RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ………………..…2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

.. Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.... tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13) Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma. . Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII “Filipi Family” yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali . .. Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara.. Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku. VIVA TAMBANG...4 Lihat.

radius putar (turning radius ) 8. dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15. Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7.1 ton. lebar permukaan jalan 18m. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper. gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994). Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m . yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 0°45’ 00 – 0°33’ 45. lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60°. untuk rancangan yang baik dan terarah. bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Autocad. dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton. Riau Bara Harum seluas 24. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0.00” LS dan 102°11’ 15.450 Ha. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang.644.00” BT. superelevasi 4 % (AASHTO 1994). Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m.000 ton. lebar selokan 1m. Wilyah PKP2B PT.000 ton. diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2. sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7.52m.5 RINGKASAN PT. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional.715 ton.5m. . Berdasarkan model rancangan batubara.00” – 102° 41’ 5. dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150. dan Mine Scape.

Dr. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. 2. Anton Sudiyanto. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi. MS. Didit Welly Udjianto. penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.Sc.Gunawan Nusanto.T. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Denny Tebay . Ketua Jurusan Teknik Pertambangan. Dosen Pembimbing I Skripsi. Fakultas Teknologi Mineral. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dalam kesempatan ini. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan.Ir. S. Ir.6 KATA PENGANTAR Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. Yogyakarta. M. Dr. Koesnaryo. Dr. Prof. dapat selesai dengan baik. Ir. 5.MT. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. M. Oktober 2011 Penyusun. 4. Dosen Pembimbing II Skripsi. 6. MT. 3.H. Waterman Sulistyana B. H. Ir. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

................................ 2............5 Metode Penelitian ........................................ 1.................................................................................1 Lokasi dan Kesampaian Daerah ......... 2............................. 1.................................... ............ 1............................... 2..............................................................6 Genesa .. 1........................................................ 4 5 5 7 9 12 ...............................................................................................3 Batasan Masalah ............................................................................................................................................................... 1 1 1 2 2 2 3 BAB II TINJAUAN UMUM 2............6 Hasil yang Diharapkan ..........4 Tujuan Penelitian ..............4 Kondisi Daerah Kelesa ........................................................ DAFTAR GAMBAR......7 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ...........................................................1 Latar Belakang ............... DAFTAR LAMPIRAN ................................ vii ix x xi BAB I PENDAHULUAN 1... DAFTAR TABEL ........................... 1............................................................................................7 Manfaat Penelitian ...............5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa ............................................. vi DAFTAR ISI .....2 Identifikasi Masalah ..................................... 2..3 Keadaan Geologi Sumatera ............................. 1........................................ 2.......................................... ....2 Keadaan Iklim ............................................

4....... 4........................... 4........................................8 Desain Tambang Terbuka ............8 Jadwal Rencana Produksi ...................................... 3.................. 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55 BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4........................9 Jalan Angkut ........... 16 BAB III DASAR TEORI 3................................... 3........7 Parameter-Parameter Rancangan ..........................................................................................................................1 Perancangan Tambang ................................7 Metode Penambangan .......... 3.........................................8 2..........................................................5 Rencana Produksi ..............11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang ....... 4.................................................... 4. 58 59 75 79 79 79 80 81 82 .....................10 Perancangan Timbunan ................................ 3.. 3..................................................................................9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile ...................... 4............5 Penjadwalan Produksi ....................................................................... 3............................................ 4......... 3.......6 Pemilihan Alat ....................1 Sumberdaya Batubara ......................................... 3.6 Sistem Penambangan .2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan ....................4 Perancangan Pit Penambangan ......7 Sistem Penyaliran Tambang ... 3............................................................2 Tahapan Perancangan Penambangan ........ 4.............3 Konsep Pemodelan Sumberdaya ..............................................3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang ..................... 3.4 Penaksiran Cadangan ...........

...........2 Metode Penambangan ........ 84 88 95 95 96 98 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6..... 5............... 5.........................6 Sistem Penyaliran Tambang ..................................... 102 LAMPIRAN ..................................... ..................................................4 Tataletak Fasilitas Tambang ............. 5.......... 100 6....................................1 Sistem dan Tatacara Penambangan ....... 5............................................... 5....................................................................................................................................2 Saran .1 Kesimpulan ............................. 103 ........9 BAB V PEMBAHASAN 5...............................................................................3 Rencana dan Jadwal Produksi ........................ 101 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................5 Peralatan .........

.................................................................... Kapasitas Stock Pile ............. Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden .........6 Batas Koordinat Konsensi Pertambangan...............................4 5................................... Jadwal Penimbunan Tanah Penutup .....2 4................................................... Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden............................................. Jenis Peralatan Utama Penambangan .............. Data Pemboran Litologi................. Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden ..................1 4........4 4........2 4.............................................1 5................. Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul ........ Data Hasil Penaksiran Cadangan ........... Data Pemboran Collar ...........6 5............................... 59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98 ..........................................3 5......... Rencana Produksi Batubara dan Overburden ..................5 4.............................2 5...........3 4........... Batas Koordinat Blok Siambul...10 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4..............5 5....................................

..........1 3.. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun .............................................................................................................................................. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan .............6 3............................. Inter ramp slope angle ................................................................11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2........................... ................3 2.4 2.................................................................. Bagian-bagian Jenjang ..............................3 3............ Penambangan Open Pit ...........1 2......................................................... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI . Proses Terjadinya Batubara .....................2 3..... Penambangan Contour Mining ............... Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara .................. Overall Slope Angle With Ramp........................5 3...................... Jenjang Kerja dan Safety Bench ..2 2.........................4 3............................ Penambangan Strip Mining ............6 3.................................7 3.................................................................................................9 Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian .......8 3........................ Peta Geologi Blaok Siambul ...................5 2........ Overall Slope Angle.........

........18 3......................................22 3......24 4..2 4............. Penampag Cross Slope ....... Cara Penimbunan Highwall and float dozing .................. Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing .............................. Overall slope angle dengan dua working bench ................ Kontur Struktur Lapisan Batubara ........................3 4................................................................................ Cara Penimbunan Down Hill Dozing .........4 4............... Overall slope angle dengan working bench dan ramp ........................1 4.... Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul .................. Lebar Jalan Angkut Lurus..................................... Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp .....12 3......................... Peta Topografi 3D Blok Siambul ........................ Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ........................................................6 Inter slope angle dengan satu working bench .........19 3...17 3.............................................................11 3....... Seam E dan Seam F...................... Peta Lokasi Lubang Bor ..............................20 3............................10 3...13 3.........................................................16 3...........................................................................21 3........... Bentuk Penampang Saluran Terbuka ................23 3........................................................................ Jenis Timbunan Terraced Dump .14 3..........................5 4........................12 3................15 3....................... Peta Blok Siambul ....... Lebar Jalan Angkut pada Tikungan........... Superelevasi Tikungan Jalan Angkut ................................................... Radius Tikungan Jalan.......... 37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79 .. Sayatan 3D Batubara Seam D..........

........6 Blok Batas Analisis SR........ Tata letak Fasilitas Tambang ........................ Dimensi Jenjang Pit Penambangan ....................................9 4............3 5...... Layout Rancangan Waste Dump .. Skema Saluran Penyaliran ...........................................13 5..................................................... Peta Blok Analisis SR..........................................................4 5......... Dimensi Jenjang Waste Dump ....... 71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99 .. Skema Saluran Penyaliran ..................10 4.................................................................................................5 5.................................2 5...13 4. Grafik Rencana Produksi Overburden ......8 4.................................................... Geometri Lereng Penambangan ....................1 5................. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych ............................................................................................... Grafik Produksi Batubara Per Tahun .......................7 4.............. Grafik Proksi Akumulatif Batubara ...........................................................12 4......................11 4....................

............................................................... .......... PETA BLOK SIAMBUL ................................................................................... F....................14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A...... N...... SAYATAN PENAMBANGAN .................................................................................... K....... SPESIFIKASI ALAT..... PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN ........................... PETA SECTION LINE TITIK BOR ................................................... B. SAYATAN TITIK BOR ....... ............. H..... PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN ....... J................................ G...... PENAKSIRAN CADANGAN ... PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH .................................................................................... E........................................... P........ PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT ...... O................................. D........................... M. Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191 PETA KESAMPAIAN DAERAH ...................................................... PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA ............ PETA LOKASI TITIK BOR....................... C.... PETA SUBCROP LINE BATUBARA ............................ PETA ISOPAC ............................ PETA GEOLOGI ................................... PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT .......... PETA KONTUR TOPOGRAFI ................................................................................ DATA PEMBORAN .................................................................................................. L..................................................................... NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) .............................................. GEOLOGICAL MAP of KELESA .................. I.

Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat. 1.3. b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman.2. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Kelesa. Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. PT. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut.15 BAB I PENDAHULUAN 1. Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang. Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. untuk itu PT. dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR). . Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper. Auto-cad dan Mine Scape. 1. pembongkaran. Latar Belakang PT. dan pengangkutan. Batasan Masalah Penambangan batubara PT. penambangan. Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan.1. Kecamatan Belilas. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut.

Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara. menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan.4.6. Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul.5. data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper. Metode Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu. 1. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara. 1. b) Pengambilan Data · · Data Sekunder : data logbor. serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT. . b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap. Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang.16 1.

Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang. . 1.7.17 d) Dapat berguna bagi PT. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan. sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah.

dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam. Riau Bara Harum terletak pada 0°45’ 00 – 0°33’ 45. Kecamatan Seberida.450 Ha.00” BT.00” – 102° 41’ 5.1 Peta Kesampaian Daerah . Gambar 2.00” LS dan 102°11’ 15. Kabupaten Indragiri Hulu. Riau Bara Harum berada di wilayah Desa Kelesa.18 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT. Provinsi Riau. Secara geografis lokasi PKP2B PT. Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km. Riau Bara Harum adalah 24. Luas PKP2B PT.

terdiri dari pasir. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata – rata sebesar 188 hari.80 . Riau Bara Harum memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September . Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep. curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989.sampai panjang (lama).1 Keadaan Geologi Regional Sumatera . Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : · Alluvium (Qa). 2. 3-4°C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%. Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008). misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin. dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. Berdasarkan data meterologi.Februari) dan musim kemarau (Maret .700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera.Agustus). dengan panjang 1.3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3˚ LU sampai 6˚ LS dan 96˚ BT sampai 106˚ BT. dan lempung. lanau. Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) .19 2.2 Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak.1984). yang diendapkan oleh sungai-sungai besar.3. sedangkan kelembaban pagi sektar 90% 2.2732. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan.60 mm/th. dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31°C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%.

batulanau. Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen. Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1. terdiri dari tufa. sejajar dengan sistem sesar Sumatera. batulanau gampingan dan serpih. dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa. batupasir berbutir kasar sampai halus. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir.20 · Formasi Kasai (QTk). Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. batulanau. perlipatan dan perputaran sekitar 20˚ berlawanan arah jarum jam.000 meter. diendapakan pada lingkungan daratan. Arah struktur persesaran adalah BU – ST. Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara – Selatan dan merupakan pergeseran horizontal. batupasir. dan nodul-nodul gampingan. merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih. Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20˚ 25˚ berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan.3. · Formasi Gumai (Tmg). batulanau tufaan. Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1. Pada Oligosen Akhir. menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. . · Formasi Muara Enim (Tmpm). Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen. tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice). Pada Tersier Awal. lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas. Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. terdiri dari batupasir konglomeratan. terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik.000 meter. · Formasi Talang Akar (Tomt). 2.

Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya.4.4 Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai 2. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako . Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam.21 2. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut. dan terllis. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya. Sungai Renteh dan Sungai Selesen. 2. Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%.4.3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular.4. 2. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras. dendritik. kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut. dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut. Sungai Kerintang.

Sungai Akar merupakan sungai utama.22 sebagai sungai utamanya. Gambar 2. Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon.3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan .2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa Gambar 2.

yaitu: a.23 Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2. Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier. b.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbh’s Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel. batusabak berbintik. 2. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1.1994) Lampiran A-02. Tersier hingga Kuarter. Formasi Kelesa (Teok) 2. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff. pegmatit. di beberapa tempat berubah menjadi hornfels. Secara stratigarfi Formasi Gangsal. setempat dengan butiran kerakalan. tuff andesit sampa tuff basalt. kelabu sampai coklat. Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit. Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit. d. Sumatera . Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak. batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan. c. filit. keras dan forfiri. dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. dan batulanau. batupasir termetamorfkan dan kuarsir. Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela. greyweke kuarsit. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. granodiorit.5. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara .

Formasi Muara Enim. kecoklatan. keras dan ringan. c. f.24 Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan – batuan Pra Tersier. g. formasi ini terdiri dari konglonerat. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan. batupasir kerikilan. abu-abu kehitaman. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung. serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan. batulempung.lensa kuarsa dan lignit. serpi tufaan dan tufa. batu pasir. batu lanau dan sisipan serta lensa – lensa batubara. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. tufaan. tuff. Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. atau breksi. b. bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung. e. batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. dan kemeraan. lensa. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang. serpi dan batubara. Formasi Kerumutan ( Qtke) . Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa. yang disisipi batu lempung.halus dengan batu lempung tufaan. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan. d.

Hal tersebut berkaitan dengan . lumpur. lanau pasir. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung. tufaan kerikilan. berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur. N.5. 2. dengan sisipan kayu karbonan b. batulempung tufaan. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna. kerakal. c. dan gambut berwarna hitam sampai coklat. batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel. lanau. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier. hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata. 1991). setempat silang siur . tufa setempat lempung pasiran. Aluvium (Qac) Berupa lempung. lunak tidak mengeras.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan.25 Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim. lumpur. batu lempung tufaan. 3. tuff. 1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. dan berangkal berwarna kelabu. terdiri dari batupasir kuarsa. halus sampai sedang. pasir. Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura – Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai – Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron. kelabu muda kemerahan.

Pada Mio–Pliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang.26 pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan.4 Peta Geologi Blok Siambul 2. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar).6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna. struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara.1 Genesa Batubara .6. Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu. Di Indonesia batubara yang 2. Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim. timurlaut-baratdaya. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya. Gambar 2.

CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O. Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya.27 ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier. Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup. . batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut. proses oksidasi material penyusun utama cellulose Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya. maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. CH4. Untuk penyederhanaan proses tersebut.

28 Gambar 2. Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. peningkatan kepadatan. pelepasan gas-gas (H2O. maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan – cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi. gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %. proses pembentukan gunung. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. . CO2). Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. CO. kekerasan dan nilai kalor. Tekanan. Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma. serta aktifitas tektonik lainnya.5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. CH4. disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman.

. pelepasan gas-gas (H2O. Ketebalannya berkisar antara 0. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0. CO.2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D. . Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi.6. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi. kekerasan dan nilai kalor. CO2).29 Gambar 2. peningkatan kepadatan. E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. Tekanan. 2.5-4 m.5-6 m. CH4. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia.

kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian. Sedangkan batubara yang keras.50m. Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer.30 2. terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk. operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck. dan bila ditemukan material keras.7 Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. . Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck. akan di berai dahulu dengan bulldozer. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0.

kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur. dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. yang meliputi: nama titik bor. perancangan tambang jangka pendek. Setelah pembuatan peta topografi. Sebelum melakukan perancangan tambang. data litologi meliputi: nama titik bor. Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan. Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. batubara yang dapat dari . perlu dilakukan pemodelan geologi. nama seam. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D. dilakukan dengan proses triagulasi. dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian. Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape. koordinat titik bor. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara. lapisan atas (roof). dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar. maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara. yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan. kedalaman lubang bor.31 BAB III DASAR TEORI 3. penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi. elevasi titik bor. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi. baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara. kedalaman lapisan bawah (floor). yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D.1 Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.

total moisture. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. dan kode litologi. Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk. sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. kedalaman lapisan atas (roof). Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden. Dalam pengolahan data pemboran. kandungan abu (ash). dan calorific value atau kalori batubara. kedalaman lapisan bawah (floor). subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan. juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor. nama seam batubara. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E.32 hasil log Bor. total sulphur. Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60° maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan. relative density. inherent moisture. Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. .

Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich. dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. Berdasarkan data tersebut. dan seterusnya. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan. dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. Pada hasil resgraphic. Blok 02. . Dalam pembuatan desain geometri penambangan. dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. Dalam penaksiran cadangan awal.33 Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . supaya penaksiran menjadi lebih detail. Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda.

f). b). Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a). Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999). tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak.Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau . Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur. Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. d). c). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi. e).2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau.34 3. Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak.

3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan. tataguna lahan. pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi. bentuk. Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional.000.1). pemboran uji. 2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. pembuatan sumuran. korelasi. struktur. percontoan dan analisis. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. kuantitas dan kualitas. United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities.000.35 Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). pengukuran penampang stratigrafi. serta kesampaian daerah. pembuatan paritan. Geneva (Gambar 3. . Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50. sebaran. dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100. pemetaan topografi. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.000. penginderaan jauh. penampang geofisika. pembuatan sumuran. penaksiran.

1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu. F dan G.36 Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Gambar 3. yaitu : E. E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study § Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka. dimana. yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis) .

ketebalan dan kualitas endapan. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian. informasi geologi. jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat. yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study) § Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi . yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance) 3. tonase tiap unit. berat jenis.3 Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan eksplorasi endapan batubara. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi. pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara. jenis batuan. misal kearah utara dan kearah timur.37 § Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka.

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +………...+

Ln

…………………….3.1

Keterangan : L1, L2, L3, …………, Ln S1, S2, S3, …………, Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +………...+ Ln …………….3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)…………)L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +…….+ 2Sn + Sn )L/2 ………………… …….3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 ……………………………………… 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) ≤10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

41 Gambar 3. Kemampuan peralatan yang digunakan f. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment.6. 3.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum. Pemasaran d. Ketebalan lapisan batubara b.2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a. . Sifat dan keadaan batuan penutup e. Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya. Kualitas c.

lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring . Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : · · · · Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular. 3. kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama.3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah.6. Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil.3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang).42 Gambar 3. berlapis Kemiringan relatif. Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang.

meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh. 3. atau berupa file surface titik ketinggian.7. termasuk drillholes collars.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer.1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil . Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden. google earth dan google scateup.43 · Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio. Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf. maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi. teknologi peralatan) Gambar 3. globalmapper. 3.7.4 Penambangan Strip Mining 3.

lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar. yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi. Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m.44 Menurut Robert.7. atau pada tanah yang terekpos.7.000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m. yang berproduksi 10. kurang lebih 2-5m. pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m. Namun jika pit semakin dalam. Montana. 3. 3. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit. Tergantung pada peralatan yang digunakan. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm.7. pada continental pit.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit. ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan. kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya.6 Kedalam Pit Bottom .7. 3. maka lebar jenjang juga semakin lebar. Butte. Namun untuk lereng permanen.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut. 3. terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten. Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih. relatif lebih tipis.

7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman. 3. b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan. drainase alami pada permukaan. nilai mineral yang ditambang. dan lain sebagainya. ukuran (jumlah) deposit. tekanan piezometrik. lokasi daerah yang pernah banjir. Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan .7. kedalaman muka air tanah.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan. naiknya biaya produksi dan pengangkutan.45 Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio. gradient hidrolik. sumbangan air tanah. pororsitas. 3. serta kapasitas mill dan produksi. permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang. diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran). dan flktuasinya seperti.7. daerah tangkapan hujan. kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude. Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik).

46 h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor.2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang. penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja). Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan. maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan.1 Geometri Jenjang 3. faktor pengembangan. 3. densitas batuan. maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang. yaitu : § Sasaran produksi dan stripping ratio . Pada material lunak. dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan. dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja. 3. struktur geologi yang ada. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan. Dengan pertimbangan tersebut.8.8. Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan.

kemampuan alat muat. Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Ø Jenis dan kemampuan alat Ø Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Ø Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Ø Pemanfaatan lahan bekas tambang Ø Kapasitas produksi yang akan dipakai . 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang. dan mekanik batuan. rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. pola gerak alat muat dan alat angkut. Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik.47 § § § § Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar. maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang. dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan). Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya. tinggi jenjang. panjang.

lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench). Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman. pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil. Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut. Dalam pelaksanaan penambangan. sudut lereng jenjang tunggal. Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang.48 Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang.5 Bagian-bagian Jenjang . Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini. agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material). Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe Gambar 3. Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material.

8.7). . jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang.3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3.6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3. dengan memperhitungkan jalan angkut. Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan.49 b) Jenjang kerja (working bench) Gambar 3.

8).7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama. Keterangan : q R : overall slope angle : ramp R q Gambar 3. namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3.8 .50 Upper most crest a Lower most crest Gambar 3.

C qwR1 Keterangan : qwR1 qwR2 WB W WB WC : Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe qwR2 T Gambar 3.10).10 .51 Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3. C Keterangan : qIR1: Interamp slope 1 qIR1 R RC qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp qIR2 T Gambar 3.9).

52 Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3. WB Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp R q Gambar 3.12). qwR1 Keterangan : WB R qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3 qwR3 Gambar 3.11).11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3.12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp .

53 g) Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan sebagai working bench. kerikil. Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell. bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang. (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2.8. maka tinggi jenjang . 13). tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh.4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. WB1 Sh1 Sh2 WB2 Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2 q Gambar 3. dan material lepas lainnya harus : (a). Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat. 555 Pasal 241 (1) Kemiringan. dragline. (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3. tanah liat. (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir. Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3.5 m apabila dilakukan secara manual.

Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan. Apabilah swichback tidak . Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck. perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan.8. 3. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp. selokan penyaliran. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus. pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan. berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas. ruangan untuk truck yang akan menyusul. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1. Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya.54 maksimum untuk material kompak 15m. dan tanggul pengaman. oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar. kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang.

3. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja. Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. parameter waktu dapat mulai diperhitungkan. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang. pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara. jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali. Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan.55 mungkin dihindari.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit.8. Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara . Pada tahap perancangan. Dalam perancangan. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana.

Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut. 3. kekar. Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit. penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher).9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut. bidang perlapisan. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit.1 Letak Jalan Keluar . tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar. c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan. b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang. Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam. Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3.56 Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya.9. dan bidang geser) (d) Air tanah.

9.Wt + (n+1).2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas.5 .3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas.4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut. ruangan untuk truk yang akan menyusul.57 3. 3. (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit. yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck.(0.9. a) Lebar Jalan Lurus L =n.9.Wt) …………………………………………………… L : lebar jalan angkut minimum. switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu. menghasilkan banyak debu. karena dalam operasi penggalian batubara.5. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah. juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman. (meter) 3. biasanya 4 kali lebar truk. 3. juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan.

Awang Suwandi.5 wt. maka harus dilakukan beroperasi.6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan.5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan.5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0.14 Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0. (meter). U : Jarak jejak roda. (meter). 2004 ) Gambar 3. CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min ( Ir. The file may have been mov ed. renamed. Verify that the link points to the correct file and location. or deleted. yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C ……………………………………………………. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan. Ukuran 0. perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang . 3..58 The link ed image cannot be displayed.

Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum. 2004 ) Gambar 3. Fb: Lebar juntai belakang.Awang Suwandi. (meter). (meter).15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan c) Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan. ( Ir.59 Fa : Lebar juntai depan.(meter). Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda. rumus yang digunakan adalah : . C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan. Penentuan besarnya jari-jari tikungan.

5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan. . meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang α : Sudut penyimpangan roda depan (◦ ) Gambar 3.9.16 Radius Tikungan Jalan 3. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling.60 Wb α R R = Wb/sin α α Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan. dan menambah kecepatan.

Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan α = V2/R.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D.8 m/s2 . nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m.I. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan.C.7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya.61 Gambar 3.G ……………………………………………………………………(3. pada kondisi jalan kering. Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan. nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin.

62 Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang. maka perlu menimbun bagian tengah jalan. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade (α) = Dengan: ∆h ∆x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%. maka cross slope dibuatb 1: 25.(3.. baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. 3. maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3. Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas. …….9. …………………………………………………………….8) Gambar 3.18)..6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut. sehingga memenuhi persyaratan cross slope. cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air.18 Penampang Cross Slope .

sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau . Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini.9. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang. System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut.63 3. Tanah atau batuan lunak c. dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer. tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. dan truk jungkit. sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. backhoe. Tanah penutup yang tebal b. antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini. Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. Sistem ini cocok untuk: a. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). muat. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali. bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat. tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus.

perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. Penomoran untuk Strip 01 adalah S01. panel. baik yang berharga maupun yang tidak berharga. Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel. penomoran untuk panel 01 adalah P01. panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. 3.11 Teori Strip. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan.10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. 3. 3. contoh S01P01.9. yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut. Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m. berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01.1 Parameter Perancangan Timbunan .64 pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup. kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel. yaitu pit (tambang). Lebar tiap panel adalah 50 m.10. pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang. strip dan blok. termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur.

Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna.10. Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut.3-1.45 % pada 1 m3. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest. d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M. Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest). antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370. Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya.2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. 3. ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping.65 Proses penimbunan material. lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard . Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas. baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi. Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit. Material insitu akan mengembang menjadi 1. Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe).45m material lepas (loose material).

3. Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan .19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump .10. kemudian bulldozer mengurus material ini. Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. Gambar 3. b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang. baik material berharga maupun tidak berharga.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material. Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng. dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a.66 Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan.

20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3. jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan . Gambar 3. Pada pelaksanaannya.67 b. Keuntungan dari jenis timbunan ini. Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah.10. antara lain: a. Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak begitu curam. alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk. lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi. Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer.

22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing c. bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir.68 Gambar 3.21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b. Gambar 3. Trench atau sloat dozing . Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang. Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam.

. Provinsi Riau. Kecamatan Seberida.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa. Gambar 3.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3. Kabupaten Indragiri Hulu. termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi. sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah. Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung.69 Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 – 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah. pembuatan peta topografi.11 227323.32 9915187.72 9932686.30 9913333.61 9913333.05 197608. tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.64 199457. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit.44 198532.40 228240.61 9912418.52 226389.79 9930841. Riau Bara Harum secara geografis.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT.34 199462. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT.01 .04 200393.73 4.30 9914258.35 198534.32 227309.11 228253.60 9933607.1. pemodelan batubara.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.2 Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan pengabungan perangkat lunak Globalmapper. Tabel 4.80 LINTANG SELATAN (m) 9915182.20 9914258. AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta.2. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602.29 226389.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455.72 9932689.22 9930844.91 9933614. yang pekerjaannya dibatasi oleh.

10 227320.01 205033.40 9915187.32 9929926.00 Lanjutan Tabel 4.82 200395.36 9924386.02 200394.13 223601.92 213397.48 229173.01 51 52 53 54 229173.90 9916102.43 225463.98 9919793.32 201319.32 201325.37 9912415.28 9917940.28 9917023.43 9925318.41 9931768.46 9928083.55 210601.14 9916408.41 226388.65 211528.88 205037.42 9927163.94 223599.39 210606.72 225460.23 224530.30 228247.1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 201321.09 9917023.24 9925317.53 203174.42 9929926.21 9913341.35 9923470.28 9917947.56 9924391.79 9934528.19 9915180.17 224530.06 9916102.68 9916419.42 9934528.87 9920715.93 9913342.63 213386.01 203178.31 227315.54 9924392.47 9925309.95 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 231958.83 231963.74 8 9 10 11 200391.21 201313.44 211536.85 9924396.62 226383.40 228244.18 9914260.42 9927156.32 9925308.21 9911505.20 229170.79 9931762.23 212463.06 .84 212462.23 9928080.40 9914260.89 229178.86 9919793.79 238448.

98 221427.84 9925317.30 215862.69 210607.87 9918869.49 9916101.53 9925320.85 222670.83 213389. Riau Bara Harum tersebut.14 210601.11 214326.08 218953.27 218027.43 218956.95 223601.22 9927163.59 215250.94 9923474.42 9930846.73 222668.52 9914565.1 41 42 43 224535.16 9919793.64 9920715.53 225460.45 9916403.89 Lanjutan Tabel 4.08 9935459.69 84 85 86 212453.06 9924397.17 9920703.49 218036. seluas 24.81 9930850.03 213380.19 221433. dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat .61 9911489.42 9928083.03 214315. Riau Bara Harum.03 225455.33 9927159.17 9918866.98 218031.31 215249.26 9933613.22 215246.89 9933611.84 9911493.97 9931767.39 9914556.99 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 225455.91 9919793.75 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 214315.92 9928080.37 9917023.07 Dari data koordinat lokasi konsensi PT.82 214320.19 216175.30 9931767.450 Ha.99 9932696.01 215241.24 223601.86 9916407.33 9920710.39 218027.73 9924392.70 215870.45 9916100.53 9917020.71 216168.03 224527.

094 9920885.675 217072. Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar. Blok Pegegas. dapat dilihat pada Tabel 4. Blok Ringin.144 9923643.2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul. yakni : Blok Kelesa.2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4.76 lunak autocad. Secara keseluruhan konsensi penambangan PT.144 .2.227 9923043. Batas Koordinat Blok Siambul NO TITIK BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m) 1 2 3 4 217072. Blok Siambul. Blok Sungai Aarang. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha.094 215515.675 215515.227 9920855.

2 Blok Siambul PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 °. disebabkan PT. Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan.77 Gambar 4. Hasil pemetaan topografi . sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl. Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl. Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT.

Gambar 4.3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. Riau Bara Harum . Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A. sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut.78 dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD.

Riau Bara Harum Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian. maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian. dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi. dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian.5 m.2.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT. Gambar 4.2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan ≥ 0. sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara .79 Setelah diperoleh data koordinat topografi. 4.

Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor. elevasi titik bor. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0.50 51 .5 m. koordinat titik bor. hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0.5 m sampai 6 m. dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20° . Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70.5 m. Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F. dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan.80 0.30°. Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian. digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0. Tabel 4. data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara. sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian.5 m. kedalaman lubang bor. PT.3 Data Pemboran Collar PT. Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul.

. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.0 60 52. Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara.81 SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B 216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081 9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844 68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60 60 51 60 45 27. batas kedalaman lapisan bawah (floor).5 30 29.5 31. dank kode litologi.0 45. batas kedalaman lapisan atas (roof).0 52.7 2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor.

20 19.40 23.00 29.00 15.80 1.20 3.60 3.00 1.50 1.10 0.60 50.80 1.10 31.90 1.60 6.50 2.70 3.00 0.20 24.50 21.80 5.20 53.80 0.00 1.00 54.00 D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO .70 9.10 2.82 Tabel 4.80 0.00 35.60 3.80 50.60 18.50 18.20 1.90 24.10 1.00 34.80 38.90 0.70 51.00 0.70 38.80 5.90 24.10 6.4 Data Pemboran Litologi PT.70 19.90 53.60 32.80 36.00 22.50 0.10 1.80 22.20 26.00 16. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A 29.00 19.20 30.50 1.00 17.

00 36.40 2.10 F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO Ket : CO = Kode Litologi Batubara D. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor.E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara.90 48.00 26.00 28. relative density.80 48.30 15.30 0.20 30.70 17.90 2.20 0.50 34.90 1.90 42.30 34. total moisture.90 35.90 2.10 0.90 30.40 16.10 43.10 21.E.00 33.00 34.90 34.40 5.50 0.30 31. inheren .80 36.40 0.80 34.40 27.70 15. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.50 3.60 7.40 1. batas kedalaman lapisan bawah (floor). batas kedalaman lapisan atas (roof).30 1.30 0.90 0.10 6.83 SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B 20.60 0.40 5.00 25.40 37.80 0.10 1.50 5.E1.40 21.30 7.

Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. ketebalan setiap seam bervariasi. khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor). dan calorific value atau kalori batubara.80 m. secara berurutan. namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan. total sulphur. Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut. Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit.84 moisture. dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara. layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan. Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. kandungan abu (ash). Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. Dari hasil pengolahan data pemboran. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface. . dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6.

2. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan. seam E dan seam F.2. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D. berbatasan dengan . Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara. Dengan pembuatan kontur struktur. 4. sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4.2. secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara.85 =Seam F =Seam F = Seam F = Seam F = Seam F Gambar 4.3.

dan penamaan panel dimulai dari P01. 350 m. berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4. secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip. . panel dan Blok. diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource).8). Blok-Blok terbentuk.3. pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio. dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20.9.8. dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource). dan 250 m dari titik bor terluar. Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok.2. Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m. 4. Riau Bara Harum. Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan. untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan. Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4. penamaan strip dimulai dari S01. Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape. Pada daerah penelitian.86 konsensi pertambangan PT.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi. hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. dapat dilihat pada Gambar 4. Penamaan Blok ini. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil. sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf “BL”. sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar. untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1. menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip. dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m.

8 Blok Batas Analisis SR .87 Gambar 4.

analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m .88 Gambar 4.9 Peta Blok Analisis SR 4.3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape .2.3.

Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas. dapat dilihat pada Gambar 4.89 seluas Blok besar yang melingkupi. Gambar 4.10. Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR). Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.10. dan pit bottom sementara. Analisis resgrapich stripping ratio (SR). Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich .

Tabel 4.922 bcm. Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D. Seam E.444.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 4. .481 1. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495.209. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1. dengan stripping ratio 4 :1. Seam E2 dan Blok Seam F. overburden sebesar 4.836 1.585 ton .698 4.960 495. dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl.926 203. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J. dengan stripping ratio 9 : 1.748.248 bcm.444.2. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1.169.606.209. 4.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D.186 1. Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965. overburden sebesar 4.922 4. Seam E1.899 5.3.985 9 4 8 .265. dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl.926 ton .265.90 Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.186 bcm. dengan stripping ratio 4 :1.318. dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl.481 ton. overburden sebesar 3. atau disebut dengan bagian low woll.504.

806 15. Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT. Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m.59 5 4 5 4. pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun.09 149. tahapan- 4.612 4.248 13. Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup .3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan.504.999 965. sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut. sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost.138.566. sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %.907.178. Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit. Riau Bara Harum. membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya. dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty).585 2.71 32. tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile.690.025 3.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar.314.854. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile.3.91 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 30 20 170. lebar jalan pada tikungan 27 m.

4. Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. parameter-parameter tersebut antaralain : . Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining. sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting.3. Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi. sesuai dengan arah penyebaran batubara. 4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio.2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan.92 Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang. selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan. karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya.000 ton/tahun.

Lebar jalan tambang (20 m) Gambar 4. Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60°-70° dan overal slope ≤ 45° g. Stripping Ratio (SR) ≤ 10:1 c. khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup. Sasaran produksi pertahun sebesar 300. langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Peta Topografi). Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e.11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01. Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar.298 Kcal/kg d. Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat.93 a. dan . Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6.000 ton b. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h.

Lebar jalan tambang (20 m) f. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting. maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. . Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d.12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit). Angle of repose dari material overburden (25°) e. untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi. Tujuan daerah timbunan (waste dump) b. parameter tersebut menggunakan antara lain : a. perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi .94 lapisan batubara antar seam batubara (interburden). Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) Gambar 4. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c.

790. Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan. Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara.786.95 4. dan menjadi batas tiap Blok penambangan. Riau Bara Harum adalah 1 : 10. Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR). Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D .5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2. sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang.614. sehingga total volume 15.000 ton. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang .94 ton.71 atau 9 tahun. 4.827.614.48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300.4 Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian. dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1. sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8. Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2. Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F.177.360. 4. Blok seam E dan Blok seam F. Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi.6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih.83 ton. diperoleh batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl.48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14.827.

4. . Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. air limpasan maupun air tanah. Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang. sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan. Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang. Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai. bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan. Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih.7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit).96 akan dibuat.

6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.483 1.652.101 2.592 314.97 Gambar 4.705 (TON) 303.206 315.751.741.460.637.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .428 (BCM) 2.467.877 1.552.164 2.299 304.764 1.669.533 2.940.135 1.481 2.928 301.13 Skema saluran penyaliran 4.764.8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.

073 776.135.374 1.493 529.612 15.740.011 303.257.462.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang.277 313.042 152. Gambar 4.243 969.172.98 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 1.628 1.9.14 Layout Rancangan Waste Dump . serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah.712 437.084 13.9 Perancangan Waste Dump dan Stockpile 4.179 4 3 3 3 6 4.652 972.333.199 2.122 307. sungai atau jalan.

500 Kapasitas Stockpile (Ton) . Riau Bara Harum. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port. Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar ± 75.3 30. kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20°.000 ton. Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun.5 26.6 berikut. Tinggi lereng dirancang 5m. dengan lebar bench 5m. dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan .7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1.5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32. 4.9. sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT. Tabel 4. selanjutnya dilakukan metode backfilling. Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4.99 Pada daerah telitian. bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara.

100 BAB V PEMBAHASAN 5. Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D. Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang · Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) · Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) · Tinggi lereng Tunggal (Bench High) · Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) · Lebar Jenjang (Berm) = 60 . Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada rekmomendasi menurut Robert.1 Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah sebagai berikut : a.80 m.5-6. Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.70 meter = ≤ 40° = 10 meter = 60 ° = 10 meter · Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara . Hook dan Fish (1972). seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain. Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15° dengan ketebalan berkisar antara 0. b.

maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp · · · Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter . biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah.1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) · · · · · · Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85.2 meter Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah. peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan.101 Gambar 5.

504.1. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi.178. Riau Bara Harum. b.5m.585 2. sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar.000 ton/tahun maka umur tambang PT.854.985 149.698 32. faktor kehilangan selama penambangan.314 495.899 5.169.690 9 4 8 5 4 5 5.318. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden). blok siambul adalah 9 tahun.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang. pegolahan batubara serta sasaran produksi 300. Table 5. Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4.481 1. dengan ketebalan lebih dari 0.606.102 5.025 3.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT.836 1.186 1.138 SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 4.248 13.999 965.926 203.748. Kemiringan dip berkisar 6-15°.265.907.922 4.612 4. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang.444.2 dibawah ini. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB) .566.960 170.806 15.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5. 5.1.209.

Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah. Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer. digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik. c.103 Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan. Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a. yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar. maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan.1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas.2. b. Dalam operasi pemindahan kayu-kayu. maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting). maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining). Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit. dilakukan setelahh pembersihan lahan . Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: · · · 5. kemudian diangkut dengan truk. kondisi bidang diskuntinu.

Sedangkan yang keras. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer. Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden. 5. langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material.5m3 dibantu dengan bulldozer. dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9. nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi. Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan.73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303. berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Timbunan tanah subur ini.928 ton. diberaikan dahulu dengan bulldozer. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB).2. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer.5 m3.2. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3. dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang. Pada penggalian batubara tahun . kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk. a.104 penambangan. Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. 5. Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.7m3 dibantu dengan buldozer.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0.

dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.523.88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3. Jumlah batubara yang digali sebesar 304. dimulai dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20.637.135 BCM yang berada di waste dump 3.948.02 ha.206 ton.07 CCM.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3.830.042. Jumlah batubara yang digali sebesar 315.767.105 overburden yang dihasilkan sebesar 2.741. c.767. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01.514. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.481 BCM yang berada di waste dump 3. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03. Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .915.164 BCM yang berada di waste dump 3. b. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.162.478.66 ha.830.44 ha. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. d.128.299 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.72 CCM. Jumlah batubara yang digali sebesar 301. Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.392 ton. Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.43 CCM. dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02.460.43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.637.

dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28.122 ton.073 BCM yang berada di waste dump 1. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.223. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.94 CCM. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.428 ton.941. dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. e. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05.67 CCM.83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan . dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Jumlah batubara yang digali sebesar 303. Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.693.17 ha.83 ha. Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06.552.102. Jumlah batubara yang digali sebesar 314.106 pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2.837.011 ton.467. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.218.06 CCM.65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.791.621.096. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.705 BCM yang berada di waste dump 2.764 BCM yang berada di waste dump 2.135. g.721. Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.532. f.233. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.15 ha. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Jumlah batubara yang digali sebesar 313.

i. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.309. h.33 ha. Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl. Jumlah batubara yang digali sebesar 152.387.3 dan Table 5. Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT.302.243 BCM yang berada di waste dump 1. Jumlah batubara yang digali sebesar 307. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. . Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07.712 BCM yang berada di waste dump 1.108. Riau Bara Harum.631. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776. dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11.85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08.41 CCM.199 ton.98 CCM. secara rinci tercantum dalam Table 5.53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.451.76 CCM.107 pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09.385.042 ton. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969.918.118.64 ha.3 Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT.4. 5.000 ton. Riau Bara Harum per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300.

428 313.666 1.637.493 529.299 304.83 (TON) 303.483 1.940.122 307.705 1.94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .164 2.741.011 303.042 152.108 Tabel 5.360.135 1.533 2.199 2.374 1.592 314.786.481 2.206 315.764 1.790.614.612 15.467.073 776.084 14.877 1.172.243 969.928 301.48 (BCM) 2.101 2.552.2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.460.652.827.764.751.135.669.712 437.333.652 972.177.

109 Gambar 5. Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area. Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang.2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5. Hal ini memberikan keuntungan. Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling). karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. diisikan pada area yang telah ditambang.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun 5. maka diaplikasi metode backfilling.3.3). Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L . artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara.2 Grafik Produksi Batubara Pertahun Gambar 5.

108.135.532.552.110 Tabel 5.223.128.41 15.083.460.915.637.164 2.67 1.405.243 969.705 1.135 1.233.85 1.712 437.481 - OVERBURDEN Back Filling 2.164 2.705 1.830.65 2.741.207.135 1.552.390.514.791.478.621.135 1.481 2.98 VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.06 1.637.98 1.218.741.552.302.62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.94 1.76 895.72 2.631.177.764 1.467.837.523.83 Tabel 5.53 624.460.451.118.705 1.721.79 504.764 1.102.385.91 1.948.073 776.467.372.387.164 2.467.741.693.07 3.850.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.360.042.09 2.82 14.46 20.096.309.764 1.767.941.073 .88 3.481 2.918.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump 01 02 03 04 05 06 2.135.162.43 3.253.135.073 Total Dump 2.637.83 1.460.

243 969.712 437.637.243 969.111 07 08 09 TOTAL 2. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan .481 776.084 11. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang.539. ruang makan siang. tempat ibadah. stasiun bahan bakar.177. Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan.360. bengkel. gudang. laboratorium kualitas kontrol.879 776.084 14.712 437.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5. tangki air.4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya. dan stasiun generator.83 Gambar 5.

5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya.5 Tata letak fasilitas tambang 5.5. Product Coal Stockpile 7. 3.M Stockpile 6.112 personil yang ada. 4. Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R. Peremuk & Saring 8. maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien. 5. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m. Struck Staging Area 10. 2. Truck Dump Hopper 9. Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara. Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut: Keterangan : 1. 5.1 Pemilihan Peralatan Utama . Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik.O. Pada penggalian overburden. Stasiu Timbang Gambar 5.

5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. berdasarkan pertimbangan tersebut diatas. akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5.7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3. 5. maka pada operasi pertambangan batubara ini. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0.113 Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden.5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA .2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : · · · Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan.5.

114 Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping) Dump Truck Dump Truck Dump Truck Dump-Truck Dump Truck Backhoe.7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7 3.5 m3 MERK FUNGSI Komatsu Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB) Dump Truck Hino Ranger FG 235 JJ 15 ton Hino Pengangkutan Batubara . Bulldoze Dump Truck Tabel 5.6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0.

Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c.115 HD 255-HD 25 ton Komatsu Pengangkutan Material (OB/IB) 5. b. Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. air limpasan dan air hujan. Apabilah daerah tambang tergenang air. Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. alat-alat tambang akan sulit beroperasi. . Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang.6 Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah.

6 Skema saluran penyaliran. .116 Gambar 5.

Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255. Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT. sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl.5m.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1 pada 3 seam batubara.000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150. Dan super elevasi 4 %. pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %.117 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 4. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. 5. menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan ≥ 0. 2. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl. Riau Bara Harum. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara. Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60°. . Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7. 3. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300. tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m.000 ton. Pemodelan geologi lapisan batubara.

4. 6. praktis maupun ekonomi. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat. pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl. maka perlu dilakukan: 1. Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT. sumuran pada dasar pit. pompa dan kolam pengendapan.Riau Bara Harum . Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya.118 7. baik dari segi teknis. Letak kolam pengendapan berada dalam pit. 2. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka.

(2009). Yogyakarta.555 Pasal 241. Jurusan Teknik Pertambangan. (2010). Jurusan Teknik Pertambangan. 5. UPN “Veteran” Yogyakarta. Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. (1998). UPN “Veteran” Yogyakarta. PT. “Specification and Application Handbook Edition 28”. 3. UPN “Veteran” Yogyakarta. Perencanaan Tambang. Yogyakarta. Pemindahan Tanah Mekanis. Waterman S. _______. Yanto I. Departemen Pertambangan dan Energi. Komatsu. Yogyakarta. 7. Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi. (2010). Teknologi Pertambangan di Indonesia. Riau Bara Harum. 6. Laporan Pemboran Eksplorasi PT. . 2007. Riau Bara Harum. _______. 4.119 DAFTAR PUSTAKA 1. Japan Suhala S. Jurusan Teknik Pertambangan. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S. (2006).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful