P. 1
Metode Pendidikan Islam

Metode Pendidikan Islam

|Views: 268|Likes:
Published by Meli

More info:

Published by: Meli on Feb 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Dalam pengertian umum, metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu.

Cara itu mungkin baik mungkin tidak baik. Baik dan tidak baiknya sesuatu metode banyak bergantung kepada beberapa faktor. Faktor-faktor itu mungkin berupa situasi dan kondiai, pemakai metode itu sendiri yang kurang memahami penggunaannya atau tidak sesuai dengan seleranya, atau secara objektif metode itu kurang cocok dengan kondiai dari objek. Juga mungkin karena metodenya sendiri yang secara intrinsik tidak memenuhi persyaratan sebagai metode. Hal itu semua sangat bergantung pada metode itu diciptakan di satu pihak, dan pada sasaran yang akan digarap dengan metode itu di lain pihak. Dalam pengertian letterlijk, kata ³metode´ berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari meta yang berarti ³melalui´ , dan hodos yang berarti ³jalan´. Jadi, metode berarti ³jalan yang dilalui´. Dalam pandangan filosofia pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu yang bersifat polipragmatia dan monopragmatia. Polipragmatia, bilamana metode itu mengandung kegunaan yang serba ganda (multipurpose). Suatu metode tertentu pada suatu situasi dan kondiai tertentu dapat dipergunakan untuk merusak, pada situasi dan kondiai yang lain dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki. Kegunaannya dapat bergantung pada si pemakai atau pada corak dan bentuk serta kemampuan dari metode sebagai alat, seperti halnya Video Cassette Recorder (VCR) yang dapat dipergunakan untuk merekam semua jenia film yang ?????? atau yang moralia (suatu bentuk dan kemampuan yang melekat padanya) juga dapat dipergunakan untuk alat mendidik/mengajar dengan film-film pendidikan. Sebaliknya, metode sebagai alat yang bersifat monopragmatia adalah alat yang hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu macam tujuan saja. Miaalnya, laboratorium ilmu alam, hanya dapat dipergunakan untuk eksperimen-eksperimen bidang ilmu alam, tidak dapat dipergunakan untuk eksperimen bidang lain, seperti ilmu sosial atau kedokteran. Namun, bagaimanapun bentuk dan kemampuan sesuatu metode, penggunaan suatu macam metode dalam proses kependidikan adalah mutlak. Mungkin di bidang lain orang dapat mengerjakan sesuatu tugas pekerjaan tanpa menggunakan suatu metode, melainkan harus memakai suatu teknik mengerjakannya saja.

BAB II PEMBAHASAN Metode mengandung implikasi bahwa proses penggunaannya bersifat konsiaten dan siatematia, mengingat sasaran metode itu adalah manusia yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Jadi, penggunaan metode dalam proses kependidikan pada hakikatnya adalah pelaksanaan sikap hati-hati dalam pekerjaan mendidik/mengajar. Dalam hubungan proses pendidikan Ialam, terdapat suatu kaidah bahwa ³Segala alat yang dipergunakan untuk mencapai sesuatu yang wajib, hukumnya wajib pula´. Kaidah ini berasal dari Usul Fikih. Bila dilihat dari pelaksanaan proses kependidikan Ialam yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim dan muslimat, maka penggunaan suatu metode yang sesuai adalah wajib pula hukumnya. 1. Metode dalam Pendidikan atau Pengajaran Di kalangan masyarakat kita, masih terdapat pandangan yang membedakan pengertian antara apa yang dimaksud dengan ³pendidikan´ dan apa ³pengajaran´. Dua iatilah tersebut dalam pengertian teknia pedagogia hampir tidak dapat dibedakan. Apalagi bila kita menganut paham pendidikan di Amerika Serikat, maka iatilah ³pengajaran´ hampir tidak pemah dipergunakan oleh para ahli pendidikan, karena pengertian ³pendidikan´ itu sendiri telah mencakup arti ³pengajaran´. Akan tetapi, bilamana dilihat dari aspek filosofia, kedua iatilah tersebut berbeda pengertiannya, baik dilihat dari tujuannya maupun dari segi ruang lingkup kegiatannya. Pendidikan lebih mengarahkan tugasnya kepada pembinaan atau pembentukan sikap dan kepribadian manusia yang beruang lingkup pada proses mempengaruhi dan membentuk kemampuan kognitif, kognatif, dan afektif serta psikomotor dalam diri manusia. Pengajaran lebih menitikberatkan usahanya ke arah terbentuknya kemampuan maksimal intelektual dalam menerima, memahami, menghayati, dan menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang diajarkan. Sikap dan kepribadian sebagai hasil proses kependidikan seseorang itulah yang menjadi landasan orang yang telah berilmu pengetahuan. Jadi, sasaran psikologia proses kependidikan lebih menekankan pada usaha mengintemaliaasikan nilai-nilai atau mempribadikan nilai-nilai daripada proses pengajaran yang lebih menekankan pada mengintelektualiaasikan manusia dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam pembahasan metode pendidikan, khususnya Ialam, kita perlu melihat semua aspek dari kegiatan pendidikan dan pengajaran baik dilihat dari pendidik maupun anak didik.

terutama didasarkan atas pandangan-pandangan psikologia. kaku. metode diartikan sebagai ³cara´ bukan ³langkah´ atau ³prosedur´.´44) Sedang pengertian yang lebih luas. mengarahkan. antara pendidik dan anak didik berada dalam proses kebersamaan yang menuju ke arah tujuan tertentu. dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada anak didik sehingga ia menjadi manusia yang dewasa dalam ilmu pengetahuan. Tujuan mempergunakan suatu metode yang paling tepat dalam pendidikan ialah untuk memperoleh efektivitas dari kegunaan metode itu sendiri. Kedua belah pihak timbul rasa senang mengerjakan suatu pekerjaan karena apa yang dikerjakan itu bermanfaat bagi mereka. Dengan kata lain. Biasanya suatu metode atau kombinasi metode yang dipergunakan dapat diidentifikasi. Sedang metode yang diartikan sebagai ³cara´ mengandung pengertian yang fleksibel (lentur) sesuai kondiai dan situasi. ilmu pengetahuan tentang metode yang diaebut metodologi memberikan gambaran jelas bahwa bagaimana suatu metode mendidik atau mengajar dapat menjadi efektif atau tidak efektif. serta timbulnya minat dan perhatian dari anak didik di lain pihak. memerlukan suatu metode belajar agar dalam proses belajarnya dapat searah dengan cita-cita pendidik atau pengajarnya. Dalam pengertian kedua ini. . dan membina anak didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya. Metode yang Dipergunakan dalam Pendidikan Islam Dalam sejarah pendidikan Ialam dapat diketahui bahwa para pendidik Muslim dalam berbagai situasi dan kondiai yang berbeda. Oleh karena itu. Horne memberikan pembatasan arti metode dalam pendidikan sebagai suatu prosedur dalam mengajar. baik pendidik/pengajar maupun anak didik/pelajar dalam proses pendidikan atau belajar mengajar memerlukan metode. dan tematia. menghayati. b) Anak didik yang tidak hanya menjadi objek pendidikan atau pengajaran. Kata ³prosedur´ lebih bersifat teknia adminiatratif atau taksonomia seolah-olah mendidik atau mengajar hanya diartikan sebagai langkah-langkah yang aksiomatia. Pengajar dengan metodenyajuga harus dapat menanamkan penger-tian dan kemampuan memahami. Herman H. dalam proses kependidikan dan pengajaran. Suatu. prinsip dari metode yang seiring diikuti dengan setengah sadar ialah ³ajarlah orang lain seperti orang lain pernah mengajarmu. telah menerapkan berbagai macam metode pendidikan atau pengajaran. Efektivitas tersebut dapat diketahui dari kesenangan pendidik yang memakainya di satu pihak. sehingga tergambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai ajaran Ialam dalam dirinya. bukan atas dasar pandangan adminiatratif. dan mengandung implikasi ³mempengaruhi´ serta saling ketergantungan antara pendidik dan anak didik. melainkanjuga menjadi subjek yang belajar.a) Pendidik dengan metodenya harus mampu membimbing. 2. walaupun guru sama sekali tidak menyadari tentang permasalahan metode itu.

meskipun potensi rasio manusia dipandang berada di dalam kekuasaan Tuhan. . laksana permata yang amat berharga. sedang rasio manusia yang kedua. dan mengajarnya dengan budi pekerti yang luhur serta menjaganya jangan sampai bergaul dengan teman-temannya yang nakal « dan seterusnya. Mengajar/mendidik adalah usaha untuk menunjukkan manusia ke arah yang hak dan kebaikan serta ilmu. Anak adalah amanat yang dipercayakan kepada orang tuanya. Kekuasaan Tuhan adalah yang pertama. murni. seorang pendidik agar memperoleh sukses dalam tugasnya harus menggunakan pengaruhnya serta cara yang tepat arah. Semua tanggung jawab dalam hal itu terletak pada pundak pengasuhnya atau walinya.Atas dasar pandangan Al Gazali yang bercorak empiris itu maka tergambar pula dalam metode pendidikan yang diinginkan. maka ia akan celaka dan binasa. dan bersih dari ukiran atau gambaran apa pun. gurunya. Dalam masalah pendidikan. karena mendidik/mengajar merupakan tugas pekerjaan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Di dalam membahas masalah belajar. Oleh karena itu. a) Guru harus bersikap mencintai muridnya bagaikan anaknya sendiri. melainkan juga metode belajar yang harus dipergunakan anak didik. Beliau menyatakan: ³Secara potensial. maka akan berkembanglah sifat-sifat yang baik itu pada dirinya dan akan memperoleh kebahagiaan hidup dunia akhirat. Dengan melalui belajar potensi itu barn menjadi aktual.´ Dalam hal mendidik. bila anak itu kita biasakan dengan sifat-sifat jelek dan kita biarkan begitu saja. karena beliau sangat menekankan pengaruh pendidik terhadap anak didik. Di antaranya lebih menekankan pada perbaikan sikap dan tingkah laku para pendidik dalam mendidik. la dapat menerima tiap ukiran yang digoreskan kepadanya dan ia akan cenderung ke arah manapun yang kita kehendaki (condongkan). seperti berikut. Miaalnya di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin juz III. banyak mencurahkan perhatian kepada masalah pendidikan. Sebaliknya. Al Gazali mengambil sistem yang berasaskan keseimbangan antara kemampuan rasional dengan kekuasaan Tuhan. Al Gazali menguraikan antara lain: ³« metode untuk melatih anak adalah salah satu dari hal-hal yang amat penting. Walinya wajib menjaga anak tersebut dari segala dosa. Menurut Al Gazali. antara kemampuan penalaran dengan pengalaman mistik yang memberikan ruang bekerjanya akal pikiran. dan keseimbangan antara berpikir deduktif logis dengan pengalaman empiric manusia. Al Gazali lebih menekankan potensi rasio daripada potensi kejiwaan yang lain. Al Gazali adalah berpaham idealiame yang konsekuen terhadap agama. pendidiknya juga akan turut berbahagia bersamanya. seorang ahli pikir dan ahli tasawuf Ialam yang terkenal dengan gelar ³Pembela Ialam´ (Hujjatul Ialam). b) Guru tidak usah mengharapkan upah dari tugas pekerjaannya. pengetahuan itu ada di dalam jiwa manusia bagaikan benih di dalam tanah. sederhana. mendidik. Al Gazali lebih cenderung berpaham empiriame. bila ia dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik. Bila dipandang dari segi filosofia. 1) Al Gazali.Metode-metode yang dipergunakan tidak hanya metode mendidik/ mengajar dari para pendidik. Hatinya bersih. Orang tuanya. Upahnya adalah terletak pada diri anak didik yang setelah dewasa menjadi orang yang mengamalkan hal-hal yang is didikkan atau ajarkan. Nilainya lebih tinggi dari ukuran harta atau uang.

f) Guru harus mengajarkan apa yang sesuai dengan tingkat kemampuan akal anak didik. karena bersihnya jiwa dan baiknya akhlak menjadi asas bagi kemajuan ilmu yang dituntutnya. Akal pikiran mereka harus dituntun oleh imannya. is dapat menjalin hubungan akrab antara dirinya dengan anak didiknya. melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.49) Memang di sinilah letak ciri khas paham Al Gazali dalam masalah pendidikan. dan sebagainya. Metode demikian dapat diwujudkan dalam berbagai macam metode antara lain: metode contoh teladan. metode cerita. akan tetapi akhlak mulia harus mendasari hidupnya. Dengan pengetahuan tentang anak didik. Bagaimanapun anak telah memiliki berbagai ilmu dan pengalaman. Dia harus berjiwa halus. sebagaimana kata-kata beliau ³Wajib atas para murid untuk membersihkan jiwanya dari kotoran/kerendahan akhlak dan dari sifat-sifat yang tercela. Dengan demikian jelaslah kepada kita bahwa metode pendidikan yang harus dipergunakan oleh para pendidik/pengajar adalah yang berprinsip pada child centered yang lebih mementingkan anak didik daripada pendidik sendiri. yaitu ilmu agama. Beliau tergolong tokoh yang berpaham moralis idealisme dalam pendidikan. i) Guru harus dapat mendidik keimanan ke dalam pribadi anak didiknya. Al Gazali juga meletakkan prinsip metode belajar pada aspek mental atau sikap. Dalam uraiannya yang lain. h) Guru harus dapat memahami jiwa anak didiknya. metode motivasi.c) Guru harus memberi nasihat kepada muridnya agar menuntut ilmu tidak untuk kebanggaan diri atau untuk mencari keuntungan pribadi. guru harus mendidik mereka berdasarkan ilmujiwa. la harus mempelajari jiwa mereka agar tidak salah mendidik mereka. . e) Guru harus memberi contoh yang baik dan teladan yang indah di mata anak didik sehingga anak senang untuk mencontoh tingkah lakunya. g) Guru harus mengamalkan ilmunya. Pendidikan yang diinginkan adalah pendidikan yang diarahkan kepada pembentukan akhlak mulia. Ilmu yang manfaat itu adalah ilmu yang dapat membawa kebahagiaan di akhirat. niscaya orang akan mence-moohkannya. Jangan mengajarkan hal-hal yang belum dapat ditangkap oleh akal pikirannya maka is akan menjauhinya atau akal pikirannya tidak dapat berkembang. murah hati. metode reinforcement (mendorong semangat). sopan serta berjiwa tasammuh (luas dada). dan terpuji. sehingga akal pikirannya tunduk kepada ajaran agama. Bila tidak mengamalkan ilmunya. metode guidance & counselling (bimbingan dan penyuluhan). d) Guru harus mendorong muridnya untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Tidak pula untuk mencari kehidupan atau pekerjaan. karena tanpa tuntunan iman akal pikiran tidak akan dapat mencapai makrifat kepada Allah. Akhlak harus bersumberkan iman kepada Allah. karena is menjadi idola di mata anak. Secara praktis.

oleh karena tidak saja sikap kasar membuat tumpul kemampuan belajar mereka.so) Walaupun pendapat Ibnu Khaldun tersebut lebih sesuai bagi para pelajar tingkat tinggi.´ Sebagaimana Al Gazali. beliau memberikan petunjuk agar mereka diperlakukan atas dasar kasih sayang. namunjelas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam proses belajar mengajar (pendidikan) akal pikiran manusia menjadi potensi psikologis yang utama. lahir pada tahun 1332 M (732 H) juga memberikan perhatian cukup besar terhadap masalah pendidikan. Pandangannya tentang masalah pendidikan itu ditulis di dalam Muqaddimahjuz I. penguasaan salah satu cabang ilmu pengetahuan akan menjadi persiapan bagi pelajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lain. misalnya mengajarkan Alquran kepada anak harus diakhirkan setelah mengajarkan bahasa Arab dan sastra atau berhitung. Beliau setuju kepada kebiasaan orang yang mengembara mencari ilmu dari berbagai guru karena akan mendorong ke arah pengertian yang lebih dalam serta cakrawala pandangan yang lebih luas. Tidak semua pelajar meninggalkan semua pengertian artificial (semu) belajar dan menggunakan akal pikiran (reasoning) yang ash dalam dirinya sendiri serta memohon bimbingan dari Tuhan yang akan memberi cahaya yang menerangijalannya sebelum mempelajari hal-hal yang belum diketahui. menciptakan kehidupan dan untuk bekerja sama dengan anggotaanggota masyarakat lainnya serta untuk menerima wahyu Tuhan yang diberikan kepada NabiNya guna kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat. Dalam proses belajar. ahli sejarah dan sosiologi dari Tunisia. . melainkanjuga kekasaran itu dapat merugikan/merusak harkat kemanusiaannya. Tentang pendidikan anak-anak tingkat dasar. Karena bagi anak mempelajari Alquran lebih sukar daripada bahasa Arab dan berhitung. Prinsip pandangannya tentang pendidikan antara lain tampak pada sikapnya yang menganggap bahwa ³manusia berbeda dengan binatang karena kapasitas berpikirnya. Tetapi. Manusia oleh karena makhluk yang berakal pikiran dan akal pikirannya itulah yang menjadi dasar bagi semua kegiatan belajarnya. Akal pikirannya memimpinnya. Meskipun kebiasaan umum pada saat itu tidak menyetujuinya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia melalui belajar itu berbeda-beda tingkatnya menurut kapasitas daya berpikirnya orang yang belajar.‡dan ada bahaya lainnya yaitu kemungkinan anak mudah tergoda untuk mengabaikan pelajaran Alquran.2) Ibnu Khaldun. Metode pendekatan dalam pendidikan anak yang dianggap baik oleh Ibnu Khaldun adalah yang bersifat psikologis. akal pikiran memungkinkan orang untuk menangkap pengertian baik dari ucapan maupun dari tulisan serta mampu pula mengambil kesimpulan-kesimpulan tentang hukum-hukum yang membentuk susunan dan relasi antara berbagai pengertian yang berbeda. Ibnu Khaldun juga menganggap bahwa akal pikiran manusia itu bersifat terbatas di dalam proses belajar yang banyak bergantung pada bimbingan dan petunjuk Tuhan.

Namun. ada dua manfaat yang dapat diperoleh dari kedua hal tersebut di atas. harus kitajauhkan. a) Anak harus dijauhkan dari kemarahan. karena hal itu akan menyebabkan anak didik menjauhi ilmu itu dan membuatnya malas mempelajarinya. lalu diusahakan memenuhinya.52 a) Hendaknya tidak memberikan pelajaran tentang hal-hal yang sulit kepada anak didik yang baru mulai belajar. melainkan hanya beberapa pendapat yang hampir serupa dengan pendapat Al Gazali dan Ibnu Khaldun. Dengan demikian. Anak didik harus diberi persiapan secara bertahap yang menuju kesempurnaannya. Budi pekerti yang luhur dapat memelihara kesehatan rohani dan jasmani. barulah is akan berhasil memperoleh ilmu dan keterampilan yang diharapkan. b) Agar anak didik diajar tentang masalah-masalah yang sederhana yang dapat ditangkap oleh akal pikirannya. . Pendidikan akhlak yang diuraikan di atas lebih tepat bila dilakukan dalam keluarga oleh orang tua anak. Juga hal-hal yang tidak disukainya. Dalam hubungannya dengan pemikiran filosofis kependidikan. dan seterusnya. atau perasaan sedih serta kurang tidur b) Setiap saat harus diperhatikan keinginan-keinginannya atau kesenangannya. Menurut pandangan Ibnu Sina. tekanan utama yang diinginkan oleh Ibnu Sina adalah pendidikan moral. c) Jangan memberikan ilmu yang melebihi kemampuan akal pikiran anak didik. takut. Sebaliknya. yaitu manfaat rohani dan manfaatjasmani. melainkan untuk memudahkan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa paham Ibnu Sina dalam masalah pendidikan adalah idealisme. karena hanya menitikberatkan pada kecerdasan akal saja. meskipun metode yang diterapkan lebih bersifat intelektualistis. terutama akal manusia. Hal tersebut bukanlah berarti harus menuruti perintahnya. Dengan cara demikian budi pekerti yang luhur (akhlak mulia) akan dapat berkembang dalam diri pribadinya semenjak masa kanakkanak sejalan dengan kecenderungan yang baik. budi pekerti yang jelek timbul dari kecenderungan yang jelek pula.Prinsip-prinsip metodologis yang disarankan oleh Ibnu Khaldun adalah sebagai berikut. Ibnu Sina tidak banyak memberikan pendapatnya. baru kemudian secara bertahap dibawa kepada hal-hal yang lebih sukar dengan mempergunakan contoh yang baik atau alat peraga atau alat tertentu. Budi pekerti yang baik timbul dari kecenderungan yang baik. Antara lain yang dapat dikaitkan dengan metodenya adalah pendapat bahwa anak-anak harus diperhatikan pendidikan akhlaknya. 3) Ibnu Sina (lahir tahun 985 M) tidak banyak membicarakan masalahpendidikan. Beliau juga sedikit membahas tentang kehidupan psikologis. Jelaslah bahwa prinsip yang digunakan oleh Ibnu Khaldun dalam metode mengajar didasarkan atas pendekatan psikologis.

dan berhitung. serta memberi motivasi atau dorongan. Kurikulum untuk sekolah-sekolah khusus tersebut hendaknya memasukkan mata pelajaran bahasa asing. a) Sebagai seorang idealis yang rasionalistis. Semua jenis sekolah tersebut di atas bukan untuk menciptakan kelompok sosial yang eksklusif. Sik¶p dan pandangan baru itu menyangkut cara memahami dan menafsirkan ajaran Islam. pemberian hadiah dan hukuman. dan ilmu pengetahuan alam. Allah telah menunjukkan kepada kita prinsip-prinsip dalam melaksanakan pendidikan terhadap manusia. Perubahan sikap dan pandangan demikian tidak bisa lain kecuali harus melalui proses kependidikan. beliau mengusulkan adanya tigajenis sekolah sebagai berikut. sebagai ganti metode verbalisme (menghafal). pemberian suasana (metode situasional). Untuk melakukan modernisasi melalui sistem pendidikan. beliau juga ingin melakukan modernisasi dalam filsafat. menghendaki adanya pembaruan dalam sikap dan pandangan di kalangan umat Islam. b) Sekolah-sekolah khusus negeri yang mendidik calon pegawai dan perwira militer. uswatun hasanah (contoh teladan). hendaknyajuga diberi pendidikan agama dan moral. melainkan untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. melainkan juga sejarah umum. tidak hanya agama. baik secara eksplisit (tersurat) maupun implicit (tersirat) dalam irslub-uslub firman- . Pelajaran agama dan sejarah nasional harus diintegrasikan ke dalam praktikum di bidang pertanian dan industri ringan. perintah dan larangan. Sering pula mengajarkan bahasa Arab dengan metode demonstrasi tentang cara-cara menulis huruf Arab dengan jelas dan sederhana. dan pendidikan moral. Prinsip fundamental dari pandangannya ialah perlunya mendasari pendidikan dengan moral dan agama. 3. Juga pendidikan dipandang sebagai alat yang paling berpengaruh (efektif) untuk melakukan perubahan. dan bidang-bidang lainnya. matematika. juga sejarah Islam. Pendidikan dan pengajaran adalah diperlukan untuk mencapai kehidupan yang baik. c) Sekolah-sekolah khusus untuk mendidik para ulama hendaknya diberi mata pelajaran yang luas. maka dapat kita ketahui bahwa di dalam kitab suci Alquran terdapat berbagai gaya bahasa atau uslub yang mengandung nilai metodologis dalam pendidikan. teologi. Sekolah dasar negeri hendaknya mengajarkan membaca. Prinsip-Prinsip Metodologis dalam Alquran Bilamana kita mendalami ayat-ayat Alquran melalui cara berpikir filosofis.Metode yang diperlukan dalam mendidik akhlak anak antara lain adalah metode pembiasaan. ulama cendekiawan Mesir (maha guru Universitas Al Azhar di Kairo). pendidikan agama. Muhammad Abduh dalam kegiatan mengajar menekankan pada metode yang berprinsip atas kemampuan rasio dalam memahami ajaran Islam dari sumbernya yaitu Alquran dan Al Hadis. 4) Muhammad Abduh. targhib wat tarhib. begitu juga sebaliknya. metode persuasif (ikhaas wal i¶raadh). menulis. Sebagai tokoh modernisasi dalam pendidikan. bahkan lebih dari itu yaitu agar pendidikan agama diintegrasikan ke dalam ilmu pengetahuan umum.

Memandang bahwa manusia yang diciptakanNya adalah makhluk yang dikaruniai daya (potensi) menciptakan atau menemukan hal-hal baru yang kemudian dikembangkan melalui inteleknya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya. Namun.Nya. Tuhan selalu mendorong manusia untuk mengamati seluk-beluk kejadian alam semesta beserta seluruh isinya. Memandang manusia tidak hanya makhluk individual yang menghamba kepada Tuhannya. Seluruh aspek kehidupan psikologis manusia dibangkitkan oleh Tuhan untuk dipergunakan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hasil ciptaan dan penemuannya itu berupa ilmu pengetahuan dan teknologi serta ilmuilmu lainnya. Sedang aspek ingatan dan kemauan manusia juga didorong untuk difungsikan ke dalam kegiatan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang diturunkan-Nya. gaya bahasa dan ungkapan yang terdapat dalam firman-firman Allah (Alquran) menunjukkan fenomena bahwa firman itu mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan dengan corak dan ragam yang berbeda-beda menurut waktu dan tempat serta sasaran yang dihadapi (yang menjadi khithab-Nya). Di dalam alam semesta ciptaan Tuhan itulah terdapat bahan-bahan ilmiah yang dapat digali dan dikembangkan serta dimanfaatkan oleh manusia. semua ilmu dan teknologi serta ilmu-ilmu lain yang ditemukan harus didasari dengan iman. Hanya dimensi potensial masing-masing manusia yang membedakan tingkat dan martabatnya dalam masyarakat. yang sangat esensial adalah bahwa firman-firman itu senantiasa mengandung hikmah kebijaksanaan yang secara metodologis disesuaikan dengan kecenderungan-kecenderungan psikologis manusia yang hidup dalam situasi dan kondisi berbeda-beda itu. Di dalam proses itu terdapat sistem pendekatan metodologis yang pada dasarnya dapat kita analisis sebagai berikut. melainkan juga makhluk sosial budaya yang dikaruniai potensi menciptakan sistem kehidupan bermasyarakat (bersuku-suku atau berbangsa-bangsa) serta menciptakan atau mengembangkan kebudayaannya bagi kesejahteraannya. Kecenderungan psikologis dalam situasi dan kondisi yang berbedabeda itulah yang diperhatikan oleh Allah sebagai latar belakang utama dari turunnya wahyu-wahyu-Nya. Aspek rasional atau intelektual mendorong manusia untuk berpikir induktif dan deduktif tentang gejala ciptaan-Nya di langit dan di bumi. Namun. berupa ³takwa´ terhadap Tuhannya. Oleh karena itu. c) Pendekatan scientific. Tuhan menurunkan Alquran bertujuan untuk memberi rahmat sekalian alam melalui proses pendidikan atau pengajaran itu. tolok ukur bagi kesamaan derajatnya yang esensial terletak pada dimensi potensial yang fundamental. Akan tetapi. Dr. Dengan ilmu pengetahuan yang didasari iman. a) Pendekatan psikologis. . manusia dapat memperoleh derajat yang tinggi. Juga aspek emosional yang mendorong manusia untuk merasakan adanya kekuasaan yang lebih tinggi yang gaib sebagai pengendali jalannya alam dan kehidupan. Mohammad Fadhil Al-Djamaly. Menurut pandangan Prof. b) Pendekatan sosiokultural.

baik dilihat dari Tuhan. Meskipun titik sentral dari fungsi manusia adalah beribadah kepada Allah. sunat. Oleh karena itu. maka ³instruksi dan larangan´ yang dibebankan kepada hamba-Nya itu juga didasarkan atas kadar kemampuan psikologis Nya atau bergantung situasi dan kondisi yang melingkupinya. kitabNya hanya kepada manusia saja. makruh. 1). melainkan dilihat pula dari pelbagai aspek hidupnya. Pendekatan yang demikian berpangkal pada pengertian bahwa dalam proses kehidupan. bermanfaat atau tidak bermanfaat. di samping qada dan gadar yang membatasinya (bukan masalah kependidikan). taklif (beban) yang dipikulkan kepada manusia juga berbeda-beda. Dengan demikian metode yang terkandung dalam khithab tersebut di atas adalah berupa ³metode pemberian alternatif¶. Akan tetapi. karena akal pikiran menjadi kriteria antara manusia dan makhluk lainnya. dan haram). salah atau benar. Didasarkan atas sistem pendekatan dari pelbagai disiplin keilmuan. manusia. fungsi demikian baru dapat berkembang dengan cukup baik bilamana kemampuan-kemampuan ganda dalam diri pribadinya selalu karena takdir Allah. manusia menempati tingkat kedudukan yang satu sama lain berbeda. mubah. Oleh karena itu. yang sumbemya terletak pada kemampuan berkembang yang berbeda secara individual. suatu metode pendidikan barn dapat memiliki nilai efektivitas.Dalam ruang lingkup . melalui ungkapan-ungkapan historis. meskipun tugas dan tanggung jawabnya tetap sama. Mendorong manusia untuk menggunakan akal pikirannya dalam menelaah dan mempelajari gejala kehidupannya sendiri dan gejala kehidupan alam sekitarnya. jelaslah bahwa seluruh firman Tuhan dalam Alquran sebagai sumber ilmu pendidikan Islam itu mengandung implikasi-implikasi metodologis yang komprehensif mencakup semua aspek dari kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia. dan larangan dalam susunan nilai hukum yang kategorial (wajib. Dengan akalnya manusia dapat memilih alternatife-alternatif tentang baik atau buruk. simbolis. yaitu menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. ataupun dirinya sendiri. Bila kita pandang bahwa suatu metode adalah suatu subsistem ilmu pendidikan Islam yang berfungsi sebagai alat pendidikan. Aspek-aspek kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu pada hakikatnya tercermin dalam gaya bahasa khithab Tuhan yang bersifat direktif sebagai berikut. diberi bimbingan dan pengarahan yang baik pula melalui proses kependidikan ke arahjalan yang diridai oleh Tuhannya. oleh karena anak didik tidak saja dipandang dari satu segi kemungkinan perkembangan. Dalam metodologi pendidikan Islam kemungkinan demikian harus senantiasa diusahakan untuk diungkapkan melalui berbagai metode yang didasarkan atas pendekatan yang multidimensional sebagai yang dicontohkan dalam uslub dan manhaj attarbuwwy (langkah pedagogis) dari firmanfirman Allah dalam Alquran.Pertama-tama Allah mengarahkan firman-firman-Nya kepada kemampuan akal pikiran manusia. karena pendekatan Tuhan terhadap manusia juga berdasarkan kejiwaan. instruksi.

Thaahaa: 132) dan bersabarlah kamu dalam Demikian pula tentang menjalankan ³puasa´ Ramadhan. Tuhan menghendaki bagimu kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran dan sempurnakanlah . Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang bertugasmemberikan peringatan. dengan masyarakatnya maupun dengan alam sekitarnya serta dirinya sendiri. Al Baqarah: 183) Dan ayat lainnya yang artinya sebagai berikut. Al Ghasyiyah: 17-21) 2). (QS. Dalam bulan Ramadan di mana Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan buktibukti dari petunjuk itu serta menjadi kriterium (pemisah antara benar dan batil). baik dalam hubungannya dengan Tuhannya. dan barangsiapa menderita sakit atas di tengah safa (boleh tidak berpuasa) maka diganti dengan puasa pada hari lainnya. danjihad fisabilillah. misalnya ayat yang menyatakan sebagai berikut: Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Al Ankabuut: 45) Dan juga ayat yang menyatakan: Perintahkanlah keluargamu supaya melakukan shalat mengerjakannya (QS. Maka berilah peringatan. (QS. Metode yang digunakan Allah dalam hal ini adalah ³perintah dan larangan´ serta metode function (praktik) sebagaimana halnya Allah memerintahkan bersalat dengan menunjukkan faedah/manfaatnya sebagai berikut: Bacalah apa yang Aku wahyukan kepadamu dari al kitab ini dan dirikanlah shalat. (QS. berpuasalah. Dan melihat gunung-gunung bagaimana is ditegakkan. Tuhan menunjukkan manfaatnya bagi hidup manusia. Dan melihat langit bagaimana is ditinggikan. Mendorong manusia untuk mengamalkan ilmu pengetahuan dan mengaktualisasikan keimanan dan takwanya dalam hidup sehari-hari sebagaimana terkandung di dalam perintah salat.pengembangan akal pikiran inilah. shiyam. supaya kamu bertakwa. Dan melihat kepada bumi ini bagaimana is dihamparkan. Firman Allah yang mengandung implikasi metodologis demikian antaralain terdapat dalam ayat sebagai berikut: Kami akan rnenunjukkan kepada mereka ayat-ayat Kami di semua penjuru alam dan di dalam diri mereka sendiri sehingga menjadi jelaslah bagi mereka bahwa Tuhan itu adalah Hak (QS. karena shalat itu sesungguhnya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar«. dan sebagainya. Tuhan mendorong manusia untuk berpikir analitis dan sintetis melalui proses berpikir induktif clan deduktif. Fusshilaat: 53) Juga ayat yang menyatakan: Apakah mereka itu tidak memperhatikan unta-unta bagaimana is dijadikan. Maka barangsiapa di antaramu hadir dalam bulan itu.

sendiri dalam masalah menegakkan shalat tersebut pernah mengajarkan kepada sahabatnya dengan menggunakan metode ³demonstrasi´ di depan mereka. (QS. Misalnya.hitungan hari puasamu. Berjihad di sini berarti bersungguhsungguh dalam pekerjaan. Dengan melalui jihad fi sabilillah itu manusia akan memperoleh jalan kebenaran Tuhan serta menjadi orang yang beruntung. Nabi memerintahkan sebagai berikut: Salatlah kamu seperti kamu lihat aku salat. yaitu motivasi teogenetis yang memberikan dorongan berdasarkan nilainilai ajaran agama dan motivasi sosiogenetis yang memberikan dorongan berdasarkan nilai-nilai dari kehidupan masyarakat serta motivasi biogenetis yang mendorongnya berdasarkan kebutuhan kehidupan biologisnya selaku makhluk manusia yang terbentuk dari unsurjasmaniah dan rohaniah. melainkan atas dasar kesadaran dan kerelaan. Nabi Muhammad saw. 3) Mendorong berjihad. . Allah menunjukkan bahwa memeluk Islam itu tidak melalui paksaan. karena satu sama lain berkaitan. Hubungan vertikal dengan Tuhannya dan hubungan horizontal dengan masyarakatnya mengharuskan manusia mengambil nilai-nilai dari ketiga aspek ini menjadi tenaga pendorong dalam hidupnya. Dengan sikap serius (sungguh-sungguh) itu is akan memperoleh hasil yang menguntungkan dirinya sendiri. Dan Islam bukan agama yang mempersukar. melainkan mempermudah manusia. artinya dalam pribadinya tumbuh kesadaran yang berpangkal pada alasan-alasan yang diyakini kebenarannya. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. Suatu kesungguhan usaha dan bekerja itu Baru dapat dibangkitkan atas motivasi yang beipusat pada pribadi seseorang. Ketiga aspek tersebut telah ditunjukkan Allah dalam kitab suci-Nya secara simultan (bersamaan). Sedangkan kebutuhan berkembang dan tumbuh bagi dirinya sendiri dalam masyarakat tetap hares dapat dijadikan motivasi yang mendorong ke arah hidup yang penuh dengan dinamika dan progresivitas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. agar mereka lebihjelas dan mudah menirunya. Dalam hubungan ini maka metode yang berdasarkan pendekatan motivatif akan mampu menggerakkan semangat bekerja dan berusaha seseorang anak didik bilamana sekaligus didorong oleh nilai-nilai motivatif dari ketiga aspek. Al Baqarah: 185) Juga perintah dan larangan dalam kegiatan hidup manusia yang dinyatakan dalam Alquran mengandung implikasi yang mendidik ke arah kebaikan dan kebahagiaan serta kesejahteraan manusia itu sendiri dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. 4) Dalam usaha meyakinkan manusia bahwa Islam merupakan kebenaran yang hak. Ada pepatah Arab yang menyatakan: Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diinginkan. Tuhan sering pula mempergunakan metode pemberian suasana (situasional) pada suatu situasi dan kondisi tertentu.

Dengan kata lain. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi sendiri dalam mengajarkan shalat dengan mendemonstrasikan cara-cara shalat yang benar Juga menganjurkan bagaimana shalat secara berjamaah dengan pahalanya berlipat 27 kali atau shalat Jumat setiap hari Jumat seminggu sekali. dan sebagainya. bila kita membahas Ilmu Pendidikan Islam dalam buku tersendiri. oleh karena satu sama lain dapat saling bertanya dan Baling mengoreksi bila satu sama lain melakukan kesalahan. yaitu bersifat mengajar yang lebih menitikberatkan pada kecerdasan dan pengetahuan. Allah mengajarkan tentang ciri-ciri orang yang beriman dalam bersikap dan bertingkah laku agar mereka dapat mengetahui bagaimana seharusnya mereka bersikap dan berperilaku sehari-hari. 6) Metode pendidikan dengan menggunakan cara instruksional. Bab 13 Tujuan Pendidikan Islam Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. ) Oleh karena itu dalam mengajarkan agama kepada orang kafir. Metode-metode lainnya akan dapat kita identifikasikan lagi. ± 5) Metode mendidik secara kelompok yang dapat disampaikan dengan metode mutual education. Misalnya. sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya. Nabi pernah memerintahkan Mu¶ adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy¶ary sebagai utusan Nabi untuk berdakwah ke negeri Syam dengan sabdanya: Permudahlah dan jangan kamu persulit mereka. perilaku lahiriah adalah cermin yang .Allah memerintahkan agar orang-orang yang telah beriman itu digembirakan ( dengan gambaran kehidupan akhirat (surga) yang serba membahagiakan. Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia. dan gembirakanlah mereka dan janganlah kamu berbuat yang menyebabkan mereka lari daripadamu. dan sebagainya. Dengan cara berkelompok inilah maka proses mengetahui dan memahami pelajaran akan lebih efektif.

sebab kemelaratan duniawi bisa menjadi ancaman yang menjerumuskan manusia kepada kekufuran. ekonomis. 2. Dimensi-dimensi nilai di atas merupakan sasaran idealitas islami yang seharusnya dijadikan dasar fundamental dari proses kependidikan Islam. Inilah tujuan pendidikan Islam yang optimal sesuai doa kita sehari-hari yang selalu. Dimensi yang mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan di akhirat yang membahagiakan. Dimensi yang mengandung nilai yang dapat memadukan (mengintegrasikan) antara kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi. berarti berbicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak islami. Dimensi nilai kehidupan ini mendorong kegiatan manusia untuk mengelola dan memanfaatkan dunia ini agar menjadi bekal/sarana bagi kehidupan di akhirat. Dimensi ini menuntut manusia untuk tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimiliki. Penyerahan diri secara total kepada Allah Yang Maha Esa menjadikan manusia menghambakan diri hanya kepada-Nya semata. kita panjatkan kepada Allah setiap waktu: Adapun dimensi kehidupan yang mengandung nilai ideal islami dapat kita kategorikan ke dalam tiga macam sebagai berikut. Dimensi yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia. Bila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah (Khaliknya) berarti telah berada di dalam dimensi kehidupan yang menyejahterakan di dunia dan membahagiakan di akhirat. sosial. namun kemelaratan atau kemiskinan dunia harus diberantas. baik yang bersifat spiritual.memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah mengacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses kependidikan. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan yang menggoda ketenangan hidup manusia. kultural. maupun ideologis dalam hidup pribadi manusia. Dimensi-dimensi nilai tersebut seharusnya ditanam-tumbuhkan di dalam pribadi muslim secara seutuhnya melalui proses pembudayaan yang bercorak pedagogis. 3. Sedang idealitas islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami. . Ketaatan kepada kekuasaan Allah yang mutlak itu mengandung makna penyerahan diri secara total kepada-Nya. dengan sistem atau struktur kependidikan yang bagaimanapun ragamnya. 1. Jika kita berbicara tentang tujuan pendidikan Islam.

Di sinilah kita dapat melihat bahwa dimensi nilai-nilai islami yang menekankan keseimbangan dan keselarasan hidup duniawi-ukhrawi menjadi landasan ideal yang hendak dikembangkan atau dibudayakan dalam pribadi manusia melalui pendidikan sebagai alat pembudayaan. akan mengalami kerusakan. Konfigurasi dari nilai-nilai islami mungkin dapat mengalami perubahan. menanamkan. Nilai islami yang seharusnya dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik melalui proses kependidikan adalah berwatak fleksibel dan dinamis dalam konfigurasi normatif yang tak berubah sepanjang masa. Pada zaman Nabi dahulu belum dijumpai adanya teknologi canggih di bidang informasi dan transportasi.. Nilai-nilai islami yang fundamental yang mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat tidak berkecenderungan untuk berubah mengikuti selera nafsu manusia yang berubah-ubah sesuai tuntutan perubahan sosial. pendidikan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilainilai dalam ruang lingkup konfigurasinya. pendidikan Islam justru wajib memperluas r . Pendidikan Islam bertugas mempertahankan. sehingga membawa ke arah kemunduran di segalabidang atau sebagian bidang kehidupan masa kini dan mendatang. bahkan facsimile (fotokopi jarak jauh) dan sebagainya? Dengan contoh-contoh di atas. Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami. Sebagai ilustrasi. Sebab bila secara intrinsik nilai tersebut berubah maka makna kewahyuan (revillatif) dari sumber nilai yang berupa kitab suci Alquran. mengembangkan ilmu dan teknologi sejauh mungkin dapat dicapai.gunakan teknologi informatika seperti alat pengeras suara. radio/TV. dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai islami yang bersumber dari kitab suci Alquran danAl Hadis. sehingga di dalam firman-firman Allah dan Sabda Naibi sendiri belum secara eksplisit memberikan tuntunan tentang penggunaan alat teknologi yang akhir-akhir ini telah membanjir ke tengafi kehidupan masyarakat kita. Nilai-nilai islami yang absolut dari Tuhan itu sebaliknya akan berfungsi sebagai pengendali atau pengarah terhadap tuntutan perubahan sosial dan tuntutan individual.. Apakah wajar bilamana umat Islam dilarang untuk memanfaatkan hasil teknologi seperti kapal terbang jet untuk pengangkutan jemaah haji ke Tanah Suci dan apakah kita diharamkan men. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat. dan rasa pribadi muslim. Video Cassette Recorder. namun secara intrinsik nilai tersebut tetap tak berubah. karsa. juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas . Dengan demikian. Bukan lagi nilai islami jika kaidah-kaidahnya membelenggu ruang gerak daya cipta. dapat dikemukakan contoh sebagai berikut.ntangan konfigurasi nilai-nilai islami sehingga setiap pribadi muslim akan mampu melakukan dialog konstruktif terhadap kemajuan teknologi modern di mana prinsip-prinsip nilai islami memberikan jalan terarah kepada setiap muslim untuk memanfaatkan.

Gambaran suram dari masyarakat modern pernah diberikan oleh Bertrand Russell. sebagai berikut: Secara gampangnya dapat dikatakan bahwa kita saat ini berada di tengah-tengah bangsa yang menjadikan keterampilan (keahlian) manusia sebagai alat dan kebodohan manusia sebagai tujuan. bangsa manusia hidup berkat kebodohan dan ketiadaan keahlian. salah seorang ahli pikir Inggris kenamaan. Dengan kata lain. Pengetahuan adalah kekuasaan. dan tanpa ada rasa paksaan is memilih jalan berbakti kepada-Nya. Hal ini berarti Pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki ³kedewasaan atau kematangan´ dalam beriman. Dari sanalah.wahyu Tuhan. is bersujud syukur kepada Tuhannya. dan is memilih yang hak meskipun is mempunyai kecenderungan ke arah perbuatan sesat. karena is menggunakan kecerdasannya dan semua kemampuannya secara tepat guna. tetapi kekuasaan untuk menciptakan. Sedang ukhrawi adalah tujuan akhir dari kehidupan manusia muslim. Setiap bertambah keahlian yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu maka keahlian tersebut digunakan untuk mencapai kejelekan.57) Makin dalam pemikirannya terhadap dunia ilmu pengetahuan. Duniawi. Hal ini berakibat bahwa jika manusia tidak bertambah kebijakannya sama besarnya dengan pengetahuannya maka pertambahan pengetahuannya akan menambah kesengsaraan. pembaru yang bercitacita agar umat Islam kembali kepada kemurnian ajaran Islam.58) Mengapa manusia perlu dibekali dengan kepribadian islami? Jawabnya adalah karena manusia pada zaman modern ini banyak menghadapi tantangan dan ancaman demoralisasi yang menimbulkan keresahan dan derita hidup. mendeskripsikan sebagai berikut: ³« berbeda dengan seorang cendekiawan yang kafir. bertakwa. . dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh. baik kejahatan ataupun kebaikan. Pendidikan Islam harus mampu menciptakan para ³mujtahid´ barn dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan antara kedua bidang itu. pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh dikombinasikan dengan ketololannya itujustru tidak memberikan arah tertentu dari hidupnya (survival). la menyadari tentang kejadian alaminya hukum-hukum dan realitas alami serta mengesampingkan kemampuan dan kebebasan mengambil jalan apa pun. seorang cende kiawan muslim menggunakan ilmu pengetahuannya dan kecerdasannya untuk mengenal Tuhannya. Tujuan akhir inilah yang menjiwai atau mewarnai amal perilakunya di dunia yang tak terpisahkan dari tuntutan nilai keukhrawiannya. manusia akan mampu meraih kebahagiaan di akhirat. salah seorang cendekiawan muslim. makin kuat imannya kepada Tuhan. yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. la merasa bahwa Tuhannya telah memberikan karunia kepadanya kekuatan dan ilmu pengetahuan sehingga is merasa harus mendarmabaktikan diri pribadinya untuk kebaikan dirinya sendiri dan kebaikan sesama manusia « dan seterusnya. Sebagai gambaran bagaimana seorang yang intelektualis berkepribadian muslim harus berperilaku. memantapkan keimanannya kepada Tuhannya. bagi Islam mengandung nilai ukhrawi karena dengan amal baik di dunia. Diaberhasil lulus dalam ujian. la tidak akan salah membedakan antara yang hak dari yang batil. sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam. Tetapi. is tetap mengambil jalan berbakti dan taat kepada Tuhannya. Abul A¶ la al-Maududi.

Manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan cara hidup yang menyejahterakan diri dan masyarakatnya. Bilamana tidak demikian. sebagaimana digambarkan oleh Alquran sebagai ³orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan penyakit itu bertambah parah. tetapi (tidak diajarkan) bagaimana kita harus hidup di atas bumi ini. adalah manusia yang di dalam dirinya tidak bersinar iman dan takwa. tujuan akhir pendidikan Islam berada di dalam garis yang lama dengan misi tersebut. Oleh karena itu. yaitu membentuk kemampuan dan bakat manusia agar mampu menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan berkat Allah di seluruh penjuru alam ini. di mana iman dan takwanya menjadi pengendali dalam penerapan atau pengamalannya dalam masyarakat manusia. sehingga menderita kegelapan jiwa yang tak kunjung usai. kita tidak mengetahuinya.Pendidikan Islam harus mampu menciptakan manusia muslim yang berilmu pengetahuan tinggi. Oleh karena itu. bahkan akan membahayakan umat manusia lainnya. Berbagai Komponen Tujuan . bilamana tidak diaktualisasikan melalui ikhtiar yang bersifat kependidikan secara terarah dan tepat. Resep demikian tidak akan berguna bagi manusia bilamana manusia itu sendiri sebagai konsumennya tidak dibekali kemampuan mengaktualisasikannya melalui proses kependidikan yang sesuai dengan cita-cita Tuhan yang menurunkan resep kehidupan itu. manusia sebagai produk (hasil) dari proses kependidikan Islam mampu mencari cara-cara hidup (way of life) yang membawa kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. maka derajat dan martabat diri pribadinya selaku hamba Allah akan merosot. ajaran Islam telah memberikan resep kehidupan yang menyeluruh untuk digunakan sebagai landasan hidup manusia di segala zaman dan dalam segenap bidang kehidupan yang diperlukannya. 1. Hal ini berarti bahwa potensi rahmat dan berkat Allah tersebut tidak akan terwujud nyata. Tuntunan Islam kepada para pendidik terlihat di dalam misi agama diturunkan Allah kepada umat manusia melalui Rasul-Nya seperti yang difirmankan dalam Alquran: Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad). melainkan menjacli rahmat bagi seluruh alatn ini.´ Sebagai wahyu terakhir.´ Seorang ahli pikir Barat bernama Joad pernah mengeluh tentang keresahan manusia di Barat akibat ketiadaan iman kepada Tuhan sebagai berikut: ³Kita sekarang ini diajar untuk terbang bagaikan burung di udara dan diajar untuk berenang bagaikan ikan di air.

Tujuan formatif yang bersifat memberikan persiapan dasar yang korektif. Nilai-nilai itu akan tampak dalam perilaku kehidupan lahiriah sebagai refleksi dari perilaku batiniahnya. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan berbagai komponen tujuan yang akan dijadikan sarana untuk mencapai tujuan akhir tersebut. bahkan sangat kompleks dan mengandung risiko mental-spiritual yang secara psikologis memerlukan sistem pengarahan yang konsisten dan berkesinambungan. tujuan akhir merupakan tujuan umum atau tujuan tertinggi yang hendak dicapai. fungsional. mengingat kompleksitasnya. Tujuan selektif yang bersifat memberikan kemampuan untuk membedakan hal-hal benar dan yang salah. Perilaku batiniahnya senantiasa berorientasi kepada norma-norma ajaran Islam yang mengacu ke dalam nilai-nilai islami yang membentuk sikap dan perilakunya sehari-hari. Tujuan Normatif Suatu tujuan yang harus dicapai berdasarkan kaidah-kaidah (normanorma) yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diintemalisasikan. Tujuan ini mencakup: a. c. secara teoretis dapat dibedakan sebagai berikut. Tujuan determinatif yang bersifat memberikan kemampuan untuk mengarahkan diri kepada sasaran-sasaran yang sejalan dengan proses kependidikan. Lebih-lebih bila proses kependidikan itu menyangkut internalisasi nilainilai islami di mana faktor iman dan takwa menjadi alat vitalnya maka prosesnya lebih memerlukan pengarahan yang kuat. Iman dan takwa dalam pribadi manusia mengandung tendensi naik-turun sebagaimana semangat atau dorongan batin lainnya. dan operasional maka upaya pencapaiannya pun tidak mudah. Dengan kata lain.jiwa islami telah menjadi sumber rujukan dari perilaku seorang muslim sejati dalam hidupnya.Dalam proses kependidikan. yaitu aspek normatif. Oleh karena suatu tujuan akhir merupakan kristalisasi nilai-nilai yang ingin diwujudkan dalam pribadi anak didik maka tujuan akhir itu harus meliputi (komprehensif) semua aspek yang terintegrasi dalam pola kepribadian ideal yang bulat dan utuh. Oleh karena tujuan akhir itu mengandung nilai-nilai islami dalam segala aspeknya. yang b. Tujuan akhir itu. . Pola kepribadian ideal yang bulat dan utuh adalah suatu kerangka dasar psikologis yang memberi bentuk dan corak dasar perilaku rohaniah manusia yang menggejala dalam perilaku lahiriah secara bulat sebagai refleksi dari nilai-nilai yang mempribadi dalam dirinya. Dari itu. sudah barang tentu memiliki dalam pribadinya suatu pola hidup yang diwarnai oleh nilai-nilai islami secara utuh dan bulat. a. Seorang yang berhasil dididik menjadi muslim. pemantapannya memerlukan motivasi dan persuasi yang berpusat pada pribadinya. Sebagai ilustrasi dikemukakan suatu contoh sebagai berikut.

d. ingatan. pikiran. dorongan sosial (sosiogenetis). Tujuan individual yang bersasaran pada pemberian kemampuan individual untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah diintemalisasikan ke dalam pribadi dalam rupa perilaku moral. interpersonal. d. Tujuan umum atau tertinggi yang bersasaran pada pencapaian kemampuan optimal yang menyeluruh (integral) sesuai idealistis yang diinginkan. 2. sehingga mampu bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu yang berkaitan erat dengan tujuan umum. b. kemauan. Tujuan insidental yang bersasaran pada hal-hal yang tidak direncanakan. Tujuan moral yang bersasaran pada pemberian kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan moral atas dorongan motivasi yang bersumber agama (teogenetis). c. dan dorongan biologis (biogenetis). Tujuan aplikatif yang bersifat memberikan kemampuan penerapan segala pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam pengamalan. 4. dan interaksional dengan orang lain dalam masyarakat. dan psikomotor dari hasil pendidikan yang diperoleh sesuai yang ditetapkan. Tujuan partial yang bersasaran pada suatu bagian dari keseluruhan aspek dari tujuan umum. 3. c. intelektual. dan nafsu) ke arah tujuan akhir proses kependidikan. afektif. dan skill. b. Tujuan interrnediair yang bersifat sementara untuk dijadikan sarana mencapai tujuan tertinggi. Tujuan ini meliputi: a. Tujuan sosial yang bersasaran pada pemberian kemampuan mengamalkan nilai-nilai ke dalam kehidupan sosial. Tujuan integratif yang bersifat memberikan kemampuan untuk memadukan fungsi psikis (penyerapan terhadap rangsangan pelajaran. yaitu memberikan dan mengembangkan kemampuan atau skill khusus pada anak didik. tetapi hal-hal tersebut mempunyai kaitan dengan pencapaian tujuan umum. . e. perasaan. Tujuan Operasional Tujuan ini mempunyai sasaran teknis manajerial yang meliputi: 1. 5. Tujuan Fungsional Tujuan ini bersasaran pada kemampuan anak didik untuk memfungsikan daya kognitif. Tujuan profesional yang bersasaran pada pemberian kemampuan untuk mengamalkan keahliannya sesuai dengan kompetensi. Tujuan khusus yang bersasaran pada faktor-faktor khusus tertentu yang menjadi salah satu aspek penting dari tujuan umum. Tujuan ini bersifat lebih memperlancar pencapaian tujuan umum. yang berfungsi untuk memudahkan pencapaian tujuan umum.

menurut paham kaum realis. Dalam Islam terdapat banyak ungkapan firman Tuhan yang menyatakan bahwa pengalaman pancaindra hendaknya diperankan sepenuhnya untuk meneliti gejala alam raya dan kejadian diri manusia sendiri guna mengukuhkan kebenaran tentang adanya Maha Kuasa yang Esa. kita dapat memperoleh rumusan . sedangkan pikiran (ide) hanya merupakan konsekuensi dari pengalaman dan prediktibilitas (kemampuan peramalannya) atau ketergantungannya berdasarkan pada studi eksperimental atas keseragaman pengalaman itu. baik institusional maupun individual. dan kepada gunung-gunung bagaimana ditancapkan dengan kokohnya dan kepada bumi bagaimana is dihamparkan (QS. Melalui observasi dan studi dalam pengalaman itulah manusia akan mampu memperkukuh iman dan takwanya kepada Khaliknya. Sifat kepraktisan dari filsafat pendidikan. Oleh karena itu. Filsafat pendidikan yang bertugas untuk menemukan hakikat pendidikan akan berakhir pada penemuan masalah praktis yang ditelusuri dari masalah-masalah teoretis. bukan hanya karena is menunjukkan apa yang harus dilakukan. yaitu 1. Walaupun tidak semua masalah praktis tersebut dapat dipecahkan oleh filsafat pendidikan. Firman Allah di bawah ini merupakan bukti bahwa melalui observasi dan studi alamiah.Selanjutnya. Tujuan teoretis yang bersasaran pada pemberian kemampuan teoretis kepada anak didik. Ghasyiah: 17-20). 2. bagi kaum realis. namun ruang lingkup tugas filsafat pendidikan berada pada permasalahan teoretis dan praktis kependidikan. pencipta alam dan manusia. manusia akan menemukan Tuhannya: Apakah mereka tidak melihat binatang unta itu. dan kepada langit bagaimana ditinggikan. tetapijuga karena is menjadikan masalah praktis itu sebagai penguji pengalaman. bagaimana is diciptakan. bila dilihat dari segi filosofis maka tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi dua macam. adalah sentralnya kegiatan manusia. nilai-nilai apakah yang dicita-citakan oleh penyusun dari tujuan itu akan mewarnai corak kepribadian manusia yang menjadi hasil proses kependidikan. Rumusan tujuan pendidikan merupakan pencerminan dari idealitas penyusunnya. Tujuan praktis yang mempunyai sasaran pada pemberian kemampuan praktis kepada anak didik. Pengalaman. Dari berbagai negara atau lembaga. Formulasi Tujuan Pendidikan Islam Di atas telah diuraikan bahwa tujuan pendidikan Islam merupakan cita-cita ideal yang mengandung nilai islami terhadap mana proses kependidikan diarahkan. 2.

kecerdasan. ilmiah. dan psikomotorik yang dilandasi dengan moralitas yang tinggi menjadi potensi fundamental bag] perkembangannya dalam hidup bernegara dan berbangsa yang bertanggung jawab. Suatu kehidupan yang bernilai tinggi adalah bila fase-fase pengalaman hidup warga negara Amerika Serikat berkembang dalam segi-segi edukatif (yaitu industrial competency). linguistik. yaitu semangat kegotongroyongan yang dijiwai oleh nilai keagamaan. . imajinasi. Idealitas pendidikan di Amerika Serikat adalah diwarnai oleh paham filsafat pragmatisme. Indonesia sebagai Negara yang berfalsafah Pancasila menetapkan tujuan Pendidikan adalah untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai spiritual cukup ditafsirkan sebagai hal yang tabi¶i (natural). 3. memperkuat. terutama dari John Dewey. baik secara individual maupun secara kolektif. afektif.Dari rumusan tersebut tampak jelas bahwa manusia ideal yang hendak dibentuk melalui proses kependidikan adalah manusia yang berjiwa demokratis. mempertinggi budi pekerti. 2. Dalam hal ini tidak mengkhususkan nilai agama tertentu. intelektual. Oleh karenanya maka pendidikan harus memberikan pelayanan kepada pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya. intelektual (besar minatnya terhadap kemajuan ilmiah). seorang filosuf pendidikan yang kenamaan di dunia. dan sosial. dan etika. manusiawi. dan rasio.tujuan yang berbeda-beda substansi nilainya. Amerika Serikat yang menjadi pelopor sistem demokrasi liberal di dunia. kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. kecerdasan dan keterampilan. yaitu aspek spiritual. Bagi pragmatisme tidak ada nilai spiritual atau ideal. Sedangkan faktor-faktor kognitif. Dalam rumusan tersebut tampakjelas bahwa nilai-nilai yang hendak dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik adalah nilai-nilai kultural bangsa Indonesia yang bercorak sosialistis religius. Tujuan akhir pendidikan terletak di dalam sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah pada tingkat individual. sosial. oleh karena pragmatisme tidak mengenal nilai-nilai keagamaan. atau ideal yang transendental. artinya nilai hidup keagamaan tidak mendapatkan tempat di dalam kehidupan kultural masyarakat Amerika.jasmaniah. la bercorak sekularistis. taat kepada peraturan perundangan Negara selaku warga negara serta memiliki kompetensi dalam mengelola kehidupan ekonomi yang bernilai cukup tinggi. perasaan dan pancaindra. Faktor moral dan keagamaan tidak tercermin dalam sistem nilai yang dilibatkan dalam rumusan tujuan pendidikan. aesthetica. 1. masyarakat dan pada tingkat kemanusiaan pada umumnya. agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Kongres Pendidikan Islam Sedunia tahun 1980 di Islamabad menetapkan Pendidikan Islam sebagai berikut: ³Pendidikan harus ditujukan ke arah pertumbuhan yang berkeseimbangan dari kepribadian manusia yang menyeluruh melalui latihan spiritual. mengetengahkan tujuan pendidikan pada terbentuknya manusia warga negara yang demokratis dan warga negara yang baik serta memiliki efisiensi sosial dan kehidupan ekonomi yang bermutu. Sebagai contoh dapat diketengahkan sebagai berikut. serta mendorong semua aspek itu ke arah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan.

Menurut rumusan di atas. nilai-nilai islami akan mendasari dan lebih lanjut akan membentuk corak kepribadian anak didik pada masa dewasanya. dan kegiatan ibadahnya kepada Pencipta alam itu sendiri. Mengembangkan kemampuannya untuk menggali. c. seperti merusak alam atau menguras habis kekayaan alam tanpa memikirkan kelangsungan ekosistem yang ada. Membentuk sikap hubungan yang harmonis. jelas tampak pada kita bahwa tujuan pendidikan Islam itu tidak sempit. Juga memberikan kesadaran manusia terhadap alam sekitar dan ciptaan Allah serta mengembangkan ciptaan-Nya bagi kebaikan umat manusia. Berta menanamkan kemampuan manusia untuk mengelola. pendidikan agama hanyalah merupakan bagian dari ruang lingkup pendidikan Islam. mengelola. Dengan demikian. Jelaslah bahwa dalam proses kependidikan yang dikehendaki oleh Islam untuk mencapai sasaran dan tujuan akhir. karena apa yang dituju oleh proses kependidikan Islam pada hakikatnya adalah terwujudnya kepribadian muslim yang paripurna dalam mengembangkan kehidupan dunia akhiratnya di atas landasan iman dan takwanya kepada Allah. yang lebih utama dari semua itu ialah makrifat kepada Pencipta alam dan beribadah kepadaNya dengan cara menaati perintah-perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. a. dan memanfaatkan kekayaan alam ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan hidupnya dan hidup sesamanya serta bagi kepentingan ubudiahnya kepada Allah. Dengan demikian. memanfaatkan alam sekitar sebagai ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia. Fadhil Al-Djamaly. dengan dilandasi sikap hubungan yang harmonis pula. . pendidikan Islam secara filosofis berorientasi kepada nilai-nilai islami yang bersasaran pada tiga dimensi hubungan manusia selaku ³khalifah´ di muka bumi. menyatakan kesimpulan dari studinya bahwa ³Sasaran pendidikan menurut Alquran ialah membina pengetahuan/kesadaran manusia atas dirinya. Allah Subhanahu Wata¶ala. Dengan kata lain. dan seimbang dengan masyarakatnya. Dalam hal ini sikap take and give (mengambil dan memberi) kepada alam sekitar akan mampu menjaga kelestarian alam itu. kesadaran selaku anggota masyarakat yang harus memiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap pembinaan masyarakatnya. selaras. dan atas sistem kemasyarakatan islami serta atas sikap dan rasa tanggungjawab sosial. Akan tetapi. yaitu sebagai berikut. Menanamkan sikap hubungan yang seimbang dan selaras dengan Tuhannya. tujuan pendidikan Islam. Mohd. Sikap hubungan yang harmonis itu ialah sikap yang tidak memusuhi alam sekitar. melainkan menjangkau seluruh lapangan hidup manusia yang bertitik optimal pada penyerahan diri manusia kepada Khaliknya. menurut pendapat di atas ialah menanamkan makrifat (kesadaran) dalam diri manusia terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah. Sejalan dengan pengertian ideal dari tujuan pendidikan Islam itu seorang cendekiawan muslim (Guru Besar Ilmu Pendidikan di Universitas Tunisia) DR. b.

dan merdeka (freide) sesuai kehendak Tuhan. sedang kemampuan afektif yang banyak berkaitan dengan minat dan sikap agama. sadar dan bebas. intelektualitas. emosional. tentang kehendak hukum Tuhan serta mengajarnya tentang cara dan sarana menuju kepada-Nya. Paham realisme dan naturalisme sama-sama menerima.pandangan hidup ilmiah sebagai final dan kedua paham tersebut juga sepakat untuk tidak mengakui adanya pengalaman religius pada diri manusia. Bilamana simpati kepada Tuhan dijadikan salah satu aspek sasaran pembinaan kepribadian melalui proses kependidikan. antara lain Herbert Spencer (meninggal tahun 1903) yang beraliran naturalisme dan Huxley (meninggal tahun 1895).71)Bertrand Russell. intelektual. . agar tumbuh kesadaran terhadap diri sendiri (self consciousness) ke arah penggambaran (representasi) yang murni.Bila tujuan-tujuan pendidikan Islam yang telah dirumuskan di atas dibandingkan dengan rumusan tujuan pendidikan dari ahli pikir lainnya. Bertrand Russell (lahir 1872). Perasaan simpati bukanlah suatu potensi dasar kejiwaan. atau kemampuan psikomotorik yang berkaitan dengan pengamalan (skill) tidak menjadi tujuan pokok. Froebel yang lebih mengarahkan pendidikan kanak-kanak kepada kehidupan bebas (friede). seorang idealis yang mistis. dan inteligence). 3. melainkan hanya mengakui adanya aspek-aspek pengalaman yang bersifat fisik. tidak menyinggung masalah nilai keagamaan atau spiritual. beranggapan bahwa tujuan pendidikan itu harus diarahkan kepada pengembangan empat sasaran potensial manusia. sensitivitas. tidak beku. melihat bahwa setiap anak memiliki bakat dan kemampuan natural masing-masing sebagai anugerah Tuhan. bergembira (freude). 2) Herbart (meninggal tahun 1841). merumuskan pendidikan sebagai: proses yang terdiri dari memimpin manusia sebagai makhluk berpikir. yaitu vitalitas. dengan diiringi oleh perasaan etis dan simpati kepada masyarakat (dalam kelembagaan) serta perasaan simpati kepada Tuhan (agama). yang bersifat menyeluruh.Sebagai seorang realis. seorang ahli filsafat berpaham realism yang banyak menumpahkan perhatian kepada masalah kependidikan. Oleh karena itu. dan etis. Penciptaan suasana yang favorable dalam pendidikan seperti bermain merupakan prasyarat bagi keberhasilan pembinaan watak dan kreativitas anak didik. seperti misalnya: 1) Froebel (1852). is berpandangan sama dengan rekan-rekannya. memandang bahwa tujuan pendidikan yang optimal adalah untuk mengajarkan ilmu pengetahuan (science). Tekanan utama yang diletakkan oleh Herbart dalam tujuan pendidikan adalah intelektualisasi anak didik yang bertumpu kepada kemampuan kognitif (penalaran. dan keberanian (courage). simpati tidak dapat dijadikan pola kepribadian manusia yang tetap. Karena simpati sebagai manifestasi emosional hanyalah merupakan salah satu aspek dari manifestasi keimanan seseorang. kreativitas. filsafat. dan seni. yaitu iman dan takwa tidak tampak dalam proses kependidikan ala Froebel. Namun unsur esensial yang menjadi landasan mental spiritual perkembangan manusia. Padahal dalam proses kependidikan tigakemampuan tersebut merupakan trichotomi-nya perkembangan hidup manusia dalam masyarakat yang dinamis. hal itu tidak potensial bagi pertumbuhan atau perkembangan anak didik. melainkan hanya merupakan suasana psikologis yang timbul karena suatu peristiwa tertentu. seorang pemikir berpaham realisme.

C. tujuan pendidikan Islam meletakkan tekanan pada kemampuan manusia untuk mengelola dan memanfaatkan potensi pribadi. yaitu kebahagiaan hidup setelah mati. Secara implisit (tersirat) khuluq manusia ciptaan Tuhan diakui sebagai potensi psikologis yang mendasari perkembangan umat manusia sejak lahir yang memerlukan pengarahan melalui proses kependidikan yang sistematis dan konsisten. Itulah agama yang lurus. Jung) adalah kemampuan dasar yang menjadi fitrah manusia. sosial. Kehidupan di dunia merupakan sawah ladang yang harus dikelola sebaik-baiknya untuk dimanfaatkan sebagai sarana mencapai kebahagiaan hidup di akhirat nanti. salah seorang ahli pendidikan Mesir berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak al-karimah yang merupakan fadhilah dalam jiwa anak didik. kemampuan manusia untuk berakhlak mulia yang bersumberkan jiwa keagamaan (naturaliter religiosa. Kalau pendidikan umum hanya ingin mencapai kehidupan duniawi yang sejahtera baik dalam dimensi bernegara maupun bermasyarakat maka Pendidikan Islam bercita-cita lebih jauh yang bernilai transendental. mental dan fisik yang mampu menegakkan cara hidup yang aman. Potensi ini telah ditegaskan oleh Allah SWT. dan alam sekitar bagi kesejahteraan hidup di dunia sampai dengan akhirat. (QS. yang tak dapat diubah atau dihapuskan dengan cara apa pun. damai dengan kreativitas tinggi. .G.´) Pandangan yang idealistik dari Dr. sehingga anak akan terbiasa dalam berperilaku dan berpikirnya secara rohaniah dan insaniah berpegang pada moralitas tinggi. Dengan kata lain. Mohammad µAthiyah di atas mencerminkan nilai-nilai islami yang mendasari misi Rasulullah saw. bukan insidental atau aksidental di dunia. yaitu Ämenyempurnakan akhlak yang mulia´. serta moralitas yang luhur.Dibandingkan dengan tujuan pendidikan Islam. pendapat-pendapat para ahli di atas kurang mencakup terhadap keseluruhan aspek pertumbuhan/perkembangan anak didik yang hendak dibentuk/dibina menjadi manusia paripurna (seutuhnya) lahir dan batin. tanpa memperhitungkan keuntungan-keuntungan material. hanya melihat dari aspek-aspek kemampuan kejiwaan anak didik yang diarahkan atau dikembangtumbuhkan ke arah kedewasaan/kematangan. tetaplah di atas fitrah Allah itu yang Allah telah menciptakan manusia berada di atas fitrah itu. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Jadi nilai-nilai yang hendak diwujudkan oleh pendidikan Islam adalah berdimensi transendental (melampaui wawasan hidup duniawi) sampai ke ukhrawi dengan meletakkan cita-cita yang mengandung dimensi nilai duniawi sebagai sarananya. Mohammad µAthiyah al-Abrasy. dalam kitab suci Alquran sebagai berikut: Maka hadapkan wajahmu kepada agama secara lurus. Dr. Ar-Ruum: 30) Sampailah kita pada kesimpulan bahwa bila para ahli filsafat pendidikan merumuskan tujuan umum pendidikan seperti telah disebutkan di atas. di mana keimanan menjadi referensi potensialnya. tak dapat diubah ciptaan Allah itu. menurut Dr.

. yang berbeda hanyalah sistem dan metode (manhaj)-nya.Oleh karena pendidikan merupakan sarana atau alat untuk merealisasikan tujuan hidup orang muslim secara universal maka tujuan pendidikan Islam di seluruh dunia harus sama bagi semua umat Islam.

Jadi. menghayati. sasaran psikologia proses kependidikan lebih menekankan pada usaha mengintemaliaasikan nilai-nilai atau mempribadikan nilai-nilai daripada proses pengajaran yang lebih menekankan pada mengintelektualiaasikan manusia dengan ilmu pengetahuan. suatu metode pendidikan barn dapat memiliki nilai efektivitas. mubah. atau secara objektif metode itu kurang cocok dengan kondiai dari objek. Metode-metode yang dipergunakan tidak hanya metode mendidik/ mengajar dari para pendidik. Cara itu mungkin baik mungkin tidak baik. simbolis. Pengertian letterlijk. yaitu yang bersifat polipragmatia dan monopragmatia. kognatif. instruksi. dan haram). sunat. melalui ungkapan-ungkapan historis. Prinsip-Prinsip Metodologis dalam Alquran Di dalam kitab suci Alquran terdapat berbagai gaya bahasa atau uslub yang mengandung nilai metodologis dalam pendidikan. memahami. dan larangan dalam susunan nilai hukum yang kategorial (wajib. Dengan demikian metode yang terkandung dalam khithab adalah berupa ³metode pemberian alternatif¶. makruh. Dalam pandangan filosofia pendidikan. .BAB III PENUTUP KESIMPULAN Pengertian umum metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu. dan hodos yang berarti ³jalan´. pemakai metode itu sendiri yang kurang memahami penggunaannya atau tidak sesuai dengan seleranya. melainkan juga metode belajar yang harus dipergunakan anak didik. dan menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang diajarkan. Metode yang Dipergunakan dalam Pendidikan Islam Dalam sejarah pendidikan Ialam dapat diketahui bahwa para pendidik Muslim dalam berbagai situasi dan kondiai yang berbeda. metode berarti ³jalan yang dilalui´. oleh karena anak didik tidak saja dipandang dari satu segi kemungkinan perkembangan. Baik dan tidak baiknya sesuatu metode banyak bergantung kepada beberapa faktor. melainkan dilihat pula dari pelbagai aspek hidupnya. Pengajaran lebih menitikberatkan usahanya ke arah terbentuknya kemampuan maksimal intelektual dalam menerima. Jadi. telah menerapkan berbagai macam metode pendidikan atau pengajaran. metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode dalam Pendidikan atau Pengajaran Pendidikan lebih mengarahkan tugasnya kepada pembinaan atau pembentukan sikap dan kepribadian manusia yang beruang lingkup pada proses mempengaruhi dan membentuk kemampuan kognitif. kata ³metode´ berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari meta yang berarti ³melalui´ . Didasarkan atas sistem pendekatan dari pelbagai disiplin keilmuan. dan afektif serta psikomotor dalam diri manusia. Faktor-faktor itu mungkin berupa situasi dan kondiai. Alat itu mempunyai fungsi ganda.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->