P. 1
Evaluasi Pembelajaran Model CIPP

Evaluasi Pembelajaran Model CIPP

|Views: 1,374|Likes:
Published by Ahmad Siswanto

More info:

Published by: Ahmad Siswanto on Feb 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2013

pdf

text

original

MAKALAH MENGEVALUASI KURIKULUM PESANTREN RAMADHAN DI YAYASAN PENDIDIKAN AS-SYUHADA BLIMBING KOTA MALANG BERDASARKAN MODEL CIPP Makalah

Ini Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Semester III

Mata Kuliah EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN

Disusun Oleh Drs. Wahyu Widodo, M.BA NPM. 210101060

Pascasarjana Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang ( UNISMA ) 2012

Menyeluruh karena evaluasi juga difokuskan pada seluruh pihak yang terkait dalam praktik pendidikan dan pengimplementasian kurikulum. (2) isi atau materi. penulis hanya memilih model evaluasi kurikulum kuantitatif. mendasar. proses pembelajaran. terpadu. Pendahuluan Di Indonesia kurikulum telah mengalami beberapa kali perubahan.Alasan pemilihan model ini untuk mengevaluasi kurikulum (terutama kurikulum Pendidikan Agama di Yayasan Pendidikan Islam As-Syuhada) adalah karena model ini ber-sifat mendasar. karena mencakup objek-objek inti kurikulum yaitu tujuan. Evaluasi kurikulum merupakan salah satu komponen inti kurikulum. model pendekatan sistem Alkin . dan model CIPP. B. model teoretik Taylor dan Maguire. Di dalam mengevaluasi kurikulum banyak model yang ditawarkan oleh pakar evaluasi kurikulum. Input. dan terpadu. Menurut Ornstein danHunkins (1985: 261) model evaluasi kurikulum secara garis besarnya ada dua. Process. materi. Bersifat mendasar. Menurut Zais (1976: 439) komponen-komponen integral suatu kurikulum adalah (1) tujuan. menyeluruh. Perubahan itu belum didasari oleh hasil evaluasi kurikulum secara profesional. (3) aktivitas-aktivitas pembelajaran. dan bahkan lebih cenderung bersifat politis (ganti Menteri ganti kurikulum). yaitu: (1) sosiologis. Product (CIPP ) yang dikembangkan oleh Daniel Stuffle¬beam. menyeluruh dan terpadu. Tetapi yang terjadi di negara kita adalah bahwa perubahan itu lebih banyak karena faktor politisnya ketimbang yang lain. dari kurikulum 1984 ke kurikulum 1994. Bahkan yang lebih menyedihkan kita adalah bahwa perubahan dari suatu kurikulum ke kurikulum berikutnya bukan pula didasarkan pada hasil evaluasi kurikulum yang dilakukan secara mendasar. khususnya model Context. Permasalahan Permasalahan utama yang diajukan dalam makalah ini adalah"Bagaimana cara menerapan model CIPP dalam mengevaluasi kurikulum (termasuk dalam mengevaluasi kurikulum Pendidikan Agama menjadi kurikulum Pesantren Ramadhan)?" . dan (4) evaluasi. Sedangkanterpadu karena proses evaluasi ini melibatkan seluruh pihak yang terkait dalam praktik pendidikan terutama siswa. Untuk keperluan makalah ini. Dengan dasar pemikiran itu kegiatan evaluasi kurikulum merupakan kegiatan yang amat mendasar bagi pengembangan kurikulum. model Countenance Stake. dan dari kurikulum 1994 ke kurikulum 2004 (Ansyar. dan evaluasi itu sendiri. menyeluruh. Ke dalam model ini termasuk model studi kasus dan model iluminatif. (2) Model kuantitatif seperti model evaluasi kurikulum ala Tyler. (2) ideologis. 2000: 2). yaitu perubahan dari kurikulum 1974 menjadi kurikulum 1984. yakni: (1) model evaluasi kurikulum yang bersifat kualitatif. 1994: 5). dan (3) ontologis (Nasution. Kita memang tidak bisa memungkiri bahwa perubahan kurikulum (termasuk perubahan kurikulum kurikulum Agama yang dikembangkan menjadi kurikulum Pesantren Ramadhan) itu mutlak diperlukan karena tiga faktor utama.A.

maka rancangan-rancangan itu sendiri perlu selalu disesuaikan dengan berbagai perkembangan dan perubahan yang terkait dengan siswa. ada empat jenis keputusan yang dapat dirumuskan yaitu: (1) keputusan tentang perencanaan. Sementara itu. Sebagaimana layaknya suatu dokumen yang berisi rancangan tindakan.. (3) proses. 1985: 252) mendefinisikan evaluasi sebagai ". (3) serangkaian pengalaman pembelajaran yang direncanakan. (2) keputusan tentang penstrukturan. dan (4) keputusan tentang proses pengulangan. Evaluasi tentang proses dimaksudkan . yaitu: (1) pengungkapan informasi yang dibutuhkan. mendapatkan. misalnya bagaimana sistem sekolah yang baik.C. (2) pengumpulan data. Sebagai suatu dokumen tertulis. Daniel Stuffbeam (dalam Ornstein dan Hunkins. Evaluasi tentang konteks dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang cermat tentang lingkungan pembelajaran siswa. Jadi. guru. dievaluasi pengaruh keputusan-keputusan manajemen yang terkait dengan kurikulum. termasuk di dalamnya tujuan pelaksanaan evaluasi. tuntutan masyarakat dan keilmuan. Evaluasi tentang input atau masukan dimaksudkan untuk mengembangkan informasi bagaimana pengembangan sumber-sumber pembelajaran yang relevan dengan tujuan-tujuan program yang ditetapkan. 2. (2) masukan. Keputusan tersebut adalah: (1) keputusan-keputusan yang terkait dengan pengembangan pembelajaran. yaitu: (1) suatu program belajar.. kurikulum tidak bersifat menetap atau abadi. dan mengembangkan informasi yang berguna bagi penetapan alternatif-alternatif keputusan". Dalam evaluasi model CIPP. Berdasarkan hal itu. (4) pengalaman-pengalaman yang akan dijalani siswa di sekolah atau lembaga pendidikan. dan kualitas perubahan itulah diperlukan evaluasi. Hakikat Kurikulum Prayitno (2004: 52) memandang kurikulum sebagai pendukung pendidikan. Pembahasan 1. kuantitas. dan (4) produk. (3) keputusan tentang pengimplementasian. (2) materi suatu pembelajaran. dan (6) suatu rancangan tindakan. dapat ditetapkan serangkaian tujuan. Proses utama pengevaluasian ada tiga. Sesuai dengan jenis keputusan yang diambil. yang dimaksudkan dengan kurikulum adalah suatu rancangan tindakan yang tertulis. Berdasarkan pengevaluasian. Tipetipe tersebut adalah: (1) konteks. (2) keputusan-keputusan yang terkait dengan para individu seperti guru dan siswa. diklasifikasikan empat tipe pengevaluasian. Pakar ini membagi tiga tipe keputusan yang dapat diambil sebagai tindak lanjut evaluasi. serta bagaimana peraturan-peraturan tentang warga sekolah. Untuk menentukan karakteristik. dan (3) pengembangan informasi terhadap hal-hal penting.serta (3) keputusan-keputusan yang terkait dengan peraturan administratif sekolah. Dalam makalah ini. Zais (1976: 7--9) mengungkapkan enam hakikat kurikulum. Hakikat Evaluasi Kurikulum Model CIPP Inti evaluasi adalah untuk mengambil keputusan tentang kurikulum dalam arti luas. proses menggambarkan. teknologi pembelajaran. kurikulum dipandang sebagai salah satu dokumen tertulis. (5) serangkaian hasil belajar yang distrukturkan secara serial.

Dalam tahap ini. guru. 3. serta product. Apakah sekolah itu merupakan sekolah induk atau inti dan yang lain merupakan sekolah imbas. dilakukan uji-coba pelaksanaan kurikulum di suatu lembga pendidikan atau beberapa sekolah yang ditetapkan sebagai pilot-proyek. Langkah-Langkah Penerapan Model CIPP dalam Mengevaluasi Kurikulum Langkah-langkah penerapan model CIPP dalam mengevaluasi kurikulum adalah sebagai berikut: a) Perencanaan Evaluasi Pada tahap ini direncanakan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan evaluasi. Pemfokusan terhadap Fenomena Kurikulum yang akan Dievaluasi Pada tahap ini. (3) management.ataukah sekolah tertentu. ditetapkan fokus evaluasi: apakah keseluruhan sekolah. yaitu waktu mulai dari perencanaan evluasi serta pelaporan dan perekomendasian hasil. dan wakil-wakil masyarakat yang mewakili orang tua siswa maupun profesi tertentu yang menonjol. Informasi juga dikaitkan dengan deskripsi tentang content atau materi pembelajaran.untuk mengembangkan pengawasan dan pengelolaan program pembelajaran sebagai hasil pengimplementasian kurikulum. Perencanaan tersebut mencakup bidang (1)man atau orang-orang yang akan dilibatkan dalam evaluasi. Jika product belum dihasilkan. tidak mungkin dilaksanakan evaluasi kurikulum. (2)money. evaluator melaksanakan pengumpulan informasi. anggaran yang dibutuhkan dan harus disediakan dalam pelaksanaan evaluasi. terutama terkait dengan kesesuaian proses dengan materi dan input serta aspek sarana danprasarana lainnya. pimpinan sekolah. yakni: 1). 2). Informan yang diharapkan adalah pihak-pihak yangterutama terkait langsung dengan proses pembelajaran. para evaluator menetapkan apa yang akan dievaluasi dan apa desain yang digunakan. Pengumpulan Informasi Pada tahap ini para evaluator mengidentifikasikan sumber-sumber informasi yang esensial serta alat-alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut. pengorganisasian pelaksanaan evaluasi. . baik penetapan struktur organisasi. Evaluasi tentang produk dimaksudkan untuk menetapkan apakah keluaran atau hasil pembelajaran itu sesuai dengan apa yang diharapkan dan digariskan dalam rumusan-rumusan tujuan. komite sekolah. input terutama kesiapan dan peran serta input. process. b) Pelaksanaan Evaluasi Ada beberapa langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan evaluasi kurikulum berdasarkan model CIPP ini. tata usaha. serta (4) time. ruanglingkup tugas dan tanggung jawab maupun pendelegasian kewenangan. Untuk itu. misalnya siswa. Sesudah semuanya disiapkan.

c) Pelaporan Informasi Hasil Evaluasi Pada tahap ini. laporan akhir hendaknya memuat rincian data statistik. stake holder. Spesifikasi teknik yang digunakan tergantung pada fokus evaluasi dan alat evaluasi yang digunakan. D. Pengorganisasian informasi mencakup pengodean. Maksudnya seorang anak belajar agama dalam satu semester 2 X 45’ X 20 Mg = 1800’ atau setara dengan 30 jam. siswa. dan penyiapan untuk saji-ulang informasi. Selain itu. dan penyesuaian tetap diperlukan sebab berbagai kekuatan yang mempengaruhi sekolah selalu menghendaki adanya perubahan. masyarakat. Pada tahap perencanaan pihak yayasan merencanakan dan memberdayakan sumber dana dan sumber daya manusia (guru. Pada Yayasan Pendidikan Islam As-Syuhada telah diambil suatu kebijakan untuk memberlakukan kurikulum pesantren Ramadhan sebagai pemantapan kurikulum pendidikan Agama di satuan pendidikan Dasar. 4) Penganalisisan Informasi Pada tahap ini. pemodifikasian. evaluator memilih dan mengembangkan teknik-teknik analisis informasi yang memadai. Implikasi Model Evaluasi Kurikulum Pesantren Ramadhan Sesuai langkah-langkah evaluasi kurikulum model CIIP di atas. dan pengambil kebijakan) untuk mengevaluasi kurikulum pendidikan agama Islam untuk setiap satuan pendidikan. Pengorganisasian Informasi Para pengevaluator mengorganisasikan informasi agar mudah diinterpretasikan dan dimanfaatkan oleh audiens (dalam hat ini kelompok evaluator).3). d) Pendaur-ulangan Informasi Keberlanjutan informasi dan evaluasi sangat diperlukan dalam pengembangan kurikulum. Ini berarti dalam satu tahun anakbelajar agama hanya 60 jam dengan muatan materi 75% teori dan 25% praktik. Kemudian dilaksanakan evaluasi kurikulum dan dari hasil evalusai itu diperoleh data bahwa kurikulum pendidikan agama yang diberlakukan di setiap satuan pendidikan di Kota Malang kurang mampu memberdayakan kompetensi siswa untuk melaksanakan praktik. penyimpanan. Berdasarkan data pelaksanaan kurikulum Agama pada setiap satuan pendidikan itu jelas anak SK dan KD (Kompetensi Dasar) serta indikator-indikator yang berhubungan dengan praktik . Fenomena di atas di sebabkan karena berdasarkan hasil evaluasi dengan model menerapkan model CIPP. Pada tahap ini ditetapkan apakah akan digunakan cara formal maupun informal. Meskipun berdasarkan hasil evaluasi ternyata kuri¬ulum tersebut sudah memadai. ternya minggu efektif untuk belajar agama dalam satu tahun hanya 40 minggu atau 20 minggu per semester. namun pemberian umpan batik. para evaluator menetapkan cara terbaik untuk melaporkan hasil evaluasi. pengorganisasian.

Saran Hasil telaah kepustakaan membuktikan bahwa evaluasi kurikulum model CIPP ini sangat populer dan dilaksanakan secara terprogram di AS. Penerapan model CIPP memerlukan dana yang relatif besar. karena mencakup objek-objek inti kurikulum yaitu tujuan. maka kelemahan ini dapat diatasi.5 jam. materi. hasil evaluasi dapat digeneralisasikan dan dijadikan sebagai sumber pertimbangan pengambilan keputusan terhadap kurikulum yang berlaku.0 jam.5 jam. Selain itu. dan malam hari 2. dan terpadu. maka seorang anak akan belajar agama di Mesjid. Kelemahan utama penerapan model CIPP adalah dalam hal pembiayaan. dan evaluasi itu sendiri. jika model ini diterapkan dalam wilayah terbatas. Oleh karena itu dengana adanya otonomi pendidikan berlandaskan pada KTSP maka Yayasan Pendidikan Islam As-Syuhada membuat kurikulum pendidikan agama yang dinamakan dengan kurikulum pesantren Ramadhan. Bersifat mendasar. Namun. E. Simpulan Berdasarkan kajian teoretis dan penerapan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa model CIPP merupakan model evaluasi kurikulum terbaik karena bersifat mendasar. Kurikulum ini didesain untuk dilaksanakan dalam 20 hari kegiatan dengan rincian kegiatan sebagai berikut. Bersifat terpadu karena proses evaluasi ini melibatkan seluruh pihak yang terkait dalam praktik pendidikan terutama siswa. Ini berarti seorang anak dalam satu hari akan belajar agama sebanyak enan jam. Oleh karena kurikulum ini didesain untuk 20 hari. siang hari 2. berdasarkan penerapan evaluasi kurikulum model CIPP pada wilayah terbatas. F. Dengan desain kurikulum agama ini jelas kelihatan bahwa terdapat kenaikan jam belajar dari 60 jam per tahun (2 semester) menjadi 120 jam belajar selama 20 hari dalam bulan Ramdahan. proses pembelajaran. menyeluruh. Mushalah atau langgar sebanyak 120 jam dengan muatan isi kurikulum praktik 75% dan teori 25%. Bersifat menyeluruh karena evaluasi juga difokuskan pada seluruh pihak yang terkait dalam praktik pendidikan dan pengimplementasian kurikulum. Seorang anak pada pagi hari akan belajar agama selama 1.tidak akan terwujud. Oleh karena itu. . sudah saatnya pengembangan dan perubahan kurikulum (termasuk perubahan kurikulum bidang studi lainnya) di Indonesia hendaknya juga didasarkan atas pengevaluasian kurikulum model CIPP. Demikian juga perbandingan materi 75 % teori plus 25% praktik dalam kurikulum sekolah menjadi 75% praktik plus 25% teori dalam kurikulum pesantren Ramadhan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->