RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

85955213.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

85955213.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

85955213.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
85955213.doc

4

teknologi. teknologi. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. mengembangkan.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 85955213. 33. dan/atau olah raga. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. 24. 27. seni. dan/atau olah raga. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan seni melalui pendidikan. 34. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. 25. seni.doc 5 . Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. seni. 32. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 31. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. dan/atau olah raga tertentu. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. teknologi. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. dan bahan pelajaran. teknologi. 26. 28. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. isi. 29. teknologi. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 30. penelitian.

sosial. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. informasi. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 42.35. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. 41. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. 36. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. 38. 39. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. aspirasi. dan media lain. oleh. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. nonformal. budaya. 40. 43. Pendidikan informal lingkungan. dan budaya masyarakat daerah setempat. dan informal. 85955213.doc 6 . adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. ekonomi. sosial. dan untuk masyarakat. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. oleh dan untuk masyarakat. 44. 45.

46. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. b.doc 7 . dan terjangkau. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. pendidikan. 49. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. d. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. Pemerintah. atau Pemerintah Kota. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. 47. 48. Pemerintah Kabupaten. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 85955213. c. satuan pendidikan. merata. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. efisiensi. 52. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. 51. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. dan e. badan hukum pendidikan. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. Pemerintah Provinsi. komunitas sekolah. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. dan efektivitas. b. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. 50. c.

l. c. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. j. f.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. e. Pemerintah kabupaten/kota. sejenis. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. h.doc Pemerintah Provinsi. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. d. c. satuan pendidikan. g. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. rencana strategis pendidikan nasional. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). orang tua/wali peserta didik. e. b. 85955213. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). pendidik dan tenaga kependidikan. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). dewan pendidikan. 8 . k. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. rencana kerja Pemerintah (RKP). b. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. i. badan hukum pendidikan. Departemen. d. f. Departemen Agama.

Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). antar provinsi. Pasal 8 pemerataan partisipasi 85955213. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. peserta didik khusus. memantau. satuan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengawasi mengkoordinasi. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. dan mengendalikan penyelenggara. masyarakat. efisien. membimbing. jalur. antar kabupaten. dan n. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. d. antara laki-laki dan perempuan. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. jenjang. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. mengevaluasi. c. antar kota. mensupervisi. antara kabupaten dan kota.doc 9 .m. dan e.

c. f. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi kompetensi peserta didik. d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. akreditasi program pendidikan. sertifikasi kompetensi pendidik. akreditasi satuan pendidikan. b. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. Satuan pendidikan. dan b. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. satuan dan/atau program (2) e. Pemerintah daerah. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dan/atau g. Catatan: 85955213.doc 10 . bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b.

dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). nasional. peserta didik. seni.. kabupaten/kota. membina.. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. seni. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. dan c. b. unit pelaksana teknis satuan pendidikan.doc . Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. memfasilitasi. 11 (4) (2) 85955213. provinsi. pendidik dan tenaga kependidikan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. dan internasional. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. olahraga.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan.

c.doc 12 . 85955213. f. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. dan jalur pendidikan. Badan hukum pendidikan. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. dan g. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Departemen Agama. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. Program dan/atau satuan pendidikan. Departemen. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Pemerintah provinsi. d. efektifitas.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. Pemerintah kabupaten/kota. b. jenis. e. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya.

dan g. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 85955213. b. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). tenaga kependidikan di provinsi yang j. d. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. d. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. ayat (2). efisien. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. c. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. h. peraturan gubernur di bidang pendidikan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. c. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. f. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). g. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. pendidik dan bersangkutan. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. membimbing. mensupervisi. mengkoordinasi. dan k. jalur.doc 13 . dan mengendalikan penyelenggara. b. jenjang. peraturan daerah di bidang pendidikan. rencana (RKATP). satuan. memantau. mengawasi. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. i. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan ayat (3). rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). mengevaluasi. rencana strategis pendidikan provinsi.

pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. peserta didik khusus. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. antara laki-laki dan perempuan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) 85955213. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. b. c. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. dan d. antara kabupaten dan kota. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antar kota.doc 14 . antar kabupaten. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

satuan dan/atau program c. sertifikasi pendidikan terkait. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. pemberhentian. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sertifikasi kompetensi pendidik. d. membina.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. akreditasi satuan pendidikan. Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. sertifikasi kependidikan. memfasilitasi. mengakui. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. membina. memfasilitasi. mengakui. e.doc 15 . dan/atau kompetensi tenaga g. f. Pengangkatan. sertifikasi kompetensi peserta didik. akreditasi program pendidikan. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 85955213. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a.

pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. dan internasional. Pasal 24 85955213. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. dan k. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. nasional. efektifitas. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. b. seni. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). e. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. h. pendidik dan bersangkutan. ayat (2). d. dan c. semua jajaran Pemerintah Provinsi. kabupaten/kota. b. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. f. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. c.doc 16 . g. seni. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. provinsi. i. tenaga kependidikan di provinsi yang j. ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga.

b. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. c. peraturan daerah di bidang pendidikan. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. d. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. jenis. e. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota.doc 17 . pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 85955213. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. f. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. g. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya.

satuan. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. g. dan mengendalikan penyelenggara. b. c. jalur. memantau. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. membimbing. jenjang. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. d. mengkoordinasi. dan ayat (3). semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. mengevaluasi. e. i. mengawasi. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). badan hukum bersangkutan. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mensupervisi. j. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. h. f.doc 18 .a. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 28 85955213. ayat (2). efisien. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan.

akreditasi satuan pendidikan. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. sertifikasi kependidikan. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. Pasal 31 85955213. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc 19 . sertifikasi kompetensi peserta didik. dan/atau kompetensi tenaga g. d. kebijakan provinsi bidang pendidikan. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. sertifikasi pendidikan terkait. c.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. b. e. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. b. peserta didik khusus. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. dan antara laki-laki dan perempuan. sertifikasi kompetensi pendidik. akreditasi program pendidikan. f. satuan dan/atau program (2) (3) c. dan Standar Nasional Pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

kecamatan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan olahraga. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). kabupaten/kota. ayat (2). Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. membina. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Pasal 33 (4) 85955213. memfasilitasi.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui.doc 20 . dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. provinsi. c. nasional. b. dan internasional. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. seni. seni.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
85955213.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
85955213.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
85955213.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
85955213.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

(2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. didik satuan dan/atau program d. dan sesuai peraturan perundangundangan. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.doc 25 . peserta pendidikan terkait. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. 85955213. e. g. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait.c. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). anggaran pendapatan pendidikan.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) a. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. satuan c. oleh satuan pendidikan anak usia dini. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. c. e. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. anggaran tahunan perguruan tinggi. c. dan dan belanja tahunan satuan c. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana strategis perguruan tinggi. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. dan d. b. satuan pendidikan dasar. Kebijakan Pasal 4. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. 85955213. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. d. d. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. b. peraturan pemimpin perguruan tinggi. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. f.

dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. dan ayat (4). Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. efisien. ayat (2). dan sebagaimana dimaksud dalam b. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan sesuai peraturan perundang-undangan. dan sesuai peraturan perundangundangan. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. ayat (3). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. peserta didik khusus. dan/atau kebijakan 27 85955213.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a.doc . kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

dan/atau program (3) e. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. satuan dan/atau program pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. dan/atau g. f. pendidikan dasar. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. dan Standar Nasional Pendidikan. mengikuti: a. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan.doc . sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. b. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 85955213. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. d. c.

pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan bersangkutan. c. f. b. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan internasional. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. 85955213. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. seni. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.doc 29 . kecamatan. efektifitas.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. provinsi. satuan c. kabupaten/kota. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. b. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. ayat (2). (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. dan olahraga. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. nasional. d. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. seni.

kritis.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. emosional. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. TK. berakhlak mulia. (2) PAUD bertujuan: a. berkepribadian luhur. kinestetis. berilmu. inovatif. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. intelektual. cakap. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.doc . BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. tenaga kependidikan. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). sehat. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 30 (2) 85955213. menumbuhkan. RA. Bustanul Athfal (BA). atau bentuk lain yang sederajat. percaya diri. mandiri. dan peserta didik. kreatif. Raudathul Athfal (RA). dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. b.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

85955213.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
85955213.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

85955213.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

85955213.doc

34

ayat (4). lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain.doc 35 .(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. atau b. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. sosial. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. MTs. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. (8) 85955213. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. MI. MTs. dan b. SMP. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. Satuan pendidikan SD. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. lulus ujian kesetaraan Paket A. MI. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. lulus ujian kesetaraan Paket A. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. tidak benar. ayat (5). MTs. MTs. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. b. dan/atau tidak jujur.

(4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. d. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. meningkatkan. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. c. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. b. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). 85955213. e. transparan. ahlak mulia.doc (5) 36 . status sosial. agama. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. menghayati. kemampuan ekonomi. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan kepribadian luhur.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. menghayati. dan f. kehalusan. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). meningkatkan. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan harmoni. dan akuntabel. etnis.

berilmu. demokratis. berakhlak mulia.doc . dan bertanggung jawab. b. dan percaya diri. d. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). sehat. mandiri. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. dan harmoni. atau bentuk lain yang sederajat. c. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. meningkatkan. Madrasah Aliyah (MA). dan berkepribadian luhur. toleran. menghayati. e. kreatif. c. dan f. b. cakap. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan d. peka sosial. kritis. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. kehalusan. dan inovatif. dan kepribadian luhur. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. meningkatkan. ahlak mulia. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. yaitu 37 (2) 85955213. menghayati.

pengetahuan sosial. kelas 11 (sebelas). b. c. dan pariwisata. kerajinan. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. pengetahuan alam. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. yaitu kelas 10 (sepuluh). Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. d. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. kelas 12 (dua belas). bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. e. keagamaan. d. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. bidang studi keahlian kesehatan. kelas 11 (sebelas). (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. bidang studi keahlian seni. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. c. yang diperlukan masyarakat. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. dan kelas 13 (tiga belas). atau e. dan kelas 12 (dua belas). f.kelas 10 (sepuluh). 85955213.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. b. program studi program studi lain 38 . atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen.

lulus ujian kesetaraan Paket B. ayat (4) huruf b. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. atau b. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. apabila setelah dilakukan 39 85955213. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. b. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. MTs. dan ayat (5). lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. atau bentuk lain yang sederajat. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a.g. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. dan b.doc . Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya.

doc 40 . satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. status sosial. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. dan kondisi fisik atau mental. transparan. sosial. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 85955213. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. kemampuan ekonomi. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. etnis. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan/atau tidak jujur. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. agama. dan akuntabel. tidak benar.

b. dan olahraga. demokratis. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. b. ilmu pengetahuan. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. kreatif. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. dan sehat. dan bertanggung jawab.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. ilmu pengetahuan. Paragraf 3 85955213. teknologi. atau universitas. spesialis. pendidikan profesi. berilmu. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. seni. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. teknologi. dan c. dan/atau doktor. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. beretika. Paragraf 2 Jenis. dan/atau pendidikan vokasi. dan kepribadian manusia melalui: a. cakap. kritis. teknologi. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. taat hukum. politeknik. Bentuk. toleran. sekolah tinggi. dharma penelitian untuk menemukan. dharma pendidikan untuk menguasai. seni. magister. menerapkan. sarjana. institut. ilmu pengetahuan. peka sosial. mengembangkan. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. mandiri. dan c. seni. Maha Esa. serta d. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma.doc 41 . dan olahraga. mengadopsi. inovatif. percaya diri dan berjiwa enterprenur. watak. produktif.

atau fakultas. magister. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. kemahasiswaan. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. dan pengabdian kepada masyarakat. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. spesialis. sarjana. pelaksana akademik.doc 42 . perlengkapan. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. pusat penelitian. spesialis. dan penunjang.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. dan doktor. komunikasi. yang mencakup program pendidikan diploma. jurusan. keuangan. dan/atau doktor. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. hukum. seni. kepersonaliaan. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. profesi dan/atau vokasi. magister. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 85955213. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. pusat pengabdian masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. teknologi. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. sarjana. penelitian.

Program magister. (2) 85955213. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jumlah. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan.(3) Jenis. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. spesialis. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan/atau doktor. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. spesialis. profesi. profesi.doc 43 . spesialis. Program magister. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. tugas pokok. fungsi. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. unit layanan penjaminan mutu penelitian. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. atau sebaliknya. b. profesi. atau sebaliknya.

unit layanan bimbingan dan konseling. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. d. dan kesehatan lingkungan.doc 44 . Jenis dan jumlah. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. kedudukan. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a.c. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. toko buku. dan 85955213. magister. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. sarana dan prasarana kesenian. penerbitan. f. unit layanan masyarakat. kenyamanan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. sarana dan prasarana olah raga. dan doktor adalah: a. laboratorium/bengkel/studio. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. dan h. g. perpustakaan. apotik. dan unit lain yang dipandang perlu. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. dan b. keindahan. poliklinik. tugas pokok. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. penjaminan mutu pengabdian kepada e.

dan akuntabel. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. 45 (3) (4) (5) (2) 85955213. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. transparan. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. kemampuan ekonomi. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. status sosial.doc . memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif.b. dan b. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. dan b. agama. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. dan kondisi fisik atau mental. etnis.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. 85955213. praktikum. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. kuliah.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. lokakarya. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. simposium. tidak benar. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. dan/atau tidak jujur. seminar. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. afektif. dan kemampuan konfluen mahasiswa. psikomotorik. 46 . Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya.

proses pembelajaran. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. sarana dan prasarana. ayat (2).penelitian. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 85955213. Isi kurikulum. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pembiayaan. pengelolaan. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan.doc 47 . Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. kompetensi lulusan. ayat (3). Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga.

b.doc 48 . dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. atau pihak lain yang dipandang perlu.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. Pasal 82 ayat (2). c. 85955213. mengawasi. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. dunia usaha. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

c. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. h. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. e. pendayagunaan aset. usaha penggalangan dana. kontrak manajemen. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mutu. kreatifitas. c. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. d. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. pemagangan. norma serta kaidah keilmuan. f. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa.doc . inovasi. b. dan dilandasi oleh etika. g. e. program kembaran. d. pendidikan. penerbitan jurnal ilmiah. pengalihan dan/atau perolehan kredit. penelitian. i. efektifitas. dan pengabdian kepada masyarakat. j. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. penyelenggaraan seminar bersama. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. produktifitas. b. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. 49 85955213. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a.

bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. secara bertanggungjawab dan mandiri. serta kaidah keilmuan. c. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. seminar. teknologi. setiap individu sivitas akademika: a. diskusi. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. seni. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. nilai-nilai etika. dan kemanusiaan. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. serendah-rendahnya ketua program studi. d. menerapkan. publikasi ilmiah. bangsa. dan d. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. penelitian. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). dan mengembangkan ilmu.doc . baik di dalam maupun di luar kampus. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. negara. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. e. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak mengganggu ketertiban umum. dan pengabdian kepada masyarakat. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. ceramah. dan kaidah akademik. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ujian. dan taat etika. b. b. ayat (2). sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 85955213. c. norma. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. simposium. dan ayat (5): a. ayat (2) dan ayat (3): a.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. ketua pusat penelitian.

seni. sosial. sesuai dengan peraturan perundangundangan. penelitian terapan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. teknologi. mengembangkan. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. seni. b. dan/atau olah raga. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. teknologi. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. seni. teknologi. b. dalam menemukan. hayati. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia.sivitas akademika yang terlibat. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. seni. dan taat etika. dan/atau olah raga yang bersangkutan. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. norma. d. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 85955213. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. c.doc . dan c. mengungkapkan. serta kaidah keilmuan. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. institut. teknologi. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia.

apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. b. seni. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. disetujui dosen pembimbing. dan/atau menguji ulang teori. disetujui dosen pembimbing. c. metode. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. prinsip. teknologi. seni. teknologi. dan/atau olah raga. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. prosedur. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 85955213. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen.doc 52 . dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. b. dan d. dan/atau olah raga. konsep. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor.pengembangan. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. disetujui dosen pembimbing. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji.

program studi. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perpustakaan Nasional. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. dan perpustakaan Departemen.doc . fakultas. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 85955213. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian.

pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian.doc . ayat (2). pemodernan. b. pemberdayaan pengembangan dosen. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. kreatifitas. dosen. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. dan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 85955213. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. dan d. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. pemberdayaan pengembangan dosen. dan masyarakat. keteladanan. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau pemadanian kehidupan masyarakat. baik secara individual maupun berkelompok. dosen.informasi dan komunikasi Departemen.

kepada masyarakat perguruan tinggi.doc 55 . diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. 85955213. ujian. b. dan jujur. transparan. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Penilaian hasil objektif. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. program sarjana. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. dan/atau bentuk penilaian lainnya.

(4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri.doc 56 . e. dilaksanakan atas dasar sampel. atau c. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. program studi yang b. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. ditetapkan oleh organisasi profesi. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. d.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. b. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. c. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 85955213.

(2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. b. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. c. atau gelar profesi. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik.doc . dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. untuk lulusan program diploma I. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. sarjana.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. Gelar akademik. sarjana sains terapan. dan c. b. untuk program diploma IV. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi.(1) Lulusan pendidikan akademik.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ayat (3). gelar vokasi. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ahli pratama. untuk lulusan program diploma III. untuk lulusan program diploma II. magister. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. 57 85955213. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan d. singkatan. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. Pasal 82 (1). yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. doktor. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ahli madya. vokasi. ahli muda.

teknologi. Pasal 83 (3). Penetapan jenis gelar akademik.(2). Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. singkatan. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. keagamaan. singkatan. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. profesi. kemasyarakatan. dan penempatan yang berlaku di negara asal. (1) Pencantuman jenis. kebudayaan. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. (2) (3) (4) 85955213.doc 58 .

(6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. c. b.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. pelaksanaan visi.doc 59 . misi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 85955213. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d.

e. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. pusat kegiatan belajar masyarakat. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. f. taman penitipan anak (TPA). serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.doc . kelompok belajar. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. majelis taklim. h. penambah. sikap wirausaha. mengembangkan profesi. keterampilan. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. d. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. g. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. bekerja. b. lembaga pelatihan. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 85955213. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. c. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. lembaga kursus. kelompok bermain (KB). keterampilan.

(2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.yang lebih tinggi. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. oleh.doc 61 . bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. dan untuk masyarakat. 85955213. dan berazaskan prinsip dari.

kecakapan sosial. c. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. kecakapan intelektual. d. pendidikan kepemudaan. pendidikan pemberdayaan perempuan. h. g. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 85955213. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a.doc . pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. kelompok bermain (KB). e. b. serta pendidikan lainnya. f. pendidikan kecakapan hidup.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. pendidikan keaksaraan. pendidikan kesetaraan. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. atau bentuk lain yang sejenis. pendidikan anak usia dini. berusaha dan/atau hidup mandiri.

Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. minat. dan kemampuan masing-masing peserta didik. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. usia. dan stimulasi psikososial. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 85955213. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. kecakapan sosial. dan perkembangan anak. berusaha dan/atau hidup mandiri. termasuk kesejahteraannya. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. gizi.doc (4) 63 . (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja.kecakapan personal. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. sosial budaya.

dan martabat b. sikap kewirausahaan. palang merah. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. 85955213. organisasi pemuda. ilmu pengetahuan dan teknologi. kepemimpinan. pencegahan perempuan. sikap. kecakapan hidup. kebangsaan.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 .Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. nilai. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. berbangsa dan bernegara. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. wawasan kebangsaan. ilmu pengetahuan dan teknologi. pecinta alam dan lingkungan hidup. estetika. bermasyarakat. kesehatan dan keolahragaan. kepeloporan. etika dan kepribadian. kepeloporan. dan c. dan kewirausahaan. wawasan. harkat. etika dan kepribadian. seni dan budaya. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. kepanduan/kepramukaan. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. peningkatan perempuan. kedudukan.

(4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. berhitung. menulis. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. menulis. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. menulis. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 85955213.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca.doc .

yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Paket B. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs.kerja untuk memperoleh. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI.doc 66 . SMP/MTs. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Paket C. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 85955213. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI.

(2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. nilai moral. etika dan kepribadian. menanamkan nilai budaya. estetika. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.doc 67 . 85955213. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. anggota keluarga. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal.

anggota masyarakat. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. lingkungan sosial. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat.doc 68 . (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. pendidikan oleh media massa. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. keluarga. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. atau lingkungan alam. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. 85955213. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. dan/atau masyarakat.

Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi.doc (2) (2) (3) 69 . dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. b.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. dan jenis pendidikan. 85955213. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. belajar mandiri. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. jenjang. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). belajar tuntas. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. dan berbasis teknologi pendidikan.

cakupan. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah.doc 70 . dan sistem operasional yang diterapkan. registrasi. belajar secara mandiri. ganda. praktik/praktikum. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. program studi/pendidikan. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. tutorial. dan ujian. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 85955213. terstruktur. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. atau konsorsium. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. atau satuan pendidikan.

(3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. jaringan komputer. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi.doc 71 . informasi. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. 85955213. jaringan TV. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya.

emosional. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. mental. intelektual. emosional.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan tidak mampu dari segi ekonomi. dan/atau mengalami bencana alam. jenjang. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 85955213. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. bencana sosial. mental.doc 72 . dan/atau sosial. dan jenis pendidikan. sosial. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. masyarakat adat yang terpencil. intelektual.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
85955213.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
85955213.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
85955213.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

85955213.doc

76

gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. jauh. b.doc 77 . menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. f.keahlian dan keterampilan. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. kursus dan pelatihan. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. kelompok belajar. Pasal 123 85955213. madrasah terbuka. kelompok belajar. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. g. taman penitipan anak. kelompok belajar. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. madrasah kecil. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. b. madrasah darurat. c. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. e. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. kursus dan pelatihan. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. d. kursus dan pelatihan. taman penitipan anak. taman penitipan anak. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. dan/atau c. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya.

peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. d. peserta didik di daerah perbatasan. peserta didik di daerah kepulauan kecil. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. c. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 85955213.doc 78 . (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. e. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. dan f. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. b.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil.

teknologi.doc 79 . serta menunjang pelestarian. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. b. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. 85955213. teknologi. dan seni. c. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. dan seni. dan pembangunan sumberdaya nasional. dan/atau (2) (3) (4) a. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. pengembangan. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional.

dan seni. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. teknologi. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 85955213. proses pembelajaran. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan seni. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik.d. dan perpustakaan. dan MAK.doc 80 . teknologi. j. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. MTs. f. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi. penilaian. i. SMA. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. g. d. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. MA. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. e. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. b. SMK. h. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. c. matematika. dan teknologi.

bahan habis pakai. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang bengkel kerja. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). peralatan pendidikan. ruang kantin. memiliki visi internasional. media pendidikan. atau bidang nonkependidikan yang relevan. ruang pendidik. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. ruang kelas. 2). atau yang sederajat. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 85955213. 30% untuk SMA. 10% untuk SD. atau yang sederajat. ruang perpustakaan. tempat berkreasi. l. n. atau bidang nonkependidikan yang relevan. 20% untuk SMP. atau yang sederajat. ruang tata usaha. dan k. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. tempat beribadah. atau guru kelas. 3). 3). dan 4). tempat bermain.mata pelajaran yang diampunya. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. sekurang-kurangnya: 1). ruang pimpinan satuan pendidikan. buku dan sumber belajar lainnya.MAK. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. atau guru kelas. atau yang SMK.MA. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. tempat berolahraga. ruang unit produksi. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. mampu berbahasa Inggris. ruang laboratorium. 2). MI. MTs. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.doc 81 . atau guru bimbingan dan konseling/konselor. instalasi daya dan jasa. m. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. sederajat. sekurangkurangnya: 1). atau guru bimbingan dan konseling/konselor.

Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 85955213. fasilitas olah raga. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. dan p. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. dan ruang unjuk seni budaya. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. dan Bahasa Indonesia. fasilitas multi media. o. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan 2).doc . Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Pendidikan Kewarganegaraan. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik.

Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan promosi keunggulan lokal. c. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. b. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. pengembangan. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. 85955213. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal.

BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. c. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. satuan pendidikan dasar. g. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. d. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. b. f. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. proses pembelajaran. penilaian. terpadu-satu sistem-satu atap.teknologi informasi dan komunikasi. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. dan keluar-masuk (entry-exit). menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan.doc 84 . dan h. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. 85955213. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. e. dan perpustakaan. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. d.

Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2).Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia.doc 85 . Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 85955213. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia.

c. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Pasal 137 (1). Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. pendidikan kewarganegaraan. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. (3). penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. (4) sebagaimana dimaksud (2). 86 85955213.pertimbangan dari Menteri Agama.doc . b. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. d. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional.

penyelenggaraan seminar bersama. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. dan/atau b.doc 87 . meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. c. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. f. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. b. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. penelitian. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. dan/atau c. program kembaran. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. i. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. d. h. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. pertukaran peserta didik. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. g. program pemindahan dan perolehan kredit. menyelenggarakan internasional.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. pendidikan tinggi bertaraf 85955213. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. e. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan.

d. f. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. program pemindahan dan perolehan kredit. pengabdian kepada masyarakat. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. e. b. penyelenggaraan seminar bersama. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. 85955213. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. c. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. h. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. b. program kembaran. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. g.doc 88 . pendayagunaan aset. penelitian. pemagangan. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. c. penerbitan jurnal ilmiah. j. usaha penggalangan dana. i. dan/atau d. kontrak manajemen. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A.

minat. 139. dan kecepatan belajar. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. b. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. 138. kemampuan. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain.doc 89 . Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. c. kecerdasan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. serta kebutuhan khususnya. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. 140. 85955213.

peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. c. pemerintah daerah. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. dan h. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. Pemerintah Provinsi. b. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. b. e. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. dan 90 85955213. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. f. memperoleh bantuan fasilitas belajar. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik.d. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. dan c.doc .

menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. dan negara. mencintai keluarga. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. ketertiban. kebersihan. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. mencintai lingkungan. mematuhi semua peraturan yang berlaku. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. f. b. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. c. e. h. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan.doc 91 . menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. d. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. masyarakat. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 85955213. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. dan j. serta menyayangi sesama. serta pembiasaan peserta didik. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. i. dan keamanan sekolah. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. bangsa. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan.i. g.

serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. menilai. dan mengembangkan: model program pembelajaran. teknologi. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. instruktur. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. dan seni melalui pendidikan. pamong. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. 85955213. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. pamong belajar. melatih peserta didik. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. mengajar. d. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. b. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. c. membimbing. dan pendidikan tinggi. konselor. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. alat pembelajaran. pendidikan dasar. mengajar.doc 92 . penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. mengembangkan. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. membimbing. Tugas. tutor.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. penelitian. e. melatih. fasilitator. mengarahkan. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. widyaiswara. dan pendidikan menengah. pendidikan menengah. dosen. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan pengabdian kepada masyarakat.

tenaga administrasi. teknisi sumber belajar. pengawas satuan pendidikan formal. Pasal 148. tenaga laboratorium. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. Pasal 149 (1). (1). g. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan.f.doc (2). penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. penilik satuan pendidikan nonformal. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. terapis. dan i. pekerja sosial. b. tenaga perpustakaan. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. tenaga kebersihan sekolah. tenaga lapangan pendidikan. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. (2). Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. h. 93 . widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 85955213. penilaian. psikolog. c. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

pemantauan. i. merawat. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. dan pendidikan menengah. penilaian. h. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. k. 85955213. dan l. satuan pendidikan dasar. f. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. g. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. j. d. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan.doc 94 .pemantauan. e. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. pembimbingan.

Pasal 151 (1). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. (3). Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pengangkatan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). Pemindahan. penempatan. (2). pemindahan.Bagian Kedua Pengangkatan. Penempatan. pemindahan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. penempatan. penempatan. pemindahan. Pengangkatan.doc . (4). Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. (3). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. 85955213. 95 (2).

Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). Promosi. (4). Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. (3). Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). kenaikan jabatan. Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan.Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (1). Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5).doc 96 . dan/atau bentuk promosi lainnya. (2). 85955213. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau penghargaan. (2). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan.

(2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. dan/atau tingkat satuan pendidikan. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. nasional. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. pada tingkat Kabupaten/Kota. atau seni. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 85955213. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. teknologi. b. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. daerah perbatasan. c. kabupaten/kota. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi.(4). pada tingkat desa oleh pemerintah desa. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil.doc 97 . daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. daerah bencana. dan e. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. propinsi. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. daerah konflik.

baik perseorangan maupun kolektif. ayat (2). kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. berdedikasi. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik perseorangan maupun kolektif. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan b. atau hari besar lainnya. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 85955213. (3). (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. harganya lebih murah dari harga di pasaran. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. dilarang menjual buku pelajaran. 98 . kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. (2) Pendidik dan tenaga kependidikan.doc (2). Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. ayat (2). piagam. Pasal 156 (1).pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. ayat (3). (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hari Pendidikan Nasional. ayat (3). baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. ayat (4). kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. berdedikasi. Hari Guru Nasional.

dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. b. 85955213. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan.doc 99 . isi pendidikan/kurikulum. d. sosial. dan e. b.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. dan budaya. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. manajemen dan proses pendidikan.dengan peraturan perundang-undangan. keuangan. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. geografis. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. baik perseorangan maupun kolektif. c. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. dan ekologis. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. c. baik perseorangan maupun kolektif.

harus memenuhi persyaratan: a. 85955213. Pasal 161 (1). menyusun. pustaka. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. dan b. c. menyebarluaskan. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. memproduksi. tutorial. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.d. b. dan e. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a.doc 100 . Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. sumberdaya manusia untuk merancang. dan ujian secara elektronik. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan.

Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. SD. MI. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. Pasal 162 (1) Pendirian TK. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. MI. SMK.doc 101 . MA. satuan pendidikan khusus. MTs. SMP. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. MAK. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. MTs. atau bentuk lain yang sederajat. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. atau bentuk lain yang sederajat. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 85955213.d. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. atau bentuk lain yang sederajat. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2). oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. e. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. MA. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dan f. jenjang. (2) Izin pendirian RA. RA. SMA.

SMPLB. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. SMALB. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. TKLB. SDLB. 102 85955213. pindah satuan atau program pendidikan. pindah ke satuan atau program pendidikan. SMK/MAK. SMP/MTs. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a.doc . b. SD/MI. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. SMA/MA. b.

pengusaha. organisasi profesi. dan pengguna hasil pendidikan. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. keluarga.doc . Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. pelaksana. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. ayat (2). ayat (3). Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. kelompok. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 85955213. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1).

majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. dana. pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat.doc 104 . dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. d. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. pengawasan. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dan jenis pendidikan. kelompok. b. Pasal 169 c. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. jenjang. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. (2) (3) (4) Pasal 170 85955213. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. (1) Peranserta perseorangan. sumbangan dana.

doc (2) 105 . Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. lingkungan sosialekonomi. pendidikan sistem ganda. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. pengawasan. evaluasi. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. kelompok. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 85955213. lingkungan sosioekonomi. manajemen.(1) Peranserta perseorangan. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. Pasal 173 Kurikulum. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. pengelolaan. dan pembinaan satuan pendidikan. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang.

(2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. Bantuan teknis. dukungan tenaga.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. dalam proses perencanaan. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. subsidi dana. dalam proses perencanaan. dukungan tenaga. penyelenggaraan. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis.doc (2) (3) 106 . sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dan/atau bantuan asing. Pasal 176 85955213. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. penyelenggaraan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. dukungan tenaga. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. subsidi dana. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . subsidi dana. dalam proses perencanaan.

85955213. dan kabupaten/kota. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. saran. Dewan Pendidikan Nasional. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. maupun dengan lembaga pemerintahan. meninggal dunia. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. b. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. kepala satuan pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. pengusaha. atau 107 . tokoh masyarakat. Dewan Pendidikan Provinsi. praktisi pendidikan. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. mengundurkan diri.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. c. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. pada tingkat nasional. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. bendahara. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. (2) b. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. dan jenis pendidikan. c. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. dan ketua-ketua komisi. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). 2 (dua) tokoh masyarakat. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. Dalam melaksanakan tugasnya. 2 (dua) tokoh masyarakat. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. sekretaris. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal.d. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. jenjang. 85955213.doc 108 . Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. gubernur untuk tingkat provinsi.

Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. pertimbangan dan arahan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 85955213. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. evaluasi program pendidikan. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri.doc 109 . Setelah terbentuk kepengurusan. serta pengawasan pendidikan. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dukungan tenaga. sarana dan prasarana.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

85955213.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

85955213.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

85955213.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

85955213.doc

113

dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. dan diketuai oleh unsur masyarakat.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. atau media lain. dan 1 (satu) unsur . Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. 114 (3) 85955213. dan disebarkan kepada masyarakat.doc . brosur yang dicetak. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia.

baik perseorangan maupun kolektif. jenjang. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 85955213. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. dan jenis pendidikan.doc . dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. baik perseorangan maupun kolektif.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang menjual buku pelajaran.

oleh Pemerintah diduga meragukan. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. pendidikan dasar. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. jenjang. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (7) Pemerintah. menengah. oleh Pemerintah dipandang kredibel. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. 85955213. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya.doc 116 . oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. jalur. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Provinsi. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut.

i. dan/atau pemeriksaan terpadu. penyimpangan. mengevaluasi. pemeriksaan tematik. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. c.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. satuan pendidikan. badan hukum pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. meneliti. pemeriksaan khusus. e. b. dewan pendidikan. pemeriksaan investigatif. menguji. b. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. unit kerja di lingkungan Departemen. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. f. program pendidikan. komite sekolah/madrasah. j. menilai. k. memantau. menguji. l. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. Pemerintah Provinsi. mengusut. g. d. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.doc 117 . memeriksa. h. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. memeriksa. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. 85955213.

meneliti. komite sekolah/madrasah. d. mengusut. memantau. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. f. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. unit kerja di bawah gubernur. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 85955213. dan pendidikan nonformal. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. memeriksa. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. l.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. menguji. b. memeriksa. satuan pendidikan anak usia dini. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. j. mengevaluasi. ayat (2). pendidikan dasar. k. i. e. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan pendidikan nonformal. pendidikan menengah. menilai. h. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. menguji. penyimpangan.doc . b. c. pendidikan pendidikan menengah. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. dasar.

unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. mengevaluasi. f. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.doc 119 . pemeriksaan tematik. penyimpangan. atau m. memeriksa. dan pendidikan nonformal. h. dan/atau pemeriksaan terpadu. d. b. unit kerja di bawah bupati/walikota. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. ayat (2). dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. pemeriksaan khusus. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. memantau. pemeriksaan investigatif. meneliti. menguji. memeriksa. pendidikan dasar. e. pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal. dan objek yang diawasi. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. menguji. menilai. komite sekolah/madrasah. c. mengusut. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. g. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. satuan pendidikan anak usia dini. Menteri. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan.masyarakat dan/atau asosiai profesi. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. 85955213. sesuai Pemerintah Provinsi. b. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. penyelenggara pendidikan anak usia dini.

satuan pendidikan.i. mengevaluasi. program pendidikan pada satuan pendidikan. Menteri.ayat (2). c. e. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. gubernur. menilai. pemeriksaan tematik. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. f. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. penyelenggara pendidikan. (3) badan hukum pendidikan. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan objek yang diawasi. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 85955213. pemeriksaan khusus. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. b. g. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. dan/atau pemeriksaan terpadu. komite sekolah/madrasah. d. pemeriksaan investigatif. b. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. penyimpangan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. j.doc 120 . dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota.

dan/atau b. menteri. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. mengevaluasi. b. dinas yang kabupaten/kota. pelaporan. pelaksanaan. c. kabupaten/kota.doc 121 . menangani urusan pendidikan di b. dan c. Pasal 201 (1). badan hukum pendidikan. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. d. dan kabupaten/kota. (2). objek yang diawasi. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. tingkat nasional. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 85955213. gubernur. penyimpangan.a. untuk dewan pendidikan provinsi. b. program pendidikan bersangkutan. bupati/walikota. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. menilai. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. Pasal 200 (1). pada satuan pendidikan yang (3). satuan pendidikan yang bersangkutan.

26. dan Pasal 200. masukan dalam perencanaan pendidikan. 62. d. 28. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 68. 29. Pasal 198. (2). 74. 50. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). yang e. b. menilai kinerja objek yang diawasi. (2). 36. 64. 55. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. program pendidikan. Pasal 160. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. 98. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. 122 85955213. c.doc . Pasal 197. 30. 31. Pasal 159.pada Pasal 196. Pasal 161. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. 42. satuan pendidikan. Pasal 162. pembekuan. dan Pasal 163. 82. Pasal 199. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a.

62. 55. 142. penutupan. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 152. 82. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 31. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 144. program pendidikan. 130. 136. 42. 118. 142. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 118. pembekuan. 101. 126. 30. 28. 126. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 26. 161. 144. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 68. 139. 107. 161. 137. 138. 64. 130. 125. 160. 50. 160. 152. 140. melalaikan ketentuan ayat (1). dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 85955213. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 151. 108. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 136. 159. 140. 29. 139. 107. 137. 98.doc . 158. 36. 165 dan Pasal 164. 108. 165 dan Pasal 164. 157. 159. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 138. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 145.101. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 151. 125. 145. 158. pembekuan. 157. 74. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis.

Pasal 103. 85955213. atau organisasi. Pasal 105. dan Pasal 106. dan yang menangani pendidikan. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 206 Perseorangan. organisasi orang tua peserta didik. dan/atau penutupan oleh Menteri.doc 124 . Anggota komite sekolah/madrasah. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. skorsing. dewan pendidikan. pembekuan. kelompok. Pasal 205 (1). (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. institusi Pemerintah. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pembekuan.Pemerintah ini. (2).

dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pembekuan. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. pembekuan. penundaan kenaikan gaji berkala. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. pembebasan dari jabatan. organisasi. Pasal 30. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. memindahkan. (5) Seseorang yang mengangkat. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. pemberhentian dengan hormat. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 134. Pasal 139. Pasal 28.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 126. dan/atau penutupan satuan 85955213.doc (2) 125 . menempatkan. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 29. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. gubernur. penundaan kenaikan pangkat. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. Pasal 26.

penundaan kenaikan gaji berkala. 85955213.doc 126 . wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan pangkat. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pemberhentian dengan hormat. pembebasan dari jabatan.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya.

c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). 85955213. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. e. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95.doc . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763).BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. f. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69.. H. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR….....TAHUN 2007 85955213... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ...... Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115.. h. Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859). PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR.. Agar setiap orang mengetahuinya.. dinyatakan tidak berlaku. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.doc 128 ...Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91..... g. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974).

baik dilihat dari segi pasokan. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 85955213. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. proses. jenjang. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. tujuan. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. Oleh sebab itu. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. sarana dan prasarana..doc 129 . dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. peranserta masyarakat. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. manajemen. peserta didik. pengawasan. dan hasil pendidikan selalu berubah. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. bahasa pengantar. bentuk dan jenis pendidikan. syarat pendirian. Parameter kualitas pendidikan. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Perkembangan ini. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. masyarakat dan orang tua. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan.

pendidikan keagamaan. Pemerintah Kabupaten/Kota. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. Pendidikan Kedinasan. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. pendidikan jarak jauh. evaluasi. pendidikan menengah. 52.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. kurikulum. pengelolaan pendidikan. pendirian satuan pendidikan. pemerintah daerah. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. dan evaluasi yang transparan. akreditasi. pendidikan nonformal. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 85955213. dan sertifikasi. sarana dan prasarana pendidikan. peranserta masyarakat dalam pendidikan. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan.doc 130 . dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. pendanaan pendidikan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. Pasal 50. pengembangan tenaga kependidikan. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. pendidikan dasar. akuntabilitas. dan/atau masyarakat. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. pendidikan kedinasan. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. pendidikan dasar. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Provinsi. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. pendidik dan tenaga kependidikan. pengawasan. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. pendidikan informal. Wajib Belajar. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. pendidikan tinggi. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. dan ketentuan pidana. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. jaminan mutu. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. 51. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah.

Pendidikan anak usia dini (PAUD). Bagi anak yang memperoleh pendidikan. bencana sosial. jenjang. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. sikap. dan tidak mampu dari segi ekonomi. dan kabupaten. a. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. nilai-nilai. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. provinsi. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. pendidikan jarak jauh. pendidikan oleh negara asing. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. peserta didik. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik.doc 131 . 85955213. pendidikan nonformal dan informal. dan dari masyarakat. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. izin pendirian. Pendidikan dasar dan menengah. b. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. pendidikan bertaraf internasional.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. penghargaan pada keunikan setiap anak. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. pengutamaan pada kebutuhan anak. pendidikan berbasis keunggulan lokal. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. bentuk satuan pendidikan. untuk. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma.

doc 132 . Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. di semua bidang ilmu pengetahuan. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. c. tetap besar. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). pendidikan kesetaraan. pendidikan anak usia dini. pendidikan kepemudaan. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. pendidikan pemberdayaan perempuan. kursus dan pelatihan. d. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. dan/atau vokasi. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Disamping itu. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. pendidikan keaksaraan. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 85955213. Pendidikan tinggi. profesi. teknologi dan/atau seni . Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. serta ilmu agama. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat.

dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. informasi. tingkat laju pertumbuhan penduduk. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga.doc 133 . dan media lain. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. (c) relevansi. 85955213. relevansi. Kondisi geografis. dan (d) efisiensi. nilai budaya. dan informatika (telematika). Dalam era globalisasi. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. perhatian. mutu. distribusi bahan ajar mandiri. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. minat. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. e. tingkat dan jenis pendidikan.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. tutorial. (b) peningkatan mutu. dan efisiensi pada semua jalur. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. tantangan globalisasi. waktu. psikologis. dan bakatnya. f. Pendidikan jarak jauh. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. Oleh karena itu. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. perkembangan teknologi komunikasi. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. media.

nonformal.doc 134 . Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. Selain itu. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. 85955213. (c) penyelenggaraan tingkat khusus.

serta menunjang pelestarian. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. dan promosi keunggulan lokal. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. dan seni. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian.doc 135 . Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Lembaga pendidikan asing 85955213. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain.g. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. pengembangan. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. teknologi. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. h. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. pengembangan.

dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. penempatan. penyebaran. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. pengembangan. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. j. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. melakukan pembimbingan dan pelatihan. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. pengalaman. pengawasan. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 85955213. Pendidik dan tenaga kependidikan. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. pengelolaan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. keterampilan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. kemampuan. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama.doc 136 . Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. pendidikan kewarganegaraan. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. i. Pengangkatan. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. menilai hasil pembelajaran. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. pengalaman. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat.

dan dari masyarakat. konvensi internasional. 85955213.doc 137 . Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. Pasal 3 Cukup jelas. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. untuk. provinsi. Pasal 2 Cukup jelas. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. Pasal 4 Cukup jelas. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. II. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas.

seni kinestetik. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. psikososial/kepemimpinan.doc 138 . Pasal 10 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. kreatif produktif. Cukup jelas Huruf b. dan psikomotorik/olahraga. Cukup jelas Huruf d. akademik khusus. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas 85955213. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas.doc 139 . Huruf f. Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf g. Ayat (2) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. 85955213. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas.Huruf e. Cukup jelas Huruf i.

Cukup jelas Huruf f. Cukup jelas Huruf l. Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf k. Ayat (2) Huruf a.doc 140 . Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf c. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. 85955213. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf b.

Pasal 23 Cukup jelas. proses. Pasal 20 Cukup jelas. tenaga kependidikan. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. kompetensi lulusan. sarana dan prasarana. pengelolaan. pembiayaan.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. Pasal 22 Cukup jelas. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 85955213.doc 141 . Pasal 21 Cukup jelas.

Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 85955213. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.doc 142 . maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.

Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Pasal 33 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). dan Adi Sekha. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas.doc 143 . Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 85955213. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas.

sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. Ayat (2) Huruf a. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. mendengarkan. Huruf c. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. tidak memaksa. 85955213. RA. RA. baik di dalam maupun di luar sekolah. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. Ayat (3) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. MI.doc 144 . pramembaca. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. RA. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. Huruf b.

Ayat (3) Cukup jelas. Madyama Vidyalaya (MV). RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan teman. Pasal 38 Cukup jelas. pendidikan diniyah dasar. Huruf e. dan Majjhima Sekha. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. olahraga dan kesehatan pada TK. Program pembelajaran jasmani. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. 85955213.doc 145 . Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B.Huruf d. dan Culla Sekha. pendidikan diniyah menengah pertama. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. Program pembelajaran estetika pada TK. Ayat (7) Cukup jelas. saudara. Adi Vidyalaya (AV).

sejauh daya tampung memungkinkan. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 85955213. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas.Ayat (2) Cukup jelas.doc 146 . Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

bidang kejuruan dan program kejuruan. Utama Vidyalaya (UV). Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Pasal 43 Cukup jelas. dan Maha Sekha. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan.tinggal ke satuan pendidikan. Pasal 45 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Struktur penjurusan ini akan menentukan 85955213. Ayat (5) Cukup jelas.doc 147 . Pasal 44 Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. regional dan global. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. Ayat(3) Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 85955213.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat(2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.doc 148 . Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).

Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. Pasal 51 Cukup jelas. dapat mencakup program spesialis. Ayat (5) Cukup jelas. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ayat (7) Cukup jelas. 85955213. Ayat (8) Cukup jelas. dan/atau seni tertentu. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. magister. yang mencakup program sarjana. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. teknologi. dan doktor. Ayat (6) Cukup jelas.doc 149 .

dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. kopetensi kepribadian. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. Pasal 53 Cukup jelas. kompetensi kepribadian. kompetensi pedagogik. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI.doc 150 .Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Ayat (3) Cukup jelas. diploma II. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. dan/atau seni). setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. diploma III. teknologi. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. 85955213. teknologi. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. dan diploma IV. Penguasaan kompetensi pedagogik.`teknologi. yang mencakup program pendidikan diploma. dan kopetensi sosial dalam satu program studi.

Ayat (2) Cukup jelas. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. pusat komputasi pengajaran. laboratorium pengajaran. Pasal 59 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. dan akses internet. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. akses internet. Pasal 60 Cukup jelas. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan.Pasal 56 Cukup jelas. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Pasal 61 Cukup jelas. 85955213. pusat komputerisasi riset. Pasal 62 Cukup jelas. Misalnya. laboratorium riset. Ayat (4) Cukup jelas.doc 151 . dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian.

atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. Ayat (2) Cukup jelas.doc 152 . 85955213. Huruf b. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Ayat (4) Cukup jelas. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Misalnya.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. daerah. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik.

beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 85955213. dan psikomotorik. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.doc 153 . Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Ayat (8) Cukup jelas. afektif. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif.

Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 69 Cukup jelas. 3 jam kegiatan terstruktur. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Ayat (2) Cukup jelas. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka.dalam satuan kredit semester (sks). Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas.doc 154 . Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. Pasal 70 85955213. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka.

Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar.doc 155 . Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Pasal 71 Cukup jelas. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (9) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). 85955213. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Ayat (2) Cukup jelas.

tenaga ahli dari organisasi profesi. Ayat (3) Cukup jelas. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 85955213. Ayat (6) Cukup jelas. atau pakar dari luar negeri. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. 4. Ayat (4) Cukup jelas. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas.doc 156 . Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. b. 2. 3. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. dan c.

Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Pasal 78 Cukup jelas. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 76 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama.doc 157 . Atas dasar hasil akreditasi. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 85955213. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 77 Cukup jelas. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 79 Cukup jelas. 5.

dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. 85955213. Pasal 82 Cukup jelas. Taman Balita. Ayat (4) Cukup jelas. penambah. adalah: Program Paket A setara SD. Taman Bermain. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. Ayat (2) Cukup jelas. Program Paket B setara SMP. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. Ayat (2) Cukup jelas. Taman Asuh Anak Muslim.doc 158 . dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Ayat (3) Cukup jelas. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan.kepegawaian pegawai negeri sipil. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ).

kecakapan dalam menghadapi tantangan 85955213. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. Pasal 85 Cukup jelas. percaya diri. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 89 Cukup jelas. Pasal 87 Cukup jelas. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik.doc 159 . Pasal 86 Cukup jelas. kecakapan dalam melakukan koreksi diri. Pasal 90 Cukup jelas. Pasal 88 Cukup jelas.

doc 160 . Ayat (2) Cukup jelas. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. mengelola pekerjaan. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. bermasyarakat. Ayat (3) Cukup jelas.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. berpikir kritis dan kreatif. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. Ayat (3) Cukup jelas. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Pasal 92 Cukup jelas. empati atau tenggang rasa. Ayat (4) 85955213. berbangsa. dan bernegara. kecakapan bekerjasama dengan sesama.

Pasal 94 Cukup jelas. Pasal 95 Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ayat (5) Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 99 85955213.Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.doc 161 . Ayat (4) Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI.

Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 85955213. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 100 Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain.Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas.

Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. teknologi kokunikasi. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 85955213. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Contoh. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. dan media lain.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. informasi. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka.doc 163 . Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran.

dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). jenjang. dan universitas maya (cyber university). Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. dan University on the Air di China. jenjang. Ayat (5) Cukup jelas. jenjang. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand.pada berbagai jalur. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 85955213.doc 164 . Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. dan jenis pendidikan. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. dan jenis pendidikan. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. Ayat (3) Cukup jelas. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh.

mental.doc 165 . dengan cara menyediakan sarana. Pasal 107 Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. tenaga pendidik. Pasal 108 Cukup jelas. Pasal 110 Cukup jelas. tenaga pendidik. dan sosial. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.pendidikan tinggi. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. emosional. Pasal 109 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. dengan menyediakan sarana. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 85955213. Pasal 111 Cukup jelas. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan.

Pasal 117 Cukup jelas. 85955213. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi.doc 166 . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.kebutuhannya. Pasal 114 Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas.

Pasal 121 Cukup jelas. spiritual. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). huruf b Cukup jelas. Pasal 122 Cukup jelas. dan kinestetik. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem.doc 167 . emosional. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. Pasal 119 Cukup jelas. 85955213. huruf c Cukup jelas. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 128 Cukup jelas.doc 168 . teknologi. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. 85955213.Pasal 123 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas.

Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.Pasal 131 Cukup jelas. 85955213. Pasal 133 Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 134 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.doc 169 .

doc 170 . Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. tunjangan. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 85955213. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. pembelajaran.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Pasal 137 Cukup jelas. Pasal 138 Cukup jelas. Ayat (3) Huruf a. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Huruf b. Cukup jelas. serta penghasilan lainnya. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Huruf c. Ayat (2) Cukup jelas. penilaian. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu.

Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Huruf f. Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf g. Pasal 140 Cukup jelas.doc 171 . Pasal 141 Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Huruf d. Huruf i. 85955213. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Huruf h. Cukup jelas. Huruf e.

atau bentuk lain yang sederajat. huruf c. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. huruf g. Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. MTs. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara.huruf b. Cukup jelas. huruf e. 3) 4) huruf f. huruf d. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. Peserta didik pada SD. 85955213. huruf h. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. Ayat (3) Cukup jelas. MA. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. SMK.doc 172 . MI. Cukup jelas. SMP. Peserta didik pada SMA.

dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. tutor penanggung jawab tingkat . Huruf d. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Cukup jelas. Huruf g. Huruf b. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 146 Cukup jelas. paket B. Huruf h. Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. dan paket C antara lain nara sumber teknis. dan penguji. 85955213. Huruf c.Pasal 145 Cukup jelas. Huruf e. pembimbing. Cukup jelas.doc 173 . Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. pelatih atau instruktur. Cukup jelas. Huruf f.

Pasal 151 Cukup jelas.Huruf i. Pasal 153 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 85955213. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 154 Cukup jelas.

program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. 85955213. Pasal 162 Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 164 Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 158 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a.doc 175 . Pasal 160 Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. Ayat (3) 85955213. Peserta didik TK/RA. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. SMP/MTs. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Ayat (2) Cukup jelas. SMA/MA. Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf b. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. Huruf b. SD/MI. Ayat (2) Huruf a. dan SMK/MAK. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. nonformal.doc 176 .

Persatuan Guru Republik Indonesia. Pasal 170 85955213. Pasal 169 Cukup jelas. Pasal 167 Cukup jelas. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Majelis Nasional Pendidikan Katolik.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.doc 177 . Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Ayat (5) Cukup jelas. Ma’arif-NU. dan sejenisnya. Majelis Pendidikan Kristen. Ayat (3) Cukup jelas. dan sejenisnya.

Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. Pasal 171 Cukup jelas. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Pesantren. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. Ayat (2) Cukup jelas. MTs.Ayat (1) Cukup jelas. Pabbajja 85955213. dan sosio-kultural sekaligus. MA. sosioekonomi. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta.doc 178 . atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu.

doc 179 . Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan bentuk lain yang sejenis. tukar-menukar informasi. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 174 Cukup jelas. Pasal 178 85955213. dan sosio-kultural setempat. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pasal 175 Cukup jelas. Pasal 173 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. potensi. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Ayat (2) Cukup jelas. dan keadaan sosio-ekonomi.Samanera. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul.

dan kabupaten/kota. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). media elektronik. Komisi Pendidikan Kedinasan. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Ayat (2) Cukup jelas. provinsi. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Ayat (4) Cukup jelas. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. 85955213.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. dan media lainnya.doc 180 . Ayat (2) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Keagamaan. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas.

Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. 85955213. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 183 Cukup jelas. Pasal 182 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.doc 181 . Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Pasal 181 Cukup jelas. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. menggantikan keberadaan BP3. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas.

program pendidikan nonformal. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan unsur . SMP. Komite Pendidikan Nonformal. dan SMK. atau RA. satuan pendidikan keagamaan. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. SMA. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas. 85955213. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. Ayat (3) Cukup jelas. dan MAK. SD.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. atau berbeda seperti TK. MI.doc 182 . maupun oleh masyarakat. MTs. tukar-menukar informasi. atau karena pertimbangan lain. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. MA.

dan jenis pendidikan.Pasal 185 Cukup jelas. akademik. jenjang. dan jenis pendidikan. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. Pasal 191 Cukup jelas. pemerintah daerah. kejuruan. lembaga pemerintah non-departemen. maupun masyarakat. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 187 Cukup jelas. Pasal 189 Cukup jelas. profesi. Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 192 Cukup jelas. Pasal 190 Cukup jelas. vokasi.doc 183 . dan khusus pada semua jalur. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. jenjang. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Ayat (3) 85955213. Pasal 186 Cukup jelas.

doc 184 . Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 85955213. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas.

h. h. i. g. j. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. j. k. k. g. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. i. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. l. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. f. Pasal 199 85955213. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas.doc 185 . dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. i. l. Ayat (4) Cukup jelas. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. program pendidikan. dan/atau satuan pendidikan. Pasal 201 Cukup jelas. b.Cukup jelas. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. jurusan. c. badan hukum pendidikan. Ayat (4) 85955213. dan/atau fakultas. e. melaksanakan f. program studi. Pasal 200 Cukup jelas.doc 186 . d. unit-unit dharma perguruan tinggi. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. lembaga penelitian atau pusat studi. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Pasal 202 Cukup jelas.

Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Pasal 205 Cukup jelas. Pasal 211 85955213. Ayat (5) Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. penempatan. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Ayat (3) Cukup jelas. pemindahan. Ayat (2) Cukup jelas.doc 187 .

Pasal 216 Cukup jelas... Pasal 213 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 212 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas. 85955213. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .

.............................. efektifitas.......................................7 Bagian Kedua.......................................................................................................................................................................................................................................................Badan hukum pendidikan......................................................................................................................................................Pemerintah provinsi...Departemen Agama..........................................8 Pasal 4........................................................................................................................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...........................................................................................................7 Pasal 2.7 Pasal 3....2 Pasal 1.......................................................................................................................................................DAFTAR ISI BAB I........................................................................................12 f.............................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.......................................................................................................................................9 Pasal 10......................................................................................................................................12 Bagian Ketiga.......................................................................................7 Bagian Kesatu.................................12 Pasal 15 ..........................................................................................................15 Pasal 23......................................................................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan...............12 Pasal 16.......................................... dan 85955213....................................................................................................... dan............................2 KETENTUAN UMUM.........................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi...................................................................Departemen..........................................12 e.....Program dan/atau satuan pendidikan.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.....................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah.............................................2 BAB II..........................................................12 c............................Pemerintah kabupaten/kota..........................8 Pasal 5......7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN.............................................................................................. ...........................................................................................................................................11 Pasal 13......................................................................................................................12 b................................................................10 Pasal 12...............................................................................................................................................................................................................................................................................................doc i .............................................7 Umum..............................................................................................................................................................12 g...................................... efektifitas......................................................................12 a.......................12 d.........................................................................................................13 Pasal 22...................................................................12 Pasal 14..........................

......................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:............21 Pasal 34..............................................................................................................................................................24 Pasal 42......24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...........................................................................................................................25 Pasal 45................................................21 Bagian Kelima............................................................................................17 Pasal 26............................................30 Pasal 54 ......................21 Pasal 35...............30 Paragraf 2.......................................................................................................................................................................................doc ii ..25 Pasal 44 ......................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...............................................................................................16 Pasal 24...................................16 Bagian Keempat................................................................................................22 Pasal 41....25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan....................................................................................................... efektifitas...........................................................................................................................17 Pasal 25........................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL................................30 Pasal 53 .............................................................30 Bagian Kesatu.............................................................................................................................................................................................................................................................................20 Pasal 33......17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota...................................................................................................................................................................................................................................................... efektifitas..............................................................18 Pasal 32...................................................................................................................................................................................................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini..........................................................................................................................................27 Pasal 50....................................................25 Bagian Keenam....................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan..............24 Pasal 43...........................................................................................................................................................................................................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:......................................................................................................................................................29 Pasal 52......................................................................................................30 Paragraf 1...........................................................................................................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ......................................................................28 Pasal 51..........29 BAB III................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.............................................................30 Fungsi dan Tujuan............... efektifitas..............................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:......................................................................................21 Pasal 36..30 85955213............................................................

....................40 Fungsi dan Tujuan..............................................................................................................................................................................................................................................................................................36 Bagian Ketiga..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................39 Pasal 72........................40 Pendidikan Tinggi.................37 Bentuk Satuan Pendidikan...........32 Fungsi dan Tujuan.............................................................................37 Pasal 68 .......................................................................................................................................................................39 Pasal 71........................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik......................................................................................................33 Pasal 60 ..................................................31 Bagian Kedua........................................................................................................40 Bagian Kempat.....31 Program Pembelajaran...........36 Pasal 66...................................................................................................................36 Paragraf 1....................................doc iii ........................................................................................................................................................33 Pasal 59 .........................................36 Fungsi dan Tujuan..............................33 Bentuk Satuan Pendidikan........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Paragraf 3 ..................................31 Pasal 57 .........................................................................................................................................................31 Pasal 56 ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................32 Paragraf 1..............................................34 Pasal 64 ........32 Pasal 58.........31 Penerimaan Peserta Didik...................41 85955213................................................................................................................................................33 Pasal 63............................................................36 Pendidikan Menengah.................................................................................................................................................32 Pendidikan Dasar......................31 Paragraf 4............................................................................................................................40 Paragraf 1...........34 Pasal 65............................................................................................................................36 Paragraf 2...............................................................................................................................................................................33 Paragraf 3..........................31 Pasal 55 .........................................................................................................................................................................41 Pasal 73...................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik..38 Paragraf 3...............................................................................................32 Paragraf 2...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................37 Pasal 69.......................................................................................................................................................................................................

...................................doc iv ..............................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan................................................................................................41 Organisasi Perguruan Tinggi..............................................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:..............................................................................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.....................................................................................................................................................................42 Pasal 79.....................................................41 Jenis.......................................................................................................................................................................46 Pasal 87 .....................................................................................................45 Pasal 84...................44 Pasal 81....................................................................... Bentuk................................................................................ dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 85955213.............................................................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen................................................................................................................................. .............................................41 Pasal 74..48 a...........................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi......................................................42 Pasal 77......................................................................................................................................................................................48 c.......................46 Sistem Pembelajaran..................................................................................................43 Paragraf 3.................................................. mengawasi........................41 Paragraf 3............................ dan Program Pendidikan............................................................................................................................................................42 Pasal 75 ...............................................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran..............................46 Paragraf 4....................................47 Pasal 89.......................................46 Pasal 86............................................Paragraf 2...................................44 Pasal 80....................................................................................44 Penerimaan Mahasiswa ........................................................................................................................47 Pasal 88................................................48 b........................................................................................................................................................................

............................................................................................................................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar.......................................................................................51 Pasal 94.............................51 Penelitian............................56 Pasal 82................................................................................51 Pasal 93....48 Pasal 90.....54 Pasal 95........................................................55 Pasal 97....................................................................54 Paragraf 8.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 85955213......... Pasal 82 ayat (2)...........................................................................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen...........................................................55 Pengalihan Kredit .........................................56 Pasal 81....................................................................................................51 Paragraf 6......doc v ........................................................................................59 Bagian Kesatu...........................................................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan...................................59 BAB IV.................................................................58 Bagian Kelima........................................................................55 Pasal 99.............................................................................................49 Pasal 92................................................49 Pasal 91...........................................................................................................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL ...........57 Pasal 83.............................................................................................................................................55 Pasal 96..................................56 Paragraf 10....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................55 Paragraf 9..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Penjaminan Mutu..............................................................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan...............................................................................................................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan....................................................................................................................................................48 Paragraf 5.....................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi....................................................................59 Pasal 85.........................................58 Pasal 84...........................53 Pengabdian kepada Masyarakat.........................................

...................................................................................64 Paragraf 5....................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan......................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Pasal 87.................................................................................................................................................................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan.............................62 Pasal 92.................................62 Pasal 94...............................60 Pasal 88.......................................................................62 Bagian Ketiga...........................................................................................................64 Paragraf 4........................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pasal 95............................................................................................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 1...................................................................................................................60 Paragraf 1...................................................................................................................65 Paragraf 6....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Pasal 86.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................61 Pasal 91................................................................................................................................................................................................................................................................60 Bagian Kedua..............................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat..............................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan ...................................................................................................................................65 85955213.................................61 Majelis Taklim..............62 Program Pendidikan ............................................................62 Pasal 93 .................64 Pasal 97.....................................................................................62 Paragraf 2.................................................................................................................................................................................61 Paragraf 5............................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ..............61 Paragraf 3..................................................61 Pasal 90.....................................................................................................................................61 Kelompok Belajar ..........................................................................................60 Paragraf 2...............................................................................................................................................61 Pasal 89..................................................doc vi ..............61 Paragraf 4...........................................................................................................63 Paragraf 3..........................62 Pendidikan Kecakapan Hidup............63 Pasal 96.............Fungsi dan Tujuan ....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ..................65 Pasal 98....65 Pendidikan Keaksaraan......................................................................................

...................................72 Pasal 113...................................................................................................................................................................72 Pasal 115............................................65 Paragraf 7......................................................................................................................................68 Pasal 104...................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Bagian Kesatu.........................................66 Pasal 101.................................................67 Pasal 102.........................................................................................................71 BAB VII.......................................................................72 Pasal 114.................................................................................67 Pasal 103...................69 Pasal 108...............69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH..........doc vii ................68 Pasal 105..........................................................................................66 BAB V...........................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 119............70 Pasal 110.................................................72 Pasal 112...........................................................................69 Pasal 106.........................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan.................69 Pasal 107..............................66 Pasal 100.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Bagian Ketiga (keempat)........72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan..................................................70 Pasal 109...................................................................................................Pasal 99.............................................................................................................................................................................................72 Pasal 116.................................................................................................74 85955213...................................................................................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan.................................................................................74 Paragraf 2....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Umum..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................69 BAB VI..........................................................72 Bagian Kedua...............................................72 Paragraf 1.....................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN.....71 Pasal 111................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus..................................................................................73 Pasal 117............................................................................................................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 118.............................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS....................................................

........................................................................................................................................................................................................84 Pasal 133...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki .........................................................76 Pasal 121........................................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK....................................................................................................78 Pasal 125...........................................................89 Pasal 142..................................................................................................85 Pasal 135...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................89 Pasal 143.80 Pasal 128...................................................................................75 Pasal 121..........................................................................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa..................................................................................................................................................................................................................................................................................................76 Bagian Ketiga.......................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN..................................................................78 BAB VIII................................................................................................................................................77 Pasal 124.........................................................................................................................................................................................................87 Pasal 141......89 85955213.............78 Pasal 126............................89 BAB X....................................................................85 Pasal 136......................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ............................................................................................84 BAB IX.............................................................................................................................................77 Pasal 123.........................................................................84 Pasal 134.....75 Pasal 120.........................................................................85 Pasal 138........................................................................................................................................................................................................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus..............................................................................................................................................82 Pasal 130...................................................76 Pasal 123....................................83 Pasal 132.............................................................................................................................................................................................................................................82 Pasal 129...................................83 Pasal 131......................................................................86 Pasal 139..........................................................................................................................................................................................................75 Pasal 122.....................................................................doc viii .86 Pasal 140...78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL.........................................................................................................................................................................................................................76 Pasal 122.....................79 Pasal 127..........................................................................................................................................................................................................................................

...............................................................................93 Bagian Kedua........................................................................................97 Pasal 155.................................................................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN...............................................................................................................................................101 Pasal 163...................................95 Pasal 150.................................................................... dan Pemberhentian ...............................................................................................................101 BAB XIII....................................................................................96 Paragraf 2....... dan Penghargaan ....................................................................................................................................................................................99 Pasal 158.....................96 Promosi dan Penghargaan..............................................................................................90 Pasal 146......................................................................Pasal 144......................................................................................97 Pasal 156............................................96 Pasal 154..............................................................................93 Pasal 149.............................................................................................................................................................................92 Pasal 148...........................................................................................................................98 BAB XII.......................................................................................................................................................................91 BAB XI..................96 Pembinaan Karir...............................96 Paragraf 1..............................................98 Pasal 157 ..........................................................................................................98 Bagian Keempat..................96 Pembinaan Karir......................................98 Larangan.............100 Pasal 162..........................................................................96 Pasal 153.....................................doc ix ......................................................................................................................................................................................................................................................95 Pengangkatan.........................................................................................................................................................................................................................................................95 Pasal 151......................................................................... Tugas.92 Pasal 147.....................................................................................................................................................................................................................................................96 Pasal 152...........................................................................................................100 Pasal 161.....................................................................................................................................................................................................................92 Jenis.................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN..............................................................................................................................89 Pasal 145 . Pemindahan.................................................................................................................................... Penempatan....................................................99 Pasal 159.................................................................................................................................................................101 85955213................................................................................................................................................................................................................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN..............101 Pasal 164.................................................. dan Tanggung Jawab...............................92 Bagian Kesatu...........95 Bagian Ketiga..................................................................................................................................................... Promosi......................................................................................................................................................................................100 Pasal 160..............................................................

..........................................................................................................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah...........................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 175.........................................................110 Pasal 184...104 Pasal 171.........................................................................................................................................................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat............................................................................103 Pasal 169...................103 Pasal 168................................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................105 Pasal 174........................................................................................110 Pasal 185......................103 Bagian Kesatu.......................................................................................................104 Pasal 170...............................102 Pasal 166........................................................112 Pasal 186..............................107 Pasal 179........106 Bagian Keempat...................................................................................106 Pasal 176..............................................................................110 Paragraf 1..............................103 Pasal 167............................................................................................105 Bagian Ketiga........112 Paragraf 3.....................................................................................................doc x ....................................................109 Pasal 183...................Pasal 165.................................................................................................................................................................................................110 Bagian Kelima......................112 Persyaratan Anggota....................................................................................................................................................................................................................................................................................112 Keanggotaan................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT...........................................................................................................................................................103 Bagian Kedua..........................................................................................................................................................................................................................................108 Pasal 181........................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 177..................................................109 Pasal 182..............................................................................................107 Pasal 178...106 Dewan Pendidikan...................................................................................................................................................111 Paragraf 2.............103 Komponen Peranserta Masyarakat.................................................................................................................................................................................................................................................................................108 Pasal 180.............................................................112 85955213.......................................102 BAB XIV........................................................................................................................................................................................105 Pasal 172.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Fungsi ..............................................................................................

................................................................................................................................................................................123 Pasal 205............................................118 Pasal 198.................124 Pasal 207...............................................................................................................................112 Paragraf 4.....................................122 Pasal 203.................................................113 Paragraf 6...............................124 Pasal 208............................................................................................................113 Pasal 189...............................................................................................Pasal 187...................................................................................................115 BAB XV.....................................114 Bagian Keenam..................115 Pasal 193.....................................................................................................................................................................................................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan.................................................................................................................................117 Pasal 197.......115 Larangan..........................................................................................................................................................................121 Pasal 201...........................................................................................................................................................119 Pasal 199.......................120 Pasal 200....................................................................................................................................................125 Pasal 212.......................126 85955213................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................122 Pasal 204.124 Pasal 209.............................................................................125 Pasal 210...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................116 Pasal 196..........................................................................................................................................................................................................doc xi ..........................................................................................................................................................122 SANKSI...............................113 Pasal 188.......................................................................115 Pasal 192..........................................................................................................................................................116 Pasal 195............................................................................115 Pasal 194....................114 Pasal 191........................115 PENGAWASAN..............................114 Pasal 190...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................126 Pasal 213..............................................122 Pasal 202.............................................................113 Paragraf 5........................121 BAB XVI.......................................................................................................................................................................................113 Mekanisme Pemilihan......................................................................124 Pasal 206...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................125 Pasal 211.....................................................................................................................................................................................................114 Pendanaan.......................................................................................................................

................................................................................................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP....................BAB XVII.............................................................................126 KETENTUAN PERALIHAN.........................................................................126 Pasal 214 .......................................................................................................................................................................................126 Pasal 215.............................................127 Pasal 217...............................................128 PENJELASAN.......................................................................................................................129 85955213.....................................................................................................................................................................................126 BAB XVIII..............................................................................................................127 Pasal 216...127 Pasal 218................................................................doc xii .....................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful