P. 1
Tugas MP Kelas A

Tugas MP Kelas A

|Views: 60|Likes:
Published by Reza Rismunandar

More info:

Published by: Reza Rismunandar on Feb 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kayu merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sedang mengalami penurunan produksi saat ini. Jumlah penduduk yang terus bertambah membuat permintaan terhadap kayu juga ikut meningkat, namun keadaan ini tidak diikuti dengan ketersediaan kayu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan kayu yang semakin meningkat juga disebabkan oleh sifat kayu yang mudah untuk dibentuk sesuai dengan produk yang diinginkan, seperti kayu konstruksi, meubel, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Frick dan Moediartianto (2004), menyatakan bahwa dari segi manfaatnya bagi kehidupan manusia, kayu dinilai mempunyai sifat-sifat utama yang menyebabkan kayu selalu dibutuhkan manusia. Papan partikel merupakan salah satu produk alternatif pengganti kayu solid. Menurut Maloney (1993), papan partikel merupakan salah satu produk komposit atau panil kayu yang terbuat dari partikel-partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya yang diikat menggunakan perekat sintetis atau bahan pengikat lainnya dan dikempa panas. Pemanfaatan kelapa sawit hingga saat ini ditujukan hanya untuk

memproduksi buah yang digunakan untuk bahan baku pembuatan minyak kelapa sawit yang berupa CPO (Crude Palm Oil) maupun KPO (Kernel Palm Oil). Tanaman kelapa sawit mempunyai umur produktif yaitu 25 - 30 tahun. Hal ini berarti bahwa setelah umur tersebut produksi buah kelapa sawit yang merupakan hasil utama kelapa sawit menurun dan pohonnya sudah terlalu tinggi sehingga menyulitkan dalam pemanenan buah kelapa sawit. Setiap pemanenan buah kelapa sawit harus dilakukan pemotongan pelepah sebanyak 2 sampai dengan 3 buah per tandan kelapa sawit. Pemotongan ini dilakukan untuk mempermudah pengambilan buah (tandan kelapa sawit). Pelepah yang merupakan hasil ikutan pemanenan tersebut dibiarkan menjadi limbah di kebun. Limbah lainnya yang dapat dimanfaatkan adalah plastik, dimana

penanggulangan limbah plastik saat ini masih mengacu pada daur ulang yang pada

1

Pemanfaatan bagian pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) terutama pelepahnya yang dicampur dengan perekat dari limbah plastik dapat menjadi potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan papan komposit dengan melakukan analisis sifat fisik dan mekanik dari papan tersebut. bahwa untuk meningkatkan kekompakan antara dua unsur yaitu plastik dan filler dalam komposit perlu ditambahkan compatibilizer. Salah satu peluang penggunaan limbah plastik tersebut adalah sebagai perekat.2. maka dilakukan modifikasi perekat yang digunakan serta penambahan compatibilizer MAH dalam proses pembuatan papan komposit. . 2) Menentukan komposisi perekat dari limbah plastik dan compatibilizer MAH terbaik pada pembuatan papan komposit. karena plastik memiliki elastisitas yang tinggi. plastik dapat mengalami penurunan kekuatan terutama jika sudah mencapai tahap limbah. ( 2004) menyatakan. Mempertimbangkan potensi pelepah dan limbah plastik yang cukup besar dan belum termanfaatkan secara optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut. perlu dilakukan penelitian pembuatan papan partikel dari pelepah kelapa sawit menggunakan perekat dari limbah plastik. Tujuan Penelitian ini dirancang untuk menghasilkan papan komposit berkualitas tinggi ditinjau dari pengujian sifat fisik dan mekanis. Pada dasarnya. Mehdi et al. 1.2 akhirnya tetap menimbulkan limbah plastik. Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: 1) Mengetahui pengaruh komposisi perekat dari limbah plastik PP dan compatibilizer MAH terhadap kualitas papan komposit berbahan baku limbah pelepah kelapa sawit yang dihasilkan.

Tinjauan Pustaka 2. termasuk sistem lantai. Papan Partikel Papan partikel merupakan salah satu jenis produk komposit atau panel kayu yang terbuat dari partikel-partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya. jenis perekat. pengeringan partikel pencampuran perekat dengan partikel. pembentukan partikel. 2007). tuntutan konsumen akan kualitas produk yang semakin tinggi.1. Penggunaan berbagai macam bahan baku dalam satu bentuk produk komposit sangat memungkinkan di masa mendatang seiring dengan timbulnya berbagai desakan seperti isu lingkungan. ukuran dan geometri partikel kayu.1. dan sebagainya (Laemlaksakul. Haygreen dan Bowyer (1989). tip. dapat menggunakan bahan baku kayu selain kayu. dan formulasi yang digunakan serta proses pembuatan papan partikel tersebut mulai dari persiapan bahan baku. yang diikat dengan peiekat sintetis atau bahan pengikat lain dan dilakukan pengempaan (Maloney. KERANGKA PEMIKIRAN 2. 1998). imajinasi. penggunaan kulit kayu.3 II. 3 . Partikel telah banyak digunakan seluruh dunia untuk pembuatan mebel dan rumahkonstruksi.1. Bagi negara-negara yang memiliki sumberdaya kayu yang cukup banyak dapat mengandalkan kayu sebagai bahan bakunya. Sumber baku papan komposit di masa mendatang sangat bervariasi. 1993). 2010). proses kempa dan finishingnya. Pada dasarnya sifat papan partikel dipengaruhi oleh bahan baku kayu pembentuknya. bentuk dan ukuran bahan baku kayu. kelangkaan sumberdaya. menyatakan bahwa sifat bahan baku kayu sangat berpengaruh terhadap sifat papan partikelnya. Sifat kayu tersebut antara lain jenis dan kerapatan kayu. Material komposit dapat didefinisikan sebagai bahan yang memiliki dua atau lebih yang berbeda komponen atau fase dan komponen mereka memiliki sifat fisik yang berbeda (Othman. tetapi bagi negara-negara yang tidak atau kurang memiliki potensi kayu. pengetahuan dan penguasaan ilmu yang semakii tinggi serta berbagai faktor lain yang merangsang terciptanya produk komposit berkualitas tinggi dari bahan baku yang berkualitas rendah (Rowell.

1. Pelepah daun sejak mulai terbentuk sampai tua membutuhkan waktu ±7 tahun dan pada satu pohon jumlah pelepah dapat mencapai 60 buah dengan panjang pelepah daun mencapai 9 m. komponen otomotif. Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri dan bulu-bulu halus sampai kasar. berbagai tipe wadah terpakaikan ulang serta bagian plastik.4 kadar air kayu. 2001). Plastik PP Plastik adalah nama yang luas diberikan kepada polimer yang berbeda dengan berat molekul tinggi. Subfamili Cocoidea dan Genus Elaeis. dan kandungan ekstraktifnya. perlengkapan labolatorium. margarin. dan stabilizer. Setyawati (2003) menyebutkan sifat-sifat plastik antara lain tidak dapat membusuk. dan uang kertas polimer Simangunsong (2002). memberikan hasil minyak tertinggi per hektar dari setiap tanaman penghasil minyak. digunakan dalam produksi minyak goreng. Helai anak daun yang terletak ditengah pelepah daun adalah yang paling panjang dan . Minyak kelapa sawit. Daun ini mempunyai sirip genap dan bertulang sejajar. Dalam pembuatannya. tidak dapat menyerap air maupun tidak dapat berkarat. 2. Pada pembuatan monomer-monomer biasanya ditambahkan bahan-bahan lain sebagai aditif. papan partikel sebagian besar masih menggunakan perekat sintetis yang mengandung formaldehida. alat tulis. Pelepah adalah tempat menempelnya daun kelapa sawit. Karakteristik Pelepah Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman yang termasuk dalam Class Monocotyledoneae. yang dapat terdegradasi oleh berbagai proses (Tokiwa et al. Famili Arecaceae (Palmae). yang pada akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. tidak terurai secara alami.2. menyebutkan plastik adalah adalah polimer dari berbagai senyawa monomer. 2004). diantaranya pengemasan. sabun.1. ekstender.3. 2009). pengeras suara. 2. dan karpet). dan deterjen (Gorret et al. Polipropena (PP) adalah sebuah polimer termo-plastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi. pakaian dalam termal. tekstil (contohnya tali. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Penggunaan MAH sebagai stabilizer dapat meningkatkan adhesi atau daya ikat terhadap plastik PP (Lopes dan Sousa.

Pemanfaatan kelapa sawit hingga saat ini ditujukan hanya untuk memproduksi buah yang digunakan untuk bahan baku pembuatan minyak kelapa sawit yang berupa CPO (Crude Palm Oil) maupun KPO (Kernel Palm Oil).3. Pertumbuhan pelepah daun tiap tahun pada tanaman muda yang berumur 4 6 tahun mencapai 30 40 helai dan pada tanaman yang lebih tua berjumlah antara 20 25 helai. Hipotesis Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengatasi masalah ini maka dilakukan berbagai alternatif usaha antara lain efesiensi pemanfaatan kayu melalui pengembangan teknologi pengolahan kayu dan bahan berlignoselulosa menjadi produk papan partikel. Kerangka Konsep Melihat kondisi hutan Indonesia menunjukkan produktifitas yang semakin menurun.5 panjangnya dapat melebihi 120 cm. bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan kayu di tengah menurunnya produktifitas hutan. padahal kebutuhan kayu semakin meningkat maka timbullah sebuah permasalahan. Diduga bahwa pelepah nipah dapat dijadikan sebagai bahan baku papan partikel dengan kualitas yang baik. 2. belum dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal menjadi papan komposit. . Diduga pelepah nipah memiliki sifat fisik dan mekanik papan partikel yang baik. Penelitian ini memanfaatkan bagian dari pohon kelapa sawit yaitu pelepahnya yang masih menjadi limbah. Papan komposit dari pelepah ini menggunakan 3 ulangan dan akan direkatkan menggunakan perekat dari limbah plastik PP dan pemberian compatibilizer MH dengan tingkat konsentrasi tertentu.2. serta dikempa untuk diuji sifat fisik dan mekanik dari papan yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku papan komposit. 2. Jumlah anak daun dalam satu pelepah daun dapat mencapai 100 160 pasang. 2.

Alat dan Bahan 3. pengujian dan analisa datanya.6 III. Gelas Piala. METODOLOGI PENELITIAN 3. untuk mengempa. Bahan 1. untuk mentatal kulit kayu. MAH dilarutkan ke dalam air suling (pelarut organik) dengan konsentrasi 23%. Parang. Tempat penelitian akan menggunakan Laboratorium Workshop Fakultas Kehutanan untuk pembuatan papan sampai dengan pengujian sifat fisik dan Laboratorium milik PT. 5. 6. ukuran 10 mesh dan 80 mesh. Konsentrasi diperoleh berdasarkan pelarutan MAH pada air yang merupakan konsentrasi terendah hingga semua MAH larut dalam air.2. Alat kempa. Alat Alat yang digunakan untuk membuat papan partikel dari pelepah nipah adalah: 1. 2. Oven. 3. 4. 8. mulai dari pemgambilan bahan baku. sebagai tempat perekat. Compatibilizer yang digunakan adalah maleic anhydride atau MAH. Struder. 7. untuk mengeringkan papan partikel. untuk membuat serbuk. Ayakan. Timbangan Analitik. Cetakan dengan ukuran 30 x 30 x 20 cm. 3. untuk mengayak serbuk. Duta Pertiwi Nusantara untuk menguji sifat mekanik dari papan yang dihasilkan. Waktu dan Tempat Penelitian akan dilaksanakan selama 3 minggu. 9. 2.2.1. 3.2. 3. Plastik yang digunakan pada penelitiana ini adalah plastik yang umumnya limbah plastik masyarakat berupa gelas plastik jenis polyprophylene (PP) warna bening. Pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku papan partikel diperoleh dari kebun kelapa sawit di areal Universitas Tanjungpura. Plat alumunium ukuran 42 x 42 x 2 mm. Plastik diperoleh dari tempat pengumpul sampah plastik yang berlokasi di Kecamatan Sungai Raya Pontianak. untuk menimbang perekat.2. pembuatan papan komposit.1. 6 .

e. Pelepah yang telah kering digiling dengan mesin penggiling (struder) untuk memperoleh serbuk. d. b. f. MAH a. 3.7 4. Perlakuan awal terhadap pelepah kelapa sawit berupa pengeringan yang dilakukan dengan metode penjemuran kering angin.5 cm yang diperoleh melalui pengayakan lolos 4 mesh.1. Serbuk pelepah kelapa sawit a.1. . c. 3. Serbuk dicampur dengan perekat urea formaldehyde ke dalam plastik packing.3.1.1. Bila papan telah terbentuk maka papan dikondisikan dengan mengeringanginkannya. Pembuatan Bahan Baku Papan Partikel.3.2.1. 3. MAH dilarutkan menggunakan air suling dengan konsentrasi 23%. 3. Serbuk yang diperoleh diayak dengan ayakan 10 mesh dan 8 mesh. Duta Pertiwi Nusantara.3.3. Plastik Penggilingan plastik menggunakan mesin penggiling limbah plastik. b. sedangkan air hasil penyulingan digunakan sebagai pelarut MAH. Air yang digunakan dalam penelitian ini adalah air hujan dan air hasil penyulingan di lokasi penelitian PT. g. Keseragaman dimensi hasil penggilingan dibuat seragam mungkin dengan besaran 1 cm x 0. kemudian dimasukkan ke dalam mesin kempa selama 13 menit.3. Pelepah kelapa sawit yang telah diperoleh ditatal. Air hujan digunakan untuk pencucian plastik PP. Metode Kerja Metode kerja yang dilakukan dalam penelitian ini adalah : 3. Serbuk yang telah tercampur dengan perekat dimasukkan dalam cetakan yang telah diberi alas seng.3. MAH kristal terlebih dahulu dicacah atau dihaluskan hingga dalam bentuk serbuk.

Pengujian Sifat Fisik a. Pengujian Kadar Air. ukuran contoh yang akan dibuat adalah 30 cm x 30 cm x 1 cm. 3. 50% : 50%.4. A.3. Berdasarkan JIS A 5908-1994.7 gr/cm3. nilai kerapatan dihitung dengan rumus : Kerapatan (gr/cm3 ) = Dimana : m1 = Berat contoh uji (gr) V = Volume contoh uji (cm3 ) b. Komposisi Bahan Target dari penelitian ini adalah pembuatan papan partikel berupa komposit dengan kerapatan sedang yaitu 0.3.3. contoh uji dalam keadaan kering udara ditimbang beratnya dan kemudian diukur panjang. Contoh uji yang digunakan merupakan contoh uji yang telah digunakan untuk menguji kerapatan. Berikut komposisi bahan yang digunakan : Berat papan partikel berupa komposit : = panjang x lebar x tebal x kerapatan = 30 cm x 30 cm x 1 cm x 0.2.1. Contoh uji dikeringkan dalam oven dengan suhu 103 ± 2ºC sampai mencapai berat yang konstan. Papan partikel berupa komposit mengacu pada standar papan partikel JIS A 5908 (1994). = 630 gr Komposisi bahan baku : = serbuk pelepah : plastik PP = 40% : 60%. lebar dan tebalnya lalu dihitung volumenya (panjang x lebar x tebal).7 gr/cm3. 3% 3.8 3. dengan penambahan MAH masing-masing 2%.3. Kerapatan Pada uji kerapatan. . dan 60% : 40%. Pembuatan Contoh Uji Pada penelitian ini standar yang digunakan adalah standar Papan Partikel JIS A 5908-1994.

Nilai pengembangan contoh uji dihitung menggunakan rumus: Pengembangan Tebal (%) = ( ) x 100% Dimana : t1 = Tebal contoh uji sebelum perendaman (cm) t2 = Tebal contoh uji setelah perendaman (cm) 3. dan tebal contoh uji. Pengujian menggunakan alat penguji.3. Tahap selanjutnya setelah perendaman selesai dilakukan pengukuran dimensi yang keduakalinya. Nilai MOR dihitung dengan menggunakan rumus : MOR (kg/cm2 ) =( )    . Nilai MOE diukur menggunakan rumus : MOE (kg/cm2 ) = Dimana : S L T = Jarak sanggah (cm) = Lebar (cm) = Tebal (cm) B = Selisih beban (B1-B2 ) dinyatakan dalam (kg) D = Defleksi yang terjadi (D1-D2 ) dinyatakan dalam (cm) b. Uji MOR. Tahap awal dilakukan pengukuran tebal contoh uji. kadar air dihitung dengan rumus : Kadar Air (%) =( ) x 100% Dimana : m1 = Berat setelah kering oven (gr) m2 = Berat sebelum pengeringan oven (gr) c.9 Berdasarkan JIS A 5908-1994. Tahap awal dilakukan pengukuran dimensi panjang. dimana contoh uji diberi beban sampai batas patah. lebar. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pengujian pada contoh uji untuk menentukan kekakuan dari papan yang dihasilkan. kemudian ditentukan jarak sanggah pada alat uji. Pengujian Pengembangan Tebal. kemudian direndam dalam air suling selama 24 jam.4. Uji MOE. Pengujian Sifat Mekanik a.

diameter sekrup 2. bagan rancangan acak lengkap dapat dilihat pada Tabel 1.4. Uji Kuat Pegang Sekrup Pengujian dilakukan arah tegak lurus permukaan.10 Dimana : P = Tekanan maksimum (kg) L = Jarak sanggah (cm) b = Lebar contoh uji (cm) t = Tebal contoh uji (cm) c. prosedur pengujian yakni : tahap pertama dilakukan lubang pendahuluan pada contoh uji dengan kedalaman kira-kira 3 mm menggunakan mata bor dengan diameter 2 mm. 3. Model umum analisa statistik yang dipakai menggunakan model umum RAL menurut Gaspersz (1994). yaitu : ) Yij = µ + i + ij . Analisa Statistik Rancangan percobaan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). lalu sekrup ditarik ke atas dengan kecepatan tetap hingga mencapai beban maksimum.7 mm dan panjang 16 mm. Uji Internal Bonding (IB) Contoh uji direkatkan pada dua lempeng besi yang terdapat pada alat contoh uji. Jumlah keseluruhan contoh uji yang akan dibuat adalah 9 x 3 = 27 satuan unit contoh uji. Faktor perlakuan adalah komposisi serbuk pelepah dan plastik PP dengan penambahan MAH dengan perlakuan sebagai berikut : Pada penelitian ini. Menurut JIS A 59081994. untuk mencapai keakuratan maka dilakukan ulangan sebanyak 3 kali. Contoh uji diklem pada sisi kanan dan kiri. Sekrup dimasukkan melalui lubang kira-kira 11 mm. Pengujian dilakukan dengan kedua lempeng tegak lurus sampai terjadi kerusakan. yaitu sampai sekrup tercabut. Nilai IB dihitung menggunakan rumus : IB (kg/cm2 ) =( Dimana : P = Beban maksimum (kg) b = Lebar contoh uji (cm) L = Panjang contoh uji (cm) d.

JKP d. KTP = = =   Ulangan 2 3 Jumlah (Yi) Rerata Yi FK FK = JKT = JKP f. Bagan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan Perlakuan 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total (Yj) Rerata Total Adapun rumus yang digunakan untuk analisa data setelah semua data hasil pengamatan tersusun di dalam bagan. JKT c. yaitu : a. FK b.11 Dimana: Yij = Nilai pengamatan dari setiap contoh uji µ = Nilai tengah umum i = Pengaruh komposisi serbuk pelepah dan plastik dengan penambahan MAH ij = Pengaruh galat percobaan Tabel 4. Fhit = Untuk mengukur besarnya variasi penyebaran digunakan rumus koefisien keseragaman (KK) yang dinyatakan dalam persen (%). yaitu : . JKG e. KTG = g.

berarti perlakuan memiliki pengaruh yang nyata terhadap respon yang diamati. untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan yang berpengaruh. b. maka hasil T dihitung dan dibandingkan dengan T tabel pada tingkat kepercayaan 1% dan 5%. yaitu : a. . = Kesalahan baku. Perlu dilakukan pengujian melalui uji BNJ (Beda Nyata Jujur) apabila perlakuan berpangaruh nyata dan sangat nyata. Jika F hitung < T tab 5%. Jika T tabel 5% ” T tabel 1%. fe) SY Dimana : W = Beda Nyata Jujur. = Banyaknya perlakuan yang dibandingkan. berarti perlakuan mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap respon yang diamati. = Derajat bebas galat. Uji BNJ adalah sebagai berikut : W = q (p. berarti perlakuan tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap respon yang diamati.12 KK = Dimana : KTG = Kuadrat tengah galat  x 100% Rerata x = Rerata hasil pengamatan Berdasarkan rumus perhitungan di atas. q p fe SY = Nilai rerata yang diperoleh dari tabel nyata 5% dan 1%. c. Analisa Sidik Ragam Percobaan Rancangan Acak Lengkap Sumber Keseragaman Perlakuan Galat Total db (t-1) t (r-1) tr-1 JK JKP JKG JKT KT KTP KTG F hitung KTP/KTG KK (%) T tabel 1% 5% Berdasarkan analisa keseragaman tersebut. Tabel 5. Jika F hitung > T tabel 1%. yaitu nilai yang dipakai untuk menilai setiap perbedaan yang dilihat dalam penelitian. tabel analisa sidik ragam seperti pada Tabel 5.

1989. and Seiichi A. 2010. (Diunduh tanggal 10 Januari 2012). Mehdi Behzad. Yogyakarta. Setyawati. (18December2003). Sousa. the State of The art and Future development of Bio-Based Composite Science and Technology Towards The 21st Century. V. Int. Sci. Haygreen JG dan JL Bowyer. USA. A. Miller Freeman Inc. Othman. Suatu Pengantar. Lopes. Physical and Mechanical Properties of Particleboard from Bamboo Waste. Charles UU.net/702 07134/dina setyawati. Tajvidi and Ghambar Ehramini. 1359-1365 (2001). Rowel RM. SPE-ANTEC Tech. M. Procedings of The Forth Pacific Rim Bio-Based Composites Symposium. Bangkok. J. Influence of Interphase Characteristics on Mechanical Properties of Polypropylene/Glass Fiber Composites with PP-g-MAH Interfacial Compatibilizer. Universiti Sains Malaysia. 2004. J.) dan Plastik Polyprophylene (PP). E. 2002. Biodegradability of Plastics. http :tumoutu. Forest Product Laboratory. Pontianak (Skripsi). and Anthoni JS. Komposit Serbuk Kayu Plastik Daur Ulang : Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Kayu dan Plastik. Sheldon. Thailand. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Philip AL. Maloney TM. (26 August 2009). Bogor. P. Sifat Fisik dan Mekanik Papan Komposit dari Limbah Batang Kelapa Sawit (Elaeis sp. Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. USDA Forest Service WI. pp. 2007. T. N. 2003. Buenaventurada PC. Dynamic Mechanical Analysis of Compatibilizer Effect on The Mechanical Properties of Wood Flour-High Density. Engineering and Technology. 10. Laemlaksakul. Mol. Bioreactor culture of oil palm (Elaeis guineensis Jacq and effect of nitrogen source. Chokyun R. Simangunsong. . World Academy of Sience. Iran. Program Pasca Sarjana/S3 Institut Pertanian Bogor (Makalah Falsafah Sains). D. Rosli. inoculums size. Terjemahan Gadja Mada University Press.htm. Characterisation And Properties Of Bentonite/Polypropylene Composite. Modern Particleboard & Dry-Process Fiberboard Manufacturing. 1998.13 DAFTAR PUSTAKA Garret N.San Fransisco. 1993. Journal of Biotechnology 108(2004)253 263. Tokiwa Y. Papers. 2009. and conditioned medium on biomass production.

14 Jurnal Bahasa Asing 1. ChoKyun Rha. Sinskey. Penerbit dan Vol : SPE-ANTEC Tech. Anthony J. and Seiichi Aiba. . Mol. Sheldon F. : Yutaka Tokiwa. Judul Pengarang : Biodegradability of Plastics. Oppenheimb. Willis. Penerbit dan Vol : . Lessard. inoculums size. E. Sci. Judul : Influence of PP-g-MAH Compatibilizer Characteristics on Interphase and Mechanical Properties of Glass Fiber Reinforced Polypropylene Composites. (2003). pp. Lopes dan J. Judul : Bioreactor culture of oil palm (Elaeis guineensis Jacq and effect of nitrogen source. Buenaventurada P. A. 2. Charles U. Pengarang : P. Calabia. Pengarang : Nathalie Gorret . 3. J. Int. Sousa. Ugwu. 1359-1365 (2001). Papers. Penerbit dan Vol : Journal of Biotechnology 108(2004)253±263. 10. Philip A. Samsul Kamal bin Rosli. and conditioned medium on biomass production. Laura B.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->