P. 1
ppd

ppd

|Views: 20|Likes:
Published by izascribd

More info:

Published by: izascribd on Feb 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2012

pdf

text

original

8

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Analisis Kontrastif
Secara umum memahami pengertian analisis kontrastif dapat ditelusuri
melalui makna kedua kata tersebut. Analisis diartikan sebagai semacam
pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses atau
cara membahasa yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu yang memungkinkan
dapat mengetahui inti permasalahannya. Permasalahan yang ditemukan itu
kemudian dikupas, dikritik, diulas dan akhirnya disimpulkan untuk dipahami.
Moeliono (1988 : 32) menjelaskan bahwa analisis adalah penguraian suatu pokok
atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar
bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Sedangkan kontrastif diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan antara dua hal.
Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti, dipahami.
(Moeliono) menjelaskan bahwa kontrastif diartikan sebagai bersifat
membandingkan perbedaan. Istilah kontrastif lebih dikenal dalam ranah
kebahasaan (linguistik). Sehubungan dengan ini kemudian muncul istilah
linguistic kontrastif yang merupakan cabag ilmu bahasa. Linguistik kontrastif
membandingkan dua bahasa dari segala komponennya secara sinkronik sehingga
ditemukan perbedaan-perbedaan dan kemiripan-kemiripan yang ada. Dari hasil
penemuan itu dapat diduga adanya penyimpangan-penyimpangan, pelanggaran-
pelanggaran, atau kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan para
dwibahasawan (orang yang mampu menggunakan dua bahasa secara baik).
9



Analisis Kontrastif yang juga disebut analisis bandingan merupakan kajian
linguistik yang bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan dua
bahasa yang berbeda. Pendeskripsian dan persamaan tersebut, akan bermanfaat
untuk pengajaran kedua bahasa, sebagai bahasa ke dua (bahasa asing). Suatu
metode analisis pengkajian kontrastif ini menunjukan kesamaan dan perbedaan
antara dua bahasa dengan tujuan untuk menemukan prinsip yang dapat diterapkan
pada masalah praktis dalam pengajaran bahasa atau terjemahannya.
Kesimpulannnya linguistik kontrastif merupakan salah satu cabang
linguistik yang fungsinya mengontraskan dua bahasa atau lebih tidak serumpun
dan linguistik kontrastif dapat membantu kesulitan yang mungkin dialami
seseorang dalam mengajarkan bahasa yang berbeda rumpun bahasanya, ataupun
bagi seseorang yang belajar bahasa asing yang rumpun bahasanya berbeda.

2.2 Pengertian Bahasa
Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat
kornunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia.
Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata.
Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai
lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosa kata
itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai
penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon.
Ada sepuluh pengertian bahasa menurut para ahli yang diantaranya
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian
bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara
10



anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol
vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Lain halnya menurut Owen dalam
Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a
socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of
those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara
sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan
simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh
ketentuan).
Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan
(1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu
sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa
adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh
alat ucap manusia secara sadar. Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan
bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem
lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-
sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.
Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12). Menurut Wibowo
(2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi
(dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai
sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan
dan pikiran. Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4),
11



mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif
untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang
lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin
(1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang
dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-
perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua,
bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk,
tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Sementara Pengabean (1981:5), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem
yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono
(1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting
dalam hidup bersama.
Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau
kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk
mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus memilih kata-kata
yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat
aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai
pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa.

12



Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan
informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga
berfungsi :
1) untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-
hari.
2) untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa
dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
3) sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar
pengetahuan kebahasaan.
4) untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang
sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat, serta
perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).
Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh
dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan.
Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya
tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target
komunikasi.
Selain dengan gesture dan mimik, menghargai lawan bicara juga dapat
dilakukan dengan penggunaan Basa lemes yang dapat ditemui pada beberapa
bahasa, yaitu salh satunya bahasa jepang dan bahasa sunda.
Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara
bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih
13



digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki
bahasa sendiri.
Dikatakan oleh para ahli budaya, bahwa bahasalah yang memungkinkan
kita membentuk diri sebagai makhluk bernalar, berbudaya, dlan berperadaban.
Dengan bahasa, kita membina hubungan dan kerja sama, mengadakan transasi,
dan melaksanakan kegiatan sosial dengan bidang dan peran kita rnasing-masing.
Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa larnpau, rnenghadapi hari ini, dan
merencanakan masa depan.

2.3 Ragam Bahasa
Kridalaksana (1982:184) mendefinisikan ragam bahasa sebagai variasi
bahasa menurut hubungan pembicara, lawan bicara dan menurut medium
pembicaraan. Begitu pula Rusyana (1984:140) mendefinisikan ragam bahasa
sebagai suatu variasi dalam hubungannya dengan penutur dan petutur. Lebih
lanjut Badudu (1991:76) menjelaskan kaitannya dengan kaidah baku, bahwa
ragam bahasa merupakan pamakaian bahasa lebih dari sekedar struktur yang
menjamin seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dengan lawan bicaranya.
Jadi, pembicara, lawan bicara, tempat berlangsungnya pembicaraan, pokok
pembicaraan, suasana ketika berbicara, sarana yang digunakan untuk
menyampaikan pembicaraan, waktu, gender dan sebagainya sangat mempengaruhi
terjadinya ragam bahasa tersebut. Harus diperhatikan bahwa terdapat perbedaan
ragam bahasa antara ragam bahasa informal dan formal dengan ragam
14



hormat/halus yang meliputi honorific ‘halus/hormat’, humble ‘merendah’ dan
netral.
Ragam bahasa formal digunakan ketika seseorang berbicara tidak terlalu
akrab dengan lawan bicaranya dan ragam bahasa informal digunakan ketika
pembicara berbicara dengan kelompoknya atau dengan yang setingkat dengannya.
(Makino etc.al, 19:42). Sedangkan ragam bahasa hormat, merendah dan netral
berhubungan dengan kesantunan berbahasa. Pandangan tentang kesantunan
berbahasa ini berhubungan dengan penelitian sosiolinguistik. Sehubungan dengan
itu, Lakoff (1972) berpendapat bahwa terdapat tiga kaidah yang harus dipatuhi
pada kesantunan berbahasa yaitu:
a. formality ‘formalitas’
b. hesitensy ‘ketidaktegasan’
c. equality ‘kesamaan’.

2.3.1 Faktor-faktor Ragam Bahasa
Ragam bahasa terjadi karena adanya faktor yang bisa mempengaruhi
ragam bahasa tersebut diantaranya :
1) Ragam bahasa terbentuk akibat letak geografis suatu daerah. Contohnya
Masyarakat Batak Toba yang ada di daerah Tapanuli pada umumnya akan
bersuara sangat keras dan terkesan menjadi pribadi yang sangar karena
letak geografis yang berbukit serta jarak pemukiman warga yang
berjauhan berbeda dengan masyarakat suku Sunda.
15



2) Ragam bahasa juga dipengaruhi oleh topik pembicaraan misalnya kita
berkomunikasi dalam bidang ekonomi akan berbeda dengan topik olahraga
sehungga akan terbentuk keragaman bahasa dengan istilah dari masing-
masing topik.
3) Ragam bahasa juga dipengaruhi oleh kelompok yang sedang
berkomunikasi Contohnya akan sangat berbeda cara berkomunikasi remaja
dengan sebaya, orangtua dengan anak, atasan dengan bawahan. Dengan
sebaya maka bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul dengan orangtua
akan lebih hormat.
4) Ragam bahasa dipengaruhi oleh tingakatan sosial Contohnya dalam
lingkungan terpelajar dan lingkungan pasaran. Semakin tinggi tingkatan
sosial dalam masyarakat maka ragam bahasa yang digunakan adalah
semakin intelek dan akan sering ditemui istilah-istilah asing dan ragam
bahasa disini juga lebih sopan berbeda dengan kelompok yang tidak
berpendidikan yang berbicara tanpa aturan.

2.4 Ragam Hormat Bahasa Jepang
Seluruh bahasa dilengkapi dengan ungkapan ragam hormat termasuk
bahasa Jepang yang dipakai untuk mengungkapkan rasa hormat terhadap
pendengar atau orang yang dibicarakan (Iori, 2000). Ragam hormat dalam bahasa
Jepang disebut dengan Keigo (ragam bahasa hormat). Keigo menjadi salah satu
karakteristik bahasa Jepang. Ungkapan kebahasaan serupa keigo tidak tampak di
dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu tidak sedikit pembelajar bahasa Jepang
16



yang berbahasa ibu bahasa Indonesia merasa sulit manakala mempelajari atau
memakai keigo. Kesulitannya itu dapat dipahami terutama apabila kita melihat
contoh kalimat-kalimat berikut:
1.) ̣´อ´··¨
Yoku kuu yatsu da
‘Dia orang yang banyak makan’
2.) ބ´:.¡¨·¨`̢´
Hiru gohan o tabemashoo
‘Mari kita makan siang’
3.) 1¸¸.´ำ¡'¨¨¸¨`¨
Osaki ni gohan o itadakimashita
’Saya sudah makan duluan’
4.) ¸´¸´ำ¡¨'¯'̤`·¯´¨¸'
Douzo gohan o agette irasshatte kudasai
‘Silakan makan!’
5.) ;¡|`d.̥¨¹.
Nani o meshiagarimasuka
‘Mau makan apa?’

Di dalam bahasa Indonesia kata ‘makan’ dipakai dalam situasi apa pun,
dimana pun, kapan pun, tanpa memperhatikan siapa yang bicara, siapa lawan
bicara, atau siapa orang yang dibicarakan. Tetapi di dalam bahasa Jepang kata-
kata atau bahasa dipakai dengan melihat konteks tuturan seperti di atas. Sehingga
17



hanya untuk kata yang menunjukkan aktifitas ‘makan’ dapat dipakai beberapa
verba seperti pada contoh kalimat-kalimat di atas, yakni kuu, taberu, itadaku,
agaru, dan meshiagaru. Pemakaian variasi kata-kata atau bahasa dengan
mempertimbangkan konteks pemakaian bahasa seperti itu disebut keigo.
Secara singkat Terada Takanao menyebut keigo sebagai bahasa yang
mengungkapkan rasa hormat terhadap lawan bicara atau orang ketiga (Terada,
1984 : 238). Hampir sama dengan pendapat itu, ada juga yang mengatakan bahwa
keigo adalah istilah yang merupakan ungkapan kebahasaan yang menaikkan
derajat pendengar atau orang yang menjadi pokok pembicaraan (Nomura, 1992 :
54). Keigo adalah ungkapan sopan yang dipakai pembicara atau penulis dengan
mempertimbangkan pihak pendengar, pembaca, atau orang yang menjadi pokok
pembicaraan (Ogawa, 1989 : 227).
Pada dasarnya keigo dipakai untuk menghaluskan bahasa yang dipakai
orang pertama (pembicara atau penulis) untuk menghormati orang kedua
(pendengar atau pembaca) dan orang ketiga (yang dibicarakan). Jadi yang
dipertimbangkan pada waktu menggunakan keigo adalah konteks tuturan
termasuk orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga. Nakao Toshi (dalam
Sudjianto, 1999 : 149) menjelaskan bahwa keigo ditentukan dengan parameter
sebagai berikut :
1.) Usia tua atau muda, senior atau yunior
2.) Status atasan atau bawahan, guru atau murid
3.) Jenis kelamin pria atau wanita (wanita lebih banyak menggunakan
Keigo)
18



4.) Keakraban orang dalam atau orang luar (terhadap orang luar
Memakai keigo)
5.) Gaya bahasa bahasa sehari-hari, ceramah, perkuliahan
6.) Pribadi atau umum rapat, upacara, atau kegiatan apa
7.) Pendidikan berpendidikan atau tidak (yang berpendidikan lebih
banyak menggunakan keigo)
Pada umumnya keigo dibagi menjadi tiga kelompok. Sebagai contoh,
Nomura masaaki dan Koike Seiji dalam Nihongo jiten (1991 : 54) membagi keigo
menjadi sonkeigo, kenjoogo, dan teineigo. Lalu Hirai Masa dalam Shinkokugo
Handobukku (1982 : 131-132) membagi keigo menjadi teineigo, sonkeigo, dan
kensogo. Begitu juga Ogawa Yoshio (1989 : 228) dalam Nihongo Kyooiku Jiten
membagi keigo menjadi sonkeigo, kensogo, dan teineigo.
Berikut bagian-bagian keigo yang akan dijelaskan satu demi satu
(Sudjianto, 1999150-156).
1) Sonkeigo ¯ݪj
2) Kenjougo [¡j
3) Teineigo¯¯j

2.4.1 Sonkeigo ݪ
¯ݪj sonkeigo dipakai bagi segala sesuatu yang berhubungan dengan
atasan sebagai orang yang lebih tua usianya atau lebih tinggi kedudukannya, yang
berhubungan dengan lawan bicara (termasuk aktifitas dan segala sesuatu yang
19



berkaitan dengannya). Sonkeigo merupakan cara berututur kata yang secara
langsung menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara (Hirai, 1985 : 132).
Sementar itu Oishi Shotaro (1985 : 25) menjelaskan bahwa sonkeigo
adalah ragam bahasa hormat untuk menyatakan rasa hormat terhadap orang yang
dibicarakan (termasuk benda-benda, keadaan, aktifitas, atau hal-hal lain yang
berhubungan denganya) Dengan cara menaikkan derajat orang yang dibicarakan.
Dengan cara menyebut sensei kepada orang yang dibicarakan dan dengan
mengucapkan kata irassharu bagi aktifitasnyavseperti pada kalimat Sensei ga
ryokoo ni irasshaimasu ‘Pak guru akan pergi berdarmawisata’ merupakan cara
untuk menyatakan rasa hormat pembicara terhadap orang yang dibicarakan
dengan cara menaikkan derajatnya. Begitu juga oleh karena lawan bicara pada
kalimat anata mo irasshaimasuka ‘Apakah anda akan pergi’ menjadi orang yang
dibicarakan, maka pemakaian kata anata dan irassharu pada kalimat itu pun
dipakai untuk menghormati lawan bicara dengan cara menaikkan derajatnya.
Ada beberapa cara untuk menyatakan sonkeigo yaitu:
a. Memaka verba khusus sebagai sonkeigo, seperti:
Nasaru = suru ‘melakukan’
Goran ni naru = miru ‘melihat’
Meshiagaru, agaru = taberu ‘makan’, nomu ‘minum’
Irassharu = iru ‘ada’, iku ‘pergi’, kuru ‘datang’
Ossharu = iu ‘berkata’
Kudasaru = kureru ‘memberi’
20



b. Memakai verba bantu reru setelah verba golongan satu dan memakai verba
bantu rareru setelah verba golongan dua, seperti:
Kakareru = kaku ‘menulis’
Ukerareru = ukeru ‘menerima’
Taberareru = taberu ‘makan’
c. Menyisipkan verba bentuk ren’yookei pada pola ‘o…ni naru’ seperti:
Omachi ni naru = matsu ‘menunggu’
Otachi ni naru = tatsu ‘berdiri’
Osuwari ni naru = suwaru ‘duduk’
Oyomi ni naru = yomu ‘membaca’
Okaki ni naru = kaku ‘menulis’
d. Memakai nomina khusus sebagai sonkeigo untuk memanggil orang. kata-
kata tersebut bisa berdiri sendiri dan ada juga yang dapat menyertai kata
lain sebagai sufiks, seperti:
Sensei = bapak/ibu (guru/dokter)
Shachoo = direktur
Kachoo = kepala bagian
Anata = anda
e. Memakai prefix dan/atau sufiks sebagai sonkeigo, seperti:
Tanakasama = Tn. Tanaka
Suzukisan = Sdr. Suzuki
Musumesan = anak perempuan
Goiken = pendapat
21



Okangae = pikiran
Otaku = rumah
Otootosan = adik laki-laki
Oishasan = dokter
f. Memakai verba asobasu, kudasaru, dan irassharu setelah verba-verba lain,
seperti:
Okaeri asobasu = kaeru ‘pulang’
Oyurushi kudasaru = yurusu ‘memaafkan’
Mite irassharu = miru ‘melihat’
Yorokonde irassharu = yorokobu ‘senang, gembira’

2.4.2 Kenjoogo
Ada yang menyebut kenjoogo dengan istilah kensongo. Hirai Masao
menyebut kensongo sebagai cara bertutur kata yang menyatakan rasa hormat
terhadap lawan bicara dengan cara merendahkan diri sendiri (Hirai, 1985:132). Di
pihak lain Oishi Shotaro (1985:27) mengartikan kensongo sebagai keigo yang
menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara atau terhadap teman orang yang
dibicarakan dengan cara merendahkan orang yang dibicarakan termasuk benda-
benda, keadaan, aktifitas, atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Kata
oaisuru pada kalimat Haha ga sensei ni oaisuru ‘ Ibu saya akan menemui bapak
guru’ dipakai untuk merendahkan aktifitas haha sebagai orang yang dibicarakan
untuk menyatakan rasa hormat terhadap sensei sebagai teman orang yang
dibicarakan. Lalu kata moosu pada kalimat Otooto no moosu toori desu
22



‘Sebagaimana yang dikatakan adik saya’ dipakai untuk merendahkan aktifitas
otooto sebagai orang yang dibcarakan untuk menyatakan rasa hormat terhadap
lawan bicara. Begitu juga menunjukkan diri sendiri (sebagai orang yang
dibicarakan) dengan kata watakushi dan mengungkapkan aktifitas diri sendiri
dengan kata mairu pada kalimat Watakushi wa raigetsu Doitsu e mairu yotei desu
‘Saya minggu dean berencana pergi ke Jerman’ pun merupakan contoh pemakaian
kenjoogo untuk menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara. Kenjoogo dapat
diungkapkan dengan cara:
a. Memakai verba khusus sebagai kenjoogo, seperti:
Mairu = kuru ‘datang’
Moosu = iu ‘mengatakan’
Itadaku = morau ‘menerima’
Ukagau =kiku ‘bertanya’, shitsumon suru ‘bertanya’, homon
suru ‘berkunjung’
Omeni kakaru = au ‘bertemu’
Ageru, sashiageru = yaru ‘memberi’
Oru = iru ‘ada’
Haiken suru = miru ‘melihat’
b. Memakai prononima persona sebagai kenjoogo, seperti:
Watakushi = saya
Watashi = saya
c. Menyisipkan verba bentuk renyookei pada pola ‘o…suru’, seperti:
Oai suru = au ‘bertemu’
23



Oshirase suru = shiraseru ‘memberitahu, mengumumkan’
Okiki suru = kiku ‘mendengar’
Onarai suru = narau ‘belajar’
Oyomi suru = yomu ‘membaca’
d. Memakai verba ageru, moosu, mooshiageru, itasu setelah verba lain,
seperti:
Oshirase itasu = shiraseru ‘memberi tahu, mengumumkan’
Oshirase moosu = shiraseru
Oshirase mooshiageru = shiraseru
Shirasete ageru = shiraseru
Shirasete shasiageru = shiraseru

2.4.3 Teineigo
Teineigo adalah cara bertutur kata dengan sopan santun yang dipakai oleh
pembicara dengan saling menghormati atau menghargai perasaan masing-masing
(Hirai, 1985:131). Oishi Shotaroo (dalam Bunkachoo, 1985:28) menyebut
teineigo dengan istilah teichoogo yaitu keigo yang secara langsung menyatakan
rasa hormat terhadap lawan bicara (dengan pertimbangan khusus terhadap lawan
bicara). Pemakaian teichoogo sama sekali tidak ada hubungannya dengan
menaikkan atau menurunkan derajat orang yang dibicarakan. Ani pada kalimat Ani
wa asu kaerimasu ‘Kakak laki-laki saya besok akan pulang’ adalah orang yang
dibicarakan, tetapi teichoogo ‘masu’ pada kalimat itu dipakai bukan untuk
menaikkan derajat ani melainkan dikarenakan adanya pertimbangan terhadap
24



lawan bicara. Walaupun pada kalimat Sensei ga okaeri ni naru ‘Pak guru akan
pulang’ memakai sonkeigo untuk menaikkan derajat sensei sebagai orang yang
dibicarakan, namun kalimat itu tidak memakai teichoogo bagi lawan bicara.
Berbeda dengan sonkeigo dan kenjoogo, teineigo dinyatakan dengan cara sebagai
berikut:
a. Memakai verba bantu desu dan masu seperti pada kata:
Ikimasu = iku ‘pergi’
Tabemasu = taberu ‘makan’
Hon desu = hon da ‘buku’
Kirei desu = kirei da ‘cantik, bersih, indah’
b. Memakai prefiks o atau go kata-kata tertentu, seperti:
Okane = kane ‘uang’
Omizu = mizu ‘air’
Osake = sake
Goryooshin = ryooshin ‘orang tua’
Goiken = iken ‘pendapat’
c. Memakai kata-kata tertentu sebagai teineigo seperti kata gozaimasu
(gozaru) untuk kata arimasu (aru) ‘ada’.

2.5 Ragam Hormat Bahasa Sunda
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahasa sopan/hormat adalah
ragam bahasa yang dipakai dalam situasi sosial yang mewajibkan adanya norma
sopan santun (1997:78). Menurut hasil Kongres Bahasa Sunda tahun 1986 di
25



Cipayung Bogor, tatakrama bahasa Sunda yang disebut juga undak usuk basa
Sunda (UUBS). Menurut penelitian tatakrama bahasa Sunda atau sering disebut
juga Undak Usuk Basa Sunda (UUBS) bentuknya ada beberapa ragam
(tingkat/jenis) yang biasanya digunakan dalam bahasa Sunda, diantaranya yaitu,
ragam bahasa hormat, ragam bahasa loma/kasar. Pada hakekatnya digunakan
ragam hormat tidak lain untuk menunjukkan rasa hormat dari pembicara kepada
yang diajak bicara dan pada siapa yang menjadi bahan pembicaraan. Ragam
bahasa Sunda juga memiliki parameter pemakaiannya dengan melihat usia (tua
atau muda), berpendidikan atau tidak, pria atau wanita. Undak Usuk Basa Sunda
ada enam jenis diantaranya :
1. Basa Kasar.
2. Basa sedeng.
3. Basa lemes.
4. Basa lemes pisan.
5. Basa kasar pisan.
6. Basa panengah.

2.5.1 Basa kasar
Basa kasar disebut juga bahasa loma. Digunakan kepada sesama, kepada
teman yang sudah akrab. Selain itu (jaman dulu) selalu dipakai juga untuk
berbicara kepada orang yang umur dan pangkat dan kedudukannya dibawah si
pembicara. Atau bisa juga digunakan untuk membicarakan orang yang umurnya
dibawah si pembicara.
26



Contoh:
‘Maneh rek asup ayena?’ Dudi nanya ka Dadan
‘Moal ah, moal wara asup, rek ngadagoan Rini heula,’ tembal Dadan.
(‘kamu mau masuk sekarang?’ Dudi bertanya kepada Dadan)
(‘Engga ah, engga akan masuk dulu, mau nungguin Rini dulu,’ jawab Dadan)
Budi Rahayu (1993 : 15).

2.5.2 Basa sedeng
Basa sedeng sering juga disebut sebagai bahasa lemes keur ka sorangan
(halus untuk diri sendiri), yaitu bahasa yang digunakan untuk diri sendiri seperti
misalnya berbicara menggunakan bahasa halus atau untuk berbicara kepada orang
yang lebih tua.
Selain itu bahasa Sedang juga dapat dipakai untuk berbicara kepada orang
yang belum dikenal atau akrab apabila yang mengajak berbicara menggunakan
bahasa halus.
Contoh:
‘Dudi mah tos lebet ti payun,’ ceuk Dadan ka Pa Asep.
‘Abdi mah teu acab lebet soteh bade ngantosan Rini heula.’
(‘Dudi sudah masuk duluan,’ kata Dadan ke Pak Asep.’)
(‘Saya belum masuk karena mau menunggu Rini dulu.’)
Budi Rahayu (1993 : 15).


27



2.5.3 Basa lemes
Basa lemes sering disebut juga sebagai bahasa lemes keur ka batur
(bahasa halus untuk orang lain). Bahasa ini digunakan untuk berbicara kepada
orang yang umurnya di atas pembicara dan untuk membicarakan orang yang
pangkat, kedudukan dan umurnya di atas kita. Bahasa halus juga dapat dipakai
kepada orang yang belum kita kenal.
Contoh:
‘Ku margi Bu Lia henteu lebet, engke kelas IIA lebetan bae ku Bapa,’ ceuk Pa
Kapala Sakola ka Pa Maman.
( ‘Karena Bu Lia tidak masuk, nanti kelas IIA Bapak saja yang masuk,’ kata Pak
Kepala Sekolah kepada Pak Maman.) Budi Rahayu (1993 : 15).

2.5.4 Basa lemes pisan
Ragam bahasa ini dipakai untuk menghormati orang yang
kedudukannya lebih tinggi dari pembicara.
Contoh:
‘Manawi Ibu uninga, Bapa Gubernur nu ayena di mana nya linggihna?’
(‘Mungin Ibu ingat, Bapak Gubernur yang sekarang tinggalnya di mana?’)
Budi Rahayu (1993 : 43).

2.5.5 Basa kasar pisan
Ragam bahasa ini dapat disebut juga sebagai bahasa cohag. Bahasa ini
biasanya dipakai oleh orang-orang yang sedang marah atau bertengkar dengan
maksud untuk saling menghina. Tetapi umumnya, ragam bahasa ini ditujukkan
28



untuk binatang karena jika ditujukkan pada manusia, bahasa ini akan terasa sangat
kasar dan menyinggung.
Contoh:
‘Kawas nu euweuh gadag deui we, pagadagan teh ngan leweh!’ ceuk Dada ka
adina nu keur ceurik.
(seperti tidak ada kerjaan lagi, kerjanya hanya menangis saja!’ kata Dadan kepada
adiknya yang lagi menangis). Budi Rahayu (1993 : 43).

2.5.6 Basa panengah
Ragam bahasa ini dipakai untuk berbicara dengan orang yang pangkat dan
kedudukannya di bawah pembicara tetapi umurnya di atas pembicara. Ragam
bahasa ini dipakai juga ketika berbicara dengan orang yang menggunakan bahasa
halus dan orang yang dibicarakannya itu memiliki pangkat dan kedudukan di
bawah mereka, tetapi umurnya di atas mereka. Ragam bahasa ini tingkatannya ada
di bawah bahasa halus tetapi di atas bahasa kasar.
Contoh:
‘Ari Emang di mana sare teh?’ ceuk Bapa ka mang Endin
‘Kalau Paman di mana tidurnya?’ kata Bapak kepada mang Endin
Budi Rahayu (1993 : 114).


9

Analisis Kontrastif yang juga disebut analisis bandingan merupakan kajian linguistik yang bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan dua bahasa yang berbeda. Pendeskripsian dan persamaan tersebut, akan bermanfaat untuk pengajaran kedua bahasa, sebagai bahasa ke dua (bahasa asing). Suatu metode analisis pengkajian kontrastif ini menunjukan kesamaan dan perbedaan antara dua bahasa dengan tujuan untuk menemukan prinsip yang dapat diterapkan pada masalah praktis dalam pengajaran bahasa atau terjemahannya. Kesimpulannnya linguistik kontrastif merupakan salah satu cabang linguistik yang fungsinya mengontraskan dua bahasa atau lebih tidak serumpun dan linguistik kontrastif dapat membantu kesulitan yang mungkin dialami seseorang dalam mengajarkan bahasa yang berbeda rumpun bahasanya, ataupun bagi seseorang yang belajar bahasa asing yang rumpun bahasanya berbeda.

2.2

Pengertian Bahasa Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat

kornunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon. Ada sepuluh pengertian bahasa menurut para ahli yang diantaranya Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara

Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12). bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional. yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Menurut Wibowo (2001:3). . barang kali juga untuk sistem generatif. bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Definisi lain. Hampir senada dengan pendapat Wibowo. Pertama. Kedua. Walija (1996:4). Kedua. atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistemsistem. Menurut Santoso (1990:1). Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4). beliau memberikan dua definisi bahasa. menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).10 anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. bahasa adalah suatu sistem yang sistematis. suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Lain halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1). Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer.

pesan. bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk. Kedua. bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama. Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01). maksud. Pada waktu kita berbicara atau menulis. . kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf. alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. tanda yang jelas dari budi kemanusiaan. Sementara Pengabean (1981:5). beliau memberi dua pengertian bahasa. kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu saja. atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa. keinginan dan perbuatanperbuatan. bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan. tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa. Untuk mengungkapkan gagasan. pikiran atau perasaan. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa.11 mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide. Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2). perasaan dan pendapat kepada orang lain. Pertama. melainkan mengikuti aturan yang ada.

menghargai lawan bicara juga dapat dilakukan dengan penggunaan Basa lemes yang dapat ditemui pada beberapa bahasa. intonasi. di luar pengetahuan kebahasaan. Bahasa isyarat akan lebih . Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik. Selain dengan gesture dan mimik. 3) sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain. 4) untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia. dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. atau mengutarakan pikiran. Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. selama kebudayaan dan adat-istiadat. atau gagasan. karena bahasa juga berfungsi : 1) untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan seharihari. serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis). bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi. yaitu salh satunya bahasa jepang dan bahasa sunda. perasaan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi. 2) untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.12 Tetapi.

2. bahwa ragam bahasa merupakan pamakaian bahasa lebih dari sekedar struktur yang menjamin seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dengan lawan bicaranya. waktu. Dengan bahasa. suasana ketika berbicara. Dikatakan oleh para ahli budaya. mengadakan transasi. tempat berlangsungnya pembicaraan. pokok pembicaraan. gender dan sebagainya sangat mempengaruhi terjadinya ragam bahasa tersebut. lawan bicara dan menurut medium pembicaraan. pembicara. lawan bicara. dlan berperadaban. Begitu pula Rusyana (1984:140) mendefinisikan ragam bahasa sebagai suatu variasi dalam hubungannya dengan penutur dan petutur. Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa larnpau.3 Ragam Bahasa Kridalaksana (1982:184) mendefinisikan ragam bahasa sebagai variasi bahasa menurut hubungan pembicara.13 digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri. rnenghadapi hari ini. bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri sebagai makhluk bernalar. dan melaksanakan kegiatan sosial dengan bidang dan peran kita rnasing-masing. Jadi. Lebih lanjut Badudu (1991:76) menjelaskan kaitannya dengan kaidah baku. Harus diperhatikan bahwa terdapat perbedaan ragam bahasa antara ragam bahasa informal dan formal dengan ragam . kita membina hubungan dan kerja sama. dan merencanakan masa depan. sarana yang digunakan untuk menyampaikan pembicaraan. berbudaya.

hesitensy ‘ketidaktegasan’ c. (Makino etc. 19:42). Lakoff (1972) berpendapat bahwa terdapat tiga kaidah yang harus dipatuhi pada kesantunan berbahasa yaitu: a. merendah dan netral berhubungan dengan kesantunan berbahasa. humble ‘merendah’ dan netral. Sehubungan dengan itu.14 hormat/halus yang meliputi honorific ‘halus/hormat’. equality ‘kesamaan’.3. Contohnya Masyarakat Batak Toba yang ada di daerah Tapanuli pada umumnya akan bersuara sangat keras dan terkesan menjadi pribadi yang sangar karena letak geografis yang berbukit serta jarak pemukiman warga yang berjauhan berbeda dengan masyarakat suku Sunda. 2. Sedangkan ragam bahasa hormat. Pandangan tentang kesantunan berbahasa ini berhubungan dengan penelitian sosiolinguistik. . formality ‘formalitas’ b.al. Ragam bahasa formal digunakan ketika seseorang berbicara tidak terlalu akrab dengan lawan bicaranya dan ragam bahasa informal digunakan ketika pembicara berbicara dengan kelompoknya atau dengan yang setingkat dengannya.1 Faktor-faktor Ragam Bahasa Ragam bahasa terjadi karena adanya faktor yang bisa mempengaruhi ragam bahasa tersebut diantaranya : 1) Ragam bahasa terbentuk akibat letak geografis suatu daerah.

Ragam hormat dalam bahasa Jepang disebut dengan Keigo (ragam bahasa hormat). Dengan sebaya maka bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul dengan orangtua akan lebih hormat. Keigo menjadi salah satu karakteristik bahasa Jepang. 4) Ragam bahasa dipengaruhi oleh tingakatan sosial Contohnya dalam lingkungan terpelajar dan lingkungan pasaran. 2. 2000). Oleh karena itu tidak sedikit pembelajar bahasa Jepang .4 Ragam Hormat Bahasa Jepang Seluruh bahasa dilengkapi dengan ungkapan ragam hormat termasuk bahasa Jepang yang dipakai untuk mengungkapkan rasa hormat terhadap pendengar atau orang yang dibicarakan (Iori. atasan dengan bawahan.15 2) Ragam bahasa juga dipengaruhi oleh topik pembicaraan misalnya kita berkomunikasi dalam bidang ekonomi akan berbeda dengan topik olahraga sehungga akan terbentuk keragaman bahasa dengan istilah dari masingmasing topik. 3) Ragam bahasa juga dipengaruhi oleh kelompok yang sedang berkomunikasi Contohnya akan sangat berbeda cara berkomunikasi remaja dengan sebaya. orangtua dengan anak. Ungkapan kebahasaan serupa keigo tidak tampak di dalam bahasa Indonesia. Semakin tinggi tingkatan sosial dalam masyarakat maka ragam bahasa yang digunakan adalah semakin intelek dan akan sering ditemui istilah-istilah asing dan ragam bahasa disini juga lebih sopan berbeda dengan kelompok yang tidak berpendidikan yang berbicara tanpa aturan.

Sehingga . atau siapa orang yang dibicarakan. dimana pun.) Yoku kuu yatsu da ‘Dia orang yang banyak makan’ 2. tanpa memperhatikan siapa yang bicara.) P Douzo gohan o agette irasshatte kudasai ‘Silakan makan!’ 5. Kesulitannya itu dapat dipahami terutama apabila kita melihat contoh kalimat-kalimat berikut: 1. Tetapi di dalam bahasa Jepang katakata atau bahasa dipakai dengan melihat konteks tuturan seperti di atas. kapan pun.) P Osaki ni gohan o itadakimashita ’Saya sudah makan duluan’ 4.) P  Nani o meshiagarimasuka ‘Mau makan apa?’ Di dalam bahasa Indonesia kata ‘makan’ dipakai dalam situasi apa pun.) PP Hiru gohan o tabemashoo ‘Mari kita makan siang’ 3.16 yang berbahasa ibu bahasa Indonesia merasa sulit manakala mempelajari atau memakai keigo. siapa lawan bicara.

pembaca. Nakao Toshi (dalam Sudjianto. itadaku. ada juga yang mengatakan bahwa keigo adalah istilah yang merupakan ungkapan kebahasaan yang menaikkan derajat pendengar atau orang yang menjadi pokok pembicaraan (Nomura.) Jenis kelamin tua atau muda. dan orang ketiga. 1992 : 54). Pada dasarnya keigo dipakai untuk menghaluskan bahasa yang dipakai orang pertama (pembicara atau penulis) untuk menghormati orang kedua (pendengar atau pembaca) dan orang ketiga (yang dibicarakan). 1989 : 227). taberu.17 hanya untuk kata yang menunjukkan aktifitas ‘makan’ dapat dipakai beberapa verba seperti pada contoh kalimat-kalimat di atas. Jadi yang dipertimbangkan pada waktu menggunakan keigo adalah konteks tuturan termasuk orang pertama. Secara singkat Terada Takanao menyebut keigo sebagai bahasa yang mengungkapkan rasa hormat terhadap lawan bicara atau orang ketiga (Terada. Keigo adalah ungkapan sopan yang dipakai pembicara atau penulis dengan mempertimbangkan pihak pendengar. yakni kuu. agaru. guru atau murid pria atau wanita (wanita lebih banyak menggunakan Keigo) . senior atau yunior atasan atau bawahan. orang kedua. atau orang yang menjadi pokok pembicaraan (Ogawa. 1984 : 238). Hampir sama dengan pendapat itu. 1999 : 149) menjelaskan bahwa keigo ditentukan dengan parameter sebagai berikut : 1. Pemakaian variasi kata-kata atau bahasa dengan mempertimbangkan konteks pemakaian bahasa seperti itu disebut keigo.) Status 3.) Usia 2. dan meshiagaru.

) Gaya bahasa 6. Sebagai contoh.) Pendidikan bahasa sehari-hari. atau kegiatan apa berpendidikan atau tidak (yang berpendidikan lebih banyak menggunakan keigo) Pada umumnya keigo dibagi menjadi tiga kelompok. 1) Sonkeigo . ceramah.) Pribadi atau umum 7. dan teineigo. 1999'150-156). Berikut bagian-bagian keigo yang akan dijelaskan satu demi satu (Sudjianto.) Keakraban orang dalam atau orang luar (terhadap orang luar Memakai keigo) 5. dan teineigo. Lalu Hirai Masa dalam Shinkokugo Handobukku (1982 : 131-132) membagi keigo menjadi teineigo. upacara. Begitu juga Ogawa Yoshio (1989 : 228) dalam Nihongo Kyooiku Jiten membagi keigo menjadi sonkeigo. dan kensogo. sonkeigo.18 4. kensogo. Nomura masaaki dan Koike Seiji dalam Nihongo jiten (1991 : 54) membagi keigo menjadi sonkeigo. perkuliahan rapat. kenjoogo.

2) Kenjougo 3) Teineigo .

2.4.1 Sonkeigo .

.

yang berhubungan dengan lawan bicara (termasuk aktifitas dan segala sesuatu yang . sonkeigo dipakai bagi segala sesuatu yang berhubungan dengan atasan sebagai orang yang lebih tua usianya atau lebih tinggi kedudukannya.

atau hal-hal lain yang berhubungan denganya) Dengan cara menaikkan derajat orang yang dibicarakan. Sementar itu Oishi Shotaro (1985 : 25) menjelaskan bahwa sonkeigo adalah ragam bahasa hormat untuk menyatakan rasa hormat terhadap orang yang dibicarakan (termasuk benda-benda. Ada beberapa cara untuk menyatakan sonkeigo yaitu: a. nomu ‘minum’ = iru ‘ada’. 1985 : 132). iku ‘pergi’.19 berkaitan dengannya). Dengan cara menyebut sensei kepada orang yang dibicarakan dan dengan mengucapkan kata irassharu bagi aktifitasnyavseperti pada kalimat Sensei ga ryokoo ni irasshaimasu ‘Pak guru akan pergi berdarmawisata’ merupakan cara untuk menyatakan rasa hormat pembicara terhadap orang yang dibicarakan dengan cara menaikkan derajatnya. agaru Irassharu Ossharu Kudasaru = suru ‘melakukan’ = miru ‘melihat’ = taberu ‘makan’. kuru ‘datang’ = iu ‘berkata’ = kureru ‘memberi’ . Sonkeigo merupakan cara berututur kata yang secara langsung menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara (Hirai. maka pemakaian kata anata dan irassharu pada kalimat itu pun dipakai untuk menghormati lawan bicara dengan cara menaikkan derajatnya. Memaka verba khusus sebagai sonkeigo. keadaan. aktifitas. Begitu juga oleh karena lawan bicara pada kalimat anata mo irasshaimasuka ‘Apakah anda akan pergi’ menjadi orang yang dibicarakan. seperti: Nasaru Goran ni naru Meshiagaru.

20 b. Memakai verba bantu reru setelah verba golongan satu dan memakai verba bantu rareru setelah verba golongan dua. Memakai nomina khusus sebagai sonkeigo untuk memanggil orang. Memakai prefix dan/atau sufiks sebagai sonkeigo. Menyisipkan verba bentuk ren’yookei pada pola ‘o…ni naru’ seperti: Omachi ni naru Otachi ni naru Osuwari ni naru Oyomi ni naru Okaki ni naru = matsu ‘menunggu’ = tatsu ‘berdiri’ = suwaru ‘duduk’ = yomu ‘membaca’ = kaku ‘menulis’ d. seperti: Tanakasama = Tn. Suzuki = anak perempuan = pendapat . seperti: Kakareru Ukerareru Taberareru = kaku ‘menulis’ = ukeru ‘menerima’ = taberu ‘makan’ c. Tanaka Suzukisan Musumesan Goiken = Sdr. katakata tersebut bisa berdiri sendiri dan ada juga yang dapat menyertai kata lain sebagai sufiks. seperti: Sensei Shachoo Kachoo Anata = bapak/ibu (guru/dokter) = direktur = kepala bagian = anda e.

Memakai verba asobasu. dan irassharu setelah verba-verba lain. kudasaru. 1985:132). seperti: Okaeri asobasu Oyurushi kudasaru Mite irassharu = kaeru ‘pulang’ = yurusu ‘memaafkan’ = miru ‘melihat’ Yorokonde irassharu = yorokobu ‘senang. Hirai Masao menyebut kensongo sebagai cara bertutur kata yang menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara dengan cara merendahkan diri sendiri (Hirai.2 Kenjoogo Ada yang menyebut kenjoogo dengan istilah kensongo. keadaan. Lalu kata moosu pada kalimat Otooto no moosu toori desu . atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya.21 Okangae Otaku Otootosan Oishasan = pikiran = rumah = adik laki-laki = dokter f.4. Di pihak lain Oishi Shotaro (1985:27) mengartikan kensongo sebagai keigo yang menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara atau terhadap teman orang yang dibicarakan dengan cara merendahkan orang yang dibicarakan termasuk bendabenda. Kata oaisuru pada kalimat Haha ga sensei ni oaisuru ‘ Ibu saya akan menemui bapak guru’ dipakai untuk merendahkan aktifitas haha sebagai orang yang dibicarakan untuk menyatakan rasa hormat terhadap sensei sebagai teman orang yang dibicarakan. gembira’ 2. aktifitas.

seperti: Mairu Moosu Itadaku Ukagau = kuru ‘datang’ = iu ‘mengatakan’ = morau ‘menerima’ =kiku ‘bertanya’. sashiageru Oru Haiken suru = au ‘bertemu’ = yaru ‘memberi’ = iru ‘ada’ = miru ‘melihat’ b. homon suru ‘berkunjung’ Omeni kakaru Ageru. Menyisipkan verba bentuk renyookei pada pola ‘o…suru’.22 ‘Sebagaimana yang dikatakan adik saya’ dipakai untuk merendahkan aktifitas otooto sebagai orang yang dibcarakan untuk menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara. Memakai prononima persona sebagai kenjoogo. Memakai verba khusus sebagai kenjoogo. seperti: Watakushi Watashi = saya = saya c. Begitu juga menunjukkan diri sendiri (sebagai orang yang dibicarakan) dengan kata watakushi dan mengungkapkan aktifitas diri sendiri dengan kata mairu pada kalimat Watakushi wa raigetsu Doitsu e mairu yotei desu ‘Saya minggu dean berencana pergi ke Jerman’ pun merupakan contoh pemakaian kenjoogo untuk menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara. shitsumon suru ‘bertanya’. Kenjoogo dapat diungkapkan dengan cara: a. seperti: Oai suru = au ‘bertemu’ .

mengumumkan’ = kiku ‘mendengar’ = narau ‘belajar’ = yomu ‘membaca’ d. seperti: Oshirase itasu Oshirase moosu Oshirase mooshiageru Shirasete ageru Shirasete shasiageru = shiraseru ‘memberi tahu.4. mooshiageru.3 Teineigo . mengumumkan’ = shiraseru = shiraseru = shiraseru = shiraseru 2. Memakai verba ageru.23 Oshirase suru Okiki suru Onarai suru Oyomi suru = shiraseru ‘memberitahu. moosu. itasu setelah verba lain.

Pemakaian teichoogo sama sekali tidak ada hubungannya dengan menaikkan atau menurunkan derajat orang yang dibicarakan. Oishi Shotaroo (dalam Bunkachoo. Teineigo adalah cara bertutur kata dengan sopan santun yang dipakai oleh pembicara dengan saling menghormati atau menghargai perasaan masing-masing (Hirai. 1985:131). Ani pada kalimat Ani wa asu kaerimasu ‘Kakak laki-laki saya besok akan pulang’ adalah orang yang dibicarakan. tetapi teichoogo ‘masu’ pada kalimat itu dipakai bukan untuk menaikkan derajat ani melainkan dikarenakan adanya pertimbangan terhadap . 1985:28) menyebut teineigo dengan istilah teichoogo yaitu keigo yang secara langsung menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara (dengan pertimbangan khusus terhadap lawan bicara).

24 lawan bicara. Menurut hasil Kongres Bahasa Sunda tahun 1986 di . bersih. indah’ b. 2.5 Ragam Hormat Bahasa Sunda Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahasa sopan/hormat adalah ragam bahasa yang dipakai dalam situasi sosial yang mewajibkan adanya norma sopan santun (1997:78). namun kalimat itu tidak memakai teichoogo bagi lawan bicara. teineigo dinyatakan dengan cara sebagai berikut: a. Memakai prefiks o atau go kata-kata tertentu. Memakai verba bantu desu dan masu seperti pada kata: Ikimasu Tabemasu Hon desu Kirei desu = iku ‘pergi’ = taberu ‘makan’ = hon da ‘buku’ = kirei da ‘cantik. Memakai kata-kata tertentu sebagai teineigo seperti kata gozaimasu (gozaru) untuk kata arimasu (aru) ‘ada’. Berbeda dengan sonkeigo dan kenjoogo. Walaupun pada kalimat Sensei ga okaeri ni naru ‘Pak guru akan pulang’ memakai sonkeigo untuk menaikkan derajat sensei sebagai orang yang dibicarakan. seperti: Okane Omizu Osake Goryooshin Goiken = kane ‘uang’ = mizu ‘air’ = sake = ryooshin ‘orang tua’ = iken ‘pendapat’ c.

ragam bahasa hormat. tatakrama bahasa Sunda yang disebut juga undak usuk basa Sunda (UUBS). . pria atau wanita. kepada teman yang sudah akrab. Basa sedeng. Pada hakekatnya digunakan ragam hormat tidak lain untuk menunjukkan rasa hormat dari pembicara kepada yang diajak bicara dan pada siapa yang menjadi bahan pembicaraan. berpendidikan atau tidak.25 Cipayung Bogor. Atau bisa juga digunakan untuk membicarakan orang yang umurnya dibawah si pembicara. Ragam bahasa Sunda juga memiliki parameter pemakaiannya dengan melihat usia (tua atau muda). 2. Selain itu (jaman dulu) selalu dipakai juga untuk berbicara kepada orang yang umur dan pangkat dan kedudukannya dibawah si pembicara. 3.1 Basa kasar Basa kasar disebut juga bahasa loma. Basa lemes pisan. diantaranya yaitu. Undak Usuk Basa Sunda ada enam jenis diantaranya : 1. Basa Kasar. Basa panengah. Basa kasar pisan. 2. ragam bahasa loma/kasar. 4. 6.5. Digunakan kepada sesama. 5. Menurut penelitian tatakrama bahasa Sunda atau sering disebut juga Undak Usuk Basa Sunda (UUBS) bentuknya ada beberapa ragam (tingkat/jenis) yang biasanya digunakan dalam bahasa Sunda. Basa lemes.

2.5.’ jawab Dadan) Budi Rahayu (1993 : 15). . yaitu bahasa yang digunakan untuk diri sendiri seperti misalnya berbicara menggunakan bahasa halus atau untuk berbicara kepada orang yang lebih tua. rek ngadagoan Rini heula.’) Budi Rahayu (1993 : 15).2 Basa sedeng Basa sedeng sering juga disebut sebagai bahasa lemes keur ka sorangan (halus untuk diri sendiri). (‘kamu mau masuk sekarang?’ Dudi bertanya kepada Dadan) (‘Engga ah.’ (‘Dudi sudah masuk duluan.’ kata Dadan ke Pak Asep.’) (‘Saya belum masuk karena mau menunggu Rini dulu. ‘Abdi mah teu acab lebet soteh bade ngantosan Rini heula.’ tembal Dadan.’ ceuk Dadan ka Pa Asep. Contoh: ‘Dudi mah tos lebet ti payun.26 Contoh: ‘Maneh rek asup ayena?’ Dudi nanya ka Dadan ‘Moal ah. Selain itu bahasa Sedang juga dapat dipakai untuk berbicara kepada orang yang belum dikenal atau akrab apabila yang mengajak berbicara menggunakan bahasa halus. mau nungguin Rini dulu. engga akan masuk dulu. moal wara asup.

4 Basa lemes pisan Ragam bahasa ini dipakai untuk menghormati orang yang kedudukannya lebih tinggi dari pembicara. Bapak Gubernur yang sekarang tinggalnya di mana?’) Budi Rahayu (1993 : 43).’ kata Pak Kepala Sekolah kepada Pak Maman. Tetapi umumnya. 2.5.3 Basa lemes Basa lemes sering disebut juga sebagai bahasa lemes keur ka batur (bahasa halus untuk orang lain). Bahasa ini digunakan untuk berbicara kepada orang yang umurnya di atas pembicara dan untuk membicarakan orang yang pangkat.) Budi Rahayu (1993 : 15). Bapa Gubernur nu ayena di mana nya linggihna?’ (‘Mungin Ibu ingat. ( ‘Karena Bu Lia tidak masuk. kedudukan dan umurnya di atas kita. ragam bahasa ini ditujukkan . Bahasa halus juga dapat dipakai kepada orang yang belum kita kenal. 2.27 2. nanti kelas IIA Bapak saja yang masuk.5.5 Basa kasar pisan Ragam bahasa ini dapat disebut juga sebagai bahasa cohag. Contoh: ‘Ku margi Bu Lia henteu lebet. Bahasa ini biasanya dipakai oleh orang-orang yang sedang marah atau bertengkar dengan maksud untuk saling menghina.5. engke kelas IIA lebetan bae ku Bapa. Contoh: ‘Manawi Ibu uninga.’ ceuk Pa Kapala Sakola ka Pa Maman.

2. Contoh: ‘Ari Emang di mana sare teh?’ ceuk Bapa ka mang Endin ‘Kalau Paman di mana tidurnya?’ kata Bapak kepada mang Endin Budi Rahayu (1993 : 114). (seperti tidak ada kerjaan lagi. pagadagan teh ngan leweh!’ ceuk Dada ka adina nu keur ceurik. Ragam bahasa ini dipakai juga ketika berbicara dengan orang yang menggunakan bahasa halus dan orang yang dibicarakannya itu memiliki pangkat dan kedudukan di bawah mereka.6 Basa panengah Ragam bahasa ini dipakai untuk berbicara dengan orang yang pangkat dan kedudukannya di bawah pembicara tetapi umurnya di atas pembicara. Budi Rahayu (1993 : 43). . Ragam bahasa ini tingkatannya ada di bawah bahasa halus tetapi di atas bahasa kasar.28 untuk binatang karena jika ditujukkan pada manusia. bahasa ini akan terasa sangat kasar dan menyinggung.5. kerjanya hanya menangis saja!’ kata Dadan kepada adiknya yang lagi menangis). tetapi umurnya di atas mereka. Contoh: ‘Kawas nu euweuh gadag deui we.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->