KOMPETENSI PRAGMATIK DALAM PENERJEMAHAN

Aris Wuryantoro allaam_71@yahoo.co.id Universitas Gunadarma, Jakarta Abstrak Penerjemahan dan pragmatik merupakan komponen penting dalam berkomunikasi. Penerjemahan adalah kegiatan memindahkan pesan yang terkandung dalam bahasa sumber dengan padanan yang sedekat mungkin ke dalam bahasa sasaran, pertama dalam makna dan kedua dalam gaya bahasa. Di sisi lain, pragmatik adalah bagaimana bahasa digunakan dalam berkomunikasi karena orang tidak akan mengetahui hakikat bahasa itu sendiri tanpa mengetahui pragmatik. Oleh karena itu, seorang penerjemah harus memiliki kompetensi pragmatik dalam menjalankan tugasnya agar pesan dari si penulis bahasa sumber dapat tersampaikan kepada pembaca sasaran dengan tidak mengurangi makna yang terkandung dalam bahasa sumber. Kata kunci: penerjemahan, pragmatik, kompetensi pragmatik, bahasa sumber, bahasa sasaran Abstract Translation and pragmatics are the important elements in communication. Translation consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style. On the other hand, pragmatics is how language is used in communication because one cannot really understand the nature of language itself unless he understands pragmatics. Therefore, a translator must have pragmatics competence in doing his task in order to transfer the message from the author of source language into receptor language without reducing the meaning. Keywords: translation, pragmatics, pragmatics competence, source language, receptor/target language 1. Pendahuluan Komunikasi sangat diperlukan oleh manusia dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Komunikasi dilakukan melalui bahasa yang diwujudkan dalam bentuk lisan, tulisan maupun simbol atau tanda. Karena komunikasi dilakukan melalui bahasa maka kita tidak dapat terlepas dari peran pragmatik, yaitu bagaimana bahasa digunakan dalam berkomunikasi. Jika komunikasi dilakukan dalam satu bahasa (intralingual translation) kita dapat dengan mudah memahami apa yang diinginkan oleh penutur terhadap mitra

Namun bila dilakukan dalam bahasa yang berbeda (interlingual translation). Sehingga dapat dikatakan bahwa penerjemahan merupakan alat komunikasi yang tak terlepas dari kemampuan pragmatik yang harus dimiliki oleh seorang penerjemah. Seiring dengan perjalanan waktu pragmatik mengalami perkembangan yang cukup berarti. 2004). yaitu sintaksis. Penerjemahan merupakan kegiatan verbal antara budaya yang diperlukan jika terjadi kesenjangan komunikasi antara penulis teks bahasa sumber dengan pembaca teks bahasa sasaran (Lyovskaya dalam Nababan dkk.e. how language is used in communication. 1983). Hal ini ditandai dengan bermunculannya pakar-pakar pragmatik diantaranya Leech dan Levinson. maka penerjemahan merupakan alat komunikasi. Melalui tulisan ini penulis akan menyoroti kemampuan atau kompetensi pragmatik dalam penerjemahan baik dalam penerjemahan dalam satu bahasa (intralingual translation) maupun penerjemahan dalam bahasa yang berbeda (interlingual translation). Pragmatik Istilah pragmatik pertama kali diperkenalkan oleh Charles Morris ketika dia membicarakan bentuk ilmu tanda atau semiotik. i. 2. baik dengan bahasa pertama maupun bahasa kedua. Hal ini hanya dapat diatasi dengan cara menerjemahkan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. bahasa sumber dan bahasa sasaran yang mempunyai sistem dan budaya masing-masing. maka dia harus mengetahui fungsi dari bahasa yang digunakan dalam .tuturnya. maka hal ini akan menimbulkan permasalahan tersendiri. Leech (1983) mengungkapkan bahwa one cannot really understand the nature of language itself unless he understands pragmatics. Ini menunjukkan bahwa bilamana seseorang akan melakukan komunikasi dengan mitranya. Dikatakannya bahwa semiotik memiliki tiga cabang kajian. Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antara tanda. Jika ini terjadi maka diperlukan suatu media yang dapat mengantarkan atau menjembatani jurang pemisah antara penutur bahasa sumber dengan penutur bahasa sasaran. semantik dan pragmatik. sedangkan bidangnya disebut penerjemahan. Adapun orang yang menerjemahkan disebut penerjemah. Karena penerjemahan digunakan antara dua bahasa. dan pragmatik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu (Levinson. semantik merupakan kajian tentang hubungan tanda dengan objek tanda tersebut.

dan meningkatkan efektifitas komunikasi. yaitu: situasional. yaitu penggunaan bahasa dan konteks. kultural. konteks mempunyai peran yang penting dalam menentukan makna bahasa. memuji. misalnya penjual dengan pembeli. Hymes (dalam James. situasi (situation) yang mengacu pada keadaan.berkomunikasi tersebut. Satu sisi penggunaan bahasa menyangkut tentang untuk apa orang menggunakan bahasa. 1980) membagi delapan dimensi dalam konteks. Hal ini sesuai dengan pendapat Levinson (1983) yang menyatakan bahwa pragmatics is the study of the relation between language and context that are basic to an account of language understanding. pengguna bahasa (participants). ruang dan waktu (setting and scene). yaitu menyampaikan dan mencari informasi faktual. di masjid. Peran konteks ini memungkinkan mitra tutur dalam mendapatkan makna yang harus diinterpretasikan. rentetan tindakan (act sequence) terdiri dari bentuk pesan (bagaimana sesuatu itu . Van Ek dan Trim (dalam Nurkamto. 2001) mengkategorikan fungsi bahasa menjadi enam. misalnya di ruang kelas. di stasiun dan di pasar. dan latar belakang antarpersonal. tujuan (ends) mengacu pada harapan atau tujuan dari penutur terhadap mitra tuturnya misalnya bertanya. Ketiga. pengirim-penerima. mengekspresikan dan mengetahui sikap. di toko. Kedua. memaki. Selain itu. orang tua dengan anak. Hal ini dilakukan agar maksud yang disampaikan oleh sipenutur akan dapat diterima dengan baik oleh mitra tuturnya. dan juga mendukung interpretasi yang dimaksudkan. dan dokter dengan pasien. Pertama. Keempat. konteks adalah aspek penting dalam menginterpretasikan atau mengetahui makna dari suatu ujaran. sosialisasai. Di sisi lain. dan menyuruh. Dikatakan bahwa untuk memahami makna bahasa orang dituntut untuk tidak saja mengetahui makna kata dan hubungan gramatikal antarkata namun juga mampu menarik simpulan yang akan menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang diasumsikan atau apa yang dikatakan sebelumnya. menjawab. Hal ini juga berlaku untuk berbahasa produktif di mana penutur dan mitra tuturnya harus mampu menyesuaikan kalimat-kalimatnya dengan konteksnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pragmatik ada dua hal pokok yang harus kita cermati. guru dengan siswa. menjelaskan. Begitu juga sebaliknya. yang meliputi berbagai kombinasi dari pembicara-pendengar. membangun wacana. mitra tutur harus mengetahui maksud yang disampaikan oleh sipenutur terhadap dirinya yang didukung oleh situasi dan keadaan yang mendukung atau konteks. Ada tiga macam konteks. meminta orang lain berbuat sesuatu.

deskriptif. misalnya tatap muka. dan ironi. jika tindakan harus dikatakan atau di lakukan secara tepat. . untuk menetapkan apakah keadaan tindak tutur dan partisipan dapat berlangsung dengan benar sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan. melalui telepon. ditentukan dengan efek perlokusioner pada tindak tutur. nada. . yaitu: 1) locutionary act. dan melalui faksimili. 1986) membagi empat macam felicity conditions. genre yaitu jenis tuturan yang digunakan. melalui e-mail. Ketujuh. misal keseriusan dari partisipan. budaya. misalnya jenis naratif. sosial. 1983) mengatakan kurang lebih bahwa semua ujaran di samping untuk mengetahui makna yang mereka maksudkan. apakah senang atau felicitous. atau felicitously. peralatan (instrumetalities) yang meliputi pilihan alat yang digunakan dalam bertutur. misalnya marah. lemah lembut. Karena pragmatik merupakan kajian tentang bagaimana bahasaa itu digunakan maka dalm suatu tuturan membutuhkan suatu tindakan yang terjadi antara penutur dam mitra tuturnya. Agar komunikasi berjalan dengan baik antara penutur dan mitra tuturnya maka diperlukan kondisi yang mendukung dan harus terpenuhi.elalui surat. tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur sesuai tujuan yang dimaksudkan oleh penuturnya (speaker). yaitu 1) preparatory condition. Keenam. misalnya cara tutur sapa masyarakat Jawa dan masyarakat Batak. pendidikan. berarti felicity tersebut terpenuhi. 2) illocutionary act. menetukan apakah tindak tutur dapat dapat dilakukan dengan benar. juga meliputi tindakan tertentu yang harus dilakukan atau tindak tutur. Austin (dalam Levinson. dan 3) perlocutionary act. misalnya politik. Kelima. Kedelapan. nada (key) yang meliputi intonasi. humor. dan argumentatif. ada tiga macam tindak tutur. atau spirit yang terkandung dalam pesan yang disampaikan. dan 4) fulfillment condition. 2) sincerety condition.dikatakan) dan isi pesan (apa yang dikatakan). menetukan apakah partisipan memiliki prasarat yang dibutuhkan. tuturan yang ditujukan terhadap mitara tutur untuk melakukan suatu hal. Austin (dalam Allan. 3) executive condition. Felicity conditions adalah kondisi yang harus terpenuhi dalam situasi dalam tindakan yang dilakukan. tuturan yang menentukan makna yang diujarkan yang dipengaruhi oleh pengalaman dari penutur. norma (norm) meliputi norma interpretasi dan norma interaksi antara penutur dan mitra tutur yang dipengaruhi oleh unsur budaya dalam masyarakat. bahasa dan perekonomian. Menurutnya.

first in terms of of meaning and secondly in terms of style (Nida and Taber. Hal ini dilakukan agar dia dapat menangkap makna yang terkandung dalam ujaran pada teks bahasa sumber. Hal ini dilakukan agar teks terjemahan berterima dan mudah dipahami oleh pembaca teks bahasa sasaran (target readers). Tahap pertama yang harus dilakukan oleh seorang penerjemah dalam melakukan tugasnya adalah menganalisis teks bahasa sumber.3. Agar terjemahan tidak terasa asing atau kaku maka penerjemah harus menyelaraskan bentuk struktur bahasa sesuai dengan struktur bahasa sasaran. Dalam menerjemahkan. Penerjemahan adalah membuat padanan pikiran yang berada di balik ungkapan verbal yang berbeda. baik intralingual. Penerjemahan Translation consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message. Sebenarnya bila kita membaca suatu teks kita juga melakukan kegiatan penerjemahan. Ini berarti bahwa seorang pembaca berperan juga sebagai penerjemah. Dalam menganalisis teks bahasa sumber ini. baik disadari ataupun tidak oleh pembacanya. dia harus membaca seluruh teks untuk mendapatkan makna yang terkandung dalam teks bahasa sumber minimal sekali. . Makna kata yang terkandung pada suatu teks sangat dipengaruhi oleh konteks yang ada. 1969: 12). Gadamer (dalam Schulte dan Biguenett. maupun intersemiotik yang dipengaruhi oleh pengetahuan baik secara umum ataupun komunikasi sosial yang dimilikinya atau yang disebut dengan skemata. tugas utama seorang penerjemah adalah mencari padanan makna yang ada di balik kata atau ujaran dalam suatu teks bahasa sumber untuk dialihkan ke dalam teks bahasa sasaran. karena dalam membaca kita akan menebak-nebak apa yang dimaksud dengan bacaan tersebut baik dalam bahasa yang sama maupun bahasa asing. Setelah menemukan makna dan padanan makna kata atau ujaran yang terkandung dalam teks bahasa sumber kemudian padanan makna dialihkan ke dalam bahasa sasaran dengan beberapa pertimbangan diantaranya aspek linguistik dan sosio-kultural masyarakat pembaca. seperti yang dikatakan oleh Gadamer. and translation is translation for the second time…” Dari pernyataan ini terungkap bahwa membaca juga berarti menerjemahkan. Dalam menebak-nebak itulah terjadi proses penerjemahan. 1992) mengungkapkan bahwa: “Reading is already translation. interlingual.

dsb) bahwa pembelajar bahasa perlu mengetahui dan menekankan cara-cara dalam bentuk gramatikal tertentu yang mungkin digunakan untuk mengungkapkan fungsi-fungsi tersebut dengan tepat. dan (d) hartus menyadari adanya makna sosial dari bentuk bahasa yang digunakan dan oleh karenanya. dan pengatahuan ini akan kita gunakan apabila diperlukan (Rumelhart dalam Kartomiharjo. (b) dapat membedakan antara bentuk bahasa yang merupakan bagian kompetensi linguistiknya dan fungsi komunikatif bentuk bahasa tersebut. yaitu (a) memiliki kemampuan linguistik secara memadai sehingga dapat menggunakannya secara spontan dan fleksibel untuk mengutarakan maksudnya. yaitu penerjemahan dalam bentuk lain. 2001:5) membagi penerjemahan menjadi tiga kategori. penerjemahan dari satu bahasa ke dalam bahasa lainnya: dan 3) penerjemahan intersemiotik/intersemiotic translation. Sementara itu. (1995) mengungkapkan bahwa ada lima komponen dalam kompetensi komunikatif yang terdiri dari: .Skema atau skemata merupakan pengungkapan kembali terhadap pengetahuan yang kita miliki yang tersimpan dalam memori atau otak kita. yaitu: 1) penerjemahan intralingual/ intralingual translation. 4. seperti dalam bentuk musik. Jakobson (dalam Munday. 2) penerjemahan interlingual/interlingual translation. film. yang mengarahkan pengajaran bahasa pada fungsi-fungsi komunikasi dasar (seperti permintaan maaf. 2000:2). Celce-Murcia et al. Istilah kompetensi komunikatif timbul dan biasanya bertalian dengan pendekatan komunikatif pada pengajaran bahasa. Ada tiga macam kategori penerjemahan. atau lukisan. undangan. pengguna bahasa dituntut untuk dapat menggunakan bahasa yang berterima dan menghindari bentuk bahasa yang menyinggung persaan seseorang. adalah penerjemahan yang terjadi dalam bahasa yang sama. Hal ini jelas terlihat betapa besar pengaruh skemata yang dimiliki oleh penerjemah dalam menerjemahkan teks yang dihadapinya baik yang teks ilmiah maupun nonilmiah. (c) mampu mengembangkan ketrampilan dan strategi penggunaaan bahasa untuk mengkomunikasikan makna seefektif mungkin dalam situasi yang sebenarnya. Littlewood (1988) mengemukanan empat ranah ketrampilan yang membentuk kemampuan komunikasi seseorang. Kompetensi Pragmatik dalam Penerjemahan Kompetensi pragmatik merupakan salah satu kompetensi komunikatif. penjelasan.

(c) kompetensi aksional (actional competence) berhubungan erat dengan pragmatik antarbahasa (interlanguage pragmatics) merupakan kompetensi dalam pengalihan dan pengetahuan komunikatif yang dimaksudkan. penerjemahan interlingual maupun penerjemahan intersemiotik. pengurutan.(a) kompetensi wacana (discourse competence) yakni kompetensi yang berhubungan dengan pemilihan. Ada beberapa komponen yang termasuk dalam kompetensi wacana. seperti kohesi. dan kontinuitas komunikasi). pendengar: ibu muda (anak). “Buat anak kok coba-coba!” b. (d) kompetensi sosiokultural (sociocultural competence) mengacu pada pengetahuan pembicara bagaimana mengungkapkan pesan secara tepat dalam konteks social budaya dari komunikasi. Dari uraian di atas terlihat bahwa peran pragmatik sangat diperlukan dalam berkomunikasi diataranya dalam penerjemahan. (b) kompetensi linguistik (linguistic competence) terdiri dari elemen dasar komunikasi. interaksional. infleksi morfologis. baik penerjemahan intralingual. dan struktur konversasional. Ujaran atau tuturan tersebut sama namun memiliki makna yang berbeda karena diucapkan dalam konteks yang berbeda. (e)kompetensi strategis (strategic competence) meliputi tiga fungsi strategi penggunaan dari tiga perspektif yang berbeda (psikolinguistik. struktur. sturktur generik. seperti jenis dan pola kalimat. tempat: di rumah/kamar bayi. deiksis. Mereka sedang menggunakan suatu obat penghangat yang digunakan untuk bayi (cucunya) sehabis mandi dan bayinya masih tetap menangis karena minyak gosoknya tidak sesuai dengan yang dikehendaki bayinya. pelaku: . dan penyusunan kata. yakni kecocokan antara tindakan dan bentuk linguistic yang berdasarkan pada pengetahuan dari inventaris skemata verbal yang mencakup tindakan ilokusioner. koherensi. kemudian neneknya berkata. struktur pembentuk. Seperti halnya yang dikatakan oleh Gadamer bahwa dalam membaca terjadi pula proses penerjemahan. Kalimat dan ujaran untuk mencapai teks tertulis maupun lisan secara menyatu. waktu: sore hari. dan suber leksikal.. pendengar: pemirsa atau penonton. Untuk membuktikan pernyataan tersebut baiklah kita coba ambil contoh suatu ujaran atau tuturan yang ditayangkan pada salah satu stasiun televise. Penutur: seorang bapak paruh baya. Penutur: seorang ibu tua (nenek). iklan obat gosok (contoh a) dan acara komedi (contoh b) : a.

penutur: tukang pel. untuk anak bayi (cucu nenek penutur). Pada contoh (a) kata “buat” ditafsirkan untuk atau diperuntukkan bagi karena kata tersebut dikontraskan dengan pemberian sesuatu. media: lantai. Kata “buat” di sini diartikan dengan melakukan suatu hal untuk mendapatkan hasil. tempat: kamar tidur di rumah yang sepi. Setelah kita melihat tulisan wet floor! kita seharusnya menghindari atau tidak menginjak lantai yang terdapat tulisan tersebut karena lantai itu baru saja dipel. meliputi: tempat: ruang umum. karena kata tersebut dikontraskan dengan tindakan yang akan dilakukan oleh dua muda-mudi lain jenis di dalam rumah yang sepi (hanya ada mereka berdua) yang sudah memberi kode untuk melakukan hubungan layaknya suami istri (membuat anak). terutama pada kata “buat”. Dengan konteks yang ada. Sementara itu. Bapak paruh baya ini sedang mengintip dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang masuk ke kamar hanya berduaan. waktu: malam hari. Contoh: Wet floor! Kita sebagai pembaca (sekaligus sebagai penerjemah) ujaran ini akan berpikir apa yang dimaksud dalam ujaran tersebut dan apa yang harus dikerjakan. Penerjemahan ini menuntut pembaca atau mitra tutur untuk melakukan tindakan tertentu. pada contoh (b) kata “buat” ditujukan untuk sepasang muda-mudi yang akan melakukan suatu perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh pasangan yang belum resmi. Orang akan mempunyai persepsi yang berbeda dalam mengungkapkan makna yang ada. Lantai basah! Namun bila dilihat dari konteks yang ada. makna wet floor tidak hanya sekadar lantai basah namun lebih dari itu. Contoh berikutnya merupakan salah satu contoh penerjemahan interlingual yakni dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia yang sering kita temukan di perkantoran atau gedung. Bapak paruh baya tersebut kemudian menengok ke penonton/pemirsa dan berkata. Bila diterjemahkan secara harfiah akan mendapatkan terjemahan. “Buat anak kok coba-coba!” Kedua ujaran di atas sama. tetapi makna dari keduanya sangat berbeda. minyak gosok.sepasang muda-mudi. yaitu “Buat anak kok coba-coba!”. hanya karena konteksnya yang berbeda. lantai .

M. 4. Satu ujaran yang sama dapat memiliki makna yang berbeda bila diungkapkan dalam konteks yang berbeda. Simpulan Dalam melakukan komunikasi manusia memerlukan bahasa baik lisan maupun tulisan untuk menyampaikan pesan yang diinginkan. kompetensi pragmatik sangat diperlukan oleh seorang penerjemah dalam rangka mengungkap dan mengalihkan makna yang tersembunyi dalam ujaran dari teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. DAFTAR PUSTAKA Celce . Communicative Competence: A . Dornyei.Murcia. Oleh karena itu.basah dan licin. Pragmatik juga sangat diperlukan dalam bidang penerjemahan karena tugas seorang penerjemah adalah mencari makna dari suatu ujaran yang terdapat pada teks bahasa sumber untuk dialihkan ke dalam bahasa sasaran. Sehingga dengan adanya kompetensi pragmatik akan mempermudah kita dalam menginterpretasikan ujaran dari mitra tutur kita bagaimana dan apa maksud yang diujarkan oleh penuturnya. Thurrell. Pragmatik sangat dibutuhkan dalam mengungkapkan makna yang tersimpan dalam suatu ujaran pada teks bahasa tertentu. dan S. Z. terjemahan dari ujaran Wet floor! Yang sesuai dengan konteks adalah. Maksud dari ujaran yang disampaikan oleh penutur kepada mitra tuturnya sangat dipengaruhi oleh situasi yang mendukungnya (konteks yang ada). “Awas lantai baru dipel” atau “Awas lantai basah dan licin!” Dari kedua contoh di atas tampak jelas bahwa peran pragmatik dalam penerjemahan akan sangat membantu penerjemah dalam mengungkapkan makna yang ada dalam bahasa sumber untuk diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran sesuai dengan isi pesan yang termuat dalam teks bahasa sasaran yang didukung oleh konteks yang ada. Dengan memahami pragmatik kita akan dapat mengetahui makna ujaran yang terkandung dalam ungkapan yang diujarkan oleh penutur. sehingga apabila kita menginjak lantai tersebut lantai akan kotor kembali dan dapat menyebabkan kita terpeleset atau jatuh. Pragmatik adalah ilmu linguistik yang mengkaji tentang makna bahasa dalam penggunaanya (language in use). 1995. Oleh karena itu.

Unpulished Research. R dan J. Theories of Translation: An Antology of Essay from Driden to Derrida. London: Longman. Keterkaitan Antara Latar Belakang Penerjemah dengan Proses Penerjemahan dan Kualitas Terjemahan. S. The Art of Translation. D. 1983. Issues in Applied Linguistics 6/2. Theodore. R. . 2004. J. Introducing Translation Studies: Theories and Applications. 1969. N. hal 83-94. Biguenett (eds). Levinson. Nurkamto. Jurnal Linguistik Bahasa. M.Pedigogically Motivated Model with Content Specifications. Pragmatics. J.1. London: Jonathan Cape. 1980. pages 5-35. Contrastive Analysis. Peran Pragmatik dalam Penerjemahan. C. Vol. Malang: PPs IKIP Malang. London: Longman. Edi Subroto dan Sumarlam. Munday. 2000. Surakarta: PPS UNS. Nababan. 2001. C. London: Routledge. Savory. Kartomiharjo. 1992. 2001. Understanding Special text Through Discourse Analysis. S. Principles of Pragmatics. Schulte. No:2. Cambridge: Cambridge University Press. 1983. Leech. Chicago: The University of Chicago Press. G. James.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful