RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

85955213.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

85955213.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

85955213.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
85955213.doc

4

Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. teknologi. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. teknologi. 32. teknologi. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 30. 34. 26. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. 28. 33. seni. 31. dan/atau olah raga. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. dan seni melalui pendidikan. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.doc 5 . seni. 27. teknologi. 25. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. dan pengabdian kepada masyarakat. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. dan/atau olah raga. teknologi. 24. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga tertentu. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. mengembangkan. seni. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 29. dan bahan pelajaran. 85955213. penelitian. isi. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik.

36. 43. dan untuk masyarakat. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 44. sosial. nonformal. 45. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. 85955213. Pendidikan informal lingkungan.35. 40. 39. informasi. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. dan informal. dan media lain. 41. oleh. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. aspirasi. budaya. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. oleh dan untuk masyarakat.doc 6 . dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. 42. ekonomi. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. sosial. dan budaya masyarakat daerah setempat. 38.

51. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. 49.46. atau Pemerintah Kota. dan efektivitas. 48. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 85955213. komunitas sekolah. 50. pendidikan. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. b. dan terjangkau. Pemerintah. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. b. merata. c. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. d. efisiensi. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. satuan pendidikan. Pemerintah Kabupaten. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. c. badan hukum pendidikan. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. 47. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. 52. dan e. Pemerintah Provinsi.doc 7 . Pemerintah Kabupaten/Kota.

dewan pendidikan. b. 8 . b. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). Pemerintah kabupaten/kota. Departemen. f. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. sejenis. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. rencana kerja Pemerintah (RKP). pendidik dan tenaga kependidikan. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). f. Departemen Agama. satuan pendidikan. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. i. 85955213. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. c. g. j. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. d. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. h. orang tua/wali peserta didik. e.doc Pemerintah Provinsi. c. k. l. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. rencana strategis pendidikan nasional. d. badan hukum pendidikan.

masyarakat. b. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). antar kota. antara kabupaten dan kota. jenjang. dan n. dan mengendalikan penyelenggara. antara laki-laki dan perempuan. Pasal 8 pemerataan partisipasi 85955213. mengevaluasi. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. jalur. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin.doc 9 . dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. dan e. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. efisien.m. satuan. membimbing. antar provinsi. mengawasi mengkoordinasi. peserta didik khusus. c. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. d. memantau. antar kabupaten. mensupervisi.

b. d. c. akreditasi program pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau g.doc 10 . sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Pemerintah daerah. b. Satuan pendidikan. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. satuan dan/atau program (2) e. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. sertifikasi kompetensi pendidik. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Catatan: 85955213. dan b. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik.

dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. seni. seni. nasional.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). 11 (4) (2) 85955213. pendidik dan tenaga kependidikan. b. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. peserta didik.. memfasilitasi. kabupaten/kota.. provinsi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).doc . unit pelaksana teknis satuan pendidikan. membina. olahraga. dan c.

e. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. Departemen Agama. Departemen. f. b. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. Program dan/atau satuan pendidikan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Badan hukum pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota. d. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.doc 12 . Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan jalur pendidikan. efektifitas. 85955213. dan g. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. jenis. c. Pemerintah provinsi.

badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengawasi. mensupervisi. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. semua jajaran Pemerintah Provinsi. dan k. peraturan gubernur di bidang pendidikan. efisien. f. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). c. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. jalur. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 85955213. i. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). dan mengendalikan penyelenggara. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. rencana (RKATP). dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana strategis pendidikan provinsi.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). tenaga kependidikan di provinsi yang j. mengkoordinasi. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. c. jenjang.doc 13 . dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengevaluasi. b. f. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. b. h. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. e. pendidik dan bersangkutan. memantau. ayat (2). satuan. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. peraturan daerah di bidang pendidikan. dan g. d. dan ayat (3). d. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. membimbing.

dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. antar kabupaten. peserta didik khusus.doc 14 . (2) 85955213. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. c.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antara kabupaten dan kota. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan d. antara laki-laki dan perempuan. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. antar kota. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. b. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal.

Pengangkatan. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. akreditasi program pendidikan. d. b. membina. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). mengakui. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. satuan dan/atau program c. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 85955213. sertifikasi kompetensi pendidik. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. memfasilitasi. pemberhentian. sertifikasi kependidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi pendidikan terkait. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. membina. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau kompetensi tenaga g. mengakui. memfasilitasi. f.doc 15 . Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. e. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. Pasal 24 85955213. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. kabupaten/kota. seni. dan k.doc 16 . tenaga kependidikan di provinsi yang j. b. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. i. ayat (2). f. d. olahraga. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. provinsi. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. h. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. dan internasional. b. semua jajaran Pemerintah Provinsi. g. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. dan c. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). peserta didik di provinsi yang bersangkutan. pendidik dan bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. nasional. ilmu pengetahuan dan teknologi. e. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. c. efektifitas.

(2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. d. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 85955213. f. b. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. jenis. peraturan daerah di bidang pendidikan. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. g.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. c. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. e. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang.doc 17 .

badan hukum bersangkutan. memantau. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (3). e. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. satuan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. efisien. Pasal 28 85955213. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. b. jenjang.doc 18 . mengawasi. g. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. d. h. j. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. c. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. mensupervisi. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. i. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. ayat (2). jalur. mengkoordinasi. f. mengevaluasi.a. membimbing. dan mengendalikan penyelenggara.

pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. Pasal 31 85955213. sertifikasi kompetensi pendidik. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. kebijakan provinsi bidang pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. akreditasi program pendidikan. peserta didik khusus. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. c. f. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. d. dan Standar Nasional Pendidikan. b. e. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc 19 . Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. satuan dan/atau program (2) (3) c. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi pendidikan terkait. b. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. sertifikasi kependidikan. dan/atau kompetensi tenaga g. dan antara laki-laki dan perempuan.

ayat (2). seni. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. membina. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. memfasilitasi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. nasional. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan olahraga. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. c. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. seni. Pasal 33 (4) 85955213. dan internasional.doc 20 . Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. b. kabupaten/kota. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. kecamatan. provinsi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
85955213.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
85955213.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
85955213.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
85955213.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

didik satuan dan/atau program d. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. peserta pendidikan terkait. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. e. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan sesuai peraturan perundangundangan. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. g. 85955213. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. f.doc 25 . badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.c.

ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. c. c. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. e. b. (4) a. satuan c. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. anggaran tahunan perguruan tinggi. b. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. satuan pendidikan dasar. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . b. Kebijakan Pasal 4. f. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. anggaran pendapatan pendidikan. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. d. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). f. oleh satuan pendidikan anak usia dini. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. peraturan pemimpin perguruan tinggi. d. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. 85955213. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan dan belanja tahunan satuan c. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. dan d. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana strategis perguruan tinggi. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. efisien. ayat (3). kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan sesuai peraturan perundangundangan. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan.doc . dan/atau kebijakan 27 85955213. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. peserta didik khusus.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan sesuai peraturan perundang-undangan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. ayat (2). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. dan sebagaimana dimaksud dalam b. dan ayat (4). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini.pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. mengikuti: a. b. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. dan/atau program (3) e. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 85955213. dan/atau g. sesuai peraturan perundang-undangan. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. pendidikan dasar. dan Standar Nasional Pendidikan. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. d. satuan dan/atau program pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc . c. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. f.

dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b. e. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. dan internasional. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). kabupaten/kota. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. nasional. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan olahraga. 85955213. d. kecamatan. satuan bersangkutan. efektifitas. seni. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. seni. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ayat (2). provinsi. c. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. f. satuan c.doc 29 .

menumbuhkan. kinestetis. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. cakap. percaya diri. tenaga kependidikan.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. mandiri. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). 30 (2) 85955213. Raudathul Athfal (RA). emosional. Bustanul Athfal (BA). atau bentuk lain yang sederajat. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. sehat. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. dan peserta didik. intelektual. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. b. (2) PAUD bertujuan: a. kritis. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. kreatif. berilmu. inovatif.doc . RA. TK. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. berkepribadian luhur.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

85955213.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
85955213.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

85955213.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

85955213.doc

34

MI. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. (8) 85955213. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. MTs. ayat (5). dan b. b. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. MI. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b.doc 35 . (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. lulus ujian kesetaraan Paket A. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. MTs. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. SMP. MTs. MTs. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. Satuan pendidikan SD. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. dan/atau tidak jujur. ayat (4). dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. tidak benar. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. atau b. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. lulus ujian kesetaraan Paket A. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. sosial.

(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. menghayati. etnis. agama. dan kepribadian luhur. ahlak mulia. status sosial. kemampuan ekonomi. 85955213. dan akuntabel. b. menghayati. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan harmoni. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kehalusan. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. meningkatkan. e. d. meningkatkan. dan f.doc (5) 36 . meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. transparan. c. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

toleran. menghayati. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. atau bentuk lain yang sederajat. dan d. d. sehat. yaitu 37 (2) 85955213. peka sosial. berilmu. demokratis.doc . kritis. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. Madrasah Aliyah (MA). meningkatkan. berakhlak mulia. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. c. dan harmoni. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). kehalusan. mandiri. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). dan bertanggung jawab. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. dan f. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. dan kepribadian luhur. dan berkepribadian luhur. c. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan percaya diri. meningkatkan. ahlak mulia. b.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. cakap. kreatif. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dan inovatif. menghayati. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. e.

kelas 11 (sebelas). Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. yang diperlukan masyarakat. e. bidang studi keahlian seni. kerajinan. 85955213. pengetahuan alam. dan pariwisata. bidang studi keahlian kesehatan. kelas 12 (dua belas). bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi.kelas 10 (sepuluh). Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. c. dan kelas 12 (dua belas). d.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. dan kelas 13 (tiga belas). f. d. keagamaan. yaitu kelas 10 (sepuluh). atau e. c. program studi program studi lain 38 . bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. pengetahuan sosial. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. b. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. b. kelas 11 (sebelas). (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas.

bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat.g. apabila setelah dilakukan 39 85955213. lulus ujian kesetaraan Paket B. MTs. atau bentuk lain yang sederajat. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. ayat (4) huruf b.doc . b. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. lulus ujian kesetaraan Paket B. Paket B. dan ayat (5). dan b. atau b. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan.doc 40 . sosial. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 85955213. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kemampuan ekonomi. transparan. status sosial. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. agama. dan akuntabel. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. dan kondisi fisik atau mental. etnis. tidak benar. dan/atau tidak jujur. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender.

dan olahraga. teknologi. seni. dan sehat. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. Maha Esa. dharma penelitian untuk menemukan. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. ilmu pengetahuan. watak. mengadopsi. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. beretika. kritis. cakap. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. ilmu pengetahuan. pendidikan profesi. percaya diri dan berjiwa enterprenur. seni.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. dan/atau doktor. kreatif. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. taat hukum. teknologi. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. produktif. dan kepribadian manusia melalui: a. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. sekolah tinggi. dan/atau pendidikan vokasi. Paragraf 2 Jenis. magister.doc 41 . peka sosial. b. dan bertanggung jawab. dan olahraga. institut. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. berilmu. serta d. mengembangkan. seni. politeknik. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. atau universitas. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. dan c. toleran. inovatif. spesialis. mandiri. menerapkan. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. dan c. demokratis. Paragraf 3 85955213. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. Bentuk. b. teknologi. sarjana. ilmu pengetahuan. dharma pendidikan untuk menguasai.

dan penunjang. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. seni. profesi dan/atau vokasi. sarjana. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan doktor. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. penelitian. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. kepersonaliaan. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. yang mencakup program pendidikan diploma. perlengkapan. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. hukum. dan pengabdian kepada masyarakat. atau fakultas. spesialis. pusat pengabdian masyarakat. keuangan.doc 42 . sarjana. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. spesialis. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. komunikasi. dan/atau doktor. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. pelaksana akademik. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. kemahasiswaan. teknologi.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 85955213. pusat penelitian. jurusan. magister. magister.

(3) Jenis. atau sebaliknya. tugas pokok. dan/atau doktor. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. fungsi. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. profesi. (2) 85955213. spesialis. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. spesialis. jumlah. profesi. b. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait.doc 43 . spesialis. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. unit layanan penjaminan mutu penelitian. atau sebaliknya. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. Program magister. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Program magister. profesi. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

laboratorium/bengkel/studio. toko buku. dan doktor adalah: a. Jenis dan jumlah. dan h. tugas pokok. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. kedudukan. dan unit lain yang dipandang perlu. perpustakaan. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. d. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. magister. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. dan kesehatan lingkungan. sarana dan prasarana olah raga. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.c. kenyamanan. dan b. g. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan 85955213. f. unit layanan masyarakat. unit layanan bimbingan dan konseling. sarana dan prasarana kesenian. penjaminan mutu pengabdian kepada e. apotik. poliklinik. penerbitan. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi.doc 44 . keindahan.

etnis. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. transparan. dan akuntabel. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. status sosial. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. agama. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. dan b. dan kondisi fisik atau mental. kemampuan ekonomi. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. dan b.doc . 45 (3) (4) (5) (2) 85955213. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan.b. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif.

dan kemampuan konfluen mahasiswa. simposium. 46 .doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. dan/atau tidak jujur. psikomotorik. seminar. kuliah. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. tidak benar. afektif. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. praktikum. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. 85955213. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. lokakarya.

dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. sarana dan prasarana. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. ayat (2). Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kompetensi lulusan. pembiayaan. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 85955213. proses pembelajaran. ayat (3).penelitian. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh.doc 47 . pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. Isi kurikulum. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. pengelolaan. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil.

atau pihak lain yang dipandang perlu. dunia usaha. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. 85955213. mengawasi. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasal 82 ayat (2). c. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.doc 48 . b. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi.

penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. c. pemagangan.doc . j. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. program kembaran. f. h. kontrak manajemen. inovasi. dan pengabdian kepada masyarakat. penerbitan jurnal ilmiah. penelitian. e. usaha penggalangan dana. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. efektifitas. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pendidikan. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. b. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pengalihan dan/atau perolehan kredit. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. dan dilandasi oleh etika. 49 85955213. c. pendayagunaan aset. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kreatifitas. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. i. d. norma serta kaidah keilmuan. penyelenggaraan seminar bersama. mutu. produktifitas. e. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. d. b. g.

sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 85955213. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. tidak mengganggu ketertiban umum. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. b. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. dan taat etika. ketua pusat penelitian. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. menerapkan. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. seni. dan kemanusiaan. dan d. b. norma. ayat (2). secara bertanggungjawab dan mandiri. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. dan mengembangkan ilmu. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. c. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. d. setiap individu sivitas akademika: a. ayat (2) dan ayat (3): a. dan pengabdian kepada masyarakat.doc . diskusi. e. publikasi ilmiah. simposium. ceramah. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. baik di dalam maupun di luar kampus. bangsa. nilai-nilai etika. dan ayat (5): a. dan kaidah akademik. serta kaidah keilmuan. negara. serendah-rendahnya ketua program studi. teknologi. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. penelitian. c. seminar. ujian.

dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. hayati. dan taat etika. dan c. dan/atau olah raga yang bersangkutan. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya.doc . serta kaidah keilmuan. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. penelitian terapan. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. seni. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. seni. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. teknologi. sosial. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau olah raga. teknologi. mengungkapkan. teknologi. b. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. norma. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 85955213. d. seni. mengembangkan. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. teknologi. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. institut. seni. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. dalam menemukan. sesuai dengan peraturan perundangundangan. b.sivitas akademika yang terlibat. c.

dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. teknologi. seni. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 85955213. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. disetujui dosen pembimbing. dan/atau olah raga. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. dan/atau olah raga. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. metode. prosedur. seni. disetujui dosen pembimbing. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain.pengembangan. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. c.doc 52 . konsep. b. teknologi. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. disetujui dosen pembimbing. dan/atau menguji ulang teori. prinsip. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. dan d. b.

doc . fakultas. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. Perpustakaan Nasional. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. dan perpustakaan Departemen. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 85955213.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. program studi. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping.

pemberdayaan pengembangan dosen. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. kreatifitas. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 85955213. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian.informasi dan komunikasi Departemen. b. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. keteladanan. atau pemadanian kehidupan masyarakat. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. pemberdayaan pengembangan dosen. dan d. ayat (2). baik secara individual maupun berkelompok. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan masyarakat. pemodernan. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. dosen. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya.doc . Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. dan masyarakat. dosen.

penilaian tugas terstruktur dan mandiri. program sarjana. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. 85955213.doc 55 . b.kepada masyarakat perguruan tinggi. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. transparan. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. ujian. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. dan/atau bentuk penilaian lainnya. Penilaian hasil objektif. dan jujur. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma.

program studi yang b. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. e. b. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 85955213. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. dilaksanakan atas dasar sampel. c. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri.doc 56 . atau c. ditetapkan oleh organisasi profesi. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. d. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B.

magister. doktor. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. Gelar akademik.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. untuk lulusan program diploma III. ahli pratama. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. ahli muda. sarjana. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. ayat (3). dan c. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. sarjana sains terapan. c. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. gelar vokasi. Pasal 82 (1). dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. 57 85955213.(1) Lulusan pendidikan akademik.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. untuk lulusan program diploma II. untuk lulusan program diploma I. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. vokasi. untuk program diploma IV. atau gelar profesi. ahli madya. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. singkatan.doc . diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. b. dan d.

singkatan. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. kemasyarakatan. (2) (3) (4) 85955213. keagamaan. kebudayaan. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi.(2).doc 58 . teknologi. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. Pasal 83 (3). Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. dan penempatan yang berlaku di negara asal. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. singkatan. Penetapan jenis gelar akademik. (1) Pencantuman jenis. profesi. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan.

kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. pelaksanaan visi. misi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 85955213. c. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi.doc 59 . Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. b.

majelis taklim. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. taman penitipan anak (TPA). lembaga pelatihan. sikap wirausaha. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. bekerja. keterampilan. kelompok belajar. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 85955213. kelompok bermain (KB). keterampilan. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. pusat kegiatan belajar masyarakat. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. g. c. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. e. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. f. lembaga kursus. penambah. b. h.doc . d. mengembangkan profesi.

Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. oleh.doc 61 . dan berazaskan prinsip dari. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. 85955213. dan untuk masyarakat. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.yang lebih tinggi. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal.

pendidikan anak usia dini. pendidikan kepemudaan.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). f. pendidikan kecakapan hidup. c.doc . atau bentuk lain yang sejenis. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 85955213. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. kecakapan intelektual. pendidikan kesetaraan. h. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. berusaha dan/atau hidup mandiri. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. serta pendidikan lainnya. e. pendidikan keaksaraan. pendidikan pemberdayaan perempuan. kelompok bermain (KB). kecakapan sosial. d. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. g. b.

dan stimulasi psikososial. termasuk kesejahteraannya. sosial budaya. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. berusaha dan/atau hidup mandiri. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. dan kemampuan masing-masing peserta didik. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat.doc (4) 63 . kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. dan perkembangan anak. kecakapan sosial. usia. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. gizi. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. minat. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 85955213. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak.kecakapan personal.

Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. kepeloporan. berbangsa dan bernegara. dan kewirausahaan. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. etika dan kepribadian. ilmu pengetahuan dan teknologi. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. nilai. kebangsaan. pecinta alam dan lingkungan hidup. seni dan budaya. etika dan kepribadian. pencegahan perempuan. harkat. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. sikap kewirausahaan. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. kesehatan dan keolahragaan. 85955213. dan c. ilmu pengetahuan dan teknologi. kepemimpinan. bermasyarakat. wawasan kebangsaan. kepeloporan. kepanduan/kepramukaan. palang merah. estetika. dan martabat b. kecakapan hidup. wawasan. organisasi pemuda. peningkatan perempuan. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. kedudukan.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. sikap.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 85955213. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik.doc . (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. menulis. menulis. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. berhitung. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. menulis.

kerja untuk memperoleh. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. SMP/MTs. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 85955213. Paket B. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 66 . dan Paket C.

etika dan kepribadian. menanamkan nilai budaya. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. anggota keluarga. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal.doc 67 . hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. 85955213. estetika. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. nilai moral.

dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. atau lingkungan alam.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. keluarga. dan/atau masyarakat. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. lingkungan sosial. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.doc 68 . 85955213. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. anggota masyarakat. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. pendidikan oleh media massa. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab.

jenjang. belajar mandiri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan berbasis teknologi pendidikan. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. dan jenis pendidikan. 85955213.doc (2) (2) (3) 69 . serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. belajar tuntas. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. b. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.

tutorial. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. cakupan. praktik/praktikum. atau konsorsium. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. ganda. terstruktur. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. program studi/pendidikan. atau satuan pendidikan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. belajar secara mandiri. registrasi.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh.doc 70 . Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 85955213. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan ujian. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. dan sistem operasional yang diterapkan.

(3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. 85955213. jaringan komputer. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. informasi. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. jaringan TV.doc 71 . dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri.

emosional. mental. intelektual. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 85955213. masyarakat adat yang terpencil. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan tidak mampu dari segi ekonomi. dan/atau mengalami bencana alam. dan jenis pendidikan. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. jenjang. intelektual. mental.doc 72 .BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan/atau sosial. emosional. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. bencana sosial. sosial.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
85955213.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
85955213.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
85955213.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

85955213.doc

76

b. e. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya.keahlian dan keterampilan. d. taman penitipan anak. jauh. madrasah terbuka. taman penitipan anak. kursus dan pelatihan. madrasah darurat.doc 77 . dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. kelompok belajar. madrasah kecil. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. kursus dan pelatihan. kelompok belajar. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. c. taman penitipan anak. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. dan/atau c. b. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. kelompok belajar. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Pasal 123 85955213. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. f. kursus dan pelatihan. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. g. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. b. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional.doc 78 . Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. dan f. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. peserta didik di daerah kepulauan kecil. d. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. c.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. e. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 85955213. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. peserta didik di daerah perbatasan. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil.

teknologi. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. dan seni.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan/atau (2) (3) (4) a. dan seni. dan pembangunan sumberdaya nasional. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. serta menunjang pelestarian. c. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. b.doc 79 . pengembangan. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. teknologi. 85955213. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya.

teknologi. penilaian.doc 80 . melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 85955213. e. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. SMA. MTs. b. SMK. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. teknologi. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. i.d. teknologi. h. g. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. MA. f. matematika. d. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan seni. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. j. dan MAK. dan perpustakaan. c. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. dan teknologi. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. proses pembelajaran. dan seni.

m. 3).MAK. atau guru kelas. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. ruang bengkel kerja. buku dan sumber belajar lainnya. media pendidikan. sekurang-kurangnya: 1). seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang tata usaha. 10% untuk SD. tempat berkreasi. 30% untuk SMA. ruang perpustakaan. atau bidang nonkependidikan yang relevan. tempat beribadah. atau bidang nonkependidikan yang relevan. ruang pimpinan satuan pendidikan.MA. atau yang sederajat. peralatan pendidikan. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. instalasi daya dan jasa. 3). bahan habis pakai.doc 81 . atau guru kelas. l. 2). mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. ruang pendidik. tempat berolahraga. atau yang sederajat. atau yang SMK. dan 4). mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. tempat bermain. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). MTs. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 85955213. atau yang sederajat. ruang unit produksi. ruang kantin. n. ruang kelas. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah.mata pelajaran yang diampunya. dan k. 2). MI. memiliki visi internasional. 20% untuk SMP. ruang laboratorium. sederajat. mampu berbahasa Inggris. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. sekurangkurangnya: 1). dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya.

memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 85955213. fasilitas multi media. dan Bahasa Indonesia.doc .informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. o. dan ruang unjuk seni budaya. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. dan p. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan 2). fasilitas olah raga. Pendidikan Kewarganegaraan. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.

Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. b. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. c. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. 85955213. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. pengembangan. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. dan promosi keunggulan lokal.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

f. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. dan perpustakaan.teknologi informasi dan komunikasi. satuan pendidikan dasar. proses pembelajaran. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. e. penilaian. d. 85955213. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. d. c. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. terpadu-satu sistem-satu atap.doc 84 . b. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan h. g. dan keluar-masuk (entry-exit).

kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri.doc 85 . Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 85955213.

Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. pendidikan kewarganegaraan. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain.pertimbangan dari Menteri Agama. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. b. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. d. c. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. (3). Pasal 137 (1). 86 85955213. (4) sebagaimana dimaksud (2).doc . dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu.

menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. i. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. dan/atau b. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. e. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. menyelenggarakan internasional. h. program pemindahan dan perolehan kredit. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi.doc 87 . penelitian. c. dan/atau c. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. d. f. penyelenggaraan seminar bersama. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. g.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. pertukaran peserta didik. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. b. program kembaran. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. pendidikan tinggi bertaraf 85955213.

b. 85955213.doc 88 . e. c. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. penyelenggaraan seminar bersama. d. c. program pemindahan dan perolehan kredit. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. kontrak manajemen. penelitian. pemagangan. usaha penggalangan dana. j. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. penerbitan jurnal ilmiah. program kembaran. dan/atau d. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. pendayagunaan aset. h. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. f. pengabdian kepada masyarakat. b. g. i.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen.

Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. dan kecepatan belajar. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. 140. minat. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. c. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.doc 89 . b. 85955213.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. serta kebutuhan khususnya. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. kecerdasan. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. 138. 139. kemampuan.

ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. b. pemerintah daerah. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. memperoleh bantuan fasilitas belajar. g. e. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. b. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. dan h. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. f. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi.d. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya.doc . peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. c. dan c. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah Provinsi. dan 90 85955213. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h.

(4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. serta menyayangi sesama. dan negara. h. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan.i. mematuhi semua peraturan yang berlaku. bangsa. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan.doc 91 . (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. d. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. c. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. ketertiban. kebersihan. mencintai lingkungan. b. dan keamanan sekolah. mencintai keluarga. f. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. masyarakat. e. i. g. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. dan j. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 85955213. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. serta pembiasaan peserta didik. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik.

BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. e. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. c.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. tutor. instruktur. alat pembelajaran. fasilitator. mengajar. dosen. mengajar. dan pengabdian kepada masyarakat. b. pendidikan menengah. dan mengembangkan: model program pembelajaran. melatih peserta didik. mengarahkan. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru.doc 92 . dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. melatih. membimbing. widyaiswara. mengembangkan. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. konselor. dan seni melalui pendidikan. teknologi. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. d. menilai. pamong. 85955213. pendidikan dasar. penelitian. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. pamong belajar. dan pendidikan menengah. dan pendidikan tinggi. membimbing. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. Tugas.

tenaga laboratorium. tenaga lapangan pendidikan. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. psikolog. dan i. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. tenaga perpustakaan. penilaian. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. h. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. (2). penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. pengawas satuan pendidikan formal. g. b. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. teknisi sumber belajar. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. Pasal 149 (1). 93 . terapis. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 85955213. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. tenaga kebersihan sekolah. tenaga administrasi. penilik satuan pendidikan nonformal. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan.f. pekerja sosial. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Pasal 148. (1).doc (2). c.

dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. e. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. k. pembimbingan. dan l. pemantauan. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah.pemantauan. penilaian.doc 94 . satuan pendidikan dasar. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. j. f. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. h. i. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. d. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. g. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. dan pendidikan menengah. 85955213. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. merawat. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan.

Pengangkatan. Pemindahan. pemindahan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). (4).Bagian Kedua Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Penempatan. penempatan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Pasal 151 (1).doc . pemindahan. Pengangkatan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. 95 (2). Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. (2). (3). 85955213. penempatan. (3). pemindahan. penempatan.

masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau penghargaan. Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). dan/atau bentuk promosi lainnya. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. 85955213. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). (2).Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.doc 96 . kenaikan jabatan. (4). (2). pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5). (1). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3). Promosi.

(2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. kabupaten/kota. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. c. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. dan/atau tingkat satuan pendidikan. pada tingkat Kabupaten/Kota. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 85955213. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. atau seni. nasional. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional.(4). pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. daerah perbatasan. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. propinsi.doc 97 . dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. daerah bencana. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. b. dan e. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. daerah konflik. teknologi.

(2) Pendidik dan tenaga kependidikan. ayat (3). pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. dilarang menjual buku pelajaran. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 98 . dan berjasa luar biasa dalam pendidikan.doc (2). berdedikasi. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. Hari Pendidikan Nasional. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. baik perseorangan maupun kolektif.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. ayat (4). Pasal 156 (1). tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. (3). Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan b. baik perseorangan maupun kolektif. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. piagam. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. atau hari besar lainnya. ayat (3). berdedikasi. Hari Guru Nasional. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 85955213. ayat (2). harganya lebih murah dari harga di pasaran. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a.

jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. dan e. isi pendidikan/kurikulum. b. manajemen dan proses pendidikan. dan ekologis. baik perseorangan maupun kolektif. geografis. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. dan budaya. 85955213.doc 99 . c. c. keuangan. d. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif.dengan peraturan perundang-undangan. sosial. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. b. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan.

Pasal 161 (1). menyusun. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. memproduksi. b. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. pustaka. harus memenuhi persyaratan: a. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. menyebarluaskan. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan ujian secara elektronik. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. sumberdaya manusia untuk merancang. 85955213. tutorial. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. c. dan b. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. dan e.d. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan.doc 100 . Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158.

dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri.doc 101 . SD. atau bentuk lain yang sederajat. SMP. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. MTs. MA. dan f. satuan pendidikan khusus. MTs. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 85955213. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. atau bentuk lain yang sederajat. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. MAK. (2). (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial.d. MI. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. MA. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. jenjang. e. SMK. MI. RA. SMA. Pasal 162 (1) Pendirian TK. atau bentuk lain yang sederajat. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. (2) Izin pendirian RA.

atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. SMP/MTs. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. b. SMA/MA. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. TKLB. pindah ke satuan atau program pendidikan. SMPLB. b. 102 85955213.doc . atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. pindah satuan atau program pendidikan. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. SDLB. SMK/MAK. SMALB. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SD/MI.

kelompok. keluarga. ayat (2). Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. dan pengguna hasil pendidikan. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. organisasi profesi. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 85955213. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. pelaksana. ayat (3). dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. pengusaha. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.doc .

doc 104 . dan jenis pendidikan. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. b. d. pemberian beasiswa kepada peserta didik. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. kelompok. (2) (3) (4) Pasal 170 85955213. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. jenjang. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. Pasal 169 c. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. sumbangan dana. pengawasan. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. (1) Peranserta perseorangan. dana.

kelompok. pengawasan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. manajemen. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. lingkungan sosioekonomi. pengelolaan. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 85955213. pendidikan sistem ganda. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang.doc (2) 105 . dan pembinaan satuan pendidikan. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. lingkungan sosialekonomi.(1) Peranserta perseorangan. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. evaluasi. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. Pasal 173 Kurikulum. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi.

Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. subsidi dana. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan/atau bantuan asing. penyelenggaraan. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Pasal 176 85955213. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dalam proses perencanaan. dukungan tenaga.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. penyelenggaraan. dukungan tenaga. dalam proses perencanaan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. penyelenggaraan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. Bantuan teknis. dukungan tenaga. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. subsidi dana. subsidi dana. dalam proses perencanaan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota.doc (2) (3) 106 . dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur.

85955213. praktisi pendidikan.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. maupun dengan lembaga pemerintahan. Dewan Pendidikan Provinsi. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. atau 107 . tokoh masyarakat. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. mengundurkan diri. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. pada tingkat nasional. kepala satuan pendidikan. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. saran. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. b. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. meninggal dunia. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Dewan Pendidikan Nasional. c. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. pengusaha. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. dan kabupaten/kota.

Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. sekretaris. jenjang. 2 (dua) tokoh masyarakat. gubernur untuk tingkat provinsi. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). dan jenis pendidikan. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan.d. 85955213. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. dan ketua-ketua komisi. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri.doc 108 . (2) b. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. c. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. 2 (dua) tokoh masyarakat. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. bendahara. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. Dalam melaksanakan tugasnya.

bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dukungan tenaga. serta pengawasan pendidikan.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. evaluasi program pendidikan. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. pertimbangan dan arahan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 85955213. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan.doc 109 . Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. sarana dan prasarana. Setelah terbentuk kepengurusan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

85955213.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

85955213.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

85955213.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

85955213.doc

113

Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. brosur yang dicetak. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). dan 1 (satu) unsur . dan disebarkan kepada masyarakat. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.doc . atau media lain.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. 114 (3) 85955213. dan diketuai oleh unsur masyarakat.

BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.doc . Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang menjual buku pelajaran. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. dan jenis pendidikan. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. jenjang. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 85955213. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan.

(4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Provinsi. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. oleh Pemerintah dipandang kredibel. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. 85955213. jalur. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. jenjang. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. (7) Pemerintah. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.doc 116 . pendidikan dasar. oleh Pemerintah diduga meragukan. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. menengah.

g. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. pemeriksaan tematik. mengusut. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. menguji. dewan pendidikan. memantau. i. e. mengevaluasi. memeriksa. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. d. meneliti. Pemerintah Provinsi. menguji. k. badan hukum pendidikan. pemeriksaan investigatif. komite sekolah/madrasah. j. pemeriksaan khusus.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. dan/atau pemeriksaan terpadu. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. 85955213. Pemerintah Kabupaten/Kota. program pendidikan. b. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. b. unit kerja di lingkungan Departemen. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. l. satuan pendidikan. menilai. f. c. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. penyimpangan. h. memeriksa.doc 117 .

dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. Pemerintah Kabupaten/Kota. ayat (2). (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. memeriksa. satuan pendidikan anak usia dini. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. mengevaluasi. pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. d. dan pendidikan nonformal. f. memantau. menguji. i. menguji. pendidikan pendidikan menengah. l. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. komite sekolah/madrasah.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan.doc . unit kerja di bawah gubernur. dasar. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. menilai. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. pendidikan menengah. memeriksa. meneliti. penyimpangan. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. j. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 85955213. b. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. b. k. c. e. mengusut.

c. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. Menteri. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. mengusut. unit kerja di bawah bupati/walikota. 85955213. pemeriksaan investigatif. menilai. pemeriksaan khusus. pendidikan dasar. memeriksa. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. pendidikan dasar. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. b. d. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. dan objek yang diawasi. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. penyimpangan. mengevaluasi. atau m. b. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. e.masyarakat dan/atau asosiai profesi. memeriksa. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. dan pendidikan nonformal. menguji. dan pendidikan nonformal. menguji. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. f. meneliti. sesuai Pemerintah Provinsi. memantau.doc 119 . g. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penyelenggara pendidikan anak usia dini. dan/atau pemeriksaan terpadu. komite sekolah/madrasah. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. ayat (2). dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pemeriksaan tematik. satuan pendidikan anak usia dini. h.

penyimpangan. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau pemeriksaan terpadu. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal.i. c. d. Menteri. menilai. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. pemeriksaan investigatif.ayat (2). j. (3) badan hukum pendidikan. dan objek yang diawasi. satuan pendidikan. gubernur. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. mengevaluasi. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 85955213. komite sekolah/madrasah.doc 120 . f. b. e. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. b. pemeriksaan tematik. pemeriksaan khusus. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. penyelenggara pendidikan. g. program pendidikan pada satuan pendidikan. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan.

gubernur. satuan pendidikan yang bersangkutan. b. b. objek yang diawasi. mengevaluasi. pelaksanaan. menangani urusan pendidikan di b. Pasal 201 (1). pada satuan pendidikan yang (3). badan hukum pendidikan. program pendidikan bersangkutan. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. Pasal 200 (1). dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. pelaporan. c. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. Menteri mengkoordinasikan perencanaan.a. dan/atau b. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. tingkat nasional. dan kabupaten/kota. bupati/walikota. (2). menteri. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. d. dan c. menilai. penyimpangan.doc 121 . meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dinas yang kabupaten/kota. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 85955213. kabupaten/kota. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. untuk dewan pendidikan provinsi.

Pasal 161. 36. 98. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. d. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. Pasal 198. 50. yang e. b. Pasal 160. 68. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a.doc . Pasal 162. menilai kinerja objek yang diawasi. 29. (2). 28. c. 55. Pasal 197. (2). dan Pasal 200. 82. 30. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. 62. 42. dan Pasal 163. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 199. program pendidikan. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. 64. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. 122 85955213. satuan pendidikan.pada Pasal 196. 31. 74. Pasal 159. 26. pembekuan. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. masukan dalam perencanaan pendidikan.

159. 142. 142. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 62. 157. 165 dan Pasal 164. 118. 159. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 125. 98. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 29. 139. 139. 130. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 31. 126. 64. 158. 158. 42. 152. 136. 140. 118. 107. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 28. pembekuan. 152. 55. 36. 151. melalaikan ketentuan ayat (1). 74. 165 dan Pasal 164. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 68. program pendidikan. penutupan. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 138. 101. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 157. 26. 160. pembekuan. 82. 126. 145. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 161. 140. 125. 144. 137. 107. 160. 137. 50. 161. 108. 108. 144. 30. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 85955213.101. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan.doc . dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 145. 138. 130. 151. 136. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya.

Pasal 206 Perseorangan. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. Pasal 205 (1). kelompok. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan yang menangani pendidikan.doc 124 . institusi Pemerintah. Pasal 103. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Pasal 105. organisasi orang tua peserta didik. Anggota komite sekolah/madrasah. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Pasal 106. (2). dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dewan pendidikan. pembekuan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144.Pemerintah ini. atau organisasi. 85955213. skorsing. pembekuan. dan/atau penutupan oleh Menteri.

dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. pembekuan. dan/atau penutupan satuan 85955213. (5) Seseorang yang mengangkat. pembekuan. Pasal 28. Pasal 30. penundaan kenaikan pangkat. Pasal 139. gubernur. menempatkan. Pasal 26. organisasi. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. memindahkan. Pasal 134. penundaan kenaikan gaji berkala. Pasal 126. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. pembebasan dari jabatan. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan.doc (2) 125 . Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 29. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. pemberhentian dengan hormat. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun.

pemberhentian dengan hormat. pembebasan dari jabatan. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. penundaan kenaikan pangkat. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional.doc 126 . 85955213. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. penundaan kenaikan gaji berkala. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.

Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412).BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. e. f. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90.doc . Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). 85955213. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). d. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b.

...Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR….... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR.. dinyatakan tidak berlaku... h..doc 128 . Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859).. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).TAHUN 2007 85955213.... g.. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya... H... Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974). Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .

doc 129 . mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. Parameter kualitas pendidikan. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. sarana dan prasarana. Perkembangan ini. pengawasan. masyarakat dan orang tua. proses. peserta didik.. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. bentuk dan jenis pendidikan.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 85955213. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. bahasa pengantar. baik dilihat dari segi pasokan. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. syarat pendirian. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. tujuan. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. jenjang. Oleh sebab itu. dan hasil pendidikan selalu berubah. manajemen. peranserta masyarakat. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis.

pendidikan dasar. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. akuntabilitas. pendidikan dasar. akreditasi. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. pendidikan keagamaan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. dan evaluasi yang transparan. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. pengelolaan pendidikan. dan ketentuan pidana. sarana dan prasarana pendidikan. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. 52. Standar Nasional Pendidikan. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. jaminan mutu. Pendidikan Kedinasan. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Pemerintah Provinsi. pendidikan informal. pendidikan kedinasan. pengawasan. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. pengembangan tenaga kependidikan. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. pendanaan pendidikan. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. 51. Wajib Belajar. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 85955213. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. pendidikan nonformal. pendidikan jarak jauh. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. kurikulum. pendirian satuan pendidikan.doc 130 .pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. dan sertifikasi. pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 50. pendidikan tinggi. evaluasi. dan/atau masyarakat. pendidikan menengah. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah.

doc 131 . PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. Pendidikan anak usia dini (PAUD). bentuk satuan pendidikan. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. bencana sosial. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. pendidikan oleh negara asing. sikap. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. dan dari masyarakat. pendidikan jarak jauh. pendidikan berbasis keunggulan lokal. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. pendidikan bertaraf internasional. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. dan tidak mampu dari segi ekonomi. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. a. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. b. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. pengutamaan pada kebutuhan anak. nilai-nilai. Pendidikan dasar dan menengah. izin pendirian. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. untuk. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. jenjang. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. provinsi. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. penghargaan pada keunikan setiap anak. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. pendidikan nonformal dan informal. dan kabupaten. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. 85955213. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. peserta didik. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. dan cenderung menetap sampai usia dewasa.

Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pendidikan tinggi. dan/atau vokasi. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 85955213. d. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). c. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. di semua bidang ilmu pengetahuan. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Disamping itu. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. teknologi dan/atau seni . profesi. pendidikan kesetaraan. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. kursus dan pelatihan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. pendidikan kepemudaan. tetap besar. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. serta ilmu agama.doc 132 .Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. pendidikan keaksaraan. pendidikan pemberdayaan perempuan. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. pendidikan anak usia dini.

Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. (b) peningkatan mutu. Dalam era globalisasi. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. dan (d) efisiensi. e. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. informasi. dan media lain. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. minat. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. distribusi bahan ajar mandiri. Kondisi geografis. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. mutu. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. waktu. psikologis. tantangan globalisasi. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. (c) relevansi. relevansi. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga.doc 133 . serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. perkembangan teknologi komunikasi. Pendidikan jarak jauh. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. media. Oleh karena itu. 85955213. f. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. nilai budaya. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. perhatian. dan efisiensi pada semua jalur. tingkat dan jenis pendidikan. tingkat laju pertumbuhan penduduk. tutorial. dan informatika (telematika). dan bakatnya. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama.

85955213. nonformal. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. Selain itu.doc 134 . pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. (c) penyelenggaraan tingkat khusus.

serta menunjang pelestarian. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. pengembangan. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal.g. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan promosi keunggulan lokal. dan seni. teknologi. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Lembaga pendidikan asing 85955213. pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.doc 135 . h. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional.

Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. keterampilan. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. j. penyebaran. pengalaman. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional.doc 136 . melakukan pembimbingan dan pelatihan. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 85955213. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. i. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. pengawasan. pengembangan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. Pengangkatan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. kemampuan. pengelolaan. menilai hasil pembelajaran. penempatan.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. pendidikan kewarganegaraan. pengalaman. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan.

Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Pasal 4 Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. dan dari masyarakat. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas.doc 137 . II. untuk. konvensi internasional. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. Pasal 2 Cukup jelas. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. Pasal 3 Cukup jelas. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. provinsi. 85955213.

Cukup jelas Huruf d. Pasal 10 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c. seni kinestetik. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. psikososial/kepemimpinan. kreatif produktif. dan psikomotorik/olahraga. Ayat (2) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf b. Ayat (2) Huruf a. akademik khusus. Pasal 8 Cukup jelas. Cukup jelas 85955213. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum.doc 138 .

Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h. Pasal 12 Cukup jelas. 85955213. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi.doc 139 . Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf i. Ayat (2) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf g. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas.Huruf e. Huruf f.

Cukup jelas Huruf g. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h.doc 140 . Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf b. Cukup jelas Huruf l. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf e. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf k. 85955213. Cukup jelas Huruf f. Cukup jelas Huruf c.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf d.

sarana dan prasarana. kompetensi lulusan. tenaga kependidikan.doc 141 . pembiayaan. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. proses. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 85955213. Pasal 22 Cukup jelas. pengelolaan.

maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.doc 142 .Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 85955213.

Pasal 27 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ).doc 143 . Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 85955213. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. dan Adi Sekha. Pasal 31 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA).

atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. MI.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. 85955213. RA. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. Huruf b. mendengarkan. Huruf c. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. RA. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. pramembaca. Ayat (3) Cukup jelas. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. baik di dalam maupun di luar sekolah. tidak memaksa. Ayat (2) Huruf a. RA.doc 144 .

85955213. pendidikan diniyah menengah pertama. dan Culla Sekha. Ayat (5) Cukup jelas. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Program pembelajaran jasmani. Program pembelajaran estetika pada TK. saudara. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. Huruf e. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Ayat (4) Cukup jelas. pendidikan diniyah dasar. olahraga dan kesehatan pada TK.Huruf d. dan Majjhima Sekha. dan teman. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. Madyama Vidyalaya (MV). Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. Pasal 38 Cukup jelas. Adi Vidyalaya (AV). kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian.doc 145 . Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 85955213. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas.Ayat (2) Cukup jelas.doc 146 . sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (2) Cukup jelas.

Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Struktur penjurusan ini akan menentukan 85955213.tinggal ke satuan pendidikan. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. dan Maha Sekha. Pasal 43 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. bidang kejuruan dan program kejuruan. pendidikan diniyah menengah atas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas.doc 147 . Ayat (2) Cukup jelas. Utama Vidyalaya (UV). Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. Ayat (7) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat (4) Cukup jelas.doc 148 . Ayat(2) Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 85955213. regional dan global. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Ayat(3) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan.

doc 149 . Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. teknologi. Ayat (8) Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. dapat mencakup program spesialis. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Cukup jelas. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. dan/atau seni tertentu. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. magister. yang mencakup program sarjana. dan doktor. 85955213.

teknologi.doc 150 . kompetensi pedagogik. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. kopetensi kepribadian. 85955213. kompetensi kepribadian. Penguasaan kompetensi pedagogik. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. dan/atau seni). Pasal 53 Cukup jelas. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. yang mencakup program pendidikan diploma. diploma II. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. teknologi. diploma III. dan diploma IV. Ayat (3) Cukup jelas.`teknologi. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar.

doc 151 . Ayat (4) Cukup jelas. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. Misalnya. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. akses internet.Pasal 56 Cukup jelas. laboratorium riset. pusat komputasi pengajaran. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. Ayat (2) Cukup jelas. dan akses internet. pusat komputerisasi riset. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. Ayat (3) Cukup jelas. laboratorium pengajaran. Pasal 60 Cukup jelas. 85955213. Pasal 61 Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan.

mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Huruf b. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya.doc 152 . Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. daerah. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. Ayat (5) Cukup jelas.

Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. afektif. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 85955213. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa.doc 153 . Ayat (8) Cukup jelas. dan psikomotorik.

Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 69 Cukup jelas. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya.dalam satuan kredit semester (sks). Pasal 70 85955213. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. Ayat (3) Cukup jelas. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. 3 jam kegiatan terstruktur. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk.doc 154 . dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas.

Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Ayat (9) Cukup jelas. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan.Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Ayat (3) Cukup jelas. 85955213. Pasal 71 Cukup jelas.doc 155 .

b. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. Ayat (6) Cukup jelas.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. Ayat (5) Cukup jelas. tenaga ahli dari organisasi profesi.doc 156 . pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Ayat (7) Cukup jelas. 4. 3. Ayat (3) Cukup jelas. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 85955213. 2. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. atau pakar dari luar negeri. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. dan c.

Pasal 77 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama.doc 157 . Pasal 79 Cukup jelas. Atas dasar hasil akreditasi. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Pasal 75 Cukup jelas.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 76 Cukup jelas. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 85955213. Pasal 74 Cukup jelas. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. 5. Pasal 78 Cukup jelas.

Taman Asuh Anak Muslim. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). Ayat (2) Cukup jelas. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. Taman Balita. Taman Bermain. 85955213. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 82 Cukup jelas. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Program Paket B setara SMP. penambah. adalah: Program Paket A setara SD. Ayat (4) Cukup jelas. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan.doc 158 .kepegawaian pegawai negeri sipil. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya.

kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. Pasal 88 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. kecakapan dalam menghadapi tantangan 85955213. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 87 Cukup jelas. Pasal 90 Cukup jelas.doc 159 . percaya diri. Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 89 Cukup jelas. kecakapan dalam melakukan koreksi diri.

doc 160 . dan bernegara. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Pasal 92 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. berpikir kritis dan kreatif. kecakapan bekerjasama dengan sesama. Ayat (3) Cukup jelas. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. berbangsa. empati atau tenggang rasa. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. mengelola pekerjaan. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. Ayat (2) Cukup jelas. bermasyarakat. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) 85955213.

Pasal 95 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 99 85955213. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Pasal 94 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas.doc 161 . Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI.

Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Ayat (4) Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 85955213. Pasal 100 Cukup jelas.

Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. Contoh.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. teknologi kokunikasi. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. dan media lain. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 85955213.doc 163 . Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. informasi. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka.

dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 85955213. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris.pada berbagai jalur. Ayat (3) Cukup jelas. dan universitas maya (cyber university). Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. jenjang. dan University on the Air di China. dan jenis pendidikan. Ayat (5) Cukup jelas. dan jenis pendidikan. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur.doc 164 . Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. jenjang. jenjang. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia.

Pasal 110 Cukup jelas. Pasal 109 Cukup jelas. tenaga pendidik. emosional. dengan cara menyediakan sarana. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. dan sosial.doc 165 . maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. dengan menyediakan sarana. Pasal 107 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 85955213. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan.pendidikan tinggi. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. Pasal 108 Cukup jelas. mental. tenaga pendidik. Pasal 111 Cukup jelas.

doc 166 . Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. 85955213. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 114 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.kebutuhannya. Pasal 113 Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 122 Cukup jelas.doc 167 . dan kinestetik. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. spiritual. 85955213. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. huruf b Cukup jelas. huruf c Cukup jelas.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). Pasal 121 Cukup jelas. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. Pasal 119 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. emosional.

doc 168 . 85955213. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 128 Cukup jelas.Pasal 123 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. teknologi. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. 85955213. Pasal 133 Cukup jelas. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.Pasal 131 Cukup jelas. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Ayat (2) Cukup jelas.doc 169 . Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 134 Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju.

Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. pembelajaran. penilaian. Ayat (3) Huruf a. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 85955213. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Pasal 137 Cukup jelas. Pasal 138 Cukup jelas. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Cukup jelas. serta penghasilan lainnya.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji.doc 170 . Huruf c. Ayat (2) Cukup jelas. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. tunjangan. Huruf b. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya.

Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 140 Cukup jelas. Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf h. Pasal 143 Cukup jelas. Huruf i. Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf f. Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a.doc 171 . Huruf e. 85955213.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Huruf g. Pasal 142 Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf d.

huruf h. Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Peserta didik pada SMA. 3) 4) huruf f.huruf b. Peserta didik pada SD. Ayat (3) Cukup jelas. huruf g. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. SMK. huruf c. MTs. huruf e. huruf d.doc 172 . atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. MA. 85955213. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. SMP. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. Cukup jelas. MI. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat.

pembimbing. paket B. Cukup jelas.Pasal 145 Cukup jelas. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. 85955213. Huruf e. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf h. Huruf c. Pasal 146 Cukup jelas. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Huruf d. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Huruf b. tutor penanggung jawab tingkat . Huruf g. dan penguji. Cukup jelas. Huruf f. pelatih atau instruktur. Cukup jelas.doc 173 . Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a.

Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 85955213. Pasal 154 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 148 Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas.Huruf i. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas.

Pasal 162 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. 85955213. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 161 Cukup jelas. Pasal 164 Cukup jelas.doc 175 . Pasal 160 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 158 Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku.

SD/MI. Ayat (4) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b. dan SMK/MAK. Ayat (3) 85955213. nonformal.doc 176 . Huruf b. Peserta didik TK/RA. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas. SMA/MA. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. SMP/MTs. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a.Cukup jelas.

Pasal 167 Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia. dan sejenisnya. Ma’arif-NU. Ayat (4) Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (4) Cukup jelas. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Pasal 170 85955213.doc 177 . Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. dan sejenisnya. Pasal 169 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Majelis Pendidikan Kristen.

Pesantren. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. Ayat (4) Cukup jelas. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta.Ayat (1) Cukup jelas. dan sosio-kultural sekaligus. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu.doc 178 . MTs. Pasal 171 Cukup jelas. sosioekonomi. Pabbajja 85955213. MA.

Pasal 174 Cukup jelas. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. potensi. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. dan bentuk lain yang sejenis.Samanera. tukar-menukar informasi. Pasal 173 Cukup jelas. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 175 Cukup jelas. Pasal 178 85955213. dan keadaan sosio-ekonomi. Ayat (3) Cukup jelas. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. dan sosio-kultural setempat.doc 179 . Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga.

Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Kedinasan. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Keagamaan. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari).Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Tinggi. Ayat (3) Cukup jelas. dan kabupaten/kota. Ayat (2) Cukup jelas. media elektronik.doc 180 . Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. 85955213. dan media lainnya. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Ayat (4) Cukup jelas.

Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 183 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Tinggi. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. menggantikan keberadaan BP3. 85955213. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. Pasal 181 Cukup jelas. Pasal 182 Cukup jelas.doc 181 . Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Keagamaan.

Ayat (2) Cukup jelas.doc 182 . dan unsur . dan MAK. maupun oleh masyarakat. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. dan SMK. atau RA. Komite Pendidikan Nonformal. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. 85955213. program pendidikan nonformal. atau karena pertimbangan lain. MI. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. tukar-menukar informasi. atau berbeda seperti TK. Ayat (3) Cukup jelas. SD. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. SMP. MTs. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. SMA. satuan pendidikan keagamaan. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. MA.

departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. jenjang. Pasal 192 Cukup jelas. dan khusus pada semua jalur. maupun masyarakat. akademik.doc 183 . Pasal 188 Cukup jelas. Ayat (3) 85955213. jenjang.Pasal 185 Cukup jelas. pemerintah daerah. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. profesi. Pasal 189 Cukup jelas. Pasal 186 Cukup jelas. kejuruan. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Pasal 187 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. Pasal 190 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. lembaga pemerintah non-departemen. vokasi. dan jenis pendidikan. Pasal 191 Cukup jelas.

Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.doc 184 . Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. h. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum.doc 185 . l. i. Ayat (4) Cukup jelas. g. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 199 85955213. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. k. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. k. Ayat (4) Cukup jelas. i. Ayat (2) Cukup jelas. j.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. i. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. Ayat (2) Cukup jelas. j. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. h. l. f. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. g.

dan/atau fakultas. e. Ayat (4) 85955213. program studi. Pasal 201 Cukup jelas. lembaga penelitian atau pusat studi. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. jurusan.Cukup jelas. dan/atau satuan pendidikan. badan hukum pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 202 Cukup jelas. program pendidikan. unit-unit dharma perguruan tinggi.doc 186 . melaksanakan f. Ayat (2) Cukup jelas. b. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. Pasal 200 Cukup jelas. d. c.

Pasal 209 Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 211 85955213. pemindahan.doc 187 . Ayat (4) Cukup jelas. penempatan. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 205 Cukup jelas.Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan.

Pasal 216 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 212 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas. Pasal 213 Cukup jelas.. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas.. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR . 85955213.

...........................................................................................................................................................................................................................................Departemen Agama.................................................9 Pasal 10....................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...................12 Pasal 14..................................................................................................................11 Pasal 13..............12 Pasal 15 .....2 KETENTUAN UMUM.........7 Bagian Kedua.....................................................8 Pasal 5.................Pemerintah provinsi..........12 e..........................................................................................................................................................8 Pasal 4...................................................................7 Pasal 3.....................................................................................................................................................................................................12 g....10 Pasal 12........................................................12 c............................................................................................................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.......................Pemerintah kabupaten/kota..................................................................................Departemen..........................................................................................................................................doc i .........................................12 d.........................................................2 BAB II..............7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN...............................Program dan/atau satuan pendidikan..................................................................................... efektifitas...................................12 Bagian Ketiga........................... dan......................................................................................................12 f.....................................................................................................................................................................................................................................................2 Pasal 1.............................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah........... ..................................Badan hukum pendidikan..............................................DAFTAR ISI BAB I........................................................................................................................................................................................................................... efektifitas................................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi..................................... dan 85955213..........................................................7 Pasal 2..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................13 Pasal 22..........................15 Pasal 23...............................................................................................................................................................12 Pasal 16..........................................................................................................................................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan................................................................................7 Umum.....................................................................12 a............................................................................12 b.................................7 Bagian Kesatu..............................................................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.....................................................

................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:......................................................................................................................................................................22 Pasal 41................................................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL....21 Pasal 34..................................................................17 Pasal 25.....................................................................................16 Pasal 24.....................doc ii .................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................30 Paragraf 2...........................................30 Pasal 54 .........................................................................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..........................................................................................29 Pasal 52..................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini................................................25 Pasal 44 .....30 Paragraf 1.....................................................................................................................................24 Pasal 43.............................................................................................18 Pasal 32.......................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi........................................................................................................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...............................................................................30 85955213...................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi........................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:........................................ efektifitas....... efektifitas....25 Bagian Keenam....................................16 Bagian Keempat...........................................................................................................21 Bagian Kelima............................................................. efektifitas.....................28 Pasal 51.....................................................................30 Bagian Kesatu.............................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan................................................................................................................27 Pasal 50........................................................17 Pasal 26...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................20 Pasal 33................21 Pasal 35...........................................24 Pasal 42................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................30 Fungsi dan Tujuan........................................................................................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota........30 Pasal 53 .........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................25 Pasal 45..................................................21 Pasal 36..............................................................................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan................................................29 BAB III....

..............................................................................................................31 Pasal 57 ..........................................................................................................34 Pasal 64 ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................33 Paragraf 3..................................................31 Pasal 55 ..................................................................................40 Fungsi dan Tujuan.............................................36 Bagian Ketiga.................................................36 Pasal 66..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan.........................................................................................................................................................................................................40 Pendidikan Tinggi.............................................................................................................................32 Fungsi dan Tujuan......31 Pasal 56 ...............39 Penerimaan Peserta Didik.............................................Paragraf 3 .......................................................................................................................39 Pasal 71.........................36 Paragraf 2...........................................................................38 Paragraf 3........................................36 Paragraf 1................31 Program Pembelajaran............................................................................................................................................................................31 Paragraf 4.................................................................................................................31 Bagian Kedua.....................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan................................................................doc iii .......................................................................................................................36 Pendidikan Menengah..............................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik......................................................................................................................................................................40 Bagian Kempat..............................................32 Paragraf 2.................................37 Pasal 68 ................................................................................................36 Fungsi dan Tujuan...........................................................................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik.................34 Pasal 65....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................39 Pasal 72............................................32 Pasal 58........................................................................................33 Pasal 59 .................................37 Pasal 69....................................................................................................................33 Pasal 63..........................41 Pasal 73............................................................................................................................................................................40 Paragraf 1.........................................................................................................................................................33 Pasal 60 ..................................................................................................................................................................................................................................32 Paragraf 1..........................................................................................................................32 Pendidikan Dasar.....................................................................................41 85955213..................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.......................................48 a...47 Pasal 89............................................................................................................................43 Paragraf 3.............................................42 Pasal 79.................................................................46 Sistem Pembelajaran......................................................................................................................................................................................................................................................46 Pasal 87 ...................................48 c..........................................................................................................................................................................................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi......................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.............doc iv .. mengawasi....................41 Organisasi Perguruan Tinggi...........................................................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...................................42 Pasal 75 .......................................................................................................46 Paragraf 4........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 85955213....................45 Pasal 84........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................46 Pasal 86..............................................................................42 Pasal 77...........Paragraf 2.......................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.................................................................................................................................................................................................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan................................... .. dan Program Pendidikan.......44 Pasal 81................47 Pasal 88...41 Jenis..........41 Pasal 74.......................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen..........................................44 Penerimaan Mahasiswa ..........................................................41 Paragraf 3........................48 b.........44 Pasal 80.................................. Bentuk...................................................................................................

...........54 Pasal 95.................................54 Paragraf 8.......................................................................................................................................................................................................................................................48 Paragraf 5............................................................................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar...............................................................................................55 Pasal 96......................................55 Pengalihan Kredit .......................59 BAB IV.............................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan...............................55 Pasal 99......56 Pasal 82........................................................................................................................................................... Pasal 82 ayat (2).........................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan..................................................................................................................................51 Paragraf 6.......................................................................................................................................................51 Pasal 94..........................................58 Pasal 84......................................................................................................................................................................56 Pasal 81....................................................................................................................55 Pasal 97...........................................................................................59 85955213............................................................................................................................................................................48 Pasal 90..................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi.58 Bagian Kelima............................................................................................................................................................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .......................................................doc v ...............................59 Bagian Kesatu.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................57 Pasal 83............................................................................................................................................................................51 Penelitian...........51 Pasal 93.............................59 Pasal 85............................................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.................................59 Penjaminan Mutu...............................................................................49 Pasal 91...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................55 Paragraf 9..........................................................................................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat..........................................49 Pasal 92...........................................................................................................................................56 Paragraf 10..........................................................................................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.................

..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Pasal 94.........................................................................................................61 Kelompok Belajar ..........................................................................................................................................................61 Pasal 91.....................................................................................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan.................................................................................................................................62 Bagian Ketiga................................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 2........................61 Pasal 90.................65 Paragraf 6.......................................................................................................................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan .........................................................................................................................................................................................60 Paragraf 1................................61 Paragraf 3...........................................................................................................................................61 Paragraf 5...............................................................................60 Pasal 88..................................................................................................................................................................doc vi ..........................................................................................................................65 Pendidikan Keaksaraan...............................................................................................................................60 Paragraf 2..........................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja....................................................................................................................................................................................................................................................................................61 Paragraf 4......................................................................................61 Pasal 89...............................................64 Paragraf 5.....................................................................................64 Paragraf 4.........................................................................65 Pasal 98............................60 Bagian Kedua...............................63 Pasal 95............................................................................62 Pasal 92.....................62 Pasal 93 .......................Fungsi dan Tujuan ...............................................................................................................................................................................................64 Pasal 97................................63 Pasal 96....62 Paragraf 1.........62 Pendidikan Kecakapan Hidup........61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat..........................................................................................................................................................................63 Paragraf 3....................................................................................65 85955213...60 Pasal 87.............59 Pasal 86......................................................................62 Program Pendidikan ............................................................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ...........................................................................................................................................61 Majelis Taklim......................................................................................................................................................

........................................................................................................................................................................................72 Bagian Kedua.............................................................................................................................................................................67 Pasal 102........................................................................72 Pasal 114...............................................................................................................................74 Paragraf 2....................................................................................................................................72 Pasal 113........................................72 Umum.....................................................................66 Bagian Ketiga (keempat).........................................................................................................................................................68 Pasal 105............................................................71 BAB VII................................................................................................................72 Pasal 115.......................................................72 Paragraf 1...........................................72 Pendidikan Khusus................................................................................66 Pasal 101.................72 Bagian Kesatu.............................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL........................67 Pasal 103.........................................................................................................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan..............................................................................................................doc vii .............................................................................................................74 85955213........................................................................................................................................70 Pasal 110.............................72 Pasal 116...................................................................................73 Pasal 118......................................................................................65 Paragraf 7.................................................................................69 Pasal 107..............................................................................................................................................................................................................................................................69 Pasal 108...............................................................................................................................................................................................72 Pasal 112.....................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................69 BAB VI.......................69 Pasal 106.............73 Pasal 117....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.......................................................................................................................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS.......Pasal 99.....................................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 119...........................71 Pasal 111................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH...............................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 100............................................................................................................66 BAB V..........................................................................68 Pasal 104..70 Pasal 109..

...........................................................................76 Bagian Ketiga............................................................................................................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK.................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL..................................................80 Pasal 128........................................................................................................75 Pasal 122....................................................75 Pasal 121........................................79 Pasal 127.......................................................89 Pasal 143.................................................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ..........................89 85955213...........................................................................................................................................85 Pasal 135.......................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ............................................................................................................................................................................................................................................................................................89 BAB X...................................................................................................................................................................................................................................86 Pasal 140..............................................................................................................................................................................................................................................................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa......................................83 Pasal 131..........................................................................doc viii ........................................................................................................................................................................................78 BAB VIII..........................78 Pasal 126....................................................77 Pasal 123........76 Pasal 123.................................................................83 Pasal 132.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 Pasal 125.............................................................................................................................................................................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN.....................................................................................................................................................................................85 Pasal 138.......................................................76 Pasal 122.........................................................................84 Pasal 133................................86 Pasal 139.............................................................................................................................76 Pasal 121..............87 Pasal 141............................................................................................84 Pasal 134.....................................................................................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus.........................................................................85 Pasal 136..........................................................................................................................................................................................................................84 BAB IX...............82 Pasal 130......................................................................75 Pasal 120.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................77 Pasal 124....................................................82 Pasal 129.................................................................................89 Pasal 142..................................................................................

..............................................................................................96 Paragraf 1.................................................................................................................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN.........................................................98 Larangan.......................................................................................................................................................................... dan Penghargaan ....................................................................................................................................................... Tugas..................................................................................................................................................................... Pemindahan...................................................................... Promosi............96 Paragraf 2................................................96 Pasal 153..................................................................96 Pembinaan Karir.............100 Pasal 161................100 Pasal 160....90 Pasal 146..........................................................................................................................................................................................................91 BAB XI..........................................................................................................................92 Pasal 148......................................92 Jenis..............................................................................92 Pasal 147..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................101 BAB XIII................................................................................................................................................................................................................................................................................96 Pasal 154.......................................................................................89 Pasal 145 ............................................101 Pasal 163................................................................96 Pasal 152...................98 Pasal 157 ........................................................................................................ dan Pemberhentian .95 Pasal 150......................................................................................................Pasal 144..............................................................................98 Bagian Keempat.........96 Pembinaan Karir...............................................................................................................................................................95 Pasal 151............................................. Penempatan.........96 Promosi dan Penghargaan......................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................101 85955213...................99 Pasal 158...... dan Tanggung Jawab..................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN.....................................................................................................92 Bagian Kesatu...97 Pasal 156...................................95 Bagian Ketiga...100 Pasal 162..............................................................................................................................................................................93 Bagian Kedua............................................................................................................................................................101 Pasal 164.........................................................98 BAB XII.....97 Pasal 155...........................................................................................................................................................95 Pengangkatan.............................................................................................................................................................99 Pasal 159......................................................................93 Pasal 149.....doc ix ..............................................................................................................................................................................................................................

.................................................................................................................................................................................................................................................................................................108 Pasal 181.107 Pasal 178.......................................................................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat.....106 Pasal 176..............................................................................................................................................................................................................doc x .............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Pasal 167...............................................................................................................................................................102 Pasal 166...........................103 Bagian Kedua.................104 Pasal 170..............110 Bagian Kelima...........................................................................................................................................................................................................................................................112 Pasal 186......................................................................................................112 Persyaratan Anggota....................................................111 Paragraf 2....................103 Pasal 169...........104 Pasal 171............................103 Komponen Peranserta Masyarakat......................103 PERANSERTA MASYARAKAT...............................................................................................................................106 Dewan Pendidikan.............105 Pasal 174.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................102 BAB XIV................................105 Bagian Ketiga..................................112 Keanggotaan.......................................................................................................................................105 Pasal 172.........................................................................................................................................109 Pasal 183.........................................................107 Pasal 179.................................................112 85955213.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Paragraf 1.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 177.......................................................................................................................................................................................108 Pasal 180...............103 Pasal 168.................................110 Pasal 184....................110 Pasal 185.............................................110 Komite Sekolah/Madrasah........................106 Bagian Keempat.................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Bagian Kesatu.................................Pasal 165....................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 175..........................................................................................................112 Paragraf 3........109 Pasal 182........................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat...........................................................103 Fungsi .......................

.................................................................................................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan..114 Pendanaan............................................................................122 Pasal 203..............................................122 SANKSI..........................................................................................125 Pasal 211.........................................126 85955213........................................115 Larangan......................................118 Pasal 198....................................125 Pasal 212......................................................................................................................................................................................................................................doc xi ...........116 Pasal 196..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Pasal 189...................................................................................................115 PENGAWASAN......................................................................................126 Pasal 213..............114 Pasal 191...................................................................117 Pasal 197.................................................................................116 Pasal 195........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................122 Pasal 202.............................................................................................................................124 Pasal 207......................................................................................................................................................................................................115 Pasal 194......................................................................................................................113 Paragraf 6...............................113 Paragraf 5........................................................................................................................................................................................................................................................................122 Pasal 204........................................................................................................119 Pasal 199......................................................................................................120 Pasal 200...................................................................................................................................................................124 Pasal 209.................................121 Pasal 201.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................114 Bagian Keenam.................................................................................................................................113 Pasal 188.............................................124 Pasal 208......................................................................................................................115 Pasal 193..............................................................................................114 Pasal 190..............................................................................................................................................................................................................123 Pasal 205..................................................................................................................................................................................................................................121 BAB XVI.................................................................................................112 Paragraf 4...................................................................................................................................................................................115 BAB XV..........................................................124 Pasal 206..................................................................................................................................................................Pasal 187...............113 Mekanisme Pemilihan................................................................................................................................................115 Pasal 192.............................................................................................................................................................125 Pasal 210......

........................................................126 BAB XVIII....................126 Pasal 214 ............................................................................................................................................................127 Pasal 216......................126 Pasal 215......126 KETENTUAN PERALIHAN........................................................................................................................................................................................................................................................................................129 85955213............BAB XVII..........................................127 Pasal 218............................................................................................................................................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP........................................................................................................................................................................127 Pasal 217..128 PENJELASAN....................................................................doc xii ...................................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful