RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ………………..…2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

.... VIVA TAMBANG..4 Lihat. ... . Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku. Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara.. tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13) Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma. Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII “Filipi Family” yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali .. Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.

dan Mine Scape. dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300. Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl. lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60°. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka. Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10°.450 Ha. sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 0°45’ 00 – 0°33’ 45.000 ton. Riau Bara Harum seluas 24. radius putar (turning radius ) 8. superelevasi 4 % (AASHTO 1994). lebar permukaan jalan 18m. Autocad. untuk rancangan yang baik dan terarah.5m. bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7. Berdasarkan model rancangan batubara. Wilyah PKP2B PT. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m .5 RINGKASAN PT. gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994).715 ton. . dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150.644. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional. lebar selokan 1m. dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15.00” – 102° 41’ 5. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m. diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2.52m.1 ton. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang.00” LS dan 102°11’ 15.000 ton.00” BT. Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun.

penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Oktober 2011 Penyusun. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan. MT. Dr.Sc. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Prof. Denny Tebay . Koesnaryo. Ir.Gunawan Nusanto. S. Ketua Jurusan Teknik Pertambangan. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.H. Dalam kesempatan ini. M.6 KATA PENGANTAR Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. H.Ir. dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Ir. Waterman Sulistyana B. Anton Sudiyanto. 2. Dosen Pembimbing I Skripsi. dapat selesai dengan baik. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dr. Yogyakarta.T. 3.MT. M. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. 6. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi. Dosen Pembimbing II Skripsi. 4. MS. 5. Fakultas Teknologi Mineral. Ir. Dr. Didit Welly Udjianto.

...................................1 Latar Belakang ..............................................2 Keadaan Iklim .........4 Kondisi Daerah Kelesa .................. 1....................................... 2...............7 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .................. 1............... 2.......6 Hasil yang Diharapkan ........................... 2........ 1 1 1 2 2 2 3 BAB II TINJAUAN UMUM 2....................................... 2.......... 1........................................................................ 1...........................................................................................4 Tujuan Penelitian ............................... DAFTAR TABEL ............................... .. .......2 Identifikasi Masalah ......1 Lokasi dan Kesampaian Daerah .....................................................5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa ............7 Manfaat Penelitian ..................................................................... 1............................................... vii ix x xi BAB I PENDAHULUAN 1.............................6 Genesa ....................................................... DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR ISI ..................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................ 2.................. 4 5 5 7 9 12 .................. 1.....................................................................................................5 Metode Penelitian ........................................3 Batasan Masalah .................................................................................................3 Keadaan Geologi Sumatera ............................................

................. 4................................................... 4....... 3............. 3....................... 58 59 75 79 79 79 80 81 82 ............................................11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang .......7 Parameter-Parameter Rancangan ...5 Penjadwalan Produksi ................9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile ...... 16 BAB III DASAR TEORI 3...........8 2..........................................3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang ......................... 4............................................................ 4...............8 Jadwal Rencana Produksi ..... 3....................................... 3.....10 Perancangan Timbunan .......6 Pemilihan Alat ................................................................4 Penaksiran Cadangan ............. 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55 BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4............................6 Sistem Penambangan ........................ 4........3 Konsep Pemodelan Sumberdaya ........................ 3..........................1 Sumberdaya Batubara ................................................................................................. 3................... 4...................................... 4.7 Sistem Penyaliran Tambang ............................ 3...............................8 Desain Tambang Terbuka . 4..........2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan ........... 3.......................................................................................1 Perancangan Tambang ...........................................5 Rencana Produksi ..........9 Jalan Angkut ...........................................4 Perancangan Pit Penambangan ................... 3................................ 3.............7 Metode Penambangan ....................2 Tahapan Perancangan Penambangan .........................

....................................................................3 Rencana dan Jadwal Produksi ..........1 Kesimpulan ....... 103 ......................................................... 100 6.... 5..........5 Peralatan .................................. 5.............1 Sistem dan Tatacara Penambangan .........2 Saran ............... 84 88 95 95 96 98 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6............................................... 5...........................................................6 Sistem Penyaliran Tambang ......................................................................................................... ..................................9 BAB V PEMBAHASAN 5...... 101 DAFTAR PUSTAKA ................2 Metode Penambangan .................4 Tataletak Fasilitas Tambang ................................................. 5.............................. 5........................................ 102 LAMPIRAN ........................................

... Jadwal Penimbunan Tanah Penutup .10 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4..6 Batas Koordinat Konsensi Pertambangan...................................................................... Jenis Peralatan Utama Penambangan ..4 5...6 5.................. Data Pemboran Collar ........................................................1 5........2 4..................................... Kapasitas Stock Pile ............................. Rencana Produksi Batubara dan Overburden ... Batas Koordinat Blok Siambul...........................3 4....................................... Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul ................3 5...................................................................................2 5............ 59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98 ......5 5............1 4.......5 4............................................................................... Data Pemboran Litologi.............2 4.....4 4..................... Data Hasil Penaksiran Cadangan ........ Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden.................. Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden ............... Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden .........................

.............3 2...........................................2 2.................... Inter ramp slope angle .. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun .................... Penambangan Contour Mining .........................8 3......................... Peta Geologi Blaok Siambul ........ Jenjang Kerja dan Safety Bench ....................................... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI .................5 2.................................................1 3.................................................................................................... Penambangan Open Pit .........2 3... Proses Terjadinya Batubara ..... Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara .......1 2. Bagian-bagian Jenjang .....................................4 2............................................................... ................... Overall Slope Angle.....3 3............................ Overall Slope Angle With Ramp.................................................................... Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan ....................................................7 3...........9 Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian ...................6 3......4 3.................................................... Penambangan Strip Mining .......................6 3................................................5 3............11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.....................

............................................10 3...................13 3....................20 3........... Sayatan 3D Batubara Seam D............24 4... Kontur Struktur Lapisan Batubara .......... Superelevasi Tikungan Jalan Angkut ............15 3.........................2 4..................... Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing ..............................................12 3.....................14 3.............................. Jenis Timbunan Terraced Dump .... Peta Blok Siambul ........... Overall slope angle dengan working bench dan ramp .............................................................. Radius Tikungan Jalan.................. 37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79 ....11 3........4 4......... Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp ............. Peta Lokasi Lubang Bor ..................17 3................................................ Lebar Jalan Angkut Lurus..................................................................................................................................................... Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ........23 3.............................................6 Inter slope angle dengan satu working bench ..22 3....... Penampag Cross Slope ............. Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul ...........19 3...... Overall slope angle dengan dua working bench .................... Cara Penimbunan Down Hill Dozing ........16 3.......... Seam E dan Seam F..5 4.....18 3........................3 4............................ Lebar Jalan Angkut pada Tikungan................... Peta Topografi 3D Blok Siambul .........................................21 3..................... Cara Penimbunan Highwall and float dozing ......................................................................... Bentuk Penampang Saluran Terbuka .......................................1 4.......................12 3...........

...............................3 5..10 4..................................................... Tata letak Fasilitas Tambang .................. Grafik Proksi Akumulatif Batubara ...................................................................................... Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych ......1 5......................................................................... Dimensi Jenjang Pit Penambangan .....................................6 Blok Batas Analisis SR.........................13 5.....................................8 4......................... Skema Saluran Penyaliran ..13 4.......9 4................... Dimensi Jenjang Waste Dump .......2 5... Peta Blok Analisis SR................................11 4.......................................................................... Layout Rancangan Waste Dump .... Grafik Produksi Batubara Per Tahun ................... Skema Saluran Penyaliran .........12 4..........................................................................5 5......4 5........ Geometri Lereng Penambangan ......................................... 71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99 ................7 4................. Grafik Rencana Produksi Overburden .................

........14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A............................ PETA SUBCROP LINE BATUBARA .......................................................................... M......................................................... J............... I............................................................ PETA GEOLOGI ........... SPESIFIKASI ALAT...... P.................. DATA PEMBORAN ............... PENAKSIRAN CADANGAN ........................................ K... NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) .................... PETA BLOK SIAMBUL .......... SAYATAN PENAMBANGAN .......................................... SAYATAN TITIK BOR ......................... O....................................... PETA ISOPAC .......................... C......... F......................................................................... PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN ............................................................................................ PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT .......... E... PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN ........................................... D............................................. N.................................... G.... PETA LOKASI TITIK BOR............. .................................. PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA ............. L.. H....... B.................. PETA KONTUR TOPOGRAFI ........ PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH .................................................................................. Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191 PETA KESAMPAIAN DAERAH .................. PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT .................................... . PETA SECTION LINE TITIK BOR .. GEOLOGICAL MAP of KELESA ..................................................................................................

2. pembongkaran. Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan. b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman. Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. 1.1. dan pengangkutan. Batasan Masalah Penambangan batubara PT.15 BAB I PENDAHULUAN 1. PT. dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR). Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper. . Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. penambangan. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat. Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Kelesa. Kecamatan Belilas. Auto-cad dan Mine Scape. untuk itu PT. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut. Latar Belakang PT. Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian.3. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang. 1.

6. Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara.5. b) Pengambilan Data · · Data Sekunder : data logbor. Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang. . b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap. 1.16 1.4. Metode Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu. 1. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper. data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper. serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara.

1. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang.7. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan. sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan.17 d) Dapat berguna bagi PT. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah. .

Secara geografis lokasi PKP2B PT. dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km. Riau Bara Harum adalah 24.450 Ha. Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam.00” BT. Kabupaten Indragiri Hulu. Kecamatan Seberida.1 Peta Kesampaian Daerah . Riau Bara Harum berada di wilayah Desa Kelesa. Provinsi Riau. Luas PKP2B PT. Riau Bara Harum terletak pada 0°45’ 00 – 0°33’ 45.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT.00” LS dan 102°11’ 15. Gambar 2.00” – 102° 41’ 5.18 BAB II TINJAUAN UMUM 2.

Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan. yang diendapkan oleh sungai-sungai besar. dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. sedangkan kelembaban pagi sektar 90% 2. dan lempung. lanau.19 2.2732.sampai panjang (lama). Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) . misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin. 3-4°C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen. Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : · Alluvium (Qa). Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008).1 Keadaan Geologi Regional Sumatera . Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata – rata sebesar 188 hari. terdiri dari pasir.1984). 2. dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31°C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%. Riau Bara Harum memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September .3.Agustus). Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak. dengan panjang 1. Berdasarkan data meterologi. curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989.80 .3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3˚ LU sampai 6˚ LS dan 96˚ BT sampai 106˚ BT.2 Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT.Februari) dan musim kemarau (Maret .700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera.60 mm/th.

dan nodul-nodul gampingan. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1.000 meter. Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. · Formasi Talang Akar (Tomt). perlipatan dan perputaran sekitar 20˚ berlawanan arah jarum jam. Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara – Selatan dan merupakan pergeseran horizontal. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik. batulanau gampingan dan serpih. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir. batulanau. 2. menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1.20 · Formasi Kasai (QTk). diendapakan pada lingkungan daratan. terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping. batupasir berbutir kasar sampai halus. Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter. batulanau tufaan.3.000 meter. lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter. Pada Tersier Awal. terdiri dari batupasir konglomeratan. . Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen. dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa. Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20˚ 25˚ berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan. merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih. Pada Oligosen Akhir. sejajar dengan sistem sesar Sumatera. batupasir. Arah struktur persesaran adalah BU – ST. batulanau. terdiri dari tufa. Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen. · Formasi Muara Enim (Tmpm). tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice). · Formasi Gumai (Tmg).

Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya. dan terllis. Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut. dendritik. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras. Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal. kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut. 2.4. Sungai Renteh dan Sungai Selesen.4.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT.21 2. Sungai Kerintang. Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako . dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut.4 Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai 2.4. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar. 2.3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular.

3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan . Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama. Sungai Akar merupakan sungai utama.2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa Gambar 2. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon.22 sebagai sungai utamanya. Gambar 2.

Sumatera . d. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi. Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit. Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan. Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit. keras dan forfiri.1994) Lampiran A-02. Tersier hingga Kuarter.5. Formasi Kelesa (Teok) 2. filit. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. yaitu: a. batusabak berbintik. pegmatit. dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. Secara stratigarfi Formasi Gangsal. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1. greyweke kuarsit.23 Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2. kelabu sampai coklat.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara . setempat dengan butiran kerakalan. Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak. Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier. c.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbh’s Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff. Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela. 2. tuff andesit sampa tuff basalt. granodiorit. batupasir termetamorfkan dan kuarsir. dan batulanau. di beberapa tempat berubah menjadi hornfels. b.

lensa kuarsa dan lignit. kecoklatan. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan. d. batupasir kerikilan.halus dengan batu lempung tufaan. Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit. bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung. batu lanau dan sisipan serta lensa – lensa batubara. serpi dan batubara. batulempung. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang. setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. dan kemeraan. serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. yang disisipi batu lempung. batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan. abu-abu kehitaman. g. Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. keras dan ringan. lensa.24 Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan – batuan Pra Tersier. Formasi Kerumutan ( Qtke) . Formasi Muara Enim. c. f. e. formasi ini terdiri dari konglonerat. tufaan. serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. atau breksi. serpi tufaan dan tufa. b. batu pasir. tuff.

lunak tidak mengeras. yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan. lanau. hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata. pasir. 1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung. batu lempung tufaan. batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel.5. Aluvium (Qac) Berupa lempung. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron. halus sampai sedang. 2. c. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier. lumpur. berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur. N.25 Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna. dengan sisipan kayu karbonan b. dan berangkal berwarna kelabu. terdiri dari batupasir kuarsa. lanau pasir. Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura – Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai – Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. lumpur. tuff.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. tufaan kerikilan. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. kerakal. dan gambut berwarna hitam sampai coklat. setempat silang siur . tufa setempat lempung pasiran. Hal tersebut berkaitan dengan . kelabu muda kemerahan. 3. batulempung tufaan. 1991).

Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya. Di Indonesia batubara yang 2.4 Peta Geologi Blok Siambul 2. Gambar 2.6. Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu.1 Genesa Batubara . Pada Mio–Pliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar). timurlaut-baratdaya.26 pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan.6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna. struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara. Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim.

Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. Untuk penyederhanaan proses tersebut. proses oksidasi material penyusun utama cellulose Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa. CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia. . Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut. batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu. yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya. maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. CH4.27 ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier.

Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur. Tekanan.28 Gambar 2. disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. CO2). Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. peningkatan kepadatan. proses pembentukan gunung. maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan – cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma. serta aktifitas tektonik lainnya. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. CH4. CO. .5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi. pelepasan gas-gas (H2O. kekerasan dan nilai kalor. gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %.

.5-4 m. Ketebalannya berkisar antara 0.29 Gambar 2. 2. CO. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara.2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D. Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. kekerasan dan nilai kalor. pelepasan gas-gas (H2O.5-6 m. CH4. seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0. peningkatan kepadatan. Tekanan. . CO2).6. E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi.

50m. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian. dan bila ditemukan material keras.30 2. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk. . Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer. Sedangkan batubara yang keras.7 Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. akan di berai dahulu dengan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck.

Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian. yang meliputi: nama titik bor. baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan. kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur. batubara yang dapat dari . Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi. yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan. lapisan atas (roof). Sebelum melakukan perancangan tambang. maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara. kedalaman lubang bor. kedalaman lapisan bawah (floor). dilakukan dengan proses triagulasi. yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D.1 Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. elevasi titik bor. Setelah pembuatan peta topografi.31 BAB III DASAR TEORI 3. data litologi meliputi: nama titik bor. perlu dilakukan pemodelan geologi. Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi. dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar. Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara. ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor. nama seam. penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. koordinat titik bor. dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. perancangan tambang jangka pendek.

dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan. Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk. Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. dan calorific value atau kalori batubara. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E. inherent moisture. Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden.32 hasil log Bor. nama seam batubara. subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. relative density. juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60° maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan. . Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail. dan kode litologi. kedalaman lapisan bawah (floor). kedalaman lapisan atas (roof). Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. total sulphur. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. kandungan abu (ash). total moisture. Dalam pengolahan data pemboran.

dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan. Dalam pembuatan desain geometri penambangan. dan seterusnya. Pada hasil resgraphic. blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m. dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda. Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan.33 Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. . bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. Dalam penaksiran cadangan awal. batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01. Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi. blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. Blok 02. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. supaya penaksiran menjadi lebih detail. Berdasarkan data tersebut.

Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a). dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau . Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau.34 3. tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. d). b). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi. Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur.Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci.2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). f). c). e). Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999).

Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50. tataguna lahan. 3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan. bentuk. pemboran uji.35 Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997).000. Geneva (Gambar 3. 2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. penampang geofisika. sebaran. pembuatan sumuran. pembuatan sumuran. struktur. pembuatan paritan. pemetaan topografi. korelasi. penaksiran. serta kesampaian daerah. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities. percontoan dan analisis. pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi. dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100. penginderaan jauh.1).000. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.000. kuantitas dan kualitas. pengukuran penampang stratigrafi. Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional. .

F dan G. E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study § Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka. yaitu : E. yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis) .1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu. dimana.36 Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Gambar 3.

yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance) 3. ketebalan dan kualitas endapan. informasi geologi. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi . jenis batuan. tonase tiap unit. jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat. pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara. yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study) § Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka. misal kearah utara dan kearah timur. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian. berat jenis.37 § Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi.3 Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan eksplorasi endapan batubara.

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +………...+

Ln

…………………….3.1

Keterangan : L1, L2, L3, …………, Ln S1, S2, S3, …………, Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +………...+ Ln …………….3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)…………)L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +…….+ 2Sn + Sn )L/2 ………………… …….3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 ……………………………………… 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) ≤10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a. Ketebalan lapisan batubara b. 3.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum. Sifat dan keadaan batuan penutup e. . Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment.41 Gambar 3.6. Kualitas c. Kemampuan peralatan yang digunakan f. Pemasaran d.

6. kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama.42 Gambar 3.3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah. Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil. 3.3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang). Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang. lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring . berlapis Kemiringan relatif. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : · · · · Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular.

3.4 Penambangan Strip Mining 3.1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil . maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi. Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut. Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf. atau berupa file surface titik ketinggian.43 · Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio. globalmapper.7. teknologi peralatan) Gambar 3. google earth dan google scateup. termasuk drillholes collars.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer. 3. meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh.7.

Namun jika pit semakin dalam. Butte.44 Menurut Robert. terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten. kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya. pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. 3. yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih.7. lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar.7.7. 3. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m. maka lebar jenjang juga semakin lebar. ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan.7. Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m. Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. Montana. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi. kurang lebih 2-5m. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal. 3. Tergantung pada peralatan yang digunakan. Namun untuk lereng permanen. pada continental pit. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan. relatif lebih tipis.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit. atau pada tanah yang terekpos. yang berproduksi 10. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit. 3.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut.6 Kedalam Pit Bottom .000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m.

Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %. daerah tangkapan hujan. lokasi daerah yang pernah banjir. drainase alami pada permukaan.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan.7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. gradient hidrolik. diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran). dan flktuasinya seperti. serta kapasitas mill dan produksi. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman. pororsitas. kedalaman muka air tanah. 3. tekanan piezometrik.45 Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio. b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan. permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang. ukuran (jumlah) deposit. dan lain sebagainya. nilai mineral yang ditambang. kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude. sumbangan air tanah. naiknya biaya produksi dan pengangkutan. 3. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan .7.7. Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik).

Dengan pertimbangan tersebut. Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan. maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang.2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang. 3.8. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. yaitu : § Sasaran produksi dan stripping ratio . faktor pengembangan. dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan. penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja).1 Geometri Jenjang 3. dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik. densitas batuan. Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan. struktur geologi yang ada.8. Pada material lunak. artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan.46 h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor. 3. maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan.

dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya. panjang. Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik. kemampuan alat muat. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang. dan mekanik batuan.47 § § § § Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar. Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Ø Jenis dan kemampuan alat Ø Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Ø Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Ø Pemanfaatan lahan bekas tambang Ø Kapasitas produksi yang akan dipakai . Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan). Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. pola gerak alat muat dan alat angkut. tinggi jenjang. 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang.

Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material.48 Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang. Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini. agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material).5 Bagian-bagian Jenjang . Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman. Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang. pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil. lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench). Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut. sudut lereng jenjang tunggal. Dalam pelaksanaan penambangan. Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe Gambar 3.

Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan. jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang. dengan memperhitungkan jalan angkut.49 b) Jenjang kerja (working bench) Gambar 3.6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3.7). Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3.8. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan. .3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut.

namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3. Keterangan : q R : overall slope angle : ramp R q Gambar 3.8 .7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama.8).50 Upper most crest a Lower most crest Gambar 3.

10 . C Keterangan : qIR1: Interamp slope 1 qIR1 R RC qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp qIR2 T Gambar 3.51 Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.9).9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3.10). C qwR1 Keterangan : qwR1 qwR2 WB W WB WC : Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe qwR2 T Gambar 3.

WB Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp R q Gambar 3.12).52 Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3.12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp .11).11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3. qwR1 Keterangan : WB R qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3 qwR3 Gambar 3.

maka tinggi jenjang .4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.5 m apabila dilakukan secara manual. Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3. kerikil.8. dragline. Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell. bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang.53 g) Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan sebagai working bench. WB1 Sh1 Sh2 WB2 Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2 q Gambar 3. (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir. dan material lepas lainnya harus : (a). (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2. Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3. tanah liat. 13). (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual. tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh. 555 Pasal 241 (1) Kemiringan.

8. pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan. perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas. Apabilah swichback tidak . selokan penyaliran. ruangan untuk truck yang akan menyusul.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai. oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar. 3. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus. Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%. berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya. dan tanggul pengaman. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp. kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang.54 maksimum untuk material kompak 15m. Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan.

3. Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang. Dalam perancangan. parameter waktu dapat mulai diperhitungkan.55 mungkin dihindari. pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara. Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. Pada tahap perancangan. jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana. Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara .8.

Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam.9. b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang. unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3.9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru.56 Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya. tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar.1 Letak Jalan Keluar . 3. Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut. kekar. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit. Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit. penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher). c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut. dan bidang geser) (d) Air tanah. Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. bidang perlapisan.

biasanya 4 kali lebar truk. a) Lebar Jalan Lurus L =n. menghasilkan banyak debu. juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan.2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas. ruangan untuk truk yang akan menyusul. (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut. (meter) 3. 3. switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit. 3.57 3. karena dalam operasi penggalian batubara. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit.9.5. juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu. yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck.9.9.Wt + (n+1).4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut.5 .(0.3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah.Wt) …………………………………………………… L : lebar jalan angkut minimum.

6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan.Awang Suwandi. Verify that the link points to the correct file and location. The file may have been mov ed.5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan..5 wt. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C ……………………………………………………. (meter). yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan.58 The link ed image cannot be displayed. 2004 ) Gambar 3. maka harus dilakukan beroperasi.5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan. (meter). CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min ( Ir. perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang .14 Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0. or deleted. renamed. U : Jarak jejak roda. Ukuran 0. 3.

( Ir. Penentuan besarnya jari-jari tikungan.(meter).15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan c) Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan. Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda. 2004 ) Gambar 3. Fb: Lebar juntai belakang. Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum.59 Fa : Lebar juntai depan. rumus yang digunakan adalah : . (meter). C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan. (meter).Awang Suwandi.

Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan. meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang α : Sudut penyimpangan roda depan (◦ ) Gambar 3. dan menambah kecepatan.60 Wb α R R = Wb/sin α α Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan.9.16 Radius Tikungan Jalan 3. .5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan.

nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan α = V2/R. Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan.8 m/s2 .7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9.I.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D.G ……………………………………………………………………(3. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan. pada kondisi jalan kering. nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m.61 Gambar 3.C.

8) Gambar 3.6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan. maka cross slope dibuatb 1: 25.62 Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang. …….(3. Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas. cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air.18 Penampang Cross Slope .. baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut.. maka perlu menimbun bagian tengah jalan. sehingga memenuhi persyaratan cross slope. …………………………………………………………….18). 3.9. maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade (α) = Dengan: ∆h ∆x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%.

Sistem ini cocok untuk: a. tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. Tanah penutup yang tebal b.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut.63 3. Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. dan truk jungkit. sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali. Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini. backhoe. tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat. System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas. Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini. sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau . muat. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang. Tanah atau batuan lunak c. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b. dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer.9.

berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01.11 Teori Strip. pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang. kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut.9. 3. termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur. Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel. 3. 3. Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Penomoran untuk Strip 01 adalah S01. contoh S01P01. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut. yaitu pit (tambang). penomoran untuk panel 01 adalah P01.10.1 Parameter Perancangan Timbunan .10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material. panel. strip dan blok. Lebar tiap panel adalah 50 m. panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan.64 pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup. baik yang berharga maupun yang tidak berharga.

Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya. ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M.10. Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut. Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna. Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe).3-1.65 Proses penimbunan material. lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard . Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit.2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan. antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370.45 % pada 1 m3. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest. baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi. Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas. 3. Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest).45m material lepas (loose material). Material insitu akan mengembang menjadi 1.

dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a.19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump . 3. Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng.66 Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat.10. Gambar 3. Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan . Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan. b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material. kemudian bulldozer mengurus material ini. baik material berharga maupun tidak berharga.

10.67 b. jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan .20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3. Keuntungan dari jenis timbunan ini. Pada pelaksanaannya.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya. Gambar 3. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan. lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi. alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada. Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah. Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak begitu curam. Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. antara lain: a.

bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir.22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing c. Gambar 3. Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang. Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam.21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b.68 Gambar 3. Trench atau sloat dozing .

Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3. sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa. Gambar 3.69 Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana. Kabupaten Indragiri Hulu. Provinsi Riau. . Kecamatan Seberida. termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 – 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

79 9930841.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455. Tabel 4.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4.40 228240.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit.44 198532. yang pekerjaannya dibatasi oleh. pembuatan peta topografi.30 9914258. tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.11 228253. pemodelan batubara.80 LINTANG SELATAN (m) 9915182.2 Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan pengabungan perangkat lunak Globalmapper.05 197608.60 9933607.52 226389.22 9930844.32 227309.30 9913333.01 .72 9932689.64 199457.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452. AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah.11 227323.1. Riau Bara Harum secara geografis.2.34 199462.35 198534.61 9912418.91 9933614.73 4. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.72 9932686.04 200393.32 9915187.29 226389. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT.61 9913333. AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta.20 9914258.

42 9929926.55 210601.01 205033.63 213386.30 228247.89 229178.94 223599.48 229173.56 9924391.83 231963.31 227315.46 9928083.01 51 52 53 54 229173.37 9912415.21 9911505.86 9919793.98 9919793.00 Lanjutan Tabel 4.14 9916408.1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 201321.36 9924386.53 203174.20 229170.09 9917023.74 8 9 10 11 200391.21 201313.02 200394.92 213397.19 9915180.42 9927163.06 9916102.54 9924392.68 9916419.39 210606.42 9934528.41 9931768.90 9916102.42 9927156.32 9925308.24 9925317.43 225463.41 226388.32 9929926.79 9931762.40 9914260.47 9925309.43 9925318.85 9924396.06 .93 9913342.13 223601.28 9917023.62 226383.65 211528.95 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 231958.40 9915187.23 9928080.87 9920715.28 9917947.18 9914260.44 211536.23 224530.21 9913341.88 205037.32 201319.72 225460.82 200395.40 228244.28 9917940.84 212462.32 201325.79 238448.17 224530.10 227320.79 9934528.01 203178.23 212463.35 9923470.

01 215241.94 9923474.64 9920715.07 Dari data koordinat lokasi konsensi PT.61 9911489.33 9927159.83 213389.43 218956.1 41 42 43 224535.99 9932696.19 216175.99 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 225455.89 9933611.49 9916101.03 225455.14 210601.33 9920710.87 9918869.16 9919793.69 84 85 86 212453.95 223601.75 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 214315.22 9927163.98 218031.03 224527.69 210607.59 215250.03 214315.17 9918866.450 Ha.52 9914565.03 213380.22 215246.39 9914556. seluas 24.27 218027.11 214326.81 9930850.17 9920703.85 222670.31 215249.24 223601.73 222668.86 9916407.71 216168.42 9928083.53 9917020.06 9924397.45 9916100.53 225460.08 218953.30 215862.26 9933613. dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT.08 9935459.42 9930846.82 214320. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat .91 9919793.89 Lanjutan Tabel 4. Riau Bara Harum tersebut. Riau Bara Harum.73 9924392.39 218027.98 221427.19 221433.70 215870.84 9911493.53 9925320.92 9928080.97 9931767.45 9916403.30 9931767.84 9925317.37 9917023.49 218036.

Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar.675 215515.675 217072. Blok Siambul.2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul. Secara keseluruhan konsensi penambangan PT. Blok Ringin.094 215515. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha.227 9923043. yakni : Blok Kelesa. dapat dilihat pada Tabel 4.2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4.76 lunak autocad.144 .227 9920855. Blok Sungai Aarang.144 9923643.094 9920885. Batas Koordinat Blok Siambul NO TITIK BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m) 1 2 3 4 217072.2. Blok Pegegas.

2 Blok Siambul PT.77 Gambar 4. Hasil pemetaan topografi . Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul. disebabkan PT. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan. Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl. Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT. sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 °. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.

sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut. Riau Bara Harum .78 dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD.3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. Gambar 4. Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A.

sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara . Gambar 4. Riau Bara Harum Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian.2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan ≥ 0.5 m. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian. dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi. dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi.79 Setelah diperoleh data koordinat topografi. maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT. 4.2.

Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor.5 m.80 0. Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul. Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian. Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian.5 m sampai 6 m.50 51 . PT. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0. koordinat titik bor. total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F. Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70.5 m.30°.3 Data Pemboran Collar PT. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara. Tabel 4. data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor. dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20° . kedalaman lubang bor.5 m. digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0. hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0. dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan. elevasi titik bor.

0 52. batas kedalaman lapisan atas (roof). nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.5 31. dank kode litologi.5 30 29.0 60 52. . Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara.7 2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor. batas kedalaman lapisan bawah (floor).0 45.81 SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B 216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081 9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844 68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60 60 51 60 45 27.

20 3.60 3.60 50.00 34.00 15.60 32.80 36.00 1.10 6.80 0.10 0.70 38.80 1.80 22.50 0.00 17.10 1. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A 29.90 24.00 D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO .4 Data Pemboran Litologi PT.80 5.20 24.80 5.60 3.80 1.00 0.00 22.50 18.80 38.80 0.60 18.90 1.20 53.60 6.70 19.20 1.90 53.80 50.00 0.20 26.10 1.20 19.10 31.10 2.00 54.00 29.00 1.50 1.70 3.00 16.00 19.82 Tabel 4.40 23.50 2.00 35.70 51.90 0.20 30.70 9.50 21.90 24.50 1.

30 31.00 33.00 34.90 34.90 48.90 2.00 26.80 36.E1.60 7.50 5.30 0. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.40 0. relative density.40 27.30 7.90 42.00 36.50 0.20 30.10 43.40 2.50 3.30 1.10 0.80 48.10 21.40 5.90 1.90 30.20 0.70 15.90 35.70 17.10 1.50 34.40 21.60 0.30 34.40 16. batas kedalaman lapisan atas (roof). total moisture.40 37.80 0.E. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor.90 2.00 28.90 0.80 34.00 25.E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara.40 1.30 15.83 SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B 20. batas kedalaman lapisan bawah (floor).40 5. inheren .10 6.10 F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO Ket : CO = Kode Litologi Batubara D.30 0.

namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan. dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara. Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface.80 m. ketebalan setiap seam bervariasi. dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6. khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor). secara berurutan. Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur. kandungan abu (ash). Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan. . Dari hasil pengolahan data pemboran. total sulphur.84 moisture. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit. dan calorific value atau kalori batubara. Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C.

2. sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G. berbatasan dengan . juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian.2. 4. Dengan pembuatan kontur struktur.3.85 =Seam F =Seam F = Seam F = Seam F = Seam F Gambar 4.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan. Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara. seam E dan seam F.2. secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D.

Riau Bara Harum. sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf “BL”. hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m. Pada daerah penelitian. pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi.9. dan 250 m dari titik bor terluar. . untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1. dapat dilihat pada Gambar 4. panel dan Blok. menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip. Penamaan Blok ini. 4.2. secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip. dan penamaan panel dimulai dari P01. pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio. Blok-Blok terbentuk. untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan. sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01. Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok. penamaan strip dimulai dari S01.8. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar. Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil. berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4. Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m. dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource). 350 m.8). Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20.3. diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource).86 konsensi pertambangan PT. Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4.

8 Blok Batas Analisis SR .87 Gambar 4.

3.3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape .88 Gambar 4.2. analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m .9 Peta Blok Analisis SR 4.

dapat dilihat pada Gambar 4. dan pit bottom sementara. Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR).89 seluas Blok besar yang melingkupi.10. Gambar 4.10. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich . Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m. Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas. Analisis resgrapich stripping ratio (SR).

overburden sebesar 4.186 1.585 ton . Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan.748.169.836 1. dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl. atau disebut dengan bagian low woll.444. . Seam E2 dan Blok Seam F.481 1.926 203.481 ton. Seam E.606.265. dengan stripping ratio 9 : 1.504.926 ton . Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1. overburden sebesar 3.985 9 4 8 . Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965.3.209. Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495.265. Seam E1. dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl.248 bcm.444.186 bcm. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.698 4.209. 4.960 495.318. overburden sebesar 4.2. dengan stripping ratio 4 :1. Tabel 4. dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl.90 Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 4.899 5. dengan stripping ratio 4 :1.922 bcm.922 4.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D.

854.178.999 965.3. Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup . dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty. Riau Bara Harum.585 2.138. tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile. Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m.59 5 4 5 4.314. Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit.907. membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya.248 13.3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan.566.612 4. lebar jalan pada tikungan 27 m. Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT.806 15. tahapan- 4.025 3.09 149.504. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty). pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun.690.91 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 30 20 170.71 32. sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut. sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile.

2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan. parameter-parameter tersebut antaralain : .3.92 Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara. Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining. Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya. selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan. Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300. Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi. 4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio. 4.000 ton/tahun. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang. karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik. sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. sesuai dengan arah penyebaran batubara.

11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01. dan . Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e. Stripping Ratio (SR) ≤ 10:1 c. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h. langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. Peta Topografi). Lebar jalan tambang (20 m) Gambar 4. Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat.93 a. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6.000 ton b. Sasaran produksi pertahun sebesar 300. Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60°-70° dan overal slope ≤ 45° g. khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup.298 Kcal/kg d. Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang.

perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi . parameter tersebut menggunakan antara lain : a. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c. .94 lapisan batubara antar seam batubara (interburden). untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi. Angle of repose dari material overburden (25°) e. maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) Gambar 4.12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit). Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d. Lebar jalan tambang (20 m) f. Tujuan daerah timbunan (waste dump) b. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting.

94 ton.6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih.786.95 4. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT. sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8. sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang. dan menjadi batas tiap Blok penambangan.827.4 Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian.5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2. Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable.360.614. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang . Blok seam E dan Blok seam F.614. Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan. Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D . Riau Bara Harum adalah 1 : 10.000 ton. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara.48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300. Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F.177. Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan.83 ton. Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR).71 atau 9 tahun.827. diperoleh batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl. sehingga total volume 15.790. dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1. Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K. 4. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi.48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14. 4.

Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang. air limpasan maupun air tanah. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan.96 akan dibuat. bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. . Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan. Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan. Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai. 4. Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan.7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit). Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang.

467.8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.741.940.428 (BCM) 2.877 1.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .669.764.764 1.6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.751.97 Gambar 4.928 301.533 2.164 2.299 304.552.705 (TON) 303.592 314.637.652.206 315.13 Skema saluran penyaliran 4.460.483 1.101 2.135 1.481 2.

98 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 1.14 Layout Rancangan Waste Dump .462.042 152.199 2.011 303.612 15.084 13.9 Perancangan Waste Dump dan Stockpile 4.172.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang.652 972.333.179 4 3 3 3 6 4.135.243 969.628 1. sungai atau jalan.122 307. Gambar 4.712 437.073 776.493 529. serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah.374 1.9.740.257.277 313.

Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4. Tinggi lereng dirancang 5m.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT.5 26.9. Riau Bara Harum. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port. Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar ± 75. dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan . sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden. 4.99 Pada daerah telitian. Tabel 4.7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1. selanjutnya dilakukan metode backfilling.000 ton.500 Kapasitas Stockpile (Ton) .6 berikut.5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32. Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun. dengan lebar bench 5m.3 30. kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20°. bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara.

seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain. b. Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada rekmomendasi menurut Robert.80 m. Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang · Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) · Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) · Tinggi lereng Tunggal (Bench High) · Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) · Lebar Jenjang (Berm) = 60 . Hook dan Fish (1972).1 Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah sebagai berikut : a. Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D.5-6.70 meter = ≤ 40° = 10 meter = 60 ° = 10 meter · Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara .100 BAB V PEMBAHASAN 5. Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15° dengan ketebalan berkisar antara 0.

peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan.101 Gambar 5.1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) · · · · · · Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85. biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah. maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp · · · Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter .2 meter Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah.

Riau Bara Harum.265.806 15. blok siambul adalah 9 tahun.186 1. 5.566. pegolahan batubara serta sasaran produksi 300.612 4. b.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5.000 ton/tahun maka umur tambang PT. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang.999 965. Kemiringan dip berkisar 6-15°.690 9 4 8 5 4 5 5.926 203. Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a.960 170.138 SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 4.209.907. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden).314 495.102 5. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB) .585 2.2 dibawah ini.444.985 149.606.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4. sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. faktor kehilangan selama penambangan.025 3.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi.504.5m.1.318.836 1.178. Table 5.481 1.748.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT.248 13.1.922 4.698 32. dengan ketebalan lebih dari 0.854.169. penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar.899 5.

Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit. b. Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah. digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik. Dalam operasi pemindahan kayu-kayu. Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas. maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining). kondisi bidang diskuntinu. yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan. maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting). kemudian diangkut dengan truk.2. maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada.103 Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan. Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: · · · 5. dilakukan setelahh pembersihan lahan .1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. c.

berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material. dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3.7m3 dibantu dengan buldozer. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Sedangkan yang keras. Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan.104 penambangan.5 m3.2. 5. Pada penggalian batubara tahun . a. kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk.928 ton. langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali.5m3 dibantu dengan bulldozer. nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi. Timbunan tanah subur ini.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. 5. Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer. diberaikan dahulu dengan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang.73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303. Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9.2.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB). Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.

460.948. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.514. b. Jumlah batubara yang digali sebesar 304. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.741.88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.830.299 ton.09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .135 BCM yang berada di waste dump 3. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01.915.392 ton. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.164 BCM yang berada di waste dump 3. dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6.02 ha.042. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.105 overburden yang dihasilkan sebesar 2. Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03. dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11.43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3. Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02.162. c.767.478. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.66 ha. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.44 ha. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.481 BCM yang berada di waste dump 3. Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.637. d. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.72 CCM. Jumlah batubara yang digali sebesar 315.767.128.43 CCM. dimulai dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20.830.07 CCM.523.637. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.206 ton. Jumlah batubara yang digali sebesar 301.

Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06.135. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04.233.94 CCM. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.428 ton.223.467.837.67 CCM.552.721.693.83 ha.15 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 303.91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.941. Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.073 BCM yang berada di waste dump 1. f. Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.106 pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2.06 CCM. Jumlah batubara yang digali sebesar 314. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Jumlah batubara yang digali sebesar 313.532.011 ton. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.621.218. dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .764 BCM yang berada di waste dump 2.096.705 BCM yang berada di waste dump 2. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05. e. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.122 ton. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.791. g.17 ha.102. dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5.

41 CCM.3 Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT.302.451. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08.712 BCM yang berada di waste dump 1. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.387. Jumlah batubara yang digali sebesar 307. Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969.243 BCM yang berada di waste dump 1.3 dan Table 5. secara rinci tercantum dalam Table 5. dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11. Jumlah batubara yang digali sebesar 152.118.385. Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09. Riau Bara Harum. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.107 pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776. i. Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl. dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1.4. . 5.918.33 ha. Riau Bara Harum per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300. h.000 ton.631.98 CCM.042 ton.76 CCM.108.199 ton.64 ha.309. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.

177.786.199 2.592 314.108 Tabel 5.612 15.790.243 969.533 2.299 304.164 2.827.428 313.135.712 437.877 1.652 972.48 (BCM) 2.483 1.2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.764.360.460.741.637.652.928 301.206 315.374 1.493 529.172.122 307.084 14.669.83 (TON) 303.552.073 776.467.764 1.940.751.135 1.011 303.705 1.666 1.614.042 152.333.481 2.101 2.94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .

Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L .2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara.3. artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun 5.2 Grafik Produksi Batubara Pertahun Gambar 5. Hal ini memberikan keuntungan. karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. diisikan pada area yang telah ditambang. maka diaplikasi metode backfilling.3). Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling). Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang.109 Gambar 5. Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area.

162.096.67 1.721.850.467.91 1.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump 01 02 03 04 05 06 2.76 895.233.631.523.110 Tabel 5.43 3.135 1.637.941.309.07 3.705 1.764 1.460.207.62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.083.532.741.09 2.72 2.218.764 1.108.88 3.79 504.791.41 15.741.042.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.073 Total Dump 2.94 1.102.837.705 1.460.637.693.385.135 1.372.387.481 2.164 2.405.467.073 776.53 624.621.06 1.514.360.552.243 969.135.764 1.128.85 1.451.481 - OVERBURDEN Back Filling 2.223.637.390.177.460.164 2.164 2.073 .83 1.481 2.135.135 1.98 VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.705 1.46 20.767.65 2.467.712 437.135.253.552.82 14.302.118.830.948.552.915.98 1.741.918.83 Tabel 5.478.

stasiun bahan bakar.539.4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi.712 437.360.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5.243 969. laboratorium kualitas kontrol. dan stasiun generator.481 776.879 776. tempat ibadah. ruang makan siang.637.83 Gambar 5.111 07 08 09 TOTAL 2. tangki air.712 437.084 11. bengkel. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya.084 14.177. gudang. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan . Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan.243 969. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang.

Truck Dump Hopper 9. Struck Staging Area 10. 4.1 Pemilihan Peralatan Utama . 2. Peremuk & Saring 8. Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R. 5.112 personil yang ada. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m.O. maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien. Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut: Keterangan : 1. Pada penggalian overburden. Product Coal Stockpile 7. 5. Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik. Stasiu Timbang Gambar 5.5 Tata letak fasilitas tambang 5.5. 3. Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara.M Stockpile 6.5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya.

113 Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3. berdasarkan pertimbangan tersebut diatas. maka pada operasi pertambangan batubara ini. akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5.5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA .5. 5.7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali.5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0.2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : · · · Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan.

7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7 3.6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0.5 m3 MERK FUNGSI Komatsu Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB) Dump Truck Hino Ranger FG 235 JJ 15 ton Hino Pengangkutan Batubara .114 Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping) Dump Truck Dump Truck Dump Truck Dump-Truck Dump Truck Backhoe. Bulldoze Dump Truck Tabel 5.

Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. . Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut. Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang. air limpasan dan air hujan. Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c. Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik. alat-alat tambang akan sulit beroperasi. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. b.6 Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah. Apabilah daerah tambang tergenang air. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang.115 HD 255-HD 25 ton Komatsu Pengangkutan Material (OB/IB) 5.

6 Skema saluran penyaliran. .116 Gambar 5.

Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150.000 ton. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1 pada 3 seam batubara. Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60°. 5. pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %. 2. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl. menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan ≥ 0. tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m.5m. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara. 4. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m. Dan super elevasi 4 %.117 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 3. Pemodelan geologi lapisan batubara. . yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255. sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl. Riau Bara Harum. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300.

Riau Bara Harum . 6. pompa dan kolam pengendapan. Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut. Letak kolam pengendapan berada dalam pit. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka. maka perlu dilakukan: 1. baik dari segi teknis. sumuran pada dasar pit. Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya. 4.118 7. 2. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat. praktis maupun ekonomi. pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl.

“Specification and Application Handbook Edition 28”. _______. 3.(2009). Yogyakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S. Laporan Pemboran Eksplorasi PT. Teknologi Pertambangan di Indonesia. 2. 6. 7. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. UPN “Veteran” Yogyakarta. PT. Pemindahan Tanah Mekanis. 5. Yanto I. UPN “Veteran” Yogyakarta. (2006). Japan Suhala S. Yogyakarta. Waterman S. (2010). Jurusan Teknik Pertambangan. 4.119 DAFTAR PUSTAKA 1. Jurusan Teknik Pertambangan. Yogyakarta. Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. . Jurusan Teknik Pertambangan. _______. Perencanaan Tambang. Komatsu. (2010). Riau Bara Harum. 2007. Riau Bara Harum. Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi. (1998). UPN “Veteran” Yogyakarta. Departemen Pertambangan dan Energi.555 Pasal 241.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful