RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ………………..…2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

. . Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku. tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13) Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma... VIVA TAMBANG. Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.. ....4 Lihat... Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara. Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII “Filipi Family” yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali .

00” BT. sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper.000 ton. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang. dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15.450 Ha. lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60°. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m. diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m .5m. yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 0°45’ 00 – 0°33’ 45. radius putar (turning radius ) 8. superelevasi 4 % (AASHTO 1994).1 ton. dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150. lebar permukaan jalan 18m.644.715 ton. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka. Autocad. Wilyah PKP2B PT. bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau.52m. Berdasarkan model rancangan batubara. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton.000 ton. dan Mine Scape.00” – 102° 41’ 5. gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994). Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun.5 RINGKASAN PT. Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl. Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7.00” LS dan 102°11’ 15. . untuk rancangan yang baik dan terarah. Riau Bara Harum seluas 24. lebar selokan 1m. dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300.

H. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. dapat selesai dengan baik. Dosen Pembimbing II Skripsi. 5. Dosen Pembimbing I Skripsi. Dr. Fakultas Teknologi Mineral. M. MS. Yogyakarta. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. M.H. Didit Welly Udjianto. S. Denny Tebay .Sc. Ir. Koesnaryo. 3. Dr. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi. penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 2.6 KATA PENGANTAR Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. Ir. Anton Sudiyanto. Ketua Jurusan Teknik Pertambangan. Waterman Sulistyana B. MT. Dalam kesempatan ini.Gunawan Nusanto. 6. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Dr.T. Oktober 2011 Penyusun. Prof.Ir.MT. dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. 4. Ir. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan.

....................... 1...........4 Tujuan Penelitian ..................... 2.............................................................................1 Lokasi dan Kesampaian Daerah ................................................6 Genesa .......................................................................................................... 1 1 1 2 2 2 3 BAB II TINJAUAN UMUM 2.. 2..............................4 Kondisi Daerah Kelesa ......................................................................................2 Keadaan Iklim ............................................................................ 2.......................................7 Manfaat Penelitian ...................6 Hasil yang Diharapkan ............................................................................................................................................................................... 1...................................................... ................................................................................................. DAFTAR GAMBAR......................2 Identifikasi Masalah .............. vii ix x xi BAB I PENDAHULUAN 1.............. 1.....................................3 Keadaan Geologi Sumatera ...................5 Metode Penelitian ........................................3 Batasan Masalah .. 1....... DAFTAR LAMPIRAN ............ DAFTAR TABEL ...... vi DAFTAR ISI ......................... 4 5 5 7 9 12 ........................................... 2...................... 1..........7 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .................................... ......5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa .1 Latar Belakang ............................ 2.............. 1.......................

. 3....... 4.......... 4........................3 Konsep Pemodelan Sumberdaya ............................... 3............. 3................... 3................ 4..................................................................7 Metode Penambangan ......... 4......................6 Pemilihan Alat ..........................4 Penaksiran Cadangan ...........8 Desain Tambang Terbuka ..... 58 59 75 79 79 79 80 81 82 ..8 2........ 3..............................6 Sistem Penambangan ......10 Perancangan Timbunan ..................... 3..........................5 Penjadwalan Produksi .........9 Jalan Angkut ...............4 Perancangan Pit Penambangan .....................................7 Sistem Penyaliran Tambang .............................................. 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55 BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4.................... 3....................8 Jadwal Rencana Produksi ..........1 Perancangan Tambang ..........2 Tahapan Perancangan Penambangan ............................9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile .......................................................................... 3...............................................7 Parameter-Parameter Rancangan ..... 4.................. 4........3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang ................................... 3..............1 Sumberdaya Batubara ............................................................................................ 4..............................................5 Rencana Produksi .................... 4....... 3...................... 16 BAB III DASAR TEORI 3.......................11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang .......2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan .................................................................................................................................................

.....................................1 Sistem dan Tatacara Penambangan ..4 Tataletak Fasilitas Tambang ........................... 5..................... 100 6.. 5.................................1 Kesimpulan ................ ....................................... 5................2 Metode Penambangan ..........9 BAB V PEMBAHASAN 5............................................................... 102 LAMPIRAN ...................................................................................................................... 101 DAFTAR PUSTAKA ...5 Peralatan ....3 Rencana dan Jadwal Produksi ..........................2 Saran ............................................................................................ 5............................. 84 88 95 95 96 98 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6............................................ 5...............................................6 Sistem Penyaliran Tambang ................ 103 .........................

....................................10 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4............................3 5..............1 4.................... Data Pemboran Litologi..............2 5........ Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden ...................................................... Jadwal Penimbunan Tanah Penutup .............. Kapasitas Stock Pile .......................... Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul . Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden ............................4 4............................................5 4............ Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden................................................................................................... Batas Koordinat Blok Siambul.................................... 59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98 ..3 4.........................1 5...................................2 4....... Data Hasil Penaksiran Cadangan ......5 5.2 4......6 Batas Koordinat Konsensi Pertambangan.............. Rencana Produksi Batubara dan Overburden ..........................................................4 5....... Data Pemboran Collar .......... Jenis Peralatan Utama Penambangan .6 5............

.......5 3..............................................................................4 2.. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun ............... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI ......................8 3.......3 3..11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2..................................................2 2....................................................... Penambangan Open Pit ....................... Overall Slope Angle With Ramp..............................4 3................ Jenjang Kerja dan Safety Bench ...............3 2......................... .........................5 2....... Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan .......2 3....9 Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian ................................. Overall Slope Angle......................... Proses Terjadinya Batubara ...................................... Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara .........................................................1 2.........1 3................................... Penambangan Contour Mining ............................. Peta Geologi Blaok Siambul ............................. Penambangan Strip Mining ...............................7 3...........................6 3.......................6 3......... Bagian-bagian Jenjang ......................................................................... Inter ramp slope angle ..........................................

.................................................1 4............................................. Lebar Jalan Angkut Lurus..................................................... Overall slope angle dengan working bench dan ramp ..23 3.. Radius Tikungan Jalan.........................................................................12 3........................ Kontur Struktur Lapisan Batubara .. Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul .12 3.......... Cara Penimbunan Down Hill Dozing ......... Penampag Cross Slope .................................................11 3..... Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp ...........21 3.........13 3.. Superelevasi Tikungan Jalan Angkut ..................17 3................... Lebar Jalan Angkut pada Tikungan..........15 3................ 37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79 .............22 3...............6 Inter slope angle dengan satu working bench ...................................... Cara Penimbunan Highwall and float dozing .......................4 4....19 3..............................................................16 3.................................................................................................... Jenis Timbunan Terraced Dump .................................3 4........................ Peta Topografi 3D Blok Siambul ......... Overall slope angle dengan dua working bench ................5 4..................2 4....................... Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ............. Sayatan 3D Batubara Seam D...................18 3.......14 3................................... Peta Blok Siambul .............................................. Seam E dan Seam F.......24 4........................................................... Bentuk Penampang Saluran Terbuka .....10 3.....20 3.. Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing ................ Peta Lokasi Lubang Bor .................................

.............................9 4..................................................2 5................13 4........................... Grafik Rencana Produksi Overburden .............12 4...........................1 5............................ Geometri Lereng Penambangan ........................................ Skema Saluran Penyaliran ..............................3 5.. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych ..........................11 4..........................................................13 5.................... 71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99 ...................................... Layout Rancangan Waste Dump .............................................5 5.......................................6 Blok Batas Analisis SR....... Dimensi Jenjang Pit Penambangan ............................ Tata letak Fasilitas Tambang ................................. Peta Blok Analisis SR...............7 4................................4 5.......... Grafik Proksi Akumulatif Batubara ....... Dimensi Jenjang Waste Dump ....... Skema Saluran Penyaliran .................. Grafik Produksi Batubara Per Tahun .......10 4......................................................................................8 4..........

....................................................................................... J....................... PETA GEOLOGI .................... PETA SUBCROP LINE BATUBARA ..... PETA LOKASI TITIK BOR............................ NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) ......................................... C............. SAYATAN PENAMBANGAN ............ PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN ............ E..................... PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH ............................................... PETA BLOK SIAMBUL .. N........... PETA ISOPAC ....... DATA PEMBORAN ............................................ SPESIFIKASI ALAT................................................. I....... ........................................ K. PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA ..................... F............................................................................................................ H................................ PETA SECTION LINE TITIK BOR ............................ L......................... ........ SAYATAN TITIK BOR ...... PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT ... M.......................... O.... PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN ...................................................................................................................... PETA KONTUR TOPOGRAFI .................................. Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191 PETA KESAMPAIAN DAERAH .............................................................14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A.................................................. GEOLOGICAL MAP of KELESA ......... B.. P..... PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT ............. PENAKSIRAN CADANGAN ......................................... D............ G....................................................................

Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang. Latar Belakang PT. Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. .15 BAB I PENDAHULUAN 1. untuk itu PT. Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat.3. Kecamatan Belilas. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. pembongkaran. Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan. Batasan Masalah Penambangan batubara PT. 1. PT. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper.2. 1. dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR).1. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Kelesa. Auto-cad dan Mine Scape. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut. penambangan. b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman. dan pengangkutan. Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut.

4. menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara. Metode Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu. b) Pengambilan Data · · Data Sekunder : data logbor. Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang.6.16 1. 1.5. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara. b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap. . Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara. serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT. 1. data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul.

7. 1. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang. . Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan. sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan.17 d) Dapat berguna bagi PT. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah.

00” BT.450 Ha. Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu. Secara geografis lokasi PKP2B PT. Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km. dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km.1 Peta Kesampaian Daerah .18 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT. Riau Bara Harum terletak pada 0°45’ 00 – 0°33’ 45. Riau Bara Harum berada di wilayah Desa Kelesa.00” – 102° 41’ 5. Riau Bara Harum adalah 24.00” LS dan 102°11’ 15. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam. Luas PKP2B PT. Kecamatan Seberida. Gambar 2.

1984).2732.3.60 mm/th.3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3˚ LU sampai 6˚ LS dan 96˚ BT sampai 106˚ BT. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata – rata sebesar 188 hari. dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) .Februari) dan musim kemarau (Maret . 3-4°C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%. 2. Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak. curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989. yang diendapkan oleh sungai-sungai besar.2 Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. lanau.Agustus).80 .19 2.sampai panjang (lama).700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera. terdiri dari pasir. misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin. Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008). Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : · Alluvium (Qa). Berdasarkan data meterologi. sedangkan kelembaban pagi sektar 90% 2. Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep. dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31°C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%. Riau Bara Harum memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September .1 Keadaan Geologi Regional Sumatera . dan lempung. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan. dengan panjang 1.

· Formasi Muara Enim (Tmpm). batulanau. menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice). merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih. batulanau gampingan dan serpih. terdiri dari tufa. sejajar dengan sistem sesar Sumatera. terdiri dari batupasir konglomeratan. dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa. Arah struktur persesaran adalah BU – ST. Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara – Selatan dan merupakan pergeseran horizontal.000 meter. Pada Oligosen Akhir. Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter. batulanau.20 · Formasi Kasai (QTk). batupasir. Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1. batupasir berbutir kasar sampai halus. Pada Tersier Awal. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter.3. . diendapakan pada lingkungan daratan. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1. · Formasi Gumai (Tmg). 2.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir. terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping. perlipatan dan perputaran sekitar 20˚ berlawanan arah jarum jam. · Formasi Talang Akar (Tomt). Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen. dan nodul-nodul gampingan. batulanau tufaan. lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas.000 meter. Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20˚ 25˚ berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan. Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen.

3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular. dendritik. Sungai Kerintang. Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal. dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang. 2. 2. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%. dan terllis. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut. kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut.4. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras.4 Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai 2.4.4. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako .21 2. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut. Sungai Renteh dan Sungai Selesen. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya. Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara. Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam.

Sungai Akar merupakan sungai utama. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon. Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama. Gambar 2.22 sebagai sungai utamanya.3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan .2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa Gambar 2.

Tersier hingga Kuarter. c.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbh’s Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel. batusabak berbintik. tuff andesit sampa tuff basalt. batupasir termetamorfkan dan kuarsir. batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan. filit.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara . Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak. Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela. keras dan forfiri. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. granodiorit. Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1. dan batulanau. Formasi Kelesa (Teok) 2. 2. Sumatera . pegmatit. greyweke kuarsit. Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit.5.23 Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff. Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit.1994) Lampiran A-02. di beberapa tempat berubah menjadi hornfels. kelabu sampai coklat. d. b. Secara stratigarfi Formasi Gangsal. setempat dengan butiran kerakalan. dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. yaitu: a. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi.

Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. batulempung. serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan.halus dengan batu lempung tufaan.24 Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan – batuan Pra Tersier. batupasir kerikilan. atau breksi. tufaan. lensa. keras dan ringan. Formasi Muara Enim. tuff. setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa. c. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. serpi tufaan dan tufa. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. abu-abu kehitaman. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung. b. e. yang disisipi batu lempung. kecoklatan. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan. Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit. batu lanau dan sisipan serta lensa – lensa batubara.lensa kuarsa dan lignit. bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung. Formasi Kerumutan ( Qtke) . d. formasi ini terdiri dari konglonerat. g. serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. batu pasir. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. serpi dan batubara. f. dan kemeraan. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang. batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit.

1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. pasir. terdiri dari batupasir kuarsa. batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel. 2. kelabu muda kemerahan. dengan sisipan kayu karbonan b. berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur. lunak tidak mengeras. batu lempung tufaan. halus sampai sedang. kerakal.25 Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. lanau. dan gambut berwarna hitam sampai coklat. c. Hal tersebut berkaitan dengan . hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata. yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan. lumpur. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung. lumpur. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna. tuff. Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura – Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai – Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier. lanau pasir.5. 1991). dan berangkal berwarna kelabu. tufa setempat lempung pasiran. N. 3. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron. tufaan kerikilan. Aluvium (Qac) Berupa lempung. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. setempat silang siur . batulempung tufaan.

timurlaut-baratdaya. Pada Mio–Pliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang.26 pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar).1 Genesa Batubara . Gambar 2.6. Di Indonesia batubara yang 2. Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu.4 Peta Geologi Blok Siambul 2.6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna. Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya. struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara.

Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. Untuk penyederhanaan proses tersebut. Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O. Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu.27 ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier. maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. proses oksidasi material penyusun utama cellulose Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa. CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya. . yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup. Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya. CH4.

disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur. maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan – cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. serta aktifitas tektonik lainnya. Tekanan. proses pembentukan gunung. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi.28 Gambar 2. gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. kekerasan dan nilai kalor. pelepasan gas-gas (H2O. CO2). . Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma. CH4. CO.5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. peningkatan kepadatan. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara.

CO2).29 Gambar 2. E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung.5-4 m.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi.6.5-6 m. CO. Ketebalannya berkisar antara 0. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. 2. seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi. . CH4.2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D. pelepasan gas-gas (H2O. Tekanan. . Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. peningkatan kepadatan. kekerasan dan nilai kalor.

operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.7 Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. Sedangkan batubara yang keras. dan bila ditemukan material keras. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck. terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. .30 2.50m. akan di berai dahulu dengan bulldozer.

elevasi titik bor. dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar. Sebelum melakukan perancangan tambang. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D.1 Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. Setelah pembuatan peta topografi. dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara. lapisan atas (roof). Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi. Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04. data litologi meliputi: nama titik bor. koordinat titik bor. Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape. baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara. ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor. perlu dilakukan pemodelan geologi. kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur. kedalaman lapisan bawah (floor). penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang.31 BAB III DASAR TEORI 3. Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi. maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara. batubara yang dapat dari . dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan. dilakukan dengan proses triagulasi. kedalaman lubang bor. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi. nama seam. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D. yang meliputi: nama titik bor. perancangan tambang jangka pendek. yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan.

relative density. dan calorific value atau kalori batubara. juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor. dan kode litologi. Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden. sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. total moisture. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60° maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan. nama seam batubara. dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan. kedalaman lapisan atas (roof). Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E. dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. Dalam pengolahan data pemboran. Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail. Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk. Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. kedalaman lapisan bawah (floor). . total sulphur. subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. inherent moisture.32 hasil log Bor. kandungan abu (ash).

Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01. Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan.33 Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . supaya penaksiran menjadi lebih detail. Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich. blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. Pada hasil resgraphic. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan. bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. Dalam pembuatan desain geometri penambangan. Berdasarkan data tersebut. Blok 02. dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. . blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda. Dalam penaksiran cadangan awal. dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. dan seterusnya.

Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a). tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. f). c). Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau .2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997).Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur. b). Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999). e). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi. Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau.34 3. Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. d).

struktur. dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100.000. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10. pembuatan sumuran. 3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan. pengukuran penampang stratigrafi. pembuatan paritan. Geneva (Gambar 3. United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities. sebaran. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. penginderaan jauh.000. kuantitas dan kualitas.000. pemetaan topografi. 2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. korelasi. tataguna lahan. bentuk.1). serta kesampaian daerah. penampang geofisika. pemboran uji. Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50. pembuatan sumuran. percontoan dan analisis. . Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional.35 Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. penaksiran.

E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study § Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka.1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu. yaitu : E. dimana.36 Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Gambar 3. F dan G. yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis) .

37 § Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka. jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat. pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara. misal kearah utara dan kearah timur. yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study) § Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka. ketebalan dan kualitas endapan. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi .3 Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan eksplorasi endapan batubara. yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance) 3. tonase tiap unit. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian. jenis batuan. informasi geologi. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi. berat jenis.

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +………...+

Ln

…………………….3.1

Keterangan : L1, L2, L3, …………, Ln S1, S2, S3, …………, Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +………...+ Ln …………….3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)…………)L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +…….+ 2Sn + Sn )L/2 ………………… …….3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 ……………………………………… 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) ≤10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

Ketebalan lapisan batubara b. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment. Pemasaran d. Kemampuan peralatan yang digunakan f. Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya. 3.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum.6.2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a. Kualitas c. Sifat dan keadaan batuan penutup e.41 Gambar 3. .

3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah.6. Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : · · · · Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular. 3. Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil.3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang). berlapis Kemiringan relatif. kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama.42 Gambar 3. lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring .

teknologi peralatan) Gambar 3.1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil . Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf. globalmapper. meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer. 3.43 · Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio. google earth dan google scateup.4 Penambangan Strip Mining 3. maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi. termasuk drillholes collars. 3. Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden.7. atau berupa file surface titik ketinggian.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut.7.

lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar. 3.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan. Butte.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi.7. yang berproduksi 10. pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih. pada continental pit. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal. Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya. Namun untuk lereng permanen.44 Menurut Robert. 3. Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m. Namun jika pit semakin dalam. relatif lebih tipis. yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan. kurang lebih 2-5m.6 Kedalam Pit Bottom .000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m.7.7. maka lebar jenjang juga semakin lebar. Montana. 3. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m. 3. atau pada tanah yang terekpos.7. ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan. Tergantung pada peralatan yang digunakan. terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten.

Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik). nilai mineral yang ditambang. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman. drainase alami pada permukaan. gradient hidrolik. naiknya biaya produksi dan pengangkutan.7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang. lokasi daerah yang pernah banjir. 3. 3. dan flktuasinya seperti.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan. sumbangan air tanah.45 Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio.7. pororsitas. kedalaman muka air tanah. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan . kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude. dan lain sebagainya. tekanan piezometrik. Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %.7. b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan. diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran). ukuran (jumlah) deposit. serta kapasitas mill dan produksi. daerah tangkapan hujan.

artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan.1 Geometri Jenjang 3. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan. faktor pengembangan. Dengan pertimbangan tersebut. 3.8.2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan. dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik. Pada material lunak. dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan. maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang.46 h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor.8. Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan. yaitu : § Sasaran produksi dan stripping ratio . Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat. densitas batuan. struktur geologi yang ada. penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja). 3.

Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. panjang. Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya.47 § § § § Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar. tinggi jenjang. kemampuan alat muat. Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang. 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. dan mekanik batuan. Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Ø Jenis dan kemampuan alat Ø Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Ø Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Ø Pemanfaatan lahan bekas tambang Ø Kapasitas produksi yang akan dipakai . rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. pola gerak alat muat dan alat angkut. Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang. Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan).

agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material). Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe Gambar 3. Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang. lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench).48 Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang. Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material. Dalam pelaksanaan penambangan. Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut. Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman.5 Bagian-bagian Jenjang . Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini. pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil. sudut lereng jenjang tunggal.

8. . jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang.7).49 b) Jenjang kerja (working bench) Gambar 3. Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3.3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut.6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3. dengan memperhitungkan jalan angkut. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan.

namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3.50 Upper most crest a Lower most crest Gambar 3.8 . Keterangan : q R : overall slope angle : ramp R q Gambar 3.8).7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama.

10 . C Keterangan : qIR1: Interamp slope 1 qIR1 R RC qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp qIR2 T Gambar 3.9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3.10).9). C qwR1 Keterangan : qwR1 qwR2 WB W WB WC : Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe qwR2 T Gambar 3.51 Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.

52 Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3. qwR1 Keterangan : WB R qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3 qwR3 Gambar 3.11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3.12).12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp . WB Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp R q Gambar 3.11).

555 Pasal 241 (1) Kemiringan. WB1 Sh1 Sh2 WB2 Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2 q Gambar 3. kerikil. dragline. Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3.8. dan material lepas lainnya harus : (a). (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir. tanah liat. (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual.5 m apabila dilakukan secara manual. tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh. Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat. 13). maka tinggi jenjang .4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell. bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang.53 g) Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan sebagai working bench. (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3.

perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan. kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang. ruangan untuk truck yang akan menyusul. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus.54 maksimum untuk material kompak 15m.8. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya. Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan. oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai. Apabilah swichback tidak . dan tanggul pengaman. Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%. berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah. selokan penyaliran. 3.

Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit. 3. parameter waktu dapat mulai diperhitungkan. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana. Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. Dalam perancangan. karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang.8. Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara .55 mungkin dihindari. Pada tahap perancangan. Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja.

unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit.9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut. Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut. kekar. tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar. Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam. Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher).1 Letak Jalan Keluar . dan bidang geser) (d) Air tanah. c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan.56 Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya.9. b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang. Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit. 3. bidang perlapisan.

a) Lebar Jalan Lurus L =n. ruangan untuk truk yang akan menyusul.4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut.5.Wt + (n+1).(0. yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck. switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.57 3. 3. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah. biasanya 4 kali lebar truk.Wt) …………………………………………………… L : lebar jalan angkut minimum.3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas.2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas.9. karena dalam operasi penggalian batubara. (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut. menghasilkan banyak debu. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit. (meter) 3.5 . juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan. 3. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu. juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman.9.9.

14 Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan. perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang .5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan. CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min ( Ir. (meter). Verify that the link points to the correct file and location. The file may have been mov ed. renamed.5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0. U : Jarak jejak roda. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C …………………………………………………….58 The link ed image cannot be displayed.. (meter). 3. 2004 ) Gambar 3. Ukuran 0. maka harus dilakukan beroperasi.6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan. yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan.Awang Suwandi. or deleted.5 wt.

Fb: Lebar juntai belakang. Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda. Penentuan besarnya jari-jari tikungan. C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan. Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum. ( Ir. 2004 ) Gambar 3. rumus yang digunakan adalah : . (meter).Awang Suwandi.59 Fa : Lebar juntai depan.(meter).15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan c) Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan. (meter).

Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan.9. . meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang α : Sudut penyimpangan roda depan (◦ ) Gambar 3.5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan.16 Radius Tikungan Jalan 3. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling.60 Wb α R R = Wb/sin α α Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan. dan menambah kecepatan.

7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9. pada kondisi jalan kering. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan α = V2/R. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya.8 m/s2 .C. nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan.G ……………………………………………………………………(3.61 Gambar 3.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D.I. Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan. nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin.

maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3. maka cross slope dibuatb 1: 25.6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan. sehingga memenuhi persyaratan cross slope. …….18 Penampang Cross Slope . Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut..9.. ……………………………………………………………. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade (α) = Dengan: ∆h ∆x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%. Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas. baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan.8) Gambar 3.18).62 Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang.(3. maka perlu menimbun bagian tengah jalan. cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air. 3.

9. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus. sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau . sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. Tanah atau batuan lunak c. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali. Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat. dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer. muat. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini. backhoe. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b. tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. Sistem ini cocok untuk: a.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut. Tanah penutup yang tebal b.63 3. dan truk jungkit. Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini. System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas.

64 pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup. strip dan blok.9. pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang. penomoran untuk panel 01 adalah P01. Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur. termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya. Lebar tiap panel adalah 50 m. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. panel.11 Teori Strip. berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01. perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. Penomoran untuk Strip 01 adalah S01. contoh S01P01. Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel. 3. yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut.10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material.10.1 Parameter Perancangan Timbunan . 3. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel. yaitu pit (tambang). kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut. panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m. baik yang berharga maupun yang tidak berharga. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan. 3.

Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe).45 % pada 1 m3.45m material lepas (loose material). baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi.3-1. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M. Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest). Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut. Material insitu akan mengembang menjadi 1. Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas. ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping. Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna.2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. 3.65 Proses penimbunan material. Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya.10. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest. Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit. lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard . antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370. d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan.

Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng. b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang.66 Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat. 3. dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a. Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. kemudian bulldozer mengurus material ini.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material. Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan .19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump . Gambar 3.10. baik material berharga maupun tidak berharga. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan.

alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas. lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi.10. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah. Keuntungan dari jenis timbunan ini. Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan. jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan . Pada pelaksanaannya.67 b.20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3. Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak begitu curam. Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. antara lain: a.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk. Gambar 3.

Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam. bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir.21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b. Gambar 3.68 Gambar 3. Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang.22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing c. Trench atau sloat dozing .

11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa. Gambar 3.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3. . termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi. Kabupaten Indragiri Hulu. sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah. Kecamatan Seberida. Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung. Provinsi Riau.69 Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 – 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.40 228240.32 9915187.20 9914258.91 9933614.79 9930841.1.80 LINTANG SELATAN (m) 9915182.04 200393. pemodelan batubara.29 226389.73 4.34 199462.61 9912418.30 9914258.72 9932686. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602.2.35 198534.32 227309.05 197608.01 .2 Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan pengabungan perangkat lunak Globalmapper. Riau Bara Harum secara geografis. yang pekerjaannya dibatasi oleh.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4. pembuatan peta topografi.11 227323.11 228253.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455.52 226389.64 199457.30 9913333. AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT. Tabel 4.22 9930844. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT.72 9932689. AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta.61 9913333.60 9933607.44 198532. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit.

00 Lanjutan Tabel 4.40 9915187.13 223601.48 229173.63 213386.01 205033.42 9927163.28 9917023.41 9931768.62 226383.21 9911505.72 225460.32 9925308.93 9913342.01 51 52 53 54 229173.06 9916102.19 9915180.74 8 9 10 11 200391.23 224530.37 9912415.65 211528.83 231963.88 205037.79 9931762.28 9917947.47 9925309.32 201319.55 210601.01 203178.32 9929926.86 9919793.28 9917940.09 9917023.41 226388.24 9925317.18 9914260.1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 201321.85 9924396.92 213397.79 238448.14 9916408.40 9914260.30 228247.23 9928080.42 9927156.32 201325.46 9928083.06 .53 203174.42 9929926.79 9934528.89 229178.20 229170.87 9920715.02 200394.43 225463.21 201313.98 9919793.23 212463.95 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 231958.54 9924392.40 228244.56 9924391.36 9924386.21 9913341.68 9916419.44 211536.90 9916102.84 212462.42 9934528.35 9923470.94 223599.39 210606.17 224530.10 227320.31 227315.82 200395.43 9925318.

75 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 214315.26 9933613.19 216175.39 218027.59 215250.22 9927163.83 213389.53 9925320.07 Dari data koordinat lokasi konsensi PT.11 214326.24 223601.71 216168.64 9920715.33 9920710.03 214315.85 222670. dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT.81 9930850.08 218953.43 218956.86 9916407.17 9920703.99 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 225455. Riau Bara Harum tersebut.92 9928080. seluas 24.27 218027.49 9916101.69 84 85 86 212453.70 215870.03 225455.03 224527.06 9924397.45 9916100.95 223601.30 215862.37 9917023. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat .97 9931767. Riau Bara Harum.69 210607.84 9925317.89 9933611.53 225460.87 9918869.01 215241.30 9931767.03 213380.49 218036.98 221427.17 9918866.84 9911493.91 9919793.1 41 42 43 224535.99 9932696.39 9914556.08 9935459.450 Ha.94 9923474.45 9916403.53 9917020.22 215246.42 9928083.14 210601.73 222668.98 218031.89 Lanjutan Tabel 4.82 214320.61 9911489.33 9927159.73 9924392.42 9930846.52 9914565.16 9919793.19 221433.31 215249.

2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4.144 9923643.675 217072.094 215515. Blok Sungai Aarang.2. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha.144 .2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4. Secara keseluruhan konsensi penambangan PT. dapat dilihat pada Tabel 4.094 9920885. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul. Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar.675 215515. Blok Pegegas. Blok Siambul. Blok Ringin.227 9923043. yakni : Blok Kelesa.76 lunak autocad. Batas Koordinat Blok Siambul NO TITIK BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m) 1 2 3 4 217072.227 9920855.

Riau Bara Harum pada Blok Siambul. sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl. Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT.77 Gambar 4.2 Blok Siambul PT. Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper. Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan. disebabkan PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 °. Hasil pemetaan topografi .

Gambar 4. Riau Bara Harum . Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A.3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut.78 dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD.

2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan ≥ 0. 4. dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT. dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi.5 m.2.79 Setelah diperoleh data koordinat topografi. maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian. sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara . Riau Bara Harum Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian. Gambar 4.

Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian.5 m. Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara. Tabel 4. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul. Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor.5 m. dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan.5 m. hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0. PT.5 m sampai 6 m. data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor. total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0. digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0.3 Data Pemboran Collar PT. elevasi titik bor.30°.50 51 . Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70. sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian. Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20° .80 0. kedalaman lubang bor. koordinat titik bor.

nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.81 SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B 216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081 9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844 68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60 60 51 60 45 27.5 30 29. . batas kedalaman lapisan atas (roof).0 60 52. batas kedalaman lapisan bawah (floor).0 52. dank kode litologi. Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara.5 31.7 2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor.0 45.

00 0.4 Data Pemboran Litologi PT.50 1.40 23.70 38.60 6.10 1.50 2.20 19.80 1.00 22.00 35.60 18.82 Tabel 4.80 1.00 1.90 24.80 0.10 31.70 9.90 1.20 1.00 19.00 D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO .20 53.70 3.00 15.90 0.60 3. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A 29.80 22.20 3.20 24.10 0.00 54.70 51.00 16.50 21.60 32.00 0.10 6.50 0.50 1.00 17.20 30.00 34.80 0.10 1.80 38.80 5.50 18.00 1.00 29.10 2.90 53.80 5.80 36.70 19.60 3.60 50.80 50.90 24.20 26.

00 33.90 48.90 34.90 1.30 1.50 5.00 34. batas kedalaman lapisan atas (roof).60 7. total moisture.E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara.40 0.40 5.10 1.40 1.83 SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B 20. relative density.40 2.20 0. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.90 30.80 34.80 48.E1.30 0.30 0.80 36.40 37.00 26.E.10 43.10 0.30 31.30 7.40 5.00 28.30 15.90 0.10 F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO Ket : CO = Kode Litologi Batubara D.50 0.90 2.10 6. batas kedalaman lapisan bawah (floor). inheren .60 0.50 34.90 2.10 21.70 17.40 27.00 25.40 21.20 30.70 15. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor.30 34.50 3.00 36.40 16.80 0.90 42.90 35.

Dari hasil pengolahan data pemboran. Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. . dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6. total sulphur. namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface.84 moisture. dan calorific value atau kalori batubara. layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan. Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut. Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur.80 m. Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. kandungan abu (ash). Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. ketebalan setiap seam bervariasi. dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit. khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor). secara berurutan.

85 =Seam F =Seam F = Seam F = Seam F = Seam F Gambar 4. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. Dengan pembuatan kontur struktur.2. Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara. seam E dan seam F. juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian. secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4.3. 4.2. sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D.2. berbatasan dengan .

hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip. Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4. penamaan strip dimulai dari S01.8). 350 m. untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar. dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20. Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape.9. dapat dilihat pada Gambar 4. pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio. dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). panel dan Blok.2. Pada daerah penelitian. dan 250 m dari titik bor terluar. sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf “BL”. Riau Bara Harum. pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi. Penamaan Blok ini. Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok. Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m. dan penamaan panel dimulai dari P01. untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1. 4. menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip.3. dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource). Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4. Blok-Blok terbentuk. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil.86 konsensi pertambangan PT. Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan. diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource). .8. sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01.

87 Gambar 4.8 Blok Batas Analisis SR .

88 Gambar 4.3.2. analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m .3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape .9 Peta Blok Analisis SR 4.

Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas. dapat dilihat pada Gambar 4. Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR). Analisis resgrapich stripping ratio (SR). Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.10.89 seluas Blok besar yang melingkupi.10. dan pit bottom sementara. Gambar 4. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich .

Seam E.318. overburden sebesar 4.90 Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.922 bcm.698 4.922 4. dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl. atau disebut dengan bagian low woll. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1.186 1. dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl.265.248 bcm. Seam E1. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.209. dengan stripping ratio 4 :1.985 9 4 8 . Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495.481 1. Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D. dengan stripping ratio 4 :1.606.265. .186 bcm. Tabel 4.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 4.3.926 ton . overburden sebesar 3.836 1. Seam E2 dan Blok Seam F. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965.481 ton.169. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J.748. 4.444. dengan stripping ratio 9 : 1. overburden sebesar 4.926 203. dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.444.2.585 ton .899 5.504.960 495.209.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D.

Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile. Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar.504.178. Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT. sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut.91 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 30 20 170. tahapan- 4.806 15.3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan.690.138.612 4.3. dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty. sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost.314. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup .59 5 4 5 4.585 2.71 32.025 3.566.854. membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya. pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty). Riau Bara Harum.999 965.248 13.09 149. sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %. lebar jalan pada tikungan 27 m.907. tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile. Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m.

Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300. selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan.92 Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. parameter-parameter tersebut antaralain : .2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan. Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining. sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya. Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi. karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik.3. 4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara. sesuai dengan arah penyebaran batubara. 4. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi.000 ton/tahun.

93 a. Lebar jalan tambang (20 m) Gambar 4. Sasaran produksi pertahun sebesar 300. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang. dan .000 ton b. khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup. langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat.11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h.298 Kcal/kg d. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6. Stripping Ratio (SR) ≤ 10:1 c. Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. Peta Topografi). Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60°-70° dan overal slope ≤ 45° g.

12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit). perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi . Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting. . Angle of repose dari material overburden (25°) e. Tujuan daerah timbunan (waste dump) b.94 lapisan batubara antar seam batubara (interburden). parameter tersebut menggunakan antara lain : a. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d. Lebar jalan tambang (20 m) f. untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi. maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) Gambar 4.

Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan.83 ton. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR).48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300.48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14. Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan.827.4 Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian.71 atau 9 tahun. sehingga total volume 15.000 ton.6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang . Riau Bara Harum adalah 1 : 10. Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2. Blok seam E dan Blok seam F. dan menjadi batas tiap Blok penambangan.177.790. Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K.614. sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi.360. Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F.95 4. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT. dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1.614.827. Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D . Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable. 4. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara.5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2.94 ton. sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang.786. diperoleh batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl. 4.

7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit). Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan. Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih. sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai. bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan. air limpasan maupun air tanah. Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang.96 akan dibuat. Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang. Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan. 4. .

637.533 2.206 315.6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.705 (TON) 303.460.652.741.764 1.928 301.135 1.764.164 2.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .877 1.483 1.8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.299 304.467.481 2.552.940.97 Gambar 4.13 Skema saluran penyaliran 4.751.101 2.669.592 314.428 (BCM) 2.

712 437.277 313.98 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 1. sungai atau jalan.199 2.493 529.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang.243 969.374 1.011 303.135.628 1.172.084 13.462.740.333.14 Layout Rancangan Waste Dump .042 152.9. serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah.612 15.073 776.122 307. Gambar 4.652 972.179 4 3 3 3 6 4.9 Perancangan Waste Dump dan Stockpile 4.257.

Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun.5 26.5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32. Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar ± 75.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT.000 ton.6 berikut. sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden.9.500 Kapasitas Stockpile (Ton) . dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan . Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara. Riau Bara Harum. dengan lebar bench 5m.7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port. Tinggi lereng dirancang 5m. 4. selanjutnya dilakukan metode backfilling.3 30. kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20°.99 Pada daerah telitian.

b. Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D.70 meter = ≤ 40° = 10 meter = 60 ° = 10 meter · Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara . Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.80 m.100 BAB V PEMBAHASAN 5. Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang · Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) · Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) · Tinggi lereng Tunggal (Bench High) · Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) · Lebar Jenjang (Berm) = 60 . Hook dan Fish (1972). Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15° dengan ketebalan berkisar antara 0. Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada rekmomendasi menurut Robert. seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain.5-6.1 Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah sebagai berikut : a.

biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah. maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp · · · Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter .1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) · · · · · · Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85.101 Gambar 5.2 meter Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah. peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan.

444.566.854.690 9 4 8 5 4 5 5. pegolahan batubara serta sasaran produksi 300.585 2. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB) . Table 5.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi. faktor kehilangan selama penambangan.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4.836 1.1.265.698 32.899 5.985 149. penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar.5m. Riau Bara Harum. sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.960 170.806 15.922 4.209.169.748.606.248 13.504.186 1.318.612 4. 5.025 3. b.1.907.102 5.000 ton/tahun maka umur tambang PT. blok siambul adalah 9 tahun.138 SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 4. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden).999 965. dengan ketebalan lebih dari 0.178. Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a.314 495.481 1.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5.926 203. Kemiringan dip berkisar 6-15°. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang.2 dibawah ini.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT.

c. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: · · · 5. yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar. maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting). Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer.1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik. maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit. kemudian diangkut dengan truk.2. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah. kondisi bidang diskuntinu. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan. Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas. b.103 Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan. dilakukan setelahh pembersihan lahan . Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining). Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a. Dalam operasi pemindahan kayu-kayu.

5 m3. Sedangkan yang keras. dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3. dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9.104 penambangan. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer.73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang. langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. diberaikan dahulu dengan bulldozer.7m3 dibantu dengan buldozer. nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan. Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali. Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden. Timbunan tanah subur ini.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB). 5. 5. kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk. Pada penggalian batubara tahun .2. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material. Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.5m3 dibantu dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer. a.2.928 ton. berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0.

Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.915. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01.299 ton.72 CCM. dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6. Jumlah batubara yang digali sebesar 315. dimulai dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20.830. Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.43 CCM.162.830. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03. Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.44 ha.741.637.478.460.637.02 ha.164 BCM yang berada di waste dump 3.66 ha.042. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. d.09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan . Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.135 BCM yang berada di waste dump 3. dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. b.523.88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.206 ton. Jumlah batubara yang digali sebesar 304.514. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.105 overburden yang dihasilkan sebesar 2. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.07 CCM. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. c.767.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3.128. Jumlah batubara yang digali sebesar 301.948. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.481 BCM yang berada di waste dump 3.392 ton.767.

621.102.83 ha.91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06.223.65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05. Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. e.06 CCM. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.705 BCM yang berada di waste dump 2.552.532. Jumlah batubara yang digali sebesar 314. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. f.83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .073 BCM yang berada di waste dump 1. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.17 ha. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28.721.791.122 ton.837. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04.218. dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5.15 ha. g.94 CCM. Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.428 ton.106 pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.67 CCM. dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4.467.011 ton. Jumlah batubara yang digali sebesar 303. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.096.135. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.233.693.941.764 BCM yang berada di waste dump 2. Jumlah batubara yang digali sebesar 313.

042 ton.3 Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT.302. secara rinci tercantum dalam Table 5.118. Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07.387.243 BCM yang berada di waste dump 1. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.3 dan Table 5.107 pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.41 CCM. Riau Bara Harum. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.451.385. Jumlah batubara yang digali sebesar 152.199 ton.108. dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11.000 ton.33 ha.918. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776. dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1.64 ha. Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT.98 CCM.712 BCM yang berada di waste dump 1. .631. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. 5. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09.4. i.76 CCM. Jumlah batubara yang digali sebesar 307.85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895. Riau Bara Harum per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300.309. Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. h.

94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .374 1.177.552.073 776.084 14.877 1.2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.122 307.199 2.299 304.108 Tabel 5.786.206 315.493 529.827.360.637.666 1.652 972.135.764 1.460.467.940.533 2.83 (TON) 303.592 314.333.790.652.164 2.428 313.135 1.614.243 969.764.751.172.48 (BCM) 2.481 2.928 301.612 15.705 1.712 437.101 2.011 303.483 1.042 152.669.741.

maka diaplikasi metode backfilling.2 Grafik Produksi Batubara Pertahun Gambar 5. artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara. karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. diisikan pada area yang telah ditambang. Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun 5. Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling).3). Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area.109 Gambar 5.3. Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L . Hal ini memberikan keuntungan.2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5.

460.135.721.135.467.98 VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.83 1.309.387.253.207.91 1.65 2.481 2.360.481 - OVERBURDEN Back Filling 2.79 504.637.83 Tabel 5.631.460.135 1.405.460.09 2.243 969.918.41 15.705 1.532.764 1.118.164 2.385.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump 01 02 03 04 05 06 2.467.53 624.233.135 1.302.88 3.941.083.06 1.43 3.764 1.85 1.637.67 1.514.110 Tabel 5.830.76 895.478.162.741.128.705 1.523.767.915.481 2.218.712 437.850.94 1.372.82 14.135.177.791.135 1.223.837.042.948.073 Total Dump 2.705 1.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.164 2.741.693.164 2.46 20.552.621.451.62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.073 .72 2.98 1.102.741.07 3.108.764 1.552.552.073 776.390.467.096.637.

bengkel.360.177.084 11.83 Gambar 5. tempat ibadah.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5.879 776.539.712 437.4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi.637.712 437. ruang makan siang. tangki air.481 776.111 07 08 09 TOTAL 2. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan . dan stasiun generator. gudang. Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang. stasiun bahan bakar. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya.243 969. laboratorium kualitas kontrol.243 969.084 14.

Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R. Pada penggalian overburden. 5. 2. Peremuk & Saring 8.5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara.112 personil yang ada. Truck Dump Hopper 9.5 Tata letak fasilitas tambang 5. 3. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m.1 Pemilihan Peralatan Utama . Struck Staging Area 10. Stasiu Timbang Gambar 5. 5. Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik.M Stockpile 6. 4. maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien. Product Coal Stockpile 7.O. Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut: Keterangan : 1.5. backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya.

5. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3.113 Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden.2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : · · · Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan.5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA . berdasarkan pertimbangan tersebut diatas.5.5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. maka pada operasi pertambangan batubara ini. akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0.7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali.

Bulldoze Dump Truck Tabel 5.5 m3 MERK FUNGSI Komatsu Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB) Dump Truck Hino Ranger FG 235 JJ 15 ton Hino Pengangkutan Batubara .7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7 3.114 Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping) Dump Truck Dump Truck Dump Truck Dump-Truck Dump Truck Backhoe.6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0.

Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. Apabilah daerah tambang tergenang air.115 HD 255-HD 25 ton Komatsu Pengangkutan Material (OB/IB) 5. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang. . Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. alat-alat tambang akan sulit beroperasi. air limpasan dan air hujan. Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik.6 Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah. Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c. b. Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang.

116 Gambar 5. .6 Skema saluran penyaliran.

5m. menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan ≥ 0. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara. 3.000 ton. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m. tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m. 4. Dan super elevasi 4 %. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300. sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1 pada 3 seam batubara. 5. Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT. pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %. Pemodelan geologi lapisan batubara. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. 2. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255. Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60°. yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. .000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150. Riau Bara Harum.117 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.

baik dari segi teknis.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat. Letak kolam pengendapan berada dalam pit.118 7. 6. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut. 2. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka. Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3. Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT. sumuran pada dasar pit. pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl. praktis maupun ekonomi.Riau Bara Harum . maka perlu dilakukan: 1. pompa dan kolam pengendapan. 4.

UPN “Veteran” Yogyakarta.119 DAFTAR PUSTAKA 1. Perencanaan Tambang. (1998). _______. Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Yanto I. Jurusan Teknik Pertambangan. Yogyakarta. 2. “Specification and Application Handbook Edition 28”. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. (2010). Yogyakarta. Waterman S. .(2009). PT. UPN “Veteran” Yogyakarta. Departemen Pertambangan dan Energi. 6. 3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S. Riau Bara Harum. 2007. Teknologi Pertambangan di Indonesia. 7. UPN “Veteran” Yogyakarta. Jurusan Teknik Pertambangan.555 Pasal 241. Komatsu. Jurusan Teknik Pertambangan. 4. Japan Suhala S. Riau Bara Harum. Laporan Pemboran Eksplorasi PT. _______. Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi. Yogyakarta. (2006). (2010). Pemindahan Tanah Mekanis. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful