P. 1
RPP Pengelolaan Penyelenggaran Pendidikan

RPP Pengelolaan Penyelenggaran Pendidikan

|Views: 20|Likes:
Published by imanannurjaman

More info:

Published by: imanannurjaman on Feb 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

85955213.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

85955213.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

85955213.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
85955213.doc

4

seni. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. dan seni melalui pendidikan. 24.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. seni. seni. dan/atau olah raga. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. 34. dan/atau olah raga. dan bahan pelajaran.doc 5 . penelitian. dan/atau olah raga tertentu. teknologi. 25. 30. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. teknologi. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. 85955213. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. 27. 29. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. 32. mengembangkan. 28. teknologi. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. 31. 26. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. isi. dan pengabdian kepada masyarakat. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. 33. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. teknologi. teknologi.

sosial. Pendidikan informal lingkungan. aspirasi. dan media lain. 85955213. oleh. dan budaya masyarakat daerah setempat. nonformal. dan informal. sosial. informasi. 36. 45. 44. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. 41. budaya. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 39. 42.doc 6 . dan untuk masyarakat. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. oleh dan untuk masyarakat. ekonomi. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. 38.35. 40. 43. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan.

badan hukum pendidikan. komunitas sekolah. atau Pemerintah Kota. satuan pendidikan. 51. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. b. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. d. dan e. b.doc 7 . c. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. 48. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 85955213. pendidikan.46. 50. Pemerintah Kabupaten. Pemerintah. merata. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. dan efektivitas. 49. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. 47. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. dan terjangkau. Pemerintah Kabupaten/Kota. c. 52. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. Pemerintah Provinsi. efisiensi. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan.

f. rencana kerja Pemerintah (RKP). rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). Departemen. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. orang tua/wali peserta didik. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). satuan pendidikan. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. g. k. badan hukum pendidikan. f.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. j. pendidik dan tenaga kependidikan. h. l. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). sejenis. dewan pendidikan. c. e. Pemerintah kabupaten/kota. 8 . e. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc Pemerintah Provinsi. 85955213. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. d. i. c. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. rencana strategis pendidikan nasional. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. d. Departemen Agama. b. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. b. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan.

masyarakat. antar provinsi. satuan. Pasal 8 pemerataan partisipasi 85955213. mengawasi mengkoordinasi. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3).m. mensupervisi. peserta didik khusus. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. antara laki-laki dan perempuan. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. memantau. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. jenjang. efisien. antara kabupaten dan kota. antar kabupaten. d. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. dan n. c. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. antar kota. dan e.doc 9 . mengevaluasi. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. membimbing. b. dan mengendalikan penyelenggara. jalur.

(3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. akreditasi program pendidikan. f. b. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. dan/atau g. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. c. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. Pemerintah daerah. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. Catatan: 85955213. satuan dan/atau program (2) e. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. b.doc 10 . (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. Satuan pendidikan. d. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. dan b. sertifikasi kompetensi pendidik.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi satuan pendidikan.

(3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). peserta didik. olahraga. kabupaten/kota. nasional. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. seni.. memfasilitasi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. dan internasional. seni. dan c. membina.doc . provinsi. ilmu pengetahuan dan teknologi.. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. pendidik dan tenaga kependidikan. 11 (4) (2) 85955213. b. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

e. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. Badan hukum pendidikan. Program dan/atau satuan pendidikan. efektifitas. Departemen. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. dan g. jenis. d. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. Pemerintah provinsi. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. dan jalur pendidikan.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. c. b. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. f. 85955213. Departemen Agama. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Pemerintah kabupaten/kota.doc 12 . Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan.

b. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP).(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 85955213. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan mengendalikan penyelenggara. jenjang. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). rencana strategis pendidikan provinsi. i. dan k. f. efisien. h. d. membimbing. satuan. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. b. ayat (2). c. rencana (RKATP). rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). dan ayat (3). mengkoordinasi.doc 13 . memantau. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. peraturan daerah di bidang pendidikan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. f. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengevaluasi. c. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. g. peraturan gubernur di bidang pendidikan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. mensupervisi. mengawasi. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan g. jalur. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. pendidik dan bersangkutan. d. tenaga kependidikan di provinsi yang j. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e.

dan d. b. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antara laki-laki dan perempuan.doc 14 . peserta didik khusus. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. antar kabupaten.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (2) 85955213. antar kota. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. antara kabupaten dan kota. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. c.

dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 85955213. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. satuan dan/atau program c. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. membina. Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. akreditasi program pendidikan. sertifikasi kompetensi pendidik.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi pendidikan terkait.doc 15 . (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. b. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. sertifikasi kependidikan. Pengangkatan. e. f. membina. mengakui. akreditasi satuan pendidikan. memfasilitasi. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sertifikasi kompetensi peserta didik. dan/atau kompetensi tenaga g. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). mengakui. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. memfasilitasi. pemberhentian.

peserta didik di provinsi yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. e. dan k. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. c.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. b. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. i. nasional. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. h. d. seni. olahraga. Pasal 24 85955213. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a.doc 16 . badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan c. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. b. provinsi. ayat (2). efektifitas. tenaga kependidikan di provinsi yang j. f. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. ilmu pengetahuan dan teknologi. kabupaten/kota. dan internasional. semua jajaran Pemerintah Provinsi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. g. pendidik dan bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan.

c.doc 17 . rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. g. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. f. jenis. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. d. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 85955213.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. e. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. peraturan daerah di bidang pendidikan. b. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional.

(3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan. badan hukum bersangkutan. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. memantau. mensupervisi. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. jalur. i. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. g. ayat (2). dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. b. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. mengevaluasi. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota.doc 18 . e. c.a. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. jenjang. mengkoordinasi. j. membimbing. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. f. h. dan ayat (3). mengawasi. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 28 85955213. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. dan mengendalikan penyelenggara. efisien. d.

dan Standar Nasional Pendidikan.doc 19 . akreditasi program pendidikan. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. sertifikasi pendidikan terkait. sertifikasi kependidikan. kebijakan provinsi bidang pendidikan. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. sertifikasi kompetensi peserta didik. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. f. Pasal 31 85955213. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. b. b. peserta didik khusus. d. dan/atau kompetensi tenaga g. sertifikasi kompetensi pendidik. e. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. satuan dan/atau program (2) (3) c. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. dan antara laki-laki dan perempuan. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). akreditasi satuan pendidikan. c.

provinsi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). kecamatan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. seni. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 33 (4) 85955213. dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. seni. c. b. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. membina. dan olahraga. kabupaten/kota. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). ayat (2). nasional.doc 20 . memfasilitasi.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
85955213.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
85955213.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
85955213.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
85955213.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

dan sesuai peraturan perundangundangan. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. didik satuan dan/atau program d. g. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. peserta pendidikan terkait.c. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. e.doc 25 . 85955213.

c. e. satuan pendidikan dasar. dan dan belanja tahunan satuan c. f. b. b. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). oleh satuan pendidikan anak usia dini.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . f. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. (4) a. d. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan c. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. 85955213. dan d. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Kebijakan Pasal 4. d. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. e. anggaran tahunan perguruan tinggi. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). anggaran pendapatan pendidikan. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana kerja tahunan satuan pendidikan. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. rencana strategis perguruan tinggi. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. b. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. peraturan pemimpin perguruan tinggi. c.

dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan sesuai peraturan perundang-undangan.doc . ayat (2). dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. dan sebagaimana dimaksud dalam b. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. dan/atau kebijakan 27 85955213. Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. peserta didik khusus. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan ayat (4). dan sesuai peraturan perundangundangan. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. ayat (3). efisien.

pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan Standar Nasional Pendidikan. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. dan/atau g. satuan dan/atau program pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc . mengikuti: a. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. b. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 85955213. d. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. dan/atau program (3) e. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. pendidikan dasar. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. c.

seni. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. efektifitas. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. ayat (2). f. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. satuan c. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan internasional. seni. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. provinsi. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. b. 85955213.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. e. b. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. kabupaten/kota.doc 29 . kecamatan. c. nasional. satuan bersangkutan. dan olahraga. d. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.

berakhlak mulia. mandiri. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. sehat. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). b. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. emosional. intelektual. cakap.doc . BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. menumbuhkan. atau bentuk lain yang sederajat. tenaga kependidikan. dan peserta didik. percaya diri. kinestetis. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. TK. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. RA. berkepribadian luhur. berilmu. kritis. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. inovatif. (2) PAUD bertujuan: a. Bustanul Athfal (BA). mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. kreatif. 30 (2) 85955213. Raudathul Athfal (RA).

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

85955213.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
85955213.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

85955213.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

85955213.doc

34

(5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. ayat (5). atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. lulus ujian kesetaraan Paket A. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. b.doc 35 . lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. Satuan pendidikan SD. ayat (4). atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. MTs. sosial. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. MTs. tidak benar. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. MI. MI. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. dan/atau tidak jujur. SMP. lulus ujian kesetaraan Paket A. (8) 85955213. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. atau b. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. MTs. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. MTs. dan b.

ahlak mulia. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. dan kepribadian luhur. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6).(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). status sosial. dan akuntabel. dan f. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. menghayati. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. e. etnis. transparan. agama.doc (5) 36 . dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. kehalusan. kemampuan ekonomi. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. 85955213. menghayati. meningkatkan. d. meningkatkan. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. b. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan harmoni. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. c.

dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. toleran. dan f. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. b. mandiri. atau bentuk lain yang sederajat. ahlak mulia. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). kritis.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. dan berkepribadian luhur. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. meningkatkan. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. d. peka sosial. meningkatkan. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. kehalusan. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). dan kepribadian luhur. dan harmoni. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. c. dan d. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah.doc . menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan inovatif. sehat. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan bertanggung jawab. demokratis. berilmu. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. e. dan percaya diri. menghayati. yaitu 37 (2) 85955213. menghayati. kreatif. cakap. berakhlak mulia. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Madrasah Aliyah (MA). b. c. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. kelas 11 (sebelas). dan kelas 12 (dua belas). Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. yang diperlukan masyarakat. yaitu kelas 10 (sepuluh). bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. program studi program studi lain 38 . kelas 11 (sebelas). kelas 12 (dua belas). dan pariwisata. e. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. keagamaan. d. c. pengetahuan alam. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. d. bidang studi keahlian seni. pengetahuan sosial. b. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. b.kelas 10 (sepuluh). kerajinan. f. atau e. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. 85955213.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. dan kelas 13 (tiga belas). bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. c. bidang studi keahlian kesehatan. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi.

g. atau b. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. dan ayat (5). Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. atau bentuk lain yang sederajat. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b.doc . MTs. lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus ujian kesetaraan Paket B. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. b. apabila setelah dilakukan 39 85955213. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. ayat (4) huruf b. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. dan b.

dan kondisi fisik atau mental. transparan. dan/atau tidak jujur. sosial. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 85955213. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. tidak benar. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4).pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. etnis. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. agama. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh).doc 40 . kemampuan ekonomi. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. status sosial. dan akuntabel. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif.

sarjana. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. institut. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. teknologi. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. dan/atau pendidikan vokasi. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. seni. kritis.doc 41 . dan olahraga. teknologi. Maha Esa. mandiri. inovatif. serta d. toleran. ilmu pengetahuan. teknologi. dan sehat. seni. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. seni. dan c. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. watak. dan/atau doktor. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. sekolah tinggi. peka sosial. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. berilmu. ilmu pengetahuan. beretika.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. menerapkan. dan olahraga. mengembangkan. cakap. politeknik. produktif. Paragraf 3 85955213. taat hukum. dharma pendidikan untuk menguasai. magister. percaya diri dan berjiwa enterprenur. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. demokratis. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. mengadopsi. b. pendidikan profesi. Bentuk. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. dan kepribadian manusia melalui: a. dharma penelitian untuk menemukan. dan c. atau universitas. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. kreatif. ilmu pengetahuan. dan bertanggung jawab. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. Paragraf 2 Jenis. spesialis. b.

yang mencakup program pendidikan diploma. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan.doc 42 . pusat penelitian. spesialis. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. pelaksana akademik. magister. hukum. keuangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. sarjana. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. spesialis. sarjana. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. pusat pengabdian masyarakat. penelitian. magister. komunikasi. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 85955213. kepersonaliaan.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. jurusan. atau fakultas. perlengkapan. profesi dan/atau vokasi. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. dan/atau doktor. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. seni. kemahasiswaan. dan penunjang. dan doktor. dan pengabdian kepada masyarakat. teknologi.

ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. jumlah. atau sebaliknya. Program magister. dan/atau doktor. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. profesi. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. profesi. tugas pokok. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. spesialis. spesialis.(3) Jenis. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. profesi. fungsi.doc 43 . dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. (2) 85955213. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. spesialis. atau sebaliknya. Program magister. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b.

(4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. kedudukan. perpustakaan. g. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Jenis dan jumlah. unit layanan masyarakat. sarana dan prasarana olah raga. apotik. d. keindahan. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. unit layanan bimbingan dan konseling.doc 44 . dan kesehatan lingkungan. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. magister. dan doktor adalah: a. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan.c. sarana dan prasarana kesenian. dan 85955213. laboratorium/bengkel/studio. tugas pokok. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. toko buku. kenyamanan. dan h. dan b. f. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. penjaminan mutu pengabdian kepada e. penerbitan. poliklinik. dan unit lain yang dipandang perlu.

memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan kondisi fisik atau mental. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah.doc . 45 (3) (4) (5) (2) 85955213. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. agama. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. status sosial. transparan. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. etnis.b. dan b. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. kemampuan ekonomi. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. dan akuntabel. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. dan b.

doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. 85955213. lokakarya. dan kemampuan konfluen mahasiswa. tidak benar. afektif. simposium. praktikum. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. kuliah. dan/atau tidak jujur. seminar. psikomotorik. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. 46 . Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi.

dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). kompetensi lulusan. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain.doc 47 . (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 85955213. ayat (3). Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. sarana dan prasarana. pengelolaan.penelitian. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. proses pembelajaran. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). Isi kurikulum. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. pembiayaan.

dunia usaha. atau pihak lain yang dipandang perlu. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.doc 48 .Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. c. b. mengawasi. Pasal 82 ayat (2). (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. 85955213. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a.

e. 49 85955213. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. kontrak manajemen. penyelenggaraan seminar bersama. penelitian. b. b.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. d. produktifitas. c. efektifitas. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. pendidikan. g. dan dilandasi oleh etika. inovasi. program kembaran. pengalihan dan/atau perolehan kredit. kreatifitas. i. pendayagunaan aset. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. c. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. d. e. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. f. h. mutu. j. penerbitan jurnal ilmiah. usaha penggalangan dana.doc . pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. dan pengabdian kepada masyarakat. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pemagangan. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. norma serta kaidah keilmuan.

(3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. ayat (2). melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. penelitian. simposium. setiap individu sivitas akademika: a. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. ayat (2) dan ayat (3): a. secara bertanggungjawab dan mandiri. diskusi. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. seminar. bangsa. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. tidak mengganggu ketertiban umum. dan mengembangkan ilmu. baik di dalam maupun di luar kampus. d. teknologi. c. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. dan kemanusiaan. dan kaidah akademik. serendah-rendahnya ketua program studi. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). b. e. seni. dan ayat (5): a.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. publikasi ilmiah. serta kaidah keilmuan. nilai-nilai etika. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 85955213. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan.doc . tidak menimbulkan keresahan masyarakat. ujian. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. ketua pusat penelitian. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. c. norma. ceramah. menerapkan. b. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. dan pengabdian kepada masyarakat. negara. dan taat etika.

seni. teknologi. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. teknologi. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan.sivitas akademika yang terlibat. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. dan taat etika. seni. hayati. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. dan c. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. teknologi. mengungkapkan. sesuai dengan peraturan perundangundangan. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. b. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 85955213. penelitian terapan. dalam menemukan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. sosial. seni. serta kaidah keilmuan. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. seni. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. mengembangkan. dan/atau olah raga. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi.doc . Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau olah raga yang bersangkutan. norma. d. b. c. institut. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. teknologi.

mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. disetujui dosen pembimbing. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. seni. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. teknologi. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. metode. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana.pengembangan. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. dan d. prinsip. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. dan/atau menguji ulang teori. dan/atau olah raga. prosedur. konsep. disetujui dosen pembimbing. b. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. c. dan/atau olah raga. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 85955213. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji.doc 52 . b. teknologi. seni. disetujui dosen pembimbing. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian.

mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. fakultas. Perpustakaan Nasional. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 85955213. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). program studi. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian.doc . (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. dan perpustakaan Departemen.

atau pemadanian kehidupan masyarakat. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. pemodernan. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. dan masyarakat. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. pemberdayaan pengembangan dosen. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. pemberdayaan pengembangan dosen. ayat (2).doc . dosen. keteladanan. dan masyarakat. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan.informasi dan komunikasi Departemen. b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 85955213. baik secara individual maupun berkelompok. dosen. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kreatifitas. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. dan d.

transparan. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. b. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. ujian. program sarjana. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. dan jujur. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau bentuk penilaian lainnya.kepada masyarakat perguruan tinggi. 85955213. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional.doc 55 . penilaian tugas terstruktur dan mandiri. Penilaian hasil objektif. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93.

ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 85955213. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a.doc 56 . program studi yang b. d. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. b. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. ditetapkan oleh organisasi profesi. c. atau c. e. dilaksanakan atas dasar sampel. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri.

atau gelar profesi. sarjana sains terapan. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. 57 85955213. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. b. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. dan c. untuk lulusan program diploma II. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan d. singkatan. gelar vokasi. vokasi.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. c. untuk lulusan program diploma III. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. b. magister. ahli muda. ahli pratama. untuk program diploma IV. Gelar akademik. vokasi. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. untuk lulusan program diploma I. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. Pasal 82 (1). (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ahli madya. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. sarjana. doktor.(1) Lulusan pendidikan akademik.doc . diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. ayat (3).

dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. Pasal 83 (3). kebudayaan.doc 58 .(2). Penetapan jenis gelar akademik. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. keagamaan. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. singkatan. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. teknologi. (1) Pencantuman jenis. profesi. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. dan penempatan yang berlaku di negara asal. (2) (3) (4) 85955213. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. singkatan. kemasyarakatan.

misi.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. pelaksanaan visi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. b. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. c. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 85955213.doc 59 . kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional.

dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. b. d. penambah. lembaga kursus. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. lembaga pelatihan. majelis taklim. c. f. pusat kegiatan belajar masyarakat. mengembangkan profesi. keterampilan. kelompok belajar. keterampilan. bekerja.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 85955213. kelompok bermain (KB). Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. taman penitipan anak (TPA).doc . g. sikap wirausaha. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. e. h.

menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 61 . (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. dan untuk masyarakat. dan berazaskan prinsip dari. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. 85955213. oleh.yang lebih tinggi.

serta pendidikan lainnya. kecakapan intelektual.doc . pendidikan anak usia dini. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. berusaha dan/atau hidup mandiri. pendidikan kecakapan hidup. pendidikan keaksaraan. atau bentuk lain yang sejenis. e. h. pendidikan pemberdayaan perempuan. d. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. b. kelompok bermain (KB). g. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. c.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). f. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. kecakapan sosial. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 85955213. pendidikan kepemudaan. pendidikan kesetaraan. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun.

dan kemampuan masing-masing peserta didik. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. sosial budaya. gizi. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. dan perkembangan anak. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. kecakapan sosial. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. termasuk kesejahteraannya. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. usia. dan stimulasi psikososial. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 85955213. minat.doc (4) 63 . berusaha dan/atau hidup mandiri.kecakapan personal.

peningkatan perempuan. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. etika dan kepribadian. bermasyarakat. dan kewirausahaan. pencegahan perempuan. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. sikap kewirausahaan. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. estetika. etika dan kepribadian. nilai. kepanduan/kepramukaan.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . organisasi pemuda. sikap. 85955213. kesehatan dan keolahragaan. kepeloporan. harkat. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. wawasan. seni dan budaya. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. kecakapan hidup. dan martabat b. wawasan kebangsaan. ilmu pengetahuan dan teknologi. palang merah. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan c. kedudukan. kebangsaan. kepeloporan. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. pecinta alam dan lingkungan hidup. kepemimpinan. berbangsa dan bernegara.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa.

berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik.doc . berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 85955213. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. berhitung. menulis. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. menulis. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. menulis. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif.

meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 85955213. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. Paket B. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A.kerja untuk memperoleh. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. dan Paket C. SMP/MTs.doc 66 .

BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. 85955213.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. etika dan kepribadian. nilai moral. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). menanamkan nilai budaya. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.doc 67 . hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. estetika. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. anggota keluarga.

atau lingkungan alam. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.doc 68 . (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. keluarga. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. 85955213. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan/atau masyarakat. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. pendidikan oleh media massa. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. lingkungan sosial. anggota masyarakat.

BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. jenjang. dan jenis pendidikan.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. 85955213. belajar mandiri. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. b. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. belajar tuntas. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur.doc (2) (2) (3) 69 . dan berbasis teknologi pendidikan.

Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. belajar secara mandiri. dan sistem operasional yang diterapkan. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan ujian. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 85955213.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. atau konsorsium. atau satuan pendidikan. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. program studi/pendidikan. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional.doc 70 . tutorial. terstruktur. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. cakupan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. registrasi. ganda. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. praktik/praktikum.

(2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri.doc 71 . (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. jaringan komputer. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. jaringan TV. 85955213. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. informasi.

dan/atau sosial. dan/atau mengalami bencana alam. mental. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. masyarakat adat yang terpencil. sosial. intelektual. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. intelektual. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. mental.doc 72 . bencana sosial. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. jenjang. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 85955213. dan jenis pendidikan. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan tidak mampu dari segi ekonomi. emosional. emosional.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
85955213.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
85955213.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
85955213.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

85955213.doc

76

jauh. madrasah kecil. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. b. dan/atau c. kelompok belajar. kursus dan pelatihan. madrasah darurat. b. taman penitipan anak.keahlian dan keterampilan. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. taman penitipan anak. kelompok belajar. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. kelompok belajar. e. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. f. kursus dan pelatihan. kursus dan pelatihan. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. d. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. taman penitipan anak. c. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. madrasah terbuka. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. g. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. Pasal 123 85955213.doc 77 .

dan f. b. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. e. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 85955213. c.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus.doc 78 . (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. peserta didik di daerah kepulauan kecil. peserta didik di daerah perbatasan. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. d. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil.

(5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan pembangunan sumberdaya nasional. pengembangan. serta menunjang pelestarian. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. dan seni. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. c. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. dan/atau (2) (3) (4) a. teknologi.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. dan seni. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. b. 85955213. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. teknologi.doc 79 . (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya.

e. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan.doc 80 . h. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. SMK. d. dan seni. f. dan MAK. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. proses pembelajaran. dan teknologi. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. i. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. j. c.d. g. MTs. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 85955213. teknologi. SMA. teknologi. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. matematika. teknologi. penilaian. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. dan seni. dan perpustakaan. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. MA. b. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik.

n.mata pelajaran yang diampunya.doc 81 . ruang kelas. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. ruang perpustakaan. MTs. buku dan sumber belajar lainnya. atau guru kelas. sekurangkurangnya: 1). ruang unit produksi. tempat beribadah. m. MI. mampu berbahasa Inggris. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. atau bidang nonkependidikan yang relevan. ruang tata usaha. l. 30% untuk SMA. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang bengkel kerja. tempat bermain. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. 3). 2). tempat berkreasi. 20% untuk SMP. ruang kantin. peralatan pendidikan. sekurang-kurangnya: 1). seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. tempat berolahraga. bahan habis pakai. atau bidang nonkependidikan yang relevan. atau yang sederajat. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. instalasi daya dan jasa. 10% untuk SD. atau guru kelas. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). dan k. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. sederajat. atau yang sederajat. 2). 3). atau yang sederajat.MA. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 85955213. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya.MAK. ruang pendidik. media pendidikan. dan 4). ruang pimpinan satuan pendidikan. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. atau yang SMK. memiliki visi internasional. ruang laboratorium. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.

o. fasilitas multi media. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. dan p. fasilitas olah raga. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. dan Bahasa Indonesia. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik.doc . Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 85955213. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan ruang unjuk seni budaya. Pendidikan Kewarganegaraan.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan 2). perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia.

85955213. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. pengembangan.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . b. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. dan promosi keunggulan lokal. c. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan.

(2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. b.teknologi informasi dan komunikasi. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. d. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. 85955213.doc 84 . proses pembelajaran. satuan pendidikan dasar. penilaian. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. d. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. e. g. dan perpustakaan. dan keluar-masuk (entry-exit). c. terpadu-satu sistem-satu atap. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan h. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. f. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.

Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 85955213.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama.doc 85 .

Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. b. c. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama.doc . 86 85955213. Pasal 137 (1). Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu.pertimbangan dari Menteri Agama. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. (4) sebagaimana dimaksud (2). (3). Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. d. pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain.

meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. penelitian. pendidikan tinggi bertaraf 85955213. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. program pemindahan dan perolehan kredit. pertukaran peserta didik. e. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. dan/atau c. h. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. menyelenggarakan internasional.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. g. i. d. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. dan/atau b. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. b. penyelenggaraan seminar bersama. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. c.doc 87 . f. program kembaran. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan.

(4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. c. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. program kembaran. b. kontrak manajemen. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. h. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. penyelenggaraan seminar bersama. d. c. i. e. g.doc 88 . Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. penerbitan jurnal ilmiah. pengabdian kepada masyarakat. f. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. pendayagunaan aset. program pemindahan dan perolehan kredit. dan/atau d. penelitian. usaha penggalangan dana. b. 85955213. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. pemagangan. j.

dan kecepatan belajar. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. 139. 140. 138.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. 85955213. minat. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134.doc 89 . b. serta kebutuhan khususnya. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. c. kecerdasan. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. kemampuan.

d. e. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. g. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. f. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa.doc . dan h. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. pemerintah daerah. c. b. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. b. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. memperoleh bantuan fasilitas belajar. Pemerintah Provinsi. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. dan 90 85955213. dan c.

e. dan j. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. masyarakat. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. mencintai keluarga. serta pembiasaan peserta didik. mencintai lingkungan. dan keamanan sekolah. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. mematuhi semua peraturan yang berlaku. ketertiban. c.doc 91 . d. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. i. dan negara. bangsa. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. g. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. h. f. kebersihan. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 85955213. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.i. b. serta menyayangi sesama. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban.

dan pengabdian kepada masyarakat. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. dan pendidikan tinggi. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. fasilitator. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. b. penelitian. alat pembelajaran. mengembangkan. menilai.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Tugas. melatih. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. pendidikan menengah. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. dan seni melalui pendidikan. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. instruktur. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. tutor. mengajar. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. widyaiswara. 85955213. dosen. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. e. teknologi. membimbing. d. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. mengarahkan. pamong belajar. c. dan pendidikan menengah. pendidikan dasar. dan mengembangkan: model program pembelajaran. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. melatih peserta didik. konselor.doc 92 . mengajar. membimbing. pamong.

Pasal 148. psikolog. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. c. (1). fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. terapis. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 85955213. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. tenaga administrasi. dan i. b. Pasal 149 (1). pengawas satuan pendidikan formal. penilik satuan pendidikan nonformal. pekerja sosial. (2). widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik.doc (2). 93 . Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik.f. tenaga perpustakaan. teknisi sumber belajar. h. tenaga lapangan pendidikan. penilaian. tenaga laboratorium. tenaga kebersihan sekolah. g. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

85955213. e. j. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. i. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. d. dan l. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan.doc 94 . pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. merawat. h. penilaian. pemantauan. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. k. satuan pendidikan dasar. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. f. pembimbingan. dan pendidikan menengah.pemantauan. g. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan.

(4). Pasal 151 (1). Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. Pengangkatan. penempatan. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. (3). 85955213. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.Bagian Kedua Pengangkatan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. Penempatan. penempatan. pemindahan. 95 (2). pemindahan. (2). Pemindahan. (3). Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. pemindahan. penempatan.doc . Pengangkatan.

Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Promosi. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3).doc 96 . (4). (2). Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). 85955213. Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (5). (2). dan/atau penghargaan. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. (1). kenaikan jabatan. masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau bentuk promosi lainnya.

pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. dan e. nasional. dan/atau tingkat satuan pendidikan.(4). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. atau seni. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. daerah konflik. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 85955213. teknologi. b. daerah bencana. pada tingkat Kabupaten/Kota. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. propinsi.doc 97 . daerah perbatasan. kabupaten/kota. c.

Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. ayat (3). baik perseorangan maupun kolektif. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. ayat (2). berdedikasi. harganya lebih murah dari harga di pasaran. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. Hari Guru Nasional. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. ayat (2). tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 98 . Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dan b. ayat (4). piagam. (3). (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berdedikasi. Pasal 156 (1).doc (2). dilarang menjual buku pelajaran. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 85955213. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. baik perseorangan maupun kolektif. Hari Pendidikan Nasional. atau hari besar lainnya. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. ayat (3). (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi.

perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. c. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. keuangan. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a.doc 99 . geografis. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. dan ekologis.dengan peraturan perundang-undangan. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. sosial. isi pendidikan/kurikulum.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. b. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. baik perseorangan maupun kolektif. c. b. dan budaya. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. 85955213. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. dan e. d. manajemen dan proses pendidikan.

akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. harus memenuhi persyaratan: a. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. dan e. dan b. sumberdaya manusia untuk merancang.doc 100 . c. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. pustaka. menyebarluaskan. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. tutorial. b. dan ujian secara elektronik. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. memproduksi. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen.d. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. Pasal 161 (1). 85955213. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. menyusun.

MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. jenjang. SD. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. satuan pendidikan khusus. MA. Pasal 162 (1) Pendirian TK. RA. SMP. MI. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. atau bentuk lain yang sederajat. MTs. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. (2). dan f. MI. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 85955213. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. atau bentuk lain yang sederajat. SMK. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri.doc 101 . e. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. MTs. atau bentuk lain yang sederajat. (2) Izin pendirian RA. SMA.d. MA. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. MAK. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. pindah ke satuan atau program pendidikan. SMK/MAK. SD/MI. b. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. b. TKLB. pindah satuan atau program pendidikan. 102 85955213. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. SMALB. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. SMPLB.doc . SDLB. SMA/MA. SMP/MTs.

dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. pengusaha. ayat (3).doc . Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. dan pengguna hasil pendidikan. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. pelaksana. keluarga. organisasi profesi. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 85955213. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. kelompok. ayat (2).

sumbangan dana. Pasal 169 c. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. jenjang. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. pengawasan. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini.doc 104 . (1) Peranserta perseorangan. pemberian beasiswa kepada peserta didik. d. kelompok. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. dana. (2) (3) (4) Pasal 170 85955213. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. dan jenis pendidikan. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. b. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal.

pengawasan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. Pasal 173 Kurikulum.(1) Peranserta perseorangan. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. evaluasi. pengelolaan. pendidikan sistem ganda. lingkungan sosialekonomi. manajemen. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 85955213. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan.doc (2) 105 . Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. lingkungan sosioekonomi. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. kelompok. dan pembinaan satuan pendidikan. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi.

penyelenggaraan. subsidi dana.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dalam proses perencanaan. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dukungan tenaga. penyelenggaraan. dukungan tenaga. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Bantuan teknis.doc (2) (3) 106 . Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. dan/atau bantuan asing. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . subsidi dana. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dukungan tenaga. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. Pasal 176 85955213. penyelenggaraan. dalam proses perencanaan. subsidi dana. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dalam proses perencanaan.

Dewan Pendidikan Provinsi. maupun dengan lembaga pemerintahan. mengundurkan diri. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. pada tingkat nasional. 85955213. pengusaha.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. saran. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. atau 107 . Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. kepala satuan pendidikan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. dan kabupaten/kota. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. c.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. meninggal dunia. Dewan Pendidikan Nasional. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. b. tokoh masyarakat. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. praktisi pendidikan.

d. (2) b. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. jenjang. gubernur untuk tingkat provinsi. 2 (dua) tokoh masyarakat. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. dan ketua-ketua komisi. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. c. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). Dalam melaksanakan tugasnya. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). sekretaris. dan jenis pendidikan. 2 (dua) tokoh masyarakat. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri.doc 108 . Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. bendahara. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. 85955213. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang.

(2) (3) (4) (5) (6) (7) 85955213. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. sarana dan prasarana. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3).doc 109 . evaluasi program pendidikan. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. dukungan tenaga. pertimbangan dan arahan. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. Setelah terbentuk kepengurusan. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. serta pengawasan pendidikan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

85955213.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

85955213.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

85955213.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

85955213.doc

113

(3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat.doc . Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dan 1 (satu) unsur . Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. atau media lain. brosur yang dicetak. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. dan disebarkan kepada masyarakat. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. dan diketuai oleh unsur masyarakat. 114 (3) 85955213.

Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dan jenis pendidikan. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang menjual buku pelajaran. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 85955213. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. baik perseorangan maupun kolektif.doc . dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. jenjang. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.

terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. pendidikan dasar. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. oleh Pemerintah diduga meragukan. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. Pemerintah Provinsi. oleh Pemerintah dipandang kredibel. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. jalur.doc 116 . 85955213. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. jenjang. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. menengah. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. (7) Pemerintah.

dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. pemeriksaan tematik. d. dan/atau pemeriksaan terpadu. g. Pemerintah Kabupaten/Kota. i. unit kerja di lingkungan Departemen. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. k. badan hukum pendidikan. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. menguji. j. komite sekolah/madrasah. mengusut. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. menilai. h. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. meneliti. b. memeriksa. pemeriksaan khusus. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. memeriksa. c. memantau. program pendidikan. menguji.doc 117 . l. f. 85955213. pemeriksaan investigatif. satuan pendidikan. penyimpangan. b. Pemerintah Provinsi. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. e. dewan pendidikan. mengevaluasi. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.

penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. mengusut. dan pendidikan nonformal. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. h. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. i. d. Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan menengah. dan pendidikan nonformal.doc . satuan pendidikan anak usia dini. b. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. pendidikan dasar. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. l. meneliti. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. memeriksa. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menguji. f. pendidikan pendidikan menengah. memeriksa. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. menguji. mengevaluasi. komite sekolah/madrasah. b. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. memantau. unit kerja di bawah gubernur. k. c. dasar. menilai. e. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. penyimpangan. ayat (2). masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 85955213. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. j.

memeriksa. pemeriksaan khusus. menguji. komite sekolah/madrasah. pemeriksaan tematik. c. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). penyimpangan. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. memeriksa. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. memantau. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. h. dan pendidikan nonformal. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. atau m. unit kerja di bawah bupati/walikota. Menteri. pendidikan dasar. b. penyelenggara pendidikan anak usia dini. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. b. dan/atau pemeriksaan terpadu. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. menilai. mengusut. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. pendidikan dasar. pemeriksaan investigatif. g. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a.masyarakat dan/atau asosiai profesi. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan.doc 119 . Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. d. meneliti. dan pendidikan nonformal. dan objek yang diawasi. 85955213. f. menguji. e. mengevaluasi. sesuai Pemerintah Provinsi. satuan pendidikan anak usia dini.

dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 85955213. penyimpangan.doc 120 . b. program pendidikan pada satuan pendidikan. g. Menteri. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. e. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pemeriksaan khusus. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). gubernur. komite sekolah/madrasah.i. penyelenggara pendidikan. dan/atau pemeriksaan terpadu. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. f. (3) badan hukum pendidikan. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. c. pemeriksaan tematik. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. dan objek yang diawasi. satuan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. j. d. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. mengevaluasi. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. menilai.ayat (2). pemeriksaan investigatif. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. b.

a. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. bupati/walikota.doc 121 . objek yang diawasi. pada satuan pendidikan yang (3). dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 85955213. dan kabupaten/kota. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. pelaporan. badan hukum pendidikan. penyimpangan. menilai. dan/atau b. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. satuan pendidikan yang bersangkutan. b. untuk dewan pendidikan provinsi. gubernur. program pendidikan bersangkutan. dinas yang kabupaten/kota. d. tingkat nasional. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. dan c. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pelaksanaan. kabupaten/kota. menteri. menangani urusan pendidikan di b. mengevaluasi. Pasal 200 (1). Pasal 201 (1). b. c. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. (2). dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi.

29. Pasal 160. 36. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. Pasal 198. menilai kinerja objek yang diawasi. 122 85955213. satuan pendidikan. 31. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. (2). yang e.doc . memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. 26. (2). Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan Pasal 163. 64. pembekuan. 55. masukan dalam perencanaan pendidikan. 68. program pendidikan. 42. Pasal 199. Pasal 161. 82. 62. dan Pasal 200. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. 30. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). b. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 50. Pasal 197. Pasal 162. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a.pada Pasal 196. Pasal 159. 74. 28. d. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. c. 98.

program pendidikan. 62. 118. 108. 137. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 130. 145. 108. 142. 159. 138. 137. 30. 152. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 140. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 136. 42.doc . 139. 126. 31. 28. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis.101. 98. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 101. 140. 136. 151. 29. 160. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 165 dan Pasal 164. 36. 107. 159. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 26. 158. 118. pembekuan. 160. 157. 50. 144. 161. 64. 125. 138. 144. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 85955213. 139. 158. 161. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 74. 151. 107. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 68. 152. pembekuan. 157. 55. 82. 165 dan Pasal 164. 130. 125. 126. melalaikan ketentuan ayat (1). atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 142. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 145. penutupan.

dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. Pasal 206 Perseorangan. pembekuan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. kelompok. skorsing. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 205 (1). Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dewan pendidikan. dan Pasal 106. Anggota komite sekolah/madrasah.Pemerintah ini. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pembekuan. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. dan yang menangani pendidikan. organisasi orang tua peserta didik. Pasal 103.doc 124 . 85955213. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. (2). atau organisasi. Pasal 105. dan/atau penutupan oleh Menteri. institusi Pemerintah.

doc (2) 125 . (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. pembebasan dari jabatan. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. penundaan kenaikan pangkat. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 28. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. pembekuan. Pasal 126. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pemberhentian dengan hormat. gubernur. pembekuan. Pasal 30. Pasal 26. Pasal 139. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. (5) Seseorang yang mengangkat. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 134. penundaan kenaikan gaji berkala. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. Pasal 29. dan/atau penutupan satuan 85955213. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. menempatkan. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. memindahkan. organisasi.

dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.doc 126 . pemberhentian dengan hormat. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. 85955213. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. pembebasan dari jabatan. penundaan kenaikan gaji berkala. penundaan kenaikan pangkat.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461).doc . Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. e. 85955213. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). f. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. c.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .....doc 128 ..... MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR…..... Agar setiap orang mengetahuinya...TAHUN 2007 85955213... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. g. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974). Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69.. Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan... h. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859).Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485). dinyatakan tidak berlaku. H. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115....

peranserta masyarakat. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga.. pengawasan. syarat pendirian. peserta didik. sarana dan prasarana. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. dan hasil pendidikan selalu berubah. jenjang. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. bahasa pengantar.doc 129 . TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. tujuan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 85955213. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. Parameter kualitas pendidikan. masyarakat dan orang tua.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. Perkembangan ini. bentuk dan jenis pendidikan. manajemen. baik dilihat dari segi pasokan. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. proses. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Oleh sebab itu.

Standar Nasional Pendidikan. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. evaluasi. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 85955213. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. pendidikan jarak jauh. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. pendidikan kedinasan. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri.doc 130 . 51. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. pengawasan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Pendidikan Kedinasan. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. dan evaluasi yang transparan. pendidikan keagamaan. pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. sarana dan prasarana pendidikan. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. jaminan mutu. pendidikan informal. pendidikan dasar. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. pendanaan pendidikan. kurikulum. pengembangan tenaga kependidikan. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. Wajib Belajar. 52. Pasal 50. pendidikan dasar. Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan menengah. pendidikan nonformal. dan ketentuan pidana. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. pendirian satuan pendidikan. peranserta masyarakat dalam pendidikan. akuntabilitas. dan/atau masyarakat.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. akreditasi. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. pendidikan tinggi. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. pengelolaan pendidikan. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. dan sertifikasi.

85955213. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. nilai-nilai. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. pendidikan jarak jauh. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. pendidikan berbasis keunggulan lokal. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. pengutamaan pada kebutuhan anak. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. bentuk satuan pendidikan. bencana sosial. izin pendirian. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. dan kabupaten. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. dan dari masyarakat. pendidikan bertaraf internasional. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi.doc 131 . dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. provinsi. peserta didik. a. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. b. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. Pendidikan dasar dan menengah.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. pendidikan nonformal dan informal. jenjang. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. Pendidikan anak usia dini (PAUD). penghargaan pada keunikan setiap anak. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. sikap. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. pendidikan oleh negara asing. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. dan tidak mampu dari segi ekonomi. untuk.

Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. serta ilmu agama. d. Pendidikan tinggi. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Disamping itu. profesi. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup.doc 132 . serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 85955213. kursus dan pelatihan. pendidikan pemberdayaan perempuan. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. di semua bidang ilmu pengetahuan. teknologi dan/atau seni . Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. pendidikan keaksaraan. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. pendidikan kepemudaan. pendidikan anak usia dini. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. tetap besar. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. c. dan/atau vokasi. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. pendidikan kesetaraan.

relevansi. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. (c) relevansi. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. informasi. psikologis. Pendidikan jarak jauh. e. nilai budaya. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. 85955213.doc 133 . tantangan globalisasi. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. waktu. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. (b) peningkatan mutu. tutorial. media. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. dan efisiensi pada semua jalur. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. Dalam era globalisasi. mutu. dan media lain. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. minat. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. perkembangan teknologi komunikasi. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. dan bakatnya. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. dan informatika (telematika). perhatian. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. Oleh karena itu. Kondisi geografis. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. tingkat laju pertumbuhan penduduk. dan (d) efisiensi. f. tingkat dan jenis pendidikan. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. distribusi bahan ajar mandiri. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. nonformal. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. 85955213. Selain itu. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi.doc 134 . (c) penyelenggaraan tingkat khusus.

dan promosi keunggulan lokal. h. dan seni. pengembangan. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. teknologi. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. pengembangan. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal.g. serta menunjang pelestarian. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah.doc 135 . Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Lembaga pendidikan asing 85955213. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global.

terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. pengawasan. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. keterampilan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Pengangkatan. pengembangan. pengelolaan. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 85955213. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. j. i. kemampuan. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. pengalaman. melakukan pembimbingan dan pelatihan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. penyebaran. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Pendidik dan tenaga kependidikan. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. pendidikan kewarganegaraan. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. pengalaman. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. menilai hasil pembelajaran.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia.doc 136 . penempatan.

Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. dan dari masyarakat. Pasal 4 Cukup jelas. provinsi. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. Pasal 2 Cukup jelas. untuk. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional.doc 137 . konvensi internasional. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. 85955213. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. II. Pasal 3 Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional.

Ayat (2) Huruf a. Pasal 10 Cukup jelas. seni kinestetik. Pasal 8 Cukup jelas.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c. kreatif produktif. Ayat (2) Cukup jelas. akademik khusus. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas 85955213. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf b. Pasal 7 Cukup jelas.doc 138 . dan psikomotorik/olahraga. psikososial/kepemimpinan. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum.

Cukup jelas Huruf i. Huruf f. 85955213. Cukup jelas Huruf h. Pasal 12 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas.doc 139 . Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf g.Huruf e. Pasal 14 Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi.

Cukup jelas Huruf d.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf k. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf l. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. 85955213. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf c. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf b.doc 140 . Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf f.

kompetensi lulusan. pengelolaan. Pasal 18 Cukup jelas. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional.doc 141 . Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 85955213. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. tenaga kependidikan. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. proses. sarana dan prasarana. pembiayaan. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah.

maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.doc 142 . huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 85955213.

Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 85955213. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas.doc 143 . Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). dan Adi Sekha.

Huruf c.doc 144 . RA. RA. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. Ayat (3) Cukup jelas. baik di dalam maupun di luar sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. tidak memaksa. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. RA. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. mendengarkan. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Ayat (2) Huruf a. MI. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. Huruf b. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. 85955213. pramembaca.

Adi Vidyalaya (AV). RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Huruf e. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. dan Culla Sekha. Program pembelajaran estetika pada TK. 85955213. Program pembelajaran jasmani. Ayat (4) Cukup jelas. saudara. dan teman. Ayat (7) Cukup jelas. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. Ayat (5) Cukup jelas.doc 145 . Pasal 38 Cukup jelas. olahraga dan kesehatan pada TK. Ayat (3) Cukup jelas. dan Majjhima Sekha. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. pendidikan diniyah menengah pertama.Huruf d. pendidikan diniyah dasar. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. Madyama Vidyalaya (MV).

Ayat (3) Cukup jelas.Ayat (2) Cukup jelas.doc 146 . Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 85955213. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (2) Cukup jelas.

Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas.tinggal ke satuan pendidikan. Pasal 45 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Pasal 43 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. Pasal 44 Cukup jelas.doc 147 . Utama Vidyalaya (UV). Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. dan Maha Sekha. Struktur penjurusan ini akan menentukan 85955213. bidang kejuruan dan program kejuruan.

Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. Ayat (6) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan.doc 148 . Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 85955213. regional dan global. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat(3) Cukup jelas. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat(2) Cukup jelas.

yang mencakup program sarjana.Cukup jelas. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. dan doktor. dapat mencakup program spesialis. 85955213. teknologi. dan/atau seni tertentu. Ayat (8) Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Ayat (7) Cukup jelas. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan.doc 149 . Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. magister.

Ayat (3) Cukup jelas. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. kompetensi pedagogik. yang mencakup program pendidikan diploma. diploma III.`teknologi. dan/atau seni).doc 150 . 85955213. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. diploma II.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. dan diploma IV. kompetensi kepribadian. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. teknologi. kopetensi kepribadian. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. Penguasaan kompetensi pedagogik. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. teknologi. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I.

laboratorium riset. Pasal 61 Cukup jelas. 85955213. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas.doc 151 . pusat komputasi pengajaran. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Ayat (4) Cukup jelas. akses internet. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. pusat komputerisasi riset. Pasal 60 Cukup jelas. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. laboratorium pengajaran. Misalnya. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran.Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. dan akses internet. Ayat (3) Cukup jelas.

daerah. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Cukup jelas. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi.doc 152 . Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya. 85955213.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Huruf b.

Ayat (8) Cukup jelas. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 85955213. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. afektif. Ayat (2) Cukup jelas.doc 153 . dan psikomotorik.

Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Ayat (2) Cukup jelas. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur.dalam satuan kredit semester (sks). atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka.doc 154 . Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. 3 jam kegiatan terstruktur. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 69 Cukup jelas. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 70 85955213.

doc 155 . Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. 85955213. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Ayat (4) Cukup jelas. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI).

b. atau pakar dari luar negeri. tenaga ahli dari organisasi profesi. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 85955213. Ayat (6) Cukup jelas. 3.doc 156 . Ayat (7) Cukup jelas. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Ayat (3) Cukup jelas. 4. Ayat (2) Cukup jelas. 2. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Ayat (4) Cukup jelas.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. dan c. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan.

Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 77 Cukup jelas.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 85955213.doc 157 . Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Pasal 79 Cukup jelas. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 78 Cukup jelas. 5. Pasal 76 Cukup jelas. Atas dasar hasil akreditasi. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan.

PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Taman Bermain. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ).doc 158 . PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD.kepegawaian pegawai negeri sipil. Taman Asuh Anak Muslim. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Program Paket B setara SMP. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 82 Cukup jelas. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. 85955213. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. adalah: Program Paket A setara SD. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Ayat (3) Cukup jelas. penambah. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Taman Balita.

PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 89 Cukup jelas. kecakapan dalam melakukan koreksi diri. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu.doc 159 . Pasal 85 Cukup jelas. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. Pasal 90 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. percaya diri. Pasal 87 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 88 Cukup jelas. kecakapan dalam menghadapi tantangan 85955213. Pasal 86 Cukup jelas.

kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Pasal 92 Cukup jelas. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. empati atau tenggang rasa. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. berpikir kritis dan kreatif. kecakapan bekerjasama dengan sesama. bermasyarakat. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. dan bernegara. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah.doc 160 . mengelola pekerjaan. Ayat (4) 85955213. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. berbangsa.

Pasal 96 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 99 85955213. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan.doc 161 . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 95 Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Pasal 94 Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI.

lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain.Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 85955213. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Pasal 100 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.

Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. teknologi kokunikasi. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka.doc 163 . atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 85955213. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Contoh. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. informasi. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. dan media lain.

Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. dan jenis pendidikan. dan University on the Air di China. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 85955213. dan jenis pendidikan. dan universitas maya (cyber university). Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris.pada berbagai jalur. jenjang. jenjang. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. jenjang.doc 164 . Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur.

maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. mental. Pasal 108 Cukup jelas. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. Pasal 111 Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 110 Cukup jelas. emosional. dengan cara menyediakan sarana. dengan menyediakan sarana. dan sosial. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. tenaga pendidik. Pasal 109 Cukup jelas. Pasal 107 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 85955213.pendidikan tinggi. tenaga pendidik.doc 165 .

Pasal 117 Cukup jelas.doc 166 . 85955213. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas.kebutuhannya. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas.

dan kinestetik. Pasal 121 Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. Pasal 119 Cukup jelas. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. Pasal 122 Cukup jelas.doc 167 . emosional. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). Ayat (2) Cukup jelas. huruf c Cukup jelas. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. huruf b Cukup jelas. 85955213. spiritual.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Pasal 128 Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi.Pasal 123 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas.doc 168 . 85955213. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 124 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 133 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju.Pasal 131 Cukup jelas. Pasal 134 Cukup jelas. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.doc 169 . 85955213. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama.

Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 85955213. penilaian. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Huruf c. Huruf b. Cukup jelas. Pasal 137 Cukup jelas. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Pasal 138 Cukup jelas. pembelajaran. serta penghasilan lainnya.doc 170 . Ayat (3) Huruf a. tunjangan. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Ayat (2) Cukup jelas. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi.

85955213. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Huruf h. Huruf e. Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 140 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf f. Pasal 141 Cukup jelas.doc 171 .“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Huruf i. Huruf d. Huruf g. Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas.

Cukup jelas. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. MA. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan.huruf b. huruf g.doc 172 . Ayat (3) Cukup jelas. 85955213. huruf c. SMK. Peserta didik pada SMA. MTs. Cukup jelas. 3) 4) huruf f. Cukup jelas. SMP. atau bentuk lain yang sederajat. Peserta didik pada SD. MI. huruf d. Cukup jelas. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. huruf h. Ayat (2) Cukup jelas. huruf e.

pelatih atau instruktur. Huruf g. Cukup jelas. paket B. Huruf h. Huruf e. Huruf d. Cukup jelas. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. tutor penanggung jawab tingkat . Huruf b. Cukup jelas.Pasal 145 Cukup jelas. Pasal 146 Cukup jelas. dan penguji. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. 85955213. Cukup jelas. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. pembimbing. Cukup jelas. Huruf c. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf f. dan paket C antara lain nara sumber teknis.doc 173 . Ayat (2) Huruf a.

Pasal 151 Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 85955213. Pasal 152 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 148 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas.Huruf i. Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas.

Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 164 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas. Pasal 160 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 162 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. Pasal 159 Cukup jelas.doc 175 . 85955213.

Ayat (4) Cukup jelas. nonformal. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan.Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (3) 85955213. Ayat (3) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas. Peserta didik TK/RA. SMA/MA. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. dan SMK/MAK. SD/MI. Ayat (2) Huruf a. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Huruf b. SMP/MTs.doc 176 . Huruf b.

Persatuan Guru Republik Indonesia. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia.doc 177 . Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Pasal 169 Cukup jelas. Majelis Pendidikan Kristen. Pasal 170 85955213. dan sejenisnya. Ayat (5) Cukup jelas. Ma’arif-NU. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Pasal 167 Cukup jelas. dan sejenisnya.

dan sosio-kultural sekaligus. MA. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. Pesantren. Pabbajja 85955213.doc 178 . Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu.Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Ayat (4) Cukup jelas. MTs. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 171 Cukup jelas. sosioekonomi.

tukar-menukar informasi. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Pasal 174 Cukup jelas. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 175 Cukup jelas. potensi. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. dan keadaan sosio-ekonomi.doc 179 . dan sosio-kultural setempat. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. dan bentuk lain yang sejenis. Ayat (2) Cukup jelas. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul.Samanera. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 178 85955213. Pasal 173 Cukup jelas. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. dan kabupaten/kota. Ayat (3) Cukup jelas. media elektronik. Ayat (3) Cukup jelas. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. dan media lainnya. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Ayat (2) Cukup jelas. provinsi. Komisi Pendidikan Keagamaan. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). Komisi Pendidikan Tinggi. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Ayat (2) Cukup jelas. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Ayat (4) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. 85955213. Komisi Pendidikan Kedinasan.doc 180 . Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal.

Komisi Pendidikan Tinggi. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. menggantikan keberadaan BP3. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 182 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. Pasal 181 Cukup jelas.doc 181 . Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Pasal 183 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. 85955213.

SMP. dan SMK. MA. program pendidikan nonformal. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. SMA. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan unsur . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. MI. satuan pendidikan keagamaan. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. dan MAK. MTs. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. 85955213. atau karena pertimbangan lain. Ayat (3) Cukup jelas. tukar-menukar informasi. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. SD. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah.doc 182 . atau berbeda seperti TK. atau RA. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. maupun oleh masyarakat. Komite Pendidikan Nonformal.

Pasal 191 Cukup jelas. kejuruan. jenjang. Pasal 187 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. maupun masyarakat. Pasal 192 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. Pasal 186 Cukup jelas. vokasi. Pasal 190 Cukup jelas. Pasal 189 Cukup jelas. dan khusus pada semua jalur.Pasal 185 Cukup jelas. profesi. akademik. pemerintah daerah. lembaga pemerintah non-departemen. dan jenis pendidikan. jenjang. Ayat (3) 85955213. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain.doc 183 . Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. Pasal 188 Cukup jelas.

Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 85955213. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.doc 184 . Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas.

h. i. h. g. k.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. i. i.doc 185 . dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. f. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 199 85955213. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. j. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. l. l. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. k. j. Ayat (4) Cukup jelas. g.

melaksanakan f. Ayat (2) Cukup jelas. program studi. Ayat (4) 85955213. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. program pendidikan. unit-unit dharma perguruan tinggi. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. dan/atau fakultas. Pasal 200 Cukup jelas. Pasal 201 Cukup jelas. lembaga penelitian atau pusat studi. badan hukum pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. dan/atau satuan pendidikan. jurusan.Cukup jelas. b. e. Pasal 202 Cukup jelas. c. d. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan.doc 186 .

Pasal 205 Cukup jelas.doc 187 . penempatan. pemindahan. Pasal 211 85955213. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 210 Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

..Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas. Pasal 213 Cukup jelas. Pasal 212 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. 85955213. Pasal 216 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR . Pasal 217 Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas.doc 188 .

......................................................................................2 Pasal 1.....................12 Pasal 15 .................................... dan 85955213..............................................Departemen...................................................................................2 KETENTUAN UMUM...........................................................12 Pasal 16................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan.............................................................................................................................................12 e...............................................................................................................................................................................DAFTAR ISI BAB I......................................................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:......16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.................................................................................... dan..............................................................................................................................................................Pemerintah provinsi................7 Umum.........7 Bagian Kedua.......................................................................................................................................................................................................12 Bagian Ketiga...........................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi.......................................................................................... ...............9 Pasal 10..7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN..................................................................................................................................................................................................................... efektifitas...............................................................................................................................................................13 Pasal 22...................................................7 Pasal 3................................................................................................................................................................................................................................................12 a........................................................................................................................................7 Pasal 2.........................11 Pasal 13.........................................................................................8 Pasal 5...............................12 g.............................Badan hukum pendidikan.....................................................12 f.............................................................7 Bagian Kesatu....................................................................................................................................10 Pasal 12......12 b...........................................................................................................12 Pasal 14.................................Program dan/atau satuan pendidikan...Pemerintah kabupaten/kota....................................................................................................................8 Pasal 4....................................................2 BAB II.................................................................................................................................................................................................................................Departemen Agama...................8 Pengelolaan oleh Pemerintah....................................................................................................................12 d..............................................................................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.......15 Pasal 23............................................................................................................................................................... efektifitas...................12 c...............................................................................................................doc i ......

.................................................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..................................................................................................................................................................................16 Pasal 24............28 Pasal 51............................................................................22 Pasal 41.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................25 Bagian Keenam...................................................................16 Bagian Keempat......... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........25 Pasal 44 ................................................................................................................................................ efektifitas.......................................................................30 Pasal 53 .........................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan.........................................................................................................30 Fungsi dan Tujuan.................................................................................................................................30 Bagian Kesatu....................................................................................................................................................................30 Pasal 54 ...............................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan.......................................................25 Pasal 45................................................................................................doc ii ........................30 Paragraf 1.................................................................................................................................................................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.........21 Pasal 35....................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi................................................................................................................................................................................................................21 Pasal 36......................29 BAB III................................................................................................................................................................................................17 Pasal 26...................................................24 Pasal 43.................. efektifitas...........................30 Pendidikan Anak Usia Dini................29 Pasal 52......................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.................................................................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi............20 Pasal 33...................................................................................................................................................................................................................24 Pasal 42..............................................30 Paragraf 2........................................................................................................................................................................21 Pasal 34....................................................................27 Pasal 50.............................................................17 Pasal 25............................21 Bagian Kelima.30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL....... efektifitas........................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...............................................................................18 Pasal 32.............................................................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.....................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................30 85955213..........................................................

..................36 Bagian Ketiga.............................................31 Bagian Kedua.....................................................................................................................................................................................................31 Program Pembelajaran.............................................................................................................................40 Paragraf 1.........................................41 Pasal 73.....................................................40 Fungsi dan Tujuan................................................................36 Fungsi dan Tujuan..........................34 Pasal 65..............................32 Pendidikan Dasar...................................................................................................39 Pasal 72................................................................................................................................................31 Pasal 55 ........................33 Paragraf 3.................................................................................32 Paragraf 2.............................32 Fungsi dan Tujuan..........................................................................................................................................................................doc iii ..............................36 Pendidikan Menengah......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Paragraf 4.......................................Paragraf 3 ...................................................................32 Paragraf 1............................................................................31 Pasal 56 ..................................................................................................................................................34 Pasal 64 ...........................................................................................................................................................33 Pasal 63......................................................................................38 Paragraf 3..........................................................................................36 Paragraf 1........................................................33 Penerimaan Peserta Didik........................33 Bentuk Satuan Pendidikan.........40 Bagian Kempat.................................................................................31 Pasal 57 .................................................................................36 Pasal 66.............................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik.......................................................................................................................................................................................................................................................................................41 85955213..............................................................................................37 Pasal 68 ..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................33 Pasal 59 ........................................37 Pasal 69....................................................................................................................40 Pendidikan Tinggi.....................................................................................................................................................................................................................................................................36 Paragraf 2......................................................................................................................................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik........................................................................................................39 Pasal 71.......32 Pasal 58......................37 Bentuk Satuan Pendidikan.......33 Pasal 60 .........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.......46 Paragraf 4........48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan........................................................................................................................................................................................................44 Penerimaan Mahasiswa ...........................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen......doc iv ............................42 Pasal 79............................................................48 a...............41 Pasal 74...............................................................................................47 Pasal 89........................................................................................................................................... Bentuk.............................................................................................................42 Pasal 77.................................................................................................. dan Program Pendidikan..........................................................................................................................................................................................46 Pasal 86............................................................46 Sistem Pembelajaran........................................................................................46 Pasal 87 ................................................... mengawasi..............................................................................................................44 Pasal 80................................................................................................................................................................................................................................................................. ........48 c.........48 b.........................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...................................................................................................43 Paragraf 3......................................................................................................................................................................42 Pasal 75 ..............................47 Pasal 88................. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 85955213............................41 Jenis..................................................................................45 Pasal 84..........................................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.........................41 Organisasi Perguruan Tinggi.......................................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan..........................................................................................................................................................41 Paragraf 3....................................................................................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi.................................44 Pasal 81................................................................Paragraf 2......................................

......................................................................................................................................................................................................54 Paragraf 8.......................................................................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi...............................................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan..........................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan..................................58 Pasal 84...........................................................................................49 Pasal 92..........................................................................................................................55 Pasal 99........................................................................................................................59 Pasal 85......................................59 Penjaminan Mutu...............................................................................doc v .............................................53 Pengabdian kepada Masyarakat...............54 Pasal 95.............................................57 Pasal 83...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................51 Pasal 93................................................................................................................59 85955213.............................................................................................................................................................................................................................................56 Pasal 81.............................................................56 Pasal 82.........................................................................................51 Penelitian...............48 Paragraf 5......................................................................................................51 Paragraf 6...................................................................................................51 Pasal 94....................................................................................59 Bagian Kesatu.......55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar...........................................................................................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................58 Bagian Kelima..............49 Pasal 91............................................................................................................48 Pasal 90.....................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .....................................................................................................55 Paragraf 9...........................59 BAB IV.......................................55 Pasal 96......................................................................................................55 Pengalihan Kredit ................................................................................................................................................................................................................. Pasal 82 ayat (2)................55 Pasal 97..............................................................................................56 Paragraf 10................................................................................................................................................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan..................................................................................................................

..............................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat..................65 Pendidikan Keaksaraan............................................................................................63 Pasal 95.................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pasal 96.......................................65 Paragraf 6.............65 Pasal 98...................................................60 Paragraf 1............................................................................................................................................................................................................61 Pasal 89...................................................................................................................................................................60 Pasal 88.....................................61 Majelis Taklim...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Paragraf 2........................................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan .........................................62 Pasal 94.62 Pendidikan Kecakapan Hidup..........................................................................................................................64 Paragraf 4...............................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan .61 Pasal 91...........................................................................................60 Pasal 87...................................................................................................................................61 Kelompok Belajar ...................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ...............................62 Pasal 93 ...........................................................................................................................................62 Bagian Ketiga.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Pasal 92............................................................................................................................................................................................60 Bagian Kedua................................................................................................................61 Paragraf 5....................................................................................................................................62 Paragraf 1.......................................................................................................................................................................................................61 Pasal 90....................................................................................................................................................Fungsi dan Tujuan .................................63 Paragraf 3..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................61 Paragraf 4............................................................62 Paragraf 2.............................65 85955213........................................................................................................................................................................................................................................................................................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan....................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja..............................61 Paragraf 3............................................59 Pasal 86.doc vi ..............................................................63 Pendidikan Kepemudaan...........................................................................................................................................................62 Program Pendidikan .......................................................................................64 Pasal 97....................................64 Paragraf 5......................................................................

.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 101...........................................................................................................................................71 BAB VII.......................................................................................72 Pasal 116................................................................................67 Pasal 102..............................................................................................................................................................68 Pasal 104................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan......................................................................................................................................................................72 Pasal 112....................69 BAB VI.......................................................................................................................73 Pasal 118............72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS....................................................................................................................................................70 Pasal 109...........................................................................................................................................................................................................................................................71 Pasal 111...................................................................................66 BAB V..................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 100.......................................................................................72 Pendidikan Khusus.........................................................................................................................72 Paragraf 1...........................Pasal 99......................................................................................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH....................................................................65 Paragraf 7...............................................................................72 Pasal 113..72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN............................................74 85955213...........................................................................................................................74 Paragraf 2..................................70 Pasal 110................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan........................................................................................................................................................................................................................................................69 Pasal 107.....................................................................................................................................................................67 Pasal 103.......................................................................................................................................................................................................................................................doc vii .............73 Pasal 117............................................................69 Pasal 106............................................................72 Pasal 115.................................................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL..................................................................................72 Umum................................................72 Bagian Kesatu...................................................................................................................................................................................................................................................68 Pasal 105...............................................................73 Pasal 119................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 114...............................72 Bagian Kedua.......................................................66 Bagian Ketiga (keempat).........................................................................................................................................69 Pasal 108.................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.....................

............................75 Pasal 121....................................................................................................................................................................................................79 Pasal 127....................................................................................................................................................................................................89 Pasal 143.........................................................................................................................................................................................................................................................89 BAB X.......................................87 Pasal 141.......................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus..............................................................................................................83 Pasal 131..........................................................................................................................................82 Pasal 129.......................................86 Pasal 139................................................................................................................................................................85 Pasal 138...............................................................................................................................................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa................................................................................................................................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN.77 Pasal 123................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 Pasal 126..............Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ...............................................................................................................................................................................................................................................................84 BAB IX..............................82 Pasal 130......................84 Pasal 134..........................................................................................................................................76 Pasal 122......................................................................................89 Pasal 142.........................................................................................................86 Pasal 140..........................................78 BAB VIII....76 Pasal 121...........................................................................................................................................................................................................84 Pasal 133....................................................................................doc viii ........89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK..............80 Pasal 128...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL .......................................78 Pasal 125....................................................89 85955213.........................................................................76 Pasal 123.......................................................................83 Pasal 132..........................................................................................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL..................................................................75 Pasal 122.........................................................................................................................................85 Pasal 136......................................................77 Pasal 124......75 Pasal 120............................................................................................................................................................................76 Bagian Ketiga...................................................................................................................................................................................85 Pasal 135....................................................................................................................................................................................................................

.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................101 Pasal 163..98 BAB XII...............................96 Pembinaan Karir...........................................................................................................................................................................................................................................................................................101 85955213...........96 Paragraf 1...................................................................................................................................................96 Pasal 154....................................97 Pasal 156.............................................................92 Pasal 148.................................................................................................................................91 BAB XI...............100 Pasal 162.......................................... Tugas.............99 Pasal 159..................95 Bagian Ketiga........................90 Pasal 146............................................................................................................................................................................................................................................................................89 Pasal 145 .....................................................................................................................................................................................98 Pasal 157 ....................................................................................................................96 Promosi dan Penghargaan...........101 BAB XIII.......................................................................................................100 Pasal 161..................................................................................................... dan Penghargaan ... dan Pemberhentian ..........................................................................................................................................................96 Pasal 152...........................................................96 Paragraf 2......93 Bagian Kedua..............................................................................................................96 Pembinaan Karir.........................................................................................................................................................................................................................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN........................................... Pemindahan.........92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN.........................................................................................................................................................................Pasal 144.............................................................................99 Pasal 158..........................................101 Pasal 164.........................................100 Pasal 160....................................................... dan Tanggung Jawab.............................................................................................93 Pasal 149..................................................doc ix ......................................................96 Pasal 153..................................................................................................................................................................................................... Promosi............................................................................................................................................................................................................................................................................................92 Jenis.................................................................95 Pengangkatan................................................98 Larangan............................................................................................................................................................................. Penempatan....99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN.................................................................................................................................................................95 Pasal 151....................97 Pasal 155...........................................................................92 Bagian Kesatu........................................................................................................................95 Pasal 150............................98 Bagian Keempat..........92 Pasal 147...............................................................................................................................................................

...............................................................................................................................................103 Pasal 168...........................110 Pasal 185........109 Pasal 183..................................................................................................................106 Pasal 177............................................................................................................................................................112 Pasal 186..................................................104 Pasal 171...........................................102 Pasal 166.....................................................................................................................109 Pasal 182.........................105 Pasal 174.............................................................doc x ....................................105 Pasal 172...............................................103 Pasal 169...........................................................................................................................................................................................................112 85955213.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Komponen Peranserta Masyarakat...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Fungsi ................................................................................................................................107 Pasal 178.............106 Pasal 175...........................................................................111 Paragraf 2...........................................................108 Pasal 180....................................................................................................................................................................................103 Bagian Kedua..................................................................................................................................................................................112 Persyaratan Anggota.............................................................................................................103 Pasal 167................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah..........................................................................................................................................................................................................................110 Paragraf 1..........................................................................................110 Pasal 184...................................................................................................................................................................................................................107 Pasal 179..................................................................................................................................................................................................................................................105 Bagian Ketiga.....................................................................................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT......................................................................................................................Pasal 165..............................................................................................................112 Keanggotaan.............................112 Paragraf 3..............................104 Pasal 170.........................108 Pasal 181.................................................................................................................................................102 BAB XIV............................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat.......................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat.........................................................................................................................................................................................106 Pasal 176.......................................................103 Bagian Kesatu.................................106 Dewan Pendidikan..................................................................................................106 Bagian Keempat.............................................................110 Bagian Kelima.......................................................

...................................................................117 Pasal 197......................................................126 Pasal 213.............................................................................114 Bagian Keenam...................................................................................................................114 Pendanaan........................115 Pasal 194.................................................................................................................................................................................................................................................125 Pasal 211..................................................118 Pasal 198........Pasal 187.............................................113 Paragraf 5.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................115 Pasal 193.........................................................................119 Pasal 199..............................................................................................................................................................................................122 Pasal 202.............................................................................................................123 Pasal 205..........................................................................................................124 Pasal 206..................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 208..........................122 Pasal 203...............................................125 Pasal 212..............115 PENGAWASAN........................112 Paragraf 4............................................................................................................115 Larangan..............121 Pasal 201...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan...............................116 Pasal 195.....................................................................................................................................................................doc xi .........................................................................................................................114 Pasal 191.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................120 Pasal 200.........................................................................................................................................................................................................122 SANKSI.....................................114 Pasal 190........................................................................................................................................................122 Pasal 204...........116 Pasal 196...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................121 BAB XVI..........................................................113 Paragraf 6..113 Pasal 189................................................................................................................115 Pasal 192.........................................................................................................................................................124 Pasal 207......................................................................................................................115 BAB XV............................................................................................................................125 Pasal 210..........................................................................................................................................124 Pasal 209.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Pasal 188...........126 85955213........113 Mekanisme Pemilihan..

.........127 Pasal 216.................126 KETENTUAN PERALIHAN.............................................................................................................................................................................................................................129 85955213....................................................................................................................126 Pasal 214 ................................................................................................................................................................................................................................127 Pasal 217.................................................................................................................................................BAB XVII..........................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP................128 PENJELASAN.................126 Pasal 215........................................................126 BAB XVIII........................127 Pasal 218......................................doc xii ..................................................................................................................................................

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->