RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ………………..…2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

. VIVA TAMBANG. Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara.. Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII “Filipi Family” yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali . Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku. ..... tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13) Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma... Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa. ..4 Lihat.

gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994).00” – 102° 41’ 5. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7.644. dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m.5 RINGKASAN PT.00” LS dan 102°11’ 15.715 ton. Wilyah PKP2B PT. lebar permukaan jalan 18m. Autocad. dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka. superelevasi 4 % (AASHTO 1994). lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60°. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m . bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2. Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. lebar selokan 1m. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional. dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300.00” BT.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper. dan Mine Scape.1 ton. . Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun.450 Ha. sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7.000 ton. yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 0°45’ 00 – 0°33’ 45.5m.000 ton. radius putar (turning radius ) 8. Riau Bara Harum seluas 24. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton.52m. Berdasarkan model rancangan batubara. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang. Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl. untuk rancangan yang baik dan terarah.

3. Dr. 5. Waterman Sulistyana B. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Ir.H. 6. Dosen Pembimbing I Skripsi. MT. Dr. penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.Gunawan Nusanto. Yogyakarta. S. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dalam kesempatan ini. dapat selesai dengan baik. MS.MT. Anton Sudiyanto. Ketua Jurusan Teknik Pertambangan. Ir.T. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan. Dosen Pembimbing II Skripsi.6 KATA PENGANTAR Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. Ir. M. Denny Tebay . Fakultas Teknologi Mineral. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. H. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau.Ir. Dr. 4. M. Didit Welly Udjianto. Oktober 2011 Penyusun. Koesnaryo. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Prof. 2.Sc. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi.

1 Latar Belakang ..... 1.................... DAFTAR LAMPIRAN .........5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa .................................. 1..............................................................................3 Keadaan Geologi Sumatera .........................................7 Manfaat Penelitian ...... 2.................................................. 1......... 2..1 Lokasi dan Kesampaian Daerah ........... 1.................................................................................... 2.................................... 4 5 5 7 9 12 ......................................................... ............. 1 1 1 2 2 2 3 BAB II TINJAUAN UMUM 2.......... 2... 1......................................6 Hasil yang Diharapkan ........................................... DAFTAR GAMBAR.......................................... .........................................................................4 Kondisi Daerah Kelesa ............................................................................................................................ 2..............2 Identifikasi Masalah ................ 1................................................................6 Genesa ..................................................... DAFTAR TABEL ........................... vi DAFTAR ISI .......................................................................7 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..............................................2 Keadaan Iklim ..................................................................................3 Batasan Masalah ............................4 Tujuan Penelitian ..... vii ix x xi BAB I PENDAHULUAN 1.............5 Metode Penelitian ......................................

.................................2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan ......................................2 Tahapan Perancangan Penambangan ......................................................................7 Metode Penambangan ..........8 2..........6 Pemilihan Alat ........... 3................................................. 16 BAB III DASAR TEORI 3......................................................... 3.............................. 4....................10 Perancangan Timbunan ..................... 3...................................................................... 3...............3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang .......................................................... 4.6 Sistem Penambangan ............ 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55 BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4........1 Perancangan Tambang ..................................................................................................... 4..................................4 Penaksiran Cadangan ..........4 Perancangan Pit Penambangan ... 58 59 75 79 79 79 80 81 82 ......5 Penjadwalan Produksi ............ 3. 4..11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang ...............................9 Jalan Angkut .......................................9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile ......................................................7 Parameter-Parameter Rancangan ......3 Konsep Pemodelan Sumberdaya .................... 3..................1 Sumberdaya Batubara .......... 3...................................8 Jadwal Rencana Produksi ............7 Sistem Penyaliran Tambang ....... 3......... 4.............................................................................................. 4....... 4..... 4........... 3........... 3.....5 Rencana Produksi ........................................8 Desain Tambang Terbuka ...............

...................1 Sistem dan Tatacara Penambangan ...................9 BAB V PEMBAHASAN 5....... 102 LAMPIRAN ................................................................. 100 6.................. 5..................................................................................................................... 5........................................................................................ 5................................................................. 84 88 95 95 96 98 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6...................................5 Peralatan ....2 Metode Penambangan .................................. ...2 Saran .................. 103 ......... 5.......4 Tataletak Fasilitas Tambang ......................... 101 DAFTAR PUSTAKA ...................... 5.1 Kesimpulan .....................................................3 Rencana dan Jadwal Produksi ..........................................................6 Sistem Penyaliran Tambang ...

...3 5..............2 4................................6 Batas Koordinat Konsensi Pertambangan................................. Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden................ Batas Koordinat Blok Siambul............10 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4............5 4...........5 5.........6 5................... Jadwal Penimbunan Tanah Penutup ............ 59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98 .. Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden .................. Jenis Peralatan Utama Penambangan ......... Data Pemboran Litologi.............................................................................4 4.........................................................................1 5.............. Rencana Produksi Batubara dan Overburden .............................. Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden ................2 4.......2 5.......3 4... Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul ....................1 4............................................... Data Hasil Penaksiran Cadangan .....4 5................ Kapasitas Stock Pile ................................................................................................ Data Pemboran Collar .....

... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI ... Inter ramp slope angle ............ Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan .............. Penambangan Strip Mining ............5 2..........8 3................1 2....................3 3................................................................................... Proses Terjadinya Batubara ......4 2... Jenjang Kerja dan Safety Bench .......... Overall Slope Angle With Ramp.......................2 3...........1 3........................................................ ............. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun ...9 Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian .................................................... Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara ............................................................. Peta Geologi Blaok Siambul .................. Penambangan Contour Mining ....................................4 3....................................3 2................... Penambangan Open Pit ....................6 3...................................... Overall Slope Angle........ Bagian-bagian Jenjang ................................................................................5 3..............................................................11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2............................6 3.................7 3..............................2 2...............................................

.......22 3... Peta Lokasi Lubang Bor .................13 3.... Lebar Jalan Angkut pada Tikungan...........................................1 4............................. Peta Topografi 3D Blok Siambul ........5 4...........................12 3.............................................................................3 4... Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing ..... Sayatan 3D Batubara Seam D........................21 3................16 3.................................................. Bentuk Penampang Saluran Terbuka .................24 4....14 3........................................ Peta Blok Siambul ................................18 3...............................19 3..............................................12 3............................................................................................. Lebar Jalan Angkut Lurus............. Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul .............................................................. Cara Penimbunan Highwall and float dozing ..... Superelevasi Tikungan Jalan Angkut .17 3.. Overall slope angle dengan working bench dan ramp ........... Kontur Struktur Lapisan Batubara .................15 3.........................23 3...........4 4........2 4...... Cara Penimbunan Down Hill Dozing ................. Jenis Timbunan Terraced Dump ................................................................................. Overall slope angle dengan dua working bench ............................... Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ......11 3..........6 Inter slope angle dengan satu working bench ............................................. Seam E dan Seam F....20 3..................................10 3.................. Penampag Cross Slope ............. Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp .......... 37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79 ...................... Radius Tikungan Jalan......

............. Skema Saluran Penyaliran ...................................... Dimensi Jenjang Waste Dump ...............4 5.2 5................ Grafik Proksi Akumulatif Batubara ................................................................................................................................................................................................................8 4.10 4....... Skema Saluran Penyaliran .....13 5...........3 5.......7 4............ Geometri Lereng Penambangan .............9 4...12 4.............................. Layout Rancangan Waste Dump .............. Tata letak Fasilitas Tambang .......13 4.................... Grafik Produksi Batubara Per Tahun .............11 4............................................................ Peta Blok Analisis SR........1 5... Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych ....................................................................6 Blok Batas Analisis SR............................................................. Dimensi Jenjang Pit Penambangan .................................... Grafik Rencana Produksi Overburden ............5 5......... 71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99 .........................................................

............... O...... PETA GEOLOGI .................. SPESIFIKASI ALAT................. .... F......................................14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A............................................................... NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) ......................... .................... M...... B................. Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191 PETA KESAMPAIAN DAERAH ......... PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN .................................................................................. PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA ............. K... GEOLOGICAL MAP of KELESA ...................................................................... P...... DATA PEMBORAN .................. J........................................................ PENAKSIRAN CADANGAN ......................................... PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT ........................................ PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN ...................................... SAYATAN PENAMBANGAN ....................................... PETA ISOPAC ................................................. PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT ........................................................ PETA SUBCROP LINE BATUBARA ............... PETA KONTUR TOPOGRAFI ....... E............................................................................................................... PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH ............... PETA LOKASI TITIK BOR............................. SAYATAN TITIK BOR .................................. H........ G..... C....... N.......... PETA SECTION LINE TITIK BOR ..................... PETA BLOK SIAMBUL ............................................................................... L........................... D. I..........................

15 BAB I PENDAHULUAN 1. Auto-cad dan Mine Scape. Latar Belakang PT. Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat. Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian. Batasan Masalah Penambangan batubara PT. penambangan. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper. 1.1. dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR). Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. PT. Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. dan pengangkutan. 1.3. Kecamatan Belilas. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Kelesa.2. . untuk itu PT. pembongkaran. b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman. Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut.

16 1. menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara. 1. b) Pengambilan Data · · Data Sekunder : data logbor. b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara.5. Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang. .4. serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT. Metode Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu. data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan.6. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul. 1.

1. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah. sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan.17 d) Dapat berguna bagi PT. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang. . Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan.7.

Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km.18 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT. Kecamatan Seberida.1 Peta Kesampaian Daerah . Riau Bara Harum berada di wilayah Desa Kelesa. Riau Bara Harum terletak pada 0°45’ 00 – 0°33’ 45. Luas PKP2B PT.00” BT. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam.00” LS dan 102°11’ 15.450 Ha.00” – 102° 41’ 5. Riau Bara Harum adalah 24. Secara geografis lokasi PKP2B PT. Kabupaten Indragiri Hulu. dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km. Gambar 2. Provinsi Riau.

Agustus).Februari) dan musim kemarau (Maret .700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera. yang diendapkan oleh sungai-sungai besar.2732.3. sedangkan kelembaban pagi sektar 90% 2. terdiri dari pasir.1 Keadaan Geologi Regional Sumatera . dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31°C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%. Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : · Alluvium (Qa). Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) .19 2. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan. Riau Bara Harum memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September . Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak. dengan panjang 1. Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008).1984).60 mm/th. 3-4°C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%. dan lempung.80 .3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3˚ LU sampai 6˚ LS dan 96˚ BT sampai 106˚ BT. Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep.sampai panjang (lama). 2. dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata – rata sebesar 188 hari. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen. curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989. lanau. Berdasarkan data meterologi. misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin.2 Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT.

sejajar dengan sistem sesar Sumatera. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter. merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen.000 meter. batulanau. lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas. menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. · Formasi Gumai (Tmg).3. batupasir. Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. Arah struktur persesaran adalah BU – ST. terdiri dari tufa. batulanau. Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20˚ 25˚ berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan. dan nodul-nodul gampingan. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1. terdiri dari batupasir konglomeratan. 2. .000 meter.20 · Formasi Kasai (QTk). dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa. tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice). Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen. Pada Tersier Awal. Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1. diendapakan pada lingkungan daratan. batulanau tufaan. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter. batupasir berbutir kasar sampai halus. Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara – Selatan dan merupakan pergeseran horizontal. Pada Oligosen Akhir. batulanau gampingan dan serpih. · Formasi Muara Enim (Tmpm). terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping. perlipatan dan perputaran sekitar 20˚ berlawanan arah jarum jam. · Formasi Talang Akar (Tomt).

Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam. kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut.21 2. Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut. dendritik. dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang. Sungai Kerintang. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut. Sungai Renteh dan Sungai Selesen.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako . 2.4. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras. dan terllis.3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal. Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%.4. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang.4.4 Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai 2. 2. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar.

3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan .22 sebagai sungai utamanya. Sungai Akar merupakan sungai utama. Gambar 2.2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa Gambar 2. Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon.

Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. granodiorit. batupasir termetamorfkan dan kuarsir. Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit. Sumatera . Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit.1994) Lampiran A-02. d. dan batulanau. yaitu: a. Secara stratigarfi Formasi Gangsal. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1. tuff andesit sampa tuff basalt.23 Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2. di beberapa tempat berubah menjadi hornfels. filit. c. kelabu sampai coklat. Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). setempat dengan butiran kerakalan. pegmatit. Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbh’s Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel. keras dan forfiri. b. Tersier hingga Kuarter. Formasi Kelesa (Teok) 2. batusabak berbintik.5. batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan. greyweke kuarsit. dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara . 2.

serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan. e. lensa. batu pasir. g. Formasi Muara Enim. tuff. dan kemeraan. yang disisipi batu lempung. tufaan. atau breksi. setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung. batu lanau dan sisipan serta lensa – lensa batubara. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan. Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa. Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. b. f. serpi tufaan dan tufa. batulempung. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan. batupasir kerikilan. formasi ini terdiri dari konglonerat. kecoklatan. Formasi Kerumutan ( Qtke) . keras dan ringan.halus dengan batu lempung tufaan. serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung.lensa kuarsa dan lignit. batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. abu-abu kehitaman. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. serpi dan batubara.24 Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan – batuan Pra Tersier. c. d.

3. setempat silang siur . 2. Hal tersebut berkaitan dengan . tufaan kerikilan. Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura – Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai – Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Aluvium (Qac) Berupa lempung. tuff. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier. lumpur. batu lempung tufaan. lunak tidak mengeras. yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan. halus sampai sedang. dan gambut berwarna hitam sampai coklat. batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel. kelabu muda kemerahan. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung. lanau pasir. 1991). Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron. lumpur.25 Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim. terdiri dari batupasir kuarsa. c. hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata.5. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna. dan berangkal berwarna kelabu. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur. 1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. batulempung tufaan. kerakal. pasir. lanau. N.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. dengan sisipan kayu karbonan b. tufa setempat lempung pasiran.

6. Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu. timurlaut-baratdaya.1 Genesa Batubara . Di Indonesia batubara yang 2. Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya.4 Peta Geologi Blok Siambul 2. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar).26 pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan. Pada Mio–Pliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang.6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna. Gambar 2. struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara.

.27 ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O. Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. proses oksidasi material penyusun utama cellulose Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa. CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia. Untuk penyederhanaan proses tersebut. Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya. yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup. batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu. CH4. maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya.

CH4. proses pembentukan gunung. kekerasan dan nilai kalor. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi. Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma. pelepasan gas-gas (H2O. Tekanan. Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur. serta aktifitas tektonik lainnya.28 Gambar 2. gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %. CO. peningkatan kepadatan. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan – cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. CO2). temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia.5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. . disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman.

Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi. CO2).2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D. . . seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0. Ketebalannya berkisar antara 0.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. peningkatan kepadatan.5-6 m. Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi. Tekanan. pelepasan gas-gas (H2O. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. kekerasan dan nilai kalor.5-4 m. E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung.6. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. 2. CO.29 Gambar 2. CH4.

terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck. dan bila ditemukan material keras. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk. .30 2. Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. Sedangkan batubara yang keras. akan di berai dahulu dengan bulldozer. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian.50m. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.7 Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck.

koordinat titik bor. Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi. Setelah pembuatan peta topografi. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi. dilakukan dengan proses triagulasi. kedalaman lubang bor. perancangan tambang jangka pendek. yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D. ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor. kedalaman lapisan bawah (floor). baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara. perlu dilakukan pemodelan geologi. dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar. kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur. lapisan atas (roof). dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian. maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara. Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi. yang meliputi: nama titik bor. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. data litologi meliputi: nama titik bor. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D. penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan.31 BAB III DASAR TEORI 3. nama seam. elevasi titik bor. Sebelum melakukan perancangan tambang. batubara yang dapat dari . Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape.1 Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04.

nama seam batubara. dan calorific value atau kalori batubara. relative density. dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. Dalam pengolahan data pemboran. juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor. kedalaman lapisan atas (roof). total sulphur. Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60° maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan. Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut.32 hasil log Bor. Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E. dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. . dan kode litologi. subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail. inherent moisture. kandungan abu (ash). Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden. kedalaman lapisan bawah (floor). Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. total moisture.

Berdasarkan data tersebut. Dalam penaksiran cadangan awal. Pada hasil resgraphic. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan.33 Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda. blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m. dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. . Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich. dan seterusnya. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01. supaya penaksiran menjadi lebih detail. batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. Dalam pembuatan desain geometri penambangan. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan. Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi. dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. Blok 02.

Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau. Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999). tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi. Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a).Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. d). dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau .2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. f). b). c).34 3. e). Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur.

2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. korelasi. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). serta kesampaian daerah. bentuk. United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities. pembuatan paritan. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50. penginderaan jauh.1). penaksiran. kuantitas dan kualitas.000. percontoan dan analisis.000. dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100. pengukuran penampang stratigrafi. Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.000. penampang geofisika. pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi. pemetaan topografi. pembuatan sumuran. sebaran. pemboran uji.35 Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. struktur. Geneva (Gambar 3. 3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan. pembuatan sumuran. . tataguna lahan.

E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study § Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka.1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu. yaitu : E. F dan G. dimana.36 Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Gambar 3. yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis) .

yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study) § Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi . ketebalan dan kualitas endapan. yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance) 3.3 Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan eksplorasi endapan batubara. tonase tiap unit. pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara.37 § Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka. misal kearah utara dan kearah timur. jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat. jenis batuan. informasi geologi. berat jenis. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian.

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +………...+

Ln

…………………….3.1

Keterangan : L1, L2, L3, …………, Ln S1, S2, S3, …………, Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +………...+ Ln …………….3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)…………)L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +…….+ 2Sn + Sn )L/2 ………………… …….3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 ……………………………………… 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) ≤10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

Ketebalan lapisan batubara b.2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment.41 Gambar 3.6. Kemampuan peralatan yang digunakan f. . Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya. Pemasaran d. Sifat dan keadaan batuan penutup e. 3. Kualitas c.

42 Gambar 3. berlapis Kemiringan relatif. lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring .3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang). Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil.3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah. 3. Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang.6. kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : · · · · Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular.

1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil . atau berupa file surface titik ketinggian. teknologi peralatan) Gambar 3.4 Penambangan Strip Mining 3. termasuk drillholes collars. meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh. 3.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut.7.7. 3. google earth dan google scateup. Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden.43 · Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio. maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi. globalmapper. Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer.

pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. kurang lebih 2-5m. 3. 3. yang berproduksi 10. lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar.44 Menurut Robert. Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m.7. Namun untuk lereng permanen. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut. atau pada tanah yang terekpos.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan.6 Kedalam Pit Bottom . Namun jika pit semakin dalam. relatif lebih tipis.7.7. ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit. 3. Tergantung pada peralatan yang digunakan.000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m. maka lebar jenjang juga semakin lebar. Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit. Montana. pada continental pit. Butte. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm. kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya. 3. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih. yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan.7.

drainase alami pada permukaan. tekanan piezometrik. gradient hidrolik. dan flktuasinya seperti.7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. daerah tangkapan hujan. sumbangan air tanah. kedalaman muka air tanah. lokasi daerah yang pernah banjir. ukuran (jumlah) deposit. b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan . 3. diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran).7.7. 3. kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude. Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %. permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang. nilai mineral yang ditambang. naiknya biaya produksi dan pengangkutan.45 Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman. Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik). pororsitas. serta kapasitas mill dan produksi. dan lain sebagainya.

struktur geologi yang ada. dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik. Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan.8. yaitu : § Sasaran produksi dan stripping ratio . artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan. dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja. penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja).2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang. densitas batuan.8. 3. Pada material lunak. faktor pengembangan. maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang. 3.46 h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan.1 Geometri Jenjang 3. Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan. Dengan pertimbangan tersebut.

tinggi jenjang. dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. panjang. Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya. rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan).47 § § § § Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar. Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). pola gerak alat muat dan alat angkut. maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang. Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. kemampuan alat muat. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang. Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik. Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Ø Jenis dan kemampuan alat Ø Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Ø Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Ø Pemanfaatan lahan bekas tambang Ø Kapasitas produksi yang akan dipakai . dan mekanik batuan.

pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil.48 Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang. agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material). Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang.5 Bagian-bagian Jenjang . Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini. lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench). Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut. Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe Gambar 3. Dalam pelaksanaan penambangan. Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material. sudut lereng jenjang tunggal. Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman.

7).3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut.6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3.8. jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3. . Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan. dengan memperhitungkan jalan angkut. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan.49 b) Jenjang kerja (working bench) Gambar 3.

Keterangan : q R : overall slope angle : ramp R q Gambar 3. namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3.8).7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama.8 .50 Upper most crest a Lower most crest Gambar 3.

51 Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.10 .10).9). C Keterangan : qIR1: Interamp slope 1 qIR1 R RC qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp qIR2 T Gambar 3.9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3. C qwR1 Keterangan : qwR1 qwR2 WB W WB WC : Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe qwR2 T Gambar 3.

12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp . qwR1 Keterangan : WB R qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3 qwR3 Gambar 3.12).52 Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3.11).11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3. WB Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp R q Gambar 3.

53 g) Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan sebagai working bench. kerikil. WB1 Sh1 Sh2 WB2 Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2 q Gambar 3. maka tinggi jenjang . Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat. dragline. 555 Pasal 241 (1) Kemiringan. bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang. tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh. 13).4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3.5 m apabila dilakukan secara manual. (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir. (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2. (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual.8. dan material lepas lainnya harus : (a). Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3. tanah liat. Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell.

54 maksimum untuk material kompak 15m. Apabilah swichback tidak . Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai. berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah. Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan. perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp. Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. 3. kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus. oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck. selokan penyaliran. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. ruangan untuk truck yang akan menyusul.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya. dan tanggul pengaman. pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan.8. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %.

Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana. karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara . jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang. Dalam perancangan. Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. Pada tahap perancangan. parameter waktu dapat mulai diperhitungkan.55 mungkin dihindari. Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara.8. 3. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja.

c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit. dan bidang geser) (d) Air tanah.9. Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut. tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar.9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru. Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam.56 Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya. bidang perlapisan. kekar. penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher). Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut. Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit. unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3. 3.1 Letak Jalan Keluar .

57 3.5 . 3.4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu.2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas. menghasilkan banyak debu.3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas. ruangan untuk truk yang akan menyusul. (meter) 3.(0. a) Lebar Jalan Lurus L =n.Wt + (n+1). biasanya 4 kali lebar truk.5.9. juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman. (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut.Wt) …………………………………………………… L : lebar jalan angkut minimum. switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.9. karena dalam operasi penggalian batubara.9. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit. juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan. yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck. 3.

(meter).. 3.Awang Suwandi. perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang . The file may have been mov ed. renamed.14 Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0.5 wt.5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C ……………………………………………………. maka harus dilakukan beroperasi.6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan. 2004 ) Gambar 3.58 The link ed image cannot be displayed. or deleted. (meter). Verify that the link points to the correct file and location.5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan. U : Jarak jejak roda. Ukuran 0. yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan. CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min ( Ir.

Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum. C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan. rumus yang digunakan adalah : .Awang Suwandi. (meter). 2004 ) Gambar 3.(meter).15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan c) Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan. Fb: Lebar juntai belakang. (meter). Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda. ( Ir. Penentuan besarnya jari-jari tikungan.59 Fa : Lebar juntai depan.

60 Wb α R R = Wb/sin α α Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan. dan menambah kecepatan. meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang α : Sudut penyimpangan roda depan (◦ ) Gambar 3.16 Radius Tikungan Jalan 3.9. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling.5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan. .

8 m/s2 . Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya. nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m. pada kondisi jalan kering. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan α = V2/R. Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan.G ……………………………………………………………………(3.I.7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9. nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin.61 Gambar 3.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D.C.

9.8) Gambar 3.. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade (α) = Dengan: ∆h ∆x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%. cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air. maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3.62 Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang.(3. 3.18 Penampang Cross Slope . Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas. …….. baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. sehingga memenuhi persyaratan cross slope.18). maka perlu menimbun bagian tengah jalan. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut. maka cross slope dibuatb 1: 25. …………………………………………………………….6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan.

Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b.9. Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini. Sistem ini cocok untuk: a.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut. sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau . Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang. sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. muat. Tanah atau batuan lunak c. bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat. Tanah penutup yang tebal b. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini. dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer. dan truk jungkit. tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. backhoe.63 3. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas. tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus.

9. yaitu pit (tambang). penomoran untuk panel 01 adalah P01. termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya. 3.1 Parameter Perancangan Timbunan . pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang.64 pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup. 3.11 Teori Strip.10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel. perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. strip dan blok. panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. Lebar tiap panel adalah 50 m. berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01. Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel. Penomoran untuk Strip 01 adalah S01.10. panel. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. contoh S01P01. Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. 3. yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut. kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan. baik yang berharga maupun yang tidak berharga. Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

3. Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas. baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi.65 Proses penimbunan material. Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe).45m material lepas (loose material). antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370. Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit. lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard . Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest). Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya. ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping. Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut.2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna.10. d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan. Material insitu akan mengembang menjadi 1.45 % pada 1 m3. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest.3-1. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M.

Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan . dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a.10.19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump . b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang. baik material berharga maupun tidak berharga. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan. Gambar 3. Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng.66 Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat. 3.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material. kemudian bulldozer mengurus material ini.

Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan.67 b. alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya. Gambar 3.20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3. Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak begitu curam. Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas.10. antara lain: a. lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah. jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan . Keuntungan dari jenis timbunan ini. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk. Pada pelaksanaannya.

bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir. Trench atau sloat dozing .21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b. Gambar 3.22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing c.68 Gambar 3. Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang. Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam.

.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3. Provinsi Riau. Kecamatan Seberida.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa. Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung. sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah. Kabupaten Indragiri Hulu. termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi.69 Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana. Gambar 3.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 – 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

pembuatan peta topografi.44 198532.80 LINTANG SELATAN (m) 9915182.20 9914258.2 Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan pengabungan perangkat lunak Globalmapper.35 198534. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit.72 9932686.30 9913333.11 227323. Riau Bara Harum secara geografis.60 9933607. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT. pemodelan batubara.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452.01 .79 9930841.72 9932689.61 9913333.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455.30 9914258.52 226389.32 9915187.32 227309. yang pekerjaannya dibatasi oleh.61 9912418. Tabel 4. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4.2.1. AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah.05 197608. tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.29 226389.22 9930844.04 200393.40 228240.91 9933614.34 199462.73 4.11 228253.64 199457. AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT.

72 225460.32 201319.82 200395.53 203174.42 9929926.32 201325.17 224530.24 9925317.56 9924391.00 Lanjutan Tabel 4.32 9929926.01 203178.47 9925309.48 229173.28 9917940.88 205037.44 211536.02 200394.21 9913341.06 9916102.92 213397.84 212462.36 9924386.85 9924396.93 9913342.42 9934528.28 9917023.37 9912415.18 9914260.40 9914260.46 9928083.83 231963.68 9916419.13 223601.42 9927163.65 211528.79 9934528.95 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 231958.06 .54 9924392.30 228247.31 227315.23 212463.41 9931768.79 238448.94 223599.1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 201321.86 9919793.23 9928080.87 9920715.14 9916408.21 9911505.40 228244.21 201313.23 224530.01 51 52 53 54 229173.01 205033.89 229178.43 9925318.43 225463.63 213386.62 226383.19 9915180.79 9931762.74 8 9 10 11 200391.35 9923470.20 229170.55 210601.09 9917023.98 9919793.41 226388.40 9915187.90 9916102.39 210606.32 9925308.42 9927156.10 227320.28 9917947.

91 9919793.03 213380.24 223601.95 223601.03 214315.26 9933613.22 215246.97 9931767.42 9930846.01 215241.22 9927163.59 215250.53 9925320.08 9935459.87 9918869.49 218036.42 9928083.37 9917023. seluas 24. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat . dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT.17 9918866.52 9914565.99 9932696.92 9928080.1 41 42 43 224535.64 9920715.89 9933611.69 84 85 86 212453.27 218027.14 210601.53 9917020.82 214320.16 9919793.53 225460.69 210607.84 9911493.85 222670.11 214326.45 9916100.73 9924392.07 Dari data koordinat lokasi konsensi PT.33 9920710.75 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 214315.31 215249. Riau Bara Harum.86 9916407.61 9911489.19 216175.81 9930850.73 222668.08 218953.03 224527.06 9924397.450 Ha.30 9931767.45 9916403.39 218027.99 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 225455.19 221433. Riau Bara Harum tersebut.89 Lanjutan Tabel 4.39 9914556.71 216168.84 9925317.49 9916101.94 9923474.30 215862.83 213389.43 218956.70 215870.17 9920703.98 218031.98 221427.03 225455.33 9927159.

2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4. dapat dilihat pada Tabel 4.094 215515.227 9920855.2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul. Secara keseluruhan konsensi penambangan PT.675 217072. Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar. Blok Pegegas. yakni : Blok Kelesa.144 9923643. Batas Koordinat Blok Siambul NO TITIK BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m) 1 2 3 4 217072. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha.227 9923043.675 215515.2. Blok Sungai Aarang. Blok Ringin.144 . Blok Siambul.094 9920885.76 lunak autocad.

2 Blok Siambul PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 °. Hasil pemetaan topografi . sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl. Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT.77 Gambar 4. Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan. disebabkan PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul. Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT.

3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A.78 dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD. Gambar 4. Riau Bara Harum . sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut.

maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian. sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara .79 Setelah diperoleh data koordinat topografi.2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan ≥ 0.2. dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi.5 m. Riau Bara Harum Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian. Gambar 4. dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian. 4.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT.

data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor. dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20° . Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor.50 51 . Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul.5 m sampai 6 m. Tabel 4.80 0. PT. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara. total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F.3 Data Pemboran Collar PT. elevasi titik bor. sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0. Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70. Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor. kedalaman lubang bor. dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan. koordinat titik bor.5 m.5 m. Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian.5 m. hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0.30°.

dank kode litologi.81 SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B 216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081 9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844 68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60 60 51 60 45 27.5 31.0 52. Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara.0 60 52. .0 45. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.5 30 29. batas kedalaman lapisan bawah (floor). batas kedalaman lapisan atas (roof).7 2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor.

20 26.20 24.70 19.80 22.00 54. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A 29.20 30.90 24.90 53.60 3.10 31.80 38.00 15.70 38.80 50.50 21.00 16.60 3.00 35.50 1.10 2.80 1.90 0.10 0.00 17.00 0.50 18.4 Data Pemboran Litologi PT.82 Tabel 4.00 22.10 6.70 51.90 24.00 29.60 32.20 3.80 1.20 19.80 36.70 9.00 34.70 3.80 5.10 1.50 2.00 1.60 6.80 5.40 23.20 1.80 0.10 1.00 19.00 0.50 1.90 1.00 1.60 18.60 50.80 0.20 53.00 D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO .50 0.

E1.30 0.40 2.40 27.90 48.20 30.70 15.90 1.30 34. inheren .40 1.50 3.E.10 F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO Ket : CO = Kode Litologi Batubara D.30 1.00 28.30 31. batas kedalaman lapisan bawah (floor).80 48.00 26.10 1.10 6.90 35.30 7.10 0.50 34.80 0.20 0.60 7.60 0.50 0.80 36.90 34. total moisture.70 17. relative density.30 0.90 42.40 0.40 5.83 SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B 20.40 16.00 34.40 5.10 21.40 37.40 21. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor.90 2.90 0.00 33.10 43.90 30. batas kedalaman lapisan atas (roof).00 25.90 2.80 34.E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.50 5.30 15.00 36.

Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit. Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface. dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara. khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor). Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. ketebalan setiap seam bervariasi. secara berurutan. Dari hasil pengolahan data pemboran. Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut. kandungan abu (ash). total sulphur. dan calorific value atau kalori batubara. dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6. namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan. layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan. Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur.80 m.84 moisture. .

4. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G.3.85 =Seam F =Seam F = Seam F = Seam F = Seam F Gambar 4.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut.2. seam E dan seam F.2.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4. juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian.2. Dengan pembuatan kontur struktur. sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D. Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara. berbatasan dengan . secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara.

Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). Penamaan Blok ini. Pada daerah penelitian. Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01. diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource). hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. panel dan Blok. Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m. Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4. dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource). Pada jarak 250 m dari titik bor terluar. dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20.9. untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1.2. Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok. penamaan strip dimulai dari S01. Blok-Blok terbentuk. Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape. dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m.86 konsensi pertambangan PT. berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil. sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf “BL”. secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip.8. pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi. dan penamaan panel dimulai dari P01. .8). dapat dilihat pada Gambar 4. menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip. Riau Bara Harum.3. 350 m. untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan. 4. pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio. dan 250 m dari titik bor terluar.

87 Gambar 4.8 Blok Batas Analisis SR .

2.3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape . analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m .9 Peta Blok Analisis SR 4.88 Gambar 4.3.

Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR). Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich .10. Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas. dan pit bottom sementara. dapat dilihat pada Gambar 4. Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.10. Analisis resgrapich stripping ratio (SR).89 seluas Blok besar yang melingkupi. Gambar 4.

dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl.985 9 4 8 .90 Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.836 1. dengan stripping ratio 9 : 1.265.3. dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495.899 5. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.209.585 ton . 4.606.209.922 4. Tabel 4.926 ton .318. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.926 203. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965.2.922 bcm.444.698 4.186 1. overburden sebesar 3. overburden sebesar 4.748.169. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J. Seam E2 dan Blok Seam F. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1.186 bcm. atau disebut dengan bagian low woll.265. Seam E1. . Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D.248 bcm.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D. dengan stripping ratio 4 :1.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 4. dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl. dengan stripping ratio 4 :1.504.481 ton.444.960 495. Seam E.481 1. Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan. overburden sebesar 4.

sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut. sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost.3.138.91 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 30 20 170.585 2. dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty.612 4.025 3.59 5 4 5 4.71 32.854.907. membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya. lebar jalan pada tikungan 27 m.09 149.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup . Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m.3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan.690.248 13.178. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty).504. Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile. tahapan- 4.314. pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun.999 965. sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %. Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit. Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap.806 15.566.

Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya. selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan.000 ton/tahun. Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. 4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio. Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi. 4.3. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara. sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi.2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan. Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining. parameter-parameter tersebut antaralain : . sesuai dengan arah penyebaran batubara. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting.92 Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang.

Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60°-70° dan overal slope ≤ 45° g. khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup. Peta Topografi). Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e. Sasaran produksi pertahun sebesar 300. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. Lebar jalan tambang (20 m) Gambar 4. Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat. Stripping Ratio (SR) ≤ 10:1 c. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h. dan .000 ton b.11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01.298 Kcal/kg d.93 a. langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar.

untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi. Angle of repose dari material overburden (25°) e. . Tujuan daerah timbunan (waste dump) b. Lebar jalan tambang (20 m) f.12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit). parameter tersebut menggunakan antara lain : a. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting. maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi .94 lapisan batubara antar seam batubara (interburden). Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) Gambar 4. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c.

Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2.95 4.94 ton.48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300.827. Blok seam E dan Blok seam F.71 atau 9 tahun.000 ton. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR).360.83 ton. diperoleh batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl. dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1.48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14.614.614. Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D . Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F.4 Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian. 4. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang .6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih. sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara.5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2.790. Riau Bara Harum adalah 1 : 10. Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan.827. Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K. Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan. sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8. sehingga total volume 15.177. Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT. 4. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi.786. dan menjadi batas tiap Blok penambangan.

Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan. sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan. Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang. air limpasan maupun air tanah. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan. 4.96 akan dibuat. Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai. Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang.7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit). Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih. bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. .

481 2.467.705 (TON) 303.6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.940.101 2.206 315.877 1.751.533 2.764 1.135 1.637.741.552.764.428 (BCM) 2.460.652.483 1.669.13 Skema saluran penyaliran 4.928 301.592 314.97 Gambar 4.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.164 2.299 304.

084 13.011 303.073 776.493 529.243 969.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang.9.257.122 307.612 15. serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah. Gambar 4.9 Perancangan Waste Dump dan Stockpile 4.199 2.172.628 1.042 152.333.462.652 972.374 1.135.179 4 3 3 3 6 4. sungai atau jalan.712 437.98 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 1.277 313.740.14 Layout Rancangan Waste Dump .

4. dengan lebar bench 5m. Riau Bara Harum. Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun.000 ton. Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar ± 75. Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4. dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan .3 30.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT.500 Kapasitas Stockpile (Ton) .99 Pada daerah telitian. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port.6 berikut. bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara.5 26.9. Tabel 4.5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32. sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden. Tinggi lereng dirancang 5m.7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1. selanjutnya dilakukan metode backfilling. kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20°.

Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.5-6. Hook dan Fish (1972).100 BAB V PEMBAHASAN 5.70 meter = ≤ 40° = 10 meter = 60 ° = 10 meter · Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara . Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang · Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) · Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) · Tinggi lereng Tunggal (Bench High) · Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) · Lebar Jenjang (Berm) = 60 . b. Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D. Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada rekmomendasi menurut Robert. seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain.1 Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah sebagai berikut : a. Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15° dengan ketebalan berkisar antara 0.80 m.

1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) · · · · · · Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85.101 Gambar 5. peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan. maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp · · · Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter .2 meter Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah. biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi. Table 5. blok siambul adalah 9 tahun.248 13.566. Kemiringan dip berkisar 6-15°.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4.318.698 32.209.5m. dengan ketebalan lebih dari 0. Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang.1. b.000 ton/tahun maka umur tambang PT.314 495.481 1.102 5.178. Riau Bara Harum.922 4.690 9 4 8 5 4 5 5.899 5.999 965.836 1.1.907. 5.504.2 dibawah ini.585 2.186 1.748. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB) .265.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang. penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar.169.926 203.960 170. faktor kehilangan selama penambangan. pegolahan batubara serta sasaran produksi 300.612 4.854.806 15.444.985 149.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT.606. sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.025 3.138 SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 4. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden).

Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas. b.1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar. Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer. maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting).2.103 Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan. Dalam operasi pemindahan kayu-kayu. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: · · · 5. Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan. Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a. dilakukan setelahh pembersihan lahan . c. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah. kondisi bidang diskuntinu. maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining). digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik. Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit. kemudian diangkut dengan truk.

dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3.104 penambangan.7m3 dibantu dengan buldozer. dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material. kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk. a. berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0.73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303.928 ton. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang. Pada penggalian batubara tahun . Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.5 m3. Timbunan tanah subur ini. diberaikan dahulu dengan bulldozer. Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden. 5. nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi.2. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3.2. Sedangkan yang keras. Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer. langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB). Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali.5m3 dibantu dengan bulldozer. 5. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer.

164 BCM yang berada di waste dump 3.128. Jumlah batubara yang digali sebesar 304. c. dimulai dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20.392 ton.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.637.637.767. dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6.514. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.481 BCM yang berada di waste dump 3.66 ha.72 CCM. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2. Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.042.02 ha.830. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.43 CCM.88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan . Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.299 ton.915.07 CCM.44 ha.741.206 ton. d. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.948. dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.162. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03. Jumlah batubara yang digali sebesar 315.460.830. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02.478.523.105 overburden yang dihasilkan sebesar 2.767.135 BCM yang berada di waste dump 3. Jumlah batubara yang digali sebesar 301. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01. b.

552.721.91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.233.94 CCM.65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.693. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.67 CCM.011 ton. e. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.532.06 CCM. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.83 ha. Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.941. Jumlah batubara yang digali sebesar 313.122 ton.135. Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06.83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan . Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.837.428 ton.15 ha.102. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.073 BCM yang berada di waste dump 1. Jumlah batubara yang digali sebesar 303.621. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. g. Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.218. Jumlah batubara yang digali sebesar 314.467.17 ha.106 pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.705 BCM yang berada di waste dump 2. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04. f.223. dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.791.096. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4. dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.764 BCM yang berada di waste dump 2.

Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969.3 Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT.387. Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT. secara rinci tercantum dalam Table 5. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.451.53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.631. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776.4.107 pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.309.3 dan Table 5.042 ton. dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. i. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.000 ton.712 BCM yang berada di waste dump 1. Jumlah batubara yang digali sebesar 307. Jumlah batubara yang digali sebesar 152. Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07.243 BCM yang berada di waste dump 1.302. Riau Bara Harum.64 ha. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Riau Bara Harum per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300.33 ha.108. . dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11. Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.199 ton.76 CCM. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. 5.41 CCM.918. h.98 CCM.85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09.118.385.

652 972.705 1.786.042 152.614.493 529.135 1.764.101 2.333.48 (BCM) 2.460.481 2.592 314.533 2.940.83 (TON) 303.467.652.122 307.637.243 969.374 1.666 1.790.712 437.199 2.011 303.428 313.360.108 Tabel 5.299 304.073 776.669.877 1.177.552.612 15.135.741.764 1.164 2.751.928 301.2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.206 315.084 14.483 1.172.94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .827.

maka diaplikasi metode backfilling. Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara. artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun 5. Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L . Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang.2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5. karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. Hal ini memberikan keuntungan. diisikan pada area yang telah ditambang. Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling).2 Grafik Produksi Batubara Pertahun Gambar 5.109 Gambar 5.3.3).

309.741.721.07 3.767.741.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump 01 02 03 04 05 06 2.083.451.110 Tabel 5.253.918.62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.98 1.073 776.302.76 895.135.360.67 1.164 2.705 1.94 1.98 VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.830.102.46 20.552.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.532.128.460.948.764 1.523.108.135 1.135 1.06 1.164 2.693.85 1.073 Total Dump 2.135.177.372.118.837.41 15.764 1.91 1.83 Tabel 5.43 3.637.915.135.637.385.467.467.387.82 14.712 437.481 - OVERBURDEN Back Filling 2.218.042.552.850.207.390.162.467.764 1.83 1.096.478.164 2.243 969.460.233.631.514.79 504.705 1.460.135 1.481 2.481 2.705 1.72 2.65 2.637.09 2.53 624.073 .621.941.223.791.552.88 3.405.741.

4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5.084 14.637. bengkel. laboratorium kualitas kontrol. stasiun bahan bakar. gudang. Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan.360.243 969.481 776. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya. dan stasiun generator.177. ruang makan siang.539.879 776.111 07 08 09 TOTAL 2. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan .084 11.712 437.83 Gambar 5.243 969. tangki air.712 437. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang. tempat ibadah.

Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut: Keterangan : 1.1 Pemilihan Peralatan Utama . 5. maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien. 3. Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik. Pada penggalian overburden. Stasiu Timbang Gambar 5. 5. Product Coal Stockpile 7.112 personil yang ada. Truck Dump Hopper 9. Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara.5 Tata letak fasilitas tambang 5.M Stockpile 6. backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya. 4.5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m. 2.5. Peremuk & Saring 8. Struck Staging Area 10. Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R.O.

5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA . akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5. maka pada operasi pertambangan batubara ini.5. 5. berdasarkan pertimbangan tersebut diatas.2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : · · · Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan.5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3.7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali.113 Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0.

6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0.114 Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping) Dump Truck Dump Truck Dump Truck Dump-Truck Dump Truck Backhoe.7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7 3.5 m3 MERK FUNGSI Komatsu Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB) Dump Truck Hino Ranger FG 235 JJ 15 ton Hino Pengangkutan Batubara . Bulldoze Dump Truck Tabel 5.

Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang. Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c. alat-alat tambang akan sulit beroperasi. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. Apabilah daerah tambang tergenang air. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik. air limpasan dan air hujan.6 Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah. b. Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang. .115 HD 255-HD 25 ton Komatsu Pengangkutan Material (OB/IB) 5. Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut.

116 Gambar 5.6 Skema saluran penyaliran. .

sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m.5m. Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60°. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1 pada 3 seam batubara. Riau Bara Harum. Pemodelan geologi lapisan batubara.117 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT. tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m. 3. menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan ≥ 0. 4.000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7.000 ton. 5. pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. 2. Dan super elevasi 4 %. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. . yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara.

Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya. baik dari segi teknis. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka. 4. 2.Riau Bara Harum .118 7. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT. Letak kolam pengendapan berada dalam pit.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat. pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl. pompa dan kolam pengendapan. 6. maka perlu dilakukan: 1. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut. sumuran pada dasar pit. praktis maupun ekonomi. Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3.

Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. _______. UPN “Veteran” Yogyakarta. Komatsu. Yogyakarta. Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi.119 DAFTAR PUSTAKA 1. (1998). . 7. Laporan Pemboran Eksplorasi PT. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. PT. (2010). Yogyakarta.(2009). Riau Bara Harum. (2006). UPN “Veteran” Yogyakarta. 2. Yanto I. Pemindahan Tanah Mekanis. Teknologi Pertambangan di Indonesia. Perencanaan Tambang. 3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S. 2007. 6. 4. Jurusan Teknik Pertambangan. “Specification and Application Handbook Edition 28”. Yogyakarta. Waterman S. Riau Bara Harum. Jurusan Teknik Pertambangan. 5.555 Pasal 241. Jurusan Teknik Pertambangan. _______. Japan Suhala S. UPN “Veteran” Yogyakarta. (2010). Departemen Pertambangan dan Energi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful