budaya sekolah

Pengembangan Budaya Sekolah

Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah.

Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal; (3) lebih terbuka dan transparan; (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini. 1. Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah. Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. 2. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya sekolah. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.

Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. kemampuan . Sistem Imbalan yang Jelas. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. Sistem Evaluasi yang Jelas. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. 8. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Evaluasi Diri. Kerjasama tim (team work). 10. 4. 6. Memiliki Strategi yang Jelas. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut.3. Untuk itu. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. 5. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. dan jangka panjang. Berorientasi Kinerja. Kemampuan. sedang. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas. 7. Memiliki Komitmen yang Kuat. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalahmasalah yang dihadapi di sekolah. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Keputusan Berdasarkan Konsensus. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. 9. 2. Dalam lingkungan pembelajaran.

Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Jujur (honesty). dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. Disiplin (discipline). Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. nyaman. asri dan menyenangkan. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Hormat (respect).3. guru dan staf. Empati (empathy). Sikap ini . bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. 5. 7. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. nyaman. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik. 6. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Tanpa kejujuran. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. 8. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Kegembiraan (happiness). jujur dalam mengelola keuangan. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. guru. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. 4. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Keinginan. Jujur dalam memberikan penilaian. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. kepercayaan tidak akan diperoleh.

budaya sekolah (school culture) yang seperti apakah sebenarnya yang ada di lembaga-lembaga pendidikan tersebut? Apakah lembaga pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang angker. 9. Sebelumnya ada berita tentang seorang guru SMK yang telah menampar sekian orang siswanya.yang mencetak birokrat pemerintahan -. Setelah itu. kita bentuk kebiasaan-kebiasaan kita. MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik (Mahatma Gandhi) Pertama. penulis sangat prihatin karena telah membaca e-mail tentang kesadisan seorang guru di Jombang yang telah menampar muridnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa.2007. Jakarta.</p> Kurang lebih satu jam sebelum menulis artikel ini. kebiasaan-kebiasaan tersebutlah yang akan membentuk kita (John C.telah berlangsung lama adanya bentuk-bentuk kekerasan para senior terhadap yuniornya. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Bahkan jauh sebelumnya kita tentu mendengar berita di sebuah institutut pemerintahan dalam negeri (IPDN) -. Dimensi ini menuntut para guru. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. ================= Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Pengetahuan dan Kesopanan.perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. seperti tempat yang menakutkan. atau . Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. staf dan kepala sekolah tarmpil. orang tua dan masyarakat. Maxwell) <p>Your browser does not support iframes.

rutual-ritual. peserta didik. Suatu lembaga pendidikan berasrama milik militer atau kepolisian akan terlihat mulai dari adanya sistem penjagaan yang ketat. Dan para siswa pun kemudian bersorak lari ke ruangan kelasnya masing-masing. Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya kepada kegiatan warga sekolah. Nilai-nilai sosial budaya sangat berpengaruh terhadap bagaimana sekolah menghadapi masalah sekolah. Tulisan singkat ini akan menggambarkan beberapa budaya sekolah dan karakteristiknya. Dalam konsep sekolah efektif (effective school). atau lembaga pendidikan yang terbuka. seperti pasar yang kumuh. norma-norma. Itulah budaya kasat mata yang dapat segera kita lihat. Para orangtua siswa atau para pengantarnya bergerombol di depan pintu gerbang sekolah. Ada sebuah sekolah dasar yang lokasinya berada di kompleks perumahan. Para siswa mondar-mandir keluar-masuk sekolah. Apakah Budaya Sekolah Berpengaruh Terhadap Pendidik dan Keberhasilan Siswa? Sudah barang tentu. Budaya sekolah adalah konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan nilai-nilai. pegawai tata usaha sekolah. dan juga kepada masyarakat. dimaknai sebagai bagaimana warga sekolah berfikir dan bertindak. Masih banyak lagi bentuk-bentuk budaya sekolah yang mencerminkan wajah lembaga pendidikan sekolah itu. tradisitradisi. traditions. mulai kondisi SDM-nya seperti kepala sekolah sampai dengan tenaga pendidik dan tenaga administrasinya sampai dengan peserta didiknya. tertib. serta fasilitas sekolah yang mendudungnya. yang semua orang bebas keluar masuk. bersih. dan sehat. Budaya sekolah juga amat dipengaruhi oleh sistem manajemen dan organisasinya. termasuk masalah hasil belajar peserta didik. but also its motivations and spirit´. termasuk kepada pendidik dan peserta dididk. tetapi juga motivasi dan semangatnya. . yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah. Bahkan para pedagang kecil membuka dagangannya di depan gedung sekolah. dengan sesama pendidik. Begitu masuk pintu gerbang lembaga itu suasana itu sudah mulai terasa. beliefs. Suasananya bak pasar tumpah yang ramai. amat tergantung pada banyak faktor. dan sekaligus memecahkan masalahnya. Peterson juga menambahkan bahwa budaya sekolah ³influences not only the actions of the school population. Kadangkala bersama dengan bapak ibu guru yang buru-buru masuk sekolah karena bel telah berbunyi keras sekali. budaya sekolah sering disebut sebagai suasana sekolah (school climate). Budaya sekolah berpengaruh terhadap bagaimana pendidik berhubungan dan bekerja sama dengan semua warga sekolah. Penjaga itu bisa saja siswa piket atau petugas outsourcing yang ditugasi untuk itu. Apakah budaya sekolah itu? Peterson (1999) menjelaskan ³school culture is the behind-the-scenes context that reflects the values. orangtua peserta didik. Seperti apa lembaga pendidikan yang akan kita bangun. norms. budaya sekolah dapat berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan di dalam sekolah. Dua penjaga bersenjata lengkap berdiri di depan pos jaga yang siap akan menanyakan kepada semua tamu yang datang. and rituals that build up over time as people in a school work together´ Lebih dari itu.lembaga pendidikan yang amburadul.

. Sekolah adalah ibarat taman yang subur tempat menanam benih-benih nilai-nilai sosial budaya tersebut. Ada nilai religius dan medis yang dapat dipetik dari kebiasaan ini. Orangtua dan masyarakat berada di bawah perintah kepala sekolah. budaya sekolah racun (toxic school culture). Kejujuran dan komunikasi antarwarga sekolah dapat berlangsung secara efektif. kebiasaan menggosok gigi. Ketika masyarakat masih memiliki paradigma lama dengan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya kepada sekolah. Sama dengan pada model budaya sekolah yang birokratis. Kebijakan sekolah mengikuti arahan dari atasan. sekolah sangat memberikan apresiasi dan rekognisi terhadap peran dan dukungan dari semua pihak. Model budaya sekolah ini antara lain ditunjukkan adanya budaya yang menekankan adanya petunjuk dari atasan. dilaksanakan secara demokratis. Pertama. Ingin menanam benih-benih kejujuran dalam masyarakat? Tanamlah di sekolah. Ucapan yang baik akan berasal dari mulut yang bersih. Budaya sekolah apa saja yang harus dibangun? Banyak sekali nilai-nilai sosial budaya yang harus dibangun di sekolah. karena semua harus mengikuti peraturan dan ketentuan dari atasan. Dalam tulisan singkat ini hanya diberikan beberapa contoh nilai-nilai sosial budaya yang harus ditanam di ladang bernama sekolah. peserta diddik dipandang sebagai masalah ketimbang sebagai pihak yang harus dilayani. yang satu dengan yang lain dapat dibedakan. maka lahirlah satu bentuk hubungan sekolah dengan orangtua siswa dan masyarakat yang sangat birokratis. Tiga Model Budaya Sekolah dan Karakteristiknya Dalam praktik di lapangan. gigi dan mulut yang bersih akan berdampak terhadap kesehatan otak kita. Demikian seterusnya dengan benih-benih nilai-nilai sosial budaya lainnya. Ketiga. Pendek kata. budaya sekolah birokratis (bureaucratic school culture). (Spahier & King. semua penyelenggaraan sekolah direncanakan. Kebiasaan ini sangat Islami. diubah sesuai dengan budaya baru yang tumbuh dalam masyarakat. dan oleh karena itu para guru lebih banyak mengikuti arahan tersebut. Secara medis.Nilai-nilai sosial budaya sekolah tentu saja dapat dibangun. Itulah sebabnya keterlibatan semua warga sekolah sangat dihargai dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Nabi Muhammad SAW selalu melakukan ³siwak´ dalam kehidupan sehari-harinya. Bentuk-bentuk kekerasan guru terhadap siswa yang sering kita dengar akhir-akhir ini merupakan hasil dari budaya sekolah yang seperti ini. Dalam model ini. budaya sekolah kolegial (collegial school culture). ada tiga model budaya sekolah. tetapi kadang-kadang juga sering saling tumpang tindih. Hasilnya sama dengan tinjauan dari sudut pandang religius. dalam suasana penuh kolegial. Berbeda dengan kedua budaya sekolah sebelumnya. Kedua. 1987]) Pertama. 1984 [as cited in Butler & Dickson. Pendidik juga kurang dapat berinteraksi dengan orangtua siswa dan masyarakat. budaya sekolah racun ini juga malah jarang memberikan kesempatan kepada pendidik untuk memberikan masukan terhadap upaya pemecahan masalah yang terjadi di sekolah.

pengurangan. dan (3) kewibawaan. jujur kepada Tuhan. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. yang menyatakan bahwa ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. Oleh karena itu. Pekerjaan adalah bagian penting . Kedepalapan.Kedua. jujur kepada orang lain. kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Tetapi nyatanya tidak demikian. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. mulai jujur kepada dirinya sendiri. Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial. Ingin berbahagia selamanya. bertanggung jawab. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur. Keempat. Materi tentang penjumlahan. Kita hidup tidak sendirian. kasih sayang. dan membagi kebahagiaan ternyata jarang dilakukan ketimbang mengumpulkan hasil korupsi. kita harus hidup beretika. dan kemudian hidup bersama dengan orang lain. mencintai pekerjaan. Malah telah menghasilkan banyak koruptor. Seharusnya. menghormati diri sendiri dan orang lain. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn. Ketujuh. ekonomi. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. membagi kasih sayang. Kelima. dan perkalian ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan materi tentang pembagian. mengalikan bunga bank untuk kekayaan pribadi. Kita masih sering membeda-bedakan orang lain karena berbagai kepentingan. Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. kita mengormati hukum dan peraturan atas dasar kesadaran bahwa hukup dan peraturan itu adalah kita buat untuk kebaikan hidup kita. kejujuran. Ketiga. Hasilnya. ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. maka budaya kejujuran harus dapat dibangun di sekolah. Kita mematuhi hukum dan perundang-undangan karena takut terhadap ancaman hukuman. dilahirkan oleh dan dari orang lain yang bernama ibu dan ayah kita. maka bekerjalah dengan senang hati. membagi pemerataan. Keenam. dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data. Sering kita menghormati hukum dan peraturan karena takut kepada para penegak hukum. dan budaya. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. Menurut beliau. (2) kepercayaan. Konon. Oleh karena itu. etika. Ini adalah kata-kata mutiara yang selalu melekat di hati. Penulis pernah mengutip pandangan guru besar IKIP Surabaya. mencintai belajar. Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. agama. materi materi matapelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. menghormati hukum dan peraturan. menghormati hak orang lain. Kesembilan. Bukan sebaliknya. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah. bahkan dari keluarga. yaitu (1) kasih sayang.

suka bekerja keras. setelah shalat Subuh. Pagi-pagi masih berkerudung sarung. Kita masih jarang memiliki semangat menabung untuk masa depan. Mengapa warisan ini tidak dapat segera kita ganti? Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di ladang sekolah kita. tetapi tetap menghabiskan uangnya untuk tujuan yang mubazir. adalah warisan petuah para sahabat Nabi. *) Website: http://www. Siapa yang tidak bekerja adalah tidak hidup. Nilai-nilai sosial budaya tersebut harus dapat kita tanam dan terus kita pupuk melalui proses pendidikan dan pembudayaan di rumah. Tetapi. dan dalam kehidupan masyarakat kita. sekolah. suka menabung. Waktu adalah pedang. .dari kehidupan ini. Depok. <p>Your browser does not support iframes. Amin. peserta didik harus diberikan kesadaran tentang pentingnya menghargai pekerjaan. E-mail: me [at] suparlan [dot] com.com. Kesebelas.</p> Kesepuluh. Time is money adalah warisan para penjelajah ´rules of the waves´ bangsa pemberani orang Inggris. Untuk ini. Padahal. Sebaliknya.suparlan. kita diharuskan bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Ngobrol dan duduk-duduk santai adalah kebiasaan lama di pedesaan kita. jam karet adalah istilah sehari-hari bangsa sendiri yang sampai saat ini kita warisi. 29 Desember 2008. kita mengikuti pola hidup ´lebih besar tiang daripada pasak´. seperti merokok. Tidak mempunyai penghasilan cukup tetapi tetap melakukan pola hidup konsumtif. tepat waktu. Sudah barang tentu masih banyak lagi nilai-nilai sosial budaya yang harus kita tanam melalui ladang lembaga pendidikan sekolah. suka bekerja harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak kita di sekolah dan di rumah. Memang kita sering memperoleh hasil pas-pasan dari hasil pekerjaan kita. Penghasilan pas-pasan. yang lebih sering. Oleh karena itu. Kesepuluh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful