P. 1
PERDA-isi

PERDA-isi

|Views: 341|Likes:
Published by akujablay11

More info:

Published by: akujablay11 on Feb 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2014

pdf

text

original

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 T E N T A N G RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT
Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pemanfaatan ruang di Propinsi Jawa Barat secara serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil guna, berbudaya dan berkelanjutan serta dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan;

b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antarsektor, wilayah, dan antarpelaku dalam pemanfaatan ruang; c. bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 1994 perlu disesuaikan dengan visi dan misi Propinsi Jawa Barat sampai dengan Tahun 2010, terbentuknya Propinsi Banten serta diberlakukannya Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a, b, dan c, perlu menetapkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

1

NO.2

2003

SERI. E

Mengingat

: 1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara tanggal 4 Juli 1950) jo. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Tahun 2000 No. 182, Tambahan Lembaran Negara No. 4010); 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2931); 4. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046); 5. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186); 6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); 7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); 8. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3437); 9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470); 10. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478); 11. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480); 12. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3481); 13. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493); 14. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);

2

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

15. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); 16. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 17. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881); 18. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888); 19. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4169); 20. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 94 Tambahan Lembaran Negara Nomor 1226); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1982 tentang Irigasi (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3226); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3293); 23. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3294); 24. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1990 tentang Jalan Tol (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3405); 25. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3445); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 104); 27. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3721); 28. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3776); 29. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3816);

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

3

NO.2

2003

SERI. E

30. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 31. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3934); 32. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 33. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 210, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4027); 34. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090); 35. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095); 36. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106); 37. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4145); 38. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4146); 39. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4156); 40. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4206); 41. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 42. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1991 tentang Penggunaan Tanah bagi Kawasan Industri;

4

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

43. Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penataan Ruang Nasional; 44. Keputusan Presiden Nomor 114 Tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur; 45. Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah; 46. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2001 tentang Teknik Penyusunan dan Materi Muatan Produk-produk Hukum Daerah; 47. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-produk Hukum Daerah; 48. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah; 49. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2001 tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah; 50. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang; 51. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 2 Tahun 1996 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung (Lembaran Daerah Tahun 1996 Nomor 1 Seri C); 52. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 11 Tahun 1997 tentang Irigasi (Lembaran Daerah Tahun 1997 Nomor 3 Seri C); 53. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 12 Tahun 1997 tentang Pembangunan di Pinggir Sungai dan Sumber Air (Lembaran Daerah Tahun 1997 Nomor 1A Seri C); 54. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pembentukan dan Teknik Penyusunan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 2 Seri D); 55. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 2 T ahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 3 Seri D); 56. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2001 tentang Rencana Strategis Propinsi Jawa Barat 20012005 (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 6 Seri D); 57. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 2001 tentang Pola Induk Pengelolaan Sumberdaya Air di Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 1 Seri C);

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

5

NO.2

2003

SERI. E

58.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 1 Seri D); 59.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air Bawah Tanah (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 21 Seri C); 60.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 17 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Pertambangan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 22 Seri C); 61.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 19 Tahun 2001 tentang Pengurusan Hutan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 2 Seri C) jo. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 19 Tahun 2001 tentang Pengurusan Hutan (Lembaran Daerah Tahun 2003 Nomor 8 Seri E); 62.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Perhubungan (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 4 Seri C); 63.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Lingkungan Geologi (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 2 Seri E); 64.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 11 Tahun 2002 tentang Penebangan Pohon pada Perkebunan Besar di Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 6 Seri E); 65.Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Barat T ahun 2003-2007 (Lembaran Daerah Nomor 1 Seri E).

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI JAWA BARAT MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Propinsi adalah Propinsi Jawa Barat. 2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur beserta Perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah Propinsi Jawa Barat. 3. Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat.
6
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Jawa Barat. 5. Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. 6. Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat 7. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi yang selanjutnya disingkat RTRWP adalah rencana struktur tata ruang propinsi yang mengatur struktur dan pola tata ruang wilayah propinsi. 8. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara, sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 9. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik direncanakan maupun tidak. 10.Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 11.Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 12.Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 13.Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya. 14.Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. 15.Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan. 16.Kawasan Andalan adalah kawasan yang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan pergeseran struktur ekonomi. 17.Kawasan Pertahanan Keamanan adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan, yang terdiri dari kawasan latihan militer, kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara, kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut, dan kawasan militer lainnya. 18.Kawasan Hutan adalah wilayah ter tentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. 19.Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. 20.Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. 21.Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

7

NO.2

2003

SERI. E

22.Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. 23.Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh, menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. 24.Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah suatu wilayah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utama ke laut. 25.Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disingkat PKN adalah pusat kegiatan yang mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah sekitarnya serta sebagai pusat jasa, pusat pengolahan, simpul transportasi dengan skala pelayanan nasional atau beberapa propinsi. 26.Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disingkat PKW adalah pusat kegiatan yang mempunyai potensi sebagai pusat jasa, pusat pengolahan, dan simpul transportasi yang melayani beberapa kabupaten. 27.Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah pusat kegiatan yang mempunyai potensi sebagai pusat jasa, pusat pengolahan, dan simpul transportasi yang mempunyai pelayanan satu kabupaten atau beberapa kecamatan. 28.Masyarakat adalah orang perorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum. 29.Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas kehendak dan prakarsa masyarakat, untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. 30.Pembangunan Berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

BAB II ASAS, TUJUAN, FUNGSI DAN KEDUDUKAN Bagian Pertama Asas dan Tujuan Pasal 2 RTRWP berdasarkan atas asas : a. pemanfaatan ruang untuk semua kepentingan secara terpadu, berdayaguna dan berhasilguna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan; b. persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum; c. keterbukaan, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat.
8
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 3 Tujuan penyusunan RTRWP adalah : a. mengoptimalkan dan mensinergikan pemanfaatan sumber daya daerah secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan nasional; b. menyeimbangkan dan menyerasikan perkembangan antarwilayah serta antarsektor dalam rangka mendorong pelaksanaan otonomi daerah; c. meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; d. menjamin ketersediaan pangan dengan mempertahankan fungsi lahan sawah, dan e. mengatur struktur dan pola tata ruang yang berlandaskan pada kebijaksanaan Kabupaten/Kota, Propinsi, dan Nasional sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Bagian Kedua Fungsi dan Kedudukan Pasal 4 (1) RTRWP berfungsi sebagai penyelaras kebijakan penataan ruang Nasional, Propinsi dan Kabupaten/Kota serta sebagai acuan kebijakan pembangunan daerah. (2) Kedudukan RTRWP sebagai : a. dasar pertimbangan dalam penyusunan tata ruang nasional; b. penyelaras bagi kebijakan penataan ruang Kabupaten/Kota se-Jawa Barat; c. pedoman bagi pelaksanaan perencanaan, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten/Kota se-Jawa Barat; d. dasar pertimbangan dalam penyelarasan penataan ruang Propinsi lain yang berbatasan; dan e. kebijakan pemanfaatan ruang Propinsi, lintas Kabupaten/Kota, dan lintas ekosistem. BAB III WILAYAH, SUBSTANSI, DAN JANGKA WAKTU RENCANA Bagian Pertama Wilayah Rencana Pasal 5 (1) Lingkup wilayah RTRWP adalah daerah dengan batas yang ditentukan berdasarkan aspek administratif mencakup wilayah daratan seluas 3.709.528,44 Ha, wilayah pesisir dan laut sejauh 12 mil dari garis pantai, serta wilayah udara. (2) Batas-batas wilayah adalah sebelah utara berbatasan dengan Propinsi DKI Jakarta dan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah, sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Propinsi Banten.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

9

NO.2

2003

SERI. E

Bagian Kedua Substansi Rencana Pasal 6 (1) Substansi RTRWP mencakup kebijakan penataan ruang, rencana tata ruang wilayah, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. (2) Kebijakan penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini meliputi : a. Kebijakan Perencanaan Tata Ruang; b. Kebijakan Pemanfaatan Ruang; c. Kebijakan Pengendalian Pemanfaatan Ruang; (3) Rencana tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini meliputi : a. Rencana Struktur Tata Ruang, meliputi rencana pengembangan sistem kota-kota, rencana pengembangan infrastruktur wilayah, rencana pengembangan kawasan andalan, dan kawasan pertahanan keamanan; b. Rencana Pola Tata Ruang, meliputi rencana pola tata ruang kawasan lindung, rencana pola tata ruang kawasan budidaya, serta rencana daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. (4) Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini meliputi program, kegiatan, tahapan, dan pembiayaan pemanfaatan ruang yang didasarkan atas rencana tata ruang. (5) Pengendalian Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini meliputi kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. Bagian Ketiga Jangka Waktu Rencana Pasal 7 Jangka waktu RTRWP adalah sampai dengan Tahun 2010.

BAB IV KEBIJAKAN PENATAAN RUANG Bagian Pertama Kebijakan Perencanaan Tata Ruang Pasal 8 Kebijakan perencanaan tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 6 adalah : a. penyusunan dan peninjauan kembali rencana tata ruang dilakukan melalui pendekatan partisipatif; b. RTRWP dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan bilamana RTRWP tidak mampu lagi mengakomodasikan dinamika perkembangan yang disebabkan oleh faktor eksternal dan atau internal; c. RTRWP perlu ditindaklanjuti ke dalam rencana terperinci;
10
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

d. RTRWP agar ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk operasional RTRWP yang ditetapkan oleh Gubernur. Pasal 9 (1) Pendekatan partisipatif sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 8 Peraturan Daerah ini dilakukan melalui penyelenggaraan forum dialog, penyebaran angket, dan kesepakatan yang melibatkan unsur pemerintah daerah dan DPRD di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha. (2) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan RTRWP sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 8 Peraturan Daerah ini dilakukan secara berkala menurut peraturan perundangundangan yang berlaku atau sesuai dengan kebutuhan. (3) Rencana terperinci sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 8 Peraturan Daerah ini adalah rencana tata ruang kawasan andalan. (4) Petunjuk operasional sebagaimana dimaksud dalam huruf d Pasal 8 Peraturan Daerah ini meliputi kriteria dan standar teknis yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan penataan ruang.

Pasal 10 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota perlu melakukan penyesuaian terhadap materi RTRWP untuk menjamin keterpaduan dan keserasian penataan ruang sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan antara Propinsi dan Kabupaten/Kota.

Bagian Kedua Kebijakan Pemanfaatan Ruang Paragraf 1 Umum Pasal 11 (1) Kebijakan pemanfaatan ruang diwujudkan berdasarkan kebijakan struktur tata ruang dan pola tata ruang. (2) Kebijakan struktur tata ruang diwujudkan untuk mencapai pemerataan pertumbuhan wilayah dengan mempertahankan keseimbangan lingkungan dan ketersediaan sumber daya daerah. (3) Kebijakan pola tata ruang diwujudkan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. (4) Kebijakan struktur tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini meliputi pengembangan sistem kota-kota, infrastruktur wilayah, kawasan andalan, dan kawasan pertahanan keamanan. (5) Kebijakan pola tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini meliputi kebijakan pola tata ruang kawasan lindung, kawasan budidaya, serta daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

11

NO.2

2003

SERI. E

(6) Pelaksanaan pemanfaatan ruang dijabarkan dalam program dan kegiatan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam RTRWP. (7) Kegiatan pemanfaatan ruang perlu didukung oleh pembiayaannya meliputi sumber, prioritas, dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan.

Paragraf 2 Sistem Kota-kota Pasal 12 Untuk mewujudkan struktur tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan pengembangan sistem kota-kota adalah mengembangkan sistem kota-kota yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup serta fungsi kegiatan dominannya. Paragraf 3 Infrastruktur Wilayah Pasal 13 Untuk mewujudkan struktur tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan pengembangan infrastruktur wilayah adalah : a. mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan infrastruktur transportasi yang ada untuk mendukung tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan dan kawasan andalan; b. menyediakan infrastruktur yang berfungsi sebagai penyedia dan penampung air baku untuk mewujudkan keseimbangan ketersediaan air pada musim hujan dan kemarau; c. mempertahankan dan meningkatkan jaringan irigasi yang ada dalam rangka ketahanan pangan; d. meningkatkan ketersediaan energi dan jaringan telekomunikasi; e. meningkatkan ketersediaan infrastruktur permukiman.

Paragraf 4 Kawasan Andalan Pasal 14 Untuk mewujudkan struktur tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan pengembangan kawasan andalan adalah : a. mewujudkan suatu kawasan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya serta dapat mendukung struktur ruang Jawa Barat sesuai dengan yang telah direncanakan; dan b. menciptakan sinergi keselarasan pengembangan antarwilayah dan antarsektor.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

12

NO.2

2003

SERI. E

Paragraf 5 Kawasan Pertahanan Keamanan Pasal 15 Untuk mewujudkan struktur tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan pengembangan kawasan pertahanan keamanan adalah mengamankan kepentingan pertahanan dan keamanan negara di beberapa kawasan yang disesuaikan dengan rencana tata ruang pertahanan keamanan. Paragraf 6 Kawasan Lindung Pasal 16 Untuk mewujudkan pola tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan pola tata ruang kawasan lindung adalah meningkatkan luas kawasan yang berfungsi lindung dan menjaga kualitas kawasan lindung. Paragraf 7 Kawasan Budidaya Pasal 17 Untuk mewujudkan pola tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan pola tata ruang kawasan budidaya adalah mempertahankan lahan sawah. Paragraf 8 Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Pasal 18 Untuk mewujudkan pola tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) Pasal 11 Peraturan Daerah ini, maka kebijakan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup adalah meningkatkan daya dukung lingkungan alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya tampung lingkungan untuk menjaga proses pembangunan berkelanjutan. Bagian Ketiga Kebijakan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pasal 19 (1) Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui pengawasan dan penertiban yang didasarkan kepada RTRWP. (2) Pemberian izin pemanfaatan ruang sebagai salah satu alat pengendalian pemanfaatan ruang dan merupakan kewenangan Kabupaten/Kota agar memperhatikan dan mempertimbangkan RTRWP.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

13

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 20 Koordinasi pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan oleh Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah Propinsi yang ditetapkan oleh Gubernur.

BAB V RENCANA TATA RUANG WILAYAH Bagian Pertama Rencana Struktur Tata Ruang Paragraf 1 Rencana Pengembangan Sistem Kota-Kota Pasal 21 (1) Rencana pengembangan sistem kota-kota di Jawa Barat adalah : a. menata dan mengarahkan perkembangan pusat-pusat kegiatan di bagian utara dan tengah; b. mengembangkan secara terbatas pusat-pusat kegiatan di bagian selatan; c. menata distribusi PKN dan PKW yang mendukung keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antarwilayah. (2) PKN sebagaimana dimaksud dalam huruf c ayat (1) pasal ini adalah Metropolitan Bogor Depok Bekasi, Metropolitan Bandung, dan Metropolitan Cirebon. (3) PKW sebagaimana dimaksud dalam huruf c ayat (1) pasal ini adalah Cianjur Sukabumi, Cikampek Cikopo, Palabuhanratu, T asikmalaya, Kadipaten, dan Pangandaran.

Paragraf 2 Rencana Pengembangan Infrastruktur Wilayah Pasal 22 Rencana pengembangan infrastruktur wilayah terdiri dari pengembangan infrastruktur transportasi darat, laut, udara, prasarana sumber daya air dan irigasi, energi, telekomunikasi, serta prasarana perumahan dan permukiman. Pasal 23 Rencana pengembangan infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara meliputi : a. pengembangan sistem jaringan arteri primer sebagai penghubung antar PKN dan antara PKN dengan PKW; b. pengembangan jalan kolektor primer sebagai penghubung antar PKW dan antara PKW dengan PKL; c. pengembangan jaringan jalan tol sebagai penghubung PKN;
14
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

d. pengembangan jaringan kereta api yang berfungsi sebagai penghubung antara pusat-pusat pertumbuhan; e. pengembangan transportasi terpadu dalam rangka mendukung pengembangan PKN; f. pengembangan pelabuhan dan bandar udara untuk mendukung PKN dan PKW.

Pasal 24 Rencana pengembangan prasarana sumber daya air dan irigasi meliputi : a. pengembangan waduk/bendungan, situ, dan embung, dalam rangka penyediaan air baku serta konservasi sumber air; b. pengembangan prasarana pengendali banjir; c. pengembangan jaringan irigasi yang diprioritaskan di wilayah utara dan selatan Jawa Barat;

Pasal 25 Rencana pengembangan prasarana energi dan telekomunikasi meliputi : a. pengembangan instalasi listrik untuk meningkatkan pasokan daya; b. pengembangan energi alternatif; c. pengembangan fasilitas telekomunikasi perdesaan.

Pasal 26 Rencana pengembangan prasarana perumahan dan permukiman adalah penyediaan prasarana yang memiliki skala pelayanan lintas wilayah Kabupaten/Kota.

Paragraf 3 Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Pasal 27 (1) Pengembangan kawasan andalan diarahkan dalam rangka menciptakan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan wilayah sesuai dengan kegiatan utamanya melalui penyediaan prasarana wilayah. (2) Rencana pengembangan kawasan andalan di Jawa Barat adalah penetapan 8 (delapan) kawasan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut maupun kawasan sekitarnya. (3) Kawasan andalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini terdiri dari : a. Kawasan Andalan Bogor Depok Bekasi (Bodebek) dengan kegiatan utama industri, pariwisata, jasa, dan sumberdaya manusia;
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

15

NO.2

2003

SERI. E

b. Kawasan Andalan Bogor Puncak Cianjur (Bopunjur) dengan kegiatan utama agribisnis dan pariwisata; c. Kawasan Andalan Sukabumi dan sekitarnya dengan kegiatan utama agribisnis, pariwisata, dan bisnis kelautan; d. Kawasan Andalan Priangan Timur dan sekitarnya (Priatim dsk.) dengan kegiatan utama agribisnis, bisnis kelautan, dan pariwisata; e. Kawasan Andalan Cekungan Bandung dengan kegiatan utama pengembangan sumberdaya manusia, jasa, agribisnis, pariwisata, dan industri; f. Kawasan Andalan Pangandaran dan sekitarnya dengan kegiatan utama pariwisata dan bisnis kelautan; g. Kawasan Andalan Cirebon Indramayu Majalengka Kuningan (Ciayumajakuning) dengan kegiatan utama agribisnis, jasa, pariwisata, industri, sumberdaya manusia, dan bisnis kelautan; h. Kawasan Andalan Purwakarta Subang Karawang (Purwasuka) dengan kegiatan utama industri, agribisnis, pariwisata, dan bisnis kelautan.

Pasal 28 Pengaturan mengenai Penataan Ruang Kawasan Andalan ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan dalam skala yang lebih detail.

Paragraf 4 Rencana Kawasan Pertahanan Keamanan Pasal 29 Rencana pengamanan kawasan pertahanan keamanan dilakukan melalui penetapan lokasi yang digunakan untuk kepentingan pertahanan keamanan yang meliputi : a. kawasan latihan militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat : 1. Kabupaten Bogor Kecamatan Cibinong Desa Kalibaru; 2. Kabupaten Bogor Kecamatan Parung Desa Cogreg; 3. Kabupaten Bandung Kecamatan Batujajar Desa Galanggang; 4. Kabupaten Bandung Kecamatan Cipatat Desa Sumur Bandung; 5. Kota Cimahi Kecamatan Cimahi Tengah Desa Setia Manah dan Gunung Bohong; 6. Kabupaten Bandung Kecamatan Cimenyan Desa Sindanglaya; 7. Kabupaten Sukabumi Kecamatan Ciemas/Ciracap Desa Cibenda; 8. Kabupaten Purwakarta Kecamatan Sukasari Desa Kertamanah; b. kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud), meliputi : 1. Lanud Husein Sastranegara (Andir, Kota Bandung),
16
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

2. Sulaeman (Margahayu, Kabupaten Bandung), 3. Suryadarma (Kalijati, Kabupaten Subang), 4. Atang Sanjaya (Semplak, Kabupaten Bogor), 5. Penggung (Kota Cirebon), 6. Sukani (Jatiwangi, Kabupaten Majalengka), 7. Nusawiru (Pangandaran, Kabupaten Ciamis), 8. Wiryadinata (Cibeureum, KabupatenTasikmalaya); c. kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), meliputi : Lanal Cirebon, Pangandaran, dan Palabuhanratu; d. kawasan militer lainnya, termasuk pangkalan peluncuran roket di Pameungpeuk Kabupaten Garut. Paragraf 5 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Pasal 30 Peta struktur tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 sampai dengan Pasal 29 Peraturan Daerah ini tercantum pada Lampiran Peraturan Daerah yang merupakan bagian tak terpisahkan, dalam skala peta 1 : 250.000.

Bagian Kedua Rencana Pola Tata Ruang Paragraf 1 Rencana Pola Tata Ruang Kawasan Lindung Pasal 31 Rencana pola tata ruang kawasan lindung adalah : a. menetapkan kawasan lindung sebesar 45% dari luas seluruh wilayah Jawa Barat yang meliputi kawasan yang berfungsi lindung di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan; b. mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidroorologis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air; dan c. mengendalikan pemanfaatan ruang di luar kawasan hutan sehingga tetap berfungsi lindung.

Pasal 32 (1) Kawasan yang berfungsi lindung di dalam kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 31 Peraturan Daerah ini terdiri dari hutan konservasi dan hutan lindung.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

17

NO.2

2003

SERI. E

(2) Kawasan yang berfungsi lindung di luar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 31 Peraturan Daerah ini terdiri dari kawasan lainnya di luar hutan yang menunjang fungsi lindung baik di wilayah darat maupun laut. Pasal 33 Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 Peraturan Daerah ini terdiri dari : a. kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, terdiri atas : 1. kawasan hutan yang berfungsi lindung; 2. kawasan resapan air; b. kawasan perlindungan setempat, terdiri atas : 1. sempadan pantai; 2. sempadan sungai; 3. kawasan sekitar waduk dan situ; 4. kawasan sekitar mata air; c. kawasan suaka alam, terdiri atas : 1. kawasan cagar alam; 2. kawasan suaka margasatwa; 3. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya; 4. kawasan pantai berhutan bakau; d. kawasan pelestarian alam, terdiri atas : 1. taman nasional; 2. taman hutan raya; 3. taman wisata alam; e. taman buru; f. kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ; g. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan; h. kawasan rawan bencana alam, terdiri atas : 1. kawasan rawan bencana gunung berapi; 2. kawasan rawan gempa bumi; 3. kawasan rawan gerakan tanah; 4. kawasan rawan banjir. Pasal 34 Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 33 Peraturan Daerah ini meliputi : a. kawasan hutan yang berfungsi lindung yang terletak di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) : 1. Bogor; 2. Sukabumi; 3. Cianjur; 4. Purwakarta; 5. Bandung Utara;
18
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Bandung Selatan; Garut; Tasikmalaya; Ciamis; Sumedang; Majalengka; Indramayu; Kuningan;

b. kawasan resapan air tersebar di daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 35 Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 33 Peraturan Daerah ini meliputi: a. sempadan pantai, terletak di : 1. Kabupaten Bekasi; 2. Kabupaten Karawang; 3. Kabupaten Cianjur; 4. Kabupaten Subang; 5. Kabupaten Indramayu; 6. Kabupaten Cirebon; 7. Kota Cirebon; 8. Kabupaten Sukabumi; 9. Kabupaten Garut; 10.Kabupaten Tasikmalaya; 11.Kabupaten Ciamis. b. sempadan sungai terletak di seluruh Daerah Aliran Sungai. c. kawasan sekitar waduk dan situ : 1. waduk, yaitu : a) Waduk Darma, terletak di Kabupaten Kuningan; b) Waduk Talaga Remis, terletak di Kabupaten Kuningan; c) Waduk Saguling, terletak di Kabupaten Bandung; d) Waduk Cirata, terletak di Kabupaten Bandung, Cianjur, dan Purwakarta; e) Waduk Jatiluhur, terletak di Kabupaten Purwakarta; f) Waduk Cileunca, terletak di Kabupaten Bandung; g) Waduk Cipanjang, terletak di Kabupaten Bandung; h) Waduk Situpatok, terletak di Kabupaten Cirebon; i) Waduk Sedong, terletak di Kabupaten Cirebon; j) Waduk Sukamakmur dan Waduk Tenjo, terletak di Kabupaten Bogor. 2. situ, tersebar di daerah Kabupaten/Kota. d. kawasan sekitar mata air, tersebar di daerah Kabupaten/Kota.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

19

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 36 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 33 Peraturan Daerah ini meliputi : a. kawasan cagar alam, yaitu : 1. Cagar Alam Arca Domas, terletak di Kabupaten Bogor; 2. Cagar Alam Talaga Warna, terletak di Kabupaten Cianjur; 3. Cagar Alam Talaga Warna (perluasan), terletak di Kabupaten Bogor dan Cianjur; 4. Cagar Alam Takokak, Cagar Alam Cadas Malang, dan Cagar Alam Bojong Larang Jayanti, terletak di Kabupaten Cianjur; 5. Cagar Alam Gunung Simpang, terletak di Kabupaten Bandung dan Cianjur; 6. Cagar Alam Telaga Patengan, Cagar Alam Gunung Malabar, Cagar Alam Cigenteng Cipanji I/II , Cagar Alam Yung Hun, dan Cagar Alam Gunung Tilu, terletak di Kabupaten Bandung; 7. Cagar Alam Papandayan (perluasan) dan Cagar Alam Kawah Kamojang, terletak di Kabupaten Bandung dan Garut; 8. Cagar Alam Gunung Tangkuban Parahu, terletak di Kabupaten Bandung dan Subang; 9. Cagar Alam Talaga Bodas dan Cagar Alam Leuweung Sancang, terletak di Kabupaten Garut; 10.Cagar Alam Sukawayana, Cagar Alam Tangkuban Parahu (Palabuhanratu) dan Cagar Alam Cibanteng, terletak di Kabupaten Sukabumi; 11.Cagar Alam Burangrang, terletak di Kabupaten Purwakarta; 12.Cagar Alam Gunung Jagat, terletak di Kabupaten Sumedang; 13.Cagar Alam Pananjung Pangandaran dan Cagar Alam Panjalu/Koorders, terletak di Kabupaten Ciamis. b. kawasan suaka margasatwa, yaitu : 1. Suaka Margasatwa Cikepuh, terletak di Kabupaten Sukabumi; 2. Suaka Margasatwa Gunung Sawal, terletak di Kabupaten Ciamis; 3. Suaka Margasatwa Sindangkerta, terletak di Kabupaten Tasikmalaya; c. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, yaitu : 1. Suaka Alam Laut Leuweung Sancang, terletak di Kabupaten Garut; 2. Suaka Alam Laut Pangandaran, terletak di Kabupaten Ciamis. d. kawasan pantai berhutan bakau, yaitu : 1. Muara Gembong, terletak di Kabupaten Bekasi; 2. Muara Bobos, terletak di Kabupaten Subang - Karawang; 3. Tanjung Sedari, terletak di Kabupaten Karawang; 4. Eretan, terletak di Kabupaten Indramayu - Cirebon.

Pasal 37 Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam huruf d Pasal 33 Peraturan Daerah ini meliputi : a. kawasan taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun, terletak di Kabupaten Sukabumi dan Bogor.

20

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

b. taman hutan raya, yaitu : 1. Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda terletak di Kabupaten Bandung; 2. Taman Hutan Raya Pancoran Mas di Kota Depok. c. taman wisata alam, yaitu : 1. Taman Wisata Alam Talaga Warna, Taman Wisata Alam Gunung Salak Endah, dan Taman Wisata Alam Gunung Pancar, terletak di Kabupaten Bogor; 2. Taman Wisata Alam Sukawayana, terletak di Kabupaten Sukabumi; 3. Taman Wisata Alam Jember, terletak di Kabupaten Cianjur; 4. Taman Wisata Alam Telaga Patengan dan Taman Wisata Alam Cimanggu terletak di Kabupaten Bandung; 5. Taman Wisata Gunung Tangkuban Parahu terletak di Kabupaten Bandung dan Subang; 6. Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, terletak di Kabupaten Bandung dan Garut; 7. Taman Wisata Alam Papandayan dan T aman Wisata Alam Talaga Bodas, terletak di Kabupaten Garut; 8. Taman Wisata Alam Gunung Tampomas, terletak di Kabupaten Sumedang; 9. Taman Wisata Alam Linggajati, terletak di Kabupaten Kuningan; 10.Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, terletak di Kabupaten Ciamis.

Pasal 38 Kawasan taman buru sebagaimana dimaksud dalam huruf e Pasal 33 Peraturan Daerah ini adalah Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, terletak di Kabupaten Bandung, Garut, dan Sumedang. Pasal 39 Kawasan perlindungan alam plasma nutfah eks-situ sebagaimana dimaksud dalam huruf f Pasal 33 Peraturan Daerah ini, meliputi : a. Muara Gembong, terletak di Kabupaten Bekasi; b. Kebun Raya Bogor, terletak di Kota Bogor; c. Taman Safari Indonesia, Arboretum Cibubur, T aman Buah Cileungsi, dan Gunung Salak Endah, terletak di Kabupaten Bogor; d. Taman Bunga Nusantara, Kebun Raya Cibodas, dan Ciogong, terletak di Kabupaten Cianjur; e. Pantai Pangumbahan dan Perairan Sukawayana, terletak di Kabupaten Sukabumi; f. Jatiluhur/Sanggabuana, terletak di Kabupaten Purwakarta; g. Kawah Putih dan Gunung Patuha, terletak di Kabupaten Bandung; h. Kebun Binatang Bandung, terletak di Kota Bandung; i. Cimapang/Rancabuaya, terletak di Kabupaten Garut; j. Gunung Cakrabuana, Sirah Cimunjul, dan Gunung Galunggung, terletak di Kabupaten Tasikmalaya; k. Majingklak, Karang Kamulyan, Cipanjalu, dan Cukang Taneuh, terletak di Kabupaten Ciamis;

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

21

NO.2

2003

SERI. E

l. Gunung Ciremai, terletak di Kabupaten Kuningan, Majalengka, dan Cirebon; m. Gunung Ageung, terletak di Kabupaten Majalengka; n. Muara Cimanuk dan Pulau Minyawak, terletak di Kabupaten Indramayu.

Pasal 40 Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf g Pasal 33 Peraturan Daerah ini, meliputi : a. Istana Bogor dan Batu Tulis, terletak di Kota Bogor; b. Istana Cipanas, terletak di Kabupaten Cianjur; c. Makam Sunan Gunungjati dan Gua Sunyaragi, terletak di Kabupaten Cirebon; d. Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, terletak di Kota Cirebon; e. Museum Linggajati, terletak di Kabupaten Kuningan; f. Kampung Naga, terletak di Kabupaten Tasikmalaya; g. Gunung Kunci, terletak di Kabupaten Sumedang; h. Candi Cangkuang, terletak di Kabupaten Garut; i. Batu Tulis Ciaruteun, terletak di Kabupaten Bogor; j. Gua Gudawang, terletak di Kabupaten Bogor; k. Ciung Wanara Karang Kamulyan, terletak di Kabupaten Ciamis; l. Lain-lain kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang tersebar di Kabupaten/Kota.

Pasal 41 Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam huruf h Pasal 33 Peraturan Daerah ini, meliputi : a. kawasan rawan bencana gunung berapi, yaitu : 1. Kawasan Gunung Salak, terletak di Kabupaten Bogor dan Sukabumi; 2. Kawasan Gunung Gede Pangrango, terletak di Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi; 3. Kawasan Gunung Halimun, terletak di Kabupaten Bogor dan Sukabumi; 4. Kawasan Gunung Tangkuban Parahu, terletak di Kabupaten Bandung dan Subang; 5. Kawasan Gunung Papandayan, terletak di Kabupaten Garut dan Bandung; 6. Kawasan Gunung Galunggung, terletak Kabupaten Tasikmalaya dan Garut; 7. Kawasan Gunung Guntur, terletak di Kabupaten Garut; 8. Kawasan Gunung Ciremai, terletak di Kabupaten Kuningan, Cirebon, dan Majalengka. b.kawasan rawan gempa bumi, yaitu : 1. Kabupaten Ciamis; 2. Kabupaten Cianjur; 3. Kabupaten Garut; 4. Kabupaten Majalengka; 5. Kabupaten Sumedang;

22

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

6. Kabupaten Bogor; 7. Kabupaten Sukabumi; 8. Kota Sukabumi; 9. Kabupaten Subang; 10.Kabupaten Purwakarta; 11.Kabupaten Kuningan. c. kawasan rawan gerakan tanah, yaitu : 1. Kabupaten Bogor; 2. Kabupaten Cianjur; 3. Kabupaten Sukabumi; 4. Kabupaten Purwakarta; 5. Kabupaten Subang; 6. Kabupaten Bandung; 7. Kabupaten Sumedang; 8. Kabupaten Garut; 9. Kabupaten Tasikmalaya; 10.Kabupaten Ciamis; 11.Kabupaten Majalengka; 12.Kabupaten Kuningan. d. kawasan rawan banjir, yaitu : 1. Kabupaten Ciamis; 2. Kabupaten Cirebon; 3. Kabupaten Indramayu; 4. Kabupaten Subang; 5. Kabupaten Bandung; 6. Kabupaten Bogor; 7. Kabupaten Bekasi.

Paragraf 2 Rencana Pola Tata Ruang Kawasan Budidaya Pasal 42 (1) Kawasan budidaya terdiri dari kawasan budidaya di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. (2) Kawasan budidaya di dalam kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah hutan produksi. (3) Kawasan budidaya di luar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini terdiri dari kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan, industri, perkebunan, pertanian, pertambangan, pariwisata, dan kawasan lainnya di luar kawasan hutan.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

23

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 43 Rencana pola tata ruang kawasan budidaya adalah : a. mempertahankan fungsi lahan di kawasan pertanian lahan basah, terutama lahan sawah beririgasi teknis; b. meningkatkan produktivitas lahan sawah melalui upaya intensifikasi; dan c. pengembangan infrastruktur sumberdaya air untuk menjamin ketersediaan air dan jaringan irigasi.

Pasal 44 Kawasan budidaya lainnya diatur dalam standar dan kriteria teknis pemanfaatan ruang dan merupakan persyaratan minimal untuk seluruh Kabupaten/Kota yang akan diatur lebih lanjut oleh Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

Paragraf 3 Rencana Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Pasal 45 Rencana daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup adalah : a. mengendalikan pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam; b. mengendalikan laju pertumbuhan penduduk; c. mewujudkan distribusi penduduk sesuai dengan daya tampungnya; d. mengendalikan pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi penduduk sesuai dengan daya dukungnya; dan e. mengendalikan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut.

Paragraf 4 Peta Rencana Pola Tata Ruang Pasal 46 Peta lokasi kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 sampai dengan Pasal 41 dan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 Peraturan Daerah ini, dicantumkan pada Lampiran Peraturan Daerah ini yang merupakan bagian tak terpisahkan, dalam skala peta 1 : 250.000.

24

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

BAB VI PEMANFAATAN RUANG Bagian Pertama Struktur Tata Ruang Paragraf 1 Sistem Kota-kota Pasal 47 Untuk mewujudkan sistem kota-kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Peraturan Daerah ini, maka program pengembangan sistem kota-kota di Jawa Barat adalah : a. penataan PKN Metropolitan Bogor Depok Bekasi dan Metropolitan Bandung; b. pengembangan dan penataan PKN Metropolitan Cirebon; c. pengembangan PKW Kota Cianjur Sukabumi, Cikampek Cikopo, Palabuhanratu, T asikmalaya, Kadipaten, dan Pangandaran.

Pasal 48 (1) Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antarwilayah, maka setiap PKN dan PKW perlu didukung oleh ketersediaan serta kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya. (2) Sarana dan prasarana minimum yang harus dimiliki setiap PKN sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini terdiri dari pelabuhan udara primer dan atau pelabuhan nasional dan atau terminal tipe A, pasar induk antarwilayah, rumah sakit umum kelas A, perguruan tinggi, serta prasarana perumahan dan permukiman lainnya yang meliputi jaringan air bersih lintas wilayah, tempat pembuangan akhir sampah regional, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT). (3) Sarana dan prasarana minimum yang harus dimiliki setiap PKW sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini terdiri dari pelabuhan udara sekunder dan atau pelabuhan laut regional dan atau terminal kelas B, pasar induk regional, rumah sakit umum tipe B, perguruan tinggi serta prasarana perumahan dan permukiman lainnya yang meliputi jaringan air bersih lintas wilayah, tempat pembuangan akhir sampah regional, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT).

Pasal 49 (1) Penataan PKN Metropolitan Bogor Depok Bekasi sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pengembangan pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi; b. pembangunan terminal regional tipe A di Kota Bogor dan Kabupaten Bekasi; c. pembangunan TPA regional; d. pembangunan rumah susun;
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

25

NO.2

2003

SERI. E

e. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan; f. pembangunan rumah sakit tipe A; g. pengembangan angkutan massal di Metropolitan Bodebek. (2) Penataan PKN Metropolitan Bandung sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan terminal terpadu di Gedebage, Bandung; b. pembangunan TPA regional di Pasirdurung, Cicalengka; c. peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Husein Sastranegara; d. pembangunan terminal agribisnis di Lembang, Kabupaten Bandung; e. pengembangan IPLT di Kota Bandung; f. pembangunan rumah susun di Kota Bandung; g. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan; h. pengembangan angkutan massal di Metropolitan Bandung. (3) Pengembangan dan penataan PKN Metropolitan Cirebon sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pengembangan pelabuhan laut nasional di Kota Cirebon; b. peningkatan rumah sakit tipe B menjadi tipe A di Kota Cirebon; c. peningkatan Bandara Penggung menjadi bandar udara primer di Kecamatan Ciperna, Kota Cirebon; d. peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan terminal tipe A di Harjamukti, Kota Cirebon; e. pembangunan pasar induk regional di Kabupaten Cirebon; f. pengembangan perguruan tinggi di Kota Cirebon; g. pengembangan IPLT di Palimanan, Cirebon; h. pengembangan TPA regional di Palimanan, Cirebon; i. pembangunan rumah susun di Kota Cirebon; j. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan. (4) Pengembangan PKW Palabuhanratu sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan pusat pemerintahan di Palabuhanratu; b. peningkatan rumah sakit tipe C menjadi tipe B di Palabuhanratu; c. peningkatan pelabuhan di Palabuhanratu menjadi pelabuhan pengumpan; d. pembangunan pasar induk regional di Palabuhanratu; e. pembangunan terminal tipe B di Palabuhanratu; f. peningkatan pusat informasi wisata di Palabuhanratu; g. pembangunan perguruan tinggi di Palabuhanratu; h. pembangunan TPA regional di Palabuhanratu; i. pembangunan IPLT di Cisaat, Kabupaten Sukabumi; j. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan. (5) Pengembangan PKW Tasikmalaya sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. peningkatan terminal tipe C menjadi tipe B di Kota Tasikmalaya; b. pembangunan sarana sentra industri kecil di Rajapolah, Tasikmalaya;
26
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

c. d. e. f. g. h.

pembangunan IPLT di Kabupaten Tasikmalaya; pembangunan TPA regional di Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya; pembangunan Balai Latihan Agribisnis di Singaparna, Tasikmalaya; peningkatan pasar induk regional di Tasikmalaya; peningkatan pelabuhan udara sekunder di Cibeureum, Tasikmalaya; peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan.

(6) Pengembangan PKW Cianjur-Sukabumi sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan terminal agribisnis di Cipanas, Cianjur; b. pembangunan TPA regional di Sukanegara, Cianjur; c. pengembangan terminal regional tipe B di Kota Sukabumi; d. pengembangan rumah sakit tipe B di Kota Sukabumi; e. pembangunan terminal agribisnis regional; f. pembangunan IPLT di Cianjur; g. pembangunan Balai Latihan Agribisnis di Cipanas, Cianjur; h. pembangunan pusat informasi wisata di Cipanas, Cianjur; i. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan. (7) Pengembangan PKW Pangandaran sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan rumah sakit umum tipe B di Pangandaran; b. peningkatan terminal tipe C menjadi tipe B di Pangandaran; c. pembangunan Balai Latihan Wisata dan Bisnis Kelautan di Pangandaran; d. pembangunan pelabuhan pengumpan di Pangandaran; e. peningkatan Pelabuhan Udara Nusawiru di Pangandaran; f. peningkatan pusat informasi wisata di Pangandaran; g. pembangunan TPA regional di Pangandaran; h. pembangunan IPLT di Pangandaran; i. peningkatan TPI dan PPI di Bojongsalawe dan Cileutik; j. pembangunan industri perikanan di Pangandaran; k. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan. (8) Pengembangan PKW Cikampek-Cikopo sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan pasar induk di Cikampek-Cikopo; b. peningkatan rumah sakit tipe C menjadi tipe B di Cikampek-Cikopo; c. peningkatan terminal tipe C menjadi tipe B di Cikampek-Cikopo; d. peningkatan TPA regional di Cikampek-Cikopo; e. pembangunan IPLT di kawasan industri di Cikampek-Cikopo; f. pembangunan perguruan tinggi di Cikampek-Cikopo; g. pembangunan rumah susun di Cikampek-Cikopo; h. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan; i. peningkatan Pelabuhan Udara Suryadarma Kalijati untuk fungsi komersial.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

27

NO.2

2003

SERI. E

(9) Pengembangan PKW Kadipaten sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 47 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. peningkatan Bandar Udara Sukatani di Kadipaten; b. peningkatan rumah sakit tipe C menjadi tipe B di Kadipaten; c. peningkatan terminal tipe C menjadi tipe B di Kadipaten; d. pembangunan terminal agribisnis di Kadipaten; e. pembangunan Balai Latihan Agribisnis di Kadipaten; f. pembangunan TPA regional di Kadipaten; g. pembangunan IPLT di Kadipaten; h. peningkatan sarana sentra industri kecil di Kadipaten; i. peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan.

Pasal 50 (1) Pengembangan sistem kota-kota dilakukan berdasarkan dua kriteria, yaitu pusat-pusat kegiatan yang dikembangkan dan pusat-pusat kegiatan yang dikendalikan. (2) Pusat-pusat kegiatan yang dikembangkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini meliputi Metropolitan Cirebon, Palabuhanratu, Pangandaran, Cikampek-Cikopo, Kadipaten, Tasikmalaya, dan Cianjur-Sukabumi. (3) Pusat kegiatan yang dikendalikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah Metropolitan Bandung dan Bodebek.

Pasal 51 (1) Perwujudan PKN dan PKW didukung dengan alokasi pendanaan yang bersumber dari anggaran Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat serta dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama pembiayaan. (2) Bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan diatur lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Paragraf 2 Infrastruktur Wilayah Pasal 52 Untuk meningkatkan dan mempertahankan tingkat pelayanan infrastruktur transportasi guna mendukung tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan, program pengembangan infrastruktur transportasi darat, laut dan udara adalah: a. peningkatan kapasitas pelayanan sistem jaringan jalan arteri primer; b. peningkatan kapasitas pelayanan sistem jaringan jalan kolektor primer;

28

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

c. d. e. f.

pembangunan jalan tol; pengembangan angkutan massal; pembangunan sarana terminal; peningkatan kapasitas dan pelayanan pelabuhan dan bandar udara.

Pasal 53 Program pengembangan infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. peningkatan ruas jalan arteri primer Bandung Cirebon; b. penetapan ruas jalan Ciamis - Cikijing - Kuningan - Cirebon, Cibadak - Cikidang - Palabuhanratu, Banjar - Pangandaran, Sadang - Subang - Cikamurang - Jangga, sebagai jaringan jalan arteri primer; c. penetapan ruas jalan penghubung antar PKW, yaitu ruas jalan horizontal Jawa Barat bagian selatan Surade - Tegalbuleud - Agrabinta - Sindangbarang - Cidaun - Rancabuaya - Pameungpeuk - Cipatujah - Kalapagenep - Pangandaran sebagai jaringan jalan kolektor primer; d. peningkatan ruas jalan kolektor primer Cileungsi - Selajambe, dan Cibadak - Cikembang Bagbagan; e. peningkatan ruas jalan kolektor primer yang berfungsi sebagai penghubung antara PKW dan PKL, yaitu ruas jalan Nagrek - Garut - Pameungpeuk, Cianjur - Sukanegara - Sindangbarang, Sukabumi - Sagaranten - Tegalbuleud, Pangalengan - Cisewu - Rancabuaya, Tasikmalaya - Cipatujah, Rancabali - Naringgul - Cidaun, Kadipaten - Majalengka - Sumber, jalan lingkar timur Cianjur dan jalan lingkar selatan Sukabumi; f. pembangunan jalan tol Cikampek - Purwakarta - Padalarang, Cileunyi - Sumedang - Dawuan Palimanan, Cikarang - Tanjungpriok; g. peningkatan rel ganda Cikampek - Haurgeulis, Cikampek - Padalarang, pembangunan jalur pintas Cibungur - Tanjungrasa, jalur baru lintas Cangkring - Pelabuhan Cirebon, dan sekitar Bodebek, peningkatan jalur Bogor - Sukabumi - Cianjur; serta penyiapan pengembangan jalur KA di Cekungan Bandung; h. pembangunan terminal tipe A di PKN Metropolitan Bandung, Bodebek, dan Cirebon, serta pembangunan terminal tipe B di setiap PKW; i. j. pengembangan sistem transportasi terpadu di Metropolitan Bodebek dan Bandung; pembangunan “rest area” di beberapa ruas jalan arteri dan kolektor;

k. peningkatan kapasitas pelayanan Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan utama sekunder di PKN Metropolitan Cirebon dan pelabuhan lainnya untuk mendukung pengembangan PKW; l. peningkatan fungsi pelayanan Bandara Husein Sastranegara sebagai Bandara Kelas II di PKN Metropolitan Bandung;

m. optimalisasi fungsi bandara komersial lainnya, yaitu Bandara Penggung di PKN Metropolitan Cirebon dan Bandara Nusawiru di PKW Pangandaran.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

29

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 54 Untuk mewujudkan keseimbangan ketersediaan air pada musim hujan dan kemarau serta meningkatkan dan mempertahankan jaringan irigasi yang ada dalam rangka ketahanan pangan program pengembangan prasarana sumber daya air dan irigasi meliputi : a. pembangunan waduk dan tandon air untuk menyediakan air baku serta konservasi sumber air; b. pemanfaatan sumber air baku alternatif yaitu situ-situ dan kawah gunung; c. pembangunan prasarana pengendali banjir; d. pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi.

Pasal 55 Program pengembangan prasarana sumber daya air dan irigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan waduk di Sungai Cimandiri (Kabupaten Sukabumi), Waduk Jatigede (Kabupaten Sumedang), Tandon Air di Sungai Cikapundung (Kabupaten Bandung), Waduk di Sungai Ciwidey (Kabupaten Bandung), Waduk Santosa (Kabupaten Bandung), Waduk Genteng (Kabupaten Bogor), Waduk Tegalluar (Kabupaten Bandung), waduk-waduk lapangan di Kabupaten Indramayu, Waduk Sadawarna (Kabupaten Majalengka), Sodetan Cibatarua (Kabupaten Bandung), peninggian Bendungan Cirata (Kabupaten Purwakarta), dan pembangunan jaringan air baku di Cipamatuh (Cikuray-Papandayan-Malabar-Patuha, Kabupaten Garut); b. peningkatan pengelolaan situ-situ, embung, bendung dan waduk; c. pembangunan prasarana pengendali banjir di Sungai Citanduy (Kabupaten Ciamis), Sungai Cimanuk (Kabupaten Majalengka), Sungai Citarum dan anak-anaknya (Kabupaten Bandung), Sungai Cipunegara (Kabupaten Subang), Sungai Kumpulkwista (Kabupaten Cirebon), Sungai Ciliwung (Kabupaten Bogor) dan Sungai Cisadane (Kabupaten Bogor); d. optimalisasi pemanfaatan air yang tertampung pada Kawah Galunggung dan Situ Gede; e. pembangunan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi (DI) Leuwigoong di Kabupaten Garut; f. rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi pada daerah-daerah irigasi (DI),

Pasal 56 Untuk meningkatkan ketersediaan energi dan jaringan telekomunikasi, program pengembangan prasarana energi dan telekomunikasi meliputi : a. pembangunan instalasi baru, pengoperasian instalasi penyaluran dan peningkatan jaringan distribusi; b. pembangunan prasarana listrik yang bersumber dari energi alternatif; c. pengembangan fasilitas telekomunikasi perdesaan dan model-model telekomunikasi alternatif.

30

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 57 Program pengembangan prasarana energi dan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan instalasi baru, yaitu Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Tasikmalaya Depok, Interbus Transformer (IBT) Jatibarang (Kabupaten Garut), Gardu Induk (GI) Cibeureum (Kabupaten Tasikmalaya), Trafo Distribusi Cianjur, Saluran Udara T egangan Tinggi (SUTT) Ciganea (Kabupaten Purwakarta), Konduktor SUTT Cirata (Kabupaten Purwakarta), dan IBT Purwakarta; b. pengoperasian instalasi penyaluran, yaitu : Bengkok Incommer, Double Phi GI Lagadar, Double Phi Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Mandirancan (Kabupaten Cirebon), Reconductoring SUTT Rancaekek, Ujungberung (Kabupaten Bandung), GITET Tasikmalaya, Trafo Distribusi Sumedang, Cigereleng (Kota Bandung), Kadipaten (Kabupaten Majalengka), Rengasdengklok (Kabupaten Karawang), Padalarang (Kabupaten Bandung), dan GI Malangbong (Kabupaten Garut) ; c. peningkatan jaringan distribusi listrik ke daerah perdesaan; d. peningkatan pasokan daya listrik yang bersumber dari energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik perdesaan, diantaranya mikrohidro, angin, dan surya di perdesaan; e. pembangunan sistem jaringan telekomunikasi di seluruh ibukota kecamatan dan desa; f. menciptakan keanekaragaman model telekomunikasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Pasal 58 Untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur perumahan dan permukiman, pengembangan prasarana perumahan dan permukiman dilakukan melalui pembangunan prasarana yang memiliki skala pelayanan lintas wilayah.

Pasal 59 Program pengembangan prasarana perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Regional di Bekasi, Bogor, Cicalengka (Bandung), Palimanan (Cirebon), Palabuhanratu, Mangunreja (Kab. Tasikmalaya) Sukanegara (Cianjur), Pangandaran, Cikampek-Cikopo, dan Kadipaten; b. penyediaan air bersih lintas wilayah; c. pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah/Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPAL/IPLT) di Kota Bandung, Palimanan (Cirebon), Cisaat (Sukabumi), T asikmalaya, Cianjur, Pangandaran, Klari (Karawang) dan Kadipaten;

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

31

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 60 (1) Tahapan pengembangan infrastruktur darat, laut, dan udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 Peraturan Daerah ini, adalah sebagai berikut : a. pengembangan infrastruktur darat, laut, dan udara yang diprioritaskan pembangunannya mulai awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan, mencakup pengembangan sistem jaringan arteri primer dan kolektor primer, pembangunan jaringan jalan tol, peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan jaringan kereta api, pembangunan “rest area” di beberapa ruas jalan arteri dan kolektor, peningkatan kapasitas dan fungsi pelayanan Pelabuhan Cirebon dan Bandar Udara Husein Sastranegara, dan optimalisasi fungsi bandar udara komersil lainnya; b. pengembangan sistem transportasi terpadu di Metropolitan Bodebek dan Bandung dilakukan mulai tahun kedua perencanaan hingga akhir tahun perencanaan dan pembangunan terminal tipe A dan B dilakukan mulai tahun pertama perencanaan hingga akhir tahun perencanaan. (2) Tahapan pengembangan prasarana sumber daya air dan irigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 Peraturan Daerah ini, adalah sebagai berikut : a. pembangunan waduk, prasarana pengendali banjir, jaringan irigasi, dan pengelolaan situ-situ diprioritaskan pelaksanaannya mulai awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan; b. optimalisasi pemanfaatan air pada Kawah Galunggung dan Situ Gede telah dilaksanakan dan akan dilanjutkan sampai tahun ketiga perencanaan. (3) Tahapan pengembangan prasarana energi dan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 Peraturan Daerah ini, adalah sebagai berikut : a. pembangunan dan pengoperasian instalasi baru serta peningkatan jaringan distribusi mulai awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan; b. peningkatan pasokan daya listrik yang bersumber dari energi alternatif, pembangunan sistem jaringan telekomunikasi di seluruh ibukota kecamatan dan desa, serta pengembangan keanekaragaman model telekomunikasi dilaksanakan mulai awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan. (4) Tahapan pengembangan prasarana perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 Peraturan Daerah ini, adalah sebagai berikut : a. penyediaan air bersih lintas wilayah diprioritaskan pelaksanaannya pada tahun pertama perencanaan hingga akhir tahun perencanaan; b. pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Regional dan Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah/Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPAL/IPLT) dilaksanakan pada tahun kedua perencanaan hingga akhir tahun perencanaan.

Pasal 61 1. Pembiayaan pembangunan infrastruktur wilayah dialokasikan dari sumber dana anggaran Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat dan dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama pembiayaan.
32
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

2. Bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan diatur lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Paragraf 3 Kawasan Andalan Pasal 62 Untuk mewujudkan suatu kawasan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya, pengembangan kawasan andalan dilaksanakan melalui program : a. pengembangan agribisnis; b. pengembangan industri; c. pengembangan pariwisata; d. pengembangan usaha bisnis kelautan; e. pengembangan jasa; f. pengembangan sumber daya manusia.

Pasal 63 (1) Pengembangan agribisnis sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 62 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. penataan kawasan sentra produksi pertanian; b. pembentukan kelembagaan; c. penyediaan infrastruktur pendukung seperti transportasi, irigasi/pengairan, listrik, dan telekomunikasi; d. pengembangan IPTEK atau pendidikan dan latihan teknis bagi aparat dan petani; e. optimalisasi balai-balai penelitian dan pengembangan; f. penanganan pasca panen dan pengolahan hasil melalui pengadaan alat mesin pertanian, pengering, dan penggiling; g. pengadaan benih atau bibit unggul beserta pelatihannya; h. intensifikasi dan rehabilitasi komoditi unggulan; i. penelitian dan pengembangan varitas unggulan di Kawasan Andalan Bodebek dan Cekungan Bandung; j. penguatan kelembagaan tani di setiap kawasan andalan; k. pemanfaatan teknologi dan sarana produksi yang ramah lingkungan. (2) Pengembangan industri sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 62 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. identifikasi dan pengembangan kelompok industri; b. penanganan produk-produk industri berbasis bahan baku lokal; c. mendorong masuknya investasi melalui regulasi dan perizinan; d. pengembangan jaringan pemasaran produk-produk industri; e. mengarahkan pengembangan kegiatan industri di lokasi kawasan industri (industrial estate).
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

33

NO.2

2003

SERI. E

(3) Pengembangan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 62 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. penataan kawasan wisata; b. promosi pariwisata dan pengembangan tempat wisata; c. pengembangan produk agroindustri; d. pengembangan agro estate. (4) Pengembangan bisnis kelautan sebagaimana dimaksud dalam huruf d Pasal 62 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. identifikasi daerah-daerah penangkapan ikan, sumberdaya ikan, dan budidaya ikan; b. pengembangan sarana dan prasarana penangkapan ikan di Pantai Utara Jawa Barat dan Pantai Selatan Jawa Barat; c. pengembangan sarana penyimpanan (cold storage); d. penguatan kelembagaan nelayan/masyarakat pesisir di Pantai Utara Jawa Barat dan Pantai Selatan Jawa Barat; e. pengembangan sentral pemasaran dan pengolahan hasil laut; f. perbaikan alur-alur pelayaran di Pantai Utara Jawa Barat; g. rehabilitasi hutan mangrove di Pantai Utara Jawa Barat. (5) Pengembangan jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf e Pasal 62 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. penumbuhan jasa informasi; b. pengembangan jasa perdagangan; c. pengembangan jasa konsultansi; d. pengembangan jasa pendidikan; e. pengembangan jasa riset dan teknologi. (6) Pengembangan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam huruf f Pasal 62 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. Pengembangan balai-balai riset dan teknologi; b. Pengembangan perguruan tinggi; c. Pengembangan balai-balai pelatihan.

Pasal 64 Tahapan pengembangan kawasan andalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 Peraturan Daerah ini, adalah sebagai berikut : a. pengembangan Kawasan Andalan Sukabumi dsk., Priangan Timur dsk., Cekungan Bandung, Pangandaran dsk., Ciayumajakuning dan Purwakara - Subang - Karawang diprioritaskan pelaksanaannya mulai awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan; b. pengembangan Kawasan Andalan Bogor - Depok - Bekasi dan Bogor - Puncak - Cianjur dilaksanakan pada 5 tahun terakhir.

34

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 65 (1) Pembiayaan pengembangan kawasan andalan dialokasikan dari sumber dana anggaran Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat dan dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama pembiayaan. (2) Bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan diatur lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Paragraf 4 Kawasan Pertahanan Keamanan Pasal 66 Untuk menjaga kepentingan kawasan pertahanan keamanan maka tidak diperkenankan kegiatan budidaya yang dapat mengganggu fungsi kawasan pertahanan keamanan. Pasal 67 Pengamanan kawasan pertahanan keamanan dilakukan melalui : a. pengukuhan lokasi kawasan pertahanan keamanan; b. sosialisasi lokasi kawasan pertahanan keamanan; c. penyusunan petunjuk operasional pemanfaatan ruang di dalam kawasan pertahanan keamanan. Bagian Kedua Pola Tata Ruang Paragraf 1 Kawasan Lindung Pasal 68 (1) Pada kawasan lindung di dalam kawasan hutan hanya diperbolehkan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. (2) Kegiatan budidaya yang berada pada kawasan lindung di luar kawasan hutan yang mengganggu fungsi lindung, maka fungsinya dikembalikan secara bertahap sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sedangkan untuk kegiatan-kegiatan baru yang dapat menganggu fungsi lindung perlu dibatasi.

Pasal 69 Untuk mewujudkan proporsi kawasan lindung sebesar 45% program pengembangan kawasan lindung di Jawa Barat adalah sebagai berikut : a. pengukuhan kawasan lindung; b. rehabilitasi dan konservasi lahan di kawasan lindung guna mengembalikan dan meningkatkan fungsi lindung; c. pengendalian kawasan lindung;
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

35

NO.2

2003

SERI. E

d. pengembangan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan lindung; e. peningkatan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan; f. pengembangan pola insentif dan disinsentif pengelolaan kawasan lindung.

Pasal 70 (1) Pengukuhan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 69 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan : a. penunjukan kawasan lindung baik yang merupakan hutan maupun non hutan; b. penataan batas kawasan lindung; c. pemetaan kawasan lindung; d. penetapan kawasan lindung. (2) Rehabilitasi dan konservasi lahan di kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 69 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan penghijauan di seluruh kawasan lindung. (3) Pengendalian kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 69 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan pengawasan, pengamanan dan pengaturan pemanfaatan sumberdaya kawasan lindung di seluruh kawasan lindung. (4) Pengembangan partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud dalam huruf d Pasal 69 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat/masyarakat adat. (5) Peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya hutan sebagaimana dimaksud dalam huruf e Pasal 69 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui pengembangan wanafarma, ekowisata, agroforestry, dan lain-lain di Gunung Salak, Gunung Ciremai, dan Gunung Simpang Tilu. (6) Pengembangan pola insentif dan disinsentif pengelolaan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam huruf f Pasal 69 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan pengembangan dana lingkungan, di DAS yang berada di wilayah selatan dan sebagian DAS yang berada di wilayah tengah, yaitu Citarum, Cimanuk dan Citanduy.

Pasal 71 (1)Pencapaian kawasan lindung sebesar 45% dari luas seluruh wilayah Jawa Barat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal 70 Peraturan Daerah ini, dilakukan secara bertahap, yaitu : a. pencapaian proporsi kawasan lindung sebesar 21% yang terdiri dari hutan konservasi dan hutan lindung sebesar 11% serta kawasan di luar hutan lindung dan hutan konservasi sebesar 10% pada tahun ketiga perencanaan; b. pencapaian proporsi kawasan lindung sebesar 45% yang terdiri dari hutan konservasi dan hutan lindung sebesar 19% serta kawasan di luar hutan lindung dan hutan konservasi sebesar 26% pada akhir tahun perencanaan. (2) Rehabilitasi dan konservasi lahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 70 Peraturan Daerah ini, dilakukan secara bertahap, yaitu :
36
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

a. rehabilitasi dan konservasi pada Daerah Aliran Sungai Citanduy, Ciliwung, Kali Buaran, Kali Bekasi, Citarum, Cisadane, Cinerang, Cilamaya, Ciasem, Cipunegara, Cikaso, Ciletuh, Cibuni, Kalisewo dan Cilalanang diprioritaskan pelaksanaannya pada tiga tahun pertama perencanaan. b. rehabilitasi dan konservasi pada Daerah Aliran Sungai Cipanas, Pangkalan, Ciwaringin, Cimanggung, Ciwulan, Ciujung, Bangkaderes, Cijulang, Cimandiri, Cimangur, Cibareno, Cidurian, Kali Jurang Jero, Cimedang, Cipatujah, Cisanggiri, Cilaki, Cimaragang, Cipondok, Cisadea, Cikondang dan Cikarang dilaksanakan pada lima tahun terakhir. (3) Pengendalian kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal 70 Peraturan Daerah ini, dan pengembangan pola insentif dan disinsentif pengelolaan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) Pasal 70 Peraturan Daerah ini, dilaksanakan mulai tahun kedua perencanaan hingga akhir tahun perencanaan. (4) Pengembangan partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) Pasal 70 Peraturan Daerah ini, dan peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya hutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) Pasal 70 Peraturan Daerah ini, diprioritaskan pelaksanaannya mulai awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan.

Pasal 72 (1) Dalam rangka menjamin terselenggaranya pemanfaatan ruang di kawasan lindung secara seimbang dan berkeadilan didukung oleh pembagian peran antar pelaku dan pembiayaan yang bersumber dari anggaran Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat serta dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama pembiayaan. (2) Bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan diatur lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Paragraf 2 Kawasan Budidaya Pasal 73 Untuk mempertahankan lahan sawah terutama yang beririgasi teknis, program pengembangannya adalah sebagai berikut : a. pengukuhan kawasan pertanian lahan basah khususnya lahan sawah beririgasi teknis; b. peningkatan pelayanan infrastruktur pertanian untuk mempertahankan keberadaan fungsi lahan sawah beririgasi teknis; c. mengendalikan alih fungsi lahan sawah. Pasal 74 (1) Pengukuhan kawasan pertanian lahan basah khususnya lahan sawah beririgasi teknis sebagaimana dimaksud dalam huruf a Pasal 73 Peraturan Daerah ini, dilakukan melalui kegiatan pemetaan dan penetapan lahan sawah beririgasi teknis.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

37

NO.2

2003

SERI. E

(2) Peningkatan pelayanan infrastruktur pertanian untuk mempertahankan keberadaan fungsi lahan sawah beririgasi teknis sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 73 Peraturan Daerah ini, diprioritaskan melalui kegiatan peningkatan jaringan irigasi, baik pada irigasi primer, sekunder dan tersier, termasuk irigasi desa. (3) Pengendalian alih fungsi lahan sawah sebagaimana dimaksud huruf c Pasal 73 Peraturan Daerah ini dilákukan melalui mekanisme perizinan pemanfaatan ruang.

Pasal 75 Mempertahankan lahan sawah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 Peraturan Daerah ini, pelaksanaannya dilakukan sejak awal tahun perencanaan.

Pasal 76 (1) Dalam rangka mempertahankan kawasan sawah khususnya yang beririgasi teknis, didukung oleh pembiayaan yang bersumber dari anggaran Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat serta dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama pembiayaan. (2) Bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan akan diatur lebih lanjut sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. peraturan

Paragraf 3 Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Pasal 77 Untuk meningkatkan daya dukung lingkungan alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya tampung lingkungan Jawa Barat, program pengembangan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup adalah sebagai berikut : a. pengendalian kualitas lingkungan; b. efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam; c. pengembangan daya dukung lingkungan buatan.

Pasal 78 (1) Pengendalian kualitas lingkungan sebagaimana dimaksud huruf a dalam Pasal 77 Peraturan Daerah ini dilakukan melalui kegiatan : a. pengendalian pencemaran lingkungan terutama pada DAS Citarum, Ciliwung, Citanduy, Cisadane, Cimanuk, dan Kali Bekasi; b. pengendalian kerusakan lingkungan terutama pada DAS Citarum, Ciliwung, Citanduy, Cisadane, Cimanuk, dan Kali Bekasi; c. penegakan hukum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

38

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

(2) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam sebagaimana dimaksud huruf b dalam Pasal 77 Peraturan Daerah ini dilakukan melalui kegiatan : a. penerapan produksi ramah lingkungan terutama pada DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, Cimanggung, dan Bangkaderes; b. pengembangan energi alternatif terutama pada DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, Cimanggung, dan Bangkaderes; c. penerapan hemat energi terutama pada DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, Cimanggung, dan Bangkaderes. (3) Pengembangan daya dukung lingkungan buatan sebagaimana dimaksud huruf c dalam Pasal 77 Peraturan Daerah ini dilakukan melalui kegiatan : a. pengembangan infrastruktur sumberdaya air, sumberdaya pesisir dan laut pada DAS Citarum, Cimanuk, Citanduy, dan Cimandiri; b. pengembanganterumbukarangbuatan; c. pengembanganinfrastruktursumberdayaenergi. Pasal 79 (1) Pengendalian kualitas lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal 78 Peraturan Daerah ini, dilaksanakan sejak awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan. (2) Tahapan pengembangan program efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 78 Peraturan Daerah ini, melalui penerapan produksi ramah lingkungan, pengembangan energi alternatif, dan penerapan hemat energi dilaksanakan pada awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan. (3) Tahapan pengembangan program pengembangan daya dukung lingkungan buatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal 78 Peraturan Daerah ini, adalah : a. pengembangan infrastruktur sumberdaya air, pesisir dan laut diprioritaskan pelaksanaannya sejak awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan; b. pengembangan terumbu karang buatan dilaksanakan sejak tahun kedua hingga akhir tahun perencanaan; c. pengembangan infrastruktur sumberdaya energi dilaksanakan sejak awal tahun perencanaan hingga akhir tahun perencanaan. Pasal 80 (1) Dalam rangka meningkatkan daya dukung lingkungan alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya tampung lingkungan, didukung oleh pembiayaan yang bersumber dari anggaran Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat serta dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama pembiayaan. (2) Bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan diatur lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

39

NO.2

2003

SERI. E

BAB VII PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Pertama Umum Pasal 81 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. Pasal 82 Koordinasi pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan oleh Gubernur melalui Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah Propinsi, bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dan melibatkan peran serta masyarakat.

Bagian Kedua Pengawasan Pasal 83 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 Peraturan Daerah ini diselenggarakan melalui kegiatan pemantauan, pelaporan dan evaluasi secara rutin. (2) Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah Propinsi melakukan pengawasan pemanfaatan ruang yang berhubungan dengan program, kegiatan pembangunan, dan pemberian izin pemanfaatan ruang. (3) Sistem pelaporan dan materi laporan perkembangan struktur dan pola tata ruang adalah sebagai berikut : a. laporan perkembangan pemanfaatan ruang dilaksanakan melalui sistem pelaporan secara periodik dan berjenjang mulai dari Bupati/Walikota setiap triwulan dan setiap 6 (enam) bulan kepada Gubernur dengan tembusan kepada DPRD; b. laporan tersebut dilengkapi dengan materi laporan sebagai berikut : 1. perkembangan pemanfaatan ruang; 2. perkembangan perubahan fungsi dan pemanfaatan ruang serta izin pemanfaatan ruang; 3. masalah-masalah pemanfaatan ruang yang perlu diatasi; 4. masalah-masalah pemanfaatan ruang yang akan muncul dan perlu diantisipasi.

Bagian Ketiga Penertiban Pasal 84 (1) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 Peraturan Daerah ini, dilakukan berdasarkan laporan perkembangan pemanfaatan ruang hasil pengawasan.
40
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

(2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang dilakukan oleh aparat pemerintah yang berwewenang terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang. (3) Bentuk penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berupa pemberian sanksi yang terdiri dari sanksi administratif dan sanksi pidana.

BAB VIII PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 85 (1) Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan dilakukan melalui pemberian informasi berupa data, bantuan pemikiran dan keberatan, yang disampaikan dalam bentuk dialog, angket, internet dan melalui media lainnya baik langsung maupun tidak langsung. (2) Peran serta masyarakat dalam proses pemanfaatan ruang dapat dilakukan melalui pelaksanaan program dan kegiatan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan RTRWP, meliputi : a. pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara berdasarkan RTRWP yang telah ditetapkan; b. bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah; c. bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang. (3) Peran serta masyarakat dalam proses pengendalian pemanfaatan ruang dapat dilakukan melalui : a. pengawasan dalam bentuk pemantauan terhadap pemanfaatan ruang dan pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang; b. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang. Pasal 86 Dalam kegiatan penataan ruang wilayah, masyarakat berhak : a. berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang; b. mengetahui secara terbuka isi RTRWP; c. menikmati manfaat ruang dan atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang; d. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 87 (1) Untuk mengetahui rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam huruf b Pasal 86 Peraturan Daerah ini, masyarakat dapat mengetahui RTRWP dari Lembaran Daerah Propinsi, pengumuman atau penyebarluasan oleh pemerintah propinsi pada tempat-tempat yang memungkinkan masyarakat mengetahui dengan mudah.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

41

NO.2

2003

SERI. E

(2) Pengumuman atau penyebarluasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diketahui masyarakat melalui penempelan/pemasangan peta rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan kantor-kantor yang secara fungsional menangani rencana tata ruang tersebut.

Pasal 88 (1) Dalam menikmati manfaat ruang dan atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 86 Peraturan Daerah ini, pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Untuk menikmati dan memanfaatkan ruang beserta sumber daya alam yang terkandung didalamnya, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berupa manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dilaksanakan atas dasar pemilikan, penguasaan, atau pemberian hak tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku atas ruang pada masyarakat setempat.

Pasal 89 (1) Untuk memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan RTRWP sebagaimana dimaksud huruf d dalam Pasal 86 Peraturan Daerah ini, diselenggarakan secara musyawarah dengan pihak yang berkepentingan. (2) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 90 Dalam kegiatan penataan ruang wilayah propinsi, masyarakat wajib : a. berperan serta dalam memelihara kualitas ruang; b. berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. mentaati RTRWP yang telah ditetapkan.

Pasal 91 (1) Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 Peraturan Daerah ini, dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria, kaidah, baku mutu, dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
42
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

(2) Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dipraktekkan masyarakat secara turun temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung lingkungan, estetika lingkungan, lokasi, dan struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi, selaras dan seimbang.

BAB IX PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG WILAYAH Pasal 92 (1) RTRWP yang telah ditetapkan dapat ditinjau kembali pada tahun 2005 dan tahun 2010. (2) Perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

BAB X SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 93 (1) Sanksi administratif dikenakan atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang berakibat pada terhambatnya pelaksanaan program pemanfaatan ruang. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, dapat berupa : a. penghentian sementara pelayanan administratif; b. penghentian sementara pemanfaatan ruang di lapangan; c. denda administratif; d. pengurangan luas pemanfaatan ruang; e. pencabutan izin pemanfaatan ruang.

BAB XI KETENTUAN PIDANA Pasal 94 (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40 dan Pasal 43 Peraturan Daerah ini, diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). (2) Selain tindak pidana pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, tindak pidana atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang mengakibatkan perusakan dan pencemaran lingkungan serta kepentingan umum lainnya dikenakan ancaman pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

43

NO.2

2003

SERI. E

BAB XII PENYIDIKAN Pasal 95 (1) Selain Pejabat Penyidik POLRI yang bertugas menyidik tindak pidana, penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dapat juga dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Dalam pelaksanaan tugas penyidikan, para Pejabat Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berwenang : a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana; b. melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan; c. menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. melakukan penyitaan benda dan atau surat; e. mengambil sidik jari dan memotret seseorang; f. memanggil seseorang untuk dijadikan tersangka atau saksi; g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dari Penyidik Umum bahwa tidak terdapat cukup bukti, atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui Penyidik Umum memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, tersangka dan keluarganya; i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 96 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah ini, semua Peraturan Daerah dan peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada, tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini.

Pasal 97 Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah ini, maka : a. Kegiatan budidaya yang telah ditetapkan sebelumnya dan berada di kawasan lindung dapat diteruskan sejauh tidak mengganggu fungsi lindung. b. Kegiatan Budidaya yang telah ada di Kawasan Lindung yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

44

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

c. Izin pemanfaatan ruang baik yang berada di Kawasan Lindung maupun di Kawasan Budidaya yang telah diberikan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 98 Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 3 Tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 99 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. Pasal 100 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Jawa Barat.

Ditetapkan di Bandung pada tanggal 13 Januari 2003 GUBERNUR JAWA BARAT

R. NURIANA Diundangkan di Bandung pada tanggal 13 Januari 2003 SEKRETARIS DAERAH PROPINSI JAWA BARAT,

DANNY SETIAWAN LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT TAHUN 2003 NOMOR 2 SERI E
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

45

NO.2

2003

SERI. E

46

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 T E N T A N G RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

I. UMUM Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, bahwa penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundangan-undangan. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa wilayah Daerah Propinsi yang berkedudukan sebagai Wilayah Administrasi, terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah antara lain disebutkan bahwa pemberian kedudukan Propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah, untuk menyelenggarakan otonomi daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom menyebutkan bahwa kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten/Kota dan kewenangan dalam bidang tertentu, termasuk bidang penataan ruang Propinsi. Dalam menentukan kewenangan Propinsi digunakan kriteria yang berkaitan dengan pelayanan lintas Kabupaten/Kota dan konflik kepentingan kepentingan antar Kabupaten/Kota. Ruang merupakan suatu wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatannya yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola. Ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. Ruang sebagai salah satu sumberdaya alam tidak mengenal batas wilayah. Berkaitan dengan pengaturannya, diperlukan kejelasan batas, fungsi dan sistemnya dalam satu ketentuan.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

47

NO.2

2003

SERI. E

Wilayah Propinsi Jawa Barat meliputi daratan, lautan, dan udara, terdiri dari wilayah Kabupaten/Kota yang masing-masing merupakan suatu subsistem. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. Penataan ruang Propinsi Jawa Barat adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang yang diselenggarakan oleh pemerintah Propinsi di wilayah yang menjadi kewenangan Pemerintah Propinsi, dalam rangka optimalisasi dan mensinergikan pemanfaatan sumberdaya daerah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Jawa Barat. Penataan ruang Propinsi Jawa Barat yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai, akan meningkatkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. Oleh karenanya pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lainnya, yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan dan pengaturan ruang yang membutuhkan dikembangkannya suatu kebijakan penataan ruang Propinsi Jawa Barat yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Sejalan dengan maksud tersebut, maka pelaksanaan pembangunan di Jawa Barat, baik di tingkat Propinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota harus sesuai dengan rencana tata ruang, agar dalam pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat yang disepakati.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian dalam Peraturan Daerah ini. Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan, yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu, modal, optimasi, daya dukung lingkungan, daya tampung lingkungan, dan geopolitik. Dalam mempertimbangkan aspek waktu, suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan, ruang lingkup wilayah yang direncanakan, persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang.

48

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. Yang dimaksud dengan serasi, selaras, dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan struktur dan pola tata ruang bagi persebaran penduduk antarwilayah, pertumbuhan dan perkembangan antarsektor, antardaerah, serta antar sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. Yang dimaksud dengan persamaan adalah bahwa seluruh lapisan masyarakat mendapat hak yang sama dalam kegiatan pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan keadilan adalah bahwa seluruh lapisan masyarakat dapat mengambil manfaat dari kegiatan penataan ruang sesuai dengan kepentingannya. Yang dimaksud dengan perlindungan hukum adalah bahwa penataan ruang dalam pelaksanaannya dilindungi oleh hukum. Yang dimaksud dengan keterbukaan adalah bahwa penataan ruang dalam pelaksanaannya berhak diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan terbuka untuk menampung masukan dari seluruh lapisan masyarakat. Yang dimaksud dengan akuntabilitas adalah bahwa penataan ruang dalam pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan. Yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat adalah bahwa penyelenggaraan penataan ruang yang dilakukan oleh pemerintah harus dapat melibatkan partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam penataan ruang karena hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat.

Pasal 3 Huruf a Yang dimaksud dengan sumber daya daerah adalah sumber daya alam dan buatan yang ada di daerah yang pemanfaatannya menjadi kewenangan daerah/propinsi.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

49

NO.2

2003

SERI. E

Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Struktur ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk lingkungan secara hirarkis dan saling berhubungan satu dengan lainnya, seperti sistem kota-kota, infrastruktur wilayah, dan kawasan andalan. Pola tata ruang adalah tata guna tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya dalam wujud penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya. Pasal 4 Ayat (1) RTRWP merupakan acuan bagi program dan kegiatan pembangunan daerah lima tahunan dan tahunan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 RTRWP Jawa Barat digunakan sebagai acuan kebijakan pembangunan hingga tahun 2010 dan tetap berlaku selama belum ada perubahan/penggantinya. Pasal 8 Huruf a Pendekatan partisipatif adalah pendekatan yang mengikutsertakan masyarakat dalam penataan ruang dalam hal perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang serta terdapat transparansi dalam ketiga proses tersebut.

50

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Huruf b Faktor eksternal yang mempengaruhi perlunya peninjauan kembali dan atau penyempurnaan RTRWP adalah perubahan peraturan dan rujukan baru mengenai sistem penataan ruang, perubahan kebijaksanaan baik yang dilakukan oleh Pusat, Daerah, maupun sektor, perubahan-perubahan dinamis akibat kebijaksanaan maupun pertumbuhan ekonomi, adanya paradigma baru pembangunan dan atau penataan ruang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bencana alam yang dapat mengubah struktur dan pola tata ruang yang ada. Faktor internal yang mempengaruhi perlunya peninjauan kembali dan atau penyempurnaan RTRWP adalah kualitas RTRWP yang rendah sehingga tidak dapat mengakomodasi perkembangan dan pertumbuhan aktivitas sosial ekonomi yang cepat dan dinamis, terbatasnya pengertian dan komitmen aparat yang berkaitan dengan tugas penataan ruang mengenai fungsi dan kegunaan RTRWP dalam pelaksanaan pembangunan, adanya perubahan atau pergeseran nilai-nilai yang berlaku di masyarakat setempat tentang kualitas tata ruang, dan lain-lain. Huruf c Cukup jelas Huruf d Petunjuk Operasional (PO) adalah suatu panduan yang memuat acuan proses dan prosedur, kriteria dan pengaturan serta pengelolaan/ kelembagaan untuk mewujudkan struktur tata ruang dan pola tata ruang di Jawa Barat. Pasal 9 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan RTRWP dapat dilakukan secara berkala setiap 5 tahun sekali atau kurang dari jangka waktu yang ditetapkan tersebut apabila RTRWP tidak mampu lagi mengakomodasikan dinamika perkembangan yang disebabkan oleh faktor eksternal dan atau internal yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi struktur dan pola tata ruang wilayah propinsi (lihat penjelasan Pasal 8 huruf b). Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

51

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 10 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang disusun sebelum diberlakukannya Peraturan Daerah ini perlu dilakukan peninjauan kembali (evaluasi). Apabila hasil peninjauan kembali menunjukkan adanya penyimpangan yang cukup signifikan, maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap materi RTRWP Jawa Barat. Untuk Kabupaten/Kota yang sedang dan akan menyusun RTRW-nya perlu mengacu pada RTRWP Jawa Barat. Mekanisme penyesuaian RTRW Kabupaten/Kota terhadap RTRWP akan diatur lebih lanjut di dalam Petunjuk Operasional. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Sistem kota-kota adalah suatu sistem yang menggambarkan sebaran kota, fungsi kotakota dan hirarki fungsional kotakota yang terkait dengan pola transportasi dan prasarana wilayah lainnya. Infrastruktur wilayah adalah sistem bangunan yang diperlukan terlebih dahulu agar sistem transportasi, teknik penyehatan, pengairan, telekomunikasi dsb. dapat berfungsi; bangunan-bangunan yang diperlukan sebelum kegiatan pokok masyarakat dan pemerintah dapat berjalan; bangunan-bangunan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan atau jasanya bagi kebutuhan dasar penduduk; terdiri atas prasarana transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dsb.), prasarana kesehatan (jaringan pipa air bersih, jaringan drainase, jaringan pengumpulan dan pembuangan sampah) dan prasarana energi dan telekomunikasi (jaringan kawat transmisi dan distribusi, jaringan kawat telpon, dsb). Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas
52
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Ketahanan pangan adalah suatu kondisi yang dicirikan dengan ketersediaan pangan yang mencukupi kebutuhan dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Pengawasan adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi hanya mencakup kegiatan pengawasan dan penertiban, sedangkan di wilayah Kabupaten/Kota penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan pemanfaatan ruang. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan koordinasi dalam penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang. Pasal 20 Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah Propinsi terdiri dari Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, TNI dan Polri, perguruan tinggi, serta unsur masyarakat lainnya. Selanjutnya hal ini akan diatur lebih lanjut dalam surat keputusan Gubernur.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

53

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 21 Ayat (1) Pengertian pengembangan secara terbatas pada pusat-pusat kegiatan di bagian selatan adalah bahwa pengembangan kota-kota tersebut perlu memperhatikan keseimbangan daya dukung lingkungan sesuai dengan kondisi dan karakteristik yang dimiliki. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain kerentanan terhadap resiko bencana alam seperti gempa, letusan gunung berapi, gerakan tanah, dan bahaya geologi lainnya; gangguan terhadap hulu dari DAS-DAS utama di Jawa Barat; serta dalam rangka menghindari terjadinya konversi lahan-lahan pertanian produktif. Ayat (2) Metropolitan adalah suatu kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000.000 jiwa yang tidak terikat dengan batas-batas administratif. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 22 Perumahan adalah kelompok yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Prasarana perumahan dan permukiman adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan perumahan dan permukiman dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pasal 23 Jaringan jalan arteri primer dikembangkan untuk melayani dan menghubungkan kotakota antar Pusat Kegiatan Nasional (PKN), antar Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan antar kota yang melayani kawasan berskala besar dan atau cepat berkembang dan atau pelabuhan-pelabuhan utama. Jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk melayani dan menghubungkan kotakota antar Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), antara Pusat Kegiatan Wilayah dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan atau kawasan-kawasan berskala kecil dan atau pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal. Pasal 24 Yang dimaksud dengan air baku adalah air yang dapat dipergunakan untuk keperluan air bersih, industri, pertanian, penggelontoran, dan kelistrikan.
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

54

NO.2

2003

SERI. E

Pengembangan jaringan irigasi dimaksudkan untuk pemenuhan kebutuhan air sawah, maupun tambak. Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan prasarana perumahan dan permukiman mencakup jaringan air bersih lintas wilayah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah regional, Instalasi Pengelohan Air Limbah (IPAL), dan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT). Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah regional adalah tempat pembuangan akhir sampah yang melayani antar kota, kota dan perdesaan. Pasal 27 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Pengembangan kawasan andalan harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam rangka menjaga konservasi lingkungan. Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Butir d Kawasan militer lainnya mencakup kawasan-kawasan yang akan disesuaikan dengan RUTR wilayah pertahanan dari TNI. Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Butir a Komposisi kawasan lindung adalah 19% di dalam kawasan hutan dan 26% di luar kawasan hutan. Proporsi 45% kawasan lindung tersebar di seluruh Kabupaten/Kota dengan luas yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masing-masing.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

55

NO.2

2003

SERI. E

Perincian kawasan lindung di setiap Kabupaten/Kota akan diatur lebih lanjut dalam Petunjuk Operasional. Penentuan proporsi kawasan lindung tersebut antara lain didasarkan pada hasil perhitungan terhadap faktor-faktor kemiringan lereng, jenis tanah, dan curah hujan dengan total nilai (skor) > 125. Nilai (skor) ini didasarkan pada kondisi lingkungan Jawa Barat. Butir b Cukup jelas Butir c Cukup jelas Pasal 32 Ayat (1) Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Huruf a angka 1 Kawasan hutan yang berfungsi lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi, serta memelihara kesuburan tanah. Kawasan hutan yang berfungsi lindung terdiri dari hutan konservasi dan hutan lindung, sebagaimana dimaksud pada pasal 32 ayat (1). Perlindungan terhadap kawasan hutan yang berfungsi lindung dilakukan untuk mencegah terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi, dan menjaga fungsi hidro-orologis tanah untuk menjamin ketersediaan unsur hara, air tanah, dan air permukaan. Kriteria kawasan hutan yang berfungsi lindung adalah : a. Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelerengan lapangan, jenis tanah, dan curah hujan dengan nilai skor lebih dari 125; dan atau

56

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

b. Kawasan hutan yang mempunyai kelerengan lapangan 40% atau lebih, dan pada daerah yang keadaan tanahnya peka terhadap erosi, dengan kelerengan lapangan lebih dari 25%; dan atau c. Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian 2.000 meter atau lebih di atas permukaan laut. Huruf a angka 2 Kawasan resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Perlindungan terhadap kawasan resapan air, dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan pengendalian banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kriteria kawasan resapan air adalah : a. Kawasan dengan curah hujan rata-rata lebih dari 1.000 mm per tahun; b. Lapisan tanahnya berupa pasir halus berukuran minimal 1/16 mm; c. Mempunyai kemampuan meluluskan air dengan kecepatan lebih dari 1 meter per hari; d. Kedalaman muka air tanah lebih dari 10 meter terhadap muka tanah setempat; e. Kelerengan kurang dari 15 %; f. Kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari kedudukan muka air tanah dalam. Huruf b angka 1 Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai sekurang-kurangnya 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Huruf b angka 2 Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

57

NO.2

2003

SERI. E

Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi fungsi sungai dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu dan merusak kondisi sungai dan mengamankan aliran sungai. Kriteria sempadan sungai adalah : a. Sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan perkotaan; b. Sekurang-kurangnya 100 meter di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan kiri sungai kecil yang tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan; c. Sekurang-kurangnya 10 meter dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 meter; d. Sekurang-kurangnya 15 meter dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 meter sampai dengan 20 meter; e. Sekurang-kurangnya 30 meter dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 meter; f. Sekurang-kurangnya 100 meter dari tepi sungai untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut, dan berfungsi sebagai jalur hijau. Huruf b angka 3 Kawasan sekitar waduk dan situ adalah kawasan tertentu di sekeliling waduk atau situ yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi waduk atau situ. Perlindungan terhadap kawasan sekitar waduk dan situ dilakukan untuk melindungi waduk dan situ dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian fungsinya. Kriteria kawasan sekitar waduk dan situ adalah daratan sepanjang tepian waduk dan situ yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik waduk dan situ sekurangkurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Huruf b angka 4 Kawasan sekitar mata air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air, dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas dan kelestarian mata air serta kondisi fisik kawasan sekitarnya. Kriteria kawasan sekitar mata air adalah kawasan dengan radius sekurang-kurangnya 200 meter sekitar mata air.

58

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Huruf c angka 1 Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Perlindungan terhadap kawasan cagar alam dilakukan untuk melindungi kekhasan biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya. Kriteria kawasan cagar alam adalah : a. Kawasan darat dan atau perairan yang ditunjuk mempunyai luas tertentu yang menunjang pengelolaan yang efektif dengan daerah penyangga cukup luas serta mempunyai kekhasan jenis tumbuhan, satwa atau ekosistemnya; b. Kondisi alam, baik biota maupun fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. Huruf c angka 2 Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya, memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi, dan atau merupakan tempat dan kehidupan jenis satwa migran tertentu. Perlindungan terhadap kawasan suaka margasatwa dilakukan untuk melindungi keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa. Kriteria kawasan suaka margasatwa adalah : a. Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan perkembangan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya; b. Memiliki keanekaragaman dan atau keunikan satwa; c. Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. Huruf c angka 3 Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya adalah daerah yang mewakili ekosistem khas di lautan maupun perairan lainnya, yang merupakan habitat alami yang memberikan tempat maupun perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang ada. Perlindungan terhadap kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya dilakukan untuk melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, keperluan pariwisata, dan ilmu pengetahuan. Kriteria kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya adalah kawasan berupa perairan laut, perairan darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugusan karang dan atol yang mempunyai cirri khas berupa keragaman dan atau keunikan ekosistem.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

59

NO.2

2003

SERI. E

Huruf c angka 4 Kawasan pantai berhutan bakau adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Perlindungan terhadap kawasan pantai berhutan bakau dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembangbiaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung pantai dan pengikisan air laut serta pelindung usaha budidaya dibelakangnya. Kriteria kawasan pantai berhutan bakau adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat. Huruf d angka 1 Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan rekreasi. Perlindungan terhadap taman nasional dilakukan untuk melindungi keaslian ekosistem dan dimanfaatkan untuk pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, rekreasi, dan pariwisata serta peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari pencemaran. Kriteria taman nasional adalah : a. Kawasan darat dan atau perairan yang ditunjuk relatif luas, tumbuhan dan atau satwanya memiliki sifat spesifik dan endemik serta berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; b. Dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari atas zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain sesuai dengan keperluan. Huruf d angka 2 Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian yang terutama dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa, alami atau buatan, jenis asli dan/atau bukan asli, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, budaya pariwisata dan rekreasi. Perlindungan terhadap taman hutan raya dilakukan untuk melindungi koleksi tumbuhan yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

60

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Kriteria taman hutan raya adalah : a. Kawasan yang ditunjuk mempunyai luas tertentu, yang dapat merupakan kawasan hutan dan atau kawasan bukan hutan; b. Memiliki arsitektur bentang alam dan akses yang baik untuk kepentingan pariwisata. Huruf d angka 3 Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam di darat maupun di laut yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Perlindungan terhadap taman wisata alam dilakukan untuk melindungi bentang alam dan gejala alam yang menarik dan indah, baik secara alamiah maupun buatan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi. Kriteria taman wisata alam adalah : a. Kawasan darat dan atau perairan yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan serta memiliki keadaan yang menarik dan indah, baik secara alamiah maupun buatan; b. Memenuhi kebutuhan rekreasi dan atau olah raga serta mudah dijangkau. Huruf e Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu. Kriteria taman buru adalah : a. Areal yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan; dan atau b. Kawasan yang terdapat satwa buru yang dikembangbiakan sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi, olahraga, dan kelestarian satwa. Huruf f Kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ adalah kawasan di luar kawasan suaka alam dan pelestarian alam yang diperuntukkan bagi pengembangan dan pelestarian pemanfaatan plasma nutfah tertentu. Perlindungan terhadap kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ dilakukan untuk melindungi dan mengembangkan jenis plasma nutfah tertentu di luar kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kriteria kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ adalah : a. Areal yang ditunjuk memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan; b. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut mempunyai luas cukup dan lapangannya tidak membahayakan.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

61

NO.2

2003

SERI. E

Huruf g Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya dan melindungi kekayaan budaya bangsa berupa bangunan arkeologi, bangunan monumental dan pengembangan ilmu pengetahuan dari ancaman kegiatan alam maupun manusia. ilmu pengetahuan dilakukan untuk peninggalan-peninggalan sejarah, adat istiadat yang berguna untuk kepunahan yang disebabkan oleh

Kriteria kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah : a. Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurangkurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan sekurang-kurangnya 50 tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan; b. Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. Huruf h angka 1 Kawasan rawan bencana gunung berapi adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana akibat letusan gunung berapi. Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana gunung berapi dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana gunung berapi. Kriteria kawasan rawan bencana gunung berapi adalah : a. Kawasan dengan jarak atau radius tertentu dari pusat letusan yang terpengaruh langsung dan tidak langsung, dengan tingkat kerawanan yang berbeda; b. Kawasan berupa lembah yang akan menjadi daerah aliran lahar dan lava. Huruf h angka 2 Kawasan rawan gempa bumi adalah kawasan yang pernah terjadi dan diidentifikasikan mempunyai potensi terancam bahaya gempa bumi baik gempa bumi tektonik maupun vulkanik. Perlindungan terhadap kawasan rawan gempa bumi dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana gempa bumi. Kriteria kawasan rawan gempa bumi adalah : a. Daerah yang mempunyai sejarah kegempaan yang merusak; b. Daerah yang dilalui oleh patahan aktif; c. Daerah yang mempunyai catatan kegempaan dengan kekuatan (magnitudo) lebih besar dari 5 pada Skala Richter;

62

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

d. Daerah dengan batuan dasar berupa endapan lepas seperti endapan pantai dan batuan lapuk; e. Kawasan lembah bertebing curam yang disusun batuan mudah longsor. Huruf h angka 3 Kawasan rawan gerakan tanah adalah kawasan yang berdasarkan kondisi geologi dan geografi dinyatakan rawan longsor atau kawasan yang mengalami kejadian longsor dengan frekuensi cukup tinggi. Perlindungan terhadap kawasan rawan gerakan tanah dilakukan untuk mengatur kegiatan manusia pada kawasan rawan gerakan tanah untuk menghindari terjadinya bencana akibat perbuatan manusia. Kriteria kawasan rawan gerakan tanah adalah daerah dengan kerentanan tinggi untuk terpengaruh gerakan tanah, terutama jika kegiatan manusia menimbulkan gangguan pada lereng di kawasan ini. Huruf h angka 4 Kawasan rawan banjir adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi terjadi banjir. Perlindungan terhadap kawasan rawan banjir dilakukan untuk mengatur kegiatan manusia pada kawasan rawan banjir untuk menghindari terjadinya bencana akibat perbuatan manusia. Kriteria kawasan rawan banjir adalah daerah yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana banjir. Pasal 34 Huruf a Cukup jelas Huruf b Lokasi kawasan resapan air diatur lebih lanjut oleh Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Pasal 35 Huruf a Cukup jelas Huruf b Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dimaksud adalah : Ciujung, Cidurian, Cisadane, Ciliwung, Kali Buaran, Kali Bekasi, Citarum, Cinerang, Cilamaya, Ciasem, Cipunegara, Kalisewo, Cilalanang, Cipanas, Pangkalan, Cimanuk, Ciwaringin, Cimanggung, Bangkaderes, Cisanggarung, Kali Jurang Jero, Citanduy, Cijulang, Cimelang, Ciwulan, Cipatujah, Cisanggiri, Cikondang, Cilaki, Cimaragang, Cipondok, Cisadea, Cibuni, Cikaso, Cikarang, Ciletuh, Cimandiri, Cimanggu, Cibareno, dan Cipagadungan.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

63

NO.2

2003

SERI. E

Huruf c Lokasi kawasan sekitar situ diatur lebih lanjut oleh Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Huruf d Kawasan sekitar mata air ditetapkan oleh Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Butir c Yang dimaksud dengan kawasan rawan gerakan tanah adalah kawasan rawan longsor. Pasal 42 Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Pasal 43 Cukup jelas Pasal 44 Standar dan kriteria teknis adalah suatu ukuran untuk menentukan bahwa pemanfaatan ruang dalam kawasan telah atau belum memenuhi ketentuan-ketentuan teknis, daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, kesesuaian ruang, dan bebas bencana. Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas
64
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Terminal regional atau terminal tipe A adalah terminal yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi dan atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota, dan angkutan perdesaan. Terminal tipe B adalah terminal yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan atau angkutan perdesaan. Terminal tipe C adalah terminal yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan perdesaan. Terminal tipe A dan tipe B merupakan wewenang pemerintah propinsi, sedangkan terminal tipe C merupakan wewenang pemerintah kabupaten/kota. Rumah sakit umum kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. Rumah sakit umum kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Pelayanan medis spesialistik dasar adalah pelayanan medis spesialistik penyakit dalam, kebidanan dan penyakit kandungan, bedah dan kesehatan anak. Pelayanan medis spesialistik luas adalah pelayanan medis spesialistik dasar ditambah dengan pelayanan spesialistik telinga, hidung, dan tenggorokan, mata, syaraf, jiwa, kulit dan kelamin, jantung, paru, radiologi, anestesi, rehabilitasi medis, patologi klinis, patologi anatomi dan pelayanan spesialistik lain sesuai dengan kebutuhan. TPA (tempat pembuangan akhir) sampah regional adalah tempat pembuangan akhir sampah yang melayani antar kota, kota dan perdesaan. Pelabuhan nasional adalah pelabuhan utama tersier yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah serta merupakan simpul dalam jaringan transportasi tingkat propinsi Pelabuhan laut regional adalah pelabuhan pengumpan primer yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dalam jumlah yang relatif kecil serta merupakan pengumpan pada pelabuhan utama
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

65

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “pusat-pusat kegiatan yang dikembangkan” adalah pusat-pusat kegiatan yang didorong pembangunannya agar tumbuh sesuai dengan fungsinya, baik sebagai PKN maupun PKW; sedangkan “pusat-pusat kegiatan yang dikendalikan” adalah pusat-pusat kegiatan yang diarahkan perkembangan pembangunannya agar tumbuh sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Pengembangan infrastruktur wilayah perlu memperhatikan aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan. Angkutan masal adalah sarana angkutan umum yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar, beroperasi secara cepat, aman, nyaman, terjadual, dan berfrekuensi tinggi seperti kereta api, minibus, dan bus. Pasal 53 Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas

66

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 58 Prasarana yang memiliki skala pelayanan lintas wilayah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah regional, air bersih lintas wilayah, dan Instalasi Pengolahan Air Limbah/Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPAL/IPLT). Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Huruf a Yang dimaksud dengan pengembangan agribisnis adalah pengembangan sistem pertanian yang secara umum mencakup 4 (empat) sub sistem yaitu : a. Sub sistem hulu (upstream agribusiness) yaitu kegiatan yang menghasilkan saprotan (industri pembibitan, industri pakan, industri obat-obatan/vaksin, dll); b. Subsistem agribisnis usaha/budidaya (on-farm agribusiness) yakni kegiatan yang menggunakan saprotan untuk menghasilkan komoditi pertanian primer; c. Subsistem agribisnis hilir (downstream agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan (industri pengolahan serta perdagangannya); d. Subsistem jasa penunjang (supporting institution) yakni kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa yang dibutuhkan oleh ketiga subsistem yang lain, seperti transportasi, penyuluhan dan pendidikan, penelitian dan pengembangan, perbankan dan kebijakan pemerintah. Agribisnis merupakan kegiatan sinergis antar pertanian, agroindustri, dan jasa-jasa yang menunjang pertanian. Pola atau pengemasan dan kombinasi agribisnis yang terencana dengan agroindustri, perdagangan, dan jasa-jasa penunjang diharapkan akan menjadi penggerak ekonomi daerah maupun nasional karena membangun pertumbuhan sekaligus pemerataan dan terjadi keseimbangan antarsektor. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas
PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

67

NO.2

2003

SERI. E

Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 63 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Agro estate adalah suatu sistem pengelolaan pertanian yang terpadu dalam suatu batas wilayah tertentu. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Cukup jelas Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Cukup jelas Pasal 68 Ayat (1) Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti pengambilan rotan, madu, dan buahbuahan serta aneka hasil hutan lainnya.

68

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 69 Cukup jelas Pasal 70 Ayat (1) Penunjukan kawasan lindung adalah penetapan awal dari suatu wilayah tertentu sebagai kawasan lindung dengan Keputusan Gubernur. Penataan batas kawasan lindung adalah kegiatan yang meliputi proyeksi batas, inventarisasi hak-hak pihak ketiga, pemancangan batas sementara, pemancangan dan pengukuran tanda batas definitif. Pemetaan kawasan lindung adalah kegiatan pemetaan hasil pelaksanaan penataan batasan kawasan lindung berupa peta tata batas yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Berita Acara Tata Batas. Ayat (2) Rehabilitasi lahan adalah usaha memperbaiki, memulihkan kembali, dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya. Konservasi lahan adalah pengelolaan lahan yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara serta meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Ayat (3) Usaha pengawasan kawasan lindung meliputi pengawasan preventif dan pengawasan represif. Pengawasan preventif meliputi : a. Pembinaan kesadaran hukum aparat pemerintah dan masyarakat; b. Peningkatan profesionalisme aparat pemerintah; Pengawasan represif meliputi : a. Tindakan penertiban terhadap pelanggar. b. Penyerahan penanganan pelanggaran kepada lembaga peradilan c. Pengenaan sanksi administratif dan sanksi pidana. Pengamanan kawasan lindung dimaksudkan untuk menjaga kawasan lindung berfungsi sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini. Pengaturan pemanfaatan sumberdaya kawasan lindung dimaksudkan untuk mencegah pemanfaatan dan pemungutan sumberdaya kawasan lindung secara berlebihan dan atau tidak sah.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

69

NO.2

2003

SERI. E

Ayat (4) Masyarakat adat adalah masyarakat yang secara turun temurun melaksanakan pola hidup khas setempat sesuai dengan adat istiadat yang dianutnya. Ayat (5) Wanafarma adalah biota hutan yang dapat digunakan sebagai obat-obatan. Ekowisata adalah sistem pariwisata yang mengandalkan obyek wisata alam. Agroforestry adalah sistem usaha tani yang mengintegrasikan tanaman pohon-pohonan atau tanaman hutan dengan tanaman rendah, seperti jagung, tanaman umbi-umbian, dan lain-lain. Ayat (6) Yang dimaksud dengan pola insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan lindung. Yang dimaksud dengan pola disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan lindung. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warga negara. Hak penduduk sebagai warga negara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama, hak memperoleh, dan hak mempertahankan ruang hidupnya. Pasal 71 Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Cukup jelas Pasal 77 Cukup jelas

70

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Cukup jelas Pasal 80 Cukup jelas Pasal 81 Cukup jelas Pasal 82 Cukup jelas Pasal 83 Ayat (1) Pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati, mengawasi, dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Pelaporan adalah kegiatan memberi informasi secara objektif menganai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Peran serta masyarakat dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan hak masyarakat sehingga Pemerintah Daerah wajib menyelenggarakan pembinaan agar kegiatan peran serta masyarakat dapat terselenggara dengan baik. Pembinaan oleh Pemerintah Daerah dapat dilakukan melalui penyelenggaraan diskusi dan tukar pendapat, dorongan, pengayoman, pelayanan, bantuan teknik, bantuan hukum, dan pelatihan.

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

71

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Cukup jelas Pasal 92 Lihat penjelasan Pasal 7. Pasal 93 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Sanksi administratif yang dimaksud pada ayat (2) merupakan sanksi yang dikenakan kepada masyarakat yang melakukan pelanggaran perijinan rencana tata ruang, sedangkan sanksi administratif yang dikenakan terhadap pegawai yang melakukan pelanggaran rencana tata ruang mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pasal 94 Cukup jelas Pasal 95 Cukup jelas Pasal 96 Cukup jelas Pasal 97 Cukup jelas

72

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

NO.2

2003

SERI. E

Pasal 98 Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Cukup jelas

PERDA NO.2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA BARAT

73

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->