P. 1
Auto Kritik Terhadap Muhammadiyah

Auto Kritik Terhadap Muhammadiyah

|Views: 65|Likes:
Published by N dg beta

More info:

Published by: N dg beta on Feb 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2012

pdf

text

original

Muhammadiyah adalah organisasi yang didirikan oleh KH.

Ahmad Dahlan, padan tanggal 8 Zulhijja
1330 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1912 M. Berawal dari keprihatinan beliau
terhadap keadaan ummat Islam yang sangat terbelakang ditambah lagi dengan pemahaman ummat
Islam yang sangat miring terhadap agamanya terutama dalam aqidah dan ibadah yang sangat
menyimpang dari sumber aslinya yaitu Al-qur͛an dan sunnah , sehingga menyuburkan praktek TBC,
tahyul, bid͛ah dan Churafat, ditambah lagi dengan progresifnya ummat lain dan menyebarkan
agamanya bahkan cendrung memurtadkan ummat Islam dari Agamanya, dan dimotori oleh penjajah
dan yang terpenting adalah kesadaran KH. Ahmad Dahlan terhadap perintah Allah supaya ada
sekelompok ummat yang menjadi penyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, Al-Qur͛an
surah Ali-Imran :104
·´N´J´Ò,´ ´ò´Nq´.ÿ ´´ÿ´0 ´´_´´´)´·
[¸L´f ´@´¶·´6Bb ´´´´¶´ÿ´0´·,´
´B´´¶´´ò´óBB´´ ´´´_´·´1´·,´ ´·´´
´¶Nq´ù´ÒBb P ´Ó´´´´Ò0´´0,´ ´ò´´
´,_´´1´´´ù´ÒBb ´´´´´
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dengan Dasar ini maka Muhammadiyah kemudian di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai
jawaban terhadap kegalauan beliau terhadap persoalan yang dihadapi oleh Ummat.
Sejak lahirnya Muhammadiyah memiliki obyek garapan ummat terutama ummat terbelakang atau
masyarakat pinggiran (grass root) akar rumput. Sehingga berdirilah rumah-rumah sakit, panti-panti
asuhan dimana-mana , sampai sekarang sudah luar biasa, .
Artinya Muhammadiyah lahir karena keprihatinan terhadap ummat terutama ummat yang lemah
dan terbelakang, Hal ini sudah mulai bergeser sedikit-demi sedikit, setelah Muhammadiyah dipimpin
oleh para cendekiawan atau kelompok ummat menengah ke atas atau kalangan cendekiawan,
bahkan dalam setiap ungkapan-ungkapan, baik dalam ceramah ʹceramah, diskusi-diskusi, seminar-
seminar dan majalah-majalah sering muncul istilah-istilah yang sudah tidak dapat lagi dicerna oleh
kelompok-kelompok masyarakat kecil (grass root) hal ini semakin mengokohkan bahwa
muhammadiyah hanya dimiliki oleh sekelompok masyarakat cendekiawan, dan tidak lagi menyentuh
masyarkat kecil yang jauh dari istilah-istilah yang tidak mereka pahami, lain dengan jaman-jamannya
para pendahulu seperti KH. Ahmad Dahlan, sutan Mansyur, ki bagus, Pak Ar, yang bahasanya sangat
sederhana dan sangat dekat dengan bahasa-bahasa masyarakat biasa sehingga apa yang mereka
sampaikan dengan muda sekali dapat dicerna oleh ummat yang sangat sederhana.
Kekurangan yang sangat mendasar yang lain, adalah jauhnya orang-orang Muhammadiyah dari Al-
qur͛an dan Hadits, padahal sudah menjadi motto Muhammadiyah yaitu kembali kepada Al-qur͛an
dan Hadits yang shahi. Kekurangan ini sangat dirasakan mulai dari tingkat Pimpinan paling atas
sampai pimpinan tingkat ranting, bahkan anggota persyarikatan. Tidak banyak lagi kelompok-
kelompok kajian yang memang betul-betul mengaji langsung dengan menggunakan Al-qur͛an dan
Hadits sebagai sumber kajian. Secara personal mana ada waktu dari kita membaca Al-qur͛an dengan
rutin,, jika dibanding dengan bacaan lain, bahkan mungkin lebih banyak waktu kita membaca Koran.
Sekarang mana tempat-tempat tertentu yang digunakan oleh pimpinan untuk berkumpul mengkaji
langsung AL-qur͛an dan Hadits, sepertinya kembali kepada Al-qur͛an dan Hadits tinggal selogan.
Kekuranga mendasar yang lain adalah banyak orang ʹorang Muhammadiyah yang tidak memiliki
tarjih, padahal ketika mereka berbicara ibadah selalu tekankan, beribadah menurut tarjih,
sehingga waktu untuk membaca tarjih juga tidak ada bahkan mungkin ada anggota Muhammadiyah
yang tidak pernah memegang tarjih.
Selanjutnya kita orang-orang Muhammadiyah tidak ada greget untuk mencoba menguasai sumber
informasi, bias dibayangkan bagaimana hebatnya Muhammadiyah ketia ia memiliki sumber
informasi seperti Televisi tingkat nasional yang dapat diakses diseluruh dunia atau Indonesia. Kalau
ini mau diwujudkan saya kira bias, katanya warga Muhammadiyah ada sekitar 30 juta, kalau ini
dapat digerakkan secara ekonomi, bisa dibayangkan betapa kuat muhammadiyah dapat
mengumpulkan dana yang luar biasa untuk mendanai pembangunan sarana informasi ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->