RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ………………..…2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara. tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13) Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma.. Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII “Filipi Family” yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali .. . VIVA TAMBANG.. Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa. ..4 Lihat... Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku....

00” BT. .5m. dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15.00” – 102° 41’ 5.000 ton. dan Mine Scape. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m. lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60°. untuk rancangan yang baik dan terarah. Berdasarkan model rancangan batubara. lebar selokan 1m. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m .52m. yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 0°45’ 00 – 0°33’ 45.1 ton. Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7. gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994).450 Ha. radius putar (turning radius ) 8.5 RINGKASAN PT. Riau Bara Harum seluas 24. superelevasi 4 % (AASHTO 1994). dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300. Wilyah PKP2B PT.644. diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2.00” LS dan 102°11’ 15. bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Autocad.715 ton. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang. lebar permukaan jalan 18m. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional. sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper. dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150.000 ton. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton. Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl.

S. M. MS. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. M. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan. 6.T.Ir.Sc.H. dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dr. Ketua Jurusan Teknik Pertambangan. penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. 4. Anton Sudiyanto. Waterman Sulistyana B. dapat selesai dengan baik. Ir. Fakultas Teknologi Mineral. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Oktober 2011 Penyusun. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Didit Welly Udjianto. H. 5. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.6 KATA PENGANTAR Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. Dosen Pembimbing I Skripsi. Denny Tebay . 3. 2. Yogyakarta. Dalam kesempatan ini. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau.Gunawan Nusanto. Koesnaryo. MT.MT. Ir. Dr. Dosen Pembimbing II Skripsi. Ir. Prof.

... 1................................................. 1.................................................7 Manfaat Penelitian ........... 2................... 1........................................................................................................................................................................5 Metode Penelitian ................................................... 1. DAFTAR GAMBAR.........................3 Batasan Masalah .......4 Kondisi Daerah Kelesa .........2 Keadaan Iklim ..................................... 1..........................1 Lokasi dan Kesampaian Daerah .......7 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ......................... 1 1 1 2 2 2 3 BAB II TINJAUAN UMUM 2..............................................3 Keadaan Geologi Sumatera ...6 Hasil yang Diharapkan ...................1 Latar Belakang .................. .... ............................................................................................. DAFTAR TABEL ....................................5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa ............................................................................................ vii ix x xi BAB I PENDAHULUAN 1.......................2 Identifikasi Masalah .........................6 Genesa ..................................................... 2............................. vi DAFTAR ISI .................................................................... 2......... 4 5 5 7 9 12 ... 2........................................................................4 Tujuan Penelitian ... 1.......................................................................................... 2..... DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................

...................... 3..........4 Perancangan Pit Penambangan ......................... 4........................... 4...................................... 16 BAB III DASAR TEORI 3........................................10 Perancangan Timbunan ...1 Sumberdaya Batubara ...3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang ................................................6 Sistem Penambangan .............................................................................................................7 Metode Penambangan ................................... 4.... 3.........3 Konsep Pemodelan Sumberdaya .... 3.......7 Parameter-Parameter Rancangan .....5 Penjadwalan Produksi ..........1 Perancangan Tambang ..... 3.... 3.....................6 Pemilihan Alat .............................................................. 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55 BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4.....7 Sistem Penyaliran Tambang ................................................... 4......2 Tahapan Perancangan Penambangan ............9 Jalan Angkut .......................................... 4............. 3..................................................................4 Penaksiran Cadangan ...8 Jadwal Rencana Produksi ......................... 58 59 75 79 79 79 80 81 82 .................................................................... 3...................................................................... 3..........11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang .......... 3........... 3.... 4....................8 Desain Tambang Terbuka ..................................8 2.................... 4...... 4........9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile .....................................2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan ...............................................................................5 Rencana Produksi ....................

................... 84 88 95 95 96 98 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6..........5 Peralatan ........................4 Tataletak Fasilitas Tambang ............................ 5.........1 Kesimpulan ..................2 Metode Penambangan .............................6 Sistem Penyaliran Tambang ............................... 103 .............................3 Rencana dan Jadwal Produksi ........9 BAB V PEMBAHASAN 5............................................................................ 5............ 101 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 5........ 5.......................................................................................... ...............................2 Saran ............................................................................................1 Sistem dan Tatacara Penambangan ....................................... 102 LAMPIRAN .... 5.......................... 100 6.................

................ Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul ..................4 4....4 5.......1 5............................................................................ Batas Koordinat Blok Siambul................ Jadwal Penimbunan Tanah Penutup ............ 59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98 .........10 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4.................................................................2 4.............................................3 5........2 4.............. Data Pemboran Litologi......... Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden ........ Data Pemboran Collar .................................5 4............... Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden........................2 5......6 Batas Koordinat Konsensi Pertambangan......6 5..................................................................................................... Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden .............................. Data Hasil Penaksiran Cadangan ......... Kapasitas Stock Pile ..................................3 4.1 4.................... Jenis Peralatan Utama Penambangan .........5 5............. Rencana Produksi Batubara dan Overburden ..........

............. Bagian-bagian Jenjang ................ Inter ramp slope angle ..................7 3.........................................................................................2 3................1 2.3 3........ Jenjang Kerja dan Safety Bench ................ ..................6 3......................4 3...................................................................3 2....5 2................ Peta Geologi Blaok Siambul ..........8 3....................... Overall Slope Angle With Ramp. Overall Slope Angle.......................................................... Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara ......................................4 2... Penambangan Strip Mining ........11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2......................................................................... Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan ...................5 3............................................................................................................ Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun .............2 2.....................................................................................1 3...... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI ............ Proses Terjadinya Batubara ..................................................6 3............... Penambangan Open Pit ............... Penambangan Contour Mining ....9 Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian .....

. Lebar Jalan Angkut pada Tikungan..15 3.............................................................................23 3....19 3........... Peta Lokasi Lubang Bor ......................................................................................... 37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79 .............................. Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp ............. Seam E dan Seam F........................ Overall slope angle dengan working bench dan ramp .....................2 4.....20 3........................................ Lebar Jalan Angkut Lurus.........4 4.......... Kontur Struktur Lapisan Batubara ...12 3............. Cara Penimbunan Down Hill Dozing .................. Superelevasi Tikungan Jalan Angkut .. Bentuk Penampang Saluran Terbuka ................................................10 3............18 3.................................................................................5 4............................6 Inter slope angle dengan satu working bench .................17 3..................................................... Penampag Cross Slope .......................................................................16 3............................................. Cara Penimbunan Highwall and float dozing .....................22 3. Jenis Timbunan Terraced Dump ...................... Peta Topografi 3D Blok Siambul .21 3.................................................. Radius Tikungan Jalan..... Sayatan 3D Batubara Seam D.................14 3......................12 3.. Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ...................3 4.13 3.............. Overall slope angle dengan dua working bench ............. Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing .....................11 3...............24 4..........1 4....................................................................... Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul . Peta Blok Siambul .

.1 5........... Grafik Rencana Produksi Overburden ..................................8 4................................ 71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99 .... Dimensi Jenjang Waste Dump ..........13 5..........9 4................ Geometri Lereng Penambangan ................................................7 4......10 4..................................................................11 4...................... Peta Blok Analisis SR............................................... Grafik Proksi Akumulatif Batubara ..................................................2 5........................ Tata letak Fasilitas Tambang ...................................................... Dimensi Jenjang Pit Penambangan .....................5 5.................................................... Skema Saluran Penyaliran ................................ Skema Saluran Penyaliran ..................................4 5.............................. Layout Rancangan Waste Dump ....12 4............................................... Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych ......... Grafik Produksi Batubara Per Tahun .............3 5....13 4..............................................6 Blok Batas Analisis SR.....................

.............. SPESIFIKASI ALAT......... PETA ISOPAC ........... F................................. PETA LOKASI TITIK BOR.... PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH ............................ K..................................................................................................................... PETA SECTION LINE TITIK BOR ... C..... G...........................................................14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A.................. N........................................ PETA SUBCROP LINE BATUBARA ............. GEOLOGICAL MAP of KELESA ............ DATA PEMBORAN .. D......................... E.... L...................... PENAKSIRAN CADANGAN ................. O.... . B.......... J................................................................... PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN .......... M...................................................................................................... PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT ..................................... Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191 PETA KESAMPAIAN DAERAH ....................................................................................... NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) ..................... PETA GEOLOGI ................ PETA KONTUR TOPOGRAFI ............................... PETA BLOK SIAMBUL .................... SAYATAN TITIK BOR ......... ........... I............................................. PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA .............. P.................. PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN .......... SAYATAN PENAMBANGAN ....... H................................................................................................................ PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT ............................................................................

PT. Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. penambangan. Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang. Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut. Batasan Masalah Penambangan batubara PT. Kecamatan Belilas. 1. Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. . Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut.2. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper. Latar Belakang PT. dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR). 1. untuk itu PT.3.15 BAB I PENDAHULUAN 1. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat.1. Auto-cad dan Mine Scape. dan pengangkutan. Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian. pembongkaran. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Kelesa. b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman.

Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul.5. 1. data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper. serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. . Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara. b) Pengambilan Data · · Data Sekunder : data logbor. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper.16 1. Metode Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu. 1. Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang.4. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara. b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap.6. menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara.

1. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan.17 d) Dapat berguna bagi PT. sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah.7. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang. .

18 BAB II TINJAUAN UMUM 2. Secara geografis lokasi PKP2B PT. Riau Bara Harum terletak pada 0°45’ 00 – 0°33’ 45.00” BT.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT. Riau Bara Harum berada di wilayah Desa Kelesa. Kabupaten Indragiri Hulu. dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km. Riau Bara Harum adalah 24. Luas PKP2B PT.00” LS dan 102°11’ 15.00” – 102° 41’ 5. Gambar 2. Provinsi Riau. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam.450 Ha.1 Peta Kesampaian Daerah . Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km. Kecamatan Seberida.

3-4°C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%. Berdasarkan data meterologi. terdiri dari pasir.80 . Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep.Agustus). Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak.19 2. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen.2 Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. lanau.700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera. Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) .60 mm/th. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan. sedangkan kelembaban pagi sektar 90% 2. Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008).1984). misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin.2732. dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. dengan panjang 1. Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : · Alluvium (Qa). Riau Bara Harum memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September . curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989. yang diendapkan oleh sungai-sungai besar.3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3˚ LU sampai 6˚ LS dan 96˚ BT sampai 106˚ BT. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata – rata sebesar 188 hari.1 Keadaan Geologi Regional Sumatera . dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31°C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%.sampai panjang (lama).Februari) dan musim kemarau (Maret . dan lempung.3. 2.

Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1. sejajar dengan sistem sesar Sumatera.3. terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping. terdiri dari tufa. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter. 2.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik. lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas. · Formasi Gumai (Tmg). batulanau. batupasir. batulanau gampingan dan serpih. Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara – Selatan dan merupakan pergeseran horizontal. Arah struktur persesaran adalah BU – ST. diendapakan pada lingkungan daratan. Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen. Pada Tersier Awal. · Formasi Talang Akar (Tomt). terdiri dari batupasir konglomeratan. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih. · Formasi Muara Enim (Tmpm). . Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen. batupasir berbutir kasar sampai halus. perlipatan dan perputaran sekitar 20˚ berlawanan arah jarum jam.000 meter. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir. dan nodul-nodul gampingan. Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1. Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20˚ 25˚ berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan. menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. batulanau tufaan.20 · Formasi Kasai (QTk). batulanau. dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa.000 meter. tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice). Pada Oligosen Akhir.

2.4 Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai 2. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut.3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal. Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara.4. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Sungai Kerintang. 2.4. dendritik. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%.4.21 2. kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut. dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya. Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut. dan terllis. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako . Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam. Sungai Renteh dan Sungai Selesen. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter. Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras.

Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon.2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa Gambar 2.22 sebagai sungai utamanya.3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan . Sungai Akar merupakan sungai utama. Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama. Gambar 2.

Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit. kelabu sampai coklat. batusabak berbintik. pegmatit. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi. batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan. Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela. Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). Formasi Kelesa (Teok) 2. Tersier hingga Kuarter.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbh’s Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel.1994) Lampiran A-02. greyweke kuarsit. Sumatera . setempat dengan butiran kerakalan. dan batulanau. keras dan forfiri. dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. batupasir termetamorfkan dan kuarsir. filit. 2. di beberapa tempat berubah menjadi hornfels. d.5. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff. Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit. Secara stratigarfi Formasi Gangsal. granodiorit.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara . Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. yaitu: a. c.23 Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2. b. tuff andesit sampa tuff basalt. Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak.

f. serpi tufaan dan tufa. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit.lensa kuarsa dan lignit.halus dengan batu lempung tufaan. batu pasir. Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. d. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang. atau breksi. batulempung. serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan. e. keras dan ringan. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. b. setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. dan kemeraan. batu lanau dan sisipan serta lensa – lensa batubara. yang disisipi batu lempung. kecoklatan.24 Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan – batuan Pra Tersier. Formasi Kerumutan ( Qtke) . g. lensa. serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. batupasir kerikilan. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung. c. Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit. formasi ini terdiri dari konglonerat. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan. serpi dan batubara. bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung. Formasi Muara Enim. tufaan. tuff. abu-abu kehitaman.

hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata. 2. kelabu muda kemerahan. tufaan kerikilan. 1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. 3. lanau. halus sampai sedang. batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel. kerakal. Aluvium (Qac) Berupa lempung. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier. berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung. terdiri dari batupasir kuarsa. yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan.25 Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim. lanau pasir. lunak tidak mengeras. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. dengan sisipan kayu karbonan b. batu lempung tufaan. tuff. dan gambut berwarna hitam sampai coklat. Hal tersebut berkaitan dengan . setempat silang siur . lumpur. 1991). Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron. N. Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura – Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai – Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. batulempung tufaan. dan berangkal berwarna kelabu.5. tufa setempat lempung pasiran. c. lumpur. pasir.

1 Genesa Batubara . Di Indonesia batubara yang 2. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya. Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim. Pada Mio–Pliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang. struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara. Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu. timurlaut-baratdaya.4 Peta Geologi Blok Siambul 2.6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna.26 pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan.6. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar). Gambar 2.

yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup. CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O. CH4. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya. Untuk penyederhanaan proses tersebut. proses oksidasi material penyusun utama cellulose Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). . maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut.27 ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier. batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu. Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya.

Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur. pelepasan gas-gas (H2O.5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. . kekerasan dan nilai kalor. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi. Tekanan. serta aktifitas tektonik lainnya. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan – cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. CO. Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma. CH4. disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. peningkatan kepadatan. proses pembentukan gunung.28 Gambar 2. CO2).

6. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi. .5-4 m. kekerasan dan nilai kalor. E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung. Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi. seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0. Tekanan. Ketebalannya berkisar antara 0.29 Gambar 2. peningkatan kepadatan. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara.2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D. . CH4. CO. 2. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. CO2). pelepasan gas-gas (H2O.5-6 m.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air.

akan di berai dahulu dengan bulldozer. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.30 2. operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. . Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck. dan bila ditemukan material keras.7 Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian. terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck. Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer. Sedangkan batubara yang keras.50m. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0.

31 BAB III DASAR TEORI 3. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. kedalaman lubang bor. batubara yang dapat dari . yang meliputi: nama titik bor. Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape. kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur.1 Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara. lapisan atas (roof). yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan. maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara. koordinat titik bor. dilakukan dengan proses triagulasi. perancangan tambang jangka pendek. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara. Setelah pembuatan peta topografi. Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi. ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor. dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. Sebelum melakukan perancangan tambang. Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi. Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04. penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. elevasi titik bor. nama seam. dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi. kedalaman lapisan bawah (floor). dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian. perlu dilakukan pemodelan geologi. data litologi meliputi: nama titik bor. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan. yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D.

Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail. kandungan abu (ash). dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan. Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk. juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60° maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E. inherent moisture. Dalam pengolahan data pemboran. relative density. sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. kedalaman lapisan bawah (floor). Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden. dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. . dan calorific value atau kalori batubara.32 hasil log Bor. dan kode litologi. nama seam batubara. total moisture. subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. total sulphur. Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. kedalaman lapisan atas (roof).

dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. Dalam penaksiran cadangan awal. blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. dan seterusnya. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan. supaya penaksiran menjadi lebih detail. Pada hasil resgraphic.33 Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . Dalam pembuatan desain geometri penambangan. blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m. Blok 02. Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi. batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan. dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. Berdasarkan data tersebut. .

Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau . b). e). d). Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur. Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a). f). Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi. Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau. Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan.Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak.2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). c).34 3.

percontoan dan analisis. dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100. bentuk. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.1). . korelasi. struktur.000.000. tataguna lahan. pembuatan sumuran. Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional. serta kesampaian daerah. pemboran uji. pengukuran penampang stratigrafi. penaksiran.000. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). pemetaan topografi. sebaran. United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities. pembuatan paritan. 2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Geneva (Gambar 3. penampang geofisika.35 Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. 3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan. penginderaan jauh. pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi. kuantitas dan kualitas. Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. pembuatan sumuran.

yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis) . yaitu : E.1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu. dimana. E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study § Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka.36 Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Gambar 3. F dan G.

yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study) § Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka.3 Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan eksplorasi endapan batubara. pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi . misal kearah utara dan kearah timur. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi. jenis batuan.37 § Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka. ketebalan dan kualitas endapan. yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance) 3. berat jenis. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian. informasi geologi. jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat. tonase tiap unit.

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +………...+

Ln

…………………….3.1

Keterangan : L1, L2, L3, …………, Ln S1, S2, S3, …………, Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +………...+ Ln …………….3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)…………)L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +…….+ 2Sn + Sn )L/2 ………………… …….3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 ……………………………………… 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) ≤10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

. Ketebalan lapisan batubara b. Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya. Kemampuan peralatan yang digunakan f. Pemasaran d. Sifat dan keadaan batuan penutup e. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment. 3. Kualitas c.2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum.6.41 Gambar 3.

lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring .42 Gambar 3. kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama.3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang).3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah. 3. Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil.6. berlapis Kemiringan relatif. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : · · · · Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular. Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang.

Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden. meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh. teknologi peralatan) Gambar 3. globalmapper. 3. 3. google earth dan google scateup.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut.43 · Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio.4 Penambangan Strip Mining 3.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer. maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi.7.1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil . termasuk drillholes collars.7. Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf. atau berupa file surface titik ketinggian.

Montana.44 Menurut Robert. 3. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit. Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m. ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan. 3. relatif lebih tipis.6 Kedalam Pit Bottom .7. 3.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan.000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m. lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar. Namun untuk lereng permanen. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal. pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. pada continental pit. Tergantung pada peralatan yang digunakan. terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten. maka lebar jenjang juga semakin lebar.7. kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya. yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan. 3. kurang lebih 2-5m.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit. yang berproduksi 10. Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m. Namun jika pit semakin dalam. atau pada tanah yang terekpos.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut.7. Butte. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi.7.

naiknya biaya produksi dan pengangkutan. dan flktuasinya seperti. lokasi daerah yang pernah banjir. b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan. daerah tangkapan hujan. Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik). dan lain sebagainya. sumbangan air tanah. permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang. kedalaman muka air tanah.7. kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude. 3. ukuran (jumlah) deposit.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan. diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran).7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. gradient hidrolik. pororsitas. 3. nilai mineral yang ditambang. Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %. serta kapasitas mill dan produksi. tekanan piezometrik.7. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan . drainase alami pada permukaan. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman.45 Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio.

8. 3. 3.46 h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor. Pada material lunak. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan. Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan.2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang.8. Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat. dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja.1 Geometri Jenjang 3. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. faktor pengembangan. artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan. densitas batuan. penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja). struktur geologi yang ada. maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan. dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik. maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan. yaitu : § Sasaran produksi dan stripping ratio . Dengan pertimbangan tersebut.

47 § § § § Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar. tinggi jenjang. Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik. Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan). Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Ø Jenis dan kemampuan alat Ø Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Ø Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Ø Pemanfaatan lahan bekas tambang Ø Kapasitas produksi yang akan dipakai . rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. kemampuan alat muat. dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang. dan mekanik batuan. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang. pola gerak alat muat dan alat angkut. panjang. Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya. Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang.

5 Bagian-bagian Jenjang . Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut.48 Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang. agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material). Dalam pelaksanaan penambangan. pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil. Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang. Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe Gambar 3. sudut lereng jenjang tunggal. Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman. Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material. lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench). Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini.

dengan memperhitungkan jalan angkut.7).49 b) Jenjang kerja (working bench) Gambar 3. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan.8. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3.3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang. Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan. .6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3.

8 .7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama.50 Upper most crest a Lower most crest Gambar 3. Keterangan : q R : overall slope angle : ramp R q Gambar 3. namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3.8).

C Keterangan : qIR1: Interamp slope 1 qIR1 R RC qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp qIR2 T Gambar 3.9).51 Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.10 . C qwR1 Keterangan : qwR1 qwR2 WB W WB WC : Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe qwR2 T Gambar 3.9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3.10).

qwR1 Keterangan : WB R qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3 qwR3 Gambar 3.52 Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3.11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3.12).12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp . WB Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp R q Gambar 3.11).

bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang. 13). tanah liat. (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2. maka tinggi jenjang . WB1 Sh1 Sh2 WB2 Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2 q Gambar 3.5 m apabila dilakukan secara manual. Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell. Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3. kerikil. 555 Pasal 241 (1) Kemiringan. tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh. Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat.53 g) Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan sebagai working bench. dragline. (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3. (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir.8.4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. dan material lepas lainnya harus : (a).

Apabilah swichback tidak . Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. selokan penyaliran.8.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai. dan tanggul pengaman. kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang. berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1. ruangan untuk truck yang akan menyusul. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas. oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar. Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan. Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%.54 maksimum untuk material kompak 15m. 3. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan. pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus.

Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara .8. karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan. pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali. parameter waktu dapat mulai diperhitungkan.55 mungkin dihindari. Pada tahap perancangan. Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. 3. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit. jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan. Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. Dalam perancangan.

kekar. Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit.1 Letak Jalan Keluar . Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut. Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam.9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut. Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3. dan bidang geser) (d) Air tanah. penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher). b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang.9. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit. tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar. c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan. 3. bidang perlapisan.56 Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya.

(0. juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan. a) Lebar Jalan Lurus L =n. yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck. switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.57 3. 3. juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman. (meter) 3. 3. ruangan untuk truk yang akan menyusul.5 .5. menghasilkan banyak debu. (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut.2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas.9. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah. biasanya 4 kali lebar truk.Wt) …………………………………………………… L : lebar jalan angkut minimum.3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu. karena dalam operasi penggalian batubara. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit.Wt + (n+1).4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut.9.9.

renamed. 2004 ) Gambar 3.5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0. U : Jarak jejak roda. perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang .6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C …………………………………………………….. The file may have been mov ed. Ukuran 0. or deleted. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan. maka harus dilakukan beroperasi.58 The link ed image cannot be displayed. 3.Awang Suwandi. yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan. CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min ( Ir. Verify that the link points to the correct file and location.5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan.14 Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0.5 wt. (meter). (meter).

rumus yang digunakan adalah : . ( Ir. Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda. C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan. (meter).15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan c) Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan. 2004 ) Gambar 3.Awang Suwandi.(meter). Penentuan besarnya jari-jari tikungan. Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum.59 Fa : Lebar juntai depan. Fb: Lebar juntai belakang. (meter).

.16 Radius Tikungan Jalan 3. meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang α : Sudut penyimpangan roda depan (◦ ) Gambar 3. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling.60 Wb α R R = Wb/sin α α Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan. dan menambah kecepatan.5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan.9. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan.

C. pada kondisi jalan kering.I. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan α = V2/R. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D.7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9.8 m/s2 . Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan. nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m.61 Gambar 3. nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin.G ……………………………………………………………………(3. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan.

. sehingga memenuhi persyaratan cross slope. maka perlu menimbun bagian tengah jalan..9. maka cross slope dibuatb 1: 25. Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas.8) Gambar 3. …………………………………………………………….18 Penampang Cross Slope . baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. …….6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan.(3. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut. 3. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade (α) = Dengan: ∆h ∆x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%.18). cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air. maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3.62 Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang.

backhoe. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b. Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. Tanah atau batuan lunak c. Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus. Sistem ini cocok untuk: a.9. sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau . sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. dan truk jungkit. bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat.63 3. System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini. tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang. muat. dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut. Tanah penutup yang tebal b.

panel. Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut. Lebar tiap panel adalah 50 m. panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. 3. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel. pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang. 3. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. strip dan blok.10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material.10. berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01.9.11 Teori Strip. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan. penomoran untuk panel 01 adalah P01. termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya.64 pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup. baik yang berharga maupun yang tidak berharga. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur. contoh S01P01.1 Parameter Perancangan Timbunan . Penomoran untuk Strip 01 adalah S01. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut. yaitu pit (tambang). Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel. 3. Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m.

65 Proses penimbunan material.3-1. Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna. lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard . ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping.2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material.45m material lepas (loose material). Material insitu akan mengembang menjadi 1. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest. antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370. Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit. Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas. 3. Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest). d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan. Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe).45 % pada 1 m3. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M. baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi.10. Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya. Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut.

10.66 Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat.19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump . baik material berharga maupun tidak berharga.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material. Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a. Gambar 3. b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang. Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan . Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng. 3. kemudian bulldozer mengurus material ini. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan.

Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak begitu curam.67 b. jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan . Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru.20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk. antara lain: a. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas. Keuntungan dari jenis timbunan ini. Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer. alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya.10. Pada pelaksanaannya. lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah. Gambar 3. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan.

22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing c. bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir. Gambar 3.21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b. Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam. Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang. Trench atau sloat dozing .68 Gambar 3.

Gambar 3. Provinsi Riau. termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi. sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah. Kabupaten Indragiri Hulu. Kecamatan Seberida. Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3. .69 Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 – 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

11 228253.61 9913333.72 9932686.80 LINTANG SELATAN (m) 9915182. Riau Bara Harum secara geografis.32 9915187.79 9930841.52 226389.73 4.61 9912418.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4.05 197608. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT.04 200393.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452.20 9914258.35 198534.2 Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan pengabungan perangkat lunak Globalmapper. AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta.64 199457.72 9932689.40 228240. Tabel 4.2. AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah. pembuatan peta topografi.22 9930844.30 9914258. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455.1. yang pekerjaannya dibatasi oleh.30 9913333. tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.29 226389.11 227323.34 199462.01 . pemodelan batubara.60 9933607.44 198532.91 9933614.32 227309. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit.

87 9920715.79 238448.42 9927163.72 225460.43 225463.14 9916408.41 226388.23 224530.09 9917023.95 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 231958.94 223599.21 9911505.20 229170.21 201313.88 205037.79 9934528.13 223601.28 9917947.56 9924391.92 213397.31 227315.74 8 9 10 11 200391.40 9915187.86 9919793.43 9925318.23 212463.48 229173.84 212462.06 .53 203174.1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 201321.82 200395.90 9916102.28 9917023.39 210606.98 9919793.02 200394.01 51 52 53 54 229173.18 9914260.24 9925317.46 9928083.93 9913342.42 9934528.06 9916102.63 213386.62 226383.40 228244.41 9931768.65 211528.10 227320.83 231963.21 9913341.19 9915180.37 9912415.17 224530.68 9916419.36 9924386.89 229178.47 9925309.32 201325.00 Lanjutan Tabel 4.54 9924392.32 9925308.35 9923470.01 203178.79 9931762.42 9927156.42 9929926.85 9924396.55 210601.01 205033.40 9914260.32 201319.28 9917940.32 9929926.23 9928080.44 211536.30 228247.

95 223601.92 9928080.97 9931767.31 215249.73 222668.17 9920703.98 218031.75 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 214315.53 9917020.33 9927159.82 214320.39 218027.85 222670.03 214315.52 9914565.89 9933611.45 9916403.87 9918869.53 225460.99 9932696.69 210607.24 223601.86 9916407.03 224527.94 9923474.16 9919793.71 216168.03 225455.49 9916101. seluas 24.1 41 42 43 224535.84 9911493.08 218953. dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT.22 215246.26 9933613.17 9918866.53 9925320.42 9930846.91 9919793.45 9916100.61 9911489. Riau Bara Harum tersebut.81 9930850.98 221427.08 9935459.89 Lanjutan Tabel 4. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat .19 221433.69 84 85 86 212453.27 218027.03 213380.14 210601.43 218956.450 Ha.84 9925317.70 215870.42 9928083.73 9924392.83 213389.59 215250.99 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 225455.49 218036.37 9917023.39 9914556.11 214326.06 9924397.30 9931767.64 9920715.33 9920710.30 215862.22 9927163.07 Dari data koordinat lokasi konsensi PT.01 215241.19 216175. Riau Bara Harum.

Secara keseluruhan konsensi penambangan PT.2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4.094 9920885. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha.675 217072.144 9923643. Blok Pegegas.76 lunak autocad. Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar. yakni : Blok Kelesa.227 9923043.2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4. Blok Siambul.2. Blok Sungai Aarang.227 9920855.094 215515.675 215515.144 . Batas Koordinat Blok Siambul NO TITIK BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m) 1 2 3 4 217072. Blok Ringin. dapat dilihat pada Tabel 4. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul.

Hasil pemetaan topografi . disebabkan PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 °. Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper. Riau Bara Harum pada Blok Siambul. Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl. sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl. Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT.77 Gambar 4.2 Blok Siambul PT. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan.

3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut. Gambar 4. Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A. Riau Bara Harum .78 dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD.

2. maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT. dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi. dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi. sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara .5 m.79 Setelah diperoleh data koordinat topografi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian. Riau Bara Harum Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian.2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan ≥ 0. Gambar 4. 4.

kedalaman lubang bor. Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian. digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0.80 0. PT. Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor.5 m.30°. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0. sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian. hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0. dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20° . koordinat titik bor.50 51 .3 Data Pemboran Collar PT.5 m. Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F. elevasi titik bor.5 m.5 m sampai 6 m. Tabel 4. Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor. data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor. dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan. Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul.

batas kedalaman lapisan atas (roof). batas kedalaman lapisan bawah (floor).0 52. Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara. dank kode litologi.7 2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.0 60 52.5 31.81 SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B 216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081 9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844 68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60 60 51 60 45 27.0 45. .5 30 29.

00 54.82 Tabel 4.80 38.60 32.00 34.20 3.90 53.70 19.50 1.00 0.00 D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO .60 18.00 16.50 2.90 24.00 1.00 29.60 3.00 15.50 18.00 35.80 50.20 1.10 0.70 3.90 1.90 24.20 26.50 1.4 Data Pemboran Litologi PT.20 30.80 5.80 0. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A 29.70 9.70 38.60 50.00 22.20 24.50 0.10 2.00 0.80 1.80 0.80 5.00 19.20 19.80 22.40 23.50 21.20 53.60 3.80 1.10 31.00 17.10 6.70 51.10 1.60 6.00 1.90 0.80 36.10 1.

E1.90 48.80 34.30 7.10 1.90 42.90 2.40 16.10 0.40 2.90 35.00 25.80 48.10 21.70 15.90 2.83 SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B 20.00 33.40 37.30 15.30 1.90 1.80 36.90 0.40 5.80 0.50 34. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor.60 7.30 34.70 17. batas kedalaman lapisan bawah (floor).E. relative density.50 0.50 5.40 27.60 0.00 26.90 34.00 34.20 30.10 F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO Ket : CO = Kode Litologi Batubara D. inheren . total moisture.10 43.50 3.00 36.30 0.90 30.40 21.00 28. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara.20 0.30 0.40 0.40 1. batas kedalaman lapisan atas (roof).30 31.10 6.40 5.

Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut. ketebalan setiap seam bervariasi. namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan.80 m. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit. Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor).84 moisture. Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. kandungan abu (ash). dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara. Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur. layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan. dan calorific value atau kalori batubara. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface. Dari hasil pengolahan data pemboran. dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6. . secara berurutan. total sulphur.

2. berbatasan dengan .3. juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian. 4.85 =Seam F =Seam F = Seam F = Seam F = Seam F Gambar 4.2. Dengan pembuatan kontur struktur.2.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D. sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G. secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara. Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan. seam E dan seam F.

Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m. dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m. untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1. sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf “BL”. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil. berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4. menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip. untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan. Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4. sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01. Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. Pada daerah penelitian. dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20. panel dan Blok.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). penamaan strip dimulai dari S01. secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip.86 konsensi pertambangan PT.3. Blok-Blok terbentuk.2. pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi. Riau Bara Harum. .8). dan 250 m dari titik bor terluar. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar. dapat dilihat pada Gambar 4. Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok. dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource). Penamaan Blok ini. Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan. dan penamaan panel dimulai dari P01. 4.9. diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource). hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. 350 m.8. Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape. pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio.

87 Gambar 4.8 Blok Batas Analisis SR .

88 Gambar 4. analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m .3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape .9 Peta Blok Analisis SR 4.2.3.

10.10.89 seluas Blok besar yang melingkupi. Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich . dapat dilihat pada Gambar 4. dan pit bottom sementara. Gambar 4. Analisis resgrapich stripping ratio (SR). Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR). Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.

Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan.985 9 4 8 .698 4. 4.585 ton . Seam E1.899 5. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965.265. dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl. Seam E2 dan Blok Seam F.318.265.504.606. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1.444. dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl.960 495. atau disebut dengan bagian low woll.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D. overburden sebesar 4. dengan stripping ratio 4 :1. overburden sebesar 3.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 4.169.926 203. Seam E.209. Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D.922 bcm.90 Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.926 ton . overburden sebesar 4.922 4.248 bcm. dengan stripping ratio 9 : 1.444.186 bcm. .836 1.481 1. dengan stripping ratio 4 :1.748.209. dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl.2. Tabel 4. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J.3.186 1.481 ton.

907.025 3.178. membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya. Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit.91 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 30 20 170. Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m.585 2.3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan. sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %.59 5 4 5 4.138. Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT.3. lebar jalan pada tikungan 27 m.854.248 13. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup . dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty.806 15.690. sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut. pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun. sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost.09 149.999 965.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar.314. tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile.504. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile. tahapan- 4.612 4. Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap.566. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty). Riau Bara Harum.71 32.

3. Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi. Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300.000 ton/tahun. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting. 4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio. selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan. 4. sesuai dengan arah penyebaran batubara. parameter-parameter tersebut antaralain : .92 Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang. Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining.2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi. karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya. sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.

Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h. Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat. Stripping Ratio (SR) ≤ 10:1 c. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6.298 Kcal/kg d. Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang. Peta Topografi).93 a. Sasaran produksi pertahun sebesar 300. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e. khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup.11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01.000 ton b. dan . Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60°-70° dan overal slope ≤ 45° g. Lebar jalan tambang (20 m) Gambar 4.

Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d.12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit). Angle of repose dari material overburden (25°) e. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) Gambar 4. untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi. Tujuan daerah timbunan (waste dump) b. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting. perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi . Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c. Lebar jalan tambang (20 m) f.94 lapisan batubara antar seam batubara (interburden). maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. parameter tersebut menggunakan antara lain : a. .

827. sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8. 4.5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2. Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable.48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300. Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F. Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan.614.83 ton. dan menjadi batas tiap Blok penambangan.360. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi.827.790. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang . diperoleh batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl.614.95 4. sehingga total volume 15. sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang. 4. dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1.177.4 Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian. Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K. Riau Bara Harum adalah 1 : 10. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR). Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan. Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2.786.000 ton. Blok seam E dan Blok seam F. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT.6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara.94 ton. Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D .48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14.71 atau 9 tahun.

Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan. air limpasan maupun air tanah.96 akan dibuat. Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai. . bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan. Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang. Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan. Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih. 4.7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit). sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan.

428 (BCM) 2.97 Gambar 4.483 1.928 301.13 Skema saluran penyaliran 4.741.764.877 1.533 2.467.637.652.552.705 (TON) 303.101 2.669.460.940.299 304.164 2.764 1.135 1.592 314.751.206 315.8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .481 2.

98 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 1.073 776.740.9 Perancangan Waste Dump dan Stockpile 4.612 15.243 969. Gambar 4. sungai atau jalan.374 1.172.9.652 972. serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah.135.493 529.333.14 Layout Rancangan Waste Dump .042 152.712 437.011 303.462.199 2.628 1.122 307.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang.179 4 3 3 3 6 4.277 313.084 13.257.

Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar ± 75.500 Kapasitas Stockpile (Ton) .99 Pada daerah telitian. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port. selanjutnya dilakukan metode backfilling. bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum. 4.5 26. dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan . sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden.5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32.9.7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1.6 berikut. Tabel 4. kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20°.000 ton. dengan lebar bench 5m. Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun. Tinggi lereng dirancang 5m. Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4.3 30.

Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15° dengan ketebalan berkisar antara 0. Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang · Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) · Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) · Tinggi lereng Tunggal (Bench High) · Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) · Lebar Jenjang (Berm) = 60 . Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada rekmomendasi menurut Robert.80 m.100 BAB V PEMBAHASAN 5. Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D. Hook dan Fish (1972).70 meter = ≤ 40° = 10 meter = 60 ° = 10 meter · Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara . seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain. b.1 Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah sebagai berikut : a.5-6.

101 Gambar 5.2 meter Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah.1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) · · · · · · Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85. biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah. maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp · · · Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter . peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan.

5m.899 5. Riau Bara Harum. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi. Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a.690 9 4 8 5 4 5 5. Kemiringan dip berkisar 6-15°.025 3.922 4. penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar.854. blok siambul adalah 9 tahun. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden).985 149.698 32. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB) .169.999 965.248 13.186 1.960 170.318.1.314 495.265.209.806 15. 5.444.000 ton/tahun maka umur tambang PT. sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.1.612 4. pegolahan batubara serta sasaran produksi 300. Table 5.836 1.178.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang.481 1.926 203. faktor kehilangan selama penambangan.585 2.102 5.138 SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 4.566. b.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4.2 dibawah ini.748. dengan ketebalan lebih dari 0.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT.907.606.504.

b. Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a. Dalam operasi pemindahan kayu-kayu. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan. yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar. maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting). digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik.1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: · · · 5. dilakukan setelahh pembersihan lahan . Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer. kondisi bidang diskuntinu. c. maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining).103 Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan. kemudian diangkut dengan truk. maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas.2. Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit.

73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer.104 penambangan.928 ton. diberaikan dahulu dengan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang. Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali.7m3 dibantu dengan buldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3.5m3 dibantu dengan bulldozer. dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3. Pada penggalian batubara tahun . Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material. kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer. a.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0. Sedangkan yang keras. 5. Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9. nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi.2. Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB). kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.2.5 m3. 5. Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan. Timbunan tanah subur ini. berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer. langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.

Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2. dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6.07 CCM. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.523.02 ha. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02.767. Jumlah batubara yang digali sebesar 304.478.915. b.392 ton.72 CCM. Jumlah batubara yang digali sebesar 315.460. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dimulai dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20. dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11.09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .830. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. d. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.44 ha. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01.206 ton.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3.105 overburden yang dihasilkan sebesar 2. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.741. Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.164 BCM yang berada di waste dump 3.43 CCM. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.299 ton.830.948.767. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.162.637.135 BCM yang berada di waste dump 3. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03.128.66 ha. c.637. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.042.43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.481 BCM yang berada di waste dump 3.514. Jumlah batubara yang digali sebesar 301. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.

218.106 pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2.764 BCM yang berada di waste dump 2.467.705 BCM yang berada di waste dump 2.837. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.096.15 ha.532. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.693. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.721. Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06. Jumlah batubara yang digali sebesar 303. Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.011 ton.83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan . dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Jumlah batubara yang digali sebesar 313.552.67 CCM.83 ha. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.17 ha. f. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.122 ton. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.223. Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05.102. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. e.791.621. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04.428 ton.233. g.941.073 BCM yang berada di waste dump 1. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28. Jumlah batubara yang digali sebesar 314.06 CCM.94 CCM.91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5.65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.135.

712 BCM yang berada di waste dump 1.918.309.243 BCM yang berada di waste dump 1. i. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776. Jumlah batubara yang digali sebesar 152.302. Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07. h. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.3 Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT.000 ton.33 ha. secara rinci tercantum dalam Table 5. Jumlah batubara yang digali sebesar 307.199 ton.387.631.108. Riau Bara Harum.042 ton. . Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09.4. Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.107 pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.385. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08.3 dan Table 5.53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895.451.118. Riau Bara Harum per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300.41 CCM. dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. 5. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.64 ha.98 CCM. dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11.76 CCM. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969.

940.122 307.428 313.333.637.533 2.483 1.172.073 776.669.299 304.135 1.751.108 Tabel 5.94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.467.666 1.177.135.164 2.928 301.790.612 15.481 2.614.011 303.827.764.552.877 1.199 2.652.460.652 972.741.101 2.206 315.374 1.764 1.705 1.786.83 (TON) 303.592 314.493 529.243 969.084 14.042 152.712 437.48 (BCM) 2.360.

Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang. maka diaplikasi metode backfilling.2 Grafik Produksi Batubara Pertahun Gambar 5. Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area. karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara.109 Gambar 5. Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L . Hal ini memberikan keuntungan.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun 5. diisikan pada area yang telah ditambang.3). artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan.2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5. Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling).3.

705 1.631.85 1.98 VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.43 3.76 895.385.243 969.552.65 2.073 Total Dump 2.460.741.460.83 Tabel 5.621.91 1.233.118.387.637.09 2.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.53 624.948.741.073 776.460.46 20.523.764 1.253.94 1.135.405.218.128.135.62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.552.915.164 2.83 1.41 15.88 3.705 1.98 1.467.360.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump 01 02 03 04 05 06 2.110 Tabel 5.302.135 1.552.705 1.67 1.72 2.108.764 1.390.481 2.135 1.06 1.135 1.162.791.830.481 2.207.042.164 2.096.102.135.941.467.767.309.073 .451.764 1.79 504.850.177.741.532.223.083.82 14.712 437.918.637.478.721.467.481 - OVERBURDEN Back Filling 2.693.837.514.372.164 2.07 3.637.

712 437.084 11. stasiun bahan bakar.360. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang.243 969.712 437. Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan.539. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan . ruang makan siang. tempat ibadah. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya. laboratorium kualitas kontrol.83 Gambar 5. gudang. dan stasiun generator.243 969.111 07 08 09 TOTAL 2.637.177.481 776.4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5. bengkel. tangki air.084 14.879 776.

maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien.5. 2. Stasiu Timbang Gambar 5. Truck Dump Hopper 9.M Stockpile 6.O.112 personil yang ada. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m. Pada penggalian overburden. 4. Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara. Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R. Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut: Keterangan : 1. 5. 5. Product Coal Stockpile 7. Struck Staging Area 10. backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya.5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. Peremuk & Saring 8. 3.1 Pemilihan Peralatan Utama . Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik.5 Tata letak fasilitas tambang 5.

7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali. berdasarkan pertimbangan tersebut diatas.5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0.2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : · · · Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan. akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5.113 Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden.5. 5.5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA . maka pada operasi pertambangan batubara ini. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3.

Bulldoze Dump Truck Tabel 5.6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0.5 m3 MERK FUNGSI Komatsu Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB) Dump Truck Hino Ranger FG 235 JJ 15 ton Hino Pengangkutan Batubara .7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7 3.114 Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping) Dump Truck Dump Truck Dump Truck Dump-Truck Dump Truck Backhoe.

6 Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah.115 HD 255-HD 25 ton Komatsu Pengangkutan Material (OB/IB) 5. Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. alat-alat tambang akan sulit beroperasi. air limpasan dan air hujan. Apabilah daerah tambang tergenang air. Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c. Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut. Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. b. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang. .

.116 Gambar 5.6 Skema saluran penyaliran.

pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %. 2.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60°. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara.5m. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7. Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT. Riau Bara Harum. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl. 4. Pemodelan geologi lapisan batubara. yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300.000 ton. 3. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan ≥ 0. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255. . 5.000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150. tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl.117 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Dan super elevasi 4 %. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1 pada 3 seam batubara.

4.118 7. praktis maupun ekonomi. maka perlu dilakukan: 1. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT. pompa dan kolam pengendapan. baik dari segi teknis. sumuran pada dasar pit. Letak kolam pengendapan berada dalam pit. Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut. pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl. 2.Riau Bara Harum . Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat. 6.

119 DAFTAR PUSTAKA 1. Yogyakarta. UPN “Veteran” Yogyakarta. Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi. 2007. Pemindahan Tanah Mekanis. Teknologi Pertambangan di Indonesia. Perencanaan Tambang. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. . 4. UPN “Veteran” Yogyakarta. Riau Bara Harum. Laporan Pemboran Eksplorasi PT. Japan Suhala S. Jurusan Teknik Pertambangan. (2010). Waterman S. Departemen Pertambangan dan Energi. Riau Bara Harum. 3.(2009). (1998). _______. Yanto I. PT. _______.555 Pasal 241. Yogyakarta. Komatsu. (2006). 6. (2010). Yogyakarta. Jurusan Teknik Pertambangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S. 7. Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Jurusan Teknik Pertambangan. 2. 5. “Specification and Application Handbook Edition 28”. UPN “Veteran” Yogyakarta.