Delik-Delik Khusus

MONEY LOUNDRY BAGIAN I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencucian uang adalah proses pengubahan dana ilegal menjadi dana dan aset yang sah. Dana berasal dari perdagangan narkoba, penggelapan pajak, penyelundupan, pencurian, terorisme, perdagangan senjata, praktek korupsi dan aktivitas ilegal lainnya. Peran dan kekuatan pelaku kejahatan secara substansial meningkat dengan melakukan pencucian uang. Problematik pencucian uang yang dalam bahasa Inggeris dikenal dengan nama ³money laundering´ sekarang mulai dibahas dalam buku-buku teks, apakah itu buku teks hukum pidana atau kriminologi. Ternyata problematik uang haram ini sudah meminta perhatian dunia internasional karena dimensi dan implikasinya yang melanggar batas-batas negara. Sebagai suatu fenomena kejahatan yang menyangkut terutama dunia kejahatan yang dinamakan ³organized crime´, ternyata ada pihak-pihak tertentu yang ikut menikmati keuntungan dari lalulintas pencucian uang tanpa menyadari akan dampak kerugian yang ditimbulkan. Erat bertalian dengan hal terakhir ini adalah dunia perbankan yang pada satu pihak beroperasional atas dasar kepercayaan para konsumen, namun pada pihak lain, apakah akan membiarkan kejahatan pencucian uang ini terus merajalela. Dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, UndangUndang No. 15 Tahun 2002, pengertian bank dirumuskan secara luas dalam Pasal l butir 4, yaitu : Penyedia Jasa Keuangan adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek, pengelola reksa dana, kustodian, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, pedagang valuta asing, dana pensiun, dan perusahaan asuransi. Ada pelbagai perumusan bertalian dengan makna pencucian uang atau ³money laundering´. Pada dasarnya perumusan itu menyangkut suatu proses pencucian uang yang diperoleh dari kejahatan dan dicuci melalui suatu lembaga keuangan (bank) atau penyedia jasa keuangan, sehingga pada akhirnya uang yang haram itu mendapatkan suatu penampilan sebagai uang yang sah atau halal. Dalam Pasal 2 dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dirumuskan : Hasil tindak pidana adalah harta kekayaan yang berjumlah Rp 500 juta atau lebih atau nilai yang setara, yang diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari kejahatan : a. korupsi b. penyuapan c. penyeludupan barang d. penyeludupan tenaga kerja e. penyeludupan imigran

000. perdagangan budak. Sejumlah karakteristik yang umumnya melekat pada White Collar Crime menurut Hazel .00 (lima belas milyar rupiah). atau menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. penggelapan o. baik atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. narkotika h. terorisme m.000. baik perbuatan itu atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. menghibahkan atau menyumbangkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.000.000.wanita dan anak j. membawa ke luar negeri harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana menukarkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dengan mata uang atau surat berharga lainnya. baik atas nama sendiri maupun atas nama pihak lain. penipuan yang dilakukan di wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Republik Indonesia dan kejahatan tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. menitipkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. perdagangan senjata gelap k. pencurian n.000. yaitu : (1) Setiap orang yang dengan sengaja : y y y y y y y y menempatkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana ke dalam Penyedia Jasa Keuangan. membayarkan atau membelanjakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1 ). psikotropika i. baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain. perbankan g. penculikan l.000.f. baik atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain.00 (lima milyar rupiah) dan paling banyak Rp 15. (2) Setiap orang yang melakukan percobaan. Teori-Teori Tindak pidana pencucian uang dirumuskan dalam Pasal 3 UU TPPU. Dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 5. B. pembantuan. mentransfer harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dari suatu Penyedia Jasa Keuangan ke Penyedia Jasa Keuangan yang lain.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyampaikan laporan palsu yang menyangkut pinjaman uang. dengan mengubah uang tunai menjadi aset fisik. cashiers cheques or securities and multiple electronic transfers of funds to so called `bank secrecy havens¶. barang-barang perhiasan dari emas atau batu-batu permata yang mahal. juga melalui ³invoices and income of shell corporations. Dengan ³placement´ dimaksudkan ³the physical disposal of cash proceeds derived from illegal activity´. fase pertama dari proses pencucian uang haram ini ialah memindahkan uang haram dari sumber di mana uang itu diperoleh untuk menghindarkan jejaknya. si penjahat harus mengintegrasikan dana dengan cara legitimasi ke dalam proses ekonomi yang normal. Metode yang paling penting dari ³placement´ ini adalah apa yang disebut sebagai ³smurfing´. Strategi ³layering´ pada umumnya meliputi. Dengan perkataan lain. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar. If the layering process has succeeded. maka ada tiga permasalahan yang harus ditangani. Yang ketiga adalah ³integration´. Setiap prosedur ³placement´ yang berarti mengubah lokasi fisik atau sifat haram dari uang itu adalah juga salah satu bentuk ³layering´. seperti kendaraan bermotor. such as Switzerland or the Caymen Islands´. Untuk itu akan dijelaskan di bawah ini tiga tahap pencucian uang : y y y Pertama. Hubungan antara ³placement´ dengan ³layering´ adalah jelas. atau ³real estate´.Croall (1992) sebagaimana dikutip oleh Harkristuti Harkrisnowo (2001) adalah sebagai berikut: y y y y y y Tidak kasat mata (low visibility) Sangat kompleks (complexity) Ketidakjelasan pertanggung jawaban pidana (diffusion of responsibility) Ketidak ielasan korban (diffusion of victims) Aturan hukum yang samar atau tidak ielas (ambiguous criminal law) Sulit dideteksi dan dituntut (weak detection and prosecution). Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini menggunakan dana yang begitu besar itu dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan yang menyangkut terutama narkotika. Melalui ³smurfing´ ini. or more simply through an electronic transfer of the funds from a bank secrecy haven back to the money¶s country of origin´. Dengan perkataan lain. Dengan ³integration´ dimaksudkan ³the provision of apparent legitimacy to criminally derived wealth. integration schemes place the laundered proceeds back into the economy in such a way that the re-enter the financial system appearing to be normal business funds´. Tahap yang kedua dinamakan ³layering´. antara lain. Atau secara lebih sederhana agar sumber uang tersebut tidak diketahui oleh pihak penegak hukum. apa yang dinamakan ³placement´. maka keharusan untuk melaporkan transaksi uang tunai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dikelabui atau dihindari. Dengan ³layering´ dimaksudkan ³separating illicit proceeds from their source by creating complex layers of financial transactions designed to disguise the audit trail and provide anonymity´. jika ingin . atau instrumen keuangan seperti ³money orders.

kerugian dapat mencapai US$ 3. Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime (No. 1988). Council Directive on Prevention of the Use of the Financial System for the Purpose of Money Laundering (June 10. UU 41/1999 tentang Kehutanan mendefinisikan paling sedikit 13 katagori aktivitas kejahatan yang terkait dengan kehutanan yang dapat dihukum minimal selama 5 tahun dan denda antara Rp. A.menggagalkan praktek kotor pencucian uang haram. Kejahatan kehutanan juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. 1990). dan efisiensi transaksi. Dengan memasukkan ³kejahatan kehutanan´ sebagai predicate offense didalam UU Perubahan terhadap UU 15/2002. Apa itu Kejahatan Kehutanan? Kejahatan kehutanan dapat terjadi dalam berbagai bentuk. per tahun (dan menurut beberapa perkiraaaan. Yang pertama ialah kerahasiaan bank. dan berbagai jenis kejahatan lainnya yang tidak unik hanya kepada sektor kehutanan. BAGIAN II PERMASALAHAN DPR and lembaga eksekutif Pemerintah Indonesia saat ini sedang merevisi UU 15/2002 mengenai tindak pidana pencucian uang. 20. Council of Europe Convention on Laundering. salah satu dari sekian banyak isue yang seharusnya dipertimbangkan oleh Pemerintahan Megawati dan DPR adalah bagaimana menggunakan UU anti pencucian uang untuk mengendalikan aktivitas ilegal di sektor kehutanan.4 miliar). penyuapan. atau US$ 1 miliar. diperkirakan merugikan negara paling sedikit sebesar Rp 9 trilliun. Mereka melakukan ini sebagai respon terhadap tekanan dari Financial Action Task Force (FATF). sebuah lembaga antar negara yang memonitor implementasi undang-undang anti pencucian uang pada sektor keuangan secara global. yang merupakan kejahatan kehutanan yang paling menonjol. Kejahatan kehutanan ini sering dikaitkan dengan korupsi. Beberapa dari aktivtias tersebut diantaranya adalah: . Dalam pembahasan revisi UU 15/2002 ini. Pemerintah Indonesia saat ini terlibat dalam berbagai inisiatif kerjasama bilateral dan multilateral untuk memerangi pembalakan liar dan jenis-jenis kejahatan kehutanan lainnya. Pembalakan liar.5-10 miliar. Beberapa instrumen internasional yang erat kaitannya dengan pengaturan mengenai Money Laundering adalah : y y y United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Dec. penggelapan pajak. pemerintah Indonesia dapat melakukan langkah yang sangat strategis ± dan menjadi preseden secara global ± untuk meningkatkan governance baik di sektor kehutanan maupun di sektor keuangan.1991). kejahatan perbankan. Di Indonesia. termasuk kehilangan ekosistem kehutanan dan berbagai jenis satwa langka. Tahun lalu FATF mengumumkan bahwa mereka akan menerapkan sanksi kepada Indonesia jika UU 15/2002 tidak diperbaiki sehingga memenuhi standar internasional. Search. kerahasiaan financial secara pribadi. European Communities Directive.8.

dan pegawai Bea Cukai. B. . Bank. broker kayu ilegal. Beberapa produser pulp dan kertas di Indonesia telah melakukan tindak pidana kejahatan perbankan dengan melakukan mark-up biaya investasi mereka. Menggunakan atau menempati sebagian dari Kawasan Hutan tanpa persetujuan Menteri. Perusahaan kayu sering terlibat didalam penggelapan pajak atau tax evasion dengan melaporkan penebangan kayu yang lebih rendah dari seharusnya. adalah sebuah kegiatan kriminal yang sangat menyebar luas dimana oknum pegawai pemerintah menerima secara rutin uang suap sebagai imbalan untuk pemberian hak konsesi dan izin pemanfaatan hasil hutan. penduduk lokal yang terlibat didalam penebagan informal. Korupsi.¶ Di Indonesia. misalnya. Mengangkut hasil hutan tanpa dokumen yang syah. Di hampir semua propinsi yang kaya hutan. secara umum diperkirakan antara 60 sampai 80 persen dari 60 sampai dengan 70 juta m3 kayu yang dikonsumsi oleh industri kayu domestik setiap tahun diperoleh secara ilegal. Terlibat didalam kegiatan yang mendukung degradasi hutan. Peran yang dimainkan bank Sering sekali diasumsikan bahwa pembalakan liar di Indonesia dilakukan oleh aktor berskala kecil yang bekerja secara tunai (cash basis) dengan sedikit kebutuhan untuk memperoleh pembiayaan. Menebang pohon dalam batas 500 meter dari tepi waduk atau danau. Membawa peralatan berat ke kawasan hutan tanpa memiliki izin. Sampai sejauh ini bentuk kejahatan kehutanan yang paling menonjol adalah aktivitas yang dikenal sebagai µpembalakan liar. Memanen hasil hutan tanpa memiliki izin atau hak. Penyelundupan juga sangat menonjol di sektor kehutanan yang terlihat dari besarnya volume kayu dan hasil hutan lainnya yang dikirimkan keluar Indonesia tanpa dilengkapi surat-surat yang syah. Pada umumnya pembalakan liar dan berbagai kejahatan kehutanan terkait langsung dengan aktivitas kriminal yang tidak unik hanya kepada sektor kehutanan. eksportir. Pada kenyataannya. pembalakan liar melibatkan berbagai oknum termasuk: pegawai yang korup.v v v v v v v v v Merusak infrastruktur yang digunakan untuk perlindungan hutan. bank dan lembaga keuangan lainnya memainkan peran penting dalam menyediakan dana untuk kegiatan kehutanan yang legal dan tidak legal. personel TNI dan polisi. pemegang hak konsensi hutan yang beroperasi diluar kontrak HPH mereka. Menambang didalam kawasan hutan tanpa izin Menteri. dan jasa pengangkutan. Membakar hutan.

dan pembiayaan perdagangan.3 miliar. penjaminan penerbitan obligasi dan surat berhaga komersial.misalnya. v Menteri Kehutanan menderita kerugian sebesar US$ 1 miliar per tahun akibat terjadinya pembalakan liar. v Sebelum dilakukan penjualan. secara rutin memberikan modal kerja untuk aktivitas pembalakan. Seperti diperlihatkan oleh angka-angka dibawah ini. pinjaman jangka panjang untuk fasilitas pemrosesan kayu. pembiayaan pembangunan hutan tanaman. BPPN menguasai hutang perusahaan kehutanan senilai US$ 3 miliar dan US$ 8. Sebelum terjadinya krisis keuangan tahun 1997. perhatikan contoh hipotesis berikut ini. Pencucian Uang Terjadi di Sektor Kehutanan Untuk lebih memahami bagaimana proses pencucian uang terjadi di sektor kehutanan di Indonesia. ketiga perusahaan ini menerapkan starategi yang berbeda.5 miliar dalam bentuk aset kehutanan yang digadaikan. dan Taiwan melalui perusahaan pemasaran Indonesia yang berlokasi di Hong Kong. hampir seluruh konglomerat kehutanan di Indonesia memiliki bank mereka sendiri. Dalam banyak hal. Perusahaan pemasaran melakukan layering dengan mengalihkan penerimaan uangnya melalui sebuah bank di Cayman Island. v Bank Mandiri saat ini menguasai hutang perusahaan kehutanan senilai US$ 1. Sedangkan perusahaan plywood mengintegrasikan keuntungannya kedalam aktivitas bisnis legal dengan melakukan investasi disebuah kawasan wisata di Bali. disamping tentunya menerima deposit dari perusahaan kehutanan. Perusahaan kayu menempatkan hasil tindak pidana kedalam sistem keuangan dengan mendepositokan kedalam sebuah rekening bank dengan nama fiktif. pembelian hutang perusahaan. kondisi ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan kehutanan yang ilegal dan merupakan kendaraan yang dapat digunakan untuk memanipulasi transaksi keuangan yang terkait dengan investasi di sektor kehutanan. Perusahaan plywood ini menjual panel kayu kepada pembelinya di China. jumlah uang yang keluar dan masuk sektor kehutanan di Indonesia sangatlah besar : v Industri kehutanan menghasilkan ekspor senilai lebih dari US$ 5 miliar per tahun. Korea Selatan. . v Lebih dari US$ 15 miliar telah diinvestasikan di sektor pulp dan kertas sejak akhir tahun 1980-an. Untuk menyamarkan kenyataan bahwa keuntungan perusahaan berasal dari kegiatan ilegal. Sebuah perusahaan plywood di Propinsi Riau membeli bahan baku kayu dari perusahaan kayu yang tidak memiliki izin pemanfaatan hasil hutan dan melakukan pembalakan liar di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. C. Pegawai-pegawai perusahaan kayu dan perusahaan plywood serta perusahaan pemasaran di Hong Kong menyadari bahwa kayu yang digunakan untuk membuat panel kayu berasal dari pembalakan liar.

Hal ini tidak hanya dapat diterapkan kepada perusahaan kayu dan plywood yang berada di Indonesia.´ Kenyataan bahwa hampir 70 persen kayu di Indonesia diperoleh dari sumber yang ilegal memunculkan pertanyaan penting tentang apa yang tergolong µtransaksi mencurigakan¶ di sector kehutanan. perusahaan yang terlibat telah mengambil langkah-langkah untuk membuat uang yang berasal dari kegiatan ilegal nampak seolah-olah berasal dari sumber yang syah. 3) Pemerintah akan memiliki alat baru untuk menegakkan peraturan kehutanan dan keuangan: Memasukan kejahatan kehutanan didalam predicate offense akan memperluas pilihan penegakan hukum untuk memutuskan sumber pembiayaan bagi kegiatan pembalakan liar. Manfaat Mengkaitkan Hutan Dengan Pencucian Uang Ada berbagai cara untuk mengkaitkan tindak pidana kehutanan dengan dengan tindak pidana pencucian uang. Jika lembaga keuangan terbukti membantu proses penyamaran asal dana yang diperoleh secara ilegal ini. . akan tetapi juga kepada perusahaan pemasaran Indonesia yang berada di Hong Kong. Memasukkan kejahatan kehutanan dan kejahatan lingkungan didalam UU perubahan atas UU 15/2002 tentunya adalah langkah yang paling efektif untuk mencapai hal tersebut. Jika µkejahatan kehutanan¶ secara spesifik masuk kedalam daftar predicate offense pada UU tindak pidana pencucian uang Indonesia. Disektor kehutanan khususnya. Dalam konteks ini. secara konseptual bank dapat diwajibkan untuk memperlakukan setiap transaksi yang melibatkan aktivitas kehutanan sebagai salah satu bentuk µtransaksi mencurigakan¶ ± paling tidak sampai perusahaan kehutanan memberikan bukti sebaliknya.Didalam ketiga kasus diatas. 2) Bank diminta untuk memonitor dan melaporkan transaksi yang mencurigakan: UU 15/2002 mendefinisikan transaksi mencurigakan sebagai: ³transaksi yang menyimpang dari profil dan karakteristik serta kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan. pemerintah dapat juga menuntut lembaga keuangan yang membiayai kegiatan pembalakan liar. masing-masing perusahaan dapat dituntut terlibat pencucian uang. mereka juga dapat dituntut terlibat tindak pidana pencucian uang. Hal ini pada gilirannya akan mengarah kepada peningkatan yang besar didalam tingkat transparansi dan akuntabilitas perusahaan di sektor kehutanan. BAGIAN III ANALISIS A. Manfaat mengkaitkan tindak pidana kehutanan dengan tindak pidana pencucian uang diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Bank akan meningkatkan praktek due diligence dalam memberikan pinjaman disektor kehutanan: peraturan µKnow Your Customer¶ meminta bank untuk menentukan apakah pelanggan terlibat didalam kegiatan ilegal atau tidak. Disamping menuntut aktor yang secara langsung terlibat didalam pembalakan liar. bank memiliki kewajiban untuk mengambil tindakan terhadap pelanggan yang diketahui menggunakan kayu dari pembalakan liar. termasuk transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan sesuai dengan ketentuan UU.

under-reporting dan undervaluing kayu dan misklasifikasi spesies kayu 6. Mark up nilai jasa dan produk yang diterima dari grup perusahaan sendiri untuk mengurangi besarnya laba dan pajak perusahaan 5. Sampai UU diratifikasi oleh DPR. Dibawah FATF. Memanipulasi pembayaran hutang piutang kepada group perusahaan sendiri untuk mengurangi laba dan menghindari pajak perusahaan 4. tanpa memperhatikan apakah mereka melakukannya di Indonesia atau diluar negeri. Tidak membayar kepada kreditur dengan memindahkan arus kas perusahaan ke bisnis yang lain. sering terjadi kayu yang ditebang dan uang yang dihasilkan dari kayu tersebut dikirim keluar negeri. Pada awal Juni. Menyatakan harga jual produk kayu dibawah harga pasar untuk melaporkan laba yang kecil atau rugi Menyatakan harga input produk kayu yang jauh diatas harga pasar untuk mengurangi laba atau melaporkan rugi 2. Tidak membayar DR dan PSDH dan kewajiban negara lainnya C. Perlunya Kepemimpinan dari Menteri Kehutanan Sejak April 2003. Berbeda dengan UU kehutanan. under measuring.4) Ketentuan hukum baru akan tersedia untuk penegakan hukum dan penuntutan: Untuk kegiatan pembalakan liar. CIFOR telah terlibat dalam seri diskusi dengan Unit Intelejen Keuangan pemerintah Indonesia (PPATK) untuk mengupayakan tercantumnya kejahatan kehutanan didalam UU perubahan atas UU 15/2002. penegakan hukum tindak pidana pencucian uang juga difasilitasi melalui kerjasama dengan negara lain. Saat ini sangat dibutuhkan adanya kepemimpinan dari Menteri Kehutanan atas isue ini untuk memastikan kejahatan kehutanan tercakup dalam UU perubahan atas UU 15/2002 pada saat diratifikasi nanti. Tidak membayar DR dan PSDH dengan benar dengan under-grading. akan sangat berguna jika Menteri mengkomunikasikan dengan PPATK dan dengan Komisi II DPR . B. Secara khusus. Macam-Macam Kejahatan Keuangan Kehutanan 1. UU tindak pidana pencucian uang akan memungkinkan pemerintah Indonesia menuntut warga negara Indonesia yang mungkin terlibat didalam kegiatan pencucian uang. 3. PPATK memasukkan µkejahatan dibidang kehutanan¶ dan kejahatan dibidang lingkungan¶ didalam daftar predicate offense didalam rancangan UU perubahan yang telah diserahkan kepada DPR untuk diratifikasi. Menteri Kehutanan menempati posisi unik untuk mengkomunikasikan apa implikasi bagi penegakan hukum dan governance dibidang kehutanan jika kejahatan kehutanan dimasukkan sebagai predicate offense pencucian uang.

Peraturan KYC mewajibkan bank dan penyedian jasa keuangan lainnya untuk mengidentifikasi indetitas nasabah. Menteri Kehutanan perlu bekerja sama secara erat dengan PPATK dan lembaga keuangan kunci lainnya di Indonesia dan regulator untuk memastikan UU anti pencucian uang diterapkan secara efektif disektor kehutanan. . Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan µknow your customer¶ (KYC) untuk perbankan. maka ada tiga permasalahan yang harus ditangani. Menteri Kehutanan memegang peran penting untuk membantu bank dan lembaga keuangan lainnya untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan µaktivitas mencurigakan¶ di sektor kehutanan. transfer. tanda. 20. Beberapa instrumen internasional yang erat kaitannya dengan pengaturan mengenai Money Laundering adalah : y y United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Dec. informasi yg diucapkan. dan melaporkan transaksi mencurigakan ke PPATK.8. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar. Sementara Bapepam mengeluarkan aturan serupa untuk perusahaan sekuritas dan Dirjen Lembaga Keuangan telah mengeluarkan peraturan untuk lembaga keuangan bukan bank. dan bagaimana aktivtas ini dimonitor. alat optik atau sejenis. Yang pertama ialah kerahasiaan bank. Lembaga ini termasuk Bank Indonesia. memonitor transasksi nasabah. diterima. suara. 1990). peta. dan efisiensi transaksi. dikirimkan. atau penukaran) harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. kerahasiaan financial secara pribadi. sumbangan. hibah. Council of Europe Convention on Laundering. rancangan. penitipan. atau Disimpan secara elektronik. Setelah diratifikasi. jika ingin menggagalkan praktek kotor pencucian uang haram. 1988). Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime (No. gambar. atau perforasi Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini menggunakan dana yang begitu besar itu dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan yang menyangkut terutama narkotika. foto. pembayaran.tentang pentingnya penerapan UU anti pencucian uang untuk mengendalikan pembalakan liar. BAGIAN IV KESIMPULAN Tindak Pidana Pencucian Uang adalah Setiap orang yang menerima atau menguasai hasil transaksi (penempatan. Bapepam dan Dirjen Lembaga Keuangan Departemen Keuangan. tulisan. Search. Alat Bukti Pemeriksaannya: sesuai hukum acara pidana. angka. huruf. simbol.

PPATK/2003 Tentang Pedoman Umum Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang bagi Penyediaan Jasa Keuangan Peraturan Bank Indonesia No.2/1/KEP. Departemen Kehutanan UU No.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.y European Communities Directive.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Studi Penerapan Sanksi Pidana Kehutanan. REFERENSI y y y y y Keputusan Kepala PPATK No. Bab III Analisis Pasal-Pasal Pidana Kehutanan dalam Peraturan Perundang-Undangan Terkait. Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan .1991). Council Directive on Prevention of the Use of the Financial System for the Purpose of Money Laundering (June 10.3/10/PBI/2001 Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) Rancangan UU Tentang Perubahan Atas UU No.