RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MADIUN,

Menimbang

:

a. bahwa dengan semakin berkembang serta meningkatnya kegiatan usaha Telekomunikasi sejalan dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan fasilitas telekomunikasi di wilayah Kota Madiun, telah mendorong peningkatan Pembangunan Menara Telekomunikasi dan berbagai sarana pendukungnya; b. bahwa untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan masyarakat serta untuk mencegah terjadinya pembangunan dan pengoperasian menara telekomunkasi yang tidak sesuai dengan kaidah tata ruang, lingkungan dan estetikamaka perlu dilakukan pengendalian terhadap menara telekomunikasi oleh Pemeritah Daerah; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai mana dimaksud dalam huruf a dan b maka perlu membentuk peraturan daerah tentang Pengendalian/Pengelolaan Menara Telekomunikasi.

Mengingat

:

1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah- Daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 45); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

1

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 139. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4422) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59. 5. 7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. 13. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059). Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 15. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik 2 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725). 9. 14. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851). 11. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4252). 10. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400). 12. 8. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 130. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68.3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33.

21.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103). Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 108.Nomor 3/P/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi. Menteri Pekerjaan Umum. 23.Kominfo/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi. 15.... Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri.. 3 . 19.Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838).. 24. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 02/PER/M. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4106). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Nomor 59 Tahun 2007.. 20. 16. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3981).KOMINFO/03/2009. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 77. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21.. 17.. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 10 Tahun 2005 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Telekomunikasi.... Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 14. 22... Nomor 7/PRT/2009. Peraturan Daerah . Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 18 Tahun 2009.... Nomor 19/M. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 48). Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 49 Tahun 2000 tentang Keselamatan Operasi Penerbangan. 25. 18.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578).

Penyelenggara Telekomunikasi adalah perorangan.Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA MADIUN dan WALIKOTA MADIUN MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. tulisan. 7. menyediakan serta menyewakan menara telekomunikasi untuk digunakan bersama oleh penyelenggara telekomunikasi. 9. Penyelenggaraan Telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan pelayanan telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi. isyarat. koperasi. 6. instansi keamanan negara yang telah mendapatkan izin untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi. 5. memiliki. Pejabat adalah pegawai negeri yang ditunjuk dan diberi tugas tertentu di bidang pengendalian/pengelolaan menara telekomunikasi di Kota Madiun sebagaimana mestinya. 8. Daerah adalah Kota Madiun. Pejabat yang ditunjuk adalah Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Madiun. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Madiun. instansi pemerintah. atau sistem elektromagnetik lainnya. Walikota adalah Walikota Madiun. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran. pengiriman dan/atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda. radio. optik. gambar. jaringan telekomunikasi dan telekomunikasi khusus. 10. 4. badan usaha milik negara. badan usaha milik daerah. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika adalah Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Madiun. 3. suara dan bunyi melalui sistem kawat. 2. 4 . Penyedia Menara adalah badan usaha yang membangun. badan usaha swasta.

Surat Ketetapan Retribusi Daerah. 5 . keselarasan dan keserasian. 18.11. meliputi Warung Telekomunikasi (Wartel) dan Warung Internet (Warnet). 15. b. Izin Mendirikan Menara yang selanjutnya disebut IMB Menara adalah Izin Mendirikan Bangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 13. adalah jumlah biaya retribusi pemberian izin penyelenggaraan menara telekomunikasi yang dibayarkan kepada Pemerintah Kota. adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda 20. 12. kaidah tata ruang. c. adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang. Menara bersama adalah menara telekomunikasi yang digunakan secara bersamasama oleh operator penyelenggara telekomunikasi. Surat Tagihan Retribusi Daerah. d. 17. Jasa telekomunikasi adalah layanan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi dengan menggunakan jaringan telekomunikasi. yang selanjutnya disingkat STRD. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi yang selanjutnya disingkat RPMT. yang berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali. yang selanjutnya disingkat SKRD. Izin Gangguan adalah pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau badan usaha di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Pengendalian menara berlandaskan asas : a. 19. Pengelola Menara adalah badan usaha yang mengelola atau mengoperasikan menara telekomunikasi yang dimiliki oleh pihak lain. kerugian dan Izin Gangguan tidak termasuk tempat usaha /kegiatan yang lokasinya telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah. 14. Rekomendasi Operasional Pengendalian Menara Bersyarat adalah rekomendasi yang diterbitkan oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Madiun yang memberi hak dan kewajiban kepada pemohon untuk mengoperasikan menara telekomunikasi yang telah ada/akan dioperasionalkan dalam wilayah daerah. Menara Telekomunikasi adalah bangunan yang berfungsi sebagai penunjang jaringan telekomunikasi yang didesain dan bentuk konstruksinya disesuaikan dengan keperluan jaringan telekomunikasi. 16. kemanfaatan keberlanjutan. keselamatan.

(2) Permohonan rekomendasi peruntukan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diajukan kepada Walikota melalui Instansi yang membidangi tata ruang dengan melampirkan: a. izin mendirikan bangunan menara. denah lokasi (3) Rekomendasi peruntukan ruang diterbitkan berdasar penetapan zona pembangunan menara telekomunikasi yang ditetapkan oleh Walikota. Pasal 5 (1) Pembangunan menara dilaksanakan dengan memperhatikan ketersediaan lahan. (2) Menara dapat didirikan di atas permukaan tanah maupun pada bagian bangunan gedung. d. keamanan dan kenyamanan warga. kesehatan. mengatur/mengendalikan pembangunan menara. efisien. Penyedia Menara wajib: a. b. fungsional. BAB III PERIZINAN PEMBANGUNAN MENARA Pasal 4 (1) Pembangunan menara harus didasarkan pada adanya: a. estetika.e. rekomendasi peruntukan ruang. titik koordinat b. dan selaras dengan c. efektif. 6 . mewujudkan menara yang lingkungannya. mewujudkan kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan menara. (4) Permohonan Izin Mendirikan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur dalam Peraturan Daerah tentang Izin Mendirikan Bangunan. Pasal 3 Pengaturan pengendalian menara bertujuan untuk : a. dan f. b. serta kesinambungan dan pertumbuhan industri. (3) Dalam hal menara didirikan pada bagian bangunan/gedung. mempertimbangkan dan menghitung kemampuan teknis bangunan. adil dan merata. dan kenyamanan. kepastian hukum. mewujudkan tertib penyelenggaraan menara yang menjamin keandalan teknis menara dari segi keselamatan.

(5) Peraturan mengenai menara yang diperuntukkan untuk jasa pelayanan internet maupun warnet diatur lebih lanjut dalam Peraturan Walikota. c. struktur menara. b. (4) Dalam hal Penyedia menara bukan penyelenggara telekomunikasi. tidak melampaui ketinggian maksimum selubung bangunan gedung yang dizinkan. penyelenggara telekomunikasi. keselamatan dan kenyamanan pengguna bangunan gedung sesuai persyaratan keandalan bangunan gedung. (3) Penyediaan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pembangunannya dilaksanakan oleh Penyedia jasa konstruksi. rangka struktur menara e. (2) Sarana pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengelola menara atau penyedia jasa konstruksi yang membangun menara merupakan perusahaan nasional. 7 . dan d. tempat/space penempatan perangkat. antara lain : a. dan f. bukan penyelenggara telekomunikasi. pertanahan (grounding). kekuatan angin. d. Pasal 8 (1) Bangunan menara harus dilengkapi dengan sarana pendukung dan identitas yang jelas. termasuk menara untuk keperluan jasa pelayanan internet maupun warnet.b. c. ketinggian menara. penangkal petir. antara lain : a. (2) Penyedia menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. pondasi menara. memenuhi estetika. Pasal 6 (1) Menara disediakan oleh Penyedia menara. Pasal 7 Pembangunan menara wajib mengacu kepada SNI dan standar baku tertentu untuk menjamin keselamatan bangunan dan lingkungan dengan memperhitungkan faktorfaktor yang menentukan kekuatan dan kestabilan konstruksi menara dengan mempertimbangkan persyaratan struktur bangunan menara. atau b. b.

marka halangan penerbangan (Aviation Obstruction Marking). 8 . (2) Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain : a. pagar pengaman. Pasal 9 (1) Pendirian menara di kawasan yang peruntukannya memiliki karakteristik tertentu dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kawasan hutan kota. kawasan pengawasan militer. e. (3) Identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. h. f. tahun pembuatan/pemasangan. g. catu daya. (3) Menara yang didirikan di atas gedung harus dirancang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan estetika kota. f. sarana lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. beban maksimum menara. kontraktor. lampu halangan penerbangan (Aviation Obstruction Light). alamat dan nomor pemilik menara. c. pabrikan. i. kawasan cagar budaya. nama pengguna menara. tinggi. kawasan yang termasuk zona kawasan keselamatan operasi penerbangan. b. d. e. c. b. e. dan j. f. nama. daerah aliran sungai dan saluran. kapasitas listrik terpasang. lokasi dan koordinat.c. g. d. kawasan pariwisata. d. nomor dan tanggal IMB.

Perawatan. 9 . pemeriksaan.BAB IV PEMANFAATAN MENARA Bagian Kesatu Umum Pasal 10 Menara wajib dimanfaatkan secara tertib administrasi dan teknis untuk menjamin kelaikan fungsi menara dengan tanpa menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. (3) Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan harus menerapkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja. (2) Hasil pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Walikota melalui instansi teknis. perawatan. Bagian Ketiga Pemeliharaan. perbaikan dan/atau penggantian bahan dan/atau perlengkapan menara. dan/atau pengelola menara wajib melakukan pemeliharaan. (3) Tata cara pelaporan kelaikan fungsi bangunan menara sebagaimana dimaksud ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. serta kegiatan sejenis lainnya berdasarkan pedoman pengoperasian dan pemeliharaan menara. Pasal 13 (1) Kegiatan pemeliharaan menara meliputi pembersihan. dan pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan menara secara berkala setiap tahun. pengujian. Bagian Kedua Program Pertanggungan Pasal 11 Pengelola menara wajib mengikuti program pertanggungan (asuransi) terhadap kemungkinan kegagalan menara selama pemanfaatan menara. (2) Pemeliharaan menara dapat dilakukan oleh penyedia jasa yang memenuhi kualifikasi dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Pemeriksaan Menara Pasal 12 (1) Pemilik. penyedia.

pemilik. penyedia. dan/atau pengelola menara telekomunikasi wajib berkoordinasi dalam hal terjadi suatu masalah. dan/atau pengelola menara telekomunikasi harus menggunakan sistem antrian dengan mendahulukan calon pengguna menara yang sudah lebih dahulu menyampaikan permintaan penggunaan menara telekomunikasi dengan tetap memperhatikan kelayakan dan kemampuan teknis bangunan menara telekomunikasi. khusus untuk menara telekomunikasi dari tahap awal rencana pembangunan harus diarahkan untuk penggunaan menara secara bersama. c. pemilik. penyedia. e. atau pengelola menara telekomunikasi wajib menginformasikan ketersediaan kapasitas menaranya kepada calon pengguna menara secara transparan. dan/atau b. Pasal 15 Pemanfaatan menara bersama dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. d. pemilik. (4) Setiap pembangunan menara telekomunikasi yang digunakan sebagai menara telekomunikasi bersama berupa menara telekomunikasi yang dapat digunakan oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) operator telekomunikasi dan desain konstruksi menaranya harus mendapatkan persetujuan dari Walikota atau pejabat yang ditunjuk. menara yang dibangun pada daerah-daerah yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi atau daerah-daerah yang tidak layak secara ekonomis. f. pemanfaatan menara telekomunikasi tidak boleh menimbulkan interferensi antar sistem jaringan yang dapat merugikan pengguna jasa telekomunikasi. saling 10 . beban maksimal untuk menara bersama tidak boleh melebihi perhitungan struktur menara. dan/atau pengelolan menara telekomunikasi harus memperhatikan ketentuan hukum tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. (2) Ketentuan penggunaan bersama menara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. pemilik. penyedia. menara yang digunakan untuk keperluan jaringan utama. b. (3) Penyedia menara atau pengelola menara wajib memberikan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi kepada penyelenggara telekomunikasi untuk menggunakan menara secara bersama-sama sesuai kemampuan teknis menara.Bagian Keempat Pemanfaatan Menara Bersama Pasal 14 (1) Untuk efisiensi dan efektifitas penataan ruang. penyedia.

BAB V PERSEBARAN DAN KETENTUAN TEKNIS Pasal 17 (1) Dalam rangka pengaturan dan penataan penempatan menara telekomunikasi di wilayah Kota Madiun. estetika. serta dengan memperhatikan prinsip keadilan dan transparansi. keamanan dan ketertiban lingkungan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Walikota. kepadatan/populasi pemakai jasa telekomunikasi serta disesuaikan dengan kaidah penataan ruang wilayah. perhitungan biaya investasi. atau pengelola menara bersama berhak memungut biaya penggunaan menara bersama kepada operator telekomunikasi yang menggunakan menaranya. BAB VI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 18 (1) Walikota berwenang melakukan pengawasan dan pengendalian pembangunan serta pemanfaatan menara telekomunikasi. penetapan zona pembangunan menara bersama dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan ruang wilayah yang ada. penyedia. pengembalian modal dan keuntungan. (2) Biaya penggunaan menara bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disepakati oleh pihak penyedia menara dengan pihak penyewa dengan harga yang wajar. (2) Penetapan zona pembangunan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Walikota. serta kebutuhan komunikasi pada umumnya. (2) Dalam rangka penyelenggaraan pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Walikota membentuk Tim Pengawasan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi. operasi.Pasal 16 (1) Pemilik. 11 .

peruntukan/fungsi. Obyek dan Subyek Retribusi Pasal 19 Dengan nama Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pemanfaatan tata ruang pengendalian menara telekomunikasi. jenis menara. dan kepentingan umum. (2) Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diukur berdasarkan nilai jual obyek pajak yang digunakan sebagai dasar penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan Menara Telekomunikasi. Bagian Ketiga Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 23 (1) Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi. 12 . luas/jarak jangkauan (coverage area) dan ketinggian menara. Pasal 20 Obyek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang. Pasal 21 Subyek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah orang pribadi atau badan yang membangun menara telekomunikasi. Bagian Kedua Golongan Retribusi Pasal 22 Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi digolongkan sebagai Retribusi Jasa Telekomunikasi.BAB VII RETRIBUSI Bagian Kesatu Nama. keamanan.

Bagian Kelima Besarnya Tarif Pasal 25 Jenis dan tarif retribusi jasa telekomunikasi ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Walikota dengan peninjauan besaran tarif. (2) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan. Bagian Kedelapan Tata Cara Pembayaran Paragraf 1 Penentuan Pembayaran Pasal 28 (1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD. 13 . Bagian Ketujuh Masa Retribusi Pasal 27 Masa retribusi pengendalian menara telekomunikasi adalah 1 (satu) tahun. minimal setiap 5 tahun sekali Bagian Keenam Wilayah Pemungutan Pasal 26 Retribusi pengendalian menara telekomunikasi dipungut di wilayah Daerah.Bagian Keempat Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Struktur Dan Besarnya Tarif Pasal 24 Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi ditetapkan dengan memperhatikan efektivitas pengendalian dan pengawasan untuk pendirian bangunan menara telekomunikasi.

bentuk isi. Setiap pembayaran dicatat dalam buku penerimaan.(3) Hasil pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetor secara bruto ke Kas Daerah. (2) Dalam hal pembayaran dilakukan ditempat lain yang ditunjuk. Paragraf 2 Tempat Pembayaran Pasal 30 (1) Pembayaran retribusi dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Walikota. Paragraf 3 Penagihan dan Keberatan Pasal 31 Tata cara penagihan. kualitas. (4) Retribusi dipungut oleh Instansi yang ditunjuk oleh Walikota. sistem pencatatan dan tanda bukti pembayaran retribusi dan tempat pembayaran retribusi akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang telah ditentukan oleh Walikota. (2) Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Tata cara pembayaran. penyetoran. 14 . Pembayaran retribusi diberikan tanda bukti pembayaran. ukuran buku. pengajuan keberatan dan penanganan keberatan atas retribusi yang dikenakan akan ditetapkan dengan Peraturan Walikota Bagian Kesembilan Pemanfaatan Retribusi dan Insentif Pemungutan Pasal 32 (1) Pemanfaatan dari penerimaan retribusi diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan pengendalian dan pengawasan menara telekomunikasi. Pasal 29 (1) (2) (3) (4) Pembayaran retribusi yang terhutang harus dilunasi sekaligus.

(4) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dibayarkan langsung ke rekening Kas Daerah. BAB VIII SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 35 (1) Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. denda administratif. pembekuan dan/atau pencabutan izin.Pasal 33 (1) Instansi yang melaksanakan pengawasan dan pemungutan retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. pemberian teguran tertulis pertama. pemberian teguran tertulis kedua disertai pemanggilan. b. sanksi polisional. (6) Tata cara penjatuhan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. (2) Sanksi adminitratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. dan/atau persyaratan dan/atau penyelenggaraan menara sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dikenakan sanksi administratif. (5) Sanksi polisional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa : a. c. b. pembongkaran. d. (3) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara : a. (2) Besarnya insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebesar 5% (lima persen). Pasal 34 Tata cara pemanfaatan retribusi dan insentif pemungutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. pemberian teguran tertulis ketiga. (3) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. penindakan atau pelaksanaan sanksi polisional dan/atau pencabutan izin. c. penyegelan. 15 . b.

c. tersangka atau keluarganya. e. 16 . (2) Tata cara pemberian sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Walikota. dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD. h. d. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana. Pasal 37 (1) Dalam hal wajib retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar. melakukan penyitaan benda dan atau surat. (2) Pembongkaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah melalui teguran tertulis sebanyak 3 (tiga) kali dengan selang waktu masingmasing peringatan selama 5 (lima) hari kalender. mengambil sidik jari dan memotret tersangka. i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau tersangka. BAB IX KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 38 (1) Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini dilaksanakan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah Kota yang pengangkatannya ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. f. (2) Wewenang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut : a. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik umum tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik umum memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum.Pasal 36 (1) Menara yang tidak dimanfaatkan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun berturut-turut dilaksanakan pembongkaran oleh Pemerintah Kota. mendatangkan ahli yang diperlukan dalam hubungannya dnegan pemeriksaan perkara. melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian dan melakukan pemeriksaan. g. b.

17 . (4) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Hukum Acara Pidana. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 40 (1) Penyelenggara Telekomunikasi atau Penyedia Menara. harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah ini paling lama 1 (satu) tahun sejak Peraturan Daerah ini diundangkan. badan atau pihak lain.000. ayat (2) dan ayat (3) baik berupa tindak pidana kejahatan dan atau tindakan yang mengakibatkan kerugian bagi Pemerintah Kota. (2) Penyedia menara yang telah membangun menara tanpa dilengkapi dengan perizinan sesuai dengan Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan palinglama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50. (4) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). orang pribadi.000.000..(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyidik berada di bawah koordinasi penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana. (5) Selain tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar.(lima puluh juta rupiah). yang telah memiliki Izin Mendirikan Menara dan membangun menaranya sebelum Peraturan Daerah ini diundangkan. BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 39 (1) Setiap pemilik menara telekomunikasi yang membangun menara telekomunikasi yang tidak memenuhi ketentuan teknis bangunan yang telah ditetapkan sehingga mengakibatkan menara telekomunikasi tidak dapat berfungsi dan membahayakan orang lain diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50. ayat (2) dan ayat (3) adalah pelanggaran.000. atau mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup diancam dengan hukuman pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan..(lima puluh juta rupiah).

Pasal 42 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. 18 .(2) Penyelenggara Telekomunikasi atau Penyedia Menara. yang telah memiliki Izin Mendirikan Menara namun belum membangun menaranya sebelum Peraturan Daerah ini ditetapkan. BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 41 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Walikota.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful