Syarat – Syarat Teknis dan Bahan

BABVI
SYARAT-SYARAT TEKNIS
Pasal 1 LINGKUP PEKERJAAN 1.1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan dan perinciannya adalah Revitalisasi infrastruktur sarana dan prasarana penyelanggaraan PEKAN OLAH RAGA DAERAH ( PORDA ) JAWA BARAT, dengan lingkup pekerjaan yang mencakup antara lain, serta tidak terbatas pada : a. Pekerjaan Persiapan : Meliputi : mobilisasi peralatan,pengadaan air bersih dan listrik untuk bekerja. b. Pekerjaan Penentuan Lahan : Meliputi : Pengukuran tanah, Batas batas tanah, Penentuan Pekerjaan yang akan dilaksanakan. c. Pekerjaan Rehabilitasi Gedung : Peningkatan sarana Penunjang, lengkap pekerjaan struktur, arsitektur berikut instalansi mekanikal / elektrikalnyasesuai dengan rencana dalam Gambar Kerja. d. Pekerjaan Pondasi : Meliputi : Pondasi straus file. Pondasi plat setempat Pondasi batu kali e. Pekerjaan Struktur : Meliputi : Pekerjaan Sloof,kolom,plat beton dan plat tangga. f. Pekerjaan Arsitektur : Meliputi : Pasangan bata Pasangan lantai Pasangan plafon Pengecatan dll.

g. Pekerjaan Elektrikal dan Mekanikal Meliputi : Pekerjaan Instalasi listrik Pekerjaan instalasi air bersih/kotor dan sanitair 1.2. Termasuk juga di dalam lingkup pekerjaan ini adalah : a. Menyediakan tenaga kerja, dan tenaga ahli yang memadai dan berpengalaman dengan jenis dan volume pekerjaan pekerjaan yang akan dilaksanakan . b. Menyediakan bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang akan dilaksanakan serta tepat pada waktunya. c. Menyediakan peralatan berikut alat-alat bantu lainnya seperti mesin molen, mesin las, alat-alat bor, compactor, vibrator, pompa air, scafolding, alat-alat pengangkat dan pengangkut serta peralatan-peralatan lain yang benar-benar diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, serta mengadakan pengamanan, pengawasan dan pemeliharaan terhadap bahan-bahan, alat-alat kerja maupun hasil pekerjaan selama masa pelaksanaan berlangsung, sehingga seluruh pekerjaan selesai dengan sempurna sampai dengan diserah-terimakannya pekerjaan tersebut kepada Pemberi Tugas.

-1-

sistem komunikasi. DA : Site Development Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan pematangan lahan seperti gali / urug. -2- .2. terutama untuk peil ketinggian. e. perkerasan jalan / parkir. penangkal petir. Seluruh pekerjaan maupun bagian pekerjaan yang merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan yang disebut dalam buku ini. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan. kecuali ukuran-ukuran untuk baja yang dinyatakan dalam inch atau mM (milliMeter).3. bahan konstruksi utama dan spesifikasinya.3. 2. saluran dan sebagainya. Pada dasarnya untuk dapat memahami dan menghayati dengan sebaik-baiknya seluk-beluk pekerjaan ini. Yang ada hubungannya dengan sistem penyediaan daya listrik. Kontraktor diwajibkan meneliti terlebih dahulu ukuran-ukuran yang tercantum di dalam Gambar Kerja Arsitektur dan Gambar Kerja lainnya yang termuat di dalam Dokumen Lelang / Dokumen Kontrak. penerangan. c. c. 2. a. serta mengikuti petunjuk dan keputusan Konsultan Pengawas / Owner. Gambar Kerja. lebar. termasuk tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan ( Aanwijzing ). Mengingat masalah ukuran ini sangat penting. Istilah Istilah yang digunakan berdasarkan pada masing-masing disiplin pada tahap pembangunan ini adalah sebagai berikut : a.1. air hujan) d. dimensioneering beton struktur. menjadi lingkup pekerjaan yang tidak dapat dipisahkan dan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian. Kontraktor diwajibkan meneliti dan mempelajari secara seksama seluruh Gambar Kerja serta Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis (RKS) seperti yang akan diuraikan dalam buku ini. b. Ukuran-ukuran yang dipergunakan semuanya dinyatakan dalam M (meter). AR : Arsitektur Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan bangunan ini secara menyeluruh dari semua disiplin-disiplin kerja yang ada. ketebalan luas penampang dan lainlain. Khusus ukuran-ukuran dalam Gambar Kerja Arsitektur pada dasarnya adalah ukuran jadi seperti dalam keadaan selesai (“finished”) d. fire alarm dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 1. SI : Struktur Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan perhitungan konstruksi. Ukuran. perataan (“grading”). baik teknis maupun estetika. air kotor. sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS). Pasal 2 PENJELASAN GAMBAR KERJA DAN RKS 2. Pada dasarnya semua ukuran utama yang tertera dalam Gambar Kerja dan Gambar Pelengkap meliputi : o as – as o luar – luar o dalam – dalam o luar – dalam b. EL : Elektrikal / Telepon / Fire Alarm / Sound Sistem / Penangkal Petir. PL : Plumbing Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan sistem sanitasi bangunan (air bersih.

Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia. f. Perbedaan Gambar. perbedaan-perbedaan. d. (PUBI-1982) i. e. dan segala akibat yang terjadi adalah tanggung-jawab kontraktor baik dari segi biaya maupun waktu. PBI 1971 ) d. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1983. Juni 1978 (disingkat SU-41). untuk mendapatkan keputusan gambar mana yang akan dijadikan pegangan. Semua pekerjaan dalam kontrak ini harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan-persyaratan teknis yang tertera dalam persyaratan Normalisasi Indonesia (NI). maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang mengikat/ berlaku. Pasal 3 PERATURAN PEMBANGUNAN DAN STANDAR YANG DIPERGUNAKAN 3. c. b. b. Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain. Peraturan Beton Indonesia 1971 ( NI 2. yang disahkan oleh Pemerintah tanggal 28 Mei 1941 Nomor 9. Bila ada perbedaan antara gambar kerja Arsitektur dengan Sipil/ Struktur. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBI-1984) g. Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada Konsultan Pengawas secara tertulis. mengadakan pertemuan dengan Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana. Baja Karbon Cor : Mutu dan Cara Uji (SII-0297-80) h.. a. maka gambar yang dipakai sebagai pegangan adalah ukuran fungsional dalam Gambar Kerja Arsitektur. Peraturan Umum tentang pelaksanaan Pembangunan di Indonesia atau Algemene Voorwaarden voor de uitvoering bij Aanneming van Openbare Werken 1941 atau disingkat AV. dan ataupun ketidaksesuaian dan keragu-raguan di antara setiap Gambar Kerja. Kontraktor wajib melaporkan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas. Pada umumnya bila Gambar Kerja tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS). Bila ada perbedaan antara gambar kerja Arsitektur dengan Sanitasi. yang selanjutnya akan memberikan keputusan ukuran mana yang akan dipakai dan dijadikan pegangan.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan e. Ketentuan tersebut diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk memperpanjang / meng”klaim” biaya maupun waktu pelaksanaan. maka di dalam hal terdapat ketidak jelasan. 2. maka yang berlaku adalah gambar kerja Struktur. kesimpangsiuran. maka yang mengikat / berlaku adalah RKS. Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrase Teknik dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia ( DTPI ) c. Bila ada keraguan mengenai ukuran. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (NI-5 PPKI 1961) -3- . Standar Industri Indonesia (SII) dan Peraturan-peraturan Nasional maupun Peraturan-peraturan setempat lainnya yang berlaku atas jenis-jenis pekerjaan yang bersangkutan termasuk segala perubahan dan tambahannya.1. Standar Tatacara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 032847-1992) e. Lembaran Negara Nomor 14571 dan terjemahan dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Penerbit Pekerjaan Umum. Elektrikal / Listrik dan Mekanikal. antara lain : a. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang tercantum di dalam Gambar Pelaksanaan tanpa sepengetahuan Owner. f. Mengingat setiap kesalahan maupun ketidak-telitian di dalam pelaksanaan satu bagian pekerjaan akan selalu mempengaruhi bagian pekerjaan lainnya.4.

Kontraktor wajib melaksanakan semua pekerjaan dengan mengikuti petunjuk dan syarat pekerjaan. 3. Keselamatan Tenaga Kerja dan Kesehatan Kerja yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. maka diberlakukan standar-standar internasional yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku standar-standar / syarat teknis dari negara-negara asal bahan / material / komponen yang bersangkutan. w. l. maka Rencana Kerja dan Syarat-syarat berikut tambahan dan perubahan yang telah disepakati bersama akan mengikat. 02/KPTS/1985 tentang Penanggulangan Bahaya Kebakaran Peraturan Perburuhan di Indonesia dan Peraturan Umum tentang Penggunaan Tenaga Kerja.2. Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh jawatan / Instansi Pemerintah setempat. n. serta mendapat ijin tertulis dari Konsultan Pengawas. c. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL-1979) dan PLN setempat Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir untuk bangunan di Indonesia (PUIPP1983) Peraturan sambungan Telepon yang berlaku di Indonesia Peraturan umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga kerja Keputusan Menteri Pekerjaan Umum no. Persyaratan Cat Indonesia (NI-4) Peraturan Umum Instalasi Air (AVWI) Pedoman Plumbing Indonesia (PPI-1979) Peraturan umum tentang pelaksanaan Air Minum serta instalasi pembuangan dan peraturan dari Perusahaan Daerah Air Minum setempat. dan atau petunjuk yang diberikan oleh Konsultan Pengawas. d. 4. harus -4- . peraturan persyaratan pemakaian bahan bangunan yang dipergunakan sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). b. r. Arsitektur dan M&E. e.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan j. q. o. yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan 3.1. m. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing). Surat Perjanjian Melaksanakan Pekerjaan / Kontrak. berlaku pula : a. termasuk juga gambar-gambar kerja yang dibuat oleh pemborong dan sudah disetujui / disahkan oleh Pemberi Tugaas. Peraturan Kapur Indonesia (NI-7). v. Kontraktor wajib memperhatikan dan melakukan koordinasi kerja dengan pekerjaan lain menyangkut pekerjaan Struktur. Apabila terdapat kekeliruan dan penyimpangan dari peraturan sebagaimana tercantum di atas. maupun standar-standar nasional lainnya.2. peralatan konstruksi dan tenaga kerja yang harus disediakan oleh Kontraktor.3. Seluruh bahan. demikian pula metode / cara pelaksanaan pekerjaan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standar-standar yang tersebut di atas. 3. Sebelum melaksanakan setiap pekerjaan di lapangan. s. p.4. u. Gambar bestek yang dibuat oleh perencana yang sudah disahkan oleh Pemberi Tugas. Selain ketentuan-ketentuan yang tersebut di atas. Kontraktor harus bertanggung jawab penuh atas kualitas pekerjaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam RKS dan Gambar Kerja. Surat Penawaran berikut lampiran-lampirannya f. k. Rencana kerja pelaksanaan (Time Schedule) yang dibuat oleh pemborong dan disetujui oleh Pemberi Tugas. Pasal 4 TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR 4. Peraturan Semen Portland Indonesia (NI-8 1974) Bata Merah sebagai Bahan Bangunan (NI-10) Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983. t. x.

3. -5- 5.11.1. 4. 4. 4. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui. Segala biaya yang timbul akibat kelalaian Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan menjadi tanggung-jawab kontraktor.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan diselenggarakan sedemikian rupa. sehingga diterima oleh Konsultan Pengawas / Owner. Kontraktor bertanggung-jawab atas kerusakan lingkungan yang timbul akibat pelaksanaan pekerjaan. 4. keahlian masing-masing anggota kelompok kerja pelaksanaan pekerjaan ini dan inventarisasi peralatan yang dipergunakan untuk pekerjaan ini. ( Berpendidikan minimal Sarjana Teknik Sipil atau sederajat dengan pengalaman minimun 5 ( lima ) tahun dan memiliki pengalaman mengerjakan pekerjaan sejenis ) Dengan adanya Pelaksana. Selama pembangunan berlangsung. nama. atau memberi nasehat tidak mengurangi tanggung-jawab tersebut di atas. Kontraktor harus menjaga keamanan bahan / material. baik yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. 4. Konsultan Pengawas dan milik Pihak ketiga yang ada di lapangan. jabatan. Di lapangan pekerjaan.6. 4. Apabila hal ini tidak dilakukan. Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa kontraktor atau biasa disebut Project Manager / Pelaksana yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan mendapatkan kuasa penuh dari Kontraktor. baik yang telah dipasang maupun belum.5. 4. 4. . Kehadiran Konsultan Pengawas selaku wakil Pemberi Tugas untuk melihat.14.7. Kontraktor wajib memasukkan indentifikasi tempat kerja (Workshop) dan peralatan yan g dimiliki di mana pekerjaan akan dilaksanakan. Kontraktor bertanggungjawab atas kerusakan yang timbul. barang milik proyek. serta jadwal kerja. adalah tanggung-jawab Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaan tambah. Apabila terjadi kebakaran. 4.2. Kontraktor wajib memasukkan identitas.4. mengawasi.9. tidak berarti bahwa kontraktor lepas tanggung jawab sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya. menjaga ketertiban baik di dalam lokasi maupun di luar lokasi proyek demi kelancaran pelaksanaan. menegur. Bilamana terjadi gangguan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor berkewajiban memperbaiki kerusakan tersebut dengan biaya Kontraktor sendiri. dengan kualifikasi sesuai dengan yang diajukan dalam Usulan Teknis. 4. 4.10. Kontraktor bertanggung-jawab atas tenaga kerja yang dikerahkan dalam pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor bertanggung-jawab atas akibatnya.13. Segala pembiayaannya menjadi tanggungan Kontraktor. maka Kontraktor berkewajiban memberikan saran-saran perbaikan kepada Pemberi Tugas melalui Konsultan Pengawas.8.12. maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai dengan tahap serah terima kedua. Pasal 5 KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN 5. 4. Kontraktor harus segera mengangkut bahan bongkaran dan sisa-sisa bahan bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi keluar lokasi pekerjaan. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan kerja di lapangan. Apabila pekerjaan telah selesai.

2. yang selanjutnya akan memberikan 1 (satu) salinan Rencana Kerja kepada Konsultan Perencana. Pasal 7 JADWAL PELAKSANAAN 7. maka Pengawas harus memberikan petunjuk secara tertulis langkah-langkah yang perlu diambil guna 7. untuk menjamin penyelesaian pada waktu yang telah ditentukan atau pada waktu yang diperpanjang.5. menurut pendapat Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas. Bila terjadi perubahan alamat. Bila dikemudian hari. 7. 5. 7. Rencana Kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas. Pelaksana kurang mampu atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan.3. alamat dan nomor telepon di lokasi kepada Panitia Pembangunan dan Konsultan Pengawas. maka pihak Pemborong harus segera memberitahukan secara tertulis segera kepada Pemimpin Pelaksana Proyek untuk bahan pertimbangan penanggulangannya.3. pihak Pemborong berkewajiban meneliti semua gambar konstruksi / struktur. nama dan jabatan Pelaksana untuk mendapatkan persetujuan. 7. kontraktor dan pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis. Untuk menjaga kemungkinan diperlukan kerja di luar jam kerja apabila terjadi hal-hal mendesak. kontraktor dan pelaksana wajib memberitahukan segera secara tertulis . 7. kontraktor harus menunjuk pelaksana baru atau kontraktor sendiri (Penanggung Jawab/Direktur Perusahaan ) yang akan memimpin pelaksanaan.1. Pasal 6 TEMPAT TINGGAL (DOMISILI) KONTRAKTOR DAN PELAKSANA 6. Kontraktor wajib memberitahu secara tertulis kepada Tim Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas. Pemborong harus mengusahakan bahwa dalam pelaksanaan Pembangunan / Pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan rencana kerja tersebut. maka akan diberitahukan kepada kontraktor secara tertulis untuk mengganti Pelaksana.6. 5. Kontraktor wajib membuat Rencana Kerja Pelaksanaan (Work Planning) dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar-Chart dan SCurve Bahan dan Tenaga.4. Sebelum mulai pekerjaan di lapangan.1. Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan Rencana Kerja tersebut.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 5. Apabila laju kemajuan pekerjaan atau bagian pekerjaan pada suatu waktu menurut penilaian Konsultan Pengawas telah terlambat. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja rangkap 4 (empat) kepada Konsultan Pengawas.2. dan bila terdapat kekeliruan / kesalahan yang sekiranya menurut anggapan Pemborong akan membahayakan. Sebelum melaksanakan pembangunan / pekerjaan. Alamat Kontraktor dan Pelaksana diharapkan tidak sering berubah – rubah selama pekerjaan. 6. Rencana Kerja yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Satu salinan Rencana Kerja harus ditempel pada dinding Bangsal Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik kemajuan / prestasi kerja.4.5. Dalam waktu 7 ( tujuh ) hari setelah dikeluarkan surat pemberitahuan. paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender setelah Surat Keputusan Penunjukan (SPK) diterima Kontraktor. -6- . akan disahkan Pemberi Tugas.

maka Kontraktor harus menjaga ketertiban selama perjalanan sehingga lalu lintas tidak terganggu demi kelancaran pengadaan yang dimaksud. gudang bahan dan alat. d. kantor pemborong. b. a. Pemborong harus membuat Ownerkeet minimal seluas 32 M ( 4 x 8 M ) untuk ruang pengawas dan ruang rapat. o 2 (dua) buah kursi duduk dari metal beralas busa (chitose atau setara). dalam mengadakan dan atau mengembalikan peralatan berat. Gudang. meja rapat serta alat-alat kantor yang diperlukan (lantai diplester.2. Owner keet. Pasal 8 PERSIAPAN DI LAPANGAN 8. juga menempatkan petugas demi keamanannya. Di lokasi proyek Kontraktor harus menetapkan lokasi penempatan material. peralatan kerja termasuk alat bantu kerja yang digunakan dalam perencanaan maupun pelaksanaan fisik di lokasi proyek sesuai dengan lingkup pekerjaan serta memperhitungkan biaya yang ditimbulkan. Mobilisasi Peralatan dan Demobilisasi. gudang. 2 2 a. b. Owner keet. Selama berlangsungnya pekerjaan. Biaya untuk pengadaan peralatan-peralatan tersebut harus sudah diperhitungkan pada harga satuan yang terkait. 8. pintu dan jendela yang dapat dikunci). Kantor Pemborong. dan gudang penyimpanan peralatan kerja serta bahan/material.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan melancarkan laju pekerjaan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan. o 1 (satu) buah white board ukuran 60 cm x 120 cm lengkap dengan spidol (selama proyek) dan penghapusnya o 2 (dua) buah papan triplex 120 x 240 cm untuk menempel gambar o Rak dari multiplex untuk contoh material dan file. Pada saat mempergunakan jalan umum. pemanfaatannya akan ditentukan oleh Pemberi Tugas. dinding papan / triplek dan atap genting/asbes. meja kerja. seperti terpal plastik untuk bekerja pada saat hari hujan. -7- . o Sebuah ruangan untuk buang air dan cuci tangan dengan persediaan air yang cukup. o 8 (delapan) buah kursi duduk untuk perlengkapan meja rapat. Owner keet juga harus dilengkapi dengan 1 (satu) buah jendela nako. dan Los Kerja.3. Owner keet. bulk material / bahan. sehingga tidak terjadi ineffisiensi dalam pelaksanaan pekerjaan.1. o 1 (satu) meja rapat ukuran 120 x 240 cm dari multiplek 18 mm. Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja. kantor pemborong. Menyediakan fasilitas penempatan untuk tempat tinggal para pekerja. yang diperlengkapi dengan kursi. KM/WC sementara sesuai dengan denah maupun kondisi lapangan. perancah (scaffolding) untuk bekerja pada dinding yang tinggi serta peralatan bantu lainnya. c. Bangunan Owner keet / Bangsal Konsultan Pengawas dan perlengkapannya di atas setelah pekerjaan selesai. Kontraktor harus menyediakan alat-alat bantu sehingga dapat bekerja pada kondisi apapun. 8. letak dan arah hadapnya akan ditentukan oleh Pengawas Lapangan. KM/WC sementara dan lokasi pekerjaan harus senantiasa bersih dan bebas dari sampah-sampah sisa pekerjaan. Perlengkapan Ownerkeet / Bangsal Konsultan Pengawas : o 2 (dua) buah meja tulis ½ biro ukuran 60cmx120cm dengan laci dan lemari yang dapat dikunci. c.

5. b. setelah selesai pelaksanaan pembangunan / pekerjaan tersebut. Penyediaan air untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan (air kerja). 8. Pemborong juga berkewajiban membuat Kantor Pemborong. e. f. Kontraktor harus menyediakan sumber tenaga listrik. serta biaya pengadaannya menjadi tanggung jawab Kontraktor. kehilangan dan hal-hal yang dapat mengganggu pekerjaan lain yang sedang berjalan. b. serta memuat semua petunjuk-petunjuk. Penyediaan tempat penyimpanan bahan / material di lapangan harus aman dari segala kerusakan. Kontraktor diwajibkan memasang pagar proyek di lokasi seperti yang dipetakan di dalam gambar dan atau atas petunjuk lainnya dari Konsultan Pengawas. Gudang penyimpanan barang-barang yang dapat dikunci. keputusan-keputusan dan detail pekerjaan yang dilaksanakan. 8. Air yang dimaksud adalah air bersih. minyak dan bahan kimia lainnya yang merusak. dan sesuai dengan peraturan Pemerintah Daerah setempat.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan d. Kontraktor wajib menyediakan alat-alat yang senantiasa berada di lokasi proyek berupa : o 1 (satu) kamera o 1 (satu) alat ukur schuifmat / jangka sorong (sigmat) o 1 (satu) alat ukur optik (theodolith/waterpass) o 1 (satu) mesin tik standar 18” atau 1 unit komputer dan alat cetak (printer) o 1 (satu) alat ukur panjang masing-masing 50 M dan 5 M o 1 (satu) mistar waterpass panjang 120 cM o Buku harian untuk mencatat kunjungan tamu-tamu yang ada hubungannya dengan proyek. Pekerjaan penyediaan sarana air dan daya listrik untuk bekerja.6. Los Kerja. Kontraktor harus memperhitungkan biaya penyediaan air bersih untuk kebutuhan tersebut. d. c. Konsultan Pengawas dan Kontraktor. a. yang berasal dari sumber air maupun bak penampungan.7. bebas dari bau. Pagar Proyek a. Kontraktor wajib menyediakan tabung alat pemadam kebakaran (fire extinguisher) lengkap dengan isinya. tempatnya akan ditentukan bersama oleh Pemberi Tugas. harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan dari Konsultan Pengawas / Owner. untuk keperluan peralatan kerja. Penyediaan penerangan/sumber tenaga listrik berlangsung selama 24 jam setiap hari. Penyediaan Alat Pemadam Kebakaran Selama pembangunan berlangsung. dengan membuat sumur pompa di tapak proyek atau diperoleh dari supplier / pemasok air. memenuhi persyaratan kekuatan. perlengkapan. 8. Gudang dan Los Bahan yang dibuat oleh pemborong. yang diperoleh dari sambungan PLN atau dengan Genset. Owner keet dan bedeng pekerja. bebas dari lumpur. kolom setempat dari kayu Borneo ukuran 5/7. 8.00 M dari permukaan tanah dengan bahan dari seng gelombang BJLS 32 dicat. penerangan proyek pada malam hari. Kantor Pemborong. Semua perijinan. Tinggi Pagar Proyek minimum 2. Kontraktor bertanggung jawab dalam pendistribusian air untuk KM/WC serta air untuk kerja. air bersih untuk pekerja dan KM/WC (sementara) selama proyek berlangsung. Penggunaan Diesel / Genset untuk pembangkit tenaga listrik tidak boleh mengganggu kegiatan Pemberi Tugas atau lingkungan sekitar proyek. harus segera dibongkar / dibersihkan oleh pihak kontraktor kecuali ada ketentuan lain dari Owner/Pengawas. Sebelum pelaksanaan konstruksi dimulai. yang dapat -8- .4.

Yang dimaksud dengan pekerjaan dokumentasi antara lain : • Laporan-laporan perkembangan proyek. -9- . Pasal 9 PENGUKURAN KETINGGIAN PERMUKAAN DAN POSISI BAGIAN – BAGIAN PEKERJAAN 9. a. 8. dan lain-lain yang diterakan pada gambargambar. yaitu titik-titik ukur yang ada di lapangan proyek seperti yang direncanakan dalam gambar-gambar. Kontraktor harus membersihkan seluruh daerah kerja dari segala macam peralatan tersebut. Selama proyek berlangsung. Data Ketinggianketinggian tanah yang ada. sisa-sisa bahan bangunan. Papan Nama Proyek Bila diharuskan oleh Pemerintah Daerah setempat. Ukuran ukuran tersebut dalam pasal terdahulu dimaksudkan sebagai garis besar pelaksanaan dan pegangan kontraktor.10. Pembersihan tumbuh-tumbuhan yang ada pada lokasi peruntukan kerja sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Pengawas Lapangan. dimaksudkan sebagai informasi umum dan titik-titik tolak untuk pelaksanaan pekerjaan ini oleh Kontraktor. Dokumentasi Kontraktor Konstruksi harus memperhitungkan biaya pembuatan dokumentasi proyek serta pengirimannya ke Project Management.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan digunakan untuk memadamkan api akibat dari listrik. • Foto-foto proyek. Sesudah proyek selesai dan sebelum dilakukan penyerahan pekerjaan kepada pemilik proyek. Pekerjaan yang dimaksud dalam dokumen ini merupakan rencana rehabilitasi yang akan dilaksanakan di lokasi yang telah ditentukan apa adanya. Seluruh titik ukur sehubungan dengan pekerjaan ini didasarkan pada ukuran-ukuran setempat. maka Kontraktor harus memasang Papan Nama Proyek sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku. 8. minyak dan gas dengan kemasan tabung kapasitas 7 Kg. termasuk pengangkutannya ke suatu tempat di lingkungan Pemilik Proyek tanpa tambahan biaya. Kebersihan.8. biaya pembuatannya sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. Bahan papan nama dapat dibuat dari papan kayu atau baja pelat lembaran lapis seng. 8. Drainase / Saluran Tapak Sementara Dengan mempertimbangkan keadaan topografi / kontur tanah yang ada di tapak. Foto-foto dokumentasi proyek menggambarkan kemajuan proyek dari waktu mulai dilaksanakan pekerjaan sampai dengan selesainya pelaksanaan pekerjaan.11. • Surat-surat dokumen lainnya. dengan besar tulisan yang dapat terbaca pada jarak yang cukup. 8. berwarna minimal ukuran postcard dan dilengkapi dengan album.9. bekas bongkaran dan bangunan-bangunan sementara.2. Arah aliran ditujukan ke saluran yang sudah ada di lingkungan pembangunan. Foto dokumentasi proyek dibuat pada saat kemajuan fisik bangunan mulai 0 % dan secara berkala setiap bulan sampai dengan 100 %. tinggi air tanah. dan air tanah sehingga dapat menjamin terhindarnya proyek dari kemungkinan genangan air yang mengganggu kelancaran pekerjaan maupun daerah kerja sekitarnya. Kontraktor harus menjaga kebersihan dan mengatur lokasi bahan bangunan dan alat kerja serta daerah kerja sehingga kelancaran pelaksanaan pekerjaan tidak terhambat karenanya. Papan nama proyek dibuat dalam ukuran yang memadai dan dipasang kokoh pada tempatnya. b.1. Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk pengeringan air hujan. 9. c.

Selanjutnya peil + 0. prisma silang pengukuran menurut situasi dalam kondisi tanah bangunan. Kemiringan yang dibuat harus cukup untuk mengalirkan air hujan menuju ke selokan yang ada disekitarnya serta mengikuti persyaratan-persyaratan yang tertera dalam Gambar Kerja. Kontraktor harus menyediakan semua peralatan. Ketidak-cocokan yang terjadi antara Gambar Kerja dan keadaan lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan ke Owner / Konsultan Pengawas untuk diminta keputusannya.7.5. sifat dan luasnya pekerjaan dan hal lain yang dapat mempengaruhi harga penawaran. Perbedaan antara Gambar Kerja dengan keadaan di lapangan harus dilaporkan kepada Konsultan Pengawas / Owner untuk mendapatkan pemecahannya setelah berkonsultasi dengan Perencana. Kontraktor wajib memperhatikan dan mempelajari segala petunjuk yang tertera dalam Gambar Kerja untuk memastikan posisi dan ketepatan di lapangan bagi setiap bagian pekerjaan. 9.8. Sebelum pelaksanaan pekerjaan. Ketepatan letak bangunan diukur di bawah pengawasan Konsultan Pengawas dengan patok yang terpancang kuat-kuat dan papan terentang dengan ketebalan 2 cm diketam rata pada sisi-sisinya. yang selalu berada dilapangan. Titik duga harus dijaga kedudukannya kedudukannya serta tidak terganggu selama pekerjaan berlangsung dan tidak boleh dibongkar sebelum mendapat ijin tertulis dari Konsultan Pengawas . semua sisi dicat warna merah. 9.00 ini ditandai dengan patok ukur yang ditentukan di lapangan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.9. . Pembentukan dan penyelesaian tanah harus mengikuti bentuk. Hasil pengukuran harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas / Owner dan Konsultan Perencana. yang diperlukan dalam hubungannya dengan pekerjaan pengukuran letak bangunan dan lantai-lantai di atasnya. Pengukuran sudut siku-siku dengan prisma atau benang secara azas segitiga Phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang telah disetujui oleh Owner / Konsultan Pengawas. kemiringan / kontur / peil yang tertera di dalam Gambar Kerja. d.10 - . Pencocokan peralatan ketinggian di lapangan oleh Pengawas. Kontraktor wajib meneliti situasi tapak.00 finishing Arsitektur adalah permukaan lantai finishing ruangan lantai dasar yaitu setinggi + . 9. Kontraktor harus memasang patok-patok lain yang penting di tapak untuk patokan titik mula setiap bagian pekerjaan. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudutnya dilakukan dengan alat-alat waterpass / theodolit. Pekerjaan penentuan peil + 0.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 9. Tidak dibenarkan Kontraktor mengambil tindakan tanpa sepengetahuan Konsultan Pengawas / Owner. cm di atas permukaan jalan depan site seperti tertera dalam Gambar Kerja.4. Di bawah pengamatan Konsultan Pengawas. b. Kontraktor bertanggung jawab atas kebenaran penetapan ketinggian dan perletakan bangunan di lapangan dan harus disetujui secara tertulis oleh Konsultan Pengawas. 9. bagaimanapun juga 9. e. water pass). Tidak dibenarkan adanya genangan air. Kontraktor diwajibkan membuat satu titik patok permanen di atas halaman bangunan dari beton yang panjangnya minimum 100 cm. terutama keadaan lokasi.6. Kelalaian atau kekurang telitian kontraktor dalam hal ini tidak dijadikan alasan untuk mengajukan claim / tuntutan. Kontraktor diwajibkan melakukan pengukuran kondisi tapak terhadap posisi rencana bangunan baru. 9. c. Kontraktor harus menyediakan pembantu yang ahli dalam cara-cara mengukur alat penyipat datar (theodolit.3. Penawaran yang diserahkan Kontraktor harus sudah meliputi semua biaya untuk pelaksanaannya sesuai dengan ukuran-ukuran dan ketinggian-ketinggian yang ditentukan pada gambar-gambar. Pengukuran papan bangunan (bouwplank) a. perlengkapan dan tenaga kerja termasuk juru ukur. berpenampang 15 cm x 15 cm.

Standar Industri Indonesia (SII) untuk bahan termaksud.7. baik untuk pekerjaan permanen maupun pekerjaan sementara termasuk segala macam barang lainnya yang diperlukan. Kontraktor atas biaya sendiri. kecuali bila ditentukan lain dalam RKS Teknis. bouwplank dan benda-benda lain yang digunakan dalam penetapan letak dan ketinggian bangunan. model. dan mengikuti peraturan persyaratan bahan bangunan yang berlaku. jenis dan sebagainya. harus mengadakan dan menyediakan semua peralatan konstruksi dan bahan. Kecuali ditentukan lain. Bahan / material dan komponen jadi yang dipasang / dipakai harus sesuai dengan yang tercantum di dalam Gambar. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan adalah 2 (dua) minggu sebelum jadwal pelaksanaan. Merk Bahan / Material dan Komponen Jadi. Kontraktor boleh mengusulkan merk-merk dagang lainnya yang setara dalam mutu. memenuhi standar spesifikasi bahan tersebut. 10. Pasal 10 KETENTUAN DAN SYARAT BAHAN .5.3. Disyaratkan bahwa hanya satu merk pembuatan atau merk dagang yang diperkenankan untuk setiap jenis bahan yang boleh dipakai dalam pekerjaan ini. dan hendaknya tidak diartikan sebagai persyaratan (merk) yang mengikat. 10. bentuk. Penggunaan bahan produk lain dengan apa yang dipersyaratkan harus setara atau lebih baik. Konsultan Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli yang ditunjuk oleh pabrik dan atau supplier yang bersangkutan tersebut sebagai 10. maka biaya tersebut harus ditanggung oleh Kontraktor tanpa dapat mengajukan sebagai biaya tambah. sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas dan Perencana. Apabila diperlukan biaya untuk test laboratorium. ketahanan serta kekuatannya dan harus disetujui Konsultan Pengawas secara tertulis dan diketahui Konsultan Perencana. atau test dari Laboratorium Lembaga Pengujian Bahan.4.2. selama barang tersebut memenuhi syarat-syarat minimum yang ditetapkan. baik mengenai kualitas. Kontraktor / Pelaksana terlebih dahulu harus memberikan contoh-contoh semua bahan-bahan yang diperlukan untuk bangunan tersebut kepada Konsultan Pengawas / Owner untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum semua bahan-bahan tersebut didatangkan / dipakai. bentuk. Sepanjang tidak ada ketetapan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini maupun dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan. 10. Dalam hal di mana disebutkan 3 (tiga) merk dagang atau lebih untuk jenis bahan / pekerjaan yang sama. nama-nama atau merk-merk dagang dari bahan yang disebutkan dalam Syarat Teknis ini. 10.11 - . Dalam hal pengadaan semua bahan baku. barang jadi. Apabila dianggap perlu. bahan setengah jadi dan lainlain. 10. RKS dan atau Risalah Aanwijzing.BAHAN 10. maka Kontraktor Konstruksi diharuskan untuk dapat menyediakan salah satunya. penggunaan barang produksi dalam negeri akan sangat diperhatikan / diutamakan. bahan-bahan yang akan dipergunakan maupun syarat-syarat pelaksanaan harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI th. Kontraktor juga harus melindungi dan menjaga dengan hatihati semua patok tetap. serta ketentuan-ketentuan dan syarat bahan-bahan lainnya yang berlaku di Indonesia.6. ditujukan untuk maksud-maksud perbandingan kualitas. terutama dalam hal mutu.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan tidak melepaskan kontraktor dari tanggung jawab atas ketepatan dari penetapan letak dan ketinggian tersebut. disertai data teknis bahan.1982).1. model. . jenis dan sebagainya setelah mendapat persetujuan Konsultan Perencana. Contoh bahan tersebut yang harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas adalah sebanyak 3 (tiga) buah dari satu bahan yang ditentukan untuk menetapkan “Standard of Appearance” dan disimpan di ruang Konsultan Pengawas / Owner.

11. jenis. 10. Bahan-bahan yang didatangkan / dikerjakan harus sesuai dengan contoh-contoh yang telah disetujui Konsultan Pengawas seperti yang diatur dalam pasal 11 di atas. Biaya pengiriman dan penelitian menjadi tanggung jawab kontraktor.2. Semua bahan bangunan yang akan digunakan harus diperiksakan dulu kepada Konsultan Pengawas untuk mendapat persetujuan. Sebelum ada kepastian dari Laboratorium tersebut di atas tentang baik atau tidaknya kualitas dari bahan-bahan tersebut. . apapun hasil penelitian bahan tersebut. Keputusan bahan. Dalam hal ini Kontraktor tidak berhak mengajukan klaim sebagai pekerjaan tambah. Kontraktor / Pelaksana tidak diperkenankan melanjutkan pekerjaan . Segala biaya pemeriksaan tersebut ditanggung oleh Kontraktor. Apabila sesudah bahan-bahan tersebut dinyatakan ditolak oleh Konsultan Pengawas / Owner dan ternyata masih dipergunakan oleh Kontraktor / Pelaksana. warna. Bahan bangunan yang telah didatangkan oleh kontraktor dilapangan pekerjaan. atau semua bengkel dan tempattempat di mana pekerjaan sedang dikerjakan / dipersiapkan atau di mana bahan / barang dibuat. Pasal 11 PEMERIKSAAN BAHAN .pekerjaan yang menggunakan bahan-bahan tersebut.12 - . 11. tidak boleh dipergunakan dan harus segera dikeluarkan dari lapangan selambat-lambatnya dalam tempo 3 x 24 jam terhitung dari jam penolakan. Konsultan Pengawas berwenang menanyakan asal bahan dan kontraktor wajib memberitahukan. dan bahan – bahan tersebut tidak rusak.1. Jika terdapat perselisihan dalam pelaksanaan tentang pemeriksaan kualitas dari bahan-bahan tersebut. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan harus sesuai dengan peryaratan pabrik yang bersangkutan dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan pelaksana. 11.5.8. Owner dan Konsultan Pengawas atau setiap petugas yang diberi kuasa olehnya.1. Pasal 12 PEMERIKSAAN PEKERJAAN 12.4. setiap waktu dapat memasuki tempat pekerjaan.3. maka Konsultan Pengawas berhak memerintahkan pembongkaran kembali kepada Kontraktor yang mana segala kerugian yang diakibatkan oleh pembongkaran tersebut menjadi tanggungan kontraktor sepenuhnya disamping pihak kontraktor tetap 0 dikenakan denda sebesar 1 /00 (satu permil) dari harga borongan. 11.6. Apabila Konsultan Pengawas merasa perlu untuk meneliti suatu bahan lebih lanjut. 10. Kontraktor harus memberi fasilitas dan membantu untuk memasuki tempat-tempat tersebut. tetapi tidak memenuhi syarat-syarat atau kualitasnya jelek yang dinyatakan di-afkir / ditolak oleh Konsultan Pengawas. tekstur dan produk yang dipilih. Penyimpanan bahan – bahan harus diatus sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kelancaran pelaksanaan. maka Kontraktor harus memeriksakannya ke Laboratorium Lembaga Penelitian Bahan-bahan untuk diuji dan hasil pengujian tersebut disampaikan kepada Konsultan Pengawas / Owner secara tertulis. akan diinformasikan kepada Kontraktor selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah penyerahan contoh bahan tersebut.9.BAHAN 11. 11. Konsultan Pengawas berhak mengirim bahan tersebut ke laboratorium Lembaga Penelitian Bahan-bahan yang terdekat untuk diteliti.

4. 12. Kualitas pekerjaan atau kualitas hasil pekerjaan yang kurang memenuhi syarat akan ditolak dan dilarang untuk diteruskan kegiatanya.13 - . Konsultan Pengawas berhak menyuruh membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam dihitung dari jam diterimanya surat permohonan pemeriksaan. Biaya pembongkaran dan pemasangan kembali menjadi tanggung jawab kontraktor . maka kontraktor tetap bertanggung jawab atas bagian pekerjaan tersebut maupun akibat yang ditimbulkan atas bagian pekerjaan sebelumnya terhadap hasil bagian pekerjaan lanjutannya. 13. Pekerjaan harus dikerjakan dengan kualitas pengerjaannya terbaik dan hanya tenaga-tenaga kerja terbaik dalam tiap jenis pekerjaan diijinkan untuk melaksanakan pekerjaan bersangkutan. maupun mutu hasil pekerjaan sendiri ditolak oleh Konsultan Pengawas / Owner. Baru bila Konsultan Pengawas telah menyetujui bagian pekerjaan tersebut. tidak dipenuhi oleh Konsultan Pengawas. Bila Kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini.5. Biaya pembongkaran dan pemasangan / perbaikan kembali menjadi tanggungan Kontraktor.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 12.2. tidak dihitung hari libur / hari raya. atau sebagai alasan untuk perpanjangan waktu pelaksanaan. harus segera dihentikan dan selanjutnya dibongkar atas biaya Kontraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh Konsultan Pengawas/ Owner.1. Hal ini dikecualikan bila Konsultan Pengawas minta perpanjangan waktu.2. Tidak ada pekerjaan yang boleh ditutup atau menjadi tidak terlihat sebelum mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas. Bila Kontraktor melalaikan perintah. Kontraktor harus memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Pengawas untuk memeriksa. b. Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan Kontraktor. 12.6. 12. Kontraktor diwajibkan meminta kepada Konsultan Pengawas untuk diperiksa setelah menyelesaikan suatu bagian pekerjaan untuk persetujuannya. Pembongkaran serta pembuatan baru yang sesuai ( terlepas dari test-test terdahulu atau pembayaran dimuka ) dari sembarang pekerjaan yang menurut Owner secara material atau keahlian tidak cocok dengan kontrak.3. tetapi karena ‘keadaan mendesak’ dilanjutkan oleh kontraktor. 12. Apabila ada bagian pekerjaan yang dilanjutkan sebelum disetujui. tetapi karena bahan / material / komponen jadi. Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang harusnya diperiksa dianggap telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. maka Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian pekerjaan yang seharusnya diperiksa dianggap disetujui oleh Konsultan Pengawas / Owner. Untuk menyingkirkan dari tempat pekerjaan. tidak dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah. yang berakibat pula pada perbaikan pekerjaan sebelumnya yang telah disetujui. Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya. Apabila surat permohonan pemeriksaan tidak dipenuhi / ditanggapi oleh Konsultan Pengawas / Owner. 12.2. . bahanbahan / material yang dianggap tidak sesuai dengan kontrak. Penggantian bahan-bahan atau material yang tidak cocok dan sesuai c.7. 12. sebelum memulai pekerjaan lanjutannya. dalam jangka waktu tertentu. Pasal 13 KUALITAS PEKERJAAN 13. Perintah perbaikan atas hasil pekerjaan lanjutan. Konsultan Pengawas / Owner berhak untuk membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki. dan tidak dapat diklaim sebagai biaya pekerjaan tambah. Selama pekerjaan berlangsung Owner berhak sewaktu-waktu memerintahkan secara tertulis kepada kontraktor : a.

14 - .9. kecuali bilamana kedua belah pihak sepakat untuk tidak menganggapnya demikian.10. Pengujian Hasil Pekerjaan. 13. Pada pengujian ulang harus dikonfirmasikan penerapan dari alat-alat pengujian. 13. 13.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 13. d. Atas hal yang terakhir ini. Mengadakan pengujian ulang pada Badan / Lembaga Pengujian pertama atau kedua dengan ketentuan tambahan sebagai berikut : c.4. 13. e. Apabila ternyata kedua hasil pengujian dari kedua Badan tersebut memberikan kesimpulan yang berbeda maka dapat dipilih untuk : a. Kontraktor / Supplier tidak berhak mengajukan sanggahan. Apabila hasil pengujian ulang mengkonfirmasikan kesimpulan dari hasil pengujian yang pertama.3.4. Pasal 14 GAMBAR KERJA (SHOP DRAWING) 14. penambahan besarnya sesuai dengan penundaan yang terjadi. maka semua pekerjaan akan diuji dengan cara dan tolok ukur pengujian yang dipersyaratkan dalam referensi yang ditetapkan. Pelaksanaan ulang pengujian harus disaksikan oleh Konsultan Pengawas dan Kontraktor / Supplier ataupun wakil-wakilnya. maka Badan / Lembaga yang akan melakukan pengujian dipilih atas persetujuan Konsultan Pengawas dari Badan / Lembaga Pengujian milik Pemerintah atau yang diakui Pemerintah atau Badan lain yang dianggap mempunyai objektifitas dan integritas yang meyakinkan. Bila ternyata pihak Konsultan Pengawas yang mempunyai pendapat salah. Memilih Badan / Lembaga Pengujian ketiga atas kesepakatan bersama. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus. maka pihak tersebut berhak mengadakan pengujian tambahan pada Badan / Lembaga lain yang memenuhi persyaratan Badan Penguji seperti tersebut di atas. Shop drawing merupakan gambar detail pelaksanaan di lapangan yang harus dibuat oleh Kontraktor berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan lapangan. 13. maka semua biaya untuk pengujian tambahan menjadi beban pihak yang mengusulkan.7. Hasil dari pengujian harus dianggap final. Kontraktor wajib membuat shop drawing pada setiap akan melaksanakan suatu pekerjaan dan untuk detail khusus yang belum tercakup lengkap dalam Gambar kerja / Dokumen kontrak maupun yang diminta oleh Konsultan Pengawas. b. Kegagalan Konsultan Pengawas untuk menolak pekerjaan atau material tidak menutup kemungkinan Owner dikemudian hari menolak suatu pekerjaan atau material yang dianggap tidak cocok dengan kontrak serta memerintahkan untuk membongkarnya atas tanggungan kontraktor. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus. 13. 13. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang disyaratkan menjadi beban kontraktor.5. .8. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua Badan tersebut memberikan kesimpulan yang sama. maka semua biaya untuk semua pengujian ulang menjadi tanggung jawab pihak yang mengusulkan diadakannya pengujian tambahan. maka atas segala penundaan pekerjaan akibat adanya penambahan / pengulangan pengujian akan diberikan tambahan waktu pelaksanaan pada bagian pekerjaan bersangkutan dan bagian-bagian lain yang terkena akibatnya.6. Dalam hal di mana salah satu pihak tidak dapat menyetujui hasil pengujian dari Badan Pengujian tersebut.1. 13.

3. 14. 15. 15. 17. yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar kerja dan perubahan rencana. Pasal 15 GAMBAR PERUBAHAN 15. serta harus diserahkan kepada Konsultan pengawas sebanyak 3 (tiga) rangkap berikut gambar asli (kalkir) atas biaya ditanggung Kontraktor. baik karena penyimpangan ataupun tidak. 16. .2. maka Kontraktor wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Kontraktor wajib mengajukan shop drawing tersebut sebanyak 3 (tiga) rangkap atas biaya Kontraktor kepada Konsultan Pengawas untuk mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. 16. Pasal 17 SUPLIER DAN SUB . cara pemasangan dan atau spesifikasi / persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar Kerja / Dokumen Kontrak maupun dalam buku ini. maka untuk perbedaan tersebut akan diminta persetujuan Konsultan Perencana. termasuk semua perubahan atas perintah dan persetujuan Konsultan Perecana / Owner. Pasal 16 GAMBAR SESUAI KENYATAAN (AS BUILT DRAWING) 16. Kontraktor harus membuat gambar-gambar yang sesuai dengan apa yang dilaksanakan.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 14. Gambar pelaksanaan adalah gambar yang sesuai dengan apa yang dilaksanakan.3.KONTRAKTOR 17. Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh dari semua bahan. Penyerahan gambar pelaksanaan (as built drawing) dilakukan setelah pekerjaan selesai dan diserah terimakan. Apabila karena metode pelaksanaan. Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 berikut kalkirnya ( gambar asli ) dan diberikan kepada Kontraktor melalui Konsultan Pengawas. Pelaksanaan pekerjaan fisik dilakukan berdasarkan shop drawing yang telah disetujui Konsultan Pengawas. keterangan produk.1. Persetujuan tersebut tidak melepaskan kontraktor dari tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh kontraktor. Jika Kontraktor menunjuk supplier dan atau Kontraktor bawahan (Sub – kontraktor ) yang memang sudah ahli dan terbiasa dalam melaksanakan pekerjaan yang ditawarkan dan dalam hal pengadaan bahan / material dan pemasangannya. dan yang tidak terdapat dalam Gambar Kerja. Kontraktor wajib mengadakan koordinasi pelaksanaan atas petunjuk Konsultan Pengawas dengan Kontraktor bawahan atau Supplier bahan.4. detail pada shop drawing berbeda dengan yang dimaksud dalam gambar kerja / Dokumen Kontrak. Perubahan rencana ini harus dibuat gambarnya yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pemberi Tugas.2. Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan antara gambar rencana dengan pekerjaan yang dilaksanakan.2.1.2. 14.1.3. Gambar kerja Dokumen Kontrak hanya dapat berubah atas permintaan tertulis oleh Pemberi Tugas dan dibuat oleh Konsultan Perencana.15 - .

kontraktor bertanggung-jawab atas keselamatan dan keamanan pekerja.5.1. Kontraktor wajib menyediakan air bersih. 19. kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya. untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja lapangan.4. Pasal 19 JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA 19. Dari permulaan hingga penyelesaian pekerjaan dan selama masa pemeliharaan. Konsultan Pengawas dan milik pihak ketiga yang ada di lapangan.2.16 - . 18.1. kecuali atas ijin Pemberi Tugas. Supplier wajib hadir mendampingi Konsultan Pengawas di lapangan untuk pekerjaan khusus di mana pelaksanaan dan pemasangan bahan tersebut perlu persyaratan khusus sesuai instruksi pabrik. Untuk maksud-maksud tersebut. . Kontraktor wajib menjamin keselamatan para tenaga kerja yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan dari segala kemungkinan yang terjadi dengan memenuhi aturan dan ketentuan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku (Jamsostek). 19. 18. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui Konsultan Pengawas. Apabila terjadi kebakaran. safety helmet.4. Lokasi dan arah jalan masuk akan ditentukan kemudian oleh Pengawas Lapangan. masker / kedok las terutama untuk dipakai pada pekerjaan pemasangan kuda-kuda baja dan pekerjaan yang beresiko tertimpa benda keras. Kontraktor diwajibkan menjaga lapangan terhadap barang-barang milik proyek. Membuat tempat penginapan di lapangan pekerjaan untuk para pekerja tidak diperkenankan. Kontraktor harus membuat jalan masuk sementara menuju lokasi pekerjaan. Setiap pekerja diwajibkan menggunakan sepatu pada waktu bekerja dan di lokasi harus disediakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa : safety belt. Dalam hal terjadinya kerusakan-kerusakan. Kontraktor juga wajib memasang rambu-rambu peringatan pada tempat-tempat yang mudah dilihat baik oleh pejalan kaki maupun pengemudi kendaraan bermotor. Untuk itu kontraktor diwajibkan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang ditempatkan di tempat-tempat yang akan ditetapkan kemudian oleh Konsultan Pengawas dan dianjurkan untuk mengasuransikan pekerjaan terhadap bahaya kebakaran . Pasal 18 PENJAGAAN KEAMANAN LAPANGAN PEKERJAAN 18. kamar mandi dan WC yang layak dan bersih bagi semua petugas dan pekerja. 18.3. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di lapangan. 19.3. 18. maka kontraktor harus bertanggung jawab memperbaikinya. bahan dan peralatan teknis serta konstruksi yang diserahkan Pemberi Tugas.2. baik berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa.3. kontraktor harus membuat pagar pengaman dari seng dan rangka kayu atau bahan lain yang biayanya menjadi tanggungan Kontraktor. baik yang telah dipasang maupun belum adalah menjadi tanggung jawab kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaan tambah. 19.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 17.5.

1. 20. tetapi Pemberi Tugas atas rekomendasi Konsultan Pengawas dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu karena adanya pekerjaan tambah tersebut. harga satuannya akan ditentukan lebih lanjut oleh Konsultan Pengawas bersama-sama Kontraktor dan persetujuan dari Pemberi Tugas. Apabila terjadi kecelakaan. Pasal 20 PEKERJAAN TAMBAH KURANG 20. 21.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan 19. Penyerahan pekerjaan kedua kalinya ( terakhir ) harus dilakukan sesudah habis jangka waktu pemeliharaan. Pasal 21 PEMELIHARAAN PEKERJAAN 21. Jangka waktu pemeliharaan adalah : 180 (seratus delapan puluh) hari kalender dihitung dari tanggal penyerahan pekerjaan pertama (pekerjaan selesai 100 %).1.17 - .7. Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga satuan pekerjaan yang dimasukkan dalam penawaran. 21. maka Pemberi Tugas berhak menyuruh pihak ketiga (kontraktor lain) untuk mengerjakannya atas beban kontraktor. 19.4.2. 20. Pemborong selekas mungkin memberitahukan kepada Pengawas Lapangan dan mengambil tindakan yang perlu untuk keselamatan korbankorban kecelakaan itu. dan sampai berakhirnya pekerjaan perbaikan yang harus dilaksanakan.2. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah / kurang diberitahukan tertulis dalam buku harian oleh Konsultan Pengawas. 20. penambahan dan pengurangan pekerjaan disesuaikan dengan Dokumen Kontrak.3. Sesuai dengan Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Tenaga Kerja Nomor : 30/KPTS/1984 dan Kep-07/Men/1984 tanggal 27 Januari 1984 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 1977 Bagi Tenaga Kerja Borongan Harian Lepas Pada Kontraktor Induk maupun Sub Kontraktor yang melaksanakan Proyek .3. Pekerjaan tambah / kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada perintah tertulis dari Konsultan Pengawas atau persetujuan Pemberi Tugas. Dalam jangka waktu tersebut. 20. serta persetujuan Pemberi Tugas. kontraktor tidak melaksanakan pekerjaan perbaikan tersebut. . hasil pekerjaan yang tidak baik dan melengkapi kekurangkekurangannya yang dilakukan oleh kontraktor akibat tidak baiknya pelaksanaan pekerjaan dan kurangnya mutu bahan seperti tertulis dalam Rencana kerja dan Syarat-Syarat ( RKS ) dan Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan ini atas biaya kontraktor. pihak pemborong yang ikut serta dalam program ASTEK dan memberitahukan secara tertulis kepada Pemimpin Pelaksana Proyek . Bila dalam jangka waktu pemeliharaan atas perintah konsultan Pengawas.5. Tata cara pelaksanaan dan penilaian perubahan. Adanya pekerjaan tambah tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab kelambatan penyerahan pekerjaan.6. 20.6. kontraktor wajib memperbaiki cacat-cacat tersembunyi.proyek Pembangunan. Biaya pekerjaan tambah / kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga satuan pekerjaan yang dimasukkan oleh kontraktor yang pembayarannya diperhitungkan bersama dengan angsuran terakhir.

• Suku cadang sesuai dengan yang disyaratkan.Syarat – Syarat Teknis dan Bahan Pasal 22 PENYERAHAN PEKERJAAN 22. kontraktor wajib menyerahkan : • 4 (empat) set pedoman operasi (operation manual) dan pedoman pemeliharaan (maintenance manual ). • Surat pernyataan pelunasan sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas.2. Selain itu seluruh kewajiban kontraktor seperti memberi latihan operasi kepada petugas yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas dan kewajiban lainnya telah dilaksanakan dan dapat diterima oleh Pemberi Tugas.18 - . 22. terdiri dari 1 ( satu ) set asli dan 3 ( tiga ) copy. Penyerahan pekerjaan terakhir kepada Pemberi Tugas hanya dapat dilaksanakan apabila seluruh pekerjaan telah dapat berfungsi secara sempurna dan dapat diterima oleh Pemberi Tugas. . Pada waktu penyerahan pekerjaan. • Jaminan kir instalasi yang disetujui oleh lembaga pemerintah yang berwenang.1.