Era Pers Terpimpin Orde Lama Pergolakan politik yang terus terjadi selama era demokrasi liberal, menyebabkan

Presiden Soekarno mengubah sistem politik yang berlaku di Indonesia. Pada 28 Oktober 1956, Soekarno mengajukan untuk mengubah demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin. Selanjutnya, pada Februari 1957, Soekarno kembali mengemukakan konsep demokrasi Terpimpin yang diinginkannya. Hampir berselang dengan terjadinya berbagai pemberontakan di banyak daerah di Indonesia yang melihat sentralitas atas hanya daerah dan penduduk Jawa. Munculnya berbagai pemberontakan di daerah dan di pusat sendiri, membuat Soekarno mengeluarkan Undang-Undang Darurat Perang pada 14 Maret 1957. Selama dua tahun Indonesia terkungkung dalam perseturuan antara parlemen melawan rezim Soekarno yang berkolaborasi dengan militer. Namun, tak berselang lama, Soekarno menerbitkan dekrit kembali ke UndangUndang Dasar 45, disusul dengan pelarangan Partai Sosialis Indonesia dan Masyumi, karena keterlibatan kedua partai tersebut dalam pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958 di Sumatera. Kegagalan Soekarno, menyebabkan ia segera berpaling kepada PKI dan menstimulasi pihak militer agar memberi dukungan penuh pada dirinya. Sebaliknya, PKI bergantung kepada Soekarno untuk dapat memimpin bangsa. Berbagai slogan politik mulai bermuculan, seperti Manipol (Manifesto Politik), Berdikari (Berdiri Di Atas Kaki Sendiri), Nefos (New Emerging Forces) dan Oldefos (Old Establishment Forces), ditambah dengan upaya dilplomasi serta manuver konfrontasi dengan Malaysia. Soekarno menstimulasi rakyat dengan semangat revolusi, dengan dirinya sebagai tokoh pemimpin revolusi. Sepanjang periode Demokrasi Terpimpin dan diberlakukannya Undang-Undang Darurat Perang, pers pun mengalami era terpimpin ini. Presiden Soekarno memerintahkan pers agar setia kepada ideologi Nasakom serta memanfaatkannya untuk memobilisasi rakyat. Soekarno tidak raguragu untuk melarang surat kabar yang menentangnya. Di bawah Soekarno, surat kabar yang dikelola oleh kaum komunis tumbuh subur. Muncul perlawanan dari kelompok surat kabar sayap kanan nasionalis, yang mengatasnamakan Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Konflik antara surat kabar sayap kanan dengan surat kabar kelompok kiri tidak terelakkan. Soekarno ternyata lebih memilih kaum kiri, dan surat kabar kaum kanan yang anti komunis dilarang terbit. Periode Demokrasi Terpimpin umumnya dikatakan sebagai periode terburuk bagi sejarah perkembangan pers di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi karena persepsi, sikap, dan perlakuan penguasa terhadap pers Indonesia telah melampaui batas-batas toleransi. Penguasa Demokrasi Terpimpin memandang pers semata-mata dari sudut kemampuannya dalam memobilisasi massa dan opini publik. Pers seakan-akan dilihat sebuah senapan yang siap menembakkan peluru (informasi) ke arah massa atau khalayak yang tak berdaya. Pers dianggap sebagai alat revolusi yang besar pengaruhnya untuk menggerakkan atau meradikalisasi massa untuk menyelesaikan sebuah revolusi. Pandangan ini dapat dilihat pada bagian pendahuluan dari pedoman penguasa Perang Tertinggi, 12 Oktober 1960 untuk pers Indonesia yang berbunyi :

Media cetak boleh dikata menuruti apa saja yang diucapkannya. surat kabar dan majalah merupakan alat publikasi yang dapat dipergunakan untuk mempengaruhi pendapat umum. Hal ini dilakukan oleh penguasa untuk mempercepat retooling alat-alat publikasi. Pada umunya ulasan atau tajuk rencana memberikan dukungan dan bahkan sering mengagun-agungkannya. Proses pengkultusan individunya meningkat pula. Bagi penerbit yang tidak bersedia menandatangani perjanjian 19 pasal ini. Jika diteliti pasal per pasal memperlihatkan usaha penguasa untuk benar-benar menjinakkan pers di dalam cengkeraman kekuasaannya. alat penyebar manifesto politik Soekarno serta mewajibkan pers untuk memiliki izin terbit. dan semakin besar kekuasaannya semakin sensitive pula dia terhadap kritik. Sementara. ekonomi. Misalnya penguasa mengeluarkan Sebuah Pedoman Penguasa Perang Tertinggi untuk Pers Indonesia pada 12 Oktober 1960. Tujuan utama dari pedoman ini adalah mewajibkan pers menjadi pendukung. pembela. Oleh karena itu. dan bersamaan dengan itu isi media massa makin memuja dan menyanjungnya. Cara retooling ini sangat efektif untuk menjinakkan atau memakai istilah Mochtar Lubis (1978). sehingga ia dapat menjadi alat dan pendukung revolusi. Atas dasar itulah penguasa melakukan rekayasa terhadap pers melalui system regulasi yang represif. Akhirnya pers yang tersisa atau masih terbit adalah pers yang sudah jinak dan mandul yang kesetiaannya tidak diragukan lagi. lebih cenderung memperlakukan pers sebagai extension of power-nya. maka surat kabar dan majalah tersebut dapat dipergunakan sebagai alat penggerak massa untuk menyelesaikan revolusi Indonesia menuju masyarakat yang adil dan yang makmur. pidato-pidatonya yang sering panjang mempesona yang mendengarkannya. mengebiri pers. kebanyakan tidak bersedia menandatanganinya dan lebih suka menutup sendiri penerbitannya. Mengetahui itu pers semakin takut kepadanya. Oleh karena itu. otomatis tidak diperkenankan melanjutkan penerbitannya. terutama surat kabar dan majalah. Mengutip cerita Alfian (1991) : Bung Karno yang praktis mendominasi kehidupan politik pada waktu itu boleh dikatakn juga mendominir komunikasi politik. Tahun-tahun tersebut dapat digambarkan sebagai berkuasanya pers komunis dan pers simpatisan-simpatisipannya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada masa Demokrasi Terpimpin Presiden Soekarno. Sebagai komunikator yang luar biasa. . yang dalam praktik bukannya untuk memperbaiki kehidupan sosial. rezim Demokrasi Terpimpin merasa perlu menguasai seluruh pers. Setiap penerbit pers yang akan mengajukan surat izin terbit diharuskan mengisi sebuah formulir berisi 19 pasal pernyataan yang mengandung janji penanggung jawab penerbit surat kabar dan majalah seandainya ia sudah diberi izin terbit.Sebagaimana kita semua telah memaklumi. dan politik masyarakat tetapi untuk revolusi kekuasaan rezim itu sendiri. Para penanggung jawab surat kabar dan majalah yang masih ingin mempertahankan nurani serta idealismenya. Bung Karno memang termasuk tokoh yang suka dikritik.

dan pers Liberal. diasingkan atau menuai pembredelan. Dominasi pers komunis dan simpatisan-simpatisannya dalam peta ideologi pers Indonesia tahun 1957-1965 merupakan konsekuensi-konsekuensi logis dari semangat kuat dan meningkantnya pengaruh politik PKI dan Soekarno. menolak Manipol. Namun. terhitung tanggal 1 Otober 1965. seluruh pers yang dianggap sebagai simpatisan PKI dilarang terbit untuk selama-lamanya oleh penguasa rezim baru saat itu di bawah Soeharto. . Karena. dalam masa selanjutnya. posisi pers pada tahun-tahun itu berubah secara radikal sejak peristiwa berdarah G30S/PKI.pers lainnya yang berada dalam posisi kontra terhadap rezim Soekarno.

Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. . yang berarti dalam bahasa Inggris berarti press. memiliki. untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Dimana pers saat ini tidak hanya terbatas pada media cetak maupun media elektronik tetapi juga telah merambah ke berbagai media infromasi seperti internet. mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan jenis media dan segala jenis saluran yang tersedia. makalah ini disusun sebagai tugas untuk mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul Pers Indonesia dari Masa ke Masa ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Maret 2010 Penulis BAB I PENDAHULUAN Istilah pers berasal dari bahasa Belanda. sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik meliputi mencari. Definisi pers yaitu. dan secara maknafiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak. Keberhasilan penulis dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Secara harfiah pers berarti cetak. memperoleh. menyimpan.

Pertama Acta Senatus yang memuat laporan-laporan singkat tentang sidang-sidang senat dan keputusan-keputusannya. Surat kabar milik pemerintah yang diterbitkan dengan suatu peraturan khusus dari Kaisar Quang Soo ini. Menurut isinya. papan pengumuman ini dapat dibedakan atas dua macam. bahkan juga menghadiri sidang-sidang senat dan melaporkan semua hasilnya baik secara lisan maupun tulisan. Kedua. Sementara itu di Eropa diketahui bahwa wartawan-wartawan pertama telah ada sejak zaman Romawi. Terbetik pertanyaan. Acta Diurna Populi Romawi yang memuat keputusankeputusan dari rapat-rapat rakyat dan berita-berita lainnya. Meski masih menjadi kontroversi di masyarakat. bagaimanakah perkembangan pers di Indonesia hingga bisa berkembang seperti sekarang ini. dibandingkan dengan pers masa orde baru. Acta Diurna ini merupakan alat propaganda pemerintah Romawi yang memuat berita-berita mengenai peristiwa-peristiwa yang perlu diketahui oleh rakyat. yang salah satu tujuannya adalah agar nasionalisme dan rasa persatuan tidak mudah terbentuk. BAB II ISI . cakupan wilayah penyebaran informasi yang sangat luas maupun kebebasan pers itu sendiri. Wartawan-wartawan ini terdri atas budak-budak belian yang oleh pemiliknya diberi tugas mengumpulkan informasi. berita-berita. Namanya King Pau. kebebasan pers yang lebih terbuka juga mengandung sisi positif dalam penyampain informasi di masyarakat.Pada masa kini. dan apa saja kendala-kendala yang merintangi perkembangan pers di Indonesia sejak dahulu hingga kini? Kedua pertanyaan inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. isinya adalah keputusan-keputusan rapat-rapat permusyawaratan dan berita-berita dari istana. Papan tulis yang disebut Forum Romanum itu berisi pengumuman-pengumuman resmi. Penyampaian informasi/pemberitaan pertama diketahui pada zaman pemerintahan Cayus Julius (100-44 SM) bertempat di negara Romawi. dipancangkan beberapa papan tulis putih di lapangan terbuka di tempat rakyat berkumpul.dak mudah terbentk Bagaimana dengan sejarah pers di Indonesia? Indonesia pernah mengalami masa penjajahan. Surat kabar cetakan pertama baru terbit pada tahun 911 di Cina. Selain itu pada masa orde lama dan orde baru juga kebebasan pers masih sangat terbatas. tentunya penyebaran berita diawasi dengan ketat oleh para penjajah negeri ini. pers telah mengalami perkembangan pesat baik dari segi media yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi.

Siebert. yakni surat kabar. Terbuka artinya bahwa pers tidak bebas dari pengaruh lingkungan. Pers pada Masa Penjajahan 1. Situasi seperti itu berbeda dengan sistem tertutup yang deterministik. Pengertian Pers Seperti yang telah disebutkan diatas. radio siaran. Pers juga dapat dinyatakan sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang kegiatannya melayani dan mengatur kebutuhan hati nurani manusia selaku makhluk sosial dalam kehidupannya sehari-hari sehingga dalam organisasinya pers akan menyangkut segi isi dan akibat dari proses komunikasi yang melibatkannya. pers merupakan suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik meliputi mencari. Sedangkan pers dalam arti sempit hanya terbatas pada pers cetak. authoritarian press (pers otoritarian) 2. memperoleh. bahwa Pers dapat dikategorikan menjadi. yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. libertarian press (pers libertarian) 3. pers merupakan sistem terbuka yang probabilistik. B. bahkan termasuk pers elektrolit. Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian. Dalam buku Four Theories of the Press dengan penulis. Theodore Peterson dan Wilbur Schramm. Ditinjau dari sistem. Pers dalam pengertian luas meliputi segala penerbitan. Fres S. mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai jenis media dan saluran yang tersedia. memiliki. 1. tetapi dilain pihak pers juga mempengaruhi lingkungan probabilistik berarti hasilnya tidak dapat diduga secara pasti. dan buletein kantor berita. dan televisi siaran. menyimpan. social responsibility press atau pers tanggung jawab sosial. Hindia Belanda . soviet communist press atau pers komunis soviet 4. majalah.A.

kebencian. yang memberikan hak kepada pemerintah Hindia Belanda untuk menghentikan penerbitan surat kabar atau majalah Indonesia yang dianggap berbahaya. Terutama dalam penggunaan alat cetak yang canggih ketimbang Zaman belanda. pendidikan dan politik. dan Suara Asia. orang-orang surat kabar (pers) Indonesia banyak yang berjuang tidak dengan ketajaman penanya melainkan dengan jalan lain seperti organisasi keagamaan . Sinar Baru. perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. yang sangat mengetahui pengaruh surat kabar terhadap masyarakat indonesia. · Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadap berita yang disajikanoleh sumbersumber resmi Jepang. serta penghinaan terhadap pemerintah Nederland dan Hindia Belanda. yaitu: Asia Raja. Tjahaja. Kemudian Belanda juga mengeluarkan Peraturan yang bernama Haatzai Artekelen. Pers pada Masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin (Orde Lama) . Sinar Matahari.Di Indonesia. dan Java Bode. Selain mengeluarkan KUHP Belanda juga mengeluarkan mengeluarkan aturan yang bernama Persbreidel Ordonantie. Bintang Barat. meskipun begitu ada lima media yang mendapat izin terbit. Jepang Pada masa penjajahan Jepang. Walaupun pers tertekan dimasa Jepang namun ada beberapa keuntungan antara lain : · Pengalaman yang diperoleh para karyawan pers indonesia bertambah. serta terhadap sesutu atau sejumlah kelompok penduduk Hindia Belanda. Medan Prijaji. Namun Penjajah Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa di masa Jepang pers Indonesia tertekan. C. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Surat kabar yang beredar pada zaman penjajahan Belanda dilarang beredar. · Penggunaan bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering dan luas. yautu berisi pasal-pasal yang mengancam hukuman terhadap siapapun yang menyebarkan perasaan permusuhan. maka mereka memandang perlu membuat UU untuk membendung pengaruh pers Indonesia karena merupakan momok yang harus diperangi. Beberapa surat kabar yang terbit di zaman ini adalah Bintang Timur. Java Bode. 2.

Pada masa orde lama kebebasan pers cukup dijamin. Merdeka. karena TVRI adalah stasiun televisi milik negara. yaitu Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. · Radio swasta niaga nyaris tidak ada. Awal pembatasan pers di masa demokrasi liberal adalah efek samping dari keluhan wartawan terhadap pers Belanda dan Cina. Berikut ini merupakan ciri-ciri pers pada masa orde lama: · Terbagi atas beberapa jenis. yaitu umum dan politik. karena masa itu adalah masa dimana pers merupakan sarana yang dipakai pemerintah maupun oposisi untuk menyiarkan kebijakannya dan pers itu sendiri menjadi lebih berkembang dengan hadirnya proyek televisi pemerintah yaitu TVRI. namun pemerintah tidak membatasi pembreidelan pers asing saja tetapi terhadap pers nasional.Pers di masa demokrasi liberal (1949-1959) landasan kemerdekaan pers adalah konstitusi RIS 1949 dan UUD Sementara 1950. Terbagi menjadi media kampus seperti Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) atau Gelora Mahasiswa UGM. Sementara media umum seperti Kompas. Hanya ada RRI yang jangkauannya luas. Isi pasal ini kemudian dicantumkan dalam UUD Sementara 1950. · Menjelang Orde Lama jatuh. Era demokrasi liberal adalah sejak Pemilu 1955 hingga Dekrit Presiden 1959. . Contohnya: Suluh Marhaen ke PNI (Partai Nasional Indonesia) dan Bintang Timur berafiliasi ke PKI (Partai Komunis Indonesia) · Penyerangan terhadap lawan politik amat lazim. Demokrasi liberal berakhir ketika Orde Lama dimulai. Bahkan tidak tabu menggambarkan lawan politik sebagai anjing misalnya. Namun. · Contoh pers umum yaitu Indonesia Raya. Namun ada radio komunitas yg dibuat mahasiswa seperti Radio ARH (Arief Rahman Hakim) dari UI dgn jangkauan terbatas. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih. muncul media massa yang anti Soekarno dan Orde Lama. · Pers berafiliasi ke partai politik amat banyak dan justru oplahnya tinggi. meski ia menjabat sebagai menteri sekalipun. Headline (kepala berita) dan karikatur yang sarkastis/kasar amat lazim digunakan. maka pemerintah jugalah yang menguasainya.

dan pelarangan penyiaran (pasal 4 ayat 2). Namun kegiatan jurnalisme ini juga cukup banyak yang melanggar kode etik pers sehingga masih menimbulkan kontroversi di masyarakat. penyalur aspirasi rakyat. Hakekat pers Pancasila adalah pers yang sehat.D. E. pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif. beberapa surat kabar dilarang terbit/dibredel. Dengan peristiwa malari beserta beberapa peristiwa lainnya. Pers pasca peristiwa malari cenderung pers yang mewakili kepentingan penguasa. 40 tahun 1999 tentang pers. Kontrol terhadap pers ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Pers pada Masa Orde Baru Pada awal kepemimpinan orde baru menyatakan bahwa membuang jauh praktik demokrasi terpimpin diganti dengan demokrasi Pancasila. sehingga lahirlah istilah pers Pancasila. yaitu Kompas. dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara. pembredelan. Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih. Jawa Barat. Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo yang merupakan contoh-contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Pemerintah orde baru menganggap bahwa pers adalah institusi politik yang harus diatur dan dikontrol sebagaimana organisasi masa dan partai politik. Hingga kini Kegiatan jurnalisme diatur dengan UndangUndang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers. Menurut sidang pleno ke 25 Dewan Pers bahwa Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi. pemerintah atau negara. kecuali hak tolak gugur apabila demi kepentingan dan ketertiban umum. sikap. Pers pada Masa Reformasi Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum. . 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi manusia dan UU no. dan tingkah lakunya didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. hal ini mendapat sambutan positif dari semua tokoh dan kalangan. Masa kebebasan ini berlangsung selama delapan tahun disebabkan terjadinya peristiwa malari (Lima Belas Januari 1974) sehingga pers kembali seperti zaman orde lama. Kalangan pers kembali bernafas lega karena pemerintah mengeluarkan UU No. dan kontrol sosial yang konstruktif. wartawan memiliki hak tolak agar wartawan dapat melindungi sumber informasi. keselamatan negara yang dinyatakan oleh pengadilan. Dalam UU Pers tersebut dengan tegas dijamin adanya kemerdekaan pers sebagai Hak azasi warga negara (pasal 4) dan terhadap pers nasioal tidak lagi diadakan penyensoran. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.

pada masa reformasi kegiatan jurnalisme telah dilindungi Undang-Undang Penyiaran dan Kode etik pers. masih sedikit dan diawasi dengan ketat oleh pihak penjajah itu sendiri. Pers pada masa demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin (orde lama) mulai menikmati kebebasan pers yang lebih luas namun pers pada masa orde lama lebih cenderung digunakan sebagai sarana untuk menyiarkan kebijakan pemerintah maupun partai oposisi. . selain itu pers juga menjadi lebih terbuka dalam menyampaikan pemberitaan karena tidak ada lagi ancaman pembredelan seperti dulu. 3.BAB III KESIMPULAN 1. Pers pada masa orde baru mirip pada masa orde lama. 2. 4. Pers merupakan suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik dengan menggunakan berbagai jenis media dan saluran yang tersedia. Pers pada masa penjajahan baik Jepang maupun Belanda. dan banyak terjadi pembredelan media cetak yang tidak sesuai dengan selera presiden 5.