P. 1
Raperda Menara 1

Raperda Menara 1

|Views: 66|Likes:
Published by Wahyu Purnomo S

More info:

Published by: Wahyu Purnomo S on Feb 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2013

pdf

text

original

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MADIUN,

Menimbang

:

a. bahwa dengan semakin berkembang serta meningkatnya kegiatan usaha Telekomunikasi sejalan dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan fasilitas telekomunikasi di wilayah Kota Madiun, telah mendorong peningkatan Pembangunan Menara Telekomunikasi dan berbagai sarana pendukungnya; b. bahwa untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan masyarakat serta untuk mencegah terjadinya pembangunan dan pengoperasian menara telekomunkasi yang tidak sesuai dengan kaidah tata ruang, lingkungan dan estetikamaka perlu dilakukan pengendalian terhadap menara telekomunikasi oleh Pemeritah Daerah; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai mana dimaksud dalam huruf a dan b maka perlu membentuk peraturan daerah tentang Pengendalian/Pengelolaan Menara Telekomunikasi.

Mengingat

:

1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah- Daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 45); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

1

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4252). Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4422) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881). 13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 139. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 15. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik 2 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817). 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). 4.3. 5. 14. 10. 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140. 11. Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33. 6. 12. 9. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400). Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 130.

. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). 15. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103). Menteri Pekerjaan Umum. Nomor 19/M. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 108... 3 .. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578)... Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4106). Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 49 Tahun 2000 tentang Keselamatan Operasi Penerbangan. 21.KOMINFO/03/2009. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 02/PER/M.. 20. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 77. 23.Kominfo/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 14. Nomor 7/PRT/2009. 19.. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 48). 25. 18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Nomor 59 Tahun 2007.. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21. 24. 16. 17. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3981)..Nomor 3/P/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi.. Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 18 Tahun 2009.. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 10 Tahun 2005 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Telekomunikasi.... Peraturan Daerah . 22..Indonesia Tahun 1999 Nomor 59.

4 . badan usaha swasta. badan usaha milik daerah. jaringan telekomunikasi dan telekomunikasi khusus. 7. badan usaha milik negara. pengiriman dan/atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda. tulisan. 9. 6. Pejabat adalah pegawai negeri yang ditunjuk dan diberi tugas tertentu di bidang pengendalian/pengelolaan menara telekomunikasi di Kota Madiun sebagaimana mestinya. optik. 3. 5. koperasi. 10. Penyelenggaraan Telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan pelayanan telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi. atau sistem elektromagnetik lainnya. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika adalah Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Madiun. Penyelenggara Telekomunikasi adalah perorangan. 4. radio. instansi pemerintah. suara dan bunyi melalui sistem kawat. Penyedia Menara adalah badan usaha yang membangun. Daerah adalah Kota Madiun. instansi keamanan negara yang telah mendapatkan izin untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi.Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA MADIUN dan WALIKOTA MADIUN MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. memiliki. 8. Walikota adalah Walikota Madiun. gambar. menyediakan serta menyewakan menara telekomunikasi untuk digunakan bersama oleh penyelenggara telekomunikasi. isyarat. 2. Pejabat yang ditunjuk adalah Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Madiun. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Madiun.

14. adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda 20. Surat Ketetapan Retribusi Daerah. keselarasan dan keserasian. Izin Mendirikan Menara yang selanjutnya disebut IMB Menara adalah Izin Mendirikan Bangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Rekomendasi Operasional Pengendalian Menara Bersyarat adalah rekomendasi yang diterbitkan oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Madiun yang memberi hak dan kewajiban kepada pemohon untuk mengoperasikan menara telekomunikasi yang telah ada/akan dioperasionalkan dalam wilayah daerah.11. 12. 19. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi yang selanjutnya disingkat RPMT. adalah jumlah biaya retribusi pemberian izin penyelenggaraan menara telekomunikasi yang dibayarkan kepada Pemerintah Kota. meliputi Warung Telekomunikasi (Wartel) dan Warung Internet (Warnet). Menara Telekomunikasi adalah bangunan yang berfungsi sebagai penunjang jaringan telekomunikasi yang didesain dan bentuk konstruksinya disesuaikan dengan keperluan jaringan telekomunikasi. yang selanjutnya disingkat SKRD. Menara bersama adalah menara telekomunikasi yang digunakan secara bersamasama oleh operator penyelenggara telekomunikasi. Izin Gangguan adalah pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau badan usaha di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya. kaidah tata ruang. d. adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang. 5 . 13. 17. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Pengendalian menara berlandaskan asas : a. 16. Pengelola Menara adalah badan usaha yang mengelola atau mengoperasikan menara telekomunikasi yang dimiliki oleh pihak lain. yang berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali. 18. 15. keselamatan. b. yang selanjutnya disingkat STRD. kemanfaatan keberlanjutan. Surat Tagihan Retribusi Daerah. kerugian dan Izin Gangguan tidak termasuk tempat usaha /kegiatan yang lokasinya telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah. Jasa telekomunikasi adalah layanan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi dengan menggunakan jaringan telekomunikasi.

rekomendasi peruntukan ruang. kepastian hukum. titik koordinat b. (4) Permohonan Izin Mendirikan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur dalam Peraturan Daerah tentang Izin Mendirikan Bangunan. izin mendirikan bangunan menara. mewujudkan menara yang lingkungannya. (2) Permohonan rekomendasi peruntukan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diajukan kepada Walikota melalui Instansi yang membidangi tata ruang dengan melampirkan: a. b. efektif. keamanan dan kenyamanan warga. BAB III PERIZINAN PEMBANGUNAN MENARA Pasal 4 (1) Pembangunan menara harus didasarkan pada adanya: a. (2) Menara dapat didirikan di atas permukaan tanah maupun pada bagian bangunan gedung. mengatur/mengendalikan pembangunan menara.e. efisien. d. Pasal 3 Pengaturan pengendalian menara bertujuan untuk : a. dan f. serta kesinambungan dan pertumbuhan industri. dan kenyamanan. mewujudkan tertib penyelenggaraan menara yang menjamin keandalan teknis menara dari segi keselamatan. estetika. b. kesehatan. adil dan merata. (3) Dalam hal menara didirikan pada bagian bangunan/gedung. Penyedia Menara wajib: a. Pasal 5 (1) Pembangunan menara dilaksanakan dengan memperhatikan ketersediaan lahan. mewujudkan kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan menara. dan selaras dengan c. fungsional. denah lokasi (3) Rekomendasi peruntukan ruang diterbitkan berdasar penetapan zona pembangunan menara telekomunikasi yang ditetapkan oleh Walikota. 6 . mempertimbangkan dan menghitung kemampuan teknis bangunan.

rangka struktur menara e. keselamatan dan kenyamanan pengguna bangunan gedung sesuai persyaratan keandalan bangunan gedung. c. dan d. b. struktur menara.b. Pasal 8 (1) Bangunan menara harus dilengkapi dengan sarana pendukung dan identitas yang jelas. dan f. c. d. (2) Penyedia menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. b. tempat/space penempatan perangkat. (2) Sarana pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penangkal petir. pertanahan (grounding). tidak melampaui ketinggian maksimum selubung bangunan gedung yang dizinkan. penyelenggara telekomunikasi. atau b. bukan penyelenggara telekomunikasi. (5) Peraturan mengenai menara yang diperuntukkan untuk jasa pelayanan internet maupun warnet diatur lebih lanjut dalam Peraturan Walikota. termasuk menara untuk keperluan jasa pelayanan internet maupun warnet. ketinggian menara. Pasal 7 Pembangunan menara wajib mengacu kepada SNI dan standar baku tertentu untuk menjamin keselamatan bangunan dan lingkungan dengan memperhitungkan faktorfaktor yang menentukan kekuatan dan kestabilan konstruksi menara dengan mempertimbangkan persyaratan struktur bangunan menara. pondasi menara. kekuatan angin. (3) Penyediaan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pembangunannya dilaksanakan oleh Penyedia jasa konstruksi. pengelola menara atau penyedia jasa konstruksi yang membangun menara merupakan perusahaan nasional. memenuhi estetika. antara lain : a. 7 . (4) Dalam hal Penyedia menara bukan penyelenggara telekomunikasi. Pasal 6 (1) Menara disediakan oleh Penyedia menara. antara lain : a.

b. e. kawasan hutan kota. 8 . lokasi dan koordinat. b. d. g. nomor dan tanggal IMB. d. nama. lampu halangan penerbangan (Aviation Obstruction Light). i. pagar pengaman. c. (2) Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain : a. dan j. g. f. daerah aliran sungai dan saluran. kawasan cagar budaya. marka halangan penerbangan (Aviation Obstruction Marking). kontraktor. d. kapasitas listrik terpasang. e. nama pengguna menara. (3) Identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. sarana lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. e. h. catu daya. tinggi. kawasan pariwisata. tahun pembuatan/pemasangan. kawasan pengawasan militer. Pasal 9 (1) Pendirian menara di kawasan yang peruntukannya memiliki karakteristik tertentu dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. alamat dan nomor pemilik menara. beban maksimum menara. f. kawasan yang termasuk zona kawasan keselamatan operasi penerbangan. c. (3) Menara yang didirikan di atas gedung harus dirancang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan estetika kota.c. f. pabrikan.

Perawatan. pemeriksaan. (2) Hasil pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Walikota melalui instansi teknis. (3) Tata cara pelaporan kelaikan fungsi bangunan menara sebagaimana dimaksud ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. Bagian Kedua Program Pertanggungan Pasal 11 Pengelola menara wajib mengikuti program pertanggungan (asuransi) terhadap kemungkinan kegagalan menara selama pemanfaatan menara. perawatan. dan Pemeriksaan Menara Pasal 12 (1) Pemilik. Bagian Ketiga Pemeliharaan. Pasal 13 (1) Kegiatan pemeliharaan menara meliputi pembersihan. perbaikan dan/atau penggantian bahan dan/atau perlengkapan menara. (2) Pemeliharaan menara dapat dilakukan oleh penyedia jasa yang memenuhi kualifikasi dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan menara secara berkala setiap tahun. (3) Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan harus menerapkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja.BAB IV PEMANFAATAN MENARA Bagian Kesatu Umum Pasal 10 Menara wajib dimanfaatkan secara tertib administrasi dan teknis untuk menjamin kelaikan fungsi menara dengan tanpa menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. dan/atau pengelola menara wajib melakukan pemeliharaan. penyedia. 9 . serta kegiatan sejenis lainnya berdasarkan pedoman pengoperasian dan pemeliharaan menara. pengujian.

dan/atau pengelolan menara telekomunikasi harus memperhatikan ketentuan hukum tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. pemilik. pemilik. b. menara yang dibangun pada daerah-daerah yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi atau daerah-daerah yang tidak layak secara ekonomis. pemilik. menara yang digunakan untuk keperluan jaringan utama. (2) Ketentuan penggunaan bersama menara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. penyedia. penyedia. dan/atau b. beban maksimal untuk menara bersama tidak boleh melebihi perhitungan struktur menara. e. pemanfaatan menara telekomunikasi tidak boleh menimbulkan interferensi antar sistem jaringan yang dapat merugikan pengguna jasa telekomunikasi. f. (3) Penyedia menara atau pengelola menara wajib memberikan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi kepada penyelenggara telekomunikasi untuk menggunakan menara secara bersama-sama sesuai kemampuan teknis menara. dan/atau pengelola menara telekomunikasi harus menggunakan sistem antrian dengan mendahulukan calon pengguna menara yang sudah lebih dahulu menyampaikan permintaan penggunaan menara telekomunikasi dengan tetap memperhatikan kelayakan dan kemampuan teknis bangunan menara telekomunikasi. c. dan/atau pengelola menara telekomunikasi wajib berkoordinasi dalam hal terjadi suatu masalah. Pasal 15 Pemanfaatan menara bersama dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. (4) Setiap pembangunan menara telekomunikasi yang digunakan sebagai menara telekomunikasi bersama berupa menara telekomunikasi yang dapat digunakan oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) operator telekomunikasi dan desain konstruksi menaranya harus mendapatkan persetujuan dari Walikota atau pejabat yang ditunjuk.Bagian Keempat Pemanfaatan Menara Bersama Pasal 14 (1) Untuk efisiensi dan efektifitas penataan ruang. pemilik. penyedia. saling 10 . d. penyedia. khusus untuk menara telekomunikasi dari tahap awal rencana pembangunan harus diarahkan untuk penggunaan menara secara bersama. atau pengelola menara telekomunikasi wajib menginformasikan ketersediaan kapasitas menaranya kepada calon pengguna menara secara transparan.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Walikota. perhitungan biaya investasi. estetika. penetapan zona pembangunan menara bersama dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan ruang wilayah yang ada.Pasal 16 (1) Pemilik. penyedia. (2) Dalam rangka penyelenggaraan pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Walikota membentuk Tim Pengawasan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi. atau pengelola menara bersama berhak memungut biaya penggunaan menara bersama kepada operator telekomunikasi yang menggunakan menaranya. operasi. keamanan dan ketertiban lingkungan. (2) Penetapan zona pembangunan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Walikota. pengembalian modal dan keuntungan. 11 . serta dengan memperhatikan prinsip keadilan dan transparansi. (2) Biaya penggunaan menara bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disepakati oleh pihak penyedia menara dengan pihak penyewa dengan harga yang wajar. kepadatan/populasi pemakai jasa telekomunikasi serta disesuaikan dengan kaidah penataan ruang wilayah. BAB V PERSEBARAN DAN KETENTUAN TEKNIS Pasal 17 (1) Dalam rangka pengaturan dan penataan penempatan menara telekomunikasi di wilayah Kota Madiun. BAB VI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 18 (1) Walikota berwenang melakukan pengawasan dan pengendalian pembangunan serta pemanfaatan menara telekomunikasi. serta kebutuhan komunikasi pada umumnya.

BAB VII RETRIBUSI Bagian Kesatu Nama. Bagian Kedua Golongan Retribusi Pasal 22 Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi digolongkan sebagai Retribusi Jasa Telekomunikasi. Obyek dan Subyek Retribusi Pasal 19 Dengan nama Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pemanfaatan tata ruang pengendalian menara telekomunikasi. (2) Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diukur berdasarkan nilai jual obyek pajak yang digunakan sebagai dasar penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan Menara Telekomunikasi. dan kepentingan umum. luas/jarak jangkauan (coverage area) dan ketinggian menara. keamanan. peruntukan/fungsi. jenis menara. Bagian Ketiga Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 23 (1) Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi. Pasal 21 Subyek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah orang pribadi atau badan yang membangun menara telekomunikasi. Pasal 20 Obyek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang. 12 .

Bagian Keempat Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Struktur Dan Besarnya Tarif Pasal 24 Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi ditetapkan dengan memperhatikan efektivitas pengendalian dan pengawasan untuk pendirian bangunan menara telekomunikasi. 13 . (2) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan. minimal setiap 5 tahun sekali Bagian Keenam Wilayah Pemungutan Pasal 26 Retribusi pengendalian menara telekomunikasi dipungut di wilayah Daerah. Bagian Kelima Besarnya Tarif Pasal 25 Jenis dan tarif retribusi jasa telekomunikasi ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Walikota dengan peninjauan besaran tarif. Bagian Ketujuh Masa Retribusi Pasal 27 Masa retribusi pengendalian menara telekomunikasi adalah 1 (satu) tahun. Bagian Kedelapan Tata Cara Pembayaran Paragraf 1 Penentuan Pembayaran Pasal 28 (1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD.

Pembayaran retribusi diberikan tanda bukti pembayaran. (2) Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. sistem pencatatan dan tanda bukti pembayaran retribusi dan tempat pembayaran retribusi akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. kualitas. Paragraf 3 Penagihan dan Keberatan Pasal 31 Tata cara penagihan. ukuran buku. pengajuan keberatan dan penanganan keberatan atas retribusi yang dikenakan akan ditetapkan dengan Peraturan Walikota Bagian Kesembilan Pemanfaatan Retribusi dan Insentif Pemungutan Pasal 32 (1) Pemanfaatan dari penerimaan retribusi diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan pengendalian dan pengawasan menara telekomunikasi. maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang telah ditentukan oleh Walikota. bentuk isi. 14 . Tata cara pembayaran. (4) Retribusi dipungut oleh Instansi yang ditunjuk oleh Walikota. penyetoran.(3) Hasil pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetor secara bruto ke Kas Daerah. Paragraf 2 Tempat Pembayaran Pasal 30 (1) Pembayaran retribusi dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Walikota. Setiap pembayaran dicatat dalam buku penerimaan. Pasal 29 (1) (2) (3) (4) Pembayaran retribusi yang terhutang harus dilunasi sekaligus. (2) Dalam hal pembayaran dilakukan ditempat lain yang ditunjuk.

dan/atau persyaratan dan/atau penyelenggaraan menara sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dikenakan sanksi administratif. penindakan atau pelaksanaan sanksi polisional dan/atau pencabutan izin. 15 . c. pemberian teguran tertulis ketiga. penyegelan. b. (3) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara : a. pembongkaran. (2) Besarnya insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebesar 5% (lima persen).Pasal 33 (1) Instansi yang melaksanakan pengawasan dan pemungutan retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. pembekuan dan/atau pencabutan izin. (3) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. d. sanksi polisional. (6) Tata cara penjatuhan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. (4) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dibayarkan langsung ke rekening Kas Daerah. Pasal 34 Tata cara pemanfaatan retribusi dan insentif pemungutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. b. denda administratif. BAB VIII SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 35 (1) Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. pemberian teguran tertulis pertama. pemberian teguran tertulis kedua disertai pemanggilan. c. (5) Sanksi polisional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa : a. (2) Sanksi adminitratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. b.

c. BAB IX KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 38 (1) Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini dilaksanakan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah Kota yang pengangkatannya ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana.Pasal 36 (1) Menara yang tidak dimanfaatkan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun berturut-turut dilaksanakan pembongkaran oleh Pemerintah Kota. tersangka atau keluarganya. (2) Wewenang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut : a. mengambil sidik jari dan memotret tersangka. dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD. h. f. melakukan penyitaan benda dan atau surat. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau tersangka. mendatangkan ahli yang diperlukan dalam hubungannya dnegan pemeriksaan perkara. b. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. i. (2) Tata cara pemberian sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Walikota. Pasal 37 (1) Dalam hal wajib retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar. d. g. (2) Pembongkaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah melalui teguran tertulis sebanyak 3 (tiga) kali dengan selang waktu masingmasing peringatan selama 5 (lima) hari kalender. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. e. 16 . mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik umum tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik umum memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum. melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian dan melakukan pemeriksaan.

17 . orang pribadi.(lima puluh juta rupiah). atau mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup diancam dengan hukuman pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000..000. harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah ini paling lama 1 (satu) tahun sejak Peraturan Daerah ini diundangkan. ayat (2) dan ayat (3) adalah pelanggaran.000. ayat (2) dan ayat (3) baik berupa tindak pidana kejahatan dan atau tindakan yang mengakibatkan kerugian bagi Pemerintah Kota.(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyidik berada di bawah koordinasi penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana.. (5) Selain tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. (2) Penyedia menara yang telah membangun menara tanpa dilengkapi dengan perizinan sesuai dengan Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan palinglama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50. BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 39 (1) Setiap pemilik menara telekomunikasi yang membangun menara telekomunikasi yang tidak memenuhi ketentuan teknis bangunan yang telah ditetapkan sehingga mengakibatkan menara telekomunikasi tidak dapat berfungsi dan membahayakan orang lain diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.(lima puluh juta rupiah). badan atau pihak lain. (4) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Hukum Acara Pidana. yang telah memiliki Izin Mendirikan Menara dan membangun menaranya sebelum Peraturan Daerah ini diundangkan. (3) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 40 (1) Penyelenggara Telekomunikasi atau Penyedia Menara.

harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.(2) Penyelenggara Telekomunikasi atau Penyedia Menara. yang telah memiliki Izin Mendirikan Menara namun belum membangun menaranya sebelum Peraturan Daerah ini ditetapkan. Pasal 42 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 41 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Walikota. 18 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->