudah saling kenal, kemudian moderator belum menyampaikan susunan acara dan tata tertib refleksi serta belum memberi saran untuk pembelajaran yang lebih sesuai untuk pertemuan mendatang. Moderator selanjutnya menunjukkan perbaikan yaitu mengenalkan tim LS, menyampaikan susunan acara dan tata tertib refleksi, memberi saran untuk pembelajaran yang lebih sesuai untuk pertemuan selanjutnya. Para observer akhirnya terlatih untuk menyampaikan masukan yang membangun. Hal-hal menarik muncul saat pelaksanaan pembelajaran untuk materi Platyhelminthes, Nemathelminthes, dan Annelida. Pelaksanaan pembelajaran pada materi Platyhelminthes menggunakan model TPS dipadu dengan Role Playing. Ternyata dengan mengajak siswa untuk bermain peran dapat memotivasi siswa untuk konsentrasi belajar dan menciptakan sebuah pembelajaran yang menyenangkan. Selain model role playing, dalam penelitian ini juga digunakan model make a match dipadu praktikum untuk materi Annelida, dan NHT untuk materi Nemathelminthes. Usaha tim LS menggunakan beberapa model pembelajaran inovatif membuahkan hasil, ternyata siswa lebih tertarik dengan model make a match yang dipadu dengan praktikum serta role playing. Model make a match digunakan untuk memotivasi siswa agar lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Adanya sumber belajar yang berupa bahan asli (cacing tanah) menjadikan siswa lebih termotivasi dalam belajar karena wujud asli cacing tanah bisa diamati langsung oleh siswa. Sumber belajar berupa teknik atau lebih tepatnya model pembelajaran (role playing dan make a match) dapat mendukung pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga siswa bisa menyerap informasi dari kegiatan tersebut. Penelitian ini banyak memberikan manfaat bagi guru model. Lesson study mampu mengurangi isolasi guru, menciptakan keterbukaan guru model terhadap saran dan masukan dari para observer demi terwujudnya pembelajaran yang lebih baik. Lesson study secara otomatis akan meningkatkan kinerja guru model dalam pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan refleksi. Catherine Lewis (2002) menyatakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: 1) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan lesson study), 2) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, 3) mengembangkan keahlian dalam mengajar, 4) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, 5) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dengan dihadirkannya para observer, pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas. B. Kemampuan Memanfaatkan Sumber Belajar oleh Guru Model Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM melalui Implementasi Lesson Study Kemampuan guru model dalam memanfaatkan sumber belajar terdiri dari dua variabel yaitu kemampuan memilih sumber belajar dan kemampuan menggunakan sumber belajar yang dilaksanakan pada tiap siklus. Sebaran kemampuan guru model dalam memanfaatkan sumber belajar jika dideskripsikan berdasarkan sub variabel adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Distribusi Kemampuan Guru Model Mahasiswa Pendidikan Biologi dalam Memanfaatkan Sumber Belajar
No Sub Variabel 1 Kemampuan memilih sumber belajar 2 Kemampuan menggunakan sumber belajar Nilai Rata-rata Skor Rata-rata (%) 95,6 91,0 93,3 Kategori Sangat baik Sangat baik Sangat baik

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 114

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Penjabaran kemampuan guru model dalam memilih sumber belajar dan menggunakan sumber belajar pada tiap siklus LS dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4. Tabel 3. Distribusi Kemampuan Guru Model Mahasiswa Pendidikan Biologi dalam Memilih Sumber Belajar
No 1 2 3 Guru Model LS I Eva Nurul M (GM I) 91,7 Erni Purnasari (GM II) 94,4 Sulistyawati (GM III) 94,4 Nilai Rata-rata LS II 94,4 97,2 95,6 LS III 97,2 97,8 97,8 Skor Rata-rata (%) 94,4 96,5 95,9 95,6 Kategori Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik

Tabel 3 menunjukkan bahwa sebaran kemampuan memilih sumber belajar pada setiap guru model mengalami peningkatan selama kegiatan lesson study. Guru model semakin hari semakin mampu memilih sumber belajar baik bahan, alat, teknik maupun lingkungan. Guru model mengetahui buku paket biologi apa yang isinya lebih lengkap sehingga bisa dipadukan dengan buku paket bilingual yang cenderung sedikit materinya. Selain itu, pemilihan video pembelajaran digunakan untuk melengkapi sumber belajar yang mungkin sulit diamati secara langsung misalnya faring pada Planaria sp, wujud asli Fasciola hepatica, Taenia solium, Ascaris lumbricoides, contoh lain dari kelas Polychaeta yang ada di laut. Semua sumber belajar yang dimanfaatkan sangat membantu siswa dalam belajar di kelas dan mampu merangsang siswa untuk bertanya. Sumber belajar berupa teknik (role playing, make a match, dan praktikum) mampu meningkatkan motivasi belajar siswa serta mengaktifkan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran bisa lebih bermakna bagi siswa. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya learning community serta kolaborasi dalam lesson study mampu meningkatkan kinerja guru model dalam memilih sumber belajar. Model pengembangan profesional ini digunakan secara sistematis untuk memperdalam pengetahuan, meningkatkan pemahaman pedagogis, dan mengembangkan kemampuan untuk mengobservasi dan memahami pembelajaran siswa (Murata & Takahashi, 2002) dalam Burroughs (2010). Hasil penelitian ini sependapat dengan Stigler & Hiebert (1999) dalam Burroughs (2010) yang menyatakan bahwa jika mahasiswa calon guru dikenalkan dengan perencanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran secara kolaboratif maka para calon guru akan lebih siap melaksanakan perannya sebagai pengajar. Tabel 4. Distribusi Kemampuan Guru Model Mahasiswa Pendidikan Biologi dalam Menggunakan Sumber Belajar
No 1 2 3 Guru Model LS I Eva Nurul M (GM I) 80,0 Erni Purnasari (GM II) 95,8 Sulistyawati (GM III) 93,1 Nilai Rata-rata LS II 96,3 92,6 94,4 LS III 83,3 98,1 85,2 Skor Rata-rata (%) 86,5 95,5 90,9 91,0 Kategori Baik Sangat baik Sangat Baik Sangat baik

Tabel 4 menunjukkan bahwa sebaran kemampuan menggunakan sumber belajar pada setiap guru model mengalami peningkatan selama kegiatan lesson study. Setiap guru model memiliki gaya mengajar yang berbeda serta kelas yang diajar juga berbeda. Selain itu setiap materi pelajaran yang diajarkan membutuhkan sumber belajar yang berbeda. Meskipun guru model meniru kemampuan guru model lainnya namun masing-masing guru model tetap memiliki ciri khas dalam mengajar. Seperti pendapat guru Jepang yang secara kontinyu melakukan kolaborasi dalam Lewis (2000:25): .... your lesson must become your own original thing, not simply imitation of others. Dapat dilihat bahwa dengan lesson study yang dilaksanakan selama 9 siklus, guru model mampu memanfaatkan sumber belajar dengan sangat baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilo (2010:3) bahwa diperlukan banyak sekali ”research lesson” atau ”open class” untuk diamati oleh banyak orang dalam waktu yang relatif panjang. Sembilan siklus lesson study dikatakan sudah cukup

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 115

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mampu meningkatkan kemampuan memanfaatkan sumber belajar pada akhir lesson study. Proses ini akan lebih baik, jika kegiatan lesson study bisa dilaksanakan secara kontinyu, paling tidak seminggu 1 kali melakukan open class. C. Perkembangan Kemampuan Memanfaatkan Sumber Belajar oleh Guru Model Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM melalui Implementasi Lesson Study dalam Hubungannya dengan Hasil Belajar Siswa Perkembangan kemampuan memanfaatkan sumber belajar merupakan perubahan kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh 3 guru model dengan masing-masing 3 siklus LS. Kemampuan guru model dalam memanfaatkan sumber belajar terdiri dari sub variabel yaitu kemampuan memilih sumber belajar dan kemampuan menggunakan sumber belajar. Penjelasan data hasil penelitian perkembangan kemampuan memanfaatkan sumber belajar adalah sebagai berikut.
a. Grafik Perkembangan Kemampuan Memilih Sumber Belajar

Berdasarkan analisis data pada Tabel 3, apabila digambarkan dengan grafik perkembangan kemampuan memilih sumber belajar pada masing-masing guru model terlihat seperti Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Perkembangan Kemampuan Memilih Sumber Belajar oleh Masing-Masing Guru Model Berdasarkan grafik perkembangan kemampuan memilih sumber belajar menunjukkan bahwa masing-masing guru model mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan lesson study guru model dapat meningkatkan kinerjanya sehingga mutu pembelajaran juga meningkat. Aspek penting dalam lesson study yaitu kolaborasi antar guru senior, calon guru, dan dosen pendamping. Peneliti sependapat dengan Sitepu (2008:81), yang menyatakan bahwa penguasaan kemampuan calon pendidik dalam mengenali dan menggunakan aneka sumber belajar serta mengintegrasikannya ke dalam desain pembelajaran meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar dan membelajarkan peserta didik ketika mereka kelak melaksanakan tugasnya. b. Grafik Perkembangan Kemampuan Menggunakan Sumber Belajar Berdasarkan analisis data pada Tabel 4 apabila digambarkan dengan grafik perkembangan kemampuan menggunakan sumber belajar masing-masing guru model terlihat seperti Gambar 2.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 116

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 2. Grafik Perkembangan Kemampuan Menggunakan Sumber Belajar oleh MasingMasing Guru Model Berdasarkan grafik perkembangan kemampuan menggunakan sumber belajar menunjukkan bahwa kemampuan masing-masing guru model mengalami peningkatan. Masing-masing guru model mengajar di kelas yang berbeda dengan kondisi klasikal yang berbeda pula serta materi yang diajarkan juga memiliki karakteristik penggunaan sumber dan media belajar yang berbeda. Hal ini menyebabkan kemampuan masing-masing guru model berbeda. Sesuai dengan pendapat Maurer dalam artikel yang berjudul Lessons Learned menyatakan bahwa tidak semua rancangan dapat diaplikasikan pada kondisi kelas yang berbeda meskipun desain rancangannya sama (Maurer, 2010:33). Kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh guru model diukur pula dengan hasil belajar siswa sebelum dan setelah LS. Nilai rata-rata kelas ulangan harian siswa mengalami peningkatan sebesar 37,7 untuk kelas X-1, 30,9 untuk kelas X-2, dan 36,8 untuk kelas X-3. Hasil belajar siswa masih perlu ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas pembelajaran yang dirancang dengan baik salah satunya dengan kemampuan guru memanfaatkan aneka sumber belajar yang relevan untuk siswa agar dapat belajar dengan baik. Hasil Angket Respons Siswa Terhadap Pembelajaran Persentase ketertarikan siswa dalam mengikuti pelajaran Biologi diperoleh dari 10 angket siswa untuk tiap materi pelajaran dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Data Hasil Respons Siswa terhadap Pembelajaran
Materi Pelajaran Platyhelminthes Nemathelminthes Annelida Tidak Menarik 0 0 0 Respons Siswa (%) Cukup Menarik Menarik 10 90 20 70 0 60 Sangat Menarik 0 10 40

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian, dapat diperoleh kesimpulan yaitu: a) keterlaksanaan implementasi lesson study dari tahap plan, do, dan see mengalami peningkatan dari lesson study ke-1 sampai ke-9; b) kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh guru model mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM melalui implementasi lesson study dengan sub variabel kemampuan memilih dan menggunakan sumber belajar tergolong dalam kategori sangat baik; c) perkembangan kemampuan memanfaatkan sumber belajar oleh guru model mahasiswa

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 117

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM melalui implementasi lesson study dalam hubungannya dengan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. DAFTAR RUJUKAN
Burroughs, E. A. & Luebeck, J. L. 2010. Pre-service Teachers in Mathematics Lesson Study. The Montana Mathematics Enthusiast, 7 (2&3): 391-400. (Online), (http://www.math.umt.edu/tmme/vol7no2and3/14_burroughsluebeck_TMME_vol7nos2and3_pp.pdf, diakses 29 Mei 2011. Depdiknas. 2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar. Jakarta. Garfield, Joan. 2006. Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective Statistics Curriculum. (Online), (http://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/11/Garfield.doc), diakses 31 Mei 2011. Hendayana, dkk. 2006. Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMPSTEP-JICA). Bandung: UPI Press. Lewis, C. 2002. Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Nagoya Journal of Education and Human Development, 2002 (1):1-23. (Online), (http://www.lessonstudygroup.net/lg/readings/DoeslessonstudyhaveafutureintheUSLewisC/Doeslessonstu dyhaveafutureintheUSLewisC.pdf), diakses 31 Mei 2011. Maurer, J.M. 2010. Lessons Learned. Science and Children 47 (9): 33. Murata, A. dan Photen, B.E. Tanpa tahun. Lesson Study In Preservice Elementary Mathematics Methods Courses: Connecting Emerging Practice And Understanding. (Online), (http://www.lessonresearch.net/Murata.Pothen.pdf), diakses 29 Mei 2011. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru. 2007. Staff UGM (Online), (http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/Permen16-2007Kompetensi Guru.pdf), diakses 16 Januari 2011. Sitepu, BP. 2008. Pengembangan Sumber Belajar. Jurnal Pendidikan Penabur, (Online), 7 (11):79-92, (http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.%2079-92%20Pengembangan%20Sumber%20Belajar.pdf), diakses 31 Mei 2011. Susilo, Herawati. Dkk. 2010. Lesson Study Berbasis MGMP Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru. Malang: Surya Pena Gemilang. Syamsuri, I. dan Ibrohim. 2008. Studi Pembelajaran (Lesson Study): Model Pembinaan Pendidikan Pendidik Secara Kolaboratif dan Berkelanjutan, Dipetik dari Program SISTTEMS-JICA di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (2006-2008). Malang: FMIPA UM. Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2005. Ditjen Dikti (Online), (http://www.dikti.go.id/tatalaksana/upload/uu_14_2005.pdf), diakses 16 Januari 2011.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 118

PENERAPAN METODE ROLE PLAYING MEMUDAHKAN SISWA KELAS IXF SMP NEGERI 2 GEMPOL MEMAHAMI PROSES TERJADINYA OVULASI

Lilis Suryani 1) Siti Zubaidah 2)
1) SMP Negeri 2 Gempol Pasuruan 2) Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, e-mail. zubaidah_2668@yahoo.com

Abstrak: Pada pembelajaran biologi, siswa sering mengalami kesulitan menguasai konsep dasar
dan menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh tentang proses terjadinya ovulasi. Proses ovulasi telah diketahui oleh siswa melalui bacaan sebagai sumber informasi, tetapi bagaimana proses terjadi ovulasi, merupakan hal yang sulit bagi siswa jika membayangkan bagaimana proses terjadinya, karena prosesnya melibatkan dua proses yaitu menstruasi dan fertilisasi. Pada kegiatan lesson study di SMP Negeri 2 Gempol telah dilaksanakan open class dengan menggunakan metode role playing pada konsep ovulasi. Penerapan metode ini telah membuat siswa merasa senang karena berperan secara langsung dalam pembelajaran dan nampak aktivitas siswa secara individu meningkat. Kerja sama dalam kelompok nampak berjalan baik. Penerapan metode juga memudahkan pemahaman siswa tentang proses terjadinya ovulasi pada manusia, melalui pengamatan secara langsung terhadap peran yang dimainkan teman-teman sekelasnya.

Kata kunci: role playing, pemahaman siswa, ovulasi Materi Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), khususnya biologi berkaitan dengan cara memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia. Salah satu kompetensi yang ingin ditanamkan kepada siswa adalah penguasaan pengetahuan,yang berupa fakta-fakta dan konsep. Pada umumnya siswa hanya tahu saja tentang sesuatu hal melalui fakta tetapi tak berpikir bagaimana hal itu terjadi. Sebagai contoh, tentang mengapa perempuan mengalami proses menstruasi sedangkan laki-laki tidak mengalami proses tersebut. Konsep ovulasi merupakan salah satu konsep yang telah diketahui oleh siswa melalui bacaan sebagai sumber informasi, tetapi bagaimana proses terjadi ovulasi, merupakan hal yang sulit bagi siswa jika membayangkan bagaimana proses terjadinya, karena prosesnya melibatkan dua proses yaitu menstruasi dan fertilisasi. Masalah tersebut dicoba diatasi melalui kegiatan lesson study di SMP Negeri 2 Gempol telah dilaksanakan open class dengan menggunakan metode role playing pada konsep ovulasi. Role playing atau bermain peran merupakan suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial (Sudjana, 2009:89 dalam La Ode, 2010). Pada metode role playing ini, proses pembelajaran ditekankan pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi, baik guru maupun siswa. Menurut Palupi (2010), bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi. Untuk kepentingan tersebut, sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Menurut Alhafidzh (2010:1 dalam La Ode, 2010), metode role playing memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, dan dapat digunakan apabila: (1) Pelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang. (2) Pelajaran dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan. (3) Jika mengharapkan partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan. (4) Apabila dimaksudkan untuk mendapatkan ketrampilan tertentu sehingga diharapkan siswa mendapatkan bekal pengalaman yang berharga, setelah mereka terjun dalam masyarakat kelak. (5) Dapat menghilangkan malu, di mana bagi siswa yang tadinya mempunyai sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat dapat berangsur-angsur hilang, menjadi terbiasa dan terbuka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. (6) Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga amat berguna bagi kehidupannya dan masa depannya kelak, terutama yag berbakat bermain drama, lakon film dan sebagainya. Sadali (2010) menjelaskan empat asumsi yang mendasari model mengajar ini yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah: Pertama, secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menekankan dimensi "di sini dan kini" (here and now) sebagai isi pengajaran. Kedua, bermain peran memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain. Ketiga, model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Keempat, model mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi (covert) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. Sebagaimana dengan metode-metode pembelajaran yang lain, metode role playing memiliki kelebihan dan kelemahan, karena secara prinsip tidak ada satupun metode pembelajaran yang sempurna. Semua metode pembelajaran saling melengkapi satu sama lain. Penggunaannya di dalam proses pembelajaran dapat dikolaborasikan, bergantung dari karakteristik materi pokok pelajaran yang diajarkan kepada siswa. Kelebihan maupun kelemahan metode role playing sebagaimana dijelaskan Makhrufi (2009:3 dalam La Ode, 2010) adalah berikut ini. Kelebihannya: (1) dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengalaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan; (b) sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias; (c) membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi; (d) dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri; (e) dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan atau membuka kesempatan bagi lapangan kerja. Kelemahannya antara lain: (a) jika siswa tidak dipersiapkan secara baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sunguguh-sungguh; (b) bermain peran mungkin tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung; (c) bermain peran tidak selamanya menuju arah yang diharapkan seseorang yang memainkannya. Bahkan juga mungkin akan berlawanan dengan apa yang diharapkan; (d) siswa sering mengalami kesulitas untuk memerankan peran secara baik, khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang diperankannya; (e) bermain membutuhkan waktu yang banyak/lama; (f) untuk lancarnya bermain peran, diperlukan kelompok yang sensitif, imajinatif, terbuka, saling mengenal hingga bekerjasama dengan baik. Mujiman (2007:86 dalam La Ode, 2010) mengemukakan kelemahan metode role playing dan bermain peranan ini terletak pada: (a) memerlukan waktu yang relatif panjang/banyak; (b) memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid, dan ini tidak semua guru memilikinya; (c) kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu; (d) apabila pelaksanaan role playing dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai; (e) tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 120

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
METODE

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Gempol. Populasi penelitian adalah siswa kelas IX F SMA Negeri 2 Gempol sebanyak 45 siswa. Metode penulisan ini merupakan deskriptif dengan mengimplementasikan lesson study. Menurut Wahab (2007:109 dalam La Ode, 2010), secara rinci proses pembelajaran di kelas bagi guru dan siswa adalah berikut ini. (1) Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan melalui metode ini. Tujuan tersebut diupayakan tidak terlalu sulit/berbelit-belit, akan tetapi jelas dan mudah dilaksanakan. (2) Melatar belakang cerita role playing dan bermain peranan tersebut. Hal ini agar materi pelajaran dapat dipahami secara gamblang dan mendalam oleh siswa. (3) Guru menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan role playing dan bermain peranan melalui peranan yang harus siswa lakukan/mainkan. (4) Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang pantas memainkan/melakonkan jalannya suatu cerita. Dalam hal ini termasuk peranan penonton. (5) Guru dapat menghentikan jalannya permainan apabila telah sampai titik klimaks. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara seksama. (6) Sebaiknya diadakan latihan-latihan secara matang, kemudian diadakan uji coba terlebih dahulu, sebelum role playing dipentaskan dalam bentuk yang sebenarnya.
TAHAPAN LESSON STUDY

1. Plan Kegiatan plan (perencanaan) dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan pada tanggal 11 September 2010 yang dihadiri oleh kelompok guru Biologi dan Fasilitator Biologi. Pada tahap ini dilakukan penyusunan dan pengembangan rancangan pembelajaran yang diharapkan mampu membelajarkan peserta didik secara efektif dan membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Rancangan tersebut dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk Standar Kompetensi “Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia ”, Materi “Sistem Reproduksi pada manusia ”. Metode pembelajaran yang dipilih adalah role playing. RPP disusun bukan hanya oleh guru model, tetapi oleh kelompok guru Biologi . Kegiatan yang dilakukan pada penyusunan RPP ini tidak hanya menyusun saja, tetapi juga membahas tentang kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan RPP yang disusun. Kelompok guru Biologi juga membahas alternatif-alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kekurangan-kekurangan itu, sehingga menghasilkan RPP yang diharapkan dapat diterapkan dan dilaksanakan sehingga tujuan awal yakni membelajarkan siswa, membangkitkan partisipasi aktif siswa akan tercapai, yang pada akhirnya siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Berikut ini beberapa masukan pada saat penyusunan dan pembahasan RPP.

a. RPP disusun dengan menggunakan metode diskusi dan model STAD, dan materi yang akan dibahas ada dua yaitu sistem reproduksi pada manusia dan penyakit atau gangguan pada sistem reproduksi manusia. b. Fasilitator menyarankan bagaimana kalau yang dibahas hanya satu materi sistem reproduksi manusia saja. c. Penggunaan metode tetap yaitu diskusi dan model diganti dengan Role Playing, karena selama ini dalam Proses Belajar Mengajar pada materi sistem Reproduksi Manusia selalu menggunakan gambar atau carta saja, maka kali ini dicoba dengan cara memerankan siswa sebagai obyek langsung dalam pembelajaran.
Berikut ini adalah rancangan pembelajaran berdasarkan hasil kegiatan plan. Pembelajaran dilaksanakan 2 jam pelajaran (2 x 40 menit) di kelas IX F. Siswa dibagi dalam 10 kelompok yang heterogen. Masing-masing kelompok terdiri dari 4-5. Sebagai prasyarat siswa ditanya tentang reproduksi pada manusia yang sudah dibaca dibuku kemudian memotivasi bagaimana proses terjadinya reproduksi pada manusia terutama pada wanita? Diharapkan siswa memberikan jawaban bervariasi seperti dengan menikah, dengan kawin, atau dengan hubungan seks. Guru memberikan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 121

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) penghargaan pada siswa atas jawaban yang diberikan siswa. Kemudian guru memberitahukan tujuan belajaran yaitu siswa memahami proses terjadinya ovulasi dan menstruasi. Setelah itu guru masuk dalam kegiatan inti, guru menjelaskan cara kerjanya seperti berikut ini. (1) Guru meminta kepada siswa-siswa yang sudah terpilih sebagai pemeran yaitu sebagai narator, ovarium, ovum, oviduk, uterus,s perma, vagina dan zigot untuk maju di depan kelas dan memperagakan proses ovulasi dan menstruasi. (2) Siswa-siswa yang tidak berperan diharapkan sebagai pengamat dalam memperhatikan proses ovulasi dan menstruasi yang diperankan oleh teman-teman sekelasnya. (3) Setelah selesai bermain peran (drama satu babak) siswa-siswa tersebut kembali duduk di kelompoknya masingmasing. (4) Semua siswa mengerjakan soal yang ada di LKS, jawaban disesuaikan dengan hasil pengamatan dengan bimbingan guru. (5) Siswa melaksanakan presentasi di depan kelas dengan perwakilan kelompok yang di moderatori oleh guru sampai diketemukan hasil kesimpulan pembelajaran hari ini. (6) Siswa mengerjakan post tes.

Gambar 1. Suasana kegiatan plan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan. 2. Do Tahapan do dilaksanakan di SMP Negeri 2 Gempol . Open class dihadiri oleh kelompok

guru Biologi dan fasilitator Biologi.
Pada tahap pelaksanaan (do), kegiatan yang dilakukan adalah menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dibuat pada tahap plan. Penulis pertama bertindak sebagai guru model dan penulis kedua sebagai pembimbing dalam penulisan makalah, sedangkan guru-guru yang lain dan pendamping bertindak sebagai pengamat (observer). Pengamatan yang dilakukan oleh para observer diarahkan pada aktivitas belajar siswa dengan berpedoman pada tata tertib menjadi observer dan pedoman pengamatan yang telah disepakati pada tahap perencanaan. Observer bukan untuk mengevaluasi penampilan guru yang sedang bertugas mengajar, tetapi mengamati siswa dalam proses pembelajaran. Sebelum pembelajaran berlangsung, dua hari sebelumnya peserta didik yang bertugas sebagai pemeran sudah diberi teks skenario tentang ovulasi dan menstruasi, peserta didik yang terlibat sebanyak 13 siswa heterogen, mereka ada yang berperan sebagai narator satu orang, ovarium dua orang, oviduk dua orang, ovum dua orang, uterus dua orang, vagina dua orang, sperma satu orang, dan zigot satu orang. Pada saat pembelajaran yang paling berperan adalah narator karena kunci keberhasilan ada pada saat narator membacakan teks skenario pembelajaran. Lantai kelas digunakan sebagai panggungnya. Siswa yang tidak berperan dalam permainan, mengamati jalannya pertunjukkan sambil mencatat, karena setelah cerita berakhir, semua akan kembali ke kelompoknya masing-masing, termasuk siswa yang ikut bermain peran. Mereka akan mendiskusikan pembelajaran hari itu ke dalam

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 122

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) lembar kerja siswa dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Skenario pembelajaran sebagai berikut: Teman-teman hari ini saya punya cerita yang unik dan menarik, maka dari itu kalian harus memperhatikan, agar tidak ketinggalan alur ceritanya. Cerita ini saya beri judul “OVULASI” , sebelum cerita saya awali maka saya perkenalkan dulu sahabat-sahabatku, yaitu: 1. OVARIUM : Hai …….? (peran) Saya OVARIUM berfungsi sebagai tempat memproduksi sel telur. 2. OVIDUK : Hai juga ........? (peran) Saya OVIDUK berfungsi membawa sel telur dari ovarium menuju uterus/rahim. 3. OVUM/SEL TELUR : Hai, hai, hai ........? (peran) Aku adalah sel telur yang cantik. 4. UTERUS/RAHIM : Apa kabar ……..? (peran) Saya UTERUS / RAHIM berfungsi sebagai tempat sel telur yang telah dibuahi atau tempat tumbuh dan berkembangnya zygote. 5. VAGINA : Hai ……..? (peran) Aku VAGINA merupakan tempat saat kopulasi untuk melakukan pembuahan juga merupakan saluran kelahiran. 6. SPERMA : Hai, hai, hai……..? (peran) Aku adalah sperma yang hebat. 7. ZYGOTE : Hallo …….? (peran) Aku adalah zygote yang paling ganteng. Cerita yang pertama adalah “PERISTIWA MENSTRUASI PADA WANITA”. a. Cerita ini diawali dengan terlepasnya sel telur yang sudah masak dari ovarium ke oviduk yang dinamakan “OVULASI”. b. Peristiwa / siklus menstruasi ini terjadi pada seorang wanita setiap 28 hari sekali. c. Bila tidak terjadi fertilisasi / pembuahan, maka dinding rahim akan mengalami peluruhan, hingga mengeluarkan darah yang disebut “MENSTRUASI”. d. Biasanya menstruasi seorang wanita terjadi selama kurang lebih 7 hari dalam satu bulan. Inilah cerita pertamaku, mengasyikkan ya ..? OK .....? Sekarang kita lanjutkan cerita kedua yaitu “PERISTIWA FERTILISASI / PEMBUAHAN”. a. Cerita ini diawali sel telur dibentuk pada ovarium. setiap bulan satu ovarium melepaskan telur. Biasanya hanya satu sel telur yang dilepaskan setiap kurang lebih 28 hari.Ovarium itu biasanya secara bergantian melepaskan sel telur. Peristiwa pelepasan sel telur dari ovarium disebut “OVULASI”. Pada saat terlepas dari ovarium, sel telur bergerak menuju saluran yang disebut OVIDUK, yaitu organ berbentuk saluran yang menghubungkan antara ovarium dan uterus / rahim. b. Pada waktu kontak seksual / kopulasi terjadi, sperma akan disuntikkan oleh serangkaian otot-otot yang mengalami kontraksi dari uretra laki-laki menuju ke vagina. Meskipun jumlah sperma mencapai jutaan yang dapat masuk ke dalam vagina, tetapi yang sampai ke uterus hanya beberapa ratus saja. Beberapa sperma itu seterusnya akan masuk ke oviduk dan proses fertilisasi akan terjadi jika di dalam oviduk ada sel telur yang sudah siap dibuahi. Meskipun demikian hanya satu sperma yang dapat melakukan fertilisasi / pembuahan.Sperma yang sampai pada sel telur akan melakukan penetrasi. Sel sperma dan sel telur yang tadinya bersifat haploid setelah bergabung (fertilisasi) akan menjadi zigote diploid. c. Setelah terjdi fertilisasi, telur yang telah dibuahi menjadi ZIGOTE. Setelah 5 hari (120 jam) dari fertilisasi, zigote bergerak dari oviduk menuju ke uterus. Selanjutnya zigote

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 123

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) akan menempel pada dinding uterus / rahim. Di tempat ini zigote akan berkembangbiak selama 40 minggu untuk menjadi bayi. Setelah itu bayi dilahirkan. d. Hai ....... aku bayi paling ganteng sedunia ha .... ha .... ha .... ( peran ) Inilah cerita-cerita yang saya persembahkan pada hari ini. Sampai jumpa ..........? Da a a.............? Menurut guru model sebagai penulis, guru IPA Biologi yang menyampaikan materi tersebut, pembelajaran tersebut dimulai dengan persiapan, yaitu penyusunan skenario yang akan ditampilkan. Setelah skenario dibuat, dimulailah proses pemilihan pemain. Proses ini cukup menarik, karena ternyata siswa menyambut dengan cukup antusias, dengan ikut mendaftar sebagai calon pemain. Setelah melalui proses casting, akhirnya terpilih para pemain yang nantinya akan berperan di pertunjukkan tersebut. Lalu mulailah mereka berlatih sesuai skenario yang akan dimainkan. Setelah pembelajaran usai, saat para siswa ditanya tentang kesan mereka tentang pembelajaran yang baru saja mereka dapatkan, ternyata mereka cukup senang, karena mereka memperoleh pengalaman belajar yang baru dan belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Masih menurut mereka, dengan model pembelajaran seperti ini, materi lebih mudah dimengerti. Berikut ditunjukkan beberapa Gambar 2 dan Gambar 3 di kelas saat open class.

Gambar 2. Lantai kelas yang dipakai sebagai panggung, digambar sesuai dengan jalan cerita yang dimainkan.

Gambar 3. Para pemain sedang memainkan peran, dipandu narator yang membacakan jalannya cerita.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 124

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 3. See Setelah kegiatan do, dilanjutkan dengan kegiatan see untuk melakukan refleksi pembelajaran. Pada kegiatan ini, moderator memberi kesempatan terlebih dulu pada guru model untuk mengungkapkan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Guru model menjelaskan bahwa Rancangan

Pembelajaran yang disusun saat plan bersama-sama dengan kelompok guru Biologi telah terlaksana dengan baik, walaupun sebelum kegiatan do guru model merasa kawatir kalau siswa-siswa yang memerankan lakon drama satu babak itu tidak sesuai yang di inginkan oleh guru model, tetapi kekawatiran guru model hilang saat siswa-siswa tersebut sangat menjiwai peran yang ditugaskan.
Guru model berharap para observer memberi komentar tentang pembelajaran yang telah dilakukan. Kesempatan refleksi berikutnya, moderator memberikan kesempatan kepada para observer untuk memberikan komentar atau hasil refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil pengamatan para observer yang didasarkan pada pedoman tata tertib dan rubrik pengamatan, dipaparkan pada bagian selanjutnya pada tulisan ini. Situasi kegiatan see ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Suasana kegiatan see di SMP Negeri 2 Gempol.
HASIL DAN DISKUSI

A. Hasil Observasi Hasil observasi berikut didasarkan pada lembar pengamatan lesson study dengan pertanyaan berikut. 1. Apakah semua siswa benar-benar belajar tentang topik pembelajaran hari ini? Sebagian besar siswa benar-benar belajar tentang topik pembelajaran hari ini, terbukti bahwa mulai dari kegiatan apersepsi semua siswa dalam keadaan tenang dan mendengarkan guru, pada waktu guru model menuliskan tujuan pembelajaran dan memerintahkan siswa untuk mencatat semua siswa mencatat dengan baik di buku tulisnya masing-masing. 2. Siswa mana yang tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari ini? Siswa nomor 4 pada kelompok 8, waktu mengisi LKS masih belum bisa menjawab dengan baik. Hampir semua siswa di setiap kelompok sangat antusias mengikuti pembelajaran karena mereka memperhatikan atau mengamati temannya yang sedang memainkan dua cerita di depan kelas yaitu proses ovulasi dan proses menstruasi, mungkin kegiatan seperti ini dapat menyenangkan siswa sehingga dapat belajar dengan baik. 3. Mengapa siswa tersebut tidak dapat belajar dengan baik? Menurut Anda apa penyebabnya dan bagaimana alternative solusinya menurut Anda? Pada siswa nomor 4, mungkin siswa ini belum memahami dengan baik topic pembelajaran hari ini, solusinya meminta siswa untuk belajar lagi di rumah,dan juga adanya tutor sebaya, dan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 125

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dimungkinkan siswa nomor 4 tersebut dijadikan pemain dalam cerita yang ditampilkan di depan teman-temannya sehingga beliau bersemangat untuk untuk mempelajari materi reproduksi. 4. Pembelajaran berharga apa yang dapat anda petik dari pengamatan pembelajaran hari ini? Bagaimana membuat siswa belajar berkomunikasi atau bekerja sama dalam kelompoknya. Siswa merasa senang dengan metode diskusi dan pengamatan pada model Role Playing, sehingga dapat memahami dan membuktikan hasil reproduksi pada manusia. Dengan melakukan kegiatan bermain peran secara langsung, siswa dapat dengan mudah memahami suatu pembelajaran dan siswa menjadi senang dalam belajar. B. Hasil Test Pada Tabel 1. ditunjukkan hasil test siswa setelah pembelajaran dengan metode role playing pada materi Reproduksi pada manusia. Pada table tersebut nampak bahwa sebagian besar siswa menunjukkan ketuntasan belajar, hanya dua siswa yang perlu remidi. Remidi dilakukan di luar jam pelajaran IPA Biologi. Tabel 1. Nilai Test
No 1. 2. 3. 4. 5. Nilai 100 95 85 75 70 Jumlah siswa 20 9 11 2 2 44 Keterangan

Remidi

C. Manfaat Lesson Study Lesson Study dirasakan banyak membawa manfaat bagi penulis yang bertugas sebagai guru model untuk menerapkan metode metode role playing pada materi Reproduksi Pada Manusia di SMP Negeri 2 Gempol. Berikut adalah manfaat yang diperoleh. 1. Bagi Guru a. Di antara guru biologi terjadi suasana saling belajar dan membutuhkan, terutama dalam proses pembuatan RPP pada waktu kegiatan plan (perencanaan). Terjadi saling melengkapi kekurangan dan kritik yang membangun sehingga tersusun RPP yang mendekati sempurna, yang nanti akan dilaksanakan pada saat open class oleh guru model. Sedangkan guru yang lain membantu sebagai observer. b. Guru yang menjadi observer selain mengamati proses pembelajaran juga melihat cara guru mengajar, yang mana nantinya bisa diterapkan di sekolahnya masing-masing, sehingga guru bisa memakai metode pembelajaran yang cocok untuk sekolahnya. 2. Bagi Siswa a. Meningkatkan semangat belajar dan kualitas belajar siswa di dalam kelas, terutama dengan menggunakan metode role playing semua siswa bisa melaksanakan tugas masing-masing dalam proses pembelajaran,ada yang sebagai pemain dan pengamat yang baik. b. Terjadi kerja sama yang baik antar siswa dalam kelompok. c. Membuat siswa berani bertanya pada guru, teman, dan berani mengemukakan pendapat dalam mempertahankan hasil pekerjaannya, serta mau menerima pendapat orang lain. KESIMPULAN Lesson study sangat bermanfaat bagi guru sebagai wahana belajar untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas yang mana dapat mengubah proses pembelajaran yang monoton menjadi proses Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 126

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) proses yang menarik dan memotivasi belajar siswa secara maksimal. Pada akhirnya, proses tersebut dapat meningkatkan kompetensi siswa. Pembelajaran dengan menggunakan metode role playing, ternyata dapat meningkatkan aktivitas siswa dan memotivasi siswa belajar aktif, khususnya pada materi Reproduksi pada manusia. Pemahaman siswa juga dipermudah, yang ditunjukkan oleh hasil penilaian individu pada akhir pembelajaran melalui test. DAFTAR RUJUKAN
La Ode, Deden. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Role Playing dalam Mata Pelajaran PKN untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Murid Kelas V SD Inpres Maccini Kota Makasar. http://dedenbinlaode.blogspot.com/2010/11/pengaruh-metode-role-playing-terhadap.html. Palupi, Diyah Retno. 2010. Penerapan Strategi Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Kemampuan Apresiasi Drama. http://www.smpn17surakarta.net/wp-content/uploads/2010/ 08/. Sadali. 2010. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Role Playing terhadap Aktifitas Guru dan Hasil Belajar dalam Mata Pelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar (Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Lemah Abang 2 Tanjung, Kabupaten Brebes). http://lppm.ut.ac.id/jp/21sadali.htm/

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 127

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PEMBELAJARAN IPA-BIOLOGI DENGAN PERPADUAN METODE JIGSAW DAN MAKE A-MATCH PADA OPEN CLASS LESSON STUDY DI SMP YAPENAS GEMPOL

Sriningsih1) Vita Krisnawati2) Siti Zubaidah3)
1) SMP Yapenas Gempol SMP Islam Al-Hidayah Pasuruan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang
2)

3)

Abstrak: Pembelajaran IPA-Biologi yang menggunakan perpaduan metode jigsaw dengan make amatch telah dilaksanakan pada saat open class lesson study di SMP Yapenas Gempol dengan materi Alat Indera pada Manusia. Pemberian kartu pertanyaan dan kartu jawaban untuk menemukan pasangannya, ternyata membuat siswa bisa menemukan pasangan antara pertanyaan dan jawaban. Metode ini juga dapat menumbuhkan rasa sosial di antara teman. Menurut para observer, pembelajaran menggunakan dua metode pembelajaran jigsaw dan make a-match bisa membawa suasana kelas hidup dan aktif sehingga pembelajaran menjadi efektif dan materi bisa dipahami oleh masing-masing siswa, apalagi disertai media dan metode pembelajaran yang bervariasi. Nilai yang dapat diambil dalam kegiatan ini adalah bahwa guru harus kreatif dalam membuat media dan memilih metode yang cocok untuk proses pembelajaran. Kata kunci: pembelajaran IPA-biologi, metode jigsaw, metode make a-match

Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab IV pasal 19 ayat 1, menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi siswa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran, seorang guru dituntut untuk dapat memiliki sebuah pendekatan, metode, dan teknik-teknik tertentu yang dapat menciptakan kondisi kelas pada pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan, sehingga pada akhirnya akan diperoleh kondisi kelas yang termotivasi, aktivitas yang tinggi serta hasil belajar yang memuaskan. Hal-hal penting yang perlu dilakukan oleh guru dalam pengembangan pembelajaran di antaranya berikut ini: (1) Bagaimana guru merencanakan tahapan-tahapan pembelajaran yang akan dilakukan di kelas, (2) Bagaimana guru merencanakan interaksi guru-siswa dan siswa-siswa sehingga terjadi proses belajar yang optimal, (3) Bagaimana guru merencanakan suatu stimulus sehingga siswa belajar, (4) Bagaimana perilaku belajar siswa dalam suatu sistem pengolaan kelas, (5) Bagaimana menyiapkan bahan pendukung (antara lain: buku, lembar kerja siswa, media, dan asesmen), (6) Dampak apa yang diharapkan pada siswa dengan pelaksanaan pembelajaran tersebut. Agar bisa melaksanakan pembelajaran yang baik, guru merencanakan hal-hal penting tersebut secara matang. Tidak cukup jika guru hanya menyampaikan apa yang ada di buku. Guru harus menyiapkan dan mengkondisikan siswa sehingga mau dan mampu belajar dengan baik. Dengan kata lain, guru harus belajar menjadi guru profesional. Selama ini, sebagian guru di SMP Yapenas mengajar dengan cara instan, maksudnya dalam mengajar tidak melakukan persiapan terlebih dahulu. Ada yang mengajar dengan apa adanya, yang di bawa buku dan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 128

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) LKS yang sudah diberikan kepada siswa (yang dibeli dari penerbit). Ada pula guru yang mengajar dengan materi mengacu pada materi LKS, bukan dari standar isi yang telah digariskan oleh BSNP, yang kemudian dikembangkan oleh guru yang bersangkutan. Guru profesional sangat diharapkan untuk memperbaiki mutu pendidikan di sebuah sekolah. Guru professional harus bisa mengembangkan pembelajaran yang konstruktif yaitu mulai dari Perencanaan Pembelajaran, Pelaksanaan Pembelajaran dan Pelaksanaan Penilaian. Dengan demikian perlu adanya perubahan cara mengajar para guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip koligalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas. Cara mengatasi masalah tersebut adalah guru harus berubah cara mengajarnya yaitu dengan cara pembelajaran yang konstruktif. Salah satu caranya, adalah melalui kegiatan lesson study. Lesson study adalah suatu program pengembangan profesionalisme guru berbasis kolaborasi, yang pada awalnya dikembangkan di Jepang (Lewis et al., 2006), kemudian di Amerika, dan berbagai negara lain setelah mengetahui keberhasilannya di Jepang (Murata, 2009). Pada Lesson study, sekelompok guru menetapkan tujuan pembelajaran (dapat menyertakan hasil pra-asesmen siswa), merencanakan pembelajaran (dengan memeriksa kurikulum, standar kompetensi, dan materi pelajaran), melakukan pembelajaran (dilakukan oleh salah seorang guru, sementara guru-guru yang lain mengamati dan mengumpulkan data), mendiskusikan pembelajaran (berdasarkan data yang dikumpulkan), dan melakukan refleksi pembelajaran terhadap pembelajaran tersebut. Pada proses tersebut, para guru memiliki kesempatan ganda untuk berpikir secara mendalam tentang berbagai aspek pembelajaran, mengekspresikan atau mengungkapkan apa yang mereka mungkin tidak yakin, mengajukan pertanyaan dan mendapatkan jawaban dari rekan-rekan mereka dan orang lain yang lebih berpengetahuan, terus membahas dan mempelajari lebih lanjut tentang proses dan materi belajar siswa secara bersama-sama (Murata dan Takahashi, 2002). Pada kegiatan lesson study MGMP Wilayah Beji-Gempol mencoba melakukan pembelajaran dengan menerapkan perpaduan pembelajaran kooperatif metode jigsaw dan make and match. Menurut Zubaidah et al. (2011), metode kooperatif jigsaw pada awalnya dikembangkan pada 1978 oleh Elliot Aronson di Austin, Texas sebagai respons terhadap kinerja yang buruk dan rendah diri anak-anak Afrika-Amerika. Metode ini telah diadaptasi secara luas, dan dapat digunakan dalam berbagai macam konteks. Secara singkat, pada metode kooperatif jigsaw setiap siswa merupakan anggota dari dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Prinsip pembelajaran jigsaw, guru membagi topik besar ke bagian-bagian kecil atau sub-sub topik. Siswa memulai pelajaran dalam kelompok-kelompok asal. Guru mengelompokkan siswa ke dalam kelompok belajar (tim) yang terdiri dari empat sampai enam siswa. Pada kelompok jigsaw, setiap anggota tim memilih atau diberi tanggungjawab untuk menyelesaikan dan memahami salah satu sub topik. Setiap anggota tim harus berbagi pengetahuan secara efektif dengan anggota tim lain untuk menyelesaikan tugas atau memahami topik. Dengan kata lain, setiap siswa menjadi "ahli" dan mengajarkan ke anggota lain dalam tim. Metode pembelajaran make and match dikembangkan oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Salah satu keunggulan metode ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Menurut Anonim (2009), penerapan metode ini dimulai dari siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Secara rinci sintaks metode ini adalah sebagai berikut: (1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban, (2) Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal atau jawaban, (3) Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya, (4) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban), (5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin, (6) Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama, (7) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya demikian seterusnya, (8) Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran, (9) Penutup.
METODE

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 129

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kegiatan lesson study diawali dengan pelaksanaan plan yang dilaksanakan di home base lesson study SMP Negeri I Beji Pasuruan pada tanggal 24 September 2011 yang dihadiri oleh guru-guru peserta lesson study bidang IPA-Biologi, fasilitator MGMP Wilayah Beji-Gempol, dosen pembimbing dari UM, Kepala Sekolah SMP Negeri I Beji. Penulis pertama mendapat kesempatan untuk menjadi guru model yang akan mengimplementasikan rancangan pembelajaran yang disusun pada saat kegiatan plan ini. Adapun bahan ajar yang dipilih adalah Standar Kompetensi 1. Memahami Berbagai Sistem dalam Kehidupan Manusia, Kompetensi Dasar 1.3. Sistem Koordinasi dan Alat Indera pada Manusia dan Hubungannya dengan Kesehatan. Tujuan yang diharapkan pada saat pembelajaran nanti adalah sebagai berikut. a. Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian organ penyusun 5 alat indera b. Siswa dapat mendiskripsikan fungsi bagian-bagian organ penyusun 5 alat indera c. Siswa dapat memberi contoh macam-macam penyakit yang menyerang 5 alat indera dan bagaimana cara mencegah dan mengatasinya. Pada saat plan dihasilkan seperangkat rencana pelaksanaan pembelajaran beserta lembar kerja siswa yang digunakan pada saat open class. Metode yang dipilih untuk pelaksanaan pembelajaran adalah perpaduan antara jigsaw dan make a-match. Untuk keperluan tersebut guru model menyiapkan media gambar 5 alat indera yaitu gambar mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah yang diberi warna sejumlah banyak anggota kelompok ahli. Juga menyiapkan kartu soal dan kartu jawaban sebanyak jumlah siswa satu kelas yaitu 28 siswa yaitu 14 kartu soal dan 14 kartu jawaban untuk kegiatan make a-match. Tahapan do-see dilaksanakan di sekolah penulis pertama, yaitu di SMP Yapenas Gempol, pada tanggal 15 Oktober 2011. Pembelajaran IPA-Biologi dilaksanakan di kelas IX pada semester gasal 2011/2012. Open class dihadiri oleh guru-guru peserta lesson study IPA baik dari Biologi, Fisika maupun Kimia dan fasilitator MGMP Wilayah Beji-Gempol, dosen pendamping dari UM (Drs. Suwolo, M.Pd.), dan guru Biologi SMP Yapenas lainnya. Proses pembelajaran diawali dengan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan materi yang telah dipelajari minggu yang lalu yaitu Sistem saraf pada manusia. Guru menjelaskan tujuan yang akan dicapai setelah pembelajaran dan menyampaikan materi yang akan di bahas hari ini. Setelah menyampaikan materi yang akan dibahas, guru menyuruh siswa bekerja dalam kelompok ahli ada 5 kelompok ahli yaitu ahli mata, ahli telinga, ahli kulit, ahli hidung,dan ahli lidah masing-masing kelompok ahli mendiskusikan sesuai dengan materinya. Setelah selesai mengerjakan materi pada kelompok ahli disuruh untuk kembali ke kelompok asal untuk memberikan informasi yang dipelajari dari kelompok ahli ke teman-teman kelompok asal. Setelah masing-masing memberikan informasinya guru menunjuk secara acak pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil belajar dari kelima indera yang sudah dipelajari. Dari lima kelompok satu per satu untuk mempresentasikan kelima indera tersebut setelah mempresentasikan setiap kelompok diberi reward. Setelah semua kelompok diberi kesempatan presentasi, guru memberi penguatan jawaban dan menjelaskan penyakit dan gangguan yang menyerang 5 indera serta bagaimana cara mencegah dan mengatasinya dengan memakai CD berupa animasi. Setelah dijelaskan kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya apabila ada penjelasan yang kurang dimengerti, dan bila sudah dimengerti guru menjelaskan langkah selanjutnya tentang perlakuan make a-match antara lain dalam satu kelas di bagi menjadi 7 putaran, satu putaran terdiri dua pasangan yang menemukan pasangan putaran pertama mendapatkan nilai 100, putaran kedua mendapatkan nilai 96, putaran ke tiga mendapat nilai 92, putaran ke empat mendapat nilai 88, putaran ke lima mendapat nilai 84, putaran ke enam mendapat nilai 80, dan putaran ke tujuh mendapat nilai 76. Kriteria pengelompokan penyekoran didasarkan pada ketuntasan minimal. Jalannya make a-match sebagai berikut putaran pertama dua pasangan menemukan lebih dahulu diberi skor, kemudian yang sudah menemukan pasangan disuruh duduk dan yang belum menemukan pasangan disuruh mengumpulkan kartu untuk diacak kembali agar mendapatkan soal dan jawaban yang berbeda, kemudian kartu soal/jawaban diberikan lagi ke siswa yang belum mendapatkan pasangan, dan disuruh untuk mencari pasangan, dua pasangan yang duluan menemukan diberi skor dan seterusnya hingga putaran terakhir. Metode make a-match bertujuan untuk konfirmasi atau evaluasi belajar, sampai dimana materi dapat dipahami oleh siswa. Setelah selesai make amatch guru mengumumkan hasil yang diperoleh oleh siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dan yang terendah yang bertujuan untuk memotivasi belajar siswa. Terakhir, guru memberikan tugas kepada siswa

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 130

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) untuk dikerjakan di rumah dan ditutup dengan salam. Kegiatan lesson study selanjutnya adalah tahapan see untuk merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Gambaran pembelajaran saat open class lesson study ditunjukkan pada Gambar 1 - Gambar 6.

Gambar 1. Siswa Berdiskusi dalam Kelompok Ahli

Gambar 2. Guru sedang Membimbing Siswa dalam Berdiskusi Kelompok

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 131

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 3. Guru sedang Memberi Penguatan Jawaban dengan Media Animasi

Gambar 4. Guru sedang Membagikan Kartu Soal/Jawaban Make A-Match

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 132

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Gambar 5. Siswa sedang Melaporkan ke Guru telah Mendapatkan Pasangan Kartu

Gambar 6. Guru Memerintahkan Untuk Bermain Putaran Berikutnya
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran IPA-Biologi materi Alat Indera pada Manusia dengan perpaduan dua metode pembelajaran yaitu jigsaw dan make a-match ternyata sangat menyenangkan dan sangat menarik perhatian siswa. Pada saat pendahuluan, dilakukan apersepsi dengan tanya jawab untuk mengaitkan hal-hal yang telah dipahami siswa dengan hal-hal yang akan dipelajari hari ini. Siswa sangat aktif dan berebut menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Dalam tahap pembelajaran jigsaw siswa aktif berdiskusi kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok ahli secara bersama-sama, setelah itu kembali ke kelompok asal saling menginformasikan pengalaman belajarnya di kelompok ahli dengan penuh semangat. Lebih antusias lagi pada tahap make a-match siswa nampak aktif bergerak untuk mencari pasangan dan berlomba untuk menemukan jawaban paling awal untuk mendapatkan nilai paling bagus yang sudah diumumkan oleh guru sebelum kegiatan make a-match dimulai. Menurut observer, satu kelemahan dari perpaduan jigsaw dengan make a-match adalah waktu yang digunakan cukup lama sehingga memakan waktu untuk pelajaran selanjutnya. Menurut guru model kelebihan waktu yang digunakan karena pada saat tahap make a-match siswa mencari pasangan dengan semangat dan pada saat temannya sudah menemukan pasangan, guru memerintahkan untuk berhenti dan untuk memulai putaran selanjutnya siswa tidak mendengarkan aba-aba tersebut, mereka tetap mencari pasangan kartu yang dipegangnya sehingga guru model membutuhkan banyak tenaga untuk pembelajaran tersebut. Sebenarnya masalah tersebut dapat diatasi dengan komando lebih keras dari guru model. Beberapa hal yang menjadi hasil pengamatan para observer pada saat refleksi adalah sebagai berikut: 1. Metode perpaduan pembelajaran jigsaw dengan make a-match bisa membawa suasana kelas hidup dan aktif, sehingga pembelajaran berjalan efektif dan materi bisa dipahami oleh masing-masing siswa apalagi disertai dengan media dan metode pembelajaran yang bervariasi. 2. Siswa bisa tanya jawab antar temannya, untuk saling memberikan masukan tentang bidang pembelajaran yang dipelajarinya dari kelompok ahli 3. Siswa terlatih untuk berani maju mempresentasikan hasil belajarnya 4. Siswa saling memberikan koreksi pada jawaban presentasi 5. Media animasi sangat menarik perhatian siswa 6. Metode dan media yang bervariasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan mengaktifkan konsentrasi belajar siswa pada saat pembelajaran berlangsung 7. Pemanfaatan IT berbentuk ilustrasi bagi siswa akan mudah dimengerti karena adanya animasi, dan siswa sangat tertarik. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 133

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 8. Penjelasan macam-macam gangguan dan penyakit pada panca indera dapat menjadikan siswa lebih berhati-hati dalam memperlakukan inderanya 9. Metode pembelajaran yang bervariasi disertai media pembelajaran yang menarik, bisa menarik minat siswa untuk mencari jawaban/solusi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran 10. Siswa lebih termotivasi untuk lebih memahami materi pembelajaran jika pembelajarannya menarik 11. Penerapan jigsaw membuat diskusi kelompok ahli lebih hidup, siswa lebih terbebani untuk menginformasikan hasilnya ke kelompok asal Pada saat refleksi pembelajaran, para guru juga dapat mengambil nilai bahwa, apabila pembelajaran direncanakan dengan media dan dapat menerapkan metode-metode yang bervariasi seperti pembelajaran perpaduan jigsaw dengan make a-match dan dijelaskan dengan media animasi siswa tampak termotivasi belajar, aktif dan mudah menghafal bagian-bagian panca indera beserta fungsinya. Hasil yang dicapai dalam make a-match setelah proses pembelajaran berakhir dengan menunjukan hasil yang menggembirakan. Pada saat pembelajaran, sebagian besar siswa aktif dan antusias mengikuti kegiatan, kecuali seorang siswa no.14 (Rachma Putri) agak pasif. Menurut guru model yang mengajar di kelas itu anak tersebut memang tipe anak pendiam, walaupun demikian anaknya pintar, rajin mengerjakan tugas. Dapat dipahami karena memang gaya belajar siswa itu berbeda-beda. Masukan lain yang dapat dikembangkan adalah untuk menghemat waktu make a-match dapat digunakan kertas manila ditempel di papan berisi soal. Siswa diberi jawaban dengan jumlah dua kali jumlah soal dan siswa disuruh pasangkan di papan sehingga semua bisa belajar bila jenis soal berbeda. Namun ada obsever lain yang memberi penguatan bahwa sebenarnya waktu untuk make a-match cukup hanya siswanya kalau diberi aba-aba stop oleh guru model mereka tetap asyik mencari pasangan soal/jawaban sehingga ada obsever yang menyarankan kalau memberi aba-aba bisa pakai peluit agar siswa bisa mendengarkan. Ada pula obsever lain yang mengemukakan make a-match memang banyak macamnya, untuk yang metode cari pasangan tiap anak ini menumbuhkan rasa sosial dari teman yang tidak dekat menjadi lebih dekat dengan mencari pasangan soal/jawaban tersebut dan sesuai dengan gaya belajar siswa kinestetik (aktif bergerak). Namun demikian, tidak seluruh rancangan pembelajaran dapat dilaksanakan karena keterbatasan waktu, yaitu dengan banyaknya waktu untuk proses pembelajaran terutama pada tahap make a-match karena siswa asyik dengan mencari pasangan jawaban dan soal yang dipegangnya, sehingga tidak menghiraukan aba-aba dari guru. Nilai lain yang dapat diambil dalam refleksi adalah guru dituntut untuk kreatif membuat media dan mengaplikasikan metode-metode pembelajaran yang di sesuaikan dengan materi yang akan diberikan agar siswa tidak merasa bosan didalam kelas. Sebagai guru kita harus sadar bahwa kita harus kreatif dalam pembelajaran siswa kita Strategi pembelajaran merupakan serangkaian aktivitas yang didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengembangan strategi pembelajaran perlu menentukan: (1) urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan guru dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa; (2) metode pembelajaran, yaitu cara guru mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses belajar secara efisien dan efektif; (3) media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran; dan (4) waktu yang digunakan oleh guru dan siswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pada pembelajaran ini, siswa nampak memiliki motivasi yang besar untuk belajar. Motivasi belajar adalah sebagai dorongan atau keinginan untuk mencapai prestasi yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Motivasi belajar memiliki landasan yang cukup kokoh, dan perilaku ini telah banyak diamati pada bidang bisnis, pembelajaran di sekolah, dan latar lainnya. Kajian Keller Kelly, dan Dodge yang

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 134

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dikutip oleh Degeng (2000), menyimpulkan ada 6 karakteristik motivasi berprestasi yang tampak konsisten ditemukan dalam konteks pembelajaran sekolah yaitu : 1. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih menyukai terlibat dalam situasi di mana ada resiko gagal atau “. . . there is a moderate probability of succes’’. Ia menyukai keberhasilan, tetapi keberhasilan yang penuh tantangan. Sebaliknya, individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah cenderung memilih tugas-tugas yang memiliki peluang untuk berhasil dikerjakan, atau yang hampir tidak mungkin berhasil jika dikerjakan. Kedua situasi ini memungkinkan seseorang menghindari rasa cemas. 2. Faktor kunci yang memotivasi individu untuk berprestasi tinggi adalah kepuasan instrinsik dari keberhasilan itu sendiri, bukan pada ganjaran ekstrinsik, seperti using atau prestise lainnya. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan bekerja keras agar berhasil terlepas dari apakah akan mendapat tambahan uang atau tidak sebagai imbalannya. 3. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cenderung membuat pilihan atau tindakan yang realistis. Mereka cenderung realistis dalam menilai kemampuannya itu dengan tugas-tugas yang dikerjakannya. 4. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menyukai situasi dimana ia dapat menilai sendiri kemajuan dan pencapaian tujuannya. Ia lebih suka melakukan kontrol pribadi atas pelaksanaan tugastugasnya, menilai sendiri keberhasilannya, dan membuat pertimbangan sendiri dalam mengambil keputusan daripada dilakukan oleh orang lain. 5. Individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi memiliki perspektif waktu jauh ke depan. Ia lebih memproyeksikan tujuan-tujuannya jauh ke depan. Ia juga merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat. 6. Individu yang memiliki motivsi berprestasi tinggi tidak selalu menunjukan rata-rata nilai yang tinggi di sekolah. Ini mungkin disebabkan bahwa nilai di sekolah banyak terkait dengan motivasi ekstrinsik. Atas dasar itu maka, dapat dikatakan bahwa tidak selalu ditemukan korelasi yang signifikan antara nilai dengan motivasi berprestasi.
KESIMPULAN

Pembelajaran IPA-Biologi dengan perpaduan metode jigsaw dengan make a-match yang telah dilaksanakan pada saat open class lesson study di SMP Yapenas Gempol dengan materi Alat Indera pada Manusia ternyata dapat menciptakan suasana menyenangkan dan aktif dalam belajar, memupuk rasa sosial, saling membantu dan akrab untuk kerja sama mencari pasangan.
DAFTAR RUJUKAN Anonim. 2009. Model Pembelajaran Make a Match. Diarsipkan oleh Lenny Kuncoro pada http://lennykuncoro.wordpress.com/2009/03/29/make-a-match-2/. Diakses 19 September 2009. Suparno, Prof. Dr. H, dan Dr. Waras Kamdi. M.Pd. 2011. Modul Pengembangan Profesional Guru. Universitas Negeri Malang. Lewis, C., Perry, R., and Murata, A. 2000. How should research contribute to instructional improvement: The case of lesson study. Educational researcher, 35(3). 3- 14. Murata, A. 2009. Individual and Group Learning Paths in Lesson Study. Notes for STRIDE conference, May 2009. Murata, A. and Takahashi, A. (2002). District-level lesson study: How Japanese teachers improve their teaching of elementary mathematics. Paper presented at the research presession of National Council of Teachers of Mathematics annual meeting. Las Vegas, NV. Zubaidah, S., Yuliati, L., dan Mahanal, S. 2011. Ragam Model Dan Metode Pembelajaran IPA. UM: program TEQIP (Teacher Quality Improvement).

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 135

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA SMPN 1 LEKOK, NGULING DALAM MEMAHAMI MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP (HEWAN)

Tuti Ismaniyah, S.Pd 1) Siti Imroatul Maslikah, S.Si, M.Si 2)
1)

Guru IPA SMP Negeri 3 Nguling Kabupaten Pasuruan
2)

Dosen Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang

Abstrak: Guru harus dapat melayani setiap siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai guru harus pandai memilih metode dan media pembelajaran yang tepat. Penggunaan media pembelajaran yang tepat akan menjadikan siswa tertarik dan tidak bosan sehingga dapat dengan mudah memahami materi pelajaran. Di SMP Negeri 1 Lekok siswa lebih banyak memiliki kemampuan belajar yang kurang dan sedang. Melihat kemampuan siswa yang demikian, maka guru harus berpikir bagaimana siswa dapat memahami materi pelajaran dengan lebih mudah. Agar siswa memahami dengan mudah materi pelajaran mengenai tujuan dan dasar klasifikasi makhluk hidup serta dapat mengklasifikasikan makhluk hidup, guru menggunakan gambar-gambar hewan yang ditempelkan di kalender bekas. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan gambar-gambar hewan diperoleh bahwa siswa mampu mengklasifikasikan hewan berdasarkan ciri yang dimiliki yang ditentukan sendiri. Dengan adanya guru tidak menentukan klasifikasi berdasarkan (jumlah kaki, tempat hidup, jenis makanan, punya sayap atau tidak, dan lain-lain) diharapkan akan memunculkan kreativitas siswa dalam menemukan dasar klasifikasinya, tetapi berdasarkan pengalaman guru di SMPN 1 Lekok, Nguling ternyata dari hasil kegiatan siswa yang dibagi manjadi 9 kelompok, hasil kerja kelompok menunjukkan adanya variasi atau bermacam-macam pengelompokan/klasifikasi. Dalam mengklasifikasikan hewan-hewan tersebut, siswa ada yang benar tetapi ada juga yang salah atau kurang benar. Namun demikian siswa telah mampu memahami apa tujuan, dasar klasifikasi makhluk hidup, dengan demikian guru sebaiknya mengarahkan dasar klasifikasi disesuakan dengan tujuan dalam RPP (misalnya klasifikasi hewan berdasarkan morfologi) maka siswa bisa diminta untuk mengelompokkan hewan berdasarkan jumlah kaki, ada tidaknya sayap, memiliki bulu, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berupa gambar-gambar hewan sangatlah efektif dalam materi klasifikasi makhluk hidup. Kata kunci : klasifikasi, media belajar, hasil belajar

Dalam proses belajar mengajar seorang guru harus dapat melayani setiap siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Cara mengajar seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Siswa dapat belajar dengan baik apabila siswa dapat mempelajari apa yang seharusnya dipelajari. Dalam mengajar unsur yang penting yaitu merangsang serta mengarahkan siswa belajar. Dalam kegiatan proses belajar mengajar antara guru dan siswa harus terjadi interaksi dua arah di mana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang ingin dicapai. Di dalam terjadinya interaksi tersebut guru kadang membutuhkan sarana agar dapat mencapai tujuan. Untuk itu guru diharapkan menggunakan media belajar agar siswanya tertarik dan tidak bosan sehingga dapat dengan mudah memahami materi pelajaran. Siswa yang belajar di SMP Negeri 1 Lekok rata-rata memiliki kemampuan sedang dan kurang dengan dasar hasil UASBN SD. Dengan kemampuan siswa yang demikian guru dalam proses belajar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mengajarnya harus pandai memilih metode, pendekatan atau media pembelajaran sehingga pembelajaran berjalan efektif dan efisien. Namun kadangkala guru belum bisa memilih metode, pendekatan atau media pembelajaran yang sesuai sehingga hasil belajar siswa masih jauh dari yang diharapkan atau tidak tercapainya indikator pembelajaran sebagai target keberhasilan siswa. Dengan demikian, maka guru harus menyesuaikan metode, pendekatan ataupun penggunaan media belajar. Di samping itu guru harus telaten dalam membimbing siswa dalam proses belajar dan memiliki kesabaran. Penggunaan media belajar sangatlah diperlukan untuk siswa dengan kemampuan kurang dan sedang tersebut. Pengalaman guru pada proses pembelajaran yang dilakukan pada siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Lekok tahun pelajaran 2011/2012 pada materi klasifikasi makhluk hidup (hewan) dengan tujuan pembelajaran siswa dapat memahami tujuan dan dasar klasifikasi, mampu mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri yang dimiliki. Media yang digunakan berupa gambar-gambar hewan yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman siswa. Seorang guru yang memiliki kemampuan mengajar yang baik belum tentu dapat membuat siswa belajar dengan baik, untuk itu seorang guru harus memiliki kesadaran yang tinggi di mana ada usaha sadar dalam membelajarkan siswanya untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan sesuai indikator ketercapaian. Mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa (Subiyanto, 1988:30) dalam Trianto (2009:17). Motivasi Belajar Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil, (2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, (3) adanya harapan dan citacita masa depan, (4) adanya penghargaan dalam belajar, (5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik (Hamza, 2006:23). Efektivitas Pembelajaran Pembelajaran seorang guru pada umumnya masih bersifat satu arah dengan mentransfer dan memberikan konsep-konsep secara langsung kepada siswa atau guru sebagai pusat belajat (teacher centered). Dalam pembelajaran tersebut menurut Clements& Battista (2001), siswa secara pasif “menyerap” struktur pengetahuan yang diberikan guru atau yang terdapat dalam buku pelajaran. Pembelajaran hanya sekedar penyampaian fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan kepada siswa. Senada dengan itu, Soedjadi (2000) menyatakan bahwa dalam kurikulum sekolah di Indonesia terutama pada mata pelajaran sains (matematika, fisika, kimia) dan dalam pengajarannya selama ini terpatri kebiasaan dengan urutan sajian pembelajaran sebagai berikut: (1) diajarkan teori/teorima/definisi, (2) diberikan contoh-contoh, dan (3) diberikan latihan soal-soal. Tetapi dalam pandangan konstruktivisme hal tersebut sangat bertolak belakang karena dalam kontruktivisme menurut Suparno (1997) adalah sebagai berikut: (1) Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa, baik secara personal maupun secara sosial, (2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa menalar, (3) Siswa aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4) Guru berperan sebagai fasilitator menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pengetahuan siswa berjalan mulus. Sistem pembelajaran dalam pandangan konstruktivis menurut Hudojo (1998) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) Siswa terlibat aktif dalam belajarnya. Siswa belajar materi (pengetahuan) secara bermakna dengan bekerja dan berpikir, (2) informasi baru harus dikaitkan dengan informasi Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 137

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) sebelumnya sehingga menyatu dengan skemata yang dimiliki siswa. Selain sistem pembelajaran, dalam pandangan konstruktivis diperlukan penyediaan lingkungan belajar yang konstruktif. Masih menurut Hudojo (1998) adalah lingkunan belajar yang, (1) Menyediakan pengalaman belajar yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sehingga belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan, (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, (4) Mengintegrasikan pembelajarlan yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerja sama antara siswa, (5) Memanfaatkan berbagai media agar pembelajarlan lebih menarik, dan (6) melibatkan siswa secara emosional dan sosial. Menurut Soemosasmito (1988:119) suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektifan pengajaran, yaitu: (1) Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM, (2) Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi di antara siswa, (3) Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan, dan (4) Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas yang mendukung butir 2 tanpa mengabaikan butir 4. Masih menurut Soemosasmito (1988:119) bahwa guru yang efektif adalah guru yang menemukan cara dan selalu berusaha agar anak didiknya terlibat secara tepat dalam suatu mata pelajaran dengan presentasi waktu belajar akademis yang tinggi dan pelajaran berjalan tanpa menggunakan teknik yang memaksa, negatif atau hukuman. Media Pembelajaran Menurut Sanjaya (2006), bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga komponen pokok, yaitu komponen pengirim pesan (guru), komponen penerima pesan (siswa), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Kadang-kadang dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi. Artinya materi pelajaran atau pesan yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya tidak seluruh materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa, lebih parah lagi siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat menyusun strategi pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar. Media pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar memiliki fungsi dan berperan untuk: (1) Menangkap suatu obyek atau peristiwa-peristiwa tertentu, (2) Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau obyek tertentu, (3) Menambah gairah dan motivasi siswa. Selain fungsi dan perannya, dalam penggunaan media pembelajaran ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan, diantaranya: (1) Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran bukan untuk media hiburan, atau semata-mata dimanfaatkan untuk mempermudah guru menyampaikan materi, akan tetapi benar-benar untuk membantu siswa belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, (2) Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran, (3) Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa, (4) Media yang digunakan harus memerhatikan efektifitas dan efisien, (5) Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar 1. Kegiatan Pendahuluan Apersepsi diawali guru dengan meminta satu orang siswa maju melakukan pengelompokan terhadap kancing-kancing genetika yang berwarna merah, kuning, putih dengan ukuran sama. Selesai mengelompokkan guru meminta semua siswa memperhatikan hasil pengelompokan tersebut dan mengajukan pertanyaan “Berdasarkan apakah dia mengelompokkan kancing-kancing genetika tersebut?”, siswa menjawab bahwa pengelompokan tersebut berdasarkan warna kancing sehingga didapatkan 3 kelompok warna kancing genetika, yaitu kelompok kancing berwarna merah, kelompok kancing berwarna kuning, dan kelompok kancing berwarna putih. Dari hasil tersebut guru menjelaskan bahwa siswa telah mampu melakukan klasifikasi.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 138

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dalam kegiatan ini, siswa tampak senang dan tertarik melihat kancing genetika. Begitu pula dalam menjawab pertanyaan yang diajukan guru mengenai ciri-ciri makhluk hidup. Hampir semua siswa aktif menjawab pertanyaan guru yang dijawab dengan serempak. Siswa yang diminta mengklasifikasikan kancing-kancing genetika tersebut tubuhnya membelakangi siswa lain sehingga kegiatan yang dilakukan tidak dapat dilihat oleh siswa yang berada di tengah dan di belakang. Siswa tersebut sebaiknya dalam melakukan kegiatan menghadap ke siswa lain agar kegiatan yang dilakukannya di depan kelas tampak atau bisa terlihat oleh siswa satu kelas. 2. Kegiatan Inti Dalam kegiatan ini guru memberi amplop berisi gambar-gambar hewan dan petunjuk langkah kerja dan kertas kalender bekas kepada setiap kelompok (ada 9 kelompok dan masing-masing kelompok berjumlah 4 orang siswa). Guru memberi instruksi untuk membuka amplop dan bekerja secara berkelompok mendiskusikan apa yang harus dilakukan sesuai petunjuk. Setiap kelompok membuka amplop dan mengeluarkan gambar-gambar hewan tersebut. Ada kelompok yang langsung mengelompokkan tanpa membaca petunjuk dan ada kelompok yang membaca petunjuk tetapi bingung dengan petunjuk tersebut. Dalam kegiatan ini hampir semua kelompok langsung mengelompokkan hewan yang sama ke dalam satu kelompok karena gambar hewan tersebut ada 2 ( satu jenis gambar jumlahnya dua). Setelah melakukan klasifikasi tersebut semua kelompok terdiam tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi: 1. Siswa sangat antusias ketika melihat gambar-gambar hewan yang berwarna-warni sehingga lupa dengan petunjuk yang ada. 2. Siswa tidak membaca petunjuk terlebih dahulu, langsung melakukan klasifikasi seperti yang ditunjukkan pada awal pembelajaran. 3. Siswa membaca petunjuk tetapi tidak/kurang paham dengan kalimatnya (bahasa siswa sehari-hari bahasa madura) Guru sebagai fasilitator memantau kondisi tersebut dan menjelaskan kepada masing-masing kelompok bahwa mereka harus menentukan terlebih dahulu ciri-ciri hewan kemudian menempelkan gambar-gambar hewan sesuai ciri-ciri yang ditulis. Dengan kondisi siswa kebingungan guru hendaknya mengambil alih dengan meminta semua siswa memperhatikan ke depan dan guru menjelaskan secara klasikal untuk efisiensi waktu. Kalimat dalam petunjuk langkah kerja sebaiknya kalimat sederhana yang mudah dipahami siswa (bahasa siswa). Hal ini karena keseharian siswa menggunakan bahasa Madura yang hal ini kadang menyebabkan siswa kurang memahami bahasa Indonesia dengan baik, sehingga setiap instruksi dari guru sebaiknya diikuti dengan penjelasan secara lisan dari guru yang bersangkutan sehingga bisa dipahami oleh semua siswa. Instruksi yang berupa tulisan di kertas saja ternyata sulit dipahami siswa, sehingga hasil kegiatan belajar siswa dalam mengelompokkan gambar dalam satu kelas hasilnya berbeda-beda. Dengan penjelasan guru, maka masing-masing kelompok mengklasifikasikan hewan sesuai ciri yang ditentukan. Seperti misalnya hasil kerja kelompok 8 (delapan) kelompok yang paling cepat menyelesaikan dan kelompok 9 (sembilan) yang ada di belakangnya melihat hasil kerjanya sehingga terjadi transfer pengetahuan. Kelompok 1 (satu) salah persepsi dengan penjelasan guru, maka yang ditentukan adalah ciri-ciri masing-masing hewan yang ditempel sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam hal ini guru kurang cermat sehingga kelompok 1 (satu) terabaikan dalam beberapa waktu yang cukup lama. Setelah guru memberi penjelasan, maka kelompok tersebut dapat menyelesaikan walaupun paling akhir. Guru sebaiknya meminta kelompok 1 (satu) ke kelompok 8 (delapan) untuk melihat hasil kerjanya atau kelompok 8 (delapan) diminta membantu kelompok 1 (satu) menyelesaikan kegiatannya sehingga terjadi kolaborasi antar kelompok. Menurut Slavin pembelajaran kooperatif sebagai “cooperative learning method share the idea that students work together to learn and are responsible for one another’s learning as well as their own (1991:73). Definisi ini mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Perasaan saling bertanggung jawab ini sering diistilahkan dengan “swim and sink

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 139

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) together”. Pembelajaran kooperatif memiliki pengertian luas yang meliputi belajar berkolaborasi, belajar kooperatif dan kerja kelompok, juga menunjukkan ciri sosiologis yaitu penekanannya pada aspek tugas-tugas kolektif yang harus dikerjakan bersama dalam kelompok dan pendelegasian wewenang (authority) dari guru kepada siswa. Kelompok kooperatif yang terdiri dari anggota siswa yang heterogen baik tingkat kepandaian, jenis kelamin, sukudan etnis, diharapkan dapat meningkatkan hubungan sosial diantara siswa.proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi kuliah yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional. Dalam pembelajaran kooperatif mahasiswa bekerja sama dan belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Hal ini dimaksudkan agar interaksi siswa menjadi maksimal dan efektif. Harus disadari juga bahwa semua kelompok menjadi kelompok kooperatif. Ada kelompok semu, dan kelompoktradisional. Pembelajaran kooperatif tidak semata-mata meminta siswa bekerja secara kelompok dengan cara mereka sendiri. Menurut Johnson dan Johnson (1993) dalam Lie (20042) agar kondisi tersebut benar-benar terjadi, maka siswa harus memahami lima dasar yang harus ada dalam belajar kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan, (2) interaksi langsung antar siswa, (3) pertanggungjawaban individu, (4) keterampilan berinteraksi antar individu dan kelompok, (4) dan keefektifan proses kelompok. Kerja sama antar siswa dalam kelompok pada kegiatan ini kurang efektif. Kendalanya adalah posisi tempat duduk yang memanjang. Satu meja panjang terdapat 4 orang siswa dengan posisi tempat duduk memanjang/tidak berhadapan sehingga siswa yang berada di tepi ada yang tersisihkan karena diabaikan temannya, merasa kesulitan untuk bekerja sama karena didominasi teman yang berada di tengah. Kegiatan kelompok akan efektif bila siswa antar kelompok duduk saling berhadapan meskipun bentuk meja memanjang (bentuk meja laboratorium IPA model lama). Dalam hal ini guru harus cermat membaca situasi dengan meminta siswa berpindah agar duduk berhadapan dan bila memungkinkan duduk siswa diselang seling antara siswa putra dan putri karena jenis kelamin sama cenderung berkelompok. Setelah kegiatan kelompok selesai, setiap kelompok menempelkan hasil karya masing-masing ke papan tulis dilanjutkan dengan diskusi kelas dengan bimbingan guru. Dalam diskusi ini hasil siswa yang salah masih belum dibahas secara mendalam karena bel pulang yang membuat siswa resah. Tetapi guru telah memberikan penjelasan tentang tujuan dan dasar klasifikasi makhluk hidup. 3. Kegiatan Penutup Kegiatan akhir yang dilakukan guru seharusnya memberikan post test untuk mengetahui daya serap siswa secara individual dan klasikal tetapi karena siswa mulai resah, maka guru mengakhiri pelajaran tanpa memberi post test ataupun tugas. Dan membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dari kegiatan pembelajaran tersebut. Dari apa yang telah dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung, tampak bahwa siswa sangat aktif dan merasa senang sekali dengan gambar-gambar hewan dan menempelkan di kertas kalender bekas. Dengan gambar-gambar hewan ternyata siswa dapat mengklasifikasikan hewan sesuai ciri yang dimiliki yang ditentukan siswa sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu memahami apa yang telah mereka pelajari meskipun evaluasi secara tertulis (post test) tidak dilakukan secara individual (daya serap tidak dapat ditentukan secara kuantitatif). Dengan menggunakan gambar-gambar hewan sebagai media pembelajaran, maka diharapkan dapat: 1. Meningkatkan pemahaman siswa dengan lebih cepat, 2. Membuat daya ingat siswa lebih lama terhadap hasil pembelajaran, 3. Membuat siswa merasa tertarik dan tidak bosan dalam pembelajaran, 4. Meningkatkan hasil belajar siswa, 5. Meningkatkan kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 140

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dalam proses belajar mengajar seorang guru harus pandai memilih metode dan alat/media pembelajaran. Dengan metode dan alat/media pembelajaran yang tepat akan mampu menjadikan proses belajar mengajar yang efektif sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan memahami materi ajar dengan baik pula. Saran Pada materi klasifikasi makhluk hidup guru bisa menggunakan gambar untuk membantu siswa dalam memahami klasifikasi/pengelompokan makhluk hidup. Pada siswa dengan kemampuan tinggi bisa diminta untuk mengelompokkan makhluk hidup tanpa guru memberi tau klasifikasinya didasarkan atas apa. Sebaliknya pada siswa dengan tingkat kemampuan rendah atau sedang sebaiknya dasar klasifikasi ditentukan oleh guru sehingga tidak membingungkan siswa. Selain metode dan alat/media pembelajaran yang tepat, yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran di kelas yang menggunakan petunjuk sebagai langkah kerja siswa melakukan kegiatan harus dengan kalimat yang dapat dipahami siswa (bahasa siswa) dan guru bila perlu menjelaskan langkah kerja yang harus dilakukan. Manajemen waktu juga harus diperhatikan sehingga pembelajaran yang efektif dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Jakarta. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka Uno, Hamzah. 2006. Teori Motivasi dan Pengukurannnya. Jakarta : PT Bumi Aksara Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Slavin, R.E. 1997. Education Psychology: Theory into Practice (3rd cd). Boston: Allyn & Bacon.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 141

MODEL PENGIMABASAN LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH (LSBS) MELALUI LESSON STUDY BERBASIS MGMP BIOLOGI SMA DI KOTA SEMARANG

Agung Purwoko
SMA Negeri 16 Semarang, e-mail: purwoko444@yahoo.co.id

Abstrak: MGMP merupakan suatu forum atau wadah profesional guru mata pelajaran yang berada pada suatu wilayah. Prinsip kerja MGMP adalah cerminan kegiatan “dari, oleh dan untuk guru”, sehingga MGMP merupakan organisasi non struktural yang bersifat mandiri, berasaskan kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hirarkis dengan lembaga lain (Achmad, 2004). Tujuan yang ingin dicapai oleh MGMP pada dasarnya adalah peningkatan kemampuan guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Salah satu upaya peningkatan profesionalitas guru Biologi Kota Semarang dilakukan dengan melaksanakan Lesson Study Berbasis MGMP. Kegiatan dilakukan mulai dari tahapan sosialisasi, kemudian dilakukan praktik LS MGMP pada Tahun Pelajaran 2009/2010. Putaran I dilakukan pada Semester I. LS MGMP dilakukan 4 (empat) open class di 4 (empat) sekolah yang berbeda. Dari 4 (empat) sekolah hanya 1 (satu) sekolah yang dapat mengimbaskan LS BS pada mata pelajaran selain Biologi. Pada Semester II putaran II , diimplementasikan model Pengimbasan LS BS melalui LS MGMP Biologi pada empat sekolah yang berbeda. Hasilnya praktik LS MGMP di empat sekolah berbeda, dapat mengimbaskan LS BS pada mata pelajaran lain pada semua sekolah. Makalah ini membahas model pengimbasan LS BS melalui LS MGMP, dan implementasinya. Kata kunci: Model Pengimbasan, LS MGMP, LS BS

Data pada Direktorat Jendral PMPTK Juni Tahun 2009, menunjukkan jumlah guru di Indonesia yang bergolongan IV/b ke atas adalah 13.773 orang dari seluruh jumlah guru berjumlah 2.607.311 orang (Sumber Data NUPTK, Juni 2009). Data merupakan salah satu indikasi bahwa kegiatan pengembangan profesi guru masih rendah. Banyak faktor yang diduga menyebabkan hal ini. Faktorfaktor yang banyak dikemukakan guru yang menjadi kendala kegiatan pengembangan profesi adalah 1) sejak awal menulis karya ilmiah atau meneliti bukan merupakan tugas pokok guru, 2) guru sibuk dengan kegiatan menyelesaikan kompetensi dasar dalam kurikulum, 3) tidak adanya bimbingan untuk menulis karya ilmiah atau meneliti, 4) bantuan biaya penelitian untuk guru sulit dicari jika ada jumlahnya kecil 5) sistem kenaikan pangkat tidak sejak awal mensyaratkan karya tulis ilmiah dalam kegiatan pengembangan profesi. Pelatihan-pelatihan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mengembangkan kompetensi guru banyak dilakukan. Pelatihan-pelatihan tersebut berkaitan dengan tugas pokok guru yaitu model pembelajaran inovatif, penilaian berbasis kelas, penulisan karya tulis ilmiah, penyusunan silabus, penyusunan RPP, analisis hasil penilian, pembelajaran remidial, penyusunan program tindak lanjut dan penelitian tindakan kelas. Pelatihan-pelatihan tersebut pada umumnya tidak implementatif, tanpa program tindak lanjut yang jelas, sehingga setelah selesai pelatihan guru kembali pada kegiatan rutinnya menyelesaikan SK-KD dalam pembelajaran di kelasnya. Kelebihan Lesson Study sebagai upaya berkelanjutan pembinaan profesionalitas guru, merupakan alternatif pendekatan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan kompetensi guru, baik kompetensi paedagogik, profesional, personal dan kemasyarakatan. Tahapan Plan - Do - See dalam praktik Lesson Study Berbasis MGMP dan Sekolah memungkinkan adanya ruang untuk terjadinya peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP, menerapkan pembelajan inovatif, melaksanakan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pendekatan kolaborasi dalam penilaian, pengembangan media dan sumber belajar, mengenali karakteristik siswa dan mengembangkan komunitas belajar di antara guru-guru di sekolah maupun di MGMP. Kendala pelaksanaan LS MGMP adalah kurangnya percaya diri untuk menjadi guru model. Bagi sebagian besar guru mengajar merupakan aktivitas yang individual, baik-buruknya hanya siswa yang menilai. Jika siswa merasa nyaman dengan pembelajaran yang disampaikan, maka guru merasa pembelajaran berhasil. Indikator keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran seringkali diukur dari keberhasilan dalam Ujian Nasional. Jika hasil Ujian Nasional baik, maka guru dianggap mengajar dengan baik. Sehingga pembelajaran tidak perlu dikritisi orang lain, kecuali Kepala Sekolah saat supervisi. Di antara para guru belum ada budaya mengkritisi pembelajaran yang dilakukan oleh guru lain dalam kegiatan open class (buka kelas). Ada perasaan tidak enak saat dikritisi oleh guru lain. Kendala psikologis di atas menjadi kendala pelaksanaan LBBS. Di samping itu belum tersosialisasinya konsep, makna dan manfaat Lesson Study di sebagian besar sekolah di Semarang. Makalah ini menyajikan pengalaman lapangan Pengimbasan Lesson Study Berbasis Sekolah melalui pelaksanaan Lesson Study Berbasis MGMP Biologi yang diselenggarakan secara bergilir di berbagai sekolah, dengan melibatkan kepala sekolah, guru biologi dan mata pelajaran lain. Pengertian Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya Jugyokenkyu, adalah proses pengembangan profesi inti yang dipraktikkan guru-guru di Jepang agar secara berkelanjutan mereka dapat memperbaiki mutu pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Praktik ini mempunyai sejarah panjang, dan secara signifikan telah membantu perbaikan dalam pembelajaran (teaching) dan pemelajaran/proses belajar (learning) siswa dalam kelas, juga dalam pengembangan kurikulum. Banyak guru sekolah dasar dan sekolah menengah di Jepang menyatakan bahwa lesson study merupakan salah satu pendekatan pengembangan profesi penting yang telah membantu mereka tumbuh berkembang sebagai profesional sepanjang karir mereka (Yoshida 1999). Lesson Study pada mulanya merupakan serangkaian kegiatan atau proses yang sistematis digunakan oleh guru-guru di Jepang untuk menguji efektifitas pengajaran dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran ( Garfield, 2006 ). Yang dimaksud proses sistematis adalah kolaborasi antara guru dengan guru, dan jika memungkinkan dalam penyusunan plan, dapat melibatkan warga sekolah, orang tua/wali siswa, komite, atau pihak peduli pendidikan hingga sampai ke tahap refleksi. Dalam lesson study perencanaan pembelajaran (plan) disusun secara bersama yang dituangkan dalam rencana program pembelajaran (RPP). Pada kegiatan plan ini juga ditetapkan seorang guru model yang akan melaksanakan pembelajaran dikelas. Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi. Karakteristik dan Kelebihan Lesson Study Lesson study memberi kesempatan nyata kepada para guru menyaksikan pembelajaran (teaching) dan atau proses belajar siswa (learning) di ruang kelas. Lesson study membimbing guru untuk memfokuskan diskusi-diskusi mereka pada perencanaan, pelaksanaan, observasi/pengamatan, dan refleksi pada praktik pembelajaran di kelas. Dengan menyaksikan praktik pembelajaran yang sebenarnya di ruang kelas, guru-guru dapat mengembangkan pemahaman atau gambaran yang sama

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 143

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran efektif, yang pada gilirannya dapat membantu siswa memahami apa yang sedang mereka pelajari. Karakteristik unik yang lain dari lesson study adalah bahwa lesson study menjaga agar siswa selalu menjadi pusat kegiatan pengembangan profesi guru. Lesson study memberi kesempatan pada guru untuk dengan cermat meneliti proses belajar serta pemahaman siswa dengan cara mengamati dan mendiskusikan praktik pembelajaran di kelas. Kesempatan ini juga memperkuat peran guru sebagai peneliti di dalam kelas. Guru membuat hipotesis (misalnya, jika kami mengajar dengan cara tertentu, anak-anak akan belajar) dan mengujinya di dalam kelas bersama siswanya. Kemudian guru mengumpulkan data ketika melakukan pengamatan terhadap siswa selama berlangsungnya pelajaran dan menentukan apakah hipotesis itu terbukti atau tidak di kelas. Ciri lain dari lesson study adalah bahwa ia merupakan pengembangan profesi yang dimotori guru. Melalui lesson study, guru dapat secara aktif terlibat dalam proses perubahan pembelajaran dan pengembangan kurikulum. Selain itu, kolaborasi dapat membantu mengurangi isolasi di antara sesama guru dan mengembangkan pemahaman bersama tentang bagaimana secara sistematik dan konsisten memperbaiki proses pembelajaran dan proses belajar di sekolah secara keseluruhan. Selain itu, lesson study merupakan bentuk penelitian yang memungkinkan guru-guru mengambil peran sentral sebagai peneliti praktik kelas mereka sendiri dan menjadi pemikir dan peneliti yang otonom tentang pembelajaran (teaching) dan pembelajaran atau proses belajar siswa (learning) di ruang kelas sepanjang hidupnya. Adapun kelebihan lesson study sebagai berikut: a. Dapat diterapkan di setiap bidang studi mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas. b. Dapat dilaksanakan antar guru/pendidik dengan lintas sekolah, sehingga terjadi silaturahim dalam arti terjadi proses kerjasama, kolaborasi, kesepertemanan dan kesetiawanan antar guru/pendidik (cooperative dan colaborative serta collegial) antar pendidik, yang pada gilirannya dapat memperkuat persatuan dan kesatuan serta meningkatkan mutu guru dan peserta didik secara bersama. c. Lesson Study memberi keuntungan ganda siswa dan guru dalam meningkatkan inovasi dan kreativitas. Siswa memperoleh kesempatan untuk mengaktualisasikan kreativitasnya dalam pembelajaran dengan rancangan kegiatan yang sebaik-baiknya. Sedangkan guru berusaha optimal untuk menerapkan inovasi pembelajaran yang sebelumnya sudah dirancang bersama guru lain dalam kegiatan plan. d. Lesson Study, dengan terjadinya interaksi antar pendidik, dapat membuka dan meningkatkan sifat terbuka, saling kasih dan sayang “Asah, Asih, dan Asuh”. e. Lesson Study sebagai ajang atau wahana penyadaran bahwa hidup ini sangat terbatas, guru tidak merasa paling hebat dan sempurna, tidak bersedia menerima kritik dan saran. Akan tetapi dengan lesson study, diharapkan terjadi kooperasi dan kolaborasi antar guru yang bersedia diberi masukan, kritik dan saran. Guru yang diberi saran tidak merasa diremehkan/dicemooh, jika terjadi kekhilafan atau kekurangan. Sedangkan bagi guru yang memberi kritik dan saran juga bukan merasa sebagai guru yang paling pandai, sebab mereka memberi masukan berdasarka fakta yang diamati dalam open class. Langkah Pelaksanaan Lesson Study Guru-guru Jepang menyelenggarakan lesson study dalam berbagai bentuk dan cara. Lesson study dilaksanakan sebagai bagian dari pengembangan profesi berbasis sekolah yang dikenal dengan nama Konaikenshu dan diselenggarakan menurut kelompok sekolah atau kelompok mata pelajaran. Lesson study juga dapat dilaksanakan antar sekolah. Di Jepang kegiatan lesson study dilaksanakan menurut wilayah (seperti, kecamatan, kabupaten, dsb.), kelompok guru (misalnya, kelompok guru mata pelajaran di sekolah dan kelompok). Lesson study juga menjadi bagian dari pendidikan guru di tahun pertama mereka bertugas, serta sebagai bagian dari kegiatan asosiasi maupun institusi pendidikan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 144

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Lesson study terdiri dari tiga bagian utama: (1) identifikasi tujuan jangka panjang lesson study (research theme); (2) pelaksanaan sejumlah research lesson yang akan mengeks-plorasi implementasi research theme; dan (3) refleksi terhadap proses lesson study, termasuk pembuatan laporan tertulis. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi: a) perencanaan, b) praktek mengajar, c) observasi, d) refleksi/kritikan terhadap pembelajaran. 2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang. Seringkali guru tersebut berdiskusi dan atau meminta masukan dari guru lain. 3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana. 4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui. 5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. 6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2). Pengalaman Lesson Study Bagi guru pengalaman menarik dalam pelaksanaan Lesson Study baik berbasis MGMP maupun berbasis Sekolah adalah ketika dalam praktik Lesson Study berperan sebagai guru model, observer maupun fasilitator. Sebagai guru model, guru mengembangkan RPP bersama-sama dengan guru mata pelajaran sejenis. Forum yang tidak formal dalam penyusunan RPP akan menciptakan suasana kerjasama yang tidak kaku, guru-guru saling memberi masukan untuk menyempurnakan draf RPP yang sebelumnya sudah disiapkan. Ketika hal ini dilakukan secara berkelanjutan akan mengeleminir sekat guru senior dan yunior. Ada kesadaran baru untuk saling memberi masukan dalam menentukan materi, merumuskan tujuan pembelajaran, merancang kegiatan belajar, menyiapkan penilaian, mengatur setting kelas, memilih media dan sumber belajar sampai pada pendokumentasian kegiatan. Sebagai observer. Hal yang menarik, guru-guru memodifikasi suatu model pembelajaran dan menerapkannya di kelas setelah mengikuti open class pada suatu mata pelajaran atau disekolah lain. Pendapat dan komentar pada saat refleksi mengungkapkan temuan-temuan menarik aktivitas siswa selama pembelajaran. Seperi misalnya, sementara pihak berpendapat bahwa kehadiran banyak observer akan mengganggu pembelajaran, siswa menjadi tidak terfokus pada kegiatan belajar. Tetapi justru pada suatu open class (di SMA Sint Louis Semarang, Biologi Sabtu, 6 Maret 2010) observer mencatat kinerja siswa menurun ketika kelompokknya ditinggalkan observer. Siswa bermain atau mengganggu temannya saat diskusi kelompok, pada umumnya distigma negatif oleh guru, bahwa siswa tersebut nakal, trouble maker, perilaku itu dikatakan sebagai kompensasi dari kebodohan siswa. Pada kegiatan refleksi kejadian tersebut dijelaskan dengan fakta bahwa posisi tempat duduk yang terpisah dari anggota kelompoknya, jumlah bahan ajar kurang, LKS hanya satu dalam satu kelompok, pembagian tugas dalam kelompok yang tidak optimal, pengarahan dari guru yang kurang. Sebagai fasilitator. Peran fasilitator sangat strategis untuk mengembangkan kebermaknaan dalam lesson Study. Fasilitator tidak hanya berperan mengatur jalannya legiatan plan-do-see tetapi dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi observer tentang model pembelajaran, penilaian, media pembelajaran, mengembangkan interaksi siswa-siswa, siswa-guru, siswa-bahan ajar. Akhirnya guru akan mengambil peran yang baik dengan hadir saat plan dan belajar dulu berbagai teori-teori pembelajaran.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 145

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Model Pengimbasan LSBS melalui LSMGMP Berangkat dari pemikiran, jika Lesson Study dilaksanakan Berbasis MGMP Biologi saja, maka guru-guru Biologi yang pernah mengikuti open class akan mengalami kesulitan untuk mengimbaskan pelaksanaan Lesson Study di sekolahnya. Hal ini disebabkan karena belum difahaminya konsep dan praktik Lesson Study di sekolahnya. Di samping itu, kemungkinan belum adanya dukungan dari Kepala Sekolah dan kolega guru di sekolah. Maka Model Pengimbasan LSBS melalui LSMGMP dirancang dan dilaksanakan untuk dapat diimbaskan LSBS melalui LSMGMP Biologi. Alur modelnya adalah sebagai berikut.
LSBS SEKOLAH MGMP BIOLOGI LSMGMP BIOLOGI SEKOLAH MAPEL 1. BIOLOGI 2. SELAIN BIOLOGI LSBS SEKOLAH

LSBS

Sosialisasi pada pertemuan MGMP Biologi

LSBS SEKOLAH

Pelatihan Fasilitator LS bekerjasama dengan UNY

Gambar 1. Bagan pola Pengimbasan LSBS melalui LS MGMP Pada langkah awal - Siklus I, dilakukan sosialisasi Lesson Study melalui pertemuan anggota MGMP Biologi Kota Semarang. Kegitan sosialisasi bertujuan mengenalkan konsep, tahap perkembangan ,tujuan, manfaat, langkah-langkah, pembagian peran, penyusunan perangkat dan praktik Lesson Study. Setelah sosialisasi dilakukan praktik LS MGMP pada empat sekolah yang berbeda. Pelaksanaan LSMGMP di empat sekolah dihadiri oleh guru-guru anggota MGMP Biologi. Open class ddilakukan dengan guru model yang berasal dari sekolah yang mendapat giliran. Rancangan pembelajaran dilakukan oleh guru-guru di sekolah yang bersangkutan. Pada pelaksanaan open class salah seorang guru menjadi guru model, sedangkan guru lain dan guru dari sekolah lain anggota MGMP menjadi observer. Menggunakan pola ini, kegitan LSMGMP tidak banyak mengubah paradigma guru tentang belajar melalui pembelajaran guru lain. Kendala psikologis tidak percaya diri, megajar diamti oleh guru lain menjadi hambatan besar. Dari empat sekolah yang diselenggarakan LS MGMP hanya satu sekolah yang menindak lanjuti dengan LSBS mapel Biologi dan mapel lain. Tiga sekolah lain tidak terjadi Pengimbasan LS BS.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 146

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Siklus II, dilaksanakan mengikuti pola Pengimbasan seperti bagan di atas. Guru-guru anggota MGMP Biologi yang telah terlibat pada kegiatan Lesson Study, mendapat pelatihan fasilitator LS baik, fasilitator LS MGMP, maupun LSBS bekerjasama dengan LPTK penyelenggara Program SITTEMS (UNY,Yogyakarta). Pelatihan ini dirancang agar guru dapat menjadi fasilitator dan inisiator terlaksanyanyaLS MGMP maupun LSBS di sekolah masing-masing. Kemudian dirancang open class pada empat sekolah yang berbeda, dengan melibatkan Kepala Sekolah sebagai supervisor dan guruguru sekolah tersebut sebagai observer. Dengan pola ini empat sekolah tempat diselenggarakan LS MGMP Biologi dapat Pengimbasan LSBS baik pada mata pelajaran Biologi maupun mata pelajaran lain. Secara garis besar perkembangan pelaksanaan pola Pengimbasan dalam dua siklus adalah sebagai berikut. Tabel 1. Pengimbasan LSBS melalui LSMGMP di Kota Semarang
SIKLUS I LS MGMP BIOLOGI PENGIMBASAN LSBS pada MAPEL Biologi, Kimia, Matematika, PAI, Antropologi, Bahasa Indonesia, Geografi, Bahasa Jawa, Fisika, Bahasa Inggris, PKn. Tidak ada pengimbasan. LS MGMP BIOLOGI SIKLUS II PENGIMBASAN LSBS pada MAPEL Biologi, Bahasa Inggris.

SMA Negeri 16

SMA Negeri 4

SMA Negeri 11

SMA Sint Louise

Biologi, Kimia, Bahasa Inggris. Biologi, Bahasa Inggris Biologi, Fisika

SMA Sultan Agung I SMA Negeri 9

Tidak ada pengimbasan. Tidak ada pengimbasan.

SMA Negeri 12 SMA Terang Bangsa

Tabel di atas menunjukkan pengimbasan LSBS melalui LS MGMP terjadi pada Siklus II, setelah adanya guru inisiator dan fasilitator di sekolah. Peran Kepala Sekolah sebagai observer ikut mendorong hal tersebut. Dalam format ini, Kepala Sekolah sekaligus dapat melaksanakan tugas supervisi dalam suasana yang lebih nyaman bagi guru, terjadi interaksi dua arah dan bersifat bottomup. Beberapa keuntungan dapat diperoleh pelalui pola pengimbasan ini, antara lain. Bagi sekolah open class suatu mata pelajaran dapat mendorong guru untuk melakukan kegiatan serupa dengan memodifikasi model-model pembelajaran dan pendekatan disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing. Jika hal ini dilakukan secara berkelanjutan, maka guru telah melaksanakan upaya-upaya pengembangan profesi dengan cara yang murah, efektif dan efisien, langsung bekaitan dengan kebutuhan pelaksanaan pembelajaran. Bagi siswa open class lesson study akan menciptakan susana pembelajaran yang baru, lebih menyenangkan dan termotivasi untuk belajar lebih baik. Pada hakikatnya siswa memiliki motivasi untuk tampil dengan performance yang terbaik pada saat pembelajaran diamati oleh banyak observer. Pelibatan siswa dalam mempersiapkan learning material akan mendorong munculnya kreativitas dalam pembelajaran, mereka akan terbiasa dengan cara belajar kolaboratif. Secara institusional telah dilaporkan oleh guru-guru, bahwa di antara mereka terbangun suasana kerja sama yang lebih baik. Kegiatan kolaboratif, kolegial dalam menyusun Rencana Pelaksanaan pembelajaran, sharing bahan ajar, kerja sama dalam penyiapan setting kelas, pendokumentasian kegitan, menyusun instrumen observasi, merupakan aktivitas yang dirasakan manfaatnya bagi pengembangan profesi guru. Tanggapan, Guru Model, Observer dan Siswa Terhadap Model Pengimbasan LSBS Melalui LSMGMP Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 147

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tanggapan guru model, observer dan siswa diperoleh dari angket dan hasil wawancara setelah implementasi Model Pengimbasan LSBS melalui LSMGMP. Responden Guru Model sejumlah 8 orang dan Observer 42 orang memberi tanggapan seperti dalam tabel di bawah ini. Tabel 2. Tanggapan Guru Model dan Obsesrver terhadap Pelaksanaan Open Class
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Item Pembelajaran yang dirancang guru model dilaksanakan dengan baik. Kesulitan-kesulitan pembelajaran telah diantisipasi guru saat plan. Media Pembelajaran dan LKS sangat mendukung tujuan pembelajaran. Siswa merespon aktif dan positif kegiatan pembelajaran. Instrumen penilaian dapat digunakan. Kegiatan refleksi sangat bermanfaat bagi guru model dan observer. Kegiatan LSBS dapat memperbaiki kualitas pembelajaran Biologi. Kegiatan LSBS dapat digunakan sebagai wahana layanan supervisi pengajaran. Kepala Sekolah berperan optimal pada LSBS sehingga supervisi lebih efektif dan efisien. Supervisi pengajaran melalui LSBS perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. JUMLAH PROSEN RERATA SS 0 0 75 0 0 100 100 100 0 0 375 37,5 Siklus I S TS 75 75 25 100 50 0 0 100 50 100 575 58 25 25 0 0 25 0 0 0 50 0 125 12,5 STS 0 0 0 0 25 0 0 0 0 0 25 2,5 SS 100 100 100 75 75 100 100 100 100 100 950 95 Siklus II S TS 0 0 0 25 25 0 0 0 0 0 50 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 STS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Dari data di atas dapat dicermati bahwa tanggapan guru model dan observer menunjukkan kecenderungan menerima positif Model Pengimbasanan LSBS melalui LS MGMP. Semua guru model menyatakan kegiatan refleksi sangat bermanfaat bagi guru dan dapat memperbaiki kualitas pembelajaran (sangat setuju, 100%). Pada Siklus I belum ada keyakinan penuh Kepala Sekolah bahwa supervisi kunjungan kelas dapat sekaligus dilakukan melalui LS BS (setuju 50%, tidak setuju 50%), tetapi pada Siklus II Kepala sekolah yakin bahwa supervisi kelas dapat dilakukan melalui LSBS (sangat setuju 100%). Hal ini disebabkan karena keterlibatan langsung kepala sekolah dalam kegiatan supervisi melalui LSBS yang dilaksanakan bersamaan dengan open class. Respon siswa diperoleh melalui angket secara acak pada pelaksanaan Siklus II pada beberapa siswa dimana diselenggarakan openclass, responden berjumlah 40 siswa. Tanggapa responden siswa, dicantumkn dalam tabel di bawah ini. Tabel 3. Respon siswa dalam kegiatan open class
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Butir Pertanyaan Apakah pembelajaran yang telah dilaksanakan menarik? Apakah pembelajaran menyenangkan? Apakah pembelajaran mudah dimengerti? Apakah Anda termotivasi untuk belajar? Apakah pembelajaran mendorong Anda untuk bekerjasama dengan teman? Apakah pembelajaran mendorong Anda dalam kemandirian belajar? Apakah media yang digunakan menarik? Apakah media yang digunakan dapat membantu untuk memahami materi yang dibelajarkan? Ya (%) 100,00 97,30 62,16 89,19 100,00 81,08 62,16 83,78 Tidak (%) 0,00 2,70 37,84 10,81 0,00 18,92 37,84 16,22

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 148

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
9 10 Apakah bahan ajar yang tertulis dalam LKS membantu Anda dalam belajar? Apakah soal-soal ulangan mudah dipahami maksudnya? 91,89 81,08 8,11 18,92

Data-data di atas, menunjukkan respon positif siswa terhadap kegiatan open class. Siswa berpendapat bahwa model-model pembelajaran yang diimplementasikan dalam open class menarik. Ini berarti guruguru model merancang pembelajaran tidak seperti biasanya. Berbagai upaya untuk menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran menarik minat siswa (100%). Kerjasama antar siswa dalam pembelajaran dapat dioptimalkan. Pada umumnya guru model merancang pembelajaran dengan kooperative learning dengan berbagai tipe. Melalui pembelajaran kooperative siswa didorong untuk saling bekerja sama (100% responden siswa menyatakan terdorong untuk bekerja sama dalam pembelajaran dan mengerjakan tugastugas belajar). Sementara itu pemanfaatan media peresentasi power point sudah mulai dikenal oleh siswa, sehingga tidak lagi dianggap hal yang baru (62,16 % sisws menyatakan media menarik). Dua orang guru model pada siklus II, menggunakan pembelajaran bilingual, hal ini masih dirasakan hal yang baru, 37,84% siswa masih mengalami kesulitan untuk memahami pembelajaran dengan bilingual.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, model Pengimbasan LSBS melalui LS MGMP memiliki dampak positif baik bagi upaya pengembangan profesi guru, bagi guru dan institusi sekolah. Model ini dapat diimplementasikan melalui pola kolaborasi yang lebih luas antara guru anggota MGMP, guru-guru di sekolah dan kepala sekolah, sehingga learning community diharapkan dapt terwujud dengan baik. Sangat diperlukan penelitian yang intens untuk mengembangkan pola-pola yang lebih responsif untuk mengembangkan profesi guru dengan pendekatan bottom-up, murah dan berdaya guna.
DAFTAR PUSTAKA Istamar Syamsuri. 2007. Membangun Learning Community Menuju Sekolah Berprestasi. Apa dan mengapa Lesson Study. Makalah dalam Seminar Nasional Lesson Study. Universitas Negeri Malang. Muhammad Nur. 2005. Dalam Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah Unesa. Mulyana, Slamet. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat Robert E. Slavin. (1994). A Practical Guide to Cooperative Learning. Disadu oleh. Yoshida, M.1999. Lesson Study: A Case Study of a Japanese Approach to Improving Instruction Through SchoolBased Teacher Development. Disertasi Doktoral tidak diterbitkan, The University of Chicago. Wina Sanjaya (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 149

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PERKEMBANGAN IMPLEMENTASI DAN KEBERLANJUTAN KEGIATAN LESSON STUDY BIOLOGI SMA BERBASIS MGMP DI WILAYAH KOTA PASURUAN

Drs. Agung Arditigo
Fasilitator MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan

ABSTRAK: Kegiatan Lesson Study di MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan telah 3 tahun dilaksanakan, yaitu sejak ditandatanganinya MoU antara Sampoerna Foundation Teacher Institute dengan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota Pasuruan tanggal 5 Agustus 2008. Saat ini, setelah 3 tahun melaksanakan kegiatan lesson Study, para guru biologi SMA Kota Pasuruan nampak telah mengalami kemajuan dalam melaksanakan tugasnya, yaitu para guru mampu menyusun RPP(Plan) yang lebih efektif serta membangkitkan partisipasi, perhatian dan keterlibatan siswa, mampu melaksanakan pemebelajaran yang diobservasi(Do) yang ditandai dengan semakin percaya diri alam melaksanakan pembelajaran, mampu melakukan observasi pembelajaran dengan fokus pada aktivita belajar siswa dan bukan ke guru mengajar, mampu memberikan komentar dalam refleksi dan mampu memanfaatkan pengalaman berharga dari setiap observasi dan diskusi-refleksi(See). Walaupun perkembangan Implementasi kegiatan Lesson Study berbasis MGMP di wilayah Kota Pasuruan sudah berjalan dengan baik namun perlu peningkatan dalam beberapa hal, antara lain: kesadaran guru akan tugas dan tanggungjawabnya dalam mengemban tugas mendidik dan mengajar, komitmen dan kesungguhan dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalnya, persentasi guru dalam kegiatan Lesson Study. Sedangkan untuk keberlanjutan kegiatan Lesson Study di MGMP perlu dukungan kebijakan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sekolah dan Pengawas Sekolah serta kesadaran guru akan tugas dan tanggung jawabnya, komitmen dan kesungguhan dalam meningkatkan kompetensinya. Kata kunci: Implementasi Lesson Study

Tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 berbunyi: “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Akan tetapi dalam pelaksanaannya tujuan yang mulia ini belum banyak dipahami dengan baik oleh seluruh pendidik, sehingga banyak penyelengara pendidikan yang hanya melihat mutu pendidikan dari nilai akademik saja(NUN), mereka tidak memperhatikan proses pembelajaran sehari-hari yang terjadi di dalam kelas yang ini justru sangat penting untuk berkembangnya potensi peserta didik. Hampir semua sekolah lebih mengutamakan pencapaian NUN dengan latihan soal-soal daripada proses pembelajaran di dalam kelas, padahal dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 telah disebutkan bahwa “ Proses pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik”. Kesenjangan antara Peraturan Pemerintah dan praktek di lapangan inilah yang mendorong Sampoerna Foundation Teacher institute bekerjasama dengan UPI Bandung, UM Malang dan UNESA Surabaya serta Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, Kota Surabaya, Kabupaten dan Kota Pasuruan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 150

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) menyelenggarakan Program pengembangan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan melalui kegiatan Lesson Study berbasis MGMP dan berbasis sekolah. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan tentang : 1. Implementasi Lesson Study di MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan 2. Permasalahan dalam Implementasi Lesson Study di MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan. 3. Tantangan dalam menjaga keberlanjutan kegiatan Lesson Study di MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan.
IMPLEMENTASI LESSON STUDY BERBASIS MGMP BIOLGI SMA DI WILAYAH KOTA PASURUAN.

1. Perlunya Program rintisan Lesson Study berbasis MGMP untuk mengatasi masalah mutu pembelajaran di sekolah. Banyak permasalahan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, menurut Koji Sato, Ketua Tim Ahli JICA untuk PELITA dalam observasinya mengenai kegiatan pembelajaran di Indonesia menemukan banyak murid yang hanya mengikuti pelajaran dan hanya sedikit murid yang belajar. Belajar berarti memahami apa yang di ajarkan sedangkan mengikuti pelajaran berarti hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Banyak guru yang dalam menyusun RPP tidak memperkirakan reaksi murid dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga banyak kegiatan pembelajaran di kelas yang kurang berhasil akibatnya pembelajaran tidak bermakna dan pembelajaran terasa membosankan bagi siswa. Sebelum ini telah banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, seperti PKG, LKG atau Inservice yang lain tetapi hasilnya belum kelihatan. Barulah setelah hadirnya kegiatan Lesson Study yang dilaksanakan atas kerjasama tiga pihak, yakni Sampoerna Foundation Teacher Institute, Universitas Negeri Malang dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan hasilnya mulai dirasakan oleh guru, dimana guru banyak mendapatkan pengalaman berharga yang diperoleh selama mengamati kegiatan pembelajaran dan refleksi. Untuk itu perlu kiranya kegiatan lesson Study berbasis MGMP ini dilanjutkan, untuk secara terus menerus mengkaji proses pembelajaran agar menjadi lebih baik dan lebih baik, sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 pasal 19 tentang Standar Nasional Pendidikan yaitu “ Proses pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik”. 1. Pelatihan Fasilitator MGMP Untuk pelaksanaan Lesson Study di Kabupaten dan Kota Pasuruan telah dipilih dan ditetapkan 30 orang guru untuk menjadi fasilitator MGMP Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi yang terbagi dalam 4 wilayah (homebase) yaitu Purwosari, Bangil, Kota Pasuruan dan Grati.

Pelatihan Fasilitator telah dilaksanakan sebanyak 8 kali, yaitu:
a. b. c. d. e. f. g. h. 6 – 7 Agustus 2008, Tempat: Hotel BJ Perdana Pasuruan 10 -11 Nopember 2008, Tempat: SMAN 4 Pasuruan 30 – 31 Januari 2009, Tempat: SMAN 2 Pasuruan 23 -24 Juni 2009, Tempat: SMAN 1 Pandaan 19 – 20 Agustus 2009, Tempat: SMAN 3 Pasuruan 4 – 5 Desember 2009, Tempat: SMA Sejahtera Prigen dan Hotel INNA Tretes 12 – 13 Pebruari 2010, Tempat: SMAN 3 Pasuruan 4 – 5 Juni 2010, Tempat: SMAN 2 Pasuruan

Materi kegiatan Pelatihan Lesson Study antara lain: Persiapan Open Lesson (penjelasan skenario pembelajaran), Pelaksanaan Open Lesson, Diskusi-Refleksi dan Reviu kegiatan Open Lesson. Tujuan kegiatan Fasilitator ini adalah untuk meningkatkan: Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 151

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) a. Keterampilan para fasilitator dalam melaksanakan Open Lesson dan obseravasi pembelajaran b. Keterampilan para fasilitator dalam merefleksikan pembelajaran c. Keterampilan fasilitator MGMP dalam melaksanakan pembelajaran di sekolahnya Kegiatan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi para fasilitator dalam menunjang peran dan tugas fasilitator MGMP dalam kegiatan lesson Study, yaitu sebagai pemandu pelakasanaan kegiatan lesson Study dan memberi contoh pada anggota MGMP yang lain dalam penerapan Leson Study, untuk itu perlu kiranya kegiatan ini dilanjutkan secara berkala untuk menyegarkan pemahaman akan pentingnya Lesson Study. Pada akhir kegiatan Pelatihan fasilitator MGMP telah dibuat kesepakatan untuk terus melanjutkan kegiatan Lesson Study secara mandiri tanpa didampingi oleh dosen dari Universitas Negeri Malang oleh seluruh kelompok wilayah(Homebase). 2. Kegiatan Lesson Study berbasis MGMP 5 kali dalam satu semester Kegiatan Lesson Study MGMP Biologi SMA di Kota Pasuruan telah dilaksanakan selama 2 tahun ( 4 semester) yaitu tahun 2008-2009 dan 2009-2010 masing-masing semester sebanyak 5 kali pertemuan dengan rincian 2 kali Plan dan 3 kali Open Lesson. Pertemuan dilaksanakan pada hari sabtu mulai jam 08.00 sampai jam 14.00 dan di dampingi oleh dosen dari Universitas Negeri Malang. Sedangkan tahun 2010-2011 kegiatan lesson study dilaksanakan secara mandiri tanpa didampingi oleh dosen dari Universitas Negeri Malang. Kegiatan Plan yang pertama diisi dengan sosialisasi kegiatan oleh fasilitator ke guru lain, informasi dari Dosen pendamping, pembentukan kelompok guru pengajar ( kelas X, XI dan XII), penentuan materi dan guru model yang akan tampil dan dilanjutkan penyusunan RPP secara berkelompok. Plan yang kedua diisi dengan presentasi RPP yang akan diterjunkan dalam Open Lesson dan perbaikan RPP. Kegiatan Open Lesson dilaksanakan di sekolah tempat guru model mengajar, diawali dengan penjelasan tentang skenario pembelajaran oleh guru model dan dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran oleh guru model dan diakhiri dengan diskusi-refleksi.
Perbandingan kehadiran peserta MGMP Bio Tahun 2009-2010
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Pertemuan ke-

Persentase kehadiran

Persentase 2009 Persentase 2010

Untuk melanjutkan kegiatan Lesson Study pasca Implementasi Program kerjasama dengan Sampoerna Foundation Teacher Institute, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan telah mengumpulkan seluruh ketua MGMP SMP dan SMA untuk terus melanjutkan kegiatan Lesson Study. 3. Hasil-hasil yang telah dicapai Saat ini, setelah 3 tahun melaksanakan kegiatan Leson Study, para guru biologi SMA Kota Pasuruan nampak telah mengalami kemajuan dalam melaksanakan tugasnya, yaitu guru mampu menyusun RPP (plan) yang lebih efektif serta membangkitkan partisipasi,perhatian dan keterlibatan siswa, mampu melaksanakan pembelajaran yang diobservasi(Do) yang ditandai dengan semakin percaya diri dalam melaksanakan pembelajaran, mampu melakukan observasi pembelajaran dengan fokus pada aktivitas belajar siswa dan bukan ke guru mengajar , mampu memberikan komentar dalam refleksi dan mampu memanfaatkan pengalaman berharga dari setiap observasi dan diskusi- refleksi. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 152

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dan sampai saat ini seluruh anggota MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan sudah tampil untuk menjadi guru model, observer, sebagian pernah menjadi moderator dan notulis dalam refleksi dalam kegiatan Lesson Study. Berikut Disajikan Nama Guru Model dan Dosen Pendamping Kegiatan Lesson Study di MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan
No 1. 2. 3. 4. 5. No 1. 2. 3. 4. Pertemuan 30 Agustus 2008 25 Oktober 2008 8 Nopember 2008 22 Nopember 2008 6 Desember 2008 Pertemuan 21 Pebruari 2009 28 Pebruari 2009 14 Maret 2009 21 Maret 2009 Kegiatan Plan – 1 Plan – 2 Open Lesson -1 Open Lesson -2 Open Lesson -3 Kegiatan Plan – 1 Plan – 2 Open Lesson -1 Open Lesson -2 Tempat SMAN 2 SMAN 2 SMAN 2 SMAN 4 SMAN 1 Tempat SMAN 4 SMAN 2 SMAN 3 SMA MUHAMMAD YAH SMA MUHAMMAD YAH Guru Model Nara Sumber Sri Rahayu, M. Si Sri Rahayu, M. Si Dr. Ibrohim, M. Si Prof. Herawati Sri Rahayu, M. Si Nara Sumber Sri Rahayu, M. Si Sri Rahayu, M. Si Dr. Ibrohim, M. Si Prof. Herawati

Agung Arditigo Eni Anggriani Jauharatul Guru Model

Agung Arditigo Eni Anggriani

5.

11 April 2009

Open Lesson -3

Jauharatul

Sri Rahayu, M. Si

No 1. 2. 3. 4. 5.

Pertemuan 1 agst 2009 8 agst 2009 10 Okt 2009 31 Okt 2009 7 Nov 2009

Kegiatan Plan 1 Plan 2 Do & See 1 Do & See 2 Do & See 3

Tempat SMAN 2 SMAN 2 SMAN 2 SMAN 4 SMAN 3

Guru Model

Arum Widyati, S.Si Rina Bayu Rachmayanti S.Pd Dra. Melik Kusmia

Nara Sumber Sri Rahayu, M. Si Sri Rahayu, M. Si Dr. Ibrohim, M. Si Prof. Herawati Sri Rahayu, M. Si

PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI LESSON STUDY BERBASIS MGMP DI WILAYAH KOTA PASURUAN DAN ALTERNATIF SOLUSI

Kegiatan Lesson Study MGMP Biologi SMA Kota Pasuruan sudah dapat berjalan dengan baik tetapi tetap banyak permasalahan yang muncul, antara lain: 1. Rencana dan strategi pembelajaran yang sudah berhasil dikembangkan di MGMP belum dapat diterapkan secara maksimal oleh anggota MGMP di dalam kelasnya masing-masing. 2. Perlu menumbuhkan kesadaran guru akan tugas dan tanggungjawabnya untuk memajukan pendidikan/pembelajaran melalui upaya meningkatkan kompetensi dirinya 3. Persentasi kehadiran guru dalam Lesson Study di MGMP masih belum maksimal. 4. Perlu komitmen dan kesungguhan seluruh anggota MGMP dalam kegiatan Lesson Study guna mengembangkan kompetensi dan profesionalnya. 5. Banyak guru yang mendapat tugas tambahan disekolah, hal ini akan mengurangi waktu guru untuk melakukan kegiatan Lesson Study. 6. Perlu pengurangan frekuensi lesson Study, misalnya dari 5 kali menjadi 3 kali, bahkan satu semester 1 kali sudah cukup, yang penting kegiatan lesson Study tetap dilaksanakan.
TANTANGAN DALAM MENJAGA KEBERLANJUTAN KEGIATAN LESSON STUDY DI MGMP

Lesson Study merupakan salah satu model Inservice Training bagi guru yang paling murah dari segi pembiayaan, karena itu tidak ada alasan dana bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sekolah untuk tidak mendorong guru untuk melakukan pengembangan diri melalui Lesson Study. Keberlanjutan kegiatan Lesson Study di MGMP perlu dukungan kebijakan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sekolah serta Pengawas sekolah dan yang paling penting adalah kesadaran guru akan tugas Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 153

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dan tanggung jawab dalam mengemban tugas mendidik dan mengajar serta komitmen dan kesungguhan dalam mengembangkan kompetensi dan profesionalnya.
KESIMPULAN

1. Perkembangan Implementasi kegiatan Lesson Study berbasis MGMP di wilayah Kota Pasuruan sudah berjalan dengan baik tetapi perlu peningkatan dalam beberapa hal: a. Kesadaran guru akan tugas dan tanggungjawabnya dalam mengemban tugas mendidik dan mengajar b. Komitmen dan kesungguhan dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalnya c. Persentasi guru dalam kegiatan Lesson Study 2. Keberlanjutan kegiatan Lesson Study di MGMP perlu dukungan kebijakan dari Dinas Pendidikan danKebudayaan, Sekolah dan Pengawas sekolah.
DAFTAR PUSTAKA Istamar syamsuri, Ibrohim 2007. Tanya jawab Lesson Study. MIPA Univesrsitas Negeri Malang. Sato, Koji 2009. Implementasi Lesson Study di Indonesia di bawah program SISTTEMS dan PELITA: Kemajuan dan Permasalahan. Buku Panduan Seminar Nasional Lesson Study 2. Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan 2009. Perkembangan Pendidikan di Kabupaten Pasuruan. UPI,SFTI 2008. Implementasi Lesson Study “ Program Pengembangan Profesionalitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Karawang, Kabupaten dan Kota Pasuruan, dan Kota Surabaya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 154

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MAHASISWA MELALUI METODE TANYA JAWAB PADA MATA KULIAH STRUKTUR HEWAN

Tri Jalmo
Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung Abstrak: Pembelajaran Struktur Hewan masih bepusat pada dosen sehingga kualitas pembelajaran rendah, aktivitas dan hasil belajarnya rendah. Oleh karena itu tujuan lesson study ini adalah meningkatkan kualitas pembelajaran menggunakan metoda tanya jawab .Lesson study ini dilaksanakan selama empat siklus, setiap siklus terdiri atas plan, do, dan see. Plan digunakan untuk menyusun rencana pembelajaran dan bahan ajar berdasarkan masalah-masalah yang terjadi pada tahun sebelumnya. Do merupakan tahap implementasi pembelajaran yaitu permbelajaran dengan menggunakan metoda tanya jawab. Pada tahap do ini, dosen menayangkan gambar melalui LCD dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada mahasiswa agar mahasiswa mengeksplorasi gambar sebelum menjawab. Jawaban mahasiswa dilemparkan kepada mahasiswa lain untuk dikritisi, akhirnya dosen memberikan konfirmasi atas jawaban tesebut. Demikian seterusnya. Pada tahap see, terjadi diskusi antara dosen model dengan observer guna membahas proses belajar mahasiswa sekaligus pemberian saran-saran dan penyusunan rencana pembelajaran untuk siklus berikutnya.Hasil lesson study menggambarkan bahwa kegiatan ini meningkatkan intensitas dan aktivitas belajar mahasiswa dalam belajar. Aktivitas tertinggi pada kegiatan LS ini adalah menjawab pertanyaan, yang diikuti dengan menggapi jawaban teman, dan bertanya. Metoda tanya jawab meransang mahasiswa untuk berpikir akibanya daya serap mahasiswa terhadap materi tergolong tinggi. Kesimpulannya bahwa metoda tanya jawab dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiwa pada mata kuliah struktur hewan Learning method of animal structure course has always been centered to lecture and showing low in teaching quality, which causes low in students activity and their achievement. This lesson study method intensed to enhance teaching quality through questions-answer method used. This lesson study was implemented in four cycles, which it consists of plan, do, and see phase each. The plan, was phase of making lesson plan and teaching instrumen which was made based on teaching and learning problems faced in a year before. Do, was phase of teaching process used question-answer method. This process was implemented by showing pictures (by lecture) using LCD and asking student some questions in order them to explore the pictures before answering questions. The students’ answer was thrown to another student to be critisized, and finally the right answer was confirmed by lecture. In the “see” phase, lecture (as model) made intensive discussion with an observer to describe student’s (undergraduate) learning process and to give advice for making lesson plan for next following cycle. There was improving of intensity of student’s activity using this lesson study method. The highest activity was answering question followed by activity of responding to their friends’ answer and asking questions. Question and answer method stimulates students to think deeply, so that causing high of student ability to understand on subject matter. The study concluded that questions-answer method could improve undergraduate student activity on Animal structure course.

Bidang pendidikan merupakan salah satu bidang penting yang menentukan daya saing bangsa. Menyadari hal tersebut adalah wajar jika bangsa Indonesia terus bergegas dan berbenah untuk terus Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 155

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) meningkatkan kualitas pendidikan melalui berbagai cara diatarana pembaruan kurikulum dan peningkatan kualitas guru. Peningkatan kualitas guru merupakan usaha strategis untuk menjamin pendidikan bermutu karena factor guru lebih menentukan kemampuan peserta didik dibandingkan dengan factor lainnya (Darling-Hammond, 2006). Oleh karena itu kualitas proses pendidikan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sangat menentukan kualitas calon guru yang dihasilkan. Berdasarkan pengalaman menjadi fasilitator pada berbagai pelatihan guru IPA, dosen pembimbing lapangan (DPL) PPL mahasiswa dan nara sumber dalam PLPG, dapat menyimpulkan bahwa kualitas pembelajaran guru-guru IPA di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah belum standar. Kelemahan tersebut tidak hanya pada kompetensi profesional (penguasaan materi) namun juga pada kompetensi pedagogik. Dalam kompetensi profesional misalnya banyak guru IPA (khususnya Biologi) yang masih tidak menguasai materi. Dalam proses pembelajaran, umumnya guru atau calon guru IPA masih menggunakan pendekatan behavoristik, menjelaskan konsep, teori, dan atau prinsip-prinsip IPA kepada siswanya. Guru atau calon guru masih “mentransfer” ilmunya kepada para siswanya. Dengan keadaan yang demikian manjadi sangat wajar jika kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dan selalu kalah dalam berbagai kompetisi akademik (PISA, TIMMS dll.). Permasalahan guru di atas diyakini sangat berhubungan dengan kualitas penyelenggaraan pendidikan di LPTK tempat para guru tersebut mendapat pendidikan. Profil dan kinerja guru merupakan hasil pembentukan pengalaman belajar yang tidak hanya terjadi dalam proses pembelajaran secara langsung, tetapi terintegrasi dari dampak ikutan (nurturant effect) kegiatan pembelajaran dan pengalaman panjang sebelumnya. Jika merefleksi proses perkuliahan yang diselenggarakan di LPTK (khususnya di Prodi Pendidikan Biologi Universitas Lampung, lebih khusus pada mata kuliah Struktur Hewan) memang belum mampu membentuk calon guru yang mampu menciptakan suasana agar mahasiswanya dapat belajar. Dosen masih mendominasi perkuliahan dengan metoda ceramah akibatnya penguasaan materi tergolong rendah. Rata-rata nilai yang diperoleh mahasiswa pada semester genap 2010/2011 adalah 57,42 untuk kelas A, 57,60 . Selain rendahnya panguasaan materi kuliah, metoda ceramah mengakibatkan aktivitas belajar mahasiswa rendah. Mahasiswa hanya mendengar dan mencatat hal-hal penting yang dijelaskan oleh dosen. Kemampuan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat (argumentasi) juga rendah. Jika diberi kesempatan untuk bertanya, sangat sedikit (satu atau dua mahasiswa) bahkan sering tidak ada mahasiswa yang mengajukan pertanyaan untuk meminta klarifikasi, penjelasan lebih lanjut atau hal-hal yang ingin diketahui. Ketika mahasiswa diberikan pertanyaanpun hanya sedikit atau tidak ada yang mampu menjawab, kalaupun menjawab merupakan jawaban pendek dan jika ditanya lebih lanjut mereka tidak mampu menjawab. Kemampuan dan keberanian mengemukakan pendapat adalah penting bagi calon guru karena salah satu kompetensi dasar mengajar yang harus dimiliki oleh guru yaitu adalah keterampilan menjelaskan. Selain itu kemampuan mengemukakan pendapat juga sebagai bentuk kompetensi komunikasi yang merupakan bagian dari kompetensi social (Depdiknas, 2007). Pembelajaran di LPTK sebernarnya tidak semata-mata mendidik mahasiswanya untuk mengusai materi bidang studi (kompetensi profesional) yang menjadi ciri jurusan tetapi sekigus membekali kemampuan pedagodik. LPTK umumnya menggunakan model pendidikan simultan (concurrent model) (Sukmadinata, 2006) sehingga dosen selain mengajarkan materi bidang studi juga menjadi “model” guru yang baik. Banyak ditemukan guru di jenjang pendidikan dasar dan menengah yang memiliki gaya mengajar seperti “dosen”nya mengajar. Adopsi cara mengajar “dosen” oleh guru tidak hanya pada metode mengajar tetapi juga cara penggunaan papan tulis. Banyak guru mengajar menggunakan metoda ceramah (menjelaskan) dan menggunakan papan tulis yang tidak baik, ruwet dan kotor. Berdasarkan latar belakang di atas maka LS ini bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran yang ditandai dengan meningkatnya intensitas komunikasi (interaksi) antara lain tampak pada kemampuan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat. Metoda tanya jawab dipilih dalam LS ini karena materi mata kuliah ini besifat faktual dan kontekstual. Materi perkuliahan dikemas dalam bentuk gambargambar dan mahasiswa diminta mengungkapkan fakta yang ada dalam gambar melalui pertanyaanpertanyaan yang diberikan oleh dosen. Kegiatan ini dilakukan untuk memodelkan cara guru menggunakan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 156

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) metoda tanya jawab, melatih kemampuan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakamn pendapat serta melatih keterampuilan berpikir.
METODE

LS dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 di Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung. Subyek dalam LS adalah mahasiswa yang mengontak mata kuliah Struktur Hewan sebanyak 20 orang yang terdiri atas 19 wanita dan 1 laki-laki. LS dilaksanakan dalam 4 siklus, setiap siklus terdiri dari tiga langkah yaitu Plan – Do – See (tabel 1). Ketiga kegiatan tersebut dilaksanakan bersama antara dosen model dengan observer di bawah komando Ketua Program Studi. Tabel 1. Langkah LS, waktu pelaksanaan, dan materi LS
Langkah LS PLAN DO -1 -2 -3 -4 SEE Waktu 15 -17 Sept 2011 18 Okt 2011 22 Okt 2011 29 Okt 2011 2 Nop 2011 Setiap selesai DO Materi Mengembangkan teaching plan dan teaching material (TPTM) Jaringan ikat Jaringan rawan dan tulang, jaringan otot Jaringan saraf Ssitem integumen Hasil observasi

Langkah LS diawali dengan mengatur tempat duduk seperti huruf U. melalui LSC dosen menunjukkan gambar (sesuai materi) dan memberikan pertanyaan kepada mahasiswa seputar gambar, dosen meminta semua mahasiswa untuk memikirkan dan menjawab pertanyaan. Jika ada mahasiswa yang menjawab, maka dosen memberikan pertanyaan berikutnya kepada mahasiswa tersebut untuk mengetahui alasan jawaban tersebut. Kemudian jawaban tersebut dileparkan kepada mahasiswa lain untuk mendapat tanggapan, sanggahan, atau dukungan. Demikian seterusnya hingga terkumpul fakta-fakta yang cukup dan dosen membimbing untuk membentuk konsep. Di akhir pembelajaran, dosen melakukan evaluasi untuk mengukur daya serap mahasiswa pada materi yang baru dipelajari dan diberi kuesioner untuk menjaring pendapat mahasiswa tentang aktivitasnya dalam belajar. Data yang dikumpulkan dalam LS ini adalah aktivitas dan hasil belajar mahasiswa. Aktivitas belajar meliputi: memperhatikan, bertanya, menjawab pertanyaan, menyanggah, menanggapi jawaban teman. Jenis data, intrumen dan petugas pengumpul data seperti yang disajikan pada table 2. Data dianalisis secara kualitatif dan didiskripsikan sehingga bermakna. Tabel 2. Jenis data, intrumen, dan perugas pengambil data
Jenis Data Aktivitas belajar Jenis Instrumen Lembar observasi Flanders Kuesioner Perangkat tes Petugas Observer Observer Dosen Dosen

Hasil belajar (daya serap)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Plan dilaksanakan secara bersama antara dosen model dengan dosen observer. Dosen model mengawali dengan menggambarkan karakteristik mata kuliah, metoda dan proses pembelajaran yang biasa dilakukan, aktivitas mahasiswa dalam pemberlajaran serta hasil belajar yang dicapai mahasiswa. Terungkap bahwa pembelajaran lebih teacher centered dan mahasiswa pasif, hanya mendengar dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Mahasiswa jarang bertanya dan jika diberikan pertanyaan umumnya tidak menjawab, hasil berlajar umumnya rendah. Dengan fakta-fakta seputar kegaitan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 157

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajaran mata kuliah Struktur Hewan (SH), dosen model mengusulkan penggunaaan metoda tanya jawab karena metoda ini dirasakan cocok untuk mata kuliah SH yang bersifat factual, konseptual, dan kontekstual. Metoda ini mendorong mahasiswa terlibat aktif dalam menjawab pertanyaan, menyanggah dan bertanya sehingga intensitas belajar meningkat. Setelah digambarkan seputar pembelajaran SH pada tahun-tahun sebelumnya, semua observer menyetujui usulan dosen model tentang penggunakan metoda tanya jawab. Berikutnya secara bersamasama menentukan fokus pengamatan, perangkat pembelajaran, dan instrumen. Selanjutnya dosen model membuat perangkat pembelajaran, bahan ajar, intrumen dan dipresentasikan untuk mendapat kritikan dan masukan guna menyempurnakan perencanaan. Pada tahap do, dosen model menyelenggarakan pembelajaran dengan menggunkan perangkat pembelajaran dan instrument yang telah disepakati dan dibuat bersama. Pembelajaran diobservasi oleh tiga orang dosen sebagai observer dan direkam dengan handycam oleh tim dokumentasi. Selama tahap do, pembelajaran berlangsung dengan baik pada semua siklus, semua mahasiswa benarbernar belajar dengan terlibat secara aktif. Aktivitas belajar mahasiswa yang teramati oleh observer antara lain: memperhatikan, menjawab pertanyaan, menanggapi jawaban teman, dan bertanya (Tabel 3). Tabel 3. Aktivitas belajar pada setiap siklus
No 1 2 3 4 5 6 Aktivitas Belajar Memperhatikan Bertanya Menjawab pertanyaan Menanggapi jawaban teman Melamun/tidak memperhatikan Berkerja di luar tugas Siklus 1 19 1 31 3 0 0 Siklus 2 18 3 54 7 0 0 Siklus 3 20 3 45 3 0 0 Siklus 4 18 4 40 4 0 0

Dari tabel 3 tampak bahwa metoda tanya jawab yang digunakan dosen model mampu memacu aktivitas belajar mahasiswa. Dengan mengamati gambar yang ditayangkan melalui LCD menyebabkan semua mahasiswa memperhatikan dan berkomunikasi dengan media pembelajaran dan menjawab pertanyaan, menanggapi jawaban teman, dan bertanya. Akibatnya tidak ada mahasiswa yang melamun dan bekerja di luar tugas (off task). Hasil tersebut sesuai dengan pendapat Rustaman (2005) bahwa metoda tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. LS juga menyebabkan intensitas interaksi antar mahasiswa dengan media sangat tinggi, mahasiswa selalu memperhatikan gambar yang ditayangkan, aktif mengeksplorasi gambar untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dosennya atau menanggapi jawaban temannya. Data table 3 juga menggambarkan bahwa intensitas belajar tergolong tinggi, intensitas komunikasi tertinggi terjadi antara dosen dengan mahasiswa (menjawab pertanyaan). Pertanyaan dosen menyebabkan terjadinya proses mental, mahasiswa mengeksplorasi fakta dari gambar yang ditanyangkan. Keadaan demikian sangat baik untuk merangsang keiingintahuan sekaligus merangsang daya pikir mahasiswa. Rustaman (2005) menyatakan bahwa metoda tanya jawab dapat digunakan untuk mendeteksi kemampuan berpikir dan keruntutan dalam mengemukakan pokok-pokok pikiran mahasiswa. Kemampuan menanggapi jawaban teman masih tergolong rendah, hal tersebut diduga karena pengetahuan awal dan persiapan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran masih kurang. Menurut observer, dosen sudah berusaha keras untuk memberikan pertanyaan utama dan pertanyaan pembantu, namun banyak mahasiswa yang tidak mampu memberikan jawaban/pendapat sehingga observer menyarankan agar dosen menunjuk mahasiswa secara bergilliran agar semua mahasiswa menyiapkan diri untuk menjawab secara benar. Jawaban-jawaban atau pendapat yang dikemukakan dalam LS ini masih berupa jawaban-jawaban pendek, jika diberikan pertanyaan lanjutan yang melandasi pendapat tersebut umumnya mahasiswa tidak mampu menjawab. Contoh dialog dalam tanya jawab sebagai berikut Dosen : gambar yang tampak pada layar monitor? Mahasiswa : jaringan epitel Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 158

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dosen : apa buktinya bahwa gambar tersebut adalah jaringan epitel? Mahasiswa : ???? (tidak ada yang mampu menjawab) Jika terjadi kebuntuan seperti dialog di atas, dosen memberikan pertanyaan tambahan untuk dapat menjembatani proses berpikir mahasiswa sehingga menemukan jawabannya. Keadaan inilah yang sering membuat waktu yang tersedia tidak mencukupi. Dan inilah salah satu kelemahan penggunaan metoda tanya jawab yaitu ketidaksiapan mahasiswa atau pengetahuan awalnya yang tidak mamadai. Melalui kuesiner mahasiswa mengakui bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengemukakan pendapat antara lain karena takut salah, kurang persiapan mengikuti kuliah dan tidak membaca materi kuliah lebih dulu. Benar yang dinyatakan Rustaman (2005) bahwa metoda tanya jawab akan efektif jika siswa diberikan tugas membaca materi yang akan dibahas sebelum proses pembelajaran. Aktivitas belajar mahasiswa tidak hanya teramati oleh observer tetapi juga diakui oleh mahasiswa perserta perkuliahan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan melalui kuesioner. Semua mahasiswa menyatakan bahwa mereka terlibat secara aktif pada pembelajaran. Keterlibatannya umunya mendengarkan dan menjawab pertanyaan dan beberpa yang lain menyanggah dan memberikan pendapat. Mahasiswa mengakui bahwa rendahnya keberanian bertanya atau mengemukakan pendapat antara lain disebabkan karena takut salah, kurang memahami materi, tidak siap mengikuti kuliah dan tidak membaca materi ajar lebih dulu. Dengan kondisi yang demikian menyebabkan pembelajaran mamakan waktu yang lebih lama karena itu menjawab satu pertanyaan terpaksa dosen harur membuat beberapa pertanyaan “pembantu” agar mahasiswa mampu menjawabnya. Inilah salah satu kelamahan metoda tanya jawab. Oleh karena itu pada siklus kedua observer manyarankan agar mahasiswa diminta membaca seputar matari yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Hasil refleksi menunjukkan bahwa dosen telah berusaha mengimplementasikan metoda tanya jawab dengan baik sehingga intensitas belajar mahasiswa tergolong baik. Kenyataan tersebut juga dikemukakan oleh mahasiswa melalui kuesioner bahwa pengelolaan kelasnya telah memungkinkan mahasiswa belajar dengan baik, metoda pembelajaran yang digunakan telah mendorong semua mahasiswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Tindakan-tindakan dosen yang dinilai mahasiswa mampu mengaktifkan adalah menyusun tempat duduk seperti huruf U, memberikan pertanyaan kepada setiap mahasiswa, memancing jawaban dengan menggali pengetahuan awal, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyanggah/bertanya, dan tidak menyalahkan jawaban yang diberikan oleh mahasiswa. Tingginya keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berdampak pada baiknya daya serap terhadap materi yang dibahas. Setiap akhir pembelajaran, dosen selalu memberikan tes. Hasil tes tersebut (Tabel 4) digunakan sebagai alat ukur bagi dosen tentang keberhasilnnya dalam pembelajaran.

Gambar 1. Daya serap materi setiap siklus Daya serap mahasiswa terhadap materi yang dibahas bervariasi namun ada kecenderungan untuk terus meningkat dari siklus ke siklus. Variasi ini diduga akibat perbedaan tingkat kesulitan materi serta makin kondusifnya proses belajar menggunakan metoda tanya jawab. Daya serap tergolong tinggi jika dibandingkan dengan daya serap mahasiswa pada tahun-tahun sebelumnya. Hasil tersebut menunjukkan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 159

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bahwa metoda tanya jawab mampu meningkatkan hasil belajar sebagai akibat dari keterlibatkan mahasiswa dalam melakukan eksplorasi dan mengkonstruksi konsep. Meningkatnya pemahaman mahasiswa terhadap materi yang dibahas juga diakui oleh mahasiswa melakui kuesioner, bahwa dengan metoda tanya jawab mereka bisa lebih memahami materi ajar. Mahasiswa juga menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dosen membuat mereka berpikir. Hasil refleksi setiap akhir siklus menggambarkan bahwa tidak mudah memacu mahasiswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Mahasiswa sudah terbiasa menjadi “konsumen”, selalu menerima dan mencatat hal-hal yang dijelaskan oleh dosennya. Pada reflesi siklus 1 disarankan agar dosen model dapat memberikan pertanyaan dan meminta jawaban secara merata kepada semua mahasiswa dan menyarankan agar mahasiswa mempelajari seputar materi yang akan dibahas di pertemuan yang akan datang. Refleksi siklus 2 menyarankan agar dosen jangan terlalu cepat dalam menjelaskan materi dan pemberian kesempatan untuk mahasiswa lain menyanggah diperbanyak. Refleksi siklus 3 menyarankan agar dosen tetap mempertahankan pembelajaran yang sudah berlangsung baik. Pada siklus 4 pembelajaran kurang kondusif karena berlangsung di laboratorium, disarankan untuk tidak lagi menggunakan laboratorium karena suasana dan tempat duduk tidak nyaman. Keberhasilan penggunaan metoda tanya jawab diakui oleh mahasiswa melalui saran dan pendapat yang diberikan melalui kuesioner, antara lain  Menciptakan suasana yang aktif dan suasana yang hidup  Metoda ini membuat saya lebih aktif dan paham  Metoda sudah baik, menuntut mahasiswa lebih aktif  Sudah baik, melibatkan semua mahasiswa  Sangat baik, sarannya terus menggunakan model ini.  Dll.
KESIMPULAN DAN SARAN

1.

2.

Hasil implementasi LS pada mata kuliah Struktur Hewan menyimpulkan bahwa LS mampu meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa yang ditandai dengan tingginya mengemukakan pendapat (menjawab pertanyaan dan menanggapi), memperhatikan pembelajaran serta tidak adanya mahasiswa yang “off task” LS mampu meningkatkan kemampuan berpikir mahasiswa yang ditandai dengan daya serap mahasiswa terhadap materi ajar yang tergolong baik.

Saran yang dapat diberikan dari hasil pelaksanaan LS pada mata kuliah Struktur Hewan adalah sebagai berikut 1. Sebelum pembelajaran menggunakan metoda ini sebaiknya dosen/guru menyiapkan pertanyaanpertanuyaan sehingga ketika pembelajaran, pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen menjadi teratur dan sistematis untuk menyusun konsep yang akan dipelajari 2. Dosen hendaknya menamkan rasa aman, bersahat, dan nyaman agar mahasiwa tidak ada rasa takut untuk bertanya, menjawab, atau mengemukakan pendapatnya. 3. Menyarankan kepada mahasiswa utuk mempersiapkan diri dengan membaca materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Kalau hal ini dilkakukan, maka waktu tidak menjadi boros.
DAFTAR RUJUKAN Depdiknas. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasoinal 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Depdiknas Darling-Hamond, D. 2006. Powerful Teacher Education.Jossey-Bass. San Francisco Rustaman, N.R. 2005. Strategi Belajar Mengajar Biologi. UM Press. Malang Pannen, P. 1997. Strategi Kognitif dalam Mengajar di Perguruan Tinggi. Pusat Antar Universitas. Jakarta

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 160

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

IMPLEMENTASI LESSON STUDY MELALUI PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE TPS UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR PADA MATAKULIAH BELAJAR PEMBELAJARAN I DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UNRAM TAHUN AJARAN 2011/2012

Baiq Sri Handayani 1) A. Wahab Jufri 2)
1) 2)

sri_baidowi@yahoo.com awahabjufri@gmail.com

Abstrak. Peningkatan kualitas pendidikan sebagian ditentukan oleh meningkatnya kualitas pembelajaran. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka dosen perlu secara bersama-sama memikirkan metode dan strategi yang tepat dalam pembelajaran. Lesson study merupakan salah satu kegiatan yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang berupa aktivitas belajar dan aktivitas mengajar mahasiswa, dan meningkatnya hasil belajar mahasiswa. Penelitian dilakukan berupa penelitian tindakan kelas (PTK) melalui implementasi lesson study dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari plan, do dan see. Data yang dikumpulkan berupa data aktivitas mengajar dosen, data aktivitas belajar dan data hasil belajar. Anlisis data aktivitas dosen dilakukan dengan menghitung persentase keterlaksanaan RPP, data aktivitas belajar mengacu pada skor standar aktivitas belajar dan data hasil belajar dengan menghitung nilai rata-rata mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi lesson study melalui pendekatan kooperatif tipe TPS (think-pair-share) dapat meningkatkan kualitas pembelajaran berupa: 1) teridentifikasinya masalah-masalah dalam pembelajaran, 2) meningkatnya aktivitas mengajar dosen berupa meningkatnya keterlaksanaan RPP, siklus I dan siklus II keterlaksanaan RPP 87% dan siklus III 100%, 3) meningkatnya aktivitas belajar mahasiswa, siklus I nilai Y=16 (kategori cukup aktif), siklus II Y=20 (kategori aktif) dan siklus III Y=26 (kategori sangat aktif). Selain itu juga kegiatan tersebut berdampak pada meningkatnya hasil belajar mahasiswa setiap siklusnya di mana siklus I M = 64.4, siklus II M=68.5 dan siklus III M=75. Kata kunci: Lesson study, kooperatif, aktivitas mengajar, aktivitas belajar, hasil belajar Abstract. The increasing of educational quality depends on the improvement of teaching and learning quaity. To improve learning activities, leacturers need to be creative in design or implement the relevant teaching methods and strategies. Lesson study is the most suitable mode in the effort of increasing learning quality in form of student learning activities and improvement of student earning outcome. The classroom action research has been undertaken by applying lesson study in three cycles. Each cycle consist of the plan, do, and see. Data of lecturers activities, student learning activities were collected by questioner, and data of student learning outcome were collected by written test. The lecturer activities or teaching activities were analyzed by the number of lesson plan applyed and the student activities were based on standardize learning score, while data of student learning outcome were based on the average test score. Results of this research shows that implementation of learning through lesson study and

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 161

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
cooperative learning strategy especially Think-Phair-Share are valuable in: 1) identifying teaching and learning problems, 2) improvement of lecturer teaching activities especially implementation of lesson plan (ILP). In the first and second cycles the ILP was 87% and in the last cycle the ILP was about 100%. 3) the standard of student learning activities (SLLA) increase from 16 (fairly active) in the first cycle to 20 (active) in the second and 26 (very active) in the third cycle. Implementation of lesson study contribute to improvement of student learning outcome in each cycle. The average student learning outcome were 64,4., 68,5., and 75 respectivey. Key words: Lesson study, cooperative, teaching activity, learning activity, learning outcome

Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif, demokrasi), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri. Tujuan pendidikan tersebut merupakan acuan bagi lulusan semua jenjang pendidikan termasuk perguruan tinggi (Mulyasa, 2003). Pengembangan kemampuan berpikir dan kemampuan berkomunikasi sosial sangat penting dilakukan agar tercapai tujuan yang diharapkan, sehingga tugas pengajar harus lebih memaksimalkan perannya sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran. Pengajar bukan hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan mengajar sesuai dengan kompleksitas tugas dan fungsi yang diembannya tetapi pengajar juga harus kreatif. Kreatif dalam membuat rancangan pembelajaran, memilih bahan dan media, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Kreativiatas dosen dalam mengajar dapat menjadi entry point dalam upaya meningkatkan akitivitas belajar mahasiswa. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan pengajar dalam meninggalkan gagasan atau ide dan hal-hal yang dinilai mapan, rutinitas, usang dan beralih untuk menghasilkan gagasan atau ide dan tindakan baru dan menarik; apakah untuk pemecahan suatu masalah, suatu metode atau alat, suatu objek atau bentuk artistik yang baru dan lain sebagainya. Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mewujudkan kreativitasnya, yaitu: tidak bersikap fanatik dan memaksakan kehendak serta pendapatnya kepada orang lain untuk menerimanya, sebaliknya memiliki elastisitas berpikir dan keluasan dalam menyikapi berbagai permasalahan (Agung Iskandar, 2010). Untuk menumbuhkan sifat kreativitas dosen maka kerjasama atau kolaborasi antar dosen tim pengampu matakuliah melalui Lesson Study perlu dilakukan. Menurut Susilo, dkk (2009) lesson study merupakan suatu pendekatan peningkatan kulaitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan pengajar (guru atau dosen). Dalam Anonim (2010) disebutkan bahwa ide yang terkandung dalam lesson study yakni melatih dosen dalam berkolaborasi dengan dosen lain dalam merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Membangun kerjasama antar dosen dalam tim pengampu matakuliah bukan suatu hal yang gampang untuk dilakukan. Perbedaan pemikiran tentang materi, strategi dan sistem evaluasi dalam perkuliahan merupakan suatu hal yang bisa, sehingga walaupun dosen membina matakuliah secara tim namun pelaksanaan pengajarannya dilakukan sendiri-sendiri. Maka diperlukan suatu kegiatan yang dapat membantu dosen dalam membangun kerjasama antar sesama tim pembina matakuliah. Dalam kegiatan pembelajaran khususnya matakuliah pendidikan, berdasarkan pengalaman dosen sendiri dan wawancara dengan beberapa mahasiswa terhadap kegiatan pembelajaran matakuliah pendidikan yang lain, sejauh ini metode yang sering digunakan dosen adalah penugasan makalah, diskusi kelompok dan ceramah sehingga pembelajaran terkesan membosankan. Untuk itu melalui lesson study tim dosen pembina matakuliah mendiskusikan metode yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan kooperatif tipe TPS merupakan salah satu alaternatif yang bisa digunakan dalam pembelajaran agar proses belajar lebih menyenangkan dan bervariasi. Salah satu aspek penting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa di samping membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik di antara siswa, pembelajaran kooperatif juga secara bersamaan membantu siswa dalam pembelajaran akademis mereka (Ibrahim, 2000). Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 162

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Beberapa metode pembelajaran kooperatif diantaranya tipe TPS (Think-pair-share). Dalam pelaksanaan kooperatif tipe TPS mahasiswa dituntut untuk berkerjasama saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif, daripada penghargaan individual. Berdasarkan paparan di atas maka dilakukan “Implementasi Lesson Study Melalui Pendekatan Kooperatif Tipe TPS untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Hasil Belajar pada Matakuliah Belajar Pembelajaran I Di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Univeritas Mataram Tahun Ajaran 2011/2012”. 2. Tujuan Penelitian Melalui kegiatan lesson study dan penelitian diharapkan: a. Dapat membangun kolaborasi atau kerjasama antar tim pengampu matakuliah b. Dapat meningkatnya kualitas pembelajaran yang meliputi: teridentifikasinya masalah-masalah dalam pembelajaran serta solusi atas setiap permasalahan, meningkatnya aktivitas mengajar dosen dan meningkatnya aktivitas belajar mahasiswa. c. Dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa.
METODE PENELITIAN

1 Subyek Penelitian Dalam penelitian yang menjadi subyeknya adalah mahasiswa yang mengambil matakuliah belajar pembelajaran I tahun ajaran 2011/2011, di program studi pendidikan biologi FKIP Universitas Mataram 2. Jadwal kegiatan pelaksanaan Plan, Do dan See Rancangan pelaksanaan kegiatan dipaparkan dalam Tabel 1 berikut mulai kegiatan plan, do dan see Tabel 1. Jadwal kegiatan Plan, Do dan See
Kegiatan Plan Siklus I Do Se Plan Siklus II Do Se Plan Siklus III Do Se Tgl Kegiatan 29/09/2011 30/09/2011 30/09/2011 10/10/2011 11/10/2011 11/10/2011 24/10/2011 28/10/2011 28/10/2011 Observer Dr. H. A. Wahab Jufri, M.Sc. Drs. Lalu Japa, M.Sc. Nurul Umy Isro’iyah, S.Pd Dr. H. A. Wahab Jufri, M.Sc. Hikmawati, M.Pd. Nurul Umy Isro’iyah, S.Pd Dr. H. A. Wahab Jufri, M.Sc. Drs. Lalu Jape, M.Sc. Nurul Umy Isro’iyah, S.Pd Dosen Model

Bq. Sri Handayani, M.Pd.

3. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas melalui implementasi kegiatan Lesson Study. Rancangan PTK terdiri dari tigas siklus, setiap siklus terdiri dari: 1. Merencanakan (plan) kegiatan yang diharapkan bersama-sama dengan dengan observer 2. Melaksanakan (do) kegiatan sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya dengan diamati oleh observer 3. Merefleksi (see) kegiatan yang dilakukan pada saat do dengan melihat aktivitas dosen dan aktivitas mahasiswa 4. Instrumen Pengumpulan data Data yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah data aktivitas dosen dan mahasiswa dengan cakupan sebagai berikut:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 163

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. 2. 3. Data aktivitas dosen dilihat berdasarkan keterlaksanaan RPP dan refleksi atas pengamatan observer untuk perbaikan tindakan pada siklus berikutnya Data aktivitas mahasiswa diperoleh dengan menggunakan lembar observasi aktivitas mahasiswa. Data hasil belajar mahasiswa diperoleh dari post tes yang berupa pilihan ganda

5. Teknik Analisis Data Ada dua macam analisis pada penelitian ini yaitu: 1) Analisis data aktivitas mengajar dosen berdasarkan persentase keterlaksanaan RPP dan hasil refleksi dari observer. Untuk mengetahui keterlaksanaan RPP maka data yang didapatkan dapat dianalisis dengan menggunakan rumus persentase: PTL = Di mana: PTL= Persentase keterlaksanaan RPP A = Jumlah langkah kegiatan yang terlaksana C = Jumlah seluruh langkah kegiatan (Sofiana, 2010 dalam Isroi’yah Umy, 2011) 2) Analisis data aktivitas belajar. Skor standar tertera pada Tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Pedoman Kriteria Aktivitas Mahasiswa
Interval Y ≥ MI+1,5 SDI MI+0,5 SDI ≤ Y < MI+1,5 SDI MI-0,5 SDI ≤ Y< MI+0,5 SDI MI-1,5SDI ≤ Y< MI-0,5 SDI Y < MI-1,5 SDI Skor Y≥24,75 19,25 ≤ Y < 24,75 13,75 ≤ Y < 19,25 8,25 ≤ Y < 13,75 Y< 8,25 Kategori Sangat aktif Aktif Cukup aktif Kurang aktif Sangat kurang aktif

Keterangan: MI = Mean ideal SDI = Standar deviasi ideal Y = Jumlah total Skor Aktivitas mahasiswa (Nurkencana, 1986) 3) Untuk data hasil belajar, selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
n

x
M= Dimana: M x N
HASIL DAN PEMBAHASAN
i 1

i

N
= Skor rata-rata hasil belajar = Skor mahasiswa = Jumlah mahasiswa keseluruhan

1. Pelaksanaan Plan, do dan see Kegiatan Lesson study dilakukan dengan tiga siklus di mana tiap siklus terdiri dari kegiatan Plan, Do dan Se seperti tertera pada Tabel 1. Setiap siklus dalam pembelajaran menggunakan pokok bahasan yang berbeda. Pada siklus I pokok bahasan yang disampaikan adalah Teori-teori tentang Belajar dan Pembelajaran, siklus II dengan pokok bahasan Hakekat Belajar dan Prinsip-prinsip Pembelajaran dan siklus III dengan pokok bahasan Hasil dan Tujuan Pembelajaran. Kegiatan plan pada setiap siklus dimulai dengan penyampaian draf RPP dan perangkat pembelajaran oleh dosen model, kemudian didiskusikan setiap komponen yang ada pada RPP dan perangkat pembelajaran. Kemudian kegiatan do dilakukan sesuai Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 164

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan jadwal yang sudah disepakati dan diamati oleh dua observer dan satu anggota tim monev. Kemudian refleksi atas pelaksanaan do dilakukan langsung stelah do dengan mendiskusikan hasil temuan observer dan monev selama do, observer dan monev menyampaikan kekurangan dan kelebihan pembelajaran selama do yang menyangkut aktivitas dosen model dan mahasiswa (hasil refleksi dapat dilihat pada tabel 4) Menurut Susilo, dkk (2009) lesson study tidak hanya mengurus kegiatan belajar akademis peserta didik, tetapi juga memerhatikan motivasi pesrta-pesrta didik dan iklim sosial, yaitu faktor-faktor yang mungkin turut berkontribusi terhadap kesuksesan akademis peserta didik dalam jangka panjang. Selain itu juga lesson study tidak hanaya memberi informasi apa yang perlu ditingkatkan, tetapi lesson study juga menyarankan bagaimana peningkatannya. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan pada saat Plan Do dan See

Dosen model dan observer sedang plan

Kegiatan do mahasiswa sedang pair

Kegiatan do, mahasiswa pada saat share Gambar 1. Dokumentasi kegiatan lesson study

Dosen model bersama dengan tim monev dan observer pada saat see

2. Aktivitas Dosen Model Berdasarkan data persentase keterlaksanaan RPP yang dilakukan dosen model didapatakan pada siklus I didapatkan 87,5%, pada siklus II didapatkan persentas yang sama yaitu 87,5% dan pada siklus III terdapat peningkatan dengan keterlaksanaan 100% Tabel 3. Persentase keterlaksanaan Rencana Pembelajaran (RPP)
Siklus I Langkah 8 Terlaksana 7 Persentase 87,50

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 165

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
II III 8 8 7 8 87,50 100

Data di atas secara umum menunjukan bahwa hampir semua langkah yang terdapat dalam RPP dilaksanakan oleh dosen model. Namun kualitas keterlaksanaan setiap komponen RPP akan terlihat pada Tabel 4 hasil refleksi berikut: Tabel 4. Data Hasil Refleksi
SIKLUS I  Belum terlalu jelas batasan antara tahap think dan phare  Waktu lebih 20 menit dari yang direncanakan  Pada saat tahap share terkesan jawaban individu bukan jawaban pasangan  Dosen tidak terlalu aktif mengontrol mahasiswa pada saat mahasiswa mengerjakan LKM karena terlalu banyak duduk didepan  Ada beberapa pasangan mahasiswa yang tidak mengerjakan LKM sesuai dengan perintah SIKLUS II  Untuk mengatasi masalah pada siklus I dosen mengingatkan batasan waktu kepada mahasiswa setiap mau beralih- dari Think, Pair, share  waktu lebih 10 menit dari yang direncanakan  Untuk mengatasi masalah ke 3 pada siklus I mahasiswa dibuatkan nomor pasangan selain nomor individu sehingga mahasiswa menjawab atas nama pasangan  Dosen melakukan pendekatan kepada sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa yang tidak melaksanakan tugas  Dosen menyimpulkan sendiri. SIKLUS III  Dosen mengingatkan dengan tegas waktu peralihan dari Think-Pair-Share  Waktu sesuai dengan yang direncanakan  Mahasiswa menjawab atas nomor pasangan dengan menyebutkan nomor absen dan nomor pasangan  Dosen melakukan pendekatan kepada semua mahasiswa yang terlihat tidak mengerjakan tugas  Diakhir pembelajaran Dosen menyimpulkan secara bersamasama dengan mahasiswa

Dari hasil refleksi pada Tabel 4 terlihat pada siklus I dosen sudah melaksanaan think pair dan share tetapi jedah waktu tiap tahap tersebut tidak jelas, kemudian pada saat share mahasiswa terkesan menjawab atas nama individu bukan atas nama pasangan. Dari tersebut dilakukan perbaikan seperti pada hasil refleksi pada siklus II dan III. Dari perbaikan tiap siklus akan berdampak pada aktiviats belajar mahasiswa karena mahasiswa akan melaksanakan pembelajaran sesuai rencana pembelajaran dengan lebih teratur dan akan menambah kepercayan diri pasangan mahasiswa pada saat share. Implementasi lesson study sangat membantu dosen dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi selama pembelajaran serta secara bersama-sama memikirkan solusi atas permasalahan tersebut. Dengan demikian akan akan sangat membantu aktivitas mengjar dosen dan akan berdampak terhadap aktivitas belajar mahasiswa karena kreativitas dosen merupakan hal penting dalam pembelajaran yang menjadi pintu masuk dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. 3. Aktivitas Belajar Mahasiswa Hasil aktivitas belajar mahasiswa dari tiap siklusnya mengalami peningkatan. Pada siklus I nilail Y mencapai 16 dengan kategori cukup aktif, kemudian pada siklus II meningkat nilai Y=20 dengan kategori aktif dan pada siklus III meningkat lagi nilai Y = 26 dengan kategori sangat aktif. Lebih lengkapnya terlihat pada Tabel 5 Tabel 5. Data Hasil Aktivitas Belajar Mahasiswa

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 166

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Persentase Mahasiswa (%) No Jenis aktivitas mahasiswa Siklus I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Memperhatikan penjelasan dosen Memperhatikan penjelasan mahasiswa lain Bertanya Menjawab pertanyaan dari dosen secara sukarela Menjawab pertanyaan dari dosen secara ditunjuk oleh dosen Menjawab pertanyaan dari mahasiswa lain secara sukarela Menjawab pertanyaan dari mahasiswa lain secara ditunjuk oleh dosen Mengajukan pendapat Mengerjakan tugas-tugas sesuai petunjuk Bekerja sama dengan mahasiswa lain (dalam kelompok) Mempertanggungjawakan tugas-tugas yang diberikan Total (Y) Kategori 87,09 70,97 4,84 46,77 20,97 46,77 11,29 43,53 83,87 83,87 74,19 16 Cukup aktif Siklus II 95,31 73,44 7,81 64,06 26,56 60,93 10,93 60,93 96,87 95,31 65,63 20 Aktif Siklus III 96,67 98,33 26,67 86,67 25 66,67 26,67 75 96,67 100 96,67 26 Sangat aktif

Pada Tabel 3 dan 4 terlihat adanya peningkatan aktivitas mengajar yang dilakukan dosen hal ini akan berdampak pada meningkatnya aktivitas belajar mahasiswa seperti yang ditunjukan pada Tabel 5. Peningkatan aktivitas belajar mahasiswa disebabkan juga karena setiap tahapan TPS secara benar dan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan prosedur TPS seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim (2000) dimana secara eksplisit TPS memberi waktu lebih banyak kepada mahasiswa untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Selain itu juga peningkatan aktivitas belajar pada tiap siklusnya menjadi salah satu bukti bahwa penerapan kooperatif tipe TPS cukup efektif diterapkan di kelas besar (sebanyak 64 mahasiswa). Hal ini disebabkan karena pengaturan mahasiswa pada saat diskusi tidak membutuhkan waktu yang lama, mahasiswa hanya duduk di bangkunya tanpa harus berpindah tempat duduk. Dengan demikian waktu dapat lebih dimaksimalkan untuk mahasiswa untuk berfikir dan berdiskusi dengan pasangan atau diskusi kelas. 4. Hasil Belajar Mahasiswa Data hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata mahasiswa (M) pada setiap siklusnya. Pada siklus I nilai rata-rata mahasiswa 64.4, pada siklus II sedikit mengalami peningkatan yaitu 68.5 dan pada siklus III meningkat menjadi 75.
Siklus I II III Nilai Rata-rata 64.4 68.5 75 Peningkatan Perubahan 4.1 6.5

Peningkatan hasil belajar pada setiap siklusnya sebagai indikasi bahwa meningkatnya kualitas proses pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran yang dimaksud adalah teridentifikasinya masalah-masalah dalam pembelajaran dan ditemukan solusinya yang akan berdampak pada meningkatnya aktivitas mengajar dosen dan aktivitas belajar mahasiswa. Reigeluth dan Meril (1983) dalam Yulianti Dewi (2010) menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan efek dari kondisi dan metode pembelajaran yang diterapkan. Ini berarti untuk membatasi masalah yang ada, perlu dipilih dan diterapkan strategi pembelajaran yang tepat guna membantu siswa membangun pengetahuan secara bermakna. Strategi atau metode adalah salah satu komponen yang menentukan keberhasilan pencapain tujuan pembelajaran. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 167

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) strategi yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran (Sanjaya Wina, 2009). Menurut Ibrahim (2000) berdasarkan pengkajian dari beberapa penelitian yang dillakukan oleh Slavin (1986) teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompetitif. Siswa lebih memilih kemungkinan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi selama dan setelah diskusi dalam kelompok kompetitif. Jadi materi yang dipelajari siswa akan melekat untuk periode waktu yang lebih lama. Hasil penelitian yang telah dilakukan Isro’iyah Nurul (2011), menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan peta konsep dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas belajar disebabkan karena siswa lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan bertanya dan mengemukakan pendapat, tanggapan serta menjawab pertanyaan serta aktif dalam diskusi kelompok.
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Dalam penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan di antaranya 1. Kegiatan lesson study dapat membangun kerjasama tim pengampu matakuliah dalam mengajar dan dapat membantu dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran baik yang muncul dari dosen model atau mahasiswa serta membantu memberika solusi atas permasalahan tersebut. 2. Implementasi lesson study dengan menerapkan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kualitas pembelajaran berupa meningkatnya aktivitas mengajar dosen dimana siklus I, II keterlaksanaan RPP 87.5% dan siklus III mencapai 100%, dan meningkatnya aktivitas belajar mahasiswa dengan siklus I Y=16 (kategori cukup aktif), siklus II Y=20 (kategori aktif) dan siklus III Y=26 (kategori sangat aktif). 2. Saran 1. Hendaknya lesson study dijadikan kebutuhan setiap fakultas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, untuk itu diharapkan fakultas memasukan kegiatan lesson study menjadi program wajib bagi semua dosen untuk dilaksanakan. 2. Dosen secara bersama-sama mencoba mencari metode-metode lain yang sekiranya efektif untuk diterapkan di kelas-kelas besar.
DAFTAR PUSTAKA Agung, Iskandar. 2010. Meningkatkan Kreativitas Pembelajaran Bagi Guru. Jakarta: Bestari Buana Murni. Anonim. 2010. Program Perluasan Lesson Study untuk Penguatan LPTK. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. Ibrahim, M. 2000. Pembelajaraan kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya. Isro’iyah, N. 2011. Penerapan Strategi pembelajaran Kooperatif dengan Peta Konsep untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Penguasaan Konsep Biologi Siswa Kelas VIII Bilingual 2 SMPN 5 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi S1. Universitas Mataram. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nurkencana, W. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. Susilo, Herawati, dkk. 2009. Lesson Study Berbasis Sekolah. Malang: Bayumedia Publishing. Yulianti, Dewi. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Ilmu Kimia Siswa SMAN 1 Natar Lampung Selatan. Mataram. Jurnal Pijar MIPA.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 168

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

KENDALA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI TENTANG MIKROSKOP MELALUI IMPLEMENTASI LESSON STUDY DI MTS DARUT TAQWA PURWOSARI

Dwi Ratna Wati
Guru Biologi SMPN I Sukorejo Pasuruan

Abstrak. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pembelajaran pada kegiatan Lesson Study di
MTS Darut Taqwa Purwosari pada pelajaran Biologi tentang Mikroskop ditemukan beberapa kendala yang dialami oleh guru dan siswa. Kendala tersebut, pertama adalah siswa banyak yang tidak berkonsentrasi pada kegiatan Apersepsi. Hal ini disebabkan karena posisi duduk siswa ada yang masih menghadap ke belakang dan di hadapan siswa telah tersedia mikroskop sehingga siswa lebih tertarik mengutak-atik mikroskop daripada mendengarkan guru. Solusinya adalah siswa diminta untuk menghadap kedepan semua sebelum guru memulai kegiatan pembelajaran dan guru tidak meletakkan mikroskop dihadapan siswa terlebih dahulu agar siswa lebih perhatian serta rasa ingin tahunya lebih besar tentang mikroskop sehingga lebih fokus ke guru. Kedua siswa dalam menjawab pertanyaan di LKS jawabannya salah, hal ini disebabkan karena siswa langsung menyalin jawaban seperti yang ada dibuku paket padahal tidak sesuai. Solusinya siswa diminta membaca dan mengamati gambar yang ada di LKS dengan cermat sehingga mengerti perbedaan antara jawaban yang diminta di LKS dan jawaban yang ada di buku paket. Ketiga siswa kesulitan berkomunikasi antar teman dalam kelompok dan cenderung yang bekerja hanya leadernya saja, solusinya posisi tempat duduk dan pembagian kelompok harus merata antara siswa yang aktif dan yang pasif termasuk para leader harus bisa mengajak anggota kelompoknya untuk aktif berdiskusi serta ada pembagian tugas dan peran yang baik dalam setiap kelompoknya. Sebaiknya juga jumlah buku pegangan siswa dalam kelompok tidak hanya ada satu sehingga semua siswa dalam kelompok bisa aktif dalam berdiskusi maupun menjawab LKS. Keempat model pembelajaran TPS tidak tampak gregetnya sehingga pada waktu Think, Pair dan Share tidak ada perbedaan pada setiap tahapnya. Solusinya sebaiknya pada tahapan Think lembar jawaban siswa diambil guru sehingga setiap siswa punya tanggung jawab individu. Guru menekankan pada tahap Pair siswa dapat berdiskusi dengan teman di sampingnya dan dalam tahap Share siswa dapat berdiskusi dengan semua anggota dalam kelompoknya. Kelima siswa tidak konsentrasi pada saat presentasi dan siswa tidak menulis kesimpulan dari pembelajaran karena kelas lain sudah banyak yang sudah beristirahat, solusinya lebih banyak melibatkan siswa dan memotivasi siswa bahwa kelasnya terpilih sebagai kelas percontohan dalam kegiatan lesson study. Kata Kunci : Lesson Study, Mikroskop

Lesson study merupakan salah satu model pembinaan profesi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual lerning untuk membangun komunitas belajar. Lesson study telah diterapkan di Kabupaten Pasuruan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 169

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dan merupakan salah satu kegiatan di Kabupaten Pasuruan yang bekerjasama dengan project SISSTEM-PELITA JICA yang merupakan salah satu kegiatan pendukung untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia khususnya dalam bidang studi MIPA. Kegiatan Lesson study banyak memberikan solusi dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Ilmu Pengetahuan (sains) merupakan ilmu yang diperoleh melalui pengamatan dan penelitian terhadap alam serta gejala-gejala alam. Sains meliputi berbagai disiplin keilmuan antara lain Biologi, Kimia dan Fisika. Biologi merupakan bagian dari sains yang mengkaji tentang makhluk hidup dan segala proses kehidupannya. Biologi berkembang dari hasil kerja para ahli biologi dalam menggali ciri-ciri suatu obyek biologi yang berinteraksi dengan lingkungannya. Semua ciri atau peristiwa pada obyek biologi dari suatu obyek yang dapat ditangkap oleh alat indra disebut gejala biologi. Untuk mengetahui gejala alam, termasuk gejala biologi dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu pengamatan. Pengamatan merupakan kegiatan yang diperlukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pengamatan dengan mata telanjang bersifat sangat terbatas. Objek yang berukuran sangat kecil atau sangat jauh hanya dapat kita lihat dengan bantuan alat-alat tertentu. Mikroskop dapat digunakan untuk mengamati benda berukuran renik.
LESSON STUDY

Lesson Study (Studi Pembelajaran) merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik (guru dan dosen) melalui pengkajian pembelajaran secar kolaboratif berkelanjutan berdasarkan prinsipprinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar secara sederhana. Lesson Study dapat diartikan sebagai sebuah “in-service training” bagi guru dan dosen (Istamar, Ibrohim 2008) Lesson Study dapat diibaratkan sebuah cermin karena dengan adanya cermin maka kita dapat melihat penampilan diri kita dan dapat memperbaiki diri kita sendiri sebelum kita dilihat atau dinilai oleh orang lain. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (Perencanaan), Do (Pelaksanaan) dan See (Refleksi) atau melihat kembali. Ketiga tahapan tersebut dilakukan secara berulang dan terus menerus sehingga merupakan siklus yang tak pernah berakhir, artinya selama guru ingin terus meningkatkan kemampuan dan kualitas mengajarnya maka studi pembelajaran sabagai jawabannya. (Istamar, Ibrohim 2008).
METODE

Kegiatan Lesson Study berbasis MGMP Wilayah telah dilakukan di kabupaten Pasuruan dengan menjadi 4 homebase untuk wilayah Pasuruan bagian Timur dan 4 homebase untuk Pasuruan bagian Barat. MTS Darut Taqwa merupakan salah satu anggota Homebase Purwosari untuk Wilayah Pasuruan bagian Barat. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu untuk mata pelajaran IPA dengan tempat yang bergantian sesuai dengan jadwal yang ada. Pada tanggal 1 Oktober 2011, penulis menjadi observer dengan pembelajaran biologi tentang Mikroskop pada kelas VII A di MTS Darut Taqwa Purwosari. Kelas VII A merupakan salah satu kelas yang belum pernah digunakan untuk kegiatan open class selama kegiatan Lesson study berlangsung di MTS Darut Taqwa Purwosari. Kegiatan pembelajaran pada kelas VII A dimulai pada jam 08.30 sampai dengan jam 09.50.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi kegiatan Lesson Study di MTS Darut Taqwa Purwosari pelajaran Biologi tentang mikroskop ditemukan beberapa kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan open class. Setelah dilakukan pelaksanaan pembelajaran (open class) dengan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh para observer, maka dilakukan refleksi. Dari hasil diskusi pada kegiatan refleksi diperoleh beberapa alternative solusi yang merupakan masukan dari para observer. Adapun kendala dan alternatif solusiya di antaranya adalah sebagai berikut :

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 170

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. Siswa tidak berkonsentrasi pada kegiatan Apersepsi, hal ini disebabkan karena posisi duduk siswa masih ada yang menghadap ke belakang dan dihadapan siswa sudah terdapat mikroskop sehingga siswa lebih tertarik mengutak-atik mikroskop daripada mendengarkan penjelasan guru. Solusinya, siswa diminta untuk menghadap ke depan semua sebelum guru memulai kegiatan pembelajaran dan guru tidak meletakkan mikroskop di hadapan siswa terlebih dahulu agar siswa lebih perhatian serta rasa ingin tahunya lebih besar tentang mikroskop sehingga lebih fokus ke guru dan akhirnya menjadi lebih tertarik untuk pembelajaran selanjutnya. Siswa dalam menjawab pertanyaan di LKS jawabannya tidak sesuai, hal ini disebabkan karena siswa langsung menyalin jawaban yang ada di buku paket padahal tidak sesuai. Solusinya, siswa diminta membaca dan mengamati gambar yang ada di LKS dengan cermat sehingga mengerti perbedaan antara jawaban yang diminta di LKS dan jawaban yang ada di buku paket. Siswa kesulitan dalam berkomunikasi antar teman dalam kelompok dan cenderung yang bekerja hanya leadernya saja. Solusinya, posisi tempat duduk dan pembagian kelompok harus merata antara siswa yang aktif dan dan yang pasif termasuk para leadernya harus bisa mengajak anggota kelompoknya untuk aktif berdiskusi serta ada pembagian tugas dan peran yang baik dalam setiap kelompoknya. Sebaiknya juga jumlah buku pegangan siswa dalam kelompok tidak hanya ada satu sehingga semua siswa dalam kelompok bisa aktif dalam berdiskusi maupun menjawab LKS. Model pembelajaran kooperatif TPS tidak tampak gregetnya (sintaka-sintaksnya) sehingga pada tahapan Think, Pair dan Share tidak ada perbedaannya. Solusinya, sebaiknya pada tahapan Think lembar jawaban siswa diambil oleh guru sehingga setiap siswa punya tanggung jawab individu. Guru menekankan pada tahap Pair siswa dapat berdiskusi dengan teman disampingnya dan dalam tahap Share siswa dapat berdiskusi dengan semua anggota kelompoknya kemudian dipresentasikan didepan kelas. Siswa mulai tidak konsentrasi dan fokus pada waktu presentasi dan terburu-buru sehingga tidak menulis kesimpulan dari hasil pembelajaran karena situasi dan kondisi kelas yang lainnya sudah istirahat terlebih dahulu. Solusinya, Memberikan motivasi lagi pada siswa bahwa kelas mereka terpilih untuk dijadikan contoh buka kelas (open class) dalam kegiatan Lesson Study sehingga dihadiri oleh banyak guru sebagai observer.

2.

3.

4.

5.

PENUTUP

Kegiatan Lesson Study dapat menjadi cermin diri bagi guru dalam pembelajaran yang dilakukan. Apabila terjadi kendala dan kekurangan dalam pembelajaran, maka akan dapat diperbaiki dalam kegiatan refleksi, dimana guru akan dapat menemukan alternative solusi dari kendala yang ada, baik itu pendapat dari teman-teman guru atau dari Bapak dan Ibu Dosen pendamping sehingga guru model dapat memperbaiki pembelajaran di masa yang akan datang. Memang tidak ada pembelajaran yang sempurna tetapi guru sebagai pendidik harus berusaha terus menerus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajarannya. Kegiatan Lesson Study yang dapat membantu keberhasilan pembelajaran di kelas tidak akan dapat berlangsung dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik dari para guru, kepalasekolah dan DIKNAS. Oleh karena itu perlu kerjasama dan dukungan baik itu melalui instansi pemerintah maupun swasta, karena kemajuan bangsa salah satunya dapat tercermin dari kemajuan di bidang kependidikan.
DAFTAR RUJUKAN Joharmawan, Ridwan. 2006. Reformasi Sekolah melalui Kegiatan Lesson Study Kasus SMA Laboratorium UM. Prosiding Seminar Nasional, 1(1): 235-244.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 171

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Nugroho, Arinto.2010. The Essentials of Biology for Grade VII of Junior High School and Islamic Junior High School.Jakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Syamsuri,Istamar dan Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran). Malang:FMIPA Universitas Negeri Malang. Sukirman dan Suyitno. 2009. Biology for Junior High School. Jakarta:Yudistira. Yusa,2004. Sains Biologi.Jakarta:Grafindo Media Pratama.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 172

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENGEMBANGAN SKRIPSI YANG DITULIS BERDASARKAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) BERBASIS LESSON STUDY (LS) DI JURUSAN BIOLOGI FMIPA UM

Herawati Susilo
Jurusan Biologi FMIPA dan Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.

Telah dilaksanakan penelitian tindakan yang melibatkan 11 orang dosen Biologi dan 9 orang mahasiswa Biologi FMIPA UM pada semester genap 2010/2011 berkenaan dengan pengembangan skripsi yang ditulis berdasarkan PPL berbasis LS. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan alternatif macam penelitian yang dapat dilaksanakan sebagai dasar menyusun skripsi mahasiswa, sekaligus untuk memaksimalkan kegiatan belajar menjadi guru yang reflektif, yang terampil berkolaborasi sebagai sarana berlatih mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan, yang dapat dialami mahasiswa dalam PPL berbasis LS selama tiga bulan di sekolah. Masalah yang dapat diangkat sebagai masalah utama penelitian bervariasi mulai dari bagaimana meningkatkan keterampilan guru praktikan dalam membelajarkan siswa, bagaimana meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, dan bagaimana memanfaatkan berbagai media maupun sumber belajar biologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik memaksimalkan pengalaman PPL mahasiswa bervariasi bergantung pada lingkungan sekolah, guru pamong yang terlibat, dosen pembimbing lapangan (DPL), dosen pembimbing skripsi, maupun mahasiswa lain peserta PPL di sekolah. Jumlah kelas yang dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian sebagai dasar penyusunan skripsi mahasiswa bervariasi dari 1-4 kelas, jumlah guru model praktikan juga bervariasi dari 1 hingga 4 orang, dan jumlah “buka kelasnya” juga bervariasi antara 4-16 kali. Disimpulkan bahwa PPL berbasis LS dapat dijadikan salah satu alternatif penelitian yang dapat dilakukan mahasiswa sebagai dasar menyusun skripsi sekaligus sebagai sarana memaksimalkan pengalaman PPLnya. Kata-kata kunci: PPL, lesson study, skripsi, mahasiswa, biologi

Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Malang (UM) adalah mata kuliah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Mahasiswa harus menempuh PPL pada semester VII atau VIII program studinya, bergantung kebijakan jurusannya. PPL adalah mata kuliah yang memberikan latihan keterampilan mengajar bagi mahasiswa. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa berlatih untuk menerapkan teori kependidikan, konsep, prinsip dan teknologi pembelajaran, serta sistem penilaian belajar dalam rangka menguasai keterampilan mengajar nyata di sekolah (Susanto, 2009:3). Menurut Tim UPT PPL (2009:3), PPL keguruan adalah matakuliah yang mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam melaksanakan praktik keguruan agar mahasiswa siap menjadi tenaga pendidik yang profesional. Jadi kegiatan PPL memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa agar kompeten dalam melaksanakan tugas sesuai dengan bidang keahliannya dan siap menjadi tenaga profesional dalam bidang keahliannya. Dengan kata lain, PPL dilaksanakan dengan tujuan agar mahasiswa menjadi calon guru yang mampu menguasai kompetensi keprofesionalan guru.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 173

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pencapaian tujuan PPL bagi mahasiswa peserta mata kuliah PPL sangat ditentukan oleh banyak faktor, yaitu siapa dosen pembimbing lapangannya, siapa guru pamongnya, dan bagaimana pengembangan kolegialitas dengan guru pamong maupun antarmahasiswa PPL di suatu sekolah. Mahasiswa tidak boleh memilih tempat PPLnya, karena sekolah tempat PPLnya ditetapkan oleh Unit Pengelola PPL. Mahasiswa juga tidak bisa memilih dosen pembimbingnya, karena dosen pembimbing juga ditetapkan oleh Unit Pengelola PPL berdasarkan daftar nama yang diberikan oleh jurusan. Mahasiswa juga tidak dapat memilih guru pamongnya karena guru pamong juga ditetapkan oleh Unit Pengelola PPL berdasarkan daftar nama guru pamong yang diberikan oleh sekolah. Ketercapaian tujuan PPL sangat ditentukan oleh ketersediaan (kuantitas) waktu tatap muka dengan dosen pembimbing maupun guru pamong, serta kualitas pembimbingan PPL yang terjadi dalam waktu yang tersedia tersebut. Di Universitas Negeri Malang (UM), dosen pembimbing lapangan (DPL) diharapkan paling sedikit empat kali mengunjungi sekolah tempatnya membimbing tiga hingga enam orang mahasiswa bimbingannya. Oleh karena itu waktu yang tersedia dari DPL untuk membimbing mahasiswa PPL pada saat mahasiswa praktik membelajarkan siswa di kelas sangatlah sedikit. DPL seringkali juga memiliki jam mengajar di kampus yang bersamaan dengan jam mengajar mahasiswa bimbingannya sehingga praktis DPL jarang sekali dapat mengamati kegiatan pembelajaran di kelas mahasiswa bimbingannya, kecuali kalau jam mengajarnya tidak bersamaan dengan jam praktik mahasiswa bimbingannya atau bila dia mengurbankan jam kuliahnya di kampus untuk datang ke sekolah tempatnya membimbing mahasiswa PPL. Pembimbingan penyusunan RPP tetap dapat dikonsultasikan kepada dosen di kampus. Pembimbingan mahasiswa PPL dalam tatap muka di kelas oleh karenanya lebih banyak diharapkan dapat diperoleh dari guru pamong yang kelasnya digunakan mahasiswa untuk PPL. Waktu yang disediakan guru pamong untuk membimbing mahasiswa PPL sangat bervariasi, bergantung dari sikap guru pamong yang bersangkutan. Ada guru pamong yang dengan sabar selalu menghadiri pembelajaran tatap muka yang dilakukan mahasiswa bimbingannya, dan setelah itu memberikan komentar dan saran perbaikan mengenai kinerja mahasiswa bimbingannya. Namun, ada juga guru pamong yang malah merasa beruntung ada mahasiswa bimbingan di kelasnya sehingga dia dapat meninggalkan kelas untuk melaksanakan kegiatan lainnya. Bahkan lebih ekstrim lagi, ada mahasiswa bimbingan yang walaupun sudah diserahi untuk melaksanakan PPL misalnya di satu atau dua kelas, masih ditambah jam membelajarkannya di kelas lain yang seharusnya adalah tanggung jawab guru pamong tersebut. Karena adanya hal-hal seperti ini, perlu dipikirkan cara bagaimana memaksimalkan kegiatan PPL agar mahasiswa dapat belajar sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya mengenai bagaimana menjadi calon guru yang profesional dari kegiatan PPL di sekolah. Sejak tahun 2008-2009, FMIPA UM mengambil kebijakan untuk memberlakukan pelaksanakan PPL berbasis Lesson Study (LS). Kebijakan ini diambil dengan tujuan agar meningkatkan efektivitas PPL untuk menyiapkan calon guru (Ibrohim, 2010). Menurut peneliti dengan PPL berbasis LS, mahasiswa memperoleh pengalaman ganda, yaitu dapat meningkatkan kemampuan membelajarkan siswa di kelas, sekaligus dapat melatih diri untuk melaksanakan Lesson Study sebagai sarana untuk meningkatkan keprofesionalan diri. Mahasiswa peserta PPL diminta untuk melaksanakan buka kelas (open class) paling sedikit tiga kali selama tiga bulan sebagai guru model dalam kegiatan Lesson Study berbasis bidang studi yaitu Lesson Study yang pesertanya terdiri atas guru, dosen, dan mahasiswa dari satu program studi tertentu. Selain itu mahasiswa dianjurkan juga melaksanakan buka kelas (open class) dalam kegiatan Lesson Study berbasis rumpun matapelajaran MIPA yaitu Lesson Study yang pesertanya terdiri atas guru, dosen, dan mahasiswa dari beberapa program studi Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi atau bidang studi lain yang ada di sekolah itu. Melakukan kegiatan Lesson Study pola ini penting untuk memberikan wawasan yang lebih luas kepada para mahasiswa, khususnya tentang praktik pembelajaran di bidang studi lain (FMIPA UM, 2010). Sebelum kegiatan PPL kampus dan PPL sekolah dimulai, mahasiswa, guru pamong dan dosen pembimbing lapangan (DPL) diberi pelatihan atau workshop mengenai bagaimana melaksanakan LS untuk menyamakan persepsi mengenai pelaksanaan LS di sekolah agar dapat melaksanakan PPL

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 174

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) berbasis LS (Ibrohim, 2011). Selama kegiatan PPL I di kampus, diharapkan para dosen pendamping PPL kampus yang nota bene akan menjadi DPL di sekolah juga melatih mahasiswa berLS. Pada saat pelaksanaan PPL I, para mahasiswa diharap berlatih mempersiapkan rencana pembelajaran dan latihan praktik mengajar dalam skala kecil, dalam pendekatan Lesson Study. Artinya ketika mahasiswa berlatih menyusun RPP dilaksanakan dalam suasana sharing untuk mahasiswa sebidang studi dengan bimbingan dosen atau Guru Inti. Demikian juga pada saat micro teaching atau peer teaching juga dikemas dalam konteks Lesson Study. Artinya ada mahasiswa yang bertindak sebagai guru model (pengajar), sebagai siswa, dan sebagai pengamat (observer). Setelah pembelajaran berlangsung dilanjutkan dengan diskusi refleksi bersama. Komentar atau masukan terhadap pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh observer, guru pamong dan atau dosen pembimbing (FMIPA UM, 2010). Menurut peneliti, ketentuan agar mahasiswa melakukan open class paling sedikit tiga kali dalam tiga bulan itu masih sangat sedikit, karena berarti sekali dalam satu bulan. Oleh karena itu peneliti ingin tahu apakah kegiatan melaksanakan LS itu dapat dimaksimalkan dalam bentuk menjadikan PPL berbasis LS sebagai dasar menyusun skripsi mahasiswa. Peneliti ingin melihat seberapa banyak PPL berbasis LS dapat dilaksanakan di suatu sekolah, karena itu pada awal pelaksanaan PPL semester genap 2010/2011, peneliti mencetuskan ide kepada para mahasiswa peserta mata kuliah PPL untuk menjadikan PPL berbasis LSnya sebagai sarana berlatih LS, berlatih membelajarkan siswa, berlatih mengamati teman membelajarkan siswa dan mengamati siswa belajar (mengobservasi), sekaligus menuliskannya sebagai bagian dari pengembangan skripsinya. Ada sekitar 15 mahasiswa yang menyatakan keinginannya, tetapi dengan adanya tuntutan untuk segera menyusun proposalnya, hanya 9 orang yang kemudian berhasil mengembangkan proposal skripsi mengenai PPL berbasis LS, dan menindaklanjuti proposal tersebut dengan pengumpulan data di sekolah tempatnya PPL. Tujuan penelitian ini adalah melaksanakan tindakan untuk memaksimalkan dilakukannya Lesson Study dalam kegiatan PPL oleh mahasiswa PPL di sekolah selama kurun waktu 3 bulan (1 Februari – 30 April 2011) dilihat dari segi apakah PPL berbasis Lesson Study dapat digunakan sebagai sarana membantu mahasiswa untuk belajar membelajarkan siswa, belajar melakukan refleksi sebagai sarana mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan, dan belajar menulis skripsi.
METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan yang mendeskripsikan hasil tindakan memaksimalkan dilakukannya Lesson Study dalam kegiatan PPL di sekolah. Subjek penelitiannya adalah mahasiswa program studi Pendidikan Biologi yang terlibat dalam penyusunan skripsi yang ditulis berdasarkan PPL berbasis LS sejumlah 9 orang, yaitu banyaknya mahasiswa yang berhasil menyelesaikan penyusunan skripsinya pada waktu yang ditetapkan, yaitu awal semester genap 2010/2011 sampai akhir semester pendek 2010/2011. Pengumpulan data dilaksanakan melalui tindakan membimbing skripsi sebagai pembimbing pertama kesembilan mahasiswa penyusun skripsi. Data yang dikumpulkan berupa macam masalah penelitian yang dikembangkan, macam kegiatan pengumpulan data yang dilakukan, dan sumber data yang digunakan mahasiswa.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

Peneliti berhasil mengajak 9 orang mahasiswa untuk menyusun skripsi berdasarkan data yang diperoleh selama PPL yang berbasis LS. Peneliti menganggap bahwa melalui sembilan mahasiswa yang menulis skripsi berdasarkan kegiatan PPL berbasis LS ini peneliti dapat membantu mahasiswa belajar menjadi guru (membelajarkan siswa), melakukan refleksi mengenai pembelajaran (berlatih mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan) , dan menyusun skripsinya. Berikut ini disajikan data mengenai macam masalah penelitian, macam kegiatan pengumpulan data, dan sumber data penelitian mahasiswa.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 175

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Macam Masalah Penelitian. Kegiatan awal yang harus dilakukan mahasiswa adalah melaksanakan kegiatan membelajarkan siswa di sekolah tempat PPL untuk menemukan masalah yang akan mereka jadikan fokus untuk diteliti dan ditulis menjadi skripsi selama melaksanakan Lesson Study di sekolah tempat PPL. Nama mahasiswa menurut urutan abjad beserta judul penelitian yang dipilih, tempat melaksanakan penelitian, nama dosen pembimbing skripsi kedua, nama dosen pembimbing lapangan (DPL) dan nama guru pamongnya dapat diamati pada Tabel 1. Nama dosen pembimbing skripsi pertama semuanya sama yaitu Prof. Dra. Herawati Susilo, M. Sc, Ph. D., yaitu peneliti sendiri. Tabel 1. Data Mengenai Mahasiswa Penyusun Skripsi PPL berbasis LS tahun 2010/2011.
No. Nama Mahasiswa Judul Skripsi Dosen Pembimbing Skripsi II Dra. Sofia Ery Rahayu, M. Si Dosen Pembim-bing Lapang-an (DPL) Dra. Sofia Ery Rahayu, M. Si Guru Pamong

1.

Ana Rokhmawati

2. Anindita Suliya Hangesti Mandra Kusuma 3. Aprillia Rahma-dhany

Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan Keterampilan Mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA UM dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA Negeri 9 Malang Implementasi Pembelajar-an Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII B SMPN 5 Malang

Dra. Sri Asminati

Drs. Fatchurrahman

Dra. Hawa Tuarita, M. Si

Wiwik Mudji Rahayu

4.

Dea Vindi Awal Indah

5.

Erni Purnasari

6.

Ike Safitri Agustina

7.

Nina Farizia

Penerapan Lesson Study untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM dalam Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMPN 1 Malang Pengembangan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA 1 di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang pada Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson Study Implementasi Lesson Study untuk Meningkatkan Ke-mampuan Memanfaatkan Sumber Belajar oleh Guru Model Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM di SMA Negeri 4 Malang Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X Selama Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson Study di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson

Dra. Sunarmi, M. Pd.

Dra. Sunarmi, M. Pd.

Hj. Rr. Arie Harjiwan-tin

Dra. Amy Tenzer, M.Si

Dr. Dahlia

Yuyun Dwita Sari, S.Pd., M.Pd.

Dr. Susriyati Mahanal, M. Pd

Dr. Susriyati Mahanal, M. Pd

Drs. Gunarta

Dra. Eko Sri Sulasmi, M. Si

Dr. Dahlia

Evi Fatmawati, S.Pd

Dra. Sri Rahayu

Dr. Ibrohim, M. Si

Panca Setyawati, S.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 176

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Study dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi di SMA Negeri 1 Singosari Malang Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson study untuk Meningkatkan Kemampuan Pedagogik dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-2 SMA Brawijaya Smart School Malang Implementasi PPL Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Purwosari Effendi, M. Si Pd.

8.

Pristiana

Dra. Amy Tenzer, M. Si

Dra. Amy Tenzer, M. Si

Abdul Nurul Hadi, S.Pd

9.

Syafaatul Udhmah

Drs. Sarwono, M. Pd.

Drs. Sarwono, M. Pd.

Dra. Sri Sumarmi

Macam Kegiatan Pengumpulan Data Penelitian. Kegiatan pengumpulan data yang dikembangkan oleh kesembilan mahasiswa penyusun skripsi berdasarkan PPL berbasis LS bervariasi berdasarkan masalah penelitian mereka. Pengumpulan Data Penelitian yang dilaporkan dalam makalah ini berupa: Macam data yang dikumpulkan, dan bentuk instrumen pengumpul data penelitian, dan Macam prosedur pengumpulan data. Macam data yang dikumpulkan mahasiswa secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 macam yaitu keterlaksanaan Lesson Study, peningkatan kemampuan guru model, peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. Macam data yang dikumpulkan kesembilan mahasiswa penyusun skripsi berdasarkan PPL berbasis LS dapat diamati dalam Tabel 2. Tabel 2. Macam Data yang dikumpulkan Mahasiswa Penyusun Skripsi PPL Berbasis LS tahun 2010/2011
No 1 Data Keterlaksanaan penerapan PPL berbasis lesson study Instrumen Lembar observasi keterlaksanaan kegiatan plan dalam lesson study 1 v 2 v Pada Skripsi Nomor Urut* 3 4 5 6 7 8 v v v v v v 9 v

Lembar observasi keterlaksanaan kegiatan do dalam lesson study Lembar observasi keterlaksanaan kegiatan see dalam lesson study Lembar observasi pembelajaran dalam kegiatan lesson study 2. Keterlaksanaan Pembelajaran oleh Guru Kemampuan mengajar Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran oleh Guru Lembar Penilaian Kemampuan Mempersiapkan Pembelajaran (RPP) Lembar Penilaian Kemampuan Mengajar Lembar observasi keterampilan menggunakan media pembelajaran Lembar Penilaian Kemampuan Memilih Sumber Belajar Lembar Penilaian Kemampuan Menggunakan Sumber Belajar 5. Motivasi Belajar Angket Motivasi Belajar model ARCS

v v v

v v v

v v v

v v v v

v v v

v v v

v v v v

v v v

v v v

3.

v

v v

v v v

4.

Kemampuan memanfaatkan sumber belajar

v

v v v v v v

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 177

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Siswa 6. Hasil belajar siswa Lembar Observasi Motivasi Belajar Siswa Tes kognitif Angket hasil belajar afektif Lembar hasil belajar psikomotor Lembar Angket Respons Siswa terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Selama Lesson Study v v v v v v v v v v v v v v v v v v v

7.

Respons Siswa mengenai pelaksanaan pembelajaran

v

v

v

v

v

v

v

*Keterangan nomor urut skripsi oleh: 1. Ana Rokhmawati 2. Anindita 3. Aprillia 4. Dea Vindi 5. Erni Purnasari 6. Ike Safitri Agustina 7. Nina Farizia 8. Pristiana 9. Syafaatul Udhmah Pemilihan fokus masalah dan pengumpulan datanya dilakukan untuk memaksimalkan pengalaman PPL mahasiswa. Namun pemilihan fokus masalah ini bervariasi bergantung pada lingkungan sekolah, guru pamong yang terlibat, dosen pembimbing lapangan (DPL), dosen pembimbing skripsi, maupun mahasiswa lain peserta PPL di sekolah. Lingkungan sekolah memberikan ide mengenai masalah apa yang dapat diteliti. Guru pamong yang terlibat menentukan seberapa intensif masukan yang dapat diberikan oleh guru pamong sebagai mitra peneliti yang sudah lebih banyak berpengalaman. Dosen pembimbing lapangan (DPL) masih ada yang belum memahami hakikat Lesson Study sehingga hal itu bisa mempengaruhi pilihan jumlah kelas dan jumlah guru model yang datanya akan dijadikan dasar menyusun skripsi. Mahasiswa lain peserta PPL di sekolah juga menentukan berapa jumlah guru model yang dipilih maupun bagaiman kualitas pengembangan LS karena ada mahasiswa yang tidak bersedia menjadi guru model untuk penyusunan skripsi temannya karena dia sendiri sedang melakukan penelitian PTK di kelasnya sendiri, atau karena pada hari tertentu itu bersamaan dengan hari liburnya. Bentuk instrumen pengumpul data penelitian. Bentuk instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat berupa: (1) lembar observasi, (2) lembar penilaian, (3) lembar angket dan (4) tes. Penjelasan mengenai instrumen-instrumen tersebut disampaikan sebagai berikut. 1. Lembar observasi Lembar observasi yang digunakan pada kesembilan penelitian ini ada 2 macam yaitu pertama, lembar keterlaksanaan lesson study yang harus diisi oleh observer mulai dari perencanaan (plan), pelaksanaan (do) dan pengamatan, serta refleksi (see). Kedua, lembar observasi pembelajaran dalam kegiatan lesson study digunakan untuk mengobservasi aktivitas siswa, yaitu apakah siswa benar-benar belajar pada saat dilaksanakan pembelajaran oleh guru. 2. Lembar penilaian Lembar penilaian merupakan lembar yang digunakan untuk menilai sesuatu. Pada kesembilan penelitian ini lembar penilaian yang digunakan bervariasi berdasarkan variasi masalah mereka. Contoh lembar penilaian yang digunakan adalah lembar penilaian RPP, lembar penilaian kemampuan memilih sumber belajar, dan kemampuan menggunakan sumber belajar. Penelitian terhadap RPP dilakukan oleh guru pamong. Ada juga mahasiswa yang mengembangkan Lembar penilaian kemampuan mengajar guru. 3. Lembar angket Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan (respons) atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan (Sugiyono, 2009:199). Angket yang digunakan pada penelitian ini yaitu angket respons siswa terhadap pembelajaran. Angket ini diberikan kepada 5-10 siswa setiap kali hampir selesai mengajar untuk memperoleh contoh respons siswa terhadap pembelajaran saat itu. Macam Prosedur Pengumpulan Data. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 178

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Terdapat beberapa macam prosedur pengumpulan data yang dilaksanakan oleh kesembilan mahasiswa penyusun skripsi PPL berbasis LS. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini meliputi kegiatan wawancara, observasi, penilaian, dokumentasi, dan penyebaran angket. Bentuk wawancara yang digunakan adalah wawancara tak terstruktur yang ditujukan kepada siswa dan guru bidang studi. Pelaksanaan wawancara bebas dan tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis. Hal pokok yang ditanyakan pada saat kegiatan wawancara yaitu gambaran pelaksanaan penerapan lesson study sebelumnya, respons siswa dan guru terhadap penerapan lesson study dan kebiasaan proses pembelajaran di kelas yang dijadikan kelas penelitian Observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Pelaksanaan observasi secara sistematis partisipan, artinya observer terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang diamati berdasarkan sebuah pedoman sebagai instrumen pengamatan. Objek observasi yang pertama yaitu keterlaksanaan lesson study yang meliputi perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see). Observer mengumpulkan data tentang pelaksanaan lesson study. Observasi berikutnya dilakukan terhadap para siswa di kelas, yaitu apakah siswa benar-benar belajar. Guru akan menerima berbagai masukan mengenai bagaimana dapat membelajarkan siswa lebih baik lain waktu berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pengamat pada saat open class. Beberapa mahasiswa juga menggunakan observasi untuk mengumpulkan data berupa motivasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh keaktifan, keantusiasan, dan keceriaan siswa selama pembelajaran berlangsung yang diamati oleh observer. Penilaian dilaksanakan terhadap beberapa kemampuan/keterampilan guru model, yaitu kemampuan menyusun RPP dan kemampuan praktik mengajar. Penilaian kemampuan menyusun RPP dilakukan oleh guru pamong saja dan ada juga yang oleh guru pamong dan dosen pembimbing lapangan (DPL). Kemampuan praktik mengajar dinilai oleh para observer. Ada dua orang mahasiswa yang menilai kemampuan memanfaatkan sumber belajar dan pemanfaatan media oleh dirinya sendiri dan temannya. Penyebaran angket dilakukan kepada siswa untuk mengetahui respons siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran berbasis lesson study. Peneliti memberikan angket respons siswa di akhir pembelajaran kepada 5-10 orang responden. Lembar angket yang telah diisi dikumpulkan untuk dianalisis. Pembuatan dokumentasi dilakukan untuk merekam pelaksanaan masing-masing tahap lesson study dalam bentuk foto dan catatan tertulis. Foto-foto ini bisa dijadikan bukti autentik bahwa penelitian benar-benar telah dilakukan dan telah dilaksanakan seluruh tahapannya. Setelah mencermati macam-macam instrumen yang dikembangkan mahasiswa, dapat dikatakan bahwa mahasiswa sudah berhasil dilatih memikirkan apa saja data yang harus dikumpulkan, bagaimana mengumpulkannya, dan siapa yang menjadi sumber data penelitiannya sebagai latihan melakukan penelitian untuk penyusunan skripsi. Kalau dibandingkan dengan isi SOP PPL berbasis LS (FMIPA UM, 2010), maka semua kegiatan yang diharapkan dilakukan mahasiswa sebagai peserta PPL berbasis LS (yaitu melakukan plan, do, dan see) juga sudah dilakukan oleh para penyusun skripsi ini. Dengan demikian penyusunan skripsi berdasarkan PPL berbasis LS, tidak mengganggu kegiatan PPL berbasis LS, tetapi malah memperkuat kegiatan tersebut. Sumber Data Penelitian Sumber data penelitian berupa data berapa orang yang dapat menjadi guru model, data berapa kelas yang dijadikan kelas untuk membuka kelas (open class), dan jumlah open class yang dilakukan sebagai dasar penyusunan skripsi. Sajian mengenai sumber data ini diharapkan dapat memberikan gambaran seberapa banyak mahasiswa berlatih untuk melakukan Lesson Study di kelasnya yang menjadi binaannya, sekaligus seberapa banyak mereka dapat melaksanakan refleksi mengenai pembelajaran yang diamati, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka telah berlatih menjadi guru reflektif.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 179

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Sumber data penelitian yang dijadikan landasan penyusunan skripsi kesembilan mahasiswa dapat diamati dalam Tabel 3. Tabel 3. Sumber Data Penelitian yang Dijadikan Landasan Penyusunan Skripsi PPL Berbasis LS Tahun 2010/2011.
Skripsi oleh Ana Rokhmawati Anindita Aprillia Ramadhany Dea Vindi Awal I. Erni Purnasari Ike Safitri Agustina Nina Farizia Pristiana Syafaatul Udhmah Jumlah Guru Model 2 1 4 1 3 2 2 1 2 Jumlah Kelas 4 1 4 1 3 4 4 1 8 Jumlah Open Class 12 6 16 4 9 7 8 5 8 Jumlah Materi Pokok 2 2 4 4 3 3 4 4 3

Dari data di dalam Tabel 3 dapat diketahui bahwa dengan dijadikannya PPL berbasis LS sebagai dasar menyusun skripsi, mahasiswa dapat mengalami kegiatan Lesson Study yang lebih banyak, pada jumlah kelas yang lebih banyak pula, yaitu dari 1 hingga 4 kelas, oleh guru model yang lebih banyak juga, yaitu dari 1 hingga 4 orang, berdasarkan open class yang lebih banyak juga, yaitu mulai dari 4 open class hingga 16 kali open class. Hal ini berarti bahwa mereka dapat lebih ditingkatkan latihannya dalam belajar membelajarkan siswa, dalam melaksanakan pengamatan apakah siswa belajar, dan kalau tidak belajar mengapa, serta dalam memikirkan bagaimana lain kali dapat membelajarkan siswa lebih baik. Setelah mencermati macam fokus penelitian yang dipilih mahasiswa, peneliti menyadari bahwa ada kemungkinan fokus masalah yang dipilih mahasiswa bisa berbeda dengan fokus masalah yang seharusnya dipikirkan mahasiswa, yaitu bagaimana meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Dari sembilan mahasiswa penyusun skripsi yang dilaporkan, hanya ada tiga orang yang memusatkan perhatian pada peningkatan keterampilan mengajar dan sekaligus melatih diri untuk menilai keterampilan mengajar teman mereka. Hal ini menurut peneliti tidak menjadi masalah karena walaupun mahasiswa tidak memfokuskan diri untuk menilai keterampilan mengajarnya, guru pamong masih tetap bertanggung jawab untuk menilai perkembangan keterampilan mengajar mereka. Berdasarkan uraian pembahasan di atas, peneliti setuju dengan Ibrohim (2010) mengenai PPL berbasis LS yang dikatakan meningkatkan keefektifan pencapaian tujuan PPL yaitu melatih keterampilan mengajar calon guru, yang dimungkinkan karena beberapa alasan: a. Dalam penyiapan rencana pembelajaran selalu dilaksanakan bersama atau setidak-tidaknya rencana yang dibuat oleh masing-masing peserta PPL didiskusikan dengan kelompoknya dan dikonsultasikan dengan Guru Pamong dan DPL (kolaboratif). b. Rencana pembelajaran yang dihasilkan melalui proses kolaborasi akan menjadi lebih baik karena mendapatkan pencermatan dan masukan dari banyak pihak, mahasiswa PPL, Guru Pamong dan juga DPL. c. Kalau selama ini dalam praktik KBM seorang mahasiswa PPL hanya mendapatkan pengamatan dari Guru Pamong, DPL, atau keduanya, maka dengan pola Lesson Study akan mendapat pengamatan dari teman-teman yang sekelompok. Dengan demikian akan banyak mendapat masukan dari setiap pasang mata yang mengamatinya. d. Kalau selama ini masukan untuk mahasiswa PPL yang sedang berlatih mengajar berasal dari guru pamong atau dosen pembimbing dalam forum yang kurang formal, maka dengan pola Lesson Study komentar dan masukan disampaikan dalam forum diskusi yang lebih formal. Dalam diskusi refleksi Lesson Study ada yang betugas sebagai moderator, notulis, refleksi diri guru model (mahasiswa yang praktik KBM), dan komentar pakar/ahli pada akhir diskusi (guru dan dosen).

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 180

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dalam konteks ini Guru Pamong dan DPL memposisikan diri sebagai narasumber atau expert dalam bidang pembelajaran dan Lesson Study. e. Dengan kegiatan PPL yang berpola Lesson Study seperti ini maka sesungguhnya masing-masing peserta mahasiswa PPL, Guru Pamong, DPL, bahkan kepala sekolah bisa saling belajar banyak hal tentang pembelajaran. Bagi guru-guru Pamong yang mungkin belum paham dan kurang terampil melaksanakan Lesson Study, inilah kesempatan yang baik untuk saling belajar bersama DPL dan mahasiswa PPL. Selain itu kalau PPL berbasis LS ini dijadikan dasar untuk menyusun skripsi, maka hal ini juga memberikan lebih banyak keuntungan bagi mahasiswa yaitu sebagai berikut: a. memungkinkan mahasiswa melakukan kegiatan penelitian lebih awal, tidak menunggu hingga mahasiswa selesai kegiatan PPLnya baru melakukan penelitian skripsi. b. Kegiatan penelitian yang dilakukan pada saat PPL juga memungkinkan mahasiswa untuk melaksanakan penelitian dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan kalau dilakukan setelah melakukan PPL, yang biasanya dilakukan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). c. Kegiatan penelitian untuk skripsi yang dilakukan dalam bentuk Lesson Study memungkinkan mahasiswa memilih berbagai macam strategi pembelajaran untuk membelajarkan siswa, disesuaikan dengan masing-masing materi pokok yang dibelajarkan. d. Kegiatan penelitian untuk skripsi yang dilakukan dalam bentuk Lesson Study memungkinkan mahasiswa melaksanakan penelitian di lebih dari satu kelas, oleh beberapa guru model, yang sekaligus melatih mahasiswa untuk berkolaborasi dengan sesama teman yang ikut PPL. e. Kegiatan penelitian untuk skripsi yang dilakukan dalam bentuk Lesson Study memungkinkan mahasiswa juga berlatih mengamati kegiatan siswa selain juga mengamati kegiatan guru model membelajarkan siswa. f. Kegiatan penelitian untuk skripsi yang dilakukan dalam bentuk Lesson Study memungkinkan mahasiswa menggabungkan antara penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan Lesson Study yaitu dengan memilih suatu alternatif tindakan untuk digunakan sebagai sarana pemecahan masalah di salah satu kelas, kemudian melaksnakan PTK seperti yang biasa dilakukan, hanya saja untuk setiap pertemuan dilaksanakan kegiatan Plan, Do, dan See, seperti yang dilaksanakan pada kegiatan LS.
PENUTUP

Ide untuk mengajak mahasiswa menyusun skripsi berdasarkan PPL berbasis Lesson Study merupakan suatu ide yang muncul karena sudah ada kebijakan bahwa PPL dilaksanakan berbasis Lesson Study. Penyusunan skripsi berdasarkan PPL berbasis LS ini dapat dijadikan salah satu alternatif baru yang dapat dipilih mahasiswa pada saat melaksanakan kegiatan PPL. Contoh masalah yang dijadikan fokus penelitian sembilan mahasiswa jurusan Biologi FMIPA UM ini dapat makin diperluas dan diperkaya oleh dosen-dosen dari jurusan lain di FMIPA UM maupun di jurusan dan fakultas lain di UM, maupun di LPTK lain yang mulai memberlakukan PPL berbasis LS di kampusnya.
DAFTAR RUJUKAN FMIPA UM, 2010. Prosedur Operasional Standar (POS) PPL berbasis Lesson Study FMIPA UM. Bahan untuk Workshop Lesson Study bagi Mahasiswa PPL, Guru Pamong dan DPL FMIPA UM, 11 Januari, 2010. Ibrohim, 2011. Lesson Study Implementation to Improve the Learning Quality for Pre-Service Teachers in the Faculty of Mathematics and Science - State University of Malang. Makalah disajikan dalam 4th International Conference on Lesson Study di UPI Bandung, 21-23 July, 2011. Ibrohim, dan Syamsuri, I. 2010. Lesson Study sebagai Pola Alternatif untuk Meningkatkan Efektivitas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)Mahasiswa Calon Guru. Makalah disajikan dalam Workshop Lesson Study untuk Mahasiswa, Guru, dan dosen FMIPA Universitas Negeri Malang Semester Genap 2010/2011, Jurusan Biologi FMIPA UM, Malang 7 Januari 2011.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 181

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU BIOLOGI MELALUI KEGIATAN LESSON STUDY MGMP DI HOME BASE PURWOSARI

Purwandari
Fasilitator LS Bagi Guru Biologi SMA di Home Base Purwosari

ABSTRAK: Salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui kegiatan Lesson Study. Implementasi Lesson Study di lingkup Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi SMA di wilayah Purwosari Kabupaten Pasuruan telah berlangsung selama empat semester pada tahun pelajaran 2008-2009 dan 20092010. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kemampuan terhadap para pesertanya, di antaranya: kemampuan melakukan observasi dan evaluasi pembelajaran, penguasaan materi ajar, sikap keterbukaan, dan kerja sama. Berbagai kemampuan ini merupakan modal bagi meningkatnya profesionalisme guru. Untuk lebih meningkatkan profesionalisme, diperlukan dukungan berbagai pihak agar pembinaan ini dapat terus berlangsung. Kata kunci: Peningkatan Profesionalisme

Lesson study (LS) adalah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning sehingga terbangun komunitas belajar. Dari definisi tersebut, terdapat tujuh kata kunci yaitu: pembinaan profesi, pengkajian pembelajaran, kolaboratif, berkelanjutan, kolegalitas, mutual learning, dan komunitas belajar. Lesson study bertujuan melakukan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan agar terjadi peningkatan profesionalisme pendidik. Pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan dapat dilakukan melalui kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), karena model pembinaan melalui lesson study ini sesuai dengan tujuan dibentuknya MGMP. Tujuan dibentuknya MGMP adalah: a. Mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mereka dalam merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi kegiatan belajar-mengajar. b. Wadah untuk merundingkan masalah yang dihadapi para guru dalam melaksanakan kewajiban sehari-hari dan untuk mencari pemecahan yang sesuai karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan, guru, kondisi sekolah, dan masyarakat. c. Memberi kesempatan bagi para guru untuk berbagi informasi dan pengalaman mengenai pelaksanaan kurikulum, serta untuk mengembangkan sains dan teknologi. d. Menyediakan kesempatan bagi para guru untuk menyampaikan pendapat mereka pada pertemuan MGMP sehingga meningkatkan kemampuan mereka. e. Membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga lain untuk menciptakan proses belajar-mengajar yang kondusif, efektif, dan menyenangkan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 182

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Makalah ini menguraiakan hal-hal yang telah dicapai selama pelaksanaan LS MGMP Biologi di Home Base Purwosari, terutama berkaitan dengan kemampuan peserta dalam meningkatkan profesionalisme sebagai guru.
METODE

Pelaksanaan LS MGMP Biologi di Home Base Purwosari telah berlangsung selama empat semester, yaitu pada semester gasal dan genap tahun 2008-2009 dan tahun 2009-2010, yang diikuti oleh guru-guru Biologi SMA Negeri /Swasta di wilayah Purwosari dan Pandaan. Setiap semester dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan yang terdiri atas dua kali pertemuan untuk perencanaan pembelajaran dan tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan pembelajaran, kecuali pada semester genap 2009-2010 dilaksanakan sebanyak 8 kali yakni dua kali perencanaan pembelajaran dan enam kali pelaksanaan pembelajaran. Pada saat kegiatan perencanaan, didiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan topik bahasan, guru model, strategi pembelajaran, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran yang akan dimodelkan. Setiap peserta diberi kesempatan untuk menjadi guru model sehingga semua peserta akan mempunyai pengalaman menjadi guru model. Kegiatan dilaksanakan di homebase dan tempat-tempat lain sesuai kebutuhan, misalnya untuk perencanaan biasanya dilaksanakan di homebase sedangkan untuk pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan di sekolah asal tempat guru model mengajar. Setiap pertemuan didampingi satu dosen pembimbing sesuai bidang studi dari Universitas Negeri Malang, yang berfungsi membantu memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para guru peserta LS. Faktor pendukung kegiatan LS di homebase Purwosari adalah : a. Peserta mengikuti LS atas inisiatif sendiri. b. Dosen pendamping yang memberi tambahan ilmu berkaitan dengan materi pelajaran dan teknik pembelajaran. Adanya dosen pendamping menjadi salah satu pendorong peserta LS untuk selalu hadir karena ada tempat bertanya. c. Pelaksanaan open klas memberi wawasan baru tentang model pembelajaran kepada peserta yang selama ini mungkin belum pernah dilihat atau diterapkan. d. Tumbuhnya sikap keterbukaan dari peserta yang ditunjukkan adanya keinginan menjadi guru model secara sukarela. Beberapa hambatan pelaksanaan LS adalah sebagai berikut : Kehadiran peserta yang tidak rutin menyebabkan terputusnya informasi dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya sehingga akan berakibat tidak diperolehnya manfaat LS. Alasan ketidakhadiran peserta antara lain: kepentingan pribadi, ada tugas lain dari kepala sekolah, waktunya bersamaan dengan saat mengajar, dan mengundurkan diri dari profesi guru (beralih profesi). Kurangnya dukungan beberapa kepala sekolah. Hal tersebut diindikasikan oleh diberikannya tugas lain kepada guru peserta LS bersamaan dengan hari pelaksanaan LS, tidak seluruh guru Biologi dikirim untuk mengikuti LS, tidak dibebaskannya guru dari tugas mengajar pada hari pelaksanaan LS (hari Sabtu), dan tidak ada kontrol dari kepala sekolah terhadap kehadiran guru yang dikirimkan untuk mengikuti LS. Jika kehadiran peserta selalu dikontrol oleh kepala sekolahnya masing-masing setidaknya ini dapat mencegah mangkirnya guru dari kegiatan LS. Peserta tidak mengikuti kegiatan sesuai jadwal (pulang sebelum waktunya). Hal ini menyebabkan jika ada masalah pada kegiatan perencanaan tidak bisa dipecahkan secara bersamasama. Ada kalanya hadir tidak mulai dari awal, tetapi hanya separo yang terakhir. Jika hal ini terjadi pada saat pelaksanaan open klas maka yang bersangkutan tidak akan bisa dengan aktif mengikuti kegiatan refleksi karena kegiatan pengamatan tidak diikuti. Ketidak-sediaan sekolah menjadi tempat guru model melakukan open klas dapat menyulitkan penjadwalan atau penentuan guru model untuk open klas. Peserta yang sudah bersedia menjadi guru model tidak bisa tampil sehingga diganti peserta lain karena jadwal tampilnya bersamaan Biologi | 183

a.

b.

c.

d.

Seminar Nasional Lesson Study 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan bidang studi lain. Alasan sekolah tidak bersedia digunakan untuk open klas lebih dari satu mata pelajaran karena berkaitan dengan penyediaan dana. Sekolah akan mengeluarkan dana lebih banyak jika open klas lebih dari satu mata pelajaran. Undangan tidak sampai kepada peserta LS sehingga tidak mengetahui adanya kegiatan LS. Hal ini disebabkan oleh undangan terlambat sampai ke sekolah tempat peserta bertugas, dan adakalanya undangan sudah sampai di sekolah tapi tidak segera disampaikan kepada peserta LS. Hal ini terjadi terutama pada awal pelaksanaan LS, sebab untuk pertemuan kedua dan seterusnya setiap peserta sudah mendapatkan jadwal kegiatan.

e.

Keberlanjutan kegiatan LS MGMP tergantung berbagai pihak, seperti Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, dan Guru, yang masing-masing tidak dapat berdiri sendiri. Kepala Dinas Pendidikan dapat menggerakkan sekolah-sekolah di wilayahnya, Kepala Sekolah menugaskan gurugurunya, dan para guru yang telah diberi tugas harus melaksanakannya. Nampaknya selama ini kegiatan LS dilaksanakan karena ada penugasan dari atasan, sehingga jika dari pihak penentu kebijakan tidak tanggap terhadap keberlanjutan kegiatan LS maka kegiatan ini tidak berlanjut.
KEMAJUAN-KEMAJUAN YANG TELAH DICAPAI

Selama kegiatan LS MGMP Biologi di homebase Purwosari memang ada beberapa hambatan, namun terjadi pula berbagai perkembangan terhadap para pesertanya. Perkembangan-perkembangan itu dapat ditinjau dari segi: kemampuan guru dalam melakukan observasi pembelajaran, sikap keterbukaan, kerja sama, kemampuan akademik (penguasaan materi ajar), dan kemamuan mengevaluasi pembelajaran. Kemampuan-kemampuan ini merupakan modal bagi peningkatan keprofesionalan guru, terutama di homebase Purwosari. 1. Kemampuan Guru Melakukan Observasi Kemampuan melakukan observasi pembelajaran merupakan ketrampilan yang perlu dikuasai guru, karena melalui kegiatan observasi kejadian-kejadian penting selama proses belajar mengajar dapat ditemukan. Berdasarkan temuan-temuan itulah proses pembelajaran dievaluasi untuk kemudian digunakan sebagai dasar perbaikan dan peningkatan pembelajaran. Ketrampilan melakukan observasi pembelajaran tidak bisa diperoleh secara instan, tetapi harus melalui latihan yang berkali-kali. Hal ini juga terjadi pada para peserta LS Biologi di homebase Purwosari. Pada tahap pertama pelaksanaan LS, kemampuan guru melakukan observasi pembelajaran masih rendah, fokus pengamatan peserta dalam kegiatan observasi pembelajaran adalah guru model. Nampaknya lebih mudah mengamati seorang guru daripada banyak siswa dikelas, mereka lebih banyak mengomentari aktifitas guru model dibandingkan aktifitas siswa, sehingga menyebabkan ada keengganan menjadi guru model karena tidak suka kekurangan diri diketahui orang lain. Seiring berjalannya waktu dan seringnya berlatih melakukan observasi pembelajaran, fokus pengamatan bukan lagi guru model tetapi mengarah ke aktifitas siswa. Meskipun pada mulanya hasil pengamatan masih bersifat umum dan belum mendalam, namun perkembangan berikutnya menunjukkan kemajuan yang banyak. Hal ini dapat dilihat pada diskusi refleksi, temuan-temuan hasil observasi yang disampaikan oleh para peserta sudah terperinci dan disertai dengan dugaan penyebabnya, sehingga memudahkan untuk menemukan alternatif pemecahannya. 2. Sikap Keterbukaan Keberadaan guru model sangat penting dalam pelaksanaan LS, karena tanpa guru model maka kegiatan tersebut tidak dapat berjalan. Pada awalnya, menentukan guru model menjadi masalah tersendiri karena tak seorang pun dari peserta yang bersedia menjadi guru model. Cara yang ditempuh untuk mengatasi hal tersebut adalah menempatkan fasilitator sebagai penampil pertama, dan selanjutnya mengharuskan setiap peserta mendapat pengalaman menjadi guru model. Seiring meningkatnya pemahaman tentang LS dan kemampuan melakukan observasi pembelajaran, mendorong peserta untuk bersedia menjadi guru model secara sukarela, bahkan ada

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 184

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) keberanian untuk mencoba mengajar siswa di sekolah yang bukan tempatnya mengajar. Hal ini menggambarkan adanya sikap keterbukaan dari peserta untuk diamati proses pembelajarannya, mau menerima kritik dan saran dari teman sejawat (observer), dan tidak malu kekurangan diri diketahui orang lain. Para peserta akhirnya bisa memahami bahwa tidak ada pembelajaran yang sempurna, selalu saja ada kekurangan yang harus diperbaiki. 3. Kerja Sama Dalam kegiatan LS keberhasilan suatu pembelajaran adalah tanggung jawab bersama, karena proses perencanaannya secara bersama-sama. Tanggung jawab inilah yang menyebabkan guru harus bekerja sama, baik sesama guru dalam satu sekolah maupun yang berbeda sekolah, misalnya dalam penyediaan media belajar. Dengan demikian, jika salah seorang peserta akan menjadi guru model, maka bebannya menjadi lebih ringan karena peserta lain akan membantu menyiapkan segala keperluan untuk pelaksanaan pembelajaran. Hal ini juga yang mendorong guru menjadi lebih terbuka, saling membantu, dan saling memotivasi untuk lebih maju. Adanya dosen pendamping dalam kegiatan LS dapat meningkatkan akses kerjasama dengan lembaga perguruan tinggi. Salah satu contoh adalah dalam karya tulis ilmiah, peserta LS dapat lebih mudah berkonsultasi dengan dosen pendamping, karena antara peserta LS dengan dosen pendamping sudah terjalin komunikasi yang baik. Kerjasama ini akan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam karya tulis ilmiah yang selama ini menjadi hambatan terutama berkaitan dengan keperluan untuk kenaikan pangkat. 4. Kemampuan Akademik (Penguasaan Materi Ajar) Materi bidang ajar yang dikuasai dengan baik akan meningkatkan rasa percaya diri guru, hal ini diperlukan supaya guru dapat mengelola kelas dengan baik. Pertemuan dalam wadah MGMP, seperti dalam kegiatan LS, dapat membantu meningkatkan penguasaan materi bidang ajar, karena sesama guru bisa saling tukar informasi. Namun karena kemampuan akademik para guru relatif setara, maka kegiatan ini dirasa masih belum cukup membantu. Adanya dosen pendamping dalam kegiatan LS banyak membantu mengatasi kesulitan ini karena nara sumber menjadi lebih dekat. 5. Kemampuan Mengevaluasi Pembelajaran Kemampuan mengobservasi pembelajaran membawa dampak pada kemampuan mengevaluasi proses pembelajaran. Evaluasi yang baik akan membantu menemukan solusi yang tepat terhadap masalah-masalah pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat diperbaiki.
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Implementasi LS berbasis MGMP Biologi di home base Purwosari selama empat semester dapat meningkatkan: a. Kemampuan guru untuk melakukan observasi dan evaluasi pembelajaran, serta kemampuan akademik. b. Kerja sama antar guru sebidang studi dalam satu unit kerja maupun berbeda unit kerja, dan juga dengan instansi lain. c. Motivasi guru untuk melakukan pembelajaran yang lebih baik. d. Sikap keterbukaan terhadap kekurangan diri sehingga dapat menerima kritik dan saran orang lain. 2. Saran Agar kegiatan LS menjadi lebih baik, maka diperlukan: a. Dukungan dari berbagai pihak terkait (Kepala Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan) masih sangat diperlukan karena mereka sangat besar pengaruhnya untuk kelanjutan kegiatan LS. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 185

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) b. Dukungan dari guru-guru sebagai peserta LS untuk terus bersemangat karena merekalah sasaran utama dari kegiatan ini. c. Hasil refleksi yang merupakan usulan perbaikan harus segera diimplementasikan oleh para peserta dan dilakukan evaluasi lagi agar perubahannya benar-benar dapat dilihat oleh para peserta.
DAFTAR PUSTAKA Depdiknas, 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 Menuju Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang. Jakarta. Hendayana, S. dkk. 2006. Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman INSTEP-JICA). FMIPA UPI dan JICA. Lesson Study Research Group, What is lesson Study, (Online): http://www.tc.columbia.edu/lessonstudy/lessonstudy.html (diakses 6 Nopember 2011) Sekretariat LC FMIPA UM. 2007. Laporan Pengendalian Kegiatan Lesson Study dalam Program SISTTEMS JICA di Kabupaten Pasuruan. Suparno, Kamdi, dan Waras. Pengembangan Profesionalitas Guru. Malang :Universitas Negeri Malang. Syamsuri, I. dan Ibrohim. Lesson Study (Study Pembeljaran): Model Pembinaan Pendidik secara Kolaboratif dan Berkelanjutan; dipetik dari program SISTEMS-JICA di Kabupaten Pasuruan-Jawa Timur (2006208). Malang. FMIPA UM.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 186

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH MENINGKATKAN KETRAMPILAN GURU DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATERI MENGANALISIS JENIS-JENIS LIMBAH DAN DAUR ULANG LIMBAH DI SMAN 1 BONTANG

Suyanik
SMAN 1 Bontang, Email: yanik_69@yahoo.com; suyanik.69@gmail.com

Abstrak: Menurut UU No 20 tahun 2003 Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejalan dengan hal tersebut maka implementasi Pendidikan Karakter di SMA, dilakukan melalui integrasi pada mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah. Materi membuat produk daur ulang limbah merupakan materi yang cocok untuk mengimplementasikan pendikar dengan Lesson Study berbasis sekolah karena melibatkan 3 subyek pelaksana yaitu guru Biologi, guru mulok, dan pembimbing bina lingkungan. Guru mulok dan guru Biologi akan lebih mudah dalam menyusun silabus dan RPP. mau menerima masukan dan trampil mengkritisi teman secara arif. Lesson Study terbukti meningkatkan ketrampilan menyusun perangkat pembelajaran dan penilaian yaitu penilaian pengamatan terhadap indikator nilai-nilai karakter dari belum terlihat (MT) menjadi nilai-nilai karakter yang menjadi kebiasaan (MK) Kata kunci: lesson study, pendidikan karakter, daur ulang limbah

UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Atas (SMA) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat Akbar (2000) dalam Sudrajat (2011), disebutkan bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih pada kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 187

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Didalam Juknis Integrasi Pendidikan Karakter tahun 2011 disebutkan bahwa Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Implementasi pendidikan karakter di sekolah seyogyanya tidak hanya menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, tetapi harus dilakukan melalui internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mengacu kepada berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana yang dinyatakan dalam juknis penanaman Konsep dan Strategi Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di SMA, dilakukan melalui integrasi pada mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah. Proses ini melibatkan kerjasama seluruh warga sekolah. Sehubungan dengan itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa di SMA dilakukan dengan pendekatan sistematik dan integratif dengan optimalisasi seluruh sumber daya pendukung yang ada di sekolah, keluarga, dan di masayarakat. Penerapan pendidikan budaya dan karakter bangsa di SMA harus dilaksanakan secara komprehensif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan program tindak lanjut. Berkenaan dengan keharusan implementasi pendidikan karakter (Pendikar) di sekolah maka diharapkan semua guru mempunyai komitmen yang tinggi dan pemahaman yang sama tentang cara mengimplementasikan pendikar tersebut. Tidak semua guru memperoleh pemahaman yang sama tentang implementasi pendikar karena informasi tentang pendikar termasuk baru dan hanya 15 % guru ( 7 dari 46 guru) yang di didik dan di latih dalam lembaga diklat guru, sehingga akan sangat baik jika proses implementasi dan deseminasi dilakukan dengan melakukan Lesson Study. Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapatlah dirumuskan permasalahan dalam penelitian tindakan ini adalah: Apakah Lesson Study berbasis sekolah dapat meningkatkan ketrampilan guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter pada materi menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah di SMAN 1 Bontang? Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter pada materi menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah di SMAN 1 Bontang. Manfaat penelitian ini antara lain bagi: 1) Siswa, yaitu (a) meningkatkan pemahaman siswa dalam menganalisis jenis-jenis limbah dan cara daur ulang limbah, (b) membiasakan siswa agar berkarakter positif yaitu kerja keras, kerja sama, kreatif, rasa ingin tahu, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. 2) Guru/ peneliti antara lain: (a) meningkatkan ketrampilan dalam membuat perangkat pembelajaran, (b) memotivasi guru untuk bertindak dalam upaya mengimplementasikan pendikar, (c) meningkatkan kemampuan untuk menganalisis proses pembelajaran guna peningkatan kualitas pembelajaran selanjutnya, 3) Bagi sekolah, yaitu: (a) meningkatkan sumber daya sekolah yaitu guru yang trampil dan berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas berbasis Lesson Study, (b) Hubungan sosial antar guru/ kultur sekolah semakin baik, (c) mutu pembelajaran di sekolah semakin meningkat.
METODE PENELITIAN, HASIL, DAN PEMBAHASAN.

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas berbasis Lesson Study.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 188

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Sebagai wujud dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pendikar materi membuat produk daur ulang limbah merupakan materi yang kami pilih dan kami laksanakan dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas berbasis Lesson Study. Materi ini merupakan Kompetensi Dasar 4.4 pada kelas X semester II. Indikator pada kompetensi dasar materi ini antara lain: memilih bahan limbah rumah tangga untuk daur ulang, mendesain produk daur ulang yang akan dibuat, mempersiapkan alat dan bahan sesuai keperluan yang direncanakan, dan pada akhirnya adalah dihasilkan produk baru yang berguna dari bahan utama berupa limbah. Sedangkan pendidikan karakter (Pendikar) yang akan kami internalisasikan pada materi ini adalah kerja keras, kerja sama, kreatif, rasa ingin tahu, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Materi membuat daur ulang limbah merupakan materi lintas subyek yang melibatkan sebanyak 3 orang penanggung jawab program sekolah, yaitu guru Biologi, pembina program bina lingkungan sekolah dalam hal ini adalah pembina program Bank sampah, dan pembina muatan lokal yang sebagian programnya adalah membuat kreatifitas yang berkaitan dengan daur ulang limbah, oleh karena itu Lesson Study yang kami lakukan adalah berbasis sekolah. Syamsuri (2008) menyebutkan bahwa Lesson Study terdiri atas tahap Plan, Do, dan See. Pada tahap awal pelaksanaan yaitu pada tahap plan kami berlima yaitu tiga orang guru Biologi, satu orang pembina bank sampah dan satu orang pembina mulok berkumpul untuk merumuskan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Indikator, lembar observasi, cara penilaian, dan integrasi pendikar yang akan kita implementasikan dan kita ukur ketercapaiannya. Pada fase plan ini pula kami berbagi tugas tentang aspek yang akan kami amati, format penilaian yang mudah tetapi cukup menampung informasi yang lengkap. Pada saat plan kami dapat menentukan target implementasi pendikar yang menjadi fokus observasi, serta siswa yang akan di observasi. Contoh Lembar observasi implementasi pendikar tergambar pada Tabel 1. Semakin fokus target observasi maka semakin lengkaplah informasi yang dapat digali, dianalisis, dan diungkapkan pada saat dilakukan refleksi. Tabel 1. Format pengamatan nilai-nilai karakter Nama Observer Tanggal Observasi
No Indikator nilai karakter Kerja keras Kerja sama Kreatif Rasa ingin tahu Peduli lingkungan Tanggung Jawab Jumlah BT Jumlah MT Jumlah MB Jumlah MK

: :
No. daftar hadir peserta didik *) 1 2 3 4 5

1 2 3 4 5 6

Sumber: Modifikasi Ditjend Kemendiknas 2011

*) Diisi dengan:  BT (Belum Terlihat) – jika peserta didik belum memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator  MT (Mulai Terlihat) – jika peserta didik mulai memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator, tetapi belum konsisten  MB (Mulai Berkembang) – jika peserta didik mulai konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator)  MK (Menjadi Kebiasaan/Membudaya – jika peserta didik terus tenerus/konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator) Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 189

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Berdasarkan tahap plan kita sepakati bahwa pada tahap do kegiatan siswa adalah membawa sampah yang telah dikumpulkan dari rumah dan sekolah untuk dijadikan proyek daur ulang limbah ini. Sampah yang dikumpulkan kami batasi berupa sampah sisa sayur, sampah plastik minuman kemasan, dan kaleng kue. Pada siklus 1 kegiatan siswa adalah mengumpulkan dan memilah sampah serta menggolongkan menjadi 2 yaitu sampah organik dan sampah anorganik, mendesain produk daur ulang yang akan dibuat, dan mempersiapkan alat/ bahan sesuai keperluan yang direncanakan. Hasil dari siklus 1 ini adalah sampah an organik yaitu sampah plastik minuman kemasan berupa plastik bening bekas minuman air mineral dikumpulkan di suatu tempat tertentu dari semua kelas. Satu minggu sekali yaitu di hari Jumat pembina dan pengurus bank sampah akan melakukan penimbangan dan kemudian memanggil pembeli untuk membeli sampah plastik tersebut. Sedangkan sampah plastik bekas teh yang berupa gelas plastik dengan hiasan gambar akan di gunakan untuk membuat kreatifitas berupa hiasan dinding, atau bunga, dan ini menjadi tanggung jawab guru pembina mulok. Untuk sampah sisa sayuran atau sampah organik diolah untuk dijadikan kompos. Siklus 2 kegiatan siswa adalah mendaur ulang sampah an organik sedangkan siklus 3 adalah mendaur ulang sampah organik. Materi daur ulang sampah an organik dilakukan sebanyak 4 pertemuan, sedangkan materi daur ulang sampah organik dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan. Pada tahap do, yaitu kegiatan pembelajaran kami dari ketiga unsur yaitu guru pembina lingkungan, guru Biologi, dan guru mulok secara bersamaan melakukan observasi dan berperan sebagai guru model. Pada saat implementasi pembelajaran akan berkembanglah pengetahuan guru dan siswa. Pada saat ini setiap observer dapat melakukan pengamatan secara mendalam tentang respon serta perilaku belajar siswa terhadap rencana dan fokus pengamatan yang telah direncanakan bersama. Respon terhadap perilaku siswa diamati selama tujuh kali pertemuan yaitu satu kali pertemuan pada indikator kemampuan memilah sampah, mendesain produk daur ulang yang akan dibuat, dan mempersiapkan alat/ bahan sesuai keperluan yang direncanakan, 4 kali pertemuan pada kegiatan daur ulang sampah an organik, dan 2 kali pertemuan pada kegiatan pengolahan sampah organik. Respon siswa terhadap implementasi pendikar pada siklus 1, 2, dan 3 tergambar pada Tabel 2. Tabel 2. Respon Siswa terhadap Implementasi Nilai-nilai Karakter Bangsa pada Siklus 1, 2, dan 3.
No Tabulasi dampak Pendikar 1 2 3 4 Jumlah BT Jumlah MT Jumlah MB Jumlah MK Siklus 1 64 70 42 4 Siklus 2 55,5 68,5 46,5 10,5 Siklus 3 44 60,5 47,5 30,5

Keterangan:  BT (Belum Terlihat) – jika peserta didik belum memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator  MT (Mulai Terlihat) – jika peserta didik mulai memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator, tetapi belum konsisten  MB (Mulai Berkembang) – jika peserta didik mulai konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator)  MK (Menjadi Kebiasaan/Membudaya – jika peserta didik terus tenerus/konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator)

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 190

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada tahap refleksi kami melakukan review terhadap hasil observasi yang telah kami lakukan. Pada tahap ini kami kemukakan apa yang tercapai dan menjadi harapan serta apa pula yang tidak tercapai atau tidak memenuhi kriteria, serta segala sesuatu yang mungkin berubah dari rencana yang sudah ditetapkan. Hasil refleksi kami menunjukkan bahwa pengamatan terhadap perilaku yang mencerminkan pendidikan karakter dapat lebih terfokus dan terarah, siswa dapat melakukan pembelajaran dengan sungguh-sungguh meskipun tetap mengalir tanpa disertai dengan ketegangan karena terlihat banyak guru yang mengamati. Dari pihak guru model dapat masukan tentang cara pembelajaran mulai dari membuka pelajaran, melakukan, eksplorasi, elaborasi, maupun pada tahap konfirmasi. Dengan cara yang arif dalam mengkritisi dan penerimaan masukan yang ikhlas maka proses refleksi dapat berjalan dengan baik dan mutu pembelajaran tentunya dapat ditingkatkan. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa jumlah pendikar yang belum terlihat (BT) dari siklus 1 sampai siklus ke 3 semakin menurun yaitu mengalami penurunan berturut-turut sebanyak 13,3% dan 20,72%. Indikator pendikar yang menampakkan mulai terlihat (MT) dari siklus 1 sampai siklus ke 3 juga menampakkan penurunan yaitu sebesar 2% dari siklus 1 ke siklus 2 dan 11,68% dari siklus 2 ke siklus 3. Sebaliknya, indikator pendikar yang menampakkan mulai berkembang (MB) mengalami peningkatan. Dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat 10,71% sedangkan dari siklus 2 ke siklus 3 meningkat 2 %. Sedangkan indikator pendikar yang menampakkan mulai menjadi kebiasaan (MK) juga meningkat, yaitu 162,5 % pada siklus 1 ke 2, dan 200% dari siklus 2 ke siklus 3. Dengan demikian jika melakukan Lesson Study beberapa keuntungan yang kami peroleh antara lain bagi guru pembina bank sampah akan lebih mudah dalam mengkoordinir siswa, sebab diantara kami para guru akan senantiasa bekerjasama untuk saling mengingatkan siswa untuk membuang sampah dan memilah sampah sesuai dengan kategorinya. Keuntungan dari pihak guru mulok dan guru Biologi adalah dalam hal menyusun silabus dan RPP. Guru mulok selama ini kesulitan dalam menyusun silabus dan RPP karena contoh silabus dan RPP bagi guru mulok amatlah terbatas. Dengan melakukan Lesson Study persiapan guru mulok dari segi perangkat pembelajaran dan penilaian akan lebih baik. Bagi siswa kreatifitas mereka akan semakin terarah karena diantara kami dapat saling berbagi pengalaman untuk menciptakan sesuatu dengan bahan bekas. Sebagai contoh yang telah dibuat siswa adalah bunga matahari dari botol bekas minuman Pulpy Orange, hiasan dinding dari bekas teh gelas, kaleng bekas yang dihias dengan gambar yang menarik, dsb.
KESIMPULAN

Pendikar dengan Lesson Study terbukti dapat meningkatkan ketrampilan guru dalam persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Implementasi pendikar merupakan hal yang baru secara administratif meskipun secara tersirat sudah dilakukan atau terintegrasi dalam pembelajaran, tetapi implemetasi secara administratif baru kami lakukan sekarang dan terbukti dengan Lesson Study akan lebih mudah mewujudkannya. Penggunaan waktu dalam kegiatan pembelajaran juga lebih efektif karena kami dapat menggunakan salah satu waktu dari ketiga subyek dengan materi yang sama. Dengan melakukan Lesson Study pengamatan terhadap nilai-nilai karakter yang menjadi prioritas dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat lebih fokus dan konsisten, sehingga upaya habituasi atau pembiasaan dan penanaman nilai-nilai karakter bangsa akan terpatri dengan baik dalam diri siswa.
DAFTAR RUJUKAN Ditjend Dikmen kementrian Pendidikan Nasional 2011. Juknis Integrasi Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Syamsuri, Istamar. Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran). Malang: FPMIPA Universitas Negeri Malang.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 191

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Sudrajat, Akhmad. Tentang Pendidikan Karakter. Online http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/ diakses pada tanggal 28 Oktober 2011 Susilo, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Bayu Media Publishing.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 192

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENGGUNAAN LKM BERBASIS PENEMUAN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR PADA MAHASISWA SEMESTER I PENDIDIKAN BIOLOGI JPMIPAFKIP UNILA

Pramudiyanti
Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA-FKIP Universitas Negeri Lampung

Abstrak: Berdasarkan refleksi dan diskusi yang penulis lakukan ditemukan permasalahan bahwa (1) dalam proses pembelajaran dosen telah menggunakan multi media interaktif namun dalam penggunaannya belum melibatkan mahasiswa; (2) pada saat presentasi aktivitas mahasiswa terasa kontras yakni mahasiswa yang sedang presentasi saja yang aktif sedangkan yang mendengarkan menjadi pasif dan melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran. Untuk itu perlu dikembangkan media berupa Lembar Kerja Mahasiswa diharapkan media mampu memfasilitasi mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas belajarnya. Metode penelitian ini yakni penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dilakukan dalam 4 siklus, setiap siklus terdiri dari plan, do, dan see. Subjek yang dikaji sebagai sumber data yaitu mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Biologi Dasar. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi aktivitas mahasiswa dan dosen, dan angket tanggapan mahasiswa. Data hasil observasi dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa meningkat melalui penggunaan LKM. Indikator yang ditunjukkan adalah kemampuan presentasi, bertanya, berdiskusi, mampu menanggapi presentasi. LKM setiap siklus mengalami perbaikan ke arah kemajuan sehingga perannya dalam memfasilitasi kegiatan belajar mahasiswa lebih optimal.

Kata kunci: LKM berbasis penemuan, aktivitas Belajar, lesson study

Mata kuliah Biologi dasar merupakan mata kuliah pokok untuk program studi Pendidikan Biologi. Mata kuliah ini membahas mengenai dasar-dasar Biologi yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap peserta kuliah sebagai bekal untuk mengikuti matakuliah berikutnya. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, pembelajaran yang selama ini dilakukan belum mampu membangkitkan aktivitas mahasiswa dalam belajar. Meskipun proses pembelajaran telah dilakukan dengan menganut pembelajaran berpusat pada siswa namun aktivitas mahasiswa belum seperti yang diharapkan. Aktivitas merupakan kunci dalam proses pembelajaran, pada prinsipnya mahasiswa belajar bila telah berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi suatu kegiatan, oleh karena itu menurut Sardiman, (2001; 93) aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Mahasiswa dalam proses belajar dipandang sebagai individu yang berusaha untuk mencapai tujuan belajar yaitu suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap (Abdurrahman, 1999:28). Berdasarkan refleksi dan diskusi yang penulis lakukan ditemukan permasalahan sebagai berikut: (1) dalam proses pembelajaran dosen hanya menggunakan multi media interaktif dan dalam pengunaannya belum melibatkan mahasiswa; (2) pada saat presentasi aktivitas mahasiswa terasa kontras yakni mahasiswa yang sedang presentasi saja yang aktif sedangkan yang mendengarkan menjadi pasif dan melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 193

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Untuk itu perlu dikembangkan suatu media yang dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa dalam proses pembelajaran. Media tersebut diharapkan mampu meningkatkan aktivitas mahasiswa yang berorientasi pada interaksi social, interaksi dengan media belajar, dan interaksi dengan dosen, sehingga dalam proses pembelajaran mahasiswa benar-benar telah belajar sesuatu. Dalam mencapai harapan tersebut maka media yang dikembangkan hendaklah didasari oleh metode pembelajaran sehingga memudahkan dalam penggunaannya. Media yang akan dikembangkan pada lesson studi ini adalah media Lembar Kerja Mahasiswa yang berbasis penemuan, media ini merupakan media yang dianggap tepat untuk memfasilitasi mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas belajarnya. Melalui metode penemuan ini mahasiswa akan mampu melakukan kegiatan belajar yang dituntut dalam lembar kerja tersebut. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan lesson studi sebagai berikut: Bagaimanakah aktivitas belajar mahasiswa melalui penggunaan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) berbasis penemuan? Biknell-Holmes dan Hoffman (Castronova, 2002: 2) yang dikutip oleh Sudrajat dalam Ramlan (2010:6) menjelaskan tiga ciri utama belajar menemukan yaknia; 1) Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan. 2) Berpusat pada mahasiswa. 3) Kegiatannya untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengatahuan yang sudah ada. Pada metode penemuan konsep dan prosedur yang dipelajari mahasiswa merupakan hal yang baru, belum diketahui sebelumnya. Oleh karena itu beberapa instruksi atau petunjuk perlu diberikan kepada mahasiswa apabila mereka belum mampu menunjukkan ide atau gagasan. Dalam menemukan konsep dan prosedur yang dipelajari, sebaiknya mahasiswa tidak dilepas begitu saja bekerja untuk menemukan, tetapi diberikan bimbingan agar mahasiswa tidak tersesat. Bimbingan tersebut dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Untuk sampai kepada konsep yang harus ditemukan, sangat tergantung kepada pengetahuan siap mahasiswa dan pengetahuan baru mahasiswa yang baru saja diperolehnya. Oleh karena itu metode penemuan yang diterapkan dalam proses pembelajaran adalah metode penemuan terbimbing dan dibawakan melalui bekerja dalam kelompok. Dengan kata lain metode penemuan terbimbing dengan setting belajar kooperatif (Sudrajat dalam Ramlan, 2010:1). Media pembelajaran menurut Heinich seperti yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2004: 3) dalam Wijayanti (2008:1) adalah media yang membawa pesan atau informasi dengan tujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Menurut Slamet (dalam Sumarni: 2004:15) yang dikutip oleh Wijayanti (2008:1) pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal berupa kemampuan awal siswa dan faktor eksternal berupa pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan media Lembar Kerja Siswa. Aktivitas belajar menurut Paul B. Diedrich yang dikutip oleh Sardiman (2004:99) meliputi kegiatan sebagai berikut: a. Visual activities, meliputi kegiatan membaca, melihat gambar, mengamati, dan bermain. b. Oral activities, meliputi kegiatan menyatakan fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengjaukan pertanyaan dan memberikan saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi. c. Listening activities, meliputi kegiatan mendengarkan, penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, dan mendengarkan suatu permainan. d. Writing activities, meliputi kegiatan menulis laporan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, menulis cerita, atau mengisi angket. e. Drawing activies, meliputi kegiatan menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta dan pola. f. Motor activities, meliputi kegiatan percobaan, membuat konstruksi, dan melaksanakan pameran. g. Mental activities, meliputi kegiatan mengingat, memecahkan soal Tujuan Lesson study ini adalah: meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa melalui penggunaan LKM berbasis penemuan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 194

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
METODE

1.

Subyek Lesson study Subjek lesson study adalah mahasiswa mata kuliah Biologi Dasar, semester 1 program studi pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP UNILA tahun akademik 2011/2012. 2. Rancangan Lesson Study Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, menggunakan Lembar Kerja Mahasiswa berbasis metode penemuan. Lesson study dilaksanakan dalam 4 siklus yang dilaksanakan sebagai berikut: Siklus 1 Pada siklus ini dilakukan dalam tiga tahap yakni tahap plan, tahap do, dan tahap see. Ketiga tahapan diuraikan sebagai berikut: Tahap plan : Dosen model dan tim lesson study mendiskusikan hal-hal yang akan dilakukan yaitu menyusun SAP, merancang LKM, dan apa yang akan diamati, yaitu aktivitas belajar mahasiswa. Tahap Do : Dosen model melaksanakan hasil diskusi yaitu menggunakan LKM berbasis penemuan dalam pembelajaran. Sedangkan observer mengamati dosen model dan aktivitas mahasiswa. Tahap See : Dosen model bersama-sama dengan observer merefleksi pelaksanaan pembelajaran dan mendiskusikan temuan-temuan, setelah itu menyusun rancangan pembelajaran untuk siklus berikutnya.

Plan

See

Do

satu siklus Gambar 1. Tahapan pelaksanaan Lesson Study dalam satu siklus.

Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Lesson studi dalam

3.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Adapun teknik dan instrument pengumpulan data sebagai berikut:

Tabel 1. Teknik pengumpulan data dan Instrumen
Data Aktivitas mahasiswa Tanggapan mahasiswa terhadap penggunaan LKM Instrumen Lembar observasi Angket Petugas Observer Dosen

Aktivitas mahasiswa diamati yang relevan dengan pembelajaran dengan mengacu pada Hopkins (993) dengan teknik scanning tiap 10 menit mengacu pada dan menggunakan Lembar observasi aktivitas mahasiswa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Lembar observasi aktivitas mahasiswa (%)
NO 1 2 3 Aktivitas Mahasiswa 10 Mendengarkan penjelasan dosen Mengerjakan LKM Berdiskusi 20 30 40 Menit ke: 50 60 70 80 90 100

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 195

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
4 5 6 Bertanya presentasi Menyimak presentasi

4.

Teknik analisis data Data aktivitas dan hasil angket tanggapan mahasiswa yang diperoleh dipersentasikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Lesson study Berdasarkan pelaksanaan lesson study diperoleh hasil sebagai berikut: Siklus 1 Plan : pada tahap ini perencanaan dihadiri oleh satu dosen anggota lesson study, membicarakan mengenai LKM yang akan digunakan dan hal yang akan diamati. Materi yang akan diajarkan adalah Transport zat melewati membran sel. Do : dilaksanakan pada hari senin tanggal 17 Oktober 2011 pukul 13.00 WIB, di gedung G ruang G8. Dihadiri oleh 4 orang anggota lesson study. Aktivitas mahasiswa yang diperoleh sebagai berikut: Tabel 3. Rerata aktivitas mahasiswa siklus 1
No 1 2 3 4 5 6 Aktivitas Mendengarkan penjelasan dosen Mengerjakan LKM Berdiskusi Bertanya Presentasi Menyimak presentasi 10 100 100 100 20 100 100 30 100 100 40 50 50 50 50 50 50 50 5 50 5 50 60 70 80 90 100

See : tahap ini dilakukan langsung setelah pelaksanaan open lesson. Diperoleh temuan bahwa: a. Mahasiswa belajar pada saat mendengarkan penjelasan dosen di awal pertemuan, dan pada kegiatan inti mengerjakan LKM b. Mahasiswa berhenti belajar pada saat berganti posisi tempat duduk untuk berkumpul dalam kelompok, pada saat tidak memahami maksud pertanyaan dalam LKM, pada saat tidak menemukan jawaban dan pada saat temannya menuliskan jawaban di papan tulis; dosen perlu mengingatkan kepada mahasiswa untuk memperhatikan temannya yang sedang menuliskan jawaban di papan tulis; presentasi hendaknya beberapa kelompok saja untuk efisiensi waktu belajar, dan mencegah kegiatan yang tidak relevan dengan kegiatan belajar. c. Aktivitas mahasiswa dalam presentasi dan menyimak presentasi masih rendah. Untuk presentasi mahasiswa masih ada yang ragu dan saling tunjuk antar teman. Dosen perlu memotivasi. d. LKM yang digunakan belum memandu mahasiswa untuk menemukan jawaban yang dituntut dalam LKM (Lihat lampiran LKM Siklus 1). Hal-hal yang ditemukan adalah mahasiswa tidak memahami pertanyaan yang diberikan di LKM. Berdasarkan angket tanggapan mahasiswa bahwa 4 orang mahasiswa yang tidak memahami maksud pertanyaan dalam LKM. Menurut observer LKM hanya berisi pertanyaan perlu dijabarkan lebih detil. Perlu dilakukan perbaikan pada LKM. Sumber belajar hendaknya divariasikan atau ditambah. Siklus 2 Plan : pada tahap ini perencanaan dihadiri oleh dua dosen anggota lesson study, membicarakan mengenai perbaikan LKM yang akan digunakan dan bagaimana presentasi dilaksanakan. Materi yang akan diajarkan adalah Jaringan Meristem. Do : dilaksanakan pada hari senin tanggal 26 Oktober 2011 pukul 15.00 WIB, di gedung G ruang G8. Dihadiri oleh 4 orang anggota lesson study.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 196

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel 4. Aktivitas mahasiswa pada siklus 2(%)
NO 1 2 3 4 5 6 Aktivitas Mahasiswa Mendengarkan penjelasan dosen Mengerjakan LKM Berdiskusi Bertanya presentasi Menyimak presentasi 10 80 80 80 20 100 100 30 100 100 40 50 50 Menit ke: 50 60 50 50 70 50 50 70 5 70 5 70 70 80 90 100 100 100

See : tahap ini dilakukan tanggal 27 oktober, satu hari setelah pelaksanaan open lesson. Diperoleh temuan bahwa: a. Mahasiswa belajar pada saat mendengarkan penjelasan dosen di awal pertemuan, mengerjakan LKM dan berhenti belajar pada saat berganti posisi tempat duduk untuk berkumpul dalam kelompok, dan pada saat temannya menuliskan jawaban di papan tulis, mahasiswa berhenti belajar pada saat tidak menemukan jawaban pada sumber belajar, pada pertemuan kedua ini mahasiswa banyak yang terlambat masuk dikarenakan sholat ashar terlebih dahulu sehingga pada awal perkuliahan mahasiswa tidak siap; b. Presentasi dilakukan oleh semua kelompok dengan cara satu kelompok mempresentasikan satu pertanyaan, masih dijumpai mahasiswa yang tidak menyimak presentasi temannya, masih saling tunjuk untuk maju ke depan, dosen memberikan motivasi, dosen perlu mengingatkan kepada mahasiswa untuk memperhatikan temannya yang sedang presentasi; c. LKM yang digunakan belum memandu mahasiswa untuk menemukan jawaban yang dituntut dalam LKM (Lihat lampiran LKM Siklus 2), berdasarkan angket tanggapan mahasiswa, terdapat dua orang yang menyatakan gambar tidak jelas, namun demikian mahasiswa mulai aktif bertanya kepada dosen dan saling berdiskusi setelah mendapatkan bimbingan dari dosen. Perlu dilakukan perbaikan pada LKM. Hal-hal yang ditemukan pada LKM yaitu gambar pada LKM belum kontras, pertanyaan masih ada yang belum terjawab. Siklus 3 Plan : pada tahap ini perencanaan dihadiri oleh 4 dosen anggota lesson study, membicarakan mengenai LKM yang akan digunakan. Materi yang akan diajarkan Jaringan pengangkut. Do : dilaksanakan pada hari senin tanggal 31 Oktober 2011 pukul 13.00 WIB, di gedung G ruang G8. Dihadiri oleh 1 orang anggota lesson study. Pada tahap ini diperoleh data sebagai berikut: Tabel 5. Rata-rata aktivitas belajar mahasiswa pada siklus 3 (%)
NO 1 2 3 4 5 6 Aktivitas Mahasiswa Mendengarkan penjelasan dosen Mengerjakan LKM Berdiskusi Bertanya presentasi Menyimak presentasi 10 100 100 100 20 100 100 30 100 100 40 100 100 Menit ke: 50 60 50 70 50 50 70 50 5 70 5 70 70 80 90 100 100 100

See : tahap ini dilakukan satu hari setelah pelaksanaan open lesson. Diperoleh temuan bahwa: a. Mahasiswa belajar pada saat mendengarkan penjelasan dosen di awal pertemuan, mengerjakan LKM dan berhenti belajar pada saat berganti posisi tempat duduk untuk berkumpul dalam kelompok, dan pada saat temannya mempresentasikan jawaban di depan kelas; b. Aktivitas mahasiswa menyimak presentasi belum bertambah dosen perlu mengingatkan kepada mahasiswa untuk memperhatikan temannya yang sedang menuliskan jawaban di papan tulis; c. LKM yang digunakan telah memandu mahasiswa untuk menemukan jawaban yang dituntut dalam LKM (Lihat lampiran LKM Siklus 3). Masih ditemukan kelompok yang belum menjawab pertanyaan dalam LKM.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 197

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Siklus 4 Plan : pada tahap ini perencanaan dihadiri oleh satu dosen anggota lesson study, membicarakan mengenai LKM yang akan digunakan. Materi yang akan diajarkan adalah Organ tumbuhan. Do : dilaksanakan pada hari Rabo tanggal 2 November 2011 pukul 15.00 WIB, di gedung G ruang G8. Dihadiri oleh 4 orang anggota lesson study. Pada tahap ini diperoleh data sebagai berikut: Tabel 6. Rata-rata aktivitas belajar mahasiswa siklus 4 (%)
NO 1 2 3 4 5 6 Aktivitas Mahasiswa Mendengarkan penjelasan dosen Mengerjakan LKM Berdiskusi Bertanya presentasi Menyimak presentasi 10 100 100 100 20 100 100 30 100 100 40 100 100 Menit ke: 50 60 100 90 70 90 90 70 5 80 5 80 70 80 90 100 100 100

See : tahap ini dilakukan satu hari setelah pelaksanaan open lesson. Diperoleh temuan bahwa: a. mahasiswa belajar pada saat mendengarkan penjelasan dosen di awal pertemuan, mengerjakan LKM dan berhenti belajar pada saat berganti posisi tempat duduk untuk berkumpul dalam kelompok, dan pada saat temannya mempresentasikan jawaban di depan kelas; b. aktivitas belajar mahasiswa pada saat presentasi mulai bertambah, tidak saling tunjuk lagi, bahkan sudah ada mahasiswa yang menambahkan temuan kelompok lain, c. LKM yang digunakan telah memandu mahasiswa untuk menemukan jawaban yang dituntut dalam LKM (Lihat lampiran LKM Siklus 4). Masih ditemukan kelompok yang tidak menemukan jawaban pada LKM.
PEMBAHASAN

Lesson study telah dilakukan dalam 4 siklus, dan ditemukan adanya peningkatan aktivitas seiring dengan perbaikan yang dilakukan pada LKM. Upaya pencapaian aktivitas yang diinginkan dilakukan dengan merevisi 2 aspek, yaitu aspek aspek media pembelajaran yang digunakan, dan aktivitas mahasiswa dalam pembelajaran. Dari aspek media pembelajaran, revisi LKM dilakukan tiap siklus, revisi meliputi tujuan pembelajaran, tampilan gambar, dan kejelasan instruksi. Revisi ini telah dilakukan dan dihasilkan LKM yang mencapai tujuan yang dikehendaki yakni dapat memandu mahasiswa dalam menemukan konsep materi perkuliahan. Seperti yang diungkapkan oleh wijayanti (2008) dalam makalahnya bahwa LKM merupakan sarana belajar yang memudahkan siswa dalam belajar. Selain itu ditemukan bahwa 94% mahasiswa menyatakan bahwa LKM yang menarik mampu menimbulkan minat belajar mahasiswa ( angket tanggapan mahasiswa). Melalui LKM 91.9% mahasiswa dapat terpandu dalam mempelajari materi perkuliahan, dan 94.5% mahasiswa menyatakan telah benar-benar belajar. Pernyataan tersebut didukung dengan rata-rata aktivitas mahasiswa selama 4 siklus yang dapat dilihat pada grafik berikut:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 198

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Keterangan: 1. Mendengarkan penjelasan dosen; 2. Mengerjakan LKM; 3. Berdiskusi; 4.Bertanya; 5. Presentasi; 6. Menyimak presentasi.

Gambar 2. Rata-rata aktivitas mahasiswa dari siklus 1 sampai 4. Dari gambar ditemukan bahwa aktivitas belajar mahasiswa mengalami fluktuasi, misalnya aktivitas mengerjakan LKM , aktivitas ini menurun pada siklus 2 dan naik kembali pada siklus 3 dan 4. Berdasarkan pengamatan ditemukan bahwa dalam mengerjakan LKM terkadang mahasiswa menemukan kendala seperti tidak mengerti maksud pertanyaan pada LKM (4 orang) atau tidak menemukan jawaban karena tidak mensurvai pada sumber belajar, jadi mahasiswa ini tidak mempunyai akses terhadap sumber belajar yakni buku teks dan netbook atau ( Handphone). Namun pada siklus berikutnya aktivitas tersebut naik, karena mahasiswa tersebut memiliki sumber belajar dan LKM telah mengalami revisi. Disinilah peran dosen dibutuhkan mahasiswa untuk membimbing sehingga mahasiswa mampu menemukan konsep, seperti yang dikemukakan oleh Sardiman (2004: 45) bahwa aktivitas belajar akan timbul secara alamiah akibat adanya dorongan atau motivasi untuk mencapai tujuan.
KESIMPULAN

Aktivitas mahasiswa meningkat melalui penggunaan LKM. Indikator yang ditunjukkan adalah kemampuan presentasi, bertanya, berdiskusi, mampu menanggapi presentasi. LKM setiap siklus mengalami perbaikan ke arah kemajuan sehingga perannya dalam memfasilitasi kegiatan belajar mahasiswa lebih optimal.
DAFTAR RUJUKAN Abdurrahman. 1999. Metode Pembelajaran Tindakan Kelas. Grafindo. Jakarta. Akhmad Sudrajat, M.Pd. 2010. Lesson study untuk meningkatkan proses dan hasil belajar. http://ramlannarie.blogspot.com/2010/06/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses.html akses pk 08.50WIB. Hopkins. D. 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Open University Press: Philadelphia. Sardiman. 2004. Interaksi dan motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Wijayanti. 2008. Pelatihan Penyusunan LKS Mata pelajaran Kimia Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bagi Guru SMK/MAK. Makalah ini disampaikan dalam Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat di Ruang Sidang Kimia FMIPA UNY pada tanggal 22 Agustus 2008.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 199

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN JIGSAW MODIFIKASI MELALUI WORKSHOP LESSON STUDY DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEPROFESIONALAN GURU BIOLOGI

Cornelius Sri Murdo Yuwono
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mahasaraswati Denpasar, E-mail: Cornelius_smy@yahoo.co.id

Abstrak:Guru Biologi SMA Kota Denpasar belum sepenuhnya merubah model pembelajaran menjadi pebelajaran yang berpusat pada siswa. Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi yang memiliki saling bergantungan positif untuk mencapai tujuan bersama. Model pembelajaran kooperatif Jigsaw menekankan saling bergantungan positif dalam bekerjasama, hal ini dicirikan adanya kelompok asal dan kelompok ahli. Penyelesaian materi pelajaran melalui saling bergantungan merupakan tanggungjawab kelompok. Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatakan keprofesionalan guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif berlandaskan prinsip kolegialitas. Untuk itu perlu dilaksanakan workshop dengan tujuan: (1) Apakah pengetahuan pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi dapat meningkatkan keprofesionalan guru-guru Biologi (2) Apakah pemahaman Lesson Study dapat meningkatkan keprofesionalan guru-guru Biologi,, (3) Apakah pengembangan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, dan LKS) Jigsaw Modifikasi dapat meningkatkan keprofesionalan guru-guru Biologi. Melalui penyebaran kuesioner pada guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar sehingga dapat diambil kesimpulan: (1) Guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, setelah mengikuti kegiatan workshop, ada peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman pembelajaran kooperatif secara umum dan khususnya model pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi., (2) Guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, setelah mengikuti kegiatan workshop, ada peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman Lesson Study, (3) Guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, setelah mengikuti kegiatan workshop dapat menghasilkan perangkat pembelajaran berupa, Silabus, RPP, dan LKS yang berciri khas dengan model pebelajaran Kata kunci: Pengebangan pembelajaran, Jigsaw Modifikasi, Workshop, Lesson Study, Keprofesionalan, Guru Biologi.

Persaingan global saat ini menuntut setiap orang dalam suatu bangsa untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, oleh karena itu sistem pendidikan nasional harus bersifat dinamis, fleksibel, sehingga outcome yang dihasilkan dapat berdaya saing tinggi, menyerap perubahan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Standar pendidikan disusun sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional terkait dengan persaingan di era global dengan ciri dunia tanpa batas, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran terhadap hak dan kewajiban asasi manusia, dan kerjasama serta kompetisi antar bangsa (Tilaar, 2009). Tilaar (2009) menyatakan bahwa menghadapi masyarakat global melalui proses pendidikan nasional perlu mempunyai suatu visi strategis yang dapat menjawab tantangan tersebut. Visi strategis sistem pendidikan haruslah merangkum: (1) Mengidentifikasikan dan menyadari kekuatan-kekuatan global dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang agar supaya bangsa Indonesia siap menghadapi dan memanfaatkan peluang-peluang yang terbuka, (2) Pembangunan nasional dalam konteks globalisasi, dalam mana pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu aspeknya haruslah memberikan perhatian terhadap

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 200

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) kerjasama regional dan kerjasama global, (3) Penyusunan suatu strategi pengembangan sumber daya manusia Indonesia dalam strategi pokok menghadapi tantangan dan peluang global. Salah satu indikator menghadapi era pasar bebas dalam pendidikan adalah melalui perbaikan aspek pembelajaran. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, mata pelajaran biologi merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang tertuang dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, bahwa mata pelajaran biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, serta permasalahan yang terkait dengan penerapannya untuk membangun teknologi guna mengatasi permasalahan kehidupan. Tujuan mata pelajaran biologi menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteratuan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, (2) memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis, dan dapat bekerjasama dengan orang lain, (3) mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis, (4) mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip biologi, (5) mengembangkan penguasaan konsep, prinsip biologi, dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri, (6) menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, dan (7) meningkatkan kesadaran, berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan. Upaya peningkatan pembelajaran biologi dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru melalui pengembangan pembelajaran berorientasi konstruktivisme. Pembelajaran konstruktivisme merupakan dasar dari pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen dan Kauchak, 1996 dalam Trianto, 2007). Bekerja secara berkolaborasi memiliki bentuk saling bergantungan positif (Positive interdependence) dalam hidup dan bekerja bersama, hal ini terjadi karena para anggota kelompok yang efektif sama-sama memiliki perbedaan kekuatan, bakat, keahlian, pengalaman, pengetahuan, cara pandang, dan kepribadian untuk menggapai sasaran yang melampaui sasaran yang bisa diperoleh oleh anggota secara individu. Materi biologi berdasar Permendiknas No. 22 tahun 2006, diharapkan guru biologi untuk merubah strategi pemebalajaran yang sekarang ini dilakukan menjadi strategi yang mengarah ke pembelajaran kooperatif. Tujuan pembelajarn biologi kedepan diharapkan bahwa siswa mempunyai keberanian dalam mengungkapkan pendapat berdasar sikap ilmiah yang obyektif, jujur, terbuka, ulet, kritis, dan dapat bekerjasama dengan orang lain. Pembentukan sikap positif dalam diri siswa juga akan membantu dalam pembelajaran biologi melalui pengembangan pengalaman untuk berpikir analitik, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip. Temuan dilapangan selama ini interaksi dalam proses belajar mengajar masih berlaku satu arah dimana guru sebagai sumber belajar, berdampak pada siswa akan berkompetisi individual, akibatnya yang gagal akan semakin gagal dan tidak bersemangat lagi dalam pelajaran biologi. Siswa dipaksakan untuk menghafal dan meyelesaikan materi pelajaran tanpa harus mengerti atau mendalami dengan baik sehingga cepat dilupakan setelah pelajaran tersebut berakhir. Guru biologi belum sepenuhnya memberdayakan keterampilan metakognisi siswanya, padahal jika guru tersebut memberdayakan keterampilan metakognisi siswa, peran guru jauh lebih berkurang, tidak lagi sebagai pusat belajar bagi siswa melainkan berubah sebagai fasilisator. Keterampilan metakognisi siswa berpotensi ditingkatkan jika guru menggunakan model pembelajaran kooperatif. Komponen esensial pembelajaran kooperatif menurut Johnson, et al, (2004) terdiri dari: (1) saling bergantungan positif (Positive interdependence), (2) Interaksi yang mendorong (promotive interaction), (3) Tanggungjawab individual (individual accountability), (4) Keterampilan antar pribadi dan kelompok kecil (interpersonal and small-group skils), dan (5) pemrosesan kelompok (group processing). Saling bergantungan positif merupakan inti dari pembelajaran kooperatif, akan dapat terstruktur dengan baik

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 201

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) apabila setiap anggota kelompok memandang bahwa mereka terhubung antara satu sama lain. Siswa diharapkan menyadari bahwa usaha dari setiap anggota akan bermanfaat bukan hanya bagi individu yang bersangkutan, tetapi juga bagi semua anggota kelompok. Kepedulian pribadi setiap siswa terhadap pencapaian siswa lain akan membuat mereka bisa saling berbagi sumber daya, saling membantu dan mendukung usaha satu sama lain untuk belajar menuju kesuksesan bersama. Arends (2007) model cooperative learning didorong dan dituntut untuk mengerjakan tugas yang sama secara bersama-sama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas itu, di samping itu dalam cooperative learning dua individu atau lebih saling bergantung untuk mendapatkan reward yang akan mereka bagi, bila mereka sukses sebagai kelompok. Cooperative learning dapat ditandai fitur-fitur: (1) Siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar, (2) Tim-tim itu terdiri atas siswasiswa yang berprestasi rendah, sedang, dan tinggi, (3) Bilamana mungkin, tim-tim itu terdiri atas campuran ras, budaya, dan gender, dan (4) Sistem reward–nya berorientasi kelompok maupun individu. Adanya kelemahan yang terdapat pada model pembelajaran Jigsaw Asli Aronson dan Jigsaw II Slavin, maka perlu dikembangkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi dari Aronson dan Slavin. Dalam pengembangan model ini tidak menyimpang dari sintaks pembelajaran Jigsaw, hanya diharapkan dapat memberikan kemudahan di dalam pengorganisasian kelas terutama masalah pengaturan waktu. Model Kooperatif Jigsaw Modifikasi dari Aronson dan Slavin dalam pelaksanaan awal pembelajaran, siswa masuk ke dalam kelompok ahli, dengan dipimpin oleh ketua kelompok yang telah ditetapkan sebelumnya oleh guru, memimpin diskusi dengan menggunakan lembar ahli. Siswa bekerjasama melalui diskusi untuk belajar dan menjadi ahli dalam bidangnya dan mengajarkan kepada anggota kelompok asal. Siswa kembali ke kelompok asal sebagai “ahli” dan mengajarkan informasi penting dalam sub bagian materi tersebut kepada temannya, “ahli” dalam sub bagian materi lain juga bertindak serupa, sehingga seluruh siswa menunjukkan penguasaannya seluruh materi. Kelompok asal menyiapkan materi presentasi materi yang akan dipresentasikan sesuai dengan yang ditetapkan oleh guru, masing-masing kelompok asal mempresentasikan dalam kelas dengan presenter yang bukan ahli di bidangnya. Diakhiri dengan tes individu untuk mengevaluasi penguasaan seluruh materi, review guru tentang materi pembelajaran tersebut, guru memberikan rekognisi tim dengan memberikan penghargaan tim. Tabel 1 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Modifikasi
Fase Bekerja dalam kelompok Ahli Tingkah Laku Guru Mengingatkan kembali kepada pimpinan diskusi/moderator yang telah ditunjuk sebelumnya untuk memimpin diskusi ahli Meminta siswa menyiapkan materi untuk disampaikan kepada kelompok asal melalui diskusi dengan menggunakan lembar ahli Membimbing siswa dalam kelompok asal Memberi arahan untuk persiapan presentasi kelas sesuai materi yang ditunjuk oleh guru Presentasi kelas Tingkah laku Siswa Pimpinan diskusi /moderator memimpin jalannya diskusi kelompok ahli Dalam keahlian yang sama bertemu untuk berdiskusi:untuk merencan kan materi yang akan disampaikan dalam kelompok asal dengan menggunakan lembar ahli.

Bekerja didalam kelom-pok Asal

Evaluasi dan Review Materi Recognisi tim

Memberikan tes individu dan memberikan review materi Memberikan penghargaan melalui tim

Saling bergantian mengajar teman satu kelompok Masing-masing kelompok asal mempersiapkan materi presentasi Presenter bukan ahli dibidang materi yang akan dipresentasikan melainkan anggota kelompok asal yang bukan ahli, anggota lain membagi diri sebagai moderator, notulen, maupun menjawab pertanyaan/ saran/masukan Siswa mengerjakan tes individu dan memperhatikan review Siswa menerima penghargaan kelompok (Mas, Perak, dan Perunggu), termotivasi bekerja

(Sumber: hasil penelitian pengembangan)

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 202

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Lewis (2002, dalam Syamsuri, 2008) menyatakan “Lesson study is a cycle in which teachers work together to consider their long-term goals for students, bring those goals to life in actual “research lessons”, and collaboratively observe, discuss, and refine the lessons”, diartikan secara sederhana yakni jika seorang guru ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas adalah melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati, dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Garfield, (2006, dalam Syamsuri,2008) menyatakan lesson study, sebagai suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran, melalui kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran bersiklus dan terus menerus. Lesson study para guru berkolaborasi melakukan pengkajian bagaimana merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran di kelas nyata dan selanjutnya melakukan diskusi refleksi untuk mendapatkan umpan balik dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran berikutnya. Menurut Syamsuri, (2008) mengapa lesson study dipilih sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas guru : (1) LS merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa, hal ini disebabkan: a) LS dilakukan dan didasarkan pada hasil “Sharing” pengetahuan professional yang berlandaskan pada praktek dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, b) penekanan mendasar LS adalah para siswa memiliki kualitas mendasar, c) tujuan pembelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, d) berdasarkan pengalaman nyata di kelas, LS mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan e) LS akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran, (2) LS yang di desain dengan baik akan menghasilkan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan LS para guru dapat: a) menentukan tujuan pelajaran, satuan pelajaran, metode pelajaran yang efektif, b) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa, c) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru, d) menentukan tujuan jangka panjang yang akan dicapai para siswa, e) merencanakan pelajaran secara kolaboratif, f) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa, g) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan, dan h) melakukan refleksi tehadap pengajaran yang dilaksana kannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya. Tahapan LS. Menurut Syamsuri (2008) dimulai pada tahun 2004/2005 dalam program IMSTEP JICA di tiga perguruan tinggi ( UPI,UNY, dan UM ) digunakan tahap yang sederhana yakni perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan melihat kembali/ refleksi (See). Ketiga tahapan tersebut dilakukan secara berulangulang dan terus menerus sehingga merupakan siklus yang tak pernah berakhir. Dalam proses perencanaan para guru hendaknya mengkaji: (1) Kurikulum (KTSP), termasuk di dalamnya mencermati kompetensi dasar dan standar kompetensi, (2) Menentukan materi pembelajaran yang akan disajikan. Biasanya materi yang dipilih untuk diangkat dan dijadikan topik dalam LS. adalah: sulit bagi siswa, sulit bagi guru, materi baru dalam kurikulum, memerlukan metode pembelajaran yang efektif, dan memerlukan media pembelajaran yang efektif, (3) Menyusun indikator dan pengalaman belajar siswa, (4) Menentukan metode yang sesuai, (5) Menentukan urutan proses pembelajaran (skenario pembelajaran), (6) Menyusun LKS (jika diperlukan), dan (7) Menyusun evaluasi. Setelah perencanaan matang dan waktu untuk pelaksanaan pembelajaran disepakati, maka anggota tim LS. dan pengamat yang lain diharapkan dapat mengobservasi pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru model. Hal-hal yang diobservasi oleh pengamat tentang kegiatan belajar siswa antara lain meliputi: (1) interaksi siswa dengan siswa yang lain, bagaimana efektifitas kerja kelompok, adakah kegiatan saling membantu, (2) interaksi siswa dengan guru sepanjang kegiatan belajar, (3) interaksi siswa dengan media pembelajaran, (4) interaksi siswa dengan sumber belajar atau lingkungan sekitarnya, (5) bagaimana gerak tubuh siswa yang mencerminkan aktif bekerja/belajar, (6) apa yang dibicarakan atau didiskusikan oleh siswa, dan (7) hal-hal lain yang berkaitan dengan aktivitas belajar atau ke tidak aktifan dalam belajar. Tahap refleksi merupakan tahap penting dalam LS., karena pada tahap ini setiap peserta akan mengemukakan berbagai pengalaman dan temuan berharga yang akan dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran masing-masing. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi, yang dipimpin oleh moderator. Kegiatan ini dilakukan segera setelah proses pembelajaran, pada hari itu juga. Hal ini

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 203

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dimaksudkan agar semua peserta masih dapat mengingat suasana pembelajaran yang telah berlangsung, diharapkan para pengamat melakukan refleksi atau menyampaikan komentar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Refleksi yang dilakukan pengamat akan menyampaikan hal-hal berikut a) mengemukakan data tentang kegiatan siswa belajar (siswa melakukan apa, pada saat apa kegiatan itu terjadi), b) mengapa siswa melakukan perilaku belajar seperti itu?, 3) bagaimana jalan keluar mengatasi hal itu agar proses pembelajaran berlangsung efektif dan efisien, 4) dan pelajaran apa yang dapat dipetik dari kejadian tersebut?. Susilo (2011), menyatakan bahwa pelaksanaan Lesson Study ditekankan pada 3 tahap yaitu Plan (merencanakan atau merancang), Do (melaksanakan), dan See (mengamati, dan sesudah itu merefleksikan hasil pengamatan) (Sutopo dan Ibrohim, 2006). Siklus pengkajian pembelajaran dilaksanakan dalam tiga tahapan, seperti diperlihatkan dalam Gambar 1.

PLAN Secara kolaboratif guru merencanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik berbasis permasalahan di kelas

DO Seorang guru melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sementara itu, guru lain mengobservasi kegiatan belajar peserta didik

SEE Secara kolaboratif guru merefleksikan keefektifan pembelajaran dan saling belajar dengan prinsip kolegialitas

Gambar 1. Siklus Pengkajian Pembelajaran dalam lesson study di Indonesia (sumber: Susilo,2009:35) Tahap perencanaan (Plan) bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan siswa secara efektif serta membangkitkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Perencanaan ini dilakukan secara kolaboratif oleh beberapa orang guru yang termasuk dalam suatu kelompok Lesson Study (jumlah bervariasi 6-10 orang). Biasanya ditetapkan dulu siapa guru yang akan menjadi Guru Pengajar (Guru Model), kemudian guru pengajar menyusun RPPnya. Para guru kemudian bertemu dan berbagi ide menyempurnakan rancangan pembelajaran yang sudah disusun guru pengajar untuk menghasilkan cara pengorganisasian bahan ajar, proses pembelajaran, maupun penyiapan alat bantu pembelajaran yang dianggap paling baik. Semua komponen yang tertuang dalam rancangan pembelajaran ini kemudian disimulasikan sebelum dilaksanakan dalam kelas. Pada tahap ini juga ditetapkan prosedur pengamatan dan instrumen yang diperlukan dalam pengamatan. Tahap pelaksanaan (Do) dimaksudkan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah direncanakan. Salah satu anggota kelompok berperan sebagai guru model dan anggota kelompok lainnya mengamati. Fokus pengamatan diarahkan pada kegiatan belajar siswa dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen yang telah disepakati pada tahap perencanaan, bukan pada penampilan guru yang sedang bertugas mengajar. Selama pembelajaran berlangsung, para pengamat tidak diperkenankan mengganggu Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 204

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) proses pembelajaran walaupun mereka boleh merekamnya dengan kamera video atau kamera digital. Tujuan utama kehadiran pengamat adalah belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Tahap pengamatan dan refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Guru yang bertugas sebagai pengajar mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan dan pemikirannya mengenai pelaksanaan pembelajaran. Kesempatan berikutnya diberikan kepada guru yang bertugas sebagai pengamat. Selanjutnya pengamat dari luar juga mengemukakan apa Lesson Learned yang dapat diperoleh dari pembelajaran yang baru berlangsung. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti hati guru yang membelajarkan, semuanya demi perbaikan praktik ke depan. Berdasarkan semua masukan dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya yang lebih baik. Lesson Study dapat dilakukan oleh sekelompok guru mata pelajaran. Hal ini merupakan salah satu wujud dari pembentukan komunitas belajar di MGMP. Terbentuknya komunitas belajar merupakan sarana untuk pengembangan diri setiap guru. Di samping itu Lesson Study dan pengembangan komunitas belajar di MGMP akan meningkatkan rasa kebersamaan dan kolegialitas antarguru. Kegiatan seperti ini akan sangat bermanfaat bagi masing-masing guru yang terlibat di dalamnya. Karena itu, saya berpikir bahwa Lesson Study dapat dijadikan salah satu alternatif sarana bagi guru agar dapat saling membina dan mengembangkan keprofesionalan mereka karena dapat dilakukan bersama-sama dengan rekan guru lain sehingga mereka dapat saling menyemangati, secara rutin, terus menerus, berbasis pada kebutuhan riil guru dalam mengembangkan pembelajaran, dan bertempat di MGMP (disebut LSMGMP). Lesson Study juga dapat dilaksanakan di sekolah oleh MGMPS ataupun oleh beberapa guru yang tidak sebidang studi. LS semacam ini disebut sebagai Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS). Penemuan di lapangan bahwa guru-guru Biologi SMA di kota Denpasar berdasarkan hasil survei lapangan menunjukkan bahwa para guru belum sepenuhnya melaksanakn pembelajaran kooperatif Jigsaw serta belum pernah melakasnakan Lesson Study, bahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar belum pernah menyelenggarakan pelatihan pada guru-guru tentang LS. Penyebab lain, jika guru yang telah mendapatkan pelatihan LS, kurang maksimal meng implementasikan hasil pelatihan ke dalam kelas masih kurang maksimal; masih lemahnya sistem monitoring dan evaluasi implementasi hasil pelatihan oleh guru, baik oleh pengawas, kepala sekolah, atau pihak pejabat di Dinas Pendidikan yang berwewenang; dan masih lemahnya motivasi dan minat guru untuk terus mengembangkan diri dan berprestasi. Berdasarkan kenyataan seperti di atas, perlu dilaksanakan workshop kepada guru-guru Biologi SMA kota Denpasar tentang pengembangan pembelajaran Jigsaw Modifikasi melalui workshop Lesson Study dalam upaya meningkatkan keprofesionalan guru Biologi. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Apakah pengetahuan pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi melalui kegiatan workshop dapat meningkatkan keprofesionalan guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, (2) Apakah pemahaman Lesson Study melalui kegiatan workshop dapat meningkatkan keprofesionalan guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, (3) Apakah pengembangan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, dan LKS) Jigsaw Modifikasi melalui kegiatan workshop dapat meningkatkan keprofesionalan guru-guru Biologi SMA Kota Denpasa. METODE Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kuantitatif, melalui kegiatan workshop bagi guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar. Sampel dalam penelitian ini adalah guru biologi SMA Kota Denpasar yang mengajar di kela XI IPA, sebanyak 39 guru sebagi peserta. Kegiatan workshop dilaksanakan pada tanggal 25 – 27 Juli 2011. Jenis data yang diambil adalah data deskriptif yang dikuantitatifkan dalam presentase, di ambil dengan penyebaran kuesioner sebelum kegiatan workshop sebagai pre test dan penyebaran kuesioner kembali setelah berakhirnya kegiatan workshop sebagai pos test. Koesioner berisi pertanyaan pengetahuan peserta tentang pembelajaran kooperatif Jigsaw dan lesson Study. Untuk penelitian Lesson Study dilaksanakan pengembangan perangkat pembelajaran Kooperatif Jigsaw Modifikasi yang meliputi pengembangan Silabus,RPP,dan LKS.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 205

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Data yang diperoleh berupa data pengetahuan guru Biologi mengenai pembelajaran kooperatif Jigsaw, maupun data pengetahuan tentang Lesson Study yang dijawab dalam kuesioener baik pada saat pra test maupun post test. Kedua data tersebut dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan persentase. Data pengembangan perangkat pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi berupa silabus, RPP,dan LKS dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Berdasar hasil analisis data pre test dan post tes dalam workshop bagi guru-guru biologi SMA Kota Denpasar menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan guru dalam pembelajaran kooperatif, khususnya pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi. Peningkatan tersebut dapat ditunjukkan bahwa guru telah memahami ciri-ciri pembelajaran kooperatif dari 48.55% meningkat menjadi 70.37% setelah mengikuti workshop, pemahaman saling bergantungan positif dalam pembelajaran kooperatif meningkat dari 33.33% menjadi 77.77%; Pemahaman sintaks dari pembelajaran kooperatif Jigsaw meningkat dari 33.33% menjadi 100%; Pengetahuan tentang pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw Aronson terutama dalam sintaknya menunjukkan ada peningkatan pemahaman dari 29.60% menjadi 92.60%; demikian pula pemahaman sintaks Jigsaw Slavin dari 18.52% meningkat menjadi 88.88%. Hasil analisis data pre test dan post test melalui kuesioner yang disebarkan dalam workshop bagi guru-guru biologi SMA Kota Denpasar, menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang Lesson Study . peningkatan tersebut dapat ditunjukkan bahwa Pengertian dan pemahaman Lesson Study,dari 20.55% menjadi 66.66%; Pengetahuan tentang empat langkah utama yang harus dilakukan dalam Lesson Study dari 11.11% meningkat menjadi 37.04%; Pemahaman tentang Plan, Do dan See dari 37.04% meningkat menjadi 77.77%; Pemahaman komponen apa saja yang harus ada pada saat melaksanakan Plan, Do, dan See. Dari 17.27% meningkat menjadi 100%.Pemahaman apakah Lesson Study sama dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meningkat dari 11.11% menjadi 37.04% Persentase

Komponen pembelajaran kooperatif Jigsaw Gambar 2. Grafik batang peningkatan pengetahuan guru biologi SMA Kota Denpasar tentang pembelajaran kooperatif Jigsaw .
Keterangan:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 206

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
1. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif 2. Saling bergantungan positif dala pembelajaran kooperatif 3. Sintaks pebelajaran kooperatif Jigsaw 4. Sintaks pebelajaran kooperatif Jigsaw Aronson 5. Sintaks pebelajaran kooperatif Jigsaw Slavin

Persentase

Komponen Lesson Study Gambar 3. Grafik batang peningkatan pengetahuan guru biologi SMA Kota Denpasar tentang Lesson Study.
Keterangan: 1. Pengertian dan pemahaman Lesson Study 2. Empat langkah utama Lesson Study 3. Pemahaman tentang Plan, Do, See 4. Komponen yang ada pada Plan, Do, See 5. Peemahaman Lesson Study dan PTK.

Pengembangan perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini meliputi silabus, RPP pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi, dan LKS. Perangkat pebelajaran yang dikembangkan Berdasar Permendiknas RI. Nomor 41 tahun 2007. Silabus minimal memuat Identitas matapelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus yang dikembangkan adalah silabus kelas XI IPA semester ganjil. SK sesuai dengan standar isi KTSP matapelajaran biologi semester ganjil terdapat tiga SK: SK1 adalah memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan. SK1 terdiri atas 3 (tiga) KD; (1) KD 1.1. Mendeskripsikan komposisi kimiawi sel, struktur, dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan, (2) KD. 1.2. Mengidentifikasi organel sel tumbuhan dan hewan, (3). KD.1.3 Membandingkan mekanisme transpor pada membran (difusi, osmosis, transpor aktif, enodositosis, dan eksositosis); SK2 adalah Memahami keterkaitan antara truktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks salingtemas. SK2 terdiri atas 2 (dua) KD: (1) KD 2.1.Mengidentifikasikan struktur jaringan tumbuhan dan mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan, (2) Mendeskripsikan struktur jaringan hewan vertebrata dan mengkaitkannya dengan fungsinya; SK3 Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada salingtemas. SK3 terdiri atas 2 (dua) KD: (1) KD 3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada manusia, (2) KD3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah. Silabus yang dikembangkan mengikuti format sebagai berikut

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 207

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Format Silabus Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Program Semester :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :………………………………………

Kompe tensi Dasar

Meteri Pokok Pembel a jaran

Kegiatan Pembela jaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Teknik

Penilaian Bentuk Contoh Instrum Instrum en en

Alokasi Waktu

Alat/ Bahan/ Sumber Belajar

Karakter Yang dikem bangkan

Gambar 4. Format Silabus yang akan dikembangkan RPP sesuai model pembelajaran kooperatif yang akan diteliti yaitu model Jigsaw Modifikasi. Pelajaran biologi klas XI IPA dalam semester ganjil terdapat 7 KD, sehingga total RPP yang akan dikembangkan 21 RPP. Format RPP yang dikembangkan mengacu pada Permendiknas RI Nomor 41 tahun 2007, (BNSP.2007)

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 208

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Nama Sekolah Kelas/Semester/Program Mata Pelajaran Jumlah Pertemuan I. Standar Kompetensi II. Kompetensi Dasar III. Indikator pencapaian Kompetensi IV.Tujuan Pembelajaran V. Materi Ajar VI. Alokasi Wasktu VII. Metode Pembelajaran VIII. Kegiatan Pembelajaran A. Pendahuluan B. Kegiatan Inti C. Kegiatan Penutup IX. Penilaian hasil Belajar X. Sumber Belajar. :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :……………………………………… :………………………………………. :………………………………………. :……………………………………… :………………………………………

Gambar 5. Format RPP yang akan dikembangkan Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. LKS disusun peneliti sesuai dengan model pembelajaran yang akan diterapkan dan divalidasi oleh para ahli. Format LKS mengikuti pedoman BNSP (2006), meliputi Langkah-Langkah Membuat LKS (1) Analisis kurikulum: (2) Menentukan materi yang membutuhkan LKS, (3) Menyusun peta kebutuhan LKS: Jumlah dan urutan, (4) Mentukan judul-judul LKS. Penulisan LKS terdiri atas a) Perumusan KD, (menginformasikan indikator keberhasilan yang akan dicapai oleh siswa), b). Penyusunan materi, c) Penentuan alat penilaian Proses, Hasil, Penguasaan kompetensi (sumber belajar yang akan dipakai, alat dan bahan yang diperlukan, prosedur kegiatan pengamatan atau penyelidikan yang mendorong keingintahuan siswa dan berbagai sikap ilmiah, pertanyaan yang menantang berpikir, pertanyaan yang mengarah kepada pemahaman konsep, dan arahan penarikan kesimpulan). Struktur LKS (1) Judul , (2) Petunjuk belajar, (3) Kompetensi yang akan dicapai, (4) Informasi pendukung, (5) Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja, dan (6) penilaian. PEMBAHASAN Perubahan paradigma dalam pembelajaran yang mengarah ke pembelajaran kooperatif bagi guru-guru biologi SMA Kota Denpasar, tidaklah semudah yang diharapkan. Sebelum mengikuti kegiatan workshop, guru-guru biologi telah mengerti pembelajaran kooperatif namun hanya sebatas pengertian siswa dikelompokan menjadi beberapa kelompok, diberi materi, kemudian diskusi kelompok. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif belum dipahami secara benar. Model –model pembelajaran kooperatif juga belum sepenuhnya dipahami, hal ini terlihat bahwa peserta belum menjawab dengan benar elalui kuesioner sintaks-sintaks yang ada pada model pembelajaran kooperatif. Pemahaman guru biologi tentang model pembelajaran kooperatiif Jigsaw tipe Aronson dan Slavin sangat rendah, mereka belum mengetahui bahwa

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 209

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) model pembelajaran kooperatif Jigsaw cukup bervariasi, namun setelah mengikuti kegiatan workshop peserta memahami dengan baik walaupun belum mencapai 100%. Pemahaman Lesson Study yang ada pada guru-guru biologi SMA Kota Denpasar masih beranggapan bahwa Lesson Study sama dengan PTK, adapula yang menyatakan Lesson Study merupakan bagian dari PTK, demikian pula pemahaman empat langkah utama Lesson Study, pemahaan tentang Plan, Do, See, komponen yang ada pada Plan, Do, See, peserta belum mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang benar. Setelah kegiatan workshop guru-guru biologi SMA Kota Denpasar dapat meahai walaupun belum mencapai 100%. Saat Plan dalam workshop melalui simulasi/peer teaching dalam kelompok kecil, didiskusikan tentang Silabus, RPP, dan LKS yang telah dikembangkan sesuai dengan model pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi. Pemahaman peserta masih beranggapan bahwa Silabus yang digunakan adalah silabus yang sudah ada, RPP yang dibuat adalah RPP yang tidak berciri khas model pembelajaran yang akan digunakan, demikian juga LKS yang digunakan atau yang di buat belum sesuai dengan ketentuan. Melalui kegiatan Plan selama workshop dalam kelompok peer teaching, peserta dapat memahami ataupun mengetahui kekurangan yang dilakukan selama ini, sehingga diharapkan dalam pembelajaran di kelas sesungguhnya akan terjadi perubahan di dalam membuat silabus, RPP, dan LKS sesuai dengan model pebelajaran yang digunakan. Pengebangan pembelajaran Jigsaw Modifikasi melalui workshop Lesson Study dalam upaya meningkatkan keprofesionalan guru-guru biologi SMA Kota Denpasar sangat dibutuhkan, hal ini terungkap bahwa peserta sangat antusias baik dalam kegiatan ceramah dan diskusi, maupun dalam praktik melalui peer teaching. Lesson Study dipilih karena selama ini jenis In-service training (INSET) atau pelatihan untuk meningkatkan kemampuan, bertujuan membantu guru memperbaiki kualitas mengajar untuk meningkatkan karir keprofesionalannya dengan mendorong mereka untuk selalu bekerja sama antara mereka sendiri (Ibrohim, 2008). Lesson Study dapat dilakukan oleh sekelompok guru mata pelajaran. Hal ini merupakan salah satu wujud dari pembentukan komunitas belajar di MGMP. Terbentuknya komunitas belajar merupakan sarana untuk pengembangan diri setiap guru. Di samping itu Lesson Study dan pengembangan komunitas belajar di MGMP akan meningkatkan rasa kebersamaan dan kolegialitas antarguru. Kegiatan seperti ini akan sangat bermanfaat bagi masing-masing guru yang terlibat di dalamnya. Karena itu, Lesson Study dapat dijadikan salah satu alternatif sarana bagi guru agar dapat saling membina dan mengembangkan keprofesionalan mereka karena dapat dilakukan bersama-sama dengan rekan guru lain sehingga mereka dapat saling menyemangati, secara rutin, terus menerus, berbasis pada kebutuhan riil guru dalam mengembangkan pembelajaran, dan bertempat di MGMP (disebut LSMGMP). Lesson Study juga dapat dilaksanakan di sekolah oleh MGMPS ataupun oleh beberapa guru yang tidak sebidang studi. LS semacam ini disebut sebagai Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS). Bagaimana guru dapat berkomitmen melaksanakan Lesson Study, Syarat utamanya adalah sikap positif guru terhadap LS dan terhadap kerjanya sebagai pendidik. Guru dapat berkomitmen dalam melaksanakan LS apabila di dalam hatinya ada kemauan yang kuat untuk memajukan anak bangsa karena cintanya pada bangsa dan negara ini. Guru dan dosen yang cocok untuk melaksanakan LS adalah yang memiliki semangat “melayani” anak didiknya. Agar dapat melayani, seorang guru perlu terlebih dahulu memiliki 3 sikap: (1) rendah hati: artinya tidak merasa seolah-olah dia yang paling pintar di kelas, merasa superior terhadap siswanya; (2) menghormati: artinya tidak menganggap siswanya tidak tahu apa-apa mengenai pembelajaran yang akan dibelajarkan hari itu, karena sebenarnya siswanya sudah memiliki pengetahuan awal mengenai materi yang akan dibelajarkan; dan (3) rasa cinta untuk belajar bersama siswanya, saling asah, saling asih, dan saling asuh, karena di mata Tuhan guru dan siswa sama-sama sebagai pebelajar. Dengan semangat mau “melayani” inilah maka guru akan mampu berkomitmen, artinya mau menyediakan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk melaksanakan LS (Susilo, 2011). KESIMPULAN DAN SARAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 210

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) KESIMPULAN Kegiatan workshop pengembangan pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi melalui Lesson Study dalam meningkatkan keprofesionalan guru biologi SMA Kota Denpasar, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, setelah mengikuti kegiatan workshop, ada peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman pembelajaran kooperatif secara umum dan khususnya model pembelajaran kooperatif Jigsaw Modifikasi. 2. Guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, setelah mengikuti kegiatan workshop, ada peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman Lesson Study 3. Guru-guru Biologi SMA Kota Denpasar, setelah mengikuti kegiatan workshop dapat menghasilkan perangkat pembelajaran berupa, Silabus, RPP, dan LKS yang berciri khas dengan model pebelajaran SARAN 1. Bagi peserta workshop, agar dapat mengiplementasikan, apa yang diperoleh kedalam kelas sebenarnya 2. Bagi guru-guru MGMP Biologi diharapkan dapat saling berkolaboratif dengan baik berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas, untuk membangun komunitas belajar yang baik. 3. Bagi guru-guru MGMP Biologi harus sudah memulai mepertimbangkan untuk mau mencoba melaksanakan Lesson Study yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa yang akan dibelajarkannya. 4. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan baik tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota di Bali, agar dapat mensosialisasikan Lesson Study sebagai sarana untuk peningkatan keprofesionalan guru melalui pelatihan-pelatihan ataupun dalam bentuk seminar Lesson Study. DAFTAR RUJUKAN Arends, L..Richard. 2007. Learning to Teach: Belajar untuk Mengajar buku 2, Terjemahan oleh: Helly Prajitno Soetjipto dan Sri MulyantiniSoetjipto.2008.Yogyakarta:Pustaka Pelajar. BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: BSNP. BSNP. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan RI nomor 41, tahun 2007, Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: BSNP. Ibrohim. 2006. Pengalaman IMSTEP dalam Implementasi Lesson Study. Makalah disajikan dalam Pelatihan Pengembangan Kemitraan LPTK-Sekolah dalam rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran MIPA di Yogyakarta, 27-29 Juli 2006. Johnson.D.W.,Roger,T.Johnson, Edythe Johnson Holubec.2004.Colaborative Learning, Startegi Pembelajaran untuk Sukses Bersama. Terjemahan oleh Narulita Yusron.2010.Bandung Ujungberung:Nusa Media. Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 22 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan Dasar dan Menengah.2006, Jakarta:CV.BP.Panca Bakti. Syamsuri, I., Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran), Model Pembinaan Pendidikan secara Kolaboratif dan Berkelanjutan dipetik dari Program SISTTEMS-JICA di Kabupaten Pasuruhan, Jawa Timur (2006-2008), Malang, FMIPA UM. Susilo.H. (2011).Lesson Study Sebagai Alternatif Sarana Peningkatan Kualitas Pembelajaran dan Pengembangan Keprofesionalan Guru Biologi . Makalah disajikan dalam Workshop

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 211

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Modifikasi melalui Lesson Study untuk Meningkatkan Keprofesionalan Guru Biologi SMA Kota Denpasar, Denpasar, 25 dan 26 Juli. Tilaar,H.A.R.2009. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 212

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN KEMAMPUAN PROSES KOGNISI MAHASISWA MELALUI PENGGUNAAN LEMBAR KERJA

Andi Asmawati Azis, Adnan, Arsyad Bahri
Dosen Jurusan Biologi FMIPA UNM

Abstrak: Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan proses kognisi mahasiswa melalui penggunaan lembar kerja. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil 2011/2012 dengan objek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi angkatan 2010 pada mata kuliah Perkembangan Hewan. Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas 2 siklus dengan menerapkan lesson study pada setiap siklusnya. Tahapan lesson study meliputi tahapan plan, do dan see. Tahapan plan meliputi penyusunan Silabus dan RPP serta Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) yang dilakukan secara bersama-sama oleh tim dosen. Selanjutnya tahapan do adalah penerapan langsung pada proses perkuliahan di kelas sesuai dengan RPP yang telah disusun. Pada kegiatan inti, digunakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan LKM. Tahapan yang ketiga adalah see yang meliputi kegiatan refleksi proses perkuliahan yang telah dilaksanakan. Evaluasi akhir mengenai kemampuan mahasiswa pada berbagai dimensi proses kognitif dilakukan dengan menganalisis LKM yang telah diselesaikan oleh mahasiswa. Selanjutnya, data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya mahasiswa mampu berpikir pada level kognisi C1 dan C2, sedangkan kemampuan berpikir pada level C4, C5 dan C6 tergolong rendah. Aktivitas mahasiswa selama berlangsungnya pembelajaran baik pada open lesson 1 maupun pada lesson 2 sangat menggembirakan. Secara umum mahasiswa aktif dan fokus pada masalah pembelajaran mulai dari awal hingga akhir. Mahasiswa aktif melakukan tanya jawab dan diskusi di dalam kelompoknya maupun pada saat dilakukan diskusi kelas. Mereka sudah lebih berani mengemukakan pertanyaan-pertanyaan, dan mengungkapkan pendapatnya terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Kesimpulannya, penggunaan LKM dalam proses pembelajaran mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan proses kognisi mahasiswa. Lesson study dengan penggunaan lembar kerja akan meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa. Kata kunci: Proses kognisi, LKM, lesson study

Pendidikan kita saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius. Krisis ini tidak saja disebabkan oleh anggaran pemerintah yang sangat rendah, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, dan visi serta politik pendidikan nasional yang tidak jelas. Dalam berbagai forum seminar muncul kritik; konsep pendidikan telah tereduksi menjadi pengajaran, dan pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan kelas, sementara yang berlangsung di kelas tidak lebih dari kegiatan guru mengajar murid dengan target kurikulum. Sisi lain dari kritik di atas sedikitnya menggambarkan bahwa proses pendidikan kurang sekali memberi tekanan pada pembentukan watak atau karakter, tetapi lebih pada hafalan dengan proses kognisi yang rendah. Akibatnya, ketika mereka masuk kedunia perguruan tinggi, mental akademik dan kemandirian belum terbentuk. Akibat lebih lanjut, dunia kampus seakan merupakan dunia yang terpisah yang tidak menjanjikan dan tidak inspiring untuk masa depan mereka serta masa depan bangsa. (Silberman, 2000). Permasalahan pembelajaran di perguruan tinggi, khususnya di LPTK dapat menjadi salah satu penyebab menurunnnya kualitas guru. The World Bank (2005) meneliti tentang perbandingan akses dan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 213

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) kualitas tentang prestasi pendidikan di beberapa negara seperti Jepang, Korea, Hongkong, Australia, Thailand dan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia hanya mencapai tingkatan berpikir rendah, yaitu pengetahuan, pemahaman dan aplikasi, sedangkan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, evaluasi dan kreativitas masih sangat rendah (Ditnagadikti, 2008). Sejumlah hasil penelitian melaporkan bahwa proses kognisi siswa diberbagai sekolah juga belum berkembang secara optimal. Lestasi (2002 dalam Widodo, 2006) menemukan bahwa sebagian besar pertanyaan-pertanyaan guru merupakan pertanyaan tertutup pada jenjang kognisi C1 dan C2 saja. Hal serupa juga dilaporkan oleh Fahirah, 1997; Rahayu, 2001 dalam widodo, 2006; Widodo, Sumiati dan Setiawati, 2006). Rendahnya proses kognisi siswa dalam pembelajaran baik pada jenjang sekolah menengah maupun perguruan tinggi (LPTK) menunjukkan adanya kekurangan dalam proses pembelajaran dan perkuliahan di perguruan tinggi. Melalui kegiatan Lesson study, diharapkan agar proses kognisi mahasiswa meningkat melalui pemanfaatan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM). LKM yang dirancang dalam penelitian ini didasarkan pada pandangan konstruktivis, sehingga memungkinkan mahasiswa belajar secara aktif dan bermakna. Selain itu kegiatan ini juga melingkatkan kekolegaan antar dosen dalam membelajarkan mahasiswa melalui tukar menukar pengetahuan dan pengalaman. Melalui penggunaan LKM, memungkinkan mahasiswa belajar secara konstruktivis. Penggunaan LKM dalam proses perkuliahan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dimensi proses kognisi mahasiswa, yakni mengkondisikan mahasiswa dalam menggunakan proses berpikir yang lebih tinggi. Pengembangan LKM dilakukan dengan mengacu pada revisi taksonomi Bloom oleh Anderson dan Karthwohl (2001). Taksonomi yang direvisi melakukan pemisahan yang tegas antara dimensi pengetahuan dengan dimensi proses kognitif. Kalau pada taksonomi yang lama dimensi pengetahuan dimasukkan pada jenjang paling bawah (Pengetahuan), pada taksonomi yang baru pengetahuan dipisahkan dari dimensi proses kognitif, sehingga dalam taksonomi baru menunjukkan dua dimensi, yaitu dimensi proses kognitif (C1 s/d C6) dan dimensi pengetahuan (pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi). Pemisahan ini dilakukan sebab dimensi pengetahuan berbeda dari dimensi proses kognitif. Pengetahuan merupakan kata benda sedangkan proses kognitif merupakan kata kerja. Melalui penggunaan LKM yang mengacu pada revisi taksonomi Bloom, lebih memudahkan dosen untuk mengembangkan kemampuan kognisi mahasiswa ke arah yang lebih tinggi dan diharapkan dengan LKM tersebut mahasiswa akan dibiasakan berlatih dengan proses kognisi yang lebih tinggi, bukan sekedar menghafal fakta-fakta. Melalui Kognisi yang terkondisi menekankan pentingnya konteks dan interaksi dalam proses konstruksi pengetahuan. Greeno (1989) berpendapat bahwa berpikir terletak dalam konteks fisik dan sosial, sehingga kognisi (termasuk berpikir, mengetahui, dan pembelajaran) harus dianggap sebagai hubungan dalam situasi, dari pada aktivitas dalam pikiran individu. Berpikir melibatkan individu-individu yang konstruktif dan interaksi kognitif dengan objek, bukan hanya proses dan manipulasi simbol-simbol yang terjadi dalam pikiran individu. Mengetahui adalah produk dari kegiatan intelektual siswa secara personal dan sosial sehingga guru harus membuat pengaturan sosial untuk mendukungnya (Mattar, 2010). Penanaman kemampuan berpikir kritis pada siswa merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan. Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan penelitian yang diangkat adalah apakah penggunaan Lembar Kerja Mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan proses kognisi mahasiswa pada berbagai dimensi pengetahuan? Diharapkan melalui penggunaan LKM proses kognisi mahasiswa dapat ditingkatkan pada berbagai level pengetahuan. METODE Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada semester ganjil 2011/2012 dengan objek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi angkatan 2010 pada mata kuliah Perkembangan Hewan. Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas 2 siklus dengan menerapkan lesson study pada setiap siklusnya. Tahapan lesson study meliputi tahapan plan, do dan see. Tahapan plan meliputi penyusunan Silabus dan RPP serta Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) yang dilakukan secara bersama-sama oleh tim dosen. Selanjutnya tahapan do adalah penerapan langsung pada proses perkuliahan di kelas sesuai

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 214

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan RPP yang telah disusun. Pada kegiatan inti, digunakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan LKM. Tahapan yang ketiga adalah see yang meliputi kegiatan refleksi proses perkuliahan yang telah dilaksanakan. Evaluasi akhir mengenai kemampuan mahasiswa pada berbagai dimensi proses kognitif dilakukan dengan menganalisis LKM yang telah diselesaikan oleh mahasiswa. Selanjutnya, data dianalisis secara kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pelaksanaan open lesson 1 dan 2 ditemukan bahwa pada umumnya mahasiswa masih sangat mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas/soal-soal LKM pada level kognisi yang lebih tinggi. Hasil selengkapnya ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Kemampuan Mahasiswa Menyelesaikan LKM pada berbagai Dimensi Proses Kognitif Pada Open Lesson 1 dan 2
Open Lesson 1 2 Jumlah mahasiswa 51 orang Jumlah Mahasiswa C1 C2 51 43 51 48 C3 C4 21 26 C5 17 16 C6 14 -

Hasil pada tabel 1 di atas tidak bermaksud membandingkan antara open lesson 1 dan 2, melainkan memberikan gambaran tentang kemampuan mahasiswa dalam dimensi proses kognitifnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada umumnya mahasiswa mampu berpikir pada level kognisi C1 dan C2, sedangkan kemampuan berpikir pada level C4, C5 dan C6 tergolong rendah. Pada tabel 1, level kognisi C3 tidak muncul karena tidak ada LKM yang dirancang pada level kognisi tersebut. Aktivitas mahasiswa selama berlangsungnya pembelajaran baik pada open lesson 1 maupun pada lesson 2 sangat menggembirakan. Secara umum mahasiswa aktif dan fokus pada masalah pembelajaran mulai dari awal hingga akhir. Mahasiswa aktif melakukan tanya jawab dan diskusi di dalam kelompoknya maupun pada saat dilakukan diskusi kelas. Mereka sudah lebih berani mengemukakan pertanyaanpertanyaan, dan mengungkapkan pendapatnya terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi. (data secara detail tentang aktivitas mahasiswa belum terolah hingga tahapan open lesson 2). Rendahnya kemampuan mahasiswa berpikir pada level kognisi yang lebih tinggi tidak lepas dari problem pembelajaran masa lampau. Para pendidik menginginkan peserta didik untuk menggunakan orde kognitif yang tinggi seperti berpikir kritis, tetapi cenderung dalam prakteknya berfokus pada upaya siswa menghafal atau tugas yang diberikan berada pada tingkat kognitif yang lebih rendah (McKeachie, Pintrich, Lin, & Smith, 1986 dalam Arend, B, 2009). Penanaman kemampuan berpikir kritis pada siswa merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan. Pemikiran kritis bukan sekedar pengetahuan atau keterampilan, melainkan merupakan pengembangan dan penggunaan secara terus-menerus kemampuan analisis (Scriven & Paul, 2005 dalam Arend, B, 2009). Berpikir kritis dipandang sebagai keterampilan hidup yang sangat diperlukan. Proses peningkatan berpikir pada level kognisi yang lebih tinggi pada dasarnya menciptakan kebiasaan refleksi dan mempertanyakan setiap aspek dalam kehidupan (King, 1995; Scriven & Paul, 2005 dalam Arend, B, 2009). Kaitan dengan aktivitas mahasiswa selama pembelajaran, baik pada open lesson 1 maupun 2 menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi. Menurut Rolan (2000) Siswa terlibat dalam pemikiran kritis ketika mereka: (i) mencari pernyataan yang jelas tentang masalah atau pertanyaan. (ii), mengumpulkan, memilih dan menghubungkan informasi relevan untuk mendapat informasi, (iii) memantau pemikiran mereka sendiri dan kemajuan. (iv), menahan diri, (v) berpikiran terbuka, (vi) mengidentifikasi dan menantang asumsi, (vii) mempertimbangkan poin demi poin, (viii) mencari alternatif, (ix) mendeteksi bias, (x) mengidentifikasi variabel fakta, pendapat dan alasan penilaian, (xi) menentukan akurasi faktual dan kekuatan suatu argumen atau klaim, (xii) menentukan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 215

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) kredibilitas sumber, (xiii) jujur dan sensitif dengan orang lain, (iv) berurusan dengan ambiguitas, (xv) berjuang untuk presisi, definisi dan kejelasan, (xvi) tetap menjadi titik utama, dan (xvii) menangguhkan penilaian bila cukup bukti. Sejumlah aktivitas seperti yang dikemukkan oleh Rolan dapat dikondisikan melalui pemanfaatan LKS yang memang dirancang untuk tujuan tersebut. Contoh-contoh LKM terlampir. LKM yang dirancang berdasarkan pembelajaran konstruktivistik akan menantang mahasiswa untuk berpikir pada orde kognitif yang lebih tinggi. LKM tersebut dirancang berdasarkan teori bahwa siswa tidak belajar dengan langsung menghafal informasi dari dunia luar atau dengan pemindahan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan bahwa siswa belajar dengan aktif mengorganisir dan membuat makna informasi dalam cara mereka sendiri (Ormrod, 2004; Prawat & Floden, 1994 dalam Haruthaithanasan, 2010). Dengan cara ini, siswa membangun pengetahuan mereka sendiri atau ide-ide yang bermakna dengan menghubungkan informasi yang baru diterima ke pengetahuan dan pengalaman mereka (Alexander et al, 1991;. Blumentritt & Johnston, 1999 dalam Haruthaithanasan, 2010). Ini juga berimplikasi bahwa siswa belajar dengan cara mereka sendiri (Bonk & Cunningham, 1998), dan pendekatan pembelajaran mereka berpusat pada siswa dan pembelajaran kognitif (Ormrod, 2004 dalam Haruthaithanasan, 2010). Konstruktivisme mendefinisikan pengetahuan sebagai 'produk pembelajaran aktif' (Cobern dan Loving 2001; Confrey dan Kazak 2005; Quale 2002 dan 2005; Siegel 2005 dalam Shumba, 2011). Ini berarti bahwa berarti belajar secara aktif harus melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran (Shumba, 2011). Pengkondisian pembelajaran yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif membutuhkan LKM yang yang dirancang untuk tujuan belajar secara aktif. Beberapa kontribusi positif dan implikasi konstruktivisme dalam pembelajaran adalah: (1) belajar dan mengajar menjadi lebih terpusat pada siswa, (2) pendidikan menjadi lebih manusiawi, (3) jika diasumsikan bahwa siswa harus membangun pengetahuan mereka sendiri, harus dipertimbangkan bahwa siswa bukan blanko kosong, (4) siswa adalah makhluk yang rasional, (5) jika guru ingin memodifikasi konsep siswa dan struktur-struktur konseptual, guru harus merancang sebuah model berpikir bagi siswa tersebut, (6) meminta sisa untuk menjelaskan bagaimana siswa sampai pada sebuah jawaban, dan (7) memberi kesempatan bagi siswa untuk mencari cara menyelesaikan masalah (Holton, 2010). Menurut Kitto (2010) semua hasil pembelajaran siswa yang diperoleh melalui penerapan konstruktivisme sosial dan kognitif lebih lebih baik, walaupun dalam implementasinya membutuhkan perancangan tema agar keaktifan siswa lebih merata. Konstruktivisme adalah teori belajar yang menekankan pentingnya peserta didik secara aktif membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan makna dari pengalaman yang mereka alami (Doolittle and Camp, 2010). KESIMPULAN 1. Penggunaan LKM dalam proses pembelajaran mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan proses kognisi mahasiswa. 2. Lesson study dengan penggunaan LKM akan meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa.
DAFTAR RUJUKAN Arend, B. 2009. Encouraging Critical Thinking in Online Threaded Discussions. The Journal of Educators Online, (6)1. Doolittle, P.E & Camp, W.G. 2010. Constructivism: The Career and Technical Education Perspective. Virginia: Viginia Polytechnic Institute & State University. Haruthaihanasan, T. 2010. The effects of experiences with constructivist instruction on attitude toward democracy among Thai College Students. Desertation, the Faculty of the Graduate School at the University of Missouri Holton, D.L. 2010. Constructivism, Embodied, Enactivism: Theoretical and Practical Implication for Conceptual Change. AERA Conference. Utah State University. http://usu.academia.edu/edtechdev//Constructivism_Embodied, diakses pada 1 November 2010.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 216

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Kitto, K.L. 2010. Understanding The Effectiveness of Cognitive and Social Constructivism, Elements of Inductive Practice, and Student Learning Styles on Selected Learning Outcomes in Materials Engineering. 40th ASEE/IEEE Frontiers in Education Conference. Mattar, J.A. 2010. Constructivism And Connectivism In Education Technology: Active, Situated, Authentic, Experiential, and Anchored Learning. Boise State University. http://www.google.co.id/search?as_q=constructivism, diakses pada 28 Oktober 2010. Shumba, A. 2011. Theachers’ conceptions of the constructivist model of science teaching and student learning. Journal Anthropologist, 13(3):175-183 Roland, C. 2000. Teaching for Critical and Creative Thinking. http://www.google.co.id /search?as_critical and creative thinking, diakses pada 7 November 2010. Widodo, A. 2006. Profil Pertanyaan Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Sains. Jurnal penelitian pendidikan, 4(2):139-148 Yamin, M. 2008. Pradigma pendidikan konstruktivistik. Jakarta: Gaung Persada Press.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 217

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

DESAIN PROGRAM DIKLAT PARTISIPATIF UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU BIOLOGI SMA

Haksan Darwangsa1), Ari Widodo 2) Sri Redjeki3)
1) 2,3)

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kaltim. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak: Desain program diklat partisipatif ini bertujuan untuk mengembangkan program diklat yang telah ada dalam upaya mencapai hasil yang efektif. Dari hasil identifikasi kebutuhan guru biologi SMA maka program diklat didesain dengan melibatkan calon peserta diklat secara bersama-sama untuk merumuskan tujuan dan cara pencapaian tujuan program tersebut. Dengan mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh guru-guru dan melibatkan secara aktif sejak perencanaan, pelaksanaan sampai pada evaluasi program diklat guru-guru dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan akan termotivasi dan memiliki keinginan yang kuat untuk lebih berpartifasi aktif dalam mencapai tujuan progaram diklat tersebut. Untuk mendesain program ini diperlukan data-data awal mengenai pola-pola pelaksanaan diklat yang telah dilakukan oleh instansi terkait, seperti LPMP atau Dinas Pendidikan serta mengidentifikasi secara akurat kebutuhan guru-guru di lapangan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data tersebut melalui instrumen, wawacara, dan analisis program diklat yang telah dilaksanakan di LPMP. Hasil analisis program diklat yang ada di salah satu LPMP di Indonesia mulai dari tahun 2007 sampai 2011 menunjukkan bahwa pola pelaksanaan diklat masih bersifa top down. Beradasarkan hasil survei terhadap guru-guru yang pernah mengikuti diklat menunjukkan bahwa 70% guru tidak dilibatkan dalam perencanaan program diklat. Lebih lanjut hasil studi tersebut menunjukkan sekitar 94.7% menyatakan setuju dan sangat setuju kalau para peserta diklat terlibat/dikutsertakan sejak perencanaan program diklat. Hasil analisis data dari responden yang tersebar pada 3 lokasi yaitu Kota Samarinda, Kab Kuningan dan Kab Subang didapatkan bahwa subjek materi/materi akademik yang diperlukan berdasarkan urutan kebutuhannya yaitu; Bioteknologi, Metabolisme, Genetika Sel dan Sistem Regulasi Manusia sedangkan untuk materi pedagogi/kependidikan urutan kebutuhannya yaitu; Media pembelajaran, Pengelolaan Laboratorium Biologi dan Model-model pembelajaran. Berdasarkan hasil tersebut maka model diklat yang dapat diharapkan untuk dapat peningkatan profesionalisme guru yaitu melalui pendekatan partisipatif. Keyword: Diklat Partisipatif, Kebutuhan Diklat , Bioteknologi, dan Media Pembelajaran.

PENDAHULUAN Beberapa tahun terakhir ini berbagai perubahan, pengembangan dan transformasi telah berlangsung dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan telah banyak mengalami perubahan mendasar bagi upaya peningkatan mutu pendidikan khususnya upaya-upaya peningkatan kesejahteraan bagi para tenaga pendidik yang diimbangi dengan peningkatan profesional guru. Sejalan dengan fakta ini, keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dengan adanya sejumlah pengetahuan profesional, keterampilan profesional dan perilaku profesional yang dimiliki dan baik secara profesi maupun secara individu dalam rangka untuk mengambil alih tanggung-jawab baru, untuk memenuhi peran baru mereka, dan memenuhi tuntutan serta kebutuhan berbeda dari siswa mereka dan masyarakat dimana mereka bekerja sebagai guru dan menjadi pemrakarsa serta agen perubahan, pengembang, dan transformasi di dalam masyarakat. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 218

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Dalam hubungan dengan keadaan ini, Ozen (2007), menyatakan ketika agen perubahan dalam bidang pendidikan, guru membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mendidik semua siswa dalam usaha meningkatkan ekspektasi serta standar kinerja untuk menjadi kompetitor terpercaya dalam ekonomi global . Dalam situasi seperti ini sangat penting bagi pengembangan profesional guru dan salah satu yang dapat dipandang perlu dari kenyataan ini adalah melalui program In-Service Education and Training (INSET) sebagai suatu pertimbangan yang menjadi peluang bagi guru untuk mengembangkan diri,baik secara profesi maupun secara individu ( Ozen, 2007). Guru merupakan agen sentral pendidikan dalam mencerdaskan bangsa. Ini dibuktikan dengan kenyataan di lapangan bahwa apa yang siswa pelajari sangat dipengaruhi cara siswa dibelajarkan oleh gurunya(NRC,1996 :28). Dinyatakan bahwa guru sains yang efektif akan menciptakan lingkungan yang memungkinkan guru dan para siswanya bekerja bersama sebagai pebelajar yang aktif. Sementara siswanya belajar berinteraksi langsung dengan sumber belajar, guru sains belajar memahami bagaimana siswa yang berbeda dalam minat, kemampuan, dan pengalaman menjadi belajar sains dan belajar bagaimana guru memberikan dukungan dan bimbingan yang efektif kepada siswanya. Selanjutnya, NRC (1996 : 57) menyatakan bahwa pengembangan profesional guru harus berlangsung secara berkelanjutan dan sepanjang hayat, paling tidak sejak mahasiswa hingga akhir karir profesionalnya. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan National Science Teacher Association (NSTA, 1988) bahwa standar penyiapan guru sains meliputi tiga tingkatan yaitu tingkatan preservice, guru pemula, dan guru profesional. Dengan demikian, guru harus selalu meningkatkan kemampuan diri hingga menjadi profesional. Seiring Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen semakin mengisyaratkan akan penting tuntutan profesionalisme guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Menurut Morant(1981) menyatakan kebutuhan profesional guru meliputi; kebutuhan induksi, kebutuhan ekstensi, kebutuhan penyegaran, dan kebutuhan konversi. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pengembangan profesi guru masih jauh dari harapan, sehingga diperlukan suatu model pengembangan profesi melalui pendekatan diklat yang sesuai dengan tuntutan profesinya sebagai guru biologi dan kebutuhan yang diperlukan di lapangan. Dalam upaya memperbaiki sistem diklat tersebut, di Yogyakarta dikembangkan Pelatihan model demand driven (Soenarto, 2000). Model ini mempunyai karakteristik antara lain; materi dikembangkan dari analisis kebutuhan, seleksi peserta menerapkan sistem obyektifitas, pelaksanaan memenuhi prinsip-prinsip profesionalitas, perbaikan dalam pemantauan dan evaluasi. Kelemahan model ini antara lain: (1) hasil analisis kebutuhan bersifat umum, (2) jumlah peserta cukup banyak, (3) sosialisasi dilakukan melalui birokrasi. Adanya berbagai penyimpangan dalam pelaksanaan di lapangan menyebabkan kurang berkembangnya sistem ini (Soenarto,2000). Pelatihan dengan model pembelajaran IPA berbasis pada organisasi belajar bagi guru sekolah dasar menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan profesionalisme secara signifikan pada penguasaan konsep, keterampilan proses, kemampuan melakukan pembelajaran IPA (Sarwanto,2008). Departemen Pendidikan Nasional melalui kegiatan Science Education Quality Improvement Project(SEQIP) sedang melakukan sistem diklat yang bertujuan untuk pembaharuan metode pembelajaran IPA di tingkat sekolah dasar(Rusdi, 2007). Diklat SEQIP ini diikuti oleh pemandu bidang studi(PBS) IPA dengan menggunakan pendekatan discovery/penemuan (Suwono, 2002). Kegiatan diklat yang dilaksanakan ini mampu meningkatkan pemahaman konsep IPA bagi PBS (Ibrohim, 2000; Suwono, 2002). Lebih lanjut dikatakan bahwa beberapa kelemahan dari sistem SEQIP ini antara lain; (1) orientasi pelatihan adalah penggunaan kit SEQIP, sementara jumlah kit SEQIP terbatas, (2) materi pendalaman konten dirasakan cukup berat, sehingga banyak PBS yang mengundurkan diri karena merasa tidak mampu mengikutinya. Sementara menurut Suwono (2002) kelemahan lainnya adalah waktu diklat yang terlalu lama (9 minggu dalam waktu 5 bulan) sehingga mengganggu aktivitas pembelajaran serta guru PBS dan enggan melakukan pengimbasan pada guru-guru dalam satu gugus. Supriadi (2003) mengungkapkan bahwa kelemahan dari sistem diklat guru di Indonesia adalah manajemen pelaksanaan pelatihan, diklat yang selama ini dilaksanakan selalu menggunakan dana besar yang berasal dari anggaran pemerintah atau pinjaman luar negeri. Kegiatan diklat yang seharusnya menjadi tugas dan pekerjaan rutin bagi guru-guru pun “diproyekkan”. Kelemahan manajemen pelaksanaan sistem

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 219

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) diklat adalah: (1) sering terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan diklat, (2) lemahnya sistem tindak lanjut, (3) sistem monitoring dan evaluasi yang tidak konsisten. Kondisi ini mengakibatkan inovasi lembaga/sekolah untuk meningkatkan profesionalisme berdasarkan kemampuan yang dimilikinya menjadi sangat rendah. Model pelatihan partisipatif yang dikembangkan oleh Sudjana sejak tahun 1979 merupakan adaptasi dari model pelatihan yang dikembangkan oleh Centre for International Education(CIE) University of Massachussetts yang dikenal dengan Model Sembilan Langkah. Model ini telah banyak diujicobakan pada berbagai jenis pelatihan khususnya pada pendidikan non formal di berbagai instansi. Namun secara khusus pengembangan model ini pada guru untuk jenjang pendidikan formal belum dilakukan. Sudjana (2000a) karakteristik model ini adalah adanya kegiatan pembelajaran partisipatif yang terdiri atas kegiatan membelajarkan dan kegiatan belajar terjadi keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan merencanakan, melaksanakan, dan menilai kegiatan pembelajaran. Lebih lanjut dijelaskan bahwa model ini memiliki prinsip-prinsip pembelajaran yang berdasarkan kebutuhan belajar (learning need), berorientasi pada tujuan pembelajaran (learning objectives oriented), belajar berdasarkan pengalaman (exprienteal learning), dan berpusat pada peserta didik (participant centred. Rae (2005) menyatakan bahwa pendekatan identifikasi kebutuhan belajar peserta diklat adalah dengan cara meminta peserta mengambil bagian dalam beberapa kegiatan, mereka menggambarkan hal-hal seperti apa yang mereka harapkan dari program pelatihan. Keikutsertaan peserta dalam memberikan informasi secara aktif mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam pengembangan profesinya menjadi salah satu pokok penting dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum diklat partisisipatif yang efektif. B. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik, dengan populasi adalah guru-guru biologi SMA pada lokasi yakni Kota Samarinda, Kab. Kuningan dan Kab Subang dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang guru biologi SMA yang tersebar pada 3 lokasi tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2010 dengan menyebarkan instrumen-instrumen pada guru secara bertahap serta melakukan wawancara terhadap beberapa guru untuk memperoleh informasiinformasi yang dianggap penting untuk penyusunan progaram. C. Hasil dan Pembahasan Dari hasil kajian dokumentasi program diklat yang dilaksanakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan(LPMP) Kalimantan Timur dalam kurung waktu dari tahun 2007 sampai 2010 terlihat pada Tabel 1.1 berikut ini Tabel 1.1 Program-program Diklat yang Dilaksanakan oleh LPMP Kaltim
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Diklat Pembekalan Pendidikan Matematika Realistik Pembekalan Guru Kelas Berkualifikasi Menjadi Guru Penjas SD Workshop Diklat Sistem Jarak Jauh Bahasa Inggris Pengembangan KTSP Bagi Guru SD Pembekalan Penggunaan Alat Peraga Matematika Bagi Guru SD TOT Peningkatan Kompetensi (CLCC SD,PUD,PLB) Lesson Study Pendidikan Matematika Realistik Indonesia Pengelolaan sistem Jarak Jauh Bahasa Inggris Workshop Peningkatan Mutu PTK SBI Peningkatan Kompetensi Pengelola Laboratorium Pembekalan Program KTSP Peningkatan Kompetensi Tenaga Laboran Workshop Peningkatan Mutu PTK SBI Pembekalan Program Lesson Study(Jica) Tahun 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2008 2008 2008 2008 2009 2009 2009 2009 Pelaksana LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP Jumlah Peserta 100 orang 40 orang 20 orang 80 orang 70 orang 60 orang 20 orang 100 orang 20 orang 39 orang 40 orang 40 orang 39 orang 40 orang

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 220

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
16 17 18 19 20 Pembekalan Program CLCC Pembekalan Kelompok Kerja(Lesson Study, KTSP,CLCC) Peningkatan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Penilaian Pembekalan Pengawas dan Kepala Sekolah Workshop Peningkatan Mutu PTK SBI 2009 2010 2010 2010 2010 LPMP LPMP LPMP LPMP LPMP 60 orang 40 orang 70 orang 40 orang 29 orang

Sumber : LPMP Kaltim (2011) Berdasarkan tabel tersebut di atas terlihat bahwa progaram diklat yang oleh LPMP Kaltim sangat kurang bahkan jenis diklat yang khusus untuk guru-guru biologi SMA tidak ada, berdasarkan hasil wawancara dengan penanggung jawab program diklat dan Kepala LPMP Kaltim beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya program diklat yang dilaksanakan oleh LPMP; (1) sumber pendanaan dari pusat sangat terbatas (2) program-program LPMP lebih difokuskan pada pemberdayaan MGMP/KKG melalui blockgrant, sehingga LPMP hanya berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh MGMP/KKG pada masing-masing dinas pendidikan Kab/Kota. Dari hasil wawancara dan kajian program yang dilakukan ternyata bahwa program-program yang dilaksanakan di LPMP ini sebagian besar merupakan desain dari pusat dan LPMP hanya melaksanakan apa yang telah diprogramkan tersebut. Program diklat yang biasa dilaksanakan di LPMP atau di Dinas Pendidikan Kab/Kota melalui pola kemitraan antara LPMP dengan Dinas Pendidikan Kab/Kota. Dari hasil analisis instrumen didapatkan bahwa sekitar 70% guru tidak dilibatkan dalam perencanaan program diklat, 20% dilibatkan dalam bentuk mengisi angket/kuesioner, sekitar 10% guru kadang terlibat kadang tidak. Lebih lanjut hasil studi tersebut menunjukkan sekitar 73.7% menyatakan setuju kalau para peserta diklat terlibat/dikutsertakan sejak perencanaan program diklat, sekitar 21 % menyatakan sangat setuju dan 5.3 % menyatakan tidak setuju. Hasil survei tersebut juga menunjukkan sekitar 60.9% adanya kesedian guru untuk terlibat dalam penyusunan perencaan program diklat (Darwangsa,2011).Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa diklat yang selama ini dilaksanakan oleh lembaga-lembaga yang memiliki kewenagan untuk itu hanya berdasar pada asumsi-asumsi yang tidak didukung oleh data dan informasi yang valid mengenai apa yang dibutuhakan sebenarnya oleh guru-guru di lapangan. Materi diklat yang selama ini didapatkan oleh guru-guru pada saat ikuti kegiatan lebih didominasi oleh materi-materi ditentukan oleh fasilitator pada institusi tersebut yang belum tentu materi itu dibutuhkan guru. Institusi penyelenggara diklat lebih mengutamakan kepada fasilitator yang dimilikinya tanpa menyesuaikan kebutuhan guru dengan narasumber yang sesuai dengan bidang keahliannya. Pada beberapa instansi penyelenggara diklat di daerah-daerah kalaupun dilakukan identifikasi kebutuhan diklat hanya sebatas menjadi informasi yang tidak digunakan pada saat kegiatan diklat. Fenemona semacam ini semakin menjadikan guru hanya obyek kegiatan proyek sehingga kegiatan diklat dilakukan belum mempunyai dampak yang baik terhadap pengembangan profesionalisme guru. Dari hasil analisis angket terhadap guru menyatakan setuju (100%) jika calon peserta diklat dilibatkan/diikutsertakan dalam perencanaan dan penyusunan program diklat. Hal ini sejalan pandangan Rae (2005) menunjukkan bahwa antusiasme para guru dalam ikut berpartisifasi dalam suatu program diklat sangat tinggi. Kondisi ini menjadi hal yang positif untuk lebih mencapai tujuan dan hasil yang diharapkan dari suatu kegiatan diklat. Hal ini sejalan pandanagan Rae (2005) menyatakan bahwa pendekatan identifikasi kebutuhan belajar peserta diklat adalah dengan cara meminta peserta mengambil bagian dalam beberapa kegiatan, mereka menggambarkan hal-hal seperti apa yang mereka harapkan dari program pelatihan. Keikutsertaan peserta dalam memberikan informasi secara aktif mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam pengembangan profesinya menjadi salah satu pokok penting dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum diklat partisisipatif yang efektif. Hasil identifikasi kebutuhan diklat berdasarkan kompetensi profesional/ materi subyek biologi terlihat seperti Tabel 1 berikuit ini: Tabel.2 Urutan Kebutuhan Diklat Berdasarkan Kompetensi Profesional Guru Biologi SMA.
No Materi/Sub Materi Urutan Rangking Kebutuhan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 221

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Bioteknologi: Pengertian,Prinsip dan Jenis-Jenis Bioteknologi Peran Bioteknologi serta implikasinya dalam sains,lingkungan,teknologi dan masyarakat(Salingtemas) Metabolisme : 2.1. Enzim 2.2. Katabolisme dan Anabolisme Karbohidrat 2.3. Keterkaitan antara proses katabolisme dan anabolisme. 2.4. Keterkaitan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein Genetika : Materi Genetika Sintesis Protein Pembelahan Sel(Mitosis,Meiosis) Prinsip Hereditas dalam pewarisan sifat Mutasi dan Implikasinya dalam Salingtemas Sel : 4.1. Komponen Kimia Sel 4.2. Struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan. 4.3 Organel sel hewan dan tumbuhan 4.4.Mekanisme transport melalui membran(difusi, osmosis,transport aktif). Sistem Regulasi Manusia: 5.1. Sistem Saraf 5.2. Sistem Hormon 5.3. Alat Indera 5.4. Kelainan dan gangguan sistem regulasi pada manusia Pertama II I Kedua III I II IV Ketiga II I III IV V Kempat I II IV III Kelima I II III IV

1

2

3

4

5

Hasil indentifikasi kebutuhan diklat berdasarkan kompetensi pedagogi/kependidikan terlihat pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Urutan Kebutuhan Diklat Berdasarkan Kompetensi Pedagogi Guru Biologi SMA
No 1 Materi/Sub Materi Media Pembelajaran: Penggunaan & Pengembangan Media Pembelajaran (LCD,OHP,dll) Pembuatan Alat Peraga Biologi Penggunaan ICT dalam pembelajaran (Penggunaan internet, e Learning) Pengelolaan Laboratorium Biologi : 2.1. Pengenalan Alat dan Bahan 2.2. Penyiapan Alat dan Bahan 2.3. Pendayagunaan Alat dan Bahan 2.4. Penataan Alat dan Bahan 2.5. Administrasi Alat dan Bahan 2.6. Pemeliharaan Alat dan Bahan 2.7. Keselamatan Kerja Laboratorium Model-Model Pembelajaran: 3.1. Contextual Teaching and Learning (CTL) 3.2. Siklus Belajar (Learning Cycle) 3.3. Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) 3.4. Penncapaian Konsep (Concept Attainment) 3.5. Pembelajaran Berbasis Masalah(PBM) 3.6. Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) 3.7. Pembelajaran Terpadu 3.8. Coopertive Learning (TGT,Jigsaw,STAD) Urutan Rangking Kebutuhan Pertama III II I Kedua III II I IV V VI VII Ketiga I VI V II III IV VII VIII

2

3

Dari Tabel 2 terlihat bahwa subyek materi pokok yang paling dibutuhkan oleh guru-guru biologi secara berurutan yaitu ; (1) bioteknologi, (2) metabolisme, (3) genetika, (4) sel, dan (5) sistem regulasi manusia. Dari hasil wawancara beberapa guru terungkap bahwa yang menjadi alasan perioritas pilihan kelima materi ini didasarkan pada beberapa hal yaitu; (1) materi-materi ini dianggap sulit, (2) cara penyampaian/penyajian materinya juga dianggap sulit, (3) materi-materi tersebut sedang atau akan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 222

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) diajarkan pada kelas-kelas tertentu. Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil penelitian Hamida (2011) yang menemukan bahwa materi yang paling dianggap sulit oleh guru-guru biologi SMA adalah materi metabolisme dan genetika (di kelas XII) serta materi tentang Sel (di kelas XI) baik dari aspek penguasaan konsep maupun dari aspek penyajiannya kepada siswa. Dari tabel 3 terlihat bahwa materi kependidikan/pedagogi yang paling dibutuhkan oleh guru-guru secara berurutan terdiri atas; (1) media pembelajaran, (2) pengelolaan laboratorium biologi, (3) modelmodel pembelajaran. Dari hasil wawancara beberapa guru terungkap bahwa yang menjadi alasan pemilihan materi ini adalah dipengaruhi oleh adanya keterbatasan dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi, strategi/pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi-materi yang pemanfaatan laboratorium biologi sebagai bagian dari proses pembelajaran sangat jarang dilakukan bahkan beberapa ruang laboratorium terlihat peralatan-peralatan yang tidak memenuhi standar dan kurang terpelihara dengan baik. Berdasarkan analisis program-program diklat yang telah ada serta identifikasi kebutuhan guru di lapangan dan berbagai permasalahnnya, maka peneliti mencoba mendesain suatu program diklat guru biologi SMA yang berbasis pada partisipasi calon peserta diklat. Skema program diklat partisipatif tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Standar Profesi Guru Biologi

Identifikasi Kebutuhan Profesi Guru Biologi

Evaluasi Program Diklat
Partisipatif & Kolaborasi

Tujuan Program Diklat

Desain Program Diklat

Konten Diklat

Material Pembelajaran Diklat

Metode Pembelajaran Diklat

Implementasi Program Diklat

Pengembagan Program Diklat Profesionalisme Guru Biologi

Meningkatkan Profesionalisme Guru Biologi

Gambar 1.1 Model Program Diklat Partisipatif.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 223

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) C. Kesimpulan dan Saran Dari hasil kajian proram diklat yang telah dilaksanakan oleh LPMP Kaltim sebagian besar masih bersifat top down, dan keterlibatan calon peserta diklat dalam ikut serta penyusunan program diklat masih sangat rendah(20%). Kebutuhan guru biologi SMA berdasarkan kompetensi propesinalnya terdiri dari materi; (1) bioteknologi, (2) metabolisme, (3) genetika, (4) sel, (5) sistem regulasi manusia. Sedangkan untuk kebutuhan guru berdasarkan kompetensi pedagogi terdiri dari; (1) media pembelajaran,(2) pengelolaan laboratorium biologi, dan (3) model-model pembelajaran. Kebutuhan ini didasarkan pada beberapa hal; (1) kesulitan dalam penguasaan konsep, (2) kesulitan cara pembelajarkan, (3) kesulitan dalam memilih media pembelajaran atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Bagi institusi yang akan melaksanakan diklat guru khususnya guru biologi SMA disarankan memilih materi diklat sesuai dengan urutan rangking kebutuhan tersebut di atas serta menggunakan pola-pola pendekatan partisipatif dalam merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi program yang akan dilaksanakan agar hasil yang diaharpakan dari diklat tersebut dapat lebih efektif dan efesien. DAFTAR PUSTAKA
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta Hamidah, Dida. (2011) Pengembangan program peningkatan profesionalisme guru Biologi SMA melalui penerapan Pedagogical Content Knowledge dalam membelajarkan materi yang sulit. Disertasi Sekolah Pascasarjan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Morant, Ronald,W. (1981). In-Service Education within the School: George Allen & Unwin.London NRC. (1996). National Science Education Standards. Washington: National Academic Press NSTA, 1998, Standards for Science Teacher Preparation Ozen. Rasit. (2008) Inservice Training(INSET) Program Via Distnace Education : Primary School Teacher’ Opinions: Turkish Journal Online of Distance Rducation-TODJE Januari 2008 Rae,Leslie. (2005). The Art of Training and Development: Effective Planning. Jakarta :. Sarwanto. (2008) Pelatihan Pembelajaran IPA Berbasis Organisasi Belajar Bagi Guru Sekolah Dasar. Disertasi Sekolah Pascasarjan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Soenarto. (2000). Model Pelatihan demand driven: Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Sekolah. Proceeding Seminar Nasional. Depdiknas Universitas Negeri Yogyakarta F.MIPA. Sudjana,D (2000a) Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, Bandung: Falah Production Supriadi,D. (2003). Guru di Indonesia: Pendidikan, Pelatihan, dan Perjuangannya Sejak Zaman Kolonial hingga Era Refoemasi.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 224

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENGEMBANGKAN KOLABORASI SEJAWAT DALAM RANGKA PERBAIKAN PEMBELAJARAN MATAKULIAH MORFOLOGI TUMBUHAN MELALUI LESSON STUDY

Eko Sri Sulasmi
Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang Email: ekosulasmi54@yahoo.co.id

ABSTRAK : Morfologi Tumbuhan merupakan matakuliah yang materinya berkaitan dengan struktur dan perkembangan tumbuhan. Matakuliah ini sarat dengan konsep, terminologi, penerapan konsep, dan analisis terhadap fenomena alam, sehingga menuntut pebelajar sebagai pebelajar mandiri yang berkemampuan mengembangkan keterampilan proses, produk dan cakap mengelola perkembangan kognitifnya sendiri. Dosen pengampu matakuliah Morfologi Tumbuhan sering mengalami kesulitan dalam membelajarkan materi perkuliahan ini, demikian pula mahasiswa mengalami kesulitan dalam belajar. Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik. Melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan yang berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning dapat membangun komunitas belajar sehingga menghasilkan banyak pemikiran untuk merancang pembelajaran yang efektif dan efisien. Implementasi Lesson Study (LS) pada matakuliah Morfologi Tumbuhan semester gasal tahun akademik 2011/2012 dilaksanakan dalam 4 putaran (PlanDo-See). Tim LS sebanyak 9 orang yang merupakan kolaborasi antara dosen pengampu matakuliah dengan mahasiswa asisten. Dosen pengampu matakuliah bertindak sebagai dosen model, sedangkan mahasiswa asisten sebagai observer. Kolaborasi sejawat melalui LS dapat menemukan berbagai permasalahan dalam pembelajaran yang segera mendapatkan solusinya untuk perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Perbaikan proses pembelajaran meliputi pemilihan strategi pembelajaran, media pembelajaran dan bahan amatan yang tepat, penyiapan sarana pembelajaran, alokasi waktu, interaksi antar mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, mahasiswa dengan media, dan pengelolaan kelas. Kolaborasi sejawat yang dikembangkan memberikan dampak positip terhadap mahasiswa asisten mengenai bagaimana mengkaji pembelajaran, membelajarkan yang efektif dan efisien. Kolaborasi sejawat melalui implementasi LS membuat mahasiswa peserta perkuliahan semangat, tertarik dan senang belajar, mampu berpikir kritis dan mengkomunikasikan hasil pemikirannya secara lisan maupun tulis. Kata-kata kunci: kolaborasi sejawat, perbaikan pembelajaran, matakuliah morfologi lesson study. tumbuhan,

PENDAHULUAN Morfologi Tumbuhan merupakan salah satu matakuliah dasar yang wajib diikuti oleh mahasiswa Prodi Biologi maupun Pendidikan Biologi semester 3. Materi perkuliahan berkaitan dengan struktur dan perkembangan tumbuhan. Matakuliah ini sarat dengan konsep, terminologi, penerapan konsep, dan analisis terhadap fenomena alam, sehingga menuntut pebelajar sebagai pebelajar mandiri. Mahasiswa sebagai pebelajar mandiri harus mampu mengembangkan keterampilan proses dan produk, seperti keterampilan mengamati, menemukan, menggunakan alat dan bahan, mengembangkan prosedur, membuat poster dan tampilan. Mahasiswa pebelajar mandiri diharapkan memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, menganalisis yang mengacu pada proses-proses, maupun proses-produk, dan cakap mengelola perkembangan kognitifnya sendiri (Susantini, 2004). Kecakapan mengelola perkembangan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 225

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) kognitif mahasiswa dapat dikembangkan melalui kebiasaan menulis jurnal belajar. Dosen diharapkan menyusun pertanyaan-pertanyaan penuntun yang menggambarkan kesadaran diri mahasiswa tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui terkait dengan materi pelajaran, dan bagaimana solusi yang diusulkan terhadap kesulitan yang dihadapi untuk mengetahui perkembangan kognitif mahasiswa (Wilson and Wing, 2008). Dosen pengampu matakuliah Morfologi Tumbuhan sering mengalami kesulitan dalam membelajarkan materi perkuliahan ini, demikian pula mahasiswa mengalami kesulitan dalam belajar. Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik. Melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan yang berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning dapat membangun komunitas belajar (Hendayana, dkk, 2006). Komunitas belajar yaitu sekelompok orang yang saling membelajarkan, meliputi mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan dosen dengan dosen. Lesson study didasarkan atas sharing di dalam komunitas belajar sehingga menghasilkan banyak pemikiran untuk merancang pembelajaran yang efektif dan efisien dan mencapai tujuan (Syamsuri dan Ibrohim, 2010). Mahasiswa asisten yaitu mahasiswa yang sudah lulus dan atau mahasiswa aktif yang bertugas membimbing mahasiswa peserta matakuliah dibawah bimbingan dosen pengampu matakuliah. Mahasiswa asisten dalam perannya sebagai pembimbing matakuliah merupakan teman sejawat bagi dosen pengampu matakuliah, yang dituntut dapat melaksanakan pembelajaran di kelas. Mahasiswa asisten belum memiliki pengalaman membelajarkan siswa. Jika mahasiswa asisten atau calon guru dikenalkan dengan perencanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran secara kolaboratif maka para calon guru akan lebih siap untuk melaksanakan perannya sebagai pengajar (Stigler and Heibert dalam Burroughs, 2010). Calon guru dan tenaga kependidikan perlu dilatih secara kolaboratif agar memiliki kemampuan menggunakan aneka sumber belajar, strategi, metode, dan media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan keprofesionalannya (Warren dalam Sitepu, 2008). Adanya kolaborasi antara dosen pengampu matakuliah dengan mahasiswa asisten dalam mengimplementasikan LS dapat saling membelajarkan, dan sharing dalam pemikiran untuk merancang pembelajaran yang efektif, efisien dan mencapai tujuan, serta mencari solusi dari temuan permasalahan pembelajaran di kelas untuk perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Kolaborasi antar guru sebidang menjadikan hubungan kolegalitas semakin erat, membuka cakrawala baru tentang proses belajar, lebih memfokuskan pada bagaimana siswa belajar dalam mengkaji pembelajaran, lebih memahami karakteristik dan gaya belajar siswa (Aminah dan Restu dalam Syamsuri dan Ibrohim, 2008). Kolaborasi antar guru melalui LS dapat meningkatkan suasana belajar dan membelajarkan sehingga terbentuk komunitas belajar (Astuti dalam Syamsuri dan Ibrohim, 2008). Melalui LS para guru yang berkolaborasi melakukan pengkajian terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi untuk mendapatkan masukan dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran, kinerja dan keprofesionalannya akan berdampak terhadap meningkatnya mutu pembelajaran (Lewis, 2002 dalam Syamsuri dan Ibrohim 2008). METODE Pengkajian Pembelajaran menggunakan pendekatan kualitatif dengan tindakan menerapkan Lesson Study yang meliputi tahapan Plan-Do-See pada setiap siklus. Implementasi Lesson Study pada matakuliah Morfologi Tumbuhan semester gasal tahun akademik 2011/2012 dilaksanakan dalam 4 siklus (Plan-DoSee) pada kelas yang berbeda. Tim LS sebanyak 9 orang yang merupakan kolaborasi antara dosen pengampu matakuliah dengan mahasiswa asisten. Dosen pengampu matakuliah bertindak sebagai dosen model, sedangkan mahasiswa asisten sebagai observer. Mahasiswa asisten berjumlah 8 orang yang terdiri atas 1 orang lulusan Prodi Pendidikan Biologi, 2 orang lulusan Prodi Biologi, dan 5 orang mahasiswa semester 7 Prodi Biologi. Mereka diberi pembekalan apa dan bagaimana LS terlebih dahulu sebelum pengkajian pembelajaran dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 226

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pembelajaran Morfologi Tumbuhan dirancang dengan strategi pembelajaran tidak langsung dengan metode inkuiri dan pemecahan masalah yang dilengkapi dengan modul beserta petunjuk pengamatan dan bahan pustaka yang telah disiapkan dan dikerjakan mahasiswa di luar kelas di bawah bimbingan dosen. Pembelajaran di kelas merupakan kelanjutan dari pembelajaran di luar kelas yang dilaksanakan dalam kegiatan LS.

Tahap Perencanaan (Plan)
Perencanaan (plan) merupakan tahap pertama dalam kegiatan LS yang bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan siswa secara aktif serta membangkitkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran (Ibrohim,2010). Pada tahap ini secara kolaboratif dipersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan termasuk prosedur pengamatan dan lembar observasi. Pelaksanaan tahap perencanaan dapat dilihat pada Tabel 1. berikut.
Siklus 1 2 3 4 Tanggal 12-9-2011 14-9-2011 30-9-2011 12-10-2011 Kelas G H H H Materi Pertumbuhan & perkembangan akar dan batang serta Perkecambahan Pertumbuhan & perkembangan akar dan batang serta Perkecambahan Perkembangan Daun Tataletak Daun, Diagram dan Rumus Daun Metode TPSS (Think Pair Square Share TPSS (Think Pair Square Share TPSS (Think Pair Square Share STAD (Student Team Achievment Division)

TAHAP PELAKSANAAN (DO) Pelaksanaan pengkajian pembelajaran pada matakuliah Morfologi Tumbuhan dapat dilihat pada Tabel 2. berikut. Tabel 2. Temuan Observer pada Tahapan Do Selama Implementasi Lesson Study pada Matakuliah Morfologi Tumbuhan
Siklus 1 Tanggal 14-9-2011 Kelas G Temuan -Alokasi waktu yang disediakan kurang, pelaksanaan 5 menit lebih lama dari yang direncanakan karena kesiapan mahasiswa untuk belajar belum maksimal, mahasiswa belum membaca pustaka sehingga pada saat proses diskusi mahasiswa sibuk membaca. Penyebab ketidaktepatan waktu pelaksanaan, karena media pembelajaran yang digunakan belum berada di ruang belajar, sehingga mahasiswa harus mengambilnya dari ruang yang berbeda. Penyebab lainnya, materi pembelajaran belum dipahami oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa masih kebingungan dalam mengaplikasikan konsep pada permasalahan nyata dari bahan amatan. -Sebanyak 16 orang dari 37 orang pada kelompok 2 (5 orang), kelompok 3 (2 orang), kelompok 4 (1 orang), kelompok 5 (4 orang), dan kelompok 6 (4 orang) mahasiswa tidak belajar secara maksimal. - 21 orang mahasiswa menunjukkan aktivitas dan konsentrasi belajar yang tinggi. Mereka sudah mampu mengaitkan konsep pada bahan amatan dengan mengecek hasil pengamatan pada bahan dan dirujuk dengan pustaka yang relevan. -sebagian mahasiswa masih menggunakan pustaka buku SMA sehingga tidak mendapatkan penyelesaian terhadap permasalahan yang dipecahkan. -interaksi antar mahasiswa sudah baik, meskipun masih ditemukan 1 orang mahasiswa yang masih bingung. Interaksi dengan dosen maupun media baik, mereka beruhasa mencari solusi permasalahan dengan bertanya kepada dosen dan merujuk pada pustaka. -pembicaraan dalam diskusi secara umum sudah terfokus pada permasalahan, ada beberapa kelompok keluar dari permasalahan - Selama proses diskusi, mahasiswa belum terbiasa mencatat hasil diskusi, sehingga memerlukan waktu khusus untuk menulis hasil diskusinya. Mahasiswa masih belum maksimal menggunakan media pembelajaran untuk menyelesaikan permasalahan yang

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 227

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
seharusnya didukung oleh bukti nyata yang diperoleh dari bahan amatan, hal ini ditunjukkan dengan adanya keragu-raguan mahasiswa untuk mencabut tanaman eksperimen dari media tanam. -Usaha dosen dalam mendorong mahasiswa yang kurang maksimal dalam belajar yaitu dengan mendatangi kelompok, memberikan pertanyaan dan membimbing mahasiswa untuk berdiskusi, dan menginstruksikan mahasiswa untuk mengamati bahan yang dibawa, kemudian hasil pengamatan dikaitkan dengan permasalahan diskusi dan konsep yang dipelajari dari pustaka. -Alokasi waktu yang disediakan cukup, kesiapan mahasiswa untuk belajar belum maksimal, mahasiswa belum membaca pustaka sehingga pada saat proses diskusi mahasiswa sibuk membaca. Penyebab kekurangmaksimalan mahasiswa dalam belajar yaitu materi pembelajaran belum dipahami oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa masih kebingungan dalam mengaplikasikan konsep pada permasalahan nyata dari bahan amatan. Walaupun sudah diberikan pretes di awal pembelajaran namun mahasiswa tidak menyiapkan karena tidak diberitahukan jika ada pretes sebelumnya. Selama proses diskusi, mahasiswa belum terbiasa mencatat hasil diskusi, sehingga memerlukan waktu khusus untuk menulis hasil diskusinya. Mahasiswa masih belum maksimal menggunakan media pembelajaran untuk menyelesaikan permasalahan yang seharusnya didukung oleh bukti nyata yang diperoleh dari bahan amatan, hal ini ditunjukkan dengan adanya keragu-raguan mahasiswa untuk mencabut tanaman eksperimen dari media tanam. - Sebanyak 7 orang dari 35 orang pada kelompok 5 (4 orang), kelompok 6 (1 orang), kelompok 7 (1 orang), dan kelompok 9 (1 orang) mahasiswa tidak belajar secara maksimal. - 28 orang mahasiswa menunjukkan aktivitas dan konsentrasi belajar yang tinggi. - masih ada sebagian kelompok yang belum mampu menganalisis permasalahan yang diberikan, ditunjukkan dengan belum mampu mengaitkan data pengamatan dengan permasalahan diskusi. Pembicaraan dalam diskusi secara umum sudah terfokus pada permasalahan, ada beberapa kelompok keluar dari permasalahan yang diberikan -Secara umum, mahasiswa sudah bersungguh-sungguh membahas permasalahan yang diberikan, hal ini dapat ditunjukkan dengan keseriusan merekam dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan data pengamatan, bahan amatan, dan pustaka yang relevan -sebagian mahaiswa masih menggunakan pustaka buku SMA sehingga tidak mendapatkan penyelesaian terhadap permasalahan yang dipecahkan. -interaksi antar mahasiswa sudah baik, meskipun masih ditemukan 1 orang mahasiswa yang masih bingung. Interaksi dengan dosen maupun media baik, mereka berusaha mencari solusi permasalahan dengan bertanya kepada dosen dan merujuk pada pustaka. -pembicaraan dalam diskusi secara umum sudah terfokus pada permasalahan, ada beberapa kelompok keluar dari permasalahan -Usaha dosen dalam mendorong mahasiswa yang kurang maksimal dalam belajar yaitu dengan mendatangi kelompok menanyakan kesulitan, memberikan pertanyaan dan membimbing mahasiswa untuk berdiskusi dan mengarahkan untuk menganalisis mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan meminta mahasiswa untuk mengecek hasil pengamatan dengan bahan amatan dan merujuk pada pustaka. -Alokasi waktu yang direncanakan sudah sesuai dengan pelaksanaan. Mahasiswa menggunakan media pembelajaran untuk menyelesaikan permasalahan yang didukung oleh bukti nyata. -35 orang mahasiswa menunjukkan aktivitas, konsentrasi belajar yang tinggi, dan sangat antusias dalam belajar karena tertarik dengan materi yang dipelajari. -mahasiswa telah menyiapkan media belajarnya dan siap untuk berdiskusi. Mereka sudah mampu mengaitkan konsep pada bahan amatan dengan mengecek hasil pengamatan pada bahan dan dirujuk dengan pustaka yang relevan. -mahasiswa nampak senang setelah berhasil dapat menemukan konsep pembaentukan daun dan menganalisis data pengamatan yang dirujuk dengan pustaka; -mahasiswa nampak senang setelah mengetahui bahwa penjelasan dari temannya benar dan dapat diterima. -mahasiswa senang dan semangat serta menginginkan agar pembelajaran berikutnya menggunakan metode yang sama. -interaksi antar mahasiswa, mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan media baik, mereka berusaha mencari solusi permasalahan dengan bertanya kepada dosen dan merujuk pada pustaka. -Usaha dosen dalam mendorong mahasiswa yang kurang maksimal dalam belajar yaitu

2

15-9-2011

H

3

11-10-2011

H

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 228

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
dengan mendatangi kelompok menanyakan kesulitan, memberikan pertanyaan dan membimbing mahasiswa untuk berdiskusi dan mengarahkan untuk menganalisis mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan meminta mahasiswa, menginstruksikan mahasiswa untuk mengamati bahan yang dibawa, kemudian mengecek dengan hasil pengamatan dikaitkan dengan permasalahan diskusi dan konsep yang dipelajari dari pustaka. -Alokasi waktu tepat. Alokasi waktu yang direncanakan sudah sesuai dengan pelaksanaan. Mahasiswa menggunakan media pembelajaran untuk menyelesaikan permasalahan yang didukung oleh bukti nyata. -semua mahasiswa (35 orang) menunjukkan aktivitas, konsentrasi belajar yang tinggi, dan sangat antusias dalam belajar karena tertarik dengan materi yang dipelajari. -awalnya ada 1 mahasiswa yang nampak kurang aktif tetapi dalam proses pembelajaran tidak mengalami kesulitan dan dapat belajar dengan baik. -mahasiswa telah menyiapkan media belajarnya dan siap untuk berdiskusi. Mereka sudah mampu mengaitkan konsep pada bahan amatan dengan mengecek hasil pengamatan pada bahan dan dirujuk dengan pustaka yang relevan. -mahasiswa tidak mengalami kesulitan dalam belajar walaupun banyak peristilahan baru yang dipelajari. -mahasiswa nampak senang setelah berhasil dapat menemukan konsep pembentukan daun dan menganalisis data pengamatan yang dirujuk dengan pustaka; -mahasiswa nampak senang setelah mengetahui bahwa penjelasan dari temannya benar dan dapat diterima. -mahasiswa senang dan semangat serta menginginkan agar pembelajaran berikutnya menggunakan metode yang sama. -pengetahuan awal membuat tentang diagram dan rumus daun yang diperoleh mahasiswa dengan membaca dan dimantapkan oleh dosen menjadikan mahasiswa semakin memahami dan antusias untuk menerapkan pada bahan amatan. -interaksi antar mahasiswa, mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan media baik, mereka berusaha mencari solusi permasalahan dengan bertanya kepada dosen dan merujuk pada pustaka. -Usaha dosen dalam mendorong mahasiswa yang kurang maksimal dalam belajar yaitu dengan mendatangi kelompok menanyakan kesulitan, memberikan pertanyaan dan membimbing mahasiswa untuk berdiskusi dan mengarahkan untuk menganalisis mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan meminta mahasiswa untuk mengecek hasil pengamatan dengan bahan amatan dan merujuk pada pustaka.

4

13-10-2011

H

TAHAP REFLEKSI (SEE) Berdasarkan temuan pada tahap pelaksanaan (Do) solusi terhadap permasalahan pembelajaran pada siklus 1 adalah: mahasiswa diminta untuk fokus pada setiap permasalahan yang dipelajari, dengan memperhatikan penggalan materi yang didiskusikan, mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiskusikandengan memberi pretes sebelum proses pembelajaran; membimbing mahasiswa agar mampu mengaitkan bahan amatan dengan permasalahan diskusi dan pustaka yang relevan, dan mengaplikasikan konsep dan peristilahan ke bahan amatan yang telah dipersiapkan oleh mahasiswa; memperbaiki manajemen waktu, dengan memotivasi mahasiswa untuk lebih mempersiapkan diri baik materi pembelajaran, penyelesaian permasalahan diskusi, aktif berinteraksi dengan teman, media pembelajaran, dan dosen; disiplin waktu, meningkatkan pengelolaan kelas; menyiapkan peralatan lebih awal sehingga waktu yang digunakan untuk pembelajaran lebih efektif, memberi pemantapan konsep dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, menilai hasil analisis kritis perorangan melalui laporan individu, hasil diskusi kelompok, maupun diskusi kelas, memberikan postes di akhir pembelajaran serta menggunakan metode yang bervariasi. Hasil refleksi dari observer dan dosen atas pembelajaran pada siklus 2, bahwa secara umum hampir sama dengan pada siklus 1, walaupun pada siklus ini sudah mempertimbangkan masukan yang disampaikan pada siklus 1. Solusi terhadap permasalahan pembelajaran yang ditemukan pada siklus 2 yaitu mahasiswa diminta untuk selalu fokus pada: setiap permasalahan dari penggalan materi yang didiskusikan; mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiskusikan karena ada pretes sebelum proses pembelajaran; dosen membimbing mahasiswa agar mampu mengaitkan bahan amatan dengan permasalahan diskusi dan pustaka yang relevan; mengaplikasikan konsep dan peristilahan kepada bahan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 229

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) amatan yang telah dipersiapkan; memotivasi mahasiswa lebih disiplin dalam penyelesaian permasalahan diskusi, aktif berinteraksi dengan teman, media pembelajaran, dan dosen, teliti dalam mengamati, cermat dalam menpertelakan ciri, dan hati-hati dalam mengambil keputusan; memberi pemantapan konsep dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, menilai hasil analisis kritis perorangan melalui laporan individu, hasil diskusi kelompok, maupun diskusi kelas; memberikan postes di akhir pembelajaran. Hasil refleksi dari observer dan dosen atas pembelajaran pada siklus3 dan 4, bahwa secara umum mahasiswa telah menyiapkan bahan amatan, materi sebagai bahan diskusi, dan semua nampak semangat, ceria, dan sangat antusias belajar. Mahasiswa sudah mengetahui apa yang harus dikerjakan. Mahasiswa aktif bertanya dan membaca sehingga dapat menyelesaikan kesulitannya. Hal ini disebabkan pada siklus 3, dosen model sudah menerapkan semua masukan yang disampaikan pada siklus 2, demikian pula pada siklus 4 dosen sudah menerapkan semua masukan yang diberikan pada siklus 3. Mahasiswa menginginkan agar pola pembelajaran ini diteruskan untuk proses pembelajaran berikutnya. Solusi terhadap permasalahan pembelajaran yang ditemukan yaitu mahasiswa diminta untuk selalu fokus pada: setiap permasalahan dari penggalan materi yang didiskusikan; mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiskusikan; dosen membimbing mahasiswa agar mampu mengaitkan bahan amatan dengan permasalahan diskusi dan pustaka yang relevan, mengaplikasikan konsep dan peristilahan kepada bahan amatan yang telah dipersiapkan; memotivasi mahasiswa lebih mempersiapkan diri baik materi pembelajaran, penyelesaian permasalahan diskusi, maupun aktif berinteraksi dengan teman, media pembelajaran, dan dosen, disiplin, teliti, cermat dan hati-hati dalam mengmbil keputusan; memberi pemantapan konsep, meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, menilai hasil analisis kritis perorangan melalui laporan individu, hasil diskusi kelompok, maupun diskusi kelas, memberikan postes di akhir pembelajaran. Pengalaman Berharga yang diperoleh oleh observer yaitu, sebagai berikut. -Persiapan awal meliputi manajemen waktu dan pemberian instruksi yang jelas kepada mahasiswa mengenai materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai sangat diperlukan supaya proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. -Matakuliah Morfologi Tumbuhan memerlukan bahan amatan nyata supaya mahasiswa dapat menerapkan secara langsung materi yang dipelajari sehingga mahasiswa akan lebih memahami konsep dari materi tersebut. Belajar secara kontekstual sangat menyenangkan dan membuat pemahaman konsep menjadi lebih mudah dipahami. -Kesiapan mahasiswa dalan belajar dan motivasi dari dosen yang terus-menerus diperlukan untuk membangun pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan. Pemberian pretes dan postes dapat meningkatkan kesiapan siswa dalam belajar -Pemberian konsep penting di awal pembelajaran meningkatkan semangat mahasiswa untuk berdiskusi. Pemantapan konsep yang diberikan dosen di akhir pembelajaran sangat diperlukan agar mahasiswa memperoleh konsep yang benar. -Materi pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa dengan memperhatikan kebutuhan mahasiswa membuat mahasiswa termotivasi untuk belajar. -Kolaborasi antar sejawat yang dilakukan berkesinambunggan dapat memperbaiki proses pembelajaran sehingga dapat meninggkatkan keprofesionalan dosen. -Kolaborasi antara sejawat (dosen dengan mahasiswa) memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam membelajarkan siswa dan mengelola kelas sebagai bekal apabila di kemudian hari berkesempatan menjadi pendidik. KESIMPULAN DAN SARAN Kolaborasi sejawat melalui LS dapat menemukan berbagai permasalahan dalam pembelajaran yang segera mendapatkan solusinya untuk perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Perbaikan proses pembelajaran meliputi pemilihan strategi pembelajaran, media pembelajaran dan bahan amatan yang tepat, penyiapan sarana pembelajaran, alokasi waktu, interaksi antar mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, mahasiswa dengan media, dan pengelolaan kelas. Kolaborasi sejawat yang dikembangkan memberikan dampak positip terhadap mahasiswa asisten mengenai bagaimana mengkaji pembelajaran, membelajarkan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 230

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) yang efektif dan efisien. Kolaborasi sejawat melalui implementasi LS membuat mahasiswa peserta perkuliahan semangat, tertarik dan senang belajar, mampu berpikir kritis dan mengkomunikasikan hasil pemikirannya secara lisan maupun tulis. Materi pembelajaran yang dikemas dengan memperhatikan kebutuhan mahasiswa membuat mahasiswa termotivasi belajar dan berpikir kritis. Disarankan agar kolaborasi sejawat secara berkesinambungan dikembangkan dan ditingkatkan karena dapat memberikan dampak positif dalam memperbaiki proses pembelajaran dan mutu pembelajaran. Kolaborasi sejawat melalui penerapan Lesson Study secara berkelanjutan perlu dikembangkan guna meningkatkan keprofisionalan dosen. DAFTAR PUSTAKA
Burroughs, E.A & Luebeek, J.I. 2010. Preservise Teacher in Mathematics Lesson Study. The Montana Mathematics Enthustast, 7(213)391-400. Online (http/www.math.umt.edu/tmme/vol7 no 2and3_pp.pdf), diakses mei 2011 Hendayana, dkk. 2006. Lesson Study Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA) Bandung: UPI Press. Ibrohim, Syamsuri, I. 2010. Lesson Study Sebagai Pola Alternatif untuk Meningkatkan efektifitas Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Calon Guru. Workshop Lesson Study untuk Mahasiswa, Guru dan Dosen. Malang: FMPIAUM. Sitepu, B.P. 2008. Pengembangan Sumber Belajar. Jurnal Pendidik Penabur, (Online), 7(11):79-92, (http//www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.%2079-92%20Penembangan%20Sumber%20Belajar.pdf, diakses 31 Mei 2011. Syamsuri, I dan Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran). Malang; FMIPA UM. Syamsuri, I dan Ibrohim. 2008. Study Pembelajaran (Lesson Study) : Model Pembinaan Pendidikan Pendidik Secara Kolaboratif dan Berkelanjutan. Dipetik dari Program SISTTEMS-JICA di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (2006-2008). Malang: FMIPA UM. Wilson, J & Wing Jan, L. Smart Thinking. Developing Refektion and Metacgnition, .Curriculum Corporation.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 231

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN AKTIFITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM GERAK PADA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PUZZLE TORSO

Anisatul Illiyin
SMPN 2 Winongan

Abstrak : Peran guru di dalam kelas bukan hanya sebagai penyampai informasi kepada siswa (Transformator) namun lebih kepada peran sebagai perantara (Fasilitator dan mediator). Dengan kata lain orientasi pembelajaran mengalami pergeseran dari “Teacher centered” ke “Student centered”. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kompetensinya, baik sebagai seorang profesionalisme maupun sebagai seorang craftman (Tenaga ahli dan terampil). Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menciptakan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa adalah dengan mengikuti kegiatan Lesson Study (Studi Pembelajaran). Pada tanggal tanggal 1 Oktober 2011 telah dilaksanakan kegiatan Lesson Study di SMPN 3 pasrepan dengan materi system gerak pada manusia. Pelaksanaaan pembelajaran (do) di kelas VIII dengan jumlah siswa sebanyak 24 siswa yang dibagi menjadi 6 kelompok. Kegiatan tersebut dihadiri 9 observer. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi Lesson Study yang diisi para observer dan hasil refleksi. Dari kegiatan Lesson Study tersebut diketahui bahwa pembelajaran secara berkelompok dengan metode NHT menggunakan media puzzle torso dapat memotivasi setiap anggota kelompok untuk bekerjasama secara bertanggung jawab mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini terlihat pada saat kegiatan inti siswa tampak aktif berdiskusi dalam satu kelompok untuk mempelajari, menjawab pertanyaan guru, dan membuat laporan hasil pengamatan . Dengan berdiskusi terbentuk suasana saling belajar dan membelajarkan antar siswa dalam satu kelompok. Namun demikian berdasarkan hasil observasi masih ada beberapa siswa yang kurang aktif mengikuti pembelajaran di kelas. Pelajaran berharga yang diperoleh guru sebagai observer dari kegiatan Lesson Study ini adalah bahwa penggunaan media pembelajaran sangat penting dan diperlukan oleh guru, LKS yang terbuka pada saat pembuatan table hasil pengamatan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir kreatif, dengan memberikan motivasi pada siswa pada saat pembelajaran dapat menumbuhkan sikap keberanian . Kata kunci : lesson study, aktivitas belajar siswa, media pembelajaran

PENDAHULUAN Menurut PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 : proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik (Hasanah dkk, 2007). Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut diharapkan guru dapat meningkatkan proses dan kualitas belajar siswa. Untuk menciptakan proses pembelajaran bermutu yang diharapkan dalam peraturan tersebut, diperlukan guru yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pembelajaran bermutu ( guru yang berkualitas ) (Indarijanti, 2007). Peran guru di dalam kelas bukan hanya sebagai penyampai informasi kepada siswa (Transformator) namun lebih kepada peran sebagai perantara (Fasilitator dan mediator). Dengan kata lain orientasi pembelajaran mengalami pergeseran dari “Teacher

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 232

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) centered” ke “Student centered”. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kompetensinya, baik sebagai seorang profesionalisme maupun sebagai seorang craftmant (Tenaga ahli dan terampil). Berbagai upaya ke arah peningkatan proses pembelajaran telah dilakukan para guru dengan perbaikan terhadap strategi, metode serta teknik pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pemilihan stategi atau model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan guru akan menentukan dan membantu siswa dalam meningkatkan aktifitas belajarnya (Hasanah dkk, 2007). Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting. Dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja. Penggunaan media pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Arsyad (2006) dalam Fatmawati, E. 2010, mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan-rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Melalui kegiatan lesson study di Home Base Gondangwetan Kabupaten Pasuruan penulis ingin mengungkapkan bagaimana peranan Lesson Study dalam meningkatkan aktiftas belajar siswa yang dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2011 di SMPN 3 Pasrepan dengan guru model Ummiyati Diah A, S.Pd pada materi Sistem gerak pada manusia dengan menggunakan media puzzle torso. Berdasarkan uraian diatas dengan mengikuti Lesson Study (Studi Pembelajaran) diharapkan guruguru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dengan menciptakan proses pembelajaran yang membuat siswa aktif dalam belajar. KAJIAN PUSTAKA PERANAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN AKTIFITAS SISWA LS merupakan terjemahan dari bahasa jepang jugyou (Instruction = pengajaran, atau Lesson = pembelajaran) dan Kenkyu (Reseach = Penelitian atau study = kajian) yang dalam bahasa jepangnya jugyou kenkyu adalah sebuah pendekatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran. Perbaikanperbaikan tersebut dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar guru (Sulasmi, 2010). Lewis (2002) mendeskripsikan Lesson study sebagai suatu proses kolaboratif dimana sekelompok guru mengidentifikasi suatu masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik yang akan dibelajarkan), membelajarkan siswa sesuai skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru lain. Lesson Study dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan keprofesionalan guru, yaitu dengan menguraikan delapan pengalaman yang diberikan Lesson Study kepada guru sebagai berikut. Lesson Study memungkinkan guru untuk: 1) memikirkan dengan cermat mengenai tujuan dari pembelajaran, materi pokok, dan bidang studi, 2) mengkaji dan mengembangkan pembelajaran terbaik yang dapat dikembangkan, 3) memperdalam pengetahuan mengenai mengenai materi pokok yang diajarkan, 4) memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan dicapai berkaitan dengan siswa, 5) merancang pembelajaran secara kolaboratif, 6) mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta tingkah laku siswa, 7) mengembangkan pengetahuan pedagogis yang kuat/penuh daya, dan 8) melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata siswa dan kolega.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 233

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Lesson study mentargetkan pencapaian berbagai kualitas siswa yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar adalah kebiasaan berpikir dan bersikap (the habbits of mind and heart that are fundamental to success in school). Kebiasaan berpikir dan bersikap itu berupa ketekunan (peristence), kerjasama (cooperation), tanggung jawab (responsibility), dan kemauan untuk bekerja keras (willingness to work hard). Oleh karena itu, guru harus bekerja sama sebagai satu tim untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik (Putro, 2008). Menurut Lewis (2002), tahap-tahap yang perlu di lakukan dalam menerapkankan suatu Lesson Study adalah sebagai berikut, Pertama membentuk grup Lesson Study, anggota kelompok Lesson Study dapat direkrut dari guru, dosen, pejabat pendidikan, dan/atau pemerhati pendidikan. Yang sangat penting adalah mereka yang mempunyai komitmen, minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas pendidikan. Kedua, memfokuskan Lesson Study, yang perlu dilakukan guru yaitu memilih mata pelajaran, serta memilih topik (unit) dan pelajaran (Lesson). Ketiga, Merencanakan Research Lesson (Plan), dalam merencanakan suatu Research Lesson (a teacher-led instructional improvement), di samping mengkaji pelajaran-pelajaran yang sedang berlangsung, kita perlu mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar (plan to guide learning). Rencana itu akan memandu pengajaran, pengamatan, dan diskusi tentang research lesson serta mengungkap temuan yang muncul selama lesson Study berlangsung. Keempat, mengajar dan mengamati Research Lesson (Do), guru anggota kelompok yang sudah di tunjuk dan disepakati melaksanakan tugas untuk mengajar materi yang telah ditetapkan, sedangkan anggota kelompok yang lain mengamati Lesson tersebut. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan Research Lesson dilakukan dengan menggunakan kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif Kelima, mendiskusikan dan menganalisis Research Lesson. Research Lesson yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal itu perlu dilakukan sebagai bahan untuk perbaikan atau revisi Research Lesson. Dengan demikian research Lessson diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien. Keenam, merefleksikan Lesson Study dan merencanakan tahap-tahap berikutnya (See). Dalam merefleksikan lesson study hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki. Lesson study memiliki peran yang cukup besar dalam melakukan perubahan secara sistemik. Menurut Lewis (2002) lesson study tidak hanya memberikan sumbangan terhadap pengetahuan keprofesionalan guru, tetapi juga terhadap peningkatan system pendidikan yang lebih luas. Melalui Lesson Study, guru secara kolaboratif berupaya menterjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di kelas. Mereka berupaya merancang pembelajaran sedemikian sehingga siswa dapat dibantu untuk mengetahui kompetensi dasar yang diharapkan. Selain itu, mereka berupaya merancang suatu scenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar dan pengembangan kebiasaan berpikir ilmiah, dimana siswa diajak untuk mengendalikan variable dan juga memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait dengan materi yang dibelajarkan. Setelah itu rancangan pembelajaran dilaksanakan, diamati, didiskusikan, direvisi, dan jika perlu dibelajarkan lagi dikelas lainnya. MEDIA PEMBELAJARAN Media pembelajaran adalah alat yang berfungsi sebagai perantara atau penyampai isi berupa informasi pengetahuan berupa visual dan verbal untuk keperluan pengajaran. Menurut Syafir (2009), Tujuan penggunaan media pembelajaran adalah: 1. Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat dan berdaya guna 2. Untuk mempermudah bagi guru/pendidik dalam menyampaikan informasi materi kepada anak didik

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 234

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 3. 4. Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menyerap atau menerima materi atau pesan yang disampaikan guru. Untuk dapat mendorong keinginan anak didik dalam mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan guru.

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dimana data yang diperoleh kemudian diinterpretasikan tanpa adanya pengujian hipotesa. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan dengan teknik observasi dengan menggunakan lembar observasi Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian Untuk mengetahui peningkatan aktifitas belajar siswa melalui kegiatan Lesson Study dilaksanakan observasi pembelajaran di SMPN 1 Paserpan tanggal 1 Oktober 2011. Subjek penelitian adalah siswasiswa yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar yaitu kelas VIII yang berjumlah 23 orang yang terbagi menjadi 6 kelompok dan lembar observasi yang diisi oleh para observer selama KBM berlangsung (9 observer). Materi yang disampaikan adalah Sistem gerak pada manusia dengan menggunakan metode pembelajaran Number Head Together (NHT) melalui undian puzzle rangka manusia (Torso manusia). Instrumen Penelitian Instrumen penelitian berupa lembar observasi Lesson Sstudy yang digunakan observer pada waktu kegiatan belajar mengajar berlangsung dan hasil refleksi. HASIL PENELITIAN 1. DESKRIPSI JALANNYA KEGIATAN LESSON STUDY a. Kegiatan Lesson Study yang telah dilaksanakan meliputi tahapan : plan, do dan see (refleksi). Plan (Perencanaan)

Pada tahap ini guru-guru peserta Lesson Study (MGMP IPA) di Home Base Gondangwetan secara bersama-sama melakukan persiapan yang meliputi : menentukan materi pembelajaran, menentukan guru model, membuat perangkat pembelajaran yang terdiri atas RPP, LKS, media pembelajaran dan alat evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru menetapkan metode pembelajaran yang mampu membuat siswa belajar secara aktif (siswa terlibat dalam pembelajaran secara mental dan fisik), kreatif dan kolaboratif (saling membelajarkan namun masing-masing siswa tetap memiliki hasil belajar secara individual). Metode pembelajaran yang akan dipakai adalah NHT. Plan dilaksanakan di SMPN 1 Winongan pada tanggal 24 September 2011. b. Do (Pelaksanaan Pembelajaran) Kegiatan do dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2011 pada pukul 09.30 – 10.50 di SMPN 3 Paserpan dengan materi sistem gerak pada manusia. Pada awal kegiatan pembelajaran guru memotivasi siswa dengan Memberikan pertanyaan pada siswa:”Mengapa kita mampu berjalan/bergerak? Pada kegiatan inti guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok, kemudian perwakilan dari setiap kelompok diminta maju untuk mengambil LKS beserta undian puzzel rangka yang sudah dipilih. Bentuk undiannya antara lain: 1. Tulang kepala/tengkorak,2. Tulang badan dan 3. Tulang anggota gerak, dimana setiap 2 kelompok mendapatkan undian puzzle yang sama, kemudian siswa diminta menyebutkan bagian-bagian tulang tersebut dan menyebutkan namanya, kemudian mengelompokkannya berdasarkan kekerasannya, yaitu: tulang keras atau tulang rawan serta mengelompokkan berdasarkan bentuknya, yaitu: (Tulang pipa, tulang pendek, tulang pipih dan tulang tidak beraturan). Tugas tersebut dikerjakan melalui diskusi kelompok. Pada kegiatan pembelajaran tersebut siswa dibagi menjadi 6 kelompok. Kegiatan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 235

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) berikutnya adalah presentasi kelompok. Pada saat presentasi kelompok guru meminta siswa dari kelompok lain untuk menanggapi. Guru memberi penghargaan pada setiap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dalam bentuk pujian. Setelah kegiatan presentasi kelompok, guru memimpin diskusi kelas untuk membahas puzzle rangka yang telah dipresentasikan. Pada akhir pembelajaran siswa di bawah bimbingan guru membuat kesimpulan dari materi yang telah dipelajari tersebut. Selama pelaksanaan pembelajaran tersebut, hal-hal yang diamati oleh pengamat tentang kegiatan belajar siswa meliputi : a. interaksi siswa dengan siswa lain b. interaksi siswa dengan guru sepanjang kegiatan belajar c. interaksi siswa dengan media pembelajaran d. interaksi siswa dengan sumber belajar e. bagaimana gerak tubuh siswa yang mencerminkan aktif belajar f. apa yang dibicarakan dan didiskusikan oleh siswa (Syamsuri dan Ibrohim, 2008) c. See (Refleksi)

Diskusi refleksi yang dilakukan setelah proses pembelajaran merupakan diskusi yang mengkaji data temuan selama observasi, kemudian dianalisis mengapa hal itu terjadi dan akhirnya dicarikan jalan keluar pemecahannya. Dengan refleksi tersebut setiap peserta yang mengikuti open class dan refleksi akan mendapatkan sesuatu yang berharga untuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelasnya masing-masing. 2. Aktifitas Belajar Siswa Untuk mengamati proses pembelajaran dan keaktifan siswa dalam belajar para observer menggunakan lembar observasi yang berisi 4 pertanyaan yaitu : a. Apakah semua siswa benar-benar telah belajar tentang topik pembelajaran hari ini ? b. Siswa mana yang tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari ini ? c. Mengapa siswa tersebut tidak dapat belajar dengan baik? Menurut anda apa penyebabnya dan bagaimana alternatif solusinya menurut anda ? d. Pelajaran berharga apa yang dapat anda petik dari pengamatan pembelajaran tadi ? Pada tabel dibawah ini akan dipaparkan hasil analisis lembar observasi Lesson Study pada saat pembelajaran di atas dengan observer sebanyak 9 orang. Hasil observasi selama open class selengkapnya tertera pada Tabel 1. Table 1. Hasil Observasi Lesson Study
No. 1. Pertanyaan Apakah semua siswa benar-benar telah belajar tentang topik pembelajaran hari ini ? Ya, tampak saat guru melakukan motivasi , saat diskusi kelompok, saat presentasi kelompok, tapi dengan tingkat konsentrasi yang berbeda-beda Tidak, ada beberapa siswa yang pasif saat diskusi kelompok, mereka tampak bingung dan tidak melakukan apa-apa saat temannya berdiskusi. Siswa mana yang tidak dapat mengikuti pembelajaran pada hari ini ? Kelompok 3 : Sami’an (No.08) dan M.ismail (No.18), Sami’an dan M. Ismail tampak pasif pada saat diskusi dan hanya diam saja saat melihat teman dalam satu kelompok sibuk berdiskusi Kelompok 5 : Hasbulloh (No.17) Lukman hakim(No.20) Subhan (No.21) Perhatian Hasbulloh teralihkan pada guru yang membimbing kelompok 6. Lukman hakim dan Subhan, keduanya tidak membantu menjawab soal pada lembar LKS hanya membolak-balik bukunya saja. Kelompok 6 : Mudiono (No.22) Jumlah observer

66,66 %

33,33 % 2.

11,11% 11,11 %

44,44 % 44,44 % 22,22 %

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 236

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
M. Sulton (No.23) Nur huda (No.24) Ketiganya tidak berdiskusi sama sekali, hanya diam dan kebingungan untuk mengerjakan LKSnya.Gerakan bibir tidak mengikuti/menjawab pertanyaan guru secara klasikal dan tidak bisa menjawab pada saat ada pertanyaan langsung dari guru Mengapa siswa tersebut tidak dapat belajar dengan baik ? Kemungkinan siswa tersebut belum siap untuk belajar Jumlah buku pegangan yang dimiliki siswa kurang, (1 buku untuk 2 siswa) Siswa kurang konsentrasi pada saat pembelajaran Siswa bingung dalam pembuatan laporan hasil pengamatan pada lembar LKS Pasa saat diskusi tidak mampu bekerja sama dengan kelompoknya (tampak pasif) Menurut anda apa penyebabnya? Persiapan siswa kurang di karenakan siswa tersebut tidak belajar/membaca materi sebelumnya Siswa tersebut kurang memahami konsep materi pelajaran Pada LKS, petunjuk kerjanya kurang jelas Tidak terdapat pembagian tugas pada kelompok, sehingga ada sebagian anggota kelompok yang hanya tampak diam dan tidak mengemukakan pendapat saat diskusi Bagaimana alternatif solusinya menurut anda ? Guru perlu perhatian dan memotivasi siswa tersebut sehingga ikut aktif diskusi dalam kelompoknya Membagi kelompok secara heterogen sehingga mereka dapat berinteraksi/berdiskusi secara aktif dengan temannya Hendaknya siswa-siswa tersebut dipantau terus oleh semua guru mapel, dan selalu dikondisikan belajar Dengan iming-iming nilai (ada pre tes) di awal pembelajaran Guru perlu mengingatkan adanya pembagian tugas dalam kelompok.

55,55 % 77,77 % 77,77 % 33,33 % 11,11 % 22,22 % 11,11 % 22,22 %

3.

33,33 % 33,33 % 11,11 % 22,22 %

33,33 % 22,22 %

11,11 % 11,11 % 11,11 % 4. Pelajaran berharga apa yang dapat anda petik dari pengamatan pembelajaran tadi ? Siswa saling bekerja sama, mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan keberanian berpendapat dapat membangun nilai karakter. Pembelajaran dengan topik “sistem gerak pada manusia” bisa berjalan menarik dengan bantuan torso dan tubuh kita, tubuh kita dapat dijadikan alat peraga untuk menunjukkan macam-macam bentuk tulang dan sifatnya Dengan menggunakan alat peraga torso, siswa dapat memadukan sumber belajar dari buku berupa gambar dengan media yang tersedia sehingga dapat memahami pelajaran dengan sempurna. Dalam memilih model pembelajaran, pembuatan perangkat pembelajaran dan cara penyampaiannya kepada siswa dikemukakan/disusun sesuai dengan keadaan kelas LKS yang terbuka (Dalam pembuatan tabel) dapat memberi kesempatan pada siswa untuk berfikir kreatif. Guru dapat mengkomunikasikan materi pelajaran kepada siswa dengan baik Pemberian motivasi pada siswa oleh guru dengan kata “Jangan takut salah” dapat menimbulkan rasa keberanian pada peserta didik untuk menjawab.

22,22 %

33,33 %

11,11 %

11,11 %

11,11 % 11,11% 11,11%

Berdasarkan data di atas siswa terlihat mulai tampak belajar pada saat guru melakukan motivasi dengan menenyakan pada siswa “Apa yang menyebabkan kita mampu berjalan/bergerak”?. Pemberian motivasi pada siswa dapat menimbulkan ketertarikan siswa dan membangkitkan konsentrasi siswa untuk belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendana, (2007) (dalam Hasanah dkk, 2007) “Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 237

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) menimbulkan perhatian siswa. Ketrampilan membuka pelajaran ini dianggap perlu karena kegiatan awal pembelajaran sangat menentukan kegiatan inti. Pada saat kegiatan inti siswa tampak aktif berdiskusi dalam satu kelompok untuk mempelajari dan menganalisis dengan menyebutkan bagian-bagian tulang dan menyebutkan namanya, kemudian mengelompokkannya berdasarkan kekerasannya. Hasil diskusi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk table sesuai dengan kreatifitas masing-masing kelompok. Dengan berdiskusi diharapkan terbentuk suasana saling belajar dan membelajarkan antar siswa dalam satu kelompok terbentuk. Untuk itu guru hendaknya memberikan permasalahan yang memungkinkan para siswa bekerja aktif dan saling membelajarkan dan mampu mendorong setiap siswa agar dapat belajar dengan siswa lain (Syamsuri dan Ibrohim, 2008). Jadi tujuan dari kerja kelompok adalah agar siswa berpikir dan memahami secara mendalam materi ajar melalui dialog dengan teman kelompoknya. Jika pemahaman siswa dibangun melalui penjelasan seorang guru, sesungguhnya semua siswa diajak atau dipaksa memahami suatu bahan ajar menurut cara berpikir guru yang hanya satu macam saja. Namun demikian selama diskusi ada beberapa siswa yang tampak pasif saat diskusi, tampak bingung dan tidak tahu apa yang ditugaskan oleh guru (sebanyak 8 siswa laki-laki). Dari pernyataan guru model terungkap bahwa siswa tersebut memang memiliki kemampuan belajar di bawah rata-rata, sebenarnya hal ini sudah diatasi dengan pembagian kelompok yang heterogen baik berdasarkan tingkat kemampuan berfikir maupun jenis kelamin. Namun masih juga terdapat kekurangan dan belum berhasil untuk membelajarkan siswa tersebut. Berdasarkan hasil refleksi disarankan agar guru selalu memberikan motivasi dan bimbingan secara khusus, juga hendaknya siswa-siswa tersebut dipantau terus oleh semua guru mapel, dan selalu dikondisikan belajar dengan imingiming nilai (ada pre tes) di awal pembelajaran. Guru perlu mengingatkan adanya pembagian tugas dalam kelompok. Sehingga diharapkan dapat membangkitkan konsentrasi dan minat belajar. Setelah diskusi kelompok, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi kelompok. Saat presentasi kelompok, semua anggota kelompok presentasi maju ke depan kelas, sedang kelompok lain menanggapi. Pada saat itu kelompok lain tampak aktif menanggapi. Sesekali guru mengulangi penjelasan siswa yang presentasi dan memberikan pertanyaan, secara klasikal maupun individu untuk beberapa siswa yang dianggap tidak memperhatikan dan kurang faham. Suasana kelas tampak hidup, siswa tampak bersemangat memberi tanggapan karena yang dibahas berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Setiap kelompok yang telah selesai presentasi guru memberi penghargaan dalam bentuk pujian. Setelah selesai kegiatan presentasi, guru memimpin diskusi kelas untuk membahas LKS yang telah dipresentasikan sekaligus meluruskan bila ada kesalahan konsep. Pada kegiatan penutup siswa secara aktif membuat kesimpulan dari materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru yang meliputi: 1. Tulang penyusun rangka manusia terdiri atas tulang kepala (tengkorak), tulang badan dan tulang anggota gerak. 2. Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan menjadi 4 yaitu: Tulang pipa, tulang pendek, tulang pipih dan tulang tidak beraturan 3. Berdasarkan kekerasanya, tulang dibedakan menjadi tulang keras dan tulang rawan 4. Fungsi tulang, selain sebagai anggota gerak pasif juga untuk menegakkan tubuh 5. Pada kegiatan see (refleksi) juga terungkap beberapa tanggapan dari para observer bahwa proses pembelajaran yang dilakukan guru secara umum sudah baik, dari tahap persiapan sampai implementasi. Penggunakan media puzzle torso dapat membantu guru untuk mempermudah dalam menyampaikan informasi materi kepada anak didik, dan mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima materi atau pesan yang disampaikan guru. Siswa begitu antusias dan terlibat pada setiap tahap kegiatan ( pendahuluan, inti dan penutup) selama proses pembelajaran berlangsung. Setiap kelompok bekerjasama dengan baik walaupun masih ada kelompok yang anggotanya kurang bekerja sama. Selain itu interaksi siswa dengan media berjalan baik, siswa benar-benar menggunakan media (Torso dan buku ajar) untuk menggali permasalahan sekaligus memecahkan masalah. Siswa mempunyai kemampuan mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari dengan baik, hal ini tampak pada saat presentasi kelompok dan diskusi kelas. Namun belum terjadi hubungan antar/lintas kelompok untuk saling membelajarkan. Permasalahan yang didiskusikan siswa

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 238

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) menantang siswa untuk aktif secara bersama-sama saling belajar menjawab cara pemecahan masalah. Selama pembelajaran guru mampu mempertahankan konsentrasi belajar siswa dari mulai motivasi sampai akhir kegiatan pembelajaran. Guru juga mampu mengkomunikasikan materi pelajaran kepada siswa dengan baik. Dengan menggunakan media puzzle torso dan LKS siswa belajar berdiskusi, menganalis dan memecahkan masalah secara bersama-sama sehingga siswa diharapkan dapat lebih memahami materi yang diajarkan. Waktu yang digunakan selama pembelajaran efisien dan guru benar-benar bertindak sebagai fasilitator. Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa selama pembelajaran siswa tampak aktif karena guru mampu mengembangkan pembelajaran inovatif dengan metode NHT. Kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran inovatif terus berkembang karena sudah mengikuti Lesson Study (Studi Pembelajaran). Hal ini sesuai dengan pendapat Lewis (2002) dalam Syamsuri dkk. (2008) bahwa manfaat Lesson Study (Studi Pembelajaran) adalah meningkatkan keprofesionalan guru dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Hal yang masih perlu ditingkatkan guru adalah pendekatan terhadap siswa-siswa yang kurang aktif saat mengikuti proses pembelajaran, sehingga semua siswa bisa saling belajar dalam menganalis dan memecahkan suatu masalah. KESIMPULAN Dari kegiatan Lesson Study (Studi Pembelajaran) yang telah dilaksanakan di SMPN 3 Pasrepan pada materi Sistem gerak pada manusia dengan menggunakan media pembelajaran berupa puzzle torso dapat disimpulkan bahwa : a. Lesson Study (Studi Pembelajaran) dapat meningkatkan kemampuan guru untuk mengaktifkan siswa. b. Lesson Study (Studi Pembelajaran) meningkatkan wawasan guru tentang metode pembelajaran inovatif beserta pemilihan media pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan aktifitas belajar siswa DAFTAR PUSTAKA
Fatmawati, Evi. 2010. Pengembangan Teknik Pembelajaran Dengan Permainan Meja Letter O Dipandu Dengan Media Poster Pada Konsep Plantae Dan Avertebrata Kelas X-3 Semester Ii Tahun 2009/2010 Sma Laboratorium UM. Dipetik dari “prosiding seminar nasional lesson study 3 “peran lesson study dalam meningkatkan profesionalitas pendidik dan kualitas pembelajaran Hasanah, Tuti dkk. 2007. Menjawab Tantangan Masa Depan System Pendidikan Melalui Lesson Study Berbasis Mgmp Menuju Reformasi Sekolah Secara Bertahap Berkualitas Dan Berkesinambungan ; dipertik dari Seminar Nasional ”Exchange of Experiences on Best Practices of Lesson Study”, Indarijanti. 2009. Peningkatan Aktifitas Belajar Siswa Melalui Lesson Study pada Materi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dengan Metode Analisis Kritis Artikel. Dipetik dari Seminar Nasional Perkembangan Inovasi Pembelajaran melalui LS dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia Lewis, C. 2002. Lesson study: A handbook of teacherled instructional change. Philadelphia: Research for Better Schools. Putro, W.P.E. 2008. Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Lesson Study http://researchengines.com/0308widarso.html Sulasmi, E.S. 2010. Pengalaman menarik implementasi lesson study Di bidang botani jurusan biologi fmipa Universitas negeri malang. Dipetik dari “prosiding seminar nasional lesson study 3 “peran lesson study dalam meningkatkan profesionalitas pendidik dan kualitas pembelajaran Syamsuri, Istamar Dan Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran) : Model Pembinaan Pendidik secara Kolaboratif dan Berkelanjutan; dipetik dari Program SISTTEMS – JICA di Kabupaten Pasuruan – Jawa Timur (2006-2008). FMIPA Universitas negeri Malang. Syafir. 2009. Media pembelajaran . http://www.syafir.com/2010/10/01/media-pembelajaran.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 239

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

IMPLEMENTATION OF LESSON STUDY ON GENETIC LEARNING IN BIOLOGY DEPARTMENT OF SURABAYA STATE UNIVERSITY

Muhammad Thamrin Hidayat
Unesa thamrinpmks@yahoo.com

Abstract – In order to improve students’ learning outcomes, the government has made efforts in various ways, including upgrading, training, and workshops for teachers. In fact, the results were less satisfactory; this could be seen from the outcomes of the UNAS. Similarly, the UNDP indicated that the quality of education in Indonesia is relatively low. Improvement of education quality has been carried out by means of upgrading, training and workshops; however, the results have not met the expectations for several reasons. Lesson study is a learning assessment activity undertaken by a group of teachers/lecturers with collaboratively sustainable funding to test and improve learning effectiveness. The objectives of lesson study in Biology Department of Surabaya State University were to determine: (1) lecturers’ competence, (2) the quality of learning, (3) learning innovation, (4) learning community and (5) the character of lecturers and students. The present research was of descriptive by involving as observers as many as eight lecturers. Module system was used in genetics learning. Data was obtained from the observers, discussions between the observers and faculty model, as well as questionnaires and interviews with students. In conclusion, implementation of the Lesson study (1) was capable of displaying corrected learning before and after learning so that the model lecturers could improve their competencies, (2) learning plans and processes were prepared thoroughly thereby improving the quality of learning, (3) development of learning innovation with the module system was not implemented fully, (4) learning did not meet all students’ aspirations, (5) model lecturers could comprehend all the inputs from the observers, and 6) presence of some observers made some students felt disturbed. Keywords: Lesson study, modules

PENDAHULUAN Pemerintah di dalam meningkatkan mutu guru dengan memberikan pelatihan, penataran, workshop dan masih banyak lagi bentuk-bentuk usahanya. Namum kegiatan yang telah dilakukan selalu tidak berdampak di dalam peningkatan mutu guru dan mutu hasil belajar siswa. Tolok ukur ini dapat dilihat masih rendahnya hasil Ujian Nasional (UN) yang diperoleh siswa. Menurut Warta Balitbang Kemendiknas perolehan UN rata-rata Bahasa Indonesia: 6.30, Bahasa Inggris: 5.51, matematika: 6.8, dan IPA 6.03. Menurut laporan United Nation Development Orogram (UNDP) mengindasikan bahwa kualitas Pendidikan di Indonesia relatif rendah (Santyasa, 2009). Seperti apa yang disinyalir oleh Hendayana dkk., (2006) dalam buku Lesson Study yang mengatakan bahwa usaha pemerintah kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Alasan pelatihan yang tidak berbasis pada permasalahan nyata di dalam kelas dan materi pelatihan tidak mengacu asal daerah guru tersebut. Dengan demikian pelatihan bagi guru hanya menjadi pengetahuan belaka saja. Kapan ditindak lanjuti pengetahuan yang diperoleh, hal ini sangat jauh dari apa yang diharapkan. Selanjutnya Hendayana dkk mensinyalir bahwa diterapkan di dalam kelas hanya satu kali setelah itu kembali pada kebiasaan semula. Apakah mungkin hal ini merupakan kelembaman (kembali kebiasaan semula) setiap guru?, Mungkin pula salah satu sebab yaitu kurang monitoring Kepala Sekolah, dan tidak menfasilitasi forum sharing pengalaman diantara guru. Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 240

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Demikian pula dosen di perguruan tinggi, ilmu yang diperoleh dari berbagai sumber tidak serta merta dilaksanakan di dalam perkuliahan. Salah satu faktor, tidak ada yang menfasilitasi forum curah pendapat tentang pengalaman diantara dosen. Dengan adanya Lesson study merupakan wahana untuk saling menunjang persiapan mengajar hingga pelaksanaan pembelajaran. Tujuan Implementasi Lesson Study di Jurusan Biologi UNESA sesuai pedoman yang dikeluarkan Direktorat Pembelajaran dan Kemahsiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional 2011 bahwa fokus kajian dalam makalah Lesson Study ditekankan pada 1) kompetensi dosen, 2) kualitas pembelajaran, 3) inovasi pembelajaran, 4) komunitas belajar, dan 5) karakter dosen dan mahasiswa. METODE Penelitian ini merupakan penelitian diskritif, dengan sampel mahasiswa sebanyak 45 orang pada prodi Pendidikaan Biologi 2009 dengan matapelajaran genetika. Dosen pengampu matakuliah ini sebanyak 4 dosen. Pertemuan dilakukan dua kali (dua minggu) dengan materi prerequisite (berlanjut), waktu sekali pertemuan yaitu 100 menit. Kegiatan plan dilaksanakan pada tanggal 31Januari 2011 yang dihadiri oleh 8 dosen termasuk Ketua Jurusan Biologi. Ke delapan dosen sangat bervariatif latar belakang keilmuannya. Sebelum dosen model menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan pada pelaksanaan pembelajaran, di dalam pembahasan plan dosen model menyampaikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembaran Kegiatan (LK) di berikan kepada teman sejawat untuk dikoreksi satu minggu sebelum pelaksanaan di kelas (do-see). Di dalam pelaksanaan dosen model menggunakana sistem modul. Modul yang dipersiapkan yaitu : Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM). Masukkan dari teman sejawat ditindak lanjuti untuk untuk pelaksanaan tanggal 10 Februari 2011. Demikian pula sebelum pelaksanaan ke dalam kelas diadakan pertemuan untuk membahas apa saja yang akan dilakukan. Setelah selesai pertemuan singkat, dosen model melakukan proses belajar mengajar. Pengamat yang hadir sebanyak 7 dosen. Mahasiswa dibagi menjadi delapan kelompok, setiap kelompok memiliki anggota 4 hingga 5 mahasiswa. Dengan demikian satiap dosen pengamat mengamati 1 kelompok dan satu dosen mengamati dua kelompok. Untuk kegiatan ke dua dilakukan pada tanggal 17 Februari 2011. Pada pertemuan ke dua pembelajaran menggunakan sistem modul. Perangkat modul terdiri dari Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM), Lebar Kegiatan (LK), Kunci LK, Tes dan Kunci Tes. Tujuan menggunakan sisitem modul agar mahasiswa mengikuti irama kecepatan belajaranya sendiri. Untuk mendapatkan data tentang proses plan, do, dan see dengan menggunakan format lembar observasi lesson study, angket untuk mahasiswa, hasil masukkan pengamat dalam bentuk catatan kejadian selama pelaksanaan proses belajar mengajar dan masukkan waktu refleksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil diskusi tentang RPP dan LKM dan beberapa masukkan Perbaikan plan dapat dikatagorikan sebagai berikut: Tabel 1: Perbaikan RPP Pertemuan 1
No 1 2. 3. Katagori Beberapa materi terlalu mudah Kalimat yang ambigu Pelaksanaan RPP 1 2 8 Jumlah Keterangan Beberapa sudah dapat di SMP Pembentukan –pembuatan Macam gen-jumlah gen Penugasan perlu di beri waktu Instrumen tes harus ada di RPP Tujuan pembelajaran UTS yang benar USS Penambahan kata kerja dalam Tujuan Pembelajaran

4. 5.

Kesalahan kata Tambahan kata

1 1

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 241

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
6. 7. 8. Perubahan kata/gambar Penghilangan kata Lain-lain 4 1 Antar tetua / Perlu koleksi wajah dalam gambar Secara teori Reward perlu diberi bentuk sertifikat bagi yang kelompoknya tepat, dinamis dalam diskusi

Tabel 1.2: Perbaikan LKM
No 1. 2. 3. Katagori LK dipisah dgn LKM Kalimat kurang komu nikatif LKM dan LK jangan di pisah Jumlah 1 1 2 Keterangan Kalau dipisah akan mudah hilang Cukup baik sarannya

Dari hasil rekapitulasi masukkan tentang penampilan RPP, LKM, LK dari kawan sejawat seperti pada Tabel 1 danTabel 2 Sangat teliti dan korektif, dengan demikian telah sesuai apa yang dimuat di dalam Buku Panduan Implementasi Lesson Study adalah: bagaimana mengembangkan metode pembelajaran yang tepat agar pembelajaran lebih efisien dan efektif. Di samping itu apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar benar-benar sesuai apa yang diharapkan baik oleh mahasiswa maupun dosen. Terutama pada pelaksanaan RPP dinilai kurang jelas tentang waktu yang tertera di dalam RPP, karena bila tidak jelas akan memakan waktu yang lama (Tabel 1 no 7). Pada Tabel 2 perubahan kata dan gambar yang menurut pengamat akan menjadikan hambatan pada saat pembelajaran. Sesuai dalam pembelajaran yang Menyenangkan perlu diberikan hadiah bagi siswa yang dalam kelompoknya Kerjasama baik, tepat waktu, banyak berpartisipasi di dalam pembelajaran. Setelah koreksi dan beberapa masukkan dari teman sejawat pada saat plan, menunjukkan dosen model dapat meningkatkan Kompetensi dan Peningkatan Pembelajaran pada saat itu dan pembelajaran selanjutnya sesuai dengan Pedoman yang diberikan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional 2011. Tabel 3: Hasil Temuan Observer pada Pembelajaran tahap 1
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Katagori Pengelolaan tempat duduk Kontuinitas kelompok dalam diskusi Konsep yang belum dipa- hami Alokasi waktu Jawaban yang kurang me- muaskan Siswa tidak memperhatikan dosen Motivasi baik Membangun suasana belajar Jumlah 3 3 2 1 1 1 1 1 Keterangan Kurang nyaman dalam diskusi Tidak tetap Gen, genotip, fenotif, Melebihi waktu yang ada Konsep gentif dan fenotif Sibuk membaca LKM Berupa tanyangan kelainan genetik Perlu ditingkatkan

Dari Tabel 3: Hasil Temuan Observer Pambelajaran Tahap I sebagai berikut: Apa yang menjadikan masukan oleh observer dosen model dinyakini benar adanya, seperti tempat duduk kelompok kurang nyaman karena meja yang besar sehingga mahasiswa kurang leluasa untuk bergerak, jawaban yang kurang memuaskan Demikian pula waktu yang melebihi waktu yang disediakan, semula dosen model akan menggunakan sistem modul lengkap, agar proses belajar mengajar maju berkelanjutan tak terbatas dapat dilaksanakan. Maka bila modul dilaksanakan dengan murni, maka tidak ada kata waktu tidak cukup, karena waktu disediakan sesuai kecepatan belajar mahasiswa kelompok lambat, sedang, dan cepat. Namun dari hasil masukkan dari observer dosen model menyadari beberapa kekurangan yang sangat berharga untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya. Kelebihan dari lesson study adalah mulai dari perangkat sampai pembelajaran berakhir milik kolektif, sehingga setiap anggota menyadari bahwa masukkan sebelum hingga dilaksanakan pembelajaran adalah tanggung jawab bersama. Dengan demikian masukkan menjadi konstruktif. Misalnya kunci salah, dosen model menyadari kekurangcermatan di dalam menyajikan. Dengan kesadaran penuh pada tahap kedua akan melaksanakan dengaan cermat. Dan masukan dari kolega sebaiknya LKM diserahkan satu minggu sebelum pembelajaran dilaksanakan sehingga mahasiswa sebelumnya dapat belajar.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 242

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada pertemuan ke 2 pembelajaran menggunakan sistem modul dengan perangkat Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM), Lebar Kegiatan (LK), Kunci LK, Tes dan Kunci Tes. Dengan harapan waktu tidak menjadi kendala bagi mahasiswa dan dosen model, karena menggunakan sistem maju berkelanjutan terbatas. Hasil pengamatan pengamat seperti tertera pada Tabel 4 Temuan Pada Proses Pembelajaran II sebagai berikut: Tabel 4: Temuan Observer Pada Proses Pembelajaran II
Observ

1.

2.

Temuan  Kegiatan 7,8, 9 dan 10 dari RPP belum terlaksana  Interaksi mahasiswa belum muncul pada kegiatan awal sd kegiatan inti. Mahasiswa belajar secara individu.  Menjelang akhir kegiatan inti muncul interaksi mahasiswa.  Mahasiswa tidak paham aturan pembelajaran dengan modul.  Ada tiga mahasiswa yang telah selesai mengerjakan LK tetapi tidak berani bertanya.  Terlalu banyak mahasiswa untuk pembelajaran dengan modul.  Kegiatan tutor sebaya terkendala oleh pelaksanaan test. Mahasiswa sebagai tutor mengikuti tes, walaupun kelompoknya belum paham materi.  Memang terkesan dosen model “kewalahan”, karena tidak ditunjuk tutor. Jika mahasiswa menjadi tutor apakah tidak bisa tes?  Ada dua kelompok yang mencontoh pekerjaan temannya supaya cepat test.  Isu yang muncul: belum semua mahasiswa memahami materi yang telah dipelajari. Perlu dicarikan solusi agar mahasiswa tetap memperoleh haknya untuk memahami materi perkuliahan.

Keterangan  Modul menghargai kecepatan belajar mahasiswa  LKM memacu mahasiswa untuk belajar mandiri  Bila ada hal yang tidak dimengerti mereka boleh diskusi, bahkan tutor sebaya di harapkan  Memang demikian pembelajaran modul adalah individual jadi mereka canggung apa yang harus dikerjakan karena biasanya mereka menunggu Keterangan dosen  Sebenarnya kalau terbiasa dengan modul yang tidak ada praktikumnya tidak masalah dengan banyaknya mahasiswa.  Siswa cepat akan melaksanakan tes sesuai kecepatan ia belajar, oleh sebab itu mereka akan meninggalkan kelompoknya untuk mengikuti tes. Setelah tes mereka akan menjadi tutor kembali dalam kelompoknya.  Mungkin mereka yang pandai tidak siap untuk menjadi tutor sebaya.  Mereka belum mengetahui akan akibat LK hanya mencontoh jawaban saja, karena kalau mereka melakukan itu akan gagal dalam tes karena tidak mengerti  Dalam pembelajaran modul mereka akan mencari jawaban baik pada dosen maupun pada kawan sebaya, karena pembelajaran mandiri.  Sistem modul adalah pembelajar individual.  Demikian sistem modul maju berkelanjutan  Minggu berikutnya, atau modul dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah

3.

4.

5.

 Pembelajaran cenderung individual.  Kelompok yang diamati hanya 1 mahasiswa yang berhasil menuju test dan dalam satu kelas hanya 5 mahasiswa.  Dosen model cukup sabar dalam melayani mahasiswa.  Isu yang muncul bagaimana dengan mahasiswa yang belum menyelesaikan modul dan belum mengakhiri test?  Di awal perkuliahan sebaiknya mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya  Ada beberapa mahasiswa yang mengerjakan LK tanpa modul atau ada yang melihat modul temannya.  Ada juga mahasiswa yang hanya mencocokkan kunci jawaban, bahkan ada mahasiswa yang sembunyisembunyi mencocokkan atau melirik jawaban Agus.  Sebaik pertanyaan modul tentang penjelasan hukum Mendel tidak hanya bunyi hukum Mendel.  Mengamati kelompok Arisma, Faisal sebagai tentor di kelompoknya, pada saat Faisal berangkat tes, temantemannya kebingungan seperti anak ayam kehilangan induk.  Di luar dugaan, anggota kelompok yang ditinggal Faisal dibantu oleh kelompok lain.  Isu penting yang mengerucut adalah: (1) Bagaimanakah cara mengatasi mahasiswa yang tidak/belum paham? , (2) Pembelajaran terkesan individual, dalam satu

 Saran yang baik  Mereka belum faham akan pembelajaran sistem modul sehingga mereka akan melakukan seperti pembelajaran biasa.  Ok

 Siswa cepat akan melaksanakan tes sesuai kecepatan ia belajar, oleh sebab itu mereka akan meninggalkan kelompoknya untuk mengikuti tes. Setelah tes mereka akan menjadi tutor kembali dalam kelompoknya.  Mahasiswa yang pandai akan terpanggil menjadi tutor  Akan ada remedial, sistem modul memang individual. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 243

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
baris/kelompok harus ada tutor. ditunjuk tutor sebaya.

Tabel 4: Temuan Observer Pada Proses Pembelajaran II dapat dijelaskan bahwa, mahasiswa belum terbiasa dengan sistem modul, dimana sistem modul adalah pembelajaran individual dan maju berkelanjutan (Block, James H, 1971). Sehingga siswa cepat akan lebih dahulu menyelesaikan belajaranya dari pada kelompok sedang atau lambat (Moeslichatun, 1996). Untuk tidak menjadikan perbedaan yang mencolok antara mahasiswa kelompok cepat dan kelompok lambat maka dilakukan maju berkelanjutan terbatas. Sehingga perbedaan antara kelompk cepat dan kelompok lambat tidak terlalu jauh. Sedang tutor meninggalkan kelompoknya adalah hal yang lumrah, karena mereka akan menjalani tes. Tes disini tidak masuk dalam penilaian, bila lulus (tuntas) mereka akan melanjutkan pada materi berikutnya. Setelah beberapa modul lulus, mereka baru melaksanakan tes. Nilai hasil tes ini yang dapat dimasukkan ke dalam nilai SKS. Untuk mahasiswa yang belum memahami beberapa materi pelajaran akan mendapatkan remedial baik dari dosen yanag bersangkutan aatau dari teman sebanya (tutor sebaya).
Tabel 5. : Hasil Angket Untuk Mahasiswa
No 1 2 Pertanyaan Apakah pembelajaran hari ini menarik? Apa yang kamu dapat dari pembelajaran hari ini Tanggapan Menarik Biasa saja Hk Mendel Menyelesaikan soal sendiri Berperan aktif dlm kelompok Meningkatkan kompetitif Metode belajar berbeda Belum Sudah Ya*) Tidak menjawab Tidak ada Tidak perlu pengamat Sikap pasif mahasiswa Modul kurang Bekerja secara individu Jawaban tidak jelas Tidak perlu pengamat Pembelajaran menarik perlu dipertahankan Materi sebaiknya diterangkan Tidak memberikan jawaban Mengganggu Tidak mengganggu % 82,7 % 17,8% 78,5% 3,5% 7,1% 7,1% 3,57% 42,85% 57,1% 85,7% 14,2% 60,7% 17,85 10,7% 3,57% 3,57% 3,57% 10,7% 28,6% 46,42% 10,7% 21,42% 78,58%

3 4 5

Apa pembelajaran seperti ini pernah kamu peroleh? Apa yang perlu ditingkatkan pada pembelajaran hari ini? Apa yang seharusnya tidak dilakukan pada pembelajaran hari ini?

6

Saran komentar anda pada pembejaran hari ini

7

Apakah kehadiran pengamat menggangu konsentrasi anda?

Keterangan: *) Setiap mahasiswa mendapat LKM Isi LKM yang sudah baik ditingkatkan Diskusi kelas ditingkatkan Terlalu sedikit penjelasan dosen Pada Tabel 5 : Hasil Angket Mahasiswa menunjukkan pembelajaran menarik karena mahasiswa langsung mengerjakan LK dengan mengacu pada LKM yang ada dan langsung diskusi dalam kelompok di samping itu tidak perlu teori terlalu lama dan dosen langsung terjun ke diskusi kelompok. Sedangkan yang menjawab kurang menarik mereka merasa tidak mendapat keterangan dari dosen. Sesuai teori bahwa tipe belajar ada yang auditori dan tipe yang lain misalnya kinestetik (De Porter, Bobbi & Mike Hernacki, 1999). Dengan demikian mahasiswa yang mengikuti pelajaran genetika lebih banyak tipe belajar visual. Sedangkan pembelajaran yang diberikan oleh dosen model mahasiswa menyadari karena sebelum pembelajaran dimulai dosen model menyampaikan Kompetensi Dasar yang akan mereka lalui. Sedangkan pembelajarn model modul sudah mereka alami pada pembelajaran yang lain, namun mereka tidak mengetahui dengan pasti sistem modul dengan pembelajaran mengerjakan LK biasa. Permasalahan model Seminar Nasional Lesson Study 4 Biologi | 244

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajarn yang dilaksanakan tidak ada masalah, yang menjadi masalah adanya pengamat. Mereka merasa kurang bebas, pernah ditanyakan pengamatan masih ada hubungan dengan diri mahasiswa dihawatirkan berdampak pada hubungan mahasiswa dengan dosen mata kuliah lain, namun sebagain besar mereka tidak merasa tergganggu. Dari hasil Pengamatan Observer dan Angket mahasiswa sesuai dengan Pedoman yang diberikan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional 2011, dosen model mendapatkan masuka untuk Pengembangan inovasi pembelajarn dan bagaimana mengelola komunitas belajar dan bagaimana pula mengembangkan karakter dosen atau mahasiswa. SIMPULAN
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pelaksanaan Lesson study dapat menampilkan pembelajaran yang terkoreksi sebelum dan sesudah pembelajaran sehingga dosen model dapat meningkatkan kompentensinya Rangcangan pembelajaran dan proses pembejaran di siapkan secara matang dengan demikian terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran Pengembangan inovasi pembelajaran dengan sistem modul belum terlaksana sepenuhnya. Sementara pembelajaran belum memenuhi keinginan mahasiswa. Dosen model dapat memahami semua masukan dari observer Kehadiran pengamat sebagian mahasiswa terasa terganggu

DAFTAR RUJUKAN.
Anonim, 2011, Pedoman Penulisan Makalah Lesson Study Untuk Seminar Exchange of Experience, Direktorat Pembelajarn Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Block, James H, 1971, Mastery Learning and Practise. New York. Holt-Rinehart & Wiston. De Porter, Bobbi & Mike Hernacki, QuantumLearning, Terjemahan, Penerbit Kaifa, Bandung Moeslichatun, 1996, Pengajaran Individual dan Pengajaran Modul, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Fakultas IlmuPendidikan IKIP Malang. Sukardjo, 1977, Modul Ilmu Pengetahuan Alam, Kimia Unsur II, Departeman Dan Pengembangan Pendidikan Dan Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta. Santyasa, I Wayan, 2009, Implementassi Lesson Study Dalam Pembelajaran , Universitas Pendidikan Ganesha, Bali. Hendayana dkk, 2006, Lesson Study, FPMIPA UPI dan JICA, UPI Press, Bandung Indonesia. Balitbang Kemendiknas, Warta Balitbang, Vol VII edisi 1Maret 2010 ISSN 1976-3553.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Biologi | 245

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->