RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

85955213.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

85955213.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

85955213.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
85955213.doc

4

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 33.doc 5 . teknologi. teknologi. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 31. teknologi. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. teknologi. 27. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. 29. 85955213. 28. seni. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. dan bahan pelajaran. 34. dan pengabdian kepada masyarakat. 24. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. 26. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. mengembangkan.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. 25. teknologi. seni. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. seni. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. dan seni melalui pendidikan. isi. dan/atau olah raga. penelitian. 32. dan/atau olah raga. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. dan/atau olah raga tertentu. 30.

Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. 39. 42. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. Pendidikan informal lingkungan. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. 36. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. dan informal. dan untuk masyarakat.35. 40. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37.doc 6 . 38. informasi. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. aspirasi. dan budaya masyarakat daerah setempat. 45. 44. sosial. sosial. oleh. 85955213. budaya. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. 41. ekonomi. dan media lain. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. oleh dan untuk masyarakat. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. nonformal. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. 43.

doc 7 . (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. 51. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. Pemerintah. d. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. 50. c. dan efektivitas. efisiensi. satuan pendidikan. pendidikan. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. dan terjangkau. b. b. c. 47. badan hukum pendidikan. atau Pemerintah Kota.46. Pemerintah Provinsi. Pemerintah Kabupaten. 48. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. 49. merata. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. komunitas sekolah. 52. dan e. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 85955213. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. Pemerintah Kabupaten/Kota. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik.

i. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. e. c. satuan pendidikan. sejenis. d. dewan pendidikan. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. f. h. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). g. pendidik dan tenaga kependidikan. 8 . k. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). l. d. orang tua/wali peserta didik. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. 85955213. rencana kerja Pemerintah (RKP). Departemen. Pemerintah kabupaten/kota. c. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. b.doc Pemerintah Provinsi. Departemen Agama. rencana strategis pendidikan nasional. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. b. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. j. badan hukum pendidikan. f. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a.

mengawasi mengkoordinasi. Pasal 8 pemerataan partisipasi 85955213. antara kabupaten dan kota. dan e. peserta didik khusus. antar provinsi. masyarakat. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. jalur. c. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). mengevaluasi. antar kabupaten. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. efisien. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. dan mengendalikan penyelenggara. d. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). memantau. membimbing. dan n. b. satuan.m. jenjang. mensupervisi. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a.doc 9 . antar kota. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. antara laki-laki dan perempuan.

(3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. Catatan: 85955213. dan/atau g. f. sertifikasi kompetensi pendidik. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. b. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. dan b. Pemerintah daerah. akreditasi program pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. d. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. satuan dan/atau program (2) e. sertifikasi kompetensi peserta didik. Satuan pendidikan. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan.doc 10 . b. c.

memfasilitasi. seni.doc .. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. dan c. nasional. seni. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). b. provinsi. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. membina. peserta didik. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. kabupaten/kota. olahraga.. dan internasional. 11 (4) (2) 85955213. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan.

sistem informasi pendidikan di semua provinsi. Badan hukum pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. e. Program dan/atau satuan pendidikan. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. efektifitas. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. b. Pemerintah kabupaten/kota.doc 12 . dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. 85955213. dan g. d. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Departemen. Pemerintah provinsi. Departemen Agama. jenis. dan jalur pendidikan. f. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. c.

h. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). efisien. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. semua jajaran Pemerintah Provinsi. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. rencana strategis pendidikan provinsi. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. d. dan g. ayat (2). rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). memantau. mengawasi. c. rencana (RKATP). c. b. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). b. peraturan gubernur di bidang pendidikan. tenaga kependidikan di provinsi yang j. pendidik dan bersangkutan. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peserta didik di provinsi yang bersangkutan.doc 13 . d. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 85955213. mengevaluasi. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. jalur. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. dan k. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. satuan. g. jenjang. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). membimbing. i. peraturan daerah di bidang pendidikan. dan ayat (3). e. dan mengendalikan penyelenggara. f. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. f. mensupervisi. mengkoordinasi.

doc 14 . antara laki-laki dan perempuan. dan d. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. (2) 85955213. peserta didik khusus. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. antara kabupaten dan kota. b. antar kabupaten. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. antar kota. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. c.

sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. d. e. b. sertifikasi kependidikan. akreditasi satuan pendidikan. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. satuan dan/atau program c. akreditasi program pendidikan. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. sertifikasi pendidikan terkait. memfasilitasi. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. Pengangkatan. pemberhentian. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 85955213. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. sertifikasi kompetensi peserta didik. memfasilitasi. mengakui. membina.doc 15 . f. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan/atau kompetensi tenaga g. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. membina. mengakui. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sertifikasi kompetensi pendidik.

g. h. e.doc 16 . ilmu pengetahuan dan teknologi. kabupaten/kota. b.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. ayat (2). Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. f. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. seni. semua jajaran Pemerintah Provinsi. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. efektifitas. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. nasional. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. d. dan k. pendidik dan bersangkutan. dan c. dan internasional. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. olahraga. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. b. Pasal 24 85955213. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. tenaga kependidikan di provinsi yang j. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. i. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. provinsi. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. c. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a.

e. b. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. peraturan daerah di bidang pendidikan. c. f. g. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 85955213. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. d. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a.doc 17 . (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. jenis. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota.

dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. d. jalur.a. mengawasi. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. ayat (2). mensupervisi. g. jenjang. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. b. badan hukum bersangkutan. dan mengendalikan penyelenggara. Pasal 28 85955213. memantau. e. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. h. mengkoordinasi. c. satuan. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. f. i. j. dan ayat (3). komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. mengevaluasi. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. membimbing. efisien. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan.doc 18 .

e. c. d. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. b. kebijakan provinsi bidang pendidikan. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kependidikan. akreditasi satuan pendidikan.doc 19 . sertifikasi kompetensi pendidik. sertifikasi pendidikan terkait.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. peserta didik khusus. b. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. Pasal 31 85955213. dan antara laki-laki dan perempuan. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. dan Standar Nasional Pendidikan. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. akreditasi program pendidikan. dan/atau kompetensi tenaga g. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. satuan dan/atau program (2) (3) c. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a.

dan internasional. dan olahraga.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. kabupaten/kota. c. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota.doc 20 . dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. membina. kecamatan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). b. seni. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. seni. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). memfasilitasi. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. provinsi. Pasal 33 (4) 85955213. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). nasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. ayat (2).

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
85955213.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
85955213.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
85955213.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
85955213.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

e. g. 85955213. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan sesuai peraturan perundangundangan. didik satuan dan/atau program d. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. f.doc 25 . lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait.c. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. peserta pendidikan terkait. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.

c. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. b. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. anggaran pendapatan pendidikan. rencana strategis perguruan tinggi.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). 85955213. Kebijakan Pasal 4. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. d. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan c. e. b. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. f. satuan pendidikan dasar. oleh satuan pendidikan anak usia dini. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. dan dan belanja tahunan satuan c. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. peraturan pemimpin perguruan tinggi. anggaran tahunan perguruan tinggi.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. e. f. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. (4) a. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. d. c. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. b. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.

ayat (3). Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan ayat (4). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan 27 85955213.doc . efisien. dan sesuai peraturan perundang-undangan. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan sebagaimana dimaksud dalam b. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. peserta didik khusus. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. dan sesuai peraturan perundangundangan. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan.

dan Standar Nasional Pendidikan. c. satuan dan/atau program pendidikan. f.doc . Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. b. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. dan/atau program (3) e. d.pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 85955213. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. sesuai peraturan perundang-undangan. mengikuti: a. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kompetensi pendidik terkait. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. dan/atau g. pendidikan dasar. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan.

e. f. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. b. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. satuan bersangkutan. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. 85955213. d. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan internasional. nasional. kecamatan. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. seni. b. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.doc 29 . satuan c. seni. efektifitas. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. c. provinsi. ayat (2). dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. dan olahraga. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. kabupaten/kota. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.

mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. tenaga kependidikan. kreatif. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. cakap. kritis. berilmu. dan peserta didik. TK. Raudathul Athfal (RA). RA.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. 30 (2) 85955213. atau bentuk lain yang sederajat. sehat.doc . (2) PAUD bertujuan: a. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. inovatif. kinestetis. mandiri. berakhlak mulia. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. intelektual. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). Bustanul Athfal (BA). Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. berkepribadian luhur. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. emosional. percaya diri. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. menumbuhkan.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

85955213.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
85955213.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

85955213.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

85955213.doc

34

dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. atau b. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. sosial. dan/atau tidak jujur. MTs.doc 35 . lulus ujian kesetaraan Paket A. MTs. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. Satuan pendidikan SD. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. tidak benar. SMP. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. (8) 85955213. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. MI. dan b. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. ayat (4). atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. ayat (5). MI. MTs. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. MTs.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. b. lulus ujian kesetaraan Paket A.

meningkatkan. b.doc (5) 36 . (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. kemampuan ekonomi. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. d. etnis. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. agama. menghayati. e. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dan f. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. menghayati. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan kepribadian luhur. 85955213. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). meningkatkan. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh).(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. dan harmoni. status sosial. ahlak mulia. transparan. kehalusan. dan akuntabel. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. c. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender.

doc . ahlak mulia. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. menghayati. yaitu 37 (2) 85955213. mandiri. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. dan bertanggung jawab. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. meningkatkan. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). demokratis. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. meningkatkan. e. kehalusan. cakap. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. dan f. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. c. b. dan kepribadian luhur. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. atau bentuk lain yang sederajat. berakhlak mulia. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). kritis. b. dan harmoni. peka sosial. dan berkepribadian luhur. dan percaya diri. d. dan d. menghayati. c.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. sehat. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). toleran. kreatif. Madrasah Aliyah (MA). dan inovatif. berilmu.

kelas 11 (sebelas). atau e. dan kelas 12 (dua belas). pengetahuan sosial. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. d. c. yang diperlukan masyarakat. d. keagamaan. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. kelas 12 (dua belas). dan pariwisata. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. bidang studi keahlian kesehatan. kerajinan. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. e. b. c. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. sesuai dengan tuntutan dunia kerja.kelas 10 (sepuluh). Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. bidang studi keahlian seni. b. f. dan kelas 13 (tiga belas). kelas 11 (sebelas). pengetahuan alam. 85955213. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. program studi program studi lain 38 . bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. yaitu kelas 10 (sepuluh).

atau b. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. dan b. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. ayat (4) huruf b. b. lulus ujian kesetaraan Paket B. apabila setelah dilakukan 39 85955213. Paket B. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b.g. lulus ujian kesetaraan Paket B. atau bentuk lain yang sederajat.doc . dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. dan ayat (5). bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. MTs.

pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. agama. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). tidak benar. dan akuntabel. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. dan/atau tidak jujur. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. transparan. status sosial. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan kondisi fisik atau mental. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 85955213. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kemampuan ekonomi. sosial.doc 40 . Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. etnis.

b. Paragraf 2 Jenis. ilmu pengetahuan. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. b. dharma penelitian untuk menemukan. dan c. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. pendidikan profesi. sekolah tinggi. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. peka sosial. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. beretika. teknologi. toleran. spesialis. atau universitas.doc 41 . kreatif. teknologi. Maha Esa. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. berilmu. dan c. seni. mengembangkan. mengadopsi. seni. ilmu pengetahuan. magister. cakap. institut. watak. percaya diri dan berjiwa enterprenur. dan sehat. taat hukum. sarjana. demokratis. serta d. ilmu pengetahuan. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. produktif. dan bertanggung jawab. Bentuk. dharma pendidikan untuk menguasai. dan/atau pendidikan vokasi. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. inovatif. dan olahraga. kritis. dan/atau doktor. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. politeknik. dan kepribadian manusia melalui: a. menerapkan.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. mandiri. teknologi. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. Paragraf 3 85955213. seni. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. dan olahraga. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a.

spesialis. dan penunjang. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. jurusan. sarjana. kepersonaliaan. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. yang mencakup program pendidikan diploma. pusat penelitian. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. pusat pengabdian masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. profesi dan/atau vokasi. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 85955213. magister. pelaksana akademik. penelitian. keuangan. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. magister. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. komunikasi. seni. dan doktor. hukum. spesialis. teknologi. kemahasiswaan. dan/atau doktor.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. perlengkapan. sarjana.doc 42 . atau fakultas. dan pengabdian kepada masyarakat. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan.

penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. profesi. b. dan/atau doktor. atau sebaliknya. jumlah. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. spesialis. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. tugas pokok. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. (2) 85955213. fungsi. spesialis. profesi. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri.doc 43 . spesialis. Program magister. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait.(3) Jenis. unit layanan penjaminan mutu penelitian. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. profesi. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. Program magister. atau sebaliknya.

f. dan h. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan 85955213.c. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. keindahan. sarana dan prasarana olah raga. perpustakaan. penjaminan mutu pengabdian kepada e. g. toko buku. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. d. tugas pokok. penerbitan. Jenis dan jumlah. dan b. poliklinik. unit layanan bimbingan dan konseling. dan unit lain yang dipandang perlu. magister. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. dan doktor adalah: a. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan.doc 44 . memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. dan kesehatan lingkungan. unit layanan masyarakat. sarana dan prasarana kesenian. kenyamanan. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. laboratorium/bengkel/studio. apotik. kedudukan.

45 (3) (4) (5) (2) 85955213. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan b. agama. dan b. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. status sosial.doc . Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. dan kondisi fisik atau mental. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya.b. kemampuan ekonomi. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. dan akuntabel. etnis. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. transparan.

simposium. 46 . Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. afektif. dan/atau tidak jujur. 85955213. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. dan kemampuan konfluen mahasiswa. kuliah. seminar. psikomotorik. tidak benar. lokakarya. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. praktikum. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi.

Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. sarana dan prasarana. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). ayat (3). dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 85955213. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain.doc 47 . pengelolaan. proses pembelajaran. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. ayat (2). tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. Isi kurikulum. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. kompetensi lulusan. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. pembiayaan.penelitian.

85955213. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Pasal 82 ayat (2). memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dunia usaha.doc 48 . (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. mengawasi. c. atau pihak lain yang dipandang perlu. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. b.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain.

b. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. penelitian. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. g. pendidikan. pemagangan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. usaha penggalangan dana. pendayagunaan aset. pengalihan dan/atau perolehan kredit. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. c. inovasi. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. dan dilandasi oleh etika.doc . kontrak manajemen. f.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. 49 85955213. kreatifitas. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. efektifitas. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. j. norma serta kaidah keilmuan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. i. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan pengabdian kepada masyarakat. penyelenggaraan seminar bersama. h. d. penerbitan jurnal ilmiah. mutu. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. program kembaran. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. b. d. produktifitas. e. e.

tidak menimbulkan keresahan masyarakat. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. seni. serta kaidah keilmuan. ujian.doc . menerapkan. ayat (2). dan mengembangkan ilmu. ayat (2) dan ayat (3): a. tidak mengganggu ketertiban umum. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. dan ayat (5): a. d. b. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. norma.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. teknologi. c. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ketua pusat penelitian. dan taat etika. seminar. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. serendah-rendahnya ketua program studi. ceramah. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 85955213. c. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. negara. nilai-nilai etika. secara bertanggungjawab dan mandiri. publikasi ilmiah. simposium. e. dan kemanusiaan. dan d. b. dan kaidah akademik. baik di dalam maupun di luar kampus. penelitian. dan pengabdian kepada masyarakat. bangsa. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. diskusi. setiap individu sivitas akademika: a. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan.

apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. teknologi. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. seni. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. b. dan taat etika. dan c. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. teknologi. dan/atau olah raga. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. sosial. serta kaidah keilmuan. mengembangkan.sivitas akademika yang terlibat. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 85955213. seni. mengungkapkan. seni. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. dalam menemukan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi.doc . dan/atau olah raga yang bersangkutan. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. teknologi. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. d. penelitian terapan. teknologi. norma. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. b. hayati. seni. sesuai dengan peraturan perundangundangan. institut. c.

konsep. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. disetujui dosen pembimbing. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. c. b. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. teknologi. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. b. disetujui dosen pembimbing. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. disetujui dosen pembimbing. dan/atau olah raga. prinsip. seni. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. teknologi. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan.doc 52 . metode. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. prosedur. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 85955213. dan/atau menguji ulang teori. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. seni.pengembangan. dan/atau olah raga. dan d.

dan perpustakaan Departemen. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. fakultas. Perpustakaan Nasional. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. program studi. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping.doc .berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 85955213. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

pemberdayaan pengembangan dosen. b. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. dan masyarakat. keteladanan. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. baik secara individual maupun berkelompok. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. dosen. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. pemodernan. dosen. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. pemberdayaan pengembangan dosen. ayat (2). kreatifitas. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.doc . atau pemadanian kehidupan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 85955213. dan masyarakat.informasi dan komunikasi Departemen. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian.

Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. transparan. 85955213.doc 55 . dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. b. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan jujur. program sarjana. ujian. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi.kepada masyarakat perguruan tinggi. dan/atau bentuk penilaian lainnya. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. Penilaian hasil objektif.

program studi yang b. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 85955213. d. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. c. ditetapkan oleh organisasi profesi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi.doc 56 . (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. b. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. dilaksanakan atas dasar sampel. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. atau c. e. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. ayat (3). (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. untuk lulusan program diploma I. b. untuk lulusan program diploma II. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. singkatan.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. Gelar akademik. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. magister.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. doktor. ahli pratama. vokasi.doc . ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. b. untuk program diploma IV. ahli muda. gelar vokasi. untuk lulusan program diploma III. 57 85955213. dan d. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. sarjana. dan c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus.(1) Lulusan pendidikan akademik. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. vokasi. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 82 (1). dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. atau gelar profesi. sarjana sains terapan. ahli madya. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a.

Penetapan jenis gelar akademik. teknologi. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi.doc 58 . kebudayaan.(2). keagamaan. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. kemasyarakatan. singkatan. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. profesi. (2) (3) (4) 85955213. dan penempatan yang berlaku di negara asal. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. (1) Pencantuman jenis. singkatan. Pasal 83 (3). atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi.

kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. c. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. b. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 85955213. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan.doc 59 . (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. misi.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. pelaksanaan visi.

penambah. mengembangkan profesi. taman penitipan anak (TPA). e. lembaga kursus. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu.doc . Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. g. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. c. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. lembaga pelatihan. d. sikap wirausaha. kelompok belajar. b. majelis taklim. bekerja. keterampilan. f. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. kelompok bermain (KB). dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 85955213. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. h. pusat kegiatan belajar masyarakat.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. keterampilan.

85955213. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.yang lebih tinggi. oleh. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. dan untuk masyarakat. dan berazaskan prinsip dari.doc 61 . (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri.

pendidikan kesetaraan. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 85955213. berusaha dan/atau hidup mandiri. kecakapan sosial. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. pendidikan anak usia dini. pendidikan pemberdayaan perempuan. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. e. pendidikan kecakapan hidup. c. g. b.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). kelompok bermain (KB). serta pendidikan lainnya. d. h. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. pendidikan kepemudaan. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. f. atau bentuk lain yang sejenis. kecakapan intelektual. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun.doc . pendidikan keaksaraan.

(3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. termasuk kesejahteraannya. sosial budaya. minat. gizi. berusaha dan/atau hidup mandiri. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 85955213. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. dan stimulasi psikososial. dan kemampuan masing-masing peserta didik. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat.doc (4) 63 .kecakapan personal. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. kecakapan sosial. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. usia. dan perkembangan anak. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar.

organisasi pemuda. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. pencegahan perempuan. bermasyarakat. kepemimpinan. sikap. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan c. dan martabat b. harkat. kepanduan/kepramukaan. kebangsaan. etika dan kepribadian. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. palang merah. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. dan kewirausahaan. nilai.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. pecinta alam dan lingkungan hidup. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. wawasan. sikap kewirausahaan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . kecakapan hidup. wawasan kebangsaan. peningkatan perempuan. kepeloporan. kedudukan. etika dan kepribadian. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. berbangsa dan bernegara. ilmu pengetahuan dan teknologi. estetika. kesehatan dan keolahragaan. seni dan budaya. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. kepeloporan. 85955213.

menulis. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. menulis.doc . menulis. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 85955213. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. berhitung.

yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. dan Paket C.kerja untuk memperoleh. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. Paket B. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI.doc 66 . yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. SMP/MTs. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 85955213.

(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. etika dan kepribadian. nilai moral. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua.doc 67 . (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). anggota keluarga. 85955213. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. menanamkan nilai budaya. estetika. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

atau lingkungan alam. pendidikan oleh media massa.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.doc 68 . (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. keluarga. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. 85955213. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan/atau masyarakat. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. lingkungan sosial. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. anggota masyarakat. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. belajar mandiri. jenjang. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.doc (2) (2) (3) 69 . BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. dan berbasis teknologi pendidikan. belajar tuntas. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. 85955213. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. dan jenis pendidikan. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. b.

(3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 85955213. registrasi. program studi/pendidikan.doc 70 . Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. belajar secara mandiri. dan sistem operasional yang diterapkan. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. cakupan. dan ujian. ganda. terstruktur. tutorial. praktik/praktikum. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. atau satuan pendidikan.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. atau konsorsium. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran.

jaringan TV. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. informasi. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. jaringan komputer. 85955213.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri.doc 71 .

dan tidak mampu dari segi ekonomi. masyarakat adat yang terpencil. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. dan/atau sosial. sosial. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. dan/atau mengalami bencana alam. mental. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. jenjang.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. mental. emosional. dan jenis pendidikan. intelektual.doc 72 . intelektual. emosional. bencana sosial. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 85955213.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
85955213.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
85955213.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
85955213.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

85955213.doc

76

taman penitipan anak. b. kelompok belajar. c.keahlian dan keterampilan.doc 77 . kursus dan pelatihan. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. dan/atau c. Pasal 123 85955213. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. d. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. madrasah kecil. e. taman penitipan anak. madrasah darurat. g. madrasah terbuka. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. kelompok belajar. kelompok belajar. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. taman penitipan anak. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. jauh. b. kursus dan pelatihan. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. f. kursus dan pelatihan.

peserta didik di daerah kepulauan kecil. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. peserta didik di daerah perbatasan. b. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. c. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 85955213. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. e. dan f. d. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a.doc 78 . BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi.

dan seni. 85955213. dan seni. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. pengembangan. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. c. dan pembangunan sumberdaya nasional.doc 79 .satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. b. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan/atau (2) (3) (4) a. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. serta menunjang pelestarian. teknologi.

teknologi.d. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 85955213. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. i. h. c. dan perpustakaan. penilaian. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. g. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. j. matematika. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan teknologi. teknologi. e.doc 80 . dan seni. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. d. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. MTs. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. teknologi. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan MAK. proses pembelajaran. SMA. SMK. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. MA. f. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni. b.

atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. sederajat. dan k. atau yang sederajat. l. bahan habis pakai. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. atau guru kelas.doc 81 . tempat berkreasi. ruang tata usaha. tempat bermain. ruang pimpinan satuan pendidikan. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 85955213. instalasi daya dan jasa. ruang bengkel kerja. sekurang-kurangnya: 1). atau yang sederajat. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. buku dan sumber belajar lainnya. 2). ruang pendidik. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. atau bidang nonkependidikan yang relevan. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). 20% untuk SMP. 3). ruang kelas. ruang perpustakaan. ruang unit produksi. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. dan 4). 10% untuk SD. MTs. 2). atau yang sederajat. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. 30% untuk SMA.MA. sekurangkurangnya: 1). mampu berbahasa Inggris. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif.MAK. 3). memiliki visi internasional. media pendidikan. m.mata pelajaran yang diampunya. atau guru kelas. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. MI. n. ruang laboratorium. atau yang SMK. atau bidang nonkependidikan yang relevan. ruang kantin. tempat beribadah. peralatan pendidikan. tempat berolahraga.

sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. o. dan p. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 85955213. fasilitas olah raga. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. dan Bahasa Indonesia.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. dan 2). fasilitas multi media. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan ruang unjuk seni budaya. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.doc . Pendidikan Kewarganegaraan.

(2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan promosi keunggulan lokal. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. c.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. pengembangan. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. b.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . 85955213.

melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan perpustakaan. d. d. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. dan keluar-masuk (entry-exit). g. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. proses pembelajaran.teknologi informasi dan komunikasi. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. 85955213. c. terpadu-satu sistem-satu atap. terpisah-beda sistem-tidak satu atap.doc 84 . dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. b. f. dan h. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. penilaian. e. satuan pendidikan dasar.

doc 85 . Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 85955213. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

pertimbangan dari Menteri Agama. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. b. d. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Pasal 137 (1). Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain.doc . penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. (3). pendidikan kewarganegaraan. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. c. 86 85955213. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. (4) sebagaimana dimaksud (2).

d. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. g. menyelenggarakan internasional. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. b.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. program kembaran. e. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. pertukaran peserta didik. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. penyelenggaraan seminar bersama. penelitian. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. pendidikan tinggi bertaraf 85955213. h. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. f. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. program pemindahan dan perolehan kredit. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. i. dan/atau c. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi.doc 87 . dan/atau b. c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan.

h. penyelenggaraan seminar bersama. pemagangan.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. usaha penggalangan dana. c. program pemindahan dan perolehan kredit. penelitian. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. pengabdian kepada masyarakat. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. b. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. i. d. penerbitan jurnal ilmiah. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. pendayagunaan aset. 85955213. f. g. kontrak manajemen. e. dan/atau d. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. b. j.doc 88 . program kembaran. c. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen.

memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. minat. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. kemampuan. 138. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. 85955213. 140. dan kecepatan belajar. c. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal.doc 89 . 139. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. kecerdasan. b. serta kebutuhan khususnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing.

peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. e. b. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. Pemerintah Provinsi. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. pemerintah daerah. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah.doc .d. dan h. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. dan 90 85955213. memperoleh bantuan fasilitas belajar. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. b. g. c. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. dan c. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik.

serta pembiasaan peserta didik. ketertiban. f. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 85955213. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. mencintai lingkungan. bangsa. kebersihan.i. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. b. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan.doc 91 . kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. masyarakat. e. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. c. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. dan negara. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. mencintai keluarga. dan keamanan sekolah. h. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. g. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. mematuhi semua peraturan yang berlaku. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. d. i. serta menyayangi sesama. dan j.

dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. dan pendidikan tinggi. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. pendidikan menengah. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. konselor. dan pengabdian kepada masyarakat. melatih peserta didik. c. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. pendidikan dasar. d. b. dan mengembangkan: model program pembelajaran. membimbing. mengajar. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. pamong. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. 85955213. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. pamong belajar.doc 92 . membimbing. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. e. melatih. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. mengarahkan. Tugas. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dosen. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. menilai. instruktur. dan seni melalui pendidikan. fasilitator. widyaiswara. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. alat pembelajaran. dan pendidikan menengah. tutor. teknologi. mengembangkan. penelitian. mengajar.

dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. tenaga kebersihan sekolah. dan i. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. (1). Pasal 149 (1). terapis. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. tenaga laboratorium. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. teknisi sumber belajar. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. (2). b. pekerja sosial. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. pengawas satuan pendidikan formal. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a.doc (2). pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 85955213. Pasal 148. g. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. h. tenaga perpustakaan. tenaga lapangan pendidikan. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. 93 . psikolog. penilaian. c.f. tenaga administrasi. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. penilik satuan pendidikan nonformal.

psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. i. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. j. satuan pendidikan dasar. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. merawat. penilaian.pemantauan. pembimbingan. dan pendidikan menengah. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. k. f. d. e. pemantauan. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. h. dan l. 85955213. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan.doc 94 . g. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan.

dan Pemberhentian Pasal 150 (1).Bagian Kedua Pengangkatan. pemindahan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. penempatan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. 85955213. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. penempatan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. Penempatan. pemindahan. (4). Pengangkatan. pemindahan.doc . (3). Pemindahan. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. Pasal 151 (1). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. penempatan. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. Pengangkatan. (2). 95 (2). (3). Pengangkatan.

dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (1). kenaikan jabatan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau bentuk promosi lainnya. 85955213. (2). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. (2). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. (3).doc 96 . (5). dan/atau penghargaan. Promosi. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4).Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

daerah bencana. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan.doc 97 . nasional. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. kabupaten/kota. teknologi. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. propinsi. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu.(4). (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. daerah perbatasan. dan/atau tingkat satuan pendidikan. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. atau seni. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. daerah konflik. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. pada tingkat Kabupaten/Kota. dan e. b. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. c. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 85955213.

atau hari besar lainnya. baik perseorangan maupun kolektif. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. Hari Pendidikan Nasional. ayat (4). tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. dilarang menjual buku pelajaran. 98 . dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. (3). kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. berdedikasi. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. baik perseorangan maupun kolektif. Hari Guru Nasional. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. harganya lebih murah dari harga di pasaran. ayat (3).pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 156 (1). dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (3). dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. ayat (2). baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan.doc (2). dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. dan b. berdedikasi. Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. piagam. ayat (2). dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 85955213.

hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut.doc 99 . baik perseorangan maupun kolektif. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. manajemen dan proses pendidikan. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. b. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan.dengan peraturan perundang-undangan. d. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. c. keuangan. baik perseorangan maupun kolektif. dan e. b. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. isi pendidikan/kurikulum. 85955213. dan ekologis. sosial. dan budaya. c. geografis.

c. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 85955213.doc 100 . jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. dan e. memproduksi. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada.d. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 161 (1). menyebarluaskan. menyusun. tutorial. dan ujian secara elektronik. pustaka. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. b. dan b. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. harus memenuhi persyaratan: a. sumberdaya manusia untuk merancang.

d. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. MA. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). SMA. (2). Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 85955213. SD. atau bentuk lain yang sederajat. MI. MAK. (2) Izin pendirian RA. dan f. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. jenjang. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. RA. SMP. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. e. SMK. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. satuan pendidikan khusus. MA. MTs. MTs. atau bentuk lain yang sederajat. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 162 (1) Pendirian TK. atau bentuk lain yang sederajat.doc 101 . MI.

SD/MI. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. pindah satuan atau program pendidikan.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. b. SMPLB. SMA/MA. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. TKLB. SDLB. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. SMK/MAK. 102 85955213. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SMP/MTs. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. b.doc . SMALB. pindah ke satuan atau program pendidikan.

Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 85955213. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. ayat (3). kelompok. dan pengguna hasil pendidikan.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. keluarga.doc . pelaksana. pengusaha. organisasi profesi. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). ayat (2).

dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. dana. jenjang. dan jenis pendidikan. d. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. pemberian beasiswa kepada peserta didik. b. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. Pasal 169 c. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. pengawasan. sumbangan dana. kelompok.doc 104 . (1) Peranserta perseorangan.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. (2) (3) (4) Pasal 170 85955213.

Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan.doc (2) 105 . lingkungan sosialekonomi. manajemen. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. lingkungan sosioekonomi. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 85955213. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. evaluasi. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama.(1) Peranserta perseorangan. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. pendidikan sistem ganda. pengawasan. dan pembinaan satuan pendidikan. kelompok. Pasal 173 Kurikulum. pengelolaan. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi.

sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dalam proses perencanaan. Pasal 176 85955213. dukungan tenaga. subsidi dana. dalam proses perencanaan. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. penyelenggaraan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota.doc (2) (3) 106 . Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan/atau bantuan asing. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. dalam proses perencanaan. penyelenggaraan. subsidi dana. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. penyelenggaraan. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. subsidi dana. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dukungan tenaga. Bantuan teknis. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. dukungan tenaga.

praktisi pendidikan. kepala satuan pendidikan. saran. meninggal dunia. c. maupun dengan lembaga pemerintahan. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. Dewan Pendidikan Provinsi. pada tingkat nasional. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. Dewan Pendidikan Provinsi. dan kabupaten/kota. 85955213.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. b. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Dewan Pendidikan Nasional. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. tokoh masyarakat. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. mengundurkan diri. pengusaha. atau 107 . Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan.

sekretaris. 85955213. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. gubernur untuk tingkat provinsi. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif).doc 108 . Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. 2 (dua) tokoh masyarakat. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. dan jenis pendidikan. c. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. jenjang. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. 2 (dua) tokoh masyarakat. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. dan ketua-ketua komisi. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. bendahara. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Dalam melaksanakan tugasnya. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang.d. (2) b. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap.

gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Setelah terbentuk kepengurusan. evaluasi program pendidikan. dukungan tenaga. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. serta pengawasan pendidikan. sarana dan prasarana. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pertimbangan dan arahan.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 85955213. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan.doc 109 . Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

85955213.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

85955213.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

85955213.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

85955213.doc

113

atau media lain. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. dan diketuai oleh unsur masyarakat. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. dan disebarkan kepada masyarakat. brosur yang dicetak.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. 114 (3) 85955213.doc . dan 1 (satu) unsur . Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing.

dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. dan jenis pendidikan. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 85955213. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. jenjang.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.doc . dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dilarang menjual buku pelajaran. baik perseorangan maupun kolektif. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan.

(6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. Pemerintah Provinsi. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. jalur. 85955213. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini.doc 116 .terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. oleh Pemerintah diduga meragukan. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. menengah. jenjang. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. (7) Pemerintah. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah dipandang kredibel. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

komite sekolah/madrasah. program pendidikan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. 85955213. b. menguji. dewan pendidikan. Pemerintah Provinsi. f. e. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. i. b. meneliti. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. pemeriksaan investigatif. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pemerintah Kabupaten/Kota.doc 117 . satuan pendidikan. g. h. badan hukum pendidikan. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. penyimpangan. mengusut. memantau.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. pemeriksaan khusus. k. j. menilai. menguji. pemeriksaan tematik. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. memeriksa. dan/atau pemeriksaan terpadu. memeriksa. unit kerja di lingkungan Departemen. mengevaluasi. c. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. d. l.

c. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. meneliti. b. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 85955213.doc . menguji. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. memeriksa. j. pendidikan menengah. dan pendidikan nonformal. dasar. dan pendidikan nonformal. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. e. penyimpangan. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. komite sekolah/madrasah. Pemerintah Kabupaten/Kota. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. unit kerja di bawah gubernur. mengusut. l. d. satuan pendidikan anak usia dini. ayat (2). dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. menguji. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. memantau. menilai. memeriksa. i. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. h. mengevaluasi. pendidikan dasar.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendidikan pendidikan menengah. f. b. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. k. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini.

pendidikan dasar. unit kerja di bawah bupati/walikota. g. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. penyimpangan. Menteri. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. mengusut. sesuai Pemerintah Provinsi. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 85955213. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. mengevaluasi. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. c. memeriksa. dan objek yang diawasi. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. menilai. ayat (2). d. atau m. satuan pendidikan anak usia dini. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal. h. memantau. penyelenggara pendidikan anak usia dini. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal.masyarakat dan/atau asosiai profesi. meneliti. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. komite sekolah/madrasah. b. menguji.doc 119 . pemeriksaan khusus. menguji. e. b. pemeriksaan investigatif. f. dan/atau pemeriksaan terpadu. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. pemeriksaan tematik. memeriksa. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota.

Menteri. b. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. b. d. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota.ayat (2). e. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 85955213. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. komite sekolah/madrasah. gubernur. f. mengevaluasi. penyimpangan.i. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. (3) badan hukum pendidikan. g. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). program pendidikan pada satuan pendidikan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan objek yang diawasi. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. dan/atau pemeriksaan terpadu. j. penyelenggara pendidikan. c. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. menilai. pemeriksaan khusus.doc 120 . satuan pendidikan. pemeriksaan investigatif. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pemeriksaan tematik.

dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. b. mengevaluasi. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 85955213. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. c. Pasal 200 (1). meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau b.doc 121 . Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. untuk dewan pendidikan provinsi. program pendidikan bersangkutan. penyimpangan. pelaporan. (2). menangani urusan pendidikan di b. badan hukum pendidikan. d. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. dan kabupaten/kota. bupati/walikota. pada satuan pendidikan yang (3). b.a. Pasal 201 (1). pelaksanaan. dinas yang kabupaten/kota. objek yang diawasi. menilai. menteri. tingkat nasional. gubernur. satuan pendidikan yang bersangkutan. kabupaten/kota. dan c.

Pasal 198. Pasal 162. 26. masukan dalam perencanaan pendidikan. Pasal 197. yang e. program pendidikan. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. 31. Pasal 160. 122 85955213. 28. 55. (2). dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. dan Pasal 163. pembekuan. 36. 50. 42. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. c. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). 62. 64. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. 68.doc . 74. Pasal 199. 30. satuan pendidikan. menilai kinerja objek yang diawasi. dan Pasal 200. 98. Pasal 161. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. Pasal 159. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. d. 82.pada Pasal 196. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. b. 29. (2).

118. 152. 62. 159. 64. 30. 125. 160. 28. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 160. 140. 108. 157. 68. penutupan. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 118. 165 dan Pasal 164. 151. 125. program pendidikan. 29. 139. 138. 165 dan Pasal 164. 36.doc . 98. 74. 126. 161. 136. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 26. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 42. 108. 161. 136. 157. pembekuan. 145. 126. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 130. 152. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 139. 101. 130. 137. 144. 159. 142. 137. melalaikan ketentuan ayat (1). Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 82. 140. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 158. 138. pembekuan.101. 144. 151. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 85955213. 107. 31. 50. 142. 55. 107. 158. 145.

dan Pasal 106. Pasal 103. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. institusi Pemerintah. pembekuan. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. Pasal 205 (1). pembekuan. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. Pasal 206 Perseorangan. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau penutupan oleh Menteri. dewan pendidikan. Pasal 105. organisasi orang tua peserta didik. kelompok. dan yang menangani pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 85955213. atau organisasi.Pemerintah ini. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.doc 124 . (2). skorsing.

dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 26. pemberhentian dengan hormat.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. pembekuan. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. gubernur. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. Pasal 134. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. Pasal 29. (5) Seseorang yang mengangkat. Pasal 139. memindahkan. Pasal 30. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. penundaan kenaikan pangkat. dan/atau penutupan satuan 85955213. menempatkan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pembebasan dari jabatan.doc (2) 125 . Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. organisasi. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 126. pembekuan. Pasal 28. penundaan kenaikan gaji berkala. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan.

doc 126 . wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. pemberhentian dengan hormat. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan gaji berkala. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan pangkat. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. 85955213. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. pembebasan dari jabatan. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175.

doc . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). f. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. c. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). e. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). 85955213. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461).BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90.

doc 128 ...... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR…...... Agar setiap orang mengetahuinya..... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485)..... H. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .. dinyatakan tidak berlaku.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974). Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115. Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.TAHUN 2007 85955213. h... g. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69.Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91.

proses. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. tujuan. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. masyarakat dan orang tua. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. Oleh sebab itu. pengawasan. bentuk dan jenis pendidikan.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. peranserta masyarakat. sarana dan prasarana. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. syarat pendirian. baik dilihat dari segi pasokan. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. dan hasil pendidikan selalu berubah.doc 129 . Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. Parameter kualitas pendidikan. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 85955213. jenjang. peserta didik. bahasa pengantar. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. manajemen. Perkembangan ini..

Pemerintah Kabupaten/Kota. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. evaluasi. 52. akreditasi. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. Standar Nasional Pendidikan. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan.doc 130 . Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. pendirian satuan pendidikan. kurikulum. pendidikan dasar. sarana dan prasarana pendidikan. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. pendanaan pendidikan. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. pengelolaan pendidikan. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. Wajib Belajar. pendidikan jarak jauh. pendidik dan tenaga kependidikan. pendidikan dasar. pendidikan kedinasan. pendidikan informal. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. dan sertifikasi. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. pemerintah daerah. dan evaluasi yang transparan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. pendidikan menengah.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. pengawasan. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. pendidikan tinggi. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. dan/atau masyarakat. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. pendidikan nonformal. akuntabilitas. 51. pendidikan keagamaan. Pendidikan Kedinasan. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 85955213. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. jaminan mutu. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. Pasal 50. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. Pemerintah Provinsi. peranserta masyarakat dalam pendidikan. pengembangan tenaga kependidikan. dan ketentuan pidana.

b. jenjang. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. peserta didik. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. dan tidak mampu dari segi ekonomi. pendidikan bertaraf internasional. pendidikan oleh negara asing. nilai-nilai. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. pengutamaan pada kebutuhan anak. pendidikan nonformal dan informal. bentuk satuan pendidikan. untuk. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. pendidikan jarak jauh. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa.doc 131 . Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. sikap. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. penghargaan pada keunikan setiap anak. Pendidikan dasar dan menengah. a. pendidikan berbasis keunggulan lokal. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. Pendidikan anak usia dini (PAUD). dan kabupaten. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. izin pendirian. dan dari masyarakat. 85955213. bencana sosial. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. provinsi. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya.

c. serta ilmu agama. Pendidikan tinggi. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. tetap besar. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. pendidikan anak usia dini. pendidikan kepemudaan. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. d. dan/atau vokasi.doc 132 . Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. pendidikan pemberdayaan perempuan. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 85955213. teknologi dan/atau seni . di semua bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. kursus dan pelatihan. profesi. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. pendidikan keaksaraan. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. pendidikan kesetaraan. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama.

yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. tingkat laju pertumbuhan penduduk. Dalam era globalisasi. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. mutu. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. dan bakatnya. f. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. nilai budaya. psikologis. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. tingkat dan jenis pendidikan. tutorial. dan (d) efisiensi. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. media. (c) relevansi. e. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. minat. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. (b) peningkatan mutu. perhatian. Oleh karena itu. waktu.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. dan efisiensi pada semua jalur. distribusi bahan ajar mandiri. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. dan informatika (telematika). tantangan globalisasi. Kondisi geografis. informasi. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. dan media lain. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jarak jauh. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. perkembangan teknologi komunikasi. 85955213. relevansi. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu.doc 133 . Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan.

dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. nonformal.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. Selain itu.doc 134 . 85955213. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. (c) penyelenggaraan tingkat khusus. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu.

dan promosi keunggulan lokal. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah.doc 135 . pengembangan. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. h. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional.g. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. teknologi. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan seni. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. serta menunjang pelestarian. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Lembaga pendidikan asing 85955213.

dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. pengalaman. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pengangkatan. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. pengawasan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. kemampuan. pengelolaan. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan. j. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya.doc 136 . Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. penyebaran. i. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. pengalaman. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. keterampilan. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. pengembangan. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 85955213. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. menilai hasil pembelajaran. pendidikan kewarganegaraan. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. penempatan.

Pasal 4 Cukup jelas. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. dan dari masyarakat. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. untuk. Pasal 3 Cukup jelas. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. konvensi internasional. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. II. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh.doc 137 . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. 85955213. provinsi.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. Pasal 2 Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. psikososial/kepemimpinan. Pasal 7 Cukup jelas. Cukup jelas 85955213. akademik khusus. kreatif produktif. Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas Huruf d. Ayat (2) Huruf a.doc 138 .Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. dan psikomotorik/olahraga. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. Cukup jelas Huruf b. seni kinestetik.

Ayat (4) Cukup jelas. Huruf f. 85955213. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas.doc 139 . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf g.Huruf e. Cukup jelas Huruf h. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Pasal 14 Cukup jelas.

Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf b. Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf k. Ayat (2) Huruf a.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf c. 85955213.doc 140 . Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf f. Cukup jelas Huruf l. Cukup jelas Huruf i.

Pasal 24 Cukup jelas. proses. pengelolaan. Pasal 22 Cukup jelas. sarana dan prasarana.doc 141 . Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 85955213. pembiayaan. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. tenaga kependidikan. kompetensi lulusan. Pasal 19 Cukup jelas. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. Pasal 21 Cukup jelas.

maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 85955213.doc 142 .Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.

Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ).doc 143 . dan Adi Sekha.Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 85955213.

Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Ayat (2) Huruf a. RA. 85955213. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. MI. tidak memaksa. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. pramembaca. Huruf c. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. baik di dalam maupun di luar sekolah. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. RA. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. Huruf b. RA. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. Ayat (3) Cukup jelas. mendengarkan.doc 144 .

Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. olahraga dan kesehatan pada TK. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih.Huruf d. Program pembelajaran jasmani. 85955213. Program pembelajaran estetika pada TK. Adi Vidyalaya (AV). Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. dan Majjhima Sekha. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. Ayat (4) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah pertama. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf e. Madyama Vidyalaya (MV). dan teman. Pasal 38 Cukup jelas. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. dan Culla Sekha.doc 145 . pendidikan diniyah dasar. saudara. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B.

doc 146 . rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing.Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 85955213. Ayat (3) Cukup jelas. sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Struktur penjurusan ini akan menentukan 85955213. Utama Vidyalaya (UV). Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. dan Maha Sekha. Ayat (3) Cukup jelas.doc 147 . Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan.tinggal ke satuan pendidikan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Pasal 45 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. bidang kejuruan dan program kejuruan.

Ayat(3) Cukup jelas. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Ayat (6) Cukup jelas. regional dan global. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. Ayat (7) Cukup jelas.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 85955213.doc 148 . Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat(2) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).

dan/atau seni tertentu. dapat mencakup program spesialis.doc 149 . 85955213. yang mencakup program sarjana. Ayat (8) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. dan doktor. teknologi. Ayat (7) Cukup jelas. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. magister. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ayat (6) Cukup jelas.

Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I.`teknologi. dan/atau seni). kompetensi kepribadian. teknologi. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. dan diploma IV. 85955213. diploma II. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Penguasaan kompetensi pedagogik. kopetensi kepribadian. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. teknologi. kompetensi pedagogik. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. yang mencakup program pendidikan diploma. diploma III. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana.doc 150 . Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas.

akses internet. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. laboratorium pengajaran. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan.doc 151 . Pasal 61 Cukup jelas. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan.Pasal 56 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. laboratorium riset. Ayat (4) Cukup jelas. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. pusat komputasi pengajaran. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. pusat komputerisasi riset. Pasal 58 Cukup jelas. Misalnya. dan akses internet. Pasal 59 Cukup jelas. 85955213.

Misalnya. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi.doc 152 . atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. daerah.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. 85955213. Huruf b. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik.

doc 153 . Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Ayat (2) Cukup jelas. afektif. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 85955213. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. Ayat (8) Cukup jelas. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. dan psikomotorik.

Pasal 70 85955213. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif.dalam satuan kredit semester (sks). Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 69 Cukup jelas. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Ayat (2) Cukup jelas. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. 3 jam kegiatan terstruktur. Ayat (5) Cukup jelas. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. Ayat (6) Cukup jelas.doc 154 .

Ayat (9) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor).doc 155 . Ayat (4) Cukup jelas. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). 85955213. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 85955213. atau pakar dari luar negeri. Ayat (4) Cukup jelas. 3.doc 156 . tenaga ahli dari organisasi profesi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. 2. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. b. dan c. 4.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a.

Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 85955213.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. 5. Pasal 77 Cukup jelas.doc 157 . Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 76 Cukup jelas. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Pasal 78 Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas. Atas dasar hasil akreditasi. Pasal 79 Cukup jelas.

dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Ayat (2) Cukup jelas.doc 158 . Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Taman Bermain. Program Paket B setara SMP. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). 85955213. Pasal 82 Cukup jelas. adalah: Program Paket A setara SD. Taman Balita. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). penambah. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. Ayat (3) Cukup jelas. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Taman Asuh Anak Muslim.kepegawaian pegawai negeri sipil.

PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. kecakapan dalam menghadapi tantangan 85955213. Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 87 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. Pasal 88 Cukup jelas. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri.doc 159 . Pasal 90 Cukup jelas. percaya diri. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. Pasal 89 Cukup jelas. kecakapan dalam melakukan koreksi diri.

teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. empati atau tenggang rasa. Ayat (4) 85955213.doc 160 . Pasal 92 Cukup jelas. berbangsa. bermasyarakat. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. dan bernegara. Ayat (2) Cukup jelas. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. mengelola pekerjaan. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. kecakapan bekerjasama dengan sesama. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. berpikir kritis dan kreatif.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.

Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 94 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan.doc 161 . Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 99 85955213. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Pasal 102 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 100 Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 85955213.

dan media lain. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 85955213. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. teknologi kokunikasi. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. Contoh. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh.doc 163 . seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. informasi.

Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya.pada berbagai jalur. dan jenis pendidikan. dan University on the Air di China. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). jenjang. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 85955213. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. jenjang. dan jenis pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. Ayat (5) Cukup jelas. dan universitas maya (cyber university).doc 164 . Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. jenjang. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur.

Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 110 Cukup jelas. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 107 Cukup jelas. dengan cara menyediakan sarana. emosional. Pasal 111 Cukup jelas.doc 165 . Pasal 108 Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. tenaga pendidik. mental. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal.pendidikan tinggi. dengan menyediakan sarana. Pasal 109 Cukup jelas. tenaga pendidik. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan sosial. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 85955213.

Pasal 113 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.kebutuhannya. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas.doc 166 . Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 117 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. 85955213.

Pasal 119 Cukup jelas. emosional. Pasal 122 Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. 85955213. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. Pasal 121 Cukup jelas.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks).doc 167 . dan kinestetik. Ayat (2) Cukup jelas. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. huruf b Cukup jelas. spiritual. huruf c Cukup jelas.

85955213. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pasal 127 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 128 Cukup jelas.doc 168 . teknologi.Pasal 123 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Ayat (2) Cukup jelas. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda. Pasal 133 Cukup jelas. 85955213. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama.Pasal 131 Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. Pasal 134 Cukup jelas.doc 169 . Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya.

Ayat (3) Huruf a. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 85955213. Pasal 138 Cukup jelas. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. pembelajaran. penilaian. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b. Cukup jelas.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Pasal 137 Cukup jelas. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Huruf c. tunjangan.doc 170 . serta penghasilan lainnya. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya.

Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Cukup jelas. 85955213. Pasal 140 Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Huruf g. Huruf d. Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Huruf e. Huruf i. Huruf f. Pasal 141 Cukup jelas.doc 171 . Cukup jelas. Huruf h. Cukup jelas. Cukup jelas.

doc 172 . Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. 85955213. Cukup jelas. huruf d. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. huruf g. 3) 4) huruf f. huruf h. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. Ayat (3) Cukup jelas. huruf c. MI. Peserta didik pada SMA.huruf b. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. MA. huruf e. SMK. Peserta didik pada SD. Cukup jelas. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. SMP. MTs. Ayat (2) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat. Cukup jelas.

Huruf d. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. tutor penanggung jawab tingkat . Huruf e. Cukup jelas. Huruf g. Ayat (2) Huruf a. pelatih atau instruktur. Huruf c. Cukup jelas. pembimbing. 85955213. dan penguji.doc 173 . dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Cukup jelas. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. Huruf h. Huruf f. Cukup jelas. Huruf b.Pasal 145 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Pasal 146 Cukup jelas. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. paket B.

Pasal 152 Cukup jelas.Huruf i. Pasal 155 Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 85955213. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas.doc 174 . Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas.

Pasal 161 Cukup jelas.doc 175 . 85955213. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 162 Cukup jelas. Pasal 164 Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 160 Cukup jelas. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku.

Peserta didik TK/RA. SD/MI. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. SMP/MTs. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. dan SMK/MAK.Cukup jelas. SMA/MA. Huruf b. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. nonformal.doc 176 . atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) 85955213. Huruf b.

Ayat (4) Cukup jelas.doc 177 .Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 167 Cukup jelas. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Majelis Pendidikan Kristen. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. dan sejenisnya. Pasal 169 Cukup jelas. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. dan sejenisnya. Ayat (5) Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 170 85955213. Ma’arif-NU. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 171 Cukup jelas. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. MA.Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. Ayat (4) Cukup jelas. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. MTs.doc 178 . Pabbajja 85955213. sosioekonomi. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Pesantren. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. dan sosio-kultural sekaligus.

Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga.Samanera. dan keadaan sosio-ekonomi. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. potensi. Pasal 173 Cukup jelas. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. tukar-menukar informasi. dan sosio-kultural setempat. Pasal 175 Cukup jelas. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. dan bentuk lain yang sejenis. Pasal 174 Cukup jelas. Pasal 178 85955213.doc 179 . Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Komisi Pendidikan Kedinasan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Ayat (4) Cukup jelas.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. dan media lainnya. Komisi Pendidikan Tinggi. dan kabupaten/kota. 85955213. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. provinsi. Ayat (3) Cukup jelas. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Komisi Pendidikan Keagamaan. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari).doc 180 . media elektronik. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Ayat (2) Cukup jelas.

Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. menggantikan keberadaan BP3.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.doc 181 . Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Pasal 181 Cukup jelas. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. Komisi Pendidikan Tinggi. 85955213. Pasal 182 Cukup jelas. Pasal 183 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal.

SD. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. satuan pendidikan keagamaan. atau RA. 85955213. dan MAK. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah.doc 182 . SMA. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Komite Pendidikan Nonformal. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. maupun oleh masyarakat. MI. dan unsur . Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. program pendidikan nonformal. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. atau berbeda seperti TK. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. SMP. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. dan SMK. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. atau karena pertimbangan lain. MA. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. MTs. Ayat (3) Cukup jelas. tukar-menukar informasi.

Ayat (3) 85955213. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. lembaga pemerintah non-departemen. jenjang.Pasal 185 Cukup jelas. pemerintah daerah. maupun masyarakat. Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 190 Cukup jelas. Pasal 189 Cukup jelas. akademik. jenjang. dan jenis pendidikan. Pasal 192 Cukup jelas. Pasal 187 Cukup jelas. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. vokasi. dan jenis pendidikan. dan khusus pada semua jalur. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. Pasal 186 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen.doc 183 . Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 191 Cukup jelas. profesi. kejuruan.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas.doc 184 . Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 85955213. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. h. Ayat (4) Cukup jelas. j. g. k. Ayat (2) Cukup jelas. f. l. i.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. g. h. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. k. l. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum.doc 185 . Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. i. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (4) Cukup jelas. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. j. Pasal 199 85955213. i.

Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. unit-unit dharma perguruan tinggi. Ayat (2) Cukup jelas. badan hukum pendidikan. program studi. melaksanakan f. program pendidikan.Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. d. c. jurusan. dan/atau satuan pendidikan.doc 186 . Ayat (4) 85955213. lembaga penelitian atau pusat studi. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Pasal 202 Cukup jelas. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. e. b. dan/atau fakultas. Pasal 201 Cukup jelas. Pasal 200 Cukup jelas. lembaga pengabdian lain yang masyarakat.

Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.doc 187 . Pasal 205 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. pemindahan. penempatan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Pasal 211 85955213. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas.

85955213.Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 213 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR . Pasal 212 Cukup jelas. Pasal 216 Cukup jelas.. Pasal 214 Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas.. Pasal 215 Cukup jelas.

..............................................................12 a....................................................................................................12 Pasal 14..............................................................................................................8 Pasal 4.................................................... efektifitas.....Pemerintah kabupaten/kota.......................................................7 Bagian Kedua..................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................7 Umum..................10 Pasal 12................ ..............................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi................................................11 Pasal 13.........................................................................................................................................................12 Pasal 15 .......................... dan 85955213............Departemen.......12 d....................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.................................................................................................................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:....................2 Pasal 1..............................................................................................................................12 c.........................................................................................12 b...........................................Pemerintah provinsi.........................................................7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN.........................................................................................................................12 e...................................................................7 Pasal 2...................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi..........................................................................................................................9 Pasal 10......................................................................................................................................12 Pasal 16.............................................DAFTAR ISI BAB I...................2 BAB II.......................................7 Bagian Kesatu.............................................................................................................2 KETENTUAN UMUM...........................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah............................................................12 f......................................................................................12 Bagian Ketiga.................................. dan.......................................................................................................13 Pasal 22...................................................................................................................................................................................................................................................... efektifitas................................................................................................................................................................15 Pasal 23............8 Pasal 5........................................................................................................................................................................................................................................Badan hukum pendidikan...................doc i ...............................Departemen Agama....................................................................................................12 g......................................................Program dan/atau satuan pendidikan............................................................................................................................................................7 Pasal 3.....................

.....................................................................................................21 Bagian Kelima............................................................................................................................................................................................24 Pasal 43...........................................................................18 Pasal 32.........................doc ii ..................................................................................................................................................................................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...........................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................................................................................................................................................................................................................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan...........................16 Bagian Keempat.................................................................................................................................30 Paragraf 1.........................................................................................................................................................................................................................................20 Pasal 33...........................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ...........................25 Pasal 44 ..........................................................................................................16 Pasal 24....................................................... efektifitas.........................17 Pasal 25....................................................................................30 85955213..............................................................................................................................27 Pasal 50.....................................................................24 Pasal 42............................28 Pasal 51.................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:........................................30 Bagian Kesatu................ efektifitas........................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:............................................................................................................................................................25 Pasal 45...........................................................................30 Fungsi dan Tujuan......................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.....................................................................................................29 BAB III.....22 Pasal 41...............................................................................................................................21 Pasal 36.....................................................................................................................................................17 Pasal 26............................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................25 Bagian Keenam....................................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini................................................................ efektifitas..........................................................30 Pasal 53 ........................................................................21 Pasal 34...............................................30 Pasal 54 ............................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan.....................................30 Paragraf 2............................................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................................................................................................21 Pasal 35...............................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.............29 Pasal 52..................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL.....

...........................................................................................................................................................................33 Pasal 59 ....39 Pasal 71............................37 Pasal 68 ..................................................................................................................................36 Bagian Ketiga.....................................................................................................................................................................32 Pendidikan Dasar....................................................................40 Fungsi dan Tujuan............39 Penerimaan Peserta Didik...................................................................................................................................31 Paragraf 4..................................................................................................................36 Pendidikan Menengah.....33 Pasal 63.......................................................................................................31 Pasal 57 .......................................41 85955213...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................40 Pendidikan Tinggi.......................................................................................................................................31 Bagian Kedua..........32 Paragraf 2......Paragraf 3 ...............................................................................................................................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan...................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan...................................................34 Pasal 64 ............31 Program Pembelajaran.....................................................................39 Pasal 72.....................................................................................................................................................................................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik.........................................................................................................................................................................................................................................................33 Pasal 60 ......................................................................................................................................................................................................................37 Pasal 69.................................36 Pasal 66......................................32 Fungsi dan Tujuan.............................38 Paragraf 3...........................................40 Bagian Kempat.....................................................................................................................................................................................................41 Pasal 73..............................................................................................40 Paragraf 1..........................................................................32 Pasal 58...........................................................31 Penerimaan Peserta Didik...........................................................................31 Pasal 56 ............................................36 Paragraf 1...............................................................................................................................................................................................................................34 Pasal 65.............................................................................................................................32 Paragraf 1...............................33 Paragraf 3.....................................................................................................................................................................................................................................36 Fungsi dan Tujuan..........................36 Paragraf 2..................................................................................................................................31 Pasal 55 ............doc iii ............

............................ dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 85955213.................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...................................................47 Pasal 89................................................................46 Sistem Pembelajaran.................41 Paragraf 3..............................................................................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen............................................................................................................................................................................................................................... dan Program Pendidikan........................................41 Jenis............................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.............................................................................................................................47 Pasal 88...........................................................................................................................................................41 Pasal 74.............................................. mengawasi............................................................46 Pasal 87 .............................45 Pasal 84....................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi....................................................................44 Pasal 80.......................................................................................46 Paragraf 4.................................................................................................................................42 Pasal 79............................................................. Bentuk........................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.................................44 Penerimaan Mahasiswa .............................................................................48 b.............................................................42 Pasal 77...............................................doc iv ..............................................................44 Pasal 81...............................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan..........48 a..................................................................................................................................48 c.................46 Pasal 86...........................................................................................................................................................................41 Organisasi Perguruan Tinggi..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Paragraf 2....... .....................................................................................................................................43 Paragraf 3............................................42 Pasal 75 ................

54 Paragraf 8......................................................55 Paragraf 9.......................................51 Paragraf 6.........................51 Pasal 94..................................doc v .....................................................................................................................................54 Pasal 95...........................................49 Pasal 92...............49 Pasal 91................................................................59 85955213...................................................................51 Pasal 93.................................................................51 Penelitian....................................................................................................................................................................................................................................................................48 Paragraf 5.............................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat.......................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan....................................................................................................................................................................................................................................58 Bagian Kelima..............................................................................................................59 Bagian Kesatu............................................................................................................................................................................................................................................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi.....................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL ....................................................................................................................................................................................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan.........................................................................................................................................................59 Pasal 85.......................55 Pengalihan Kredit ........................................59 Penjaminan Mutu..................................................................................48 Pasal 90....................................................................................................................................................55 Pasal 97.....akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan..................................................................................................55 Pasal 96.......................................................................................................58 Pasal 84............................................................................................................................................................................................................................................................................................57 Pasal 83............................................... Pasal 82 ayat (2)................................................................................................56 Pasal 82.........48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen..................................................................................................................................56 Pasal 81...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar..................56 Paragraf 10.........................59 BAB IV..................................................................................................................................................................................55 Pasal 99......................

..........................................................................................................64 Paragraf 5..........................................................62 Pasal 92......65 Pendidikan Keaksaraan...............................................................................................61 Pasal 90........................................65 Pasal 98...............................................................................60 Paragraf 1...............................62 Pasal 94.................................................................................................................65 85955213...59 Pasal 86.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan.......................................................................................................Fungsi dan Tujuan ..................................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan...............................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja.........................................................................................................................................................................65 Paragraf 6.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Program Pendidikan .......................................................60 Paragraf 2...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup.....60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ...............................................................................................................................63 Paragraf 3.....................60 Pasal 88..................................................................................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan ..............................61 Pasal 91...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................61 Pasal 89................................................................................62 Pasal 93 ...............................................................................................63 Pasal 95.......................................64 Paragraf 4.....................................................................................................60 Bagian Kedua.........................................................................................................................................................................................................................64 Pasal 97...........................................................................................................................................61 Paragraf 3........61 Paragraf 4...............................................................................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ........................................................................................................................................................62 Paragraf 2..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Bagian Ketiga......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Pasal 87....................................63 Pasal 96................................................doc vi .....................61 Majelis Taklim...................62 Paragraf 1.............61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.................................................................................................................................................................................61 Paragraf 5..............................................................................................................................................................61 Kelompok Belajar .....................................................

...........72 Pasal 112......................................................................72 Pendidikan Khusus......................................................................................................................................................................................72 Pasal 113....................73 Pasal 119.....................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 114........................................................................................................................................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN................................................................................................................................................................................................................................................66 Bagian Ketiga (keempat)...........................................................74 85955213....................................................................................................65 Paragraf 7................................................................................................................................72 Umum..............................................................................................................................................................................................................................................................................74 Paragraf 2.......................................................................................................................................................................67 Pasal 103....................................................................................................................................................................................................................................................72 Paragraf 1................................................72 Pasal 116.............................................................................................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH..............66 Pasal 100....66 Pasal 101...............................71 BAB VII.........................................................................................................................................................................................................................................................................................68 Pasal 105.......................................................................................................................70 Pasal 110...........................72 Bagian Kesatu.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS...........................66 BAB V.......................................................................................................................68 Pasal 104......................................................................................................................................................................................................69 BAB VI.................Pasal 99.......................................69 Pasal 106.....................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL......................................72 Bagian Kedua.........................................................................................................................................................................................................................................69 Pasal 108.....................................................................................................................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.............doc vii .....................70 Pasal 109......................67 Pasal 102........................................................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan.......................................................................................69 Pasal 107...72 Pasal 115..............................................................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan.............................................73 Pasal 117.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 118..................71 Pasal 111.............................

...................................................78 Pasal 126.......................................................76 Pasal 123.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................89 BAB X......................................................................................................77 Pasal 123.....................................................................77 Pasal 124..............................................................................................................................................................................86 Pasal 139...........................................................................................................................................................76 Pasal 121........................................................................89 Pasal 142.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL..............78 BAB VIII....................86 Pasal 140..................................................................................................................................................................................................................................................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN........................................................................75 Pasal 121.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 136..84 Pasal 133.......82 Pasal 129................................................................................................................................................................................................................................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK................................76 Pasal 122...............................................................................85 Pasal 138................................83 Pasal 131..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................83 Pasal 132..........84 Pasal 134.......................................................................89 Pasal 143.................................................................................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus................................................................................................................................79 Pasal 127.......................................85 Pasal 135....................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.......................................82 Pasal 130...........................................84 BAB IX.......................................................................................................................87 Pasal 141...............................76 Bagian Ketiga................................89 85955213.........doc viii ......80 Pasal 128...78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL .........78 Pasal 125............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ....................................................75 Pasal 122.......................................75 Pasal 120.......

.......................................................................................................................97 Pasal 155..................................................................................................................................................................................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN...........................................................99 Pasal 159...........................92 Pasal 147..........................................................................................................................................................92 Pasal 148..............................................................................92 Bagian Kesatu...............96 Paragraf 1...................................................96 Pembinaan Karir...............................................................98 Larangan.............................................................................................................................................................................................98 Pasal 157 ......................................................................................................................................................90 Pasal 146.............................................95 Pasal 150.................................................................................................................................................................................................................96 Pasal 152....................................................................................................................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN................................. dan Tanggung Jawab.......................................................96 Promosi dan Penghargaan......................99 Pasal 158...............101 BAB XIII..................................................................................................................89 Pasal 145 .............................................................................................................................................................................................................................................................................97 Pasal 156.. Promosi....................................................................................................................................................................................................... dan Penghargaan ..............................................................................................92 Jenis..........................................................................................................................96 Pasal 154.....................101 Pasal 163...................................... Pemindahan...................................................................................................................................................................................................................................................................................................91 BAB XI...............................................................................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN...95 Bagian Ketiga..........................................................................................................................................................................................................................................................100 Pasal 161............................................................................................................................................................................................................................................................................................101 Pasal 164.....................................................96 Pasal 153.....................................................................98 BAB XII...................................................................................................96 Paragraf 2....................................................... dan Pemberhentian ........................93 Pasal 149.........................................................95 Pengangkatan.........................................................101 85955213................................................98 Bagian Keempat......................................................................................................................................................doc ix ..............................Pasal 144.....................................100 Pasal 160............93 Bagian Kedua............................. Penempatan....................................................... Tugas........95 Pasal 151..................................96 Pembinaan Karir..............................................................................100 Pasal 162............................................................................................................................

..................................................doc x ...................................................................................................104 Pasal 170...............................................................................................................................................................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat......................................................................................................................110 Bagian Kelima.............................................107 Pasal 178.........111 Paragraf 2...................................................................................................................................................................................112 Pasal 186......103 Pasal 169............................................................................................................................................................................................................................103 Bagian Kedua...........................................................................................................................................................................................................103 Fungsi ..........................110 Pasal 185...................................103 PERANSERTA MASYARAKAT...........................................................108 Pasal 181...............................................110 Fungsi dan Sifat......................................................................................104 Pasal 171....................105 Pasal 172........................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 177..............103 Pasal 168.................................109 Pasal 183.......110 Komite Sekolah/Madrasah.....................................................................................112 Paragraf 3...................................................................................................................110 Pasal 184..................107 Pasal 179.......................................................................................................................................................................................................................................................................106 Bagian Keempat........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Komponen Peranserta Masyarakat.......................................................................................................................................................................................................................................................................102 Pasal 166.....................................................................................................................................................110 Paragraf 1.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................105 Pasal 174...................................................................................................................................................................112 85955213..............................Pasal 165.........112 Keanggotaan.............106 Pasal 175.........................................108 Pasal 180.......................................................106 Dewan Pendidikan.................................................................................................102 BAB XIV.......109 Pasal 182.......................................................................106 Pasal 176............................................................................................................................................................................................103 Bagian Kesatu..............................................................................................103 Pasal 167..........................................................................105 Bagian Ketiga....................................112 Persyaratan Anggota..............................................................................................................................................................................................................................................................................

........................................................................................................................................................................123 Pasal 205.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................125 Pasal 211...........125 Pasal 212.....122 SANKSI.......114 Pendanaan.............................................................................................................................115 Pasal 193......................................................................124 Pasal 206...............................................................113 Paragraf 6......113 Pasal 189...........................................................................................................................................114 Pasal 190...................124 Pasal 207........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................116 Pasal 196......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................115 PENGAWASAN.112 Paragraf 4...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Mekanisme Pemilihan............................................................125 Pasal 210................................................................115 Larangan........................................122 Pasal 202....................................................................................................................................................................................................120 Pasal 200..113 Pasal 188.....................................................................................................................114 Pasal 191...................................................................116 Pasal 195...........................115 Pasal 192.....................................................................................................124 Pasal 208..................................................................................................126 85955213.........................................................113 Paragraf 5...........................................................................................................................Pasal 187...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................119 Pasal 199.....................................................................................................122 Pasal 204...................117 Pasal 197..............................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan......................................................................................................114 Bagian Keenam.........................................................................................................118 Pasal 198..................................................................................115 BAB XV..........................................................124 Pasal 209..................................................................................................................................115 Pasal 194...................................................................121 BAB XVI................................................126 Pasal 213.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................121 Pasal 201........................................................122 Pasal 203....................................................................................................................................doc xi .......................................

...............................................................126 Pasal 215.......................................................................................................129 85955213.........................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP..............................126 BAB XVIII.....................................................................................................................................................................................................................................................BAB XVII..................................................................................................................................................126 KETENTUAN PERALIHAN........................................................127 Pasal 216.......................128 PENJELASAN............................................................................................................................................................doc xii .........127 Pasal 218................126 Pasal 214 .........................127 Pasal 217..............................................................................................................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful