BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kebutuhan gizi telah ditetapkan secara nasional dalam widyakarya nasional pangan dan gizi (1993) di Jakarta. Keluarga jarang menghitung berapa kalori atau berapa gram protein yang dikonsumsi oleh anggota keluarga. Namun demikian, orang tua dituntut untuk menyediakan makanan anak-anaknya dalam jumlah cukup dan memenuhi persyarayan gizi (Khomsan, 2004). Budaya jajan menjadi bagian dari keseharian hamper semua kelompok usia dan kelas sosial, termasuk anak usia sekolah dan golongan remaja. Kandunan zat gizi pada makanan jajanan bervariasi, tergantung dari jenisnya yaitu sebagaimana kita ketahui makanan utama, makanan kecil (snack), maupun minuman. Besar kecilnya konsumsi makanan jajanan akan memberikan konstribusi (sumbangan) zat gizi bagi status gizi seseorang (Titi S, 2004). 1 Makanan jajanan seringkali lebih banyak mengandung unsur karbohidrat dan hanya sedikit mengandung protein, vitamin atau mineral. Karena ketidaklengkapan gizi dalam makanan jajanan, maka pada dasarnya makanan jajanan tidak dapat menggantikan sarapan pagi atau makan siang. Anak-anak yang banyak mengkonsumsi makanan jajanan perutnya akan merasa kenyang karena padatnya kalori yang masuk kedalam tubuhnya. Sementara gizi seperti protein, vitamin dan mineral masih sangat kurang (Khomsan, 2006). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makan dan penggunaan zat gizi. makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, sebaiknya bila makanan yang tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi essensial tertentu (Almatsier, 2001). Hampir semua anak usia sekolah suka jajan (95%-96%) atau (91,1%), selain nilai gizi makanan jajanan yang relatif rendah, keamanan pangan makanan jajanan juga menjadi masalah. Hasil penelitian YLKI (Warta konsumen 2000) menyimpulkan bahwa persentase makanan jajanan anak SD yang dicampur dengan berbagai zat berbahaya masih sangat tinggi sebagai salah satu alternatif makanan bagi anak sekolah, nilai gizi dan nilai keamanan maka makanan jajanan masih perlu mendapat perhatian (Muhilal dkk, 2006). Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Nova Scotia Fifth siswa yang banyak mengkonsumsi buah, sayuran, protein, fiber, dan segala makanan yang menyehatkan jarang ada yang gagal dalam ujian. Siswa sekolah yang makan teratur menunjukkan peningkatan kecerdasan yang lebih baik di sekolah (Hakiono, 2008). Asupan gizi anak-anak SD di beberapa wilayah Indonesia sangat memprihatinkan. Padahal, asupan gizi yang baik setiap harinya di butuhkan supaya mereka memiliki pertumbuhan, kesehatan dan kemampuan intelektual yang lebih baik sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul. Dari penelitian terhadap 220 anak di 5 (lima) SD di Jakarta, asupan kalori anak-anak umumnya di bawah 100 persen dari kebutuhan mereka. Dari total anak yang di teliti, 94.5% mengonsumsikan kalori di

Sementara itu konstribusi makanan jajajnan terhadap konsumsi anak usia sekoalh menyumbang 5. selain itu.Bagaimana kontribusi asupan energi dari makanan jajanan pada anak SDN 30 Labui Banda Aceh. Makanan jajanan berdampak positif terhadap penganekaragaman makanan dari kecil yang pada akhirnya akan meningkatkan status gizi.Apakah ada hubungan asupan energi dari makanan jajanan dengan status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh.5% energi dan 4.Bagaimana kontribusi asupan protein dari makanan jajanan di SDN 30 Labui Banda Aceh. Konsumsi makanan merupakan salah satu faktor peneliti status gizi seseorang yang dapat berasal dari makanan utama dan makanan jajanan. Konsumsi makanan jajanan di masyarakat di perkirakan terus meningkat mengingat makin terbatasnya waktu anggota keluarga untuk mengolah makanan sendiri. baik di perkotaan maupun di pedesaan.Apakah ada hubungan asupan protein dari makanan jajanan dengan status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh. . Berdasarkan latar belakang diatas.bawah batas kecukupan. Keunggulan makanan jajanan adalah murah dan mudah di dapat. C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah .19% pada tahun 1996 menjadi 11. Makanan jajanan (street food) sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.37% pada tahun 1999.Bagaimana status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh. 2006). Sehingga perlu adanya peningkatan pengawasan dengan teribat aktif dalam memperbaiki keamanan pangan melalui unit kesehatan sekolah salah satunya dengan cara menginventaris siapa saja pedagang jajanan yang berjualan di sekitar sekolah dan menanyakan bagaimana pengolahan jajanan tersebut (kompas. kontribusi makanan jajanan terhadap konsumsi remaja perkotaan menyumbng 21% energi dan 16% protein. B. Makanan jajajnan di sekolah juga berperan meningkatkan perekonomian terutama dari sektor informal. banyak pedagang yang kurang menjaga kebersihan dan tidak mengetahui bahanbahan yang bisa membahayakan kesehatan. namun tidak di temukan hubungan antara tingkat kecukupan energi dan protein serta antar kontribusi energi dan protein makanan jajanan dengan status gizi anak (Hakiono. zat besi sebesar 91. Tujuan Penelitian . Dari hasil survei sosial ekonomi nasional yang di lakukan oleh Badan Pusat Statistik (1999) menunjukkan bahwa persentase pengeluaran rata-rata perkapita perbulan penduduk perkota untuk makanan jajanan meningkatkan dari 9.8 persen dan seng sebanyak 98.2 protein. Makanan jajajnan memberika kontribusi terhadap tingkat kecukupan energi dan protein. Penulis tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Kontribusi Energi dan Protein dari Makanan Jajanan dengan Status Gizi Anak SDN 30 Labui . serta cita rasanya yang enak dan cocok dengan selera kebanyakan masyarakat (Mudjajanto. Namun. 2008). . 2008). 2005).6 persen di bawah kebutuhan yang seharusnya (Hakiono. . .

1. serta hubungannya dengan status gizi dari makanan jajanan di SDN Labui Banda Aceh. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan kontribusi energi dan protein dari makanan jajanan dengan status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh. 3. Tujuan khusus . Keaslian Penelitian Menurut sepengetahuan peneliti. . asupan protein. . Namun ada penelitian serupa yaitu : . tenaga dan biaya maka peneliti hanya meneliti tentang.Untuk mengetahui kandungan asupan energi dari makanan jajanan dengan status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh. di lingkungan Jurusan Gizi. Bagi Institusi Memberikan informasi dan gambaran tentang hubungan kontribusi asupan energi dan protein dari makanan jajanan dengan status gizi. cara pengolahan. Bagi Masyarakat Memberikan informasi dan gambaran tentang hubungan kontribusi asupan energi dan protein dari makanan jajanan dengan status gizi. .Untuk mengetahui status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh. dan asupan dari makanan jajanan tersebut. . D. 2. 2. F. asupan energi. Karena keterbatasan waktu.Untuk mengetahui kandungan asupan protein dari makanan jajanan dengan status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh.Untuk mengetahui kontribusi asupan protein dari makanan jajanan di SDN 30 Labui Banda Aceh. E.Untuk mengetahui kontribusi asupan energi dari makanan jajanan pada anak SDN 30 Labui Banda Aceh. Bagi peneliti Meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan tentang hubungan kontribusi asupan energi dan protein dari makanan jajanan dengan status gizi. Keterbatasan Penelitian Banyak faktor yang menyebabkan makanan jajanan layak konsumsi antara lain kandungan gizi. Manfaat Penelitian 1. belum ada penelitian tentang hubungan energi dan protein dari makanan dengan status gizi dari makanan jajanan.

Karena kurangnya tingkat pendidikan pedagang kaki lima makanan jajanan dapat menjadi sumber resiko bagi kesehatan karena para pedagang kurang memahami makanan yang aman (Kompas.1. protein dan lemak) makanan jajanan dengan status gizi pada siswa sltp Ibu Kartini Semarang. Desain pada penelitian ini bersifat eksperimen untuk melihat ada tidaknya mikroba dan total mikroba. Suatu sumber makanan yang murah. c. 2004). Pada umumnya anak sekolah lebih suka mengkonsumsi makanan jajanan dibanding dengan jenis makanan seringan seperti bekas yang dibawa dari rumah. Tinjauan Keamanan mikrobiologi Makanan Jajanan Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Ulee Kareng (Setia. Manfaat dari makanan jajanan adalah : a. Makanan merupakan sumber gizi melalui upaya sehari-hari diungkapkan mencukupi kebutuhan tubuh baik dari jumlah atau porsinya maupun mutu kandungan gizinya. Makanan jajanan merupakan suatu sarana yang baik untuk menambah masuknya zat gizi bagi anak. 2004). 2006). praktis dan bergizi yang di konsumsi oleh orang ramai kalangan menengan ke bawah. Penjual makanan di sekitar sekolah . 2. Hubungan Kontribusi Zat Gizi Makanan Jajanan dengan Status Gizi pada Siswa SLTP Ibu Kartini Semarang (Titi Sari. 2007). SD yang ada di kecamatan Ulee Kareng berjumlah 9 SD yang diambil sampel mie basah dan kue donat sebanyak 8 sampel dan masing-masing produsen yang sama diambil sampel sebanyak 10 gram. Suatu sumber makanan yang menarik dan beraneka ragam. BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Kesempatan untuk berwiraswasta dan mengembangkan keahlian bisnis dengan modal investasi rendah. Sumber pendapatan utama bagi banyak orang d. Sampel penelitian ini adalah mie basah dan kue donat. 2002). Ketersediaan makanan di rumah merupakan langkah positif dalam mencapai makanan yang di ketahui jumlah dan mutunya. Pengertian Makanan Jajanan Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang di persiapkan atau di jual oleh pedagang kaki lima di jalan dan tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung di makan atau dikonsumsi kemudian tanpa pengolahan atau di persiapkan lebih lanjut (Judarwanto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keamanan mikrobioogi makanan jajanan anak sekolah dasar di kecamatan Ulee Kareng. b. Makanan yang di jual oleh pedagang kaki lima diminati selain karena cita rasa yang unit dan kepraktisannya juga karena dapat berperan dalam memperbaiki status gizi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kontribusi zat Gizi (energi. Namun dengan gerak kesibukan dan aktifitasnya kadang menuntut kita untuk mengkonsumsi makanan di luar rumah baik makanan utama maupun makanan jajanan (Khomsan.

agama. di samping aspek medit dari anak itu sendiri. Pada umumnya anak-anak lebih menyukai jajanan di warung maupun kantin sekolah dari pada makanan yang tersedia di rumah. karbohidrat. Sebenarnya sudah banyak cara yang dilakukan pihak sekolah untuk mencegah jajanan sekolah berbahaya di beli oleh murid mereka. 1993). Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu di laksanakan dengan faktor kesulitan makan pada anak (Anita. Makanan Jajanan Anak Sekolah Anak usia sekolah adalah investasi bangsa. Nafsu makan menurun b.menentukan perilaku makan murid sehari-hari dan perilaku tersebut terbentuk pada usia anak-anak kemudian berkembang pada usia selanjutnya (Aceh Nutrition. antara lain : a. Sebagai upaya memenuhi kebutuhan energi 2. Tapi seperti yang di sebutkan diatas. Makanan yang tidak higienis akan menimbulkan berbagai penyakit. . Meningkatkan gengsi anak di mata teman-temannya Namun. Salah satunya dengan menyediakan kantin khusus atau menutup pagar sekolah dan melarang penjual jajanan sekolah berjualan di depan sekolah. kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini. Optimalisasi tumbuh dan kembang anak usia sekolah adalah menjadi prioritas utama. 2002). Energi makanan harus memenuhi kebutuhan basal metabolisme rote (BMR) (Depkes. 2006). air. 2003). budaya. kerbohidrat (4 (kka/gm). jajan yang terlalu sering dan menjadi kebiasaan akan berakibat negatif. dan lemak (9 kka/gm). 30-35& dari lemak. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi. Distribusi kalori pada makanan seimbang harus 715% berasal dari protein. Energi yang metabolisme di hitung dalam kilo kalori (Kka). sistematis dan berkesinambungan. Tumbuh dan perkembangannya anak usia sekolah yang optimal tergantung dari beberapa hal. N. Kebiasaan jajan sebenarnya memiliki beberapa manfaat/keuntungan antara lain : 1. mineral dan trace element. seperti ekonomi. 3. Untuk memberikan makanan yang yang benar pada anak usia sekolah harus di lihat dari banyak aspek. B. Mengenalkan anak pada diversifikasi (keanekaragaman) jenis makanan. 2002). Alasan satu-satunya karena harga yang murah sehingga uang saku dari orang tuanya bisa di pakai membeli bermacam makanan (Pujiandi. salah satu masalah yang sering dialami adalah kesulitan pemberian makan pada anak yang secara langsung menggangu tubuh kembang anak (Anita N. berasal dari protein (4 kka/gm). selaras dan seimbang (Kompas. dan 40-50% dari karbohidrat. Makanan seorang anak harus mengandung protein. sosial. 1990). anak-anak sekolah ini belum paham akan bahaya jajanan sekolah. karena mereka adalah generasi penerus bangsa. diantaranya adalah pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas sesuai dengan kebutuhan.

c. Pada tahun 2006 Badan POM menguji makanan jajanan anak sekolah di 195 Sekolah Dasar di 18 provinsi. mudah. 39. Jumlah makanan yang di sajikan sampel sebanyak 861 contoh. Pada umumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan maka di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food (Winarno. Perilaku makan anak di luar sekolah harus di perhatikan dan di cermati. 1987). Dari hasil uji didapatkan. 2005). karbohidrat 45-55%. Semarang. terutama bagi anak yang jarang minum susu atau makan daging (Depkes.95% atau 344 contoh tidak memenuhi syarat keamanan pangan. Terlalu sering makan permen dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan gigi. . menarik dan bervariasi. C. penelitian di lakukan sebagai upaya melindungi konsumen. Makanan jajanan yang di jadi oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO di definisikan sebagai makanan yang di persiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan tempattempat keramaian umum lainnya langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan dan persiapan lebih lanjut. Permen yang menjadi kesukaan anak-anak bukanlah sumber energi yang baik sebab hanya mengandung karbohidrat. Kurang gizi sebab kandungan gizi pada jajanan belum tentu terjamin. Namun demikian keamanan makanan jajanan tersebut baik dan dari segi biologi maupun kimiawi masih di pertanyakan. Surabaya. Kecukupan energi pada usia sekolah adalah 80-90% kka/kgBB/hari dan kecukupan protein adalah 1 g/kgBB/hari. dan lemak 35-45%. terutama kalsium dan zat besi.19% dan minuman ringan. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah (Widodo. Bila anak dengan BB 20 kg maka kecukupan energi sehari adalah 20 kg. Bandar Lampung. untuk es sirup atau buah sebesar 48. e. 2002) D. Khusus anak usia sekolah gizi seimbang di dapat dari protein 9-15%. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi di 25%-50% sampel minuman yang dijual di kaki lima penelitian terhadap makanan jajanan anak sekolah juga dihilangkan oleh Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan (Badan POM). Diantaranya Jakarta. d. 2007). Jajanan kaki lima dapat menjawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah. Bahaya Makan Jajanan Pada umumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. Pada usia ini sering terjadi kecenderungan anak ketidak seimbangan gizi.50% juga mengandung bahan berbahaya (Naiboho. Salah satu penyebab terjadinya obesitas pada anak-anak. 1990). Gizi Seimbang Anak Sekolah Gizi seimbang adalah keadaan yang menjamin tubuh memperoleh makanan yang cukup mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang di butuhkan. 62. Dengan gizi seimbang yang diberikan pada anak di harapkan mampu mengoptimalkan tumbuh kembang anak (Sedioetama. Denpasar dan Padang. Pemborosan f.

Maka badan POM akan bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di sekolah. Kebiasaan Makan Anak Sekolah Usia sekolah anak-anak sudah mempunyai sifat konsumen aktif. misalnya : anak sudah ada jaminan makan makanan sekolah. Disini anak masih dalam tahap pertumbuhan sehingga kebutuhan gizinya harus tetap seimbang. 2006). Materi kontaminasi tentang makanan pangan yang sudah pernah dilakukan oleh badan POM dan departemen kesehatan. Terjadinya penyakit bawaan makanan pada jajanan kaki lima dapat berupa kontaminasi baik dari bahan baku. Akhir-akhir ini survey mengenai keamanan jajanan di ratusan SD itu dikirim ke Depdiknas. Dengan menyelenggarakan kegiatan makanan tambahan tersebut. dengan menginventarisasi siapa saja pedagang jajanan yang berjuang di sekitar sekolah dan menanyakan bagaimanan proses pengolahannya (Kompas. Upaya ini ditentukan akan lebih murah dibandingkan anak jajan di luar sekolah yang tidak ada jaminan gizi dan kebersihannya.com. 2002). serta pedagang. penjamah makanan yang tidak sehat atau peralatan yang kurang bersih. guru.Kebanyakan pedagang kaki lima mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman. Upaya Perbaikan Makanan Jajanan Upaya mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang terlihat sehat dan tidak aman perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah. diharapkan dapat mendapatkan keuntungan. mereka juga kurang mempunyai kepedulian terhadap air bersih serta fasilitas cuci dan buang sampah. karena dia telah mengenai makanan yang baik pada usia sebelumnya (Harian Aceh. dapat ditingkatkan pelaksanaannya sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan ke sekolah-sekolah. Perlu diupayakan pemberian makanan ringan atau makan siang dilakukan di lingkunagn sekolah. Banyak makanan yang di jual di pinggir jalan atau tempat umum hanya mengandung karbohidrat dan garam yang hanya akan membuat cepat kenyang dan . 2002). Golongan usia SD usia 7-9 tahun dan 10-12 tahun bisa menentukan makanan yang di sukai karena mereka sudah mengenal lingkungan. Untuk itu perlu pengawasan dari orang tua supaya tidak salah memilih makanan karena pengaruh lingkungan. karena dia telah mengenai makanan yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah mengarahkan makanan anak. 2004). Program makan bersama di sekolah sangat baik dilaksanakan karena merupakan modal dasar bagi pengertian anak supaya anak mau diarahkan pada pola makan dengan gizi yang baik. juga waktu dan temperatur penyiapan yang tidak tepat (Judarwanto. 2009). Kalau makanan yang baik dan bergizi tersedia di sekolah. sehingga orang tua tidak khawatir makanan yang dimakan anaknya di sekolah. akan meringankan tugas ibu (Anita N. F. orangtua murid. persatuan orang tua murid untuk dapat menyajikan makanan ringan pada waktu keluar istirahat yang dapat di atur porsi dan nilai gizinya (Anita N. yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Ibu yang selalu khawatir biasanya memberi bekal makanan pada anaknya. Seorang ibu yang sudah menanamkan kebiasaan makan dengan gizi yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah mengarahkan makanan anak. Salah satunya. E. Pihak pengolah sekolah juga di harapkan terlibat aktif memperbaiki keamanan pangan melalui unit kesehatan sekolah.

c. Sosial budaya Nilai sosial budaya ialah merupakan nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat bisa berbedabeda menurut kebiasaan. bahkan mungkin bertentangan. (1986). jumlah dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Oleh karena itu. lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi.1 gram per kilogram berat badan. Kekurangan asupan protein bisa menyebabkan terjadinya kekurangan energi protein (KEP). b. 1989). Asupan energi Semakin tinggi tingkat aktifitas tubuh maka energi juga akan semakin banyak diperlukan. G. Dengan pendidikan yang tinggi mereka mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap kesehatan baik dalam mengkonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi dan cukup kalori sehingga dapat menjaga kesehatannya pada saat hamil untuk menjaga kesehatan dirinya dan janin yang di kandungnya (Azwar. e. d. maka unsur kualitas dan kuantitas harus dapat terpenuhi. Untuk mencapai keadaan gizi yang baik. Untuk tingkat konsumsi (Sedioetama. Ibu dengan tingkat pendidikan tinggi lebih memperhatikan nilai zat gizinya dalam memilih dan mengkonsumsi makanan pada saat hamil serta merawat dan menjaga kehamilannya dibandingkan dengan itu dengan pendidikan rendah. Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan pangan. Pendidikan orang tua Tingkat pendidikan orang tua sangat erat kaitannya dengan baik atau tidaknya penyajian menu makanan pada anak karena hal ini sangat mempengaruhi pola berfikir dan perilaku hidup sehat keluarga tersebut dalam penyajian menu makanan dalam keluarga dan dalam memelihara kesehatan bila pendidikan rendah pengetahuan tentang cara hidup sehat. 1996). Secara fisik. jumlah produksi dan ketersediaan pangan. faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi pangan adalah jenis. Tingkat konsumsi makanan Konsumsi. anak usia SD atau Usia sekolah merupakan usia yang senang bermain. anak yang kekurangan protein bisa terlihat. nilainya tidak mutlak . Untuk itu perlunya nutrisi dan asupan energi yang banyak untuk menunjang aktifitas fisiknya. cara untuk menjaga kebersihan makanan dan minuman belum di pahami dengan baik (Suharjo. 1993). sayangnya hal ini bisa menggangu nafsu makan anak jika hal ini di biarkan berlarut-larut akan dapaat menggangu amenghambat pertumbuhan tubuhnya (Pujiandi.banyak di sukai anak. Menurut Harper et al. sedangkan kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan pangan. Asupan Protein Asupan protein ideal per hari untuk anak sekolah atau anak usia sekolah adalah 1. Senang menghabiskan waktunya untuk belajar mengetahui lingkungan sekitar. Status Gizi Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi Anak Sekolah : a. 2002).

1998). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari kebiasaan jajan. selain itu dapat juga diperoleh dari penyuluhan. kebutuhan gizi anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. 2003).biasa jadi nilai budaya di pegang erat. lauk. Makanan . dan harganya terjangkau. Namun apabila sebaliknya kebudayaan yang sudah merupakan kebiasaan masyarakat yang sifatnya jelek atau buruk tentu sulit untuk di hilangkan (Depkes. Seringkali anak jadi beralasan tidak mau makan di rumah karena masih kenyang akibat jajan di sekolah. mutu dan keseimbangan gizi jadi tidak seimbang. anak bisa mengenal beragam makanan yang dijual di sekolah. Apabila sosial budaya pada masyarakat tersebut baik maka dapat menunjang terhadap kesehatan dan mampu di pertahankan. Kontribusi Energi dan Zat Gizi dari Jajanan Pentingnya mengkonsumsi makanan selingan selama di sekolah adalah agar kadar gula tetap terkontrol baik. Makanan jenis ini tidak cukup menggantikan makan siang di rumah yang biasanya memperhatikan konsep 4 sehat (nasi. 2002). 1986). jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik juga. Tetapi. anak umumnya membeli makanan berat atau makanan kecil padat energi terbuat dari karbohidrat (tepung-tepungan). Mengingat aktivitas fisik yang banyak dan tinggi selama di sekolah. g. anak jajan di sekolah untuk mengurangi rasa lapar. Mulai umur 10-12 tahun. karena pertumbuhan relatif cepat. Tanaman perdagangan menggantikan produksi pangan rumah tangga dan pendapatan yang lain mungkin digunakan untuk membeli pangan atau bahan-bahan pangan berkualitas gizi tinggi dengan kata lain semakin baik tingkat pendapatan atau ekonomi suatu keluarga bahkan masyarakat. Hal tersebut dapat diperoleh dari pengalaman orang lain. Oleh karena itu jajan dapat membantu seorang anak untuk membentuk selera makan yang beragam. Akan tetapi mutu makanan tidak terlalu membaik jika diterapkan tanaman perdagangan. dan buah). sehingga konsentrasi terhadap pelajaran dan aktivitas lainnya dapat tetap dilaksanakan. Pendapatan orang tua Pada umumnya jika tingkat ekonomi naik. H. Pada saat jajan. Pada saat dewasa nanti dia dapat menikmati aneka ragam makanan. Anak-anak tertarik dengan jajanan sekolah karena warnanya yang menarik. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya masalah gizi adalah kurangnya pengetahuan ibu terhadap hubungan makanan dan kesehatan (Berg. f. akhirnya sedikit demi sedikit luntur oleh kemajuan zaman dan perkembangan nilai budaya tersebut mutlak harus di patuhi dalam rangka menghormati adat. Kebutuhan energi golongan umur 10-12 tahun relatif lebih besar daripada golongan umur 79 tahun. sayur. terutama penambahan tinggi badan. Dengan jajan. wajar kalau anak merasa lapar diantara dua waktu makan (pagi dan siang). gorengan yang kaya lemak dan murah harganya. Sebagai pengganti sarapan pagi. Hal ini sangat baik dari segi gizi (Ali Khomsan. Kandungan zat gizi makanan selingan ditinjau dari besarnya kandungan energi dan protein sebesar 300 kkal dan 5 gram protein. rasanya yang menggugah selera. maka makin baik makanan yang dikonsumsi yaitu bernilai gizi tinggi (Almatsier. Pengetahuan gizi ibu Pengetahuan gizi dan kesehatan didefinisikan sebagai apa saja yang diketahui berkenaan dengan masalah gizi dan kesehatan.

2003). Jajanan khususnya yang dijual di pinggir jalan. Bakwan Bakso Chiki Coklat Es mambo Gado-gado Klepon 1 buah 1 porsi 1 bungkus 1 bungkus 1 bungkus 1 porsi 4 buah 40 250 16 16 25 150 50 (kalori) 100 100 80 472 152 203 107 (g) 1. maka sering anak-anak yang baru makan chips menjadi tidak mau makan karena merasa masih kenyang. rentan terhadap polusi debu maupun asap knalpot. bukan sebagai pengganti makanan utama. Chips terbuat dari umbi-umbian (kentang) atau serealia (jagung) digoreng minyak dan ditambah garam dan penyedap rasa. 2003). 2. yaitu sebaiknya sesudah makan (Ali Khomsan. 5.ringan. 2003). kecuali energi. Permen adalah kesukaan setiap anak. Oleh karena itu orang tua harus mempunyai kiat kapan anaknya diizinkan untuk makan chips. Sebagian besar makanan jajanan terbuat dari karbohidrat. Minuman ringan (soft drink) umumnya hanya kaya kalori tetapi kandungan gizinya sangat rendah.0 0. mengkonsumsi permen secara berlebihan dan menjadi pola makan hanya akan menambah masukan energi ke dalam tubuh tanpa memberi zat gizi (Ali Khomsan. Tabel 2.9 2.0 6. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah permen. bakso. Karena kandungan kalori yang tinggi.7 0. sirup. Sehingga lebih tepat sebagai snack antar waktu makan.6 Energi Protein . Permen tidak memberikan kontribusi gizi yang berarti karena kandungan gizinya yang hampir nol.7 10.1 di bawah ini disajikan jenis makanan jajanan dan kandungan gizinya. 2003). 3. 4. Berbagai jenis keripik atau chips yang termasuk kedalam junk food umumnya disukai oleh anakanak.1 Kandungan Gizi Berbagai Jenis Jajanan Berat No Jajanan Ukuran (g) 1. mi ayam dan sebagainya menjadi makanan jajanan sehari-hari di sekolah (Ali Khomsan. 6. Makanan jajanan yang demikian cepat atau lambat akan mendatangkan gangguan kesehatan (Ali Khomsan. Pada tabel 2.3 0. Dalam hal ini perlu disadari bahwa berapa bungkus pun chips yang dimakan tidak bisa menggantikan makanan lengkap yang tersaji di meja makan keluarga. Apalagi kini permen mempunyai aneka cita rasa maupun bentuk sehingga orang tua pun suka. Oleh karena itu. 7. Junk food yang kaya kalori dan rendah gizi ini biasa dimakan sebagai snack. Seringkali makanan tersebut tidak disiapkan secara higienis atau juga mempergunakan bahan-bahan yang berbahaya seperti zat pewarna karena alasan harganya murah.

rhodamin B (pewarna merah pada tekstil).0 2. Menariknya. 1992). Dari sudut pandang ekonomi. Pengaruh Jajanan Terhadap Status Gizi Anak Sekolah Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO (1997) didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan/atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut (http://www.8. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000.4 0. mudah.net).gizi. menarik dan bervariasi. hanya sekitar 5% anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah (http://www. Siomai Sumber : I Dewa Nyoman Supariasa. peningkatan angka pengangguran.gizi. formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat). Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah. Karenanya mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. dan turisme.net). Lebih jauh lagi. jajanan kali lima ini dapat menjadi sumber pendapatan utama. Meningkatnya makanan jajanan di banyak negara termasuk di Indonesia adalah akibat peningkatan populasi penduduk. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasak terlebih dahulu (http://www.gizi. dkk (2001) I. Karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah.net). dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil).50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Permen 11. 9.1 4.net). Pedagang Kaki Lima (PKL) juga menjadi bagian penting dalam sistem suplai makanan. protein 29% dan zat besi 52% (Guhardja. Risoles 12.gizi. makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%.H (2004) baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 Rp 4000 per hari. keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun dari segi kimiawinya masih dipertanyakan (http://www. cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron).4 1. Sebuah penelitian di Jakarta dalam Maskar D. urbanisasi. Namun demikian. Pada penelitian yang dilakukan Anita N. Selain cemaran mikrobiologis. dkk. perubahan keadaan sosio ekonomi.4 10. Karenanya. Mutu (2002) di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% . . Misro Pisang goreng 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 porsi 50 60 2 40 170 109 132 100 134 95 0.

maka seringkali kasus-kasusnya kurang terlaporkan. 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1998 (http://www. Lebih jauh tentang makanan jajanan kaki lima di sekolah. mereka juga kurang mempunyai akses terhadap air bersih serta fasilitas cuci dan buang sampah. sekolah dan pemerintah perlu menggiatkan kembali UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Karena penyakit ini dianggap bukan termasuk penyakit yang serius.net). Berdasarkan uji lab. kebanyakan PKL mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman. gizi buruk dan gangguan pertumbuhan terutama bagi anak-anak adalah dua konsekuensi serius yang dapat ditimbulkan oleh berulangnya episode penyakit ini (http://www. es sirop. Kerangka Teori Asupan energi Asupan protein . tahu goreng. serta pedagang. Wawancara dengan PKL menunjukkan bahwa mereka tidak tahu adanya BTP ilegal pada bahan baku jajanan yang mereka jual (http://www. Materi komunikasi tentang keamanan pangan yang sudah pernah diproduksi salah satunya oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan dapat ditingkatkan penggunaannya sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan di sekolah-sekolah (http://www. juga waktu dan temperatur penyimpanan yang tidak tepat (http://www. Tambahan lagi. mie bakso dengan saus. Secara umum penyakit bawaan makanan (foodborne diseases) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di banyak negara. Untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman.H (2004) Diare merupakan gejala umum dari penyakit bawaan makanan yang mudah dikenali. Padahal. ketan uli. atau peralatan yang kurang bersih. dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Secara sinambung.Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing dan mual. Terjadinya penyakit bawaan makanan pada jajanan kaki lima dapat berupa kontaminasi baik dari bahan baku. penjamah makanan yang tidak sehat.net). orang tua. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no.net).gizi. otak-otak. Karenanya Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Maskar. dapat memberikan penampilan makanan yang menarik (misalnya warnanya sangat cerah sehingga menarik perhatian anak-anak) dan mudah didapat. guru. dan cilok. Selain itu BTP ilegal menjadi primadona bahan tambahan di jajanan kaki lima karena harganya murah. Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001 menemukan bahwa diantara 100 000 balita terdapat 75 anak balita yang meninggal tiap tahunnya akibat diare.net).gizi. tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin.gizi. kita ketahui bahwa makanan yang dijajakan oleh PKL umumnya tidak dipersiapkan dengan secara baik dan bersih. temuan baru di Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong. perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah.gizi.gizi. murid.net). pada otak-otak dan bakso ditemukan borax. KERANGKA PENELITIAN A. Lebih jauh lagi. D.

Kontribusi asupan protein Food recall Wawancara . Kerangka Teori Penelitian B. Defenisi Operasional No variabel 1. 2002 . Kerangka Konsep Penelitian C.Tingkat konsumsi makanan Sosial budaya Status Gizi Pendidikan orang tua Pengetahuan gizi ibu Pendapatan orang tua Sumber: (Almatsier.Cukup 95-105 dibanding-kan dengan kebutuhan . Kerangka Konsep Asupan energi dari makanan jajanan Status Gizi Asupan protein dari makanan jajanan Gambar 2.Kurang/ 85-94 Ordinal .Kurang 2. Gambar 2. Kontribusi asupan energi Definisi Jumlah energi yang didapat dari makanan jajanan Jumlah protein yang didapat dari makanan jajanan Alat ukur Food recall Cara ukur Wawancara Standar Skala ukur Ordinal .Baik .

Ada hubungan kontribusi asupan protein dari makanan jajanan dengan status gizi pada anak SDN 30 Labui Banda Aceh. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah anak SD kelas IV. Status gizi Keadaan tubuh anak sekolah yang disebabkan oleh asupan zat gizi dan energi yang dibutuhkan oleh tubuh diukur berdasarkan antropometri dengan indeks BB/TB -Timbangan -Microtoice Antropometri IMT .dibandingkan dengan kebutuhan 3.0) Ordinal D. untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi makanan jajanan dari kontribusi asupan energi. C. Populasi dan Sampel 1.Ada hubungan kontribusi asupan energi dari makanan jajanan dengan status gizi pada anak SDN 30 Labui Banda Aceh. Sifat Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif analitik yang dilakukan dengan cara Crossectional . 2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan di SDN 30 Labui Banda Aceh. dan asupan protein di SDN 30 Labui Banda Aceh. BAB IV METODE PENELITIAN A. Hipotesa Penelitian . B.Kurus (< 18. .5) .525. Sampel . V dan VI di SDN 30 Labui yaitu sebanyak 71 anak SD.Normal (18. pada bulan Maret 2010.

Data sekunder meliputi populasi dan keadaan umum lokasi penelitian yang diperoleh dan kepala sekolah SDN 30 Labui. Sedangkan data antropometri dilakukan dengan cara menimbang BB dengan menggunakan bathroom scale 0. jenis kelamin .Data kontribusi energi dan protein . .5 kg dan tinggi badan menggunakan mikrotoa 0.Data tentang kontribusi zat gizi dari makanan jajanan . umur. Data tentang jumlah asupan gizi. Pengolahan Data a. yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan dalam pengisian atau pengolahan data. diperoleh dengan melakukan wawancara langsung sampel dengan menggunakan metode food recall 24 jam. Data primer . yaitu sebanyak 71 anak SD. Jenis dan Cara Mengumpulkan Data 1.1 cm.Data status gizi b. selanjutnya dimasukkan ke dalam tabel. Pengambilan sampel dengan cara simple random sampling dan besarnya sampel dipilih dengan rumus (Soekidjo. Editing. F. Tabulating. Cara Pengumpulan Data Data identitas sampel dikumpulkan dengan teknik wawancara kepada sampel.Identitas responden yang terdiri dari nama.Sampel dalam penelitian adalah sebagian anak SD yang terpilih di SDN 30 Labui Kecamatan Lueng Bata Kotamadya Banda Aceh. b. n= Keterangan : n = Banyaknya sampel N = Populasi d = Presisi D. c. yaitu penyajian data dalam bentuk distribusi frekuensi kemudian di tentukan rata-rata dari persentase. Jenis Data a. 1993). 2. yaitu data yang telah dikumpulkan diberi kode disusun secara berurutan dari responden pertama sampai dengan responden terakhir. Coding.

b.-3 sampai dengan 2 SD = kurus .< -3 SD = sangat kurus G. kemudian dibedakan menjadi 4 kategori.+ 2 sampai dengan 2 SD = normal . Analisa Data a. 1. Tekstular yaitu penyajian data dengan menggunakan teks atau narasi 2. TB dan data tersebut di analisis niali z-score.Kurang /rendah = 85-94% kebutuhan Sedangkan untuk status gizi diolah dari data antripometri. Bivariat Analisa bivariat untuk mengetahui distribusi data tabel silang antara variabel independen dan variabel dependen.Tinggi = 106-115 % kebutuhan . Berdasarkan indeks BB/TB. Penyajian Data Untuk menjelaskan hasil penelitian tentang kontribusi energi dan protein dengan status gizi dari makanan jajanan di SDN 30 Labui Banda Aceh dan untuk memudahkan pembaca. selanjutnya dibandingkan dengan kebutuhan dan di kategorikan sebagai berikut : . selanjutnya akan diuji hipotesis dengan memakai analisa kai-kuadrat dengan program SPSS serie 12 for windows. penulis mengambil kesimpulan maka penyajian disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular. yaitu BB.Data hasil recall makanan 24 jam dari sekolah dikumpulkan dengan menggunakan formulir recall makanan dan dihitung dengan menggunakan DKBM.Cukup = 95-105% kebutuhan . Univariat Analisa data deskriptif masing-masing variabel telah ditabulasi untuk melihat distribusi frekuensi tentang kontribusi energi dan protein dari makanan jajanan dengan status gizi anak SDN 30 Labui Banda Aceh. Tabular yaitu penyajian data dengan menggunakan tabel. .> 2 SD = gemuk . yaitu : . H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful