P. 1
Harga transfer dan sistem pengendalian manajemen pada perusahaan MNC

Harga transfer dan sistem pengendalian manajemen pada perusahaan MNC

5.0

|Views: 3,775|Likes:
Published by Baiq Ita

More info:

Published by: Baiq Ita on Feb 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2013

pdf

text

original

MAKALAH SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

PENENTUAN HARGA TRANSFER (TRANSFER PRICING) DAN PENGENDALIAN MANAJEMEN PADA PERUSAHAAN MULTINASIONAL

Oleh :
KELOMPOK 9 1. 2. 3. 4. BAIQ NORMALITA NITISARI DINI YUNIARTI KAUTSAR RIFKI PUTRA P. ROSDIANA AKUNTANSI A (AIC 009 095) (AIC 009 091) (AIC 009 089) (AIC 009 087)

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MATARAM 2012

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ³Penentuan HargaTransfer(Transfer Pricing) dan Pengendalian Manajemen Pada Perusahaan Multinasional´. Penulisan makalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mataram. Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan makalah ini banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak berupa petunjuk, bimbingan maupun dorongan moril dan materil, untuk itu pada kesempatan ini penulis hanturkan terima kasih kepada Ibu Animah, SE.,M.Si yang memberikan bimbingan dalam penyusunan hingga selesainya makalah dan rekan-rekan Mahasiswa Jurusan Akuntansi angkatan 2009 yang selalu memberikan motivasi dan bantuan dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran pembaca yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan tugas ini. Mataram, 26 Februari 2012

Penulis

PENENTUAN HARGA TRANSFER (TRANSFER PRICING) DAN PENGENDALIAN MANAJEMEN PADA PERUSAHAAN MULTINASIONAL BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pemikiran organisasi modern berorientasi kepada desentralisasi. Terdapat beberapa kesulitan yang timbul jka unit organisasi yang didesentralisasikan harus berinteraksi satu sama lain. Sehingga tidak ada satu tempat yang memiliki potensi konflik yang lebih besar pada interaksi seperti itu jika barang atau jasa yang diproduksi oleh satu unit ditransfer ke unit lainnya. Jika unit-unit tersebut diperlakukan sebagai pusat laba, harus ditentukan pada transfer tersebut. Salah satu tantangan utama dalam mengoperasikan sistem yang terdesentralisasi adalah merancang suatu metode akuntansi yang memuaskan untuk transfer barang dan jasa dari pusat laba yang satu ke yang lain dalam perusahaan yang memiliki jumlah cukup signifikan atas transaksi jenis ini. Salah satu contoh perusahaan yang menggunakan harga transfer adalah perusahaan multinasional. Perusahaan multinasional adalah perusahaan yang selain beroperasi secara domestik (bertindak sebagai perusahaan induk) juga mempunyai hubungan afiliasi dengan perusahaan-perusahaan di negara lain. Perusahaan di berbagai negara tersebut pada hakekatnya berada di bawah pemilikan atau penguasaan yang sama dan kurang lebih dikendalikan oleh perusahaan induk di kantor pusat. Perusahaan yang beroperasi di luar negeri dapat diperlakukan sebagai pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba atau pusat investasi. Pertimbangan perusahaan induk yang beroperasi pada suatu negara memilih jenis pusat pertanggungjawaban perusahaan anak di luar negeri biasanya sama dengan perusahaan yang hanya beroperasi di dalam negeri. Negara, bahkan wilayah dalam satu negara mempunyai budaya yang berbeda. Perbedaan ini mungkin tidak mempengaruhi desain sistem pengendalian manajemen,

tapi mempunyai pengaruh yang besar terhadap bagaimana menggunakan informasi yang dihasilkan dari sistem yang ada. Perumusan Masalah 1. Apa saja tujuan dari penetapan harga transfer? 2. Apa saja metode penetapan harga transfer? 3. Bagaimana administrasi harga transfer? 4. Bagaimana pengendalian budaya dalam pengendalian harga transfer? 5. Apa saja isu transfer pricing dalam MNC? 6. Apa saja risiko yang dihadapi MNC?

Tujuan 1. Untuk mengetahui tujuan penetapan harga transfer. 2. Untuk mengetahui metode penetapan harga transfer. 3. Untuk mengetahui administrasi harga transfer. 4. Menjelaskan pertimbangan budaya dalam pengendalian MNC. 5. Menjelaskan isu transfer pricing dalam MNC. 6. Menjelaskan beberapa riiko yang dihadapi MNC.

BAB II PEMBAHASAN Pengertian Harga Transfer Dalam arti luas harga tansfer adalah harga barang atau jasa yang ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam satu organisasi tanpa memandang bentuk pusat pertanggungjawabannya. Sedangkan dalam arti sempit, harga transfer adalah harga barang atau jasa yang ditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya salah satu dari pusat pertanggungjawaban yang terlibat merupakan pusat laba. Sasaran Penentuan Harga Transfer Jika dua pusat laba atau lebih bertanggungjawab bersama atas pengembangan, pembuatan, dan pemasaran suatu produk, maka masing-masing harus berbagi pendapat yang dihasilkan ketika produk tersebut dijual. Harga transfer merupakan mekanisme untuk mendistribusikan pendapatan ini. Harga transfer harus dirancang sedemikian rupa supaya dapat mencapai beberapa sasaran sebagai berikut : y Memberikan informasi yang relevan kepada masing-masing unit usaha untuk menentukan penyesuaian yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan. y Menghasilkan keputusan yang bertujuan sama, maksudnya sistem harus dirancang agar keputusan yang meningkatkan laba unit usaha juga akan meningkatkan laba perusahaan. y y Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari tiap unit usaha. Sistem harus mudah dimengerti dan dikelola. Tujuan Harga Transfer Apabila terdapat kondisi dimana dua atau lebih pusat laba secara bersamaan bertanggungjawab terhadap kegiatan pengembangan produk, pembuatan, dan

pemasaran produk, maka pada dasarnya setiap pusat laba tersebut berhak mendapat bagian pendapatan yang nantinya dihasilkan oleh kegiatan tersebut. Harga transfer merupakan mekasnisme penting untuk mendistribusikan pendapatan kepada dua atau

lebih pusat laba yang melakukan transaksi. Dengan demikian harga transfer harus didesain sedemikian rupa sehingga memenuhi tujuan-tujuan berikut : y Menyajikan informasi yang relevan untuk keputusan trade-off pendapatan dan biaya. y y y Memotivasi manajer untuk mencapai goal congruence. Membantu menilai kinerja ekonomi pusat laba yang terkait. Sistemnya sederhana untuk dipahami dan mudah diadministrasikan. antara

Adapun tujuan penetapan harga transfer itu sendiri adalah untuk : y Evaluasi prestasi divisi secara akurat, artinya tidak satupun manajer divisi yang memperoleh keuntungan dengan mengorbankan kepentingan divisi lain. y Keselarasan tujuan, berarti bahwa para manajer mengambil keputusan yang memaksimalkan laba perusahaan dengan memaksimalkan laba divisinya. y Tetap terjaganya otonomi divisi, artinya tidak ada campur tangan manajemen puncak terhadap kebebasan manajemen divisi dalam mengambil keuntungan.

Metode Penentuan Harga Transfer 1. Kebebasan Memperoleh Sumber Daya Alternatif dalam memproleh sumber daya haruslah ada, dan para manajer harus diberi wewenang untuk memlilih mana yang paling baik untuk mereka. Manajer pembelian harus bebas membeli dari pihak luar, dan manajer penjulan harus bebas menjual kepada pihak luar. Dalam keadaan seperti ini, kebijakan harga transfer tersebut akan memberikan hak kepada setiap manajer pada setiap pusat laba untuk berurusan dengan pihak dalam atau luar perusahaan sesuai dengan penilaian mereka masingmasing. Kemudian pasar akan membentuk harga transfer. Metode tersebut merupakan metode yang optimal jika pusat laba penjual dapat menjual seluruh produknya baik ke dalam maupun ke luar perusahaan dan jika pusat laba pembelian juga dapat mendapatkan bahan bakunya baik dari dalam maupun luar perusahaan. Harga pasar tersebut mencerminkan opportunity cost bagi penjual yang

menjual produknya ke dalam perusahaan. Dari sudut pandang perusahaan, biaya relevan untuk produk tersebut adalah harga pasarnya karena merupakan uang kas yang digunakan untuk menjual ke pihak dalam perusahaan. Harga transfer mencerminkan opportunity cost bagi perusahaan. 2. Informasi Penuh Para manajer harus mengetahui semua alternatif yang ada, biaya dan pendapatan yang relevan dari masing-masing alternatif tersebut. 3. Negosiasi Harus ada mekanisme kerja yang berjalan lancar dalam melakukan negosiasi atas ³kontrak´ di antara unit-unit usaha. Jika semua kondisi di atas dipenuhi, maka sistem harga transfer yang berdasarkan harga pasar dapat menghasilkan kesamaan tujuan, dan tidak

membutuhkan administrasi pusat. Hambatan-Hambatan dalam Perolehan Sumber Daya (Sourcing) Kebebasan dalam sourcing tidak selalu mungkin dilakukan, atau jika hal itu mungkin, akan dibatasi oleh kebijakan peusahaan. 1. Pasar yang Terbatas Dalam berbagai perusahaan, pasar bagi pusat laba penjual atau pembeli dapat saja sangat terbatas, alasannya antara lain : Pertama, keberadaan kapasitas internal dapat membatasi pengembangan penjualan eksternal. Jika sebagian perusahaan besar dalam suatu industri sangatlah terintegrasi, maka ada kecendrungan akan adanya kapasitas produksi yang sedikit independen untuk produk-produk tingkat menengah. Ketika kapasitas internal menjadi ketat, pasar akan dengan cepat dibanjiri dengan pemintaan akan produk tingkat menengah. Meskipun kapasitas luar juga ada, tidaklah mungkin bagi perusahaan terintegrasi tersebut kecuali kapasitas ini digunakan pada basis reguler. Kedua, jika suatu perusahaan merupakan produsen tunggal dari produk yang terdeferensiasi, tidak ada sumber daya dari luar.

Ketiga, jika suatu perusahaan telah melakukan investasi yang besar, maka ia cenderung tidak akan menggunakan sumber daya dari luar kecuali harga jual di luar mendekati biaya variabel perusahaan, di mana hal ini jarang sekali terjadi. Untuk tujuan-tujuan praktis, produk yang diproduksi jumlahnya terbatas. Harga transfer yang paling memenuhi persyaratan sistem pusat laba adalah harga kompetitif. Harga kompetitif mengukur kontribusi dari tiap pusat laba bagi laba perusahaan secara keseluruhan. Dalam kasus perusahaan minyak terintegrasi, penggunaan harga pasar minyak mentah merupakan cara paling efektif untuk mengevaluasi unit ekstraksi dan penyulingan seperti layaknya jika mereka merupakan unit usaha yang berdiri sendiri. Jika kapasitas internal tidak tersedia, maka perusahaan akan membeli dari luar pada tingkat harga kompetitif. Selisih antara harga kompetitif dan biaya di dalam perusahaan (inside cost) sama dengan jumlah penghematan dari memproduksi dan bukan membeli. Berbagai cara perusahaan untuk dapat mengetahui tingkat harga kompetitif jika ia tidak membeli atau menjual produknya ke pasar bebas, antara lain : y Jika terdapat terbitan harga pasar, maka itu dapat digunakan untuk menentukan harga transfer. Meskipun demikian, terbitan tersebut harus merupakan harga yang benarbenar dibayarkan di pasar bebas, dan kondisi yang ada di pasar bebas harus konsisten dengan yang ada dalam perusahaan. y Harga pasar mungkin ditentukan berdasarkan penawaran. Hal ini biasanya dilakukan hanya jika penawar terendah masih memiliki peluang untuk terjun ke pasar. y Jika pusat laba produksi menjual produk yang mirip di pasar bebas, maka ia mungkin menggandakan harga kompetitif berdasarkan harga di luar. y Jika pusat laba pembelian membeli produk yang sejenis dari pasar luar/bebas, maka ia dapat menggandakan harga kompetitif untuk produk ekskutifnya. Hal ini dapat dilakukan dengan menghitung biaya perbedaan desain dan kondisi penjualan lain antara produk kompetitif dan produk ekslusif. 2. Kelebihan atau Kekurangan Kapasitas Industri Seandainya pusat laba penjualan tidak dapat menjual seluruh produk ke pasar bebas, dengan kata lain ia memiliki kapasitas yang berlebih. Perusahaan mungkin tidak

akan mengoptimalkan labanya jika pusat laba pembelian membeli produk dari pemasok luar sementara kapasitas produksi di dalam masih memadai. Sebaliknya, andaikan pusat laba pembelian tidak dapat memperoleh produk yang diperlukan dari pihak luar sementara pusat laba penjualan menjual produknya kepada pihak luar. Situasi tersebut terjadi ketika terdapat kekurangan kapasitas produksi di dalam industri. Jika jumlah transfer dalam perusahaan kecil atau jika situasi tersebut bersifat sementara, banyak perusahaan membiarkan para pembeli dan penjual untuk saling bekerja sama tanpa adanya campur tangan kantor pusat. Bahkan jika belum transfer dalam perusahaan cukup besar, beberapa manajemen senior tetap tidak membantah teori yang menyatakan bahwa manfaat dari mempertahankan pusat laba untuk tetap independen akan menutupi kerugian perusahaan. Dalam menentukan harga transfer, perusahaan biasanya mengeliminasi unsur iklan, pendanaan (financing), atau pengeluaran lain yang tidak dikeluarkan oleh pihak penjual dalam suatu transaksi internal. Hal ini sama seperti ketika dua perusahaan sampai pada suatu tingkat harga. Pihak pembeli tidak akan membayar komponen biaya yang tidak ada hubungannya dengan kontrak. Harga Transfer Berdasarkan Biaya Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka suatu harga transfer dapat ditentukan berdasarkan biaya ditambah laba, meskipun harga transfer semacam ini sangat sulit dihitung dan hasilnya kurang memuaskan dibandingkan dengan harga yang berbasis pasar (market-based price). Ada dua keputusan yang harus dibuat dalam sistem harga transfer berdasarkan biaya, yaitu : 1. Basis Biaya Basis yang umum adalah biaya standar. Biaya aktual tidak boleh digunakan karena faktor inefisiensi produksi akan terlewatkan bagi pusat laba pembelian. Jika biaya standar yang digunakan, maka dibutuhkan suatu intensif untuk menetapkan standar yang ketat dan meningkatkan standar tersebut.

2. Markup Laba Basis yang paling mudah dan umum digunakan adalah persentase biaya. Meskipun demikian, jika basis tersebut digunakan maka tidak ada akun modal yang dibutuhkan. Basis yang secara konsep lebih baik adalah persentase investasi, tetapi menghitung investasi untuk diaplikasikan kepada setiap produk yang dihasilkan dapat menyebabkan permaslahan teknis. Jika menggunakan basis biaya historis suatu aset, maka fasilitas baru yang dirancang untuk mengurangi harga dapat meningkatkan biaya sebenarnya karena aset yang lama menjadi undervalued. Solusi konseptual adalah membuat penyisihan laba yang berdasarkan investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi volume yang diminta oleh pusat laba pembelian. Nilai investasi tersebut dihitung pada level ³standar´, dengan aset tetap dan persediaan pada tingkat biaya penggantian. (replacement cost). Biaya Tetap dan Laba Upstream Penetapan harga transfer dapat menimbulkan permasalahan yang cukup serius dalam suatu perusahaan yang terintegrasi. Pusat laba yang pada akhirnya menjual produk kepada pihak luar mungkin tidak menyadari adanya jumlah biaya tetap dan laba upstream yang terkandung di dalam harga pembelian internal. Metode-metode yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara-cara sebagai berikut : 1. Persetujuan di antara Unit-unit Usaha Beberapa perusahaan membuat mekanisme formal di mana wakil-wakil dari unit-unit pembelian dan penjualan bertemu secara berkala untuk memutuskan harga penjualan kepada pihak luar dan pembagian laba untuk produk-produk dengan biaya tetap dan laba upstream yang signifikan. 2. Dua Langkah Penentuan Harga Cara lain untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat suatu harga transfer yang meliputi dua jenis biaya. Pertama, untuk setiap unit yang terjual, pembebanan biaya dibuat sama dengan biaya variabel standar dari produksi. Kedua, pembebanan biaya yang berkala dibuat sama dengan biaya tetap yang berhubungan dengan fasilitas yang disediakan untuk unit membeli.

Misalkan, pusat laba penjual mentransfer secara intern semua produk A yang dihasilkan ke pusat laba pembeli. Data-data berkaitan dengan pusat laba penjual sebagai berikut : Biaya variabel per unit Biaya tetap per bulan Investasi yang digunakan Laba yang diharapkan = Rp = Rp 5,00 20.000,00

= Rp1.200.000,00 = 10%

Dengan asumsi jumlah produk yang ditransfer sebanyak 5000 unit, maka besarnya harga transfer produk A ke divisi penjual adalah Rp11,00 per unit, di mana sebesar Rp5,00 merupakan biaya variabel. Besarnya harga transfer dihitung dengan cara sebagai berikut: Biaya variabel : 5000 x Rp5,00 Biaya tetap per bulan Laba yang diharapkan 10% x RP 1.200.000,00/12 Jumlah harga transfer = Rp 25.000,00 =Rp 20.000,00 =Rp 10.000,00 = Rp 55.000,00

Dengan kata lain harga per unitnya adalah Rp11,00 (Rp55.000,00/5000 unit). Harga inilah yang akan dibayar pusat laba pembeli ke pusat laba penjual. Jika unit yang diproduksi dan ditransfer hanya 4000 unit, maka besarnya harga transfer yang harus dibayar oleh pusat laba pembeli adalah Rp 44.000,00 (4000 x Rp 11,00). Di bawah ini merupakan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menerapkan metode penentuan harga dua langkah (two-step pricing method) : y Pembebanan biaya per bulan untuk biaya tetap dan laba harus dinegosiasikan secara berkala dan akan tergantung dari kapasitas yang digunakan oleh unit pembeli. y y Pertanyaan mungkin akan timbul mengenai keakuratan alokasi investasi dan biaya. Dengan sistem penentuan harga ini, kinerja laba dari unit produksi tidak dipengaruhi volume penjualan dari unit yang terakhir.

y

Mungkin terdapat konflik antara kepentingan dari unit produksi dengan kepentingan perusahaan.

y

Metode ini mirip dengan penentuan harga ³take or pray´ yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan sarana umum, saluran pipa, dan batubara, dan dalam kontrak jangka panjang. 3. Pembagian Laba Sistem pembagian laba dapat digunakan untuk memastikan kesamaan antara

kepentingan unit usaha dan perusahaan. Sistem tersebut beroperasi dengan cara sebagai berikut : y y Produk tersebut ditansfer ke unit pemasaran pada biaya variabel standar. Setelah produk tersebut terjual, unit-unit usaha membagi kontribusi yang dihasilkan, dimana perhitungannya adalah harga penjualan dikurangi biaya variabel produksi dan pemasaran. Metode penentuan harga ini tepat digunakan jika permintaan produk yang dihasilkan tidak cukup untuk menjamin pengalokasian fasilitas secara permanen, seperti dalam metode dua langkah. Pada umumnya, metode ini benar-benar membuat kepentingan unit pemasaran menjadi sama dengan kepentingan perusahaan. 4. Dua Bentuk Harga Dalam metode ini, pendapatan unit produksi akan dikreditkan pada saat harga jual di luar dan unit pembelian dibebankan biaya sebesar total biaya standar. Selisihnya dibebankan ke dalam akun kantor pusat dan tereliminasi ketika laporan keuangan unit usaha dikonsolidasikan. Metode penentuan harga transfer ini terkadang digunakan ketika ada konflik di antara unit-unit pembelian dan penjualan yang tidak dapat dipecahkan oleh metode yang lain. PENENTUAN HARGA JASA PERUSAHAAN 1. Praktik Bisnis Jika seluruh biaya dibebankan, maka semua biaya itu akan dialokasikan, dan pengalokasian tersebut tidak termasuk komponen laba. Alokasi tersebut juga bukan merupakan harga transfer.

Terdapat dua jenis transfer : 1. Transfer untuk pusat servis dimana unit penerima harus menerimanya tetapi minimal dapat mengendalikan jumlah yang digunakan meskipun hanya sebagian. 2. Transfer untuk pusat servis dimana unit usaha dapat memutuskan apakah akan menggunakannya atau tidak. 2. Pengendalian atas jumlah jasa Ada tiga teori pemikiran mengenai jasa-jasa antara lain: Teori pertama menyatakan bahwa sebuah unit usaha harus membayar biaya variabel standar dari jasa yang diberikan. Jika ia membayar kurang dari itu, maka unit usaha akan termotivasi untuk menggunakan jasa-jasa dalam jumlah yang lebih banyak daripada sisi ekonomisnya. Dipihak lain, jika para manajer unit usaha diharuskan membayar lebih dari biaya variabelnya, maka mereka mungkin tidak akan

menggunakan jasa-jasa, dimana manajemen senior memandang perlu untuk dilakukan dari sudut pandang perusahaan Teori pemikiran kedua menyarankan harga yang sama dengan biaya variabel standar ditambah porsi yang cukup memadai atas biaya tetap standar yaitu biaya penuh (fullcost). Biaya penuh mencerminkan biaya jangka panjang dari perusahaan. Teori pemikiran ketiga menyarankan suatu harga yang sama dengan harga pasar, atau biaya penuh standar (standard fullcost) ditambah dengan margin labanya. Harga pasar akan digunakan jika memungkinkan, jika tidak maka harga sebesar harga penuh ditambahkan ROI.

3. Pilihan Penggunaan Jasa Dalam beberapa kasus, pihak manajemen memutuskan bahwa unit-unit usaha dapat memilih apakah akan menggunakan unit servis sentral atau tidak. Unit-unit bisnis dapat memperoleh jasa tersebut dari pihak luar, mengembangkan kemampuan mereka, atau memilih untuk tidak menggunakan jasa ini sama sekali. Perjanjian semacam ini sering ditemukan untuk aktivitas-aktivitas seperti teknologi informasi, kelompok konsultan Internal, dan pekerjaan perawatan. Pusat-pusat jasa ini indenpenden, mereka harus berdiri sendiri-sendiri. Jika pelayanan internal tidak kompetitif dibandingkan

dengan penyedia jasa dari luar, maka ruang lingkup dari aktivitas mereka akan dikontrakan atau jasa-jasa mereka sepenuhnya dapat dari luar perusahaan. 4. Kesederhanaan dari mekanisme harga Harga yang dibebankan untuk servis perusahaan tidak akan mencapai tujuan kecuali metode dalam menghitungnya dapat dimengerti dan dipahami dengan cukup mudah oleh para manajer unit usaha. Para ahli komputer sudah terbiasa dengan persamaan-persamaan yang rumit dan komputernya sendiri juga menyediakan informasi detik demi detik dan dengan biaya rendah. Karena itu, terkadang ada kecenderungan untuk membebani para pengguna computer dengan pengaturan yang begitu rumit sehingga para pengguna tidak dapat mengerti apa dampaknya terhadap biaya jika mereka memutuskan untuk menggunakan computer untuk aplikasi tertentu atau, kalau tidak, untuk menghentikan kegiatan yang sekarang. Metode Penentuan Harga Transfer Pada dasarnya ada beberapa metode yang sering digunakan untuk barang-barang yang ditransfer antar pusat laba. Metode tersebut adalah sebagai berikut : 1. Harga Transfer Berdasarkan Harga Pasar Sistem harga transfer berdasar harga pasar menggunakan harga yang ditetapkan pleh mekanisme permintaan dan penawaran pasar. Situasi ideal yang harus ada dalam penetapan harga transfer berdasar harga pasar untuk mendorong adanya keselarasan tuuan adalah : a. Orang yang kompeten b. Atmosfir yang baik c. Harga pasar d. Kebebasan terhadap sumber daya e. Aliran informasi yang penuh f. Negosiasi. 2. Kendala Sumber Suatu situasi dimana manjer pusat laba pembeli tidak diberi kebebasan terhadap pasar input dan implikasi kendala sumber pada kebijakan penentuan harga transfer yang tepat.

Pasar yang terbatas pada banyak perusahaan pasar untuk pusat penjual dan pembeli biasanya terbatas. Beberapa alasannya dapat disebutkan sebagai berikut: 1. Kapasitas internal yang terbatas sehingga tidak memungkinkan

pengembangan penjualan produk ke pihak eksternal. 2. Jika perusahaan merupakan produsen untuk produk yang sangat khas (unik) saja, sehingga prodik tersebut tidak dijual di pasar ekstern. 3. Jika perusahaan telah melakukan investasi yang signifikan pada fasilitas produksi. Harga kompetitif akan mengukur kontribusi laba setiap pusat laba terhadap laba perusahaan secara keseluruhan. Harga tersebut dapat dicari dengan caracara sebagai berikut: 1.Jika harga pasar yang dipublikasikan tersedia, maka dapat digunakan untuk penentuan harga transfer, sehingga harga yang terjadi benar-benar merupakan harga pasar. 2.Harga pasar dapat dibentuk dengan penawaran (lelang). Hal ini umumnya dilakukan jika tawaran yang lebih rendah mempunyai kesempatan yang dapat dibenarkan untuk terjadinya transaksi. Biasanya perusahaan memperoleh barang separuh dari produk yang dibutuhkan dari pihak luar dan separuhnya dari dalam. 3.Jika pusat laba produksi menjual barang yang sama ke pasar ekstern, sering dilakukan dengan harga kompetitif atas dasar harga pasar ekstern. 4.Jika pusat laba membeli barang yang sama dari pasar ekstern, sering dilakukan dengan harga yang kompetitif untuk produk yang dibeli.

3. Harga Transfer atas Dasar Harga Pokok Secara lebih lengkap, penerapan metode ini adalah: 1. Pada pasar kompetitif tidak tersedia informasi harga jual produk yang di transfer. Keadaan ini timbul jika prduk yang di transfer merupakan produk yang belum selesai sehingga tidak diperjual belikan di pasar.

2. Kesulitan dalam penentuan harga jual yang disebabkan oleh perselisihan antar manajer divisi. Kesulitan ini timbul jika dipasar ada beberapa macam harga dan jika produk yang ditransfer tidak persis sama dengan yang ada di pasar. 3. Jika produk yang ditransfer mengandung formula atau proses rahasia sehingga tidak diinginkan untuk diungkapkan kepada pihak lain. Dalam metode ini komponen ini yang harus diperhatikan adalah definisi harga pokok (biaya) dan penentuan besarnya mark up. 1. Definisi Harga Pokok Jika pendekatan harga pokok ini dipakai, maka harga pokok yang dimaksud adalah harga pokok standar (standard cost). Harga pokok (biaya) sesungguhnya tidak boleh digunakan karena dalam biaya tersebut mengandung inefisiensi yang terjadi pada pusat laba penjual yang akan ikut ditransfer ke pusat laba pembeli. Jika biaya standar digunakan,maka harus diciptakan insentif untuk para manajer agar menyusun standar yang ketat. 2. Penentuan Mark Up Markup ditentukan atas dasar penentuan tingkat laba dan besarnya laba. (1) dasar penentuan tingkat laba. Dasar penentuan tingkat laba ini bisa dilakukan berdasar biaya dan dapat dilakukan berdasar return atas investasi. Kesulitannya adalah bila berdasar biaya tidak memperhitungkan investasi yang dilakukan. Sebaliknya, jika berdasar investasi, sulit menentukan besarnya investasi yang layak diperhitungkan; (2)besarnya laba. Berbagai pendekatan yang bisa dilakukan adalah : y Besarnya laba jika divisi penjual dianggap sebagai unit usaha yang independen ( pusat laba) y y Berdasar taksiran ³return´ atAs investasi yang dilakukan Jika divisi penjual, selain mentransfer produknya ke devisi pembeli juga menjual ke pihak lain maka laba dapat ditentukan dari persentase profit margin rata-rata berdasar harga dasar pokok standar. y Dengan menggunakan profit margin perusahaan lain jika produknya lama.

4.

Biaya Tetap dan Laba Divisi Hulu Penetapan harga transfer dapat menimbulkan masalah serius dalam perusahaan

yang terintegrasi. Untuk mengatasi masalah harga transfer tersebut dapat digunakan beberapa cara yaitu (1) Kesepakatan antar pusat laba, (2) Penentuan harga dua langkah (two-step pricing), (3) Pembagian laba (profit sharing), dan (4) Penentuan harga dengan dua himpunan harga (two-sets or price). Berikut ini diuraikan cara-caranya : a. b. c. d. Kesepakatan antar divisi/ Pusat laba Penentuan harga transfer dua langkah Pembagian laba Metode dua himpunan harga.

ADMINISTRASI HARGA TRANSFER 1. Harga Transfer Negosiasi Negosiasi adalah proses formal untuk menentukan besarnya harga transfer antar pusat laba yang terlibat, tanpa campur tangan dari kantor pusat. Alasan yang paling penting untuk hal ini adalah kepercayaan bahwa dengan membuat suatu harga jual dan menentukan harga pembelian yang paling cocok merupakan salah satu fungsi utama dari menejemen lini. Untuk mencapai harga kesepakatan yang fair, pihak pembeli harus mempunyai kebebasan untuk membeli secara intern atau membeli dari pasar ekstern, dan pihak penjual dapat menjual kepada pihak intern maupun kepada pasar ekstern. Dengan demikian syarat utamanya adalah pasar untuk barang antar, sehingga dapat ditentukan harga yang obyektif. Kebaikan metode ini adalah apabila pusat laba penjual mempunyai kapasitas menganggur, sedang pasar dari produk tersebut sempit (captive market), maka akan menguntungkan perusahaan secara keseluruhan. Kelemahannya adalah jika barang tersebut dibutuhkan oleh pusat laba pembeli sedang di pasar bebas tidak ada, maka pusat laba penjual menjadi pihak yang menang dalam kompromi penentuan harga.

2. Arbitrase dan Penyelesaian Konflik Negosiasi yang dilakukan kadang-kadang tidak menghasilkan keputusan yang memuaskan kedua pihak, sehingga perlu di tangani oleh pimpinan puncak dengan membentuk komite arbitrasi. Untuk alasan ini suatu prosedur harus dibuat untuk menengahi pertikaian harga transfer. Terdapat tingkat formalitas yang luas dalam arbitrase harga transfer. Contoh ekstrim yang dapat digunakan adalah dengan membentuk suatu komite, komite seperti ini biasanya memiliki 3 tanggungjawab: 1. Menyeseaikan pertikaian harga transfer 2. Meninjau alternative sourching yang mungkin ada 3. Mengubah peraturan harga transfer bila perlu. Arbitrase dapat dilakukan dengan beberapa cara. Dengan system yang formal, kedua pihak menyerahkan kasus secara tertulis kepada pihak penengah atau pendamai (arbitrator). Arbitrator akan meninjau posisi mereka masing-masing dan memutuskan harga yang akan ditetapkan, kadangkala dengan bantuan staf kantor yang lain. Selain tingkat formalitas arbitrase, jenis proses penyelesaian konflik yang digunakan juga mempengaruhi keefektifan suatu system harga transfer. Terdapat empat cara untuk menyeselesaikan konflik: memaksa (forging), membujuk (smoothing), menawarkan (bargaining) dan pemecahan masalah (problem solving). 3. Klasifikasi Produk Luas dan formalitas dari sourching dan peraturan penentuan harga transfer tergantung pada banyaknya jumlah transfer dalam perusahaan dan ketersediaan pasar dan harga pasar. Makin besar jumlah transfer dan ketersediaan harga pasar, makin formal dan spesifik peraturan yang ada. Beberapa perusahaan membagi produknya ke dalam dua kelas : 1. Kelas 1 meliputi seluruh produk dimana manajemen senior ingin mengontrol sourching. Biasanya merupakan produk yang bervolume besar, produk yang tidak memiliki sumber dari luar dan produk-produk yang produksinya tetap ingin dikendalikan oleh manajemen 2. Kelas 2 meliputi seluruh produk lainnya. Secara umum, ini merupakan produkproduk yang dapat diproduksi diluar perusahaan tanpa adanya gangguan terhadap operasional yang sedang berjalan, produk yang volumenya relative kecil, diproduksi dengan alat produksi massal.

Dengan perjanjian semacam ini, pihak manajemen berkonsentrasi pada sourcing dan pricing atas sejumlah kecil produk-produk bervolume besar.

BEBERAPA PERTIMBANGAN TEORITIS Ada beberapa pertimbangan akan model harga transfer teoritis. Model-model ini dibagi menjadi tiga jenis : 1. Model Ekonomi Model ekonomi klasik pertama kali dikemukakan oleh Jack Hirschleifer dalam sebuah artikel tahun 1956. Professor Hirschleifer mengembangkan serangkaian pendapatan marginal, biaya marginal dan kurva permintaan untuk transfer produk menengah atau madya dari satu unit usaha ke yang lainnya. Ia mmenggunakan kurva-kurva ini untuk mendapatkan harga transfer, dengan berbagai asumsi ekonomi, yang akan mengoptimalkan total laba dari dua unit usaha. Kesulitan dari model ini adalah bahwa model tersebut hanya dapat digunakan ketika beberapa kondisi khusus terpenuhi, kita harus dapat mengestimasi kurva permintaan untuk produk madya, kondisi-kondisi yang diasumsikan harus tetap stabil, dan mungkin tidak ada alternatif untuk

penggunaan fasilitas untuk pembuatan produk madya tersebut. Model ini juga mengasumsikan bahwa harga transfer akan dipengaruhi oleh staf pusat, dan menyangkal pentingnya negosiasi pada unit-unit usaha. 2. Model Program Linier Model program Linier adalah model yang berdasarkan pendekatan

opportunity cost. Model ini juga mengkombinasikan hambatan-hambatan kapasitas. Jika harga transfer yang andal dapat dihitung, maka model ini akan berguna dalam menentukan harga transfer. Meskipun demikian, model ini dapat dikelola, bahkan dalam computer pun, harus banyak asumsi yang mempermudah untuk menjalankannya. Diasumsikan kurva permintaan telah diketahui, bahwa ia tetap serta fungsi dari biayanya adalah linier, dan penggunaan alternatif atas fasilitas dan profitabilitas dapat diestimasi terlebih dahulu.

3. Nilai Shapley Sedikit pandangan teoritis yang menyarankan penggunaan nilai shapley sebagai harga transfer. Nilai shapley dikembangkan pada tahun 1953 oleh L.S. Shapley sebagai metode pembagian laba dari koalisi perusahaan atau individu diantara anggota-anggota individu didalamnya dengan proporsi kontribusi yang dibuat. Nilai shapley biasanya digunakan untuk memberikan solusi yang sama bagi masalah yang muncul dalam teori permainan (theory of games). Meskipun metode ini telah dijelaskan dalam literatur selama bertahun-tahun, sedikit aplikasi praktis yang dilaporkan. Sebagian alasan untuk hal ini adalah bahwa proses perhitungannya sangat panjang kecuali hanya sedikit produk yang terlibat dalam transfer yang ada. Alasan lainnya adalah bahwa banyak orang yang telah mempelajari metode shapley yang tidak percaya bahwa banya orang yang telah mempelajari metode Shapley yang tidak percaya bahwa asumsi yang mendasari dapat digunakan untuk masalah penentuan harga transfer.

Pertimbangan Budaya dalam Pengendalian MNC Salah satu variabel konstektual yang paling penting yang mempengaruhi pengendalian manajemen di dalam sebuah perusahaan multinasional adalah perbedaan budaya antarnegara. Menurut definisinya, sebuah organisasi mutinasional akan beroperasi di banyak negara dan harus siap menghadapi perbedaan budaya seiring dengan koordinasi dan pengendalian yang dilakukan oleh kantor pusat terhadap anakanak perusahaannya. Baik dalam konteks sebuah organisasi atau suatu bangsa, kata budaya akan merajuk kepada nilai-nilai, asumsi dan norma perilaku yang diakui

bersama. Ketika sebuah organisasi merentangkan operasinya melintasi berbagai negara, perbedaan budaya yang sangat besar yang berkaitan dengan karakter nasioanal dan regional yang ada; mempunyai hubungan yang penting dengan pengendalian manajemen. Salah satu cara untuk memahami budaya diusulkan oleh Hofstede. Menurut Hofstede, budaya dapat berbeda pada empat dimensi: 1. Jangkauan kekuasaan merujuk kepada sejauh mana kekuasaan didistribusikan yng dipusatkan secara tidak seimbang. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang tinggi

termasuk Filipina, Venezuela, dan Meksiko. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang rendah termasuk Israel, Denmark dan Austria. 2. Individualisme / kolektivisme merujuk kepada sejauh mana seseorang

mendefinisikan dirinya sendiri sebagai seorang individu atau sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. 3. Menghindari ketidakpastian merujuk sampai sejauh mana seseorang akan merasa terancam oleh situasi yang tidak menentu. Budaya penghindaran ketidakpastian tinggi termasuk Jepang, Portugal, dan Yunani. Budaya penghindaran ketidakpastian terendah termasuk Singapura, Hongkong, dan Denmark. 4. Maskulinitas / feminitas merajuk kepada sampai sejauh apakah pengaruh yang dimiliki oleh salah satu dari kedua nilai dominan tersebut berupa penekanan ketegasan dan meterialisme (³maskulin´) versus perhatian pada orang lain dan kualitas hidup (³feminin´). Contoh dari budaya ³maskulin´ tinggi termasuk Austria, Swiss, dan Italia. Budaya feminin yang tinggi termasuk Swedia, Norwegia, Belanda dan Denmark. Skema klasifikasi lain diusulkan oleh Hall. Menurut pendapatnya kebudayaan berbeda satu sama lain dalam spektrum yang dimulai dari ³budaya berkonteks rendah´ pada satu sisi (Jerman, Swiss, Amerika Utara, Inggris) di mana orang langsung melaksanakan bisnisnya dan bernegoisasi seefisien mungkin hingga ke budaya berkonteks tinggi pada sisi yang lain (Cina, Korea, Jepang, Saudi Arabia) di mana orang berusaha membangun hubungan pribadi sebelum melakukan bisnis dan negosisasi berjalan lambat dan bersifat ritual. Beberapa kesimpulan dapat ditarik mengenai jenis sistem perencaan dan sistem pengendalian yang akan lebih efektif di dalam budaya yang berbeda. Pada budaya individualistis karyawan mungkin lebih menyukai imbalan berdasarkan prestasi individu, sedangkan imbalan yang berdasarkan kelompok mungkin lebih disukai oleh karyawan di dalam budaya kebersamaan. Dalam budaya dengan jangkauan kekuasaan yang rendah, desentralisasi dalam pengambilan keputusan dan kesempatan

berpartisipasi yang lebih besar pada penyiapan anggaran mungkin lebih disukai. Sedangkan hal sebaaliknya mungkin berlaku di dalam budaya dengan jangkauan kekuasaan yang tinggi. Evaluasi peforma kinerja subjektif akan lebih efektif pada budaya penghindaran ketidakpastian yang rendah daripada yang tinggi. Sistem

perencanan dan pengendalian formal akan diterima dengan lebih baik di dalam keakraban dan kepercayaan antarpersonal dirasakan sangat penting sehingga pengendalian secara informal kemungkinan besar akan lebih efektif. Para eksekutif di dalam organisasi multinasional harus memahami dan menghormati perbedaan antarnegara. Isu Transfer Pricing dalam MNC Dalam operasi luar negeri, dibutuhkan beberapa pertimbangan untuk dapat sampai kepada suatu harga transfer. Pertimbangan-pertimbangan tersebut termasuk perpajakan, peraturan pemerintah, tarif, nilai tukar, pengawasan nilai tukar mata uang, akumulasi dana, tekanan persaingan, dan dan joint venture. 1. Perpajakan Tarif pajak penghasilan efektif dapat memiliki perbedaan yang sangat jauh di masing-masing negera-negera asing. Sistem harga transfer yang memungkinkan pengalihan keuntungan ke negara-negara dengan tingkat pajak yang rendah dapat mengurangi jumlah pajak penghasilan perusahaan yang digabungkan dari seluruh dunia. 2. Peraturan Pemerintah Jika tidak diatur oleh pemerintah, perusahaan akan menetapkan harga transfer untuk meminimalkan laba kena pajak di negara-negara dengan tingkat pajak budaya dan menyesuaikan pengendalian manajemen

penghasilan yang tinggi. Namun demikian, otoritas pajak pemerintah menyadari adanya kemungkinan ini dan mengeluarkan peraturan yang menentukan bagaimana harga trasfer dapat dihitung. 3. Tarif Tarif seringkali dipungut berdasarkan persentase tertentu dari nilai impor atau produk. Semakin rendah harganya semakin rendah pula tarif yang akan dikenakan. Timbulnya tarif biasanya memiliki hubungan terbalik dengan timbulnya pajak pendapatan di dalam harga transfer. Meskipun tarif untuk barang-barang yang dikenakan ke suatu negara tertentu akan lebih rendah jika harga transfernya juga rendah, keuntungannya yang dicatat di negara itu-dan karenanya pajak penghasilan lokal atas laba akan ikut tinggi. Jadi, efek bersih dari faktor-fator ini harus ikut diperhitungkan dalam menentukan harga transfer yang tepat. Karena pajak

penghasilan umumnya memiliki jumlah yang lebih besar daripada tarif, harga transfer internasional biasanya lebih banyak didasarkan pada pajak penghasilan daripada tarif. 4. Nilai Tukar Harga transfer bila digunakan untuk mengurangi resiko nilai tukar uang misalnya dengan memindahkan dana dari negara yang mata uangnya lemah ke negara yang mata uangnya kuat. 5. Pengawasan Nilai Tukar Mata Uang Beberapa negara membatasi jumlah nilai mata uang asing yang tersedia untuk mengimpor komoditas tertentu. Karena kondisi seperti itu, harga transfer yang lebih rendah memungkinkan anak perusahaan membawa jumlah komoditi yang lebih banyak. Penentuan harga transfer bisa digunakan untuk memindahkan dana keluar dari suatu negara yang beroperasi secara ketat terhadap pemindahan deviden maupun modalnya. 6. Akumulasi Dana Perusahaan mungkin ingin mengakumulasikan dananya di satu negara tertentu daripada di negara lain. Harga transfer adalah salah satu cara untuk mengalihkan dana tersebut ke dalam atau ke luar negara tertentu. 7. Tekanan Persaingan Harga transfer bisa digunakan utnuk memungkinkan anak peruahaan menetapkan harga yang lebih rendah dibandingkan pesaing lokal. 8. Joint Venture Joint venture bisa menimbulkan masalah kompleksitas pada penetapan harga trasnfer. Misalnya suatu perusahaan Indonesia mengadakan joint venture di Malaysia dengan perusahaan lokal. Jika induk perusahaan menetapkan harga yag lebih tinggi untuk komponen yang ditansfer ke Malaysia, partner Malaysia tersebut mungkin menolak harga transfer tersebut karena akan menurunkan laba dari patrner Malaysia tersebut. Metode Harga Transfer Pada dasaranya ada tiga metode harga transfer yang digunakan peruahaan multinasional untuk barang-barang yang ditransfer antar perusahaan afiliasi di luar negeri. Metode tersebut adalah:

1. Harga transfer berdasarkan harga pasar. 2. Harga transfer berdasarkan harga pokok. 3. Metode negoisiasi. Pertimbangan Hukum Hampir semua negara menempatkan beberapa kendala fleksibilitas perusahaan dalam penentuan harga transfer atas transaksi yang dilakukan dengan anak perusahaan di luar negeri. Alasannya mencegah perusahaan multinasional tersebut menghindari pajak penghasilan di negara tersebut. Pasal 482 Internal Revenue Code (di Amerika Serikat) melengkapi aturan penentuan harga transfer atas penjualan antar anggota dalam suatu kelompok yang dapat terkontrol. Metode penetapan harga transfer dalam perusahaan ditentukan berdasarkan urutan prioritasnya, yakni (1) metode harga tak terkontrol yang sebanding, (2) metode harga jual kembali, dan (3) metode biaya tambah. 1. Metode Harga Tak Terkontrol yang Sebanding Harga bebas ditentukan dari penjualan barang atau jasa yang dapat diperbandingkan antara perusahaan multinasional dan pelanggan lain, atau antara dua perusaahaan yang tidak saling berhubungan. Perbandingan didasarkan atas persamaan penjualan yang terkontrol dan tidak berkaitan dengan properti fisik dan keadaan sesungguhnya yang mendasari transaksi terebut. Penjualan yang tidak terkontrol ditetapkan dapat diperbandingkan jika perbedaan seperti itu bisa ditunjukkan dengan melakukan penyesuaian harga jual. Bagaimanapun, penjualan tidak bisa

diperbandingkan jika ia menunjukkan transaksi yang jarang terdasi atau penjualan dengan harga yang tidak realistis. Keadaan yang mempengaruhi harga termasuk kualitas produk, jenis penjualan, tingkatan pasar, dan wilayah geografis dimana item tersebut terjual; tidak termasuk diantaranaya adalah jumlah diskon, cadangan promosi, kerugian khusus karena nilai tukar mata uang, dan perbedaan jenis kredit. Skema perhitungan harga transfer berdasarkan metode ini dapat dituliskan sebagai berikut:
Harga Transfer = Harga yang dibayarkan dalam penjualan tak terkontrol dapat diperbandingkan ± Penyesuaian

Pada penjualan terkontrol, transaksi antar dua anggota dalam satu kelompok yang dapat dikontrol. Dalam penjualan tak terkontrol, satu dari dua pihak tidak merupakan anggota kelompok terkontrol. 2. Metode Harga Jual Kembali Jika penjualan yang dapat diperbandingkan tidak tersedia, metode berikut yang bisa dipilih adalah resale price method. Dengan metode ini, pembayar pajak bekerja kembali dari harga jual akhir dimana barang tersebut dibeli dari perusahaan afiliasinya dijual dengan harga yang tidak bisa terkontrol. Resale price ini dikurangi dengan persentase mark-up tertentu berdasar penjualan yang tidak terkontrol dari perusahaan afiliasi yang sama atau dari penjual lainnya yang dpat diperbandingkan. Persentase mark-up pesaing atau rata-rata industri juga bisa dipakai. Metode ini hanya dapat digunakan apabila: y y Tidak ada penjual tak terkontrol yang sebanding Penjualan kembali dilakukan dalam waktu yang bisa diterima sebelum atau sesudah pembelian antar perusahaan. y Penjualan kembali tidak menambahkan nilai yang signifikan pada barang yang bersangkutan dengan mengubahkannya secara fisik selain dari pembungkusan, labeling dan lain-lain atau penggunaan barang yang tak berwujud. Skema perhitungan harga transfer berdasarkan metode ini dapat dituliskan sebagai berikut:
Harga Transfer = Harga jual kembali yang dapat diterapkan Mark up ± Penyesuaian

3. Metode Biaya Tambah Metode ini merupakan metode prioritas paling rendah. Titik awal perhitungan harga bebas ini adalah harga pokok produksi, yaitu harga pokok yang dihitung menurut praktik akuntansi yang lazim. Harga ini ditambah dengan laba kotor dalam bentuk

persentase tertentu dari harga pokok dan didasarkan atas penjualan tak terkontrol yang sejenis yang dilakukan oleh penjual, atau penjual lain, atau tarif yang biasa ditetapkan pada industri tersebut. Skema perhitungan harga transfer berdasarkan metode ini dapat dituliaskan sebagai berikut:
Harga Transfer = Harga Pokok + Mark-up Tertentu ± Penyesuaian

Dari sudut pandang pengendalian manajemen, ada dua implikasi penting yakni: 1. Walaupun ada pembatasan hukum atas perusahaan yang seacara fleksibel menerapkan harga transfer, tetapi masih adanya ruang gerak dalam batas-batas tertentu. 2. Kendala hukum tersebut bisa saja memasukkan berbagai jenis harga transfer yang bisa dilakukan. Implikasi dari Section 482 Dari sudut pandang pengendalian manajemen terdapat dua implikasi penting dari Section 482, yang masing-masing dibahas di bawah ini: 1. Meskipun terdapat pembatasan hukum terdapat fleksibilitas perusahaan dalam menetukan harga transfer, namun masih terdapat cukup ruang gerak di dalam pembatasan ini. 2. Dalam situasi tertentu, pembatasan hukum dapat mendikte jenis-jenis harga transfer yang harus diterapkan.

Ruang Gerak dalam Harga Transfer Di banyak perusahaan multinasional terdapat perbedaan antara harga transfer yang murni akan digunakan oleh manajemen hanya untuk tujuan pengendalian dan harga transfer yang secara hukum diperkenankan untuk meminimalkan akibat dari dampak jumlah pajak dan tarif. Karena terdapat sejumlah subjektivitas yang berkaitan dengan penerapan Section 482 untuk banyak barang dan jasa, maka mungkin terdapat

serangkaian harga transfer yang diizinkan untuk jenis barang tertentu. Manajemen dapat meminimalkan jumlah pajak penghasilan dan tarif dengan menetapkan harga transfer sejauh mungkin dari ujung rangkaian yang memadai. Banyak perusahaan yang menggunakan harga transfer untuk meminimalkan pajak dan tarif menggunakan harga transfer yang sama untuk persiapan anggaran keuntungan dan pelaporan sebagaimana yang digunakan untuk tujuan akuntansi dan perpajakan. Anggaran yang disetujui merefleksikan segala ketidakseimbangan yang ditimbulkan oleh harga transfer. Jika anggaran dan laporan laba merefleksikan harga transfer yang tidak ekonomis, kehati-hatian harus diambil untuk memastikan bahwa para manajer anak perusahaan membuat keputusan yang terbaik bagi kepentingan perusahaan.

Pembatasan Hukum dalam Sistem Harga Tranfer Di dalam situasi tertentu, pembatasan hukum dapat meminta digunakannya sistem harga transfer tertentu, atau sebuah sistem transfer yang disukai untuk tidak digunakan. Jika Section 482 meminta penggunaan harga transfer yang berbeda dari yang akan digunakan untuk tujuan pengendalian, perusahaan akan berada pada posisi yang sama dengan perusahaan yang menggunakan satu set harga transfer untuk perpajakan dan yang lainnya untuk pengendalian, kecuali jika perusahaan tesebut dapat dengan aman menyesuaikan pendapatan dan biaya anak perusahaan sebesar antara harga transfer Section 482 dengan harga transfer yang digunakan di banyak kasus. Karena perusahaan mungkin tidak berkeberatan menggunakan harga transfer yang disesuaikan untuk tujuan perpajakan, maka tidak ada salahnya menggunakan dua macam pembukuan. Kepentingan Minoritas Ketika kepentingan minoritas ikut terlibat, fleksibilitas manajemen puncak dalam mendistribusikan laba antar anak-anak perusahaan dapat sangat dibatasi karena pihak minoritas mempunyai hak hukum untuk memperoleh pembagian yang adil dari laba perusahaan.

Beberapa resiko yang Dihadapi MNC 1. Ekposur Nilai Tukar Nilai tukar adalah harga dari sebuah mata uang jika dibandingkan dengan mata uang yang lainnya. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah unit dari mata uang negara induk perusahaan yang diperlukan untuk membeli satu unit mata uang asing atau sejumlah mata uang asing yang diperlukan untuk membeli satu unit mata uang induk perusahaan. Nilai tukar yang biasanya ditawarkan disebut nilai tukar nominal. Nilai tukar spot adalah nilai tukar nominal yang berlaku pada satu hari tertentu. Nilai tukar rill adalah nilai tukar spot setelah penyesuian perbedaan inflasi antara dua negara yang dihitung. Ada juga nilai tukar forward, yaitu nilai tukar hari ini yang dapat digunakan menjadi dasar penyelesaian suatu transaksi yang terjadi di suatu waktu di masa depan. Eksposur nilai tukar ada tiga yaitu eksposur trasnlasi, eksporsur ekonomi, dan eksposur transaksi. y Eksposur Translasi Eksposur translasi atas nilai tukar adalah eksposur dari neraca dan laporan laba rugi perusahaan multinasional terhadap perubahan yang terjadi di dalam nilai tukar nominal. Hal ini dikarenakan adanya fakta bahwa perusahaan multinasional harus mengkonsolidasikan pembukan mereka dalam satu mata uang, meskipun arus kas mereka didenominasi dalam banyak mata uang. Memahami eksposur translasi yang terjadi di dalam perusahaan multinasional berarti memahami pengertian dan jawaban atas pertanyaan berikut ini: jika arus kas perusahaan didenominasi di dalam berbagai mata uang dan jika terjadi perubahan nominal di dalam nilai tukar mata uang selama tahun berjalan, bagaimanakah seharusnya cara mengkonsolidasikan pendapatan, pengeluaran, aktiva, dan utang ke dalam satu jenis mata uang pada satu titik waktu.

Efek translasi Jika perusahaan menguunakan laba atau rugi akibat translasi di dalam mengevaluasi kinerja manajer anak perusahaan, maka akan timbul beberapa masalah: (1) hal ini akan membuat manajer anak perusahaan bertanggung jawab tehadap faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka; (2) hal ini tidak akan

menghilangkan adanya laba atau rugi akibat translasi; (3) hal ini tidak memperhitungkan jenis jasa eksposur nilai tukar lain yang dihadapi oleh anak perusahaan; (4) hal ini akan menghancurkan kinerja manajer dan anak perusahaan. Ketika perusahaan memberikan laporannya kepada para pemegang

saham, mereka harus mengkonsolidasikan angka-angka akuntansi dari anak perusahaan di negara asing dengan angka-angka akuntansi dari induk perusahaan. Laba dan rugi akibat translasi yang ditimbulkan dari konversi neraca dan laporan laba rugi anak perusahaan di luar negeri ke dalam unit moneter dari induk perusahaan tidak seharusnya memperngaruhi evaluasi kinerja dari manajer anak perusahaan.

y

Eksposur Transaksi Ekspour transaksi adalah eksposur nilai tukar yang dimiliki oleh

perusahaan untuk transaksi-transaksi antarnegaranya ketika transaksi semacam itu dicatat hari ini tetapi penyelesaian pembayaran dilaksanakan kemudian hari. Selama masa di mana pembayaran atau komitmen penerimannya masih belum dilakukan, nilai tukar nominal dapat berubah dan menimbulkan adanya resiko pada nilai dari tansaksi.

Efek Transaksi Pendekatan mendasar dalam menangani eksposur transaksi adalah dengan menggunakan strategi lindung nilai mata uang asing yang tepat. Lindung nilai (hedging) adalah transaksi-transaksi yang dapat menurunkan kemungkinan resiko yang berhubungan dengan arus kas di masa depan. Dalam prosesnya perusahaan yang membeli instrumen tersebut biasanya adalah bank komersial dalam kasus untuk pasar valuta. Tetntunya sudah pasti hal semacam itu membutuhkan biaya. Transaksi lindung nilai mungkin paling baik dilakukan pada tingkat induk perusahaan, daripada memberikan izin kepada masing-masing anak perusahaan untuk melakukannya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini dilakukan. Pertama di banyak perusahaan multinsional terdapat utang dan

piutang di berbagai bagian dari keseluruhan perusahaan yang tentu saja dapat melakukan lindung nilai satu sama lain, jika informsi atas semua transaksi semacam itu dikumpulkan dan ditangani melalui satu lokasi pemusatan. Hal ini akan mengurangi biaya transaksi yang berhubungan dengan lindung nilai. Kedua, induk perusahaan mungkin mempunyai akses yang lebih luas terhadap berbagai jenis instrumen lindung nilai, dengan waktu jatuh tempo yang lebih lama, daripada yang biasanya dimiliki oleh anak perusahaan. Ketiga, tidak ada alasan untuk menduga bahwa manajer dari anak perusahaan dapat meramalkan nilai tukar secara lebih baik daripada bendahara korporat; bahkan induk perusahaan mungkin tidak menginginkan para manajer anak perusahaan melakukan lindung nilai, karena hal ini dapat menumbulkan resiko menjadikan para manajer anak perusahaan menjadi spekulan nilai tukar.

y

Eksposur ekonomi Dalam hal eksposur ekonomi, merupakan suatu hal yang tepat bagi

sistem pengendalian untuk mengevaluasi manajer anak perusahaan atas keputusan-keputusan yang seharusnya memungkinkan anak perusahaan

merespons perubahan yang terjadi pada nilai tukar rill. Importir murni adalah anak perusahaan yang menjual sebagian besar produknya di dalam negaranya sendiri, tetapi mengimpor sebagian besar barang mentahnya dari luar negeri; eksportir murni adalah anak perusahaan yang menjual kebanyakan produknya ke luar negeri, tetapi membeli sebagian besar bahan mentahnya di dalam negara tersebut. Dalam pengukuran kinerja dapat dilihat dari kualitas keputusan yang diambil olh manajer perusahaan. Untuk itu diperlukan alat untuk menilai secara wajar kualitas keputusan manajer anak perusahaan. Salah satu mekanisme yang ada itu adalah penganggaran kontinjensi. Mekanisme ini bekerja sebagai berikut: a. Siapkan dan lacak anggran dengan menggunakan metrik yang sama jangan kuatir dengan mana metrik yang layak, dan gunakan secara sederhana salah satu yang paling meyakinkan. Sisihkan pengaruh nilai tukar nominal (yang semata dipengaruhi oleh inflasi) melalui analisis

selisih. Rekomendasi seperti ini sama dengan yang ada di eksposur penjabaran. b. Susun anggaran berdasarkan skenario nilai tukar yang paling mendekati. Pada akhir tahun, hanya satu dari tiga hasil yang dikaitkan dengan kontinjensi tarif nilai tukar, yakni sama dengan proyeksi awal, terdepresiasi dari proyeksi awal, atau terapresiasi dari proyeksi awal. c. Pada saat penyusunan anggaran, perlu didiskusikan dengan manajer anak perusahaan tentang antisipasi yang harus dilakukan. d. Pada saat pelacakan, jika tarif nilai tukar diketahui, lakukan revisi anggaran awal tersebut atas keputusan-keputuan manajer yang

diharapkan untuk dibuat, nilai tukar awal dengan yang sesungguhnya terjadi, kinerja manajer anak perusahaan pada gilirannya bisa

dibandingkan dengan anggaran revisi tersebut. Pengembangan dan implementasi sistem anggaran seperti ini jelas tidak mudah. Namun setidaknya dengan cara di atas, maka manajer anak perusahaan bisa menyadari akan pengaruh dari nilai tukar. y Risiko Negara (Sovereign or Country Risk) Risiko suatu negara adalah risiko yang berkaitan dengan aktivitasaktivitas dan kejadian-kejadian yang terjadi di negara lain di mana perusahaan domestik mempunyai beberapa kontak bisnis. Satu bentuk dari Country risk adalah political or sovereign risk, yaitu risiko yang berkenaan dengan perubahan yang tidak terantisipasi dalam kebijakan-kebijakan pemerintah negara lain (expropriation, nationalism, exchange freeze, dll). Beberapa penulis

menjelaskan lebih jauh risiko politik dalam bentuk social/cultural dan economic risk. Social/cultural risks adalah akibat-akibat buruk yang menyertainya yang timbul dari kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai dan sikap-sikap dari populasi negara lain secara keseluruhan (Herring dalam Baker, 1993: 1.7). Bentuk dari risiko ini bersifat jangka panjang dan kurang bersifat langsung dibanding risiko politik dan secara potensial lebih berbahaya. Risiko social/cultural berkembang menjadi risiko-risiko politik pada saat fondasi (groundswell) populernya cukup untuk membangkitkan kekuatan politik yang sebelumnya pergerakan-pergerakan ke arah tersebut secara esensial bersifat impoten. Economic risk adalah lebih dari

sekedar risiko politik±adalah suatu perubahan dalam kebijakan pemerintah yang dihasilkan dari analisis ekonomi dari costs dan benefits suatu perubahan daripada dihasilkan dari filosofis atau nasionalistik ideal.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Pendelegasian sejumlah wewenang tergantung pada kemampuan untuk mendelegasikan tanggung jawab terhadap perolehan laba. Jika suatu bagian perusahaan membagi tanggung jawabnya atas pengembangan produk, pembuatan, dan pemasaran, sistem harga transfer diperlukan jika bagian ini diberi tanggung jawab dalam hal laba. Idealnya, harga transfer hendaknya memperkirakan harga pasar nomal yang berlaku di luar, disesuaikan dengan biaya yang tidak terjadi pada transfer intern perusahaan. Dari sudut pandangan sistem pengendalian manajemen, dua masalah yang muncul untuk perusahaan maultinasional adalah harga transfer dan nilai tukar. Untuk mencapai keselarasan tujuan, pertimbangan lain adalah penting untuk tercapainya harga transfer pada perusahaan multinasional: perpajakan, peraturan pemerintah, tarif, nilai tukar, pengawasan nilai tukar mata uang, akumulasi dana, tekanan persaingan, dan dan joint venture.

DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul, et al. 1998. Sistem Pengendalian Manajemen. Yogyakarta: UPP Amp YKPN. N. Anthony, Robert, dan Govindarajan, Vijay. 2000. Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta: Salemba Empat. N. Anthony, Robert, dan Govindarajan, Vijay. 2005. Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.
http://zani-zanizone.blogspot.com/2011/01/lalu-lintas-pembayaran-internasional-10.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->