MAKALAH

BAYI TABUNG DAN BANK SUSU DALAM PANDANGAN ISLAM

i

DISUSUN OLEH:
MAKIYAH

DOSEN:
Drs.H.MUKHTAR BADRI

SEKOLAH TINGGI ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN TGH.M.ZAENUDDIN ARSYAD (HAMZAR) TAHUN 2011/2012

KATA PENGANTAR I
puja serta puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat karunia-nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan makalah saya yang berjudul bayi tabung dan bank susu terimakasih juga saya ucapkan kepada dosen pembibing saya Drs.H.MUKHTAR BADRI ya telah menjelaskan tentang materi bayi tabung dan bank susu sehingga saya mampu menyelesaikan makalah ini.namun saya menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan ,olem sebab itu saya mohon kritik dan saran untuk memperbaiki makalah ini untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan. Akhirnya harapan saya ,semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga ALLAH SWT memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua dalam menghayati dan mengamalkannya.

Sengkol,01 pebruari 2012 Penyusun

Kelompok

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG RUMUSAN MASALAH TUJUAN BAB II PEMBAHASAN A.BAYI TABUNG DEFINISI BAYI TABUNG PANDANGAN DALAM SYARIAH ISLAM

.

.

dimana Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.BAB I PENDAHULUAN A. . Berdasarkan UU No. diterima dengan baik di sisi Allah dan menghindarkanya dari siksaan neraka dunia dan akhirat. Latar belakang Pendidikan merupakan satu-satunya sarana yang dapat membuat manusia bertahan hidup dengan layak dan terhormat di muka bumi ini. Pendidikan adalah suatu yang universal dan berlangsung tak terputus dari generasi kegenerasi dimanapun didunia ini upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai pandangan hidup dan dalam latar sosial kebudayaan masyarakat tertentu. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan dapat dilihat dari segi jalur pendidikan dalam program serta pengelolaan pendidikan.

pandai bersyukur atas karunia Allah yang sesuai dengan pendidikan akidah akhlak. menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. hidup sederhana. Pembelajaran akidah perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia. ajaran-ajaran seperti ikhlas beramal. dan berkarakter yang diamanatkan oleh Rasulullah SAW yang memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana hidup ini menjadi lebih baik dan bermakna. tanggung jawab. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Akidah atau keimanan merupakan akar atau pokok agama dan akhlak bertitik tolak dari akidah yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari akidah. mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan di Indonesia diharapakan dapat mempersiapakan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan akidah Islam. berbangsa dan bernegara yang berdasarkan akidah Islam perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang akhlak. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. sehat.Undang-undang No. berilmu. memegang amanah. tidak sombong. Mata pelajaran akidah akhlak merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pembentukan akhlak dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi penerus yang baik. khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. kreatif. keimanan dan keyakinan hidup. Berahklak mulia. sabar. cakap. terampil. yang cerdas. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia dalam arti .

bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Salah satu mata pelajaran yang dijadikan sarana implementasi tujuan tersebut adalah melalui mata pelajaran akidah ahklak. Tujuan dari pendidikan akidah akhlak menumbuh kembangkan akidah melaui pemberian. efisien dan mengena pada tujuan yang diharapkan (dalam Roestiyah 1998 : 3) proses belajar mengajar merupakan interaksi sosial yang terjadi antara dua komponen yang berbeda yaitu guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan maka keaktifan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sangat penting untuk diperaktekan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu. terutama dalam rangka mengantisifasi dampak negatif dari era globalisasi yang melanda Bangsa dan Negara Indonesia. pengamalan. bermasyarakat dan berbangsa. Setiap guru mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan tugasnya sebagai pengajar. Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. pemupukan. . Strategi guru yang baik dalam mengajar berguna secara efektif. dan pengembangan. Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari ahlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik individu atau sosial. sesama manusia dan makhluk lainya. penghayatan. Upaya realisasi tujuan pendidikan nasional seperti dikemukakan di atas diimplementasikan dalam berbagai kurikulum mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. pembiasaan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kapasitas mengajar guru dan disiplin ilmu yang diajarkan. pengetahuan.

yaitu lebih banyak mempergunakan metode ceramah sehingga mengakibatkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah karena cenderung mencatat dan mendengarkan penjelasan guru yang pada akhirnya hasil belajar siswa cenderung rendah. Atas dasar itulah peneliti mencoba mengembangkan pendekatan kooperatif dalam pembelajaran dengan metode make a match. aktivitas siswa dalam bertanya. sedangkan faktor eksternal faktor yang terdapat di luar siswa seperti: guru sebagai pembina kegiatan belajar. anak juga cenderung tidak tertarik dengan pelajaran akidah akhlak karena selama ini pelajaran akidah akhlak dianggap sebagai pelajaran yang hanya meningkatkan hafalan semata. 5 Pancor masih bersifat konvensional. intelegensi. kurikulum dan lingkungan. Selain itu juga banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar akidah akhlak siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. terhadap guru akidah akhlak kelas IV di MI NW No. Di samping itu juga metode mengajar yang dipergunakan oleh guru di MI NW No. kebiasaan dan rasa percaya diri. strategi pembelajaran.Namun pada kenyataan dalam proses belajar mengajar didominasi seorang guru sedangkan siswa cenderung lebih pasif dan lebih banyak menunggu informasi dari guru dari pada mencari dan menemukan pengetahuan yang mereka butuhkan. menyampaikan pendapat pada saat proses belajar mengajar berlangsung. . sarana dan prasaran. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan interview serta pengalaman selama ini. Untuk memperbaiki hal tersebut perlu disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensif dan dapat mengkaitkan materi. teori dengan kenyataan yang ada dilingkungan sekitarnya. 5 Pancor bahwa masalah yang dihadapi dalam pembelajaran akidah akhlak hal ini tampak dari kurangnya hasil belajar siswa. Faktor internal antara lain: hasil belajar.

(Isjoni. struktur tujuan. Untuk mencapai hasil belajar itu model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) menuntut kerjasama perserta didik dalam struktur tugas. dan struktur rewardnya. dan pengembangan keterampilan sosial. Pembelejaran kooperatif tipe mencari pasangan adalah konsep yang labih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. . kondisi seperti inilah yang sangat diharapkan agar interaksi berjalan dengan baik demi kelancaran pembelajran. menerima keragaman. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru. Namun diperoleh informasi bahwa ada beberapa siswa yang memiliki potensi yang lebih dibandingkan dengan teman-temannya. dimana guru menetapkan tugas dan pernyataan-pernyataan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Untuk itu maka dibentuk suatu pasangan heterogen dengan tujuan agar bisa membantu siswa yang lain.karena metode make a match dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa meningkat. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik. Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang interaksi antara siswa dengan siswa antara siswa dengan guru. Metode make a match atau mencari pasangan merupakan alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. toleransi. 1994 : 55). Siswa yang memiliki potensi yang lebih tersebut dapat membantu temannya yang lain pada saat melakukan diskusi pasangan.

Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan adalah model pembelajaran yang terdiri dari pasangan dan setiap pasangan mencari pasangannya yang cocok (Lie Anita. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas. keterampilan. konsep. Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti. peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan. pengetahuan. Upaya meningkatkan hasil belajar akidah akhlak dengan Model Pembelajaran Kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) pada Siswa kelas IV MI NW No. dan bagaimana hidup serasi dengan sesama. 5 Pancor Tahun Pelajaran 2011/2012 B.Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. 5 Pancor? . Sehubungan dengan hal tersebut di atas. diakui oleh mereka yang berkompeten menilai. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. fakta. dan keterampilan. dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :1. karena dalam setingan kooperatif siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain dari pada belajar dengan guru. nilai. 2004:20). Berdasarkan urain di atas maka dipandang perlu diadakan penelitian tindakan kelas. Pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. nilai.

diantaranya sebagai berikut: . 2. 5 Pancor atau tidak. yaitu: 1. E. D. Tujuan Penelitian: 1. Ruang Lingkup Penelitian: Penelitian ini dilaksanakan di MI NW No. Bagaimana tingkat keberhasilan Model Pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Akidah Ahklak kelas IV MI NW No.2. 5 Pancor dengan subyek penelitian siswa kelas IV pada Tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 20 orang terdiri dari 11 siswa lakilaki dan 9 siswa perempuan. Untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. Adapun yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah upaya peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak. Aspek teoritis adalah kegunaan yang digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara teoritis dalam arti data yang diperoleh dilapangan saat mengadakan penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan analisa kajian untuk dijadikan pola dukung pengembangan ilmu secara teoritis. C. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah ahklak kelas IV MI NW No. 5 Pancor. 5 Pancor. Manfaat Penelitian: Adapun manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari 2 aspek.

a. 2. kerja sama kelompok. c. Bagi Sekolah: . Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memotivasikan penelitian lain untuk mengungapkan variabel-variabel lain yang juga berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. 5 Pancor dan memberikan pemahaman yang praktis tentang cara memperbaiki proses belajar siswa di dalam kelas sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. b. Bagi Guru: Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran akidah akhlak pada siswa kelas IV MI NW No. b. Bagi Siswa : Penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa antara lain dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak. Merupakan khazanah ilmu pengetahuan pada berbagai bidang studi dalam rangka peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan tentang pembelajaran akidah akhlak dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). Aspek praktis adalah kegunaan yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dalam arti kata data yang ada di lapangan saat mengadakan penelitian dapat dijadikan bahan tambahan pengalaman dan pengetahuan baru diantaranya sebagai berikut: a. keterampilan memecahkan masalah. c. dan pengalaman belajar.

tabiat. Definisi Operasional a. adat. F. afektif. dan perbuatan yang dapat dilihat ialah gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa jahat atau buruknya. dan psikomotorik. akhlak ialah budi pekerti. pengertian-pengertian. hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja (Suprijono. atau dapat juga ´khalqun´ yang berarti kejadian. (Dep Agama. sikap-sikap. buatan. apresiasi dan keterampilan. . 2009:6) b. itu sebabnya ilmu tauhid disebut juga ilmu aqoid (jama¶ aqidah) yang berarti ilmu mengikat ajaran Islam sebagaimana dicantumkan dalam alquran dan sunnah adalah merupakan ketentuan-ketentuan dan pedoman keimanan. Hasil belajar: Pola-pola perbuatan. nilai-nilai. watak. tabiat.Bagi sekolah diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah pada mata pelajaran akidah akhlak sehingga kesan terhadap sekolah dari masyarakat akan lebih baik dari sebelumnya. 2003:61) Jadi akidah akhlak adalah: Merupakan landasan bagi ketentuan-ketentuan syariah yang merupakan pedoman bagi seseorang berprilaku dimuka bumi yang bersumber dari segala perbuatan yang sewajarnya suatu perbuatan atau suatu tindak tanduk manusia yang tidak dibuat-buat. Menurut Bloom hasil belajar mencakup kemampuan kognitif. atau ciptaan. ( Zakiah Daradjat 1992:151) c. atau sistem prilaku. Akhlak adalah secara bahasa berasal dari kata´khalaqa´ berarti perangai. Jadi secara etimologi. Akidah akhlak: Akidah adalah secara bahasa ikatan: Secara termilogi berarti landasan yang mengikat yaitu keimanan.

et al. (dalam Isjoni. Pembelajaran kooperatif adalah: Pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johson. 2008:83) G.d. akan di pecahkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan karena dapat melatih siswa untuk dapat bekerjasama. Pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang perorang apabila jumlah siswa banyak. mempertahankan pendapat. Masalah dalam kurang meningkatnya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran akidah akhlak. Kerangka pemecahan masalah Dalam peneltian ini yang menjadi masalah utama adalah kurang meningkatnya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran akidah akhlak. Dalam. 1994: Hamid Hasan. Solihatin 1996:4) e. dan semua siswa terlibat dan siswa tidak merasa bosan dengan metode ceramah saja dengan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa . kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan kartu yang dimiliki.

Hilgard dan Bower (dalam Fathurrohman 1975:5) mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang di sebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu. kebiasaan. . dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku peningkatan kecakapan. daya pikir. dan lain-lain kemampuannya. sikap. pengetahuan. di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon. Pengertian Belajar Thursan Hakim (dalam Fathurrohman 2007:6) mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat belajar kooperatif tipe mencari pasangan 1. keterampilan. pemahaman.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menurut uraian H. Dalam proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri sipelajar Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman. bukan sekedar menghafal fakta. pengaruh obat dan sebagainya).Witherington dan Lee. Prinsip-prinsip belajar : Belajar akan berhasil jika disertai kemaun dan tujuan tertentu Belajar akan lebih berhasil jika disertai berbuat.C. (Ronbach Bapensi. kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan. latihan dan ulangan. faktor-faktor serta kondisi-kondisi yang mendorong perbuatan belajar bisa diringkas sebagai berikut: Situasi belajar (kesehatan jasmani. Belajar adalah perubahan dalam perilaku yang merupakan refleksi definisi mekanistis S-R.pembawaan. keadaan psikis. Hasil-hasil belajar dapat di amati. Belajar akan lebih berhasil jika memberi sukses yang menyenangkan Belajar lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami. pengalaman dasar) . Perubahan prilaku menunjukkan bahwa telah terjadi. Morgan (dalam Ngalim Purwanto 1978:84) mengemukaan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

afektif. 2. Sedangkan Sunal dan Hans (dalam Isjoni 2000:15) mengemukakan pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang . Pembelajaran kooperatif a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Belajar kooperatif merupakan suatu metode yang mengelompokan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil. Menurut Slavin (1955) hasil penelitian 20 tahun terakhir mengidentifikasikan bahwa belajar kooperatif bisa digunakan secara efektif pada setiap tingkat kelas untuk semua mata pelajaran.- Penguasaan alat-alat intelektual Latihan-latihan yang terpancar Penggunaan unit-unit yang berarti Latihan yang aktif Kebaikan bentuk dan sistem Efek penghargaan (reward) dan hukuman Tindakan-tindakan pedagogis Kapasitas dasar Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku baik kognitif. Menurut Slavin (dalam Isjoni 1985:15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. maupun psikomotor yang disebabkan oleh pengalaman. siswa bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas.

nilai. Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang di rancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang asal asalan. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial. (Suprijono 2004:58) . Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru. konsep. dan keterampilan dikuasai oleh mereka yang berkompeten menilai. (Suprijono 2009:55) Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. nilai. fakta. (2) pengetahuan. Menurut Anita Lie (dalam Suprijono 2009:56) model pembelajaran ini didasarkan pada falsafat homo homini socius. keterampilan. Dukungan teori Vygotsky (dalam Suprijono 2009:56) terhadap model pembelajaran kooperatif adalah penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif. Model pembelajaran kooperatif akan menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan: (1) "memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif.dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran. dan bagaimana hidup serasi dengan sesama.

(d) guru membantu mengembangkan keterampilan. dan saling peduli. menghargai pendapat temannya. dan kesempatan yang sama untuk berhasil. dan bertanggung jawab terhadap tugas. saling membantu. a) Penghargaan Kelompok Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif Beberapa ciri dari pembelajaran kooepratif adalah. (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Isjoni 2009:27). b.Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar dengan model kooperatif dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan berani mengemukakan pendapatnya. Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakam oleh Slavin (dalam Isjoni 1995:25) yaitu penghargaan kelompok. dan saling memberikan pendapat (sharing ideas). (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa. Pertanggungjawaban kelompok tersebut menitik beratkan pada . pertanggungjawaban individu. b) Pertanggungjawaban Individu Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman--teman sekelompoknya. Penghargaan kelompok diproleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. (a) setiap anggota memiliki peran.keterampilan interpersonal kelompok.

Positif Interdepedence (Saling ketergantungan positif) yaitu hubungan timbal balik didasari adanya kepentingan yang sama atau perasaan diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya. . yang ada hanya pola interaksi dan perubahan yang bersifat verbal di antara siswa yang ditingkatkan oleh adanya hubungan saling timbal balik yang bersifat positif sehingga dapat mempengaruhi hasil pendidikan dan pengajaran. sedang. Bennet (dalam Isjoni 1995:60) menyatakan ada lima unsur dasar yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok.aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Dengan skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya. Tidak adanya penonjolan kekuatan individu. b. yaitu: a. Interaction Face to face (Tatap muka yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara. c) Kesempatan yang sama untuk menciptakan keberhasilan Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok. atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk keberhasilan dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

c. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok sehingga siswa termotivasi untuk membantu temannya, karena tujuan dalam pembelajaran kooperatif adalah menjadikan tetap anggota kelompoknya lebih kuat pribadinya. d. Membutuhkan keluwesan yaitu menciptakan hubungan antar pribadi,

mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan yang efektif. e. Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok yaitu tujuan terpenting yang di harapkan dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar keterampilan bekerja sama dan berhubungan, ini adalah keterampilan yang sangat penting dan sangat diperlukan di masyarakat. Para siswa mengetahui tingkat kemampuan dan efektifitas kerja sama yang telah dilakukan c. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al (dalam Isjoni 2000:39), yaitu : 1. Hasil belajar Akademik Dalam pembelajaran kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsepkonsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik

dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. 2. Penerimaan perbedaan individu Tujuan lain pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidak mampuanya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung dan saling menghargai satu sama lain.

3.

Pengembangan keterampilan sosial Tujuan penting ketiga pembelajaan kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki oleh para siswa sebagai warga masyarakat, bangsa dan negara, karena mengingat kenyataan yang dihadapi oleh bangsa ini dalam mengatasi masalahmasalah sosial yang semakin kompleks, serta tantangan bagi para peserta didik supaya mampu dalam mengadapi persaingan global untuk memenangkan persaingan tersebut.

d. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Urutan langkah-langkah pembelajaran kooperatif terlihat pada tabel berikut: Fase-fase Prilaku Siswa

Fasel 1: Present goals and set Menjelaskan tujuan pembelajaran

menyampaikan tujuan tujuan dan dan mempersiapkan peserta didik mempersiapkan peserta didik. Fase 2: Present siap belajar.

informasion Mempersiapkan informasi kepada peserta didik secara verbal.

menyajikan informasi

Fase 3: Organize student into Memberikan

penjelasan

kepada

learning teams. Mengorganisir peserta didik tentang tata cara peserta didik kedalam tim-tim pembentukan belajar. tim belajar dan

membantu kelompok melakukan transisi yang efisien.

Fase 4: Assisi team work and Membantu tim-tim belajar selama study membantu kerja tim dan Peserta belajar. tugasnnya. didik mengerjakan

Fase 5: Test on the materials Menguji pengetahuan peseta didik Mengevaluasi mengenai pembelajaran berbagai atau materi kelompok-

kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Fase 6: Provide recognition Mempersiapkan dan mengakui usaha cara dan untuk prestasi

memberikan penghargaan

pengakuan

individu maupun kelompok

(Suprijono 2004:65)

Teknik belajar mengajar mencari pasangan (make a match) dikembangkan oleh Lorna Curran (dalam Lie 1994:55). 2. Menumbuhkan produktivitas dalam kelompok. (dalam Suprijono 2009:67) e. 7.Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran kooperatif harus: 1. Mempersiapakan peserta didik belajar mengenai kolaborasi dan berbagai keterampilan sosial melalui peran aktif peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil. 3. Mengubah peran guru dari center stage performance menjadi koreografer kegiatan kelompok. Menumbuhkan kesadaran pada peserta didik arti penting asfek sosial dalam individunya. 6. 4. Memfasilitasi terjadinya learning to live together. 9. kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan makna kartu yang dimiliki. Pembelajaran Kooperatif Tipe Mencari Pasangan Pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang perorang apabila jumlah siswa banyak. 8. Memberi peluang terjadinya proses partisipasi aktif peserta didik dalam belajar dan terjadinya dialog interaktif. 5. . Memberikan kesempatan terjadinya belajar berdemokrasi Meningkatkan penghargaan peserta didik pada pembelajaran akademik dan mengubah norma-norma yang berkait dengan prestasi. Menciptakan iklim sosio emosional yang positif.

mempertahankan pendapat 2. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan adalah : 1. Semua siswa terlibat Adapun kekurangan dari pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan adalah sebagai berikut : 1. B. Adapun langkah langkahnya sebagaia berikut : 1. Guru tidak mengetahui kemampuan siswa masing-masing Jadi pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan adalah proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran di mana dalam prosesnya siswa mencari pasangan sesuai dengan soal dan jawaban yang di dapat. Pengertian hasil belajar . Memerlukan waktu yang lama 2. 3. Siswa dilatih untuk dapat bekerjasama. Misalnya.Salah satu keunggulan teknik adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 2. Hasil belajar 1. pemegang kartu yang bertuliskan akhlak terpuji akan berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan sabar. siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Atau pemegang kartu yang berisi nama Masyitah akan berpasangan dengan pemegang kartu orang yang sabar dan teguh pendirian. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik Setiap siswa mendapat satu buah kartu Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.

meringkas. tentu mengharapkan bahwa semua hasil yang diperoleh itu membentuk satu sistem nilai yang dapat membentuk kepribadian siswa. dan menilai. fisik. memberi respons. menerapkan. teknik. yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar. Domain psikomotor juga mencakup keterampilan produktif. Yang harus diingat hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. ingatan. manajerial dan intelektual. contoh. pemahaman. Domain afektif sikap menerima. melainkan komprehensif. menjelaskan. sosial.Keberhasilan pengajaran dilihat dari segi hasil siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dipelajari. Menurut Bloom (2009:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif. sehingga memberi warna dan arah dalam semua perbuatanya. hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah. menguraikan. Menurut Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa. mengorganisasikan. organisasi. yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. membentuk bangunan baru. afektif. dan psikomotorik. merencanakan. Domain kognitif adalah pengetahuan. menentukan hubungan. karakterisasi. Artinya. nilai. Menurut Anni (2004:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa hasil belajar adalah gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dipelajari berupa .

Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilain terhadap objek tersebut. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan secara eksternalisasi nilai-nilai menjadikan standar perilaku. 3. baik lisan maupun tulisan kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesif. dan psikomotorik. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakuakan serangkain gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi. apresiasi dan keterampilan. Perubahan tingkah laku ini meliputi segenap ranah kognitif. 5. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi. hasil belajar berupa: 1. afektif. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol. pemecahan masalah maupun penerapan aturan. 2. (Suprijono 2009:6) . sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Berkaitan dengan penilain ini penulis membatasi hasil belajar pada ranah kognitif yang dilihat dari kemampuan siswa dalam proses pembelajaran yang ditinjau dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaedah dalam memecahkan masalah 4. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mepresentasikan konsep dan lambang. pengertian-pengertian. kemampuan analitis-sintesis fakta konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.perubahan prilaku belajar siswa. Merujuk pemikiran Gagne (Suprijono 2009:5). nilai-nilai. sikap-sikap.

(b) pengetahuan dan pengertian. ialah kualitas pengajaran. minat dan perhatian. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran. Adanya pengaruh dari dalam diri siswa. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. 30% di pengaruhi oleh lingkungan. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. seberapa jauh kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh faktor tersebut terhadap hasil belajar siswa.Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar. yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Artinya. ketekunan. faktor fisik dan psikis. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa. sebab hakikat untuk dapat mencapainya. merupakan hal yang logis dan wajar.(c) sikap dan cita-cita. Hasil . hasil yang dapat diraih masih juga bergantung dari lingkungan. sosial ekonomi. Faktor tersebut banyak menarik perhatian para ahli pendidikan untuk diteliti. Sunguhpun demikian. juga ada faktor lain. Seperti dikemukakan oleh Clark bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa. sikap dan kebiasaan belajar. seperti motivasi belajar. (Sudjana 1998:45) 2. yakni (a) keterampilan dan kebiasaan. ada faktor-faktor yang berada diluar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar disekolah.

Penilaian Hasil Belajar . Memperbaiki proses pembelajaran. Artinya. makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa. (b) waktu yang tersedia untuk belajar. (c) waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran. Menilai pencapaian kompetensi peserta didik. Oleh sebab itu hasil belajar siswa disekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Tujuan Penilaian Hasil Belajar a. 5) Memotivasi belajar siswa dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan. (Nana Sudjana 1998:40). Sedangkan Caroll (1998:40) berpendapat bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh lima faktor. Empat faktor yang disebutkan diatas (abce) berkenaan dengan kemampuan individu dan faktor (d) adalah faktor diluar individu (lingkungan). makin tinggi pula hasil belajar siswa. Kedua faktor diatas (kemampuan siswa dan kualitas pengajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. yakni (a) bakat belajar. dan (e) kemampuan individu.belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. 4. Tujuan Umum : 1) 2) 3) b. Tujuan Khusus : 1) 2) 3) 4) Mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa. (d) kualitas pengajaran. Memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar. Penentuan kenaikan kelas. (Nana Sudjana 1998:39). 3. Mendiagnosis kesulitan belajar.

a. analisis data. serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi diri terhadap kinerja siswa. Bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas. Meningkatkan motivasi belajar siswa. Mengingat begitu pentingnya aqidah akhlak ini. Karena usia anak-anak sekolah merupakan usia yang labil. c. Ruang lingkup hasil belajar siswa Ruang lingkup hasil belajar terdiri dari: perencanaan penilain hasil belajar. dimana aqidah dan akhlak merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan maka menjaga aqidah akhlak merupakan hal penting bagi kita. verifikasi terhadap data yang diperoleh.Fungsi penilaian hasil belajar sebagai berikut. 5. Pengertian akidah akhlak Mata pelajaran akidah akhlak adalah salah satu bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan sebagai wahana pemberian pengetahuan. di mana perlu ditanamkan sejak dini agar mereka mempunyai aqidah yang baik dan akhlak yang terpuji. hal-hal yang dapat merusak aqidah akhlak. serta interpretasi dan penggunaan hasil tes hasil belajar. C. Hakikat Pembelajaran Akidah Akhlak a. pengumpulan data hasil belajar. Dari penjelasan di atas. b. bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami. Umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar. maka pelajaran akidah akhlak menekankan . d. menjauhkan perbuatanperbuatan yang dapat merusak aqidah akhlak dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain dengan mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut aqidah akhlak. maka sebagian sekolah mulai memasukkan aqidah akhlak ini ke dalam mata pelajaran di sekolah. meyakini dan menghayati kebenaran ajaran Islam.

yaitu: a. d.bukan hanya pada hasil belajar tetapi juga pada proses belajar. yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan tentang keimanan dan akhlak. sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga Negara. dan pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pencegahan. Pengembangan. yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan. Hal ini dapat diidentifikasi dari fungsi dan tujuan mata pelajaran ini. Tujuan pembelajaran akidah akhlak Madrasah Ibtidaiyah Memberikan kemampuan dasar kepada siswa tentang akidah Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia. (Nasrun Rusli: 1998:4) b. Pengajaran. Fungsi pembelajaran akidah akhlak Madrasah Ibtidaiyah: 1. (Nasrun Rusli 1998:4) c. Ruang lingkup pembelajaran akidah akhlak Ruang lingkup pendidikan akidah-akhlak meliputi dua unsur pokok. 3. pemahaman. (Nasrun Rusli 1998:5). Kamampuankemampuan dasar tersebut juga dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan pada sekolah lanjutan tingkat pertama. 4. yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dilingkungan keluarga. Perbaikan. Dan dalam hal . yaitu untuk menangkal hal-hal negativ dari lingkungan atau dari budaya lain yang dapat membahayakan diri siswa dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. Aqidah: bersisi aspek pelajaran untuk menanamkan pemahaman dan keyakinan terhadap akidah Islam sebagaimana yang terdapat dalam rukun iman. 2.

5 Pancor dapat meningkat pada saat proses pelaskanaan pembelajaran akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah. akhlak tercela. kisah-kisah keteladanan para Rasul Allah. serta adab dalam hubungan manusia dengan Allah. Dengan penggunaan metode kooperatif tipe mencari pasangan tersebut dalam proses belajar mengajar diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat. dan manusia dengan alam lingkungannya. sahabat Rasul. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berfikir tersebut. manusia dengan sesamanya.bertauhid dapat dipahami dan diamalkan secara terpadu dua bentuk tauhid yaitu rububiyah dan uluhiyah. Kerangka Berfikir Kurangnya hasil belajar siswa dalam menyelesaikan tugas atau latihan harus dicarikan pemecahan masalah dengan merubah proses pembelajaran yang konvensional menjadi proses pembelajaran yang inovatif dan dapat memberdayakan siswa dalam proses pembelajaran. . D. Salah satu alternatifnnya melakukan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). E. orang shaleh. Akhlak: akhlak terpuji. hipotesis tindakan adalah: jika pada mata pelajaran akidah akhlak menggunakan model pembelajaran kooperaitf tipe mencari pasangan maka hasil belajar siswa di MI NW No. b.

Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MI NW No. . Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang lazim disebut classroom research (Suharsimi Arikunto. B. 5 Pancor dengan jumlah siswa 20 dengan perincian 11 laki-laki dan 9 perempuan sedangkan yang menjadi observer dalam penelitian ini adalah guru dan teman sejawat.BAB III METODE PENELITIAN A. C. Subjek penelitian Subyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah. 2006). 5 Pancor pada siswa kelas IV dimana waktu pelaksanaannya yaitu pada Tahun Ajaran 2011/2012. siswa siswi kelas IV MI NW No.

Faktor guru. Adapun penjelasan masing-masing antara lain : . dan refleksi. melihat hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan yaitu penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model action research classroom. yaitu kegiatan guru selama pelajaran di kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No.Adapun faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1. 5 Pancor melalui model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan 2. tindakan. D. Penelitian ini di laksanakan selama 3 siklus yang saling terkait dan berkesinambungan. 5 Pancor. Masing-masing siklus dilakukan dalam 4 tahap yaitu tahap perencanaan. Faktor siswa. Prosedur (Langkah-langkah Penelitian ) 1. Model penelitian ini digunakan agar dapat mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. 5 Pancor dengan melibatkan siswa berdasarkan situasi kelas khususnya dalam pembelajaran akidah akhlak. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tingkat ketercapaian tujuan yang diharapkan dan rincian indikator yang diteliti. observasi.

apersepsi.1. Membuat kartu soal dan jawaban dengan metode make a match.1 Perencanaan Kegiatan yang di laksanakan pada tahap ini adalah : Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencerminkan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe make a match. Review. maka langkah-langkah penelitian yang di lalui sebagai berikut : 2. motivasi 2. 2. Kegiatan Inti . Langkah-langkah Sesuai dengan rancangan penelitian yang di rencanakan. Tahap pelaksanaan tindakan yang dilakukan sebagai berikut: I.1. Menyusun instrumen (lembar observasi) aktivitas guru dan siswa siklus I untuk lembar observasi aktivitas siswa digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa. Menjelaskan kepada siswa tentang model pembelajaran yang dipakai serta manfaatnya II.2. Kegiatan Pendahuluan 1. 5 Pancor untuk melihat tingkat hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.2 Implementasi Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah pelaksanaan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas VI MI NW No. b.1 Siklus I 2. a.

Guru membimbing dan mengarahkan siswa dalam menyelesaikan tugas siswa. 2.1.3 Refleksi Pada tahap ini guru merefleksikan diri dengan melihat data observasi apakah proses pembelajaran yang dilakukan telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengacu pada indikator kinerja yang telah ditetapkan. Kegiatan Penutup 1.1. Siklus II Guru bersama siswa membahas soal Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran . 2. Siswa yang mendapat soal mencari pasangan jawaban atas soal yang di dapat. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya .2. Setip pasangan dibagikan LKS 4. Hasil refleksi (analisis dan interprestasi) terhadap data yang diperoleh selanjutnya dijadikan dasar untuk melakukan revisi atau perbaikan pada tindakan selanjutnya. 2. 6. III. 5. Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompoknya menyampaikan hasil kerja kelompoknya. Guru membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa. 3. 2.

dimana hasil observasi berupa catatan lapangan yang mengacu pada format observasi yang berisikan deskrifsi dalam indikator prilaku siswa yang diturunkan dari teori atau konsep model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan yang akan diamati selama proses pembelajaran.3. Teknik pengumpulan data 1. Lembar Observasi Lembar observasi memuat kegiatan pembelajaran untuk setiap konsep yang dikaji. 2. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penilaian ini adalah lembar observasi yang berisikan indikator keberhasilan pembelajaran akidah ahklak yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran langsung tentang proses pembelajaran . Siklus III Pada prinsipnya pada siklus III ini merupakan perbaikan dari siklus II. a.Pada prinsipnya pada siklus II ini merupakan perbaikan dari siklus I. yang prinsip kerjanya sama dengan siklus I. E. aktivitas siswa dan guru serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran. Diperoleh melalui pengantar langsung dalam setiap pertemuan di dalam kelas. Akan tetapi pada siklus ini dilakukan perbaikan berdasarkan pada kelemahan siklus I. yang prinsip kerjanya sama dengan siklus I dan II Akan tetapi pada siklus ini dilakukan perbaikan berdasarkan pada kelemahan siklus II.

menggunakan model siklus belajar. e. b. 3. c. c. Aktivitas guru dalam diskusi kelompok. d. Data hasil Belajar Siswa . Aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran Interaksi siswa dengan guru Aktivitas siswa dalam kelompok Adapun indikator-indikator aktivitas guru sebagai berikut: a. Kesiapan guru dalam melaksanakan diskusi kelompok Interaksi guru dengan siswa. b. Teknik penelitian Teknik yang akan digunakan dalam penelitian ini dengan cara membuat format deskrifsi dalam indikator prilaku siswa yang diturunkan dari teori atau konsep model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan yang akan diamati selama proses pembelajaran. Kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Keaktifan siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus. Aktivitas guru dalam mengakhiri pelajaran. d. Indikator kinerja aktivitas guru yang terkait dengan keberhasilan pelaksanaan tindakan kelas ini adalah apabila pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif telah dilaksanakan optimal dengan prosentase 90% sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Adapun indikator-indikator aktivitas siswa sesuai dengan karakteristik adalah model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan: a. Tahap kegiatan observasi dalam siklus belajar dilakukan sendiri oleh peneliti. 2.

5 Pancor tahun pelajaran 2011/2012 2) Jenis-jenis Data. kemudian dipaparkan lebih sederhana menjadi paparan yang berurutan berupa paparan data dan akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentukan pernyataan kalimat yang singkat dan padat. Data kuantitatif dan kualitatif diperoleh dari hasil obesrvasi aktivitas guru dan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Data dan Cara Pengumpulannya 1) Sumber Data: Sumber data dalam penelitian ini adalah Kelas IV MI NW No. Data kuantitatif dan kualitatif diperoleh dari hasil observasi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa maka digunakan rumus: . F. menyederhanakan. Teknik Analisis Data 1. meringkas. Hasil Belajar Siswa Reduksi Data merupakan proses menyeleksi. Dari pemilihan data tersebut. dan mengubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan lapangan. Data pada penelitian ini adalah data aktivitas guru. Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif 3) Cara pengambilan data: a. menentukan fokus. tetapi mengandung pengertian yang luas. b. data aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran yang diperoleh dengan teknik observasi. 4.Data hasil belajar siswa diperoleh melalui Tes Hasil Belajar (THB) setelah siswa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan.

P v 100% N Keterangan: KB = Persentase ketuntasan belajar siswa KB ! P = Banyak siswa yang memperoleh nilai u 65 N = Banyak siswa Data aktivitas guru Untuk mengetahui data aktivitas guru selama proses pembelajaran hasil observasi aktivitas guru dianalisis dengan cara sebagai berikut: 2. (Muchtar dalam Nurkencana. = Baik = Cukup baik = Kurang = Sangat kurang.1990:99) Data aktivitas siswa . SA 100% SMI Keterangan: P! P SA = Persentil = Skor perolehan   SMI = Skor maksimal ideal Standar pencapaian aktivitas guru dan siswa dalam pelaksanaan model make a match (berpasangan) dalam pelajaran akidah akhlak adalah: 81 ± 100 = Baik sekali 67 ± 80 57 ± 66 46 ± 56 0 ± 45 3.

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa berdasarkan aktivitas siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut: P! SA x100% SMI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN B. HASIL PENELITIAN Dalam hal ini untuk mengetahui data hasil penelitian berupa tindakan selama proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan tipe (make a match) untuk upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV MI NW No. 5 Pancor Pada bab ini disajikan juga hasil refleksi dan pembahasan hasil penelitian. Data-data tersebut dipaparkan secara berurutan sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaan dari setiap siklus. .

5 pancor peneliti melakukan diskusi dengan Guru kelas IV sebagai upaya untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match secara optimal. observasi. Bentuk dari model Kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) ini adalah kartu-kartu. Perencanaan Setelah ditetapkan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) maka pada awal bulan Juli 2011 di MI NW No.Kegiatan pembelajaran ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus. observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa yang diambil dengan menggunakan lembar observasi. . Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan dimana penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2011 di MI NW No. Data hasil observasi dan tes diperoleh data kualitatif tentang kegiatan guru serta data kuantitatif hasil belajar siswa dan aktifitas siswa. setelah data diolah dan analisis dengan metode dan rumus yang ditetapkan sebelumnya baik siklus I dan siklus II diperoleh data sebagai berikut: 1. Penelitian ini dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan dengan waktu 2x35 menit. Selama proses pembelajaran berlangsung. Materi yang dibahas yaitu akidah akhlak pada materi pokok membiasakan akhlak terpuji yaitu teguh pendirian dan sabar. Data hasil penelitian siklus I a. 5 Pancor kelas IV. pelaksanaan tindakan. Dengan mengikuti prosedur PTK maka masing-masing siklus terdiri dari perencanaan.

. Selanjutnya guru menjelaskan tentang metode yang akan digunakan yakni model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). b. Pelaksanaan tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran dikelas sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam skenario pembelajaran.Pada tahap perencanaan ini peneliti berdiskusi tentang segala hal yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran. tahap awal. tindakan peneliti sebagai guru dan observer terdiri dari guru dan teman sejawat sebanyak 2 (dua) orang. Selanjutnya peneliti bersama guru menyiapkan halhal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan yakni:  Rencana pelaksanaan penbelajaran (RPP) yang menceminkan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe (make a match). Adapun tahap-tahap pelaksanaan tipe make a match antara lain: (1) Guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada siswa. inti dan akhir. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 12 Juli 2011 Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini yaitu menerapkan pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan yaitu. Kegiatan awal Guru mengecek kehadiran siswa yang terdiri dari 20 orang siswa dan semua siswa masuk.  Menyusun instrument (Lembar observasi) aktivitas guru dan siswa siklus I  Membuat kartu soal dan jawaban tipe make a match (mencari pasangan). Pada tahap ini.

(6) Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompoknya untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya. (3) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu yang didapat. Misalnya. Guru mengulangi kembali penjelasannya. kemudian guru membagi siswa menjadi 2 kelompok besar yaitu 2 deret bangku sebelah kiri mendapatkan kartu jawaban dan 2 deret bangku sebelah kanan mendapatkan kartu soal. Dalam hal ini siswa dituntut untuk benar-benar memahami isi kartu yang didapat agar siswa dengan mudah .(2) Siswa yang mendapat soal mencari pasangan jawaban atas soal yang telah diberikan. Kegiatan inti Guru membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa yang sesuai dengan materi pembelajaran yang dibahas. Pada saat guru menjelaskan metode make a match. (4) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya. guru kurang mempertegas tentang aturan main make a match sehingga nampak ada 6 (enam) orang siswa yang masih kelihatan bingung. (5) Guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas siswa. siswa pemegang kartu yang bertuliskan Masyithah akan berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan contoh orang yang teguh pendirian dan sabar atau siswa pemegang kartu bertuliskan manfaat teguh pendirian dan sabar akan berpasangan dengan siswa pemegang kartu disayang oleh Allah SWT yang bertuliskan dengan orang lain.

binggung dan lambat menemukan pasangannya. 1) Aktivitas guru . c.menemukan pasangan kartunya. Setelah semua siswa mendapat masing-masing kartu. Selanjutnya guru menyimpulkan hasil pembelajaran. Setelah presentasi siswa melakukan tanya jawab dari materi yang dijelaskan. siswa yang mendapat kartu soal yang bertuliskan Masitah contoh orang yang akan berpasangan dengan siswa yang mendapatkan kartu bertuliskan teguh pendirian dan sabar. Kegiatan akhir Guru bersama siswa membahas soal dengan melakukan tanya jawab kepada siswa tentang kesulitan terhadap tugas siswa yang telah diberikan. Misalnya. guru memberikan kesempatan 5 menit kepada siswa untuk mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok. Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk duduk menurut pasangan kartunya kemudian guru membagikan LKS pada tiap pasangan kelompok. Hasil pengamatan Data dari hasil pengamatan yang di deskripsikan disini terdiri dari data aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa. Selanjutnya masing-masing kelompok pasangan mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas. pada saat siswa mencari pasangan kartunya tampak situasi kelas ribut dan masih ada 6 orang siswa yang kesulitan.

75 2. 5.0 1.26% dan tergolong cukup oleh karena itu aktivitas guru pada siklus selanjutnya perlu ditingkatkan. Pemberian apersepsi kepada 2. maka dapat di paparkan data sebagai berikut: Tabel. Berdasarkan data hasil pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran oleh guru yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.75 2.25 58.5 2. 01.0 16.12 2. Hasil observasi data aktivitas guru Siklus 1 Skor Hasil Observasi No Indikator Observasi 1 Observasi 2 1.12 2.62 2.75 2.75 2.25 2.5% 2. 7. Pelaksanaan pembelajaran 2. .98 60.98 dengan persentase 60.0 siswa 3.75 kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) 4.75 2.75 16.25 2.5 62.0 17.75 2.Pengamatan terhadap proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yaitu lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa. 6.75 2. Persiapan sebelum mengajar 2.62 2.5 2.26% Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas guru pada siklus I adalah 16.03% RataRata 2. Membimbing siswa dalam kelompok pasangan Membimbing siswa selama proses belajar berlangsung Membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas Menutup pembelajaran Total skor Persentase 2.

3) Data Hasil Evaluasi Tabel.75 3.25 10. Dengan melihat tabel di atas selama proses pembelajaran berlangsung dapat diketahui dari lembar observasi yang dilakukan oleh observer bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 64.5 2. 1. Hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus I Skor hasil observasi RataIndikator Rata Observasi 1 Observasi 2 Interaksi siswa dalam bertanya 2. 4.25 2. 3.5 2.5 Kemampuan siswa dalam 2.5 diskusi Kecepatan siswa dalam 2. 2.0 pelajaran Total skor 10. Hasil nilai evaluasi siswa siklus I No Jenis Penilain Skor .06% 64.5 2.5 2.0 3. Berdasarkan lembar obeservasi aktivitas siswa diperoleh data aktivitas siswa pada siklus I dipaparkan pada tabel berikut: Tabel. 02. 03.5 2.06% No.06% dan tergolong cukup aktif.25 10.2) Aktivitas siswa Pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa diperoleh dari lembar observasi aktivitas siswa selama berlangsungnya pelaksanaan pembelajaran.25 Presentase 64.25 menemukan pasangan dalam mencocokkan jawaban dan soal Kesiapan siswa mengikuti 2.0% 64.

Guru kurang menegaskan .1 2 3 4 5 6 Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang ikut tes Presentase ketuntasan siswa 50 85 64. Refleksi Indikator kerja yang meliputi aktivitas belajar siswa sudah terlihat pada siklus I. guru tidak mengontrol siswa sehingga siswa ribut dalam mencari pasangannya. Pada pelaksanaan siklus I terdapat beberapa kekurangan yang akan dilakukan tindakan perbaikan untuk siklus II. 4).5 dengan presentase ketuntasan siswa adalah 60% yang dapat dikategorikan cukup sehingga pembelajaran dilanjutka kesiklus berikutnya. Guru kurang mempertegas tugas siswa dalam pasangan kelompok sehingga ada 6(enam) orang siswa yang masih bingung dalam tugasnya sehingga menyulitkan siswa dalam memahami materi. 3) Ketika siswa mencari pasangan kelompoknya. Adapun kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus I antara lain: 1) guru tidak secara tertulis menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai.50 12 20 60% Dari tabel di atas dapat dilihat rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus I adalah 64. 2) Dalam pemberian apersepsi ini guru tidak mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dibahas.

Dalam presentasi didepan kelas siswa masih saling perintah untuk maju karena masih malu-malu untuk berbicara didepan kelas. oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus II. antara lain: 1) Guru secara tertulis menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. Selain itu guru tidak sepenuhnya memberikan bimbingan kepada siswa agar siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. 4) Guru tidak memberikan bimbingan sepenuhnya kepada kelompok siswa yang tidak aktif memecahkan masalah dalam diskusi karena selain jumlah kelompok yang sedikit juga karena kurangnya pengamatan yang diberikan oleh guru. 6) Guru tidak memperhatikan alokasi waktu yang sudah terencana pada saat diskusi kelompok. . 7) Guru langsung meminta siswa untuk mencatat kesimpulan sendiri tanpa terlebih dahulu bersama guru membahas soal dan membuat kesimpulan mengenai hasil pembelajaran secara bersama-sama. 5) Guru kurang memberikan motivasi kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa masih malu-malu untuk berbicara.kepada siswa untuk dapat kerjasama kelompok karena guru sudah melihat secara klasikal dalam setiap kelompok. Berdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa hasil yang dicapai pada silus I terlihat bahwa hasil belajar siswa dengan kategori kurang.

Selain itu. Guru menegaskan kepada siswa dengan cara mendatangi setiap kelompok pasangan untuk dapat bekerjasama secara optimal dalam kelompoknya. Guru mempertegas tugas siswa dalam kelompok pasangan sehingga siswa yang belum memahami tugasnya tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami materi. Kegiatan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2011.2) Dalam pemberian apersepsi ini guru mengaktifkan Tanya jawab untuk mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dibahas. Hasil siklus II Pelaksanaan pembelajaran siklus II hampir sama dengan siklus I namun pada siklus II dilakukan perbaikan berdasarkan hasil refleksi siklus I. 4) Guru memberikan bimbingan secara optimal kepada kelompok siswa yang tidak aktif dalam memecahkan masalah pada saat diskusi berlangsung. 3) Ketika siswa mencari pasangan kelompoknya. guru diharapkan lebih mengontrol siswa sehingga siswa tidak terlalu ribut dalam mencari pasangan kartunya. Pada siklus II ini materi yang dibahas . 5) Guru memberikan motivasi kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa tidak akan malu-malu lagi dalam berbicara. Guru memberikan penguatan dalam mempresentasikan materi sebagai motivasi bagi siswa agar siswa tidak malu berbicara didepan kelas. guru membimbing siswa agar mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. 2.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini yaitu menerapkan pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) yang terdiri dari 3(tiga) tahap. yakni tahap awal. 2) Menyusun instrument (Lembar observasi) aktivitas guru dan siswa siklus II 3) Membuat kartu soal dan jawaban tipe make a match (mencari pasangan).yaitu akhlak terpuji jujur Adapun kegiatan pada siklus II ini terdiri dari 4(empat) tahap. Kegiatan awal Pada saat proses pembelajaran guru mengecek kehadiran siswa dan semua siswa hadir. tahap inti dan tahap akhir. Pada pelaksanaan tindakan ini peneliti bertindak langsung sebagai guru dan observer terdiri dari guru dan teman sejawat sebanyak 2 (dua) orang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal««.Juni 2011. yakni: a. b. Adapun tahapan-tahapan pada kegiatan perencanaan ini antara lain: 1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mencerminkan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). Pelaksanaan Tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran dikelas sesuai dengan perbaikan rencana yang telah dibuat dalam skenario pembelajaran. Perencanaan Mengacu pada hambatan yang muncul pada siklus I peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang dibuat berdasarkan skenario Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sehingga kesalahan yang terjadi pada siklus I tidak terulang pada siklus II. Selanjutnya guru menjelaskan dan menegaskan model pembelajaran .

Pada kegiatan inti Guru membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa yang sesuai dengan materi pembelajaran yang dibahas. (5) Guru membimbing dan mengarahkan siswa dalam menyelesaikan tugas. Dalam hal ini siswa dituntut untuk benar-benar memahami isi kartu yang didapat agar siswa dengan mudah menemukan pasangan kartunya. Setelah semua siswa mendapat masing-masing kartu. Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk duduk menurut pasangan kartunya kemudian guru membagikan LKS pada tiap pasangan kelompok. Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan antara lain: (1) Guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada tiap siswa. guru memberikan kesempatan 5 menit kepada siswa untuk mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok. (6) Guru memberikan kesempatan pada tiap-tiap kelompok untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya. (3) Setiap pasangan dibagikan LKS. siswa yang mendapat kartu soal yang bertuliskan contoh ahklak terpuji akan berpasangan dengan siswa yang mendapatkan kartu bertuliskan jujur. (2) Siswa yang mendapat kartu soal mencari pasangan jawaban atas soal yang didapat. Pada saat siswa mencari pasangan kartunya tampak situasi kelas ribut dan masih ada 4 orang siswa yang kesulitan dan lambat menemukan pasangannya. (4) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya. kemudian guru membagi siswa menjadi 2(dua) kelompok besar yaitu 2(dua) deret bangku sebelah kiri mendapatkan kartu jawaban dan dua deret bangku sebelah kanan mendapatkan kartu soal.kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) pada siswa. Selanjutnya . Misalnya.

Pelaksanaan pembelajaran 3.masing-masing kelompok pasangan mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas. Indikator Observasi I Observasi II 1.5 4. 04.0 kooperatip tipe make a match (mencari pasangan) RataRata 3.87 4. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran oleh guru yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi maka dapat dipaparkan data seperti pada tabel berikut: Tabel. Data hasil pengamatan pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan siklus I yang terdiri dari data aktivitas guru dan siswa.87 . Aktivitas guru. Setelah presentasi siswa melakukan Tanya jawab dari materi yang dijelaskan. Dan selanjutnya guru menyimpulkan hasil pembelajaran.75 4. Hasil observasi aktivitas guru Siklus II Skor hasil observas No. Pada kegiatan akhir Guru bersama siswa membahas soal dengan melakukan Tanya jawab kepada siswa tentang kesulitan terhadap tugas yang diberikan. Persiapan sebelum mengajar 37. Hasil Pengamatan. Pengamatan terhadap proses belajar dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yaitu lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas belajar siswa. c.0 3.0 2.0 4.0 3. Pemberian apersepsi kepada siswa 4. 1.

53% 3. Berdasarkan lembar observasi aktivitas belajar siswa. Tabel.5 14.0 3.64% berdasarkan penggolongan aktivitas guru maka rata-rata presentase aktivitas guru tergolong aktif.5 3. 2.75 3.0 3.75 3.18% 90. Indikator Skor hasil observasi Rata-rata Observasi I Observasi II 1. 7. Membimbing siswa dalam kelompok Membimbing siswa selama proses belajar berlangsung Membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas Menutup pembelajaran Total skor Presentase 4.40% . Hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus II.37 diskusi 3.5 3. 6.0 3.0 3. Kecepatan siswa dalam 3.5 3.0 3.75 14. No.75 95. Keaktifan siswa dalam 4.5 94.87 bertanya 2. Aktifitas siswa Pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa diperoleh dari lembar observasi aktivitas belajar siswa selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung.25 4.75 26.5 4.75 3.62 menemukan pasangan jawaban dan soal 4.0 26.62 91.25 3.0 4. 5. Keaktifan siswa dalam 3.4.25 4.5 26.25 93.64% Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas guru pada siklus II adalah 94.25 4.75% 3. 05.75 mengikuti pembelajaran Total skor 14. Keaktifan siswa dalam 3.62 Persentasi 92.

00 18 20 90% Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa ketuntasan belajar siswa adalah dengan presentase ketuntasan yang diperoleh ini menunjukan sudah tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal yaitu 90% hasil yang diperoleh menunjukan indikator kerja telah tercapai.40% yang dapat dikategorikan sangat baik.40% berdasarkan penggolongan aktivitas belajar siswa maka rata-rata presentase aktivitas belajar siswa tergolong aktif. Refleksi. Hal ini terlihat pada aktivitas belajar siswa yang sudah mencapai skor rata-rata 14. Hasil nilai evaluasi siswa siklus II No Jenis Penilain 1 Nilai terendah 2 Nilai tertinggi 3 Rata-rata 4 Jumlah siswa yang tuntas 5 Jumlah siswa yang ikut tes 6 Presentase ketuntasan siswa Skor 60 95 76.00 dengan presentase 90% Dengan demikian indikator hasil belajar siswa sudah melampaui indikator 75%. 4).Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II adalah 91. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa indikator kerja sudah tercapai. 06.62 dengan presentase 91. Dan hasil belajar siswa skor rata-rata 76. PEMBAHASAN . 3. Data hasil evaluasi Tabel. C. Hal ini berarti bahwa model kooperatif make a match (berpasangan) dalam meningkatkan hasil belajar pada siklus II dibandingkan pada siklus I dan sudah melampaui indikator keberhasilan 75% sehingga penelitian ini dihetikan sampai pada siklus II.

Pada siklus II terjadi peningkatan. Adapun hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa dari siklus I dan II antara lain ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel. Data aktivitas guru dan aktivitas siswa Siklus Aktivitas guru Aktivitas siswa Rata-Rata presentase Rata-Rata skor Presentase skor I 16.64% 14.5 94. adapun skor aktivitas guru dengan perolehan skor 26. Make a match diawali dengan membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa.25 64.40% . Kemudian tiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Sebelum menutup pembelajaran siswa mempresentasikan hasil diskusi serta menyimpulkan hasil pembelajaran.64% dapat dikategorikan sangat baik karena sudah melampaui indikator 90%. hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa rata-rata skor aktivitas guru adalah 16.98 dengan kategori kurang artinya skor aktivitas guru siklus I belum melampaui indikator keberhasilan minimal 90%.62 dengan capaian persentase 91. Sedangkan aktivitas belajar siswa dengan rata-rata skor 14.25. Selanjutnya siswa yang mendapat soal mencari jawaban atas soal yang didapat.06% II 26. 07. Dengan capaian persentase 64.62 91.5 dengan persentase 94. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa rata-rata skor 10.06% dengan kategori kurang artinya aktivitas belajar siswa belum melampaui indikator keberhasilan 75%. 5 Pancor dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya dan guru membimbing siswa untuk mengerjakan LKS.40% Berdasarkan hasil tabel diatas.Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang dilaksanakan di MI NW No.26% 10.98 60.

dapat dikategorikan sangat baik karena sudah melampaui indikator keberhasilan 75%. guru kurang mempertegas tugas siswa dalam pasangan kelompok. Dengan demikian aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Guru tidak memperhatikan alokasi waktu pada saat diskusi seperti yang sudah terencana. Berdasarkan kekurangan tersebut maka dilakukan tindakan perbaikan yang dilaksanakan. Diantaranya. Guru memberikan bimbingan lebih kepada siswa yang tidak aktif dalam memecahkan masalah pada saat diskusi. nampak beberapa kekurangan yang terjadi pada tiap siklusnya. Guru mempertegas tugas siswa dalam pasangan kelompok. Adapun kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. secara tertulis guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. Guru memberikan penguatan kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa tidak malu-malu lagi untuk berbicara didepan kelas. Guru mendatangi tiap kelompok guna memberi motivasi agar siswa bisa bekerjasama dengan kelompok pasangannya. Guru kurang memberikan penguatan kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa masih malu-malu untuk berbicara. Guru tidak memberikan bimbingan sepenuhnya kepada kelompok yang tidak aktif memecahkan masalah dalam diskusi. Guru mengontrol siswa pada saat mencari pasangan kartu jawaban dan soal sehingga siswa tidak terlalu gaduh. Selain itu guru memberikan bimbingan . Ketika mencari pasangan kartunya guru kurang mengontrol siswa sehingga siswa menjadi gaduh. Guru kurang menegaskan kepada siswa untuk dapat bekerjasama dalam kelompok pasangan. Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru. diantaranya guru tidak secara tertulis menyamapikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. Guru mengaktifkan Tanya jawab untuk mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang dibahas.

adapun skor aktivitas guru dengan capaian skor 26.kepada siswa agar siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Tabel.50 dengan presentase ketuntasan yang diperoleh adalah 60% maka masih dikatakan kurang sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 76. (3) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu yang di dapat.64% sehingga dapat dikategorikan sangat baik sehingga pada siklus ini sudah melampaui indikator keberhasilan minimal 90%. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS.dengan demikian aktivitas siswa dan hasil belajar siswa sudah melampui indikator keberhasilan minimal 75% oleh karena itu melihat data diatas mengalami peningkatan maka penelitian dihentikan sampai siklus II. Sedangkan aktivitas belajar siswa mencapai rata-rata skor 14.00 90 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 64. Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II sudah tercapai dengan tahapan make a match sebagai berikut . (2) Siswa yang mendapat kartu soal mencari pasangan jawaban atas soal yang di berikan.40% dapat dikategorikan sangat baik. (1) Guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada tiap siswa. (5) . Guru memberikan penguatan dalam mempresentasikan di depan kelas sebagai motivasi serta guru lebih memperhatikan alokasi waktu yang sudah terencana.62 dengan capaian persentase 91. 08.(4). Hasil nilai evaluasi siswa Siklus Nilai rata-rata Presentase ketuntasan siswa I 64.50 60% II 76.5 dengan persentase 94. Pada siklus II terjadi peningkatan.00 dengan presentase ketuntasan 90% dapat dikategorikan sangat baik.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas IV mengalami peningkatan tiap siklusnya. peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) pada Mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. 5 Pancor Tahun Ajaran 2011/2012.Membimbing dan mengarahkan siswa dalam mengerjakan tugas. Kesimpulan . Dengan demikian. BAB V PENUTUP A. (6) Memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya.

5%. 5 Pancor pada materi pokok ahklak terpuji dengan model kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dimana guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada siswa. terjadi peningkatan aktivitas siswa mencapai 91.40% keaktivitasan siswa sudah melampui indikator ketercapaian 75%. Pada siklus II. 5 Pancor Tahun pelajaran 2011/2012 dengan presentase ketuntasan belajar klasikal melebihi 70% yang dicapai pada siklus II. B. Dengan demikian hasil belajar siswa mengalami peningkatan secara signifikan.50 dengan presentase ketuntasan 60% pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dengan nilai rata-rata 76. Saran Adapun saran-saran yang dapat peneliti sampaikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: .00 dengan presentase ketuntasan 90%. Pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 64. 2.Berdasarkan analisis diatas serta pengolahan data dalam penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa: 1. Sedangkan pada siklus I nilai rata-rata 64. Aktivitas siswa belum melampui indikator keberhasilan minimal 75%. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah ahklak kelas IV MI NW No. 3. Melalui pembelajaran dengan model kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar akidah ahklak kelas IV MI NW No.

khususnya saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Bagi siswa Siswa kelas IV MI NW No. Bagi sekolah Menyediakan pasilitas yang memadai seperti buku-buku bacaan dan sarana atau media pembelajaran yang menunjang keberhasilan pembelajaran dan mengontrol kegiatan proses belajar. Bagi guru Diharapkan agar guru menerapkan model pembelajaran make a match (mencari pasangan) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah ahklak dan memperhatikan kekurangan-kekurangan yang ada pada hasil penelitian ini sehingga hasil pembelajaran akan lebih optimal 3. kedisiplinan terhadap waktu agar dapat dicontoh oleh peserta didik. .1. dan hendaknya membuat kelompok belajar agak mudah untuk menyelesaikan persoalan dalam pelajaran 2. 5 Pancor hendahnya dapat mengikuti seluruh aktivitas yang berlangsung disekolah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful