P. 1
Asuhan Keperawatan Gerontik Alzheimer

Asuhan Keperawatan Gerontik Alzheimer

|Views: 749|Likes:
Published by Dwi Hariwiyati

More info:

Published by: Dwi Hariwiyati on Feb 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK ALZHEIMER

A. Konsep Dasar Penyakit a. Definisi / Pengertian Alzheimer merupakan penyakit kronik, progresif, dan merupakan gangguan degeneratif otak dan diketahui mempengaruhi memori, kognitif dan kemampuan untuk merawat diri. ( Suddart, & Brunner, 2002 ). Alzheimer merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan penurunan daya ingat, intelektual, dan kepribadian. Tidak dapat disembuhkan, pengobatan ditujukan untuk menghentikan progresivitas penyakit dan meningkatkan kemandirian penderita. (Dr. Sofi Kumala Dewi, dkk, 2008) Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang berusia 65 tahun keatas (patofiologi : konsep klinis proses- proses penyakit, juga merupakan penyakit dengan gangguan degeneratif yang mengenai sel-sel otak dan menyebabkan gangguan fungsi intelektual, penyakit ini timbul pada pria dan wanita dan menurut dokumen terjadi pada orang tertentu pada usia 40 tahun. (Perawatan Medikal Bedah : jilid 1 hal 1003) Sehingga dengan demikian Alzheimer adalah penyakit kronik, degeneratif yang ditandai dengan penurunan daya ingat, intelektual, kepribadian yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan merawat diri. Penyakit ini menyerang orang berusia 65 tahun keatas.

b. Epidemiologi / Insiden kasus Di Amerika, sekitar 4 juta orang menderita penyakit ini. Angka prevalansi berhubungan erat dengan usia. Sekitar 10% populasi diatas 65 tahun menderita penyakit ini. Bagi individu berusia diatas 85 tahun, angka ini meningkat sampai 47,2%. Dengan meningkatnya populasi lansia, maka penyakit alzheimer menjadi penyakit yang semakin bertambah banyak. Insiden kasus alzheimer meningkat pesat sehingga menjadi epidemi di Amerika dengan insiden alzheimer sebanyak 187 : 100.000 per tahun dan penderita alzheimer 123 : 100.000 per tahun. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi wanita lebih banyak tiga kali dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin refleksi dari usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan laki-laki.

c.

Penyebab/Etiologi Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternative penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi flament, predisposisi heriditer. Dasar kelainan patologi penyakit Alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kongnitif dengan penurunan daya ingat secara progresif. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler, kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapat produksi protein abnormal yang non spesifik. Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan calcium intraseluler, kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika.

d. Patofisiologi Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada penyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid, bagian dari suatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron tersebut terjadi secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak. Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural) dan biokimia pada neuron ± neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan

neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein ³tau´. Dalam SSP, protein tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama ± sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing ± masing terluka. Dengan kolapsnya system transport internal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer. Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. A-beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. APP terbagi menjadi fragmen ± fragmen oleh protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan sel ± sel glia yang akhirnya membentuk fibril ± fibril plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga mengganggu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor. Selain karena lesi, perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara neurokimia kelainan pada otak

athway

6. Gejala Klinis Berlangsung lama dan bertahap, sehingga pasien dan keluarga tidak menyadari secara pasti kapan timbulnya penyakit. y y y y y Terjadi pada usia 40-90 tahun. Tidak ada kelainana sistemik atau penyakit otak lainnya. Tidak ada gangguan kesadaran. Perburukan progresif fungsi bahasa, keterampilan motorik dan persepsi. Riwayat keluarga Alzheimer, parkinson, diabetes melitus, hipertensi dan kelenjar tiroid. (Dr. Sofi Kumala Dewi, dkk, 2008 )

Gejala klinis dapat terlihat sebagai berikut : 1. Kehilangan daya ingat/memori Pada orang tua normal, dia tidak ingat nama tetangganya, tetapi dia tahu orang itu adalah tetangganya. Pada penderita Alzheimer, dia bukan saja lupa nama tetangganya tetapi juga lupa bahwa orang itu adalah tetangganya. 2. Kesulitan melakukan aktivitas rutin yang biasa Seperti tidak tahu bagaimana cara membuka baju atau tidak tahu urutan-urutan menyiapkan makanan. 3. Kesulitan berbahasa. Umumnya pada usia lanjut didapat kesulitan untuk menemukan kata yang tepat, tetapi penderita Alzheimer lupa akan kata-kata yang sederhana atau menggantikan suatu kata dengan kata yang tidak biasa. 4. Disorientasi waktu dan tempat. Kita terkadang lupa kemana kita akan pergi atau hari apa saat ini, tetapi penderita Alzheimer dapat tersesat pada tempat yang sudah familiar untuknya, lupa di mana dia saat ini, tidak tahu bagaimana cara dia sampai di tempat ini, termasuk juga apakah saat ini malam atau siang. 5. Penurunan dalam memutuskan sesuatu atau fungsi eksekutif Misalnya tidak dapat memutuskan menggunakan baju hangat untuk cuaca dingin atau sebaliknya.

6. Salah menempatkan barang. Seseorang secara temporer dapat salah menempatkan dompet atau kunci. Penderita Alzheimer dapat meletakkan sesuatu pada tempat yang tidak biasa, misal jam tangan pada kotak gula. 7. Perubahan tingkah laku. Seseorang dapat menjadi sedih atau senang dari waktu ke waktu. Penderita Alzheimer dapat berubah mood atau emosi secara tidak biasa tanpa alasan yang dapat diterima. 8. Perubahan perilaku Penderita Alzheimer akan terlihat berbeda dari biasanya, ia akan menjadi mudah curiga, mudah tersinggung, depresi, apatis atau mudah mengamuk, terutama saat problem memori menyebabkan dia kesulitan melakukan sesuatu. 9. Kehilangan inisiatif Duduk di depan TV berjam-jam, tidur lebih lama dari biasanya atau tidak menunjukan minat pada hobi yang selama ini ditekuninya.(Yulfran, 2009)

7. Pemeriksaan Diagnostik Untuk kepastian diagnosisnya, maka diperlukan tes diagnostik sebagai berikut: a. Neuropatologi Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Secara umum didapatkan : y atropi yang bilateral, simetris lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh y berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr). Kelainan-kelainan neuropatologi pada penyakit alzheimer terdiri dari : 1) Neurofibrillary tangles (NFT) Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen-filamen abnormal yang berisi protein neurofilamen, ubiquine, epitoque. Densitas NFT berkolerasi dengan beratnya demensia. 2) Senile plaque (SP) Merupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve ending yang berisi filamen-filamen abnormal, serat amiloid ektraseluler, astrosit, mikroglia. Amiloid prekusor protein yang terdapat pada SP sangat berhubungan dengan kromosom 21. Senile plaque ini

terutama terdapat pada neokorteks, amygdala, hipokampus, korteks piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer, korteks somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile plaque ini juga terdapat pada jaringan perifer. densitas Senile plaque berhubungan dengan penurunan kolinergik. Kedua gambaran histopatologi (NFT dan senile plaque) merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit alzheimer. 3) Degenerasi neuron Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit alzheimer sangat selektif. Kematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan pada neuron piramidal lobus temporal dan frontalis. Juga ditemukan pada hipokampus, amigdala, nukleus batang otak termasuk lokus serulues, raphe nukleus dan substanasia nigra. Kematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis dari meynert, dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta sel serotogenik pada nukleus raphe dorsalis, nukleus tegmentum dorsalis. Telah ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi pada lesi merupakan harapan dalam pengobatan penyakit alzheimer. 4) Perubahan vakuoler Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan dapat menggeser nukleus. Jumlah vakuoler ini berhubungan secara bermakna dengan jumlah NFT dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial, amygdala dan insula. Tidak pernah ditemukan pada korteks frontalis, parietal, oksipital, hipokampus, serebelum dan batang otak 5) Lewy body Merupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada enterhinal, gyrus cingulate, korteks insula, dan amygdala. Sejumlah kecil pada korteks frontalis, temporal, parietalis, oksipital. Lewy body kortikal ini sama dengan immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy body batang otak pada gambaran histopatologi penyakit parkinson. Hansen et al menyatakan lewy body merupakan variant dari penyakit alzheimer.

b. Pemeriksaan Neuropsikologik

y

Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi kognitif umum dan mengetahui secara rinci pola defisit yang terjadi.

y Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa Evaluasi neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi diagnostik yang penting karena : 1) Adanya defisit kognisi: berhubungan dgn demensia awal yang dapat diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang normal. 2) Pemeriksaan neuropsikologik secara komprehensif : untuk membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan deficit selektif yang diakibatkan oleh disfungsi fokal, faktor metabolik, dan gangguan psikiatri 3) Mengidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang diakibatkan oleh demensia karena berbagai penyebab.

c. CT Scan dan MRI Merupakan metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk melihat kwantifikasi perubahan volume jaringan otak pada penderita Alzheimer antemortem. CT Scan : y Menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini y Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental MRI : y peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii. y MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus.

EEG y Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatka perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik PET (Positron Emission Tomography) Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan : y y y penurunan aliran darah metabolisme O2 glukosa didaerah serebral

SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) y Kelainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin. Laboratorium darah Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer. Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Posfor, fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, skrining antibody yang dilakukan secara selektif. (Yulfran, 2009)

8. Tindakan Penanganan/Penatalaksanaan Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan simptomatik dan suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dan keluarga. Pengobatan simptomatik: 1) Inhibitor kolinesterase y Tujuan: Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja secara sentral y Contoh: fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine), donepezil (Aricept), galantamin (Razadyne), & rivastigmin y Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama pemberian berlangsung y ESO: memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita Alzheimer, mual & muntah, bradikardi, HCl, dan nafsu makan.

2) Thiamin Pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nukleus basalis. Contoh: thiamin hydrochloride Dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral Tujuan: perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama. 3) Nootropik y y Nootropik merupakan obat psikotropik. Tujuan: memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar. Tetapi pemberian 4000 mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna. 4) Klonidin Gangguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan noradrenergik kortikal. y Contoh: klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alfa 2 reseptor agonis y Dosis : maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu y Tujuan: kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif 5) Haloperiodol Pada penderita alzheimer, sering kali terjadi : y Gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan tingkah laku: Pemberian oral Haloperiodol 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki gejala tersebut y Bila penderita Alzheimer menderita depresi berikan tricyclic anti depresant (amitryptiline 25100 mg/hari) 6) Acetyl L-Carnitine (ALC) Merupakan suatu substrat endogen yang disintesa didalam mitokondria dengan bantuan enzym ALC transferase. y y y Tujuan : meningkatkan aktivitas asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Dosis:1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan

Efek: memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif (Yulfran, 2009)

9. Pencegahan Para ilmuwan berhasil mendeteksi beberapa faktor resiko penyebab Alzheimer, yaitu : usia lebih dari 65 tahun, faktor keturunan, lingkungan yang terkontaminasi dengan logam berat, rokok, pestisida, gelombang elektromagnetic, riwayat trauma kepala yang berat dan penggunaan terapi sulih hormon pada wanita. Dengan mengetahui faktor resiko di atas dan hasil penelitian yang lain, dianjurkan beberapa cara untuk mencegah penyakit Alzheimer, di antaranya yaitu : y Bergaya hidup sehat, misalnya dengan rutin berolahraga, tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol. y Mengkonsumsi sayur dan buah segar. Hal ini penting karena sayur dan buah segar mengandung antioksidan yang berfungsi untuk mengikat radikal bebas. Radikal bebas ini yang merusak sel-sel tubuh. y Menjaga kebugaran mental (mental fitness). Istilah ini mungkin masih jarang terdengar. Cara menjaga kebugaran mental adalah dengan tetap aktif membaca dan memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan.

10. Kriteria Diagnosis Terdapat beberapa kriteria untuk diagnosa klinis penyakit Alzheimer, yaitu:  Kriteria diagnosis tersangka penyakit alzheimer terdiri dari: y Demensia ditegakkan dengan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan status mini mental atau beberapa pemeriksaan serupa, serta dikonfirmasikan dengan test neuropsikologik y Didapatkan gangguan defisit fungsi kognisi y Tidak ada gangguan tingkat kesadaran y Awitan antara umur 40-90 tahun, atau sering >65 tahun y Tidak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya  Diagnosis tersangka penyakit alzheimer ditunjang oleh: y Perburukan progresif fungsi kognisi spesifik seperti berbahasa, ketrampilan motorik, dan persepsi y ADL terganggu dan perubahan pola tingkah laku

y y

Adanya riwayat keluarga, khususnya kalau dikonfirmasikan dengan neuropatologi Pada gambaran EEG memberikan gambaran normal atau perubahan non-spesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat

y

Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan atropi serebri 

Gambaran lain tersangka diagnosa penyakit alzheimer setelah dikeluarkan penyebab demensia lainnya terdiri dari: y Gejala yang berhubungan dengan depresi, insomnia, inkontinentia, delusi, halusinasi, emosi, kelainan seksual, berat badan menurun y Kelainan neurologi lain pada beberapa pasien, khususnya penyakit pada stadium lanjut dan termasuk tanda-tanda motorik seperti peningkatan tonus otot, mioklonus atau gangguan berjalan y Terdapat bangkitan pada stadium lanjut 

Gambaran diagnosa tersangka penyakit alzheimer yang tidak jelas terdiri dari: y y Awitan mendadak Diketemukan gejala neurologik fokal seperti hemiparese, hipestesia, defisit lapang pandang dan gangguan koordinasi y Terdapat bangkitan atau gangguan berjalan pada saat awitan 

Diagnosa klinik kemungkinan penyakit alzheimer adalah: y Sindroma demensia, tidak ada gejala neurologik lain, gejala psikiatri atau kelainan sistemik yang menyebabkan demensia y Adanya kelainan sistemik sekunder atau kelainan otak yang menyebabkan demensia, defisit kognisi berat secara gradual progresif yang diidentifikasi tidak ada penyebab lainnya  Kriteria diagnosa pasti penyakit alzheimer adalah gabungan dari kriteria klinik tersangka penyakit Alzheimer dan didapatkan gambaran histopatologi dari biopsy atau otopsi : y y autopsi tampak bagian otak mengalami atropi yang difus dan simetri, secara mikroskopik tampak bagian kortikal otak mengalami neuritis plaque dan degenerasi neurofibrillary 11. Prognosis Dari pemeriksaan klinis 42 penderita Alzheimer menunjukkan bahwa nilai prognostik tergantung pada 3 faktor yaitu : y Derajat beratnya penyakit

y y

Variabilitas gambaran klinis Perbedaan individual seperti usia, keluarga demensia dan jenis kelamin Ketiga faktor ini diuji secara statistik, ternyata faktor pertama yang paling mempengaruhi prognostik penderita alzheimer. Pasien dengan penyakit Alzheimer :

y y

Mempunyai angka harapan hidup rata-rata 4-10 tahun sesudah diagnosis Biasanya meninggal dunia akibat infeksi sekunder.

12. Komplikasi  Infeksi  Malnutrisi  Kematian

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. PENGKAJIAN Adapun pengkajian yang dilakukan pada penyakit Alzheimer a. Aktifitas istirahat Gejala: Merasa lelah Tanda: Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur Letargi: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi, ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara program televisi. Gangguan keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa yang dilakukannya, gerakan yang sangat bermanfaat. b. Sirkulasi Gejala: Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. hipertensi, episode emboli (merupakan factor predisposisi). c. Integritas ego

Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan, kesalahan persepsi terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang, penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah penempatannya telah dicuri. kehilangan multiple, perubahan citra tubuh dan harga diri yang dirasakan. Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak mampu untuk melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa membacanya) , duduk dan menonton yang lain, aktivitas pertama mungkin menumpuk benda tidak bergerak dan emosi stabil, gerakan berulang ( melipat membuka lipatan melipat kembali kain ), menyembunyikan barang, atau berjalan-jalan. d. Eliminasi Gejala: Dorongan berkemih Tanda: Inkontinensia urine/feaces, cenderung konstipasi/ imfaksi dengan diare. e. Makanan/cairan Gejala: Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor predisposisi) perubahan dalam pengecapan, nafsu makan, kehilangan berat badan, mengingkari terhadap rasa lapar/ kebutuhan untuk makan. Tanda: Kehilangan kemampuan untuk mengunyah, menghindari/menolak makan

(mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan). dan tampak semakin kurus (tahap lanjut). f. Hiygene Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan, kebiasaan personal yang kurang, kebiasaan pembersihan buruk, lupa untuk pergi kekamar mandi, lupa langkah-langkah untuk buang air, tidak dapat menemukan kamar mandi dan kurang berminat pada atau lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain untuk memasak makanan dan menyiapkannya dimeja, makan, menggunakan alat makan. g. Neurosensori Gejala : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif,

dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria tentang kelelahan, pusing atau kadangkadang sakit kepala. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif, mengambil keputusan, mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang terdekat). Kehilangan

sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian tubuh dalam ruang tertentu ). dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ). Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia; kesulitan dalam menemukan kata- kata yang benar ( terutama kata benda ); bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak memiliki arti; terpenggal-penggal, atau bicaranya tidak terdengar. Kehilangan kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap ( kehilangan keterampilan motorik halus ). h. Kenyamanan Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi factor predisposisi atau factor akselerasinya), trauma kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan sebagainya). Tanda : Ekimosis, laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain i. Interaksi social Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. factor psikososial sebelumnya; pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul. Tanda : Kehilangan control social,perilaku tidak tepat. 

Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Klien dengan penyakit Alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran sesuai dengan degenerasi neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi, hipotensi, dan penurunan frekuensi pernafasan

B1 (Breathing) Gangguan fungsi pernafasan : Berkaitan dengan hipoventilasi inaktifitas, aspirasi makanan atau saliva dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas.  Inspeksi: di dapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, dan penggunaan otot Bantu nafas.  Palpasi : Traktil premitus seimbang kanan dan kiri  Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru 

Auskultasi : bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi, stridor, ronkhi, pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien dengan inaktivitas.

B2 (Blood) Hipotensi postural : berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem persarafan otonom.

B3 (Brain) Pengkajian B3 merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan dengan pengkajian pada sistem lainnya. Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku. Pengkajian Tingkat Kesadaran: Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada perubahan status kognitif klien. Pengkajian fungsi serebral: Status mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan yang berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Pengkajian Saraf kranial. Pengkajian saraf ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII :  Saraf I. Biasanya pada klien penyakit alzherimer tidak ada kelaianan fungsi penciuman  Saraf II. Tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan, yaitu sesuai dengan keadaan usia lanjut biasanya klien dengan alzheimer mengalami keturunan ketajaman penglihatan  Saraf III, IV dan VI. Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada saraf ini  Saraf V. Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf ini.  Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal  Saraf VIII. Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan proses senilis serta penurunan aliran darah regional  Saraf IX dan X. Kesulitan dalam menelan makanan yang berhubungan dengan perubahan status kognitif 

Saraf XI. Tidak atrofi otot strenokleidomastoideus dan trapezius.  Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada vasikulasi dan indera pengecapan normal Pengkajian sistem Motorik Inspeksi umum pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan dan penurunan pada fungsi motorik secara umum.  Tonus Otot. Didapatkan meningkat. Keseimbangan dan Koordinasi. Didapatkan mengalami gangguan karena adanya perubahan status kognitif dan ketidakkooperatifan klien dengan metode pemeriksaan.

Pengkajian Refleks Pada tahap lanjut penyakit alzheimer sering mengalami kehilangan refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke depan atau ke belakang) dapat menyebabkan klien sering jatuh. Pengkajian Sistem sensorik Sesuai barlanjutnya usia, klien dengan penyakit alzheimer mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensori yang ada merupakan hasil dari neuropati perifer yang dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Perubahan pola eliminasi urine/alvi berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologi/tonus otot, ketidakmampuan untuk menentukan letak kamar mandi/mengenali kebutuhan 2. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori 3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, penurunan tonus atau kekuatan otot. 4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif, keterbatasan fisik. 5. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi, transmisi, dan/atau integrasi. 6. Perubahan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron irreversible 7. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan gangguan sensori, penurunan fungsi fisik

8. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan menyelesaikan masalah, perubahan intelektual 9. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan intelektual (pikun, disorientasi, penurunan kemampuan mengatasi masalah) 10. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan emosi (cepat marah, mudah tersinggung, kurang percaya diri) 11. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan sensori, mudah lupa 12. Risiko trauma berhubungan dengan kelamahan, ketidakmampuan untuk mengenali/mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan

3.RENCANA KEPERAWATAN

No. 1.

Diagnosa Keperawatan Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologi/tonus otot, ketidakmampuan untuk menentukan letak kamar mandi/mengenali kebutuhan. -

Tujuan dan Kriteria Hasil Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pola eliminasi terpenuhi dengan kriteria hasil : Mampu menciptakan pola eliminasi yang adekuat/sesuai Mandiri

Intervensi Mandiri

Rasional

a. Kaji pola sebelumnya dan bandingkan dengan pola yang sekarang b. Letakkan tempat tidur dekat dengan kamar mandi jika memungkinkan. Buatkan tanda tertentu atau pintu berkode khusus. Berikan cahaya yang cukup terutama malam hari. c. Buat program latihan defekasi atau kandung kemih. Tingkatkan partisipasi pasien sesuai tingkat kemampuannya. d. Anjurkan untuk minum adekuat selama siang hari (paling sedikit 2 liter sesuai toleransi). Diet tinggi serat dan sari buah. Batasi minum saat menjelang malam dan waktu tidur. e. Pantau penampilan atau warna urine, catat konsistensi dari feses.

a. Memberikan informasi mengenai perubahan yang munkin selanjutnya memerlukan pengkajian atau intervensi b. Meningkatkan orientasi atau penemuan kamar mandi. Inkontinensia mungkin disertai ketidakmampuan untuk menemukan tempat berkemih atau defekasi.

c. Menstimulasi kesadaran pasien, meningkatkan pengaturan fungsi tubuh.

d. Menurunkan resiko konstipasi atau dehidrasi. Pembatasan minum pada sore menjelang malam hari dapat menurunkan seringnya berkemih atau inkontinensia pada malam hari.

e. Pendeteksian memberikan kesempatan untuk mengubah intervensi, misalnya adanya konstipasi/infeksi kandung kemih dan

sebagainya. Kolaborasi a. Berikan obat pelembek feses metamacil, gliserin suppositoria sesuai dengan indikasi. a. Kolaborasi Mungkin diperlukan untuk memfasilitasi atau menstimulasi defekasi yang teratur 2. Perubahan tidur dengan pola Setelah diberikan asuhan andiri andiri

berhubungan keperawatan

diharapkan Berikan lingkungan yang nyaman untuk a. Hambatan kortikal pada informasi reticular a. akan berkurang selama tidur, meningkatkan respons otomatik, karenanya respons kardiovaskular terhadap suara meningkat selama tidur

perubahan perubahan pola tidur klien meningkatkan tidur (mematikan lampu, dapat teratasi dengan kriteria ventilasi ruang adekuat, suhu yang hasil : Tidak terjadi perubahan sesuai. Menghindari kebisingan) b. Anjurkan latihan saat siang hari dan turunkan aktivitas mental/fisik pada sore hari

pada sensori

tingkah laku dan penampilan (gelisah) Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan

b. Aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan , aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan meningkatkan waktu tidur c. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk

penurunan terhadap pikiran c. Berikan makanan kecil sore hari, susu yang melayang-layang (melamun) Mampu menentukan penyebab tidur inadekuat hangat, mandi, dan masase punggung d. Turunkan jumlah minuman sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur e. Anjurkan klien untuk mendengarkan musik yang lembut

d. Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk

olaborasi a. Berikan obat sesuai indikasi :

berkemih selama malam hari

- Antidepresi, seperti ;amitriptilin (elavil),e. Menurunkan stimulasi sensori dengan doksepin (senequan), trasolon (desyrel) - Oksazepam (serax), triazolam (halcion) menghambat suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur.

olaborasi a. Efektif menangani pseudodemensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, b. Hindari penggunaan difenhidramin (benadryl) tetapi antikolinergik dapat mencetuskan bingung, memperburuk kognitif dan efek samping hipotensi ortostatik Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah efektif mengatasi insomnia

b. Kontraindikasi karena mempengaruhi produksi assetilkolin yang sudah dihambat dalam otak.

3.

Kerusakan mobilitas fisik

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan

Mandiri

Mandiri

a. kaji kekuatan motorik atau kemampuan a. menentukan perkembangan/munculnya

berhubungan penurunan

klien mampu rentang gerak optimal dengan criteria hasil

secara fungsional dengan menggunakan skala 0-5. Lakukan pengkajian secara teratur dan bandingkan dengan nilai dasarnya. b. Berikan posisi pasien yang menimbulkan rasa nyaman. Lakukan perubahan posisi dengan jadwal yang teratur sesuai kebutuhan secara individual. c. Lakukan latihan rentang gerak pasif. Hindari latihan aktif selama fase akut.

kembali tanda yang menghambat tercapainya tujuan atau harapan pasien.

tonus/kekuatan otot, - mempertahankan posisi kerusakan neuromuskuler dengan tak ada komplikasi (kontraktur,dekubitus) - mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas yang diinginkan

b. menurunkan kelelahan meningkatkan relaksasi, menurunkan resiko terjadinya iskemia atau kerusakan pada kulit.

c. menstimulasi sirkulasi, meningkatkan tonus otot dan meningkatkan mobilisasi sendi. Catatan:latihan yang dipaksakan dapat menimbulkan eksaserbasi gejala yang menyebabkan regresi fisiologis dan emosi. persendian juga dapat mengalami dislokasi sehingga otot mengalami flaksid secara total. Memaksimalkan tenaga dan mencegah kelelahan yang berlebihan.

Kolaborasi a. Konfirmasikan dengan/rujuk kebagian terapi fisik/terapi okupasi Kolaborasi a. bermanfaat dalam menciptakan kekuatan otot

secara individual atau latihan terkondisi dan program latihan berjalan dan mengidentifikasikan alat bantu atau brace untuk mempertahankan mobilisasi dan kemandirian dalam melakukan aktifitas sehari-hari

4.

Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif, keterbatasan fisik.

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan terdapat perilaku peningkatan dalam pemenuhan perawatan diri dengan kriteria hasil: klien tampak bersih dan segar klien tidak pucat. a.

Mandiri Identifikasi kesulitan berpakaian/perawatan diri, seperti keterbatasan fisik; apatis/depresi atau temperatur ruangan. a.

Mandiri Memahami penyebab yang mempengaruhi pilihan intervensi/ strategi

b. Identifikasi kebutuhan akan kebersihan b. Sesuai dengan perkembangan penyakit, diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan perawatan rambut/kuku/kulit, bersihkan kacamata dan gosok gigi. c. Gabungkan kegiatan sehari-hari kedalam jadwal aktivitas jika mungkin. c. Mempertahankan kebutuhan rutin dapat mencegah kebingungan yang semakin d. Kaji kemampuan dan tingkat itaspenurunan kemampuan ADL dalam memburuk dan meningkatkan partisipasi pasien. kebutuhan akan kebersihan dasar mungkin dilupakan.

skala 0 ± 4. e. Rencanakan tindakan untuk defisit

d. Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual. Klien akan mampu melakukan aktivitas sendiri untuk memenuhi perawatan dirinya.

motorik seperti tempatkan makanan dane. peralatan di dekat klien agar mampu sendiri mengambilnya. f. Kaji kemampuan komnikasi untuk BAK. f. Kemampuan menggunakan urinal pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan . g. Identifikasi kebiasaan BAB . anjurkan minum dan meningkatkan aktivitas. Kolaborasi : a. Pemberian suppositoria dan pelumas faeces / pencahar. b. Konsul ke dokter terapi okupasi. a.

Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengososngan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.

g. Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi

Kolaborasi : Pertolongan utama terhadap fungsi bowell atau BAB b. Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.

5.

Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan

Setelah diberikan tindakan andiri keperawatan diharapkan perubahan persepsi sensori klien dapat berkurang atau

Mandiri

a. Kembangkan lingkungan yang suportif a. Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan dan hubungan perawat-klien yang terapeutik. kecemasan pada klien.

persepsi, transmisi atau integrasi sensori

terkontrol dengan criteria hasil: - Mengalami penurunan halusinasi. - Mengembangkan strategi psikososial untuk mengurangi stress.

b. Bantu klien untuk memehami halusinasi. b.Meningkatkan koping dan menurunkan c. Kaji derajat sensori atau gangguan persepsi dan bagaiman hal tersebut mempengaruhi klien termasuk penurunan penglihatan atau pendengaran. halusinasi. c. Keterlibatan otak memperlihatkan masalah yang bersifat asimetris menyebabkan klien kehilangan kemampuan pada salah astu sisi tubuh. Klien tidak dapat mengenali rasa lapar, haus, Penerima nyeri eksternal. d. Untuk menurunkan kebutuhan akan halusinasi. e. piknik menunjukkan realitadan memberikan stimulasi sensori yang menurunkan perasaan curiga dan halusinasi yg disebabkan perasaan terkekang. f. Menjaga mobilitas yang dapat menurunkan f. Tingkatkan keseimbangan fisiologis dengan menggunakan bola lantai, tangan menari dengan disertai music. g. Libatkan dalam aktivitas sesuai indikasi g.Memberikan kesempatan terhadap stimulasi dengan keadaan tertentu, spt:terapi okupasi. partisipasi dengan orang lain dan dapat mempertahankan beberapa tingkat dari interaksi sosial. risiko terjadinya atrofi otot/ osteoporosis pada tulang.

- Mendemonstrasikan respons d. Ajarkan strategi untuk mengurangi yang sesuai stimulasi. stress. e. Ajak piknik sederhana, jalan-jalan kelilin rumah sakit. Pantau aktivitas.

6.

Perubahan proses pikir berhubungan

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan a.

Mandiri

Mandiri

Kaji derajat gangguan kognitif, seperti a. Memberikan dasar untuk

dengan degenerasi neuron irreversibel

gangguan proses pikir tidak bertambah buruk, dengan kriteria hasil: Klien mampu b.

perubahan orientasi terhadap orang, tempat waktu, rentang perhatian dan kemampuan berpikir Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang

evaluasi/perbandingan yang akan datang dan mempengaruhi pilihan terhadap intervensi.

b. Keramaian biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang meningkatkan gangguan neuron

menginterpretasikan stimulus sedikit demi sedikit Klien mampu c.

Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang

c. Pendekatan yang terburu-buru dapat mengancam pasien bingung yang mengalami kesalahan persepsi.

mengakomodasikan sedikit demi sedikit suatu ide/perintah -

d. Tatap wajah ketika bercakap-cakap dengan pasien

d. Menimbulkan perhatian, terutama pada orangorang dengan gangguan perceptual e. Sesuai dengan berkembangnya penyakit, pusat

Klien mampu mengenali

orang-orang terdekatnya, seperti nama keluarganya. e. Klien mampu mengenali Gunakan kata-kata yang pendek dan kalimat yang sederhana dan berikan instruksi sederhana. Ulangi instruksi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Kolaborasi a. Antisiklotik, seperti halopiridol (Haldol) ; tioridazin (Mallril) b. Vasodilator, seperti siklandelat (Cyclospasmol)

komunikasi dalam otak mungkin saja terganggu.

tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah. Klien mampu mengenali

Kolaborasi a. Dapat digunakan untuk mengontrol agitasi, halusinasi. b. Dapat meningkatkan kesadaran mental tetapi memerlukan penelitian lebih lanjut. c. Lebih bermanfaat pada fase awal dan/atau fase

waktu seperti pagi, siang, dan malam.

c. Agen ansiolitik, seperti diazepam, lorazepam, oksazepam 7. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan gangguan sensori, penurunan fungsi fisik Setelah diberikan tindakan Mandiri keperawatan diharapkan klien dapat beradaptasi a. Jalin hubungan saling mendukung dengan klien.

sedang untuk menghilangkan kecemasan

Mandiri a. Untuk membangan kepercayaan dan rasa nyaman. b. Menurunkan kecemasan dan perasaan terganggu. c. Untuk menentukan persepsi klien tentang kejadian dan tingkat serangan.

dengan perubahan aktivitas b. Orientasikan pada lingkungan dan sehari- hari dan lingkungan dengan kriteria hasil : rutinitas baru. c. Kaji tingkat stressor (penyesuaian diri, perkembangan, peran keluarga, akibat perubahan status kesehatan)

- mengidentifikasi perubahan - mampu beradaptasi pada

perubahan lingkungan dan d. Tentukan jadwal aktivitas yang wajar aktivitas kehidupan seharihari - cemas dan takut berkurang - membuat pernyataan yang psitif tentang lingkungan yang baru. dan masukan dalam kegiatan rutin. e. Berikan penjelasan dan informasi yang menyenangkan mengenai kegiatan/ peristiwa. f. Pertahankan keadaan tenang. Tempatkan dalam lingkungan tenang yang memberikan kesempatan untuk ³beristirahat´ g. Atasi tingkah laku agresif dengan pendekatan yamg tenang. h. Rujuk ke sumber pendukung perawatan g. Rasa diterima menurunkan rasa takut dan respon agresif. e. Menurunkan ketegangan, mempertahankan rasa saling percaya, dan orientasi. f. Menenangkan situasi dan memberi klien waktu untuk memperoleh kendali terhadap prilaku dan emosinya. d. Konsistensi mengurangi kebingungan dan meningkatkan rasa kebersamaan.

diri.

h. Meningkatkan perasaan, dukungan selama penyesuaian

8.

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan menyelesaikan masalah, perubahan intelektual -

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan koping individu menjadi efektif dengan kriteria hasil : Mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi Mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa haraga diri yang negatif

Mandiri

Mandiri

a. Kaji perubahan dari gangguan persepsi a. Menentukan bantuan individual dalam dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan b. Dukung kemampuan koping menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi b. Kepatuhan terhadap program latihan dan berjalan membantu memperlambat kemajuan penyakit. Dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mepertahankan patisipasi aktif c. Membantu klien untuk melihat bahwa perawat c. Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat d. Beri dukungan psikologis secara menyeluruh d.Klien Alzheimer sering merasa malu, apatis, tidak adekuat, bosan dan merasa sendiri. Perasaan ini dapat disebabkan akibat keadaan menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru.

fisik yang lambat dan upaya yang besar dibutuhkan terhadap tugas-tugas kecil. Klien dibantu dan didukung untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (seperti meningkatnya mobilitas) e. Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari e. Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari untuk mencegha waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah padda tidak adanya keinginan dari apatis. Setiap upaya dibuat untuk mendukung klien keluar darii tugas-tugas yang termasuk koping dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk klien mandiri. Apapun yang dilakukan hanya untuk keamanan sewaktu mencapai tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping. f. Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta f. Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan hal-hal untuk dirinya semaksimal mungkin g. Dukung perilaku atau usaha seperti mempengaruhi proses rehabilitasi. g. Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang.

peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi h. Monitor gangguan tidur peningkatan konsentrasi, letargi, dan witdhrawal Kolaborasi a. Rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi h. Dapat mengindikasikan terjadinya depresi dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut Kolaborasi a. Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan. Kerjasama fisioterapi, psikoterapi, terapi obatobatan, dan dukungan partisipasi kelompok dapat menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada kejadian ini.

9.

Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan intelektual (pikun, disorientasi, penurunan kemampuan mengatasi masalah) -

Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan klien tidak mengalami hambatan komunikasi verbal dengan kriteria hasil : Membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi a.

Mandiri Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi. a.

Mandiri Untuk menentukan tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi. b. Untuk membantu proses berkomunikasi dengan klien, dan agar tidak terjadi miskomunikasi.

b. Menentukan cara-cara berkomunikasi seperti mempertahankan kontak mata, pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, menggunakan kertas dan pensil/bolpoint, gambar, atau papan tulis; bahasa isyarat, penjelas arti dari

komunikasi yang disampaikan. c. Letakkan bel/lampu panggilan di tempat c. mudah dijangkau dan berikan penjelasan cara menggunakannya. Jawab panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan klien. Katakan kepada klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan. Kolaborasi olaborasi Memberikan terapi bicara pada klien. Mandiri a. Agar individu terstimulasi untuk melakukan interaksi social. b. Bantu mengidentifikasi alternative tindakan. c. Bantu menganalisis pendekatan yang berfungsi paling baik. b. Agar klien mampu mengidentifikasi tindakan yang baik. c. Agar klien mampu melakukan interaksi dengan orang lain dengan baik. d. Untuk merangsang klien untuk menjawab d. Gunakan pertanyaan dan observasi untuk mendorong individu dengan keterbatasan keterampilan interaksi e. Bantu anggota keluarga dalam pertanyaan perawat secara tidak langsung menstimulasi klien untuk berinteraksi. e. Dukungan keluarga sangat membantu dalam melakukan interaksi social. Untuk memudahkan klien dalam memanggil perawat saat membutuhkan bantuan.

a. Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa. a. 10. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan emosi (cepat marah, mudah tersinggung, kurang percaya diri)Setelah diberikan Asuhan Keperawatan diharapkan klien mampu melakukan interaksi social, dengan criteria hasil : klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya dengan baik. klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang. Mandiri a. Beri individu hubungan suportif.

memahami dan memberi dukungan.

11.

Risiko perubahan kurang kebutuhan berhubungan dengan

tinggi Setelah

diberikan

asuhan andiri

andiri a. Identifikasi kebutuhan untuk membantu perencanaan pendidikan b. Klien tidak mampu menentukan pilihan kebutuhan nutrisi

nutrisi keperawatan dari tidak tubuh nutrisi terjadi

diharapkan Kaji pengetahuan klien/keluarga a. perubahan mengenai kebutuhan makan b. dari Usahakan/ berikan bantuan dalam

kurang

kebutuhan dengan kriteria memilih menu

perubahan hasil : Klien mendapat diet nutrisi yang seimbang -

c. Berikan makanan kecil setiap jam sesuaic. Makan makanan kecil meningkatkan masukan kebutuhan d. Hindari makanan yang terlalu panas yang sesuai d. Makan panas mengakibatkan mulut terbakar atau menolak untuk makan

sensori, mudah lupa-

Mempertahankan/ mendapat kembali BB yang sesuai olaborasi

-

Klien dapat mengubah polaa. asupan yang benar

Rujuk atau konsultasikan dengan ahli olaborasi gizi a. Bantuan diperlukan untuk mengembangkan keseimbangan diet dan menemukan kebutuhan / makan yang disukai

12.

Resiko trauma berhubungan dengan kelemahan, ketidakmampuan untuk mengenali/ mengidentifikasi

Setelah diberikan asuhan

Mandiri

andiri a. Mengidentifikasi risiko potensial di lingkungan dan mempertinggi kesadaran sehingga pemberi asuhan lebih sadar akan bahaya. Pasien yang memperlihatkan tingkah laku impulsive menghadapi peningkatan resiko trauma kerena

keperawatan jam diharapkan Kaji derajat a. klien tidak mengalami kemampuan/kompetensi,munculnya

trauma dengan kriteria hasil : tingkah laku yang impulsive dan - Keluarga mengenali resiko potensial di lingkungan dan penurunan persepsi-visual,bantu orang terdekat untuk mengidentifikasi resiko

bahaya dalam lingkungan

mengidentifikasi tahap-tahap untuk memperbaikinya.

terjadinya bahaya yang mungkin timbul

mereka murang mampu mengendalikan perilaku/kegiatannya sendiri. Penurunan persepsi visual meningkatkan risiko terjauh b. Seseorang dengan gangguan kognitif dan

b. Hilangkan /minimalkan sumber bahaya dalam lingkungan

gangguan persepsi merupakan awal untuk mengalami trauma sebagai akibat ketidakmampuan untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhan keamanan yang dasar atau mengevaluasi keadaan tertentu,misalnya api dari kompor/rokok dan lupa akan hal tersebut,berusaha untuk makan buah dari plastic,salah menilai letak kursi dan tangga. c. Mempertahankan keamanan dengan menghindari konfrontasi yang dapat meningkatkan perilaku/meningkatkan risiko terjadinya trauma.

c. Alihkan perhatian pasien ketika perilaku teragitasi atau berbahaya,seperti keluar d. Menfasilitasi keamanan untuk kembali jika dari tenpat tidur dengan memanjat pagar tempat tidur tersebut. d. Berikan gelang identifikasi yang memperlihatkan nama,nomor hilang. Karena penurunan kemampouan verbal dan kebingungan,pasien mungkin tidak dapat menyebutkan alamat,nomor telepon dan sebagainya. Pasien mungkin ngeluyur dan

telepon,dan diagnose,jangan memposisikan dekat pintu keluar untuk tangga

ditangkap oleh polisi,yang memperlihatkan kebingungan,peka rangsang : mngkin mempunyai tingkah laku bermusuhan dan memperlihatkan kemiskinan pengambilan keputusan. e. Perlambatan proses metabolism secara umum mengakibatkan penurunan suhu tubuh. Hipotalamus dipengaruhi oleh proses penyakit yang menyebabkan seseorang merasa kedinginan. Pasien mungkin mengalami

e. Kenakan pakaian sesuai lingkungan fisik/kebutuhan individu

disorientasi mengenai cuaca dan mungkin ngeluyur keluar dalam keadaan dingin. Catatan : penyebab kematian seringkali adalah pneumonia/kecelakaan. f. Pasien mungkin tidak melaporkan tanda/gejala dan obat dapat dengan mudah menimbulkan kadar toksisitas pada lansia. Ukuran dosis/penggantian obat mungkin diperlukan untuk mengurangi gangguan. g. Membahayan individu untuk melepaskan

f. Lakukan pemantauan terhadap efek samping obat,tanda-tanda adanya takar

restrain tersebut secara parsial. Dapat meningkatkan agitasi dan timbul resiko fraktur

lajak,seperti tanda ekstrapiramidal,hipotensi ortostatik,gangguan penglihatan,gangguan gastrointestinal. g. Hindari penggunan restrain secara terus menerus. Berikan kesempatan orang terdekat tinggal bersama pasien selama periode agitasi akut.

pada pasien lansia (berhubungan dengan penurunan kalsium tulang) h. Sesuai dengan memburyknya penyakit itu,pasien mungkin gugup terhadap benda/kunci atau meletakan benda-benda kecil dalam mulut yang sangat berpotensi terhadap trauma kecelakaan atau kematian.

h. Rekomendasi penggunaan kunci ³child proof´ untuk mengamankan obat,zat racun alat-alat tajam

4.EVALUASI

1.

Perubahan pola eliminasi urine/alvi berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologi/tonus otot, ketidakmampuan untuk menentukan letak kamar mandi/mengenali kebutuhan Klien menciptakan pola eliminasi yang adekuat/sesuai

2. -

Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori Tidak terjadi perubahan tingkah laku dan penampilan (gelisah) Klien menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan terhadap pikiran yang melayang-layang (melamun) Klien menentukan penyebab tidur inadekuat

3. -

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, penurunan tonus atau kekuatan otot. Klien mempertahankan posisi dengan tak ada komplikasi (kontraktur,dekubitus) Klien mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas yang diinginkan

4. -

Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif, keterbatasan fisik. Klien tampak bersih dan segar Klien tidak pucat

5. -

Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi, transmisi, dan/atau integrasi. Klien Mengalami penurunan halusinasi. Klien Mengembangkan strategi psikososial untuk mengurangi stress.

-

Klien Mendemonstrasikan respons yang sesuai stimulasi.

6. -

Perubahan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron irreversible Klien menginterpretasikan stimulus sedikit demi sedikit Klien mengakomodasikan sedikit demi sedikit suatu ide/perintah Klien mengenali orang-orang terdekatnya, seperti nama keluarganya. Klien mengenali tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah. Klien mengenali waktu seperti pagi, siang, dan malam.

7. -

Sindrom stress relokasi berhubungan dengan gangguan sensori, penurunan fungsi fisik Klien mengidentifikasi perubahan Klien beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas kehidupan sehari-hari cemas dan takut klien berkurang Klien membuat pernyataan yang psitif tentang lingkungan yang baru.

8. -

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan menyelesaikan masalah, perubahan intelektual Klien menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi Klien menyatakan penerimaan diri terhadap situasi Klien Mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa haraga diri yang negative

9.

Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan intelektual (pikun, disorientasi, penurunan kemampuan mengatasi masalah) teknik/metode klien komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi

10. -

Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan emosi (cepat marah, mudah tersinggung, kurang percaya diri) Klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya dengan baik. Klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang.

11. -

Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan sensori, mudah lupa Klien mendapat diet nutrisi yang seimbang Mempertahankan/ mendapat kembali BB yang sesuai Klien dapat mengubah pola asupan yang benar

12. -

Risiko trauma berhubungan dengan kelamahan, ketidakmampuan untuk mengenali/mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan Keluarga mengenali resiko potensial di lingkungan dan mengidentifikasi tahap-tahap untuk memperbaikinya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2003. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Jakarta:EGC Lumbantobing, Prof.DR.dr.SM. 2006. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta : FKUI Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Salemba Medika: Jakarta Stanley, Mickey & Patricia Gauntlett Beare. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Ny. S DENGAN MASALAH KESEHATAN TB PARU PADA KLIEN Tn. I DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KELURAHAN CIPINANG BESAR UTARA KECAMATAN JATINEGARA (Tanggal 2 s.d 13 Mei 2011)

LAPORAN KASUS
Dalam laporan kasus ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan keluarga dengan masalah kesehatan TB Paru pada Tn. I dalam konteks keperawatan yang dilaksanakan pada tanggal 2 s.d 13Mei 2011, dengan pendekatan proses asuhan keperawatan pada keluarga.

A. KARAKTERISTIK Tanggal 2 Mei 2011, penulis melakukan pengkajian pada keluarga Ny. S dan dari hasil pengkajian telah diperoleh data sebagai berikut:

1. Kepala Keluarga Nama kepala keluarga adalah Ny. S dengan jenis kelamin perempuan, berusia 68 tahun, agama Islam. Pendidikan terakhir tidak sekolah. Pekerjaan sebagai terima pesanan kue. Tempat tinggal di Jln. Cipinang Pulo Maja RT 06, RW 012, No 13, kelurahan Cipinang Besar Utara, kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

2. Susunan Anggota Keluarga

NO

NAMA

UMUR

SEX

HUBUNGAN DENGAN Ka.KELUARGA

PENDIDIKAN

PEKERJAAN

KET

1 2 3 4 5 6

Tn. Iwan Ny. Ade An. Oman Ny. Norma Tn. Rosidin An. Taflan

35 Th 29 Th

L P

Anak ke-11 Istri Tn.Iwan Anak Tn.Iwan Anak ke-12 Suami Ny.Norma Anak Ny.Norma

SD SD SD SD SD -

BURUH IRT PELAJAR BURUH BURUH -

7½ Th L 28 Th 41 Th P L

2½ Th L

3.

Genogram

1. Tipe Keluarga Keluarga inti (Nuclear Family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak dalam satu rumah.

2. Pemeriksaan Fisik Anggota Keluarga Ny. S usia 68 tahun, berat badan 46 kg, tinggi badan 147 cm, kesadaran compos mentis, tekanan darah 120/70 mmHg, Nadi 80 x/menit, frekuensi pernafasan 20 x/menit, Suhu 36.40C, warna kulit sawo matang, rambut putih beruban, konjungtiva an-anemis, sklera an-ikterik, mulut tidak terdapat sariawan, gigi karies, telinga, hidung, dan tenggorokan tidak ada kelainan, tidak ada pembesaran

kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening. Hasil auskultasi bunyi paru vesikuler, tidak ada bunyi gallop dan murmur pada jantung, pada palpasi perut datar dan lemas, tidak ada benjolan di kepala.

Tn. I usia 35 tahun, jenis kelamin laki-laki, berat badan 45 kg, tinggi badan 175 cm, kesadaran compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 88x/menit, Suhu 36,80C,frekuensi pernafasan 25x/menit, irreguler. Pada inspeksi rambut pendek ikal, warna hitam, rambut kusam. Tn. I tampak sekali-kali batuk dan sesak, dada sedikit kiposis, mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva ananemis, tidak menggunakan alat bantu penglihatan, ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan, hasil pemeriksaan auskultasi, bunyi jantung tidak terdengar gallop atau murmur, bunyi nafas vesikuler namun ronki terdengar halus. Bunyi wheezing tidak ada. Pada palpasi abdomen datar dan lemas, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tiroid.

Ny. Ade usia 29 tahun, jenis kelamin perempuan. Berat badan 45 kg, tinggi badan 152 cm. Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 80x/menit, suhu tubuh 35,90C, frekuensi pernafasan 20x/menit, reguler. Pada pemeriksaan inspeksi kepala: rambut panjang, hitam dan ikal, tidak ada ketombe. Mata simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas dan bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi, bunyi paru tidak terdengar wheezing dan ronki. Palpasi abdomen teraba janin usia 5 bulan. Bunyi pernafasan vesikuler, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tiroid.

An. O usia 7 ½ tahun, jenis kelamin laki-laki. Pekerjaan sebagai pelajar kelas 2 SD.tinggi badan 104 cm, berat badan 20 kg, denyut nadi 88x/menit, frekuensi pernafasan 18x/menit, reguler, suhu tubuh 35,90C. Tampak kurus, rambut pendek ikal, warna hitam, tidak berketombe. Kulit sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.

Ny. N usia 28 tahun jenis kelamin perempuan, berat badan 51 kg, tinggi badan 152 cm, tekanan darah 120/90 mmHg, nadi 80x/menit, suhu 360C, pernafasan 20x/menit, reguler. Pada pemeriksaan inspeksi didapat data rambut pendek ikal, warna hitam, tidak berketombe. Kulit sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.

Tn. R usia 41 tahun jenis kelamin laki-laki, berat badan 50 kg, tinggi badan 155 cm, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 84x/menit, pernafasan 22x/menit, reguler, suhu 360C. Pada pemeriksaan inspeksi didapat data rambut pendek ikal, warna hitam, tidak berketombe. Kulit sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.

An. T usia 2 ½ tahun jenis kelamin laki-laki, berat badan 13 kg, tinggi badan 88 cm. Hasil inspeksi rambut lurus, berwarna hitam dan pendek. Tidak berketombe. Kulit sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani. A. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA 1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini

Tahap perkembangan keluarga saat ini yaitu keluarga melepas anak usia dewasa. Tugas perkembangan keluarga yaitu memperluas siklus keluarga dengan masuknya keluarga baru dan perkawinan anak ke-2, melanjutkan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan, membantu orang tua usia lanjut dan mulai menurun status kesehatannya. (Perkembangan keluarga berada pada tahap IV yaitu keluarga melepas anak usia dewasa). 2. Tugas Keluarga Yang Belum Terpenuhi/Terlaksana Pada Tahap Perkembangan Tidak ada tugas keluarga yang belum terpenuhi/terlaksana pada tahap perkembangan. 3. Riwayat Keluarga Inti Keluarga inti yang terdiri dari Ny. S yang berperan sebagai kepala keluarga yang berusia 68 tahun dan 2 orang anak kandung yang terdiri dari 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, 2 cucu laki-laki, dan 2 menantu yaitu 1 laki-laki dan 1 perempuan. B. STRUKTUR KELUARGA 1. Komunikasi Dalam Keluarga 1.1 Pola Interaksi Pola interaksi paling sering terjadi dalam keluarga yaitu saat pagi hari dan malam hari, biasanya interaksi terjadi saat menonton TV. Dalam komunikasi, yang paling dominan adalah Tn. I dengan menggunakan bahasa Indonesia. Komunikasi dalam keluarga saling tertutup satu sama lain. Interaksi yang berlangsung biasanya hanya sekedar. Tidak ada konflik dalam keluarga tentang pola interaksi.

1.2 Cara Berkomunikasi Dalam Keluarga Cara berkomunikasi yang sering diterapkan dalam keluarga yaitu secara langsung, sifat komunikasi yang sering diterapkan dalam keluarga secara tertutup. Anggota keluarga yang paling dominan berbicara adalah Tn. I, bahasa yang sering digunakan oleh anggota keluarga yaitu bahasa Indonesia.

2. Struktur Keluarga

2.1 Pengambilan Keputusan Cara atau metode pengambilan keputusan di keluarga yaitu secara musyawarah. Di dalam keluarga ini yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah Tn. I. Didalam masalah kesehatan dalam keluarga, diperlukan tenaga kesehatan seperti dokter/perawat untuk memecahkan masalah kesehatan keluarga. Anggota keluarga yang paling dipercaya kepada keluarga adalah ibu.

2.2 Hubungan Dalam Keluarga Hubungan antara anggota keluarga adalah kurang harmonis dan tidak saling percaya.

3. Struktur Nilai-Nilai/Values 3.1 Sistem Nilai Ny. S bersuku Betawi. Budaya yang dominan dalam keluarga adalah budaya betawi. Dalam keluarga tidak ada nilai-nilai tertentu dan nilai agama yang bertentangan dengan kesehatan karena menurut keluarga kesehatan merupakan hal yang penting. Ketaatan keluarga dalam menjalankan kegiatan agama adalah kurang taat. Yang paling taat beribadah dan selalu mengikuti pengajian adalah Ny. S.

4. Struktur Peran 4.1 Pembagian Peran Dalam Anggota Keluarga Pembagian peran dalam anggota keluarga yaitu Ny. S sebagai kepala keluarga, sebagai ibu untuk anak-anak,dan sebagai nenek dari cucu-cucunya. Sedangkan anak sebagai anggota keluarga dan sebagaiistri/suami bagi pasangannya, serta menjadi orangtua dari anakanaknya. Ny. S berperan sebagai ibu dan nenek, Tn. I berperan sebagai pencari nafkah dan dibantu oleh Ny. N dan Tn. R. Tidak ada perubahan peran ataupun konflik ketidaksesuaian peran dalam keluarga.

C. FUNGSI KELUARGA 1. Fungsi Afektif Semua anggota keluarga saling menyayangi dan keluarga merasa bangga apabila salah satu anggota keluarga berhasil. Respon keluarga terhadap kehilangan yaitu berduka, namun selama ini keluarga saling menguatkan dan menjaga satu sama lain. 2. Fungsi Sosial Anggota keluarga tidak ada yang ikut dalam keanggotaan organisasi masyarakat dan tidak ada yang cukup berpengaruh di masyarakat di keluarga Ny. S. Terdapat konflik di masyarakat yaitu An. T nakal sehingga dijauhi oleh tetangga. Keluarga mengggunakan faktorfaktor penunjang untuk memecahkan masalah kesehatannya yaitu dengan cara berobat ke Puskesmas Cipinang Besar Utara atau ke Puskesmas Jatinegara. Anggota keluarga yang mempunyai keterampilan khusus adalah Ny. S yaitu terampil membuat kue. Anggota keluarga yang tidak bisa membaca dan menulis adalah Ny. S karena tidak pernah sekolah. 3. Fungsi Reproduksi Keluarga Ny. S, khususnya Ny. M dahulu tidakmengikuti keluarga berencana (KB). Jumlah anak dalam keluarga Ny. S berjumlah 13 orang. Anggota keluarga ada yang mengikuti program KB yaitu Ny. N yaitu menggunakan suntik KB dalam 3 bulan sekali. Efek sampingnya berat badan menjadi lebih gemuk. 4. Fungsi Ekonomi Penghasilan keluarga didapat dari hasil Ny.S menerima pesanan kue dan anaknya dengan pendapatan kurang lebih Rp1.000.000,- / bulan. Uang ini digunakan setiap bulannya untuk kebutuhan harian, kebutuhan bulanan, kebutuhan makan, bayar pajak, bayar rekening listrik, dan biaya transportasi. Penghasilan keluarga sudah cukup memenuhi kebutuhan karena dibantu oleh anak perempuan yang ke-10 sebesar Rp200.000,- dan anak laki-laki ke-11 sebesar Rp200.000,-, dan anak perempuan ke-12 sebesar Rp200.000,-. Dalam keluarga Ny. S tidak terdapat anggota keluarga yang mempunyai tabungan. 5. Fungsi Pemeliharaan Kesehatan 1.1 Pemenuhan Kebutuhan Makan Menurut Ny. S pengadaan makanan sehari-hari dalam keluarga dengan membeli. Komposisi jenis makanannya adalah nasi, lauk pauk, protein hewani, dan protein nabati, sayuran, dan susu. Cara penyajian makanan yaitu tertutup. Dalam keluarga Ny. S tidak terdapat pantangan terhadap makanan. Pengelolaan air minum dalam keluarga dengan cara membeli air aqua, kebiasaan keluarga dalam mengelola makanan yaitu dipotong dahulu kemudian dicuci. Kebiasaan makan dalam keluarga yaitu sendiri-sendiri.

1.2 Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur Dalam keluarga Ny. S, anggota keluarga mempunyai kebiasaan tidur pada siang hari. Keluarga Ny. S tidak memiliki kamar tidur masing-masing namun hanya memiliki dua kamar tidur. Kamar yang ada di depan ditempati olehkeluarga Tn. I sedangkan kamar yang ada ditengah ditempati oleh Ny.N, Ny. S, dan An. T. Selama ini tidak ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan tidur. 1.3 Pemenuhan Kebutuhan Rekreasi dan Eksercise Keluarga tidak mempunyai kebiasaan rekreasi yang teratur karena tidak memiliki dana. Dalam keluarga Ny. S memanfaatkan waktu luangnya denganmengikuti pengajian didaerah rumahnya. Keluarga Ny. S tidak memiliki waktu khusu untuk berolahraga, biasanya olahraga yang dilakukan dengan jalan-jalan kecil ke pasar setiap pagi. 1.4 Pemenuhan Kebutuhan Kebersihan Diri Pemeliharaan kebersihan diri dalam anggota keluarga yaitu mandi 2x/hari, sikat gigi 3x/hari, cucui rambut1x/hari. Keluarga mandi dengan menggunakan sabun, sikat gigi menggunakan pasta gigi, dan cuci rambut menggunakan shampo. Jika terdapat anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga membawa ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas, dokter praktek, bidan/mantri praktek. Jika hanya sakit biasa, keluarga membeli obat warung seperti bodrex, komix, dan paramex karena sudah mengetahui obatnya. D. STRESSOR DAN KOPING Stress yang dihadapi keluarga Tn. K adalah apabila keluarga tidak memiliki dana pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan terdapat anggota keluarga yang sakit. Penanggulangan masalah kesehatan dalam keluarga diatasi secara bersama-sama. Jika terdapat anggota keluarga yang mengalami masalah, keluarga berusaha mencari jalan keluar dengan membicarakannya dengan anggota keluarga yang lain.

E. DERAJAT KESEHATAN 1. Kejadian Kesakitan Saat Ini Tn. I menderita penyakit TB Paru 2 ½ tahun yang lalu, kemudian sudah minum obat OAT selama 6 bulan, namun Tn. I tidak pernah cek kesehatan lagi apakah kuman TB sudah benar-benar hilang atau tidak. Sedangkan An. O termasuk dalam gizi kurang karena sulit makan.

2. Kejadian Kecacatan Tidak ada anggota keluarga yang menderita cacat fisik. 3. Kejadian Kematian Satu Tahun Terakhir Terdapat anggota keluarga yang meninggal dunia pada satu tahun terakhir yaitu adik dari bapak mertua Tn. I yang berusia 60 tahun meninggal dunia karena sakit stroek. 4. Kejadian Penyakit Kronis Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit kronis. 5. Kejadian Sakit Satu Tahun Terakhir Tn.I menderita penyakit TB Paru sejak 2 ½ tahun yang lalu.

F. KESEHATAN LINGKUNGAN 1. Perumahan Jenis rumah permanen denga luas bangunan 40 m2. Status rumah milik pribadi dengan atap rumah menggunakan asbes. Ventilasi rumah dengan luas < 10% luas lantai dengan pencahayaan kurang, yaitu cahaya tidak dapat masuk ke rumah pada siang hari. Penerangan di rumah menggunakan listrik. Lantai di rumah menggunakan ubin. Kondisi kebersihan rumah secara keseluruhan kotor. Bagian-bagian rumah terdapat ruang tamu, ruang tidur, dapur, dan kamar mandi yang bergabung dengan WC tampak gelap, tidak ada ahaya yang dapat masuk, lembab.

2. Denah Rumah

1. Pengelolaan Sampah Keluarga mempunyai pembuangan sampah terbuka. Biasanya sampah-sampah rumah tangga tersebut di ikat dengan kantong plastik hitam dan setiap pagi di buang ditempat pembuangan sampah yang ada di daerah rumahnya.

2. Sumber Air Keluarga mempunyai sumber air pompa tangan. Untuk keperluan air minum keluarga Ny. S membeli air minum yang sudah matang diwarung. Keadaan air tidak berwarna, tidak berasa, tidak ada endapan, dan tidak berbau.

3. Jamban Keluarga Keluarga mempunyai WC sendiri dengan jenis leher angsa dan pembuangan tinja dengan sumber air yaitu 10 meter.

4. Pembuangan Air Limbah Keluarga mempunyai saluran pembuangan air limbah dengan kondisi mengalir melalui selokan dan berakhir ke sungai/kali.

5. Fasilitas Sosial dan Fasilitas Kesehatan Terdapat perkumpulan kegiatan masyarakat di lingkungan Ny. S seperti arisan RT, pengajian RT, dan ibu-ibu PKK. Sedangkan fasilitas kesehatan di lingkungan rumah terdapat puskesmas, posyandu, balai pengobatan mandiri, dokter praktek, dan bidan/mantri praktek. Fasilitas kesehatan tersebut dapat terjangkau keluarga dengan berjalan kaki atau naik kendaraan bermotor.

A. MASALAH KESEHATAN KHUSUS 1. Ibu Hamil

Dalam keluarga Ny. S terdapat anggota keluarga yang sedang hamil yaitu Ny. A usia 29 tahun. Status kehamilan G2P1AO, usia kehamilan 5 bulan. Kehamilan diinginkan, ibu selalu memeriksakan kehamilan di bidan praktek sudah lebih dari 4x pemeriksaan, sudah mendapatkan imunisasi TT, berat badan 45 kg, tekanan darah 110/80 mmHg. Pada pemeriksaan inspeksi, didapat data konjungtiva an-anemis, sklera an-ikterik, muka tidak ada edema, abdomen tampak striae dan membuncit, payudara puting menonjol, tungkai tidak bengkak. Pada pemeriksaan auskultasi bunyi jantung normal, tidak terdengar bunyi gallop dan murmur. Bunyi paru normal, vesikuler. Pada palpasi abdomen teraba janin.

2. Balita Balita bernama An. T berusia 2 ½ tahun, jenis kelamin laki-laki, sudah diberi imunisasi dasar lengkap kecuali imunisasi campak kerena keluarga takut akan efek sampingnya panas dan akibatnya anak bisa meninggal dunia. Anggota keluarga mendapatkan imunisasi di Puskesmas CBU. Berat badan 13 kg, tinggi badan 88 cm, balita mempunyai KMS (Kartu Menuju Sehat) dan Ny. N tidak mengerti cara membacanya. Kesimpulan grafik BB dalam KMS meningkat setiap bulannya dan berada dalam garis hijau. An. T tampak makan 2x sehari. Pengadaan bahan makanan dengan cara membeli di warung. Makanan yang dikonsumsi semua lengkap dan disertai susu. An. T mendapatkan vitamin A setiap bulannya.

3. Usila (Usia Lanjut usia diatas 60 tahun) Ny. S berusia 68 tahun, keluahan yang dialami sekarang adalah penglihatan sudah kurang tajam/menurun pada mata sebelah kiri. Ny. S tidak pernah mengikuti program pembinaan usila di Puskesmas karena malas dan tidak mempunyai waktu.

PENJAJAKAN II 1. Pengkajian Terhadap Masalah: Resiko Terjadinya Penularan TB Paru Pada Anggota Keluarga Lain

Dari hasil wawancara dengan Tn.I tentang TB Paru, Tn. I telah mengetahui penyakit TBC setelah diberitahu oleh dokter Puskesmas sejak 2 ½ tahun yang lalu. Kemudian Tn. I minum obat OAT selama 6 bulan dengan teratur, namun Tn. I menganggap penyakitnya sudah sembuh total berkat minum obat tanpa mengecek dahak lagi ke Puskesmas setelah obat OAT habis. Pada saat ditanyakan apa itu TB, menurut Tn. I TB itu adalah penyakit paru-paru, tanda gejalanya batuk-batuk, nyeri dada, dan sesak nafas. Penyebabnya karena mencium aroma pentol korek api kayu. Akibat dari TB adalah dadanya terasa nyeri dan sesak nafas. Untuk mengatasi masalahnya Tn. I selama ini berobat ke Puskesmas, namun dalam 2 minggu ini Tn. I batuk-batuk dan tidak periksa ke Puskesmas, Tn. I hanya meminum obat yang di beli di warung. Tn. I juga mengatakan selama ini tidak pernah membuka jendela dan jarang merapikan kamar tidur. Sedangkan keluarga mensupport klien untuk segera berobat ke Puskesmas. Hasil observasi penulis terhadap lingkungan keluarga kadang Tn. I batuk dan tidak menutup mulutnya dan ruang tidur dikamar tampak tidak rapi, berdebu, lembab, kotor dan gelap. Selama ini Tn. I tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan lagi yang ada di Puskesmas karena tidak ada dana untuk berobat rontgen dada dan tidak ada waktu. Klien mengatakan sudah sembuh dan mengatakan batuknya hanya masuk angin.

2. Pengkajian Terhadap Masalah Keluarga: Tidak Efektifnya Bersihan Jalan Nafas Pada Keluarga Ny. S akibat TB Paru Keluarga mengeluh Tn. I batuk-batuk sejak 2 minggu karena masuk angin. 2 ½ tahun yang lalu Tn. I terdiagnosa TB Paru dan sudah menjalani pengobatan OAT selama 6 bulan namun tiak pernah cek kesehatan lagi setelah obat OAT 6 bulan itu habis. Pada saat ditanyakan apa itu TB, menurut Tn. I TB itu adalah penyakit paru-paru, tanda gejalanya batuk-batuk, nyeri dada, dan sesak nafas. Penyebabnya karena mencium aroma pentol korek api kayu. Akibat dari TB adalah dadanya terasa nyeri dan sesak nafas. Untuk mengatasi masalahnya Tn. I selama ini berobat ke Puskesmas, namun dalam 2 minggu ini Tn. I batuk-batuk dan tidak periksa ke Puskesmas, Tn. I hanya meminum obat yang di beli di warung. Tn. I juga mengatakan selama ini tidak pernah membuka jendela dan jarang merapikan kamar tidur. Sedangkan keluarga mensupport klien untuk segera berobat ke Puskesmas. Hasil observasi penulis terhadap lingkungan keluarga kadang Tn. I batuk dan tidak menutup mulutnya dan ruang tidur dikamar tampak tidak rapi, berdebu,

lembab, kotor dan gelap. Selama ini Tn. I tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan lagi yang ada di Puskesmas karena tidak ada dana untuk berobat rontgen dada dan tidak ada waktu. Klien mengatakan sudah sembuh dan mengatakan batuknya hanya masuk angin.

3. Pengkajian Terhadap Masalah: Perubahan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Dari hasil wawancara dengan Ayah An. O (Tn. I) tentang masalah gizi kurang, Tn. I belum mengetahui tentang penyakit gizi kurang dan belum pernah periksa ke pelayanan kesehatan. Tn. I mengatakan tidak tahu mengenai kebutuhan nutrisi anaknya dan Tn. I juga mengatakan tidak merasa perlu untuk memantau berat badan anaknya ke pelayanan kesehatan. Pada saat ditanyakan penyebab gizi kurang pada Tn. I mengatakan penyebabnya adalah tidak nafsu makan. Dan akibat dari gizi kurang Tn. I tidak mengetahuinya. Untuk mengatasi masalah gizi kurang, Tn. I mengatakan harus banyak makan. Tn. I saat ditanyakan masalah makanan, Tn. I mengatakan harus banyak makan. Tn. I saat ditanyakan masalah makanan, Tn. I selalu membeli lauk yang sudah matang di warung. Hasil observasi penulis terhadap penyediaan makanan dikeluarga bila sedang ada uang biasanya Tn. I membeli makanan kesukaan An. O, tapi bila sedang tidak ada uang Tn. I hanya memberikan makanan mie ataupun telur. Tn. I mengatakan An. O makan hanya 2x sehari, yaitu makan siang dan sore, pada waktu pagi hari An. O jarang sarapan karena biasanya An. O bangun tidur sekitar jam 09.0010.00 pagi. Saat pemeriksaan fisik badan An. O tampak kurus, berat badan 20 kg, tinggi badan 104 cm. Berdasarkan hasil penghitungan IMT (Indeks Masa Tubuh), An. O berada dibawah standar gizi normal, yaitu 16,7. Yang artinya dalam batas standar gizi kurang dan kulit terlihat kering. Tn. I mengatakan An. O terlalu banyak bermain hingga lari-larian bersama temannya hingga lupa untuk makan. Selama ini Tn. I jarang memanfaatkan fasilitas kesehatan/sarana kesehatan dengan alasan malasa antri dan merasa belum perlu berobat.

ANALISA DATA & PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN Keluarga Ny. S Dengan Masalah Kesehatan TB Paru pada Tn. I

NO

DATA FOKUS

MASALAH KEPERAWATAN

KEMUNGKINAN ETIOLOGI

1

Data Subjektif: - Tn. I mengatakan sakit TB Paru sejak 2 ½ tahu yang lalu - Tn. I mengatakan obatnya diminum secara teratur selama 6 bulan pada 2 ½ tahun yang lalu, namun masih menjadi perokok aktif

Resiko terjadinya penularan TB Paru pada anggota keluarga yang lain

Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

Klien mengatakan dalam 1 hari menghabiskan rokok 12 batang/hari - Tn. I mengatakan tidak pernah periksa ke Puskesmas lagi sejak obatnya habis 6 bulan. - Tn. I mengatakan saat ini sedang masuk angin, flu, dan batuk-batuk Data Objektif: - Kesadaran compos mentis - Tanda-tanda vital: TD 110/70 mmHg, Nadi 8ox/menit, Pernafasan 25x/menit, irreguler, bunyi nafas sedikit ronki, Suhu 360C - Berat Badan 45 kg, TB 175 cm - Tn. I tampak kurus, kondisi rumah sempit, pencahayaan redup, udara lembab, gelap, dan kotor

-

ANALISA DATA & PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN Keluarga Ny. S Dengan Masalah Kesehatan TB Paru pada Tn. I

NO

DATA FOKUS

MASALAH KEPERAWATAN

KEMUNGKINAN ETIOLOGI

2

Data Subjektif: - Tn. I mengatakan sudah lama batuk-batuk sudah 2 minggu karena masuk angin. - Tn. I mengatakan batuknya sudah sembuh dan kambuh lagi akibat masuk angin. - Tn. I mengatakan baru beli obat warung kalau batuknya dirasa agak parah. - Tn. I mengatakan mengetahui tentang penyakit TB Paru adalah penyakit batukbatuk yang disebabkan karena mencium aroma pentol korek api kayu. - Tn. I mengatakan tidak pernah membuka jendela karena sudah ada kipas angin. Data Objektif: - Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi 86x/menit, Pernafasan 25x/menit, bunyi paru terdengar sedikit bunyi ronki, Suhu 360C - Berat Badan: 45 kg - Tinggi Badan: 175 cm - Kondisi rumah lembab, debu dan kitor. - Ventilasi rumah kurang dari10% luas lantai sehingga sirkulasi udara tidak bebas

Tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada keluarga Ny. S khususnya Tn. I

Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

NO

ANALISA DATA & PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN Keluarga Ny. S Dengan Masalah Kesehatan Gizi Kurang pada An. O DATA FOKUS MASALAH KEMUNGKINAN KEPERAWATAN ETIOLOGI Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada keluargaNy. S khususnya An.O Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah gizi kurang

1

Data Subjektif: Tn. I mengatakan An. O makannya 2x/hari, sulit makan, dan mau makan bila ada makanan kesukaannya dagig ayam dan mie goreng. Tn.i mengatakan An. O kebanyakan bermain sam temannya sebelum dan sesudah pulang dari sekolah sampai lupa makan. - Tn. I mengatakan An. O terlalu banyak main play station diluar dan apabila tidak diberikan biasanya nangis dan tidak mau makan. - Tn. I mengatakan 2 tahun ini An. O tidak nafsu makan dan berat badan tidak bertambah. Data Objektif: - An. O tampak kurus - Berat badan 20 kg - Tinggi badan 104 cm - Kulit terlihat kering, warna sawo matang - An. O tampak tidak bisa tenang di rumah dan selalu bermain. - Tanda-tanda vital: Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi 86x/menit, Pernafasan 20x/menit, Suhu 360C

- Berdasarkan perhitungan IMT, An. O termasuk dalam golongan anak dengan gizi kurang. IMT= BB (kg) : TB (m2) = 20: 1,2 = 16,7 PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

1. Masalah Keperawatan Masalah keperawatan Resiko terjadinya penularan TB Paru pada anggota keluarga yang lain b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

NO

KRITERIA

PERHITUNGAN

SKOR

JUSTIFIKASI

1

Sifat masalah: Resiko

2/3 x1

2/3

2

Kemungkinan masalah dirubah: Mudah untuk

2/2x 2

1

Ditangani segera karena resiko penularan TB Paru pada anggota keluarga yang lain, Tn. I riwayat TB Paru 2 ½ tahun yang lalu minum obat OAT selama 6 bulan, dan tidak pernah berobat lagi. Dapat dirubah dengan penyuluhan penularan TB Paru dengan menganjurkan Tn. I tidak membuang dahak sembarangan dan rajin membuka jendela pada pagi hari dan siang hari. Resiko penularan sulit dicegah karena kondisi rumah yang sempit dan interaksi antara anggota keluarga yang lain kurang dari 1 meter dan Tn. I lupa untuk menutup mulut jika batuk.

3

Potensi pencegahan masalah:

2/3 x 1

2/3

Sedang 4 Menonjolnya masalah: Masalah dirasakan dengan ada upaya/segera ditangani 2/2 x 1 1 Masalah perlu ditangani segera karena resiko penularan pada anggota keluarga yang lain dengan melakukan pemeriksaan pada anggota keluarga yang lain (screening kesehatan) dan anjurkan keluarga untuk memanfaatkan fasilitas (puskesmas) yang terdekat dan sesuai kemampuan.

TOTAL SKOR

3 1/3

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

2. Masalah Keperawatan Masalah keperawatan Tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada keluarga Ny. S khususnya Tn. I b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

NO

KRITERIA

PERHITUNGAN

SKOR

JUSTIFIKASI

1

Sifat masalah: Aktual

3/3 x1

1

Masalah ini bersifat aktual karena Tn. I mengeluh batuk-batuk selama 2 minggu, sesak nafas dan mudah lelah. Jika tidak ditangani segera dapat mengakibatkan penyakit menjadi

2

Kemungkinan masalah dirubah: Mudah untuk

2/2x 2

1

3

Potensi pencegahan masalah: Sedang

2/3 x 1

2/3

4

Menonjolnya masalah: Masalah dirasakan berat,harus segera ditangani
TOTAL SKOR

2/2 x 1

1

semakin parah. Pelayanan kesehatan dekat dari rumah dan terjangkau, dana untuk berobat tersedia karena murah. Dengan informasi yang diberikan keluarga dapat mngerti tentang TB Paru dan mencegah penularan. Tn. I adalah penderita TB Paru dengan minum obat OAT selam 6 bulan pada 2 ½ tahun yang lalu dan sudah minum obat OAT selama 6 bulan. Saat ini Tn.I belum pernah kontrol kesehatan lagi di Puskesmas. Keluarga belum ada upaya untuk mengatasi masalah/kondisi Tn. I karena belum ada waktu sehingga kemungkinan penularan cukup tinggi. Keluarga merasa ada masalah dan perlu segera ditangani karena sudah merasakan gejala-gejala penyakit.

4 2/3

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

3. Masalah Keperawatan

Masalah keperawatan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada keluargaNy. S khususnya An.O b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah gizi kurang.

NO

KRITERIA

PERHITUNGAN

SKOR

JUSTIFIKASI

1

Sifat masalah: Aktual

3/3 x1

1

Hasil pemeriksaan fisik, An. O terlihat badannya kurus, kulit kering, warna sawo matang. Berat badan dibawah normal BB: 20 kg, TB: 104 cm. Perhitungan IMT: 16,7 (Artinya dalam batas kurang gizi). An. O terlihat banyak bermain. Disimpulkan: An. O mengalami gizi kurang.

2

Kemungkinan masalah dirubah: Sebagian untuk

½x2

1

Tn. I mengetahui anaknya mengalami gizi kurang dan sudah mencoba memberikan makanan yang banyak, namun An. O hanya menghabiskan beberapa suap nasi saja, dan lebih suka jajan diluar. Penghasilan keluarga sebulan Rp1.000.000,- sangat kurang bila dibandingkan untuk kehidupan sehari-hari dan untuk biaya sekolahanak-anaknya. Puskesmas ada dan jaraknya cukup dekat dengan rumah keluarga Ny. S. Keluarga selalu membawa An. O ke puskesmas bila sakit.

3

Potensi pencegahan

2/3 x 1

2/3

Tn. I mengetahui anaknya mengalami gizi kurang

masalah: Cukup

4

Menonjolnya masalah: Masalah dirasakan berat, harus segera ditangani

2/2 x 1

1

An. O tidak nafsu makan. Tindakan yang dilakukan Tn. I yaitu dengan memberikan makanan kesukaan anaknya bila ada uang. Tapi bila tidak ada uang biasanya Tn. I memberikan makanan tempe orek, telor, dan mie goreng. Saat ditanyakan masalah mengolah makanan, Tn. I selalu membeli lauk matang di warung. Keluarga yaitu Tn. I mengatakan ada masalah gizi kurang pada An. O, sudah mencoba memberikan makanan yang banyak namun An. O tidak selalu habis makannya, dan An. O mau makan bila ada makanan kesukaannya. Tn. I juga mengatakan karena adanya faktor ekonomi yang kurang. Menurut keluarga, masalah harus ditangani dengan memberikan makanan yang bergizi dan seimbang kepada anaknya.

TOTAL SKOR

3 2/3

PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO 1 DIAGNOSA KEPERAWATAN UMUM TUJUAN KHUSUS INTERVENSI KRITERIA EVALUASI STANDART

Resiko terjadinya penularan TB Paru pada anggota keluarga yang lain b.d Ketidakmampuan keluarga merawat

Setelah a. Setelah kunjungan 1. dilakukan selama 1x30 menit tindakan keluarga Ny.S dan keperawatan Tn. I mampu selama 2 mengenal masalah 2. minggu dengan menyebutkan diharapkan pengertian, tanda &

Menjelaskan pengertian dan gejala serta penyebab dari penyakit TB Paru Tanyakan kembali tentang pengertian, tanda dan gejala serta penyebab

Respon verbal1. dari keluarga dengan menyebutkan tentang 2. pengertian, penyakit TB

Keluarga mampu menyebutkan TB Paru adalah suatu penyakit yang menular. Tanda dan gejalanya adalah batuk terusmenerus dan berdahak,

anggota keluarga yang sakit

pengetahuan keluarga Ny. S bertambah/ teratasi

gejala, serta penyebab dari TB Paru

dan akibat dari penyakit TB Paru 3. Berikan pujian yang positif/jawaban yang tepat

Paru, tanda dan gejala serta penyebabnya

sesak nafas, keluar keringat dingin pada malam hari, berat badan menurun. 3. Keluarga menyebutkan penyebab T B paru adalah: kuman mikrobakteri tuberkulosa

b. Setelah diberikan penjelasan 1x30¶ keluarga: mengambil keputusan untuk mengatasi masalah TB Paru

1.Jelaskan pada keluarga Ny. S akibat dari penyakit TB Paru 2.Motivasi keluarga untuk mengambil keputusan 3.Tanyakan kembali pada keluarga akibat dari penyebab TB Paru 4.Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya

Respon verbal keluarga mampu menjelaskan kembali akibat TB Paru dan mengambil keputusan untuk mengatasai TB Paru

1.Keluarga dapat menyebutkan akibat dari tidak minum obat secara teratur maka kumankuman TB akan kebal didalam tubuh, maka penyakit akan sulit disembuhkan

1.Menjelaskan cara perawatan TB Paru c. Setelah 1x30¶ diberikan penjelasan, keluarga mampu melakukan tindakan untuk merawat anggota keluarga yang menderita penyakit TB 2. Berikan contoh menu makanan yang bergizi 3.Tanyakan kembali tentang cara merawat TB Paru dan menu yang bergizi

Respon verbal keluarga mampu menjelaskan cara perawatan TB Paru

1.Keluarga mampu menyebutkan cara perawatan penyakit TB Paru adalah: Minum obat teratur, makan-makanan yang bergizi, istirahat cukup, menjaga kebersihan lingkungan

Parudengan menjelaskan cara perawatan dan melaksanakannya pada penderita TB Paru d. Setelah 3x60¶ kunjungan keluarga Ny. S memodifikasi lingkungan untuk mencegah terjadinya penularan dengan cara menyebutkan lingkunganlingkungan yang baik bagi penderita TB Paru

4.Diskusikan tentang pentingnya perawatan di rumah Respon verbal keluarga dapat menjelaskan lingkungan yang dapat mendukung penyembuhan penyakit TB Paru 1.Keluarga dapat menyebutkan cara memodifikasi lingkungan yang dapat mendukung penyembuhan penyakit TB Paru adalah pencahayaan ruangan yang cukup 2.Ventilasi rumah yang cukup 3.Jendela rajin dibuka agar sinar matahari bisa masuk kedalam rumah 4.Menjemur kasur, bantal, minimal 1 minggu sekali 5.Tidak membuang dahak sembarangan tempat, tapi gunakan kaleng yang didalamnya di isi cairan desinfektan seperti tysol, air sabun, bayclin, agar kuman TB dapat mati

1.Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang lingkungan rumah yang baik 2. Memodifikasi keluarga untuk mengungkapkan kembali lingkungan 3.Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas sesuai kemampuan

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

UMUM

TUJUAN KHUSUS

INTERVENSI KRITERIA

EVALUASI STANDART

2

Tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada keluarga Ny. Khususnya Tn. I b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah penyakit TB Paru

Setelah a. Setelah dilakukan dilakukan pertemuan 1x45¶, tindakan keluarga mampu keperawatan mengenal masalah selama 2 TB Paru dengan cara minggu menyebutkan diharapkan pengertian, jalan nafas penyebab, tanda dan Tn. I efektif gejala TB Paru

1.Jelaskan pengertian, tanda dan gejala, serta penyebab dari penyakit TB Paru 2.Tanyakan kembali tentang pengertian, tanda dan gejala, serta penyebab dari penyakit TB Paru 3.Berikan reinforcement positif atas kemampuan keluarga 1.Jelaskan pada keluarga Tn. I akibat dari penyakit TB Paru 2.Tanyakan kembali pada keluarga akibat TB Paru 3.Motivasi keliuarga untuk mengambil keputusan dalam mengatasi TB Paru Tn. I 4.Berikan reinforcement positif atas keputusan yang diambil keluarga dalam mengatasi TB Paru 1.Jelaskan cara perawatan, pencegahan penyakit TB Paru 2.Ajarkan klien cara batuk efektif dan membuang dahak yang benar 3.Tanyakan kembali cara perawatan, pencegahan penyakit TB Paru 4.Anjurkan keluarga mempraktekkan kembali

Respon verbal dari keluarga terkait pengertian, penyebab, tanda dan gejala TB Paru

b. Setelah dilakukan pertemuan 1x45¶ keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi maslaah TB Paru dengan cara menyebutkan akibat dari TB Paru dan memutuskan untuk merawat Tn. I dengan TB Paru

Respon verbal dan sikap dari keluarga tentang akibat TB Paru dan keputusan keluarga untuk mengatasi TB Paru

TB Paru adalah suatu penyakit yang menular yang dapat menyerang siapa saja yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosae, tanda dan gejalanya adalah batukbatuk terus menerus selama kurang lebih 3 minggu dan berdahak, sesak nafas, keluar keringat dingin pada malam hari, dan berat badan menurun. Akibat dari TB Paru adalah tuberkulosis meningen, pnemonia tuberkulosis, dan kematian. Keluarga memutuskan untuk mengatasi dan merawat TB Paru Tn. I

c. Setelah dilakukan pertemuan 2x45¶ keluarga mampu melakukan perawatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit TB Paru dengan cara menjelaskan cara perawatan dan pencegahan penularan TB Paru,

Respon verbal, sikap, dan psikomotor keluarga tentang cara perawatan TB Paru dan pencegahan penularan TB Paru

Cara perawatan penyakit TB Paru adalah minum obat secara teratur, makan makanan yang bergizi, istirahat cukup, menjaga kebersihan lingkungan. Cara pencegahan penularan TB Paru dengan

mendemonstrasikan cara batuk efektif dan pembuangan dahak pada pasien TB Paru

cara batuk efektif dan membuang dahak ke tempatnya 5.Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai Respon verbal, sikap dan psikomotor keluarga tentang lingkungan yang dapat mendukung penyembuhan penyakit TB Paru

d. Setelah dilakukan pertemuan 1x45¶ keluarga mampu memodifikasi lingkungan untuk mencegah terjadinya penularan dengan cara menyebutkan lingkunganlingkungan yang baik bagi pasien penyakit TB Paru

1.Diskusikan hal-hal yang dapat dilakukan untuk memodifikasi lingkungan 2.Motivasi keluarga untuk mengungkapkan kembali cara memodifikasi lingkungan 3.Berikan reinforcement positif atas hasil yang telah dicapai

memisahkan perlengkapan makan anggota keluarga dengan pasien, menutup mulut saat bersin dan batuk, serta membuang dahak pada tempatnya. Proses batuk efektif: tarik nafas dalam melalui hidung dan hembuskan seperti meniup balon sebanyak 3x dan waktu yang ketiga batukkan lalu buang dahak ke tempat yang berisi lysol lalu tutup. Cara memodifikasi lingkungan yang dapat mendukung penyembuhan penyakit TB Paru adalah pencahayaan ruangan yang cukup, ventilasi rumah yang cukup, jendela dibuka agar sinar matahari bisa masuk kedalam rumah, menjemur kasur, bantal minimal 1minggu sekali dijemur, tidak membuang dahak sembarangan tempat, tapi gunakan kaleng yang didalamnya sudah diisi cairan desinfektan seperti lysol, air sabun, bayclean, agar kuman TB Paru dapat mati. Manfaatkan kunjungan ke pelayanan kesehatan adalah untuk memperoleh

e. Setelah dilakukan pertemuan 1x45¶ keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia dengan cara menyebutkan manfaat kunjungan ke pelayanan kesehatan, menyebutkan jenisjenis pelayanan

1.Diskusikan dengan keluarga tentang manfaat kunjungan ke pelayanan kesehatan

Respon verbal, sikap, dan psikomotor keluarga tentang manfaat pelayanan kesehatan dan penggunaan pelayanan kesehatan

kesehatan yang tersedia dam memanfaatkan fasilitas kesehatan

informasi dan pengobatan, jenis pelayanan kesehatan adalah untuk memperoleh informasi dan pengobatan, jenis pelayanan kesehatan: Puskesmas, bidan praktek, klinik swasta, posyandu, keluarga berkunjung ke pelayanan kesehatan (Puskesmas).

NO 3

DIAGNOSA KEPERAWATAN Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada keluargaNy. S khususnya An.O b.d

TUJUAN UMUM KHUSUS Setelah a. Setelah dilakukan dilakukan pertemuan 1x45¶, tindakan keluarga mampu keperawatan mengenal masalah keluarga dan mampu

INTERVENSI 1.Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, serta penyebab dari gizi kurang 2. Menanyakan kembali

EVALUASI KRITERIA STANDART Respon verbal a. Gizi kurang adalah dari keluarga kurangnya energi/ tenaga Ny. S dengan dan protein dikarenakan menyebutkan sehari-harinya kurangnya pengertian, pemasukkan makan/

Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah gizi kurang

selama 2 minggu kunjungan, diharapkan keluarga Ny. S mampu merawat anggota keluarga dengan gizi kurang

mengambil keputusan untuk merawat An. O denga gizi kurang dengan menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala, serta akibat gizi kurang

tentang pengertian, tanda dan gejala, akibat serta penyebab dari gizi kurang 3.Motivasi keluarga Ny. S agar menyampaikan apakah kondisi anak dengan gizi kurang berbahaya atau tidak 4.Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga dan berikan jawaban yang tepat

penyebab, tanda dan gejala, serta akibat daro gizi kurang pada An. O

b. Setelah diberikan

1.Menyebutkan jenis sumber gizi

minum yang berisi tenaga dan protein b. Tanda dan gejalanya adalah berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya normal. Dan terdapat 2 jenis gizi kurang yang terdiri dari: 1. Marasmus (Kurangnya energi, protein cukup), Cirinya: anaka sangat kurus, wajah sperti orang tua, perut cekung, kulit keriput, jaringan lemak sangat sedikit, cengeng, rewel. 2. Kwasiorkor (Kurangnya protein dan energi yang cukup) Cirinya: seluruh tubuh bengkak terutama di kaki, wajah membuat sembab, rambut kusam, mudah dicabut, dan mata sayu. c. Penyebab dari gizi kurang adalah makanan kurang bergizi dalam waktu lama, anak sering sakit, kebiasaan makan anak yang salah d. Akibat dari gizi kurang adalah badan kurus, tubuh kecil dan pendek, anak musah sakit, perkembangan anak lambat, kulit mudah radang dan luka, hati bengkak. a) Sumber zat gizi pada Respon verbal makanan yaitu: dari keluarga

penjelasan 1x45 menit, keluarga mampu merawat An. O dengan gizi kurang dengan cara: Menyebutkan jenis sumber gizi, menunjukkan contoh sumber gizi, menjelaskan contoh menu, gizi seimbang untuk tumbuh kembang anak, dan cara mengolah makanan dengan benar

2.Menunjukkan contoh sumber gizi 3.Menjelaskan contoh menu gizi seimbang untuk tumbuh kembang anak 4.Menjelaskan cara mengolah makanan dengan benar 5.Memberikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6.Beri reinforcement positif atas usaha keluarga Ny. S

Ny. S tentang - Sumber tenaga untuk cara perawatan melakukan kegiatan anak gizi seperti bermain, dll: Nasi, kurang kentang, ubi, roti, tepungtepungan. - Sumber pembangun tubuh untuk membuat selsel baru seperti kulit baru, dll. Susu, ikan, tahu, tempe, hati,dan telur. - Sumber pengatur tubuh untuk keseimbangan vitamin dan mineral: Sayuran berwarna hijau (bayam), sayuran berwarna orange (wortel). b) Contoh makanan sumber zat gizi terdiri dari: 1.Protein - Protein lemak: daging, ikan, telur - Protein Nabati: kedelai, kacang hijau. 2.Lemak Dapat diperoleh dari: Nasi, mie, sereal, singkong. 3.Karbohidrat Susu, mentega, minyak, keju. 4.Vitamin Buah-buahan dan sayursayuran c) Menjelaskan contoh menu gizi seimbang untuk tumbuh kembang Makan Pagi: Roti 1 lembar dengan selai buah, susu full

c. Setelah 1x45 menit diberikan penjelasan, keluarga mampu makan memodifikasi lingkungan yang dapat meningkatkan selera makan An.O dengan cara menyebutkan apa yang harus diperhatikan dalam memberi makanan pada anak dengan gizi kurang

1.Diskusikan dengan keluarga Ny.S cara menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan selera makan. 2.Motivasi keluarga Ny.S untuk mengulangi penjelasan yang diberikan. 3.Observasi lingkungan rumah dan lingkungan yang dapat meningkatkan selera makan pada kunjungan tidak terencana. 4.Diskusikan dengan keluarga Ny.S hal yang positif yang sudah

cream, selingan pagi biskuit 2 keping. Makan Siang: Nasi 100 gram (6 sendok makan), sup ayam, perkedel kentang, air jeruk 100 ml ½ gelas. Selingan sore sari kacang hijau 1 gelas atau puding, buskuit. Makan Malam: Nasi 100 gram (6 sendok makan), sup jagung 1 mangkuk sedang, rolade ayam, kacang polong 3 buah, buah pepaya 100 gram, sebelum tidur susu full cream 200 ml. d) Cara mengolah makanan dengan benar: Sayuran: dicuci dahulu Respon verbal baru dipotong keluarga Ny.S Buah: Dicuci dahulu baru tentang cara dimakan. menyebutkan apa yang harus diperhatikan dalam memberi makanan pada anak dengan gizi kurang dan respon psikomotor keluarga Ny.S dalam memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan selera makan. 1.Beri kesempatan An.O untuk belajar makan sendiri. 2.Berikan jenis makanan yang disukai oleh anak. 3.Berikan makanan pada saat masih hangat dengan porsi kecil tapi sering. 4.Diskusikan tentang pentingnya perawatan di rumah.

dilakukan. 5.Beri reinforcement positif atas usaha keluarga Ny.S. d. Setelah 1x 45¶ kunjungan, keluarga Ny.S mampu mengungkapkan fasilitas kesehatan dengan cara menyebutkan kembali manfaat kunjungan ke fasilitas kesehatan dan dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan dalam merawat An.O yang mengalami gizi kurang 1.Diskusikan dengan keluarga Ny.S tentang jenis pelayanan kesehatan yang dapat dipergunakan. 2.Diskusikan bersama keluarga Ny.S tentang manfaat kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan. 3.Memotivasi keluarga Ny.S untuk membawa An.O ke pelayanan kesehatan. 4.Beri reinforcement positif atas usaha keluarga Ny.S.

Respon verbal keluarga Ny.S tentang manfaat dan kunjungan ke fasilitas kesehatan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan.

a.Fasilitas kesehatan yang dapat digunakan keluarga Ny.S yaitu posyandu, puskesmas, bidan, atau dokter praktek. b.Manfaat kunjungan ke fasilitas kesehatan yaitu mendapatkan pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan gizi kurang.

TUGAS KEPERAWATAN GERONTOLOGI ³DEMENSIA PADA LANSIA´ Di Bimbing Oleh: Ervandy, S. Kep.Ns Disusun Oleh: Nama :miswaroh Tingkat :IIIA NIM:0704032

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PROGRAM DIII KEPERAWATAN KABUPATEN MALANG Tahun Akademik 2009-2010 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Demensia Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku. Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal.Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia, namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi. Epidemiologi Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 ± 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 ±1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 ± 15% atau sekitar 3 ± 4 juta orang.

Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 ± 60 % dan 30 ± 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer. Klasifikasi
y

Menurut Umur:

1. Demensia senilis (>65th) 2. Demensia prasenilis (<65th)
y

Menurut perjalanan penyakit:

1. Reversibel 2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
y

Menurut kerusakan struktur otak Tipe Alzheimer

1. Tipe non-Alzheimer 2. Demensia vaskular 3. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia) 4. Demensia Lobus frontal-temporal 5. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS) 6. Morbus Parkinson 7. Morbus Huntington 8. Morbus Pick 9. Morbus Jakob-Creutzfeldt 10. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker 11. Prion disease 12. Palsi Supranuklear progresif 13. Multiple sklerosis 14. Neurosifilis

15. Tipe campuran
y

Menurut sifat klinis:

1. Demensia proprius 2. Pseudo-demensia Etiologi Demensia Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir. Gejala Klinis Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe Alzheimer dan Vaskuler. 1. Demensia Alzheimer Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Wahan (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor, berkelana.

Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :
y

Stadium I

Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. ³Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami
y

Stadium II

Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain,
y y y y y

Disorientasi gangguan bahasa (afasia) penderita mudah bingung penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi. Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 1520%,´

.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara lain:
y y y y y y

Penderita menjadi vegetatif tidak bergerak dan membisu daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain kematian terjadi akibat infeksi atau trauma

2. Demensia Vaskuler Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. ³Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,´. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler

daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler. Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya: 1. Kelainan sebagai penyebab Demensia :
y y y y y y y y y y y

penyakit degenaratif penyakit serebrovaskuler keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO trauma otak infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis) Hidrosefaulus normotensif Tumor primer atau metastasis Autoimun, vaskulitif Multiple sclerosis Toksik kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease

2. Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi 1. Gangguan psiatrik :
y y y

Depresi Anxietas Psikosis

2. Obat-obatan :
y y y

Psikofarmaka Antiaritmia Antihipertensi

3. Antikonvulsan
y

Digitalis

4. Gangguan nutrisi :
y y y y

Defisiensi B6 (Pelagra) Defisiensi B12 Defisiensi asam folat Marchiava-bignami disease

5. Gangguan metabolisme :
y y y y y y y y y y y

Hiper/hipotiroidi Hiperkalsemia Hiper/hiponatremia Hiopoglikemia Hiperlipidemia Hipercapnia Gagal ginjal Sindromk Cushing Addison¶s disesse Hippotituitaria Efek remote penyakit kanker

Tanda dan Gejala Demensia Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.

Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka. Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan. Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium. Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb: 1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, ³lupa´ menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. 2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada 3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali

4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul. 5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah Diagnosis Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:
y y y y y y y y

Pembedaan antara delirium dan demensia Bagian otak yang terkena Penyebab yang potensial reversibel Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah) Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC Pencitraan otak amat penting CT atau MRI

Peran Keluarga Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia. Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia. Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia.

Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia. Tingkah Laku Lansia Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman. Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali. Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya begitu saja. Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau mungkin mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi atau menggunakan pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas. Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat yang tidak diketahui oleh Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu dan jendela untuk menghindari Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan keluarga yang merawat Lansia dengan demensia di rumahnya. Pencegahan & Perawatan Demensia Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti : 1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan 2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari. 3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif

Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi 4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.
o o

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk indonesia mengalami demensia dengan berbagai penyebab, yang salah satu diantaranya adalah alzeimer. Berdasarkan hasil pengkajian pada daerah paska bencana alam tsunami ternyata ditemukan kasus lansia dengan alzeimer. Pengkajian Demensia adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, diperoleh data bahwa demensia sering terjadi pada usia lanjut yang telah berumur di atas 60 tahun. Sampai saat ini diperkirakan sekitar 500.000 penderita demensia di indonesia. Tanda dan Gejala 1. Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari 2. Pelupa 3. Sering mengulang kata-kata 4. Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan 5. Cepat marah dan sulit di atur. 6. Kehilangan daya ingat 7. kesulitan belajar dan mengingat informasi baru 8. kurang konsentrasi 9. kurang kebersihan diri 10. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh 11. Mudah terangsang 12. Tremor 13. Kurang koordinasi gerakan.

Cara melakukan pengkajian 1. Membina hubunga saling percaya dengan klien lansia Untuk melakukan pengkajian pada lansia dengan demensia, pertama-tama saudara harus membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia. Untuk dapat membina hubungan saling percaya, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai dengan konteks agama pasien. 2. Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara, termasuk menyampaikan bahwa saudara adalah perawat yang akan merawat pasien. 3. Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya. 4. Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan dilakukan. 5. Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas tersebut. 6. Bersikap empati dengan cara: o Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan menunjukkan perhatian o Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk berpikir dan menjawab o Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik o Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gunakan kalimat yang singkat, jelas, sederhana dan mudah dimengerti (hindari penggunaan kata atau kalimat jargon) Bicara lambat , ucapkan kata atau kalimat yang jelas dan jika betranya tunggu respon pasien Tanya satu pertanyaan setiap kali bertanya dan ulang pertanyaan dengan kata-kata yang sama. Volume suara ditingkatkan jika ada gangguan pendengaran, jika volume ditingkatkan, nada harus direndahkan. Sikap komunikasi verbal disertai dengan non verbal yang baik Sikap berkomunikasi harus berhadapan, pertahankan kontak mata, relaks dan terbuka Ciptakan lingkungan yang terapeutik pada saat berkomunikasi dengan klien: ‡ Tidak berisik atau ribut ‡ Ruangan nyaman, cahaya dan ventilasi cukup ‡ Jarak disesuaikan, untuk meminalkan gangguan.

Mengkaji pasien lansia dengan demensia Untuk mengkaji pasien lansia dengan demensia, saudara dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi yang saudara lakukan terutama untuk mengkaji data objective demensia. Ketika mengobservasi prilaku pasien untuk tanda-tanda seperti:
y y y y y y y y

Kurang konsentrasi Kurang kebersihan diri Rentan terhadap kecelakaan: jatuh Tidak mengenal waktu, tempat dan orang Tremor Kurang kordinasi gerak Aktiftas terbatas Sering mengulang kata-kata.

Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat : apakah lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau tidak sesuai. Bila data tersebut saudara peroleh, data subjective didapatkan melalui wawancara: Diagnosa Keperawatan Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian, maka ditetapkan diagnosa keperawatan: 1. Gangguan Proses Pikir 2. Risiko Cedera: jatuh Tindakan Keperawatan Diagnosa I ³Lansia depresi dengan gangguan proses pikir; pikun/pelupa.´
y

Tindakan keperawatan untuk pasien: Tujuan agar pasien mampu: a. Mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan temapat b. Meklakukan aktiftas sehari-hari secara optimal. Tindakan

y

1. Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya tempat tidur, lemari, pakaian dll. 2. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar. 3. Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat 4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada. 5. Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar. 6. Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari 7. Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya. 8. Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya 9. Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya. 10. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya. 11. Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tindakan untuk keluarga Tujuan Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat Menyediakan saran yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.

y y y

Tindakan 1. 2. 3. 4. 5. Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat pada pasien Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan terhadap kemampauan yang masih dimiliki oleh pasien 6. Anjurkan keluarga untuk memantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki 7. Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. 8. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki pasien 9. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki 10. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

Diagnosa II ³Lansia demensia dengan risiko cedera´
y

Tindakan pada pasien.

Tujuan 1. Pasien terhindar dari cedera 2. Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera. Tindakan 1. Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang sederhana 2. Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak minta tolong 3. Berikan pujian terhadap kemampuan pasien menyebutkan cara-cara mencegah cedera. Tindakan untuk keluarga Tujuan: Keluarga mampu: 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien 2. Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera Tindakan 1. Diskusikan dengan keluarga faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien 2. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman seperti: lantai rumah tidak licin, jauhkan benda-benda tajam dari jangkauan pasien, berikan penerangan yang cukup, lampu tetap menyala di siang hari, beri alat pegangan dan awasi jika pasien merokok, tutup steker dan alat listrik lainnya dengan plester, hindarkan alat-alat listrik lainnya dari jangkauan klien, sediakan tempat tidur yang rendah 3. Menganjurkan keluarga agar selalu menemani pasien di rumah serta memantau aktivitas harian yang dilakukan Evaluasi

Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang saudara lakukan, dapat dilakukan dengan menilai kemampuan klien dan keluarga: 1. Gangguan proses pikir: bingung Kemampuan pasien: 1. 2. 3. 4. 5. Mampu menyebutkan hari, tanggal dan tahun sekarang dengan benar Mampu menyebutkan nama orang yang dikenal Mampu menyebutkan tempat dimana pasien berada saat ini Mampu melakukan kegiatan harian sesuai jadual Mampu mengungkapkan perasaannya setelah melakukan kegiatan

Kemampuan keluarga 1. 2. 3. 4. Mampu membantu pasien mengenal waktu temapt dan orang Menyediakan kalender yang mempunyai lembaran perhari dengan tulisan besar dan jam besar Membantu pasien melaksanakan kegiatan harian sesuai jadual yang telah dibuat Memberikan pujian setiap kali pasien mampu melaksanakan kegiatan harian

2.Risiko cedera Kemampuan pasien: 1. Menyebutkan dengan bahasa sederhana faktor-faktor yang menimbulkan cedera 2. Menggunakan cara yang tepat untuk mencegah cedera 3. Mengontrol aktivitas sesuai kemampuan Kemampuan keluarga 1. 2. 3. 4. Keluarga dapat mengungkapkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan cedera pada pasien Menyediakan pengaman di dalam rumah Menjauhkan alat-alat listrik dari jangkauan pasien Selalu menemani pasien di rumah

5. Memantau kegiatan harian yang dilakukan pasien DAFTAR PUSTAKA Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999 Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002 Askep gastritis akperppnisolo ASKEP GASTRITIS. Pengertian adalah Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan erosi. Erosif karena perlukaan hanya pada bagian mukosa. bentuk berat dari gastritis ini adalah gastritis erosive atau gastritis hemoragik. Perdarahan mukosa lambung dalam berbagai derajad dan terjadi erosi yang berarti hilangnya kontinuitas mukosa lambung pada beberapa tempat. Etiologi 1.Obat analgetik anti inflamasi, terutama aspirin. 2.Bahan-bahan kimia 3.Merokok 4.Alkohol 5.Stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat .6.Refluks usus ke lambung. 7.Endotoksin.PatogenesisSeluruh mekanisme yang menimbulkan gastritis erosif karena keadaan-keadaan klinis yang berat belum diketahui benar. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan rusaknya mukosa lambung adalah : a) kerusakan mukosa barrier sehingga difusi balik ion H+ meninggi, b) perfusi mukosa lambung yang terganggu, c) jumlah asam lambung. Faktor ini saling berhubungan, misalnya stres fisik yang dapat menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerah-daerah infark kecil. Di samping itu, sekresi asam lambung juga terpacu. Pada gastritis refluks, gastritis karena bahan kimia,

obat, mukosa barrier rusak, menyebabkan difusi balik ion H+ meninggi. Suasana asam yang terdapat pada lumen lambung akan mempercepat kerusakan mukosa barrier oleh cairan usus. Manifestasi KlinisGambaran klinis gastritis akut erosif sangat bervariasi, mulai dari yang sangat ringan asimptomatik sampai sangat berat yang dapat membawa kematian. Manifestasi tersebut adalah: 1.Muntah darah 2 Nyeri epigastrium 3.Neusa dan rasa ingin vomitus 4.Nyeri tekan yang ringan pada epigastrium Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan, kecuali mereka yang mengalami perdarahan hebat hingga menimbulkan gangguan hemodinamik yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardi sampai gangguan kesadaran. Pemeriksaan Diagnostik 1.Endoskopi, khususnya gastroduodenoskopi. Hasil pemeriksaan akan ditemukan gambaran mukosa sembab, merah, mudah berdarah atau terdapat perdarahan spontan, erosi mukosa yang bervariasi .2.Histopatologi. 3.Radiologi dengan kontras ganda, meskipun kadang dilakukan tapi tidak begitu memberikan hasil yang memuaskan. PengobatanPengobatan lebih ditujukan pada pencegahan terhadap setiap apsien yang beresiko tinggi, hal yang dapat dilakukan adalah ; 1.Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi. 2.Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai. 3.Pemberian obat-obat H+ blocking, antasid atau obat-obat ulkus lambung yang lain.Dahulu sering dilakukan kuras lambung menggunakan air es untuk menghentikan perdarahan saluran cerna atas, tapi tak ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa tindakan tersebut memberikan manfaat dalam menghentikan perdarahan saluran cerna atas. Proses Keperawatan Gastritis Akut DiagnosisKeperawatan 1.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan

laksantif, dan atau penyimpangan persepsi dengan tubuh. 2.Resiko tinggi kekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan dengan diet. 3.Gangguan gambaran tubuh yang berhubungan dengan persepsi yang tidak akurat tentang dir i4.Kebutuhan koping individu yang berhubungan dengan perasaan hilangk kontrol rasa takut dengan bertambah besar dan/atau respons pribadi terhadap disfungsi keluarga. 5.Ketidakefektifan koping keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan dan untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga. 6.Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan kurangnya keterampilan koping Intervensi/Implementasi Keperawatan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laksantif, dan atau penyimpangan persepsi dengan tubuh. 1.Izinkan klien memilih makanan (makanan rendah kalori tidak diperbolehkan) 2.Buat struktur waktu makan dengan batasan waktu (misalnya 40 menit) 3.Hilangkan distraksi (misalnya pembicaraan, menonton televisi) selama waktu makan 4.Sebutkan waktu untuk makan, menghidangkan makanan, dan batas waktu makan; informasikan pada klien bahwa bila makanan tidak dimakan selama waktu yang telah disediakan, akan dibuat penggantian metode pemberian makanan yang lain. 5.Bila makanan tidak dimakan, lakukan pemberian makan melalui selang, NGT sesuai pesan an dalam keadaan seperti ini jangan berikan penawaran pada klien. 6.Lakukan metode pemberian makan pengganti setiap kali klien menolak untuk makan per oral. 7.Jauhkan perhatian selama makan bila klien menolak untuk makan. 8.Jangan biarkan klien ³mengemut´ makanan. 9.Kurangi perhatian saat makan Terapi Modifikasi Perilaku 1.Klien mencapai peningkatan berat badan setiap hari karena adanya keinginan dari klien. 2.Perpisahan dari keluarga selama beberapa waktu akan sangat membantu. 3. Beralih pada aktivitas yang menyenangkan. 4. Intervensi keperawatan pembatasan bersifat teknis. 5. Isolasi sosial. 6. Komunikasi yang bermanfaat. 7. Berikan penghargaan pada klien hanya bila ia mengalami kenaikan berat badan. 8. Tindakan konsisten harus dipertahankan.

9. Setiap anggota staf harus mempunyai laporan akhir per shift tentang suatu keputusan 10.Cegah manipulasi staf dengan ceria.Pencegahan manipulasi staf dengan cerita, melalui membuat dan pertahankan batasan yang ketat, dan diskusikan tentang batasan dan konsekuensinya, bila melanggar batasan tersebut dengan cara yang tidak menghukum, rujuk pada perilaku manipulatif. 11. Ukur berat badanUkur BB dengan akurat; a) timbang klien setiap hari sebelum makan pagi, b) timbang klien hanya dengan gaun, cegah untuk menyembunyikan sesuatu yang berat pada tubuh, c) tetapkan perilaku yang dapat diterima bila mencapai berat badan yang telah ditetapkan, d) dorongan perawatan bertanggung jawab untuk peningkatan berat badan. Kriteria Evaluasi1. Klien mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan nutrisi. 2. Menerima masukan kalori adekuat untuk mempertahankan berat badan normal. 3. Mengikuti kembali pola makan yang normal. Resiko tinggi terjadikekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan dengan diet. 1. Pantau masukan dan haluan; simpan catatan di kantor perawat, dan observasi dengan sesederhana mungkin. 2. Pantau pemberian cairan dengan elektrolit /NPT sesuai pesanan; temani klien ketika mandi untuk mencegah pengosongan cairan intravena. 3. Pantau tanda vital sesuai kebutuhan .Kriteria Evaluasi 1. Klien menunjukkan hidrasi diperlukan secara adekuat. 2. Keseimbangan antara masukan dan haluaran.Gangguan gambaran tubuh yang berhubungan dengan persepsi yang tidak akurat tentang diri 1. Berikan hubungan positif dan penghargaan pada sesuatu yang dilakukan dengan baik oleh klien. 2. Kembangkan pengalaman yang berhasil 3. Mulailah melakukan dengan tugas-tugas yang mudah. 4. Fokuskan pada hal-hal yang positif. 5. Berikan dorongan pada klien untuk mengungkapkan pikirannya 6. Anjurkan klien untuk menguraikan tentang gambaran dirinya dan membicarakan perasaan tentang diri. 7. Anjurkan higiene yang baik dan berpakaian 8. Berikan respons secara faktual dan konsisten terhadap pertanyaan klien mengenai diet dan nutrisi Kriteria Evaluasi

1. Klien mengungkapkan pikiran positif tentang diri sendiri. 2. Mulai menerima diri sebagai orang yang kurus Kebutuhan koping individu yang berhubungan dengan perasaan hilangk kontrol rasa takut dengan bertambah besar dan/atau respons pribadi terhadap disfungsi keluarga. 1. Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan 2. Observasi dan catat respons terhadap stres. 3. Ajukan untuk datang bila stres .4. Hindarkan menarik perhatian Anda dari ritual atau emosional klien yang behubungan dengan makan, makanan, dan sebagainya. 5.Dukung upaya klien pada penentuan diri, khususnya bila dengan keluarga .6. Tingkatkan tehnik reduksi stres. 7. Berikan dorongan pada orang terdekat. Kriteria Evaluasi 1. Klien mulai menunjukkan ketrampilan koping positif .2. Mempertahankan berat badan selama periode stres. 3. Mencapai dukungan dan sumber-sumber yang tepat. Ketidakefektifan koping keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan dan untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga 1. Berikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengatakan pikiran, persepsi, dan perasaan. 2. Tunjukkan area yang tidak disetujui oleh klien dan anggota keluarga.Tentukan persepsi setiap anggota keluarga tentang apa yang telah dikatakan orang lain untuk memberikan penekanan keterampilan mendengar.Tekankan pada klien dan anggota keluarga tentang pentingnya menggunakan kata ³Saya´ dan menerima tanggung jawab untuk diri dengan kehadiran anggota keluarga, jasilah penasehat bagi klien dan berupaya menjadi pendukung pada penentuan diri. 3. Arahkan kembali pada kontrol konflik antara klien dan arang tua/orang terdekat terhadap makanan dan terhadap isu-isu yang berhubungan dengan jam malam, aktivitas sekolah, kepuasan kerja, dan, seterusnya. 4. Rujuk keluarga pada perawatan psikiatri yang berkelanjutan .Kriteria Evaluasi 1. Klien mulai mengenal kebutuhan orang lain. 2. Mengidentifikasi area di mana kebutuhan serta harapan tidak terpenuhi.

3. Memberikan respons yang tepat terhadap dukungan yang diberikan .4. Mencari bantuan bila diperlukan. Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan kurangnya keterampilan koping 1. Berikan penekanan panduan nutrisi dan bagaimana cara mengatasi diet ketika jauh dari rumah. 2. Diskusikan dengan klien pentingnya pengkajian ulang kebutuhan kalori setiap 2 sampai 4 minggu. 3. Berikan dorongan penggunaan teknik penatalaksanaan stres. 4. Tingkatkan peogram latihan yang teratur. 5. Berikan dorongan kunjungan perawatan tindak lanjut dengan dokter dan konselor. Kriteria Evaluasi 1.Klien mengungkapkan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan berat badan yang normal. 2.Klien mencari sumber konseling untuk membantu mengadakan perubahan. 3. Klien berusaha mempertahankan berat badan. Sumber :Smeltzer & Bare (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGCDoengoes. (2000). Rencana Asuhan Keperawaan, Jakarta: EGC

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->