PENGARUH VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DI DALAM BASIS KRIM TERHADAP PENETRASI ZAT AKTIF

Henny Lucida, Vinny Hosiana dan Vivi Muharmi Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Andalas Padang E-mail: hennylucida@gmail.com ABSTRACT
A study on formulation of cream in a base containing Virgin Coconut Oil (VCO) with Piroxicam (1%) as a model has been undertaken. VCO concentration in the creambase were made 0 %, 31%, 36% and 41% respectively to determine the influence of VCO concentration on the penetration profile of the drug. The profil of penetration was d tr n db u i Fa zd fs n c l(eta t e wt temi ’ si a dp 8 eemi e y s g rn i i e v rc ly ) i h n f o u l i p h cs k n H e n phosphate buffer as membrane and medium respectively. Concentration of piroxicam released was determined spectrophotometically at wavelength 353.2 nm. Results indicated that the penetration profile of piroxicam from formula 1, 2 and 3 followed zero order kinetic with the slope (k) of 0.0171 (r = 0.9913); 0.0217 (r = 0.9869) and 0.0217 (r = 0.9939) respectively, while that from formula 4 followed Higuchi equation with the slope (k) of 0,0570 mg/sec (r = 0.9853). The highest rate was observed from Formula 4 (VCO concentration was 41%). Statistical análysis showed that VCO affected the release of piroxicam from the formulation significantly (p<0,01). Keywords: Virgin Coconut Oil (VCO), penetrant enhancers, piroxicam
1/ 2

PENDAHULUAN Rute pemberian obat secara transdermal merupakan suatu alternatif untuk menghindari variabilitas ketersediaan hayati obat pada penggunaan per oral, menghindari kontak langsung obat dengan mukosa lambung sehingga mengurangi efek samping obat tertentu, juga untuk memperoleh konsentrasi obat tr k lip d tmp t ej y. a n k l meu a a s au’ el as a a e a k r na N mu , ut rp k n u t barrier’ l o ir a i a mi a dengan lapisan terluar (stratum corneum) tersusun atas jalinan kompak ’ ytl e li l le c s l id a l ’sehingga bersifat impermeabel terhadap sebagian r ai p n mea besar senyawa obat (Williams dan Barry, 2004). Beberapa teknik formulasi dengan tujuan memodifikasi atau melemahkan susunan lipid interselluler stratum corneum telah dikembangkan sehingga transport obat melalui kulit dapat ditingkatkan. Diantaranya adalah menggunakan senyawa peningkat penetrasi (penetration enhancers) seperti dimetil sulfoksida (DMSO), dimetil asetamida (DMA), dimetil formamida (DMF), propilen glikol, gliserol dan lain-lain (Williams dan Barry, 2004). Pemakaian pelarut organik seperti DMSO terbukti efektif dalam meningkatkan penetrasi senyawa obat seperti golongan barbiturat, steroid, dan

104

asiklovir. Dilakukan pemeriksaan piroksikam. Asam oleat dan asam laurat telah digunakan sebagai peningkat penetrasi senyawa obat seperti estradiol. METODE PENELITIAN Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu sel difusi Franz tipe vertikal .53 % asam laurat (C12). 2000). sifatnya yang melembutkan kulit serta ketersediaan VCO yang melimpah di Indonesia membuatnya berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan pembawa sediaan obat. 5 fluorourasil dan asam salisilat (Williams dan Barry.5 –2. parafin cair. gliserol. menyisakan perubahan morfologis yang signifikan pada kulit dan toksik. Sedangkan bahan yang digunakan adalah piroksikam (courtesy PT. Santoyodan Pygartua. 2005). air suling. namun memiliki kelemahan diantaranya bersifat iritan. boraks. kulit mencit putih betina. dan asam stearat menurut persyaratan Farmakope Indonesia III dan IV. diantaranya sebagai peningkat penetrasi. pisau pencukur. 1991. trietanolamin. 1. mikroskop yang dilengkapi mikrometer. VCO ( Bio Virco Phytomega®). VCO mengandung 92 % asam lemak jenuh yang terdiri dari 48 . cetaceum. Spektrofotometer UV-Visibel (Shidmadzu 1601). parafin cair.9 %.boraks.griseofulvin. timbangan analitik dan alat-alat gelas lainnya. Santoyo dan Pygartua (2000) melaporkan bahwa asam oleat dan asam laurat dapat meningkatkan absorpsi per-kutan piroksikam secara in-vitro. Asam-asam lemak dilaporkan berpotensi meningkatkan penetrasi beberapa senyawa obat (Niazy. asam lemak lainnya seperti 8 % asam kaprilat (C8) dan 7% asam kaprat (C10) (Syah. semua bahan merupakan pharmaceutical grade. Dibuat 4 macam formula krim dengan kadar bahan aktif 1 % 105 .5 % asam oleat. pH meter (E-520). NaCl 0. Santoyodan Pygartua. sebagai model penetran digunakan piroksikam. gliserin. trietanolamin. 2000). Minyak kelapa murni ( Virgin Coconut Oil atau VCO ) merupakan produk olahan asli Indonesia yang mulai banyak digunakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. asam stearat. Kimia Farma). Tulisan ini menampilkan data eksperimental mengenai pengaruh penambahan VCO dalam basis krim terhadap profil dan laju penetrasi senyawa obat. cera alba. 2004. cetaceum. pengaduk magnetik. Kandungan asam lemak (terutama asam laurat dan oleat) dalam VCO. progesteron. cera alba.

4 2.8 1 46 F4 1 41 6. 106 .8 0. Krim yang sudah jadi disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan terlindung cahaya. Sediaan ini dievaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis.8 0. uji daya menyebar.5 0.4 2. dan pemeriksaan kadar piroksikam. Pada suhu yang sama masa 1 dan masa 2 dicampurkan dalam lumpang panas sambil digerus sampai terbentuk masa krim yang homogen. cera alba.8 0. tipe krim. Untuk F2.5 6. dan parafin cair dilebur di penangas air pada suhu 700 C (masa 1). Terakhir.5 6. stabilitas fisik sediaan.4 2. uji iritasi kulit. lalu terus digerus sampai homogen.dan variasi konsentrasi VCO.5 6. cetaceum.5 0. dan F4.8 1 51 F3 1 36 6.8 0.5 0. (g) VCO (g) Cetaceum (g) Asam stearat (g) Cera alba (g) Trietanolamin (g) Boraks (g) Gliserol (g) Air suling (ml) F1 1 31 6. daya tercuci. komposisi Formula 1 (F1) sampai F4 dapat dilihat pada Tabel I. homogenitas. dimasukkan gliserol yang diencerkan dengan air sama banyak dan diaduk hingga homogen. pH sediaan. F3. distribusi ukuran partikel. VCO dimasukkan ke dalam massa 1. boraks dan air suling di tempat terpisah dipanaskan di penangas air pada suhu 700 C (masa 2).4 2. Trietanolamin. Tabel I.8 1 51 F2 1 31 6. Masing-masing basis krim yang telah jadi ditambahkan sedikit demi sedikit sampai 100 g kepada piroksikam (1 g) di dalam lumpang. Untuk F1: asam stearat.5 0.8 1 41 Langkah pertama pembuatan krim yaitu membuat basis masing –masing formula.5 6. Formula krim piroksikam menggunakan basis yang mengandung VCO berbagai konsentrasi Nama Bahan Piroksikam (%) Parafin liq.

Pengambilan sampel larutan cairan penerima (5 ml) dilakukan pada menit ke –5. 10. 150. Pada uji daya penetrasi krim piroksikam.303  t K1 = konstanta laju penetrasi menurut orde 1 Berdasarkan model kinetika yang terbaik. 75. 105. 4. 12. 45. 195. 165. Jumlah piroksikam yang berpenetrasi 107 . 120. Volume sampel yang diambil diganti dengan larutan dapar fosfat pH 8 dengan volume dan suhu yang sama.5. 10. Kadar piroksikam di dalam cuplikan ditentukan secara spektrofotometri. 1. Kompartemen cairan penerima pada sel Difusi Franz vertikal diisi dengan larutan dapar fosfat pH 8 sampai penuh (115 ml). Magnetik stirrer dihidupkan dan diatur skala untuk perputaran 120 rpm pada skala 4.5 t0 Keterangan: Mt = jumlah piroksikam berpenetrasi pada waktu t KH = konstanta laju penetrasi menurut Higuchi - Persamaan kinetika orde nol: M t M 0  0  K t Keterangan: M0 = jumlah piroksikam berpenetrasi pada waktu 0 K0 = konstanta laju penetrasi menurut orde 0 - Persamaan kinetika orde satu: log M t  M 0  log Keterangan: log K1 2. nilai batas deteksi (BD dan batas kuantitasi (BK) dari metoda analisis dihitung. suhu dijaga ± 370C. dihitung konstanta laju penetrasi piroksikam dari masing-masing formula. 240. 8. 210. 2. kulit mencit yang telah dipotong dan dibersihkan dibilas dengan larutan NaCl 0. 180. Suhu air pada bejana kaca diatur pada 370C ± 1°C. Sel Difusi kemudian diletakkan pada bejana kaca berisi air yang dilengkapi dengan termostat dan termometer. Data jumlah piroksikam yang berpenetrasi persatuan waktu diolah menggunakan beberapa model matematis yaitu: Persamaan Higuchi : M t K H  .Validasi metoda analisis dilakukan dengan membuat larutan piroksikam di dalam dapar fosfat pH 8 dengan berbagai konsentrasi (0. 135.2 nm. 6. lalu dioleskan secara merata pada kulit mencit yang diletakkan pada alat Sel Difusi Franz tersebut. 60. 225. 14 µg/ml) diukur serapannya dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 353. Sediaan krim ditimbang sebanyak 1 g. 30. 90. 20.9 % dan disimpan dalam lemari es sebelum digunakan sebagai membran penetrasi. Linieritas dari respon alat terhadap kadar dilihat dari kurva kalibrasi.

Variasi jumlah VCO pada F2 –F4 bertujuan untuk melihat pengaruh kadar VCO di dalam basis krim terhadap laju penetrasi piroksikam. Spektrum serapan piroksikam di dalam larutan dapar fosfat pH 8 Formula basis krim F1.0489 X (r = 0. Hasil evaluasi krim piroksikam (Tabel II) menunjukkan terbentuknya dua jenis tipe krim dengan sifat-sifat fisika yang tidak jauh berbeda.25 µg/ml Gambar 1. berbeda dengan formula lainnya. Berdasarkan tipe krim yang terbentuk akan dapat dilihat pengaruh dari dua faktor terhadap profil penetrasi proksikam dari basis krim. yaitu kandungan VCO dan pengaruh tipe 108 . HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan baku dan bahan tambahan yang digunakan memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia untuk zat aktif. sedangkan F2 –F4 mengadung VCO dengan kadar bervariasi.9979) dengan BD = 0. Komposisi ini ditujukan untuk membandingkan laju penetrasi piroksikam dengan adanya VCO di dalam basis terhadap basis yang tidak mengandung VCO.67 µg/ml dan BK = 2. sedangkan VCO telah memenuhi standar mutu SNI 01-2902-1992.2 nm (Gambar 1) menunjukkan respon linier antara konsentrasi piroksikam terhadap absorban dengan persamaan regresi: Y = -0.0027 + 0. Validasi metoda analisis piroksikam secara spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 353.pada waktu tertentu diuji secara ANOVA untuk melihat pengaruh basis terhadap konstanta laju penetrasi piroksikam. mengandung paraffin liquidum di dalam fasa minyak.

Tabel II. ukuran partikel juga akan menentukan profil liberasi dan penetrasi obat-obat yang sukar larut dalam air. Disamping kelarutan.25 Keterangan :*pertambahan luas 0.E. 55. 1989).659 5.56 98.3 3.2 7.6 % (F1). Distribusi ukuran partikel untuk masing-masing formula menunjukkan hasil sesuai kurva distribusi normal dengan partikel terbanyak berukuran 0 –15 µm sebanyak 45. Di dalam pembuatan sedíaan. Homogenitas homogen homogen homogen homogen 2.76 97. 50.5 g sediaan bila diberi beban 45 g. Dalam hal ini pemilihan basis akan mempengaruhi ketersediaan hayati dari bahan obat pada sediaan transdermal (Hadgraft dan Richard. perlakuan yang sama seperti penggerusan dilakukan pada masingmasing formula untuk menghindari pengaruh ukuran partikel terhadap profil penetrasi piroksikam.2 7.610 6. Daya menyebar(cm²)* 6. Senyawa obat memiliki afinitas berbeda terhadap basis krim tipe a/m dan m/a karena sangat ditentukan oleh sifat fisikokimia senyawa obat tersebut. Penggunaan membran berupa kulit hewan menyebabkan hanya sebagian kecil zat aktif dapat 109 . dan 62.2 % (F3).001 5.22 98.1% (F4). Pada bahan obat dengan kelarutan kecil dalam air. Kadar piroksikam (%) 97.498 5.basis krim. Nilai pH 7. maka laju permeasi dari basis dan laju penetrasi zat aktif merupakan salah satu tahap penentu dari laju absorpsi. Tipe krim m/a m/a a/m a/m 6. a/m = air dalam minyak Piroksikam merupakan obat golongan anti inflamasi non steroid (obat AINS) yang bersifat sangat sukar larut air dan bekerja secara sistemik pada pengobatan rheumatoid arthristis. Pada pengukuran kadar piroksikam berpenetrasi pada menit-menit awal proses penetrasi terutama pada F1 dan F2 (Tabel III) terlihat data kadar piroksikam masih dibawah limit kuantitasi (BK) metoda analisis. Daya tercuci ( ml ) 15 25 35 40 4. Hasil evaluasi krim piroksikam No. 1988). m/a = minyak dalam air.9% (F2). Pemeriksaan F1 F2 F3 F4 1. M. Jumlah partikel terkecil terlihat lebih banyak di dalam sedíaan yang mengandung VCO lebih banyak.3 7. Makin kecil afinitasnya terhadap suatu basis maka senyawa obat akan lebih mudah berpermeasi atau lepas dari basisnya dan akan lebih cepat berpenetrasi melalui membran sel kulit (Aulton.

1975 5. 14.8742±0.2123 2.3813 6. Namun secara kinetika yang akan dilihat adalah perubahan atau peningkatan jumlah piroksikam di dalam médium bukan jumlahnya.8460±0. 15.0362±0.1977±0.1634 3.4581 6. 18.1117±0. (menit) 5 10 20 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240 F1 ± SD 0.0471 2.9185±0.6583±0.2213 4.9467±0.1039 4.6209±0.0965 0.0845±0.0393 1.3311 4.0902 0.1276 4.4509±0.3085 6.4925±0.1464 2.8959±0.2299 1.8831±0.0875 2.0258±0.menembusnya. 8.2860±0.0834 1.4023±0.1279 0.8827±0.3750±0.0775±0. Tabel III.9613±0.0425 1.1747 1.2695±0.7952±0.8320±0.0354±0.1731 0.1403 2.3827±0.2333±0.1314 2.0642±0.7463±0.5286±0.2046 3.7024±0.2256±0.1899 3.6731±0. 9.0413 4.5662 4. 6.6985±0.0371 4.0299 4. Peningkatan kadar piroksikam di dalam médium penerima seperti tampak pada profil penetrasi (Gambar 2) digunakan untuk menghitung parameter konstanta laju penetrasi pada masing-masing formula.6329±0.1186±0. 10.2024 Konsentrasi yang berpenetrasi(µg/ml)* F2 ± SD 0.6817±0.4630 5.1866 4.7819±0.0728 3.1535 2.1329 6.3296±0.0864±0.2767±0.4071 5.0531 3.1708 F3 ± SD 0.4512±0.7199±0.3074±0.8360±0.1534±0. 11.0301 4. 2.1502±0.3889±0.3526±0.0613 5.2143 3.3411±0.3155 1.1373±0. 13.0657 0.5170±0.1198 2.3899 6.2030 1.6294±0.3191±0.4387 6.0735 0.3851 7.0631 1. 16.0087±0.1925 4.4603 5.1362 0.5083±0.5219±0.4983±0.0425 0.4439±0.4652 6.9756±0.1394±0. 3.0177±0.1884 2.1026 4.6389±0. Data konsentrasi piroksikam dalam medium dapar fosfat pH 8 setelah penetrasi menggunakan sel diffusi Franz tipe vertikal Waktu No.4234±0. 1. 4. 7.5518±0. 17.1069 0.1347 3.2043±0.2153 F4 ± SD 1.2623 1.3768 *Ket : n = 3 110 . 12.8599±0.8968±0.1446±0. 5.0877 1.0567 3.0110±0.7517±0.0472 0.1833 0.2874 3.1802 3.1687 1.1617 0.0897±0.0300 4.

proses penetrasi 111 . Pada F1 dan F2 konstanta laju penetrasi sama. Hal ini dapat disebabkan karena hidratasi kulit mencit oleh VCO menyebabkan dalam waktu yang sama jumlah yang berpenetrasi lebih banyak.0171 (r = 0. sehingga piroksikam lebih banyak lepas dari basis F3. Proses penetrasi piroksikam pada F1.0217 (r = 0.9913). F2 dan F3 mengikuti kinetika orde nol dengan konstanta laju berturut-turut 0. Data menunjukkan bahwa perbedaan jumlah VCO sebesar 5% memberikan laju penetrasi piroksikam sama.0570 mg/det 1 / 2 (r = 0.7 konsentrasi piroksikam yang berpenetrasi (mg) 6 5 4 3 2 1 0 -1 0 50 100 150 waktu (menit) Formula 1 Formula 2 Formula 3 200 250 300 Gambar 2. F2 dan F3 mengikuti kinetika orde nol sesuai dengan hukum Ficks untuk difusi dimana laju penetrasi konstan dan tidak dipengaruhi oleh kadar piroksikam dan faktor lain dalam formula. 0. F2 dan F3 (µg/ml) diolah menurut kinetika orde nol Pengolahan data kinetika penetrasi piroksikam pada masing-masing formula memperlihatkan bahwa penetrasi piroksikam pada F1. Sedangkan pada Formula 4 yang mengikuti persamaan Higuchi. sedangkan proses penetrasi piroksikam pada F4 lebih mengikuti persamaan Higuchi dengan konstanta laju sebesar 0.9853) (Gambar 3.9939). Profil penetrasi piroksikam dari sediaan F1. disamping itu bisa juga disebabkan konsistensi krim F3 yang lebih encer dari F2. hal ini berkorelasi dengan kandungan VCO yang lebih banyak di dalam F3.9869). namun jumlah piroksikam yang berpenetrasi dari F3 lebih besar dari F2.0217 (r = 0. namun jumlah yang berpenetrasi lebih banyak. Tabel IV). 0.

merupakan proses difusi pasif dengan laju berubah-ubah per-satuan waktu tergantung jumlah piroksikam yang tersisa untuk berpenetrasi.2 0.9869 0.0171 0.0217 0.0570 0.9939 0.9488 0. Dalam hal permeasi dan penetrasi zat aktif.0280 0.0217 0.057x + 0. Perbedaan profil penetrasi secara kinetika bisa terjadi yang menunjukkan mekanisme pelepasan dan diffusi obat yang berbeda antara F1 –F3 dengan F4.9913 0.0048 0.3 0.0590 0. Tabel IV. Profil penetrasi piroksikam dari sediaan F4 diolah menurut persamaan Higuchi Data profil dan laju penetrasi piroksikam dari F2 (krim tipe m/a) dan F3 (krim tipe a/m) menunjukkan bahwa tipe basis krim tidak mempengaruhi laju penetrasi piroksikam dengan jumlah VCO pada F3 lebih besar dari F2.8 0.6 0. Data konstanta laju penetrasi piroksikam dari masing-masing formula diolah menurut kinetika orde nol.5 0.9 0.0252 0.7 0.9347 Orde satu K1 (menit-1) r 0. perbedaan tipe krim berkaitan dengan afinitas zat aktif terhadap basis.1 0 0 y = 0.9741 0.9526 0.9817 0.9544 0.0449 0.0047 0.0576 0. Zat yang bersifat lipofilik akan memiliki afinitas 112 .4 0. meskipun demikian semua data menunjukkan bahwa profil penetrasi sesuai dengan Hukum Ficks untuk diffusi atau Hukum Ficks yang dimodifikasi.9853 5 10 Akar waktu (menit) 15 20 Gambar 3. orde satu dan persamaan Higuchi dan koefisien korelasi dari profil penetrasinya Sediaan F1 F2 F3 F4 Orde nol Ko r 0.0037 0.9853 1 Jumlah piroksikam yang terpenetrasi (mg) 0.8550 Higuchi r KH mg/det 1 / 2 0.0058 r = 0.9782 0.

Piroksikam (Gambar 4) bersifat hidrofilik. Disamping itu. Hasil analisa variansi satu arah (ANOVA) konsentrasi piroksikam yang berpenetrasi setelah 240 menit dari masing-masing formula. diduga sifat VCO yang bersifat mudah diserap kulit juga dapat mempermudah piroksikam melewati membran kulit. hasilnya dapat dilihat pada Tabel V.59. dan sebaliknya untuk zat yang hidrofil. 113 .01) yang menunjukkan bahwa penetrasi piroksikam dari masing-masing formula krim sangat berbeda nyata. selanjutnya tingginya kadar VCO membuat konsitensi krim lebih encer sehingga piroksikam lebih mudah lepas dari matriks pembawa. Struktur kimia piroksikam Hasil uji pengaruh VCO terhadap profil liberasi piroksikam dari krim menunjukan bahwa basis dengan kadar VCO 41% (F4) memberikan jumlah piroksikam terlepas dan laju penetrasi paling besar. diperoleh F hitung 74.7669 (F tabel 7.yang lebih besar terhadap basis tipe a/m sehingga sukar untuk lepas dari basis dan selanjutnya lambat berpenetrasi. Williams & Barry (2004) melaporkan bahwa asam-asam lemak meningkatkan penetrasi zat aktif melalui interaksinya dengan lapisan lemak stratum corneum me g a ia s ma a “ n h sk n e c m pools” y n l ag mengurangi impermeabilitas lapisan lemak sehingga memfasilitasi permeasi atau penetrasi senyawa-senyawa hidrofilik melalui membran sel kulit. pada p >0. secara teoritis akan memiliki afinitas yang lebih kecil terhadap basis krim tipe a/m sehingga akan lebih mudah lepas dari basis dan berpenetrasi. Gambar 4. Hal ini dapat disebabkan konsentrasi VCO yang lebih tinggi didalam krim melemahkan jalinan kompak ’ ytl e li l le cs l r ai id a l ’kulit mencit sehingga lebih permeabel terhadap n p mea piroksikam. Data jumlah zat yang berpenetrasi mendukung teori ini. Selanjutnya dilakukan uji beda nyata terkecil terhadap data konsentrasi piroksikam yang berpenetrasi setelah 240 menit dengan uji Student Newman Keuls (SNK) . piroksikam pada F3 (krim tipe a/m) lebih banyak berpenetrasi dari pada F2 (krim tipe m/a) disebabkan piroksikam lebih mudah lepas dari basis F3.

and Richard HG. pp 1-104 Williams. BW..2616 1. Melbourne & New York Hadgraft.. J. EM.. Agro Media Pustaka. Influence of oleic acid and other permeation promoters on transdermal delivery of dihydroergotamine through rabbit skin.E.7957 6. European Journal of Pharmacy and Biopharmaceutics.1115 - KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan Virgin Coconut Oil (VCO) di dalam basis krim dapat meningkatkan laju penetrasi piroksikam melalui mebran kulit mencit secara in-vitro.7850* II 6. pp 97 –100 Santoyo.4766 0.828 0. International Journal of Pharmaceutics. dan Pygartua.sx = nilai nyata terkecil Formula 0. 56. A. 1989.. Virgin Coconut Oil Minyak Penakluk Aneka Penyakit.Tabel V.6809 I 5. Jakarta.4766 7. 1991.8499* III 7. 67. Selanjutnya VCO juga meningkatkan konsentrasi berpenetrasi secara bermakna ( p<0. 1988.1115 3.760 0. Effect of skin pretreatment with fatty acids on percutaneous absorption and skin retention of piroxicam after its topical application. pp 603 –618 114 . Transdermal Drug Delivery. Penetration Enhancers. Marcel Dekker Inc. Hasil uji beda nyata terkecil terhadap konsentrasi rata-rata piroksikam berpenetrasi setelah 240 menit. Advanced Drug Delivery Reviews. S. AC. Edinburgh. London.2616 IV 9.4659* 0. 50. Churhill Livingstone. New York Niazy. Pharmaceutics: The Sciences of Dosage Form Design.N.01 ). pp 245 –250 Syah. M..6349* 1.602 IV 9.A.740 Formula I II III Rata-rata 5.. Q.7957 Keterangan : * = berbeda nyata. 2005. Q. 2000.sx 0.3158* 2. dan Barry. piroksikam yang DAFTAR PUSTAKA Aulton. 2004.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful