bentuk konflik sosial Bentuk Konflik Sosial

Sasse (1981) mengajukan istilah yang bersinonim maknanya dengan nama conflict style, yaitu cara orang bersikap ketika menghadapi pertentangan. Conflict style ini memiliki kaitan dengan kepribadian. Maka orang yang berbeda akan menggunakan conflict style yang berbeda pada saat mengalami konflik dengan orang lain. Sedangkan Rubin (dalam Farida, 1996) menyatakan bahwa konflik timbul dalam berbagai situasi sosial, baik terjadi dalam diri seseorang individu, antar individu, kelompok, organisasi maupun antar negara. Ada banyak kemungkinan menghadapi konflik yang dikenal dengan istilah manajemen konflik. Konflik yang terjadi pada manusia ada berbagai macam ragamnya, bentuknya, dan jenisnya. Soetopo (1999) mengklasifikasikan jenis konflik, dipandang dari segi materinya menjadi empat, yaitu: 1. Konflik tujuan Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif. 2. Konflik peranan Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama. 3. Konflik nilai Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama, sehingga konflik dapat terjadi antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan organisasi. 4. Konflik kebijakan Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemuka- kan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya.

Konflik diekspresikan dalam bentuk agresi seperti ancaman atau paksaan dan terjadi pembesaran konflik baik pembesaran masalah yang menjadi isu konflik maupun peningkatan jumlah individu yang terlibat. 3. (4) konflik antara kelompok dalam organisasi. Sebaliknya. Konflik terjadi dalam frekuensi yang tinggi dan menyita sebagian besar kesempatan individu untuk berinteraksi. Dalam konflik yang konstruktif. Berbeda dengan pendapat diatas Mulyasa (2003) membagi konflik berdasarkan tingkatannya menjadi enam yaitu: • • • • • • (1) konflik intrapersonal. (5) konflik antar organisasi. Sedangkan Handoko (1984) membagi konflik menjadi 5 jenis yaitu: (1) konflik dari dalam individu. Dalam konflik yang konstruktif isu akan tetap terfokus dan dirundingkan melalui proses pemecahan masalah yang saling menguntungkan. . (3) konflik intragroup. Ini menandakan bahwa problem tidak diselesaikan secara kuat. dan (6) konflik interorganisasi. 1996) membedakan konflik dalam dua tipe yang berbeda. (4) konflik intergroup. Konflik berakhir dengan terputusnya interaksi antara pihak-pihak yang terlibat. (5) konflik intraorganisasi. (3) konflik antar individu dalam kelompok. yaitu konflik destruktif dan konstruktif. (2) konflik interpersonal. kelangsungan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat akan tetap terjaga.Gambar 6. Dipandang dari akibat maupun cara penyelesaiannya. Furman & McQuaid (dalam Farida. konflik yang konstruktif terjadi dalam frekuensi yang wajar dan masih memungkinkan individu-individunya berinteraksi secara harmonis.4 adalah contoh yang menunjukkan ragam dan bentuk konflik yang terjadi di masyarakat. Konflik dipandang destruktif dan disfungsional bagi individu yang terlibat apabila: 1. (2) konflik antar individu dalam organisasi yang sama. 2.

Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. dan 5. Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut: 1. konflik dibedakan menjadi 4 macam: konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi). 3. pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. 2. Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.org/mw/BAB_6_KONFLIK_SOSIAL • .Menurut Dahrendorf (1986). perubahan kepribadian pada individu. misalnya timbul nya rasa dendam. antar gank). Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut. misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role). meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. 3. 1. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. 4. • konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. saling curiga dan sebagainya.crayonpedia. dan • konflik antar satuan nasional (perang saudara). Para pakar teori konflik mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi. 4. Sumber: http://www. • konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga. benci. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik. 2. kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.