P. 1
Daftar Isian Masalah Pengadaan Tanah Tol

Daftar Isian Masalah Pengadaan Tanah Tol

|Views: 206|Likes:
Published by Komunitas Semar
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: Komunitas Semar on Feb 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

INVENTARISASI MASALAH & REKOMENDASI Terkait dengan Proses Pengadaan Tanah Untuk Ruas Jalan Tol Mojokerto-Kertosono oleh

P2T, TPT, PT. MHI, & SATGAS JAMAAH KORBAN PEMBANGUNAN TOL (JKPT) JOMBANG
VERSI PERPRES 36/2005 jo PERPRES 65 / 2006 (Perpres) PERATURAN KEPALA BPN NO. 3 TAHUN 2007 (BPN) Peraturan
1 2 3

No

ISSU

MASALAH& REKOMENDASI
7

Psl
4

Ayat
5

Redaksional
6

Tim Appraisal

Perpres

1

12

Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah adalah lembaga/tim yang profesional dan independen untuk menentukan nilai/harga tanah yang akan digunakan sebagai dasar guna mencapai kesepakatan atas jumlah/besarnya ganti rugi.

BPN

1

3-4

Perpres

7

(c)

BPN

25

(1)

DINILAI BANYAK PIHAK, TIDAK PROFESIONAL DAN TIDAK INDEPENDEN TIDAK TERBUKA SEBAGAI DASAR HARGA UNTUK MENCAPAI KESEPAKATAN JUMLAH DAN BESARNYA GANTI TIDAK ADA DOKUMENNYA KARENANYA, DICURIGAI CENDERUNG DIARAHKAN UNTUK KEPENTINGAN INVESTOR DAN KELOMPOK KEPENTINGAN ??? 3. Lembaga Penilai Harga Tanah adalah lembaga Di Jombang tidak ada lembaga appraisal, maka semestinya dibentuk tim profesional dan independen yang mempunyai penilai yang terdiri dari orang-orang sebagaimana ketentuan serta mengetahui keahlian dan kemampuan di bidang penilaian dan memahami kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi masyarakat Jombang. Sehingga hasil penilaian tidak lepas konteks tentang kondisi harga tanah. masyarakat Jombang serta kecenderungan Highes & Best Use dan harga pasar. 4. Tim Penilai Harga Tanah adalah tim yang dibentuk dengan Keputusan Bupati/Walikota REKOMENDASI : atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus P2T HARUS MEMBUKA DOKUMEN APPRAISAL Ibukota Jakarta untuk menilai harga tanah, (SEBAGAIMANA JANJI KOMISI A) SEBAGAI DASAR HARGA apabila di wilayah kabupaten/kota yang PENUNTUN UNTUK MENCAPAI KESEPAKATAN HARGA GANTI RUGI DENGAN PEMILIK TANAH. bersangkutan atau sekitarnya tidak terdapat RE-APPRAISAL HARUS DILAKUKAN DAN ITU Lembaga Penilai Harga Tanah. DIMUNGKINKAN DALAM KETENTUAN MENGENAI PENGADAAN TANAH UNTUK INFRASTRUKTUR Dokumen tidak dibuka sehingga tidak ada panduan bagi P2T, PT.MHI, menaksir dan mengusulkan besarnya ganti rugi atas TPT dan Pemilik tanah untuk BERSEPAKAT. tanah yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan; Dicurigai tidak sesuai dengan mekanisme appraisal dalam SPI (Standar Penilaian Indonesia) atau dalam standard penilaian internasional Hal ini tidak sesuai dengan Perpres 65 Tahun 2005 Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota menunjuk Dalam hal Penunjukan sangat dimungkinkan dan dicurigai terdapat TITIPAN Lembaga Penilai Harga Tanah yang telah ditetapkan KEPENTINGAN (baik Penguasa, TPT maupun P2T dan Investor). Dugaan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah ini beralasan karena antara yang semestinya terjadi dengan kenyataan berbeda, Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk menilai harga baik proses maupun substansi. tanah.

1

26

(1)

(2)

(3)

28

(2)

Dalam hal di kabupaten/kota atau di sekitar kabupaten/kota yang bersangkutan belum terdapat Lembaga Penilai Harga Tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta membentuk Tim Penilai Harga Tanah. Keanggotaan Tim Penilai Harga Tanah sebagaimana Banyak ahli dan akademisi di Jombang yang specifikasi di bidang dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : penilaian property (riil property; tanah) menyatakan bahwa harga yang a. unsur instansi yang membidangi bangunan dan/atau ditawarkan kepada masyarakat dalam konteks pengadaan tanah untuk tanaman; infrastruktur tidak sesuai dengan Standard atau semestinya. b. unsur instansi pemerintah pusat yang membidangi Banyak mantan karyawan Pekerjaan Umum dan profesional di bidang Pertanahan Nasional; tanah menyatakan harga yang ditawarkan sebenarnya lebih rendah c. unsur instansi Pelayanan Pajak Bumi dan dibanding harga yang semestinya ditawarkan. Bangunan; Dari kondisi ini, jika membandingkan dengan proses pengadaan tanah untuk d. Ahli atau orang yang berpengalaman sebagai Lapter di Banyuwangi, baik proses maupun substansi pada akhirnya akan penilai harga tanah; berujung di Pengadilan. e. Akademisi yang mampu menilai harga tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. Karena penunjukan tim appraisal dari lembaga di luar Jombang, maka Keanggotaan Tim Penilai Harga Tanah sebagaimana keterlibatan profesional dari LSM tidak ada. dimaksud pada ayat (2) apabila diperlukan dapat ditambah unsur Lembaga Swadaya Masyarakat Dokumen appraisal tidak terbuka, sehingga tidak bisa dianalisis ”apakah Tim Penilai Harga Tanah sebagaimana dimaksud pada telah memenuhi metodologi dan ketentuan yang benar dalam hal menilai ayat (1) melakukan penilaian harga tanah berdasarkan harga tanah ?”, padahal pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) atau nilai dalam konsep appraisal telah cukup jelas kemungkinan harga tanah bisa nyata/sebenarnya dengan memperhatikan NJOP tahun diprediksi secara profesional berjalan, dan dapat berpedoman pada variabel-variabel metode penilaian atas dasar pendekatan biaya, pendekatan pendapatan sebagai berikut : dan pendekatan data pasar : sangat mungkin harga tanah untuk a. lokasi dan letak tanah; infrastruktur lebih tinggi (berdasar highes and Best Use) dibanding yang b. status tanah; dipublikasi oleh P2T, TPT, Muspida, Muspika, dan pemdes serta Satgas c. peruntukan tanah; Pengadaan Tanah d. kesesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata ruang wilayah atau perencanaan ruang wilayah atau REKOMENDASI : P2T HARUS MEMBUKA DOKUMEN APPRAISAL kota yang telah ada; (SEBAGAIMANA JANJI KOMISI A) SEBAGAI DASAR HARGA e. sarana dan prasarana yang tersedia; dan PENUNTUN UNTUK MENCAPAI KESEPAKATAN HARGA f. faktor lainnya yang mempengaruhi harga tanah GANTI RUGI DENGAN PEMILIK TANAH. RE-APPRAISAL HARUS DILAKUKAN DAN ITU DIMUNGKINKAN DALAM KETENTUAN MENGENAI PENGADAAN TANAH UNTUK INFRASTRUKTUR

2

MUSYA WARAH

Perpres

1

Angka Musyawarah adalah kegiatan yang mengandung 10 proses saling mendengar, saling memberi dan

saling menerima pendapat, serta keinginan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan masalah lain yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah atas dasar kesukarelaan dan kesetaraan antara pihak yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah dengan pihak yang memerlukan tanah.
Perpres 8 (1)

Sudah sangat jelas definisinya. Faktanya adalah : Musyawarah oleh P2T, TPT, Investor dan Satgas sangat bias & manipulatif Tidak terjadi musyawarah, sebaliknya pemaksaan dan penetapan tanpa kesepakatan. Sehingga, Pemilik tanah tidak setara bersepakat, terpaksa dan tertipu P2T, TPT dan Satgas bertindak sebagai makelar, karenanya sangat wajar dicurigai ada kepentingan financial/keuntungan pribadi dan kelompok

Yang dicurigai : Siapa yang memerlukan tanah ????, lalu kenapa banyak pemain di bawah ???
Belum ada kesepakatan : luas tanah dan penyelesaian resiko tanah milik yang terpotong di tengah atau di sisi kanan-kiri yang dibutuhkan proyek bentuk penggantian besar harga penggantian PADAHAL: seluruh peraturan perundang-undangan serta KUH Perdata menghendaki dalam hal soal TANAH menggunakan mekanisme TRANSAKSI UNTUK SEPAKAT. Jika Tidak, maka : PEMILIK TANAH memiliki posisi HUKUM yang sangat KUAT dilindungi dan dijamin konstitusi, UUPA dan KUH Perdata

Pengadaan tanah bagi pelaksanaan Pembangunan untuk kepentingan umum dilakukan melalui musyawarah dalam rangka memperoleh kesepakatan mengenai: a. pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum di lokasi tersebut; b. bentuk dan besarnya ganti rugi.

9

(ayat 1 – 4)

(1) Musyawarah dilakukan secara langsung antara pemegang hak atas tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah bersama panitia pengadaan tanah, dan instansi Pemerintah atau pemerintah daerah yang memerlukan tanah. (2) Dalam hal jumlah pemegang hak atas tanah tidak memungkinkan terselenggaranya musyawarah secara efektif, maka musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh panitia pengadaan tanah dan instansi Pemerintah atau pemerintah daerah yang memerlukan tanah dengan wakil-wakil yang ditunjuk di antara dan oleh para pemegang hak atas tanah, yang sekaligus bertindak selaku kuasa mereka. (3) Penunjukan wakil atau kuasa dari para pemegang hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus

FAKTANYA : TIDAK TERJADI MUSYAWARAH KESEPAKATAN Sebagaimana diatur dalam
Ketentuan Perpres & PerKa. BPN

TIDAK ADA KUASA YANG DILIBATKAN DALAM KESEPAKATAN TEKNIS PENYELENGGARAAN DAN PROSES MUSYAWARAH TIDAK SEBAGAIMANA MESTINYA TANDA TANGAN HADIR WARGA PEMILIK TANAH DIMANIPULASI SEBAGAI LAMPIRAN KEPUTUSAN P2T/TPT
3

11

dilakukan secara tertulis, bermaterai cukup yang diketahui oleh Kepala Desa/Lurah atau surat penunjukan/kuasa yang dibuat di hadapan pejabat yang berwenang. (4) Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipimpin oleh ketua panitia pengadaan tanah. Apabila dalam musyawarah telah dicapai kesepakatan antara pemegang hak alas tanah dan instansi Pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang memerlukan tanah, panitia pengadaan tanah mengeluarkan keputusan mengenai bentuk dan besamya ganti rugi sesuai dengan kesepakatan tersebut.
(3) Musyawarah bentuk dan/atau besarnya ganti rugi berpedoman pada : a. kesepakatan para pihak; b. hasil penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30; dan c. tenggat waktu penyelesaian proyek pembangunan Musyawarah pada asasnya dilaksanakan secara langsung dan bersama-sama antara instansi pemerintah yang memerlukan tanah dengan para pemilik yang sudah terdaftar dalam Peta dan Daftar yang telah disahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 (1) Dalam hal jumlah pemilik tidak memungkinkan terselenggaranya musyawarah secara langsung, bersama-sama dan efektif, musyawarah dapat dilaksanakan secara bertahap. (2) Dalam hal musyawarah secara langsung dan bersama-sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) atau secara bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemilik tidak dapat hadir, dapat mewakilkan kepada orang lain dengan surat kuasa notariil atau dibawah tangan yang diketahui oleh Kepala Desa/Lurah atau yang setingkat dengan itu dan Camat.

KEPUTUSAN P2T TENTANG BENTUK HARGA TANAH = CACAT PROSES SUBSTANSI, (termasuk manipulasi Lampiran tangan) REKOM : DIBATALKAN DAN DIULANG PROSES SUBSTANSINYA

DAN DAN tanda DAN

BPN

31

TIDAK ADA KESEPAKATAN, SEHINGGA APAPUN KEPUTUSAN P2T TIDAK ATAS PEDOMAN YANG JELAS DAN BAIK SESUAI KETENTUAN PERATURAN. P2T BERLINDUNG DIBALIK HARGA APPRAISAL, PADAHAL DOKUMEN APPRAISAL TIDAK DIBUKA, SEHINGGA P2T MEMAKSA P2T & SATGAS BERDALIH TENTANG TENGGAT WAKTU TERJADI MANIPULASI PROSES DAN SUBSTANSI MUSYAWARAH, YANG BANYAK TERJADI ADALAH SOSIALISASI DAN PEREDAMAN (PLACATION)

32

(1)

33

(Ayat 1 – 4)

TAHAPAN MUSYAWARAH TIDAK PERNAH KONKRIT DAN CLEAR. SEBALIKNYA, BANYAK MANIPULASI & PEMBOHONGAN PUBLIK PEMILIK TANAH. KUASA PERWAKILAN TIDAK PERNAH TERLIBAT KADES DAN CAMAT TERLIBAT DALAM MANIPULASI, BAHKAN MEREKA SEBAGAI ANGGOTA SATGAS YANG BANYAK TERLIBAT DALAM PELANGGARAN PROSEDURE DIBAWAH

4

(3) Penerima kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), atas nama pemberi kuasa berwenang mengambil keputusan untuk mengajukan usul, pendapat, keinginan, dan menerima atau menolak bentuk dan/atau besarnya ganti rugi, jika dicantumkan secara tegas dalam Surat Kuasa dimaksud. (4) Untuk melindungi para pemilik, seorang

TIDAK ADA KETENTUAN MENGENAI SATGAS, PADAHAL SATGAS YANG PALING AKTIV BERPERAN DI BAWAH. KARENANYA INDIKASI PERDATA & PIDANA LEBIH MELEKAT KEPADA MEREKA

REKOM : MUSYAWARAH DIULANG SATGAS NAKAL DITINDAK MANIPULASI DIBONGKAR penerima kuasa sebagaimana dimaksud pada

ayat (3) hanya dapat menerima kuasa dari 1 (satu) orang pemilik.
34 Musyawarah rencana pembangunan untuk kepentingan umum di lokasi tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf a dianggap telah tercapai kesepakatan, apabila paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen), dari : a. luas tanah yang diperlukan untuk pembangunan telah diperoleh, atau b. jumlah pemilik telah menyetujui bentuk dan/atau besarnya ganti rugi Pemilik tanah yang belum bersepakat mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi, dan jumlahnya 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah pemilik/luas tanah, Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota mengupayakan musyawarah kembali sampai tercapai kesepakatan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi. Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota membuat Berita Acara Hasil Pelaksanaan Musyawarah Lokasi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Penetapan Bentuk dan/atau Besarnya Ganti Rugi yang ditandatangani oleh seluruh anggota Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota, instansi pemerintah yang memerlukan tanah dan para pemilik.

P2T DAN SATGAS MEMANIPULASI DATA, PADAHAL WARGA PEMILIK TANAH MASIH MEMPERSOALKAN PROSES DAN SUBSTANSI MUSYAWARAH. KARENANYA, P2T TIDAK BISA BERDALIH DIBELAKANG KETENTUAN INI. REKOM : GELAR KASUS DAN REKONSTRUKSI KASUS
TIDAK PERNAH DILAKUKAN SEBAGAIMANA MESTINYA MUSYAWARAH KESEPAKATAN

36

38

DICURIGAI TIDAK ADA BERITA ACARA BAHKAN DICURIGAI TERDAPAT MANIPULASI BERITA ACARA REKOM :

GELAR/EKSPOSE BERITA ACARA
& CROSS CEK KEBENARANNYA

5

GANTI RUGI

Perpres 36/2005

1

Angka Ganti rugi adalah penggantian terhadap kerugian 11 baik bersifat fisik dan/atau nonfisik sebagai akibat

SIFAT FISIK DAN NON FISIK DALAM PENGGANTIAN TIDAK PERNAH ADA/CLEAR. TAWARAN GANTI P2T (TANPA TRANSAKSI) TIDAK DAPAT MEMBERIKAN KELANGSUNGAN HIDUP YANG LEBIH BAIK DARI TINGAT KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI KEPADA PEMILIK TANAH. PEMILIK TANAH MASIH SURAM TENTANG MASA DEPAN EKONOMINYA (SAWAH, PEKARANGAN, RUMAH/BANGUNAN) TIDAK PERNAH ADA KESEPAKATAN BENTUK BESERTA ALTERNATIF YANG DIMUNGKINKAN DALAM PENGGANTIAN KERUGIAN WARGA PEMILIK TANAH

pengadaan tanah kepada yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah yang dapat memberikan kelangsungan hidup yang lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah.
Perpres 13

15

(1)

Bentuk ganti rugi dapat berupa : a. Uang; dan/atau b. Tanah pengganti; dan/atau c. Pemukiman kembali; dan/atau d. Gabungan dari dua atau lebih bentuk ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c; e. Bentuk lain yang disetujui oleh pihak-pihak yang bersangkutan.” Dasar perhitungan besarnya ganti rugi didasarkan atas : a. Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) atau nilai nyata/sebenarnya dengan memperhatikan Nilai Jual Obyek Pajak tahun berjalan berdasarkan penilaian Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah yang ditunjuk oleh panitia; b. nilai jual bangunan yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang bangunan; c. nilai jual tanaman yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang pertanian.
Ganti rugi dalam bentuk selain uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf b diberikan dalam bentuk : a. tanah dan/atau bangunan pengganti atau pemukiman kembali, sesuai yang dikehendaki pemilik dan disepakati instansi pemerintah yang

NILAI NYATA/SEBENARNYA DIPERTANYAKAN KARENA HASIL APPRAISAL JUGA TIDAK DIBUKA. NJOP KADALUARSA / TIDAK TER-UPDATE, SEHINGGA CENDERUNG MERUGIKAN WARGA. MANIPULASI SANGAT MUNGKIN TERJADI P2T BELUM PERNAH SECARA TERBUKA MENYAMPAIKAN INFORMASI STANDAR HARGA BANGUNAN PER-METER. TERJADI MANIPULASI DATA PROPERTI DIATAS TANAH, & ‘PENITIPAN BARANG TERNEGO” KEDALAM DATA PEMILIK

BPN

45

TIDAK PERNAH ADA KESEPAKATAN BENTUK DAN BESAR PENGGANTIAN. APALAGI ALTERNATIF YANG DIMUNGKINKAN OLEH PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN.
KARENANYA, SANGAT KENTAL DIDUGA TERINDIKASI TINDAKAN/PERBUATAN KORUPSI, SUAP & GRATIFIKASI.

6

46

(1)

memerlukan tanah; b. tanah dan/atau bangunan dan/atau fasilitas lainnya dengan nilai paling kurang sama dengan harta benda wakaf yang dilepaskan, bagi harta benda wakaf; c. recognisi berupa pembangunan fasilitas umum atau bentuk lain yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat, untuk tanah ulayat; atau d. sesuai keputusan pejabat yang berwenang, untuk tanah Instansi Pemerintah atau Pemerintah Daerah Ganti rugi dalam bentuk uang, dibayarkan secara langsung oleh instansi pemerintah yang memerlukan tanah kepada yang berhak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43, disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota

TIDAK CLEAR DILAPANGAN. BANYAK PIHAK BERPERAN SEBAGAI PEMBAYAR DICURIGAI PARA PEJABAT BERTINDAK SEBAGAI MAKELAR, INDIKASINYA CUKUP KUAT TERJADI PEMOTONGAN UANG PENGGANTI ANTARA 2,5 – 3 % ATAS NAMA PAJAK/ADMINISTRASI, PADAHAL BEBAN INI TERTANGGUNG OLEH PEMBELI/PEMERINTAH

KEPUTU SAN P2T

BPN

40

(1)

Berdasarkan Berita Acara sebagaimana dimaksud DICURIGAI TIDAK ADA BERITA ACARA, BAHKAN DICURIGAI dalam Pasal 37 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 38, TERDAPAT MANIPULASI BERITA ACARA Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota menerbitkan keputusan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti REKOMENDASI : rugi dan Daftar Nominatif Pembayaran Ganti Rugi. GELAR/EKSPOSE BERITA ACARA Dalam hal tanah yang diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan merupakan tanah instansi pemerintah, keputusan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dilakukan berdasarkan tata cara yang diatur dalam peraturan perundangan-undangan tentang perbendaharaan negara Pemilik yang keberatan terhadap keputusan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi yang diterbitkan Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1), dapat mengajukan keberatan kepada Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sesuai kewenangannya disertai dengan penjelasan mengenai sebab-sebab dan alasan keberatannya dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari. DALAM HAL TERKAIT TANAH KAS DESA/BENGKOK TIDAK PERNAH TERBUKA PENYELESAIANNYA. MEKANISME PERDES DALAM TUKAR GULING TIDAK DILAKUKAN (DIDUGA TERJADI GRATIFIKASI, SUAP, DAN KORUPSI)

(4)

41

(1)

PENGAJUAN KEBERATAN TIDAK TEPAT, KARENA KEPUTUSAN PENETAPAN BAIK DARI P2T MAUPUN BUPATI BERMASALAH (TIDAK ATAS DASAR HUKUM YANG KUAT, BAIK PERPRES 65/2006 JO 36/2005 & PER.KEP.BPN 03/2007)
7

(2)

Bupati/Walikota sesuai kewenangannya memberikan putusan penyelesaian atas keberatan pemilik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari. Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sesuai kewenangannya sebelum memberikan putusan penyelesaian bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dapat meminta pertimbangan atau pendapat/keinginan dari : a. pemilik yang mengajukan keberatan atau kuasanya; b. Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota; dan/atau c. instansi pemerintah yang memerlukan tanah. Resiko Politik (Political Risk ) adalah resiko yang ditimbulkan oleh kebijakan/tindakan keputusan sepihak dari Pemerintah atau Negara yang secara langsung dan signifikan berdampak pada kerugian finansial Badan Usaha, yang meliputi resiko pengambilalihan kepemilikan aset, resiko perubahan peraturan perundang-undangan, dan resiko pembatasan konversi mata uang dan larangan repatriasi dana. Resiko Kinerja Proyek (Project Performance Risk ) adalah resiko yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek, yang anta ra lain meliputi resiko lokasi dan resiko operasional.

TERDAPAT KEPUTUSAN-KEPUTUSAN BUPATI (TERMASUK KEPUTUSAN PENGUKUHAN HARGA) YANG DIDASARKAN PADA LAPORAN KEBERATAN P2T, TIDAK ATAS DASAR KEBERATAN PEMILIK. MEKANISME INI TIDAK DIJALANKAN, YANG TERJADI ADALAH AROGANSI KEKUASAAN; KEPENTINGAN PEMILIK TANAH TIDAK PERNAH DIPERTIMBANGKAN. KARENANYA, DUGAAN KUAT ’PENGKONDISIAN’ INI BER-AROMA GRATIFIKASI, SUAP & KORUPSI.

(5)

PENGEL OLAAN RESIKO INFRAS TRUKTU R

Permenke u 38//PM K.Ol/20 06

1

(7,8)

INTIMIDASI ; HARGA SAMPAI KIAMAT TIDAK NAIK, HARGA SUPERMARKET PEMILIK YANG REWEL ”DIKONSINYASI DENGAN RESIKO DITANGGUNG PEMILIK TANAH”, ”DIGUSUR ATAS DASAR MENGGANGGU KEPENTINGAN UMUM”, JIKA PNS ”DIMUTASI/NON JOB/FUNGSIONAL” REKOMENDASI : MUSYAWARAH KESEPAKATAN ULANG RE-APPRAISAL & ATAU UKUR ULANG LAHAN KARENA RESIKO PENGADAAN TANAH (HARGA) TELAH ADA MEKANISME PENYELESAIANNYA (KUNCINYA TRANSASKSI)

6

(1)

Jenis resiko yang perlu diatur skema pembagian resikonya antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam penyediaan inftastruktur adalah: a. Resiko Polilik; b. Resiko Kinerja Proyek; dan c. Resiko Permintaan.

8

(3)

Dalam skema pembagian resiko untuk Resiko Kinerja Proyek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dapat diperjanjikan untuk : a. resiko lokasi, dalam hal terjadi: 1) keterlambatan pengadaan tanah, dapat diberikan perpanjangan masa konsesi dan/atau memberikan kompensasi dalam bentuk lain yang disetujui oleh Menteri Keuangan sepanjang keterlambatan tersebut disebabkan oleh pihak Pemerintah; 2) kenaikan harga tanah, dapat diberikan perjangan masa konsesi kepada Badan Usaha, menanggung kelebihan harga tanah dengan persentasi yang disepakati dengan Badan Usaha dan/atau memberikan kompensasi dalam bentuk lain yang disetujui oleh Menteri Keuangan.
Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota memerintahkan kepada instansi pemerintah yang memerlukan tanah untuk menitipkan ganti rugi uang ke pengadilan negeri yang wilayah hukumnya meliputi letak tanah bagi pelaksanaan pembangunan dalam hal : a. yang berhak atas ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1) tidak diketahui keberadaannya; b. tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah, sedang menjadi obyek perkara di pengadilan dan belum memperoleh putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap; c. masih dipersengketakan kepemilikannya dan belum ada kesepakatan penyelesaian dari para pihak; dan

REKOM : MUSYAWARAH KESEPAKATAN ULANG RE-APPRAISAL & ATAU UKUR KEBUTUHAN

ULANG

KARENA RESIKO PENGADAAN TANAH (HARGA) TELAH ADA MEKANISME PENYELESAIANNYA (KUNCINYA TRANSASKSI)

PENITIP AN GANTI RUGI

BPN

48

(1)

PEMILIK YANG REWEL LANGSUNG DI ”KONSINYASI / PENITIPAN GANTI RUGI”,

APA DASARNYA ???
PELANGGARAN PROSEDURE !!! REKOMENDASI : YANG BERTANGGUNG SEWENANG-WENANG JAWAB DITINDAK KARENA

d. tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah, sedang diletakkan sita oleh pihak yang berwenang.

9

(3)

Permohonan penetapan penitipan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dengan melampirkan : a. nama yang berhak atas ganti rugi yang ganti ruginya dititipkan; b. undangan penerimaan pembayaran ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2); dan c. surat-surat : 1) Berita Acara Penyerahan Ganti Rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2) atau ayat (3); 2) Berita Acara Hasil Pelaksanaan Musyawarah Lokasi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Penetapan Bentuk dan/atau Besarnya Ganti Rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. 3) Keputusan Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (7); 4) Keterangan dan alasan hukum penitipan ganti rugi; dan 5) Surat-surat lain yang berhubungan dengan

PENGADILAN NEGERI JOMBANG TIDAK TERBUKA TENTANG INI, CENDERUNG BERPIHAK KEPADA P2T MELANGGAR TUPOKSI PENGADILAN NEGERI TURUT SERTA MENDORONG ’EKSEKUSI’ PADAHAL TIDAK ADA MASALAH HUKUM (PERDATA)

penitipan ganti rugi.

DATA-DATA INI DIOLAH OLEH TIM DATA, INFORMASI DAN KAJIAN BERDASAR FAKTA DAN DATA DILAPANGAN DAN DOKUMEN-DOKUMEN RESMI DARI INSTANSI TERKAIT SERTA TELAH DIKAJI BERSAMA DENGAN PEMILIK HAK ATAS TANAH YANG TERGABUNG DALAM JAMAAH KORBAN PEMBANGUNAN TOL (JKPT), KARENANYA MENGANDUNG KEBENARAN UNTUK DITINDAK-LANJUTI PERKARA PERDATA DAN PIDANANYA

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->