P. 1
MAKALAH

MAKALAH

|Views: 2,079|Likes:
Published by Budi Sahrial

More info:

Published by: Budi Sahrial on Mar 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar belakang
  • B. Rumusan masalah
  • C. Tujuan Penelitian:
  • D. Ruang Lingkup Penelitian:
  • E. Manfaat Penelitian:
  • F. Definisi Operasional
  • G. Kerangka pemecahan masalah
  • BAB II
  • KAJIAN PUSTAKA
  • A. Hakikat belajar kooperatif tipe mencari pasangan
  • d. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
  • Fase-fase Prilaku Siswa
  • B. Hasil belajar
  • 2. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa
  • b. Fungsi pembelajaran akidah akhlak Madrasah Ibtidaiyah:
  • D. Kerangka Berfikir
  • E. Hipotesis Penelitian
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A. Metode Penelitian
  • B. Waktu dan Tempat Penelitian
  • C. Subjek penelitian
  • D. Prosedur (Langkah-langkah Penelitian )
  • 2.1 Siklus I
  • 2.1.1 Perencanaan
  • 2.1.2 Implementasi
  • I. Kegiatan Pendahuluan
  • II. Kegiatan Inti
  • III. Kegiatan Penutup
  • 2.1.3 Refleksi
  • 2.2. Siklus II
  • 2.3. Siklus III
  • E. Teknik pengumpulan data
  • 2. Teknik penelitian
  • 4. Data dan Cara Pengumpulannya
  • F. Teknik Analisis Data
  • BAB IV
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • B. HASIL PENELITIAN
  • 1. Data hasil penelitian siklus I
  • Observasi 1 Observasi 2
  • 2) Aktivitas siswa
  • Rata-
  • 3) Data Hasil Evaluasi
  • 4). Refleksi
  • 2. Hasil siklus II
  • Kegiatan awal
  • Pada kegiatan inti
  • Pada kegiatan akhir
  • 1. Aktivitas guru
  • Observasi I Observasi II
  • 2. Aktifitas siswa
  • 3. Data hasil evaluasi
  • No Jenis Penilain Skor
  • 4). Refleksi
  • C. PEMBAHASAN
  • Siklus Aktivitas guru Aktivitas siswa
  • Rata-Rata
  • Siklus Nilai rata-rata Presentase ketuntasan siswa
  • BAB V
  • PENUTUP
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran

MAKALAH

BAYI TABUNG DAN BANK SUSU DALAM PANDANGAN ISLAM

i

DISUSUN OLEH:
MAKIYAH

DOSEN:
Drs.H.MUKHTAR BADRI

SEKOLAH TINGGI ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN TGH.M.ZAENUDDIN ARSYAD (HAMZAR) TAHUN 2011/2012

KATA PENGANTAR I
puja serta puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat karunia-nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan makalah saya yang berjudul bayi tabung dan bank susu terimakasih juga saya ucapkan kepada dosen pembibing saya Drs.H.MUKHTAR BADRI ya telah menjelaskan tentang materi bayi tabung dan bank susu sehingga saya mampu menyelesaikan makalah ini.namun saya menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan ,olem sebab itu saya mohon kritik dan saran untuk memperbaiki makalah ini untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan. Akhirnya harapan saya ,semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga ALLAH SWT memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua dalam menghayati dan mengamalkannya.

Sengkol,01 pebruari 2012 Penyusun

Kelompok

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG RUMUSAN MASALAH TUJUAN BAB II PEMBAHASAN A.BAYI TABUNG DEFINISI BAYI TABUNG PANDANGAN DALAM SYARIAH ISLAM

.

.

2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan dapat dilihat dari segi jalur pendidikan dalam program serta pengelolaan pendidikan. . Pendidikan adalah suatu yang universal dan berlangsung tak terputus dari generasi kegenerasi dimanapun didunia ini upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai pandangan hidup dan dalam latar sosial kebudayaan masyarakat tertentu. diterima dengan baik di sisi Allah dan menghindarkanya dari siksaan neraka dunia dan akhirat. Berdasarkan UU No. dimana Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pendidikan merupakan satu-satunya sarana yang dapat membuat manusia bertahan hidup dengan layak dan terhormat di muka bumi ini.

memegang amanah. pandai bersyukur atas karunia Allah yang sesuai dengan pendidikan akidah akhlak. menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berahklak mulia. sehat. berbangsa dan bernegara yang berdasarkan akidah Islam perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang akhlak. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. tanggung jawab. cakap. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia dalam arti . tidak sombong. Mata pelajaran akidah akhlak merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pembentukan akhlak dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi penerus yang baik. kreatif. sabar. ajaran-ajaran seperti ikhlas beramal. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pembelajaran akidah perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia. khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. yang cerdas. dan berkarakter yang diamanatkan oleh Rasulullah SAW yang memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana hidup ini menjadi lebih baik dan bermakna. Akidah atau keimanan merupakan akar atau pokok agama dan akhlak bertitik tolak dari akidah yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari akidah. keimanan dan keyakinan hidup. terampil. hidup sederhana. berilmu.Undang-undang No. Pendidikan di Indonesia diharapakan dapat mempersiapakan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan akidah Islam.

pengamalan. Tujuan dari pendidikan akidah akhlak menumbuh kembangkan akidah melaui pemberian. pembiasaan. . serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Setiap guru mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan tugasnya sebagai pengajar. pemupukan. pengetahuan. Strategi guru yang baik dalam mengajar berguna secara efektif. efisien dan mengena pada tujuan yang diharapkan (dalam Roestiyah 1998 : 3) proses belajar mengajar merupakan interaksi sosial yang terjadi antara dua komponen yang berbeda yaitu guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan maka keaktifan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu mata pelajaran yang dijadikan sarana implementasi tujuan tersebut adalah melalui mata pelajaran akidah ahklak. penghayatan. Sangat penting untuk diperaktekan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu. terutama dalam rangka mengantisifasi dampak negatif dari era globalisasi yang melanda Bangsa dan Negara Indonesia. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kapasitas mengajar guru dan disiplin ilmu yang diajarkan. Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Upaya realisasi tujuan pendidikan nasional seperti dikemukakan di atas diimplementasikan dalam berbagai kurikulum mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. dan pengembangan. sesama manusia dan makhluk lainya. Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari ahlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik individu atau sosial. bermasyarakat dan berbangsa.bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah.

Atas dasar itulah peneliti mencoba mengembangkan pendekatan kooperatif dalam pembelajaran dengan metode make a match. Selain itu juga banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar akidah akhlak siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa.Namun pada kenyataan dalam proses belajar mengajar didominasi seorang guru sedangkan siswa cenderung lebih pasif dan lebih banyak menunggu informasi dari guru dari pada mencari dan menemukan pengetahuan yang mereka butuhkan. anak juga cenderung tidak tertarik dengan pelajaran akidah akhlak karena selama ini pelajaran akidah akhlak dianggap sebagai pelajaran yang hanya meningkatkan hafalan semata. . 5 Pancor masih bersifat konvensional. Untuk memperbaiki hal tersebut perlu disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensif dan dapat mengkaitkan materi. kurikulum dan lingkungan. kebiasaan dan rasa percaya diri. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan interview serta pengalaman selama ini. terhadap guru akidah akhlak kelas IV di MI NW No. aktivitas siswa dalam bertanya. intelegensi. teori dengan kenyataan yang ada dilingkungan sekitarnya. strategi pembelajaran. Faktor internal antara lain: hasil belajar. sedangkan faktor eksternal faktor yang terdapat di luar siswa seperti: guru sebagai pembina kegiatan belajar. 5 Pancor bahwa masalah yang dihadapi dalam pembelajaran akidah akhlak hal ini tampak dari kurangnya hasil belajar siswa. menyampaikan pendapat pada saat proses belajar mengajar berlangsung. sarana dan prasaran. yaitu lebih banyak mempergunakan metode ceramah sehingga mengakibatkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah karena cenderung mencatat dan mendengarkan penjelasan guru yang pada akhirnya hasil belajar siswa cenderung rendah. Di samping itu juga metode mengajar yang dipergunakan oleh guru di MI NW No.

dan struktur rewardnya. Untuk mencapai hasil belajar itu model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) menuntut kerjasama perserta didik dalam struktur tugas. Siswa yang memiliki potensi yang lebih tersebut dapat membantu temannya yang lain pada saat melakukan diskusi pasangan. Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang interaksi antara siswa dengan siswa antara siswa dengan guru. menerima keragaman. Pembelejaran kooperatif tipe mencari pasangan adalah konsep yang labih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. 1994 : 55).karena metode make a match dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa meningkat. kondisi seperti inilah yang sangat diharapkan agar interaksi berjalan dengan baik demi kelancaran pembelajran. dimana guru menetapkan tugas dan pernyataan-pernyataan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru. toleransi. . dan pengembangan keterampilan sosial. struktur tujuan. Untuk itu maka dibentuk suatu pasangan heterogen dengan tujuan agar bisa membantu siswa yang lain. Namun diperoleh informasi bahwa ada beberapa siswa yang memiliki potensi yang lebih dibandingkan dengan teman-temannya. (Isjoni. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik. Metode make a match atau mencari pasangan merupakan alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa.

5 Pancor Tahun Pelajaran 2011/2012 B. 2004:20). 5 Pancor? . Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan adalah model pembelajaran yang terdiri dari pasangan dan setiap pasangan mencari pasangannya yang cocok (Lie Anita. nilai. nilai. dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :1.Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. Upaya meningkatkan hasil belajar akidah akhlak dengan Model Pembelajaran Kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) pada Siswa kelas IV MI NW No. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Berdasarkan urain di atas maka dipandang perlu diadakan penelitian tindakan kelas. diakui oleh mereka yang berkompeten menilai. Pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. konsep. dan bagaimana hidup serasi dengan sesama. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas. keterampilan. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. dan keterampilan. fakta. pengetahuan. Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti. karena dalam setingan kooperatif siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain dari pada belajar dengan guru.

D. Aspek teoritis adalah kegunaan yang digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara teoritis dalam arti data yang diperoleh dilapangan saat mengadakan penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan analisa kajian untuk dijadikan pola dukung pengembangan ilmu secara teoritis. Tujuan Penelitian: 1.2. C. Bagaimana tingkat keberhasilan Model Pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Akidah Ahklak kelas IV MI NW No. 5 Pancor. Manfaat Penelitian: Adapun manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari 2 aspek. 5 Pancor dengan subyek penelitian siswa kelas IV pada Tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 20 orang terdiri dari 11 siswa lakilaki dan 9 siswa perempuan. diantaranya sebagai berikut: . Untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. 5 Pancor atau tidak. Adapun yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah upaya peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah ahklak kelas IV MI NW No. yaitu: 1. Ruang Lingkup Penelitian: Penelitian ini dilaksanakan di MI NW No. 5 Pancor. 2. E.

5 Pancor dan memberikan pemahaman yang praktis tentang cara memperbaiki proses belajar siswa di dalam kelas sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Bagi Guru: Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran akidah akhlak pada siswa kelas IV MI NW No. Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memotivasikan penelitian lain untuk mengungapkan variabel-variabel lain yang juga berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. c. Bagi Sekolah: . keterampilan memecahkan masalah. Bagi Siswa : Penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa antara lain dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak. kerja sama kelompok.a. b. c. 2. dan pengalaman belajar. b. Aspek praktis adalah kegunaan yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dalam arti kata data yang ada di lapangan saat mengadakan penelitian dapat dijadikan bahan tambahan pengalaman dan pengetahuan baru diantaranya sebagai berikut: a. Merupakan khazanah ilmu pengetahuan pada berbagai bidang studi dalam rangka peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan tentang pembelajaran akidah akhlak dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan).

pengertian-pengertian. Akhlak adalah secara bahasa berasal dari kata´khalaqa´ berarti perangai. Definisi Operasional a. nilai-nilai. watak. adat. dan psikomotorik. atau sistem prilaku. tabiat. afektif. Menurut Bloom hasil belajar mencakup kemampuan kognitif. . akhlak ialah budi pekerti. (Dep Agama. itu sebabnya ilmu tauhid disebut juga ilmu aqoid (jama¶ aqidah) yang berarti ilmu mengikat ajaran Islam sebagaimana dicantumkan dalam alquran dan sunnah adalah merupakan ketentuan-ketentuan dan pedoman keimanan. atau dapat juga ´khalqun´ yang berarti kejadian. Akidah akhlak: Akidah adalah secara bahasa ikatan: Secara termilogi berarti landasan yang mengikat yaitu keimanan. atau ciptaan.Bagi sekolah diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah pada mata pelajaran akidah akhlak sehingga kesan terhadap sekolah dari masyarakat akan lebih baik dari sebelumnya. buatan. apresiasi dan keterampilan. sikap-sikap. hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja (Suprijono. dan perbuatan yang dapat dilihat ialah gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa jahat atau buruknya. tabiat. Jadi secara etimologi. F. ( Zakiah Daradjat 1992:151) c. Hasil belajar: Pola-pola perbuatan. 2009:6) b. 2003:61) Jadi akidah akhlak adalah: Merupakan landasan bagi ketentuan-ketentuan syariah yang merupakan pedoman bagi seseorang berprilaku dimuka bumi yang bersumber dari segala perbuatan yang sewajarnya suatu perbuatan atau suatu tindak tanduk manusia yang tidak dibuat-buat.

Pembelajaran kooperatif adalah: Pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johson.d. Pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang perorang apabila jumlah siswa banyak. mempertahankan pendapat. (dalam Isjoni. 1994: Hamid Hasan. akan di pecahkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan karena dapat melatih siswa untuk dapat bekerjasama. 2008:83) G. Masalah dalam kurang meningkatnya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran akidah akhlak. dan semua siswa terlibat dan siswa tidak merasa bosan dengan metode ceramah saja dengan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa . Solihatin 1996:4) e. Dalam.et al. kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan kartu yang dimiliki. Kerangka pemecahan masalah Dalam peneltian ini yang menjadi masalah utama adalah kurang meningkatnya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran akidah akhlak.

pemahaman.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. daya pikir. . dan lain-lain kemampuannya. keterampilan. sikap. di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon. dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku peningkatan kecakapan. kebiasaan. pengetahuan. Pengertian Belajar Thursan Hakim (dalam Fathurrohman 2007:6) mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia. Hakikat belajar kooperatif tipe mencari pasangan 1. Hilgard dan Bower (dalam Fathurrohman 1975:5) mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang di sebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu.

faktor-faktor serta kondisi-kondisi yang mendorong perbuatan belajar bisa diringkas sebagai berikut: Situasi belajar (kesehatan jasmani. Perubahan prilaku menunjukkan bahwa telah terjadi. kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan. pengaruh obat dan sebagainya).pembawaan. Prinsip-prinsip belajar : Belajar akan berhasil jika disertai kemaun dan tujuan tertentu Belajar akan lebih berhasil jika disertai berbuat. (Ronbach Bapensi. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menurut uraian H. Dalam proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri sipelajar Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman. bukan sekedar menghafal fakta.C. latihan dan ulangan. Morgan (dalam Ngalim Purwanto 1978:84) mengemukaan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. pengalaman dasar) .Witherington dan Lee. keadaan psikis. Belajar akan lebih berhasil jika memberi sukses yang menyenangkan Belajar lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami. Belajar adalah perubahan dalam perilaku yang merupakan refleksi definisi mekanistis S-R. Hasil-hasil belajar dapat di amati.

Menurut Slavin (dalam Isjoni 1985:15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. 2. maupun psikomotor yang disebabkan oleh pengalaman. Pembelajaran kooperatif a. afektif. Sedangkan Sunal dan Hans (dalam Isjoni 2000:15) mengemukakan pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang . siswa bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas.- Penguasaan alat-alat intelektual Latihan-latihan yang terpancar Penggunaan unit-unit yang berarti Latihan yang aktif Kebaikan bentuk dan sistem Efek penghargaan (reward) dan hukuman Tindakan-tindakan pedagogis Kapasitas dasar Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku baik kognitif. Menurut Slavin (1955) hasil penelitian 20 tahun terakhir mengidentifikasikan bahwa belajar kooperatif bisa digunakan secara efektif pada setiap tingkat kelas untuk semua mata pelajaran. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Belajar kooperatif merupakan suatu metode yang mengelompokan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil.

(2) pengetahuan. dan bagaimana hidup serasi dengan sesama. fakta. nilai. Model pembelajaran kooperatif akan menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan: (1) "memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang asal asalan. di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang di rancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru. (Suprijono 2004:58) . konsep. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial.dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. (Suprijono 2009:55) Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. dan keterampilan dikuasai oleh mereka yang berkompeten menilai. keterampilan. nilai. Dukungan teori Vygotsky (dalam Suprijono 2009:56) terhadap model pembelajaran kooperatif adalah penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif. Menurut Anita Lie (dalam Suprijono 2009:56) model pembelajaran ini didasarkan pada falsafat homo homini socius.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar dengan model kooperatif dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan berani mengemukakan pendapatnya. b) Pertanggungjawaban Individu Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Isjoni 2009:27). (d) guru membantu mengembangkan keterampilan. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif Beberapa ciri dari pembelajaran kooepratif adalah. dan saling memberikan pendapat (sharing ideas). (a) setiap anggota memiliki peran. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung.keterampilan interpersonal kelompok. menghargai pendapat temannya. dan saling peduli. dan bertanggung jawab terhadap tugas. saling membantu. (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa. Penghargaan kelompok diproleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Pertanggungjawaban kelompok tersebut menitik beratkan pada . b. a) Penghargaan Kelompok Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. dan kesempatan yang sama untuk berhasil. (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman--teman sekelompoknya. pertanggungjawaban individu. Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakam oleh Slavin (dalam Isjoni 1995:25) yaitu penghargaan kelompok.

. Tidak adanya penonjolan kekuatan individu. c) Kesempatan yang sama untuk menciptakan keberhasilan Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Bennet (dalam Isjoni 1995:60) menyatakan ada lima unsur dasar yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok. atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk keberhasilan dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok.aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. sedang. Interaction Face to face (Tatap muka yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara. b. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya. yaitu: a. yang ada hanya pola interaksi dan perubahan yang bersifat verbal di antara siswa yang ditingkatkan oleh adanya hubungan saling timbal balik yang bersifat positif sehingga dapat mempengaruhi hasil pendidikan dan pengajaran. Positif Interdepedence (Saling ketergantungan positif) yaitu hubungan timbal balik didasari adanya kepentingan yang sama atau perasaan diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya. Dengan skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah.

c. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok sehingga siswa termotivasi untuk membantu temannya, karena tujuan dalam pembelajaran kooperatif adalah menjadikan tetap anggota kelompoknya lebih kuat pribadinya. d. Membutuhkan keluwesan yaitu menciptakan hubungan antar pribadi,

mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan yang efektif. e. Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok yaitu tujuan terpenting yang di harapkan dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar keterampilan bekerja sama dan berhubungan, ini adalah keterampilan yang sangat penting dan sangat diperlukan di masyarakat. Para siswa mengetahui tingkat kemampuan dan efektifitas kerja sama yang telah dilakukan c. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al (dalam Isjoni 2000:39), yaitu : 1. Hasil belajar Akademik Dalam pembelajaran kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsepkonsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik

dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. 2. Penerimaan perbedaan individu Tujuan lain pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidak mampuanya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung dan saling menghargai satu sama lain.

3.

Pengembangan keterampilan sosial Tujuan penting ketiga pembelajaan kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki oleh para siswa sebagai warga masyarakat, bangsa dan negara, karena mengingat kenyataan yang dihadapi oleh bangsa ini dalam mengatasi masalahmasalah sosial yang semakin kompleks, serta tantangan bagi para peserta didik supaya mampu dalam mengadapi persaingan global untuk memenangkan persaingan tersebut.

d. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Urutan langkah-langkah pembelajaran kooperatif terlihat pada tabel berikut: Fase-fase Prilaku Siswa

Fasel 1: Present goals and set Menjelaskan tujuan pembelajaran

menyampaikan tujuan tujuan dan dan mempersiapkan peserta didik mempersiapkan peserta didik. Fase 2: Present siap belajar.

informasion Mempersiapkan informasi kepada peserta didik secara verbal.

menyajikan informasi

Fase 3: Organize student into Memberikan

penjelasan

kepada

learning teams. Mengorganisir peserta didik tentang tata cara peserta didik kedalam tim-tim pembentukan belajar. tim belajar dan

membantu kelompok melakukan transisi yang efisien.

Fase 4: Assisi team work and Membantu tim-tim belajar selama study membantu kerja tim dan Peserta belajar. tugasnnya. didik mengerjakan

Fase 5: Test on the materials Menguji pengetahuan peseta didik Mengevaluasi mengenai pembelajaran berbagai atau materi kelompok-

kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Fase 6: Provide recognition Mempersiapkan dan mengakui usaha cara dan untuk prestasi

memberikan penghargaan

pengakuan

individu maupun kelompok

(Suprijono 2004:65)

8. Memberi peluang terjadinya proses partisipasi aktif peserta didik dalam belajar dan terjadinya dialog interaktif.Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran kooperatif harus: 1. Menumbuhkan kesadaran pada peserta didik arti penting asfek sosial dalam individunya. Mempersiapakan peserta didik belajar mengenai kolaborasi dan berbagai keterampilan sosial melalui peran aktif peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil. 9. Teknik belajar mengajar mencari pasangan (make a match) dikembangkan oleh Lorna Curran (dalam Lie 1994:55). kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan makna kartu yang dimiliki. Menumbuhkan produktivitas dalam kelompok. Menciptakan iklim sosio emosional yang positif. 6. Memfasilitasi terjadinya learning to live together. Mengubah peran guru dari center stage performance menjadi koreografer kegiatan kelompok. 5. 2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Mencari Pasangan Pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang perorang apabila jumlah siswa banyak. Memberikan kesempatan terjadinya belajar berdemokrasi Meningkatkan penghargaan peserta didik pada pembelajaran akademik dan mengubah norma-norma yang berkait dengan prestasi. (dalam Suprijono 2009:67) e. 4. . 7. 3.

Pengertian hasil belajar . B. Siswa dilatih untuk dapat bekerjasama. Misalnya. Atau pemegang kartu yang berisi nama Masyitah akan berpasangan dengan pemegang kartu orang yang sabar dan teguh pendirian. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik Setiap siswa mendapat satu buah kartu Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Semua siswa terlibat Adapun kekurangan dari pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan adalah sebagai berikut : 1. 2. siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Adapun langkah langkahnya sebagaia berikut : 1. mempertahankan pendapat 2. Memerlukan waktu yang lama 2.Salah satu keunggulan teknik adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. pemegang kartu yang bertuliskan akhlak terpuji akan berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan sabar. Hasil belajar 1. Guru tidak mengetahui kemampuan siswa masing-masing Jadi pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan adalah proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran di mana dalam prosesnya siswa mencari pasangan sesuai dengan soal dan jawaban yang di dapat. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan adalah : 1. 3.

Keberhasilan pengajaran dilihat dari segi hasil siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dipelajari. Menurut Anni (2004:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar. merencanakan. hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah. Artinya. Yang harus diingat hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. contoh. afektif. pemahaman. nilai. sosial. sehingga memberi warna dan arah dalam semua perbuatanya. menerapkan. memberi respons. menguraikan. Domain psikomotor juga mencakup keterampilan produktif. manajerial dan intelektual. menentukan hubungan. Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa hasil belajar adalah gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dipelajari berupa . fisik. dan menilai. organisasi. Menurut Bloom (2009:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif. teknik. menjelaskan. membentuk bangunan baru. ingatan. Menurut Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa. mengorganisasikan. dan psikomotorik. Domain afektif sikap menerima. Domain kognitif adalah pengetahuan. meringkas. karakterisasi. melainkan komprehensif. tentu mengharapkan bahwa semua hasil yang diperoleh itu membentuk satu sistem nilai yang dapat membentuk kepribadian siswa. yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan.

Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaedah dalam memecahkan masalah 4. Berkaitan dengan penilain ini penulis membatasi hasil belajar pada ranah kognitif yang dilihat dari kemampuan siswa dalam proses pembelajaran yang ditinjau dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakuakan serangkain gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi. nilai-nilai. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi. 3. hasil belajar berupa: 1. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mepresentasikan konsep dan lambang. kemampuan analitis-sintesis fakta konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.perubahan prilaku belajar siswa. apresiasi dan keterampilan. sikap-sikap. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilain terhadap objek tersebut. (Suprijono 2009:6) . Merujuk pemikiran Gagne (Suprijono 2009:5). Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan secara eksternalisasi nilai-nilai menjadikan standar perilaku. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol. baik lisan maupun tulisan kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesif. pengertian-pengertian. dan psikomotorik. 2. Perubahan tingkah laku ini meliputi segenap ranah kognitif. afektif. pemecahan masalah maupun penerapan aturan. 5.

sikap dan kebiasaan belajar. sosial ekonomi. hasil yang dapat diraih masih juga bergantung dari lingkungan. ialah kualitas pengajaran. ketekunan. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar disekolah. minat dan perhatian.(c) sikap dan cita-cita. yakni (a) keterampilan dan kebiasaan. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran. yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti dikemukakan oleh Clark bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa. (Sudjana 1998:45) 2. seperti motivasi belajar. (b) pengetahuan dan pengertian.Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar. Adanya pengaruh dari dalam diri siswa. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. 30% di pengaruhi oleh lingkungan. faktor fisik dan psikis. juga ada faktor lain. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. merupakan hal yang logis dan wajar. Faktor tersebut banyak menarik perhatian para ahli pendidikan untuk diteliti. ada faktor-faktor yang berada diluar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Sunguhpun demikian. sebab hakikat untuk dapat mencapainya. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa. Artinya. seberapa jauh kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh faktor tersebut terhadap hasil belajar siswa. Hasil .

Memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar. Artinya. Sedangkan Caroll (1998:40) berpendapat bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh lima faktor. 5) Memotivasi belajar siswa dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan. Tujuan Umum : 1) 2) 3) b. makin tinggi pula hasil belajar siswa. 3. yakni (a) bakat belajar. 4. Penentuan kenaikan kelas. Menilai pencapaian kompetensi peserta didik. Tujuan Penilaian Hasil Belajar a.belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. (Nana Sudjana 1998:39). (d) kualitas pengajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa disekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Tujuan Khusus : 1) 2) 3) 4) Mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa. Penilaian Hasil Belajar . Empat faktor yang disebutkan diatas (abce) berkenaan dengan kemampuan individu dan faktor (d) adalah faktor diluar individu (lingkungan). Kedua faktor diatas (kemampuan siswa dan kualitas pengajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. Sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa. (b) waktu yang tersedia untuk belajar. makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. dan (e) kemampuan individu. Mendiagnosis kesulitan belajar. (c) waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran. (Nana Sudjana 1998:40). Memperbaiki proses pembelajaran.

Karena usia anak-anak sekolah merupakan usia yang labil. Umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar. di mana perlu ditanamkan sejak dini agar mereka mempunyai aqidah yang baik dan akhlak yang terpuji. hal-hal yang dapat merusak aqidah akhlak. Evaluasi diri terhadap kinerja siswa. Pengertian akidah akhlak Mata pelajaran akidah akhlak adalah salah satu bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan sebagai wahana pemberian pengetahuan. analisis data. 5. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain dengan mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut aqidah akhlak. dimana aqidah dan akhlak merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan maka menjaga aqidah akhlak merupakan hal penting bagi kita. Bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas. c. b. maka sebagian sekolah mulai memasukkan aqidah akhlak ini ke dalam mata pelajaran di sekolah. menjauhkan perbuatanperbuatan yang dapat merusak aqidah akhlak dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. maka pelajaran akidah akhlak menekankan . C. Mengingat begitu pentingnya aqidah akhlak ini. meyakini dan menghayati kebenaran ajaran Islam. bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami. serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. verifikasi terhadap data yang diperoleh. Hakikat Pembelajaran Akidah Akhlak a. Dari penjelasan di atas. serta interpretasi dan penggunaan hasil tes hasil belajar. Meningkatkan motivasi belajar siswa.Fungsi penilaian hasil belajar sebagai berikut. pengumpulan data hasil belajar. Ruang lingkup hasil belajar siswa Ruang lingkup hasil belajar terdiri dari: perencanaan penilain hasil belajar. d. a.

Fungsi pembelajaran akidah akhlak Madrasah Ibtidaiyah: 1. (Nasrun Rusli: 1998:4) b. yaitu untuk menangkal hal-hal negativ dari lingkungan atau dari budaya lain yang dapat membahayakan diri siswa dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. (Nasrun Rusli 1998:5). yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan. Pengajaran. Dan dalam hal . (Nasrun Rusli 1998:4) c. Aqidah: bersisi aspek pelajaran untuk menanamkan pemahaman dan keyakinan terhadap akidah Islam sebagaimana yang terdapat dalam rukun iman. sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga Negara. 2. Tujuan pembelajaran akidah akhlak Madrasah Ibtidaiyah Memberikan kemampuan dasar kepada siswa tentang akidah Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia. Hal ini dapat diidentifikasi dari fungsi dan tujuan mata pelajaran ini. Pengembangan. yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dilingkungan keluarga.bukan hanya pada hasil belajar tetapi juga pada proses belajar. yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan tentang keimanan dan akhlak. Pencegahan. Perbaikan. Kamampuankemampuan dasar tersebut juga dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan pada sekolah lanjutan tingkat pertama. pemahaman. yaitu: a. d. 3. dan pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ruang lingkup pembelajaran akidah akhlak Ruang lingkup pendidikan akidah-akhlak meliputi dua unsur pokok. 4.

hipotesis tindakan adalah: jika pada mata pelajaran akidah akhlak menggunakan model pembelajaran kooperaitf tipe mencari pasangan maka hasil belajar siswa di MI NW No. dan manusia dengan alam lingkungannya. Salah satu alternatifnnya melakukan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). Kerangka Berfikir Kurangnya hasil belajar siswa dalam menyelesaikan tugas atau latihan harus dicarikan pemecahan masalah dengan merubah proses pembelajaran yang konvensional menjadi proses pembelajaran yang inovatif dan dapat memberdayakan siswa dalam proses pembelajaran. orang shaleh. kisah-kisah keteladanan para Rasul Allah. . akhlak tercela. E. 5 Pancor dapat meningkat pada saat proses pelaskanaan pembelajaran akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah. serta adab dalam hubungan manusia dengan Allah. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berfikir tersebut. b. sahabat Rasul. D. Akhlak: akhlak terpuji.bertauhid dapat dipahami dan diamalkan secara terpadu dua bentuk tauhid yaitu rububiyah dan uluhiyah. manusia dengan sesamanya. Dengan penggunaan metode kooperatif tipe mencari pasangan tersebut dalam proses belajar mengajar diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat.

5 Pancor dengan jumlah siswa 20 dengan perincian 11 laki-laki dan 9 perempuan sedangkan yang menjadi observer dalam penelitian ini adalah guru dan teman sejawat. Subjek penelitian Subyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah. 5 Pancor pada siswa kelas IV dimana waktu pelaksanaannya yaitu pada Tahun Ajaran 2011/2012.BAB III METODE PENELITIAN A. C. B. 2006). . Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang lazim disebut classroom research (Suharsimi Arikunto. siswa siswi kelas IV MI NW No. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MI NW No.

Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan yaitu penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model action research classroom. 5 Pancor. 5 Pancor melalui model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan 2. 5 Pancor dengan melibatkan siswa berdasarkan situasi kelas khususnya dalam pembelajaran akidah akhlak. D. Penelitian ini di laksanakan selama 3 siklus yang saling terkait dan berkesinambungan.Adapun faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1. tindakan. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tingkat ketercapaian tujuan yang diharapkan dan rincian indikator yang diteliti. Faktor siswa. Model penelitian ini digunakan agar dapat mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. Prosedur (Langkah-langkah Penelitian ) 1. yaitu kegiatan guru selama pelajaran di kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. dan refleksi. Masing-masing siklus dilakukan dalam 4 tahap yaitu tahap perencanaan. Faktor guru. observasi. Adapun penjelasan masing-masing antara lain : . melihat hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No.

b. 2.2 Implementasi Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah pelaksanaan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas VI MI NW No. Kegiatan Pendahuluan 1.1. Langkah-langkah Sesuai dengan rancangan penelitian yang di rencanakan.1 Siklus I 2. Membuat kartu soal dan jawaban dengan metode make a match. Review. apersepsi. a. Menjelaskan kepada siswa tentang model pembelajaran yang dipakai serta manfaatnya II. Kegiatan Inti . 5 Pancor untuk melihat tingkat hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.1 Perencanaan Kegiatan yang di laksanakan pada tahap ini adalah : Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencerminkan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe make a match. maka langkah-langkah penelitian yang di lalui sebagai berikut : 2. motivasi 2.2. Tahap pelaksanaan tindakan yang dilakukan sebagai berikut: I. Menyusun instrumen (lembar observasi) aktivitas guru dan siswa siklus I untuk lembar observasi aktivitas siswa digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa.1.

III. Setip pasangan dibagikan LKS 4. 3. Guru membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa. 2. 6. Kegiatan Penutup 1. 2. Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompoknya menyampaikan hasil kerja kelompoknya.1.2. Guru membimbing dan mengarahkan siswa dalam menyelesaikan tugas siswa.3 Refleksi Pada tahap ini guru merefleksikan diri dengan melihat data observasi apakah proses pembelajaran yang dilakukan telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengacu pada indikator kinerja yang telah ditetapkan. 2. Siklus II Guru bersama siswa membahas soal Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran . 2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya . Siswa yang mendapat soal mencari pasangan jawaban atas soal yang di dapat.1. Hasil refleksi (analisis dan interprestasi) terhadap data yang diperoleh selanjutnya dijadikan dasar untuk melakukan revisi atau perbaikan pada tindakan selanjutnya. 5.

Instrumen Penelitian Instrumen dalam penilaian ini adalah lembar observasi yang berisikan indikator keberhasilan pembelajaran akidah ahklak yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. yang prinsip kerjanya sama dengan siklus I dan II Akan tetapi pada siklus ini dilakukan perbaikan berdasarkan pada kelemahan siklus II. Diperoleh melalui pengantar langsung dalam setiap pertemuan di dalam kelas. Teknik pengumpulan data 1. a. 2. Lembar Observasi Lembar observasi memuat kegiatan pembelajaran untuk setiap konsep yang dikaji. Akan tetapi pada siklus ini dilakukan perbaikan berdasarkan pada kelemahan siklus I. aktivitas siswa dan guru serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran. yang prinsip kerjanya sama dengan siklus I.Pada prinsipnya pada siklus II ini merupakan perbaikan dari siklus I. Siklus III Pada prinsipnya pada siklus III ini merupakan perbaikan dari siklus II.3. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran langsung tentang proses pembelajaran . E. dimana hasil observasi berupa catatan lapangan yang mengacu pada format observasi yang berisikan deskrifsi dalam indikator prilaku siswa yang diturunkan dari teori atau konsep model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan yang akan diamati selama proses pembelajaran.

menggunakan model siklus belajar. b. Adapun indikator-indikator aktivitas siswa sesuai dengan karakteristik adalah model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan: a. Kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran. c. 3. Data hasil Belajar Siswa . Aktivitas guru dalam diskusi kelompok. e. Aktivitas guru dalam mengakhiri pelajaran. Keaktifan siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus. Teknik penelitian Teknik yang akan digunakan dalam penelitian ini dengan cara membuat format deskrifsi dalam indikator prilaku siswa yang diturunkan dari teori atau konsep model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan yang akan diamati selama proses pembelajaran. Indikator kinerja aktivitas guru yang terkait dengan keberhasilan pelaksanaan tindakan kelas ini adalah apabila pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif telah dilaksanakan optimal dengan prosentase 90% sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Kesiapan guru dalam melaksanakan diskusi kelompok Interaksi guru dengan siswa. c. d. 2. Aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran Interaksi siswa dengan guru Aktivitas siswa dalam kelompok Adapun indikator-indikator aktivitas guru sebagai berikut: a. Tahap kegiatan observasi dalam siklus belajar dilakukan sendiri oleh peneliti. b. d.

kemudian dipaparkan lebih sederhana menjadi paparan yang berurutan berupa paparan data dan akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentukan pernyataan kalimat yang singkat dan padat. Data kuantitatif dan kualitatif diperoleh dari hasil observasi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Dari pemilihan data tersebut. 5 Pancor tahun pelajaran 2011/2012 2) Jenis-jenis Data. data aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran yang diperoleh dengan teknik observasi. b. Teknik Analisis Data 1. Data pada penelitian ini adalah data aktivitas guru. meringkas. menentukan fokus. Data dan Cara Pengumpulannya 1) Sumber Data: Sumber data dalam penelitian ini adalah Kelas IV MI NW No. Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif 3) Cara pengambilan data: a. tetapi mengandung pengertian yang luas. F.Data hasil belajar siswa diperoleh melalui Tes Hasil Belajar (THB) setelah siswa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan. dan mengubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan lapangan. 4. menyederhanakan. Hasil Belajar Siswa Reduksi Data merupakan proses menyeleksi. Data kuantitatif dan kualitatif diperoleh dari hasil obesrvasi aktivitas guru dan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa maka digunakan rumus: .

SA 100% SMI Keterangan: P! P SA = Persentil = Skor perolehan   SMI = Skor maksimal ideal Standar pencapaian aktivitas guru dan siswa dalam pelaksanaan model make a match (berpasangan) dalam pelajaran akidah akhlak adalah: 81 ± 100 = Baik sekali 67 ± 80 57 ± 66 46 ± 56 0 ± 45 3. (Muchtar dalam Nurkencana.1990:99) Data aktivitas siswa . = Baik = Cukup baik = Kurang = Sangat kurang.P v 100% N Keterangan: KB = Persentase ketuntasan belajar siswa KB ! P = Banyak siswa yang memperoleh nilai u 65 N = Banyak siswa Data aktivitas guru Untuk mengetahui data aktivitas guru selama proses pembelajaran hasil observasi aktivitas guru dianalisis dengan cara sebagai berikut: 2.

Data-data tersebut dipaparkan secara berurutan sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaan dari setiap siklus. HASIL PENELITIAN Dalam hal ini untuk mengetahui data hasil penelitian berupa tindakan selama proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan tipe (make a match) untuk upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV MI NW No. . 5 Pancor Pada bab ini disajikan juga hasil refleksi dan pembahasan hasil penelitian.Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa berdasarkan aktivitas siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut: P! SA x100% SMI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN B.

Bentuk dari model Kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) ini adalah kartu-kartu.Kegiatan pembelajaran ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus. setelah data diolah dan analisis dengan metode dan rumus yang ditetapkan sebelumnya baik siklus I dan siklus II diperoleh data sebagai berikut: 1. Perencanaan Setelah ditetapkan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) maka pada awal bulan Juli 2011 di MI NW No. Setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan dimana penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2011 di MI NW No. observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa yang diambil dengan menggunakan lembar observasi. Materi yang dibahas yaitu akidah akhlak pada materi pokok membiasakan akhlak terpuji yaitu teguh pendirian dan sabar. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan mengikuti prosedur PTK maka masing-masing siklus terdiri dari perencanaan. Data hasil penelitian siklus I a. 5 Pancor kelas IV. Selama proses pembelajaran berlangsung. Data hasil observasi dan tes diperoleh data kualitatif tentang kegiatan guru serta data kuantitatif hasil belajar siswa dan aktifitas siswa. pelaksanaan tindakan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan dengan waktu 2x35 menit. 5 pancor peneliti melakukan diskusi dengan Guru kelas IV sebagai upaya untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match secara optimal. . observasi.

tahap awal.  Menyusun instrument (Lembar observasi) aktivitas guru dan siswa siklus I  Membuat kartu soal dan jawaban tipe make a match (mencari pasangan). tindakan peneliti sebagai guru dan observer terdiri dari guru dan teman sejawat sebanyak 2 (dua) orang. Selanjutnya peneliti bersama guru menyiapkan halhal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan yakni:  Rencana pelaksanaan penbelajaran (RPP) yang menceminkan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe (make a match). Kegiatan awal Guru mengecek kehadiran siswa yang terdiri dari 20 orang siswa dan semua siswa masuk.Pada tahap perencanaan ini peneliti berdiskusi tentang segala hal yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran. . b. Selanjutnya guru menjelaskan tentang metode yang akan digunakan yakni model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). Pada tahap ini. Adapun tahap-tahap pelaksanaan tipe make a match antara lain: (1) Guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada siswa. inti dan akhir. Pelaksanaan tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran dikelas sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam skenario pembelajaran. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 12 Juli 2011 Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini yaitu menerapkan pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan yaitu.

(5) Guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas siswa. siswa pemegang kartu yang bertuliskan Masyithah akan berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan contoh orang yang teguh pendirian dan sabar atau siswa pemegang kartu bertuliskan manfaat teguh pendirian dan sabar akan berpasangan dengan siswa pemegang kartu disayang oleh Allah SWT yang bertuliskan dengan orang lain. Pada saat guru menjelaskan metode make a match. Misalnya. Kegiatan inti Guru membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa yang sesuai dengan materi pembelajaran yang dibahas.(2) Siswa yang mendapat soal mencari pasangan jawaban atas soal yang telah diberikan. kemudian guru membagi siswa menjadi 2 kelompok besar yaitu 2 deret bangku sebelah kiri mendapatkan kartu jawaban dan 2 deret bangku sebelah kanan mendapatkan kartu soal. (3) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu yang didapat. (4) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya. Guru mengulangi kembali penjelasannya. (6) Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompoknya untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya. Dalam hal ini siswa dituntut untuk benar-benar memahami isi kartu yang didapat agar siswa dengan mudah . guru kurang mempertegas tentang aturan main make a match sehingga nampak ada 6 (enam) orang siswa yang masih kelihatan bingung.

Selanjutnya masing-masing kelompok pasangan mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas.menemukan pasangan kartunya. siswa yang mendapat kartu soal yang bertuliskan Masitah contoh orang yang akan berpasangan dengan siswa yang mendapatkan kartu bertuliskan teguh pendirian dan sabar. Hasil pengamatan Data dari hasil pengamatan yang di deskripsikan disini terdiri dari data aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa. Misalnya. Setelah semua siswa mendapat masing-masing kartu. binggung dan lambat menemukan pasangannya. Setelah presentasi siswa melakukan tanya jawab dari materi yang dijelaskan. guru memberikan kesempatan 5 menit kepada siswa untuk mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok. c. Kegiatan akhir Guru bersama siswa membahas soal dengan melakukan tanya jawab kepada siswa tentang kesulitan terhadap tugas siswa yang telah diberikan. Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk duduk menurut pasangan kartunya kemudian guru membagikan LKS pada tiap pasangan kelompok. Selanjutnya guru menyimpulkan hasil pembelajaran. pada saat siswa mencari pasangan kartunya tampak situasi kelas ribut dan masih ada 6 orang siswa yang kesulitan. 1) Aktivitas guru .

5 62.62 2.75 2. Pemberian apersepsi kepada 2.0 17.26% Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas guru pada siklus I adalah 16.62 2.75 2.75 kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) 4.75 2.75 2.25 2. Pelaksanaan pembelajaran 2. Membimbing siswa dalam kelompok pasangan Membimbing siswa selama proses belajar berlangsung Membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas Menutup pembelajaran Total skor Persentase 2.0 1.0 siswa 3.26% dan tergolong cukup oleh karena itu aktivitas guru pada siklus selanjutnya perlu ditingkatkan.75 2.Pengamatan terhadap proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yaitu lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa.5% 2. 01.98 dengan persentase 60.0 16. 6. maka dapat di paparkan data sebagai berikut: Tabel.03% RataRata 2.25 58. 7.12 2. 5.98 60.75 2.25 2.75 16. . Hasil observasi data aktivitas guru Siklus 1 Skor Hasil Observasi No Indikator Observasi 1 Observasi 2 1. Persiapan sebelum mengajar 2.12 2.5 2. Berdasarkan data hasil pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran oleh guru yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.75 2.5 2.

Hasil nilai evaluasi siswa siklus I No Jenis Penilain Skor .06% dan tergolong cukup aktif.25 Presentase 64. 3.5 2.0 pelajaran Total skor 10. Hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus I Skor hasil observasi RataIndikator Rata Observasi 1 Observasi 2 Interaksi siswa dalam bertanya 2. 03. 2.25 10.5 diskusi Kecepatan siswa dalam 2.25 2.75 3. 02.0% 64.06% 64. 3) Data Hasil Evaluasi Tabel.2) Aktivitas siswa Pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa diperoleh dari lembar observasi aktivitas siswa selama berlangsungnya pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan lembar obeservasi aktivitas siswa diperoleh data aktivitas siswa pada siklus I dipaparkan pada tabel berikut: Tabel.5 2. Dengan melihat tabel di atas selama proses pembelajaran berlangsung dapat diketahui dari lembar observasi yang dilakukan oleh observer bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 64.5 Kemampuan siswa dalam 2. 4.0 3.06% No.5 2.5 2.5 2. 1.25 menemukan pasangan dalam mencocokkan jawaban dan soal Kesiapan siswa mengikuti 2.25 10.

Refleksi Indikator kerja yang meliputi aktivitas belajar siswa sudah terlihat pada siklus I. 3) Ketika siswa mencari pasangan kelompoknya.1 2 3 4 5 6 Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang ikut tes Presentase ketuntasan siswa 50 85 64.5 dengan presentase ketuntasan siswa adalah 60% yang dapat dikategorikan cukup sehingga pembelajaran dilanjutka kesiklus berikutnya. Pada pelaksanaan siklus I terdapat beberapa kekurangan yang akan dilakukan tindakan perbaikan untuk siklus II. guru tidak mengontrol siswa sehingga siswa ribut dalam mencari pasangannya. 2) Dalam pemberian apersepsi ini guru tidak mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dibahas. Adapun kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus I antara lain: 1) guru tidak secara tertulis menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. Guru kurang mempertegas tugas siswa dalam pasangan kelompok sehingga ada 6(enam) orang siswa yang masih bingung dalam tugasnya sehingga menyulitkan siswa dalam memahami materi.50 12 20 60% Dari tabel di atas dapat dilihat rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus I adalah 64. Guru kurang menegaskan . 4).

kepada siswa untuk dapat kerjasama kelompok karena guru sudah melihat secara klasikal dalam setiap kelompok. . 4) Guru tidak memberikan bimbingan sepenuhnya kepada kelompok siswa yang tidak aktif memecahkan masalah dalam diskusi karena selain jumlah kelompok yang sedikit juga karena kurangnya pengamatan yang diberikan oleh guru. Dalam presentasi didepan kelas siswa masih saling perintah untuk maju karena masih malu-malu untuk berbicara didepan kelas. antara lain: 1) Guru secara tertulis menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. 6) Guru tidak memperhatikan alokasi waktu yang sudah terencana pada saat diskusi kelompok. 5) Guru kurang memberikan motivasi kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa masih malu-malu untuk berbicara. Berdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa hasil yang dicapai pada silus I terlihat bahwa hasil belajar siswa dengan kategori kurang. 7) Guru langsung meminta siswa untuk mencatat kesimpulan sendiri tanpa terlebih dahulu bersama guru membahas soal dan membuat kesimpulan mengenai hasil pembelajaran secara bersama-sama. oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus II. Selain itu guru tidak sepenuhnya memberikan bimbingan kepada siswa agar siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.

5) Guru memberikan motivasi kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa tidak akan malu-malu lagi dalam berbicara. Guru mempertegas tugas siswa dalam kelompok pasangan sehingga siswa yang belum memahami tugasnya tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami materi. guru diharapkan lebih mengontrol siswa sehingga siswa tidak terlalu ribut dalam mencari pasangan kartunya. Guru memberikan penguatan dalam mempresentasikan materi sebagai motivasi bagi siswa agar siswa tidak malu berbicara didepan kelas. 2. guru membimbing siswa agar mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Guru menegaskan kepada siswa dengan cara mendatangi setiap kelompok pasangan untuk dapat bekerjasama secara optimal dalam kelompoknya. Pada siklus II ini materi yang dibahas .2) Dalam pemberian apersepsi ini guru mengaktifkan Tanya jawab untuk mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dibahas. Selain itu. Hasil siklus II Pelaksanaan pembelajaran siklus II hampir sama dengan siklus I namun pada siklus II dilakukan perbaikan berdasarkan hasil refleksi siklus I. Kegiatan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2011. 3) Ketika siswa mencari pasangan kelompoknya. 4) Guru memberikan bimbingan secara optimal kepada kelompok siswa yang tidak aktif dalam memecahkan masalah pada saat diskusi berlangsung.

Pada pelaksanaan tindakan ini peneliti bertindak langsung sebagai guru dan observer terdiri dari guru dan teman sejawat sebanyak 2 (dua) orang. yakni tahap awal.yaitu akhlak terpuji jujur Adapun kegiatan pada siklus II ini terdiri dari 4(empat) tahap. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran dikelas sesuai dengan perbaikan rencana yang telah dibuat dalam skenario pembelajaran.Juni 2011. Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini yaitu menerapkan pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) yang terdiri dari 3(tiga) tahap. tahap inti dan tahap akhir. b. Kegiatan awal Pada saat proses pembelajaran guru mengecek kehadiran siswa dan semua siswa hadir. 2) Menyusun instrument (Lembar observasi) aktivitas guru dan siswa siklus II 3) Membuat kartu soal dan jawaban tipe make a match (mencari pasangan). Perencanaan Mengacu pada hambatan yang muncul pada siklus I peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang dibuat berdasarkan skenario Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sehingga kesalahan yang terjadi pada siklus I tidak terulang pada siklus II. Adapun tahapan-tahapan pada kegiatan perencanaan ini antara lain: 1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mencerminkan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan). Selanjutnya guru menjelaskan dan menegaskan model pembelajaran . Penelitian ini dilakukan pada tanggal««. yakni: a.

Selanjutnya . Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk duduk menurut pasangan kartunya kemudian guru membagikan LKS pada tiap pasangan kelompok. Setelah semua siswa mendapat masing-masing kartu. Pada kegiatan inti Guru membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa yang sesuai dengan materi pembelajaran yang dibahas. (4) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya.kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) pada siswa. (2) Siswa yang mendapat kartu soal mencari pasangan jawaban atas soal yang didapat. Dalam hal ini siswa dituntut untuk benar-benar memahami isi kartu yang didapat agar siswa dengan mudah menemukan pasangan kartunya. (5) Guru membimbing dan mengarahkan siswa dalam menyelesaikan tugas. kemudian guru membagi siswa menjadi 2(dua) kelompok besar yaitu 2(dua) deret bangku sebelah kiri mendapatkan kartu jawaban dan dua deret bangku sebelah kanan mendapatkan kartu soal. (3) Setiap pasangan dibagikan LKS. siswa yang mendapat kartu soal yang bertuliskan contoh ahklak terpuji akan berpasangan dengan siswa yang mendapatkan kartu bertuliskan jujur. Pada saat siswa mencari pasangan kartunya tampak situasi kelas ribut dan masih ada 4 orang siswa yang kesulitan dan lambat menemukan pasangannya. Misalnya. guru memberikan kesempatan 5 menit kepada siswa untuk mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok. Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan antara lain: (1) Guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada tiap siswa. (6) Guru memberikan kesempatan pada tiap-tiap kelompok untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya.

Pada kegiatan akhir Guru bersama siswa membahas soal dengan melakukan Tanya jawab kepada siswa tentang kesulitan terhadap tugas yang diberikan. Setelah presentasi siswa melakukan Tanya jawab dari materi yang dijelaskan.masing-masing kelompok pasangan mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas.87 4.87 .0 2.5 4. Pemberian apersepsi kepada siswa 4. Hasil observasi aktivitas guru Siklus II Skor hasil observas No. Hasil Pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran oleh guru yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi maka dapat dipaparkan data seperti pada tabel berikut: Tabel. 1.0 4. Pelaksanaan pembelajaran 3.0 3. c.75 4.0 3. Dan selanjutnya guru menyimpulkan hasil pembelajaran. Indikator Observasi I Observasi II 1. Persiapan sebelum mengajar 37.0 kooperatip tipe make a match (mencari pasangan) RataRata 3. Data hasil pengamatan pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan siklus I yang terdiri dari data aktivitas guru dan siswa. 04. Aktivitas guru. Pengamatan terhadap proses belajar dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yaitu lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas belajar siswa.

75 3.0 3. Keaktifan siswa dalam 4.5 4.25 4.0 3.0 26.18% 90.75 3. 2.5 3.75 mengikuti pembelajaran Total skor 14.5 94. 7. Membimbing siswa dalam kelompok Membimbing siswa selama proses belajar berlangsung Membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas Menutup pembelajaran Total skor Presentase 4.5 3.5 26.62 Persentasi 92. Hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus II. Kecepatan siswa dalam 3.62 menemukan pasangan jawaban dan soal 4.25 93. Berdasarkan lembar observasi aktivitas belajar siswa.53% 3. Indikator Skor hasil observasi Rata-rata Observasi I Observasi II 1.75 95.25 3.62 91. Tabel.25 4.87 bertanya 2.64% berdasarkan penggolongan aktivitas guru maka rata-rata presentase aktivitas guru tergolong aktif. 5.40% .75 26. Keaktifan siswa dalam 3.37 diskusi 3. 05. 6.4.5 3.64% Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas guru pada siklus II adalah 94.0 3.75 14.0 4. No. Keaktifan siswa dalam 3.75% 3.5 14. Aktifitas siswa Pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa diperoleh dari lembar observasi aktivitas belajar siswa selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung.0 3.75 3.25 4.0 3.

00 dengan presentase 90% Dengan demikian indikator hasil belajar siswa sudah melampaui indikator 75%. Hal ini berarti bahwa model kooperatif make a match (berpasangan) dalam meningkatkan hasil belajar pada siklus II dibandingkan pada siklus I dan sudah melampaui indikator keberhasilan 75% sehingga penelitian ini dihetikan sampai pada siklus II. 4).62 dengan presentase 91. Dan hasil belajar siswa skor rata-rata 76. 3. Data hasil evaluasi Tabel. C. 06.40% berdasarkan penggolongan aktivitas belajar siswa maka rata-rata presentase aktivitas belajar siswa tergolong aktif. PEMBAHASAN . Hal ini terlihat pada aktivitas belajar siswa yang sudah mencapai skor rata-rata 14. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa indikator kerja sudah tercapai.Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II adalah 91.40% yang dapat dikategorikan sangat baik. Hasil nilai evaluasi siswa siklus II No Jenis Penilain 1 Nilai terendah 2 Nilai tertinggi 3 Rata-rata 4 Jumlah siswa yang tuntas 5 Jumlah siswa yang ikut tes 6 Presentase ketuntasan siswa Skor 60 95 76. Refleksi.00 18 20 90% Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa ketuntasan belajar siswa adalah dengan presentase ketuntasan yang diperoleh ini menunjukan sudah tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal yaitu 90% hasil yang diperoleh menunjukan indikator kerja telah tercapai.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang dilaksanakan di MI NW No.98 dengan kategori kurang artinya skor aktivitas guru siklus I belum melampaui indikator keberhasilan minimal 90%.40% Berdasarkan hasil tabel diatas. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS dengan pasangan kelompoknya dan guru membimbing siswa untuk mengerjakan LKS. Make a match diawali dengan membagikan kartu soal dan jawaban pada tiap siswa.64% 14. Pada siklus II terjadi peningkatan.5 dengan persentase 94. Sebelum menutup pembelajaran siswa mempresentasikan hasil diskusi serta menyimpulkan hasil pembelajaran.62 dengan capaian persentase 91.25. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa rata-rata skor 10. Kemudian tiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. 5 Pancor dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan).26% 10.06% dengan kategori kurang artinya aktivitas belajar siswa belum melampaui indikator keberhasilan 75%.25 64. Adapun hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa dari siklus I dan II antara lain ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel.5 94. Dengan capaian persentase 64.62 91.40% . hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa rata-rata skor aktivitas guru adalah 16. 07. adapun skor aktivitas guru dengan perolehan skor 26. Data aktivitas guru dan aktivitas siswa Siklus Aktivitas guru Aktivitas siswa Rata-Rata presentase Rata-Rata skor Presentase skor I 16.64% dapat dikategorikan sangat baik karena sudah melampaui indikator 90%.06% II 26. Sedangkan aktivitas belajar siswa dengan rata-rata skor 14.98 60. Selanjutnya siswa yang mendapat soal mencari jawaban atas soal yang didapat.

Guru memberikan penguatan kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa tidak malu-malu lagi untuk berbicara didepan kelas. Ketika mencari pasangan kartunya guru kurang mengontrol siswa sehingga siswa menjadi gaduh. nampak beberapa kekurangan yang terjadi pada tiap siklusnya. Berdasarkan kekurangan tersebut maka dilakukan tindakan perbaikan yang dilaksanakan. secara tertulis guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. Diantaranya. Guru tidak memberikan bimbingan sepenuhnya kepada kelompok yang tidak aktif memecahkan masalah dalam diskusi. guru kurang mempertegas tugas siswa dalam pasangan kelompok. Selain itu guru memberikan bimbingan . Guru mendatangi tiap kelompok guna memberi motivasi agar siswa bisa bekerjasama dengan kelompok pasangannya.dapat dikategorikan sangat baik karena sudah melampaui indikator keberhasilan 75%. Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru. Guru mempertegas tugas siswa dalam pasangan kelompok. diantaranya guru tidak secara tertulis menyamapikan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai. Guru mengontrol siswa pada saat mencari pasangan kartu jawaban dan soal sehingga siswa tidak terlalu gaduh. Dengan demikian aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Guru kurang memberikan penguatan kepada siswa dalam mengembangkan gagasan sehingga siswa masih malu-malu untuk berbicara. Guru memberikan bimbingan lebih kepada siswa yang tidak aktif dalam memecahkan masalah pada saat diskusi. Adapun kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Guru tidak memperhatikan alokasi waktu pada saat diskusi seperti yang sudah terencana. Guru mengaktifkan Tanya jawab untuk mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang dibahas. Guru kurang menegaskan kepada siswa untuk dapat bekerjasama dalam kelompok pasangan.

5 dengan persentase 94.50 60% II 76. adapun skor aktivitas guru dengan capaian skor 26. (2) Siswa yang mendapat kartu soal mencari pasangan jawaban atas soal yang di berikan.50 dengan presentase ketuntasan yang diperoleh adalah 60% maka masih dikatakan kurang sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 76.62 dengan capaian persentase 91. Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II sudah tercapai dengan tahapan make a match sebagai berikut . Sedangkan aktivitas belajar siswa mencapai rata-rata skor 14.00 90 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 64. Guru memberikan penguatan dalam mempresentasikan di depan kelas sebagai motivasi serta guru lebih memperhatikan alokasi waktu yang sudah terencana. (1) Guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada tiap siswa. (3) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu yang di dapat. (5) . Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS.kepada siswa agar siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. 08.00 dengan presentase ketuntasan 90% dapat dikategorikan sangat baik.40% dapat dikategorikan sangat baik.64% sehingga dapat dikategorikan sangat baik sehingga pada siklus ini sudah melampaui indikator keberhasilan minimal 90%.(4). Tabel. Hasil nilai evaluasi siswa Siklus Nilai rata-rata Presentase ketuntasan siswa I 64. Pada siklus II terjadi peningkatan.dengan demikian aktivitas siswa dan hasil belajar siswa sudah melampui indikator keberhasilan minimal 75% oleh karena itu melihat data diatas mengalami peningkatan maka penelitian dihentikan sampai siklus II.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas IV mengalami peningkatan tiap siklusnya. (6) Memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya. peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) pada Mata pelajaran akidah akhlak kelas IV MI NW No. Kesimpulan . 5 Pancor Tahun Ajaran 2011/2012. BAB V PENUTUP A. Dengan demikian.Membimbing dan mengarahkan siswa dalam mengerjakan tugas.

Aktivitas siswa belum melampui indikator keberhasilan minimal 75%. 5 Pancor Tahun pelajaran 2011/2012 dengan presentase ketuntasan belajar klasikal melebihi 70% yang dicapai pada siklus II. 2. 5 Pancor pada materi pokok ahklak terpuji dengan model kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dimana guru membagikan kartu soal dan jawaban kepada siswa. Pembelajaran kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 64.40% keaktivitasan siswa sudah melampui indikator ketercapaian 75%. Melalui pembelajaran dengan model kooperatif tipe make a match (mencari pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar akidah ahklak kelas IV MI NW No. B. Saran Adapun saran-saran yang dapat peneliti sampaikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: .00 dengan presentase ketuntasan 90%. terjadi peningkatan aktivitas siswa mencapai 91. 3. Dengan demikian hasil belajar siswa mengalami peningkatan secara signifikan.50 dengan presentase ketuntasan 60% pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dengan nilai rata-rata 76.Berdasarkan analisis diatas serta pengolahan data dalam penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa: 1. Sedangkan pada siklus I nilai rata-rata 64.5%. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah ahklak kelas IV MI NW No. Pada siklus II.

. kedisiplinan terhadap waktu agar dapat dicontoh oleh peserta didik. Bagi sekolah Menyediakan pasilitas yang memadai seperti buku-buku bacaan dan sarana atau media pembelajaran yang menunjang keberhasilan pembelajaran dan mengontrol kegiatan proses belajar. Bagi siswa Siswa kelas IV MI NW No. dan hendaknya membuat kelompok belajar agak mudah untuk menyelesaikan persoalan dalam pelajaran 2. Bagi guru Diharapkan agar guru menerapkan model pembelajaran make a match (mencari pasangan) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akidah ahklak dan memperhatikan kekurangan-kekurangan yang ada pada hasil penelitian ini sehingga hasil pembelajaran akan lebih optimal 3. 5 Pancor hendahnya dapat mengikuti seluruh aktivitas yang berlangsung disekolah.1. khususnya saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->