P. 1
1 - 53 Bab I dan II

1 - 53 Bab I dan II

|Views: 697|Likes:
Published by Stefsmp8
Skripsi tentang Pendidikan Religiositas Bab I dan II
Skripsi tentang Pendidikan Religiositas Bab I dan II

More info:

Published by: Stefsmp8 on Feb 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

Sections

Skripsi yang berjudul, UPAYA PENINGKATAN KUALITAS

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS

IV MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN

RELIGIOSITAS DI SEKOLAH DASAR YPPK ST. THERESIA BUTI-

MERAUKE terdiri dari lima bab dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan berisi tentang latar belakang, penjelasan judul, rumusan

masalah dan pembatasan masalah, tujuan penulisan dan kegunaan penulisan,

metodologi penelitian serta sistematika penulisan.

Bab II adalah Kajian Teoritis yang membahas paham pendidikan, Pendidikan

Agama Katolik (PAK), Pendidikan Agama dalam pergeseran KBK 2004 dan

KTSP, dan Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II.

15

Bab III menguraikan tentang pra penelitian, pelaksanaan penelitian, data hasil

penelitian dan analisis data hasil penelitian.

Bab IV Model Pembelajaran Pendidikan Religiositas sebagai Upaya

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik bagi siswa

Majemuk di dalamnya dibahas definisi pembelajaran,Pendidikan Religiositas

dan contoh RPP PAK dengan model pendidikan religiositas.

Bab V Penutup berisi kesimpulan dan saran

Terakhir diberikan daftar pustaka sebagai referensi bagi pembaca untuk lebih

mendalami materi terkait.

Inti bagian pendahuluan ini merupakan alasan pemilihan judul skripsi,

ketertarikan dan keprihatinan yang mendorong penulis mengadakan penelitian

dengan menggunakan metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan

penelitian adalah untuk memperoleh data-data, baik data kualitatif maupun data

kuantitatif yang akurat untuk kemudian diolah dan diinterpretasikan dengan studi

pustaka yang akan dibahas pada bab berikut.

16

BAB II

KAJIAN TEORITIS

Membahas model pembelajaran pendidikan religiositas sebagai upaya

untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAK berarti masuk dalam ranah

pendidikan. Berbicara tentang pendidikan hampir tidak mungkin untuk tidak

berbicara tentang kurikulum. Pelaksanaan PAK dengan KBK dan KTSP mesti

dilihat secara kritis hitam putihnya, berikut dokumen-dokumen Konsili Vatikan II

yang mendukung ruang dialog antar agama dan kepercayaan perlu penulis

kemukakan untuk memberi tempat bagi penerapan model pembelajaran

pendidikan religiositas yang penulis angkat pada penyusunan skripsi ini.

A.

Paham Pendidikan

1.Pengertian Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata “didik” yang diberi awalan “pe” dan akhiran

“an” yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau

kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan latihan, proses, perbuatan, cara mendidik. Pengertian

pendidikan menurut istilah adalah suatu usaha sadar yang teratur dan

sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab

untuk mempengaruhi anak supaya mempunyai sifat-sifat dan tabi’at yang

sesuai cita-cita pendidikan. Sedangkan UU Sisdiknas menyebutkan sbb:

17

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keserdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara (UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 1).

2.Pengertian Kurikulum

Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu

pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai

tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan.

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan

perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk

menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna

mencapai hasil yang maksimal.

Pengertian Kurikulum

Perkataan kurikulum sebagai istilah dalam dunia pendidikan pertama kali

muncul dalam kamus Webster tahun 1856. Kurikulum diartikan sebagai:

1. a race course; a place for running; a chariot. 2. A course in general;
applied particulary to the course of study in a university (Nasution,S;
1995:1).

Jadi dengan kurikulum dimaksud suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari

atau kereta dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. Kurikulum juga berarti

chariot’ semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang

membawa seorang dari ‘start’ sampai ‘finish’. Kurikulum, kemudian dipakai

dalam bidang pendidikan, yakni sejumlah mata kuliah di perguruan tinggi.

Kamus Webster 1955 memberi arti kurikulum sebagai :

18

a. A course esp. a specified fixed course of study, as in a school or
college, as one leading to a degree. b. The whole body of courses
offered in an educational institution, or department there of,-. the usual
sense (hal 2).

Di sini kurikulum khusus digunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yakni

sejumlah mata pelajaran di sekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi, yang

harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat. Kurikulum juga

berarti keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan.

Di Indonesia, istilah kurikulum baru menjadi popular sejak tahun lima

puluhan. Ketika itu kurikulum, pada hakekatnya sama artinya dengan ‘rencana

pelajaran’. Dalam perkembangannya, pengertian kurikulum banyak

mengalami perkembangan, berkat pemikiran oleh tokoh-tokoh pendidikan

mengenai kurikulum, sehingga kurikulum dapat meliputi hal-hal yang tidak

direncanakan namun turut mengubah kelakuan anak didik. Kurikulum juga

bukan lagi sekadar sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mendapat liputan

yang lebih luas. ‘Rencana pelajaran’ rasanya terlampau sempit dan terikat oleh

pengertian tradisional, yang sangat terbatas pada bahan pelajaran dalam buku

pelajaran.

Berikut ini kami berikan beberapa definisi kurikulum berdasarkan beberapa

ahli kurikulum:

a.J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam bukunya Curriculum

Planning for Better Teaching and Learning (1956) menjelaskan arti

kurikulum:

19

The Curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning
whether in the classroom, on the playground, or out of school (hal 4).

Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam

ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum.

Kurikulum meliputi juga kegiatan ekstra kurikuler.

b.Harold B. Albertycs, memandang kurikulum sebagai,

all of the activities that are provided for students by the school (hal 5).

Kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi meliputi

kegiatan-kegiatan lain, di dalam dan luar kelas, yang berada di bawah

tanggung jawab sekolah.

c.B. Othanel Smith, W.O. Stanley, dan J. Harlan Shores lebih melihat

kurikulum sebagai:

a sequence of potential experiences set up in the school for purpose
of disciplining children and youth in group ways of thinking and
acting (hal 5).

Kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat

diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat

sesuai dengan masyarakatnya.

d.William B. Ragan, menjelaskan kurikulum sebagai:

The tendency in recent decades has been to use the term in a broader
sense to refer to the whole life and program of the school. The term is
used … to include all the experiences of children for which the scool
accepts responsibility. It denotes the results of efferorts on the part of
the adults of the community, and the nation to bring to the children the
finest, most whole some influences that exist in the culture (hal 5).

Kurikulum dalam arti luas meliputi seluruh program dan kehidupan dalam

sekolah, yakni segala pengalaman anak di bawah tanggung jawab sekolah.

20

Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajaran tetapi juga seluruh

kehidupan dalam kelas. Jadi hubungan sosial antara guru dan murid,

metode mengajar, cara mengevaluasi termasuk dalam kurikulum.

e.J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller juga menganut definisi kurikulum

yang luas. Metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan

seluruh program, perubahan tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan,

supervisi dan administrasi serta hal-hal struktural tentang waktu, jumlah

ruangan dan kemungkinan memilih mata pelajaran termasuk dalam

kurikulum (hal 6). Ketiga aspek: program, manusia dan fasilitas sangat erat

hubungannya, sehingga tak mungkin diadakan perbaikan kalau tidak

diperhatikan ketiga-tiganya.

f.Alice Miel yang juga menganut pendirian yang luas mengenai kurikulum

mengemukakan bahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana

sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang yang

melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik

dan personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi dan orang

lainnya yang ada hubungannya dengan murid-murid). Jadi kurikulum

meliputi segala pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang

diperoleh anak di sekolah. Definisi Miel tentang kurikulum meliputi bukan

hanya pengetahuan, kecakapan, kebiasaan-kebiasaan, sikap, apresiasi, cita-

cita serta norma-norma, melainkan juga pribadi guru, kepala sekolah serta

seluruh pegawai sekolah. (hal 6)

21

g.Edward A.Krug berpendirian, “A curriculum consists of the means used to

achieve or carry out given purposes of schooling”(hal 7). Kurikulum dilihat

sebagai cara-cara dan usaha untuk mencapai tujuan persekolahan. Krug

membedakan tugas sekolah mengenai perkembangan anak dan tanggung

jawab lembaga pendidikan lainnya seperti rumah tangga, lembaga agama,

masyarakat, dan lain-lain. Krug dengan sengaja menggunakan istilah

schooling’ untuk menjelaskan apa sebenarnya tugas sekolah. Krug

membatasi kurikulum pada: 1. Organized classroom instruction, yaitu

pengajaran di dalam kelas, 2. Kegiatan-kegiatan tertentu di luar pengajaran

itu, seperti bimbingan dan penyuluhan, kegiatan pengabdian masyarakat,

pengalaman kerja yang bertalian dengan pelajaran, dan perkemahan

sekolah.

Kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan

guna mencapai tujuan pendidikan. Sebuah rencana biasanya bersifat idea,

suatu cita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk.

Maka kurikulum pada umumnya mengandung harapan-harapan yang sering

kali muluk-muluk. Apa yang dapat diwujudkan dalam kenyataan disebut

kurikulum real. Tidak semua yang direncanakan dapat direalisasikan, maka

terdapat kesenjangan antara idea dan real curriculum.

Penulis mnyimpulkan pengertian kurikulum sebagai berikut:

pengertian kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan yang

terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam pengertian sederhana, kurikulum

dapat dianggap sebagai sejumlah mata pelajaran (subjects) yang harus

22

ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran

untuk memperoleh ijazah, sedangkan dalam pengertian yang lebih luas

kurikulum mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences)

yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.

Dalam skripsi ini, penulis memaknai kurikulum sebagai suatu rencana

tertulis yang disusun guna memperlancar proses belajar-mengajar. Hal ini

sejalan dengan rumusan mengenai pengertian kurikulum yang terdapat

dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, “Kurikulum adalah

seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan

pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan

kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”

B.

Pendidikan Agama Katolik (PAK)

Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat

manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu

kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama

amat penting bagi kehidupan umat manusia, maka internalisasi agama dalam

kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui

pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun

masyarakat.

Pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik

menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan

berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencakup

etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

23

Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan

penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun

kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya

bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang

aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk

Tuhan. Dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tingkat Sekolah

Dasar (SD) mata pelajaran agama Katolik, tentang pendidikan agama Katolik,

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyebutkan:

Pendidikan agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara
terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik,
dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain
dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat
untuk mewujudkan persatuan nasional (BSNP, 2007, hal 1).
Tentang tujuan dari Pendidikan Agama Katolik (PAK) pada

dasarnya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk

membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman

kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang

memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah

merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan

untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan,

persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan

oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan.

24

Adapun ruang lingkup pendidikan agama Katolik di sekolah

mencakup empat (4) aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang

lain. Keempat aspek yang dimaksud adalah:

a.Pribadi peserta didik

b.Yesus Kristus

c.Gereja

d.Kemasyarakatan

Dilihat dari materi pelajaran yang terdapat dalam ruang lingkup serta peserta

didik dalam pendidikan agama Katolik, maka dapat dipastikan pendidikan

agama Katolik sama halnya dengan pendidikan agama-agama yang lain,

bersifat eksklusif menyangkut agama Katolik saja dan terbatas peserta

didiknya yakni yang beragama Katolik saja.

Sifat eksklusif dan terbatas pada PAK ini sebenarnya merupakan konsekuensi

atau dampak dari produk peraturan dan perundang-undangan kita bidang

pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya. Tentang

pendidikan dan pengajaran agama, terdapat perbedaan yang sangat mendasar

antara UUPP No. 4 tahun 1950 dan UU No. 12/1954 dengan UU No. 2/1989

tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam UU Pendidikan tahun 1950 dan

1954 dinyatakan bahwa ’dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran

agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti

pelajaran tersebut’, (pasal 20 ayat 1). Sementara dalam UU No. 2 1989, tidak

lagi disebutkan ’dalam sekolah negeri’, yang berarti tidak lagi membedakan

25

sekolah negeri dan sekolah swasta dalam memberlakukan pelajaran agama.

Konsekuensi dari kebijakan ini pada dataran operasional pendidikan telah

dikeluarkan beberapa peraturan pemerintah, ditahun berikutnya, yaitu PP

(Peraturan Pemerintah) No. 27 tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah,

PP No. 28 1990 tentang Pendidikan Dasar, PP No. 29/1990 tentang

Pendidikan Menengah, dan PP No. 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi (dan

telah disempurnakan PP No. 22/1999). Semua peraturan tersebut mengatur

pelaksanaan pendidikan agama di lembaga pendidikan umum.

UU No. 2 Tahun 1989 telah memuat ketentuan tentang hak setiap

siswa untuk memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama yang

dianutnya. Namun, SD, SLTP, SMU, SMK dan PLB yang berciri khas

berdasarkan agama tertentu tidak diwajibkan menyelenggarakan pendidikan

agama lain dari agama yang menjadi ciri khasnya. Poin ini menimbulkan

polemik dan kritik dari sejumlah kalangan, dimana para siswa dikhawatirkan

akan pindah agama (berdasarkan agama Yayasan/Sekolah), karena mengalami

pendidikan agama yang tidak sesuai dengan agama yang dianutnya. Peraturan

Pemerintah, No. 29/1990, justru secara eksplisit menyatakan bahwa sekolah-

sekolah menengah dengan warna agama tertentu tidak diharuskan

memberikan pelajaran agama yang berbeda dengan agama yang dianutnya.

UU No. 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah tersebut dinilai oleh

sebagian kalangan sebagai UU yang tidak memberikan ruang dialog

keagamaan di kalangan siswa. Ia juga memberikan peran tidak langsung

kepada sekolah untuk mengkotak-kotakkan siswa berdasarkan agama. Sifat

26

eksklusif dan terbatas pada PAK mendapat posisi yang mantap dalam KBK

dan KTSP yang berlaku hingga saat ini, yang berpayung hukum pada UU No.

20 Tahun 2003. UU Sisdiknas 2003 mewajibkan sekolah untuk mengajarkan

pendidikan agama sesuai agama yang dianut oleh peserta didik. Dalam bagian

penjelasan diterangkan bahwa pendidik atau guru agama yang seagama

dengan peserta didik difasilitasi atau disediakan oleh pemerintah atau

pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan sebagaimana

diatur dalam pasal 41 ayat 3. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun

2003 inilah yang menjadi pijakan hukum dan konstitusional bagi

penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah-sekolah, baik negeri maupun

swasta. Pada pasal 37 ayat (1) disebutkan bahwa:

Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat
pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa,
matematika, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan
jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan dan muatan lokal (UU
No. 20 Th. 2003, pasal 37 ayat 1).

C.

Pendidikan Agama dalam pergeseran

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat

Satuan Pelajaran (KTSP)

Kehadiran Kurikulum berbasis kompetensi pada mulanya

menumbuhkan harapan akan memberi keuntungan bagi peserta didik karena

dianggap sebagai penyempurnaan dari metode cara belajar siswa aktif

(CBSA). Namun dari sisi mental maupun kapasitas guru tampaknya sangat

berat untuk memenuhi tuntutan ini. Pemerintah juga sangat kewalahan secara

27

konseptual, ketika pemerintah bersikeras dengan pemberlakukan Ujian

Nasional, sehingga KBK segera diganti dengan KTSP.

Tanpa mengecilkan arti persoalan yang muncul di sekitar perubahan

dari KBK ke KTSP, untuk pendidikan agama yang tidak diujikan dalam Ujian

Nasional, situasi ini memberi banyak kemungkinan bagi para guru pendidikan

agama untuk membuat berbagai eksperimentasi guna mencari model

pendidikan agama alternatif yang paling menjawab kebutuhan para siswa

dewasa ini. Situasi ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi guru dan

sekolah untuk mengembangkan pendidikan agama menjadi pendidikan yang

memberi kontribusi dalam kehidupan bersama yang majemuk dan penuh

persoalan di Indonesia.

D.

Dokumen Konsili Vatikan II

Pernyataan Gereja tentang Hubungan Gereja dengan Agama non

Kristiani Konsili Vatikan II memberi pedoman bagi umat Katolik untuk

melihat adanya kebaikan dalam agama-agama lain yang menjadi

pertimbangan penting bagi umat Katolik untuk berdialog dan bekerjasama

dengan penganut agama lain, untuk menghadapi berbagai permasalahan

kemanusiaan. Dokumen-dokumen itu antara lain:

1.Nostra Aetate art. 2 (Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-

agama bukan Kristiani)

Berbagai agama bukan kristiani

Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa

terdapat suatu kesadaran tentang daya – kekuatan yang gaib, yang hadir pada

28

perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-

kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa.

Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan

semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada

perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi

dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan.

Demikianlah dalam Hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan

mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta

dengan usaha-usaha falsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan

dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah tapa

atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada

Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya

mengakui bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi,

dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan

kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau – entah

dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas – mencapai penerangan

yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat di seluruh

dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia,

dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kidah

hidup maupun upacara-upacara suci.

Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu

serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan

cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang

29

dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan yang diajarkannya

sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi

semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan

Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia

menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan

segala sesuatu dengan diri-Nya.

Maka Gereja mendorong para putranya, supaya dengan bijaksana dan

penuh kasih, melalui dialog dan kerjasama dengan para penganut agama-agama

lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup kristiani,

mengakui, memelihara dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral

serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

2.Gaudium Et Spes art 1 (Konstitusi Pastoral “Gaudium Et Spes” tentang Gereja

dalam dunia modern) - atau tentang Gereja di dunia dewasa ini)

Art 1 (Hubungan erat antara Gereja dan segenap keluarga bangsa-bangsa)

Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman

sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan

kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada

sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab

persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus,

dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa,

dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua

orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat

berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.

30

3.Apostolicam Actuositatem art. 27

Apostolicam Actuositatem merupakan sebuah dekrit tentang Kerasulan Awam.

Berkaitan dengan hubungan antara Gereja dengan agama-agama non kristiani

secara khusus dibahas pada artikel ke 27 yang diberi judul Kerjasama dengan

Umat Kristen dan Umat Beragama lain, mengatakan sebagai berikut:

“Pusaka-warisan Injil bersama, dan berdasarkan itu tugas bersama
memberi kesaksian kristiani menganjurkan dan sering pula menuntut
kerja sama Umat Katolik dengan Umat Kristen lainnya. Kerja sama itu
harus dijalankan oleh orang perorangan maupun oleh jemaat-jemaat,
dalam kegiatan-kegiatan pun juga dalam persekutuan-persekutuan, di
tingkat nasional maupun internasional.
Nilai-nilai manusiawi bersama pun tidak jarang menuntut kerja sama
yang serupa antara Umat kristiani yang mengejar tujuan-tujuan kerasulan
dan mereka, yang tidak menyandang nama kristiani, namun mengakui
nilai-nilai itu juga.
Melalui kerja sama yang dinamis dan bijaksana itu, yang besar maknanya
dalam kegiatan-kegiatan duniawi, kaum awam memberi kesaksian akan
Kristus Penyelamat dunia, dan akan kesatuan keluarga manusia.”

4.Dignitatis Humanae

PERNYATAAN “DIGNITATIS HUMANAE” TENTANG KEBEBASAN

BERAGAMA

Art 1. Martabat Pribadi Manusia semakin disadari oleh manusia zaman kita

sekarang. Bertambahlah juga jumlah mereka yang menuntut, supaya

dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya

sendiri serta kenbebasannya yang bertanggung jawab, bukannya

terdorong oleh paksaan, melainkan karena menyadari tugasnya. Begitu

pula mereka menuntut supaya wewenang pemerintah dibatasi secara

yuridis, supaya batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi

maupun kelompok-kelompok jangan dipersempit. Dalam masyarakat

31

manusia tuntutan kebebasan itu terutama menyangkut harta-nilai

rohani manusia, dan teristimewa berkenaan dengan pengamalan agama

secara bebas dalam masyarakat. Dengan seksama Konsili Vatikan ini

mempertimbangkan aspirasi-aspirasi itu, dan bermaksud menyatakan

betapa keinginan-keinginan itu selaras dengan kebenaran dan keadilan.

Maka Konsili ini meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja, dan dari situ

menggali harta baru, yang selalu serasi dengan khazanah yang sudah

lama.

Oleh karena itu Konsili suci pertama-tama menyatakan, bahwa

Allah sendiri telah menunjukkan jalan kepada umat manusia untuk

mengabdi kepada-Nya, dan dengan demikian memperoleh keselamatan

dan kebahagiaan dalam Kristus. Kita percaya, bahwa satu-satunya

Agama yang benar itu berada dalam Gereja Katolik dan apostolic,

yang oleh Tuhan Yesus diserahi tugas untuk menyebarluaskannya

kepada semua orang, ketika bersabda kepada para Rasul: “Pergilah,

jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama

Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala

sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28: 19-20).

Adapun semua orang wajib mencari kebenaran, terutama dalam apa

yang menyangkut Allah dan GerejaNya. Sesudah mereka mengenal

kebenaran itu, mereka wajib memeluk dan mengamalkannya.

Begitu pula Konsili suci menyatakan, bahwa tugas-tugas itu

menyangkut serta mengikat suara hati, dan bahwa kebenaran hanyalah

32

menuntut supaya diterima berdasarkan kebenaran itu sendiri, yang

merasuki akalbudi secara halus dan kuat. Adapun kebebasan

beragama, yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas

berbakti kepada Allah, menyangkut kekebalan terhadap paksaan dalam

masyarakat. Kebebasan itu sama sekali tidak mengurangi ajaran

katolik tradisional tentang kewajiban moral manusia dan masyarakat

terhadap Agama yang benar dan satu-satunya Gereja Kristus. Selain

itu dalam menguraikan kebebasan beragama Konsili suci bermaksud

mengembangkan ajaran para Paus akhir-akhir ini tentang hak-hak

pribadi manusia yang tidak dapat diganggu-gugat, pun juga tentang

penataan yuridis masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->