P. 1
ABSTRAK_SKRIPSI

ABSTRAK_SKRIPSI

|Views: 877|Likes:

More info:

Published by: Cha Benusu Mihawk RossoNeri on Feb 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2014

pdf

text

original

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ………………..…2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

.. Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.. Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara.. ... VIVA TAMBANG. . Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII “Filipi Family” yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali .... tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13) Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma. Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku.4 Lihat.

Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60°.000 ton.644. Wilyah PKP2B PT.000 ton.52m. dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300.00” – 102° 41’ 5. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m.1 ton.715 ton. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7. bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun. Riau Bara Harum seluas 24. dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m . radius putar (turning radius ) 8. superelevasi 4 % (AASHTO 1994). sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7. dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15. lebar selokan 1m.450 Ha. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton.00” LS dan 102°11’ 15. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 0°45’ 00 – 0°33’ 45. dan Mine Scape. gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994). Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional.5m. . untuk rancangan yang baik dan terarah. Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper. diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2.00” BT.5 RINGKASAN PT. lebar permukaan jalan 18m. Autocad. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang. Berdasarkan model rancangan batubara.

Fakultas Teknologi Mineral. Ir. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. 4.6 KATA PENGANTAR Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. Ketua Jurusan Teknik Pertambangan.T. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan. Ir. 6. dapat selesai dengan baik. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dr. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau.Gunawan Nusanto. Denny Tebay . Anton Sudiyanto. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Waterman Sulistyana B. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dr. M. 3. Prof. Dosen Pembimbing I Skripsi. MT. M. Oktober 2011 Penyusun. Ir. Dosen Pembimbing II Skripsi. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi.Ir. S. dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. 2. Koesnaryo. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Didit Welly Udjianto.H.MT.Sc. Dalam kesempatan ini. H. penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Yogyakarta. 5. Dr. MS.

.......................2 Identifikasi Masalah .......................................................................................................2 Keadaan Iklim .......................................................................... 2...............................................4 Tujuan Penelitian .......7 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ......................... 1 1 1 2 2 2 3 BAB II TINJAUAN UMUM 2........7 Manfaat Penelitian ............3 Batasan Masalah . 1....................................................................... 1................. ................6 Genesa ..... 4 5 5 7 9 12 .................................... 2................................................................... 1................ DAFTAR GAMBAR...................................... 1............................. DAFTAR TABEL . 2............................. 2................................................................................................................1 Lokasi dan Kesampaian Daerah ............................................................................................................ 2.................4 Kondisi Daerah Kelesa .........................5 Metode Penelitian .......................... vii ix x xi BAB I PENDAHULUAN 1............5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa ......................................................................... .......3 Keadaan Geologi Sumatera .........................................................................................................................................................1 Latar Belakang ............................. 1.. 1.............6 Hasil yang Diharapkan ............ DAFTAR LAMPIRAN ....................... vi DAFTAR ISI ........

.........................8 2............... 4....................... 3........ 3....................................................................... 4... 3.....9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile ..... 3..............................10 Perancangan Timbunan ...................7 Parameter-Parameter Rancangan .......3 Konsep Pemodelan Sumberdaya ..............8 Jadwal Rencana Produksi ..... 4................. 16 BAB III DASAR TEORI 3............................... 4................2 Tahapan Perancangan Penambangan . 3....... 4......................6 Sistem Penambangan .................................8 Desain Tambang Terbuka ........2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan ......................................................................................................................................................... 3........................................................................................................... 3.....................................7 Metode Penambangan ...............................................................................................................................................................11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang ...................................................................................1 Perancangan Tambang ....................7 Sistem Penyaliran Tambang ....................................... 4.4 Penaksiran Cadangan ............9 Jalan Angkut ......... 4.5 Penjadwalan Produksi .1 Sumberdaya Batubara .... 58 59 75 79 79 79 80 81 82 .......... 4......... 3......... 3..5 Rencana Produksi .3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang ....................4 Perancangan Pit Penambangan ................. 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55 BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4....... 3..................................6 Pemilihan Alat ...........

................................................................................... 101 DAFTAR PUSTAKA ................3 Rencana dan Jadwal Produksi .................................6 Sistem Penyaliran Tambang .............................1 Sistem dan Tatacara Penambangan ........4 Tataletak Fasilitas Tambang ........................... 100 6..................... 103 .........................................................5 Peralatan ................................................................................................. 102 LAMPIRAN .... 5....................................................... 84 88 95 95 96 98 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6................ 5......................9 BAB V PEMBAHASAN 5............................. 5...........................................2 Saran .......2 Metode Penambangan ......... 5................................................................1 Kesimpulan .............................. ............ 5........

.....1 4.........................6 Batas Koordinat Konsensi Pertambangan............ Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden ...........2 5...........10 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4. Jenis Peralatan Utama Penambangan ............................... Kapasitas Stock Pile .......5 5.................. Batas Koordinat Blok Siambul.......4 5.......... 59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98 .................... Data Hasil Penaksiran Cadangan ..............................................................................................................................5 4................... Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden... Data Pemboran Collar ......... Data Pemboran Litologi.......................................1 5....................... Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul .......6 5...2 4............................2 4...........................................................4 4........................................ Jadwal Penimbunan Tanah Penutup ......................3 4............ Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden .....................3 5.................... Rencana Produksi Batubara dan Overburden .............................

.............. Penambangan Contour Mining ....................................................................2 2...........................................1 3.4 2........3 2.......5 2............ Penambangan Strip Mining ..................8 3. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan .........................11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.......................................................................................................1 2........... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI ........................... Penambangan Open Pit ..............................................................................................................................4 3.................. Overall Slope Angle............... Inter ramp slope angle ..... Peta Geologi Blaok Siambul ................................................................. Overall Slope Angle With Ramp...................................... Bagian-bagian Jenjang .............................................9 Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian .......................................... Proses Terjadinya Batubara ......................................5 3.... Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun .................................. Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara ..7 3.. .........6 3.................... Jenjang Kerja dan Safety Bench ...6 3....................3 3.....................2 3.....

.............................. Overall slope angle dengan dua working bench .......14 3..... Lebar Jalan Angkut pada Tikungan. Lebar Jalan Angkut Lurus....................................... Cara Penimbunan Down Hill Dozing .. Peta Topografi 3D Blok Siambul ...................5 4...17 3............................... Overall slope angle dengan working bench dan ramp ............ Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing ..........................................13 3.....22 3....... Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul ................1 4...................................2 4.....................19 3..........11 3................. Seam E dan Seam F........................................................................................... Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ................... Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp ..............23 3...21 3..................................................... Jenis Timbunan Terraced Dump ...................... Bentuk Penampang Saluran Terbuka .......12 3.................... Superelevasi Tikungan Jalan Angkut ........16 3.......... 37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79 ......15 3................. Peta Blok Siambul .................24 4.....................6 Inter slope angle dengan satu working bench ................. Cara Penimbunan Highwall and float dozing .........................................................................3 4......4 4............. Sayatan 3D Batubara Seam D........ Peta Lokasi Lubang Bor .....................20 3............................................................................................................................................................................18 3.................... Kontur Struktur Lapisan Batubara ...... Penampag Cross Slope ....................................10 3................................12 3........ Radius Tikungan Jalan............

Tata letak Fasilitas Tambang .......................13 5...........................................2 5....12 4.................................................................................................. Skema Saluran Penyaliran ..... Dimensi Jenjang Waste Dump .............8 4.......................5 5...................................9 4..................... Grafik Proksi Akumulatif Batubara ............................................. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych .....................13 4.11 4.6 Blok Batas Analisis SR.................3 5. Grafik Produksi Batubara Per Tahun .................................................................................................................. Peta Blok Analisis SR.......................................7 4...... Geometri Lereng Penambangan .....................1 5....................... Grafik Rencana Produksi Overburden .................... Layout Rancangan Waste Dump .......... Skema Saluran Penyaliran .................................10 4.......................................................4 5.................................. 71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99 ..................................... Dimensi Jenjang Pit Penambangan .....

................................................................ PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA ..... B........................... SAYATAN PENAMBANGAN .... G............................................................................................................................................... PETA SECTION LINE TITIK BOR .................................................... J. F................................................................................... O......................... L....................... SPESIFIKASI ALAT........ M................... PETA BLOK SIAMBUL ............................................. ..... E. PETA SUBCROP LINE BATUBARA ..... SAYATAN TITIK BOR . Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191 PETA KESAMPAIAN DAERAH ....................................................14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A........................................................................ H............. PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN ............................ PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN ..................... D............................................ N......... K. PENAKSIRAN CADANGAN .......... PETA LOKASI TITIK BOR............................. DATA PEMBORAN . PETA KONTUR TOPOGRAFI ...................................................................................... PETA GEOLOGI .......... PETA ISOPAC .... PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH .......................................... P. GEOLOGICAL MAP of KELESA .................................. NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) ............. PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT ...... I........................... C.... PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT ....................................................................... .......................................................

b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman. Batasan Masalah Penambangan batubara PT. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. Latar Belakang PT.15 BAB I PENDAHULUAN 1. Kecamatan Belilas. penambangan.2. Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut. Auto-cad dan Mine Scape. pembongkaran. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat. Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut. dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR). . Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. 1. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Kelesa. PT.1. Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang. untuk itu PT.3. Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian. 1. Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan. dan pengangkutan.

16 1.5. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan. 1. 1. b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara. menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara. Metode Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu.6. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper. b) Pengambilan Data · · Data Sekunder : data logbor.4. Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang. Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul. . serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT.

1. . sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah.17 d) Dapat berguna bagi PT. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang.7.

1 Peta Kesampaian Daerah . Kabupaten Indragiri Hulu. Kecamatan Seberida. dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km.18 BAB II TINJAUAN UMUM 2. Riau Bara Harum berada di wilayah Desa Kelesa. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT.450 Ha.00” LS dan 102°11’ 15.00” BT. Provinsi Riau. Luas PKP2B PT. Riau Bara Harum adalah 24. Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km. Secara geografis lokasi PKP2B PT.00” – 102° 41’ 5. Gambar 2. Riau Bara Harum terletak pada 0°45’ 00 – 0°33’ 45.

2. Riau Bara Harum memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September . Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak. misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin. dengan panjang 1. 3-4°C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%. curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989.3.700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera.80 . terdiri dari pasir. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata – rata sebesar 188 hari.19 2.2 Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep. Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008). Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) .2732. lanau. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan.Februari) dan musim kemarau (Maret . Berdasarkan data meterologi.sampai panjang (lama). sedangkan kelembaban pagi sektar 90% 2.Agustus). yang diendapkan oleh sungai-sungai besar.1984). Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : · Alluvium (Qa). dan lempung. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen.1 Keadaan Geologi Regional Sumatera .3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3˚ LU sampai 6˚ LS dan 96˚ BT sampai 106˚ BT. dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31°C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%.60 mm/th.

diendapakan pada lingkungan daratan. terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping. dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen.000 meter.3. batulanau gampingan dan serpih. Pada Tersier Awal. batupasir berbutir kasar sampai halus. batulanau. 2.20 · Formasi Kasai (QTk). tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice).000 meter. terdiri dari batupasir konglomeratan. Arah struktur persesaran adalah BU – ST. lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas. dan nodul-nodul gampingan. Pada Oligosen Akhir. Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen. · Formasi Gumai (Tmg). Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20˚ 25˚ berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan. merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih. batulanau tufaan. Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1. batupasir. batulanau. perlipatan dan perputaran sekitar 20˚ berlawanan arah jarum jam. · Formasi Talang Akar (Tomt). Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter. sejajar dengan sistem sesar Sumatera. · Formasi Muara Enim (Tmpm). Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik. terdiri dari tufa. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir. . Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1. menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara – Selatan dan merupakan pergeseran horizontal.

Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara. kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut. Sungai Renteh dan Sungai Selesen. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar. dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang. dendritik.3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular. Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras. dan terllis.4. 2. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya.4. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT. Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya.4 Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai 2. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako .21 2. 2. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter.4. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Sungai Kerintang.

Gambar 2.3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan . Sungai Akar merupakan sungai utama. Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama.22 sebagai sungai utamanya. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon.2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa Gambar 2.

batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan. Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji).1994) Lampiran A-02. Sumatera . Secara stratigarfi Formasi Gangsal. dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1. batupasir termetamorfkan dan kuarsir. greyweke kuarsit. Formasi Kelesa (Teok) 2. kelabu sampai coklat.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbh’s Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel. filit. c. b. Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit. setempat dengan butiran kerakalan. granodiorit. d. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. pegmatit. dan batulanau. Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit. 2. Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier. keras dan forfiri.5. batusabak berbintik. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff. Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak. tuff andesit sampa tuff basalt. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi. Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela. yaitu: a. di beberapa tempat berubah menjadi hornfels.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara . Tersier hingga Kuarter.23 Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2.

Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit.halus dengan batu lempung tufaan. f. serpi tufaan dan tufa. d. tuff. serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan. g. batupasir kerikilan. serpi dan batubara. batu lanau dan sisipan serta lensa – lensa batubara. formasi ini terdiri dari konglonerat. c. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan. atau breksi. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. e. abu-abu kehitaman. batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa.24 Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan – batuan Pra Tersier. Formasi Kerumutan ( Qtke) .lensa kuarsa dan lignit. keras dan ringan. batulempung. yang disisipi batu lempung. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang. Formasi Muara Enim. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan. bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung. b. Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. dan kemeraan. tufaan. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. kecoklatan. serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. lensa. batu pasir. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung.

tufaan kerikilan. 1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. lanau pasir. batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron. pasir. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung. Hal tersebut berkaitan dengan . batulempung tufaan.25 Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim. lanau.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. dengan sisipan kayu karbonan b. lumpur. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier. kerakal. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna. c. terdiri dari batupasir kuarsa. batu lempung tufaan. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. lumpur. 1991). lunak tidak mengeras. yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan. 2. Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura – Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai – Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Aluvium (Qac) Berupa lempung.5. kelabu muda kemerahan. halus sampai sedang. N. setempat silang siur . hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata. 3. berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur. dan gambut berwarna hitam sampai coklat. dan berangkal berwarna kelabu. tuff. tufa setempat lempung pasiran.

Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu. Gambar 2.4 Peta Geologi Blok Siambul 2.1 Genesa Batubara .26 pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan. Di Indonesia batubara yang 2. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar).6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna. struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara. Pada Mio–Pliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya. timurlaut-baratdaya. Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim.6.

maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. CH4. Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut.27 ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier. CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia. proses oksidasi material penyusun utama cellulose Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup. Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya. batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O. . Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). Untuk penyederhanaan proses tersebut. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya.

CO. CH4. peningkatan kepadatan. CO2). temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma. proses pembentukan gunung. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi. maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan – cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. pelepasan gas-gas (H2O. gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %.5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur. serta aktifitas tektonik lainnya. Tekanan.28 Gambar 2. kekerasan dan nilai kalor. disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. .

. CO.2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D.29 Gambar 2. pelepasan gas-gas (H2O. temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. peningkatan kepadatan. kekerasan dan nilai kalor. . Ketebalannya berkisar antara 0.5-4 m. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia.5-6 m. 2. seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0. CH4. CO2). Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi. E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung.6. Tekanan.

7 Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10°. dan bila ditemukan material keras. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian. akan di berai dahulu dengan bulldozer. operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer. terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk. dan ketebalan rata-rata lebih dari 0. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.50m. Sedangkan batubara yang keras.30 2. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck. .

elevasi titik bor. batubara yang dapat dari . dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar.31 BAB III DASAR TEORI 3. dilakukan dengan proses triagulasi. Setelah pembuatan peta topografi. lapisan atas (roof). Sebelum melakukan perancangan tambang. kedalaman lapisan bawah (floor). perancangan tambang jangka pendek. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D. Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04. nama seam. kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur. yang meliputi: nama titik bor. dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi. Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi. data litologi meliputi: nama titik bor. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D. ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor. Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape.1 Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi. dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian. kedalaman lubang bor. maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara. penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara. perlu dilakukan pemodelan geologi. koordinat titik bor. baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara.

Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. inherent moisture. kandungan abu (ash). Dalam pengolahan data pemboran. kedalaman lapisan atas (roof). Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk. juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. nama seam batubara. Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E. dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara.32 hasil log Bor. Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan. sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. kedalaman lapisan bawah (floor). Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. dan kode litologi. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. relative density. dan calorific value atau kalori batubara. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60° maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan. total moisture. . total sulphur.

Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda. Berdasarkan data tersebut. dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01. batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. Dalam penaksiran cadangan awal. Pada hasil resgraphic. . Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi. Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich. bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. supaya penaksiran menjadi lebih detail. Blok 02. Dalam pembuatan desain geometri penambangan.33 Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan. dan seterusnya. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan.

f). Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a). Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi.2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau. dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau .Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak.34 3. tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. b). d). Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. e). Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur. c).

serta kesampaian daerah. penaksiran. pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi. bentuk. pembuatan sumuran. penginderaan jauh. dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100. Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50.35 Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. pembuatan sumuran. struktur.1).000. pengukuran penampang stratigrafi. pemetaan topografi. percontoan dan analisis. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional. sebaran. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997).000. 3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan. pembuatan paritan. pemboran uji. United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities. korelasi.000. tataguna lahan. Geneva (Gambar 3. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10. 2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. . kuantitas dan kualitas. penampang geofisika.

F dan G.1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu.36 Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Gambar 3. yaitu : E. dimana. E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study § Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka. yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis) .

jenis batuan. yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study) § Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian. jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat. misal kearah utara dan kearah timur. berat jenis. yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance) 3. tonase tiap unit.37 § Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka. pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara. ketebalan dan kualitas endapan. informasi geologi. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi .3 Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan eksplorasi endapan batubara.

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +………...+

Ln

…………………….3.1

Keterangan : L1, L2, L3, …………, Ln S1, S2, S3, …………, Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +………...+ Ln …………….3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)…………)L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +…….+ 2Sn + Sn )L/2 ………………… …….3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 ……………………………………… 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) ≤10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

Pemasaran d.6. 3.41 Gambar 3. Sifat dan keadaan batuan penutup e.2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a. Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya. Kualitas c. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment. . Kemampuan peralatan yang digunakan f. Ketebalan lapisan batubara b.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum.

berlapis Kemiringan relatif.3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang). Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang. lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring .6. kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama. Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil. 3.42 Gambar 3. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : · · · · Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular.3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah.

google earth dan google scateup.7.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer. 3. Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden.43 · Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio. meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh. Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf.1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil .4 Penambangan Strip Mining 3. globalmapper.7. teknologi peralatan) Gambar 3. maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi. termasuk drillholes collars. atau berupa file surface titik ketinggian. 3.

Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan. kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya.6 Kedalam Pit Bottom .7.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut. Tergantung pada peralatan yang digunakan. lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar. atau pada tanah yang terekpos. 3. 3. Montana.7. kurang lebih 2-5m.7. relatif lebih tipis. Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi. maka lebar jenjang juga semakin lebar.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm.000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih.44 Menurut Robert. Namun jika pit semakin dalam. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal. pada continental pit. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan. Butte. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m. 3.7. pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten. 3. yang berproduksi 10. ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan. Namun untuk lereng permanen.

ukuran (jumlah) deposit. dan lain sebagainya. lokasi daerah yang pernah banjir. Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %. dan flktuasinya seperti.7.7. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan . tekanan piezometrik.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan. daerah tangkapan hujan. gradient hidrolik.45 Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio. naiknya biaya produksi dan pengangkutan. serta kapasitas mill dan produksi. nilai mineral yang ditambang. Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik). kedalaman muka air tanah. 3. permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang. 3.7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan. pororsitas. sumbangan air tanah. drainase alami pada permukaan. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman. kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude. diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran).

46 h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor. dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik. dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja. 3.2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang.8. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat. yaitu : § Sasaran produksi dan stripping ratio . densitas batuan.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan. Dengan pertimbangan tersebut.8. Pada material lunak. Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan. maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan. penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja). struktur geologi yang ada.1 Geometri Jenjang 3. maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang. faktor pengembangan. artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan. 3.

maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang.47 § § § § Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar. Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). tinggi jenjang. Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik. Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Ø Jenis dan kemampuan alat Ø Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Ø Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Ø Pemanfaatan lahan bekas tambang Ø Kapasitas produksi yang akan dipakai . panjang. Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya. Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan). rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. kemampuan alat muat. pola gerak alat muat dan alat angkut. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang. dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. dan mekanik batuan.

pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil.5 Bagian-bagian Jenjang .48 Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang. Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman. Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material. Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut. agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material). Dalam pelaksanaan penambangan. lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench). sudut lereng jenjang tunggal. Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang. Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini. Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe Gambar 3.

jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang.7).6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3.3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan.49 b) Jenjang kerja (working bench) Gambar 3. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3. . Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan.8. dengan memperhitungkan jalan angkut.

8). namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3.50 Upper most crest a Lower most crest Gambar 3.7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama. Keterangan : q R : overall slope angle : ramp R q Gambar 3.8 .

10 . C Keterangan : qIR1: Interamp slope 1 qIR1 R RC qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp qIR2 T Gambar 3. C qwR1 Keterangan : qwR1 qwR2 WB W WB WC : Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe qwR2 T Gambar 3.9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3.10).9).51 Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.

11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3. WB Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp R q Gambar 3.12).52 Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3. qwR1 Keterangan : WB R qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3 qwR3 Gambar 3.11).12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp .

Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat. 555 Pasal 241 (1) Kemiringan.4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3. tanah liat.53 g) Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan sebagai working bench. Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell. WB1 Sh1 Sh2 WB2 Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2 q Gambar 3. tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh. (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir. kerikil.5 m apabila dilakukan secara manual. bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3.8. (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2. dan material lepas lainnya harus : (a). (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual. dragline. maka tinggi jenjang . 13).

3. Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %.54 maksimum untuk material kompak 15m. berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah. dan tanggul pengaman. Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck. ruangan untuk truck yang akan menyusul.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya. Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan. pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp. perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan. Apabilah swichback tidak . kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang. oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar.8. selokan penyaliran.

Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali. jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana. 3. Dalam perancangan.55 mungkin dihindari. parameter waktu dapat mulai diperhitungkan.8.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang. Pada tahap perancangan. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara. karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara . Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan. Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan.

1 Letak Jalan Keluar .9. tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar. c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan. Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut. penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher). Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit.9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru. Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit.56 Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya. bidang perlapisan. dan bidang geser) (d) Air tanah. b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang. unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3. kekar. 3. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut.

menghasilkan banyak debu.57 3. ruangan untuk truk yang akan menyusul. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu.4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut.(0. juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan. biasanya 4 kali lebar truk. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah. 3. karena dalam operasi penggalian batubara.5.5 .2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas. yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck.9.3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas. (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut. juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman.9. (meter) 3. switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.9. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit. a) Lebar Jalan Lurus L =n.Wt + (n+1). 3.Wt) …………………………………………………… L : lebar jalan angkut minimum.

perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang .14 Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan. or deleted.Awang Suwandi.. (meter).58 The link ed image cannot be displayed. Ukuran 0.6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan.5 wt.5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0. 3. U : Jarak jejak roda. (meter).5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan. 2004 ) Gambar 3. Verify that the link points to the correct file and location. renamed. CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min ( Ir. maka harus dilakukan beroperasi. yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan. The file may have been mov ed. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C …………………………………………………….

2004 ) Gambar 3.15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan c) Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan. Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda.(meter). Fb: Lebar juntai belakang.Awang Suwandi.59 Fa : Lebar juntai depan. C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan. (meter). ( Ir. rumus yang digunakan adalah : . (meter). Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum. Penentuan besarnya jari-jari tikungan.

meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang α : Sudut penyimpangan roda depan (◦ ) Gambar 3. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling. dan menambah kecepatan. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan.5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan.60 Wb α R R = Wb/sin α α Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan.9. .16 Radius Tikungan Jalan 3.

pada kondisi jalan kering.61 Gambar 3. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D. Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan.G ……………………………………………………………………(3.8 m/s2 .7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan α = V2/R.I. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya. nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m.C. nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin.

cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air.8) Gambar 3. maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade (α) = Dengan: ∆h ∆x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%. maka cross slope dibuatb 1: 25. 3..9..18). ……. baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut. maka perlu menimbun bagian tengah jalan. Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas.62 Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang. sehingga memenuhi persyaratan cross slope.6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan.(3.18 Penampang Cross Slope . …………………………………………………………….

System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas. Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini. dan truk jungkit. tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. backhoe. Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). Sistem ini cocok untuk: a.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b.9. Tanah atau batuan lunak c. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). Tanah penutup yang tebal b. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang. dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer. bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali. tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini. sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau . tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus.63 3. sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. muat.

strip dan blok. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel.9. panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. Lebar tiap panel adalah 50 m. baik yang berharga maupun yang tidak berharga. yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut. pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang. 3.10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. yaitu pit (tambang). Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m. 3. penomoran untuk panel 01 adalah P01. Penomoran untuk Strip 01 adalah S01. perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur. 3.64 pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut. panel. contoh S01P01.1 Parameter Perancangan Timbunan . Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel.11 Teori Strip.10. termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya.

2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest.45 % pada 1 m3. Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest).65 Proses penimbunan material. Material insitu akan mengembang menjadi 1. Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas.45m material lepas (loose material). d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan. ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping. Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut. Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit. lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard . 3. Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M. Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe).3-1. baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi. Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya. antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370.10.

baik material berharga maupun tidak berharga. Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan. kemudian bulldozer mengurus material ini. b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang. 3.66 Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat. dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material. Gambar 3.19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump . Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng.10. Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan .

Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah. Gambar 3. alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada. Keuntungan dari jenis timbunan ini. lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk.20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3. jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan . Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer. antara lain: a.67 b.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya.10. Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak begitu curam. Pada pelaksanaannya. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan.

Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang. bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir.68 Gambar 3.22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing c. Gambar 3. Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam.21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b. Trench atau sloat dozing .

sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah. Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3. Provinsi Riau.69 Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana. Gambar 3. Kabupaten Indragiri Hulu. . termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi. Kecamatan Seberida.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 – 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

pembuatan peta topografi.80 LINTANG SELATAN (m) 9915182. tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.64 199457.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455.40 228240.20 9914258.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4.05 197608.73 4.22 9930844.11 227323.32 9915187. pemodelan batubara.34 199462.32 227309.2.2 Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan pengabungan perangkat lunak Globalmapper. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT. yang pekerjaannya dibatasi oleh. AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT.72 9932689. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602.30 9913333.35 198534.11 228253.61 9912418.30 9914258.04 200393. Riau Bara Harum secara geografis. AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper.91 9933614.29 226389.01 .61 9913333.1. Tabel 4. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit.60 9933607.72 9932686.52 226389.79 9930841.44 198532.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452.

94 223599.00 Lanjutan Tabel 4.13 223601.72 225460.40 9915187.09 9917023.32 201325.98 9919793.32 9925308.06 9916102.23 212463.10 227320.28 9917947.74 8 9 10 11 200391.42 9929926.83 231963.87 9920715.21 201313.79 9934528.65 211528.21 9911505.02 200394.79 238448.01 51 52 53 54 229173.18 9914260.55 210601.41 9931768.41 226388.79 9931762.89 229178.43 225463.01 203178.46 9928083.44 211536.63 213386.43 9925318.56 9924391.48 229173.92 213397.01 205033.1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 201321.88 205037.06 .40 228244.28 9917940.23 9928080.86 9919793.95 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 231958.84 212462.36 9924386.54 9924392.42 9927156.19 9915180.37 9912415.42 9934528.21 9913341.32 9929926.14 9916408.47 9925309.93 9913342.17 224530.28 9917023.30 228247.82 200395.31 227315.68 9916419.39 210606.24 9925317.20 229170.40 9914260.23 224530.53 203174.62 226383.85 9924396.35 9923470.42 9927163.90 9916102.32 201319.

86 9916407.92 9928080.30 9931767.82 214320.85 222670.75 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 214315.06 9924397. seluas 24.98 218031.53 225460.24 223601. Riau Bara Harum.53 9917020.99 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 225455.22 215246.69 84 85 86 212453.45 9916100.64 9920715.37 9917023.89 9933611.81 9930850.59 215250.1 41 42 43 224535.08 218953.94 9923474.99 9932696. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat .31 215249.53 9925320. dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT.17 9918866.03 225455.70 215870.30 215862.91 9919793.27 218027.450 Ha.08 9935459.83 213389.84 9925317.03 213380.73 222668.87 9918869.14 210601.03 214315.42 9928083. Riau Bara Harum tersebut.19 216175.42 9930846.73 9924392.98 221427.33 9920710.26 9933613.19 221433.69 210607.17 9920703.11 214326.03 224527.61 9911489.39 9914556.33 9927159.49 218036.01 215241.22 9927163.16 9919793.49 9916101.95 223601.71 216168.89 Lanjutan Tabel 4.84 9911493.52 9914565.43 218956.45 9916403.39 218027.07 Dari data koordinat lokasi konsensi PT.97 9931767.

Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar.2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4. Blok Siambul. Secara keseluruhan konsensi penambangan PT.2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha.227 9920855. Blok Ringin. yakni : Blok Kelesa.144 9923643.094 215515.144 .76 lunak autocad. Blok Sungai Aarang.675 215515.675 217072. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul. Blok Pegegas. dapat dilihat pada Tabel 4.094 9920885.2.227 9923043. Batas Koordinat Blok Siambul NO TITIK BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m) 1 2 3 4 217072.

Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 °. Hasil pemetaan topografi .77 Gambar 4. disebabkan PT. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan. Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT. Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl. sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl.2 Blok Siambul PT.

78 dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD. Gambar 4.3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. Riau Bara Harum . Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A. sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut.

dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian. Gambar 4.79 Setelah diperoleh data koordinat topografi. maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian. 4.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT.2.2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan ≥ 0. Riau Bara Harum Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian. sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara .5 m. dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi.

50 51 . data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor. dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20° .5 m sampai 6 m. hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0.5 m. sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian.80 0. Tabel 4. total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F. dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0. koordinat titik bor. Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor. Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian.5 m. elevasi titik bor. Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . PT. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara.3 Data Pemboran Collar PT. kedalaman lubang bor.30°. digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0.5 m. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul. Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor. Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70.

81 SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B 216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081 9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844 68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60 60 51 60 45 27. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.0 52.5 31.5 30 29. batas kedalaman lapisan bawah (floor). Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara. batas kedalaman lapisan atas (roof).7 2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor.0 60 52. dank kode litologi. .0 45.

60 50.00 35.70 3.70 51.82 Tabel 4.50 2.60 6.50 0.00 34.00 19.20 53.00 15.80 38.40 23.80 1.60 3.00 0.90 53.70 19.80 36.60 3.50 21.00 D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO .20 1.10 31.80 22.60 32.70 38.80 5.50 1.20 30.00 17.50 1.80 5.90 24.60 18.00 0.90 24.70 9.90 0.80 0.10 6.4 Data Pemboran Litologi PT.80 0.10 2.50 18.10 0.20 19.00 22.10 1.00 1.00 29.20 26.00 54. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A 29.90 1.20 24.80 50.10 1.80 1.00 16.20 3.00 1.

90 0.30 34.10 43.30 0.80 48.10 F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO Ket : CO = Kode Litologi Batubara D.50 0.00 36. batas kedalaman lapisan atas (roof).30 15.40 0.70 17.40 2.40 5.E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara.20 0.10 6.40 21.10 1.20 30.60 7.30 31.70 15.90 48. inheren .50 34. relative density.40 16.50 3.40 1.30 0.30 7.90 34.83 SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B 20.E1.00 26. nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor.00 28. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor.10 0. batas kedalaman lapisan bawah (floor).00 25.80 34.60 0.40 27.90 35. total moisture.90 42.90 2.E.00 34.90 30.40 5.10 21.90 2.80 0.00 33.50 5.40 37.90 1.80 36.30 1.

dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara. Dari hasil pengolahan data pemboran. . dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6. dan calorific value atau kalori batubara. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit. kandungan abu (ash). Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut. total sulphur. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface.80 m. secara berurutan. Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor). Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur. Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan. ketebalan setiap seam bervariasi. layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan.84 moisture.

seam E dan seam F. secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara. 4. juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian.2.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4. sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D. Dengan pembuatan kontur struktur. Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara.85 =Seam F =Seam F = Seam F = Seam F = Seam F Gambar 4. berbatasan dengan .2.2.3. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut.

dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m. Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. . Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m. dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil. diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource). sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01. penamaan strip dimulai dari S01.8). berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4. Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok. 350 m. Riau Bara Harum. untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1. untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan. Penamaan Blok ini. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar. secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip. pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi.9. dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource).86 konsensi pertambangan PT. 4. Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan. dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20. hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. dan 250 m dari titik bor terluar.2. pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio. dan penamaan panel dimulai dari P01. Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4.8. Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape.3. Pada daerah penelitian.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). panel dan Blok. Blok-Blok terbentuk. menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip. sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf “BL”.

87 Gambar 4.8 Blok Batas Analisis SR .

9 Peta Blok Analisis SR 4.2.3.88 Gambar 4. analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m .3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape .

Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.89 seluas Blok besar yang melingkupi. dapat dilihat pada Gambar 4. Analisis resgrapich stripping ratio (SR). Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich .10. dan pit bottom sementara. Gambar 4. Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR).10. Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas.

Tabel 4. Seam E.481 1.265. Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 4.209. dengan stripping ratio 4 :1. dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl.444. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1.960 495.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D.836 1.585 ton .186 1. 4. overburden sebesar 4.2.504. Seam E1. dengan stripping ratio 9 : 1. atau disebut dengan bagian low woll.922 4. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1.922 bcm. overburden sebesar 4. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J.985 9 4 8 . Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan. dengan stripping ratio 4 :1.265. overburden sebesar 3.444.698 4.318.926 203. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965. .90 Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m.209.606. Seam E2 dan Blok Seam F.748. dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl.248 bcm. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10 : 1. dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl.186 bcm.3.899 5.169.481 ton.926 ton .

806 15. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile. Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT. sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut.690.585 2.025 3.612 4.566.71 32. lebar jalan pada tikungan 27 m. sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %.314. tahapan- 4.248 13. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup . Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap. Riau Bara Harum. Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m.854.504. membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya.178. tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile. Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun.59 5 4 5 4.999 965.138.91 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 30 20 170.09 149.3. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty). sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost.3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan. dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty.907.

4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi. sesuai dengan arah penyebaran batubara. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya. karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik. Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. 4. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara.2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan. Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300. sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan.3. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting.000 ton/tahun.92 Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining. parameter-parameter tersebut antaralain : . Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi.

Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang. Sasaran produksi pertahun sebesar 300. Stripping Ratio (SR) ≤ 10:1 c. khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup. dan .000 ton b. langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60°-70° dan overal slope ≤ 45° g. Peta Topografi).298 Kcal/kg d.11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e. Lebar jalan tambang (20 m) Gambar 4.93 a. Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6.

Angle of repose dari material overburden (25°) e.12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit). Tujuan daerah timbunan (waste dump) b. parameter tersebut menggunakan antara lain : a. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting. maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d. perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi . untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi.94 lapisan batubara antar seam batubara (interburden). Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) Gambar 4. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c. . Lebar jalan tambang (20 m) f.

Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K. sehingga total volume 15. Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable. Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT. sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8. 4. Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi.827.360.786.4 Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang . Blok seam E dan Blok seam F.71 atau 9 tahun. Riau Bara Harum adalah 1 : 10. dengan nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1. sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang.6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih.94 ton. Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan.177. 4. dan menjadi batas tiap Blok penambangan.95 4.000 ton. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara. Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2. Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D .827.5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2.614.790. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR).48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300.48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14.614.83 ton. diperoleh batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl.

. Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih. Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang.96 akan dibuat. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan. 4. Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan. bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai.7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit). air limpasan maupun air tanah. sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan. Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan.

652.705 (TON) 303.299 304.751.6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.135 1.460.764.206 315.481 2.13 Skema saluran penyaliran 4.101 2.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .592 314.97 Gambar 4.552.483 1.164 2.533 2.741.8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.928 301.877 1.428 (BCM) 2.637.669.467.764 1.940.

333. Gambar 4.628 1.652 972.243 969.073 776.493 529.9.374 1. serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah.612 15.740. sungai atau jalan.9 Perancangan Waste Dump dan Stockpile 4.462.199 2.277 313.712 437.122 307.98 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 1.011 303.179 4 3 3 3 6 4.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang.042 152.084 13.135.172.257.14 Layout Rancangan Waste Dump .

dengan lebar bench 5m.6 berikut.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT.5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32.000 ton. Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4. dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan .3 30.9. Tabel 4. Riau Bara Harum. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port. Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar ± 75.99 Pada daerah telitian. 4. bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara.5 26.500 Kapasitas Stockpile (Ton) . kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20°. selanjutnya dilakukan metode backfilling.7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1. Tinggi lereng dirancang 5m. Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun. sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden.

seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain.5-6. Hook dan Fish (1972). Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang · Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) · Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) · Tinggi lereng Tunggal (Bench High) · Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) · Lebar Jenjang (Berm) = 60 . Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D.100 BAB V PEMBAHASAN 5. Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15° dengan ketebalan berkisar antara 0.70 meter = ≤ 40° = 10 meter = 60 ° = 10 meter · Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara .80 m. Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada rekmomendasi menurut Robert. Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. b.1 Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah sebagai berikut : a.

peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan.1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) · · · · · · Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85.2 meter Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah. biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah. maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp · · · Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter .101 Gambar 5.

585 2.690 9 4 8 5 4 5 5. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden).985 149.481 1. penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4.169.2 dibawah ini.000 ton/tahun maka umur tambang PT.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5.907.318.102 5. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB) .698 32. Table 5. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi.922 4. sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop.025 3.612 4.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT. faktor kehilangan selama penambangan. blok siambul adalah 9 tahun. Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a. pegolahan batubara serta sasaran produksi 300.999 965.960 170.186 1.606.566.209.178.836 1.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang.748.5m.444. b.854.926 203.1.265. Kemiringan dip berkisar 6-15°.314 495.248 13.504. dengan ketebalan lebih dari 0.806 15. Riau Bara Harum.138 SR SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL 4.1.899 5. 5.

Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer.103 Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan. digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik. kondisi bidang diskuntinu. maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting). Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a.2. Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. dilakukan setelahh pembersihan lahan . Dalam operasi pemindahan kayu-kayu. kemudian diangkut dengan truk. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: · · · 5. Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit. maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining). yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar.1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan. b. c. Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah.

5. Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. a.73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303.104 penambangan. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material. Timbunan tanah subur ini. Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer. Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3. kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk.928 ton. Sedangkan yang keras. Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang. berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump).2.2. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali. 5.7m3 dibantu dengan buldozer. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer. Pada penggalian batubara tahun . diberaikan dahulu dengan bulldozer. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan. langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9. nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi. kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.5 m3.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0.5m3 dibantu dengan bulldozer.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB).

02 ha.135 BCM yang berada di waste dump 3.164 BCM yang berada di waste dump 3. d. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.162. Jumlah batubara yang digali sebesar 315.43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.44 ha. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.042.481 BCM yang berada di waste dump 3. Jumlah batubara yang digali sebesar 304.637. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02. dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6.915. Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.830. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.392 ton.07 CCM.72 CCM.523.88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.43 CCM. Jumlah batubara yang digali sebesar 301. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.741.514. dimulai dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20.948.128. dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.66 ha. b.299 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. c.830.206 ton. Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.105 overburden yang dihasilkan sebesar 2.637.460. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3.09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .767.478.767. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01.

Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.096.428 ton.791.65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04. e.94 CCM. g. dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28.233.693. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.011 ton. Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl. Jumlah batubara yang digali sebesar 303.135.83 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 313. dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Jumlah batubara yang digali sebesar 314.073 BCM yang berada di waste dump 1.218.67 CCM.91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05.17 ha.122 ton. dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4.106 pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2.764 BCM yang berada di waste dump 2.467. Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06.06 CCM.705 BCM yang berada di waste dump 2.223. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.15 ha. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.102.532.721. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit.941. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.837.83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan .621. f. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.552. Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl.

302.000 ton.53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08. 5.4.387.042 ton. Riau Bara Harum.76 CCM.3 dan Table 5.309. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT. . Jumlah batubara yang digali sebesar 152.385. secara rinci tercantum dalam Table 5.243 BCM yang berada di waste dump 1. dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1.3 Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT.64 ha.85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776.108. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC – 7 yang digunakan yaitu 2 Unit. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09.33 ha.918.199 ton. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. i.41 CCM. Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07. Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl. Jumlah batubara yang digali sebesar 307. dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit.712 BCM yang berada di waste dump 1.118. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969. h. dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11.451. Riau Bara Harum per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl.107 pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.631.98 CCM.

652 972.135.299 304.164 2.360.928 301.592 314.177.827.243 969.108 Tabel 5.533 2.877 1.011 303.666 1.493 529.428 313.751.48 (BCM) 2.552.764 1.712 437.940.084 14.790.460.764.94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR .374 1.83 (TON) 303.199 2.483 1.481 2.669.122 307.206 315.042 152.741.073 776.652.101 2.172.705 1.612 15.467.2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.333.637.614.786.135 1.

Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling).3). Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area. Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L . Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara. artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan. maka diaplikasi metode backfilling. Hal ini memberikan keuntungan.2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5.3.2 Grafik Produksi Batubara Pertahun Gambar 5. karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut.109 Gambar 5.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun 5. diisikan pada area yang telah ditambang.

65 2.481 - OVERBURDEN Back Filling 2.360.46 20.82 14.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.764 1.830.207.07 3.941.98 1.67 1.164 2.94 1.467.135.83 1.073 .390.72 2.53 624.164 2.387.705 1.460.460.083.741.460.372.764 1.09 2.721.177.302.741.06 1.135 1.41 15.073 Total Dump 2.915.62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.532.514.135.91 1.478.637.467.218.243 969.637.43 3.705 1.637.764 1.233.76 895.135 1.128.481 2.621.791.712 437.073 776.523.162.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump 01 02 03 04 05 06 2.705 1.767.385.118.741.467.309.042.108.79 504.552.837.948.850.98 VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.451.481 2.693.552.88 3.096.83 Tabel 5.164 2.110 Tabel 5.102.552.253.918.405.135 1.223.85 1.135.631.

laboratorium kualitas kontrol. tangki air. dan stasiun generator.879 776.4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi.637.360.712 437.243 969.177. gudang. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang. tempat ibadah.111 07 08 09 TOTAL 2.084 11. bengkel.481 776. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan .712 437.243 969.539. ruang makan siang.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5. Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan.83 Gambar 5. stasiun bahan bakar. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya.084 14.

5. backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya. Struck Staging Area 10. maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien. 4. Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut: Keterangan : 1.M Stockpile 6. Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R.O. Peremuk & Saring 8. Product Coal Stockpile 7.1 Pemilihan Peralatan Utama . Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m. 2. Pada penggalian overburden. Stasiu Timbang Gambar 5. Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik.112 personil yang ada. 5.5 Tata letak fasilitas tambang 5. Truck Dump Hopper 9.5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. 3.5.

akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5.113 Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden.5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA . maka pada operasi pertambangan batubara ini.7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali. 5.5. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0.2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : · · · Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan.5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. berdasarkan pertimbangan tersebut diatas. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3.

6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0.7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7 3. Bulldoze Dump Truck Tabel 5.5 m3 MERK FUNGSI Komatsu Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB) Dump Truck Hino Ranger FG 235 JJ 15 ton Hino Pengangkutan Batubara .114 Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping) Dump Truck Dump Truck Dump Truck Dump-Truck Dump Truck Backhoe.

b. . Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang. Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang. Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c. alat-alat tambang akan sulit beroperasi.115 HD 255-HD 25 ton Komatsu Pengangkutan Material (OB/IB) 5. air limpasan dan air hujan.6 Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah. Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. Apabilah daerah tambang tergenang air.

6 Skema saluran penyaliran.116 Gambar 5. .

Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60°. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) ≤ 10:1 pada 3 seam batubara.117 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7. sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255.5m. 2.000 ton. Pemodelan geologi lapisan batubara. 5. 3. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl. pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %. 4. yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara. .1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150. Riau Bara Harum. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT. menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan ≥ 0. Dan super elevasi 4 %. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300.

pompa dan kolam pengendapan. sumuran pada dasar pit.118 7. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka. baik dari segi teknis. 2. Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT. maka perlu dilakukan: 1. Letak kolam pengendapan berada dalam pit. pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut. Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3.Riau Bara Harum . praktis maupun ekonomi.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat. 6. 4.

Waterman S. Yanto I. Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. PT. Pemindahan Tanah Mekanis. (1998). Jurusan Teknik Pertambangan. Jurusan Teknik Pertambangan. 2. UPN “Veteran” Yogyakarta. _______.555 Pasal 241. Riau Bara Harum. “Specification and Application Handbook Edition 28”. 5. Yogyakarta. 4. _______. Teknologi Pertambangan di Indonesia. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. Laporan Pemboran Eksplorasi PT. . (2006). Yogyakarta. Jurusan Teknik Pertambangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S. 6. Perencanaan Tambang. Yogyakarta. Japan Suhala S. Riau Bara Harum. 3. UPN “Veteran” Yogyakarta. (2010). Komatsu. Departemen Pertambangan dan Energi. (2010).(2009). UPN “Veteran” Yogyakarta. 7.119 DAFTAR PUSTAKA 1. Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi. 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->