Sukses Berbisnis Oleh-oleh Beromzet Miliaran 27-05-2011 10:57:47 Membawa oleh-oleh bagi sebagian besar orang Indonesia

seperti menjadi kewajiban saat baru pulang bepergian dari luar kota maupun luar negeri. Setiap wilayah, konsep oleh-oleh berbeda-beda dengan karakteristik yang khas, misalnya berupa makanan maupun minuman.

Menurut Syamsul Huda, pengusaha oleh-oleh makanan olahan apel asal Malang, berbisnis oleh-oleh sangat menjanjikan asalkan mengerti strateginya. Syamsul mengganggap, segmen pasar oleh-oleh harus dibedakan dengan segmen produk secara umum.

"Kalau produk oleh-oleh kualitasnya harus tinggi, maka harga jualnya juga tinggi, desain harus menarik. Tapi kalau produk lain harganya murah dengan kualitas di bawah (standar)," kata Syamsul kepada detikFinance beberapa hari lalu di Malang.

Menurutnya, kelebihan dari bisnis oleh-oleh, produknya pasti dicari banyak orang sehingga pemasarannya relatif mudah. Meskipun biasanya segmen pasar ini hanya terbatas pada wilayah tertentu saja.

"Kami mengincar pasar oleh-oleh, pasar oleh-oleh bagaimana mengangkat Kota Batu Malang sebagai kota wisata," katanya.

Dari sisi variasi produk, segmen pasar oleh-oleh memang mau tidak mau harus memiliki keterbatasan jenis. Produk yang dijual haruslah khas wilayah setempat, karena jika tidak, konsumen akan bingung menentukan produk apa yang pas untuk oleh-oleh.

Namun kondisi semacam seperti ini bukan berarti harus membatasi kreasi seorang pebisnis. Berdasarkan pengalaman Syamsul, untuk mengembangkan usaha, seorang pengusaha produk oleh-oleh harus juga memiliki produk non oleh-oleh untuk segmen pasar umum, dengan konsekuensinya harus bermain di harga yang lebih miring.

kripik salak." katanya. tertarik dengan bisnis oleh-oleh karena dihadapkan oleh kondisi suramnya sektor pertanian apel Batu Malang sepuluh tahun lalu."Di samping ada kripik apel. kita juga ada pia apel khusus untuk semua segmen pasar. "Yang menjadi latar belakang kondisi budidaya apel tahun 2001." katanya. Dengan masuk segmen produk di luar oleh-oleh. Saya memulai beranikan diri pinjam dana Bank Mandiri dan Bank Jatim. Perlu ada sentuhan teknologi pengolahan pangan. "Tahun berikutnya saya buat ekspansi pasar dan modal dengan minjam uang dari bank. sudah jenuh tanah. Syamsul mengaku harus menyiapkan perangkat modal yang lebih besar dan perizinan yang lebih kompleks. 5% sampai 15%. "Kebetulan setiap tahun naik. kripik nanas. belum berani ke luar karena belum ada modal. pada waktu itu ia hanya bermodal Rp 4 juta. dodol sirsak. dodol nangka. . Menurutnya saat ini oleh-oleh khas Batu Malang masih berkutat pada produk makanan olahan seperti kripik apel dan sari buah apel. "Sementara ini produk-produk saya masih di Jawa Timur. Dengan omset per bulan Rp 110 juta. Ternyata sebuah keberhasilan harus berani dulu dan mengambil risiko. ia juga membuat kripik nangka. sari apel. Ini merugikan petani. selain kripik apel. Produktivitas turun dan kualitas juga. Bisnis produk olahannya terus berkembang." kenang Syamsul. permen apel dan lain-lain. kita juga mau mengembangkan biskuit apel. dodol nanas. dodol strawberry dan lain-lain. kripik mangga. terjadi penurunan. produk olahan apel pertamanya adalah jenang atau dodol apel. Syamsul yang memulai bisnis makanan olahan apel sejak 2001 ini. jenang (dodol) apel." ucap pria lulusan Unisma Fakultas Pertanian ini." katanya. Selama dua tahun pertama bisnis jenang apelnya masih kembang kempis alias baru sampai tahap balik modal. Ke depannya selain pia. Ia mengaku. Keberhasilan Syamsul menggeluti produk makanan olahan apel bukan lah isapan jempol belaka. kripik rambutan.

pengunjung juga bisa melihat perkebunan apel. saya melakukan kegiatan promosi di daerah Malang Raya. Dengan margin hingga sampai 20-30%. Cara menembus pasar.Setelah dapat suntikan dana segar dari bank. Syamsul kini sudah memiliki 72 karyawan padahal awalnya hanya 2 orang karyawan.000 sampai Rp 22. namun para petani yang menyuplai bahan baku apel pun ikut kecipratan moncernya bisnis olahan apelnya. Misalnya dalam hal harga jual apel. bisnis Syamsul kian melaju pesat sejalan berkembangnya aneka produk yang ia buat. padahal permintaaan banyak. Produk-produk yang ia jual relatif terjangkau untuk segmen oleh-oleh yaitu dimulai dari Rp 2. Menurutnya permintaan produk olahan apel dan buah lainnya terus naik. rambutan karena bukan musim. bahkan pada musim liburan bisa naik hingga 30%. Selama ini Syamsul mampu menghabiskan 500 kg apel untuk dijadikan kripik dan sari buah. kita juga ada paket wisata selain melihat produksi olahan apel. "Justru yang jadi masalah adalah suplai nangka. Menurutnya suplai apel tak menjadi masalah meski produksi turun hingga 25%. salak." jelasnya. Ada tergabung 41 petani. Kalau dibeli tengkulak harganya murah. "Sekarang total variasi produk sudah ada 15 macam." katanya." kata pria yang mengaku mengolah apel secara otodidak ini. "Kita ada mitra kerja binaan kelompok tani apel yang menjadi mita kerja. . Mulai dari situ ia banyak mengembangkan berbagai aneka produk kripik termasuk kripik dan jus apel. Keberhasilan Syamsul bukan hanya dinikmati oleh dirinya dan karyawannya.000 per bungkus. Syamsul memberikan harga relatif lebih bagus dari pada harga pembelian dari tengkulak yaitu berkisar Rp 5000-7000 per Kg. Saya ikut promosi kegiatan pameran di dinas. Syamsul mengaku begitu menikmati masa keemasan bisnisnya saat ini.

detikFinance . Kopral Kasdi 2 Bumiaji Kota Batu.co. Email: huda_bagus@yahoo. Bagus Arista Mandiri Jl. Malang.Syamsul Huda CV.id Suhendra .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful