P. 1
METODE ANALISIS PERENCANAAN

METODE ANALISIS PERENCANAAN

|Views: 471|Likes:
Published by Westi Susi Aysa

More info:

Published by: Westi Susi Aysa on Feb 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2014

pdf

text

original

METODE ANALISIS PERENCANAAN I. Analisis Investasi dan Biaya Pembangunan a. Analisis Ekonomi Lahan b.

Contoh Analisis Proyek Pembangunan Analisis capital budgeting: proyek pembangunan gedung pameran Anastasia Yudhiana Widiyastuti Deskripsi Dokumen: http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=111283&lokasi=lokal -----------------------------------------------------------------------------------------Abstrak

Industri pameran di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini berkembang dengan cukup pesat, yang ditandai dengan makin banyaknya jenis dan jumlah pameran yang diselenggarakan dan makin menjamurnya kegiatan bisnis penyelenggaraan pameran di berbagai kota besar seperti halnya di Jakarta. Hal ini didukung pula dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mulai membaik sejak krisis ekonomi tahun 1997, yang salah satunya ditandai dengan meningkatnya sektor konsumsi. Faktor lain yang mendukung pertumbuhan industri pameran adalah menguatnya nilai tukar rupiah yang terus konsisten dari tahun 2003. Pesatnya perkembangan industri pameran di Indonesia, tidak hanya berdampak pada makin banyaknya event organizer yang bermunculan tetapi juga memberikan peluang untuk bertambahnya tempat-tempat penyelenggaraan pameran (hall) balk di Jakarta maupun dibeberapa daerah di Indonesia. Peluang ini mendorong PT. "X" sebagai salah satu exhibition organizer di Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya dengan rencana untuk membangun sebuah gedung pameran baru di Jakarta dengan tujuan memberikanalternatif lain tempat penyelenggaraan pameran di lokasi yang strategis yang mudah dijangkau oleh para pengunjung pameran dan dengan luas serta fasilitas penunjang yang bertaraf internasional. Membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia, berpengaruh pula pada sektor properti yang terlihat dari maraknya kembali pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan juga perumahan. Pertumbuhan ekonomi yang membaik juga mendorong kegiatan investasi di sektor properti termasuk pula dengan pembangunan gedung untuk pameran, mengingat permintaan akan space untuk pameran terus meningkat. Analisis finansia! dilakukan dengan melihat proyeksi cashflow dari proyek pembangunan gedung pameran. Proyeksi cash inflows berasal dari pendapatan sewa Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 1

Dari aspek financial proyek pembangunan gedung pameran (exhibition hall) ini layak dilaksanakan karena memberikan Net Present Value yang positif. tingkat pengembalian investasi yang tinggi serta periode pengembalian yang cukup cepat. Sistem transportasi yang efisien ini menggunakan pertimbangan ekonomi sebagai acuan dalam investasi sarana dan prasarana transportasi. nilai waktu. Oleh karena itu Pemerintah perlu mengedepankan pentingnya transportasi sebagai urat nadi perekonomian. biaya operasional dan biaya lain terkait dengan pembangunan gedung pameran yang harus disediakan. II. pengaturan serta sarana untuk mendukung sistem transportasi yang efisien. optimalisasi lalu lintas serta investasi pada infrastruktur transportasi termasuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi parameter-parameter biaya dan manfaat. Beberapa kriteria Capital Budgeting yang akan dipergunakan untuk menganalisis kelayakan investasi yang akan dilakukan antara lain adalah Net Present Value. pelabuhan. terminal. seperti biaya investasi. memperhatikan aspek akuntansi yang perlu dilakukan dalam kajian infrastruktur transportasi. Internal Rate of Return dan jugs menghitung Payback Period dari proyek. Beberapa asumsi umum yang berkaitan dengan kondisi makro ekonomi Indonesia dan asumsi yang berkaitan dengan pembangunan gedung pameran akan mendasari proyeksi tersebut. Proyeksi cash outflows terdiri dari biaya konstruksi. pertumbuhan ekonomi diperlukan pengembangan jalan. biaya operasi kendaraan. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 2 . distribusi dan konsumsi masyarakat.dan pendapatan lainnya seperti pendapatan parkirdan penggunaan fasilitas lain dalam gedung. Ekonomi transportasi meliputi prinsip-prinsip analisis dan penerapan konsep ekonomi teknik dalam penggunaaan/pengoperasian moda transportasi. Dalam perencanaan transportasi untuk memenuhi permintaan kebutuhan transportasi yang senantiasa meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. maka akan dilakukan pula analisis sensitivitas yang merupakan analisis untuk melihat dampak perubahan yang terjadi terhadap proyeksi cashflow. serta menerapkan beberapa metoda kajian kelayakan investasi. Mengingat proyek yang akan dilakukan merupakan bentuk investasi jangka panjang yang dapat berakibat terjadinya perubahan-perubahan dari asumsi yang digunakan. Analisis Ekonomi Transportasi Ekonomi transportasi adalah salah satu cabang ilmu ekonomi tentang kegiatankegiatan yang berhubungan dengan transportasi untuk kebutuhan produksi. operasi dan pemeliharaan. dan besaran ekonomi lainnya. aman dan lancar serta berwawasan lingkungan.

dengan 1 file Keyword : Pemodelan . merupakan salah satu sumber pendapatan yang biasa digunakan diberbagai Negara didunia karena semakin banyak berjalan semakin banyak bahan bakar yang dipakai yang berarti semakin besar sumbangan terhadap dana transportasi. merupakan suatu pungutan kepada masyarakat yang akan memasuki suatu kawasan (biasanya dipusat kota) dengan tujuan untuk mengurangi beban lalu lintas di kawasan yang dikendalikan itu. sedangkan pembiayaan dari swasta diperoleh dari pengguna sistem yang dibangun oleh swasta seperti pada jalan tol. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 3 . Dept. Stockholm dan beberapa kota lainnya. kebiasaan bermoda transportasi.Pembiayaan proyek transportasi diperoleh dari dua sumber yaitu pemerintah dan swasta. Sumber pembiayaan/preservasi transportasi bisa diperoleh dari berbagai sumber di antaranya: pajak bahan bakar. Walaupun itu pendapatan dari sektor transportasi masuknya adalah ke kas daerah. Pajak kendaraan bermotor. Analisis Biaya Transportasi Contoh Kasus : Pemodelan Biaya Transportasi Mahasiswa Dengan Analisis Regresi Linier Berganda (Studi Kasus Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang) Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-11-10 06:06:00 Oleh : Ernida Yusanti (97520155 ) dan Tian Wijiastuti (97520199). Retribusi parkir. Biaya. sumber pendanaan pemrintah berasal dari anggaran pembangunan baik pusat maupun daerah. Retribusi pengendalian lalu lintas. Pemodelan pada studi ini dilakukan terhadap biaya transportasi mahasiswa ke kampus dengan menggunakan metode regresi linier berganda. di Indonesia pajak ini merupakan primadona pajak daerah. yang berkarakteristik mandiri dalam memilih tempat kost dengan pertimbangan jarak. merupakan pajak tahunan yang masuk ke kas daerah. London. merupakan salah satu bentuk yang juga digunakan untuk mengendalikan jumlah kendaraan yang menuju atau masuk ke suatu kawasan. a. Sudah diterapkan diberbagai kota di antaranya Singapore. dan harga sewa yang beragam. Regresi Linier Berganda Keberadaan mahasiswa yang menempuh pendidikan di kota Malang membentuk suatu komunitas yang biasa disebut komunitas mahasiswa kost/kontrak. dan anggaran biaya transportasi yang mempengaruhi tingkat mobilitas mereka. of Civil Eng Dibuat : 2002-10-22. pola pembiayaan hidup.

dan y Dimana atau diantara tempat mana barang tersebut diangkut Disamping itu juga terdapat faktor lainnya yang tersangkut. sehingga didapatkan bentuk pemodelan biaya transportasi mahasiswa ke kampus. dana transportasi.(D3) 10628.(D4) b. yaitu jika jasa spesial diperlukan atau perlu diberikan kepada barang yang diangkut.10. Pengambilan data dilakukan dengan metode kuisioner terhadap 934 mahasiswa yang merupakan 1/10 dari seluruh populasi mahasiswa. Untuk selisih pertambahan atau penghematan biaya transportasi mahasiswa ke kampus akibat pengaruh moda sepeda motor sebesar Rp.374.Model analisa regresi dibuat dalam bentuk persamaan hubungan antara biaya transportasi mahasiswa sebagai variabel tak bebas dan biaya kost. jenis kelamin. Prosedur Penentuan Tarif Angkutan. moda angkutan umum sebesar Rp.1%. Dari hasil kuisioner didapatkan hasil asumsi biaya transportasi mahasiswa yang akan dibandingkan dengan hasil perhitungan Biaya Operasi Kendaraan.015. Perhitungan Tarif Angkutan 1.858.140 0. biaya hidup. jarak. moda angkutan umum.818. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 4 . dan moda mobil pribadi sebagai variabel bebasnya. Tetapi penetapan harga jasa transport tergantung pada : y Apa atau barang apa yang diangkut.113.(X6) 7545.628 dan moda mobil pribadi sebesar Rp. moda sepeda motor. Dari data variabel yang dipilih melalui angket kuisioner diolah menggunakan bantuan softwear Microsoft Excel dan Regresi Linier berganda dengan SPSS (Statistical Product and Service Solution) menunjukkan hanya variabel dana transportasi (X4) dan jarak (X6). jumlah SKS.9. kegiatan ekstra kampus. serta variabel dummy kebiasaan bermoda yaitu moda sepeda motor (D3) dan moda angkutan umum (D4). Penentuan harga atau tarif angkutan lebih kompleks daripada penentuan harga barang-barang disuatu toko atau di pasar yang mana persoalannya terutama hanya tergantung pada suatu hal yaitu apa objeknya atau apa barangnya. Pada studi ini dicoba untuk membangun model biaya transportasi mahasiswa ke kampus dengan mengambil studi kasus di kampus III Universitas Muhammadiyah Malang.(X4) 2. Model persamaan yang diperoleh adalah : Y= ±1645. Dari hasil pengolahan data analisis regresi linier berganda didapatkan hasil model persamaan dimana prosentase penjelasan model terhadap biaya transportasi mahasiswa yang ditunjukkan dari nilai Adjusted R2 nya yaitu sebesar 72.545.7. uang kiriman.

volumenya atau beratnya. karena penentuan tarif angkutan barang itu meliputi penentuan tarif angkutan bagi beratus-ratus bahkan beribu-ribu macam barang. sedangkan aspek yang kedua berhubungan dengan dimana atau diantara tempat mana barang tersebut diangkut serta perhitungannya didasarkan pada aspek pertama.Sedangkan penentuan tarif angkutan untuk penumpang pada umumnya lebih mudah atau kurang begitu sulit dibandingkan dengan penentuan tarif angkutan barang. Di dalam klasifikasi tersebut perlu diperhatikan berbagai faktor. antara lain macam atau jenis barang yang diangkut. Kedua aspek dan prosedur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : Dahulu pada waktu barang-barang belum begitu banyak macam ragamnya banyak diikuti atau dijalankan penetapan tarif berdasarkan prinsip ³charging what the traffic will bear´ artinya untuk setiap barang yang diangkut ditetapkan tarif berdasarkan kemampuan barang tersebut untuk memikul tarif angkutannya. Kemudian dengan semakin banyaknya macam dan sifat barang yang diangkut serta melalui bermacam-macam rute yang mungkin dilalui. dan lain sebagainya. Maka kemudian atas bermacam-macam barang tersebut diadakan klasifikasi (penggolongan dalam kelas-kelas) untuk penentuan tarif angkutannya. yang harus diangkut dengan berbagai ukuran (volume dan berat) dan ketempat tujuan yang berbeda-beda pula. Aspek yang pertama adalah mengenai atau berhubungan dengan apa atau barang apa yang akan diangkut. maka tidaklah mungkin lagi untuk menetapkan tarif angkutan atas dasar cara yang demikian itu. Ada dua aspek dan prosedur yang lazim dipakai dalam penentuan tarif angkutan yaitu : y Mengadakan klasifikasi daripada barang ±barang dalam beberapa golongan (groups) untuk tujuan penentuan tarif (rating). dan y Mengadakan persiapan tentang pembuatan skala tarif (rate scale) dan cara penggunaannya dalam suatu daftar tarif. Jadi untuk barang yang identik atau hampir sama Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 5 . tetapi harus cukup tinggi pula untuk dapat memperoleh jaminan keuntungan yang sepantasnya bagi usaha pengangkutan. Dalam penentuan tarif angkutan harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga cukup wajar (rendah) untuk mendorong penggunaan jasa-jasa angkutan tersebut. harga atau nilai barang tersebut. yang dibungkus dengan bermacam-macam cara.

y Persaingan pasaran daripada shipper yang dilayani oleh carrier lainnya. y local rate dan joint rate. Faktor-faktor yang mempengaruhi value of service seperti : y Harga pasaran daripada barang yang diangkut.sifatnya atau jenisnya akan digolongkan dalam satu kelas atau golongan yang kemudian ditetapkan satu tarif tertentu untuk kelas tesebut. dan y Perkembangan daripada produk baru dan usaha memasuki padar baru. Klasifikasi daripada barang-barang yang dipakai dalam jasa ±jasa angkutan tersebut adalah sebagai langkah pertama dalam pemakaian prinsip atau dasar tarif angkutan. regularity dan arah daripada angkutan tersebut. maka kemudian dibuat suatu skala tarif (rate scale) serta cara penggunaannya. y flat rate dan proportional rate. Dalam hal ini harus pula diperhatikan faktor cost of service dan faktor value of service. Sebagaimana telah diuraikan dimuka ada berbagai hal yang mempengaruhi cost of service dan value of service yang turut menentukan penetapan tarif angkutan. dengan suatu daftar tarif. Bentuk dan Macam Tarif Angkutan Barang Ada terdapat bermacam-macam bentuk rates atau tarif angkutan yang dapat dibedakan antara bentuk ± bentuk : y Class rate dan commodity rate. dan y line haul rate dan accessorial rate. Mengenai pengertian dan perbedaan masing-masing bentuk tarif angkutan itu satu sama lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut : y Class rate dan comodity rate Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 6 . y Special service yang diperlukan. y carload rate dan less than carload rate. dan sebagainya. 2. y Persaingan diantara para carrier sendiri. Setalah ditetapkan klasifikasi barang-barang tersebut. Faktor yang mempengaruhi cost of services seperti : y Ruang yang ditempati dalam hubungan dengan beratnya y Risiko dan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi dalam hubungan dengan sifat barang tersebut serta cara-cara pembungkusannya. dan y Volume.

y Local rate dan joint rate. yaitu bukan dari tempat asalnya. Joint rate adalah tarif angkutan yang berlaku untuk suatu jalan (tarikan) yang dilakukan oleh lebih dari satu carrier atau tarif yang berlaku antara stasiun-stasiun yang dilakukan oleh beberapa perusahaan angkutan yang berlainan. Joint rate ini ditetapkan atas dasar persetujuan atau perjanjian bersama antara perusahaan ± perusahaan angkutan yang bersangkutan. Dengan perkataan lain.. barang-barang yang diangkut dikenakan tarif menurut golongan atau kelas-kelas tarif yang telah ditetapkan. Dari A ke B oleh perusahaan angkutan X Dari B ke C oleh perusahaan angkutan Y Contoh : Tarif dari A ke C untuk mengangkut barang dari tempat asal A ke tempat tujuan C dapat ditetapkan bersama oleh perusahaan. Barangbarang ini biasanya dikenakan tarif angkutan yang lebih rendah daripada class rates yang berlaku. y Flat Rate dan Proportional Rate Flat rate yaitu tarif angkutan yang biasa untuk angkutan barang diantara dua tempat bagi trafik yang berasal dari tempat pertama (asal) dan berakhir di tempat yang lain yang merupakan tempat tujuannya. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 7 . Berhubung karena itu maka diadakan bentuk tarif yang berupa comodity rate. gandum. sebetulnya ini adalah sebagai pengecualian daripada klasifikasi tarif yang terdapat dalam daftar tarif yang bersifat umum tersebut tadi.Class rates adalah tarid angkutan yang didasarkan pada kelas-kelas dimana barang-barang yang bersangkutan digolongkan menurut proses klasifikasi. Jadi. seperti papan. Dalam hal ini seringkali tarif angkutan barang yang bersangkutan ditetapkan secara langsung tanpa melalui proses klasifikasi. Local rate adalah tarif angkutan yang berlaku pada jalan dari satu peruahaan angkutan tertentu atau tarif angkutan yang dikenakan atas service angkutan dalam satu wilayah atau rute jalan yang dilayani oleh suatu maskapai angkutan tertentu. biji besi. Dan tarif ini seringkali disebut pula sebagai ³thrugh rate´ atau tarif langsung. yaitu tarif spesial untuk barang-barang yang diangkut terutama dalam hal volume besar.750.diantara kedua perusahaan angkutan yang bersangkutan. Proportional rate merupakan tarif khusus dari flat rate tersebut yang hanya berlaku apabila angkutan tersebut berasal dari tempat lain. Sifat dari class rate ini adalah ³sangat umum´ yang seringkali tidak dapat dipakai atau tidak memenuhi keperluan ± keperluan dalam hal-hal yang agak menyimpang atau khusus. batu bara.perusahaan angkutan X dan Y misalnya sebesar Rp. dan lain sebagainya.

10. Pada umumnya beban ongkos angkut atas dasar carload rate adalah relatif lebih murah daripada less than carload rate. Line haul rate adalah tarif angkutan yang sesungguhnya (yang aktual atau riil) yang harus dibayar atau dipikul oleh shipper untuk pengangkutan barangnya atau ongkos angkutan yang sungguh-sungguh dibayarnya untuk menjalani rute yang bersangkutan. 10 ton sebesar Rp. ini disebut sebagai any quality rate. y Line-haul rate dan sccessorial rate.00 25 ton sebesar Rp. Accessorial rate yaitu berupa tarif atau biaya tambahan yang harus dibayar oleh shipper untuk service tertentu yang diterimanya berupa jasa switching. Tarif barang dari I ke P yang berasal dari O dibebankan menurut proportional rate. makin besar (tinggi) pula tarifnya dan tak perlu berupa suatu volume angkutan dengan muatan dan membayar sejumlah satu gerbong/truk penuh. maka Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 8 . jasa storage dan sebagainya. y Carload rate and less-than carload rate. kadang-kadang ada yang menyamaratakan saja tarif per kesatuan berat/volume. Jadi tarif dari O ke I adalah flat rate dan I ke P adalah proportional rate. Misal : tarif angkutan barang untuk 1 ton sebesar Rp.250.000.00 dan seterusnya. Masalah pokok dalam membuat daftar tarif (rate scale) adalah dasar penentuan tarif angkutan yang dikaitkan dengan jarak.000.00 . 3. Tarif angkutan berdasarkan jarak. 150 (proportional rate). Jadi makin berat atau makin besar volume barang yang diangkut. Hal ini seringkali disebut pula sebagai moving expenditure. jasa penyimpanan untuk transit.00 merupakan flat rate. Kalau tarif O ke I sudah Rp. 250. Carload rate adalah tarif angkutan yang ditetapkan menurut volume angkutan yang paling sedikit berdasarkan satu gerbong/truk penuh walaupun barang yang diangkut kurang dari satu gerbong/truk muatan.00 maka untuk dapat memperoleh tarif dari I ke P harus ditetapkan sebesar Rp. Oleh karena biasanya biaya angkutan berubah-ubah menurut jarak yang harus ditempuh. 400. Dalam hubungan dengan less-than carload ini. Untuk ini beban biaya yang bersangkutan biasanya ditetapkan dengan suatu daftar tarif khusus tersendiri.Misalnya tarif O ke P (langsung) Rp.000.100. Less-than carload rate adalah tarif angkutan yang biasa yaitu tarif yang ditetapkan tersendiri sesuai dengan atau sehubungan dengan keadaan berat atau volume barang yang diangkut.

tetapi tidak naik secara proporsional. dan demikian seterusnya. tetap saja barang dan juga penumpang yang bersangkutan diangkut. ongkos tetap dan sebagainya yang perlu dibebankan kepada muatan barang yang diangkut. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 9 . kemudian menyusul jarak 520 mil untuk tarif kedua dan selanjutnya untuk jarak 20-50 mil berikutnya tahap ketiga. Dan pada umumnya dengan semakin jauh jarak antara yang ditempuh maka ³block of miles´ tersebut akan semakin besar pula. ongkos overhead serta ongkos-ongkos lainnya dapat disebarkan pada jarak-jarak yang semakin jauh. Jadi walaupun hanya beberapa puluh meter saja barang dan juga penumpang yang bersangkutan diangkut. y Tarif angkutan tidak dipungut untuk setiap mil/km. Misalnya untuk jarak 1-5 km/mil dengan suatu tarif tertentu. dengan perkataan lain dihubungkan atau disesuaikan dengan jarak yang harus ditempuh. y Rate structure dengan sistem tersebut akan lebih lama stabil daripada diambil atau digunakan kriteria lain sebagai dasar dalam penetapannya. sedangkan untuk jarak 5-10km/mildengan tarif tertentu lainnya. Hal ini antara lain disebabkan oleh karena ongkos terminal. Sifat utama daripada tarif angkutan yang didasarkan pada mileage basis tersebut adalah sebagai berikut : y Tarif angkutan tidak dimulai dengan 0 (nol) atau tanpa pembebanan tarif karena adanya ongkos minimal. karena ongkos transpor pada umumnya memang semakin tinggi dengan semakin jauhnya jarak yang ditempuh. Keuntungan atau kebaikan tarif angkutan berdasarkan mileage basis tersebut antara lain adalah sebagai berikut : y Cara penetapan tarif tersebut lebih sesuai dengan cost of service principles. tetapi dengan cara sekumpulan mil (blocks of miles). sehingga ongkosnya per unit menjadi semakin kecil jika jarak angkutannya menjadi semakin jauh. tetap dikenakan tarif atau biaya angkutnya.struktur dasar tarif angkutan yang lazim dipakai ialah berdasarkan faktor jarak yang dinyatakan dalam mil atau km. sehingga adalah wajar untuk dikenakan tarif yang semakin tinggi pula. Terdapat berbagai keuntungan / kebaikan maupun keburukan/kerugian dengan menggunakan tarif angkutan yang didasarkan pada mileage basis tersebut. Misalnya : tarif menurut jarak 1-5 mil adalah tarif pertama. y Tarif angkutan naik sesuai dengan panjang jarak yang ditempuh.

y Cara penentuan tarif tersebut mengurangi kemungkinan konkurensi carrier atau perusahaan angkutan sendiri serta diantara para shipper yang berasal dari berbagai tempat yang jauh ±jauh. pemeliharaan alat dan keperluan lainnya. Disamping keuntungan dan kebaikan yang dikemukakan diatas. y Untuk mengangkut barang dari A ke M tentu perusahaan angkutan akan lebih efisien memakai rute X daripada rute Y. y Sistem penentuan itu akan membatasi atau menghalangi pertumbuhan kotakota beserta industri ±industri yang terpencil atau jauh dari pasaran. Sehubungan dengan itu. Diantara berbagai kekurangan dan kelemahannya tersebut adalah sebagai berikut : y Kadang ± kadang tarif berdasarkan mileage tersebut mengurangi volume angkutan daripada trafik terutama trafik dari barang-barang yang mempunyai nilai atau harga yang rendah (low grade comodities). terdapat pula berbagai kekurangan dan kelemahan jika tarif didasarkan pada jarak tersebut. karena jarak yang dilalui lebih pendek sehingga dapat menekan ongkos-ongkos seperti untuk bensin. y Tarif berdasarkan jarak tersebut mengurangi ³bargaining advantage´ daripada industri-industri ³tua´ yang telah ada dan memungkinkan tumbuhnya industriindustri baru yang dilihat dari sudut pandang transportasi mempunyai kedudukan lokasi yang lebih tepat. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 10 . y Tarif yang didasarkan jarak ini relatif lebih mudah untuk diterima dan dimengerti serta lebih sederhana menghitungnya. dan bahkan kadang-kadang ada pula tarif angkutan yang tidak didasarkan pada distance scale sama sekali. Hal ini disebabkan karena tarif yang semata-mata didasarkan kepada jarak tersebut mengakibatkan sangat tingginya ongkos angkutan untuk barang-barang dari jarak jauh. Harus diingat bahwa adanya konkurensi sampai batas-batas tertentu adalah sehat dan menguntungkan terutama ditinjau dari sudut kepentingan umum.y Tarif angkutan berdasarkan jarak tersebut akan mengurangi ³wasteful transportation´ oleh karena hanya transpor yang menghubungi rute yang relatif terpendek pada umumnya yang akan dapat menguasai trafik. sehingga perkembangan industri-industri yang sangat jauh sekali dari pasar tidak akan dapat bertumbuh. Pada umumnya faktor jarak bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam penetapan tarif angkutan.

nasional maupun regional. compromize dan competition. competition seringkali pula para carrier harus mempertimbangkan faktor konkurensi yang dihadapi oleh para shippers yang bersangkutan sendiri.dalam batas-batas pengaturan pemerintah. Model ini lazim diterapkan untuk menganalisis perekonomian secara makro. Masing-masing sektor menggunakan keluaran dari sektor lain sebagai masukkan bagi keluaran yang akan dihasilkannya. Hal ini lazim disebut sebagai ³3 C policy´ dalam penentuan tarif angkutan. b. Sebaliknya pada pengusaha angkutan. Model Matematis untuk Perencanaan a. Jadi supaya barangbarang milik shippers tertentu dapat mengalir ke pasar berhadapan dengan shippers lainnya. compromize Di dalam penentuan tarif tersebut harus dipertimbangkan pula permintaan atau desakan dari para shippers yang menghendaki tersedianya jasa angkutan dengan tarif yang lebih rendah atau supaya diklasifikasikan pada golongan/kelas tarif yang lebih rendah. cost Bagaimanapun juga tarif angkutan tersebut harus dapat menutupi ongkosongkos yang dikeluarkan untuk menghasilkan jasa angkutan yang bersangkutan. dorongan berkembang dan mempunyai kekuatan yang berimbang terhadap yang lainnya. III. baik secara tersendiri maupun secara keseluruhan. akan tetap mempertahankan kondisi dan beroleh keuntungan yang sewajarnya. ini disebut sebagai cost accounting principle. maka para pengusaha angkutan (carrier) dalam membuat dan memakai cara penentuan tarif angkutan barangnya pada umumnya mengambil kebijaksanaan yang didasarkan pada pertimbanganpertimbangan cost. Analisis IO bertolak dari anggapan bahwa suatu sistem perekonomian terdiri atas sektor-sektor yang sering berkaitan. Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 11 . Penggunaan Matriks dalam Analisis I. c. maka para pengusaha angkutan terpaksa menetapkan tarif angkutan terlepas dari perhitungan jarak dan perhitungan yang berlaku umum.O (Input-Output) Analisis IO merupakan suatu model matematis untuk menelaah struktur perekonomian yang saling terkait antar sektor atau kegiatan ekonomi. Karena itu para carrier harus mengkalkulasikannya di dalam penentuan tarif tersebut. Dengan mengambil kebijaksanaan ³3 C policy´ tersebut diatas maka para shippers khususnya yang mendapatkan keringanan akan memperoleh manfaat. a.

kemudian keluaran yang dihasilkannya merupakan masukan pula bagi sektor lain. Selain menjadi masukan bagi sektor lain................ Matriks transaksi Distribusi Konsumsi Distribusi Produksi X11 x12 .. x1m X21 x22 .. . .. terdapat pula keluaran dari suatu sektor yang menjadi masukan bagi sektor itu sendiri dan sebagai barang konsumsi bagi pemakain akhir.. ... aij Metode Analisis Perencanaan Westi Susi Aysa-D52110280 12 ........... xmm Nilai Tambah Keluaran Total Y1 y2..Ym X1 x2........ x2m X1 X2 Permintaan Akhir Keluaran Total Xm1 x m2 ......Xm Um+1 Xm+1 Xm Xm+1 X Pemakaian total sektor i : Keluaran total dari sektor j :  Matriks teknologi Koefisien teknologi aij adalah suatu rasio yang menjelaskan jumlah atau nilai keluaran sektor oi yang diperlukan sebagai masukan untuk menghasilkan satu unit keluaran di sektor j.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->