2.2 Konsep Dasar Kuretase 2.2.

1 Pengertian - Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan) - Kuretase adalah serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrument (sendok kuret) ke dalam kavum uteri 2.2.2 Langkah 2.2.2.1 konseling pra tindakan: a. memberi informed consent b. menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita c. menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase yang akan dilakukan:  garis besar prosedur tindakan  tujuan dan manfaat tindakan d. memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan pasien dipuasakan 2.2.2.2 persiapan tindakan a. menyiapkan pasien 1. mengosongkan kandung kemih 2. membersihkan genetalia eksterna 3. membantu pasien naik ke meja ginek b. persiapan petugas 1. mencuci tangan dengan sabun antiseptik 2. memakai sarung tangan steril/DTT c. persiapan alat dan obat 1. curettage set 2. curettage suction set 3. uterotonika 4. petidine dan diazepam 5. spul injeksi 2.2.2.3 tindakan kuretase 2.2.2.4 tindakan pasca kuretase 1. menyiapkan bahan untuk pemeriksaan hispatologi 2. melakukan dekontaminasi alat dan bahan bekas operasi 3. melakukan observasi keadaan umum pasien hingga kesadaran pulih 2.2.2.5 konseling pasca tindakan 1. menerangkan kepada pasien akan tanda-tanda kemungkinan terjadinya komplikasi, perdarahan, atau infeksi 2. minta pada pasien agar segera dating ke klinik bila ada keluhan/ komplikasi 3. minta pada pasien untuk dating control (1 minggu kemudian) 4. memberi penjelasan tentang obat yang harus diminum sesuai resep

gawat janin Fase aktif memanjang 4. Oleh sebab itu maka petugas kesehatan atau bidan harus benar-benar tahu atau paham tentang perbedaan persalinan sesungguhnya dan persalinan palsu yaitu . Bila penderita merasakan nyeri yang sangat berat berikan analgetik Diagnosis Menurut Suprijadi dalam buku asuhan intrapartum pada fase laten memanjang ini memungkinkan terjadinya partus lama. kelainan serviks. 2. Perbaiki keadaan umum dengan memberikan dukungan psikologis. Diagnosa partus lama ialah : Tanda dan Gejala Diagnosa 1. tanda ruptura uteri imins.Definisi Fase Laten Memanjang Menurut Sarono Prawirohardjo dalam buku pelayanan maternal dan neonatal fase laten memanjang adalah suatu keadaan pada kala I dimana pembukaan serviks sampai 4 cm dan berlangsung lebih dari 8 jam. Pembukaan serviks melewati kanan garis waspada partograf a. His tidak efisien (adekuat) 2. Jika tidak ada ketuban yang mengalir setelah selaput ketuban pecah. 4. sedangkan his baik c. Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur Fase laten memanjang 3. Etiologi Menurut Rustam Mochtar (Sinopsis Obstetri) pada dasarnya fase laten memanjang dapat disebabkan oleh : 1. Periksa DJJ selama atau segera setelah His. Hal ini menyebabkan tindakan operasi SC yang kurang perlu dan sering menyebabkan amnionitis. terdapat moulase hebat. Jika ketuban sudah pecah. air ketuban kehijau-hijauan atau bercampur darah. pikiran kemungkinan gawat janin 3. ibu ingin mengedan. Pembukaan serviks lengkap. oedema serviks. tetapi tidak ada kemajuan penurunan Kala II lama Kekeliruan melakukan diagnosa persalinan palsu menjadi fase laten menyebabkan pemberian induksi yang tidak perlu yang biasanya sering gagal. tumor) 4. Tali pusat pendek 3. pertimbangkan adanya indikasi penurunan jumlah air ketuban yang mungkin juga menyebabkan gawat janin. vagina. Faktor jalan lahir (panggul sempit. Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tak maju dengan caput. Serviks tidak membuka Tidak didapatkan his/his tidak teratur Belum inpartu 2. Maka dari itu bidan harus bisa mengidentifikasi keadaan ini dengan baik. Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tidak maju. Berikan cairan baik secara oral atau parenteral dan upayakan BAK. Kesalahan petugas kesehatan memastikan bahwa pasien sudah masuk dalam persalinan (inpartu) atau belum Faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain. Penilaian Klinis Menurut Sarwono Prawirohardjo menentukan keadaan janin : 1. Frekuensi his kurang dari 3 x his per 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik b. Hitung frekuensinya sekurang-kurangnya 1 x dalam 30 menit selama fase aktif dan tiap 5 menit selama fase laten kala II.

Tentukan apakah pasien benar-benar inpartu c. kaji ulang diagnosisnya kemungkinan ibu belum dalam keadaan inpartu 2. Tidak ada perubahan internal antara nyeri yang satu dan yang lain d. Penanganan secara khusus Apabila ibu berada dalam fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda kemajuan. maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan dan mengedan dengan tidak menahan napas terlalu lama d. lakukan pemeriksaan dengan jalan penilaian ulang serviks : 1. Tidak ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi uterus dengan intensitas rasa nyeri h. Rasa nyeri berada dibagian perut bagian bawah dan menjalar ke belakang f. Waktu dan kekuatan kontraksi bertambah e. Perhatikan DJJ 2. Persalinan Semu a. Bila ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostoglandin. Bila tidak ada perubahan penipisan dan pembukaan serviks serta tak didapatkan tanda gawat janin. Tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin j. Lakukan drip oksitosin dengan 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl mulai dengan 8 tetes per menit. Rasa nyeri tidak teratur c. Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan intensitas rasa nyeri h. setiap 30 menit ditambah 4 tetes sampai His adekuat (maksimum 40 tetes/menit) atau diberikan preparat prostaglandin. Penanganan secara umum (menurut Sarwono Prawirohardjo) a. Tidak ada lendir darah i. Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah O2 ke plasenta. Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam. Bila ibu tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin lakukan seksio sesarea. . Persalinan sesungguhnya a.dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1. Dengan berjalan menambah intensitas g. Nilai secara cepat keadaan umum wanita hamil tersebut termasuk tanda-tanda vital dan tingkat hidrasinya. Tidak ada perubahan serviks b. Internal antara rasa nyeri yang secara perlahan semakin pendek d. Kebanyakan rasa nyeri dibagian depan saja f. Pemberian obat penenang tidak menghentikan proses persalinan sesungguhnya k. Kepala janin terfiksasi di PAP diantara kontraksi j. Kepala belum masuk PAP walaupun ada kontraksi k. Pemberian obat yang efisien menghentikan rasa nyeri pada persalinan Penatalaksanaan 1. Serviks menipis dan membuka b. jika ya pertimbangkan pemberian analgetik. Lendir darah sering tampak i. Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan kontraksi e. Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan berjalan g. Apakah ia kesakitan dan gelisah. b. Ada penurunan kepala bayi 2. Rasa nyeri dengan internal teratur c.

Pada daerah yang prevelensi HIV tinggi.html . http://www. cairan vagina berbau) lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl mulai dengan 8 tetes permenit setiap 15 menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (maksimum 40 tetes/menit atau diberikan preparat prostaglandin. serta berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan yaitu amplisilin 29 gr IV.com/2010/05/fase-laten-memanjang.3.bascommetro. Sebagai dosis awal dan 1 gr IV setiap 6 jam ditambah dengan gestamisin setiap 24 jam. dianjurkan membiarkan ketuban tetap utuh. Jika terjadi persalinan pervaginam stop antibiotika pasca persalinan 6. 5. Jika dilakukan seksiosesarea. selama pemberian oksitosin untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penularan HIV 4. lanjutkan antibiotika ditambah metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam. Bila didapatkan tanda-tanda infeksi (demam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful