PAPER TENTANG PERMASALAHAN RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER MOHAMAD SOEWANDHIE KOTA

SURABAYA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keuangan Daerah

Yulfika Rakhmi Asriyanti (170110060022)

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2009

Tujuannya antara lain adalah untuk lebih mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Sumber-sumber penerimaan daerah yang potensial harus digali secara maksimal. Sementara. termasuk diantaranya adalah pajak daerah dan retribusi daerah yang memang telah sejak lama menjadi unsur PAD yang paling utama. daerah harus lebih kreatif dalam meningkatkan PAD-nya untuk meningkatkan akuntabilitas dan keleluasaan dalam pembelanjaan APBD-nya. Tuntutan peningkatan PAD semakin besar seiring dengan semakin banyaknya kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada daerah. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Permasalahan yang dihadapi oleh Daerah pada umumnya dalam kaitan . juga bertujuan untuk menciptakan persaingan yang sehat antar daerah dan mendorong timbulnya inovasi. Pemerintah Daerah diharapkan lebih mampu menggali sumber-sumber keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). meskipun jumlahnya relatif memadai yakni sekurangkurangnya sebesar 25 persen dari Penerimaan Dalam Negeri dalam APBN. memudahkan masyarakat untuk memantau dan mengontrol penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). namun tentu saja di dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. daerah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga pemerintahannya sendiri. sejauh ini dana perimbangan yang merupakan transfer keuangan oleh pusat kepada daerah dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah. namun. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam era otonomi daerah sekarang ini. Sejalan dengan kewenangan tersebut.PAPER TENTANG PERMASALAHAN RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER MOHAMAD SOEWANDHIE KOTA SURABAYA Pelaksanaan UU No.32 Tahun 2004 yang memunculkan era otonomi daerah telah menyebabkan perubahan-perubahan yang mendasar mengenai pengaturan hubungan Pusat dan Daerah.

Sebelum menjabarkan letak permasalahan dan analisisnya. tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. Berdasarkan Peraturan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah. selain disebabkan perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah karena sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan Pusat. khususnya yang berasal dari pajak daerah dan retribusi daerah. Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan retribusi daerah. namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam Perda tersebut. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. diharapkan dapat lebih mendorong Pemerintah Daerah terus berupaya untuk mengoptimalkan PAD. Adapun penulis menemukan masalah mengenai pemungutan retribusi pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Umum Daerah Mohamad Seowandhi yang pada pelaksanaannya melanggar ketentuan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pelayanan Kesehatan Pada Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soewandhi yang di dalamnya mengatur secara procedural bagaimana pelayanan di RSUD tersebut serta bagaimana rincian tarif retribusi pada masing-masing pelayanan kesehatan di RSUD tersebut. Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk Pajak Kabupaten/Kota itu sendiri ditetapkan dengan Peraturan Daerah.penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. akan sedikit diulas mengenai retribusi itu sendiri. pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah itu sendiri seringkali terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga tidak sejalan dengan peraturan daerah yang telah ditetapkan. . Untuk pajak tidak ada timbal balik langsung kepada para pembayar pajak. Terdapat pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh Propinsi dan yang dipungut oleh Kabupaten/Kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. yang dimaksud dengan retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian perizinan tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. di dalam praktiknya sendiri. Perbedaan mendasar antara pajak dan retribusi adalah terletak pada timbal balik langsung. yang merupakan salah satu komponen dari PAD.

sehingga dapat terjangkau oleh lapisan masyarakat berpenghasilan rendah. Peraturan daerah inilah yang mengatur bagaimana tarif retribusi pelayanan kesehatan di RSUD tersebut. dan retribusi perizinan tertentu. Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini.sedangkan untuk retribusi ada timbal balik langsung dari penerima retribusi kepada penerima retribusi. diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada masyarakat. Adapun Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pelayanan Kesehatan Pada Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soewandhi itu sendiri ditetapkan sebagai pengganti dari Peraturan DaerahKotamadya Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 15 Tahun 1999 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan. adapun retribusi pelayanan kesehatan itu sendiri termasuk ke dalam jenis retribusi jasa umum. khususnya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Mohamad Soewandhie. Bahwa pemungutan retribusi pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Umum Dokter Mohamad Soewandhie idealnya bertujuan untuk menutup biaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan tidak bertujuan mencari keuntungan serta ditetapkan berdasarkan asas gotongroyong dan keadilan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah. Retribusi daerah itu sendiri terdiri dari retribusi jasa umum. Kita sendiri mengetahui bahwa kebutuhan akan kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi semua orang. yang dimaksud dengan Retribusi Jasa Umum itu sendiri adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Retribusi pelayanan kesehatan itu sendiri ditujukan untuk menutup biaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan tidak bertujuan mencari keuntungan. . Oleh karena itu Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggungjawab atas tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai dengan biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan Rumah Sakit yang dikelola oleh pihak swasta. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Menurut Peraturan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah. Dan biaya penyelenggaraan kesehatan pada Rumah Sakit Umum Dokter Mohamad Soewandhie ditanggung bersama oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat dengan memperhatikan kemampuan keuangan Daerah dan keadaan sosial ekonomi masyarakat. retribusi jasa usaha.

dan menaikkan tarif Radiologi 5. Meskipun pihak Fakultas Kedokteran mengaku tak pernah menerima uang tersebut. 6. pasien yang berobat ke RSUD juga dikenakan biaya tambahan seperti pemakaian sarung tangan atau jasa spesialis yang ternyata tak diatur dalam Perda. pendapatan hasil operasi bagian bedah dikenakan beban sebesar 10 persen oleh pihak manajemen tanpa bukti dan dasar Perda.Akan tetapi ketika melihat kepada kondisi di lapangan.000 menjadi Rp 9. menaikkan tarif laborat.000. sedangkan tarif yang ditetapkan SK Direktur RSUD dr Soewandhi menjadi Rp17. Bahkan tanda bukti pembayaran pajak juga tak pernah diberikan meski telah ditanyakan karyawan.com) . Pemotongan pajak jasa pelayanan oleh manajemen ini telah berlangsung selama 3 tahun. pihak manajemen juga menaikan retribusi atau karcis loket. 2. yang dilakukan oleh RSUD Soewandie adalah pungutan liar 4. Terutama pengelolaan keuangan apotik yang tak transparan dan pendapatan yang tak pernah diserahkan ke Pemkot. Pungutan pemerintah itu ada dua yaitu pajak dan retribusi. namun dipotong PPH 21 sebesar 15 persen (Rp300 ribu). masih terdapat penyimpangan terhadap peraturan daerah tersebut yaitu adanya sejumlah penyimpangan mengenai tarif layanan kesehatan di RSUD dr Soewandhi. Seperti halnya honor dokter di RSUD dr Soewandhi.000.7 juta saja. Diperkirakan pemotongan pajak oleh manajemen RSUD telah mencapai Rp 80 hingga Rp 90 juta. jasa pelayanan dokter setempat dipotong tanpa adanya bukti dari kantor pajak. Sedangkan tarif pelayanan di poli penyakit dalam dari Rp 4. Jika sesuai Perda maka tarifnya Rp7. (Surabayapagi. Salah satunya dialami dr Widya Noer (spesialis penyakit dalam) golongan IV/C yang semula mendapat Rp 2 juta. Sehingga honor bersih yang diterima hanya Rp1. 3. retribusi tarif pelayanan di intalasi rawat darurat (IRD). Koperasi RS ditutup dengan paksa dan kegiatannya diambil alih oleh pihak manajemen. Bahkan uang Askeskin juga dipotong 25 persen untuk disetor ke Fakultas Kedokteran Unair.000. Penyimpangan-penyimpangan di RSUD dr Soewandhi itu di antaranya: 1.

pihak manajemen RSUD ini pun telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak dicantumkan di dalam Perda sebagaimana telah dijabarkan dalam uraian masalah di atas yang tentunya telah menyimpang dari aturan yang berlaku karena apa-apa yang dilakukan oleh RSUD ini dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada publiknya haruslah beradasarkan kepada Peraturan Daerah yang berlaku dalam hal ini adalah Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2008 Kota Surabaya Tentang Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Mohamad Soewandhi. sedangkan pada praktiknya pasien dikenakan biaya sebesar Rp 17. adalah sebagaimana dinyatakan dalam Lampiran Peraturan Daerah ini´ di mana di dalam lampiran ditentukan bahwa retribusi tarif pelayanan di intalasi rawat darurat (IRD) sebesar Rp 7. diantaranya telah melanggar pasal-pasal sebagai berikut: 1.000. Hal ini mengindikasikan bahwa dana hasil penyelewengan ini teralokasikan bagi pihak-pihak tertentu dan tidak dialokasikan bagi RSUD untuk menutupi biaya operasional dan meningkatkan pelayanan kesehatannya itu sendiri. ³Dokter yang bertugas di RSUD mempunyai hak : mendapatkan imbalan atas jasa profesi yang diberikannya berdasarkan perjanjian dan/atau ketentuan/peraturan yang berlaku di RSUD´ di dalam lapangan sendiri. . pendapatan RSUD tersebut jarang sekali mampu memenuhi target.000 Selain itu.000 tanpa adanya kejelasan bukti dan transparansi pemotongan pajak . pasal 27 ayat 4. Soewandhi ini telah menyalahi Perda yang berlaku 2. 3. ³Rincian besaran tarif retribusi pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RSUD mempunyai kewajiban : mematuhi peraturan perundangan-undangan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah / pemerintah daerah´ dalam hal ini palaksanaan pelayanan kesehatan oleh manajemen RSUD dr. Meskipun terjadi penggelembungan biaya retribusi dan penyelewengan-penyelewengan mengenai tarif biaya yang diberlakukan. pasal 13 poin a. ³Dalam memberikan pelayanan kesehatan. ironisnya. pasal 16 poin g.Berdasarkan uraian masalah-masalah tersebut kita bisa melihat bahwa manajemen RSUD ini telah melanggar Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pelayanan Kesehatan Pada Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Mohamad Soewandhi. honor atas jasa pelayanan dokter dipotong sampai 300.

Memang pada dasarnya setiap pajak. 3. Soewandhi ini nyatanya telah merugikan masyarakat yang menggunakan pelayanan di rumah sakit tersebut secara keseluruhan. Kasus yang terjadi di RSUD dr. Kurangnya Transparansi dan Akuntabilitas Transparansi dan akuntabilitas merupakan poin penting dalam pengelolaan keuangan daerah yang bersih. sehingga . Bagaimanapun melakukan pelayanan yang tidak menuruti tata aturan yang berlaku merupakan hal yang salah.Kondisi seperti ini tentunya akan memberikan imlikasi-implikasi negatif terhadap mekanisme keuangan daerah di Kota Surabaya juga bisa menimbulkan kesan negatif dari masyarakat terhadap pelayanan dari rumah sakit umum daerah tersebut. atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. lemahnya pengawasan sehingga besar kemungkinan banyak dana retribusi yang menguap dilapangan. retribusi. khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu. Ketidaktahuan Masyarakat Ketidaktahuan masyarakat di sini adalah ketidaktahuan masyarakat dalam hal tarif retribusi yang seharusnya diberlakukan sesuai dengan perda yang mengatur. 9 Tahun 2008 Kota Surabaya Tentang Pelayanan Kesehatan pada RSUD Dokter Mohamad Soewandhi ini bisa disebabkan oleh: 1. atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (deadweight loss). retribusi. Penggelembungan tarif retribusi dan berbagai penyelewengan yang telah diuraikan sebelumnya pun telah sangat merugikan masyarakat pengguna jasa RSUD tersebut. Adapun jika dianalisis lebih lanjut. 2. Akan tetapi jangan sampai suatu pajak. Sebagaimana kita ketahui. salah satu kriteria umum tentang perpajakan dan retribusi daerah adalah pajak dan retribusi tersebut jangan sampai menimbulkan non-distorsi terhadap perekonomian : implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Pengawasan keuangan daerah yang lemah Mengingat penyimpangan-penyimpangan ini telah berlaku cukup lama (sekitar 3 tahun) berarti dapat diindikasikan adanya system pengawasan yang lemah baik dari DPRD setempat maupun dari badan pengawas lainnya yang bertanggung jawab mengawasi RSUD tersebut. Selama ini manajeman RSUD itu sendiri terkesan menutup-nutupi data dan informasi yang seharusnya dapat diakses oleh publiknya. penyimpangan-penyimpangan Perda No.

2 tahun 2009. khususnya masyarakat yang berpenghasilan rendah. serta masih adanya mental korup dari pihak manajeman melalui penggelembungan tarif retribusi pelayanan kesehatan. khususnya guna menciptakan pengelolaan keuangan daerah yang bersih dan terawasi masyarakat. 9 tahun 2008 ini melalui instruksi Walikota no. yang tentunya diharapkan penyimpanganpenyimpangan tersebut dapat segara bisa dihentikan. 4.masyarakat tidak menyadari bahwa tarif retribusi yang diberlakukan telah dinaikkan secara tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Soewandhi ini dalam mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal seperti ini bisa disebabkan karena kurangnya sosialisasi pemerintah akan Perda yang telah dibuat sehingga masyarakat tidak begitu mengetahui hak-haknya dalam pelayanan serta berapa tarif retribusi sebenarnya yang harus dibayarkan. Oleh karena itu. khususnya penggunaan tarif retribusi yang tidak sesuai dengan perda serta adanya prosedural yang harus dijalankan pasien yang tidak ada dasar hukumnya dalam peraturan daerah telah memutus intisari maupun tujuan dari peembentukan rumah sakit umum daerah itu sendiri yaitu untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang memadai dengan biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan Rumah Sakit yang dikelola oleh pihak swasta. yang hasilnya masuk ke dalam kas-kas individu atau kelompok tertentu. Banyaknya prosedur yang harus dilakukan pengguna jasa RSUD ini yang sebenarnya tidak ada dalam perda sebenarnya juga tidak diketahui masyarakat. Adapun berdasarkan artikel yang saya . Dari uraian tersebut kita bisa melihat bahwa penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Dengan adanya penggelembungan retribusi dan adanya biaya-biaya lain yang harus dibayarkan oleh pengguna jasa yang sebenarnya tidak sesuai dengan peraturan daerah justru telah merugikan masyarakat itu sendiri. Padahal Walikota Surabaya itu sendiri telah menginstruksikan untuk mesnsosialisasikan Perda No. Kurangnya Etika dari pemberi pelayanan dalam penyelenggaraan pengelolaan pemungutan retribusi dan pelayanan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku Etika di sini menunjuk pada moral dan kesadaran dari pihak manajemen RSUD dr. sehingga dapat terjangkau oleh lapisan masyarakat berpenghasilan rendah. Untuk mengatasi penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pengawasan yang lebih intensif. sosialisasi mengenai Perda yang dibuat oleh pemerintah kepada masyarakat adalah penting.

Dengan kata lain. Selain itu. jika ditemukan penyimpangan. pihak manajemen RSUD dr Soewandhi ini bisa menarik retribusi pelayanan kesehatan sesuai dengan Perda yang berlaku. setelah sebelumnya pengawasan mengenai pelaksanaan pengelolaan retribusi pelayanan kesehatan di RSUD tersebut begitu kurang terlihat. serta tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan lainnya yang tidak sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam Perda. akhirnya disikapi dengan tegas oleh DPRD Kota Surabaya. Soewandhi tersebut. masyarakat bisa melaporkan penyimpangan tersebut melalui prosedur tertentu. Sebab. Dengan PAD yang terkelola dengan baik diharapkan akan dapat berpengaruh positif terhadap pemenuhan kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Pemberian sanksi yang tegas pun dapat memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang telah melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. dibutuhkan suatu sosialisasi yang efektif terhadap masyarakat mengenai substansi dari Peraturan Daerah yang mengatur tarif retribusi pelayanan kesehatan serta bagaimana prosedur mengenai pelayanan kesehatan yang sesuai denan peraturan yang berlaku. masyarakat dapat ikut mengawasi jalannya pengelolaan pemungutan retribusi dan hal-hal lainnya berkenaan pelayanan di rumah sakit tersebut sesuai dengan Perda. Tentunya hal ini akan menjadi langkah besar. untuk mengurangi tindakan-tindakan yang menyimpang dari Perda. Wakil rakyat ini mencabut Surat Keputusan (SK) dari direktur rumah sakit milik Pemkot Surabaya yang mengatur arif itu dicabut.dapat Sejumlah penyimpangan mengenai tarif layanan kesehatan di RSUD dr Soewandhi. tidak membebani masyarakat yang menggunakan jasa RSUD tersebut dengan biaya-biaya yang tidak ada dasar hukumnya. SK itu dinilai melanggar Perda nomer 9 tahun 2008 yang mengatur tentang retribusi pelayanan kesehatan di RSUD dr Sowandhi tersebut. maka tingkat penyimpangan yang dilakukan oleh manajemen RSUD ini lebih dapat diminimalisir. Dengan adanya pengelolaan pajak dan retribusi yang benar tentunya akan menyokong Pendapatan Asli Daerah di Kota Surabaya itu sendiri. Hal ini akan membuat masyarakat lebih tahu dan sadar akan hak dan kewajibannya ketika mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUD dr. Diharapkan dengan pencabutan SK tersebut. . Jika masyarakat lebih kritis dan tahu mengenai apaapa yang tercantum di dalam peraturan yang berlaku.

000 menjadi Rp 9. jasa pelayanan dokter setempat dipotong tanpa adanya bukti dari kantor pajak. pendapatan hasil operasi bagian bedah dikenakan beban sebesar 10 persen oleh pihak manajemen tanpa bukti dan dasar Perda. pasien yang berobat ke RSUD juga dikenakan biaya tambahan seperti pemakaian sarung tangan atau jasa spesialis yang ternyata tak diatur dalam Perda 4.Kesimpulan Dengan melihat Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pelayanan Kesehatan pada Rumah Sakit Umum Daerah dr. 6. dan menaikkan tarif Radiologi 5. Bahkan uang Askeskin juga dipotong 25 persen untuk disetor ke Fakultas Kedokteran Unair. dan pasal 27 ayat 4. 3. menaikkan tarif laborat.000. pengelolaan keuangan apotik yang tak transparan dan pendapatan yang tak pernah diserahkan ke Pemkot. Permasalahan-permasalahan tersebut telah melanggar Perda No 9 tahun 2008 tersebut terutama pada pasal 13 poin a. Kurangnya Transparansi dan Akuntabilitas 3. sedangkan tarif yang ditetapkan SK Direktur RSUD dr Soewandhi menjadi Rp17. Penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat disebabkan oleh: 1. retribusi tarif pelayanan di intalasi rawat darurat (IRD). Ketidaktahuan Masyarakat karena minimnya sosialisasi mengenai Perda yang berlaku 4.000. Kurangnya Etika dari pemberi pelayanan dalam penyelenggaraan pengelolaan pemungutan retribusi dan pelayanan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku . pasal 16 poin g. Pengawasan keuangan daerah yang lemah 2. pihak manajemen juga menaikan retribusi atau karcis loket. Selain itu manajemen RSUD ini pun telah memberlakukan retribusi atau pungutan-pungutan terhadap masyarakat pengguna jasa yang tidak didasarkan atas Perda. Sedangkan tarif pelayanan di poli penyakit dalam dari Rp 4.000. Soewandhi yang didalamnya juga mengatur mengenai retribusi pelayanan kesehatan di RSUD tersebut serta dengan membandingkannya dengan kondisi lapangan maka kita bisa melihat berbagai permasalahan sebagai berikut: 1. 2. Jika sesuai Perda maka tarifnya Rp7.

Dengan PAD yang terkelola dengan baik diharapkan akan dapat berpengaruh positif terhadap pemenuhan kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.Adapun penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat diminimalisis dengan cara melakukan pengawasan yang lebih intensif dan melakukan sosialisasi mengenai Perda yang berlaku kepada masyarakat. Dengan adanya pengelolaan pajak dan retribusi yang benar tentunya akan menyokong Pendapatan Asli Daerah di Kota Surabaya itu sendiri. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful