RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

85955213.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

85955213.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

85955213.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
85955213.doc

4

yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. teknologi. dan bahan pelajaran. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. penelitian. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. 32. 34. dan seni melalui pendidikan. dan pengabdian kepada masyarakat. 24. 29. teknologi. 31. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. 28. teknologi.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. teknologi. 85955213. 30. seni.doc 5 . 27. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. isi. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. dan/atau olah raga tertentu. dan/atau olah raga. 25. seni. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. seni. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 33. teknologi. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. mengembangkan. 26.

Pendidikan informal lingkungan. 36. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. 43. oleh. 39. dan budaya masyarakat daerah setempat. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. oleh dan untuk masyarakat. 42. 85955213. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. 41. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. 40. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi.doc 6 .35. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 38. 45. budaya. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. 44. informasi. sosial. dan informal. ekonomi. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. sosial. nonformal. dan media lain. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. aspirasi. dan untuk masyarakat.

pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. badan hukum pendidikan. Pemerintah.doc 7 . Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. Pemerintah Provinsi. 48. pendidikan. 51. Pemerintah Kabupaten/Kota. 50. dan efektivitas. dan terjangkau. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi.46. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. d. atau Pemerintah Kota. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. komunitas sekolah. 47. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. c. efisiensi. 49. satuan pendidikan. 52. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. Pemerintah Kabupaten. dan e. c. b. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 85955213. b. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. merata. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

orang tua/wali peserta didik. sejenis. 8 . 85955213. f. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. h. c. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). d. i. f. e. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. k. satuan pendidikan.doc Pemerintah Provinsi. Departemen Agama. rencana kerja Pemerintah (RKP). ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. l. pendidik dan tenaga kependidikan. rencana strategis pendidikan nasional. g. b. d. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). b. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. c. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Departemen.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. e. j. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). Pemerintah kabupaten/kota. dewan pendidikan. badan hukum pendidikan.

mengawasi mengkoordinasi.m. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. d. jenjang. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan mengendalikan penyelenggara. dan e. c. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. antara kabupaten dan kota. antar kabupaten. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. b. mensupervisi. antar kota.doc 9 . dan n. membimbing. memantau. satuan. masyarakat. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). peserta didik khusus. Pasal 8 pemerataan partisipasi 85955213. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. antara laki-laki dan perempuan. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. mengevaluasi. antar provinsi. efisien. jalur.

(4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. d. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. Satuan pendidikan. dan b. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. akreditasi program pendidikan. dan/atau g. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. satuan dan/atau program (2) e. f. sertifikasi kompetensi pendidik.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. sertifikasi kompetensi peserta didik. Catatan: 85955213. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. c.doc 10 . Pemerintah daerah. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. b. b.

. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). nasional. memfasilitasi. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. membina. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui.doc . dan c. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. dan internasional. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. 11 (4) (2) 85955213. seni. peserta didik. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. kabupaten/kota.. pendidik dan tenaga kependidikan.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. provinsi. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. b. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. seni. olahraga. ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan.

Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan jalur pendidikan. c. f. dan g. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. jenis. b. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Program dan/atau satuan pendidikan. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah provinsi. efektifitas. d.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.doc 12 . Badan hukum pendidikan. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. e. Departemen Agama. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. Departemen. 85955213.

dan mengendalikan penyelenggara. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. c. rencana (RKATP). komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP).doc 13 . dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. d. memantau. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). masyarakat di provinsi yang bersangkutan. dan ayat (3). satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. efisien. jenjang. jalur. rencana strategis pendidikan provinsi. mengevaluasi. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). i. peraturan gubernur di bidang pendidikan. f. b. d. g. h. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. semua jajaran Pemerintah Provinsi. peraturan daerah di bidang pendidikan. mengawasi. pendidik dan bersangkutan. f. satuan. e. ayat (2). kerja dan anggaran tahunan provinsi e. tenaga kependidikan di provinsi yang j. c. mensupervisi. mengkoordinasi. dan k.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. membimbing. b. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 85955213. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan g.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. dan d. peserta didik khusus. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. antar kota. antar kabupaten. c. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. antara laki-laki dan perempuan. (2) 85955213. antara kabupaten dan kota.doc 14 .kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi.

sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. memfasilitasi. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengangkatan. membina. sertifikasi kompetensi peserta didik. akreditasi satuan pendidikan. mengakui. sertifikasi kompetensi pendidik. memfasilitasi. sertifikasi pendidikan terkait. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). e.doc 15 . Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 85955213. membina. satuan dan/atau program c. akreditasi program pendidikan. sertifikasi kependidikan.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemberhentian. mengakui. f. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. dan/atau kompetensi tenaga g. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). b. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. d. Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan.

Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. g. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).doc 16 . provinsi. d. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. h. Pasal 24 85955213. b. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan internasional. ayat (2). olahraga. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. kabupaten/kota. dan k. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. f. ilmu pengetahuan dan teknologi. b. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. i. dan c. efektifitas. seni. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. nasional. c. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. pendidik dan bersangkutan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. e. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. seni. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. tenaga kependidikan di provinsi yang j.

rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. d. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. e. f. g. peraturan daerah di bidang pendidikan. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. jenis.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. b. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 85955213. c. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya.doc 17 . dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan.

orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. i. memantau. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. d. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). j. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. mengkoordinasi. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan.doc 18 . satuan. badan hukum bersangkutan. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. f. e. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.a. mensupervisi. jalur. mengevaluasi. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 28 85955213. efisien. membimbing. g. b. c. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. jenjang. dan ayat (3). ayat (2). h. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. dan mengendalikan penyelenggara. mengawasi. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan.

kebijakan provinsi bidang pendidikan. dan Standar Nasional Pendidikan. peserta didik khusus. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. sertifikasi kependidikan. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. akreditasi satuan pendidikan. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. b. sertifikasi kompetensi pendidik. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a.doc 19 . f. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. dan/atau kompetensi tenaga g. dan antara laki-laki dan perempuan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kompetensi peserta didik. sertifikasi pendidikan terkait. akreditasi program pendidikan. c. Pasal 31 85955213. satuan dan/atau program (2) (3) c. b. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. d. e.

membina. dan internasional. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. nasional. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. Pasal 33 (4) 85955213.doc 20 . (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. seni. memfasilitasi. b. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. seni. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). ayat (2). kabupaten/kota. dan olahraga. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. provinsi. c. kecamatan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
85955213.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
85955213.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
85955213.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
85955213.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

(2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. peserta pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. g. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.doc 25 . lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait.c. f. e. didik satuan dan/atau program d. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan sesuai peraturan perundangundangan. 85955213. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait.

satuan pendidikan dasar. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. d. anggaran pendapatan pendidikan. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. peraturan pemimpin perguruan tinggi. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. oleh satuan pendidikan anak usia dini. (4) a. anggaran tahunan perguruan tinggi. b. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). e. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. c. 85955213.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). c. f. rencana strategis perguruan tinggi. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. satuan c. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. b. d. e. b. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. peraturan satuan dan/atau program pendidikan.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . dan d. dan dan belanja tahunan satuan c. Kebijakan Pasal 4. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. f.

dan sebagaimana dimaksud dalam b. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc . Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. dan sesuai peraturan perundang-undangan. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. ayat (2). dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan sesuai peraturan perundangundangan.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. dan/atau kebijakan 27 85955213. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. peserta didik khusus. efisien. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan ayat (4). Kebijakan Pemerintah Pasal 4. ayat (3).

pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. f. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. satuan dan/atau program pendidikan. c. sesuai peraturan perundang-undangan. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. mengikuti: a. d. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 85955213. dan/atau program (3) e. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal.doc . sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. dan Standar Nasional Pendidikan. dan/atau g. pendidikan dasar.

dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. f. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. seni. b. d. ayat (2). (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. provinsi.doc 29 . nasional. b. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. kabupaten/kota. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. dan internasional. kecamatan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. dan olahraga. c. satuan c. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. e. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. seni.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. satuan bersangkutan. 85955213. efektifitas. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. (2) PAUD bertujuan: a. kreatif. percaya diri. berakhlak mulia. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. sehat.doc . dan peserta didik. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. berkepribadian luhur. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. intelektual. 30 (2) 85955213. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. tenaga kependidikan. berilmu. Bustanul Athfal (BA).(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. cakap. inovatif. TK. menumbuhkan. kritis. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). emosional. kinestetis. Raudathul Athfal (RA). mandiri. atau bentuk lain yang sederajat. RA.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

85955213.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
85955213.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

85955213.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

85955213.doc

34

dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. Satuan pendidikan SD. lulus ujian kesetaraan Paket A. MI. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. MTs. (8) 85955213. atau b.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. MTs. dan/atau tidak jujur. dan b. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. SMP. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. ayat (5). atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. b. sosial. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. ayat (4). atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. MTs. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. lulus ujian kesetaraan Paket A. MTs.doc 35 . MI. tidak benar. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a.

(4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. etnis. dan harmoni. c. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. transparan. meningkatkan. e. b. menghayati. dan akuntabel. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. meningkatkan. status sosial. menghayati. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. dan kepribadian luhur. 85955213. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. kemampuan ekonomi. kehalusan. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. d. ahlak mulia.doc (5) 36 . satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). agama. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan f.

b. c. toleran. demokratis. b. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah.doc . c. cakap. berakhlak mulia. dan inovatif. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan d. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. e. meningkatkan. sehat. mandiri. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan bertanggung jawab. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. kreatif.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). dan f. berilmu. kehalusan. peka sosial. dan berkepribadian luhur. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. Madrasah Aliyah (MA). dan kepribadian luhur. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. dan percaya diri. yaitu 37 (2) 85955213. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. menghayati. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kritis. menghayati. d. atau bentuk lain yang sederajat. ahlak mulia. dan harmoni. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. meningkatkan.

Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. e. kelas 11 (sebelas). pengetahuan alam. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. yaitu kelas 10 (sepuluh). d. c. b. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. d. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. dan kelas 12 (dua belas). bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. f. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. keagamaan. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. atau e. kerajinan. pengetahuan sosial. yang diperlukan masyarakat. c. dan kelas 13 (tiga belas). dan pariwisata. b. bidang studi keahlian seni. kelas 11 (sebelas). sesuai dengan tuntutan dunia kerja. bidang studi keahlian kesehatan.kelas 10 (sepuluh). kelas 12 (dua belas). 85955213. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. program studi program studi lain 38 . (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri.

b. lulus ujian kesetaraan Paket B. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. Paket B. atau bentuk lain yang sederajat. dan ayat (5). lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. MTs. ayat (4) huruf b. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP.g. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. dan b. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP.doc . bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. apabila setelah dilakukan 39 85955213. lulus ujian kesetaraan Paket B. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. atau b.

Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. tidak benar. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. agama. status sosial. etnis. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). dan/atau tidak jujur. sosial. kemampuan ekonomi. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional.doc 40 . Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 85955213. transparan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan kondisi fisik atau mental. dan akuntabel.

ilmu pengetahuan. mengadopsi. inovatif. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. pendidikan profesi. dan bertanggung jawab. ilmu pengetahuan. beretika. dan olahraga. institut. cakap. dan sehat. politeknik. mandiri. taat hukum. ilmu pengetahuan. b. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. dharma penelitian untuk menemukan. Paragraf 3 85955213. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. dan c. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. magister. Paragraf 2 Jenis. teknologi. kreatif. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. dan c. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. produktif. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. demokratis. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. dan/atau doktor. teknologi. b. peka sosial. seni. berilmu. atau universitas. toleran. percaya diri dan berjiwa enterprenur.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. Bentuk. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. dan olahraga. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. mengembangkan. seni. seni. menerapkan. serta d. Maha Esa. dharma pendidikan untuk menguasai. dan/atau pendidikan vokasi.doc 41 . kritis. teknologi. sarjana. sekolah tinggi. spesialis. watak. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. dan kepribadian manusia melalui: a.

komunikasi. sarjana.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. magister. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. dan penunjang. jurusan. hukum. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan.doc 42 . profesi dan/atau vokasi. magister. pusat penelitian. keuangan. spesialis. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. kemahasiswaan. teknologi. perlengkapan. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. dan doktor. pusat pengabdian masyarakat. atau fakultas. yang mencakup program pendidikan diploma. seni. dan pengabdian kepada masyarakat. spesialis. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. penelitian. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. kepersonaliaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 85955213. dan/atau doktor. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. pelaksana akademik. sarjana.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. (2) 85955213. dan/atau doktor. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). spesialis. Program magister. profesi.(3) Jenis. fungsi. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. jumlah. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. atau sebaliknya. tugas pokok.doc 43 . unit layanan penjaminan mutu pendidikan. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. b. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. spesialis. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. profesi. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. Program magister. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. spesialis. profesi. atau sebaliknya.

kenyamanan. tugas pokok.doc 44 . toko buku. sarana dan prasarana kesenian. Jenis dan jumlah. apotik. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. d. unit layanan masyarakat. perpustakaan. penjaminan mutu pengabdian kepada e. keindahan. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan h. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. penerbitan. laboratorium/bengkel/studio. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. unit layanan bimbingan dan konseling. dan unit lain yang dipandang perlu.c. kedudukan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. dan 85955213. g. dan doktor adalah: a. dan b. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. sarana dan prasarana olah raga. dan kesehatan lingkungan. poliklinik. f. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. magister.

ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. 45 (3) (4) (5) (2) 85955213. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. status sosial. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. dan b. dan b. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. transparan. dan kondisi fisik atau mental. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan akuntabel. kemampuan ekonomi. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya.b. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. agama. etnis.doc .

praktikum. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. dan/atau tidak jujur. seminar. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. simposium. psikomotorik. 46 .(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. tidak benar. lokakarya. 85955213. kuliah. dan kemampuan konfluen mahasiswa. afektif. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif.

kompetensi lulusan. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). ayat (2). yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 85955213. Isi kurikulum. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh.doc 47 . dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. pengelolaan. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. sarana dan prasarana. proses pembelajaran. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).penelitian. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. pembiayaan. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. ayat (3). Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD.

85955213. c. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.doc 48 . (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. dunia usaha. b. mengawasi. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. atau pihak lain yang dipandang perlu. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasal 82 ayat (2).

pendayagunaan aset. program kembaran. kontrak manajemen. b. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pengabdian kepada masyarakat. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. inovasi. mutu. d. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. kreatifitas. c. j. produktifitas. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan dilandasi oleh etika. norma serta kaidah keilmuan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. pengalihan dan/atau perolehan kredit. efektifitas. g. e. b. penyelenggaraan seminar bersama. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pendidikan. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. i. penerbitan jurnal ilmiah. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pemagangan. f. h. e. usaha penggalangan dana.doc . pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. d. penelitian. c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. 49 85955213. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa.

seminar. negara. bangsa. baik di dalam maupun di luar kampus. teknologi. ceramah. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). ayat (2) dan ayat (3): a. dan ayat (5): a. b. ayat (2). c. dan taat etika. ketua pusat penelitian. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. secara bertanggungjawab dan mandiri. dan d. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. e. dan mengembangkan ilmu. b. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. c. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan.doc . dan kaidah akademik. setiap individu sivitas akademika: a. dan pengabdian kepada masyarakat. menerapkan. seni. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. simposium. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. norma. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diskusi. nilai-nilai etika. publikasi ilmiah. d. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 85955213. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. serendah-rendahnya ketua program studi. tidak mengganggu ketertiban umum. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. ujian. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. serta kaidah keilmuan. dan kemanusiaan. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. penelitian.

teknologi. seni. seni. serta kaidah keilmuan. seni. dan/atau olah raga yang bersangkutan. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. dan c. dalam menemukan. dan taat etika. penelitian terapan. d. seni. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. teknologi. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. norma. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. institut. mengungkapkan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. hayati. mengembangkan. teknologi. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. sosial. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan.sivitas akademika yang terlibat. b.doc . sesuai dengan peraturan perundangundangan. c. b. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. teknologi. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 85955213. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. dan/atau olah raga. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan.

(5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. seni. b. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. c. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. disetujui dosen pembimbing. disetujui dosen pembimbing. prinsip.pengembangan. dan/atau olah raga. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. teknologi. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. dan/atau olah raga. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. dan d. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 85955213. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. metode. disetujui dosen pembimbing. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. b. dan/atau menguji ulang teori.doc 52 . konsep. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. teknologi. prosedur. seni.

(4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Perpustakaan Nasional. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 85955213. fakultas.doc . dan perpustakaan Departemen. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. program studi. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi.

b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 85955213. dosen. pemodernan. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. pemberdayaan pengembangan dosen. kreatifitas.doc . baik secara individual maupun berkelompok. atau pemadanian kehidupan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan masyarakat. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. dan d. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa.informasi dan komunikasi Departemen. dosen. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. pemberdayaan pengembangan dosen. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. keteladanan. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. dan masyarakat. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan.

penilaian tugas terstruktur dan mandiri. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan jujur. 85955213. transparan. ujian. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a.kepada masyarakat perguruan tinggi.doc 55 . dan/atau bentuk penilaian lainnya. Penilaian hasil objektif. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. b. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. program sarjana.

program studi yang b. dilaksanakan atas dasar sampel. atau c. b.doc 56 . diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. d.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. c. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. ditetapkan oleh organisasi profesi. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. e. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 85955213.

ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. sarjana. untuk lulusan program diploma III. ayat (3). singkatan. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus.doc . Pasal 82 (1). vokasi. ahli muda. atau gelar profesi.(1) Lulusan pendidikan akademik. untuk lulusan program diploma II. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. b. doktor. 57 85955213. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. dan d. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. ahli madya. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. untuk program diploma IV. ahli pratama. sarjana sains terapan. b. c. vokasi. gelar vokasi. untuk lulusan program diploma I.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. Gelar akademik. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). magister. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A.

kemasyarakatan. (2) (3) (4) 85955213. (1) Pencantuman jenis. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis.(2). Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. singkatan. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. singkatan. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. teknologi. Pasal 83 (3). keagamaan. kebudayaan.doc 58 . Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. profesi. Penetapan jenis gelar akademik. dan penempatan yang berlaku di negara asal.

dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 85955213. pelaksanaan visi. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. misi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. c.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. b. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata.doc 59 . Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain.

(2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. h. kelompok belajar. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. kelompok bermain (KB).Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. pusat kegiatan belajar masyarakat. lembaga kursus. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. penambah. d. e. b. majelis taklim. keterampilan. keterampilan.doc . dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. lembaga pelatihan. mengembangkan profesi. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. bekerja. taman penitipan anak (TPA). berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 85955213. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. f. g. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. c. sikap wirausaha.

Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.doc 61 . dan berazaskan prinsip dari.yang lebih tinggi. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. dan untuk masyarakat. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. oleh. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 85955213.

Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). pendidikan anak usia dini. pendidikan kepemudaan. h. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. pendidikan keaksaraan. kelompok bermain (KB). berusaha dan/atau hidup mandiri. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. serta pendidikan lainnya. pendidikan pemberdayaan perempuan. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. b. f. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal.doc . c. kecakapan sosial. g. pendidikan kecakapan hidup. kecakapan intelektual. atau bentuk lain yang sejenis. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 85955213. e. d. pendidikan kesetaraan.

gizi. dan stimulasi psikososial. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 85955213. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan.kecakapan personal. dan kemampuan masing-masing peserta didik.doc (4) 63 . minat. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. termasuk kesejahteraannya. kecakapan sosial. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. usia. berusaha dan/atau hidup mandiri. sosial budaya. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. dan perkembangan anak. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

(3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. nilai. ilmu pengetahuan dan teknologi. sikap kewirausahaan. bermasyarakat. palang merah. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. dan martabat b. kepemimpinan. pecinta alam dan lingkungan hidup. etika dan kepribadian. wawasan. kecakapan hidup.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . estetika. wawasan kebangsaan. dan c. ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. organisasi pemuda. dan kewirausahaan. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. seni dan budaya. pencegahan perempuan. berbangsa dan bernegara. kepanduan/kepramukaan. harkat. kepeloporan. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. etika dan kepribadian. sikap. kebangsaan. kedudukan. 85955213. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. peningkatan perempuan. kepeloporan. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. kesehatan dan keolahragaan.

(2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. menulis. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 85955213. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. menulis.doc . menulis. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. berhitung.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI.kerja untuk memperoleh. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI.doc 66 . SMP/MTs. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. Paket B. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 85955213. dan Paket C. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs.

menanamkan nilai budaya. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. nilai moral.doc 67 . anggota keluarga. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. etika dan kepribadian. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. 85955213. estetika. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

anggota masyarakat. keluarga. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. 85955213. dan/atau masyarakat. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. atau lingkungan alam. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. lingkungan sosial.doc 68 . pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. pendidikan oleh media massa. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat.

belajar tuntas. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. jenjang. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. dan berbasis teknologi pendidikan. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. 85955213. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. b.doc (2) (2) (3) 69 . status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. dan jenis pendidikan. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. belajar mandiri.

ganda. terstruktur. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. atau satuan pendidikan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. registrasi.doc 70 . Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 85955213. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. praktik/praktikum. program studi/pendidikan. atau konsorsium. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. tutorial. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. dan sistem operasional yang diterapkan. cakupan. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. belajar secara mandiri.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. dan ujian. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal.

(2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. jaringan komputer. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi.doc 71 . 85955213. jaringan TV. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. informasi. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri.

dan jenis pendidikan. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. bencana sosial. intelektual. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 85955213. mental. emosional. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. dan/atau sosial. intelektual. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. mental. dan/atau mengalami bencana alam. dan tidak mampu dari segi ekonomi.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. masyarakat adat yang terpencil. jenjang. emosional.doc 72 . sosial. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
85955213.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
85955213.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
85955213.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

85955213.doc

76

menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. kursus dan pelatihan. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. dan/atau c. Pasal 123 85955213. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. e. g. taman penitipan anak. f. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. jauh. c. kursus dan pelatihan. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. madrasah terbuka. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. kelompok belajar. madrasah kecil. kelompok belajar. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. b.doc 77 . taman penitipan anak. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. d. taman penitipan anak. b. madrasah darurat. kursus dan pelatihan. kelompok belajar. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya.keahlian dan keterampilan.

doc 78 .(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. d. b. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 85955213. peserta didik di daerah perbatasan. dan f. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. c. e. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. peserta didik di daerah kepulauan kecil.

pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. serta menunjang pelestarian. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. teknologi. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. b.doc 79 . dan seni. dan pembangunan sumberdaya nasional. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. teknologi. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. pengembangan. c. dan/atau (2) (3) (4) a. 85955213. dan seni. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional.

mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 85955213. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. dan seni. dan MAK. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. e. i. j. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. SMA. f.d. b. d. teknologi. proses pembelajaran. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. matematika. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. penilaian. dan perpustakaan.doc 80 . MTs. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. SMK. MA. g. c. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. h. dan seni. dan teknologi. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. teknologi. teknologi.

MA. atau yang SMK. atau bidang nonkependidikan yang relevan. atau guru kelas. l.mata pelajaran yang diampunya. ruang bengkel kerja. atau bidang nonkependidikan yang relevan. atau yang sederajat. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. tempat beribadah. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). memiliki visi internasional. tempat berolahraga. buku dan sumber belajar lainnya. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. dan 4). ruang kantin. MI. 2). mampu berbahasa Inggris. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah.MAK. ruang perpustakaan. m. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. ruang pendidik. instalasi daya dan jasa. ruang kelas. atau guru kelas. ruang pimpinan satuan pendidikan. peralatan pendidikan. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. dan k. 10% untuk SD. media pendidikan. 3). 3). bahan habis pakai.doc 81 . 30% untuk SMA. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 85955213. sederajat. atau yang sederajat. ruang unit produksi. tempat berkreasi. n. MTs. atau yang sederajat. ruang laboratorium. ruang tata usaha. 2). sekurangkurangnya: 1). 20% untuk SMP. sekurang-kurangnya: 1). tempat bermain.

informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. dan Bahasa Indonesia. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 85955213. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan ruang unjuk seni budaya. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. fasilitas multi media. Pendidikan Kewarganegaraan. o.doc . dan 2). fasilitas olah raga. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. dan p.

b. 85955213. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. c. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. pengembangan. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan promosi keunggulan lokal. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya.

85955213. terpadu-satu sistem-satu atap. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. satuan pendidikan dasar. terpisah-satu sistem-tidak satu atap.doc 84 . proses pembelajaran. b. f. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. d. d. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. c. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan perpustakaan. dan h. e. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. dan keluar-masuk (entry-exit). penilaian. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal.teknologi informasi dan komunikasi. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. g. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a.

Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 85955213. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 85 . kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia.

Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia.doc . pendidikan kewarganegaraan. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. (4) sebagaimana dimaksud (2). (3). Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. Pasal 137 (1). Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain.pertimbangan dari Menteri Agama. d. penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. b. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. c. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. 86 85955213.

(4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. menyelenggarakan internasional. dan/atau c. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. d. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. e. i.doc 87 . b. program kembaran. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. program pemindahan dan perolehan kredit. f. penyelenggaraan seminar bersama.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. pendidikan tinggi bertaraf 85955213. penelitian. h. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. pertukaran peserta didik. c. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. g. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan/atau b.

penerbitan jurnal ilmiah. c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. program kembaran. usaha penggalangan dana. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. j. pendayagunaan aset. h. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. pemagangan. 85955213. penyelenggaraan seminar bersama. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. kontrak manajemen. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. d. b. dan/atau d. program pemindahan dan perolehan kredit. penelitian. c.doc 88 . e. i. g. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. b. f. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pengabdian kepada masyarakat.

Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. dan kecepatan belajar. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. 139. kemampuan. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. 85955213. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. c. minat. 140. 138. serta kebutuhan khususnya.doc 89 . Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. kecerdasan. b.

pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. e. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah.doc . menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. f. dan c.d. Pemerintah Provinsi. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. dan 90 85955213. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperoleh bantuan fasilitas belajar. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. c. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. dan h. g. b. b. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. pemerintah daerah. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1).

serta menyayangi sesama. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. i. mencintai keluarga. f. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. mematuhi semua peraturan yang berlaku. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. ketertiban. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. c. dan negara. h. serta pembiasaan peserta didik. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya.doc 91 . kebersihan. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. mencintai lingkungan. dan j.i. masyarakat. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. dan keamanan sekolah. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 85955213. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. bangsa. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. b. g. e. d. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya.

dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. widyaiswara. teknologi. mengarahkan. dan pendidikan tinggi. mengajar.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. c. mengajar. fasilitator. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. d. membimbing. konselor. pamong. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a.doc 92 . instruktur. tutor. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. penelitian. Tugas. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. melatih. membimbing. mengembangkan. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. melatih peserta didik. menilai. e. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan mengembangkan: model program pembelajaran. dan seni melalui pendidikan. pendidikan menengah. 85955213. pendidikan dasar. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. pamong belajar. dan pendidikan menengah. b. dan pengabdian kepada masyarakat. alat pembelajaran. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. dosen.

fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. 93 . Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. tenaga administrasi. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. penilaian. (1). pengawas satuan pendidikan formal. tenaga perpustakaan.f.doc (2). pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. pekerja sosial. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. c. h. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. b. Pasal 148. tenaga lapangan pendidikan. tenaga laboratorium. penilik satuan pendidikan nonformal. terapis. tenaga kebersihan sekolah. g. teknisi sumber belajar. Pasal 149 (1). pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 85955213. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. (2). dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. dan i. psikolog. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. penilaian. g.pemantauan. e. satuan pendidikan dasar. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. 85955213. dan pendidikan menengah. d. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. h. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. f. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. pemantauan. k. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. i. pembimbingan. merawat. j. dan l.doc 94 .

Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. penempatan. pemindahan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). penempatan. pemindahan. Penempatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.doc . 95 (2). (4). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan.Bagian Kedua Pengangkatan. Pengangkatan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. Pengangkatan. pemindahan. (3). (3). 85955213. (2). Pemindahan. Pasal 151 (1). penempatan. Pengangkatan.

kenaikan jabatan. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. (4). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. (1). dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc 96 . dan/atau bentuk promosi lainnya. (2). Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Promosi. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). (3). 85955213. Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (5). Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau penghargaan. (2).

propinsi. atau seni. b. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan.doc 97 . (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. daerah perbatasan. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. daerah konflik. pada tingkat Kabupaten/Kota. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. dan e. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. daerah bencana. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. kabupaten/kota. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 85955213. dan/atau tingkat satuan pendidikan.(4). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. nasional. teknologi. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. c. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional.

Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 85955213. dilarang menjual buku pelajaran. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. Hari Guru Nasional. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. piagam. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. ayat (2). baik perseorangan maupun kolektif. ayat (2). Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. harganya lebih murah dari harga di pasaran. ayat (4). (3). Pasal 156 (1). berdedikasi. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan.doc (2). ayat (3). kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. berdedikasi. baik perseorangan maupun kolektif. (2) Pendidik dan tenaga kependidikan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Hari Pendidikan Nasional. dan b. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. atau hari besar lainnya. kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. ayat (3). baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. 98 .

(3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. baik perseorangan maupun kolektif. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. dan budaya. d. dan ekologis.dengan peraturan perundang-undangan. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. b. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. 85955213. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. sosial. isi pendidikan/kurikulum. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. manajemen dan proses pendidikan. c. keuangan. geografis.doc 99 . b. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif. dan e. c. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran.

memproduksi. dan e. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 85955213. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. dan b. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. menyebarluaskan. Pasal 161 (1). undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. c.doc 100 . sumberdaya manusia untuk merancang. pustaka. harus memenuhi persyaratan: a. dan ujian secara elektronik.d. b. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. tutorial. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. menyusun.

jenjang. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 85955213. dan f.d. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. satuan pendidikan khusus. atau bentuk lain yang sederajat. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. atau bentuk lain yang sederajat. MA. MAK. SMK. MI. SMA. e.doc 101 . unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. (2). akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RA. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. MTs. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. (2) Izin pendirian RA. MA. SMP. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. atau bentuk lain yang sederajat. SD. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. Pasal 162 (1) Pendirian TK. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. MTs. MI.

b. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. b. TKLB. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. SMA/MA. SMALB. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. SD/MI. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima.doc . SMK/MAK. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SDLB. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. pindah satuan atau program pendidikan. SMP/MTs. SMPLB. pindah ke satuan atau program pendidikan. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. 102 85955213. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri.

Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. pelaksana. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). pengusaha. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.doc . ayat (3). ayat (2). Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. dan pengguna hasil pendidikan. keluarga. kelompok. organisasi profesi. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 85955213.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima.

Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. d. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. jenjang. Pasal 169 c. sumbangan dana.doc 104 . dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. (1) Peranserta perseorangan. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. pemberian beasiswa kepada peserta didik. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. dan jenis pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. kelompok. dana. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. pengawasan. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. (2) (3) (4) Pasal 170 85955213. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. b.

dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. evaluasi. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 85955213. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. manajemen. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. Pasal 173 Kurikulum. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama.(1) Peranserta perseorangan. pendidikan sistem ganda. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. lingkungan sosioekonomi. lingkungan sosialekonomi. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. pengawasan. dan pembinaan satuan pendidikan. pengelolaan.doc (2) 105 . kelompok. dan budaya untuk kepentingan masyarakat.

subsidi dana. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. dukungan tenaga. subsidi dana. dalam proses perencanaan. dukungan tenaga. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. penyelenggaraan. dan/atau bantuan asing. dalam proses perencanaan. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. penyelenggaraan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dalam proses perencanaan. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dukungan tenaga. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Bantuan teknis.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis.doc (2) (3) 106 . subsidi dana. Pasal 176 85955213. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional.

organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. pengusaha. Dewan Pendidikan Provinsi. kepala satuan pendidikan.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. meninggal dunia. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. Dewan Pendidikan Provinsi. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. b. dan kabupaten/kota. mengundurkan diri. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. saran. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. maupun dengan lembaga pemerintahan. c. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. tokoh masyarakat. praktisi pendidikan. 85955213. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. atau 107 . Dewan Pendidikan Nasional. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. pada tingkat nasional.

Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. dan ketua-ketua komisi. jenjang. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap.doc 108 . 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. dan jenis pendidikan.d. (2) b. gubernur untuk tingkat provinsi. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. 2 (dua) tokoh masyarakat. 2 (dua) tokoh masyarakat. bendahara. c. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. 85955213. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). Dalam melaksanakan tugasnya. sekretaris. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota.

(2) (3) (4) (5) (6) (7) 85955213. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. sarana dan prasarana.doc 109 . Setelah terbentuk kepengurusan. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. evaluasi program pendidikan. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. pertimbangan dan arahan.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. serta pengawasan pendidikan. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dukungan tenaga. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

85955213.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

85955213.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

85955213.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

85955213.doc

113

dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. dan disebarkan kepada masyarakat. 114 (3) 85955213. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.doc . brosur yang dicetak. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). dan 1 (satu) unsur . Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. atau media lain. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. dan diketuai oleh unsur masyarakat. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan.

doc . Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. jenjang. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 85955213. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dilarang menjual buku pelajaran. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. dan jenis pendidikan.

terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. jalur. oleh Pemerintah diduga meragukan. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota.doc 116 . oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. (7) Pemerintah. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. jenjang. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. menengah. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. oleh Pemerintah dipandang kredibel. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. 85955213. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan dasar. Pemerintah Provinsi.

menguji. 85955213. menguji. badan hukum pendidikan. b. penyimpangan. h. mengusut. pemeriksaan tematik. i. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. g. l. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. b. j.doc 117 . memeriksa. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. Pemerintah Provinsi. komite sekolah/madrasah. pemeriksaan investigatif. mengevaluasi. dan/atau pemeriksaan terpadu. f. e. pemeriksaan khusus. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. d. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. c.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. program pendidikan. unit kerja di lingkungan Departemen. k. menilai. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. memeriksa. meneliti. satuan pendidikan. memantau. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dewan pendidikan.

keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. menguji. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 85955213. b. b. memeriksa. j. komite sekolah/madrasah. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pendidikan dasar. memantau. menilai. e. c. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. memeriksa. dan pendidikan nonformal. d. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan menengah. dan pendidikan nonformal. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. mengevaluasi. ayat (2). yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. h. unit kerja di bawah gubernur. f. dasar. k. i. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a.doc . pendidikan pendidikan menengah. l. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. menguji. penyimpangan. mengusut. satuan pendidikan anak usia dini. meneliti.

penyelenggara pendidikan anak usia dini. b. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. g. f. menilai. ayat (2). melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. pemeriksaan tematik. menguji. dan pendidikan nonformal. komite sekolah/madrasah. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan.doc 119 . memeriksa. penyimpangan. memantau. satuan pendidikan anak usia dini. dan/atau pemeriksaan terpadu. Menteri. e. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. 85955213. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengusut. dan pendidikan nonformal. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. h. unit kerja di bawah bupati/walikota. sesuai Pemerintah Provinsi. atau m. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. c. meneliti. pemeriksaan investigatif. pendidikan dasar. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pendidikan dasar.masyarakat dan/atau asosiai profesi. pemeriksaan khusus. menguji. b. memeriksa. dan objek yang diawasi. d. mengevaluasi.

ayat (2). f. b. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. j. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (3) badan hukum pendidikan. program pendidikan pada satuan pendidikan. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. pemeriksaan investigatif. pemeriksaan tematik. pemeriksaan khusus.i. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 85955213. menilai. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.doc 120 . Menteri. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. satuan pendidikan. penyimpangan. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. d. penyelenggara pendidikan. mengevaluasi. gubernur. dan/atau pemeriksaan terpadu. komite sekolah/madrasah. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. dan objek yang diawasi. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. c. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. b. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. g.

penyimpangan. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. pelaporan. dan c. Pasal 201 (1). untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. program pendidikan bersangkutan. dinas yang kabupaten/kota. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. tingkat nasional. menteri. dan kabupaten/kota. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. (2). b. badan hukum pendidikan. bupati/walikota. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. pada satuan pendidikan yang (3). d. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 85955213. kabupaten/kota. mengevaluasi. pelaksanaan. c. gubernur.doc 121 . menilai. dan/atau b. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. b. menangani urusan pendidikan di b. Pasal 200 (1). untuk dewan pendidikan provinsi. objek yang diawasi.a. satuan pendidikan yang bersangkutan. Menteri mengkoordinasikan perencanaan.

memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. 64. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. Pasal 160. (2). 31. 82. 26.pada Pasal 196. b. dan Pasal 200. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. Pasal 161. 30. Pasal 159. yang e. 36. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. Pasal 199. pembekuan. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. d. dan Pasal 163. 122 85955213. (2). satuan pendidikan. 29. 98. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. 68. program pendidikan. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. 42. 50. 62. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 74. masukan dalam perencanaan pendidikan. 55. menilai kinerja objek yang diawasi. Pasal 197. 28. Pasal 162.doc . c. Pasal 198.

42. 151. 140. 142. 142. 101. 140. 130. 62. program pendidikan. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. pembekuan. 159. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 161. 125. penutupan. 36. 158. 144.101. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 159. 145. 139. 152. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 144. 130. 118. 108. 165 dan Pasal 164. 160. 50. 165 dan Pasal 164. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 98. 31. 107. melalaikan ketentuan ayat (1). 28. 137. pembekuan. 125. 138. 158. 29. 157. 55. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 126. 138. 64. 137. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 68. 26. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 82. 157. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 85955213. 136. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya.doc . 74. 118. 145. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 139. 126. 107. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 160. 30. 151. 136. 161. 108. 152. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

pembekuan. atau organisasi.Pemerintah ini. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2). kelompok. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. Pasal 206 Perseorangan. dan yang menangani pendidikan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. Pasal 105. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. dan Pasal 106. dan/atau penutupan oleh Menteri. organisasi orang tua peserta didik. institusi Pemerintah. dewan pendidikan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. 85955213. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pembekuan. skorsing.doc 124 . Anggota komite sekolah/madrasah. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 205 (1). Pasal 103.

Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. (5) Seseorang yang mengangkat. Pasal 139. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. pemberhentian dengan hormat. Pasal 30. gubernur. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. organisasi. Pasal 134. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. pembekuan. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. menempatkan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. Pasal 26. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pembekuan. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 28.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya.doc (2) 125 . dan/atau penutupan satuan 85955213. pembebasan dari jabatan. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. penundaan kenaikan pangkat. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. penundaan kenaikan gaji berkala. Pasal 29. memindahkan. Pasal 126.

dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pemberhentian dengan hormat. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan gaji berkala.doc 126 . pembebasan dari jabatan. 85955213. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. penundaan kenaikan pangkat. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). e. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413).doc . c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. f. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. d. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). 85955213. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460).

TAHUN 2007 85955213. Agar setiap orang mengetahuinya.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974). Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859). PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR.. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115.... g. dinyatakan tidak berlaku..doc 128 .Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91.. Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69.. h. H...... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR….......

pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. bentuk dan jenis pendidikan. baik dilihat dari segi pasokan. peranserta masyarakat. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. Parameter kualitas pendidikan.. dan hasil pendidikan selalu berubah. pengawasan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 85955213. Perkembangan ini. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. masyarakat dan orang tua. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. Oleh sebab itu. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. proses. syarat pendirian. tujuan. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. bahasa pengantar. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. sarana dan prasarana. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi.doc 129 . Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. peserta didik. jenjang. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. manajemen. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif.

Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. pendidik dan tenaga kependidikan. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. pendidikan kedinasan. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. kurikulum. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. pendidikan dasar. 51. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 50. pendidikan tinggi. evaluasi. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. dan/atau masyarakat. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. dan evaluasi yang transparan. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. 52. pendirian satuan pendidikan. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. pendidikan jarak jauh. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. Pemerintah Kabupaten/Kota. pemerintah daerah.doc 130 . pendidikan informal. akreditasi. dan ketentuan pidana. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. jaminan mutu. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. Wajib Belajar. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. Pendidikan Kedinasan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. pengembangan tenaga kependidikan. Standar Nasional Pendidikan. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 85955213.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. akuntabilitas. pendidikan keagamaan. pengawasan. sarana dan prasarana pendidikan. pendidikan dasar. pengelolaan pendidikan. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. pendidikan menengah. pendanaan pendidikan. pendidikan nonformal. Pemerintah Provinsi. dan sertifikasi. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya.

Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. a.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. dan dari masyarakat. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. nilai-nilai. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. pendidikan berbasis keunggulan lokal. peserta didik. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. 85955213. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. izin pendirian. bencana sosial. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. bentuk satuan pendidikan. pendidikan jarak jauh. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. dan kabupaten. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. Pendidikan dasar dan menengah. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. pendidikan nonformal dan informal. jenjang. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. penghargaan pada keunikan setiap anak. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya.doc 131 . Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. pendidikan oleh negara asing. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. provinsi. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. Pendidikan anak usia dini (PAUD). pendidikan bertaraf internasional. pengutamaan pada kebutuhan anak. untuk. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. dan tidak mampu dari segi ekonomi. b. sikap. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik.

Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. d. teknologi dan/atau seni . Pendidikan tinggi. c. dan/atau vokasi. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. pendidikan anak usia dini. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. pendidikan pemberdayaan perempuan.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik.doc 132 . peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. profesi. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. pendidikan keaksaraan. kursus dan pelatihan. serta ilmu agama. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 85955213. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. pendidikan kesetaraan. pendidikan kepemudaan. Disamping itu. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. tetap besar. di semua bidang ilmu pengetahuan.

informasi. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. tingkat laju pertumbuhan penduduk. Dalam era globalisasi. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. Oleh karena itu. dan media lain. minat. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. psikologis. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. distribusi bahan ajar mandiri. media. tantangan globalisasi. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. nilai budaya. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. (c) relevansi. dan bakatnya. dan informatika (telematika). sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.doc 133 . (b) peningkatan mutu. tutorial. perhatian. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. f. relevansi. e. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. mutu. waktu. tingkat dan jenis pendidikan. dan efisiensi pada semua jalur. Kondisi geografis. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. 85955213. Pendidikan jarak jauh. dan (d) efisiensi. perkembangan teknologi komunikasi. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional.

Selain itu. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. (c) penyelenggaraan tingkat khusus. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya.doc 134 . 85955213. nonformal.

Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. Lembaga pendidikan asing 85955213. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. h. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah.g. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. pengembangan.doc 135 . pengembangan. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. dan promosi keunggulan lokal. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. teknologi. serta menunjang pelestarian.

Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. pengalaman. menilai hasil pembelajaran. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. pengelolaan. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. pengalaman. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. i.doc 136 . Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. pengawasan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. pengembangan. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 85955213. pendidikan kewarganegaraan. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. keterampilan. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. melakukan pembimbingan dan pelatihan. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. penyebaran. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. penempatan. Pengangkatan. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. kemampuan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. j. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya.

doc 137 . provinsi. Pasal 4 Cukup jelas. 85955213. Pasal 2 Cukup jelas. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. konvensi internasional. Pasal 3 Cukup jelas. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. dan dari masyarakat. II. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. untuk.

Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. seni kinestetik. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas Huruf d. Ayat (2) Huruf a. kreatif produktif. Cukup jelas 85955213. dan psikomotorik/olahraga. Cukup jelas Huruf b. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. psikososial/kepemimpinan.doc 138 . akademik khusus.

Huruf e. Pasal 15 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Pasal 12 Cukup jelas. 85955213. Pasal 14 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf f. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas.doc 139 .

Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf k. Cukup jelas Huruf l. 85955213. Cukup jelas Huruf j. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h.doc 140 . Cukup jelas Huruf f. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas Huruf b.

Pasal 23 Cukup jelas. sarana dan prasarana.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. pengelolaan. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. Pasal 20 Cukup jelas. pembiayaan.doc 141 . Pasal 24 Cukup jelas. proses. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 85955213. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. tenaga kependidikan. Pasal 19 Cukup jelas. kompetensi lulusan.

maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.doc 142 . Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 85955213. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.

Pasal 30 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas.doc 143 . dan Adi Sekha. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Pasal 28 Cukup jelas.

mendengarkan. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf c. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. Ayat (2) Huruf a. RA. RA. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b. MI. 85955213. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. RA. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. pramembaca. baik di dalam maupun di luar sekolah.doc 144 . tidak memaksa.

kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian.doc 145 . Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. olahraga dan kesehatan pada TK. dan Majjhima Sekha. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. pendidikan diniyah dasar. Ayat (4) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah pertama. dan teman. saudara. dan Culla Sekha. Pasal 38 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Program pembelajaran estetika pada TK. Program pembelajaran jasmani. Madyama Vidyalaya (MV).Huruf d. Adi Vidyalaya (AV). Ayat (3) Cukup jelas. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. Ayat (7) Cukup jelas. 85955213. Huruf e.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. sejauh daya tampung memungkinkan. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 85955213.doc 146 .Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. bidang kejuruan dan program kejuruan. Utama Vidyalaya (UV).doc 147 . dan Maha Sekha. Struktur penjurusan ini akan menentukan 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Pasal 43 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.tinggal ke satuan pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas.

doc 148 . Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat (4) Cukup jelas. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. regional dan global. Ayat(2) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 85955213. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat(3) Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan.doc 149 . magister. 85955213. dan doktor. yang mencakup program sarjana. Pasal 51 Cukup jelas. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. teknologi. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dapat mencakup program spesialis. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. dan/atau seni tertentu.

teknologi.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. kopetensi kepribadian. Penguasaan kompetensi pedagogik. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. 85955213. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. dan diploma IV. teknologi. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. diploma III.doc 150 . yang mencakup program pendidikan diploma. dan/atau seni). kompetensi kepribadian. diploma II. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. kompetensi pedagogik.`teknologi.

85955213. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Ayat (3) Cukup jelas. laboratorium pengajaran. Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 56 Cukup jelas. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. dan akses internet. Pasal 61 Cukup jelas. akses internet. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. pusat komputasi pengajaran. laboratorium riset.doc 151 . Pasal 59 Cukup jelas. pusat komputerisasi riset. Pasal 60 Cukup jelas. Misalnya. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan.

Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Huruf b. Ayat (5) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Cukup jelas. 85955213. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (2) Cukup jelas.doc 152 . Ayat (4) Cukup jelas. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. daerah. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Misalnya. Ayat (2) Cukup jelas.

doc 153 . Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. dan psikomotorik. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. Ayat (2) Cukup jelas. afektif. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 85955213.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa.

merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. 3 jam kegiatan terstruktur. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur.doc 154 . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 69 Cukup jelas. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Pasal 70 85955213. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Ayat (6) Cukup jelas. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka.dalam satuan kredit semester (sks).

Ayat (3) Cukup jelas. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (9) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). 85955213. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna.doc 155 .

Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. 4. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. atau pakar dari luar negeri.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.doc 156 . Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. b. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. 3. Ayat (5) Cukup jelas. 2. dan c. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 85955213. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. tenaga ahli dari organisasi profesi. Ayat (2) Cukup jelas.

5. Pasal 75 Cukup jelas.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Pasal 76 Cukup jelas. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas.doc 157 . dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 85955213. Pasal 77 Cukup jelas. Atas dasar hasil akreditasi. Pasal 79 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Pasal 78 Cukup jelas. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Pasal 74 Cukup jelas.

85955213. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. Ayat (2) Cukup jelas. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Taman Bermain. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 82 Cukup jelas. Program Paket B setara SMP. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Taman Asuh Anak Muslim. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Ayat (2) Cukup jelas. adalah: Program Paket A setara SD. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan.doc 158 . Taman Balita. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). penambah. Ayat (3) Cukup jelas.kepegawaian pegawai negeri sipil. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal.

percaya diri. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. Pasal 88 Cukup jelas. Pasal 85 Cukup jelas. kecakapan dalam melakukan koreksi diri. Pasal 90 Cukup jelas. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 87 Cukup jelas. Pasal 89 Cukup jelas.doc 159 . kecakapan dalam menghadapi tantangan 85955213. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 86 Cukup jelas.

kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. bermasyarakat. empati atau tenggang rasa. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. dan bernegara.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. Ayat (3) Cukup jelas. mengelola pekerjaan. berbangsa. Ayat (4) 85955213.doc 160 . Pasal 92 Cukup jelas. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. berpikir kritis dan kreatif. kecakapan bekerjasama dengan sesama. Ayat (2) Cukup jelas.

doc 161 . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 99 85955213.Cukup jelas. Pasal 94 Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI.

Cukup jelas. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus.doc sistem pendidikan yang 162 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 85955213. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Pasal 100 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas.

informasi. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka. teknologi kokunikasi. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran.doc 163 . Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Contoh. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 85955213. dan media lain.

Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. jenjang. Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. jenjang. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. dan University on the Air di China. dan jenis pendidikan. dan jenis pendidikan.pada berbagai jalur. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran.doc 164 . Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 85955213. dan universitas maya (cyber university). Ayat (5) Cukup jelas. jenjang. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand.

maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 109 Cukup jelas. Pasal 108 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. Pasal 111 Cukup jelas. tenaga pendidik. emosional.doc 165 . dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 85955213. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. tenaga pendidik. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. mental.pendidikan tinggi. Pasal 107 Cukup jelas. dengan menyediakan sarana. dengan cara menyediakan sarana. Pasal 110 Cukup jelas. dan sosial.

Pasal 116 Cukup jelas. 85955213. Pasal 113 Cukup jelas.kebutuhannya. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.doc 166 . Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 114 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas.

Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. spiritual. Pasal 119 Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). huruf c Cukup jelas. 85955213. emosional. dan kinestetik. huruf b Cukup jelas. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 122 Cukup jelas. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. Pasal 121 Cukup jelas.doc 167 .

Pasal 128 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. teknologi. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Pasal 123 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas.doc 168 . Pasal 127 Cukup jelas. 85955213.

Pasal 134 Cukup jelas. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.Pasal 131 Cukup jelas. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.doc 169 . Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 133 Cukup jelas. 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Huruf a. Huruf c. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 85955213.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. serta penghasilan lainnya. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi.doc 170 . penilaian. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Cukup jelas. Huruf b. Pasal 137 Cukup jelas. tunjangan. Pasal 138 Cukup jelas. pembelajaran. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf h. Pasal 143 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf i. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Pasal 141 Cukup jelas. Huruf g. Huruf f. 85955213. Huruf d. Huruf e.doc 171 . Pasal 140 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. MI. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. Cukup jelas. 85955213. Peserta didik pada SMA.huruf b. huruf c. Cukup jelas. Cukup jelas. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. MA. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. atau bentuk lain yang sederajat. huruf e. 3) 4) huruf f. MTs. huruf g. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Peserta didik pada SD.doc 172 . Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. SMP. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. SMK. huruf h. Ayat (2) Cukup jelas. huruf d.

tutor penanggung jawab tingkat . Cukup jelas. Huruf c. Huruf b. paket B. Pasal 146 Cukup jelas. Huruf g. Ayat (2) Huruf a.Pasal 145 Cukup jelas. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Huruf f. pelatih atau instruktur. Cukup jelas. Huruf d. Huruf h. Cukup jelas. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. pembimbing. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Huruf e. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Cukup jelas. dan penguji. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. 85955213.doc 173 .

Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 85955213. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas.Huruf i. Pasal 148 Cukup jelas.doc 174 .

Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 158 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.doc 175 . Pasal 160 Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. Pasal 164 Cukup jelas. 85955213. Pasal 161 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 162 Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan.

Ayat (2) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. SMA/MA. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Ayat (2) Huruf a.doc 176 . dan SMK/MAK. Huruf b.Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (3) 85955213. Ayat (5) Cukup jelas. Peserta didik TK/RA. SD/MI. nonformal. SMP/MTs. Ayat (3) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b.

Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Pasal 169 Cukup jelas. Ma’arif-NU. Pasal 167 Cukup jelas. Majelis Pendidikan Kristen. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Ayat (2) Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia.doc 177 . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Pasal 170 85955213. Ayat (4) Cukup jelas. dan sejenisnya. dan sejenisnya. Ayat (5) Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan.

Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. MA. Pasal 171 Cukup jelas. Pesantren. Ayat (4) Cukup jelas. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah.Ayat (1) Cukup jelas. sosioekonomi. MTs. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI.doc 178 . Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Pabbajja 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. dan sosio-kultural sekaligus.

Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 178 85955213. tukar-menukar informasi. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan keadaan sosio-ekonomi. Pasal 175 Cukup jelas. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. dan bentuk lain yang sejenis.Samanera. Ayat (2) Cukup jelas. potensi. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 174 Cukup jelas.doc 179 . Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Pasal 173 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. dan sosio-kultural setempat.

dan media lainnya. provinsi. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Ayat (2) Cukup jelas. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Tinggi. media elektronik.doc 180 . dan kabupaten/kota. Ayat (4) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Ayat (3) Cukup jelas. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Komisi Pendidikan Kedinasan. Komisi Pendidikan Keagamaan. Ayat (3) Cukup jelas. 85955213. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 182 Cukup jelas. Pasal 181 Cukup jelas. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. 85955213. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Tinggi. Pasal 183 Cukup jelas. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Komisi Pendidikan Keagamaan.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.doc 181 . Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. menggantikan keberadaan BP3. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.

program pendidikan nonformal. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. tukar-menukar informasi. SD. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. dan unsur . SMA. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. atau karena pertimbangan lain. Ayat (3) Cukup jelas. maupun oleh masyarakat. MTs. Ayat (2) Cukup jelas. Komite Pendidikan Nonformal. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. MA. atau berbeda seperti TK. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. dan SMK.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. atau RA. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. dan MAK. MI. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. 85955213. satuan pendidikan keagamaan. SMP.doc 182 .

Pasal 190 Cukup jelas. vokasi. jenjang. Ayat (3) 85955213. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 192 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. jenjang. Pasal 191 Cukup jelas. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum.Pasal 185 Cukup jelas. pemerintah daerah. dan khusus pada semua jalur. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 186 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. Pasal 187 Cukup jelas. kejuruan. akademik. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. maupun masyarakat. lembaga pemerintah non-departemen. dan jenis pendidikan. Pasal 189 Cukup jelas. profesi.doc 183 .

Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas.doc 184 .Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.

dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. i. Pasal 199 85955213. i. i. Ayat (2) Cukup jelas. h. j. j. Ayat (4) Cukup jelas. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. k. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. g. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. l. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. k. g. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e.doc 185 . Ayat (2) Cukup jelas. h. l. f. Ayat (4) Cukup jelas.

dan/atau satuan pendidikan. unit-unit dharma perguruan tinggi. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. badan hukum pendidikan.doc 186 . lembaga pengabdian lain yang masyarakat. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. melaksanakan f. Pasal 200 Cukup jelas. b. Ayat (4) 85955213. Pasal 201 Cukup jelas. Pasal 202 Cukup jelas. e. Ayat (2) Cukup jelas. program studi. c. lembaga penelitian atau pusat studi. Ayat (2) Cukup jelas. jurusan. dan/atau fakultas. d. program pendidikan.Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 209 Cukup jelas. pemindahan. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas.doc 187 . Pasal 205 Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Pasal 211 85955213. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. penempatan.

doc 188 . Pasal 213 Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 216 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas. 85955213. Pasal 217 Cukup jelas.. Pasal 212 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ..

....................................................................12 f.............................................................................Program dan/atau satuan pendidikan..........................................................................Pemerintah provinsi......................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan....................13 Pasal 22........................................................................................................12 a............................................................................................................................15 Pasal 23....12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi............................................................................................................................................................................................................................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..............................................................................................................2 BAB II.................12 Pasal 15 ................................................11 Pasal 13...............12 e..............................................7 Umum......................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...........doc i ...........................................................................2 KETENTUAN UMUM........................................................................................................................................................9 Pasal 10...........................................................8 Pasal 5.......................................................................12 Bagian Ketiga...........................8 Pasal 4.................12 Pasal 16......................................................................................7 Bagian Kesatu........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................12 g.......12 c......................................................................................12 d................................................................................................................. dan.....................................................................................................................7 Pasal 2..............................................................................................................................................................................................................................................................................7 Bagian Kedua...........................DAFTAR ISI BAB I..................................7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Departemen Agama..Badan hukum pendidikan........................................ dan 85955213............................................ efektifitas................................................................2 Pasal 1.......................................................................................................................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi............................. efektifitas.......................................................Departemen..................8 Pengelolaan oleh Pemerintah................................................................................................................Pemerintah kabupaten/kota...................10 Pasal 12.......................7 Pasal 3...........12 b.........................................................................................................................................................................................12 Pasal 14................................... ........................................................

............................................................................................................................30 Paragraf 2..................................................22 Pasal 41............................................................................................................................................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................16 Pasal 24.............................30 Bagian Kesatu.............................................................................................................................20 Pasal 33...................30 Pendidikan Anak Usia Dini........................................................................................................16 Bagian Keempat...................................................................................................21 Pasal 35............................................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.........................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...................................................30 Paragraf 1..............21 Pasal 36.......................... efektifitas.......................................................................................................................................................................30 Fungsi dan Tujuan.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan.................................................................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.......................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.....................................21 Pasal 34....28 Pasal 51.........................24 Pasal 42...............................................17 Pasal 26..............................................................................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan..........................................................18 Pasal 32.......................................................doc ii ................................................................................25 Pasal 44 ...........25 Pasal 45.............................................30 Pasal 54 ...................................................................27 Pasal 50.............................................17 Pasal 25....30 85955213..........................................................................................................................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.......................30 Pasal 53 ...24 Pasal 43................29 BAB III................................................................................................................................................ efektifitas..............................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................21 Bagian Kelima......................................................................................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ..................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:........................................................................................................................................................................................25 Bagian Keenam...............24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi........................... efektifitas.............................................................................................29 Pasal 52...................

...............................................................................................................................34 Pasal 65................................33 Bentuk Satuan Pendidikan....41 Pasal 73.............................................................................................................................................................................................33 Pasal 59 ........................................32 Paragraf 1................................................................................................................31 Paragraf 4................................................................................................................................................................40 Fungsi dan Tujuan............................................................................31 Penerimaan Peserta Didik...............................................................................41 85955213........................................................36 Pasal 66..............................................37 Pasal 69.............................................................................................................................................................................................31 Pasal 57 ...............................................................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik.........................................................................................................................doc iii .......................32 Paragraf 2.............................................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan........................................................................................................................................................................33 Pasal 60 ...39 Pasal 72..................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik...................................................................................................................................................................................................................................32 Pasal 58.........................................................................................................40 Pendidikan Tinggi....................37 Pasal 68 ...................................................................................36 Bagian Ketiga..............................................................................................32 Pendidikan Dasar........................................................................................................................................................31 Bagian Kedua.......................................................38 Paragraf 3...........................................................................................................................................................................................................................36 Pendidikan Menengah................................................................................................................................................................................................................36 Paragraf 1.......33 Pasal 63.......................................................................32 Fungsi dan Tujuan.....................................................................................31 Pasal 55 ..........................31 Pasal 56 ....................................................................................36 Fungsi dan Tujuan....................................................................................................................................................................31 Program Pembelajaran.......................................................................................Paragraf 3 ......................................................................................................................................................................................39 Pasal 71...................................33 Paragraf 3.............................................................................................34 Pasal 64 ............................................................................................................................................................................................40 Bagian Kempat....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................36 Paragraf 2.........................................................................................................................40 Paragraf 1.......................................................................

.....................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...........................................43 Paragraf 3....................................................................................................................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.............................................................................................................. dan Program Pendidikan.................................................................................................................................................................................................................................................................................. Bentuk.....................48 a....42 Pasal 75 ...........................................................................................47 Pasal 89.............................................................................41 Paragraf 3............................44 Penerimaan Mahasiswa ..........................46 Sistem Pembelajaran.....................................................................46 Pasal 87 ........................................................... mengawasi..............................................................................................................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi.......................41 Organisasi Perguruan Tinggi..................................45 Pasal 84................................................................42 Pasal 77.............................................................................................................................................................44 Pasal 80.............................................44 Pasal 81.............................................................................................................................................48 b...................................................... ...................................41 Pasal 74.......................................41 Jenis...........................................................................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.........................................................................................42 Pasal 79............................................Paragraf 2...dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran...doc iv ..............................................................................................................................................................................47 Pasal 88...............................................................................................46 Paragraf 4.......................48 c............................................................................................. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 85955213.......................................................................................46 Pasal 86.........................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen.......................................................................................................................................................................

.......................................56 Paragraf 10....................................................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi......................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar....58 Pasal 84................49 Pasal 91.............................................................................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.........................................................................................................................................................................................................................................57 Pasal 83............................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan.............................doc v ...................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat.............48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen...................................................54 Paragraf 8.............................................................................................................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan..................55 Pasal 97............55 Paragraf 9.....................................56 Pasal 82............................................................................................................................................51 Pasal 93........................................................................................................................ Pasal 82 ayat (2)...................................................................................................................................................................59 Pasal 85...........................................................................................................................................................48 Pasal 90.........................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .............................................................................................................................55 Pasal 96............................................................56 Pasal 81...............................54 Pasal 95.................................................................................................................................................55 Pengalihan Kredit ..............................................................................................................59 85955213.......................................................................................................................48 Paragraf 5............................................................................................................................59 Bagian Kesatu.................................................51 Pasal 94............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Penjaminan Mutu.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................55 Pasal 99......49 Pasal 92..............................59 BAB IV.....................................................................................................................................................58 Bagian Kelima................................................................................................................................................................................................................................51 Paragraf 6.......................................................................................................................................................................51 Penelitian....................................................................................................................................

...........................................................................................................................................................................................................................................................64 Paragraf 4.............................................61 Pasal 89......................62 Program Pendidikan .....................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja.........61 Kelompok Belajar ...................................62 Pasal 94...............................................................................................Fungsi dan Tujuan ........................................................................................................................62 Pasal 92..............................................................................................................................................................................................................................................................61 Pasal 91..............62 Paragraf 1..........................................................................................60 Paragraf 1........................................................................................................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan............................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pasal 96..................................................................................59 Pasal 86...................................................................................................................................................................61 Paragraf 4.......................................................................................................................................................................65 85955213..........64 Pasal 97.......................................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan .........................................................................................................................................61 Pasal 90.........61 Majelis Taklim...........................................................................................................60 Paragraf 2...................................60 Pasal 87...................................................65 Pendidikan Keaksaraan........................................................................................................65 Pasal 98....................................................................................................63 Paragraf 3.............................................................................doc vi ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pasal 95..........................................................................................................................................................................................................65 Paragraf 6..........64 Paragraf 5............................................................................................................................................................60 Pasal 88...............62 Paragraf 2........................................................................................62 Pasal 93 .................................................................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup............................................................................................................................................................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ...........................................................................62 Bagian Ketiga.....................................................................................................60 Bagian Kedua.....................................................................................................61 Paragraf 3............................................................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ....................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat......61 Paragraf 5........................................................................................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.........................................................................................................................69 Pasal 106..................................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus................72 Paragraf 1....................................................................................................................................................................70 Pasal 110........................70 Pasal 109........................................................................................66 Pasal 100..................................................................................................................................................................................................................................................................................71 BAB VII..................................................................................................................................68 Pasal 104.........72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.......................................................................................................................................................................................................................................................................71 Pasal 111.................................................................................................................................................................................................................................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL............................72 Pasal 114...................................................................72 Pasal 112......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pasal 99................................................66 BAB V......................................................................................................................................72 Pasal 113.................................................69 Pasal 108......................................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN..............................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH..............................................67 Pasal 103.....................................................................................................................72 Pasal 116..................................................................................................................................................66 Bagian Ketiga (keempat).........................................................................................73 Pasal 118.......................................................................................................................................................................................................................................................................................65 Paragraf 7................................................................................................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS............................................................................................................................................................................69 BAB VI.......................................................66 Pasal 101..................................................74 85955213......................................72 Bagian Kedua.........66 Penyetaraan Hasil Pendidikan.................................................................69 Pasal 107.......................................................................................................................................................73 Pasal 119.....................................................................................................................................................................................................................................................72 Bagian Kesatu..........................................................................................................................................................................68 Pasal 105...............................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan.....................................................................................................................................................67 Pasal 102..........................................................................72 Umum......................doc vii ........72 Pasal 115.......................................................................................................................................73 Pasal 117..............74 Paragraf 2...................................

...................................75 Pasal 122.......................................................86 Pasal 139.........................................................................................................................................................78 BAB VIII.83 Pasal 132........................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN...........89 Pasal 143...................................................84 BAB IX.............................77 Pasal 124..........................86 Pasal 140............................................................76 Pasal 123..............................89 85955213........................................................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ......................................................................................................................75 Pasal 120.................................................................................................................................................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa..............................................................................................................................................................................................................................................................82 Pasal 130......................................................................................................................................................................................................................................................................76 Bagian Ketiga........................................................................................80 Pasal 128.......................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ....................................85 Pasal 135............................................................................................................................................................................................................................................................................................................87 Pasal 141................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 136...........................................................85 Pasal 138..................................................................................................................................................................................................84 Pasal 133.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus................................................................................76 Pasal 122.................................................................83 Pasal 131.......76 Pasal 121............................................................................89 BAB X.......................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL...............................................................................................82 Pasal 129.............................................doc viii .....................................................................................78 Pasal 125............................................................................................89 Pasal 142.........................................................................................................................79 Pasal 127......................................75 Pasal 121.............................................................................................................................................................77 Pasal 123..89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK................................................................................................................................................................................................84 Pasal 134.....................................................................................................................................................................................................................................................78 Pasal 126.......................................................................

.....................................................................................................................................................................................................................................................................................90 Pasal 146.................................. Penempatan......................................................................................................................................................................................................................................................................96 Pasal 153.........................................96 Paragraf 1.................................................. Pemindahan..................................100 Pasal 162.............................................................98 Bagian Keempat..............96 Pembinaan Karir..........................................................................................................................................................................................................................................................100 Pasal 160......................................... Tugas......................................................................99 Pasal 159.........................................................................................................98 BAB XII............................................................................................................................................................................................................93 Pasal 149..................................................................................................................................91 BAB XI............................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN................................................................................ dan Tanggung Jawab......................................................96 Pasal 152................................................................................................................89 Pasal 145 ............................95 Pengangkatan....................................................................................96 Promosi dan Penghargaan........................................................92 Pasal 147.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................93 Bagian Kedua...........92 Bagian Kesatu..101 Pasal 163..............................................................................................................................................................................................................................................95 Bagian Ketiga.................................. Promosi............................................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN.....................................................................................................................................101 Pasal 164.....................101 85955213.......................................................97 Pasal 155.......................................................................................................................92 Jenis................................................101 BAB XIII............................................98 Pasal 157 ............................Pasal 144....................... dan Pemberhentian .................................................................................................................................................................................99 Pasal 158................................................................doc ix ................................................................................................92 Pasal 148............96 Pembinaan Karir.....................100 Pasal 161..................................................98 Larangan................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................96 Paragraf 2.............................95 Pasal 151.............................................................................................................................................................95 Pasal 150........................................................................................................................................ dan Penghargaan ......................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN....97 Pasal 156...............................................96 Pasal 154........................................................................................................................

.........................................................106 Pasal 177......................................................103 Komponen Peranserta Masyarakat.....................................................102 BAB XIV......................................106 Dewan Pendidikan.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................105 Pasal 172.......110 Komite Sekolah/Madrasah..................105 Pasal 174.....................................................................................................................................................................................................................................107 Pasal 179...........................................................108 Pasal 180...............106 Bagian Keempat...................................................................................................................................................................................103 Pasal 168.......................111 Paragraf 2........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................109 Pasal 183..............................................................................................................................................................................................................................................................112 85955213.......................................................................................................108 Pasal 181......................106 Pasal 175............................................................................................................................................................103 Fungsi .................................................................................................................103 Bagian Kesatu.........112 Persyaratan Anggota......................................................................................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat...................................................................................................................................107 Pasal 178.....................................................106 Pasal 176.............................................................Pasal 165........................................................................110 Bagian Kelima.................................................................................................................................................................................................112 Pasal 186...............................................................102 Pasal 166..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................104 Pasal 170.................................................................................................................................................................................doc x ................................110 Paragraf 1.............................................................................................................................................110 Pasal 184..................................................................................................................................................................103 Pasal 167...................................................103 Bagian Kedua.....................................................................................................103 Pasal 169...............................112 Paragraf 3............................................................104 Pasal 171............................................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT...........110 Pasal 185.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................105 Bagian Ketiga............................................................112 Keanggotaan...............................................................................................109 Pasal 182...............110 Fungsi dan Sifat.........................................................................................................................................................

........................................117 Pasal 197................................................122 SANKSI....................................................................................................................................................................................................126 85955213..........................................................................................................................122 Pasal 203............................................116 Pasal 195............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................118 Pasal 198..........................................................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 207.........................................124 Pasal 206..............................................................................................................................................................114 Pasal 190....................................114 Pendanaan...................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Pasal 188........................................................123 Pasal 205.....................................................................................120 Pasal 200.....................................................................................114 Pasal 191.......122 Pasal 204..........113 Paragraf 6................115 BAB XV.............................................................................................................................................................................................................................121 Pasal 201...113 Mekanisme Pemilihan...............................................................................125 Pasal 212.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................115 PENGAWASAN.................................................................................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan..........................113 Paragraf 5......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................121 BAB XVI....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................119 Pasal 199..............................................................................................124 Pasal 209......................................................................113 Pasal 189.....................................................................................................125 Pasal 210.......................115 Larangan................................................................126 Pasal 213..............................................................................................................................................Pasal 187..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................116 Pasal 196...............................................................................................124 Pasal 208.....................................................................................................................................................................doc xi .................................................................125 Pasal 211....115 Pasal 193............................................................................114 Bagian Keenam.............122 Pasal 202.............................................................................................................................115 Pasal 192............................112 Paragraf 4..............................................................................................................................................................115 Pasal 194....................

................................................................127 KETENTUAN PENUTUP.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................127 Pasal 216......................................................................................................................................126 Pasal 215......................................126 KETENTUAN PERALIHAN..................................................................................................................................................................................................................................................................................126 Pasal 214 ..............................126 BAB XVIII............................................128 PENJELASAN.........................127 Pasal 218....................................................................................129 85955213.BAB XVII...................................127 Pasal 217..............................................doc xii ...............................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful