P. 1
Virologi-Isolasi & Pembiakan Virus

Virologi-Isolasi & Pembiakan Virus

|Views: 3,217|Likes:
Published by Gheo Hage

More info:

Published by: Gheo Hage on Feb 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2014

pdf

text

original

ISOLASI & PEMBIAKAN VIRUS

Oleh: Drh Maria Aega Gelolodo

Isolasi virus
‡ Diagnosa klinis pengambilan spesimen 

Material Otopsi Respirasi : Paru-paru & Thrakea Sistem saraf: otak & sum2 tulang belakang Jantung : jantung Pantropik : ginjal, hati & limpa

pericard. hidung maupun mulut (swab) ‡ Urine .‡ Feses : Rectal swab ‡ Darah ‡ Cairan tubuh: Cerebrospinal. peritoneum & synovial serta eksudat yang keluar dari mata.

. ‡ Berkaitan dengan sifatnya tersebut. virus hanya dapat dibiakan pada sel hidup. ‡ Pemilihan media yang digunakan tergantung dari jenis virusnya dan organ target dari virus tersebut.PEMBIAKAN VIRUS ‡ Virus merupakan mikroorganisme yang bersifat parasit obligat dan hanya bisa hidup pada media yang hidup.

Untuk menumbuhkan virus dalam rangka mengisolasi suatu virus dapat dilakukan secara : 1.gelas atau tabung menggunakn media biakan jaringan (tissue culture) atau biakan sel (cell culture). . in ovo yaitu metode menumbuhkan pada media telur berembrio (telur yang sudah dibuahi) 2. in vitro yaitu menumbuhkan virus di dalam gelas. in vivo adalah metode menumbuhkan pada hewan percobaan sebagai model 3.

.Virus Isolation: Telur Embrio Tunas (TET) ‡ Telur berembrio telah lama dan paling sering digunakan sebagai media isolasi dan propagasi atau pembiakan virus.

.‡ Telur berembrio atau sering disebut dengan telur embrio tertunas (TET) atau telur ayam berembrio (TAB) sangat penting dalam perkembangan virologi karena pada telur tertunas dapat ditemukan bermacam-macam tipe sel yang mampu ditumbuhi/menjadi media tumbuhnya berbagai jenis virus.

Sel epitel amnion yang melapisi ruang amnion 4. . sel pada kantong kuning telur ( Yolk sac) dan sel endotel pada pembuluh darah 5.Macam-macam sel tersebut adalah : 1. Sel epitel khorion yang berada pada membran khorion 2. Sel epitel alantois yang merupakan sel penyusun pada membran khorioalantaois. Sel dari embrionya itu sendiri yang umumnya adalah sel fibroblast. 3.

Keberhasilan isolasi dan propagasi virus pada telur dipengaruhi oleh :  Rute inokulasi  Umur embrio pada telur  Temperatur/suhu inkubasi  Lamanya waktu inkubasi setelah inokulasi  Volume dan pengenceran inokulum yang digunakan  Status kekebalan flok dari induk tempat telur berasal .

‡ Telur yang digunakan diinkubasikan pada suhu 37o-3 o Celcius dan kelembaban relatif 60-70%. sebaiknya digunakan telur yang berasal dari breeding flock yang bebas patogen tertentu (SPF/spesific pathogen free). .‡ Dalam membiakan virus menggunakan telur.

embrio lemah atau mati. pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah telur dalam kondisi normal. Kelainan yang terjadi misalnya tidak adanya kantung udara. infertile (tidak dibuahi). .‡ Sebelum diinokulasi telur diperiksa dengan teropong (candling). Telur-telur yang tidak normal tidak bisa digunakan. sesuai dengan umurnya atau ada kelainan.

misalnya pada virus yang lebih menyukai sel epitel sebagai tempat berkembang biaknya dapat diinokulasikan pada membran khorioalantois. . intravena (pembuluh darah ) & kedalam otak embrio. membran khorio alantois. kantong kuning telur (yolk sac).‡ Inokulasi virus kedalam telur dapat dilakukan dibeberapa tempat tergantung jenis virusnya. ‡ Rute inokulasi yang dapat dilakukan antara lain adalah kedalam ruang amnion (amnionic cavity). ruang alantois (allantoic cavity).

. pembuluh darah (intra vena) dan kantong kuning telur sebaiknya digunakan telur yang berumur 5-7 hari karena pada umur tersebut embrio masih muda dan kecil sehingga kuning telur masih cukup besar ukurannya demikian juga ruang amnionnya.‡ Dalam menginokulasi virus ke telur selain rute. umur telur juga harus diperhatikan. pada daerah tertentu kondisinya optimal. ‡ Bila akan menginokulasi kedaerah ruang amnion . sebab pada umur tertentu.

. ‡ contoh pemanfaatan TET misanya untuk memperbanyak virus ND ataupun Pox.‡ Untuk menginokulasi ke daerah ruang alantois dilakukan pada tekur yang berumur 9-12 hari karena pada saat itu luas ruang alantois yang optimal dan bila akan menginokulasi ke membran khorio alantois sebaiknya pada telur yang berumur 12-14 hari sebab pada umur tersebut mambran cukup kuat untuk ditarik dan dibuat kantung udara buatan.

Why do we need Cell culture? ‡ Research ± Reduce animal use ‡ Commercial or large-scale production ± Production of cell material: vaccine. antigen .Pembiakan virus pada kultur sel Virus dapat diperbanyak dengan melakukan kultur sel yaitu menumbuhkan sel yang terinfeksi virus secara invitro.

H9 S2 BY2 CELL TYPE AND ORIGIN Fibroblast (mouse) Kidney epithelium (human) fibroblast (Syrian hamster) epithelial cell (dog) cancer epithelial cell (human) epithelial cell (rat kangaroo) myoblast (rat) chromaffin cell (rat) (neuroblastoma cell) plasma cell (mouse) kidney (monkey) ovary (chinese hamster) lymphoma cell for efficient targeted recombination embryonic stem cells (mouse) embryonic stem cells (mouse) embryonic stem cells (human) macrophage-like cells (Drosophila) undifferentiated meristematic cells (tobacco) .Jenis sel asal hewan yang sering digunakan pada kultur sel CELL LINE* 3T3 293 BHK21 MDCK HeLa PtK1 L6 PC12 SP2 COS CHO DT40 (chick) R1 E14.1 H1.

Pembiakan virus pada kultur sel Kelebihan : ‡ Dapat memproduksi dalam jumlah banyak ‡ Semua jenis virus dapat dibiakan pada kultur sel( tergantung jenis selnya) Kekurangannya : ‡ Biaya lebih mahal ‡ Pengerjaan harus aseptis ‡ Perlu peralatan yang lebih kompleks dibanding pembiakan pada telur .

Pembiakan virus pada hewan percobaan ‡ Sudah jarang dilakukan terkait dengan kesejahteraan hewan ‡ Penelitian sudah demikian maju. . sudah banyak jenis kultur sel yang dapat digunakan untuk menumbuhkan virus.

. Suhu dan Temperatur ‡ Sebagian besar virus sangat labil dan dapat hidup diluar tubuh induk semang.REAKSI VIRUS TERHADAP AGEN FISIK & KIMIA 1. Beberapa virus ada yang stabil pada temperatur kamar serta dapat hidup dalam waktu yang cukup lama. Misalnya virus Pox. ‡ Di dalam laboratorium harus diusahakan agar suspensi virus dan jaringan tubuh yang mengandung virus secepatnya disimpan pada suhu -40°C atau akan lebih bagus pada suhu 70°C.

.‡ Pengawetan virus yang terbaik adalah melalui proses pengeringan dalam keadaan beku. Kebanyakan virus dapat disimpan berbulanbulan bahkan bertahun-tahun pada ampul gelas hampa udara dalam nitrogen cair (196°C) atau pada suhu -70°C sampai -90°C (untuk virus beramplop). yang disebut dengan freeze drying.

Sejumlah virus dapat diinaktifkan oleh proses pembekuan pencairan (feezing-thawing).‡ Material penyakit yang mengandung virus harus ditempatkan dalam tabung tertutup kedap udara bila didinginkan dengan CO2 padat (es kering) untuk menghindari perusakan virus oleh gas CO2. . ‡ Sebagian besar virus dapat diinaktifkan pada suhu 56°C selama 30 menit atau 100°C selama beberapa detik karena terjadi proses denaturasi virus.

2. . oleh karena itu sangat efektif untuk membasmi virus. ‡ Asam kuat dan basa kuat menyebabkan denaturasi protein virus. Misalnya Natrium hidroksida 2% (caustic soda) digunakan untuk desinfeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Perubahan pH ‡ Secara umum sebagian besar virus tetap hidup pada pH 5-9 akan tetapi virus akan cepat rusak atau inaktif pada pH yang terlalu asam atau terlalu basa.

2800-3150A. dan kurang dari 2800A.3. . Radiasi Ultraviolet ‡ Sinar matahari langsung mematikan mikroorganisme karena mengandung sinar ultraviolet. ‡ Sinar ultraviolet yang kurang dari 2800A. Berdasarkan panjang gelombangnya sinar ultraviolet dapat dikelompokkan menjadi: 3150-4000A. mempunyai efek fermisidal (merusak mikroorganisme) dan dapat menyebabkan peradangan kulit (erythema) dan peradangan mata (conjunctivis).

‡ Hanya RNA yang dapat diinaktifkan dengan formalin . Formaldehid ‡ Larutan formaldehid. yaitu formalin yang banyak digunakan untuk pembuatan vaksin inaktif.4.

6.5. fosfolifase. . Untuk meningkatkan daya penetrasi deterjen dapat dicampur dengan formalin atau glutaraldehid. dan bahan pelarut lemak lainnya. kloloform. natrium deoksikolat. Pelarut Lemak Virus-virus yang mengandung lemak pada amplopnya dapat diinaktifkan oleh : ether. Deterjen Untuk melarutkan virus beramplop dan sebagai pembersih alat-alat laboratorium.

oksidasi ethylene.Metode dan bahan kimia yang berbeda digunakan untuk keperluan inaktivasi yaitu: A.propiolakton. B. C. Produksi vaksin : formaldehid. iodophore D. formaldehid. ethanol 70%. gluataraldehid.irradiasi sinar g.pemanasan kering. Sterilisasi : Tekanan uap. .asam pirasetik. Disinfeksi kulit : Klorheksidin. Disinfeksi permukaan : natrium hipoklorin.

. Untuk menyimpan virus dalam waktu lama ( berbulan-bulan atau sampai bertahuntahun) digunakan temperatur -70 C (dalam freezer) atau -196 C (dalam tabung berisi nitrogen cair). keuntungan penyimpanan virus dalam suhu ini ialah dapat menghindari proses pembekuan dan pencairan (freeze thawing) suspensi virus yang dapat merusak partikel virus.CARA MENGAWETKAN VIRUS 1.Temperatur Kebanyakan virus tahan hidup selama beberapa hari dalam temperatur 4 C .

Bila virus tersebut Cell associated. bahan kimia yang dapat dipakai untuk mengurangi kerusakan virus adalah DMSO dengan konsentrasi 10% b. pada media penyimpanan virus ditambahkan pula serum sampai 10% untuk menjaga keutuhan sel. Bahan Kimia a.2. disamping DMSO 10%. Gliserol sebagai alkohol polihidrat dapat menstabilkan dinding sel dan partikel virus. . Jika virus disimpan pada temperatur -70 C. Pada konsentrasi 50% gliserol digunakan untuk mengawetkan virus pox dan sel epitel yang mengandung virus PMK. c.

.3. Proses Kering Beku Cara ini juga disebut liofilisasi dan merupakan yang terbaik dalam mengawetkan virus. Virus yang sudah kering beku dapat disimpan dalam temperatur 4 C selama berbulan-bulan. Metode ini digunakan dalam penyimpanan vaksi aktif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->