Pengembangan Budaya Sekolah

Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah.

Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal; (3) lebih terbuka dan transparan; (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini. 1. Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah. Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. 2. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya sekolah. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.

Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan.3. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Sistem Imbalan yang Jelas. Evaluasi Diri. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Keputusan Berdasarkan Konsensus. 9. Dalam lingkungan pembelajaran. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. 10. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. 5. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. sedang. 4. kemampuan . Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. 2. upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1. Berorientasi Kinerja. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Kerjasama tim (team work). Kemampuan. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Memiliki Komitmen yang Kuat. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. 8. dan jangka panjang. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Memiliki Strategi yang Jelas. Untuk itu. Sistem Evaluasi yang Jelas. 7. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalahmasalah yang dihadapi di sekolah. 6. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas.

Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. 6. nyaman. Disiplin (discipline). Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. jujur dalam mengelola keuangan. 4. Empati (empathy). Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. 5. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. nyaman. 7. Sikap ini . bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. 8. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. kepercayaan tidak akan diperoleh. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Jujur (honesty). guru. asri dan menyenangkan.3. Hormat (respect). dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Keinginan. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Jujur dalam memberikan penilaian. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. guru dan staf. Kegembiraan (happiness). Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Tanpa kejujuran. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik.

orang tua dan masyarakat. Bahkan jauh sebelumnya kita tentu mendengar berita di sebuah institutut pemerintahan dalam negeri (IPDN) -. 9. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). kebiasaan-kebiasaan tersebutlah yang akan membentuk kita (John C. seperti tempat yang menakutkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah.2007. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. atau .telah berlangsung lama adanya bentuk-bentuk kekerasan para senior terhadap yuniornya. Maxwell) <p>Your browser does not support iframes. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. penulis sangat prihatin karena telah membaca e-mail tentang kesadisan seorang guru di Jombang yang telah menampar muridnya. staf dan kepala sekolah tarmpil.perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut.yang mencetak birokrat pemerintahan -. kita bentuk kebiasaan-kebiasaan kita. budaya sekolah (school culture) yang seperti apakah sebenarnya yang ada di lembaga-lembaga pendidikan tersebut? Apakah lembaga pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang angker. Sebelumnya ada berita tentang seorang guru SMK yang telah menampar sekian orang siswanya. Dimensi ini menuntut para guru. Setelah itu. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. Jakarta. MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik (Mahatma Gandhi) Pertama. Pengetahuan dan Kesopanan.</p> Kurang lebih satu jam sebelum menulis artikel ini. ================= Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.

dan juga kepada masyarakat. dan sehat. Apakah budaya sekolah itu? Peterson (1999) menjelaskan ³school culture is the behind-the-scenes context that reflects the values. but also its motivations and spirit´. Bahkan para pedagang kecil membuka dagangannya di depan gedung sekolah. Nilai-nilai sosial budaya sangat berpengaruh terhadap bagaimana sekolah menghadapi masalah sekolah. peserta didik. pegawai tata usaha sekolah. dan sekaligus memecahkan masalahnya. mulai kondisi SDM-nya seperti kepala sekolah sampai dengan tenaga pendidik dan tenaga administrasinya sampai dengan peserta didiknya. Apakah Budaya Sekolah Berpengaruh Terhadap Pendidik dan Keberhasilan Siswa? Sudah barang tentu. serta fasilitas sekolah yang mendudungnya. norma-norma. and rituals that build up over time as people in a school work together´ Lebih dari itu. tertib. Penjaga itu bisa saja siswa piket atau petugas outsourcing yang ditugasi untuk itu. yang semua orang bebas keluar masuk. Budaya sekolah berpengaruh terhadap bagaimana pendidik berhubungan dan bekerja sama dengan semua warga sekolah. bersih. atau lembaga pendidikan yang terbuka. Tulisan singkat ini akan menggambarkan beberapa budaya sekolah dan karakteristiknya. norms. termasuk masalah hasil belajar peserta didik. Budaya sekolah juga amat dipengaruhi oleh sistem manajemen dan organisasinya.lembaga pendidikan yang amburadul. Kadangkala bersama dengan bapak ibu guru yang buru-buru masuk sekolah karena bel telah berbunyi keras sekali. rutual-ritual. . Masih banyak lagi bentuk-bentuk budaya sekolah yang mencerminkan wajah lembaga pendidikan sekolah itu. Budaya sekolah adalah konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan nilai-nilai. dimaknai sebagai bagaimana warga sekolah berfikir dan bertindak. Dalam konsep sekolah efektif (effective school). budaya sekolah sering disebut sebagai suasana sekolah (school climate). Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya kepada kegiatan warga sekolah. Itulah budaya kasat mata yang dapat segera kita lihat. tetapi juga motivasi dan semangatnya. amat tergantung pada banyak faktor. Peterson juga menambahkan bahwa budaya sekolah ³influences not only the actions of the school population. Dua penjaga bersenjata lengkap berdiri di depan pos jaga yang siap akan menanyakan kepada semua tamu yang datang. dengan sesama pendidik. Ada sebuah sekolah dasar yang lokasinya berada di kompleks perumahan. traditions. Suatu lembaga pendidikan berasrama milik militer atau kepolisian akan terlihat mulai dari adanya sistem penjagaan yang ketat. yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah. beliefs. tradisitradisi. Dan para siswa pun kemudian bersorak lari ke ruangan kelasnya masing-masing. Seperti apa lembaga pendidikan yang akan kita bangun. termasuk kepada pendidik dan peserta dididk. orangtua peserta didik. Suasananya bak pasar tumpah yang ramai. Para siswa mondar-mandir keluar-masuk sekolah. budaya sekolah dapat berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan di dalam sekolah. Begitu masuk pintu gerbang lembaga itu suasana itu sudah mulai terasa. Para orangtua siswa atau para pengantarnya bergerombol di depan pintu gerbang sekolah. seperti pasar yang kumuh.

dalam suasana penuh kolegial. dilaksanakan secara demokratis. Kedua. Ingin menanam benih-benih kejujuran dalam masyarakat? Tanamlah di sekolah. Sekolah adalah ibarat taman yang subur tempat menanam benih-benih nilai-nilai sosial budaya tersebut. Demikian seterusnya dengan benih-benih nilai-nilai sosial budaya lainnya.Nilai-nilai sosial budaya sekolah tentu saja dapat dibangun. peserta diddik dipandang sebagai masalah ketimbang sebagai pihak yang harus dilayani. . Budaya sekolah apa saja yang harus dibangun? Banyak sekali nilai-nilai sosial budaya yang harus dibangun di sekolah. Berbeda dengan kedua budaya sekolah sebelumnya. Kebiasaan ini sangat Islami. Kebijakan sekolah mengikuti arahan dari atasan. Dalam model ini. Sama dengan pada model budaya sekolah yang birokratis. Tiga Model Budaya Sekolah dan Karakteristiknya Dalam praktik di lapangan. budaya sekolah racun (toxic school culture). maka lahirlah satu bentuk hubungan sekolah dengan orangtua siswa dan masyarakat yang sangat birokratis. diubah sesuai dengan budaya baru yang tumbuh dalam masyarakat. 1987]) Pertama. 1984 [as cited in Butler & Dickson. Ucapan yang baik akan berasal dari mulut yang bersih. kebiasaan menggosok gigi. budaya sekolah racun ini juga malah jarang memberikan kesempatan kepada pendidik untuk memberikan masukan terhadap upaya pemecahan masalah yang terjadi di sekolah. Ketiga. ada tiga model budaya sekolah. Hasilnya sama dengan tinjauan dari sudut pandang religius. Secara medis. Model budaya sekolah ini antara lain ditunjukkan adanya budaya yang menekankan adanya petunjuk dari atasan. (Spahier & King. yang satu dengan yang lain dapat dibedakan. Nabi Muhammad SAW selalu melakukan ³siwak´ dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam tulisan singkat ini hanya diberikan beberapa contoh nilai-nilai sosial budaya yang harus ditanam di ladang bernama sekolah. Ketika masyarakat masih memiliki paradigma lama dengan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya kepada sekolah. Itulah sebabnya keterlibatan semua warga sekolah sangat dihargai dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Ada nilai religius dan medis yang dapat dipetik dari kebiasaan ini. karena semua harus mengikuti peraturan dan ketentuan dari atasan. Pendidik juga kurang dapat berinteraksi dengan orangtua siswa dan masyarakat. budaya sekolah kolegial (collegial school culture). Orangtua dan masyarakat berada di bawah perintah kepala sekolah. dan oleh karena itu para guru lebih banyak mengikuti arahan tersebut. Pertama. gigi dan mulut yang bersih akan berdampak terhadap kesehatan otak kita. semua penyelenggaraan sekolah direncanakan. Kejujuran dan komunikasi antarwarga sekolah dapat berlangsung secara efektif. budaya sekolah birokratis (bureaucratic school culture). sekolah sangat memberikan apresiasi dan rekognisi terhadap peran dan dukungan dari semua pihak. Pendek kata. tetapi kadang-kadang juga sering saling tumpang tindih. Bentuk-bentuk kekerasan guru terhadap siswa yang sering kita dengar akhir-akhir ini merupakan hasil dari budaya sekolah yang seperti ini.

bahkan dari keluarga. yaitu (1) kasih sayang. (2) kepercayaan. mengalikan bunga bank untuk kekayaan pribadi. yang menyatakan bahwa ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. pengurangan. menghormati hukum dan peraturan. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data. kejujuran.Kedua. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. Konon. Ketujuh. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. Kita mematuhi hukum dan perundang-undangan karena takut terhadap ancaman hukuman. bertanggung jawab. Kita masih sering membeda-bedakan orang lain karena berbagai kepentingan. materi materi matapelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. Menurut beliau. Bukan sebaliknya. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. menghormati diri sendiri dan orang lain. dan (3) kewibawaan. Keenam. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. Ketiga. dan perkalian ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan materi tentang pembagian. Kelima. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain. Keempat. Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. Tetapi nyatanya tidak demikian. Kedepalapan. Hasilnya. mencintai belajar. Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. mencintai pekerjaan. Oleh karena itu. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. Ini adalah kata-kata mutiara yang selalu melekat di hati. Penulis pernah mengutip pandangan guru besar IKIP Surabaya. membagi kasih sayang. membagi pemerataan. Ingin berbahagia selamanya. kita mengormati hukum dan peraturan atas dasar kesadaran bahwa hukup dan peraturan itu adalah kita buat untuk kebaikan hidup kita. Materi tentang penjumlahan. Kesembilan. Kita hidup tidak sendirian. Malah telah menghasilkan banyak koruptor. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. maka bekerjalah dengan senang hati. kita harus hidup beretika. ekonomi. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur. dilahirkan oleh dan dari orang lain yang bernama ibu dan ayah kita. menghormati hak orang lain. dan budaya. dan membagi kebahagiaan ternyata jarang dilakukan ketimbang mengumpulkan hasil korupsi. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. maka budaya kejujuran harus dapat dibangun di sekolah. jujur kepada orang lain. mulai jujur kepada dirinya sendiri. Pekerjaan adalah bagian penting . etika. kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Seharusnya. jujur kepada Tuhan. Oleh karena itu. agama. kasih sayang. Sering kita menghormati hukum dan peraturan karena takut kepada para penegak hukum.

E-mail: me [at] suparlan [dot] com. Padahal. Sudah barang tentu masih banyak lagi nilai-nilai sosial budaya yang harus kita tanam melalui ladang lembaga pendidikan sekolah. tetapi tetap menghabiskan uangnya untuk tujuan yang mubazir. <p>Your browser does not support iframes. Amin. Mengapa warisan ini tidak dapat segera kita ganti? Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di ladang sekolah kita. Tetapi. Memang kita sering memperoleh hasil pas-pasan dari hasil pekerjaan kita. *) Website: http://www. sekolah. Kesebelas. kita diharuskan bertebaran di muka bumi untuk bekerja. 29 Desember 2008.dari kehidupan ini.</p> Kesepuluh. Nilai-nilai sosial budaya tersebut harus dapat kita tanam dan terus kita pupuk melalui proses pendidikan dan pembudayaan di rumah. Siapa yang tidak bekerja adalah tidak hidup. Kita masih jarang memiliki semangat menabung untuk masa depan. Tidak mempunyai penghasilan cukup tetapi tetap melakukan pola hidup konsumtif. Sebaliknya. Waktu adalah pedang. dan dalam kehidupan masyarakat kita. setelah shalat Subuh. jam karet adalah istilah sehari-hari bangsa sendiri yang sampai saat ini kita warisi.com. suka menabung. yang lebih sering. Pagi-pagi masih berkerudung sarung. suka bekerja harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak kita di sekolah dan di rumah. adalah warisan petuah para sahabat Nabi.suparlan. Ngobrol dan duduk-duduk santai adalah kebiasaan lama di pedesaan kita. Kesepuluh. Depok. tepat waktu. peserta didik harus diberikan kesadaran tentang pentingnya menghargai pekerjaan. suka bekerja keras. kita mengikuti pola hidup ´lebih besar tiang daripada pasak´. Oleh karena itu. Untuk ini. . seperti merokok. Penghasilan pas-pasan. Time is money adalah warisan para penjelajah ´rules of the waves´ bangsa pemberani orang Inggris.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful