P. 1
Nurhadi

Nurhadi

|Views: 255|Likes:
Published by dannyXL

More info:

Published by: dannyXL on Feb 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2014

pdf

text

original

Nurhadi (2005: 5) berpendapat bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi

dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan ketujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu kontruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, permodelan, dan penilaian sebenarnya atau authentic assessment. Suherman, Erman (2003: 3) menyatakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang mengambil (menstimulasikan, menceritakan berdialog, atau tanya jawab) kejadian pada dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa kemudian diangkat kedalam konsep yang dibahas. Istiqomah, Lailatul (2009: 30) menyampaikan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konsektual memberikan penekanan pada penggunaan berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, permodelan, informasi dan data dari berbagai sumber. Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang menaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswadengan konteks materi tersebut digunakan, serta hubungan bagaimana seseorang belajar atau cara siswa belajar. Dengan demikian, dalam kegiatan pembelajaran perlu adanya upaya membuat belajar lebih mudah, sederhana, bermakna dan menyenangkan agar siswa mudah menerima ide, gagasan, mudah memahami permasalahan dan pengetahuan serta dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan barunya secara aktif, kreatif dan produktif. Untuk mencapai usaha tersebut segala komponen pembelajaran harus dipertimbangkan termasuk pendekatan kontekstual. Dalam kaitan dengan evaluasi, pembelajaran dengan kontekstual lebih menekankan pada authentic assesmen yang diperoleh dari berbagai kegiatan. Alwasih, Chaedar (2002:289) berpendapat bahwa keuntungan penilaian autentik bagi siswa antara lain: (1) mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka, (2) mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, mengani teknologi, dan berfikir secara sistematis, (3) menhubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka, dan masyarakat luas, (4) mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi, dan menghubungkan sebab akibat, (5) menerima tanggung jawab dan membuat pilihan, (6) berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain dalam mengerjakan tugas, dan (7) belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri. Jenis penilaian autentik yaitu portofolio, pengukuran kinerja, proyek, dan jawaban tertulis secara lengkap. Depdiknas, 2002 menyampaikan bahwa pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang

ada hubungannya dengan penentuan pilihan. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. 3) Belajar yang diatur sendiri. dan ada produk atau hasil yang sifatnya nyata. Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa komponen yang mendasari proses implementasinya dalam pembelajaran. Siswa dapat mengatur dirinya sendiri dalam belajar dan mengembangkan minatnya secara individual maupun kelompok. 4) Bekerja sama. Sedangkan guru dapat membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi dalam kelompoknya. dalam Nurhadi (2004: 13) menyatakan komponen utama dalam system pembelajaran konsektual. Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata. . Tugas guru dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya. sebagai anggota masyarakat. Sehingga pembelajaran yang diperoleh siswa lebih bermakna. warga negara. Adapun komponen tersebut sebagai berikut. Nurhadi (2004: 13) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru masih dominan sehingga siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memotivasi siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar dengan kehidupan mereka sehari-hari. Johnson. dan siswa adalah orang yang dapat belajar sambil berbuat. dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang didapatnya dengan kehidupan mereka sehari-hari. dan pekerja serta terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang dituntut dalam pelajaran. Selain itu pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep tentang pembelajaran yang membantu guru-guru untuk menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi-situasi dunia nyata serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Pendekatan kontekstual ini perlu diterapkan mengingat bahwa selama ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapalkan. Siswa dapat bekerja sama secara efektif dalam kelompok. 1) Melakukan hubungan yang bermakna. Pendekatan kontekstual ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan dengan tujuan adanya urusan dengan orang lain. yang bermanfaat bagi mereka untuk memecahkan suatu masalah di lingkungan sekitarnya.membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. 2) Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan dengan cara siswa membuat hubungan antar sekolah dengan berbagai konteks dalam kehidupan dunia nyata. Melalui pendekatan kontekstual ini siswa diharapkan belajar dengan cara mengalami sendiri bukan menghapal.

Misalnya siswa boleh menggambarkan inforamsi akademis yang mereka pelajari dalam pelajaran IPA dengan merencanakan pembuatan pupuk organik dari bahan limbah ternak. Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL.. Dari uraian tentang pengertian dan karakteristik pembelajaran konsektual dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konsektual memenuhi syarat sebagai pembelajaran efektif pada bidang studi IPA. CTL merupakan strategi yang melibatkan seswa secara penuh dalam proses pembelajarannya. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual Contextual teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penh ntuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Pertama CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Siswa menghoramti temannya dan orang dewasa. Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif meliputi: menganalisis. memiliki harapan-harapan yang tinggi. ketiga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan. memberi perhatian. 1. 8) Menggunakan pengetahuan akademisnya dalam konteks dunia nyata untuk satu tujuan yang bermakna. dan menggunakan logika dan bukti-bukti. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Peran guru adalah memperlihatkan kepada siswa bagaimana mencapai keberhasilan dalam belajar. Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi dengan cara mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Serta pembelajaran kontekstual dapat memotivasi siswa untuk menghubunngkan pengetahuan yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari. Belajar dalam konteks CTL adalah proses pengalaman secara langsung. 6) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) . Siswa memelihara pribadinya dengan: mengetahui.5) Berpikir kritis dan kreatif. Ada tiga hal yang harus dipahami. Siswa didorong ntuk beraktifitas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Setelah mereka berhasil menghubungkan pengetahuan yang mereka tersebut. memecahkan masalah. diharapkan mereka berhasil menghubungkan tersebut dan mereka dapat menerapkan pengetahuan tersebut untuk memecahkan masalah pribadi maupun masalah di lingkungan sekitarnya. 7) Mencapai standar yang tinggi. kedua CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. membuat keputusan. membuat sintesis. memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Pembelajaran kontekstual juga dapat meningkatkan peran siswa dalam proses belajar mengajar. A. Sehingga pembelajaran yang mereka lakukan lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan mereka sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.

Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) 4. Pendapat Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak. Mempraktikan pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knomledge) 5. akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki 2. dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna yang kemudian disebut dengan proses akomodasi. menurut pembelajaran kontekstual. Belajar bukan sekedar mengumnpulkan fakta yang lepas-lepas. 3. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks 5. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan ³skema´. minat. CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Latar Belakang Filosofi dan Psikologis CTL 1. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. diantaranya model pembelajaran kontekstual. dan kemampuan atau pengalaman. 2. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal CTL Pembelajaran Konvensional Siswa sebagai subjek belajar Siswa sebagai objek belajar Siswa belajar melalui kegiatan Siswa lebih banyak belajar secara individu kelompok Pembelajaran dikaitkan dengan Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak kehidupan nyata . Pembelajaran ntuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge) 3. 1. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) B. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal NO 1 2. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. 3. Latar belakangPsikologis Dipandang dari sudut psikologis.2. Latar belakang Filosofis CTL banyak dipengarhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran.. Belajar adalah proses pemecahan masalah 4. C. Skema terbentuk karena pengalaman. Ada yang perlu dipahami tentang pbelajar dalam konteks CTL. Belajar bukanlah menghafal. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi. Piaget berpendapat. motivasi.

Inkuiri Adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada. Menurut Bobbi Deporter ada tiga tipe gaya belajar siswa. setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan 3. auditorial dan kinestis. terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL. 2. 1. tidak mungkin berkembang. yaitu tive visual.Kemampuan didasarkan atas pengalaman 5 Tujuan akhir kepuasan diri 6 Prilaku dibangun atas kesadaran 7 Pengetahuan yang dimiliki individu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya 8 Siswa bertanggungjawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran 9 Pembelajaran bisa terjadi dimana saja 10 Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dengan berbagai cara 4 D. E. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL 1. Guru penentu jalannya proses pembelajaran Pembelajaran terjadi hanya di dalam kelas Keberhasilan pembelajaran hanya bisa diukur dengan tes Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Konstruktivisme Adalah proses pembangunan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. sedang tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya. Asas-Asas CTL CTL sebagi suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa langkah: . Peran Guru dan Siswa dalam CTL Kemampuan diperoleh dari latihan-latihan Tujuan akhir nilai atau angka Prilaku dibangun oleh factor dari luar Pengetahuan yang dimiliki bersifat absolute dan final. Sehubungan dengan hal itu. Siswa harus dipandang sebagai individu yang sedang berkembang 2. belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara halhal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui 4. dan tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat.

Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: a) b) c) d) e) menggali informasi dan kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran membangkitkan motvasi siswa untuk belajar merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuat memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu 4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Dalam kelas CTL. 1. Penilaian Nyata (Authentic Assessment) Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Pola Pembelajaran Konvensional untuk mencapai tujuan kompetensi. Bertanya (Questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. 7. sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Pemodelan (Modeling) Merupakan proses pembelajarn dengan memperagakan sesuatu sebagai conto yang dapat ditiru oleh setiap siswa. 5. 5.1. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL a. 4. Refleksi (Reflection) Merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. 3. 2. guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut: . asas ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. F. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu. 6. Merumuskan masalah Mengajukan hipotesis Mengumpulkan data Menguji hipnotis berdasarkan data yang ditemukan Membuat kesimpulan 3.

baik fisik maupun mental. bukan hasil pemberian dari orang lain . Inti 3. b. Untuk itu ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran. 3.y y y y y y Siswa disuruh untuk membaca buku tentang pasar Guru menyampaikan materi pelajaran Guru memberikan kesempatan pada siswa untk bertanya Guru mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dan dilanjutkan dengan kesimpulan Guru melakukan post-tes Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat karangan sesuai dengan tema ³pasar´ Model pembelajaran diatas jelas bahwa sepenhnya ada pada kendali guru. guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut: 1. yaitu sebagai berikut: 1. Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri. anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. 2. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal. akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Pendahuluan 2. Penutup Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep. Pola Pembelajaran CTL untuk mencapai tujuan kompetensi. akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->