P. 1
Laporan-Plan-Visit-2009

Laporan-Plan-Visit-2009

|Views: 5,644|Likes:
Published by canpy
laporan PKL
laporan PKL

More info:

Published by: canpy on Feb 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2015

pdf

text

original

Program Studi Teknik Industri
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

14

Laporan Plan visit Industrial Engineering UNDIP 2009
Angkatan 2007
PT. Djarum Kudus

Dalam era teknologi dan persaingan pasar yang makin ketat sekarang ini, limpahan informasi
dan terbukanya peluang untuk mengakses informasi membuat konsumen makin kritis dalam
memilih produk. Agar dapat unggul dalam persaingan, salah satu jalan yang ditempuh oleh
perusahaan adalah dengan kemampuan mengelola dan menyampaikan informasi kepada
konsumennya dimana salah satu wujudnya adalah melalui kegiatan pengiklanan (advertising).

Advertising yang tepat sasaran (efektif) dapat digunakan oleh perusahaan/ produsen dan biro
iklan untuk mempengaruhi persepsi dan preferensi konsumen terhadap berbagai merek produk di
pasar yang pada akhirnya juga menjadi salah satu faktor penting dalam proses pengambilan
keputusan oleh konsumen untuk memilih produk. Selain sebagai alat penyampaian pesan
(informasi), advertising yang dilakukan haruslah mampu bersaing dengan berbagai kegiatan
periklanan perusahaan pesaing serupa untuk memenangkan minat konsumen serta
mempertahankan image perusahaan itu sendiri.

Dari sisi konsumen, iklan (advertising) sendiri dipandang sebagai suatu media penyedia
informasi tentang kemampuan, harga, fungsi produk, maupun atribut lainnya yang berkaitang
dengan suatu produk (Durianto:2003). Sebaik apapun kualitas suatu produk jika tidak diikuti
dengan informasi yang tepat tentang keberadaan produk tersebut di pasar (market), maka kecil
sekali peluang bagi produk untuk dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen. Dengan informasi
sempurna yang dimiliki konsumen akan keadaan pasar dan produk-produk di dalamnya maka akan
berpengaruh terhadap tingkat persaingan di pasar, dan sebaliknya keterbatasan informasi akan
kondisi (harga, kualitas, dll) produk-produk di pasar menyebabkan tiap-tiap produsen memiliki
kurva demand (permintaan) yang menunjukkan kemiringan negatif yang mampu menimbulkan
market power (kuasa pasar) bagi setiap produsen.

Kenyataan tersebut bukannya tidak disadari oleh PT Djarum, yang tepat pada penghujung
tahun 2005 kemarin telah meluncurkan produk barunya Djarum Super Mezzo, atau yang
selanjutnya lebih dikenal dengan nama Mezzo saja. Dalam peluncuran produk terbarunya itu PT
Djarum berusaha menonjolkan kesan mewah dan elegan yang dapat diketahui dari pemilihan
tempat, yaitu tepat di atap plaza Semanggi Jakarta dan dengan mengundang beberapa musisi papan
atas ibukota seperti DEWA, Ten2Five, dan Dewi Sandra untuk memeriahkan acara peluncuran
yang bertajuk “Djarum Super Mezzospere a Lift of Live” tersebut .Kesan elegan yang ditunjukkan

Program Studi Teknik Industri
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

15

Laporan Plan visit Industrial Engineering UNDIP 2009
Angkatan 2007
PT. Djarum Kudus

Mezzo juga dapat dilihat dari kemasannya yang terlihat eksklusif dan menggunakan teknik “hot
stamping
“, dimana di Indonesia hanya dipakai oleh Djarum Super Mezzo. PT Djarum sendiri
menempatkan Mezzo pada market dikalangan muda kota besar dengan karakteristik gaya hidup
stylish dan dinamis khas eksekutif muda metropolitan.

Mezzo, yang sejak 28 November 2005 telah tersedia di pasar kota-kota besar, adalah rokok
kretek mild (kretek filter low tar dan nikotin) dan termasuk dalam jajaran premium brand dari
Djarum Super. Adapun sebagai pendatang atau produk baru dalam pasar rokok kelas mild, Djarum
Mezzo akan menghadapi persaingan dengan para pemain lama produk rokok mild, semisal: A Mild
milik PT Sampoerna (yang menjadi pelopor munculnya rokok mild di Indonesia), Star Mild dan X
Mild milik Bentoel, Marlboro Light, Gudang Garam Nusantara, Wismilak dengan Wismilak Light,
dsb. serta belum lagi rokok-rokok mild segmen menengah ke bawah yang muncul di daerah
tertentu saja. Bahwa sebagaimana umumnya produk baru, maka produsen akan berusaha
menginformasikannya ke pasar melalui kegiatan promosi. Begitu juga bagi PT Djarum dalam
mempromosikan Djarum Mezzo yang salah satu sarana promosinya adalah melalui periklanan
(advertising) dengan media iklan televisi.

Dari lima bauran promosi, menurut Durianto (2003) yaitu Periklanan, Promosi Penjualan,
Personal Selling, Public Relations, maupun Direct Marketing; Periklanan (advertising) seringkali
menjadi perhatian penting karena selain posisinya yang strategis (mampu menjangkau konsumen
secara luas) juga memerlukan biaya yang cukup besar. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan
untuk periklanan (terutama iklan di media televisi) menjadikan perusahaan harus berhati-hati dan
lebih bijak dalam membelanjakan dananya serta memperoleh suatu efisiensi.

Yang terjadi dalam prakteknya adalah seringkali sebuah iklan menjadi sumber pengeluaran
yang besar tanpa mampu memberikan return yang memuaskan, ketika produk mereka gagal di
pasaran. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa hanya sedikit pemirsa yang mampu menerima
perhatian dan pemahaman pesan iklan dari ratusan iklan yang ditayangkan setiap hari. Belum lagi
dengan banyaknya stasiun televisi (baik swasta atau negri) yang ada, dan fenomena berpindah-
pindah saluran (zapping) yang seringkali muncul. Kecenderungan ini terjadi pada hampir seluruh
golongan audience termasuk pada mahasiswa yang merupakan salah satu golongan audience
tersebut.

Program Studi Teknik Industri
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

16

Laporan Plan visit Industrial Engineering UNDIP 2009
Angkatan 2007
PT. Djarum Kudus

Hambatan lain yang muncul adalah dari aspek hukum, dimana untuk iklan rokok di Indonesia
dibatasi oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP RI) No. 81 tahun 1999 dan diperbarui
dengan PP RI No.38 tahun 2000 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Peraturan Pemerintah
(PP) tersebut membatasi perusahaan produsen rokok di Indonesia sehingga tidak dapat dengan
bebas melakukan kegiatan kampanye periklanan dan komunikasi pemasaran atas produk yang
dihasilkannya. Di dalam Peraturan Pemerintah tersebut mengatur tentang pembatasan kegiatan
periklanan dan promosi yang antara lain berisi: pelarangan pemberian produk secara gratis
(sampling tester), ketentuan materi iklan untuk produk rokok, dan ketentuan penggunaan media
iklan. Sedangkan media iklan yang dapat digunakan yaitu media luar ruangan (outdoor) dan media
elektronik.

Iklan rokok pada media elektronik sendiri hanya dapat dilakukan pada pukul 21.30 s/d 05.00
waktu setempat. Tetapi jeda waktu yang ditetapkan itu semakin pendek, karena adanya himbauan
pemerintah tentang penghematan energi listrik, maka efektifitas terjadi hanya pada pukul 21.30 s/d
01.00 waktu setempat. Melalui PP (Peraturan Pemerintah) tersebut, pemerintah juga melarang
pengiklan untuk menampilkan rokok dalam bentuk aslinya. Karena itu jika kita mengamati ratusan
iklan yang muncul, ditayangkan di televisi setiap hari, iklan rokok tampil lebih sebagai anomali.
Jika iklan produk lain tampil begitu vulgar, pesan yang sampai begitu segar dan jelas, iklan rokok
justru bersembunyi, pesan lebih sebagai penyiasatan. Akibatnya, pesan datang dengan cara yang
melingkar, memainkan kekuatan gambar dan imajinasi. Maka tidak heran jika dalam iklan rokok,
kreativitas mendapat ujian yang paling tinggi.

Mengingat besarnya biaya yang harus ditanggung produsen pada awal kemunculan suatu
produk dan adanya Peraturan Pemerintah RI (Republik Indonesia) tentang pembatasan periklanan
dan promosi terhadap produk rokok maka perlu dikaji efektivitas iklan televisi yang ditayangkan
yang biasanya menggunakan beberapa model atau metode dengan pertimbangan konsumen hidup
dalam lingkungan yang kompleks yang mengarah pada kompleksitas perilaku mereka. Dengan
menggunakan suatu model penelitian efektifitas iklan dapat dijelaskan secara sederhana perilaku
konsumen yang kompleks tersebut.

Durianto (2003), menyebutkan bahwa terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk
melihat efektifitas suatu iklan televisi berdasarkan dampak komunikasi yang ditimbulkan, yaitu:

Program Studi Teknik Industri
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

17

Laporan Plan visit Industrial Engineering UNDIP 2009
Angkatan 2007
PT. Djarum Kudus

CRI (Customer Response Index), DRM (Direct Rating Method), EPIC Model, dan CDM
(Consumer Decision Model).
Dalam EPIC Model memisahkan empat dimensi kritis sebuah iklan
yaitu Empathy, Persuation, Impact, dan Communication untuk kemudian dianalisa guna melihat
efektifitas masing-masing dimensi tersebut secara terpisah sehingga dapat diketahui pada dimensi
yang manakah sebuah iklan memiliki kelemahan dalam pencapaian tujuannya, serta selanjutnya
dibuat strategi baru untuk memperbaikinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->