METODE PENELITIAN A. Identifikasi dan Definisi Konseptual Variabel 1. Identifikasi variabel a.

Variabel bebas atau “independent variable” merupakan variabel yang dapat mempengaruhi variabel terikat “dependent variable”. Adapun yang merupakan variabel-variabel bebas “independent variable (X)” yang terdiri dari: (X1) Inflasi (X2) Tingkat bunga SBI, (X3) Nilai Kurs Valuta 2) Variabel terikat atau “dependent variable” yaitu merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah:Indeks Harga Saham Gabungan (Y). 2. Definisi konseptual variabel a. Variabel bebas 1) (X1) Inflasi Menurut Manullang, (2000:83): “Inflasi adalah suatu keadaan dimana terjadi meningkatnya harga-harga pada umumnya, atau suatu keadaan dimana terjadi turunnya nilai uang. 2) (X2) Tingkat bunga Menurut Sunariyah (2000:64-65) berpendapat bahwa: “Tingkat bunga adalah dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu”. 3) (X3) Nilai kurs Valuta Menurut (Choi, 2000:124): “Kurs valuta adalah harga satu unit valuta yang ditunjukkan dalam valuta lain”. b. Variabel Terikat (Y) Indeks Harga Saham Gabungan menurut Sumodiningrat (2001:69): “Indeks harga saham merupakan harga yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu oleh pelaku pasar. Dalam hal ini harga saham diartikan sebagai harga pasar”. B. Definisi Operasional Variabel Adapun variabel yang diteliti yang berhubungan dengan judul dan masalah yang terjadi adalah sebagai berikut:

Populasi dan Sampel 1. 3. D. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pojok Bursa Efek Indonesia yang berlokasi di Universitas Gajah Mada.1. E. dan inflasi. 2. terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam hal ini adalah pada periode 1 Januari 2008 – 31 Desember 2010 dengan amatan per bulan. (X2) Tingkat bunga SBI Tingkat Bunga SBI merupakan tingkat bunga dari surat berharga atas unjuk dalam rupiah dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan hutang berjangka waktu pendek Dalam penelitian ini satuan ukur yang digunakan adalah besarnya tingkat bunga SBI 1 bulan dalam satuan % selama tahun 2008 sampai 2010. C. (X1) Inflasi Keadaan meningkatnya harga-harga atau turunnya nilai uang dengan indikator besaran angka Inflasi per bulan yang diukur dengan satuan persen pada periode 1 Januari 2008 – 31 Desember 2010. (X3) Nilai kurs Valuta Harga satu mata uang dibanding mata uang yang dinilai dengan indikator rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan mata uang tiap bulan yang di ukur dengan perbandingan: Kurs = Kurs Jual + Kurs Beli 2 Yang dihitung dalam satuan rupiah selama tahun 2008 s/d 2010. Ruang lingkup penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengujian pengaruh nilai tingkat bunga SBI. (Y) Indeks Harga Saham Gabungan Indeks Harga Saham Gabungan adalah angka indeks harga saham gabungan yang terjadi dipasar bursa saham dengan indikator harga saham yang dihitung tiap akhir bulan selama tahun 2008 s/d 2010. nilai kurs valuta. dan . nilai tingkat bunga SBI. 4. Lokasi tersebut diplih karena dapat memudahkan dalam pengambilan data. Populasi Populasi ini meliputi data tingkat inflasi.

0 akan dilakukan analisis secara diskriptif dan pembuktian hipotesis. tidak secara langsung memperoleh data dari perusahaan melainkan dengan mendownload data tersebut dari internet. Analisis regresi berganda Berdasarkan permasalahan dan hipotesis yang telah disajikan. H.. dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Dimana : b1.. Sumber data Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data yang diperlukan.. Teknik Analisis Data 1. G. 2. tingkat bunga SBI.nilai kurs dollar AS. F.b3 = Koefisien regresi X1…. Sampel Sampel dari penelitian ini adalah data bulanan selama 3 Tahun mulai 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2010 dari data inflasi. yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui perantara berupa data Indeks harga saham gabungan. tingkat bunga SBI. dan nilai kurs valuta. Sampel yang diambil tersebut dianggap dapat mewakili gambaran tentang keadaan perusahaan publik pada saat ini.. maka teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: y a X1 X2 X3 Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + e = Konstata = Nilai tingkat Inflasi = Nilai Tingkat Suku Bunga SBI = Nilai Kurs Valuta = Indeks Harga Saham Gabungan Dari hasil pengolahan data dengan program SPSS For Windows 15. dan nilai kurs valuta.X3 . Inflasi. Penelitian ini menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan Perusahaan-Perusahaan yang emiten di BEI. dan indeks harga saham gabungan (IHSG) perusahaanperusahaan yang Emisi di Bursa Efek Indonesia.

Uji Multikolineritas Multikolinieritas berarti adanya hubungan linier yang kuat antar variabel bebas yang satu dengan yang lain dalam model regresi.2. maka model regresi tersebut tidak dapat menaksir secara tepat sehingga diperoleh kesimpulan yang salah tentang variabel yang diteliti. Pengujian gejala heterokedastisitas dengan bantuan program SPSS for Windows. b.05 berarti tidak terdapat heterokedastisitas Jika signifikan < α = 0. Model regresi yang baik adalah yang tidak terdapat korelasi linier/hubungan yang kuat antara variabel bebasnya. c. Uji Normalitas . Uji Heterokedastisitas Heterokedastisitas berarti adanya variasi residual yang tidak sama untuk semua pengamatan.05 berarti terdapat heterokedastisitas. dengan mengkorelasikan nilai residual dengan variabel bebas dilihat dari nilai signifikan korelasi rank Spearman. Pengujian gejala multikolinieritas dengan cara mengkorelasikan variabel bebas yang satu dengan variabel bebas yang lain dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows. Jika signifikan > α = 0. Uji Asumsi Klasik Menurut pendapat Algifari (2000:83) mengatakan: “Model regresi yang diperoleh dari metode kuadrat terkecil biasa (ordinary least square/OLS) merupakan model regresi yang menghasilkan estimator linear yang tidak bias yang terbaik (Best Linear Unbias Estimator/BLUE)” Kondisi ini akan terjadi jika dipenuhi beberapa asumsi yang disebut dengan asumsi klasik. Menurut Yarnest (2003:42): Mengukur multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance atau VIF (Variance Inflation Factor) dari masing-masing variabel dari masingmasing variabel. Jika dalam model regresi terdapat gejala multikolinieritas. Adapun uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. atau terdapatnya variasi residual yang semakin besar pada jumlah pengamatan. Jika nilai Toleransi > 0. sehingga variabel tersebut harus dibuang (atau sebaliknya).10 atau VIF < 10 maka terdapat multikolinieritas.

maka H0 diterima dan Ha ditolak Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan. sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat) 2) Fh < Ft. selanjutnya dilakukan pengujian secara parsial melalui uji t.Untuk melihat apakah data yang dianalisis memiliki nilai residual berada disekitar nol (data normal).0 For windows: Untuk menguji normalitas data menggunakan hasil uji Shapiro-Wilks atau Multification Kolomogrov-Smirnov. Menurut Yarnest (2003:49) dengan menggunakan aplikasi SPSS 15. Adapun rumusan hipotesis dengan menggunakan Uji t adalah sebagai berikut: H0 : Ha : b1 = b2 = b3 = 0 bi ≠ 0 .05 apabila hasil perhitungannya menunjukkan: 1) Fh ≥ Ft. Jika nilai K-S < nilai tabel atau nilai 2 tailed p > a berarti data adalah normal. sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat) b. Jika nilai K-S > nilai tabel atau nilai 2 tailed p < a berarti data tidak normal. Uji serempak (Uji F) Untuk menguji kebenaran hipotesis pertama digunakan uji F yaitu untuk menguji keberartian regresi secara keseluruhan dengan rumus hipotesis sebagai berikut: H0 : Ha : b1 = b2 = b3 = 0 bi = minimal satu koefisien ≠ 0 Pengujian dengan uji F variansnya adalah dengan membandingkan Fhitung (Fh) dengan Ftabel (Ft) pada α = 0. Uji F dan Uji t a. 3. maka H0 ditolak dan Ha diterima Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan. Uji Parsial (Uji t) Untuk menguji kebenaran hipotesis kedua langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan koefisien regresi (bi) yang paling besar.

Untuk pengaruh yang dominan ditentukan oleh harga p yang terkecil atau R2 parsial yang terbesar. maka semakin kuat model tersebut dapat menerangkan variabel tergantungnya. Hasil uji t bermakna apabila diperoleh t hitung lebih besar dari ttabel (th > tt) atau diperoleh harga p < 0.05. Jika R2 yang diperoleh dari hasil perhitungan mendekati 1 (satu). Untuk membuktikan hipotesis pertama. Untuk membuktikan hipotesis kedua. Kemudian dilakukan pengujian variansnya dengan uji f. masing-masing koefisien regresinya diuji dengan uji t.Pengujian dilakukan melalui uji t dengan membandingkan thitung (th) dengan t tabel (tt) pada α 0. .05.05. yaitu untuk mengetahui besarnya pengaruh secara keseluruhan dihitung koefisien determinasi multiplenya (R2). Apabila hasil perhitungan menunjukkan: Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh diantara kedua variabel yang diuji 1) th ≥ tt maka H0 ditolak dan Ha diterima 2) th < tt maka H0 diterima dan Ha ditolak Artinya variasi variabel bebas tidak dapat menerangkan variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh antara dua variabel yang diuji. Hipotesis diterima apabila titik lebih besar dari t tabel (fh > ft) atau diperoleh harga p < 0.