P. 1
Laporan individu PPL

Laporan individu PPL

|Views: 1,207|Likes:
Published by sidikamanah

More info:

Published by: sidikamanah on Feb 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji dan syukur atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan

rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Laporan Individual PPL di SDN Ciracas 17 Petang. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan baik di Indonesia maupun di dunia, laporan kelompok PPL ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang ada. Laporan individual PPL ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat yang harus dikerjakan oleh saya sebagai praktikan pada satu sekolah/tempat latihan sebagai persyaratan untuk menempuh ujian PPL. Pembahasan yang terdapat dalam laporan individual PPL ini dapat membantu memberikan sedikit tentang masalah-masalah yang dialami selama pelaksanaan PPL serta upaya penanggulangan masalah tersebut. Dalam penyusunan laporan individual PPL ini, saya banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dasuki, selaku dosen pembimbing. 2. Lalmasni, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDN Ciracas 17 Petang. 3. H. Suprapto, S.Pd., selaku Guru pamong SDN Ciracas 17 Petang. 4. Guru-guru SDN Ciracas 17 Petang.

5. Mahasiswa Kelompok PPL

Saya menyadari bahwa laporan individual PPL ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga dengan adanya laporan individual ini dapat bermanfaat bagi pemeriksa.

Jakarta, 31 Oktober 2011

LISDA LISMAYDA NIM. 0801045193

BAB I MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI SELAMA PELAKSANAAN PPL

A. Penyusunan RPP Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan suatu bagian terpenting dalam melaksanakan PPL. Dikatakan penting, karena untuk mahasiswa praktikan RPP tersebut merupakan skenario yang harus dilalui tahap demi tahap dalam memberikan materi kepada siswa. Dalam pelaksanaan PPL, setiap praktikan wajib dan menjadi syarat mutlak untuk membuat RPP, sebelum proses penampilan di dalam kelas atau

lapangan dengan terlebih dahulu mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru pamong atau guru bidang studi. Dalam penyusunan RPP ini setiap praktikan harus berpedoman pada program pengajaran baik itu program diklat (bidang studi) serta kalender akademik Pada kenyataannya ketika mahasiswa praktikan membuat RPP dengan baik, maka mahasiswa tersebut dimudahkan dalam praktik mengajar tetapi dalam pembuatan RPP tersebut terkadang memenuhi beberapa permasalahan.

Adapun masalah yang muncul selama proses merumuskan RPP, yaitu - Penyusunan RPP Ke-1 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP ke1 pada Mata Pelajaran Matematika kelas II-B tentang “Mengurutkan bilangan sampai 500 dari yang terkecil”, yaitu dalam pembuatan RPP Tematik pada kelas rendah, karena harus mengaitkan antara mata pelajaran yang ingin diajarkan dengan mata pelajaran yang digabungkan sesuai dengan Tema, seperti Lingkungan, Keluarga, Diri Sendiri, Pengalaman, dan sebagainya serta harus dikembangkan lagi pada kegiatan inti, yang mencakup Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi.

Selain itu dalam menentukan Standar Kompetensi(SK) dan Kompetensi Dasar(KD), pada pembelajaran tematik sehingga tidak sesuai dengan materi yang ingin diajarkan serta dalam membuat soal evaluasi juga terdapat kesalahan karena kalimat yang digunakan terlalu sulit sehingga sulit dipahami dan dimengerti siswa. Masukan / kritikan yang diberikan oleh guru kelas II B yaitu: dalam pembuatan soal evaluasi sebaiknya guru menuliskan nama siswa serta memberikan petunjuk pengerjaan soal (misalnya: urutkan bilangan berikut mulai dari bilangan terkecil hingga urutan terbesar). - Penyusunan RPP Ke-2 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP ke2 pada Mata Pelajaran PLBJ kelas II-A tentang “Menjelaskan asal-usul permainan nenek gerondong”, yaitu Letak

permasalahannya sama dengan penyusunan RPP ke-1 yaitu membuat RPP Tematik. Selain itu, menentukan pembuatan indikator dan mengembangkan tujuan pembelajaran dari indikator, praktikan masih megalami kesulitan dalam

penyusunan RPP. Saat melakukan kegiatan pembelajaran PLBJ,

- Penyusunan RPP Ke-3 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP ke3 pada Mata Pelajaran Kelas IV-B tentang ”Surat Tidak Resmi(Pribadi)”, yaitu pada Romawi ke-10 Penilaian, praktikan mengalami kesulitan kriteria-kriteria apa saja yang ingin dinilai dan dibuat dalam RPP.

- Penyusunan RPP Ke-4 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP Ke5 pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas VA tentang “Penyesuaian Makhluk Hidup dengan

Lingkungannya”, yaitu praktikan diberikan Lembar Analisis Butir Soal oleh guru pamong, dengan tujuan agar dari pengkoreksian yang dilakukan praktikan dan siswa setiap butir soalnya, praktikan dapat mengetahui nomor berapa saja yang dianggap mudah dan sulit oleh siswa serta siswa mana yang harus diberikan lagi pendalaman materi tentang butir soal yang dianggapnya sulit, yang disebut Remedial dan dari kegiatan itulah praktikan tidak memaksimalkan waktu yang ada.

- Penyusunan RPP Ke-5 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP Ke4 pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas II-B tentang ”Dokumen Pribadi dan Keluarga”, yaitu Letak permasalahannya sama dengan penyusunan RPP Ke-1 dan 2, yaitu membuat RPP Tematik. Selain itu, Pada kegiatan awal praktikan tidak menjelaskan tujuan pembelajaran dari materi yang ingin diajarkan.

- Penyusunan RPP Ke-6 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP Ke6 pada Mata Pelajaran Penjasor Kelas II-A tentang “Gerakan Melompat dan Meloncat”, yaitu praktikan mengalami kesulitan pada romawi ke-3, yaitu Indikator, dalam menentukan kegiatan apa saja yang akan dilakukan guna mencapai sebuah tujuan pembelajaran.

- Penyusunan RPP Ke-7

Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP Ke7 pada Mata Pelajaran Seni, Budaya, dan Keterampilan (SBK) Kelas II-B tentang “Benda-benda Disekitar yang Dapat Menghasilkan Bunyi (Bukan Alat Musik)”, yaitu praktikan mengalami kesulitan untuk membuat Soal Evaluasi, jadi praktikan hanya membuat 1 soal dan harus dijawab 10 macam benda yang dapat menghasilkan bunyi. Jadi bila jawabannya lengkap ada 10 maka skornya 10.

- Penyusunan RPP Ke-8 Permasalahan yang ditemukan dalam penyusunan RPP Ke8 pada Mata Pelajaran PLBJ Kelas V-A “Musik Betawi (Tanjidor)”, menentukan yaitu praktikan mengalami kesulitan apa yang dalam ingin

Pendekatan

Pembelajaran

digunakan dan cocok untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Dalam penyusunan dan pembuatan RPP yang selanjutnya praktikan tidak menemukan masala-masalah yang menyulitkan praktikan. Namun revisi-revisi senantiasa dilakukan oleh guru pamong atau guru bidang studi sebagai bahan perbaikan bagi semua RPP yang telah disusun.

B. Proses Penampilan Proses penampilan dapat dikatakan tatap muka di kelas, merupakan bagian terpenting dalam proses kegiatan belajar mengajar, dimana terjadi interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa atau antara siswa dengan materi. Proses penampilan ini, membutuhkan kesiapan mental, kestabilan emosi dan menuntut penguasaan materi serta kemampuan atau teknik penyampaian materi sehingga akan terciptanya suasana belajar yang kondusif, edukatif, dan komunikatif. Dimana secara tidak langsung siswa akan memperoleh waktu aktif belajar sesuai dengan perencanaan. Pada saat proses harus penampilan sesuai di kelas, kegiatan

pembelajaran

Rencana

Pelaksanaan

Pembelajaran yang telah disusun. Namun pada kenyataannya terkadang terjadi penyimpangan dari rencana yang telah disusun. Meskipun RPP telah ada namun terkadang kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan RPP yang telah disusun praktikan.Seiring perkembangan zaman yang mempengaruhi sistem pendidikan kita sehingga pemerintah membuat

pembaharuan dalam Rencana Pembelajaran, yang disebut dengan RPP, dimana RPP yang baru berbeda dengan RPP

yang lama, misalnya di RPP yang baru pada kegiatan inti harus dijabarkan kembali,meliputi Eksplorasi, Elaborasi, dan

Konfirmasi sedangkan RPP yang lama pada kegiatan inti tidak perlu dijabarkan secara rinci bahkan lebih singkat dan simple. Adapun permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh

praktikan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, yaitu: - Penampilan Mengajar Ke-1 Pada saat pertama kali tampil di depan kelas II-A pada Mata Pelajaran Matematika tentang Penjumlahan dan Pengurangan Dalam Soal Cerita, yaitu praktikan merasa tegang dan sikap canggung untuk mengadakan interaksi dengan siswa. Praktikan belum dapat menguasai kelas dan kesulitan membuat siswa fokus pada kegiatan pembelajaran, terutama pada saat penampilan pertama, hal ini disebabkan karena mengajar langsung disekolah dan harus menghadapi dengan banyak siswa dalam 1 sekolah, yang sebelumnya belum pernah dilakukan merupakan hal yang baru bagi praktikan.

- Penampilan Mengajar Ke-2

Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar di Kelas III-A pada Mata Pelajaran Pendidikan Sumpah

Kewarganegaraan (PKN)

tentang

Peristiwa

Pemuda,yaitu praktikan belum menunjukkan memotivasi siswa berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan kurang memberi acuan materi yang akan diajarkan.Selain itu, dalam proses pembelajaran kurang efektif, hal ini disebabkan karena pembelajaran dilakukan siang hari pada pukul13:00 sehingga para siswa kurang bersemangat, jadi dalam pembelajaran kurang maksimal dan hanya berpusat pada praktikan.Serta kurang cermat dalam memanfaatkan waktu sesuai dengan alokasi yang direncanakan.

- Penampilan Mengajar Ke-3 Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar di Kelas IV-B pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia tentang Surat Tidak Resmi (Pribadi), yaitu Praktikan dipusingkan dengan sikap dan obrolan para siswa dalam proses pembelajaran berlangsung sehingga para siswa berani dan menganggap praktikan sebagai teman bukan guru disaat yang tidak tepat sehingga memancing

kemarahan praktikan untuk bersuara agak besar dan dari situlah para siswa baru berhenti diam.

-Penampilan Mengajar Ke-4 Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar di Kelas V-A pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang Penyesuaian Makhluk Hidup Dengan Lingkungannya, yaitu Praktikan merasa gugup dan grogi karena harus berhadapan dengan siswa kelas-V serta timbul rasa tidak percaya diri, apakah saya bisa menyampaikan materi dengan baik atau tidak, sehingga siswa mengerti dan memahami dengan apa yang saya ajarkan.

- Penampilan Mengajar Ke-5 Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar di Kelas II-B pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tentang Dokumen Pribadi dan Keluarga, yaitu

Praktikan harus extra sabar dan bersuara lebih besar karena para siswa tersebut sangat hiperaktif, sampai-sampai setelah selesai mengajar praktikan terasa Lelah ditambah

suara

habis

karena

harus

bersuara

besar

untuk

mengkondisikan siswa.

-Penampilan Mengajar Ke-6 Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar Kelas II-A pada Mata Pelajaran Penjasor tentang Gerakan Melompat dan Meloncat, yaitu Praktikan mengalami kesulitan saat mengkondisikan siswa di lapangan untuk melakukan Kegiatan Awal, seperti berbaris, berdoa sehingga harus

bersama, pemanasan, dan sebagainya

dibantu oleh Guru Pamong itu sendiri. Selain itu, ditambah beberapa siswa yang malas untuk berolah raga sehingga praktikan harus membujuk siswa tersebut untuk mau berolah raga sampai memakan waktu sedikit lama.

- Penampilan Mengajar Ke-7 Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar di kelas II-B pada Mata Pelajaran Seni, Budaya, dan Keterampilan (SBK) tentang Benda-benda DiSekitar yang Dapat Menghasilkan Bunyi (Bukan Alat Musik), yaitu menguasai kelas sehingga suasana KBM kurang kondusif

dan skenario yang disusun kurang berdasarkan alokasi waktu yang proporsional.

- Penampilan Mengajar Ke-8 Masalah yang dialami oleh praktikan waktu mengajar di Kelas V-A pada Mata Pelajaran PLBJ tentang Musik Betawi (Tanjidor), yaitu Saat proses pembelajaran

berlangsung siswa kurang bersemangat karena merasa lelah setelah melakukan Tari sehingga pembelajaran sedikit kurang kondusif. Masalah-masalah yang telah dialami praktikan pada penampilan mengajar berikutnya secara bertahap dapat diatasi pada pertemuan selanjutnya.

C. Bimbingan Belajar/Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran biasa (Intrakurikuler) tidak erat dengan pelajaran di sekolah. Program ini dilakukan di sekolah atau di luar sekolah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperluas

pengetahuan siswa, menambah keterampilan, mengenal hubungan antara berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat, minat, menunjang pencapaian intrakurikuler, serta melengkapi usaha pembinaan manusia Indonesia

seutuhnya. Kegiatan ini dilakukan secara berkala pada waktu tertentu. Kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan oleh SDN Rambutan 03 Pagi meliputi Seni Tari, Pramuka, Marawis, Kosidah, Drum Band,Futsal, dan sebagainya. Kegiatan ekstrakurikuler ini ada yang diadakan pada hari sekolah dan hari sabtu, misalnya Seni Tari dilaksanakan pada hari kamis dan dilakukan secara bergantian dengan kelas lain. Pramuka dilaksanakan pada hari selasa untuk kelas 1, 2, dan 3 serta hari rabu untuk kelas 4, 5, dan 6.Murotal (Pengajian) dilaksanakan pada hari jumat untuk kelas 1 s/d 6, kegiatan ini dilakukan guna menambah bimbingan rohani pada siswa.Kosidah,Marawis, Marching Band dilaksanakan pada hari sabtu.Untuk itu, praktikan harus ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler walaupun tidak sepenuhnya ikut andil dalam setiap kegiatan tetapi saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengeksplor segala pegetahuan dan kemampuan yang dimiliki.

D. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/Tempat Latihan Selama kegiatan PPL di SDN Ciracas 17 Petang selain mengajar, praktikan dituntut untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolah, seperti bersosialisasi dengan Kepala Sekolah, Staf Pengajar, dan hubungan dengan siswa. Para praktikan sebagai calon tenaga pendidik berperan aktif dalam berbagai aktifitas yang ada di sekolah, yaitu: 1. Mengikuti Upacara 2. Kegiatan Pramuka 3. Dan sebagainya.

E. Proses Bimbingan Untuk kelancaran dan pencapaian tujuan PPL diperlukan adanya bimbingan dan arahan dari semua pihak terutama pembimbing, selama kegiatan PPL ini, praktikan dibimbing Dosen Pembimbing, Guru Pamong, Guru Bidang Studi, dan Kepala Sekolah. 1. Dosen Pembimbing

Proses pembimbingan dengan dosen pembimbing tidak terlalu intensif. Hal ini terjadi karena adanya masalah dalam pengaturan jadwal bimbingan yang kurang relevan. Hal ini dapat dimaklumi karena rata-rata dosen pembimbing

memiliki jadwal yang cukup padat sehingga sulit untuk mengkompromokan waktu bimbingan. Proses bimbingan dengan dosen pembimbing mengenai: A. Akademis Mengikuti aturan yang ada di sekolah tersebut, terkait mengajar dan tidak mengajar, banyak bertanya, dan kedisiplinan. B. Non Akademis Pandai-pandai membawa diri sebagai tamu, harus menegur guru terlebih dahulu, menjaga nama baik UHAMKA, dan menjaga moral dengan baik.

2. Guru Pamong dan Guru Bidang Studi Guru pamong dan guru bidang studi memiliki peran yang sangat penting dalam membantu praktikan di sekolah.

Kegiatan praktikan secara intensif diberikan bimbingan langsung oleh guru pamong dan guru bidang studi secara formal dan informal.Guru pamong dan guru bidang studi juga memberikan masukan kepada praktikan tentang proses belajar mengajar di kelas yang telah dilaksanakan setiap pertemuan. Masalah-masalah yang dihadapi oleh praktikan, yaitu: A. Situasi, kondisi siswa dan sekolah
B. Menanyakan dan mendiskusikan bahan ajar yang ingin

diajarkan

nanti

oleh

praktikan

sebelum

proses

pembelajaran berlangsung dan yang belum dimengerti. 3. Kepala Sekolah Kepala sekolah adalah seseorang yang bertanggung jawab atas keberadaan mahasiswa praktikan di suatu sekolah. Mahasiswa PPL dapat memperjuangkan hak-

haknya yang harus diterima. Mengenai tugas dan wewenang dari kepala sekolah, sudah jelas. Tetapi untuk mengetahui lebih jauh tentang tugas dan wewenang dari kepala sekolah, beliau tidak hanya mengurusi mahasiswa praktikan saja, tetapi mengurusi masalah-masalah lain yang berhubungan dengan sekolah sehingga kemungkinan untuk bertemu

beliau sangat kecil, dengan demikian sudah jelas untuk mengetahui tentang tugas beliau akan terhambat.

BAB II FAKTOR PENYEBAB DARI MASALAH YANG DIALAMI

Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya masalah dalam proses pelaksanaan PPL. Faktor-faktor tersebut muncul sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan praktikan yang dimilikinya. Akibatnya diperlukan usaha kompromisasi untuk mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut. Beberapa masalah serta kesulitan yang dihadapi penulis selama menjadi praktikan di SDN Ciracas 17 Petang diakibatkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: A. Penyusunan RPP
1.

Perbedaan persepsi dalam merealisasikan satuan

pelajaran dan rencana pembelajaran di SDN Ciracas 17 Petang dengan yang diperoleh praktikan dibangku kuliah,

misalnya

dalam

pembuatan

RPP,

disekolah

tersebut

menggunakan RPP yang baru di mana pada kegiatan inti mencakup Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi sedangkan pembuatan RPP yang diajarkan ditempat kuliah, pada kegiatan inti lebih simple dan singkat sehingga praktikan mengalami kesulitan dalam pembuatan RPP karena berbeda dengan yang diajarkan ditempat kuliah. pembelajaran dari indikator, praktikan masih mengalami kesulitan dalam penyusunannya. 2. Skenario yang disusun kurang berdasarkan alokasi waktu yang proporsional. 3. Kesulitan dalam penyusunan RPP Tematik bagi kelas rendah, karena harus mengaitkan antara Mata Pelajaran yang ingin diajarkan dengan Mata Pelajaran yang digabungkan Tema, seperti Lingkungan, Keluarga, sebagainya.

sesuai dengan

Diri Sendiri, Pengalaman, dan

4. Kurang teliti dalam pengunaan kalimat untuk membuat Soal Evaluasi untuk kelas rendah sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.. 5. Kecerobohan pada awal mengajar sehingga hasil tidak maksimal.

B. Proses Penampilan Faktor penyebab dari masalah-masalah yang dialami praktikan selama proses penampilan di kelas antara lain: 1. Pada awal mengajar kurang terkonsep dengan baik, karena timbul rasa canggung dan grogi saat berhadapan dengan para siswa didepan kelas sehingga semua konsep yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan harapan praktikan. 2. Kurangnya rasa percaya diri. 3. Pada awal mengajar sulit mengontrol emosi, karena ada beberapa siswa yang hiper sehingga sulit dikendalikan. 4. Belum memahami situasi, kondisi, dan karakter siswa yang sebenarnya untuk menentukan pendekatan metode apa yang cocok untuk digunakan di kelas agar proses belajar mengajar bisa berjalan optimal. 5. Kurangnya pengalaman praktikan tampil di depan kelas. Praktikan hanya didasari oleh pengalaman Micro Teaching pada mata kuliah Pra PPL.

6. Persiapan untuk setiap penampilan tidaklah sama, terkadang praktikan merasa siap dan bersemangat tetapi dilain waktu praktikan merasa tidak kurang siap dan kurang semangat.

C. Bimbingan Belajar/Ekstrakurikuler Permasalahan yang dialami praktikan untuk membimbing kegiatan ekstrakurikuler disebabkan:
1. Waktu dan Kegiatan

Pengaturan jadwal kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SDN Ciracas 17 Petang tentang masalah adanya kegiatan yang diadakan selain hari sabtu yaitu Seni Tari setiap hari Kamis untuk beberapa kelas secara bergilir, Hari Selasa Pramuka untuk kelas 1,2, dan 3, Hari Rabu Pramuka untuk kelas 3,4, dan 5.Pada setiap hari Jumat diadakan Murotal (Pengajian) dari kelas 1s/d 6 guna menunjang bimbingan rohani pada siswa.Jadi Setiap hari sabtu baru dilakukan kegiatan Marawis dan Kosidah.
2. Kurangnya

pengetahuan

dan

pengalaman

tentang

kegiatan yang dilakukan, misalnya Kegiatan Pramuka. 3. Minat dan Kemampuan

Tidak semua praktikan memiliki minat yang sama untuk semua jenis kegiatan dan yang terpenting adalah kemampuan praktikan di bidang tersebut.

D. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/Tempat Latihan Praktikan tidak mengalami kesulitan yang terlalu besar dalam hal partisipasi dengan lingkungan sekolah. Hal ini tercapai karena adanya kerja sama, bantuan dan dorongan dari pihak sekolah.Pengaturan jadwal yang tepat untuk setiap praktikan sangat membantu dalam

melaksanakan setiap kegiatannya dengan baik sehingga praktikan dapat mengikuti dan berpartisipasi dalam

kehidupan sekolah. Permasalahan yang timbul hanyalah dari pihak praktikan karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan misalnya pada Kegiatan Pramuka, namun untuk kegiatan lain seperti Seni Tari ada pelatihnya sendiri.Untuk itu, walaupun tidak sepenuhnya praktikan ikut andil setiap kegiatan tetapi praktikan sudah berusaha sebisa mungkin untuk berperan aktif dalam setiap kegiatan.

E. Proses Bimbingan Proses bimbingan dengan dosen pembimbing tidak

berlangsung secara rutin dan intensif disebabkan oleh jadwal praktikan dan dosen pembimbing tidak ditetapkan. Proses bimbingan tersebut mengalami masalah oleh

praktikan tetapi proses bimbingan dengan Kepala Sekolah, Guru Pamong, dan Guru Kelas tidak mengalami masalah karena praktikan selalu dapat berkomunikasi dan melakukan bimbingan kapan saja sehingga walaupun tidak secara formal dalam waktu yang lama, proses bimbingan tetap dapat dilakukan.

BAB III UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH

Setiap penulis mengidentifikasi masalah dan faktor penyebabnya, maka berbagai upaya dilakukan untuk

menanggulangi permasalahan. Dalam upaya menanggulangi permasalahan, praktikan melakukan segala upaya walaupun pada pelaksanaannya masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Berikut upaya yang praktikan lakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang terjadi: A. Penyusunan RPP Berkaitan dengan masalah yang dialami praktikan dalam penyusunan RPP, praktikan berusaha untuk

memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam penulisan

dan

pembuatan

RPP.

Adapun

usaha-usaha

yang

dilakukan praktikan antara lain: 1. Banyak berlatih dan belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik.
2. Lebih

teliti

dalam

membuat

RPP

agar

dalam

pembuatan RPP tersusun secara sistematika, mulai dari Standar Kompetensi (SK) sampai Penilaian.
3. Seiring

dengan

perkembangan Sistem

zaman

yang

mempengaruhi

Pendidikan

sehingga

pemerintah membuat pembaharuan didalam program pembelajaran yang disebut dengan Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), di mana RPP yang baru pada kegiatan inti terdapat Elaborasi, Eksplorasi, dan Konfirmasi. Hal ini bertujuan agar didalam setiap kegiatan pembelajaran, mulai dari kegiatan awal sampai akhir harus terinci dan tersusun untuk memperoleh hasil pencapaian yang maksimal. Namun pada intinya, baik RPP yang baru maupun yang lama sama. Jadi praktikan harus belajar dan cermati lagi dengan RPP tersebut. 4. Berlatih dan teliti dalam membuat RPP Tematik agar tidak terkecoh dalam mengaitkan mata pelajaran yang

ingin

diajarkan

dengan

mata

palajaran

yang

digabungkan sesuai dengan Tema yang ada. 5. Teliti dalam menentukan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada pembelajaran Tematik sehingga sesuai dengan materi yang ingin diajarkan. 6. Didalam membuat Soal Evaluasi, agar diperhatikan dan teliti untuk penggunaan kalimat sehingga mudah dipahami dan dicerna siswa. 7. Berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing, Kepala Sekolah, dan Guru Pamong maupun Guru Kelas mengenai format RPP menurut kurikulum yang baru. 8. Mempelajari secara lebih mendalam mengenai cara pembuatan rencana pembelajaran yang baik dari berbagai sumber rujukan yang relevan.
9. Dalam pengalokasian waktu disesuaikan dengan jam

pelajaran yang disediakan, sedangkan materinya sesuaikan dengan waktu yang ada berdasarkan sub pokok bahasan yang akan diajarkan. 10. Optimalisasi fasilitas yang tersedia untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

11. Berdiskusi dengan Rekan-rekan PPL yang lain, terutama untuk membahas pembuatan dan

penyusunan RPP. 12. Dalam penyusunan RPP pertama dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk penyusunan RPP

selanjutnya agar tidak terjadi kesalahan dan sesuai dengan kenyataan pada saat melakukan proses belajar mengajar di kelas.

B.Proses Penampilan Masalah saat proses penampilan merupakan masalah yang paling dominan, mengingat penampilan

memakan waktu yang lebih banyak dibandingkan kegiatan lain. Untuk mengatasi permasalahan dalam proses penampilan, praktikan melakukan berbagai upaya sebagai berikut: 1. Berkonsultasi dengan dosen pembimbing, guru pamong, dan guru bidang studi mengenai

bagaimana cara mengatasi siswa. 2. Melakukan persiapan materi sebelum tampil, baik melalui membaca buku ataupun sumber lainnya

serta berdiskusi dengan praktikan lain yang mengajar mata pelajaran yang berbeda. 3. Mencoba mendekati siswa dan lebih

memperhatikan mereka sehingga dapat lebih menghargai praktikan.
4. Lebih menjiwai dalam mengajar, agar penjiwaan

sebagai calon guru terpancar dan tertanam dalam diri, mulai dari kegiatan PPL yang telah dilakukan sampai nanti menjadi seorang guru. 5. Menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat, bahwa kita bisa dan mampu untuk menjadi seorang pengajar (Guru) yang professional. 6. Mau belajar dari kesalahan karena dari

kesalahanlah seseorang dapat menjadi lebih baik, asal didasari dengan niat dan kemauan dalam diri. 7. Selalu bersabar, ikhlas, dan mampu mengontrol emosi pada peserta didik. 8. Bersikap tenang dan berusaha memberikan

variasi metode mengajar.

9. Mengkombinasikan antara teori dan praktikum sehingga siswa tidak jenuh dalam kegiata

pembelajaran. 10. Menegur siswa yang tidak memperhatikan secara baik-baik serta memberikan perhatian khusus pada siswa tersebut.

C.Bimbingan Belajar/Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya dilaksanakan dengan tujuan untuk menunjang kegiatan kurikuler dan untuk

meningkatkan kepribadian serta penyaluran bakat dan minat serta keterampilan peserta didik. Kegiatan ini penting untuk memberikan pengayaan, kemampuan dan pengalaman bagi peserta didik di luar tugas utamanya belajar di kelas. Keberhasilan program ekstrakurikuler tidak lepas dari peranan berbagai pihak baik guru, peserta didik dan masyarakat. Oleh karena itu, bimbingan praktikan sangat diharapkan, dengan jiwa dan semangat mudanya praktikan mampu memberikan motivasi bagi pengembangan minat dan bakat peserta didik.

D.Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/Tempat Latihan Upaya-upaya yang dilakukan praktikan untuk mengatasi

kendala-kendala pada partisipasi dalam kehidupan sekolah ini adalah:
1. Melakukan adaptasi dengan tata aturan dan kebiasaan yang

ada di SDN Ciracas 17 Petang.
2. Meluangkan waktu untuk ikut terlibat dalam kegiatan-

kegiatan yang ada di SDN Ciracas 17 Petang. 3. Berusaha menepati jadwal aktivitas di sekolah yang telah disepakati.
4. Berusaha bersosialisasi dengan siapapun yang ada di

lingkungan SDN Ciracas 17 Petang. 5. Memberikan contoh yang baik pada semua siswa. 6. Berusaha memposisikan diri pada saat jadi guru dan sekaligus menjadi teman curhat, apabila ada siswa yang mengalami masalah baik formal maupun non formal.

E.Proses Bimbingan

Pihak yang terlibat secara langsung dan intensif membimbing praktikan adalah guru pamong dan guru bidang studi. Mereka memiliki peran sebagai pembimbing, pengarah, dan sekaligus memberikan evaluasi bagi praktikan harus senantiasa

berhubungan secara langsung, intensif, dan interaktif. Baik proses bimbingan yang menyangkut formal satuan pelajaran dan rencana pembelajaran, atau partisipasi bimbingan dalam untuk kegiatan bimbingan

penampilan,

kegiatan

ekstrakurikuler. Upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan bimbingan yakni dengan: 1. Membuat kesepakatan untuk melakukan bimbingan, dengan menentukan jadwal. Baik untuk jadwal bimbingan formal maupun non formal. 2. Berperan aktif dan proaktif melakukan bimbingan. Semua yang disepakati untuk dikerjakan oleh pembimbing

dilaksanakan dengan dan tepat waktu.

Sedangkan untuk permasalahan yang berhubungan dengan Kepala Sekolah dan Dosen Pembimbing, upaya yang dilakukan dengan melakukan inisiatif sendiri untuk

menghubungi Kepala Sekolah dan Dosen Pembimbing untuk

bimbingan.Dengan demikian proses bimbingan akan tetap berjalan dengan Lancar.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil refleksi dari pengalaman penulis selama mengikuti dan melaksanakan PPL di SDN Ciracas 17 Petang,

maka

penulis

dapat

merumuskan

beberapa

kesimpulan,

sebagai berikut:
1. PPL

merupakan langkah yang sangat penting dalam

membentuk pribadi guru yang profesional sehingga para calon pendidik mendapat seperangkat pengetahuan, sikap serta tingkah laku yang diharapkan dapat menunjang keberhasilan pendidikan. 2. Bimbingan dan pengarahan kepala sekolah, guru pamong, guru bidang studi dan dosen pembimbing memegang peranan yang penting bagi keberhasilan praktikan dalam setiap kegiatan PPL. 3. Pendekatan yang bersifat kekeluargaan baik dari praktikan maupun dari pihak sekolah merupakan pendekatan yang sangat tepat dan menunjang dalam pelaksanaan PPL. 4. PPL dapat membentuk kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri praktikan. Hal ini sangat penting, karena dalam PPL banyak kemampuan-kemampuan teknis yang berkaitan dengan kemampuan memimpin yang ditawarkan, yang nantinya dapat membentuk kepribadian yang sempurna.

B. Saran

1. Untuk SDN Ciracas 17 Petang

a. Tetap menjaga prestasi kerja serta mempertahankannya sebaik mungkin, karena mempertahankan prestasi kerja merupakan beban berat bagi suatu lembaga pendidikan formal yang cukup ternama.
b. Tetap berpedoman pada sikap terbuka dan bekerja sama

dengan pihak-pihak yang ingin membina pengalaman atau mempelajari kemajuan yang telah dicapai hingga saat ini.
c. Guna menghasilkan alumni lulusan SDN Rambutan 03

pagi

yang

berpotensi, agar

maka tetap

kedisiplinan dipertahankan

dan dan

kepemimpinan

ditingkatkan, begitu pula bagi seluruh personil sekolah. 2. Untuk Pembimbing
a. Partisipasi pihak UHAMKA dengan pihak sekolah selama

praktikan

melaksanakan

PPL

diharapkan

lebih

ditingkatkan.
b. Pembekalan kiranya lebih intensif dan ditingkatkan,

karena selama ini pembekalan yang diberikan pihak UHAMKA kurang bisa dirasakan manfaatnya dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan kegiatan PPL.

c. Adanya hubungan lisan maupun tertulis antara pihak

UHAMKA dengan sekolah yang bersangkutan maupun dengan mahasiswa PPL, hubungan dan komunikasi rutin akan menambah suksesnya pelaksanan yang lebih baik.
d. Hendaknya dosen pembimbing lebih sering memonitor

sehingga

komunikasi kesulitan

akan dengan

memperlancar pemecahan

dalam secara

menghadapi

periodik dalam meningkatkan mutu mahasiswa PPL UHAMKA.
3. Untuk Pihak Praktikan a. Harus

selalu

mengkonsultasikan

permasalahan-

permasalahan yang dihadapi kepada kepala sekolah, guru pamong, guru bidang studi dan dosen pembimbing ataupun kepada guru-guru dan semua pihak yang menjadi tata laksana sekolah. b. Harus mempunyai kepercayaan diri dan tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan proses belajar

mengajar. c. Harus mempersiapkan dengan baik materi pelajaran dengan perencanaan yang benar-benar matang dan

diperhitungkan sebelum memulai melaksanakan proses belajar mengajar.
d. Dibutuhkan

kesabaran,

keterampilan,

kemampuan,

kesadaran dan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
e. Harus bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah,

pimpinan sekolah, staf guru maupun dengan para siswa dengan baik.

Berbohong
Sebisa mungkin kita tetap hangat dalam mengajaknya bicara dan tidak perlu menghakiminya.Terpenting kita mengembangkan semangat bahwa tidak perlu menutupinya hal semacam itu. Kalau anak kita berbohong, apa yang mesti kita lakukan?

Berikut tips menyikapi anak berbohong:

Jangan memojokkan dirinya. Buat suasana tenang dan santai agar bisa nyaman bercerita.

Jangan emosi, kalau kita marah, maka akan semakin takut dan menutupi dengan kebohongan.

Jangan berikan contoh berbohong ke anak. Misalnya ketika, menerima telepon dan meminta anak mengatakan bahwa kita tak ada di rumah

Jangan bohongi anak. Misalkan, kita berjanji tidak akan marah bila anak kita ngompol asal mengaku. Tapi ternyata kita marah lagi begitu lihat si anak ngompol.

Hal yang perlu diperhatikan para orangtua untuk mencegah anaknya mengembangkan sikap berbohong, antara lain kita harus rajin melakukan cek ulang. Namun, harus diingat ketika melakukan proses cek ulang kita jangan sampai menyudutkan si anak. Apalagi bagi anak di bawah usia lima tahun sikap orang tua yang menyudutkan anak justru dapat berakibat buruk baginya.

ANAK PERINGATAN BAGI ORANG

BERBOHONG, TUA

Jangan langsung marah apabila anak sudah mulai bisa berbohong. Sebagai orang tua kita harus mengambil tindakan yang bijak. Perilaku berbohong biasanya memang disebabkan oleh pengaruh lingkungan.

Karena dalam usia anak merupakan usia meniru apa yang dilihat atau apa yang dirasakan. Dengan begitu banyaknya tontonan yang ada di televisi kadang kita sebagai orang tua lengah dalam memperhatikan anak. Acara apa yang baik dan mendidik yang disuguhkan di televisi terkadang kita tidak menyeleksinya. Kita biarkan anak menonton tanpa kita dampingi.

Belum tentu acara kartun anak juga menyuguhkan atau memberikan contoh yang baik pula pada anak. Untuk itu ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan sebagai orang tua apabila kita mengetahui anak sudah mulai bisa berbohong, yaitu: 1. Jangan langsung memarahi anak. Pastikan mereka berhenti berbohong bukan karena takut tetapi sadar bahwa perbuatan itu tidak baik dan berdosa.

2. Tidak semua kebohongan dapat diselesaikan dengan metode yang sama. Maka orang tua harus lebih selektif.

3. Pererat komunikasi dengan anak. Upayakan mereka merasa nyaman, bersikap

terbuka, juga selalu percaya diri menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

4. Bangunlah rasa aman. Buat anak kita merasa aman di dekat kita walaupun dia telah melakukan kesalahan.

5. Jika orang tua merasa buntu, tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengatasi kebohongan anak, maka perbanyak reverensi bacaan tentang psikologi anak atau mencari pertolongan kepada orang lain.

6. Evaluasi cara mendidik dan penerapan disiplin yang selama ini berlaku di rumah. Penerapan disiplin yang berlebihan akan membuat anak takut bukannya mengerti.

Untuk itu ada beberapa solusi kecil yang dapat saya sampaikan pada orang tua saat mendapati anak sedang berbohong, yaitu:

1. Walaupun kadar anak berbohong masih terbilang ringan, orang tua sebaiknya menyikapi hal itu sebagai “peringatan”. Sekecil apapun bohong anak, orang tua harus mencari tahu penyebabnya.

2. Setelah penyebabnya diketahui, orang tua harus tanggap menyiapkan langkah “koreksi”. Orang tua harus meluangkan waktu dan perhatian ekstra untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang alasan dan konsekuensi yang akan diterima jika aturan yang sudah disepakati dilanggar.

3. Perhatian ekstra harus diberikan jika kebohongan itu telah berkembang menjadi sikap manipulatif. Pada tahapan ini anak telah mempunyai rencana dan target yang dituju. Begitu pula jika kebohongan telah berpola, maka orang tua harus mencari informasi yang buuaanyak atau reverensi buku tentang psikologi anak. Atau bisa juga dengan berkonsultasi dengan para ahli.

Demikian sekelumit tentang pengalaman yang telah penulis alami. Semoga bermanfaat.

Sumber: http://id.shvoong.com/books/1896075-anak-berbohong-peringatan-bagiorang/#ixzz1MsL32iWt

Menghadapi anak yang berbohong
Wednesday, 30 September 2009 | Gentong Ilmu

Referensi :mengenali permasalahan perkembangan anak usia tk,pengarang:rita eka izzaty, S.Psi.Psi,Depdiknas,Jakarta 2005

Berbohong adalah menceritakan suatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Berdasarkan pengamatan, ada beberapa bentuk kebohongan anak-anak, diantaranya :

1.

kebohongan yang dilakukan untuk menutupi kondisinya. Biasanya anak menggunakan cerita dengan berbohong adalah untuk membuat orang lain / teman sebayanya menghargai dirinya (misalnya anak bercerita tentang perkelahiannya melawan monster atau binatang-binatang buas yang

membuahkan kemenangan bagi dirinya ). Bagi orang dewasa, hal ini sudah pasti dianggap sebagai bualan,tapi bagi anak-anak hal ini adalah cerita yang sangat menarik perhatiannya. Sebagai orangtua atau orang dewasa ( yang memiliki peranan penting bagi anak ) sebaiknya menanggapi hal ini dengan respon yang positif, karena dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi bagi anak.

2.

kebohongan yang dilakukan dengan membesar-besarkan cerita yang baru saja dilakukannya

3.

kebohongan yang dilakukan untuk membela dirinya dari hukuman yang ditimpakan pada dirinya. Biasanya anak-anak cenderung melakukan

kebohongan apabila mereka merasa hukuman yang ditimpakan tidak sesuai dengan kesalahannya.

4.

kebohongan

yang

dilakukan

karena

meniru

perilaku

orang-orang

disekelilingnya, atau tokoh-tokoh yang dikaguminya, misalnya :ketika ada seseorang yang datang kerumah mencari si ibu, dan ibu tidak ingin menemui orang tsb, lalu ia meminta si anak mengatakan bahwa ibunya sedang pergi atau tidak ada dirumah. Hal ini jelas merupakan kebohongan yang secara langsung mudah diterima anak, sehingga membuat anak merasa bahwa ternyata berbohong bukanlah hal yang salah atau tidak boleh dilakukan.

Namun ada yang perlu diperhatikan dalam mengamati masalah kebohongan anak. Berbohong yang dilakukan anak mengandung sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah kebohongan yang dilakukan mungkin merupakan gambaran terhadap apa yang dirasakannya (misalnya anak yang menceritakan tentang seekor anjing kecil yang sedih karena tidak memiliki teman ). Bila anak menceritakannya dengan ekspresi yang sedih, bisa jadi cerita tersebut mengisyaratkan akan perasaan sedihnya karena merasa ditinggalkan oleh teman-temannya . disisi lainnya, kebohongan anak dapat memunculkan efek negatif bila kebohongan dilakukan terus berlanjut dan mengarah pada kebohongan yang mengenai hal-hal nyata, misalnya kebiasaan mengambil barang yang bukan miliknya, tetapi ketika ditanya ia selalu memungkirinya. Ini yang perlu menjadi perhatian khusus bagi orangorang dewasa/orangtua untuk mengarahkan dan memberikan tanggapan yang tepat yang akan merubah perilakunya menjadi lebih baik

Kiat-kiat menghadapi anak yang berbohong….

1.

memberikan penjelasan singkat yang mengandung unsur moral dan

ketegasan bahwa jika ia berbohong akan membuat orang-orang/temanteman di sekelilingnya tidak percaya lagi kepadanya bahkan akan menjauhinya 2. ketika anak berfantasi dengan ceritanya, berikan tanggapan positif

lalu jelaskan tentang gambaran yang sebenarnya. Misalnya anak bercerita bahwa ia melihat seekor ular yang bisa terbang. Bagi orang dewasa tentunya ini hanyalah cerita fiktif yang dibuat-buat, tetapi tanggapan positif yang harus diungkapkan adalah dengan meluruskan dan menjelaskan bahwa ular yang ada tidak bisa terbang karena ular tidak memiliki sayap. 3. mencari alasan kenapa anak selalu berbohong dengan

menggunakan pertanyaan terbuka (dimulai dengan kata “apa”,bukan “mengapa”, karena dengan memulai pertanyaan mengapa membuat anak merasa diadili )

Penyebab anak kecil berbohong : * Takut dimarahin atau dihukum karena berbuat salah.

* Melihat kebohongan yang ada disekitarnya (Orangtua,guru,keluarga) * Ancaman hukuman bagi kesalahan sang anak

Berbagai faktor diatas merupakan pemicu utama kebohongan seorang anak kecil. Marilah kita orang tua bersepakat menghapuskan populasi kejahatan didunia ini dengan bersikap yang benar. Nah, berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menghentikan kebohongan pada anak sejak dini :

Menanamkan kesadaran untuk selalu hidup jujur dan menyadari akibat buruk kebohongan.

Orang tua yang memahami arti kejujuran dan akibat buruk kebohongan yang tertulis diatas sekalipun dulunya biasa berbohong dan selalu hidup dalam ketidakjujuran akan mempunyai tekad untuk hidup jujur dan membenci adanya kebohongan. Orang tua yang demikian tdak akan pernah kompromi dengan kebohongan yang ada disekitarnya termasuk anaknya sendiri. Sikap tidak kompromi dengan kebohongan tersebut akan membantu mengubahkan kebohongan pada anak. Membiasakan sikap jujur sebagai budaya didalam kehidupan keluarga

Anak kecil pintar sekali meniru apa yang dilihat, dan kebohongan dari tingkah laku dan perkataan yang dilakukan orang tua juga akan menanamkan kebohongan dalam mental anak kecil tersebut. Apapun itu bentuk kebohongannya sekalipun dalam hal kecil,itu semua terekam dalam memori sang anak. Janji yang yang tidak ditepati juga menjadi penyebab yang gampang direkam. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang pastinya tidask ditepati. Jika janji tersebut tidak jadi karena faktor lain,katakan maaf dan kasih pengertian kepada si kecil. Jangan juga menceritakan sesuatu yang mengandung kebohongan karena ketika nantinya sang anak melihat kenyataannya dia akan merekamnya. Jangan gengsi

meminta maaf jika ada kesalahan kita dimata anak kita. Sikap gentle kita ini akan direkam menjadi suatu kebaikan nantinya bagi dia. Kesadaran jujur tidak akan dihukum.

Memberi pengertian dan gambaran kepada si kecil tentang kejujuran dan keburukan dari kebohongan. Ajarkan juga si kecil untuk tidak takut mengaku kalau berbuat salah. Kasih pengertian jika dia berbuat salah dan mengaku tidak akan dihukum. Jangan selalu memberikan ancaman untuk suatu kesalahan karena itu menjadi suatu momok yang menakutkan bagi sang anak ketika dia berbuat suatu kesalahan. Komunikasi Yang Baik Dengan Sang Anak Orang tua harus sering berkomunikasi dengan baik dan terbuka kepada sang anak. Keterbukaan dimulai dariorang tua bisa menceritakan apa yang dia lakukan ketika dia pergi/ kerja meninggalkan sang anak. Hal ini akan membuat sang anak juga akan menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama dia tidak bersama dengan kita. Tunjukkan sikap yang menyimak dengan baik apa yang diceritakannya, jangan anggap remeh setiap ceritanya. Dan juga berikan apresiasi atas cerita dan kejujuran sang anak tersebut.

Jangan

lupa memberikan apresiasi

yang

baik dari orang

tua

atas

kejujuran sang anak dibanding hukuman atas kesalahan yang dibuat.

Perlu pemahaman dan kasih sayang agar upaya orangtua tidak memicu anak makin gemar berbohong. Agar berbohong tidak berlarut-larut, apalagi membuat anak dijauhi teman-teman bermainnya, segera temukan cara jitu untuk menghentikan kebiasaan buruk itu.

1. Stop Marah Berhenti memarahi ketika anak melakukan kesalahan. Kemarahan serta hukuman yang ditimpakan atas kesalahan anak, belum tentu dipahami anak dengan maksud yang benar. Ubah gaya orangtua menghadapi masalah dengan cara yang lebih bijak, hadapi kekurangan anak dengan sikap yang lebih baik. 2. Be Positive Menghentikan kebohongan bisa dilakukan orangtua dengan membantu anak melihat dirinya lebih positif. Stop membandingkan anak. Kalaupun boleh dibandingkan adalah dengan anak sebelumnya, bukan dengan orang lain. Selain itu, tanamkan dan buat anak paham bahwa dirinya adalah individu yang unik dengan kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. 3. Biasakan Mencari Solusi Biasakan anak untuk mencari solusi tanpa ketakutan akan kesalahan. Lakukan dengan cara membiasakan anak berdiskusi atau belajar mengekspresikan diri lewat diskusi. Intinya, biasakan anak mencari pemecahan masalah ataupun membicarakan kesalahan. Tanamkan dalam dirinya, kesalahan adalah sesuatu yang lumrah. Anda pun tidak selalu menindaklanjuti dengan hukuman, tapi terbuka untuk mencari solusi bersama-sama. 4. Lingkungan Lebih Luas Menghadapi peer pressure yang kerap membuat kemampuan berbohong anak kian berkembang, orangtua sebaiknya membantu anak memiliki lingkungan dan pergaulan yang lebih luas. Menyertakan anak pada klub-klub hobi atau kelompok belajar di luar sekolah bisa menjadi pilihan, agar ia memiliki pengalaman dengan banyak teman. 5. Konsekuensi Bukan Hukuman Ketika anak berbohong, orangtua boleh saja memberikan konsekuensi. Namun konsekuensi tidak selalu berupa hukuman. Caranya bisa dengan membalikkan situasi bila anak tidak berbohong, beri pujian meski ia telah mengakui kesalahan. Tunjukkan orangtua cukup memahami dan menghargai kejujuran anak.

Jadi disini kita memberikan pemahaman bahwa melakukan sebuah kesalahan itu bukanlah sebuah masalah besar. Melakukan sebuah kesalahan itu biasa saja kok dan bukan dosa besar. Hal terpenting adalah si anak dengan sukarela mengaku. Kalau anak kita berbohong, apa yang mesti kita lakukan? Berikut tips menyikapi anak berbohong: Jangan memojokkan dirinya. Buat suasana tenang dan santai agar bisa nyaman bercerita. Jangan emosi, kalau kita marah, maka akan semakin takut dan menutupi dengan kebohongan. Jangan berikan contoh berbohong ke anak. Misalnya ketika, menerima telepon dan meminta anak mengatakan bahwa kita tak ada di rumah. Jangan bohongi anak. Misalkan, kita berjanji tidak akan marah bila anak kita ngompol asal mengaku. Tapi ternyata kita marah lagi begitu lihat si anak ngompol. Hal yang perlu diperhatikan para orangtua untuk mencegah anaknya mengembangkan sikap berbohong, antara lain kita harus rajin melakukan cek ulang. Namun, harus diingat ketika melakukan proses cek ulang kita jangan sampai menyudutkan si anak. Apalagi bagi anak di bawah usia lima tahun sikap orang tua yang menyudutkan anak justru dapat berakibat buruk baginya.

Ayat diatas surat At Taubah:119 adalah perintah untuk jujur, ini juga berarti larangan untuk berbohong. Dan hadits Abdulloh bin Mas’ud juga menerangkan perintah jujur dan larangan berbohong. Ini adalah hukum asalnya. Yaitu saya tegaskan bahwa hukum asal berbohong adalah harom dan tidak boleh seorang muslim berbohong. Sedangkan hadits Ummu Kultsum dan hadits Asma’ adalah pengecualian untuk kasus tertentu dan tidak boleh dimutlakkan dan diperlebar jangkauannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->