P. 1
Semnas LS 2011 Makalah Matematika

Semnas LS 2011 Makalah Matematika

|Views: 1,260|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Feb 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4

PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

STUDI KASUS PENALARAN KOVARIASIONAL MAHASISWA PADA MATAKULIAH KALKULUS LANJUT

Erry Hidayanto
Jurusan Matematika FMIPA UM, erryhidayantoum@gmail.com

Abstrak: Penalaran kovariasional, khususnya dalam mengkonstruksi grafik fungsi merupakan salah satu kajian yang dilakukan tentang penalaran pada mahasiswa. Ada dua macam cara yang dapat dilakukan dalam mengkonstruksi grafik, yaitu dilakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu rumus fungsi tersebut kemudian menggambarkannya dalam suatu grafik atau bisa juga mengetahui sifat-sifat analitisnya lebih dahulu, kemudian menggambar grafiknya. Pada penelitian ini dikaji bagaimana penalaran kovariasional mahasiswa pada matakuliah kalkulus lanjut dengan memberikan tugas tentang bentuk penalaran mahasiswa beserta pengkonstruksian grafiknya dengan mengikuti kerangka kerja penalaran kovariasional yang dikembangkan oleh Carlson dkk. Dari hasil kajian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulanbahwa mahasiswa jurusan matematika FMIPA UM melakukan tindakan mental 1 (MA 1), yaitu pengkoordinasian nilai dari satu variabel terhadap perubahan variabel lain dengan cara melabeli sumbu dengan dua variable, tindakan mental 2 (MA 2) yaitu pengkoordinasian arah perubahan satu variabel terhadap perubahan variabel lain dengan cara menggambar titik-titik yang arahnya naik atau turun dan mampu menyatakannya secara lisan dengan suatu kesadaran arah perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input, dan tindakan mental 3 (MA 3) yaitu pengkoordinasian besarnya perubahan dari satu variabel terhadap perubahan variabel yang lain dengan cara mengkonstruksi kemiringan garis dan menyatakan secara lisan dengan suatu kesadaran dari besarnya perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input. Kata Kunci: penalaran, kovariasional, kejadian dinamik.

Penalaran kovariasional, khususnya dalam mengkonstruksi grafik fungsi merupakan salah satu kajian yang dilakukan tentang penalaran pada mahasiswa. Ada dua macam cara yang dapat dilakukan dalam mengkonstruksi grafik, yaitu dilakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu rumus fungsi tersebut kemudian menggambarkannya dalam suatu grafik atau bisa juga mengetahui sifat-sifat analitisnya lebih dahulu, kemudian menggambar grafiknya. Masalah penalaran mahasiswa dalam mengkonstruksi grafik telah banyak dikaji oleh para peneliti. Hal ini dapat dilihat diantaranya pada penelitian yang dilakukan oleh Saldanha, L., & Thompson, P.W. (1998), Stump (2001), Carlson dkk (2001, 2002, 2003), Engelke (2004), Mejia & Hurtado (2006), Steinthorsdottir (2006), Kynigos, C. (2006), Strom (2006), Silverman (2006), Moore, KC & Bowling, SA. (2008), dan Thomson & Silverman (2008). Temuan-temuan yang diperoleh dari hasil kajian tersebut diantaranya: mahasiswa kesulitan mengkonstruksi grafik yang diberikan sifat-sifat analitisnya daripada mengkonstruksi grafik yang diberikan rumus fungsinya, mahasiswa kesulitan menginterpretasikan dan merepresentasikan kecekungan dan titik belok grafik fungsi, mahasiswa kesulitan untuk memahami bahwa suatu fungsi merupakan hubungan dua variabel, mahasiswa kesulitan memahami grafik dengan variabel yang bervariasi dan memberikan alasan mengapa grafik fungsi berperilaku seperti itu, kemampuan mahasiswa untuk menafsirkan informasi grafik fungsi lambat berkembang dan mahasiswa cenderung tidak melihat grafik fungsi merupakan penggambaran suatu kovariasi, mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengkonstruksi grafik fungsi kejadian dinamik. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 1

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kejadian dinamik merupakan suatu kejadian yang menggambarkan perubahan bentuk. Perubahan nilai pada suatu variabel menyebabkan perubahan nilai pada variabel yang lain. Contoh-contoh kejadian dinamik antara lain: mengisi botol dengan air, penurunan tinggi ujung tangga yang menempel pada dinding jika tangganya ditarik perlahan-lahan, gerakan kura-kura menyeberangi sungai dan lain-lain. Namun demikian masih cukup terbatas penelitian yang berkaitan dengan grafik dan fungsi untuk kejadian dinamik (Carlson, 2002, 2003; Cho, Kim & Song, 2004). Krulick & Rudnick (1995) menyatakan bahwa penalaran merupakan tingkatan berpikir yang mencakup berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir kreatif, tetapi tidak termasuk mengingat (recall). Dengan kata lain penalaran merupakan proses berpikir yang memiliki karakteristik tertentu, yaitu: pola berpikir logis dan bersifat analitis. Lebih lanjut Subanji (2007) menyatakan bahwa pola berpikir logis berarti menggunakan logika tertentu, sedangkan bersifat analitis merupakan konsekuensi dari pola berpikir tertentu Menurut Carlson dkk (2002), kovariasional didefinisikan sebagai pengkoordinasian beberapa kuantitas, perubahan salah satu kuantitas mengakibatkan perubahan kuantitas lainnya. Sedangkan Slavit (1997) mendefinisikan kovariasional sebagai hubungan antar perubahan kuantitas. Dari pengertian penalaran dan kovariasional tersebut, penalaran kovariasional didefinisikan sebagai aktivitas mental yang berkaitan dengan pengkoordinasian dua kuantitas (variabel bebas dan variabel terikat) yang berkaitan dengan cara-cara perubahan satu kuantitas terhadap kuantitas yang lain. Menurut Subanji (2007), pengkoordinasian dua kuantitas ini sangat terkait dengan konsep fungsi, yaitu salah satu kuantitas dapat dipandang sebagai input (variabel bebas) dan kuantitas yang lain dipandang sebagai output (variabel terikat). Carlson, M. dkk (2002) menemukan bahwa kemampuan mahasiswa dalam meginterpretasikan grafik fungsi masih sangat kurang. Juga ditemukan bahwa dalam belajar Kalkulus, mahasiswa kesulitan menginterpretasikan dan merepresentasikan kecekungan dan titik belok pada sebuah grafik. Walaupun mahasiswa mampu membuat gambar laju perubahan untuk interval yang berdekatan dari domain fungsi tersebut, namun mahasiswa masih memiliki kesulitan untuk menggambar perubahan nilai kontinu dan tidak bisa secara tepat merepresentasikan dan menginterpretasikan laju peningkatan atau penurunan untuk fungsi dinamik. Kejadian dinamik yang diteliti oleh Carlson dkk ini adalah mengisi botol dengan air. Kemudian mahasiswa disuruh menggambarkan suatu grafik ketinggian air dalam botol terhadap banyaknya air yang dimasukkan ke dalam botol beserta alasannya. Carlson, M., dkk (2002) telah menyusun kerangka kerja penerapan penalaran kovariasional mahasiswa dalam menggambar grafik masalah dinamik dengan mengidentifikasi level-level penalaran kovariasional. Level-level penalaran kovariasional ini didasarkan tindakan/aksi mental (mental action) dalam menyelesaikan masalah. Terdapat lima tindakan mental yang disusun oleh Carlson dkk ini. Kelima tindakan mental tersebut masing-masing mendeskripsikan suatu aksi atau tindakan beserta perilakunya. Dari kerangka kerja kovariasional yang telah disusunnya, Carlson dkk (2002) telah menetapkan 5 level penalaran kovariasional yang dihasilkan dari 5 mental aksi/tindakan mental. Dikatakannya bahwa kemampuan penalaran kovariasional dicapai dari level penalaran kovariasional yang diberikan, yaitu adanya dukungan terhadap tindakan mental yang berkaitan dengan level-level penalaran kovariasionalnya. Menurut Carlson dkk, level-level penalaran kovariasional tersebut adalah: Level 1 (L1) Koordinasi (Coordination), Level 2 (L2) Arah (Direction), Level 3 (L3) Koordinasi Kuantitas (Quantitative Coordination), Level 4(L4) Tingkat rata-rata (Average rate), dan Level 5 (L5) Laju Sesaat (Instantaneous Rate). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penalaran kovariasional mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA UM pada matakuliah Kalkulus Lanjut dalam mengkonstruksi grafik fungsi kejadian dinamik.
PENGERTIAN BERPIKIR

Berpikir diartikan menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu atau menimbang-nimbang dalam ingatan (Subanji, 2011). Kita tidak bisa melihat apa yang dipikirkan oleh orang. Karena berpikir merupakan suatu proses yang ada di dalam otak. Namun begitu kita bisa melihat Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 2

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bentuk keluaran dari berpikir ini. Menurut Subanji (2011) bentuk keluaran dari berpikir ini bisa berupa proses atau langkah-langkah dalam memecahkan masalah. Dalam tingkatan berpikir, Krulick & Rudnick (1995) membagi menjadi empat tingkatan, yaitu mengingat, berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Tingkatan berpikir tersebut, oleh Krulick digambarkan pada gambar 1 sebagai berikut:

Kreatif

Kritis

Dasar (Basic)

Mengingat (recall)

Gambar 1. Tingkatan Berpikir (diambil dari Krulick & Rudnick (1995)) Tahapan berpikir paling rendah adalah mengingat (recall). Pada tahapan ini proses berpikir sesorang belum menggunakan proses logis ataupun analitis. Pada tahapan ini berlangsung proses berpikir secara otomatis. Sebagai contoh, ketika seseorang diminta untuk berhitung, maka ia akan memulainya dengan 1, 2, 3, .. dan seterusnya. Atau ketika seorang siswa kelas VI Sekolah dasar ditanya, berapa 1 + 1, maka dia langsung menjawab 2. Ketika menjawab ini, siswa tidak benar-benar berpikir tetapi langsung otomatis menjawab 2. Tingkatan berpikir berikutnya adalah berpikir dasar (basic). Tingkatan ini merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari sekedar mengingat. Kebanyakan keputusan yang diambil oleh seseorang dilakukan pada tingkatan berpikir ini. Tingkatan berpikir yang ketiga adalah berpikir kritis. Pada tingkatan ini sudah dilakukan proses menganalisa masalah, menentukan kecukupan data untuk menyelesaikan masalah, memutuskan perlunya informasimtambahan dalam suatu masalah, dan menganalisa situasi. (Subanji, 2011).
PENGERTIAN PENALARAN KOVARIASIONAL

Mengkonstruksi grafik merupakan bagian yang penting dalam kegiatan matematika. Di mata kuliah kalkulus, cukup banyak materi matematika yang melibatkan konstruksi grafik fungsi. Grafik tidak hanya digunakan untuk mengkonstruksi fenomena tetapi juga digunakan untuk membuktikan keberadaan fenomena. Mengkonstruksi grafik fungsi merupakan salah satu kajian yang dilakukan tentang penalaran pada mahasiswa. Ada dua macam cara yang dapat dilakukan dalam mengkonstruksi grafik, yaitu dilakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu rumus fungsi tersebut kemudian menggambarkannya dalam suatu grafik atau bisa juga mengetahui sifat-sifat analitisnya lebih dahulu, kemudian menggambar grafiknya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 3

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Jika mengacu pada penggambaran tingkatan berpikir menurut Krulick & Rudnick (1995), penalaran merupakan tingkatan berpikir yang meliputi berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Kategori dari berpikir dasar adalah memahami konsep, dan mengenali suatu konsep ketika konsep itu muncul. Kategori berpikir kritis meliputi: menyelidiki, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi atau masalah, mengfokuskan pada bagian dari situasi atau masalah, mengumpulkan dan mengorganisasi informasi, memvalidasi dan menganalisa informasi, mengingat dan menggabungkan informasi yang telah dipelajari terdahulu, menentukan suatu jawaban yang masuk akal, menggambarkan kesimpulan yang valid, dan analitik dan refleksif secara alami. Sedangkan kategori dari berpikir kreatif adalah original/keaslian, efektif, dan menghasilkan produk yang kompleks, inovatif, mensintesiskan ide, menggeneralisasikan ide, dan mengaplikasikan ide. Menurut Subanji (2007) penalaran memiliki karakteristik tertentu, yaitu merupakan pola berpikir logis dan bersifat analitis. Pola berpikir logis berarti menggunakan logika tertentu, sedangkan bersifat analitis merupakan konsekuensi dari pola berpikir tertentu. Sedangkan pengertian kovariasional, dapat dilihat dari para peneliti yang telah mendefinisikannya. Menurut Carlson (2002), kovariasional didefinisikan sebagai pengkoordinasian beberapa kuantitas, perubahan salah satu kuantitas mengakibatkan perubahan kuantitas lainnya. Slavit (1997) mendefinisikan kovariasional sebagai hubungan antar perubahan kuantitas. Dari pengertian penalaran dan kovariasional tersebut, penalaran kovariasional didefinisikan sebagai aktivitas mental yang berkaitan dengan pengkoordinasian dua kuantitas (variabel bebas dan variabel terikat) yang berkaitan dengan cara-cara perubahan satu kuantitas terhadap kuantitas yang lain. Menurut Subanji (2007), pengkoordinasian dua kuantitas ini sangat terkait dengan konsep fungsi, yaitu salah satu kuantitas dapat dipandang sebagai input (variabel bebas) dan kuantitas yang lain dipandang sebagai output (variabel terikat).
KERANGKA KERJA PENALARAN KOVARIASIONAL

Carlson, M., dkk (2002) telah menyusun kerangka kerja penerapan penalaran kovariasional mahasiswa dalam menggambar grafik masalah dinamik dengan mengidentifikasi level-level penalaran kovariasional. Level-level penalaran kovariasional ini didasarkan tindakan/aksi mental (mental action) dalam menyelesaikan masalah. Terdapat lima tindakan mental yang disusun oleh Carlson dkk ini. Kelima tindakan mental tersebut masing-masing mendeskripsikan suatu aksi atau tindakan beserta perilakunya. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1: Tindakan Mental dari Kerangka Kerja Penalaran Kovariasional
Tindakan Mental Mental Action 1 (MA1) Mental Action 2 (MA2) Deskripsi tindakan mental Pengkoordinasian nilai dari satu variabel dengan perubah-an variabel lain Pengkoordinasian arah perubahan satu variabel dengan perubahan variabel lain Perilaku Melabeli sumbu dengan indikasi verbal/ lisan dari pengko-ordinasian dua variable (y berubah dengan perubahan x) Menggambar titik-titik yang arahnya naik Menyatakan secara lisan suatu kesadaran arah perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input. Mengkonstruksi kemiringan garis Menyatakan secara lisan suatu kesadaran dari besarnya perubah-an output ketika mempertimbangkan perubahan input Mengkonstruksi garis yang berdekatan untuk domain Menyatakan secara lisan suatu kesadaran terhadap kecepatan perubahan output (dengan ma-sing-masing ke input) ketika mem-pertimbangkan kenaikan seragam dari input. Mengkonstruksi kurva mulus dengan tanda yang jelas dari perubahan kecekungan Menyatakan secara lisan suatu kesadaran terhadap kecepatan sesaat dalam kecepatan peru-bahan untuk keseluruhan domain dari fungsi (arah kecekungan

Mental Action 3 (MA3)

Pengkoordinasian besarnya perubah-an dari satu variabel dengan perubahan variable yang lain Pengkoordinasian kecepatan rata-rata dari fungsi dengan kenaikan seragam dari perubahan dalam variabel input

Mental Action 4 (MA4)

Mental Action 5 (MA5)

Pengkoordinasian kecepatan sesaat dari fungsi dengan perubahan kontinu dalam variabel bebas untuk keselu-ruhan domain dari fungsi

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
dan titik belok adalah benar)

LEVEL-LEVEL PENALARAN KOVARIASIONAL

Dari kerangka kerja kovariasional yang telah disusunnya, Carlson dkk (2002) telah menetapkan 5 level penalaran kovariasional yang dihasilkan dari 5 mental aksi/tindakan mental. Menurut Carlson dkk, level-level penalaran kovariasional tersebut adalah: Level 1 (L1) Koordinasi (Coordination), Level 2 (L2) Arah (Direction), Level 3 (L3) Koordinasi Kuantitas (Quantitative Coordination), Level 4(L4) Tingkat rata-rata (Average rate), dan Level 5 (L5) Laju Sesaat (Instantaneous Rate). Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2: Gambaran level-level kovariasional dan tindakan mental pendukungnya
Level Level 1: Koordinasi (Coordi-nation) Level 2: Arah (Direction) Level 3 (L3) Koordinasi Kuantitas (Quantitative Coordi-nation) Level 4(L4) Tingkat rata-rata (Average rate) Level 5 (L5) Laju Sesaat (Instantaneous Rate) Tindakan Mental MA 1 MA1 dan MA2 Ma1, MA2, dan MA3 MA1, MA2, MA3, dan MA4 MA1, MA2, MA3, MA4, dan MA5

Pada tingkat koordinasi, Level 1, gambaran dari kovariasional dapat mendukung tindakan mental mengkoordinasikan perubahan satu variabel terhadap perubahan variabel lain (MA1). MA1 telah diidentifikasi dengan mengamati mahasiswa dalam melabelkan sumbu dan juga dengan mendengar mereka mengekspresikan perubahan satu variabel sebagai akibat perubahan variabel yang lain (misalnya: perubahan volume terhadap perubahan tinggi). Mahasiswa tidak memerlukan arah atau laju dari perubahan. Pada tingkat arah, Level 2, gambaran dari kovariasional dapat mendukung tindakan mental dari koordinasi arah perubahan satu variabel terhadap perubahan variabel lain. Tindakan mental MA1 dan MA2 keduanya didukung oleh gambaran level 2.
Pada tingkat koordinasi kuantitatif, Level 3, gambaran kovariasional dapat mendukung tindakan mental dari koordinasi jumlah perubahan dalam satu variabel terhadap perubahan variabel lain. Tindakan mental MA1, MA2, dan MA3, didukung oleh gambaran level 3. Pada tingkat rata-rata, Level 4, gambaran dari kovariasional dapat mendukung tindakan mental dari koordinasi tingkat perubahan rata-rata terhadap perubahan seragam dalam variabel input. Tingkat perubahan rata-rata bisa diekstrak untuk mengkoordinasikan jumlah perubahan variabel output terhadap

perubahan pada variabel input. Tindakan mental MA1 sampai MA4 didukung oleh gambaran level 4. Pada tingkat laju sesaat, Level 5, gambaran kovariasional dapat mendukung tindakan mental dari koordinasi tingkat perubahan sesaat terhadap perubahan kontinu dalam variabel input. Tingkat ini mencakup perubahan laju sesaat yang dihasilkan dari perbaikan yang lebih kecil dari perubahan rata-rata. Ini juga mencakup titik infleksi yaitu keadaan dimana laju perubahan berubah dari meningkat menjadi menurun, atau dari menurun menjadi meningkat. Tindakan mental MA1 sampai MA5 didukung oleh gambaran level 5.
METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan mengungkap penalaran kovariasional mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA UM dalam merepresentasikan grafik fungsi kejadian dinamik. Masalah kovariasional yang disajikan adalah mengkonstruksi grafik fungsi kejadian dinamik. Penalaran kovariasional dilihat dari perilaku mahasiswa dalam menyelesaikan tugas yang dapat menggambarkan aksi mentalnya. Kejadian dinamik yang dikaji adalah bentuk “konstan-dinamik”, perubahan dengan salah satu varibel tetap sedangkan variabel yang lain adalah berubah-ubah (dinamik). Selanjutnya dicari karakteristik berpikir mahasiswa dalam menyelesaikan masalah kovariasi berdasarkan kerangka kerja penalaran kovariasional. Menurut Moleong (2006) penelitian semacam ini tergolong penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2006) Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 5

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa,pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Matematika Universitas Negeri Malang, pada semester Gasal tahun 2011/2012 dengan subyek mahasiswa angkatan 2010 off H yang sedang menempuh matakuliah Kalkulus Lanjut. Dipilihnya mahasiswa angkatan 2010 ini dikarenakan mahasiswa tersebut sudah menempuh matakuliah Kalkulus I maupun Kalkulus II yang mana pada matakuliah tersebut sudah ada materi menggambar grafik beserta sifat-sifatnya (kecekungan, titik belok, titik balik, dan sebagainya).Kepada mahasiswa tersebut diberikan tugas mengkonstruksi grafik fungsi dari kejadian dinamik. Hasil dari tugas dianalisa untuk dikelompokkan ke masing-masing level penerapan penalaran kovariasional.
INSTRUMEN :PENELITIAN

1. Peneliti sebagai Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas representasi grafik kejadian dinamik. Peneliti sebagai instrumen sebab peneliti sebagai perencana, pengumpul data, penganalisa data, penafsir data, dan akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Selain itu peneliti juga dipandu dengan lembar tugas. Adapun lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pengembangan lembar tugas kovariasi dari Carlson. 1. Instrumen Lembar Tugas Instrumen Lembar Tugas yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pengembangan lembar tugas kovariasional dari Carlson (2002). Instrumen hasil pengembangan tersebut oleh peneliti dinamakan masalah “tangki bensin”. Adapun pengembangan instrumen lembar tugas tersebut disajikan pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Pengembangan Instrumen Lembar Tugas
Instrumen Lembar Tugas Carlson Perhatikan gambar dibawah ini Instrumen Lembar Tugas Penelitian ini Perhatikan gambar jarum penunjuk bensin pada suatu mobil berikut ini.

Bayangkan botol di atas tersebut diisi dengan air. Gambarkan suatu grafik fungsi antara ketinggian air dalam botol dan banyaknya air yang dimasukkan ke dalam botol. Berikan alasan terhadap jawaban saudara.

Ketika bensin diisi penuh, maka jarum menunjuk ke arah F (Full) yang berarti bensin dalam kondisi penuh. Seiring dengan berjalannya mobil, jarum penunjuk mengalami pergerakan menuju arah E (Empty) yang berarti kosong. Tetapi pergerakan jarum tersebut tidaklah sama. Dari kondisi penuh (F) ke setengahnya perjalanan jarum lambat. Selanjutnya dari setengah ke seperempat, jarum berjalan cepat, sementara dari seperempat ke E berjalan lambat kembali. Pergerakan jarum penunjuk tersebut dipengaruhi oleh ketinggian bensin dalam tangki bensin yang ada pada mobil tersebut. 1. Gambarkan bentuk tangki bensin yang cocok untuk mobil tersebut. Berikan alasan terhadap jawaban saudara. 2. Gambarkan grafik fungsi yang menggambarkan antara ketinggian bensin dalam tangki dan banyaknya bensin yang tersisa dalam tangki. Berikan alasan terhadap jawaban saudara.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 6

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Penelitian ini mengkaji proses berpikir mahasiswa dalam memecahkan masalah kovariasi, yang disebut penalaran kovariasional. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan interview berbasis tugas, dimana subyek diminta mengerjakan beberapa tugas untuk dikerjakan di kertas dengan pensil/pulpen, diminta menjelaskan secara rinci apa yang dikerjakan, mendiskusikan kenapa mengambil kesimpulan itu dan kemungkinan-kemungkinan lain. Selanjutnya dilakukan interview klinis, observasi, dan dokumentasi. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: mentranskrip data verbal yang terkumpul, menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dan hasil konstruksi grafik kejadian dinamik, mengadakan reduksi data dengan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga untuk tetap berada di dalamnya, analisa proses berpikir, analisa hal-hal yang menarik, dan menarik kesimpulan.
HASIL PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan memvalidasi penelitian Carlson, Larsen & Lesh (2002). Pemvalidasian dilakukan dengan mengkritisi tindakan mental yang telah ditetapkan. Penelitian ini berjudul “Penalaran Kovariasional Mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA UM dalam Mengkonstruksi Grafik Fungsi Kejadian Dinamik”. Dalam penelitian ini dikaji dan dideskripsikan secara kualitatif penalaran kovariasional mahasiswa dalam mengkonstruksi grafik fungsi kejadian dinamik.
MASALAH TANGKI BENSIN

Masalah tangki bensin yang diberikan oleh peneliti mendorong mahasiswa untuk mengkonstruksi bentuk bensin yang mungkin sesuai dengan jarum penunjuk bensin. Jumlah mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini ada sebanyak 33 mahasiswa. Terhadap masalah tangki bensin yang diberikan, dari 33 jawaban mahasiswa, peneliti dapat mengelompokkan jawaban ini menjadi 4 kelompok.. Kelompok 1. Jawaban yang mirip seperti berikut diberikan oleh 10 orang mahasiswa. Jawaban yang dibuat oleh kelompok 1 ini adalah:
Bentuk Tangki Bensin Alasan Saat bensin penuh hingga setengahnya jarum penunjuk berjalan lambat, sedangkan dari setengahnya ke seperempat jarum penunjuk berjalan cepat, sementara dari seperempat sampai habis jarum penunjuk berjalan lambat. Luas permukaan tangki berbeda. Saat bensin berjalan cepat laus permukaan lebih kecil dari luas permukaan saat berjalan lambat. Hal itu menggambarkan bentuk tangki bensin dari lebar ke sempit kemudian lebar lagi, seperti ditunjukkan pada gambar di samping.

Kelompok 2

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 7

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Jawaban yang mirip seperti berikut diberikan oleh 9 orang mahasiswa. Jawaban yang dibuat oleh kelompok 2 ini adalah:
Bentuk Tangki Bensin Alasan Dinding sebelah kanan dibuat lurus sebagai tempat bandul tangki Dinding sebelah kiri dibuat tidak lurus karena pada saat bensin mencapai setengah dari tangki sampai seperempat tangki bensin cepat habis karena luas permukaan tangki lebih sempit daripada luas permukaan di atasnya. Selanjutnya dari seperempat sampai kosong jarum akan melambat karena bandul tangki berjalan melambat (karena permukaan bensin lebih luas daripada di atasnya).

Kelompok 3 Jawaban yang mirip seperti berikut diberikan oleh 7 orang mahasiswa. Jawaban yang dibuat oleh kelompok 3 ini adalah:
Bentuk Tangki Bensin Alasan Pada saat tangki bensin terisi penuh, lebar tangki maksimal, karena jarum bensin bergerak lambat. Pada saat jarum menunjukkan posisi setengah ke seperempat, jarum bergerak cepat, jadi lebar tangki lebih kecil dari lebar maksimalnya. Sementara daris eperempat menuju E jarum bergerak lambat kembali, berarti tangki dimaksimalkan lebarnya sama dengan lebar tangki saat dari F menuju setengahnya.

Kelompok 4 Jawaban yang dibuat seperti berikut diberikan oleh seorang mahasiswa. Berikut gambar yang dibuat oleh mahasiswa tersebut.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 8

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Bentuk Tangki Bensin

Alasan Pada saat tangki bensin terisi penuh, lebar tangki maksimal, karena jarum bensin bergerak lambat. Pada saat jarum menunjukkan posisi setengah ke seperempat, jarum bergerak cepat, jadi lebar tangki lebih kecil dari lebar maksimalnya. Sementara daris eperempat menuju E jarum bergerak lambat kembali, berarti tangki dimaksimalkan lebarnya sama dengan lebar tangki saat dari F menuju setengahnya.

MASALAH MENGKONSTRUKSI GRAFIK FUNGSI Masalah tangki bensin yang diberikan oleh peneliti di atas dilanjutkan dengan mengkonstruksi grafik fungsi dari suatu kejadian yang dinamik dengan perubahan yang kontinu. Disebut kejadian dinamik dikarenakan kejadian ini berubah-berubah (dinamik) dan saling terkait satu sama lain. Dalam mengkonstruksi grafik fungsi kejadian dinamik ini, setelah dianalisa terdapat 7 grafik yang berbeda. Adapun gambar-gambar grafik tersebut adalah sebagai berikut. Kelompok 1. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut.

Kelompok 2. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut.

Kelompok 3. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 9

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Kelompok 4. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut.

Kelompok 5. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut.

Kelompok 6. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut.

Kelompok7. Gambar grafik fungsi yang dibuat oleh kelompok ini sebagai berikut.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 10

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PEMBAHASAN

Dari kelompok 1,dengan gambar tangki bensin yang mirip ternyata dalam mengkonstruksi grafik fungsinya ada 3 macam bentuk grafik fungsi yang berbeda. Bentuk ke-1: Grafiknya berupa garis lurus seperti berikut

Bentuk ke-2 Bentuk grafik

Bentuk ke-3 Bentuk grafiknya

Dari kelompok 2, dengan gambar tangki bensin yang mirip ternyata dalam mengkonstruksi grafik fungsinya ada 3 macam bentuk grafik fungsi yang berbeda. Bentuk ke-1 Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 11

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Bentuk ke-2

Bentuk ke-3

Dari kelompok 3, dengan gambar tangki bensin yang mirip dalam mengkonstruksi grafik fungsinya hanya ada 1 bentuk grafik fungsi, yaitu grafiknya berupa garis lurus seperti berikut

Dari kelompok ke-4, bentuk grafiknya adalah Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 12

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Jika diperhatikan kembali, tindakan mental yang dikemukakan oleh Carlson dkk, maka semua jawaban yang dikemukakan oleh mahasiswa sudah memenuhi tindakan mental 1 (MA 1), yaitu pengkoordinasian nilai dari satu variabel terhadap perubahan variabel lain dengan cara melabeli sumbu dengan dua variabel (y berubah dengan perubahan x). Tindakan mental 2 juga telah dilakukan yaitu pengkoordinasian arah perubahan satu variabel terhadap perubahan variabel lain dengan cara menggambar titik-titik yang arahnya naik atau turun dan mampu menyatakannya secara lisan dengan suatu kesadaran arah perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input. Tindakan mental 3 juga sudah dilakukan yaitu pengkoordinasian besarnya perubahan dari satu variabel terhadap perubahan variabel yang lain dengan cara mengkonstruksi kemiringan garis dan menyatakan secara lisan dengan suatu kesadaran dari besarnya perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input.
KESIMPULAN

Dari hasil kajian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut. 1. Tindakan mental 1 (MA 1) telah dilakukan oleh mahasiswa, yaitu pengkoordinasian nilai dari satu variabel terhadap perubahan variabel lain dengan cara melabeli sumbu dengan dua variable. 2. Tindakan mental 2 juga telah dilakukan yaitu pengkoordinasian arah perubahan satu variabel terhadap perubahan variabel lain dengan cara menggambar titik-titik yang arahnya naik atau turun dan mampu menyatakannya secara lisan dengan suatu kesadaran arah perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input. 3. Tindakan mental 3 juga sudah dilakukan yaitu pengkoordinasian besarnya perubahan dari satu variabel terhadap perubahan variabel yang lain dengan cara mengkonstruksi kemiringan garis dan menyatakan secara lisan dengan suatu kesadaran dari besarnya perubahan output ketika mempertimbangkan perubahan input.
DAFTAR RUJUKAN Carlson, M., Larsen, S., Jacobs, S. 2001. An Investigation of Covariational Reasoning and Its Role in Learning the Concepts of Limit and Accumulation. Proceeding of the Twenty-Third Annual Meeting of the North American Chapter of the International Group for the Psichology of Mathematics Education. Columbus, OH: Eric Clearinghouse. Carlson, Marilyn P. 2002. A Study of Second Semester Calculus Students’ Function Conceptions. Carlson, M., Jacobs, S., Larsen, S., & Hsu, E. 2002. Applying Covariational Reasoning While Modeling Dynamics Events: A Framework and a Study. Journal for Research in Mathematics Education. Vol. 33, No. 5, 352-378. Carlson, Marilyn P. 2002. Physical Enactment: A Powerful Representational Tool for Understanding the Nature of Covarying Relationships.. In F. Hitt (Ed.), Representations and Mathematics Visualization (pp. 63-77). Special Issue of PME-NA and Cinvestav-IPN.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 13

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Carlson, M., Larsen, S., Lesh, R. 2003. Integrating a Models and Modeling Perpective With Existing Research and Practice. Beyond Constructivism in Mathematics Teaching and Learning: A Models & Modeling Perpective (pp. 465-478). Hillsade, NJ: Lawrence Erlbaum. Cho, H., Kim, H., & Song, M. 2004. The Qualitative Approach to The Graphs of Function in a Microworld. Krulick, S & Rudnick, J. 1995. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Boston: Allyn and Bacon. Kynigos, C. 2006. Constructing a Sinusioidal Periodic Covariation. Proceedings 30th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, Vol. 4, pp. 9-16. Prague: PME. Mejia & Hurtado. 2006. Geometrical Optimization Problems: A Covariational Approach. PME-NA Proceeding. Proceeding of the 28th annual meeting of the North American Chapter of the International Group for the Psichology of Mathematics Education, Merida, Mexico: Universidad Pedagogica Nacional. Vol. 2-31. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya Moore, KC & Bowling, SA. 2008. Covariational Reasoning and Quantification in a College Algebra Course. Sigma.maa.org/rume/crume 2008. Saldanha, L., & Thompson, P.W. 1998. Re-Thinking Covariation from a Quantitative Perspective: Simultaneous Continous Variation. Proceeding of the Annual meeting of the Psychology of Mathematics Education – North America. Raleigh, NC: North Carolina State University. Silverman, J. 2006. A Focus on Variables as Quantitative of Variable Measure in Covariational Reasoning. PME-NA Proceeding. Proceeding of the 28th annual meeting of the North American Chapter of the International Group for the Psichology of Mathematics Education, Merida, Mexico: Universidad Pedagogica Nacional. Vol. 2-174. Slavit, D. 1997. An Alternative Route to the Reification of Function. Educational Studies in Mathematics 33: 259-281. Kluwer Academic Publishers. Printed in the Netherland. Steinthorsdottir, O. 2006. Proportional Reasoning: Variable Influencing the Problems Difficulty Level and One’s Use of Problem Solving Strategies. Proceeding 30th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, Vol. 5,pp. 169-176. Prague: PME. Strom, A. 2006. The Role of Covariational Reasoning in Learning and Understanding Exponential Functions. Proceeding of the 28th Annual Meeting of the North American Chapter of the International Group for the Psychology of Mathematics Education. Merida, Mexico: Universidad Pedagogica Nacional. Stump, Sheryl L. 2001. Developing preservice Teachers’ pedagogical content knowledge of slope. Journal Of Mathematics Behavior, Vol 20 (207-227). Subanji, 2011. Teori Berpikir Pseudo Penalaran Kovariasional. Malang: UM Press. Thompson, P. W., & Silverman, J. (2008). The concept of accumulation in calculus. In M. P. Carlson & C. Rasmussen (Eds.), Making the connection: Research and teaching in undergraduate mathematics (pp. 43-52). Washington, DC: Mathematical Association of America. Available at http://pat-thompson.net/ PDFversions/2008MAA Accum. pdf.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 14

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN HASIL ANALISIS TABEL AKAR PANGKAT TIGA UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENARIKAN AKAR PANGKAT TIGA

Moch. Nachwan
Guru Matematika SMPN 1 Pandaan Kab. Pasuruan, email: mrnahwan@gmail.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penarikan akar pangkat tiga melalui penerapan tabel akar pangkat tiga. Yang dimaksud efisiensi dalam penelitian ini adalah dalam hal waktu, serta peningkatan kemampuan menyelesaikan soal-soal akar pangkat tiga dapat teratasi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengikuti model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin. Subjek yang diteliti adalah peserta didik kelas VII-G Semester 1 Tahun Pelajaran 2010/2011 SMP Negeri 1 Pandaan Pasuruan, berjumlah 26 anak. Tahapan penelitian setiap siklus diawali dengan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, dan tes, untuk mengetahui kemampuan menyelesaikan sejumlah soal tes dalam dalam waktu tertentu. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan persentase (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan tabel akar pangkat tiga 46,15% kemampuan peserta didik meningkat, 38,46% konstan, 15,38% justru menurun. Ditinjau dari penggunaan waktu ternyata lebih efisien yaitu 57,67% peserta didik menyelesaikan soal-soal tes lebih cepat dari waktu yang disediakan, 30,79% menyelesaikan soal-soal tes sesuai dengan waktu yang disediakan, sedangkan yang menyelesaikan soal-soal tes lebih lambat dari waktu yang disediakan adalah 11,54%. Hasil lain yang ditunjukkan penelitian ini adalah motivasi peserta didik meningkat serta kesulitan yang dihadapi peserta didik dapat teratasi. Kata kunci : Peningkatan efisiensi, penarikan akar pangkat tiga, penerapan tabel akar pangkat tiga.

Ujian Nasional Matematika dalam lima tahun terakhir, peserta didik dinyatakan lulus apabila memperoleh nilai sekurang-kurangnya 5,50 dari 40 butir soal dalam waktu 120 menit. Artinya alokasi waktu yang tersedia untuk mengerjakan setiap soal adalah 3 menit. Dan peserta didik harus mampu menyelesaikan sekurang-kurangnya 22 butir soal dengan benar. Pada Naskah Ujian Nasional Matematika terdapat 4 – 6 butir soal yang berkaitan kompetensi penarikan akar pangkat tiga dengan berbagai variasi soal. Variasi soal yang dimaksud adalah penarikan bilangan bulat (Kelas VII/1), volume kubus (kelas VIII/2), volume tabung, volume kerucut, volume bola (Kelas IX/1), dan pangkat tak sebenarnya ( kelas IX/2) Dari hasil tes menunjukkan bahwa peserta didik belum mampu menyelesaikan penarikan akar pangkat tiga dalam waktu 3 menit sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan pada ujian nasional matematika. Hal ini disebabkan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal masih menggunakan cara pohon faktor prima, yang membutuhkan waktu lama karena menggunakan operasi pembagian yang berulang-ulang. Demikian halnya dengan masih banyak peserta didik (73% atau 19 anak) yang belum mahir dalam melakukan operasi pembagian sehingga tidak efisien dalam hal penggunaan waktu. Untuk mengatasi masalah tersebut peserta didik dilibatkan untuk menganalisis tabel akar pangkat tiga serta cara penerapannya pada penyelesaian penarikan akar pangkat tiga. Dari masalah yang Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 15

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) melatarbelakangi maka dirumuskan masalah dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Apakah dengan penerapan tabel akar pangkat tiga kesulitan setiap peserta didik dapat diatasi? Apakah dengan penerapan tabel akar pangkat tiga kemampuan setiap peserta didik meningkat? Apakah dengan penerapan tabel akar pangkat tiga waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan soal setiap peserta didik lebih efisien? Apakah dengan penerapan tabel akar pangkat tiga motivasi belajar setiap peserta didik meningkat?
PELAJARAN MATEMATIKA

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2. Menggunakan penalaran pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lainnya untuk menjelaskan keadaan atau masalah. 5. Memiliki sikap menghargai matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. (Depdiknas: 2006).
AKAR PANGKAT TIGA

Akar pangkat tiga memiliki kompleksitas yang tinggi, karena pada setiap jenjang akan dihadapi setiap peserta didik dari kompetensi dasar yang berbeda, sebagaimana tabel berikut: Tabel 1: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar Kompetensi 1. Memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan penggunaanya dalam pemecahan masalah. 5. Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya 2. Memahami sifat-sifat tabung, kerucut dan bola, serta menentukan ukurannya dan penggunaannya dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar 1.1 Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan Indikator 1.1.4 Menghitung akar kuadrat dan akar pangkat tiga bilangan bulat 5.3.3 Menghitung volume (kubus, balok, prisma, limas) Kelas/Semester VII / 1

5.3 Mengitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma dan limas 2.2 Menghitung luas selimut dan volume tabung, kerucut dan bola 2.3 Memecahkan masalah yang berkaitan dengan tabung, kerucut dan bola

VIII/2

2.2.3 menghitung unsur-unsur tabung, kerucut dan bola jika volumenya diketahui 2.3.1 menggunakan rumus luas selimut dan volume untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan tabung, kerucut dan bola 5.3.1 Menggunakan sifat-sifat operasi hitung pada bilangan berpangkat dan bentuk akar untuk memecahkan masalah

IX/1

5. Memahami sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar serta menggunaannya dalam pemecahan masalah sederhana

5.3 Memecahkan masalah sederhana yang berkaitan dengan bilangan berpangkat dan bentuk akar

IX/2

Sumber: (depdiknas: 2006)

Mengingat tingginya kompleksitas penarikan akar pangkat tiga, maka perlu penguasaan penarikan akar pangkat tiga. Akan tetapi karena lemahnya penguasaan operasi pembagian dari peserta didik yang diteliti, perlu adanya solusi agar lebih efisien dalam menyelesaikan soal-soal tes akar pangkat tiga. Pendapat ini dukung hasil penelitian berikut: Kenyataan, bahwa penguasaan konsep dasar operasi bilangan bulat masih tergolong rendah. Salah satu kelemahan penguasaan materi Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 16

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bilangan bulat oleh siswa adalah karena lemahnya penguasaan operasi perkalian dan pembagian (Soedjadi, 1991:4). Selain itu diperoleh bahwa; daya serap anak SD terhadap konsep operasi perkalian dan pembagian masih rendah. Hal ini sama juga di alami siswa SLTP dan SMU serta mahasiswa calon guru (Hartono 1989:72).
BELAJAR

Belajar diartikan sebagai proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman sebagai pengetahuan yang memandu perilaku pada masa mendatang (Winataputra, 2007:14). Pakar psikologi melihat, perilaku belajar sebagai proses psikologi individu dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami, sedangkan pakar pendidikan melihat, perilaku belajar sebagai proses psikologispedagogis yang ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang sengaja diciptakan (Belajar dan pembelajaran, 2007:15). Dari pengertian tentang belajar, sangatlah jelas bahwa belajar tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan tetapi juga meliputi seluruh kemampuan individu yang memusatkan pada dua hal; Pertama, belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri peserta didik. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja, tetapi juga meliputi sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor). Kedua, perubahan itu harus merupakan buah pengalaman. Perubahan perilaku terjadi pada diri peserta didik karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Perubahan perilaku akibat belajar bersifat menetap (Belajar dan Pembelajaran, 2007:19)
PEMBELAJARAN

Istilah pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukkan kegiatan pendidik dan peserta didik. Sebelumnya menggunakan istilah “Proses Belajar-Mengajar”. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction”. Menurut Gagne, Briggs, dan Wager (1992), pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada peserta didik. Instuction is a set of events that affect learnest in such a way that learning is facilitated (Gagne, Briggs. Dan Wager, 1992:3). Pembelajaran seperti diamanatkan dalam Pasal 1 Butir 20 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (Depdiknas: 2004) Dalam konsep tersebut terkandung lima konsep yakni, interaksi, peserta didik, pendidik, sember belajar dan lingkungan belajar.
PRESTASI BELAJAR

Prestasi belajar berasal dari kata “prestasi” dan “belajar” prestasi berarti hasil yang dicapai (Depdikbud, 1975:787), sedangkan belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman sebagai pengetahuan yang memandu perilaku pada masa mendatang (Winataputra, 2007:14) jadi prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan. Efisiensi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua Penerbit Balai Pustaka Jakarta: 1995 efisiensi memiliki makna ketepatan cara (usaha, kerja), atau kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga dan biaya). Pada penelitian ini diharapkan setiap peserta didik yang diteliti dapat menyelesaikan soal-soal tes penarikan akar pangkat tiga secara cepat dan tepat, kurang dari waktu yang dialokasikan setiap soal pada ujian nasional matematika atau meningkat efisiensinya.
MOTIVASI

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 17

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Penggunaan model pembelajaran matematika diharapkan akan meningkatkan motivasi peserta didik yang dalam proses pembelajaran matematika. Model pembelajaran yang dimaksud adalah penggunaan dan penerapan tabel akar pangkat tiga untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. Permainan kwartet akar pangkat tiga diharapkan akan meningkatkan motivasi peserta didik. Hal ini didukung oleh pendapat Bell yang menyebutkan bahwa, Teknik permainan adalah salah satu teknik yang efektif dan efiesien dalam pembelajaran matematika (Bell: 1986) Tabel akar pangkat tiga adalah penyajian konsep abstrak menjadi konsep konkret. Dengan disajikan konsep abstrak dalam benda konkret yang sederhana, peserta didik akan menyadari adanya hubungan antara pelajaran matematika dengan benda-benda yang ada disekitarnya, sehingga akan lebih menumbuhkan minat dan kreasi peserta didik terhadap pelajaran matematika. Pendapat ini didukung oleh beberapa ahli antara lain Piaget, Bruner dan Dienes yang mengemukakan bahwa penggunaan benda-benda konkret dalam matematika dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa (Ruseffendi, 1992:144)
METODE PENELITIAN

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain yang kembangkan oleh Kurt Lewin seperti gambar berikut:

2. Tindakan 1. Perencanaan 4. Refleksi 3. Observasi

Gambar 1 : Desain penelitian tindakan satu siklus model Kurt Lewin
SKENARIO TINDAKAN

a. Pra Penelitian  Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  Merencanakan metode, media dan kegiatan pembelajaran  Menyiapkan instrumen penelitian, soal tes, lembar observasi, angket, pertanyaan wawancara b. Siklus 1, 2 dan 3  Pembagian tabel akar pangkat tiga, 26 kartu soal tiap kartu terdiri 6 soal dengan tingkat kesukaran Mudah : Sedang : Sukar = 1 : 2 :1  Observasi Tindakan 1, 2 dan 3 Pada tahap ini Pendidik melakukan observasi proses dan hasil pembelajaran melalui cara : mencatat kesulitan peserta didik, memberikan tugas menyelesaikan soal secara sistematis sesuai dengan topik pembelajaran, mengamati kecepatan penyelesaian tugas, menilai hasil tes, membagikan angket atau memanggil beberapa peserta didik untuk diwawancarai. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung dengan alat bantu pedoman observasi dan skala penguasaan konsep. Skala penguasaan konsep dilakukan kepada peserta didik untuk memberi data skor penguasaan konsep setelah peserta didik diberi tindakan. Selanjutnya data skor yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis secara kualitatif untuk memaparkan perubahan perilaku yang nampak pada peserta didik pada saat tindakan dilakukan, sedangkan analisis secara kuantitatif digunakan untuk mengetahui persentase baik terhadap penguasaan konsep maupun peningkatan hasil belajar. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 18

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Analisis kuantitatif menggunakan rumus : P = Postrate  Baserate 100% Baserate (Goodwin and Coatees, 1975) Keterangan : P = Persentase peningkatan Postrate = Skor sesudah tindakan Baserate = Skor sebelum tindakan  Analisis dan refleksi: Kriteria peningkatan hasil belajar adalah meningkatnya hasil uji kompetansi setiap akhir tindakan dengan ketuntasan individu dan daya serap peserta didik. Indikator daya serap mencapai 67% atau nilai 67 (KKM 67%). Analisis data dilakukan dengan menganalisis uji kompetensi digunakan untuk memantau apakah sudah terjadi peningkatan hasil belajar penarikan akar pangkat tiga dari Ketuntasan Belajar Klasikal yaitu bila KKM ≥ 67%, peserta didik telah mencapai daya serap 67% atau lebih. Refleksi: diperlukan untuk mengkaji ulang apakah ada hambatan selama tindakan setiap siklus , apakah penerapan tabel akar pangkat tiga sudah optimal mencapai sasaran? Apakah partisipasi peserta didik cukup tinggi? Perlu dipertanyakan pula seberapa besar terjadi peningkatan, bila peningkatan itu belum sesuai maka perlu tindakan untuk siklus berikutnya. Demikian dilakukan terus menerus sampai apa yang menjadi tujuan penelitian tindakan tercapai. Hasil uji kompetansi dinyatakan dengan angka dalam rentang 0 – 100 yang didistribusikan dalam pembagian skor sebagai berikut:

Tabel 2: Rentang Skor dan indicator
.Rentang Skor

0–4 0–4 0–2

Indikator Menerapkan tabel akar pangkat tiga sebagai operasi yang dimaksud dengan benar Mengerjakan langkah penyelesaian dengan benar Mendapatkan hasil akhir dengan benar

Perolehan skor dikriteriakan sebagai berikut: Tabel 3 : Kriteria penyekoran
Skor diperoleh 85 – 100 67 – 84 ≤ 66 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Siklus Pertama Kriteria Tinggi Sedang Rendah

Pendidik menginformasikan penyelesaian akar pangkat tiga sesuai dengan contoh buku teks yang dimiliki peserta didik dengan metode penyelesaian pohon faktor prima, kemudian peserta didik ditugasi untuk menyelesaikan 6 soal latihan dalam waktu 30 menit. Selanjutnya dianalisis sebelum diberikan tindakan serta diuji kemampuannya dengan soal yang sama dalam waktu 10 menit. Hasil uji kompetensi dicatat dalam rekaman hasil uji kompetensi pada tabel berikut: Tabel 4: Kemampuan sebelum dan sesudah tindakan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 19

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Skor 85-100 67-84 ≤66 Sebelum tindakan Kriteria ÓSiswa Tinggi 0 Sedang 10 Rendah 16 % 0% 38,46% 61,54% Skor 85-100 67-84 ≤ 66 Setelah tindakan Kriteria ÓSiswa Tinggi 5 Sedang 9 Rendah 12 % 19,23% 34,62% 46,15%

Tabel 5: Persentase perubahan penggunaan waktu (Efisiensi)
Sebelum tindakan (30 menit) Kriteria ÓSiswa % Lebih Cepat 0 0% Stabil 2 15,38% Lebih Lambat 22 84,62% Setelah tindakan (10 menit) Kriteria ÓSiswa Lebih Cepat 6 Stabil 12 Lebih Lambat 8 % 23,08% 46,15% 30,77%

Secara kualitatif setelah diberikan uji kompetensi pada akhir pembelajaran ternyata ada perubahan yang signifikan pada penguasaan konsep meningkat sebesar 12,82% dan efisiensi meningkat sebesar 34,90%. Setelah proses pembelajaran selesai, beberapa peserta didik yang kriteria rendah (12 anak) diwawancarai: 69% mengatakan senang mengikuti pembelajaran matematika, 100% mengatakan penerapan tabel akar pangkat tiga lebih mudah daripada pohon faktor prima. 100% kesulitan menyelesaikan soal jika bilangannya puluhan ribu dan ratusan ribu. 100% akan mengerjakan PR dirumah sepulang sekolah karena ingatannya masih segar.
Siklus kedua

Untuk mengatasi kesulitan dihadapi hasil refleksi siklus pertama, yaitu penyelesaian penarikan akar pangkat tiga bilangan puluhan ribu dan ratusan ribu, peserta didik diajak untuk mengamati tabel akar pangkat tiga 1 – 9 kemudian diminta untuk menghafalkan agar mempermudah penyelesaian penarikan akar pangkat tiga. Selanjutnya peserta didik diberikan tugas kelompok sesuai dengan jadwal piket. Setiap kelompok menyelesaikan soal latihan sebanyak 30 soal dalam waktu 30 menit. Setelah diberikan tugas kelompok setiap peserta didik diuji kemampuannya menyelesaikan 10 soal dalam waktu 10 menit, hasilnya dicatat dalam rekaman hasil uji kompetensi pada tabel berikut: Tabel 6: Kemampuan sebelum dan sesudah penerapan tabel akar pangkat tiga
Skor 85-100 67-84 ≤66 Sebelum tindakan Kriteria ÓSiswa Tinggi 5 Sedang 9 Rendah 12 % 19,23% 34,62% 46,15% Skor 85-100 67-84 ≤66 Setelah tindakan Kriteria ÓSiswa Tinggi 12 Sedang 10 Rendah 4 % 46,15% 38,46% 15,38%

Tabel 7: Persentase perubahan penggunaan waktu (efisiensi)
Sebelum tindakan (10 menit) Kriteria ÓSiswa Lebih Cepat 6 Stabil 12 Lebih Lambat 8 % 23,08% 46,15% 30,77% Setelah tindakan (10 menit) Kriteria ÓSiswa Lebih Cepat 15 Stabil 8 Lebih Lambat 3 % 57,67% 30,79% 11,54%

Berdasarkan data tampak perubahan positif terhadap penguasaan konsep dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan yaitu sebesar 15,38% serta efisiensi meningkat sebesar 23,06%. Selain itu, peningkatan penguasaan konsep maupun efisiensi pada tindakan siklus kedua lebih baik daripada penguasaan konsep maupun efisiensi pada tindakan siklus pertama. Yang lebih menggembirakan skor maupun efisiensi pada siklus kedua lebih tinggi daripada sebelum tindakan siklus pertama. Menurut Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 20

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) analisis tindakan siklus pertama peserta didik terdorong untuk menyiapkan diri, belajar di rumah, sebelum belajar di sekolah. Dengan kata lain meningkat gairah belajarnya atau motivasinya. Hasil wawancara dengan 7 peserta didik ( tidak termasuk yang diajak wawancara pada siklus pertama), 100% mengatakan terjadi perubahan yang menyenangkan pembelajaran matematika hari ini. 100% mengatakan bahwa dirinya semalam membaca materi lanjutan dari materi sebelumnya, 71,83% mengatakan pekerjaan rumah dikerjakan setelah pulang sekolah. Ini menunjukkan gairah belajar peserta didik meningkat.
Siklus ketiga

Setelah diadakan evaluasi dan refleksi terhadap hasil tindakan siklus kedua diperoleh kemungkinan yang akan terjadi, yaitu adanya kecenderungan perasaan bosan pada diri peserta didik jika ujian diberikan terus menerus. Untuk mengatasi kejenuhan, peserta didik diajak untuk membuat kartu kwartet, setiap peserta didik ditugasi membuat satu pasang kartu kwartet. Selanjutnya bermain kwartet penarikan akar pangkat tiga dengan sistem penilaian teman sebaya hasilnya ditabulasi pada tabel berikut: Tabel 8 : Penilaian teman sebaya permainan kwartet penarikan akar pangkat tiga
Skor yang menjatuhkan kartu kwartet No. Nama Peserta Didik Pertama Kedua Ketiga Keempat Absen (100) (75) (50) (25) 1 2 3 4 Hari/tanggal : ………………………………. Permainan sebanyak : ……… babak Ó Skor

Tujuan dari permainan adalah meningkatkan kompetensi, motivasi, sportivitas serta kejujuran. Dengan demikian setiap peserta didik akan berkompetisi adu kompetensi. Hasil wawancara terhadap 7 peserta didik (tidak termasuk yang diwawancarai sebelumnya), 85,71% menyukai pelajaran matematika, 100% menyukai gurunya, 85,71% mengejakan tugas setelah pulang sekolah, 100% belajar terlebih dahulu sebelum bermain kwartet agar dapat memenangkan permainan.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah: Kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran penarikan pangkat tiga apabila bilangannya puluhan ribu dan ratusan ribu. Setelah ditugasi menghafalkan bilangan pangkat tiga mulai dari 1 sampai 9 kesulitan tersebut berangsur-angsur turun. Kesulitan lain yang dihadapi peserta didik adalah penggunaan mental (cara mencongak) pada penarikan akar pangkat tiga. Kesulitan ini teratasi dengan permainan kwartet akar pangkat tiga juga berangsur-angsur turun karena setiap memiliki keinginan yang sama yaitu memenangkan permainan. Kemampuan peserta didik melakukan penarikan akar pangkat tiga dapat ditingkatkan melalui penerapan tabel akar pangkat tiga. Ditinjau dari segi jumlah peserta didik, dari 26 peserta didik yang diteliti 46,15% atau 12 anak kemampuannya meningkat, 38,46% atau 10 anak konstan, dan 15,38% atau 4 anak justru menurun. Penurunan ini bukan karena metode pembelajaran yang diterapkan, tetapi karena faktor non akademis yaitu kegiatan OSIS. Dengan penerapan tabel akar pangkat tiga, waktu untuk menyelesaikan 10 butir soal ternyata lebih efisien, yaitu 57,69% atau 15 anak dapat menyelesaikan tugas lebih cepat dari waktu yang disediakan, 30,77% atau 8 anak dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang tersedia, sedangkan peserta didik yang menyelesaikan tugas lebih lambat dari waktu disediakan 10,34% atau 3 anak. Pada topik penarikan akar pangkat tiga motivasi peserta didik meningkat setelah penerapan tabel akar pangkat tiga dan permainan kartu kwartet penarikan akar pangkat tiga. Indikatornya adalah peningkatan kemampuan dan waktu yang digunakan lebih efisien. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 21

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
DAFTAR RUJUKAN Abdullah, Solichan. (2002). Teknik Penilaian Yang Dapat Mendorong Siswa Meningkatkan Belajar Matematika. Surabaya: Jurnal Gentengkali Vol.4, No.3 dan 4. Bell, F.H. (1981) Teaching and Learning Mathematics (In Secondary School) Wm.C Brown Company, Dubuque, IOWA. Dahar, Ratna Wilis. (1988) Teori-teori Belajar. Ditjen Dikti. Depdikbud. Jakarta: P2LPTK Depdikbud, (1995) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Depdiknas. (2003) Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning CTL). Jakarta: Depdikbud. Hudojo, Herman. (1988). Mengajar-Belajar Matematika. Ditjen Dikti Depdikbud. Jakarta: P2LPTK. Ismalinda. (1998). Kemampuan Siswa SLTP di Kecamatan Kapur IX Pada Topik Volume Bangun Ruang Sisi Datar (Tesis) Pasca Sarjana IKIP Surabaya. Maidiyah, Erni. (1999). Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Pada Topik Bilangan Bulat di SLTP (Tesis) Pasca Sarjana IKIP Surabaya. Narsisto, Drs. (2003). 10 pertanyaan agar guru sukses mengajar. Yogjakarta: Majalah Pendidikan Gerbang Edisi 1 Th. III Juli 2003. Nurhadi dan Senduk. A.G. (2003) Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM Press. Sriyanto, Hj. 2003. Membaca Kecemasan Anak Terhadap Matematika.Yogyakarta: Majalah Pendidikan Gerbang Edisi 11 Th. II Mei 2003 Sunuyeko, Nurcholis. (2003). Perkembangan Peserta Didik (Bahan Kuliah) Malang: Duta Kencana.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 22

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PEMBELAJARAN MATERI LUAS PERMUKAAN TABUNG DENGAN METODE DISKUSI UNTUK SISWA KELAS IX SMPN 1 KEJAYAN SEBAGAI PELAKSANAAN KEGIATAN LESSON STUDY DI HOME BASEKEJAYAN KABUPATEN PASURUAN

Erna Ruliawati
Guru SMP Negeri 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan

Abstrak: Pengalaman penulis pada saat mengajar materi luas permukaan tabung menunjukkan hasil belajar siswa masih sangat rendah. Kenyataan seperti di atas terus saja penulis upayakan untuk bisa diatasi, sampai dengan adanya kegiataan Lesson Study. Setelah beberapa kali mengikuti pelatihan Lesson Study kemudian sampai penulis menjadi fasilitator, maka materi luas permukaan tabung penulis coba untuk dibahas dalam pelaksanaan Lesson Study. Pada saat tahap plan, penulis mendapat banyak masukan yang sangat berharga. Akhirnya penulis coba untuk melaksanakan pembelajan materi Luas Permukaan Tabung Dengan Metode Diskusi Untuk Siswa Kelas IX. Ternyata dengan persiapan yang melibatkan guru lain sebagai kolega, kemudian menjalankan pembelajaran dengan didampingi oleh para observer dan terakhir bersama-sama dibahas dalam tahapan refleksi, hasilnya ada peningkatan keaktifan siswa dalam merespon materi sampai siswa berani mempresentasikan hasil kerjanya dengan sangat aktif walaupun disana-sini masih ada satu dan dua siswa yang masih terus dibimbing agar bisa masuk dalam trek pembelajaran yang diharapkan. Kata kunci: Luas Permukaan Tabung, Metode Diskusi, Lesson Study

Penulis memiliki pengalaman mengajar matematika di SMP Negeri 1 Kejayan selama 22 tahun. Penulis merasakan bahwa kemampuan siswa dalam mempelajari konsep-konsep matematika sangat kurang, bahkan untuk keterampilan menghitung mereka juga masih lemah. Siswa cenderung mengalami kesulitan apabila diberikan soal-soal yang bervariasi, siswa dapat mengerjakan soal apabila bentuk soalnya sama dengan soal sebelumnya, tapi mereka akan merasa kesulitan apabila diberi soal yang modelnya berbeda dengan soal sebelumnya. Hasil ujian yang diperoleh siswa cenderung nilainya kurang dari kriteria ketuntasan minimal yang sudah ditentukan oleh sekolah. Hasil pembelajaran yang diperoleh siswa cenderung rendah sungguh membuat penulis merasa tidak puas. Tidak terkecuali terhadap pembelajaran tentang materi luas permukaan tabung. Selama beberapa tahun mengajar materi ini selalu saja dihadapkan pada kenyataan siswa sulit memahami dan merasa kebingungan menentukan dan menemukan rumus serta menerapkan dalam menyelesaikan penghitungan. Di samping itu ternyata banyak sekali ditemukan siswa yang masih belum mahir dalam perkalian dan pembagian. Untuk masalah yang terakhir ini penulis berusaha untuk melatih siswa di luar pembelajaran. Kenyataan seperti di atas terus saja penulis upayakan untuk bisa diatasi, sampai dengan adanya kegiataan Lesson Study. Penulis sudah beberapa kali mengikuti kegiatan LS ini sampai pada saatnya penulis menjadi fasilitator. Dari hasil pelatihan-pelatihan yang sering penulis ikuti itulah, hasilnya secara terus menerus penulis terapkan dalam pembelajaran di kelas, minimal satu kali dalam satu semester penulis melakukan buka kelas. Seperti diketahui bahwa dalam Lesson Study dikenal ada tiga tahapan, yaitu Plan, Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 23

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Do dan See. Adapun tahapan yang dilakukan oleh penulis dalam menerapkan Lesson Study dapat dijabarkan sebagai berikut:
TAHAP PERENCANAAN (PLAN)

Khusus untuk pembelajaran materi Luas Permukaan Tabung ini penulis laksanakan pada tanggal 19 September 2011 yang diikuti oleh 11 guru dan menghasilkan perencanaan yang lengkap untuk meteri luas permukaan tabung. Dalam menyiapkan dan menyusun RPP-nya banyak sekali masukan dari para peserta, di antaranya adalah dalam menentukan kelompok. Ada yang meminta anggota kelompok berbentuk heterogen dengan satu atau dua siswa menjadi leader agar bisa membimbing siswa yang lain. Adapula yang menginginkan pembagian kelompok bebas saja yang penting guru terus aktif membimbing sehingga siswa tidak bergantung pada siswa yang menonjol saja. Dari dua perbedaan ini ternyata akhirnya disepakati versi pertama yaitu yang heterogen. Masih banyak lagi perdebatan di antara guru untuk mencoba menentukan yang terbaik yang bisa dipakai untuk mengaktifkan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Menentukan metodenya-pun tidak kalah hebatnya. Masing-masing guru dengan segala argumentasinya menginginkan metode yang menurut keyakinannya sangat cocok untuk materi ini. Ternyata yang lebih bisa rasional dan diyakini bisa membuat siswa aktif dan mampu berfikir kreatif adalah dengan metode diskusi dengan pilihan anggota kelompok heterogen. Penentuan metode diskusi dan kelompok heterogen serta media pembelajaran yang sesuai bisa diharapkan siswa yang kurang mampu dapat belajar dari siswa yang mampu sehingga diskusi kelompok akan aktif dan hidup. Hal ini sesuai dengan pendapat Suyatno bahwa Model pembelajaran kooperatif yang di dalamnya termasuk metode diskusi adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri.
PELAKSANAAN DO

Setelah selesai menyusun persiapan (RPP) maka tibalah saatnya pelaksanaan pembelajarannya (Do) yang dilaksanakan pada tanggal 29 September 2011. Ada tenggang waktu satu minggu ini penulis tidak melakukan perubahan apapun terhadap RPP, namun penulis mencoba untuk memberi tambahan-tambahan yang berkaitan dengan media-media pembelajaran, serta appersepsi apakah yang kira-kira sesuai dan mudah menghubungkannya dengan fakta yang sering ada di sekitar kehidupan sehari-hari siswa. Pelaksanaan Do ini mengikutsertakan anggota dari home base SMP Negeri 1 Kejayan dan 20 tamu observer dari Indonesia Timur yang terdiri atas guru, pengawas dan kepala sekolah. Adapun pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang sudah dirancang pada saat Plan. Dalam pelaksanaannya penulis banyak memperoleh pengalaman baru yang sebagian besar hampir tidak terbayangkan pada saat merancang persiapan. Misalnya; pada saat siswa dalam kelompoknya tidak mempedulikan bahkan sering mengganggu teman yang lain harus diselesaikan dengan cara apa. Kemudian pada saat presentasi ternyata muncul hal yang tak terduga yaitu siswa belum bisa menerapkan rumus luas permukaan tabung dengan rumus luas selimut tabung. Hal-hal seperti ini sering membuat penulis terlena kemudian serta merta menjelaskan sehingga waktu tidak bisa dimanfaatkan secara efisien.
REFLEKSI

Kegiatan refleksi ini bagi penulis merupakan tahapan yang mendebarkan dan sekaligus menyenangkan, karena dari kegiatan ini penulis dapat memperoleh gambaran keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran yang sudah penulis lakukan. Demikian juga akan bisa memberikan masukan terkait dengan kekurangan dan keberhasilan penulis dalam menjalankan skenario pembelajaran yang sudah dibuat bersama-sama tersebut. Dari hasil refleksi dapat ditemukan fakta sbb: Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 24

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. Sebagian besar siswa masih kurang dalam melakukan perhitungan terutama jika sudah menyangkut nilai . 2. Siswa yang benar-benar berdiskusi dengan kelompoknya bisa menjawab pertanyaan dengan benar, walaupun ada beberapa siswa yang masih kurang dapat berdiskusi dengan baik karena kebetulan di kolompok itu tidak ada leadernya. 3. Dengan membawa benda berupa tabung di tiap-tiap kelompok, ternyata siswa dapat dibawa dari masalah yang konkret ke masalah yang abstrak, termasuk membedakan antara tabung dengan tutup dengan tabung tanpa tutup
USAHA-USAHA PERBAIKAN

Dari hasil kegiatan refleksi ini ternyata banyak sekali ditemukan hal-hal yang tidak diduga oleh penulis. Temuan-temuan tersebut sangat berharga untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya. Usaha-usaha yang perlu dilakukan adalah: 1. 2. 3. 4. Dalam perhitungan awal sebaiknya nilai . Tidak perlu diubah terlebih dahulu. Guru sebaiknya lebih memperhatikan kelompok yang kurang. Guru harus lebih sabar lagi menanggapi siswa dalam menghitung. Guru tergesa-gesa dalam melaksanakan apersepsi, siswa masih belum terkondisikan dengan baik, guru sudah melangkah ke tahap berikutnya. 5. Pada saat siswa presentasi, guru harus lebih teliti dalam menanggapi jawaban-jawaban siswa serta bisa mengendalikan konsentrasi siswa terutama pada saat penghitungan tidak hanya hasil penghitungannya saja yang diperhatikan tetapi situasi dan sikap siswa juga perlu mendapat perhatian, sehingga tidak muncul kesan hanya siswa dan atau kelompok yang tampil saja yang mendapat pembimbingan. 6. LKS dianjurkan problem solving.
PENUTUP

Kesimpulan Pelaksanaan Lesson Study ini ternyata bagi penulis merupakan tawaran yang menjanjikan adanya perubahan yang baik dalam pembelajaran di kelas. Dari tahapan Plan yang mengedepankan kolegalitas dengan melibatkan minimal guru rumpun yang ada untuk bisa memberi masukan guna kesempurnaan persiapan sehingga penulis bisa percaya diri. Pada saat Do, penulis tertantang untuk tampil sebaik mungkin dan merasa yakin para observer kelak akan bisa menemukan kelemahan dan kelebihan pembelajaran ini. Hasil dari semua itu adalah dengan Kegiatan Lesson Study sangat baik karena dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran. Saran Kegiatan Lesson Study ini perlu terus digalakkan tidak hanya pada tingkat MGMP Kabupaten saja melainkan sudah harus dilaksanakan di masing-masing sekolah, bahkan jauh sampai pada pembelajaranpemebelajaran di kelas-kelas dalam kesehariannya. Semua harus optimis dengan banyak melakukan refleksi maka pembelajaran selanjutnya yakin akan lebih baik lagi. Semoga dan terima kasih.
DAFTAR RUJUKAN Syamsuri, Istamar dan Ibrahim, 2007. Lesson Study (Studi Pembelajaran). Malang: FPMIPA UM Suyatno, 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif, Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 25

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASISSTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH JARAK PADA DIMENSI TIGA SISWA SMAN I BANGIL

Trie Koerniawati 1) Cholis Sa’dijah 2) Swasono Rahardjo 3) Santi Irawati 4)
SMA Negeri 1 Bangil, trie_kurniawati@yahoo.com Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, lis_sadijah@yahoo.co.id Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, swasono_r@yahoo.com Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, santira99@yahoo.com

Abstract: One of the problems in mathematics learning at Senior High School is Three Dimension problem. This study aims to determine how the Team Asissted Individualization (TAI) learning as a cooperative learning model can increase students' activity and ability in problem solving on the distance concept in three dimension. The results showed that the criteria for students’ activity had been reached and the final test results was increased from 68.6% (in the first cycle) into 85.7% (in the second cycle) which means the implementation of TAI learning can increase students' activity and ability in problem solving on the distance concept in three dimension. Kata Kunci: Team Asissted Individualization (TAI) learning, problem solving.

Penalaran keruangan dalam geometri merupakan suatu bentuk pemecahan masalah yang penting dan pemecahan masalah merupakan alasan penting untuk mempelajari matematika. Dengan demikian, dapat disadari bahwa pembelajaran geometri sangat perlu dilakukan siswa SD sampai Perguruan Tinggi dengan harapan dapat mempelajari dan memahami ide-ide geometri dengan baik. Materi Jarak pada bangun ruang antara lain bertujuan untuk mengembangkan kemampuan spasial siswa, hal ini siswa diharapkan tidak sekedar mampu memahami konsep-konsep yang disajikan tetapi juga mampu mempresentasikan dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Konsepsi siswa pada materi ini bahwa geometri merupakan suatu pelajaran yang sulit, beberapa kelompok bahkan mengatakan bahwa geometri adalah pelajaran tersulit. Kurangnya penguasaan materi akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajarinya karena mereka menganggap bahwa geometri hanya sebagai sesuatu yang sangat teoritis atau abstrak, dan merasa bahwa geometri itu rumit untuk dipahami dan membutuhkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi, padahal yang sebenarnya siswa diharapkan mengetahui rumus dan dapat mengaplikasikan rumus itu “knowing the formula and which formula to apply“ (Barrantes M. dan Lorenzo J. B.: 2006). Model Pembelajaran kooperatif tipe TAI menggunakan bauran kemampuan empat anggota yang berbeda dan memberikan sertifikat untuk tim dengan kinerja terbaik dan mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 26

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah. Ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas kese- luruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama dan kemudian dipresentasikan ke depan kelas. Keunggulan dari tipe ini, terletak pada kombinasi pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual. Dengan melihat penggunaan materi dimensi tiga yang berarti untuk menunjang masa depan, peneliti sebagai guru matematika di kelas, menginginkan perubahan dalam pembelajaran, karena selama ini metode pembelajaran yang digunakan masih klasikal, keterlibatan guru selama pembelajaran masih dominan, sehingga siswa tidak terlibat secara aktif selama pembelajaran. Siswa cenderung selalu menerima apa saja yang diberikan guru, kurang berani untuk bertanya dan tidak termotivasi untuk berpartisipasi aktif selama pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti ingin menerapkan salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat membantu meningkatkan aktivitas siswa yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization). Peneliti berharap, dengan digunakannya pembelajaran tersebut akan dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa untuk bekerja bersama (kooperatif) dalam memecahkan masalah dan mengaktifkan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Di samping itu, sesuai dengan tujuan pembelajaran geometri adalah agar siswa memperoleh rasa percaya diri mengenai kemampuan matematika, menjadi pemecah masalah yang baik, dapat berkomunikasi secara matematik, dan dapat bernalar secara matematik khususnya materi tentang jarak. METODE Penelitian ini mendiskripsikan penerapan pembelajaran melalui pemecahan masalah bersetting kooperatif tipe TAI. Penelitian dilakukan dalam tatanan kelas regular. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci karena peneliti yang merencanakan, merancang, melaksanakan, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesim - pulan, dan membuat laporan. Dipilihnya jenis penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini karena ingin memperbaiki praktik pembelajaran khususnya materi tentang jarak pada dimensi tiga melalui pembelajaran kooperatif tipe TAI. Prosedur langkah-langkah penelitian ini akan mengikuti model Kemmis dan Mc Taggart. Langkah-langkah tersebut terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan (plan), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (refflection) (Wardhani, 2003) Penelitian ini dilaksanakan di SMA NEGERI I Bangil dan dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2009/2010, Subyek penelitian adalah siswa kelas Xd tahun ajaran 2009/2010. Instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah: (1) Pengembangan Tes (tes awal, kuis, dan tes akhir) (2) Lembar Observasi Aktivitas Siswa (dilaksanakan oleh dua observer) (3) Wawancara (memilih siswa yang bermasalah mengenai hasil belajar) (4) Catatan lapangan. Pengumpulan data diperoleh dari skor hasil validasi instrumen penelitian, skor hasil validasi perangkat pembelajaran, nilai hasil tes awal, nilai kuis, nilai tes akhir, skor pada lembar observasi aktivitas siswa, hasil wawancara dengan siswa dan hasil catatan lapangan oleh observer. Sedangkan Kriteria keberhasilan tindakan meliputi dua komponen: Kriteria keberhasilan proses yaitu aktivitas siswa dan kriteria keberhasilan kemampuan pemecahan masalah. Kriteria keberhasilan proses, ditentukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Data hasil observasi aktivitas siswa setiap pertemuan direkap, skor pada lembar observasi kedua observer dijumlahkan, kemudian dihitung persentase nilai rataratanya dengan rumus:
NR  jumlah skor perolehan jumlah skor maksimal x 100 %

Kriteria taraf keberhasilan proses ditentukan sebagai berikut (Arikunto S.: 2002).

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 27

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
90%  NR 100% 80%  NR  90% 70%  NR  80% 60%  NR  70% 0%  NR  60% : sangat baik : baik : cukup : kurang : sangat kurang

Proses dikatakan berhasil jika memperoleh kriteria baik atau sangat baik dan NR pada setiap pertemuan menunjukkan peningkatan. Sedangkan keberhasilan kemampuan pemecahan masalah ditentukan berdasarkan skor tes tertulis tentang kemampuan pemecahan masalah yang menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Jika persentase banyaknya siswa tuntas belajar lebih besar atau sama dengan 85% yaitu siswa yang memperoleh nilai minimal 65 (sesuai KKM sekolah) maka kemampuan pemecahan masalah dikatakan berhasil. Untuk menentukan persentase banyaknya siswa yang mendapat nilai minimal 65 dari skor total yang diperoleh siswa pada saat tes, digunakan rumus ( Arikunto: 2002).

TB 

t n

x 100%

Keterangan : TB : persentase tuntas belajar t : banyak siswa yang mendapat nilai minimal 65 n : banyak siswa yang mengikuti tes

Tindakan ini dikatakan berhasil apabila kriteria keberhasilan proses dan kemampuan pemecahan masalah telah tercapai. Pada model pembelajaran melalui Pemecahan Masalah bersetting kooperatif tipe TAI ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut. a. Guru menyiapkan materi bahan ajar yang akan diselesaikan oleh siswa b. Guru memberikan tes awal kepada siswa untuk mengetahui kemampuan siswa pada bangun ruang kubus, balok, dan limas (Mengadopsi komponen Placement Test). c. Guru memberikan materi secara singkat pada setiap pokok bahasan baru (Mengadopsi komponen Teaching Group). d. Guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis berda- sarkan nilai ulangan harian siswa pada materi-materi sebelumnya, setiap kelompok 4-5 siswa (Mengadopsi komponen Teams). e. Setiap kelompok mengerjakan tugas dari guru berupa LKS yang telah dirancang sendiri sebelumnya, dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya (Mengadopsi komponen Team Study). f. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompok dengan mempre - sentasikan hasil kerjanya dan siap untuk diberi ulangan oleh guru (Mengadopsi komponen Student Creative). g. Guru memberikan tes akhir untuk dikerjakan secara individu (Mengadopsi komponen Fact Test). h. Guru menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang ber -hasil (jika ada) berdasarkan hasil koreksi (Mengadopsi komponen Team Score and Team Recognition). i. Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan. HASIL Berikut ini adalah hasil observasi secara lengkap tindakan I dan II. Tabel 1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Tindakan I dan II
Observer Skor siklus I Persentase nilai rata-rata Kategori

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 28

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
No 1 2 I II P1 18 18 P2 21 21 P3 38 39 P4 22 22 P1 72% 72% P2 84% 84% P3 84% 87% P4 88% 88% P1 Baik Baik P2 P3 P4 Sangat baik Sangat baik

Sangat Sangat baik baik Sangat Sangat baik baik

Keterangan:

adalah pertemuan ke-i.

Hasil observasi aktivitas siswa pada tindakan I dan tindakan II dari laporan kedua observer terlihat adanya peningkatan hingga memenuhi kriteria keberhasilan proses yaitu peningkatan aktivitas siswa memperoleh kriteria baik atau sangat baik dan NR pada setiap pertemuan menunjukkan peningkatan. Sealnjutnya, hasil tes siklus I hingga siklus II disajikan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Hasil Tes awal, kuis I, kuis II, tes akhir siklus I, dan tes akhir siklus II
Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rerata Nilai Nilai kuis I tes awal 77 78 50 77 48 48 25 33 57 64 39 64 65 77 69 74 58 58 63 76 42 45 27 81 38 39 35 40 30 60 39 48 62 74 75 77 55 63 76 80 48 58 34 58 34 49 56 80 46 56 40 46 72 76 28 33 29 38 30 50 64 84 29 30 40 56 74 77 64 74 48 60,6 Ketuntasan tes akhir Nilai kuis II 80 83 55 47 66 67 80 80 64 83 60 83 50 50 65 67 78 88 67 91 66 60 55 86 70 60 80 60 60 66 90 55 68 88 80 67,66 Nilai tes akhir I 85 85 57 50 70 65 82 80 68 88 50 85 50 46 68 68 77 90 78 95 60 57 54 92 73 55 85 65 61 67 92 50 67 90 87 71,2 Nilai tes akhir II Keterangan 90 Meningkat 88 Meningkat 77 Meningkat 64 Meningkat 88 Meningkat 65 Tetap 90 Meningkat 87 Meningkat 77 Meningkat 92 Meningkat 64 Meningkat 88 Meningkat 77 Meningkat 64 Meningkat 77 Meningkat 77 Meningkat 80 Meningkat 100 Meningkat 80 Meningkat 100 Meningkat 76 Meningkat 75 Meningkat 60 Meningkat 100 Meningkat 76 Meningkat 77 Meningkat 90 Meningkat 77 Meningkat 77 Meningkat 77 Meningkat 98 Meningkat 60 Meningkat 77 Meningkat 94 Meningkat 100 Meningkat 79,5 Meningkat 85,7% Ketuntasan tes kuis I Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

Dari hasil tes pada tabel 2, secara umum terlihat adanya peningkatan skor tes tentang kemampuan pemecahan masalah. Dari seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe TAI, 97% siswa Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 29

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) menunjukkan peningkatan walaupun masih ada 5 siswa yang tidak tuntas. Nilai rata-rata telah memenuhi kriteria keberhasilan yaitu 85,7% siswa mendapatkan nilai minimal 65. Berdasarkan data pada tabel 1 dan tabel 2, disimpulkan bahwa criteria keberhasilan tindakan telah tercapai. PEMBAHASAN Dari hasil observasi, aktivitas siswa meningkat hingga memenuhi kriteria keberhasilan proses. Peningkatan aktivitas siswa dikatakan berhasil karena rata-rata skor dari semua aspek yang dinilai berada pada kategori baik atau sangat baik dan persentase nilai rata-rata dari pertemuan I hingga pertemuan IV menunjukkan peningkatan. Sedangkan untuk menentukan keberhasilan tindakan dari hasil belajar, yaitu dengan tes tertulis tentang kemampuan pemecahan masalah yang menggunakan kriteria belajar tuntas. Jika prosentase banyaknya siswa tuntas belajar lebih besar atau sama dengan 85% siswa memperoleh nilai minimal 65 maka tindakan dikatakan berhasil. Seperti yang sudah dipaparkan pada tabel diatas, untuk tes akhir I dengan materi jarak titik ke garis dan jarak titik ke bidang, hanya 68,5% siswa yang mendapat nilai minimal 65 yang menandakan keberhasilan tindakan belum tercapai. Pada tindakan perbaikan yaitu siklus II, diperoleh tes akhir II yaitu 85,7% siswa mendapat nilai minimal 65 dan sebanyak 97% siswa menunjukkan peningkatan hasil belajarnya. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini memberikan kekuatan yang mampu mendukung peningkatan aktivitas dan kemampuan pemecahan masalah dari siswa. Setting kooperatif tipe TAI yang dilakukan dalam proses pemecahan masalah dimaksudkan agar siswa dapat saling membantu sesama anggota kelompoknya apabila mengalami kesulitan sehingga pemecahan masalah lebih mudah diselesaikan. Dengan interaksi kooperatif tipe TAI akan memungkinkan siswa menjadi sumber belajar bagi sesamanya. Konsep ini dikembangkan dari teori Vigotsky yang mengajarkan bahwa setiap siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona terdekat mereka. Zona perkembangan terdekatnya pada saat mereka terlibat dalam tugas-tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri, tetapi dapat diselesaikan bila dibantu oleh teman sebayanya (Slavin,1994). Secara umum dalam pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dikembangkan keterampilan berpikir kritis dan kerja sama, hubungan antara pribadi yang positif dari latar belakang yang berbeda, menerapkan bimbingan antar teman, dan tercipta lingkungan yang menghargai nilai-nilai ilmiah yang dapat membangun motivasi belajar pada siswa. Melalui pembelajaran kooperatif dengan tipe Team Assisted Individualization keaktivan siswa lebih tinggi sebab siswa lebih mendapatkan pengalaman langsung daripada kelompok lain. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian Johnson dan Johnson (dalam Nurhadi: 2003) yang mengemukakan berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut: (1) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, (2) Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati, (3) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan, (4) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia, (5) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik, (6) Meningkatkan motivasi belajar instrinsik, (7) Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar. Beberapa temuan penelitian dalam proses pembelajaran kooperatif tipe TAI dan kemampuan pemecahan masalah pada materi jarak adalah sebagai berikut: 1. Pada awal pertemuan, siswa masih belum aktif bertanya pada guru mengenai materi yang belum mereka pahami. Mereka tidak memberikan respon ketika guru menanyakan kesulitan dalam mengerjakan LKS secara individu, tetapi pada pertemuan berikutnya siswa berani bertanya kepada guru ketika guru mendekati saat berkeliling 2. Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TAI sangat positif, hal ini didasarkan hasil pengamatan saat pembelajaran berlangsung, siswa sangat antusias dalam melaksanakan diskusi. Terutama saat diskusi kelompok menyampaikan hasil di depan kelas, siswa aktif untuk bertanya, memberikan komentar, atau memberikan sanggahan. 3. Pada saat diskusi berlangsung banyak hal yang muncul dari pemikiran siswa mengenai cara mengukur jarak, misalnya bagaimana cara mengukur jarak antara dua benda berbeda bentuk. Hal ini terjawab

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 30

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dalam forum diskusi dengan cara seorang siswa menggambarkan seekor kucing dan gajah di papan dan menunjukkan jarak antara keduanya. Pembelajaran pemecahan masalah dimaksudkan untuk memfokuskan pada siswa agar mampu untuk memahami masalah, merencanakan terbaik menyelesaikan masalah, melaksanakan rencana memecahkan masalah dan memeriksanya kembali solusi yang diperoleh. Kemampuan memahami masalah berarti kemampuan siswa dalam menafsirkan perintah soal kemudian menggambarkan dengan benar dan tepat bangun ruang yang dimaksud dalam soal. Belajar merencanakan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah berarti kemampuan siswa menggambarkan garis / bidang bantu kemudian menentukan langkah yang akan digunakan. Kesalahan yang terjadi pada siswa adalah ketidakmampuannya dalam menggambarkan garis / bidang bantu sebagai langkah awal dalam menyelesaikan suatu persoalan, dalam hal ini menghitung jarak. Guru dituntut berpikir kreatif yang mampu mengarahkan siswa untuk dapat merencanakan penyelesaian masalah. Merencanakan menyelesaikan masalah ini penting, seperti yang dikemukakan Troutman (dalam Retna: 2009) bahwa “seorang anak yang dapat menyusun rencana penyelesaian akan mampu mengklasifikasikan objek-objek atau ide-ide dan dapat menemukan hubungan antar objek atau model masalah. Melaksanakan rencana penyelesaian yaitu menghitung jarak antara 2 titik pada bangun ruang kubus, langkah-langkahnya adalah 1. Gambarlah bangun ruang yang dimaksud yaitu kubus 2. Letakkan nama-nama titik sudutnya dengan benar 3. Hubungkan kedua titik 4. Rencanakan membuat garis bantu dengan memilih yang termudah, sehingga membentuk sebuah segitiga, namakan segitiga bantu 5. Keluarkan segitiga bantu dari bangun ruang kubus, berikan tanda sesuai dengan sifat segitiga bantu yang terbentuk (nama titik sudut, panjang sisi, sudut-sudutnya) 6. Hitunglah sesuai dengan rumus yang sudah pernah dipelajari Melaksanakan rencana penyelesaian untuk menghitung jarak titik dengan garis pada bangun ruang kubus, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 1. Gambarlah bangun ruang yang dimaksud yaitu kubus 2. Letakkan nama-nama titik sudutnya dengan benar 3. Hubungkan titik dengan ujung-ujung garis, akan terbentuk segitiga, namakan segitiga bantu 4. Keluarkan segitiga bantu dari bangun ruang kubus, berikan tanda sesuai dengan sifat segitiga bantu yang terbentuk (nama titik sudut, panjang sisi, sudut-sudutnya) 5. Proyeksikan titik pada garis tersebut 6. Hitunglah garis proyeksi yaitu jarak titik ke garis tersebut dengan rumus yang sudah pernah dipelajari sebelumnya Melaksanakan rencana penyelesaian untuk menghitung jarak titik ke bidang pada bangun ruang kubus, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 1. Buat bidang yang memuat titik dan berpotongan dengan bidang yang diketahui, misal garis potongnya l 2. Proyeksikan titik ke garis l, garis proyeksi tersebut adalah jarak titik ke bidang yang dicari 3. Hubungkan titik ke ujung-ujung garis l, akan terbentuk segitiga bantu 4. Keluarkan segitiga bantu dari bangun ruang kubus, berikan tanda sesuai dengan sifat segitiga bantu yang terbentuk (nama titik sudut, panjang sisi, sudut-sudutnya) 5. Hitunglah sesuai dengan rumus yang sudah pernah dipelajari sebelumnya. Memeriksa kembali pekerjaan yang telah diperoleh, dimulai dengan memeriksa pekerjaannya dari awal, misalkan dimulai dengan menjawab pertanyaan diri sendiri 1. Sudah benarkah gambar yang dibuat? 2. Sudah benarkah garis bantu yang dibuat? 3. Sudah benarkah nama segitiga yang terbentuk? 4. Sudah benarkah perhitungan yang dibuat? Pada tahap memeriksa pekerjaan ini biasanya jarang sekali dilakukan oleh siswa, siswa terburu-buru keluar kelas saat melihat teman-temannya keluar setelah selesai mengerjakan, atau malas untuk mengulangi Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 31

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) perhitungan kembali dari awal sehingga sering terjadi kesalahan-kesalahan sepele yang akhirnya membuat kesalahan di akhir penyelesaian.
KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan aktivitas siswa dan kemampuan pemecahan masalah pada materi jarak pada dimensi tiga. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, beberapa saran yang dapat diberikan adalah: (1). Sebaiknya dalam pengamatan aktivitas siswa menggunakan lebih dari dua observer, agar pengamatan aktivitas selama pembelajaran berlangsung lebih teliti, (2) LKS pada tiap selesai pembelajaran hendaknya diberikan siswa untuk membantu belajar kembali di rumah, sebagai persiapan mengikuti kuis atau tes akhir, dan (3). Model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat digunakan oleh guru sebagai alternatif model pembelajaran di kelas.
DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Kusumaningrum R., 2007. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) Melalui Pemanfaatan LKS (Lembar Kerja Siswa) Terhadap Hasil Belajar Matematika Sub Pokok Bahasan Jajargenjang dan Belahketupat Pada Siswa Kelas VII SMPN 11 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang Manuel Barrantes and Lorenzo J. Blanco, 2006. A Study of Prospective Primary Teachers’Conceptions of Teaching and Learning School Geometry. Journal of Mathematics Teacher Education Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning /CTL). Malang: Universitas Negeri Malang. Slavin, Robert E. 1994 , Educational Psychology Theory and Practice. Needham Heights, Massachusetts 02194 Wardhani, I.G.A K. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 32

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI LESSON STUDY MGMP MATEMATIKA DI SMP NEGERI SATU ATAP MERJOSARI KOTA MALANG

Chusnul Chotimah, S.Pd
SMPN SATU ATAP MERJOSARI MALANG

Abstrak: Belajar sebagai sebuah proses tentu tidak pernah sepotong-potong atau bagian dari penggalan saja. Belajar merupakan rangkaian pemahaman terhadap sesuatu secara terus menerus. Cara untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang seirama dengan kondisi peserta didik, tujuan, dan kondisi pembelajaran yang akan dilangsungkan. Untuk pembelajaran tertentu, kadang ada metode yang cocok dan ada pula metode yang tidak cocok digunakan. Metode apapun sangat baik untuk pembelajaran asalkan dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Lesson study berbasis sekolah di SMP Negeri Satu Atap Merjosari Kota Malang dilaksanakan sejak tahun pelajaran 2009/2010. Pelaksanaan lesson study dimulai dengan tahap plan, do-see, dan refleksi. Sedangkan lesson study berbasis MGMP Matematika dilaksanakan mulai tanggal 14 Juli 2011 di SMP Negeri Satu Atap Merjosari Kota Malang dimana penulis sebagai guru model dan melibatkan sebanyak sebelas guru mata pelajaran matematika yang terbentuk dalam wadah MGMP Matematika yang bertindak sebagai observer.Melalui lesson study berbasis MGMP Matematika, para guru yang terlibat menyadari pentingnya lesson study dalam peningkatan profesionalisme guru karena dapat meningkatkan kompetensi pedagogik dengan melihat macammacam metode yang dilaksanakan pada saat pembelajaran, kompetensi akademik dengan menyusun rencana pembelajaran secara kolaboratif, kompetensi sosial dengan saling memberi, menerima hasil refleksi, serta sharring konsep materi, dan kompetensi profesional dengan senantiasa memiliki keinginan untuk belajar sepanjang hayat. Dari semua hasil yang dirasakan maka lesson study berbasis MGMP Matematika diadakan secara berkelanjutan pada tanggal 21 Juli 2011 yang pelaksanaannya bertempat di SMP Negeri 21 Malang. Lesson study dapat dijadikan salah satu upaya untuk peningkatan profesionalisme guru sehingga pelaksanaannya perlu terus dikembangkan diberbagai sekolah. Kata kunci: Profesionalisme, Lesson study berbasis MGMP Matematika

Dunia pendidikan akan terus berjalan dinamis apabila melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektika yang ajeg, yakni antara pengajar, peserta didik, dan realitas dunia. Bagian pertama dan kedua adalah subjek yang sadar. Sementara, yang ketiga adalah objek yang tersadari atau disadari. Hubungan dialektis semacam inilah yang tidak terdapat pada sistem pendidikan mapan selama ini. Sistem pendidikan yang ada selama ini ibarat sebuah bank. Peserta didik diberikan pengetahuan agar kelak mendatangkan hasil yang berlipat-lipat. Peserta didik lantas diperlakukan sebagai bejana kosong yang akan diisi, sebagai sarana tabungan. Guru atau pelatih adalah subjek aktif. Peserta didik adalah subjek pasif yang penurut dan diperlakukan tidak berbeda. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dengan guru memberikan informasi yang harus ditelan oleh peserta didik yang wajib diingat dan dihafalkan. Paradigma semacam ini harus dihilangkan dalam dunia pendidikan terutama dalam diri seorang guru. Berlatih dan terus berlatih untuk mengubah kebiasaan bukan merupakan hal yang mudah, tetapi dapat kita lakukan dengan niat yang kuat. Menjadi guru profesional diperlukan high impulse energy (tenaga awal yang tinggi). Apalagi selama ini, guru terlalu kuat dan hafal dengan pola pembelajaran klasik. Belajar sebagai sebuah proses tentu tidak pernah sepotong-potong atau bagian dari penggalan saja. Belajar Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 33

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) merupakan rangkaian pemahaman terhadap sesuatu secara terus menerus. Cara untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang seirama dengan kondisi peserta didik, tujuan, dan kondisi pembelajaran yang akan dilangsungkan. Untuk pembelajaran tertentu, kadang ada metode yang cocok dan ada pula metode yang tidak cocok digunakan. Metode apapun sangat baik untuk pembelajaran asalkan dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik,misalnya metode dikte, kooperatif, kontekstual, kolaboratif, partisipatori, komunikasi, akselerasi, maupun metode lainnya. Guru merupakan pengguna metode dan bukan pengikut sebuah metode. Untuk itu, seorang guru yang hebat pastilah dapat menggunakan beragam metode sesuai dengan kondisi peserta didik, tujuan, sarana, dan situasi belajar tanpa harus menjelek-jelekkan metode tertentu dan mendewakan metode lainnya. Dengan begitu, guru akan memperoleh kenikmatan dalam mengajar karena digemari dan dirindukan peserta didik, tujuan tercapai, dan hati guru sangat puas akibat inovasi yang dilakukannya. Menurut Herawati Susilo, dkk (2009) kata “lesson” tidak hanya berupa deskripsi mengenai apa yang akan diajarkan selama jangka waktu tertentu, tetapi meliputi hal-hal yang jauh lebih banyak lagi. Lesson study dibagi tiga tahap kegiatan yaitu plan, do-see, dan refleksi. Lesson study adalah suatu bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru. Dalam melaksanakan lesson study, guru-guru secara kolaboratif: 1) mempelajari kurikulum, dan merumuskan tujuan pembelajaran dan tujuan pengembangan peserta didiknya/pengembangan kecakapakan hidupnya, 2) merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut, 3) melaksanakan dan mengamati suatu research lesson (pembelajaran yang dikaji) untuk kemudian 4) melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji dan menyempurnakannya, serta merencanakan pembelajaran berikutnya.
IMPLEMENTASI LESSON STUDY BERBASIS MGMP MATEMATIKA DI SMP NEGERI SATU ATAP MERJOSARI MALANG

Menurut Herawati Susilo, dkk (2009) lesson study adalah suatu proses kolaboratif dimana sekelompok guru mengidentifikasi suatu masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (topik yang akan dibelajarkan), membelajarkan peserta didik sesuai skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran, sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain (mendiseminasikannya). Lesson study MGMP yang dilakukan di SMP Negeri Satu Atap Merjosari, penulis sebagai guru model diawali dengan kegiatan plan yang dibantu oleh ibu Dra. Husnul Chotimah, M.Pd selaku kepala sekolah. Kegiatan plan berupa konsultasi perangkat pembelajaran yang meliputi media dan metode dilaksanakan selama tiga hari sebelum pelaksanaan hari Kamis tanggal 14 Juli 2011. Do-see dan refleksi dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 14 Juli 2011. Sebelum pelaksanaan penulis sebagai guru model menggandakan perangkat pembelajaran antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD), Hand Out, Rubrik Jawaban Penilaian, Data Penilaian Individu dan Kelompok serta mempersiapkan media pembelajaran berupa amplop berwarna berisi soal dan jawaban yang disusun secara acak dan stiker penghargaan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan metode Make a Match. Berikut adalah perangkat pembelajaran yang diimplementasikan oleh penulis pada kegiatan do-see hari Kamis tanggal 14 Juli 2011, di SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KD. 3
Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang : Matematika : IX/Gasal (1) : 2 jam pelajaran (2x40 menit) : 3. Melakukan Pengolahan dan Penyajian Data : 3.1. Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 34

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Indikator : 1. Mengumpulkan data dengan mencacah, mengukur, dan mencatat data dengan turus/tally. 2. Mengurutkan data tunggal, mengenai data terkecil, terbesar, dan jangkauan data. 3. Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya 3. Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya 2. Mengurutkan data tunggal, mengenai data terkecil, terbesar, dan jangkauan data 3. Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya

A. Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu: 1. Mengumpulkan data dengan cara mencacah, mengukur, dan mencatat data dengan turus/tally 2. Mengurutkan data tunggal, mengenai data terkecil, terbesar, dan jangkauan data 3. Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya B. Materi Ajar Statistika C. Strategi Pembelajaran Strategi Pembelajaran: strategi pembelajaran kooperatif tipe Make a Match D. Langkah-langkah Kegiatan
No. 1. Kegiatan Guru Kegiatan awal (Eksplorasi)  Memotivasi peserta didik dalam pembelajaran  Melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan: 1. sebutkan contoh bil.bulat! 2. sebutkan contoh bil.prima!  Menyampaikan tujuan pembelajaran  Menuliskan topik pembelajaran: Statistika (menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya serta menentukan jangkauan dan kuartil.  Mengeksplorasi pengetahuan peserta didik dengan mengajukan pertanyaan Contoh: Tentukan nilai tengah dan nilai rata-rata dari data: 2,3,4,6,6,8,8,,9,9,10,12. Kegiatan Peserta Didik Yang Diharapkan  Mendengarkan nasehat guru  Menjawab pertanyaan yang diberikan guru contoh bilangan bulat: 2,4,-7,0 contoh bilangan prima: 3, 5, 7  Mendengarkan penyampaian Guru  Menulis topik pembelajaran Alokasi Waktu

 Menjawab pertanyaan guru Nilai tengah = 8 Nilai rata-rata = 77 11 =7

2.

Kegiatan Inti (Elaborasi)  Membagi peserta didik menjadi 8 kelompok dg. masing-masing kelompok terdiri dari 3 atau 4 peserta didik  Membagikan LKPD kepada masingmasing kelompok, meminta untuk mempelajari cara kerja,& memberi kesempatan bertanya apabila belum jelas  Membagikan amplop yang berisikan pertanyaan sebanyak 4 amplop kepada masing-masing kelompok  Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengerjakan kegiatan

 Duduk sesuai kelompok yang sudah ditentukan

60 menit

 Menerima LKPD dan mempelajarinya

 Menerima pertanyaan

amplop

yang

berisi

 Mengerjakan LKPD

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 35

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
sesuai LKPD  Memberi reward kepada kelompok yg. Menyelesaikan LKPD lebih awal dari kelompok lain  Memfasilitasi kegiatan diskusi kelas, memberi penguatan, dan reward  Membagikan rubrik jawaban untuk penilaian Konfirmasi  Membimbing menyusun kesimpulan Kegiatan Akhir  Mengumumkan kelompok terbaik dalam pelaksanaan pembelajaran  Meminta peserta didik mempelajari materi berikutnya yaitu penyajian data dalam bentuk tabel dan diagram  Menerima reward

 Melaksanakan diskusi menerima reward

kelas,

dan

 Menilai jawaban kelompok lain

 Menyusun kesimpulan pembelajaran.  Mendengarkan pengumuman  Mencatat tugas 10 menit

3.

Karakter Yang Terintegrasi Dalam Pembelajaran Ini Adalah:Disiplin 1. Bertanggung jawab 2. Percaya diri 3. Belajar untuk berargumen/mengeluarkan pendapat 4. Menghargai pendapat orang lain 5. Menumbuhkan sifat teliti dalam segala hal 6. Belajar memecahkan masalah 7. Menggali potensi diri E. a. b. c. d. e. F. Alat/Bahan/Sumber Belajar Alat tulis Buku catatan Stiker penghargaan Amplop Hand Out Penilaian LKPD

Proses belajar (melalui pemberian stiker) Mengetahui Kepala SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang

Malang, 5 Oktober 2011 Guru Mata Pelajaran

Dra. Husnul Chotimah, M.Pd NIP.19671116 199103 2 009

Chusnul Chotimah,S.Pd NIP.197203031997032003

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 36

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

HAND OUT
Standar Kompetensi Materi : Melakukan Pengolahan dan Penyajian Data : Statistika STATISTIKA A. Statistika sebuah cabang dari matematika terapan adalah ilmu yang mempelajari cara-cara: (1) mengumpulkan dan menyusun data, mengolah, dan menganalisis data, serta menyajikan data dalam bentuk kurva atau diagram (2) menarik kesimpulan yang logis didasarkan pada hasil pengolahan data sehingga dapat diambil keputusan yang akurat Hasil pengolahan suatu kumpulan data diperoleh sebuah ringkasan data. Ringkasan data berupa sebuah nilai yang disebut statistik. Data adalah keterangan yang diperlukan untuk mendapat gambaran mengenai suatu keadaan, atau untuk memecahkan masalah. B. Didasarkan pada jenisnya, suatu data dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1. Data Kualitataif/Data Kategori adalah data yang menunjukkan sifat atau keadaan objek 2. Data Kuantitatif/Data Numerik adalah data yang menunjukkan jumlah ukuran objek dalam bentuk bilangan-bilangan. Didasarkan dari cara memperolehnya, data kuantitatif dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1. Data Cacahan adalah data yang diperoleh dengan cara mencacah, membilang, atau menghitung banyak objek 2. Data Ukuran adalah data yang diperoleh dengan cara mengukur besaran objek. Catatan:  Pengumpulan data dilakukan pada tahap awal dalam setiap kegiatan statistika dengan cara mencacah, mengukur, dan mencatat.  Untuk kebutuhan penyajian dan pengolahan data, maka data yang tersebar dan tak berurutan perlu diurutkan dari ukuran terkecil sampai terbesar. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi adalah kumpulan objek yang akan diteliti dengan karakteristik/sifat-sifat yang sama 2. Sampel adalah bagian dari populasi yang benar-benar diteliti atau diamati, dan memiliki karakteristik sama yang dimiliki populasi. D. Ukuran Pemusatan Data Tunggal 1. Rata-rata Hitung/Mean jumlah semua nilai Mean = banyak data 2. Modus Modus adalah nilai yang paling sering muncul atau nilai yang frekuensinya paling banyak 3. Median adalah nilai tengah setelah data diurutkan E. Ukuran Pencaran Data Tunggal Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 37

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. Jangkauan Data/Rentangan/Range adalah selisih nilai tertinggi dengan nilai terendah dari suatu data 2. Quartil adalah membagi data menjadi empat bagian yang sama setelah data diurutkan terlebih dahulu
RUBRIK JAWABAN PENILAIAN

Pedoman Penskoran A. Masing-masing amplop nilainya dikalikan 25 (25x4=100) apabila banyak amplop empat buah Amplop I = 25 Amplop II = 25 Amplop III = 25 Amplop IV = 25 Total Nilai = 100 B. Untuk amplop yang banyaknya tiga buah penskorannya sebagai berikut: Amplop I dikalikan 35 Amplop II dikalikan 35 Amplop III dikalikan 30 Total nilai = 100 C. Kelompok yang dinilai : D. DATA PENILAIAN UNTUK INDIVIDU DAN KELOMPOK
Kegiatan Peserta Didik Yang Diharapkan
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kelompok I II III IV V VI VII VIII Nilai Kelompok Aktif Nama Peserta Didik Aktif Nilai

LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (KD 3.1)

Tujuan Peserta didik dapat menentukan nilai rata-rata, median, modus data tunggal serta penafsirannya serta dapat menentukan jangkauan dan kuartil Alat/Bahan/Sumber Belajar      Alat Tulis Buku Catatan Amplop Berisi Soal dan Jawaban Stiker Penghargaan Hand Out

Strategi Pembelajaran: Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 38

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Cara Kerja: 1. Duduklah bersama teman kelompok sesuai dengan pembagian kelompok dari guru 2. Ambil salah satu amplop yang sudah disediakan, dan ambillah isinya kemudian kerjakan di buku cacatan masing-masing 3. Diskusikan hasil kerja kalian bersama teman kelompok, selanjutnya pasangkan/cocokkan dengan jawaban yang tertera di amplop yang lain 4. Apabila sudah menemukan jawaban, ambillah kembali isi amplop dan kerjakan soal yang terdapat didalamnya 5. Lakukan kegiatan seperti cara kerja nomor 2 sampai seluruh soal yang terdapat di dalam amplop selesai dikerjakan, dengan batas waktu maksimal 20 menit untuk seluruh soal 6. Laporkan kepada guru jika sudah selesai lebih awal mengerjakan semua soal untuk mendapatkan reward 7. Tukarkan amplop yang sudah sesuai antara soal dan jawaban ke kelompok lain dengan ketentuan kelompok I ke kelompok II, II ke III, III ke IV, IV ke V, V ke VI, VI ke VII, VII ke VIII, dan VIII ke I 8. Presentasikan jawaban kelompok melalui kegiatan diskusi kelas, dan koreksilah jawaban kelompok lain yang sudah kalian terima serta berilah nilai sesuai rubric 9. Buatlah kesimpulan dari pembelajaran. Selanjutnya guru model melakukan kegiatan berupa open lesson atau open class. Pada awal kegiatan lesson study, khususnya kegiatan open class penulis sebagai guru model, berharap dapat memberi contoh bahwa tidak ada pembelajaran yang sempurna sehingga guru tergugah untuk membuka diri dan mau belajar dengan teman sejawat. Saat pelaksanaan, penulis merasakan adanya proses pembelajaran yang lebih baik daripada kegiatan pembelajaran di luar lesson study. Hal tersebut terjadi karena saat tahap plan, perangkat pembelajaran telah lengkap dibuat dan dikonsultasikan kepada kepala sekolah yang selama ini telah banyak pengalaman dalam kegiatan lesson study. Selain hal itu, pada saat pelaksanaan, guru model (penulis) didampingi para observer (guru matematika) dari sekolah lain yang merupakan kelompok MGMP Matematika. Pada tahap refleksi, banyak komentar yang disampaikan oleh para observer terkait dengan pembelajaran open lesson yang telah mereka lihat dan penulis laksanakan. Semua komentar selanjutnya didiskusikan termasuk adanya perbedaan pemahaman konsep tentang definisi/pengertian modus. Perbedaan konsep akhirnya dapat diselesaikan dengan bantuan koordinator MGMP Matematika bapak Suwoko (kepala SMP Negeri 21 Malang). Dari kesebelas guru matematika yang bertindak sebagai observer hampir semuanya menyatakan bahwa lesson study perlu diimplementasikan di sekolah terutama di wilayah kota Malang. Walaupun lesson study bisa berkolaborasi antar bidang studi yang lain, tetapi alangkah baiknya apabila berkolaborasi dengan mata pelajaran yang sejenis. Karena apabila berkolaborasi dengan mata pelajaran yang sejenis akan lebih banyak wawasan dan masukan terkait dengan metode yang digunakan ataupun pembenahan konsep yang terkait dengan materi yang diberikan. Daftar kesebelas guru dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1.Daftar Guru yang Bertindak sebagai Observer
No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Guru Anita Dwi K Wiji Triwidiawati Aini Kurniawati Arjo Setyo Susi Ernawati Asal Sekolah SMP Negeri 21 Malang SMP Negeri 21 Malang SMP Negeri 3 Malang SMP Negeri 15 Malang SMP Negeri 6 Malang Komentar Hasil Observasi Adanya konsep yang perlu dibenahi pada penyam paian modus Pemilihan strategi pembelajaran cukup menarik Pembelajaran cukup kondusif Peserta didik aktif Menambah wawa-san dalam pembelajaran

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 39

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
6. 7. 8. 9. 10. 11. Fahruddin Akhmad Zulfikli Saiful Arif Suko Muslimin Hestin SMP Negeri 18 Malang SMP Negeri 15 Malang SMP Negeri 2 Malang SD Madyopura 4 SMP Laboratorium Malang SMP N. Satu Atap Merjosari Malang Guru model percaya diri dalam penyampaian pembelajaran Pembelajaran cukup menyenangkan Hampir semua pe-serta didik terlibat dalam pembelajaran LS membuat sua- sana pembelajaran lebih terencana LS perlu dibudaya kan di semua sekolah Moderator

Dari hasil refleksi yang disampaikan, lesson study membawa dampak yang positif terhadap perkembangan peserta didik. Berdasarkan hasil pelaksanaan lesson study di SMP Negeri Satu Atap Merjosari akhirnya MGMP Matematika merasa kegiatan lesson study perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Hal tersebut dibuktikan dengan dilaksanakannya lesson study yang kedua di SMP Negeri 21 Malang yang melibatkan anggota MGMP Matematika. Pelaksanaan lesson study kedua dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 21 Juli 2010. Guru model yang tampil pada saat pelaksanaan adalah ibu Wiji Triwidiawati, S.Pd dari SMP Negeri 21 Malang dengan sepuluh guru anggota MGMP matematika sebagai observer. Daftar nama kesepuluh guru yang bertindak sebagai observer dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Pelaksanaan Lesson Study Kedua di SMP Negeri 21 Malang
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Guru Wiji Triwidiawati Susi Setyawati Aini Kurniawati Arjo Setyo Susi Ernawati Fahruddin Akhmad Zulfikli Saiful Arif Suko Muslimin Chusnul Chotimah Asal Sekolah SMP Negeri 21 Malang SMP Negeri 21 Malang SMP Negeri 3 Malang SMP Negeri 15 Malang SMP Negeri 6 Malang SMP Negeri 18 Malang SMP Negeri 15 Malang SMP Negeri 2 Malang SD Madyopura 4 SMP Laboratorium Malang SMP Satu Atap Merjosari Peranan Guru Model Moderator Observer Observer Observer Observer Observer Observer Observer Observer Narasumber

Sebelum pelaksanaan guru model membagikan perangkat pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD). Tahap do-see guru model melakukan open class, dengan menyajikan konsep Kesebangunan dengan media gelang karet, sedangkan guru lain mengamati. Pada tahap refleksi penulis selaku narasumber lesson study di MGMP Matematika menyampaikan bahwa lesson study dapat berjalan dengan baik, apabila di sekolah dilaksanakan secara terprogram/terjadwal dan tidak berbenturan dengan program kurikulum. Pada akhir refleksi disimpulkan bahwa pelaksanaan lesson study perlu diimplementasikan disetiap sekolah. Kegiatan lesson study berbasis MGMP Matematika jenjang SMP di kota Malang selanjutnya menjadi salah satu program MGMP, dan pelaksanaannya terus dikembangkan dengan berupaya semua guru matematika tampil sebagai guru model.
PENUTUP

Lesson Study Berbasis MGMP Matematika merupakan salah satu wujud dari pembentukan komunitas belajar di MGMP matematika. Terbentuk komunitas belajar merupakan sarana untuk pengembangan diri setiap guru. Di samping itu lesson study dan pengembangan komunitas belajar di MGMP Matematika akan meningkatkan rasa kebersamaan dan kolegialitas antara sesama guru matematika MGMP di kota Malang. Guru harus terus berupaya melakukan pembenahan dalam dunia pendidikan dengan cara belajar sepanjang hayat untuk dapat mengimplementasikan tujuh elemen pendekatan kontekstual yaitu: 1) memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya (questioning), 2) menerapkan penilaian autentik saat Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 40

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) proses pembelajaran (authentic assessment), 3) melatih peserta didik untuk menjadi model bagi temannya (modeling), 4) melatih peserta didik untuk melakukan refleksi (reflection), 5) membentuk masyarakat belajar (learning community) dengan meminta peserta didik belajar kelompok, 6) melatih peserta didik untuk menyusun konsep pembelajaran sendiri (constructivism), 7) menemukan konsep (inquiry) yang akan dipelajarinya. Dengan pelaksanaan lesson study diharapkan setiap guru harus siap untuk menjadi guru model seperti yang sudah dilaksanakan oleh penulis dalam rangka untuk mendapat masukan yang berharga dalam proses pembelajaran. Guru yang merupakan ujung tombak pendidikan harus bersifat terbuka, mau menerima perubahan apapun dalam dunia pendidikan dengan berupaya memperbaiki pembelajaran yang telah dilakukan.
DAFTAR RUJUKAN Suprijono, Agus. 2009. Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Susilo, Herawati, dkk. 2009. Lesson Study Berbasis Sekolah. Malang: Bayumedia Publishing Susilo, Herawati, dkk. 2009. Guru Masa Depan Yang Cerdas dan Profesional. Malang: Surya Pena Gemilang Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 41

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN LESSON STUDY DAN PEMBERIAN PENGALAMAN LANGSUNG DI SEKOLAH PADA MAHASISWA PESERTA “TEACHING SENIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS IN ENGLISH”

Cholis Sa’dijah
Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

Abstrak. Penelitian ini mengkaji penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah pada mahasiswa peserta Teaching Senior High School Mathematics in English. Disamping itu, penelitian ini juga mengkaji unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa program bilingual yang memprogram matakuliah ini pada Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptip. Sebelum dan sesudah pelaksanaan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah, masing-masing individu mahasiswa diberi tugas merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris dan diukur unjuk kerjanya dalam merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris. Hasil penelitian ini menunjukkan unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika SMA berbahasa Inggris, sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah meningkat tetapi mempunyai kriteria sama yaitu berkategori sangat baik Kata kunci: lesson study,pengalaman langsung di sekolah, teaching senior high school mathematics in English

Mata kuliah Teaching Senior High School Mathematics in English (TSHME) merupakan salah satu mata kuliah yang diprogram oleh mahasiswa program bilingual pada Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Salah satu isi perkuliahan ini adalah mahasiswa merancang pembelajaran matematika SMA berbahasa Inggris. Biasanya, setelah mahasiswa menyusun perangkat pembelajaran matematika berbahasa Inggris, mahasiswa akan praktek simulasi di kampus saja, tetapi dalam penelitian ini, diterapkan Lesson Study, mahasiswa tidak hanya praktek simulasi di kampus, tetapi mahasiswa diberi pengalaman langsung di sekolah dalam praktek menerapkan perangkat pembelajaran yang sedang dikembangkan. Hal ini berdasarkan penelitian Sa’dijah (2009) yang menyarankan bahwa mahasiswa perlu mempunyai pengalaman langsung di sekolah dalam membelajarkan matematika berbahasa Inggris. Lesson study (LS) diterapkan dalam penelitian ini dikarenakan pengalaman peneliti sebagai dosen pendamping LS dan kajian teori bahwa LS sesuai diterapkan dalam pelaksanaan perkuliahan ini. (Sa’dijah, 2010) Sebagaimana diketahui, dalam LS dilakukan serangkaian kegiatan Plan-Do-See (Fernandez & Yoshida, 2004). Dalam penelitian ini LS dilakukan sebagai berikut. Pada tahap “plan” mahasiswa menyusun perangkat pembelajaran matematika SMA berbahasa Inggris secara kelompok kecil secara kooperatif. Hasil perangkat pembelajaran yang disusun secara kelompok kecil dipresentasikan untuk memperoleh masukan dari kelompok lain, kemudian dilakukan revisi. Sebelum diimplementasikan dalam kelas, perangkat pembelajaran yang telah disusun kemudian disimulasikan di kampus. Hasil dari simulasi Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 42

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) di kampus, juga dilakukan revisi pada perangkat pembelajaran yang telah disusun. Selanjutnya mahasiswa mempunyai kesempatan mempraktekkan langsung di sekolah pada tahap “do”. Pada tahap “do” ini ada mahasiswa yang berperan sebagai guru model, ada yang berperan sebagai observer murid, ada yang berperan sebagai observer guru, ada yang berperan sebagai perekam data (menggunakan kamera, dan video kamera). Hasil observasi dan rekaman ini juga digunakan sewaktu tahap “see”. Pada tahap “see”, mahasiswa yang berperan sebagai guru model menyampaikan kesannya sewaktu praktek membelajarkan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah disusun. Dalam tahap ini dibahas hasil pengamatan kegiatan belajar siswa menggunakan instrumen pedoman observasi yang telah disepakati pada tahap “plan”. Hasil tahap ini digunakan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran, yang tentu saja digunakan sebagai bahan revisi perangkat pembelajarana yang telah disusun. Tujuan penelitian ini sebagai berikut. (1) Mendeskripsikan bagaimana penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah pada mahasiswa peserta “Teaching Senior High School Mathematics in English”; (2) Mengkaji unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris, sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah. Penelitian ini merupakan kelanjutan penelitian Sa’dijah (2009). Sa’dijah melakukan penelitian tentang unjuk kerja mahasiswa dalam membelajarkan matematika SMP berbahasa Inggris berbantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dari hasil penelitian tersebut dikemukakan perlunya mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di sekolah dalam membelajarkan matematika berbahasa Inggris. Mata kuliah “Teaching Senior High School Mathematics In English” (TSHME) ini berkode MAP 468, 3 sks, 4 js, disajikan pada semester VI. Tujuan perkuliahan ini adalah bahwa mahasiswa mampu membelajarkan matematika di SMA dalam bahasa Inggris. (Sa’dijah, 2010)

METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptip (Creswell, 2008). Sebagaimana telah dikemukakan di depan, penelitian ini mendeskripsikan penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah pada mahasiswa peserta “Teaching Senior High School Mathematics in English”. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa di satu kelas peserta TSHME tahun 2009/2010. Sebelum dan sesudah pelaksanaan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah, masing-masing individu mahasiswa diberi tugas menyusun rancangan pembelajaran matematika berbahasa Inggris dan diukur unjuk kerjanya dalam merancang pembelajaran matematika dalam bahasa Inggris. Untuk instrumen pertama digunakan pedoman observasi dan catatan lapangan untuk mendeskripsikan pelaksanaan penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah pada mahasiswa peserta mata kuliah ini. Untuk instrumen kedua, yaitu untuk mengetahui unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris, sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah digunakan instrumen dengan indikator sebagai berikut. Instrumen rubrik unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris yang dikembangkan Sa’dijah (2009) indikatornya sebagai berikut: (a) kesesuaian dengan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan tujuan pembelajaran (b) penerapan model pembelajaran (termasuk langkah-langkah kegiatan pendahuluan, inti: eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, serta penutup), (c) penggunaan multimedia TIK termasuk alat peraga, (d) pengembangan perangkat asesmen, dan (e) penggunaan bahasa (penulisan). Masing-masing indikator berbobot sama. Indikator rubrik unjuk kerja mahasiswa yang merupakan revisi dari instrumen tersebut yang digunakan dalam penelitian ini selanjutnya disebut indikator A, B, C, D, dan E, yang secara rinci sebagai berikut. (A) Kesesuaian dengan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator, dan tujuan pembelajaran, dan kebenaran isi (materi/konsep matematika). (B) Kesesuaian penerapan model pembelajaran (termasuk kebenaran dan kelengkapan langkah-langkah kegiatan pendahuluan, inti: eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, serta penutup). (C) Kemampuan pengembangan multimedia termasuk pemilihan media/ alat peraga yang menunjang pembelajaran. (D) Kemampuan mengembangkan perangkat asesmen, termasuk kesesuaian Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 43

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) asesmen dengan indikator, tujuan, dan model pembelajaran. (E) Kemampuan menggunakan bahasa tulis, termasuk grammar, vocab, mathematics terms, dan kemampuan menulis.Untuk silabus, indikator kedua yang dimaksud adalah kesesuaian dan kelengkapan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator. Sedang indikator yang ketiga yang dimaksud adalah kesesuaian dan kelengkapan materi pembelajaran dan sumber belajar. HASIL DAN PEMBAHASAN A.PENERAPAN LESSON STUDY DAN PEMBERIAN PENGALAMAN LANGSUNG DI SEKOLAH PADA MAHASISWA PESERTA “TEACHING SENIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS IN ENGLISH”. Berikut dikemukakan penerapan lesson Study dan Pemberian Pengalaman Langsung di Sekolah pada Mahasiswa Peserta “Teaching Senior High School Mathematics in English, yaitu pada tahap Plan ke-1, Do ke-1, See ke-1, Plan ke-2, Do ke-2, dan See ke-2. PLAN KE-1 Pada waktu “plan” mahasiswa menyusun draft rancangan pembelajaran matematika SMA berbahasa Inggris. Draft tersebut dibahas dalam kelas untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diharapkan mampu membelajarkan siswa secara efektif serta membangkitkan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika berbahasa Inggris. Rancangan pembelajaran tersebut juga disimulasikan dalam kelas. Sesudah simulasi dilakukan refleksi sebagai bahan untuk merevisi rancangan pembelajaran yang berupa perangkat pembelajaran (lesson plan, worksheet, hand out, media, asesmen, dan skenario pembelajaran. DO KE-1 Pada waktu “do” yaitu pada waktu praktek membelajarkan matematika berbahasa Inggis, ada mahasiswa yang berperan sebagai guru, observer dan perekam data. Beberapa catatan tentang aktivitas mahasiswa selama pelaksanaan “do” di sekolah sebagai berikut. Dalam tahap ini mahasiswa yang berperan sebagai tim guru juga melakukan observasi pada siswa selama pembelajaran berlangsung, Pelaksanaan lesson study ini direkam sebagai bahan refleksi..Dalam hal ini dilakukan pengamatan terhadap aktivitas lima siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Selanjutnya dikemukakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh dua pengamat pada pelaksanaan pembelajaran menggunakan form laporan “lesson learned”. SEE KE-1 Dalam tahap see, dilakukan refleks berdasarkan beberapa catatan observasi selama tahap “do” dan dari laporan “lesson learned”. PLAN KE-2 Sesudah melakukan refleksi pada tahap see ke-1 pada Lesson Study ke- 1 maka diputuskan melakukan Plan ke-2 sebagai berikut. (a) Menggunakan RPP, media, instrumen, dan model pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan hasil tahap “See 1”. (b) Merevisi “hand-out” siswa dengan menyusun kembali materi disesuaikan dengan alokasi waktu. Merevisi Lembar Kerja siswa (LKS) yaitu mengurangi banyak problem disesuaikan dengan alokasi waktu. (c) Menyusun kembali kegiatan pembelajaran, disesuaikan dengan alokasi waktu tahap “do ke-2” yaitu 65 menit untuk semua kegiatan. (d) Menyiapkan pelaksanaan LS kedua sehingga lebih baik daripada LS yang pertama. (e) Mengeset kembali posisi guru Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 44

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) model, observer siswa, observer guru, tim dokumentasi, visitor, guru dan dosen di kelas, disesuaikan dengan kondisi kelas. DO KE-2 Guru model, observer siswa, observer guru, tim dokumentasi, visitor, guru dan dosen hadir di kelas sesuai jadwal. Beberapa catatan pada tahap “do ke-2” sebagai berikut. Observer students observe focus on specific students during the lesson. The number of students who are observed is 4 students with the details: an observer observes two students and each of the other two observers observes one student. In general, the observation for the students’ activity are as follows. (a) The class that was been the object of the research is XI Science VI. (b) The number of students at this class is 31 students but two students are absent. (c) The students started their activities at 7.30 a.m. (d) The main activity was begun at 7.45 a.m. (e) The closing activity was begun at 8.25 a.m.(f) The instructional was ended at 8.30 a.m. Dalam tahap ini selama pembelajaran berlangsung guru model (2 mahasiswa) juga melakukan asesmen tentang kegiatan siswa baik secara individu maupun kelompok, Di samping itu team observer siswa mencermati kegiatan yang dilakukan siswa secara rinci selama pembelajaran berlangsung. Hal ini dilakukan sebagai bahan refleksi. Dalam hal ini dilakukan pengamatan terhadap aktivitas empat siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Berikut ini gambar foto kegiatan pada tahap “Do” di sekolah. Gambar 1 berikut memperlihatkan situasi sewaktu siswa berdiskusi kelompok mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS).

Gambar 1. Situasi Sewaktu Siswa Berdiskusi Kelompok Mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Gambar 2 berikut memperlihatkan situasi sewaktu guru model sebagai fasilitator yaitu memfasilitasi siswa yang mengalami kesulitan dalam diskusi kelompok.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 45

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 2. Situasi Sewaktu Guru Model Sebagai Fasilitator yaitu Memfasilitasi Siswa yang Mengalami Kesulitan dalam Diskusi Kelompok Gambar 3 berikut memperlihatkan situasi observer siswa sewaktu melakukan pengamatan pada kegiatan siswa.

Gambar 3. Observer of student observes students’ activities Selain observer siswa dan observer guru yang dalam hal ini diperankan oleh mahasiswa peserta matakuliah ini, dalam kegiatan ini juga hadir 2 visitor dari sekolah lain. Berikut ini dikemukakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh visitor, yaiyu sebagai berikut. (a) The teachers did the procedure well. (b) Teacher should manage the time so that we can do the instruction optimally. (c) The teacher did the instruction well, both in mathematics concept and English. Teacher can express her idea in English. (d) Teacher’s voice should be higher volume, because the students are noisy.(e) The visitor saw some students did not pay attention to the lesson. (f) Sometimes if there are some students who overacting, teacher can ask them to come in front of the class and explain the answer of the assignments to their friends. SEE KE-2 Beberapa catatan pada tahap “See ke-2” sebagai berikut. (a) The lesson study did complete optimal. Some students didn’t concentrate to the lesson since they would hold other examination after the lesson. (b) Teacher could be able to manage the class, conduct the class such that the students can concern to the material, give motivation, and make an enjoy full learning. (c) Teacher could be responsive to the some Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 46

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) characteristics of students. (d) Before opening the class, the teacher has to allocate 5 minutes to prepare the media. (e) In teaching mathematics for bilingual class, the usage of English is not absolute used along the time. Sometimes, teacher can poses question or teach the material by using mother language (Indonesian) in order to keep students understanding about the material. B. UNJUK KERJA MAHASISWA DALAM MERANCANG PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBAHASA INGGRIS, SEBELUM DAN SESUDAH PENERAPAN LESSON STUDY DAN PEMBERIAN PENGALAMAN LANGSUNG DI SEKOLAH Berikut dikemukakan pengkajian terhadap unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika berbahasa Inggris, sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah, berdasarkan lima indikator A, B, C, D, dan E sebagaimana disebutkan di atas. Tabel Unjuk Kerja Mahasiswa dalam Merancang Pembelajaran Matematika Berbahasa Inggris, Sebelum dan Sesudah Penerapan Lesson Study dan Pemberian Pengalaman Langsung di Sekolah pada Tiap Indikator A, B, C, D, dan E.
Indikator Inisial Nama Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah A 3,70 4,00 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 4,00 3,70 3,70 3,70 4,00 3,70 3,70 4,00 4,00 3,70 3,70 3,70 4,00 4,00 4,00 B 3,70 4,00 3,70 4,00 3,70 4,00 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 4,00 4,00 4,00 4,00 3,70 3,70 C 3,70 3,70 3,70 4,00 3,70 3,70 3,70 4,00 3,70 3,70 4,00 4,00 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 4,00 3,70 3,70 3,70 3,70 3,70 4,00 D 4,00 3,70 3,70 4,00 3,70 4,00 4,00 4,00 3,70 4,00 4,00 4,00 3,70 4,00 3,70 4,00 3,70 4,00 4,00 4,00 3,70 4,00 3,70 3,70 3,70 4,00 E 3,70 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 3,70 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 3,70 4,00 3,70 3,70 4,00 4,00 Rata-rata 3,76 3,88 3,76 3,94 3,76 3,88 3,76 3,88 3,76 3,82 3,88 3,94 3,76 3,82 3,76 3,88 3,76 3,82 3,88 3,94 3.76 3,88 3,76 3,82 3,82 3,94

DV

DW

LS

HF

AY

YG

FL

LK

SL

AR

AN

JW

RY

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 47

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Ratarata Sebelum Sesudah 3,75 3,82 3,75 3,82 3,72 3,82 3,80 3,96 3,94 3,97 3,79 3,88

Dari tabel di atas dapat dikemukakan bahwa rata-rata skor mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika SMA berbahasa Inggris, sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah pada tiap indikator A, B, C, D, dan E. adalah meningkat tetapi mempunyai kriteria sama yaitu sangat baik, hal ini juga dapat digambarkan dalam diagram batang sebagaimana terlihat pada Gambar 5 berikut. .
4 3,95 3,9 3,85 3,8 3,75 3,7 3,65 3,6 3,55 A B C D E

SEBELUM SESUDAH

Gambar 5. Unjuk Kerja Mahasiswa dalam Merancang Pembelajaran Matematika Berbahasa Inggris, Sebelum dan Sesudah Penerapan Lesson Study dan Pemberian Pengalaman Langsung di Sekolah pada Tiap Indikator A, B, C, D, dan E. PENUTUP Dalam makalah ini telah dibahas penerapan lesson Study dan Pemberian Pengalaman Langsung di Sekolah pada Mahasiswa Peserta “Teaching Senior High School Mathematics in English, yaitu pada tahap Plan ke-1, Do ke-1, See ke-1, Plan ke-2, Do ke-2, dan See ke-2. Dari hasil kajian di atas dapa dikemukakan bahwa unjuk kerja mahasiswa dalam merancang pembelajaran matematika SMA berbahasa Inggris, sebelum dan sesudah penerapan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah pada tiap indikator A, B, C, D, dan E. adalah mempunyai kriteria sangat baik, walaupun jika dicermati skor sesudah pelaksanaan lesson study dan pemberian pengalaman langsung di sekolah lebih tinggi daripada sebelumnya. RUJUKAN
Lewis, C., Perry, R., Hurd, J., & O’Connel, M.P. (2006). Teacher collaboration: Lesson study comes of age in North America. Tersedia pada http://www.Lessonresearch.net/LS_06Kappan.pdf. Roy, R. (2008). Active learning. Mathematics Teaching. 211, 36-36. Diakses 20 Oktober 2009 dari Academic Research Library (ID Dokumen: 1864856581) Sa’dijah, C. (2006). Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Beracuan Konstruktivisme untuk Siswa SMP. Mathedu Jurnal Pendidikan Matematika. 1 (2): 111-122. Sa’dijah, C. (2009). “Unjuk Kerja Mahasiswa Peserta ‘Teaching Junior Secondary Mathematics In English’ dalam Membelajarkan Matematika Berbahasa Inggris Berbantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi” dalam Jurnal

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 48

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Pendidikan dan Pembelajaran, 16(2): 171-179. Malang: LP3 UM. Sa’dijah, C. (2010). “Aktivitas dan Respon Calon Guru dalam Penerapan Lesson Study pada Pembelajaran Matematika Berbahasa Inggris di SMA Negeri 3 Malang”, disajikan pada Seminar Nasional Lesson Study di Malang pada 9 Oktober 2010. Yoshida, M. (2002). Developing Effective Use of the Blackboard through Lesson Study.http://www.rbs.org/lesson_study/confenrence/2002/paper/Yoshida_bl acboard.shtml. Zane, T. (2009). Performance Assessment Design Principles Gleaned from Constructivist Learning Theory (Part 2). Tech Trends, 53( 3), 86-94. Diakses 20 Oktober 2009 dari Academic Research Library (ID Dokumen: 1796217141)

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 49

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MAHASISWA MELALUI LESSON STUDY PADA MATA KULIAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UMM

Dwi Priyo Utomo
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

Abstrak: Pada semester awal perkuliahan, mahasiswa pasif dalam pembelajaran. Mereka lebih banyak diam dan para dosen yang aktif dalam perkuliahan. Hal ini selain karena mahasiswa masih dalam tahap adaptasi dengan lingkungan baru juga karena mereka belum terbiasa dengan sistem perkuliahan. Padahal aktivitas belajar mahasiswa berhubungan dengan hasil belajarnya, karena aktivitas belajar dapat membuat mahasiswa lebih kreatif dan dapat mengingat materi lebih lama. Agar mahasiswa lebih aktif dan kreatif adalah mengembangkan komunikasi bagi mahasiswa. Pembelajaran melalui lesson study berpotensi membelajarkan mahasiswa mengkomunikasikan berpikir kritis tahap demi tahap menggunakan cara pandang masing-masing mahasiswa. Pada makalah ini akan diuraikan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan komunikasi mahasiswa melalui Lesson Study. Kata Kunci: Lesson Study, kemampuan komunikasi, Belajar dan Pembelajaran.

Di Program Studi Pendidikan Matematika, mata kuliah Belajar dan Pembelajaran merupakan salah satu ilmu dasar yang diajarkan guna menumbuhkembangkan kemampuan kependidikan mahasiswa. Dengan memiliki kemampuan kependidikan yang baik diharapkan mahasiswa mampu menata nalar, pembentukan sikap serta keterampilan mendidik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam mempelajari berbagai ilmu kependidikan lainnya. Mata kuliah ini diajarkan di semester II. Pada masa semester II, tahapan mahasiswa masih dalam tahap adaptasi. Adaptasi dilakukan pada lingkungan tempat tinggal maupun dalam suasana di kelas serta dengan sistem perkuliahan, yang sedikit berbeda dengan sistem belajar di SMA. Masa-masa seperti ini, umumnya mahasiswa masih tahap penyesuaian. Pada tahap penyesuaian ini menyebabkan mahasiswa rata-rata menjadi pasif, lebih banyak diam dan lebih suka mendengarkan. Pada akhirnya, yang mendominasi proses belejar adalah dosen. Di sisi lain, mata kuliah ini harus banyak mengeksplore pengetahuan mahasiswa tentang pengalaman belajarnya. Bagaimana cara belajarnya, strategi belajarnya, penemuan potensi belajarnya, dll. Sehingga diperlukan suatu langkah pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan komunikasi mahasiswa. Dalam belajar dari TK sampai SMA mahasiswa dimungkinkan melakukan komunikasi matematika. Dengan melakukan komunikasi dalam belajar matematika mahasiswa diharapkan dapat (1) mengorganisasikan dan mengkonsolidasi cara berfikir matematiknya, (2) mekomunikasikan berpikir matematik mereka tahap demi tahap dan secara jelas kepada teman sebaya, dosen dan yang lainnya, (3) menganalisis dan mengevaluasi berpikir matematik dan strategi orang lain, dan (4) menggunakan bahasa matematika untuk menyampaikan ide matematika secara tepat. NCTM(2000:194). Sama halnya dalam mata kuliah kependidikan seperti mata kuliah belajar dan pembelajaran, mahasiswa juga dimungkinkan melakukan komunikasi. Untuk mencapai tujuan belajar pada proses pembelajaran mata kuliah ini tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Sehingga untuk mengubahnya dibutuhkan banyak sharing pengalaman dengan teman sejawat. Sharing dilakukan agar apa yang akan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 50

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) diterapkan tidak salah pilih. Sharing tersebut khusus membicarakan tentang perencanaan pembelajaran yang akan diterapkan, observasi proses pembelajarannya serta evaluasi pembelajaran. Ketiga langkah yang diterapkan tersebut merupakan bagian dari langkah-langkah dari penerapan Lesson Study. Adapun langkah-langkah pada Lesson Study adalah Plan, Do, See. Memperhatikan kondisi pembelajaran dan kemampuan mahasiswa dalam belajar mata kuliah belajar dan pembelajaran tersebut di atas maka dirasa penting dilakukan pembelajaran lebih lanjut. Dengan kegiatan lesson study tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan pembelajaran mata kuliah belajar dan pembelajaran dengan perbaikan pembelajaran di kelas. Sesuai dengan rumusan masalah di atas, makalah ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan komunikasi mahasiswa pada mata kuliah belajar dan pembelajaran melalui Lesson Study. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi para praktisi pendidikan sebagai bahan masukan agar mereka dapat mempertimbangkan aspek kemampuan komunikasi dalam mendesain kurikulum, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran matematika. 2. Sebagai bahan masukan bagi dosen tempat penelitian ini, agar berupaya mengembangkan kemampuan komunikasi mahasiswa pada kegiatan pembelajaran selanjutnya. 3. Sebagai bahan bandingan bagi peneliti lain apabila melakukan penelitian sejenis.
METODE PENELITIAN

Metode yang dilakukan adalah dengan melaksanakan Lesson Study dengan tahapan plan, do dan see selama 4 (empat) kali siklus. 1. Plan : Mahasiswa diminta menyusun RPP secara individual berdasarkan SK dan KD yang telah ditetapkan. Hasil penyusunan ini dibahas bersama dengan mahasiswa dan dosen pengampu matakuliah. 2. Do : 1 Mahasiswa diminta mempraktekkan rencana pembelajaran 3. Observasi : Observasi dalam pelaksanaan kegiatan do mengacu pada instrumen pedoman observasi dengan format yang tersusun berisi aspek-aspek RPP maupun kejadian selama pelaksanaan pembelajaran di kelas. 4. See : Refleksi berdasarkan pada hasil observasi secara tertulis dari aspek perencanaan maupun pelaksanaan
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Berdasarkan hasil observasi pada proses pembelajaran diketahui, pencapaian komunikasi mahasiswa berada pada tahap perkembangan optimal. Tetapi mahasiswa yang mampu berkomunikasi belum merata. Hanya mahasiswa-mahasiswa tertentu saja yang berkomunikasi. Hal tersebut menunjukan bahwa proses pembelajaran pada siklus I masih perlu ditingkatkan. Dengan mempertimbangkan kelemahan mahasiswa serta berdasarkan hasil evaluasi Lesson Study maka tindakan perlu dilanjutkan pada siklus II dengan mencermati kembali kelemahan yang terjadi pada siklus I. Setelah melakukan diskusi dengan observer dalam pembelajaran ini, diidentifikasi beberapa kelemahan yang terjadi dalam pembelajaran pada siklus I tersebut. Beberapa hal yang masih dianggap kurang adalah komunikasi mahasiswa yang belum merata karena mahasiswa belum terbiasa mengeluarkan pendapat dalam pembelajaran sebelumnya; Meskipun sudah menyatakan tertarik pada materi pokok yang diangkat untuk dibahas. Namun, karena belum terbiasa berpendapat, maka hanya beberapa mahasiswa saja yang aktif. Beberapa kekurangan pada siklus I tersebut akan diperhatikan dalam menyusun rencana pembelajaran pada siklus II. Kemampuan komunikasi mahasiswa meningkat karena adanya intervensi dosen dan motivasi dari teman kelompoknya maka banyak mahasiswa yang bergairah pada tindakan siklus II, artinya mahasiswa memerlukan bantuan lebih banyak lagi dari dosen atau teman sejawat. Keadaan ini sesuai dengan Vigotsky (dalam Dworetzky, 1990) bahwa Zone of Proximal Development (ZPD) bersifat individual atau khas untuk tiap-tiap siswa. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 51

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Menurut Vigotsky (Sutherland, 1992: 43-44) setiap anak memiliki apa yang disebut zona of proximal development (ZPD) dalam belajar, yang didefenisikan sebagai jarak atau selisih antara tingkat perkembangan anak yang aktual dengan tingkat perkembangan potensial yang lebih tinggi yang bisa dicapai si anak jika ia mendapat bimbingan atau mendapat bantuan dari guru atau teman sebaya yang lebih mampu dalam akademik. Gambar 5.1 Zona perkembangan proksimal Vygotsky. Perkembangan potensial anak Bantuan dari Guru dan teman Sebaya

ZPD
Perkembangan aktual anak

Gambar 5.1 Zona perkembangan proksimal. Siswa akan lebih baik belajarnya jika siswa belajar secara kelompok daripada secara klasikal. Karena siswa yang kurang pandai akan merasa minder dan semakin ketinggalan dari teman yang lebih mampu secara akademik Temuan-temuan penelitian pada pelaksanaan tindakan dapat diuraikan sebagai berikut. a. Aktivitas mahasiswa bekerja dan belajar secara kelompok sudah berjalan cukup efektif, dimana mahasiswa telah dapat berdiskusi secara aktif dalam melakukan langkah-langkah belajar dengan menggunakan LKM. b. Perhatian mahasiswa tidak lagi terlalu terfokus pada dosen, mahasiswa sudah berani mengemukakan pendapat dan menyalahkan pendapat temannya yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Suasana kelas terlihat aktif dan mahasiswa antusias menyelesaikan tugas-tugas yang ada di LKM. c. Mahasiswa lebih berani mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dosen. d. Penggunaan LKM dalam pembelajaran dapat membantu mahasiswa bekerja dan belajar lebih mandiri dalam kelompok. Pemberian LKM dalam belajar juga dapat membuat mahasiswa senang, hal ini terlihat ketika pembelajaran pada siklus II baru dimulai beberapa mahasiswa langsung meminta agar belajar dengan LKS. f. Pada pembelajaran siklus II, waktu yang digunakan dalam belajar lebih mendekati pengaturan waktu direncanakan . Hal ini dapat terjadi karena mahasiswa sudah mulai terbiasa belajar dengan berkerja sama dalam kelompok. g. Ada mahasiswa yang pada saat tes hasil belajar secara tertulis tidak dapat menjawab dengan benar tapi pada saat diwawancarai mengenai soal tersebut dapat menjawab secara lisan dengan benar. h. Pada pembelajaran melalui wacana mahasiswa dan dosen lebih aktif, kreatif mengembangkan ide, tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif, dan suasana belajar lebih menyenangkan, sehingga pembelajaran juga memenuhi kriteria PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan). Keaktifan mahasiswa dalam belajar terlihat lebih baik dari pembelajaran sebelumnya.
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Memperhatikan fokus penelitian, paparan dan analisis data, serta pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 52

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Langkah-langkah Peningkatan kemampuan komunikasi mahasiswa melalui lesson study pada mata kuliah belajar dan pembelajaran, dilaksanakan berupa kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan dosen melakukan intervensi kepada mahasiswa agar mahasiswa lebih siap untuk belajar, yaitu (1) memberikan orientasi tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan; (2) mengorganisasikan mahasiswa dalam kelompok belajar; (3) menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran; dan (4) dengan tanya jawab memberi motivasi dan apersepsi mahasiswa. Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari (1) dosen melakukan intervensi kepada mahasiswa dengan memberikan permasalahan yang terkait motivasi belajar. Kegunaan pengetahuan tentang motivasi belajar. Permasalahan dan langkah-langkah penyelesaian dituangkan dalam LKM; (2) dosen dan mahasiswa bernegosiasi tentang kejelasan LKM dan mekanisme pengerjaannya; (3) mahasiswa berkolaborasi melakukan langkah-langkah belajar untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dosen melalui LKM. Dengan melakukan kegiatan belajar tersebut mahasiswa juga membangun kemampuan komunikasi dalam belajar; (4) mahasiswa melakukan negosiasi temuan-temuan belajar dari hasil berkolaborasi dan dapat mengenal konsep motivasi belajar. (5) selama mahasiswa melakukan kolaborasi dan negosiasi dalam belajar dosen memberikan intervensi seperlunya untuk membantu mahasiswa yang memerlukan arahan dan bimbingan. Kegiatan penutup mencakup (1) dosen dan mahasiswa bernegosiasi untuk membuat rangkuman atau simpulan materi yang baru dipelajari; (2) dosen melakukan evaluasi apakah mahasiswa telah mengenal konsep motivasi belajar. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan temuan penelitian, maka disarankan kepada dosen untuk menggunakan Lesson Study dalam pembelajaran matematika maupun mata kuliah kependidikan di sekolah, dengan memperhatikan beberapa hal berikut.
Aspek Manajemen Saran Untuk menerapkan lesson study dalam pembelajaran matemátika di sekolah dasar jumlah mahasiswa dalam 1 kelas perlu dibatasi yaitu tidak melebihi 30 mahasiswa, dan jumlah anggota kelompok tidak melebihi 4 orang. Sehingga proses komunikasi antara mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, maupun mahasiswa dengan bahan ajar atau lingkungan belajar dapat berjalan dengan baik. Hendaknya lebih aktif mendesain bahan ajar berupa lembar kerja mahasiswa (LKM), bahan manipulatif yang digunakan dalam pembelajaran, dengan adanya LKM dan bahan manipulatif mahasiswa akan dapat lebih terfokus perhatiannya dan dapat berkolaborasi dalam belajar dengan efektif dan efisien. Hendaknya lebih memberikan kesempatan kepada mahasiswa berinteraksi dalam belajar matematika. Agar mahasiswa melakukan kolaborasi, negosiasi dan saling evaluasi dalam belajar. Sekolah hendaknya senantiasa melengkapi sarana belajar dan menciptakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar matematika. Hendaknya dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang efektifitas Lesson Study dalam belajar matematika, sehingga peningkatan kualitas belajar matematika di sekolah dapat terlaksana secara berkesinambungan.

Dosen

Proses Sarana Pengembangan

DAFTAR PUSTAKA Dahar, R. W, 1988. Teori – teori Belajar. Jakarta: Depdikbud, Dikti P2 LPTK. Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI. Jakarta: Depdiknas. Dworetzky, J. P, 1990. Introduction to Child Development, New York. West Publising Company. Hudojo, Herman, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang. NCTM, 2000. Principles and Standards for School Mathematics. Reston, Virginia: The National Council of Teachers of Mathematics, Inc.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 53

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MEMBANGUN STRATEGI MENTAL ARITMATIKA SISWA KELAS 2 SEKOLAH DASAR UNTUK MENJUMLAHKAN BILANGAN SAMPAI 100 MELALUI KONTEKS PENGUKURAN

Lathiful Anwar
FMIPA, Universitas Negeri Malang, Malang. lathiful_anwar@yahoo.com

Abstrak : Pada penelitian ini, peneliti mengembangkan desain pembelajaran untuk membantu siswa mengembangkan mental aritmatika dalam penjumlahan bilangan hingga 100 melalui konteks pengukuran. Fokus dari tulisan ini adalah mengamati bagaimana siswa membangun strategi mental aritmatika untuk memecahkan masalah penjumlahan bilangan sampai 100 menggunakan garis bilangan sebagai model. Mental aritmatika dalam penelitian ini didefinisikan sebagai suatu cara menangani bilangan secara fleksibel dan bermakna dalam pikiran mereka dengan melihat hubungan sejumlah bilangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa membangun strategi aritmatika menggunakan garis bilangan yang mereka buat yang pada awalnya sebagai visualisasi/representasi masalah pengukuran (model-of) yang ingin diselesaikan, selanjutnya model ini berkembang sebagai model untuk (model-for) mendukung strategi menghitung siswa secara lebih formal. Secara umum dalam penjumlahan bilangan secara mental aritmatika yang dikembangkan siswa, tedapat dua metode penjumlahan yang muncul yakni metode jump-of-ten dan jump-via-ten. Kata kunci: desain pembelajaran, mental aritmatika, garis bilangan, jump-of-ten, jump-via-ten

Beberapa peneliti di bidang pendidikan matematika mulai tertarik menggunakan mental aritmatika sebagai sebuah terobosan baru yang harus mendahului algoritma dalam melakukan operasi hitung untuk siswa sekolah dasar (Treffers, 1991; Beishuizen, 1993). Selain itu, beberapa manfaat dari melakukan perhitungan dengan mental adalah menghitung di kepala adalah keterampilan kehidupan praktis dan kemahiran dalam mental matematika memberikan kontribusi untuk peningkatan keterampilan estimasi dan pemahaman yang lebih baik tentang nilai tempat, operasi matematika serta sifat dasar bilangan (Hope, et al, 1988). Namun, strategi mental aritmatika harus diperkenalkan melalui proses berpikir dengan situasi kontekstual yang mendorong siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan pemahaman mereka melalui bimbingan guru. Selain itu, Gravemeijer (1994) menunjukkan bahwa garis bilangan merupakan model yang ‘powerful’ untuk melakukan strategi mental aritmatika dan untuk membantu perkembangan strategi yang lebih canggih, dan dapat mewakili strategi informal siswa secara bersamaan. Selain itu, penelitian lain menyimpulkan bahwa membekali siswa dengan model yang ‘tepat’ seperti garis bilangan, menyadari aspek kognitif dan motivasi belajar, membangun budaya kelas yang terbuka di mana solusi siswa sangat dihargai, akan membantu setiap siswa lebih fleksibel dalam menyelesaikan masalah kontekstual (Klein, 1998). Oleh karena itu, situasi kontekstual, penggunaan model, peran proaktif dari guru dan budaya kelas memainkan peran penting dalam pengembangan pembelajaran siswa dalam sebuah komunitas kelas. Kondisi pendidikan matematika di Indonesia saat seperti yang telah dilaporkan oleh Sembiring, Hadi dan Dolk (2008) menunjukkan bahwa masalah dalam pendidikan dasar bahwa siswa mengalami kesulitan untuk memahami konsep-konsep matematika, untuk membangun dan memecahkan representasi matematis Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 54

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dari masalah kontekstual. Masalah ini disebabkan oleh metode belajar-mengajar tradisional di mana guru sebagai pusat pembelajaran dan pengetahuan ditransfer dengan cara menceritakan (satu arah). Dalam metode ini, siswa belajar algoritma standar sebagai prosedur tetap memecahkan masalah. Armanto (2002) mengungkapkan beberapa kesalahpahaman yang dihasilkan setelah siswa belajar algoritma standar. Beberapa guru berpendapat bahwa dengan belajar algoritma standar, siswa dapat menerapkannya untuk memecahkan masalah dengan mudah. Hal ini menunjukkan guru matematika dalam mengajar myakini bahwa matematika adalah satu set prosedur tetap. Hal ini akan menyebabkan ketidakbebasan dalam melakukan matematika dengan cara-cara siswa sendiri. Di sisi lain, program inovasi progresif, yaitu PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia), yang telah berjalan selama lebih dari delapan tahun, memiliki tujuan utama untuk reformasi pendidikan matematika di Indonesia. Program inovasi ini diadaptasi dari RME (Realistic Mathematics Education) di Belanda yang memandang matematika sebagai ‘human activity’, (Freudenthal, 1991) di mana siswa membangun pemahaman mereka sendiri dalam melakukan matematisasi di bawah bimbingan guru. Berbeda dengan pendidikan matematika tradisional yang menggunakan matematika siap pakai sebagai titik awal untuk pembelajaran, RME menekankan pendidikan matematika sebagai suatu proses melakukan matematika dalam realitas yang terara yang pada akhirnya matematika sebagai produk. Sembiring, et al (2008) merangkum dari semua studi RME di Indonesia bahwa pendekatan RME dapat dimanfaatkan di Indonesia dan merangsang reformasi dalam pendidikan matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan teori dan perbaikan proses belajar dan sarana (means) yang didesain untuk mendukung proses belajar siswa dalam penjumlahan bilangan bulat menggunakan strategi mental aritmatika.
METODE PENELITIAN

Metodologi kami berada di bawah judul umum "Design Research" yang pertama kali diusulkan sebagai "penelitian pengembangan (Developmental research)" oleh Freudenthal di Belanda untuk mengembangkan apa yang disebut teori instruksi domain-spesifik RME_domain-specific instruction theory of RME (Gravemeijer & Cobb, 2006; Freudenthal, 1991) Tujuan dari Design Research ini adalah untuk mengembangkan teori tentang proses belajar dan cara (means) yang dirancang untuk mendukung pembelajaran, baik itu belajar secara individu, komunitas kelas, komunitas pengajaran profesional, atau dari sekolah atau distrik sekolah dipandang sebagai sebuah organisasi (Cobb et al, 2006). Pada dasarnya, desain penelitian memiliki tiga fase penting, yang merupakan tahap desain dan persiapan (percobaan berpikir), fase percobaan mengajar (percobaan instruksi), dan tahap analisis retrospektif (Gravemeijer & Cobb, 2006;. Cobb et ul, 2006) . Masing-masing membentuk proses siklus baik dalam dirinya dan dalam desain penelitian keseluruhan. Oleh karena itu desain percobaan terdiri dari proses siklik eksperimen pemikiran dan percobaan instruksi (Freudenthal, 1991).

Gambar 1. Refleksif hubungan antara teori dan eksperimen (Gravemeijer & Cobb, 2006) Pada tahap pertama dari desain penelitian ini, dugaan teori instruksi lokal dikembangkan di bawah bimbingan teori instruksi domain-spesifik RME, kemudian diuji pada tahap percobaan mengajar, dan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 55

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) akhirnya dugaan baik terbukti atau tidak terbukti di tahap analisis untuk merekonstruksi teori instruksi lokal. Dalam hal ini, dugaan teori instruksi local mengarahkan secara siklis eksperiment pengajaran sementara percobaan memberikan kontribusi pada pengembangan teori instruksi lokal.
Tahap 1: Persiapan dan Desain

Tujuan dari fase awal dari perspektif desain adalah untuk merumuskan dugaan teori instruksi lokal yang dapat diuraikan dan disempurnakan ketika melakukan percobaan, sementara isu krusial untuk menyorot dari sudut pandang penelitian adalah bahwa menjelaskan maksud teoritis studi tersebut (Gravemeijer & Cobb, 2006). Oleh karena itu, dugaan teori instruksi lokal dalam domain matematika penjumlahan sampai 100 menggunakan strategi mental aritmatika pada garis bilangan dirancang dengan terlebih dahulu menguraikan kerangka teori, kemudian penjelasan tujuan pembelajaran matematika serta eksperimen pemikiran antisipatif di mana urutan pembelajaran kegiatan dan sarana dirancang untuk mendukung perkembangan pemikiran siswa. Di samping itu, kegiatan mental siswa dan tingkat berpikir mereka dalam melakukan kegiatan itu dibayangkan/diduga.
Tahap 2: Percobaan Mengajar

Tahap kedua adalah benar-benar melaksanakan eksperimen desain sendiri dengan tujuan untuk memperbaiki dugaan teori instruksi lokal yang dikembangkan pada tahap pertama, dengan menguji dan merevisi dugaan seperti yang diinformasikan oleh analisis berkelanjutan penalaran baik siswa dan lingkungan belajar (Gravemeijer & Cobb, 2006; Cobb et al, 2006). Data seperti rekaman video, siswa bekerja, dan catatan lapangan dikumpulkan di setiap pelajaran, sedangkan penilaian siswa diadakan sebelum dan pada akhir penelitian. Peran guru dan budaya kelas juga aspek penting dalam melakukan percobaan mengajar.
Tahap 3: Analisis Retrospektif

Tujuan pokok saat melakukan analisis retrospektif adalah menempatkan desain eksperimen dalam konteks teoritis yang lebih luas, sehingga membingkai sebagai kasus paradigma fenomena yang ditentukan di awal (Cobb et al, 2003.).Transaksi analisis retrospektif dengan satu set data yang dikumpulkan selama percobaan mengajar dimana HLT tersebut dibandingkan dengan fakta pembelajaran di kelas
PEMBAHASAN HASIL

Ide garis bilangan muncul secara alami sebagai representasi atau model dari situasi aktivitas pengukuran. Ketika siswa mengukur dan kemudian mencatat hasil pengukuran dengan menggunakan manik-manik yang dirangkai pada kertas string yang diletakkan secara sejajar denga manik-manik tersebut. Meskipun awalnya banyak siswa melakukan perhitungan dengan cara one-by-one (satu-satu), namun melalui diskusi kelas untuk membandingkan strategi menghitung yang digunakan siswa mampu menyimpulkan bahwa strategi penghitungan dengan mengelompokkan, puluhan, dapat mempermudah penghitungan.

Gambar 2. (a) siswa mengukur panjang kotak pensil menggunakan tali manik-manik (b) siswa mencatat hasil pengukuran pada paper-string. Pada aktivitas berikutnya, siswa diajak beramain untuk menebak banyaknya manik yang harus ditambahkan untuk membuat puluhan dan menempatkan bilangan pada garis bilangan. Tujuan dari aktivitas ini adalah siswa dapat mengingat kombinasi membuat sepuluh melalui permainan kombinasi, Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 56

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dapat memperkirakan posisi bilangan pada garis bilangan dan dapat menempatkan bilangan-bilangan pada garis bilangan kosong menggunakan hubungan bilangan. Kemampuan tersebut menjadi kemampuan bersyarat dalam menggunakan garis bilangan sebagai model untuk menggunakan strategi mental aritmatika untuk menjumlahkan bilangan. Perhatikan gambar 3 di bawah ini:

Gambar 3. Siswa memperkirakan dan menempatkan bilangan pada garis bilangan Berdasarkan pengamatan di kelas, hampir semua siswa dapat memperkirakan dan menempatkan bilangan pada garis bilangan. Dengan demikian, siswa punya dasar yang kuat untuk menggunakan garis bilangan sebagai model untuk menjumlahkan bilangan dengan strategi mental aritmatika. Pada pertemuan ke-empat, siswa diberikan masalah kontekstual yang memuat konsep penjumlahan bilangan. Soal yang diberikan adalah sebagai berikut: Suatu hari Joko latihan lari untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba lari. Pertama-tama, Joko berlari sejauh 45 meter dengan kecepatan normal dan kemudian berlari lagi sejauh 37 meter dengan sangat cepat. Gambarlah pada lintasan dimana Joko berlari secara normal dan dimana joko berlari sangat cepat. Hitunglah berapa meter Joko berlari? Gunakan Gambar yang kamu buat untuk membantu menjawab!. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 4 siswa. Perhatikan hasil kerja kelompok siswa berikut ini:

Gambar 4. Hasil kerja kelompok siswa (Hafids) dalam memecahkan masalah kontekstual penjumlahan bilangan menggunakan garis bilangan sebagai model dengan metode berhitung jump-of-ten Hasil kerja siswa tersebut menunjukkan bahwa representasi dari situasi masalah yang kemudian disebut sebagai model-of situasi dapat membantu strategi berhitung siswa. Dalam hal ini, cara berhitung yang digunakan siswa dikenal sebagai jump-of-ten, karena untuk menjumlahkan 45 + 37, siswa menjumlahkan 45 dengan 10 (sebanyak 3 kali) dan menambahkan lagi dengan 7 sehingga total yang ditambahkan genap menjadi 37, sehingga diperoleh hasil penjumlahannya adalah 82. Namun ada siswa, Bathara, yang menggunakan cara berhitung yang lain, yakni cara jump-via-ten. Sebagai contoh, 52 + 38 = (52 + 8) + 10 + 10 + 10 = 90. Perhatikan gambar hasil kerja siswa berikut ini:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 57

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 5. Hasil kerja kelompok siswa (Bathara) dalam memecahkan masalah kontekstual penjumlahan bilangan menggunakan garis bilangan sebagai model dengan metode berhitung jump-via-ten Berdasarkan hasil pengamatan selama implementasi pembelajaran pada aktivitas ke-empat ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa representasi situasi masalah dalam hal ini garis bilangan (model-of) yang dibuat siswa dapat mendukung proses berpikir dan membantu strategi berhitung siswa untuk menjumlahkan bilangan dengan mental aritmatika. Ada dua cara berhitung yang muncul dan digunakan siswa yakni cara jump-of-ten dan jump-via-ten. Pada pertemuan kelima, guru memberikan soal penjumlahan bilangan (formal matematika) sebagai contoh 37 + 56, dst. Dalam sesi pertama, guru memberi satu soal untuk setiap kelompok untuk dikerjakan didepan kelas secara spontan. Setiap grup, memilih salahsatu anggotanya untuk mengerjakan soal tersebut didepan kelas. Dalam hal ini, ada pemberian reward bagi kelompok yang berhasil mengerjakan secara benar. Berdasarkan hasil kerja siswa, dapat disimpulkan bahwa memecahkan masalah penjumlahan bilangan, siswa menggunakan garis bilangan sebagai model (model-for) untuk membantu berpikir dan beragumentasi (menjelaskan) cara mereka dalam menjumlahkan bilangan dengan strategi mental aritmatika. Secara umum, cara berhitung yang dipakai oleh siswa adalah cara jump-of-ten, hanya Bathara yang menggunakan cara jump-via-ten.
KESIMPULAN

Aktivitas merangkai dan menghitung manik-manik dapat mendukung proses berpikir siswa dalam membangun ide pengelompokan, sepuluhan, untuk mempermudah berhitung. Aktivitas mengukur dan mencatat hasil pengukuran dengan menggunakan tali manik-manik yang dibuat siswa menjadi titik awal munculnya ide garis bilangan. Selanjutnya, aktivitas kemampuan siswa dalam mengkombinasikan bilangan untuk membuat puluhan dan menempatkan bilangan pada garis bilangan menjadi kemampuan yang dapat mendukung siswa dalam menggunakan garis bilangan sebagai model untuk strategi berhitung siswa dengan mental aritmatika. Penggunaan masalah kontekstual pengukuran yang memuat konsep penjumlahan bilangan, mampu memunculkan garis bilangan sebagai representasi situasi masalah pengukuran (model-of) dan kemudian model ini bertindak sebagai alat (tools) untuk membantu strategi berhitung mereka (modelfor). Secara umum, ada dua metode berhitung yang digunakan siswa yakni metode jump-of-ten dan jump-via-ten. Oleh karena itu, desain pembelajaran dengan pendekatan realistik melalui strategi mental aritmatika pada garis bilangan disarankan sebagai alternatif untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah penjumlahan bilangan secara fleksibel dan bermakna.
DAFTAR RUJUKAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 58

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Armanto, D. (2002). Teaching multiplication and division realistically in Indonesian primary schools: A prototype of local instructional theory. University of Twente, Enschede: Doctoral dissertation. Beishuizen, Meindert. July 1993. ‘Mental Strategies and Materials or models for Addition and Subtraction Up to 100 in Dutch Second Grades’, Journal for Research in Mathematics Education, Vol.24, No.4, pp. 294 – 323 Cobb, Paul & Gravemeijer, Koeno. (2006) Educational Design Research, London & New York: Routledge (Taylor & Francis group). Freudenthal, H. (1991). Revisiting mathematics education. China lecture, Doordrecht: Kluwer Academic Publisher. Gravemeijer, Koeno. 1994. ‘Educational Development and Educational Research in Mathematics Education’, Journal for Research in Mathematics Education 25: 443-71. Gravemeijer, K. P. E., & Cobb, P. (2006). Design research from a learning design perspective, In J. Van Den Akker, K. Gravemeijer, S. McKenney, & N. Nieveen (Eds.), Educational Design Research (pp. 17-51). New York: Routledge. Hope, J.A., Leutzinger, l., Reys, B.J. & Reys, R.E. (1988) Mental Math in the Primary Grades, Dale Seymour Publications, Palo Alto. Klein, A., & Starkey, P. (1998). Universals in the development of early arithmetic cognition, Children’s Mathematics New Direction for Child Development, no.4.Gravemeijer, Koeno; Cobb, Paul. 2006. ‘Design Research from a Learning Design Perspective’, Educational Design Research. London and New York: Routledge, pp.17-51 Sembiring, R. K., Hadi, S., & Dolk, M. (2008). Reforming mathematics learning in Indonesian classroom through RME, ZDM Mathematics Education,DOI 10.1007/s11858-008-0125-9. Treffers, A. 1991. ‘Meeting Innumeracy at Primary School’, Educational Studies in Mathematics , 22, 333-352

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 59

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN PECAHAN SENILAI DAN MENGURUTKAN PECAHAN MELALUI PERMAINAN KARTU PECAHAN

Milasari Renaningtiyas 1) Ummu Fikriyah 2) Lathiful Anwar 3)
1) SMP Negeri 2 Rejoso 2) SMP Negeri 4 Nguling 3) Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

Abstrak: Penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Menentukan Pecahan Senilai Dan Mengurutkan Pecahan Melalui Permainan Kartu” yang telah dilaksanakan semester gasal 2011/2012 di SMP Negeri Rejoso, Pasuruan untuk matapelajaran matematika materi pecahan senilai dan mengurutkan pecahan. Fokus penelitian tindakan kelas ini adalah menginvestigasi bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan permainan kartu dapat meningkatkan tingkat hasil belajar siswa dalam pembelajaran pecahan khususnya menentukan pecahan senilai dan mengurutkan pecahan. Alat permainan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kartu-kartu yang berisi angka–angka pecahan. Kemudian dimainkan seperti bermain kartu remi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajharan dengan permainan kartu pecahan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pecahan senilai dan mengurutkan pecahan. Kata kunci: permainan kartu,pecahan senilai,mengurutkan pecahan,hasil belajar

Terdapat tiga sudut pandang yang bisa digunakan untuk mengetahui mutu sebuah sekolah yaitu input,proses dan output. Mengingat ketiga sudut tersebut saling berkaitan dalam pembelajaran matematika harus memperhatikan secara cermat agar memperoleh hasil yang optimal. Beberapa hal akan yang berkaitan dengan ketiga sudut pandang tersebut akan diuraikan sebagai berikut. Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Rejoso berada di desa Kawisrejo kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan. Input berasal dari sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di sekitarnya. Para siswa masuk tanpa tes dan hanya 10 % yang mempunyai nilai UNAS matematika khususnya diatas 6,00. Namun tetap diharapkan sekaligus diusahakan para siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Dalam proses pembelajaran ada satu komponen yang tidak dapat diabaikan begitu saja yaitu media /alat pembelajaran. Hal ini terjadi karena dengan media pembelajaran proses belajar mengajar menjadi lebih menarik. Peranan media/alat pembelajaran sekecil apapun bentuknya memerlukan kreatifitas dari guru dalam memilih jenis dan karakteristiknya sesuai dengan kondisi siswa dan materi yang disampaikan. Penulis beinisiatif untuk membuat Permainan Kartu dengan memanfaatkan pengetahuan siswa dalam bermain kartu dalam permainan mereka sehari-hari. Penggunaan media atau alat peraga tidak dilihat dari kecanggihannya tapi yang paling penting dipilih karena sesuai dengan kondisi di lapangan dan peranannya dalam membantu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (Sadiman,1993). Dari penjelasan di atas maka penulis tertarik untuk memberikan judul dalam karya tulis ini adalah” Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Menentukan Pecahan Senilai Dan Mengurutkan Pecahan Melalui Permainan Kartu”. Berdasarkan hal tersebut maka fokus penelitian ini Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 60

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) adalah menginvestigasi bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan permainan kartu dapat meningkatkan tingkat hasil belajar siswa dalam pembelajaran pecahan khususnya menentukan pecahan senilai dan mengurutkan pecahan. A. Belajar Matematika itu Menyenangkan Menurut Djamarah (2002), belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsure yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapatkan bukan perubahan fisik , tetapai perubahan jiwa akibat masuknya kesan-kesanyang baru sehingga membawa perubahan tingkah laku seseorang. Dengan demikian belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan Hudojo (1988:3) mengatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide atau konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalaran yang deduktif. Hal ini berdampak pada terjadinya proses belajar matematika. Belajar matematika itu menyenangkan merupakan salah satu aspek yang ingin diwujudkan melalui metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan). Agar proses belajar matematika dapat berlangsung menyenangkan, ada beberapa pemikiran untuk mengurangi ketakutan atau persepsi negative terhadap matematika yaitu : 1. Pembelajaran matematika dikemas dengan berorientasi pada lingkungan sekitar. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah RME (Realistic Mathematics Education) yaitu dengan mengaitkan dan melibatakn lingkungan sekitar, pengalaman nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan matematika sebagai aktivitas peserta didik. Peserta didik diajak berpikir cara menyelesaikan masalah yang pernah dialaminya, misalnya tentang uang jajannya, jadwal keberangkatan kereta api dan lain-lain. 2. Pembelajaran di luar ruangan merupakan variasi strategi pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungan sekitar secara langsung, sekaligus menggunakannya sebagai sumber belajar. Pilihlah topic yang sesuai misalnya mengukur tinggi pohon, panjang daun dan sebagainya. 3. Menuntaskan materi. Ada keyakinan sebagian filosof dan pakar pendidikan bahwa “peserta didik lebih baik mempelajari sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak namun dangkal”. Jadi , pendidik hberupaya menuntaskan peserta didik dalam belajar sebelum ke materi selanjutnya agar tidak terjadi miskonsepsi yang akan membelenggu peserta didik dalam belajar matematika. 4. Belajar sambil bermain. Bagi kebanyakan peserta didik , belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan, sehingga mereka kurang termotivasi, cepat bosan dan lelah. Untuk mengatasi hal tersebut pendidik dapat melakukan berbagai inovasi pembelajaran, misalnya memberikan kuis atau teka-teki yang harus ditebak baik secara kelompok atau individu, membuat puisi matematika dan peserta didik mendeklamasikan didepan kelas secara bergantian, memberikan permainan di kelas, dan sebagainya tergantung kreativitas pendidik. 5. Mensinergikan hubungan pendidik, peserta didik dan orangtua. Diakui atau tidak, banyak orangtua kurang memperhatikan perkembangan dan kesulitan belajar anak di kelompok belajar. Orangtua tidak mau tahu perkembangan belajar anak-anaknya, yang penting nilainya bagus. Oleh karena itu sinergisitas hubungan antara pendidik-peserta didik, orangtua anak dan anak, serta orangtu anak dan pendidik diberbagai kesempatan perlu ditingkatkan. Orangtua memantau kesulitan belajar anaknya dengan cara berkonsultasi dengan pendidk secara rutin. Sebalaiknya pendidik menginformasikan perkembangan peserta didik yang sebenarnya kepada orangtua anak. B. Permainan Matematika Salah satu karakteristik peserta didik adalah gemar membentukkelompok sebaya untuk bermain bersama. Melihat sifat khas ini maka sangat tepat jika dalam penyampaian materi pelajaran menggunakan metode permainan. Permainan dengan membentuk tim lebih baik daripada permainan yang dilakukan secara individu, mereka memberikankesempatan pada teman-temanya satu kelompok untuk saling membantu. Jika kelompok terdiri dari peserta didik yang mempunyai kemampuan berbeda dan dicampur, maka semuanya mempunyai kesempatan untuk sukses. Mayke dalam Sudono (2000:3) mengemukakan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 61

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bahwa belajar dengan bermain member kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktikan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Dsinilah proses pembelajaran terjadi, melalui permainan memberikan pengalamn pada peserta didik. Dalam suatu proses belajar mengajar terdapat dua unsure yang amat penting yaitu metode mengajar dan media pembelajaran. Pemilihan metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai. Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, peserta didik dapat memanfaatkan seluruh alat indranya. Pendidik berupaya untuk menimbulkan rangsangan/stimulus yang dapat diproses alat indranya. Semakin banyak alat indranya yang dapat digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan (long term memori) sehingga dapat dengan mudah menerima dan menyerap pesan-pesan yang diberikan. Permainan yang menggunakan kartu, misalnya untuk mengenalkan konsep dan pemahaman peserta didik kelas VII khususnya terhadap materi pecahan. Konsep yang dapat dipahami yaitu mengenal berbagai bentuk pecahan (pecahan biasa dan pecahan desimal), pecahan senilai, menjumlahkan pecahan serta mengurutkan pecahan. Alat permainan yang dimaksud adalah kartu-kartu yang berisi angka – angka pecahan. Kemudian dimainkan seperti bermain kartu remi. Untuk mempermudah pemahaman peserta didik dipersiapkan daftar angka-angka pecahan. Setelah pendidik menjelaskan materi pelajaran, peserta didik diarahkan untuk melaksanakan permainan. Kemudian peserta didik melaksanakan permainan sesuai dengan aturan permainan. Diakhir permainan ada pemberian hukuman/penghargaan sesuaidengan kesepakatan bersama. Selanjutnya pendidik dapat memberikan soal-soal latihan ataupun tugas mandiri dan tes penilaian hasil belajar untuk mengetahuidaya serap peserta didik terhadap materi yang telah disampaikan.
METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sedangkan jenis penelitian termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 1. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VII A SMPN 2 Rejoso, Pasuruan. Penelitian ini dilaksanakan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran geografi. Subyek penelitian yang di ambil adalah kelas VII A. Waktu pelaksanaan semester 1 tahun pelajaran 2011 / 2012.Kelas VII A berjumlah 38 siswa, laki-laki 18 dan perempuan 20 siswa. Dengan karakteristik siswa yang lebih menyukai proses pembelajaran dengan metode bervariasi, tidak hanya di dalam ruangan kelas saja. Siswa cepat merasa jenuh jika harus terus memperhatikan ceramah guru, siswa lebih senang proses pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk eksistensi diri melihat tampilan teman-temannya. Namun siswa yang aktif dalam diskusi hanya siswa tertentu saja, sebagian besar masih kurang aktif dan kurang kreatif dalam belajar. Latar belakang sosial-ekonomi siswa mayoritas anak petani dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah. Buku-buku pembelajaran yang dimiliki sendiri masih terbatas, namun rata-rata mereka memanfaatkan sarana perpustakaan sekolah yang cukup memadai. Kemampuan akademik siswa masih terbatas karena motivasi belajar siswa yang rendah. Situasi kelas saat pembelajaran masih belum optimal, siswa masih belum seluruhnya mempunyai hasil belajar yang tinggi. 2. Persiapan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan persiapan : a. Pembuatan lembar instrumen penelitian b. Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi. c. Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran atau membuat Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah dipahami siswa. d. Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran. e. Persiapan pre test, post tes dan pembuatan perangkat penilaian. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 62

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) f. Lembar penilaian hasil belajar siswa.

3. Siklus Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan tiga siklus. Menurut model classroom action research Kemmis dan Tanggart, maka tahap awal atau siklus 1 yang kita lakukan adalah : a. Perencanaan. 1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau scenario Pembelajaran dengan menggunakan permaianan kartu. 2. Mempersiapkan media pembelajaran sebagai model dalam pembelajaran dan lokasi pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran. 3. Membuat lembar observasi atau instrumen penelitian untuk memantau proses pembelajaran dengan menggunakan permainan kartu. 4. Membuat alat evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran atau penilaian proses pembelajaran. b. Pelaksanaan dan Pengamatan (Action dan Observasi) Langkah-langkah Pembelajaran a. Kegiatan Pendahuluan (10’) a. Penyampaian motivasi sebagai berikut :  Pecahan bentuk apa saja yang kalian kenal selama ini?  Dimana kalian menemukan bentuk pecahan?  Terdiri dari apa sajakah pecahan? b. Kegiatan Inti (60’)  Menulis topic pembelajaran di papan tulis yaitu menentukan pecahan senilai dan mengurutkan pecahan  Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu agar siswa senang belajar matematika dan mengasah ketrampilan siswa dalam menentukan pecahan senilai dan mengurutkan pecahan  Membagi siswa dalam kelompok yang beranggotakan 5 orang secara heterogen dan mengatur tempat duduk melingkar dengan urutan nomor dada terbesar searah jaru jam (disiplin)  Membagi Lembar Kerja untuk tiap kelompok (disiplin)  Meminta masing-masing ketua kelompok membaca langkah-langkah kegiatan(Lembar Kerja Siswa) (disiplin)  Meminta setiap anggota kelompok membaca materi pecahan senilai dan mengurutkan pecahan yang telah dibuat pada pembelajaran sebelumnya (disiplin)  Menyiapkan permainan kartu sebagai media pembelajaran yang terdiri dari kartu yang berisi bermacam-macam pecahan biasa  Permainan dimulai dengankelompok memilih materi pecahan senilai atau mengurutkan pecahan dahulu yang dimainkan.  Pemain dengan nomor dada terbesar mengocok kartu terlebih dahulu ,kemudian membagikan kepada tiap anggota kelompok (pemain) secara merata.Kartu di meja kelompok habis, sisakan satu kartu sebagai pembuka. (kerja keras)  Permainan dilakukan sesuai dengan urutan diatas. (jujur,disiplin)  Apabila dalam permainan ada pemain yang tidak bisa menemukan kartu yang sesuai,maka ada satu kartu yang mati, dan ditutup (jujur,kreatif)  Permainan ini dilakukan sampai selesai. Pemain yang habis terlebih dahulu kartunya adalah pemenang. (kreatif)  Kemudian guru meminta kelompok membuat kesimpulan dengan menjawab beberapa pertanyaan pada format penilaian kelompok, dan dikumpulkan (demokrasi,kerja keras,kreatif,disiplin)  Guru memberi penguatan pada jawaban yang benar Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 63

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) c. Kegiatan Akhir (20’) Setiap siswa mendapat format evaluasi siswa untuk dikerjakan (kerja keras) c. Refleksi Guru memberikan penilaian kelompok-kelompok siswa yang melakukan diskusi dan presentasi. Selain itu guru menyimpulkan hasil analisa yang diamati pada siklus pertama. Dalam siklus pertama ini apabila masih kurang maksimal maka akan dilanjutkan dengan pelaksanaan siklus 2 dengan tetap dengan permainan kartu pecahan. Pelaksanaan siklus 2 tetap melalui tiga tahap yaitu perencanaan, action/observasi dan refleksi. Jika hasil masih belum maksimal maka dilaksanakan siklus 3 juga melalui tahap perencanaan, action/observasi dan refleksi. Pada Penelitian ini kami membatasi 3 siklus saja. 4. Pembuatan Instrumen Pengamatan yang dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru mata pelajaran yang sejenis sebagai pengamat di kelas ini menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut : a. Lembar pertanyaan atau wawancara b. Lembar Observasi dan Lembar Cek list c. Lembar evaluasi atau penilaian 5. Analisis dan refleksi Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah memanfaatkan analisa deskriptif dari proses dan hasil belajar. Analisis juga dilakukan dari hasil observasi dan wawancara. Analisis berdasarkan siklus yang secara bertahap. Analisis 1 dalam siklus 1 yang hasilnya direfleksikan ke siklus 2 begitu juga ke siklus 3. Sedangkan refleksi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan. Data kuantitatif berupa data yang diperoleh dari nilai tes tertulis dan lembar kerja kelompok. Untuk menentukan nilai ketuntasan setiap siswa dari setiap indicator maka data ini dibandingkan dengan nilai ketuntasan Sekolah yaitu 68%. Data kualitatif diperoleh dari lembar pengamatan siswa saat pembelajaran berlangsung yaitu dari aspek afektif. Data ini dianalisa dengan analisa deskriptif. Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetemsi mengacu ke indicator-indikator yang telah ditetapkan. Minimal 70% indicator-indikator yang dianggap sangat penting dan mewakili masing-masing kompetensi dasar untuk dinilai. Untuk mengumpulkan informasi apakah suatu indicator telah tampil pada diri peserta didik, dilakukan penilaian sewaktu pembelajaran berlangsung dan sesudah pembelajaran. Kriteria ketuntasan belajar setiap indicator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0% - 100% . Apabila mengacu pada Sekolah Standar Nasional Kriteria Ketuntasan Belajar 75%. Mengacu pada KKM sekolah adalah 68%. Teknik penilaian dilakukan dalam 3 tahap yaitu Penilaian berdasarkan siklus I, Penilaian berdasarkan siklus II, Penilaian beerdasarkan siklus III.
PEMBAHASAN

Beberapa hasil yang dapat diperoleh dari pelaksanaan kegiatan menghadirkan permainan kartu dalam mencari pecahan senilai dan mengurutkan pecahan adalah sebagai berikut : 1. Siklus I Metode pembelajaran yang telah dilaksanakan adalah menghadirkan permainan kartu pada materi pecahan senilai.Hasil pembelajaran kelompok melalui pengamatan afektif dan tes kelompok diperoleh:  Siswa cukup aktif dalam proses pembelajaran karena didorong rasa ingin tahu yang besar terhadap materi pembelajaran  Dari hasil tes tertulis diperoleh Skor pengerjaan Lembar Kerja Kelompok 93,75%.  Kegiatan pengamatan dapat meningkatkan keaktifan siswa berdasarkan pengamatan guru yaitu tingkat kedisiplinan 95,55%,kejujuran 97,77%,kerja keras 100% dan kerjasama kelompok(kooperatif) 95,55%

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 64

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)  Dari hasil tes tertulis individu diperoleh skor pengerjaan lembar kerja siswa diperoleh 94,32% dengan 5 siswa belum mencapai skm 2. Siklus II Metode pembelajaran yang telah dilaksanakan adalah menghadirkan permainan kartu pada materi mengurutkan pecahan. Hasil pembelajaran kelompok melalui pengamatan afektif dan tes kelompok diperoleh:  Siswa cukup aktif dalam proses pembelajaran karena didorong rasa ingin tahu yang besar terhadap materi pembelajaran  Dari hasil tes tertulis diperoleh Skor pengerjaan Lembar Kerja Kelompok 90,91%.  Kegiatan pengamatan dapat meningkatkan keaktifan siswa berdasarkan pengamatan guru yaitu tingkat kedisiplinan 100%,kejujuran 90,90%,kerja keras 100% dan kerjasama kelompok(kooperatif) 100%  Dari hasil tes tertulis individu diperoleh skor pengerjaan lembar kerja siswa diperoleh 90,91% dengan 8 siswa belum mencapai skm 3. Siklus III Metode pembelajaran yang telah dilaksanakan adalah menghadirkan permainan kartu pada materi mengurutkan pecahan. Hasil pembelajaran kelompok melalui pengamatan afektif dan tes kelompok diperoleh:  Siswa cukup aktif dalam proses pembelajaran karena didorong rasa ingin tahu yang besar terhadap materi pembelajaran  Dari hasil tes tertulis diperoleh Skor pengerjaan Lembar Kerja Kelompok 97,73%.  Kegiatan pengamatan dapat meningkatkan keaktifan siswa berdasarkan pengamatan guru yaitu tingkat kedisiplinan 97,77%,kejujuran 100%,kerja keras 100% dan kerjasama kelompok(kooperatif) 95,55%  Dari hasil tes tertulis individu diperoleh skor pengerjaan lembar kerja siswa diperoleh 97,77% dengan 3 siswa belum mencapai skm
PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Dari hasil lembar kerja kelompok pada siklus I 93,75%, pada siklus II 90.91% dan pada siklus III 97,73% dan hasil penilaian Lembar Kerja Siswa, diperoleh Skor pengerjaan LKS pada siklus I 94,32%, pada siklus kedua 90,91% dan pada siklus ketiga 97,77%. Ini berarti pembelajaran tersebut menghasilkan tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran cukup tinggi 2. Kegiatan pengamatan dapat meningkatkan keaktifan siswa berdasarkan pengamatan guru pada siklus I yaitu tingkat kedisiplinan 95,55%, kejujuran 97,77%,kerja keras 100% dan kerjasama kelompok(kooperatif) 95,55%. pada siklus II yaitu tingkat kedisiplinan 100%, kejujuran 90,90%,kerja keras 100% dan kerjasama kelompok(kooperatif) 100%.dan pada siklus III yaitu tingkat kedisiplinan 97,77%, kejujuran 100%,kerja keras 100% dan kerjasama kelompok(kooperatif) 95,55%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menghadirkan permainan kartu juga dapat meningkatkan aspek afektif yaitu disiplin , kerja keras , jujur , kreatif dan kerjasama dalam proses pembelajaran B. SARAN Guru sebagai ujung tombak bangsa perlu untuk selalu meningkatkan profesionalisme di bidangnya.Melalui inovasi dan kreativitasnya guru diharapkan menemukan berbagai strategi baru atau menggali pengetahuan baru demi kemajuan anak didiknya.
DAFTAR PUSTAKA Buku Petunjuk (2003). Pendekatan Kontekstual (contextual Teaching and Learning / CTL). Jakarta : Depdiknas.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 65

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Nurhadi, dkk (2004). Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL dan penerapannya dalam KBK.)Malang : Universitas Negri Malang. Enjah Takari R(2008).Penelitian Tindakan Kelas (pada kegiatan Pendidikan Profesi Guru IPA SD/MI,SMP/MTs,SMA/MA dan SMK)Bandung:PT.Genesindho. Andrian Loedji SW.Pelajaran Matematika Bilingual untuk SMP/MTs kelas VII.Bandung:CV.YRAMA WIDYA

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 66

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) BERCIRIKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATERI BALOK DAN KUBUS UNTUK SISWA SMP NEGERI 1 BANGIL

Ria Amalia 1) Santi Irawati 2)
SMA Negeri 1 Bangil, e-mail. radana_girl@yahoo.com Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, e-mail. santira99@yahoo.com
1)

2)

Abstract: Contextual Teaching and Learning (CTL) is one approach to learning based on the views of constructivism. In its application, CTL emphasizes higher-order thinking, knowledge transfer, as well as collecting, analyzing information and data from various sources and views. Therefore, contextual learning and teaching is taken as an alternative to develop Worksheet of Students. The research was done to answer the problem "How are the process and results of development of students worksheet based on CTL for cuboids and cubes at SMP Negeri1 Bangil that are valid, practical and effective? " In line with this, the research aims to obtain students worksheet which are valid, practical and effective. Kata kunci: Contextual Teaching and Learning (CTL), constructivism

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan salah satu bahan ajar yang sering digunakan dalam pembelajaran karena LKPD membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. LKPD memiliki peran yang sangat besar dalam proses pembelajaran, karena LKPD dapat membantu pendidik untuk mengarahkan peserta didiknya menemukan konsep-konsep melalui aktivitas yang terjadi. Di samping itu LKPD juga dapat mengembangkan ketrampilan proses, meningkatkan aktivitas peserta didik sehingga dapat mengoptimalkan hasil belajar. Akan tetapi pada kenyataannya keberadaan LKPD yang beredar masih belum efektif sebagai sarana pembelajaran; baik dari segi tampilan, isi maupun kepraktisannya. Berdasarkan pengamatan pengembang, antara Buku teks dan LKPD yang banyak beredar, dari segi isi kurang lebih hampir sama. Hanya saja materi dalam buku teks lebih banyak. Hal ini diperkuat oleh pendapat seorang pengamat pendidikan Wibowo (2010) yang mengatakan bahwa LKPD cetak yang ada belum sesuai dengan kurikulum yang ada, seringkali terjadi tumpang tindih fungsional antara LKPD dan buku teks. Hal ini tentu saja mengakibatkan rendahnya efektifitas dan efisiensi pembelajaran matematika di kelas. Berkaitan dengan belajar dan mengajar kontekstual, sudah banyak peneliti yang melakukan penelitian dengan pendekatan kontekstual tersebut diantaranya hasil penelitian (Mulyati, 2008) yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika. Armiya (2006) berpendapat bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran volum tabung dan kerucut. Dari beberapa penelitian tersebut dapat dilihat bahwa belajar dan mengajar kontekstual efektif dalam meningkatkan pemahaman dan hasil belajar matematika peserta didik. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 67

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Meskipun penelitian mengenai belajar dan mengajar kontekstual telah banyak dilakukan, namun belum banyak dikembangkan secara khusus lembar kerja yang beracuan pada belajar dan mengajar kontekstual, bagaimana lembar kerja yang kontekstual yang valid, praktis dan efektif untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan hasil belajar dan pemahaman matematika. Dalam penelitian Mulyati (2008) dikatakan bahwa motivasi belajar peserta didik mengalami penurunan. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh bentuk fisik dari LKPD yang digunakan dalam penelitian yang kurang menyertakan gambar-gambar menarik. Oleh karena itu, pengembang tertarik untuk mengkaji tentang pengembangan lembar kerja kontekstual matematika. Lembar Kerja Peserta Didik yang dimaksudkan pengembang adalah lembaran-lembaran yang memuat aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan peserta didik dalam pembelajaran. Hal ini jauh berbeda dengan isi LKPD pada umumnya yang berupa ringkasan materi, contoh soal dan soal-soal latihan. Setelah menggunakan LKPD tersebut, peserta didik diharapkan lebih menguasai materi yang diajarkan oleh pendidik dan motivasi belajar mereka terhadap matematika meningkat. Disisi lain, salah satu peran pendidik dalam proses pembelajaran di kelas meliputi menyiapkan fasilitas pembelajaran antara lain berbagai sumber belajar, alat belajar dan bantuan belajar. Pendidik yang kreatif adalah pendidik yang dapat memilih, memilah dan menyajikan sumber belajar, alat belajar serta bantuan belajar yang diberikan pada peserta didik. Dengan memahami karakteristik peserta didik kemudian membuat sendiri rancangan aktivitas yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas maka akan menunjukkan profesionalitas seorang pendidik. Berdasarkan hal di atas, maka seorang pendidik perlu untuk mengembangkan sumber belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Oleh karena itu, pengembang melakukan Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik yang Kontekstual pada Materi Balok dan kubus di SMP Negeri 1 Bangil.
METODE

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan LKPD sebagai produk penelitian. Untuk mengembangkan produk, model penelitian yang digunakan adalah desain penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang sering disebut penelitian pengembangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiono (2010) yang menyatakan bahwa penelitian yang menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut termasuk penelitian pengembangan. Selain itu, penelitian ini memenuhi karakteristik penelitian pengembangan seperti berikut. 1. Masalah yang ingin diselesaikan adalah masalah nyata yang berkaitan dengan upaya inovatif atau penerapan teknologi dalam pembelajaran sebagai pertanggung jawaban profesional dan komitmennya terhadap pemerolehan kualitas pembelajaran. 2. 3. Pengembangan model, pendekatan dan metode pembelajaran serta media belajar yang menunjang keefektifan pencapaian kompetensi peserta didik. Proses pengembangan produk, validasi yang dilakukan melalui uji ahli, dan uji coba lapangan secara terbatas perlu dilakukan sehingga produk yang dihasilkan bermanfaat untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Proses pengembangan,validasi, dan uji coba lapangan tersebut seyogyanya dideskripsikan secara jelas, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara akademik. Proses pengembangan model, pendekatan, modul, metode, dan media pembelajaran perlu didokumentasikan secara rapi dan dilaporkan secara sistematis sesuai dengan kaidah penelitian yang mencerminkan originalitas

4.

Model pengembangan ADDIE merupakan model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini. Model pengembangan ADDIE merupakan suatu model dalam mendesain suatu perangkat pendidikan yang terbagi dalam 5 fase, yaitu:1) Fase Analisis, 2) Fase Desain, 3) Fase Pengembangan, 4) Fase Implementasi 5) Fase Evaluasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 68

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Analisis yang dilakukan pada fase analisis ini meliputi mengidentifikasi karakteristik pembelajaran matematika di SMP Negeri 1 Bangil, mengidentifikasi masalah peserta didik dalam pembelajaran, serta mengidentifikasi ketrampilan yang harus dimiliki peserta didik. Analisis dilakukan dengan cara peneliti mewawancarai pendidik mata pelajaran matematika di SMP Negeri 1 Bangil. Hal-hal yang dilakukan dalam fase design ini antara lain memilih media yang paling tepat untuk menyesuaikan dengan jenis keterampilan yang telah ditentukan sebelumnya misalnya untuk memudahkan peserta didik memahami sifat-sifat balok dan kubus digunakan suatu model yang terbuat dari potongan tusuk sate dan plastisin. Untuk memahamkan sub pokok bahasan luas permukaan balok dan kubus kepada peserta didik digunakan model balok dan kubus dari kertas karton. Sedangkan untuk sub pokok bahasan volume balok dan kubus digunakan pendekatan melalui kubus satuan. Dalam fase pengembangan, Instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu 1) Lembar Validasi, 2) Lembar Observasi, 3) Angket dan 4) Tes. Sebelum digunakan untuk menilai produk, seluruh instrumen dalam penelitian ini selain dikonsultasikan dengan dosen pembimbing juga divalidasi oleh seorang pakar/ahli. Berikut ini adalah disajikan instrumen yang dikembangkan dan aspek yang diukur. Tabel 1. Instrumen yang dikembangkan
Instrumen Aspek yang diukur  Kevalidan RPP  Kevalidan LKPD  Kevalidan Lembar Observasi  Kevalidan Tes  Kevalidan Angket  Keterlaksanaan LKPD  Aktivitas Peserta Didik Respon Peserta Didik Penguasaan Materi Balok dan kubus

Lembar Validasi

Lembar Observasi Angket Tes

Hasil fase development (pengembangan) berupa hasil validasi Draft LKPD yang telah dihasilkan pada fase desain. Hasil validasi digunakan untuk menentukan kevalidan dari LKPD sebelum pelaksanaan uji coba. Selain itu, hasil validasi tersebut yang mendasari apakah LKPD telah siap untuk diuji coba. Berdasarkan hasil validasi LKPD di atas diperoleh skor Va (rata-rata seluruh aspek) yaitu 2.87 maka sesuai dengan kriteria kevalidan yang telah ditetapkan pada penelitian ini yaitu (valid), disimpulkan bahwa draft LKPD dikategorikan valid. Hasil dari fase ini adalah hasil uji coba draf LKPD yang valid. Uji coba yang dilakukan yaitu uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Berdasarkan uji coba kelompok kecil yang telah dilaksanakan diperoleh hasil yaitu: 1. Peserta didik dapat menyelesaikan seluruh aktivitas dalam LKPD dalam kurun waktu kurang lebih 40 menit 2. Peserta didik mengerjakan LKPD dengan antusias, karena masalah yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari 3. Terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan peserta didik mengenai maksud dari kalimat dalam LKPD. Pertanyaan-pertanyaan tersebut disajikan dalam tabel berikut ini. Tabel 2. Daftar Pertanyaan yang Muncul pada Uji Coba Kelompok Kecil
LKPD ke1 2 3 4 Pertanyaan/Komentar a. Apakah yang dimaksud dengan “stabil/kokoh”? a. Pada pertanyaan dan kesimpulan no 2, cara menjawabnya bagaimana ? b. Pada pertanyaan dan kesimpulan no 3, terdapat dua pilihan yang sama yaitu pilihan gambar ke (3). a. Apakah maksud dari kalimat “berapa banyak lebihnya” pada soal no 4 a.? b. Pada tugas no 2 hasil pengukuran panjang, lebar dan tingginya bukan bilangan bulat ya? a. Pada bagian aktivitas pokok nomor 2, apakah ukuran cetakan yang dicari harus beda?

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 69

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika uji coba kelompok kecil, maka dilakukan revisi terhadap draft LKPD. Di bawah ini akan disajikan tabel mengenai daftar revisi yang dilakukan untuk perbaikan LKPD. Tabel 3. Revisi Uji Coba Kelompok Kecil
LKPD Ke1 Sebelum Revisi Kata “stabil/kokoh” Sebelum bagian pertanyaan dan kesimpulan nomor 2 tidak ada kalimat perintah Terdapat pilihan nomor (3) ganda 3 4 Pada soal no 4 a terdapat kalimat “berapa banyak lebihnya” Kalimat “Temukan dua ukuran cetakan yang diperlukan Rina dan Lidya sehingga hanya memuat tepat satu liter cairan lilin” Setelah Revisi Diganti “kuat/kokoh” Ditambahkan kalimat perintah “Lingkarikah pada pilihan nomor yang kamu anggap menunjukkan jawaban paling tepat Salah satu pilihan nomor (3) diganti dengan nomor (4), kemudian pilihan nomor berikutnya menyesuaikan Kalimat tersebut diganti “berapakah selisih kubus satuan yang termuat pada keduanya?” Diubah menjadi “Bantu Rina dan Lidya untuk menemukan dua ukuran cetakan berbeda yang memuat tepat satu liter cairan lilin”

2

Respon peserta didik pada uji coba lapangan dapat diamati melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta didik setelah memperoleh LKPD. selain itu, juga dapat diamati melalui hasil dari angket yang diberikan kepada peserta didik di akhir pembelajaran. Berikut ini beberapa pertanyaan yang diajukan peserta didik selama pelaksanaan uji coba lapangan berlangsung. Tabel 4. Daftar Pertanyaan yang Muncul Pada Uji Coba Lapangan
LKPD ke1 2 3 Pertanyaan/Komentar Apakah maksud dari soal no 7. “Tunjukkan bagaimana kamu dapat membedakannya?” Apa yang dimaksud dari “Gambarlah bentuk yang kamu lihat?” Apakah kubus-kubus ini harus dibentuk seperti gambar di LKPD 3? Apakah maksud dari “banyak permukaan terlihat”

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mengindikasikan bahwa kalimat yang ada dalam LKPD masih kurang komunikatif, oleh karena itu dilakukan revisi guna perbaikan LKPD yang disusun pengembang seperti berikut. Tabel 5. Revisi Uji Coba Lapangan
LKPD ke1 2 Sebelum Revisi Kata “Tunjukkan bagaimana kamu dapat membedakannya?” Kata “Gambarlah bentuk yang kamu lihat?” Pada aktivitas pokok terdapat kalimat “Perhatikan gambar di bawah ini” Pada soal no 1 kalimat “Apabila rusuk kubus 5 cm” Setelah Revisi Diubah menjadi “Bagaimana kamu membedakan antara Balok dan kubus?” Diubah menjadi “Gambarlah bangun datar yang kamu lihat?” Diubah menjadi “Susunlah model kubus seperti gambar di bawah ini!” Ditambahkan kalimat “ …dan permukaan terlihat adalah permukaan yang dapat kalian lihat dari segala arah”

3

Di akhir pembelajaran uji coba lapangan, peserta didik diberi angket yang menggali respon terhadap penggunaan LKPD dalam pembelajaran. Hasil yang diperoleh yaitu rata-rata prosentase tiap pernyataan yaitu 93.5% . Ini berarti 93.5% persen peserta didik menyukai penggunaan LKPD dalam pembelajaran dengan kata lain respon peserta didik terhadap LKPD positif. Fase evaluasi tidak hanya dilakukan di akhir penelitian melainkan selalu dilakukan pengembang sepanjang pengembangan LKPD yaitu di akhir tiap fase untuk mengetahui apakah fase yag dilakukan berhasil atau tidak. Berikut ini akan diuraikan evaluasi data kevalidan, kepraktisan dan keefektifan. Data kevalidan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 70

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan hasil pada fase pengembangan melalui penilaian pakar/ahli yang meliputi pengembangan instrumen, pengembangan perangkat dan pengembangan produk (LKPD), diperoleh hasil yaitu instrumen penelitian yang meliputi Lembar validasi, Lembar observasi, angket dan tes dinyatakan memenuhi syarat validitas. Perangkat pembelajaran yaitu RPP dinyatakan telah memenuhi syarat validitas. Demikian juga dengan produk pengembangan yaitu LKPD yang telah memenuhi kriteria kevalidan atau valid. Rangkuman mengenai data kevalidan disajikan dalam tabel berikut. Tabel 6. Rangkuman Data Kevalidan
Data kevalidan Lembar validasi Hasil Skor Va dari Lembar validasi RPP, LKPD, Lembar observasi keterlaksanaan, Lembar observasi aktivitas serta tes berturut-turut 2.6, 2.8, 2.6, 2.4, 2.75 Diperoleh skor Va Lembar observasi keterlaksanaan dan Lembar aktivitas berturut-turut 2.9 dan 2.83 Hasil validasi ketiga ahli diperoleh skor Va yaitu 2.9 Keterangan Memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu (valid) Memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu (valid) Memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu (valid) Produk (LKPD) Hasil validasi ketiga ahli diperoleh skor Va yaitu 2.87 Memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu (valid)

Lembar Observasi

Perangkat (RPP)

Data kepraktisan Data kepraktisan produk diperoleh melalui Lembar observasi keterlaksanaan LKPD dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil uji coba lapangan mengenai observasi keterlaksanaan LKPD diperoleh skor Va (rata-rata seluruh aspek) yaitu 2.34 sehingga dapat disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan memiliki tingkat kepraktisan yang tinggi. Rekap hasil observasi keterlaksanaan LKPD dapat dilihat pada lampiran. Data keefektifan Keefektifan LKPD diamati melalui: a) Hasil tes materi Balok dan kubus, b) angket dan c) Lembar observasi aktivitas peserta didik. Berdasarkan pada pengembangan yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu sebanyak 81.8% peserta didik telah menguasai materi Balok dan kubus, 93.5% peserta didik memberikan respon yang positif mengenai penggunaan LKPD dalam pembelajaran serta peserta didik tergolong aktif dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan memenuhi syarat keefektifan atau dengan kata lain LKPD efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil dari evaluasi yang telah dilakukan yang meliputi analisis data kevalidan, data kepraktisan dan data keefektifan maka draft LKPD dapat dikatakan telah memenuhi kriteria sebagai LKPD yang valid, praktis dan efisien. Sehingga draft yang diperoleh dinyatakan sebagai draft final. Proses pengembangan yang telah dilakukan untuk menghasilkan LKPD yang valid, praktis dan efisien menjumpai berbagai temuan di lapangan yaitu munculnya berbagai pertanyaan mengenai LKPD pada saat pembelajaran berlangsung seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Selain itu juga ditemukan variasi jawaban yang dikemukakan oleh peserta didik seperti di bawah ini.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 71

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Gambar 1. Hasil Kerja Peserta Didik 1 Berdasarkan hasil kerja peserta didik di atas dapat diamati bahwa peserta didik tersebut menyatakan bahwa kardus B membutuhkan kertas stiker/sampul paling sedikit karena berbentuk kubus. Hal ini berarti peserta didik beranggapan bahwa bentuk kubus selalu memiliki luas permukaan yang lebih kecil daripada bentuk balok. Masih dengan soal yang sama peserta didik 2 menjawab seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 2. Hasil Kerja Peserta Didik 2 Hasil kerja peserta didik di atas berpendapat bahwa kardus B membutuhkan kertas stiker/sampul paling sedikit karena jumlah sisinya 24. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik masih belum bisa membedakan antara luas permukaan dengan sisi. Melalui kedua temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan ternyata dapat merepresentasikan pemahaman peserta didik mengenai sisi dan luas permukaan suatu bangun. Berbagai variasi jawaban peserta didik dijumpai ketika mereka membuat kesimpulan mengenai pengertian luas permukaan. Hasil kerja peserta didik tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Hasil Kerja Tiga Peserta Didik Ketiga pekerjaan peserta didik tersebut mengindikasikan bahwa mereka dapat mengemukakan ide/pendapat mengenai pengertian luas permukaan melalui kalimat mereka sendiri. Dari ketiga ide tersebut, ide peserta didik pertama dan kedua benar, sedangkan ide yang peserta didik ketiga masih kurang tepat karena pada ide tersebut belum jelas luas apakah yang dimaksud. Ide tersebut menjadi benar apabila ditambahkan menjadi luas daerah yang menutupi setiap sisi/permukaan suatu bangun. Dapat dikatakan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 72

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bahwa LKPD yang dikembangkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengkomunikasikan ide/pendapat secara tertulis. 1) Terhadap akuntabilitas Mou dengan pihak PELITA JICA 2) Kepala Sekolah diharapkan loyal terhadap kebijakan yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan 3) Pengawas selalu memonitoring dan mengevaluasi implementasi LSBS di Kabupaten Pasuruan.
KESIMPULAN

Terdapat keunggulan dan kelemahan pada pengembangan LKPD yang kontekstual ini. Keunggulan dari LKPD yaitu a) adanya komponen-komponen yang meliputi topik, pendahuluan, aktivitas pokok serta pertanyaan dan kesimpulan yang secara keseluruhan merupakan komposisi yang ideal untuk suatu LKPD selain itu LKPD yang dikembangkan mendukung kecakapan kompetensi dan koheren dengan rumusan tujuan pembelajaran dan indikator sehingga pendidik dan peserta didik mudah untuk menggunakannya dalam pembelajaran, b) LKPD yang dikembangkan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik di SMP Negeri 1 Bangil serta, c) LKPD yang dikembangkan memuat masalah-masalah kontekstual. Dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh LKPD menjadikan LKPD yang disusun potensial untuk pembelajaran kontekstual. LKPD yang dikembangkan telah direview oleh ahli dan praktisi ternyata hasilnya sudah cukup terbaca menurut peserta didik, baik keterbacaan istilah-istilah maupun kalimat yang digunakan dalam LKPD. LKPD yang dikembangkan bukan hanya memuat latihan soal melainkan merupakan suatu panduan bagi peserta didik untuk belajar secara optimal. LKPD yang dikembangkan telah dinilai valid oleh ahli.sehingga dapat dikatakan bahwa LKPD potensial untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Paidi (2008) yang mengatakan bahwa Emphirical validation yang dilakukan melalui uji coba mampu meningkatkan validitas instrumen yang mencakup komponen keterbacaan dan tidak munculnya miskonsepsi. Meskipun LKPD yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif akan tetapi LKPD tersebut belum mampu untuk membawa seluruh peserta didik tuntas dalam materi balok dan kubus. Hal ini ditunjukkan dengan adanya enam peserta didik dari tiga puluh tiga peserta yang memperoleh skor dibawah Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yaitu 75. Indikasi lain yaitu masih terdapat hasil kerja LKPD yang belum benar seperti pada temuan di bab IV. Keberagaman peserta didik diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. Degeng (2005) menyatakan bahwa banyaknya karakteristik yang teridentifikasi dalam diri peserta didik memberikan pengaruh pada pelaksanaan dan hasil pembelajaran secara keseluruhan. Karakteristik peserta didik tersebut meliputi pengetahuan awal dan cara belajar. Berbagai macam jawaban muncul mengenai definisi luas permukaan dari suatu bangun yang dikemukakan oleh peserta didik. Hal tersebut menunjukkan bahwa definisi suatu istilah tidak tunggal. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedjadi (2000) bahwa suatu istilah dapat memiliki beberapa definisi asalkan memiliki ekstensi definisi yang sama. Berdasarkan uji coba terbatas yang telah dilakukan terhadap peserta didik di SMP Negeri 1 Bangil, LKPD yang dikembangkan memiliki beberapa kelemahan yaitu karakteristik LKPD yang disesuaikan dengan karakter peserta didik di SMP Negeri 1 Bangil sehingga belum tentu sesuai untuk digunakan di sekolah lain.
DAFTAR RUJUKAN Armiya. 2006. Pembelajaran volum tabung dan kerucut dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas 1 sma negeri 1 samudra. Tesis tidak diterbitkan. Malang: program pasca sarjana UM. Degeng. 2005. Teori Pembelajaran 1: Taksonomi Variabel untuk Pengembangan Teori dalam Penelitian. Buku Teks PPS Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan: Aplikasi pada Penelitian Pendidikan Indonesia. Jember: Pena Salsabila.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 73

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Hudoyo, Herman. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang. Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning. California: Corwin Press. Midawati, 2010. Penyusunan dan Penerapan Bahan Ajar Mathematic Worksheet dan Game Puzzle pada Pembelajaran Bilingual Topik Probability di kelas XI IPA-3 SMA Katolik St. Albertus Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana UM. Mulyati, Sri. 2008. Pengaruh Pendekatan Kontekstual Dalam Proses Belajar Mengajar Matematika Terhadap Sikap, Motivasi dan Hasil Belajar Siswa SMP. Disertasi tidak diterbitkan.Malang: Program Pasca Sarjana UM. Paidi. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi yang Mengimplementasikan PBL dan Strategi Metakognitif serta Efektivitasnya terhadap Kemampuan Metakognitif, Pemecahan Masalah dan Penguasaan Konsep Biologi Siswa SMA di Sleman Yogyakarta. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana UM. Soedjadi, R. 1999/2000. Kiat Pendidikan Indonesia (Konstalasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan). Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Sugiono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabet

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 74

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM TAHAPAN LESSON STUDY PADA MATA KULIAH ALJABAR LINIER DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNMUL

Dra. Ariantje Dimpudus, M.Pd
Abstrak: Kualitas pembelajaran yang rendah merupakan kendala yang dihadapi oleh Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNMUL. Kendala tersebut memberikan dampak pada penguasaan materi Aljabar Linier yang rendah dan aktivitas mahasiswa/dosen yang tidak baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif dalam tahapan Lesson Study pada mata kuliah Aljabar Linier 2. Metode penelitian adalah penelitian tindakan mengikuti tahapan Lesson Study, yaitu plan, do, dan see. Tahapan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan lembar pengamatan untuk mengumpulkan data aktivitas mahasiswa/dosen dan tes hasil belajar untuk mengumpulkan data hasil belajar mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus 1, semua indikator aktivitas mahasiswa masih dirasakan kurang. Hal yang sama juga terlihat pada kemampuan dosen yang belum optimal. Data hasil belajar pun menunjukkan hal yang serupa, yaitu rerata hasil belajar (59,74) masih pada kriteria kurang dan persentasenya belum mencapai 70%. Sedangkan pada siklus 2 telah terjadi perbaikan. Hampir semua indikator untuk aktivitas mahasiswa dan dosen mengalami perbaikan. Data hasil belajar juga mengindikasikan adanya perbaikan, yaitu rata-rata hasil belajar (62.26) mencapai kriteria cukup dan persentasenya mencapai lebih dari 70%. Berdasarkan uraian ini, kesimpulan penelitian ini adalah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran melalui Pembelajaran Kooperatif dalam Tahapan Lesson Study pada Mata Kuliah Aljabar Linier di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNMUL tahun akademik 2010/2011 Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, tahapan lesson study

Kompetensi profesional dan kompetensi sosial merupakan dua kompetensi yang harus melekat pada guru professional berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 16 Tahun 2007. Kompetensi profesional berhubungan dengan penguasaan materi keilmuan sedangkan kompetensi sosial berhubungan dengan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama di dalam masyarakat. Mengarah pada guru yang profesional sesuai amanat Permendiknas No. 16 Tahun 2007, Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mulawarman terus berbenah diri. Berbagai upaya dilaksanakan untuk membentuk guru matematika yang profesional. Namun dalam penyelenggaraan upayaupaya tersebut, berbagai hambatan muncul menghadang. Hambatan-hambatan tersebut berhubungan dengan penguasaan materi dan proses pembelajaran, serta muncul pada hampir semua mata kuliah, termasuk Aljabar Linier. Kendala yang berkaitan dengan penguasaan materi Aljabar Linier adalah tingkat kemampuan yang rendah terhadap penguasaan materi yang telah dipelajari. Tingkat kemampuan yang rendah ini ditunjukkan oleh banyaknya mahasiswa yag memperoleh nilai hasil belajar di bawah standar yang telah ditetapkan, yaitu 60. Adapun distribusi perolehan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Aljabar Linier 1 disajikan pada tabel 1 di bawah ini. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 75

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Tabel 1. Distribusi Nilai Hasil Belajar Pada Mata Kuliah Aljabar Linier 1
Nilai (x) 80 ≤ x ≤ 100 70 ≤ x < 80 60 ≤ x < 70 40 ≤ x < 60 0 ≤ x < 40 Rerata Nilai = 53.17 Persentase Mahasiswa (%) 6.15 7.23 25.06 30.77 20.79

Rerata hasil belajar yang kurang dari 60 dan persentase mahasiswa yang mencapai nilai minimal 60 hanya 38.44% menunjukkan bahwa secara keseluruhan materi Aljabar Linier 1 belum dikuasai dengan baik oleh mahasiswa. Mengingat penguasaan materi bidang studi adalah syarat untuk memiliki kompetensi profesional maka hambatan ini harus segera dituntaskan. Penguasaan materi Aljabar Linier yang rendah merupakan dampak dari kendala yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatan penulis, kebanyakan pembelajaran yang diselenggarakan oleh dosen-dosen di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNMUL, termasuk dosen mata kuliah Aljabar Linier lebih berorientasi pada hapalan dan bersifat klasikal. Konsekuensi dari pembelajaran tersebut adalah mahasiswa cenderung duduk pasif mendengarkan dan mencatat materi. Keadaan ini diperparah dengan keengganan mahasiswa untuk bertanya pada dosen tentang materi yang belum dimengerti. Konsekuensi bahwa mahasiswa pasif dan jarang bertanya di dalam pembelajaran tentu menghambat pembiasaan kompetensi sosial mahasiswa. Dalam rangka membiasakan kompetensi sosial kepada mahasiswa, seharusnya pembelajaran yang diselenggarakan oleh dosen membuat mahasiswa aktif berdiskusi dan bekerjasama, serta berani bertanya. Untuk memfasilitasi terjadinya hal-hal tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh dosen adalah model pembelajaran kooperatif. Melalui pembelajaran kooperatif, mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bekerjasama dengan mahasiswa lainnya dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Kemudian, dengan adanya diskusi dan kerjasama tersebut, mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dikuasainya kepada temannya yang lebih pintar. Sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam penguasaan materi. Hal ini tentu saja dapat terjadi karena dengan belajar bersama dalam sebuah kelompok kooperatif, mahasiswa akan saling mendapatkan dukungan yang tidak hanya bersifat intelektual melainkan juga dukungan emosional (Safrudiannur dan Suriaty, 2008). Dengan demikian mahasiswa yang terlibat dalam belajar bersama akan memungkinkan mereka mencapai lebih dari keterampilan atau ilmu yang diharapkan (Silberman, 2006). Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa penerapan pembelajaran kooperatif akan dapat membiasakan kompetensi sosial dan meningkatkan kompetensi profesional mahasiswa. Kompetensi sosial diperoleh melalui keterampilan bekerjasama dan berdiskusi, sedangkan kompetensi professional diperoleh melalui peningkatan kemampuan penguasaan materi. Guna menjaga kualitas pembelajaran (mengingat dosen sudah terbiasa dengan pembelajaran klasikal), peneliti menerapkan pembelajaran kooperatif tahapan dalam lesson study. Melalui tahapan lesson study dimungkinkan adanya aktivitas bersama antar dosen dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan observasi pembelajaran dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran. Selain itu, melalui tahapan Lesson Study akan memberikan pencerahan bagi semua dosen yang terlibat tentang perbaikan kualitas pembelajaran, sehingga diharapkan untuk ikut menerapkan pembelajaran kooperatif pada mata kuliah yang diampu. Masalah-masalah yang teridentifikasi di dalam uraian latar belakang adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana peningkatan kompetensi profesional dan kompetensi sosial mahasiswa melalui pembelajaran kooperatif dalam tahapan Lesson Study pada mata kuliah Aljabar Linier 2 di Program Studi Pendidikan Mahasiswa FKIP UNMUL Tahun Akademik 2010/2011?

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 76

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 2. Bagaimana peningkatan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif dalam tahapan Lesson Study pada mata kuliah Aljabar Linier 2 di Program Studi Pendidikan Mahasiswa FKIP UNMUL Tahun Akademik 2010/2011? 3. Bagaimana dampak penerapan pembelajaran kooperatif dalam tahapan Lesson Study untuk mata kuliah Aljabar Linier 2 terhadap Kinerja Dosen-dosen di Program Studi Pendidikan Mahasiswa FKIP UNMUL Tahun Akademik 2010/2011? Identifikasi masalah memperlihatkan bahwa permasalahan perbaikan kualitas pembelajaran merupakan masalah yang utama karena perbaikan kualitas pembelajaran akan berdampak pada kompetensi mahasiswa dan dosen. Oleh karena itu, penelitian ini hanya difokuskan pada perbaikan kualitas pembelajaran pada mata kuliah Aljabar Linier 2 di Program Studi Pendidikan Mahasiswa FKIP UNMUL Tahun Akademik 2010/2011 Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana peningkatan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif dalam tahapan Lesson Study pada mata kuliah Aljabar Linier 2 di Program Studi Pendidikan Mahasiswa FKIP UNMUL Tahun Akademik 2010/2011?” Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif dalam tahapan Lesson Study pada mata kuliah Aljabar Linier 2 di Program Studi Pendidikan Mahasiswa FKIP UNMUL Tahun Akademik 2010/2011. a) Kualitas Pembelajaran Indikator untuk menetapkan kualitas pembelajaran dapat dilihat antara lain dari ketercapaian tujuan pembelajaran (Mulyasa, 2004). Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diukur dari banyaknya pengetahuan atau keterampilan dalam pembelajaran yang dapat dikuasai oleh mahasiswa. Pengukuran tersebut dapat dilakukan melalui evaluas hasil belajar. Indikator lainnya yang menjadi penentu kualitas pembelajaran adalah aktivitas mahasiswa. Trianto (2009) mengungkapkan bahwa peserta didik diharapkan dapat menggunakan waktu dengan baik untuk dicurahkan sepenuhnya terhadap kegiatan belajar mengajar. Harapan ini berdasarkan pemikiran bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran meningkatkan peluang mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain kedua indikator di atas, hal penting yang menjadi perhatian dalam keefektifan pembelajaran adalah guru/dosen, karena guru/dosen berperan dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran (Arikunto, 2005). Berdasarkan uraian di atas, yang merupakan indikator kualitas pembelajaran dalam penelitian ini adalah (1) hasil belajar, (2) aktivitas mahasiswa, dan (3) kemampuan dosen. b) Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan saling ketergantungan antar mahasiswa, sehingga sumber belajar bagi mahasiswa bukan hanya dosen dan buku ajar tetapi juga sesama mahasiswa. Terdapat enam fase utama di dalam penerapan pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007), yaitu: (1) fase pertama, Penyampaian tujuan dan memotivasi mahasiswa, yaitu dosen menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi mahasiswa untuk belajar; (2) fase kedua, Penyajian informasi, dosen menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan; (3) fase ketiga, Pengorganisasikan mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok belajar, dosen menjelaskan bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien; (4) fase keempat, Pembimbingan kelompok bekerja dan belajar, dosen membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka; (5) fase kelima, Evaluasi, dosen mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya; dan (6) fase keenam, Pemberian penghargaan, dosen memberi penghargaan baik terhadap upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. c) Tahapan Lesson Study Hendayana, dkk (dalam Safrudiannur dan Suriaty, 2008) memaparkan bahwa Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 77

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Berdasarkan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa lesson study adalah sebuah model pembinaan yang di dalamnya dapat diterapkan berbagai metode dan pendekatan pembelajaran untuk kemudian untuk dikaji secara bersama-sama dengan tujuan menciptakan pembelajaran yang bermutu. Melalui kegiatan kajian bersama dalam lesson study, akan terjadi pertukaran pengalaman (sharing experience) antar dosen. Seorang dosen yang telah mengimplementasikan kegiatannya akan mendapat saran dari para pengamatnya. Dosen tersebut mendapatkan berbagai masukan tentang kekurangan dan kelemahan yang muncul selama proses pembelajaran sehingga dapat diperbaiki untuk pembelajaran selanjutnya. Begitu pula bagi para pengamat. Mereka memperoleh manfaat jika dosen yang diamati menampilkan kinerja yang baik sebab dapat menjadi acuan untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas sendiri. Lesson study terdiri dari tiga tahap utama yaitu plan (merencanakan), do (melaksanakan) dan see (merefleksikan) yang dilakukan secara berkesinambungan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema gambar 1 di bawah ini.
PLAN (merencanakan) DO (melaksanakan/ mengimplementasikan) SEE (merefleksi)

Gambar 1. Skema kegiatan lesson study dari Hendayana, dkk (dalam Safrudiannur dan Suriaty, 2008) Tahapan lesson study dimulai dari perencanaan (plan). Dalam perencanaan diawali dengan identifikasi permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran. Kemudian didiskusikan bersama mencari solusi terhadap permasalahan untuk dituangkan dalam perencanaan pembelajaran. Dalam perencanaan juga dibahas mengenai lembar kerja yang akan digunakan, serta lembar observasi untuk pengamatan. Tahapan kedua adalah pelaksanaan (do). Perencanaan yang telah dibuat diimplementasikan pada tahapan ini. Para pengamat yang mengamati jalannya pelaksanaan berpedoman pada lembar observasi yang dibuat. Selain itu para pengamat juga diminta mencatat kejadian-kejadian penting yang terjadi selama proses pembelajaran. Tahapan ketiga adalah refleksi (see). Pada tahapan ini dilangsungkan diskusi antara guru yang tampil dan para pengamat. Kebaikan dan kelemahan dalam proses pembelajaran akan dibahas bersama untuk dituangkan kembali pada perencanaan guna perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.
METODE

1.

Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian adalah mahasiswa semester V Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNMUL tahun akademik 2010/2011 yang mengambil mata kuliah Aljabar Linier 2. Sedangkan objeknya adalah penerapan pembelajaran kooperatif dalam tahapan lesson study. Materi penunjang pelaksanaan penelitian adalah (1) materi Ortogonal-Ortonormal dan (2) materi Proses Gram-Schmidt dan Dekomposisi QR. 2. Rancangan Penelitian

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 78

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Rancangan penelitian ini mengikuti tahapan dalam Lesson Study dan dilaksanakand dalam dua siklus. Adapun tahapan tersebut adalah dalam penelitian ini adalah plan (merencanakan), do (melaksanakan) dan see (merefleksikan) yang dilakukan secara berkesinambungan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap plan adalah dosen-dosen yang terlibat dalam penelitian duduk bersama mendiskusikan perencananaan perkuliahan. Perencanaan tersebut meliputi pelaksanaan pembelajaran kooperatif yang bersesuaian dengan karakteristik mahasiswa beserta perangkat pendukung pembelajaran tersebut. Adapun produk dari tahap plan adalah (1) Rencana pembelajaran, (2) Lembar Kerja Mahasiswa (LKM), (3) instrumen evaluasi hasil belajar, dan (4) lembar pengamatan beserta indikatorindikatornya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap do adalah implementasi pembelajaran kooperatif yang telah direncanakan oleh dosen model, sedangkan dosen lainnya bertugas mengamati dengan menggunakan lembar observasi serta mencatat peristiwa-peristiwa penting selama proses belajar mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap see adalah Dalam dosen model bersama para pengamat melakukan diskusi berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar. Perihal yang didiskusikan mengenai kekurangan dan kebaikan proses pembelajaran sehingga dapat dijadikan acuan untuk melakukan perbaikan pada perencanaan pembelajaran berikutnya. 3. Teknik Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, peneliti menggunakan instrumen pengumpul data sebagai berikut: (1) Tes Hasil Belajar untuk mengumpulkan data tentang pencapaian tujuan belajar mahasiswa, dan (2) Lembar observasi untuk mengumpulkan data tentang proses belajar mengajar. 4. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif, yaitu hanya memaparkan data yang diperoleh melalui instrumen penelitian dan catatan-catatan penting saat proses pembelajaran. Paparan disajikan dengan terlebih dulu melakukan reduksi data. Perolehan nilai hasil belajar akan didistribusikan berdasarkan tabel 2 di bawah ini. Tabel 2. Kriteria Hasil Belajar
Nilai Hasil Belajar 80 – 100 70 – 79 60 – 69 50 – 59 0 – 49 Nilai Huruf A B C D E Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

Persentase jumlah mahasiswa untuk tiap kriteria didapatkan melalui formula berikut:

Persentase 

Jumlah mahasiswa dalam satu kriteria  100% Jumlah seluruh mahasiswa

Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa keseluruhan menggunakan rumus rerata. Tolak ukur telah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran adalah (1) Peningkatan rerata hasil belajar dan mencapai kriteria cukup, (2) Persentase mahasiswa yang memperoleh nilai paling sedikit dengan kriteria cukup minimal 70%, dan (3) Hasil observasi menunjukkan aktivitas mahasiswa dan dosen sudah baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Siklus 1 Tahapan Plan Pada tahap Plan (Perencanaan), dosen model bersama dengan 7 dosen yang terlibat dalam pengamatan duduk bersama mendiskusikan perencananaan perkuliahan. Perencanaan tersebut meliputi pelaksanaan pembelajaran kooperatif yang bersesuaian dengan karakteristik mahasiswa beserta perangkat pendukung pembelajaran tersebut. Adapun perangkat pendukung tersebut adalah (1) Rencana Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 79

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajaran, (2) Lembar Kerja Mahasiswa (LKM), (3) instrumen evaluasi hasil belajar, dan (4) lembar pengamatan beserta indikator-indikatornya. Indikator-indikator yang disepakati untuk aktivitas mahasiswa meliputi perhatian, keaktifan bertanya dan menjawab, keaktifan bekerjasama, pemahaman, dan kondisi psikologis yang berkaitan dengan ketenangan/kesenangan. Indikator-indikator untuk kemampuan dosen meliputi kemampuan menjalankan perkuliahan sesuai perencanaan dan ketepatan penggunaan teknik/metode pembelajaran. Sedangkan indikator untuk ketercapaian tujuan pembelajaran adalah perolehan nilai hasil belajar mahasiswa. Tahapan Do Pada tahapan do, dosen model melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan, sedangkan dosen lainnya bertugas mengamati proses pembelajaran. Dosen yang mengamati proses pembelajaran tidak dibenarkan melakukan intervensi terhadap proses pembelajaran. Peristiwa-peristiwa penting yang menjadi perhatian saat proses pembelajaran disajikan pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Hasil Pengamatan dari Lembar Observasi dan Catatan Penting
No 1. 2. 3. Komponen yang Diamati Perhatian mahasiswa Keaktifan pengajuan pertanyaan Keaktifan menjawab pertanyaan Rangkuman Hasil Pengamatan Tidak semua mahasiswa memperhatikan dan konsentrasi pada bahasan yang dibahas/dipelajari. Hanya dua mahasiswa yang bertanya langsung kepada dosen dan mahasiswa yang bertanya kepada teman juga jarang. Mahasiswa tidak aktif menjawab pertanyaan dosen dan menunggu perintah dan mahasiswa belum banyak menjawab pertanyaan temannya. Kalaupun mahasiswa menjawab pertanyaan dosen, penjawaban dilakukan secara klasikal sehingga tidak jelas. Masih terlihat mahasiswa suka bekerja sendiri-sendiri dan terjadi diskusi lintas kelompok. Mahasiswa terlihat masih canggung dan tegang dalam pembelajaran. Ketegangan menyebabkan beberapa mahasiswa menjadi tidak senang sehingga terlihat banyak mahasiswa melihat jam dan kondisi di luar ruangan. Beberapa mahasiswa mengalami kesulitan dengan penjelasan dosen dan pengisian LKM. Semua perencanaan sudah terlaksana namun pelaksanaannya masih terlihat kaku. Penggunaan teknik/metode pembelajaran masih belum tepat dan belum bervariasi Perolehan Hasil Belajar belum sesuai dengan yang diharapkan.

4. 5. 6.

Keaktifan bekerjasama Ketenangan mahasiswa Kesenangan mahasiswa

7. 8. 9. 10.

Pemahaman mahasiswa Kesesuaian antara tindakan dosen dengan perencanaan. Ketepatan teknik/metode Ketercapaian tujuan pembelajaran

Sedangkan perolehan nilai hasil belajar disajikan pada tabel 4 berikut. Tabel 4. Distribusi Kriteria Nilai Hasil Belajar Pada Siklus 1
Kriteri Nilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Rerata Nilai = 59.74 (Kriteria kurang) Persentase Mahasiswa (%) 13.79% 20.69% 24.14% 27.59% 13.79%

Tahapan See Pada tahapan see, dosen model dan para dosen pengamat mendiskusikan hal-hal yang terjadi pada siklus 1 dan menentukan perbaikan pada hal-hal yang dirasakan masih kurang. Adapun hasil diskusi untuk perbaikan tindakan dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 80

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel 5. Hasil Refleksi Siklus 1
No 1. Komponen yang Diamati Perhatian mahasiswa Saran Perbaikan Dosen sebaiknya memberikan motivasi tentang manfaat dan peranan penting penguasaan materi yang akan dipelajari. Dosen juga diharapkan membangun ide-ide tentang pemahaman materi. Pertanyaan-pertanyaan pada LKM seharusnya berbobot agar mahasiswa merasa harus berdiskusi/bertanya pada teman sekelompoknya. Dosen sebaiknya lebih sering memberikan pertanyaan menantang yang merangsang mahasiswa untuk berpikir tingkat tinggi. Dosen menegaskan kepada mahasiswa untuk bekerjasama/berdiskusi karena semua anggota kelompok harus menguasai materi yang dipelajari dan penghargaan kelompok bergantung pada nilai individu. Ketegangan mahasiswa terjadi karena kehadiran banyak dosen di kelas. Oleh karena itu dosen model memotivasi mahasiswa untuk tidak menghiraukan keberadaan dosen di kelas. Dosen model sebaiknya menyelingi presentasinya dengan sedikit humor/cerita dan terus memberikan pujian penguatan atas perilaku positif mahasiswa. Penjelasan dosen sebaiknya tidak terlalu cepat dan bahasa/tulisan yang digunakan dalam LKM sebaiknya yang mudah dipahami. Dosen juga sebaiknya membimbing lebih intensif setiap kelompok/ada anggota kelompok yang mengalami kesulitan. Dosen model sebaiknya fleksibel dalam pelaksanaan pembelajaran melihat kondisi dan situasi. Bervariasi dalam penggunaan teknik/metode pembelajaran Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan

2. 3. 4.

Keaktifan pengajuan pertanyaan Keaktifan menjawab pertanyaan Keaktifan bekerjasama

5.

Ketenangan mahasiswa

6.

Kesenangan mahasiswa

7.

Pemahaman mahasiswa

8. 9. 10.

Kesesuaian antara tindakan dosen dengan perencanaan. Ketepatan teknik/metode Ketercapaian tujuan pembelajaran

Berdasarkan hasil pengamatan yang masih banyak kekurangan dan perolehan nilai hasil belajar yang belum sesuai target maka dosen model dan para dosen pengamat menyetujui untuk melanjutkan penelitian ke siklus 2. 2. Siklus 2 Tahapan Plan Pada tahap Plan (Perencanaan), dosen model bersama dengan dosen yang terlibat dalam pengamatan duduk bersama mendiskusikan perencananaan perkuliahan. Perencanaan tersebut memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada siklus 1 dan saran-saran perbaikan pada tahapan see (refleksi). Adapun perangkat pendukung tersebut adalah (1) Rencana pembelajaran, (2) Lembar Kerja Mahasiswa (LKM), (3) instrumen evaluasi hasil belajar, dan (4) lembar Pengamatan Tahapan Do Pada tahapan do, dosen model melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan, sedangkan dosen lainnya bertugas mengamati proses pembelajaran. Dosen yang mengamati proses pembelajaran tidak dibenarkan melakukan intervensi terhadap proses pembelajaran. Peristiwaperistiwa penting yang menjadi perhatian saat proses pembelajaran disajikan pada tabel 6 di bawah ini. Tabel 6. Hasil Pengamatan dari Lembar Observasi dan Catatan Penting
No 1. 2. Komponen yang Diamati Perhatian mahasiswa Keaktifan pengajuan pertanyaan Rangkuman Hasil Pengamatan Hampir semua mahasiswa memperhatikan materi dan bimbingan dari dosen Banyak mahasiswa yang aktif bertanya, baik mengenai materi maupun tentang pengerjaan LKM. Pertanyaan tersebut ada yang langsung ditujukan untuk dosen, tetapi lebih banyak ditujukan untuk teman dalam satu kelompok. Banyak mahasiswa yang aktif menjawab pertanyaan dosen dan menjawab pertanyaan teman sekelompoknya Hampir semua mahasiswa aktif berdiskusi dan bekerjasama mengerjakan LKM

3. 4.

Keaktifan menjawab pertanyaan Keaktifan bekerjasama

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 81

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
No 5. Komponen yang Diamati Ketenangan mahasiswa Rangkuman Hasil Pengamatan Ketegangan hanya terjadi pada awal pembelajaran sekitar 5-10 menit, tetapi selanjutnya mahasiswa sudah relaks dan tidak terganggu dengan kehadiran dosen pengamat Mahasiswa tampak senang dan beberapa bahkan tertawa saat dapat menyelesaikan masalah. Selain itu antusiasme belajar sudah meningkat. Bimbingan secara langsung baik individu/ kelompok memperlihatkan bahwa mahasiswa tampak memahami apa yang harus dipelajari/dikerjakan Semua perencanaan sudah terlaksana dan tidak kaku. Penggunaan teknik/metode pembelajaran sudah bervariasi Perolehan Hasil Belajar sesuai dengan yang diharapkan.

6. 7. 8. 9. 10.

Kesenangan mahasiswa Pemahaman mahasiswa Kesesuaian antara tindakan dosen dengan perencanaan. Ketepatan teknik/metode Ketercapaian tujuan pembelajaran

Sedangkan perolehan nilai hasil belajar disajikan pada tabel 7 berikut. Tabel 7. Distribusi Kriteria Nilai Hasil Belajar Pada Siklus 1
Kriteri Nilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Rerata Nilai = 62.26 (Kriteria Cukup) Persentase Mahasiswa (%) 17.24% 24.14% 29.31% 13.79% 15.52%

Tahapan See Pada tahapan see, dosen model dan para dosen pengamat mendiskusikan hal-hal yang terjadi pada siklus 2. Hasil diskusi mengindikasikan bahwa telah terjadi perbaikan proses pembelajaran pada siklus 2 dibandingkan proses pembelajaran pada siklus 1. Penilaian ini menunjukkan bahwa proses belajar mengajar pada siklus 2 dinilai baik karena telah sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Hasil yang baik juga diperlihatkan oleh perolehan nilai hasil belajar. Rerata nilai hasil belajar telah mencapai kriteria cukup dan persentase mahasiswa yang memperoleh nilai dengan kriteria minimal cukup sudah lebih dari 70%. Berdasarkan uraian hasil pada siklus 2 maka dosen model dan para dosen pengamat memutuskan telah terjadi perbaikan proses pembelajaran. Oleh karena itu disepakati untuk menghentikan siklus penelitian.
KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran melalui Pembelajaran Kooperatif dalam Tahapan Lesson Study pada Mata Kuliah Aljabar Linier di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNMUL tahun akademik 2010/2011. Peningkatan kualitas pembelajaran tersebut terlihat dari hasil belajar yang meningkat serta aktivitas mahasiswa dan dosen yang membaik. Saran a) Sebaiknya dosen-dosen melaksanakan pembelajaran kooperatif dalam perkuliahan karena pembelajaran kooperatif tidak hanya meningkatkan penguasaan mahasiswa terhadap materi yang diajarkan tetapi juga memperbaiki aktivitas mahasiswa. b) Perbaikan kemampuan dosen dalam melaksanakan pembelajaran sebaiknya dilakukan melalui tahapan Lesson Study karena melalui pelaksanaan tahapan Lesson Study secara berkesinambungan dosen memperoleh evaluasi dari teman sejawat (dosen-dosen lainnya).
DAFTAR RUJUKAN Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 82

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Safrudiannur dan Suriaty. 2008. Penerapan Belajar Kelompok dalam Tahapan Lesson Study pada Materi Teknik Integral. Jurnal Didaktika. Volume 9 Nomor 3 Edisi September 2008. Samarinda: FKIP Universitas Mulawarman. Silberman, M.L., 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Penerbit Nuansa dan Penerbit Nusamedia Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif dan Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Pranada Media Group.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 83

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN AKTIVITAS KOLABORATIF KERJA KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN KALKULUS 2 PADA MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA SEMESTER III FKIP UNILA

Oleh: Gimin Suyadi
Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung

ABSTRAK: Aktivitas dan partisipasi mahasiswa selama pembelajaran reguler selama ini relatif rendah. Untuk itu diperlukan upaya untuk memperbaikinya melalui pembelajaran berkelompok dilengkapi lembar kerja mahasiswa. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan aktivitas mahasiswa selama proses pembelajaran dan hasil belajar mahasiswa. Program ini diawali dengan perencanaan yang didiskusikan bersama beberapa teman, menyiapkan rencana pembelajaran dan lembar kerja mahasiswa, kemudian dilaksanakan. Hasil dari program ini adalah aktivitas dan partisipasi mahasiswa selama proses pembelajaran meningkat, tetapi hasil belajarnya tidak. ABSTRACT: The present lesson study was aimed to inprove the students activity and partisipations in learning mathematics and to increase their mathematics learning achievement through cooperative learning model. The results show that the model could improve the students’ learning activities, but not to increase their learning achievement. Key Words: activities, achievement, cooperative learning model.

Pembelajaran yang monoton dapat mengakibatkan kejenuhan bagi pengajar dan juga mahasiswa. Kebiasaan pembelajaran yang didominasi oleh aktivitas dosen menyebabkan mahasiswa cenderung pasif dan lebih sebagai pendengar dari pada menjadi pebelajar. Kebiasaan seperti tersebut sudah berlangsung lama dan masih berlangsung sampai sekarang untuk sebagian pembelajar, termasuk pada pembela-jaran Kalkulus di FKIP Unila. Dengan pembelajaran seperti itu, pengalaman sela-ma ini menunjukkan cukup banyak mahasiswa yang gagal, lebih dari 25% dapat nilai E, dan kurang dari 70% yang lulus dengan nilai A, B, atau C. Alasan ruang yang sempit, mahasiswa yang cenderung pasif, dan banyak alasan lain menjadikan proses pembelajaran cenderung didominasi pembelajar. Apalagi selama proses pembelajaran berlangsung pembelajar tidak diawasi oleh orang lain, sehingga kesalahan yang dilakukan tidak pernah terkoreksi. Padahal seperti yang diungkapkan oleh David Ausubel (Suparno, 2000) mengajar pada dasarnya manipulasi proses belajar untuk meningkatkan hasil belajar. Ini berarti diperlukan upa-ya tertentu agar proses pembelajaran tidak monoton dan membosankan. Juga di-perlukan pengamat yang sekaligus mampu memberi masukan terhadap kekurang-an yang terjadi selama proses pembelajaran. Lebih-lebih untuk mata kuliah mate-matika yang memerlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat menguasai suatu pokok bahasan. Belajar matematika tidak cukup hanya melalui mendengar dan kemudian mencatat apa yang didengarnya. Dalam pembelajaran matematika diperlukan partispasi atau keterlibatan mahasis-wa dalam membahas suatu masalah. Partisipasi yang dimaksudkan disini adalah partisipasi seperti yang dikemukakan Bloom (Suparno, 2000) yaitu sebagai kegiat-an di mana subyek belajar ikut serta mempraktikkan sesuatu Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 84

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) baik secara terbuka maupun secara tertutup. Jumlah keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar merupakan indeks yang baik bagi kualitas pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan partisipasi dan aktivitas pebelajar adalah pembelajaran berkelompok. Menurut Nur dan Wikandari (2000) siswa lebih mudah mempelajari konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusi-kannya bersama teman dalam kelompoknya. Dalam belajar berkelompok akan ter-bangun suatu komunikasi yang memudahkan mereka membangun suatu pengerti-an. Dalam banyak iklan pencari kerja hampir selalu disyaratkan kepada calon pelamar tentang kemampuannya bekerja dalam team. Ini berarti sejak dini para pebelajar harus dibiasakan bekerja dalam kelompok. Menurut Nurhadi (2004) pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Demikian juga As’ari (2003) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif proses merekonstruksi pengetahuan cenderung kepada terjadinya interaksi sosial di dalam kelompoknya. Proses mengonstruksi pengetahuan ini dapat dilakukan dengan memberikan lembar kerja kepada mahasiswa yang membimbing mereka menemukan sendiri suatu kosep pokok bahasan yang sedang dipelajari. Oleh karenanya melalui Lesson Study, dimana proses pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil dan menggunakan lembar kerja, kemudian pelaksana-annya juga diobservasi oleh sesama pembelajar diharapkan dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif dalam kerja kelompok mahasiswa yang pada gilirannya ber-dampak pada peningkatan hasil belajar. Berdasarkan uraian di atas rumusan masalah kegiatan ini adalah: Apakah pem-belajaran kooperatif yang dilengkapi dengan lembar kerja mahasiswa dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif kerja kelompok dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kalkulus 2? Tujuan dari Lesson Study, adalah meningkatkan aktivitas kolaboratif dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kalkulus 2 melalui pembelajaran kooperatif.
METODE

Diawali dengan pembahasan rencana kegiatan bersama beberapa teman, diputuskan akan dilakukan lesson study untuk mata kuliah kalkulus 2. Ditetapkan pula pokok bahasan yang akan dibahas adalah Aplikasi Integral yang meliputi Luas Bidang Datar, Volum Benda Putar metode cincin, Volum Benda Putar Metode Kulit Tabung, serta Panjang Busur. Selanjutnya dibuatlah silabus dan rencana pembelajaran. Sebelum kegiatan dimulai, disiapkan dahulu lembar kerja mahasiswa (LKM) yang memberi arah kepada mahasiswa bagaimana menemukan suatu rumus atau membuktikan teorema. Lesson study ini direncanakn untuk empat siklus, setiap siklus membahas pokok bahasan lengkap dengan latihannya. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dipantau oleh dua orang observer tetap, dan kadang-kadang juga dihadiri oleh observer lain. Di akhir siklus observer memberi masukan tentang kejadian yang telah terjadi dan sekaligus saran perbaikannya.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Siklus 1. Siklus 1 dilaksanakan sesuai jadual kuliah yaitu pada hari Kamis tanggal 13 Okto-ber 2011, pukul 15.00 s.d. 17.00. Materi yang dibahas adalah menemukan rumus Luas Bidang Datar yang dibatasi sebuah kurva dengan sumbu-sumbu koordinat dan luas daerah yang dibatasi dua kurva. Sebelum memulai kegiatan, mahasiswa diberi penjelasan tentang model pembelajarannya dan materi yang akan dibahas. Kemudian mahasiswa diingatkan kembali tentang Jumlahan dan Integral Rieman yang akan menjadi dasar bagi pembahasan hari itu. Setelah itu mahasiswa dike-lompokkan, dengan setiap kelompok terdiri dari empat atau lima orang. Pada seti-ap kelompok ditemaptkan satu orang yang berdasarkan hasil kuis sebelumnya memperoelh nilai baik, selanjut yang lain dipersilahkan memilih teman berke-lompoknya. Setelah mahasiswa berkelompok, kemudian dibagikan LKM yang berisi petunjuk tentang hal-hal yang Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 85

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) harus mereka kerjakan. Ada tiga subpokok bahasan dalam materi ini, yaitu mencari rumus luas yang dibatasi kurva y = f(x), sumbu x dan garis-garis x =a dan x = b, kemudian mencari rumus luas area yang dibatasi kurva x = g(y), sumbu y, dan garis y = c dan y = d, terakhir menemukan rumus luas area yang dibatasi dua kurva. Selama kegiatan berlangsung baik pengajar maupun observer memantau dan men-cermati kegiatan setiap kelompok mahasiswa. Sekali-sekali pengajar menjelaskan secara sepintas jika ada kelompok yang kesulitan memahami perintah LKM. Kegiatan ini selesai sekitar 30 menit hampir semua kelompok telah menemukan rumus luas bidang datar yang dibatasi kurva f(x), sumbu x, dan garis x=a dan x=b. Kemudian ditawarkan kepada mahasiswa untuk mepresentasikan hasil diskusinya ke depan, dengan motivasi diberi bonus tambahan nilai akhir ½, jika dia dapat menjelaskan dengan benar. Setelah presentasi mahasiswa, pembelajar memberi penguatan diperolehnya rumus tersebut. Untuk pendalaman, selanjutnya semua kelompok diminta mengerjakan salah satu soal yang ada di buku teks. Sekitar lima menit ditawarkan kepada mereka yang telah selesai dan bersedia mengerjakan di depan. Untuk memberi motivasi agar mahasiswa mau mengerjakan didepan, seperti tadi dijanjikan bonus berupa penambahan nilai akhir mereka sebesar ½. Untuk kegiatan ini dapat diselesaikan mahasiswa sebanyak dua soal. Selanjutnya masingmasing kelompok diminta berdiskusi kembali untuk menemukan rumus luas, jika pembatasnya adalah sumbu y. Kagiatan ini berlangsung sekitar 10 menit, sebab mereka tinggal mengembangkan konsep yang sudah ada. Selanjutnya meereka diminta mengerjakan soal kembali yang ada di buku teks. Kemudian kepada mahasiswa juga ditawarkan untuk mengerjakan di depan dengan motivasi bonus yang sama. Dalam hal ini dapat diselesaikan satu soal. Kemudian pada bagian ketiga, mahasiswa diminta mencari rumus luas jika dibatasi oleh dua buah kurva. Untuk memperoleh rumusnya tidak terlalu lama. Seperti pada dua bagian sebelumnya setelah rumus diperoleh mahasiswa diminta mengerjakan satu soal. Pada bagian ini diperlukan waktu cukup lama, bahkan banyak mahasiswa yang tidak berhasil menemukan jawabnya. Hal ini diseebabkan mahasiswa harus mengintegralkan terhadap variabel y, sedangkan fungsinya disajikan dengan variabel bebas x. Sehingga untuk memotivasi, mahasiswa yang bersedia maju dan mengerjakan dengan benar diberi bonus nilai C (jika ingin dapat A atau B, dia harus ikut kuliah dan ujian seperti yang lain), sementara anggota kelompoknya mendapat tambahan nilai akhir ½. Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, dibuat kesimpulan dan penguatan tentang hasil yang diperoleh pada hari itu, dan kepada mahasiswa diingatkan agar membaca lebih dahulu pokok bahasan yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Setelah mahasiswa keluar ruangan, diadakan diskusi refleksi antara pengajar dan observer. Beberapa catatan dan saran dari observer sebagai berikut: Observer 1: 1. Penggunaan ruangan terlalu luas, sehingga menyulitkan pemantauan. 2. Masih ada anggota kelompok yang pasif, tidak terlibat dalam diskusi kelompoknya 3. Mahasiswa ketika presentasi harus sambil menjelaskan, jangan hanya menulis saja 4. Waktu diskusi tidak sesuai dengan yang ditentukan Observer 2: 1. Ketika menugasi mahasiswa untuk mempresentasikan temuannya, masih ada kelompok yang belum selesai bekerja, sehingga mereka tidak memperhatikan presentasi temannya. 2. Masih ada mahasiswa yang tidak punya perhatian serius pada kerja kelompoknya 3. Sebaiknya waktu kerja ditetapkan dahulu, sebelum menyuruh mahasiswa presentasi ke depan 4. Sebaiknya ketika mengerjakan soal di depan mahasiswa jangan hanya menulis saja, tetapi sambil menjelaskan langkah-langkah yang diambilnya Siklus 2 Siklus kedua dilaksanakan pada Kamis 20 Oktober 2011, mulai pk. 15.00. Kegiatan diawali dengan apersepsi dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menanyakan konsep yang belum jelas atau soal yang belum mereka temu-kan jawabnya. Kegiatan ini berlangsung tidak sampai 10 menit, karena seperti biasanya yang mau bertanya hanya satu atau dua orang saja. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 86

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Selanjutnya pembelajar menjelaskan sepintas materi yang akan dibahas, dilanjut-kan dengan meminta siswa membentuk kelompok belajar. Setelah terbentuk, pem-belajar memindah beberapa orang ke kelompok lain untuk mengurangi ketidak-seriusan seperti yang terjadi pada siklus 1. Setelah selesai barulah LKM dibagikan. Pokok bahasan yang dibahas pada siklus 2 adalah Volum Benda Putar yang diperoleh dengan metode cincin. Ada tiga subpokok bahasan dalam materi ini, pertama mencari rumus volum benda putar yang diperoleh dari memutar area yang dibatasi kurva y = f(x) sumbu x, garis x = a dan x = b mengelilingi sumbu x, kedua mencari rumus benda putar yang diperoleh dari memutar area yang dibatasi kurva x = g(y), sumbu y, garis y = c dan y = d diputar mengelilingi sumbu y, dan terakhir mencari volum benda putar yang dibatasi dua kurva. Pada waktu mahasiswa bekerja dalam kelompok baik pembelajar maupun observer mendatangi setiap kelompok untuk memantau aktivitas mereka.Waktu yang dibe-rikan untuk membahas materi pertama sekitar 30 menit, setelah selesai mahasiswa diminta secara sukarela untuk menjelaskan ke depan. Setelah selesai, pembelajar memberi penguatan, selanjutnya menugasi semua kelompok mengerjakan satu soal yang di buku teks. Setelah selesai, salah seorang mahasiswa diminta mengerjakan di depan. Kemudian kegiatan dilakukan untuk membahas subpokok bahasan berikutnya. Dalam penugasan mengerjakan soal ke depan tidak selalu diberi bonus, kadang ditunjuk dengan agak memaksa agar mahasiswa mau ke depan. Hal ini dilakukan agar mereka lebih berusaha menyiapkan materinya dalam diskusi. Refleksi Setelah semua kegiatan tuntas dan mahasiswa keluar ruangan, observer memberi masukan: Observer 1: 1. Tingkat partisipasi/aktivitas sudah baik, hampir tidak terlihat ada yang bengong saja. 2. Ketika menggambar grafik, mengapa tidak diharuskan menggunakan peng-garis. Dikhawatirkan kebiasaan ini terbawa nanti ketika menjadi guru. Observer 2: 1. Tingkat partisipasi/aktivitas sangat tinggi, semua kelihatan aktif berdiskusi, interaksi lebih baik dari siklus 1, tetapi masih ada yang mau enaknya saja 2. Ketika mahasiswa mengerjakan soal di depan ada penulisan simbol yang tidak lazim, seharusnya ditegur untuk perbaikan. Yaitu penulisan simbol π dengan menggunakan simbol mirip omega. Siklus 3 Siklus 3 dilaksanakan sesuai jadual yaitu Kamis, 27 Oktober 2011, pk 15.00-17.00. Setelah apersepsi dilanjutkan dengan mengerjakan dua soal oleh mahasiswa, disampaikan materi yang akan dibahas pada hari itu, kemudian mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. Karena hasil refleksi 2 menunjukkan partisipasi yang sudah baik, maka mahasiswa bebas memilih kelompoknya. Selanjutnya setiap kelompok diberi LKM yang membahas pokok bahasan Volum Benda Putar dengan metode kulit tabung. Kesempatan yang diberikan untuk memperoleh rumus tersebut 30 menit. Setelah waktu dianggap cukup, mahasiswa diminta menjelaskan hasil diskusinya. Seorang maju ke depan setelah dijanjikan dapat bonus C jika presentasinya benar. Setelah itu pembelajar memberi penguatan, dilanjutkan menugasi semua kelompok untuk mengerjakan soal yang ada di buku teks. Berikutnya, tanpa melalui proses partisi semua kelompok ditugasi mencari bentuk rumusnya, jika areanya diputar mengelilingi sumbu y. Mahasiswa ternyata mampu menemukan bentuk rumus dengan menggunakan analogi. Selanjutnya mereka diminta mengerjakan beberapa soal untuk pendalaman konsep yang diperoleh. Ada 4 mahasiswa secara bergantian mengerjakan soal di depan kelas, yang berarti ada empat macam soal yang telah dibahas. Sekitar pk.17.10 kegiatan berakhir, dilanjutkan refleksi bersama oberver. Masukan dan saran dari observer: Observer 1: Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 87

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. Konsep cukup sulit, sehingga ada 2 kelompok yang pasif. 5 kelompok lain bagus. 2. Ketika ada yang presentasi ke depan yang lain kurang konsentrasi, tetapi ketika dijelaskan oleh pembelajar, konsentrasi penuh 3. Langkah LKM kurang detil, sehingga kelompok lemah bingung 4. Sebaiknya pembagian kelompok diarahkan, jangan dibebaskan 5. Perlu perhatian khusus untuk penempatan posisi duduk Observer II 1. Interaksi lebih kaku jika dibandingkan dengan siklus 2 2. Masih ada kelompok yang lemah Siklus 4 Siklus 4 dilaksanakan pada hari Kamis, 3 November 2011, mulai pk.15.00, materi yang dibahas adalah Panjang kurva y = f(x), yang terdiri dari dua subpokok bahasan yaitu menghitung panjang busur dengan menggunakan variabel utama x dan y, dan menghitung panjang busur dengan menggunakan fungsi parameter. Seperti pada siklus sebelumnya, kegiatan diawali dengan apersepsi dan menugasi mahasiswa untuk mengerjakan beberapa soal ke depan. Selanjutnya dijelaskan materi yang akan dibahas pada hari tersebut. Setelah itu, mahasiswa dikelompokkan dengan memperhatikan heteroginitas mahasiswa dari segi kompetensinya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kelompok bengong seperti yang terjadi pada siklus 3. Seterusnya LKM dibagikan, semua kelompok diberi waktu sekitar 20 menit untuk membahas materi panjang busur dengan menggunakan variabel utama x dan y. Seperti pada siklus sebelumnya, selama kegiatan berlangsung pembelajar dan observer mengamati kegiatan semua kelompok. Setelah waktu dianggap cukup, salah satu kelompok diminta menunjuk seorang anggotanya untuk presentasi ke depan, sementara yang lain diminta untuk memperhatikan. Setelah selesai pembelajar memberi penguatan, dan kemudian meminta maha-siswa mengerjakan satu soal yang ada di buku teks. Setelah hal tersebut dianggap tuntas, semua kelompok diminta mendalami LKM berikutnya yaitu mengubah rumus panjang busur yang telah diperoleh dengan menggantinya dalam bentuk parameter x = f(t) dan y = g(t). Sekitar 15 menit hal tersebut selesai, kemudian ditawarkan kepada mahasiswa untuk menjelaskan di depan. Seperti biasa, setelah selesai pembelajar memberi penguatan, kemudian menugasi semua kelompok mengerjakan soal yang ada di buku teks. Kegiatan ini diakhiri sekitar pk. 16.30, selanjutnya mahasiswa mengerjakan soal secara mandiri. Setiap mahasiswa mengerjakan sebanyak 4 soal yang mencakup semua pokok bahasan sejak siklus 1 sampai siklus 4. Ketika mahasiswa mengerjakan soal, pembelajar dan observer melakukan refleksi. Catatan dan saran dari observer adalah: Observer 1  LKM kurang detil, sehingga memerlukan banyak intervensi dari pembelajar  Akibatnya ada kelompok yang menunggu didatangi pembelajar  Aktivitas cukup tinggi Observer 2  Partisipasi sudah bagus  Pengaturan waktu baik  Dapat dicoba untuk kelompok kecil (2 – 3 orang), agar komunikasi lebih lancar Pembahasan Pembelajaran berkelompok bukan baru kali ini saja dilaksanakan. Tetapi sela-ma ini tidak pernah menggunakan LKS, dan bersifat sporadis saja. Demikian juga kemandirian belajar mahasiswa sudah sering dilakukan, pembelajar sudah banyak mengurangi aktivitas ceramahnya, namun kemauan mahasiswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh masih perlu ditingkatkan. Hal ini terlihat pada siklus 1, masih ada kelompok yang bengong yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 88

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada siklus 2, pengelompokannya diperbaiki yaitu dengan menyebar mahasis-wa yang sering bengong ke beberapa kelompok, hasilnya adalah partisipasi serta aktivitas meningkat dibandingkan dengan siklus 1. Masih adanya kelom-pok bengong, karena mereka datangnya terlambat dan hampir berbarengan, sehingga mereka diminta membentuk kelompok sendiri. Karena pada siklus 2, partisipasi dan aktivitas belajar mahasiswa sudah baik, maka pengelompokan pada siklus 3 dibebaskan kepada mahasiswa untuk memilih temannya berkelompok. Namun yang terjadi adalah, yang pandai cenderung memilih yang pandai, sedangkan yang kurang cenderung juga berkelompok dengan yang kurang. Akibatnya ada dua kelompok bengong kembali muncul, tetapi 5 kelompok lain aktivitas tinggi. Ini berarti kelompok heterogen harus tetap dipertahankan agar semua kelompok dapat berjalan sama. Dan hal ini dilakukan pada siklus 4, ternyata memang tingkat partisipasi lebih baik. Dari segi peningkatan aktivitas dan partisipasi lesson study ini dapat dikatakan berhasil. Demikian juga suasana belajar terlihat tidak tegang, terlihat santai tapi serius. Biasanya kelas Kalkulus sering tegang, apalagi ketika sedang membahas soal. Sedangkan dari segi hasil belajar, jika dibandingkan dengan hasil kuis pertama, sebelum lesson studi  Partisipasi dan aktivitas mhs meningkat  Hasil belajar: nilai rata-rata 57,5, dengan 13 orang yang memperoleh nilai ≥ 60  Dibandingkan hasil kuis sebelum LS (kuis bab V): nilai rata-rata 59,3 dengan 20 orang yang memperoleh nilai ≥ 60 Dibandingkan dengan hasil sebelum lesson study, ternyata tidak terjadi pening-katan hasil belajar. Hal ini kemungkinan kurang banyak latihan mengerjakan soal, karena waktu lebih banyak digunakan untuk mencari rumus. Sedangkan pada pembelajaran reguler, pembelajar lebih aktif dalam mendapatkan rumus, baru kemudian pebelajar diajak mmengrjakan soal Masukan dari observer memang membantu pembelajar untuk memperbaiki kekurangannya, masalahnya setelah program lesson study berakhir, siapa yang bersedia secara sukarela menjadi observer, agar mendapatkan hasil maksimal.
KESIMPULAN

Lesson study dapat meningkatkan partisipasi dan aktivitas belajar, tetapi belum meningkatkan hasil belajar.
REFERENSI As’ari, Abdurrahman, 2003. Pembelajaran Matematika dengan Cooperative Learning, makalah disajikan pada Seminar Pendidikan MIPA FKIP Unila Nur, M dan Wikandari, 2000. Pembelajaran berpusat pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran, Unesa, Surabaya Nurhadi, 2004. Pembelajaran Kontekstual, UM Press, Malang Suparno, A. Suhaenah, 2000. Membangun Kompetensi Belajar, Ditjen Dikti, Jakarta.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 89

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR GEOMETRI NALITIK II MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) BERBASIS LESSON STUDY

Utami Murwaningsih 1) Herry Agus Susanto 2)
ut_fatim@yahoo.co.id herrysanto_62@yahoo.co.id
1)

2)

ABSTRAK Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah: “Untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study dapat meningkatkan prestasi belajar Geometri Analitik II pada mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012”. Model penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari empat komponen, yaitu 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Data diperoleh dengan cara tes, interview/ wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif yang dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan simpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study dapat meningkatkan prestasi belajar Geometri Analitik II pada mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan rata-rata nilai post test. Dari rekapitulasi nilai post test, dapat disimpulkan rata-rata nilai tertinggi pada Open Lesson/ siklus kedua, yaitu penggunaan modifikasi model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), The Windows, dan TPS (Think Pair Share) berbasis Lesson Study. Ketika mahasiswa dikelompokkan menjadi lima kelompok secara heterogen kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi secara berpasangan, memungkinkan mahasiswa belajar mandiri. Presentasi materi secara garis besar dengan powerpoint yang dipersiapkan dengan The Windows membantu mahasiswa memahami materi. Kata kunci: NHT, lesson study, prestasi belajar mahasiswa.

Dewasa ini nampaknya telah terjadi penerapan yang keliru atas konsep pengajaran yang berorientasi pada siswa, sehingga berdampak pada pelaksanaan pembelajaran yang kurang berorientasi pada siswa. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menerapkan rumus-rumus, memahami teorema-teorema bahkan kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal. Kesulitan-kesulitan diatas tidak hanya terjadi didalam pendidikan dasar dan menengah saja, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Sebuah jenjang pendidikan yang lebih memprioritaskan pengembangan dan penerapannya didalam masyarakat nantinya. Tak terkecuali hal ini dialami mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Univet Bantara Sukoharjo dalam perkuliahan Geometri Analitik II.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 90

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan pengalaman dosen melaksanakan pembelajaran pada tahun akademik sebelumnya, kegiatan belajar dan kegiatan berpikir mahasiswa pada mata kuliah Geometri Analitik II, dirasa kurang optimal. Hal ini dapat diindikasikan dengan beberapa indikator sebagai berikut. 1. Pada kegiatan pembelajaran mahasiswa kurang berani mengajukan pertanyaan, serta kurang berani menyampaikan gagasan/ide tentang sesuatu materi ajar, sehingga kegiatan belajar mahasiswa dalam kelas terasa kurang optimal. 2. Pada kegiatan pembelajaran mahasiswa kurang aktif melakukan proses berpikir untuk mendiskusikan dengan teman yang berdekatan temapt duduknya, sehingga kegiatan belajar mahasiswa dalam kelas terasa kurang optimal. 3. 37% mahasiswa memperoleh nilai C pada semester III tahun akademik 2010/ 2011. Dengan mengetahui prestasi belajar anak, kita dapat mengetahui kedudukan anak di dalam kelas, apakah anak tersebut termasuk dalam kategori pandai, sedang atau kurang. Syaiful Bahri Djamarah (1991: 78) mengatakan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dari dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka maupun huruf yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu. Dari kedua pendapat di atas, disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka maupun huruf sebagai hasil dari aktivitas belajar. Pendidikan matematika mencakup proses belajar, proses mengajar dan pemikiran kreatif. Kesulitan yang dialami mahasiswa tidak hanya bersumber dari kemampuan mahasiswa yang kurang tetapi ada faktor yang turut menentukan keberhasilan mahasiswa dalam belajar Geometri Analitik II, yaitu faktor yang berasal dari luar diri mahasiswa, yang antara lain meliputi keadaan sosial ekonomi, lingkungan sarana atau fasilitas, model pembelajaran yang dipakai oleh dosen, dan sebagainya. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan terjadi interaksi antar mahasiswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu model belajar yang membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang memberi kesempatan kepada anggotanya untuk saling membagi ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat (Anita Lie, 2008: 37). Selain itu, model pembelajaran ini dapat mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kerja sama mereka dan meningkatkan aktivitas mahasiswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Di lain pihak, salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran/ perkuliahan di Perguruan Tinggi adalah dengan melaksanakan lesson study. Lesson Study merupakan suatu model merupakan pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan, berlandaskan prinsipprinsip kolegialitas yang saling membantu dalam belajar untuk membangun komunitas belajar. Prinsip kolegialitas dan mutual learning (saling belajar) diterapkan dalam berkolaborasi ketika melaksanakan kegiatan Lesson Study (Friedkin, 2005:3). Dengan kata lain, peserta kegiatan Lesson Study tidak boleh merasa superior (merasa paling pintar) atau inferior (merasa rendah diri) tetapi semua peserta kegiatan Lesson Study harus mempunyai niat untuk saling belajar. Peserta yang sudah paham atau memiliki ilmu lebih harus mau berbagi dengan peserta yang belum paham, sebaliknya peserta yang belum paham harus mau bertanya kepada peserta yang sudah paham. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lesson study pada hakikatnya merupakan pendekatan yang komprehensif menuju pembelajaran profesional serta mensuport dosen menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran pada mata kuliah Geometri Analitik II, model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study menjadi sesuatu yang menarik untuk dilaksanakan. Agar tidak luas jangkauannya, maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study dibatasi dan difokuskan pada mata kuliah Geometri Analitik II Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 91

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012 di Program Studi Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Mata Kuliah Geometri Analitik II merupakan bagian dari matematika yang memainkan peranan penting dalam penataan nalar dan menciptaan kedisiplinan. Geometri analitik pada hakekatnya mempelajari geometri dengan menggunakan simbol-simbol dan perhitungan aljabar, sehingga menuntut mahasiswa menggunakan penalaran dan kedisiplinan. Geometri Analitik II erat dengan mata kuliah vektor, kalkulus, dan geometri analitik I. Geometri Analitik II dengan vektor berhubungan timbal balik, yakni saling mendukung dalam memahami materi satu dengan yang lain. Geometri Analitik IIbanyak memberikan dukungan dalam memahami materi-materi kalkulus. Geometri Analit I sebagai prasyarat dalam mempelajari Geometri Analit II. Geometri Analitik II mempelajari sifat-sifat geometri dari hubungan fungsional antara absis (x), ordinat (y), dan aplikat (z). Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah: “Untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study dapat meningkatkan prestasi belajar Geometri Analitik II pada mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012.
METODE

Model penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari empat komponen, yaitu 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi (Soedarsono, 1997:16). Dengan demikian prosedur penelitian ini memiliki siklus, rencana – tindakan – observasi – refleksi dan revisi dan seterusnya yang dilaksanakan secara kolaboratif antar anggota Tim Lesson Study mata kuliah Geometri Analitik II sehingga tercapai tujuan yang diinginkan dengan tindakan yang paling efektif. Data diperoleh dengan cara tes, interview/ wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi. Data yang diperoleh disesuaikan dengan tujuan penelitian yang dirumuskan. Peneliti dan narasumber di sini memiliki posisi yang sama, oleh karena itu narasumber bukan sekadar memberikan tanggapan pada yang diminta peneliti, tetapi ia bisa lebih memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia miliki (Sutopo, 2006:57-58). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester III F tahun akademik 2011/ 2012 dan tim lesson study mata kuliah Geometri Analitik II sebanyak 6 dosen. Peneliti sebagai dosen model, secara aktif berinteraksi secara langsung dengan subjek penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif yang dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan simpulan. Indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini, diharapkan pada akhir siklus keempat, terjadi peningkatan prestasi belajar mahasiswa yaitu dari nilai rata-rata postes Geometri Analitik II yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study terjadi peningkatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.

Open Lesson I/ Siklus I Fokus : kemandirian belajar mahasiswa Materi : Persamaan bidang; Persamaan sederhana bidang; Persamaan Normal Hesse; dan Merubah persamaan umum ax + by + cz + d = 0 ke bentuk normal Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. a. Penyusunan metode, dan media pembelajaran yang akan digunakan. Berkaitan dengan fokus yang ditetapkan, maka pembelajaran direncanakan menggunakan model pembelajaran NHT dan The Windows (jendela-jendela yang akan menampilkan blok informasi yang mendampingi kertas kerja dari pokok bahasan yang sedang diterangkan blok tersebut bukan bagian dari kertas kerja, tapi adalah kotak samping yang berisi rumus, batasan-batasan atau teorema Matematika | 92

Seminar Nasional Lesson Study 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pendahulu yang memberikan daya dukung pekerjaan yang sedang dikerjakan). The Windows dipersiapkan dalam bentuk media visual berupa powerpoint untuk menunjang proses pembelajaran. b. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : NHT dan The Windows Langkahnya : a. Mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok secara heterogen. Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor yang berbeda satu sama lain. b. Dosen mempresentasikan materi secara garis besar di depan kelas. c. Dosen memberikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. d. Mahasiswa memposisikan dirinya sehingga duduk berdekatan dengan teman yang sekelompok. e. Mahasiswa mendiskusikan persoalan yang diberikan dan bersama-sama memecahkan persoalan yang diberikan. f. Selama diskusi kelompok, dosen bertindak sebagai motivator. g. Kelompok merangkum semua hasil diskusi dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui atau memahami hasil diskusi tersebut. h. Dosen memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. i. Mahasiswa dari kelompok lain yang masih belum paham atau berbeda pendapat menyampaikan pertanyaan atau pendapatnya, yang dibimbing oleh dosen. j. Dosen bersama dengan mahasiswa membuat rangkuman tentang hasil presentasi mahasiswa. k. Dosen memberikan pujian kepada kelompok terbaik. l. Post test individu dengan hasil sebagai berikut. Tabel 1. Rangkuman hasil penilaian Open Lesson I/ Siklus I
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 0 1 10 24 88,83

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut. a. Ada satu kelompok yang anggotanya hampir semuanya pasif, sehingga perlu pembagian kelompok yang lebih heterogen. b. Mahasiwa secara umum sudah aktif dan mandiri, indikatornya adalah masing-masing mahasiswa berinisiatif diskusi memecahkan masalah dan ketika disuruh untuk presentasi hasil diskusi, tidak ada mahasiswa yang menolak untuk maju. c. Dosen model lupa untuk memberikan reward kepada mahasiswa yang aktif atau mandiri. 2. Open Lesson II/ Siklus II Fokus : kemandirian belajar mahasiswa Materi : Jarak titik ke bidang; Sudut arah, cos arah dan bilangan arah bidang Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. Matematika | 93

Seminar Nasional Lesson Study 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

a. Tim lesson study membentuk kelompok mahasiswa secara heterogen. Direncanakan
modifikasi model NHT, The Windows, dan TPS (Think Par Share). The Windows dipersiapkan dalam bentuk media visual berupa powerpoint untuk menunjang proses pembelajaran. b. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : NHT, The Windows, dan TPS (Think Pair Share) Langkahnya : a. Dosen mempresentasikan materi secara garis besar dengan powerpoint yang dipersiapkan dengan The Windows. b. Mahasiswa dikelompokkan menjadi lima kelompok secara heterogen kemudian masingmasing kelompok dibagi lagi secara berpasangan dan masing-masing diberi soal untuk didiskusikan. Setelah selesai, setiap kelompok kembali menyatu dan mendiskusikan semua soal yang didiskusikan bersama. Kemudian dosen memanggil nomor tertentu untuk mempresentasikan hasil diskusi mengerjakan soal. c. Post Test dengan hasil sebagai berikut. Tabel 2. Rangkuman Hasil Penilaian Open Lesson II/ Siklus II
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 1 1 4 25 91,13

3.

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut. a. Ruangan panas b. Penggunaan power point membuat mahasiswa lebih mudah memahami materi. c. Tim lesson study Geometri Analitik II tampak kompak d. Kemandirian belajar meningkat, indikatornya ketika diberi pertanyaan, mahasiswa bersedia memberi tanggapan. e. Ketika post test, posisi duduk masih saling berdekatan. f. Pembagian tugas kelompok tidak sesuai Plan, tugas ditentukan dosen untuk masing-masing pasangan. Open Lesson III/ Siklus III Fokus : kemandirian belajar mahasiswa Materi : a. Syarat dua bidang sejajar, berimpit, dan tegak lurus. b. Persamaan bidang melalui satu titik (x1, y1, z1) dengan bilangan arah A, B, C; bidang yang memotong sumbu-sumbu koordinat sejauh a, b, c dari O; bidang melalui tiga titik (x1 ,y1 ,z1) , (x2 , y2, z2) , (x3, y3, z3); dan bidang melalui empat titik yang sebidang Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. a. Direncanakan modifikasi model NHT dan STAD. Mahasiswa sudah dibagi ke dalam lima kelompok heterrogen dan sudah diberikan persoalan untuk masing-masing kelompok pada pertemuan sebelum Open Lesson III. b. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Matematika | 94

Seminar Nasional Lesson Study 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pelaksanaan (Do) Hari, tanggal: kamis, 20 Oktober 2011 Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : NHT dan STAD Langkahnya : a. Mahasiswa maju presentasi dengan power point per kelompok masing-masing 10 menit, ditunjuk oleh dosen. b. Mahasiswa yang belum paham, menanyakan kepada kelompok yang maju sehingga diperoleh kesimpulan. c. Post Test dengan hasil sebagai berikut. Tabel 3. Rangkuman Hasil Penilaian Open Lesson III/ Siklus III
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 7 6 6 11 67,33

4.

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut. a. Ruangan lebih baik daripada open lesson II. b. Mahasiswa lebih mandiri, indikatornya adalah beberapa mahasiswa yang belum bisa menyelesaikan persoalan yang ditugaskan, menemui dosen untuk konsultasi dan diskusi, selain itu semua mahasiswa aktif dalam mengikuti presentasi kelompok, jika ada yang tidak paham langsung menanyakan. c. Ada mahasiswa yang melalkukan kegiatan sendiri di luar proses pembelajaran. Open Lesson IV/ Siklus IV Fokus : kemandirian belajar mahasiswa Materi : Bendel dan Jaringan Bidang Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. a. Tim lesson study merencanakan modifikasi model NHT, The Windows, dan Quantum Learning. The Windows dipersiapkan dalam bentuk media visual berupa powerpoint untuk menunjang proses pembelajaran. b. Tim lesson study mempersiapkan musik yang tepat untuk mengiringi mahasiswa masuk kelas, diskusi, dan keluar kelas. c. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Hari, tanggal : rabu, 26 Oktober 2011 Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : NHT, The Windows, dan Quantum Learning Langkahnya : a. Ketika mahasiswa masuk kelas atau sebelum proses belajar mengajar dimulai, diputarkan musik atau lagu-lagu kesukaan mahasiswa dengan volume tinggi (tetapi tidak terlalu keras). b. Mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok secara heterogen. Setiap mahasiswa dalam kelompok mendapat nomor yang berbeda satu sama lain. c. Mahasiswa diminta duduk berdekatan dengan teman yang sekelompok. Matematika | 95

Seminar Nasional Lesson Study 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) d. Setelah semua mahasiswa siap dan duduk sesuai dengan tempat kelompoknya, musik dimatikan. e. Dosen mempresentasikan materi secara garis besar di depan kelas. f. Dosen memberikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. g. Selama mahasiswa berdiskusi, diputarkan musik-musik slow dengan volume kecil. h. Mahasiswa mendiskusikan persoalan yang diberikan dan bersama-sama memecahkan persoalan yang diberikan. i. Selama diskusi kelompok, dosen bertindak sebagai motivator. j. Kelompok merangkum semua hasil diskusi dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui atau memahami hasil diskusi tersebut. k. Setelah diskusi kelompok selesai, musik dimatikan. l. Dosen memanggil salah satu nomor. Mahasiswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. m. Mahasiswa dari kelompok lain yang masih belum paham atau berbeda pendapat menyampaikan pertanyaan atau pendapatnya, yang dibimbing oleh dosen. n. Dosen bersama dengan mahasiswa membuat rangkuman tentang hasil presentasi mahasiswa. o. Dosen memberikan pujian kepada kelompok terbaik. p. Post Test dengan hasil sebagai berikut. Tabel 4. Rangkuman Hasil Penilaian Open Lesson IV/ Siklus IV
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 3 5 12 11 71,61

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut: a. Diskusi sudah hidup. b. Mahasiswa meningkat aktivitas dan kemandiriannya, indikatornya adalah ada mahasiswa yang bisa langsung memberi penjelasan kepada mahasiswa lain yang kurang paham, mahasiswa sudah bisa memberi tanggapan ketika ada kekeliruan pada presentasi dosen c. Ada observer yang ngobrol sendiri sehingga mengganggu proses pembelajaran d. Ketika mahasiswa presentasi ke depan, ada mahasiswa yang aktif mengikuti prersentasi dan mencatat, ada yang pasif. e. Pada waktu post test, masih ada mahasiswa yang kurang percaya diri (tanya pada temannya). f. Power point masih ada yang salah. Berikut ditampilkan rekapitulasi modifikasi model pembelajaran NHT berbasis Lesson Study beserta prestaasi belajar yang dicapai mahasiswa pada mata kuliah Geometri Analitik II tiap Open Lesson/ tiap Siklus. Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Penilaian Tiap Open Lesson/ Siklus
Open Lesson/ Siklus I II III IV Modifikasi Model Pembelajaran NHT, The Windows NHT, The Windows, TPS NHT, STAD NHT, The Windows, Quantum Learning Rata-Rata Prestasi Belajar 88,83 91,13 67,33 71,61

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 96

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel di atas menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa dari silkus I ke siklus II meningkat, dari siklus II ke siklus III turun, dan dari siklus III ke siklus IV meningkat lagi, rata-rata prestasi belajar tertinggi pada siklus II, yaitu 91,13, dilakukan modifikasi model NHT, The Windows, dan TPS (Think Pair Share) berbasis lesson study. Pada waktu dosen mempresentasikan materi secara garis besar dengan powerpoint yang dipersiapkan dengan The Windows, mahasiswa secara aktif menyimak penjelasan dosen, menjawab pertanyaan yang diajukan dosen, menanyakan materi yang belum dipahami, dan menghitung kalkulasi yang ada pada power point sehingga ketika ada kalkulasi yang salah, mahasiswa membetulkannya. Mahasiswa dikelompokkan menjadi lima kelompok secara heterogen kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi secara berpasangan dan masing-masing diberi soal yang berbeda untuk didiskusikan, sehingga memberi kesempatan kepada anggotanya untuk saling membagi ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Diskusi hidup, mahasiswa secara aktif menyelesaikan persoalan dan berusaha memahaminya sehingga dapat saling menyampaikan hasil diskusi ke teman lain yang bukan pasangannya tetapi masih dalam satu kelompok. Hal ini mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kerja sama mereka dan meningkatkan aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Setelah selesai, setiap kelompok kembali menyatu dan mendiskusikan semua soal yang didiskusikan bersama, sehingga setiap anggota dalam satu keompok dapat memahami dan menyelesaikan semua soal. Kemudian dosen memanggil nomor tertentu untuk mempresentasikan hasil diskusi mengerjakan soal, mahasiswa tidak ada yang menolak untuk maju mempresentasikan hasil diskusi. Penggunaan model pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar yang tidak sesuai dengan materi tertentu berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Dosen yang hanya menguasai satu atau beberapa model pembelajaran tertentu saja akan mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar dan dapat dipastikan bahwa prestasi belajar peserta didik akan rendah. Untuk itu dosen harus memiliki pengetahuan mengenai jenis-jenis model pembelajaran yang disesuaikan dengan materi kuliah. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme, dimana peserta didik secara aktif membina pengetahuannya dan dapat menemukan sendiri konsep-konsep pengetahuan yang sulit dan mentransformasi informasi yang kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan tersebut tidak sesuai lagi. Modifikasi model pembelajaran NHT dan TPS melibatkan banyak mahasiswa dalam mereview materi kuliah serta memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, model ini juga mendorong mahasiswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Model ini juga bisa digunakan dalam semua mata kuliah dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Modifikasi model pembelajaran NHT dan TPS terdiri beberapa tahap, yaitu penomoran, pemberian tugas kelompok, diskusi (berpikir bersama), menjawab pertanyaan dengan presentasi di depan kelas, dan kuis/tugas individu. Dengan adanya tahap diskusi (berpikir bersama) secara berpasangan, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk saling berinteraksi, bekerjasama, dan saling berdiskusi untuk memahami materi dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Mahasiswa yang belum memahami materi bisa bertanya kepada teman lain yang sudah lebih mengerti sedangkan mahasiswa yang sudah paham bisa menjelaskan kepada teman lain yang belum mengerti materi yang diajarkan. Dengan demikian ada interaksi positif dalam proses bembelajaran. Adanya tahap kuis individual membuat mahasiswa bertanggung jawab atas dirinya sendiri, berusaha memahami materi kuliah yang diberikan supaya bisa mengerjakan kuis, dengan demikian mengurangi mahasiswa yang hanya menjadi pembonceng dalam tim. Modifikasi model pembelajaran NHT dan TPS dapat membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Model pembelajaran TPS melengkapi model pembelajaran NHT sehingga menjadikan proses pembelajaran secara berkelompok yang menyenangkan serta dapat membuat mahasiswa untuk saling aktif dalam belajar dan saling bekerja sama antara satu sama lain. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 97

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa dengan memodifikasi model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan model The Windows dan TPS berbasis lesson study, dapat meningkatkan hasil belajar atau prestasi belajar mahasiswa menjadi lebih baik. Berdasarkan hasil angket respon mahasiswa terhadap pembelajaran, rata-rata 92% pada sikius I, 90% pada siklus II, dan 87% pada siklus III dan IV, mahasiswa menyatakan pembelajaran menarik, menyenangkan, mudah dimengerti, memotivasi mahasiswa untuk belajar, mendorong untuk bekerja sama dengan teman, dan mendorong dalam kemandirian belajar. Persentase tertinggi yaitu pada siklus I, sebanyak 92% mahasiswa, dilakukan modifikasi model NHT dan The Windows. The Windows pada siklus I digunakan dalam bentuk media visual berupa power point. The windows menekankan pada upaya memperoleh kesinambungan langkah, terutama pada saat menyelesaikan soal-soal matematika. Selain sebagai salah satu metode penyelesaian soal, the windows lebih efektif dalam menanamkan pengertian atau menjelaskan konsep. Mahasiswa benar-benar aktif, sebab dengan belajar aktif dapat menyebabkan ingatan mahasiswa mengenai apa yang dipelajarinya akan lebih lama dan akan menimbulkan sikap kreatif pada diri mahasiswa. Pada kegiatan belajar tersebut mahasiswa diarahkan pada latihan menyelesaikan masalah dengan membuka jendela-jendela (the windows) yang akan menampilkan blok informasi yang mendampingi kertas kerja dari materi yang sedang dibahas, blok tersebut bukan bagian dari kertas kerja, tapi adalah kotak samping yang berisi rumus, batasan-batasan atau teorema pendahulu yang memberikan daya dukung pekerjaan yang sedang dikerjakan. Mahasiswa dilatih menyelesaikan masalah dengan membuka the windows yang melatih daya analisis sehingga mahasiswa mampu mengambil keputusan karena telah memiliki keterampilan didalam mengumpulkan informasi dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil belajar yang diperolehnya, sehingga aktivitas belajar mahasiswa ini akan mempengaruhi prestasi belajar yang dicapainya. Berdasarkan analisis di atas, menunjukkan bahwa modifikasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model The Windows berbasis lesson study merupakan model pembelajaran yang menarik, menyenangkan, mudah dimengerti, memotivasi mahasiswa untuk belajar, mendorong mahasiswa untuk bekerja sama dengan teman, dan mendorong dalam kemandirian belajar pada mata kuliah Geometri Analitik II pada mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012. Dilihat dari penggunaan media pembelajaran, 77% pada sikul I, 75% pada siklus II, 79% pada siklus III, dan 82% pada siklus IV, mahasiswa menyatakan media menarik dan membantu dalam memahami materi. Persentase tertinggi yaitu pada siklus IV, sebanyak 82% mahasiswa, dilakukan modifikasi model NHT, The Windows, dan Quantum Learning. The Windows pada siklus I digunakan dalam bentuk media visual berupa power point. Ketika mahasiswa masuk kelas atau sebelum proses belajar mengajar dimulai, diputarkan musik atau lagu-lagu kesukaan mahasiswa dengan volume tinggi (tetapi tidak terlalu keras), hal ini menumbuhkan motivasi dan semangat mahasiswa. Selama mahasiswa berdiskusi, diputarkan musik-musik slow dengan volume kecil, mahasiswa merasa nyaman dan menikmatik musik sehingga diskusi hidup. Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sangat dibutuhkan situasi yang kondusif yang akhirnya siswa mencapai prestasi belajar yang baik, modifikasi model pembelajaran NHT dengan pendekatan quantum learning merupakan suatu metode yang memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang menyenangkan serta munculnya emosi sebagai keterlibatan otak dapat menciptakan sebuah interaksi yang baik dalam proses belajar, sehingga dapat menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang yang akhirnya dapat mempengaruhi proses belajar. Berdasarkan analisis di atas, menunjukkan bahwa modifikasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan quantum learning berbasis lesson study merupakan model pembelajaran yang menarik dan membantu dalam memahami materi pembelajaran Geometri Analitik II pada mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012.
KESIMPULAN DAN SARAN

1.

Kesimpulan Matematika | 98

Seminar Nasional Lesson Study 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbasis lesson study dapat meningkatkan prestasi belajar Geometri Analitik II pada mahasiswa semester III tahun akademik 2011/ 2012. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan rata-rata nilai post test. Dari rekapitulasi nilai post test, dapat disimpulkan rata-rata nilai tertinggi pada Open Lesson/ siklus kedua, yaitu penggunaan modifikasi model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), The Windows, dan TPS (Think Pair Share) berbasis Lesson Study. Ketika mahasiswa dikelompokkan menjadi lima kelompok secara heterogen kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi secara berpasangan, memungkinkan mahasiswa belajar mandiri. Presentasi materi secara garis besar dengan powerpoint yang dipersiapkan dengan The Windows membantu mahasiswa memahami materi. Saran Dari hasil penelitian ini dapat diberikan saran sebagai berikut. a. Sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran di Perguruan Tinggi, model pembelajaran NHT, TPS, The Windows, dan Quantum Learning berbasis lesson study diharapkan dapat digunakan sebagai model pembelajaran pada mata kuliah lain. b. Untuk memberikan hasil yang lebih mudah untuk diinterpretasikan kedepan disarankan untuk pengukuran indikator-indikator pelakasanaan lesson study dapat dirancang secara kuantitatif. c. Hendaknya penerapan kegiatan lesson study dilaksanakan 1 semester sehingga dapat dihasilkan penngembangan perangkat pembelajaran Geometri Analitik II melalui kegiatan lesson study dan akhirnya dapat dihasilkan bahan ajar yang telah diujicobakan.

2.

DAFTAR RUJUKAN Anita Lie. 2008. Cooperative Learning, Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo. Friedkin, Shelley. 2005. What is Lesson Study?. http://www.lessonresearch.net/. Diakses pada 11 November 2007. Isjoni. 2009. Cooperative Learning, Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: CV Alfabeta. Janzen, Heidi. 2005. Using the Japanese Lesson Study in Mathematics. http://www. Glencoe.com/. Diakses pada 11 November 2007. Syaiful Bahri Djamarah. 1991. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Wikipedia.2007.Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study. Diakses pada 2 Juni 2011.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 99

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

IMPLEMENTASI LESSON STUDY PADA PERKULIAHAN ALJABAR LINIER UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA SEMESTER III PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNRAM TAHUN AJARAN 2011-2012

Sripatmi 1)
1) Program Studi Pendidikan Matematika PMIPA FKIP Universitas Mataram

Abstrak. Pembelajaran merupakan proses di mana lingkungan seseorang yang secara sengaja dikelola sehingga memungkinkan pebelajar ikut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi – kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. Pembelajaran tidak dapat berlangsung seketika, melainkan melalui 3 tahapan yaitu perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Mahasiswa keguruan sebagai calon tenaga pendidik seyogjanya diperkenalkan sejak awal bebarapa pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran dengan cara mengalami/merasakan langsung saat perkuliahan. Oleh karenanya pada semester gasal 2011-2012, beberapa pertemuan pada perkuliahan aljabar linier dilaksanakan dengan mengiplementasikan lesson study. Tujuan implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier adalah: i) meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar mahasiswa semester IIIA pendidikan matematika FKIP Unram tahun ajaran 2011-2012; ii) secara kolaboratif dosen pengampu matakuliah aljabar linier terbiasa merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses dan hasil perkuliahan, serta mengenal karakteristik sebagian besar mahasiswanya. Dari dua siklus open lesson dapat disimpulkan aktivitas mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan meningkat, demikian juga prestasi belajarnya. Dosen menjadi terbiasa menyusun perencanaan, melaksanakan dan mengevaluasi perkuliahan dengan baik melalui kegiatan plan, do dan see. Dosen dapat mengidentifikasi beberapa karakter mahasiswa peserta matakuliah aljabar linier. Kata kunci: Lesson study, aljabar linier, aktivitas dan prestasi belajar

Pembelajaran merupakan proses di mana lingkungan seseorang yang secara sengaja dikelola sehingga memungkinkan pebelajar ikut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi – kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu (AECT,1986). UU RI Nomor 20 Tahun 2003 BAB I Pasal 1, menyebutkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikdan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran tidak dapat berlangsung seketika, melainkan melalui tahap perencanaan. Menurut Knirk dan Gustafson (1986), pembelajaran meliputi 3 tahap, yaitu perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan pembelajaran dilakukan untuk mendapatkan strategi pembelajaran yang tepat agar diperoleh hasil belajar yang optimal sesuai dengan tujuan belajar. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari perencanaan pembelajaran dan harus dapat diukur atau dievaluasi keberhasilannya. Keberhasilan belajar antara lain ditentukan oleh pemahaman karakteristik isi materi Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 100

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pelajaran, karakteristik pebelajar, dan proses pembelajaran. Bloom (1976) mengemukakan kaitan antara karakteristik pebelajar, kualitas pembelajaran, dan hasil belajar. Bloom (1979) juga mengelompokkan hasil belajar menjadi 3, yaitu: (1) kognitif; (2) afektif; dan (3) psikomotorik. Salah satu syarat keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh karakteristik pebelajar sebagai salah satu komponen dalam mendesain pengajaran. Dick, et al., (2001) menyatakan bahwa: “information about the group’s general characteristics can be very helpful in planning instruction tailored to group needs”. Karakteristik pebelajar adalah seluruh latar belakangyang dibawa ketika hadir di kelas sebelum pembelajaran dimulai. Soedijarto (1993) menyatakan bahwa kualitas pembelajaran di kelaslah yang menentukan kualitas pendidikan. Tingkat kualitas pembelajaran dapat diperlihatkan oleh tingginya keterlibatan pebelajar dalam pembelajaran antara guru dan pebelajar. Salah satu cara yang dapat membantu guru dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan penerapan model atau strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran tidak semata – mata hanya kegiatan guru mengajar, tetapi menitikberatkan pada aktivitas pebelajar, dan bukan hanya guru yang selalu aktif memberikan pembelajaran, guru membantu pebelajar jika memperoleh kesulitan, membimbing diskusi agar mampu membuat kesimpulan yang benar. Memperhatikan uraian di atas, dirasa sangat sesuai apabila mahasiswa keguruan diperkenalkan salah satu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran dengan cara mengalami/merasakan langsung pada perkuliahan. Dengan harapan, saat menjadi pendidik dapat mengimplementasikan apa yang dialaminya dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karenanya pada semester gasal tahun ajaran 20112012, pada perkuliahan Aljabar Linier diterapkan salah pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran, yaitu Lesson Study. Lesson study berkembang di Jepang sejak awal tahun 1900an. Lesson study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu, yang berasa dari dua kata jugyo yang berarti lesson atau pembelajaran, dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian. Dengan demikian lesson study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran (Suryadi, 2007). Lesson study dapat diselenggarakan oleh kelompok guru – guru di suatu distrik atau diselenggarakan oleh sekelompok atau sebidang, semacam MGMP di Indonesia. Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumpul untuk melaksanakan lesson study. Lesson study yang sangat popular di Jepang adalah lesson study yang diselenggarakan oleh suatu sekolah dan dikenal sebagai konaikenshu yang berkembang sejak awal tahun 1960an. Konaikenshu juga dibentuk oleh dua kata yaitu konai yang berarti di sekolah dan kata kenshu yang berarti training. Jadi istilah konaikenshu berarti schoolbasesd in-service training atau in-service education within the school atau in-house workshop (Fernadez, 2004). Menurut Styler dan Hiebert (dalam Herawati, 2009) lesson study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengidentifikasi masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenahi topik yang akan dibelajarkan), membelajarkan peserta didik sesuai skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain (mendiseminasikannya). Lebih lanjut Herawati (2009) menggungkapkan, lesson study adalah suatu bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru yang dipilih oleh guruguru Jepang. Dalam melaksanakan lesson study guru secara kolaboratif 1) mempelajari kurikulum dan merumuskan tujuan pembelajaran dan tujuan pengembangan peserta didiknya (pengembangan kecakapan hidupnya), 2) merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan, 3) melaksanakan dan mengamati suatu research lesson (pembelajaran yang dikaji) dan, 4) melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji, menyempurnakan dan merencanakan pembelajaran berikutnya. Sesuai dengan pengertian di atas, lesson study dapat dipandang sebagai penelitian instruksional yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dan mendokumentasikan proses pembelajarannya. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 101

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Lewis (2002) dalam Herawati (2009) menjelaskan enam tahapan, bagaimana memulai kegiatan lesson study di suatu wilayah atau sekolah sebagai berikut: 1) Membentuk kelompok lesson study. Ada empat kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, meliputi: merekrut anggota kelompok, membuat komitmen untuk menyediakan waktu khusus, menyusun jadwal pertemuan, menyetujui “aturan main” kelompok. 2) Memfokuskan lesson study. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah: menyepakati tema penelitian/research theme (fokus penelitian atau tujuan utama penelitian), memilih mata pelajaran, dan memilih topik/unit mata pelajaran. 3) Merencanakan research lesson. Dalam merencanakan research lessons terdapat tiga tahapan kegiatan, yaitu: mengkaji pelajaran yang sedang berlangsung atau yang sudah ada, mengembangkan suatu rencana untuk memandu peserta didik belajar (plan to guide learning), dan kalau mungkin mengundang pakar. 4) Membelajarkan dan mengamati research lesson. Research lesson yang sudah direncanakan dapat diimplementasikan dan diamati. Guru anggota kelompok yang sudah ditunjuk dan disepakati dapat melaksanakan tugas untuk membelajarkan lesson yang sudah ditetapkan, sedangkan anggota lain mengamati lesson tersebut. Pengamat mengumpulkan data yang diperlukan selama pembelajaran berlangsung. 5) Mendiskusikan dan menganalisis research lesson. Research lesson yang sudah diimplemtasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal ini perlu dilakukan karena hasil diskusi dan analisis dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan atau revisi research lesson. Dengan demikian, research lesson diharapkan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien. 6) Merefleksi lesson study dan merencanakan tahap-tahap berikutnya. Hal yang perlu dilakukan dalam merefleksi lesson study yaitu memikirkan tentang apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa yang masih perlu diperbaiki. Pada tahap ini, tiba saatnya berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok lesson study. Memperhatikan uraian apa dan bagaimana lesson study di atas, implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier diharapkan memberikan manfaat sangat berarti bagi mahasiswa semester IIIA pendidikan matematika FKIP Universitas Mataram tahun ajaran 2011-2012. Tujuan yang diharapkan dari implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier adalah: i) Meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar mahasiswa semester IIIA pendidikan matematika FKIP Unram tahun ajaran 2011-2012. ii) Secara kolaboratif dosen pengampu matakuliah aljabar linier terbiasa merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses hasil perkuliahan, serta mengenal karakteristik sebagian besar mahasiswanya.
RANCANGAN

Standar kompetensi (SK) yang diharapkan dicapai mahasiswa peserta matakuliah aljabar linier ada 4, yaitu: 1. Menentukan operasi matriks, determinan matriks, sifat determinan, minor dan kofaktor, rank matrik, matrik adjoin serta matriks invers. 2. Menyelesaikan sistem persamaan linier (SPL) serta menemukan syarat SPL kosisten dengan penyelesaian tunggal atau tak hingga 3. Menentukan ruang vektor umum, subruang vektor, kebebasab linier, basis dan dimensi, ruang baris dan ruang kolom sebuah matriks, rank matriks serta pemakaianya untuk menentukan basis. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 102

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Menentukan suatu transforasi linier serta matrik transformasi linier, sifat transformasi linier, kernel dan jangkauan, transformasi linier dari Rn ke Rm Sebagian konsep untuk mencapai SK 1 dan 2 sudah pernah dipelajari mahasiswa di SMA. Untuk mencapai SK 1 perkuliahan dilaksanakan dengan metode tanya jawab. Open lesson dilaksanakan untuk mencapai SK 2, sebanyak 2 siklus dengan menerapkan metode diskusi berpasangan dan diskusi kelas. Pasangan ditetapkan berdasarkan rangking hasil evaluasi capaian SK 1. Ada 26 mahasiswa peserta matakuliah aljabar linier, oleh karenanya ada 13 pasangan. Pasangan pertama mahasiwa rangking pertama dan rangking terakhir, pasangan kedua mahasiswa rangking kedua dan ke duapuluh lima, dan seterusnya, pasangan ketiga belas mahasiswa rangking ketiga belas dan keempat belas. Adapun materi, tanggal pelaksanaan, dosen model, observer aktivitas mahasiswa serta observer aktivitas dosen model, tiap siklus seperti pada tabel 1 berikut: Tabel 1: Jadwal kegiatan Open Lessson mata kuliah Aljabar Linier
Siklus Plan Do dan See Materi Dosen Model Observer I Observer II Pertama 15 Oktober 2011 22 Oktober 2011 Pengertian dan macam-macam SPL, Himp. Penyelesaian SPL Dra. Sripatmi, M. Si Drs. Arjudin, M. Si Nani Kurniati, S. Pd., M. Sc Kedua 17 Oktober 2011 24 Oktober 2011 Karakteristik SPL konsisten dan SPL Homogen Dra. Sripatmi, M. Si Drs. Arjudin, M. Si Nani Kurniati, S. Pd., M. Sc

4.

Pada kegiatan plan, dosen model dan observer membahas RPP dan perangkat pembelajaran yang sudah disusun oleh dosen model. Perangkat pembelajaran, meliputi: Lembar Kerja Mahasiswa, soal latihan, dan pedoman observasi aktivitas mahasiswa dan pedoman observasi aktivitas dosen model. Sesuai dengan metode pembelajaran yang dipilih, indikator pada lembar pengamatan pembelajaran/pedoman observasi aktivitas mahasiswa meliputi: 1) kesiapan mahasiswa untuk menerima pelajaran, 2) antusiasme mahasiswa dalam mengikuti pelajaran, 3) interaksi dengan dosen, 4) interaksi mahasiswa dengan mahasiswa, 5) kemampuan pemahaman mahasiswa, 6) kerjasama mahasiswa dalam diskusi kelompok 7) kemampuan mahasiswa berdiskusi kelompok, 8) partisipasi dalam menyimpulkan materi. Indikator pada lembar pengamatan pembelajaran/ pedoman observasi aktivitas dosen model meliputi: 1) membangkitkan minat dan motivasi belajar mahasiswa, 2) pemberian apersepsi (pendahuluan), 3) kejelasan penyampaian materi, 4) pelaksanaan tugas rutin dosen, 5) pengaturan waktu belajar, 6) sebagai fasilitator untuk diskusi kelompok, 7) pengorganisasian siswa, 8) melakukan evaluasi proses (authentic assessment) dalam kelompok, 9) mengarahkan/membimbing diskusi kelompok, 10) interaksi dengan mahasiswa, 11) membuat ulasan dan kesimpulan, 12) melakukan penilaian hasil, 13) pemberian penguatan/pujian, 14) pemberian tugas rumah (PR). Pada kegiatan do, dosen model melaksanakan perkuliahan perpedoman RPP dan memanfaatkan perangkat perkuliahan yang telah mendapatkan masukan/saran dari tim saat plan. Setelah kegiatan do langsung dilaksanakan see/refleksi. Indikator untuk menentukan ketercapaian tujuan implementasi adalah terjadinya peningkatan aktivitas dan prestasi belajar mahasiswa semester IIIA pendidikan matematika FKIP Unram. Aktivitas belajar mahasiswa meningkat apabila lebih dari setengah indikator aktivitas belajar mahasiswa berkatagori baik dan baik sekali dan tidak ada indikator berkatagori kurang. Prestasi belajar mahasiswa meningkat apabila rata-rata nilai evaluasi SK 2 lebih dari 65.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Rangkaian kegiatan lesson study dua siklus pada perkuliahan aljabar linier terlaksana sesuai jadual yang telah disusun, kecuali pada kegiatan see siklus II dilaksanakan sehari setelah do karena Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 103

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) observer ada kegiatan lain yang tidak dapat ditinggalkan. Hasil kegiatan plan, do, dan see tiap siklus sebagai berikut. 1. Siklus I a. Plan Pada kegiatan ini dibahas RPP dan perangkat perkuliahan yang telah disusun oleh dosen model. Tujuan perkuliahan yang ingin dicapai, mahasiswa dapat: i) penyebutkan pengertian dan macammacam SPL dan pengertian himpunan penyelesaian SPL; ii) menuliskan persamaan matriks dan matriks diperbesar dari SPL; iii) mencari himpunan penyelesaian SPL dengan metode eliminasi. Perangkat pembelajaran meliputi: Lembar Kerja Mahasiswa (LKM), soal latihan, serta lembar obsevasi kegiatan dosen dan mahasiswa. Dosen model memilih medode diskusi berpasangan dan diskusi klasikal untuk melaksanakan perkuliahan. Pada perkuliahan sebelumnya dosen model melaksanakan perkuliahan dengan metode tanya jawab dan latihan. Dari 26 mahasiswa pendidikan matematika semester IIA, hanya 2 sampai 6 mahasiswa saja yang aktif menjawab pertanyaan yang diajukan dosen, demikian juga saat mengerjakan latihan soal. Hasil evaluasi SK 1 tidak memuaskan, nilai tertinggi 100 dan terendah 13, tetapi yang memperoleh nilai ≥ 55 hanya 4 mahasiswa dengan rata-rata nilai 38. Secara umum tim sepakat dengan RPP dan perangkat perkuliahan yang disusun dosen model, beberapa hal yang perlu disempurnakan dan diperbaiki yaitu melengkapi SPL dan matriks diperbesar pada LKM yang harus dikerjakan untuk mendukung tercapainya tujuan yang mengerjakan LKM. Pada RPP dan lembar observasi masih ada beberapa kata yang salah tulis, seperti LKM tertulis LKS, pertemuan ke V tertulis IX. Perangkat pembelajaran ditambah power poin untuk memberikan penegasan apersepsi. b. Do Perkuliahan dilaksanakan selama 150 menit, semua mahasiswa hadir tepat waktu, sedangkan observer I dan monevin datang setelah perkuliahan berlangsung sekitar 10 menit. Dosen melaksanakan perkuliahan sesuai langkah-langkah di RPP, mengatur tempat duduk mahasiswa berpasangan dan terurut dari pasangan satu hingga pasangan tigabelas. Semua pasangan tidak dapat mengerjakan LKM 3 sesuai waktu yang direncanakan, 15 menit. Bahkan setelah ditambah 5 menit hanya 5 pasangan yang dapat menyelesaikan semua permasalahan di LKM 3. Semua pasangan aktif kerjasama menyelesaikan LKM, bahkan berdiskusi juga dengan pasangan didekatnya, mereka enggan bertanya pada dosen. Setiap pasangan mendapatkan giliran mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat pasangan presenatasi, beberapa mahasiswa kurang memperhatikan, mereka masih sibuk diskusi dengan pasangannya atau teman sebelahnya. Karena waktu yang dialokasikan untuk mengerjakan masing-masing LKM sangat terbatas, maka terlihat semua pasangan berlomba untuk dapat menyelesaikan LKM tepat waktu. Sebagian besar mahasiswa terlibat dalam menyimpulkan hasil perkuliahan dan membuat catatan hasil diskusinya. Hasil observasi kegiatan mahasiswa sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Inkikator Kesiapan mahasiswa untuk menerima pelajaran Antusiasme mahasiswa dalam mengikuti pelajaran Interaksi mahasiswa dengan dosen Interaksi mahasiswa dengan mahasiswa Kemampuan pemahaman mahasiswa Kerjasama mahasiswa dalam diskusi dengan pasangannya. Kemampuan mahasiswa berdiskusi kelompok Partisipasi dalam menyimpulkan materi Katagori Baik sekali Baik Baik Baik sekali Baik Baik Cukup Baik sekali

Indikator 2 dan 3 berkatagori baik, karena hanya beberapa mahasiswa yang berani bertanya pada dosen tentang hal yang belum jelas, sebagian besar mahasiswa cenderung bertanya dengan temannya atau karena memang mereka tidak ada masalah . Demikian pula dengan indicator 5 dan 6 berkatagori Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 104

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) baik, karena hanya beberapa pasangan yang dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu dan tidak ada pembagian tugas dalam melaksanakan diskusi. Sesuai dengan indicator ketercapaian yang telah ditetapkan, implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier siklus I dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa pendidikan matematika semester IIIA tahun ajaran 2011-2012 Hasil observasi kegiatan dosen sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Inkikator Membangkitkan minat dan motivasi belajar mahasiswa Pemberian apersepsi Kejelasan penyampaian materi Pelaksanaan tugas rutin dosen Pengaturan waktu belajar Sebagai fasilitator untuk diskusi kelompok/pasangan Pengorganisasian mahasiswa dalam kelompok/pasangan Mengarahkan/membimbing diskusi kelompok/pasangan Melakukan evaluasi proses Interaksi dengan mahasiswa Membuat ulasan dan kesimpulan Melakukan penilaian hasil Pemberian penguatan/pujian Pemberian tugas rumah Katagori Baik Baik sekali Baik Baik sekali Cukup Baik Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Cukup Baik

Indikator 1 dan 3 berkatagori baik, karena observer mencatat dosen tidak menyampaikan tujuan pembelajaran dan tidak memberikan contoh-contoh untuk memantapkan pemahaman materi. Sebenarnya dosen menyampaikan tujuan pembelajaran tetapi tidak disampaikan pada tahap pendahuluan melainkan saat membagikan LKM pada mahasiswa. Contoh soal tidak diberikan secara khusus karena untuk menanaman konsep pada KLM digunakan tehnik contoh dan bukan contoh. Indikator 5 berkatagori cukup, karena sebagian besar pasangan tidak dapat menyelesaikan LKM sesuai waktu yang direncanakan sehingga dosen dan mahasiswa juga tidak dapat menyimpulkan/merumuskan hasil diskusi sesuai waktu yang direncanakan. Indikator 6 dan 14 berkatagori baik, karena dosen tidak menjelaskan system penilaian dalam diskusi kelompok dan tidak menginformasikan bahwa PR akan dinilai pada pertemuan berikutnya. Indikator 13 berkatagori cukup, karena dosen tidak segera memberikan penguatan/pujian terhadap mahasiswa yang telah menyelesaikan aktivitasnya. c. See Kegiatan see dilaksanakan pada hari yang sama dengan kegiatan do, dimulai dengan dosen model menyampaikan pengalaman dan catatan saat melaksanakan perkulihan. Dosen model merasakan bahwa mahasiswanya mengikuti perkulian dengan semangat dan aktivitas yang lebih baik dari pada kegiatan perkuliahan sebelumnya. Semua mahasiswa terlihat melakukan diskusi dengan pasangannya untuk sesegera menyelesaikan LKM, tidak ada yang termenung atau diam tidak beraktivitas, juga tidak ada mahasiswa yang menolak saat ditujuk untuk menyampaikan hasil diskusinya. Berdasarkan hasil pengamatannya observer memberikan beberapa saran untuk perbaikan di perkuliahan selanjutnya. Agar dosen menginformasikan kepada mahasiswa angkat tangan saat mau merespon pertanyaan yang disampaikan dan dosen menunjuk salah satu, agar respon mahasiswa jelas dan tidak ribut. Mengalokasikan waktu untuk diskusi kelompok dengan mempertimbangkan permasalahan yang diselesaikan. Mengingatkan pada mahasiswa untuk memperhatikan temannya yang presentasi. Mahasiswa perlu menggunakan namepad agar mudah dipantau dan dicatat aktivitasnya oleh observer. Berdasarkan pengalaman/pengamatan dosen model dan pengamatan observer dapat disimpulkan sementara bahwa mahasiswa belum cukup terampil dalam melakukan operasi baris elementer untuk mereduksi matriks ke bentuk matriks lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tidak setiap mahasiswa mempelajari kembali konsep-konsep yang diperoleh pada perkuliahan sebelumnya. Faktanya masih

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 105

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) ada beberapa mahasiswa yang mempertanyakan beberapa konsep yang telah disampaikan sebelumnya. 2. Siklus II a. Plan Seperti pada siklus I, plan pada siklus II dibahas RPP dan perangkat perkuliahan dan baru lembar observasi yang telah disusun oleh dosen model. Tujuan perkuliahan yang ingin dicapai, mahasiswa dapat: i) menemukan syarat SPL konsisten dengan penyelesaian tunggal, banyak penyelesaian, dan SPL tidak konsisten; ii) mencari himpunan penyelesaian SPL hompogen dengan metode eliminasi. Dosen model tetap memilih medode diskusi berpasangan dan diskusi klasikal dalam melaksanakan perkuliahan, do siklus II direncanakan untuk dilaksanakan 100 menit . Dengan pasangan sama pada siklus I Secara umum tim sepakat dengan RPP dan pedoman lembar observasi yang disusun dosen model. Meskipun LKM dan soal latihan belum tersusun, tim menyepakati rancangan LKM dan soal latihan yang akan dipergunakan saat do. Dosen model akan menggunakan dua LKM, LKM 1 untuk mencapai tujuan i) dan LKM 2 untuk mencapai tujuan ii), soal latihan bertujuan untuk mengecek pemahaman mahasiswa pada konsep/materi yang dikembangkan pada LKM 1 b. Do Perkuliahan dilaksanakan selama 150 menit tidak sesuai dengan yang direncanakan 150 menit, seorang mahasiswa(anggota pasangan kesepuluh) tidak hadir dan seorang mahasiswa(salah satu anggota pasangan pertama) hadir pada saat diskusi LKM 1 telah dimulai, semua observer dan monevin datang setelah perkuliahan berlangsung sekitar 15 menit. Dosen melaksanakan perkuliahan sesuai langkah-langkah di RPP. Mengatur tempat duduk mahasiswa berpasangan dan terurut dari pasangan satu hingga pasangan tigabelas, pasangan 10 tidak ada, salah satu anggotanya bergabung dengan pasangan pertama yang salah satu anggotanya dating terlambat. Pengaturan/setting kursi setengah lingkaran. Semua pasangan tidak dapat mengerjakan LKM 1 sesuai waktu yang direncanakan, 10 menit. Setelah ditambah 5 menit setiap pasangan yang dapat menyelesaikan semua permasalahan di LKM 1. Soal latihan juga tidak dapat diselesaikan oleh semua pasangan sesuai waktu yang direncanakan, demikian juga dengan LKM 2 dapat terselesaikan oleh semua pasangan lebih dari waktu yang direncanakan. Semua pasangan aktif kerjasama menyelesaikan LKM, bahkan berdiskusi juga dengan pasangan didekatnya, mereka enggan bertanya pada dosen. Setiap pasangan mendapatkan giliran mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat pasangan presentasi, beberapa mahasiswa msih saja kurang memperhatikan, mereka masih sibuk diskusi dengan pasangannya atau teman sebelahnya. Sebagian besar mahasiswa terlibat dalam menyimpulkan hasil perkuliahan dan membuat catatan hasil diskusinya. Hasil observasi kegiatan mahasiswa sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Inkikator Kesiapan mahasiswa untuk menerima pelajaran Antusiasme mahasiswa dalam mengikuti pelajaran Interaksi mahasiswa dengan dosen Interaksi mahasiswa dengan mahasiswa Kemampuan pemahaman mahasiswa Kerjasama mahasiswa dalam diskusi dengan pasangannya. Kemampuan mahasiswa berdiskusi kelompok Partisipasi dalam menyimpulkan materi Katagori Baik sekali Baik sekali Baik Baik sekali Baik sekali Baik sekali Cukup Baik

Indikator 3 dan 8 berkatagori baik, karena hanya beberapa mahasiswa yang berani bertanya pada dosen tentang hal yang belum jelas, sebagian besar mahasiswa cenderung bertanya dengan temannya atau karena memang mereka tidak ada masalah dan hanya beberapa mahasiswa yang mampu mengemukakan pendapat kepada dosen dalam penyimpulan. Indikator 7 berkatagori cukup, karena Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 106

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) tidak setiap kelompok dapat mengerjakan atau menyelesaikan tugasnya dan beberapa mahasiswa tidak dapat menggunakan waktunya secara efisien sesuai dengan yang ditetapkan. Sesuai dengan indikator ketercapaian yang telah ditetapkan, implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier siklus II dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa pendidikan matematika semester IIIA tahun ajaran 2011-2012 Hasil observasi kegiatan dosen sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Inkikator Membangkitkan minat dan motivasi belajar mahasiswa Pemberian apersepsi (pendahuluan) Kejelasan penyampaian materi Pelaksanaan tugas rutin dosen Pengaturan waktu belajar Sebagai fasilitator untuk diskusi kelompok/pasangan Pengorganisasian mahasiswa dalam kelompok/pasangan Mengarahkan/membimbing diskusi kelompok/pasangan Melakukan evaluasi proses Interaksi dengan mahasiswa Membuat ulasan dan kesimpulan Melakukan penilaian hasil Pemberian penguatan/pujian Pemberian tugas rumah Katagori Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Cukup Baik Baik sekali Baik Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik

Indikator 5 berkatagori cukup, karena dosen memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran tidak tepat waktu, sebagian besar pasangan tidak dapat menyelesaikan LKM sesuai waktu yang direncanakan sehingga dosen dan mahasiswa juga tidak dapat menyimpulkan/merumuskan hasil diskusi sesuai waktu yang direncanakan. Indikator 6 dan 8 berkatagori baik, karena observer mencatat dosen tidak menjelaskan sistem penilaian dalam diskusi kelompok dan dosen tidak memantau atau mengamati jalannya diskusi setiap kelompok, misalnya dengan berkeliling. Indikator 14 berkatagori baik karena, observer mencatat jika dosen tidak menginformasikan bahwa PR akan diperiksa dan dinilai pada pertemuan berikutnya. c. See Kegiatan see dilaksanakan satu hari setelah kegiatan do, karena setelah kegiatan do observer ada kegiatan lain yang tidak dapat ditunda atau diwakilkan. Kegiatan see dimulai dengan dosen model menyampaikan pengalaman dan catatan saat melaksanakan perkulihan. Dosen model merasakan bahwa mahasiswanya mengikuti perkulian dengan semangat dan aktivitas yang sama baiknya dengan kegiatan siklus I, mahasiswa sudah mulai terbiasa berdiskusi dengan pasangannya. kecuali pasangan pertama yang beranggotakan 3 orang kadang-kadang orang ketiga tidak terlibat dalam diskusi. Semua mahasiswa terlihat melakukan diskusi dengan pasangannya untuk sesegera menyelesaikan LKM, tidak ada yang termenung atau diam tidak beraktivitas, juga tidak ada mahasiswa yang menolak saat ditujuk untuk menyampaikan hasil diskusinya. Berdasarkan hasil pengamatannya observer memberikan beberapa saran untuk perbaikan perkuliahan selanjutnya. Pengaturan/setting tempat duduk setengah lingkaran tidak perlu dilakukan lagi karena menyulitkan dosen model mendekati/membimbing setiap pasangan dan observer tidak dapat mengamati setiap pasangan. Mahasiswa belum trampil dan memiliki trik tertentu dalam melakukan operasi baris elementer sehingga perlu diberikan banyak latihan, dikerjakan secara berkelompok maupun individu. Berdasarkan pengalaman/pengamatan dosen model dan pengamatan observer terlihat mahasiswa belum cukup terampil dalam melakukan operasi baris elementer untuk mereduksi matriks ke bentuk matriks lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tidak setiap mahasiswa mempelajari kembali konsepkonsep yang diperoleh pada perkuliahan sebelumnya. Faktanya masih ada beberapa mahasiswa yang mempertanyakan beberapa konsep yang telah disampaikan sebelumnya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 107

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Evaluasi untuk mengetahui prestasi belajar mahasiswa pada SK 2 dilaksanakan satu minggu setelah open lesson siklus II. Soal evaluasi ada 6 item untuk dikerjakan 90 menit. Diperoleh hasil yang sangat memuaskan, semua peserta/mahasiswa dapat menyelesaikan < 90 menit, 10 mahasiswa menyelesaikan dalam waktu < 60 menit. Delapan mahasiswa memperoleh nilai 100, nilai terendah 64 dengan nilai rata-rata 91.
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. Implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa semester IIIA Pendidikan Matematika jurusan PMIPA FKIP Universitas Mataram. 2. Melalui kegiatan diskusi berpasangan dengan media LKM, sebagian besar mahasiswa dapat menyelesaikan sistem persamaan linier (SPL) serta menemukan syarat SPL kosisten dengan penyelesaian tunggal atau tak hingga 3. Implementasi lesson study pada perkuliahan aljabar linier dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa semester IIIA Pendidikan Matematika jurusan PMIPA FKIP Universitas Mataram. 4. Dosen menjadi terbiasa menyusun perencanaan, melaksanakan dan mengevaluasi perkuliahan dengan baik melalui kegiatan plan, do dan see. 5. Dosen dapat mengidentifikasi beberapa karakter mahasiswa peserta matakuliah aljabar linier. Diantaranya mahasiswa cenderung enggan bertanya pada dosen apabila mengalami masalah, lebih senang bertanya pada temannya. Sebagian besar mahasiswa tidak mempelajari kembali materi yang sudah diterima bila tidak akan ujian, mereka juga jarang mengerjakan soal-soal latihan apabila tugas/latihan tidak dikumpulkan.
DAFTAR PUSTAKA AECT. 1986. Instructional Technology: The definition and Domains of The Fieid. Terjemahan Yusufhadi, dkk. Jakarta: IPTPI dan LPTK. Bloom, B.S. 1976. Human Characteristics and School Learning. New York: Mc. Graw-Hill Book Company. Bloom. B.S. (ed). 1979. Taxonomy of Educational Objectives. London: Longman Group Ltd. Chotimah, Husnul. 2009. Strategi-Strategi Pembelajaran untuk PTK. Malang: Surya Pena Gemilang. Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. 2001. The Systematic Design of Instruction. Fifth Edition. New York: Longman. Fernandez, C., and Yoshida, M. (2004). Lesson Study: A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Herawati, dkk. 2009. Lesson Study berbasis Sekolah. Malang: Banyumedia Publishing. Knirk, F.G. & Gustafson. 1986. Instructional Technology, A Systematic Approach to Education. New York: Hlt Rinehart and Winston. Sanjaya, Vina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Perdata Media. Suryadi, D. 2007. Pengalaman IMSTEP dan SISTTEMS dalam Implementasi Lesson Study (UPI). Yogyakarta: Materi diklat PKP, Assesment dan Lesson study di Hotel Sahid Yogyakarta, 12-17 Desember 2007. Soedijarto. 1993. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 108

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

KINERJA DOSEN DALAM PERKULIAHAN STATISTIKA MATEMATIKA I BERBASIS LESSON STUDY DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO

Andhika Ayu Wulandari 1) Erika Laras Astutiningtyas 2)
1) 2)

Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, email dhika.math@yahoo.co.id Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, email astutiningtyas@yahoo.co.id

Abstrak. Tujuan pendidikan di perguruan tinggi adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta mengembangkan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Demi mencapai tujuan tersebut, pendidikan di perguruan tinggi perlu diimplementasikan sebagai pengajaran, pembimbingan, dan pelatihan. Konteks ini harus dapat diaplikasikan secara nyata dalam kegiatan perkuliahan. Untuk itu diperlukan perbaikan sistem perkuliahan yang lebih memfokuskan mahasiswa sebagai subyek belajar bukan sebagai obyek belajar. Lesson study sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok dosen secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan melaporkan hasil pembelajaran dicobakan untuk mata kuliah Statistika Matematika I. Tujuan kegiatan ini adalah : 1. Meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Statistika Matematika I, baik dari perencanaan, pelaksanaan, dan ketercapaian standar kompetensi, 2. Memberikan pembelajaran bersama antar sesama dosen dalam memberikan pembelajaran terhadap mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo sebanyak 4 kali yang masing-masing tahapan meliputi kegiatan plan, do, dan see. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kinerja dosen terus meningkat, baik dalam proses pembelajaran ataupun dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran , (2) pembelajaran lesson study dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan akademis, kecakapan personal, dan kecakapan sosial mahasiswa, (3) lesson study dapat dijadikan ajang bersama bagi para dosen untuk meningkatkan kualitas perkuliahan. Kata kunci: lesson study, profil kinerja.

Proses pembelajaran yang dilaksanakan di perguruan tinggi memiliki beban yang tidak ringan karena mahasiswa dituntut mampu mengaplikasikan ilmu yang diterimanya dan diharapkan apa yang dilakukan mahasiswa mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti yang dikemukakan oleh Pongtuluran (2008) bahwa tujuan pendidikan di perguruan tinggi adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta mengembangkan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 109

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Demi mencapai tujuan tersebut di atas, pendidikan di perguruan tinggi perlu diimplementasikan sebagai pengajaran, pembimbingan, dan pelatihan. Proporsi pengajaran, pembimbingan, dan pelatihan sebaiknya proporsional mengingat mahasiswa dituntut siap terjun ke masyarakat. Konteks ini harus diimbangi dengan peningkatan kinerja dosen dalam merancang perangkat dan proses pembelajaran. Salah satu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh dosen adalah dengan mengimplementasikan Lesson Study yang didesain dengan baik sehingga akan menjadikan dosen profesional dan inovatif. Agar tidak luas jangkauannya, maka penerapan lesson study di Program Studi Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dibatasi dan difokuskan pada mata kuliah Statistika Matematika I mahasiswa semester IV tahun akademik 2010/ 2011. Mata Kuliah Statistika Matematika I merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika. Mata kuliah ini merupakan rumpun mata kuliah kajian statistika. Statistika Matematika I mempelajari ilmu peluang yang merupakan dasar dari teori statistika. Dinamakan Statistika Matematika, karena apa yang dipelajari merupakan dasar-dasar matematis bagi pengembangan statistika. Jadi dapat pula secara sederhana dikatakan bahwa Statistika Matematika adalah matematika untuk statistik. Tujuan pembelajaran Statistika Matematika I adalah agar mahasiswa mengerti konsep teori peluang, mengenali model-model distribusi peluang yang terkenal, dan dapat menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pengamatan pembelajaran statistika matematika pada tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa banyak yang kesulitan untuk mengikuti tuntutan kurikulum dari mata kuliah ini. Mata kuliah ini menuntut penguasaan kalkulus dan aljabar yang memadai, dan tingkat logika yang cukup. Sementara dapat dipahami bahwa tingkat penguasaan mahasiswa mengenai aljabar dan kalkulus dapat dikatakan kurang dan bahkan sangat kurang. Hal ini berakibat pada kurangnya partisipasi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran Statistika Matematika I. Partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi dalam mengikuti perkuliahan, serta aktivitas atau keterlibatan mahasiswa selama perkuliahan. Akibat dari kurangnya partisipasi dalam perkuliahan ini adalah prestasi belajar mahasiswa rendah. Selain itu materi perkuliahan sampai akhir semester sering tidak terselesaikan. Untuk mengatasi hal-hal tersebut dosen membentuk tim melakukan lesson study dalam mengembangkan pembelajaran sehingga dosen dapat melakukan review terhadap kinerjanya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan sehingga termotivasi untuk selalu berinovasi yang selanjutnya akan menjadi dosen yang profesional. Sehingga perlu dilakukan penelitian yang mengkaji penerapan lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mata kuliah Statistika Matematika I semester IV tahun akademik 2010/ 2011. Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana, dkk: 2006). Lesson study merupakan pendekatan yang komprehensif menuju pembelajaran yang profesional serta menopang dosen menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Lesson study bukan merupakan suatu metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan lesson study dapat menerapkan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi dosen. Lesson study dapat diartikan sebagai program in-service training dosen yang dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson study dilakukan di dalam kelas dengan tujuan untuk memahami mahasiswa dengan lebih baik dan dilakukan secara bersama-sama dengan dosen lain (Rahayu, 2005). Lesson study merupakan strategi pengembangan profesionalisme dosen. Melalui aktivitas lesson study, pembelajaran dikembangkan secara bersama-sama dengan menentukan salah satu dosen untuk melaksanakan pembelajaran tersebut, sedangkan dosen lainnya mengamati aktivitas belajar mahasiswa dan jalannya proses pembelajaran. Pada akhir kegiatan, dosen berkumpul kembali dan melakukan diskusi tentang pembelajaran yang telah berlangsung, merevisi dan menyusun program pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi. Lesson study memberi dorongan kepada dosen untuk mengembangkan dan memperbaiki pembelajaran di kelas. Melalui lesson study dosen akan terbantu dalam hal (1) Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 110

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mengembangkan pemikiran kritis tentang belajar dan mengajar di kelas, (2) merancang program pembelajaran (RPP) yang berkualitas, (3) mengobsevasi bagaimana mahasiswa berpikir dan belajar serta melakukan tindakan yang cocok, (4) Mendiskusikan dan merefleksikan aktivitas pembelajaran, dan (5) mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. Dalam lesson study para dosen bekerjasama dalam hal (1) memformulasi tujuan pembelajaran dan pengembangan jangka panjang, (2) secara kolaboratif merancang suatu “research lesson”, (3) melaksanakan pembelajaran dengan menugaskan seorang dosen untuk mengajar dan yang anggota tim yang lain melakukan observasi untuk mengumpulkan data tentang kejadian belajar di kelas, (4) mendiskusikan kejadian-kejadian belajar yang telah diobservasi selama proses pembelajaran, menggunakan informasi itu untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, dan (5) mengimplementasikan program pembelajaran yang telah direvisi pada kelas lain, dan jika perlu mengkaji dan memperbaiki kembali program pembelajaran tersebut. Lesson study dapat digambarkan sebagai suatu siklus kegiatan kelompok dosen yang bekerja bersama dalam menetukan tujuan pembelajaran, melakukan research lesson dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut (Lewis, 2002). Siklus lesson study digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Siklus Lesson Study Bagan 1. Siklus lesson study Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lesson study pada hakikatnya merupakan pendekatan yang komprehensif menuju pembelajaran yang profesional serta mensuport dosen menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah (1) Meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Statistika Matematika I, baik dari perencanaan, pelaksanaan, dan ketercapaian standar kompetensi, (2) Memberikan pembelajaran bersama antar sesama dosen dalam memberikan pembelajaran terhadap mahasiswa. METODE Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 111

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh disesuaikan dengan tujuan penelitian yang dirumuskan yaitu mendeskripsikan penerapan dan manfaat lesson study dalam meningkatkan kinerja dosen pada mata kuliah Statistika Matematika I semester IV tahun akademik 2010/ 2011. Peneliti dan narasumber di sini memiliki posisi yang sama, oleh karena itu narasumber bukan sekadar memberikan tanggapan pada yang diminta peneliti, tetapi ia bisa lebih memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia miliki (Sutopo, 2006:57-58). Subjek penelitian ini adalah dosen mata kuliah Statistika Matematika I. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengimplementasikan lesson study. Selain melibatkan 35 mahasiswa, yang ikut terlibat dalam penelitian ini adalah seluruh tim lesson study Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Peneliti sebagai observer, secara aktif mengamati secara langsung subyek penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengamati secara mendalam agar data yang diperoleh lebih lengkap. Peneliti menggunakan cara pengamatan langsung kepada subyek penelitian dengan tujuan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya agar dalam pelaporan nanti dapat dideskripsikan secara jelas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi. Dalam analisis data, peneliti menggunakan model interactive model. Alur teknik analisis data dapat dilihat pada gambar berikut:

Data collection

Data display

Data reduction

Conclusion :

Bagan 2. Komponen dalam analisis data (interactive model) (Spradley, 2007: 247) HASIL DAN PEMBAHASAN A. Open Lesson I Materi : Pengantar Peluang dan Ruang Sampel Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. c. Mengevaluasi perangkat pembelajaran seperti RPP, silabus, kontrak pembelajaran, dan bahan pembelajaran yang telah dibuat dosen model terlebih dahulu. d. Bersama dosen model menyiapkan lembar observasi, angket, dan instrumen-instrumen lain yang digunakan dalam pengamatan selama kegiatan berlangsung. e. Penyusunan metode, dan media pembelajaran yang akan digunakan. Berkaitan dengan fokus yang ditetapkan, maka pembelajaran direncanakan dalam bentuk diskusi kelompok. Pelaksanaan (Do) Sebelum pelaksanaan open lesson pertama ini tim lesson study berkoordinasi (briefing) untuk memantapkan peran dan tugas masing-masing anggota tim. Dosen model melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP. Pada pertemuan ini dibahas kontrak pembelajaran dan penjelasan pada mahasiswa bahwa perkuliahan bersifat terbuka, artinya ada pengamat dari bapak/ ibu dosen lain yang ikut di dalam kelas perkuliahan. Selain itu dijelaskan pula pada mahasiswa Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 112

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bahwa perkuliahan didokumentasikan dengan video shooting. Para pengamat melakukan pengamatan terhadap jalannya kegiatan baik mengamati aktivitas mahasiswa maupun aktivitas dosennya. Diakhir pelaksanaan pembelajaran, mahasiswa diminta tinggal sejenak untuk menanggapi angket yang telah disiapkan tim lesson study. Refleksi (See) Akhir pembelajaran pada open lesson I dilanjutkan pertemuan tim untuk melakukan refleksi. Hal-hal penting yang dapat diamati dalam kegiatan pelaksanaan (do) dibahas dalam forum ini. Beberapa komentar diantaranya menyatakan bahwa mahasiswa masih kurang berperan aktif dalam diskusi dan beberapa mahasiswa belum masuk kuliah, dimungkinkan karena perkuliahan baru pertama kali. Observasi terhadap dosen model, sebagai berikut : Pada awal pembelajaran dosen menyajikan materi dengan ceramah interaktif diselingi tanya jawab. Waktu untuk menjelaskan cukup panjang, kemudian mahasiswa diberi lembar kerja yang harus didiskusikan, dan dipresentasikan. Waktu presentasi yang cukup lama menjadi bahan untuk refleksi karena ternyata mahasiswa menunjukkan minat belajar pada saat diskusi dengan kelompoknya. Meskipun dosen model telah memberikan motivasi dan pesan moral di awal pembelajaran agar mahasiswa lebih giat dalam belajar, akan tetapi dosen model kurang persiapan, dan terlalu fokus pada materi pembelajaran sehingga pembelajaran kurang bermakna. Beberapa saran perbaikan pada open lesson selanjutnya adalah sebaiknya ditekankan pada fokus pembelajaran mahasiswa (keaktifan atau kreatifitas atau motivasi menyampaikan pendapat) dan perlu dilakukan review terhadap RPP agar waktu pembelajaran lebih terancang. Komentar positif justru datang dari mahasiswa, sebagian besar mahasiswa menyampaikan bahwa pembelajaran cukup menarik, menyenangkan, dan merangsang untuk belajar lebih giat. B. Open Lesson II Fokus : Aktivitas Mahasiswa Materi : Menggunakan kaidah-kaidah penghitungan titik sampel untuk menghitung peluang suatu kejadian. Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. c. Bersama dosen menyiapkan pembelajaran dan menentukan fokus pembelajaran yaitu keaktifan mahasiswa. d. Karena pada open lesson sebelumnya mahasiswa masih kurang berperan aktif dalam diskusi, maka direncanakan untuk open lesson berikutnya digunakan pendekatan pembelajaran diskusi disertai dengan tanya jawab serta latihan menyelesaikan masalah (problem based learning). e. Bersama dosen perlu merancang kembali pengaturan waktu yang proporsional antara kegiatan dosen dalam menyampaikan materi ajar dan kegiatan diskusi kelompok oleh mahasiswa. f. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Berdasarkan pengalaman pada open lesson I, kelemahan-kelemahan pada pelaksanaan pembelajaran diperbaiki pada open lesson II. Adapun pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah diskusi dan tanya jawab serta latihan menyelesaikan masalah (problem based learning). Karena beratnya materi bagi sebagian besar mahasiswa, ada kendala dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan diskusi dan tanya jawab ini. Oleh sebab itu perkuliahan masih sering didominasi oleh dosen untuk memberikan penjelasan pada mahasiswa. Seperti pada open lesson I peran pengamat melaksanakan tugas sesuai rencana dengan menggunakan instrumen

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 113

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pengamatan. Dan di akhir pelaksanaan pembelajaran mahasiswa diminta untuk memberikan tanggapan terhadap angket yang telah disiapkan tim lesson study. Refleksi (See) Seperti halnya pada open lesson I, setelah pelaksanaan pembelajaran dilanjutkan dengan refleksi. Beberapa masukan untuk open lesson II ini adalah: persentase mahasiswa yang bertanya masih sedikit, keaktifan mahasiswa saat di dalam kelas kurang, namun saat diskusi di luar kelas sebagian besar mahasiswa telah aktif berpartisipasi dalam diskusi. Observasi terhadap dosen model pada kegiatan open lesson ke dua sebagai berikut: pada awal pembelajaran, dosen menyajikan materi dengan ceramah interaktif diselingi tanya jawab, akan tetapi waktu untuk menjelaskan masih belum sesuai dengan plan¸dimungkinkan karena beratnya materi bagi mahasiswa sehingga dosen masih lebih dominan. Selanjutnya mahasiswa diberi lembar kerja yang harus didiskusikan, dan dipresentasikan. Beberapa saran yang disampaikan adalah pembagian kelompok sebaiknya tidak saat pembelajaran sehingga lebih efisien dan tidak menyita waktu pembelajaran, saat dosen menyampaikan teori-teori sebaiknya jangan ditampilkan ke slide lebih dulu sehingga akan merangsang mahasiswa untuk aktif berpikir. C. Open Lesson III Fokus : Aktivitas Mahasiswa Materi : Mendefinisikan konsep peubah acak dan distribusi peluang peubah acak Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. 1. Pada open lesson sebelumnya sudah mulai ada mahasiswa yang berani berpendapat, akan tetapi masih ada mahasiswa yang kurang berpartisipasi pada saat diskusi. Oleh karena itu, direncanakan untuk mengubah kembali sistem diskusi. Metode yang dipilih masih sama dengan open lesson 2 yaitu problem based learning, akan tetapi dikombinasi dengan diskusi di luar kelas dilokasi tempat-tempat “nongkrong” mahasiswa. Model pembelajaran di luar kelas ini diharapkan dapat menumbuhkan atmosfir akademik di lingkungan kampus. 2. Evaluasi RPP sehingga mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : Problem Based Learning dikombinasi dengan diskusi informal Seperti pada pelaksanaan open lesson sebelumnya, pada open lesson III ini sebelumnya tim telah berkoordinasi untuk merencanakan pelaksanaan open lesson III. Dosen model memberikan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disiapkan, dan memperhatikan hasil evaluasi pada pelaksanaan open lesson sebelumnya. Pendekatan pembelajaran yang digunakan masih sama dengan open lesson II yaitu problem based learning. Selain itu dengan cara belajar kombinasi antara di dalam kelas dan diskusi di luar kelas di lokasi tempat-tempat ”nongkrong” mahasiswa telah memberikan motivasi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam diskusi pada kelompoknya masing-masing. Seperti pada pelaksanaan open lesson sebelumnya pengamat melakukan tugasnya untuk mengamati aktivitas mahasiswa, mencatat hal-hal yang perlu guna memberikan evaluasi dalam pelaksanaan pembelajaran. Di akhir pembelajaran mahasiswa diminta menanggapi angket yang telah disiapakan tim lesson study. Refleksi (See) Pelaksanaan pembelajaran pada open lesson III ini telah berjalan dengan baik walaupun masih dijumpai beberapa kelemahan. Beberapa kelemahan yang dapat dicatat adalah bahwa dosen model tidak dapat hadir pada saat perencanaan (plan) pembelajaran, sehingga praktis pelaksanaan pembelajaran kurang sesuai dengan plan, terutama waktu pembelajaran yang kurang sesuai Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 114

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dengan harapan. Akan tetapi dosen model secara aktif bertindak sebagai fasilitator saat diskusi di luar kelas dengan berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Segi positif dari pelaksanaan open lesson III ini adalah bahwa partisipasi mahasiswa dalam belajar baik secara individu maupun kelompok sudah semakin baik. Selain itu tingkat pemahaman mahasiswa mengenai materi pembelajaran semakin baik, dengan demikian capaian kompetensi dasar tentunya akan meningkat pula. D. Open Lesson IV Fokus : Aktivitas Mahasiswa Materi : Mengenali distribusi peluang diskrit Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. 1. Pada tahap sebelumnya, metode problem based learning yang dikombinasi dengan diskusi di luar kelas sudah dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa. Akan tetapi, menyita waktu pembelajaran yang cukup banyak. Sehingga pembelajaran pada open lesson 4 dirancang dengan metode pemberian latihan secara individu. 2. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Langkahnya : 1. Mengulas kembali tentang definisi distribusi peluang. 2. Memberikan gambaran tentang distribusi peluang peubah acak diskrit. 3. Memberi contoh soal sederhana. 4. Meminta mahasiswa mengerjakan satu soal pada lembar kerja yang telah disiapkan. 5. Waktu untuk mengerjakan soal berakhir jika sudah ada satu mahasiswa yang mengumpulkan. 6. Memberikan reward pada mahasiswa yang mengerjakan soal paling cepat dan benar. 7. Meminta mahasiswa yang sudah selesai mengerjakan soal untuk menjelaskan secara klasikal. Refleksi (See) Open lesson IV merupakan periode akhir dari rangkaian kegiatan lesson study semester genap tahun akademik 2010/2011. Akhir pembelajaran pada open lesson IV ini dilanjutkan dengan koordinasi tim untuk mengadakan refleksi. Beberapa catatan yang dapat dipetik dari open lesson IV ini adalah bahwa kelemahan-kelemahan pada periode sebelumnya telah mampu diatasi. Atmosfer akademik, manajemen waktu dalam pembelajaran telah berjalan dengan baik, demikian pula mengenai partisipasi mahasiswa juga telah meningkat. Sementara kelemahan yang dapat dicatat adalah penataan tempat duduk. Tempat duduk ditata sedemian rupa membuat leluasa bagi pengamat untuk bergerak, namun membawa dampak negatif kurang leluasanya dosen model untuk memantau mahasiswa. Dosen model memberikan materi dengan waktu yang tidak terlalu lama dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing mahasiswa untuk berpikir secara kritis. Secara umum pelaksanaan pembelajaran ini telah berjalan dengan baik, pemberian motivasi sebagai pendidikan karakter bagi mahasiswa cukup baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kinerja dosen terus meningkat bahkan pada akhir siklus sudah menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, baik dalam proses pembelajaran ataupun dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran, (2) pembelajaran lesson study dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan akademis, kecakapan personal, dan kecakapan sosial mahasiswa, (3) lesson study dapat dijadikan ajang bersama bagi para dosen untuk meningkatkan kualitas perkuliahan.
KESIMPULAN DAN SARAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 115

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: a. Penerapan lesson study di prodi matematika FKIP Univet Bantara Sukoharjo mata kuliah Statistika Matematika I mahasiswa semester IV E tahun akademik 2010/ 2011 dilaksanakan sesuai tahapan-tahapan lesson study dengan hasil baik. b. Kegiatan open lesson dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dari segi persiapan pembelajaran, ketercapaian standar kompetensi, dan akademik atmosfer. c. Kegiatan open lesson dapat digunakan sebagai media pembelajaran tidak saja bagi mahasiswa tetapi juga pembelajaran semua pihak yang terlibat dalam kegitan itu, termasuk dosen model dan dosen lain yang bertindak sebagai pengamat. Saran Dari hasil penelitian ini dapat diberikan saran sebagai berikut: d. Kepada para dosen disarankan agar selalu mengembangkan materi ajar dan model perkuliahan, sehingga perkuliahan benar benar dapat membekali mahasiswa sebagai guru. e. Kepada Pimpinan Program Studi, Jurusan dan Fakultas agar dapat memfasilitasi dan mendorong kegiatan perkuliahan secara kolegial, baik dengan kegiatan lesson study atau yang lain sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran di Perguruan Tinggi. f. Untuk memberikan hasil yang lebih mudah untuk diinterpretasikan kedepan disarankan untuk pengukuran indikator-indikator pelaksanaan lesson study dapat dirancang secara kuantitatif.
DAFTAR PUSTAKA Hamalik, O. 1993. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Lewis, C. 2002. Lesson Study: A Handbook of Teacher-led Instructional Change. Philadelphia: Research for Better Schools. Pongtuluran. 2008. Student Centered Learning: The Urgency and Possibellities. Petra Christian University. Slavin, R.E. 1995. An Introduction to Cooperative Learning Research. (Robert Slavin, Learning to Cooperate, Cooperativing to Learn). London: Plenum Press. Usman, U. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 116

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PEMBELAJARAN ANALISIS REAL MELALUI LESSON STUDY

Darmadi
IKIP PGRI Madiun, email: darmadi7868482@yahoo.com

Abstrak. “Semua materi analisis real susah. Tidak ada materi yang mudah. Karena semua materi susah”. Sepertinya analisis real itu benar-benar susah. Persepsi awal mahasiswa seperti ini merupakan salah satu faktor penghambat proses belajar. Ketika ditanya mulai mana tidak pahamnya atau mendapatkan kesulitan? Beberapa mahasiswa diam dan beberapa menjawab “Dari awal”. Jika dicek kemampuan awalnya ternyata memang mereka pada lupa. Jika ditanya apakah tadi malam tidak belajar? Jawabannya “tidak karena sudah capek sampai rumah sudah malam” atau “sibuk mengerjakan tugas lain”. Pembelajaran terasa kurang optimal. Akibatnya, kualitas perkuliahan pun tidak baik. Melalui kolegalitas pada kegiatan Lesson Study ini diharapkan permasalahan-permasalahan tersebut dapat dibahas untuk diatasi bersama sehingga kualitas perkuliahan analisis real jadi lebih baik. Kata kunci: Lesson Study

Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas yang saling belajar untuk membangun masyarakat belajar. Pada kegiatan Lesson Study, kolegalitas membicarakan praktik pembelajaran, saling mengobservasi kelas pembelajaran, membuat gagasan bersama mengenai kelas, dan saling mendorong satu sama lain dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Fungsi perencanaan antara lain penyusunan skenario pembelajaran beserta perangkat dan panduan observasinya yang dapat dipahami sesama dosen, pelatihan pembelajaran dan langsung diterapkan di kelas, pengimbasan pengetahuan secara kolaboratif dari pakar atau sesama dosen, penerapan suatu hasil penelitian pembelajaran yang telah dilakukan, dan penyusunan awal proposal penelitian tindakan kelas jika diperlukan. Lesson Study bukan suatu metode/model pembelajaran, tetapi merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik dengan kebersamaan dan saling belajar di antara para pendidik. Para dosen bekerjasama secara kolaboratif dalam membuat perencanaan (Plan) pembelajaran yang meliputi brieffing singkat tentang rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh dosen model, menyiapkan lembar observasi, SAP, LKM, atau perangkat lain yang diperlukan, dan memastikan agar pada waktu pengamatan nanti tidak keluar masuk kelas, karena akan mengganggu konsentrasi mahasiswa. Pelaksanaan dan observasi (Do dan See) meliputi seorang dosen model dan dosen lain sebagai observer. Observer mengambil tempat sedemikian hingga dapat leluasa mengamati jalannya proses pembelajaran tanpa mengganggu aktivitas dan konsentrasi mahasiswa. Observer tidak diperkenankan melakukan intervensi pada pembelajaran, seperti menegur dosen dan membantu atau bertanya kepada mahasiswa. Fokus observasi ditekankan pada aktivitas belajar mahasiswa, baik secara individual maupun kelompok, sesuai dengan pokok permasalahan yang diambil. Pengamat melakukan pengamatan secara penuh sejak awal sampai akhir pembelajaran. Selain mengamati siswa belajar, pengamat juga perlu memperhatikan teknik pengelolaan kelas yang dilakukan dosen, teknik mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran, dan upaya dosen membuat mahasiswa kreatif. Dalam diskusi refleksi mempunyai tahapan: 1) refleksi penyaji/dosen model tentang strategi pembelajaran yang telah dilakukan; 2) tanggapan/usul/saran dari observer yang difokuskan pada aktivitas pembelajaran Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 117

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mahasiswa sebagai hasil observasi dan bukan didasarkan pada opini/teori; 3) tanggapan balik dari penyaji/dosen model; dan 4) menarik kesimpulan dan saran untuk perbaikan/perencanaan pembelajaran pada putaran berikutnya. Melalui kolegalitas pada kegiatan Lesson Study diharapkan permasalahanpermasalahan yang ada pada pembelajaran analisis real dapat dibahas bersama dan kualitas perkuliahan analisis real jadi lebih baik.
PELAKSANAAN

Terdapat empat putaran dalam pelaksanaan Lesson Study rumpun analisis real. Pada putaran pertama, Plan dilaksanakan mulai tanggal 4 sampai 11 Oktober 2010 sedangkan Do dan See dilaksanakan pada hari Senin tanggal 11 Oktober 2010. Putaran kedua, Plan dilaksanakan mulai tangga 18 sampai 25 Oktober 2010 sedangkan Do dan See dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Oktober 2010. Pada putaran ketiga, Plan dilaksanakan mulai tanggal 1 sampai 8 Nopember 2010 sedangkan Do dan See dilaksanakan pada hari Senin tanggal 8 Nopember 2010. Pada putaran keempat, Plan dilaksanakan tanggal 15 sampai 22 Nopember 2010 sedangkan Do dan See dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 Nopember 2010. Pada waktu Plan dilakukan: 1) Penyusunan RPP; 2) Penyusunan LKM; sampai 3) Mengatur tempat duduk mahasiswa. Sementara waktu Do dan See meliputi: 1) Pelaksanaan pembelajaran; 2) Observasi pembelajaran; 3) Diskusi tentang pembelajaran; dan 4) Refleksi untuk perbaikan. Materi pada putaran pertama adalah mendapatkan prosedur untuk membuktikan keterintegralan fungsi real. Metode Pembelajaran yang digunakan Picture and Picture. Hasil observasi menunjukkan: 1) Beberapa mahasiswa SMS-an; 2) Mahasiswa kurang termotivasi dan kurang siap; 3) Dalam pengerjaan LKM ada mahasiswa yang tidak berpikir tapi hanya tengok kanan, tengok kiri, dan tidak berusaha untuk menjawab; dan 4) Ada mahasiswa yang hanya diam, melamun, dan tidak mengerjakan LKM yang diberikan dosen model. Untuk itu perlu dilakukan refleksi yang menghasilkan: 1) Keaktifan mahasiswa dapat ditingkatkan dari pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dosen model; 2) Pentingnya melihat ke semua mahasiswa dan pentingnya mengingatkan materi prasyarat; dan 3) Kurang persiapan sebelum perkuliahan berlangsung, hal ini dikarenakan mahasiswa tersebut sedang sibuk persiapan ujian PPL disekolah. Solusinya: menyarankan mahasiswa untuk pandai-pandai membagi waktu. Materi pada putaran menghitung integral riemaan atas dan integral riemaan bawah. Metode Pembelajaran yang digunakan adalah (Problem Based Instruction) PBI. Hasil observasi menunjukkan: 1) Banyak mahasiswa yang mengami kesulitan mengerjakan; 2) Mahasiswa tidak memahami konsep awal seperti partisi, supremum, infimum, dan sigma; dan 3) Persiapan mahasiswa kurang. Hasil refleksi diperoleh: 1) Penjelasan hanya dengan menampilkan jawaban pada lembar-lembar slide kurang optimal; 2) Soal-soal mungkin jangan terlalu sulit apalagi dengan operasi-operasi penyelesaian yang terlalu sulit ternyata dapat mengurangi motivasi belajar mahasiswa; 3) Perlu penjelasan dosen dengan menuliskannya dalam papan tulis; dan 4) Perlu memotivasi mahasiswa dengan memberikan suatu hadiah dan sebagainya sehingga mahasiswa berani maju. Materi pada putaran ke tiga adalah membuktikan ketidakterintegralan fungsi real sederhana. Metode Pembelajaran yang digunakan PBI termodifikasi. Hasil observasi menunjukkan: 1) Masih banyak mahasiswa yang mengalami kesukaran karena konsepnya belum dikuasai dengan benar; 2) Pembelajaran sudah baik, hal ini terlihat pada saat dosen model bertanya tentang materi yang lalu mahasiswa bisa menjawab semua; 3) Sebagian besar mahasiswa sudah belajar, hal ini terlihat dari jawaban-jawaban mahasiswa yang lebih baik dari yang lesson studi sebelumnya; dan 4) Mahasiswa sudah belajar dengan baik, hal ini terlihat pada saat pelajaran dimulai mahasiswa kelihatan antusias tentang materi yang disampaikan dosen model. Hasil refleksi diperoleh: 1) Mahasiswa perlu mendapat dorongan untuk meningkatkan masa percaya diri misalkan memaksa mahasiswa untuk mau menjawab dengan memberikan hadiah; 2) Memberikan semangat kepada mahasiswa agar mengerjakan LKM dan usaha tersebut berhasil; 3) Membantu mengerjakan dengan mendekati masing-masing kelompok. Usaha tersebut berhasil; 4) Mahasiswa belum paham menghitung integral Rieman. Solusinya: pada saat mahasiswa mengerjakan LKM dosen model sedikit mengarahkan tentang bagaimana menyelesaikan integral Rieman; dan 5) Selalu memotivasi mahasiswa. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 118

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Materi pada putaran ketiga adalah membuktikan keterintegralan fungsi tangga (sebagai contoh keterintegralan fungsi diskontinu). Metode Pembelajaran yang digunakan PBI termodifikasi. Hasil observasi dari tim menunjukkan: 1) Semua mahasiswa telah belajar tentang topik pembelajaran hari ini, terbukti dari mereka sudah dapat mengikuti perkuliahan dengan baik; 2) Mahasiswa sudah belajar dengan baik; 3) Secara umum, pembelajaran sangat baik sekali. Buktinya tidak ada mahasiswa yang bicara sendiri, ketika dosen mengingatkan materi prasyarat; 4) Pembelajaran sangat baik, terlihat dengan cara mereka mengerjakan, meskipun dengan melihat catatan; 5) Pembelajaran baik, hal ini terlihat mahasiswa sangat aktif mengikuti perkuliahan dan pada saat dosen bertanya mahasiswa dapat menjawabnya. Sedangkan hasil observasi observer luar menunjukkan: 1) Kelompok yang ada dipojok hanya bengong, yang depan hanya mencontoh punya temannya (Vivit, Yunita, Jumani, Rudi); 2) Hampir semua mahasiswa tidak mengerti materi baru tersebut dan bingung karena contohnya berbeda dengan soal; 3) Semua mahasiswa telah mengikuti pelajaran dengan baik, tetapi ada beberapa hal yang masih perlu dikaji antara lain: koopertif intern kelompok belum maksimal. Mahasiswa cenderung membagi masalah/soal sesuai yang diberikan dosen. Mahasiswa A menganggap soal No 1, mahasiswa B menganggap soal No. 2 dan mahasiswa C menganggap soal No. 3. Hal ini terjadi karena mungkin observer luar lebih teliti namun belum memahami karakterik mahasiswa dan model/metode pembelajaran yang digunakan dalam perkuliahan. Namun, penilaian dan masukan tersebut memang perlu untuk dipertimbangkan.
HASIL YANG DIPEROLEH

Banyak hasil yang dapat diperoleh dari kegiatan lesson study diantaranya: 1) Perbaikan kualitas perkuliahan Analisis Real; 2) Metode pembelajaran Picture and Picture termodifikasi untuk mendapatkan prosedur pembuktian keterintegralan fungsi real; 3) Metode pembelajaran (Problem Based Instruction) PBI termodifikasi yang sesuai dengan karakteristik materi dan mahasiswa; dan 4) Perangkat pembelajaran yang memuat LKM untuk mahasiswa dan petunjuk penggunaan untuk dosen disertai kunci jawabannya yaitu buku/modul untuk metode Picture and Picture dan buku/modul untuk metode PBI. Berdasarkan pengalaman dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan yang sering ditemui pada proses pembelajaran Analisis Real antara lain: 1) Kemampuan mahasiswa terhadap matakuliah Kalkulus, Aljabar, dan Pengantar Dasar Matematika sebagai prasyarat Analisis Real kurang memenuhi standar. Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya pemahaman konsep, kesalahan prosedur penyelesaian, dan kesulitan dalam penentuan strategi penyelesaian; 2) Kemampuan analisis dasar, menuliskan, membaca, menyampaikan, atau menjelaskan masih kurang. Kompetensi-kompetensi ini harus dicapai mahasiswa dan perlu untuk ditingkatkan; dan 3) Perlunya pengembangan aspek afektif mahasiswa dalam pembelajaran seperti kreativitas dalam menyelesaikan soal, keterbukaan mahasiswa jika mengalami kesukaran, dan motivasi belajar mahasiswa. Dengan adanya kegiatan Lesson Study ini tampak adanya perbaikan kualitas perkuliahan analisis real seperti: 1) Mahasiswa semakin terbuka yaitu berani bertanya jika mendapatkan suatu permasalahan; 2) Mahasiswa semakin percaya diri sehingga berani maju kedepan untuk mempresentasikan karyanya; dan 3) Respon positif mahasiswa semakin baik untuk pembelajaran analisis real. Langkah-langkah metode pembalajaran Picture and Picture menurur Departemen Pendidikan Nasional (2008) adalah: 1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai; 2) Menyajikan materi sebagai pengantar; 3) Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi; 4) Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis; 5) Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut; 6) Dari alasan urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai; dan 7) Kesimpulan/rangkuman. Dengan adanya kegiatan Lesson Study diperoleh metode pembelajaran Picture and Picture termodifikasi yaitu: 1) Dosen memberi motivasi dan menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai; 2) Dosen memberikan pretes dan dilanjutkan dengan menyajikan materi sebagai pengantar; 3) Dosen meminta mahasiswa membentuk kelompok dimana masing-masing kelompok beronggotakan 3 mahasiswa; 4) Dosen memberikan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi pada masing-masing kelompok; 5) Dosen menunjuk mahasiswa secara untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis; 6) Dosen menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut pada Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 119

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mahasiswa yang presentasi; 7) Dari alasan/urutan gambar tersebut dosen memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai; 8) Kesimpulan/rangkuman. Langkah-langkah pemebalajaran metode pembelajaran PBI menurut Departemen Pendidikan Nasional (2008) adalah: 1) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih; 2) Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.); 3) Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah; 4) Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya; dan 5) Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Selanjutnya dengan perubahan guru menjadi dosen, siswa menjadi mahasiswa, perlunya mengingatkan kembali tentang materi yang telah diperoleh pada pertemuan sebelumnya, dan mengingat karakteristik materi yang membutuhkan perhitungan-perhitungan yang mungkin agak lama digunakan media pembelajaran komputer untuk membantu proses pembelajaran maka diperoleh metode pemblajaran PBI sebagai berikut: 1) Dosen menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Mengingatkan materi yang telah diperoleh. Memotivasi mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang terpilih; 2) Dosen membantu mahasiswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.); 3) Dosen mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah; 4) Dosen membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya; dan 5) Dosen membantu mahasiswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan dengan menggunakan media pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi bersama ternyata penggunaan media pembelajaran komputer saja kurang dan akan lebih baik jika ditulis tangan supaya mahasiswa dapat mengetahui prosesnya, dalam pembelajaran matematika sebaiknya papan tulis jangan sampai kosong, perlu memotivasi mahasiswa supaya bersedia mempresentasikan hasilnya di depan kelas, dan perlu juga menyimpulkan apa yang telah dipelajari dan untuk tugas jika memang belum selesai dalam pengerjaannya. Oleh karena dikembangkan metode pembajaran PBI menjadi: 1) Dosen menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Mengingatkan materi yang telah diperoleh. Memotivasi mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang terpilih; 2) Dosen membantu mahasiswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.); 3 Dosen mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah; 4) Dosen membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya; 5) Dosen meminta mahasiswa mempresentasikan karyanya di depan kelas secara bergantian; 6) Dosen membantu mahasiswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan; dan 7) Dosen bersama mahasiswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama. Hasil observasi menunjukkan bahwa metode sudah cukup baik sehingga diperoleh metode pembelajaran PBI termodifikasi yaitu: 1) Dosen menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Mengingatkan materi yang telah diperoleh. Memotivasi mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang terpilih; 2) Dosen membantu mahasiswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.); 3) Dosen mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah; 4) Dosen membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya; 5) Dosen meminta mahasiswa pada kelompok pertama untuk mempresentasikan karyanya di depan kelas; 6) Dosen memberi contoh penyelesaian dalam menyelesaikan permasalahan pertama; 7) Dosen meminta mahasiswa-mahasiswa lain untuk Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 120

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mempresentasikan karyanya di depan kelas secara bergantian; 8) Dosen membantu mahasiswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan; dan 9) Dosen bersama mahasiswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat disimpulkan dari pelaksanaan kegiatan Lesson Study ini adalah: Kolegalitas sesuai konsep pada Lesson Study dalam pembelajaran sangat membantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 2. Dalam kegiatan ini diperlukan kerjasama tim yang solid supaya dapat dampaknya dapat dirasakan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika setiap matakuliah digunakan untuk kegiatan Lesson Study supaya dapat diperoleh model atau metode beserta perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi, mahasiswa, dan dosennya. 1.
DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional (2008). Model-Model Pembelajaran yang Efektif: Surabaya

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 121

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PELAKSANAAN LESSON STUDY MATA KULIAH PROGRAM LINIER PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO

Erika Laras Astutiningtyas 1) Isna Farahsanti 2)
1)

Dosen Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, astutiningtyas@yahoo.co.id, 2) Dosen Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, isna.math@yahoo.com

Abstrak. Adanya pergeseran paradigma dari “teacher centered” ke “student centered“ menjadikan peran dosen di kelas berubah, dari peran sebagai penyampai informasi (transformator) menjadi peran sebagai perantara (fasilitator dan mediator). Kemampuan akademik mahasiswa progdi pendidikan matematika FKIP Univet Bantara Sukoharjo pada umumnya masih sangat terbatas, Kekurangan yang sangat menonjol yaitu dalam hal kualitas mahasiswa yang menjadi input. Berdasarkan pengamatan pembelajaran Program Linear pada tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa banyak yang kesulitan untuk mengikuti tuntutan kurikulum dari mata kuliah ini. Mata kuliah ini menuntut penguasaan kalkulus dan aljabar yang memadai, dan tingkat logika yang cukup. Sementara dapat dipahami bahwa tingkat penguasaan mahasiswa mengenai aljabar dan kalkulus dapat dikatakan kurang. Untuk mengatasi halhal tersebut dosen perlu melakukan upaya perbaikan. Salah satunya adalah kegiatan lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mengaktifkan mahasiswa belajar sehingga dosen dapat melakukan review terhadap kinerjanya sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga termotivasi untuk selalu berinovasi menjadi dosen yang profesional. Tahap pelaksanaan lesson study meliputi perencanaan, pelaksanaan dan refleksi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan dan manfaat lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mata kuliah Program Linear semester II tahun akademik 2010/ 2011. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interactive model, yang unsur-unsurnya meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), conclutions drowing/verifiying. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) penerapan lesson study di prodi matematika FKIP Univet Bantara Sukoharjo mata kuliah Program Linear mahasiswa semester II tahun akademik 2010/ 2011 dilaksanakan sesuai tahapantahapan Lesson Study dengan hasil baik, dan (2) manfaat lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mata kuliah Program Linear semester II tahun akademik 2010/ 2011 adalah: Pertama, Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan dosen dan aktivitas belajar mahasiswa; Kedua, Lesson Study merupakan kegiatan yang dirancang dengan baik akan menjadikan dosen menjadi profesional dan inovatif. Kata kunci: lesson study.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 122

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Paradigma pembelajaran di kelas dewasa ini telah mengalami pergeseran orientasi. Semula, orientasi pembelajaran itu tidak lebih sekedar penyampaian informasi kepada peserta didik. Namun sekarang, pembelajaran lebih diutamakan untuk menggali potensi peserta didik, sehingga memancar daripadanya pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilannya (psikomotor). Adanya pergeseran paradigma itu menjadikan peran dosen di kelas berubah, dari peran yang hanya penyampai informasi (transformator) kepada peran sebagai perantara (fasilitator dan mediator). Dengan kata lain, pergeseran dari “teacher centered” ke “student centered“. Sehingga menuntut dosen untuk lebih meningkatkan kompetensinya, baik sebagai seorang profesionalisme maupun sebagai seorang craftmant (tenaga ahli dan terampil). Kekurangan yang sangat menonjol mahasiswa progdi matematika FKIP Univet Bantara Sukoharjo yaitu dalam hal kualitas mahasiswa yang menjadi input, kemampuan akademik pada umumnya masih sangat terbatas sehingga perlu pembinaan yang intensif dan terencana. Akibat terbatasnya informasi dan pergaulan, sebagian mahasiswa tidak memiliki wawasan yang luas dan baik tentang pentingnya pendidikan. Sebagian mahasiswa kurang menyadari pentingnya pendidikan bagi kehidupan mereka kelak. Akibatnya aktivitas belajar dan berprestasi mahasiswa juga rendah. Aktivitas belajar tidak hanya penting untuk menjadikan seorang mahasiswa terlibat dalam kegiatan belajar tetapi juga penting dalam menentukan seberapa jauh mahasiswa tersebut akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran. Agar tidak luas jangkauannya, maka penerapan lesson study di Program Studi Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dibatasi dan difokuskan pada mata kuliah Program Linier mahasiswa semester II A tahun akademik 2010/ 2011. Mata Kuliah Program Linear merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika. Mata kuliah ini merupakan rumpun mata kuliah aljabar. Program linear adalah salah satu cabang dari matematika yang dipelajari mulai dari sekolah menengah sampai tingkat perguruan tinggi. Program linear mempelajari tentang metode optimasi untuk menentukan nilai optimum dari fungsi tujuan linear pada kondisi pembatasan-pembatasan (constrains) tertentu. Persoalan pemrograman linear dapat ditemukan pada berbagai bidang dan dapat digunakan untuk membantu membuat keputusan, memilih suatu alternatif yang paling tepat. Aplikasi program linear misalnya untuk keperluan : perencanaan produksi, produksi campuran, penjadwalan, relokasi sumber daya, dan masalah transportasi. Suatu perusahaan atau organisasi harus membuat keputusan mengenai cara mengalokasikan sumber-sumbernya dan tidak ada organisasi yang beroperasi secara permanen dengan sumber yang tidak terbatas, akibatnya manajemen harus secara terus menerus mengalokasikan sumber langka untuk mencapai tujuan yang optimal. Berdasarkan kegunaan tersebut, dapat dikatakan bahwa program linear dapat melatih pola fikir siswa untuk cermat, teliti, dan membiasakan mengambil keputusan berdasarkan pemikiran yang matang, didasarkan pada berbagai aturan dan pembatasan yang harus dipatuhi. Program linear dapat dikatakan sebagai cabang matematika aplikatif yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga melihat kemanfaatannya, program linear harus dikuasai dengan baik. Akan tetapi tingkat penguasaan mahasiswa mahasiswa pada materi program linear belum begitu baik. Hal ini terlihat pada nilai akhir mata kuliah Program Linear mahasiswa pendidikan matematika Univet Bantara Sukoharjo untuk mata kuliah program linear, khususnya pada pokok bahasan Metode Grafik rata-ratanya adalah 55,6.Hal ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran Program Linier. Aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas atau keterlibatan mahasiswa selama perkuliahan. Akibat dari kurangnya aktivitas dalam perkuliahan ini adalah prestasi belajar mahasiswa rendah. Selain itu materi perkuliahan sampai akhir semester sering tidak terselesaikan. Untuk mengatasi hal-hal tersebut dosen melakukan lesson study dalam mengembangkan pembelajaran sehingga dosen dapat melakukan review terhadap kinerjanya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga termotivasi untuk selalu berinovasi yang selanjutnya akan menjadi dosen yang profesional. Sehingga perlu dilakukan penelitian yang mengkaji penerapan dan manfaat lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mata kuliah Program Linier semester II A tahun akademik 2010/ 2011. Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana, dkk: 2006). Lesson study merupakan pendekatan yang Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 123

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) komprehensif menuju pembelajaran yang profesional serta menopang dosen menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Lesson study bukan merupakan suatu metode atau strategi pebelajaran tetapi kegiatan lesson study dapat menerapkan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi dosen. Lesson study dapat diartikan sebagai program in-service training dosen yang dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson study dilakukan di dalam kelas dengan tujuan untuk memahami mahasiswa dengan lebih baik dan dilakukan secara bersama-sama dengan dosen lain. Lesson study merupakan strategi pengembangan profesionalisme dosen. Melalui aktivitas lesson study, pembelajaran dikembangkan secara bersama-sama dengan menentukan salah satu dosen untuk melaksanakan pembelajaran tersebut, sedangkan dosen lainnya mengamati aktivitas belajar mahasiswa selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, dosen berkumpul kembali dan melakukan diskusi tentang pembelajaran yang telah berlangsung, merevisi dan menyusun program pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi. Lesson study memberi dorongan kepada dosen untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat tentang bagaimana mengembangkan dan memperbaiki pembelajaran di kelas. Melalui lesson study dosen akan terbantu dalam hal (1) mengembangkan pemikiran kritis tentang belajar dan mengajar di kelas, (2) merancang program pembelajaran (RMP) yang berkualitas, (3) mengobsevasi bagaimana siswa berpikir dan belajar serta melakukan tindakan yang cocok, (4) Mendiskusikan dan merefleksikan aktivitas pembelajaran, dan (5) mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkna praktek pembelajaran. Dalam lesson study para dosen bekerjasama dalam hal (1) memformulasi tujuan pembelajaran dan pengembangan jangka panjang, (2) secara kolaboratif merancang suatu “research lesson”, (3) melaksanakan pembelajaran dengan menugaskan seorang dosen untuk mengajar dan yang anggota tim yang lain melakukan observasi untuk mengumpulkan data tentang kejadian belajar di kelas, (4) mendiskusikan kejadian-kejadian belajar yang telah diobservasi selama proses pembelajaran, menggunakan informasi itu untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, dan (5) mengimplementasikan program pembelajaran yang telah direvisi pada kelas lain, dan jika perlu mengkaji dan memperbaiki kembali program pembelajaran tersebut. Lesson study dapat digambarkan sebagai suatu siklus kegiatan kelompok dosen yang bekerja bersama dalam menetukan tujuan pembelajaran, melakukan research lesson dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut (Lewis, 2002). Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa lesson study pada hakikatnya merupakan pendekatan yang komprehensif menuju pembelajaran yang profesional serta mensuport dosen menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah “Mendeskripsikan pelaksanaan lesson study di prodi matematika FKIP Univet Bantara Sukoharjo mata kuliah Program Linier mahasiswa semester II A tahun akademik 2010/ 2011".
METODE

Data diperoleh dengan cara interview/ wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh disesuaikan dengan tujuan penelitian yang dirumuskan mendeskripsikan penerapan dan manfaat lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mata kuliah Program Linier semester II A tahun akademik 2010/ 2011. Sumber data yang berupa manusia disebut responden (respondent). Dalam penelitian kualitatif, sumber data manusia disebut narasumber. Peneliti dan narasumber di sini memiliki posisi yang sama, oleh karena itu narasumber bukan sekadar memberikan tanggapan pada yang diminta peneliti, tetapi ia bisa lebih memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia miliki. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester II tahun akademik 2010/ 2011 dan tim lesson study mata kuliah Program Linier sebanyak 6 dosen. Peneliti sebagai observer, secara aktif berinteraksi secara langsung dengan kegiatan penelitian. Hal ini bertujuan untuk ‘memotret dan melaporkan’ secara mendalam agar data yang diperolah lebih lengkap. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 124

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Peneliti menggunakan cara pengamatan langsung kepada objek penelitian dengan tujuan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya agar dalam pelaporan nanti dapat dideskripsikan secara jelas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi. Dalam analisis data, peneliti menggunakan model interactive model, yang unsur-unsurnya meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan conclutions drowing/verifiying. Alur teknik analisis data dapat dilihat pada gambar berikut.

Bagan 1. Komponen dalam analisis data (interactive model) (Spradley, 2007: 247)
HASIL DAN PEMBAHASAN

OPEN LESSON I Fokus : Aktivitas Mahasiswa Materi : Metode Grafik dengan Teknik Isoline Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. a. Penyusunan metode, dan media pembelajaran yang akan digunakan. Berkaitan dengan fokus yang ditetapkan, maka pembelajaran direncanakan dalam bentuk diskusi kelompok. Media visual juga dipersiapkan untuk menunjang proses pembelajaran. b. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : The Learning Cell Langkahnya : 1. Dosen memberikan contoh permasalahan program linear dan penyelesaiannya menggunakan metode grafik dengan teknik isoline dalam bentuk modul. 2. Membentuk mahasiswa menjadi beberapa kelompok. 3. Meminta mahasiswa untuk memahami contoh yang ada pada modul. 4. Memberikan permasalahan baru kepada mahasiswa untuk diselesaikan secara berkelompok. 5. Meminta perwakilan kelompok (secara acak) untuk mendemonstrasikan hasil diskusi kelompok didepan kelas. 6. Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk berkomentar dan bertanya. 7. Membahas secara klasikal tentang metode grafik dengan teknik isoline. 8. Post test individu dengan hasil sebagai berikut : Tabel 1. Rangkuman hasil penilaian Open Lesson I
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 Banyak Mahasiswa 2 5

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 125

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata 24 0 71,7742

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut: a. Karena Lesson Study baru pertama kali dilakukan, mahasiswa terlihat kaku, lebih suka diam. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyak observer. b. Belum ada mahasiswa yang berinisiatif untuk memaparkan hasil pekerjaannya kepada temanteman sekelas tanpa diperintah oleh dosen model. c. Belum ada siswa yang mau bertanya pada saat diberi kesempatan bertanya. d. Ketika berdiskusi kelompok, masih terlihat ada beberapa mahasiswa yang hanya menyimak pekerjaan teman. OPEN LESSON II Fokus : Aktivitas Mahasiswa Materi : Kejadian Khusus Metode Grafik Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. a. Karena pada Open Lesson sebelumnya keterampilan siswa untuk mengemukakan pendapat di kelas kurang, maka direncanakan modifikasi model diskusi, yaitu dengan menambahkan kewajiban presentasi hasil diskusi untuk setiap kelompok. b. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : The Study Group Langkahnya : 1. Memberikan gambaran tentang kejadian khusus permasalahan program linear, karena kemungkinan ada permasalahan yang tidak memiliki penyelesaian atau bahkan penyelesaiannya tidak tunggal. 2. Memberikan berbagai permasalahan program linear yang memuat kejadian khusus. 3. Membentuk siswa dalam beberapa kelompok 4. Setiap kelompok diminta menentukan nilai optimum dari berbagai permasalahan pemrograman linear. 5. Menunjuk perwakilan dari setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya, untuk kemudian dibahas secara klasikal. 6. Post Test dengan hasil sebagai berikut : Tabel 2. Rangkuman hasil penilaian Open Lesson II
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 1 13 10 7 72,0968

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut: 1. Mulai ada mahasiswa yang berinisiatif untuk memaparkan hasil pekerjaannya kepada temanteman sekelas tanpa diperintah oleh dosen model. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 126

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
2. 3. 4.

Ada siswa yang mau bertanya pada saat diberi kesempatan bertanya. Diskusi kelompok lebih hidup. Ketika berdiskusi kelompok, masih terlihat ada beberapa mahasiswa yang tidak aktif, hal ini mungkin disebabkan karena pada metode diskusi yang dipakai, ada penggabungan kelompok, sehingga anggota diskusi bertambah.

OPEN LESSON III Fokus : Aktivitas Mahasiswa Materi : Metode Big M / Metode Penalti Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Pada Open Lesson sebelumnya sudah mulai ada mahasiswa yang berani berpendapat, akan tetapi masih ada mahasiswa yang kurang berpartisipasi pada saat diskusi. Oleh karena itu, direncanakan untuk mengubah kembali sistem diskusi. Metode yang dipilih adalah Two Stay Two Stray dengan strategi Gallery of Learning. Metode ini memberika kewajiban kepada setiap anggota kelompok untuk menguasai materi kemudian menyampaikannya kepada kelompok lain. 2. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : Two Stay Two Stray dengan strategi Gallery of Learning Langkahnya : 1. Mengulas algoritma simpleks dan memberikan permasalahan yang penyelesaian awalnya semu 2. Memberi penjelasan tentang metode simpleks dengan teknik M untuk menyelesaiakan permasalahan yang penyelesaian awalnya semu. 3. Memberikan permaslahan program linear yang penyelesaian awalnya semu. 4. Meminta mahasiswa secara berkelompok untuk menentukan penyelesaiannya menggunakan metode simpleks dengan teknik M 5. Setiap kelompok menempelkan hasil diskusinya pada tempat yang telah disediakan. 6. Tiga orang anggota kelompok diberi tugas untuk tetap berada di posisi semua untuk menjelaskan apabila ada pertanyaan atau koreksi yang nantinya diberikan kelompok lain. 7. Tiga orang yag lain ditugaskan untuk berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk mengomentari dan bertanya pekerjaan kelompok lain. 8. Diskusi kelas untuk membahas beberapa permasalahan yang sudah dibuat dikerjakan mahasiswa. 9. Post Test dengan hasil sebagai berikut : Tabel 3. Rangkuman hasil penilaian Open Lesson III
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 3 10 9 9 75,0645

Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut: 1. Mahasiswa mulai banyak yang aktif bertanya. 2. Banyak mahasiswa yang berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok, maupun pada saat bertamu pada kelompok yang lain. 3. Mahasiswa antusias dengan metode pembelajaran yang digunakan. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 127

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
4.

Tetap ada beberapa mahasiswa yang kurang aktif dalam pembelajaran, tetapi lebih sedikit daripada dua Open Lesson sebelumnya.

OPEN LESSON IV Fokus : Aktivitas dan Kreativitas Mahasiswa Materi : Metode Dua Tahap Hasil pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Perencanaan (Plan) Pada tahap plan, tim melakukan hal-hal sebagai berikut. 1. Pada tahap sebelumnya, Two Stay Two Stray dengan strategi Gallery of Learning dirasa sudah mengaktifkan siswa, maka pada Open Lesson ke empat fokus ditambah dengan kreativitas siswa. Pembelajaran dirancang untuk memancing mahasiswa berfikir kreatif, yaitu siswa tidak diberi materi, akan tetapi langsung diberi permasalahan, dan hanya dibantu petunjuk dalam LKM. 2. Evaluasi perangkat pembelajaran yang dibuat dosen model seperti RMP, dan Silabus. Pelaksanaan (Do) Proses perkuliahan yang berlangsung adalah sebagai berikut. Metode : Practice Rehearsal Pairs Langkahnya : 1. Mengulas kembali tentang metode penalti. 2. Memberikan permasalahan program linear yang penyelesaian awalnya semu 3. Mengungkapkan kesulitan yang dialami pada saat menyelesaikan permasalahan program linear denga metode penalti 4. Memberikan wawasan tentang metode dua tahap sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan permasalahan program linear. 5. Memberi penjelasan tentang metode simpleks dua tahap untuk menyelesaiakan permasalahan yang penyelesaian awalnya semu. 6. Memberikan permaslahan program linear yang penyelesaian awalnya semu. 7. Meminta mahasiswa berkelompok. Setiap kelompok dibagi menjadi dua tim, dan setiap tim harus menyelesaiakan permassalahan meggunakan metode simpleks dua tahap dan menjawab pertanyaan yang ada pada LKM. 8. Setelah selesai, salah satu tim diminta menjelaskan kepada tim yang lain. Pada tahap berikutnya kedua tim bertukar peran. 9. Dosen memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa tentang konsep yang harus dipahami mahasiswa. 10. Menunjuk perwakilan dari setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya, untuk kemudian dibahas secara klasikal. Refleksi (See) Hasil dari refleksi adalah sebagai berikut: a. Karena pada diskusi sebelumnya yang anggotanya terdiri dari 6 orang ternyata masih ada mahasiswa yang tidak aktif, maka kelompok diskusi diperkecil mejadi 3 orang. b. Aktivitas mahasiswa lebih baik dari tiga Open Lesson sebelumnya. Akan tetapi masih ada salah satu siswa yang tidak ikut berdiskusi dengan teman sekelompoknya. c. Untuk kreativitas siswa sudah terlihat selama proses perkuliahan. Pada awal perkuliahan, mahasiswa tidak diberi materi, akan tetapi mahasiswa mampu menyelesaikan permasalahan yang diberikan. d. Berikut ini adalah hasil penilaian yang dilakukan pada pertemuan selanjutnya:

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 128

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel 4. Rangkuman hasil penilaian Open Lesson IV
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Banyak Mahasiswa 0 7 18 6 75,8952

Berikut ini adalah rangkuman proses yang terjadi selama 4 kali Open Lesson beserta hasil penilainnya. Diagram 1. Perubahan metode pembelajaran yang dilakukan (modifikasi model diskusi) dan hasilnya

Diagram di atas menunjukkan adanya modifikasi metode pembelajaran yang digunakan untuk mengaktifkan mahasiswa. Karena pada Open Lesson III keaktifan mahasiswa dirasa sudah baik, maka fokus pembelajaran ditambah dengan kreativitas mahasiswa untuk Open Lesson ke empat. Tabel 5. Rangkuman hasil penilaian Open Lesson I sampai dengan Open Lesson IV
Rentang Nilai (x) x < 55 55  x < 70 70  x < 85 85  x < 100 Rata-rata Open Lesson I 2 5 24 0 71,7742 Banyak Mahasiswa Open Lesson Open Lesson II III 1 3 13 10 10 9 7 9 72,0968 75,0645 Open Lesson IV 0 7 18 6 75,8952

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 129

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Berdasarkan tabel di atas, terlihat adanya peningkatan rata-rata nilai tes untuk setiap materi pada masing-masing Open Lesson.
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. a. Penerapan lesson study di prodi matematika FKIP Univet Bantara Sukoharjo mata kuliah Program Linier mahasiswa semester IV E tahun akademik 2010/ 2011 dilaksanaka sesuai tahapan-tahapan Lesson Study dengan hasil baik. b. Manfaat lesson study dalam mengembangkan pembelajaran mata kuliah Program Linier semester II A tahun akademik 2010/ 2011 adalah: Pertama, Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan dosen dan aktivitas belajar mahasiswa. Hal ini karena (a) dilakukan dan didasarkan pada hasil sharing pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para dosen, (b) tujuan utama dalam pelaksanaan agar kualitas belajar mahasiswa meningkat, (c) kompetensi yang diharapkan dimiliki mahasiswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (d) berdasarkan pengalaman real di kelas, dapat dijadikan dasar untuk pengembangan pembelajaran, dan (e) menempatkan peran para dosen sebagai peneliti pembelajaran. Kedua, Lesson Study merupakan kegiatan yang dirancang dengan baik akan menjadikan dosen menjadi profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para dosen dapat (a) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki mahasiswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang efektif; (b) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswa;(c) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan dosen; (d) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai mahasiswa; (e) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (f) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku mahasiswa; (g) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (h) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan mahasiswa dan koleganya. SARAN Dari hasil penelitian ini dapat diberikan saran sebagai berikut. a. Sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran di Perguruan Tinggi, kegiatan lesson study diharapkan dapat digunakan sebagai ajang penelitian dosen dan mahasiswa, sehingga pada saat plan, perlu dirancang instrumen penelitian. b. Untuk memberikan hasil yang lebih mudah untuk diinterpretasikan kedepan disarankan untuk pengukuran indikator-indikator pelakasanaan lesson studi dapat dirancang secara kuantitatif.
DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Silberman, Mel. 2009. Active Learning. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani Hamalik, O. 1993. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Slavin, R.E. 1985. An Introduction to Cooperative Learning Research. (Robert Slavin, Learning to Cooperate, Cooperativing to Learn). London: Plenum Press. Usman, U. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bukhori, M. 1989. Teknik-teknik Evaluasi dalam Pendidikan. Bandung: Jemmars .

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 130

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATRIKS DAN RUANG VEKTOR MELALUI LESSON STUDY DENGAN MENERAPKAN MODEL TPS (THINKS PAIR SHARE)

Komang Gde Suastika 1) Theo Joni Hartanto 2)
1)

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Palangka Raya dan e-mail: komang_hfi_kh@yahoo.com 2) Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Palangka Raya dan e-mail: hartantotheo@yahoo.co.id

Abstract: Qualified learning is if there is a potential empowerment in learning so that the objective of learning is gained. The quality of learning can be seen from many aspects as: the time using the class, collaboration and student activity, the change of attitude and behavior in learning, and the result of the learning. The aim of this research is to know the implementation of Thinks Pair Share (TPS) model in increasing the achievement of Physics Education in Matrics and Vector Spaces subject. This action research was done by two cycles, in every cycle covered planning, acting, observing and reflecting. The result show that (1) There was an increase independence, activity, and problem solving skills for students participating in college Matrics and Vector Spaces which implies the improvement of the quality of learning. (2) Graduation rates of students achieving 78% which means improving the quality of learning has implications for student learning outcomes. Kata kunci: TPS, model pembelajaran, matriks dan ruang vektor

Paradigma pembangunan pendidikan nasional menempatkan peserta didik pada kedudukan yang sangat sentral. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan karakter manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan dalam hal ini menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. Pendidikan bertujuan membantu peserta didik untuk dapat memuliakan hidup (ennobling life). Akan tetapi, di tingkat praktis, permasalahan pendidikan yang terjadi memperlihatkan kendala-kendala yang menghambat tercapainya tujuan pendidikan seperti diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing menjadi salah satu penyebab dari hal ini. Pendidikan yang memiliki kekuatan daya saing ditandai dengan mutu pembelajaran yang berkualitas. Rendahnya mutu hasil belajar mahasiswa ditandai oleh standar kelulusan yang ditetapkan, yaitu 56 dari skala 100. Ini berarti bahwa seorang mahasiswa dinyatakan lulus apabila yang bersangkutan mampu menyerap materi kuliah hanya sebesar 56 %. Dengan standar kelulusan yang ditetapkan tersebut, masih banyak mahasiswa yang tidak lulus. Hal ini ditandai dengan hasil nilai rata-rata Ujian Akhir Semester mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor tiga tahun terakhir seperti ditunjukkan pada Tabel 01.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 131

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Tabel 1. Nilai rata-rata mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor
No. 1. 2. 3. TAHUN AKADEMIK 2007/2008 2008/2009 2009/2010 NILAI RATA-RATA 54,66 58,15 55,40

Kedudukan mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor di Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Palangka Raya (Unpar) merupakan bagian penting untuk membekali mahasiswa dalam menempuh mata kuliah fisika lanjut seperti Fisika Kuantum, Fisika Zat Padat, Mekanika Kuantum dan yang lainnya. Mata kuliah ini diberikan pada semester VI dengan bobot 3 SKS dalam 14-16 kali tatap muka. Bertitik tolak bahwa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), pelaku utamanya adalah dosen bersama mahasiswa di ruang kuliah, maka sangat mendesak untuk dilakukan penelitian lebih mendalam tentang peningkatan mutu pembelajaran di Perguruan Tinggi agar dapat diperoleh penjelasan yang lebih lengkap terhadap mutu pembelajaran. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika dengan menggunakan pembelajaran aktif di mana mahasiswa melakukan sebagian besar pekerjaan yang harus dilakukan mahasiswa menggunakan otak untuk mempelajari berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan menarik hati dalam belajar. Untuk mempelajari suatu dengan menyampaikan pertanyaan tentang pelajaran tertentu dan mendiskusikan dengan yang lain. Dalam belajar aktif yang paling penting mahasiswa memecahkan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba keterampilan dan melaksanakan tugas yang tergantung pada pengetahuan yang telah mereka miliki atau yang akan dicapai. Belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara dosen dan mahasiswa dalam situasi pendidikan. Oleh karena itu, dosen dalam mengajar dituntut kesabaran, keuletan, dan sikap terbuka di samping kemampuan dalam situasi belajar mengajar yang lebih aktif. Demikian pula dari mahasiswa dituntut adanya semangat dan dorongan untuk belajar. Dalam proses belajar mengajar pasti terdapat beberapa kelemahan yang mempengaruhi hasil belajar mahasiswa dan dari hasil observasi dapat diketahui bahwa proses perkuliahan Matriks dan Ruang Vektor Tahun Akademik 2009/2010 ditemukan kelemahan-kelemahan, yaitu: 1) mahasiswa kurang memperhatikan penjelasan dosen pada setiap pembelajaran, 2) mahasiswa kurang mempunyai semangat dalam mengikuti perkuliahan matriks dan ruang vektor, 3) mahasiswa kurang aktif pada pembelajaran matriks dan ruang vektor, 4) kurangnya aktivitas mahasiswa dalam pembelajaran matriks dan ruang vektor dan 5) jumlah mahasiswa yang mengikuti kuliah melebihi kapasitas dan mencapai 80 orang. Di samping itu dosen jarang memvariasikan penggunaan model/metode pembelajaran, umumnya menggunakan ceramah, diskusi dan pemberian tugas. Kelemahan-kelemahan di atas merupakan desain dan strategi pembelajaran yang penting dan mendesak untuk dipecahkan melalui kegiatan lesson study. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran di mana mahasiswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan bagi mahasiswa untuk bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik dengan teman-teman sebaya, yang membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang ide-ide yang terdapat pada pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada mahasiswa ketrampilan kerja sama kolaborasi. Hasil belajar memuaskan diperlukan suatu model pembelajaran agar mampu mengaktifkan mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share). TPS atau berpikir berpasangan berbagi adalah salah satu jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi mahasiswa. Model kooperatif tipe TPS ini pada awalnya dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya di University of Maryland. Arends (2008: 15) menyatakan bahwa TPS memiliki prosedur-prosedur built-in Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 132

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) untuk memberikan lebih banyak waktu bagi siswa untuk berpikir, merespons, dan saling membantu. Lyman (Trianto, 2010) menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Model TPS merupakan jenis model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi mahasiswa. Struktur yang dimaksudkan sebagai alternatif pengganti terhadap struktur model konvensional. Struktur ini menghendaki mahasiswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2 - 4 anggota) dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif dari pada penghargaan individual. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi mahasiswa waktu yang lebih untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Pada penelitian ini ditekankan pada implementasi pembelajaran kooperatif tipe TPS untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matriks dan ruang vektor mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Palangka Raya Tahun Akademik 2010 / 2011. METODE Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Palangka Raya bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor yang berjumlah 63 orang dan dilaksanakan mulai bulan Agustus s/d Desember 2011. Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas (Classroom Action Reasearch), proses penelitian berbentuk siklus (cycles) mengikuti model Elliots ( Hopkin, 1993). Siklus berlangsung dua kali sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Dalam setiap siklus terdiri dari 3(tiga) kegiatan pokok, yaitu (1) perencanaan /Plan, (2) Implementasi dan pengamatan /Do, (3) Refleksi/See ( Kemmis & Taggart, 1988). Pelaksanaan tiga kegiatan pokok tersebut, peneliti berkolaborasi dengan 2 orang dosen yang termasuk Tim dalam kegiatan Lesson Study. Kegiatan perencanaan awal dimulai dari melakukan identifikasi masalah dan memfokuskan permasalahan yang perlu diangkat. Pada kegiatan ini juga didiskusikan cara melakukan tindakan pembelajaran dan bagaimana cara melakukan pengamatannya. Diskusi bersama dosen mitra, dikembangkan dalam setiap penyusunan perencanaan berikutnya, dan diskusi berdasarkan hasil siklus yang telah dilakukan. Pengamatan selama tindakan penelitian dilakukan penelitian bersama dosen mitra, pengamatan dilakukan berdasarkan pedoman observasi yang telah disiapkan bersama. Kejadian-kejadian penting selama proses tindakan berlangsung yang belum termuat dalam pedoman observasi, dibuat pada catatan lapangan. Refleksi dilaksanakan peneliti bersama dengan dosen mitra. Kegiatan ini berdiskusi untuk memberi makna, menerangkan dan menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan kesimpulan pada kegiatan refleksi ini suatu perencanaan untuk siklus berikut dibuat, atau tindakan penelitian dipandang cukup. Tes hasil belajar diberikan setelah dua siklus selesai dilaksanakan, analisis data dilakukan secara deskriptif guna mengetahui keterlaksanaan dari implementasi model TPS dan menganalisis apakah peningkatan kualitas pembelajaran berimplikasi terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa, berikutnya dapat diambil kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Lesson Study dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Palangka Raya yang mengambil mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor tahun akademik 2010/2011. Pada tahap awal sebelum pelaksanaan Lesson Study (tahap plan), ada beberapa hal yang telah diidentifikasi bersama oleh tim yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan perkuliahan mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor. Berdasarkan identifikasi awal diperoleh bahwa pada perkuliahan sebelumnya dosen terlalu dominan dalam kegiatan perkuliahan sehingga mahasiswa cenderung bersifat pasif dan kurang termotivasi dalam Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 133

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) belajar. Dosen dominan menggunakan metode yang konvensional (kebanyakan metode ceramah) sehingga keaktifan mahasiswa kurang. Berdasarkan observasi awal yang telah dijelaskan di atas (tahap plan), masalah kelas yang harus diselesaikan bersama oleh tim lesson study adalah suasana kelas yang pasif, keaktifan mahasiswa dan kecenderungan bergantung pada dosennya sehingga dosen masih terlalu dominan (berpusat pada dosen). Tindakan yang akan dilaksanakan dikembangkan berdasarkan identifikasi masalah. Adapun tindakan tersebut adalah sebagai berikut. Tabel 2. Masalah dan Alternatif Tindakan yang akan dilakukan mengatasi masalah
Masalah Metode yang sering digunakan oleh dosen adalah metode ceramah (walaupun terkadang ada metode lain namun intensitasnya rendah) sehingga mahasiswa cenderung pasif Tindakan Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dalam kegiatan perkuliahan

TPS atau Berpikir-Berpasangan-Berbagi merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi mahasiswa. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi mahasiswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Adapun langkah-langkah umum dari TPS adalalah sebagai berikut. Tabel 3. Langkah-langkah umum TPS dalam mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor
Tahap Thinking (berpikir) Uraian Tahap Dosen mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan materi perkuliahan Matriks dan Ruang Vektor. Selanjutnya, mahasiswa diminta untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat Dosen meminta mahasiswa berpasangan dengan mahasiswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap Thinking. Pada tahap ini, dosen meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yag telah mereka bicarakan. Ini dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasangan atau perwakilan beberapa pasangan saja (memperhatikan alokasi waktu perkuliahan)

Pairing (berpasangan) Sharing (berbagi)

Model TPS dilaksanakan pada pertemuan pertama dengan alokasi waktu 150 menit. Adapun langkahlangkah yang telah direncanakan bersama oleh tim pada perkuliahan ini adalah sebagai berikut. Materi : Aplikasi Matriks dalam Sistem Persamaan Linear Indikator : Setelah kegiatan perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu: a) Menyelesaikan sistem persamaan linear dengan cara invers matriks. b) Menyelesaikan sistem persamaan linear dengan determinan (aturan Cramer) c) Menyelesaikan sistem persamaan linear dengan metode reduksi baris. Tabel 4. Langkah-langkah Pembelajaran (tahapan do) dengan Model TPS pada pertemuan pertama mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor
No. 1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit) 1. Langkah-Langkah Kegiatan Memotivasi mahasiswa dengan menceritakan tentang suatu kejadian sehari-hari yang berhubungan dengan sistem persamaan linear. Menghubungkan contoh peristiwa tersebut dengan materi yang akan dipelajari dalam perkuliahan. Menjelaskan beberapa tujuan pembelajaran. Memaparkan materi pembelajaran tentang Matriks dan SPL. Dosen mengajukan pertanyaan yang telah dipersiapkan dalam bentuk Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) dan dikerjakan secara individual terlebih dahulu. (thinking). Meminta mahasiswa membentuk kelompok kecil secara berpasangan. (Pairing) Meminta mahasiswa menyelesaikan LKM secara berpasangan. (Pairing)

2.

Inti (110 menit)

2. 1. 2.

3. 4.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 134

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
5. 6. 7. 1. 2. Meminta perwakilan salah satu pasangan untuk memaparkan hasil pekerjaannya. (Sharing) Memberikan umpan balik kepada setiap pasangan yang telah mengerjakan dengan baik. Merangkum isi dari materi yang telah dipelajari. Melakukan konfirmasi terhadap pemahaman mahasiswa dengan memberikan evaluasi. Menutup kegiatan perkuliahan dengan mengingatkan mahasiswa untuk mempelajari kembali apa yang sudah dipelajari.

3.

Penutup (25 menit)

Ada beberapa masukan yang diperoleh dari tim lesson study pada tahapan refleksi (tahap see) pertemuan pertama. Adapun masukan-masukan yang didapat sebagai masukan bagi kegiatan perkuliahan berikutnya adalah sebagai berikut. 1. Meminta mahasiswa untuk lebih mempersiapkan perkuliahan 2. Mengaktifkan mahasiswa untuk bertanya 3. Memfokuskan mahasiswa pada perkuliahan karena masih ada beberapa yang mengerjakan tugas mata kuliah lain. 4. Mengaktifkan mahasiswa dalam membantu temannya dalam kelompok. Pada pelaksanaannya, rencana pada perkuliahan pertemuan pertama tetap dilaksanakan, tetapi ditambah dengan rencana-rencana dari hasil refleksi. Diharapkan dengan hasil refleksi pada pertemuan pertama akan membawa dampak yang lebih baik pada pertemuan kedua. Dalam tahap do untuk pertemuan kedua, tim merencanakan pembelajaran dengan mengajukan satu masalah yang sama, namun dapat diselesaikan dengan cara yang berbeda. Adapun langkah-langkah (tahap do) yang akan dilaksanakan pada pertemuan kedua adalah sebagai berikut. Materi : Operasi Vektor dan Perkalian scalar dua vektor Indikator : a) Menggunakan sifat-sifat dan operasi aljabar vektor dalam pemecahan masalah b) Menggunakan sifat-sifat dan operasi perkalian scalar dua vektor dalam pemecahan masalah Tabel 5. Langkah-langkah Pembelajaran (tahapan do) dengan Model TPS pada pertemuan kedua mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor
No. 1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit) Langkah-Langkah Kegiatan 1. Memotivasi mahasiswa dengan menceritakan tentang suatu kejadian seharihari yang berhubungan dengan vektor. Menghubungkan contoh peristiwa tersebut dengan materi yang akan dipelajari dalam perkuliahan. 2. Menjelaskan beberapa tujuan pembelajaran. 1. Memaparkan secara garis besar materi pembelajaran tentang vektor. 2. Dosen mengajukan pertanyaan yang telah dipersiapkan dalam bentuk Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) dan dikerjakan secara individual terlebih dahulu. LKM berupa lembar berwarna merah dan putih (thinking). 3. Meminta siswa membentuk kelompok kecil secara berpasangan. (pairing) 4. Meminta siswa menyelesaikan LKM secara berpasangan. (pairing) 5. Meminta perwakilan salah satu pasangan untuk memaparkan hasil pekerjaannya. (sharing) 6. Memberikan umpan balik kepada setiap pasangan yang telah mengerjakan dengan baik. 7. Merangkum isi dari materi yang telah dipelajari. 1. Mengecek pemahaman mahasiswa dengan memberikan evaluasi. 2. Menutup kegiatan perkuliahan dengan mengingatkan mahasiswa untuk mempelajari kembali apa yang sudah dipelajari.

2.

Inti (110 menit)

3.

Penutup (25 menit)

Ada beberapa masukan yang diperoleh dari tim lesson study pada tahapan refleksi (tahap see) pertemuan kedua. Adapun masukan-masukan yang didapat sebagai masukan bagi kegiatan perkuliahan berikutnya adalah sebagai berikut. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 135

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 1. Kemampuan mahasiswa mengingat materi pembelajaran pada Fisika Matematika 1 masih rendah. Pengetahuan awal ini sangat penting untuk mendukung materi Matriks dan Ruang Vektor. Oleh karena itu, mahasiswa diingatkan untuk mengulang kembali perkuliahan yan telah diperolehya 2. Menumbuhkan keberanian mahasiswa untuk bertanya dan menyampaikan gagasan. Ada fakta menarik yang diperoleh dari pertemuan kedua ini. Mahasiswa sudah mulai menunjukkan peningkatan kemandirian pada saat think, dan peningkatan aktivitas bekerja dalam pasangannya walaupun masih belum seluruhnya aktif. Bahkan, dalam tahap sharing, mahasiswa dapat menjadi tutor sebaya bagi mahasiswa lainnya (peer teaching) pada suatu permasalahan. Hanya saja masih ada beberapa pasangan yang perlu dimotivasi untuk berani mengungkapkan pertanyaan dan gagasannya. Secara garis besar penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada dua kali pertemuan sudah cukup baik dari segi kemandirian mahasiswa dalam berpikir, aktivitas mahasiswa pada saat berpasangan dan dapat menjadi tutor sebaya pada saat sharing. Jika pada pertemuan pertama mahasiswa masih kurang dalam mempersiapkan perkuliahan, maka pada perkuliahan kedua mahasiswa sudah mempersiapkan bukubuku yang berkaitan dengan materi perkuliahan. Keaktifan dalam kelompok sudah mengalami peningkatan, mahasiswa saling bekerja sama untuk memecahkan persoalan-persoalan dalam LKM, serta mereka dapat menjadi tutor sebaya bagi teman-temannya yang belum mengerti. Jika dibandingkan dengan perkuliahan sebelum diterapkannya model kooperatif tipe TPS, maka keaktifan mahasiswa sekarang jauh lebih meningkat dan peran dosen tidak lagi dominan. Dosen hanya memberikan garis-garis besar, memberi perbaikan-perbaikan jika ada kekeliruan, dan memberikan penguatan poin-poin penting dari setiap materi perkuliahan. Hasil belajar mahasiswa mencapai tingkat kelulusan 78 %. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh (Sisovic dan Bojovic, 2000) yang menyatakan bahwa cooperative learning yang salah satu tipenya adalah TPS, telah diketahui bisa diterapkan pada topik-topik kuliah tertentu dan bisa memberikan hasil belajar yang lebih tinggi dibanding dengan metoda tradisional. KESIMPULAN Penelitian ini memberikan kesimpulan sebagai berikut: 1. Terjadi peningkatan kemandirian, aktivitas, serta kemampuan pemecahan masalah bagi mahasiswa peserta kuliah Matriks dan Ruang Vektor yang berimplikasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. 2. Tingkat Kelulusan mahasiswa mencapai 78 % yang berarti peningkatan kualitas pembelajaran berimplikasi terhadap hasil belajar mahasiswa peserta kuliah Matriks dan Ruang Vektor. DAFTAR RUJUKAN
Arends, Richard. 2008. Learning to Teach: Belajar untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kemmis, S & Mc Taggard R, 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University Press Sisovic, D. And Bojovic, D. 2000, Approaching The Concepts Of Acid and Bases by Cooperative Learning, Chemistry Education : Reseach and Practice in Europe, vol 1, No.2, pp 263-275. Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 136

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENANAMAN NILAI ESTETIKA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH (Pengalaman Lesson Study di SMP Pontianak)

Agung Hartoyo
JPMIPA FKIP UNTAN , ag_hartoyo@yahoo.com

Abstrak. Matematika diyakini sebagai pengetahuan penting yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Sebaliknya, setiap aktivitas manusia hampir selalu dapat dikaitkan dengan matematika. Sayangnya, hingga kini para guru matematika masih senang membelajarkan matematika berbasis isi. Sementara kurikulum yang berlaku mengamanatkan agar guru membelajarkan matematika berbasis kompetensi dan unsur lokal atau budaya setempat. Dalam pembelajaran matematika berbasis budaya, akan membuat situasi belajar menjadi lebih menarik, menyenangkan bagi guru maupun siswa. Bahkan pembelajaran berbasis budaya dapat dimanfaatkan untuk mengasah potensi afektif, seperti pembinaan nilai estetik, kewira-usahaan, kreativitas, dan psikomotor, maupun sosial. Key words: budaya, pembelajaran matematika berbasis budaya, pembinaan nilai estetik

Dalam laporan penelitian National Research Council di Amerika Serikat (NRC, 1989:1) dinyatakan bahwa “Mathematics is the key to opportunity” (NRC, 1989:1). Cockcroft (1986:1) menyatakan pentingnya pengetahuan matematika bagi kehidupan manusia dengan kalimat, “It would be very difficult – perhaps impossible – to live a normal life in very many parts of the world in the twentieth century without making use of mathematics of some kind.” Sayangnya, prestasi belajar matematika para siswa hingga kini masih belum menggembirakan (Wardani, 2009:1), di tingkat internasional kemampuan penguasaan matematika siswa sekolah menengah pertama berada pada urutan rendah (Nanang, 2009:1), kegiatan pembelajaran di sekolah umumnya cenderung monoton, kurang disenangi dan tidak menarik (Depdiknas, 2010). Pada hasil penelitian yang dilakukan Marten (2009:3) terungkap bahwa sebagian guru matematika belum melakukan pembelajaran yang berfokus pada siswa aktif karena berbagai alasan. Padahal, kurikulum KTSP diberlakukan di sekolah-sekolah mengamanatkan kepada guru agar membelajarkan siswa secara aktif untuk mencari, menyelidiki, merumuskan, dan membuktikan pengetahuannya, serta mengaplikasikan hasil belajarnya pada situasi lain, memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun makna dari objek-objek yang dipelajari. Guru juga diamanatkan untuk memberdayakan kekayaan lokal, termasuk nilai-nilai dan budaya yang berkembang dalam masyarakat “as an educational process that aims to help student see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with the context of their personal, social, and cultural circumstances (Johnson, 2002: 25). Dengan proses yang dikemukakan Johnson tersebut diharapkan pembelajaran berlangsung dengan berwawasan lingkungan (kontekstual) dan para siswa memiliki kecakapan menerapkan prosedur dan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Siswa-siswa terbiasa dengan perilaku yang didasari oleh berbagai kecakapan yang diperoleh melalui belajar. Proses ini akan membangun perilaku dan sikap peserta didik sebagai cerminan dari sikap dan perilaku makhluk yang berbudaya. Dalam kaitan dengan hal itu, para guru matematika perlu mengembangkan kurikulum dengan memberikan porsi yang seimbang antara aspek

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 137

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) penguasaan konsep, aspek kecakapan proses, metode pemerolehan konsep dan aspek penerapannya dalam konteks kehidupan siswa-siswa. Indonesia sebagai negara yang dibangun oleh masyarakat yang majemuk dengan berbagai suku bangsa telah melahirkan banyak kebudayaan yang dikagumi di dalam maupun luar negeri. Beraneka produk budaya begitu melekat pada setiap daerah dengan menonjolkan keaslian daerah masing-masing untuk mewakili ciri khas kehidupan masyarakat dan bernilai estetik tinggi. Produk budaya Indonesia tersebut perlu dilestarikan dan dipertahankan demi menjaga identitas negara dan martabat bangsa. Dengan demikian, pendidikan nilai-nilai estetik dapat menjadi strategi budaya untuk menangkal dan memfilter produk budaya asing yang tidak sesuai. Strategi tersebut berupa penanaman nilai-nilai estetik dan budaya melalui proses belajar mengajar di sekolah serta pelibatan masyarakat secara luas dan menyeluruh. Penanaman nilai-nilai estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan melakukan ekspresi, kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni oleh para siswa. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual agar mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan agar mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis. Pengalaman estetik dianggap penting karena manusia merupakan makhluk estetikus (Wahyu, 2009:3), yakni makhluk yang berkeindahan. Dalam upaya penanaman nilai-nilai estetik ditawarkan pendekatan kontekstual dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran matematika sekaligus untuk menopang struktur kurikulum dalam pembinaan nilai-nilai estetik dengan skenario pembelajaran yang memberdayakan konteks kehidupan nyata siswa (daily life). Dalam pembelajaran, guru memfasilitasi siswa untuk menghubungkan objek dalam kehidupan nyata yang bersumber pada budaya lokal ke dalam konsep matematika, melalui eksplorasidiskusi-inkuiri-eksperimen, agar siswa dapat mengkonstruksi (reconstruct) atau menemukan (reinvent) konsep-konsep matematika. Proses belajar seperti itu memungkinkan bagi siswa untuk belajar melalui “doing math, hands on activity” yang merangsang aktivitas dan kreativitas mereka. Bila para siswa dapat melihat hubungan antara konteks kehidupan sehari-hari yang bersumber pada budaya lokal masyarakat dan pengetahuan matematika yang dipelajari di sekolah, mereka bukan hanya mendapat pengetahuan matematika tetapi juga dapat mengapresiasi produk budaya dan kearifan lokal masyarakat. Selain itu, pembelajaran matematika yang menarik dan mencakup kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor ditujukan untuk menumbuhkan sikap, minat dan memotivasi para generasi muda untuk mewarisi budaya leluhur.
MASALAH

Pada bagian latar belakang telah dikemukakan bahwa praktek pembelajaran matematika kontekstual dipandang berpotensi mengembangkan potensi peserta didik dan sebagai wahana membina nilai estetik dengan memanfaatkan produk budaya lokal masyarakat setempat sebagai sumber belajar. Pembinaan nilai estetika berbasis produk budaya masyarakat belum terakomodasi sebagai standar kompetensi lulusan pada kurikulum yang berlaku di sekolah, sehingga hal ini merupakan masalah substansial yang perlu mendapat perhatian karena pendidikan estetika termuat dalam standar nasional pendidikan Suku-suku bangsa yang berdiam di Kalimantan Barat seperti suku-suku bangsa lainnya memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dengan filosofinya masing-masing. Berbagai produk budaya dan aktivitas-aktivitas masyarakat antara lain : produk berbagai jenis kerajinan anyaman, penggunaan berbagai jenis dan alat permainan anak; benda-benda (hidup atau mati sebagai peninggalan warisan, modern) yang digunakan oleh masyarakat adat; dan berbagai aktivitas sehari-hari masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, banyak memuat konsep-konsep matematika. Keanekaragaman produk kerajinan masyarakat mempunyai nilai budaya dan seni yang sangat tinggi serta merupakan aset bangsa yang harus dipertahankan dan perlu dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Aneka produk anyaman berbahan baku rotan, bambu, enceng gondok, kulit pohon, atau bemban telah dikerjakan secara turun-temurun. Hingga saat ini berbagai jenis produk masih diproduksi tanpa meninggalkan keunikan dan kekhasannya. Produk kerajinan anyaman Dayak dengan pewarna alami dan dihiasi beragam motif memiliki makna tersendiri dan mengandung pesan-pesan moral tertentu. Saat ini motif tersebut banyak Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 138

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) diterapkan pada produk hasil industri kreatif dan memiliki nilai tambah yang cukup berarti. Keindahan anyaman, tenunan, pemilihan motif merupakan keahlian yang tidak sembarangan, kemampuan ini diakui masyarakat sebagai prestasi yang patut diapreasiasi. Sayangnya, kepiawaian para pengrajin dalam menganyam atau menenun kini agak sulit ditemukan. Perlu ada upaya untuk mewariskan keterampilanketerampilan masyarakat yang mulai langka tersebut kepada para generasi muda. Keunikan fenomena masyarakat Dayak Kalimantan Barat tersebut menjadi pendorong untuk turut mengambil bagian mempersiapkan beranda depan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, khususnya pendidikan matematika yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Dalam kegiatan Lesson Study ini, salah satu produk budaya masyarakat berupa produk-produk anyaman yang mengandung konsepkonsep geometri dikembangkan menjadi sumber belajar matematika bagi siswa sekolah menengah pertama. Diharapkan penelitian ini dapat menghasilkan suatu produk model pembelajaran matematika yang sarat dengan nilai didik dan pesan moral.
TUJUAN KEGIATAN

Tujuan kegiatan ini adalah mengembangkan pembelajaran pembinaan nilai estetika pada pembelajaran matematika di SMP agar terjadi iklim belajar yang kondusif bagi berkembangnya potensi siswa dalam ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor, dan ranah sosial, secara proporsional. Produk dari kegiatan Lesson Study ini meliputi : 1) model pembelajaran pembinaan nilai estetika yang sesuai kondisi setempat, tersedia pada lingkungan budaya lokal dan potensi sumberdaya sekolah, 2) mengembangkan perangkat pembelajaran yang meliputi: (a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; (b) hand on activity (c) LKS (Lembar Kegiatan Siswa); dan (d) media pembelajaran matematika yang terintegrasi dengan pembinaan nilai estetik. Model pembinaan nilai estetik berbasis pada budaya masyarakat diharapkan dapat digunakan secara praktis dan efektif oleh anggota tim lainnya di kelasnya masing-masing, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan para siswa dalam memahami konsepkonsep matematika, sekaligus mengembangkan potensi afektif, psikomotor dan sosial siswa.
METODE

A. Tahapan Lesson Study Pada kegiatan lesson study yang dikembangkan untuk bidang studi matematika sekolah oleh Jurusan Pendidikan Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak mengacu pada langkah-langkah atau tahapan yang disarankan Lewis (2002) seperti berikut. Mula-mula dilakukan pembentukan kelompok lesson study bidang studi matematika dengan merekrut beberapa orang guru atau calon guru matematika. Kedua, penetapan fokus (research theme) lesson study. Ketiga, mmembuat rencana pembelajaran dengan kesepakatan untuk mengintegrasikan pembinaan nilai estetik sebagai bagian dari pendidikan karakter dalam pembelajaran matemátika. Keempat, pelaksanaan rencana pembelajaran di kelas yang dibarengi pengamatan (observasi). Kelima, berdiskusi dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan terakhir merefleksi pembelajaran dan merencanakan siklus berikutnya. 1. Setting Kegiatan Pada kegiatan Lesson Study untuk bidang studi matematika ini dilaksanakan dengan setting yang meliputi tempat, waktu, dan jumlah siklus yang dilakukan seperti berikut. a. Basis Tempat Pelaksanaan Kegiatan Pada kegiatan perluasan Lesson Study yang diemban oleh JPMIPA FKIP UNTAN tahun ketiga berfokus pada pelaksanaan Lesson Study di sekolah-sekolah. Guru-guru yang dilibatkan dalam kegiatan ini meliputi guru-guru bidang matematika, bidang studi IPA, bidang studi IPS, bidang studi Bahasa dari beberapa sekolah menengah pertama dan guru-guru bidang studi Fisika SMA yang aktif dalam berkegiatan MGMP di kota Pontianak. Sebagai basis untuk pelaksanaan Lesson Study empat bidang studi di sekolah menengah pertama adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Pontianak yang berlokasi di Jalan Selayar, Kota Baru Pontianak. Alasan pemilihan sekolah ini adalah berlokasi pada center di antara empat sekolah lainnya dan berprestasi sedang diantaranya. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 139

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) b. Waktu Pelaksanaan Kegiatan perluasan Lesson Study pada tahun ketiga ini berfokus pada pelaksanaan di sekolah-sekolah. Pelaksanaannya mulai dilakukan pada bulan Maret 2011 tahun pelajaran 2010/2011 semester genap sampai dengan bulan Desember 2011. Penentuan waktu open lesson mengacu pada kalender akademik sekolah. Hingga Oktober 2011 ini, khusus bidang studi matematika telah melakukan open lesson sebanyak empat kali. c. Subjek Kajian Sebagai Sumber Data 1). Dalam kegiatan lesson study ini, subjek-subyek yang terlibat adalah para siswa di sekolah-sekolah yang melaksanakan open lesson, seperti SMP Negeri 2, dan SMP Negeri 3 Kota Pontianak. Para siswa yang ikut dalam pembelajaran open lesson menjadi sumber data tentang berbagai aktivitas yang dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung. Para siswa ini menjadi sumber data utama dan pelaku terjadinya fenomena didaktik dalam pembelajaran matematika. 2). Kelompok subyek yang kedua adalah para guru yang bertindak sebagai guru model dalam melaksanakan rencana pembelajaran beserta para guru yang berperan sebagai observer. Kelompok subyek ini menjadi sumber data yang merekam fakta-fakta yang terjadi selama berlangsungnya pembelajaran. d. Siklus Lesson Study Sebagaimana dikemukakan pada bagian waktu pelaksanaan Lesson Study, siklus yang dilakukan pada kegiatan ini sebanyak empat kali. Dari keempat siklus tersebut, tiga diantaranya difokuskan untuk mengintegrasikan pembinaan nilai-nilai estetik pada pembelajaran matematika. Ketiga siklus tersebut, organisasi pelaksanaannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Siklus 1. Kegiatan Planning Do and See Planning Do and See Planning Do and See Topik Pelajaran Bangun datar, kelas 7 Kubus dan Balok, kelas 8 Benda Bangun Ruang, kelas 7 Model Rohana, S.Pd Pelaksanaan Jum’at, 1 April 2011 Sabtu, 2 April 2011 Jum’at, 8 April 2011 Senin, 11 April 2011 Jum’at, 20 Mei 2011 Senin, 21 Mei 2011

2.

Yan Sando, S.Pd

3.

Luna, M., S.Pd

2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik dan alat pengumpul data yang digunakan pada kegiatan lesson study ini antara lain: a. Teknik Langsung melalui Observasi Pembelajaran Pada kegiatan lesson study ini, teknik observasi merupakan alat pengumpul data utama. Observasi dilakukan untuk merekam fenomena didaktis atau fakta-fakta pembelajaran yang berlangsung di kelas. Observer yang terlibat pada open lesson ini adalah guru-guru bidang studi matematika dan beberapa orang siswa pendidikan matematika semester akhir. Sebelum memainkan peran sebagai observer, mereka mendapat penjelasan tentang fungsi, anjuran, dan larangan yang perlu diperhatikan selama periode pembelajaran berlangsung. Fokus pengamatan pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa sesuai dengan sintaks pembelajaran yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya (plan). Dalam perannya melaksanakan observasi, mereka dibekali dengan lembar observasi terbuka. Dengan lembaran ini para observer mempunyai kebebasan dan leluasa untuk membuat catatan berbagai aktivitas-aktivitas siswa. b. Teknik pengumpulan data secara tidak langsung dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data berupa sejumlah angket untuk para siswa maupun para guru (observer). Sejumlah angket tersebut adalah: 1). Lembar Monitoring Kegiatan Plan dalam Lesson Study 2). Lembar Monitoring Kegiatan See (Refleksi) Dalam Lesson Study 3) Lembar Monitoring Kegiatan Do (Pelaksanaan) Dalam Lesson Study 4) Kuesioner Kegiatan Pembelajaran bagi Siswa Dalam Lesson Study Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 140

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 5) Notulen diskusi antara guru model dan observer selama pelaksanaan lesson study baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap refleksi. 6) Dokumentasi hasil rekaman audio-visual dalam bentuk gambar bergerak maupun rekaman suara. 3. Teknik Analisis Data Dari teknik dan alat pengumpul data di atas diketahui bahwa data yang dikumpul kan untuk menjawab pertanyaan tulisan ini adalah data kualitatif. Dengan demikian, untuk menganalisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.
HASIL-HASIL YANG DICAPAI

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil pengalaman pelaksanaan pembelajaran matematika berbasis budaya dengan mengintegrasikan pembinaan nilai estetik berkaitan dengan metode, teknik pengelolaan kelas, dan aktivitas-aktivitas siswa seperti berikut. Pembelajaran matematika berbasis budaya merupakan program yang ditujukan untuk membantu guru menggunakan benda produk budaya dalam mengajarkan bidang ilmu matematika, di samping untuk membangkitkan kesadaran dan apresiasi terhadap nilai estetik dalam komunitas budaya. Pada kegiatan lesson study ini, guru berperan sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran. Dalam proses perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, guru dibantu oleh para teman sejawat untuk berkolaborasi merancang pembelajaran. Secara kelompok dan berkelanjutan, guru dan fasilitatornya mengembangkan rancangan dan juga melaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan beragam produk kerajinan anyaman. Dalam pelaksanaannya, guru model berserta teman-teman kolaboratornya bersepakat pada siklus pertama membelajarkan bangun-bangun geometri bidang datar menggunakan produk budaya masyarakat berupa anyaman topi bermotif, bakul atau ragak, dan tikar lampit bermotif sebagai media. Pada siklus berikutnya, mengangkat topik bangun ruang tentang kubus dan balok dengan menggunakan media berupa benda-benda hasil kebudayaan modern sebagai media, dan pada siklus ketiga membelajarkan terapan bangun ruang dari kubus – balok sampai kepada tabung limas, maupun kerucut pada berbagai model bangunan yang indah. Unit ini menghubungkan pelajaran geometri dengan produk budaya masyarakat. Siswa mengeksplorasi bentuk dan konsep-konsep geometri dengan menggunakan media bantu belajar hasil-hasil kerajinan tersebut beserta media lain seperti papan atau kertas geometri berpetak. Siswa bebas mengamati media pembelajaran yang tersedia untuk menemukan motif, atau tipe yang terkandung pada anyaman yang diamatinya. Mereka bebas mengeksplorasi bangun-bangun geometri yang terkandung pada motif-motif kerajinan anyaman dan merepresentasikannya pada papan berpetak dan membuat rancangan motif sebagai karya-karya desain mereka sesuai dengan keinginan, pengetahuan dan kreativitasnya sendiri. Metode pembelajaran yang digunakan bervariasi dari tanya jawab, ceramah singkat untuk memotivasi siswa, penugasan kepada siswa mengeksplorasi bangun-bangun geometri, dan diskusi. Teknik berkarya untuk memberikan pengalaman estetik kepada siswa memakai teknik kering dengan menggunakan bahwa pewarna berupa krayon pastel. Secara umum, guru-guru model menggunakan model belajar kooperatif dengan setting kelompok yang terdiri dari lima sampai enam siswa pada setiap kelompok. Namun demikian, guru juga mengelola kelas secara individu maupun klasikal yang dilakukan secara integratifvariatif antar segmen pembelajaran. Barkaitan dengan proses pembelajaran dapat dikemukakan hal-hal tentang memulai pelajaran, melaksanakan kegiatan inti pembelajaran, dan melakukan konfirmasi atas kesesuaian pemahaman siswa atas materi yang dipelajari dengan konsep-konsep matematika dalam uraian berikut. 1. Melakukan perencanaan pembelajaran Para guru beserta anggota tim lesson study yang berkolaborator sebelum melaksanakan pembelajaran mempersiapkan material pembelajaran dalam forum planning program, meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mengacu pada kurikulum KTSP untuk semester genap tahun pelajaran 2011, media pembelajaran, instrumen observasi, dan instrumen pembelajaran lainnya. Hal ini sesuai dengan saran yang Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 141

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dikemukakan oleh Hulburt, bahwa langkah-langkah yang ditawarkan dalam menumbuhkan kreativitas melalui pengalaman estetik salah satunya adalah set the goal, yaitu merancang tujuan yang akan dicapai sebagai langkah penentuan materi dan media yang diinginkan. Dalam tahap plan siklus I sampai III dari rangkaian rencana tiga siklus ini bertemakan ”Penciptaan Suasana Belajar Matematika yang Menyenangkan Dengan Materi Geometri yang Bermuatan Nilai Didik dan Estetik”. Anggota tim lesson study duduk bersama pendamping mendiskusikan dan merevisi draft material pembelajaran beserta komponen-komponen pendukungnya. Pada siklus I, anggota tim bersepakatan untuk menunjuk Rohana, S.Pd berperan sebagai guru model. Di akhir kegiatan perencanaan guru model mensimulasikan pembelajaran untuk memprediksi kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi di dalam kelas sesungguhnya. 2. Menetapkan materi pembelajaran matematika Materi pembelajaran matematika yang lebih dekat dan sesuai untuk pembinaan nilai estetik serta menumbuhkan kreativitas dalam pribadi anak adalah topik-topik geometri, karena geometri merupakan materi matematika banyak diterapkan orang dalam mengkerasi karya-kaya yang sarat dengan unsur estetik. Penciptaan karya siswa dengan menggunakan lembar kerja siswa dalam dimensi dua cukup mudah dikuasai dan dikerjakan oleh anak usia sekolah menengah pertama untuk menyatakan objek dengan karakter yang diinginkannya dapat dicapai dengan nuansa-nuansa warna yang diinginkannya. 3. Pengelolaan kelas, mengembangkan diskusi menggiatkan partisipasi siswa Penerapan phase diskusi pada model pembelajaran kooperatif sebagaimana dirancang dalam kegiatan plan dimaksudkan untuk mengaktifkan dan menggiatkan partisipasi siswa dalam belajar. Penggunaan ruang laboratorium IPA dengan perabot (meja kursi) yang berukuran lebih besar dari ukuran meja ruang kelas pada saat do yang pertama, membuat pelaksanaan diskusi tidak berjalan seperti direncanakan. Ukuran panjang meja yang tersedia di ruang laboratorium ini berdampak pada posisi duduk siswa dalam kelompok. Seyogyanya posisi duduk para siswa yang berdiskusi saling berhadapan atau membentuk lingkaran yang memudahkan interaksi antar siswa, namun pada pembelajaran ini posisi duduk kelompok diskusi adalah memanjang sesuai dengan ukuran meja yang ada. Setiap kelompok terdiri dari lima sampai enam siswa dengan posisi duduk berdampingan satu sama lain. Sudah barang tentu, posisi duduk memanjang ini menjadi kendala bagi anggota kelompok diskusi dan interaksi menjadi kurang lancar. Ada dua kelompok, dari enam kelompok, yang anggotanya tidak leluasa berpartisipasi dalam diskusi. Pada siklus berikutnya, kendala ini telah dapat diatasi dengan menggunakan ruang media yang mempunyai perabot standar kelas. 4. Membangkitkan motivasi siswa di awal pembelajaran Ketika memulai pelajaran, setelah mempersiapkan siswa-siswa agar menaruh perhatian pada kegiatan pembelajaran, motivasi siswa dibangkitkan dengan memberikan penjelasan manfaat dan contoh terapan matematika dalam aktivitas kehidupan masyarakat, khususnya dalam mengintegrasikan motif-motif geometris pada produk-produk anyaman. Untuk merangsang keinginan tahu siswa, media anyaman digunakan untuk melakukan pengamatan langsung bagi siswa terhadap objek nyata, atau model-model motif. Kegiatan eksploratif yang dilakukan siswa sangat berpotensi untuk meningkatkan pengetahuan siswa maupun guru. Dengan melakukan kegiatan seperti itu, siswa terkondisi untuk terlibat dalam proses berpikir tingkat tinggi yang tidak mustahil dapat memunculkan gagasan inovatif yang orisinil atau pertanyaan yang mendorong terjadinya konflik kognitif lebih lanjut yang seringkali memerlukan jawaban ilmiah tidak sederhana. 5. Pengembangan kreativitas, mengungkapkan ekspresi estetik, dan mengasah berbagai ranah Hasil karya siswa yang berwarna-warni sesuai dengan keinginan siswa merupakan salah satu indikator yang menunjukkan adanya tingkat kreativitas yang didasari dengan pengungkapan ekspresi yang murni belum terpengaruh oleh teori-teori yang mempengaruhi karyanya. Hasil karya kelompok siswa pada penugasan siklus berikutnya berhasil memberikan tantangan yang memerlukan kerja keras untuk pengembangan kreativitas. Pada siklus dua, secara kelompok ditugaskan untuk membuat kubus dan balok lengkap dengan jaring-jaringnya dalam tampilan yang menarik. Adapun penugasan pada suruhan siklus Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 142

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) ketiga, kelompok siswa ditugaskan membuat maket dari suatu bangunan yang menerapkan bangun-bangun geometris, seperti balok, kubus, tabung, kerucut, atau limas. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa menggunakan bahan-bahan bekas yang terdapat di sekitar tempat tinggal masing-masing. Secara kognitif, para siswa diminta untuk menentukan ukuran-ukuran bangun-bangun yang diciptakan, dan ukuran bahan baku yang digunakan. Dalam ranah afektif, para siswa mereka mengembangkan rasa kebersamaan dalam bekerja kelompok, menghargai pemikiran orang lain, memanfaatkan barang-barang bekas pakai dan perhatian terhadap kebersihan lingkungan, menumbuhkembangkan kedisiplinan dalam bekerja, mengajarkan sikap ekonomi kreatif (wirausaha), dan tentu mereka berusaha menghasilkan karya yang paling baik dan indah (estetik). Tugas-tugas tersebut dikerjakan di luar jam belajar, tetapi sebagian besar pekerjaan dikerjakan di sekolah pada sore hari. Pada ranah psikomotor dikembangkan pada keterampilan siswa dalam pendesainan, penggunaan berbagai alat, kecermatan dalam melakukan hitungan, kerapihan, penyusunan bangun, dan pekerjaan finishing yang melibatkan unsur seni. 6. Fakta belajar yang ditemukan ketika siswa bereksplorasi Fenomena yang teramati pada pelaksanaan pembelajaran topik geometri ini siswa memperlihatkan berbagai gaya meskipun di kelas terdapat banyak orang asing yang melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar mereka. Bahkan beberapa orang melakukan pengamatan dengan mendekati para siswa secara dekat. Pada awal pembelajaran, para siswa nampak terheran-heran dengan kehadiran banyak orang di kelasnya. Namun, setelah beberapa saat mereka mulai dapat mengabaikan kehadiran para pengamat. Perhatian para siswa mulai mengarah kepada pelajaran ketika guru memanfaatkan berbagai media sebagai sarana berkomunikasi dengan siswa. Para siswapun terlibat secara aktif selama periode pembelajaran, meskipun ada beberapa siswa yang perlu mendapat perhatian dari guru pada kesempatan pembelajaran berikutnya. Mereka tidak memperlihatkan rasa takut salah untuk menjawab pertanyaan guru, atau mengajukan pertanyaan, mengikuti pembelajaran dalam situasi tenang memperhatikan penjelasan – keterangan guru, tidak tegang, tidak ramai, mendapat kebebasan mengerjakan suruhan guru, sebagian besar aktif berkegiatan dan tetap menjunjung dan mendukung proses pembelajaran. Pembahasan karya dilakukan oleh guru dan siswa, serta memberi penghargaan bagi yang berhasil mendapat penilaian terbaik. 7. Menumbuhkan toleransi, menenggang gagasan orang lain Salah satu tugas menantang yang diberikan kepada siswa pada siklus ketiga adalah membuat maket yang menarik dan indah dari bahan-bahan bekas untuk mengetahui penguasaan siswa pada materi bangun ruang, sekaligus mengasah potensi-potensi non-kognitifnya. Di antara kelompok-kelompok yang dibentuk oleh guru model, terdapat dua hasil bentukan kelompok heterogen berdasarkan kemampuan sehari-hari, gender, ras dan agama. Salah satu kelompok terdiri dari empat siswa yang diketuai seorang anak keturunan Chines yang non-muslim, satu orang anggota keturunan Batak yang non-muslim juga, sedang dua orang lainnya keturunan Melayu dan muslim. Keunikan dari kelompok ini adalah mereka membuat karya maket berupa bangunan masjid. Dari hasil penelusuran terhadap kelompok ini diperoleh keterangan bahwa bangunan paling indah yang mereka temukan di sekitar sekolah atau di sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah adalah bangunan salah satu masjid yang sering dilewati oleh anggota kelompok. Menurut penilaian kelompok, setelah membandingkan beberapa objek bangunan yang diamati, mereka mengambil keputusan untuk membuat maket dari masjid. Keunikan yang ditemukan pada kelompok lainnya, kebetulan kelompok kedua ini diketuai oleh siswa yang menjabat sebagai ketua Osis di sekolah dan beragama Islam. Dari empat anggota kelompok, salah satu diantaranya non-muslim, dan sisanya muslim. Setelah melalui proses yang hampir sama dengan kelompok sebelumnya, mereka mengambil keputusan untuk membuat maket dari bangunan gereja. Alasan yang dikemukakan oleh kelompok ini adalah gereja yang berlokasi di depan sekolah mereka merupakan bangunan yang masuk dalam kategori indah, memuat bentuk-bentuk bangun geometri yang cukup lengkap seperti yang ditugaskan guru dan dapat dilihat setiap saat bila mereka mengalami kesulitan menuangkannya ke bentuk maket. Anggota yang lain dapat menerima keputusan tersebut, meskipun karya mereka tidak sesuai dengan bangunan rumah ibadah dari sebagian besar anggota kelompok. Pelajaran yang dapat dipetik dari aktivitas kedua kelompok tersebut antara lain: dalam pengambilan keputusan mereka menggunakan proses yang cukup ilmiah dengan dukungan data yang relevan, mengajukan gagasan kepada Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 143

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) anggota kelompok lain dengan mendahulukan musyawarah yang disertai dengan mengemukakan argumentasi untuk mendukung gagasannya, ketimbang memaksakan gagasan kepada orang lain. Dalam diri siswa sekolah menengah pertama masih murni, tulus, berpikir lurus, tidak terpengaruh oleh kepentingan kelompok tetapi bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya.
KESIMPULAN DAN SARAN

1. a. b.

c.

d.

e.

f.

Kesimpulan Dari hasil analisis dikemukakan simpulan seperti berikut. Perencanaan pembelajaran yang dipersiapkan secara kolaboratif dengan orang lain yang sebidang atau serumpun berhasil membelajarkan siswa secara lebih aktif. Di awal pembelajaran ada keheranan para siswa ketika di kelasnya hadir banyak orang asing, namun mereka tidak menampakkan rasa gugup, rasa takut menjawab pertanyaan guru model atau mengajukan pertanyaan. Penggunaan media pembelajaran berbasis unsur lokal atau yang diperoleh dari lingkungan setempat, yang dipadukan dengan penggunaan metode belajar yang variatif sesuai dengan karakter media dan situasi mampu membangkitkan motivasi dan mengembangkan kreativitas siswa dalam berkarya. Media pembelajaran berbasis unsur lokal (etnomedia) selain dapat digunakan untuk tujuan membelajarkan ranah kognitif, juga dapat diintegrasikan untuk mengasah potensi-potensi afektual, psikomotor maupun sosial siswa. Pembelajaran matematika, khususnya pada topik-topik geometri sangat relevan untuk memberikan pengalaman estetik dan membina nilai-nilai estetik yang merupakan kebutuhan primer manusia yang merupakan makhluk estetikus. Kreativitas guru dalam membelajarkan geometri untuk memberdayakan unsur budaya lokal juga dapat dikembangkan menjadi wahana pendidikan karakter, antara lain menumbuhkan kemampuan ekonomi praktis, kebersamaan dan disiplin dalam penyelesaian pekerjaan, keterampilan komunikasi, tenggang rasa, mengahargai orang lain.

2. a.

Saran Guru perlu meningkatkan perhatiannya kepada para siswa agar semua siswa mendapat hak mereka atas layan belajar di kelas. Setiap siswa dapat menuntaskan belajarnya, dan mampu mengembangkan potensi-potensi dirinya sehingga mampu mencapai rumusan kompetensi pembelajaran. b. Pengalaman dari pembelajaran ini perlu diadaptasi pada kelas-kelas lain tanpa pengamatan dari orang lain untuk melihat aktivitas-aktivitas siswa selama pembelajaran. c. Perlu diupayakan tambahan media yang sejenis agar masing-masing siswa mendapat kesempatan yang sama untuk melakukan pengamatan atau eksplorasi dan waktu curah siswa pada topik pembelajaran lebih kontinyu. d. Perlu kerjasama berbagai bidang studi, misalnya Muatan Lokal, IPS-Ekonomi, atau Kegiatan Ekstrakurikuler, dan lainnya untuk mengembangkan potensi-potensi siswa.
DAFTAR PUSTAKA Cockcroft, W.H (1986). Mathematics Counts. London: HMSO Johnson, E. (2002). Contextual Teaching and Learning. Corwin Press. Marten, T. (2009). Pengembangan Kemampuan Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Kontekstual Dengan Pendekatan REACT. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung : PPs UPI. NRC (1989). Everybody Counts. A Report to the Nation on the Future of Mathematics Education. Washington DC: National Academy Press.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 144

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Nanang. (2009). Studi Perbandingan Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan Masalah Matematik Pada Kelompok Siswa yang Pembelajarannya Menggunakan Pendekatan Kontekstual dan Metacognitif Serta Konvensional. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung : PPs UPI. Wardani, S. (2009). Pembelajaran Inkuiri Model Silver Untuk Mengembangkan Kreativitas dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung : PPs UPI. Wahyu, A.,R. (2009). Nilai-nilai Psikologis Dalam Cerita Laksamana Raja Lautan. Laporan Penelitian tidak diterbitkan. Medan : F. Sastra, USU.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 145

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENDAMPINGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMPN 4 SURABAYA MELALUI LESSON STUDY

Manuharawati 1) dan Hainur Rasyid Achmadi 2)
1) Jurusan Matematika FMIPA Unesa Surabaya-e-mail: manuhara1@yahoo.co.id *) 2) Jurusan Fisika FMIPA Unesa Surabaya-e-mail:hhainur@yahoo.com **)

Abstrak. Salah satu program dalam Hibah Pendalaman dan Perluasan Lesson study tahun 20092011 di FMIPA Unesa adalah pendampingan pembelajaran MIPA di SMP. Untuk program ini, FMIPA Unesa memilih SMPN 4 Surabaya dengan alas an antara lain: (a) SMPN 4 Surabaya belum pernah melakukan kegiatan Lesson Study, (b) letak sekolah tidak terlalu jauh dari FMIPA Unesa, sehingga pendampingan yang dilakukan oleh beberapa Dosen yang tergabung dalam Tim Lesson Study FMIPA Unesa Surabaya dapat dilakukan tanpa mengganggu kegiatan perkuliahan. Berdasarkan hasil diskusi dengan guru-guru SMPN 4, khususnya Guru-guru pelajaran Matematika, mereka sering melakukan pembelajaraa dengan metode ceramah, hanya mentransfer konsep Matematika kepada siswa tanpa memperhatikan aktivitas yang dilakukan siswa pada saat pembelajaran, yang penting materi yang telah dittargetkan dalam kurikulum selesai. Salah satu akibat dari pembelajaran ini adalah: jika pada akhir pembelajaran suatu topik tertentu ada siswa tidak dapat memenuhi ketuntasan yang telah ditargetkan oleh sekolah, khususnya yang telah menjadi tujuan pembelajaran yang direncanakan oleh Guru, guru masih mengalami kesulitan dalam mencari penyebab kegagalan tersebut, yang ujung-ujungnya, Guru masih kesulitan memilih strategi yang sesuai dalam perbaikan pembelajaran yang dilakukannya. Melalui Lesson Study yang mempunyai tahapan plan – do – see masalah yang dialami guru SMPN 4 Surabya dapat diminimalkan. Makalah ini memaparkan hasil pendampingan Lesson Study di SMPN 4 Surabaya tahun 2011. Data pemaparan diambil dari hasil diskusi saat plan, observasi pada saat do, pendapat siswa melalui angket siswa, diskusi dengan guru model dan pengamat pada saat see, serta angket guru setelah pendampingan berakhir. Katakunci: lesson study

Hasil diskusi guru-guru dari beberapa SMPN di Surabaya dengan Dosen FMIPA UNESA pada pelatihan Lesson Study Tahun 2007 dan juga hasil diskusi Tim Lesson Study FMIPA dengan guru-guru SMPN 4 pada awal tahun 2011, mencatat bahwa kemampuan siswa yang kurang dalam memahami konsep-konsep penting atau menerapkan konsep Matematika selama ini tidak terlepas dari peran guru dalam proses pembelajarannya. Selama ini guru masih kurang memperhatikan minds on activity siswa. Selain itu disadari bahwa guru lebih memfokuskan diri pada penuangan konsep-konsep jadi kepada siswanya. Metode yang digunakan oleh guru selama ini dalam melaksanakan pembelajaran adalah metode ceramah, dengan pelaksanaan pembelajaran berpusat pada guru, sehingga interaksi yang terlihat hanya satu arah dan guru sangat mendominasi pembelajaran, tanpa memperhatikan aktivitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini membawa dampak siswa sukar untuk berpikir logis dan komprehensif, Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 146

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) yang berarti siswa tidak terbiasa berpikir dengan menggabungkan pengetahuan yang mereka miliki untuk memecahkan masalah. Pengajaran di atas menurut Nur (2002) masih terbatas pada produk, konsep dan teori. Disebutkan pula bahwa pembelajaran yang ideal menghendaki siswa menggunakan semua potensinya terutama proses mentalnya untuk menentukan konsep atau prinsip ilmiah. Menurut teori konstruktivis, guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswanya. Agar pengetahuan yang diberikan kepada siswa dapat bermakna, maka siswa sendirilah yang harus memproses informasi yang diterimanya, mengkonstrukturnya kembali dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian pengetahuan tersebut menjadi bagian integral dari struktur kognitifnya, bermakna dan bermanfaat dan dapat digunakan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik lagi terhadap lingkungannya (Slavin, 1997). Melalui Lesson Study yang mempunyai tahapan plan – do – see masalah yang dialami guru pada umumnya dan khususnya guru-guru Matematika SMPN 4 Surabya dapat diminimalkan. Paparan hasil kegiatan pendampingan Lesson Study di SMPN 4 Surabaya ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada Dosen maupun Guru dalam meningkatkan kulitas pembelajarannya, yang dimungkinkan meningkatkan kualitas hasil belajar anak didiknya. Alasan mengapa Lesson study menjadi pilihan dalam memecahkan permasalahan yang dialami oleh Dosen ataupun Guru dalam pembelajaran dapat dilihat dari langkah-langkah kegiatan Lesson Study. Cuplikan tentang filisopi Lesson Study yang diambil dari beberapa pendapat ahli diuraikan sebagai berikut.

Apa Lesson Study dan Bagaimana Melaksanakannya Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar yang mempunyai 3 tahap dalam pelaksanaannya, yaitu plan, do, dan (Sumar: 2006, 2007) . Jadi Lesson Study bukanlah suatu metode atau strategi pembelajaran, namun kegiatan pada Lesson Study dapat menggunakan/menerapkan berbagai macam strategi/metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi. Ada tiga tahapan yang harus dilakukan dalam kegiatan Lesson Study, yaitu: merencanakan (plan), melaksanakan (do), dan merefleksi (see). Ketiga tahapan ini dilaksanakan secara berkelanjutan (berkesinambungan). Tahap perencanaan (plan) bertujuan untuk merancang rencana pembelajaran (lesson plan) yang dapat mendorong siswa belajar dalam suasana menyenangkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai secara efektif melalui aktivitas belajar secara aktif dan kreatif. Perencanaan yang baik tidak dilakukan sendirian tetapi dilakukan bersama oleh para guru. Beberapa orang guru dapat berkolaborasi untuk memperkaya ide-ide. Perencanaan diawali dari analisis permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Permasalahan dapat berupa materi bidang studi atau bagaimana menjelaskan suatu konsep. Permasalahan dapat juga menyangkut aspek pedagogi tentang metoda pembelajaran yang tepat agar pembelajaran lebih efektif dan efisien atau permasalahan fasilitas belajar yakni, bagaimana menyiasati kekurangan fasilitas pembelajaran. Tahap kedua dalam Lesson Study adalah pelaksanaan pembelajaran (do) untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan bersama. Langkah ini bertujuan untuk mengujicoba efektivitas model pembelajaran yang telah dirancang. Para pendidik lain bertindak sebagai pengamat (observer) pembelajaran. Kepala sekolah terlibat dalam pengamatan pembelajaran dan memandu kegiatan ini. Fokus pengamatan ditujukan pada interaksi para peserta didik dengan bahan atau materi pelajaran, dengan guru, dengan peserta didik yang lain, dan juga lingkungannya. Semua aspek yang diamati tersebut diorientasikan untuk melihat apakah semua siswa benar-benar telah belajar dan dapat mencapai tujuan pembelajaran secara obyektif. Para pengamat dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau foto untuk keperluan dokumentasi sebagai bahan/data refleksi maupun sebagai bahan studi lebih lanjut. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 147

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tahap ketiga dalam kegiatan Lesson Study adalah refleksi (see). Setelah selesai pembelajaran, langsung dilakukan diskusi antara guru dan pengamat yang dipandu oleh kepala sekolah atau seseorang yang ditunjuk untuk membahas pembelajaran. Dalam diskusi guru model mengawali kegiatan diskusi dengan menyampaikan refleksi terhadap pelaksanaan dan capaian pembelajaran, ataupun menambahkan kesan-kesan dalam melaksanakan pembelajaran tersebut. Selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar dan lesson learned dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas belajar peserta didik dan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Tentunya, kritik dan saran untuk pendidik disampaikan secara bijak demi perbaikan pembelajaran. Sebaliknya, pendidik harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya. Dari kegiatan Lesson Study ini diharapkan semua peserta, guru model dan pengamat, dapat memperoleh pengalaman berharga yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualiatas pembelajarannya. Jika kegiatan ini dilakukan secara terus-menerus (kontinu) secara berkala, maka para guru, atau pendidik pada umumnya, akan dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pemebelajarannya. Ini artinya layanan pendidikan kepada para siswa akan meningkat, dan ini artinya profesionalisme para pendidik akan meningkat secara bertahap dan terus-menerus. Ini berarti sebuah proses “Continuing Professional Development“ akan terlangsung. (Ibrohim: 2010) Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika adalah suatu upaya membantu Siswa untuk mengkonstruksi (membangun) konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip tersebut terbangun kembali. Jadi dalam pembelajaran matematika, peranan guru bukan sebagai pemberi jawaban akhir atas pertanyaan siswa, melainkan bertindak sebagai motivator, organisator, dan moderator dalam membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika. Pendekatan pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan dapat beradaptasi dengan siswa (Tim MKPBM; 2001: 20). Soedjadi (2001:102), membedakan pendekatan pembelajaran tersebut menjadi dua, yaitu: (a) pendekatan materi: proses menjelaskan topik matematika tertentu dengan menggunakan materi lain; (b) pendekatan pembelajaran: proses penyampaian atau penyajian topik matematika tertentu agar mempermudah siswa memahami. Jadi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seorang guru harus dapat memilih pendekatan yang sesuai dalam mengolah kelasnya. Dalam makalah ini yang dimaksut kualitas pembelajaran meliputi: penyiapan materi ajar, penyiapan RPP, penyiapan perangkat pembelajaran, mengevaluasi proses pembelajaran. Selanjutnya juga dilihat bagaimana guru sering berdiskusi untuk mencari solusi dari masalah yang ada dalam pembelajaran
HASIL PENGAMATAN

Pendandampingan pelaksanaan Lesson Study di SMPN 4 Surabaya dilakukan pada Semester Genap 2010-201, yang dimulai dengan sosialisasi tentang apa, mengapa harus Lesson Study, dan bagaimana pelaksanaannya yang dilakukan di FMIPA Unesa (14 Januari 2011) dengan nara sumber Dr. Ibrahim, dari UM dan beberapa Dosen MIPA yang merupakan Tim Lesson Study FMIPA Unesa, sedangkan implementasinya dilakukan di SMPN 4 Surabaya. Adapun hasil pendampingan yang diperoleh dipaparkan sebagai berikut. F1. Plan Telah dilakukan workshop perangkat pembelajaran pada 26 Pebruari 2011 dan tanggal 7 Maret 2011, yang diikuti oleh Kepala Sekolah, guru IPA dan Matematika SMPN 4 Surabaya yang berjumlah 11 orang serta 3 dosen dari MIPA sebagai pendamping. Workshop diawali dengan diskusi kesulita-kesulitan yang dialami siswa, konsep-konsep matematika yang dialami oleh guru dan straegi yang digunakan agar pembelajaran yang dilakukan nanti adalah pembelajaran yang efektif dan effisien serta berpusat pada siswa. Berdasarkan hasil diskusi, materi yang dipilih untuk implementasi adalah geometri, yang meliputi: unsurunsur kubus dan balok, jaring-jaring balok dan kubus, dan luas permukaan balok dan kubus, kelas yang Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 148

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dipilih adalah kelas VIIE dan VIIG. Workshop diakhiri dengan ujicoba perangkat yang dilakukan dengan mendemokan perangkat yang dihasilkan yang dilakukan oleh calon guru model di depan Kepala Sekolah, guru lain dan tim pendamping dari MIPA, yang dilanjutkan refisi perangkat berdasarkan masukanmasukan yang diperoleh. Beberapa masukan yang diperoleh dari kegiatan plan ini adalah sebagai berikut: Kepala Sekolah: (i) Ternyata pada penyusunan perangkat, yang dimulai dari diskusi kesulitan-kesulitan yang dialami siswa maupun guru sangat menarik dan benar-benar bermanfaat, guru-guru kami bertambah wawasannya dalam memilih strategi dan metode, bahkan sampai alat peraga dan media. (ii) Dalam menyusun perangkat pembelajaran untuk mengajar 2 jam pelajaran saja ternyata memerlukan waktu yang lama. Tidak seperti yang saya bayangkan selama ini. (iii) Dalam kegiatan ini, sesuatu yang baru dan merupakan pangalaman yang sangat berharga bagi saya adalah: sebelum menyalhkan seseorang, ternyata saya harus mempunyai alternatif solosinya terlebih dahulu, tidak melulu menyalahkan. Ibu Endah Hidayati (guru Matematika): (i) Saya senang kegiatan ini, sekarang saya bisa memberi masukan kepada teman dan saya bisa mencari kesalahan apa dan bagaimana yang belum sesuai dalam perangkat pembelajaran yang telah saya buat sebelum mengikuti kegiatan ini. (ii) Waktu ngajar kita tidak sama dan waktu ngajar saya maupun teman yang lain terlalu padat sehingga kita mungkin kesulitan mencari waktu yang teman-teman bisa bersama-sama diskusi seperti ini. Ibu Endang Hartini (guru Matematika): (i) Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya, khususnya pada pembuatan perangkat pembelajaran maupun pandalaman materi; materi yang semula saya masih bingung atau masih ragu bagaimana cara menjelaskannya ke siswa, saya menjadi percaya diri. (ii) Waktu ngajar kita tidak sama dan waktu ngajar saya maupun teman yang lain terlalu padat sehingga kita mungkin kesulitan mencari waktu yang teman-teman bisa bersama-sama diskusi seperti ini. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum (Rr.Suhartini) (i) Meskipun waktu kita padat, jika kita atur di awal-awal semester kita pasti bisa, yang penting kometmen kita. F2. Do-See Pelaksanaan do dalam kegiatan pendampingan ini dilakukan 4 kali, 2 kali di kelas VIIE (36 siswa) dan 2 kali di VIIG (37 siswa) dan dilaksanakan pada hari Selasa dan Jumat tanggal 8 Maret, 11 Maret, 18 Maret, dan 25 Maret dengan guru model berganti-ganti setiap pelaksanaan. Guru model pada kegiatan ini adalah: Endang Hartini, Endah Hidayat, Suprihatin, dan Lilis Sundariyati. . Sebelum pelaksanaan proses pembelajaran, seluruh tim fasilitator melakukan pertemuan singkat di ruang pertemuan (perpustakaan) SMP Negeri 4 Surabaya, dengan peserta implementasi dan kepala Sekolah untuk menjelaskan secara umum kegiatan implentasi perangkat pembelajaran yang telah disusun pada tahap plan. Selanjutnya, kegiatan see dilaksanakan langsung setelah pelaksanaan do selesai, kecuali untuk hari Jum’at dilaksanakan mulai pk 13.00. Hasil yang diperoleh dari kegiatan do-see secara ringkas adalah sebagai berikut. Ringkasan Angket siswa adalah sebagai berikut 1. Apakah pembelajaran hari ini menarik? Beri Penjelasan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 149

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Jawaban siswa Rata-rata Banyaknya jawaban 87% Alasan Karena bisa bertukar pikiran dengan teman sekelompok Karena dilihat guru-guru lain, jadi tambah semangat Bangga bisa maju ke depan kelas dan dilihat guru lain Karena Bu Guru ngajarnya bersemangat Meskipun pada waktu ke depan salah, Bu Guru tidak marah Tidak mengantuk, karena direkam. Karena tidak ada bedanya dengan pelajaran sehari-hari

Sangat Menarik

Biasa-biasa saja Tidak menarik

10,5% 3,5%

- Ada guru lain di kelas - Tidak bisa bebas karena ada guru-guru lain

2. Apa yang Anda dapatkan dari pembelajaran hari ini? a. Pengalaman berdiskusi dengan teman b. Maju ke depan dan dilihat guru lain. c. Gemetar pada saat ke depan kelas, takut salah dilihat guru lain c. Lebih semangat, karena cara Bu Guru ngajar lain d. Tambah percaya diri, karena sering ditanya dan menjelaskan ke teman-teman 3. Apa yang sebaiknya ditingkatkan pada pembelajaran hari ini? a. Lebih sering lagi disuruh maju ke depan untuk latihan b. Pemberian contoh-contoh soal dan latihan diperbanyak c. Menggunakan LCD 4. Komentar/ Masukan lain a. Yang masuk ke kelas jangan banyak-banyak, terasa panas b. Lebih senang pelajaran hari ini, karena banyak yang melihat, membuat saya lebih semangat belajar c. Pertama ada guru lain yang ikut di dalam kelas saya grogi, tetapi sekarang tidak. d. Saya lebih senang jika waktu pelajaran lain juga diamati oleh guru lain.. Hasil refleksi sebagai berikut: Kepala Sekolah (Sofia Nurbaya): (i) Saya sangat senang ikut terlibat pada pembelajaran, melihat langsung bagaimana usaha yang dilakukan guru agar siswanya mengerti materi yang diajarkan. (ii) Tidak sia-sia dengan perencanaan yang disusun sebelumnya, yang memerlukan waktu lebih disbanding biasanya. (iii) Jika kegiatan ini dilakukan ke semua pelajaran, mungkin hasilnya sangat memuaskan, tetapi karena kesibukan dan tugas saya yng banyak, mungkin saya tidak selalu bisa mengikuti. (iv) Kegiatan (acara) ini dapat saya gunakan sebagai penilaian terhadap kompetensi guru dan sebagai ajang pembinaan. Guru Model: (i) Keempat guru model selalu mengatakan merasa grogi pada awal pembelajaran, meskipun hal ini dapat diatasi setelah pembelajaran berlangsung 5 - 10 menit. (ii) Bu Endang (guru model): Karena ini pengalaman pertama mungkin saya agak grogi, tetapi jika ini diulang, mungkin saya sudah menjadi biasa. (iii) Bu Endah (guru model): saya merasa senang ada teman yang mengamati, sehingga masukanmasukannya dapat membantu saya dalam pembelajaran berikutnya menjadi lebih mantap.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 150

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) (iv) Komentar Bu Suprihatin dan Bu Lilis sebagai guru model, tidak jauh berbeda dari pengalaman yang dialami guru model sebelumnya. Pengamat lain (i) Managemen waktu belum baik, sehingga dapat merugikan pelajaran berikutnya jika selesainya tidak waktu istirahat. Mungkin lebih baik jika guru membawa jam meja dan sering-sering melihatnya atau memperhatikan jam dinding di kelas. (ii) Pembelajaran dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dibuat, karena adanya breafing pada saat akan masuk kelas (iii) Adanya interaksi antar kelompok siswa yang kurang dikarenakan LKS yang dibagikan ke setiapa anak. Alternatif penyelesaiannnya: mungkin lebih baik jika LKS tidak dibagi ke setiap siswa, sehingga ada diskusi antar siswa, tidak bekerja mandiri. (iv) Pada do-see ke tiga dan ke empat komentar seperti no (i) – (iii) tidak ada dan diskusi hanya berkisar bagaimana perbaikan pembelajaran yang akan dilakukan berikutnya yang berfokus pada bagaimana konsep yang benar, bagaimana bentuk LKS dan penilaiannya, bagaimana strategi yang digunakan agar pembelajaran direncanakan behasil sesuai harapan. F3. Hasil Akhir Pendampingan Tanggapan guru (11 guru) terhadap angket yang diberikan setelah pendampingan selesai adalah sebagai berikut 1. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan kegiatan Lesson Study sebelum kegiatan pendampingan ini? Jika pernah kapan dan dimana? 100% menjawab belum pernah 2. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelaksanaan Lesson Study yang telah Bapak/Ibu lakukan? (i) Sangat menyenangkan (ii) Menambah wawasan (iii) Menjadi terampil memberi masukan ke teman dalam hal pembelajaran (iv) Berdiskusi yang menyenangkan (v) Waktu di sekolah semakin padat (vi) Bersedia didampingi lagi jika ada kegiatan seperti ini 3. Apa kekurangan dan apa kelebihan kegiatan Lesson Study yang telah Bapak/Ibu lakukan? (i) Kekurangan: Waktunya tidak mulai awal semester, jadi sulit mencari waktu untuk kegiatan ini (ii) Kelebihan: wawasan bertambah, saling memperbaiki kekurangan, bertambah teman 4. Berapa kali Bapak/Ibu menjadi pemakalah/peserta dalam suatu seminar/ pertemuan ilmiah? Di mana dan Kapan? Belum pernah 5. Berikan Saran/masukan untuk perbaikan pelaksanaan Lesson Study: (i) Sebaiknya tidak hanya untuk pelajaran MIPA (ii) Dilakukan setiap sebulan sekali dan semua kelas berganti-ganti
REKOMENDASI

Berdasarkan hasil fleksi tersebut, dengan kegiatan Lesson Study dapat direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: (i) Jika managemen waktu baik, Lesson Study dapat meningkatkan keprofesioanalan guru, khususnya guru matematika SMPN 4 Surabaya. (ii) Wawasan guru dalam hal merefleksi pembelajaran yang dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh teman lain meningkat (iii) Menambah kolegalitas antar guru di SMPN 4 Surabaya. (iv) Meningkatnya semangat belajar siswa. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 151

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
DAFTAR PUSTAKA Hendrayana, Sumar (2006). Strategi Untuk meningkatkan Keprofesionalan Pendidik. Makalah Seminar Exchange Experience of Lesson Study di UPI Bandung Hendrayana, Sumar (2007). Lesson Study : Suatu Strategi Untuk meningkatkan Keprofesionalan Pendidik. Bandung : UPI Press Ibrohim, 2010, Refleksi Perjalanan dan Capaian Hasil Pengembangan Lesson Study dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran MIPA Indonesia Berdsasarkan Kasus di Kota Madang dan Kabupaten Pasuruan Jawa Timar, Jurusan Biologi UM Malang Indonesia (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional Nur, Mohamad. 2002. Butir-butir Penting Pandangan belajar Menurut Teori Konstruktivis. Makalah dalam Overseas fellowship program Contextual Learning Material Development Proyek Peningkatan Mutu SLTP Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional in collaboration with University of Washington College of Education, State University of Surabaya. Slavin, Robert E. 1997. Educational Psychology Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon. Soedjadi, R., 2000.Kiat Pendidikan Matematika Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti. Tim MKPBM, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 152

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENINGKATAN AKTIVITAS KOLABORATIF MELALUI BELAJAR KOOPERATIF DALAM BELAJAR ANALISIS KOMPLEKS PADA MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PMIPA FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Nurhanurawati
Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung, e-mail: nurhanurawati67@yahoo.co.id

Abstrak: Peserta mata kuliah Analisis kompleks beragam, mulai angkatan 2005 sampai dengan 2008. Akibatnya mahasiswa kurang berinteraksi dalam belajar, baik dengan teman maupun dengan dosen. Pada pembelajaran, mahasiswa kurang antusias dalam belajar, jarang mau bertanya, jarang memberi tanggapan jika ditanya. Karena sebagai mata kuliah pilihan, mahasiswa kurang memiliki motivasi dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas kolaboratif melalui pembelajaran kooperatif mahasiswa peserta mata kuliah Analisis Kompleks. Metode penelitian ini yaitu lesson study yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 (tiga) tahap yaitu plan, do, dan see. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dosen, lembar observasi mahasiswa. Data hasil observasi dianalisis secara kualitatif deskriptif. Adapun hal-hal yang diamati adalah: (1) Proses belajar mahasiswa ( mulai konsentrasi belajar, berhenti belajar), (2) Interaksi mahasiswa (dengan dosen, mahasiswa, media, lingkungan), dan (3) Kesungguhan mahasiswa dalam belajar. Kesimpulan penelitian ini adalah pelaksanaan lesson study melalui belajar kooperatif dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif dalam belajar Analisis Kompleks pada mahasiswa Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung. Kata kunci: aktivitas kolaboratif, belajar kooperatif

Mata kuliah Analisis Kompleks merupakan salah satu mata kuliah pilihan bagi mahasiswa Pendidikan Matematika dengan bobot 2 (dua) sks. Mata kuliah ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami tentang fungsi, limit fungsi, kekontinuan fungsi, turunan, integral fungsi kompleks, serta menggunakan teorema integral Cauchy untuk menyederhanakan penyelesaian integral fungsi kompleks. Dengan demikian mata kuliah ini merupakan perluasan dari Kalkulus dengan semesta pembicaraan himpunan bilangan kompleks. Pemahaman materi analisis kompleks dapat dilakukan dengan melibatkan mahasiswa secara aktif membahas materi dan tugas yang diberikan dosen. Peserta matakuliah ini beragam mulai dari angkatan 2005 sampai dengan 2008 dengan jumlah 32 orang. Dengan keragaman ini mahasiswa kurang berinteraksi dalam belajar, baik dengan teman maupun dengan dosen. Di samping itu, pada pembelajaran Analisis Kompleks, mahasiswa kurang antusias dalam belajar, jarang mau bertanya, jarang memberi tanggapan jika ditanya. Karena sebagai mata kuliah pilihan, mahasiswa kurang memiliki motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, dosen berusaha agar pembelajaran dapat berlangsung kondusif, mahasiswa saling berinteraksi baik dengan sesama maupun dengan dosen, belajar memahami materi, tidakhanya mengandalkan penjelasan dosen. Dosen sebagai mana guru, menurut Tirtarahardja dan Sulo (2000:225) diharapkan mampu mengelola proses pembelajaran (manager), menentukan tujuan pembelajaran (director), mengorganisasikan kegiatan pembelajaran (coordinator), mengkomunikasikan murid dengan berbagai sumber belajar

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 153

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) (communicator), menyediakan dan memberikan kemudahan-kemudahan belajar (facilitator), dan memberikan dorongan belajar (stimulator). Dalam upaya mengoptimalkan pembelajaran, penyusunan rencana pembelajaran dilakukan secara bersama dengan sesama dosen dalam peergroup, lalu pembelajaran di kelas diobservasi. Setelah itu dilakukan refleksi terhadap pembelajaran dilanjutkan dengan penyusunan rencana pembelajaran berikutnya. Untuk mengatasi masalah kurangnya interaksi dan antusiasme mahasiswa dalam belajar dilakukan dengan cara pembelajaran kooperatif dengan menggunakan lembar kerja kelompok. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana mening-katkan aktivitas kolaboratif melalui belajar kooperatif dalam belajar Analisis Kompleks pada mahasiswa Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas kolaboratif melalui pembelajaran kooperatif mahasiswa peserta mata kuliah Analisis Kompleks. Menurut Jacob (1999:13) belajar kooperatif adalah metode pembelajaran dimana sekelompok kecil mahasiswa bekerja bersama dan saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan tugastugas akademik. Berkaitan dengan belajar kooperatif, Vigotsky mengemukakan gagasan tentang zpd (zone of proximal development) yaitu jarak antara tingkat perkembangan aktual yang ditentukan oleh pemecahan masalah sendiri dengan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan oleh pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau dalm kolaborasi dengan teman sebaya yang memiliki kemampuan lebih. (Slavin, 1995: 17). Dengan demikian jika seorang peserta didik belajar sendiri, ia akan memperoleh pemahaman pengetahuan pada batas tertentu. Dengan adanya bantuan teman sebaya yang memiliki pengetahuan lebih maka pemahaman pengetahuannya akan meningkat. Pada penelitian ini digunakan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM). Lembar kerja mahasiswa yang digunakan merupakan lembar kerja berstruktur yang memuat informasi, contoh dan tugas-tugas. LKM ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu program kerja atau mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan pembimbing untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKM telah disusun petunjuk dan pengarahannya, tetapi LKM tidak dapat menggantikan peran pengajar dalam kelas. Pengajar tetap mengawasi kelas, memberi semangat dan dorongan belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa. (Indrianto, 1998:14-17). Beberapa manfaat yang diperoleh dengan penggunaan lembar keraja dalam proses pembelajaran diantaranya adalah: (1) mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran, (2) membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep, (3) membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. (Suyitno, 1997:40).
METODE

Penelitian dilaksanakan pada mahasiswa peserta mata kuliah Analisis Kompleks dengan jumlah 32 orang, 6 laki-laki dan 26 orang perempuan. Metode penelitian ini yaitu lesson study yang dilaksanakan dalam empat siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 (tiga) tahap yaitu plan, do, dan see. Pada tahap plan, dosen mata kuliah Analisis Kompleks berkolaborasi dengan tiga orang dosen Program Studi Pendidikan Matematika yang bidang keahliannya sama membuat Satuan Acara Perkuliahan (SAP) dan Lembar kerja mahasiswa (LKM). Pada tahap do yaitu pelaksanaan dan observasi pembelajaran, dosen mata kuliah melaksanakan perkuliahan seperti yang direncanakan dalam SAP. Dosen kolaborator lain bertindak sebagai observer. Pada tahap see, dosen matakuliah dan semua observer, menyampaikan fakta-fakta yang diperoleh selama perkuliahan berlangsung dan mendiskusikan rencana perbaikan pembelajaran berikutnya. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dosen, lembar observasi mahasiswa.. Data hasil observasi dianalisis secara kualitatif deskriptif. Adapun hal-hal yang diamati adalah: (1) Proses belajar mahasiswa ( mulai konsentrasi belajar, berhenti belajar), (2) Interaksi mahasiswa ( dengan dosen, mahasiswa, media, lingkungan), dan (3) Kesungguhan mahasiswa dalam belajar.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 154

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus 1 Materi pembelajaran siklus 1 adalah Fungsi Peubah Kompleks dan Limit Fungsi. Indikator pencapaian yaitu mahasiswa dapat (1) menentukan nilai suatu fungsi pada suatu titik, (2) menguraikan suatu fungsi kompleks dalam bentuk u(x,y) + i v(x,y), (3) menguraikan suatu fungsi kompleks dalam bentuk u(r,  ) + i v(r,  ), (4) menggambarkan hasil pemetaan dari fungsi kompleks, (5) menghitung limit fungsi kompleks pada suatu titik, dan (7) membuktikan limit suatu fungsi kompleks tidak ada. Sebelum perkuliahan, bersama dua orang dosen kolaborator disusun rencana pembelajaran dengan memfokuskan pada pembuatan SAP untuk perkuliahan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dilanjutkan dengan penyusunan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM). Pada saat perkuliahan, dosen membuka kuliah dengan menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, membagi mahasiswa menjadi kelompok-kelompok secara acak. Selanjutnya mahasiswa belajar dalam kelompok dengan mengerjakan LKM yang telah disiapkan dosen. Dosen observer mengamati proses belajar mahasiswa selama pembelajaran. Setelah dilaksanan pembelajaran, dilakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Menurut obeserver, interaksi antar mahasiswa masih kurang, terlihat mahasiswa bekerja sendirisendiri dalam kelompok. Demikian juga interaksi mahasiswa dengan dosen, mahasiswa kurang memperhatikan penjelasan dosen pada saat mahasiswa belajar dalam kelompok. Ini terjadi karena materi pada LKM terdiri atas dua bagian yaitu fungsi dan limit fungsi sehingga dosen membahas LKM sebagian-sebagian. Akibatnya konsentrasi belajar mahasiswa terpecah saat seorang mahasiswa presentasi sementara mahasiswa yang lain dalam kondisi belajar hal lain. Interaksi mahasiswa dengan media juga belum efektif, dalam hal penggunaan LCD. Disarankan oleh observer pada pembelajaran berikutnya, pada saat mahasiswa bekerja kelompok hendaknya LCD tidak dinyalakan dan presentasi hasil belajar kelompok dilakukan setelah belajar kelompok selesai. Siklus 2 Materi pembelajaran siklus 2 adalah Turunan Fungsi Kompleks dan Persamaan CauchyRiemann. Indikator yang akan dicapai adalah mahasiswa dapat: (1) menentukan turunan suatu fungsi kompleks jika ada, dan (2) menentukan titik-titik yang membuat fungsi kompleks mempunyai turunan dengan menggunakan persamaan Cauchy Riemann. Sebelum perkuliahan, bersama dua orang dosen kolaborator disusun rencana pembelajaran siklus 2 dengan memperhatikan hasil refleksi pembelajaran siklus 1 dilanjutkan dengan mendiskusikan LKM yang telah disiapkan dosen mata kuliah. Pada saat perkuliahan, dosen membuka kuliah dengan menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, membagi mahasiswa menjadi kelompok-kelompok yang telah ditetapkan dosen sebelumnya. Selanjutnya mahasiswa belajar dalam kelompok dengan mengerjakan LKM yang telah disiapkan dosen. Dosen observer mengamati proses belajar mahasiswa selama pembelajaran. Setelah dilaksanakan pembelajaran, dilakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Pada pembelajaran siklus 2 ini, interaksi antar mahasiswa pada saat kerja kelompok cukup baik. Tetapi ada beberapa mahasiswa yang terlambat hadir mengganggu konsentrasi mahasiswa yang sedang belajar. Demikian juga interaksi mahasiswa dengan dosen cukup baik, hanya ada beberapa mahasiswa yang tidak memperhatikan pada saat dosen membahas hasil diskusi di depan kelas. Interaksi mahasiswa dengan media baik, mahasiswa mempelajari materi dengan menggunakan LKM sambil mencari informasi juga dari buku sumber. Disarankan oleh observer pada pembelajaran berikutnya, walaupun masih dalam toleransi waktu yang disepakati pada kontrak perkuliahan, mahasiswa sebaiknya tidak terlambat hadir karena mengganggu konsentrasi belajar teman yang lain. Siklus 3 Materi pembelajaran siklus 3 adalah Fungsi Analitik. Indikator yang akan dicapai adalah mahasiswa dapat: (1) menentukan daerah analitisitas suatu fungsi kompleks, dan (2) menunjukkan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 155

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) bahwa u(x,y) harmonik dan mendapatkan harmonik sekawannya v(x,y) untuk membentuk fungsi analitik f = u + iv Sebelum perkuliahan, bersama dua orang dosen kolaborator didiskusikan kembali rencana pembelajaran siklus 3 dan LKM yang telah disiapkan dosen mata kuliah dengan memperhatikan hasil refleksi pembelajaran siklus 1. Pada saat perkuliahan, dosen membuka kuliah dengan menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, membagi mahasiswa menjadi kelompok-kelompok secara acak. Selanjutnya mahasiswa belajar dalam kelompok dengan mengerjakan LKM yang telah disiapkan dosen. Dosen observer mengamati proses belajar mahasiswa selama pembelajaran. Setelah dilaksanakan pembelajaran, dilakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Pada pembelajaran siklus 3 ini, interaksi antar mahasiswa pada saat kerja kelompok baik, setiap anggota kelompok berusaha menyelesaikan tegas bersama-sama. Interaksi mahasiswa dengan dosen baik, tetapi dosen hendaknya menciptakan konflik kognitif bukan hanya dalam tugas kelompok, tetapi juga saat dosen membahas hasil kerja kelompok. Interaksi mahasiswa dengan media baik. LKM dimanfaatkan oleh mahasiswa secara maksimal karena bahasanya mudah dimengerti, sehingga mahasiswa dapat belajar materi dengan menggunakan LKM. Tetapi, disarankan oleh observer, banyaknya LKM dalam tiap kelompok yang terdiri dari lima orang perlu lebih dari satu eksemplar. Lembar kerja yang diberikan kepada mahasiswa dalam kerja kelompok disusun sedemikian rupa sehingga mahasiswa memperoleh materi pelajaran melalui lembar kerja tersebut. Dari hasil observasi ternyata lembar kerja dipergunakan mahasiswa secara maksimal sehingga sangat membantu mahasiswa dalam memahami materi pelajaran. Interaksi mahasiswa dalam kerja kelompok berangsur angsur membaik. Meski berasal dari angkatan yang berbeda-beda, mahasiswa dapat bekerja sama secara kooperatif menyelesaikan tugasnya secara berkelompok. Pada saat belajar kelompok, mahasiswa benar-benar belajar dengan berdiskusi membahas materi pelajaran secara bersama dengan teman dalam kelompoknya. Dengan demikian aktivitas kolaboratif siswa meningkat dengan adanya pembelajaran kooperatif yang diterapkan.
KESIMPULAN

Pelaksanaan lesson study melalui belajar kooperatif dapat meningkatkan aktivitas kolaboratif dalam belajar Analisis Kompleks pada mahasiswa Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung.
DAFTAR RUJUKAN Indrianto, Lis. 1998. Pemanfaatan Lembar Kerja Siswa Dalam Pengajaran Matematika Sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika. Semarang: IKIP Semarang. Jacob, E. 1999. Cooperatif Learning in Context: An Educational Innovation in Everyday Classroom. New York: State University. Slavin, R.E. 1994. Cooperative Learning: Theory, Research and Practice. Boston: Allyn and Bacon. Suyitno, A., dkk. 1997. Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika. Semarang: FMIPA Unnes. Tirtarahardja, U dan La Sulo. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 156

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA, REALISTIK MATEMATIKA PADA MATERI PERKALIAN BENTUK ALJABAR

Suwito 1) Nur Mahillah 2)
1) SMP PGRI Gempol Kab. Pasuruan 2) SDN Kejapanan IV Gempol Kab. Pasuruan

ABSTRAK: Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan, salah satunya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran melalui lesson study. Pada semester pertama tahun 2011, lesson study di home base SMP N 1 Beji terdiri empat pertemuan satu plan dan tiga do–see. Pada pertemuan plan tanggal 22 september 2011 tahapan do–see ditentukan di SMP PGRI Gempol, SMP N 1 Beji, SMP Ar-Roudloh. Topik yang diusulkan adalah “operasi bentuk Aljabar” dengan sub perkalian aljabar. Diskusi dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) antara lain mencari metode dan pendekatan yang tepat serta media pembelajaran yang sesuai. Operasi bentuk Aljabar suatu yang abstrak, usulan beberapa guru supaya memanipulasi bendabenda kongkrit dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Matematika Realistik (PMR) suatu pendekatan yang sesuai agar siswa mudah memahami konsep matematika yang abstrak. Pada open lesson siswa sangat antusias dapat dilihat banyak siswa yang menjawab pertanyaan guru, menjawab LKS dengan benar. Pada pertemuan berikutnya guru model memberikan evaluasi, dari 34 siswa kelas 8 b SMP PGRI GEMPOL 30 siswa menjawab benar (88,2%), satu siswa menjawab kurang tepat (2,9 %) dan 3 siswa menjawab salah. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa PMR berpotensi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Kata kunci : pendidikan matematika realistik, lesson study.

Pendidikan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) mulai berkembang karena adanya keinginan meninjau kembali pendidikan matematika di Belanda yang dirasakan kurang bermakna bagi pebelajar. Gerakan ini mula-mula diprakarsai oleh Wijdeveld dan Goffre (1968) melalui proyek Wiskobas. Selanjutnya bentuk RME yang ada sampai sekarang sebagian besar ditentukan oleh pandangan Freudenthal (1977) tentang matematika. Menurut pandangannya matematika harus dikaitkan dengan kenyataan, dekat dengan pengalaman anak dan relevan terhadap masyarakat, dengan tujuan menjadi bagian dari nilai kemanusiaan. Selain memandang matematika sebagai subyek yang ditransfer, Freudenthal menekankan ide matematika sebagai suatu kegiatan kemanusiaan. Pelajaran matematika harus memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk “dibimbing” dan “menemukan kembali” matematika dengan melakukannya. Artinya dalam pendidikan matematika dengan sasaran utama matematika sebagai kegiatan dan bukan sistem tertutup. Jadi fokus pembelajaran matematika harus pada kegiatan bermatematika atau “matematisasi” (Freudental,1968). Esensi dari Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), dapat ditemukan pada pandangan Freudenthal yang sangat penting yang berkaitan dengan PMR yaitu: “mathematics must be connected to reality” dan “ mathematics as human activity” serta tiga prinsip utama dari PMR yaitu: guided reinvention dan progressive mathematizing, didactical phenomenology, dan self-developed models Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 157

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) maupun karakteristik dari PMR yang merupakan bentuk operasionalisasi dari tiga prinsip utama yaitu menggunakan masalah kontekstual, menggunakan model atau jembatan ke arah instrumen vertikal, menggunakan kontribusi siswa, interaktivitas, dan terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya. (Gravemeijer, 1997). Dipandang dari filsafat yang digunakan, menurut Tom Goris (1998), pada paradigma lama kebanyakan guru matematika menganut faham absolutist, sedangkan filosofi dari PMR adalah progressive absolutist atau bahkan fallibilist. Dengan filosofi ini guru akan memberi kesempatan yang luas pada siswa untuk mengkonstruksi dan mengkomunikasikan perolehan pengetahuannya, maupun untuk memberikan berbagai solusi alternatif dari open–ended problem yang diberikan guru. Schiffer dan Fosnot (1993) telah memberikan sebuah contoh bagaimana mengupayakan terjadinya perubahan sikap mental dan paradigma yang dianut guru. Melalui perjuangan yang panjang, upaya Schiffer dan Fosnot membuahkan keberhasilan mengubah paradigma “guru menjelaskan-murid mendengarkan atau mendengar kata guru saja” ke paradigma “siswa aktif mengkonstruksi makna-guru membantu.” Sebuah paradigma dengan kata kunci: memahami pikiran anak untuk membantu anak belajar. Pendekatan dalam PMR bertolak dari masalah-masalah kontektual, siswa aktif, guru berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya, siswa sharing ide-idenya, siswa dengan bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru membantu membandingkan ide-ide tersebut dan membimbing siswa mengambil keputusan tentang ide terbaik untuk mereka. Dengan ciri-ciri tersebut, maka menurut Marpaung (2001) PMR memiliki prospek lebih berhasil diterapkan di Indonesia dibandingkan dengan pendekatan strukturalis, empiris maupun mekanis. Harapan dan sikap optimis bahwa PMR dapat merupakan jawaban terhadap beberapa problematika pembelajaran matematika di Indonesia juga didasari atas keberhasilan beberapa negara yang telah mengadopsi PMR. Hasil penelitian di Belanda memperlihatkan bahwa PMR telah menunjukan hasil yang memuaskan (Becher & Selter, 1996). Bahkan Beaton (1996) merujuk pada laporan TIMSS (Third International Mathematics and Science Study) melaporkan bahwa berdasar penilaian TIMSS, siswa Belanda memperoleh hasil yang memuaskan baik dalam ketrampilan komputasi maupun kemampuan pemecahan masalah. Dilaporkan oleh beberapa literatur (Streefland, 1991; Gravemeijer, 1994, 1997; dan Romberg & de Lange, 1998) bahwa PMR berpotensi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika. Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut (Hadi, 1999):  Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajarnya selanjutnya  Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri  Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan  Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya berasal dari seperangkat ragam pengalaman  Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematika. Titik awal proses belajar dengan pendekatan matematika realistik menekankan pada konsepsi yang sudah dikenal oleh siswa. Setiap siswa mempunyai konsep awal tentang ide-ide matematika. Setelah siswa terlibat secara bermakna dalam proses belajar, maka proses tersebut dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pada proses pembentukan pengetahuan baru tersebut, siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Peran guru hanya fasilitator belajar. Idealnya, guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif. Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan real. Upaya mengaktifkan siswa dapat diwujudkan dengan cara (i) mengoptimalkan keikutsertaan unsur-unsur proses mengajar belajar, dan (ii) mengoptimalkan keikutsertaan seluruh sense siswa. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 158

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pengoptimalan seluruh sense siswa sangat terkait dengan bagaimana siswa merespon setiap persoalan yang dimunculkan guru dalam kelas, baik respon secara lesan, tertulis atau bentuk-bentuk representasi lain seperti demonstrasi. Selain itu untuk mengoptimalkan keikutsertaan seluruh sense siswa juga diperlukan komunitas matematika yang kondusif, dalam arti bahwa lingkungan belajar yang mempercakapkan tentang matematika tersebut harus mampu membangkitkan setiap siswa untuk berpartisipasi aktif. Melalui topik-topik yang disajikan siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami sendiri proses yang “sama” sebagaimana konsep matematika ditemukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: memasukkan sejarah matematika, memberikan ‘contextual problems’ yang mempunyai berbagai solusi, dilanjutkan dengan “mathematizing” prosedur solusi yang sama, serta perancangan rute belajar sedemikan rupa sehingga siswa menemukan sendiri konsep atau hasil. Situasi yang berisikan fenomena dan dijadikan bahan serta area aplikasi dalam pengajaran matematika haruslah berangkat dari keadaan yang nyata. Dalam hal ini dua macam matematisasi (horisontal dan vertikal) haruslah dijadikan dasar untuk berangkat dari tingkat belajar matematika secara real ke tingkat belajar matematika secara formal. Menurut Treffers (1991) ada dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horisontal dan vertikal dalam matematisasi horison siswa menggunakan situasi nyata. Matematisasi horisontal adalah : pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasi masalah dalam cara–cara yang berbeda, merumuskan masalah kehidupan sehari-hari ke dalam bentuk matematika. Sedangkan matematisasi vertikal berkaitan dengan proses pengorganisasian kembali pengetahuan yang telah diperoleh dalam simbol-simbol matematika yang lebih abstrak. Contoh matematisasi vertikal adalah menghaluskan dan memperbaiki model, menggunakan model yang berbeda memadukan dan mengkombinasikan beberapa model, membuktikan keteraturan merumuskan konsep matematika yang baru dan penggenerasian. Dalam RME kedua matematisasi horisontal dan vertikal digunakan dalam proses belajar mengajar. Treffers (1991) mengklasifikasikan empat pendekatan pembelajaran matematika yaitu: mekanistik, empiristik, strukturalis, dan realistik. Mekanistik lebih memfokuskan pada dril, emperistik lebih menekankan matematika horizontal, strukturalis lebih menekankan pada matematika vertikal, sedangkan realistik memberikan perhatian yang seimbang antara matematisasi horizontal dan vertikal dan disampaikan secara terpadu pada siswa. Menurut Gravemeijer (1994:90) tiga prinsip kunci untuk desain RME yaitu sebagai berikut : a) Guided reinvention and progressive mathematization. Guided reinvention merupakan prinsip yang menekankan “penemuan kembali” secara terbimbing. Melalui topik-topik tertentu disajikan, siswa diberi kesempatan sama untuk membangun dan menemukan kembali ide – ide dan konsep – konsep matematika. Setiap siswa diberi kesempatan sama untuk merasakan situasi dan mengalami masalah kontekstual yang memiliki berbagai kemungkinan solusi. Bimbingan dapat diberikan apabila diperlukan. Jadi pembelajaran tidak diawali dari “sifat, difinisi, teorema atau aturan” kemudian diikuti dengan contoh – contoh serta penerapannya, tetapi justru dimulai dengan masalah konstektual meski hanya dengan membayangkan melalui aktifitas siswa diharapkan dapat menemukan kembali sifat, definisi dan lainnya progressive mathematication menekankan matematisasi yang dapat diartikan sebagai “upaya untuk mengarahkan kepada pemikiran matematika”. Dikatakan yang progressive karena terdapat dua langkah matematisasi (1) horizontal dan (2) vertikal yang berawal dari masalah kostektual yang diberikan dan diakhiri dengan matematika formal. b) Didactical phenomenology Menurut prinsip ini, topik matematika yang diberikan diterapkan untuk dua alasan yaitu kegunaan serta konstribusinya untuk perkembangan matematika lebih lanjut yaitu dapat digunakan untuk menentukan situasi yang dapat memunculkan paradikma prosedur solusi sebagai dasar matematisasi vertikal masalah konstektual yang dipilih mempertimbangkan 1) aspek kecocokan aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan 2) kecocokan dengan proses reinvention yang berarti bahwa aturan/ cara atau konsep atau sifat termasuk model matematika tidak disediakan atau diajarkan oleh guru tetapi siswa perlu berusaha sendiri untuk menemukan atau Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 159

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) membangun sendiri dengan berpangkal dari masalah konstektual yang diberikan. Hal ini dapat menimbulkan lintas belajar menuju tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan yang sama lintas belajar siswa bias berbeda c) Self develop model Pada waktu mengerjakan “nasalah konstektual” siswa mengembangkan model mereka sendiri yang dapat menjembatani antara pengalaman informal dan matematika formal dan matematika formal. Mengingat manipulasi telah dipresentasikan sdebagai model keberadaan awal dalam proses pendekatan informal, dalam model PMR pemahaman dikembangkan sendiri oleh siswa, ini berarti bahwa siswa mengembangkan model dalam pemecahan masalah.
METODE

Pada tahun sebelumnya guru mengajar matematika bentuk aljabar, memberikan pengertian koefisien,variabel (peubah), suku-suku sejenis. Selanjutnya siswa menjawab pertanyaan pada buku paket, menyerderhanakan bentuk aljabar. Pembelajaran dengan cara sedemikian, ternyata mengakibatkan siswa cepat lupa dengan langkah-langkah dan contoh yang diberikan guru jika hanya di jelaskan secara lisan. Pada tahap evaluasi, dari 34 siswa hanya 20 siswa menjawab benar, 6 siswa menjawab kurang tepat dan 8 siswa menjawab salah. Pada kegiatan lesson study ini diawali kegiatan plan yang dilaksanakan di home base SMP N 1 Beji Pasuruan, pada tanggal 22 September 2011 yang dihadiri guru-guru lesson study dan kepala sekolah SMPN 1 Beji. Tahapan plan ini berdiskusi merencanakan RPP dengan standar kompetensi: 1. Memahami bentuk aljabar, relasi fungsi dan persamaan garis lurus. Kompetensi dasar: 1.1 melakukan operasi aljabar. Tujuan pembelajaran adalah siswa dapat menyelesaikan operasi perkalian pada bentuk aljabar. Pada saat plan tersebut dihasilkan RPP dan lembar kerja siswa yang akan dilaksanakan pada saat open class. Metode sedikit ceramah, tanya jawab dengan pendekatan PMR yang akan diawali masalah konstektual yang diberikan dan diakhiri dengan matematika formal, untuk melengkapi guru model membuat alat peraga sebagai jembatan permasalahan sehingga dapat mereka bayangkan.Tahapan DoSee dilaksanakan di sekolah penulis pertama yaitu SMP PGRI Gempol pada tanggal 29 september 2011. Pembelajaran di kelas VIII B semester gasal 2011-2012, open class dihadiri 13 guru peserta dan dosen pendamping UM, Trianingsih.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pembelajaran diawali apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan, materi yang telah diberikan sebagai prasyarat tentang sifat distributif penjumlahan dan pengurangan. Kemudian dilanjutkan memotivasi siswa dengan menyampaikan tujuan pembelajaran, dan pentingnya materi ini untuk kelancaran materi berikutnya. Guru model menyampaikan permasalahan kontekstual berikut: “saya membeli tanah yang berbentuk persegi dengan panjang sisi 5 meter, berapakah luas tanah saya?”. Sebagian siswa angkat tangan menjawab pertanyaan guru, kemudian guru model memberikan pertanyaan berikutnya, “jika tanah yang berbentuk persegi tidak diketahui panjang sisinya, misalnya x, berapakah luas tanah saya?”. Siswa berfikir, guru model membagikan kertas warna berbentuk persegi sebagai bentuk kontekstual. “Coba kalian bayangkan jika tanah saya seperti kertas ini dengan panjang sisi x”. Beberapa siswa angkat tangan menjawab menjawab x2, ada yang menjawab 2x. Guru model menjelaskan kembali ke bentuk semula, jika panjang sisi-sisinya 5 meter, maka luasnya 5 x 5 = 52 = 25 meter persegi, dengan bimbingan guru model, siswa dapat memahami apa yang dimaksud guru. 5m x

5m

x

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 160

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Guru model memberikan permasalahan “Pak Adi menjual tanah, letaknya di sebelah kanan tanah saya, dengan lebar 3 meter dan panjangnya sama dengan tanah saya, berapakah luas tanah saya sekarang?” Jika panjang sisi tanah saya tidak diketahui misalnya: x, berapakah luasnya?” 5m 3m x 3

5m

x

p=5m l = (5+3) m L= p x l = 5 (5 + 3) =5x8 = 40 Jadi luasnya 40 m2 Guru model meminta siswa menjawab LKS-1. Tentukan luas daerah pada gambar dibawah ini! a 5

p=xm l = (x+3) m L= p x l = x (x + 3) = x2 + 3x Jadi luasnya (x2 + 3x) satuan luas

p = .....
a

l = ..... L =pxl = .......

Dari 4 siswa perwakilan kelompok, ada satu siswa menjawab kurang tepat, guru mengarahkan ke arah konsep perkalian aljabar. Guru model memberikan permasalahan: “Pak Arman menjual tanahnya kepada saya yang letaknya dibelakang tanah saya, dengan ukuran lebar 4 meter dan panjangnya sama dengan panjang tanah saya. Berapakah luas tanah saya sekarang?” Jika panjang sisi tanah saya yang pertama tidak diketahui, misalnya x, berapakah luasnya? Penyelesaian: 5m 3m
p = (5 + 4) l = (5 + 3)

5m

L =pxl
= (5 + 4) x (5 + 3)

=9x8

4m

= 72 Jadi, luas tanah 72 m2

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 161

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Jika panjang sisi tanah yang pertama tidak diketahui, misalnya x, maka luasnya adalah X 3

x

p = (x + 4) l = (x + 3) L =pxl = (x + 4) x (x + 3) = x2 + 3x +4x +12 = x2 + 7x +12 Jadi luasnya (x2 + 7x +12) satuan luas

4

Guru model meminta siswa menjawab LKS-2 Tentukan luas daerah pada gambar dibawah : m 4

m

p = ..... l = ..... L =pxl = .........

6

Dari empat siswa perwakilan kelompok, satu siswa menjawab kurang tepat. Guru model mengarahkan ke arah konsep perkalian dua suku pada aljabar. Guru model memberikan kesimpulan dan refleksi pembelajaran hari ini. Evaluasi diberikan pada pertemuan berikutnya. Dari 34 siswa, 30 siswa menjawab benar (88,2%), satu siswa menjawab kurang tepat (2,9%), dan 3 siswa menjawab salah (8,8%).

HASIL DAN DISKUSI

Pada tahap refleksi, observer menyampaikan apa saja yang sudah diamati selama proses pembelajaran untuk dikaji (didiskusikan) bersama. Tahap refleksi dibagi tiga bagian: 1. Pendahuluan Observer, Wijayanti, S.Pd. Pada awal pembelajaran siswa belum konsentrasi. Solusinya : memantau kesiapan siswa, kurang penekanan pada penyampaian motivasi. Observer, Dwi Prasetyo, S.Pd. Pada awal pembelajaran siswa belum termotivasi. Solusi: media yang disiapkan guru model supaya diperagakan di depan kelas. Observer, Susi Dirgahayu,SPd. Hampir semua siswa aktif dalam pembelajaran,pada awal pembelajaran siswa no.33 belum siswa menerima pelajaran. Solusi memberikan pertanyaan pada siswa tersebut. 2. Kegiatan Inti Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 162

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Observer, Abdul Ghofur, S.Pd. memberi penekanan jawaban yang benar dan siswa diberi kesempatan untuk membuat catatan. Observer: Suci Nurani, S.Pd. Penekanan menggunakan sifat distributif dalam penyelesaian soal perkalian suku dua dengan suku dua. Observer, Dwi Prasetyo, S.Pd. memfasilitasi siswa untuk presentasi. Observer, Dirgahayu,SPd. Siswa no.33 kurang aktif dalam diskusi dan malu bertanya pada temannya. Solusi;guru memberikan bimbingan dan memberikan saran supaya berdiskusi,memberikan bimbingan pada teman yang belum megerti. Observer, Endang legowati, S.Pd jawaban yang benar diberi tanda, dan langkah langkah proses penyelesaian yang belum benar disempurnakan. Observer, Anjar Zumanto, S.Pd siswa kesulitran pada materi perkalian bentuk aljabar suku dua dengan suku dua. Solusi : penekanan sifat distributif dengan menuliskan langkah – langkah prosesnya. Kelompok pembagian anggotanya belum heterogen (kelompok 8). Solusi : kelompok lain yang anggotanya lebih banyak dapat ditukar dengan siswa yang kemampuannya kurang Observer, Drs. Abdul Ghofur penekanan jawaban yang benar dengan intonasi yang jelas dari guru model. 3. Kegiatan Penutup Observer: Musti Chamah, S.Pd. memberikan rangkuman materi dan memberikan tugas rumah. Dosen pendamping dari UM (Trianingsih) menyampaikan beberapa hal berikut.  Siswa aktif dalam pembelajaran  Kegiatan refleksi bagus, permasalahan dan solusi sudah tampak, serta tuntas  Ditekankan kerja kelompok dan diskusi  Media dihimbau digunakan pada proses pembelajaran secara maksimal dan yang membuat siswa serta siswa bisa mengkomunikasikannya  Pada perkalian bentuk aljabar, diingatkan materi penyederhanaan suku-suku sejenis PENUTUP Pembelajaran metematika pada bentuk aljabar adalah suatu yang abstrak. Pembelajaran tersebut dapat menggunakan pendekatan PMR dengan memanipulasi benda-benda konkrit dan memberikan contoh permasalahan dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa mudah memahami pada bentuk aljabar. Dengan pendekatan PMR, menyebabkan siswa aktif dan antusias dalam belajar, memupuk kerja sama antar siswa, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hasil revisi dari masukan observer dan dosen pendamping akan digunakan open lesson berikutnya di SMPN 1 Beji kabupaten Pasuruan. DAFTAR RUJUKAN
Freudenthal, H. 1991. New Meaning of Education Change. New York: Teacher College Press. Gravemerjer, K.1994. Developing Realistic Matematics Education. Utredi : Freudenthal Intitute. Tom Gorris. 1998. Reform inscoudauy math education in the netherlands. www.fiuu.nl/en/indexpubicaties.html. html diakses 24 maret 2001 Maupaung. 2001. Pendekatan Kontektual dan Seni dalam Pembelajaran Matematika. Disampaikan di seminar KME di ZUSD Yogyakarta 14 – 15 September 2001 Treffers, A. 1991. Didactical Background of A Mathematics Program for Primory Education pada Streefland. L. Realistic Mathematics Educations In Primary School. Utrecht Freudhental Institute.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 163

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PELAKSANAAN LESSON STUDY di HOME BASE KEJAYAN UNTUK PENERAPAN PEMBELAJARAN PECAHAN Dengan STRATEGI REALISTIK Pada SISWA KELAS VII SMPN 2 KEJAYAN PASURUAN

Rochmawati, S.Pd
SMP Negeri 2 Kejayan Kabupaten Pasuruan

Abstrak: Pengalaman penulis selama 13 tahun mengajar materi pecahan adalah yang paling sulit.Meskipun materi ini mengulang dari tingkat dasar tapi pemahaman siswa jauh dari harapan.Karena untuk anak SMP merupakan lompatan atau baru lulus SD yang pola pikirnya masih berfikir konkrit.Sehingga perlunya penerapan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa yang sarat dengan muatan kognitif dan sosial. Oleh karena itu diperlukan keprofesionalan seorang guru dengan mengikuti kegiatan Lesson study sebagai bentuk kegiatan secara kolaboratif dan berkelanjutan yang dapat mentargetkan kualitas siswa. Kegiatan ini direncanakan oleh guru-guru dari home base Kejayan dengan menggunakan siswa kelas VII melalui strategi pendidikan matematika realistik (RME). Pelaksanaannya dilakukan pada hari kamis dengan para observer dari teman guru-guru matematika se Home Base Kejayan sedangkan kegiatan refleksi banyak menyoroti tentang indikator dari Rencana Program Pembelajaran terlalu luas dan mengalami revisi begitu juga dengan lembar kerja siswa yang harus bervariasi. Kata kunci: Lesson study, Pembelajaran Pecahan, RME

Sesuai dengan berkembangnya waktu dari tahun ke tahun pembelajaran mempunyai banyak perubahan, setiap siswa memiliki hak untuk belajar dan memahami pelajaran. Kewajiban seorang guru untuk menghormati hak tersebut dan menjamin setiap siswa mampu mempelajari dan memahami apa yang diajarkan oleh seorang guru. Seorang guru hendaknya selalu mempunyai inovasi dan kreatif dalam melakukan pembelajaran. Seorang guru meskipun sudah 13 tahun mengajar sering kali mengalami banyak kesulitan, meskipun selama ini sudah sering dicari penyebabnya. Karena matematika merupakan hal-hal yang bersifat abstrak. Terutama pada materi –materi tertentu yang sangat dirasa sulit bagi siswa untuk dipelajari misalnya pada materi pecahan. Sebetulnya pada tingkat dasar (SD) siswa sudah mengenal bilangan pecahan tapi ditingkat Sekolah menengah (SMP) materi ini juga diberikan sebagai pengulangan dari pembelajaran ditingkat dasar yang diberikan di kelas VII. Seharusnya karena materi ini mengulang diharapkan siswa lebih baik lagi pemahamannya tapi kenyataannya lain dari yang diharapkan. Karena dalam penerapannya materi pecahan tidak hanya dipelajari pada mata pelajaran matematika saja tapi juga mata pelajaran fisika. Banyak guru sering mengeluh kalau sudah ada hubungannya dengan materi pecahan pemahaman siswa sangat jauh dari harapan. Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut didepan, maka rumusan permasalahan yang diajukan: Bagaimana penerapan pembelajaran pecahan dengan strategi realistik pada siswa kelas VII SMPN2 Kejayan pada pelaksanaan Lesson Study di Home Base Kejayan. Secara Umum tujuan kegiatan ini menjadi masukan bagi guru dan siswa untuk penerapan pembelajaran pecahan atau secara khusus untuk mengetahui Penerapan Pembelajaran pecahan dengan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 164

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) strategi relistik pada siswa kelas VII SMPN 2 Kejayan pada pelaksanaan kegiatan Lesson Study di home Base Kejayan. Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: SMPN 2 Kejayan. Dengan kegiatan ini diharapkan SMPN 2 Kejayan dapat lebih meningkatkan kegiatan lesson study khususnya dalam penerapan pembelajaran dan perlu dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain. Guru: Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya. Siswa: Sebagai bahan masukan bagi siswa dalam materi pecahan melalui strategi realistik.
METODE

Makalah ini ditulis akibat Implementasi pada saat kegiatan Lessson Study dari penerapan pembelajaran pecahan dengan strategi realistik diSMPN 2 Kejayan yang kegiatan ini melalui proses Plan,Do,See. Strategi yang digunakan realistik dengan menggunakan kertas lipat. Pada dasarnya proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,kreatif,dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Permen 19 tahun 2005). Sebenarnya anak-anak ditingkat dasar (SD) mempunyai pola pikir yang masih dalam tahap-tahap berfikir konkrit. Jika permasalahannya, materi diberikan contoh-contoh atau bangun secara konkrit anak mungkin masih bisa menerima tapi sebaliknya jika tanpa contoh yang konkrit anak lebih sukar untuk memahami, padahal anak sekolah menengah (SMP)ini merupakan lompatan atau baru lulus dari sekolah dasar. Oleh sebab itu perlunya model pembelajaran sebagai bentuk kegiatan yang sistematis dan terencana yang membentuk siswa memperoleh informasi, gagasan, skill, nilai dan mengembangkan cara berpikir (nalar), berpikir reflektif sedemikian hingga siswa bisa belajar dengan baik. Perlunya penerapan pembelajaran yang sesuai dengan tahap berpikir anak karena akan berpengaruh besar terhadap kemampuan siswa dalam mendidik diri mereka sendiri. Seorang guru yang sukses bukan hanya sebagai penyaji yang kharismatik dan persuasive ( Joice, dkk 2009), tapi mereka dapat melibatkan para siswa dalam tugas-tugas yang sarat muatan kognitif dan sosial, serta mengajari siswa bagaimana mengerjakan tugas-tugas tersebut secara produktif. Sedangkan siswa bisa menjadi pebelajar yang efektif jika mampu menggambarkan informasi, gagasan dan kebijaksanaan dari guru-guru mereka dan menggunakan sumber pebelajar secara efektif. Lesson study dipilih dan diimplementasikan pada hasil “sharing” . Oleh sebab itu kegiatan ini digunakan salah satunya untuk meningkatkan keprofesionalan seorang guru dalam meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran . Harapan dari kegiatan ini akan menghasilkan seorang guru yang profesional dan inovatif dengan mau mengetahui kesalahan, terbuka terhadap masukan orang lain, memahami ide orang lain dan tidak hanya berusaha mencari pemikirannya sendiri, yang semua itu merupakan semangat mengkritik dirinya sendiri sehingga adanya lesson study di home base kejayan merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutu learning community. Di dalam pembelajaran matematika, menurut Treffers (dalam Fauzan, 2001) ada empat pendekatan pembelajaran, yaitu mekanistik, strukturalistik, empristik, dan realistik. Diantara empat pendekatan pembelajaran tersebut, ada satu pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pematematisasian pengalaman siswa sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan realistik. Di Belanda, pendekatan realistik dikenal sebagai Realistic Mathematics Education (RME). RME pertama kali dikenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1973 (Yuwono, 2001). Hasilhasil penelitian memperlihatkan bahwa RME menunjukkan hasil yang memuaskan dalam proses pembelajaran matematika. Di Belanda implementasi RME telah terbukti berhasil merangsang penalaran dan kegiatan berpikir siswa (Becher dan Selter dalam Yuwono 2001: 1). Sehingga mungkin pada suatu saat RME akan berpengaruh terhadap pembelajaran matematika di Indonesia. Menurut Treffers dan Van den Heuvel-Panhuizen (dalam Yuwono, 2001: 3), pembelajaran yang berorientasikan pada RME dapat dicirikan oleh: (a). pemberian perhatian yang besar pada ‘reinvention’,

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 165

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) yakni siswa diharapkan membangun konsep dan struktur matematika bermula dari intuisi mereka masingmasing; (b). pengenalan konsep dan abstraksi melalui hal-hal yang konkrit atau dari sekitar siswa; (c). selama proses pematematikaan, siswa mengkonstruksi gagasannya sendiri, tidak perlu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain, bahkan tidak perlu sama dengan gagasan gurunya; (d). hasil pemikiran siswa dikonfrontir dengan hasil pemikiran siswa lainnya. Treffers (dalam Yuwono, 2001) merumuskan dua jenis pematematikaan, yakni pematematikaan horizontal dan permatematikaan vertikal. Menurutnya pematematikaan horizontal berkaitan dengan pengetahuan yang dimilki siswa sebelumnya bersama intuisi mereka sebagai alat untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata. Pematematikaan vertikal berkaitan dengan proses organisasi kembali pengetahuan yang telah diperoleh dalam simbul matematika yang lebih abstrak. Pematematikaan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah suatu aktivitas yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasikan materi matematika (Johar, 2001). Menurut De Lange (dalam Yuwono, 2001: 3), aktivitas yang dapat digolongkan dalam pematematikaan horizontal meliputi: pembuatan skema, merumuskan dan menggambarkan masalah dalam cara yang berbeda, menemukan hubungan-hubungan dan keterkaitan, mengingat aspek-aspek yang serupa dalam masalah yang berbeda, merumuskan masalah nyata dalam bahasa matematika, dan merumuskan masalah nyata dalam model matematika yang telah dikenal. Aktivitas yang merupakan pematematikaan vertikal adalah: memperhaluskan dan memperbaiki model, menggunakan model yang berbeda, memadukan dan mengkombinasikan beberapa model, membuktikan keteraturan, merumuskan konsep matematika yang baru dan perampatan. Berdasarkan intensitas pematematikaan, Treffers dan Freudenthal (dalam Yuwono 2001: 4) mengklasifikasikan pendekatan pembelajaran matematika sebagai berikut: (a) Mekanistik atau pendekatan tradisional, dalam pendekatan ini pembelajaran matematika lebih difokuskan pada tubian (drill), dan penghafalan rumus saja sedangkan proses pematematikaan horizontal dan pematematikaan vertikal tidak nampak. (b) Empiristik, lebih menekankan pada pematematikaan horizontal dan cenderung mengabaikan pematematikaan vertikal. (c) Strukturalistik, lebih menekankan pada pematematikaan vertikal dan cenderung mengabaikan pematematikaan horizontal. (d) Realistik, memberikan perhatian yang seimbang antara pematematikaan horizontal dan pematematikaan vertikal dan disampaikan secara terpadu kepada siswa. Berkaitan dengan empat pendekatan pembelajaran tersebut, Freudenthal, De Lange, dan Treffers (dalam Yuwono 2001: 4) memberikan gambaran sebagaimana dinyatakan dalam Tabel A.1. Dengan demikian, hanya pendekatan realistik memuat dan memberikan perhatian yang seimbang dan cukup terhadap pematematikaan horizontal dan pematematikaan vertikal. Yuwono, Ipung. 2001. RME (Realistics Mathematics Education) Dan Hasil Studi Awal Implementasinya Di SLTP. Seminar Nasional Realistic Mathematics Education. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Surabaya Tabel A.1: Empat Tipe Pendekatan Pembelajaran Matematika. Tipe Mekani stik Empiris tik Struktur alistik Realisti k
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penekanan pada pematematikaan horizontal

Penekanan pada pematematikaan vertikal

Kurang Cukup Kurang Cukup

Kurang Kurang Cukup Cukup

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 166

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kegiatan perencanaan ( plan ) dari kegiatan Lesson study ini dilakukan pada tanggal 22 September 2011 yang bertempat di SMPN 2 Wonorejo yang diikuti oleh 11 orang guru matematika dari home base Kejayan diantaranya : SMPN 1 Kejayan, SMPN 2 Kejayan,SMPN 1 Wonorejo,SMPN 2 Wonorejo,SMPN 2 Kraton,SMPN Pohjentrek dan SMP Al Yasini dengan menghasilkan Rencana kegiatan pembelajaran, lembar kerja siswa dan evaluasi untuk materi pecahan. Strategi yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah matematika realistik karena anak kelas VII SMP pola pikirnya masih terbawa dengan pola pikir anak SD.Karena dasar dari pendidikan realistik adalah situasi dimana siswa diberi kesempatan untuk menemukan ide-ide matematika.Sehingga siswa diharapkan mengkonstruksi sendiri masalah realistik karena masalah yang dikonstruksi siswa akan menarik siswa lain untuk memecahkannya. Proses yang berhubungan dalam berpikir dan memecahkan masalah dapat meningkatkan hasil mereka dalam masalah ini. Pelaksanaan DO dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2011 diSMPN 2 Kejayan menggunakan kelas VIID pada jam pelajaran ke 3-4 yang dimulai pada pukul 08.30 sampai 09.50. Pengamat dalam kegiatan DO adalah bapak ibu guru-guru matematika se Home Base Kejayan dan bapak ibu guru-guru dari SMPN 2 Kejayan yang kebetulan tidak ada jam mengajar Kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang sudah dirancang pada waktu Plan dengan materi pecahan, karena materi ini selain dirasa cukup sulit juga ada hubungannya dengan pelajaran lain dengan harapan banyak masukan atau ideide yang selama ini sering ditemukan oleh bapak ibu guru yang belum tahu solusinya.
REFLEKSI

Hasil kegiatan refleksi banyak menyoroti masalah RPP dengan indikator yang terlalu luas. Menurut teman-teman sebaiknya indikator penjumlahan digabungkan dengan pengurangan pecahan karena penyelesaiannya hampir sama. Selain itu lemahnya siswa dalam melakukan perhitungan perkalian dan belum terlatih untuk kegiatan diskusi.Hal ini terlihat saat siswa dibimbing untuk menemukan suatu aturan hampir semua siswa merasa kesulitan sehingga guru langsung mengambil inisiatif secara klasikal menerangkan didepan kelas .Sehingga setelah itu kegiatan bisa lancar kembali. Meskipun menurut hasil refleksi teman-teman, pembelajaran telah berhasil dilakukan karena kelas yang di pakai pembelajaran bukan kelas yang biasa di pegang dan siswa sedikitpun tidak merasa takut bertanya dalam belajar.Dari hasil refleksi yang perlu adanya perbaikan yaitu sebagai berikut: (1) Indikator dalam rencana program pembelajaran lebih dipersempit lagi yaitu operasi penjumlahan dan pengurangan. (2) Soal-soal dalam lembar kerja siswa lebih variatif lagi jangan yang senada dan hendaknya ditambah dengan soal – soal pemecahan masalah sehari- hari. (3) Pemberian contoh soal dalam penjumlahan pecahan hendaknya dimulai dari yang mempunyai penyebut yang sama dilanjutkan dengan penyebut yang merupakan kelipatan dan yang bukan kelipatan.
KESIMPULAN

Kegiatan lesson study sangat baik karena dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran karena lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutu learning community yang dapat mentargetkan pencapaian berbagai kualitas siswa yang berpengaruh dalam belajarnya.Karena menurut Mitzel ( 1982 ) hasil belajar secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan faktor internal. Seorang guru memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa maka siswa akan mendapat suatu pengertian. Mengembangkan suatu pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika. Berdasarkan pengalaman penulis melaksanakan pembelajaran dengan Realitic Mathematic Education (RME) diharapkan guru dapat mengembangkan strategi yang serupa untuk kompetensi dasar yang lain. Supaya menjadi masukan juga bagi guru matematika se home base kejayan dalam upaya peningkatan profesi guru melalui Lesson Study
DAFTAR PUSTAKA

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 167

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Treffers, A. 1991. Realistics mathematies Education, in Netherlands 1980-1990.Dalam streefland (ed) Realistics Mathematies Education in Primary School. Utrecht: CD-b Press. Mitzel, H.E. 1982. Encyclopedia of Education Research (Fifth Ed). New York Macmillan. Japan International Coorperation Agency (JICA). 2009. Panduan Untuk Peningkatan Proses Belajar dan mengajar. Japan International Coorperation Agency (JICA). 2009. Panduan untuk Lesson Study berbasis MGMP dan LSBS. Yuwono,I. 2001. RME (Realistic Mathematics Education ) dan Hasil Studi awal implementasinya di SLTP. Seminar nasional Realistic Mathematics Education. Surabaya: Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 168

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

LESSON STUDY SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MATEMATIKA POKOK BAHASAN LIMIT TRIGONOMETRI KELAS XI IPA

Cicik Ariana, S.Si
SMA LABORATORIUM UM

Abstrak: Pelaksanaan Lesson Study untuk pokok bahasan Limit Trigonometri kelas XI IPA dilakukan dengan membuat perencanaan menyeluruh yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sedangkan tahap Do dilaksanakan dengan observer dua orang guru yang melakukan kegiatan pengamatan pembelajaran. Pada tahap refleksi diperoleh gambaran bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dapat terlaksana sesuai dengan alokasi waktu, namun perlu adanya perbaikan pada kegiatan awal dan diskusi. Berdasarkan refleksi yang dilakukan, penulis memperbaiki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan masukan (saran) yang ada. Kata kunci: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lesson Study, Limit Trigonometri

Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi pendidikan nasional, yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Berkenaan dengan visi tersebut telah ditetapkan prinsip penyelenggaraan pendidikan untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan, yaitu pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Selanjutnya dalam proses tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, yaitu tentang Standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baIk pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sedangkan perencanaan proses pembelajaran sendiri meliputi beberapa komponen, yaitu silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 169

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar (lampiran Permen No. 41 tahun 2007). Dengan kata lain bahwa salah satu hal penting dalam pembelajaran adalah perlunya membuat atau mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar. Tetapi realitanya, tidak setiap pertemuan guru membuat RPP atau guru membuat RPP tetapi tidak digunakan pada saat pembelajaran. Mungkin RPP hanya digunakan untuk melengkapi administrasi saja dan tidak digunakan semaksimal mungkin dalam melaksanakan pembelajaran sehari-hari. Sejarah Singkat Lesson Study Lesson study berasal dari Jepang, yaitu dalam bahasa aslinya disebut dengan “jugyokenkyu”. Jugyo berarti pembelajaran dan kenkyu berarti studi. Jadi jugyokenkyu berarti Studi Pembelajaran (Syamsuri, Istamar dan Ibrohim: 2007: 29). Lesson study diadopsi oleh negara-negara lain, antara lain Amarika Serikat, Kanada, beberapa negara Eropa, Afrika, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Lesson study dikenalkan melalui kegiatan piloting (percontohan) yang dilaksanakan dalam Proyek Follow-up IMSTEP-JICA di tiga perguruan tinggi, yaitu UPI, UNY dan UM. Di Malang sendiri, Lesson study diperkenalkan secara formal oleh JICA expert, Eisuke Saito, Ph.D dalam kegiatan workshop yang dilaksankanan pada bulan Januari 2004 dan diikuti oleh Kepala Sekolah SMP dan SMA Kota Malang. Selanjutnya, diikuti dengan kegiatan pengimplemensaian Lesson study di SMA Laboratorium UM (Sulandra, I Made: 2005). Dalam implementasinya, Lesson study merupakan sebuah sistem yang terdiri dari beberapa tahapan dan dalam perkembangannya ada beberapa ahli yang menuliskan dalam beberapa tahapan yang bervariasi. Namun di Indonesia oleh para ahli dari Jepang dalam program IMSTEP-JICA digunakan tahapan yang sederhana. Hal tersebut dimaksudkan agar lebih mudah diterapkan dan menghilangkan kesan bahwa Lesson study adalah sesuatu yang rumit. Tiga tahapan dalam Lesson study adalah perencanaan (plan) meliputi penggalian akademik, perencanaan pembelajaran dan penyiaan alat-alat, pelaksanaan (do) meliputi pelaksanaan pembelajaran dan pengalamatan oleh rekan sejawat, dan refleksi (see) refleksi dengan rekan sejawat. Ketiga tahapan tersebut dilakukan secara berulang dan terus menerus sehingga merupakan siklus yang tak pernah berakkhir. Artinya selama guru ingin terus meningkatkan kemampuan dan kualitas mengajarnya, maka Lesson study sebagai jawabannya (Syamsuri, Istamar dan Ibrohim: 2007: 52). Hubungan antara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Lesson Study Landasan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah: (1) PP No.19/2005 tentang SNP pasal 20, yaitu Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. (2) Permendiknas No.41/2007 tentang Standar Proses: Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis. RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. Komponen yang terdapat dalam RPP adalah Identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 170

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada bagian pendahuluan telah disampaikan tentang tahapan-tahapan Lesson Study, yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see), adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: Tahap Perencanaan (plan). Pada tahap ini guru hendaknya mengkaji hal-hal berikut: Kopentensi Dasar dan Standar kompetensi, menentukan materi pembelajaran tang akan disajikan, menusun indikator dan pengalaman belajar siswa, menentukan metode yang sesuai, menentukan proses pembelajaran (skenario pembelajaran), menyusun LKS, menyusun evaluasi. Yang keseluruhan tahap tersebut di atas dapat dirangkum dalam satu RPP. Jadi dalam tahap ini guru melakukan rencana pembelajaran, dimulai dari mengkaji kurikulum hingga menyusun LKS bahkan jika mungkin sampai rencana assesmen dan evaluasi (Lewis: 2002 dalam Syamsuri, Istamar dan Ibrohim: 2007: 55). Tahap Pelaksanaan (do). Pada tahap ini guru model melaksanakan RPPnya sebaik mungkin dan guru lain melakukan observasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru model. Observer melakukan pengamatan terhadap siswa bukan terhadap kekurangan-kekurangan guru model tetapi lebih memfokuskan bagaimana siswa belajaran. Jika ada saran kepada guru model dapat disampaikan pada saat refleksi. Tetapi hanya sebagai input yang sifatnya dapat memberikan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran berikutnya, bukan sebagai alat untuk menghakimi guru model. Tahap refleksi (see). Pada tahap ini seluruh peserta Lesson Study yang terdiri dari guru model, observer dan moderator dapat mengemukakan berbagai pengalaman dan temuan berharga yang dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran selanjutnya. Pada prinsipnya, refleksi lebih banyak mengemukakan hal-hal posif yang dapat ditiru oleh orang lain dan hanya sedikit mengemukakan kekurangan-kekurangan guru model. Menurut Lewis dalam Syamsuri dan Ibrohim (2007: 27), ide yang yang terkandung di dalam Lesson Study sebenarnya sangat sederhana, yakni jika seorang guru ingin meningkatkan pembelaran, salah satu cara paling jelas adalah melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Sementara Garfield (2006) dalam Syamsuri, Istamar dan Ibrohim (2007:28) menyatakan Lesson Study sebagai suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran. Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran secara bersiklus dan terus menerus.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Lesson Study Matematika pada Pokok Bahasan Limit Trigonometri Kelas XI IPA Dalam hal ini, penulis adalah sebagai guru model pada pelaksanaan Lesson Study Matematika pada Pokok Bahasan Limit Trigonometri Kelas XI IPA. Tahap pertama yang dilakukan oleh guru model adalah menyusun perangkat pembelajaran, yaitu dalam bentuk RPP. Sebelumnya didahului dengan diskusi dengan guru matematika yang lain tentang materi yang akan digunakan, langkah-langkah pembelajaran, menyusun LKS, penilaian sampai dengan hal-hal yang bersifat teknis dan hal lain yang dapat menunjang pelaksanaan Lesson Study. Pada saat tahap pelaksanaan, ruang kelas sudah tertata dalam posisi leter U karena pada jam sebelumnya telah diadakan Lesson Study untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Guru model sudah meminta siswa untuk mengembalikan tempat duduk pada posisi semula tetapi siswa menolak karena siswa merasa sudah nyaman dengan posisi sebelumnya, tetapi siswa duduk mengelompok berdasarkan kelompok yang telah diumumkan sebelumnya. Terdapat 2 observer, yaitu guru Bahasa Inggris dan guru Ekonomi. Kendala yang dialami guru model adalah pada saat pelaksanaan diskusi, siswa dalam kelompok tidak bisa berdiskusi secara nyaman karena dalam posisi tempat duduk leter U siswa hanya terbatas berdiskusi dengan dengan teman di sampingnya saja dan pada saat pelaksanaan kuis dengan posisi tersebut siswa lebih mudah untuk melihat jawaban teman disamping-sampingnya. Secara umum, RPP dapat terlaksana dengan waktu yang telah direncanakan meskipun jauh dari sempurna. Pada tahap refleksi, diungkapkan bahwa ada siswa yang tidak belajar, karena masih ditemukan siswa yang ramai dan membicarakan hal lain yang bukan termasuk dalam konteks pembelajaran. Ditemukan juga siswa yang mencontoh pekerjaan temannya pada saat kuis. Tetapi secara umum, pada saat guru Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 171

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) menjelaskan, siswa sebagain besar memperhatikan, bahkan siswa banyak yang bertanya jika tidak mengerti dan mau mengemukaan pendapatnya. RPP bisa terlaksana sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan tetapi terdapat kekurangannya, yaitu ada kesan terburu-buru pada kegiatan awal dan diskusi. Pada hal ada siswa belum paham. Dari refeksi dan kendala-kendala yang ada maka guru model akan memperbaiki RPP yang ada dengan memperhatikan saran dari observer. RPP yang sudah direvisi bisa digunakan lagi dan bisa sebagai bahan acuan untuk pembuatan RPP selanjutnya karena setiap proses pembelajaran tidak selalu sama dan tidak ada proses pembelajaran yang sempumna sehingga siklusnya akan terus berlagsung (Syamsuri, Istamar dan Ibrohim 2007: 29).
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa melalui Lesson Study guru dapat menjadikan Lesson Study sebagai upaya untuk memperbaiki perangkat pembelajaran (RPP) karena: (1) Melalui Lesson Study terdapat tiga tahapan, yaiti perencanaan, pelaksanaan dan refleksi. Tiga taapan tersebut merupakan suatu siklus dan dilaksanakan secara berulang kali dalam waktu yang lama karena setiap proses pembelajaran tidak selalu sama dan tidak ada proses pembelajaran yang sempumna sehingga siklusnya akan terus berlagsung (Syamsuri dan Ibrohim, 2007: 29). (2) Jika dikaitkan dengan tugas guru adalah salah satunya membuat RPP. Melalui Lesson Study guru bisa menjadikan sebagai sarana untuk ”mewajibkan diri” karena dalam Lesson Study terdapat tiga tahapan yang salah satunya adalah perencanaan. Agar dapat terbentuk Lesson Study maka guru harus melaksanakan 3 tahap tersebut. Sedangkan berdasarkan pengalaman penulis, selama ini penulis membuat RPP tetapi pada saat akan diadakan open lesson maka ada keinginan untuk selalu memperbaiki RPP yang sudah ada. Bahkan ada kesadaran untuk membuat RPP yang lebih baik. Hal tersebut karena dalam Lesson Study terdapat tahap refleksi yang memberikan semacam semangat agar pada saat melaksanakan pelaksanaan (do) bisa tampil bagus. Terlepas dari semua itu, tujuan untuk memperbaiki RPP adalah bertujuan untuk membuat siswa belajar secara aktif (siswa terlibat dalam pembelajaran secara mental dan fisik), kreatif (hasil/kesimpulan tidak selamanya harus sama persis, yang penting masih dalam koridor pokok bahasan) (Syamsuri, Istamar dan Ibrohim 2007: 55). (3) Lebih spesifik lagi, Lesson Study sebagai upaya untuk memperbaiki RPP Matematika Pokok Bahasan Limit Trigonometri Kelas XI IPA karena pada tahap refleksi guru model akan mendapat masukan (saran) dari observer.
DAFTAR PUSTAKA Syamsuri dan Ibrohim. 2008. Lesson Study:Model Pembinaan Pendidik Secara Korabolatif dan Berkelanjutan; Dipetik dari Program SISTTEMS-JICA; di Kebupaten Pasuruan-Jawa Timur (2006-2008). Malang : F.MIPA UM. Sukirman. 2007. Peningkatan Kualitas Pembelajaran MIPA di Sekolah Melalui Kegiatan Lesson Study. Seminar Nasional. Malang. Sulandra, I Made: 2005. Seminar Nasional. Malang. Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 Tanggal 23 November 2007 Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Diklat/BIMTEK KTSP 2009 DEPDIKNAS-DIT PEMBINAAN SMA. .

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 172

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH STATISTIK MATEMATIKA 1

Rahmad Bustanul Anwar
Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Metro, e-mail: rarachmadia@gmail.com

Abstract: A study using constructivisme approach learning in Statistic Mathematic I Learning. This Research using Classroom Action Research two cycles. The result of the research shows that constructivisme approach learning contributed the increase their learning achievement. It can seen from the increase of learning average achievement from 61,90 in cycle I to 70,48 cycle II. Constructivisme approach learning also able to increaset the axhaustiveness learning from 66,67% in cycle I to 95,24% cycle II. From this research, the reseacher suggest that constructivisme approach learning should be applied in Mathematic and other subject. Kata kunci: pendekatan pembelajaran konstruktivisme, hasil belajar. Mata kuliah Statistik Matematika I merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa S-1 FKIP Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Metro Semester IV. Mata kuliah ini mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) materi bertitik berat pada Teori peluang secara aksioma, kalkulus peluang, teknik membilang, distribusi beberapa peubah: binomial, hipergeometrik, poison, chikuadrat. (2) pemahaman materi awal sangat berperan pada pengkajian materi selanjutnya. Karakteristik dari mata kuliah tersebut, memerlukan suatu pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat, motivasi dan daya tarik yang tinggi pada mahasiswa. Pada mata kuliah Statistik Matematika I ini mahasiswa sudah memiliki kemampuan awal terhadap materi peluang, dimana mahasiswa sudah pernah mendapatkan materi tersebut pada tingkat SMA. Yang membedakan pada materi ini mahasiswa ditekankan pada pemahaman konsep pada teori peluang. Sehingga didesain pada perkuliahan ini mahasiswa yang terlibat aktif dalam proses perkuliahan dimana mahasiswa sendiri yang membangun pengetahuannya berdasarkan pemahaman awal yang sudah dimilikinya. Penggunaan pendekatan pembelajaran konstruktivisme merupakan salah satu alternatif dalam pengembangan metode perkuliahan, dimana mahasiswa membangun pemahaman terhadap suatu materi baru berdasarkan kemampuan yang sudah dimiliki dengan mengaitkan pada permasalahan nyata serta memecahkan permasalahan dengan mahasiswa lain. Pendekatan pembelajaran konstruktivisme diharap dapat membuat mahasiswa benar-benar aktif, kreatif serta mampu berinteraksi dengan mahasiswa yang lain dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar pada mata kuliah Statistik Matematika I pada mahasiswa dan dapat meningkatkan minat dan motivasi mahasiswa dalam perkuliahan. Konstruktivisme (constructivisme) merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan konstektual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang tidak terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 173

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Syaiful Sagala (2009 : 88). Proses belajar pada pembelajaran konstruktivisme menekankan keaktifan mahasiswa dalam membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri berdasarkan pemahaman yang sudah dimiliki. Dalam pembelajaran konstruktivisme, penambahan pengetahuan baru dilakukan oleh siswa sendiri. Pengembangan pengetahuan dapat dilakukan dengan pemberian rangsangan berupa masalah-masalah dari dunia nyata yang relevan dengan kebutuhan siswa, untuk dibahas dan dicari jalan keluarnya. Pemberian masalah dimaksudkan untuk merangsang siswa agar berpendapat dan berpikir kritis ketika kepada mereka dihadapkan fakta-fakta baru (Haris Mudjiman (2009: 25). Burns, Heath, dan Dimock (1998: 1) mengemukakan bahwa ”Constructivism is both a philosophy and a theory of learning. The key concept of constructivism is that learning is an active process of creating, rather than acquiring knowledge”. Sedangakan menurut Tobin dan Tippins (dalam Jones dan Laura, 2002: 5) “Constructivism is a form of realism where reality can only be known in a personal and subjective way”. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran konstruktivisme merupakan suatu proses pembelajaran dimana siswa membangun pemahaman terhadap suatu materi berdasarkan pemahaman yang sudah ada dan mengembangkannya dengan mengaplikasikan pada dunia nyata sehingga pada akhirnya diperoleh suatu pembelajaran yang bermakna.
METODE

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dimana meliputi beberapa tahap yaitu: SIKLUS I Perencanaan Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi: a. Menyusun rencana pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. b. Mempersiapkan lembar kegiatan mahasiswa yang akan diberikan kepada mahasiswa pada saat pembelajaran. c. Mempersiapkan lembar pengamatan/observasi yang digunakan untuk mendata aktivitas belajar mahasiswa. d. Membuat perangkat tes hasil tindakan. Tindakan Melaksanakan proses pembelajaran pokok bahasan Peluang Suatu Kejadian sesuai dengan Satuan Acara Perkuliahan yang dibuat oleh peneliti. Dalam setiap perkuliahan selama 3 x 50 menit dilakukan kegiatan sebagai berikut: a. Apersepsi tentang pemahaman konsep-konsep yang telah dibicarakan dengan indikator, tujuan dan kompetensi yang harus dikuasai. b. Penyajian materi Peluang Suatu Kejadian secara garis besar oleh pengampu. c. Pembagian mahasiswa ke dalam kelompok dengan tingkat kemampuan akademik yang heterogen (berdasarkan hasil evaluasi pokok bahasan sebelumnya, yaitu Permutasi, Kombinasi). d. Pemberian lembar kerja berisi permasalahan yang harus diselesaikan secara berkelompok. e. Mahasiswa berdiskusi dengan teman kelompoknya. f. Mahasiswa unjuk kerja berdasarkan masing-masing kelompok terhadap permasalahan yang diberikan. Dosen berperan sebagai moderator sekaligus nara sumber. g. Dosen bersama mahasiswa menarik kesimpulan dari permasalahan yang dibahas. Observasi Mengobservasi kegiatan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran pokok bahasan Peluang Suatu Kejadian. Kegiatan observasi dilakukan oleh teman sejawat (anggota peneliti) melalui pengamatan langsung dan pengisian lembar observasi. Evaluasi

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 174

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada akhir pokok bahasan Peluang Suatu Kejadian diberikan tes. Tingkat keberhasilan pada siklus ini ditetapkan sebagai berikut. Siklus ini dikatakan berhasil jika kelas yang dikenai tindakan memenuhi: a. Rata-rata hasil belajar minimal 70. b. Ketuntasan belajar klasikal minimal 75% Refleksi Hasil observasi pada langkah (3) dan evaluasi pada langkah (4), merupakan landasan untuk menentukan tindakan pada siklus 2. Dosen beserta kolabolator peneliti melakukan perencanaan untuk siklus 2. SIKLUS II Pelaksanaan Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi: a. Menyusun rencana pembelajaran yang akan diterapkan di kelas sesuai dengan deskripsi masukan dari observer berdasarkan temuan pada sikus I. b. Mempersiapkan lembar kegiatan mahasiswa yang akan diberikan kepada mahasiswa pada saat pembelajaran. c. Mempersiapkan lembar pengamatan/observasi yang digunakan untuk mendata aktivitas belajar mahasiswa. d. Membuat perangkat tes hasil tindakan. Tindakan Melaksanakan proses pembelajaran pokok bahasan Distribusi Peluang sesuai Satuan Acara Perkuliahan yang dibuat oleh peneliti. Dalam setiap perkuliahan selama 3 x 50 menit dilakukan kegiatan berikut: a. Apersepsi tentang pemahaman konsep-konsep yang telah dibicarakan dengan indikator, tujuan dan kompetensi yang harus dikuasai. b. Penyajian materi Distribusi Peluang secara garis besar oleh pengampu. c. Pembagian mahasiswa ke dalam kelompok dengan tingkat kemampuan akademik yang heterogen. d. Pemberian lembar kerja berisi permasalahan yang harus diselesaikan secara berkelompok. e. Mahasiswa berdiskusi dengan teman kelompoknya. f. Mahasiswa unjuk kerja berdasarkan masing-masing kelompok terhadap permasalahan yang diberikan. Dosen berperan sebagai moderator sekaligus nara sumber. Observasi Mengobservasi kegiatan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran pokok bahasan Distribusi Peluang. Kegiatan observasi dilakukan oleh teman sejawat (anggota peneliti) melalui pengamatan langsung dan pengisian lembar observasi. Evaluasi Pada akhir pokok bahasan Distribusi Peluang diadakan tes. Tingkat keberhasilan pada siklus 2 ini ditetapkan sebagai berikut. Siklus ini dikatakan berhasil jika kelas yang dikenai tindakan memenuhi: a. Rata-rata hasil belajar minimal 70. b. Ketuntasan belajar klasikal minimal 75% Refleksi Hasil observasi pada langkah (3) dan hasil tes pada langkah (4), merupakan landasan untuk membahas hasil penelitian dan pengambilan kesimpulan dari penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA, Universitas Muhammadiyah Metro yang menempuh mata kuliah Statistik Matematika I semester genap tahun akademik 2010/2011 yang berjumlah 21 mahasiswa. Penelitian ini melibatkan satu dosen sebagai pengampu sekaligus sebagai peneliti, beserta tiga dosen sebagai anggota peneliti sekaligus sebagai kolaborator dan pengamat (observer).
HASIL DAN PEMBAHASAN

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 175

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Siklus I Siklus 1 dilaksanakan sebanyak 3 kali tatap muka. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2011 dengan perkuliahan sub pokok bahasan Ruang Sampel. Apersepsi diarahkan kepemahaman mahasiswa untuk mampu mendiskusikan lembar kerja yang sudah dipersiapkan oleh dosen. Selanjutnya dosen memilah mahasiswa menjadi 7 kelompok diskusi sesuai dengan daftar kelompok yang sudah dipersiapkan. Kepada setiap kelompok diberikan lembar kerja untuk didiskusikan. Lembar kerja dirancang sebagai lembar kerja penemuan, yang mengarahkan mahasiswa ke penemuan konsep atau fakta berdasarkan masalah yang dikerjakan. Selama diskusi kelompok berlangsung (selama 75 menit), dosen memantau jalannya diskusi dan memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan. Berdasarkan pengamatan pada pertemuan I ini, diskusi kelompok belum berjalan dengan baik, hal tersebut ditunjukkan mahasiswa kurang berkolaborasi dengan anggota kelompok yang lain. Diskusi kelas dilaksanakan setelah diskusi kelompok selama 35 menit berlangsung. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan sebagian materi yang didiskusikan. Diskusi dapat berlangsung dengan baik, meskipun ada beberapa kelompok yang belum mendapatkan hasil optimal. Pada akhir perkuliahan, dosen memberikan penekanan pada materi yang didiskusikan, dan bersama-sama dengan mahasiswa, membahas materi yang terkait dengan materi yang didiskusikan. Pertemuan II siklus I dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2011. Pelaksanaan perkuliahan seperti pada saat pertemuan I. Materi yang dikaji adalah Peluang Suatu Kejadian. Sebagai bahan apersepsi, Dosen membahas lagi materi yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya mengenai ruang sampel, bobot nilai peluang. Diskusi kelompok dan diskusi kelas berjalan dengan baik, meskipun masih ada beberapa permasalahan dalam lembar kerja yang belum dapat dijawab dengan benar. Pada pertemuan III dilaksanakan evaluasi akhir siklus I dengan alokasi waktu 60 menit dengan banyak soal 5 buah berjeniskan soal uraian Tabel 1. Hasil Evaluasi Akhir Siklus 1
Nilai Rata-Rata Ketuntasan Belajar 61,90 66,67%

Indikator keberhasilan penelitian ini ditentukan oleh nilai rata-rata, dan ketuntasan belajar. Berdasarkan indikator yang ditetapkan, hasil evaluasi siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan. Hal tersebut ditunjukkan rata-rata nilai belajar mahasiswa < 70, dan ketuntasan belajar mahasiswa kurang dari indikator yang telah ditetapkan yakni 75%. Siklus II Meskipun evaluasi siklus I memberikan hasil yang belum sesuai dengan indikator keberhasilan, peneliti memandang bahwa hasil tersebut sudah cukup baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan prosentase ketuntasan belajar telah memenuhi indikator keberhasilan. Sedangkan diskusi kelompok dan diskusi kelas belum berjalan dengan maksimal, karena pada pelaksanaan diskusi kelompok masih ditemukan terjalin diskusi antar kelompok hal tersebut dikarenakan posisi tempat duduk antar kelompok masih terlalu dekat. Kemudian ketika pelaksanaan diskusi kelas, mahasiswa kurang memperhatikan anggota kelompok yang menyampaikan hasil pekerjaan kelompoknya hal tersebut dikarenakan ada beberapa kelompok yang belum menyelesaikan perkerjaannya sehingga mereka masih fokus dengan pekerjaannya. Berdasarkan hal terserbut, pada siklus II tidak dilakukan perubahan distribusi kelompok. Untuk meningkatkan hasil belajar individual dan klasikal, pada siklus II lebih ditekankan pada efektivitas diskusi kelompok melalui penekanan pentingnya partisipasi setiap mahasiswa dalam kelompoknya dan pentingnya pemahaman materi perkuliahan melalui proses pembangunan materi berdasarkan materi sebelumnya yang dipandu dengan lembar diskusi. Siklus II dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan yakni tanggal 4 Juni 2011, 18 Juni 2011 dan 25 Juni 2011. Sebagaimana pada siklus I, pertemuan I dengan materi distribusi peluang dan pertemuan II dengan materi distribusi binomial pada siklus II dilaksanakan perkuliahan dengan pendekatan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 176

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pembelajaran konstruktivisme. Pada pertemuan III dilaksanakan evaluasi akhir siklus dengan alokasi waktu 90 menit dengan banyak soal 5 buah berjeniskan soal uraian. Berdasarkan evaluasi siklus II diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Evaluasi Akhir Siklus 2
Nilai Rata-Rata Ketuntasan Belajar 70,48 95,24%

Hasil evaluasi pada akhir siklus 1 menunjukkan hasil yang belum maksimal. Hal tersebut ditunjukkan rata-rata nilai belajar mahasiswa sebesar 61,90 dimana kurang dari indikator minimal yang ditetapkan yaitu 70 dan ketuntasan belajar yang diperoleh mahasiswa sebesar 66,67% belum melebihi indikator yang telah ditetapkan yakni 75%. Pelaksanaan diskusi kelompok dan diskusi kelas belum berjalan dengan maksimal, karena pada pelaksanaan diskusi kelompok masih ditemukan mahasiswa berdiskusi dengan kelompok lain hal tersebut dikarenakan posisi tempat duduk antar kelompok masih terlalu dekat. Kemudian ketika pelaksanaan diskusi kelas, mahasiswa yang lain kurang memperhatikan anggota kelompok yang menyampaikan hasil pekerjaan kelompoknya hal tersebut dikarenakan ada beberapa kelompok yang belum menyelesaikan perkerjaannya sehingga mereka masih fokus dengan pekerjaannya. Pada siklus II tidak dilakukan perubahan anggota kelompok. Pada siklus II lebih ditekankan pada efektivitas diskusi kelompok melalui penekanan pentingnya partisipasi setiap mahasiswa dalam kelompoknya dan pentingnya pemahaman materi perkuliahan melalui proses pembangunan materi yang dipandu dengan lembar diskusi. Kegiatan belajar mengajar pada siklus II berlangsung lebih baik dibandingkan pada siklus I. Diskusi kelompok telah berjalan dengan baik, partisipasi mahasiswa dalam berdiskusi semakin tinggi, walaupun ditemukan satu mahasiswa anggota kelompok yaitu kelompok 1 kurang terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Hasil belajar pada siklus II menunjukkan capaian yang lebih baik dibandingkan pada siklus I. Kedua indikator keberhasilan penelitian ini telah tercapai. Pendekatan pembelajaran konstruktivisme ternyata memberikan hasil yang baik. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori Marlow dan Page (dalam Huang, 2006: 2) bahwa “Constructivist learning is about being active, not passive”.
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian adalah melalui pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme, hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Statistik Matematika I dapat ditingkatkan. Hasil evaluasi siklus 1 menunjukkan nilai rata-rata 61,90, ketuntasan belajar 66,67%, pada siklus 2 diperoleh nilai rata-rata 70,48, ketuntasan belajar 95,23%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan khususnya pada mata kuliah Statistik Matematika I dapat menggunakan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dan pada umumnya mata kuliah yang lainnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat BELMAWAN Ditjen Dikti Kementrian Pendidikan Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study.
DAFTAR PUSTAKA Burns, M., Heath, M. & Dimock, V. 1998. Constructivism and Technology On the Road to Student-Centered Learning. TAP into Learning. 1(5):1-8. Haris Mudjiman. 2009. Belajar Mandiri. Surakarta: UNS Pers. Huang, Grace Hui-Chen. 2006. Fostering Active Learning in a Teacher Preparation Program. Journal of Educational Research. 127(3):1-8.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 177

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Jones, G.M. & Laura, B.A. 2002. The Impact of Constructivism on Education: Language, Discourse, and Meaning. University of North Carolina at Chapel Hill. 5(3):5-12. Syaiful, S. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Albabeta.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 178

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERMODIFIKASI DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH ANALISIS REAL II

Dwi Rahmawati Sutrisni Andayani
Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Metro

Abstract: The purpose of this research is whether learning with development cooperative learning tipe jigsaw modification contributed the increase their learning achievement in Analysis Real II . The result of the research show that development cooperative learning tipe jigsaw modifiction contributed the increase their learning achievement. The average achievement from 69,08 in cycle I to 74,53 cycle II, and the axhaustiveness learning from 71,88% to 81,25%.

Analisa Real II merupakan salah satu mata kuliah yang ditempuh oleh mahasiswa S-1 Program Studi Matematika Universitas Muhammadiyah Metro. Analisa Real II merupakan mata kuliah yang materinya bersifat abstrak dan memerlukan pemahaman secara analitis. Pemahaman materi awal sangat berperan dalam pemahaman materi berikutnya. Sehingga mata kuliah ini memerlukan pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat, motivasi dan meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa. Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran mata kuliah analisa real II di kelas masih banyak mahasiswa yang merasa kesulitan menyelesaikan soal yang berkaitan dengan materi analisa real II. Hal ini mungkin karena konsep-konsep tentang materi tersebut belum benar-benar dipahami mahasiswa. Kesulitan yang dialami mahasiswa hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan mahasiswa lain atau dosen yang mengajar. Mahasiswa cenderung pasif dan hanya mendengar penjelasan dari dosen. Untuk meningkatkan keaktifan mahasiswa perlu diupayakan pembelajaran yang sesuai. Salah satu pembelajaran yang bisa diterapkan adalah pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran kelompok yang menghendaki adanya kerjasama antara anggota kelompok dalam mempelajari materi yang diberikan dosen. Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan salah satu bentuk pembelajaran sosial yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. Pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam memudahkan siswa memahami dan menerapkan konsep, namun juga sangat membantu dalam mengembangkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis dan sikap percaya diri. Menurut Anita Lie (2005: 34), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk bekerjasama dalam mengerjakan tugas terstruktur. Slavin (1995 b: 2) mendefinisikan pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mana siswa bekerja dalam suatu kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dan saling berinteraksi antar anggota kelompok. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang siswa. Setiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, karena diharapkan siswa dapat saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi sehingga siswa yang berkemampuan rendah dapat dibantu sedangkan siswa yang berkemampuan tinggi semakin optimal kemampuannya melalui kegiatan tersebut. Dalam kajian serupa, Vaughan Winston (2002) menemukan bahwa terdapat pengaruh positif antara pembelajaran kooperatif terhadap prestasi belajar siswa. Dalam pembelajaran ini yang akan diujicobakan adalah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang termodifikasi. Dalam pelaksanaannya mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 179

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) dalam hal kemampuan akademis, jenis kelamin, sosial-ekonomi. Materi dibagi dalam sub-sub pokok bahasan. Masing-masing kelompok dalam jigsaw termodifikasi mempelajari materi yang berbeda dan bertanggung jawab untuk mempelajari bagiannya masing-masing. Tiap kelompok akan menjelaskan materi yang telah mereka pelajari kepada kelompok lain. Dengan demikian mahasiswa hanya belajar pada bagiannya sendiri dan mendengarkan secara teliti apa yang diterangkan kelompok lain, sehingga termotivasi untuk belajar. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw termodifikasi diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi analisa real II. Sedangkan menurut Stevens, R.J., & Slavin, R.E. (1995) ada tiga tujuan utama pembelajaran kooperatif adalah untuk: a. Meningkatkan keterampilan-keterampilan akademik melalui kerja kelompok b. Mempelajari perlunya keterampilan interpersonal yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas c. Mengembangkan keterampilan kognitif dan kesadaran metakognitif. Unsur pembelajaran kooperatif menurut Anita Lie (2005: 31) terdiri dari lima unsur yaitu: a. Saling ketergantungan positif. b. Tanggung jawab perseorangan. c. Tatap muka. d. Komunikasi antar anggota. e. Evaluasi proses kelompok. Pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan sebagai berikut: 1) Meningkatkan kemampuan siswa. 2) Meningkatkan rasa percaya diri. 3) Menumbuhkan keinginan untuk menggunakan pengetahuan dan keahlian yang ada. 4) Memperbaiki hubungan antar kelompok. 5) Dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan kooperatif (kerja sama). Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan pertama kali oleh Alliot Aronson pada tahun 1971. Tipe pembelajaran ini digunakan untuk mengatasi masalah keragaman yang terjadi di sekolah Austin Texas. Keadaan yang digambarkan oleh Aronson sebagai akibat kekacauan karena kecurigaan dan persaingan antar siswa yang berbeda ras dan sistem pengajaran yang lebih menekankan sikap kompetitif antar siswa. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sangat menitik beratkan pada hubungan saling ketergantungan yang tinggi. Tiap anggota kelompok mendapatkan materi untuk dipelajari dengan kelompoknya dan membentuk kelompok ahli. Siswa satu mengajar siswa yang lainnya, jadi mereka saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan setiap siswa mempunyai kontribusi yang penting. Dalam penelitian ini akan diterapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw termodifikasi. Adapun langkah-langkah pelaksanaan jigsaw termodifikasi dalam kelas sebagai berikut: Membentuk kelompok jigsaw termodifikasi yang terdiri dari 5 atau 6 mahasiswa. Membagi materi menjadi 5 atau 6 bagian. Sebelum materi pelajaran diberikan, guru memberikan pengenalan mengenai materi yang akan dibahas. d. Meminta mahasiswa untuk mempelajari satu bagian. e. Memberi waktu kepada mahasiswa untuk membaca bagiannya agar tahu apa yang harus mereka lakukan. f. Memberikan waktu kepada mahasiswa untuk menjelaskan apa yang mereka peroleh dalam kelompoknya dan mahasiswa lain diberi kesempatan untuk bertanya dan meminta penjelasan. g. Dosen memberikan kesimpulan atau inti dari materi yang telah dipelajari untuk mengecek kebenaran hasil diskusi kelompok mahasiswa. h. Pada akhir pelajaran mahasiswa diminta untuk mengerjakan tes atau kuis agar mereka sadar bahwa pelajaran berlangsung serius. Selama pelaksanaan jigsaw dosen tidak banyak menjelaskan materi kepada mahasiswa, dosen hanya menyiapkan garis besar materi dalam bentuk pertanyaan yang akan menjadi petunjuk diskusi kelompok a. b. c.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 180

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) agar diskusi dapat terfokus. Disamping itu dosen hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam kegiatan belajar mengajar. Beberapa kelebihan jigsaw antara lain: a. Memacu mahasiswa untuk berpikir kritis. b. Membantu mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. c. Diskusi yang terjadi tidak hanya didominasi oleh mahasiswa tertentu, tetapi semua mahasiswa dituntut untuk aktif. Dalam jigsaw di kelas beberapa masalah mungkin dapat terjadi. Biasanya mahasiswa yang dominan akan berbicara terlalu banyak dan mengontrol kelompoknya, sementara mahasiswa yang lambat kesulitan untuk memberikan presentasinya. Selain itu mahasiswa yang pandai mungkin akan bosan dengan anggota kelompok yang lamban. Masalah ini sering terjadi meskipun tidak fatal. Pembelajaran jigsaw memberi jalan tersendiri untuk mengatasi masalah tersebut. METODE Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Metro yang menempuh mata kuliah Analisis Real II semester genap tahun akademik 2010/2011. Penelitian ini melibatkan satu dosen sebagai pengampu sekaligus sebagai peneliti, beserta tiga dosen sebagai anggota peneliti sekaligus sebagai kolaborator dan pengamat (observer). Pelaksanaan Penelitian Siklus 1 Perencanaan kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi: a. Menyusun rencana pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. b. Mempersiapkan lembar kegiatan mahasiswa yang akan diberikan kepada mahasiswa pada saat pembelajaran. c. Mempersiapkan lembar pengamatan/observasi yang digunakan untuk mendata aktivitas belajar mahasiswa. d. Membuat perangkat tes hasil tindakan. Tindakan Melaksanakan proses pembelajaran pokok bahasan Diferensiasi sesuai dengan Satuan Acara Perkuliahan yang dibuat oleh peneliti. Dalam setiap perkuliahan selama 2 x 50 menit dilakukan kegiatan sebagai berikut: a. Apersepsi tentang pemahaman konsep-konsep yang telah dibicarakan dengan indikator “mahasiswa dikatakan paham jika mahasiswa dapat menyebutkan, menuliskan, dan memberi contoh definisidefinisi yang telah dibicarakan”. b. Penyajian materi Diferensiasi secara garis besar oleh pengampu. c. Pemilahan mahasiswa ke dalam kelompok dengan tingkat kemampuan akademik yang heterogen (berdasarkan hasil evaluasi pokok bahasan sebelumnya, yaitu fungsi kontinu). d. Pemberian lembar kerja berisi permasalahan yang harus diselesaikan secara berkelompok. e. Mahasiswa berdiskusi dengan teman kelompoknya. f. Diskusi pertanggungjawaban masing-masing anggota kelompok terhadap permasalahan yang diberikan. Dosen berperan sebagai moderator sekaligus narasumber. g. Dosen bersama mahasiswa menarik kesimpulan dari permasalahan yang dibahas. Observasi Mengobservasi kegiatan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran pokok bahasan Diferensiasi. Kegiatan observasi dilakukan oleh teman sejawat (anggota peneliti) melalui pengamatan langsung dan pengisian lembar observasi. Evaluasi Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 181

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pada akhir pokok bahasan Diferensiasi diberikan tes. Tingkat keberhasilan pada siklus ini ditetapkan sebagai berikut. Siklus ini dikatakan berhasil jika kelas yang dikenai tindakan memenuhi: a. Rata-rata hasil belajar minimal 70 (nilai huruf B). b. Ketuntasan belajar klasikal minimal 75% Refleksi Hasil observasi pada langkah (3) dan evaluasi pada langkah (4), merupakan landasan untuk menentukan tindakan pada siklus 2. Dosen beserta kolabolator peneliti melakukan perencanaan untuk siklus 2. Siklus 2 Perencanan kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi: a. Menyusun rencana pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. b. Mempersiapkan lembar kegiatan mahasiswa yang akan diberikan kepada mahasiswa pada saat pembelajaran. c. Mempersiapkan lembar pengamatan/observasi yang digunakan untuk mendata aktivitas belajar mahasiswa. d. Membuat perangkat tes hasil tindakan. Tindakan Melaksanakan proses pembelajaran pokok bahasan Aturan Rantai dan Fungsi Invers sesuai Satuan Acara Perkuliahan yang dibuat oleh peneliti. Dalam setiap perkuliahan selama 2 x 50 menit dilakukan kegiatan berikut: a. Apersepsi tentang pemahaman konsep-konsep yang telah dibicarakan dengan indikator “mahasiswa dikatakan paham jika mahasiswa dapat menyebutkan, menuliskan, dan memberi contoh definisi-definisi yang telah dibicarakan”. b. Penyajian materi Aturan Rantai dan Fungsi Invers secara garis besar oleh pengampu. c. Pemilahan mahasiswa ke dalam kelompok dengan tingkat kemampuan akademik yang heterogen. d. Pemberian lembar kerja berisi permasalahan yang harus diselesaikan secara berkelompok. e. Mahasiswa berdiskusi dengan teman kelompoknya. f. Diskusi pertanggungjawaban masing-masing kelompok terhadap permasalahan yang diberikan. Dosen berperan sebagai moderator sekaligus nara sumber. Observasi Mengobservasi kegiatan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran pokok bahasan Aturan Rantai dan Fungsi Invers. Kegiatan observasi dilakukan oleh teman sejawat (anggota peneliti) melalui pengamatan langsung dan pengisian lembar observasi. Evaluasi Pada akhir pokok bahasan Aturan Rantai dan Fungsi Invers diadakan tes. Tingkat keberhasilan pada siklus 2 ini ditetapkan sebagai berikut. Siklus ini dikatakan berhasil jika kelas yang dikenai tindakan memenuhi : a. Rata-rata hasil belajar minimal 70 (nilai huruf B). b. Ketuntasan belajar klasikal minimal 75% Refleksi Hasil observasi pada langkah (3) dan hasil tes pada langkah (4), merupakan landasan untuk membahas hasil penelitian dan pengambilan kesimpulan dari penelitian tindakan kelas. Teknik Pengumpulan Data a. Teknik Observasi Pada saat perkuliahan mata kuliah Analisis Real II pada suatu siklus berlangsung, teman sejawat (peneliti kolaborator) melakukan observasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh peneliti utama maupun

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 182

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mahasiswa. Hasil observasi ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan tindakan pada siklus berikutnya dan menarik kesimpulan mengenai hasil penelitian. b. Teknik Tes Untuk memperoleh hasil setiap siklus dilakukan tes untuk pokok bahasan pada siklus terkait. Hasil Penelitian Siklus 1 Siklus 1 dilaksanakan sebanyak 3 kali tatap muka. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 dengan perkuliahan sub pokok bahasan definisi derivatif. Apersepsi diarahkan ke pemahaman mahasiswa untuk mampu mendiskusikan lembar kerja yang sudah dipersiapkan oleh dosen. Selanjutnya dosen memilah mahasiswa menjadi 6 kelompok diskusi sesuai dengan daftar kelompok yang sudah dipersiapkan. Kepada setiap mahasiswa diberikan satu paket lembar kerja untuk didiskusikan. Lembar kerja dirancang sebagai lembar kerja penemuan, yang mengarahkan mahasiswa ke penemuan konsep atau fakta berdasarkan masalah yang dikerjakan. Selama diskusi kelompok berlangsung, dosen memantau jalannya diskusi dan memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan. Berdasarkan pengamatan pada pertemuan I ini, diskusi kelompok belum berjalan dengan baik. Hanya beberapa kelompok yang aktif (kelompok 1 & 6) dan masih ada kelompok yang pasif. Hal tersebut dikarenakan masih banyak kemampuan yang dimiliki anggota kelompok belum heterogen sehingga kelompok yang kemampuannya rendah kegiatan diskusi kelompok tidak berjalan dengan baik, hal tersebut ditunjukkan mahasiswa hanya diam dan tidak terjalin komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan untuk kelompok yang kemampuannya tinggi kegiatan diskusi kelompok dapat berjalan dengan baik walaupun hanya 2 kelompok. Diskusi kelas dilaksanakan setelah diskusi kelompok berlangsung. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan materi yang didiskusikan. Diskusi dapat berlangsung dengan baik, meskipun ada beberapa kelompok yang belum mendapatkan hasil optimal. Pada akhir perkuliahan, dosen memberikan penekanan pada materi yang didiskusikan, dan bersama-sama dengan mahasiswa, membahas materi yang terkait dengan materi yang didiskusikan. Pertemuan II siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 26 April 2011. Pelaksanaan perkuliahan, seperti pada saat pertemuan I. Materi yang dikaji adalah sifat-sifat derivatif. Diskusi kelompok dan diskusi kelas berjalan dengan baik, meskipun masih ada beberapa permasalahan dalam lembar kerja yang belum dapat dijawab dengan benar. Pertemuan III siklus I diisi dengan evaluasi akhir siklus. Materi yang dievaluasi mencakup materi pertemuan I dan II. Alokasi waktu selama 90 menit, dengan banyak soal 5 buah berjeniskan soal uraian. Berdasarkan evaluasi siklus I diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Evaluasi Akhir Siklus 1
Nilai Rata-Rata Hasil Belajar Ketuntasan Belajar 69,08 71,88%

Siklus 2 Evaluasi siklus 1 memberikan hasil yang belum sesuai dengan indikator keberhasilan, peneliti memandang bahwa hasil tersebut belum cukup baik. Diskusi kelompok belum berjalan dengan maksimal dan begitu pula diskusi kelas juga belum berjalan dengan baik. Berdasarkan hal ini, pada siklus 2 dilakukan perubahan distribusi kelompok, yang bertujuan agar terbentuk kelompok yang heterogen kemampuannya. Untuk meningkatkan hasil belajar individual dan klasikal, pada siklus 2 lebih ditekankan pada memaksimalkan kinerja diskusi kelompok melalui partisipasi setiap mahasiswa dalam kelompoknya dan pentingnya pemahaman materi perkuliahan yang dipandu dengan lembar diskusi. Siklus 2 dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan yakni dimulai pertemuan I tanggal 3 Mei 2011. Sebagaimana pada siklus 1, pertemuan I dan pertemuan II pada siklus 2 dengan materi Aturan Rantai dan Fungsi Invers dilaksanakan perkuliahan dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw termodifikasi dengan proses penemuan melalui lembar diskusi. Pada pertemuan III dilaksanakan evaluasi akhir siklus dengan alokasi waktu 90 menit dengan banyak soal 5 buah berjeniskan soal uraian. Berdasarkan evaluasi siklus 2 diperoleh hasil pada Tabel 2. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 183

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Tabel 2. Hasil Evaluasi Akhir Siklus 2 Nilai Rata-Rata Ketuntasan Belajar
HASIL DAN PEMBAHASAN

74,53 81,25%

Hasil evaluasi pada akhir siklus 1 belum memenuhi indikator keberhasilan yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam penelitian ini. Hal tersebut ditunjukkan rata-rata nilai belajar mahasiswa sebesar 69,09 dimana kurang dari indikator minimal yang ditetapkan yaitu 70, dan ketuntasan belajar yang diperoleh mahasiswa sebesar 71,88% masih di bawah indikator yang telah ditetapkan yakni 75%. Pelaksanaan diskusi kelompok dan diskusi kelas belum berjalan dengan maksimal, karena hanya beberapa kelompok yang aktif (kelompok 1 & 6) dan masih ada kelompok yang pasif. Hal tersebut dikarenakan masih banyak kemampuan yang dimiliki anggota kelompok belum heterogen sehingga kelompok yang kemampuannya rendah kegiatan diskusi kelompok tidak berjalan dengan baik, hal tersebut ditunjukkan mahasiswa hanya diam dan tidak terjalin komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan untuk kelompok yang kemampuannya tinggi kegiatan diskusi kelompok dapat berjalan dengan baik walaupun hanya 2 kelompok. Pada siklus II dilakukan perubahan anggota kelompok. Pada siklus II juga lebih ditekankan pada efektivitas diskusi kelompok melalui penekanan pentingnya partisipasi setiap mahasiswa dalam kelompoknya dan pentingnya pemahaman materi perkuliahan yang dipandu dengan lembar kerja mahasiswa. Kegiatan belajar mengajar pada siklus 2 berlangsung lebih baik dibandingkan pada siklus 1. Diskusi kelompok telah berjalan dengan baik, partisipasi mahasiswa dalam berdiskusi semakin tinggi, walaupun ditemukan satu mahasiswa anggota kelompok 1 yang tidak aktif dan tidak konsentrasi dengan perkuliahan. Hasil belajar pada siklus 2 menunjukkan capaian yang lebih baik dibandingkan pada siklus 1. Kedua indikator keberhasilan penelitian ini telah tercapai. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw termodifikasi ternyata memberikan hasil yang baik.
KESIMPULAN

Simpulan yang dapat ditarik penelitian adalah penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw termodifikasi, dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah analisa real II. Hasil evaluasi siklus 2 menunjukkan nilai rata-rata 74,53, ketuntasan belajar 81,25%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan pengampu mata kuliah Analisa Real II menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw termodifikasi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat BELMAWAN Ditjen Dikti Kementrian Pendidikan Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study.
DAFTAR PUSTAKA Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. Mc grow-Hill Companies. New York. Huang, G.H.C. 2006. Fostering Active Learning in a Teacher Preparation Program. Journal of Educational Research. 127(3):1-8. Lie, A. 2005. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo. Slavin. 1995 a. Learning to Cooperate. New York: Plenum Press. . 1995 b. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan Nurulita. Bandung: Nusa Media Stevens, R.J., & Slavin, R.E. 1995. Effects of a cooperative learning approach in reading and writing on academically handicapped and nonhandicapped students. The Elementary School Journal, 95(3). Vaughan, W. 2002. Effects of cooperative learning on achievement and attitude among students of color. The Journal of educational research, 95(6):359-364.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 184

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PEMBELAJARAN DISKUSI KELAS BERBASIS PROSES BERPIKIR INTUITIF PADA MATA KULIAH SISTEM GEOMETRI UNTUK MELATIHKAN PROSES BERPIKIR INTUITIF DAN KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

Fatriya Adamura
FPMIPA IKIP PGRI Madiun, e-mail: fat3ya_adamura@yahoo.co.id

Geometric system is a subject in Mathematics Education Programme of IKIP PGRI Madiun. The lowness of student understanding quality of geometric system subject in Mathematics Education Programme of IKIP PGRI Madiun is affected by the lowness of intuitive thinking capability of student. Because this study programme products Mathematics teacher, so that the learning of geometric system subject has to give facilitation for student for applying four professional teacher competencies. One of learning that can parctice student for reaching intuitive thinking capability and four professional teacher competencies is class discussion learning based on intuitive thinking process. Based on that condition, it was done reasearch for describing applying of class discussion learning based on intuitive thinking process in geometric system subject. This research was done by Lesson Study. Research subject consists of 40 students of Class III G Mathematics Education Programme of IKIP PGRI Madiun, one lecturer of geometric system, and three observers. The result of this research shows that class discussion learning based on intuitive thinking process is the right learning in geometric system subject because that learning can facilitate students for practicing intuitive thinking process and applying four professional teacher competencies; professional, pedagogical, social, and psychological competency. Keywords: class discussion learning, geometric system, intuitive thinking process, professional teacher competencies.

Geometri merupakan salah satu cabang matematika yang mempelajari titik, garis, bidang dan benda-benda ruang serta sifat-sifatnya, ukuran-ukurannya dan hubungannya satu sama lain yang bersifat abstrak. Materi-materi tersebut hanya bisa diketahui secara intuitif, bukan melalui pengalaman indrawi (Hirawan, 2007). Gambar titik, garis, bidang, dan benda-benda ruang yang ada di atas kertas hanyalah perwujudan empiris dari pengetahuan intuitif tentang titik, garis, bidang, dan benda-benda ruang. Webster dalam Nasution (2006) menyampaikan bahwa intuisi berarti pemahaman yang segera sehingga benar tidaknya intuisi masih harus diselidiki dengan cara analitis. Pemahaman segera tersebut juga bisa mengakibatkan seseorang bisa menerka sesuatu dengan cepat, tepat dan baik. Salah satu materi geometri yang dipelajari di Prodi Pendidikan Matematika adalah materi pada mata kuliah Sistem Geometri. Materi Geometri sebagai Suatu Sistem Deduktif dan penyusunan Sistem Geometri Euclides ini merupakan materi yang sangat penting untuk dikuasai mahasiswa pada mata kuliah Sistem Geometri. Hal ini karena materi ini menjadi dasar bagi mahasiswa untuk mempelajari materi-materi Geometri non Euclides. Mengingat pentingnya materi Geometri sebagai Suatu Sistem Deduktif dan penyusunan Sistem Geometri Euclides, maka setiap mahasiswa yang sedang mempelajari mata kuliah sistem geometri harus dapat memahami materi tersebut dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan materi tersebut dengan benar. Akan tetapi, terdapat masalah yang dialami mahasiswa ketika mempelajari materi Sistem Geometri Euclides yaitu ketika mahasiswa menghadapi masalah untuk membuktikan suatu pernyataan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 185

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) (teorema), mahasiswa belum bisa menentukan dengan cepat bukti langsung ataukah bukti tidak langsung yang harus digunakan. Jika hal ini terjadi, maka akan menghabiskan waktu pengerjaan dan membuat hasil pengerjaan kurang efektif dan efisien. Maka dari itu, dalam mempelajari materi ini, mahasiswa harus mampu berpikir intuitif agar bisa menerka dengan tepat setiap soal yang diberikan. Kemampuan berpikir intuitif tidak akan dimiliki mahasiswa secara tiba-tiba karena ada beberapa hal yang mempengaruhi berpikir intuitif. Beberapa hal yang memengaruhi berpikir intuitif, diantaranya: struktur pengetahuan, penguasaan bahan faktor pendidik, prosedur heuristik, dan menerka (Nasution, 2006). Hal-hal yang mempengaruhi berpikir intuitif tersebut perlu dilatihkan agar mahasiswa mampu menggunakannya dengan baik. Dengan memperhatikan dan melatih faktor-faktor yang mempengaruhi berpikir intuitif tersebut, mahasiswa akan mempunyai kemampuan berpikir intuitif yang lebih baik dan sangat bermanfaat ketika mahasiswa terjun di lapangan. Prodi Pendidikan Matematika merupakan Prodi yang mencetak mahasiswa menjadi guru Matematika. Seorang calon guru Matematika profesional harus memiliki empat kompetensi profesional, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian (Sagala, 2008). Berdasarkan hal tersebut, maka pembelajaran Sistem Geometri harus memberikan fasilitas kepada mahasiswa untuk memiliki empat kompetensi guru profesional. Pembelajaran yang bisa memberikan fasilitas kepada mahasiswa untuk memiliki empat kompetensi guru profesional adalah pembelajaran diskusi kelas. Dengan menggunakan pembelajaran diskusi kelas, mahasiswa dilatih untuk memahami dan merancang materi agar mudah disampaikan (kompetensi profesional), menyampaikan materi di depan kelas (kompetensi pedagogik), berkomunikasi dengan baik ketika berdiskusi (kompetensi sosial), serta mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain (kompetensi kepribadian). Berdasarkan uraian di atas, maka mahasiswa harus dilatih untuk berpikir intuitif dan menerapkan empat kompetensi guru profesional dengan menggunakan pembelajaran diskusi kelas berbasis proses berpikir intuitif pada mata kuliah sistem geometri. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran diskusi kelas berbasis proses berpikir intuitif pada mata kuliah sistem geometri. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Lesson Study pada mata kuliah Sistem Geometri. Subyek penelitian adalah mahasiswa semester III pada kelas III G sebanyak 40 mahasiswa, seorang dosen model, dan tiga orang pengamat. Lesson Study dilaksanakan sebanyak empat kali siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga kegiatan, yaitu: Plan, Do, dan See (Kurniadi, 2011). Data yang dikumpulkan adalah data pelaksanaan Lesson Study. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi (pengamatan). Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa Lembar Observasi Pembelajaran dalam Kegiatan Lesson Study. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan Metode Diskusi pada Pembelajaran materi Geometri sebagai Suatu Sistem Deduktif pada Do I Indikator yang diharapkan tercapai setelah mahasiswa mempelajari materi Geometri sebagai Suatu Sistem Deduktif adalah mahasiswa mampu: a. Menjelaskan pengertian geometri sebagai suatu sistem deduktif b. Membuat definisi matematis c. Membuat definisi tidak matematis d. Menjelakan struktur deduktif aksiomatik pada geometri

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 186

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Pelaksanaan Plan I dalam mempersiapakan penerapan metode diskusi pada materi geometri sebagai suatu sistem deduktif (pada Do I) menghasilkan: a. Kesepakatan, meliputi: 1) Sesuai dengan indikator, pembelajaran direncanakan menggunakan metode diskusi, resitasi, dan pemberian tugas. 2) Pembentukan kelompok harus dilakukan sebelum pembelajaran berlangsung. Pembentukan kelompok harus memperhatikan tingkat kecerdasan setiapa mahasiswa agar mahasiswa yang berada pada kelompok yang sama adalah mahasiswa yang beragam tingkat kecerdasannya. 3) Aktivitas membaca buku sumber tidak dilakukan pada kegiatan saat pembelajaran berlangsung, tetapi dilakukan di rumah. b. Instrumen pembelajaran yang disepakati, meliputi: SAP dengan metode pembelajaran diskusi, resitasi, dan pemberian tugas, Lembar Kerja Mahasiswa 1 (LKM 1), Lampiran RPP terdiri dari: Form Pengamatan Diskusi Kegiatan See yang dilakukan dosen model bersama para pengamat menghasilkan temuan permasalahan mahasiswa dalam proses pembelajaran beserta solusinya (Tabel 1). Tabel 1. Temuan Permasalahan dalam Pembelajaran Materi Geometri Sebagai Suatu Sistem Deduktif Dengan Menggunakan Metode Diskusi Beserta Solusinya
o. . Temuan Permasalahan Mahasiswa melakukan diskusi maksimal. Solusi belum secara      Kalimat di LKM 1 diperbaiki agar tidak membingungkan. Masalah-masalah yang seharusnya ada di LKM 1 adalah masalah-masalah yang solusinya ada di buku yang sudah dibaca mahasiswa. Dosen model menyampaikan langkah-langkah diskusi secara lisan dengan jelas. Setiap kelompok harus memiliki seorang koordinator kelompok. Langkah-langkah diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa dituliskan pada SAP.

Tindakan perbaikan terhadap SAP mengacu pada hasil refleksi: a) Memasukkan langkah menyampaikan aturan pelaksanaan diskusi pada kegiatan inti, b) Menuliskan aturan pelaksanaan diskusi pada SAP. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelas pada Pembelajaran materi Postulat-postulat Geometri Euclides Indikator yang diharapkan tercapai setelah mahasiswa mempelajari materi Postulat-postulat Geometri Euclides adalah mahasiswa mampu: a. Menjelaskan aksioma-aksioma yang ada pada geometri Euclides b. Memahami bunyi postulat kesejajaran Euclides c. Menjelaskan pentingnya peranan postulat kesejajaran pada geometri Euclides Pelaksanaan Plan II dalam mempersiapakan penerapan model diskusi kelas pada materi postulatpostulat pada geometri Euclides (pada Do II) menghasilkan: a. Kesepakatan meliputi: 1) Sesuai dengan indikator, pembelajaran direncanakan menggunakan model pembelajaran diskusi kelas. 2) Fase 1 (Menyampaikan tujuan dan mengatur setting) dan fase 2 (Mengarahkan diskusi) pada model pembelajaran diskusi kelas dimasukkan pada kegiatan pendahuluan. 3) Tujuan dan aturan-aturan pada pelaksanaan diskusi dituliskan pada SAP. 4) Fase 5 (Melakukan tanya jawab singkat tentang pelaksanaan diskusi) pada model pembelajaran diskusi kelas dimasukkan pada kegiatan akhir. 5) Aspek penilaian pada form pengamatan diskusi lebih diperinci. b. Instrumen pembelajaran yang disepakati, meliputi: SAP dengan model pembelajaran diskusi kelas, Lembar Kerja Mahasiswa 2 (LKM 2), dan Form Pengamatan Diskusi. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 187

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Kegiatan See yang dilakukan dosen model bersama para pengamat menghasilkan temuan permasalahan mahasiswa dalam proses pembelajaran beserta solusinya (Tabel 2). Tabel 2. Temuan Permasalahan dalam Pembelajaran Materi Postuat-Postulat Pada Geometri Euclides Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Diskusi Kelas Beserta Solusinya
Temuan Permasalahan o. . Waktu tunggu antara penyampaian masalah oleh dosen dengan pemberian jawaban oleh mahasiswa sangat lama. Mahasiswa tidak bisa bergerak secara leluasa karena tempat duduk mahasiswa yang berbentuk huruf U sangat sempit.  Dosen menunjuk mahasiswa yang harus memberikan jawaban atas masalah yang disampaikan.  Dosen mendekati dan memberi motivasi kepada mahasiswa ketika mahasiswa memikirkan solusi atas masalah yang disampaikan.  Ruang kuliah dipindah  Karena tempat duduk mahasiswa yang berbentuk huruf U terdiri dari dua baris, maka jarak antara baris pertama dan kedua dibuat lebih lebar. Solusi

.

Tindakan perbaikan terhadap SAP mengacu pada hasil refleksi: a) Memasukkan langkah menunjuk mahasiswa untuk menyampaikan pendapat atau tanggapan pada kegiatan inti b) Memasukkan kegiatan mendekati dan memberi motivasi kepada mahasiswa untuk menemukan solusi atas masalah diskusi pada kegiatan inti Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelas pada Pembelajaran materi Teoremateorema yang Diturunkan dari Postulat Kesejajaran Euclides Indikator yang diharapkan tercapai setelah mahasiswa mempelajari materi Teorema-teorema yang Diturunkan dari Postulat Kesejajaran Euclides adalah mahasiswa mampu membuktikan teorema-teorema yang diturunkan dari Postulat Kesejajaran Euclides. Pelaksanaan Plan III dalam mempersiapakan penerapan model diskusi kelas pada materi teoremateorema yang diturunkan dari Postulat Kesejajaran Euclides (pada Do III) menghasilkan: Kesepakatan, meliputi: 1. Sesuai dengan indikator, pembelajaran direncanakan menggunakan model pembelajaran diskusi kelas. 2. Kegiatan mengatur tempat duduk mahasiswa dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. 3. Masalah diskusi yang ada pada Lembar Kerja Mahasiswa tidak menggunakan bahasa “Buktikan teorema...”. Bahasa yang digunakan adalah bahasa masalah biasa saja agar pada akhir diskusi tersebut mahasiswa bisa menyimpulkan bahwa masalah yang telah didiskusikan merupakan suatu teorema. 4. Aspek penilaian pada form pengamatan diskusi lebih diperinci. 5. Instrumen pembelajaran, meliputi: SAP dengan model pembelajaran diskusi kelas, Lembar Kerja Mahasiswa 3 (LKM 3), Form Pengamatan Diskusi. Kegiatan See yang dilakukan dosen model bersama para pengamat serta pendamping pelaksanaan Lesson Study dari Dikti menghasilkan temuan permasalahan mahasiswa dalam proses pembelajaran beserta solusinya (Tabel 3). Tabel 3. Temuan Permasalahan Dalam Pembelajaran Materi Teorema- Teorema yang Diturunkan Dari Postuat Kesejajaran Euclides dengan Menggunakan Model Pembelajaran Diskusi Kelas Beserta Solusinya
Temuan Permasalahan o. Solusi

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 188

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
. Mahasiswa merasa ragu untuk menyampaikan pendapat ataupun gagasan  LKM diganti dengan kertas manila agar materi yang dipresentasikan ditulis dulu di kertas manila, kemudian dipresentasikan dengan cara membaca tulisan di kertas manila di depan kelas. Pada LKM diberikan langkah-langkah teerbimbing. Dosen model melakukan tanya jawab langsung dengan mahasiswa agar mahasiswa termotivasi untuk menyampaikan pendapat ataupun gagasan. Dosen meminta mahasiswa untuk menuliskan jawaban di LKM, kemudian mempresentasikan jawaban tersebut di depan kelas. LKM diberikan pada pertemuan sebelumnya. Kemudian mahasiswa diminta untuk mencari solusi atas masalah tersebut sekaligus membuat rancangan slide yang akan dipresentasikan. Dosen model memberi contoh pembuktian terlebih dahulu kepada mahasiswa untuk melatih mahasiswa berpikir analogis. Dosen model membagi mahasiswa ke dalam beberapa kelomok yang beranggotakan minimal tiga orang mahasiswa. Dosen model memberikan tambahan nilai bagi mahasiswa yang telah menyampaikan pendapat ataupun tanggapan. Dosen model melatih kreativitas mahasiswa. Dosen model memberi cotoh soal ringan dengan petunjuk yang jelas.

 

 

    

Tindakan perbaikan terhadap SAP mengacu pada hasil refleksi: 1) Memasukkan langkah memberikan contoh pembuktian di awal kegiatan inti. 2) Memasukkan langkah memberikan dan meminta mahasiswa mengerjakan LKM pada pertemuan sebelumnya. 3) Memasukkan langkah memberikan tambahan nilai bagi mahasiswa yang telah menyampaikan pendapat ataupun tanggapan. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelas pada Pembelajaran materi Postulat-postulat Pengganti Postulat Kesejajaran Euclides Indikator yang diharapkan tercapai setelah mahasiswa mempelajari materi Postulat-postulat Pengganti Postulat Kesejajaran Euclides adalah mahasiswa mampu: a. Membuktikan ekivalensi Postulat Kesejajaran Euclides dengan Postulat Playfair b. Membuktikan ekivalensi Postulat Kesejajaran Euclides dengan Postulat Proclus Pelaksanaan Plan IV dalam mempersiapakan penerapan model diskusi kelas pada materi Postulatpostulat pengganti Postulat Kesejajaran Euclides (pada Do IV) menghasilkan: a. Kesepakatan, meliputi: 1) Sesuai dengan indikator, pembelajaran direncanakan menggunakan model pembelajaran diskusi kelas. 2) Model tempat duduk yang digunakan adalah mahasiswa duduk berdekatan kelompok. Model tempat duduk kelompok-kelompok mahasiswa berbentuk huruf U. 3) Kelompok yang dibentuk sebanyak 14 kelompok. setiap kelompok beranggotakan tiga orang mahasiswa. 4) Semua kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan semua masalah, tetapi secara khusus, kelompok mahasiswa 1 s/d 4 membuktikan ekivalensi Postulat Kesejajaran Euclides dengan Postulat Playfair jika diketahui Postulat Kesejajaran Euclides, kelompok mahasiswa 5 s/d 6 membuktikan ekivalensi Postulat Kesejajaran Euclides dengan Postulat Playfair jika diketahui Postulat Playfair, kelompok mahasiswa 7 s/d 9 membuktikan ekivalensi Postulat Kesejajaran Euclides dengan Postulat Proclus jika diketahui Postulat Proclus. b. Instrumen pembelajaran yang digunakan meliputi: Silabus, SAP dengan model pembelajaran diskusi kelas, Lembar Kerja Mahasiswa 4 (LKM 4), dan Form Pengamatan Diskusi. Kegiatan See yang dilakukan dosen model bersama para pengamat menghasilkan temuan permasalahan mahasiswa dalam proses pembelajaran beserta solusinya (Tabel 4).

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 189

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

Tabel 4. Temuan Permasalahan dalam Pembelajaran Materi Postulat-Postulat Pengganti Postuat Kesejajaran Euclides dengan Menggunakan Model Pembelajaran Diskusi Kelas Beserta Solusinya
Temuan Permasalahan o. . Ada mahasiswa yang masih pasif dalam mengikuti diskusi karena materi diskusi yang dipresentasikan berbeda materi yang diselesaikan oleh kelompok mahasiswa tersebut. Kelompok mahasiswa 8 tidak mengerjakan LKM sama sekali. Kemungkinan penyebab:  Tidak ada konsekuensi jika tidak mengerjakan  Mahasiswa sudah belajar, tapi belum paham  Dosen model menyampaikan bahwa dalam Matematika, materi yang satu merupakan materi prasyarat untuk materi yang lain.  Dosen model menjelaskan secara menyeluruh bahwa konsep dalam setiap masalah berkaitan.  Kelompok yang tidak mengerjakan LKM dipaksa untuk mempresentasikan solusi atas masalah yang menjadi beban kelompok tersebut. Jika kelompok tersebut tidak bisa mempresentasikan apapun, maka dosen model memberikan kesempatan untuk kelompok lain untuk mempresentasikan solusi atas masalah yang tidak diselesaikan oleh kelompok yang bertugas. Solusi

.

a) b)

Tindakan perbaikan terhadap SAP mengacu pada hasil refleksi: Memasukkan langkah menyampaikan bahwa dalam Matematika, materi yang satu merupakan materi prasyarat untuk materi yang lain. Memasukkan langkah menjelaskan secara menyeluruh bahwa konsep dalam setiap masalah berkaitan.

KESIMPULAN Pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan Lembar Kerja Mahasiswa yang berbasis proses berpikir intuitif merupakan pembelajaran yang sangat tepat pada pembelajaran mata kuliah Sistem Geometri. Pembelajaran tersebut memfasilitasi mahasiswa calon guru Matematika untuk berlatih berpikir intuitif dan menguasai empat kompetensi guru profesional, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Saran yang dikemukakan berdasarkan hasil penelitian adalah pembelajaran diskusi kelas berbasis proses berpikir intuitif hendaknya dilakukan pada pembelajaran mata kuliah Sistem Geometri materi yang lain dan mata kuliah lain. DAFTAR PUSTAKA Hirawan, A. 2007. Intuisi. (http://www.ameliahirawan.or.id/intuisi/, diakses 12 Nopember 2008) Kurniadi, E. Penerapan Pembelajaran Elektronika I Berbasis Konflik Kognitif melalui Metode Percobaan, Demonstrasi, Ceramah, dan Diskusi. Jurnal Pendidikan MIPA IKIP PGRI Madiun Vol. 3, No. 1. Maret 2011. Nasution, S.. 2006. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Sagala, S. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 190

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

PENERAPAN LESSON STUDI DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD YANG MELIBATKAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF PADA MATAKULIAH ALJABAR ELEMENTER

Awi Dassa
Universitas Negeri Makasar

Abstrak: Lesson study adalah merupakan salah satu model yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan guru/dosen dalam melaksanakan pembelajaran. Secara umum penerapan lesson study dilaksanakan dengan melalui tiga tahap yaitu (1) PLAN (pengembangan Teaching Plan dan Teaching Material), (2) DO (Pelaksanaan Open Lesson), dan (3) SEE (Rekleksi). Penerapan Lesson Study ini dilaksanakan di semester I program studi Matematika FMIPA UNM Makassar pada mata kuliah aljabar elementer mulai tanggal 12 Oktober sampai 10 Nopember 2011. Pengamat yang dilibatkan dalam kegiatan ini yaitu 4 orang dari Jurusan matematika dan dua orang dari luar FMIPA yaitu masing-masing dari Fakultas Bahasa dan dari Fakultas Ilmu Sosial. Hasil yang diperoleh yaitu: (1) Pelaksanaan pembelajaran di awal sangat terganggu dengan keberadaan tim pengamat, namun lambat laut akhirnya sudah terbiasa dengan kehadiran pengamat, (2) Kekurangan yang dimiliki oleh dosen model yang selama ini tidak disadari, dapat diperbaiki lewat lesson study, (3) Mahasiswa dapat lebih memahami materi dan terbiasa berkomunikasi dengan baik terhadap sesama mahasiswa dan dengan dosen.

Setiap tahun program studi Matematika jurusan matematika FMIPA UNM Makassar menerima mahasiswa baru sekitar 45 orang dengan rata-rata hasil ujian diatas 70%. Namun ada keluhan dari para dosen yang terkesan mahasiswa mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran yang sifatnya mata kuliah lanjutan. Setelah ditelusuri penyebab kondisi tersebut diperkirakan akibat dari kurang dikuasainya konsep dasar matematika yang diajarkan pada mata kuliah dasar seperti aljabar elementer. Selanjutnya muncul lagi pertanyaan, kenapa mata kuliah dasar tidak kuasai oleh mahasiswa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita memerlukan suatu pengkajian yang bersifat komprehensip. Model Lesson study adalah merupakan salah satu model yang dapat digunakan untuk menelusuri penyebab tidak dikuasainya matakuliah oleh mahasiswa baru. Keberhasilan pelaksanaan suatu pembelajaran atau dengan kata lain mahasiswa dapat menguasai materi ajar yang dipelajari sangat ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan dosen melaksanakan pembelajaran. Lesson Study adalah salah satu model yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dosen dalam melaksanakan perkuliahan, khususnya pada matakuliah Aljabar Elementer. Penerapan lesson study melalui tiga tahap yaitu (1) PLAN (pengembangan Teaching Plan dan Teaching Material), (2) DO (Pelaksanaan Open Lesson), dan SEE (Rekleksi). Terkait dengan hal tersebut, maka dibentuklah TIM Lesson Study yang terdiri atas Ketua, Sekretaris, Dosen Model, Dosen Mitra, dan Pengamat. Berdasarkan konsistensi kajian Dosen Model akhir-akhir ini yaitu pelibatan scaffolding Metakognitif dalam pembelajaran dengan paradigma Student centre, maka dalam kegiatan lesson study ini diangkat judul ”Penerapan Lesson Studi dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang Melibatkan Scaffolding Metakognitif pada Matakuliah Aljabar Elementer” Lesson Study

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 191

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Lesson study merupakan salam satu bentuk pembinaan pribadi guru/dosen untuk meningkatkan profesionalismenya. Pembinaan terhadap diri sendiri dilakukan secara bersama-sama dengan teman sejawat, praktek saling mengamati antara yang satu dengan yang lain. Penerapan lesson study dalam pembelajaran dilakukan dalam siklus-siklus kegiatan, tiap siklusnya dilakukan 3 tahap kegiatan yaitu Plan, Do, dan See. Masing-masing tahapan itu dilakukan sebagai berikut. 1. Plan: Pada tahap ini Tim Lesson Study melakukan perencanaan yang terdiri atas Teching Plan dan Teaching Material. Kedua perencanaan ini dirancang/ disusun secara bersama oleh Tim sampai terwujud untuk siap diterapkan. 2. Do : Pada tahap ini Tim Lesson Study melaksanakan open lesson di dalam kelas dengan menunjuk seorang model dan yang lain melakukan pengamatan terhadap jalannya pembelajaran. Adapun yang diamati adalah terkait dengan sikap guru/dosen, sikap siswa, interaksi siswa dengan siswa, interaksi guru/ dosen dengan siswa, dll. 3. See : Pada tahap ini Tim Lesson Study melakukan refleksi terhadap hasil pengamatan anggota TIM dan dari guru/ dosen model. Di akhir tahap ini akan melahirkan suatu rekomendasi perbaikan. Hasil refleksi oleh tim merupakan masukan untuk perencanaan pada siklus berikutnya agar pembelajaran lebih baik dari siklus sebelumnya. Setiap tahapan pengkajian pembelajaran harus dilaksanakan secara kolaboratif dan tidak pernah berakhir melakukan perbaikan pembelajaran. Pengetahuan materi ajar maupun keterampilan guru/ dosen membelajarkan siswa dibangun dalam Tim lesson melalui sharing pendapat di antara anggota Tim dengan lebih menekankan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. Perlu mengkoreksi kesalahan konsep-konsep melalui sharing pendapat yang didukung fakta yang benar secara santun dan bijak sehingga semua anggota Tim lesson merasa nyaman. Scaffolding Metakognitif Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pemberian scaffolding oleh guru kepada siswa diantaranya: (1) mengingatkan kembali materi-materi prasyarat, sehingga pemikiran siswa terkait dengan masalah yang dipecahkan, (2) mengarahkan siswa untuk memaknai masalah, sehingga siswa menyadari apa yang akan dilakukan selanjutnya, (3) memberikan pertanyaan-pertanyaan/arahan metakognitif dengan tujuan siswa dapat merancang strategi yang digunakan dalam memahami/ menyelesaikan masalah tersebut. Pertanyaan-pertanyaan metakognitif yang dimaksud pada poin (3) yaitu pertanyaan-pertanyaan atau arahan yang memungkinkan siswa untuk mengetahui ketepatan suatu langkah yang dilakukan dan menyadari hasil kognisinya sendiri, termasuk, menyadari keefektifan strategi yang digunakan. Pemberian scaffolding dengan mengharapkan munculnya kesadaran siswa dalam menyelesaikan tugas atau masalah disebut scaffolding metakognitif. Jadi dalam tulisan ini yang dimaksud dengan scaffolding metakognitif adalah scaffolding yang diberikan oleh dosen atau yang lebih ahli dalam rangka membantu mahasiswa melibatkan metakognisinya terhadap proses dan hasil berpikirnya. Pemberian scaffolding tidak hanya membantu mahasiswa agar mampu mengatasi hambatan yang dialami dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan, namun lebih ditekankan pada munculnya kesadaran siswa dalam setiap langkah, strategi yang digunakan dan hasil yang diperoleh dalam menyelesaikan masalah matematika tersebut.

Kooperatif Tipe STAD Pembelajaran konstruktivistik membutuhkan kesadaran siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuan/ konsep/ tugas matematika baik secara individu maupun secara kelompok. Dengan demikin guru diharapkan hanya menjadi fasilitator dan agen pembelajaran. Kemudian sistim pemberian materi yang digunakan yaitu top down, artinya materi diberikan dari awal secara kompleks, kemudian dengan arahan guru dalam bentuk scaffolding sehingga siswa menemukan struktur pengetahuan/ kosep atau pemecahan tugas matematika yang diberikan. Oleh karena itu pembelajaran kooperatif dianggap dapat digunakan untuk melakukan proses pembelajaran konstruktivistik tersebut. Pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, tetapi juga sangat membantu siswa menumbuhkan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 192

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) kemampuan kerja sama, berpikir kritis, dan kemauan siswa untuk saling membantu teman kelompoknya dalam mencapai kesuksesan bersama. Hal ini dapat di lihat dari keterampilan-keterampilan kooperatif yang diharapkan dimiliki siswa dalam belajar secara kooperatif. Student Teams – Achievement Divisions (STAD): Kelas dibagi atas tim-tim dengan anggota paling banyak 4 siswa. Dengan mengikuti fase-fase kooperatif secara umum yaitu guru menyampaikan tujuan dan menyajikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam tim dengan maksud memastikan seluruh anggota tim menguasai pelajaran yang telah disajikan guru. Siswa diberi kuis (tidak kerjasama) dan skor tiap siswa dibandingkan dengan rata-rata skornya yang lalu. Point tiap siswa ditentukan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui rata-rata skornya yang lalu. Kemudian ditentukan point tim yaitu total point tiap anggota tim. Tim yang mencapai poit tertinggi diberi sertifikat atau ganjaran. Dalam kegiatan ini, pada saat seorang mahasiswa mengalami hambatan untuk memahami materi atau tugas yang diberikan, maka dosen model akan member batuan kepada mahasiswa tersebut berupa pemberian scaffolding metakognitif yang disertai wawancara untuk menggali informasi tentang bagian mana yang mahasiswa belum fahami dan atau belum menyadari. Metode Penerapan Lesson Study Penerapan Lesson Study ini dilaksanakan di program studi Matematika FMIPA UNM Makassar pada mata kuliah aljabar elementer mulai tanggal 12 Oktober sampai tanggal 10 Nopmber 2011. Kegitan ini didahului dengan pembentukan tim lesson studi yang terdiri atas ketua, sekretaris, dosen model, dosen mitra, dan pengamat. Pengamat yang dilibatkan beasal dari Jurusan matematika dan dua orang bersal dari luar FMIPA yaitu masing-masing dari Fakultas Bahasa dan dari Fakultas Ilmu Sosial. Untuk merancang perangkat pembelajaran open lesson I, maka diberi kepercayaan kepada dosen model agar pembelajaran awal berjalan seperti biasa. Dosen model merancang Teching Plan yang dan Teaching Material pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam bentuk RPP, LKS, lembar tugas/ kuis. Namun pada rancangan perangkat pembelajaran open lesson II dan III, barulah didasarkan atas rekomendasi dari Tim sesuai dengan hasil refleksi lesson I atau II. Sedangkan untuk rancangan perangkat pembelajaran open lesson IV kembali dipercayakan ke dosen model sebagai uji coba kemandiriannya. Pada saat proses perkuliahan, masing-masing anggota Tim melakukan perannya masing-masing yaitu ada yang mengambil gambar (suting/foto) yang lain memantau pelaksanaan pembelajaran. Setiap selesai pembelajaran dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran dan sekaligus memberi rekomendasi terkait dengan apa yang akan dikerjakan pada open lesson berikutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengamatan observer pada open lesson I, maka dikemukakan beberapa hasil refleksi sebagai berikut: (1) Pada awal pembelajaran, Dosen aktif dalam melakukan apersepsi memberikan pertanyaan metakognitif kepada siswa terkait dengan materi perkuliahan, (2) Pada saat pemberian umpan balik dan tanya jawab, hanya mahasiswa yang duduk di baris depan yang aktif menjawab pertanyaan dari dosen model, (4) Mahasiswa aktif dalam mengerjakan LKS bersifat individu yang dibagikan, (5) Sebahagian mahasiswa aktif mengungkapkan hambatan yang dialami dalam mengerjakan LKS, (6) Dosen secara aktif memberi scaffolding metakognitif kepada yang mengalami hambatan dalam mengerjakan LKS, (7) Pembentukan kelompok dilakukan pada pertengahan pembelajaran, (8) Sebahagian mahasiswa kelihatannya masih bingung dengan tugas yang diberikan oleh dosen, dan (9) Materi yang terlah direncanakan tidak selesai berdasarkan waktu perkuliahan yang ada. Beberapa pengakuan Dosen Model terkait dengan pelaksanaan lesson I yaitu: (1) Di awal pembelajaran, Dosen model sedikit mengalami grogi atau perasaan tidak mau melakukan kesalahan, (2) Selama pembelajaran, Dosen model merasa terganggu dengan pelaksanaan suting yang mengikuti ke mana dosen model pergi, dan (3) Tidak merasa merdeka dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat enovatif untuk mengatasi kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi secara bersama pada kegiatan open lesson I, maka tim merekomendasikan beberapa hal untuk perbaikan perkuliahan berikutnya. Adapun rekomendasi tersebut

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 193

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) yaitu: (1) Materi kuliah sebaiknya tidak dirancang untuk diselesaikan semuanya dalam perkuliahan, tetapi sebagian materi yang sifatnya pengembangan di rancang untuk dipelajari secara mandiri/ kelompok di luar perkuliahan, (2) Sebaiknya Dosen Model releks dalam melaksanakan pembelajaran, (3) Pembagian kelompok sebaiknya dirancang lebih awal, (4) Tugas yang diberikan kepada setiap kelompok sebaiknya sudah dibagikan pada awal pembelajaran, dan (5) Sebaiknya dosen model juga memberi kesempatan pada mahasiswa yang lain untuk aktif berkomunikasi dalam pembelajaran. Berdasarkan pengamatan observer pada open lesson II, maka dikemukakan beberapa hasil refleksi sebagai berikut: (1) Pembelajaran dilanjutkan dari materi yang tertunda pada open lesson I, (2) Pada awal pembelajaran, Dosen aktif dalam melakukan apersepsi memberikan pertanyaan metakognitif kepada siswa terkait dengan lanjutan materi perkuliahan, (3) Pada saat pemberian umpan balik dan tanya jawab, Dosen Model sudah dapatmemperhatikan mahasiswa yang duduk di baris belakang yang aktif menjawab pertanyaan dari dosen model. Namun bentuknya hanya pemerataan saja, (4) Mahasiswa aktif dalam mengerjakan LKS bersifat kelompok yang beum selesai pada pertemuan sebelumnya, (5) Sebahagian mahasiswa sudah mengerjakan LKS yang tersisa pada open lesson I, sehingga kurang aktif mengikuti pelajaran, (6) Dosen secara aktif memberi scaffolding metakognitif kepada yang mengalami hambatan dalam mengerjakan LKS, (7) Di akhir jam pertama, dosen memberi kesempatan kepada beberapa kelompok untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya dan mahasiswa yang menanggapi, (8) Waktu yang tersisa digunakan untuk materi yang baru, dimana dosen memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok mengerjakan LKS, (9) Sebahagian mahasiswa kelihatannya masih bingung dengan tugas yang diberikan oleh dosen. dan (10) Dosen secara aktif memberi scaffolding metakognitif kepada yang mengalami hambatan dalam mengerjakan LKS. Beberapa pengakuan Dosen Model yaitu: (1) Selama pembelajaran, Dosen model masih merasa terganggu dengan pelaksanaan suting yang mengikutinya. (2) Masih tidak merasa merdeka dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat enovatif untuk mengatasi kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan (3) Terkesan sebagian besar mahasiswa, merasa segan untuk bertanya ealaupun mereka tidak mengetahuinya. Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi pada kegiatan open lesson II, maka tim merekomendasikan beberapa hal untuk perbaikan perkuliahan berikutnya yaitu: (1) Materi kuliah sebaiknya dijelaskan secara singkat di awal perkuliahan, baru diberi LKS, (2) Sebaiknya dosen model membiasakan diri untuk tetap merasa rileks, (3) Sebaiknya menggunakan dua alat sutingan, (4) Pembagian kelompok sebaiknya dirancang lebih heterogen, (5) Tugas yang diberikan kepada setiap kelompok sebaiknya sudah dibagikan pada awal pembelajaran, dan (6) Sebaiknya dosen model juga memberi kesempatan pada mahasiswa yang lain untuk aktif berkomunikasi dalam pembelajaran. Berdasarkan pengamatan observer pada open lesson III dan IV, maka dikemukakan beberapa hasil refleksi yaitu: (1) Keadaan mahasiswa umumnya sudah lebih aktif bekerja dan bertanya tentang hal-hal yang tidak dipahami, (2) Waktu pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan persiapan, (3) Masih ada sekitar 5% mahasiswa yang kelihatannya kurang mengerti pelajaran seperti teman lainnya, namun setelah diwawancarai dua orang dan ditelusuri kemampuan dasar matematikanya ternyata memang kemampuannya matematikanya rendah. Terkait dengan hasil refleksi di atas, maka dosen model melanjutkan pembimbingan terhadap dua mahasiswa yang berkemampuan rendah dengan menerapkan scaffolding metakognitif yang bertujuan untuk menelusuri bagian-bagian mana dari materi matematika yang mereka tidak pahami dan selanjutnya diarahkan untuk memahaminya. Secara keseluruhan pelaksanaan 4 kali pertemuan open lesson tim lesson study mengemukakan masing-masing persepsinya sebagai berikut. (1) Dari tim pengamat: kelihatan perubahan yang sangat baik pada open lesson III dan IV, baik pengelolaan kelas maupun keaktifan mahasiswa. (2) Dari dosen model: Sampai pada open lesson IV tetap masih ada perasaan tidak bebas berbuat dalam pembelajaran, namun jika dibanding dengan pada open lesson I maka di open lesson IV sudah berkurang groginya. Kekurangan yang dimiliki dapat dilihat dan diperbaiki. (3) Dari dosen mitra: pada open lesson III dan IV semakin terarah dan interaksi siswa dan siswa, siswa dan guru makin baik. (4) Dari dosen luar FMIPA: memandang baik untuk diterapkan, sehingga kita sebagai dosen senantiasa siap untuk dikoreksi oleh orang lain terkait dengan pelaksanaan perkulaiahan di kelas. Merencanakan untuk meneapkan di program stunya masing-masing. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 194

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) KESIMPULAN Pelaksanaan pembelajaran di awal sangat terganggu dengan keberadaan tim pengamat, namun lambat laut akhirnya sudah terbiasa dengan kehadiran pengamat. Kekurangan yang dimiliki oleh dosen model yang selama ini tidak disadari, dapat diperbaiki lewat lesson study. Mahasiswa dapat lebih memahami materi dan terbiasa berkomunikasi dengan baik terhadap sesama mahasiswa dan dengan dosen. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Ketenagaan. 2008. Program Perluasan Lesson Study Untuk LPTK Buku 3. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas. Desoete, A. 2001. Off-line metacognition in Children with mathematics learning disabilities. Disertation: Universiteit Gent. Lie, A. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo. Lutfi, A. 2008. Lesson Study Berbasis Sekolah Sebagai Alternatif Meningkatkan Citra Publik Sekolah (Makalah Seminar Nasional Kimia). Surabaya: Jurusan Kimia FMIPA Unesa. Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning Theory, Research and Practice. Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Woolfolk, A.E. 1998. Educational Psychology Seventh Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 195

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATAKULIAH GEOMETRI MELALUI IMPLEMENTASI PERANGKAT ALAT PERAGA

Baso Amri
PMIPA FKIP Universitas Tadulako, e-mail: hbasoamri44@yahoo.co.id

Abstrak: Permasalahan pokok dalam penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di LPTK, masih rendahnya pemahaman dan aktivitas mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran matakuliah geometri. Untuk mengkaji masalah di atas, dilakukan penelitian tindakan kelas yang menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagai pengumpul data dalam penelitian ini, penulis merupakan instrumen utama yang sekaligus betindak sebagai pengajar, dalam mengumpulkan data penelitian digunakan lembar observasi, tes diagnostik dalam bentuk tes uraian dan melakukan wawancara, dengan tujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran pada matakuliah geometri melalui implementasi perangkat alat peraga yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan pemahaman serta aktivitas mahasiswa di dalam kelas, dari hasil penelitian dapat kesimpulan, bahwa: 1) Dengan implementasi perangkat alat peraga pada proses pembelajaran matakuliah geometri menunjukkan aktivitas dosen alam mengelola kelas cukup baik, 2) Aktivitas dan antusias mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran geometri sangat baik, dan 3) Meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran geometri dari 69,71% menjadi 94,37%, serta ketuntasan belajar mahasiswa dari 56,74% menjadi 96,25% . Kata kunci: Implementasi perangkat alat peraga, kualitas pembelajaran

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di LPTK antara lain: peningkatan kompetensi dosen, pengembangan isi kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran termasuk perangkat alat peraga yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar, penyediaan bahan ajar yang memadai, dan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh dosen, seiring dengan hal tersebut di atas paradigma pembelajaran matematika khususnya pembelajaran matakuliah geometri di dalam kelas-pun juga mengalami perubahan dimana seorang dosen dituntuk memiliki kemampuan untuk : (1) mendesain perencanaan pembelajaran dengan baik, (2) memilih strategi, metode, pendekatan, dan media pembelajaran yang tepat, (3) penguasaan dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan, (4) mampu menerapkan strategi pembelajaran yang lebih menekankan “learning activity” dari pada “learning receptivity”, lebih berorientasi pada pada “student centre” dari pada “teacher centre”, dan (5) mampu menyusun, menggunakan dan menganalisa alat evaluasi. Disamping faktor dosen yang disebutkan di atas, faktor mahasiswa juga berperan dalam turut menentukan kualitas pembelajaran matematika itu sendiri, hal ini dibuktikan bahwa yang belajar adalah maha siswa. Geometri merupakan salah satu topik dalam matematika selain Aritmatika, Aljabar, Trigonometri, Kalkulus, Probabilitas dan Statistik, Teori Himpunan dan Logika, Teori Bilangan, Analisis Sistem, dan Teori Ketidak-beraturan yang ada pada Program Studi Pendidikan Matematika. Berdasarkan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) tahun 2001 Pendidikan Tinggi , mata kuliah geometri merupakan mata kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa program studi pendidikan matematika . Dalam proses pembelajaran geometri sebagian besar mahasiswa merasa sulit untuk memahami dengan baik materi yang dijelaskan, hal ini tampak dari keluhan dan pengalaman beberapa dosen dan mahasiswa, bahwa sebagian besar mahasiswa kurang tertarik dengan mata kuliah geometri dan merasa keSeminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 196

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) sulitan dalam belajarnya, di samping itu dosen juga merasa belum tepat dalam menerapkan pendekatan pembelajaran, khusus untuk kondisi kelas pada saat proses pembelajaran matakuliah geometri berlangsung. Menurut Soejadi (1996), Sunardi (2000) dan Senk (1990) mengindikasikan bahwa dalam pembelajaran geometri, biasanya dosen hanya menggambarkan konsep geometri dipapan tulis, namun perlu disadari bahwa tidak sedikit mahasiswa kita memiliki kemampuan daya tilik (tanpa benda real/nyata) sangat lemah, sehingga sulit untuk memahami dan mengerti konsep yang sedang diajarkan kalau hanya melalui gambar dipapan tulis. Akibatnya mahasiswa kurang tertarik dan kurang mengerti dan memahami, karena mereka merasa masih punya keterbatasan daya tilik (tanpa benda real/nyata) untuk memahami materi yang diajarkan. Usiskin dan Senk (1990: 243) menyatakan bahwa tahap berpikir dalam belajar geometri menurut Van Hiele dapat digunakan sebagai prediktor kemampuan siswa dalam menulis bukti geometri. Lebih jauh Van Hiele menduga bahwa perkembangan tahap berpikir siswa lebih dominan dipengaruhi oleh pembelajaran dibandingkan umur atau kematangan biologis. Hal ini memberikan penekanan kepada dosen, bahwa untuk melakukan pembelajaran geometri hendaknya terlebih dahulu merancang dan mempersiapkan pembelajaran termasuk media-media pembelajaran yang akan digunakan, sehingga mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran dengan aktivitas dan motivasi yang baik dan akhirnya akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar mahasiswa, Beberapa kondisi yang dijumpai antara lain yang berkaitan dengan lemahnya kemampuan daya tilik mahasiswa yang selama ini kami alami pada saat proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas adalah lemahnya kemampuan mahasiswa terhadap konsep-konsep geometri, sehingga mengakibatkan mahasiswa mengalami kesulitan saat menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan materi geometri yang telah diajarkan. Clements dan Battista (1992: 421) mengungkapkan bahwa hasil evaluasi terhadap siswa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka gagal dalam mempelajari konsep dasar geometri. Selanjutnya Senk (dalam Sunardi,2000: 36) menyatakan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan saat menyelesaikan tugas menulis bukti geometri. Dengan demikian dosen harus dapat menerapkan pendekatan dan solusi yang tepat pada saat proses belajar mengajar berlangsung sebagai uapaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada matakuliah geometri. Rumusan masalah dalam penelitian ini apakah implementasi perangkat alat perga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matakuliah geometri mahasiswa program studi pendidikan matematika?. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberi manfat yang berarti dalam rangkah meningkatkan kualitas pembelajaran matakuliah geometri sertas mencarikan solusi pemecahan masalah pembelajaran mata kuliah geometri bagi mahasiswa, dosen dan program studi pendidikan matematika sebagai berikut : (1) bagi mahasiswa, hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran mata kuliah geometri, (2). bagi dosen, dengan dilakukan penelitian ini, dosen dapat menerapkan strategi pembelajaran dengan pendekatan implementasi perangkat alat peraga sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matakuliah geometri guna meningkatkan daya tilik dan pemahaman mahasiswa, (3). bagi program studi pendidikan matematika, hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tindakan ini juga sangat bermanfaat untuk institusi LPTK khususnya program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Tadulako dalam rangka menghasilkan lulusan yang handal dan profesional dalam bidang pendidikan matematika.
METODE

Data yang diperlukan dalam paparan ini, diperoleh dengan cara observasi terhadap aktivitas dosen dan mahasiswa dengan menggunakan lembar observasi dan digunakan pada saat pembelajaran matakuliah geometri berlangsung bagi mahasiswa semester III tahun akademik 2007/2008 data hasil belajar mahasiswa baik menyangkut peningkatan pemahaman terhadap materi yang disajikan maupun skor hasil belajar yang dicapai setiap siklus. Instrumen penelitian ini terdiri atas : (1). lembar observasi, (2). tes hasil belajar yang didesain untuk dapat menggali tingkat pemahaman mahasiswa tentang materi yang telah disajikan melalui penggunaan perangkat alat peraga yang telah dilakukan. Sumber data dosen dan mahasiswa, data yang diperoleh berupa aktifitas dosen dan mahasiswa dan dilakukan dalam rangka pelaksanaan tindakan. Pada tahap pertama yaitu kegiatan perencanaan ini akan diidentifikasi konsepSeminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 197

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) konsep materi Geometri yang dirasakan sulit oleh mahasiswa untuk dipahami , selanjutnya pengajar (dosen) merancang dan menkonstruksi perangkat alat peraga yang berbasis pada konsep tersebut dan bersifat aplikatif. Kemudian materi tersebut disajikan kepada mahasiswa dan mengacu pada strategi pembelajaran melalui pengimplementasian perangkat alat peraga. Proses awal dari pembelajaran ini adalah menentukan tujuan pembelajaran, kemudian mengajak mahasiswa memperhatikan penerapan alat peraga untuk mengerti dan memahami konsep pokok bahasan yang dijelaskan/dibahas pada saat pembelajaran berlangsung, kemudian melakukan evaluasi terhadap kemampuan mahasiswa dalam memahami materi yang telah disajikan. Tahap pelaksanaan tindakan, pada tahap ini akan dilakukan upaya perbaikan dengan tetap mengacu pada kekurangan tindakan yang telah dilakukan sebelumnya dengan perkataan lain perlu dilakukan revisi/perubahan cara pengimplementasian perangkat alat peraga yang digunakan tersebut. Pada tahap ini dilakukan observasi yaitu pengamatan terhadap aktivitas dosen dan mahasiswa pada saat pembelajaran berlangsung sebagai hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan, refleksi, pada tahap ini merenungi kembali permasalahan yang diperoleh dari hasil pelaksanaan tindakan, kemudian mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan tersebut berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil dari refleksi ini sebagai dasar untuk melakukan revisi perbaikan pada tindakan pembelajaran selanjutnya (Siklus berikutnya). Data mengenai proses pengimplementasian perangkat alat peraga sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan kendala-kendala yang ditemui pada saat pembelajaran berlangsung dianalisis secara deskriptif. Untuk data hasil belajar yang dicapai dianalisis dengan menggunakan analisis yang mencakup daya serap individu dan ketuntasan belajar mahasiswa secara klasikal dan rerata hasil belajar yang dicapai. Indikator keberhasilan penelitian tindakan ini untuk setiap siklus adalah jika nilai rerata hasil belajar yang dicapai mahasiswa  60 (skala 10-100). Kemudian jika pembelajaran untuk suatu pokok bahasan, mahasiswa dikatakan tuntas dalam pembelajaran tersebut jika diperoleh persertase daya serap individu minimal 60% dan tuntas belajar 80%. Sedangkan indikator keberhasilan berdasarkan lembar observasi adalah jika kegiatan pembelajaran rerata sudah termasuk kategori baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Observasi awal yang dilaksanakan pada tahap ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran keadaan kelas, perhatian dan aktivitas mahasiswa, serta kemampuan awal mahasiswa memahami konsep-konsep. Hasil observasi dapat dilihat pada tabel.1, tabel.2, dan hasil evaluasi kemampuan siswa dilihat pada tabel. 3. Tabel 1. Hasil observasi awal aktivitas mahasiswa sebelum tindakan
No. 1 2 3 4 Aspek Pengamatan Memperhatikan penjelasan dosen atau teman. Berusaha untuk memahami dan mengerjakan latihan soal Mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi geometri yang sedang diajarkan Mengungkapkan ide-ide geometri Hasil Cukup Kurang Kurang Kurang

Tabel 2. Hasil observasi awal terhadap aktivitas dosen sebelum tindakan
No. 1. 2. 3. 4. Aspek Pengamatan Kejelasan menerangkan materi Pengaturan lalu lintas selama proses belajar mengajar Pengaturan kegiatan di dalam kelas Kesesuaian membawakan materi Hasil Kurang Cukup Cukup Kurang

Tabel 3. Analisis Hasil Tes Evaluasi Sebelum Tindakan
No. Skor Mahasiswa % Keterangan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 198

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
1. 2. 3. 4. 6,5 5,5 – 6,49 4,5 – 5,49 <4,5 29,3 12,2 9,8 48,8 Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas

Setelah dilakukan tindakan dalam proses belajar mengajar analisis hasil observasi dan evaluasi dapat dilihat dalam tabel. 4 sampai dengan tabel. 6. Tabel 4. Analisis Hasil Observasi Tabel Aktifitas Siswa Pada Siklus Pertama
No. 1. 2. 3. 4. Aspek Pengamatan Memperhatikan penjelasan dosen dengan penerapan alat peraga. Berusaha untuk memahami dan mengerjakan latihan soal Mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan Mengungkapkan ide-ide geometri dengan penerapan alat peraga Hasil Baik Cukup Baik Cukup

Tabel 5. Analisis Hasil Tes Evaluasi Pada Siklus Pertama
No. 1. 2. 3. 4. Skor mahasiswa >= 6,5 5,5 – 6,49 4,5 – 5,49 <4,5 % 54,6 19,0 21,4 23,8 Keterangan Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas

Setelah dilaksanakan tindakan dalam proses belajar mengajar analisis hasil observasi dan evaluasi dapat dilihat pada tabel. 6 sampai dengan tabel. 7. Tabel 6. Analisis Hasil Observasi Tabel Aktifitas mahasiswa Pada Siklus Kedua
No. 1. 2. 3. 4. Aspek Pengamatan Memperhatikan penjelasan guru dengan penerapan alat peraga. Berusaha untuk memahami dan mengerjakan latihan soal Mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi geometri Mengungkapkan ide-ide geometri dengan penerapan alat peraga Hasil Sangat Baik Baik Sangat Baik Baik

Tabel 7. Analisis Hasil Tes Evaluasi Pada Siklus Kedua
No. 1. 2. 3. 4. Skor mahasiswa >= 6,5 5,5 – 6,49 4,5 – 5,49 < 4,5 % 95,8 9,5 4,8 4,8 Keterangan Tuntas Belum tuntas Belum tuntas Belum tuntas

TAHAP OBSERVASI AWAL

Pada tahap ini, pelaksanaan tindakan belum dilakukan dari hasil observasi terhadap aktifitas mahasiswa selama proses belajar mengajar berlangsunng, yang dituangkan pada tabel 1 menunjukkan bahwa meskipun siswa aktif mengerakan soal-soal latihan namun terlihat bahwa sebagian besar mahasiswa masih mengalami kesulitan dan kurang termotivasi. Hal ini didukung oleh analisis mengajar, dimana dosen hanya menjelaskan materi dipapan tulis dengan kata lain dosen belum menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan hasil analisis dari hasil tes evaluasi mahasiswa menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yan berhasil belajar tuntas 13 mahasiswa atau 26,3%, sedangkan jumlah mahasiswa masih jauh dari belajar tuntas yaitu mempunyai skor di bawah 5,5 menduduki jumlah terbesar yaitu 24 siswa atau 58,5%. Untuk memecahkan masalah di atas, maka dari hasil evaluasi, analisis dan pengamatan terhadap aktivitas dosen dan mahasiswa, direncanakan tindakan-tindakan sebaga berikut:  Membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan perangkat alat peraga.  Membuat lembar observasi Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 199

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Mendesain alat evaluasi. Menyusun rencana pelajaran dengan menentukan aspek-aspek yang akan dilaksanakan sesuai dengan materi pelajaran.  Mahasiswa bersama dengan dosen mendiskusikan konsep dan teorema. Diharapkan setelah melakukan tindakan penggunaan perangkat alat peraga maka kemampuan mahasiswa dalam memahami materi akan meningkat. 1. Siklus Pertama Setelah dilakukan tindakan dengan mengimplementasikan perangkat alat peraga dapat dikatakan bahwa ada peningkatan strategi dan metode dosen dalam proses belajar mengajar. Dapat dilihat dari tabel 4, bahwa aktivitas mahasiswa dalam berbicara sebagai jawaban terhadap pertanyaan dosen cukup baik. Hal ini cukup menambah keberanian mahasiswa bertanya tentang sesuatu yang masih menggganggu pemikirannya. Kemudian dari tabel 5 dapat dilihat pula bahwa pengantar dalam pelajaran cukup baik dan terlihat bahwa dosen lebih jelas menerangkan materi. Peningkatan hasil observasi di atas, kemudian turut juga meningkatkan skor hasil evaluasi belajar mahasiswa, terlihat mahasiswa yang belajar tuntas meningkat ,menjadi 58,6,7%. Yang mempunyai nilai antara 5,5 – 6,4 adalah 21,0%. Sedangkan siswa yang mempunyai skor dalam kategori belum tuntas menurun menjadi 49,2%. Peningkatan hasil analisis dari tahap observasi awal ke siklus pertama lebih disebabkan oleh perbedaan pendekatan yang dilakukan oleh dosen. Akan tetapi, karena hasil yang dicapai belum memenuhi indikator keberhasilan yaitu 80% maka perlu diadakan perbaikan-perbaikan rancangan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada tindakan selanjutnya yaitu siklus 2. Perbaikan ini didasarkan pada :  Kemampuan dan teknik menerangkan dosen pada tahap pendahuluan dan pengembangan sehingga mahasiswa dapat menangkap penjelasan dosen dengan mudah. Hal ini didasarkan pada temuan bahwa masih ada mahasiswa yang kurang mengerti dan memahami penjelasan dosen.  Penggunaan perangkat alat peraga model bangun rotasi yang lebih lengkap dalam hal ini sebaiknya juga alat peraga yang digunakan dapat diiplementasikan oleh mahasiswa dalam pembeajaran sehingga mahasiswa dengan mudah dapat memahami.  Kemampuan dosen dalam teknik bertanya sehingga dapat merangsang mahasiswa untuk lebih aktif bertanya, serta mahasiswa lebih mudah memahami maksud pertanyaan dosen.  Kemampuan dosen dalammemberikan soal-soal latihan dan pekerjaan rumah yan menarik dengan menggunakan alat peraga tersebut, shingga lebih menarik mahasiswa untuk menyelesaikannya. Hal ini juga didasarkan temuan bahwa masih ada beberapa soal yang kurang menarik dan lebih bersifat abstrak. 2. Siklus Kedua Dari tabel. 6 sampai dengan tabel. 8, terlihat bahwa setelah diadakan perbaikan pada rancangan pembelajaran serta peningkatan strategi dan metode mengajar dosen, hasil yang diperoleh mhasiswa meningkat dengan cukup signifikan. Analisis pada aktivitas mahasiswa menunjukkan peningkatan aktivitas mahasiswa dalam belajar, dimana mahasiswa sudah dapat menjawab dengan tepat soal-soal latihan dan pertanyaan-pertanyaan dari dosen. Hal ini turut menambah keberanian mahasiswa mengeluarkan pendapat/ide dan rasa percaya diri mahasiswa dalam bertanya. Sedangkan dari tabel 8 terlihat bahwa metode dan strategi yang diterapkan dosen menunjukkan peningkatan, dimana dosen sangat jelas dalam menyampaikan materi dan sangat baik dalam menggunakan alat peraga. Hal ini menunjukkan keberhasilan dosen dalam proses tindakan ini serta menyatakan bahwa penggunaan alat peraga merupakan cara yang efektif dalam pembelajaran geometri bagi mahasiswa program studi pendidikan matematika. Peningkatan hasil analisis dari kedua kategori di atas memberikan efek dari peningkatan hasil evaluasi belajar mahasiswa seperti yang ditunjukkan pada tabel 8. Terlihat bahwa jumlah mahasiswa yang mencapai nilai 6,5 ke atas adalah 34 mahasiswa atau 95,8 % yang menunjukkan keberhasilan pencapaian TPK sesuai dengan indikator keberhasilan tindakan. Sedangkan jumlah mahasiswa yang belum belajar tuntas, namun Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 200  

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mempunyai nilai yang mendekati nilai belajar tuntas adalah 4 orang atau 9,5%. Sedangkan mahasiswa yang mencapai nilai 4,5 – 5,4 adalah 2 orang atau 4,8% dan 2 mahasiswa atau 4,8% lagi mempunyia nilai di bawah 4,5. Berdasarkan uraian di atas dapat ditark kesimplan bahwa implementasi alat peraga dalam pembelajaran geometri yang dilakukan oleh dosen menunjukkan keberhasilan karena telah mencapai indikator keberhasilan 80%. Namun kegagalan yang masih terjadi kemungkinan disebabkan antara lain:

Masih kurangnya pengalaman peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas. Untuk itu peneliti perlu sering mengadakan penelitian tindakan dengan berbagai macam masalah. Masih terbatasnya kemampuan dosen dalam merancang dan menggunakan perangkat alat peraga sebagai alat peraga pada pembelajaran geometri. Untuk itu diharapkan dosen lebih banyak belajar dalam merancang dan menggunakan alat peraga dalam setiap pembelajaran geometri dalam rangka penyempurnaan dan peningkatan kemampuan dosen dan kompetensi yang akan dimiliki oleh mahasiswa yang kelak akan menjadi seorang guru matematika yang professional. Rendahnya kemampuan awal mahasiswa, karena dalam penelitian ini diterapkan pada mahasiswa yang telah menyelesaikan mata kuliah geometri analitik bidang ruang.

Terlalu padatnya jumlah mahasiswa dalam satu kelas yang melebihi kapasitas ideal suatu kelas. Hal ini menyulitkan dosen dalam memberikan pengarahan dan memperhatikan perkembangan mahasiswa secara lebih seksama.Masalah ini diserahkan kepada kebijaksanaan program studi pendidikan matematika.
KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah diperoleh, bahwa implementasi perangkat alat peraga dalam pembelajaran geometri dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa program studi pendidikan matematika dapat memperbaiki dan meningkatkan pemahaman serta daya tilik mahasiswa, dengan pencapaian ketuntasan secara klasikal sampai 96,25 %.yang menunjukkan bahwa mahasiswa telah memahami dengan baik konsep geometri yang telah diajarkan . Dari hasil penelitian diperoleh pula bahwa terjadi peningkaktan partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran secara aktif sampai pada tingkat kategori cukup baik. Saran 1. Kepada dosen agar lebih menggiatkan penelitian tindakan kelas, guna menemukan pengetahuan baru yang dapat dilakukan secara meluas untuk memperbaiki pembelajaran praktis secara langsung, disini dan sekarang dalam suatu proses belajar mengajar. 2. Dosen hendaknya lebih kreatif mengimplementasikan pendekatan alat peraga dalam pembelajaran geometri, agar dapat mengingkatkan kualitas pembelajaran, mahasiswa lebih mudah memahami dan mengerti serta dapat meningkatkan daya tilik atau daya pandang terhadap gambar yang dijelaskan dipapan. 3. Dosen hendaknya dapat melakukan inovas-inovasi, maupun penelitian tindakan kelas dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan dapat menemukan metode dan model pembelajaran yang cocok untuk setiap materi yang akan diajarkan.
DAFTAR RUJUKAN Amri, Baso , 2001, Efektifitas Penggunaan Alat Peraga Dalam Memahai Konsep Geometri Bagi Guru-guru Sekolah Dasar Se-Kecamatan Palu Timur, FKIP Universitas Tadulako. Depdiknas, 2001. Kurikulum Berbasis Kompotensi. Dikti Jakarta E.T. Ruseffendi, 1998, Pengantar Membantu Guru Mengembangkan Kompotensinya Dalam Pengajaran Matematika Untuk CBSA, Penerbit Tarsito Bandung Hudoyo, Herman, 1990, Strategi Belajar Mengajar Matematika, Malang, IKIP Malang.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 201

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Ibrahim, Muslimin. 2001. Modeln Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menurut Jerold E. Kemp & Thiagarajan. A Reference used in the Overseas Fellowship Program Contextual Learning Materials Development Proyek peningkatan Mutu SLTP, Jakarta Joyce, B & Weil, M, (1986), Models of Teaching, New Jersey : Prince Hall Inc. Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta Suyadi, 2010. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogjakarta: Diva Press Susilo, 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. Rawuh, (1993), Geometri, Dirjen Dikti, Depdikbud-RI. Toeti Soekamto dkk., (1997), Teori Belajar dan Model-Model Belajar,Pusat Antar Universitas untuk peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional, Dirjen Dikti, Depdikbud- RI. Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999, Penelitian Tindakan Kelas, PGSM, Dirjen Dikti, Depdikbud-RI. Usiskin, Z & Senk, S. 1990. Evaluation a Test of Van Hiele Levels :A Response to Orowley and Wilson: Journal for Research in Mathematis Education. Vol. 21, No. 3 reston: NCTM. --------2000. Tingkat Perkembangan Konsep Geometri Di Jember. Prosiding Konferensi Nasional X Matematika ITB, 17-20 Juli 2000..

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 202

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN LKS ”KOSONG” DALAM KEGIATAN LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH (LSBS) DI KELAS VIII A SMP NEGERI 2 GEMPOL - PASURUAN

Dwi Prasetyo
SMP Negeri 2 Gempol, Pasuruan Email: deeprazz33@yahoo.com

Abstrak: Lembar Kerja Siswa (LKS) Merupakan salah satu jenis alat bantu pembelajaran dan digolongkan dalam jenis media pembelajaran matematika. Secara umum LKS merupakan perangkat pembelajaran sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam proses pembelajaran yang penyajiannya disesuaikan dengan materi ajar dan tujuan pembelajaran. Pada umumnya Lembar Kerja Siswa (LKS) berupa lembaran informasi maupun soal-soal (pertanyaan-pertanyaan) yang harus dijawab oleh siswa tapi untuk kali ini penulis mencoba menerapkan LKS Kosong dalam proses pembelajaran pada kegiatan LSBS di SMP Negeri 2 Gempol dalam rangka ”Pelatihan Fasilitator MGMP Tahap VIII Kabupaten Pasuruan Program PELITA – JICA”, tanggal 14 Januari 2011. Pada akhirnya dengan LKS Kosong ini dapat digunakan untuk menumbuhkan dan meningkatkan motivasi siswa dalam penerapan metode terbimbing maupun untuk memberikan latihan pengembangan serta untuk menemukan konsep (prinsip), aplikasi konsep (prinsip). Kata kunci : Motivasi , Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS). PENDAHULUAN

1. Motivasi Kata motivasi berasal dari kata “motif’ yang diartikan sebagai daya penggerak dari dalam diri untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi merupakan proses pembangkitan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat (Hamalik, 1992: 173). Indira (1970) menyatakan bahwa motivasi adalah merupakan dorongan yang terjadi melalui proses pengaturan yang intensif yang mengarah pada tujuan motivasi dapat memberi kekuatan pada siswa untuk mempelajari sesuatu. Uno (2008: 9) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku atau aktifitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dengan pengertian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa motivasi memiliki unsur-unsur utama, yakni menggerakkan, mendukung dan mengarahkan perilaku manusia. Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan individu untuk bertindak dengan cara tertentu (berperilaku), mendukung maksudnya memelihara kekuatan perilaku individu, dan mengarahkan adalah meneruskan perilaku agar berorientasi pada tujuan. 2. Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS) Lesson Study adalah merupakan penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran (Hendayana, 2007:20). Di lain hal disebutkan bahwa Lesson Study adalah model pembelajaran pendidik melalui

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 203

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) pengkajian secara kolaborasi dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. Lesson Study Berbasis Sekolah adalah merupakan kegiatan Lesson Study yang berbasis sekolah. Adapun untuk proses kegiatan dari Lesson Study Berbasis Sekolah adalah sama yaitu dimulai dari tahap perencanaan (Plan), pada tahap Plan ini dilaksanakan oleh guru-guru dalam satu rumpun pelajaran yang bertujuan merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa diharapkan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Tahap kedua adalah pelaksanaan (Do) adalah merupakan proses pembelajaran untuk menerapkan rencana pembelajaran yang telah disusun bersama dalam satu rumpun guru mata pelajaran. Guru-guru lain yang tidak serumpun dan guru-guru yang serumpun yang bukan menjadi guru model bertindak sebagai pengamat (observer) pembelajaran. Pengamat (observer) tidak boleh mengganggu kegiatan pembelajaran dan fokus utama adalah pengamatan siswa yaitu: a. Apakah semua siswa benar-benar belajar tentang topik pembelajaran hari ini? (disertai fakta kongkrit dan alasannya) b. Siswa mana yang tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari ini? (harus didasari pada fakta kongkrit yang diamati dengan disertai nama siswa) c. Mengapa siswa tersebut tidak dapat belajar dengan baik! Menurut anda apa penyebabnya dan bagaimana alternatif solusinya menurut anda? (disertai alasan, analisis yang mendalam, dan jika mungkin dasar rujukan yang sesuai) d. Pelajaran berharga apa yang dapat anda petik dari pengamatan pembelajaran hari ini! e. Tahap ketiga adalah refleksi (See) yaitu diskusi antara guru model, pengamat (observer). Kepala Sekolah selaku pembina kegiatan LSBS dan Dosen Universitas Negeri malang selaku pendampng kegiatan LSBS. Dalam pelaksanaan refleksi (See) didiskusikan tentang aktivitas siswa selama pembelajaran serta saran dan kritik yang bijak pada guru model demi perbaikan pembelajaran selanjutnya.
3. LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH (LSBS) DI SMP NEGERI 2 GEMPOL

Dalam rangka ”Pelatihan Fasilitator MGMP Tahap VIII Kabupaten Pasuruan Program PELITA – JICA”, tanggal 13 Januari 2011 s.d 14 Januari 2011. Kegiatan Open Class dilaksanakan pada hari Jum’at, 14 Januari 2011 dengan 5 narasumber, 50 observer dan jumlah murid sebanyak 40 siswa. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam 3 langkah yaitu Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Kegiatan Penutup. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
I. KEGIATAN PENDAHULUAN

 Apersepsi, mengingat kembali bagian-bagian yang terkait dengan lingkaran di antaranya yaitu diameter dan keliling lingkaran.  Mengingat kembali cara mengukur keiling lingkaran dan cara mengukur diameter lingkaran (dengan jangka atau dengan melipat).  Menghitung keliling lingkaran dan diameter lingkaran dari peraga yang dibawa masing-masing kelompok dan kemudian menghitung

keliling = 3,14 =  ( phi ) diameter

 Motivasi, apabila siswa dapat membuat suatu tabel dalam setiap percobaan apapun maka siswa akan dengan mudah menarik suatu kesimpulan dari percobaan tersebut.
II. KEGIATAN INTI

 Memberikan pertanyaan kepada semua siswa, ”Apakah semua lingkaran jika  Membagi siswa dalam kelompok kecil 4 orang ( berpasangan)  Memonitor dan membimbing setiap kelompok kerja peserta didik.  Memandu kegiatan dan konfirmasi.

keliling = 3,14 diameter

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 204

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)  Memberi kesempatan pada maksimal 2 kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja mereka dan memberi kesempatan kelompok lain untuk menanggapi.
III. KEGIATAN PENUTUP

 Membimbing peserta didik untuk menemukan rumus untuk menntukan tinggi objek dengan aturan kesebangunan.  Memberikan latihan untuk penggunaan aturan kesebangunan dalam menyelesaikan soal cerita yang sederhana.  Mengumpulkan LKS dan memberikan tugas Rumah Tugas Kegiatan Belajar pada MODUL.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah hasil pengamatan (observasi) dan hasil kerja siswa terkumpul maka dilakukan refleksi hasil kerja siswa sebagai berikut : A. REFLEKSI KEGIATAN APERSEPSI
1. HASIL REFLEKSI KEGIATAN AWAL (APERSEPSI)

 Kurang terjadi penekanan kegiatan apersepsi sehingga pada kegiatan inti siswa kurang paham, terutama dalam mencari nilai  ( phi ) yang diperoleh dari

keliling diameter

 Apersepsi kurang tepat sehingga siswa ada yang kebingungan dalam mencari diameter dan mengukur diameter.  Solusi : lebih baik jika guru model memberi contoh unsu-unsur yang terkait dengan lingkaran dengan memberikan gambar.  Siswa masih kebingungan dalam mengukur diameter seperti yang dicontohkan oleh guru model.  Solusi : sebaiknya dalam menentukan diameter siswa dibebaskan dalam menghitung diameter.  Solusi : memberikan benda yang sudah ditentukan atau yg dapat kita prediksi dalam pengukuran diameter  Tidak semua siswa mengkur diameter dengan menggunakan jangka.  Ada siswa yang dapat mengukur diameter dengan cara melipat kertas.  Kel. 5 ada yang salah dalam mengukur diameter dengan menjiplak benda di kertas.  Solusi : sebaiknya dtekankan cara pengukuran diameter.  Kel. 3, sudah menggunakan cara menggunting dan menggunakan jangka tetapi hasilnya tidak sama sehingga kebingungan padahal guru model sudah memberikan solusi yaitu jika siswa tidak dapat menggunakan jangka dapat dengan cara menggunting atau menjiplak.
B. REFLEKSI KEGIATAN INTI 2. HASIL REFEKSI KEGIATAN INTI

 Kel. 7 sudah dapat membuat tabel dengan benar dan guru model sudah tepat dalam membebaskan siswa dalam membuat tabel dan tidak mengisikan apa-apa yang harus ditulis di dalam kolom tersebut.  Setuju dengan P. Rochmad bahwa pertanyaan ”Apakah semua lingkaran menghasilkan nilai 3,14 ?” merupakan rumusan masalah sehingga siswa dituntut untuk mencari jawaban.  Kel. 4, diskusi tidak jalan karena dalam hal pengukuran ternyata hasil tidak sama dengan benda yang sama.  Solusi : a. Kerja kelompok lebih ditekankan lagi. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 205

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) b. Media lebih disamakan agar hasilnya lebih kongkrit. c. Alat ukur harus lebih kongkrit.  Media yang digunakan di kelas sebaiknya ditunjukkan mana media yang sulit diukur dan yang mudah diukur sehingga siswa tahu dengan menggunakan media dan alat ukur yang tepat dan akurat dapat dihasilkan 3,14.  Solusi : jika menggunakan kaset CD (Compac Disk) mungkin hasil pengukurannya akan dapat nilai 3, 14 atau mendekati karena mudah dalam pengukurannya.
C. REFLEKSI KEGIATAN AKHIR (PENUTUP)

3. HASIL REFLEKSI KEGIATAN AKHIR (PENUTUP)  Kel. 4, siswa sudah dapat menghitung dengan baik tapi ada 2 siswa yang salah dalam pengukuran yaitu siswa no. 24.  Solusi : siswa perlu diingatkan kembali mengenai pengukuran terutama perlu digambarkan unsur-unsur yang terkait dengan lingkaran sehingga siswa tambah ingat dan jelas.  Kel. 5, siswa no. 4 dan 9 tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, hal ini terbukti dalam mengerjakan evaluasi mereka tidak dapat mengerjakannya.  Solusi :a. Sebaiknya kedua siswa ini tidak di dalam satu kelompok agar heterogen. b. Siswa no. 4 dan 9 sebaiknya duduk di depan agar teramati oleh guru. c. Kesimpulan ditulis di papan tulis sehingga jawaban siswa yang salah bisa diperbaiki oleh siswa.
D. PELAJARAN YANG BERHARGA DARI PEMBELAJARAN HARI INI

 LKS yang diberikan adalah LKS kosong tapi ternyata siswa dapat melakukan pengukuran seperti yang diminta oleh guru model serta siswa dapat mengisi LKS dengan baik.  Guru model melakukan pembelajaran CTL.  LKS yang kosong sangat berharga karena dengan demikian akhirnya siswa dapat mengungkapkan hasil pemikirannya.  Guru model dapat membangkitkan rasa percaya diri pada siswa.  Siswa hari ini mempelajari banyak hal misalnya, belajar menghitung, belajar mengukur, dan belajar ketrampilan.  Siswa belum belajar mengenai memikirkan hubungan antara keliling lingkaran dan diameter, apabila sudah belajar hal ini maka siswa akan mudah untuk mencari nilai  ( phi ).  Belum adanya umpan balik ke siswa terutama siswa yang tidak dapat mengerjakan atau menghitung.  Hari ini pembelajaran cukup baik karena tidak menggunakan LCD sehingga papan tulis digunakan semua.  Pada pembelajaran guru model membagi papan tulis menjadi 3 bagian yaitu : a. Sebelah kiri Ditulis ”Apakah semua lingkaran menghasilkan nilai 3,14 ?” ini adalah merupakan Tujuan Pembelajaran hari ini. b. Sebelah tengah Ada gambar cara pengukuran sebaiknya gambar diberi keterangan yang jelas. Di bawahnya ada tabel dan hal ini baik apabila siswa bisa mengisi tabel dengan benar dan baik. c. Sebelah kanan Dituliskan kesimpulan atau hasil dari pengukuran, biasanya dituliskan kesimpulan (rumus) dulu baru pengukuran tetapi hari ini baik karena pengukuran dulu baru dituliskan kesimpulan (rumus).

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 206

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)  Pembelajaran ibarat makhluk hidup jadi pembelajaran itu selalu hidup untuk selamanya dan tidak pernah berhenti.  Kegiatan dilakukan berpasangan karena setiap siswa di kelas dapat mengukur dan menghitung sehingga tidak hanya siswa yang cepat saja yang bekerja.  Karena tidak ada penjelasan yang lebih jelas mengenai rumus K = 2  r maka siswa masih bingung. Seharusnya antara konfirmasi hasil dan evaluasi dijelaskan dengan gambar sehingga siswa akan semakin jelas.  Apersepsi dapat menarik perhatian siswa, hal ini terbukti ketika siswa sudah mulai mencoba setelah dipraktekkan oleh guru model.  Dari kegiatan siswa dapat disimpulkan betapa sulitnya mengukur keliling lingkaran itu, apalagi untuk mendapatkan 3,14 (phi).  Apabila siswa belum mencapai penguasaan penuh maka siswa belum menguasai level tertentu dan dianggap tidak mengerti menurut guru di Indonesia, tapi kalau guru di Jepang sudah menghargai siswa yang seperti ini.  Dalam menuliskan rumus di papan tulis (bagian yang terpenting) adalah seharusnya guru model melihat ke siswa sehingga tahu siswa mana yang fokus dan yang tidak.  Tujuan pembelajaran seharusnya tidak perlu ditulis di papan tulis, hal ini sering dilakukan guru di Indonesia.  Evaluasi pada pembelajaran hari ini bukan pada kegiatan latihan soal justru pada kegiatan inti yaitu pada waktu siswa membuat tabel dan bisa menuliskan kesimpulan dengan bahasa siswa sendiri.  Dalam refleksi sebaiknya mengarah untuk perbaikan siswa. Gempol, 14 Januari 2011 Mengetahui Kepala UPTD Pendidikan SMP Negeri 2 Gempol

Notulen

Tri Setyo Astutik, S.Pd, M.Pd Pembina NIP. 195807241978022003
KESIMPULAN

`

Dwi Ratna Wati, S.Pd NIP.

Hal-hal positif adalah apersepsi dapat menarik perhatian siswa, guru model melakukan pembelajaran CTL, LKS yang kosong sangat berharga karena dapat mengungkapkan hasil pemikiran siswa, guru model dapat membangkitkan rasa percaya diri pada siswa, siswa hari ini mempelajari banyak hal yaitu, belajar menghitung, belajar mengukur, dan belajar ketrampilan, pembelajaran cukup baik karena tidak menggunakan LCD sehingga papan tulis digunakan semua, kegiatan dilakukan berpasangan karena setiap siswa di kelas dapat mengukur dan menghitung sehingga tidak hanya siswa yang cepat saja yang bekerja, dan siswa dapat melakukan pengukuran dengan LKS kosong serta dapat mengisi LKS dengan baik. Ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki misal, siswa tidak memiliki referensi , siswa belum belajar mengenai memikirkan hubungan antara keliling lingkaran dan diameter, apabila sudah belajar hal ini maka siswa akan mudah untuk mencari nilai  ( phi ), belum ditampilkan hasil jawaban siswa di depan kelas, belum adanya umpan balik ke siswa terutama siswa yang tidak dapat mengerjakan atau menghitung, karena tidak ada penjelasan yang lebih jelas mengenai rumus K = 2  r maka siswa masih bingung, seharusnya antara konfirmasi hasil dan evaluasi dijelaskan dengan gambar sehingga siswa akan semakin jelas, serta dalam menuliskan rumus di papan tulis (bagian yang terpenting) adalah seharusnya guru model melihat ke siswa sehingga tahu siswa mana yang fokus dan yang tidak.
DAFTAR PUSTAKA

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 207

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Hamalik, O. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Hendayana, S. dkk. 2007. Lesson Study : Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP – JICA). Bandung : UPI Press. Indira, R. 1970. Pengalaman Belajar dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Akademik. Malang: Laporan Penelitian Tidak Diterbitkan. Malang: Puslit IKIP Malang Uno, Hamzah, B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya, analisa di Bidang Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 208

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)

MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATAKULIAH KALKULUS II MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNHALU

La Misu
Abstrak : Umumnya pembelajaran dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unhalu selama ini masih menerapkan pembelajaran konvensional. Partisipasi dan hasil belajar mahasiswa selama 2 tahun terakhir masih rendah (berkisar 26,7% memperoleh nilai minimal 60 untuk tahun 2009, dan 28,3% memperoleh nilai minimal 60 untuk tahun 2010). Untuk mengatasi masalah tersebut dirancang suatu pendekatan yang mengupayakan setiap mahasiswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses perkuliahan, yaitu menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan metode pemberian tugas dan diskusi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unhalu yang memprogramkan matakuliah Kalkulus II dengan jumlah 41 orang, terdiri 22 orang perempuan dan 19 orang laki-laki. Hasil yang dicapai dari penerapan model pembelajaran kooperatif sebagai berikut. (1) Tahap pertama: Partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 66%, ketuntatasan proses pembelajaran mencapai 65%, dan hasil belajar mahasiswa yang mencapai nilai minimal 60 adalah 36,6% , (2) Tahap kedua: Partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 78%, ketuntatasan proses pembelajaran mencapai 76%, dan hasil belajar mahasiswa yang mencapai nilai minimal 60 adalah 43,9% , (3) Tahap ketiga: Partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 83%, ketuntatasan proses pembelajaran mencapai 80%, dan hasil belajar mahasiswa yang mencapai nilai minimal 60 adalah 51,2% , dan (4) Tahap keempat: Partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 87%, ketuntatasan proses pembelajaran mencapai 85%, dan hasil belajar mahasiswa yang mencapai nilai minimal 60 adalah 68,3%. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Partisipasi dan Hasil Mahasiswa Pada Kalkulus II. Abstract Generally, a lecturer teaching Mathematics Education Study Program Guidance and Counseling for this still apply Unhalu conventional learning. Participation and learning outcomes of students during the last 2 years is still low (ranging from 26.7% to obtain a minimum value of 60 for the year 2009, and 28.3% scored at least 60 for the year 2010). To overcome these problems designed an approach that seeks every student can participate actively in the lecture, cooperative learning model that is implemented by the method of administration tasks and discussions. The subject of this study were students of Education Studies Program FKIP Unhalu Mathematics Calculus II course is programmed with the number 41 people, comprising 22 women and 19 men. The results achieved from the implementation of cooperative learning model as follows. (1) The first stage: Participation of students towards learning reached 66%, ketuntatasan learning process reached 65%, and the learning outcomes of students who reach a minimum value of 60 is 36.6%, (2) The second phase: The participation of students towards learning at 78%, ketuntatasan learning process reached 76%, and the learning outcomes of students who reach a minimum value of 60 is 43.9%, (3) Phase three: Participation of students towards learning reached 83%, ketuntatasan learning process reached 80%, and the learning outcomes of students who achieved the value minimum of 60 is 51.2%, and (4) The fourth stage: Participation of students towards learning reached 87%, ketuntatasan learning process reached 85%, and the learning outcomes of students who reach a minimum value of 60 is 68.3%.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 209

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)
Keywords: Cooperative Learning, Participation and Outcomes Students In Calculus II PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah Umumnya, sejak lama praktik pembelajaran di Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan P.MIPA FKIP Unhalu cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana dosen mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana mahasiswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat dimaklumi ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar mahasiswa. Apa lagi, bila dilihat dari tingkat perkembangan kognitif mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika umumnya belum mencapai tingkat operasi formal atau baru menganjak pada tahap proporsional (Hasil penelitian La Misu tahun 2003). Berdasarkan pengamatan selama mengajarkan matakuliah Kalkulus II, dengan menerapkan model pembelajaran konvensional (ceramah dan tanya jawab), mahasiswa hanya mendengarkan penjelasan dosen, disuruh bertanya tidak ada yang bertanya, disuruh maju ke depan untuk menyelesaikan soal atau membuktikan teorema jarang yang maju. Demikian pula, hasil belajar yang diperoleh mahasiswa selama ini umumnya masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar Kalkulus II selama dua tahun terakhir sebagai beikut.
TAHUN 2009 2010 A 3% 0% B 10% 8,69% Persentase Nilai C 43,3% 41,31% D 40,7% 28,26% E 3% 21,74%

Jika dilihat dari skala nilai 0-100, maka pada tahun 2009 ada 26,7% memperoleh nilai minimal 60, sedang tahun 2010 ada 28,3% memperoleh nilai minimal 60. 2. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan penelitian dapat diidentifikasi sebagai berikut. a). Pembelajaran dosen kurang mengaktifkan mahasiswa dalam pembelajaran b). Mahasiswa kurang berpartisipasi untuk mengikuti pembelajaran c). Hasil belajar mahasiswa umumnya rendah 3. Pemecahan Masalah Dari identifikasi masalah di atas, maka dirancang suatu pendekatan yang mengupayakan setiap mahasiswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses perkuliahan, yaitu menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan metode pemberian tugas dan diskusi. Kekuatan model pembelajaran ini adalah memberikan perlakuan yang memuaskan kepada mahasiswa sehingga dapat mempengaruhi pikiran maupun perilakunya. Hal ini sesuai dengan Hukum Pengaruh oleh Thorndika bahwa: Jika suatu tindakan diikuti oleh hal yang memuaskan (menyenangkan) dalam lingkungan maka kemungkinan tindakan itu akan diulangi dalam suasana serupa, dan akan meningkat. (Budayasa, 1998: 11) Dengan demikian, model pembelajaran di atas akan memberikan pendidikan karakter kepada mahasiswa supaya bisa menyelesiakan soal dalam diskusi kelompok, bisa maju di depan kelas untuk menyelesaikan soal, bisa menanggapi pendapat orang lain, dan akan terjadi diskusi antar mahasiswa baik dalam suatu kelompok maupun antar kelompok. Sehingga secara keseluruhan mahasiswa tersebut dapat aktif mengikuti perkuliahan. 4. Rumusan Masalah

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 210

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah partisipasi dan hasil belajar mahasiswa pada matakuliah Kalkulus II dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran Kooperatif pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unhalu?”

5. Kajian Pustaka

a. Pengertian Belajar
Belajar umumnya didefinisikan sebagai perubahan di dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman (Budayasa, 1998: 4). Perubahan-perubahan yang disebabkan oleh perkembangan (seperti, badan tumbuh lebih tinggi) bukan contoh dari belajar. Ada beberapa contoh belajar, yaitu: 1). Seorang anak (bayi) melakukan langkah pertama di awal ia berjalan. Belajar berjalan pada dasarnya merupakan kemajuan perkembangan, namun juga bergantung pada pengalaman dengan merangka dan aktivitas lain. 2). Seorang anak kecil merasa takut ketika melihat seorang dokter datang sambil memegang jarum suntik. Rasa takut seorang anak ketika melihat seorang dokter membawa jarum suntik adalah perilaku yang dipelajari. Anak telah belajar mengaitkan jarum suntik dengan rasa sakit, dan badannyapun bereaksi secara emosional ketika ia melihat jarum suntik. Reaksi ini mungkin tak disadari, tetapi bagaimanapun juga perilaku ini merupakan hasil belajar. 3). Seorang anak dapat mengalikan dua bilangan dengan cara singkat. Cara ini merupakan contoh belajar yang dibangkitkan secara internal, yang dikenal sebagai “berpikir”. Dengan demikian, belajar dapat terjadi dengan banyak cara. Kadang-kadang terjadi karena disengaja, misalnya pada saat seorang anak memperoleh informasi yang disajikan di kelas atau menemukan cara singkat tentang perkalian dua bilangan. Dan kadang-kadang tidak disengaja, misalnya seorang anak bereaksi ketika melihat jarum suntik.

b. Partisipasi mahasiswa dalam KBM
Menurut Tannenaun dan Hahn (dalam Basrowi, 1997), partisipasi merupakan suatu tingkat sejauhmana peran anggota melibatkan diri didalam kegiatan, dan menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Sedangkan menurut Dusseldop (dalam Basrowi, 1997), partisipasi diartikan sebagai kegiatan atau keadaan mengambil bagian dalam suatu aktivitas untuk mencapai suatu kemanfaatan secara optimal Berdasarkan kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi adalah keterlibatan seseorang baik pikiran maupun tenaga untuk memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Metode belajar mengajar yang bersifat partisipatoris yang dilakukan oleh dosen akan mampu membawa mahasiswa dalam situasi yang lebih kondusif karena mahasiswa lebih berperan serta, lebih terbuka, dan sensitive dalam KBM. Disini, mahasiswa lebih mudah menerima ide-ide baru dan lebih kreatif sekaligus mengembangkan hubungan yang lebih interpersonal (manusiawi) sehingga inovasi yang timbul dari dalam diri mahasiswa lebih mudah diterima. Sistem ini hanya dapat diikuti oleh mahasiswa yang mau kerja sama, dan kerja keras, sekaligus mau mandiri sebelum mereka melakukan kerja kelompok. Oleh karena itu, mahasiswa lebih bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sendiri karena sebelumnya mereka telah memiliki daya motivasi untuk belajar. Kelompok diharapkan mengembangkan pengertian di antara anggotanya dan menjadi sumber untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Perubahan pada diri individu dan kesuksesan yang dihasilkan melalui perubahan-perubahan yang dilakukan oleh kelompok pada system pendidikan ini merupakan komitmen bagi semua pihak. Hal ini didukung adanya pertalian perasaan dan hubungan interpersonalia. Perasaan negatif dan antagonis yang sebelumnya dimiliki anggota kelompok dapat diatasi dengan pengertian dan penerimaan serta pemahaman yang wajar karena keterbukaan kepercayaan akan ide dan

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 211

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) cita-cita semua kelompok terhadap perubahan yang akan menimbulkan rasa demokrasi dan komunikasi yang realistis. Berdasarkan definisi dan penjelasan dari partisipasi mahasiswa dalam KBM tersebut, maka pengertian partisipasi dalam KBM dapat dibagi atas 4 indikator, yaitu: (1) Perhatian mahasiswa terhadap penjelasan dosen, (2) Tanggapan mahasiswa terhadap mata kuliah Matematika Dasar dalam proses KBM, (3) Kerja sama antar mahasiswa dalam menanggapi permasalahan matematika, dan (4) Ada inisiatif mahasiswa untuk mengembangkan diri.

c. Model Pembelajaran kooperatif
Menurut Eggen dan Kauchak (1993: 319) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai kesimpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling membantu dalam mempelajari sesuatu. Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dengan kelompok yang memiliki kemampuan heterogen. Pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pengajaran siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nur dan Winkandari, 200: 25). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan penting pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif bukan hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Fungsi keterampilan kooperatif adalah untuk melancarkan hubungan kerja dengan tugas untuk membuat keterampilan kooperatif dapat bekerja, guru harus mengajarkan keterampilan-keterampilan kelompok dan sosial yang dibutuhkan. Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademikik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengemabangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Karakteristik pembelajaran kooperatif adalah:  Belajar bersama dengan teman;  Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman;  Saling mendengarkan pedapat diantara anggota kelompok;  Belajar dari teman sendiri dalam kelompok;  Belajar dalam kelompok kecil;  Produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat;  Mahasiswa aktif. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang dimaksud adalah belajar aktif, konstruktif (membangun), dan kooperatif. Beberapa pendekatan tersebut diintegrasikan untuk menghasilkan sesuatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Belajar aktif, ditunjukkan dengan adanya keterlibatan intelektual dan emosional yang tinggi dalam proses belajar, tidak sekedar aktivitas fisik semata. Siswa diberik kesempatan untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat dan idenya, melalakukan eksplorasi terhadap materi yang sedang dipelajari serta menafsirkan hasilnya secara bersama-sama didalam kelompok.
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF 1). 2).

Adapun Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif sebagai berikut: Mahasiswa dibagi dalam kelompok. Dosen memberikan tugas dalam bentuk LKM dan masing-masing kelompok mengerjakanya.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 212

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) Anggota kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya. 4). Dosen memanggil salah seorang anggota kelompok untuk mempersentasekan hasil kerjasama mereka. 5). Tanggapan dari kelompok yang lain. 6). Kesimpulan
3).

6. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah “ untuk melihat partisipasi dan hasil belajar mahasiswa pada matakuliah Kalkulus II melalui model pembelajaran Kooperatif pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unhalu”

E. METODE

1. Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Kelas B yang memprogramkan matakuliah Kalkulus II Semester Genap Tahun Akademik 2010/2011. Jumlah subjek penelitian adalah 41 orang terdiri dari 19 laki-laki dan 22 perempuan. 2. Rancangan Pelaksanaan Lasson Study Prosedur pelaksanaan penelitian ini merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Berikut ini akan diuraikan empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study: a. Tahapan Perencanaan (Plan) Dalam tahap perencanaan, para dosen yang tergabung dalam TIM Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran. b. Tahapan Pelaksanaan (Do) Pada tahapan Do, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh dosen model yang disepakati untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota Lesson Study yang lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya: Dosen model melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama. Mahasiswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi mahasiswamahasiswa, mahasiswa-bahan ajar, mahasiswa-dosen, mahasiswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar mahasiswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi mahasiswa dan diusahakan dapat mencantumkan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 213

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) nama mahasiswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman mahasiswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar mahasiswa yang tercantum dalam RPP. c. Tahapan Refleksi (See) Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh fasilitator yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan dosen model, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun. 3. Tehnik dan Instrumen Pengumpulan Data Sumber data terdiri dari mahasiswa dan dosen model. Instrumen pengumpulan data meliputi: (1) Lembar observasi yakni mengukur kegiatan dalam proses pembelajaran terdiri kegiatan dosen model dan kegiatan mahasiswa, (2) Tes hasil belajar, yakni mengukur pemahaman mahasiswa pada materi Kalukulus II, dan (3) jurnal, yakni catatan dosen model dalam merefleksi diri pada saat pelaksaan pembelajaran. 4. Tehnik Analisis Data Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, baik observasi aktivitas dosen model, aktivitas mahasiswa, maupun hasil refleksi diri dari dosen model. Dengan tehnik triangulasi dapat ditentukan keberhasilan proses pelaksanaan perkuliahan dengan indikator keberhasilan minimal 80% proses perkuliahan terlaksana dengan baik. Data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar mahasiswa dari setiap siklus. Indikator keberhasilan hasil belajar adalah minimal 65 % memperoleh nilai minamal 60.
F. HASIL PENELITIAN DAN PEMBEHASAN

1. Hasil Penelitian Pelaksanaan Lesson Study terdiri atas 4 tahap, dan masing-masing tahap memuat 3 kegiatan yakni: Plan, do, dan see. Adapun hasil pelaksanaan dari masing-masing kegiatan tersebut sebagai berikut. Tahap Pertama: Plan (11 Pebruari 2011). Hal-hal yang direncanakan dalam pelaksanaan plan pertama sebagai berikut:  Materi kuliah: Penulisan Jumlah dan Notasi Sigma, dan Pendahuluan Luas  Model Pembelajaran: Koperatif  Menyiapkan perangkat pembelajaran yang berkaitan dengan materi kuliah (RPP, Bahan Ajar, LKM, Media Pembelajaran, dan Instrumen yakni lembar observasi dan soal latihan) Do (17 Pebruari 2011)  Dosen model melaksanakan proses pembelajaran sesuai rencana pada plan  Semua observer dan fasilitator mengamati pelaksanaan proses pembelajaran, baik mengamati penampilan dosen model maupun aktivitas mahasiswa. See (17 Pebruari 2011)

Hasil dari refleksi pertama sebagai berikut.
Kekurangan:  Ada pembentukan kelompok tapi tempat duduk mahasiswa dalam kelompok tidak jelas.  Keaktifan mahasiswa baik diskusi kelompok maupun perorangan belum nampak.  Soal-soal LKM nya terlalu banyak dan agak sulit sehingga tidak sesuai dengan waktu yang disiapkan. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 214

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)  Suasana kelas kurang hidup.  Volume suara dosen model kurang keras.  Pemberian motivasi belum sesuai dengan topik yang diajarkan  Belum terlihat keterkaitan materi/soal dengan kehidupan sehari-hari.  Sintaks metode pembelajaran belum jelas  Dosen model belum sepenuhnya melihat perilaku mahasiswa  Tidak ada perlakuan khusus bagi mahasiswa yang terlambat. Kekuatan:  Dosen model telah menyiapkan semua perangkat pembelajaran  Penyajian materi sudah sesuai dengan konsep yang direncanakan  Penyajian materi melalui media pembelajaran sudah bagus. Ketuntasan hasil belajar kelompok: dari 9 kelompok hanya 3 kelompok yang mampu menyelesaikan soal-soal LKM, dan partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 66%, ketuntasan proses pembelajaran mencapai 65% Sedang ketuntasan hasil belajar mahasiswa berkisar 36,6% Tahap Kedua: Plan (5 Maret 2011). Hal-hal yang direncanakan dalam pelaksanaan plan kedua sebagai berikut:  Materi kuliah: Luas Daerah Bidang Rata  Model Pembelajaran: Koperatif  Menyiapkan perangkat pembelajaran yang berkaitan dengan materi kuliah dengan memperhatikan kekurangan pada tahap pertama, yaitu: 1. Pembagian kelompok lebih awal 2. Kelompok/anggota kelompok diberi tanda 3. Pemberian apersepsi berupa kurva sebagai langkah memancing motivasi mahasiswa untuk memperhatikan pelajaran. 4. Memodifikasi contoh soal 5. Memberikan materi/soal berkaitan dengan kehidupan sehari-hari Do (10 Maret 2011)  Dosen model melaksanakan proses pembelajaran sesuai rencana pada plan kedua  Semua observer dan fasilitator mengamati pelaksanaan proses pembelajaran, baik mengamati penampilan dosen model maupun aktivitas mahasiswa. See (10 Maret 2011) Hasil dari refleksi kedua sebagai berikut. Kekurangan:  Umumnya mahasiswa hanya mampu menyelesaikan soal yang sederhana.  Belum nampak penghargaan suatu anggota kelompok terhadap anggota kelompok lainnya.  Keaktifan diskusi belum sepenuhnya dipantau.  Penekatan terhadap konsep-konsep penting belum nampak.  Refleksi terhadap interaksi dalam kelompok belum ada.  Penugasan soal bervariasi belum ada.  Sintaks metode pembelajaran belum jelas  Dosen model belum sepenuhnya melihat perilaku mahasiswa  Tidak ada perlakuan khusus bagi mahasiswa yang terlambat. Kekuatan:  Dosen model telah menyiapkan semua perangkat pembelajaran  Penyajian materi sudah sesuai dengan konsep yang direncanakan  Penyajian materi melalui media pembelajaran sudah bagus.  Kelompok/anggota kelompok sudah diberi tanda.  Pengorganisasian kelompok sudah jelas.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 215

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development)  Intonasi suara dosen model sudah jelas.  Sudah ada perhatian dosen model terhadap mahasiswa terlambat.  Materi/soal sudah mengarah dalam kehidupan sehari-hari.  Keaktifan mahasiswa umumnya sudah mulai nampak. Ketuntasan hasil belajar kelompok: dari 9 kelompok hanya 5 kelompok yang mampu menyelesaikan soal-soal LKM, partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 78%, ketuntasan proses pembelajaran mencapai 76% Sedang ketuntasan hasil belajar mahasiswa berkisar 43,9% Tahap Ketiga: Plan (26 Maret 2011). Hal-hal yang direncanakan dalam pelaksanaan plan pertama sebagai berikut:  Materi kuliah: Luas Permukaan Benda Putar  Model Pembelajaran: Koperatif  Menyiapkan perangkat pembelajaran yang berkaitan dengan materi kuliah dengan memperhatikan kekurangan pada tahap kedua, yaitu: 1. Supaya bisa terpantau, proses pembelajaran terfokus pada 5 kelompok. 2. Demi penghematan waktu, materi/soalyang bervariasi dicantumkan pada LKM. 3. Perkaya soal latihan, bila perlu masukan soal open Ended. 4. Apersepsi, bisa dilakukan pembahasan tugas rumah yang sulit dikerjakan mahasiswa. Do (31 Maret 2011)  Dosen model melaksanakan proses pembelajaran sesuai rencana pada plan ketiga  Semua observer dan fasilitator mengamati pelaksanaan proses pembelajaran, baik mengamati penampilan dosen model maupun aktivitas mahasiswa. See (31 Maret 2011) Hasil dari refleksi kedua sebagai berikut. Kekurangan:  Mahasiswa yang mengerjakan soal di depan kelas tidak jelas dari kelompok mana.  Mahasiswa masih kesulitan menyelesaikan soal Open Endid  Jarak tempat duduk antar kelompok tidak jelas.  Interaksi dalam kelompok dan antar kelompok belum terorganisir. Kekuatan:  Dosen model telah menyiapkan semua perangkat pembelajaran  Penyajian materi sudah sesuai dengan konsep yang direncanakan  Penyajian materi melalui media pembelajaran sudah bagus.  Proses pengajaran dan pembimbingan sudah terfokus pada kelompok tertentu.  Materi/soal yang bervariasi sudah tercantum dalam LKM.  Sudah ada soal-soal Open Endid walaupun masih minim.  Sudah ada pembahasan soal tugas dirumah pada saat apersepsi. Ketuntasan hasil belajar kelompok: dari 9 kelompok hanya 7 kelompok yang mampu menyelesaikan soal-soal LKM, partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 83%, ketuntasan proses pembelajaran mencapai 80%. Sedang ketuntasan hasil belajar mahasiswa berkisar 51,2% Tahap Keempat: Plan (6 April 2011). Hal-hal yang direncanakan dalam pelaksanaan plan pertama sebagai berikut:  Materi kuliah: Integral Trigonometri, dan Metode Subtitusi yang Merasionalkan  Model Pembelajaran: Koperatif  Menyiapkan perangkat pembelajaran yang berkaitan dengan materi kuliah dengan memperhatikan kekurangan pada tahap ketiga, yaitu: 1. Perlu dimaksimalkan kelompok yang esensial. Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 216

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) 2. Mahasiswa yang tampil di depan kelas perlu diklasifiaksi, yakni perwakilan mahasiswa kurang, sedang, dan pintar. 3. Maksimalkan diskusi dalam kelompok dan antar kelompok guna melihat perkembangan mahasiswa secara individua. 4. Bila masih ada waktu, pada akhir pembelajaran diberi kuis. Do (9 April 2011)  Dosen model melaksanakan proses pembelajaran sesuai rencana pada plan keempat  Semua observer dan fasilitator mengamati pelaksanaan proses pembelajaran, baik mengamati penampilan dosen model maupun aktivitas mahasiswa. See (9 April 2011) Hasil dari refleksi kedua sebagai berikut. Kekurangan:  Umumnya mahasiswa sudah aktif tapi masih ada yang belum serius menyelesaikan soal.  Antusias mahasiswa dalam diskusi belum nampak utamanya mengoreksi jawaban temannya. Kekuatan:  Dosen model telah menyiapkan semua perangkat pembelajaran  Penyajian materi sudah sesuai dengan konsep yang direncanakan  Penyajian materi melalui media pembelajaran sudah bagus.  Mahasiswa yang tampil di depan kelas adalah perwakilan dari mahasiswa  kurang, sedang, dan pintar.  Dosen model telah menilai perkembangan mahasiswa baik secara kelompok maupun secara individu. Ketuntasan hasil belajar kelompok: dari 9 kelompok hanya 8 kelompok yang mampu menyelesaikan soal-soal LKM, partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran mencapai 87%, ketuntasan proses pembelajaran mencapai 85%. Sedang ketuntasan hasil belajar mahasiswa berkisar 68,3% 2. Pembahasan Pada tahap pertama pelaksanaan Lesson Study, umumnya masih banyak terdapat kekurangan baik kesiapan fasiltator dalam merencanakan pembelajaran pada saat Plan, dosen model dalam menyajikan materi pada saat Do, maupun teman observer dalam mengamati proses pembelajaran. Namun, pada tahap berikutnya sudah terlihat ada upaya perbaikan baik situasi saat plan, Do, dan See. Demikian pula, suasana keaktifan dan partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif. Awalnya mahasiswa kurang respon dan kuarng antusias untuk dikelompokkan karena mereka terbiasa untuk belajar secara individu. Tapi pada tahap berikutnya, mereka sudah mulai tertarik dengan system kooperatif, karena dalam menyelesaikan soal-soal LKM perlu ada diskusi apalagi soal-soal LKM ada yang sulit yang tidak bisa dikerjakan oleh mahasiswa yang berkemampuan kurang. Hasil belajar mahasiswa pada pelaksanaan penelitian ini secara umum meningkat. Untuk hasil kerja kelompok pada tahap 1 hanya 3 kelompok yang tuntas menyelesaikan soal-soal LKM. Setelah tahap 4 ketuntasan menyelesaikan soal-soal LKM meningkat menjadi 8 kelompok. Demikian pula hasil akhir semester telah terjadi peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Utamanya yang memperoleh nilai A, tahun-tahun sebelumnya tahun 2009 hanya 3%, tahun 2010 malah 0%, sedang tahun 2011 meningkat menjadi 8,51%. Selama 4 tahap pelaksanaan Lesson Study, masih ada yang kurang/belum dilaksanakan baik fasilitator, dosen model, maupun observer, diantaranya: 1. Pada saat Plan, fasilitator belum membicarakan tentang seting kelas, dan dena kelas. Demikian pula dosen model belum menyiapkan perangkat pembelajaran untuk dikorekasi oleh observer. 2. Sebelum pelaksanaan Do, fasilitator belum pernah melakukan brifing, karena waktu perkuliahan masih terlalu pagi (jam 07.30). 3. Fasilitator belum maksimal memantau pelaksanaan Do utamanya posisi tempat duduk observer dan cara observer mengamati proses pembelajaran di kelas. 4. Observer belum maksimal memberi pengamatan utamanya belum ada pembagian tugas dari para observer untuk sasaran pengamatannya. Mungkin, ada yang hanya mengamati keaktifan Seminar Nasional Lesson Study 4 Matematika | 217

PROSIDING SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 4
PERAN LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PENDIDIKDAN KUALITAS PEMBELAJARAN SECARA BERKELANJUTAN

(Continuing Professional Development) mahasiswa dalam berdiskuisi, keaktifan dalam bertanya, keaktifan menyelesaikan soal LKM, maupun ada yang hanya mengamati penampilan dosen model. Pada saat See, seharusnya fasilitator mempersilahkan dulu dosen model merefleksi diri, selanjutnya meminta tanggapan para observer.

5.

G. KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan
1.

2. 3. 4.

5.

Secara umum, persiapan dan pelaksanaan pembelajaran oleh Dosen Model sudah terlaksana dengan baik. Khususnya, penyiapan RPP, Bahan Ajar, LKM, dan Media sudah sesuai dengan konsep materi yang di bawakan. Demikian pula pada saat menyajikan materi sudah sesuai dengan keruntutan konsep yang diajarkan. Penyajian model pembelajaran oleh Dosen Model belum maksimal, masih ada sintaks yang belum maksimal disaksanakan. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelompok terutama pada tahap keempat sudah bagus hanya menyelesaikan soal yang sulit dan soal Open Endid belum maksimal. Belum ada evaluasi secara individu pada akhir pelaksanaan Do di setiap tahap. Evaluasi yang ada adalah secara kelompok, dan evaluasi secara keseluruhan setelah selesai pelaksanaan tahap keempat. Hasil belajar mahasiswa matakuliah Kalkulus II dengan model pembelajaran kooperatif lebih bagus dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa dengan model konvensional.

DAFTAR PUSTAKA Basrowi, dkk., 1997, Pendidikan Kaum Tertindas, Makalah, PPS IKIP Yogyakarta. Budayasa, I Ketut, 1998, Teori-Teori Belajar Perilaku, Makalah, Pusat Sains dan Matematika Sekolah, IKIP Surabaya. Ibrahim, dkk., 2000, Pembelajaran Kooperatif, Unesa – University Press Surabaya. Ismail, dkk, 2001, Model-Model Pembelajaran, TIM Kopetensi - Jakarta La Misu, 2006, Pengembangan Keterampilan Penalaran Formal Mahasiswa Semester I Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unhalu, Majalah MIPMIPA Unhalu Nur, Muhammad, 1998, Teori Pembelajaran Perilaku, Makalah, Pusat Sains.

Seminar Nasional Lesson Study 4

Matematika | 218

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->