DEMOKRATISASI DAN MASALAH KESETARAAN GENDER Proses demokratisasi telah berjalan setua usia republik ini yang mendasarkan

kedaulatannya di tangan rakyat. Kemerdekaan Indonesia sesungguhnya manifestasi dari penolakan terhadap nilai-nilai traditional yang feodalistik dan nilai-nilai kolonial yang eksploitatif. Baik sistem feodal maupun kolonial menyisakan berbagai ketidakadilan yang berbasis pada ras, etnik, agama dan juga gender. Oleh sebab itu, kmerdekaan, sesungguhnya, merupakan pintu gerbang bagi proses demokratisasi di Indonesia. Kemerdekaan memberikan garansi bagi kebebasan berekspresi dan kebebasan berserikat yang melahirkan berbagai preferensi politik. Di samping itu, demokratisasi juga menjamin akses dan parrisipasi segenap elemen masyarakat dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara (Sudarsono, 2001:18). Susan Blackburn (dalam Mariyah: 2001: 287) menegaskan bahwa demokrasi mencakup tiga elemen dasar. Pertama: adanya kompetisi antar-individu dan kelompok secara sehat dan terbuka (meaningful and extensive) bagi posisi-posisi strategis dalam politik secara wajar dengan menghindari penggunaan kekerasan; Kedua, partisipasi politik yang bersifat inklusif dalam menetapkan pemimpin yang dikehendaki dan kebijakan ditetapkan melalui, setidaknya, mekanisme pemilihan yang wajar dan adil sehingga tidak ada elemen masyarakat yang ditinggalkan. Ketiga, adanya kebebasan sipil dan politik, yaitu kebebasan berekpressi, kebebasan pers, kebebasan untuk membentuk dan menjadi anggota suatu organisasi- di mana hal-hal tersebut cukup mampu untuk menjamin integritas kompetisi dan partisipasi politik. Di samping fungsi kepemerintahan sebagaimana dicakup di atas, demokratisasi harus diarahkan untuk menguatkan eksistensi masyarakat sipil yang mandiri. Masyarakat sipil merupakan suatu konteks di mana kelompok-kelompok yang terbentuk secara mandiri dan `self oranizing’ mengartikulasikan nilai-nilai tertentu, membentuk asosiasi & solidaritas serta memperjuangkan kepentingan-kepentingannya (Sudarsono: 2001: 29). Masyarakat sipil terdiri dari berbagai bentuk gerakan sosial (social movement) yang meliputi organisasi-organisasi sosial yang berbasis pada agama, latar belakang akademik tertentu, kaum profesional, serikat buruh, organisasi profesional dan organisasi perempuan. Proses menuju masyarakat yang demokratis tidak selamanya berjalan dengan mulus dalam konteks Indonesia. Demokrasi yang sejatinya berakar pada naluri fitri insani seringkali dihadang oleh kecenderungan-kecenderungan tirani yang anti-demokrasi yang dimaksudkan untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan (Bisri, 1996: xi). Kelanggengan kekuasaan dan kepentingan, baik individu maupun kelompok, secara sadar menutup kesetaraan akses terhadap entitasentitas politik, ekonomi dan sosial budaya dan, pada gilirannya, menimbulkan kekerasan, baik fisis maupun struktural yang berbasis pada ras, etnis, agama dan gender. Masalah-Kesetaraan Gender di Indonesia Kesetaraan merupakan sendi utama proses demokrastisasi karena menjamin terbukanya akses dan peluang bagi seluruh elemen masyarakat. Tidak tercapainya cita-cita demokrasi seringkali dipicu oleh perlakuan yang diskriminatif dari mereka yang dominan baik secara struktural maupun secara kultural. Perlakuan diskriminatif ini merupakan konsekwensi logis dari suatu pandangan yang bias dan posisi asimetris dalam relasi sosial. Perlakuan diskriminatif dan ketidaksetaraan tersebut dapat menimbulkan kerugian dan menurunkan kesejahteraan. hidup bagi pihak-pihak yang termarginalisasi dan tersubordinasi.

etnis. dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Sejauh menyangkut persoalan gender di mana secara global kaum perempuan yang lebih berpotensi merasakan dampak negatifnya. ekonomi. konstruksi gender bersifat kontektual dan relative sesuai dengan ruang dan waktu tertentu. Namun dalam prakteknya. Namun demikian. kesetaraan dalam pengembangan sumberdaya manusia dan sumber-sumber produktif lainnya (Bank Dunia: 2000: 3). Menurut catatan Bank Dunia. Pembakuan peran dalam suatu masyarakat merupakan kendala yang paling utama dalam proses perubahan sosial. posisi. Ketimpangan Jenjang Pendidikan Pendidikan merupakan hak bagi setiap manusia. persamaan hak berbasis gender ini seringkali terhalang oleh berbagai kepentingan di mana subordinasi perempuan memberikan manfaat secara politik maupun kultural. Pandangan tersebut sangat merugikan perempuan dalam tingkat ekonomi menengah ke bawah di mana mereka juga harus memberikan kontribusi ekonomi keluarga. Kesetaraan dalam konteks ini adalah kesetaraan akses pada bidang hukum. termasuk di negara di mana demokrasi telah dianggap tercapai. Budaya patriarkhi diteguhkan oleh pembakuan peran di mana kepentingan dan nilai-nilai ‘phallo-centris’ dipandang sebagai standar kepantasan dan lebih banyak memberikan keuntungan pada laki-laki (Steger & Lind 1999: xviii). Kemerdekaan Indonesia merupakan jaminan bagi terjadinya proses demokratisasi sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang memuat persamaan hak bagi seluruh rakyat Indonesia.Sampai saat ini diskriminasi berbasis pada gender masih terasakan hampir di seluruh dunia. baik laki-laki dan perempuan. kaum perempuan yang paling berpotensi mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Konstruksi sosial tersebut dibutuhkan sebagai bagain dari mekanisme survival suatu masyarakat. Akses pendidikan yang rendah sangat berpengarruh . Masalah-masalah ketimpangan gender yang masih lazim terjadi di Indonesia adalah sebagai berikut: 1. baik sebagai penerus keluarga maupun sebagai mencari nafkah utama. peran dan kategori sosial tertentu. termasuk kesetaraan upah kerja. kesempatan. diskriminasi gender yang menghalangi kesetaraan dalam akses dan kontrol terhadap sumber daya. Gender menjadi persoalan sosial ketika terjadi perubahan dalam masyarakat disebabkan oleh pergeseran techno-environment pada tingkat makro namun tidak disertai dengan perubahan pola relasi dan posisi sosial sehingga membawa kerugian bagi mereka yang berada pada posisi yang subordinatif. budaya patriarkhi dianggap sebagai akar persoalan. meski tidak menutup kemungkinan lakilaki juga dapat mengalaminya. termasuk partisipasi mereka dalam kehidupan masyarakat. berbangsa dan bernegara. Hal tersebut disebabkan oleh suatu pandangan kultural yang mengutamakan anak laki-laki. Suatu masyarakat dengan nilai patriarkhi yang kental dapat menghalangi kaum perempuan untuk mendapatkan manfaat dari pembangunan dan kemajuan peradaban manusia. partisipasi perempuan dalam pendidikan makin menurun pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam konteks ini. Gender. Anak-anak perempuan merupakan pihak yang paling rentan terhadap kecenderungan putus sekolah apabila keuangan keluarga tidak mencukupi. sebagaimana kategori sosial yang lain seperti ras. baik lakilaki dan perempuan. kekuasaan dan partisipasi olitik antara laki-laki dan perempuan (Bank Dunia: 2000: 1). Gender merupakan konstruksi sosial terhadap perbedhan jenis kelamin lakilaki dan perempuan yang menghasilkan atribut. agama dan klas. Oleh sebab itu.

Pola ketergantungan yang secara kultural mendapatkan legitimasi keagamaan dan secara struktural dibutuhkan oleh kekuasaan telah melemahkan posisi perempuan dalam pengambilan kebijakan publik. pekerjaan reproduksi seperti pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak-anak yang secara kultural diserahkan pada perempuan tidak diberi nilai setara dengan pekerjaan produksi dalam kebijakan kerja. Menurut Mar’iyah (2001) perempuan merupakan 57% pemilih (voter) pada pemilu yang lalu. Jumlah tersebut makin memburuk pada tingkat- . 2001: 257). Banyak perempuan yang tidak memiliki akses permodalan yang sama dengan laki-laki sehingga berpengaruh terhadap kontribusinya terhadap ketahanan keluarga. Di tempat kerja. Kesenjangan Akses Sumber Daya Produktif Perbedaan gender dapat mengakibatkan ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya produktif (productive resources) informasi dan permodalan. di luar rumah.8 persen dan pada tahun 1999 menurun lagi menjadi kurang dari 9 % yaitu 45 perempuan dari sekitar 500 anggota legistatif. baik dalam komunitas maupun dalam politik nasional. Perbedaan pembagian kerja produksi dan reproduksi antara laki-laki dan perempuan turut serta mempertajam kesenjangan struktural. Pada umumnya. Peran ganda (produksi dan reproduksi) yang harus dilakukan oleh kaum perempuan membuat mereka tidak dapat berkompetisi secara objektif dalam mencapai jenjang promosi dan kepangkatan serta pendidikan lanjutan yang sama. negara dengan kemampuan ekonomi besar dan mengendalikan politik global dan pada tingkat yang lebih mikro. 1997 9. 200:7). Dzuhayatin. Manfaat politik dari pembakuan peran ini merupakan kombinasi antara konsep kontrol patriarkhi dan modal ekonomis (economic captial) kapitalisme. Interpretasi keagamaan konservatif turut serta menguatkan pola ketergantungan ini dengan menjadikan aspek ‘nafkah’ yang bersifat mendukung fungsi reproduksi perempuan menjadi fungsi ketergantungan submisif perempuan terhadap superioritas laki-laki di dalam rumah dan. 1992: 24. Pola relasi patriarkhis priyayi Jawa dan konsep `pencari nafkah utama` (breadwinner) kolonial diadopsi untuk menciptakan ketergantungan ekonomi dan politik perempuan terhadap laki-laki (Murniati. Pada level yang lebih rendah. Ketidaksetaraan Partisipasi Politik Ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki di bidang pendidikan dan akses terhadap suber daya produktif juga mempengaruhi partisipasi politik. Bias gender tentang kepemimpinan mengakibatkan rendahnya peluang perempuan untuk menduduki jabatanjabatan tersebut. posisi perempuan cenderung lebih rendah secara managerial dan struktural. terbatasnya akses perempuan di bidang ekonomi juga menurunkan daya tahan dan daya tawar perempuan dalam rumah tangga (Bank Dunia.5 %. Hal senada disinyalir oleh Maridjan (2002: 11) bahwa keterwakilan suara perempuan makin merosot dari masa ke masa. termasuk dalam pola relasi keluarga mereka yang memiliki akses terhadap `cash economy’ (gaji) adalah penentu orientasi politik keluarga. Namun.pada akses terhadap sumber-sumber produksi di mana mereka lebih banyak terkonsentrasi pada pekerjaan informal yang berupah rendah. 3. termasuk pemilikan tanah. 1992 menurun menjadi 12. 2. jumlah perempuan dalam posisi-posisi strategis dan politis tidak mencapai 10 %. Di daerah pedesaan kepemilikan tanah perempuan lebih rendah dari kaum laki-laki. Pada struktur yang lebih makro. Secara sederhana dapat diasumsikan bahwa mereka yang mengendalikan ekonomi adalah yang mengendalikan kekuasaan. Pada pemilu 1987 keterwakilan perempuan mencapai 13 %. juga.

Rifka Annisa mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan yang terjadi antara bulan JanuariJuli 2002 tercatat sebanyak 248 kasus. sosial budaya. baik yang bersifat fisik. kesetaraan terhadap hak-hak dasar . Pembatasanpembatasan terhadap hak-hak dasar ini dapat menurunkan kemampuan keduanya untuk bertahan dan mancapai kualitas hidup. mengendalikan. politik dan ekonomi sangat menentukan akses laki-laki dan perempuan terhadap berbagai kesempatan. Demokratisasi dan Upaya Pencapaian Kesetaraan Gender Demokratisasi yang tengah berlangsung pasca reformasi diharapkan dapat mewujudkan suatu kehidupan yang lebih setara dengan menghargai perbedaan sebagai keniscayaan.tingkat yang lebih rendah seperti di provinsi dan kabupaten. Perempuan yang dibentuk dengan karakter yang ‘power for’ yang lebih mengedepankan hati nurani. Upaya tersebut dialakukan baik secara individu. kelompok maupun negara. 2002: 2). kalau tidak menghilangkan sama sekali. 4. Relasi semacam ini hanya dapat berlangsung ketika setiap elemen menempati posisi yang setara dalam memperoleh kesempatan untuk mendapatkan manfaat yang adil dari lingkungannya termasuk politik. Demokratisasi tidak akan berjalan dengan baik apabila prasangka dan stereotipe terhadap kategori sosial seperti ras. rendahnya partisipasi politik perempuan juga disebabkan oleh tradisi politik konvensial yang bersifat ‘power over’ yang cenderung memerintah. Kekerasan tersebut dapat dilakukan secara individual. sumber daya dan skill serta dapat menguatkan partisipasi produktif keduanya dalam masyarakat (Bank Dunia. Namun demikian. Selanjutnya. ketidaksetaraan gender yang menyebabkan ketidakadilan sosial. Upaya upaya tersebut diarahkan untuk: 1. Di samping itu. Peristiwa Perkosaan massal (gang rape) tahun 1998 merupakan suatu kekerasan kelompok dan juga merupakan kekerasan negara terhadap perempuan karena dianggap lalai sehingga kekerasan tersebut terjadi (guilty by ommission). Kekerasan berbasis gender dapat bersifat tersamar dan simbolik seperti ekploitasi media dan pornografi namun juga konkrit dan nyata seperti perkosaan dan pelecehan seksual. mendominasi dan menguasai merupakan karakter maskulinitas. gubernur. bupati. 2000: 17). Kekerasan tersebut dapat terjadi di mana saja. Kekerasan yang berbasis Gender Ketimpangan jenjang pendidikan dan kesenjangan akses sumber daya produktif serta rendahnya partisipasi politik perempuan telah menyebabkan mereka menjadi rentan terhadap kekerasan. potensi dan melindungi menjadi terhalang untuk dapat masuk dalam politik (Mar’iyah. Masyarakat sipil dapat ditegakkan apabila relasi sosial dapat berjalan secara egaliter dan bertanggung jawab. nasioanal dan internasional. Menjamin Kesetaraan Hak-Hak Azasi Hak-hak dasar seperti sosial. psikologis dan seksual. etnis. kelompok bahkan oleh negara dan dalam lingkup lokal. rumah yang diasumsikan sebagai tempat berlindung justru menjadi tempat yang paling tidak aman bagi perempuan. Jabatan pada level eksekutif juga menunjukkan angka yang masih suram seperti menteri. 2000: 288). Berbagai cara tengah dilakukan diupayakan untuk mengurangi. kekerasan dalam rumah tangga justru merupakan kekerasan yang paling sering terjadi di Indonesia. Bahkan. camat dan lurah. Kekerasan terhadap istri (KTI) menempati urutan teratas yaitu 146 kasus dan kekerasan pada masa pacaran (KDP) 60 kasus dan perkosaan 30 kasus (Rifka Media. ekonomi. hukum. Seperti ditegaskan oleh Sudarsono (2000) bahwa penguatan masyarakat sipil merupakan prasyarat berlangsungnya demokratisi. agama dan gender masih menjadi cara pandang politik.

1992: 55). Untuk itu. Namun. Banyak perempuan yang justru mengalami kekerasan seperti penarikan rambut. pemukulan setelah sosialisasi penerapan Syari’ah Islam digulirkan. disinyalir oleh Mernissi (1992) menegaskan bahwa konservatisisme sendiri bukan karena mempertahankan Islam namun mempertahankan otoritas. yang karena peran tradisionalnya. justru membelenggu perempuan ketimbang melindunginya. studi-studi Islam yang dikembangkan. mengandung. sebagaimana. 2.” (Mernissi. Sedangkan penguatan ekonomi perempuan dapat meningkatkan kesadaran perempuan terhadap kesehatan reproduksinya.. Insentif-insentif terhadap peran- . pelayanan penitipan anak di tempat kerja. “Mengajarkan toleransi dan kebebasan berfikir. ekonomi. Maryam Rajawi (2000) mengingatkan bahwa awal dari suatu regim teokrasi seperti Iran dan Afganistan akan dimulai bagaimana mengendalikan perempuan dan menajdikannya sebagai simbol tegaknya negara Islam dan sekaligus menutupi segala bentuk tirani yang dilakukan atas nama Islam. posisi. ini merupakan isyarat bagi `matinya demokrasi’.. juga.. langkah lebih konkrit perlu dilakukan pada tataran kebijakan. melahirkan dan menyusui dapat secara signifikan menguatkan posisi sosial ekonomi perempuan yang. keleluasaan kerja pada saat perempuan harus melakukan peran reproduksi seperti menstruasi. Menurut catatan dari Bank Dunia (2000) ada korelasi positif antara peningkatan jenjang pendidikan dengan peningktan kesehatan keluarga. Pengarusutamaan gender (gender meanstreaming) kini tengah digalakkan untuk mempersempit kesenjangan gender pada akses sumber daya produktif. Pembaharuan peraturan yang dijalankan oleh berbagai daerah dalam rangka desentralisasi telah banyak membatasi ruang gerak perempuan secara wajar dan leluasa. Hak-hak dasar ini seringkali tidak dapat diperoleh secara setara karena disebabkan oleh berbagai tradisi yang tidak lagi sejalan dengan keharusan zaman. Oleh sebab itu. bukan terhadap Tuhan tetapi terhadap jabatan. Penyusun Kebijakan Yang Pro Aktif Mengatasi Kesenjangan Gender Selain melakukan rekonstruksi nilai. Pergeseran paradigma pembangunan dalam tubuh Bank Dunia dari ekonomi pertumbuhan dan efisiensi menuju ekonomi yang berorintasi pada kesejahteraan manusia telah banyak memberikan perbaika i terhadap kualitas hidup perempuan. humanisme (sekuler) merupakan serangan. Interpretasi agama yang menjadi dasar pembaharuan hukum.. Affirmative Action diarahkan untuk memberikan dukungan publik terhadap perempuan. misalnya. menghadapi kendala untuk memperoleh manfaat dari kemajuan. Mengendalikan perempuan hanyalah awal dari upaya represif mengendalikan seluruh elemen sosial dan. Penyediaan kebutuhan praktis gender perempuan seperti prasarana hernat waktu. Peraturan penggunaan jilbab di ruang publik dan larangan keluar rumah tanpa disertai `mahram’ seperti yang digagas oleh perancang Syari’ah Islam lebih banyak merugikan perempuan daripada melindunginya. perlu dilakukan reinterpretasi yang dapat memungkinkan reaktualisasi ajaran Islam sebagai `rahmatan lil alamin’. kesehatan. baik klasik dan kontemporer menyediakan perangkat metodologis untuk melakukan pembaharuan.. budaya melalui reinterpretasi terhadap ajaran agama dominan. perlu dilakukan `afrmative action’ pada tingkat pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan dan ekonomi. politik dan sosial budaya.memungkinkan setiap individu dapat mendapatkan manfaat dari peluang-peluang yang ditawarkan oleh pembangunan dan kemajuan di bidang pendidikan. Sesungguhnya. merupakan penguatan ketahanan keluarga.

Bahkan. kepedulian terhadap hak reproduksi perempuan telah menjadi bagian dari masyarakat sehingga para bapak dan suami berdemonstrasi untuk dapat memperoleh hak cuti menjadi orang tua (paternity leave) selama dua minggu menjelang dan sesudah istri melahirkan. Masrurah (2002) menambahkan bahwa pasal 46 UU no. etnis. perencanaan. Sebab perlakuan khusus tersebut dimaksudkan untuk memberikan keadilan kepada mereka yang mengalami ketertinggalan karena adanya sikapsikap diskriminatif. Peningkatan Partisipasi Politik Upaya-upaya di atas tidak akan secara maksimal dapat dicapai bilamana partisipasi aktif perempuan belum maksimal. Di Yogyakarta. IV/MPR/2002 telah mengesahkan angka keterwakilan perempuan di lembaga lembaga pengambil keputusan sebesar 30 persen. karena adanya berbagai faktor. 9 tahun 2000 terus ditindak-lanjuti melalui berbagai perda dan Surat Edaran Gubernur untuk meningkatkan partisipasi politik dan sosial perempan. Bahkan Konferensi Dunia Beijing plus 5 di New York mengusulkan keterwakilan 50 persen pada tahun 2005 (Masruchah. presiden Megawati sendiri sebagai figur politis tertinggi bagi perempuan Indonesia mengatakan dalam Pidato Hari Ibu ke 73 tanggal 22 Desember 2001 bahwa kemajuan perempuan harus dilakukan secara wajar tanpa rekayasa. misalnya. Keterwakilan perempuan dalam politik juga menjadi agenda publik pasca gerakan reformasi untuk memenuhi rekomendasi Dewan Sosial dan Ekonomi (ECOSOC) bahwa negara anggota PBB perlu memenuhi target minimum keterwakilan perempuan dalam posisi pengambilan keputusan sebesar 30 persen. 411. Sementara itu. dan hak cuti reproduksi. Di Indonesia. Partisipasi aktif dalam kancah politik menjadi prasyarat bagi terjaminnya hak-hak perempuan secara asasi seperti hak mendapatkan tunjangan keluarga yang memadai bagi perempuan. Affirmative action ini tidak dimaksudkan untuk memberikan keistimewaan abadi bagi perempuan tetapi bersifat sementara sampai kesenjangan sosial tersebut teratasi. sebagaimana disinyalir Masrurah (2002). agama dan gender untuk dapat mengejar ketinggalan tersebut. kuota tersebut sulit dipenuhi apabila Pemilu . di negara seperti Australia.39 tahun 1999 menetapkan bahwa sistem pemilihan umum. Surat Gubernur No. 2002). Meski sistem kuota telah ditetapkan namun banyak pihak meragukan keberhasilannya. baik dari kaum perempuan sendiri maupun laki-laki. Menurut Maridjan (2002).peran kodrati dan tradisional yang sebelumnya dianggap ineffisien ini menjadi bagian dari bentuk menguatan perempuan. Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 2002 melalui Ketetapan MPR No. pemilihan anggota legeslatif. Namun demikian. Berkait dengan masalah partisipasi politik perempuan. baik berbasis ras. 3. upaya-upaya untuk menjamin keterwakilan perempuan seringkali menimbulkan polemik. Kalau yang dikatakan rekayasa adalah perlakuan khusus (affirmative action) maka pernyataan tersebut merupakan langkah mundur. Bahkan. pelaksanaan dan evaluasi program pembangunan di DIY (Bernas. Hal tersebut pernah dilakukan oleh Mahathir Muhammad yang melakukan afrmative action bagi masyarakat Melayu dalam bidang ekonomi dan dalam kurun waktu tertentu. sistem pengangkatan di bidang eksekutif dan yudikatif harus menjamin keterwakilan perempuan sesuai persyaratan yang ditentukan.4/0195 tahun 2002 menjadi acuan bagi pelaksanaan pembangunan mulai dari penyusunan. 2002). mereka menuntut cuti melahirkan untuk istri selama 14 bulan (Bernas. 2002). proses pengarusutamaan gender yang dilaksanakan melalui Inpres No. kepartaian.

sebab perempuan yang menduduki jabatan strategis. Maridjan dan Priyatmoko (2002) menilai bahwa kuota perempuan di parlemen bukan merupakan hal yang substansial. agenda penguatan politik perempuan juga harus diarahkan pada adanya perubahan perundangan. pemberdayaan (empowerment) perempuan terhadap isu-isu strategis dan praktis perempuan harus mengiringi proses pemenuhan kuota tersebut. Kalangan feminist memandang kuota menjadi penting karena dapat memberikan suatu justifikasi politis dan mendorong proses peningkatan kapabilitas (Nussbaum. Oleh sebab itu. Menurut mereka. kuota harus diperjuangkan pada tingkat normatif melalui berbagai mekanisme kenegaraan seperti undang-undang dan sejenisnya. Tanpa itu. etnis. . sistem kuota tersebut tidak akan berhasil meningkatkan partisipasi perempuan. demikian juga kepentingan perempuan.masih menggunakan sistem proporsional. Kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok marginal yang berbasis pada perbedaan ras. klas seringkali terabaikan manakala mereka tidak secara fisik terwakili dalam pengambilan keputusan. seperti presiden tidak secara otomatis memiliki perspektif feminist dan sensitif dengan isu-isu perempuan. 1999: 101). agama. Pada saat yang sama. kuota bukan hal yang penting tetapi bagaimana kepentingan perempuan terwakili dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful